[PDF] Sering Baperan? Ini Solusinya! - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Pernahkah
kamu merasa sebuah pesan singkat yang tak kunjung dibalas membuat pikiranmu
berputar ke mana-mana sepanjang hari? Atau mungkin tatapan mata seorang teman
di sebuah majelis yang terasa dingin membuat dadamu sesak, lalu kamu langsung
menyimpulkan bahwa dia membencimu? Betapa seringnya kita terjebak dalam
perangkap rasa ketersinggungan yang melumpuhkan. Kita mudah terluka oleh ucapan
orang lain, mudah tersinggung oleh sikap yang belum tentu ditujukan kepada
kita, hingga waktu dan energi kita habis hanya untuk meratapi prasangka.
Kehidupan
di dunia ini memang dirancang oleh Alloh ﷻ sebagai medan pergaulan yang
penuh dengan gesekan antarmanusia. Kamu tidak hidup di dalam ruang hampa.
Setiap hari kamu akan berhadapan dengan berbagai perangai manusia: ada yang
santun, ada yang kasar, ada yang penuh perhatian, dan ada pula yang cuek. Alloh
ﷻ
telah menegaskan hakikat pergaulan ini dalam firman-Nya:
﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً
أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا﴾
“Kami telah
menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain, apakah kamu
akan bersabar? Robbmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqon: 20)
Alloh ﷻ
menanyakan sebuah pertanyaan kunci kepada kita: apakah kamu akan bersabar?
Bersabar dalam berinteraksi bukan berarti kamu tidak memiliki perasaan,
melainkan kamu mampu mengendalikan perasaanmu agar tidak roboh setiap kali
angin prasangka bertiup. Nabi ﷺ
memberikan dorongan kepada setiap Mu’min agar tidak mengasingkan diri dari
pergaulan hanya karena takut terluka. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ
الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ، وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»
“Seorang Mu’min
yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih besar
pahalanya daripada orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak bersabar
atas gangguan mereka.” (HSR. Ibnu Majah no. 4032)
Buku ini
hadir sebagai panduan syar’i untuk menata kembali hatimu. Kita akan menelusuri
akar masalah mengapa hati ini begitu rapuh, lalu membedah obat-obatan yang dituntunkan
oleh Al-Qur’an dan Sunnah, hingga kamu mampu tampil sebagai pribadi yang kokoh,
berjiwa lapang, dan tidak mudah terbawa perasaan dalam urusan duniawi yang
fana.
Bab 1: Hakikat Perasaan dan Baper
Baper
adalah keadaan ketika seseorang terlalu mudah terbawa perasaan, sehingga
perkataan, kritik, candaan, atau tindakan orang lain selalu dianggap sebagai serangan
pribadi. Akibatnya, ia mudah tersinggung, sedih, marah, kecewa, atau
berprasangka buruk, meskipun belum tentu ada maksud buruk dari orang lain.
Sikap ini dapat mengganggu hubungan sosial, menghambat penyelesaian masalah
secara objektif, dan membuat seseorang sulit menerima nasihat. Dalam Islam,
seorang Mu’min dianjurkan untuk berlapang dada, berbaik sangka (husnuzhon),
serta mengendalikan emosi dengan sabar dan bijaksana.
1.1
Mengenal Perubahan Perasaan
Coba
bayangkan sebuah wadah bening yang terisi air jernih. Ketika wadah itu
terguncang sedikit saja, air di dalamnya akan ikut bergoyang. Demikianlah
gambaran hati manusia. Dinamakan hati karena sifatnya yang sangat mudah
berbolak-balik. Pagi hari kamu bisa merasakan kedamaian yang luar biasa, namun
pada sore hari hati itu bisa berubah menjadi muram hanya karena satu kalimat
pedas dari kerabatmu.
Hati memang
memiliki kecenderungan untuk merasakan sedih, gembira, cemas, dan kecewa.
Namun, Alloh ﷻ
memegang kendali penuh atas perubahan hati tersebut. Kunci utama agar hatimu
tidak mudah goyah adalah dengan menyadari bahwa genggaman hati ada di tangan
Alloh ﷻ,
bukan pada pandangan manusia. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ
الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ﴾
“Ketahuilah
bahwa Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah
kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)
Ketika kamu
menyadari bahwa Alloh ﷻ
yang menguasai hatimu, kamu tidak akan membiarkan bisikan perasaan yang buruk
menguasai jiwamu. Nabi ﷺ
senantiasa mengingatkan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum:
«مَا
مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،
إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ»
“Tidak ada
satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jari-jari Robbul Alamin.
Jika Dia berkehendak menegakkannya, Dia akan menegakkannya, dan jika Dia
berkehendak memalingkannya, Dia akan memalingkannya.” (HSR. Ahmad no. 17630)
1.2
Baperan yang Boleh dan yang Dilarang
Apakah
semua bentuk terbawa perasaan itu dilarang dalam agama? Tentu tidak. Kita harus
membedakan antara rasa terbawa perasaan yang lahir dari kecemburuan terhadap
keagungan Din dengan rasa terbawa perasaan yang timbul dari ego dan gengsi
pribadi.
Bayangkan
ketika kamu melihat syariat Alloh ﷻ dilanggar, atau saat namamu
dicela karena kamu berpegang teguh pada Sunnah Nabi ﷺ. Dalam kondisi ini,
kesedihanmu adalah kesedihan yang bernilai di sisi Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ
sendiri merasakan kesedihan yang amat dalam ketika melihat kaumnya menolak
kebenaran da’wah, hingga Alloh ﷻ menenangkan beliau dalam
firman-Nya:
﴿لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا
مُؤْمِنِينَ﴾
“Boleh jadi
kamu akan membinasakan dirimu karena mereka tidak menjadi orang-orang yang beriman.”
(QS. Asy-Syu’aro’: 3)
Sedangkan
rasa terbawa perasaan yang terlarang adalah ketika kamu tersinggung hanya
karena tidak disapa, tidak dipuji, tidak diajak berkumpul, atau ketika
masukanmu tidak diterima dalam sebuah diskusi. Ini adalah bentuk kerapuhan jiwa
yang bersumber dari pembesaran ego pribadi. Nabi ﷺ menggariskan batas kecintaan
dan kepekaan rasa seorang Mu’min:
«لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ»
“Tidak
beriman salah seorang di antara kamu hingga Aku lebih dia cintai daripada orang
tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan Muslim no.
44)
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh menyingkap penyakit hati yang sering
kali menyaru dalam pergaulan akibat terlalu memikirkan pandangan manusia:
«تَرْكُ
العَمْلِ مِنْ أَجلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمْلُ مِنْ أَجلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ
أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ عَنْهُمَا»
“Meninggalkan
amalan karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik…” (As-Siyar,
Adz-Dzahabi, 8/427)
Bab 2: Penyebab Mudah Baperan
2.1
Su’uzhon
Pernahkah
kamu berada dalam situasi ini: seorang sahabat berjalan melewatinya tanpa tersenyum,
lalu seketika itu juga otakmu menyusun narasi panjang bahwa dia sedang
membencimu? Padahal boleh jadi sahabatmu sedang tertimpa musibah berat atau
pikirannya sedang terganggu. Inilah pintu utama pintu masuk kerapuhan hati,
yaitu buruk sangka.
Alloh ﷻ
telah melarang keras hamba-Nya untuk menuruti prasangka yang tidak berdasar.
Firman Alloh ﷻ:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Prasangka
buruk adalah racun yang merusak kedamaian hatimu sendiri sebelum merusak
hubunganmu dengan orang lain. Kamu yang menanggung beban kesedihan atas dongeng
kejahatan orang lain yang sebenarnya hanya ada di dalam kepalamu. Rosululloh ﷺ memberi peringatan tegas:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.”
(HR. Al-Bukhori no. 5143 dan Muslim no. 2563)
Lihatlah
bagaimana ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu mengajari kita
cara membangun benteng kejiwaan agar tidak mudah tersinggung oleh ucapan
saudara kita:
«لاَ
تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ المُؤْمِنِ إِلاَّ خَيْرًا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا
فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً»
“Janganlah
kamu menyangka buruk terhadap suatu kalimat yang keluar dari saudaramu yang Mu’min
melainkan persangkaan baik, sedangkan kamu masih menemukan kemungkinan makna
yang baik padanya.” (Tafsir Ibnu Katsir)
2.2
Tamak Pujian Manusia
Ketika kamu
menggantungkan kebahagiaanmu pada senyuman manusia dan kebanggaanmu pada pujian
mereka, maka kamu sedang menyerahkan remote kontrol hatimu kepada orang lain.
Begitu mereka berhenti memujimu, kamu langsung merasa kotor dan tidak berharga.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa seluruh kemuliaan itu milik-Nya semata, bukan di tangan
manusia yang bersikap bolak-balik:
﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ
جَمِيعًا﴾
“Siapa
menginginkan kemuliaan, maka bagi Alloh kemuliaan itu semuanya.” (QS.
Al-Fathir: 10)
Mencari
ridho manusia adalah sasaran yang tidak akan pernah tercapai. Jika kamu
berusaha menyenangkan semua orang, kamu pasti akan lelah dan kecewa. Nabi ﷺ memberikan rumus kebebasan
jiwa dari perbudakan penilaian manusia melalui lisan ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu
‘anha:
«مَنِ
الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ
الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»
“Siapa
mencari ridho Alloh dengan membuat manusia murka, maka Alloh akan mencukupkan
beban manusia darinya. Siapa mencari ridho manusia dengan membuat Alloh murka,
maka Alloh akan menyerahkannya kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)
Umar bin
Abdul Aziz (101 H) berkata:
«مَنْ
خَافَ اللَّهَ أَخَافَ اللَّهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَخَفِ اللَّهَ خَافَ
مِنْ كُلِّ شَيْءٍ»
“Siapa
takut kepada Alloh maka Alloh membuat segala sesuatu takut kepadanya, dan siapa
takut kepada manusia maka Alloh membuat dia takut terhadap segala sesuatu.” (Syu’abul
Iman, Al-Baihaqi, 3/206)
2.3
Bisikan Syaithon dan Marah
Syaithon
tidak pernah senang melihat dua orang Mu’min saling mencintai dan hidup rukun.
Ketika ada percikan kecil perselisihan, syaithon akan meniupkan bahan bakar
berupa emosi agar hatimu membara dan menganggap masalah sepele sebagai
penghinaan besar.
Alloh ﷻ
memperingatkan kita untuk segera memohon perlindungan dari tipu daya musuh yang
tidak terlihat ini:
﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ
نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾
“Jika
syaithon menghasutmu dengan suatu bisikan, maka berlindunglah kepada Alloh,
sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 200)
Dua orang
Shohabat rodhiyallahu ‘anhuma pernah bertengkar di hadapan Nabi ﷺ hingga wajah salah satunya
memerah karena marah. Nabi ﷺ
tidak menyuruhnya membalas mencaci, melainkan mengajarkan kalimat penawar:
«إِنِّي
لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ»
“Sesungguhnya
Aku mengetahui suatu kalimat yang jika dia ucapkan niscaya hilanglah apa yang
dia rasakan. Jika dia mengucapkan: Aku berlindung kepada Alloh dari
syaithon, niscaya hilang apa yang dia rasakan.” (HR. Al-Bukhori no. 3282
dan Muslim no. 2610)
2.4
Sombong dan Ujub
Mengapa
seseorang begitu mudah tersinggung ketika masukannya dikritik? Mengapa
seseorang merasa sangat terluka ketika namanya tidak disebutkan dalam sebuah
acara? Jawabannya sering kali berakar pada kesombongan yang tersembunyi. Kita
merasa diri kita terlalu tinggi untuk diperlakukan biasa saja.
Alloh ﷻ
mengingatkan hamba-Nya agar tidak bersikap angkuh dalam berinteraksi dengan
sesama:
﴿وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ
فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ﴾
“Janganlah
kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan
angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi
membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Kesombongan
sekecil apa pun di dalam hati akan menjadi penghalang besar bagi kelapangan
jiwa dan keselamatan Akhiroh. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
“Tidak akan
masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarroh dari
kesombongan.” (HR. Muslim no. 91)
Bab 3: Terapi Baperan
3.1
Menahan Marah
Ketika rasa
panas menjalar di dadamu saat mendengar perkataan yang menyakitkan, pilihan ada
di tanganmu: meledakkan kemarahan atau menahannya demi mencari kemuliaan di
sisi Alloh ﷻ.
Menahan marah bukan bentuk kelemahan, melainkan bukti ketangguhan jiwa yang
sejati.
Alloh ﷻ
memuji hamba-hamba-Nya yang sanggup mengunci luapan emosi mereka di tengah
gejolak rasa terluka:
﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Orang-orang
yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia, dan Alloh menyukai orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Standard
kekuatan menurut petunjuk Nabawi bukanlah kemampuan merobohkan lawan dalam
pertarungan fisik, melainkan kemampuan menaklukkan ego saat amarah membakar.
Nabi ﷺ
bersabda:
«لَيْسَ
الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»
“Orang yang
kuat bukanlah orang yang jago bergulat, melainkan orang yang kuat adalah orang
yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan
Muslim no. 2609)
‘Umar bin ‘Abdul
‘Aziz (101 H) rohimahulloh membeberkan kunci keberuntungan seorang hamba
dalam mengarungi dinamika hidup:
«قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ عُصِمَ مِنَ الْهَوَى وَالْغَضَبِ وَالطَّمَعِ»
“Sungguh
telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, amarah, dan kesetimbalan.” (Al-Jami,
Ma’mar bin Rosyid, no. 20103)
3.2
Mema’afkan
Memaafkan
adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka batin. Selama kamu menyimpan
dendam dan menolak memaafkan, kamu sebenarnya sedang mengikat dirimu sendiri
pada tiang penderitaan masa lalu. Cobalah renungkan: tidakkah kamu ingin Alloh ﷻ mengampuni
dosa-dosamu yang sangat banyak?
Alloh ﷻ
mengajak kita untuk membuka lembaran baru dengan kelapangan dada:
﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ
أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Hendaklah
mereka memaafkan dan melapangkan dada. Apakah kamu tidak ingin Alloh
mengampunimu? Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)
Setiap kali
kamu memaafkan kesalahan saudaramu, Alloh ﷻ tidak akan menurunkan
martabatmu di mata manusia. Sebaliknya, Alloh ﷻ akan mengangkat derajatmu
setinggi-tingginya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا»
“Sedekah
tidak mengurangi harta, dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba dengan
sifat ma’af melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 2588)
Fudhoil bin
Iyadh rohimahulloh menegaskan perbedaan watak antara seorang Mu’min yang
berjiwa besar dengan orang jahat yang selalu mencari keburukan:
«الْمُؤْمِنُ
يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ»
“Seorang Mu’min
itu menutupi keaiban dan menasehati, sedangkan orang jahat itu membongkar dan
mencela.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, 2/225)
3.3
Mengabaikan Ucapan Buruk
Salah satu
keahlian hidup yang harus kamu miliki adalah seni mengabaikan perkataan sampah
yang tidak memberikan manfaat bagi Akhiroh maupun duniamu. Jika setiap cemoohan
dan sindiran kamu masukkan ke dalam hati, maka hatimu akan menjadi gudang
penampungan kotoran.
Alloh ﷻ
memuji sikap para hamba-Nya yang mulia ketika berhadapan dengan omongan bodoh
dari orang lain:
﴿وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ
وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي
الْجَاهِلِينَ﴾
“Apabila
mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya dan
berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan
atas kamu, kami tidak mencari orang-orang jahil.’” (QS. Al-Qoshosh: 55)
Tanda kebaikan
Islam seseorang adalah ketika dia sanggup mengalihkan fokus hidupnya dari
hal-hal yang tidak penting. Nabi ﷺ bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ»
“Di antara
kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2317)
Ibnu Mas’ud
rodhiyallahu ‘anhu mengarahkan perhatian kita pada kedalaman ilmu dan
penataan hati, bukan pada kesibukan mengurusi perselisihan lisan:
«لَيْسَ
الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَقْذِفُ فِي الْقَلْبِ»
“Bukanlah
ilmu itu dengan banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah cahaya yang Alloh
hujamkan ke dalam hati.” (Ihya Ulumiddin, 1/49)
3.4
Do’a dan Dzikir
Ketika
hatimu mulai terasa guncang oleh badai perasaan, ke mana kamu berlari? Apakah
kamu memuntahkan seluruh kekesalanmu di media sosial? Ataukah kamu bersimpuh di
hadapan Dzat yang menggenggam jiwamu? Dzikir adalah benteng yang mengembalikan
ketenangan hati yang koyak.
Alloh ﷻ
memberikan jaminan kepastian tentang sumber ketenangan sejati:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ
بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)
Nabi ﷺ mengajari kita do’a yang
sangat indah untuk memohon keteguhan hati di atas petunjuk agama-Nya,
sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«يا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»
“Wahai Dzat
yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2140)
Ibnu
Taimiyyah (728 H) rohimahulloh memberikan perumpamaan yang sangat
menyentuh tentang kebutuhan hati terhadap dzikir kepada Alloh ﷻ:
«الذِّكْرُ
لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلَّسَمَكِ فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ
الْمَاءَ»
“Dzikir
bagi hati bagaikan air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan jika
dipisahkan dari air?” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, 1/96)
Bab 4: Membangun Ketahanan Jiwa
4.1
Ridho Terhadap Takdir Alloh ﷻ
Ketahuilah
wahai saudaraku, bahwa tidak ada satu pun ucapan buruk yang menembus telingamu
atau perlakuan tidak menyenangkan yang menimpamu melainkan telah tertulis di
Lauhul Mahfuzh ribuan tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Ketika kamu
menyadari ini, sudut pandangmu terhadap musibah lisan akan berubah total.
Alloh ﷻ
menuntun kita untuk meyakini pelindungan dan takdir-Nya dalam segala situasi:
﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Alloh tetapkan bagi kami. Dia
adalah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh hendaknya orang-orang yang
beriman bertawakkal.’” (QS. At-Taubah: 51)
Seorang Mu’min
yang tangguh tidak pernah kehilangan arah. Jika dia mendapatkan kesenangan dia
bersyukur, dan jika dia mendapat gangguan atau musibah dia bersabar. Nabi ﷺ mengagumi keadaan orang Mu’min:
«عَجَبًا
لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ
لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sangat
mengagumkan perkara seorang Mu’min, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah
baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi seorang Mu’min.
Jika dia tertimpa kesenangan dia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika dia
tertimpa kesusahan dia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no.
2999)
‘Ali bin
Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu menjelaskan kedudukan kesabaran
dalam struktur keimanan seseorang:
«الصَّبْرُ
مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ»
“Kesabaran
dalam iman itu berkedudukan seperti kepala bagi jasad.” (Mushonnaf Ibnu Abi
Syaibah)
4.2
Mengharapkan Pahala dari Cobaan Lisan
Pernahkah
kamu berpikir bahwa orang yang mengumpatmu atau menggunjingkanmu sebenarnya
sedang melakukan transaksi yang sangat merugikan bagi dirinya sendiri dan
sangat menguntungkan bagimu? Dia sedang menyerahkan pahala sholat dan puasanya
kepadamu secara gratis.
Alloh ﷻ
telah mengingatkan bahwa ujian berupa gangguan lisan dari manusia pasti akan
datang:
﴿وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا
فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ﴾
“Kamu
sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu
dan dari orang-orang musyrik gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan
bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut
diutamakan.” (QS. Ali ‘Imron: 186)
Nabi ﷺ menggambarkan peritiwa besar
pada hari Qiyamah ketika orang-orang yang gemar mencaci dan menyakiti perasaan
orang lain mendapati tabungan amalnya habis terkuras:
«إِنَّ
الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ،
وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ
هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ،
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ
فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah
dengan membawa amalan Sholat, Puasa, dan Zakat, namun dia datang dalam keadaan
telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, dan
memukul ini. Maka diberikanlah kepada orang ini dari kebaikannya, dan kepada
orang ini dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan
kewajibannya, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu dilemparkan
kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)
Sebaik-baik
hal dari umpatan orang lain kepadamu adalah dia menghadiahkan kebaikannya
kepadamu.
4.3
Menjaga Ukhuwah Tanpa Baperan
Banyak
orang memutuskan hubungan kekerabatan atau persahabatan hanya karena urusan
sepele: merasa kurang dihargai saat bertamu, atau tidak diberi tahu sebuah
kabar. Ini adalah jebakan syaithon untuk menghancurkan tali silaturrohim.
Seorang Mu’min sejati tetap merajut tali kasih walau orang lain berusaha
memutuskannya.
Alloh ﷻ
memerintahkan kita membalas keburukan dengan cara yang paling indah:
﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ
وَلِيٌّ حَمِيمٌ﴾
“Tidaklah
sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka
tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah
menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilot: 34)
Standard
menyambung silaturrohim yang hakiki bukanlah sekadar membalas kebaikan orang
lain, melainkan melangkah memberi saat orang lain menutup diri. Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»
“Bukanlah
orang yang menyambung silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan, tetapi
orang yang menyambung silaturrohim adalah orang yang apabila diputuskan tali
silaturrohimnya dia menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)
‘Abdulloh
bin Al-Mubarok (181 H) rohimahulloh meringkas tiga pilar utama akhlak
yang mulia dalam hubungan antarsesama:
«حُسْنُ
الْخُلُقِ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الأَذَى»
“Akhlak
yang baik adalah wajah yang berseri-seri, mencurahkan kebaikan, dan menahan
diri dari menyakiti orang lain.” (Mirqotul Mafatih, Ali Al-Qori, 8/3177)
Bab 5: Keteladanan Nabi ﷺ dan Para
Shohabat
5.1
Sikap Mulia Nabi ﷺ Menghadapi Gangguan
Jika ada
manusia yang paling berhak merasa tersinggung, maka beliau adalah Rosululloh ﷺ. Beliau adalah kekasih Alloh ﷻ,
pemimpin para Nabi, namun beliau disebut orang gila, penyihir, ditumpuki
kotoran saat Sholat, dan ditarik pakaiannya oleh orang Badui. Bagaimana
tanggapan beliau? Beliau membalasnya dengan senyuman dan kelembutan.
Alloh ﷻ
memuji keagungan perangai Nabi ﷺ:
﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾
“Sesungguhnya
kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)
Anas bin
Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kisah nyata yang sangat
mengagumkan tentang betapa lapangnya dada Nabi ﷺ ketika diperlakukan kasar:
Aku pernah
berjalan bersama Rosululloh ﷺ
dan beliau mengenakan selendang Najran yang tebal pinggirannya. Lalu seorang Arob
Badui menyusul beliau dan menarik selendangnya dengan tarikan yang keras,
hingga aku melihat permukaan pundak Rosululloh ﷺ berbekas akibat tepi selendang itu karena kerasnya tarikan.
Kemudian Arob Badui itu berkata: “Wahai Muhammad, perintahkanlah agar diberikan
kepadaku sebagian dari harta Alloh yang ada padamu!” Maka Rosululloh ﷺ menoleh kepadanya lalu
tertawa, kemudian beliau memerintahkan agar dia diberi pemberian. (HR.
Al-Bukhori no. 3149 dan Muslim no. 1057)
Aisyah rodhiyallohu
‘anha menuturkan kesimpulan indah tentang seluruh tindak-tanduk beliau ﷺ:
«فَإِنَّ
خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ ﷺ كَانَ الْقُرْآنَ»
“Akhlak
Nabi Alloh ﷺ
adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746)
5.2
Kelapangan Hati Para Shohabat dalam Berinteraksi
Mari kita
lihat keteladanan Abu Bakr As-Siddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu. Ketika
kerabat beliau yang bernama Misthoh bin Utsatsah ikut menyebarkan berita bohong
dan fitnah keji terhadap putri beliau, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Abu
Bakr rodhiyallahu ‘anhu sempat bersumpah tidak akan lagi memberikan
bantuan nafkah bulanan kepada Misthoh. Namun, ketika Alloh ﷻ
menurunkan teguran agar memaafkan, Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu membuang
jauh-jauh rasa sakit hatinya.
Alloh ﷻ
memberikan pedoman pemaafan yang agung:
﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ
عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾
“Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’rof: 199)
Sikap Abu
Bakr As-Siddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu diabadikan dalam riwayat Aisyah:
وَاللَّهِ
لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ مَا
قَالَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الفَضْلِ
مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي القُرْبَى وَالمَسَاكِينَ وَالمُهَاجِرِينَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا، أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ
اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي
أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ
يُنْفِقُ عَلَيْهِ
Abu Bakr
As-Siddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan
memberi nafkah kepada Mistah sedikit pun untuk selamanya dan tidak memberi
manfaat kepadanya selamanya setelah apa yang dia katakan kepada ‘Aisyah.” Maka
Alloh Ta’ala menurunkan firman-Nya: “dan janganlah orang-orang yang
mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah...” Lalu Abu
Bakr berkata: “Benar, demi Alloh, sesungguhnya aku suka jika Alloh
mengampuniku. “Maka beliau kembali memberi nafkah kepada Mistah yang biasa
beliau berikan kepadanya. (HR. Al-Bukhori no. 4750 dan Muslim no. 2770)
Ini
termasuk kemuliaan As-Siddiq, kelembutan hatinya, dan kebaikannya kepada orang
yang telah berbuat jahat kepadanya.
Penutup
Wahai
saudaraku yang dimuliakan Alloh ﷻ, perjalanan menata hati agar
tidak mudah terbawa perasaan memang membutuhkan perjuangan dan latihan yang
terus-menerus. Setiap kali perasaan tersinggung atau kecewa menyapa dadamu,
kembalikanlah fokus pandanganmu ke negeri Akhiroh. Seluruh sanjungan manusia
tidak akan membawamu ke Jannah, dan seluruh celaan manusia tidak akan
membenamkanmu ke dalam Naar.
Pada hari
yang sangat dahsyat nanti, tidak ada yang berharga selain kebersihan hati yang
selamat dari penyakit prasangka, kesombongan, dan rasa kedengkian. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سليمٍ﴾
“Yaitu pada
hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap
Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’aro’: 88-89)
Jagalah
hatimu, bentengi jiwamu dengan dzikir dan persangkaan baik, serta jadikanlah
kebenaran wahai hamba Alloh sebagai pegangan utamamu. Nabi ﷺ menyampaikan pesan pamungkas
tentang pentingnya merawat gumpalan daging di dalam dada ini:
«أَلاَ
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ»
“Ketahuilah
bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah
seluruh jasad, dan apabila dia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah
bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim
no. 1599)
Semoga Alloh ﷻ mengaruniakan kepada kita hati yang lapang, jiwa yang tangguh, serta keistiqomahan dalam berakhlak mulia hingga kita diwafatkan dalam keadaan ridho dan diridhoi oleh-Nya.
