[PDF] Ciri Ahli Bid'ah Menggelari dan Merendahkan - Nor Kandir
Ciri Ahli Bid'ah
Menggelari dan Merendahkan
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 95
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Mengenal
kebenaran merupakan kenikmatan tertinggi yang Alloh ﷻ anugerahkan kepada seorang
hamba. Kebenaran yang dibawa oleh para Rosul dan dilanjutkan oleh para Shohabat
serta generasi Salafus Sholih selalu menghadapi tantangan dari para
penentangnya. Salah satu kebiasaan buruk yang senantiasa berulang dalam sejarah
perjalanan umat manusia adalah perilaku para pengikut kebatilan dan ahli
bid’ah yang gemar melemparkan gelaran buruk serta merendahkan
para pembawa kebenaran. Langkah ini diambil ketika mereka tidak lagi memiliki
hujjah yang kokoh untuk membendung dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Penyingkapan terhadap ciri dan tabiat ahli bid’ah dalam menyematkan julukan
penyesat sangat penting agar seorang Mu’min tidak terpedaya oleh opini liar
yang dibangun untuk menjauhkan masyarakat dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Buku ini berisi
penjelasan ilmiah guna membedakan antara celaan kebatilan yang didasari hawa
nafsu dengan kritik syar’i yang dibangun di atas keadilan. Buku ini diawali
dengan penjelasan hakikat dari perbuatan merendahkan kebenaran, diikuti dengan
penelusuran sejarah warisan karakter penentang Rosul, pemaparan ciri khas ahli
bid’ah dalam memvonis Ahli Sunnah, respons spontan mereka saat kalah dalam
argumentasi, hingga diakhiri dengan panduan sikap Ahli Sunnah dalam menghadapi
perlakuan tersebut.
Bab 1: Hakikat Menggelari dan
Merendahkan Kebenaran
Pembahasan
pada bab pertama ini memfokuskan perhatian pada akar permasalahan dari
perbuatan menyematkan nama-nama buruk dan sikap meremehkan kebenaran. Alur
penjelasan dimulai dari pemahaman mendasar mengenai makna gelaran buruk serta
dorongan hawa nafsu yang menjadi pemicunya, kemudian dilanjutkan dengan
pemaparan ancaman serta bahaya dari perbuatan merendahkan ajaran Islam beserta
para pengusungnya, lalu ditutup dengan penegasan garis batas yang memisahkan
antara celaan kebatilan ahli bid’ah dan kedudukan ilmu jarh wa ta’dil yang
berlandaskan keadilan syariat.
1.1:
Definisi Gelaran Buruk dan Motif Pencetusnya
Menyematkan
gelaran yang buruk kepada sesama Muslim, khususnya kepada para penyeru
kebenaran, merupakan tindakan memberikan julukan atau label celaan yang
bertujuan merusak martabat dan menyimpangkan makna kebenaran yang dibawanya.
Pemicu utama lahirnya gelaran-gelaran buruk ini adalah kedengkian, kesombongan,
serta dorongan hawa nafsu yang tidak mau tunduk kepada nash-nash
syariat. Alloh ﷻ
telah melarang keras perbuatan mencela dan memanggil dengan gelaran yang buruk
melalui firman-Nya:
﴿وَلَا
تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ
بَعْدَ الْإِيمَانِ﴾
“Dan
janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah kamu
panggil-memanggil dengan gelaran-gelaran yang buruk. Seburuk-buruk panggilan
adalah panggilan yang buruk (fasik) setelah beriman.” (QS. Al-Hujurot: 11)
Kedengkian
dan penolakan terhadap kebenaran membuat hati seseorang tertutup sehingga ia mencari
jalan pintas untuk merendahkan pihak lain tanpa peduli pada kebenaran
argumentasi. Rosululloh ﷺ
menegaskan hakikat kesombongan yang menjadi akar dari penolakan terhadap
kebenaran dan penghinaan kepada manusia:
«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Para
penentang kebenaran senantiasa terdorong oleh hawa nafsu mereka untuk
mencari-cari kelemahan atau membuat sangkaan palsu agar masyarakat lari dari
ajaran yang lurus. Alloh ﷻ menggambarkan tabiat buruk orang-orang yang mengikuti
persangkaan tanpa landasan ilmu:
﴿إِنْ
يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ
الْهُدَى﴾
“Mereka
tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belakangan dan apa yang diingini oleh
hawa nafsu mereka, padahal sungguh telah datang petunjuk kepada mereka
dari Robb mereka.” (QS. An-Najm: 23)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) menjelaskan bahaya hawa nafsu yang menjadi pemicu timbulnya
bid’ah dan celaan terhadap Sunnah:
«الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ،
الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا»
“Bid’ah itu
lebih dicintai Iblis daripada kemaksiatan. Kemaksiatan itu bisa diharapkan
bertaubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan bertaubat darinya.” (Syarh
Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalaka’i, 1/149)
1.2:
Bahaya Merendahkan Kebenaran dan Pembawa Kebenaran
Merendahkan
kebenaran serta orang-orang yang membawanya merupakan dosa besar yang membawa
kehancuran bagi pelakunya, baik di dunia maupun di Akhiroh. Perbuatan ini bukan
sekadar penghinaan pribadi, melainkan perlawanan terhadap ajaran yang dibawa
oleh Rosululloh ﷺ.
