[PDF] Bahaya Memahami Agama Bermodal Bahasa Arab Saja - Nor Kandir
Bahaya Memahami Agama Bermodal
Bahasa Arob Saja
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 47
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Ilmu agama
merupakan jalan utama menuju keselamatan di dunia dan Akhiroh. Dalam menuntut
ilmu, bahasa Arob adalah kunci penting untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah,
sebab Alloh ﷻ
menurunkan wahyu-Nya dalam bahasa Arob yang jelas. Namun, terjadi pemahaman
yang keliru di tengah sebagian kalangan, termasuk sebagian tokoh ormas, yang
terbuai oleh keahlian tata bahasa, balaghoh, atau kaidah keilmuan lisan semata.
Mereka merasa sok pintar dan jago bahasa, lalu berani merendahkan ulama Salaf
serta mengesampingkan pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Padahal, sekadar menguasai bahasa Arob tidaklah cukup untuk memahami agama ini
secara benar. Agama Islam harus dipahami dengan manhaj Shohabat rodhiyallahu
‘anhum, yaitu para generasi terbaik yang menyaksikan turunnya wahyu dan
menerima pengajaran langsung dari Rosululloh ﷺ. Mengandalkan bahasa Arob tanpa mengaitkannya dengan pemahaman
para pahlawan iman ini hanya akan melahirkan pemikiran yang menyimpang,
akal-akalan takwil, serta sikap merasa lebih pandai dari para Tabi’in dan
imam-imam mazhab. Penafsiran ayat Al-Qur’an serta matan Hadits Rosululloh ﷺ tidak boleh dilepaskan dari
konteks historis, asbabun nuzul, asbaburul wurud, serta pengamalan nyata
para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Buku ini disusun sebagai penjelasan
ilmiah berbasis dalil-dalil shohih untuk meluruskan kekeliruan tersebut,
menegaskan urgensi bahasa Arob sekaligus membatasi perannya agar tidak
dijadikan alat untuk menyimpang dari pemahaman para Salafush Sholih. Buku ini
terbagi menjadi beberapa bab yang mengupas hakikat bahasa Arob, kewajiban
mengikuti manhaj Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, hingga bahaya menyimpang
dari pemahaman mereka.
Bab 1: Hakikat Bahasa Arob dan
Batas Kemampuannya
Bab ini menguraikan kedudukan bahasa Arob dalam Islam
sebagai wahyu dan sarana memahami syariat, sekaligus menjelaskan batas
kemampuannya bahwa keahlian bahasa semata tidak menjamin kebenaran pemahaman
seseorang tanpa bimbingan wahyu dan petunjuk Rosululloh ﷺ.
1.1:
Bahasa Arob Sebagai Alat Memahami Wahyu
Keutamaan
bahasa Arob sangat agung karena Alloh ﷻ memilihnya sebagai bahasa
Al-Qur’an, sehingga mempelajari dan menguasainya adalah jalan untuk memahami
isi Al-Qur’an dan Hadits Rosululloh ﷺ. Bahasa Arob merupakan instrumen keilmuan yang mendasari
pembentukan hukum syariat, pemahaman kaidah fiqih, serta pengkajian kalam
Ilahi. Tanpa penguasaan terhadap tata bahasa Arob, seseorang akan mengalami
kesulitan dalam menangkap makna zhohir maupun batin dari firman-firman Alloh ﷻ dan
sabda-sabda Rosululloh ﷺ.
Namun demikian, fungsi bahasa Arob dalam struktur keilmuan adalah sebagai alat
penterjemah dan pemaham wahyu, bukan sebagai hakim yang dapat membatalkan atau
mengubah ketetapan hukum yang telah ditegaskan oleh riwayat shohih.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ قُرْءَٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ
تَعْقِلُونَ﴾
“Sungguh
Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arob agar kamu mengerti.”
