Cari Ebook

[PDF] AL-WAROQOT Dasar Ushul Fiqih - Imamul Haromain Al-Juwaini (478 H)

 


Muqoddimah Pentarjamah

Buku ini diterjemahkan dalam rangka persiapan dibahas bersama Syaikh Masyhur Alu Salman. Buku ini dianjurkan oleh banyak para syaikh untuk dihafal dan dipelajari oleh pemula. Ia dihafal di Masjid Nabawi dalam program Hifzhul Mutun dibawah pengawasan Dr. Abdul Muhsin Al-Qosim, imam dan khotib Masjid Nabawi.

Naskah yang dijadikan acuan tarjamah, klik ini.

Nor Kandir

 

Makna Ushul Fiqh

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

مَعْنَى أُصُولِ الْفِقْهِ

Arti dari Ushul Fiqh (landasan dasar hukum agama).

هَذِهِ وَرَقَاتٌ تَشْتَمِلُ عَلَى فُصُولٍ مِنْ أُصُولِ الْفِقْهِ وَذَلِكَ مُؤَلَّفٌ مِنْ جُزْأَيْنِ مُفْرَدَيْنِ

Ini adalah lembaran-lembaran ringkas yang mencakup beberapa pembahasan tentang Ushul Fiqh (landasan dasar hukum agama), dan istilah tersebut tersusun dari 2 kata tunggal yang digabungkan.

فَالْأَصْلُ: مَا بُنِيَ عَلَيْهِ غَيْرُهُ، وَالْفَرْعُ: مَا يُبْنَى عَلَى غَيْرِهِ

Maka asal (landasan) adalah sesuatu yang menjadi pondasi bagi bangunan lainnya, sedangkan far’u (cabang hukum) adalah sesuatu yang dibangun di atas landasan yang lain.

وَالْفِقْهُ: مَعْرِفَةُ الْأَحْكَامِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي طَرِيقُهَا الِاجْتِهَادُ

Fiqh (memahami hukum) adalah mengetahui hukum-hukum syariat yang jalan penentuannya didasarkan melalui metode ijtihad (pengerahan kemampuan untuk menyimpulkan hukum).

 

Macam-Macam Hukum

Pembagian Hukum Syariat

أَنْوَاعُ الْحُكْمِ

Macam-macam hukum.

وَالْأَحْكَامُ سَبْعَةٌ: الْوَاجِبُ وَالْمَنْدُوبُ وَالْمُبَاحُ وَالْمَحْظُورُ وَالْمَكْرُوهُ وَالصَّحِيحُ وَالْبَاطِلُ

Hukum-hukum syariat itu ada 7, yaitu: wajib, mandub (dianjurkan), mubah (boleh), mahzhur (harom), makruh (dibenci), shohih (sah), dan bathil (tidak sah).

فَالْوَاجِبُ مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ

Wajib adalah perkara yang diberi pahala jika dikerjakan dan diancam siksa jika ditinggalkan.

وَالْمَنْدُوبُ مَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ

Mandub (dianjurkan) adalah perkara yang diberi pahala jika dikerjakan namun tidak disiksa jika ditinggalkan.

وَالْمُبَاحُ مَا لَا يُثَابُ عَلَى فِعْلِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى تَرْكِهِ

Mubah (boleh) adalah perkara yang tidak diberi pahala jika dikerjakan dan tidak pula disiksa jika ditinggalkan.

وَالْمَحْظُورُ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَيُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ

Mahzhur (perkara yang dilarang atau harom) adalah perkara yang diberi pahala jika ditinggalkan (karena patuh) dan diancam siksa jika dikerjakan.

وَالْمَكْرُوهُ مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ

Makruh (dibenci) adalah perkara yang diberi pahala jika ditinggalkan namun tidak disiksa jika dikerjakan.

وَالصَّحِيحُ مَا يَتَعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَيُعْتَدُّ بِهِ

Shohih (sah) adalah perkara yang menghasilkan dampak hukum secara sah serta diakui keabsahannya.

وَالْبَاطِلُ مَا لَا يَتَعَلَّقُ بِهِ النُّفُوذُ وَلَا يُعْتَدُّ بِهِ

Bathil (tidak sah) adalah perkara yang tidak menghasilkan dampak hukum serta tidak diakui keabsahannya.

Tingkatan Pengetahuan Manusia

الْفَرْقُ بَيْنَ الْفِقْهِ وَالْعِلْمِ وَالظَّنِّ وَالشَّكِّ

Perbedaan antara fiqh (pemahaman hukum), ilmu (pengetahuan pasti), zhon (dugaan kuat), dan syak (keraguan seimbang).

وَالْفِقْهُ أَخَصُّ مِنَ الْعِلْمِ، وَالْعِلْمُ مَعْرِفَةُ الْمَعْلُومِ عَلَى مَا هُوَ بِهِ، وَالْجَهْلُ تَصَوُّرُ الشَّيْءِ عَلَى خِلَافِ مَا هُوَ بِهِ

Fiqh (pemahaman hukum) itu lebih spesifik daripada ilmu. Sedangkan ilmu adalah mengetahui sesuatu yang diketahui sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Adapun kebodohan adalah menggambarkan sesuatu secara keliru, bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya.

وَالْعِلْمُ الضَّرُورِيُّ مَا لَمْ يَقَعْ عَنْ نَظَرٍ وَاسْتِدْلَالٍ كَالْعِلْمِ الْوَاقِعِ بِإِحْدَى الْحَوَاسِّ الْخَمْسِ الَّتِي هِيَ السَّمْعُ وَالْبَصَرُ وَالشَّمُّ وَالذَّوْقُ وَاللَّمْسُ أَوِ التَّوَاتُرُ

Dan ilmu dhoruri (pengetahuan pasti tanpa penalaran) adalah pengetahuan yang diperoleh tanpa memerlukan proses pemikiran panjang dan pencarian dalil (argumen petunjuk), seperti pengetahuan yang didapat melalui 1 dari panca indra yang 5, yaitu: pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecap rasa, dan peraba, atau melalui jalur mutawatir (berita massal yang mustahil dusta).

وَأَمَّا الْعِلْمُ الْمُكْتَسَبُ فَهُوَ الْمَوْقُوفُ عَلَى النَّظَرِ وَالِاسْتِدْلَالِ، وَالنَّظَرُ هُوَ الْفِكْرُ فِي حَالِ الْمَنْظُورِ فِيهِ، وَالِاسْتِدْلَالُ طَلَبُ الدَّلِيلِ، وَالدَّلِيلُ هُوَ الْمُرْشِدُ إِلَى الْمَطْلُوبِ لِأَنَّهُ عَلَامَةٌ عَلَيْهِ

Adapun ilmu muktasab (pengetahuan yang didapat melalui usaha penalaran) adalah pengetahuan yang bersandar pada proses pemikiran panjang dan pencarian dalil (argumen petunjuk). Yang dimaksud dengan nazhor (penalaran dengan mencermati objek) adalah mengerahkan pikiran dalam mencermati hal yang sedang diteliti. Sedangkan istidlal (proses pencarian dalil) adalah usaha untuk menuntut adanya dalil. Dan dalil adalah sesuatu yang menuntun menuju hal yang dicari karena ia menjadi tanda pengenalnya.

وَالظَّنُّ تَجْوِيزُ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَظْهَرُ مِنَ الْآخَرِ

Zhon (dugaan kuat) adalah menimbang 2 kemungkinan perkara yang mana salah 1 darinya lebih kuat dan lebih nampak jelas daripada kemungkinan yang lain.

وَالشَّكُّ تَجْوِيزُ أَمْرَيْنِ لَا مَزِيَّةَ لِأَحَدِهِمَا عَلَى الْآخَرِ

Syak (keraguan seimbang) adalah menimbang 2 kemungkinan perkara yang setara, tanpa ada kelebihan atau penguat bagi salah 1 darinya atas yang lain.

 

Bab-Bab Ushul Fiqh

Ruang Lingkup Kajian Ushul Fiqh

وَعِلْمُ أُصُولِ الْفِقْهِ طُرُقُهُ عَلَى سَبِيلِ الْإِجْمَالِ وَكَيْفِيَّةُ الِاسْتِدْلَالِ بِهَا

Dan ilmu ushul fiqh (landasan dasar hukum agama) adalah metode-metode perumusan hukum fiqh secara garis besar serta tata cara penggunaan dalil-dalil tersebut.

أَبْوَابُ أُصُولِ الْفِقْهِ

Bab-bab Ushul Fiqh

وَأَبْوَابُ أُصُولِ الْفِقْهِ: أَقْسَامُ الْكَلَامِ وَالْأَمْرُ وَالنَّهْيُ وَالْعَامُّ وَالْخَاصُّ وَالْمُجْمَلُ وَالْمُبَيَّنُ وَالظَّاهِرُ وَالْمُؤَوَّلُ وَالْأَفْعَالُ وَالنَّاسِخُ وَالْمَنْسُخُ وَالإِجْمَاعُ وَالْأَخْبَارُ وَالْقِيَاسُ وَالْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ وَتَرْتِيبُ الْأَدِلَّةِ وَصِفَةُ الْمُفْتِي وَالْمُسْتَفْتِي وَأَحْكَامُ الْمُجْتَهِدِينَ

Dan bab-bab kajian Ushul Fiqh (landasan dasar hukum agama) meliputi: pembagian kata, perintah, larangan, lafazh umum, lafazh khusus, lafazh mujmal (global), lafazh mubayyan (jelas), lafazh zhohir (makna tekstual), lafazh muawwal (makna kontekstual), perbuatan-perbuatan Nabi , nasikh (dalil penghapus) dan mansukh (dalil yang dihapus), ijma’ (kesepakatan ulama), akhbar (Hadits-Hadits Nabi ), qiyas (analogi hukum), hukum asal larangan dan kebolehan, urutan tingkatan dalil, kriteria mufti (pemberi fatwa) dan mustafti (peminta fatwa), serta hukum-hukum terkait para mujtahid (ahli ijtihad).

 

[1] Pembagian Kalam

أَقْسَامُ الْكَلَامِ

Pembagian kalam (susunan kata atau kalimat).

فَأَمَّا أَقْسَامُ الْكَلَامِ فَأَقَلُّ مَا يَتَرَكَّبُ مِنْهُ الْكَلَامُ اسْمَانِ أَوِ اسْمٌ وَفِعْلٌ أَوْ فِعْلٌ وَحَرْفٌ أَوِ اسْمٌ وَحَرْفٌ

Maka mengenai pembagian kalimat, susunan kalimat paling minimal terbentuk dari 2 isim (kata benda) [زَيْدٌ قَائِمٌ], atau gabungan 1 isim (kata benda) dan 1 fi’il (kata kerja) [قَامَ زَيْدٌ], atau gabungan 1 fi’il (kata kerja) dan 1 huruf (kata tugas) [قُمْ لِتَتَعَلَّمَ], atau gabungan 1 isim (kata benda) dan 1 huruf (kata tugas) [فِي الْبَيْتِ].

وَالْكَلَامُ يَنْقَسِمُ إِلَى أَمْرٍ وَنَهْيٍ وَخَبَرٍ وَاسْتِخْبَارٍ

Dan kalimat ditinjau dari tujuannya terbagi menjadi kalimat perintah, kalimat larangan, khobar (kalimat berita), dan istikhbar (kalimat tanya).

وَيَنْقَسِمُ أَيْضًا إِلَى تَمَنٍّ وَعَرْضٍ وَقَسَمٍ

Kalimat juga terbagi menjadi tamanni (ungkapan pengandaian), ‘ardh (penawaran dengan santun), dan qosam (sumpah).

وَمِنْ وَجْهٍ آخَرَ يَنْقَسِمُ إِلَى حَقِيقَةٍ وَمَجَازٍ، فَالْحَقِيقَةُ مَا بَقِيَ فِي الِاسْتِعْمَالِ عَلَى مَوْضُوعِهِ، وَقِيلَ مَا اسْتُعْمِلَ فِيمَا اصْطُلِحَ عَلَيْهِ مِنَ الْمُخَاطَبَةِ

Dan ditinjau dari sisi lain (penggunaan maknanya), kalimat terbagi menjadi hakikat (makna asli kata) dan majaz (makna kiasan kata). Hakikat adalah setiap kata yang tetap digunakan berdasarkan arti awal peletakannya. Dan ada pula yang berpendapat bahwa hakikat adalah kata yang digunakan sesuai kesepakatan istilah yang berlaku dalam interaksi pembicaraan.

وَالْمَجَازُ مَا تَجَوَّزَ عَنْ مَوْضُوعِهِ

Sedangkan majaz (makna kiasan kata) adalah kata yang maknanya bergeser keluar dari arti awal peletakannya.

وَالْحَقِيقَةُ إِمَّا لُغَوِيَّةٌ وَإِمَّا شَرْعِيَّةٌ وَإِمَّا عُرْفِيَّةٌ

Dan hakikat itu ada 3 macam: hakikat lughowiyyah (secara bahasa), hakikat syar’iyyah (secara istilah agama), atau hakikat ‘urfiyyah (secara adat kebiasaan).

وَالْمَجَازُ إِمَّا أَنْ يَكُونَ بِزِيَادَةٍ أَوْ نُقْصَانٍ أَوْ نَقْلٍ أَوْ اسْتِعَارَةٍ

Dan majaz (makna kiasan kata) itu kemungkinan terjadi karena adanya penambahan kata, pengurangan kata, perpindahan makna kata, atau isti’aroh (peminjaman kata untuk kiasan).

فَالْمَجَازُ بِالزِّبَادَةِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾

Maka majaz dengan penambahan kata contohnya adalah firman Alloh Yang Maha Tinggi: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (QS. Asy-Syuro: 11)

وَالْمَجَازُ بِالنُّقْصَانِ مِثْلُ قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ﴾

Dan majaz dengan pengurangan kata contohnya adalah firman Alloh Yang Maha Tinggi: “Dan tanyailah (penduduk) negeri itu.” (QS. Yusuf: 82)

وَالْمَجَازُ بِالنَّقْلِ كَالْغَائِطِ فِيمَا يَخْرُجُ مِنَ الْإِنْسَانِ وَالْمَجَازُ بِالِاسْتِعَارَةِ كَقَوْلِهِ تَعَالَى ﴿جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنْقَضَّ﴾

Dan majaz dengan perpindahan makna contohnya adalah kata al-ghoith (tempat rendah untuk buang hajat) yang awalnya bermakna tempat yang rendah, dipindahkan maknanya untuk menyebut kotoran yang keluar dari manusia. Serta majaz dengan peminjaman kata untuk kiasan contohnya adalah firman Alloh Yang Maha Tinggi: “Dinding rumah ingin roboh.” (QS. Al-Kahfi: 77)

 

[2] Perintah

2.1 Kaidah-Kaidah Perintah dalam Syariat

الْأَمْرُ

Perintah.

وَالْأَمْرُ اسْتِدْعَاءُ الْفِعْلِ بِالْقَوْلِ مِمَّنْ هُوَ دُونَهُ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ

Dan perintah adalah tuntutan untuk melakukan suatu perbuatan melalui ucapan, yang datang dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah kedudukannya, bersifat wajib dilaksanakan.

وَصِيغَتُهُ افْعَلْ وَهِيَ عِنْدَ الْإِطْلَاقِ وَالتَّجَرُّدِ عَنِ الْقَرِينَةِ تُحْمَلُ عَلَيْهِ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ النَّدْبُ أَوِ الْإِبَاحَةُ

Dan bentuk baku kalimatnya adalah if’al (kerjakanlah). Kalimat ini apabila disebutkan secara muthlak (lafazh umum tanpa batasan) tanpa adanya indikasi atau tanda lain, maka maknanya wajib dilaksanakan, kecuali jika ada dalil (argumen petunjuk) lain yang menunjukkan bahwa maksud perintah tersebut hanyalah berupa anjuran atau kebolehan.

وَلَا تَقْتَضِي التَّكْرَارَ عَلَى الصَّحِيحِ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيلُ عَلَى قَصْدِ التَّكْرَارِ وَلَا تَقْتَضِي الْفَوْرَ

Dan perintah tersebut menurut pendapat yang shohih tidak menuntut untuk dikerjakan secara berulang-ulang, kecuali jika ada dalil (argumen petunjuk) yang menunjukkan maksud pengulangan tersebut. Perintah juga tidak menuntut untuk langsung dikerjakan seketika itu juga.

وَالْأَمْرُ بِإِيجَادِ الْفِعْلِ أَمْرٌ بِهِ وَبِمَا لَا يَتِمُّ الْفِعْلُ إِلَّا بِهِ كَالْأَمْرِ بِالصَّلَاةِ فَإِنَّهُ أَمْرٌ بِالطَّهَارَةِ الْمُؤَدِّيَةِ إِلَيْهَا، وَإِذَا فَعَلَ يَخْرُجُ الْمَأْمُورُ عنِ الْعُهْدَةِ

Dan perintah untuk mewujudkan suatu perbuatan, berarti juga merupakan perintah terhadap hal-hal yang menyebabkan perbuatan tersebut tidak bisa terlaksana dengan sempurna tanpanya. Contohnya seperti perintah untuk mengerjakan Sholat, maka perintah ini juga mencakup perintah bersuci yang mengantarkan sahnya Sholat tersebut. Dan apabila orang yang diperintah telah melaksanakannya, maka ia telah lepas dari beban kewajiban.

2.2 Sasaran Khitob Perintah dan Larangan

تَنْبِيهٌ مَنْ يَدْخُلُ فِي الْأَمْرِ وَالنَّهْيِ وَمَنْ لَا يَدْخُلُ

Peringatan tentang orang yang termasuk dalam sasaran perintah dan larangan serta orang yang tidak termasuk.

يَدْخُلُ فِي خِطَابِ اللَّهِ تَعَالَى الْمُؤْمِنُونَ، وَأَمَّا السَّاهِي وَالصَّبِيُّ وَالْمَجْنُونُ فَهُمْ غَيْرُ دَاخِلِينَ فِي الْخِطَابِ

Termasuk ke dalam khitob (seruan firman) Alloh Yang Maha Tinggi adalah orang-orang yang beriman. Adapun orang yang lupa, anak kecil, dan orang gila, mereka semua tidak masuk ke dalam sasaran khitob (seruan firman) ini.

وَالكُفَّارُ مُخَاطَبُونَ بِفُرُوعِ الشَّرِيعَةِ وَبِمَا لَا تَصِحُّ إِلَّا بِهِ وَهُوَ الْإِسْلَامُ، لِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ  قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ﴾

Dan orang-orang kafir juga terkena khitob (seruan firman) terkait urusan cabang-cabang syariat, serta terhadap perkara utama yang menyebabkan amalan tersebut tidak sah tanpanya, yaitu memeluk agama Islam. Hal ini berdasarkan firman Alloh Yang Maha Tinggi: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqor (Neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mendirikan Sholat.” (QS. Al-Muddatstsir: 42-43)

وَالْأَمْرُ بِالشَّيْءِ نَهْيٌ عَنْ ضِدِّهِ، وَالنَّهْيُ عَنِ الشَّيْءِ أَمْرٌ بِضِدِّهِ

Perintah untuk melakukan sesuatu merupakan larangan terhadap kebalikannya, sedangkan larangan dari melakukan sesuatu merupakan perintah untuk melakukan kebalikannya.

 

[3] Larangan

النَّهْيُ

Larangan.

وَالنَّهْيُ اسْتِدْعَاءُ التَّرْكِ بِالْقَوْلِ مِمَّنْ هُوَ دُونَهُ عَلَى سَبِيلِ الْوُجُوبِ، وَيَدُلُّ عَلَى فَسَادِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ

Larangan adalah tuntutan untuk meninggalkan suatu perbuatan melalui ucapan, yang datang dari pihak yang lebih tinggi kepada pihak yang lebih rendah kedudukannya, bersifat wajib ditinggalkan, serta larangan tersebut menunjukkan rusaknya perbuatan yang dilarang itu.

وَتَرِدُ صِيغَةُ الْأَمْرِ وَالْمُرَادُ بِهِ الْإِبَاحَةُ أَوْ التَّهْدِيدُ أَوْ التَّسْوِيَةُ أَوْ التَّكْوِينُ

Dan terkadang bentuk kalimat perintah itu datang namun maksud yang diinginkan darinya adalah bentuk kebolehan, ancaman, penyetaraan, atau penciptaan seketika.

 

[4] Umum dan Khusus

4.1 Lafazh Umum dan Bentuk-Bentuknya

الْعَامُّ وَالْخَاصُّ

Lafazh umum dan lafazh khusus.

وَأَمَّا الْعَامُّ فَهُوَ مَا عَمَّ شَيْئَيْنِ فَصَاعِدًا مِنْ قَوْلِهِ عَمَمْتُ زَيْدًا وَعَمْرًا بِالْعَطَاءِ وَعَمَمْتُ جَمِيعَ النَّاسِ بِالْعَطَاءِ

Adapun lafazh umum adalah kata yang mencakup 2 perkara atau lebih tanpa batasan, diambil dari ucapan seseorang: “Aku memberikan pemberian secara merata kepada Zaid dan ‘Amr,” atau “Aku memberikan pemberian secara merata kepada semua manusia.”

وَأَلْفَاظُهُ أَرْبَعَةٌ: الِاسْمُ الْوَاحِدُ الْمُعَرَّفُ بِالْأَلِفِ وَاللَّامِ، وَاسْمُ الْجَمْعِ الْمُعَرَّفُ بِاللَّامِ، وَالْأَسْمَاءُ الْمُبْهَمَةُ كَ مَنْ فِيمَنْ يَعْقِلُ وَمَا فِيمَا لَا يَعْقِلُ، وَأَيٌّ فِي الْجَمِيعِ وَأَيْنَ فِي الْمَكَانِ وَمَتَى فِي الزَّمَانِ وَمَا فِي الِاسْتِفْهَامِ وَالْجَزَاءِ وَغَيْرِهِ وَلَا فِي النَّكِرَاتِ

Dan lafazh yang menunjukkan makna umum itu ada 4 macam, yaitu:

[1] isim mufrod (kata benda tunggal) yang diawali dengan alif lam makrifat [الْإِنْسَانُ ضَعِيفٌ],

[2] isim jama’ (kata benda jamak) yang diawali dengan alif lam makrifat [الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ],

[3] isim-isim mubham (kata penunjuk abstrak) seperti kata ‘man’ untuk pihak yang berakal, kata ‘maa’ untuk perkara yang tidak berakal, kata ‘ayyun’ untuk mencakup segala hal, kata ‘aina’ untuk menunjukkan keterangan tempat, kata ‘mataa’ untuk menunjukkan keterangan waktu, kata ‘maa’ yang digunakan dalam kalimat tanya atau kalimat syarat dan selainnya,

[4] serta kata ‘laa’ (tidak ada) yang masuk pada kata nakiroh (kata benda umum tak tentu) [لَا رَجُلَ فِي الْبَيْتِ].

وَالْعُمُومُ مِنْ صِفَاتِ النُّطْقِ وَلَا يَجُوزُ دَعْوَى الْعُمُومِ فِي غَيْرِهِ مِنَ الْفِعْلِ وَمَا يَجْرِي مَجْرَاهُ

Dan sifat umum itu hanya melekat pada ucapan. Sifat umum tidak boleh diklaim ada pada perkara selain ucapan, seperti pada perbuatan Nabi semata atau perkara lain yang kedudukannya sama dengan perbuatan.

4.2 Takhshish dan Macam-Macamnya

وَالْخَاصُّ يُقَابِلُ الْعَامَّ، وَالتَّخْصِيصُ تَمْيِيزُ بَعْضِ الْجُمْلَةِ، وَهُوَ يَنْقَسِمُ إِلَى مُتَّصِلٍ وَمُنْفَصِلٍ

Dan lafazh khusus merupakan kebalikan dari lafazh umum. Sedangkan takhshish (pengkhususan makna umum) adalah memisahkan sebagian satuan dari cakupan kalimat umum, dan takhshish ini terbagi menjadi takhshish muttashil (pengkhusus yang menyatu) dan takhshish munfashil (pengkhusus yang terpisah).

فَالْمُتَّصِلُ الِاسْتِثْنَاءُ وَالتَّقْيِيدُ بِالشَّرْطِ وَالتَّقْيِيدُ بِالصِّفَةِ

Maka takhshish muttashil (pengkhusus yang menyatu) itu berupa istitsna (pengecualian), taqyid (pengikatan makna bebas) dengan syarat, dan taqyid dengan sifat.

وَالِاسْتِثْنَاءُ إِخْرَاجُ مَا لَوْلَاهُ لَدَخَلَ فِي الْكَلَامِ، وَإِنَّمَا يَصِحُّ بِشَرْطِ أَنْ يَبْقَى مِنَ الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ شَيْءٌ، وَمِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ مُتَّصِلًا بِالْكَلَامِ

Dan istitsna (pengecualian) adalah mengeluarkan perkara yang andai bukan karena pengecualian tersebut niscaya ia akan termasuk ke dalam cakupan kalimat umum. Pengecualian ini hanya dianggap sah dengan syarat harus menyisakan sebagian anggota dari kelompok asal yang dikecualikan, serta disyaratkan pula ia harus bersambung langsung secara lisan dengan kalimat utama.

وَيَجُوزُ تَقْدِيمُ الِاسْتِثْنَاءِ عَلَى الْمُسْتَثْنَى مِنْهُ، وَيَجُوزُ الِاسْتِثْنَاءُ مِنَ الْجِنْسِ وَمِنْ غَيْرِهِ

Dan diperbolehkan mendahulukan penyebutan kalimat pengecualian sebelum menyebut kelompok asal yang dikecualikan, serta diperbolehkan melakukan pengecualian dari jenis kelompok yang sejenis maupun dari jenis yang berbeda.

وَالشَّرْطُ يَجُوزُ أَنْ يَتَأَخَّرَ عَنِ الْمَشْرُوطِ وَيَجُوزُ أَنْ يَتَقَدَّمَ عَنِ الْمَشْرُوطِ، وَالْمُقَيَّدُ بِالصِّفَةِ يُحْمَلُ عَلَيْهِ الْمُطْلَقُ كَالرَّقَبَةِ قُيِّدَتْ بِالْإِيمَانِ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ وَأُطْلِقَتْ فِي بَعْضِ الْمَوَاضِعِ فَيُحْمَلُ الْمُطْلَقُ عَلَى الْمُقَيَّدِ

Dan unsur syarat diperbolehkan posisinya diakhirkan setelah penyebutan hal yang disyaratkan, sebagaimana diperbolehkan pula didahulukan sebelum hal yang disyaratkan. Adapun lafazh muthlak (lafazh umum tanpa batasan) yang memiliki padanan lafazh muqoyyad (lafazh yang dibatasi sifat), maka maknanya harus dibawa kepada makna lafazh muqoyyad tersebut. Contohnya seperti kata budak yang diikat dengan batasan sifat Mu’min pada sebagian tempat di dalam dalil, namun disebutkan secara muthlak (lafazh umum tanpa batasan) tanpa batasan pada tempat yang lain, maka makna kata budak yang muthlak (lafazh umum tanpa batasan) tersebut harus dibawa mengikuti makna budak yang Mu’min.

وَيَجُوزُ تَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالْكِتَابِ، وَتَخْصِيصُ الْكِتَابِ بِالسُّنَّةِ، وَتَخْصِيصُ السُّنَّةِ بِالْكِتَابِ، وَتَخْصِيصُ السُّنَّةِ بِالسُّنَّةِ، وَتَخْصِيصُ النُّطْقِ بِالْقِيَاسِ، وَنَعْنِي بِالنُّطْقِ قَوْلَ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَقَوْلَ الرَّسُولِ ﷺ

Dan diperbolehkan melakukan takhshish (pengkhususan makna umum) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan Al-Kitab, takhshish Al-Kitab dengan As-Sunnah (Hadits Nabi), takhshish As-Sunnah dengan Al-Kitab, takhshish As-Sunnah dengan As-Sunnah, serta takhshish nutq (ucapan wahyu) dengan qiyas (analogi hukum). Dan yang kami maksud dengan istilah nutq adalah firman Alloh serta sabda Rosul .

 

[5] Lafazh Global dan Penjelasannya

٥- الْمُجْمَلُ وَالْمُبَيَّنُ

وَالْمُجْمَلُ مَا افْتَقَرَ إِلَى الْبَيَانِ، وَالْبَيَانُ إِخْرَاجُ الشَّيْءِ مِنْ حَيِّزِ الْإِشْكَالِ إِلَى حَيِّزِ التَّجَلِّي.

Lafazh global (lafazh yang belum jelas maksudnya secara terperinci) adalah lafazh yang membutuhkan suatu penjelasan (keterangan yang menyingkap maksud lafazh). Sedangkan penjelasan adalah mengeluarkan sesuatu dari wilayah kesamaran (wilayah yang belum jelas maknanya) menuju wilayah yang terang-benderang (wilayah yang jelas maknanya).

وَالنَّصُّ مَا لَا يَحْتَمِلُ إِلَّا مَعْنًى وَاحِدًا، وَقِيلَ: مَا تَأْوِيلُهُ تَنْزِيلُهُ، وَهُوَ مُشْتَقٌّ مِنْ مِنَصَّةِ الْعَرُوسِ وَهُوَ الْكُرْسِيُّ.

Adapun nash (teks dalil yang sudah pasti maknanya) adalah lafazh yang tidak memiliki kemungkinan kecuali 1 makna saja. Dan ada pula yang berpendapat bahwa nash adalah suatu lafazh yang cara memahaminya cukup dengan diturunkan lafazh itu sendiri (tanpa membutuhkan penafsiran lain). Lafazh nash ini diambil dari kata minashshotul ‘arus (tempat duduk pelaminan pengantin wanita), yaitu sebuah kursi tinggi.

 

[6] Makna Lahiriah dan Interpretasi Teks

٦- الظَّاهِرُ وَالْمُؤَوَّلُ

وَالظَّاهِرُ مَا احْتَمَلَ أَمْرَيْنِ أَحَدُهُمَا أَظْهَرُ مِنَ الْآخَرِ، وَيُؤَوَّلُ الظَّاهِرُ بِالدَّلِيلِ، وَيُسَمَّى الظَّاهِرَ بِالدَّلِيلِ.

Lafazh zhohir (makna lahiriah teks) adalah lafazh yang mengandung 2 kemungkinan makna, yang mana salah 1 dari keduanya lebih kuat dan lebih jelas daripada makna yang lain. Lafazh zhohir ini dapat dipalingkan dari makna lahiriahnya yang kuat menuju makna yang lemah jika ada dalil (keterangan atau bukti) yang mendasarinya, dan setelah dipalingkan ia dinamakan sebagai zhohir biddalil (makna lahiriah yang bersandar pada dalil).

 

[7] Perbuatan-Perbuatan Pembawa Syariat

٧- الْأَفْعَالُ

فِعْلُ صَاحِبِ الشَّرِيعَةِ لَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَلَى وَجْهِ الْقُرْبَةِ وَالطَّاعَةِ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ.

Perbuatan dari pembawa syariat, yaitu Nabi , tidak terlepas dari 2 keadaan: adakalanya perbuatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pendekatan diri kepada Alloh dan ketaatan kepada-Nya, atau adakalanya bukan berupa hal tersebut (bukan ibadah atau ketaatan).

فَإِنْ دَلَّ دَلِيلٌ عَلَى الِاخْتِصَاصِ بِهِ يُحْمَلُ عَلَى الِاخْتِصَاصِ، وَإِنْ لَمْ يَدُلَّ لَا يُخَصَّصُ بِهِ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ: ﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ﴾

Jika ada dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan ibadah itu khusus untuk beliau saja, maka perbuatan tersebut disimpulkan sebagai kekhususan bagi beliau semata. Namun jika tidak ada dalil yang menunjukkan kekhususan, maka perbuatan tersebut tidak dikhususkan untuk beliau saja (berlaku juga bagi umatnya), karena Alloh Ta’ala berfirman: “Sungguh, telah ada bagi kalian pada diri Rosululloh teladan yang baik yang patut kalian ikuti.” (QS. Al-Ahzab: 21)

فَيُحْمَلُ عَلَى الْوُجُوبِ عِنْدَ بَعْضِ أَصْحَابِنَا، وَمِنْ بَعْضِ أَصْحَابِنَا مَنْ قَالَ: يُحْمَلُ عَلَى النَّدْبِ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: يُتَوَقَّفُ عَنْهُ.

Maka perbuatan ibadah beliau yang tidak dikhususkan itu disimpulkan sebagai sebuah kewajiban menurut sebagian ulama dari kalangan madzhab kami (madzhab Syafi’i). Di antara sebagian ulama madzhab kami ada pula yang menyatakan bahwa perbuatan tersebut disimpulkan sebagai suatu kesunahan (anjuran). Sedangkan di antara mereka ada juga yang berpendapat untuk bersikap tawaqquf (menahan diri dari menghukumi wajib atau sunah sampai ada dalil lain).

فَإِنْ كَانَ عَلَى وَجْهِ غَيْرِ الْقُرْبَةِ وَالطَّاعَةِ فَيُحْمَلُ عَلَى الْإِبَاحَةِ فِي حَقِّهِ وَحَقِّنَا، وَإِقْرَارُ صَاحِبِ الشَّرِيعَةِ عَلَى الْقَوْلِ الصَّادِرِ مِنْ أَحَدٍ هُوَ قَوْلُ صَاحِبِ الشَّرِيعَةِ، وَإِقْرَارُهُ عَلَى الْفِعْلِ كَفِعْلِهِ.

Apabila perbuatan tersebut dilakukan bukan atas dasar bentuk ibadah dan ketaatan (seperti perbuatan manusiawi biasa sehari-hari), maka perbuatan itu disimpulkan sebagai suatu kebolehkan, baik yang berlaku bagi diri beliau sendiri maupun bagi diri kita sebagai umatnya. Sementara itu, persetujuan dari pembawa syariat terhadap suatu perkataan yang diucapkan oleh seseorang di hadapan beliau bernilai sama seperti perkataan beliau sendiri, dan persetujuan beliau terhadap suatu perbuatan bernilai sama seperti perbuatan beliau sendiri.

وَمَا فُعِلَ فِي وَقْتِهِ فِي غَيْرِ مَجْلِسِهِ وَعَلِمَ بِهِ وَلَمْ يُنْكِرْهُ فَحُكْمُهُ حُكْمُ مَا فُعِلَ فِي مَجْلِسِهِ.

Begitu pula segala sesuatu yang dikerjakan pada masa hidup beliau di luar tempat majelis pertemuan beliau, lalu beliau mengetahuinya dan tidak menyanggah atau melarangnya, maka status hukumnya sama seperti apa yang dikerjakan secara langsung di dalam majelis beliau (yaitu dinilai sah dan boleh).

 

[8] Penghapusan Hukum Syariat

٨- النَّسْخُ

وَأَمَّا النَّسْخُ فَمَعْنَاهُ لُغَةً الْإِزَالَةُ، وَقِيلَ: مَعْنَاهُ النَّقْلُ، مِنْ قَوْلِهِمْ: نَسَخْتُ مَا فِي هَذَا الْكِتَابِ، أَيْ: نَقَلْتُهُ.

Adapun naskh (penghapusan hukum syariat), secara makna bahasa berarti menghilangkan sesuatu. Ada pula yang berpendapat bahwa maknanya adalah memindahkan, yang diambil dari ungkapan orang-orang Arob: “Aku telah menaskh apa yang ada di dalam buku ini,” yang artinya adalah aku telah memindahkan isinya ke tempat lain.

وَحَدُّهُ: هُوَ الْخِطَابُ الدَّالُّ عَلَى رَفْعِ الْحُكْمِ الثَّابِتِ بِالْخِطَابِ الْمُتَقَدِّمِ، عَلَى وَجْهٍ لَوْلَاهُ لَكَانَ ثَابِتًا، مَعَ تَرَاخِيهِ عَنْهُ.

Sedangkan secara definisi istilah syariat, naskh adalah dalil syariat yang menunjukkan atas pengangkatan (pembatalan) suatu hukum yang telah ditetapkan oleh dalil terdahulu, dengan gambaran sekiranya tidak ada dalil penghapus ini niscaya hukum terdahulu itu akan tetap berlaku, disertai dengan datangnya dalil penghapus ini setelah dalil yang pertama (terdapat jarak waktu yang cukup).

وَيَجُوزُ نَسْخُ الرَّسْمِ وَبَقَاءُ الْحُكْمِ، وَنَسْخُ الْحُكْمِ وَبَقَاءُ الرَّسْمِ.

Boleh hukumnya terjadi penghapusan pada lafazh bacaan ayat Al-Qur’an dengan membiarkan hukumnya tetap berlaku, dan boleh juga terjadi penghapusan pada hukum suatu ayat dengan membiarkan lafazh bacaannya tetap ada di dalam mushaf.

وَالنَّسْخُ إِلَى بَدَلٍ، وَإِلَى غَيْرِ بَدَلٍ، وَإِلَى مَا هُوَ أَغْلَظُ، وَإِلَى مَا هُوَ أَخَفُّ.

Penghapusan hukum ini adakalanya diganti dengan hukum baru sebagai penggantinya, adakalanya tanpa ada hukum baru sebagai penggantinya, adakalanya diganti dengan hukum baru yang lebih berat bebannya, dan adakalanya diganti dengan hukum baru yang lebih ringan bebannya.

وَيَجُوزُ نَسْخُ الْكِتَابِ بِالْكِتَابِ، وَنَسْخُ السُّنَّةِ بِالْكِتَابِ، وَنَسْخُ السُّنَّةِ بِالسُّنَّةِ.

Boleh hukumnya menghapus isi Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya, menghapus ketetapan Sunnah dengan ayat Al-Qur’an, serta menghapus ketetapan Sunnah dengan Sunnah lainnya.

وَيَجُوزُ نَسْخُ الْمُتَوَاتِرِ بِالْمُتَوَاتِرِ مِنْهُمَا، وَنَسْخُ الْآحَادِ بِالْآحَادِ وَبِالْمُتَوَاتِرِ، وَلَا يَجُوزُ نَسْخُ الْمُتَوَاتِرِ بِالْآحَادِ.

Boleh juga menghapus dalil yang mutawatir (dalil yang diriwayatkan banyak orang sehingga pasti benar) dengan dalil mutawatir sesamanya dari Al-Qur’an maupun Sunnah, menghapus dalil yang ahad (dalil yang diriwayatkan oleh sedikit orang) dengan dalil ahad sesamanya atau dengan dalil yang mutawatir. Namun, tidak boleh hukumnya menghapus dalil yang mutawatir dengan menggunakan dalil yang berstatus ahad.

Peringatan Mengenai Pertentangan Dua Dalil

تَنْبِيهٌ فِي التَّعَارُضِ: إِذَا تَعَارَضَ نُطْقَانِ فَلَا يَخْلُو إِمَّا أَنْ يَكُونَ عَامَّيْنِ، أَوْ خَاصَّيْنِ، أَوْ أَحَدُهُمَا عَامًّا وَالْآخَرُ خَاصًّا، أَوْ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا عَامًّا مِنْ وَجْهِ وَخَاصًّا مِنْ وَجْهِ.

Sebuah peringatan penting dalam pembahasan tentang pertentangan antardalil: Apabila terjadi pertentangan antara 2 dalil berupa perkataan (ayat Al-Qur’an atau Hadits), maka tidak terlepas dari 4 kemungkinan keadaan: adakalanya kedua-duanya bersifat umum, kedua-duanya bersifat khusus, salah satunya bersifat umum sedangkan yang lain bersifat khusus, atau masing-masing dari keduanya bersifat umum dari 1 sisi dan bersifat khusus dari sisi yang lain.

فَإِنْ كَانَ عَامَّيْنِ، فَإِنْ أَمْكَنَ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا جُمِعَ، وَإِنْ لَمْ يُمْكِنِ الْجَمْعُ بَيْنَهُمَا يُتَوَقَّفُ فِيهِمَا إِنْ لَمْ يُعْلَمِ التَّارِيخُ، فَإِنْ عُلِمَ التَّارِيخُ يُنْسَخُ الْمُتَقَدِّمُ بِالْمُتَأَخِّرِ، وَكَذَا إِذَا كَانَا خَاصَّيْنِ.

Jika kedua dalil tersebut sama-sama bersifat umum, maka apabila memungkinkan untuk diselaraskan di antara keduanya, wajib diselaraskan. Namun, jika tidak memungkinkan untuk diselaraskan, maka ditangguhkan dari mengamalkan keduanya jika tidak diketahui sejarah waktu turunnya dalil-dalil tersebut. Sebaliknya, jika diketahui sejarah waktu turunnya, maka dalil yang datang terdahulu dihapus ketetapannya oleh dalil yang datang belakangan. Ketentuan yang sama ini juga berlaku apabila 2 dalil yang bertentangan tersebut sama-sama bersifat khusus.

وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا عَامًّا وَالْآخَرُ خَاصًّا فَيُخَصَّصُ الْعَامُّ بِالْخَاصِّ، وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمَا عَامًّا مِنْ وَجْهِ وَخَاصًّا مِنْ وَجْهِ فَيُخَصُّ عُمُومُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِخُصُوصِ الْآخَرِ.

Jika salah salah satu dari kedua dalil tersebut bersifat umum sedangkan yang satunya lagi bersifat khusus, maka dalil yang bersifat umum harus dikhususkan (dibatasi cakupannya) oleh dalil yang bersifat khusus. Dan apabila masing-masing dari kedua dalil tersebut bersifat umum dari 1 sisi dan bersifat khusus dari sisi yang lain, maka keumuman dari masing-masing dalil dikhususkan oleh kekhususan yang dimiliki oleh dalil yang lainnya.

 

[9] Kesepakatan Ulama

٩- الْإِجْمَاعُ

وَأَمَّا الْإِجْمَاعُ فَهُوَ اتِّفَاقُ عُلَمَاءِ الْعَصْرِ عَلَى حُكْمِ الْحَادِثَةِ، وَنَعْنِي بِالْعُلَمَاءِ الْفُقَهَاءَ، وَنَعْنِي بِالْحَادِثَةِ الْحَادِثَةَ الشَّرْعِيَّةَ.

Adapun ijma’ adalah kesepakatan seluruh ulama pada suatu masa tertentu terhadap hukum atas suatu perkara yang terjadi. Yang kami maksud dengan kata ulama di sini adalah para ulama ahli fikih (para ahli hukum Islam), dan yang kami maksud dengan kata perkara di sini adalah perkara-perkara yang berkaitan dengan hukum syariat.

وَإِجْمَاعُ هَذِهِ الْأُمَّةِ حُجَّةٌ دُونَ غَيْرِهَا لِقَوْلِهِ ﷺ: «لَاتَجْتَمِعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ» وَالشَّرْعُ وَرَدَ بِعِصْمَةِ هَذِهِ الْأُمَّةِ.

Kesepakatan dari umat Islam ini merupakan hujjah (argumen hukum yang mengikat) dan tidak berlaku bagi umat-umat yang lain, berdasarkan sabda Nabi : “Umatku tidak akan bersepakat di atas kesesatan.” Dan dalil-dalil syariat telah datang dengan menegaskan adanya penjagaan bagi umat ini dari kekeliruan secara kolektif.

وَالْإِجْمَاعُ حُجَّةٌ عَلَى الْعَصْرِ الثَّانِي وَفِي أَيِّ عَصْرٍ كَانَ، وَلَا يُشْتَرَطُ انْقِرَاضُ الْعَصْرِ عَلَى الصَّحِيحِ.

Keputusan ijma’ ini merupakan hujjah yang mengikat bagi generasi pada masa berikutnya dan pada masa kapan pun itu terjadi. Menurut pendapat yang shohih (pendapat yang kuat), tidak disyaratkan harus berlalunya masa hidup para ulama yang bersepakat tersebut (menunggu mereka semua wafat) agar kesepakatan itu menjadi sah.

فَإِنْ قُلْنَا انْقِرَاضُ الْعَصْرِ شَرْطٌ فَيُعْتَبَرُ قَوْلُ مَنْ وُلِدَ فِي حَيَاتِهِمْ وَتَفَقَّهَ وَصَارَ مِنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ، فَلَهُمْ أَنْ يَرْجِعُوا عَنْ ذَلِكَ الْحُكْمِ.

Jika kita mengikuti pendapat yang menyatakan bahwa berlalunya masa hidup para ulama tersebut merupakan sebuah syarat sahnya ijma’, maka pendapat dari orang-orang yang lahir pada masa hidup mereka, lalu belajar fikih, hingga akhirnya tumbuh menjadi jajaran ahli ijtihad, wajib untuk diperhitungkan suaranya. Berdasarkan asumsi syarat ini, para ulama yang telah sepakat tadi diperbolehkan pula untuk menarik kembali keputusan hukum yang telah mereka sepakati sebelumnya.

وَالْإِجْمَاعُ يَصِحُّ بِقَوْلِهِمْ وَبِفِعْلِهِمْ، وَبِقَوْلِ الْبَعْضِ وَفِعْلِ الْبَعْضِ وَانْتِشَارِ ذَلِكَ وَسُكُوتِ الْبَاقِينَ، وَقَوْلُ الْوَاحِدِ مِنَ الصَّحَابَةِ لَيْسَ بِحُجَّةٍ عَلَى غَيْرِهِ عَلَى الْقَوْلِ الْجَدِيدِ.

Kesepakatan ulama itu dinyatakan sah adakalanya melalui ucapan-ucapan mereka seluruhnya, adakalanya melalui perbuatan-perbuatan mereka seluruhnya, atau adakalanya melalui ucapan sebagian ulama atau perbuatan sebagian dari mereka yang kemudian tersebar luas kabar tersebut, sementara ulama yang lainnya memilih diam tanpa menyanggah (ijma’ sukuti/kesepakatan pasif). Adapun pendapat pribadi dari salah seorang Shohabat Nabi bukanlah merupakan hujjah yang mengikat atas Shohabat lainnya, jika didasarkan pada qoul jadid (pendapat baru Imam Asy-Syafi’i).

 

[10] Hadits Nabi

١٠- الْأَخْبَارُ

وَأَمَّا الْأَخْبَارُ فَالْخَبَرُ مَا يَدْخُلُهُ الصِّدْقُ وَالْكَذِبُ، وَالْخَبَرُ يَنْقَسِمُ إِلَى قِسْمَيْنِ: آحَادٌ وَمُتَوَاتِرٌ.

Adapun mengenai berita, maka pengertian kabar adalah setiap ucapan yang memiliki kemungkinan mengandung kebenaran atau kedustaan pada isinya. Kabar ini terbagi menjadi 2 macam, yaitu kabar ahad (berita yang diriwayatkan oleh sedikit orang) dan kabar mutawatir (berita yang diriwayatkan oleh orang banyak).

فَالْمُتَوَاتِرُ مَا يُوجِبُ الْعِلْمَ، وَهُوَ أَنْ يَرْوِيَ جَمَاعَةٌ لَا يَقَعُ التَوَاطُؤُ عَلَى الْكَذِبِ مِنْ مِثْلِهِمْ إِلَى أَنْ يَنْتَهِيَ إِلَى الْمُخْبِرِ عَنْهُ، وَيَكُونُ فِي الْأَصْلِ عَنْ مُشَاهدَةٍ أَوْ سَمَاعٍ لَا عَنِ اجْتِهَادٍ.

Kabar mutawatir adalah berita yang menghasilkan keyakinan ilmu yang pasti dan meyakinkan (tanpa keraguan). Bentuknya adalah suatu berita yang diriwayatkan oleh sekelompok orang banyak, yang mana orang-orang yang sepadan dengan jumlah dan sifat mereka mustahil bersepakat untuk melakukan kedustaan, sejak awal rantai sanad hingga berakhir pada orang yang menyampaikan berita utama tersebut, serta sumber asalnya bersandar pada hasil pengamatan pancaindra secara langsung berupa penglihatan mata atau pendengaran telinga, bukan bersandar pada hasil pemikiran ijtihad.

وَالْآحَادُ هُوَ الَّذِي يُوجِبُ الْعَمَلَ وَلَا يُوجِبُ الْعِلْمَ، وَيَنْقَسِمُ إِلَى مُرْسَلٍ وَمُسْنَدٍ.

Sedangkan kabar ahad adalah berita yang wajib untuk diamalkan isinya dalam hukum syariat, namun ia tidak sampai menghasilkan keyakinan ilmu yang mutlak pasti (masih bersifat persangkaan kuat). Kabar ahad ini terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Hadits mursal (Hadits yang terputus sanadnya) dan Hadits musnad (Hadits yang bersambung sanadnya).

فَالْمُسْنَدُ مَا اتَّصَلَ إِسْنَادُهُ، وَالْمُرْسَلُ مَا لَمْ يَتَّصِلْ إِسْنَادُهُ، فَإِنْ كَانَ مِنْ مَرَاسِيلِ غَيْرِ الصَّحَابَةِ فَلَيْسَ ذَلِكَ حُجَّةً إِلَّا مَرَاسِيلَ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ فَإِنَّهَا فُتِّشَتْ فَوُجِدَتْ مَسَانِيدَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ.

Hadits musnad adalah Hadits yang memiliki rantai silsilah periwayatan yang bersambung sampai ke ujungnya. Sementara Hadits mursal adalah Hadits yang rantai silsilah periwayatannya tidak bersambung (terputus salah 1 rowi). Apabila Hadits mursal tersebut berasal dari riwayat selain generasi Shohabat (seperti riwayat generasi setelah Shohabat yang langsung menyebutkan dari Nabi tanpa menyebutkan nama Shohabat), maka riwayat tersebut tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali Hadits-Hadits mursal yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Al-Musayyib (94 H). Hal itu karena Hadits-Hadits beliau setelah diteliti dan diperiksa dengan saksama oleh para ulama, ternyata ditemukan memiliki jalur riwayat lain yang bersambung sampai kepada Nabi .

وَالْعَنْعَنَةُ تَدْخُلُ عَلَى الْأَسَانِيدِ، وَإِذَا قَرَأَ الشَّيْخُ يَجُوزُ لِلرَّاوِي أَنْ يَقُولَ: حَدَّثَنِي أَوْ أَخْبَرَنِي، وَإِذَا قَرَأَ هُوَ عَلَى الشَّيْخِ فَيَقُولُ: أَخْبَرَنِي وَلَا يَقُولُ: حَدَّثَنِي، وَإِنْ أَجَازَهُ الشَّيْخُ مِنْ غَيْرِ قِرَاءَةٍ فَيَقُولُ: أَجَازَنِي أَوْ أَخْبَرَنِي إِجَازَةً.

Periwayatan secara ‘an’anah (menyampaikan Hadits dengan menggunakan kata dari fulan, dari fulan) dapat masuk ke dalam silsilah rantai periwayatan Hadits. Apabila guru yang membacakan langsung lafazh Hadits tersebut, maka diperbolehkan bagi murid yang merowikannya untuk mengucapkan kata haddatsanii (dia telah menceritakan kepadaku) atau akhbaronii (dia telah mengabarkan kepadaku). Namun apabila sang murid sendiri yang membaca teks Hadits di hadapan gurunya, maka ia mengucapkan kata akhbaronii dan tidak diperkenankan mengucapkan kata haddatsanii. Jika guru memberikan izin periwayatan (ijazah) tanpa adanya proses membaca teks sama sekali, maka murid tersebut mengucapkan kata ajaazanii (dia telah memberikan ijazah kepadaku) atau akhbaronii ijaazatan (dia telah mengabarkan kepadaku secara ijazah).

 

[11] Analogi Hukum

١١- الْقِيَاسُ

وَأَمَّا الْقِيَاسُ فَهُوَ رَدُّ الْفَرْعِ إِلَى الْأَصْلِ بِعِلَّةٍ تَجْمَعُهُمَا فِي الْحُكْمِ، وَهُوَ يَنْقَسِمُ إِلَى ثَلَاثَةِ أَقْسَامٍ: إِلَى قِيَاسِ عِلَّةٍ، وَقِيَاسِ دَلَالَةٍ، وَقِيَاسِ شَبَهٍ.

Adapun yang dimaksud dengan qiyas adalah mengembalikan perkara cabang (masalah baru yang belum ada ketentuan hukumnya) kepada perkara pokok (masalah lama yang sudah ada teks hukumnya) disebabkan adanya kesamaan illah (alasan dasar penetapan hukum) yang menyatukan kedua perkara tersebut dalam status hukumnya. Qiyas ini terbagi menjadi 3 macam jenis, yaitu qiyas illah, qiyas dalalah, dan qiyas syabah.

فَقِيَاسُ الْعِلَّةِ مَا كَانَتِ الْعِلَّةُ فِيهِ مُوجِبَةً لِلْحُكْمِ، وَقِيَاسُ الدَّلَالَةِ هُوَ الِاسْتِدْلَالُ بِأَحَدِ النَّظِيرَيْنِ عَلَى الْآخَرِ، وَهُوَ أَنْ تَكُونَ الْعِلَّةُ دَالَّةً عَلَى الْحُكْمِ وَلَا تَكُونُ مُوجِبَةً لِلْحُكْمِ.

Qiyas illah adalah bentuk analogi yang mana alasan penetapan hukum di dalamnya mendiktekan secara pasti adanya ketetapan hukum tersebut pada perkara cabang. Sedangkan qiyas dalalah adalah bentuk penalaran dengan menjadikan salah 1 dari 2 perkara yang sepadan sebagai petunjuk atas perkara yang lainnya, yang mana alasan penetapan hukum di sini hanya berfungsi sebagai penunjuk arah adanya hukum, bukan sesuatu yang mendiktekan kepastian hukum tersebut secara mutlak.

وَقِيَاسُ الشَّبَهِ هُوَ الْفَرْعُ الْمُتَرَدِّدُ بَيْنَ أَصْلَيْنِ، وَلَا يُصَارُ إِلَيْهِ مَعَ إِمْكَانِ مَا قَبْلَهُ.

Adapun qiyas syabah adalah suatu masalah cabang baru yang posisinya berada di antara 2 masalah pokok yang berbeda (memiliki kemiripan dengan kedua-duanya sekaligus), dan jenis analogi ini tidak boleh digunakan selama masih ada kemungkinan untuk menggunakan 2 jenis qiyas sebelumnya (yaitu qiyas illah atau qiyas dalalah).

وَمِنْ شَرْطِ الْفَرْعِ أَنْ يَكُونَ مُنَاسِبًا لِلْأَصْلِ، وَمِنْ شَرْطِ الْأَصْلِ أَنْ يَكُونَ ثَابِتًا بِدَلِيلٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ بَيْنِ الْخَصْمَيْنِ.

Di antara syarat perkara cabang adalah ia harus memiliki keserasian dan kecocokan dengan perkara pokoknya. Sedangkan syarat perkara pokok adalah ketetapan hukumnya harus terbukti berdasarkan dalil yang disepakati keabsahannya oleh 2 belah pihak yang sedang bertukar pikiran atau berselisih pendapat.

وَمِنْ شَرْطِ الْعِلَّةِ أَنْ تَطَّرِدَ فِي مَعْلُولَاتِهَا فَلَا تَنْتَقِضَ لَفْظًا وَلَا مَعْنًى.

Di antara syarat illah (alasan dasar hukum) adalah ia harus bersifat thord (selalu konsisten menyertai hukum) pada seluruh masalah yang mengandung alasan tersebut, sehingga sifat tersebut tidak boleh cacat atau rusak baik secara lafazh maupun secara makna.

وَمِنْ شَرْطِ الْحُكْمِ أَنْ يَكُونَ مِثْلَ الْعِلَّةِ فِي النَّفْيِ وَالْإِثْبَاتِ أَيْ فِي الْوُجُودِ وَالْعَدَمِ، فَإِنْ وُجِدَتِ الْعِلَّةُ وُجِدَ الْحُكْمُ، وَالْعِلَّةُ هِيَ الْجَالِبَةُ لِلْحُكْمِ.

Dan di antara syarat hukum adalah ia wajib berjalan beriringan dengan keberadaan alasan hukum tersebut, baik dalam hal ketiadaan hukum maupun keberadaan hukum; yaitu dalam arti jika ada alasan dasar hukum maka hukum tersebut otomatis ada, dan jika alasan tersebut tidak ada maka hukum itu pun tidak ada. Sebab, alasan itulah yang menjadi penarik munculnya suatu hukum syariat.

 

[12] Larangan dan Kebolehan Hukum Asal

١٢- الْحَظْرُ وَالْإِبَاحَةُ

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ: إِنَّ الْأَشْيَاءَ عَلَى الْحَظْرِ إِلَّا مَا أَبَاحَتْهُ الشَّرِيعَةُ، فَإِنْ لَمْ يُوجَدْ فِي الشَّرِيعَةِ مَا يَدُلُّ عَلَى الْإِبَاحَةِ يُتَمَسَّكُ بِالْأَصْلِ وَهُوَ الْحَظْرُ.

Di antara sebagian manusia ada yang berpendapat bahwa status asal dari segala sesuatu sebelum datangnya syariat adalah terlarang, kecuali perkara-perkara yang telah dibolehkan oleh syariat. Berdasarkan argumen ini, apabila di dalam syariat tidak ditemukan adanya dalil yang menunjukkan kebolehan sesuatu, maka kita wajib berpegang teguh pada hukum dasar asalnya, yaitu terlarang.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ بِضِدِّهِ، وَهُوَ أَنَّ الْأَصْلَ فِي الْأَشْيَاءِ أَنَّهَا عَلَى الْإِبَاحَةِ إِلَّا مَا حَظَرَهُ الشَّرْعُ، وَمَعْنَى اسْتِصْحَابِ الْحَالِ الَّذِي يُحْتَجُّ بِهِ أَنْ يُسْتَصْحَبَ الْأَصْلُ عِنْدَ عَدَمِ الدَّلِيلِ الشَّرْعِيِّ.

Namun sebagian manusia yang lain ada pula yang berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa hukum asal dari segala sesuatu adalah boleh, kecuali perkara-perkara yang dilarang oleh syariat. Adapun makna dari istish-habul hal (menyandingkan hukum yang ada dengan kondisi semula) yang dijadikan sebagai argumen dalam menetapkan hukum adalah kita tetap memberlakukan status hukum asal yang telah ada selama tidak ditemukan adanya dalil syariat baru yang mengubahnya.

 

[13] Urutan Tingkatan Dalil

١٣- تَرْتِيبُ الْأَدِلَّةِ

وَأَمَّا الْأَدِلَّةُ فَيُقَدَّمُ الْجَلِيُّ مِنْهَا عَلَى الْخَفِيِّ، وَالْمُوجِبُ لِلْعِلْمِ عَلَى الْمُوجِبِ لِلظَّنِّ، وَالنُّطْقُ عَلَى الْقِيَاسِ، وَالْقِيَاسُ الْجَلِيُّ عَلَى الْخَفِيِّ.

Adapun mengenai tata cara mengurutkan penggunaan dalil-dalil hukum, maka dalil yang sudah jelas maknanya didahulukan daripada dalil yang masih samar maknanya, dalil yang menghasilkan ilmu yang pasti didahulukan daripada dalil yang hanya menghasilkan persangkaan kuat, dalil berupa teks perkataan didahulukan daripada dalil berupa qiyas, serta dalil qiyas yang jelas didahulukan daripada dalil qiyas yang samar.

فَإِنْ وُجِدَ فِي النُّطْقِ مَا يُفَسِّرُ الْأَصْلَ يُعْمَلُ بِالنُّطْقِ، وَإِلَّا فَيُسْتَصْحَبُ الْحَالُ.

Oleh karena itu, apabila di dalam teks perkataan syariat ditemukan adanya dalil penjelasan yang menjabarkan status hukum asal suatu perkara, maka kita wajib mengamalkan apa yang ada di dalam teks perkataan tersebut. Namun jika tidak ditemukan teks yang menjelaskannya, barulah kita beralih dengan menggunakan metode istish-habul hal (menetapkannya di atas hukum asal semula).

 

[14] Syarat-Syarat Pemberi Fatwa

١٤- شُرُوطُ الْمُفْتِي

وَمِنْ شَرْطِ الْمُفْتِي أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِالْفِقْهِ أَصْلًا وَفَرْعًا خِلَافًا وَمَذْهَبًا، وَأَنْ يَكُونَ كَامِلَ الْأَدِلَّةِ فِي الِاجْتِهَادِ عَارِفًا بِمَا يَحْتَجُّ إِلَيْهِ فِي اسْتِنْبَاطِ الْأَحْكَامِ، وَتَفْسِيرِ الْآيَاتِ الْوَارِدَةِ فِي الْأَحْكَامِ، وَالْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِيهَا.

Di antara syarat bagi seorang mufti (pemberi fatwa) adalah ia wajib menguasai ilmu fikih secara mendalam, baik dari segi dasar-dasar metodologinya maupun cabang-cabang hukumnya, serta memahami peta perbedaan pendapat para ulama sekaligus pandangan resmi madzhab fikihnya. Selain itu, ia juga harus memiliki penguasaan yang sempurna terhadap perangkat dalil untuk melakukan ijtihad, mengenali dengan baik apa saja yang ia butuhkan dalam menyimpulkan hukum, menguasai tafsir dari ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat hukum, serta memahami Hadits-Hadits Nabi yang berkaitan erat dengan hukum-hukum tersebut.

 

[15] Syarat-Syarat Peminta Fatwa

١٥- شُرُوطُ الْمُسْتَفْتِي

وَمِنْ شُرُوطِ الْمُسْتَفْتِي أَنْ يَكُونَ مِنْ أَهْلِ تَقْلِيدٍ، وَلَيْسَ لِلْعَالِمِ أَنْ يُقَلِّدَ، وَالتَّقْلِيدُ قَبُولُ قَوْلِ الْقَائِلِ بِلَا حُجَّةٍ.

Di antara syarat bagi seorang mustafti (orang yang meminta fatwa) adalah ia harus termasuk orang awam yang memang berkewajiban untuk bertaklid (mengikuti pendapat ulama tanpa menuntut dalil). Dan tidak diperbolehkan bagi seorang yang berilmu luas (seorang ulama mujtahid) untuk bertaklid kepada orang lain. Adapun makna taklid itu sendiri adalah menerima perkataan dari seseorang tanpa adanya dalil atau hujjah yang menyertainya.

فَعَلَى هَذَا قَبُولُ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ يُسَمَّى تَقْلِيدًا، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: تَقْلِيدُ قَبُولُ قَوْلِ الْقَائِلِ وَأَنْتَ لَا تَدْرِي مِنْ أَيْنَ قَالَهُ.

Maka berdasarkan definisi ini, menerima sabda dari Nabi dapat dinamakan pula sebagai bentuk taklid. Namun, di antara ulama ada yang memberikan definisi lain bahwa taklid adalah menerima ucapan seseorang sedangkan engkau tidak mengetahui dari mana sumber alasan dasar atau dalil ia mengucapkannya.

فَإِنْ قُلْنَا: إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ بِالْقِيَاسِ، فَيَجُوزُ أَنْ يُسَمَّى قَبُولُ قَوْلِهِ تَقْلِيدًا.

Sehingga apabila kita berpendapat bahwa Nabi dahulu adakalanya menetapkan hukum berdasarkan ijtihad qiyas beliau, maka barulah boleh menamakan sikap menerima ucapan beliau tersebut sebagai bentuk taklid.

 

[16] Mencurahkan Kemampuan dalam Berijtihad

١٦- الِاجْتِهَادُ

وَأَمَّا الِاجْتِهَادُ فَهُوَ بَذْلُ الْوُسْعِ فِي بُلُوغِ الْغَرَضِ، فَالْمُجْتَهِدُ إِنْ كَانَ كَامِلَ الْآلَةِ فِي الِاجْتِهَادِ فِي الْفُرُوعِ فَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَإِنْ اجْتَهَدَ وَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ.

Adapun mengenai ijtihad, maknanya adalah mengerahkan seluruh kemampuan maksimal demi mencapai suatu tujuan hukum syariat. Maka seorang mujtahid, apabila ia telah memiliki perangkat ilmu yang sempurna untuk melakukan ijtihad dalam masalah-masalah cabang hukum, kemudian hasil ijtihadnya benar, maka ia berhak mendapatkan 2 pahala. Namun, jika ia sudah berijtihad secara maksimal tetapi hasil ijtihadnya keliru, maka ia tetap mendapatkan 1 pahala.

وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِي الْفُرُوعِ مُصِيبٌ، وَلَا يَجُوزُ كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِي الْأُصُولِ الْكَلَامِيَّةِ مُصِيبٌ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى تَصْوِيبِ أَهْلِ الضَّلَالَةِ وَالْمَجُوسِ وَالْكُفَّارِ وَالْمُلْحِدِينَ.

Di antara para ulama ada yang berpendapat bahwa setiap orang yang berijtihad dalam masalah cabang hukum fikih adalah benar. Akan tetapi, tidak boleh sama sekali dikatakan bahwa setiap orang yang berijtihad dalam masalah pokok aqidah (teologi) itu benar; karena asumsi pembenaran semacam itu akan berujung pada membenarkan kelompok-kelompok sesat, kaum Majusi (penyembah api), orang-orang kafir, dan kaum ateis (orang-orang yang tidak percaya adanya Robb).

وَدَلِيلُ مَنْ قَالَ لَيْسَ كُلُّ مُجْتَهِدٍ فِي الْفُرُوعِ مُصِيبًا قَوْلُهُ ﷺ: «مَنْ اجْتَهَدَ وَأَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَمَنْ اجْتَهَدَ وَأَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ».

Sedangkan argumen dari para ulama yang menyatakan bahwa tidak semua orang yang berijtihad dalam masalah cabang hukum fikih itu benar adalah sabda Nabi : “Siapa yang berijtihad lalu hasil ijtihadnya benar maka ia mendapatkan 2 pahala, dan siapa yang berijtihad lalu hasil ijtihadnya keliru maka ia mendapatkan 1 pahala.” (HR. Al-Bukhori no. 7352 dan Muslim no. 1716)

وَوَجْهُ الدَّلِيلِ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ خَطَّأَ الْمُجْتَهِدَ تَارَةً وَصَوَّبَهُ أُخْرَى.

Sisi pengambilan dalil dari Hadits ini adalah bahwa Nabi adakalanya menyalahkan seorang mujtahid pada suatu kondisi tertentu dan membenarkannya pada 1 kondisi yang lain (sehingga menunjukkan bahwa kebenaran hakiki itu hanya satu).[]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini