[PDF] Kritikan atas Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) dan Syair-syairnya - ‘Alawi bin ‘Abdil Qodir As-Saqqof
Muqoddimah Pentarjamah
﷽
Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696
H) berisi ghuluw dalam memuji Nabi ﷺ yang
Syariat melarangnya dalam banyak Hadits. Qoshidah ini disyarah oleh banyak
orang dan menjadi tenar di kalangan ahli ibadah kaum Sufi.
Penulis adalah ahlul bait keturunan Nabi ﷺ yang berilmu dan sholih, Syaikh ‘Alawi As-Saqqof.
Judul dan subjudul berasal dari pentarjamah.
Tulisan ini berasal dari situs resmi beliau, www.dorar.net.
Bab 1: Penyimpangan Qoshidah
Burdah
1.1
Pengagungan Berlebihan terhadap Qoshidah Burdah
Qoshidah
Burdah karya Al-Bushiri
(696 H) merupakan salah satu qoshidah yang sangat masyhur dalam bidang pujian
kepada Nabi ﷺ.
Tokoh-tokoh penganut aliran Tasawwuf sangat mengagumi qoshidah ini, sehingga mereka
menyusun kitab-kitab syarah untuknya, membuat gubahan tashthir[1],
gubahan takhmis[2],
gubahan tasbi’[3],
gubahan mu’arodhoh[4],
serta menggubah syair-syair lain yang sejalur dengannya.[5]
Hal ini
berlangsung hingga jumlah kitab syarah dan karya yang membahas qoshidah
tersebut mencapai puluhan judul, yang tidak terbatas pada bahasa Arob saja
melainkan juga hadir dalam berbagai bahasa dunia[6].
Mereka bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap qoshidah ini, sampai-sampai
sebagian dari mereka meyakini bahwa bait-baitnya memiliki keberkahan khusus
serta menjadi penawar bagi berbagai penyakit.[7]
Bahkan
sebagian pembuat jimat dan tamimah mengkhususkan 1 bait tertentu untuk setiap
jenis penyakit atau hajat: 1 bait khusus untuk penyakit epilepsi, 1 bait untuk
perlindungan dari bahaya kebakaran, 1 bait lagi untuk merukunkan pasangan suami
istri, dan demikian seterusnya.[8]
Praktik penentuan bait seperti ini sama sekali tidak pernah kita dapati
keterangannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim maupun hadits-hadits Nabawiy!
Qoshidah
Burdah dahulu
hingga saat ini masih dijadikan oleh sebagian orang sebagai bagian dari wazhifah
wirid yang dibaca pada waktu pagi dan petang dengan penuh wibawa serta
kekhusyukan.[9]
Bait-baitnya pun dipakai sampai hari ini untuk praktik Ruqyah serta dilantunkan
saat prosesi pemakaman jenazah[10].
Mereka bahkan menetapkan syarat-syarat khusus ketika hendak membacanya, seperti
wajib berwudhu, menghadap Qiblat, dan lain sebagainya.[11]
1.2
Mitos Awal Mula Penamaan Qoshidah Burdah
Mereka
mengklaim bahwa sebab dinamakannya qoshidah ini dengan nama Al-Burdah (jubah)
adalah karena penyairnya melantunkan qoshidah tersebut di hadapan Nabi ﷺ dalam mimpi, lalu Nabi ﷺ melemparkan jubah (burdah)
beliau kepadanya, sebagaimana beliau pernah melemparkan jubahnya kepada Ka’b
bin Zuhair rodhiyallahu ‘anhu (24 H) pada alam nyata. Padahal kisah Ka’b
bin Zuhair rodhiyallahu ‘anhu (24 H) ini sendiri sama sekali tidak
memiliki sanad yang shohih. Mereka juga mengklaim bahwa penyusunnya, yaitu Al-Bushiri
(696 H), awalnya menderita penyakit kelumpuhan (falaj), lalu beliau
sembuh berkat qoshidah tersebut, sehingga dinamakan pula dengan Al-Bur’ah yang
berarti kesembuhan.[12]
Puncak kedustaan dan ghuluw mereka mencapai tingkatan di mana mereka
mengklaim bahwa Nabi ﷺ
ikut serta bersama Al-Bushiri (696 H) dalam merangkai bait syairnya, serta
beliau ﷺ
bergoyang-goyang saat mendengarkannya. Ketika Al-Bushiri (696 H) sampai pada baitnya:
فَمَبْلَغُ
الْعِلْمِ فِيهِ أَنَّهُ بَشَرٌ
ia
terhenti! Lalu Nabi ﷺ
menyempurnakannya dengan menambahkan:
وَأَنَّهُ
خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمِ
Semua
pengakuan ini adalah kedustaan dan kebohongan besar yang diada-adakan atas nama
Rosululloh ﷺ.[13]
Bab 2: Rekam Jejak Al-Bushiri
2.1
Sorotan Para Ulama terhadap Bait-Bait Paling Ekstrem
Qoshidah
ini telah mendapatkan kritikan tajam dari banyak ahli ilmu pada bait-bait
tertentu yang dikategorikan sebagai bait paling sarat dengan ghuluw.[14]
Di sisi lain, para penyeru paham Tasawwuf berupaya membela bait-bait tersebut
dan menolak kritikan yang diarahkan kepadanya, dengan memberikan penafsiran
pada setiap bait yang dikritik guna menepis celaan. Di antara bait-bait yang
mendapat kritikan keras tersebut—yang dibela oleh kalangan sufi dengan dalih
bahwa para ahli ilmu yang mengkritiknya tidak memahami maksud sang
penyair—adalah ucapan Al-Bushiri (696 H):
إِنْ
لَمْ يَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ
“Jika
beliau tidak memegang tanganku dengan kemurahan hatinya pada hari tempat
kembaliku kelak, maka katakanlah: Aduhai celakanya tergelincirnya kaki ini!”
Juga
ucapannya:
يَا أَكْرَمَ
الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ
“Wahai
makhluk paling mulia, tidak ada tempat bagiku untuk berlindung selain dirimu
ketika bencana dahsyat yang merata datang menimpa.”
Serta
ucapannya:
فَإِنَّ
مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
“Karena
sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah terciptanya dunia dan Akhiroh, dan
di antara ilmumu adalah ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh dan Qolam.”
Keadaan ini
membuat banyak orang tidak mengenali penyimpangan ghuluw Al-Bushiri (696
H) melainkan hanya dari Qoshidah Burdah semata, dan mereka tidak
mengetahui penyimpangan dalam Qoshidah Burdah melainkan hanya dari 3
bait ini saja. Akibatnya, jika 3 bait ini berhasil ditafsiri dan dibenarkan
maknanya menurut mereka, maka selamatlah Qoshidah Burdah dan selamat
pula Al-Bushiri (696 H), sehingga celaan justru beralih ditujukan kepada para
pengkritiknya yang dituduh bersikap keras!
Sosok Al-Bushiri
(696 H)—sebagaimana yang mereka klaim—digambarkan sebagai seorang imam, ‘alim yang
mengamalkan ilmunya, hamba yang sholih dan zahid. Qoshidah Burdah
miliknya pun disanjung sebagai karya yang indah bercahaya, di mana orang-orang
mengambil keberkahan dengannya serta mendapati kesembuhan bagi
penyakit-penyakit mereka, dan seterusnya dari gambaran-gambaran sanjungan yang
dipenuhi dalam kitab-kitab mereka.[15]
Namun,
apakah benar bahwa Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) tidak
mengandung ghuluw kecuali hanya pada bait-bait ini saja? Bahkan apakah
benar bahwa Al-Bushiri (696 H) adalah seorang imam, ‘alim yang mengamalkan
ilmunya, serta karya-karya syairnya—baik Burdah maupun selainnya—bersih dari
penyimpangan ghuluw?! Hal inilah yang hendak saya paparkan secara rinci
dalam artikel ilmiah ini.
2.2
Kehidupan dan Keilmuan Al-Bushiri
Mengenai
biografi Al-Bushiri: nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’id
bin Hammad Ash-Shinhajiy Al-Bushiri. Beliau tumbuh besar di Mesir, berasal dari
keturunan Maroko, dan menganut tarekat Asy-Syadziliyyah.[16]
Al-Bushiri
(696 H) lahir pada tahun 608 H dan wafat pada tahun 696 H. Ia merupakan seorang
penyair bersuku Shinhajah yang memiliki karya syair dengan tingkat keindahan
dan kelembutan yang sangat tinggi, berlafazh manis, serta berstruktur susunan
kata yang harmonis. Ia berpindah-pindah tempat antara Quds (Palestina),
Madinah, dan Makkah, kemudian kembali ke Mesir untuk bekerja sebagai juru tulis
(sekretaris) pemerintah Kerajaan, hingga kemudian beralih profesi mengajar
Al-Qur’an kepada anak-anak kecil. Ia sama sekali bukan seorang ahli ilmu agama
(‘alim), dan tidak ada seorang pun pakar biografi (muarrikh) yang memasukkan
namanya dalam deretan ulama, melainkan mereka mengelompokkannya ke dalam
golongan para penyair.[17]
Tokoh
kontemporer mana pun yang memaksakan diri mengelompokkannya sebagai ulama tidak
akan sanggup menegakkan bukti ilmiah atas hal itu. Ia murni seorang penganut
Tasawwuf yang berjalan di atas Tarekat Asy-Syadziliyyah.[18]
2.3
Perilaku Buruk terhadap Istri dan Kebiasaan Meminta-minta
Al-Bushiri
(696 H) adalah sosok yang dibenci oleh masyarakat pada zamannya karena lidahnya
yang tidak terjaga dalam mencela orang lain dengan ucapan-ucapan buruk, serta
kebiasaannya membicarakan kejelekan orang lain di majelis-majelis para penguasa
dan menteri.[19]
Ia memiliki
akhlak yang sangat buruk terhadap istrinya dan orang lain, gemar mengemis
(meminta-minta), serta mengalami guncangan kepribadian yang nyata. Kadang kala ia
memuji penganut Nashroni dan mencela penganut Yahudi, namun di waktu lain ia
memuji penganut Yahudi demi menyenangkan penganut Nashroni, dan pada kesempatan
lain ia mencela kedua kelompok tersebut sekaligus.[20]
Ia juga
sangat gencar melontarkan pujian kepada para Sultan demi mengharapkan imbalan
harta yang ada di tangan mereka. Perilaku melobi penguasa seperti ini memang
bukan hal asing bagi kalangan penyair, namun sama sekali bukan cerminan dari
akhlak para ahli ilmu. Di samping itu, bait-bait syairnya dalam Qoshidah
Burdah, Al-Hamziyyah, maupun qoshidah-qoshidah lainnya yang terhimpun dalam
Diwan-nya sarat dengan ghuluw yang membenarkan penilaian para kritikus
atas dirinya. Berikut adalah perincian mengenai hal tersebut:
[1] Mengenai
keburukan akhlaknya terhadap istrinya sendiri, Al-Bushiri (696 H) telah mencela
istrinya dan melemparkan tuduhan keji (perbuatan fahisyah) dalam sebuah
qoshidah yang panjang. Qoshidah tersebut dipenuhi oleh ungkapan-ungkapan kotor,
kefasikan, dan kejahatan ucapan yang luar biasa, di mana kita memohon
keselamatan dan perlindungan kepada Alloh ﷻ darinya. Di antara bait yang
diucapkannya:
وَبَلِيَّتِي
عِرْسٌ بُلِيتُ بِمَقْتِهَا وَالْبَعْلُ مَمْقُوتٌ بِغَيْرِ قِيَامِ
“Musibahku
adalah seorang istri yang aku diuji dengan kebencian kepadanya, sementara sang
suami pun dibenci tanpa mampu menegakkan hak kepemimpinan.”
جَعَلَتْ
بِإِفْلَاسِي وَشَيْبِيَ حُجَّةً إِذَا صِرْتُ لَا خَلْفِي وَلَا قُدَّامِي
“Ia
menjadikan kebangkitanku dan ubanku sebagai alasan celaan, ketika aku sudah
tidak lagi memiliki kekuatan di depan maupun di belakang.”
بَلَغَتْ
مِنَ الْكِبَرِ الْعِتِيَّ وَنُكِّسَتْ فِي الْخَلْقِ وَهْيَ صَبِيَّةُ الْأَرْحَامِ
“Ia telah
mencapai usia yang sangat tua rentan dan fisiknya telah berbalik melemah, namun
rahimnya masih seperti gadis remaja.”
إِنْ
زُرْتُهَا فِي الْعَامِ يَوْمًا أَنْتَجَتْ وَأَتَتْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ بِغُلَامِ
“Jika aku
mengunjunginya 1 hari saja dalam setahun, ia langsung hamil dan melahirkan anak
laki-laki hanya dalam waktu 6 bulan.”
أَوَ
هَذِهِ الْأَوْلَادُ جَاءَتْ كُلُّهَا مِنْ فِعْلِ شَيْخٍ لَيْسَ بِالْقَوَّامِ؟!
“Apakah
anak-anak yang begitu banyak ini seluruhnya lahir dari perbuatan seorang
laki-laki tua yang sudah tidak berdaya ini?!”
وَأَظُنُّ
أَنَّهُمُ لِعُظْمِ بَلِيَّتِي حَمَلَتْ بِهِمْ لَا شَكَّ فِي الْأَحْلَامِ
“Aku
menduga karena besarnya musibahku, ia mengandung anak-anak itu tidak diragukan
lagi dari mimpi-mimpinya.”
أَوَ
كُلَّ مَا حَلِمَتْ بِهِ حَمَلَتْ بِهِ؟ مَنْ لِي بِأَنَّ النَّاسَ غَيْرُ نِيَامِ؟
“Apakah
setiap kali ia bermimpi bersetubuh ia langsung hamil? Siapakah yang bisa
menjamin bagiku bahwa orang-orang di sekitarnya tidak sedang tidur?”
يَا لَيْتَهَا
كَانَتْ عَقِيمًا آيِسًا أَوْ لَيْتَنِي مِنْ جُمْلَةِ الْخُدَّامِ
“Duhai
seandainya ia mandul dan tidak berproduksi lagi, atau duhai seandainya aku
hanya menjadi bagian dari pelayan rumah tangga saja.”
أَوْ
لَيْتَنِي مِنْ قَبْلِ تَزْوِيجِي بِهَا لَوْ كُنْتُ بِعْتُ حَلَالَهَا بِحَرَامِ!
“Atau duhai
seandainya sebelum aku menikahinya, aku menukar ikatan halalnya dengan hubungan
harom!”
أَوْ
لَيْتَنِي بَعْضُ الَّذِينَ عَرَفْتُهُمْ مِمَّنْ يُحَصِّنُ دِينَهُ بِغُلَامِ!
“Atau duhai
seandainya aku menjadi seperti sebagian orang yang aku kenal, dari kalangan
yang menjaga agamanya dengan melampiaskan syahwat kepada anak laki-laki muda!”[21]
Pada bait
ke-5, Al-Bushiri (696 H) meragukan nasab anak-anaknya sendiri akibat jumlah mereka
yang banyak, seraya menuduh bahwa istri tersebut mendapatkan anak dari
laki-laki lain karena dirinya sudah tua renta dan tidak berdaya. Pada bait
ke-9, ia bercita-cita seandainya ia mengganti jalan pernikahan yang halal
dengan perbuatan harom perzinaan agar tidak memikul beban menafkahi anak-anak.
Pada bait ke-10, ia bahkan berharap seandainya ia menyalurkan syahwatnya kepada
anak laki-laki muda daripada menikah dengan seorang wanita, sebagaimana yang
dilakukan oleh sebagian orang yang dikenal olehnya. Kita berlindung kepada
Alloh ﷻ
dari keji dan sesatnya pikiran tersebut!
[2] Al-Bushiri
(696 H) juga merupakan sosok peminta-minta yang memanfaatkan kemampuan syairnya
untuk mengemis materi dari masyarakat—suatu perbuatan yang sangat jauh dari
akhlak para ahli ilmu. Di antara buktinya adalah ketika ia mengadukan nasibnya
dan banyaknya jumlah keluarganya kepada Ash-Shohib Baha’ud Din ‘Ali bin
Muhammad bin Hinna (seorang menteri) melalui syairnya:
أَيُّهَا
الصَّاحِبُ الْمُؤَمَّلُ أَدْعُوكَ دُعَاءَ اسْتِغَاثَةٍ وَاسْتِجَارَهْ
“Wahai
menteri penolong yang diharapkan, aku memanggilmu dengan panggilan istighotsah
(memohon pertolongan) dan perlindungan.”
أَثْقَلَتْ
ظَهْرِي الْعِيَالُ وَقَدْ كُنْتُ زَمَانًا بِهِمْ خَفِيفَ الْكَارَهْ
“Beban anak
istri telah memberatkan punggungku, padahal dahulu dalam waktu yang lama aku
sangat ringan tanpa beban.”
وَلَوْ
أَنِّي وَحْدِي لَكُنْتُ مُرِيدًا فِي رِباطٍ أَوْ عَابِدًا فِي مَغَارَهْ
“Seandainya
aku hidup menyendiri, tentu aku sudah menjadi seorang murid sufi di pondok
ribath atau hamba yang beribadah di dalam goa.”
أَحْسَبُ
الزُّهْدَ هَيِّنًا وَهْوَ حَرْبٌ لَسْتُ فِيهِ وَلَا مِنَ النَّظَّارَهْ
“Aku dahulu
mengira zuhud itu perkara mudah, padahal ia adalah peperangan berat yang aku
tidak terlibat di dalamnya dan bukan pula penontonnya.”
لَا تَكِلْنِي
إِلَى سِوَاكَ فَأَخْيَارُ زَمَانِي لَا يَمْنَحُونَ خِيَارَهْ
“Janganlah
engkau menyerahkan nasibku kepada selain dirimu, karena orang-orang terbaik di
zamanku saat ini tidak mau memberikan pilihan terbaiknya.”
وَوُجُوهُ
الْقُصَّادِ فِيهِ حَدِيدٌ وَقُلُوبُ الْأَجْوَادِ فِيهِ حِجَارَهْ
“Wajah
orang-orang yang meminta-minta di zaman ini sudah sekeras besi, sedangkan hati
orang-orang dermawan telah membatu seperti batu.”
فإِذَا
فَازَتْ كَفُّ حُرٍّ بِبُرٍّ فَهُوَ إِمَّا بِنَقْضَةٍ أَوْ نِشَارَهْ
“Maka
apabila tangan seorang yang merdeka berhasil mendapatkan gandum, bantuan itu
hanyalah sisa debu reruntuhan atau serbuk kayu.”
إِنَّ
بَيْتِي يَقُولُ قَدْ طَالَ عَهْدِي بِدُخُولِ التِّلِّيسِ لِي وَالشِّكَارَهْ
“Sesungguhnya
rumahku berkata: Sungguh telah lama aku tidak dimasuki oleh karung anyaman daun
kurma[22]
maupun karung gandum.”
وَطَعَامٍ
قَدْ كَانَ يَعْهَدُهُ النَّا سُ مَتَاعًا لَهُمْ وَلِلسَّيَّارَهْ
“Dan bahan
makanan yang dahulu dikenal manusia sebagai bekal nikmat bagi mereka dan para
musafir.”
فَالْكَوَانِينُ
مَا تُعَابُ مِنَ الْبَرْدِ بِطَبَّاخَةٍ وَلَا شَكَّارَهْ
“Maka
tungku-tungku perapian[23]
tidak lagi dicela karena dingin tanpa ada juru masak yang memasak di atasnya.”
لَا بِسَاطٌ
وَلَا حَصِيرٌ بِدِهْلِـ ـيزٍ وَلَا مَجْلِسِي وَلَا طَيَّارَهْ
“Tidak ada
permadani dan tidak pula tikar di lorong rumahku, tidak ada tempat duduk maupun
ruangan atas yang nyaman.”[24]
[3] Ia juga
meminta makanan khas berupa kue kunafah kepada orang lain di bulan Puasa Romadhon,
seraya mengucap dalam syairnya:
مَا أَكَلْنَا
فِي ذَا الصِّيَامِ كُنَافَه آهِ وَا بُعْدَهَا عَلَيْنَا مَسَافَه
“Kami belum
pernah memakan kue kunafah sepanjang Puasa ini, aduhai betapa jauhnya jarak
untuk mendapatkannya bagi kami.”
قَالَ
قَوْمٌ إِنَّ الْعِمَادَ كَرِيمٌ قُلْتُ هَذَا عِنْدِي حَدِيثُ خُرَافَه
“Orang-orang
berkata bahwa Al-‘Imad adalah sosok yang dermawan, namun aku katakan bahwa
tuduhan itu di mataku hanyalah berita khurofat.”
أَنَا
ضَيْفٌ لَهُ وَقَدْ مُتُّ جُوعًا لَيْتَ شِعْرِي لِمَ لَا تُعَدُّ الضِّيَافَه
“Aku adalah
tamunya padahal aku hampir mati kelaparan, duhai seandainya aku tahu mengapa
hidangan jamuan tidak kunjung disiapkan.”
وَهْوَ
إِنْ يُطْعِمِ الطَّعَامَ فَمَا يُطْـ ـعِمُهُ إِلَّا بِسُمعَةٍ أَوْ مَخَافَه
“Kalaupun
ia memberi makanan, ia tidak akan memberikannya melainkan karena mencari
popularitas (sum’ah) atau karena rasa takut.”[25]
[4] Ia juga
pernah mencela sekelompok orang secara berlebihan hanya karena mereka mencuri
keledai betina miliknya, di mana ia melampaui batas dalam melontarkan celaan
hanya demi 1 ekor keledai:
أَرَى
الْمُسْتَخْدِمِينَ مَشَوْا جَمِيعًا عَلَى غَيْرِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ
“Aku
melihat para pegawai pemerintah seluruhnya berjalan di luar Shiroth (jalan)
yang lurus.”
مَعَاشِرُ
لَوْ وَلُوا جَنَّاتِ عَدْنٍ لَصَارَتْ مِنْهُمُ نَارَ الْجَحِيمِ
“Sekelompok
orang yang seandainya mereka menguasai Jannah ‘Adn, niscaya Jannah itu akan
berubah menjadi Naar Jahim akibat ulah mereka.”
فَمَا
مِنْ بَلْدَةٍ إِلَّا وَمِنْهُمْ عَلَيْهَا كُلُّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ
“Maka tidak
ada 1 negeri pun melainkan di dalamnya terdapat setiap syaithon yang terkutuk
dari golongan mereka.”
فَلَوْ
كَانَ النُّجُومُ لَهَا رُجُومًا لَقَدْ خَلَتِ السَّمَاءُ مِنَ النُّجُومِ
“Seandainya
bintang-bintang di langit dijadikan alat melempar mereka, niscaya langit telah
kosong dari keberadaan bintang-bintang.”[26]
[5] Al-Bushiri
(696 H) juga sosok yang berguncang kepribadiannya, senantiasa mengekor hawa
nafsu dan ketamakannya. Ketika penganut Nashroni tidak memberinya hadiah
makanan pada hari raya mereka (hari raya Al-Masih menurut klaim mereka), ia
langsung mencela penganut Nashroni dan memuji penganut Yahudi demi menyakiti
hati kaum Nashroni:
يَهُودُ
بِلْبِيسَ كُلَّ عِيدٍ أَفْضَلُ عِنْدِي مِنَ النَّصَارَى
“Orang-orang
Yahudi di kota Bilbeis[27]
pada setiap hari raya jauh lebih utama menurut pandanganku daripada orang-orang
Nashroni.”
أَمَا
تَرَى الْبَغْلَ وَهْوَ بَغْلٌ فِي فَضْلِهِ يَفْضُلُ الْحِمَارَا
“Tidakkah
engkau melihat bahwa keledai bagal, meskipun ia seekor bagal, keutamaannya
tetap mengungguli keledai biasa?”[28]
Namun
ketika orang-orang Nashroni mengancam keselamatan dirinya, ia segera menarik
kembali ucapannya, balik memuji penganut Nashroni dan mencela penganut Yahudi:
مَا لِلنَّصَارَى
إِلَيَّ ذَنْبٌ وَإِنَّمَا الذَّنْبُ لِلْيَهُودِ
“Sama
sekali orang-orang Nashroni tidak memiliki dosa terhadapku, melainkan dosa
sepenuhnya ada pada kaum Yahudi.”
وَكَيْفَ
تَفْضِيلُهُمْ وَفِيهِمْ سِرُّ الْخَنَازِيرِ وَالْقُرُودِ
“Bagaimana
mungkin mereka diutamakan padahal di dalam diri mereka tersimpan hakikat
kejelekan babi dan kera?”[29]
2.4
Sanjungan Berlebihan kepada Para Penguasa
Adapun
sanjungan Al-Bushiri (696 H) kepada para Sultan dan penguasa zamannya demi
mengemis harta kekayaan mereka, maka hal itu sangat banyak dan Diwan syairnya
penuh dengan hal tersebut (lihat halaman 81, 84, 112, 116, 120, 128, 140, 147,
150, 228, dan lainnya dari Diwan Al-Bushiri cetakan Ath-Thobba’). Sebagian
besar qoshidah pujiannya tidak lepas dari penyimpangan ghuluw terhadap
pihak yang dipuji. Di antara contohnya adalah ucapannya saat memuji Menteri
Zainud Din Ash-Shohibiy:
أَهْلُ
التُّقَى وَالْعِلْمِ أَهْلُ السُّؤْدُدِ فَأَخُو السِّيَادَةِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ
“Para
pemilik ketaqwaan dan ilmu adalah para pemilik kemuliaan, maka pemilik
kepemimpinan yang sejati adalah Ahmad bin Muhammad.”
الصَّاحِبُ
بْنُ الصَّاحِبِ بْنِ الصَّاحِـ ـبِ الْحَبْرُ الْهُمَامُ السَّيِّدُ ابْنُ السَّيِّدِ
“Sang
menteri putra menteri putra menteri, ulama besar yang pemberani, tuan putra
dari seorang tuan.”
لَا تُشْرِكَنَّ
بِهِ امْرَأً فِي وَصْفِهِ فَتَكُونَ قَدْ خَالَفْتَ كُلَّ مُوَحِّدِ
“Janganlah
engkau sekali-kali menysekutukan seorang pun dengan dirinya dalam sifat
kemuliaannya, sehingga engkau menjadi orang yang menyelisih seluruh ajaran
orang yang bertauhid!”
(lihat:
Diwan Al-Bushiri, hlm. 112; perhatikanlah sikap ghuluw yang sangat nyata
dan berbahaya pada bait terakhir yang menyamakan larangan menysekutukan
penguasa dengan ketauhidan!).
Ia juga
memuji Ash-Shohib Baha’ud Din seraya meminta seekor keledai betina kepadanya,
sekaligus mencela pejabat lain yang dekat dengan sang menteri karena dorongan
rasa dengki:
صَاحِبٌ
لَا يَزَالُ بِالْجُودِ وَالْإِفْـ ـضَالِ طَلْقَ الْيَدَيْنِ حُلْوَ الْعِبَارَهْ
“Beliau
adalah menteri yang senantiasa dermawan dan memberi keutamaan, terbuka kedua
tangannya serta manis tutur katanya.”
كَمْ
هَدَانَا مِنْ فَضْلِهِ بِكِتَابٍ مُعْجِزٍ مِنْ عُلُومِهِ بِأَثَارَهْ
“Betapa
sering beliau memberi petunjuk kepada kami dari keutamaannya melalui tulisan
mukjizat yang berasal dari peninggalan ilmunya.”
إِنَّمَا
يَذْكُرُ الْعَطِيَّةَ مَنْ كَا نَتْ عَطَايَاهُ تَارَةً بَعْدَ تَارَهْ
“Hanyalah
orang yang menyebut-nyebut pemberian itu adalah orang yang pemberiannya terjadi
sesekali saja.”
سَيِّدِي
أَنْتَ نُصْرَتِي كُلَّمَا شَنَّ عَلَيَّ الزَّمَانُ بِالْفَقْرِ غَارَهْ!
“Wahai
tuanku, engkau adalah penolongku setiap kali zaman melancarkan serangan
kemiskinan atas diriku!”
شَابَ
رَأْسِي وَمَا رَأَسْتُ كَأَنِّي زَامِرُ الْحَيِّ أَوْ صَغِيرُ الْحَارَهْ
“Rambutku
telah beruban namun aku belum juga menjadi pemimpin, seolah-olah aku ini hanya
peniup seruling perkampungan atau anak kecil di lorong.”
وَابْنُ
عِمْرَانَ وَهْوَ شَرُّ مَتَاعٍ لِلْوَرَى فِي بِطَانَةٍ وَظِهَارَهْ
“Sementara
Ibnu ‘Imron adalah sejelek-jelek perhiasan bagi manusia, baik tampak dari luar
maupun dari dalam.”
حَسَّنَ
الْقُرْبُ مِنْكُمْ قُبْحَ ذِكْرَا هُ كَتَحْسِينِ الْمِسْكِ ذِكْرَ الْفَارَهْ
“Kedekatannya
dengan kalian telah memperindah sebutan namanya yang buruk, sebagaimana minyak
kasturi memperindah sebutan bau tikus.”
فَهْوَ
فِي الْمَدْحِ قَطْرَةٌ مِنْ سَحَابِي وَهُوَ فِي الْهَجْوِ مِنْ زِنَادِي شَرَارَهْ
“Maka ia
dalam pujian hanyalah setetes air dari awanku, sedangkan dalam celaan ia adalah
percikan api dari pemantikku.”
مَا لَهُ
مِيزَةٌ عَلَيَّ سِوَى أَنَّـ ـهُ لَهُ بَغْلَةٌ وَمَا لِي حِمَارَهْ
“Tidak ada
keutamaan yang ia miliki melebihi diriku selain ia memiliki seekor keledai
bagal sedangkan aku tidak memiliki seekor keledai pun!”
(lihat:
Diwan Al-Bushiri, hlm. 117).
Ia kembali
memujinya pada kesempatan lain seraya mengadukan kondisi keluarganya:
يَا أَيُّهَا
الْمَوْلَى الْوَزِيرُ الَّذِي أَيَّامُهُ طَائِعَةٌ أَمْرَهُ!
“Wahai tuan
menteri yang hari-hari zamannya tunduk patuh kepada perintahnya!”
وَمَنْ
لَهُ مَنْزِلَةٌ فِي الْعُلَا تَكِلُّ عَنْ أَوْصَافِهَا الْفِكْرَهْ
“Dan sosok
yang memiliki kedudukan tinggi di tempat yang luhur, sampai-sampai pikiran
lemah untuk menggambarkan sifat-sifatnya.”
أَخْلَاقُكَ
الْغُرُّ دَعَتْنَا إِلَى الْإِ دْلَاءِ فِي الْقَوْلِ عَلَى غِرَّهْ
“Akhlakmu
yang cemerlang telah mendorong kami untuk menyampaikan ucapan secara berani
tanpa persiapan.”
إِلَيْكَ
نَشْكُو حَالَنَا إِنَّنَا عَائِلَةٌ فِي غَايَةِ الْكَثْرَهْ
“Hanya
kepadamulah kami mengadukan keadaan kami, bahwasanya kami adalah keluarga yang
sangat banyak jumlah anggotanya.”
صَامُوا
مَعَ النَّاسِ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا لِمَنْ يُبْصِرُهُمْ عِبْرَهْ
“Mereka
berpuasa bersama masyarakat, namun keberadaan mereka menjadi ikhtibar pelajaran
bagi siapa saja yang melihat mereka.”
فَارْحَمْهُمُ
إِنْ أَبْصَرُوا كَعْكَةً فِي يَدِ طِفْلٍ أَوْ رَأَوْا تَمْرَهْ
“Maka
kasihanilah mereka jika mereka melihat sekeping kue di tangan anak kecil atau
melihat sebutir kurma.”
تَشْخَصُ
أَبْصَارُهُمْ نَحْوَهَا بِشَهْقَةٍ تَتْبَعُهَا زَفْرَهْ
“Pandangan
mata mereka terbelalak menatapnya dengan helaan nafas panjang yang diiringi
isakan kesedihan.”
Bab 3: Bedah Kerusakan Aqidah
dalam Qoshidah Burdah dan Syair Al-Bushiri
3.1
Ekstremitas Nur Muhammad dan Penguasaan Ilmu Ghoib
Al-Bushiri
(696 H) sangat terkenal dengan gubahan syairnya dalam bidang pujian kepada Nabi
ﷺ. Karya syairnya diakui
sebagai gubahan yang berderajat tinggi dan sangat indah seandainya tidak
diwarnai oleh paham ghuluw. Siapa saja yang membaca qoshidah-qoshidahnya
seperti Qoshidah Burdah Mimiyyah, Qoshidah Hamziyyah, serta
qoshidah-qoshidah lain dalam Diwan-nya, niscaya akan melihat secara jelas
konsistensi Al-Bushiri (696 H) dalam menyebarkan pemahaman ghuluw.
Bait-baitnya yang bersifat global dan mengandung berbagai spektrum makna dalam
1 qoshidah, dijelaskan dan dipertegas secara eksplisit oleh bait-bait lain
dalam qoshidah yang berbeda, sehingga tidak ada celah untuk membebaskannya dari
tuduhan penyimpangan Aqidah ini. Berikut adalah beberapa pembuktiannya:
Ucapan Al-Bushiri
(696 H) dalam Qoshidah Burdah:
فَإِنَّ
مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
“Karena
sesungguhnya di antara kedermawananmu (wahai Nabi) adalah terciptanya dunia dan
Akhiroh, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh dan Qolam.”
Bait ini
dikuatkan oleh bait ke-5 dari Qoshidah Al-Hamziyyah:
لَكَ
ذَاتُ الْعُلُومِ مِنْ عَالِمِ الْغَيْـ ـبِ وَمِنْهَا لِآدَمَ الْأَسْمَاءُ
“Bagimu
(wahai Nabi) adalah hakikat ilmu-ilmu yang berasal dari Dzat Yang Maha
Mengetahui Perkara Ghoib, dan di antara ilmu itu adalah ilmu nama-nama benda
yang diberikan kepada Adam.”
Oleh karena
itu, Al-Haitsami (974 H) menjelaskan bait ini dalam kitab syarahnya: “Bahwasanya
Nabi Adam ‘alaihissalam tidaklah mendapatkan bagian dari ilmu melainkan
sebatas pengetahuan tentang nama-nama benda semata, sedangkan yang didapatkan
oleh Nabi kita ﷺ
adalah ilmu tentang hakikat-hakikat benda dan pemilik nama tersebut. Tidak
diragukan lagi bahwa ilmu tentang hakikat ini jauh lebih tinggi dan lebih mulia
daripada sekadar pengetahuan tentang nama-nama; sebab nama-nama itu dihadirkan
hanyalah untuk menjelaskan pemilik nama, sehingga pemilik namalah yang menjadi
tujuan utama sedangkan nama hanyalah media perantara. Betapa jauh perbedaan
antara keduanya! Dan hal yang serupa adalah bahwa tujuan utama dari penciptaan
Adam ‘alaihissalam tidak lain adalah untuk mengeluarkan Nabi kita ﷺ dari sulbinya, sehingga Nabi ﷺ adalah tujuan utama sedangkan
Adam adalah media perantara. Dari sinilah sebagian ulama muhaqqiq menyatakan:
Sesungguhnya para Malaikat bersujud kepada Adam hanyalah karena keberadaan
cahaya Muhammad ﷺ
yang ada di jidatnya!”[30]
Kita
berlindung kepada Alloh ﷻ dari kesesatan paham ini!.[31]
Al-Bushiri
(696 H) sama seperti penganut ghuluw Tasawwuf lainnya yang meyakini
bahwa alam dunia beserta seluruh isinya tidaklah diciptakan melainkan hanya
demi keberadaan Muhammad ﷺ
dan cahaya Muhammad ﷺ.
Keyakinan ini ia tuangkan dalam Qoshidah Burdah maupun karya lainnya. Ia
berkata dalam Qoshidah Burdah:
وَكَيْفَ
تَدْعُو إِلَى الدُّنْيَا ضَرُورَةُ مَنْ لَوْلَاهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ
الْعَدَمِ
“Bagaimana
mungkin kebutuhan duniawi dapat menarik perhatian sosok yang seandainya bukan
karena dirinya, niscaya alam dunia tidak akan pernah keluar dari ketiadaan?”
Dan ia
berkata:
وَكُلُّ
آيٍ أَتَى الرُّسْلُ الْكِرَامُ بِهَا فَإِنَّمَا اتَّصَلَتْ مِنْ نُورِهِ بِهِمِ
“Dan setiap
mukjizat yang dibawa oleh para Rosul yang mulia, hanyalah tersambung dan
bersumber dari cahaya beliau kepada mereka.”
Dan ia
berkata:
فَاقَ
النَّبِيِّينَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ
“Beliau
mengungguli seluruh Nabi dalam bentuk fisik dan keagungan akhlak, dan mereka
tidak mampu mendekati tingkatan ilmu maupun kedermawanannya.”
وَكُلُّهُمْ
مِنْ رَسُولِ اللهِ مُلْتَمِسٌ غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ
“Dan
seluruh Nabi tersebut memohon bantuan dari Rosululloh ﷺ, baik berupa segayung air
dari lautan ilmunya atau setetes tegukan dari hujan lebat keutamaannya.”
Dan ia
menegaskan makna ini dalam Qoshidah Al-Hamziyyah:
كُلُّ
فَضْلٍ فِي الْعَالَمِينَ فَمِنْ فَضْلِ النَّبِيِّ اسْتَعَارَهُ الْفُضَلَاءُ
“Setiap
keutamaan yang ada di alam semesta ini, hanyalah pinjaman dari keutamaan Nabi ﷺ yang dipinjam oleh
orang-orang utama.”
Al-Haitsami
(974 H) menjelaskan dalam Syarh Al-Burdah: “Maksud kalimat ‘hanyalah tersambung
dari cahayanya kepada mereka’ adalah sampai dari beliau kepada mereka
dengan jalan pengambilan bantuan (istimdad). Hal itu karena cahaya Nabi ﷺ telah diciptakan sebelum Nabi
Adam ‘alaihissalam diciptakan, bahkan sebelum seluruh ciptaan yang ada di
langit dan bumi serta selainnya.”[32]
Pemikiran
ini jelas merupakan khurofat dan rekaan mistis kaum sufi; sebab Nabi Muhammad ﷺ adalah anak keturunan Adam ‘alaihissalam
yang lahir jauh setelah penciptaan Adam ‘alaihissalam, maka bagaimana
mungkin cahaya beliau diciptakan sebelum penciptaan Adam ‘alaihissalam?!
Semoga Sholawat dan salam Alloh ﷻ senantiasa tercurah kepada
beliau. Al-Haitsami (974 H) menambahkan dalam Syarh Al-Hamziyyah: “Karena
Nabi ﷺ
adalah pemberi bantuan limpahan (mumidd) bagi seluruh Nabi; sebab beliau
adalah satu-satunya pewaris al-hadhoroh al-ilahiyyah yang mengambil
limpahan darinya secara langsung tanpa perantara, sedangkan selain beliau tidak
dapat mengambil limpahan karunia kecuali melalui perantara beliau ﷺ. Maka tidaklah sampai suatu
kebaikan kepada manusia yang sempurna melainkan itu merupakan bagian dari
bantuan beliau yang mengalir melalui kedua tangan beliau. Oleh sebab itu,
mukjizat setiap Nabi hanyalah dipetik dari cahaya beliau; sebab beliau bagaikan
matahari sedangkan para Nabi bagaikan bintang-bintang yang tidak memiliki
cahaya mandiri melainkan mengambil dari cahaya matahari. Apabila matahari
terbenam, barulah bintang-bintang menampakkan cahayanya. Maka para Nabi sebelum
keberadaan fisik beliau ﷺ
hanyalah menampakkan keutamaan beliau, dan cahaya mereka dipetik dari cahayanya
yang melimpah serta bantuannya yang sangat luas.”[33]
Ini adalah
dalih yang sama sekali tidak memiliki pijakan bukti, baik dari wahyu (naql)
maupun akal sehat (‘aql), tanpa kendali dan tanpa ikatan syar’i!
3.2
Istighotsah dan Pembatal Tauhid dalam Syair
Dalam Qoshidah
Burdah terdapat bait-bait istijaroh (memohon perlindungan) dan istighotsah
(memohon pertolongan keselamatan) kepada Nabi ﷺ ketika Al-Bushiri (696 H) mengucapkan:
مَا سَامَنِي
الدَّهْرُ ضَيْمًا وَاسْتَجَرْتُ بِهِ إِلَّا وَنِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ
“Tidaklah
zamanku menimpa diriku dengan suatu kezholiman lalu aku memohon perlindungan
kepada beliau, melainkan aku mendapatkan perlindungan darinya yang tidak dapat
ditembus oleh kejahatan.”
وَلَا
الْتَمَسْتُ غِنَى الدَّارَيْنِ مِنْ يَدِهِ إِلَّا الْتَمَسْتُ النَّدَى مِنْ خَيْرِ
مُسْتَلَمِ
“Dan
tidaklah aku memohon kekayaan di dunia dan Akhiroh dari tangan beliau,
melainkan aku telah memohon kedermawanan dari sebaik-baik sosok yang dimintai
bantuan.”
Makna dari
bait ini adalah: Tidaklah orang-orang di zamanku menzholimi diriku pada suatu
waktu lalu aku meminta kepada Nabi ﷺ agar memasukkan diriku ke dalam perlindungan beliau untuk
memeliharaku dari kezholiman zaman, melainkan beliau senantiasa mendekatkanku
kepadanya.[34]
Praktik istighotsah
kepada Nabi ﷺ
sangat banyak tersebar dalam syair-syair Al-Bushiri (696 H)—dan istighotsah
kepada selain Alloh ﷻ
merupakan perkara yang jauh lebih buruk dan menakutkan daripada sekadar
tawassul, meskipun sebagian orang mencampuradukkan kedua istilah ini karena
kebodohan atau untuk mengaburkan hakikat.
Bait-bait ghuluw
dalam karya Al-Bushiri (696 H) tidak hanya terbatas pada Qoshidah Burdah
saja, melainkan dalam karya-karya lainnya terdapat ungkapan yang jauh lebih
parah dan ekstrem. Di antaranya adalah ucapannya:
يَا نَبِيَّ
الْهُدَى اسْتِغَاثَةُ مَلْهُو فٍ أَضَرَّتْ بِحَالِهِ الْحَوْبَاءُ
“Wahai Nabi
petunjuk, ini adalah jeritan istighotsah dari seorang yang menderita
kesusahan, yang dosanya telah merusak keadaannya.”
يَدَّعِي
الْحُبَّ وَهْوَ يَأْمُرُ بِالسُّو ءِ وَمَنْ لِي أَنْ تَصْدُقَ الرَّغْبَاءُ
“Ia mengaku
mencintaimu padahal jiwanya senantiasa menyuruh kepada kejahatan, dan siapakah
penolong bagiku agar keinginanku ini menjadi kenyataan?”
hingga ia
katakan:
هَذِهِ
عِلَّتِي وَأَنْتَ طَبِيبِي لَيْسَ يَخْفَى عَلَيْكَ فِي الْقَلْبِ دَاءُ
“Inilah
penyakitku dan engkaulah tabib penyembuhku, tidak ada satu pun penyakit di
dalam hati yang tersembunyi bagimu.”
وَمِنَ
الْفَوْزِ أَنْ أَبُثَّكَ شَكْوَى هِيَ شَكْوَى إِلَيْكَ وَهِيَ اقْتِضَاءُ
“Dan
termasuk keberuntungan besar bagiku adalah aku menyampaikan pengaduan kepadamu,
suatu pengaduan yang ditujukan kepadamu dan menjadi penuntut pemenuhan hajat.”[35]
Bahkan
lebih dahsyat dari itu adalah tindakannya yang berdoa kepada Nabi ﷺ agar memaafkan dosa-dosanya
dan menerima uzur kesalahannya melalui ucapannya:
يَا مَنْ
خَزَائِنُ جُودِهِ مَمْلُوءَةٌ كَرَمًا وَبَابُ عَطَائِهِ مَفْتُوحُ
“Wahai
sosok yang gudang-gudang kedermawanannya penuh dengan kemurahan, dan pintu
pemberiannya senantiasa terbuka lebar.”
نَدْعُوكَ
عَنْ فَقْرٍ إِلَيْكَ وَحَاجَةٍ وَمَجَالُ فَضْلِكَ لِلْعُفَاةِ فَسِيحُ
“Kami
berdoa kepadamu karena fakir dan butuhnya kami kepadamu, sementara lapangan
keutamaanmu sangat luas bagi orang-orang yang memohon ampun.”
فَاصْفَحْ
عَنِ الْعَبْدِ الْمُسِيءِ تَكَرُّمًا إِنَّ الْكَرِيمَ عَنِ الْمُسِيءِ صَفُوحُ
“Maka
maafkanlah hamba yang berbuat dosa ini sebagai bentuk kemurahan hatimu, karena
sesungguhnya sosok yang mulia senantiasa memaafkan orang yang berbuat
kejahatan.”
وَاقْبَلْ
رَسُولَ اللهِ عُذْرَ مُقَصِّرٍ هُوَ إِنْ قَبِلْتَ بِمَدْحِكَ الْمَمْدُوحُ
“Dan
terimalah uzur penyesalan dari orang yang lalai ini wahai Rosululloh, dialah
orang yang terpuji dengan memujimu jika engkau menerima uzurnya.”
فِي كُلِّ
وَادٍ مِنْ صِفَاتِكَ هَائِمٌ وَبِكُلِّ سِرٍّ مِنْ نَدَاكَ سَبُوحُ
“Ia
mengembara di setiap lembah sifat-sifat keagunganmu, dan berenang dalam setiap
rahasia kedermawananmu.”[36]
Di antara
bentuk ghuluw lainnya adalah pengagungannya yang melampaui batas
terhadap Asy-Syarifah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan bin ‘Ali rodhiyallahu
‘anhum melalui ucapannya:
سَلِيلَةُ
خَيْرِ الْعَالَمِينَ نَفِيسَةٌ سَمَتْ بِكِ أَعْرَاقٌ وَطَابَتْ مَحَاتِدُ
“Wahai
putri keturunan sebaik-baik manusia di alam semesta, wahai Nafisah, nasab
keturunanmu telah melambung tinggi dan asal-usulmu[37]
sungguh sangat harum.”
إِذَا
جَحَدَتْ شَمْسُ النَّهَارِ ضِيَاءَهَا فَفَضْلُكِ لَمْ يَجْحَدْهُ فِي النَّاسِ جَاحِدُ
“Apabila
matahari di siang hari mengingkari cahayanya sendiri, niscaya keutamaanmu tidak
akan pernah mampu diingkari oleh seorang pun penentang di antara manusia.”
بِآبائِكِ
الْأَطْهَارِ زُيِّنَتِ الْعُلَا فَحَبَّاتُ عِقْدِ الْمَجْدِ مِنْهُمْ فَرَائِدُ
“Dengan
perantara nenek moyangmu yang suci, tempat-tempat luhur dihiasi, sehingga
permata-permata kalung kemuliaan dari mereka menjadi tiada tandingannya.”
وَرِثْتِ
صِفَاتِ الْمُصْطَفَى وَعُلُومَهُ فَفَضْلُكُمَا لَوْلَا النُّبُوَّةُ وَاحِدُ!
“Engkau
mewarisi sifat-sifat Al-Musthofa ﷺ dan ilmu-ilmunya, maka keutamaan kalian berdua seandainya bukan
karena derajat Kenaikan Nubuwwah niscaya adalah sama!”[38]
3.3
Kekeliruan Syar’i Lainnya dalam Qoshidah Burdah
Di samping
penyimpangan di atas, dalam Qoshidah Burdah terdapat
kekeliruan-kekeliruan Syar’i lain yang perlu kita lewati secara ringkas agar
tidak ada orang yang mengira bahwa kesalahan Burdah hanya terbatas pada 2 atau
3 bait saja. Di antaranya adalah:
[1] Bersumpah
dengan selain Alloh ﷻ:
Ucapan Al-Bushiri
(696 H):
أَقْسَمْتُ
بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُورَةَ الْقَسَمِ
“Aku
bersumpah demi bulan yang terbelah, bahwasanya bulan itu memiliki hubungan
emosional dari hatinya yang membuktikan kebenaran sumpah ini.”
Perbuatan
ini adalah bentuk bersumpah dengan selain Dzat Alloh ﷻ yang harom hukumnya dalam
Syariat.
[2] Melampaui
Batas dalam Memuji Nabi ﷺ:
Ucapan Al-Bushiri
(696 H):
دَعْ
مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيهِ
وَاحْتَكِمِ
“Tinggalkanlah
apa yang diklaim oleh penganut Nashroni terhadap Nabi ﷺ mereka, lalu tetapkanlah
sanjungan pujian apa saja yang engkau kehendaki untuk beliau dan putuskanlah.”
Seolah-olah
gubahan ini menyatakan: Pujilah Nabi kita Muhammad ﷺ dengan sanjungan apa saja
yang engkau sukai, asalkan pujianmu tidak sampai pada tingkatan mempertuhankan
beliau sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Nashroni terhadap Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.
Pemahaman ini adalah batil. Makna hadits Nabi ﷺ:
«لَا
تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ»
“Janganlah
kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nashroni berlebihan memuji ‘Isa
putra Maryam.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)
Bukanlah
bermakna: Silakan puji aku sebebas-bebasnya asal tidak sampai menganggapku
sebagai anak Alloh atau oknum ke-3 dari yang 3!
Pemahaman
tersebut keliru. Makna hadits yang shohih adalah: Janganlah kalian melampaui
batas dalam memujiku sebagaimana kaum Nashroni melampaui batas dalam memuji
Nabi mereka hingga sanjungan itu menyeret mereka kepada perbuatan
mempertuhankannya.
[3] Mengklaim
Jaminan Kebaikan Hanya Karena Nama Muhammad:
Ucapan Al-Bushiri
(696 H):
فَإِنَّ
لِي ذِمَّةً مِنْهُ بِتَسْمِيَتِي مُحَمَّدًا وَهْوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ
“Karena
sesungguhnya aku memiliki jaminan keselamatan dari beliau hanya karena namaku
Muhammad, dan beliau adalah makhluk yang paling menepati jaminan.”
Klaim ini
tidak benar secara Syariat; sebab tidak setiap orang yang bernama Muhammad
secara otomatis mendapatkan jaminan keselamatan dari Nabi ﷺ. Betapa banyak orang yang
diberi nama Muhammad namun mereka tergolong ke dalam kelompok orang-orang
fasik! Sangat disayangkan, banyak orang senantiasa mengulang-ulang bait ini dan
bait lainnya seraya meyakini kebenaran maknanya.
[4] Menganjurkan
Mencium dan Mencium Bau Tanah Kuburan Nabi ﷺ:
Ucapan Al-Bushiri
(696 H):
لَا طِيبَ
يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ طُوبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ
“Tidak ada
wewangian yang mampu menandingi keharuman tanah yang menghimpun tulang-jemulang
beliau, sungguh beruntung orang yang mencium bau keharumannya dan menempelkan
bibirnya mencium tanah itu.”
Al-Intisyaq bermakna menghirup wewangian,
sedangkan al-iltitsam bermakna menempelkan wajah atau mencium. Penyair
dalam bait ini mengajak masyarakat untuk menghirup dan mencium tanah kuburan
Nabi ﷺ,
dan hal ini tergolong ke dalam perbuatan ghuluw yang dilarang.
Kesimpulan
dari seluruh pembahasan ini: Bahwa Al-Bushiri (696 H) tergolong ke dalam
kelompok penganut ghuluw dari aliran Tasawwuf Syadziliyyah. Pembelaan
dari orang-orang yang berupaya mencarikan uzur baginya pada sebagian bait atau
mengarahkannya kepada makna yang baik sama sekali tidak berguna. Pembelaan
semacam itu hanyalah dapat diterapkan bagi tokoh yang lurus Aqidahnya, benar
manhaj dan jalannya, kemudian kakinya tergelincir dalam 1 atau 2 masalah saja.
Sosok seperti inilah yang patut dicarikan uzur kekhilafannya. Adapun orang yang
sejak awal menjadikan jalur ghuluw sebagai i'tiqod dan kebiasaan
hidupnya, maka sejauh mana pun kita mencarikan uzur untuk 1 atau 2 bait
syairnya, bagaimana dengan bait-bait lainnya yang tersisa?! Dan bagaimana pula
dengan para pensyarah qoshidah-qoshidah ini yang terus menguatkan makna-makna ghuluw
tersebut serta mengikutinya secara beruntun dalam kitab-kitab syarah mereka?!
Bab 4: Sisi Keindahan Sastra dan
Bait-Bait Hikmah Al-Bushiri
Seluruh
kritikan Aqidah di atas tidak menghalangi kita untuk mengakui serta memuji
kekuatan gubahan syair Al-Bushiri (696 H) dan keindahan bahasanya, baik dalam
syair pujian kepada Al-Musthofa ﷺ maupun bait-bait hikmah dan mutiara nasihat yang terkandung di
dalamnya. Di antara gubahan pujian yang indah adalah ucapannya dalam Qoshidah
Burdah:
أَكْرِمْ
بِخَلْقِ نَبِيٍّ زَانَهُ خُلُقٌ بِالْحُسْنِ مُشْتَمِلٌ بِالْبِشْرِ مُتَّسِمِ
“Betapa
mulianya bentuk fisik sang Nabi yang dihiasi oleh keagungan akhlaknya, fisik
yang diliputi oleh keindahan dan senantiasa ditandai oleh keceriaan wajah.”
كَالزَّهْرِ
فِي تَرَفٍ وَالْبَدْرِ فِي شَرَفٍ وَالْبَحْرِ فِي كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ
“Beliau
bagaikan bunga dalam kelembutannya, bagaikan bulan purnama dalam kemuliaannya,
bagaikan lautan dalam kedermawanannya, dan bagaikan perjalanan zaman dalam
keteguhan cita-citanya.”
Dan
ucapannya ketika menggambarkan keutamaan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum:
هُمُ
الْجِبَالُ فَسَلْ عَنْهُمْ مُصَادِمَهُمْ مَاذَا لَقِيَ مِنْهُمْ فِي كُلِّ مُصْطَدَمِ
“Mereka
bagaikan gunung-gunung yang kokoh, maka tanyakanlah kepada musuh yang membentur
mereka tentang dahsyatnya balasan yang mereka terima pada setiap pertempuran.”
وَسَلْ
حُنَيْنًا وَسَلْ بَدْرًا وَسَلْ أُحُدًا فُصُولُ حَتْفٍ لَهُمْ أَدْهَى مِنَ الْوَخَمِ
“Dan
tanyakanlah kepada Perang Hunain, Perang Badr, serta Perang Uhud,
kejadian-kejadian kematian bagi musuh di sana jauh lebih mengerikan daripada
wabah penyakit yang mematikan.”
كَأَنَّهُمْ
فِي ظُهُورِ الْخَيْلِ نَبْتُ رُبًى مِنْ شِدَّةِ الْحَزْمِ لَا مِنْ شِدَّةِ الْحُزُمِ
“Seolah-olah
mereka saat berada di atas punggung kuda bagaikan pepohonan yang tumbuh kokoh
di atas bukit, karena sangat teguhnya ketetapan hati mereka dan bukan sekadar
karena kencangnya ikatan tali pelana.”
Dalam Qoshidah
Burdah juga terdapat banyak nasihat hikmah, seperti ucapannya:
وَالنَّفْسُ
كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تُفْطِمْهُ يَنَفَطِمِ
“Nafsu itu
bagaikan bayi kecil, jika engkau membiarkannya niscaya ia akan tumbuh besar
dalam keadaan terus menyukai susuan, namun jika engkau menyapihnya niscaya ia
akan tersapih.”
فَاصْرِفْ
هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصْمِ أَوْ يَصِمِ
“Maka
palingkanlah hawa nafsu itu dan berhati-hatilah jangan sampai engkau memberinya
kekuasaan, karena sesungguhnya hawa nafsu apabila telah berkuasa niscaya ia
akan membunuh.”[39]
وَرَاعِهَا
وَهْيَ فِي الْأَعْمَالِ سَائِمَةٌ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلَا تُسِمِ
“Dan
gembalakanlah nafsu itu ketika ia sedang beramal, jika ia menganggap manis
suatu padang rumput penggembalaan maka janganlah engkau membiarkannya bebas
merumput.”
كَمْ
حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُّمَّ فِي
الدَّسَمِ
“Betapa
sering hawa nafsu menghiasi kelezatan yang mematikan bagi seseorang, dari arah
yang tidak ia sadari bahwasanya racun mematikan telah disusupkan di dalam lemak
gurih.”
قَدْ
تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ
مِنْ سَقَمِ
“Terkadang
mata mengingkari indahnya cahaya matahari karena penyakit belekan, dan mulut
mengingkari manisnya rasa air karena penyakit tubuh.”
وَاسْتَفْرِغِ
الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَلَأَتْ مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ
“Dan
tumpahkanlah air mata dari mata yang telah penuh dengan pandangan harom, serta
peganglah erat-erat benteng penyesalan.”
وَخَالِفِ
النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا وَإِنْ هُمَا مَحَّضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ
“Dan
selisihilah kehendak hawa nafsu serta syaithon dan durhakailah keduanya,
meskipun keduanya memberikan nasihat murni kepadamu maka tetap curigailah
ucapan mereka.”
وَلَا
تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلَا حَكَمًا فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الْخَصْمِ وَالْحَكَمِ
“Dan
janganlah engkau mematuhi salah satu dari keduanya baik sebagai musuh penantang
maupun sebagai hakim penengah, karena engkau telah mengetahui tipu daya musuh
dan penengah.”
Di antara
karya syairnya yang sangat mengagumkan adalah ucapannya:
ذَهَبَ
الشَّبَابُ وَسَوْفَ أَذْهَبُ مِثْلَمَا ذَهَبَ الشَّبَابُ وَمَا امْرُؤٌ بِمُخَلَّدِ
“Masa muda
telah pergi berlalu dan aku pun akan pergi menyusul sebagaimana perginya masa
muda, dan tidak ada seorang pun manusia yang kekal abadi.”
إِنَّ
الْفَنَاءَ لِكُلِّ حَيٍّ غَايَةٌ مَحْتُومَةٌ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَكَأَنْ قَدِ
“Sesungguhnya
kebinasaan bagi setiap makhluk hidup adalah batas akhir yang telah ditetapkan
pasti, jika hal itu belum terjadi sekarang maka seolah-olah ia sudah tiba.”[40]
Penutup
Saya
memohon kepada Alloh ﷻ
agar memberikan petunjuk kepada kaum Mu’minin yang tersesat, serta
mengembalikan mereka kepada kebenaran dengan pengembalian yang indah.
Semoga sholawat
dan salam senantiasa tercurah kepada kekasih kita, tuan kita, dan Nabi kita
Muhammad ﷺ
hamba Alloh ﷻ
dan Rosul-Nya, beserta seluruh keluarga dan Shohabatnya.
[1] Tashthir syair adalah menambahkan pada setiap separuh
bait, satu separuh bait lain ciptaan sendiri. (Mu’jam Al-Lughoh
Al-‘Arobiyyah Al-Mu’ashiroh, 2/1199)
[2] Takhmis syair adalah susunan bait yang rima akhirnya
berbeda namun disatukan oleh rima yang sama setelah 2, 3, atau lebih bait,
yakni dibangun di atas 5 bagian. (Ash-Shihah karya Al-Jauhari (393 H),
3/1134, dan Taj Al-‘Arus karya Az-Zabidi (1205 H), 16/28)
[3] Tasbi’ dalam arudh adalah susunan syair yang
dibangun di atas 7 bagian. (Al-Muhkam wa Al-Muhith Al-A’zhom karya Ibnu
Sidah (458 H), 1/506)
[4] Mu’arodhoh syi’riyyah adalah gubahan syair yang
meniru qoshidah lain dalam tema dan wazan; menurut para ahli balaghoh merupakan
ungkapan yang serupa dengan ucapan orang lain baik dalam wazan, qofiyah,
rodif, maupun seni gubahannya. (Kasysyaf Ishthilahat Al-Funun wa Al-‘Ulum
karya At-Tahanawi (1158 H), 2/1479)
[5] Lihat: Al-Madaihun Nabawiyyah karya Mahmud ‘Ali
Makki (1434 H), hlm. 119, dan Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah karya
Al-Haitsami (974 H), hlm. 53
[6] Jumlah syarah Qoshidah Burdah bahkan jauh
melampaui jumlah syarah kitab-kitab As-Sunnah seperti Shohih Muslim dan Al-Kutub
Al-Arba’ah, apalagi kitab-kitab lainnya
[7] Lihat: Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 41;
pentahqiqnya menyatakan: “Masyarakat senantiasa mengambil keberkahan dengannya
di berbagai penjuru bumi; betapa banyak tampak darinya pengaruh nyata dalam
menyembuhkan orang-orang sakit dari kalangan yang meyakini keutamaannya dan
mengagungkannya sesuai kedudukannya, sehingga qoshidah tersebut menjadi sebab
kesembuhan mereka serta perolehan berbagai kebaikan dan keberkahan dalam
pembacaannya!”
[8] Lihat: Al-‘Umdah fi I’rob Al-Burdah karya
‘Abdulloh Jajah, hlm. 17, dan Al-Madaihun Nabawiyyah fi Al-Adab Al-‘Arobiy
karya Zaki Mubarok, hlm. 142.
[9] Lihat: Al-Madaihun Nabawiyyah fi Al-Adab Al-‘Arobiy,
hlm. 142.
[10] Lihat: Da’irotul Ma’arif Al-Islamiyyah, 3/528.
[11] Lihat: Diwan Al-Bushiri karya Sayyid Kilani,
hlm. 29.
[12] Lihat: Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Al-Burdah, hlm.
4 dan kitab-kitab lainnya; hal ini telah disepakati dalam kitab-kitab mereka,
namun sebagian mereka menyatakan bahwa Nabi ﷺ
menyelimutinya dengan jubah, sementara sebagian lain menyatakan melontarkannya
kepadanya.
[13] Lihat untuk kisah ini: Muqoddimah Burdatul Madih
Al-Mubarokah, hlm. 15, dan Al-‘Umdah fi I’rob Al-Burdah, hlm. 19.
[14] Di antara para ulama tersebut adalah Al-‘Allamah
Yaman, Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani (1250 H) dalam Ad-Durr An-Nadhid fi
Ikhlash Kalimat At-Tauhid, hlm. 59, Al-‘Allamah Iraq, Mahmud Syukri
Al-Alusi (1342 H) dalam Ghoyatul Amani fi Ar-Rodd ‘ala An-Nabhani,
2/349, serta banyak dari kalangan ulama kontemporer.
[15] Lihat sebagai contoh: Burdatul Madih Al-Mubarokah,
hlm. 9, dan Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 41
[16] Al-Bushiri memiliki hubungan erat dengan Abu Al-Hasan
Asy-Syadziliy (656 H) pendiri tarekat terkenal di kalangan sufi. Ketika
Asy-Syadziliy wafat, ia berguru secara tetap kepada murid sekaligus pewaris
tarekatnya, yaitu Abu Al-‘Abbas Al-Mursiy (686 H). Ia memuji Asy-Syadziliy dan
tarekatnya dalam Diwan-nya, hlm. 105:
إِنَّ الْإِمَامَ الشَّاذِلِيَّ
طَرِيقُهُ فِي الْفَضْلِ وَاضِحَةٌ لِعَيْنِ الْمُهْتَدِي
فَانْقُلْ وَلَوْ قَدَمًا عَلَى
آثَارِهِ فَإِذَا فَعَلْتَ فَذَاكَ آخِذٌ بِالْيَدِ
وَاسْلُكْ طَرِيقَ مُحَمَّدِي
شَرِيعَةً وَحَقِيقَةً وَمُحَمَّدِي الْمَحْتِدِ
“Sesungguhnya Al-Imam Asy-Syadziliy (656 H) jalan
petunjuknya dalam keutamaan sangat terang benderang bagi mata orang yang
mencari petunjuk. Maka pijakkanlah kakimu walau selangkah di atas jejak-jejak
langkahnya, jika engkau melakukannya maka hal itu akan memegang tanganmu menuju
keselamatan. Dan tempuhlah jalan Muhammad secara Syariat dan Hakikat, serta
ikutilah sosok yang bernasab kepada Muhammad.”
Dan ia berkata memuji Abu Al-‘Abbas Al-Mursiy (686 H) dalam Diwan-nya, hlm.
108:
فَاصْحَبْ أَبَا الْعَبَّاسِ أَحْمَدَ
آخِذًا يَدَ عَارِفٍ بِوَعْيِ النُّفُوسِ مُنَجِّدِ
فَإِذَا سَقَطْتَ عَلَى الْخَبِيرِ
بِدَائِهَا فَاصْبِرْ لِمُرِّ دَوَائِهِ وَتَجَلَّدِ
“Maka pereratlah persahabatanmu dengan Abu Al-‘Abbas Ahmad (686 H) seraya memegang tangan seorang
penjelajah spiritual yang memahami jiwamu dan memberikan pertolongan. Apabila
engkau telah menemukan seorang ahli yang paham akan penyakit jiwamu, maka
bersabarlah terhadap pahitnya obat darinya dan teguhkanlah dirimu.”
[17] Lihat: Syadzarot Adz-Dzahab karya Ibnul ‘Imad
(1089 H), 5/432; Al-Wafi bil Wafayat karya Ash-Shofadi (764 H), 3/105; Fawatal
Wafayat karya Al-Kutubi (764 H), 3/362; Al-Muqoffa Al-Kabir karya
Al-Maqrizi (845 H), 5/661; dan Husnul Muhadhoroh karya As-Suyuthi (911
H), 1/570).
[18] Anda akan terkejut ketika membaca gelar-gelar yang
disematkan oleh sebagian akademisi kontemporer kepadanya seperti: Al-Imam, Al-‘Alim,
Al-‘Amil... Al-Haitsami (974 H) bahkan sangat berlebihan dalam memujinya pada Muqoddimah
Syarh Al-Hamziyyah (1/105) dengan mengatakan: “Asy-Syaikh Al-Imam, Al-‘Arif
Al-Kamil! Al-Humam, Al-Muhaqqiq, Al-Baligh, Al-Adib, Al-Mudaqqiq, Imam para
penyair dan ulama paling berkemampuan syair, orator para ahli fashohah, serta
filsuf yang paling fasih...!” Dan Al-Hasan bin Muhammad Al-Fasi (kontemporer)
menyatakan saat menulis biografinya dalam Thoboqot Asy-Syadziliyyah Al-Kubro,
hlm. 99: “Al-Imam Ar-Robbani, Al-’Arif Ash-Shomadani, Al-Ustadz Al-Fadhil,
Al-Maladz Al-Kamil, Syams Al-Millah wa Burhan Al-Ummah, Syaikh Al-Muhaqqiqin wa
Maladz Ahl At-Tamkin... beliau rodhiyallahu ‘anhu telah mencapai
tingkatan Al-Ghoursiyyah Al-Kubro dan senantiasa berjumpa dengan Nabi ﷺ baik dalam
keadaan sadar maupun tidur!”
[19] Hal ini disebutkan oleh Al-Maqrizi (845 H) dalam Al-Muqoffa
Al-Kabir (5/664) dari Al-Ya’muri dalam Masalik Al-Abshor; beliau
juga menyebutkan (5/669): “Diriwayatkan bahwa Al-Bushiri sangat minim
pengetahuannya dalam keahlian seni tulis-menulis administrasi.”
[20] Al-Bushiri memiliki qoshidah panjang yang sangat indah
berjudul Al-Makhroj wa Al-Mardud ‘ala An-Nashoro wa Al-Yahud yang
menunjukkan keahliannya tentang mereka dan keyakinan mereka; lihat: Diwan
Al-Bushiri karya Ath-Thobba’, hlm. 158.
[21] Lihat: Diwan Al-Bushiri karya Ath-Thobba’, hlm.
226.
[22] Tillis; wadah dari anyaman daun kurma menyerupai
keranjang besar bagi peremas minyak zaitun, umum dipakai di Mesir untuk sebutan
karung kain besar; Tahdzib Al-Lughoh karya Al-Azhari (370 H), 12/267,
dan Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/87.
[23] Kawanin adalah bentuk jamak dari kanun yaitu
tungku perapian atau orang yang lambat dan gemar menyebarkan berita; Tahdzib
Al-Lughoh karya Al-Azhari (370 H), 9/335, dan Al-Mu’jam Al-Wasith,
2/801.
[24] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 119; cermatilah
seruan istighotsah-nya kepada Baha’ud Din pada bait pertama serta sikap ghuluw
yang nyata pada bait ke-5!
[25] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 156.
[26] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 227; dan
cermatilah tingkat ghuluw yang sangat berlebihan pada bait ke-2!
[27] Bilbeis adalah nama kota di Mesir bagian timur,
berjarak 10 farsakh dari Fusthoth Mesir pada jalur menuju Syam;
ditaklukkan pada tahun 18 H atau 19 H oleh ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu
‘anhu (43 H); Mu’jam Al-Buldan karya Yaqut Al-Hamawi (626 H), 1/479,
dan Taj Al-’Arus karya Az-Zabidi (1205 H), 15/466.
[28] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 149
[29] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 115.
[30] Al-Minah Al-Makkiyyah Syarh Al-Hamziyyah, 1/146.
[31] Perlu diketahui bahwa di antara perkara ghoib ada yang
diperlihatkan oleh Alloh ﷻ kepada para
Rosul yang diridhoi-Nya, termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ. Namun
Al-Bushiri (696 H) mengklaim bahwa seluruh isi Lauhul Mahfuzh hanyalah sebagian
kecil dari ilmu yang dimiliki Nabi ﷺ, karena
huruf ‘min’ pada kalimat ‘wa min ‘ulumika’ bermakna tab’idh
atau menunjukkan bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu Al-Haitsami (974 H)
menegaskan dalam Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 699: “Bahwa Alloh
memperlihatkan kepada beliau pada malam Isro’ seluruh isi Lauhul Mahfuzh, dan
menambahkan untuk beliau ilmu-ilmu lain seperti rahasia-rahasia yang berkaitan
dengan Dzat Alloh ﷻ dan
sifat-sifat-Nya.” Ketika sebagian ulama pengikutnya merasa bingung dan berupaya
keluar dari jerat kritikan tajam ini, mereka mendatangkan jawaban yang
menggelikan: “Para pensyarah berkata bahwa yang dimaksud dengan Lauh adalah
papan yang dipakai manusia untuk menulis, dan Qolam adalah pena yang dipakai
untuk menulis, seolah-olah beliau berkata: Dan di antara ilmumu adalah ilmu
manusia yang ditulis dengan pena mereka di atas papan tulis mereka!” Lihat: Naht
Hadid Al-Bathil wa Burduh karya Dawud An-Naqsyabandi, hlm. 39, dan Al-Balsam
Al-Murih min Syifa’ Al-Qolb Al-Jarih karya ‘Umar Kamil, hlm. 14.
[32] Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 289.
[33] Al-Minah Al-Makkiyyah Syarh Al-Hamziyyah, 2/652.
[34] Lihat: Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 411-413.
[35] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 60.
[36] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 90.
[37] Mahatid adalah bentuk jamak dari mahtid yang
bermakna asal-usul dan tabiat dasar; Lisan Al-‘Arob karya Ibn Manzhur
(711 H), 3/139, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/154.
[38] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 92.
[39] Yushmi bermakna membunuh buruan saat memanahnya; Ash-Shihah
karya Al-Jauhari (393 H), 5/2052) atau memberi cacat cela (yashim
bermakna memberi aib dan celaan; Ash-Shihah karya Al-Jauhari (393 H),
6/2404).
[40] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 103.
%20dan%20Syair-syairnya%20-%20%E2%80%98Alawi%20bin%20%E2%80%98Abdil%20Qodir%20As-Saqqof.jpg)