[PDF] Sesat Setelah Berpetunjuk Karena Gemar Berdebat - Nor Kandir
Sesat Setelah
Berpetunjuk Karena Gemar Berdebat
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 96
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Langkah
awal dalam meniti jalan petunjuk adalah ni’mat terbesar yang Alloh anugerahkan
kepada seorang hamba. Ketika seseorang telah dibukakan hatinya untuk mengenal Sunnah
dan kebenaran, semestinya rasa syukur itu diwujudkan dengan beramal sholih,
menuntut ilmu yang bermanfaat, serta menjaga kebersihan jiwa dari segala
penyakit yang dapat merusaknya. Namun, perjalanan meniti jalan yang lurus
tidaklah lepas dari godaan dan fitnah. Salah satu fitnah terbesar yang sering
kali menyusup tanpa disadari adalah dorongan untuk senantiasa
berbantah-bantahan dan berdebat dalam urusan agama. Betapa banyak orang
yang dahulunya berada di atas jalan petunjuk, memiliki kelembutan hati dan
semangat beribadah, namun perlahan-lahan kehilangan manisnya iman dan kelezatan
ilmu hanya karena menyerahkan dirinya pada perdebatan. Perdebatan dalam urusan
agama bukanlah sarana utama untuk meraih kebenaran, melainkan kerap menjadi
pintu masuk bagi syaithon untuk menanamkan ujub, kesombongan, keinginan untuk
unggul di hadapan manusia, serta pamer kehebatan. Ketika niat mengajar atau
membela kebenaran telah tercemar oleh ambisi mengalahkan lawan, maka saat
itulah ilmu tidak lagi memancarkan cahayanya, melainkan berubah menjadi
tumpukan hujjah yang akan memberatkan pemiliknya di Hari Qiyamah.
Ahli bid’ah
dan orang-orang yang melenceng dari jalan Salafus Sholih memiliki karakter khas
yang sangat menonjol, yaitu kegemaran mereka dalam memancing perselisihan
dan mengutarakan syubhat. Mereka tidak mencari kebenaran dengan dada
yang lapang, melainkan mencari kemenangan opini, mencari pamor, serta
merusak kemurnian ajaran agama dengan logika-logika yang diada-adakan.
Menghadapi kelompok seperti ini dengan cara melayani perdebatan mereka di ruang
publik maupun majelis-majelis pertemuan sering kali tidak mendatangkan
kebaikan, melainkan hanya membuang waktu, melahirkan dendam, serta mengerasnya
hati.
Kewajiban
seorang Mu’min yang menginginkan keselamatan agama dan hatinya adalah
menyampaikan haq secara lugas, terang, dan santun sebagaimana yang diajarkan
oleh Rosululloh ﷺ
dan para Shohabat. Apabila kebenaran tersebut diterima, maka itu adalah karunia
dan rohmat dari Alloh. Namun apabila ditolak, seorang Mu’min tidak dibebani
kewajiban untuk memaksa atau memuaskan dahaga perdebatan lawan bicaranya, sebab
masih sangat banyak masyarakat awam yang merindukan bimbingan dan bersedia
menerima kebenaran tanpa harus lalu-lalang dalam percekcokan kata-kata.
Buku ini
disusun sebagai peringatan tajam sekaligus penawar bagi jiwa yang rindu akan
ketenangan ilmu dan kesucian hati. Buku ini menelusuri akar permasalahan
perdebatan hingga jalan keluar yang dicontohkan oleh para pendahulu ummat yang
sholih. Bahasan diawali dengan membedah hakikat debat dalam din,
memisahkan antara penjelasan haq yang diperintahkan dengan jidal yang
dicela, serta menyingkap motif-motif tersembunyi seperti pamer dan kesombongan.
Selanjutnya, uraian berpindah pada penyingkapan tabiat ahli bid’ah yang
menjadikan perdebatan sebagai alat untuk menjebak dan meraih panggung di hadapan
awam. Buku ini kemudian menghadirkan petunjuk eksplisit dari Salafus Sholih
tentang bagaimanakah sikap tegas namun bijaksana dalam menghadapi ahli debat,
termasuk larangan duduk di majelis mereka dan bagaimana cara menyikapi
masyarakat awam. Pada bagian berikutnya, dipaparkan dampak kerusakan akibat
perdebatan terhadap pribadi dan ikatan silaturrohim antar sesama Mu’min.
Sebagai penutup dari serangkaian bahasan, buku ini menyajikan bimbingan praktis
mengenai jalan keselamatan, yaitu dengan mencukupkan diri pada atsar, ridho
terhadap ilmu para Salaf, dan senantiasa memohon ketetapan hati kepada Alloh tabaroka
wa ta’ala. Semoga lembaran-lembaran ini menjadi petunjuk yang menerangi
jalan bagi siapa saja yang ingin selamat dari jurang kesesatan setelah datangnya
petunjuk.
Bab 1: Hakikat Debat dalam Din
Bahasan
dalam bab ini diarahkan untuk membongkar hakikat perdebatan dalam urusan agama
secara mendalam berdasarkan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah. Sebelum melangkah
pada penanganan fitnah perdebatan di tengah ummat, penting untuk memahami
terlebih dahulu bagaimana ajaran Islam memandang tabiat gemar berdebat sebagai
salah satu tanda awal berbeloknya seseorang dari garis petunjuk. Uraian akan
menegaskan garis pemisah yang sangat jelas antara kewajiban menyampaikan dan
menjelaskan kebenaran dengan dorongan hawa nafsu untuk berbantah-bantahan.
Selanjutnya, bahasan akan menyingkap tirai motif-motif buruk yang tersembunyi
di dalam dada ahli debat, seperti kesombongan, haus pamor, serta dorongan untuk
pamer di hadapan manusia, hingga akhirnya ditutup dengan pemaparan tentang
bagaimana perdebatan secara perlahan namun pasti dapat merusak kesucian hati
seorang hamba.
1.1
Sifat Gemar Berdebat sebagai Tanda Penyimpangan
Keinginan
untuk selalu berbantah-bantahan dan merasa paling unggul dalam bersilat lidah
merupakan pintu awal bergesernya seseorang dari jalan lurus yang pernah
ditapakinya. Ketika ilmu tidak lagi dibimbing oleh rasa takut kepada Alloh dan
kerendahan hati, maka ilmu itu hanya akan melahirkan tabiat keras kepala yang
selalu mencari celah untuk mendebat setiap kebenaran yang datang. Penyimpangan
ini bukan sekadar masalah perbedaan pendapat biasa, melainkan sebuah penyakit
jiwa yang telah diwanti-wanti oleh Rosululloh ﷺ sejak awal Islam berdiri. Orang yang telah terjangkit penyakit
ini tidak akan pernah merasa puas sebelum berhasil menjatuhkan lawan bicaranya,
meskipun untuk itu ia harus memutarbalikkan nash dan mengabaikan petunjuk yang
jelas.
Alloh subhanahu
wa ta’ala telah menggambarkan tabiat orang-orang yang menyimpang hatinya
ketika mereka dihadapkan pada kebenaran, di mana mereka menjadikan perdebatan
sebagai sarana untuk menolak haq:
﴿مَا
ضَرَبُوهُ لَكَ إِلَّا جَدَلًا ۚ
بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ﴾
“Mereka
tidak membuat perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk berbantah-bantahan saja,
bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (QS. Az-Zukhruf: 58)
Karakter
berbantah-bantahan ini ditegaskan pula oleh Rosululloh ﷺ dalam sabdanya yang
memberikan peringatan keras kepada ummat agar tidak terjerumus ke dalam lubang
kesesatan setelah sebelumnya mereka berada di atas hidayah:
«مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ
إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ»
“Tidaklah suatu kaum itu tersesat setelah berada di atas petunjuk
melainkan karena mereka diberi kesenangan berdebat.” (HHR. At-Tirmidzi no.
3253 dan Ibnu Majah no. 48)
Peringatan
dari Rosululloh ﷺ
tersebut disadari betul oleh para Shohabat dan Tabi’in sebagai sebuah rambu
bahaya yang nyata. Kebinasaan ummat-ummat terdahulu sering kali berawal dari
hilangnya semangat beramal dan bergantinya hal itu dengan kegemaran berdebat.
Hal ini ditegaskan kembali oleh salah seorang ulama Tabi’in, Ma’ruf Al-Karkhi
(200 H), yang menyebutkan bahwa perdebatan adalah tanda dicabutnya taufiq dari
seorang hamba:
«إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا فَتْحَ
لَهُ بَابَ الْعَمَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ
بِعَبْدٍ شَرًّا فَتَحَ لَهُ بَابَ الْجَدَلِ، وَأَغْلَقَ عَنْهُ بَابَ الْعَمَلِ»
“Apabila Alloh menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia membuka
baginya pintu amal dan menutup darinya pintu debat. Dan apabila Alloh
menghendaki keburukan pada seorang hamba, maka Dia menutup darinya pintu amal
dan membuka atasnya pintu debat.” (Iqtidho Al-Ilmi Al-Amal, Al-Khotib
Al-Baghdadi, 1/79)
1.2
Perbedaan Antara Menjelaskan Haq dan Berdebat
Banyak
orang terkecoh dan menganggap bahwa perdebatan adalah satu-satunya jalan untuk
mengibarkan bendera kebenaran. Padahal, terdapat perbedaan yang sangat mendasar
antara menyampaikan nash agama dengan niat ikhlas memberi petunjuk,
dibandingkan dengan memasuki gelanggang jidal yang penuh dengan luapan
hawa nafsu. Menjelaskan haq dilakukan dengan memaparkan dalil Al-Qur’an dan Sunnah
secara jujur, terang, dan tanpa ambisi pribadi, kemudian menyerahkan hasilnya
kepada Alloh ta’ala. Sebaliknya, perdebatan hampir selalu
diselimuti oleh keinginan untuk menang, mempertahankan gengsi, serta memotong
argumentasi lawan tanpa peduli apakah kebenaran sedang diinjak-injak atau
ditegakkan.
Alloh tabaroka
wa ta’ala telah membatasi tata cara dalam berda’wah dan menyampaikan ajaran
Islam agar tidak terperosok ke dalam jidal yang saling menjatuhkan:
﴿ٱدْعُ
إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ
وَٱلْمَوْعِظَةِ
ٱلْحَسَنَةِ
ۖ
وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى
هِىَ أَحْسَن﴾
“Serulah kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang terbaik.” (QS. An-Nahl: 125)
Keutamaan
menahan diri dari perdebatan meskipun seseorang berada di pihak yang benar
disampaikan langsung oleh Nabi ﷺ sebagai sebuah jaminan kemuliaan di Jannah:
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ
لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا»
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggir Jannah bagi siapa yang meninggalkan
perdebatan meskipun dia berada di pihak yang benar.” (HSR. Abu Dawud no.
4800)
Pemahaman
ini dijaga ketat oleh para Salafus Sholih dalam setiap majelis ilmu mereka.
Al-Imam Malik bin Anas (179 H) pernah ditanya oleh seseorang mengenai seseorang
yang memiliki pengetahuan tentang Sunnah, apakah ia boleh berdebat untuk
membela Sunnah tersebut? Beliau memberikan jawaban yang sangat tegas:
«لَا، وَلَكِنْ يُخْبِرُ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ
قُبِلَتْ مِنْهُ وَإِلَّا سَكَتَ»
“Tidak, akan tetapi dia cukup memberitahukan tentang Sunnah tersebut.
Jika diterima darinya maka alhamdulillah, dan jika tidak maka hendaklah dia
diam.” (Jami Bayanil Ilmi, Ibnu Abdil Barr, 2/935)
1.3
Motif Buruk di Balik Perdebatan: Kesombongan dan Pamer
Apabila
diteliti secara jujur, dorongan utama yang membuat seseorang betah melayani
perdebatan jam demi jam adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ada dahaga
besar dalam jiwa yang ingin diakui sebagai orang yang paling berilmu, paling
tajam logikasinya, dan paling cerdas dalam mematahkan alur berpikir orang lain.
Pamer kemampuan bersilat kata dan mengejar kemasyhuran di mata awam menjadi
bahan bakar utama yang terus menyalakan api perdebatan. Seseorang yang telah
dikuasai motif buruk ini tidak lagi peduli apakah kalimat yang keluar dari
mulutnya jujur atau rekaan, sebab fokus utamanya hanyalah panggung pujian dan
tepuk tangan manusia.
Alloh subhanahu
wa ta’ala menyingkap kebiasaan orang-orang yang kesombongan telah merasuk
ke dalam dada mereka, di mana mereka menolak ayat-ayat Alloh dengan jalan
berdebat:
﴿إِنَّ
ٱلَّذِينَ
يُجَٰدِلُونَ فِى ءَايَٰتِهِ بَغَيْرِ سُلْطَٰنٍ أَتَىٰهُمْ ۙ
إِن فِى صُدُورِهِمْ إِلَّا كِبْرٌ مَّا هُم بِبَٰلِغِيهِ﴾
“Sungguh orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Alloh tanpa alasan
yang sampai kepada mereka, tidak ada di dalam dada mereka melainkan hanyalah kesombongan
yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya.” (QS. Ghofir: 56)
Ancaman
sangat mengerikan ditujukan bagi siapa saja yang menuntut ilmu agama dan
menggunakannya untuk menyaingi para ulama atau berdebat dengan orang-orang
bodoh demi meraih perhatian manusia. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ العُلَمَاءَ
أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ
أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ»
“Siapa yang menuntut ilmu untuk menyaingi para ulama atau untuk berdebat
dengan orang-orang bodoh atau untuk memalingkan wajah-wajah manusia
kepadanya, maka Alloh akan memasukkannya ke dalam Naar.” (HHR. At-Tirmidzi
no. 2654)
Bahaya
pamer dan ujub dalam perdebatan ini dijelaskan secara mendalam oleh Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H). Beliau menegaskan bahwa keterikatan hati pada pujian
manusia melalui jalan perdebatan akan mencabut rasa takut kepada Alloh dari
dalam jiwa:
«خَصْلتَانِ تُقَسِّيَانِ القَلْبَ: كَثْرَةُ
الكَلاَمِ، وَكَثْرَةُ الأَكلِ»
“Dua hal yang dapat mengeras hati: terlalu banyak bicara dan terlalu
banyak makan.” (Siyar A’lam An-Nubala, Adz-Dzahabi, 8/440)
Apabila
kamu hendak mengucapkan suatu perkataan maka pikirkulah, jika itu karena Alloh
maka berbicaralah, dan jika karena selain Alloh maka diamlah.
1.4
Bahaya Perdebatan Terhadap Kesucian Hati
Kesucian
hati merupakan modal utama seorang Mu’min untuk bisa merasakan manisnya ibadah
dan kebenaran. Namun, majelis perdebatan adalah rawa-rawa keruh yang dapat
dengan cepat meracuni kebersihan jiwa tersebut. Ketika seseorang masuk ke dalam
arena jidal, hatinya akan dipenuhi oleh prasangka buruk, kejengkelan,
dendam, serta rasa dengki apabila lawan bicaranya menunjukkan kebenaran.
Perdebatan mati-matian akan mengikis rasa khusyuk dalam sholat, menghilangkan
kelembutan saat membaca Al-Qur’an, dan menggantikannya dengan watak keras, kasar,
serta mudah berprasangka pada sesama Muslim.
Alloh tabaroka
wa ta’ala melarang para hamba-Nya terjerumus ke dalam perbuatan yang dapat
mengotor jiwa dan melahirkan dosa-dosa hati:
﴿وَذَرُوا
ظَٰهِرَ ٱلْإِثْمِ
وَبَاطِنَهُۥٓ
ۚ
إِنَّ ٱلَّذِينَ
يَكْسِبُونَ ٱلْإِثْمَ
سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوا يَقْتَرِفُونَ﴾
“Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sungguh
orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi pembalasan disebabkan apa yang
telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 120)
Dampak
buruk perdebatan terhadap hubungan persaudaraan dan kebersihan hati disinggung
oleh Rosululloh ﷺ
dalam petunjuk beliau yang melarang percekcokan antar sesama:
«لَا تُمَارِ أَخَاكَ، وَلَا تُمَازِحْهُ، وَلَا
تَعِدْهُ مَوْعِدًا فَتُخْلِفَهُ»
“Janganlah kamu berdebat dengan saudaramu, jangan memainkannya,
dan jangan menjanjikannya suatu janji lalu kamu memungkirinya.” (HR.
At-Tirmidzi no. 1995. Al-Munawi berkata: isnadnya jayyid)
Kerusakan
hati akibat perdebatan ini disaksikan langsung oleh para ulama Salaf. Abdullah bin
Al-Hasan bin Al-Hasan (145 H) memberikan nasihat yang sangat berharga mengenai
bagaimana perdebatan memusnahkan kebaikan hati:
«الْمِرَاءُ يُفْسِدُ الصَّدَاقَةَ الْقَدِيمَةَ
وَيَحِلُّ الْعُقْدَةَ الْوَثِيقَةَ، وَأَقَلُّ مَا فِيهِ أَنْ تَكُونَ الْمُغَالَبَةُ،
وَالْمُغَالَبَةُ أَمْتَنُ أَسْبَابِ الْقَطِيعَةِ»
“Perdebatan itu merusak persahabatan yang lama, menguraikan ikatan yang
kuat, dan sejatinya hal terkecil di dalamnya adalah keinginan untuk saling
mengalahkan, sedangkan keinginan saling mengalahkan adalah pokok dari putusnya
silaturrohim.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/952)
Bab 2: Ahli Bid’ah
dan Tabiat Gemar Berdebat
Pada bab
ini, bahasan akan dibongkar secara tajam guna menyingkap tabiat serta perangai
asli ahli bid’ah dalam berinteraksi dengan ajaran agama. Mereka tidak
menjadikan nash Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pemimpin yang harus ditaati,
melainkan menundukkan dalil-dalil tersebut di bawah kendali hawa nafsu dan
rasionalitas mereka yang terdistorsi. Uraian dalam bab ini akan memperlihatkan
bagaimana arena perdebatan sengaja diciptakan oleh mereka bukan untuk
mencari kebenaran yang haq, melainkan semata-mata demi meruntuhkan argumentasi
lawan, memburu panggung di hadapan masyarakat awam, serta menyebarkan syubhat.
Pada akhirnya, bab ini memaparkan gambaran kerusakan nyata yang ditimbulkan
oleh aktivitas jidal mereka terhadap keutuhan dan ketentraman ummat
Islam.
2.1
Menyimpang dari Nash Demi Membela Hawa Nafsu
Ciri utama
ahli bid’ah yang paling kentara adalah kebiasaan mereka memalingkan makna nash
dari jalan yang lurus demi menyesuaikannya dengan pemikiran dan hawa nafsu
kelompoknya. Ketika dalil yang shohih dihadapkan kepada mereka, mereka tidak
akan menerimanya dengan ketundukan jiwa, melainkan segera mencari celah-celah
takwil yang menyimpang, memotong kalimat, atau mencari rincian yang tidak
pernah dikenal oleh generasi Salaf. Kebiasaan mempertanyakan dan membantah nash
ini timbul akibat hilangnya rasa pengagungan terhadap wahyu Alloh di dalam
dada, sehingga setiap perintah dan larangan agama selalu diuji terlebih dahulu
melalui timbangan logika mereka yang rusak.
Alloh subhanahu
wa ta’ala telah membeberkan watak asli orang-orang yang di dalam hatinya
terdapat kecenderungan pada penyimpangan, di mana mereka sengaja memburu
ayat-ayat yang samar demi menimbulkan fitnah dan perdebatan:
﴿فَأَمَّا
ٱلَّذِينَ
فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ
ٱلْفِتْنَةِ
وَٱبْتِغَآءَ
تَأْوِيلِهِۦ﴾
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat
daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS.
Ali ‘Imron: 7)
Nabi ﷺ secara khusus memperingatkan
para Shohabat dan seluruh ummat beliau agar bersikap waspada dan menjaga jarak
apabila mendapati kelompok yang memiliki tabiat mengejar ayat-ayat mutasyabihat
untuk berbantah-bantahan:
«فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا
تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكِ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ»
“Apabila kamu (wahai Aisyah) melihat orang-orang yang mengikuti apa yang
samar dari Al-Qur’an, maka mereka itulah orang-orang yang telah dinamakan oleh
Alloh, maka waspadalah terhadap mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 4547 dan Muslim
no. 2665)
Sikap
pantang menyerahkan kebenaran pada hawa nafsu ahli debat ini diteladani dengan
amat tegas oleh para Tabi’in. Ayyub As-Sikhtiyani (131 H) menceritakan
bagaimana para ulama Salaf menolak keras mendengarkan satu patah kata pun dari
orang yang hendak memperdebatkan nash Al-Qur’an menggunakan hawa nafsunya:
«إِنَّ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ أَهْلُ الضَّلَالَةِ،
وَلَا أَرَى مَصِيرَهُمْ إِلَّا إِلَى النَّارَ»
“Sungguh ahli hawa nafsu adalah orang-orang sesat, dan aku tidak melihat
tempat kembali mereka melainkan ke dalam Naar.” (HR. Ad-Darimi, no. 101)
2.2
Berdebat Bukan Mencari Keberkahan Ilmu tetapi Mengalahkan Lawan
Niat dasar
yang melandasi seseorang ketika melangkah ke dalam majelis ilmu sangat
menentukan apakah ia akan mendapatkan keberkahan ataukah kehinaan. Ahli bid’ah
memasuki arena perdebatan tanpa dibekali rasa dahaga akan petunjuk dan
kebenaran; yang ada di dalam benak mereka hanyalah bagaimana cara merubuhkan
wibawa lawan, mematahkan kata-kata, dan keluar sebagai pemenang di
hadapan khalayak. Kemenangan retorika menjadi tuhan yang disembah, sehingga
sekalipun kebenaran telah terpampang terang di depan mata, mereka akan tetap
bertahan di atas kebatilan demi menyelamatkan gengsi dan harga diri
kelompoknya.
Alloh tabaroka
wa ta’ala menggambarkan bagaimana orang-orang yang zholim menggunakan
perdebatan sebagai perisai untuk mempertahankannya kebatilan mereka:
﴿وَيُجَٰدِلُ
ٱلَّذِينَ
كَفَرُوا بِٱلْبَٰطِلِ
لِيُدْحِضُوا بِهِ ٱلْحَقَّ﴾
“Dan orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar
dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang haq.” (QS. Al-Kahfi: 56)
Ancaman
kebinasaan bagi orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan permainan kata
dan alat untuk saling menjatuhkan diuraikan oleh Rosululloh ﷺ dalam sabdanya:
«إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الأَلَدُّ
الخَصِمُ»
“Sungguh lelaki yang paling dibenci oleh Alloh adalah orang yang paling
keras berbantah-bantahan.” (HR. Al-Bukhori no. 2457 dan Muslim no. 2668)
Ketegasan
Salafus Sholih dalam membongkar niat busuk para ahli jidal ini terekam
jelas dalam ucapan Al-Hasan Al-Bashri (110 H). Ketika beliau mendatangi
sekelompok orang yang sedang berdebat sengit mengenai urusan agama, beliau
menegur mereka dengan kalimat yang sangat menohok:
«هَؤُلاَءِ قَوْمٌ مَلُّوا الْعِبَادَةَ، وَخَفَّ
عَلَيْهِمُ القَوْلَ، وَقَلَّ وَرَعُهُمْ فَتَكَلَّمُوا»
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah bosan dari beribadah,
pembicaraan terasa ringan bagi mereka, dan waro’ (kehati-hatian) mereka
amat sedikit, sehingga mereka pun bebas berbicara.” (Fadhlu Ilmi Salaf ala
Ilmi Kholaf, Ibnu Rojab, 3/20)
2.3
Fenomena Menjebak dan Cari Panggung di Hadapan Awam
Salah satu
strategi paling jahat yang kerap dilancarkan oleh ahli bid’ah adalah
memanfaatkan ketidakfahaman masyarakat awam demi keuntungan popularitas mereka.
