Cari Ebook

[PDF] ARBAIN Keutamaan Umar bin Al-Khottob (23 H) - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Buku ini berisi 40 Hadits pilihan tentang keutamaan Umar bin Al-Khotthob rodhiyallahu ‘anhu dari riwayat shohih.

Mencintai Umar bagian dari iman. Buku ini ditulis untuk untuk menaikkan iman kita, disamping menjaga dari kekufuran, karena membenci Umar adalah kekufuran.

 

Hadits 1: Islam Dikuatkan dengan Umar

Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Rosululloh berdoa:

«اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ بِأَحَبِّ هَذَيْنِ الرَّجُلَيْنِ إِلَيْكَ بِأَبِي جَهْلٍ أَوْ بِعُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ» قَالَ: وَكَانَ أَحَبَّهُمَا إِلَيْهِ عُمَرُ

“Ya Alloh, muliakanlah Islam dengan salah satu dari 2 lelaki yang paling Engkau cintai, yaitu Abu Jahal atau Umar bin Al-Khotthob.” Yang paling Alloh cintai dari keduanya adalah Umar. (HSR. At-Tirmidzi no. 3681)

 

Hadits 2: Syaithon Lari dari Umar

Dari Sa’d bin Abi Waqqosh (55 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rosululloh bersabda kepada Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا قَطُّ، إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah syaithon bertemu denganmu di suatu jalan sama sekali melainkan dia akan mengambil jalan lain yang bukan jalanmu.” (HR. Al-Bukhori no. 3683 dan Muslim no. 2396)

 

Hadits 3: Umar Diberi Ilham

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«لَقَدْ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رِجَالٌ، يُكَلَّمُونَ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَكُونُوا أَنْبِيَاءَ، فَإِنْ يَكُنْ مِنْ أُمَّتِي مِنْهُمْ أَحَدٌ فَعُمَرُ»

“Sungguh telah ada pada ummat-ummat sebelum kalian dari Bani Isroil orang-orang yang diberi ilham padahal mereka bukan Nabi, maka jika ada salah seorang dari ummatku yang mendapatkannya, maka sesungguhnya dialah Umar.” (HR. Al-Bukhori no. 3689 dan Muslim no. 2398)

Hadits 4: Andai Ada Nabi Maka Umar

Dari Uqbah bin Amir (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«لَوْ كَانَ نَبِيٌّ بَعْدِي لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ»

“Seandainya ada Nabi setelahku, niscaya dia adalah Umar bin Al-Khotthob.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3686)

 

Hadits 5: Kebenaran Pada Lisan dan Hati Umar

Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ». وقَالَ ابْنُ عُمَرَ: مَا نَزَلَ بِالنَّاسِ أَمْرٌ قَطُّ فَقَالُوا فِيهِ وَقَالَ فِيهِ عُمَرُ إِلَّا نَزَلَ فِيهِ القُرْآنُ عَلَى نَحْوِ مَا قَالَ عُمَرُ

“Sesungguhnya Alloh telah menjadikan kebenaran berada pada lisan Umar dan hatinya.”

Ibnu Umar berkata: “Tidaklah manusia tertimpa peristiwa apapun lalu mereka berbicara dan Umar pun berbicara maka turun Al-Quran yang membicarakannya sesuai dengan ucapan Umar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3682)

Dari Abu Dzar rodhiyallahu anhu, ia berkata: aku mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ يَقُولُ بِهِ»

“Sungguh Alloh meletakkan kebenaran di lisan Umar untuk mengucapkannya.” (HSR. Ibnu Majah no. 108)

Hadits 6: Istana Megah Umar di Jannah

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«رَأَيْتُنِي دَخَلْتُ الجَنَّةَ، فَإِذَا أَنَا بِالرُّمَيْصَاءِ، امْرَأَةِ أَبِي طَلْحَةَ، وَسَمِعْتُ خَشَفَةً، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: هَذَا بِلاَلٌ، وَرَأَيْتُ قَصْرًا بِفِنَائِهِ جَارِيَةٌ، فَقُلْتُ: لِمَنْ هَذَا؟ فَقَالَ: لِعُمَرَ، فَأَرَدْتُ أَنْ أَدْخُلَهُ فَأَنْظُرَ إِلَيْهِ، فَذَكَرْتُ غَيْرَتَكَ» فَقَالَ عُمَرُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ أَعَلَيْكَ أَغَارُ

“Aku bermimpi masuk ke dalam Jannah, lalu aku bertemu Ar-Rumaysho’, istri Abu Tholhah, dan aku mendengar suara langkah kaki, maka aku bertanya: ‘Siapakah ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Bilal.’ Aku melihat sebuah istana yang di halamannya ada seorang budak wanita, maka aku bertanya: ‘Milik siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Milik Umar.’ Aku ingin masuk ke dalamnya untuk melihatnya, lalu aku teringat sifat cemburumu.” Maka Umar berkata: “Bapakku dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rosululloh, apakah aku layak cemburu kepadamu?” (HR. Al-Bukhori no. 3679 dan Muslim no. 2394)

 

Hadits 7: Dalamnya Ilmu Umar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ، أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ، فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي، ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ» قَالُوا: فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «العِلْمَ»

“Ketika aku tidur, aku dibawakan segelas susu lalu aku meminumnya hingga aku melihat rasa puas memancar dari kuku-kukuku, kemudian sisa minumku aku berikan kepada Umar bin Al-Khotthob.” Para Shohabat bertanya: “Apa takwil mimpi tersebut wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Ilmu.” (HR. Al-Bukhori no. 82 dan Muslim no. 2391)

 

Hadits 8: Tingginya Agama Umar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ، رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ، مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ، وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ، وَعُرِضَ عَلَيَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ». قَالُوا: فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الدِّينَ»

“Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat manusia diperlihatkan kepadaku dan mereka mengenakan baju, di antara baju itu ada yang sampai ke dada dan ada yang kurang dari itu. Lalu diperlihatkan kepadaku Umar bin Al-Khotthob dan dia mengenakan baju yang terseret di tanah.” Para Shohabat bertanya: “Apa takwil mimpi tersebut wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Agama.” (HR. Al-Bukhori no. 23 dan Muslim no. 2390)

 

Hadits 9: Kesyahidan Umar

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan Utsman (35 H), lalu gunung itu bergetar. Maka Nabi bersabda:

«اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ»

“Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Shiddiq, dan 2 orang Syahid.” (HR. Al-Bukhori no. 3675)

 

Hadits 10: Kekuatan Kepemimpinan Umar

Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«رَأَيْتُ النَّاسَ اجْتَمَعُوا، فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْذَنُوبَيْنِ، وَفِي نَزْعِهِ ضَعْفٌ، وَاللَّهُ يَغْفِرُ لَهُ، ثُمَّ قَامَ ابْنُ الخَطَّابِ، فَاسْتَحَالَتْ غَرْبًا، فَمَا رَأَيْتُ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَفْرِي فَرْيَهُ، حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ»

“Aku bermimpi melihat manusia berkumpul, lalu Abu Bakr berdiri menimba 1 atau 2 timba air, dan pada timbaannya terdapat kelemahan, Alloh mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh Ibnu Al-Khotthob, lalu berubah menjadi timba yang sangat besar. Aku belum pernah melihat pemimpin yang sangat kuat di antara manusia yang mampu bekerja sehebat kerjanya, hingga seluruh manusia dapat memberi minum unta-unta mereka sampai puas di tempat peristirahatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7020 dan Muslim no. 2392)

 

Hadits 11: Pintu Penghalang Terjadinya Fitnah

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia ditanya oleh Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu tentang fitnah. Hudzaifah berkata:

«فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ، تُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ، وَالأَمْرُ وَالنَّهْيُ»، قَالَ: لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ، وَلَكِنِ الفِتْنَةُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَا يَمُوجُ البَحْرُ، قَالَ: لَيْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا بَأْسٌ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ، إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا، قَالَ: أَيُكْسَرُ أَمْ يُفْتَحُ؟ قَالَ: يُكْسَرُ، قَالَ: إِذًا لاَ يُغْلَقَ أَبَدًا

“Fitnah seorang lelaki pada keluarga, harta, anak, dan tetangganya dapat dihapuskan oleh Sholat, Puasa, Shodaqoh, amar ma’ruf, dan nahi munkar.” Umar berkata: “Bukan itu maksudku, namun fitnah yang bergulung-gulung seperti gelombang lautan.” Hudzaifah berkata: “Anda tidak perlu khawatir wahai Amirul Mu’minin, sungguh antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang tertutup.” Umar bertanya: “Apakah pintu itu akan didobrak atau dibuka?” Hudzaifah menjawab: “Bahkan didobrak.” Umar berkata: “Jika demikian, pintu itu tidak akan tertutup selamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 525 dan Muslim no. 144)

 

Hadits 12: Kesesuaian Pendapat Umar dengan Wahyu

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

وَافَقْتُ رَبِّي فِي ثَلاَثٍ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوِ اتَّخَذْنَا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى، فَنَزَلَتْ: ﴿وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَآيَةُ الحِجَابِ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَوْ أَمَرْتَ نِسَاءَكَ أَنْ يَحْتَجِبْنَ، فَإِنَّهُ يُكَلِّمُهُنَّ البَرُّ وَالفَاجِرُ، فَنَزَلَتْ آيَةُ الحِجَابِ، وَاجْتَمَعَ نِسَاءُ النَّبِيِّ فِي الغَيْرَةِ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ لَهُنَّ: (عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبَدِّلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ)، فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ

Pendapatku bersesuaian dengan Robbku dalam 3 hal. Aku berkata: ‘Wahai Rosululloh, sekiranya kita menjadikan Maqom Ibrohim sebagai tempat Sholat,’ maka turunlah ayat ﴿وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى﴾.

Mengenai ayat hijab, aku berkata: ‘Wahai Rosululloh, sekiranya Engkau memerintahkan istri-istrimu berhijab karena orang baik maupun jahat berbicara dengan mereka,’ maka turunlah ayat hijab.

Ketika istri-istri Nabi berkumpul karena cemburu kepada beliau, aku berkata kepada mereka: ‘Semoga Robbnya jika memutus hubungan dengan kalian akan menggantikan untuknya istri-istri yang lebih baik dari kalian,’ maka turunlah ayat ini.” (HR. Al-Bukhori no. 402)

 

Hadits 13: Berita Gembira Jannah Bagi Umar

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan saat menjaga pintu kebun bersama Nabi , lalu datang Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu meminta izin masuk. Maka Nabi bersabda:

«افْتَحْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ»

“Bukakan pintu untuknya dan berilah dia berita gembira dengan Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 3693 dan Muslim no. 2403)

 

Hadits 14: Pemimpin Para Penghuni Jannah

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda tentang Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H):

«هَذَانِ سَيِّدَا كُهُولِ أَهْلِ الجَنَّةِ مِنَ الأَوَّلِينَ وَالآخِرِينَ إِلَّا النَّبِيِّينَ وَالمُرْسَلِينَ»

“Abu Bakr dan Umar adalah pemimpin para penghuni Jannah yang berusia dewasa dari kalangan orang-orang terdahulu dan yang kemudian, kecuali para Nabi dan Mursalin.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3664)

 

Hadits 15: Perintah Meneladani Sunnah Umar

Dari Al-Irbadh bin Sariyah (75 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“…Wajib bagi kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian…” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)

 

Hadits 16: Mengikuti Petunjuk Abu Bakr dan Umar

Dari Hudhaifah bin Al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ»

“Teladanilah 2 orang setelahku, yaitu Abu Bakr dan Umar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3662)

 

Hadits 17: Kejayaan Islam Berawal dari Keislaman Umar

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«مَازِلْنَا أَعِزَّةً مُنْذُ أَسْلَمَ عُمَرُ»

“Kami senantiasa berada dalam kejayaan sejak Umar masuk Islam.” (HR. Al-Bukhori no. 3684)

 

Hadits 18: Persaksian Shohabat Atas Umar

Dari Muhammad bin Al-Hanafiyyah (81 H) rohimahulloh, ia berkata kepada ayahku (Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu):

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ ؟ قَالَ: «أَبُو بَكْرٍ»، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ عُمَرُ»، وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَنْتَ؟ قَالَ: «مَا أَنَا إِلَّا رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ»

“Siapakah orang terbaik setelah Rosululloh ?” Jawabnya: “Abu Bakr.” Aku bertanya: “Lalu siapa?” Jawabnya: “Lalu Umar.” Aku khawatir ia akan menyebut (ketiga) Utsman maka aku berkata: “Lalu Anda?” Ia menjawab: “Aku hanyalah seorang dari Muslimin.” (HR. Al-Bukhori no. 3671)

Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

«كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ»

“Kami dahulu memilih manusia yang terbaik di zaman Nabi , maka kami memilih Abu Bakr, kemudian Umar bin Al-Khotthob, kemudian Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhum.” (HR. Al-Bukhori no. 3655)

 

Hadits 19: Umar Sebagai Pendengaran dan Penglihatan

Dari Abu Ar-Robi’ Al-Anshori (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi bahwa beliau bersabda tentang Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H):

«هَذَانِ السَّمْعُ وَالبَصَرُ»

“Keduanya adalah pendengaran dan penglihatan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3671)

Al-Baidhowi berkata: “Kedua shohabat tersebut berada di tengah-tengah umat Muslim berkedudukan seperti pendengaran dan penglihatan pada anggota tubuh, atau kedudukan keduanya di dalam Agama seperti kedudukan pendengaran dan penglihatan pada jasad, atau keduanya berada dalam kemuliaan seperti pendengaran dan penglihatan. Ada pula kemungkinan bahwa Nabi menamai keduanya dengan julukan tersebut karena betapa besarnya semangat mereka berdua untuk mendengarkan kebenaran serta mengikutinya, dan betapa sungguhnya mereka berdua dalam mencermati tanda-tanda kekuasaan Alloh yang membentang pada diri manusia maupun di berbagai penjuru alam, serta merenungkan dan mengambil pelajaran darinya.” (Quutul Mughtadzi, As-Suyuthi, 2/987)

 

Hadits 20: Keikutsertaan Umar dalam Peristiwa Bai’atur Ridwan

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh bersabda:

«لَنْ يَدْخُلَ النَّارَ رَجُلٌ شَهِدَ بَدْرًا وَالْحُدَيْبِيَةَ»

“Tidak akan masuk Naar seorang pun yang ikut serta dalam Perang Badr dan Perjanjian Hudaibiyah.” (HHR. Ahmad no. 15262)

 

Hadits 21: Kecintaan Rosululloh Kepada Umar

Dari Amr bin Al-Ash (43 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia bertanya kepada Nabi tentang manusia yang paling dicintai, lalu Nabi bersabda:

«عَائِشَةُ»، فَقُلْتُ: مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَالَ: «أَبُوهَا»، قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: «ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ» فَعَدَّ رِجَالًا

“Aisyah.” Aku bertanya: “Dari lelaki?” Jawab beliau: “Ayahnya.” Aku bertanya: “Lalu siapa?” Jawab beliau: “Lalu Umar bin Al-Khotthob.” Beliau menyebut beberapa orang. (HR. Al-Bukhori no. 3662 dan Muslim no. 2384)

 

Hadits 22: Ketegasan Umar dalam Menegakkan Perintah Alloh

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ، وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ»

“Orang yang paling penyayang di antara ummatku kepada ummatku adalah Abu Bakr, dan orang yang paling tegas dalam menjalankan perintah Alloh adalah Umar, orang yang paling jujur rasa malunya adalah Utsman bin Affan, orang yang paling tahu halal dan harom adalah Mu’adz bin Jabal, orang yang paling tahu faroidh adalah Zaid bin Tsabit, orang yang paling tahu qiroah adalah Ubai bin Ka’ab, dan setiap umat memiliki amiin (orang kepercayaan) sementara amiin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarroh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3790)

 

Hadits 23: Syaithon Takut Kepada Umar

Dari Buroidah bin Al-Hushoib (62 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda kepada Umar (23 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ»

“Sesungguhnya Syaithon benar-benar takut kepadamu wahai Umar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3690)

Dari Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Nabi bersabda:

«إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الإِنْسِ وَالجِنِّ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ»

“Sungguh aku melihat syaithon jin dan manusia lari dari Umar.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3691)

 

Hadits 24: Shadaqoh Umar

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya (Aslam), beliau menceritakan: Aku mendengar Umar bin Al-Khoththob (23 H) berkata:

أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ يَوْمًا أَنْ نَتَصَدَّقَ، فَوَافَقَ ذَلِكَ مَالًا عِنْدِي، فَقُلْتُ: الْيَوْمَ أَسْبِقُ أَبَا بَكْرٍ إِنْ سَبَقْتُهُ يَوْمًا، فَجِئْتُ بِنِصْفِ مَالِي، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟»، قُلْتُ: مِثْلَهُ، قَالَ: وَأَتَى أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِكُلِّ مَا عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ : «مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟» قَالَ: أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قُلْتُ: لَا أُسَابِقُكَ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

“Suatu hari Rosululloh memerintahkan kami untuk bershodaqoh, dan kebetulan saat itu aku sedang memiliki harta. Aku pun membatin: ‘Hari ini aku akan mengungguli Abu Bakr (13 H), jika ada suatu hari aku bisa mengunggulinya.’ Lantas aku datang membawa separuh hartaku. Rosululloh bertanya: ‘Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Aku menjawab: ‘Jumlah yang serupa dengan yang aku shodaqohkan ini.’ Kemudian Abu Bakr rodhiyallahu ‘anhu datang membawa seluruh harta yang dimilikinya. Rosululloh bertanya kepadanya: ‘Wahai Abu Bakr, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?’ Beliau menjawab: ‘Aku tinggalkan untuk mereka Alloh dan Rosul-Nya.’ Maka aku membatin: ‘Aku tidak akan pernah bisa mengunggulimu dalam kebaikan apa pun selamanya.’” (HHR. Abu Dawud no. 1678 dan At-Tirmidzi no. 3675)

Dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya (Aslam), beliau menceritakan: Abdulloh bin Umar (73 H) pernah bertanya kepadaku tentang sebagian perihal ayahnya—yakni Umar bin Al-Khoththob (23 H)—lalu aku pun menceritakannya. Lantas Abdulloh bin Umar berkata:

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا قَطُّ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ مِنْ حِينَ قُبِضَ، كَانَ أَجَدَّ وَأَجْوَدَ حَتَّى انْتَهَى مِنْ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ»

“Aku tidak pernah melihat seorang pun sejak Rosululloh wafat yang lebih sungguh-sungguh dan dermawan hingga puncaknya (atau sampai wafatnya) melebihi Umar bin Al-Khoththob.” (HR. Al-Bukhori no. 3687)

 

Hadits 25: Kedudukan Tinggi Umar di dalam Jannah

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi beliau bersabda:

«إِنَّ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ العُلَى لَيَرَاهُمْ مَنْ تَحْتَهُمْ كَمَا تَرَوْنَ النَّجْمَ الطَّالِعَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا»

“Sesungguhnya para penghuni derajat yang tinggi di Jannah akan dilihat oleh orang-orang yang berada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang terbit di ufuk langit, dan sesungguhnya Abu Bakr dan Umar termasuk dari mereka dan mendapatkan kenikmatan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3658)

 

Hadits 26: Keteguhan Keimanan dan Keyakinan Umar

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan sabda Rosululloh tentang serigala yang berbicara:

«بَيْنَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً إِذْ رَكِبَهَا فَضَرَبَهَا، فَقَالَتْ: إِنَّا لَمْ نُخْلَقْ لِهَذَا، إِنَّمَا خُلِقْنَا لِلْحَرْثِ» فَقَالَ النَّاسُ: سُبْحَانَ اللَّهِ بَقَرَةٌ تَكَلَّمُ، فَقَالَ: «فَإِنِّي أُومِنُ بِهَذَا، أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، - وَمَا هُمَا ثَمَّ - وَبَيْنَمَا رَجُلٌ فِي غَنَمِهِ إِذْ عَدَا الذِّئْبُ، فَذَهَبَ مِنْهَا بِشَاةٍ، فَطَلَبَ حَتَّى كَأَنَّهُ اسْتَنْقَذَهَا مِنْهُ، فَقَالَ لَهُ الذِّئْبُ هَذَا: اسْتَنْقَذْتَهَا مِنِّي، فَمَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ، يَوْمَ لاَ رَاعِيَ لَهَا غَيْرِي» فَقَالَ النَّاسُ: سُبْحَانَ اللَّهِ ذِئْبٌ يَتَكَلَّمُ، قَالَ: «فَإِنِّي أُومِنُ بِهَذَا أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، - وَمَا هُمَا ثَمَّ -»

“Ketika seorang lelaki sedang menggiring seekor sapi jantan, tiba-tiba dia menungganginya lalu memukulnya. Sapi itu pun berkata: ‘Sesungguhnya kami tidak diciptakan untuk hal ini, kami hanyalah diciptakan untuk membajak sawah.’” Orang-orang pun berseru: “Subhanalloh! Seekor sapi bisa berbicara!” Maka Nabi bersabda: “Sungguh aku mengimani kejadian ini, begitu pula Abu Bakr dan Umar”—padahal Abu Bakr dan Umar tidak ada di tempat tersebut. “Dan ketika seorang lelaki sedang berada di tengah-tengah kambing gembalaannya, tiba-tiba serigala menyerang dan membawa lari seekor kambing darinya. Lelaki itu pun mengejarnya hingga berhasil merebutnya kembali dari serigala tersebut. Lalu serigala itu berkata kepadanya: ‘Engkau telah merebutnya dariku, maka siapakah yang akan melindunginya pada hari binatang buas (hari fitnah besar), pada hari ketika tidak ada penggembala baginya selain aku?’” Orang-orang pun berseru: “Subhanalloh! Seekor serigala bisa berbicara!” Beliau bersabda: “Sungguh aku mengimani kejadian ini, begitu pula Abu Bakr dan Umar”—padahal Abu Bakr dan Umar tidak ada di tempat tersebut. (HR. Al-Bukhori no. 3471 dan Muslim no. 2388)

 

Hadits 27: Keutamaan Mentaati Bimbingan Umar

Dari Abu Qotadah (54 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam kisah perjalanan malam, orang-orang berkata:

«فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا»

“Jika mereka mentaati Abu Bakr dan Umar, niscaya mereka akan mendapat petunjuk.” (HR. Muslim no. 681)

 

Hadits 28: Kebersamaan Umar Bersama Rosululloh

Dari Abdulloh bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia menceritakan saat Umar bin Al-Khotthob (23 H) diletakkan di atas ranjang jenazahnya, Ali bin Abi Tholib (40 H) mendoakannya dan menukil ucapan Rosululloh :

مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ، وَايْمُ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لَأَظُنُّ أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ، وَحَسِبْتُ إِنِّي كُنْتُ كَثِيرًا أَسْمَعُ النَّبِيَّ يَقُولُ: «ذَهَبْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ»

“Engkau tidak meninggalkan seorang pun yang lebih aku sukai untuk menghadap Alloh dengan amal kebaikan yang serupa dengannya melebihi dirimu. Demi Alloh, sungguh aku benar-benar menyangka bahwa Alloh pasti akan menyatukanmu bersama kedua shohabatmu. Aku sering kali mendengar Nabi bersabda: ‘Aku pergi bersama Abu Bakr dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakr dan Umar.’” (HR. Al-Bukhori no. 3685 dan Muslim no. 2389)

 

Hadits 30: Nabi Mencintai Umar

Dari Abdulloh bin Hisyam, beliau menceritakan:

«كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ ، وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ»

“Kami pernah bersama Nabi , saat itu beliau sedang menggenggam erat tangan Umar bin Al-Khoththob.” (HR. Al-Bukhori no. 3694)

 

Hadits 31: Permohonan Mati Syahid dan Wafat di Kota Nabi

Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berdoa:

«اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ مَوْتِي فِي بَلَدِ رَسُولِكَ »

“Ya Alloh, karuniakanlah kepadaku mati syahid di jalan-Mu dan jadikanlah wafatku di negeri Rosul-Mu.” (HR. Al-Bukhori no. 1890)

 

Hadits 32: Kekayaan di Masa Kepemimpinan Umar

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الكَلِمِ، وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ، فَبَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِمَفَاتِيحِ خَزَائِنِ الأَرْضِ، فَوُضِعَتْ فِي يَدِي» قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: وَقَدْ ذَهَبَ رَسُولُ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَنْتَثِلُونَهَا

“Aku diutus dengan jawami’ul kalim (kalimat singkat namun sarat makna), aku ditolong dengan rasa takut yang dicekamkan ke dalam hati musuh, dan ketika aku tidur dibawakan kepadaku kunci-kunci perbendaharaan bumi lalu diletakkan di tanganku.” Abu Huroiroh berkata: “Rosululloh sudah wafat dan kalian sekarang yang menikmatinya (ghohimah melimpah dari Romawi dan Persia di zaman Umar). (HR. Al-Bukhori no. 2977 dan Muslim no. 523)

 

Hadits 33: Sunnah Umar Menghidupkan Jamaah Sholat Tarowih

Dari Abdurrohman bin Abdun Al-Qori (78 H) rohimahulloh, ia menceritakan perkataan Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu saat mengumpulkan kaum Muslimin dalam Sholat Qiyam Romadhon:

«نِعْمَ البِدْعَةُ هَذِهِ، وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنَ الَّتِي يَقُومُونَ» يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

“Sebaik-baik ni’mat pembaruan adalah tata cara ini (yakni menghidupan syariah Tarowih berjamaah), dan Sholat yang mereka tidur terlebih dahulu darinya (di akhir malam) lebih utama daripada Sholat yang mereka tegakkan (di awal malam).” Yakni akhir malam karena manusia biasa melaksanakannya di awal waktu. (HR. Al-Bukhori no. 2010)

 

Hadits 34: Rasa Tanggung Jawab dan Kekhusyukan Umar

Dari Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya ia berkata:

«لَوْ مَاتَتْ شَاةٌ عَلَى شَطِّ الْفُرَاتِ ضَائِعَةً، لَظَنَنْتُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى سَائِلِي عَنْهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Seandainya ada seekor anak kambing mati terlantar di tepi sungai Furot (Eufrat), sungguh aku takut Alloh akan menuntutku darinya.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim, 1/53)

 

Hadits 35: Makam Umar di Samping Rosululloh

Umar bin Al-Khotthob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu menjelang wafatnya berkata:

يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، اذْهَبْ إِلَى أُمِّ المُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، فَقُلْ: يَقْرَأُ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ عَلَيْكِ السَّلاَمَ، ثُمَّ سَلْهَا، أَنْ أُدْفَنَ مَعَ صَاحِبَيَّ، قَالَتْ: كُنْتُ أُرِيدُهُ لِنَفْسِي فَلَأُوثِرَنَّهُ اليَوْمَ عَلَى نَفْسِي، فَلَمَّا أَقْبَلَ، قَالَ لَهُ: مَا لَدَيْكَ؟ قَالَ: أَذِنَتْ لَكَ يَا أَمِيرَ المُؤْمِنِينَ

“Wahai Abdulloh bin Umar (73 H), pergilah kepada Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha, lalu katakan: ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H) menyampaikan salam kepadamu,’ kemudian mohonlah izin kepadanya agar aku dikuburkan bersama kedua shohabatku (Nabi dan Abu Bakr di kamar Aisyah).’ Aisyah rodhiyallahu ‘anha berkata: ‘Dahulu aku menginginkan tempat itu untuk diriku sendiri, namun hari ini aku benar-benar akan mengutamakannya melebihi diriku sendiri.’ Ketika Abdulloh kembali, Umar bertanya kepadanya: ‘Kabar apa yang engkau bawa?’ Abdulloh menjawab: ‘Beliau telah mengizinkanmu, wahai Amirul Mu’minin.’” (HR. Al-Bukhori no. 1392)

 

Hadits 36: Mencintai Umar Termasuk Iman

Dari Abdulloh bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ عُمَرَ فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَبْغَضَ عُمَرَ فَقَدْ أَبْغَضَنِي»

“Siapa mencintai Umar maka sungguh ia telah mencintaiku, dan siapa membenci Umar maka sungguh ia telah membenciku.” (HR. At-Thobaroni dalam Al-Ausath no. 6726; sanadnya hasan dalam Subulul Huda war Rosyaad)

Dari Anas rodhiyallahu ‘anhu (93 H), bahwasanya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi tentang Hari Qiyamah, dia berkata: “Kapan Hari Qiyamah itu tiba?” Beliau balik bertanya:

«وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ، فَقَالَ: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ : «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: «فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ»

“Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menyambutnya?” Lelaki itu menjawab: “Tidak ada hal besar yang aku siapkan, hanya saja aku sungguh mencintai Alloh dan Rosul-Nya .” Maka Nabi bersabda: “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” Anas rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami tidak pernah merasa sangat bahagia atas sesuatu pun sebagaimana bahagianya kami saat mendengar sabda Nabi : ‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’” Anas rodhiyallahu ‘anhu melanjutkan: “Maka aku sangat mencintai Nabi , Abu Bakr (13 H), dan Umar (23 H), serta aku berharap kelak dapat bersama mereka disebabkan rasa cintaku kepada mereka, meskipun amal perbuatanku belum sejajar dengan amal-amal mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no. 2639)

 

Hadits 37: Larangan Mencela Umar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ»

“Janganlah kalian mencela para Shohabatku, karena seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai 1 mud dari infak salah seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2540)

Dari Muhammad bin Sirin (110 H), beliau berkata:

«مَا أَظُنُّ رَجُلًا يَنْتَقِصُ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يُحِبُّ النَّبِيَّ »

“Aku tidak yakin ada seseorang yang mencela Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H) lalu dia benar-benar mencintai Nabi .” (HSR. At-Tirmidzi no. 3685)

 

 

Penutup

Buku ini merangkum 37 keutamaan Umar bin Al-Khotthob rodhiyallahu ‘anhu sebagai bukti keagungan kedudukan beliau dalam Islam. Semoga Alloh meridhoi beliau dan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang yang mencintai para Shohabat Nabi .

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini