[PDF] Percaya Alloh Sebagai Robb (Pencipta, Pemilik, Pengatur) Belum Menjadikan Seseorang Beriman - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Pengakuan
terhadap Alloh ﷻ
sebagai Pencipta, Pemilik, dan Pengatur alam semesta beserta seluruh isinya
merupakan fithroh yang tertanam dalam diri setiap manusia. Kendati
demikian, persangkaan bahwa pengakuan Rububiyyah (Alloh sebagai Pencipta,
Pemilik, Pengatur) semata telah cukup untuk menjadikan seseorang beriman dan
selamat di Akhiroh adalah kekeliruan yang sangat fatal. Sepanjang
sejarah kemanusiaan, mayoritas manusia mengakui keberadaan Alloh ﷻ
sebagai Robb yang memberi rizqi, menghidupkan, dan mematikan, namun pengakuan
tersebut tidak memasukkan mereka ke dalam barisan Mu’min. Al-Qur’an dan
As-Sunnah menegaskan bahwa keimanan yang haqiqi membutuhkan pilar Tauhid
Uluhiyyah, yaitu mengesakan Alloh ﷻ dalam seluruh bentuk ibadah
tanpa menyektukan-Nya dengan apa pun. Tanpa penyerahan diri secara menyeluruh
kepada peribadahan hanya untuk Alloh ﷻ, pengakuan Rububiyyah
hanyalah pernyataan lisan yang tidak menyelamatkan seseorang dari azab Naar.
﴿وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا
وَهُم مُّشْرِكُونَ﴾
Dan
sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Alloh (yakni hanya beriman Rububiyah),
melainkan dalam keadaan mempersekutukan Alloh (dalam Tauhid Uluhiyyah). (QS.
Yusuf: 106)
Ibnu Abbas
(68 H) rodhiyallahu ‘anhuma menjelaskan ayat ini dalam perkataannya:
«مِنْ
إِيمَانِهِمْ إِذَا قِيلَ لَهُمْ: مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ؟ وَمَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ؟
وَمَنْ خَلَقَ الْجِبَالَ؟ قَالُوا: اللَّهُ، وَهُمْ مُشْرِكُونَ»
Di antara
bentuk keimanan mereka adalah jika ditanyakan kepada mereka siapa yang
menciptakan langit, siapa yang menciptakan bumi, dan siapa yang menciptakan
gunung-gunung, mereka menjawab: Alloh, padahal mereka mempersekutukan-Nya. (Tafsir
Ath-Thobari, 13/373, tahqiq At-Turki)
Kenyataan
historis mencatat bahwa Iblis yang dilaknat Alloh ﷻ, Fir’aun yang melampaui
batas, serta para pemuka musyrikin Quroisy seperti Abu Jahal dan Abu Lahab,
semuanya mengakui kekuasaan dan penciptaan oleh Alloh ﷻ. Iblis bersumpah dengan
kemuliaan Alloh ﷻ
dan memanggil-Nya dengan sebutan Robb, Fir’aun menyakini dalam hatinya
kebenaran ayat-ayat Alloh ﷻ, dan masyarakat Jahiliyyah melakukan Haji serta bersedekah atas
nama Alloh ﷻ.
Namun demikian, Rosululloh ﷺ
tetap memerangi mereka karena mereka menolak mentauhidkan Alloh ﷻ
dalam ibadah.
Buku ini
disusun untuk menguraikan batas pemisah antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid
Uluhiyyah, memperlihatkan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits shohih, serta
menyajikan penerapan praktis agar setiap Muslim terhindar dari pemahaman kerdil
yang membinasakan.
Bab 1: Hakikat
Tauhid Rububiyyah
1.1
Pengakuan Alloh ﷻ Sebagai Robb
Tauhid
Rububiyyah adalah pengakuan tegas dan ikrar bulat bahwasanya Alloh ﷻ
adalah satu-satunya Robb: Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur seluruh makhluk
di alam semesta. Makna Robb mencakup sifat penciptaan dari ketiadaan, pemberian
rizqi yang berkesinambungan, kepemilikan mutlak atas segala sesuatu, serta
pengaturan takdir yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun. Pengakuan ini
memuat keyakinan bahwa tidak ada pencipta selain Alloh ﷻ dan tidak ada yang memberi
manfaat atau bahaya kecuali dengan izin-Nya.
﴿اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ﴾
Alloh
menciptakan segala sesuatu dan Dia Maha Memelihara atas segala sesuatu. (QS.
Az-Zumar: 62)
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين﴾
Segala puji
bagi Alloh, Robb seluruh alam. (QS. Al-Fatihah: 2)
Maka
orang-orang musyrik dahulu mengakui bahwa Alloh adalah Pencipta segala sesuatu,
Pemiliknya, dan Robbnya, namun hal itu tidak memasukkan mereka ke dalam Islam.
1.2
Cakupan Penciptaan, Kepemilikan, dan Pengaturan Rizqi
Cakupan
Rububiyyah meliputi penciptaan alam, kepemilikan atas langit dan bumi, serta
pembagian rizqi kepada seluruh makhluk, baik yang Mu’min maupun yang kafir.
Alloh ﷻ
menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa pengakuan terhadap aspek-aspek ini tercetus
secara jujur dari mulut orang-orang musyrik ketika mereka ditanya mengenai
asal-usul keberadaan mereka dan alam semesta.
﴿قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ
وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۚ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ ۚ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾
Katakanlah:
“Siapakah yang memberi rizqi kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang
kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan
yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan
siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Alloh.” Maka
katakanlah: “Mengapa kamu tidak bertaqwa?” (QS. Yunus: 31)
﴿قُل لِّمَنِ الْأَرْضُ وَمَن فِيهَا إِن كُنتُمْ
تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ۞ قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ
وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ ۞ قُلْ مَن بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ
وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيْهِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ۞ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۖ قُلْ فَأَنَّىٰ تُسْحَرُون﴾
Katakanlah:
“Milik siapakah bumi ini dan milik siapakah makhluk yang ada di dalamnya, jika
kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.” Katakanlah: “Maka apakah
kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Robb langit yang tujuh dan Robb Arsy
yang agung?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.” Katakanlah: “Maka apakah kamu
tidak bertaqwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas
segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi
dari-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Milik Alloh.”
Katakanlah: “Maka bagaimanakah kamu dipalingkan?” (QS. Al-Mu’minun: 84-89)
Tauhid
bukanlah sekadar pengakuan hamba bahwa tidak ada pencipta selain Alloh dan
bahwa Alloh adalah Robb serta Pemilik segala sesuatu, sampai dia bersaksi bahwa
tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.
Ibnu Qoyyim
(751 H) berkata:
Tauhid
bukan sekadar pengakuan seorang hamba bahwa tidak ada pencipta selain Alloh,
dan bahwasanya Alloh adalah Robb serta penguasa segala sesuatu, sebagaimana
para penyembah berhala dahulu pun mengakui hal itu padahal mereka adalah
orang-orang musyrik. Namun, Tauhid mencakup rasa cinta kepada Alloh, ketundukan
kepada-Nya, kerendahan hati di hadapan-Nya, kesempurnaan kepatuhan pada
ketaatan kepada-Nya, pemurnian Ibadah hanya untuk-Nya, serta mengharapkan
wajah-Nya Yang Mahatinggi melalui seluruh ucapan, perbuatan, menahan diri,
memberi, cinta, dan benci, yang semua itu menjadi penghalang antara pemiliknya
dari sebab-sebab yang mengajak kepada kemaksiatan dan terus-menerus di
dalamnya. Siapa memahami hal ini, maka dia akan memahami sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ
مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ»
“Sesungguhnya
Alloh mengharomkan atas Naar siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh
semata-mata mengharapkan wajah Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 425 dan Muslim no.
33)
Dan sabda
beliau ﷺ:
«لاَ
يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ»
“Tidak
akan masuk Naar siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh.” (HR. Muslim
no. 29) (Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim, 1/330)
1.3
Mengapa Pengakuan Rububiyyah Belum Memasukkan Seseorang ke Dalam Islam?
Seseorang
tidak dikategorikan sebagai Muslim hanya karena meyakini Alloh ﷻ
sebagai Pencipta dan Pengatur rizqi. Sebab, keimanan yang sah menurut syari’at
memerlukan ketundukan Uluhiyyah, yaitu pemurnian ibadah, doa, rasa takut,
pengharapan, dan penyembelihan hanya kepada Alloh ﷻ semata. Mengakui Alloh ﷻ
sebagai Robb tanpa menyembah-Nya adalah kepincangan iktikad yang tidak diakui
oleh syari’at Islam.
Nabi ﷺ bersabda:
«أُمِرْتُ
أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ
مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ، وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا
فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلاَمِ،
وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ»
Aku
diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa Muhammad adalah
Rosululloh, mendirikan Sholat, serta menunaikan Zakat. Apabila mereka telah
melakukan hal itu, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku kecuali
dengan hak Islam, dan perhitungan mereka ada pada Alloh. (HR. Al-Bukhori no.
25 dan Muslim no. 22)
Hadits di
atas menunjukkan bahwa Rosululloh ﷺ menetapkan perlindungan darah dan harta atas dasar persaksian Laa
ilaaha illallooh yang bermakna tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain
Alloh ﷻ,
bukan sekadar pengakuan bahwa Alloh ﷻ adalah Pencipta.
Setiap
orang musyrik mengakui bahwa Alloh adalah Robbnya dan Penciptanya, akan tetapi
dia mempersekutukan-Nya dalam peribadahan.
Bab 2: Bukti
Historis Penolakan Keimanan Meskipun Mengakui Rububiyyah
2.1
Pengakuan Iblis Terhadap Alloh ﷻ
Iblis
merupakan mahluk yang paling jelas membuktikan bahwa pengakuan terhadap Alloh ﷻ
sebagai Pencipta dan Robb tidak memberi manfaat sedikit pun jika disertai
kesombongan dan penolakan terhadap perintah-Nya. Iblis tidak pernah mengingkari
bahwa Alloh ﷻ
adalah Penciptanya, bahkan Iblis bersumpah dengan keagungan Alloh ﷻ dan
memanggil-Nya dengan panggilan Robb. Namun, Iblis menjadi kafir dan dilaknat
selamanya karena enggan tunduk pada perintah peribadahan.
﴿قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ
ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن
نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ﴾
Alloh
berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud ketika Aku
memerintahkanmu?” Iblis menjawab: “Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan
aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’rof: 12)
﴿قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾
Iblis
berkata: “Wahai Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS.
Al-Hijr: 36)
﴿قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
۞ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴾
Iblis
berkata: “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semuanya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang murni di antara mereka.” (QS. Shod: 82-83)
Iblis
mengakui Rububiyyah Alloh dan bahwasanya Dia adalah Penciptanya, namun
bersamaan dengan itu dia adalah pimpinan kekafiran.
﴿وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا
لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, “Sujudlah kalian kepada
Adam!” Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia enggan dan menyombongkan
diri, dan dia termasuk golongan orang-orang kafir. (QS. Al-Baqoroh:
34)
2.2
Pengakuan Fir’aun dan Kaumnya
Fir’aun
sering dijadikan rujukan sebagai sosok yang mengaku sebagai tuhan melalui
lisannya. Akan tetapi, Al-Qur’an membongkar bahwa di dalam hatinya, Fir’aun dan
pengikutnya meyakini secara pasti bahwa Alloh ﷻ adalah Robb yang menurunkan
mukjizat-mukjizat melalui Nabi Musa ‘alaihissalam. Pengingkaran Fir’aun
hanyalah didasari kesombongan dan kezholiman, bukan karena ketidaktahuan akan
Rububiyyah Alloh ﷻ.
