[PDF] FIQIH ISTIKHOROH - Meminta Pilihan Terbaik Kepada Alloh
FIQIH ISTIKHOROH
Meminta Pilihan Terbaik
Kepada Alloh
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 65
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Manusia
diciptakan oleh Alloh ﷻ
dalam keadaan lemah dan memiliki keterbatasan pengetahuan tentang masa depan.
Setiap hari, seorang Mu’min dihadapkan pada berbagai pilihan hidup, baik dalam
urusan ibadah, mu’amalah, pekerjaan, pernikahan, maupun urusan duniawi lainnya.
Dalam menghadapi persimpangan jalan tersebut, Islam memberikan petunjuk yang
sangat agung berupa syariat Istikhoroh. Ia merupakan bentuk pengakuan
jujur seorang hamba akan kemahailmuan Alloh ﷻ dan kepasrahan total atas
setiap ketentuan-Nya.
Melalui Sholat
Istikhoroh, seorang Mu’min meminta bimbingan langsung kepada Sang Maha Pencipta
agar diberikan kebaikan pada pilihan yang diambil maupun yang tidak ia ambil,
serta dijauhkan dari kemudhorotan yang tidak disangka.
Pembahasan Fiqih
Sholat Istikhoroh menjadi sangat mendasar karena masih banyak prasangka dan
pemahaman yang keliru di tengah masyarakat. Sebagian orang menganggap bahwa hasil
Istikhoroh harus selalu hadir melalui mimpi, sebagian lain merasa ragu untuk
melangkah sebelum ada isyarat ghoib, dan tidak sedikit yang meninggalkan Sholat
Istikhoroh lalu menggantikannya dengan cara-cara yang menyelisih syariat.
Buku ini
disusun sebagai panduan fiqih berbasis dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ untuk membimbing umat agar
mampu menjalankan Sholat Istikhoroh. Kerangka buku ini mencakup pembahasan
hakikat dan kedudukan Istikhoroh, tata cara dan aturan fiqihnya, hukum-hukum
terkait, hingga pentingnya menggabungkan Istikhoroh dengan musyawarah serta
menumbuhkan sikap ridho atas segala ketetapan Alloh ﷻ.
Bab 1: Kedudukan Sholat Istikhoroh
Bab ini mengupas dasar-dasar syariat Sholat Istikhoroh,
kedudukannya yang sangat mulia dalam ajaran Islam, serta pentingnya menyerahkan
segala urusan hanya kepada Alloh ﷻ. Pembahasan dimulai dari penafsiran makna
Istikhoroh, dilanjutkan dengan tempat dan tingginya kedudukan ibadah ini di
sisi Alloh ﷻ,
hingga buah manis dari sikap pasrah terhadap pilihan-Nya.
1.1
Makna Istikhoroh
Secara
bahasa, Istikhoroh bermakna meminta kebaikan atau pilihan terbaik atas suatu
perkara. Sedangkan secara syar’i, Istikhoroh adalah meminta petunjuk dan
pilihan terbaik dari Alloh ﷻ dengan cara mengerjakan Sholat dua rokaat lalu membaca doa
khusus yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ. Landasan utama syariat ini berakar langsung dari firman Alloh ﷻ yang
menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki,
tanpa ada campur tangan dari makhluk-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ
ۗ
مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
“Dan Robbmu
menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilih-Nya. Tidak ada bagi mereka
pilihan (tahu pilihan terbaik di masa depan). Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi
Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Qoshosh: 68)
Ayat di
atas menjadi pijakan utama bahwa seluruh keputusan akhir dan kebaikan hakiki
berada penuh di tangan Alloh ﷻ. Hamba tidak memiliki daya untuk mengetahui takdir yang ghoib,
sehingga bersandar kepada petunjuk-Nya adalah sebuah kewajiban. Kesadaran akan
kelemahan diri ini semakin diperkuat oleh ketetapan Alloh ﷻ
bahwa ilmu manusia sangatlah terbatas, sementara ilmu Alloh ﷻ
meliputi segala sesuatu.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ
لَّكُمْ ۖ
وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)
Oleh karena
itu, ketika seorang hamba dihadapkan pada pilihan, Rosululloh ﷺ mengajarkan tata cara khusus
agar hamba tersebut dapat memohon kebaikan kepada Alloh ﷻ. Hal
ini ditegaskan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu
‘anhuma, beliau menceritakan bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan Sholat Istikhoroh
kepada para Shohabat.
Shohabat
Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ
مِنَ القُرْآنِ»
“Rosululloh
ﷺ mengajari kami Istikhoroh
dalam seluruh urusan sebagaimana beliau mengajari kami surat dari Al-Qur’an.” (HR.
Al-Bukhori no. 1166)
1.2
Kedudukan Istikhoroh
Kedudukan
Istikhoroh sangat agung dalam Islam karena ia mencerminkan tauhid ibadah dan
tawakkal yang murni. Seorang hamba yang mengerjakan Istikhoroh membuktikan
bahwa dirinya tidak bergantung pada akal, kecerdasan, atau kekuatan dirinya
sendiri, melainkan menggantungkan seluruh hasilnya kepada Alloh ﷻ
semata. Sebaliknya, orang yang meninggalkan Istikhoroh dan enggan memohon
petunjuk kepada Alloh ﷻ
terancam masuk ke dalam golongan orang-orang yang celaka.
Kewajiban
untuk selalu bertawakkal dan memohon pertolongan hanya kepada Alloh ﷻ
telah ditegaskan dalam ayat Al-Qur’an yang selalu dibaca dalam setiap rokaat Sholat.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾
“Hanya
Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)
Ketergantungan
penuh kepada Alloh ﷻ
ini harus diwujudkan dalam setiap sendi kehidupan, baik perkara besar maupun
perkara kecil. Al-Quran dalam At-Tholaq menegaskan bahwa kecukupan hanya akan
diberikan kepada hamba yang benar-benar bersandarkan diri kepada Alloh ﷻ.
عَنْ مَسْرُوقٍ، فِي قَوْلِهِ عز وجل ﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ
يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا﴾ قَالَ: «مَخْرَجُهُ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّ اللَّهَ عز وجل هُوَ
يَمْنَعُهُ وَهُوَ يُعْطِيهِ»
﴿وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾ قَالَ:
«أَلَيْسَ كُلُّ مَنْ تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ كَفَاهُ؟ إِلَّا مَنْ تَوَكَّلَ عَلَيْهِ
يُكَفِّرُ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمُ لَهُ أَجْرًا»
قَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ﴾ وَقَالَ فِي مَنْ
تَوَكَّلَ عَلَى اللَّهِ وَفِي مَنْ لَمْ يَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ﴿قَدْ جَعَلَ اللَّهُ
لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا﴾ أَجَلًا
Dari Masruq
(63 H), tentang firman Alloh “Siapa yang bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia
akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. Ath-Tholaq: 2) Ia berkata: “Jalan
keluarnya adalah dia mengetahui bahwa Alloh Dialah yang menahan dan Dialah yang
memberi.”
“Dan
siapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan
(keperluan)nya.”
(QS. Ath-Tholaq: 3) Ia berkata: “Bukankah setiap orang yang bertawakkal kepada
Alloh pasti dicukupkan oleh-Nya? Disamping siapa yang bertawakkal kepada-Nya
akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya dan dilipatgandakan pahala baginya.”
“Sungguh
Alloh melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ath-Tholaq: 3) Ia berkata: “Tentang orang
yang bertawakkal kepada Alloh dan orang yang tidak bertawakkal kepada-Nya Alloh
berfirman: “Sungguh Alloh telah menentukan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS. Ath-Tholaq: 3) yaitu: ajal (batas waktu). (Az-Zuhd, Imam Ahmad, no.
2037)
Kerugian
besar bagi hamba yang meninggalkan Istikhoroh dan enggan memohon pilihan
terbaik dari Alloh ﷻ
digambarkan secara jelas dalam sebuah Hadits. Keengganan memohon petunjuk
menunjukkan kesombongan hamba seolah dirinya mampu berdiri sendiri tanpa
bantuan Sang Kholiq.
Disebutkan
dalam Hadits:
«مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللهَ،
وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللهُ، وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ
تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللهِ، وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللهُ
عَزَّ وَجَلَّ»
“Termasuk
kebahagiaan anak Adam adalah istikhorohnya kepada Alloh, termasuk kebahagiaan
anak Adam adalah ridhonya dengan apa yang Alloh tetapkan. Termasuk kesengsaraan
anak Adam adalah meninggalkannya akan istikhoroh kepada Alloh, dan termasuk
kesengsaraan anak Adam adalah kemarahannya dengan apa yang ditetapkan oleh
Alloh.” (HR. Ahmad no. 1444, dishohihkan Al-Hakim tapi jumhur menilainya lemah)
1.3
Keutamaan Pasrah atas Pilihan Alloh ﷻ
Pasrah dan
ridho terhadap pilihan Alloh ﷻ setelah melakukan Istikhoroh adalah bagian dari keimanan.
Seorang Mu’min yang sejati meyakini bahwa takdir yang Alloh ﷻ
pilihkan untuknya pasti mengandung kebaikan, meskipun secara kasat mata
terlihat tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Sikap pasrah ini
melahirkan ketenangan jiwa dan menjauhkan diri dari sifat penyesalan yang tidak
berguna.
Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bertawakkal dan menyerahkan segala keputusan
akhir kepada-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
ۚ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh
Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imron:
159)
Sikap
penyerahan diri ini diiringi dengan prasangka baik bahwa apa pun yang
ditetapkan oleh Alloh ﷻ
setelah Istikhoroh adalah yang terbaik. Rosululloh ﷺ menjelaskan keheranan beliau
terhadap urusan seorang Mu’min yang seluruh keadaannya bernilai kebaikan di
sisi Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ
كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ
شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا
لَهُ»
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang Mu’min, sungguh seluruh urusannya adalah baik
baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi seorang Mu’min.
Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika ia
tertimpa kesusahan ia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)
Kepasrahan
ini melahirkan ridho atas takdir. Disebutkan dalam Hadits:
«مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللهَ،
وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَى اللهُ»
“Termasuk
kebahagiaan anak Adam adalah permohonan Istikhorohnya kepada Alloh serta
keridhoannya terhadap apa yang telah Alloh tetapkan.” (HR. Ahmad no. 1444)
Nabi ﷺ bersabda:
«وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ»
“Dan
ridholah dengan apa yang Alloh bagikan untukmu, niscaya kamu menjadi manusia
yang paling kaya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2305 dan Ahmad no. 8081)
Bab 2: Tata Cara dan Bacaan Sholat
Istikhoroh
Bab ini menerangkan secara terperinci mengenai tata cara
pelaksanaan Sholat Istikhoroh, jumlah rokaat, niat, surat-surat yang dibaca,
hingga lafazh doa yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ beserta waktu pelaksanaannya. Di samping itu, dijelaskan pula
urutan penyerahan diri seorang hamba setelah menunaikan Sholat dan doa
tersebut.
2.1
Rokaat, Niat, dan Bacaan Surat dalam Sholat Istikhoroh
Sholat
Istikhoroh hukumnya sunnah, dan tanpanya doa Istikhoroh tetap boleh
dibaca. Namun, mengawali Istikhoroh dengan Sholat 2 rokaat lebih afdhol.
Sholat
Istikhoroh dikerjakan sebanyak 2 rokaat yang terpisah dari Sholat fardhu. Niat Sholat
diletakkan di dalam hati dengan tujuan khusus untuk memohon petunjuk kepada
Alloh ﷻ
atas suatu pilihan. Sholat ini sunnah, di mana seorang hamba mendahului doanya
dengan ruku’ dan sujud kepada Sang Kholiq.
Alloh ﷻ memerintahkan
hamba-Nya untuk menjadikan Sholat dan sabar sebagai sarana memohon pertolongan
dalam setiap urusan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ
وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴾
“Jadikanlah
sabar dan Sholat sebagai penolongmu. Dan sungguh yang demikian itu sungguh
berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqoroh: 45)
Pelaksanaan
Sholat 2 rokaat ini disebutkan dalam matan Hadits shohih dari Jabir bin
Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, yang menegaskan bahwa pelaksanaan Sholat
tersebut haruslah di luar Sholat fardhu.
Shohabat
Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ
رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الفَرِيضَةِ»
“Jika salah
seorang di antara kalian berkehendak pada suatu urusan, maka hendaklah ia ruku’
(mengerjakan Sholat) 2 rokaat di luar Sholat fardhu.” (HR. Al-Bukhori no.
1166)
Setelah
mengerjakan 2 rokaat Sholat sunnah tersebut, seorang hamba memuji Alloh ﷻ dan
bersholawat kepada Rosululloh ﷺ
sebelum membaca doa Istikhoroh. Ketentuan umum mengenai keutamaan Sholat sunnah
2 rokaat ini diperkuat oleh Hadits Nabi ﷺ yang menerangkan bahwa Sholat adalah sebaik-baik sarana mendekatkan
diri kepada Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الصّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ
أَنْ يَسْتَكْثِرَ، فَلْيَسْتَكْثِرَ»
“Sholat
adalah sebaik-baik perkara yang ditetapkan, maka siapa yang mampu
memperbanyaknya hendaklah ia memperbanyak.” (HR. Thobroni
Al-Ausath no. 243 dan Shohihul Jami no. 3870)
2.2
Lafazh Doa Istikhoroh dan Waktu Membacanya
Doa
Istikhoroh dibaca setelah selesai menunaikan Sholat 2 rokaat, yaitu sesudah
salam. Lafazh doa ini memuat pengakuan atas kemahailmuan Alloh ﷻ,
kemahakuasaan-Nya, serta kelemahan hamba yang tidak mengetahui hal ghoib. Doa
ini dibaca dengan penuh kerendahan hati dan kesungguhan.
Alloh ﷻ
menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa kunci-kunci ghoib hanya ada pada-Nya dan tidak
ada seorang pun yang mengetahuinya melainkan Dia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا
إِلَّا هُوَ﴾
“Dan pada
sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib; tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am: 59)
Lafazh doa
yang bersumber langsung dari petunjuk Nabi ﷺ ini dianjurkan dihafalkan atau dibaca dengan cermat sesuai yang
diajarkan oleh beliau dan boleh dibaca lewat buku/hp.
Shohabat
Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan kelanjutan Hadits
Sholat Istikhoroh bahwa Nabi ﷺ
mengajarkan doa sebagai berikut:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ
وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ
وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ
إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ
أَمْرِي - أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي،
ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي
دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ
- فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ
أَرْضِنِي بِهِ»
“Ya Alloh, sungguh
aku memohon pilihan terbaik kepada-Mu dengan ilmu-Mu, dan aku memohon takdir-Mu
dengan kekuasaan-Mu, serta aku memohon karunia-Mu yang agung. Karena sungguh
Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku
tidak mengetahui, dan Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghoib. Ya
Alloh, jika Engkau mengetahui bahwa urusan ini (menyebutkan perkaranya) baik
bagiku dalam agamaku, penghidupanku, dan kesudahan urusanku —atau beliau
bersabda: di waktu dekat maupun lambat—, maka takdirkanlah ia bagiku,
mudahkanlah ia bagiku, kemudian berkahilah aku padanya.
Dan jika
Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk bagiku dalam agamaku, penghidupanku,
dan kesudahan urusanku —atau beliau bersabda: di waktu dekat maupun lambat—, maka
berpalingkanlah ia dariku dan berpalingkanlah aku darinya, serta takdirkanlah
kebaikan bagiku di mana pun berada, kemudian jadikanlah aku ridho dengannya.” (HR.
Al-Bukhori no. 1166)
Tata cara
berdoa setelah Sholat ini juga mencakup adab memuji Alloh ﷻ dan
mengucapkan sholawat sebelum menyampaikan hajat. Hal ini diperjelas oleh
ketetapan umum Nabi ﷺ
mengenai syarat terkabulnya doa.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ
رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ،
ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ»
“Apabila
salah seorang di antara kalian berdoa, maka hendaklah ia memulai dengan memuji
Alloh dan mengagungkan-Nya, kemudian bersholawat kepada Nabi ﷺ, lalu berdoa setelah itu
dengan apa yang ia kehendaki.” (HSR. Abu Dawud no. 1481)
2.3
Penyerahan Diri Setelah Sholat dan Doa
Usai
menunaikan Sholat Istikhoroh dan memanjatkan doanya, seorang Mu’min hendaknya
menetapkan langkah dengan penuh kepasrahan kepada Alloh ﷻ.
Tidak disyaratkan menunggu datangnya mimpi atau isyarat-isyarat tertentu. Yang
menjadi kewajiban hamba adalah melangkah melakukan apa yang menjadi
kecenderungan jiwanya yang dibimbing kebaikan, seraya menyerahkan keputusan
akhir kepada takdir Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
menegaskan dalam ayat Al-Qur’an agar hamba selalu bertawakkal hanya kepada-Nya
setelah berazam dan berusaha.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
“Dan hanya
kepada Alloh hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)
Penyerahan
diri ini berarti kelapangan dada menerima apa pun yang menjadi kemudahan atau
rintangan setelah Istikhoroh. Jika urusan tersebut dimudahkan, maka itu adalah
pertanda kebaikan. Jika dihalangi atau dipalingkan, maka itu pun pertanda bahwa
Alloh ﷻ
sedang menyelamatkannya dari keburukan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
وَلَا تَعْجَزْ»
“Semangatlah
terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan
janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Seorang
hamba tidak boleh merasa kecewa atau menyesali pilihan yang telah
diistikhorohi, karena Alloh ﷻ memilihkan berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna, bukan
berdasarkan hawa nafsu manusia.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ، فَلَا تَقُلْ لَوْ
أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ،
فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ»
“Dan jika
engkau tertimpa sesuatu (musibah), maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya
aku melakukan demikian tentu akan jadi demikian dan demikian.’ Akan tetapi
katakanlah: ‘Alloh telah menakdirkan, dan apa yang Dia kehendaki Dia perbuat.’
Karena seandainya membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim no. 2664)
Bab 3: Hukum-Hukum Fiqih Terkait
Istikhoroh
Bab ini menguraikan hukum-hukum fiqih yang melingkupi
pelaksanaan Sholat Istikhoroh secara lebih mendalam. Batasan perkara yang boleh
disyari’atkan untuk Istikhoroh, waktu-waktu yang dilarang dan disukai dalam
pelaksanaannya, hingga hukum mengulang-ulang Sholat Istikhoroh serta larangan
berkeluh kesah atas pilihan Alloh ﷻ akan dibahas secara terperinci berbasis
dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits.
3.1
Perkara-Perkara yang Disyari’atkan untuk Istikhoroh
Istikhoroh
disyari’atkan pada perkara-perkara mubah yang bersifat pilihan, atau perkara
sunnah dan fardhu kifayah ketika terjadi keraguan dalam menentukan waktu
atau keutamaan pelaksanaannya. Adapun perkara harom atau makruh secara
dzatnya, maka tidak ada ruang Istikhoroh di dalamnya. Seorang Mu’min tidak
boleh melakukan Istikhoroh untuk memilih apakah ia akan menunaikan Sholat
Fardhu atau tidak, karena kewajiban tersebut telah ditetapkan secara mutlak
oleh Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا
أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»
“Apa yang
aku larang bagi kalian maka jauhilah, dan apa yang aku perintahkan kepada
kalian maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 7288 dan Muslim
no. 1337)
Alloh ﷻ
menetapkan aturan hukum-Nya secara tegas agar hamba-Nya taat pada perintah dan
menjauhi larangan tanpa ragu.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا
قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ﴾
“Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang
Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Ayat ini
menunjukkan bahwa pada perkara yang sudah jelas kewajiban atau keharomannya,
pilihan manusia telah gugur oleh hukum Syariat. Cakupan Istikhoroh hanya
berlaku pada urusan yang mubah atau pemilihan teknis dalam kebaikan,
sebagaimana ditegaskan oleh Shohabat Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu
‘anhu dalam kelanjutan riwayatnya.
Shohabat
Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu menegaskan:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا»
“Rosululloh
ﷺ mengajari kami Istikhoroh
dalam seluruh urusan (mubah dan pilihan).” (HR. Al-Bukhori no. 1166)
Urusan
mubah tersebut mencakup berbagai bidang kehidupan manusia, seperti memilih
pasangan hidup, membuka usaha, menentukan perjalanan bisnis, atau memilih tempat
tinggal. Termasuk pula Haji, meskipun wajib tetapi ia meminta Alloh waktu yang
tepat.
3.2
Waktu-Waktu Dilarang dan Disukai untuk Istikhoroh
Sholat
Istikhoroh tergolong Sholat sunnah yang memiliki sebab (dzat as-sabab).
Meskipun demikian, hendaknya seorang Mu’min memperhitungkan waktu
pelaksanaannya. Disukai mengerjakan Sholat Istikhoroh di waktu-waktu
dikabulkannya doa, seperti sepertiga malam terakhir. Sebaliknya, mengerjakan Sholat
Istikhoroh tanpa sebab yang mendesak pada waktu-waktu terlarang Sholat
merupakan hal yang harus dihindari.
Keutamaan
berdoa dan beribadah pada sepertiga malam terakhir merupakan waktu yang sangat
disukai untuk memohon petunjuk Istikhoroh kepada Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾
“Dan di akhir-akhir
malam mereka memohon ampunan (kepada Alloh).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Keutamaan
waktu malam ini dipertegas oleh Hadits Nabi ﷺ mengenai turunnya kebaikan dan dikabulkannya doa hamba yang
memohon petunjuk di sepertiga malam terakhir.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ
لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ
مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي
فَأَغْفِرَ لَهُ»
“Robb kita Tabaroka
wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir, lalu berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku
kabulkan baginya, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri kepadanya, dan siapa
yang memohon ampunan kepada-Ku niscaya Aku ampunkan baginya.’” (HR.
Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
Adapun
waktu-waktu yang dilarang untuk mengerjakan Sholat sunnah secara umum—seperti
setelah Sholat Subuh hingga matahari terbit dan setelah Sholat Ashar hingga
matahari terbenam—wajib diperhatikan. Shohabat Uqbah bin Amir Al-Juhani (58 H) rodhiyallahu
‘anhu menjelaskan larangan mengerjakan Sholat pada waktu-waktu tersebut:
ثَلَاثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ
ﷺ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيهِنَّ،
أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا: «حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى
تَرْتَفِعَ، وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ، وَحِينَ
تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ»
“Ada tiga
waktu yang Rosululloh ﷺ
melarang kami untuk mengerjakan Sholat atau menguburkan mayat-mayat kami pada
waktu-waktu tersebut: ketika matahari terbit hingga meninggi, ketika matahari
tepat berada di tengah-tengah hingga tergelincir, dan ketika matahari mendekati
terbenam hingga terbenam sempurna.” (HR. Muslim no. 831)
Ini
pendapat yang lebih hati-hati dan dipilih Imam Malik (tidak boleh Sholat apapun
di waktu larangan meskipun Sholat sunnah muqoyyad).
3.3
Hukum Mengulang Sholat Istikhoroh dan Berkeluh Kesah
Apabila
setelah mengerjakan Sholat Istikhoroh seorang hamba masih merasakan keraguan
dan belum menemukan ketenangan jiwa dalam mengambil keputusan, maka
diperbolehkan baginya untuk mengulang-ulang Sholat Istikhoroh tersebut.
Mengulang doa dan Sholat bukanlah bentuk keraguan terhadap Alloh ﷻ,
melainkan wujud kesungguhan hamba dalam mengetuk pintu rohmat-Nya. Namun,
apabila keputusan telah diambil dan takdir telah berjalan, harom
hukumnya bagi seorang Mu’min untuk berkeluh kesah atau menyesali takdir Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar dan tidak merasa putus asa dalam memohon
petunjuk serta rohmat dari-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ ۖ
إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu berputus asa dari rohmat Alloh. Sungguh tidak berputus asa dari
rohmat Alloh, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)
Sikap
terus-menerus memohon dan tidak tergesa-gesa dalam menanti keputusan Alloh ﷻ
merupakan syarat dikabulkannya doa seorang hamba, sebagaimana dijelaskan oleh
Nabi ﷺ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ
يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي»
“Akan
dikabulkan (doa) salah seorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa,
yaitu dengan mengatakan: ‘Aku telah berdoa namun belum juga dikabulkan untukku.’”
(HR. Al-Bukhori no. 6340 dan Muslim no. 2735)
Setelah
Istikhoroh dilakukan dan sebuah jalan telah ditetapkan oleh Alloh ﷻ,
hamba wajib menerima dengan dada lapang dan menjauhi celaan terhadap takdir.
Celaan dan penyesalan atas takdir yang telah terjadi merupakan celaan terhadap
hikmah Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الخُدُودَ وَشَقَّ
الجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»
“Bukan
termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek baju, dan
menyeru dengan seruan jahiliyyah (berkeluh kesah atas takdir).” (HR.
Al-Bukhori no. 1294)
3.4
Tanda dan Jawaban Istikhoroh
Ia tidak
harus berupa mimpi. Terkadang berupa optimis saat mendengar dan melihat sesuatu
yang menguatkan tekadnya. Terkadang Alloh membimbingnya kepada sesuatu yang ia
inginkan atau bahkan menolak darinya atau menjadikannya mendapatkan di luar
pilihannya, itu semua hasil Istikhoroh dan pilihan terbaik untuknya. Suatu saat
ia akan menyukainya, sebagai wujud doa Istikhorohnya.
Bab 4: Perwakilan, Musyawaroh, dan
Buah Kesabaran
Bab ini membahas keterkaitan antara Istikhoroh dengan
musyawarah, hukum memohonkan Istikhoroh atau mewakilkannya kepada orang lain,
serta buah kebaikan yang dipetik oleh seorang hamba yang bersabar dan ridho
atas segala ketetapan Alloh ﷻ.
4.1
Menggabungkan Istikhoroh dengan Istisyaroh (Musyawarah)
Islam tidak
hanya memerintahkan hamba-Nya untuk bermunajat kepada Alloh ﷻ
melalui Sholat Istikhoroh, tetapi juga menganjurkan untuk melakukan Istisyaroh,
yaitu meminta pertimbangan dan musyawarah kepada orang-orang yang sholih,
berakal, serta berpengalaman. Menggabungkan antara Istikhoroh kepada Sang
Kholiq dan Istisyaroh kepada sesama makhluk yang amanah merupakan bentuk
kesempurnaan syariat yang menjaga hamba dari sikap tergesa-gesa.
Alloh ﷻ
memerintahkan Nabi-Nya dan orang-orang beriman untuk senantiasa bermusyawarah
dalam menentukan berbagai urusan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Dan
bermusyawarohlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sungguh Alloh menyukai
orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imron: 159)
Pentingnya
meminta nasihat dan pertimbangan dari orang yang jujur serta berilmu ditegaskan
dalam ajaran Islam, karena orang yang dimintai petunjuk adalah orang yang
memegang amanah.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُسْتَشَارُ مُؤْتَمَنٌ»
“Orang yang
dimintai petunjuk (dalam musyawaroh) adalah orang yang diberi amanah.” (HSR.
Abu Dawud no. 5128 dan At-Tirmidzi no. 2822)
Oleh sebab
itu, memberi nasihat dan pertimbangan yang jujur kepada saudara sesama Muslim
yang sedang bingung mengambil keputusan merupakan bagian dari hak persaudaraan
dalam Islam.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ»
“Dan
apabila dia meminta nasihat kepadamu, maka berilah nasihat kepadanya.” (HR.
Muslim no. 2162)
4.2
Hukum Mengistikhorohi Perkara Orang Lain
Pada
dasarnya, Sholat Istikhoroh adalah ibadah pribadi yang dikerjakan sendiri oleh
orang yang memiliki hajat atau pilihan. Namun, diperbolehkan bagi seorang wali,
orang tua, atau saudara untuk mendoakan kebaikan dan memohon pilihan terbaik
bagi orang lain tanpa harus menggantikan Sholat Istikhoroh orang tersebut.
Mendoakan saudara dari kejauhan tanpa sepengetahuannya merupakan sunnah yang
sangat dianjurkan dalam Islam.
Alloh ﷻ
memuji hamba-hamba-Nya yang saling mendoakan kebaikan bagi saudara-saudara
mereka.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ﴾
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Shohabat Anshor dan Muhajirin), mereka
berdoa: ‘Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
mendahului kami dengan beriman.’” (QS. Al-Hasyr: 10)
Doa yang
dipanjatkan seorang Muslim untuk saudaranya, termasuk doa memohonkan kebaikan
dan pilihan terbaik dalam urusan saudaranya, memiliki keutamaan yang sangat
besar di sisi Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ
الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ، عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ
بِخَيْرٍ، قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ»
“Doa
seorang Muslim untuk saudaranya dari kejauhan (tanpa sepengetahuannya) adalah
doa yang mustajab. Di dekat kepalanya ada Malaikat yang diwakilkan, setiap kali
ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, Malaikat yang diwakilkan tersebut
berkata: ‘Aamiin, dan bagimu semoga mendapatkan hal yang serupa.’” (HR.
Muslim no. 2732)
Bentuk
kepedulian terhadap urusan saudara ini tercermin dari anjuran Nabi ﷺ untuk senantiasa memberikan
kemanfaatan dan kebaikan bagi sesama Muslim.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ
فَلْيَفْعَلْ»
“Siapa di
antara kalian yang mampu memberikan manfaat kepada saudaranya, maka hendaklah
ia memberikan manfaat kepadanya.” (HR. Muslim no. 2199)
4.3
Buah Ridho Terhadap Ketetapan Alloh ﷻ
Buah
termanis dari pelaksanaan Sholat Istikhoroh adalah tumbuhnya rasa ridho di
dalam dada atas segala ketetapan yang Alloh ﷻ takdirkan. Baik keputusan
tersebut sesuai dengan harapan awal hamba maupun tidak, seorang Mu’min yang
sejati meyakini bahwa pilihan Alloh ﷻ adalah yang paling selamat
dan penuh hikmah. Sikap ridho ini melapangkan dada, menghilangkan rasa dengki,
dan mendatangkan pahala yang melimpah dari Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
menegaskan keridhoan-Nya bagi hamba-hamba yang ridho atas segala perintah dan
takdir-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ
ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ﴾
“Alloh
ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Yang demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang takut kepada Robbnya.” (QS. Al-Bayyinah: 8)
Rasa
manisnya iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang benar-benar ridho
menjadikan Alloh ﷻ
sebagai Robb, Islam sebagai agama, dan Muhammad ﷺ sebagai Rosul.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ
رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»
“Akan
merasakan manisnya iman, orang yang ridho Alloh sebagai Robbnya, Islam sebagai
agamanya, dan Muhammad sebagai Rosulnya.” (HR. Muslim no. 34)
Besarnya
balasan yang Alloh ﷻ
sediakan bagi hamba-Nya berbanding lurus dengan besarnya ujian dan kesabaran
dalam menerima ketetapan takdir setelah berikhtiar dan beristikhoroh.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ،
وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا،
وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ»
“Sungguh
besarnya balasan sebanding dengan besarnya ujian. Dan sungguh apabila Alloh
mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang ridho maka baginya
keridhoan (dari Alloh), dan siapa yang murka maka baginya kemurkaan (dari
Alloh).” (HSR. At-Tirmidzi no. 2396)
Penutup
Sholat
Istikhoroh adalah sarana ibadah yang sangat agung, yang mengajarkan kepada
setiap Mu’min arti penting bertawakkal, melepaskan keangkuhan diri, serta
meyakini kemahailmuan Sang Kholiq dalam mengatur seluruh takdir kehidupan.
Melalui pemahaman fiqih yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ, diharapkan umat Islam tidak
lagi terjebak dalam prasangka keliru atau cara-cara yang menyelisih syariat
saat menghadapi persimpangan pilihan.
Semoga
petunjuk dan pembahasan yang terangkum dalam buku ini menjadi amalan yang
ikhlas karena Alloh ﷻ,
bermanfaat luas bagi pembaca, serta menjadi timbangan kebaikan di Hari Qiyamah
kelak.
Kepada
Alloh ﷻ
kita memohon pertolongan, dan hanya kepada-Nya kita kembali.
Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga beliau, para Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik hingga akhir zaman.[NK]
