Cari Ebook

[PDF] AKHLAK Mahkota dari Segala Ilmu

 


AKHLAK

Mahkota dari Segala Ilmu

Penulis:

Arfandi Al-Kubary
Nor Kandir
Fauzan Syahid Albana


Penerbit:
Sama Nulis Publisher

Halaman: 50
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

LISENSI

Buku ini diterbitkan dan didistribusikan dengan izin dari para penulis dan penerbit. Informasi mengenai lisensi dan versi digital dapat diperoleh melalui:

www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook:
https://lynk.id/pustakasyabab


© 2026 Arfandi Al-Kubary, Nor Kandir & Fauzan Syahid Albana
Diterbitkan oleh Sama Nulis Publisher
— Kubu Raya, Kalimantan Barat

Hak cipta dilindungi undang-undang. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak, menerbitkan kembali, atau mendistribusikan sebagian maupun seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin dari pemegang hak cipta, kecuali untuk penggunaan yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku

 

﷽

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, dan para Shohabat beliau sekalian.

Amma ba’du:

Ilmu merupakan perantara mulia untuk mengenali kebenaran serta membedakan kebaikan dari keburukan. Namun, seluruh pencapaian wawasan teoritis dan kekayaan hafalan riwayat tidak akan pernah mencapai kesempurnaannya tanpa dihiasi oleh keagungan tabiat serta keindahan tata krama. Akhlak merupakan buah sekaligus mahkota yang menempati puncak tertinggi dari seluruh disiplin keilmuan. Tanpa keluhuran watak, ilmu yang dikuasai seseorang rentan menjadi mandul dan tidak mampu mengangkat derajat pemiliknya di hadapan Alloh maupun di tengah kehidupan manusia. Oleh karena itu, buku ini hadir untuk menegaskan kembali hakikat keutamaan adab yang mendasari perjalanan seorang Muslim dalam menuntut ilmu dan mengarungi pergaulan hidup.

Pembahasan dalam karya ini berurutan dan saling mengikat untuk membangun pemahaman yang utuh mengenai urgensi akhlak. Perjalanan diawali pada Bab 1: Kedudukan Akhlak di Puncak Ilmu, yang menguraikan posisi mulia ilmu akhlak sebagai sari pati dan mahkota dari seluruh cabang pengetahuan syar’i. Setelah memahami kedudukannya yang utama, pembahasan dilanjutkan pada Bab 2: Akhlak yang Melapangkan Hidup, guna menunjukkan dampak nyata dari keluhuran perangai dalam melunakkan kekerasan hati serta membukakan pintu kemudahan di tengah pergaulan sesama.

Kemudahan hubungan sosial tersebut kemudian ditarik lebih dalam menuju akar hakikinya pada Bab 3: Adab, Cermin Kebahagiaan Sejati, yang menegaskan bahwa keterbukaan kebaikan dunia dan Akhiroh terletak pada penegakan adab kepada Alloh, Rosul-Nya ﷺ, dan seluruh hamba. Sebaliknya, pengabaian terhadap nilai-nilai adab ini dipaparkan dalam Bab 4: Ilmu yang Mandul Tanpa Akhlak, sebagai peringatan bahwasanya tumpukan ilmu tanpa perhiasan karakter mulia ibarat tanah gersang yang tidak sanggup menumbuhkan manfaat. Kesadaran akan bahaya ilmu tanpa adab ini diperkuat pada Bab 5: Peringatan Keras dari Generasi Salaf, yang mengetengahkan ketegasan para ulama terdahulu dalam mendahulukan penanaman tata krama sebelum pengumpulan riwayat.

Landasan tersebut membawa pemahaman kita pada kedudukan hakiki sebagaimana dirumuskan dalam Bab 6: Adab adalah Agama itu Sendiri, di mana seluruh ibadah ritual menemukan wujud penjiwaan batinnya melalui penegakan adab.

Selanjutnya, manifestasi keagungan watak ini dipandang sebagai bukti keimanan seseorang pada Bab 7: Bentuk Kesempurnaan Iman, sebab insan Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia perilakunya. Kemuliaan perangai ini tidak hanya memberikan keindahan selama di dunia, melainkan berlanjut hingga kehidupan sesudah mati sebagaimana diuraikan dalam Bab 8: Pemberat Timbangan Kelak di Akhirat, sebagai amalan paling berat yang menolong hamba di hari penimbangan.

Puncak dari seluruh keutamaan tersebut ditutup dengan indah pada Bab 9: Kedudukan Dekat dengan Rosululloh ﷺ, yang membukakan harapan tertinggi bagi setiap Muslim untuk meraih tempat duduk yang paling dekat dengan Nabi ﷺ di Jannah kelak berkat keluhuran akhlaknya.

Semoga Alloh menjadikan penyusunan buku ini bermanfaat, membimbing kita semua untuk senantiasa menghiasi ilmu dengan keagungan adab, serta menghimpun kita bersama Rosululloh ﷺ di dalam Jannah-Nya.

 

Setiap cabang ilmu syar’i dibangun di atas landasan yang mengantarkan hamba kepada pengenalan Alloh. Namun, tatanan ilmu tersebut belum mencapai puncak kesempurnaannya sebelum membuahkan pembentukan karakter dan keagungan perangai. Miqdad Yaljin (1442 H) memaparkan dalam Ilm al-Akhlaq al-Islamiyyah bahwa para ulama bersepakat menempatkan ilmu akhlak pada derajat tertinggi, kendati mereka menggunakan redaksi penyebutan yang beragam:

فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ إِكْلِيلُ الْعُلُومِ جَمِيعًا، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ تَاجُ الْعُلُومِ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ: إِنَّهُ زُبْدَةُ الْعُلُومِ

“Sebagian menyebutnya karangan bunga bagi seluruh ilmu, sebagian menyebutnya mahkota ilmu-ilmu, dan sebagian lagi menyebutnya sari pati dari semua ilmu.” (Ilm al-Akhlaq al-Islamiyyah, Miqdad Yaljin, 1/7)

Keterkaitan antara ilmu dan keluhuran tingkah laku merupakan jalinan ikatan yang tidak terpisahkan. Segala ilmu pengetahuan hukum dan kaidah fikih difungsikan sebagai perantara untuk membedakan kebenaran dari kebatilan, sedangkan keluhuran watak adalah wujud dari pengamalan ilmu tersebut.

Gagasan utama dan buah dari seluruh pengetahuan: ilmu-ilmu yang lain dianggap sebagai sarana yang membantu untuk mengenali kebenaran, membedakan kebaikan dari keburukan, serta yang bermanfaat dari yang berbahaya. Sementara akhlak adalah penerapan nyata dan buah akhir dari seluruh pengetahuan tersebut.

Derajat keilmuan yang tinggi tidak dilandasi oleh sekadar perbendaharaan hafalan, melainkan oleh rasa takut kepada Alloh yang tercermin pada kesantunan perilakunya. Ibnu Mas’ud (32 H) menegaskan penjelasannya:

«لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ خَشْيَةُ اللَّهِ»

“Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah rasa takut kepada Alloh.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Ibn ‘Abdil Barr, 1/758)

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) pun menerangkan rahasia di balik pengutamaan ilmu di atas perkara lainnya:

إِنَّمَا يُطْلَبُ الْعِلْمُ لِيُتَّقَى اللَّهُ بِهِ، فَمِنْ ثَمَّ فَضُلَ، فَلَوْلَا ذَلِكَ لَكَانَ كَسَائِرِ الْأَشْيَاءِ

“Sungguh ilmu itu dituntut semata-mata agar Alloh ditakuti dengannya. Oleh karena itulah ilmu diutamakan atas selainnya; jika bukan karena hal itu, niscaya ilmu sama saja seperti perkara-perkara lainnya.” (Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, Ibn ‘Abdil Barr, 1/749)

 

Kelembutan perangai merupakan kunci utama yang membukakan pintu kebaikan dalam pergaulan antarmanusia serta melapangkan berbagai kesempitan hidup. Imam Al-Mawardi (450 H) menegaskan dalam Adab ad-Dunya wa ad-Din:

فَإِذَا حَسُنَتْ أَخْلَاقُ الْإِنْسَانِ كَثُرَ مُصَافُوهُ، وَقَلَّ مُعَادُوهُ، فَتَسَهَّلَتْ عَلَيْهِ الْأُمُورُ الصِّعَابُ، وَلَانَتْ لَهُ الْقُلُوبُ الْغِضَابُ

“Apabila akhlak seseorang baik, bertambahlah sahabat-sahabat tulusnya dan berkuranglah musuh-musuhnya. Maka perkara-perkara yang sulit menjadi mudah baginya, dan hati-hati yang murka pun melunak kepadanya.” (Adab ad-Dunya wa ad-Din, Al-Mawardi, 1/243)

Alloh memerintahkan para hamba-Nya untuk membalas perlakuan buruk dengan cara yang jauh lebih utama, sehingga permusuhan dapat berbalik menjadi pertemanan yang sangat erat:

﴿ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾

“Tolaklah perbuatan buruk itu dengan cara yang lebih baik. Jika engkau melakukannya, siapa yang antara engkau dan dia ada permusuhan akan berubah menjadi seolah-olah teman yang sangat setia.” (QS. Fussilat: 34)

Karakter pribadi yang tenang, mudah dijangkau, serta tidak mempersulit urusan sesama merupakan sifat ahli Jannah yang terhindar dari siksa api Naar:

«حُرِّمَ عَلَى النَّارِ كُلُّ هَيِّنٍ لَيِّنٍ سَهْلٍ قَرِيبٍ مِنَ النَّاسِ»

“Diharamkan atas api neraka setiap orang yang tenang, lembut, mudah, dan dekat dengan manusia.” (HSR. Ahmad no. 3938 dan At-Tirmidzi no. 2488)

Nabi ﷺ melarang kebiasaan saling membenci serta saling membelakangi, seraya memerintahkan untuk menguatkan persaudaraan di jalan Alloh:

«لاَ تَبَاغَضُوا، وَلاَ تَحَاسَدُوا، وَلاَ تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا»

“Janganlah kalian saling membenci, jangan saling mendustakan kebaikan orang lain, dan jangan saling membelakangi, melainkan jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhori no. 6065 dan Muslim no. 2559)

Sifat pemaaf dan kemauan untuk menanggung beban gangguan orang lain merupakan perhiasan utama bagi diri seorang Muslim. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) menerangkan hakikat kebaikan watak ini:

حُسْنُ الْخُلُقِ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى

“Akhlaq yang baik adalah wajah yang berseri-seri, mencurahkan kebaikan (dermawan), dan menahan diri dari mengganggu orang lain.” (Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Masobih, Al-Mullo ‘Ali Al-Qori [1014 H], 8/3177)

 

Keluhuran tata krama merupakan cerminan kebaikan batin seseorang serta penentu keterbukaan kebaikan di dunia dan Akhiroh. Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah (751 H) menerangkan dalam Madarij as-Salikin:

وَأَدَبُ الْمَرْءِ: عُنْوَانُ سَعَادَتِهِ وَفَلَاحِهِ، وَقِلَّةُ أَدَبِهِ: عُنْوَانُ شَقَاوَتِهِ وَبَوَارِهِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِمِثْلِ الْأَدَبِ، وَلَا اسْتُجْلِبَ حِرْمَانُهُمَا بِمِثْلِ قِلَّةِ الْأَدَبِ

“Adab seseorang adalah tanda kebahagiaan serta keberuntungannya, sedangkan sedikitnya adab seseorang adalah tanda kesengsaraan serta kebinasaannya. Maka tidaklah kebaikan dunia dan Akhiroh didapatkan dengan sesuatu yang semisal adab, dan tidaklah terhalangnya kebaikan keduanya didapatkan dengan sesuatu yang semisal sedikit adab.” (Madaarijus Saalikiin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah [751 H], 3/162)

Tiga tingkatan adab yang menopang kebahagiaan hamba meliputi: adab kepada Alloh dengan mentauhidkan-Nya, adab kepada Rosululloh ﷺ dengan mengagungkan syariatnya, serta adab kepada sesama makhluk dengan menunaikan hak-hak mereka. Alloh memerintahkan pengagungan terhadap aturan-aturan agama-Nya:

﴿ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ﴾

“Demikianlah perintah Alloh. Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Alloh, sungguh perbuatan itu timbul dari taqwa hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Penjagaan adab tata krama ketika berada di hadapan Rosululloh ﷺ serta penetapan ketundukan terhadap syariatnya merupakan syarat utama diterimanya amalan. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لا تَشْعُرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu kepada sebagian yang lain, agar tidak hapus amalan-amalanmu sedangkan kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurot: 2)

Ibnul Mubarok (181 H) mengaitkan hubungan antara penegakan adab dengan keselamatan maqom keimanan hamba:

مَنْ تَهَاوَنَ بِالأَدَبِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ السُّنَنِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالسُّنَنِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ الْفَرَائِضِ، وَمَنْ تَهَاوَنَ بِالْفَرَائِضِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِ الْمَعْرِفَةِ

“Siapa yang meremehkan adab, niscaya dia dihukum dengan dihalangi dari Sunnah-Sunnah. Siapa yang meremehkan Sunnah-Sunnah, niscaya dia dihukum dengan dihalangi dari kewajiban-kewajiban. Siapa yang meremehkan kewajiban-kewajiban, niscaya dia dihukum dengan dihalangi dari ma’rifah (pengenalan kepada Alloh).” (Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah, 2/360)

 

Keindahan ilmu pengetahuan tidak akan memancar tanpa dihiasi oleh keelokan kebiasaan dan kerendahan hati. Seorang penyair mengutarakan perumpamaan tanah yang gersang bagi tumbuhnya tanam-tanaman:

فَلَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ عَقِيمٍ وَإِنَّنِي ... أَرَى الْعِلْمَ دُونَ الْخُلُقِ لَا يَرْفَعُ الرَّأْسَا

هَلِ الْغَيْثُ يُعْطِي ثَرْوَةَ الزَّرْعِ وَحْدَهُ ... إِذَا الْأَرْضُ لَمْ تَصْلُحْ لِأَنْ تَحْضُنَ الْغَرْسَا

“Maka tidak ada kebaikan pada ilmu yang mandul (tidak berbuah), dan sungguh aku melihat ilmu tanpa akhlaq tidak akan mengangkat derajat. Apakah hujan mampu memberikan limpahan tanaman dengan sendirinya, jika tanahnya tidak layak untuk memeluk benih tanaman?” (Diwan Asy-Syaikh Ahmad Sahnun, Ahmad Sahnun [1424 H], 2/371)

Pencapaian ketinggian derajat keilmuan seseorang tidak diukur dari seberapa luas wawasan teoritisnya, melainkan dari sejauh mana adab menghiasi setiap perilakunya. Abdullah bin al-Mubarok (181 H) menegaskan:

لَا يَنْبُلُ الرَّجُلُ بِنَوْعٍ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَمْ يُزَيِّنْ عَمَلَهُ بِالْأَدَبِ

“Seseorang tidak akan dianggap mulia dengan cabang ilmu apa pun yang dikuasainya, selama ia belum menghiasi amalnya dengan adab.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 3/552)

Kedudukan penuntut ilmu yang melupakan penghiasan dirinya dengan adab disamakan seperti orang yang mengumpulkan kayu bakar di malam hari tanpa menyadari adanya bahaya. Alloh mengumpamakan pemilik kitab yang tidak mengamalkan reaches keilmuannya:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا﴾

“Perumpamaan orang-orang yang dipikul beban Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkannya), adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.” (QS. Al-Jumu’ah: 5)

Sufyan bin ‘Uyaynah (198 H) menggarisbawahi keharusan berpadunya ilmu dengan tindakan nyata:

«إِذَا كَانَ نَهَارِي نَهَارَ سَفِيهٍ، وَلَيْلِي لَيْلَ جَاهِلٍ، فَمَا أَصْنَعُ بِالْعِلْمِ الَّذِي كَتَبْتُ؟»

“Apabila siangku adalah siang orang yang dungu dan malamku adalah malam orang yang bodoh, maka apa yang akan aku perbuat dengan ilmu yang telah aku tulis?” (Akhlaqul Ulama, Al-Ajurri, 1/72)

Generasi Salafus Sholih menaruh perhatian yang sangat mendalam terhadap penanaman adab sebelum memasuki pembacaan riwayat dan penelaahan fikih. Imam al-Bushanji (291 H) memberikan peringatan yang sangat tegas:

مَنْ أَرَادَ العِلْمَ وَالفِقْهَ بِغَيْرِ أَدَبٍ، فَقَدْ اقْتَحَمَ أَنْ يَكْذِبَ عَلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ

“Siapa yang menginginkan ilmu dan fiqh tanpa adab, sungguh ia telah nekat untuk berbuat dusta atas nama Alloh dan Rosul-Nya.” (Siyar A’laamin Nubalaa’, Adz-Dzahabi [748 H], 13/586)

Pembagian waktu untuk menimba tata krama diutamakan melebihi alokasi waktu pencarian hafalan. Abdullah bin al-Mubarok (181 H) mengisahkan pengalaman usahanya dalam menuntut ilmu:

طَلَبْتُ الأَدَبَ ثَلاثِينَ سَنَةً، وَطَلَبْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً، وَكَانُوا يَطْلُبُونَ الأَدَبَ ثُمَّ الْعِلْمَ

“Aku menuntut adab selama 30 tahun, dan menuntut ilmu selama 20 tahun; begitulah generasi salaf — mereka menuntut adab terlebih dahulu, baru kemudian ilmu.” (Ghoyatun Nihayah fi Thobaqotil Qurro’, Ibnul Jazari, 1/446)

Beliau juga menambahkan penjelasannya mengenai porsi kedudukan adab dalam struktur keilmuan:

كَادَ الأَدَبُ يَكُونُ ثُلُثَيِ الْعِلْمِ

“Hampir saja adab itu menjadi 2/3 dari ilmu.” (Min Hadyis Salaf fi Tholabil ‘Ilmi, Muhammad bin Mathar Az-Zahrani [1427 H], 1/25)

Pengutamaan penguasaan adab atas penumpukan hafalan riwayat menjadi pegangan para penuntut ilmu masa lampau. Makhlad bin al-Husain (191 H) berujar di hadapan Ibnu al-Mubarok:

نَحْنُ إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْحَدِيثِ

“Kita lebih membutuhkan banyaknya adab, ketimbang menumpuk banyaknya riwayat hadis.” (Al-Jami li Akhlaqir Rowi, Khotib Baghdadi, hal. 80)

Imam Malik (179 H) pernah memberikan nasihat berharga kepada seorang pemuda dari suku Quroiys yang sedang menuntut ilmu:

يَا ابْنَ أَخِي، تَعَلَّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Wahai putra saudaraku, pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” (Khulashoh Ta’zhim Ilmi, Dr. Al-Ushoimi, hal. 25)

 

Adab merupakan perwujudan dari penyerahan diri hamba kepada Alloh. Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah (751 H) menegaskan kedudukan tersebut dalam sebuah kaidah yang amat padat:

الأَدَبُ هُوَ الدِّينُ كُلُّهُ

“Adab adalah keseluruhan agama itu sendiri.” (Madarij as-Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah, 2/363)

Setiap bentuk ibadah ritual—seperti Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji—memiliki tata cara lahiriah serta penjiwaan batiniah yang seluruhnya berakar pada penegakan adab. Alloh memerintahkan pemeliharaan kebersihan diri serta kesopanan pakaian tatkala mendatangi Masjid:

﴿يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ﴾

“Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaianmu yang indah pada setiap memasuki Masjid.” (QS. Al-A’rof: 31)

Ketidakadaan adab dalam berinteraksi dengan Alloh dan ketentuan syariat-Nya dapat merusak fondasi keagamaan seseorang tanpa disadari. Adab secara lahir dan batin adalah hakikat ibadah itu sendiri.

 

Tingkat keimanan seseorang berbanding lurus dengan keindahan tingkah laku dan kelembutan sikapnya terhadap sesama hamba. Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا»

“Orang Mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1162 dan Ahmad no. 7402)

Misi utama pengutusan Nabi ﷺ ke muka bumi difokuskan untuk memperbaiki serta menyempurnakan keagungan watak manusia:

«إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ»

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HSR. Ahmad no. 8953)

Para Shohabat dan Tabi’in memberikan rumusan praktis mengenai batasan kebaikan watak ini. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) menjelaskan:

حُسْنُ الْخُلُقِ: بَسْطُ الْوَجْهِ، وَبَذْلُ الْمَعْرُوفِ، وَكَفُّ الْأَذَى

“Akhlak baik adalah bermuka ceria, gemar berbuat kebaikan, dan menahan gangguan kepada orang lain.” (HR. At-Tirmidzi no. 2005, sanadnya shohih)

Sifat malu juga ditempatkan sebagai bagian tak terpisahkan dari ikatan keimanan seseorang. Rosululloh ﷺ bersabda:

«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Iman itu ada 70 lebih atau 60 lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illalloh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan, serta malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan lafazh Muslim no. 35)

 

Amalan kebaikan tingkah laku memiliki bobot pahala yang sangat luar biasa tatkala ditimbang pada hari Qiyamah kelak. Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ»

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang Mu’min pada hari Qiyamah daripada akhlak yang baik.” (HSR. Abu Dawud no. 4799)

Keagungan pahala perangai yang mulia dapat menyamai kedudukan ibadah-ibadah fisik yang dilakukan secara berkesinambungan:

«مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي المِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ»

“Tidak ada yang lebih berat di timbangan daripada akhlak yang baik, dan pemilik akhlak baik akan mencapai derajat ahli Puasa dan Sholat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2003)

Yahya bin Mu’adz Ar-Rozi (258 H) menegaskan keutamaan akhlak yang mulia dalam menghapus dampak keburukan:

سُوءُ الْخُلُقِ سَيِّئَةٌ لَا تَنْفَعُ مَعَهَا كَثْرَةُ الْحَسَنَاتِ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ حَسَنَةٌ لَا تَضُرُّ مَعَهَا كَثْرَةُ السَّيِّئَاتِ

“Buruknya akhlaq adalah keburukan yang banyaknya kebaikan tidak bermanfaat bersamanya, dan baiknya akhlaq adalah kebaikan yang banyaknya keburukan tidak membahayakan bersamanya.” (Ihya’ ‘Ulumiddin, Abu Hamid Al-Ghozali [505 H], 3/57)

Alloh mengabarkan keadilan penimbangan amalan pada hari kiamat:

﴿وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ﴾

“Kami akan meletakkan timbangan-timbangan yang adil pada hari Qiyamah, maka tidak ada satu jiwa pun yang dirugikan sedikit pun. Jika amalan itu hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami akan mendatangkannya. Cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya’: 47)

 

Kedekatan posisi duduk seorang hamba di majelis Rosululloh ﷺ di dalam Jannah kelak ditentukan oleh keutamaan akhlak yang dimilikinya selama hidup di dunia. Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا»

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling baik akhlaknya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2018)

Sifat rendah hati serta kemudahan untuk menjalin persaudaraan merupakan penanda kedekatan tersebut:

أَكْمَلُ النَّاسِ إِيمَانًا أَحَاسِنُهُمْ أَخْلاقًا، الْمُوَطَّئُونَ أَكْنَافًا، الَّذِينَ يَألَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَلَا خَيْرَ فِيمَنْ لَا يَألَفُ وَلَا يُؤْلَفُ»

“Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya, yang rendah hati, yang mudah akrab dan mudah diajak akrab.” (As-Shohihah no. 751)

Perbanyaklah banyak rasa malu, sedikit mengganggu, banyak kebaikan, jujur lisan, sedikit bicara, banyak beramal, sedikit tergelincir, dan sedikit ikut campur yang bukan urusanmu.

Fudhoil bin Iyadh juga berwasiat tentang pentingnya memilih kawan bergaul yang berwatak mulia:

إِذَا خَالَطَتَ النَّاسَ فَخَالِطِ الْحَسَنَ الْخُلُقِ فَإِنَّهُ لَا يَدْعُو إِلَّا إِلَى خَيْرٍ

“Jika engkau bergaul dengan manusia, maka bergaullah dengan orang yang baik akhlaqnya, karena sungguh ia tidak mengajak melainkan kepada kebaikan.” (Makarimul Akhlaq, Al-Khoro’ithi [327 H], 1/34)

 

Demikianlah pemaparan ringkas mengenai keagungan akhlak dan adab sebagai mahkota dari segala ilmu. Apa yang benar dan bijak dalam buku ini semata-mata berasal dari petunjuk Alloh dan bimbingan Sunnah Rosul-Nya ﷺ. Adapun segala kekurangan, kekhilafan, maupun kekeliruan dalam penataan kata, maka hal itu berasal dari kelemahan diri kami sendiri dan dari syaithon. Kami memohon ampunan kepada Alloh atas segala bentuk kesilapan tersebut.

Semoga Alloh berkenan menerima amalan penyusunan buku ini sebagai amal sholih yang ikhlas mengharap Ridho-Nya semata, serta menjadikannya pemberat timbangan kebaikan bagi kami, para pembaca, dan siapa saja yang menyebarluaskannya kelak di hari Qiyamah.

Semoga Alloh senantiasa menghiasi diri kita dengan keluhuran tabiat, memperbagus akhlak kita sebagaimana Beliau telah memperbagus rupa kita, serta mengumpulkan kita bersama Rosululloh ﷺ di dalam Jannah-Nya yang tertinggi.

Subhanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Arfandi Al-Kubary

Nor Kandir

Fauzan Syahid Albana

1. Jami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih – Ibn ‘Abdil Barr (463 H)

2. Adab ad-Dunya wa ad-Din – Al-Mawardi (450 H)

3. Al-Jami’ li Akhlaqir Rowi wa Adabis Sami’ – Khotib Baghdadi (463 H)

4. Ihya’ ‘Ulumiddin – Abu Hamid Al-Ghozali (505 H)

5. Siyar A’laamin Nubalaa’ – Adz-Dzahabi (748 H)

6. Madarij as-Salikin – Ibnu Qoyyim Al-Jawziyyah (751 H)

7. Al-Adab Asy-Syar’iyyah – Ibnu Muflih (763 H)

8. Ghoyatun Nihayah fi Thobaqotil Qurro’ – Ibnul Jazari (833 H)

9. Mirqotul Mafatih Syarh Misykatil Masobih – Al-Mullo ‘Ali Al-Qori (1014 H)

10. Diwan Asy-Syaikh Ahmad Sahnun – Ahmad Sahnun (1424 H)

11. Min Hadyis Salaf fi Tholabil ‘Ilmi – Muhammad bin Mathar Az-Zahrani (1427 H)

12. Ilm al-Akhlaq al-Islamiyyah – Miqdad Yaljin (1442 H)

13. Khulashoh Ta’zhim Ilmi – Sholih bin Abdullah bin Hamad Al-Ushoimi


Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini