Cari Ebook

[PDF] Percaya Alloh Sebagai Robb (Pencipta, Pemilik, Pengatur) Belum Menjadikan Seseorang Beriman - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Pengakuan terhadap Alloh sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta beserta seluruh isinya merupakan fithroh yang tertanam dalam diri setiap manusia. Kendati demikian, persangkaan bahwa pengakuan Rububiyyah (Alloh sebagai Pencipta, Pemilik, Pengatur) semata telah cukup untuk menjadikan seseorang beriman dan selamat di Akhiroh adalah kekeliruan yang sangat fatal. Sepanjang sejarah kemanusiaan, mayoritas manusia mengakui keberadaan Alloh sebagai Robb yang memberi rizqi, menghidupkan, dan mematikan, namun pengakuan tersebut tidak memasukkan mereka ke dalam barisan Mu’min. Al-Qur’an dan As-Sunnah menegaskan bahwa keimanan yang haqiqi membutuhkan pilar Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Alloh dalam seluruh bentuk ibadah tanpa menyektukan-Nya dengan apa pun. Tanpa penyerahan diri secara menyeluruh kepada peribadahan hanya untuk Alloh , pengakuan Rububiyyah hanyalah pernyataan lisan yang tidak menyelamatkan seseorang dari azab Naar.

﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ

Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alloh (yakni hanya beriman Rububiyah), melainkan dalam keadaan mempersekutukan Alloh (dalam Tauhid Uluhiyyah). (QS. Yusuf: 106)

Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan ayat ini dalam perkataannya:

«مِنْ إِيمَانِهِمْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ وَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟ وَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَهُمْ مُشْرِكُونَ»

Di antara bentuk keimanan mereka adalah jika ditanyakan kepada mereka siapa yang menciptakan langit, siapa yang menciptakan bumi, dan siapa yang menciptakan gunung-gunung, mereka menjawab: Alloh, padahal mereka mempersekutukan-Nya. (Tafsir Ath-Thobari, 13/373, tahqiq At-Turki)

Kenyataan historis mencatat bahwa Iblis yang dilaknat Alloh , Fir’aun yang melampaui batas, serta para pemuka musyrikin Quroisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, semuanya mengakui kekuasaan dan penciptaan oleh Alloh . Iblis bersumpah dengan kemuliaan Alloh dan memanggil-Nya dengan sebutan Robb, Fir’aun menyakini dalam hatinya kebenaran ayat-ayat Alloh , dan masyarakat Jahiliyyah melakukan Haji serta bersedekah atas nama Alloh . Namun demikian, Rosululloh tetap memerangi mereka karena mereka menolak mentauhidkan Alloh dalam ibadah.

Buku ini disusun untuk menguraikan batas pemisah antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah, memperlihatkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits shohih, serta menyajikan penerapan praktis agar setiap Muslim terhindar dari pemahaman kerdil yang membinasakan.

 

Bab 1: Hakikat Tauhid Rububiyyah

1.1 Pengakuan Alloh Sebagai Robb

Tauhid Rububiyyah adalah pengakuan tegas dan ikrar bulat bahwasanya Alloh adalah satu-satunya Robb: Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh makhluk di alam semesta. Makna Robb mencakup sifat penciptaan dari ketiadaan, pemberian rizqi yang berkesinambungan, kepemilikan mutlak atas segala sesuatu, serta pengaturan takdir yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun. Pengakuan ini memuat keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Alloh dan tidak ada yang memberi manfaat atau bahaya kecuali dengan izin-Nya.

﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Alloh menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Memelihara atas segala sesuatu. (QS. Az-Zumar: 62)

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

Segala puji bagi Alloh, Robb seluruh alam. (QS. Al-Fatihah: 2)

Maka orang-orang musyrik dahulu mengakui bahwa Alloh adalah Pencipta segala sesuatu, Pemiliknya, dan Robbnya, namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam.

1.2 Cakupan Penciptaan, Kepemilikan, dan Pengaturan Rizqi

Cakupan Rububiyyah meliputi penciptaan alam, kepemilikan atas langit dan bumi, serta pembagian rizqi kepada seluruh makhluk, baik yang Mu’min maupun yang kafir. Alloh menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa pengakuan terhadap aspek-aspek ini tercetus secara jujur dari mulut orang-orang musyrik ketika mereka ditanya mengenai asal-usul keberadaan mereka dan alam semesta.

﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Alloh.” Maka katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?” (QS. Yunus: 31)

﴿قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ۞ قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ۞ قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۖ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُون

Katakanlah: “Milik siapakah bumi ini dan milik siapakah makhluk yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Robb langit yang tujuh dan Robb Arsy yang agung?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertaqwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.” Katakanlah: “Maka bagaimanakah kamu dipalingkan?” (QS. Al-Mu’minun: 84-89)

Tauhid bukanlah sekadar pengakuan hamba bahwa tidak ada pencipta selain Alloh dan bahwa Alloh adalah Robb serta Pemilik segala sesuatu, sampai dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.

Ibnu Qoyyim (751 H) berkata:

Tauhid bukan sekadar pengakuan seorang hamba bahwa tidak ada pencipta selain Alloh, dan bahwasanya Alloh adalah Robb serta penguasa segala sesuatu, sebagaimana para penyembah berhala dahulu pun mengakui hal itu padahal mereka adalah orang-orang musyrik. Namun, Tauhid mencakup rasa cinta kepada Alloh, ketundukan kepada-Nya, kerendahan hati di hadapan-Nya, kesempurnaan kepatuhan pada ketaatan kepada-Nya, pemurnian Ibadah hanya untuk-Nya, serta mengharapkan wajah-Nya Yang Mahatinggi melalui seluruh ucapan, perbuatan, menahan diri, memberi, cinta, dan benci, yang semua itu menjadi penghalang antara pemiliknya dari sebab-sebab yang mengajak kepada kemaksiatan dan terus-menerus di dalamnya. Siapa memahami hal ini, maka dia akan memahami sabda Nabi :

«إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ»

“Sesungguhnya Alloh mengharomkan atas Naar siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh semata-mata mengharapkan wajah Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 425 dan Muslim no. 33)

Dan sabda beliau :

«لاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ»

Tidak akan masuk Naar siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh.” (HR. Muslim no. 29) (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 1/330)

1.3 Mengapa Pengakuan Rububiyyah Belum Memasukkan Seseorang ke Dalam Islam?

Seseorang tidak dikategorikan sebagai Muslim hanya karena meyakini Alloh sebagai Pencipta dan Pengatur rizqi. Sebab, keimanan yang sah menurut syari’at memerlukan ketundukan Uluhiyyah, yaitu pemurnian ibadah, doa, rasa takut, pengharapan, dan penyembelihan hanya kepada Alloh semata. Mengakui Alloh sebagai Robb tanpa menyembah-Nya adalah kepincangan iktikad yang tidak diakui oleh syari’at Islam.

Nabi bersabda:

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ، وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»

Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah Rosululloh, mendirikan Sholat, serta menunaikan Zakat. Apabila mereka telah melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Alloh. (HR. Al-Bukhori no. 25 dan Muslim no. 22)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rosululloh menetapkan perlindungan darah dan harta atas dasar persaksian Laa ilaaha illallooh yang bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh , bukan sekadar pengakuan bahwa Alloh adalah Pencipta.

Setiap orang musyrik mengakui bahwa Alloh adalah Robbnya dan Penciptanya, akan tetapi dia mempersekutukan-Nya dalam peribadahan.

 

Bab 2: Bukti Historis Penolakan Keimanan Meskipun Mengakui Rububiyyah

2.1 Pengakuan Iblis Terhadap Alloh

Iblis merupakan mahluk yang paling jelas membuktikan bahwa pengakuan terhadap Alloh sebagai Pencipta dan Robb tidak memberi manfaat sedikit pun jika disertai kesombongan dan penolakan terhadap perintah-Nya. Iblis tidak pernah mengingkari bahwa Alloh adalah Penciptanya, bahkan Iblis bersumpah dengan keagungan Alloh dan memanggil-Nya dengan panggilan Robb. Namun, Iblis menjadi kafir dan dilaknat selamanya karena enggan tunduk pada perintah peribadahan.

﴿قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Alloh berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku memerintahkanmu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’rof: 12)

﴿قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Iblis berkata: “Wahai Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Hijr: 36)

﴿قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ۞ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Iblis berkata: “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang murni di antara mereka.” (QS. Shod: 82-83)

Iblis mengakui Rububiyyah Alloh dan bahwasanya Dia adalah Penciptanya, namun bersamaan dengan itu dia adalah pimpinan kekafiran.

﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia enggan dan menyombongkan diri, dan dia termasuk golongan orang-orang kafir. (QS. Al-Baqoroh: 34)

2.2 Pengakuan Fir’aun dan Kaumnya

Fir’aun sering dijadikan rujukan sebagai sosok yang mengaku sebagai tuhan melalui lisannya. Akan tetapi, Al-Qur’an membongkar bahwa di dalam hatinya, Fir’aun dan pengikutnya meyakini secara pasti bahwa Alloh adalah Robb yang menurunkan mukjizat-mukjizat melalui Nabi Musa ‘alaihissalam. Pengingkaran Fir’aun hanyalah didasari kesombongan dan kezholiman, bukan karena ketidaktahuan akan Rububiyyah Alloh .

﴿وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ

Dan mereka mengingkarinya karena zholim dan sombong, padahal hati mereka meyakini kebenaran Musa. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. An-Naml: 14)

﴿قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَٰؤُلَاءِ إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ مَثْبُورًا

Musa berkata: “Sungguh kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu melainkan Robb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, wahai Fir’aun, seorang yang akan dibinasakan.” (QS. Al-Isro’: 102)

Fir’aun menampakkan pengakuannya saat sekarat. Alloh memberitahukan keadaan Fir’aun yang baru menyatakan keimanannya ketika ajal dan siksaan tenggelam sudah di depan mata, namun pengakuannya tersebut tidak lagi bermanfaat baginya.

﴿وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ 

Dan Kami seberangkan Bani Isroil melintasi laut, lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk berbuat zholim dan melampaui batas. Hingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, dia berkata, “Aku beriman bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain yang diimani oleh Bani Isroil, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Yunus: 90)

Siapa mengakui Rububiyyah namun tidak mengesakan Alloh dalam Uluhiyyah maka dia adalah kafir.

2.3 Pengakuan Kaum Musyrikin Quroisy

Masyarakat musyrikin Quroisy pada zaman Rosululloh , termasuk Abu Jahal dan Abu Lahab, meyakini Alloh sebagai Pencipta, Pemilik Ka’bah, serta Pengatur rizqi. Mereka berthowaf di Ka’bah, berdo’a kepada Alloh saat ditimpa bahaya di lautan, dan memberi nama anak-anak mereka dengan Abdulloh (hamba Alloh). Namun, mereka menjadi kafir dan diperangi oleh Nabi karena mereka menolak mempersembahkan peribadahan hanya kepada Alloh dan justru mengangkat perantara-perantara berupa berhala.

﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” Niscaya mereka akan menjawab: “Alloh.” (QS. Luqman: 25)

﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya mereka akan menjawab: “Alloh.” Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (QS. Az-Zukhruf: 87)

﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

Maka apabila mereka naik ke dalam kapal mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Alloh. (QS. Al-‘Ankabut: 65)

Penolakan Abu Jahal dan tokoh Quroisy bukan pada keberadaan Alloh , melainkan pada kewajiban meninggalkan sesembahan selain-Nya. Hal ini terekam jelas dalam riwayat ketika Rosululloh mendatangi paman beliau, Abu Tholib, saat hendak meninggal dunia:

«أَيْ عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ»

“Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallooh, sebuah kalimat yang aku jadikan hujjah untukmu di sisi Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 3884 dan Muslim no. 24)

Abu Jahal dan Abdulloh bin Abi Umayyah mencegah Abu Tholib dengan berkata: “Apakah engkau membenci agama Abdul Muttholib?” Agama Abdul Muttholib mengakui Alloh sebagai Robb, namun tetap menyembah berhala sebagai penyambung doa kepada Alloh .

Bab 3: Tauhid Uluhiyyah Sebagai Penentu Keimanan yang Haqiqi

3.1 Hubungan Antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Rububiyyah adalah dalil dan konsistensi dasar yang mewajibkan lahirnya Tauhid Uluhiyyah. Mengaku bahwa Alloh adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur rizqi secara logis dan syar’i menuntut hamba untuk hanya menyembah Alloh semata. Mengakui penciptaan Alloh namun menyembah selain-Nya adalah kontradiksi dan kezholiman terbesar di muka bumi.

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۞ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai manusia, sembahlah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 21-22)

Al-Qur’an menggunakan pengakuan Rububiyyah hamba sebagai hujjah untuk mematahkan penyembahan mereka kepada selain Alloh .

﴿ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Yang demikian itu adalah Alloh Robb kamu; tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. (QS. Al-An’am: 102)

Para ulama Muslimin telah sepakat bahwa pengakuan terhadap Rububiyyah tidaklah cukup sampai digandengkan dengannya keikhlasan dalam Uluhiyyah.

3.2 Konsekuensi Syahadat Laa ilaaha illallooh dalam Peribadahan

Kalimat Laa ilaaha illallooh mengandung penolakan mutlak terhadap seluruh bentuk peribadahan kepada selain Alloh (an-nafi) dan penetapan peribadahan hanya untuk Alloh semata (al-itsbat). Hakikat Uluhiyyah adalah menundukkan seluruh jenis ibadah lahir dan batin, seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji, Doa, menyembelih, bernazar, rasa takut, dan pengharapan hanya kepada Alloh .

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكُمُ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya Sholatku, ibadah menyembelihku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Alloh.” (QS. Al-An’am: 162-163)

Nabi bersabda:

«مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مَنْ دُونِ اللهِ، حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ»

Siapa mengucapkan Laa ilaaha illallooh dan mengingkari segala apa yang disembah selain Alloh, maka harom harta dan darahnya, sedang perhitungannya terserah kepada Alloh. (HR. Muslim no. 23)

Hadits ini mempertegas bahwa pengakuan tidak menyandarkan keselamatan sebelum seseorang mengingkari dan menolak seluruh bentuk peribadahan kepada selain Alloh .

3.3 Bahaya Syirik dalam Uluhiyyah

Perbuatan Syirik dalam peribadahan menghapuskan seluruh nilai dari pengakuan Rububiyyah yang dimiliki seseorang. Meskipun seseorang meyakini Alloh sebagai Pencipta pencipta alam, jika dia memalingkan satu bentuk ibadah saja, seperti berdoa memohon keselamatan kepada wali yang telah meninggal atau menyembelih hewan untuk jin penghuni tempat keramat, maka dia telah batal keimanannya dan jatuh ke dalam kekafiran musyrik.

﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Ingatlah, hanya milik Alloh agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Alloh berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Alloh akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)

﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَمْلِكُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudhorotan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka ini adalah pemberi syafa’at kami di sisi Alloh.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Alloh apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula di bumi? Subhanalloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Yunus: 18)

Al-Qur’an secara tegas melabeli orang-orang yang menjadikan perantara tersebut sebagai pendusta dan orang kafir musyrik, kendati alasan mereka menyembah perantara adalah demi mendekatkan diri kepada Alloh .

Alloh menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa dosa syirik tidak akan diampuni bagi siapa saja yang mati dalam keadaannya, serta kesyirikan menyebabkan pelakunya diharamkan masuk Jannah dan kekal di dalam Naar.

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang berada di bawah tingkat syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa: 48)

﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

“Sesungguhnya siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh Alloh mengharomkan Jannah atasnya, dan tempat kembalikannya adalah Naar. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Ma-idah: 72)

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik berada di dalam Naar Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

 

Bab 4: Pembatal Keimanan Zaman Modern

4.1 Pengakuan Adanya Pencipta Tanpa Ketundukan Syari’at

Pada era kontemporer, muncul fenomena kelompok manusia yang mengakui adanya Sang Pencipta atau pengatur alam semesta melalui penafsiran keagungan alam, namun mereka menolak syari’at, menolak kenabian, dan menolak beribadah sesuai tuntunan Rosululloh . Mereka menyangka bahwa persangkaan dan pengakuan akan keberadaan Tuhan telah cukup menyelamatkan mereka. Fenomena ini tidak ada bedanya dengan i’tiqod musyrikin Jahiliyyah dan iblis yang sekadar mengakui kekuasaan penciptaan tanpa mau tunduk pada aturan syari’at peribadahan.

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُون

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh.” Mereka menjawab: “Tapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.” Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk? (QS. Al-Baqoroh: 170)

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Robbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)

Keimanan mewajibkan penerimaan penuh terhadap syari’at yang dibawa Rosululloh , bukan sekadar pemikiran abstrak mengenai Pencipta.

4.2 Perbuatan Musyrik dalam Doa dan Peribadahan

Contoh nyata yang menghancurkan keimanan seseorang meskipun dia mengaku beriman kepada Alloh sebagai Robb adalah penyimpangan dalam permohonan doa dan penyembelihan. Kasus seorang pedagang yang meyakini Alloh yang memberi rizqi, namun dia mendatangi kuburan keramat untuk meminta kelancaran usaha kepada penghuni kubur tersebut, atau membawa hewan sembelihan untuk ditanam di lokasi bangunan agar selamat dari gangguan makhluk halus. Perbuatan ini adalah pembatal keimanan yang menyamai perbuatan Abu Jahal.

﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ ۞ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari Qiyamah dan mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan pada hari Qiyamah niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al-Ahqof: 5-6)

Nabi bersabda:

«لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ»

Alloh melaknat orang yang menyembah atau menyembelih hewan untuk selain Alloh. (HR. Muslim no. 1978)

Hadits di atas menegaskan larangan keras dan laknat Alloh bagi siapa yang mempersembahkan ritual sembelihan kepada selain Alloh , baik jin, benda mati, maupun arwah manusia.

4.3 Menjaga Kesucian Tauhid Hingga Akhir Hayat

Keselamatan hamba di alam kubur dan Akhiroh hanya diperoleh dengan memurnikan Tauhid Uluhiyyah di samping memegang teguh Tauhid Rububiyyah. Pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur tentang “Siapa Robbmu?” memerlukan jawaban yang lahir dari ketundukan peribadahan semasa di dunia, bukan sekadar hafalan lisan. Orang yang semasa hidupnya menyembah selain Alloh atau mempersekutukan-Nya tidak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di Akhiroh; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang zholim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrohim: 27)

Nabi bersabda:

«العَبْدُ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ، فَأَقْعَدَاهُ، فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَا كُنْتَ تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ؟ فَيَقُولُ: أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»

Sesungguhnya seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya telah berpaling meninggalkannya, dan sungguh dia mendengar gesekan sandal-sandal mereka, maka datanglah kepadanya dua Malaikat lalu mendudukkannya dan bertanya: “Apa yang dahulu engkau katakan tentang lelaki ini, Muhammad ?” Adapun orang Mu’min maka dia menjawab: “Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 1338 dan Muslim no. 2870)

Pengukuhan kalimat Tauhid ini hanya diberikan kepada orang-orang yang merealisasikan penyembahan murni kepada Alloh semasa hidupnya dan menjauhi perbuatan musyrik, yaitu dengan mengikuti cara ibadah Nabi baik dalam Aqidah maupun lainnya.

 

Penutup

Mengetahui dan meyakini bahwa Alloh adalah Pencipta alam semesta, Pemilik seluruh kekayaan, dan Pengatur rizqi setiap makhluk merupakan permulaan dari pengenalan hamba kepada Sang Pencipta. Namun, I’tiqod tersebut hanyalah tangga pertama yang tidak akan membuahkan keselamatan jika hamba berhenti padanya tanpa melangkah ke puncak keimanan, yaitu memurnikan peribadahan hanya kepada Alloh semata.

Sejarah telah membuktikan secara nyata melalui dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah bahwa iblis, Fir’aun, serta kaum musyrikin Jahiliyyah yang dipimpin oleh Abu Jahal dan Abu Lahab, semuanya meyakini Rububiyyah Alloh . Akan tetapi, pengakuan tersebut sama sekali tidak menyelamatkan mereka dari kerugian abadi dan azab Naar, karena mereka enggan menyerahkan seluruh bentuk doa, rasa takut, penyembelihan, dan peribadahan khusus kepada Alloh tanpa perantara.

Setiap Muslim wajib waspada dan meneliti seluruh amal ibadahnya agar terhindar dari perbuatan syirik yang dapat membatalkan keimanan. Pengakuan lisan bahwa Alloh adalah Robb harus dibuktikan dengan penundukan jiwa dan raga dalam menjalankan Sholat, Zakat, Puasa, Haji, serta penyerahan doa hanya kepada-Nya semata. Menjauhi segala bentuk peribadahan kepada kuburan, jin, benda keramat, atau perantara-perantara lainnya adalah syarat mutlak untuk meraih Ridho Alloh dan keselamatan di Jannah.

Semoga Alloh meneguhkan hati kita di atas Tauhid yang murni hingga akhir hayat, menyelamatkan kita dari bahaya syirik yang samar maupun yang terang, dan mengumpulkan kita bersama para Nabi, Shohabat, dan hamba-hamba-Nya yang sholih di Akhiroh kelak.[NK]


Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini