Cari Ebook

[PDF] Semangat Ahli Kebatilan Menyebarkan Kebatilan - Nor Kandir

 


Semangat Ahli Kebatilan

Menyebarkan Kebatilan

Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 68

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

 

Muqoddimah

﷽

Di tengah perhelatan zaman, sering kali kaum Mu’min menyaksikan betapa para penyeru kesesatan memiliki kesungguhan, pengorbanan, dan konsistensi yang luar biasa dalam menjajakan paham serta perbuatan harom mereka. Keadaan ini menjadi cermin kelam sekaligus peringatan keras bagi Ahlus Sunnah agar tidak bersikap lemah dan bersantai-santai dalam memperjuangkan Islam. Alloh ﷻ telah mengabadikan berbagai ikhtiar dan strategi jahat para pengusung kebatilan di dalam Al-Qur’an agar hamba-hamba-Nya yang beriman waspada serta mengambil pelajaran.

Buku ini berusaha membedah hakikat semangat ahli kebatilan, mengenali tokoh-tokoh utama kesesatan beserta potret histori pengorbanan mereka, hingga dampaknya terhadap manusia, lalu diakhiri dengan formulasi ikhtiar agar kaum Mu’min dapat membakar kembali spirit da’wah haq dengan konsistensi yang jauh melampaui kegigihan para penyeru kebatilan.

 

Bab 1: Bahaya Semangat Ahli Kebatilan

Bab ini membedah akar dasar dari pergerakan ahli kebatilan, karakter utama yang melekat pada diri para penyeru kesesatan, bahaya dari keterlenaan kaum Mu’min, serta cara kerja mereka dalam mengemas kebatilan agar terlihat indah di mata manusia.

1.1: Karakter Penyeru Kesesatan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Para penyeru kesesatan memiliki perangai khas yang digambarkan secara gamblang dalam wahyu. Mereka tidak pernah berhenti berupaya memalingkan manusia dari Tauhid dan Sunnah Nabi ﷺ, memanfaatkan segala celah dengan penuh kelicikan dan kesungguhan.

Alloh ﷻ berfirman memotret perangai mereka:

﴿وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا الْمُنْكَرَ ۖ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۗ قُلْ أَفَأُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذٰلِكُمْ ۗ النَّارُ وَعَدَهَا اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ﴾

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, kamu akan melihat tanda-tanda keingkaran pada wajah-wajah orang-orang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka. Katakanlah: ‘Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada yang demikian itu? Yaitu Naar.’ Alloh telah menjanjikannya kepada orang-orang yang kafir. Dan Naar itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Hajj: 72)

Para penyeru kesesatan saling memprovokasi untuk bertahan di atas kebatilan:

﴿وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَىٰ آلِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هٰذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ﴾

“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka seraya berkata: ‘Pergilah kamu dan tetaplah bertahan menyembah tuhan-tuhanmu, sungguh ini adalah suatu hal yang benar-benar dikehendaki.’” (QS. Shod: 6)

Rasululloh ﷺ memberikan peringatan tegas tentang keberadaan para penyeru kebatilan ini di dalam matan Hadits:

«دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»

“Para penyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka menuju pintu itu, niscaya mereka akan melemparkannya ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 7084 dan Muslim no. 1847)

1.2: Bahaya Santai Ummat Islam Menghadapi Kegigihan Kebatilan

Sikap santai dan lalai dari kaum Mu’min saat ahli kebatilan sedang bergerak massif merupakan celah kehancuran. Ketika kebaikan tidak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh, maka kebatilan yang terorganisir akan dengan mudah menggilas kebenaran.

Alloh ﷻ mengingatkan bahaya fitnah yang meluas akibat kelalaian:

﴿وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan peliharalah dirimu dari fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zholim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Alloh amat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal: 25)

Alloh ﷻ juga melarang kaum Mu’min merasa lemah dan bersantai dalam menghadapi musuh:

﴿وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴾

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi derajatnya, jika kamu orang-orang yang Mu’min.” (QS. Ali ‘Imron: 139)

Di dalam As-Sunnah, Rosululloh ﷺ menggambarkan bagaimana ummat Islam menjadi mangsa akibat ketiadaan semangat dan kelemahan jiwa:

«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»

“Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa saling mengajak untuk memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang yang makan berebut menghadapi piring hidangannya.” Seorang sahabat bertanya: “Apakah karena jumlah kami sedikit pada hari itu?” Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada hari itu banyak, akan tetapi kalian seperti buih di lautan. Dan Alloh sungguh akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian terhadap kalian, dan Alloh akan mencampakkan ke dalam hati kalian penyakit wahn.” Mereka bertanya: “Wahai Rosululloh, apa itu wahn?” Jawab beliau: “Cinta dunia dan takut mati.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)

1.3: Tipu Daya Menyulap Kebatilan Menjadi Keindahan

Keahlian utama ahli kebatilan adalah melakukan pemolesan kata dan citra, sehingga keharoman terlihat sebagai kemaslahatan, dan bid’ah tampak sebagai ikhtiar mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ.

Alloh ﷻ menegaskan pola pengemasan kebatilan ini:

﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jikalau Robb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)

Alloh ﷻ juga menceritakan bagaimana pelaku kemaksiatan memandang indah perbuatan buruk mereka:

﴿أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا ۖ فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾

“Maka apakah orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya lalu dia meyakini perbuatan itu baik sama dengan orang yang dilimpahi hidayah? Maka sungguh Alloh menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Fathir: 8)

Rasululloh ﷺ mengabarkan tentang pergeseran istilah untuk menghalalkan hal yang harom di akhir zaman:

«لَيَشْرَبَنَّ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ، يُسَمُّونَهَا بِغَيْرِ اسْمِهَا، يُعْزَفُ عَلَى رُءُوسِهِمْ بِالْمَعَازِفِ، وَالْمُغَنِّيَاتِ، يَخْسِفُ اللَّهُ بِهِمُ الْأَرْضَ، وَيَجْعَلُ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ»

“Sungguh akan ada sebagian dari ummatku yang meminum khomr dengan menamakannya bukan dengan namanya, dimainkan di atas kepala-kepala mereka alat-alat musik dan para penyanyi wanita. Alloh akan membenamkan mereka ke dalam bumi dan menjadikan sebagian mereka sebagai kera dan babi.” (HSR. Ibnu Majah no. 4020)

 

Bab 2: Tokoh Kesesatan dan Kegigihan Mereka

Bab ini mengupas profil para komandan kebatilan dari golongan jin dan manusia, membedah kegigihan Iblis, strategi syaithon jin, pergerakan syaithon manusia, serta bahaya para pemimpin yang menyesatkan ummat.

2.1: Iblis dan Semangatnya Menggoda Manusia Hingga Hari Qiyamah

Iblis merupakan pelopor kesesatan yang memiliki komitmen pantang menyerah untuk menyesatkan anak cucu Adam sejak diusir dari Jannah hingga hari Qiyamah.

Alloh ﷻ mengabadikan proklamasi permusuhan Iblis:

﴿قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۞ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ﴾

“Iblis menjawab: ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Alloh ﷻ juga mengungkapkan sumpah Iblis untuk mengarahkan seluruh daya upayanya:

﴿قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۞ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾

“Iblis berkata: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlish di antara mereka.’” (QS. Shod: 82-83)

Di dalam Hadits, Rosululloh ﷺ menggambarkan aktivitas harian Iblis yang terorganisir dalam mengevaluasi para anak buahnya:

«إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ، ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا، قَالَ ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ، قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ»

“Sungguh Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian ia mengutus pasukan-pasukannya. Maka yang paling dekat kedudukannya di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnahnya. Datang salah satu dari mereka seraya berkata: ‘Aku telah melakukan ini dan itu.’ Iblis menjawab: ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Kemudian datang yang lainnya seraya berkata: ‘Aku tidak meninggalkannya sampai aku berhasil memisahkan antara dia dan istrinya.’ Maka Iblis mendekatkannya kepada dirinya seraya berkata: ‘Bagus sekali kamu.’ (HR. Muslim no. 2813)

2.2: Syaithon Jin dan Ketekunan Mereka Membisikkan Syahwat serta Syubuhat

Syaithon dari golongan jin bekerja secara kontinu tanpa kenal lelah, menyusup ke dalam pikiran dan dada manusia untuk menyemai keraguan serta melampiaskan syahwat harom.

Alloh ﷻ berfirman memerintahkan perlindungan dari bisikan halus mereka:

﴿الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ۞ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ﴾

“Yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Nas: 5-6)

Alloh ﷻ juga menegaskan bagaimana syaithon jin selalu mengintai kesempatannya:

﴿إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ ۗ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ﴾

“Sungguh ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak dapat melihat mereka. Sungguh Kami telah menjadikan syaithon-syaithon itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-A’rof: 27)

Rasululloh ﷺ menjelaskan dekatnya akses syaithon jin dalam tubuh manusia:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ»

“Sungguh syaithon itu berjalan dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah.” (HR. Al-Bukhori no. 3281 dan Muslim no. 2175)

2.3: Syaithon Manusia dan Kegigihan Mereka Menghalangi Jalan Alloh ﷻ

Syaithon manusia memiliki bentuk nyata, berinteraksi secara fisik, serta menggunakan berbagai sarana modern dan fasilitas harta demi menjauhkan ummat dari ajaran Islam yang fithroh.

Alloh ﷻ mengabadikan makar siang dan malam yang dilancarkan oleh syaithon manusia:

﴿وَقَالَ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا بَلْ مَكْرُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ إِذْ تَأْمُرُونَنَا أَنْ نَكْفُرَ بِاللَّهِ وَنَجْعَلَ لَهُ أَنْدَادًا﴾

“Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: ‘(Tidak), sebenarnya tipu daya kalian di waktu malam dan siang hari (yang menghalangi kami), ketika kalian menyeru kami supaya kami kafir kepada Alloh dan menduakan-Nya.’” (QS. Saba’: 33)

Alloh ﷻ juga mengungkapkan tujuan akhir dari gigihnya seruan syaithon manusia:

﴿وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً﴾

“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama dengan mereka.” (QS. An-Nisa’: 89)

Rasululloh ﷺ memperingatkan bahaya rekan dekat dari golongan syaithon manusia yang selalu mendorong pada kejahatan:

«مَا بَعَثَ اللَّهُ مِنْ نَبِيٍّ، وَلاَ اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَةٍ، إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالشَّرِّ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، فَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَمَ اللَّهُ تَعَالَى»

“Tidaklah Alloh mengutus seorang Nabi pun dan tidak pula mengangkat seorang kholifah melainkan ia memiliki dua kelompok teman dekat; kelompok yang memerintahkannya kepada kebaikan dan mendorongnya untuk itu, serta kelompok yang memerintahkannya kepada kejahatan dan mendorongnya untuk melakukan kejahatan tersebut. Orang yang selamat hanya yang diselamatkan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7198)

2.4: Pemimpin Kesesatan dan Para Penyeru ke Pintu Naar

Tokoh kesesatan paling berbahaya adalah para pemimpin yang dijadikan teladan oleh masyarakat, namun mereka memimpin menuju kebinasaan dan Naar.

Alloh ﷻ berfirman tentang para pemimpin Fir’aun dan pengikutnya:

﴿وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ﴾

“Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru kepada Naar dan pada hari Qiyamah mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Qoshosh: 41)

Alloh ﷻ juga menggambarkan penyesalan para pengikut pemimpin sesat di Akhiroh:

﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا﴾

“Dan mereka berkata: ‘Ya Robb kami, sungguh kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.’” (QS. Al-Ahzab: 67)

Rasululloh ﷺ menyatakan kekhawatiran terbesar beliau terhadap ummatnya dari kalangan pemimpin sesat:

«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ»

“Sungguh yang paling aku takutkan atas ummatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi no. 2229)

 

Bab 3: Potret Semangat Ahli Kebatilan dalam Sejarah

Bab ini memperlihatkan rekam jejak pengorbanan serta kegigihan ahli kebatilan sepanjang sejarah, mulai dari pengerahan harta kaum musyrikin, tipu daya Ahlul Kitab, kegigihan kelompok bid’ah, hingga konsistensi para pejuang kemaksiatan.

3.1: Pengorbanan Harta dan Raga Kaum Musyrikin Menyebar Kebatilan

Sejak era awal da’wah Islam, kaum musyrikin rela menginfakkan kekayaan dan mengorbankan jiwa raga mereka demi memadamkan cahaya Tauhid.

Alloh ﷻ merekam infak besar-besaran kaum musyrikin:

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi manusia dari jalan Alloh. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dihimpunkan.” (QS. Al-Anfal: 36)

Alloh ﷻ juga menceritakan kegigihan mereka dalam mempertahankan berhala:

﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾

“Dan mereka berkata: ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.’” (QS. Nuh: 23)

Di dalam As-Sunnah, diringkaskan bagaimana kegigihan Abu Jahal dan tokoh musyrikin dalam perang Badr untuk membela kebatilan.

Ibnu Ishaq (151 H) berkata: Ketika Abu Sufyan bin Harb (31 H) melihat bahwa ia telah menyelamatkan rombongan unta dagangannya, ia mengirim utusan kepada kaum Qurosy: “Sesungguhnya kalian keluar hanya untuk melindungi rombongan unta dagangan kalian, para lelaki kalian, dan harta benda kalian. Sungguh Alloh telah menyelamatkannya, maka pulanglah kalian (ke Makkah).” Namun Abu Jahal bin Hisyam berkata: “Demi Alloh, kita tidak akan kembali sampai kita mendatangi Badr — dan Badr merupakan salah satu tempat perayaan musiman bangsa ‘Arob, di mana pasar berkumpul bagi mereka di sana setiap tahun — lalu kita tinggal di sana selama 3 hari, kita menyembelih unta-unta, memberikan makanan, meminum khomr, dan para penyanyi wanita memetik musik untuk kita. Sehingga seluruh bangsa ‘Arob mendengar tentang kita, perjalanan kita, dan pengumpulan pasukan kita, lalu mereka akan senantiasa takut kepada kita selama-lamanya setelahnya.” (Uyun Al-Atsar, Ibnu Sayyid An-Nas (734 H), 1/292)

3.2: Kegigihan Ahlul Kitab Menyesatkan Ummat Islam

Ahlul Kitab secara konsisten merancang strategi untuk mengikis keimanan kaum Mu’min, baik melalui distorsi kitab suci maupun penyebaran keraguan secara halus.

Alloh ﷻ menyibak keinginan keras mereka:

﴿وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ﴾

“Sebagian besar dari Ahlul Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena rasa dengki yang (timbul) dari dalam diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (QS. Al-Baqoroh: 109)

Alloh ﷻ juga mengabarkan makar terencana mereka dalam berpura-pura beriman:

﴿وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

“Segolongan (lain) dari Ahlul Kitab berkata (kepada sesamanya): ‘Berimanlah kamu kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman pada awal siang dan ingkarlah pada akhirnya, supaya mereka kembali (kepada kekafiran).’” (QS. Ali ‘Imron: 72)

Rasululloh ﷺ memberikan peringatan agar tidak terpedaya oleh seruan dan rekayasa mereka yang mengklaim berbicara dari Taurot:

«لا تُصَدِّقُوا أَهْلَ الكِتَابِ وَلا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: ﴿آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا﴾»

“Janganlah kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, akan tetapi katakanlah: ‘Kami beriman kepada Alloh dan kepada apa yang diturunkan kepada kami.’” (HR. Al-Bukhori no. 4485)

3.3: Perjuangan Ahli Bid’ah dan Khowarij Menyebarkan Paham Sesat

Para pengusung bid’ah dan kaum Khowarij menunjukkan semangat luar biasa dalam ibadah lahiriah, namun kesungguhan tersebut berdiri di atas fondasi penyimpangan dari Sunnah Nabi ﷺ.

Alloh ﷻ menggambarkan orang-orang yang lelah beramal namun terjerumus dalam kebinasaan:

﴿عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ ۞ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً﴾

“Bekerja keras lagi kepayahan, mereka memasuki Naar yang sangat panas.” (QS. Al-Ghosyiyah: 3-4)

Alloh ﷻ juga melarang perselisihan yang memecah belah agama:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat adzab yang berat.” (QS. Ali ‘Imron: 105)

Rasululloh ﷺ menggambarkan kesungguhan lahiriah kaum Khowarij yang menipu mata:

«يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِي يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صَلَاتُكُمْ إِلَى صَلَاتِهِمْ بِشَيْءٍ، وَلَا صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَيْءٍ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ، لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»

“Akan keluar suatu kaum dari ummatku, mereka membaca Al-Qur’an di mana bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan bacaan mereka, sholat kalian tidak ada apa-apanya dibanding sholat mereka, dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an dan menyangka bahwa Al-Qur’an itu membela mereka padahal Al-Qur’an itu menuntut mereka. Sholat mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat menembus sasaran.” (HR. Muslim no. 1066)

3.4: Kesungguhan Para Penyeru Syahwat dan Kemaksiatan

Para pelaku dan penyeru kemaksiatan tidak pernah sepi dari ide untuk menjajakan keharoman, memanfaatkan seni, hiburan, dan media untuk merusak fithroh manusia.

Alloh ﷻ mengancam para penyebar perbuatan keji di tengah masyarakat Mu’min:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di antara orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Alloh ﷻ juga mencela orang-orang yang membeli perkataan tidak berguna untuk menyesatkan manusia:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ﴾

“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Alloh tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Alloh itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.” (QS. Luqman: 6)

Rasululloh ﷺ memberikan peringatan akan bahaya seruan syahwat yang dibungkus dengan kesenangan:

«حُجِبَتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ، وَحُجِبَتِ الجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ»

“Naar itu dikelilingi dengan hal-hal yang disukai syahwat, sedangkan Jannah dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci.” (HR. Al-Bukhori no. 6487 dan Muslim no. 2822)

Bab 4: Pengaruh Kegigihan Kebatilan Terhadap Kehidupan Ummat

Bab ini memaparkan dampak merusak dari agresi kebatilan yang tidak dibendung, mulai dari perusakan fithroh dan Sunnah, dominasi kezholiman terorganisir, hingga melemahnya posisi kaum Mu’min yang terpecah belah.

4.1: Terbaliknya Nilai-Nilai Fithroh dan Sunnah Nabi ﷺ

Gempuran kebatilan yang bertubi-tubi secara perlahan mengikis standar nilai dalam masyarakat, membuat Sunnah dianggap asing dan perbuatan bid’ah serta kemaksiatan dianggap sebagai kenormalan.

Alloh ﷻ menggambarkan terbaliknya pandangan manusia akibat penyesatan:

﴿أَفَمَنْ كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ﴾

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Robb-nya sama dengan orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya dan mengikuti hawa nafsunya?” (QS. Muhammad: 14)

Alloh ﷻ juga menegaskan pentingnya menjaga fithroh murni:

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلَّدِينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Maka menghadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Alloh; (tetaplah atas) fithroh Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada perubahan pada fithroh Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

Rasululloh ﷺ mengabarkan masa di mana Islam kembali asing akibat gempuran kebatilan:

«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal mulanya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim no. 145)

4.2: Merajalelanya Kezholiman dan Kebatilan yang Terorganisir

Kebatilan yang dikelola secara rapi dan sistematis akan menghasilkan kezholiman meluas yang merusak tatanan sosial, hukum, dan keagamaan.

Alloh ﷻ mengingatkan akibat buruk kemaksiatan yang dibiarkan merajalela:

﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Alloh ﷻ melarang kaum Mu’min cenderung kepada kebatilan dan pelaku kezholiman:

﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kamu disentuh Naar, dan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain daripada Alloh, kemudian kamu tidak akan ditolong.” (QS. Hud: 113)

Rasululloh ﷺ menegaskan akibat hilangnya amar ma’ruf nahi munkar terhadap dominasi kebatilan:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, atau Alloh benar-benar akan mengirimkan siksaan dari sisi-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun doa kalian tidak dikabulkan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2169)

4.3: Melemahnya Persatuan Kaum Mu’minin

Ketidakmampuan kaum Mu’min untuk bersatu dan membangun kesungguhan tandingan membuat kondisi mereka menjadi dho’if di hadapan barisan musuh yang padu.

Alloh ﷻ memerintahkan persatuan agar tidak kehilangan kekuatan:

﴿وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴾

“Dan taatlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sungguh Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Alloh ﷻ juga menegaskan bahaya jika kaum Mu’min tidak saling menolong:

﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ﴾

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (dalam hal ini kaum Mu’min) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73)

Rasululloh ﷺ menggambarkan idealnya persatuan kaum Mu’min seperti bangunan yang kokoh:

«إِنَّ المُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang Mu’min bagi Mu’min lainnya adalah bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan antara sebagian dengan sebagian lainnya.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)

 

Bab 5: Mengambil Pelajaran dari Semangat Ahli Kebatilan

Bab ini merumuskan langkah strategis dan evaluatif bagi kaum Mu’min untuk membangkitkan kembali semangat da’wah, memperkokoh persatuan, serta mengagungkan istiqomah dan taqwa dalam membendung kebatilan.

5.1: Mengobarkan Semangat Kaum Mu’min untuk Mendorong Da’wah

Melihat kesungguhan ahli kebatilan seharusnya memicu kobar semangat kaum Mu’min untuk berjuang lebih keras dalam menyebarkan ajaran Islam yang murni.

Alloh ﷻ memerintahkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan:

﴿فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ﴾

“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Alloh kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Ma’idah: 48)

Alloh ﷻ juga mendorong jihad harta dan jiwa secara maksimal:

﴿انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾

“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

Rasululloh ﷺ memberikan petunjuk tindakan bertahap dalam mengubah kemunkaran:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Siapa di antara kalian melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

5.2: Strategi Persatuan Kaum Mu’min Menghadapi Kebatilan Terorganisir

Kebatilan yang terorganisir hanya dapat ditumbangkan dengan kebaikan yang dikelola secara rapi, sistematis, dan dilandasi persatuan di atas Manhaj Shohabat.

Alloh ﷻ memerintahkan berpegang teguh pada tali agama secara bersama-sama:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا﴾

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Alloh, orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali ‘Imron: 103)

Alloh ﷻ memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sungguh Alloh amat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Rasululloh ﷺ menegaskan pentingnya berada di dalam Al-Jama’ah:

«عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ»

“Hendaklah kalian bersaudara dalam Al-Jama’ah dan jauhilah perpecahan, karena sungguh syaithon itubersama orang yang sendirian dan ia berjarak lebih jauh dari dua orang. Siapa yang menginginkan bagian tengah Jannah, maka hendaklah ia menetapi Al-Jama’ah.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2165)

5.3: Istiqomah dan Taqwa Sebagai Benteng Utama Pertahanan Fithroh

Modal terbesar kaum Mu’min dalam menghadapi panjangnya pertempuran melawan kebatilan adalah ketaqwaan yang mantap dan istiqomah di atas Sunnah tanpa tergoyahkan oleh tipu daya.

Alloh ﷻ menjanjikan pertolongan bagi orang-orang yang istiqomah:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾

“Sungguh orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka beristiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fushshilot: 30)

Alloh ﷻ juga menegaskan kemuliaan akhir bagi orang-orang yang bertaqwa:

﴿تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ﴾

“Negeri Akhiroh itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Qoshosh: 83)

Rasululloh ﷺ mengajarkan doa ketetapan hati di atas agama Alloh ﷻ:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3522)

 

Penutup

Kesungguhan para pengusung kebatilan dalam memperjuangkan kesesatan mereka merupakan fakta sejarah dan realita lapangan yang tidak boleh diabaikan. Ketika Iblis, syaithon jin, syaithon manusia, serta para penyeru kemaksiatan bekerja tanpa kenal lelah siang dan malam untuk menyeret manusia ke dalam Naar, sangat tidak wajar bagi kaum Mu’min untuk bersikap malas, bersantai, dan terpecah belah. Kebatilan akan tumbang jika kebenaran diperjuangkan dengan kesungguhan, perencanaan yang matang, persatuan yang kokoh, serta keikhlasan yang tulus demi mengharap Ridho Alloh ﷻ.

Semoga pemaparan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah di dalam buku ini menjadi pemicu timbulnya ghiroh da’wah, membakar semangat keimanan, serta meneguhkan pijakan fithroh kaum Mu’min agar tetap istiqomah membela ajaran Islam hingga akhir hayat.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini