Cari Ebook

[PDF] Sering Baperan? Ini Solusinya! - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Pernahkah kamu merasa sebuah pesan singkat yang tak kunjung dibalas membuat pikiranmu berputar ke mana-mana sepanjang hari? Atau mungkin tatapan mata seorang teman di sebuah majelis yang terasa dingin membuat dadamu sesak, lalu kamu langsung menyimpulkan bahwa dia membencimu? Betapa seringnya kita terjebak dalam perangkap rasa ketersinggungan yang melumpuhkan. Kita mudah terluka oleh ucapan orang lain, mudah tersinggung oleh sikap yang belum tentu ditujukan kepada kita, hingga waktu dan energi kita habis hanya untuk meratapi prasangka.

Kehidupan di dunia ini memang dirancang oleh Alloh sebagai medan pergaulan yang penuh dengan gesekan antarmanusia. Kamu tidak hidup di dalam ruang hampa. Setiap hari kamu akan berhadapan dengan berbagai perangai manusia: ada yang santun, ada yang kasar, ada yang penuh perhatian, dan ada pula yang cuek. Alloh telah menegaskan hakikat pergaulan ini dalam firman-Nya:

﴿وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Kami telah menjadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain, apakah kamu akan bersabar? Robbmu Maha Melihat.” (QS. Al-Furqon: 20)

Alloh menanyakan sebuah pertanyaan kunci kepada kita: apakah kamu akan bersabar? Bersabar dalam berinteraksi bukan berarti kamu tidak memiliki perasaan, melainkan kamu mampu mengendalikan perasaanmu agar tidak roboh setiap kali angin prasangka bertiup. Nabi memberikan dorongan kepada setiap Mu’min agar tidak mengasingkan diri dari pergaulan hanya karena takut terluka. Rosululloh bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ، أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ، وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

“Seorang Mu’min yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih besar pahalanya daripada orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HSR. Ibnu Majah no. 4032)

Buku ini hadir sebagai panduan syar’i untuk menata kembali hatimu. Kita akan menelusuri akar masalah mengapa hati ini begitu rapuh, lalu membedah obat-obatan yang dituntunkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, hingga kamu mampu tampil sebagai pribadi yang kokoh, berjiwa lapang, dan tidak mudah terbawa perasaan dalam urusan duniawi yang fana.

Bab 1: Hakikat Perasaan dan Baper

Baper adalah keadaan ketika seseorang terlalu mudah terbawa perasaan, sehingga perkataan, kritik, candaan, atau tindakan orang lain selalu dianggap sebagai serangan pribadi. Akibatnya, ia mudah tersinggung, sedih, marah, kecewa, atau berprasangka buruk, meskipun belum tentu ada maksud buruk dari orang lain. Sikap ini dapat mengganggu hubungan sosial, menghambat penyelesaian masalah secara objektif, dan membuat seseorang sulit menerima nasihat. Dalam Islam, seorang Mu’min dianjurkan untuk berlapang dada, berbaik sangka (husnuzhon), serta mengendalikan emosi dengan sabar dan bijaksana.

1.1 Mengenal Perubahan Perasaan

Coba bayangkan sebuah wadah bening yang terisi air jernih. Ketika wadah itu terguncang sedikit saja, air di dalamnya akan ikut bergoyang. Demikianlah gambaran hati manusia. Dinamakan hati karena sifatnya yang sangat mudah berbolak-balik. Pagi hari kamu bisa merasakan kedamaian yang luar biasa, namun pada sore hari hati itu bisa berubah menjadi muram hanya karena satu kalimat pedas dari kerabatmu.

Hati memang memiliki kecenderungan untuk merasakan sedih, gembira, cemas, dan kecewa. Namun, Alloh memegang kendali penuh atas perubahan hati tersebut. Kunci utama agar hatimu tidak mudah goyah adalah dengan menyadari bahwa genggaman hati ada di tangan Alloh , bukan pada pandangan manusia. Alloh berfirman:

﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Ketahuilah bahwa Alloh membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (QS. Al-Anfal: 24)

Ketika kamu menyadari bahwa Alloh yang menguasai hatimu, kamu tidak akan membiarkan bisikan perasaan yang buruk menguasai jiwamu. Nabi senantiasa mengingatkan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum:

«مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، إِنْ شَاءَ أَنْ يُقِيمَهُ أَقَامَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَنْ يُزِيغَهُ أَزَاغَهُ»

“Tidak ada satu hati pun melainkan berada di antara dua jari dari jari-jari Robbul Alamin. Jika Dia berkehendak menegakkannya, Dia akan menegakkannya, dan jika Dia berkehendak memalingkannya, Dia akan memalingkannya.” (HSR. Ahmad no. 17630)

1.2 Baperan yang Boleh dan yang Dilarang

Apakah semua bentuk terbawa perasaan itu dilarang dalam agama? Tentu tidak. Kita harus membedakan antara rasa terbawa perasaan yang lahir dari kecemburuan terhadap keagungan Din dengan rasa terbawa perasaan yang timbul dari ego dan gengsi pribadi.

Bayangkan ketika kamu melihat syariat Alloh dilanggar, atau saat namamu dicela karena kamu berpegang teguh pada Sunnah Nabi . Dalam kondisi ini, kesedihanmu adalah kesedihan yang bernilai di sisi Alloh . Nabi sendiri merasakan kesedihan yang amat dalam ketika melihat kaumnya menolak kebenaran da’wah, hingga Alloh menenangkan beliau dalam firman-Nya:

﴿لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Boleh jadi kamu akan membinasakan dirimu karena mereka tidak menjadi orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’aro’: 3)

Sedangkan rasa terbawa perasaan yang terlarang adalah ketika kamu tersinggung hanya karena tidak disapa, tidak dipuji, tidak diajak berkumpul, atau ketika masukanmu tidak diterima dalam sebuah diskusi. Ini adalah bentuk kerapuhan jiwa yang bersumber dari pembesaran ego pribadi. Nabi menggariskan batas kecintaan dan kepekaan rasa seorang Mu’min:

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga Aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan Muslim no. 44)

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh menyingkap penyakit hati yang sering kali menyaru dalam pergaulan akibat terlalu memikirkan pandangan manusia:

«تَرْكُ العَمْلِ مِنْ أَجلِ النَّاسِ رِيَاءٌ، وَالعَمْلُ مِنْ أَجلِ النَّاسِ شِرْكٌ، وَالإِخْلاَصُ أَنْ يُعَافِيَكَ اللهُ عَنْهُمَا»

“Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik…” (As-Siyar, Adz-Dzahabi, 8/427)

 

Bab 2: Penyebab Mudah Baperan

2.1 Su’uzhon

Pernahkah kamu berada dalam situasi ini: seorang sahabat berjalan melewatinya tanpa tersenyum, lalu seketika itu juga otakmu menyusun narasi panjang bahwa dia sedang membencimu? Padahal boleh jadi sahabatmu sedang tertimpa musibah berat atau pikirannya sedang terganggu. Inilah pintu utama pintu masuk kerapuhan hati, yaitu buruk sangka.

Alloh telah melarang keras hamba-Nya untuk menuruti prasangka yang tidak berdasar. Firman Alloh :

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Prasangka buruk adalah racun yang merusak kedamaian hatimu sendiri sebelum merusak hubunganmu dengan orang lain. Kamu yang menanggung beban kesedihan atas dongeng kejahatan orang lain yang sebenarnya hanya ada di dalam kepalamu. Rosululloh memberi peringatan tegas:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhori no. 5143 dan Muslim no. 2563)

Lihatlah bagaimana ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu mengajari kita cara membangun benteng kejiwaan agar tidak mudah tersinggung oleh ucapan saudara kita:

«لاَ تَظُنَّنَّ بِكَلِمَةٍ خَرَجَتْ مِنْ أَخِيكَ المُؤْمِنِ إِلاَّ خَيْرًا وَأَنْتَ تَجِدُ لَهَا فِي الْخَيْرِ مَحْمَلاً»

“Janganlah kamu menyangka buruk terhadap suatu kalimat yang keluar dari saudaramu yang Mu’min melainkan persangkaan baik, sedangkan kamu masih menemukan kemungkinan makna yang baik padanya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

2.2 Tamak Pujian Manusia

Ketika kamu menggantungkan kebahagiaanmu pada senyuman manusia dan kebanggaanmu pada pujian mereka, maka kamu sedang menyerahkan remote kontrol hatimu kepada orang lain. Begitu mereka berhenti memujimu, kamu langsung merasa kotor dan tidak berharga.

