Cari Ebook

[PDF] Sesat Setelah Berpetunjuk Karena Gemar Berdebat - Nor Kandir

 


Sesat Setelah Berpetunjuk Karena Gemar Berdebat

Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 96

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

 

Muqoddimah

Langkah awal dalam meniti jalan petunjuk adalah ni’mat terbesar yang Alloh anugerahkan kepada seorang hamba. Ketika seseorang telah dibukakan hatinya untuk mengenal Sunnah dan kebenaran, semestinya rasa syukur itu diwujudkan dengan beramal sholih, menuntut ilmu yang bermanfaat, serta menjaga kebersihan jiwa dari segala penyakit yang dapat merusaknya. Namun, perjalanan meniti jalan yang lurus tidaklah lepas dari godaan dan fitnah. Salah satu fitnah terbesar yang sering kali menyusup tanpa disadari adalah dorongan untuk senantiasa berbantah-bantahan dan berdebat dalam urusan agama. Betapa banyak orang yang dahulunya berada di atas jalan petunjuk, memiliki kelembutan hati dan semangat beribadah, namun perlahan-lahan kehilangan manisnya iman dan kelezatan ilmu hanya karena menyerahkan dirinya pada perdebatan. Perdebatan dalam urusan agama bukanlah sarana utama untuk meraih kebenaran, melainkan kerap menjadi pintu masuk bagi syaithon untuk menanamkan ujub, kesombongan, keinginan untuk unggul di hadapan manusia, serta pamer kehebatan. Ketika niat mengajar atau membela kebenaran telah tercemar oleh ambisi mengalahkan lawan, maka saat itulah ilmu tidak lagi memancarkan cahayanya, melainkan berubah menjadi tumpukan hujjah yang akan memberatkan pemiliknya di Hari Qiyamah.

Ahli bid’ah dan orang-orang yang melenceng dari jalan Salafus Sholih memiliki karakter khas yang sangat menonjol, yaitu kegemaran mereka dalam memancing perselisihan dan mengutarakan syubhat. Mereka tidak mencari kebenaran dengan dada yang lapang, melainkan mencari kemenangan opini, mencari pamor, serta merusak kemurnian ajaran agama dengan logika-logika yang diada-adakan. Menghadapi kelompok seperti ini dengan cara melayani perdebatan mereka di ruang publik maupun majelis-majelis pertemuan sering kali tidak mendatangkan kebaikan, melainkan hanya membuang waktu, melahirkan dendam, serta mengerasnya hati.

Kewajiban seorang Mu’min yang menginginkan keselamatan agama dan hatinya adalah menyampaikan haq secara lugas, terang, dan santun sebagaimana yang diajarkan oleh Rosululloh dan para Shohabat. Apabila kebenaran tersebut diterima, maka itu adalah karunia dan rohmat dari Alloh. Namun apabila ditolak, seorang Mu’min tidak dibebani kewajiban untuk memaksa atau memuaskan dahaga perdebatan lawan bicaranya, sebab masih sangat banyak masyarakat awam yang merindukan bimbingan dan bersedia menerima kebenaran tanpa harus lalu-lalang dalam percekcokan kata-kata.

Buku ini disusun sebagai peringatan tajam sekaligus penawar bagi jiwa yang rindu akan ketenangan ilmu dan kesucian hati. Buku ini menelusuri akar permasalahan perdebatan hingga jalan keluar yang dicontohkan oleh para pendahulu ummat yang sholih. Bahasan diawali dengan membedah hakikat debat dalam din, memisahkan antara penjelasan haq yang diperintahkan dengan jidal yang dicela, serta menyingkap motif-motif tersembunyi seperti pamer dan kesombongan. Selanjutnya, uraian berpindah pada penyingkapan tabiat ahli bid’ah yang menjadikan perdebatan sebagai alat untuk menjebak dan meraih panggung di hadapan awam. Buku ini kemudian menghadirkan petunjuk eksplisit dari Salafus Sholih tentang bagaimanakah sikap tegas namun bijaksana dalam menghadapi ahli debat, termasuk larangan duduk di majelis mereka dan bagaimana cara menyikapi masyarakat awam. Pada bagian berikutnya, dipaparkan dampak kerusakan akibat perdebatan terhadap pribadi dan ikatan silaturrohim antar sesama Mu’min. Sebagai penutup dari serangkaian bahasan, buku ini menyajikan bimbingan praktis mengenai jalan keselamatan, yaitu dengan mencukupkan diri pada atsar, ridho terhadap ilmu para Salaf, dan senantiasa memohon ketetapan hati kepada Alloh tabaroka wa ta’ala. Semoga lembaran-lembaran ini menjadi petunjuk yang menerangi jalan bagi siapa saja yang ingin selamat dari jurang kesesatan setelah datangnya petunjuk.

Bab 1: Hakikat Debat dalam Din

Bahasan dalam bab ini diarahkan untuk membongkar hakikat perdebatan dalam urusan agama secara mendalam berdasarkan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebelum melangkah pada penanganan fitnah perdebatan di tengah ummat, penting untuk memahami terlebih dahulu bagaimana ajaran Islam memandang tabiat gemar berdebat sebagai salah satu tanda awal berbeloknya seseorang dari garis petunjuk. Uraian akan menegaskan garis pemisah yang sangat jelas antara kewajiban menyampaikan dan menjelaskan kebenaran dengan dorongan hawa nafsu untuk berbantah-bantahan. Selanjutnya, bahasan akan menyingkap tirai motif-motif buruk yang tersembunyi di dalam dada ahli debat, seperti kesombongan, haus pamor, serta dorongan untuk pamer di hadapan manusia, hingga akhirnya ditutup dengan pemaparan tentang bagaimana perdebatan secara perlahan namun pasti dapat merusak kesucian hati seorang hamba.

1.1 Sifat Gemar Berdebat sebagai Tanda Penyimpangan

Keinginan untuk selalu berbantah-bantahan dan merasa paling unggul dalam bersilat lidah merupakan pintu awal bergesernya seseorang dari jalan lurus yang pernah ditapakinya. Ketika ilmu tidak lagi dibimbing oleh rasa takut kepada Alloh dan kerendahan hati, maka ilmu itu hanya akan melahirkan tabiat keras kepala yang selalu mencari celah untuk mendebat setiap kebenaran yang datang. Penyimpangan ini bukan sekadar masalah perbedaan pendapat biasa, melainkan sebuah penyakit jiwa yang telah diwanti-wanti oleh Rosululloh sejak awal Islam berdiri. Orang yang telah terjangkit penyakit ini tidak akan pernah merasa puas sebelum berhasil menjatuhkan lawan bicaranya, meskipun untuk itu ia harus memutarbalikkan nash dan mengabaikan petunjuk yang jelas.

Alloh subhanahu wa ta’ala telah menggambarkan tabiat orang-orang yang menyimpang hatinya ketika mereka dihadapkan pada kebenaran, di mana mereka menjadikan perdebatan sebagai sarana untuk menolak haq:

﴿مَا ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

Mereka tidak membuat perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk berbantah-bantahan saja, bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)

Karakter berbantah-bantahan ini ditegaskan pula oleh Rosululloh dalam sabdanya yang memberikan peringatan keras kepada ummat agar tidak terjerumus ke dalam lubang kesesatan setelah sebelumnya mereka berada di atas hidayah:

«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ»

Tidaklah suatu kaum itu tersesat setelah berada di atas petunjuk melainkan karena mereka diberi kesenangan berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3253 dan Ibnu Majah no. 48)

Peringatan dari Rosululloh tersebut disadari betul oleh para Shohabat dan Tabi’in sebagai sebuah rambu bahaya yang nyata. Kebinasaan ummat-ummat terdahulu sering kali berawal dari hilangnya semangat beramal dan bergantinya hal itu dengan kegemaran berdebat. Hal ini ditegaskan kembali oleh salah seorang ulama Tabi’in, Ma’ruf Al-Karkhi (200 H), yang menyebutkan bahwa perdebatan adalah tanda dicabutnya taufiq dari seorang hamba:

«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَتْحَ لَهُ بَابَ الْعَمَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ شَرًّا فَتَحَ لَهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْعَمَلِ»

Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia membuka baginya pintu amal dan menutup darinya pintu debat. Dan apabila Alloh menghendaki keburukan pada seorang hamba, maka Dia menutup darinya pintu amal dan membuka atasnya pintu debat.” (Iqtidho Al-Ilmi Al-Amal, Al-Khotib Al-Baghdadi, 1/79)

1.2 Perbedaan Antara Menjelaskan Haq dan Berdebat

Banyak orang terkecoh dan menganggap bahwa perdebatan adalah satu-satunya jalan untuk mengibarkan bendera kebenaran. Padahal, terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara menyampaikan nash agama dengan niat ikhlas memberi petunjuk, dibandingkan dengan memasuki gelanggang jidal yang penuh dengan luapan hawa nafsu. Menjelaskan haq dilakukan dengan memaparkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah secara jujur, terang, dan tanpa ambisi pribadi, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Alloh ta’ala. Sebaliknya, perdebatan hampir selalu diselimuti oleh keinginan untuk menang, mempertahankan gengsi, serta memotong argumentasi lawan tanpa peduli apakah kebenaran sedang diinjak-injak atau ditegakkan.

Alloh tabaroka wa ta’ala telah membatasi tata cara dalam berda’wah dan menyampaikan ajaran Islam agar tidak terperosok ke dalam jidal yang saling menjatuhkan:

﴿ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَن

Serulah kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125)

Keutamaan menahan diri dari perdebatan meskipun seseorang berada di pihak yang benar disampaikan langsung oleh Nabi sebagai sebuah jaminan kemuliaan di Jannah:

«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»

Aku menjamin sebuah rumah di pinggir Jannah bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no. 4800)

Pemahaman ini dijaga ketat oleh para Salafus Sholih dalam setiap majelis ilmu mereka. Al-Imam Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya oleh seseorang mengenai seseorang yang memiliki pengetahuan tentang Sunnah, apakah ia boleh berdebat untuk membela Sunnah tersebut? Beliau memberikan jawaban yang sangat tegas:

«لَا، وَلَكِنْ يُخْبِرُ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ قُبِلَتْ مِنْهُ وَإِلَّا سَكَتَ»

Tidak, akan tetapi dia cukup memberitahukan tentang Sunnah tersebut. Jika diterima darinya maka alhamdulillah, dan jika tidak maka hendaklah dia diam.” (Jami Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr, 2/935)

1.3 Motif Buruk di Balik Perdebatan: Kesombongan dan Pamer

Apabila diteliti secara jujur, dorongan utama yang membuat seseorang betah melayani perdebatan jam demi jam adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ada dahaga besar dalam jiwa yang ingin diakui sebagai orang yang paling berilmu, paling tajam logikasinya, dan paling cerdas dalam mematahkan alur berpikir orang lain. Pamer kemampuan bersilat kata dan mengejar kemasyhuran di mata awam menjadi bahan bakar utama yang terus menyalakan api perdebatan. Seseorang yang telah dikuasai motif buruk ini tidak lagi peduli apakah kalimat yang keluar dari mulutnya jujur atau rekaan, sebab fokus utamanya hanyalah panggung pujian dan tepuk tangan manusia.

Alloh subhanahu wa ta’ala menyingkap kebiasaan orang-orang yang kesombongan telah merasuk ke dalam dada mereka, di mana mereka menolak ayat-ayat Alloh dengan jalan berdebat:

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِى ءَايَٰتِهِ بَغَيْرِ سُلْطَٰنٍ أَتَىٰهُمْ ۙ إِن فِى صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَٰلِغِيهِ

Sungguh orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Alloh tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada di dalam dada mereka melainkan hanyalah kesombongan yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya.” (QS. Ghofir: 56)

Ancaman sangat mengerikan ditujukan bagi siapa saja yang menuntut ilmu agama dan menggunakannya untuk menyaingi para ulama atau berdebat dengan orang-orang bodoh demi meraih perhatian manusia. Rosululloh bersabda:

«مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ»

Siapa yang menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia kepadanya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam Naar.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2654)

Bahaya pamer dan ujub dalam perdebatan ini dijelaskan secara mendalam oleh Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H). Beliau menegaskan bahwa keterikatan hati pada pujian manusia melalui jalan perdebatan akan mencabut rasa takut kepada Alloh dari dalam jiwa:

«خَصْلتَانِ تُقَسِّيَانِ القَلْبَ: كَثْرَةُ الكَلاَمِ، وَكَثْرَةُ الأَكلِ»

Dua hal yang dapat mengeras hati: terlalu banyak bicara dan terlalu banyak makan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 8/440)

Apabila kamu hendak mengucapkan suatu perkataan maka pikirkulah, jika itu karena Alloh maka berbicaralah, dan jika karena selain Alloh maka diamlah.

1.4 Bahaya Perdebatan Terhadap Kesucian Hati

Kesucian hati merupakan modal utama seorang Mu’min untuk bisa merasakan manisnya ibadah dan kebenaran. Namun, majelis perdebatan adalah rawa-rawa keruh yang dapat dengan cepat meracuni kebersihan jiwa tersebut. Ketika seseorang masuk ke dalam arena jidal, hatinya akan dipenuhi oleh prasangka buruk, kejengkelan, dendam, serta rasa dengki apabila lawan bicaranya menunjukkan kebenaran. Perdebatan mati-matian akan mengikis rasa khusyuk dalam sholat, menghilangkan kelembutan saat membaca Al-Qur’an, dan menggantikannya dengan watak keras, kasar, serta mudah berprasangka pada sesama Muslim.

Alloh tabaroka wa ta’ala melarang para hamba-Nya terjerumus ke dalam perbuatan yang dapat mengotor jiwa dan melahirkan dosa-dosa hati:

﴿وَذَرُوا ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ وَبَاطِنَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ

Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sungguh orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi pembalasan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 120)

Dampak buruk perdebatan terhadap hubungan persaudaraan dan kebersihan hati disinggung oleh Rosululloh dalam petunjuk beliau yang melarang percekcokan antar sesama:

«لَا تُمَارِ أَخَاكَ، وَلَا تُمَازِحْهُ، وَلَا تَعِدْهُ مَوْعِدًا فَتُخْلِفَهُ»

Janganlah kamu berdebat dengan saudaramu, jangan memainkannya, dan jangan menjanjikannya suatu janji lalu kamu memungkirinya.” (HR. At-Tirmidzi no. 1995. Al-Munawi berkata: isnadnya jayyid)

Kerusakan hati akibat perdebatan ini disaksikan langsung oleh para ulama Salaf. Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Hasan (145 H) memberikan nasihat yang sangat berharga mengenai bagaimana perdebatan memusnahkan kebaikan hati:

«الْمِرَاءُ يُفْسِدُ الصَّدَاقَةَ الْقَدِيمَةَ وَيَحِلُّ الْعُقْدَةَ الْوَثِيقَةَ، وَأَقَلُّ مَا فِيهِ أَنْ تَكُونَ الْمُغَالَبَةُ، وَالْمُغَالَبَةُ أَمْتَنُ أَسْبَابِ الْقَطِيعَةِ»

Perdebatan itu merusak persahabatan yang lama, menguraikan ikatan yang kuat, dan sejatinya hal terkecil di dalamnya adalah keinginan untuk saling mengalahkan, sedangkan keinginan saling mengalahkan adalah pokok dari putusnya silaturrohim.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/952)

 

Bab 2: Ahli Bid’ah dan Tabiat Gemar Berdebat

Pada bab ini, bahasan akan dibongkar secara tajam guna menyingkap tabiat serta perangai asli ahli bid’ah dalam berinteraksi dengan ajaran agama. Mereka tidak menjadikan nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pemimpin yang harus ditaati, melainkan menundukkan dalil-dalil tersebut di bawah kendali hawa nafsu dan rasionalitas mereka yang terdistorsi. Uraian dalam bab ini akan memperlihatkan bagaimana arena perdebatan sengaja diciptakan oleh mereka bukan untuk mencari kebenaran yang haq, melainkan semata-mata demi meruntuhkan argumentasi lawan, memburu panggung di hadapan masyarakat awam, serta menyebarkan syubhat. Pada akhirnya, bab ini memaparkan gambaran kerusakan nyata yang ditimbulkan oleh aktivitas jidal mereka terhadap keutuhan dan ketentraman ummat Islam.

2.1 Menyimpang dari Nash Demi Membela Hawa Nafsu

Ciri utama ahli bid’ah yang paling kentara adalah kebiasaan mereka memalingkan makna nash dari jalan yang lurus demi menyesuaikannya dengan pemikiran dan hawa nafsu kelompoknya. Ketika dalil yang shohih dihadapkan kepada mereka, mereka tidak akan menerimanya dengan ketundukan jiwa, melainkan segera mencari celah-celah takwil yang menyimpang, memotong kalimat, atau mencari rincian yang tidak pernah dikenal oleh generasi Salaf. Kebiasaan mempertanyakan dan membantah nash ini timbul akibat hilangnya rasa pengagungan terhadap wahyu Alloh di dalam dada, sehingga setiap perintah dan larangan agama selalu diuji terlebih dahulu melalui timbangan logika mereka yang rusak.

Alloh subhanahu wa ta’ala telah membeberkan watak asli orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kecenderungan pada penyimpangan, di mana mereka sengaja memburu ayat-ayat yang samar demi menimbulkan fitnah dan perdebatan:

﴿فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ

Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS. Ali ‘Imron: 7)

Nabi secara khusus memperingatkan para Shohabat dan seluruh ummat beliau agar bersikap waspada dan menjaga jarak apabila mendapati kelompok yang memiliki tabiat mengejar ayat-ayat mutasyabihat untuk berbantah-bantahan:

«فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ»

Apabila kamu (wahai Aisyah) melihat orang-orang yang mengikuti apa yang samar dari Al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamakan oleh Alloh, maka waspadalah terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 4547 dan Muslim no. 2665)

Sikap pantang menyerahkan kebenaran pada hawa nafsu ahli debat ini diteladani dengan amat tegas oleh para Tabi’in. Ayyub As-Sikhtiyani (131 H) menceritakan bagaimana para ulama Salaf menolak keras mendengarkan satu patah kata pun dari orang yang hendak memperdebatkan nash Al-Qur’an menggunakan hawa nafsunya:

«إِنَّ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ أَهْلُ الضَّلَالَةِ، وَلَا أَرَى مَصِيرَهُمْ إِلَّا إِلَى النَّارَ»

Sungguh ahli hawa nafsu adalah orang-orang sesat, dan aku tidak melihat tempat kembali mereka melainkan ke dalam Naar.” (HR. Ad-Darimi, no. 101)

2.2 Berdebat Bukan Mencari Keberkahan Ilmu tetapi Mengalahkan Lawan

Niat dasar yang melandasi seseorang ketika melangkah ke dalam majelis ilmu sangat menentukan apakah ia akan mendapatkan keberkahan ataukah kehinaan. Ahli bid’ah memasuki arena perdebatan tanpa dibekali rasa dahaga akan petunjuk dan kebenaran; yang ada di dalam benak mereka hanyalah bagaimana cara merubuhkan wibawa lawan, mematahkan kata-kata, dan keluar sebagai pemenang di hadapan khalayak. Kemenangan retorika menjadi tuhan yang disembah, sehingga sekalipun kebenaran telah terpampang terang di depan mata, mereka akan tetap bertahan di atas kebatilan demi menyelamatkan gengsi dan harga diri kelompoknya.

Alloh tabaroka wa ta’ala menggambarkan bagaimana orang-orang yang zholim menggunakan perdebatan sebagai perisai untuk mempertahankannya kebatilan mereka:

﴿وَيُجَٰدِلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا بِٱلْبَٰطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ ٱلْحَقَّ

Dan orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang haq.” (QS. Al-Kahfi: 56)

Ancaman kebinasaan bagi orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan kata dan alat untuk saling menjatuhkan diuraikan oleh Rosululloh dalam sabdanya:

«إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ الخَصِمُ»

Sungguh lelaki yang paling dibenci oleh Alloh adalah orang yang paling keras berbantah-bantahan.” (HR. Al-Bukhori no. 2457 dan Muslim no. 2668)

Ketegasan Salafus Sholih dalam membongkar niat busuk para ahli jidal ini terekam jelas dalam ucapan Al-Hasan Al-Bashri (110 H). Ketika beliau mendatangi sekelompok orang yang sedang berdebat sengit mengenai urusan agama, beliau menegur mereka dengan kalimat yang sangat menohok:

«هَؤُلاَءِ قَوْمٌ مَلُّوا الْعِبَادَةَ، وَخَفَّ عَلَيْهِمُ القَوْلَ، وَقَلَّ وَرَعُهُمْ فَتَكَلَّمُوا»

Mereka itu adalah orang-orang yang telah bosan dari beribadah, pembicaraan terasa ringan bagi mereka, dan waro’ (kehati-hatian) mereka amat sedikit, sehingga mereka pun bebas berbicara.” (Fadhlu Ilmi Salaf ala Ilmi Kholaf, Ibnu Rojab, 3/20)

2.3 Fenomena Menjebak dan Cari Panggung di Hadapan Awam

Salah satu strategi paling jahat yang kerap dilancarkan oleh ahli bid’ah adalah memanfaatkan ketidakfahaman masyarakat awam demi keuntungan popularitas mereka. Mereka enggan berhadapan secara jujur dengan para ulama yang mendalam ilmunya, melainkan sengaja melempar isu-isu syubhat dan perdebatan di ruang-ruang terbuka, pasar, maupun media publik yang disaksikan oleh orang banyak. Tujuan mereka sederhana: memprovokasi, menjebak Muslim yang awam agar ragu terhadap keyakinannya, serta mencitrakan diri sebagai pihak yang paling kritis dan berani. Mereka menjual keraguan untuk memburu panggung pujian dan pengakuan keberadaan dari masyarakat.

Alloh subhanahu wa ta’ala mengingatkan akan bahaya perkataan manis yang diutarakan oleh orang-orang yang pada hakikatnya memendam musuhan yang sengit:

﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ

Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh atas apa yang ada dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqoroh: 204)

Pola pergerakan penyebar fitnah yang menggunakan lisan halus demi menyesatkan masyarakat awam telah disinyalir oleh Nabi dalam khawatirnya beliau terhadap para pemimpin penyesat:

«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ»

Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas ummatku hanyalah keberadaan para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi no. 2229)

Kesadaran para ulama Salaf terhadap bahaya propaganda ahli bid’ah di hadapan awam membuat mereka melarang keras menghadiri acara perdebatan mereka. Muhammad bin Sirin (110 H) bahkan menolak menutup telinganya dari mendengarkan satu ayat pun jika dibacakan oleh ahli bid’ah:

«وَلَا نِصْفَ كَلِمَةٍ، وَلَا نِصْفَ كَلِمَةٍ»

Tidak, walaupun hanya setengah kata! Tidak, walaupun hanya setengah kata!” (Al-Ibanah Al-Kubro, Ibnu Batthoh, 1/447)

Beliau menutup telinganya dengan jarinya, karena hati itu lemah sedangkan syubhat-syubhat itu sangat menyambar-nyambar.

2.4 Kerusakan yang Ditimbulkan Ahli Bid’ah di Tengah Ummat

Aktivitas perdebatan yang diusung oleh ahli bid’ah tidak pernah melahirkan kedamaian maupun kejayaan bagi Islam. Sebaliknya, jidal yang mereka tebarkan menjadi racun pembunuh yang merobek-robek persatuan persaudaraan Islam, menyemai rasa saling curiga, serta memalingkan energi ummat dari perjuangan beramal sholih dan menuntut ilmu yang bermanfaat. Ketika debat telah membudaya, majelis-majelis ilmu tidak lagi dihiasi oleh rasa takut kepada Alloh dan tangisan keinsafan, melainkan berubah menjadi gelanggang sorak-sorai, kebanggaan kelompok, dan ajang menghujat sesama Mu’min.

Alloh tabaroka wa ta’ala melarang tegas para hamba-Nya terjerumus ke dalam perselisihan yang dapat melumpuhkan kekuatan dan kejayaan ummat:

﴿وَأَطِيعُوا ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلاَ تَنَٰزَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sungguh Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)

Nabi menjelaskan bahwasanya kehancuran ummat-ummat terdahulu dipicu oleh kebiasaan mereka yang gemar berselisih dan mempertanyakan petunjuk nabi-nabi mereka secara berlebihan:

«فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ»

Maka sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 7288 dan lafazh Muslim no. 1337)

Pengamatan yang amat dalam mengenai kerusakan akibat jidal ini disampaikan oleh Sufyan Ats-Tsauri (161 H). Beliau menggarisbawahi bahwa bahaya ahli bid’ah dan perdebatan mereka jauh lebih merusak tatanan keagamaan masyarakat dibandingkan maksiat biasa:

«الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ، وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا»

Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat biasa. Maksiat biasa masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat darinya.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i, 1/149)

Bab 3: Bimbingan Salafus Sholih dalam Menyikapi Ahli Debat

Melalui bab ini, alur pembicaraan diarahkan untuk membedah petunjuk konkret yang diwariskan oleh generasi Salafus Sholih ketika menanggapi gempuran perdebatan dari para pengusung kebatilan. Sikap para pendahulu yang sholih tidaklah lahir dari keputusasaan atau kekalahan argumentasi, melainkan dibangun di atas ilmu yang mendalam serta pemahaman terhadap kaidah-kaidah menjaga kesucian agama dan keselamatan jiwa. Pemaparan dalam bab ini akan mengurai larangan tegas untuk menghadiri atau memfasilitasi majelis jidal, menegaskan bahwa penolakan untuk berdebat adalah wujud kekuatan iman, menjelaskan tatacara menyampaikan kebenaran secara tegas tanpa terseret percekcokan, serta menyajikan bimbingan santun namun berprinsip dalam menuntun masyarakat awam.

3.1 Perintah Larangan Duduk dan Majelis Bersama Ahli Debat

Langkah preventif paling utama dalam menjaga kestabilan aqidah dan kebersihan hati dari racun syubhat adalah memutus akses komunikasi yang melayani perdebatan dengan ahli bid’ah. Para Salafus Sholih sangat memahami bahwa pikiran manusia memiliki keterbatasan dan hati sangat mudah terpancing oleh keraguan yang disusupkan secara halus melalui majelis jidal. Oleh sebab itu, mereka menetapkan aturan yang sangat ketat: melarang duduk bersama mereka, menghadiri majelis diskusi mereka, bahkan sekadar membaca atau mendengarkan tulisan-tulisan mereka.

Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan perintah yang sangat jelas kepada orang-orang beriman agar segera meninggalkan majelis yang di dalamnya terdapat perbuatan memperolok atau memperdebatkan ayat-ayat-Nya:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِى ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan yang lain. Dan jika syaithon menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk sesudah teringat itu bersama orang-orang yang zholim.” (QS. Al-An’am: 68)

Peringatan tegas agar tidak mendekati rawa-rawa fitnah dan tidak menyanggupi perdebatan tanpa kesiapan ilmu yang memadai disabdakan oleh Nabi dalam petunjuk beliau mengenai fitnah Dajjal:

«مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ، فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ، مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ»

Siapa yang mendengar tentang Dajjal maka hendaklah dia menjauh darinya. Demi Alloh, sungguh ada seorang lelaki yang mendatanginya dan dia mengira bahwasanya dirinya adalah seorang Mu’min, lalu dia justru mengikutinya disebabkan syubhat-syubhat yang ditimbulkannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4319)

Ketegasan dalam menerapkan prinsip penjagaan ini ditunjukkan oleh Muhammad bin Sirin (110 H). Sholih Al-Murri berkata: Salm bin Qutaibah datang kepada Muhammad bin Sirin lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu dari takdir. Muhammad pun berkata kepadanya:

«اخْتَرْ إِمَّا أَنْ تَقُومَ عَنِّي، وَإِمَّا أَنْ أَقُومَ عَنْكَ»

“Pilihlah, kamu berdiri meninggalkanku, atau aku yang berdiri meninggalkanmu!” (Al-Qodho’ wal Qodar, Al-Baihaqi, 1/316)

3.2 Sikap Menolak Berdebat Bukan Tanda Kelemahan

Sering kali ahli bid’ah dan para penggila perdebatan melempar tuduhan bahwa siapa saja yang enggan melayani perdebatan mereka adalah orang yang penakut, lemah secara intelektual, atau tidak memiliki argumentasi. Ini adalah persepsi yang sangat keliru. Menolak masuk ke dalam gelanggang jidal sejatinya merupakan manifestasi tertinggi dari kedewasaan ilmu dan keteguhan waro’. Seseorang yang berilmu tidak akan menjual ketenangan hatinya hanya demi memuaskan nafsu bertengkar orang lain; ia menyadari betul bahwa kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah terlalu mulia untuk dijadikan taruhan dalam ajang adu retorika.

Alloh tabaroka wa ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beriman yang memilih melangkah berlalu dengan penuh wibawa ketika dihadapkan pada omongan kosong dan ajakan percekcokan dari orang-orang bodoh:

﴿وَإِذَا سَمِعُوا ٱللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ لاَ نَبْتَغِى ٱلْجَٰهِلِينَ

Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya dan berkata: ‘Bagi kami amalan-amalan kami dan bagimu amalan-amalanmu, kesejahteraan atasmu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qoshosh: 55)

Nabi menegaskan bahwa keperkasaan seorang Mu’min yang sejati tidak diukur dari kemampuannya menjatuhkan lawan bicara dalam pergulatan kata-kata, melainkan dari kemampuannya mengendalikan hawa nafsu saat amarah memuncak:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»

Bukanlah orang yang kuat itu dengan menang bergulat, melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Jawaban bernas mengenai anggapan lemah ini dicontohkan oleh Umar bin Abdul Aziz (101 H). Beliau menegaskan bahwasanya orang yang senantiasa berpindah-pindah dalam menetapkan aqidah akibat perdebatan adalah orang yang sebenarnya tidak memiliki pijakan:

«مَنْ جَعَلَ دِينَهُ غَرَضًا لِلْخُصُومَاتِ أَكْثَرَ التَّنَقُّلَ»

Siapa yang menjadikan agamanya sebagai sasaran perdebatan, maka dia akan paling sering berpindah-pindah keyakinan.” (Al-Ibadah Al-Kubro, Ibnu Batthol, 2/508)

3.3 Menyampaikan Haq Tanpa Membuka Pintu Debat

Tugas utama seorang da’i atau penuntut ilmu adalah menyampaikan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah secara terang benderang sebagaimana adanya, bukan memaksakan agar semua orang tunduk seketika melalui jalan percekcokan. Menyampaikan kebenaran harus dilakukan dengan metode yang lurus: bacakan ayatnya, sebutkan haditsnya yang shohih, jelaskan pemahaman Salafus Sholih padanya, lalu cukupkan sampai di sana. Apabila pihak lawan mulai menunjukkan gelagat enggan dan hendak menyeret pembicaraan ke dalam pusaran perdebatan kusut, maka tindakan paling bijaksana adalah berhenti menguraikan kata-kata dan menyerahkan hidayah kepada Alloh.

Alloh subhanahu wa ta’ala mengingatkan Nabi-Nya agar tidak membebani diri secara berlebihan atas penolakan orang-orang yang tidak mau beriman, sebab tugas Rosul hanyalah menyampaikan:

﴿فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ

Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan.” (QS. Asy-Syuuro: 48)

Nabi mengajarkan kehati-hatian dalam memberikan ilmu agar ilmu tersebut tidak ditumpahkan kepada orang-orang yang hanya berniat mempermainkannya:

«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»

Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)

Petunjuk teknis dalam membatasi pembicaraan agar tidak berubah menjadi perdebatan diterangkan oleh Al-Imam Malik (179 H). Beliau berkata:

«لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تُجَادِلَ عَنِ السُّنَّةِ، بَلِ السُّنَّةُ أَنْ تُخْبِرَ بِهَا، فَإِنْ سُمِعَتْ مِنْكَ وَإِلَّا سَكَتَّ»

“Bukanlah termasuk Sunnah kamu berdebat membela Sunnah. Namun yang termasuk Sunnah adalah kamu mengabarkannya. Jika diindahkan darimu, maka diterimanya. Jika tidak, maka hendaklah kamu diam.” (Shifatul Fatwa, Ibnu Hamdan (695 H), 1/49)

3.4 Menyikapi Orang Awam yang Belum Memahami Syari’at

Masyarakat awam berbeda dengan ahli bid’ah yang berniat jahat. Kebanyakan dari masyarakat awam yang terseret dalam perdebatan atau memegang keyakinan yang keliru sejatinya bertindak demikian karena keterbatasan pengetahuan dan minimnya akses terhadap pengajaran yang murni. Dalam menghadapi mereka, seorang pembawa kebenaran tidak boleh bersikap kasar, tinggi hati, atau langsung mengvonis mereka dengan tuduhan-tuduhan berat. Pendekatan kepada awam wajib dihiasi dengan kelembutan, kesabaran, serta pemaparan bukti-bukti syari’at yang mudah dicerna tanpa harus membawa mereka ke dalam kerumitan istilah-istilah jidal yang dapat membingungkan pikiran mereka.

Alloh tabaroka wa ta’ala mengingatkan akan pentingnya sifat lemah lembut dalam mendidik dan membimbing manusia menuju jalan agama-Nya:

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِك

Maka disebabkan rohmat dari Allohkah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)

Kasih sayang Rosululloh dalam menuntun orang yang belum faham hukum ditunjukkan secara sempurna ketika seorang Arob Badui kencing di dalam Masjid. Beliau menahan para Shohabat yang hendak menindaknya dengan keras, seraya bersabda:

«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»

Biarkanlah dia dan tuangkanlah di atas bekas kencingnya itu setimba air atau seember air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah dan tidak diutus untuk dipersulit.” (HR. Al-Bukhori no. 220)

Pelajaran berharga mengenai tata cara mendidik masyarakat awam secara bijak disampaikan oleh Ali bin Abi Tholib (40 H). Beliau mengingatkan bahwa penyampaian ilmu kepada orang yang belum siap justru dapat menimbulkan bahaya baru jika tidak ditakar dengan tepat:

«حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟»

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, apakah kalian suka jika Alloh dan Rosul-Nya didustakan?” (HR. Al-Bukhori no. 127)

Bab 4: Dampak Buruk Perdebatan bagi Pribadi dan Masyarakat

Melalui pembahasan di bab ini, fokus uraian bergeser untuk membedah luka-luka rohani dan sosial yang ditimbulkan oleh budaya gemar berdebat. Perdebatan bukanlah persoalan adu lisan yang berhenti saat majelis usai, melainkan sebuah penyakit sistematis yang dampaknya menjalar menghancurkan bagian terpenting dari kehidupan seorang hamba dan tatanan masyarakatnya. Uraian akan menelusuri bagaimana jidal sanggup mengunci pintu-pintu hidayah dan mengeras jiwa, memutuskan tali ikatan silaturrohim antar sesama Mu’min, mencabut kelezatan ibadah serta keberkahan ilmu, hingga pada titik yang paling mengerikan: meruntuhkan keteguhan istiqomah seseorang di atas jalan yang lurus.

4.1 Tertutupnya Pintu Hidayah dan Kerasnya Hati

Dampak paling awal dan paling mengerikan yang dialami oleh seorang penggila debat adalah pengerasan hati secara bertahap hingga akhirnya kebenaran sulit menembus masuk ke dalamnya. Ketika seseorang terbiasa menolak argumentasi lawan demi mempertahankan gengsi, mekanisme pertahanan jiwanya akan membentuk watak penentang terhadap setiap nasihat. Meskipun dalil yang dibacakan berada di depan matanya, hatinya sibuk mencari celah untuk membantah, bukan tunduk menghayati. Kondisi ini membuat cahaya petunjuk perlahan-lahan meredup dan berganti dengan kegelapan ujub yang mengunci rapat pintu hidayah.

Alloh subhanahu wa ta’ala menggambarkan bagaimana siksaan berupa penguncian hati ditimpakan kepada orang-orang yang melampaui batas dalam menentang kebenaran:

﴿كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Demikianlah Alloh mengunci mati setiap hati orang yang sombong lagi berbuat sewenang-wenang.” (QS. Ghofir: 35)

Peringatan dari Salaf mengenai keberadaan penyakit hati yang timbul akibat terlalu banyak berbantah-bantahan terekam dalam petunjuk beliau tentang tanda-tanda kebinasaan jiwa. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata:

«أَرْبَعٌ مِنْ أَعْلَامِ الشَّقَاءِ: قَسْوَةُ الْقَلْبِ، وَجُمُودُ الْعَيْنِ، وَطُولُ الْأَمَلِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا»

Empat hal yang termasuk tanda kesengsaraan: keringnya air mata, kerasnya hati, panjangnya angan-angan, dan kerakusan terhadap dunia.” (Az-Zuhdu, Ibnu Abid-Dunya, no. 36)

Penjelasan mengenai hilangnya sensitivitas rohani akibat majelis jidal ini diuraikan oleh Malik bin Dinar (130 H). Beliau menegaskan bahwasanya hukuman paling berat yang tidak disadari oleh seorang hamba adalah dicabutnya rasa khusyuk dari dalam dadanya:

«مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ قَسْوَةِ قَلْبٍ»

Tidaklah seorang hamba dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar daripada dikaruniai hati yang keras.” (Kitab Az-Zuhd, Ahmad bin Hanbal, no. 1871)

4.2 Timbulnya Permusuhan dan Putusnya Silaturrohim

Perdebatan dalam agama adalah benih paling subur yang menumbuhkan rasa saling benci, dengki, dan prasangka buruk di antara sesama Muslim. Majelis yang semula dimaksudkan untuk membahas kebaikan dapat berubah menjadi medan permusuhan hanya karena luapan kata-kata yang saling menjatuhkan. Ikatan persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun di atas iman dapat retak seketika ketika ego masing-masing pihak tersenggol dalam perdebatan. Rasa cinta karena Alloh berganti menjadi rasa puas apabila melihat saudaranya jatuh atau terpojok dalam adu argumentasi.

Alloh tabaroka wa ta’ala melarang perselisihan yang sengaja ditiupkan oleh syaithon untuk merusak ikatan kasih sayang di antara sesama Mu’min:

﴿إِنَّمَا يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ وَٱلْبَغْضَآءَ

Sesungguhnya syaithon itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 91)

Nabi mengingatkan bahwasanya perbuatan yang merusak keharmonisan hubungan persaudaraan Islam adalah pengikis agama yang sangat berbahaya:

«إِيَّاكُمْ وَسُوءَ ذَاتِ البَيْنِ فَإِنَّهَا الحَالِقَةُ»

Waspadalah kalian dari rusaknya hubungan persaudaraan, karena sesungguhnya perusakan hubungan itu adalah pengikis (agama).” (HHR. At-Tirmidzi no. 2508)

Ibnu Abdil Barr (463 H) berkata:

«وَالْمِرَاءُ لَا تُؤْمَنُ فِتْنَتُهُ وَلَا تُفْهَمُ حِكْمَتُهُ»

Perdebatan itu tidak akan dapat dipahami hikmahnya dan tidak aman dari fitnahnya.” (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr, 3/412)

4.3 Hilangnya Kelezatan Ibadah dan Manfaat Ilmu

Seseorang yang waktunya dihabiskan untuk memikirkan strategi perdebatan dan menyusun tangkisan kata-kata akan kehilangan hal paling berharga dalam Islam: kelezatan beribadah. Sholatnya menjadi kosong dari rasa khusyuk karena pikirannya dipenuhi oleh ingatan akan kalimat-kalimat lawan bicaranya. Membaca Al-Qur’an tidak lagi melahirkan tangisan keinsafan, melainkan berubah menjadi pencarian ayat-ayat yang bisa dijadikan senjata untuk memukul pihak lain. Ilmu yang dikumpulkannya tidak lagi memancarkan kelembutan dan waro’, melainkan bertransformasi menjadi beban tak berguna yang dicabut keberkahannya oleh Alloh.

Al-Qur’an dan ilmu syari’at diturunkan untuk menjadi penawar dan rohmat bagi jiwa yang tulus, bukan sebagai alat kesombongan:

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلاَ يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rohmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zholim selain kerugian.” (QS. Al-Isro’: 82)

Nabi memohon perlindungan dari ilmu yang tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya serta dari hati yang tidak khusyuk:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا»

Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim no. 2722)

Kerugian besar berupa hilangnya keberkahan ilmu ini digambarkan secara indah oleh Al-Hasan Al-Bashri (110 H). Beliau menjelaskan tanda-tanda keberkahan ilmu yang sesungguhnya terekspresikan pada perilaku dan kerendahan hati:

«كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي تَخَشُّعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَلِسَانِهِ، وَيَدِهِ، وَصَلَاتِهِ، وَحَدِيثِهِ، وَزُهْدِهِ»

Apabila seseorang menuntut ilmu, maka tidak lama kemudian hal itu akan terlihat pada kekhusyukannya, pandangannya, lisannya, tangannya, sholatnya, ucapannya, dan kesederhanaan hidupnya.” (Al-Zuhd, Ibn Al-Mubarok, hal. 26)

4.4 Terhalang dari Jalan Istiqomah

Ujung dari kegemaran berdebat yang paling mengkhawatirkan adalah tergelincirnya seseorang dari keteguhan di atas jalan lurus (istiqomah). Ketika perdebatan dijadikan konsumsi harian, pikiran seseorang akan senantiasa terombang-ambing oleh syubhat baru yang didengarnya. Keraguan-keraguan kecil yang disusupkan oleh ahli jidal dapat mengendap di dalam dada dan merusak pilar-pilar keyakinan tanpa disadari. Banyak orang yang semula kokoh memegang Sunnah, akhirnya berbelok arah, ragu terhadap prinsip aqidahnya sendiri, bahkan meninggalkan pengamalan syari’at hanya karena seringnya ia mendengarkan dan melayani perdebatan orang-orang sesat.

Alloh tabaroka wa ta’ala memperingatkan agar orang-orang beriman menjaga diri dari langkah-langkah yang dapat memalingkan mereka dari jalan-Nya setelah petunjuk itu datang:

﴿وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلاَ تَتَّبِعُوا ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu memcerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Nabi menggambarkan betapa cepatnya perubahan hati manusia yang tidak dijaga dengan istiqomah dan doa ketetapan:

«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»

Sesungguhnya hati semua anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rohman bagaikan satu hati, Dia memalingkannya ke mana saja Yang Dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 2654)

Siapa yang mendengar suatu bid’ah maka janganlah dia menceritakannya kepada teman-teman duduknya agar dia tidak memasukkan bid’ah itu ke dalam hati mereka.

 

Bab 5: Jalan Keselamatan bagi Seorang Mu’min

Bahasan dalam bab ini dirancang sebagai puncak petunjuk praktis sekaligus kompas penuntun bagi setiap hamba yang merindukan keselamatan agamanya di tengah kecamuk fitnah jidal. Setelah mengenali hakikat perdebatan, tabiat ahli bid’ah, serta kehancuran yang ditimbulkannya, bab ini menyajikan pilar-pilar utama yang wajib dipegang teguh oleh seorang Mu’min. Uraian akan membimbing pembaca untuk mencukupkan diri pada jalur atsar Salafus Sholih, merasa ridho dengan ilmu yang diwariskan oleh para pendahulu yang sholih tanpa perlu menambah hal-hal baru, mengalihkan seluruh konsentrasi pada perbaikan amalan hati, serta membumikan ketergantungan jiwa hanya kepada Alloh tabaroka wa ta’ala melalui doa mohon ketetapan hati hingga akhir hayat.

5.1 Cukup dengan Mengikuti Atsar dan Menjauhi Jidal

Benteng paling kokoh yang dapat melindungi keselamatan aqidah dan kesucian jiwa seorang Mu’min adalah mencukupkan diri pada riwayat dan atsar yang shohih dari Nabi serta para Shohabat. Ketika seseorang telah memiliki keyakinan yang mantap terhadap kecukupan wahyu, maka keinginan untuk menjelajahi arena perdebatan otomatis memudar. Keindahan Islam terletak pada ketundukan untuk mengikuti jejak petunjuk yang sudah jelas, bukan pada keberanian merintis jalan pemikiran baru melalui silat kata yang melampaui batas-batas syari’at.

Alloh subhanahu wa ta’ala memberikan arahan tegas kepada seluruh hamba-Nya agar berpegang teguh pada tali agama dan tidak berpaling dari ajaran yang telah diturunkan:

﴿ٱتَّبِعُوا مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’rof: 3)

Petunjuk mengenai keharusan berpegang pada Sunnah dan jalan Khulafaur Rosyidin saat timbulnya perselisihan disabdakan secara rinci oleh Nabi :

«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ»

Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)

Prinsip dasar ini ditegaskan secara abadi oleh Al-Imam Az-Zuhri (124 H). Beliau menyampaikan kalimat mulia yang menjadi pilar pegangan para penuntut ilmu sepanjang zaman:

«الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ»

Berpegang teguh pada Sunnah adalah keselamatan.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i, 1/63)

5.2 Ridho dengan Ilmu Salaf dan Menolak Hal Baru

Sikap ridho terhadap ilmu yang dipercayai dan diamalkan oleh para Shohabat serta Tabi’in merupakan kunci ketenangan jiwa seorang Mu’min. Generasi Salafus Sholih adalah manusia-manusia yang paling dalam ilmunya, paling bersih hatinya, dan paling sedikit membebani diri dengan kerumitan yang tidak berguna. Segala hal dalam masalah aqidah dan asas-asas agama yang tidak pernah mereka perdebatkan, maka tidak sepatutnya bagi generasi belakangan untuk membukanya kembali. Menolak hal-hal baru dalam agama adalah konsekuensi logis dari rasa cukup terhadap kesempurnaan syari’at yang telah diridhoi Alloh.

Alloh tabaroka wa ta’ala telah menegaskan kesempurnaan ajaran Islam yang tidak membutuhkan tambahan maupun perdebatan baru:

﴿ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Peringatan keras Rosululloh terhadap setiap amalan atau pemikiran baru yang dimasukkan ke dalam ajaran agama tertuang dalam sabda beliau:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»

Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan berasal darinya, maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Nasihat monumental terkait hal ini dirumuskan oleh Abdullah bin Mas’ud (32 H). Beliau memberikan petunjuk yang sangat jernih agar ummat tidak membebankan diri dengan hal-hal yang tidak diwariskan oleh Salaf:

«اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ»

Ikutilah oleh kalian (petunjuk Salaf) dan janganlah kalian membuat bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupkan.” (Al-Zuhd, Waki’ bin Al-Jarroh, no. 315)

5.3 Fokus Amalan Hati dan Perbaikan Diri

Daripada menghabiskan umur dan energi untuk melayani perdebatan yang melahirkan kegelapan jiwa, seorang Mu’min yang cerdas akan mengalihkan seluruh perhatiannya pada perbaikan kualitas ibadah dan pembersihan amalan hati. Waktu yang berharga dimanfaatkan untuk introspeksi diri, memperbaiki keikhlasan, memperbanyak istighfar, menangisi dosa-dosa pribadi, serta meningkatkan khusyuk dalam sholat. Ketika seseorang sibuk menghitung kekurangan diri dan memperbaiki hubungannya dengan Alloh, ia tidak lagi memiliki minat maupun waktu luang untuk ikut campur dalam keributan jidal.

Alloh subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwasanya keberuntungan yang sejati di akhirat kelak hanya akan diraih oleh orang-orang yang menghadap-Nya dengan hati yang bersih dari penyakit ujub dan kesombongan:

﴿يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’aro: 88-89)

Nabi mengingatkan bahwasanya pilar utama kebaikan seluruh anggota badan manusia terpaut rapat pada kebaikan segumpal daging yang ada di dalam dada:

«أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ»

Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Kesadaran untuk memfokuskan diri pada perbaikan pribadi ini diutarakan oleh Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H). Beliau menjelaskan tanda orang yang benar-benar memahami hakikat keselamatan jiwa:

«مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ»

Siapa yang mengenali (tabiat) manusia, maka dia akan beristirahat (tidak sibuk mencari pujian atau berdebat dengan mereka).” (Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 1/93)

5.4 Memohon Ketetapan Hati Kepada Alloh

Langkah pamungkas yang tidak boleh terputus dalam perjuangan menjaga diri dari kesesatan setelah datangnya petunjuk adalah senantiasa bersimpuh memohon ketetapan hati kepada Alloh tabaroka wa ta’ala. Seorang hamba tidak boleh merasa jumawa atau aman dengan ilmu dan pemahaman yang dimilikinya saat ini. Hati manusia sangat rapuh dan berada sepenuhnya dalam genggaman Alloh. Tanpa hidayah dan taufiq yang terus-menerus dikaruniakan oleh-Nya, siapapun bisa tergelincir masuk ke dalam jurang syubhat dan perdebatan yang membinasakan.

Alloh subhanahu wa ta’ala mengabadikan doa orang-orang yang mendalam ilmunya agar selalu diberi ketetapan hati dan dijauhkan dari penyimpangan:

﴿رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami cenderung kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi untuk menjaga keteguhan jiwa di atas agama Alloh terekam dalam riwayat Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha:

«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3522)

Sikap kehati-hatian dan ketakutan akan fitnah ini diteladani oleh Sufyan Ats-Tsauri (161 H). Beliau kerap menangis karena khawatir akan akhir kehidupannya dan berpesan agar senantiasa bergantung pada perlindungan Alloh:

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْعَابِدِ الْجَاهِلِ، وَفِتْنَةِ الْعَالِمِ الْفَاجِرِ، فَإِنَّ فِتنَتَهُمَا فِتْنَةٌ لِكُلِّ مَفْتُونٍ»

Berlindunglah kalian kepada Alloh dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan fitnah orang berilmu yang jahat, karena sesungguhnya fitnah keduanya adalah fitnah bagi setiap orang yang terfitnah.” (Az-Zuhd, Ibnul Mubarok, mulhaq 18)

 

Penutup

Menjalani kehidupan di atas hidayah Al-Qur’an dan Sunnah merupakan anugerah yang tidak ada tandingannya. Namun, menjaga agar hidayah tersebut tetap murni dan tidak terpadamkan oleh syubhat memerlukan kesadaran tinggi serta kehati-hatian yang ekstra. Sebagaimana telah diuraikan dari lembaran-lembaran bab awal hingga akhir, perdebatan dalam agama bukanlah pintu kebaikan, melainkan celah gelap yang kerap dimanfaatkan oleh syaithon dan ahli bid’ah untuk mengikis kelembutan hati, merusak ukhuwah, serta memalingkan manusia dari tujuan utama penciptaannya.

Seorang Mu’min yang menginginkan keselamatan di dunia dan Akhirat hendaklah mencukupkan diri dengan meneladani Salafus Sholih. Sampaikanlah kebenaran dengan lugas dan santun. Apabila diterima, bersyukurlah kepada Alloh. Namun apabila ditolak atau disambut dengan ajakan percekcokan, berpalinglah dengan penuh wibawa tanpa mengotori lisan dan hati dalam arena jidal. Fokuskan sisa umur untuk memperbaiki kualitas ibadah, mendalami ilmu yang bermanfaat, serta menjaga kebersihan jiwa.

Semoga Alloh tabaroka wa ta’ala senantiasa melimpahkan rohmat-Nya, menetapkan hati kita di atas jalan lurus, dan menyelamatkan kita dari bahaya tersesat setelah datangnya petunjuk.

 

Daftar Pustaka

Ø Al-Zuhd – Ibnul Mubarok (181 H)

Ø Al-Zuhd – Waki’ bin Al-Jarroh (197 H)

Ø Kitab Az-Zuhd – Ahmad bin Hanbal (241 H)

Ø Sunan Ad-Darimi – Ad-Darimi (255 H)

Ø Az-Zuhdu – Ibnu Abid-Dunya (281 H)

Ø Al-Ibanah Al-Kubro – Ibnu Batthoh (387 H)

Ø Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah – Al-Lalaka’i (418 H)

Ø Al-Qodho’ wal Qodar – Al-Baihaqi (458 H)

Ø Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi – Ibnu Abdil Barr (463 H)

Ø Al-Istidzkar – Ibnu Abdil Barr (463 H)

Ø Iqtidho Al-Ilmi Al-Amal – Al-Khotib Al-Baghdadi (463 H)

Ø Shifatul Fatwa – Ibnu Hamdan (695 H)

Ø Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyyah (728 H)

Ø Siyar A’lam An-Nubala – Adz-Dzahabi (748 H)

Ø Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘ala ‘Ilmi Kholaf – Ibnu Rojab (795 H)


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini