[PDF] AKHLAK Mahkota dari Segala Ilmu
AKHLAK
Mahkota dari Segala
Ilmu
Penulis:
Arfandi Al-Kubary
Nor Kandir
Fauzan Syahid Albana
Penerbit:
Sama Nulis Publisher
Halaman: 50
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
LISENSI
Buku ini diterbitkan dan didistribusikan dengan izin
dari para penulis dan penerbit. Informasi mengenai lisensi dan versi digital
dapat diperoleh melalui:
Belanja Ebook:
https://lynk.id/pustakasyabab
© 2026 Arfandi Al-Kubary, Nor Kandir & Fauzan
Syahid Albana
Diterbitkan oleh Sama Nulis Publisher — Kubu
Raya, Kalimantan Barat
Hak cipta dilindungi undang-undang. Hak cipta
dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak, menerbitkan kembali, atau
mendistribusikan sebagian maupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun
tanpa izin dari pemegang hak cipta, kecuali untuk penggunaan yang dibenarkan
oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku
﷽
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah
kepada Rosululloh ﷺ,
keluarga, dan para Shohabat beliau sekalian.
Amma ba’du:
Ilmu
merupakan perantara mulia untuk mengenali kebenaran serta membedakan kebaikan
dari keburukan. Namun, seluruh pencapaian wawasan teoritis dan kekayaan hafalan
riwayat tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya tanpa dihiasi oleh
keagungan tabiat serta keindahan tata krama. Akhlak merupakan buah sekaligus
mahkota yang menempati puncak tertinggi dari seluruh disiplin keilmuan. Tanpa
keluhuran watak, ilmu yang dikuasai seseorang rentan menjadi mandul dan tidak
mampu mengangkat derajat pemiliknya di hadapan Alloh maupun di tengah kehidupan
manusia. Oleh karena itu, buku ini hadir untuk menegaskan kembali hakikat
keutamaan adab yang mendasari perjalanan seorang Muslim dalam menuntut ilmu dan
mengarungi pergaulan hidup.
Pembahasan
dalam karya ini berurutan dan saling mengikat untuk membangun pemahaman yang
utuh mengenai urgensi akhlak. Perjalanan diawali pada Bab 1: Kedudukan
Akhlak di Puncak Ilmu, yang menguraikan posisi mulia ilmu akhlak sebagai
sari pati dan mahkota dari seluruh cabang pengetahuan syar’i. Setelah memahami
kedudukannya yang utama, pembahasan dilanjutkan pada Bab 2: Akhlak yang Melapangkan
Hidup, guna menunjukkan dampak nyata dari keluhuran perangai dalam
melunakkan kekerasan hati serta membukakan pintu kemudahan di tengah pergaulan
sesama.
Kemudahan
hubungan sosial tersebut kemudian ditarik lebih dalam menuju akar hakikinya
pada Bab 3: Adab, Cermin Kebahagiaan Sejati, yang menegaskan bahwa
keterbukaan kebaikan dunia dan Akhiroh terletak pada penegakan adab kepada Alloh,
Rosul-Nya ﷺ,
dan seluruh hamba. Sebaliknya, pengabaian terhadap nilai-nilai adab ini
dipaparkan dalam Bab 4: Ilmu yang Mandul Tanpa Akhlak, sebagai
peringatan bahwasanya tumpukan ilmu tanpa perhiasan karakter mulia ibarat tanah
gersang yang tidak sanggup menumbuhkan manfaat. Kesadaran akan bahaya ilmu
tanpa adab ini diperkuat pada Bab 5: Peringatan Keras dari Generasi Salaf,
yang mengetengahkan ketegasan para ulama terdahulu dalam mendahulukan penanaman
tata krama sebelum pengumpulan riwayat.
Landasan
tersebut membawa pemahaman kita pada kedudukan hakiki sebagaimana dirumuskan
dalam Bab 6: Adab adalah Agama itu Sendiri, di mana seluruh ibadah
ritual menemukan wujud penjiwaan batinnya melalui penegakan adab.
Selanjutnya,
manifestasi keagungan watak ini dipandang sebagai bukti keimanan seseorang pada
Bab 7: Bentuk Kesempurnaan Iman, sebab insan Mu’min yang paling sempurna
imannya adalah yang paling mulia perilakunya. Kemuliaan perangai ini tidak
hanya memberikan keindahan selama di dunia, melainkan berlanjut hingga
kehidupan sesudah mati sebagaimana diuraikan dalam Bab 8: Pemberat Timbangan
Kelak di Akhirat, sebagai amalan paling berat yang menolong hamba di hari
penimbangan.
Puncak dari
seluruh keutamaan tersebut ditutup dengan indah pada Bab 9: Kedudukan Dekat
dengan Rosululloh ﷺ,
yang membukakan harapan tertinggi bagi setiap Muslim untuk meraih tempat duduk
yang paling dekat dengan Nabi ﷺ
di Jannah kelak berkat keluhuran akhlaknya.
Semoga Alloh
menjadikan penyusunan buku ini bermanfaat, membimbing kita semua untuk
senantiasa menghiasi ilmu dengan keagungan adab, serta menghimpun kita bersama
Rosululloh ﷺ
di dalam Jannah-Nya.
Setiap
cabang ilmu syar’i dibangun di atas landasan yang mengantarkan hamba kepada
pengenalan Alloh. Namun, tatanan ilmu tersebut belum mencapai puncak
kesempurnaannya sebelum membuahkan pembentukan karakter dan keagungan perangai.
Miqdad Yaljin (1442 H) memaparkan dalam Ilm al-Akhlaq al-Islamiyyah
bahwa para ulama bersepakat menempatkan ilmu akhlak pada derajat tertinggi,
kendati mereka menggunakan redaksi penyebutan yang beragam:
فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ إِكْلِيلُ
الْعُلُومِ جَمِيعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ تَاجُ الْعُلُومِ، وَمِنْهُمْ
مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ زُبْدَةُ الْعُلُومِ
“Sebagian
menyebutnya karangan bunga bagi seluruh ilmu, sebagian menyebutnya mahkota
ilmu-ilmu, dan sebagian lagi menyebutnya sari pati dari semua ilmu.” (Ilm
al-Akhlaq al-Islamiyyah, Miqdad Yaljin, 1/7)
Keterkaitan
antara ilmu dan keluhuran tingkah laku merupakan jalinan ikatan yang tidak
terpisahkan. Segala ilmu pengetahuan hukum dan kaidah fikih difungsikan sebagai
perantara untuk membedakan kebenaran dari kebatilan, sedangkan keluhuran watak
adalah wujud dari pengamalan ilmu tersebut.
Gagasan
utama dan buah dari seluruh pengetahuan: ilmu-ilmu yang lain dianggap sebagai
sarana yang membantu untuk mengenali kebenaran, membedakan kebaikan dari
keburukan, serta yang bermanfaat dari yang berbahaya. Sementara akhlak adalah
penerapan nyata dan buah akhir dari seluruh pengetahuan tersebut.
Derajat
keilmuan yang tinggi tidak dilandasi oleh sekadar perbendaharaan hafalan,
melainkan oleh rasa takut kepada Alloh yang tercermin pada kesantunan
perilakunya. Ibnu Mas’ud (32 H) menegaskan penjelasannya:
«لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا
الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ»
“Ilmu itu
bukanlah dengan banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah rasa takut kepada
Alloh.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Ibn ‘Abdil Barr, 1/758)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) pun menerangkan rahasia di balik pengutamaan ilmu di atas
perkara lainnya:
إِنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى
اللَّهُ بِهِ، فَمِنْ ثَمَّ فَضُلَ، فَلَوْلَا ذَلِكَ لَكَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ
“Sungguh
ilmu itu dituntut semata-mata agar Alloh ditakuti dengannya. Oleh karena itulah
ilmu diutamakan atas selainnya; jika bukan karena hal itu, niscaya ilmu sama
saja seperti perkara-perkara lainnya.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Ibn
‘Abdil Barr, 1/749)
Kelembutan
perangai merupakan kunci utama yang membukakan pintu kebaikan dalam pergaulan
antarmanusia serta melapangkan berbagai kesempitan hidup. Imam Al-Mawardi (450
H) menegaskan dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din:
فَإِذَا حَسُنَتْ أَخْلَاقُ الْإِنْسَانِ
كَثُرَ مُصَافُوهُ، وَقَلَّ مُعَادُوهُ، فَتَسَهَّلَتْ عَلَيْهِ الْأُمُورُ الصِّعَابُ،
وَلَانَتْ لَهُ الْقُلُوبُ الْغِضَابُ
“Apabila
akhlak seseorang baik, bertambahlah sahabat-sahabat tulusnya dan berkuranglah
musuh-musuhnya. Maka perkara-perkara yang sulit menjadi mudah baginya, dan
hati-hati yang murka pun melunak kepadanya.” (Adab ad-Dunya wa ad-Din,
Al-Mawardi, 1/243)
Alloh
memerintahkan para hamba-Nya untuk membalas perlakuan buruk dengan cara yang
jauh lebih utama, sehingga permusuhan dapat berbalik menjadi pertemanan yang
sangat erat:
﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي
بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
“Tolaklah
perbuatan buruk itu dengan cara yang lebih baik. Jika engkau melakukannya,
siapa yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan berubah menjadi
seolah-olah teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)
Karakter
pribadi yang tenang, mudah dijangkau, serta tidak mempersulit urusan sesama
merupakan sifat ahli Jannah yang terhindar dari siksa api Naar:
«حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ
سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنَ النَّاسِ»
“Diharamkan
atas api neraka setiap orang yang tenang, lembut, mudah, dan dekat dengan
manusia.” (HSR. Ahmad no. 3938 dan At-Tirmidzi no. 2488)
Nabi ﷺ melarang kebiasaan saling
membenci serta saling membelakangi, seraya memerintahkan untuk menguatkan
persaudaraan di jalan Alloh:
«لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا،
وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»
“Janganlah
kalian saling membenci, jangan saling mendustakan kebaikan orang lain, dan
jangan saling membelakangi, melainkan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang
bersaudara.” (HR. Al-Bukhori no. 6065 dan Muslim no. 2559)
Sifat
pemaaf dan kemauan untuk menanggung beban gangguan orang lain merupakan
perhiasan utama bagi diri seorang Muslim. Al-Hasan Al-Bashri (110 H)
menerangkan hakikat kebaikan watak ini:
حُسْنُ الْخُلُقِ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ
النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى
“Akhlaq
yang baik adalah wajah yang berseri-seri, mencurahkan kebaikan (dermawan), dan
menahan diri dari mengganggu orang lain.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil
Masobih, Al-Mullo ‘Ali Al-Qori [1014 H], 8/3177)
Keluhuran
tata krama merupakan cerminan kebaikan batin seseorang serta penentu
keterbukaan kebaikan di dunia dan Akhiroh. Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah (751 H)
menerangkan dalam Madarij as-Salikin:
وَأَدَبُ الْمَرْءِ: عُنْوَانُ سَعَادَتِهِ
وَفَلَاحِهِ، وَقِلَّةُ أَدَبِهِ: عُنْوَانُ شَقَاوَتِهِ وَبَوَارِهِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ
خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِمِثْلِ الْأَدَبِ، وَلَا اسْتُجْلِبَ حِرْمَانُهُمَا
بِمِثْلِ قِلَّةِ الْأَدَبِ
“Adab
seseorang adalah tanda kebahagiaan serta keberuntungannya, sedangkan sedikitnya
adab seseorang adalah tanda kesengsaraan serta kebinasaannya. Maka tidaklah
kebaikan dunia dan Akhiroh didapatkan dengan sesuatu yang semisal adab, dan
tidaklah terhalangnya kebaikan keduanya didapatkan dengan sesuatu yang semisal
sedikit adab.” (Madaarijus Saalikiin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah [751 H], 3/162)
Tiga
tingkatan adab yang menopang kebahagiaan hamba meliputi: adab kepada Alloh
dengan mentauhidkan-Nya, adab kepada Rosululloh ﷺ dengan mengagungkan
syariatnya, serta adab kepada sesama makhluk dengan menunaikan hak-hak mereka. Alloh
memerintahkan pengagungan terhadap aturan-aturan agama-Nya:
﴿ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا
مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾
“Demikianlah
perintah Alloh. Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Alloh, sungguh perbuatan
itu timbul dari taqwa hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Penjagaan
adab tata krama ketika berada di hadapan Rosululloh ﷺ serta penetapan ketundukan
terhadap syariatnya merupakan syarat utama diterimanya amalan. Alloh berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا
أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ
بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ﴾
“Wahai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan
janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya
suara sebagian kamu kepada sebagian yang lain, agar tidak hapus amalan-amalanmu
sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurot: 2)
Ibnul
Mubarok (181 H) mengaitkan hubungan antara penegakan adab dengan keselamatan
maqom keimanan hamba:
مَنْ تَهَاوَنَ بِالأَدَبِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ
السُّنَنِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالسُّنَنِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ الْفَرَائِضِ، وَمَنْ
تَهَاوَنَ بِالْفَرَائِضِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ الْمَعْرِفَةِ
“Siapa yang
meremehkan adab, niscaya dia dihukum dengan dihalangi dari Sunnah-Sunnah. Siapa
yang meremehkan Sunnah-Sunnah, niscaya dia dihukum dengan dihalangi dari kewajiban-kewajiban.
Siapa yang meremehkan kewajiban-kewajiban, niscaya dia dihukum dengan dihalangi
dari ma’rifah (pengenalan kepada Alloh).” (Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim
Al-Jawziyyah, 2/360)
Keindahan
ilmu pengetahuan tidak akan memancar tanpa dihiasi oleh keelokan kebiasaan dan
kerendahan hati. Seorang penyair mengutarakan perumpamaan tanah yang gersang
bagi tumbuhnya tanam-tanaman:
فَلَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ عَقِيمٍ وَإِنَّنِي
... أَرَى الْعِلْمَ دُونَ الْخُلُقِ لَا يَرْفَعُ الرَّأْسَا
هَلِ الْغَيْثُ يُعْطِي ثَرْوَةَ الزَّرْعِ
وَحْدَهُ ... إِذَا الْأَرْضُ لَمْ تَصْلُحْ لِأَنْ تَحْضُنَ الْغَرْسَا
“Maka tidak
ada kebaikan pada ilmu yang mandul (tidak berbuah), dan sungguh aku melihat
ilmu tanpa akhlaq tidak akan mengangkat derajat. Apakah hujan mampu memberikan
limpahan tanaman dengan sendirinya, jika tanahnya tidak layak untuk memeluk
benih tanaman?” (Diwan Asy-Syaikh Ahmad Sahnun, Ahmad Sahnun [1424 H],
2/371)
Pencapaian
ketinggian derajat keilmuan seseorang tidak diukur dari seberapa luas wawasan
teoritisnya, melainkan dari sejauh mana adab menghiasi setiap perilakunya.
Abdullah bin al-Mubarok (181 H) menegaskan:
لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنْ
الْعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عَمَلَهُ بِالْأَدَبِ
“Seseorang
tidak akan dianggap mulia dengan cabang ilmu apa pun yang dikuasainya, selama
ia belum menghiasi amalnya dengan adab.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu
Muflih, 3/552)
Kedudukan
penuntut ilmu yang melupakan penghiasan dirinya dengan adab disamakan seperti
orang yang mengumpulkan kayu bakar di malam hari tanpa menyadari adanya bahaya.
Alloh mengumpamakan pemilik kitab yang tidak mengamalkan reaches keilmuannya:
﴿مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ
لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا﴾
“Perumpamaan
orang-orang yang dipikul beban Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak
mengamalkannya), adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS.
Al-Jumu’ah: 5)
Sufyan bin ‘Uyaynah
(198 H) menggarisbawahi keharusan berpadunya ilmu dengan tindakan nyata:
«إِذَا كَانَ نَهَارِي نَهَارَ سَفِيهٍ، وَلَيْلِي
لَيْلَ جَاهِلٍ، فَمَا أَصْنَعُ بِالْعِلْمِ الَّذِي كَتَبْتُ؟»
“Apabila
siangku adalah siang orang yang dungu dan malamku adalah malam orang yang
bodoh, maka apa yang akan aku perbuat dengan ilmu yang telah aku tulis?” (Akhlaqul
Ulama, Al-Ajurri, 1/72)
Generasi
Salafus Sholih menaruh perhatian yang sangat mendalam terhadap penanaman adab
sebelum memasuki pembacaan riwayat dan penelaahan fikih. Imam al-Bushanji (291
H) memberikan peringatan yang sangat tegas:
مَنْ أَرَادَ العِلْمَ وَالفِقْهَ بِغَيْرِ
أَدَبٍ، فَقَدْ اقْتَحَمَ أَنْ يَكْذِبَ عَلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ
“Siapa yang
menginginkan ilmu dan fiqh tanpa adab, sungguh ia telah nekat untuk
berbuat dusta atas nama Alloh dan Rosul-Nya.” (Siyar A’laamin Nubalaa’,
Adz-Dzahabi [748 H], 13/586)
Pembagian
waktu untuk menimba tata krama diutamakan melebihi alokasi waktu pencarian
hafalan. Abdullah bin al-Mubarok (181 H) mengisahkan pengalaman usahanya dalam
menuntut ilmu:
طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلاثِينَ سَنَةً،
وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانُوا يَطْلُبُونَ الأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ
“Aku
menuntut adab selama 30 tahun, dan menuntut ilmu selama 20 tahun; begitulah
generasi salaf — mereka menuntut adab terlebih dahulu, baru kemudian ilmu.” (Ghoyatun
Nihayah fi Thobaqotil Qurro’, Ibnul Jazari, 1/446)
Beliau juga
menambahkan penjelasannya mengenai porsi kedudukan adab dalam struktur
keilmuan:
كَادَ الأَدَبُ يَكُونُ ثُلُثَيِ الْعِلْمِ
“Hampir
saja adab itu menjadi 2/3 dari ilmu.” (Min Hadyis Salaf fi Tholabil ‘Ilmi,
Muhammad bin Mathar Az-Zahrani [1427 H], 1/25)
Pengutamaan
penguasaan adab atas penumpukan hafalan riwayat menjadi pegangan para penuntut
ilmu masa lampau. Makhlad bin al-Husain (191 H) berujar di hadapan Ibnu
al-Mubarok:
نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ
أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ
“Kita lebih
membutuhkan banyaknya adab, ketimbang menumpuk banyaknya riwayat hadis.” (Al-Jami
li Akhlaqir Rowi, Khotib Baghdadi, hal. 80)
Imam Malik
(179 H) pernah memberikan nasihat berharga kepada seorang pemuda dari suku Quroiys
yang sedang menuntut ilmu:
يَا ابْنَ أَخِي، تَعَلَّمِ الأَدَبَ
قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ
“Wahai
putra saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” (Khulashoh
Ta’zhim Ilmi, Dr. Al-Ushoimi, hal. 25)
Adab merupakan
perwujudan dari penyerahan diri hamba kepada Alloh. Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah
(751 H) menegaskan kedudukan tersebut dalam sebuah kaidah yang amat padat:
الأَدَبُ هُوَ الدِّينُ كُلُّهُ
“Adab
adalah keseluruhan agama itu sendiri.” (Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim
Al-Jawziyyah, 2/363)
Setiap
bentuk ibadah ritual—seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji—memiliki tata cara
lahiriah serta penjiwaan batiniah yang seluruhnya berakar pada penegakan adab. Alloh
memerintahkan pemeliharaan kebersihan diri serta kesopanan pakaian tatkala
mendatangi Masjid:
﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ
مَسْجِدٍ﴾
“Wahai anak
cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap memasuki Masjid.” (QS.
Al-A’rof: 31)
Ketidakadaan
adab dalam berinteraksi dengan Alloh dan ketentuan syariat-Nya dapat merusak
fondasi keagamaan seseorang tanpa disadari. Adab secara lahir dan batin adalah
hakikat ibadah itu sendiri.
Tingkat
keimanan seseorang berbanding lurus dengan keindahan tingkah laku dan
kelembutan sikapnya terhadap sesama hamba. Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ
خُلُقًا»
“Orang Mu’min
yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 1162 dan Ahmad no. 7402)
Misi utama
pengutusan Nabi ﷺ
ke muka bumi difokuskan untuk memperbaiki serta menyempurnakan keagungan watak
manusia:
«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ»
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HSR. Ahmad no. 8953)
Para
Shohabat dan Tabi’in memberikan rumusan praktis mengenai batasan kebaikan watak
ini. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) menjelaskan:
حُسْنُ الْخُلُقِ: بَسْطُ الْوَجْهِ،
وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ، وَكَفُّ الْأَذَى
“Akhlak
baik adalah bermuka ceria, gemar berbuat kebaikan, dan menahan gangguan kepada
orang lain.” (HR. At-Tirmidzi no. 2005, sanadnya shohih)
Sifat malu
juga ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ikatan keimanan seseorang.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ
وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا
إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»
“Iman itu
ada 70 lebih atau 60 lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha
illalloh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan,
serta malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan lafazh
Muslim no. 35)
Amalan
kebaikan tingkah laku memiliki bobot pahala yang sangat luar biasa tatkala
ditimbang pada hari Qiyamah kelak. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ
حُسْنِ الْخُلُقِ»
“Tidak ada
sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mu’min pada hari Qiyamah
daripada akhlak yang baik.” (HSR. Abu Dawud no. 4799)
Keagungan
pahala perangai yang mulia dapat menyamai kedudukan ibadah-ibadah fisik yang
dilakukan secara berkesinambungan:
«مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي المِيزَانِ أَثْقَلُ
مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ
الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ»
“Tidak ada
yang lebih berat di timbangan daripada akhlak yang baik, dan pemilik akhlak
baik akan mencapai derajat ahli Puasa dan Sholat.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2003)
Yahya bin
Mu’adz Ar-Rozi (258 H) menegaskan keutamaan akhlak yang mulia dalam menghapus
dampak keburukan:
سُوءُ الْخُلُقِ سَيِّئَةٌ لَا تَنْفَعُ
مَعَهَا كَثْرَةُ الْحَسَنَاتِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ حَسَنَةٌ لَا تَضُرُّ مَعَهَا كَثْرَةُ
السَّيِّئَاتِ
“Buruknya
akhlaq adalah keburukan yang banyaknya kebaikan tidak bermanfaat bersamanya,
dan baiknya akhlaq adalah kebaikan yang banyaknya keburukan tidak membahayakan
bersamanya.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, Abu Hamid Al-Ghozali [505 H], 3/57)
Alloh
mengabarkan keadilan penimbangan amalan pada hari kiamat:
﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ
فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا
بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ﴾
“Kami akan
meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari Qiyamah, maka tidak ada satu
jiwa pun yang dirugikan sedikit pun. Jika amalan itu hanya seberat biji sawi
pun, pasti Kami akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)
Kedekatan
posisi duduk seorang hamba di majelis Rosululloh ﷺ di dalam Jannah kelak
ditentukan oleh keutamaan akhlak yang dimilikinya selama hidup di dunia.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ
مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا»
“Sesungguhnya
orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya
denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling baik akhlaknya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2018)
Sifat
rendah hati serta kemudahan untuk menjalin persaudaraan merupakan penanda
kedekatan tersebut:
أَكْمَلُ النَّاسِ إِيمَانًا أَحَاسِنُهُمْ
أَخْلاقًا، الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا، الَّذِينَ يَألَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَلَا
خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَألَفُ وَلَا يُؤْلَفُ»
“Sesungguhnya
yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya, yang
rendah hati, yang mudah akrab dan mudah diajak akrab.” (As-Shohihah no. 751)
Perbanyaklah
banyak rasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikan, jujur lisan, sedikit
bicara, banyak beramal, sedikit tergelincir, dan sedikit ikut campur yang bukan
urusanmu.
Fudhoil bin
Iyadh juga berwasiat tentang pentingnya memilih kawan bergaul yang berwatak
mulia:
إِذَا خَالَطَتَ النَّاسَ فَخَالِطِ الْحَسَنَ
الْخُلُقِ فَإِنَّهُ لَا يَدْعُو إِلَّا إِلَى خَيْرٍ
“Jika
engkau bergaul dengan manusia, maka bergaullah dengan orang yang baik akhlaqnya,
karena sungguh ia tidak mengajak melainkan kepada kebaikan.” (Makarimul
Akhlaq, Al-Khoro’ithi [327 H], 1/34)
Demikianlah
pemaparan ringkas mengenai keagungan akhlak dan adab sebagai mahkota dari
segala ilmu. Apa yang benar dan bijak dalam buku ini semata-mata berasal dari
petunjuk Alloh dan bimbingan Sunnah Rosul-Nya ﷺ. Adapun segala kekurangan, kekhilafan, maupun kekeliruan dalam
penataan kata, maka hal itu berasal dari kelemahan diri kami sendiri dan dari
syaithon. Kami memohon ampunan kepada Alloh atas segala bentuk kesilapan
tersebut.
Semoga Alloh
berkenan menerima amalan penyusunan buku ini sebagai amal sholih yang ikhlas
mengharap Ridho-Nya semata, serta menjadikannya pemberat timbangan kebaikan
bagi kami, para pembaca, dan siapa saja yang menyebarluaskannya kelak di hari
Qiyamah.
Semoga Alloh
senantiasa menghiasi diri kita dengan keluhuran tabiat, memperbagus akhlak kita
sebagaimana Beliau telah memperbagus rupa kita, serta mengumpulkan kita bersama
Rosululloh ﷺ
di dalam Jannah-Nya yang tertinggi.
Subhanakalloohumma
wa bihamdika, asyhadu alla ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.
Arfandi
Al-Kubary
Nor Kandir
Fauzan
Syahid Albana
1. Jami’
Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih – Ibn ‘Abdil Barr (463 H)
2. Adab
ad-Dunya wa ad-Din – Al-Mawardi (450 H)
3. Al-Jami’
li Akhlaqir Rowi wa Adabis Sami’ – Khotib Baghdadi (463 H)
4. Ihya’
‘Ulumiddin – Abu Hamid Al-Ghozali (505 H)
5. Siyar
A’laamin Nubalaa’ – Adz-Dzahabi (748 H)
6. Madarij
as-Salikin – Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah (751 H)
7. Al-Adab
Asy-Syar’iyyah – Ibnu Muflih (763 H)
8. Ghoyatun
Nihayah fi Thobaqotil Qurro’ – Ibnul Jazari (833 H)
9. Mirqotul
Mafatih Syarh Misykatil Masobih – Al-Mullo ‘Ali Al-Qori (1014 H)
10. Diwan
Asy-Syaikh Ahmad Sahnun – Ahmad Sahnun (1424 H)
11. Min
Hadyis Salaf fi Tholabil ‘Ilmi – Muhammad bin Mathar Az-Zahrani (1427 H)
12. Ilm
al-Akhlaq al-Islamiyyah – Miqdad Yaljin (1442 H)
13. Khulashoh
Ta’zhim Ilmi – Sholih bin Abdullah bin Hamad Al-Ushoimi