Alloh ﷻ
memperingatkan ancaman berat bagi mereka yang menyakiti dan merendahkan kaum Mu’min
tanpa alasan yang haq:
﴿وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا
بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾
“Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min dan perempuan-perempuan yang
Mu’min tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Tindakan
merendahkan para ulama dan pengusung Sunnah juga berisiko memicu kemurkaan
Alloh ﷻ
yang akan memperlakukan pelaku penghinaan sebagai musuh-Nya. Rosululloh ﷺ menyampaikan dalam hadits
qudsi tentang perlindungan Alloh ﷻ kepada para kekasih-Nya:
«إِنَّ اللَّهَ قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا
فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ»
“Sungguh
Alloh berfirman: ‘Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, maka sungguh Aku telah
mengumumkan perang dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6502)
Meremehkan
orang yang memegang teguh ajaran agama juga merupakan ciri kaum munafik yang
senantiasa mencemooh amalan kaum Mu’min. Alloh ﷻ menyingkap perbuatan mereka
dalam Al-Qur’an:
﴿الَّذِينَ
يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا
يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Orang-orang
(munafik) yang mencela kaum Mu’min yang memberi shodaqoh dengan sukarela
dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh kesempatan memberi shodaqoh
selain sekadar kesanggupannya, lalu orang-orang munafik itu menghina
mereka. Alloh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab
yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) menegaskan kedudukan mulia para pembawa Sunnah dan bahaya
memusuhi mereka:
«إِذَا رَأَيْتَ مُبْتَدِعًا فِي طَرِيقٍ، فَخُذْ
فِي طَرِيقٍ آخَرَ، وَلَا يُرْفَعُ لِصَاحِبِ الْبِدْعَةِ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
عَمَلٌ، وَمَنْ أَعَانَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ، فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ»
“Apabila
engkau melihat pelaku bid’ah di suatu jalan, maka ambillah jalan yang lain, dan
tidak diangkat amal pelaku bid’ah kepada Alloh ﷻ, dan siapa menolong pelaku
bid’ah, maka sungguh ia telah menolong dalam meruntuhkan Islam.” (Talbis
Iblis, 1/34)
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) juga menerangkan kehinaan orang yang meninggalkan Sunnah demi
menuruti hawa nafsunya:
«وَإِنْ هَمْلَجَتْ بِهِمُ الْبَرَابِذِينُ وَطَقْطَقَتْ
بِهِمْ ذُلُلُ الْبِغَالِ، فَإِنَّ ذُلَّ الْمَعْصِيَةِ فِي رِقَابِهِمْ، أَبَى اللَّهُ
إِلَّا أَنْ يُذِلَّ مَنْ عَصَاهُ»
“Meskipun
kuda-kuda tangguh berjalan cepat membawa mereka dan bagal-bagal yang penurut
melangkah gagah menaiki mereka, sungguh kehinaan maksiat tetap mencengkeram
leher-leher mereka. Alloh enggan melainkan pasti menghinakan siapa saja yang
bermaksiat kepada-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa 15/426 — Ibnu Taimiyyah)
1.3:
Perbedaan Antara Jarh Wata’dil Syar’i dan Buruknya Gelaran Kebatilan
Terdapat
perbedaan mendasar antara perbuatan celaan buruk yang dilakukan ahli bid’ah
dengan kritik ilmiah (jarh wata’dil) yang dijalankan oleh para ulama
Salaf. Jarh wata’dil dibangkitkan atas dasar menjaga kemurnian agama,
kejujuran riwayat, dan kasih sayang kepada umat agar tidak terjerat perowi atau
ajaran tersesat. Sedangkan gelaran buruk ahli bid’ah dilandasi oleh prasangka,
kebodohan, rasa benci, dan dorongan memperturutkan kebatilan. Alloh ﷻ
memerintahkan agar setiap penilain dilakukan berdasarkan keadilan dan
persaksian yang jujur:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا
يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, seharusnya kamu jadi orang-orang yang selalu
menegakkan kebenaran karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah
sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak
adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS.
Al-Ma’idah: 8)
Penguji
kebenaran suatu riwayat dan penjelas kelemahan perowi adalah bagian dari amanah
agama untuk menjaga ajaran Rosululloh ﷺ dari pemalsuan. Nabi ﷺ sendiri pernah memberikan penilaian secara spesifik terhadap
sifat seseorang untuk maslahat syar’i:
«أَمَّا أَبُو جَهْمٍ، فَلَا يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ
عَاتِقِهِ، وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لَا مَالَ لَهُ»
“Adapun Abu
Jahm, ia tidak pernah menurunkan tongkat dari pundaknya (suka memukul atau
sering safar). Adapun Mu’awiyah, ia adalah orang miskin yang tidak memiliki
harta.” (HR. Muslim no. 1480)
Penilaian
ulama terhadap penganut bid’ah ditujukan untuk melindungi agama, bukan karena
dendam pribadi. Sebaliknya, ahli bid’ah memvonis seseorang hanya karena orang
tersebut memegang teguh Sunnah. Alloh ﷻ melarang tindakan menuduh
tanpa bukti sah:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ
هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ﴾
“Sungguh
orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga.
Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah
baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang
dikerjakannya.” (QS. An-Nur: 11)
Ibnu Sholah
berkata: Telah sampai kabar kepada kami bahwasanya Yusuf bin Al-Husain Ar-Rozi
(304 H) yang merupakan seorang sufi pernah menemui Abdurrohman bin Abi Hatim
(327 H) ketika ia sedang membaca kitab karya miliknya tentang Jarh dan Ta’dil
(kritik dan penilaian perawi Hadits). Yusuf lalu berkata kepadanya: “Berapa
banyak dari kalangan orang-orang ini yang telah menambatkan unta-unta
tunggangan mereka di Jannah sejak 100 atau 200 tahun yang lalu, sedangkan
engkau masih saja menyebut-nyebut serta mengghibah mereka?” Maka menangislah
Abdurrohman.
Telah
sampai pula kabar kepada kami bahwasanya ketika Abdurrohman membacakan kitabnya
tersebut kepada khalayak, disampaikan kepadanya sebuah ucapan dari Yahya bin Ma’in
(233 H) bahwasanya ia pernah berkata:
«إِنَّا لَنَطْعَنُ عَلَى أَقْوَامٍ لَعَلَّهُمْ
قَدْ حَطُّوا رِحَالَهُمْ فِي الْجَنَّةِ مُنْذُ أَكْثَرَ مِنْ مِائَتَيْ سَنَةٍ»
“Sungguh
kita benar-benar mencela beberapa kaum yang boleh jadi mereka telah menambatkan
barang-barang bawaan mereka di Jannah sejak lebih dari 200 tahun yang lalu.”
Maka menangislah Abdurrohman, hingga kedua tangannya gemetar dan kitab itu pun
terjatuh dari tangannya. (Muqoddimah Ibni As-Sholah, 1/390)
Syu’bah bin
Al-Hajjaj (160 H) juga senantiasa menegaskan pentingnya menjaga kebersihan
riwayat agama dari orang-orang penipu:
«تَعَالَوْا حَتَّى نَغْتَابَ فِي اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ»
“Kemarilah
kalian, mari kita melakukan ghibah demi membela Alloh ‘Azza wa Jalla (yakni
menyeleksi para perowi).” (Al-Kifayah, Al-Khotib Al-Baghdadi, 1/45)
Bab 2: Warisan Karakter Penentang
Rosul dan Ulama Salaf
Pada bab
kedua ini, penelusuran sejarah dilakukan untuk membuktikan bahwa kebiasaan
menggelari dan merendahkan kebenaran bukanlah perkara baru, melainkan warisan
kelam dari para penentang utusan Alloh ﷻ pada masa lampau. Alur
bahasan dimulai dengan memaparkan bentuk-bentuk gelar buruk yang ditujukan
kepada para Nabi dan pengikutnya, dilanjutkan dengan ulasan tuduhan penyebar
perselisihan yang selalu ditudingkan kepada pembawa Sunnah, serta diakhiri
dengan penyingkapan modus operandi penentang kebenaran dalam memalingkan
masyarakat umum melalui pelabelan negatif.
2.1:
Gelaran Buruk Para Nabi dan Pengikutnya Menurut Penentang Masa Lalu
Setiap Nabi
yang diutus oleh Alloh ﷻ
senantiasa disambut dengan penolakan berupa tumpukan gelar buruk dari para
tokoh penentang kebatilan pada zamannya. Julukan seperti tukang sihir, orang
gila, pendusta, hingga pemecah belah agama diberikan untuk merusak citra
kebenaran di mata kaumnya. Alloh ﷻ merekam fenomena seragam ini
dalam Al-Qur’an:
﴿كَذَلِكَ
مَا أَتَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ﴾
“Demikianlah
tidak seorang Rosul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan: Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” (QS.
Adz-Dzariyat: 52)
Pengikut
para Nabi yang mayoritas berasal dari kaum yang memegang kesederhanaan dan
ketulusan juga tidak luput dari rendahan musuh-musuh agama. Para penentang
tersebut menganggap pengikut kebenaran sebagai orang-orang yang picik dan tidak
berakal. Alloh ﷻ
mengabadikan ucapan kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam:
﴿فَقَالَ
الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا
وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا
نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ﴾
“Maka
berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu,
melainkan sebagai seorang manusia biasa seperti kami, dan kami tidak melihat
orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara
kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu
kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu adalah orang-orang
pendusta.” (QS. Hud: 27)
Tindakan
celaan terhadap orang-orang yang beriman merupakan tabiat lama para pendosa
yang merasa jumawa dengan kedudukan duniawi mereka. Alloh ﷻ
menerangkan sikap orang kafir ketika melewati orang-orang beriman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ
وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya menertawakan orang-orang
yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman berlalu di hadapan mereka,
mereka saling melempar kerlingan memandang hina.” (QS. Al-Muthoffifin:
29-30)
2.2:
Tuduhan Kerusakan Sebagai Warisan Kuno
Para
pengusung kebatilan selalu menuduh bahwa ajaran kebenaran yang dibawa oleh para
utusan Alloh ﷻ
dan dilanjutkan oleh ulama Salaf sebagai dalang timbulnya perpecahan,
kekacauan, dan merusak keharmonisan masyarakat. Fir’aun menggunakan narasi ini
untuk memprovokasi rakyatnya agar memusuhi Nabi Musa ‘alaihis salam.
Alloh ﷻ
menyingkap propaganda Fir’aun dalam Al-Qur’an:
﴿وَقَالَ
فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ
دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ﴾
“Dan
berkata Fir’aun: ‘Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada
Robbnya; karena sungguh aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan
kerusakan di muka bumi.’” (QS. Ghofir: 26)
Tuduhan
bahwa ajaran Sunnah memecah belah persatuan juga dilontarkan oleh musyrikin Quroisy
kepada Rosululloh ﷺ
karena beliau mendakwahkan Tauhid yang memisahkan antara kebenaran dan
kebatilan. Alloh ﷻ
menerangkan ucapan mereka saat merasa terganggu dengan seruan Tauhid:
﴿أَجَعَلَ
الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ﴾
“Mengapa ia
menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sungguh ini benar-benar suatu
hal yang sangat mengherankan.” (QS. Shod: 5)
Perpisahan
antara kebenaran dan kebatilan memang merupakan konsekuensi logis dari
penegakan syariat, bukan bentuk kerusakan sosial sebagaimana yang dituduhkan
oleh ahli bid’ah. Nabi ﷺ
digambarkan oleh para Malaikat sebagai pemisah antara manusia:
«مُحَمَّدٌ ﷺ
فَرْقٌ بَيْنَ النَّاسِ»
“Muhammad ﷺ adalah pemisah (pembeda) di
antara manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 7281)
Al-Auza’i
(157 H) menjelaskan:
«اصْبِرْ نَفْسَكَ عَلَى السُّنَّةِ وَقِفْ حَيْثُ
وَقَفَ الْقَوْمُ وَقُلْ فِيمَا قَالُوا وَكُفْ عَمَّا كَفُّوا وَاسْلُكْ سَبِيلَ سَلَفِكَ
الصَّالِحِ فَإِنَّهُ يَسَعَكَ مَا يَسَعَهُمْ»
“Bersabarlah
dirimu di atas Sunnah, berhentilah di mana kaum (Shohabat) berhenti, katakanlah
dengan apa yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa yang mereka menahan
diri darinya, dan tempuhlah jalan Salafmu yang sholih, karena sungguh meluaskan
bagimu apa yang telah meluaskan bagi mereka.” (Dzammul Kalam, Al-Harowi,
5/117)
2.3:
Upaya Memalingkan Masyarakat dari Kebenaran dengan Label Buruk
Metode
klasik yang digunakan oleh para penentang kebenaran untuk membendung dakwah
adalah menyebarkan benteng persepsi melalui label-label buruk agar masyarakat
awam merasa takut dan enggan mendengarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah.
Tokoh-tokoh jahiliyyah memblokir akses informasi masyarakat dengan memesankan
agar menyumbat telinga dari bacaan Al-Qur’an. Alloh ﷻ merekam taktik mereka:
﴿وَقَالَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ
تَغْلِبُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang kafir berkata: ‘Janganlah kamu mendengar dengan tenang Al-Qur’an
ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS.
Fushshilat: 26)
Upaya
membendung dakwah Tauhid juga dilakukan dengan membuat narasi bahwa ajaran yang
dibawa para Rosul mengancam tradisi dan adat istiadat nenek moyang yang harus
dilestarikan. Alloh ﷻ
menyingkap alasan defensif mereka:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا
عَلَيْهِ آبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُون﴾
“Dan
apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh.’
Mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami
dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga,
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak
mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqoroh: 170)
Strategi
menutupi kebenaran dengan kebohongan demi mempertahankan kedudukan dan pengaruh
di tengah masyarakat merupakan tabiat pengusung kebatilan di setiap era. Alloh ﷻ
melarang perbuatan mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan:
﴿وَلَا
تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)
Malik bin
Anas (179 H) juga mengaitkan fenomena ini dengan sikap ahli bid’ah yang
menjauhkan manusia dari nash-nash agama melalui stigma:
كُلَّمَا جَاءَنَا رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ
رَجُلٍ أَرَدْنَا أَنْ نَرُدَّ مَا جَاءَ بِهِ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ
“Setiap
kali datang kepada kita seseorang yang pandai berdebat melebihi orang lain,
apakah kita hendak menolak apa yang dibawakan oleh Jibril kepada Nabi ﷺ?” (Dzammul Kalam wa Ahlih,
Abu Ismail Al-Harawi [481 H], 5/68)
Bab 3: Ciri Utama Ahli Bid’ah dalam
Menggelari Ahli Sunnah
Pada bab
ketiga ini, pembahasan memasuki inti karakter spesifik ahli bid’ah dalam
melabeli dan menyerang Ahli Sunnah wal Jama’ah. Alur pemaparan dimulai dari
analisis gelaran Hasyawiyyah dan Mujassimah yang dilontarkan oleh kalangan ahli
kalam, dilanjutkan dengan tuduhan zholim berupa sebutan Nawashib dan Khowarij
yang kerap diarahkan kepada pengusung Sunnah, serta diakhiri dengan paparan
celaan yang menggambarkan Ahli Sunnah sebagai kelompok bodoh, kaku, dan tidak
berakal.
Abu Hatim
Ar-Rozi (277 H) dan Abu Zur’ah Ar-Rozi (264 H) merumuskan kaidah penting
mengenai fenomena stigma buruk yang diciptakan ahli bid’ah kepada Ahli Sunnah:
وَعَلَامَةُ أَهْلِ البِدَعِ: الوَقِيعَةُ
فِي أَهْلِ الأَثَرِ.
Tanda ahli
bid’ah adalah merendahkan Ahli Atsar.
وَعَلَامَةُ الزَّنَادِقَةِ تَسْمِيَتُهُمْ
أَهْلَ السُّنَّةِ حَشْوِيَّةً يُرِيدُونَ إِبْطَالَ الآثَارِ.
Tanda orang
zindiq adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Hasywiyyah, dengan tujuan
membatalkan atsar-atsar.
وَعَلَامَةُ الجَهْمِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ
أَهْلَ السُّنَّةِ مُشَبِّهَةً.
Tanda orang
Jahmiyyah adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Musyabbihah.
وَعَلَامَةُ القَدَرِيَّةِ تَسْمِيَتُهُمْ
أَهْلَ الأَثَرِ مُجَبِّرَةً.
Tanda orang
Qodariyah adalah menjuluki Ahlus Atsar dengan Mujabbiroh.
وَعَلَامَةُ المُرْجِئَةِ تَسْمِيَتُهُمْ
أَهْلَ السُّنَّةِ مُخَالِفَةً وَنُقْصَانِيَّةً.
Tanda orang
Murjiah adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Mukholifah dan Nuqshōniyyah.
وَعَلَامَةُ الرَّافِضَةِ تَسْمِيَتُهُمْ
أَهْلَ السُّنَّةِ نَاصِبَةً.
Tanda orang
Rofidhoh adalah menjuluki Ahlus Sunnah dengan Nāshibah.
وَلَا يَلْحَقُ أَهْلَ السُّنَّةِ إِلَّا
اسْمٌ وَاحِدٌ وَيَسْتَحِيلُ أَنْ تَجْمَعَهُمْ هَذِهِ الأَسْمَاءُ
Padahal
Ahlus Sunnah tidak memiliki nama kecuali satu saja, dan mustahil disematkan
nama-nama tersebut.
(Syarh Ushul I’tiqod
Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalaka’i, 1/179)
3.1:
Menggelari Ahli Sunnah Sebagai Hasyawiyyah dan Mujassimah
Kalangan ahli
kalam dari Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyyah senantiasa menggelari Ahli
Sunnah wal Jama’ah dengan sebutan Hasyawiyyah (orang-orang dangkal yang
mengumpulkan sampah pikiran) dan Mujassimah (orang-orang yang menjajarkan Alloh
dengan jasmani makhluk). Gelaran ini mereka ciptakan hanya karena Ahli Sunnah
menetapkan sifat-sifat Alloh ﷻ sesuai dengan teks Al-Qur’an dan Hadits shohih tanpa melakukan ta’thil
(penolakan) atau takyif (penjelasan kaifiat). Alloh ﷻ
menegaskan keagungan sifat-Nya yang tidak menyamai makhluk apa pun:
﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Pengakuan
dan penetapan terhadap Nama dan Sifat Alloh ﷻ yang tertera dalam Al-Qur’an
merupakan pilar tauhid yang lurus. Alloh ﷻ memerintahkan kaum Mu’min
untuk berdo’a dengan Nama-Nama-Nya yang Maha Indah serta meninggalkan
orang-orang yang menyimpang dari kebenaran Nama-Nama tersebut:
﴿وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Hanya
milik Alloh asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul
husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah
mereka kerjakan.” (QS. Al-A’rof: 180)
Rosululloh ﷺ telah mengajarkan penetapan
Sifat-Sifat Alloh ﷻ
tanpa keserupaan dengan makhluk, dan Shohabat menerima ajaran ini tanpa keraguan.
Beliau ﷺ
bersabda mengenai Turun-Nya Alloh ﷻ ke langit dunia:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ
لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ»
“Robb kita Tabaroka
wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir.” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
Nu’aim bin
Hammad (228 H) menegaskan garis pemisah antara penetapan Sifat Alloh dan
penyerupaan dengan makhluk:
«مَنْ شَبَّهَ اللَّهَ بِخَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ
وَمَنْ جَحَدَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ وَلَيْسَ مَا وَصَفَ
اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَلَا رَسُولُهُ تَشْبِيهًا»
“Siapa
menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya maka sungguh ia telah kafir, dan siapa
mengingkari apa yang Alloh sifatkan untuk diri-Nya maka sungguh ia telah kafir.
Dan bukanlah apa yang Alloh sifatkan untuk diri-Nya maupun yang disifatkan
Rosul-Nya itu suatu penyerupaan (tasybih).” (Majmu’ Fatawa, 11/482)
Qutaibah
bin Sa’id (240 H) menyingkap tanda-tanda khusus ahli bid’ah dalam menyematkan
gelar Hasyawiyyah kepada Ahli Sunnah:
«إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ، يُحِبُّ أَهْلَ الْحَدِيثِ،
مِثْلَ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْقَطَّانِ، وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ، وَأَحْمَدَ
بْنِ حَنْبَلٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ، وَذَكَرَ قَوْمًا آخَرِينَ، فَإِنَّهُ
عَلَى السُّنَّةِ وَمَنْ خَالَفَ هَذَا فَاعْلَمْ أَنَّهُ مُبْتَدِعٌ»
“Apabila
engkau melihat seseorang mencintai Ahlul Hadits, seperti Yahya bin Sa’id Al-Qotthon (198 H),
Abdurrohman bin Mahdi (198 H), Ahmad bin Hanbal (241 H), dan Ishaq bin Rohawaih
(238 H) —serta beliau menyebutkan beberapa tokoh lainnya— maka sesungguhnya ia
berada di atas Sunnah. Barangsiapa menyelisih hal ini, maka ketahuilah
bahwasanya ia adalah seorang pembuat bid’ah.” (Syarof Ash-habil Hadits,
Al-Khothib Al-Baghdadi [463 H], 1/71)
3.2: Menggelari Ahli Sunnah Sebagai Nawashib dan Khowarij
Kelompok Rofidhoh (Syi’ah) senantiasa menggelari Ahli Sunnah
wal Jama’ah sebagai Nawashib (pembenci Ahlul Bait) hanya karena Ahli Sunnah
juga mencintai dan memuliakan para Shohabat seperti Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman,
dan Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhum. Di sisi lain, kelompok Khowarij dan
Murji’ah sering melabeli Ahli Sunnah dengan sebutan Khowarij atau Murji’ah
secara keliru ketika Ahli Sunnah menempatkan hukum takfir dan amalan pada porsi
syar’i yang adil. Alloh ﷻ
memerintahkan agar kaum Mu’min memohonkan ampunan bagi generasi pendahulu dari
kalangan Shohabat:
﴿وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ
سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا
إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa:
Ya Robb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului
kami dengan beriman, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami
terhadap orang-orang yang beriman; Ya Robb kami, Sungguh Engkau Maha Penyantun
lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Keadilan
Ahli Sunnah terwujud dalam mencintai Ahlul Bait sekaligus menghormati seluruh
Shohabat Nabi ﷺ
tanpa mengurangi hak salah satu dari mereka.
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan keras
dari perbuatan mencela para Shohabatnya:
«لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ
أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ»
“Janganlah
kalian mencela para Shohabatku! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya,
seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud,
niscaya tidak akan menyamai satu mud infak salah seorang dari mereka dan tidak
pula separuhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2541)
Sikap Ahli
Sunnah berada di pertengahan antara kelompok Rofidhoh yang melampaui batas pada
Ahlul Bait dan kelompok Nawashib yang membenci mereka. Alloh ﷻ
menjadikan umat Islam sebagai umat yang pertengahan dan adil:
﴿وَكَذَلِك
جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ
عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾
“Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 143)
Ahmad bin
Hanbal (241 H) menegaskan prinsip lurus Ahli Sunnah terkait kedudukan Shohabat
Nabi ﷺ:
«وَمِنَ السُّنَّةِ ذِكْرُ مَحَاسِنِ أَصْحَابِ
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كُلِّهِمْ أَجْمَعِينَ، وَالْكَفُّ عَنْ ذِكْرِ مَسَاوِئِهِمْ وَالْخِلَافِ
الَّذِي شَجَرَ بَيْنَهُمْ، فَمَنْ سَبَّ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَوْ أَحَدًا
مِنْهُمْ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ رَافِضِيٌّ خَبِيثٌ مُجْلِفٌ، لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُ
صَرْفًا وَلَا عَدْلًا، بَلْ حُبُّهُمْ سُنَّةٌ، وَالدُّعَاءُ لَهُمْ قُرْبَةٌ، وَالاِقْتِدَاءُ
بِهِمْ وَسِيلَةٌ، وَالأَخْذُ بِآثَارِهِمْ فَضِيلَةٌ»
“Termasuk
bagian dari Sunnah adalah menyebutkan kebaikan-kebaikan para Shohabat
Rosululloh ﷺ
seluruhnya tanpa terkecuali, serta menahan diri dari menyebutkan
keburukan-keburukan mereka maupun perselisihan yang terjadi di antara mereka.
Barangsiapa mencela para Shohabat Rosululloh ﷺ atau salah seorang saja dari mereka, maka ia adalah seorang
pembuat bid’ah, Rofidhi yang jahat lagi kasar; Alloh tidak akan menerima
darinya ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Justru mencintai mereka adalah
Sunnah, mendoakan mereka merupakan bentuk pendekatan diri kepada Alloh,
meneladani mereka adalah sarana kebaikan, dan mengambil atsar-atsar peninggalan
mereka merupakan suatu keutamaan.” (Usulus Sunnah, Ahmad bin Hanbal [241 H],
hlm. 77-78)
Abdulloh
bin Al-Mubarok (181 H) berkata: “Pangkal dari 72 hawa nafsu (kelompok sesat)
itu ada empat. Dari empat hawa nafsu inilah bercabang menjadi 72 hawa nafsu,
yaitu: Qodariyyah, Murji’ah, Syi’ah, dan Khowarij. Barangsiapa mendahulukan Abu
Bakar, Umar, Utsman, dan Ali di atas para Shohabat Rosululloh ﷺ lainnya, serta tidak
membicarakan para Shohabat sisanya melainkan dengan kebaikan, dan ia mendoakan
kebaikan untuk mereka, maka sungguh ia telah keluar dari pemahaman Syi’ah, baik
dari awal hingga akhirnya. Barangsiapa menyatakan bahwasanya iman itu adalah
ucapan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang, maka sungguh ia telah
keluar dari pemahaman Irja’ (Murji’ah), baik dari awal hingga akhirnya.
Barangsiapa menyatakan bahwasanya Sholat boleh dilakukan di belakang setiap
pemimpin yang baik maupun yang jahat, Jihad terus berjalan bersama setiap kholifah,
tidak memandang bolehnya memberontak kepada penguasa dengan pedang, serta
mendoakan kebaikan bagi mereka, maka sungguh ia telah keluar dari pemahaman Khowarij,
baik dari awal hingga akhirnya. Barangsiapa menyatakan bahwasanya seluruh
takdir berasal dari Alloh Azza wa Jalla, baik takdir yang baik maupun
yang buruk, Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk
kepada siapa saja yang Dia kehendaki, maka sungguh ia telah keluar dari
pemahaman Qodariyyah, baik dari awal hingga akhirnya, dan ia adalah seorang
pengikut Sunnah. Setiap bid’ah yang tampak nyata merupakan bentuk kekufuran
kepada Alloh Yang Maha Agung, dan barangsiapa yang berpendapat dengannya maka
ia telah kufur kepada Alloh.” (Thoboqotul Hanabilah, Ibnu Abi Ya'la [526 H],
2/40)
3.3:
Menggelari Pengikut Sunnah Sebagai Orang Bodoh dan Kaku
Ahli bid’ah
yang mendewakan akal dan logika filsafat kerap melemparkan tuduhan bahwa Ahli
Sunnah adalah orang-orang bodoh, kaku, tidak memiliki pemahaman mendalam, dan
hanya sekadar menghafal teks tanpa mengerti makna. Julukan ini senada dengan
tuduhan orang-orang kafir zaman dahulu kepada para Shohabat dan pengikut Rosul.
Alloh ﷻ
mengabadikan tuduhan mereka beserta bantahan-Nya:
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ
أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Apabila
dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah
beriman.’ Mereka menjawab: ‘Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang
bodoh itu telah beriman?’ Ingatlah, sungguh merekalah orang-orang yang bodoh;
tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqoroh: 13)
Orang-orang
yang memprioritaskan logika rasional di atas dalil wahyu menganggap bahwa
mematuhi nash secara tekstual dan melaksanakannya sesuai petunjuk Salaf adalah
sikap kaku dan terbelakang. Padahal ilmu syar’i yang hakiki adalah takut kepada
Alloh ﷻ
dan mengikuti petunjuk-Nya:
﴿إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
“Sungguh
yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sungguh
Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Rosululloh ﷺ mengabarkan bahwa kebaikan
agama seseorang diukur dari pemahamannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, bukan dari
keahlian berdebat dengan logika filsafat:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ»
“Siapa yang
Alloh kehendaki kebaikan padanya, niscaya Alloh akan pahamkan dia dalam agama.”
(HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Sufyan bin ‘Uyainah
(198 H) menerangkan bahwa kebodohan yang hakiki adalah meninggalkan Sunnah demi
menuruti pendapat rasional manusia:
«لَيْسَ الْعَالِمُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ
مِنَ الشَّرِّ، إِنَّمَا الْعَالِمُ الَّذِي يَعْرِفُ الْخَيْرَ، فَيَتَّبِعُهُ وَيَعْرِفُ
الشَّرَّ فَيَجْتَنِبُهُ»
“Bukanlah
orang berilmu itu orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan. Orang
berilmu yang hakiki hanyalah orang yang mengetahui kebaikan lalu mengikutinya,
dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya.” (Az-Zuhd, Imam Ahmad, 1/138)
Bab 4: Perilaku Ahli Bid’ah saat
Argumentasi Mereka Patah
Pada bab
keempat ini, fokus pembahasan bergeser pada perubahan sikap dan pola respons ahli
bid’ah tatkala hujjah-hujjah mereka berhasil dipatahkan oleh dalil Al-Qur’an
dan Sunnah. Alur analisis dimulai dari tabiat berpalingnya mereka dari
perdebatan ilmiah menuju aksi celaan pribadi, dilanjutkan dengan taktik
pemotongan kalimat serta pemelintiran makna ucapan para ulama Sunnah, lalu
diakhiri dengan paparan strategi penggalangan massa dan manipulasi opini publik
untuk membendung kebenaran.
4.1:
Beralih dari Hujjah Menuju Cercaan dan Celaan
Tatkala ahli
bid’ah terdesak dan tidak mampu lagi menegakkan argumentasi di hadapan
kejelasan dalil Al-Qur’an dan Sunnah, mereka akan serta-merta melenceng dari
etika ilmiah menuju tindakan penyerangan pribadi, cercaan, dan makian.
Kebiasaan ini mencerminkan kebangkrutan hujjah yang dialami oleh pengusung
kebatilan. Alloh ﷻ
menyingkap reaksi kejahatan kaum Nabi Ibrahim ‘alaihis salam tatkala
argumentasi Tauhid membungkam persembahan mereka:
﴿قَالُوا
حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ﴾
“Mereka
berkata: ‘Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar
hendak bertindak.” (QS. Al-Anbiya’: 68)
Ketidakmampuan
memberikan sanggahan berbasis dalil membuat ahli bid’ah melampiaskan kemarahan
mereka melalui lisan yang tajam dan emosional. Alloh ﷻ menggambarkan kebencian
orang-orang yang tidak beriman tatkala dibacakan ayat-ayat-Nya yang jelas:
﴿وَإِذَا
تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ تَعْرِفُ فِي وُجُوهِ الَّذِينَ كَفَرُوا
الْمُنْكَرَ يَكَادُونَ يَسْطُونَ بِالَّذِينَ يَتْلُونَ عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا﴾
“Dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu
melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu.
Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami
kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 72)
Rosululloh ﷺ melarang keras perilaku
mencela dan berkata kotor yang kerap dijadikan senjata oleh orang-orang yang
jauh dari petunjuk agama:
«سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ، وَقِتَالُهُ كُفْرٌ»
“Mencela
seorang Muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran.” (HR.
Al-Bukhori no. 48 dan Muslim no. 64)
Ketika
mereka melihat sedikitnya daya tipu mereka dalam hujjah, dan terputusnya
alasan-alasan mereka dalam apa yang mereka klaim, mereka melarikan diri menuju
celaan, tuduhan palsu, dan pemberian gelaran-gelaran buruk.
Tidak ada
setelah hilang argumentasi dan bukti melainkan celaan dan permusuhan. Dan ini
adalah kebiasaan setiap orang yang kalah dalam perdebatan ilmiah.
4.2:
Memotong Pembicaraan dan Memelintir Makna Ucapan
Modus
operandi lain yang sering dilakoni oleh ahli bid’ah untuk merusak reputasi Ahli
Sunnah adalah menyadur ucapan secara tidak utuh, memotong konteks pembicaraan,
dan memelintir lafazh-lafazh agar terkesan menyimpang dari ajaran Islam.
Perilaku pemelintiran ini meniru tabiat kaum Yahudi yang mengubah kata-kata
dari tempatnya yang benar. Alloh ﷻ menyingkap kebiasaan buruk
ini dalam Al-Qur’an:
﴿مِنَ
الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ﴾
“Di antara
orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (QS.
An-Nisa’: 46)
Tindakan
melencengkan makna ucapan dan tuduhan palsu dilakukan dengan menyebarkan kabar
angin yang disunting untuk memancing kemarahan masyarakat. Alloh ﷻ
mengingatkan bahaya menerima berita dari orang-orang fasik tanpa melakukan
verifikasi mendalam:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا
قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpa suatu kaum dengan
musibah tanpa mengetahui keradaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurot: 6)
Rosululloh ﷺ memberikan ancaman keras bagi
orang yang menyampaikan kebohongan dan memelintir fakta untuk merusak nama baik
seorang Muslim:
«مَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ
اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ»
“Siapa
mengucapkan tentang seorang Mu’min apa yang tidak ada padanya, maka Alloh akan
menempatkannya di rodghotul khobal (perasan nanah penghuni An-Naar)
sampai ia keluar dari apa yang diucapkannya.” (HSR. Abu Dawud no. 3597)
Mereka
membalut makna-makna yang benar dengan gelaran-gelaran yang buruk agar manusia
lari darinya, dan mereka membalut makna-makna yang batil dengan gelaran-gelaran
yang indah agar manusia menyukainya.