Alloh menegaskan bahwa seluruh kemuliaan itu milik-Nya semata, bukan di tangan manusia yang bersikap bolak-balik:

﴿مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Siapa menginginkan kemuliaan, maka bagi Alloh kemuliaan itu semuanya.” (QS. Al-Fathir: 10)

Mencari ridho manusia adalah sasaran yang tidak akan pernah tercapai. Jika kamu berusaha menyenangkan semua orang, kamu pasti akan lelah dan kecewa. Nabi memberikan rumus kebebasan jiwa dari perbudakan penilaian manusia melalui lisan ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha:

«مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَى النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ»

“Siapa mencari ridho Alloh dengan membuat manusia murka, maka Alloh akan mencukupkan beban manusia darinya. Siapa mencari ridho manusia dengan membuat Alloh murka, maka Alloh akan menyerahkannya kepada manusia.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2414)

Umar bin Abdul Aziz (101 H) berkata:

«مَنْ خَافَ اللَّهَ أَخَافَ اللَّهُ مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَخَفِ اللَّهَ خَافَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ»

“Siapa takut kepada Alloh maka Alloh membuat segala sesuatu takut kepadanya, dan siapa takut kepada manusia maka Alloh membuat dia takut terhadap segala sesuatu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi, 3/206)

2.3 Bisikan Syaithon dan Marah

Syaithon tidak pernah senang melihat dua orang Mu’min saling mencintai dan hidup rukun. Ketika ada percikan kecil perselisihan, syaithon akan meniupkan bahan bakar berupa emosi agar hatimu membara dan menganggap masalah sepele sebagai penghinaan besar.

Alloh memperingatkan kita untuk segera memohon perlindungan dari tipu daya musuh yang tidak terlihat ini:

﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Jika syaithon menghasutmu dengan suatu bisikan, maka berlindunglah kepada Alloh, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 200)

Dua orang Shohabat rodhiyallahu ‘anhuma pernah bertengkar di hadapan Nabi hingga wajah salah satunya memerah karena marah. Nabi tidak menyuruhnya membalas mencaci, melainkan mengajarkan kalimat penawar:

«إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ»

“Sesungguhnya Aku mengetahui suatu kalimat yang jika dia ucapkan niscaya hilanglah apa yang dia rasakan. Jika dia mengucapkan: Aku berlindung kepada Alloh dari syaithon, niscaya hilang apa yang dia rasakan.” (HR. Al-Bukhori no. 3282 dan Muslim no. 2610)

2.4 Sombong dan Ujub

Mengapa seseorang begitu mudah tersinggung ketika masukannya dikritik? Mengapa seseorang merasa sangat terluka ketika namanya tidak disebutkan dalam sebuah acara? Jawabannya sering kali berakar pada kesombongan yang tersembunyi. Kita merasa diri kita terlalu tinggi untuk diperlakukan biasa saja.

Alloh mengingatkan hamba-Nya agar tidak bersikap angkuh dalam berinteraksi dengan sesama:

﴿وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

Kesombongan sekecil apa pun di dalam hati akan menjadi penghalang besar bagi kelapangan jiwa dan keselamatan Akhiroh. Rosululloh bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji dzarroh dari kesombongan.” (HR. Muslim no. 91)

 

Bab 3: Terapi Baperan

3.1 Menahan Marah

Ketika rasa panas menjalar di dadamu saat mendengar perkataan yang menyakitkan, pilihan ada di tanganmu: meledakkan kemarahan atau menahannya demi mencari kemuliaan di sisi Alloh . Menahan marah bukan bentuk kelemahan, melainkan bukti ketangguhan jiwa yang sejati.

Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang sanggup mengunci luapan emosi mereka di tengah gejolak rasa terluka:

﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia, dan Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

Standard kekuatan menurut petunjuk Nabawi bukanlah kemampuan merobohkan lawan dalam pertarungan fisik, melainkan kemampuan menaklukkan ego saat amarah membakar. Nabi bersabda:

«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ»

“Orang yang kuat bukanlah orang yang jago bergulat, melainkan orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Al-Bukhori no. 6114 dan Muslim no. 2609)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (101 H) rohimahulloh membeberkan kunci keberuntungan seorang hamba dalam mengarungi dinamika hidup:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ عُصِمَ مِنَ الْهَوَى وَالْغَضَبِ وَالطَّمَعِ»

“Sungguh telah beruntung orang yang dijaga dari hawa nafsu, amarah, dan kesetimbalan.” (Al-Jami, Ma’mar bin Rosyid, no. 20103)

3.2 Mema’afkan

Memaafkan adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka batin. Selama kamu menyimpan dendam dan menolak memaafkan, kamu sebenarnya sedang mengikat dirimu sendiri pada tiang penderitaan masa lalu. Cobalah renungkan: tidakkah kamu ingin Alloh mengampuni dosa-dosamu yang sangat banyak?

Alloh mengajak kita untuk membuka lembaran baru dengan kelapangan dada:

﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan melapangkan dada. Apakah kamu tidak ingin Alloh mengampunimu? Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nuur: 22)

Setiap kali kamu memaafkan kesalahan saudaramu, Alloh tidak akan menurunkan martabatmu di mata manusia. Sebaliknya, Alloh akan mengangkat derajatmu setinggi-tingginya. Rosululloh bersabda:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا»

“Sedekah tidak mengurangi harta, dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba dengan sifat ma’af melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim no. 2588)

Fudhoil bin Iyadh rohimahulloh menegaskan perbedaan watak antara seorang Mu’min yang berjiwa besar dengan orang jahat yang selalu mencari keburukan:

«الْمُؤْمِنُ يَسْتُرُ وَيَنْصَحُ وَالْفَاجِرُ يَهْتِكُ وَيُعَيِّرُ»

“Seorang Mu’min itu menutupi keaiban dan menasehati, sedangkan orang jahat itu membongkar dan mencela.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab, 2/225)

3.3 Mengabaikan Ucapan Buruk

Salah satu keahlian hidup yang harus kamu miliki adalah seni mengabaikan perkataan sampah yang tidak memberikan manfaat bagi Akhiroh maupun duniamu. Jika setiap cemoohan dan sindiran kamu masukkan ke dalam hati, maka hatimu akan menjadi gudang penampungan kotoran.

Alloh memuji sikap para hamba-Nya yang mulia ketika berhadapan dengan omongan bodoh dari orang lain:

﴿وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

“Apabila mereka mendengar perkataan yang tidak berguna, mereka berpaling darinya dan berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas kamu, kami tidak mencari orang-orang jahil.’” (QS. Al-Qoshosh: 55)

Tanda kebaikan Islam seseorang adalah ketika dia sanggup mengalihkan fokus hidupnya dari hal-hal yang tidak penting. Nabi bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ»

“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)

Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu mengarahkan perhatian kita pada kedalaman ilmu dan penataan hati, bukan pada kesibukan mengurusi perselisihan lisan:

«لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ نُورٌ يَقْذِفُ فِي الْقَلْبِ»

“Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah cahaya yang Alloh hujamkan ke dalam hati.” (Ihya Ulumiddin, 1/49)

3.4 Do’a dan Dzikir

Ketika hatimu mulai terasa guncang oleh badai perasaan, ke mana kamu berlari? Apakah kamu memuntahkan seluruh kekesalanmu di media sosial? Ataukah kamu bersimpuh di hadapan Dzat yang menggenggam jiwamu? Dzikir adalah benteng yang mengembalikan ketenangan hati yang koyak.

Alloh memberikan jaminan kepastian tentang sumber ketenangan sejati:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Nabi mengajari kita do’a yang sangat indah untuk memohon keteguhan hati di atas petunjuk agama-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«يا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2140)

Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh memberikan perumpamaan yang sangat menyentuh tentang kebutuhan hati terhadap dzikir kepada Alloh :

«الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلَّسَمَكِ فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ»

“Dzikir bagi hati bagaikan air bagi ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan jika dipisahkan dari air?” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, 1/96)

Bab 4: Membangun Ketahanan Jiwa

4.1 Ridho Terhadap Takdir Alloh

Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa tidak ada satu pun ucapan buruk yang menembus telingamu atau perlakuan tidak menyenangkan yang menimpamu melainkan telah tertulis di Lauhul Mahfuzh ribuan tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Ketika kamu menyadari ini, sudut pandangmu terhadap musibah lisan akan berubah total.

