Cari Ebook

[PDF] Kritikan atas Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) dan Syair-syairnya - ‘Alawi bin ‘Abdil Qodir As-Saqqof

 


Muqoddimah Pentarjamah

﷽

Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) berisi ghuluw dalam memuji Nabi ﷺ yang Syariat melarangnya dalam banyak Hadits. Qoshidah ini disyarah oleh banyak orang dan menjadi tenar di kalangan ahli ibadah kaum Sufi.

Penulis adalah ahlul bait keturunan Nabi ﷺ yang berilmu dan sholih, Syaikh ‘Alawi As-Saqqof.

Judul dan subjudul berasal dari pentarjamah.

Tulisan ini berasal dari situs resmi beliau, www.dorar.net. 

Bab 1: Penyimpangan Qoshidah Burdah

1.1 Pengagungan Berlebihan terhadap Qoshidah Burdah

Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) merupakan salah satu qoshidah yang sangat masyhur dalam bidang pujian kepada Nabi ﷺ. Tokoh-tokoh penganut aliran Tasawwuf sangat mengagumi qoshidah ini, sehingga mereka menyusun kitab-kitab syarah untuknya, membuat gubahan tashthir[1], gubahan takhmis[2], gubahan tasbi’[3], gubahan mu’arodhoh[4], serta menggubah syair-syair lain yang sejalur dengannya.[5]

Hal ini berlangsung hingga jumlah kitab syarah dan karya yang membahas qoshidah tersebut mencapai puluhan judul, yang tidak terbatas pada bahasa Arob saja melainkan juga hadir dalam berbagai bahasa dunia[6]. Mereka bersikap ghuluw (berlebihan) terhadap qoshidah ini, sampai-sampai sebagian dari mereka meyakini bahwa bait-baitnya memiliki keberkahan khusus serta menjadi penawar bagi berbagai penyakit.[7]

Bahkan sebagian pembuat jimat dan tamimah mengkhususkan 1 bait tertentu untuk setiap jenis penyakit atau hajat: 1 bait khusus untuk penyakit epilepsi, 1 bait untuk perlindungan dari bahaya kebakaran, 1 bait lagi untuk merukunkan pasangan suami istri, dan demikian seterusnya.[8] Praktik penentuan bait seperti ini sama sekali tidak pernah kita dapati keterangannya dalam ayat-ayat Al-Qur’an Al-Karim maupun hadits-hadits Nabawiy!

Qoshidah Burdah dahulu hingga saat ini masih dijadikan oleh sebagian orang sebagai bagian dari wazhifah wirid yang dibaca pada waktu pagi dan petang dengan penuh wibawa serta kekhusyukan.[9] Bait-baitnya pun dipakai sampai hari ini untuk praktik Ruqyah serta dilantunkan saat prosesi pemakaman jenazah[10]. Mereka bahkan menetapkan syarat-syarat khusus ketika hendak membacanya, seperti wajib berwudhu, menghadap Qiblat, dan lain sebagainya.[11]

1.2 Mitos Awal Mula Penamaan Qoshidah Burdah

Mereka mengklaim bahwa sebab dinamakannya qoshidah ini dengan nama Al-Burdah (jubah) adalah karena penyairnya melantunkan qoshidah tersebut di hadapan Nabi ﷺ dalam mimpi, lalu Nabi ﷺ melemparkan jubah (burdah) beliau kepadanya, sebagaimana beliau pernah melemparkan jubahnya kepada Ka’b bin Zuhair rodhiyallahu ‘anhu (24 H) pada alam nyata. Padahal kisah Ka’b bin Zuhair rodhiyallahu ‘anhu (24 H) ini sendiri sama sekali tidak memiliki sanad yang shohih. Mereka juga mengklaim bahwa penyusunnya, yaitu Al-Bushiri (696 H), awalnya menderita penyakit kelumpuhan (falaj), lalu beliau sembuh berkat qoshidah tersebut, sehingga dinamakan pula dengan Al-Bur’ah yang berarti kesembuhan.[12] Puncak kedustaan dan ghuluw mereka mencapai tingkatan di mana mereka mengklaim bahwa Nabi ﷺ ikut serta bersama Al-Bushiri (696 H) dalam merangkai bait syairnya, serta beliau ﷺ bergoyang-goyang saat mendengarkannya. Ketika Al-Bushiri (696 H) sampai pada baitnya:

فَمَبْلَغُ الْعِلْمِ فِيهِ أَنَّهُ بَشَرٌ

ia terhenti! Lalu Nabi ﷺ menyempurnakannya dengan menambahkan:

وَأَنَّهُ خَيْرُ خَلْقِ اللهِ كُلِّهِمِ

Semua pengakuan ini adalah kedustaan dan kebohongan besar yang diada-adakan atas nama Rosululloh ﷺ.[13]

 

Bab 2: Rekam Jejak Al-Bushiri

2.1 Sorotan Para Ulama terhadap Bait-Bait Paling Ekstrem

Qoshidah ini telah mendapatkan kritikan tajam dari banyak ahli ilmu pada bait-bait tertentu yang dikategorikan sebagai bait paling sarat dengan ghuluw.[14] Di sisi lain, para penyeru paham Tasawwuf berupaya membela bait-bait tersebut dan menolak kritikan yang diarahkan kepadanya, dengan memberikan penafsiran pada setiap bait yang dikritik guna menepis celaan. Di antara bait-bait yang mendapat kritikan keras tersebut—yang dibela oleh kalangan sufi dengan dalih bahwa para ahli ilmu yang mengkritiknya tidak memahami maksud sang penyair—adalah ucapan Al-Bushiri (696 H):

إِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَعَادِي آخِذًا بِيَدِي فَضْلًا وَإِلَّا فَقُلْ يَا زَلَّةَ الْقَدَمِ

“Jika beliau tidak memegang tanganku dengan kemurahan hatinya pada hari tempat kembaliku kelak, maka katakanlah: Aduhai celakanya tergelincirnya kaki ini!”

Juga ucapannya:

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُولِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ

“Wahai makhluk paling mulia, tidak ada tempat bagiku untuk berlindung selain dirimu ketika bencana dahsyat yang merata datang menimpa.”

Serta ucapannya:

فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Karena sesungguhnya di antara kedermawananmu adalah terciptanya dunia dan Akhiroh, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh dan Qolam.”

Keadaan ini membuat banyak orang tidak mengenali penyimpangan ghuluw Al-Bushiri (696 H) melainkan hanya dari Qoshidah Burdah semata, dan mereka tidak mengetahui penyimpangan dalam Qoshidah Burdah melainkan hanya dari 3 bait ini saja. Akibatnya, jika 3 bait ini berhasil ditafsiri dan dibenarkan maknanya menurut mereka, maka selamatlah Qoshidah Burdah dan selamat pula Al-Bushiri (696 H), sehingga celaan justru beralih ditujukan kepada para pengkritiknya yang dituduh bersikap keras!

Sosok Al-Bushiri (696 H)—sebagaimana yang mereka klaim—digambarkan sebagai seorang imam, ‘alim yang mengamalkan ilmunya, hamba yang sholih dan zahid. Qoshidah Burdah miliknya pun disanjung sebagai karya yang indah bercahaya, di mana orang-orang mengambil keberkahan dengannya serta mendapati kesembuhan bagi penyakit-penyakit mereka, dan seterusnya dari gambaran-gambaran sanjungan yang dipenuhi dalam kitab-kitab mereka.[15]

Namun, apakah benar bahwa Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) tidak mengandung ghuluw kecuali hanya pada bait-bait ini saja? Bahkan apakah benar bahwa Al-Bushiri (696 H) adalah seorang imam, ‘alim yang mengamalkan ilmunya, serta karya-karya syairnya—baik Burdah maupun selainnya—bersih dari penyimpangan ghuluw?! Hal inilah yang hendak saya paparkan secara rinci dalam artikel ilmiah ini.

2.2 Kehidupan dan Keilmuan Al-Bushiri

Mengenai biografi Al-Bushiri: nama lengkapnya adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Hammad Ash-Shinhajiy Al-Bushiri. Beliau tumbuh besar di Mesir, berasal dari keturunan Maroko, dan menganut tarekat Asy-Syadziliyyah.[16]

Al-Bushiri (696 H) lahir pada tahun 608 H dan wafat pada tahun 696 H. Ia merupakan seorang penyair bersuku Shinhajah yang memiliki karya syair dengan tingkat keindahan dan kelembutan yang sangat tinggi, berlafazh manis, serta berstruktur susunan kata yang harmonis. Ia berpindah-pindah tempat antara Quds (Palestina), Madinah, dan Makkah, kemudian kembali ke Mesir untuk bekerja sebagai juru tulis (sekretaris) pemerintah Kerajaan, hingga kemudian beralih profesi mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak kecil. Ia sama sekali bukan seorang ahli ilmu agama (‘alim), dan tidak ada seorang pun pakar biografi (muarrikh) yang memasukkan namanya dalam deretan ulama, melainkan mereka mengelompokkannya ke dalam golongan para penyair.[17]

Tokoh kontemporer mana pun yang memaksakan diri mengelompokkannya sebagai ulama tidak akan sanggup menegakkan bukti ilmiah atas hal itu. Ia murni seorang penganut Tasawwuf yang berjalan di atas Tarekat Asy-Syadziliyyah.[18]

2.3 Perilaku Buruk terhadap Istri dan Kebiasaan Meminta-minta

Al-Bushiri (696 H) adalah sosok yang dibenci oleh masyarakat pada zamannya karena lidahnya yang tidak terjaga dalam mencela orang lain dengan ucapan-ucapan buruk, serta kebiasaannya membicarakan kejelekan orang lain di majelis-majelis para penguasa dan menteri.[19]

Ia memiliki akhlak yang sangat buruk terhadap istrinya dan orang lain, gemar mengemis (meminta-minta), serta mengalami guncangan kepribadian yang nyata. Kadang kala ia memuji penganut Nashroni dan mencela penganut Yahudi, namun di waktu lain ia memuji penganut Yahudi demi menyenangkan penganut Nashroni, dan pada kesempatan lain ia mencela kedua kelompok tersebut sekaligus.[20]

Ia juga sangat gencar melontarkan pujian kepada para Sultan demi mengharapkan imbalan harta yang ada di tangan mereka. Perilaku melobi penguasa seperti ini memang bukan hal asing bagi kalangan penyair, namun sama sekali bukan cerminan dari akhlak para ahli ilmu. Di samping itu, bait-bait syairnya dalam Qoshidah Burdah, Al-Hamziyyah, maupun qoshidah-qoshidah lainnya yang terhimpun dalam Diwan-nya sarat dengan ghuluw yang membenarkan penilaian para kritikus atas dirinya. Berikut adalah perincian mengenai hal tersebut:

[1] Mengenai keburukan akhlaknya terhadap istrinya sendiri, Al-Bushiri (696 H) telah mencela istrinya dan melemparkan tuduhan keji (perbuatan fahisyah) dalam sebuah qoshidah yang panjang. Qoshidah tersebut dipenuhi oleh ungkapan-ungkapan kotor, kefasikan, dan kejahatan ucapan yang luar biasa, di mana kita memohon keselamatan dan perlindungan kepada Alloh ﷻ darinya. Di antara bait yang diucapkannya:

وَبَلِيَّتِي عِرْسٌ بُلِيتُ بِمَقْتِهَا وَالْبَعْلُ مَمْقُوتٌ بِغَيْرِ قِيَامِ

“Musibahku adalah seorang istri yang aku diuji dengan kebencian kepadanya, sementara sang suami pun dibenci tanpa mampu menegakkan hak kepemimpinan.”

جَعَلَتْ بِإِفْلَاسِي وَشَيْبِيَ حُجَّةً إِذَا صِرْتُ لَا خَلْفِي وَلَا قُدَّامِي

“Ia menjadikan kebangkitanku dan ubanku sebagai alasan celaan, ketika aku sudah tidak lagi memiliki kekuatan di depan maupun di belakang.”

بَلَغَتْ مِنَ الْكِبَرِ الْعِتِيَّ وَنُكِّسَتْ فِي الْخَلْقِ وَهْيَ صَبِيَّةُ الْأَرْحَامِ

“Ia telah mencapai usia yang sangat tua rentan dan fisiknya telah berbalik melemah, namun rahimnya masih seperti gadis remaja.”

إِنْ زُرْتُهَا فِي الْعَامِ يَوْمًا أَنْتَجَتْ وَأَتَتْ لِسِتَّةِ أَشْهُرٍ بِغُلَامِ

“Jika aku mengunjunginya 1 hari saja dalam setahun, ia langsung hamil dan melahirkan anak laki-laki hanya dalam waktu 6 bulan.”

أَوَ هَذِهِ الْأَوْلَادُ جَاءَتْ كُلُّهَا مِنْ فِعْلِ شَيْخٍ لَيْسَ بِالْقَوَّامِ؟!

“Apakah anak-anak yang begitu banyak ini seluruhnya lahir dari perbuatan seorang laki-laki tua yang sudah tidak berdaya ini?!”

وَأَظُنُّ أَنَّهُمُ لِعُظْمِ بَلِيَّتِي حَمَلَتْ بِهِمْ لَا شَكَّ فِي الْأَحْلَامِ

“Aku menduga karena besarnya musibahku, ia mengandung anak-anak itu tidak diragukan lagi dari mimpi-mimpinya.”

أَوَ كُلَّ مَا حَلِمَتْ بِهِ حَمَلَتْ بِهِ؟ مَنْ لِي بِأَنَّ النَّاسَ غَيْرُ نِيَامِ؟

“Apakah setiap kali ia bermimpi bersetubuh ia langsung hamil? Siapakah yang bisa menjamin bagiku bahwa orang-orang di sekitarnya tidak sedang tidur?”

يَا لَيْتَهَا كَانَتْ عَقِيمًا آيِسًا أَوْ لَيْتَنِي مِنْ جُمْلَةِ الْخُدَّامِ

“Duhai seandainya ia mandul dan tidak berproduksi lagi, atau duhai seandainya aku hanya menjadi bagian dari pelayan rumah tangga saja.”

أَوْ لَيْتَنِي مِنْ قَبْلِ تَزْوِيجِي بِهَا لَوْ كُنْتُ بِعْتُ حَلَالَهَا بِحَرَامِ!

“Atau duhai seandainya sebelum aku menikahinya, aku menukar ikatan halalnya dengan hubungan harom!”

أَوْ لَيْتَنِي بَعْضُ الَّذِينَ عَرَفْتُهُمْ مِمَّنْ يُحَصِّنُ دِينَهُ بِغُلَامِ!

“Atau duhai seandainya aku menjadi seperti sebagian orang yang aku kenal, dari kalangan yang menjaga agamanya dengan melampiaskan syahwat kepada anak laki-laki muda!”[21]

Pada bait ke-5, Al-Bushiri (696 H) meragukan nasab anak-anaknya sendiri akibat jumlah mereka yang banyak, seraya menuduh bahwa istri tersebut mendapatkan anak dari laki-laki lain karena dirinya sudah tua renta dan tidak berdaya. Pada bait ke-9, ia bercita-cita seandainya ia mengganti jalan pernikahan yang halal dengan perbuatan harom perzinaan agar tidak memikul beban menafkahi anak-anak. Pada bait ke-10, ia bahkan berharap seandainya ia menyalurkan syahwatnya kepada anak laki-laki muda daripada menikah dengan seorang wanita, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang dikenal olehnya. Kita berlindung kepada Alloh ﷻ dari keji dan sesatnya pikiran tersebut!

[2] Al-Bushiri (696 H) juga merupakan sosok peminta-minta yang memanfaatkan kemampuan syairnya untuk mengemis materi dari masyarakat—suatu perbuatan yang sangat jauh dari akhlak para ahli ilmu. Di antara buktinya adalah ketika ia mengadukan nasibnya dan banyaknya jumlah keluarganya kepada Ash-Shohib Baha’ud Din ‘Ali bin Muhammad bin Hinna (seorang menteri) melalui syairnya:

أَيُّهَا الصَّاحِبُ الْمُؤَمَّلُ أَدْعُوكَ دُعَاءَ اسْتِغَاثَةٍ وَاسْتِجَارَهْ

“Wahai menteri penolong yang diharapkan, aku memanggilmu dengan panggilan istighotsah (memohon pertolongan) dan perlindungan.”

أَثْقَلَتْ ظَهْرِي الْعِيَالُ وَقَدْ كُنْتُ زَمَانًا بِهِمْ خَفِيفَ الْكَارَهْ

“Beban anak istri telah memberatkan punggungku, padahal dahulu dalam waktu yang lama aku sangat ringan tanpa beban.”

وَلَوْ أَنِّي وَحْدِي لَكُنْتُ مُرِيدًا فِي رِباطٍ أَوْ عَابِدًا فِي مَغَارَهْ

“Seandainya aku hidup menyendiri, tentu aku sudah menjadi seorang murid sufi di pondok ribath atau hamba yang beribadah di dalam goa.”

أَحْسَبُ الزُّهْدَ هَيِّنًا وَهْوَ حَرْبٌ لَسْتُ فِيهِ وَلَا مِنَ النَّظَّارَهْ

“Aku dahulu mengira zuhud itu perkara mudah, padahal ia adalah peperangan berat yang aku tidak terlibat di dalamnya dan bukan pula penontonnya.”

لَا تَكِلْنِي إِلَى سِوَاكَ فَأَخْيَارُ زَمَانِي لَا يَمْنَحُونَ خِيَارَهْ

“Janganlah engkau menyerahkan nasibku kepada selain dirimu, karena orang-orang terbaik di zamanku saat ini tidak mau memberikan pilihan terbaiknya.”

وَوُجُوهُ الْقُصَّادِ فِيهِ حَدِيدٌ وَقُلُوبُ الْأَجْوَادِ فِيهِ حِجَارَهْ

“Wajah orang-orang yang meminta-minta di zaman ini sudah sekeras besi, sedangkan hati orang-orang dermawan telah membatu seperti batu.”

فإِذَا فَازَتْ كَفُّ حُرٍّ بِبُرٍّ فَهُوَ إِمَّا بِنَقْضَةٍ أَوْ نِشَارَهْ

“Maka apabila tangan seorang yang merdeka berhasil mendapatkan gandum, bantuan itu hanyalah sisa debu reruntuhan atau serbuk kayu.”

إِنَّ بَيْتِي يَقُولُ قَدْ طَالَ عَهْدِي بِدُخُولِ التِّلِّيسِ لِي وَالشِّكَارَهْ

“Sesungguhnya rumahku berkata: Sungguh telah lama aku tidak dimasuki oleh karung anyaman daun kurma[22] maupun karung gandum.”

وَطَعَامٍ قَدْ كَانَ يَعْهَدُهُ النَّا سُ مَتَاعًا لَهُمْ وَلِلسَّيَّارَهْ

“Dan bahan makanan yang dahulu dikenal manusia sebagai bekal nikmat bagi mereka dan para musafir.”

فَالْكَوَانِينُ مَا تُعَابُ مِنَ الْبَرْدِ بِطَبَّاخَةٍ وَلَا شَكَّارَهْ

“Maka tungku-tungku perapian[23] tidak lagi dicela karena dingin tanpa ada juru masak yang memasak di atasnya.”

لَا بِسَاطٌ وَلَا حَصِيرٌ بِدِهْلِـ ـيزٍ وَلَا مَجْلِسِي وَلَا طَيَّارَهْ

“Tidak ada permadani dan tidak pula tikar di lorong rumahku, tidak ada tempat duduk maupun ruangan atas yang nyaman.”[24]

[3] Ia juga meminta makanan khas berupa kue kunafah kepada orang lain di bulan Puasa Romadhon, seraya mengucap dalam syairnya:

مَا أَكَلْنَا فِي ذَا الصِّيَامِ كُنَافَه آهِ وَا بُعْدَهَا عَلَيْنَا مَسَافَه

“Kami belum pernah memakan kue kunafah sepanjang Puasa ini, aduhai betapa jauhnya jarak untuk mendapatkannya bagi kami.”

قَالَ قَوْمٌ إِنَّ الْعِمَادَ كَرِيمٌ قُلْتُ هَذَا عِنْدِي حَدِيثُ خُرَافَه

“Orang-orang berkata bahwa Al-‘Imad adalah sosok yang dermawan, namun aku katakan bahwa tuduhan itu di mataku hanyalah berita khurofat.”

أَنَا ضَيْفٌ لَهُ وَقَدْ مُتُّ جُوعًا لَيْتَ شِعْرِي لِمَ لَا تُعَدُّ الضِّيَافَه

“Aku adalah tamunya padahal aku hampir mati kelaparan, duhai seandainya aku tahu mengapa hidangan jamuan tidak kunjung disiapkan.”

وَهْوَ إِنْ يُطْعِمِ الطَّعَامَ فَمَا يُطْـ ـعِمُهُ إِلَّا بِسُمعَةٍ أَوْ مَخَافَه

“Kalaupun ia memberi makanan, ia tidak akan memberikannya melainkan karena mencari popularitas (sum’ah) atau karena rasa takut.”[25]

[4] Ia juga pernah mencela sekelompok orang secara berlebihan hanya karena mereka mencuri keledai betina miliknya, di mana ia melampaui batas dalam melontarkan celaan hanya demi 1 ekor keledai:

أَرَى الْمُسْتَخْدِمِينَ مَشَوْا جَمِيعًا عَلَى غَيْرِ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ

“Aku melihat para pegawai pemerintah seluruhnya berjalan di luar Shiroth (jalan) yang lurus.”

مَعَاشِرُ لَوْ وَلُوا جَنَّاتِ عَدْنٍ لَصَارَتْ مِنْهُمُ نَارَ الْجَحِيمِ

“Sekelompok orang yang seandainya mereka menguasai Jannah ‘Adn, niscaya Jannah itu akan berubah menjadi Naar Jahim akibat ulah mereka.”

فَمَا مِنْ بَلْدَةٍ إِلَّا وَمِنْهُمْ عَلَيْهَا كُلُّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ

“Maka tidak ada 1 negeri pun melainkan di dalamnya terdapat setiap syaithon yang terkutuk dari golongan mereka.”

فَلَوْ كَانَ النُّجُومُ لَهَا رُجُومًا لَقَدْ خَلَتِ السَّمَاءُ مِنَ النُّجُومِ

“Seandainya bintang-bintang di langit dijadikan alat melempar mereka, niscaya langit telah kosong dari keberadaan bintang-bintang.”[26]

[5] Al-Bushiri (696 H) juga sosok yang berguncang kepribadiannya, senantiasa mengekor hawa nafsu dan ketamakannya. Ketika penganut Nashroni tidak memberinya hadiah makanan pada hari raya mereka (hari raya Al-Masih menurut klaim mereka), ia langsung mencela penganut Nashroni dan memuji penganut Yahudi demi menyakiti hati kaum Nashroni:

يَهُودُ بِلْبِيسَ كُلَّ عِيدٍ أَفْضَلُ عِنْدِي مِنَ النَّصَارَى

“Orang-orang Yahudi di kota Bilbeis[27] pada setiap hari raya jauh lebih utama menurut pandanganku daripada orang-orang Nashroni.”

أَمَا تَرَى الْبَغْلَ وَهْوَ بَغْلٌ فِي فَضْلِهِ يَفْضُلُ الْحِمَارَا

“Tidakkah engkau melihat bahwa keledai bagal, meskipun ia seekor bagal, keutamaannya tetap mengungguli keledai biasa?”[28]

Namun ketika orang-orang Nashroni mengancam keselamatan dirinya, ia segera menarik kembali ucapannya, balik memuji penganut Nashroni dan mencela penganut Yahudi:

مَا لِلنَّصَارَى إِلَيَّ ذَنْبٌ وَإِنَّمَا الذَّنْبُ لِلْيَهُودِ

“Sama sekali orang-orang Nashroni tidak memiliki dosa terhadapku, melainkan dosa sepenuhnya ada pada kaum Yahudi.”

وَكَيْفَ تَفْضِيلُهُمْ وَفِيهِمْ سِرُّ الْخَنَازِيرِ وَالْقُرُودِ

“Bagaimana mungkin mereka diutamakan padahal di dalam diri mereka tersimpan hakikat kejelekan babi dan kera?”[29]

2.4 Sanjungan Berlebihan kepada Para Penguasa

Adapun sanjungan Al-Bushiri (696 H) kepada para Sultan dan penguasa zamannya demi mengemis harta kekayaan mereka, maka hal itu sangat banyak dan Diwan syairnya penuh dengan hal tersebut (lihat halaman 81, 84, 112, 116, 120, 128, 140, 147, 150, 228, dan lainnya dari Diwan Al-Bushiri cetakan Ath-Thobba’). Sebagian besar qoshidah pujiannya tidak lepas dari penyimpangan ghuluw terhadap pihak yang dipuji. Di antara contohnya adalah ucapannya saat memuji Menteri Zainud Din Ash-Shohibiy:

أَهْلُ التُّقَى وَالْعِلْمِ أَهْلُ السُّؤْدُدِ فَأَخُو السِّيَادَةِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ

“Para pemilik ketaqwaan dan ilmu adalah para pemilik kemuliaan, maka pemilik kepemimpinan yang sejati adalah Ahmad bin Muhammad.”

الصَّاحِبُ بْنُ الصَّاحِبِ بْنِ الصَّاحِـ ـبِ الْحَبْرُ الْهُمَامُ السَّيِّدُ ابْنُ السَّيِّدِ

“Sang menteri putra menteri putra menteri, ulama besar yang pemberani, tuan putra dari seorang tuan.”

لَا تُشْرِكَنَّ بِهِ امْرَأً فِي وَصْفِهِ فَتَكُونَ قَدْ خَالَفْتَ كُلَّ مُوَحِّدِ

“Janganlah engkau sekali-kali menysekutukan seorang pun dengan dirinya dalam sifat kemuliaannya, sehingga engkau menjadi orang yang menyelisih seluruh ajaran orang yang bertauhid!”

(lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 112; perhatikanlah sikap ghuluw yang sangat nyata dan berbahaya pada bait terakhir yang menyamakan larangan menysekutukan penguasa dengan ketauhidan!).

Ia juga memuji Ash-Shohib Baha’ud Din seraya meminta seekor keledai betina kepadanya, sekaligus mencela pejabat lain yang dekat dengan sang menteri karena dorongan rasa dengki:

صَاحِبٌ لَا يَزَالُ بِالْجُودِ وَالْإِفْـ ـضَالِ طَلْقَ الْيَدَيْنِ حُلْوَ الْعِبَارَهْ

“Beliau adalah menteri yang senantiasa dermawan dan memberi keutamaan, terbuka kedua tangannya serta manis tutur katanya.”

كَمْ هَدَانَا مِنْ فَضْلِهِ بِكِتَابٍ مُعْجِزٍ مِنْ عُلُومِهِ بِأَثَارَهْ

“Betapa sering beliau memberi petunjuk kepada kami dari keutamaannya melalui tulisan mukjizat yang berasal dari peninggalan ilmunya.”

إِنَّمَا يَذْكُرُ الْعَطِيَّةَ مَنْ كَا نَتْ عَطَايَاهُ تَارَةً بَعْدَ تَارَهْ

“Hanyalah orang yang menyebut-nyebut pemberian itu adalah orang yang pemberiannya terjadi sesekali saja.”

سَيِّدِي أَنْتَ نُصْرَتِي كُلَّمَا شَنَّ عَلَيَّ الزَّمَانُ بِالْفَقْرِ غَارَهْ!

“Wahai tuanku, engkau adalah penolongku setiap kali zaman melancarkan serangan kemiskinan atas diriku!”

شَابَ رَأْسِي وَمَا رَأَسْتُ كَأَنِّي زَامِرُ الْحَيِّ أَوْ صَغِيرُ الْحَارَهْ

“Rambutku telah beruban namun aku belum juga menjadi pemimpin, seolah-olah aku ini hanya peniup seruling perkampungan atau anak kecil di lorong.”

وَابْنُ عِمْرَانَ وَهْوَ شَرُّ مَتَاعٍ لِلْوَرَى فِي بِطَانَةٍ وَظِهَارَهْ

“Sementara Ibnu ‘Imron adalah sejelek-jelek perhiasan bagi manusia, baik tampak dari luar maupun dari dalam.”

حَسَّنَ الْقُرْبُ مِنْكُمْ قُبْحَ ذِكْرَا هُ كَتَحْسِينِ الْمِسْكِ ذِكْرَ الْفَارَهْ

“Kedekatannya dengan kalian telah memperindah sebutan namanya yang buruk, sebagaimana minyak kasturi memperindah sebutan bau tikus.”

فَهْوَ فِي الْمَدْحِ قَطْرَةٌ مِنْ سَحَابِي وَهُوَ فِي الْهَجْوِ مِنْ زِنَادِي شَرَارَهْ

“Maka ia dalam pujian hanyalah setetes air dari awanku, sedangkan dalam celaan ia adalah percikan api dari pemantikku.”

مَا لَهُ مِيزَةٌ عَلَيَّ سِوَى أَنَّـ ـهُ لَهُ بَغْلَةٌ وَمَا لِي حِمَارَهْ

“Tidak ada keutamaan yang ia miliki melebihi diriku selain ia memiliki seekor keledai bagal sedangkan aku tidak memiliki seekor keledai pun!”

(lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 117).

Ia kembali memujinya pada kesempatan lain seraya mengadukan kondisi keluarganya:

يَا أَيُّهَا الْمَوْلَى الْوَزِيرُ الَّذِي أَيَّامُهُ طَائِعَةٌ أَمْرَهُ!

“Wahai tuan menteri yang hari-hari zamannya tunduk patuh kepada perintahnya!”

وَمَنْ لَهُ مَنْزِلَةٌ فِي الْعُلَا تَكِلُّ عَنْ أَوْصَافِهَا الْفِكْرَهْ

“Dan sosok yang memiliki kedudukan tinggi di tempat yang luhur, sampai-sampai pikiran lemah untuk menggambarkan sifat-sifatnya.”

أَخْلَاقُكَ الْغُرُّ دَعَتْنَا إِلَى الْإِ دْلَاءِ فِي الْقَوْلِ عَلَى غِرَّهْ

“Akhlakmu yang cemerlang telah mendorong kami untuk menyampaikan ucapan secara berani tanpa persiapan.”

إِلَيْكَ نَشْكُو حَالَنَا إِنَّنَا عَائِلَةٌ فِي غَايَةِ الْكَثْرَهْ

“Hanya kepadamulah kami mengadukan keadaan kami, bahwasanya kami adalah keluarga yang sangat banyak jumlah anggotanya.”

صَامُوا مَعَ النَّاسِ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا لِمَنْ يُبْصِرُهُمْ عِبْرَهْ

“Mereka berpuasa bersama masyarakat, namun keberadaan mereka menjadi ikhtibar pelajaran bagi siapa saja yang melihat mereka.”

فَارْحَمْهُمُ إِنْ أَبْصَرُوا كَعْكَةً فِي يَدِ طِفْلٍ أَوْ رَأَوْا تَمْرَهْ

“Maka kasihanilah mereka jika mereka melihat sekeping kue di tangan anak kecil atau melihat sebutir kurma.”

تَشْخَصُ أَبْصَارُهُمْ نَحْوَهَا بِشَهْقَةٍ تَتْبَعُهَا زَفْرَهْ

“Pandangan mata mereka terbelalak menatapnya dengan helaan nafas panjang yang diiringi isakan kesedihan.”

 

Bab 3: Bedah Kerusakan Aqidah dalam Qoshidah Burdah dan Syair Al-Bushiri

3.1 Ekstremitas Nur Muhammad dan Penguasaan Ilmu Ghoib

Al-Bushiri (696 H) sangat terkenal dengan gubahan syairnya dalam bidang pujian kepada Nabi ﷺ. Karya syairnya diakui sebagai gubahan yang berderajat tinggi dan sangat indah seandainya tidak diwarnai oleh paham ghuluw. Siapa saja yang membaca qoshidah-qoshidahnya seperti Qoshidah Burdah Mimiyyah, Qoshidah Hamziyyah, serta qoshidah-qoshidah lain dalam Diwan-nya, niscaya akan melihat secara jelas konsistensi Al-Bushiri (696 H) dalam menyebarkan pemahaman ghuluw. Bait-baitnya yang bersifat global dan mengandung berbagai spektrum makna dalam 1 qoshidah, dijelaskan dan dipertegas secara eksplisit oleh bait-bait lain dalam qoshidah yang berbeda, sehingga tidak ada celah untuk membebaskannya dari tuduhan penyimpangan Aqidah ini. Berikut adalah beberapa pembuktiannya:

Ucapan Al-Bushiri (696 H) dalam Qoshidah Burdah:

فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Karena sesungguhnya di antara kedermawananmu (wahai Nabi) adalah terciptanya dunia dan Akhiroh, dan di antara ilmumu adalah ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh dan Qolam.”

Bait ini dikuatkan oleh bait ke-5 dari Qoshidah Al-Hamziyyah:

لَكَ ذَاتُ الْعُلُومِ مِنْ عَالِمِ الْغَيْـ ـبِ وَمِنْهَا لِآدَمَ الْأَسْمَاءُ

“Bagimu (wahai Nabi) adalah hakikat ilmu-ilmu yang berasal dari Dzat Yang Maha Mengetahui Perkara Ghoib, dan di antara ilmu itu adalah ilmu nama-nama benda yang diberikan kepada Adam.”

Oleh karena itu, Al-Haitsami (974 H) menjelaskan bait ini dalam kitab syarahnya: “Bahwasanya Nabi Adam ‘alaihissalam tidaklah mendapatkan bagian dari ilmu melainkan sebatas pengetahuan tentang nama-nama benda semata, sedangkan yang didapatkan oleh Nabi kita ﷺ adalah ilmu tentang hakikat-hakikat benda dan pemilik nama tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa ilmu tentang hakikat ini jauh lebih tinggi dan lebih mulia daripada sekadar pengetahuan tentang nama-nama; sebab nama-nama itu dihadirkan hanyalah untuk menjelaskan pemilik nama, sehingga pemilik namalah yang menjadi tujuan utama sedangkan nama hanyalah media perantara. Betapa jauh perbedaan antara keduanya! Dan hal yang serupa adalah bahwa tujuan utama dari penciptaan Adam ‘alaihissalam tidak lain adalah untuk mengeluarkan Nabi kita ﷺ dari sulbinya, sehingga Nabi ﷺ adalah tujuan utama sedangkan Adam adalah media perantara. Dari sinilah sebagian ulama muhaqqiq menyatakan: Sesungguhnya para Malaikat bersujud kepada Adam hanyalah karena keberadaan cahaya Muhammad ﷺ yang ada di jidatnya!”[30]

Kita berlindung kepada Alloh ﷻ dari kesesatan paham ini!.[31]

Al-Bushiri (696 H) sama seperti penganut ghuluw Tasawwuf lainnya yang meyakini bahwa alam dunia beserta seluruh isinya tidaklah diciptakan melainkan hanya demi keberadaan Muhammad ﷺ dan cahaya Muhammad ﷺ. Keyakinan ini ia tuangkan dalam Qoshidah Burdah maupun karya lainnya. Ia berkata dalam Qoshidah Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُو إِلَى الدُّنْيَا ضَرُورَةُ مَنْ لَوْلَاهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَدَمِ

“Bagaimana mungkin kebutuhan duniawi dapat menarik perhatian sosok yang seandainya bukan karena dirinya, niscaya alam dunia tidak akan pernah keluar dari ketiadaan?”

Dan ia berkata:

وَكُلُّ آيٍ أَتَى الرُّسْلُ الْكِرَامُ بِهَا فَإِنَّمَا اتَّصَلَتْ مِنْ نُورِهِ بِهِمِ

“Dan setiap mukjizat yang dibawa oleh para Rosul yang mulia, hanyalah tersambung dan bersumber dari cahaya beliau kepada mereka.”

Dan ia berkata:

فَاقَ النَّبِيِّينَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلَا كَرَمِ

“Beliau mengungguli seluruh Nabi dalam bentuk fisik dan keagungan akhlak, dan mereka tidak mampu mendekati tingkatan ilmu maupun kedermawanannya.”

وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ مُلْتَمِسٌ غَرْفًا مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفًا مِنَ الدِّيَمِ

“Dan seluruh Nabi tersebut memohon bantuan dari Rosululloh ﷺ, baik berupa segayung air dari lautan ilmunya atau setetes tegukan dari hujan lebat keutamaannya.”

Dan ia menegaskan makna ini dalam Qoshidah Al-Hamziyyah:

كُلُّ فَضْلٍ فِي الْعَالَمِينَ فَمِنْ فَضْلِ النَّبِيِّ اسْتَعَارَهُ الْفُضَلَاءُ

“Setiap keutamaan yang ada di alam semesta ini, hanyalah pinjaman dari keutamaan Nabi ﷺ yang dipinjam oleh orang-orang utama.”

Al-Haitsami (974 H) menjelaskan dalam Syarh Al-Burdah: “Maksud kalimat ‘hanyalah tersambung dari cahayanya kepada mereka’ adalah sampai dari beliau kepada mereka dengan jalan pengambilan bantuan (istimdad). Hal itu karena cahaya Nabi ﷺ telah diciptakan sebelum Nabi Adam ‘alaihissalam diciptakan, bahkan sebelum seluruh ciptaan yang ada di langit dan bumi serta selainnya.”[32]

Pemikiran ini jelas merupakan khurofat dan rekaan mistis kaum sufi; sebab Nabi Muhammad ﷺ adalah anak keturunan Adam ‘alaihissalam yang lahir jauh setelah penciptaan Adam ‘alaihissalam, maka bagaimana mungkin cahaya beliau diciptakan sebelum penciptaan Adam ‘alaihissalam?! Semoga Sholawat dan salam Alloh ﷻ senantiasa tercurah kepada beliau. Al-Haitsami (974 H) menambahkan dalam Syarh Al-Hamziyyah: “Karena Nabi ﷺ adalah pemberi bantuan limpahan (mumidd) bagi seluruh Nabi; sebab beliau adalah satu-satunya pewaris al-hadhoroh al-ilahiyyah yang mengambil limpahan darinya secara langsung tanpa perantara, sedangkan selain beliau tidak dapat mengambil limpahan karunia kecuali melalui perantara beliau ﷺ. Maka tidaklah sampai suatu kebaikan kepada manusia yang sempurna melainkan itu merupakan bagian dari bantuan beliau yang mengalir melalui kedua tangan beliau. Oleh sebab itu, mukjizat setiap Nabi hanyalah dipetik dari cahaya beliau; sebab beliau bagaikan matahari sedangkan para Nabi bagaikan bintang-bintang yang tidak memiliki cahaya mandiri melainkan mengambil dari cahaya matahari. Apabila matahari terbenam, barulah bintang-bintang menampakkan cahayanya. Maka para Nabi sebelum keberadaan fisik beliau ﷺ hanyalah menampakkan keutamaan beliau, dan cahaya mereka dipetik dari cahayanya yang melimpah serta bantuannya yang sangat luas.”[33]

Ini adalah dalih yang sama sekali tidak memiliki pijakan bukti, baik dari wahyu (naql) maupun akal sehat (‘aql), tanpa kendali dan tanpa ikatan syar’i!

3.2 Istighotsah dan Pembatal Tauhid dalam Syair

Dalam Qoshidah Burdah terdapat bait-bait istijaroh (memohon perlindungan) dan istighotsah (memohon pertolongan keselamatan) kepada Nabi ﷺ ketika Al-Bushiri (696 H) mengucapkan:

مَا سَامَنِي الدَّهْرُ ضَيْمًا وَاسْتَجَرْتُ بِهِ إِلَّا وَنِلْتُ جِوَارًا مِنْهُ لَمْ يُضَمِ

“Tidaklah zamanku menimpa diriku dengan suatu kezholiman lalu aku memohon perlindungan kepada beliau, melainkan aku mendapatkan perlindungan darinya yang tidak dapat ditembus oleh kejahatan.”

وَلَا الْتَمَسْتُ غِنَى الدَّارَيْنِ مِنْ يَدِهِ إِلَّا الْتَمَسْتُ النَّدَى مِنْ خَيْرِ مُسْتَلَمِ

“Dan tidaklah aku memohon kekayaan di dunia dan Akhiroh dari tangan beliau, melainkan aku telah memohon kedermawanan dari sebaik-baik sosok yang dimintai bantuan.”

Makna dari bait ini adalah: Tidaklah orang-orang di zamanku menzholimi diriku pada suatu waktu lalu aku meminta kepada Nabi ﷺ agar memasukkan diriku ke dalam perlindungan beliau untuk memeliharaku dari kezholiman zaman, melainkan beliau senantiasa mendekatkanku kepadanya.[34]

Praktik istighotsah kepada Nabi ﷺ sangat banyak tersebar dalam syair-syair Al-Bushiri (696 H)—dan istighotsah kepada selain Alloh ﷻ merupakan perkara yang jauh lebih buruk dan menakutkan daripada sekadar tawassul, meskipun sebagian orang mencampuradukkan kedua istilah ini karena kebodohan atau untuk mengaburkan hakikat.

Bait-bait ghuluw dalam karya Al-Bushiri (696 H) tidak hanya terbatas pada Qoshidah Burdah saja, melainkan dalam karya-karya lainnya terdapat ungkapan yang jauh lebih parah dan ekstrem. Di antaranya adalah ucapannya:

يَا نَبِيَّ الْهُدَى اسْتِغَاثَةُ مَلْهُو فٍ أَضَرَّتْ بِحَالِهِ الْحَوْبَاءُ

“Wahai Nabi petunjuk, ini adalah jeritan istighotsah dari seorang yang menderita kesusahan, yang dosanya telah merusak keadaannya.”

يَدَّعِي الْحُبَّ وَهْوَ يَأْمُرُ بِالسُّو ءِ وَمَنْ لِي أَنْ تَصْدُقَ الرَّغْبَاءُ

“Ia mengaku mencintaimu padahal jiwanya senantiasa menyuruh kepada kejahatan, dan siapakah penolong bagiku agar keinginanku ini menjadi kenyataan?”

hingga ia katakan:

هَذِهِ عِلَّتِي وَأَنْتَ طَبِيبِي لَيْسَ يَخْفَى عَلَيْكَ فِي الْقَلْبِ دَاءُ

“Inilah penyakitku dan engkaulah tabib penyembuhku, tidak ada satu pun penyakit di dalam hati yang tersembunyi bagimu.”

وَمِنَ الْفَوْزِ أَنْ أَبُثَّكَ شَكْوَى هِيَ شَكْوَى إِلَيْكَ وَهِيَ اقْتِضَاءُ

“Dan termasuk keberuntungan besar bagiku adalah aku menyampaikan pengaduan kepadamu, suatu pengaduan yang ditujukan kepadamu dan menjadi penuntut pemenuhan hajat.”[35]

Bahkan lebih dahsyat dari itu adalah tindakannya yang berdoa kepada Nabi ﷺ agar memaafkan dosa-dosanya dan menerima uzur kesalahannya melalui ucapannya:

يَا مَنْ خَزَائِنُ جُودِهِ مَمْلُوءَةٌ كَرَمًا وَبَابُ عَطَائِهِ مَفْتُوحُ

“Wahai sosok yang gudang-gudang kedermawanannya penuh dengan kemurahan, dan pintu pemberiannya senantiasa terbuka lebar.”

نَدْعُوكَ عَنْ فَقْرٍ إِلَيْكَ وَحَاجَةٍ وَمَجَالُ فَضْلِكَ لِلْعُفَاةِ فَسِيحُ

“Kami berdoa kepadamu karena fakir dan butuhnya kami kepadamu, sementara lapangan keutamaanmu sangat luas bagi orang-orang yang memohon ampun.”

فَاصْفَحْ عَنِ الْعَبْدِ الْمُسِيءِ تَكَرُّمًا إِنَّ الْكَرِيمَ عَنِ الْمُسِيءِ صَفُوحُ

“Maka maafkanlah hamba yang berbuat dosa ini sebagai bentuk kemurahan hatimu, karena sesungguhnya sosok yang mulia senantiasa memaafkan orang yang berbuat kejahatan.”

وَاقْبَلْ رَسُولَ اللهِ عُذْرَ مُقَصِّرٍ هُوَ إِنْ قَبِلْتَ بِمَدْحِكَ الْمَمْدُوحُ

“Dan terimalah uzur penyesalan dari orang yang lalai ini wahai Rosululloh, dialah orang yang terpuji dengan memujimu jika engkau menerima uzurnya.”

فِي كُلِّ وَادٍ مِنْ صِفَاتِكَ هَائِمٌ وَبِكُلِّ سِرٍّ مِنْ نَدَاكَ سَبُوحُ

“Ia mengembara di setiap lembah sifat-sifat keagunganmu, dan berenang dalam setiap rahasia kedermawananmu.”[36]

Di antara bentuk ghuluw lainnya adalah pengagungannya yang melampaui batas terhadap Asy-Syarifah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid bin Al-Hasan bin ‘Ali rodhiyallahu ‘anhum melalui ucapannya:

سَلِيلَةُ خَيْرِ الْعَالَمِينَ نَفِيسَةٌ سَمَتْ بِكِ أَعْرَاقٌ وَطَابَتْ مَحَاتِدُ

“Wahai putri keturunan sebaik-baik manusia di alam semesta, wahai Nafisah, nasab keturunanmu telah melambung tinggi dan asal-usulmu[37] sungguh sangat harum.”

إِذَا جَحَدَتْ شَمْسُ النَّهَارِ ضِيَاءَهَا فَفَضْلُكِ لَمْ يَجْحَدْهُ فِي النَّاسِ جَاحِدُ

“Apabila matahari di siang hari mengingkari cahayanya sendiri, niscaya keutamaanmu tidak akan pernah mampu diingkari oleh seorang pun penentang di antara manusia.”

بِآبائِكِ الْأَطْهَارِ زُيِّنَتِ الْعُلَا فَحَبَّاتُ عِقْدِ الْمَجْدِ مِنْهُمْ فَرَائِدُ

“Dengan perantara nenek moyangmu yang suci, tempat-tempat luhur dihiasi, sehingga permata-permata kalung kemuliaan dari mereka menjadi tiada tandingannya.”

وَرِثْتِ صِفَاتِ الْمُصْطَفَى وَعُلُومَهُ فَفَضْلُكُمَا لَوْلَا النُّبُوَّةُ وَاحِدُ!

“Engkau mewarisi sifat-sifat Al-Musthofa ﷺ dan ilmu-ilmunya, maka keutamaan kalian berdua seandainya bukan karena derajat Kenaikan Nubuwwah niscaya adalah sama!”[38]

3.3 Kekeliruan Syar’i Lainnya dalam Qoshidah Burdah

Di samping penyimpangan di atas, dalam Qoshidah Burdah terdapat kekeliruan-kekeliruan Syar’i lain yang perlu kita lewati secara ringkas agar tidak ada orang yang mengira bahwa kesalahan Burdah hanya terbatas pada 2 atau 3 bait saja. Di antaranya adalah:

[1] Bersumpah dengan selain Alloh ﷻ:

Ucapan Al-Bushiri (696 H):

أَقْسَمْتُ بِالْقَمَرِ الْمُنْشَقِّ إِنَّ لَهُ مِنْ قَلْبِهِ نِسْبَةً مَبْرُورَةَ الْقَسَمِ

“Aku bersumpah demi bulan yang terbelah, bahwasanya bulan itu memiliki hubungan emosional dari hatinya yang membuktikan kebenaran sumpah ini.”

Perbuatan ini adalah bentuk bersumpah dengan selain Dzat Alloh ﷻ yang harom hukumnya dalam Syariat.

[2] Melampaui Batas dalam Memuji Nabi ﷺ:

Ucapan Al-Bushiri (696 H):

دَعْ مَا ادَّعَتْهُ النَّصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيهِ وَاحْتَكِمِ

“Tinggalkanlah apa yang diklaim oleh penganut Nashroni terhadap Nabi ﷺ mereka, lalu tetapkanlah sanjungan pujian apa saja yang engkau kehendaki untuk beliau dan putuskanlah.”

Seolah-olah gubahan ini menyatakan: Pujilah Nabi kita Muhammad ﷺ dengan sanjungan apa saja yang engkau sukai, asalkan pujianmu tidak sampai pada tingkatan mempertuhankan beliau sebagaimana yang dilakukan oleh penganut Nashroni terhadap Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Pemahaman ini adalah batil. Makna hadits Nabi ﷺ:

«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ»

“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana kaum Nashroni berlebihan memuji ‘Isa putra Maryam.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)

Bukanlah bermakna: Silakan puji aku sebebas-bebasnya asal tidak sampai menganggapku sebagai anak Alloh atau oknum ke-3 dari yang 3!

Pemahaman tersebut keliru. Makna hadits yang shohih adalah: Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana kaum Nashroni melampaui batas dalam memuji Nabi mereka hingga sanjungan itu menyeret mereka kepada perbuatan mempertuhankannya.

[3] Mengklaim Jaminan Kebaikan Hanya Karena Nama Muhammad:

Ucapan Al-Bushiri (696 H):

فَإِنَّ لِي ذِمَّةً مِنْهُ بِتَسْمِيَتِي مُحَمَّدًا وَهْوَ أَوْفَى الْخَلْقِ بِالذِّمَمِ

“Karena sesungguhnya aku memiliki jaminan keselamatan dari beliau hanya karena namaku Muhammad, dan beliau adalah makhluk yang paling menepati jaminan.”

Klaim ini tidak benar secara Syariat; sebab tidak setiap orang yang bernama Muhammad secara otomatis mendapatkan jaminan keselamatan dari Nabi ﷺ. Betapa banyak orang yang diberi nama Muhammad namun mereka tergolong ke dalam kelompok orang-orang fasik! Sangat disayangkan, banyak orang senantiasa mengulang-ulang bait ini dan bait lainnya seraya meyakini kebenaran maknanya.

[4] Menganjurkan Mencium dan Mencium Bau Tanah Kuburan Nabi ﷺ:

Ucapan Al-Bushiri (696 H):

لَا طِيبَ يَعْدِلُ تُرْبًا ضَمَّ أَعْظُمَهُ طُوبَى لِمُنْتَشِقٍ مِنْهُ وَمُلْتَثِمِ

“Tidak ada wewangian yang mampu menandingi keharuman tanah yang menghimpun tulang-jemulang beliau, sungguh beruntung orang yang mencium bau keharumannya dan menempelkan bibirnya mencium tanah itu.”

Al-Intisyaq bermakna menghirup wewangian, sedangkan al-iltitsam bermakna menempelkan wajah atau mencium. Penyair dalam bait ini mengajak masyarakat untuk menghirup dan mencium tanah kuburan Nabi ﷺ, dan hal ini tergolong ke dalam perbuatan ghuluw yang dilarang.

Kesimpulan dari seluruh pembahasan ini: Bahwa Al-Bushiri (696 H) tergolong ke dalam kelompok penganut ghuluw dari aliran Tasawwuf Syadziliyyah. Pembelaan dari orang-orang yang berupaya mencarikan uzur baginya pada sebagian bait atau mengarahkannya kepada makna yang baik sama sekali tidak berguna. Pembelaan semacam itu hanyalah dapat diterapkan bagi tokoh yang lurus Aqidahnya, benar manhaj dan jalannya, kemudian kakinya tergelincir dalam 1 atau 2 masalah saja. Sosok seperti inilah yang patut dicarikan uzur kekhilafannya. Adapun orang yang sejak awal menjadikan jalur ghuluw sebagai i'tiqod dan kebiasaan hidupnya, maka sejauh mana pun kita mencarikan uzur untuk 1 atau 2 bait syairnya, bagaimana dengan bait-bait lainnya yang tersisa?! Dan bagaimana pula dengan para pensyarah qoshidah-qoshidah ini yang terus menguatkan makna-makna ghuluw tersebut serta mengikutinya secara beruntun dalam kitab-kitab syarah mereka?!

 

Bab 4: Sisi Keindahan Sastra dan Bait-Bait Hikmah Al-Bushiri

Seluruh kritikan Aqidah di atas tidak menghalangi kita untuk mengakui serta memuji kekuatan gubahan syair Al-Bushiri (696 H) dan keindahan bahasanya, baik dalam syair pujian kepada Al-Musthofa ﷺ maupun bait-bait hikmah dan mutiara nasihat yang terkandung di dalamnya. Di antara gubahan pujian yang indah adalah ucapannya dalam Qoshidah Burdah:

أَكْرِمْ بِخَلْقِ نَبِيٍّ زَانَهُ خُلُقٌ بِالْحُسْنِ مُشْتَمِلٌ بِالْبِشْرِ مُتَّسِمِ

“Betapa mulianya bentuk fisik sang Nabi yang dihiasi oleh keagungan akhlaknya, fisik yang diliputi oleh keindahan dan senantiasa ditandai oleh keceriaan wajah.”

كَالزَّهْرِ فِي تَرَفٍ وَالْبَدْرِ فِي شَرَفٍ وَالْبَحْرِ فِي كَرَمٍ وَالدَّهْرِ فِي هِمَمِ

“Beliau bagaikan bunga dalam kelembutannya, bagaikan bulan purnama dalam kemuliaannya, bagaikan lautan dalam kedermawanannya, dan bagaikan perjalanan zaman dalam keteguhan cita-citanya.”

Dan ucapannya ketika menggambarkan keutamaan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum:

هُمُ الْجِبَالُ فَسَلْ عَنْهُمْ مُصَادِمَهُمْ مَاذَا لَقِيَ مِنْهُمْ فِي كُلِّ مُصْطَدَمِ

“Mereka bagaikan gunung-gunung yang kokoh, maka tanyakanlah kepada musuh yang membentur mereka tentang dahsyatnya balasan yang mereka terima pada setiap pertempuran.”

وَسَلْ حُنَيْنًا وَسَلْ بَدْرًا وَسَلْ أُحُدًا فُصُولُ حَتْفٍ لَهُمْ أَدْهَى مِنَ الْوَخَمِ

“Dan tanyakanlah kepada Perang Hunain, Perang Badr, serta Perang Uhud, kejadian-kejadian kematian bagi musuh di sana jauh lebih mengerikan daripada wabah penyakit yang mematikan.”

كَأَنَّهُمْ فِي ظُهُورِ الْخَيْلِ نَبْتُ رُبًى مِنْ شِدَّةِ الْحَزْمِ لَا مِنْ شِدَّةِ الْحُزُمِ

“Seolah-olah mereka saat berada di atas punggung kuda bagaikan pepohonan yang tumbuh kokoh di atas bukit, karena sangat teguhnya ketetapan hati mereka dan bukan sekadar karena kencangnya ikatan tali pelana.”

Dalam Qoshidah Burdah juga terdapat banyak nasihat hikmah, seperti ucapannya:

وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تُفْطِمْهُ يَنَفَطِمِ

“Nafsu itu bagaikan bayi kecil, jika engkau membiarkannya niscaya ia akan tumbuh besar dalam keadaan terus menyukai susuan, namun jika engkau menyapihnya niscaya ia akan tersapih.”

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ إِنَّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصْمِ أَوْ يَصِمِ

“Maka palingkanlah hawa nafsu itu dan berhati-hatilah jangan sampai engkau memberinya kekuasaan, karena sesungguhnya hawa nafsu apabila telah berkuasa niscaya ia akan membunuh.”[39]

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِي الْأَعْمَالِ سَائِمَةٌ وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلَا تُسِمِ

“Dan gembalakanlah nafsu itu ketika ia sedang beramal, jika ia menganggap manis suatu padang rumput penggembalaan maka janganlah engkau membiarkannya bebas merumput.”

كَمْ حَسَّنَتْ لَذَّةً لِلْمَرْءِ قَاتِلَةً مِنْ حَيْثُ لَمْ يَدْرِ أَنَّ السُّمَّ فِي الدَّسَمِ

“Betapa sering hawa nafsu menghiasi kelezatan yang mematikan bagi seseorang, dari arah yang tidak ia sadari bahwasanya racun mematikan telah disusupkan di dalam lemak gurih.”

قَدْ تُنْكِرُ الْعَيْنُ ضَوْءَ الشَّمْسِ مِنْ رَمَدٍ وَيُنْكِرُ الْفَمُ طَعْمَ الْمَاءِ مِنْ سَقَمِ

“Terkadang mata mengingkari indahnya cahaya matahari karena penyakit belekan, dan mulut mengingkari manisnya rasa air karena penyakit tubuh.”

وَاسْتَفْرِغِ الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَلَأَتْ مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ

“Dan tumpahkanlah air mata dari mata yang telah penuh dengan pandangan harom, serta peganglah erat-erat benteng penyesalan.”

وَخَالِفِ النَّفْسَ وَالشَّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا وَإِنْ هُمَا مَحَّضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ

“Dan selisihilah kehendak hawa nafsu serta syaithon dan durhakailah keduanya, meskipun keduanya memberikan nasihat murni kepadamu maka tetap curigailah ucapan mereka.”

وَلَا تُطِعْ مِنْهُمَا خَصْمًا وَلَا حَكَمًا فَأَنْتَ تَعْرِفُ كَيْدَ الْخَصْمِ وَالْحَكَمِ

“Dan janganlah engkau mematuhi salah satu dari keduanya baik sebagai musuh penantang maupun sebagai hakim penengah, karena engkau telah mengetahui tipu daya musuh dan penengah.”

Di antara karya syairnya yang sangat mengagumkan adalah ucapannya:

ذَهَبَ الشَّبَابُ وَسَوْفَ أَذْهَبُ مِثْلَمَا ذَهَبَ الشَّبَابُ وَمَا امْرُؤٌ بِمُخَلَّدِ

“Masa muda telah pergi berlalu dan aku pun akan pergi menyusul sebagaimana perginya masa muda, dan tidak ada seorang pun manusia yang kekal abadi.”

إِنَّ الْفَنَاءَ لِكُلِّ حَيٍّ غَايَةٌ مَحْتُومَةٌ إِنْ لَمْ يَكُنْ فَكَأَنْ قَدِ

“Sesungguhnya kebinasaan bagi setiap makhluk hidup adalah batas akhir yang telah ditetapkan pasti, jika hal itu belum terjadi sekarang maka seolah-olah ia sudah tiba.”[40]

 

Penutup

Saya memohon kepada Alloh ﷻ agar memberikan petunjuk kepada kaum Mu’minin yang tersesat, serta mengembalikan mereka kepada kebenaran dengan pengembalian yang indah.

Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada kekasih kita, tuan kita, dan Nabi kita Muhammad ﷺ hamba Alloh ﷻ dan Rosul-Nya, beserta seluruh keluarga dan Shohabatnya.



[1] Tashthir syair adalah menambahkan pada setiap separuh bait, satu separuh bait lain ciptaan sendiri. (Mu’jam Al-Lughoh Al-‘Arobiyyah Al-Mu’ashiroh, 2/1199)

[2] Takhmis syair adalah susunan bait yang rima akhirnya berbeda namun disatukan oleh rima yang sama setelah 2, 3, atau lebih bait, yakni dibangun di atas 5 bagian. (Ash-Shihah karya Al-Jauhari (393 H), 3/1134, dan Taj Al-‘Arus karya Az-Zabidi (1205 H), 16/28)

[3] Tasbi’ dalam arudh adalah susunan syair yang dibangun di atas 7 bagian. (Al-Muhkam wa Al-Muhith Al-A’zhom karya Ibnu Sidah (458 H), 1/506)

[4] Mu’arodhoh syi’riyyah adalah gubahan syair yang meniru qoshidah lain dalam tema dan wazan; menurut para ahli balaghoh merupakan ungkapan yang serupa dengan ucapan orang lain baik dalam wazan, qofiyah, rodif, maupun seni gubahannya. (Kasysyaf Ishthilahat Al-Funun wa Al-‘Ulum karya At-Tahanawi (1158 H), 2/1479)

[5] Lihat: Al-Madaihun Nabawiyyah karya Mahmud ‘Ali Makki (1434 H), hlm. 119, dan Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah karya Al-Haitsami (974 H), hlm. 53

[6] Jumlah syarah Qoshidah Burdah bahkan jauh melampaui jumlah syarah kitab-kitab As-Sunnah seperti Shohih Muslim dan Al-Kutub Al-Arba’ah, apalagi kitab-kitab lainnya

[7] Lihat: Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 41; pentahqiqnya menyatakan: “Masyarakat senantiasa mengambil keberkahan dengannya di berbagai penjuru bumi; betapa banyak tampak darinya pengaruh nyata dalam menyembuhkan orang-orang sakit dari kalangan yang meyakini keutamaannya dan mengagungkannya sesuai kedudukannya, sehingga qoshidah tersebut menjadi sebab kesembuhan mereka serta perolehan berbagai kebaikan dan keberkahan dalam pembacaannya!”

[8] Lihat: Al-‘Umdah fi I’rob Al-Burdah karya ‘Abdulloh Jajah, hlm. 17, dan Al-Madaihun Nabawiyyah fi Al-Adab Al-‘Arobiy karya Zaki Mubarok, hlm. 142.

[9] Lihat: Al-Madaihun Nabawiyyah fi Al-Adab Al-‘Arobiy, hlm. 142.

[10] Lihat: Da’irotul Ma’arif Al-Islamiyyah, 3/528.

[11] Lihat: Diwan Al-Bushiri karya Sayyid Kilani, hlm. 29.

[12] Lihat: Hasyiyah Al-Bajuri ‘ala Al-Burdah, hlm. 4 dan kitab-kitab lainnya; hal ini telah disepakati dalam kitab-kitab mereka, namun sebagian mereka menyatakan bahwa Nabi ﷺ menyelimutinya dengan jubah, sementara sebagian lain menyatakan melontarkannya kepadanya.

[13] Lihat untuk kisah ini: Muqoddimah Burdatul Madih Al-Mubarokah, hlm. 15, dan Al-‘Umdah fi I’rob Al-Burdah, hlm. 19.

[14] Di antara para ulama tersebut adalah Al-‘Allamah Yaman, Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani (1250 H) dalam Ad-Durr An-Nadhid fi Ikhlash Kalimat At-Tauhid, hlm. 59, Al-‘Allamah Iraq, Mahmud Syukri Al-Alusi (1342 H) dalam Ghoyatul Amani fi Ar-Rodd ‘ala An-Nabhani, 2/349, serta banyak dari kalangan ulama kontemporer.

[15] Lihat sebagai contoh: Burdatul Madih Al-Mubarokah, hlm. 9, dan Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 41

[16] Al-Bushiri memiliki hubungan erat dengan Abu Al-Hasan Asy-Syadziliy (656 H) pendiri tarekat terkenal di kalangan sufi. Ketika Asy-Syadziliy wafat, ia berguru secara tetap kepada murid sekaligus pewaris tarekatnya, yaitu Abu Al-‘Abbas Al-Mursiy (686 H). Ia memuji Asy-Syadziliy dan tarekatnya dalam Diwan-nya, hlm. 105:

إِنَّ الْإِمَامَ الشَّاذِلِيَّ طَرِيقُهُ فِي الْفَضْلِ وَاضِحَةٌ لِعَيْنِ الْمُهْتَدِي

فَانْقُلْ وَلَوْ قَدَمًا عَلَى آثَارِهِ فَإِذَا فَعَلْتَ فَذَاكَ آخِذٌ بِالْيَدِ

وَاسْلُكْ طَرِيقَ مُحَمَّدِي شَرِيعَةً وَحَقِيقَةً وَمُحَمَّدِي الْمَحْتِدِ

“Sesungguhnya Al-Imam Asy-Syadziliy (656 H) jalan petunjuknya dalam keutamaan sangat terang benderang bagi mata orang yang mencari petunjuk. Maka pijakkanlah kakimu walau selangkah di atas jejak-jejak langkahnya, jika engkau melakukannya maka hal itu akan memegang tanganmu menuju keselamatan. Dan tempuhlah jalan Muhammad secara Syariat dan Hakikat, serta ikutilah sosok yang bernasab kepada Muhammad.”

Dan ia berkata memuji Abu Al-‘Abbas Al-Mursiy (686 H) dalam Diwan-nya, hlm. 108:

فَاصْحَبْ أَبَا الْعَبَّاسِ أَحْمَدَ آخِذًا يَدَ عَارِفٍ بِوَعْيِ النُّفُوسِ مُنَجِّدِ

فَإِذَا سَقَطْتَ عَلَى الْخَبِيرِ بِدَائِهَا فَاصْبِرْ لِمُرِّ دَوَائِهِ وَتَجَلَّدِ

“Maka pereratlah persahabatanmu dengan Abu Al-‘Abbas Ahmad (686 H) seraya memegang tangan seorang penjelajah spiritual yang memahami jiwamu dan memberikan pertolongan. Apabila engkau telah menemukan seorang ahli yang paham akan penyakit jiwamu, maka bersabarlah terhadap pahitnya obat darinya dan teguhkanlah dirimu.”

[17] Lihat: Syadzarot Adz-Dzahab karya Ibnul ‘Imad (1089 H), 5/432; Al-Wafi bil Wafayat karya Ash-Shofadi (764 H), 3/105; Fawatal Wafayat karya Al-Kutubi (764 H), 3/362; Al-Muqoffa Al-Kabir karya Al-Maqrizi (845 H), 5/661; dan Husnul Muhadhoroh karya As-Suyuthi (911 H), 1/570).

[18] Anda akan terkejut ketika membaca gelar-gelar yang disematkan oleh sebagian akademisi kontemporer kepadanya seperti: Al-Imam, Al-‘Alim, Al-‘Amil... Al-Haitsami (974 H) bahkan sangat berlebihan dalam memujinya pada Muqoddimah Syarh Al-Hamziyyah (1/105) dengan mengatakan: “Asy-Syaikh Al-Imam, Al-‘Arif Al-Kamil! Al-Humam, Al-Muhaqqiq, Al-Baligh, Al-Adib, Al-Mudaqqiq, Imam para penyair dan ulama paling berkemampuan syair, orator para ahli fashohah, serta filsuf yang paling fasih...!” Dan Al-Hasan bin Muhammad Al-Fasi (kontemporer) menyatakan saat menulis biografinya dalam Thoboqot Asy-Syadziliyyah Al-Kubro, hlm. 99: “Al-Imam Ar-Robbani, Al-’Arif Ash-Shomadani, Al-Ustadz Al-Fadhil, Al-Maladz Al-Kamil, Syams Al-Millah wa Burhan Al-Ummah, Syaikh Al-Muhaqqiqin wa Maladz Ahl At-Tamkin... beliau rodhiyallahu ‘anhu telah mencapai tingkatan Al-Ghoursiyyah Al-Kubro dan senantiasa berjumpa dengan Nabi ﷺ baik dalam keadaan sadar maupun tidur!”

[19] Hal ini disebutkan oleh Al-Maqrizi (845 H) dalam Al-Muqoffa Al-Kabir (5/664) dari Al-Ya’muri dalam Masalik Al-Abshor; beliau juga menyebutkan (5/669): “Diriwayatkan bahwa Al-Bushiri sangat minim pengetahuannya dalam keahlian seni tulis-menulis administrasi.”

[20] Al-Bushiri memiliki qoshidah panjang yang sangat indah berjudul Al-Makhroj wa Al-Mardud ‘ala An-Nashoro wa Al-Yahud yang menunjukkan keahliannya tentang mereka dan keyakinan mereka; lihat: Diwan Al-Bushiri karya Ath-Thobba’, hlm. 158.

[21] Lihat: Diwan Al-Bushiri karya Ath-Thobba’, hlm. 226.

[22] Tillis; wadah dari anyaman daun kurma menyerupai keranjang besar bagi peremas minyak zaitun, umum dipakai di Mesir untuk sebutan karung kain besar; Tahdzib Al-Lughoh karya Al-Azhari (370 H), 12/267, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/87.

[23] Kawanin adalah bentuk jamak dari kanun yaitu tungku perapian atau orang yang lambat dan gemar menyebarkan berita; Tahdzib Al-Lughoh karya Al-Azhari (370 H), 9/335, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/801.

[24] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 119; cermatilah seruan istighotsah-nya kepada Baha’ud Din pada bait pertama serta sikap ghuluw yang nyata pada bait ke-5!

[25] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 156.

[26] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 227; dan cermatilah tingkat ghuluw yang sangat berlebihan pada bait ke-2!

[27] Bilbeis adalah nama kota di Mesir bagian timur, berjarak 10 farsakh dari Fusthoth Mesir pada jalur menuju Syam; ditaklukkan pada tahun 18 H atau 19 H oleh ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhu (43 H); Mu’jam Al-Buldan karya Yaqut Al-Hamawi (626 H), 1/479, dan Taj Al-’Arus karya Az-Zabidi (1205 H), 15/466.

[28] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 149

[29] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 115.

[30] Al-Minah Al-Makkiyyah Syarh Al-Hamziyyah, 1/146.

[31] Perlu diketahui bahwa di antara perkara ghoib ada yang diperlihatkan oleh Alloh ﷻ kepada para Rosul yang diridhoi-Nya, termasuk Nabi kita Muhammad ﷺ. Namun Al-Bushiri (696 H) mengklaim bahwa seluruh isi Lauhul Mahfuzh hanyalah sebagian kecil dari ilmu yang dimiliki Nabi ﷺ, karena huruf ‘min’ pada kalimat ‘wa min ‘ulumika’ bermakna tab’idh atau menunjukkan bagian dari keseluruhan. Oleh karena itu Al-Haitsami (974 H) menegaskan dalam Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 699: “Bahwa Alloh memperlihatkan kepada beliau pada malam Isro’ seluruh isi Lauhul Mahfuzh, dan menambahkan untuk beliau ilmu-ilmu lain seperti rahasia-rahasia yang berkaitan dengan Dzat Alloh ﷻ dan sifat-sifat-Nya.” Ketika sebagian ulama pengikutnya merasa bingung dan berupaya keluar dari jerat kritikan tajam ini, mereka mendatangkan jawaban yang menggelikan: “Para pensyarah berkata bahwa yang dimaksud dengan Lauh adalah papan yang dipakai manusia untuk menulis, dan Qolam adalah pena yang dipakai untuk menulis, seolah-olah beliau berkata: Dan di antara ilmumu adalah ilmu manusia yang ditulis dengan pena mereka di atas papan tulis mereka!” Lihat: Naht Hadid Al-Bathil wa Burduh karya Dawud An-Naqsyabandi, hlm. 39, dan Al-Balsam Al-Murih min Syifa’ Al-Qolb Al-Jarih karya ‘Umar Kamil, hlm. 14.

[32] Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 289.

[33] Al-Minah Al-Makkiyyah Syarh Al-Hamziyyah, 2/652.

[34] Lihat: Al-‘Umdah Syarh Al-Burdah, hlm. 411-413.

[35] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 60.

[36] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 90.

[37] Mahatid adalah bentuk jamak dari mahtid yang bermakna asal-usul dan tabiat dasar; Lisan Al-‘Arob karya Ibn Manzhur (711 H), 3/139, dan Al-Mu’jam Al-Wasith, 1/154.

[38] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 92.

[39] Yushmi bermakna membunuh buruan saat memanahnya; Ash-Shihah karya Al-Jauhari (393 H), 5/2052) atau memberi cacat cela (yashim bermakna memberi aib dan celaan; Ash-Shihah karya Al-Jauhari (393 H), 6/2404).

[40] Lihat: Diwan Al-Bushiri, hlm. 103.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini