[PDF] 15 Kunci Rizqi - Nor Kandir
15 Kunci Rizqi
Dari Al-Kitab dan
As-Sunnah
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 92
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Alhamdulillah,
segala puji bagi Alloh ﷻ
Dzat yang Maha Meluaskan dan Maha Menyempitkan rizqi bagi hamba-hamba-Nya.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, shohabat, dan
seluruh pengikut beliau hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Segala bentuk jalan kelapangan hidup dan sebab-sebab
terbukanya pintu rizqi telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Seorang
Mu’min wajib menyandarkan pencarian rizqi kepada petunjuk syar’i agar harta
yang diperoleh tidak hanya melimpah secara wujud fisik, tetapi juga
mendatangkan keberkahan di dunia dan Akhiroh.
Buku ini menguraikan amalan-amalan utama pembuka pintu rizqi
beserta fiqihnya berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ secara ringkas,
padat, dan lugas.
Bab 1: Taqwa
Ketaqwaan kepada Alloh ﷻ
merupakan pondasi paling mendasar dan jalan paling agung dalam membuka
pintu-pintu rizqi dari arah yang tidak pernah terlintas dalam pikiran manusia.
Orang yang bertaqwa senantiasa mendahulukan perintah Alloh ﷻ
dan menjauhi larangan-Nya, sehingga Alloh ﷻ menjamin kemudahan serta kelapangan dalam setiap urusan
kehidupannya.
1.1 Taqwa Sebagai Syarat Utama Rizqi
Taqwa adalah menjalankan seluruh perintah Alloh ﷻ atas dasar cahaya petunjuk dari Alloh ﷻ
dengan mengharap pahala-Nya, serta meninggalkan seluruh larangan Alloh ﷻ atas dasar cahaya petunjuk dari Alloh ﷻ
karena takut akan adzab-Nya. Taqwa
menjadi syarat mutlak terbukanya kran keberkahan hidup. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾
“Dan
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan
melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)
1.2
Jalan Keluar dan Rizqi Tanpa Disangka-sangka
Setiap hamba yang bertaqwa senantiasa diberikan jalan keluar
dari setiap penyempitan dan problematika hidup, serta diberikan karunia
keberkahan rizqi yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن
يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ﴾
“Dan siapa
bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia
memberinya rizqi dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Tholaq:
2-3)
1.3
Janji Keberkahan dari Langit dan Bumi
Keberkahan
rizqi tidak diukur dari sekadar kuantitas materi, melainkan kebaikan yang
melimpah dan kecukupan yang menentramkan jiwa. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَوْ
أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِم مِّن رَّبِّهِمْ
لَأَكَلُوا مِن فَوْقِهِمْ وَمِن تَحْتِ أَرْجُلِهِم﴾
“Dan
sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan hukum Turot, Injil, dan Al-Qur’an
yang diturunkan kepada mereka dari Robb mereka, niscaya mereka akan mendapat
makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka.” (QS. Al-Ma’idah: 66)
1.4
Janji Kelapangan Bagi Orang yang Bertawakkal
Taqwa yang
terpancar dalam perbuatan akan melahirkan tawakkal yang benar. Seseorang yang
memadukan antara ketaqwaan dan tawakkal akan senantiasa dicukupi segala
kebutuhan hidupnya oleh Alloh ﷻ. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَن
يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Dan siapa
bertawakkal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan kebutuhannya.” (QS.
Ath-Tholaq: 3)
Bab 2: Istighfar dan Taubat
Istighfar
dan taubat merupakan pembersih dosa-dosa yang menjadi penghalang utama
mengalirnya rizqi. Memperbanyak memohon ampunan kepada Alloh ﷻ
secara ikhlas dapat meruntuhkan dinding-dinding penyempitan hidup dan
mengundang pertolongan Alloh ﷻ dalam bentuk kelapangan harta serta keturunan.
2.1
Hubungan Maksiat dengan Terhalangnya Rizqi
Maksiat dan dosa yang dilakukan seorang hamba menjadi sebab
utama terhalangnya rizqi yang telah ditetapkan baginya. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ
يُصِيبُهُ»
“Sungguh
seorang lelaki benar-benar dihalangi dari rizqi disebabkan dosa yang
diperbuatnya.” (HHR. Ibnu Majah no. 4022)
2.2
Keutamaan Istighfar dalam Membuka Pintu Langit
Istighfar
yang diucapkan dengan kesadaran hati akan membuka pintu-pintu rohmat dan
karunia dari langit. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللَّهُ
لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ
لَا يَحْتَسِبُ»
“Siapa
senantiasa beristighfar, niscaya Alloh menjadikan baginya jalan keluar dari
setiap kesempitan, kelapangan dari setiap duka cita, dan memberinya rizqi dari
arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud no. 1518. Dihasankan Ibnu
Hajar dan Ibnu Muflih)
2.3
Buah Keberkahan Taubat: Hujan, Harta, dan Keturunan
Al-Qur’an mengabadikan perkataan Nabi Nuh kepada kaumnya
mengenai buah dari istighfar. Alloh
ﷻ
berfirman:
﴿فَقُلْتُ
اسْتَغْفرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ
أَنْهَارًا﴾
“Maka aku
berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampunan kepada Robbmu, sungguh Dia Maha
Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,
dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan garden-garden
untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu’.” (QS. Nuh: 10-12)
2.4
Lafazh-Lafazh Istighfar
Lafazh
istighfar terbaik adalah Sayyidul Istighfar yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Beliau ﷺ bersabda:
«سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ
أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى
عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ
لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ»
“Sayyidul
Istighfar adalah engkau mengucapkan: ‘Ya Alloh, Engkau adalah Robbku, tidak ada
ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku dan aku
adalah hamba-Mu. Aku bertahan di atas perjanjian-Mu dan janji-Mu semampuku. Aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui ni’mat-Mu
kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sungguh tidak ada
yang mengampuni dosa-dosa melainkan Engkau’.” (HR. Al-Bukhori no. 6306)
Bab 3: Silaturrohim
Silaturrohim
adalah menyambung tali persaudaraan dan kasih sayang kepada kerabat nasab yang
memiliki hubungan rahim. Amalan ini memiliki pengaruh yang sangat kuat secara
langsung dalam meluaskan rizqi dan memanjangkan umur seseorang di dunia.
3.1
Silaturrohim Kepada Kerabat Dekat
Silaturrohim
yang hakiki bukan sekadar membalas kebaikan kerabat yang berbuat baik,
melainkan menyambung hubungan dengan kerabat yang memutuskan tali persaudaraan.
Nabi ﷺ
bersabda:
«لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ
الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»
“Bukanlah
orang yang menyambung silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan orang lain,
akan tetapi orang yang menyambung silaturrohim adalah orang yang apabila tali
silaturrohimnya diputus, ia menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)
3.2
Pengaruh Silaturrohim dalam Kelapangan Rizqi
Alloh ﷻ
memberikan jaminan kelapangan rizqi bagi siapa saja yang gemar menyambung tali
silaturrohim kepada kerabatnya. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ
وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ»
“Siapa yang
ingin dilapangkan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia
menyambung tali silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 2061 dan Muslim no. 2557)
Menyambung
silaturrohim mendatangkan keberkahan umur, baik berupa penambahan usia secara
hakiki maupun berupa keberkahan waktu untuk beramal sholih.
3.3
Ancaman Memutus Silaturrohim Terhadap Kesempitan Rizqi
Memutus tali silaturrohim adalah dosa besar yang menjadi
sebab dihalanginya keberkahan dan datangnya adzab di dunia sebelum Akhiroh.
Nabi ﷺ bersabda:
«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»
“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutus tali
silaturrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 5984 dan Muslim no. 2556)
Bab 4: Infaq dan
Shodaqoh
Berinfaq dan bershodaqoh di jalan Alloh ﷻ
secara nampak mengurangi harta, namun secara hakikat syar’i justru
melipatgandakan dan membersihkan harta. Alloh ﷻ
berjanji akan mengganti setiap harta yang dikeluarkan oleh hamba-Nya demi
mengharap ridho-Nya.
4.1 Perdagangan yang Tidak Akan Pernah Rugi
Menginfakkan harta di jalan Alloh ﷻ
merupakan bentuk mu’amalah dan perdagangan yang paling menguntungkan serta
tidak akan pernah mengalami kerugian. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ
سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ﴾
“Sungguh
orang-orang yang selalu membaca Kitab Alloh, mendirikan Sholat, dan
menginfakkan sebagian dari rizqi yang Kami anugerahkan kepada mereka secara
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang
tidak akan rugi.” (QS. Fatir: 29)
4.2
Balasan Berlipat Ganda Bagi Orang yang Berinfaq
Setiap
harta yang dishodaqohkan akan dilipatgandakan pahala dan kebaikannya hingga
ratusan kali lipat oleh Alloh ﷻ. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَّثَلُ
الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ
سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن
يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Perumpamaan
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir, pada tiap-tiap bulir ada 100 biji.
Alloh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261)
4.3
Doa Malaikat Setiap Pagi Bagi Orang yang Berinfaq
Setiap
pagi, dua Malaikat turun berdoa khusus untuk orang yang menginfakkan hartanya
dan orang yang menahannya. Nabi ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا
مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا،
وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا»
“Tidak ada
satu hari pun ketika hamba-hamba Alloh bangun di pagi hari melainkan dua
Malaikat turun, lalu salah satunya berdoa: ‘Ya Alloh, berikanlah ganti bagi
orang yang berinfaq.’ Dan Malaikat yang lain berdoa: ‘Ya Alloh, berikanlah
kehancuran bagi orang yang menahan hartanya’.” (HR. Al-Bukhori no. 1442 dan
Muslim no. 1010)
4.4
Berinfaq Saat Lapang Maupun Sempit
Shodaqoh tidak hanya dianjurkan saat kaya, tetapi juga saat
kondisi ekonomi krisis sebagai bukti keimanan dan keikhlasan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿الَّذِينَ
يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ
عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Yaitu
orang-orang yang menginfakkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Alloh
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Bab 5: Tawakkal
Tawakkal adalah menyandarkan hati secara penuh hanya kepada
Alloh ﷻ
dalam meraih kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, disertai dengan mengambil
sebab-sebab ikhtiar yang disyari’atkan. Tawakkal yang benar menjadi penjamin
kecukupan rizqi seorang hamba.
5.1
Tawakkal dan Usaha
Tawakkal bukanlah bersikap pasif tanpa usaha, melainkan
perpaduan antara bersandarnya hati kepada Alloh ﷻ
dan kerja anggota badan dalam mencari rizqi halal. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا
اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Apabila Sholat
telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Alloh dan
ingatlah Alloh banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
5.2
Perlindungan Alloh Bagi Orang yang Bertawakkal
Orang yang
menyandarkan segala urusannya kepada Alloh ﷻ tidak akan pernah
ditelantarkan, karena Alloh ﷻ adalah penjamin terbaik bagi hamba-Nya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Sungguh
Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal.” (QS. Ali ‘Imron: 159)
5.3
Perumpamaan Rizqi Burung Sebagai Wujud Tawakkal
Nabi ﷺ memberikan gambaran konkret
mengenai tawakkal yang hakiki melalui perilaku burung yang keluar mencari
makan. Beliau ﷺ
bersabda:
«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى
اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا
وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya
Dia akan memberi rizqi kepada kalian sebagaimana Dia memberi rizqi kepada
burung; ia keluar di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan kembali di sore
hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)
5.4
Menyerahkan Hasil Kepada Dzat Yang Maha Mengatur
Pasrah dan ridho atas segala ketetapan Alloh ﷻ setelah berusaha maksimal akan mendatangkan ketenangan jiwa
serta keberkahan pada rizqi yang diterima. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَلَيْسَ
اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ﴾
“Bukankah
Alloh cukup untuk melindungi hamba-Nya?” (QS. Az-Zumar: 36)
Bab 6: Berbakti Kepada Kedua Orang
Tua
Birrul
walidain (berbakti kepada kedua orang tua) adalah kewajiban syar’i paling agung
setelah tauhid. Keberkahan hidup, kelancaran usaha, dan keterbukaan pintu rizqi
sangat bergantung pada sejauh mana seorang anak memuliakan kedua orang tuanya.
6.1
Doa Orang Tua Sebagai Kunci Keberkahan
Doa kedua orang tua untuk kebaikan anaknya adalah doa yang
makbul dan langsung diijabahi oleh Alloh ﷻ
tanpa penghalang. Nabi ﷺ bersabda:
«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ
فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»
“Ada 3 doa yang
mustajab tanpa ada keraguan di dalamnya: doa orang tua, doa orang yang
bepergian (musafir), dan doa orang yang dizholimi.” (HHR. Abu Dawud no. 1536
dan At-Tirmidzi no. 1905)
6.2
Ridho Alloh Terletak Pada Ridho Kedua Orang Tua
Segala
kemudahan jalan hidup dan karunia Alloh ﷻ terikat erat dengan keridhoan
orang tua terhadap anaknya. Nabi ﷺ bersabda:
«رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ
الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»
“Ridho Robb
terletak pada ridho orang tua, dan murka Robb terletak pada murka orang tua.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 1899)
6.3
Pengaruh Bakti Orang Tua Terhadap Kelancaran Usaha
Anak yang
senantiasa menafkahi, membahagiakan, dan merawat kedua orang tuanya akan
dibukakan jalan-jalan rejeki yang tidak disangka-sangka sebagai balasan di
dunia. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَوَصَّيْنَا
الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا﴾
“Dan Kami
wajibkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-‘Ankabut:
8)
6.4
Bahaya Durhaka Terhadap Kesempitan Hidup
Uququl
walidain (durhaka
kepada orang tua) adalah dosa besar yang mendatangkan ancaman hukuman yang
disegerakan di dunia berupa kesempitan dan kehancuran hidup. Nabi ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ
تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ
مِثْلُ الْبَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ»
“Tidak ada
satu dosa pun yang lebih layak untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya oleh
Alloh Ta’ala di dunia, di samping siksa yang disimpan untuknya di
Akhiroh, melainkan kezholiman dan memutus tali silaturrohim.” (HSR. Abu Dawud
no. 4902, At-Tirmidzi no. 2511, dan Ibnu Majah no. 4211)
Bab 7: Mendirikan Sholat dan
Ibadah
Sholat lima
waktu adalah tiang agama dan penjamin utama terhubungnya hamba dengan Dzat
Pemilik Rizqi. Menjaga Sholat tepat waktu beserta Sholat-Sholat sunnah menjadi
kunci terbukanya keberkahan usaha hamba.
7.1
Sholat Sebagai Kewajiban Utama Penjemput Rizqi
Alloh ﷻ menjamin rizqi bagi hamba-hamba-Nya yang
senantiasa menegakkan Sholat dan tidak menyibukkan diri dengan dunia hingga
melalaikan Sholat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَأْمُرْ
أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ
وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى﴾
“Dan
perintahkanlah keluargamu mendirikan Sholat dan bersabarlah kamu dalam
mekerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu, Kamilah yang memberi rizqi
kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Thoha:
132)
7.2
Anjuran Memerintahkan Keluarga Mendirikan Sholat
Keberkahan
suatu rumah tangga dan melimpahnya kebaikan di dalamnya tercipta apabila
seluruh anggota keluarga bahu-membahu dalam mendirikan Sholat. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَانَ
يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِندَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا﴾
“Dan ia
(Isma’il) menyuruh keluarganya untuk melaksanakan Sholat dan menunaikan zakat,
dan ia adalah seorang yang diredhoi di sisi Robbnya.” (QS. Maryam: 55)
7.3
Sholat Dhuha Sebagai Bentuk Syukur dan Kecukupan
Sholat
Dhuha adalah ibadah yang menggantikan kewajiban shodaqoh bagi seluruh
persendian tubuh dan menjadi jaminan kecukupan rizqi di akhir siang. Dalam Hadits Qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwasanya Alloh ﷻ
berfirman:
«ابْنَ آدَمَ ارْكَعْ لِي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ
مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ»
“Wahai anak
Adam, rukuklah untuk-Ku 4 rokaat di awal siang (Sholat Dhuha), niscaya Aku akan
mencukupi kebutuhanmu di akhir siang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 475)
7.4
Keutamaan Melakukan Ibadah Rutin Khususnya Sholat Subuh
Waktu Subuh adalah waktu yang didoakan keberkahannya secara
khusus oleh Nabi ﷺ untuk umat beliau. Nabi ﷺ
berdoa:
«اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»
“Ya Alloh,
berkahilah bagi umatku pada waktu pagi hari mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 2606
dan At-Tirmidzi no. 1212)
Bab 8: Hijroh di Jalan Alloh
Hijroh
dengan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, perbuatan harom, atau berpindah
dari tempat/kondisi yang buruk menuju ketaatan merupakan amalan agung yang
dijanjikan kelapangan rizqi dan tempat kembali yang luas oleh Alloh ﷻ.
8.1
Makna Hijroh Meninggalkan Larangan Alloh
Hijroh yang utama adalah meninggalkan segala apa yang
dilarang oleh Alloh ﷻ dan Rosul-Nya, baik berupa mata
pencaharian yang harom maupun perbuatan maksiat. Nabi ﷺ bersabda:
«وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ
عَنْهُ»
“Dan orang
yang berhijroh adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.”
(HR. Al-Bukhori no. 10 dan Muslim no. 40)
8.2
Janji Kelapangan Bagi Orang yang Gemar Pada Kebaikan
Siapa saja yang meninggalkan pekerjaan yang harom demi
mentaati Alloh ﷻ, maka Alloh ﷻ
berjanji akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dan meluaskan
kehidupannya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَن
يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً﴾
“Siapa
berhijroh di jalan Alloh, niscaya mereka akan mendapati di bumi ini tempat
hijroh yang luas dan rizqi yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 100)
8.3
Berkorban Demi Keridhoan Alloh
Meninggalkan harta harom karena takut kepada Alloh ﷻ
tidak akan pernah merugikan seorang hamba, sebab ganti dari Alloh ﷻ
pasti datang. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا لِلَّهِ إِلَّا
بَدَّلَكَ اللهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ »
“Sungguh
tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Alloh ‘Azza wa Jalla,
melainkan Alloh pasti akan menggantinya untukmu dengan sesuatu yang jauh lebih
baik darinya.” (HSR. Ahmad no. 23074)
8.4
Keberkahan Rizqi Bagi Orang yang Menolong Agama Alloh
Menolong agama Alloh ﷻ
dengan menegakkan syari’at-Nya dalam mu’amalah dan kehidupan pribadi akan
mendatangkan pertolongan Alloh ﷻ dalam bentuk jaminan
rizqi dan keteguhan. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Alloh, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
Bab 9: Menolong Orang Lemah
Alloh ﷻ
menurunkan pertolongan dan kelapangan rizqi kepada suatu kaum disebabkan adanya
orang-orang yang lemah, miskin, dan membutuhkan di antara mereka yang ditolong
dan disantuni dengan ikhlas.
9.1
Keutamaan Membantu Para Penuntut Ilmu
Menanggung kebutuhan hidup dan membantu penuntut ilmu agama
merupakan sebab utama datangnya kelapangan rizqi bagi seseorang. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا
أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ﴾
“Dan apa
saja yang kamu infakkan, maka Alloh akan menggantinya dan Dialah Pemberi rizqi
yang terbaik.” (QS. Saba’: 39)
9.2
Pertolongan Alloh Datang Bersama Orang-Orang Lemah
Umat Islam
diberikan kemenangan dan karunia rizqi oleh Alloh ﷻ melalui doa dan keberadaan
kaum yang dho’if (lemah). Nabi ﷺ bersabda:
«هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ»
“Bukankah kalian ditolong dan diberi rizqi melainkan dengan
sebab orang-orang yang lemah di antara kalian?” (HR. Al-Bukhori no. 2896)
9.3 Menyantuni Anak Yatim dan Janda
Orang yang mengurus dan menyantuni kehidupan janda serta
orang-orang miskin mendapatkan pahala yang sangat agung setara dengan berjihad
di jalan Alloh ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:
«السَّاعِي عَلَى الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ
كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
“Orang yang
berusaha membantu janda dan orang miskin pahalanya seperti orang yang berjihad
di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5353 dan Muslim no. 2982)
9.4
Menghilangkan Kesusahan Seorang Mu’min
Siapa saja yang melapangkan kesusahan duniawi saudaranya yang
Mu’min, Alloh ﷻ akan melapangkan kesusahannya di dunia dan
Akhiroh. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ
يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ»
“Siapa
melepaskan satu kesusahan seorang Mu’min dari kesusahan-kesusahan dunia,
niscaya Alloh akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan
hari Qiyamah. Dan siapa memudahkan urusan orang yang kesulitan, niscaya Alloh
akan memudahkan urusannya di dunia dan Akhiroh.” (HR. Muslim no. 2699)
Bab 10: Bersyukur
Syukur
adalah pengakuan hati atas ni’mat Alloh ﷻ, pujian lisan kepada-Nya, dan
penggunaan anggota badan untuk berbuat ketaatan kepada-Nya. Syukur merupakan
pengikat ni’mat yang ada sekaligus penarik ni’mat yang belum hadir.
10.1
Hakikat Syukur Dengan Hati, Lisan, dan Anggota Badan
Syukur yang sempurna mencakup 3 rukun: meyakini dalam hati
bahwa ni’mat berasal dari Alloh ﷻ, mengucapkan pujian dengan
lisan, dan menggunakannya untuk hal yang diredhoi Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿اعْمَلُوا
آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ﴾
“Bekerjalah
wahai keluarga Dawud untuk bersyukur kepada Alloh. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku
yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
10.2
Jaminan Tambahan Ni’mat Bagi Orang yang Bersyukur
Alloh ﷻ
memberikan janji yang pasti bahwa setiap hamba yang bersyukur atas ni’mat-Nya
akan ditambahkan ni’mat dan keberkahan hidupnya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِذْ
تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي
لَشَدِيدٌ﴾
“Dan
ingatlah ketika Robbmu memaklumkan: ‘Sungguh jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah ni’mat kepadamu, dan jika kamu mengingkari ni’mat-Ku, maka sungguh
adzab-Ku sangat pedih’.” (QS. Ibrohim: 7)
10.3
Ancaman Kufur Ni’mat Terhadap Hilangnya Keberkahan
Mengingkari
ni’mat Alloh ﷻ
dan menggunakannya dalam kemaksiatan akan mencabut keberkahan harta dan
mendatangkan kelaparan serta ketakutan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا
مِّن كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ
وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُون﴾
“Dan Alloh
telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi
tenteram, rizqinya datang kepandanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi
penduduknya mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh; karena itu Alloh meraskan kepada
mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka
perbuat.” (QS. An-Nahl: 112)
10.4
Menerima Pemberian Alloh Dengan Hati yang Qona’ah
Sifat qona’ah
(merasa cukup) atas rizqi yang dibagikan Alloh ﷻ adalah hakikat kekayaan jiwa
yang hakiki. Nabi ﷺ
bersabda:
«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ
الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan
itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, akan tetapi kekayaan yang hakiki
adalah kekayaan jiwa.” (HR. Al-Bukhori no. 6446 dan Muslim no. 1051)
Bab 11: Haji dan Umroh
Munaikkan
ibadah Haji dan Umroh ke Baitulloh secara berturut-turut merupakan amalan fisik
dan harta yang secara khusus disabdakan oleh Nabi ﷺ dapat menghilangkan kefakiran
dan dosa-dosa hamba.
11.1
Melakukan Umroh Secara Beriringan Dengan Haji
Disyari’atkan bagi orang yang mampu untuk rutin antara
ibadah Haji dan Umroh guna meraih fadhilah penghapusan kefakiran. Nabi ﷺ bersabda:
«تَابِعُوا بَيْنَ الحَجِّ وَالعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا
يَنْفِيَانِ الفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الكِيرُ خَبَثَ الحَدِيدِ، وَالذَّهَبِ،
وَالفِضَّةِ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ المَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الجَنَّةُ»
“Iringilah
antara Haji dan Umroh, karena sungguh keduanya menghilangkan kefakiran dan
dosa-dosa sebagaimana ubupan tukang besi menghilangkan karat besi, emas, dan
perak…” (HSR. At-Tirmidzi no. 810)
Pengeluaran harta untuk menunaikan ibadah di Baitulloh tidak
akan membuat seseorang menjadi miskin, melainkan menjadi sebab Alloh ﷻ
mengganti dan meluaskan rizqinya.
11.2
Dosa dan Kefakiran Lebur Sebagaimana Karat Besi
Pembersihan kefakiran melalui ibadah Haji dan Umroh terjadi
secara menyeluruh hingga tidak tersisa bekas-bekas kemiskinan pada diri seorang
Mu’min yang ikhlas. Nabi ﷺ bersabda:
«الْحُجَّاجُ وَالْمُعْتَمِرُونَ وَفْدُ اللَّهِ
إِنْ دَعَوْهُ أَجَابَهُمْ وَإِنِ اسْتَغْفَرُوهُ غَفَرَ لَهُمْ»
“Orang-orang
yang berhaji dan berumroh adalah tamu-tamu Alloh. Jika mereka berdoa
kepada-Nya, niscaya Alloh mengabulkan doa mereka, dan jika mereka memohon
ampunan kepada-Nya, niscaya Alloh mengampuni mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 2892.
Dishohihkan Ibnu Utsaimin)
11.3
Infaq di Jalan Haji Akan Diganti Oleh Alloh
Setiap biaya yang dikeluarkan dalam perjalanan menunaikan
ibadah Haji dan Umroh dinilai sebagai nafkah di jalan Alloh ﷻ
yang akan dilipatgandakan balasan dan gantinya. Nabi ﷺ bersabda:
«النَّفَقَةُ فِي الْحَجِّ كَالنَّفَقَةِ فِي
سَبِيلِ اللهِ بِسَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ»
“Nafkah
dalam ibadah Haji seperti nafkah di jalan Alloh, dilipatgandakan sampai 700
kali lipat.” (HR. Ahmad no. 23000. Dihasankan Ad-Dimyathi)
Bab 12: Menikah
Menikah
dengan niat menjaga kesucian diri dari perbuatan harom merupakan salah satu
amalan yang dijamin oleh Alloh ﷻ akan mendatangkan pertolongan
dan kecukupan harta bagi pelakunya.
12.1
Menikah Sebagai Jalan Memohon Kecukupan dari Alloh
Seseorang yang menikah karena mentaati perintah Alloh ﷻ tidak perlu takut akan kemiskinan, karena pernikahan adalah
pintu datangnya karunia Alloh ﷻ. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَأَنكِحُوا
الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا
فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Dan
nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang
layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang
perempuan. Jika mereka miskin, Alloh akan memampukan mereka dengan karunia-Nya.
Dan Alloh Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 32)
12.2
Janji Alloh Memberi Kekayaan Bagi Orang yang Menikah
Janji Alloh ﷻ untuk mencukupi orang
yang menikah adalah janji yang haq. Alloh ﷻ
memberikan kekayaan dari karunia-Nya bagi pasangan yang membangun rumah tangga
di atas taqwa. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِنْ
يَتَفَرَّقَا يُغْنِ اللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِ وَكَانَ اللَّهُ وَاسِعًا حَكِيمًا﴾
“Dan jika
keduanya bercerai, maka Alloh akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari
kelapangan karunia-Nya. Dan Alloh Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’: 130)
12.3
Pertolongan Alloh Bagi Orang yang Ingin Menjaga Kehormatan
Alloh ﷻ menetapkan kewajiban atas diri-Nya untuk
menolong 3 golongan manusia, salah satunya adalah orang yang menikah demi
memelihara kesucian dirinya. Nabi
ﷺ bersabda:
«ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمْ: المُجَاهِدُ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَالمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي
يُرِيدُ العَفَافَ»
“Ada 3
orang yang berhak mendapatkan pertolongan Alloh: orang yang berjihad di jalan
Alloh, budak mukatab yang ingin melunasi tebusannya, dan orang yang menikah
karena ingin menjaga kesucian dirinya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1655)
12.4
Keberkahan Pernikahan yang Didasari Taqwa
Pernikahan yang dibangun di atas pondasi ketaqwaan dan
sunnah Rosul-Nya akan diliputi sakinah, mawaddah, dan rohmat yang mendatangkan
kelapangan rizqi bagi seluruh penghuni rumah. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)
Bab 13: Membaca Al-Qur’an dan Dzikir
Membaca
Al-Qur’an dan membasahi lisan dengan dzikir kepada Alloh ﷻ
secara istiqomah merupakan sumber ketenangan jiwa, pelindung rumah tangga dari
gangguan syaithon, dan pembawa keberkahan rizqi yang melimpah.
13.1
Al-Qur’an Sebagai Sumber Keberkahan Rumah dan Jiwa
Rumah yang di dalamnya sering dibacakan Al-Qur’an akan
terasa luas bagi penghuninya, dihadiri para Malaikat, dijauhi syaithon, dan
dilimpahkan kebaikan di dalamnya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَهَٰذَا
كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
“Dan ini
adalah Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia
dan bertaqwalah agar kamu diberi rohmat.” (QS. Al-An’am: 155)
13.2
Keutamaan Membaca Surat Al-Waqi’ah dan Surat Pilihan
Membaca
Al-Qur’an secara rutin mendatangkan kecukupan dan perlindungan dari kefakiran.
Nabi ﷺ
bersabda:
«اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ»
“Bacalah
Al-Qur’an, karena sungguh ia akan datang pada hari Qiyamah sebagai pemberي syafa’at bagi para
pembacanya.” (HR. Muslim no. 804)
13.3
Dzikir Pagi dan Petang Sebagai Bentuk Perlindungan Rizqi
Mengingat Alloh ﷻ pada waktu pagi dan
petang merupakan perlindungan syar’i terbaik dari segala bentuk keburukan serta
menjadi sarana memohon kelapangan rizqi yang halal. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, berdzikirlah dengan menyebut nama Alloh, dzikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS.
Al-Ahzab: 41-42)
13.4
Memperbanyak Sholawat Kepada Nabi ﷺ
Memperbanyak
sholawat kepada Nabi ﷺ
merupakan kunci dihilangkannya duka cita, diampuninya dosa-dosa, dan
dicukupinya segala keperluan duniawi maupun Akhiroh. Nabi ﷺ bersabda kepada Ubay bin Ka’b
rodhiyallahu ‘anhu:
«إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»
“Jika
demikian (engkau menjadikan seluruh doamu untuk bersholawat kepadaku), maka
dicukupkan duka citamu dan diampuni dosamu.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2457)
Bab 14: Berbuat Baik Kepada
Tetangga dan Sesama
Berakhlaq
mulia, berbuat baik kepada tetangga, jujur dalam perniagaan, serta menjauhi
kezholiman dan riba merupakan amalan mu’amalah yang menjamin kelanggengan harta
dan keberkahan usaha.
14.1
Akhlaq Mulia
Akhlaq yang
mulia dan hubungan yang baik dengan tetangga sekitar dapat memakmurkan
pemukiman dan menambah umur. Nabi ﷺ bersabda:
«صِلَةُ الرَّحِمِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ، وَحُسْنُ
الْجِوَارِ، يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ»
“Silaturrohim,
akhlaq yang baik, dan berbuat baik kepada tetangga, keduanya memakmurkan
pemukiman dan menambah umur.” (HSR. Ahmad no. 25298)
14.2
Meringankan Beban Hutang Orang Lain
Memberikan
penangguhan waktu pembayaran atau membebaskan hutang orang yang dalam kesulitan
mendatangkan naungan Alloh ﷻ dan kemudahan rizqi. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ
أَظَلَّهُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ»
“Siapa
memberi penangguhan kepada orang yang kesulitan membayar hutang atau
membebaskannya, niscaya Alloh akan menaunginya dalam naungan-Nya.” (HR. Muslim
no. 3006)
14.3
Kejujuran Dalam Beli Belanja dan Mu’amalah
Kejujuran
dan keterbukaan dalam transaksi jual beli mendatangkan keberkahan pada harta
yang diperoleh kedua belah pihak. Nabi ﷺ bersabda:
«الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا
مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»
“Dua orang
yang melakukan jual beli memiliki hak khiyaar selama belum berpisah. Jika
keduanya jujur dan menjelaskan keadaan barang, maka diberkahi jual beli
keduanya. Namun jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta, maka
dihapuskan keberkahan jual beli keduanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim
no. 1532)
14.4
Menjauhi Perbuatan Zholim dan Riba
Transaksi riba dan kezholiman secara nampak terlihat
menambah harta, namun secara hakikat syar’i Alloh ﷻ
akan memusnahkan keberkahan harta tersebut. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَمْحَقُ
اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ﴾
“Alloh
memusnahkan riba dan suburkan shodaqoh. Dan Alloh tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kafir lagi berbuat dosa.” (QS. Al-Baqoroh: 276)
Bab 15: Menuntut Ilmu Syar’i
Menuntut
ilmu agama merupakan jalan lurus menuju Jannah yang juga menjadi perantara
dibukakannya pintu-pintu rizqi. Alloh ﷻ menjamin kemudahan dan
pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang menyibukkan diri dalam mempelajari syari’at-Nya.
15.1
Keutamaan Menuntut Ilmu Agama Sebagai Pembawa Kelapangan Rizqi
Menuntut ilmu syar’i mendatangkan peninggian derajat di sisi
Alloh ﷻ dan kelapangan kebaikan di dunia maupun
Akhiroh. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ
بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
15.2
Kisah Dua Bersaudara di Masa Nabi ﷺ
Terbukanya
rizqi seseorang seringkali disebabkan oleh keberkahan saudaranya yang
menyibukkan diri menuntut ilmu syar’i. Shohabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu
meriwayatkan:
كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ
ﷺ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ
ﷺ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ
أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ
فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»
“Dahulu ada
dua orang saudara pada masa Nabi ﷺ. Salah seorang dari keduanya selalu mendatangi Nabi ﷺ (untuk menuntut ilmu),
sedangkan yang satunya lagi bekerja mencari nafkah. Kemudian saudaranya yang
bekerja mengadukan saudaranya (yang menuntut ilmu) kepada Nabi ﷺ. Maka Beliau ﷺ bersabda: ‘Bisa jadi engkau
diberi rizqi justru karena keberadaan saudaramu itu’.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2345)
15.3
Menginfaki Penuntut Ilmu Sebab Datangnya Pertolongan dan Rizqi
Orang yang memberikan bantuan harta dan menanggung kebutuhan
penuntut ilmu syar’i akan mendapatkan bagian pahala ilmu tersebut serta
dibukakan pintu rizqi oleh Alloh ﷻ. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ
فَاعِلِهِ»
“Siapa yang
menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang
yang mekerjakannya.” (HR. Muslim no. 1893)
15.4
Keberkahan Waktu dan Harta Bagi Orang yang Meniti Jalan Ilmu
Orang yang melangkah menuntut ilmu agama akan dimudahkan
jalannya menuju Jannah dan diliputi oleh rohmat serta ketenangan dari Alloh ﷻ. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا
سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Siapa
meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu agama, maka Alloh akan memudahkan
baginya jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Penutup
Petunjuk
Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pegangan hidup yang wajib diamalkan oleh
setiap Muslim secara ikhlas dan mutaaba’ah (mengikuti sunnah Nabi ﷺ).
Rizqi bukan
hanya sebatas tumpukan harta benda duniawi yang fana, melainkan keberkahan
hidup, kesehatan badan, ketaatan diri, keturunan yang sholih, serta ketentraman
jiwa. Dengan menegakkan taqwa, istighfar, silaturrohim, shodaqoh, tawakkal,
birrul walidain, Sholat, hijroh, menolong sesama, syukur, Haji dan Umroh,
menikah, berdzikir, berakhlaq mulia, serta menuntut ilmu syar’i, niscaya Alloh ﷻ akan
membukakan pintu-pintu kelapangan di dunia dan keselamatan di Akhiroh. Semoga
Alloh ﷻ
menjadikan amalan ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca.
Daftar Pustaka
1. Kunci-Kunci Rezeki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah
o
Penulis: Dr. Fadhl Ilahi
(1442 H)
o
Link PDF: Archive.org - Kunci-Kunci Rezeki Syaikh Dr Fadhl Ilahi
2. Kupas Tuntas Hakikat Rezeki
o
Penulis: Syaikh Muhammad
Mutawalli Asy-Sya’rowi (Asy’ari,
1419 H)
o
Link PDF: Archive.org - Kupas Tuntas Hakikat Rezeki Syaikh Asy Sya’rawi
3. Miftah Dar As-Sa’adah (Kunci Negeri Kebahagiaan dan Pembuka
Pintu Kelapangan)
o
Penulis: Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H)
o
Link PDF: Archive.org - Kunci Kebahagiaan Ibnu Qayyim Al Jauziyah
4. Fiqh Az-Zakat (Fiqih Zakat dan Pengelolaan Harta Pembuka
Keberkahan)
o
Penulis: Dr. Yusuf
Al-Qordhowi (1443 H)
o
Link PDF: Archive.org - Fiqh Zakat Yusuf Qardhawi
5. Silsilah Al-Aqidah fi Dhou’ Al-Kitab wa As-Sunnah
o
Penulis: Dr. Umar Sulaiman
Al-Asyqor (1433 H)
6. Al-Fiqh Al-Islamy wa Adillatuh
o
Penulis: Dr. Wahbah
Az-Zuhaili (1433 H)
o
Link PDF: Archive.org - Fiqh Islam wa Adillatuhu
7. Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syar’iah wa Al-Manhaj
o
Penulis: Dr. Wahbah
Az-Zuhaili (1433 H)
o Link PDF: Archive.org - Tafsir Al-Munir