Ahli bid’ah
tidaklah berdalil dengan suatu dalil syar’i melainkan dalil itu sendiri menjadi
hujjah yang membantah mereka. Dan tidaklah mereka menukil suatu ucapan dari
Salaf Umat melainkan dalam keadaan terpelintir dari konteks aslinya.
4.3:
Menggalang Massa dan Membangun Opini
Langkah
terakhir yang kerap diambil ahli bid’ah saat hujjah mereka runtuh adalah memanfaatkan
kekuatan massa, membangun opini publik yang menyesatkan, dan memprovokasi
penguasa atau masyarakat awam agar menindak kaum Mu’min yang memegang teguh
Sunnah. Propaganda ini dirancang untuk menciptakan tekanan sosial sehingga
kebenaran terbungkam. Alloh ﷻ menceritakan penggalangan massa yang dilakukan oleh kaum Nabi
Ibrahim ‘alaihis salam:
﴿قَالُوا
ابْنُوا لَهُ بُنْيَانًا فَأَلْقُوهُ فِي الْجَحِيمِ﴾
“Mereka
berkata: ‘Buatlah untuknya (Ibrohim) sebuah bangunan (tanur api); lalu
lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu.” (QS. Ash-Shoffat: 97)
Upaya
penggalangan opini menyesatkan juga tercermin dari tindakan para pemuka kaum
jahiliyyah yang saling menghasut agar tetap bertahan di atas persembahan
berhala dan menolak seruan Tauhid. Alloh ﷻ merekam ucapan provokasi
mereka:
﴿وَانْطَلَقَ
الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ
يُرَادُ﴾
“Dan
pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): ‘Pergilah kamu dan tetaplah
(menyembah) tuhan-tuhanmu, sungguh ini benar-benar suatu hal yang dihendaki.’” (QS.
Shod: 6)
Kedzoliman
yang dibangun melalui pengerahan massa tanpa dasar ilmu hanya akan melahirkan
kesesatan yang bertumpuk. Alloh ﷻ melarang manusia untuk
mengikuti suara mayoritas apabila suara mayoritas tersebut menyimpang dari
jalan wahyu:
﴿وَإِنْ
تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ
إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ﴾
“Dan jika
kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Al-An’am:
116)
Ahmad bin
Hanbal (241 H) ketika menghadapi mihnah (ujian fitnah خلق القرآن) yang diprovokasikan oleh
tokoh-tokoh Jahmiyyah kepada penguasa, beliau bersabar di atas hujjah tanpa
terpengaruh oleh tekanan massa:
«إِذَا أَجَابَ الْعَالِمُ تَقِيَّةً، وَالْجَاهِلُ
يَجْهَلُ، فَمَتَى يُظْهَرُ الْحَقُّ؟»
“Apabila
orang berilmu menjawab karena takut (taqiyyah) dan orang bodoh tetap
dalam kebodohannya, maka kapankah kebenaran itu akan tampak?” (Al-Ilal, Imam
Ahmad, 1/83)
Demikianlah
kebatilan-kebatilan itu, apabila berhasil disingkap oleh ilmu, maka para
pengusungnya akan berlindung di balik kedudukan dan pedang (kekuatan
massa/penguasa).
Bab 5: Sikap Ahli Sunnah
Menghadapi Gelaran Buruk dan Merendahkan
Pada bab
kelima ini, penjelasan difokuskan pada panduan petunjuk syar’i bagi Ahli Sunnah
dalam menyikapi celaan, gelaran buruk, dan perlakuan merendahkan dari ahli
bid’ah. Alur pembahasan menguraikan pentingnya memelihara kesabaran dengan
meneladani ketabahan para Rosul, dilanjutkan dengan metode mengkonfirmasi
kebenaran memakai hujjah tanpa perlu membalas kebatilan dengan kebatilan
serupa, lalu diakhiri dengan penegasan keteguhan di atas Sunnah meskipun harus
berjalan dalam kesendirian dan dicela oleh manusia.
5.1:
Bersabar dan Meneladani Ketabahan Para Rosul
Sikap utama
yang wajib dimiliki oleh setiap penyeru Sunnah tatkala menghadapi gelaran buruk
dan penghinaan adalah membentengi diri dengan kesabaran serta meneladani
ketabahan para Rosul ulul ‘azmi. Perlakuan celaan merupakan sunnatulloh yang
pasti dialami oleh siapa saja yang meniti jalan para Nabi. Alloh ﷻ
memerintahkan Nabi-Nya ﷺ
untuk bersabar menghadapi tuduhan-tuduhan musuhnya:
﴿فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ﴾
“Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka.” (QS. Al-Ahqof: 35)
Kesabaran
dalam memegang teguh ajaran agama akan mendatangkan pertolongan Alloh ﷻ dan
memberikan kesudahan yang baik bagi kaum yang bertaqwa. Alloh ﷻ
menegaskan janji-Nya kepada orang-orang yang sabar:
﴿وَاصْبِرْ
فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
bersabarlah, karena sungguh Alloh tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
berbuat kebaikan.” (QS. Hud: 115)
Rosululloh ﷺ memberikan gambaran bahwa
akan datang suatu masa di mana memegang teguh Sunnah membutuhkan kesabaran luar
biasa seumpama memegang bara api:
«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ
عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
“Akan
datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas
agamanya adalah seperti orang yang memegang bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2260)
Maka yang
wajib atas seorang Mu’min adalah bersabar atas gangguan manusia di jalan Alloh,
dan tidak meninggalkan apa yang diperintahkan Alloh kepadanya hanya karena
gangguan mereka.
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) juga mengingatkan agar pengusung Sunnah tidak
terombang-ambing oleh celaan manusia:
«اعْلَمُوا رَحِمَكُمُ اللَّهُ أَنَّ أَهْلَ السُّنَّةِ
كَانُوا أَقَلَّ النَّاسِ فِيمَا مَضَى، وَهُمْ أَقَلُّ النَّاسِ فِيمَا بَقَى، الَّذِينَ
لَمْ يَذْهَبُوا مَعَ أَهْلِ الْأَتْرَافِ فِي أَتْرَافِهِمْ، وَلَا مَعَ أَهْلِ الْبِدَعِ
فِي بِدَعِهِمْ، وَصَبَرُوا عَلَى سُنَّتِهِمْ حَتَّى لَقُوا رَبَّهُمْ فَكَذَلِكَ
فَكُونُوا إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
“Ketahuilah
—semoga Alloh merohmati kalian— bahwasanya Ahlus Sunnah adalah kelompok manusia
yang paling sedikit pada masa lalu, dan mereka pula kelompok manusia yang
paling sedikit pada masa yang tersisa. Mereka adalah orang-orang yang tidak
terbawa bersama pengikut kemewahan dalam kemewahan hidup mereka, tidak pula
terbawa bersama pengikut bid’ah dalam kebid’ahan mereka, serta mereka bersabar
di atas Sunnah mereka hingga mereka menemui Robb mereka. Maka jadilah kalian
seperti itu, In Syaa Alloh.” (Ta’dzimu Qodris Sholat, Al-Marwazi [294 H],
2/678)
5.2:
Mengkonfirmasi dengan Hujjah Tanpa Membalas Kebatilan
Ahli Sunnah
wal Jama’ah tidak boleh terpancing untuk membalas celaan ahli bid’ah dengan
kebohongan, makian, atau kedzoliman yang serupa. Respons yang harus ditampilkan
adalah menegakkan konfirmasi kebenaran memakai hujjah yang padat, adil, dan
ilmiah, seraya tetap menjaga keluhuran akhlak Islam. Alloh ﷻ
memerintahkan agar dakwah dan penolakan kebatilan dilakukan dengan cara yang
terbaik:
﴿ادْعُ
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي
هِيَ أَحْسَنُ﴾
“Serulah
(manusia) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)
Membalas
kejahatan dengan kebaikan dan ketegasan dalil akan mematahkan pengaruh
kebatilan sekaligus menjaga kesucian ajaran Islam dari celaan emosional. Alloh ﷻ
menuntun sikap terpuji ini dalam Al-Qur’an:
﴿وَلَا
تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا
الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
“Dan
tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang
lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan
seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushshilot: 34)
Rosululloh ﷺ memberikan petunjuk agar
tidak membalas celaan orang lain dengan celaan serupa yang didasari atas
kejelakan yang diketahui dari orang tersebut:
«وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ
فِيكَ، فَلَا تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ، فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ»
“Dan
jika ada seseorang yang mencelamu dan menghinamu dengan apa yang ia ketahui ada
padamu, maka janganlah engkau menghinanya dengan apa yang engkau ketahui ada
padanya, karena sungguh akibat buruk dari perbuatan itu hanya akan menimpa
dirinya.” (HSR. Abu Dawud no. 4084)
Fudhoil bin
‘Iyadh (187 H) menegaskan prinsip keadilan Ahli Sunnah yang tidak terdorong
oleh kebencian untuk berbuat kedzoliman:
«المُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ، وَالفَاجِرُ
يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ»
“Seorang Mu’min
itu menutupi aib dan menasehati, sedangkan orang yang fasik itu membongkar aib
dan mencela.” (Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam, Ibnu Rojab, 1/204)
5.3:
Keteguhan di Atas Kebenaran Meski Ditinggalkan dan Dicela
Ujian
terbesar penganut Sunnah adalah melangkah di atas jalan kebenaran tatkala
jumlah pengikutnya sedikit dan celaan manusia mengelilinginya dari berbagai
arah. Keteguhan hati untuk tidak terombang-ambing oleh celaan pencela merupakan
syarat mutlak untuk meraih pertolongan Alloh ﷻ. Alloh ﷻ memuji
sifat kaum Mu’min yang tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam menegakkan
agama:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي
اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ
عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka
kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka
pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mu’min, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang mencela.” (QS. Al-Ma’idah: 54)
Istiqomah
di atas Kebenaran akan membawa ketenangan jiwa dan jaminan perlindungan dari
para Malaikat di saat-saat paling kritis dalam kehidupan manusia. Alloh ﷻ
menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang teguh:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ
أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang mengatakan: Robb kami ialah Alloh kemudian mereka meneguhkan
kemantapan hati mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan
mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah
mereka dengan memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS.
Fushshilot: 30)
Rosululloh ﷺ memberikan kabar gembira
berupa keberuntungan bagi orang-orang yang terasing karena memegang teguh
Sunnah di tengah rusaknya ajaran manusia:
«بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا
بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam
muncul dalam keadaan terasing, dan ia akan kembali terasing sebagaimana
mulanya, maka keberuntunganlah bagi orang-orang yang terasing.” (HR. Muslim
no. 145)
Sufyan Ats-Tsauri
(161 H) memberikan wasiat monumental agar seorang Mu’min tidak berkecil hati
karena sedikitnya teman di atas Sunnah:
«اسْتَوْصُوا بِأَهْلِ السُّنَّةِ خَيْرًا، فَإِنَّهُمْ
غُرَبَاءُ»
“Berwasitlah
kalian untuk berbuat baik kepada Ahli Sunnah, karena sungguh mereka adalah
orang-orang yang terasing.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah,
Al-Lalaka’i, 1/71)
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) merumuskan kaidah keteguhan yang sangat agung dalam meniti
jalan petunjuk:
«اتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَلَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ
السَّالِكِينَ، وَإِيَّاكَ وَطُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْهَالِكِينَ»
“Ikutilah
jalan-jalan petunjuk dan tidak berbahaya bagimu sedikitnya orang yang
menempuhnya. Dan jauhilah olehmu jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau
terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa.” (Al-I’tishom, Asy-Ssyathibi,
1/112)
Penutup
Menggelari
dan merendahkan kebenaran beserta para pengusungnya merupakan perangai buruk
yang senantiasa diwariskan oleh para penentang petunjuk Alloh ﷻ dari
era ke era. Ahli bid’ah menggunakan perangkat stigma, celaan, pemelintiran
makna, hingga penggalangan massa tatkala kedudukan argumentasi mereka telah
runtuh di hadapan kejujuran dalil Al-Qur’an dan Sunnah. Penyingkapan terhadap
ciri-ciri mereka—mulai dari pelabelan Hasyawiyyah, Mujassimah, Nawashib, hingga
tuduhan kaku dan bodoh—menjadi benteng pelindung bagi kaum Mu’min agar tidak
mudah terguncang oleh perlakuan celaan sosial.
Ahli Sunnah
wal Jama’ah diajarkan untuk menyikapi setiap bentuk kezoliman lisan tersebut
dengan memelihara kesabaran yang tinggi, meneladani ketabahan para Rosul,
mengkonfirmasi kebenaran melalui argumentasi syar’i yang berkeadilan tanpa
membalas dengan kebatilan serupa, serta senantiasa teguh berdiri di atas Sunnah
meskipun harus berjalan dalam keterasingan.
Semoga Alloh ﷻ menetapkan hati kita di atas Tauhid dan Sunnah, melindungi diri kita dari fitnah hawa nafsu dan kebid’ahan, serta mengumpulkan kita bersama generasi Salafus Sholih di dalam Jannah-Nya yang penuh nikmat.[NK]