Mereka enggan berhadapan secara jujur dengan para ulama yang mendalam ilmunya,
melainkan sengaja melempar isu-isu syubhat dan perdebatan di ruang-ruang
terbuka, pasar, maupun media publik yang disaksikan oleh orang banyak. Tujuan
mereka sederhana: memprovokasi, menjebak Muslim yang awam agar ragu terhadap
keyakinannya, serta mencitrakan diri sebagai pihak yang paling kritis dan
berani. Mereka menjual keraguan untuk memburu panggung pujian dan pengakuan
keberadaan dari masyarakat.
Alloh subhanahu
wa ta’ala mengingatkan akan bahaya perkataan manis yang diutarakan oleh
orang-orang yang pada hakikatnya memendam musuhan yang sengit:
﴿وَمِنَ
ٱلنَّاسِ
مَن يُعْجِبُكَ قَوْلُهُۥ
فِى ٱلْحَيَوٰةِ
ٱلدُّنْيَا
وَيُشْهِدُ ٱللَّهَ
عَلَىٰ مَا فِى قَلْبِهِۦ
وَهُوَ أَلَدُّ ٱلْخِصَامِ﴾
“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia
menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Alloh atas apa yang ada dalam hatinya,
padahal ia adalah penentang yang paling keras.” (QS. Al-Baqoroh: 204)
Pola
pergerakan penyebar fitnah yang menggunakan lisan halus demi menyesatkan
masyarakat awam telah disinyalir oleh Nabi ﷺ dalam khawatirnya beliau terhadap para pemimpin penyesat:
«إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الأَئِمَّةَ
الْمُضِلِّينَ»
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas ummatku hanyalah keberadaan
para pemimpin yang menyesatkan.” (HSR. Abu Dawud no. 4252 dan At-Tirmidzi
no. 2229)
Kesadaran
para ulama Salaf terhadap bahaya propaganda ahli bid’ah di hadapan awam membuat
mereka melarang keras menghadiri acara perdebatan mereka. Muhammad bin Sirin
(110 H) bahkan menolak menutup telinganya dari mendengarkan satu ayat pun jika
dibacakan oleh ahli bid’ah:
«وَلَا نِصْفَ كَلِمَةٍ، وَلَا نِصْفَ كَلِمَةٍ»
“Tidak, walaupun hanya setengah kata! Tidak, walaupun hanya setengah kata!”
(Al-Ibanah Al-Kubro, Ibnu Batthoh, 1/447)
Beliau
menutup telinganya dengan jarinya, karena hati itu lemah sedangkan
syubhat-syubhat itu sangat menyambar-nyambar.
2.4
Kerusakan yang Ditimbulkan Ahli Bid’ah di Tengah Ummat
Aktivitas
perdebatan yang diusung oleh ahli bid’ah tidak pernah melahirkan kedamaian
maupun kejayaan bagi Islam. Sebaliknya, jidal yang mereka tebarkan
menjadi racun pembunuh yang merobek-robek persatuan persaudaraan Islam,
menyemai rasa saling curiga, serta memalingkan energi ummat dari perjuangan
beramal sholih dan menuntut ilmu yang bermanfaat. Ketika debat telah membudaya,
majelis-majelis ilmu tidak lagi dihiasi oleh rasa takut kepada Alloh dan
tangisan keinsafan, melainkan berubah menjadi gelanggang sorak-sorai,
kebanggaan kelompok, dan ajang menghujat sesama Mu’min.
Alloh tabaroka
wa ta’ala melarang tegas para hamba-Nya terjerumus ke dalam perselisihan
yang dapat melumpuhkan kekuatan dan kejayaan ummat:
﴿وَأَطِيعُوا
ٱللَّهَ
وَرَسُولَهُۥ
وَلاَ تَنَٰزَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ
وَٱصْبِرُوٓا
ۚ
إِنَّ ٱللَّهَ
مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ﴾
“Dan taatilah Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan
yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sungguh Alloh beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Nabi ﷺ menjelaskan bahwasanya
kehancuran ummat-ummat terdahulu dipicu oleh kebiasaan mereka yang gemar
berselisih dan mempertanyakan petunjuk nabi-nabi mereka secara berlebihan:
«فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ
كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ»
“Maka sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah
banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka.”
(HR. Al-Bukhori no. 7288 dan lafazh Muslim no. 1337)
Pengamatan
yang amat dalam mengenai kerusakan akibat jidal ini disampaikan oleh
Sufyan Ats-Tsauri (161 H). Beliau menggarisbawahi bahwa bahaya ahli bid’ah dan
perdebatan mereka jauh lebih merusak tatanan keagamaan masyarakat dibandingkan
maksiat biasa:
«الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ،
وَالْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا»
“Bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat biasa. Maksiat
biasa masih diharapkan taubat darinya, sedangkan bid’ah tidak diharapkan taubat
darinya.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i, 1/149)
Bab 3: Bimbingan Salafus Sholih
dalam Menyikapi Ahli Debat
Melalui bab
ini, alur pembicaraan diarahkan untuk membedah petunjuk konkret yang diwariskan
oleh generasi Salafus Sholih ketika menanggapi gempuran perdebatan dari para
pengusung kebatilan. Sikap para pendahulu yang sholih tidaklah lahir dari
keputusasaan atau kekalahan argumentasi, melainkan dibangun di atas ilmu yang
mendalam serta pemahaman terhadap kaidah-kaidah menjaga kesucian agama dan keselamatan
jiwa. Pemaparan dalam bab ini akan mengurai larangan tegas untuk menghadiri
atau memfasilitasi majelis jidal, menegaskan bahwa penolakan untuk
berdebat adalah wujud kekuatan iman, menjelaskan tatacara menyampaikan
kebenaran secara tegas tanpa terseret percekcokan, serta menyajikan bimbingan
santun namun berprinsip dalam menuntun masyarakat awam.
3.1
Perintah Larangan Duduk dan Majelis Bersama Ahli Debat
Langkah
preventif paling utama dalam menjaga kestabilan aqidah dan kebersihan hati dari
racun syubhat adalah memutus akses komunikasi yang melayani perdebatan dengan
ahli bid’ah. Para Salafus Sholih sangat memahami bahwa pikiran manusia memiliki
keterbatasan dan hati sangat mudah terpancing oleh keraguan yang disusupkan
secara halus melalui majelis jidal. Oleh sebab itu, mereka menetapkan
aturan yang sangat ketat: melarang duduk bersama mereka, menghadiri majelis
diskusi mereka, bahkan sekadar membaca atau mendengarkan tulisan-tulisan mereka.
Alloh subhanahu
wa ta’ala memberikan perintah yang sangat jelas kepada orang-orang beriman
agar segera meninggalkan majelis yang di dalamnya terdapat perbuatan memperolok
atau memperdebatkan ayat-ayat-Nya:
﴿وَإِذَا
رَأَيْتَ ٱلَّذِينَ
يَخُوضُونَ فِى ءَايَٰتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِى حَدِيثٍ غَيْرِهِۦ
ۚ
وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيْطَٰنُ
فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ ٱلذِّكْرَىٰ
مَعَ ٱلْقَوْمِ
ٱلظَّٰلِمِينَ﴾
“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami,
maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan yang
lain. Dan jika syaithon menjadikan kamu lupa, maka janganlah kamu duduk
sesudah teringat itu bersama orang-orang yang zholim.” (QS. Al-An’am: 68)
Peringatan
tegas agar tidak mendekati rawa-rawa fitnah dan tidak menyanggupi perdebatan
tanpa kesiapan ilmu yang memadai disabdakan oleh Nabi ﷺ dalam petunjuk beliau
mengenai fitnah Dajjal:
«مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ،
فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ،
مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنَ الشُّبُهَاتِ»
“Siapa yang mendengar tentang Dajjal maka hendaklah dia menjauh darinya.
Demi Alloh, sungguh ada seorang lelaki yang mendatanginya dan dia mengira
bahwasanya dirinya adalah seorang Mu’min, lalu dia justru mengikutinya
disebabkan syubhat-syubhat yang ditimbulkannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4319)
Ketegasan
dalam menerapkan prinsip penjagaan ini ditunjukkan oleh Muhammad bin Sirin (110
H). Sholih Al-Murri berkata: Salm bin Qutaibah datang kepada Muhammad bin Sirin
lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu dari takdir. Muhammad pun berkata
kepadanya:
«اخْتَرْ إِمَّا أَنْ تَقُومَ عَنِّي، وَإِمَّا
أَنْ أَقُومَ عَنْكَ»
“Pilihlah,
kamu berdiri meninggalkanku, atau aku yang berdiri meninggalkanmu!” (Al-Qodho’
wal Qodar, Al-Baihaqi, 1/316)
3.2
Sikap Menolak Berdebat Bukan Tanda Kelemahan
Sering kali
ahli bid’ah dan para penggila perdebatan melempar tuduhan bahwa siapa saja yang
enggan melayani perdebatan mereka adalah orang yang penakut, lemah secara
intelektual, atau tidak memiliki argumentasi. Ini adalah persepsi yang sangat
keliru. Menolak masuk ke dalam gelanggang jidal sejatinya merupakan
manifestasi tertinggi dari kedewasaan ilmu dan keteguhan waro’. Seseorang yang
berilmu tidak akan menjual ketenangan hatinya hanya demi memuaskan nafsu
bertengkar orang lain; ia menyadari betul bahwa kebenaran Al-Qur’an dan Sunnah
terlalu mulia untuk dijadikan taruhan dalam ajang adu retorika.
Alloh tabaroka
wa ta’ala memuji hamba-hamba-Nya yang beriman yang memilih melangkah
berlalu dengan penuh wibawa ketika dihadapkan pada omongan kosong dan ajakan
percekcokan dari orang-orang bodoh:
﴿وَإِذَا
سَمِعُوا ٱللَّغْوَ
أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَآ أَعْمَٰلُنَا وَلَكُمْ أَعْمَٰلُكُمْ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ
لاَ نَبْتَغِى ٱلْجَٰهِلِينَ﴾
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka
berpaling darinya dan berkata: ‘Bagi kami amalan-amalan kami dan bagimu
amalan-amalanmu, kesejahteraan atasmu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang bodoh.’” (QS. Al-Qoshosh: 55)
Nabi ﷺ menegaskan bahwa keperkasaan
seorang Mu’min yang sejati tidak diukur dari kemampuannya menjatuhkan lawan
bicara dalam pergulatan kata-kata, melainkan dari kemampuannya mengendalikan
hawa nafsu saat amarah memuncak:
«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ
الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»
“Bukanlah orang yang kuat itu dengan menang bergulat, melainkan orang
yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR.
Al-Bukhori no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Jawaban
bernas mengenai anggapan lemah ini dicontohkan oleh Umar bin Abdul Aziz (101
H). Beliau menegaskan bahwasanya orang yang senantiasa berpindah-pindah dalam
menetapkan aqidah akibat perdebatan adalah orang yang sebenarnya tidak memiliki
pijakan:
«مَنْ جَعَلَ دِينَهُ غَرَضًا لِلْخُصُومَاتِ
أَكْثَرَ التَّنَقُّلَ»
“Siapa yang menjadikan agamanya sebagai sasaran perdebatan, maka dia akan
paling sering berpindah-pindah keyakinan.” (Al-Ibadah Al-Kubro, Ibnu
Batthol, 2/508)
3.3
Menyampaikan Haq Tanpa Membuka Pintu Debat
Tugas utama
seorang da’i atau penuntut ilmu adalah menyampaikan dalil-dalil Al-Qur’an dan Sunnah
secara terang benderang sebagaimana adanya, bukan memaksakan agar semua orang
tunduk seketika melalui jalan percekcokan. Menyampaikan kebenaran harus
dilakukan dengan metode yang lurus: bacakan ayatnya, sebutkan haditsnya yang
shohih, jelaskan pemahaman Salafus Sholih padanya, lalu cukupkan sampai di sana.
Apabila pihak lawan mulai menunjukkan gelagat enggan dan hendak menyeret
pembicaraan ke dalam pusaran perdebatan kusut, maka tindakan paling bijaksana
adalah berhenti menguraikan kata-kata dan menyerahkan hidayah kepada Alloh.
Alloh subhanahu
wa ta’ala mengingatkan Nabi-Nya agar tidak membebani diri secara berlebihan
atas penolakan orang-orang yang tidak mau beriman, sebab tugas Rosul hanyalah
menyampaikan:
﴿فَإِنْ
أَعْرَضُوا فَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ
إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا ٱلْبَلَٰغُ﴾
“Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi
mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan.” (QS. Asy-Syuuro: 48)
Nabi ﷺ mengajarkan kehati-hatian
dalam memberikan ilmu agar ilmu tersebut tidak ditumpahkan kepada orang-orang
yang hanya berniat mempermainkannya:
«بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً»
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Al-Bukhori no. 3461)
Petunjuk
teknis dalam membatasi pembicaraan agar tidak berubah menjadi perdebatan
diterangkan oleh Al-Imam Malik (179 H). Beliau berkata:
«لَيْسَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تُجَادِلَ عَنِ
السُّنَّةِ، بَلِ السُّنَّةُ أَنْ تُخْبِرَ بِهَا، فَإِنْ سُمِعَتْ مِنْكَ وَإِلَّا
سَكَتَّ»
“Bukanlah termasuk Sunnah kamu berdebat membela
Sunnah. Namun yang termasuk Sunnah adalah kamu mengabarkannya. Jika diindahkan
darimu, maka diterimanya. Jika tidak, maka hendaklah kamu diam.” (Shifatul
Fatwa, Ibnu Hamdan (695 H), 1/49)
3.4
Menyikapi Orang Awam yang Belum Memahami Syari’at
Masyarakat
awam berbeda dengan ahli bid’ah yang berniat jahat. Kebanyakan dari masyarakat
awam yang terseret dalam perdebatan atau memegang keyakinan yang keliru
sejatinya bertindak demikian karena keterbatasan pengetahuan dan minimnya akses
terhadap pengajaran yang murni. Dalam menghadapi mereka, seorang pembawa
kebenaran tidak boleh bersikap kasar, tinggi hati, atau langsung mengvonis
mereka dengan tuduhan-tuduhan berat. Pendekatan kepada awam wajib dihiasi
dengan kelembutan, kesabaran, serta pemaparan bukti-bukti syari’at yang mudah
dicerna tanpa harus membawa mereka ke dalam kerumitan istilah-istilah jidal
yang dapat membingungkan pikiran mereka.
Alloh tabaroka
wa ta’ala mengingatkan akan pentingnya sifat lemah lembut dalam mendidik
dan membimbing manusia menuju jalan agama-Nya:
﴿فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ
لِنتَ لَهُمْ ۖ
وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ
لاَنفَضُّوا مِنْ حَوْلِك﴾
“Maka disebabkan rohmat dari Allohkah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)
Kasih
sayang Rosululloh ﷺ
dalam menuntun orang yang belum faham hukum ditunjukkan secara sempurna ketika
seorang Arob Badui kencing di dalam Masjid. Beliau menahan para Shohabat yang
hendak menindaknya dengan keras, seraya bersabda:
«دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا
مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ، وَلَمْ
تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ»
“Biarkanlah dia dan tuangkanlah di atas bekas kencingnya itu setimba air
atau seember air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah dan tidak
diutus untuk dipersulit.” (HR. Al-Bukhori no. 220)
Pelajaran
berharga mengenai tata cara mendidik masyarakat awam secara bijak disampaikan
oleh Ali bin Abi Tholib (40 H). Beliau mengingatkan bahwa penyampaian ilmu
kepada orang yang belum siap justru dapat menimbulkan bahaya baru jika tidak
ditakar dengan tepat:
«حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ
أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟»
“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, apakah
kalian suka jika Alloh dan Rosul-Nya didustakan?” (HR. Al-Bukhori no. 127)
Bab 4: Dampak Buruk Perdebatan
bagi Pribadi dan Masyarakat
Melalui
pembahasan di bab ini, fokus uraian bergeser untuk membedah luka-luka rohani
dan sosial yang ditimbulkan oleh budaya gemar berdebat. Perdebatan bukanlah
persoalan adu lisan yang berhenti saat majelis usai, melainkan sebuah penyakit
sistematis yang dampaknya menjalar menghancurkan bagian terpenting dari
kehidupan seorang hamba dan tatanan masyarakatnya. Uraian akan menelusuri
bagaimana jidal sanggup mengunci pintu-pintu hidayah dan mengeras jiwa,
memutuskan tali ikatan silaturrohim antar sesama Mu’min, mencabut kelezatan
ibadah serta keberkahan ilmu, hingga pada titik yang paling mengerikan:
meruntuhkan keteguhan istiqomah seseorang di atas jalan yang lurus.
4.1
Tertutupnya Pintu Hidayah dan Kerasnya Hati
Dampak
paling awal dan paling mengerikan yang dialami oleh seorang penggila debat
adalah pengerasan hati secara bertahap hingga akhirnya kebenaran sulit menembus
masuk ke dalamnya. Ketika seseorang terbiasa menolak argumentasi lawan demi
mempertahankan gengsi, mekanisme pertahanan jiwanya akan membentuk watak
penentang terhadap setiap nasihat. Meskipun dalil yang dibacakan berada di
depan matanya, hatinya sibuk mencari celah untuk membantah, bukan tunduk
menghayati. Kondisi ini membuat cahaya petunjuk perlahan-lahan meredup dan
berganti dengan kegelapan ujub yang mengunci rapat pintu hidayah.
Alloh subhanahu
wa ta’ala menggambarkan bagaimana siksaan berupa penguncian hati ditimpakan
kepada orang-orang yang melampaui batas dalam menentang kebenaran:
﴿كَذَٰلِكَ
يَطْبَعُ ٱللَّهُ
عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ﴾
“Demikianlah Alloh mengunci mati setiap hati orang yang sombong
lagi berbuat sewenang-wenang.” (QS. Ghofir: 35)
Peringatan
dari Salaf mengenai keberadaan penyakit hati yang timbul akibat terlalu banyak
berbantah-bantahan terekam dalam petunjuk beliau tentang tanda-tanda kebinasaan
jiwa. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata:
«أَرْبَعٌ مِنْ أَعْلَامِ الشَّقَاءِ: قَسْوَةُ
الْقَلْبِ، وَجُمُودُ الْعَيْنِ، وَطُولُ الْأَمَلِ، وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا»
“Empat hal yang termasuk tanda kesengsaraan: keringnya air mata, kerasnya
hati, panjangnya angan-angan, dan kerakusan terhadap dunia.” (Az-Zuhdu, Ibnu
Abid-Dunya, no. 36)
Penjelasan
mengenai hilangnya sensitivitas rohani akibat majelis jidal ini
diuraikan oleh Malik bin Dinar (130 H). Beliau menegaskan bahwasanya hukuman
paling berat yang tidak disadari oleh seorang hamba adalah dicabutnya rasa
khusyuk dari dalam dadanya:
«مَا ضُرِبَ عَبْدٌ بِعُقُوبَةٍ أَعْظَمَ مِنْ
قَسْوَةِ قَلْبٍ»
“Tidaklah seorang hamba dihukum dengan suatu hukuman yang lebih besar
daripada dikaruniai hati yang keras.” (Kitab Az-Zuhd, Ahmad bin Hanbal, no.
1871)
4.2
Timbulnya Permusuhan dan Putusnya Silaturrohim
Perdebatan
dalam agama adalah benih paling subur yang menumbuhkan rasa saling benci,
dengki, dan prasangka buruk di antara sesama Muslim. Majelis yang semula
dimaksudkan untuk membahas kebaikan dapat berubah menjadi medan permusuhan hanya
karena luapan kata-kata yang saling menjatuhkan. Ikatan persaudaraan yang telah
dibangun bertahun-tahun di atas iman dapat retak seketika ketika ego
masing-masing pihak tersenggol dalam perdebatan. Rasa cinta karena Alloh
berganti menjadi rasa puas apabila melihat saudaranya jatuh atau terpojok dalam
adu argumentasi.
Alloh tabaroka
wa ta’ala melarang perselisihan yang sengaja ditiupkan oleh syaithon untuk
merusak ikatan kasih sayang di antara sesama Mu’min:
﴿إِنَّمَا
يُرِيدُ ٱلشَّيْطَٰنُ
أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ ٱلْعَدَٰوَةَ
وَٱلْبَغْضَآءَ﴾
“Sesungguhnya syaithon itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan
kebencian di antara kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 91)
Nabi ﷺ mengingatkan bahwasanya
perbuatan yang merusak keharmonisan hubungan persaudaraan Islam adalah pengikis
agama yang sangat berbahaya:
«إِيَّاكُمْ وَسُوءَ ذَاتِ البَيْنِ فَإِنَّهَا
الحَالِقَةُ»
“Waspadalah kalian dari rusaknya hubungan persaudaraan, karena sesungguhnya
perusakan hubungan itu adalah pengikis (agama).” (HHR. At-Tirmidzi no. 2508)
Ibnu Abdil
Barr (463 H) berkata:
«وَالْمِرَاءُ لَا تُؤْمَنُ فِتْنَتُهُ وَلَا
تُفْهَمُ حِكْمَتُهُ»
“Perdebatan itu tidak akan dapat dipahami hikmahnya dan tidak aman dari
fitnahnya.” (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr, 3/412)
4.3
Hilangnya Kelezatan Ibadah dan Manfaat Ilmu
Seseorang
yang waktunya dihabiskan untuk memikirkan strategi perdebatan dan menyusun
tangkisan kata-kata akan kehilangan hal paling berharga dalam Islam: kelezatan
beribadah. Sholatnya menjadi kosong dari rasa khusyuk karena pikirannya
dipenuhi oleh ingatan akan kalimat-kalimat lawan bicaranya. Membaca Al-Qur’an
tidak lagi melahirkan tangisan keinsafan, melainkan berubah menjadi pencarian
ayat-ayat yang bisa dijadikan senjata untuk memukul pihak lain. Ilmu yang
dikumpulkannya tidak lagi memancarkan kelembutan dan waro’, melainkan
bertransformasi menjadi beban tak berguna yang dicabut keberkahannya oleh
Alloh.
Al-Qur’an
dan ilmu syari’at diturunkan untuk menjadi penawar dan rohmat bagi jiwa yang
tulus, bukan sebagai alat kesombongan:
﴿وَنُنَزِّلُ
مِنَ ٱلْقُرْءَانِ
مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ
وَلاَ يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ
إِلَّا خَسَارًا﴾
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rohmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zholim selain kerugian.” (QS. Al-Isro’: 82)
Nabi ﷺ memohon perlindungan dari
ilmu yang tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya serta dari hati yang tidak
khusyuk:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ
لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ
لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا»
“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak
bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan
dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim no. 2722)
Kerugian
besar berupa hilangnya keberkahan ilmu ini digambarkan secara indah oleh
Al-Hasan Al-Bashri (110 H). Beliau menjelaskan tanda-tanda keberkahan ilmu yang
sesungguhnya terekspresikan pada perilaku dan kerendahan hati:
«كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ
يَلْبَثْ أَنْ يُرَى ذَلِكَ فِي تَخَشُّعِهِ، وَبَصَرِهِ، وَلِسَانِهِ، وَيَدِهِ، وَصَلَاتِهِ،
وَحَدِيثِهِ، وَزُهْدِهِ»
“Apabila seseorang menuntut ilmu, maka tidak lama kemudian hal itu akan
terlihat pada kekhusyukannya, pandangannya, lisannya, tangannya, sholatnya,
ucapannya, dan kesederhanaan hidupnya.” (Al-Zuhd, Ibn Al-Mubarok, hal. 26)
4.4
Terhalang dari Jalan Istiqomah
Ujung dari
kegemaran berdebat yang paling mengkhawatirkan adalah tergelincirnya seseorang
dari keteguhan di atas jalan lurus (istiqomah). Ketika perdebatan dijadikan
konsumsi harian, pikiran seseorang akan senantiasa terombang-ambing oleh
syubhat baru yang didengarnya. Keraguan-keraguan kecil yang disusupkan oleh
ahli jidal dapat mengendap di dalam dada dan merusak pilar-pilar
keyakinan tanpa disadari. Banyak orang yang semula kokoh memegang Sunnah,
akhirnya berbelok arah, ragu terhadap prinsip aqidahnya sendiri, bahkan
meninggalkan pengamalan syari’at hanya karena seringnya ia mendengarkan dan
melayani perdebatan orang-orang sesat.
Alloh tabaroka
wa ta’ala memperingatkan agar orang-orang beriman menjaga diri dari
langkah-langkah yang dapat memalingkan mereka dari jalan-Nya setelah petunjuk
itu datang:
﴿وَأَنَّ
هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ
ۖ
وَلاَ تَتَّبِعُوا ٱلسُّبُلَ
فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ﴾
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu memcerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)
Nabi ﷺ menggambarkan betapa cepatnya
perubahan hati manusia yang tidak dijaga dengan istiqomah dan doa ketetapan:
«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ
مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ، كَقَلْبٍ وَاحِدٍ، يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ»
“Sesungguhnya hati semua anak Adam berada di antara dua jari dari
jari-jari Ar-Rohman bagaikan satu hati, Dia memalingkannya ke mana saja Yang
Dia kehendaki.” (HR. Muslim no. 2654)
Siapa yang
mendengar suatu bid’ah maka janganlah dia menceritakannya kepada teman-teman
duduknya agar dia tidak memasukkan bid’ah itu ke dalam hati mereka.
Bab 5: Jalan
Keselamatan bagi Seorang Mu’min
Bahasan
dalam bab ini dirancang sebagai puncak petunjuk praktis sekaligus kompas
penuntun bagi setiap hamba yang merindukan keselamatan agamanya di tengah
kecamuk fitnah jidal. Setelah mengenali hakikat perdebatan, tabiat ahli
bid’ah, serta kehancuran yang ditimbulkannya, bab ini menyajikan pilar-pilar
utama yang wajib dipegang teguh oleh seorang Mu’min. Uraian akan membimbing
pembaca untuk mencukupkan diri pada jalur atsar Salafus Sholih, merasa ridho
dengan ilmu yang diwariskan oleh para pendahulu yang sholih tanpa perlu
menambah hal-hal baru, mengalihkan seluruh konsentrasi pada perbaikan amalan
hati, serta membumikan ketergantungan jiwa hanya kepada Alloh tabaroka wa ta’ala
melalui doa mohon ketetapan hati hingga akhir hayat.
5.1
Cukup dengan Mengikuti Atsar dan Menjauhi Jidal
Benteng paling
kokoh yang dapat melindungi keselamatan aqidah dan kesucian jiwa seorang Mu’min
adalah mencukupkan diri pada riwayat dan atsar yang shohih dari Nabi ﷺ serta para Shohabat. Ketika
seseorang telah memiliki keyakinan yang mantap terhadap kecukupan wahyu, maka
keinginan untuk menjelajahi arena perdebatan otomatis memudar. Keindahan Islam
terletak pada ketundukan untuk mengikuti jejak petunjuk yang sudah jelas, bukan
pada keberanian merintis jalan pemikiran baru melalui silat kata yang melampaui
batas-batas syari’at.
Alloh subhanahu
wa ta’ala memberikan arahan tegas kepada seluruh hamba-Nya agar berpegang
teguh pada tali agama dan tidak berpaling dari ajaran yang telah diturunkan:
﴿ٱتَّبِعُوا
مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِۦٓ
أَوْلِيَآءَ ۗ
قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ﴾
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu dan janganlah kamu
mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil
pelajaran.” (QS. Al-A’rof: 3)
Petunjuk
mengenai keharusan berpegang pada Sunnah dan jalan Khulafaur Rosyidin saat
timbulnya perselisihan disabdakan secara rinci oleh Nabi ﷺ:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ»
“Maka wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah
Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham
kalian, dan waspadalah kalian dari perkara-perkara yang diada-adakan.” (HSR.
Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)
Prinsip
dasar ini ditegaskan secara abadi oleh Al-Imam Az-Zuhri (124 H). Beliau
menyampaikan kalimat mulia yang menjadi pilar pegangan para penuntut ilmu
sepanjang zaman:
«الِاعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ»
“Berpegang teguh pada Sunnah adalah keselamatan.” (Syarh Ushul I’tiqod
Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i, 1/63)
5.2
Ridho dengan Ilmu Salaf dan Menolak Hal Baru
Sikap ridho
terhadap ilmu yang dipercayai dan diamalkan oleh para Shohabat serta Tabi’in
merupakan kunci ketenangan jiwa seorang Mu’min. Generasi Salafus Sholih adalah
manusia-manusia yang paling dalam ilmunya, paling bersih hatinya, dan paling
sedikit membebani diri dengan kerumitan yang tidak berguna. Segala hal dalam
masalah aqidah dan asas-asas agama yang tidak pernah mereka perdebatkan, maka
tidak sepatutnya bagi generasi belakangan untuk membukanya kembali. Menolak
hal-hal baru dalam agama adalah konsekuensi logis dari rasa cukup terhadap
kesempurnaan syari’at yang telah diridhoi Alloh.
Alloh tabaroka
wa ta’ala telah menegaskan kesempurnaan ajaran Islam yang tidak membutuhkan
tambahan maupun perdebatan baru:
﴿ٱلْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ
دِينًا﴾
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama
bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Peringatan
keras Rosululloh ﷺ
terhadap setiap amalan atau pemikiran baru yang dimasukkan ke dalam ajaran
agama tertuang dalam sabda beliau:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ
مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini apa yang bukan
berasal darinya, maka dia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no.
1718)
Nasihat
monumental terkait hal ini dirumuskan oleh Abdullah bin Mas’ud (32 H). Beliau
memberikan petunjuk yang sangat jernih agar ummat tidak membebankan diri dengan
hal-hal yang tidak diwariskan oleh Salaf:
«اتَّبِعُوا وَلاَ تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ»
“Ikutilah oleh kalian (petunjuk Salaf) dan janganlah kalian membuat bid’ah,
karena sungguh kalian telah dicukupkan.” (Al-Zuhd, Waki’ bin Al-Jarroh, no.
315)
5.3
Fokus Amalan Hati dan Perbaikan Diri
Daripada
menghabiskan umur dan energi untuk melayani perdebatan yang melahirkan
kegelapan jiwa, seorang Mu’min yang cerdas akan mengalihkan seluruh
perhatiannya pada perbaikan kualitas ibadah dan pembersihan amalan hati. Waktu
yang berharga dimanfaatkan untuk introspeksi diri, memperbaiki keikhlasan,
memperbanyak istighfar, menangisi dosa-dosa pribadi, serta meningkatkan khusyuk
dalam sholat. Ketika seseorang sibuk menghitung kekurangan diri dan memperbaiki
hubungannya dengan Alloh, ia tidak lagi memiliki minat maupun waktu luang untuk
ikut campur dalam keributan jidal.
Alloh subhanahu
wa ta’ala menegaskan bahwasanya keberuntungan yang sejati di akhirat kelak
hanya akan diraih oleh orang-orang yang menghadap-Nya dengan hati yang bersih
dari penyakit ujub dan kesombongan:
﴿يَوْمَ
لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ
إِلَّا مَنْ أَتَى ٱللَّهَ
بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾
“(Yaitu) di hari di mana harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS.
Asy-Syu’aro: 88-89)
Nabi ﷺ mengingatkan bahwasanya pilar
utama kebaikan seluruh anggota badan manusia terpaut rapat pada kebaikan
segumpal daging yang ada di dalam dada:
«أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا
صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ
وَهِيَ القَلْبُ»
“Ketahuilah bahwasanya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila
ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh
tubuh, ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no.
1599)
Kesadaran
untuk memfokuskan diri pada perbaikan pribadi ini diutarakan oleh Fudhoil bin ‘Iyadh
(187 H). Beliau menjelaskan tanda orang yang benar-benar memahami hakikat
keselamatan jiwa:
«مَنْ عَرَفَ النَّاسَ اسْتَرَاحَ»
“Siapa yang mengenali (tabiat) manusia, maka dia akan beristirahat (tidak
sibuk mencari pujian atau berdebat dengan mereka).” (Majmu Fatawa, Ibnu
Taimiyyah, 1/93)
5.4
Memohon Ketetapan Hati Kepada Alloh
Langkah
pamungkas yang tidak boleh terputus dalam perjuangan menjaga diri dari
kesesatan setelah datangnya petunjuk adalah senantiasa bersimpuh memohon
ketetapan hati kepada Alloh tabaroka wa ta’ala. Seorang hamba tidak
boleh merasa jumawa atau aman dengan ilmu dan pemahaman yang dimilikinya saat
ini. Hati manusia sangat rapuh dan berada sepenuhnya dalam genggaman Alloh.
Tanpa hidayah dan taufiq yang terus-menerus dikaruniakan oleh-Nya, siapapun
bisa tergelincir masuk ke dalam jurang syubhat dan perdebatan yang membinasakan.
Alloh subhanahu
wa ta’ala mengabadikan doa orang-orang yang mendalam ilmunya agar selalu
diberi ketetapan hati dan dijauhkan dari penyimpangan:
﴿رَبَّنَا
لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً
ۚ
إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ﴾
“Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami cenderung kepada
kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada
kami rohmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi
(karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)
Doa yang
paling sering dipanjatkan oleh Nabi ﷺ untuk menjaga keteguhan jiwa di atas agama Alloh terekam dalam
riwayat Ummu Salamah rodhiyallahu ‘anha:
«يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى
دِينِكَ»
“Wahai Yang Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HSR. At-Tirmidzi no. 3522)
Sikap
kehati-hatian dan ketakutan akan fitnah ini diteladani oleh Sufyan Ats-Tsauri
(161 H). Beliau kerap menangis karena khawatir akan akhir kehidupannya dan
berpesan agar senantiasa bergantung pada perlindungan Alloh:
«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الْعَابِدِ
الْجَاهِلِ، وَفِتْنَةِ الْعَالِمِ الْفَاجِرِ، فَإِنَّ فِتنَتَهُمَا فِتْنَةٌ لِكُلِّ
مَفْتُونٍ»
“Berlindunglah kalian kepada Alloh dari fitnah ahli ibadah yang bodoh dan
fitnah orang berilmu yang jahat, karena sesungguhnya fitnah keduanya adalah
fitnah bagi setiap orang yang terfitnah.” (Az-Zuhd, Ibnul Mubarok, mulhaq
18)
Penutup
Menjalani
kehidupan di atas hidayah Al-Qur’an dan Sunnah merupakan anugerah yang tidak
ada tandingannya. Namun, menjaga agar hidayah tersebut tetap murni dan tidak
terpadamkan oleh syubhat memerlukan kesadaran tinggi serta kehati-hatian yang
ekstra. Sebagaimana telah diuraikan dari lembaran-lembaran bab awal hingga
akhir, perdebatan dalam agama bukanlah pintu kebaikan, melainkan celah gelap
yang kerap dimanfaatkan oleh syaithon dan ahli bid’ah untuk mengikis kelembutan
hati, merusak ukhuwah, serta memalingkan manusia dari tujuan utama
penciptaannya.
Seorang Mu’min
yang menginginkan keselamatan di dunia dan Akhirat hendaklah mencukupkan diri
dengan meneladani Salafus Sholih. Sampaikanlah kebenaran dengan lugas dan
santun. Apabila diterima, bersyukurlah kepada Alloh. Namun apabila ditolak atau
disambut dengan ajakan percekcokan, berpalinglah dengan penuh wibawa tanpa
mengotori lisan dan hati dalam arena jidal. Fokuskan sisa umur untuk
memperbaiki kualitas ibadah, mendalami ilmu yang bermanfaat, serta menjaga
kebersihan jiwa.
Semoga
Alloh tabaroka wa ta’ala senantiasa melimpahkan rohmat-Nya, menetapkan
hati kita di atas jalan lurus, dan menyelamatkan kita dari bahaya tersesat
setelah datangnya petunjuk.
Daftar Pustaka
Ø Al-Zuhd – Ibnul Mubarok (181 H)
Ø Al-Zuhd – Waki’ bin Al-Jarroh (197 H)
Ø Kitab
Az-Zuhd – Ahmad bin
Hanbal (241 H)
Ø Sunan
Ad-Darimi –
Ad-Darimi (255 H)
Ø Az-Zuhdu – Ibnu Abid-Dunya (281 H)
Ø Al-Ibanah
Al-Kubro – Ibnu
Batthoh (387 H)
Ø Syarh Ushul
I’tiqod Ahlis Sunnah
– Al-Lalaka’i (418 H)
Ø Al-Qodho’
wal Qodar –
Al-Baihaqi (458 H)
Ø Jami’
Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi – Ibnu Abdil Barr (463 H)
Ø Al-Istidzkar – Ibnu Abdil Barr (463 H)
Ø Iqtidho
Al-Ilmi Al-Amal –
Al-Khotib Al-Baghdadi (463 H)
Ø Shifatul
Fatwa – Ibnu Hamdan
(695 H)
Ø Majmu’
Fatawa – Ibnu
Taimiyyah (728 H)
Ø Siyar A’lam
An-Nubala –
Adz-Dzahabi (748 H)
Ø Fadhlu ‘Ilmi
Salaf ‘ala ‘Ilmi Kholaf – Ibnu Rojab (795 H)