Alloh menuntun kita untuk meyakini pelindungan dan takdir-Nya dalam segala situasi:

﴿قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: ‘Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah Alloh tetapkan bagi kami. Dia adalah Pelindung kami, dan hanya kepada Alloh hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.’” (QS. At-Taubah: 51)

Seorang Mu’min yang tangguh tidak pernah kehilangan arah. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, dan jika dia mendapat gangguan atau musibah dia bersabar. Nabi mengagumi keadaan orang Mu’min:

«عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sangat mengagumkan perkara seorang Mu’min, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali bagi seorang Mu’min. Jika dia tertimpa kesenangan dia bersyukur maka itu baik baginya, dan jika dia tertimpa kesusahan dia bersabar maka itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

‘Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu menjelaskan kedudukan kesabaran dalam struktur keimanan seseorang:

«الصَّبْرُ مِنَ الإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ»

“Kesabaran dalam iman itu berkedudukan seperti kepala bagi jasad.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)

4.2 Mengharapkan Pahala dari Cobaan Lisan

Pernahkah kamu berpikir bahwa orang yang mengumpatmu atau menggunjingkanmu sebenarnya sedang melakukan transaksi yang sangat merugikan bagi dirinya sendiri dan sangat menguntungkan bagimu? Dia sedang menyerahkan pahala sholat dan puasanya kepadamu secara gratis.

Alloh telah mengingatkan bahwa ujian berupa gangguan lisan dari manusia pasti akan datang:

﴿وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik gangguan yang banyak. Jika kamu bersabar dan bertaqwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imron: 186)

Nabi menggambarkan peritiwa besar pada hari Qiyamah ketika orang-orang yang gemar mencaci dan menyakiti perasaan orang lain mendapati tabungan amalnya habis terkuras:

«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa amalan Sholat, Puasa, dan Zakat, namun dia datang dalam keadaan telah mencaci ini, menuduh ini, memakan harta ini, menumpahkan darah ini, dan memukul ini. Maka diberikanlah kepada orang ini dari kebaikannya, dan kepada orang ini dari kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis sebelum diselesaikan kewajibannya, diambillah dari kesalahan-kesalahan mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)

Sebaik-baik hal dari umpatan orang lain kepadamu adalah dia menghadiahkan kebaikannya kepadamu.

4.3 Menjaga Ukhuwah Tanpa Baperan

Banyak orang memutuskan hubungan kekerabatan atau persahabatan hanya karena urusan sepele: merasa kurang dihargai saat bertamu, atau tidak diberi tahu sebuah kabar. Ini adalah jebakan syaithon untuk menghancurkan tali silaturrohim. Seorang Mu’min sejati tetap merajut tali kasih walau orang lain berusaha memutuskannya.

Alloh memerintahkan kita membalas keburukan dengan cara yang paling indah:

﴿وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fussilot: 34)

Standard menyambung silaturrohim yang hakiki bukanlah sekadar membalas kebaikan orang lain, melainkan melangkah memberi saat orang lain menutup diri. Nabi bersabda:

«لَيْسَ الوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنِ الوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا»

“Bukanlah orang yang menyambung silaturrohim itu orang yang membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambung silaturrohim adalah orang yang apabila diputuskan tali silaturrohimnya dia menyambungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5991)

‘Abdulloh bin Al-Mubarok (181 H) rohimahulloh meringkas tiga pilar utama akhlak yang mulia dalam hubungan antarsesama:

«حُسْنُ الْخُلُقِ بَسْطُ الْوَجْهِ وَبَذْلُ النَّدَى وَكَفُّ الأَذَى»

“Akhlak yang baik adalah wajah yang berseri-seri, mencurahkan kebaikan, dan menahan diri dari menyakiti orang lain.” (Mirqotul Mafatih, Ali Al-Qori, 8/3177)

 

Bab 5: Keteladanan Nabi dan Para Shohabat

5.1 Sikap Mulia Nabi Menghadapi Gangguan

Jika ada manusia yang paling berhak merasa tersinggung, maka beliau adalah Rosululloh . Beliau adalah kekasih Alloh , pemimpin para Nabi, namun beliau disebut orang gila, penyihir, ditumpuki kotoran saat Sholat, dan ditarik pakaiannya oleh orang Badui. Bagaimana tanggapan beliau? Beliau membalasnya dengan senyuman dan kelembutan.

Alloh memuji keagungan perangai Nabi :

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)

Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kisah nyata yang sangat mengagumkan tentang betapa lapangnya dada Nabi ketika diperlakukan kasar:

Aku pernah berjalan bersama Rosululloh dan beliau mengenakan selendang Najran yang tebal pinggirannya. Lalu seorang Arob Badui menyusul beliau dan menarik selendangnya dengan tarikan yang keras, hingga aku melihat permukaan pundak Rosululloh berbekas akibat tepi selendang itu karena kerasnya tarikan. Kemudian Arob Badui itu berkata: “Wahai Muhammad, perintahkanlah agar diberikan kepadaku sebagian dari harta Alloh yang ada padamu!” Maka Rosululloh menoleh kepadanya lalu tertawa, kemudian beliau memerintahkan agar dia diberi pemberian. (HR. Al-Bukhori no. 3149 dan Muslim no. 1057)

Aisyah rodhiyallohu ‘anha menuturkan kesimpulan indah tentang seluruh tindak-tanduk beliau :

«فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ كَانَ الْقُرْآنَ»

“Akhlak Nabi Alloh adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim no. 746)

5.2 Kelapangan Hati Para Shohabat dalam Berinteraksi

Mari kita lihat keteladanan Abu Bakr As-Siddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu. Ketika kerabat beliau yang bernama Misthoh bin Utsatsah ikut menyebarkan berita bohong dan fitnah keji terhadap putri beliau, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu sempat bersumpah tidak akan lagi memberikan bantuan nafkah bulanan kepada Misthoh. Namun, ketika Alloh menurunkan teguran agar memaafkan, Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu membuang jauh-jauh rasa sakit hatinya.

Alloh memberikan pedoman pemaafan yang agung:

﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’rof: 199)

Sikap Abu Bakr As-Siddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu diabadikan dalam riwayat Aisyah:

وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِي قَالَ لِعَائِشَةَ مَا قَالَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي القُرْبَى وَالمَسَاكِينَ وَالمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا، أَلاَ تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ قَالَ أَبُو بَكْرٍ: بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِي كَانَ يُنْفِقُ عَلَيْهِ

Abu Bakr As-Siddiq rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan memberi nafkah kepada Mistah sedikit pun untuk selamanya dan tidak memberi manfaat kepadanya selamanya setelah apa yang dia katakan kepada ‘Aisyah.” Maka Alloh Ta’ala menurunkan firman-Nya: “dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah...” Lalu Abu Bakr berkata: “Benar, demi Alloh, sesungguhnya aku suka jika Alloh mengampuniku. “Maka beliau kembali memberi nafkah kepada Mistah yang biasa beliau berikan kepadanya. (HR. Al-Bukhori no. 4750 dan Muslim no. 2770)

Ini termasuk kemuliaan As-Siddiq, kelembutan hatinya, dan kebaikannya kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya.

 

Penutup

Wahai saudaraku yang dimuliakan Alloh , perjalanan menata hati agar tidak mudah terbawa perasaan memang membutuhkan perjuangan dan latihan yang terus-menerus. Setiap kali perasaan tersinggung atau kecewa menyapa dadamu, kembalikanlah fokus pandanganmu ke negeri Akhiroh. Seluruh sanjungan manusia tidak akan membawamu ke Jannah, dan seluruh celaan manusia tidak akan membenamkanmu ke dalam Naar.

Pada hari yang sangat dahsyat nanti, tidak ada yang berharga selain kebersihan hati yang selamat dari penyakit prasangka, kesombongan, dan rasa kedengkian. Alloh berfirman:

﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سليمٍ

“Yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Alloh dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’aro’: 88-89)

Jagalah hatimu, bentengi jiwamu dengan dzikir dan persangkaan baik, serta jadikanlah kebenaran wahai hamba Alloh sebagai pegangan utamamu. Nabi menyampaikan pesan pamungkas tentang pentingnya merawat gumpalan daging di dalam dada ini:

«أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ»

“Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad, dan apabila dia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Semoga Alloh mengaruniakan kepada kita hati yang lapang, jiwa yang tangguh, serta keistiqomahan dalam berakhlak mulia hingga kita diwafatkan dalam keadaan ridho dan diridhoi oleh-Nya.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini