[PDF] Semangat Ahli Kebatilan Menyebarkan Kebatilan - Nor Kandir
Semangat Ahli Kebatilan
Menyebarkan Kebatilan
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 68
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Di tengah perhelatan
zaman, sering kali kaum Mu’min menyaksikan betapa para penyeru kesesatan
memiliki kesungguhan, pengorbanan, dan konsistensi yang luar biasa dalam
menjajakan paham serta perbuatan harom mereka. Keadaan ini menjadi cermin kelam
sekaligus peringatan keras bagi Ahlus Sunnah agar tidak bersikap lemah dan
bersantai-santai dalam memperjuangkan Islam. Alloh ﷻ telah mengabadikan berbagai
ikhtiar dan strategi jahat para pengusung kebatilan di dalam Al-Qur’an agar
hamba-hamba-Nya yang beriman waspada serta mengambil pelajaran.
Buku ini berusaha
membedah hakikat semangat ahli kebatilan, mengenali tokoh-tokoh utama kesesatan
beserta potret histori pengorbanan mereka, hingga dampaknya terhadap manusia,
lalu diakhiri dengan formulasi ikhtiar agar kaum Mu’min dapat membakar kembali
spirit da’wah haq dengan konsistensi yang jauh melampaui kegigihan para penyeru
kebatilan.
Bab 1: Bahaya Semangat Ahli
Kebatilan
Bab ini membedah akar dasar dari pergerakan ahli kebatilan,
karakter utama yang melekat pada diri para penyeru kesesatan, bahaya dari
keterlenaan kaum Mu’min, serta cara kerja mereka dalam mengemas kebatilan agar
terlihat indah di mata manusia.
1.1:
Karakter Penyeru Kesesatan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah
Para
penyeru kesesatan memiliki perangai khas yang digambarkan secara gamblang dalam
wahyu. Mereka tidak pernah berhenti berupaya memalingkan manusia dari Tauhid
dan Sunnah Nabi ﷺ,
memanfaatkan segala celah dengan penuh kelicikan dan kesungguhan.
Alloh ﷻ
berfirman memotret perangai mereka:
﴿وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ
تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ
يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ
قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذٰلِكُمْ ۗ
النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾
“Dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, kamu akan melihat
tanda-tanda keingkaran pada wajah-wajah orang-orang kafir itu. Hampir-hampir
mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka.
Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada yang
demikian itu? Yaitu Naar.’ Alloh telah menjanjikannya kepada orang-orang yang
kafir. Dan Naar itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Hajj: 72)
Para
penyeru kesesatan saling memprovokasi untuk bertahan di atas kebatilan:
﴿وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا
وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ
إِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ﴾
“Dan
pergilah pemimpin-pemimpin mereka seraya berkata: ‘Pergilah kamu dan tetaplah
bertahan menyembah tuhan-tuhanmu, sungguh ini adalah suatu hal yang benar-benar
dikehendaki.’” (QS. Shod: 6)
Rasululloh ﷺ memberikan peringatan tegas
tentang keberadaan para penyeru kebatilan ini di dalam matan Hadits:
«دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ
إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»
“Para
penyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka menuju
pintu itu, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhori
no. 7084 dan Muslim no. 1847)
1.2:
Bahaya Santai Ummat Islam Menghadapi Kegigihan Kebatilan
Sikap
santai dan lalai dari kaum Mu’min saat ahli kebatilan sedang bergerak massif
merupakan celah kehancuran. Ketika kebaikan tidak diperjuangkan dengan
sungguh-sungguh, maka kebatilan yang terorganisir akan dengan mudah menggilas
kebenaran.
Alloh ﷻ
mengingatkan bahaya fitnah yang meluas akibat kelalaian:
﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ
ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ
وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan peliharalah
dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di
antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksa-Nya.” (QS.
Al-Anfal: 25)
Alloh ﷻ juga
melarang kaum Mu’min merasa lemah dan bersantai dalam menghadapi musuh:
﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ
الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾
“Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang Mu’min.” (QS.
Ali ‘Imron: 139)
Di dalam
As-Sunnah, Rosululloh ﷺ
menggambarkan bagaimana ummat Islam menjadi mangsa akibat ketiadaan semangat
dan kelemahan jiwa:
«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ
كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ
يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ
السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ،
وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
“Hampir
tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa saling mengajak untuk memperebutkan
kalian sebagaimana orang-orang yang makan berebut menghadapi piring
hidangannya.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada
hari itu?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada hari itu banyak, akan
tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Alloh sungguh akan mencabut rasa
takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Alloh akan mencampakkan
ke dalam hati kalian penyakit wahn.” Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh,
apa itu wahn?” Jawab beliau: “Cinta dunia dan takut mati.” (HSR. Abu
Dawud no. 4297)
1.3:
Tipu Daya Menyulap Kebatilan Menjadi Keindahan
Keahlian
utama ahli kebatilan adalah melakukan pemolesan kata dan citra, sehingga
keharoman terlihat sebagai kemaslahatan, dan bid’ah tampak sebagai ikhtiar
mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
menegaskan pola pengemasan kebatilan ini:
﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا
شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ
غُرُورًا ۚ
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ
فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon
manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain
perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Robb-mu menghendaki,
niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang
mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)
Alloh ﷻ juga
menceritakan bagaimana pelaku kemaksiatan memandang indah perbuatan buruk
mereka:
﴿أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ
حَسَنًا ۖ
فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾
“Maka
apakah orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya lalu dia meyakini
perbuatan itu baik sama dengan orang yang dilimpahi hidayah? Maka sungguh Alloh
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya.” (QS. Fathir: 8)
Rasululloh ﷺ mengabarkan tentang
pergeseran istilah untuk menghalalkan hal yang harom di akhir zaman:
«لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ،
يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ، وَالْمُغَنِّيَاتِ،
يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ، وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ»
“Sungguh
akan ada sebagian dari ummatku yang meminum khomr dengan menamakannya bukan
dengan namanya, dimainkan di atas kepala-kepala mereka alat-alat musik dan para
penyanyi wanita. Alloh akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan
sebagian mereka sebagai kera dan babi.” (HSR. Ibnu Majah no. 4020)
Bab 2: Tokoh Kesesatan dan
Kegigihan Mereka
Bab ini mengupas profil para komandan kebatilan dari
golongan jin dan manusia, membedah kegigihan Iblis, strategi syaithon jin,
pergerakan syaithon manusia, serta bahaya para pemimpin yang menyesatkan ummat.
2.1:
Iblis dan Semangatnya Menggoda Manusia Hingga Hari Qiyamah
Iblis
merupakan pelopor kesesatan yang memiliki komitmen pantang menyerah untuk
menyesatkan anak cucu Adam sejak diusir dari Jannah hingga hari Qiyamah.
Alloh ﷻ
mengabadikan proklamasi permusuhan Iblis:
﴿قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ
صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۞
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ
وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ
وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ﴾
“Iblis
menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi
mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.
Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS.
Al-A’rof: 16-17)
Alloh ﷻ juga
mengungkapkan sumpah Iblis untuk mengarahkan seluruh daya upayanya:
﴿قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
۞
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾
“Iblis
berkata: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlish di antara mereka.’” (QS. Shod: 82-83)
Di dalam
Hadits, Rosululloh ﷺ
menggambarkan aktivitas harian Iblis yang terorganisir dalam mengevaluasi para
anak buahnya:
«إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ،
ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً،
يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا،
قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ
وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ»
“Sungguh
Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengutus
pasukan-pasukannya. Maka yang paling dekat kedudukannya di antara mereka dengan
Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang salah satu dari mereka seraya
berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kamu belum
melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lainnya seraya berkata: ‘Aku tidak
meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka
Iblis mendekatkannya kepada dirinya seraya berkata: ‘Bagus sekali kamu.’ (HR.
Muslim no. 2813)
2.2:
Syaithon Jin dan Ketekunan Mereka Membisikkan Syahwat serta Syubuhat
Syaithon
dari golongan jin bekerja secara kontinu tanpa kenal lelah, menyusup ke dalam
pikiran dan dada manusia untuk menyemai keraguan serta melampiaskan syahwat
harom.
Alloh ﷻ
berfirman memerintahkan perlindungan dari bisikan halus mereka:
﴿الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۞
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ﴾
“Yang
membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (QS.
An-Nas: 5-6)
Alloh ﷻ juga
menegaskan bagaimana syaithon jin selalu mengintai kesempatannya:
﴿إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ
لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ
إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ﴾
“Sungguh ia
dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat
melihat mereka. Sungguh Kami telah menjadikan syaithon-syaithon itu
pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’rof: 27)
Rasululloh ﷺ menjelaskan dekatnya akses syaithon
jin dalam tubuh manusia:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ
مَجْرَى الدَّمِ»
“Sungguh syaithon
itu berjalan dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah.” (HR. Al-Bukhori
no. 3281 dan Muslim no. 2175)
2.3:
Syaithon Manusia dan Kegigihan Mereka Menghalangi Jalan Alloh ﷻ
Syaithon
manusia memiliki bentuk nyata, berinteraksi secara fisik, serta menggunakan
berbagai sarana modern dan fasilitas harta demi menjauhkan ummat dari ajaran Islam
yang fithroh.
Alloh ﷻ
mengabadikan makar siang dan malam yang dilancarkan oleh syaithon manusia:
﴿وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ
اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ
بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا﴾
“Dan
orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan
diri: ‘(Tidak), sebenarnya tipu daya kalian di waktu malam dan siang hari (yang
menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami kafir kepada Alloh
dan menduakan-Nya.’” (QS. Saba’: 33)
Alloh ﷻ juga
mengungkapkan tujuan akhir dari gigihnya seruan syaithon manusia:
﴿وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ
سَوَاءً﴾
“Mereka
ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu
kamu menjadi sama dengan mereka.” (QS. An-Nisa’: 89)
Rasululloh ﷺ memperingatkan bahaya rekan
dekat dari golongan syaithon manusia yang selalu mendorong pada kejahatan:
«مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ، وَلاَ اسْتَخْلَفَ
مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ
وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالْمَعْصُومُ
مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى»
“Tidaklah
Alloh mengutus seorang Nabi pun dan tidak pula mengangkat seorang kholifah
melainkan ia memiliki dua kelompok teman dekat; kelompok yang memerintahkannya
kepada kebaikan dan mendorongnya untuk itu, serta kelompok yang
memerintahkannya kepada kejahatan dan mendorongnya untuk melakukan kejahatan
tersebut. Orang yang selamat hanya yang diselamatkan Alloh.” (HR. Al-Bukhori
no. 7198)
2.4:
Pemimpin Kesesatan dan Para Penyeru ke Pintu Naar
Tokoh
kesesatan paling berbahaya adalah para pemimpin yang dijadikan teladan oleh
masyarakat, namun mereka memimpin menuju kebinasaan dan Naar.
Alloh ﷻ
berfirman tentang para pemimpin Fir’aun dan pengikutnya:
﴿وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ
ۖ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ﴾
“Dan Kami
jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru kepada Naar dan pada hari Qiyamah
mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Qoshosh: 41)
Alloh ﷻ juga
menggambarkan penyesalan para pengikut pemimpin sesat di Akhiroh:
﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا
وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴾
“Dan mereka
berkata: ‘Ya Robb kami, sungguh kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan
pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.’” (QS.
Al-Ahzab: 67)
Rasululloh ﷺ menyatakan kekhawatiran
terbesar beliau terhadap ummatnya dari kalangan pemimpin sesat:
«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ
الْمُضِلِّينَ»
“Sungguh
yang paling aku takutkan atas ummatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR.
Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi no. 2229)
Bab 3: Potret Semangat Ahli
Kebatilan dalam Sejarah
Bab ini memperlihatkan rekam jejak pengorbanan serta
kegigihan ahli kebatilan sepanjang sejarah, mulai dari pengerahan harta kaum
musyrikin, tipu daya Ahlul Kitab, kegigihan kelompok bid’ah, hingga konsistensi
para pejuang kemaksiatan.
3.1:
Pengorbanan Harta dan Raga Kaum Musyrikin Menyebar Kebatilan
Sejak era
awal da’wah Islam, kaum musyrikin rela menginfakkan kekayaan dan mengorbankan
jiwa raga mereka demi memadamkan cahaya Tauhid.
Alloh ﷻ
merekam infak besar-besaran kaum musyrikin:
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ
لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ
فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ
وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari
jalan Alloh. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi
mereka, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah
orang-orang yang kafir itu dihimpunkan.” (QS. Al-Anfal: 36)
Alloh ﷻ juga
menceritakan kegigihan mereka dalam mempertahankan berhala:
﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ
وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾
“Dan mereka
berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula
sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.’” (QS.
Nuh: 23)
Di dalam
As-Sunnah, diringkaskan bagaimana kegigihan Abu Jahal dan tokoh musyrikin dalam
perang Badr untuk membela kebatilan.
Ibnu Ishaq
(151 H) berkata: Ketika Abu Sufyan bin Harb (31 H) melihat bahwa ia telah
menyelamatkan rombongan unta dagangannya, ia mengirim utusan kepada kaum
Qurosy: “Sesungguhnya kalian keluar hanya untuk melindungi rombongan unta
dagangan kalian, para lelaki kalian, dan harta benda kalian. Sungguh Alloh
telah menyelamatkannya, maka pulanglah kalian (ke Makkah).” Namun Abu Jahal bin
Hisyam berkata: “Demi Alloh, kita tidak akan kembali sampai kita mendatangi
Badr — dan Badr merupakan salah satu tempat perayaan musiman bangsa ‘Arob, di
mana pasar berkumpul bagi mereka di sana setiap tahun — lalu kita tinggal di
sana selama 3 hari, kita menyembelih unta-unta, memberikan makanan, meminum
khomr, dan para penyanyi wanita memetik musik untuk kita. Sehingga seluruh
bangsa ‘Arob mendengar tentang kita, perjalanan kita, dan pengumpulan pasukan
kita, lalu mereka akan senantiasa takut kepada kita selama-lamanya setelahnya.”
(Uyun Al-Atsar, Ibnu Sayyid An-Nas (734 H), 1/292)
3.2:
Kegigihan Ahlul Kitab Menyesatkan Ummat Islam
Ahlul Kitab
secara konsisten merancang strategi untuk mengikis keimanan kaum Mu’min, baik
melalui distorsi kitab suci maupun penyebaran keraguan secara halus.
Alloh ﷻ
menyibak keinginan keras mereka:
﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ
مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ
مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ﴾
“Sebagian
besar dari Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran setelah kamu beriman, karena rasa dengki yang (timbul) dari dalam
diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh: 109)
Alloh ﷻ juga
mengabarkan makar terencana mereka dalam berpura-pura beriman:
﴿وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا
آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Segolongan
(lain) dari Ahlul Kitab berkata (kepada sesamanya): ‘Berimanlah kamu kepada apa
yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarlah
pada akhirnya, supaya mereka kembali (kepada kekafiran).’” (QS. Ali ‘Imron:
72)
Rasululloh ﷺ memberikan peringatan agar
tidak terpedaya oleh seruan dan rekayasa mereka yang mengklaim berbicara dari
Taurot:
«لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ،
وَقُولُوا: ﴿آمَنَّا
بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا﴾»
“Janganlah
kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, akan tetapi
katakanlah: ‘Kami beriman kepada Alloh dan kepada apa yang diturunkan kepada
kami.’” (HR. Al-Bukhori no. 4485)
3.3:
Perjuangan Ahli Bid’ah dan Khowarij Menyebarkan Paham Sesat
Para
pengusung bid’ah dan kaum Khowarij menunjukkan semangat luar biasa dalam ibadah
lahiriah, namun kesungguhan tersebut berdiri di atas fondasi penyimpangan dari
Sunnah Nabi ﷺ.
Alloh ﷻ
menggambarkan orang-orang yang lelah beramal namun terjerumus dalam kebinasaan:
﴿عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ ۞
تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً﴾
“Bekerja
keras lagi kepayahan, mereka memasuki Naar yang sangat panas.” (QS.
Al-Ghosyiyah: 3-4)
Alloh ﷻ juga
melarang perselisihan yang memecah belah agama:
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا
مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ
وَأُولٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾
“Dan
janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah
datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang
mendapat adzab yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 105)
Rasululloh ﷺ menggambarkan kesungguhan
lahiriah kaum Khowarij yang menipu mata:
«يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ،
لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ
بِشَيْءٍ، وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ
أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ، لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ
مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
“Akan
keluar suatu kaum dari ummatku, mereka membaca Al-Qur’an di mana bacaan kalian
tidak ada apa-apanya dibandingkan bacaan mereka, sholat kalian tidak ada apa-apanya
dibanding sholat mereka, dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa
mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka bahwa Al-Qur’an itu membela
mereka padahal Al-Qur’an itu menuntut mereka. Sholat mereka tidak melewati
tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah
melesat menembus sasaran.” (HR. Muslim no. 1066)
3.4:
Kesungguhan Para Penyeru Syahwat dan Kemaksiatan
Para pelaku
dan penyeru kemaksiatan tidak pernah sepi dari ide untuk menjajakan keharoman,
memanfaatkan seni, hiburan, dan media untuk merusak fithroh manusia.
Alloh ﷻ
mengancam para penyebar perbuatan keji di tengah masyarakat Mu’min:
﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ
فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di
akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur:
19)
Alloh ﷻ juga
mencela orang-orang yang membeli perkataan tidak berguna untuk menyesatkan
manusia:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ
لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ
أُولٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾
“Dan di
antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Alloh tanpa pengetahuan dan menjadikan
jalan Alloh itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.”
(QS. Luqman: 6)
Rasululloh ﷺ memberikan peringatan akan
bahaya seruan syahwat yang dibungkus dengan kesenangan:
«حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ
الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ»
“Naar itu dikelilingi
dengan hal-hal yang disukai syahwat, sedangkan Jannah dikelilingi dengan
hal-hal yang dibenci.” (HR. Al-Bukhori no. 6487 dan Muslim no. 2822)
Bab 4: Pengaruh Kegigihan
Kebatilan Terhadap Kehidupan Ummat
Bab ini memaparkan dampak merusak dari agresi kebatilan yang
tidak dibendung, mulai dari perusakan fithroh dan Sunnah, dominasi kezholiman
terorganisir, hingga melemahnya posisi kaum Mu’min yang terpecah belah.
4.1: Terbaliknya Nilai-Nilai Fithroh dan Sunnah
Nabi ﷺ
Gempuran kebatilan yang bertubi-tubi secara perlahan
mengikis standar nilai dalam masyarakat, membuat Sunnah dianggap asing dan
perbuatan bid’ah serta kemaksiatan dianggap sebagai kenormalan.
Alloh ﷻ
menggambarkan terbaliknya pandangan manusia akibat penyesatan:
﴿أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ
كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ﴾
“Maka
apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Robb-nya sama
dengan orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya dan mengikuti hawa
nafsunya?” (QS. Muhammad: 14)
Alloh ﷻ juga
menegaskan pentingnya menjaga fithroh murni:
﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلَّدِينِ حَنِيفًا ۚ
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ
لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ
ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka
menghadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh; (tetaplah atas)
fithroh Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada
perubahan pada fithroh Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Rasululloh ﷺ mengabarkan masa di mana Islam
kembali asing akibat gempuran kebatilan:
«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا
بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam
bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya,
maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)
4.2:
Merajalelanya Kezholiman dan Kebatilan yang Terorganisir
Kebatilan
yang dikelola secara rapi dan sistematis akan menghasilkan kezholiman meluas
yang merusak tatanan sosial, hukum, dan keagamaan.
Alloh ﷻ
mengingatkan akibat buruk kemaksiatan yang dibiarkan merajalela:
﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ
يَرْجِعُونَ﴾
“Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Alloh ﷻ
melarang kaum Mu’min cenderung kepada kebatilan dan pelaku kezholiman:
﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ
النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kamu
disentuh Naar, dan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada
Alloh, kemudian kamu tidak akan ditolong.” (QS. Hud: 113)
Rasululloh ﷺ menegaskan akibat hilangnya
amar ma’ruf nahi munkar terhadap dominasi kebatilan:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ
وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ
عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»
“Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Alloh benar-benar akan
mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya
namun doa kalian tidak dikabulkan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2169)
4.3:
Melemahnya Persatuan Kaum Mu’minin
Ketidakmampuan
kaum Mu’min untuk bersatu dan membangun kesungguhan tandingan membuat kondisi
mereka menjadi dho’if di hadapan barisan musuh yang padu.
Alloh ﷻ
memerintahkan persatuan agar tidak kehilangan kekuatan:
﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا
فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ
وَاصْبِرُوا ۚ
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan
taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sungguh
Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Alloh ﷻ juga
menegaskan bahaya jika kaum Mu’min tidak saling menolong:
﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ
بَعْضٍ ۚ
إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ﴾
“Adapun
orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang
lain. Jika kamu (dalam hal ini kaum Mu’min) tidak melaksanakan apa yang telah
diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan
yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)
Rasululloh ﷺ menggambarkan idealnya
persatuan kaum Mu’min seperti bangunan yang kokoh:
«إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ
يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ
“Seorang Mu’min
bagi Mu’min lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara
sebagian dengan sebagian lainnya.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no.
2585)
Bab 5: Mengambil Pelajaran dari
Semangat Ahli Kebatilan
Bab ini merumuskan langkah strategis dan evaluatif bagi kaum
Mu’min untuk membangkitkan kembali semangat da’wah, memperkokoh persatuan,
serta mengagungkan istiqomah dan taqwa dalam membendung kebatilan.
5.1:
Mengobarkan Semangat Kaum Mu’min untuk Mendorong Da’wah
Melihat
kesungguhan ahli kebatilan seharusnya memicu kobar semangat kaum Mu’min untuk
berjuang lebih keras dalam menyebarkan ajaran Islam yang murni.
Alloh ﷻ
memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan:
﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ
إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴾
“Maka
berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Alloh kamu semuanya
kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.”
(QS. Al-Ma’idah: 48)
Alloh ﷻ juga
mendorong jihad harta dan jiwa secara maksimal:
﴿انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ
وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ
ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Berangkatlah
kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan
harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
Rasululloh ﷺ memberikan petunjuk tindakan
bertahap dalam mengubah kemunkaran:
«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ
بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ،
وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan
tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka
dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR.
Muslim no. 49)
5.2:
Strategi Persatuan Kaum Mu’min Menghadapi Kebatilan Terorganisir
Kebatilan
yang terorganisir hanya dapat ditumbangkan dengan kebaikan yang dikelola secara
rapi, sistematis, dan dilandasi persatuan di atas Manhaj Shohabat.
Alloh ﷻ
memerintahkan berpegang teguh pada tali agama secara bersama-sama:
﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا
تَفَرَّقُوا ۚ
وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ
قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾
“Dan berpeganglah
kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah)
bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
ni’mat Alloh, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imron: 103)
Alloh ﷻ
memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
ۖ
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ
إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada
Alloh, sungguh Alloh amat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Rasululloh ﷺ menegaskan pentingnya berada
di dalam Al-Jama’ah:
«عَلَيْكُمْ
بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ
مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ»
“Hendaklah
kalian bersaudara dalam Al-Jama’ah dan jauhilah perpecahan, karena sungguh syaithon
itubersama orang yang sendirian dan ia berjarak lebih jauh dari dua orang. Siapa
yang menginginkan bagian tengah Jannah, maka hendaklah ia menetapi Al-Jama’ah.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 2165)
5.3:
Istiqomah dan Taqwa Sebagai Benteng Utama Pertahanan Fithroh
Modal
terbesar kaum Mu’min dalam menghadapi panjangnya pertempuran melawan kebatilan
adalah ketaqwaan yang mantap dan istiqomah di atas Sunnah tanpa tergoyahkan
oleh tipu daya.
Alloh ﷻ
menjanjikan pertolongan bagi orang-orang yang istiqomah:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka
beristiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah
kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan
memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fushshilot:
30)
Alloh ﷻ juga
menegaskan kemuliaan akhir bagi orang-orang yang bertaqwa:
﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ
لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ
وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Negeri Akhiroh
itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi
orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qoshosh: 83)
Rasululloh ﷺ mengajarkan doa ketetapan
hati di atas agama Alloh ﷻ:
«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ»
“Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3522)
Penutup
Kesungguhan
para pengusung kebatilan dalam memperjuangkan kesesatan mereka merupakan fakta
sejarah dan realita lapangan yang tidak boleh diabaikan. Ketika Iblis, syaithon
jin, syaithon manusia, serta para penyeru kemaksiatan bekerja tanpa kenal lelah
siang dan malam untuk menyeret manusia ke dalam Naar, sangat tidak wajar bagi
kaum Mu’min untuk bersikap malas, bersantai, dan terpecah belah. Kebatilan akan
tumbang jika kebenaran diperjuangkan dengan kesungguhan, perencanaan yang
matang, persatuan yang kokoh, serta keikhlasan yang tulus demi mengharap Ridho
Alloh ﷻ.
Semoga pemaparan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah di dalam buku ini menjadi pemicu timbulnya ghiroh da’wah, membakar semangat keimanan, serta meneguhkan pijakan fithroh kaum Mu’min agar tetap istiqomah membela ajaran Islam hingga akhir hayat.[NK]
