Cari Ebook

[PDF] Nasihat Untuk Ayah Bunda yang Galak Kepada Anak - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang menanamkan rasa kasih sayang di dalam hati para hamba-Nya. Dialah yang mengamanahkan buah hati sebagai perhiasan kehidupan dunia sekaligus ujian terbesar bagi setiap orang tua.

Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , sosok yang paling lembut hatinya, paling penyayang kepada anak-anak, dan teladan utama dalam mendidik generasi Mu’min.

Amma ba’du:

Setiap anak lahir, hadir di tengah kita dalam keadaan lemah, tidak memiliki daya dan upaya, melainkan hanya menyandarkan seluruh hidup mereka kepada kasih sayang orang tuanya. Namun, betapa sering tatapan mata mereka yang polos harus berhadapan dengan raut wajah kita yang garang. Betapa sering pendengaran mereka yang lembut harus terluka oleh bentakan kasar yang keluar dari lisan kita. Kita sering lupa bahwa di balik tubuh mungil itu, ada hati yang sangat peka, yang bisa patah dan hancur hanya karena luapan emosi seketika dari orang yang paling mereka percayai di dunia ini.

Melalui lembaran-lembaran ini, mari kita buka kembali catatan interaksi kita dengan buah hati, menghitung berapa kali kita menumpahkan amarah yang tidak berhak mereka terima, serta memohon ampunan kepada Alloh sebelum kelak anak-anak kita menuntut kezholiman kita di hadapan Pengadilan Maha Adil pada Hari Qiyamah.

 

Bab 1: Menatap Wajah Sang Amanah

1.1 Anak Adalah Karunia dan Titipan

Anak bukanlah milik kita sepenuhnya yang bebas kita perlakukan sesuka hati. Mereka adalah barang titipan Alloh yang sangat berharga, sebuah piala kebaikan yang diserahkan kepada kita untuk dijaga dan dikasihi. Ketika seorang anak lahir, Alloh tidak menyerahkan mereka bersama dengan kekasaran dan ancaman, melainkan dengan amanah kelembutan. Bayangkan saat pertama kali jemari mungil itu menggenggam erat jari kita, mereka menyerahkan seluruh rasa aman hidupnya kepada kita. Betapa tega jika genggaman kepercayaan itu kita balas dengan tamparan atau cengkeraman ketakutan.

Alloh berfirman:

﴿لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ﴾

Milik Alloh semata kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. Asy-Syuro: 49)

1.2 Jeritan Hati yang Terbungkam Kesakitan

Ketika seorang ayah atau bunda menaikkan nada suaranya, membelalakkan matanya, atau mengayunkan tangannya kepada anak, pada detik itu juga dunia anak terasa runtuh. Pelindung utama yang harusnya menjadi tempat mereka berlari saat ketakutan, justru menjadi sumber ketakutan terbesar mereka. Anak-anak yang sering dimarahi secara kasar tidak pernah berhenti mencintai orang tuanya, namun mereka berhenti mencintai diri mereka sendiri. Mereka tumbuh dengan meyakini bahwa diri mereka adalah beban, bahwa kehadiran mereka hanya mendatangkan amarah, dan bahwa rumah bukanlah tempat yang aman untuk berlindung.

Nabi bersabda:

«إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ»

Sungguh kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk. (HR. Muslim no. 2594)

1.3 Bekas Luka yang Ditulis oleh Bentakan

Luka fisik pada kulit anak mungkin akan sembuh dan menghilang dalam hitungan hari. Namun luka yang diukir oleh kalimat-kalimat kasar, celaan, dan bentakan orang tua akan menancap dalam di dinding hati mereka hingga mereka dewasa. Setiap kali kita memanggil mereka dengan sebutan yang merendahkan, kita sedang menanamkan benih rasa tidak berharga dalam jiwa mereka. Di malam hari, saat anak-anak tertidur pulas, perhatikanlah wajah lugu mereka. Adakah pantas wajah yang tanpa dosa itu menangis tersedu-sedu sebelum tidurnya hanya karena luapan kekesalan kita atas urusan duniawi yang sepele?

Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bagaimana lembutnya Rosululloh :

«خَدَمْتُ النَّبِيَّ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ تَرَكْتَهُ»

Aku telah melayani Nabi selama 10 tahun. Demi Alloh, Beliau tidak pernah berkata “ah” kepadaku sama sekali. Beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang aku lakukan dengan ucapan “Mengapa engkau lakukan ini?”, dan tidak pula mempertanyakan apa yang tidak aku lakukan dengan ucapan “Mengapa tidak engkau lakukan ini?”. (HR. Al-Bukhori no. 6038 dan lafaz At-Tirmidzi no. 2015)

 

Bab 2: Bahaya Sikap Kasar dan Amarah Orang Tua

2.1 Mendoakan Keburukan untuk Anak Adalah Bencana

Betapa sering ketika dada Orang Tua diselimuti emosi, lisan dengan sangat mudah melontarkan kata-kata serapah dan doa keburukan bagi anak. Padahal, lisan Orang Tua memiliki pintu khusus di langit yang langsung diijabah oleh Alloh . Bayangkan jika saat amarah membakar, jeritan kekesalan Orang Tua dikabulkan oleh Sang Penjaga Alam Semesta. Anak yang kita caci mati menjadi cacat atau celaka seumur hidupnya. Tangisan penyesalan Orang Tua di kemudian hari tidak akan pernah sanggup memutar kembali waktu. Lisan yang seharusnya menjadi benteng perlindungan dan sumber keberkahan bagi anak, justru berubah menjadi pisau belati yang menghancurkan masa depan buah hati sendiri.

Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ»

“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan mendoakan keburukan atas anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan atas harta-harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu dari Alloh yang pada saat itu dimintai anugerah, lalu Dia mengabulkan doa buruk itu bagi kalian.” (HR. Muslim no. 3009)

2.2 Memutus Hubungan Batin dan Menghancurkan Fithroh

Kekasaran yang terus-menerus dipertontonkan di dalam rumah akan membunuh rasa percaya anak secara perlahan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat kedamaian berubah menjadi tempat yang paling menakutkan bagi jiwa mereka. Bentakan demi bentakan mencabik-cabik ketenangan fithroh anak, hingga mereka merasa asing dari Orang Tua mereka sendiri. Ketika jiwa anak telah terluka parah, mereka akan mencari ketenangan di luar rumah, berlari menuju pelukan orang asing yang belum tentu membawa kebaikan. Betapa malangnya Orang Tua yang kehilangan hati anaknya hanya karena tidak mampu menahan hawa nafsu amarahnya.

Alloh berfirman:

﴿فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ﴾

“Maka berkat rohmat dari Alloh engkau berlaku lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imron: 159)

2.3 Menanam Benih Durhaka Sejak Dini

Banyak Orang Tua menuntut anak-anak mereka agar menjadi sosok yang sholih, berbakti, dan penuh penghormatan saat Orang Tua memasuki usia senja. Namun, bagaimana mungkin panen kebaikan bisa dipetik jika benih yang ditanam sejak kecil adalah benih kezholiman dan kebencian? Setiap kali Orang Tua menyakiti anak tanpa alasan yang syar’i, saat itu pula Orang Tua sedang mengajari anaknya cara bersikap keras dan tidak peduli. Kezholiman Orang Tua kepada anak di masa kecil adalah racun yang akan memicu sikap durhaka anak di masa tua.

Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾

“Dan orang-orang yang menyakiti para Mu’min dan Mu’minah tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

 

Bab 3: Meneladani Kelembutan Nabi dan Salafush Sholih

3.1 Cinta dan Ciuman Kasih Sayang untuk Anak

Pelukan hangat dan ciuman penuh kasih dari Orang Tua adalah haq anak yang menguatkan jiwanya. Nabi yang dipenuhi kesibukan da’wah dan urusan umat yang maha berat, tidak pernah kikir menyebarkan kehangatan kepada anak-anak. Beliau mencium mereka, merangkul mereka, dan mendudukkan mereka di pangkuannya dengan penuh kerinduan. Orang Tua yang merasa gengsi atau enggan mengusap kepala dan mencium anak-anaknya telah mengeringkan mata air kasih sayang dalam rumah tangganya.

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan:

“Rosululloh mencium Al-Hasan bin ‘Ali ketika Al-Aqro’ bin Habis At-Tamimi (31 H) sedang duduk di dekat Beliau. Al-Aqro’ berkata: ‘Sungguh aku memiliki 10 orang anak, namun aku tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.’ Maka Rosululloh menatap kepadanya lalu bersabda:

«مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ»

‘Barangsiapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.’” (HR. Al-Bukhori no. 5997 dan Muslim no. 2318)

3.2 Kesabaran Menghadapi Kepolosan dan Kesalahan Anak

Anak-anak bertindak sesuai dengan batas keterbatasan akal dan usianya. Ketika mereka merusakkan barang atau membuat kekacauan, hal itu lahir dari kepolosan dan proses belajar, bukan niat jahat untuk merendahkan Orang Tua. Namun betapa sering Orang Tua merespon kekhilafan kecil anak dengan amukan yang maha dahsyat. Lihatlah bagaimana Nabi memperlakukan anak kecil yang bahkan mengencingi pakaian mulia beliau. Tidak ada bentakan, tidak ada makian, melainkan hanya kesabaran dan kelembutan yang menyembuhkan.

‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha menceritakan:

«أُتِيَ رَسُولُ اللَّهِ بِصَبِيٍّ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ إِيَّاهُ»

“Rosululloh dibawakan seorang anak kecil, lalu anak itu kencing di baju beliau. Beliau pun meminta air lalu menyiramkan air itu pada kencing tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 222 dan Muslim no. 287)

3.3 Lembut Bukan Berarti Memanjakan yang Harom

Kelembutan hati tidak pernah berseberangan dengan ketegasan syari’at. Mendidik anak dengan kelembutan bukan berarti membiarkan mereka melanggar aturan Alloh atau memanjakan mereka dalam perkara yang harom. Kelembutan yang sejati adalah membimbing tangan anak dengan penuh cinta menuju jalan keselamatan, menyelamatkan mereka dari siksa Naar tanpa perlu meremukkan hati mereka dengan kekasaran. Orang Tua harus tegas terhadap hukum Alloh , namun penyampaian ketegasan itu disiram dengan rasa kasih sayang yang tulus.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Bab 4: Mengobati Hati Orang Tua yang Mudah Marah

4.1 Menyadari Dosa dan Memohon Ampunan Kepada Alloh

Pintu perbaikan selalu terbuka lebar bagi setiap Orang Tua yang mau menyadari kesalahannya. Setiap bentakan, tamparan, atau tatapan zholim yang pernah kita berikan kepada anak adalah dosa yang mencoreng catatan amal kita. Sebelum ajal menjemput dan sebelum anak-anak menuntut kezholiman kita di hadapan Robb semesta alam pada Hari Qiyamah, bersimpuhlah di malam hari. Basahi tempat sujud dengan air mata taubat, memohon kepada Alloh agar melunakkan hati kita yang keras dan mengampuni segala kekasaran kita selama ini.

Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ﴾

“Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau zholim terhadap diri mereka sendiri, mereka ingat Alloh lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka. Dan siapakah yang mengampuni dosa-dosa selain Alloh?” (QS. Ali ‘Imron: 135)

4.2 Mengendalikan Emosi Saat Amarah Memuncak

Ketika gejolak amarah mulai membakar dada saat melihat tingkah laku anak, ingatlah bahwa amarah itu berasal dari syaithon yang ingin merusak hubungan keluarga. Saat itu terjadi, tahanlah lisan dari berbicara dan tahanlah tangan dari bergerak. Segeralah memohon perlindungan kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk, berwudhu, atau mengubah posisi tubuh. Kemenangan sejati seorang ayah dan bunda bukanlah saat berhasil menundukkan anak dengan ketakutan, melainkan saat berhasil menundukkan hawa nafsunya sendiri demi menjaga hati sang anak.

Sulaiman bin Shurod (51 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi bersabda:

«إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً، لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ»

“Sungguh aku mengetahui suatu kalimat yang jika dia ucapkan, pasti akan hilang kemarahan yang dirasakannya. Sekiranya dia mengucapkan: ‘Aku berlindung kepada Alloh dari godaan syaithon yang terkutuk’, niscaya hilanglah kemarahan itu.” (HR. Al-Bukhori no. 6115 dan Muslim no. 2610)

4.3 Meminta Maaf dan Merangkul Kembali Anak yang Terluka

Tidak ada kehinaan bagi seorang ayah atau bunda untuk merendahkan hati di hadapan anaknya sendiri. Jika jemari kita pernah menamparnya, atau lisan kita telah melukainya, hampirilah anak itu saat dia sendirian. Tatap mata polosnya, peluk tubuh mungilnya, dan katakanlah dengan tulus: “Maafkan ayah dan bunda yang telah zholim kepadamu.” Kata maaf yang keluar dari kedalaman hati Orang Tua akan memadamkan api kebencian di hati anak, memulihkan luka jiwanya, dan mengembalikan rasa percaya yang sempat hilang.

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bersabda Rosululloh :

«وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Dan tidaklah seseorang merendahkan hati karena Alloh, melainkan Alloh akan meninggikan derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

 

Penutup

Wahai para ayah dan bunda yang dirohmati Alloh , tataplah kembali anak-anak kita saat mereka tertidur pulas di malam hari. Dengar hembusan nafas mereka yang tenang. Betapa beresikonya jika besok pagi Alloh mengambil nyawa mereka, atau mencabut nyawa kita, sementara luka di hati mereka belum sempat kita sembuhkan. Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh dengan membawa ingatan bahwa orang tua mereka adalah sosok yang bengis dan menakutkan. Usaplah kepala mereka, bisikkan kata-kata kasih sayang, dan jadikanlah rumah kita sebagai tempat paling indah yang dipenuhi rohmat dan ketenangan fithroh. Semoga Alloh mengumpulkan kita bersama anak-anak kita kelak di dalam Jannah-Nya yang abadi.

Alloh berfirman:

﴿رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾

“Wahai Robb kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini