[PDF] CERDAS TAPI SESAT - Menyingkap Bahaya Pintar Bahasa dan Logika Tanpa Kesucian Jiwa - Nor Kandir
CERDAS TAPI SESAT
Menyingkap Bahaya
Pintar Bahasa dan Logika Tanpa Kesucian Jiwa
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 185
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Ilmu dan
kecerdasan merupakan salah satu ni’mat terbesar yang Alloh ﷻ
karuniakan kepada manusia. Namun, kecerdasan tajam yang tidak diikat oleh ketundukkan
kepada wahyu justru menjadi sarana paling licin menuju kesesatan. Betapa banyak
manusia yang dikaruniai akal yang cerdas, lisan yang fasih, serta pemahaman
yang mendalam tentang ilmu-ilmu dunia maupun teori-teori pemikiran, tetapi
mereka justru tersesat jauh dari jalan Alloh ﷻ. Mereka mampu menguraikan
perkara-perkara rumit dengan logika yang memukau, namun gagal memahami perkara
paling mendasar dalam agama ini, yaitu ketundukkan total kepada Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya ﷺ.
Fenomena orang yang cerdas secara akal namun sesat secara pemahaman ini bukanlah perkara baru, melainkan ancaman yang telah diperingatkan oleh syari’at sejak masa awal Islam. Kerusakan yang ditimbulkan oleh orang cerdas yang sesat jauh lebih dahsyat daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh orang bodoh yang bermaksiat. Orang bodoh yang bermaksiat menyadari kesalahannya dan tidak memiliki pengaruh besar untuk menyesatkan orang lain. Sebaliknya, orang cerdas yang sesat akan membungkus kebatilan dengan perdebatan yang indah, memanipulasi dalil demi membenarkan hawa nafsunya, serta menyeret ribuan bahkan jutaan manusia ke dalam fitnah pemikiran.
Buku ini disusun
sebagai peringatan bagi setiap penuntut ilmu dan pemilik kelebihan akal agar
tidak tertipu oleh kecerdasannya sendiri. Buku ini menjelaskan: mulai dari
penegasan hakikat kecerdasan sejati menurut syari’at, mengurai akar penyebab
kecerdasan berubah menjadi bencana kesesatan, mengenali ciri-ciri dan perilaku
pemikiran yang keliru, menelusuri jejak kelompok-kelompok cerdas yang sesat
dalam sejarah hingga masa modern, hingga bahaya serta benteng pertahanan yang
wajib dimiliki oleh setiap Mu’min agar ilmunya membuahkan kemanfaatan dan
keselamatan di dunia dan Akhiroh.
Bab 1: Bahaya Fitnah Kecerdasan
Bab ini menguraikan batasan tegas mengenai makna kecerdasan
yang diakui dalam agama Islam. Penjelasan diawali dengan standar kecerdasan
sejati yang diukur dari ketaqwaan dan ketaatan kepada Alloh ﷻ, dilanjutkan dengan
peringatan keras terhadap sikap mendewakan kekuatan akal secara berlebihan. Bab
ini juga membedah ancaman besar yang mengintai seorang alim atau cendekiawan
yang memiliki ilmu tinggi namun tidak mengamalkannya, serta bahaya merusak yang
timbul akibat menjadikan logika manusia sebagai hakim yang memutuskan benar
atau salahnya wahyu Alloh ﷻ.
1.1 Kriteria Kecerdasan Sejati
Kecerdasan bukanlah diukur dari tingginya IQ, kelincahan
bersilat lidah, atau banyaknya wawasan pengetahuan duniawi semata. Kecerdasan
sejati adalah kemampuan akal untuk memahami kebenaran, mengenali Alloh ﷻ, lalu menundukkan diri dan mempersiapkan pembekalan
terbaik untuk kehidupan setelah kematian. Seseorang yang sangat mahir dalam
sains, filsafat, atau ilmu ekonomi, tetapi lalai dari kewajiban ibadah dan
tidak meyakini Hari Qiyamah, pada hakikatnya adalah orang yang bodoh dan
tertipu.
Banyak cendekiawan atau pakar yang disanjung oleh masyarakat
karena karya akademis mereka yang luar biasa, namun mereka tidak pernah sujud
kepada Alloh ﷻ dan meremehkan syari’at-Nya. Manusia seperti ini telah kehilangan
kecerdasan yang hakiki. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَأَعْرِضْ
عَن مَّن تَوَلَّىٰ عَن ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
ذَٰلِكَ مَبْلَغُهُم مِّنَ الْعِلْمِ ۚ
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدَىٰ﴾
“Maka
berpalinglah dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak
menginginkan melainkan kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh pencapaian ilmu
mereka. Sungguh Robbmu, Dia-lah yang paling mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang paling mengetahui tentang siapa yang
mendapat petunjuk.” (QS. An-Najm: 29-30)
Alloh ﷻ juga
menggambarkan hakikat orang-orang yang hanya cerdas dalam perkara duniawi namun
buta terhadap hakikat Akhiroh:
﴿يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir dari kehidupan dunia, sedangkan tentang kehidupan
Akhiroh mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)
Kecerdasan
hakiki digambarkan secara amat jelas oleh Nabi ﷺ dalam matan sabda beliau:
«الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا
بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ»
“Orang yang
cerdas adalah orang yang mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan
setelah kematian, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa
nafsunya lalu berangan-angan hampa kepada Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2459)
Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa
kebaikan seseorang tidak terletak pada banyaknya perdebatan, melainkan pada
pemahaman agama yang membuahkan ketaatan:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ»
“Siapa
yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, maka Alloh akan pahamkan dia dalam
agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum telah memahami perkara ini dengan sangat
mendalam. Ibn Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu menegaskan bahwa hakikat
ilmu dan kecerdasan bukanlah sekadar tumpukan riwayat atau kepandaian
berbicara:
لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ
وَلَكِنَّ الْعِلْمَ الْخَشْيَةُ
“Bukanlah
ilmu itu dengan banyaknya riwayat Hadits, akan tetapi ilmu itu adalah rasa
takut kepada Alloh.” (Az-Zuhd, Ahmad bin Hanbal, 1/131)
1.2
Bahaya Memuji Akal Secara Berlebihan
Akal adalah
alat untuk memahami wahyu, bukan pimpinan yang berdiri sendiri menentukan
kebenaran. Ketika seseorang memuji akalnya secara berlebihan dan menempatkannya
di atas kedudukan wahyu, maka akal tersebut akan menjadi tuhan selain Alloh ﷻ.
Orang yang mengagungkan logika secara mutlak akan mulai mempertanyakan
ketetapan syari’at yang dianggap tidak masuk akal oleh pikirannya yang
terbatas.
Hal ini
terlihat pada orang-orang yang menolak syari’at waris, keharoman riba, atau
hukum hudud hanya karena menurut perhitungan logika modern mereka hal
tersebut dianggap tidak adil atau bertentangan dengan kemanusiaan. Mereka
meletakkan akal mereka yang lemah sebagai penilai bagi hikmah Alloh ﷻ yang
Maha Luas. Alloh ﷻ
telah melarang sikap mengedepankan pandangan pribadi di atas ketetapan Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya ﷺ:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ
إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Alloh dan Rosul-Nya dan
bertaqwalah kepada Alloh. Sungguh Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS.
Al-Hujurot: 1)
Alloh ﷻ juga
menegaskan bahaya mengikuti dugaan akal dan hawa nafsu dalam perkara agama:
﴿وَمَا
يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ
إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ
إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ﴾
“Dan
kebanyakan mereka tidak mengikuti melainkan persangkaan saja. Sungguh
persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk menolak kebenaran. Sungguh
Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)
Nabi ﷺ mengingatkan bahaya
kehancuran umat-umat terdahulu akibat terlalu banyak berdebat dan mengandalkan
logika pemikiran mereka untuk menyelisihi para Nabi:
«فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ
سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ»
“Sungguh
yang menyebabkan binasa orang-orang sebelum kamu adalah banyaknya pertanyaan
mereka dan perselisihan mereka terhadap para Nabi mereka.” (HR. Muslim no.
1337)
Beliau ﷺ juga memberitakan kedatangan
orang-orang yang bersilat lidah memutarbalikkan logika untuk merusak agama:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ
مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ»
“Sungguh
perkara yang paling aku takutkan atas umatku adalah setiap orang munafiq yang
alim lisannya.” (HSR. Ahmad no. 143)
Ali bin Abi
Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu memberikan kaidah fundamental mengenai
keterbatasan akal dalam berhadapan dengan syari’at:
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ
أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ، وَقَدْ «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ»
“Seandainya
agama itu dengan logika, niscaya bagian bawah sepatu lebih berhak untuk diusap daripada
bagian atasnya….” (HSR. Abi Dawud, no. 162)
1.3
Keadaan Orang Alim yang Tidak Mengamalkan Ilmunya
Bencana
terbesar dari kecerdasan adalah ketika wawasan pengetahuan yang luas tidak
diiringi dengan amalan nyata. Seorang cendekiawan atau cendekiawan agama yang
berilmu tinggi namun melanggar perintah Alloh ﷻ secara terang-terangan adalah
wujud dari cerdas tapi sesat. Ilmu yang dimilikinya tidak lagi menjadi penuntun
menuju Jannah, melainkan menjadi hujjah yang menyeretnya ke dalam Naar.
Contohnya
sorang tokoh yang sangat fasih menyampaikan ceramah tentang keharoman suap,
kejujuran, dan kesederhanaan, namun dalam kehidupan pribadinya ia sibuk
menumpuk harta harom, menerima risywah (suap), dan berkhianat. Ilmunya
yang banyak hanya menjadi pembalut kesesatannya. Alloh ﷻ memberikan perumpamaan yang
sangat hina bagi orang yang diberi ilmu namun melepas ilmunya demi mengikut
hawa nafsu:
﴿وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ
فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ
هَوَاهُ ۚ
فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث﴾
“Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
ayat-ayat Kami, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia
diikuti oleh syaithon, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan
sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat
itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya, maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan
jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga.” (QS. Al-A’rof:
175-176)
Alloh ﷻ juga
mencela keras orang-orang yang pandai mengajarkan kebaikan tetapi melupakan
dirinya sendiri:
﴿أَتَأْمُرُونَ
النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ
أَفَلَا تَعْقِلُونَ﴾
“Mengapa
kamu menyuruh orang lain kerjakan kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri kamu
sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka apakah kamu tidak berakal?” (QS.
Al-Baqoroh: 44)
Nabi ﷺ menggambarkan siksaan
mengerikan yang dialami oleh orang cerdas dan berilmu yang tidak mengamalkan
ilmunya pada Hari Qiyamah:
«يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى
فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ
بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلاَنُ مَا
شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟
قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ
وَآتِيهِ»
“Pada Hari
Qiyamah ada seseorang yang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam Naar. Maka
terburai-burailah ususnya di dalam Naar, lalu dia berputar-putar sebagaimana
keledai berputar mengitari kilang penumbuk gandumnya. Lantas penghuni Naar
berkumpul mengelilinginya seraya berkata: ‘Wahai fulan, ada apa denganmu?
Bukankah dahulu engkau menyuruh kami berbuat ma’ruf dan melarang kami dari
munkar?’ Dia menjawab: ‘Dahulu aku menyuruh kalian berbuat ma’ruf namun aku
sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang kalian dari munkar namun aku
sendiri mengerjakannya’.” (HR. Al-Bukhori no. 3267 dan Muslim no. 2989)
Nabi ﷺ juga menegaskan bahwa ilmu
seseorang akan menjadi penuntut baginya jika tidak diiringi amalan:
«وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ»
“Dan Al-Qur’an
itu bisa menjadi pembela bagimu atau menjadi penuntut atasmu.” (HR. Muslim
no. 223)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) rohimahulloh memberikan nasihat mendalam tentang
hakikat kedudukan ilmu:
إنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى
اللهُ بِهِ، فَمِنْ ثَمَّ فَضُلَ، فَلَوْلَا ذَلِكَ لَكَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ
“Sesungguhnya
ilmu itu dicari hanyalah agar dijadikan sarana bertaqwa kepada Alloh. Karena
itulah ilmu menjadi mulia. Seandainya bukan karena hal itu, niscaya ilmu sama
saja seperti benda-benda lainnya.” (Hilyah
Al-Auliya wa Thobaqot Al-Ashfiya, 6/362)
1.4
Bahaya Menjadikan Logika Sebagai Hakim Atas Wahyu
Bentuk
kesesatan yang sangat halus dan berbahaya dari pemilik akal yang cerdas adalah
menempatkan logika pribadi sebagai penguji kebenaran Al-Qur’an dan Hadits
shohih. Jika ada nash syari’at yang bertentangan dengan konsepsi logis atau
hasil pemikirannya, ia akan menolak teks tersebut, memutarnya dengan takwil
yang jauh, atau mendho’ifkan Hadits shohih secara sewenang-wenang.
Seperti
perbuatan sebagian kalangan terpelajar yang menolak kabar ghoib seperti siksa
kubur, keberadaan Dajjal, atau peristiwa Isro’ Mi’roj hanya karena menganggap
perisitiwa tersebut bertentangan dengan hukum fisika dan logika akal manusia.
Mereka merendahkan berita dari Alloh ﷻ demi mempertahankan
keterbatasan rasio mereka. Alloh ﷻ menegaskan bahwa kewajiban
seorang Mu’min terhadap nash wahyu adalah mendengar dan taat secara mutlak:
﴿إِنَّمَا
كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ
أَن يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ
وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Sungguh
jawaban orang-orang Mu’min, bila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya
agar Rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar, dan kami
taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)
Alloh ﷻ juga
membendung jalan logika yang menentang syari’at dengan berfirman:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا
يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka demi
Robbmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
dalam hati mereka sesuatu keberatan pun terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Nabi ﷺ mengingatkan bahaya keras
kepala menolak wahyu atas dasar pandangan pribadi yang merasa lebih paham:
«لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى
أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ
عَنْهُ فَيَقُولُ لَا نَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ»
“Jangan
sampai aku mendapati salah seorang dari kalian duduk bersandar di atas
dipannya, lalu datang kepadanya suatu perintah dari perintahku berupa apa yang
aku perintahkan atau yang aku larang, Lantas dia berkata: ‘Kami tidak tahu, apa
yang kami dapati dalam Kitab Alloh saja yang kami ikuti’.” (HSR. Abu Dawud
no. 4605 dan At-Tirmidzi no. 2663)
Rosululloh ﷺ juga mengabarkan bahwa
kepatuhan total tanpa keraguan logika adalah syarat keselamatan:
«كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا
مَنْ أَبَى»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: «مَنْ أَطَاعَنِي
دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى»
“Setiap
umatku akan masuk Jannah kecuali orang yang enggan.” Para Shohabat bertanya: “Wahai
Rosululloh, siapakah orang yang enggan itu?” Beliau menjawab: “Siapa yang taat
kepadaku niscaya masuk Jannah, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka sungguh
dia telah enggan.” (HR. Al-Bukhori no. 7280)
Al-Imam
Az-Zuhri (124 H) rohimahulloh merumuskan kaidah mendasar dalam menyikapi
wahyu Alloh ﷻ
dan Rosul-Nya ﷺ:
مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ
الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
“Dari Alloh
risalah itu berasal, kewajiban Rosul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita
adalah bersikap taslim (tunduk patuh secara total).” (Kholqu Af’alil
Ibad, Al-Bukhori, 1/76)
Bab 2: Penyebab Kecerdasan Menjadi
Kesesatan
Bab ini membedah faktor-faktor mendasar yang mengubah potret
kecerdasan akal menjadi sarana kebinasaan. Penjelasan diawali dari penyimpangan
niat dalam menuntut ilmu demi kepentingannya selain Alloh ﷻ,
diikuti oleh penyakit ujub dan kesombongan pemikiran yang menolak
kebenaran dari orang lain. Selanjutnya, bab ini membongkar keterikatan logika
terhadap kecenderungan hawa nafsu dan kesenangan pada syubhat, serta diakhiri
dengan pemaparan tentang akibat buruk dari sikap berpaling dari peninggalan
Sunnah.
2.1 Menuntut Ilmu Bukan Karena Alloh ﷻ
Kerusakan akal dan kecerdasan bermula ketika niat awal dalam
mencari ilmu telah terjangkiti oleh motif duniawi. Ketika seorang yang cerdas
menuntut ilmu agama maupun pengetahuan lainnya bukan untuk meraih ridho Alloh ﷻ, melainkan demi gelar, reputasi, pujian publik, atau materi,
maka ilmu tersebut kehilangan keberkahannya. Akal yang tajam justru dijadikan alat pemuas nafsu kepemimpinan dan
popularitas.
Contohnya
cendekiawan atau penceramah yang dengan sengaja mengubah-ubah fatwa demi
menyenangkan hati penguasa, mendapatkan dana, atau sekadar meraih simpati
jutaan pengikut di media sosial. Mereka mengorbankan kebenaran demi kepuasan
nafsu manusia. Alloh ﷻ
telah memberikan ancaman bagi orang yang membeli kesenangan duniawi yang
sedikit dengan menjual ayat-ayat-Nya:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا
قَلِيلًا ۙ
أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Sungguh
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh berupa Al-Kitab
dan menjualnya dengan harga yang murah, mereka itu tidak memakan ke dalam
perutnya melainkan Naar, dan Alloh tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari
Qiyamah dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang amat pedih.” (QS.
Al-Baqoroh: 174)
Alloh ﷻ juga
berfirman menegaskan balasan bagi orang yang menghendaki kehidupan dunia lewat
amalan ilmunya:
﴿مَن
كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ
فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ
وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Siapa yang
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada
mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia
itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh
melainkan Naar dan hapuslah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan
sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)
Nabi ﷺ mengabarkan ancaman keras
bagi siapapun yang menggunakan ilmunya untuk tujuan duniawi dan perdebatan:
«مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ
أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ
أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ»
“Siapa yang
menuntut ilmu untuk menyejajarkan diri dengan para ulama, atau untuk
memperdebatkan orang-orang bodoh, atau agar pandangan manusia berpaling
kepadanya, niscaya Alloh akan memasukkannya ke dalam Naar.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 2654)
Rasululloh ﷺ juga menyebutkan bahaya
menuntut ilmu yang seharusnya dipelajari demi Alloh ﷻ namun dialihkan demi tujuan
materi dunia:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ
وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ
الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا
“Siapa yang
mempelajari suatu ilmu yang seharus ditujukan untuk mencari Wajah Alloh ‘Azza
wa Jalla, namun dia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan bagian
dari dunia, maka dia tidak akan mencium bau Jannah pada Hari Qiyamah.” (HSR.
Abu Dawud no. 3664)
Bahkan
dalam Hadits yang amat panjang mengenai tiga golongan pertama yang diseret ke
dalam Naar pada Hari Qiyamah, Nabi ﷺ menuturkan nasib seorang alim yang salah niat:
«وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ، وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ
الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ
فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ، وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ،
قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ
الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى
وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ»
“Dan
seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an. Lalu
dia didatangkan dan Alloh memperlihatkan kepadanya ni’mat-ni’mat-Nya maka dia
pun meyakininya. Alloh bertanya: ‘Apa yang telah engkau perbuat dengan ni’mat-ni’mat
tersebut?’ Dia menjawab: ‘Aku (gunakan untuk) mempelajari ilmu dan
mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena-Mu.’ Alloh berfirman: ‘Engkau
berdusta! Akan tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai seorang
alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai seorang qori’, dan
sungguh perkataan itu telah diucapkan.’ Kemudian diperintahkan agar orang
tersebut diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam Naar.” (HR.
Muslim no. 1905)
Sufyan
Ats-Tsouri (161 H) rohimahulloh berkata:
مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ
مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ
“Tidak ada sesuatu
yang paling berat untuk aku obati selain niatku, karena niat itu senantiasa
berbolak-balik atas diriku.” (Khulashoh Ta’zhimil Ilmi, Al-Ushoimi, hal. 8)
2.2
Ujub, Sombong, dan Bangga dengan Pandangan Sendiri
Ujub adalah
penyakit fatal yang kerap menghinggapi orang-orang cerdas. Merasa diri paling
pintar, paling pandai menganalisis, dan paling paham akan membuat seseorang
menutup mata dari kebenaran yang disampaikan oleh orang lain. Ia merasa
pandangan pikirannya selalu benar, sehingga ketika kebenaran dari ayat Al-Qur’an
atau Hadits shohih disampaikan kepadanya, ia menolaknya dengan keangkuhan.
Ketika
seorang ilmuwan atau akademisi menolak mentah-mentah penjelasan hukum fiqih
dari para ulama Salaf dengan alasan bahwa para ulama zaman dahulu tidak semodern
dirinya, ia merasa hasil pemikiran logisnya di era sekarang jauh lebih tinggi
nilainya daripada konsensus para Shohabat dan Tabi’in. Alloh ﷻ
menggambarkan kebinasaan orang-orang yang bangga dengan ilmu dan pandangannya
sendiri:
﴿فَلَمَّا
جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِندَهُم مِّنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ
بِهِم مَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ﴾
“Maka
ketika para Rosul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata,
mereka merasa bangga dengan ilmu yang ada pada diri mereka dan mereka dikepung
oleh adzab yang dahulu mereka perolok-olokkan.” (QS. Ghofir: 83)
Alloh ﷻ juga
mengancam orang-orang yang bersikap sombong dari menerima ayat-ayat-Nya:
﴿سَأَصْرِفُ
عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِن يَرَوْا
كُلَّ آيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ
سَبِيلًا وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا﴾
“Aku akan
memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan
yang benar dari ayat-ayat-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat-Ku, mereka
tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada
petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya sebagai jalan, tetapi jika mereka
melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya sebagai jalan.” (QS. Al-A’rof:
146)
Nabi ﷺ mendefinisikan hakikat
kesombongan yang sering kali bersembunyi di balik argumentasi ilmiah:
«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Beliau ﷺ juga memasukkan sikap ujub
dan bangga pada diri sendiri sebagai salah satu penyebab utama kebinasaan
seseorang:
«ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى
مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ»
“Tiga
perkara yang membinasakan: kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diiikuti, dan
kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri.” (HR. Ath-Thobroni dalam
Al-Ausath no. 5452. Hasan lighoirih menurut Al-Albani)
Rasululloh ﷺ juga memperingatkan
tanda-tanda kerusakan zaman di mana setiap orang cerdas merasa bangga dengan
pikirannya sendiri:
«إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا، وَهَوًى مُتَّبَعًا،
وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً، وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ، فَعَلَيْكَ - يَعْنِي
- بِنَفْسِكَ»
“Jika
engkau telah melihat sifat kikir dituruti, hawa nafsu diikuti, dunia lebih
diutamakan, dan setiap pemilik pandangan merasa bangga dengan pandangannya
sendiri, maka hendaklah engkau mengurus dirimu sendiri.” (HR. Abu Dawud no.
4341 dan At-Tirmidzi no. 3058. Dinilai hasan Al-Arnauth dan Bin Baz)
Ibnul
Mubarok (181 H) rohimahulloh ketika ditanya mengenai batas akhir dari
penyakit ujub yang merusak ini memberikan penjelasannya:
الْعُجْبُ: أَنْ تَرَى أَنَّ عِنْدَكَ
شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِكَ، وَالْكِبْرُ: أَنْ تَزْدَرِي النَّاسَ
“Ujub
adalah kamu memandang bahwa kamu memiliki suatu kelebihan yang tidak dimiliki
oleh orang lain. Sementara sombong adalah merendahkan manusia.” (Sairus
Salaf Ash-Sholihin, Ismail Al-Asbahaani, 3/1023)
2.3
Mengikuti Syahwat Pikiran dan Hal-Hal yang Syubhat
Di antara
jebakan berbahaya bagi pemilik akal yang tajam adalah kegemarannya menelusuri
pemikiran-pemikiran asing, aneh, dan penuh kesamaran (syubhat) demi memuaskan
dahaga intelektualnya. Kecerdasan tanpa benteng ketaqwaan membuat seseorang
merasa aman ketika membaca filsafat, pemikiran pembebasan yang menyimpang, atau
paham-paham yang merusak aqidah. Ia menyangka akalnya cukup kuat untuk memilah,
padahal racun syubhat telah masuk dan mengendap di dalam hatinya secara halus.
Kasus dari hal ini terlihat pada cendekiawan yang gemar mengkaji metodologi
penafsiran Barat yang meragukan otentisitas Al-Qur’an. Berawal dari rasa
penasaran akademis, ia akhirnya mengadopsi cara pandang tersebut dan mulai
meragukan kemurnian Al-Qur’an. Alloh ﷻ telah mencela orang-orang
yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan pada kesesatan karena gemar
mengejar ayat-ayat mutasyabihat demi menimbulkan fitnah:
﴿فَأَمَّا
الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ
الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Adapun
orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka
mengikuti yang samar-samar daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk
mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan
Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 7)
Alloh ﷻ juga
melarang keras manusia mengikuti sesuatu tanpa dasar ilmu dari wahyu:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Nabi ﷺ memberikan panduan kaidah
emas dalam menghindari hal-hal syubhat agar aqidah dan kehormatan agama tetap
terjaga:
«إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ
بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ
اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ
وَقَعَ فِي الْحَرَامِ»
“Sungguh
yang halal itu jelas dan yang harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara yang syubhat yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Siapa
yang menjaga diri dari perkara-perkara syubhat maka sungguh ia telah
menyelamatkan agama dan kehormatannya, dan siapa yang terjerumus dalam syubhat
maka ia telah terjerumus dalam perkara yang harom.” (HR. Al-Bukhori no. 52
dan lafazh Muslim no. 1599)
Rasululloh ﷺ juga memerintahkan agar
seseorang segera menjauhi perkara yang memicu keraguan dalam hatinya:
«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ»
“Tinggalkanlah
apa yang meragukanmu menuju kepada apa yang tidak meragukanmu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2518)
Nabi ﷺ memperingatkan agar seseorang
bersikap waspada dan melarikan diri jika mendengar kabar tentang fitnah
syubhat:
«مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ،
فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ،
مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ»
“Siapa yang
mendengar keberadaan Dajjal maka hendaklah ia menjauh darinya. Demi Alloh,
sungguh ada seorang lelaki yang mendatangi Dajjal dan ia mengira dirinya
seorang Mu’min, lalu ia justru mengikutinya disebabkan syubhat-syubhat yang
ditebarkannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4319)
Al-Imam
Ahmad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh menegaskan sikap tegas terhadap
majelis dan buku-buku yang mengusung syubhat pemikiran:
لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْكَلَامِ وَإِنْ
ذَبُّوا عَنِ السُّنَّةِ
“Janganlah
kalian duduk di majelis ahli kalam (pemikir filsafat agama), meskipun mereka
berusaha membela Sunnah.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, Ibnul Jauzi, 1/210)
2.4
Berpaling dari Sunnah dan Mengikuti Hawa Nafsu
Akar utama
yang mempercepat jatuhnya orang cerdas ke dalam jurang kesesatan adalah ketika
ia mulai mengabaikan Sunnah Rosululloh ﷺ dan petunjuk para Shohabat, lalu menggantikannya dengan selera
logika dan hawa nafsunya sendiri. Akal yang tidak dituntun oleh Sunnah akan
bertindak liar, mencari-cari jalan pintas, serta menciptakan norma-norma baru
dalam beragama yang dianggapnya lebih relevan dan modern.
Contohnya kemunculan
kelompok yang mengatasnamakan pembaharuan pemikiran Islam, tetapi justru
merombak tata cara ibadah yang telah dibakukan oleh Nabi ﷺ, seperti mengubah tata cara Sholat
atau menolak kewajiban jilbab bagi wanita Mu’minah dengan alasan penyesuaian zaman.
Alloh ﷻ
memperingatkan bahaya menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan yang disembah:
﴿أَفَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ
سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ
اللَّهِ ۚ
أَفَلَا تَذَكَّرُونَ﴾
“Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Alloh membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Alloh telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan meletakkan petunjuk kepadanya sesudah Alloh? Maka mengapa
kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Alloh ﷻ juga
berfirman tentang ancaman kesesatan bagi orang yang mengikuti hawa nafsunya
tanpa petunjuk dari Alloh ﷻ:
﴿فَإِن
لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ﴾
“Maka jika
mereka tidak menjawab tantanganmu, ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti
hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti
hawa nafsunya tanpa mendapat petunjuk dari Alloh sedikit pun? Sungguh Alloh
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Qoshosh: 50)
Nabi ﷺ mengingatkan bahaya munculnya
bid’ah akibat dari perbuatan berpaling dari Sunnah:
«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى
اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ
الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ
وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Sungguh siapa
di antara kalian yang hidup setelahku niscaya akan melihat perselisihan yang
banyak. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah
Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah
dengan gigi geraham kalian. Serta jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang
baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah
adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)
Beliau ﷺ juga menyatakan penolakan
mutlak atas amalan agama yang didasari atas kreasi hawa nafsu:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ
فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang
membuat perkara baru dalam urusan kami ini yang bukan berasal darinya, maka
amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Rosululloh ﷺ menegaskan bahwa petunjuk
terbaik hanyalah Sunnah beliau:
«فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ،
وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا»
“Maka sungguh
sebaik-baik perkataan adalah Kitab Alloh, dan sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan.”
(HR. Muslim no. 867)
Al-Imam
Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh memberikan perumpamaan yang sangat cemerlang
mengenai kedudukan Sunnah dalam menyelamatkan akal dari kehancuran:
السُّنَّةُ سَفِينَةُ نُوحٍ مَنْ رَكِبَهَا
نَجَا وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ
“Sunnah itu
adalah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat, dan siapa
yang enggan menaikinya niscaya ia akan tenggelam.” (Dzammul Kalam,
Al-Harowi, 5/81)
Bab 3: Perilaku Cerdas Tapi Sesat
Bab ini membedah berbagai bentuk perilaku konkret dan ciri
khas yang melekat pada diri orang-orang yang berakal tajam namun kehilangan
kompas hidayah. Pemaparan dimulai dari kegemaran bersilat lidah dan berdebat
kusir dalam perkara agama, disusul oleh tindakan komersialisasi dalil demi
kenikmatan duniawi semata.
Selanjutnya, bab ini mengungkap tabiat mencari-cari
keringanan hukum yang tidak berdasar serta kegemaran menghakimi perkara ghoib
dengan timbangan logika yang sempit. Pemaparan bab ini diakhiri dengan
peringatan terhadap sikap pengagungan berlebihan kepada kehebatan pemikiran
orang kafir sembari meremehkan petunjuk Islam.
3.1
Bersilat Lidah dan Jidal Dalam Agama
Salah satu
keahlian utama pemilik akal cerdas yang sesat adalah kemampuannya dalam
bersilat kata dan merangkai argumentasi untuk memutarbalikkan fakta. Mereka
memanfaatkan kelincahan berbahasa dan penguasaan teknik berdebat (jidal)
bukan untuk memperjelas kebenaran, melainkan untuk mengaburkan dalil,
menjatuhkan lawan bicara, serta memenangkan opini pribadi. Perdebatan semacam
ini melahirkan rasa bangga diri dan menjauhkan keikhlasan.
Hal ini
sangat jelas terlihat pada ruang-ruang diskusi publik maupun media sosial, di
mana sebagian cendekiawan atau figur publik berdebat panjang lebar tentang
hukum-hukum agama yang sudah disepakati (ijma’), semata-mata demi
memperlihatkan kehebatan logika dan mencari sensasi, bukan demi mencari
ketaqwaan.
Alloh ﷻ
mencela keras karakter manusia yang menjadikan kelincahan berbicaranya untuk
memusuhi kebenaran:
﴿وَمِنَ
النَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ
مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu,
dan dipersaksikannya kepada Alloh atas isi hatinya, padahal ia adalah penentang
yang paling keras.” (QS. Al-Baqoroh: 204)
Alloh ﷻ juga
melarang keras perdebatan yang didasari atas ketiadaan ilmu dan sekadar
mengumbar kepandaian lisan:
﴿هَا
أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُم بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا
لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ ۚ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Beginilah
kamu, kamu ini dapat membantah tentang apa yang kamu ketahui, maka mengapa kamu
membantah juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Alloh mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui.” (QS. Ali ‘Imron: 66)
Nabi ﷺ mengingatkan bahaya jidal
yang menjadi tanda awal kesesatan suatu kaum setelah sebelumnya mereka berada
di atas petunjuk:
«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ
إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ»
“Tidaklah
suatu kaum sesat setelah dahulu mereka berada di atas petunjuk, melainkan
karena mereka diberikan kebiasaan berdebat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3253 dan
Ibn Majah no. 48)
Beliau ﷺ juga menyatakan kebencian
Alloh ﷻ
terhadap orang yang menggunakan kelincahan lisannya untuk bertengkar demi
memenangkan argumen yang batil:
«إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ
الخَصِمُ»
“Sungguh
lelaki yang paling dibenci oleh Alloh adalah orang yang paling keras
penentangannya lagi gemar bertengkar.” (HR. Al-Bukhori no. 2457 dan Muslim
no. 2668)
Rasululloh ﷺ memberikan jaminan kedudukan
mulia bagi siapa saja yang bersedia meninggalkan jidal meskipun berada di pihak
yang benar demi menjaga kebersihan hati:
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ
لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku
menjamin sebuah rumah di pinggiran Jannah bagi orang yang meninggalkan
perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no.
4800)
Al-Imam Al-Auza’i
(157 H) rohimahulloh memberikan kaidah berharga mengenai hubungan antara
perdebatan dan hilangnya keberkahan ilmu:
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ شَرًّا
فَتَحَ عَلَيْهِمُ الْجَدَلَ وَمَنَعَهُمُ الْعَمَلَ
“Apabila
Alloh menghendaki keburukan bagi suatu kaum, maka Alloh buka pintu perdebatan
bagi mereka dan Alloh halangi mereka dari beramal.” (Dzammul Kalam,
Al-Harowi, 5/123)
3.2
Menjual Ayat dan Hadits Demi Dunia
Ciri
mencolok lainnya dari cendekiawan yang sesat adalah kesiapannya memperdagangkan
dalil-dalil syari’at demi mendapatkan keuntungan materi, kedudukan sosial, atau
perlindungan politis. Mereka sanggup mencari celah penafsiran, memotong ayat,
atau memutarbalikkan makna Hadits agar sesuai dengan pesanan pihak-pihak
tertentu yang memiliki kepentingan. Dalil tidak lagi dijadikan tempat berserah
diri, melainkan dijadikan barang dagangan.
Seorang
pemikir atau ahli hukum agama mengeluarkan fatwa yang membolehkan transaksi
bernuansa riba, minuman keras, atau kemaksiatan sistematis lainnya hanya demi
menyesuaikan dengan selera pasar atau atas dorongan imbalan dari pemilik modal.
Alloh ﷻ
mengancam keras orang-orang yang menukar ayat-ayat-Nya dengan harga duniawi
yang rendah:
﴿اشْتَرَوْا
بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَصَدُّوا عَن سَبِيلِهِ ۚ
إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
“Mereka
menukarkan ayat-ayat Alloh dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi
manusia dari jalan-Nya. Sungguh amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.” (QS.
At-Taubah: 9)
Alloh ﷻ juga
berfirman mencela sikap para pemilik ilmu Kitab yang menyembunyikan kebenaran
demi mencari muka di hadapan manusia:
﴿وَإِذْ
أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ
وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
ۖ
فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ﴾
“Dan
ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi
Al-Kitab: ‘Hendaklah kamu menerangkannya kepada manusia dan jangan kamu
menyembunyikannya.’ Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung
mereka dan mereka menjualnya dengan harga yang murah. Maka amat buruklah jual
beli yang mereka lakukan itu.” (QS. Ali ‘Imron: 187)
Nabi ﷺ mengabarkan akan munculnya
para dai atau tokoh agama di akhir zaman yang mengejar dunia dengan menggunakan
topeng keagamaan:
«يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ رِجَالٌ يَخْتِلُونَ
الدُّنْيَا بِالدِّينِ يَلْبَسُونَ لِلنَّاسِ جُلُودَ الضَّأْنِ مِنَ اللِّينِ، أَلْسِنَتُهُمْ
أَحْلَى مِنَ السُّكَّرِ، وَقُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الذِّئَابِ»
“Akan ada
di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan menjual agama. Mereka
memakai pakaian dari kulit domba di hadapan manusia demi memperlihatkan
kelembutan, lisan mereka lebih manis daripada gula, namun hati mereka adalah
hati serigala.” (HR. At-Tirmidzi no. 2404, lemah)
Beliau ﷺ juga menegaskan kebinasaan
bagi orang-orang yang berilmu namun menjadikan ilmunya sebagai pemuas nafsu
kemewahan dunia:
«بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ
الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا
وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا»
“Bersegeralah
beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang
gelap gulita. Di pagi hari seseorang dalam keadaan Mu’min dan di sore hari
menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan Mu’min dan di pagi hari menjadi
kafir; ia menjual agamanya demi mendapatkan sedikit harta dunia.” (HR.
Muslim no. 118)
Nabi ﷺ juga memperingatkan ancaman
besar bagi siapapun yang memalsukan atau memutarkan makna firman Alloh ﷻ demi
kepentingan pribadi:
«مَنْ قَالَ فِي القُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Siapa yang
berkata tentang Al-Qur’an berdasarkan pandangan logikanya semata, maka
hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di Naar.” (HR. At-Tirmidzi
no. 2951. Dihasankan Ibnu Sholah dan Ibnu Hajar)
3.3
Mencari-cari Keringanan Hukum dan Dalil Nyeleneh
Pemilik
akal yang terjangkit kesesatan kerap menggunakan kecerdasannya untuk melacak
pendapat-pendapat ulama yang langka, lemah (dho’if), atau menyimpang (syadz)
hanya demi membenarkan gaya hidupnya yang melanggar hukum syari’at. Praktik ini
dikenal dengan istilah tatabbu’ur rukhos (mencari-cari keringanan tanpa
alasan yang dibenarkan). Mereka tidak mencari mana pendapat yang paling kuat
dan paling dekat dengan ketaqwaan, melainkan mana pendapat yang paling longgar
dan paling memanjakan hawa nafsu.
Hal ini
terlihat pada seseorang yang mengumpulkan berbagai pendapat minoritas dari masa
lalu demi menghalalkan musik yang diharomkan, menghalalkan pacaran, atau
menggugurkan kewajiban Sholat berjamah.
Alloh ﷻ
memperingatkan agar manusia tidak mengikuti jejak orang-orang yang suka
memprotes dan mempermainkan batas-batas hukum Alloh ﷻ:
﴿وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ
لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ
وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا﴾
“Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang Mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang Mu’minah,
apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan siapa memprotes Alloh dan
Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS.
Al-Ahzab: 36)
Alloh ﷻ juga
melarang keras tindakan memilah-milah hukum syari’at sesuai selera:
﴿أَفَتُؤْمِنُونَ
بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ
فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
ۖ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ﴾
“Apakah
kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian darimu melainkan kehinaan
dalam kehidupan dunia, dan pada Hari Qiyamah mereka dikembalikan kepada adzab
yang sangat berat.” (QS. Al-Baqoroh: 85)
Nabi ﷺ memperingatkan bahaya
kekhilafan seorang alim yang diproyeksikan dan dicari-cari oleh orang-orang
yang mengikuti hawa nafsu:
«إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي ثَلَاثٌ:
زَلَّةُ عَالِمٍ، وَجِدَالُ مُنَافِقٍ بِالْقُرْآنِ، وَدُنْيَا تُفْتَحُ عَلَيْكُمْ»
“Sesungguhnya
perkara yang paling aku takutkan menimpa umatku ada 3: kekeliruan seorang alim,
perdebatan seorang munafiq dengan Al-Qur’an, dan dunia yang dibukakan untuk
kalian.” (HR. At-Thobaroni dalam Al-Kabir no. 282, lemah)
Beliau ﷺ juga memerintahkan untuk
senantiasa mencari ketenangan hati dalam kebenaran yang jujur dan meninggalkan
kemudahan yang semu:
«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا
حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ»
“Kebaikan
itu adalah akhlaq yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang meragukan di dalam
dadamu dan engkau benci jika manusia mengetahuinya.” (HR. Muslim no. 2553)
Nabi ﷺ menekankan kepatuhan penuh
tanpa mencari-cari celah untuk menghindar dari kewajiban:
فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ،
وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ»
“Jika aku
melarang kalian dari sesuatu maka jauhilah ia, dan jika aku memerintahkan
kalian dengan suatu perintah maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR.
Al-Bukhori no. 7288 dan Muslim no. 1337)
Al-Imam
Sulaiman At-Taimi (143 H) rohimahulloh merumuskan bahaya besar dari
kebiasaan mengambil pendapat-pendapat yang menyimpang:
لَوْ أَخَذْتَ بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ
اجْتَمَعَ فِيكَ الشَّرُّ كُلُّهُ
“Seandainya
engkau mengambil setiap pendapat yang memberi keringanan dari setiap alim,
niscaya akan terkumpul pada dirimu seluruh keburukan.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi
wa Fadhlihi, Ibnu ‘Abdil Barr, 2/927)
3.4
Suka Mempertanyakan Hal Ghoib dengan Logika
Kesesatan
berpikir kerap muncul tatkala seorang yang cerdas mencoba mengukur
perkara-perkara ghoib—seperti hakikat Sifat-Sifat Alloh ﷻ,
bimbingan takdir, nikmat dan adzab kubur, serta huru-hara Hari
Qiyamah—menggunakan alat ukur pengalaman fisik dan logika empiris yang sangat
terbatas. Ketika rasio mereka gagal menjangkau realitas perkara ghoib tersebut,
mereka mulai meragukannya, menafsirkan ulang secara serampangan, atau bahkan
menolaknya sama sekali.
Hal ini
terlihat pada pemikir yang menolak keberadaan Malaikat sebagai makhluk dan
mengartikannya sekadar sebagai “simbol kebaikan” atau “energi alam”, demi
menyesuaikan berita wahyu dengan pemikiran materialisme modern.
Alloh ﷻ
memuji orang-orang Mu’min yang memiliki keimanan tulus terhadap perkara ghoib
tanpa membebani akal mereka di luar batas kemampuannya:
﴿الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾
“Yaitu
orang-orang yang beriman kepada yang ghoib, yang mendirikan Sholat dan
menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS.
Al-Baqoroh: 3)
Alloh ﷻ juga
menegaskan kekuasaan-Nya yang mutlak atas seluruh kunci-kunci perkara ghoib
yang tidak sanggup dijangkau oleh akal manusia:
﴿وَعِندَهُ
مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ
وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ﴾
“Dan pada
sisi Alloh-lah kunci-kunci semua yang ghoib, tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak
jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau
yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Al-An’am: 59)
Nabi ﷺ melarang keras memperdebatkan
ketetapan takdir Alloh ﷻ
yang merupakan bagian dari rahasia ghoib terbesar:
«إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا
ذُكِرَ النُّجُومُ فَأَمْسِكُوا، وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا»
“Apabila
disebutkan tentang Shohabatku maka menahan diri kalian, apabila disebutkan
tentang bintang-bintang maka menahan diri kalian, dan apabila disebutkan
tentang takdir maka menahan diri kalian.” (HR. Ath-Thobaroni. Dihasankan
Al-Albani)[1]
Beliau ﷺ juga memberitahukan keharusan
beriman kepada perkara ghoib sebagaimana yang telah disampaikan tanpa perlu
dipertanyakan cara dan bentuk fisiknya:
«يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ:
مَنْ خَلَقَ كَذَا، مَنْ خَلَقَ كَذَا، حَتَّى يَقُولَ: مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ؟ فَإِذَا
بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ»
“Syaithon
akan mendatangi salah seorang dari kalian lalu bertanya: ‘Siapa yang
menciptakan ini? Siapa yang menciptakan itu?’ Hingga syaithon bertanya: ‘Siapa
yang menciptakan Robbmu?’ Maka apabila perdebatan pikiran itu telah sampai
padanya, hendaklah ia memohon perlindungan kepada Alloh dan hendaklah ia
menghentikannya.” (HR. Al-Bukhori no. 3276 dan Muslim no. 134)
Nabi ﷺ memberikan teguran keras saat
melihat para Shohabat saling berdebat menggunakan logika mereka dalam masalah
takdir:
«أَبِهَذَا أُمِرْتُمْ أَمْ بِهَذَا أُرْسِلْتُ
إِلَيْكُمْ؟ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الأَمْرِ،
عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ»
“Apakah
untuk urusan ini kalian diperintahkan, ataukah dengan ini aku diutus kepada
kalian? Sungguh telah binasa orang-orang sebelum kalian ketika mereka saling
berdebat dalam urusan ini….” (HHR. At-Tirmidzi no. 2133)
Al-Imam
Ad-Daroni (215 H) rohimahulloh memberikan kaidah bersikap terhadap
terbersitnya pikiran-pikiran ghoib yang janggal:
رُبَّمَا تَقَعُ فِي نَفْسِي النُّكْتَةُ
مِنْ نُكَتِ الْقَوْمِ أَيَّاماً، فَلَا أَقْبَلُ مِنْهُ إِلَّا بِشَاهِدَيْنِ عَدْلَيْنِ؛
الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
“Terkadang
terbetik di dalam jiwaku suatu pemikiran dari pemikiran kaum selama beberapa
hari, maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil;
Al-Kitab dan As-Sunnah.” (Talbis Iblis, Ibnu Al-Jauzi (597 H), 1/244)
3.5
Mengagumi Orang Kafir Hanya Karena Kecerdasan Dunianya
Penyakit
kecerdasan yang kehilangan hidayah selanjutnya adalah lahirnya rasa kagum,
silau, dan inferior (rendah diri) di hadapan kemajuan teknologi, peradaban,
atau kecerdasan berpikir orang-orang kafir. Seseorang yang terjangkit penyakit
ini akan menganggap peradaban Barat atau non-Muslim sebagai puncak kebudayaan
manusia yang harus ditiru secara mutlak, termasuk dalam hal tatanan nilai, gaya
hidup, hingga pemikiran sekularnya. Pada saat yang sama, ia memandang syari’at
Islam dan warisan para ulama sebagai hal yang kuno, ketinggalan zaman, dan
tidak bernilai.
Kasus ini
terlihat pada cendekiawan yang lebih bangga mengutip pandangan filsuf ateis
untuk membedah masalah tatanan sosial masyarakat daripada mengutip ayat Al-Qur’an
dan Sunnah, serta merasa malu menerapkan hukum-hukum Islam di hadapan dunia
internasional.
Alloh ﷻ
mengingatkan agar orang-orang Mu’min tidak terpesona oleh kebebasan dan
kenikmatan sementara yang dinikmati orang-orang kafir di dunia:
﴿لَا
يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ
مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ
وَبِئْسَ الْمِهَادُ﴾
“Janganlah
sekali-kali kamu terperdaya kehebatan orang-orang kafir di berbagai negeri. Itu
hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam,
dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ali ‘Imron:
196-197)
Alloh ﷻ juga
melarang keras menjadikan orang-orang yang menolak agama sebagai panutan dan
kekasih yang diagungkan:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُوًا
وَلَعِبًا مِّنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ
ۚ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang
yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, yaitu di antara
orang-orang yang telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir. Dan
bertaqwalah kepada Alloh jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” (QS.
Al-Ma’idah: 57)
Nabi ﷺ menegaskan larangan
menyerupai dan mengagumi tata cara hidup orang-orang di luar Islam:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Siapa
yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4031)
Beliau ﷺ juga menggambarkan fenomena
mengekornya sebagian Muslimin kepada gaya pemikiran orang kafir secara buta:
«لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ،
شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ»،
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، اليَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»
“Sungguh
kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi
sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan seandainya mereka masuk ke dalam
lubang dhob (sejenis kadal gurun) niscaya kalian akan tetap mengikuti mereka.”
Kami para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah mereka itu Yahudi dan
Nashroni?” Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Al-Bukhori
no. 7320 dan Muslim no. 2669)
Nabi ﷺ mengingatkan bahwa kebanggaan
sejati seorang Muslim terletak pada ikatan keimanan, bukan pada loyalitas
pemikiran kepada kekufuran:
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ
المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ
كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
“Tiga
perkara yang siapa terdapat pada dirinya perkara tersebut, niscaya ia akan
merasakan manisnya iman: hendaklah Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai dari
selain keduanya, hendaklah ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya
melainkan karena Alloh, dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekufuran
sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no.
16 dan Muslim no. 43)
‘Umar bin
Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu memberikan nasihat fundamental
tentang sumber kemuliaan hakiki bagi kaum Mu’minin:
إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا
اللهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ
بِهِ، أَذَلَّنَا اللهُ
“Sungguh
kita dahulu adalah kaum yang paling hina, lalu Alloh memuliakan kita dengan
Islam. Maka bagaimanapun kita mencari kemuliaan dengan selain apa yang Alloh
telah muliakan kita dengannya, niscaya Alloh akan menghinakan kita.” (Al-Mustadrok
Al-Hakim, Ash-Shohihah no. 51)
Bab 4: Kelompok Cerdas Tapi Sesat
dalam Sejarah dan Masa Kini
Bab ini mengulas jejak historis dan perkembangan kemunculan
aliran-aliran pemikiran yang mengandalkan kecerdasan akal namun terperosok ke
dalam kesesatan. Pembahasan diawali dengan kemunculan Khowarij yang tekun
beribadah dan fasih berdalil namun melenceng dari pemahaman Shohabat, disusul
oleh kelompok Murji’ah, Qodariyyah, dan Jahmiyyah yang terjebak filsafat.
Selanjutnya, bab ini membongkar pemikiran kalangan cendekiawan modernis dan
liberal yang membedah agama dengan kaidah filsafat Barat, serta diakhiri dengan
pemaparan tentang bahaya para ahli bid’ah yang pandai bersilat kata dalam
mempengaruhi masyarakat.
4.1
Khowarij: Tekun Ibadah dan Fasih Tapi Anjing Neraka
Khowarij
merupakan prototipe awal kelompok yang cerdas secara hafalan dan
tekstual, fasih dalam melantunkan ayat, serta sangat tekun menjalankan ibadah
ritual, namun akal mereka sesat karena memahami Al-Qur’an dengan pemahaman
sendiri dan meninggalkan bimbingan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Kecerdasan mereka yang tanpa ilmu yang lurus melahirkan sikap gampang
mengkafirkan sesama Muslim dan menghalalkan darah kaum Mu’minin.
Kasus modern
terlihat pada pemuda-pemuda terpelajar yang menguasai berbagai bahasa dan
teks-teks agama, namun memiliki pemikiran radikal yang mudah membodohkan,
mengkafirkan, serta membangkang dari pemerintah Muslim yang sah hanya karena
perbedaan ijtihad atau kesalahan penguasa. Alloh ﷻ memperingatkan bahaya sikap
melampaui batas dalam beragama yang merusak tatanan keselamatan:
﴿قُلْ
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا
أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِن قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَن سَوَاءِ
السَّبِيلِ﴾
“Katakanlah:
‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dengan cara tidak benar dalam
agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat
dahulunya dan mereka telah menyesatkan kebanyakan manusia, dan mereka tersesat
dari jalan yang lurus’.” (QS. Al-Ma’idah: 77)
Alloh ﷻ juga
melarang keras tindakan merusak persatuan kaum Mu’minin dan menganggap diri
paling suci:
﴿فَلَا
تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ﴾
“Maka
janganlah kamu menganggap diri kamu suci. Dia-lah yang paling mengetahui
tentang orang yang bertaqwa.” (QS. An-Najm: 32)
Nabi ﷺ menggambarkan secara rinci
ciri-ciri fisik dan pemikiran Khowarij yang sangat rajin ibadah namun akal mereka
dungu dari pemahaman agama yang benar:
«يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلاَتَكُمْ
مَعَ صَلاَتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ،
وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا
يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
“Akan
keluar di antara kalian suatu kaum yang kalian menganggap remeh Sholat kalian
dibandingkan Sholat mereka, puasa kalian dibandingkan puasa mereka, dan amalan
kalian dibandingkan amalan mereka. Mereka gemar membaca Al-Qur’an namun Al-Qur’an
tersebut tidak melewati tenggorokan mereka (gagal paham maknanya). Mereka
meluncur keluar dari agama sebagaimana meluncurnya anak panah dari sasaran
tembaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 5058 dan Muslim no. 1064)
Beliau ﷺ juga menegaskan kelemahan
akal mereka meskipun usia mereka muda dan lisan mereka fasih mengucapkan
perkataan-perkataan yang tampak indah:
«يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ، حُدَثَاءُ
الأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ البَرِيَّةِ، يَمْرُقُونَ
مِنَ الإِسْلاَمِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، لاَ يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ
حَنَاجِرَهُمْ، فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ، فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ
لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Akan datang
di akhir zaman suatu kaum yang berusia muda dan berakal picik. Mereka
mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia, namun mereka meluncur keluar dari
Islam sebagaimana meluncurnya anak panah dari sasaran tembaknya. Keimanan
mereka tidak melewati tenggorokan mereka. Siapapun dari kalian yang menjumpai
maka bunuhlah karena membunuh mereka berpahala untuknya di hari Qiyamat.” (HR.
Al-Bukhori no. 3611 dan Muslim no. 1066)
Bersamaan
dengan itu, mereka diancam Neraka dengan sabda Nabi ﷺ:
«الْخَوَارِجُ كِلَابُ النَّارِ»
“Khowarij
adalah anjing-anjing Naar.” (HSR. Ibnu Majah no. 173, Ahmad no. 19130)
Nabi ﷺ memperingatkan bahaya
kekejaman mereka terhadap sesama Muslim akibat kesesatan pemikirannya:
«يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ
أَهْلَ الأَوْثَانِ»
“Mereka
membunuh pemeluk Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” (HR.
Al-Bukhori no. 3344 dan Muslim no. 1064)
Ibn ‘Abbas
(68 H) rodhiyallahu ‘anhuma saat berdialog dengan orang-orang Khowarij
menegaskan kunci keselamatan yang tidak mereka miliki:
أَتَيْتُكُمْ مِنْ عِنْدِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ
ﷺ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، وَمِنْ
عِنْدِ ابْنِ عَمِّ النَّبِيِّ ﷺ
وَصِهْرِهِ، وَعَلَيْهِمْ نُزِّلَ الْقُرْآنُ، فَهُمْ أَعْلَمُ بِتَأْوِيلِهِ مِنْكُمْ،
وَلَيْسَ فِيكُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ، لَأُبَلِّغَكُمْ مَا يَقُولُونَ، وَأُبَلِّغَهُمْ
مَا تَقُولُونَ
“Aku datang
kepada kalian langsung dari sisi para Shohabat Nabi ﷺ, baik dari kalangan Muhajirin
maupun Anshor, serta dari sepupu sekaligus menantu beliau (yakni Ali). Kepada
merekalah Al-Qur’an diturunkan, sehingga mereka jauh lebih paham tentang
penafsiran Al-Qur’an dibandingkan kalian, sementara tak seorang pun dari mereka
ada di antara kalian. Sungguh, aku akan menyampaikan kepada kalian apa yang
mereka katakan, dan akan kusampaikan pula kepada mereka apa yang kalian
katakan.” (HSR. An-Nasa’i Al-Kubro, no. 8522. Dihasankan Al-Wadi’i)
4.2
Murji’ah, Qodariyyah, dan Jahmiyyah: Terjebak Filsafat dan Logika
Pada
abad-abad awal hijriyah, lahir aliran-aliran seperti Jahmiyyah yang menolak
Sifat-Sifat Alloh ﷻ
dengan dalih mensucikan Alloh ﷻ secara logika, Qodariyyah yang menolak takdir demi mensucikan
Alloh dari kezholiman, serta Murji’ah yang mengeluarkan amalan dari hakikat
iman. Semua aliran ini diawali oleh para tokoh yang memiliki kecerdasan logika
dan penguasaan filsafat yang tinggi pada zamannya, seperti Ja’ad bin Dirham
(124 H) Jahm bin Shofwan (128 H), Washil bin Atho, Amr bin Ubaid. Kecerdasan
mereka yang tidak bersumber dari petunjuk wahyu melahirkan kekufuran dan
kesesatan yang sistematis.
Pada masa
kini, pola pikir sebagian cendekiawan yang memisahkan antara iman di dalam hati
dengan amalan anggota badan, menganggap orang yang meninggalkan seluruh kewajiban
Sholat dan ibadah tetap memiliki iman yang sempurna layaknya para Nabi. Alloh ﷻ
menegaskan bahwa iman mencakup keyakinan dan amalan ketaatan:
﴿إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ
عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا﴾
“Sungguh
orang-orang yang beriman (dengan sempurna) ialah mereka yang bila disebut nama
Alloh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah
iman mereka, dan hanya kepada Robb-lah mereka bertawakkal. Yaitu orang-orang
yang mendirikan Sholat dan yang menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami
berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya
(yakni sempurna).” (QS. Al-Anfal: 2-4)
Alloh ﷻ juga
melarang keras perdebatan filsafat yang menolak kekuasaan takdir Alloh ﷻ:
﴿إِنَّا
كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾
“Sungguh
Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir.” (QS. Al-Qomar: 49)
Nabi ﷺ melabeli kelompok Qodariyyah
yang mendahulukan logika rasio dalam menolak takdir sebagai kelompok yang
sangat menyimpang dari umat ini:
«الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ: إِنْ
مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ، وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ»
“Qodariyyah
adalah Majusi umat ini. Jika mereka sakit maka janganlah kalian menjenguk
mereka, dan jika mereka mati maka janganlah kalian menghadiri janazah mereka.” (HHR.
Abu Dawud no. 4691)
Beliau ﷺ juga memberitahukan ancaman
keras bagi orang-orang yang mereduksi dan memutarbalikkan hakikat keimanan
serta takdir:
«صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَيْسَ لَهُمَا فِي
الإِسْلَامِ نَصِيبٌ: المُرْجِئَةُ وَالقَدَرِيَّةُ»
“Dua
golongan dari umatku yang tidak memiliki bagian dalam Islam: Murji’ah dan
Qodariyyah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2149. Dishohihkan Ibnu Jarir dan Ibnul
Arobi)
Nabi ﷺ mengingatkan agar mewaspadai
para pemikir filsafat yang menebarkan kesamaran atas Aqidah Islam:
«سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُونَكُمْ
مَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ»
“Akan ada
di akhir umatku orang-orang yang menyampaikan perkataan kepada kalian tentang
hal-hal yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula bapak-bapak kalian
dengar. Maka waspadalah kalian dan jauhilah mereka.” (HR. Muslim no. 6)
Ats-Tsauri
(161 H) rohimahulloh menegaskan status pemikiran Jahmiyyah yang
membatalkan Asma’ wa Sifat Alloh:
«مَنْ قَالَ إِنَّ ﴿قُلْ
هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ﴾
مَخْلُوقٌ فَهُوَ كَافِرٌ»
“Siapa yang
mengatakan bahwa firman Alloh: ‘Katakanlah Dia Alloh Maha Esa, Alloh
As-Shomad’ adalah makhluk, maka ia adalah seorang yang kafir.” (As-Sunnah,
Abdulloh bin Imam Ahmad, 1/170)
4.3
Cendekiawan Modernis dan Liberal: Membedah Agama dengan Filsafat Barat
Pada era
modern, bentuk kesesatan berbasis kecerdasan mewujud dalam gerak pemikiran modernisme
dan liberalisme pemikiran. Para cendekiawan dari kalangan ini umumnya menempuh
pendidikan tinggi di Barat, lalu menggunakan pisau analisis hermeneutika,
dekonstruksi, dan filsafat sekular untuk merombak hukum-hukum syari’at
Islam. Mereka menganggap Al-Qur’an sebagai produk budaya yang bisa dikritik,
menyatakan seluruh agama adalah sama-sama benar (pluralisme), serta
mendekonstruksi hukum-hukum fiqih yang mutawatir.
Kasus ini
terlihat pada tulisan-tulisan ilmiah atau jurnal akademis yang berupaya
membatalkan kewajiban hijab, mengesahkan pernikahan beda agama, dan melegalkan
penyimpangan perilaku seksual atas nama kebebasan dan hak asasi manusia. Alloh ﷻ
memperingatkan agar kaum Mu’minin tidak tergiur oleh ajakan pemikiran
orang-orang yang menginginkan kelonggaran hukum agama:
﴿وَلَن
تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ
قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ
وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ
مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ﴾
“Orang-orang
Yahudi dan Nashroni tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: ‘Sungguh petunjuk Alloh itulah petunjuk yang benar.’ Dan sungguh
jika kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka
Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqoroh:
120)
Alloh ﷻ juga
melarang keras mencampuradukkan antara kebenaran wahyu dan kebatilan filsafat
manusia:
﴿وَلَا
تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)
Nabi ﷺ mengingatkan bahaya munculnya
para penyesat masyarakat yang berkedok sebagai pemikir dan tokoh pembaharu:
«إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا، يُرْفَعُ
فِيهَا العِلْمُ، وَيَنْزِلُ فِيهَا الجَهْلُ، وَيَكْثُرُ فِيهَا الهَرْجُ»
“Sungguh di
antara tanda dekatnya Hari Qiyamah adalah adanya hari-hari di mana ilmu
diangkat, kebodohan diturunkan, dan terjadi banyak pembunuhan serta kekacauan
pemikiran.” (HR. Al-Bukhori no. 7064 dan Muslim no. 2672)
Beliau ﷺ juga menggambarkan kehancuran
yang terjadi ketika kepemimpinan pemikiran keagamaan diserahkan kepada
orang-orang yang tidak meniti jalan wahyu:
«إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا
يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ، حَتَّى
إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا
بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا»
“Sungguh
Alloh tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari dada manusia,
melainkan Alloh mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama. Hingga apabila
tidak tersisa seorang alim pun, manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang
bodoh. Lalu mereka ditanya dan memberi fatwa tanpa dasar ilmu, maka
mereka sesat dan menyesatkan orang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 100 dan Muslim
no. 2673)
Nabi ﷺ memperingatkan tanda
datangnya tahun-tahun penuh penipuan intelektual:
«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ،
يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا
الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ،
قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan
datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan; orang yang
berdusta dibenarkan, orang yang jujur didustakan, orang yang berkhianat
dipercaya, orang yang amanah dituduh berkhianat, dan Ruwaibidhoh ikut
berbicara.” Ditanyakan: “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang yang
bodoh lagi kerdil pemikirannya yang berbicara mengenai urusan masyarakat luas.”
(HSR. Ibn Majah no. 4036 dan Ahmad no. 7912)
Setiap
orang yang membangun pokok pemikirannya berdasarkan akalnya lalu
dipertentangkan dengan teks wahyu, maka sungguh ia telah membuka pintu keraguan
dan kesesatan atas dirinya sendiri.
4.4
Ahli Bid’ah yang Pandai Bersilat Kata
Kelompok
penyesat yang amat membahayakan fithroh kaum awam adalah para tokoh ahli bid’ah
yang dianugerahi kelebihan kecerdasan, retorika panggung yang memukau, dan
kemampuan mengolah kata-kata yang menyentuh perasaan. Mereka membungkus
perkara-perkara baru dalam agama yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh ﷺ dan para Shohabat dengan
sebutan “kebaikan”, “kreasi spiritual”, atau “tradisi mulia”. Dengan kelincahan
bahasanya, mereka sanggup membuat amalan yang bid’ah tampak lebih indah dan
lebih agung daripada Sunnah yang shohih.
Ini bisa
dijumpai pada penceramah yang mengajak jemaahnya melakukan ritual-ritual ibadah
buatan manusia dengan janji pahala yang berlipat ganda, sembari menuduh
orang-orang yang mengajak kembali kepada Sunnah sebagai orang yang kaku dan
memecah belah persatuan. Alloh ﷻ mengingatkan bahaya
terperdaya oleh keindahan perkataan yang diciptakan untuk menyesatkan manusia
dari jalan yang lurus:
﴿وَكَذَٰلِكَ
جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ
إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ
فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan
demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaithon-syaithon
dari jenis manusia dan dari jenis jin, sebagian mereka membisikkan kepada
sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
manusia. Jikalau Robbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah
mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’am: 112)
Alloh ﷻ juga
berfirman mencela tindakan mengada-adakan aturan agama tanpa izin dari-Nya:
﴿أَمْ
لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ
وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ
وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang menetapkan untuk
mereka agama yang tidak diizinkan Alloh? Sekiranya tidak ada ketetapan yang
menentukan niscaya telah diputuskan di antara mereka. Dan sungguh orang-orang
yang zholim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.” (QS.
Asy-Syuro: 21)
Nabi ﷺ mengingatkan bahwa retorika
lisan yang indah bisa menjadi sihir yang memukau pikiran orang hingga menerima
kebatilan:
«إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا»
“Sungguh di
antara keindahan tutur kata itu benar-benar terdapat sihir yang memukau.” (HR.
Al-Bukhori no. 5146)
Beliau ﷺ juga menegaskan bahaya seruan
para dai yang memanggil manusia menuju pintu-pintu Naar Jahannam dengan lisan
yang fasih:
«دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ
إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا؟ فَقَالَ:
«هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا»
“Para
penyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa yang menyambut seruan mereka niscaya
mereka akan melemparkannya ke dalam Jahannam.” Aku (Hudzaifah) bertanya: “Wahai
Rosululloh, sifatkanlah mereka kepada kami?” Beliau menjawab: “Mereka adalah
dari kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita.” (HR. Al-Bukhori
no. 3606 dan Muslim no. 1847)
Rosululloh ﷺ memberikan peringatan agar
tidak mendengarkan perdebatan ahli bid’ah yang dapat merusak hati:
«يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ،
يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ،
فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلُّونَكُمْ، وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ»
“Akan ada
di akhir zaman para pendusta besar. Mereka membawakan Hadits-Hadits palsu
kepada kalian yang belum pernah kalian dengar dan tidak pula bapak-bapak kalian
dengar. Maka waspadalah kalian dan jauhilah mereka, agar mereka tidak
menyesatkan kalian dan tidak menimpa kalian dengan fitnah.” (HR. Muslim no.
7)
Al-Imam
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh memberikan nasihat tegas dalam menilai
kehebatan tokoh yang menyelisihi Sunnah:
إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى
الْمَاءِ، وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ، فَلَا تَعْتَبِرُوا بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ
عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ
“Jika
kalian melihat seseorang bisa berjalan di atas air dan terbang di udara, maka
janganlah kalian mengikutinya sampai kalian mencocokkan perkaranya dengan
Al-Kitab dan As-Sunnah.” (Syarh Aqidah Thohawiyyah, Ibnu Abil Izz Al-Hanafi,
2/769)
Bab 5: Dampak Buruk Kecerdasan
Tanpa Kesucian Hati
Bab ini menguraikan konsekuensi buruk dan bahaya sistematis
yang ditimbulkan ketika kecerdasan akal terlepas dari bimbingan wahyu Alloh ﷻ.
Pembahasan diawali dengan daya rusak lisan yang indah dalam menyesatkan
masyarakat luas, diikuti dengan terhalangnya pemilik kecerdasan dari manisnya
iman serta fithroh yang lurus. Selanjutnya, bab ini membedah ancaman adzab yang
berlipat ganda bagi orang alim yang sesat di Akhiroh, serta diakhiri dengan
pemaparan mengenai tercabutnya keberkahan umur dan ilmu yang mereka miliki.
5.1
Menyesatkan Orang Banyak dengan Lisan yang Indah
Dampak
paling berbahaya dari seorang yang cerdas namun sesat adalah kehitungannya
dalam membawa orang lain ikut terjerumus ke dalam kesesatan. Ketika kelebihan
akal dan kelincahan lisan digunakan untuk membela kebatilan, masyarakat awam
yang tidak memiliki kedalaman ilmu syari’at akan dengan mudah terperdaya. Satu
pemikiran keliru yang dikemas dengan bahasa ilmiah atau retorika yang memukau
sanggup merusak aqidah ribuan manusia.
Kasus ini
sangat jelas terlihat pada tokoh publik atau cendekiawan yang menyebarkan
pemahaman bahwa semua agama sama di media massa. Kerusakan yang ia timbulkan
tidak berhenti pada dirinya sendiri, melainkan bertumpuk seiring dengan
banyaknya orang yang mengadopsi pemikiran sesat tersebut.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa para penyesat akan memikul dosa mereka sendiri beserta
dosa-dosa orang yang mereka sesatkan tanpa berkurang sedikit pun:
﴿لِيَحْمِلُوا
أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۙ
وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ
أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ﴾
“Ucapan
mereka menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan penuh pada Hari Qiyamah,
dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit
pun hal itu. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.” (QS.
An-Nahl: 25)
Alloh ﷻ juga
menggambarkan beban bertumpuk yang wajib ditanggung oleh para pemikat
kebatilan:
﴿وَلَيَحْمِلُنَّ
أَثْقَالَهُمْ وَأَثْقَالًا مَّعَ أَثْقَالِهِمْ ۖ
وَلَيُسْأَلُنَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَمَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ﴾
“Dan sungguh
mereka akan memikul beban-beban dosa mereka sendiri dan beban-beban dosa yang
lain bersama-sama dengan beban dosa mereka, dan sungguh mereka akan ditanya
pada Hari Qiyamah tentang apa yang dahulu mereka ada-adakan.” (QS. Al-‘Ankabut:
13)
Nabi ﷺ mengingatkan ancaman dosa
yang terus mengalir bagi siapa saja yang merintis ajaran atau pemikiran yang
menyimpang dalam agama:
«مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً،
كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ
يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ»
“Siapa yang
merintis suatu jalan yang buruk dalam Islam, maka ia menanggung dosanya dan
dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang dari dosa-dosa
mereka sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)
Beliau ﷺ juga memperingatkan ancaman
besar yang mengintai para pemimpin dan cendekiawan yang menyesatkan masyarakat:
«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ
الْمُضِلِّينَ»
“Sungguh
perkara yang paling aku takuti atas umatku adalah para pemimpin yang
menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi no. 2229)
5.2
Terhalang dari Manisnya Iman
Orang
cerdas yang mengandalkan logikanya akan kehilangan ketenangan batin dan
kelezatan beribadah. Hati mereka selalu dipenuhi oleh keraguan, prasangka, dan
perdebatan pikiran yang tidak pernah usai. Fithroh mereka yang lurus menjadi
tumpul karena tertutupi oleh analisis-analisis rasionalis yang menyimpang.
Ketika orang Mu’min yang awam merasakan kebahagiaan dan kekhusyukan saat sujud
atau membaca Al-Qur’an, cendekiawan yang sesat justru sibuk mempertanyakan
susunan kata, meragukan takdir, atau memperdebatkan hukum-hukum syari’at di
dalam benaknya.
Contohnya adalah
seseorang yang telah membaca ratusan buku keagamaan dan menguasai berbagai
cabang ilmu tata bahasa, namun hatinya terasa keras, tidak pernah meneteskan
air mata karena takut kepada Alloh ﷻ, serta selalu merasa hampa
dalam Sholatnya. Alloh ﷻ
menggambarkan terkuncinya hati orang-orang yang menolak petunjuk wahyu demi
menuruti pemikiran sendiri:
﴿كَلَّا
ۖ
بَلْ ۜ
رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthoffifin: 14)
Alloh ﷻ juga
berfirman mengenai kondisi hati yang terbalik akibat membelakangi kebenaran:
﴿وَنُقَلِّبُ
أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ
فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ﴾
“Dan Kami
palingkan hati mereka dan penglihatan mereka sebagaimana mereka tidak beriman
kepadanya pada permulaan masa, dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan
mereka.” (QS. Al-An’am: 110)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa manisnya
iman hanya dapat dirasakan oleh hati yang ridho dan tunduk sepenuhnya kepada
ketaatan:
«ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ
رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا»
“Akan
merasakan manisnya iman orang yang ridho Alloh sebagai Robb, Islam sebagai
agama, dan Muhammad sebagai Rosul.” (HR. Muslim no. 34)
Beliau ﷺ juga menjelaskan proses
meredupnya cahaya fithroh di dalam hati akibat terpaan syubhat dan kemaksiatan
pemikiran:
«تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ
عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ»
“Fitnah-fitnah
akan ditampakkan kepada hati seperti selembar tikar yang dianyam sebatang demi
sebatang. Maka hati mana saja yang menyerapnya, niscaya ditorehkan padanya satu
titik hitam.” (HR. Muslim no. 144)
Nabi ﷺ memohon perlindungan dari
ilmu yang tidak membuahkan rasa takut dan kekhusyukan hati:
«اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا
يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ
لَا يُسْتَجَابُ لَهَا»
“Ya Alloh, sungguh
aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyuk, dari nafsu yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
(HR. Muslim no. 2722)
Maka suatu
hati terhalangi untuk merasakan manisnya iman apabila di dalamnya terdapat
kecintaan pada dunia atau tindakan memutus wahyu dengan logika.
5.3
Ancaman Adzab yang Berlipat bagi Orang Alim yang Sesat
Kecerdasan
dan ilmu merupakan argumentasi (hujjah) yang melandasi pertanggungjawaban
manusia di hadapan Alloh ﷻ. Semakin tinggi tingkat kecerdasan dan pengetahuan seseorang
tentang syari’at, maka semakin berat pula tuntutan amalan dan konsekuensi
hukumnya. Orang bodoh yang bermaksiat dihukum karena kebodohan dan
kelalaiannya, namun seorang cendekiawan atau orang alim yang melanggar dan
menyesatkan manusia dihukum atas dasar penentangan yang disengaja. Oleh sebab
itu, adzab bagi pemilik ilmu yang sesat pada Hari Qiyamah jauh lebih dahsyat
dan berlipat ganda.
Perbandingan
antara rakyat biasa yang tidak paham hukum agama dengan seorang doktor hukum
syari’at yang dengan sadar merekayasa hukum demi membenarkan kecurangan; tentu dosa
sang doktor jauh lebih berat karena ia melakukan kejahatan di atas dasar
pengetahuan.
Alloh ﷻ
mengancam para pemilik Kitab yang menyalahgunakan ilmunya dengan siksaan yang
tiada tara:
﴿الَّذِينَ
كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا
كَانُوا يُفْسِدُونَ﴾
“Orang-orang
yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Alloh, Kami tambahkan kepada
mereka adzab di atas adzab disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS.
An-Nahl: 88)
Alloh ﷻ juga
melipatgandakan hukuman bagi mereka yang diberi amanah petunjuk namun memilih
kesesatan:
﴿إِذًا
لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا
نَصِيرًا﴾
“Kalau
terjadi demikian, tentulah Kami rasakan kepadamu adzab dua kali lipat di dunia
ini dan adzab dua kali lipat setelah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang
penolong pun terhadap Kami.” (QS. Al-Isro’: 75)
Beliau ﷺ memberitahukan bahaya ilmu
yang dijadikan alat kesombongan hingga menyeret pemiliknya ke dasar Jahannam:
«مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ،
أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ، فَهُوَ
فِي النَّارِ»
“Siapa yang
mempelajari ilmu untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk
memperdebatkan orang-orang bodoh, atau agar pandangan manusia berpaling
kepadanya, niscaya ia masuk Naar.” (HHR. Ibn Majah no. 253)
Rosululloh ﷺ mengabarkan bahwa setiap kaki
manusia tidak akan bergeser pada Hari Qiyamah sebelum ditanya tentang ilmunya:
«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ
حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ
مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ»
“Tidak akan
bergeser kedua kaki seorang hamba pada Hari Qiyamah hingga ia ditanya tentang
umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang telah ia
amalkan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan ke mana ia infakkan, serta
tentang tubuhnya untuk apa ia gunakan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2417)
Ilmu yang
bermanfaat adalah ilmu yang menyentuh hati sehingga membuahkan rasa takut
kepada Alloh. Dan kapan saja ilmu itu kosong dari rasa takut, maka ia akan
menjadi penuntut atas pemiliknya.
5.4
Hilangnya Keberkahan Umur dan Ilmu
Di antara
akibat buruk yang menimpa orang cerdas yang sesat adalah dicabutnya keberkahan
dari seluruh karya, pemikiran, dan sisa umurnya. Boleh jadi ia menulis ratusan
buku, menerbitkan puluhan artikel ilmiah, atau meraih gelar akademis tertinggi,
namun seluruh karyanya tidak mendatangkan hidayah bagi masyarakat dan tidak
meninggalkan jejak kebaikan yang abadi di sisi Alloh ﷻ. Karya-karyanya hanya
melahirkan keraguan, perpecahan, dan pertengkaran di tengah kaum Muslimin.
Setelah ia wafat, ilmunya terlupakan atau hanya dikenal sebagai peninggalan
pemikiran yang menyimpang.
Kasus ini
dapat disaksikan pada tokoh-tokoh pemikir sekular atau filsuf agama dari masa
ke masa; karya-karya mereka yang tebal tidak pernah dihafal atau dijadikan
pedoman ibadah oleh umat, melainkan hanya menjadi bahan perdebatan yang hampa
keberkahan. Alloh ﷻ
memusnahkan amalan dan karya orang-orang yang berpaling dari petunjuk-Nya:
﴿وَقَدِمْنَا
إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا﴾
“Dan Kami
hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan
debu yang berterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23)
Alloh ﷻ juga
menegaskan hilangnya keberkahan usaha orang-orang yang zholim dalam beragama:
﴿قُلْ
هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ
يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat
sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Nabi ﷺ menegaskan bahwa keberkahan
umur dan karya hanya diperoleh melalui ketaatan dan ketundukkan:
«لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ،
وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ
بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ»
“Tidak ada
yang dapat menambah umur melainkan kebajikan, tidak ada yang dapat menolak
takdir melainkan doa, dan sungguh seseorang benar-benar terhalang dari rizki
(termasuk keberkahan ilmu) disebabkan dosa yang diperbuatnya.” (HHR. Ibn
Majah no. 4022 dan Ahmad no. 22386)
Beliau ﷺ juga mengajarkan agar
senantiasa memohon kemanfaatan dari ilmu yang dipelajari:
«اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي
مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا»
“Ya Alloh,
berilah kemanfaatan kepadaku atas apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku,
ajarkanlah kepadaku apa yang bermanfaat bagiku, dan tambahkanlah ilmu kepadaku.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 3599 dan Ibn Majah no. 251)
Disebutkan
dalam Hadits:
«مَنِ ازْدَادَ عِلْمًا وَلَمْ يَزْدَدْ هُدًى،
لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا»
“Siapa yang
bertambah ilmunya namun tidak bertambah petunjuknya, niscaya ia tidak bertambah
dari Alloh melainkan semakin jauh.” (Sisilah Dho’ifah no. 4541)
Keberkahan
umur dan amalan itu hanyalah terwujud dengan adanya taufiq menuju
kebaikan-kebaikan, digunakannya anggota badan dalam ketaatan-ketaatan, serta
terjaganya pikiran dari syubhat-syubhat.
Bab 6: Solusi Agar Kecerdasan
Terarah pada Kebenaran
Bab ini menguraikan langkah-langkah strategis dan
prinsip-prinsip syari’at untuk membentengi akal agar kecerdasan yang dimiliki
senantiasa terbimbing menuju kebenaran. Pembahasan diawali dengan penanaman
Sikap tawadhu’ dan rasa takut kepada Alloh ﷻ, diikuti dengan
pentingnya menuntut ilmu syari’ dari sumber yang shohih. Selanjutnya, bab ini
menjelaskan keharusan menundukkan akal di bawah bimbingan wahyu dan pemahaman
shohabat, serta diakhiri dengan paparan mengenai peran doa dan istiqomah dalam
menjaga hidayah.
6.1 Tawadhu’ dan Rasa Takut Kepada Alloh ﷻ
Penawar utama dari keangkuhan intelektual yang menyesatkan
adalah penanaman rasa takut kepada Alloh ﷻ
(khosyyah) serta kebiasaan bertawadhu’ di hadapan kebenaran. Kecerdasan
yang dibingkai oleh khosyyah tidak akan pernah berani mempertanyakan
kebenaran wahyu atau merekayasa hukum syari’at demi menuruti hawa nafsu.
Seseorang yang memiliki rasa takut kepada Alloh ﷻ
akan senantiasa merasa kerdil di hadapan keagungan ilmu-Nya dan tidak ragu
untuk tunduk seketika saat dalil yang shohih dibacakan kepadanya.
Seorang akademisi atau peneliti Muslim yang ketika menemukan
hasil pemikirannya bertentangan dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang
shohih, ia dengan lapang dada membuang teori pribadinya dan kembali kepada
kebenaran syari’at.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa kriteria ulama yang sejati adalah mereka yang memiliki khosyyah
di dalam hatinya:
﴿إِنَّمَا
يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ
إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
“Sungguh
yang takut kepada Alloh di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh
Alloh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)
Alloh ﷻ juga
memuji sifat orang-orang Mu’min yang tunduk dan tidak menyombongkan diri dari ayat-ayat-Nya:
﴿إِنَّمَا
يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا
بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ﴾
“Sungguh
orang yang benar-benar beriman dengan ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta
memuji Robb-nya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (QS. As-Sajdah:
15)
Nabi ﷺ menjelaskan kemuliaan yang
diperoleh oleh orang yang bertawadhu’ karena Alloh ﷻ:
«مَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ
اللهُ»
“Dan
tidaklah seseorang bertawadhu’ karena Alloh melainkan Alloh akan meninggikan
derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Beliau ﷺ juga memperingatkan ancaman
keras bagi siapapun yang menyimpan kesombongan intelektual di dalam hatinya:
«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ
مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan
masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarrah.”
(HR. Muslim no. 91)
Nabi ﷺ memberikan batasan tegas
tentang hakikat kesombongan yang merusak akal manusia:
«الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»
“Kesombongan
itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Al-Imam
Ahmad (241 H) rohimahulloh merumuskan hakikat ilmu yang lurus dalam
perkataannya yang ringkas:
أَصْلُ العِلْمِ خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى
“Pokok dari
ilmu itu adalah rasa takut kepada Alloh Ta’ala.” (Hilyah Tholibil
Ilmi, Bakr Abu Zaid, hal. 144)
6.2
Menuntut Ilmu Syari’ dari Sumber yang Shohih
Kecerdasan
akal memerlukan bahan bakar berupa ilmu syari’at yang murni agar tidak berjalan
menuruti prasangka dan syubhat. Untuk membentengi diri dari penyesatan
pemikiran, seorang Muslim wajib menimba ilmu agama langsung dari sumber-sumber
yang terpercaya, yaitu Kitabullah, Sunnah Rosululloh ﷺ, serta karya-karya ulama
Salafus Sholih yang lurus Aqidahnya. Belajar agama secara acak melalui media
sosial, tokoh-tokoh pemikir liberal, atau buku-buku filsafat merupakan pintu
utama terjerumusnya akal ke dalam kesesatan.
Penuntut
ilmu seharusnya secara sistematis mempelajari Aqidah dan Fiqih dari kitab-kitab
induk para ulama Ahlus Sunnah, serta berguru kepada ulama Ahlus Sunnah yang
dikenal kelurusan manhajnya, bukan mengejar penceramah yang fasih bersilat kata
atau bergelar akademis tinggi semata.
Alloh ﷻ
memerintahkan kaum Mu’minin untuk bertanya kepada para ahli ilmu yang sholih:
﴿فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Alloh ﷻ juga
melarang keras tindakan mengikut-ikuti sesuatu tanpa landasan ilmu yang pasti:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)
Nabi ﷺ menegaskan bahwa jalan menuju
Jannah dimudahkan bagi orang yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu syari’:
«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا،
سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ»
“Siapa yang
menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Alloh akan memudahkan baginya
jalan menuju Jannah.” (HR. Muslim no. 2699)
Beliau ﷺ juga mengabarkan bahwa
pemahaman agama yang benar merupakan tanda kebaikan yang Alloh ﷻ
kehendaki bagi seorang hamba:
«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ
فِي الدِّينِ»
“Siapa yang
Alloh kehendaki kebaikan padanya, niscaya Alloh akan pahamkan dia dalam agama.”
(HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Nabi ﷺ mengingatkan kewajiban setiap
Muslim untuk menuntut ilmu yang bermanfaat:
«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibn Majah no. 224)
Muhammad
bin Sirin (110 H) rohimahulloh memberikan kaidah emas dalam memilih guru
dan sumber ilmu syari’:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا
عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sungguh
ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama
kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim, 1/14)
6.3
Menundukkan Akal di Bawah Bimbingan Wahyu dan Pemahaman Shohabat
Kunci utama
keselamatan akal adalah menempatkan rasio sebagai alat untuk memahami wahyu,
bukan sebagai hakim yang menilai atau membatalkan wahyu. Akal manusia
memiliki keterbatasan, sedangkan wahyu Alloh ﷻ bersifat absolut dan sempurna.
Oleh karena itu, akal yang cerdas dan selamat adalah akal yang pasrah dan
tunduk pada nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Para Shohabat adalah generasi yang
menyaksikan turunnya wahyu, hidup bersama Nabi ﷺ, dan paling murni fithroh serta pemahamannya.
Kasus ini
terlihat pada sikap seorang Mu’min ketika berhadapan dengan ayat-ayat Sifat
Alloh ﷻ
atau berita-berita ghoib tentang hari Qiyamah; ia langsung beriman dan
membenarkannya sebagaimana diyakini para Shohabat, tanpa melakukan ta’til (penolakan),
ta’wil (penyimpangan makna), atau tasybih (penyerupaan dengan
makhluk). Alloh ﷻ
memerintahkan kaum Mu’minin untuk beriman sebagaimana iman para Shohabat:
﴿فَإِنْ
آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ
وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ﴾
“Maka jika
mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka
telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sungguh mereka berada dalam
permusuhan.” (QS. Al-Baqoroh: 137)
Alloh ﷻ juga
mengancam orang-orang yang menyelisihi jalan para Shohabat:
﴿وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ
سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ
وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan siapa
yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang
bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang
telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu
seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
Nabi ﷺ memerintahkan umatnya untuk
berpegang teguh pada Sunnah beliau dan Sunnah Khulafaur Rosyidin saat terjadi
perpecahan pemikiran:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Maka wajib
atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang
mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham
kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam
agama...” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)
Beliau ﷺ menegaskan bahwa kelompok
yang selamat dari perpecahan adalah mereka yang berada di atas jalannya dan
jalan para Shohabatnya:
«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
“Yaitu yang
aku dan para Shohabatku berada di atasnya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2641)
Nabi ﷺ memuji generasi Shohabat
sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah:
«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ،
ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik
manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian
orang-orang setelah mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)
‘Ali bin
Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu memberikan pernyataan monumental
tentang kedudukan akal di hadapan syari’at:
لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ
أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ، وَقَدْ «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ
ﷺ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ»
“Seandainya
agama itu berdasarkan akal pikiran semata, niscaya bagian bawah khuff (sepatu)
lebih berhak untuk diusap daripada bagian atasnya…” (HSR. Abu Dawud no. 162)
6.4
Peran Doa dan Istiqomah dalam Menjaga Hidayah
Langkah
paling mendasar dalam menjaga akal agar tetap berada di atas kebenaran adalah
bersandar sepenuhnya kepada Alloh ﷻ melalui doa dan
keistiqomahan. Hidayah adalah hak prerogatif Alloh ﷻ semata; tidak ada seorang pun yang mampu
menjamin keistiqomahan akalnya sendiri tanpa pertolongan-Nya. Betapa banyak
cendekiawan hebat dan ulama besar yang di akhir hayatnya terjerumus ke dalam
keraguan dan kesesatan pemikiran karena mengandalkan kemampuan dirinya sendiri.
Oleh karena itu, seorang Mu’min wajib terus-menerus memohon ketetapan hati dan
perlindungan dari fitnah syubhat hingga akhir hayatnya.
Hendaknya
kita membasahi lisan dengan doa-doa penetap hati yang diajarkan Rosululloh ﷺ, serta aktif memperbarui
ketaatan dan menjauhi lingkungan atau bacaan yang menebarkan syubhat. Alloh ﷻ
mengajarkan doa orang-orang yang berilmu agar terhindar dari penyimpangan hati:
﴿رَبَّنَا
لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً
ۚ
إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ﴾
“Ya Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah
Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari
sisi-Mu; karena sungguh Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron:
8)
Alloh ﷻ juga
memerintahkan untuk memohon petunjuk jalan yang lurus di setiap rokaat Sholat:
﴿اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾
“Tunjukilah
kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Nabi ﷺ memperbanyak doa memohon
ketetapan hati di atas agama Alloh ﷻ:
«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ»
“Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2140)
Banyak
ulama yang menutup kitabnya dengan doa:
«اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا
اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ»
“Ya Alloh,
perlihatkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan karuniakanlah
kepada kami kemampuan untuk mengikutinya, serta perlihatkanlah kepada kami
kebatilan itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kepada kami kemampuan untuk
menjauhinya.”
Nabi ﷺ menegaskan bahwa seluruh hati
manusia berada di antara jemari Alloh ﷻ yang Maha Membolak-balikkan:
«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ
مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»
“Sungguh
hati seluruh anak Adam berada di antara dua jemari dari jemari Ar-Rohman,
bagaikan satu hati, Dia membolak-balikkannya ke mana saja Yang Dia kehendaki.” (HR.
Muslim no. 2654)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) rohimahulloh mengungkapkan kekhawatirannya yang
mendalam akan keselamatan hatinya:
«مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ
نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ»
“Tidak ada
sesuatu yang paling berat untuk aku obati selain niat dan hatiku, karena ia
selalu berbolak-balik atas diriku.” (Khulashoh Ta’zhimil Ilmi, Al-‘Ushoimi,
hal. 8)
Penutup
Keberadaan
akal dan kecerdasan merupakan salah satu ni’mat terbesar yang Alloh ﷻ
karuniakan kepada manusia untuk mengenal Robb-nya, memahami syari’at-Nya, serta
memakmurkan bumi di atas ketaatan. Namun, sejarah dan kenyataan masa kini
membuktikan secara bahwa kecerdasan murni tanpa bimbingan wahyu dan rasa takut
kepada Alloh ﷻ
justru menjadi sumber bencana yang sangat dahsyat. Ketika akal dijadikan
sebagai hakim tunggal yang mengadili Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka lahirlah
kesombongan intelektual yang merusak fithroh, memicu timbulnya berbagai aliran
sesat, serta menyeret pemiliknya beserta orang-orang yang mengikutinya ke dalam
kebinasaan di dunia dan Akhiroh.
Keselamatan
seorang Mu’min yang cerdas hanya dapat diraih dengan menundukkan seluruh rasio
dan keahlian pikirannya di bawah bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai
dengan pemahaman Salafus Sholih dari kalangan para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum.
Dengan
senantiasa memelihara rasa takut kepada Alloh ﷻ, bersikap tawadhu’, menuntut
ilmu syari’ dari sumber yang otentik, serta tidak putus-putusnya berdoa memohon
ketetapan hidayah, maka kecerdasan akal akan menjadi perisai yang kokoh dan
sarana untuk meraih derajat yang tinggi di sisi Alloh ﷻ.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa menjaga hati dan pikiran kita dari penyimpangan syubhat, serta
mengumpulkan kita bersama orang-orang yang bertaqwa di Jannah-Nya.[NK]
[1] Di dalamnya terdapat Mushir bin Abdul Malik, Ibnu Hibban dan selainnya menilainya tsiqoh, namun padanya terdapat perselisihan pendapat. Adapun para perawi lainnya adalah para perawi kitab Shohih. (Majma' Az-Zawa-id wa Manba’ Al-Fawa-id, Nuruddin Al-Haitsami (807 H), 7/202)