﴿وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ
ظُلْمًا وَعُلُوًّا ۚ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ﴾
Dan mereka
mengingkarinya karena zholim dan sombong, padahal hati mereka meyakini
kebenaran Musa. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang
berbuat kerusakan. (QS. An-Naml: 14)
﴿قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَٰؤُلَاءِ
إِلَّا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ بَصَائِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَا فِرْعَوْنُ
مَثْبُورًا﴾
Musa
berkata: “Sungguh kamu telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan
mukjizat-mukjizat itu melainkan Robb langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang
nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, wahai Fir’aun, seorang yang akan
dibinasakan.” (QS. Al-Isro’: 102)
Fir’aun
menampakkan pengakuannya saat sekarat. Alloh memberitahukan keadaan Fir’aun
yang baru menyatakan keimanannya ketika ajal dan siksaan tenggelam sudah di
depan mata, namun pengakuannya tersebut tidak lagi bermanfaat baginya.
﴿وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ
فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا حَتَّى إِذَا أَدْرَكَهُ
الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ
وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾
Dan Kami seberangkan
Bani Isroil melintasi laut, lalu Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka
untuk berbuat zholim dan melampaui batas. Hingga ketika Fir’aun hampir
tenggelam, dia berkata, “Aku beriman bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah
selain yang diimani oleh Bani Isroil, dan aku termasuk orang-orang yang
berserah diri.” (QS. Yunus: 90)
Siapa
mengakui Rububiyyah namun tidak mengesakan Alloh dalam Uluhiyyah maka dia
adalah kafir.
2.3
Pengakuan Kaum Musyrikin Quroisy
Masyarakat
musyrikin Quroisy pada zaman Rosululloh ﷺ, termasuk Abu Jahal dan Abu Lahab, meyakini Alloh ﷻ
sebagai Pencipta, Pemilik Ka’bah, serta Pengatur rizqi. Mereka berthowaf di Ka’bah,
berdo’a kepada Alloh ﷻ
saat ditimpa bahaya di lautan, dan memberi nama anak-anak mereka dengan
Abdulloh (hamba Alloh). Namun, mereka menjadi kafir dan diperangi oleh Nabi ﷺ karena mereka menolak
mempersembahkan peribadahan hanya kepada Alloh ﷻ dan justru mengangkat
perantara-perantara berupa berhala.
﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ﴾
Dan sungguh
jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”
Niscaya mereka akan menjawab: “Alloh.” (QS. Luqman: 25)
﴿وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ
اللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴾
Dan sungguh
jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka?” Niscaya
mereka akan menjawab: “Alloh.” Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (QS.
Az-Zukhruf: 87)
﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾
Maka
apabila mereka naik ke dalam kapal mereka berdoa kepada Alloh dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Alloh menyelamatkan mereka sampai ke darat,
tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Alloh. (QS. Al-‘Ankabut: 65)
Penolakan
Abu Jahal dan tokoh Quroisy bukan pada keberadaan Alloh ﷻ,
melainkan pada kewajiban meninggalkan sesembahan selain-Nya. Hal ini terekam
jelas dalam riwayat ketika Rosululloh ﷺ mendatangi paman beliau, Abu Tholib, saat hendak meninggal
dunia:
«أَيْ
عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ»
“Wahai
pamanku, katakanlah Laa ilaaha illallooh, sebuah kalimat yang aku jadikan
hujjah untukmu di sisi Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 3884 dan Muslim no. 24)
Abu Jahal
dan Abdulloh bin Abi Umayyah mencegah Abu Tholib dengan berkata: “Apakah engkau
membenci agama Abdul Muttholib?” Agama Abdul Muttholib mengakui Alloh ﷻ
sebagai Robb, namun tetap menyembah berhala sebagai penyambung doa kepada Alloh
ﷻ.
Bab 3: Tauhid Uluhiyyah Sebagai
Penentu Keimanan yang Haqiqi
3.1
Hubungan Antara Tauhid Rububiyyah dan Tauhid Uluhiyyah
Tauhid
Rububiyyah adalah dalil dan konsistensi dasar yang mewajibkan lahirnya Tauhid
Uluhiyyah. Mengaku bahwa Alloh ﷻ adalah satu-satunya Pencipta
dan Pengatur rizqi secara logis dan syar’i menuntut hamba untuk hanya menyembah
Alloh ﷻ
semata. Mengakui penciptaan Alloh ﷻ namun menyembah selain-Nya
adalah kontradiksi dan kezholiman terbesar di muka bumi.
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ۞ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا
وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ
رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ
تَعْلَمُونَ﴾
Wahai
manusia, sembahlah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang
sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan
bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu
Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizqi untukmu;
karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu
mengetahui. (QS. Al-Baqoroh: 21-22)
Al-Qur’an
menggunakan pengakuan Rububiyyah hamba sebagai hujjah untuk mematahkan
penyembahan mereka kepada selain Alloh ﷻ.
﴿ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ﴾
Yang
demikian itu adalah Alloh Robb kamu; tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah
Pemelihara segala sesuatu. (QS. Al-An’am: 102)
Para ulama
Muslimin telah sepakat bahwa pengakuan terhadap Rububiyyah tidaklah cukup
sampai digandengkan dengannya keikhlasan dalam Uluhiyyah.
3.2
Konsekuensi Syahadat Laa ilaaha illallooh dalam Peribadahan
Kalimat Laa
ilaaha illallooh mengandung penolakan mutlak terhadap seluruh bentuk
peribadahan kepada selain Alloh ﷻ (an-nafi) dan
penetapan peribadahan hanya untuk Alloh ﷻ semata (al-itsbat).
Hakikat Uluhiyyah adalah menundukkan seluruh jenis ibadah lahir dan batin,
seperti Sholat, Puasa, Zakat, Haji, Doa, menyembelih, bernazar, rasa takut, dan
pengharapan hanya kepada Alloh ﷻ.
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ
إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ﴾
Dan Kami
tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Aku, maka
sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25)
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكُمُ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ﴾
Katakanlah:
“Sesungguhnya Sholatku, ibadah menyembelihku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Alloh, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri
kepada Alloh.” (QS. Al-An’am: 162-163)
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مَنْ دُونِ اللهِ، حَرُمَ
مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ»
Siapa
mengucapkan Laa ilaaha illallooh dan mengingkari segala apa yang
disembah selain Alloh, maka harom harta dan darahnya, sedang perhitungannya
terserah kepada Alloh. (HR. Muslim no. 23)
Hadits ini
mempertegas bahwa pengakuan tidak menyandarkan keselamatan sebelum seseorang
mengingkari dan menolak seluruh bentuk peribadahan kepada selain Alloh ﷻ.
3.3
Bahaya Syirik dalam Uluhiyyah
Perbuatan Syirik
dalam peribadahan menghapuskan seluruh nilai dari pengakuan Rububiyyah yang
dimiliki seseorang. Meskipun seseorang meyakini Alloh ﷻ sebagai Pencipta pencipta
alam, jika dia memalingkan satu bentuk ibadah saja, seperti berdoa memohon
keselamatan kepada wali yang telah meninggal atau menyembelih hewan untuk jin
penghuni tempat keramat, maka dia telah batal keimanannya dan jatuh ke dalam
kekafiran musyrik.
﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ
بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ
كَفَّارٌ﴾
Ingatlah,
hanya milik Alloh agama yang murni. Dan orang-orang yang mengambil pelindung
selain Alloh berkata: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Alloh akan
memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya
Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang yang pendusta lagi sangat ingkar.” (QS.
Az-Zumar: 3)
﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ
وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَمْلِكُ
فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
Dan mereka
menyembah selain daripada Alloh apa yang tidak dapat mendatangkan kemudhorotan
kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka ini
adalah pemberi syafa’at kami di sisi Alloh.” Katakanlah: “Apakah kamu
mengabarkan kepada Alloh apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak pula
di bumi? Subhanalloh dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.
Yunus: 18)
Al-Qur’an
secara tegas melabeli orang-orang yang menjadikan perantara tersebut sebagai
pendusta dan orang kafir musyrik, kendati alasan mereka menyembah perantara
adalah demi mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ.
Alloh
menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa dosa syirik tidak akan diampuni bagi siapa
saja yang mati dalam keadaannya, serta kesyirikan menyebabkan pelakunya
diharamkan masuk Jannah dan kekal di dalam Naar.
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ
بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ
افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia mengampuni dosa
yang berada di bawah tingkat syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa
mempersekutukan Alloh, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (QS.
An-Nisa: 48)
﴿إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ
اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾
“Sesungguhnya
siapa mempersekutukan Alloh, maka sungguh Alloh mengharomkan Jannah atasnya,
dan tempat kembalikannya adalah Naar. Tidak ada seorang penolong pun bagi
orang-orang yang zholim.” (QS. Al-Ma-idah: 72)
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik berada di
dalam Naar Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk
makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)
Bab 4: Pembatal
Keimanan Zaman Modern
4.1
Pengakuan Adanya Pencipta Tanpa Ketundukan Syari’at
Pada era
kontemporer, muncul fenomena kelompok manusia yang mengakui adanya Sang
Pencipta atau pengatur alam semesta melalui penafsiran keagungan alam, namun
mereka menolak syari’at, menolak kenabian, dan menolak beribadah sesuai
tuntunan Rosululloh ﷺ.
Mereka menyangka bahwa persangkaan dan pengakuan akan keberadaan Tuhan telah
cukup menyelamatkan mereka. Fenomena ini tidak ada bedanya dengan i’tiqod
musyrikin Jahiliyyah dan iblis yang sekadar mengakui kekuasaan penciptaan tanpa
mau tunduk pada aturan syari’at peribadahan.
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ
اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ
شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُون﴾
Dan apabila
dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh.” Mereka
menjawab: “Tapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek
moyang kami.” Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka
itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk? (QS.
Al-Baqoroh: 170)
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
Maka demi
Robbmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara
yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan
sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)
Keimanan
mewajibkan penerimaan penuh terhadap syari’at yang dibawa Rosululloh ﷺ, bukan sekadar pemikiran
abstrak mengenai Pencipta.
4.2
Perbuatan Musyrik dalam Doa dan Peribadahan
Contoh
nyata yang menghancurkan keimanan seseorang meskipun dia mengaku beriman kepada
Alloh ﷻ
sebagai Robb adalah penyimpangan dalam permohonan doa dan penyembelihan. Kasus
seorang pedagang yang meyakini Alloh ﷻ yang memberi rizqi, namun dia
mendatangi kuburan keramat untuk meminta kelancaran usaha kepada penghuni kubur
tersebut, atau membawa hewan sembelihan untuk ditanam di lokasi bangunan agar
selamat dari gangguan makhluk halus. Perbuatan ini adalah pembatal keimanan
yang menyamai perbuatan Abu Jahal.
﴿وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّن يَدْعُو مِن دُونِ اللَّهِ
مَن لَّا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
۞ وَإِذَا حُشِرَ النَّاسُ كَانُوا لَهُمْ أَعْدَاءً
وَكَانُوا بِعِبَادَتِهِمْ كَافِرِينَ﴾
Dan
siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sesembahan-sesembahan
selain Alloh yang tiada dapat memperkenankan doanya sampai hari Qiyamah dan
mereka lalai dari memperhatikan doa mereka? Dan apabila manusia dikumpulkan
pada hari Qiyamah niscaya sesembahan-sesembahan itu menjadi musuh mereka dan
mengingkari pemujaan-pemujaan mereka. (QS. Al-Ahqof: 5-6)
Nabi ﷺ bersabda:
«لَعَنَ
اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ»
Alloh
melaknat orang yang menyembah atau menyembelih hewan untuk selain Alloh. (HR.
Muslim no. 1978)
Hadits di
atas menegaskan larangan keras dan laknat Alloh ﷻ bagi siapa yang
mempersembahkan ritual sembelihan kepada selain Alloh ﷻ, baik jin, benda mati, maupun
arwah manusia.
4.3
Menjaga Kesucian Tauhid Hingga Akhir Hayat
Keselamatan
hamba di alam kubur dan Akhiroh hanya diperoleh dengan memurnikan Tauhid
Uluhiyyah di samping memegang teguh Tauhid Rububiyyah. Pertanyaan Malaikat
Munkar dan Nakir di alam kubur tentang “Siapa Robbmu?” memerlukan jawaban yang
lahir dari ketundukan peribadahan semasa di dunia, bukan sekadar hafalan lisan.
Orang yang semasa hidupnya menyembah selain Alloh ﷻ atau mempersekutukan-Nya
tidak akan mampu menjawab pertanyaan tersebut dengan benar.
﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ﴾
Alloh
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam
kehidupan di dunia dan di Akhiroh; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang
zholim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrohim: 27)
Nabi ﷺ bersabda:
«العَبْدُ
إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ، وَتُوُلِّيَ وَذَهَبَ أَصْحَابُهُ حَتَّى إِنَّهُ لَيَسْمَعُ
قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ، فَأَقْعَدَاهُ، فَيَقُولاَنِ لَهُ: مَا كُنْتَ
تَقُولُ فِي هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ ﷺ؟ فَيَقُولُ:
أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ»
Sesungguhnya
seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya
telah berpaling meninggalkannya, dan sungguh dia mendengar gesekan
sandal-sandal mereka, maka datanglah kepadanya dua Malaikat lalu mendudukkannya
dan bertanya: “Apa yang dahulu engkau katakan tentang lelaki ini, Muhammad ﷺ?” Adapun orang Mu’min maka
dia menjawab: “Aku bersaksi bahwasanya dia adalah hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR.
Al-Bukhori no. 1338 dan Muslim no. 2870)
Pengukuhan
kalimat Tauhid ini hanya diberikan kepada orang-orang yang merealisasikan
penyembahan murni kepada Alloh ﷻ semasa hidupnya dan menjauhi
perbuatan musyrik, yaitu dengan mengikuti cara ibadah Nabi ﷺ baik dalam Aqidah maupun lainnya.
Penutup
Mengetahui
dan meyakini bahwa Alloh ﷻ adalah Pencipta alam semesta, Pemilik seluruh kekayaan, dan
Pengatur rizqi setiap makhluk merupakan permulaan dari pengenalan hamba kepada
Sang Pencipta. Namun, I’tiqod tersebut hanyalah tangga pertama yang tidak akan membuahkan
keselamatan jika hamba berhenti padanya tanpa melangkah ke puncak keimanan,
yaitu memurnikan peribadahan hanya kepada Alloh ﷻ semata.
Sejarah
telah membuktikan secara nyata melalui dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah
bahwa iblis, Fir’aun, serta kaum musyrikin Jahiliyyah yang dipimpin oleh Abu
Jahal dan Abu Lahab, semuanya meyakini Rububiyyah Alloh ﷻ.
Akan tetapi, pengakuan tersebut sama sekali tidak menyelamatkan mereka dari
kerugian abadi dan azab Naar, karena mereka enggan menyerahkan seluruh bentuk
doa, rasa takut, penyembelihan, dan peribadahan khusus kepada Alloh ﷻ
tanpa perantara.
Setiap
Muslim wajib waspada dan meneliti seluruh amal ibadahnya agar terhindar dari
perbuatan syirik yang dapat membatalkan keimanan. Pengakuan lisan bahwa Alloh ﷻ
adalah Robb harus dibuktikan dengan penundukan jiwa dan raga dalam menjalankan
Sholat, Zakat, Puasa, Haji, serta penyerahan doa hanya kepada-Nya semata.
Menjauhi segala bentuk peribadahan kepada kuburan, jin, benda keramat, atau
perantara-perantara lainnya adalah syarat mutlak untuk meraih Ridho Alloh ﷻ dan
keselamatan di Jannah.
Semoga
Alloh ﷻ
meneguhkan hati kita di atas Tauhid yang murni hingga akhir hayat,
menyelamatkan kita dari bahaya syirik yang samar maupun yang terang, dan
mengumpulkan kita bersama para Nabi, Shohabat, dan hamba-hamba-Nya yang sholih
di Akhiroh kelak.[NK]
%20Belum%20Menjadikan%20Seseorang%20Beriman%20-%20Nor%20Kandir.jpg)