(QS. Yusuf: 2)
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿كِتَٰبٌ فُصِّلَتْ ءَايَٰتُهُۥ
قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾
“Kitab yang
dijelaskan ayat-ayatnya, yaitu Al-Qur’an dalam bahasa Arob, untuk kaum
yang mengetahui.” (QS. Fushshilat: 3)
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ﴾
“Dengan bahasa
Arob yang jelas.” (QS. Asy-Syu’aro: 195)
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَٰهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم بَعْدَمَا جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ
اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ وَاقٍ﴾
“Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) sebagai peraturan (yang benar)
dalam bahasa Arob. Dan sekiranya kamu mengikuti hawa nafsu mereka
setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada seorang pun yang melindungi
dan menolong kamu dari (siksa) Alloh.” (QS. Ar-Ro’d: 37)
1.2:
Bahaya Bersandar Hanya Pada Bahasa
Penguasaan
bahasa Arob semata tanpa ketundukan kepada petunjuk Rosululloh ﷺ dan para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum dapat menjerumuskan seseorang ke dalam pemahaman yang menyimpang,
sebagaimana orang-orang kafir Quroisy yang sangat fasih berbahasa Arob namun
tetap menolak kebenaran. Keterampilan bersilat kata dan kefasihan berbicara
acap kali menjadi fitnah besar bagi para penuntut ilmu. Seseorang yang lihai
dalam susunan kata sering kali terjebak dalam rasa percaya diri yang
berlebihan, sehingga merasa sanggup menyimpulkan hukum sendiri tanpa
memerdulikan penafsiran para ulama terdahulu. Ketika keahlian lisan tidak
diimbangi dengan rasa takut kepada Alloh ﷻ, maka lisan tersebut hanya
akan menjadi alat untuk menyesatkan umat dan memutarkan makna-makna syariat
yang murni.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ
مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ»
“Sungguh di
antara yang paling aku takutkan atas umatku adalah orang munafiq yang pintar
lidahnya (pandai bersilat kata).” (HSR. Ahmad no. 143)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ
مِنَ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا»
“Sungguh
Alloh benci kepada laki-laki yang bersilat lidah (sok fasih), yang
memutarbalikkan lidahnya sebagaimana lembu memutarbalikkan lidahnya.” (HSR.
Abu Dawud no. 5005)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ
الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ
مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ
حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ
لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Akan
keluar di akhir zaman suatu kaum yang muda usianya dan bodoh pikirannya. Mereka
mengucapkan perkataan sebaik-baik manusia (mengutip dalil), mereka membaca Al-Qur’an
tetapi tidak melewati kerongkongan mereka (gagal paham)...” (HR. Al-Bukhori
no. 5057 dan Muslim no. 1066)
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا
يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى
إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا
بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sungguh
Alloh tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari para hamba, tetapi Dia mencabut
ilmu dengan diwafatkannya para ulama, sehingga apabila tidak tersisa seorang
alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu mereka
ditanya, maka mereka memberi fatwa tanpa ilmu (dengan akalnya), sehingga
mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673)
Bab 2: Manhaj Shohabat Sebagai
Tolok Ukur Kebenaran
Bab ini membahas keutamaan para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum sebagai murid langsung Rosululloh ﷺ yang paling memahami Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga pemahaman
mereka menjadi syarat mutlak dalam memahami agama dengan benar.
2.1: Kewajiban Mengikuti Pemahaman Shohabat
Pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum adalah
perantara yang menghubungkan umat ini dengan wahyu, sehingga setiap tafsir dan
pemahaman yang menyelisih jalan mereka adalah kebathilan. Para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum hidup berdampingan dengan Rosululloh ﷺ, menyaksikan secara
langsung konteks penurunan ayat, serta mendengarkan penjelasan sebab-sebab
keluarnya suatu hadits. Kebersihan hati, kedalaman pemahaman, dan keikhlasan
mereka membuat pemahaman agama mereka menjadi pemahaman paling murni yang
diridhoi oleh Alloh ﷻ. Oleh sebab itu, siapapun yang mencoba
memahami Islam hanya berlandaskan analisis bahasa tanpa memosisikan pemahaman
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum sebagai pondasi utama, dipastikan akan
terjatuh dalam kesesatan yang nyata.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَالسَّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَٰجِرِينَ
وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ﴾
“Orang-orang
yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan
Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada
mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh.” (QS. At-Taubah: 100)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik
manusia adalah generasiku (para Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka,
kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim
no. 2533)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Maka wajib
atas kalian memegang teguh sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapat
petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham...” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ، فَإِذَا ذَهَبَتِ
النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ، وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي، فَإِذَا
ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي، فَإِذَا
ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ»
“Bintang-bintang
adalah pengaman bagi langit, apabila bintang-bintang lenyap maka akan datang
kepada langit apa yang dijanjikan darinya. Dan aku adalah pengaman bagi para
shohabatku, apabila aku pergi maka akan datang kepada para shohabatku apa yang
dijanjikan darinya. Dan para shohabatku adalah pengaman bagi umatku, apabila
para shohabatku telah pergi maka akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan
darinya.” (HR. Muslim no. 2531)
2.2:
Kesesatan Orang yang Memahami Agama Tanpa Manhaj Salaf
Setiap
pemikiran yang mengandalkan logika dan kelenturan bahasa Arob untuk menolak
riwayat shohih atau menafsirkan ayat sesuai hawa nafsu tanpa merujuk penjelasan
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum akan berujung pada perpecahan dan
kesesatan. Kelompok-kelompok yang menyimpang dalam sejarah Islam, seperti
Khowarij, Mu’tazilah, dan Jahmiyyah, pada dasarnya menguasai bahasa Arob dengan
sangat baik. Namun, mereka terjerumus ke dalam kebinasaan karena memisahkan
Al-Qur’an dan Sunnah dari pemahaman para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Mereka
sibuk mengutak-atik makna lisan demi mencocokkan dalil dengan landasan akal
serta prasangka mereka sendiri, yang pada akhirnya memecah belah keutuhan
barisan kaum Muslimin.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ
لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ
مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ
جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan siapa
yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang
bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan
yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam
itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ
مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً»، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
“Dan umatku
akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di dalam Naar kecuali satu
golongan.” Para Shohabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rosululloh?” Beliau
menjawab: “Yang aku dan para Shohabatku berada di atasnya (hari ini).” (HHR.
At-Tirmidzi no. 2641)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ
فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
membuat hal baru dalam urusan agama kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia
tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Jauhilah
oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama), karena sungguh setiap perkara
baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
Bab 3: Kebatilan Menjadikan Bahasa
Sebagai Alat Merendahkan Ulama Salaf
Bab ini membongkar fenomena orang-orang yang merasa jago
bahasa Arob lalu bersikap sombong dan merendahkan ulama Salaf, serta menyajikan
kasus nyata pemutarbalikan makna ayat dan hadits akibat meninggalkan manhaj
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
3.1: Larangan Sombong dan Merendahkan Ulama
Merasa jago bahasa lalu menganggap ulama Salaf tidak paham
atau kaku adalah bentuk kesombongan, sebab ilmu yang bermanfaat melahirkan rasa
takut kepada Alloh ﷻ dan ketundukan pada atsar. Kesombongan intelektual sering kali
membuat seseorang memandang rendah generasi terdahulu, menuduh para ulama Salaf
tekstualis, serta mengagungkan pemikirannya sendiri yang dianggap lebih
rasional dan sesuai dengan perkembangan era. Padahal, para ulama Salaf seperti
Malik bin Anas (179 H), Asy-Syafi’i (204 H), dan Ahmad bin Hanbal (241 H) tidak
hanya menguasai bahasa Arob hingga ke akar-akarnya, tetapi juga dianugerahi
ketaqwaan, kebersihan niat, serta pemahaman yang kokoh terhadap riwayat-riwayat
shohih.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَٰؤُا﴾
“Sungguh
yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS.
Fathir: 28)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ،
أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ
فِي النَّارِ»
“Siapa
menuntut ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk
mebentak orang-orang bodoh, atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia
kepadanya, maka dia di dalam Naar.” (HHR. Ibn Majah no. 253)
3.2:
Studi Kasus Penyimpangan Makna Akibat Taklid Pada Bahasa Semata
Sebagai
contoh kasus, sebagian oknum tokoh ormas yang merasa jago tata bahasa Arob
menggunakan pendekatan bahasa semata untuk meliukkan makna ayat dan hadits.
Contohnya, mereka menafsirkan tingginya Alloh ﷻ di atas ‘Arsy (Sifat Uluw)
secara akal dan lughoh semata dengan mengartikan ‘Istiwa’ sebagai ‘Istaula’
(menguasai), padahal para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan Tabi’in
sepakat mengartikannya ‘a’la wa irtafa’’ (tinggi). Begitu pula penolakan
atau penyimpangan makna hadits-hadits shohih terkait penetapan Sifat-Sifat
Alloh ﷻ
dengan alasan majaz (kiasan) bahasa, atau pembenaran perbuatan bid’ah
dalam ibadah dengan alasan “secara bahasa artinya baik”. Penyimpangan ini
terjadi karena mereka menjadikan bahasa Arob sebagai hakim atas wahyu, bukan
menjadikan pemahaman Shohabat rodhiyallahu ‘anhum sebagai penjelas
wahyu. Ketika bahasa dijadikan penguasa di atas nash, syariat diubah sesuai
selera dan subjektivitas lisan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ
مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥ
إِلاَّ اللَّهُ وَالرَّٰسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ
كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا﴾
“Adapun
orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka
mengikuti yang serupa dari Al-Qur’an untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya (hakikat
sifat Alloh) melainkan Alloh. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami
beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Robb kami.’” (QS. Ali ‘Imron: 7)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا
تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ»
“Apabila kalian
melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang samar darinya, maka mereka
itulah orang-orang yang telah dinamakan oleh Alloh (orang yang sesat), maka
waspadalah terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 4547 dan Muslim no. 2665)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ
مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ، وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ»
“Akan ada
di akhir umatku orang-orang yang menyampaikan hadits kepada kalian tentang hal
yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula bapak-bapak kalian dengar, maka
waspadalah kalian dan jauhilah mereka.” (HR. Muslim no. 6)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا
مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»
“Aku telah
meninggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat
selama-lamanya jika berpegang teguh pada keduanya: Kitab Alloh dan Sunnah
Nabi-Nya.” (HR. Malik no. 3; dishohihkan Ibnu Abdil Barr dan Al-Albani)
Bab 4: Ancaman Terhadap Pembela
Bid’ah dan Penyesat Manhaj
Bab ini menguraikan ancaman-ancaman syari’at bagi siapa saja
yang membela kebid’ahan, memalingkan manusia dari Sunnah Rosululloh ﷺ, serta mempergunakan
argumen kebahasaan demi menyebarkan kesesatan di tengah-tengah masyarakat.
4.1:
Ancaman Bagi Orang yang Membuat dan Membela Perkara Baru
Menciptakan
atau membela kebid’ahan dengan perisai kaidah bahasa adalah bentuk
pengkhianatan terhadap keaslian syariat. Menganggap suatu perbuatan ritual
sebagai “bid’ah hasanah” dengan merujuk pada tinjauan etimologi semata
merupakan tindakan yang menentang ketegasan Rosululloh ﷺ yang menyatakan bahwa setiap
bid’ah adalah sesat. Tindakan membela perkara baru ini tidak hanya merusak
kemurnian ajaran agama, tetapi juga diancam dengan dijauhkannya pengikut bid’ah
dari telaga Rosululloh ﷺ
pada hari Qiyamah.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ
الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ﴾
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang menetapkan aturan agama
untuk mereka yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syu’aro: 21)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، وَلَيُرْفَعَنَّ
مَعِي رِجَالٌ مِنْكُمْ ثُمَّ لَيُخْتَلَجُنَّ دُونِي، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي،
فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ»
“Aku akan
mendahului kalian di telaga. Sungguh akan ditampakkan beberapa orang di antara
kalian kepadaku, sehingga ketika aku hendak memberi minum kepada mereka, mereka
ditarik menjauh dariku. Maka aku berkata: ‘Wahai Robb, mereka adalah
shohabatku!’ Maka Alloh berfirman: ‘Sungguh kamu tidak mengetahui apa yang
mereka buat-buat setelahmu.” (HR. Al-Bukhori no. 6576 dan Muslim no.
2297)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ
مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ
دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ،
لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا»
“Siapa yang
mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang
mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang
mengajak kepada kesesatan, maka atasnya dosa seperti dosa orang-orang
yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun.” (HR.
Muslim no. 2674)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا،
فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالمَلاَئِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لاَ يُقْبَلُ
مِنْهُ صَرْفٌ وَلاَ عَدْلٌ»
“Siapa yang
membuat bid’ah di Madinah atau melindungi pelaku bid’ah, maka baginya laknat
Alloh, para Malaikat, dan seluruh manusia. Alloh tidak menerima ibadah sunnah
maupun wajibnya.” (HR. Al-Bukhori no. 1870 dan Muslim no. 1370)
4.2:
Pentingnya Menjauhi Para Pendakwah Kesesatan
Umat Islam
diperintahkan untuk mewaspadai dan menjauhi para dai yang mengajak kepada
pintu-pintu Jahannam melalui silat lidah dan manipulasi makna. Kepandaian
berbicara yang tidak diikat dengan manhaj Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
sangat mudah memikat awam, sehingga pemisah antara hak dan bathil menjadi
kabur. Oleh karena itu, membentengi diri dengan menuntut ilmu syar’i sesuai
pemahaman Salafush Sholih adalah satu-satunya perlindungan dari gelombang
pemikiran yang menyesatkan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي ءَايَٰتِنَا
فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ﴾
“Dan
apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan yang lain.” (QS.
Al-An’am: 68)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ
إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»
“(Akan ada)
para penyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka maka
mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 7084 dan
Muslim no. 1847)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا، يُرْفَعُ
فِيهَا العِلْمُ، وَيَنْزِلُ فِيهَا الجَهْلُ»
“Sungguh di
hadapan hari Qiyamah ada hari-hari di mana ilmu diangkat dan kebodohan
diturunkan.” (HR. Al-Bukhori no. 7064 dan Muslim no. 2672)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ،
يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا
الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ،
قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan
datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, di mana orang yang
berdusta dibenarkan dan orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat
dipercaya dan orang yang amanah dikhianati, serta Ruwaibidhoh angkat bicara.”
Ditanyakan: “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang bodoh yang ikut
campur dalam urusan masyarakat umum.” (HSR. Ibn Majah no. 4036)
Penutup
Bahasa Arob
adalah sarana yang sangat mulia untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah, namun ia
bukanlah tolok ukur tunggal kebenaran dalam beragama. Menguasai grammar atau
kaidah bahasa Arob tanpa tunduk pada pemahaman para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum hanya akan melahirkan kesombongan dan penyimpangan. Sikap
sebagian orang yang merasa jago bahasa lalu berani merendahkan ulama Salaf
serta meliuk-liukkan makna dalil demi membela bid’ah atau pemikiran sesat
adalah kekeliruan. Hakikat keilmuan yang hakiki terletak pada ketundukan
terhadap wahyu, kerendahan hati di hadapan ulama, serta kesetiaan menempuh
jalan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Bahasa Arob
harus ditempatkan pada porsinya yang tepat, yaitu sebagai pelayan wahyu,
bukan sebagai hakim yang mengubah nash atau merobohkan konsensus para
ulama terdahulu. Jalan keselamatan satu-satunya bagi setiap Muslim adalah
kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Sholih,
yaitu para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, Tabi’in, dan para ulama yang
mengikuti jejak mereka dengan benar.
Semoga Alloh ﷻ menetapkan hati kita di atas tauhid, taqwa, dan manhaj yang shohih hingga akhir hayat.[NK]
