[PDF] Al-Fiqhul Akbar - Aqidah Imam Abu Hanifah (150 H)
Kontrofersi Rowi Kitab: Abu Muthi’
Al-Hakam
Dalam kaset rekaman nomor 52 dari rangkain silsilah kaset Al-Huda
wan Nuur, Al-Allamah Al-Albani rohimahulloh ditanya mengenai Aqidah
Imam Abu Hanifah rohimahulloh serta keberadaan karya tulis beliau dalam
permasalahan tersebut. Beliau menjawab:
“Yang
pertama, Imam Abu Hanifah tidak memiliki risalah Aqidah khusus yang
tertulis secara langsung dari jemari tangan beliau.
Kedua, adapun kitab yang dinisbahkan kepada beliau
yang dinamai Al-Fiqhul Akbar, jika ditinjau dari posisi kurun kehidupan
beliau yang sangat awal (wafat 150 H), beliau memang tidak meninggalkan karya
tulis bersambung secara langsung, melainkan meninggalkan para murid utama yang
meriwayatkan pemikiran beliau. Maka kitab yang dinisbahkan kepada beliau
tersebut pada hakikatnya merepresentasikan pokok-pokok keyakinan yang dipegang
teguh oleh para pengikut yang menisbahkan diri kepada Abu Hanifah.”
Kitab Al-Fiqhul Akbar yang dinisbahkan kepada Abu
Hanifah rohimahulloh telah disandarkan kepada beliau oleh sejumlah ulama
terkemuka dan berbobot tinggi. Di antara mereka adalah Ibnu Abil Izz (792 H) di
dalam karya beliau Syarhul Aqidah Thohawiyyah, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah (728 H) di dalam Dar-u Ta’arudhil Aql wan Naql, serta Ibnu
Qoyyim (751 H) di dalam Ijtima’ul Juyusyil Islamiyyah. Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyyah (728 H) pun menegaskan bahwa risalah tersebut amat masyhur dan
dikenal luas di kalangan para sahabat Mazhab Hanafi, di mana mereka
meriwayatkannya secara bersambung melalui jalur sanad dari Abu Muthi’
Al-Hakam bin Abdulloh Al-Balkhi dan ia seorang rowi yang lemah bahkan
Aqidahnya bermasalah. Namun, Dr. Muhammad Al-Khomis memiliki jalur lain, dari Hammad, putra Imam Abu Hanifah (akan disinggung di akhir).
Sebagian besar ulama peneliti yang kritis telah menolak
keabsahan nisbah kitab Al-Fiqhul Akbar kepada Imam Abu Hanifah. Di
antara yang menolak risalah ini adalah sejumlah peneliti ternama dari kalangan
internal Mazhab Hanafi sendiri, seperti Al-Kasymiri (1352 H) penyusun kitab Faidhul
Bari Syarh il Bukhori.
Pangkal utama munculnya keraguan dan cacat pada penisbahan
kitab ini kepada Abu Hanifah bersumber dari sosok Abu Muthi’ Al-Balkhi itu
sendiri, di mana ia berstatus lemah (dho’if) dalam periwayatan Hadits serta
tertuduh memiliki pemikiran berpenyakit dalam hal pemahaman Aqidah.
Ibnu Hajar Al-Asqolani (852 H) rohimahulloh
memaparkan keterangannya:
“Al-Hakam bin Abdulloh bin Muslim, Abu Muthi’ Al-Balkhi Al-Khurosani,
seorang ahli fiqih murid dari Abu Hanifah rohimahulloh... Ia memiliki
pandangan fiqih yang tajam, berilmu luas, dan berkedudukan tinggi, akan tetapi
hafalan dan penataan riwayatnya sangat rapuh... Yahya bin Ma’in (233 H)
menyatakan bahwa ia tidak ada nilainya, dan di kesempatan lain menyatakan ia lemah.
Al-Bukhori (256 H) menilai ia dho’if dan pengusung corak pemikiran rasional.
An-Nasa’i (303 H) menetapkan ia dho’if. Ibnu Al-Jauzi (597 H) dalam kitab Adh-Dhu’afa’
mencatat bahwa Al-Hakam bin Abdulloh bin Salamah, Abu Muthi’ Al-Khurosani sang
qodhi, meriwayatkan dari Ibrohim bin Thohman, Abu Hanifah, dan Malik. Ahmad bin
Hanbal (241 H) menegaskan tidak sepantasnya merowikan riwayat apa pun darinya. Abu
Dawud (275 H) menyampaikan para ulama meninggalkan Haditsnya dan ia menganut
paham Jahmiyyah. Ibnu Adi (365 H) menilai kelemahannya sangat benderang, di
mana mayoritas riwayat yang dibawanya tidak memiliki penguat. Ibnu Hibban (354
H) menegaskan ia termasuk tokoh utama golongan Murji’ah yang membenci
sunnah-sunnah dan para pengusungnya. Al-Uqaili (322 H) meriwayatkan: Abdulloh
bin Ahmad (290 H) bertanya kepada ayahnya tentang Abu Muthi’ Al-Balkhi, lalu
Ahmad bin Hanbal (241 H) menjawab bahwa tidak layak meriwayatkan darinya, sebab
para ulama menukil ucapan Abu Muthi’ yang menyatakan bahwa Jannah dan Naar
diciptakan lalu keduanya kelak akan binasa total, dan ini merupakan persis
pemikiran Jahm bin Sofwan.” (Lisanul Mizan, Ibnu Hajar Al-Asqolani, 2/334)
Al-Allamah Anwar Syah Al-Kasymiri Al-Hanafi (1352 H) rohimahulloh
memaparkan analisis beliau: “Adapun karya yang dinisbahkan kepada Abu Hanifah
dalam Al-Fiqhul Akbar, maka para pakar Hadits sepakat bahwa risalah itu
bukan murni karangan beliau, melainkan susunan muridnya yaitu Abu Muthi’
Al-Balkhi. Adz-Dzahabi (748 H) telah mengkritiknya dan menudingnya sebagai
penganut Jahmiyyah. Namun aku berpandangan ia tidaklah sampai sejauh tuduhan
itu, hanya saja ia memang bukan hujah dalam ranah Hadits karena ketidakmampuannya
meneliti sanad. Aku telah memeriksa berbagai versi naskah Al-Fiqhul Akbar
dan mendapati semuanya saling bertentangan satu sama lain. Begitu pula risalah Al-’Alim wal Muta’allim
serta dua risalah Al-Wasiith kecil dan besar, seluruhnya disandarkan
kepada Sang Imam, tetapi yang benar seluruh karya tersebut bukanlah tulisan
asli Sang Imam.” (Faidhul Bari ‘ala il Bukhori, Anwar Syah Al-Kasymiri,
1/134)
Syaikh Abu Zohroh (1394 H) rohimahulloh
memaparkan kritiknya: “Perlu ditegaskan bahwa keabsahan nisbah risalah
Al-Fiqhul Akbar kepada Abu Hanifah merupakan perkara yang menjadi titik
perdebatan serius di kalangan ulama. Tidak ada kesepakatan bulat atas keabsahan
penisbahan karya ini kepada beliau, dan tidak ada seorang pun yang berani
mengklaim adanya kesepakatan tersebut, bahkan dari kalangan yang paling fanatik
membela beliau dan berhasrat memperbanyak daftar karya tulisnya... Maka
keabsahan penisbahan risalah ini senantiasa dibayangi keraguan dan penolakan
oleh sejumlah ulama, akibat perselisihan mereka pada status risalah, perbedaan
jalur riwayat, serta bobot kekuatan riwayat tersebut. Kecermatan ilmiah
menuntut kita untuk mencermati secara saksama isi matannya: Apakah seluruh
isinya shohih berasal dari Abu Hanifah, ataukah di dalam matan tersebut terdapat
indikasi yang menunjukkan bahwa penisbahannya secara utuh patut
dipertanyakan... Kita menemukan di dalam Al-Fiqhul Akbar pembahasan
mendalam atas isu-isu kalamiyyah yang belum dikenal pada zaman kehidupan beliau
maupun kurun sebelumnya. Kita tidak mendapati dalam sumber-sumber ilmiah klasik
yang ada di tangan kita seorang pun ulama sebelum maupun sezaman beliau yang
menyelami isu-isu tersebut. Oleh karena itu, kita tidak sepantasnya menggali
pandangan Aqidah Abu Hanifah murni bertumpu pada kitab Al-Fiqhul Akbar atau
Al-’Alim wal Muta’allim semata.” (Abu Hanifah Hayatuhu wa ‘Ashruhu, Abu
Zohroh, hlm. 187-189)
Ungkapan yang berbunyi: “Dan Alloh kelak akan dilihat di
Akhiroh, para Mu’min melihat-Nya saat berada di Jannah dengan mata kepala
mereka tanpa penyerupaan (tasybih) dan tanpa batasan jumlah/ukuran (kammiyyah),
serta tidak ada jarak yang membentang antara Dia dengan makhluk-Nya”, telah
dinukil oleh para ulama mazhab Hanafi dalam kitab-kitab Aqidah mereka dengan
beragam variasi redaksi, baik berupa penambahan maupun pengurangan kata.
Sebagian besar salinan naskah risalah Al-Fiqhul Akbar
yang menjadi rujukan penukilan ucapan yang disandarkan kepada Abu Hanifah ini
sama sekali tidak memuat lafazh “tanpa ukuran” (wa laa kammiyyah).
Redaksi otentik yang tertulis pada mayoritas naskah adalah “tanpa penyerupaan
dan tanpa bagaimananya” (bilaa tasybiihin wa laa kaifiyyah). Dengan
demikian, susunan kalimat hingga batas ungkapan “bilaa tasybiihin wa laa
kaifiyyah” merupakan ungkapan yang
dan selaras secara utuh dengan Aqidah Salafush Sholih dalam menetapkan
peristiwa para Mu’min melihat Robb mereka di Akhiroh kelak.
Kesimpulan akhir dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa
ungkapan yang dipertanyakan di dalam kitab Al-Fiqhul Akbar dan disandarkan
kepada Imam Abu Hanifah rohimahulloh berdiri di atas penisbahan kitab
yang amat diragukan keabsahannya. Adapun makna ungkapan tersebut bila ditinjau
dari penafsiran yang diusung oleh kelompok Maturidiyyah, merupakan ungkapan
yang terdistorsi, tertolak, dan tidak!
Alloh yang Maha Mengetahui kebenaran hakiki.
Lalu kami
sengaja mentarjamahkan kitab ini karena ini diteliti oleh pakar Aqidah Salaf
Dr. Muhammad Al-Khomis. Juga karena sebagian ulama menukil apa yang selaras
dalam Aqidah Salaf dari Al-Fiqhul Akbar.
Pengantar Dr. Muhammad Al-Khomis[1]
Kitab Al-Fiqhul
Akbar karya Imam Abu Hifa (150 H) dalam permasalahan pokok-pokok Agama
merupakan salah satu kitab masyhur yang mendapatkan perhatian besar dari
kalangan ulama Al-Hanafiyyah, baik berupa penjelasan (syarah), pengajaran,
maupun lainnya. Demikian pula para ulama di luar kalangan mereka menaruh
perhatian besar padanya setelah nama kitab ini tersebar luas. Namun, aku belum
menemukan seorang pun yang menjelaskannya dengan penjelasan yang sesuai dengan
madzhab Salaf. Hal ini disebabkan mayoritas pensyarah menjelaskan kitab
tersebut dengan metode para ahli kalam (mutakallimin), padahal para
ulama Al-Hanafiyyah mengandalkan dan menetapkan bahwa aqidah sang Imam adalah
aqidah tersebut. Hal ini menunjukkan banyaknya syarah terhadap kitab tersebut.
Kemudian
kitab ini menjadi sandaran utama bagi kalangan Al-Maturidiyyah, meskipun mereka
menyelisihi sebagian permasalahannya, sebagaimana dalam masalah penjagaan (ismash)
para Nabi dan sebagian masalah Shifat Alloh. Dengan demikian, kitab ini menjadi
hujjah atas mereka. Kemudian kitab ini secara umum sesuai dengan apa yang
ditetapkan oleh Ath-Thohawi (321 H) dalam penjelasan Aqidah Ahlus Sunnah wal
Jama’ah yang masyhur yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah (150 H), Abu Yusuf (182
H), dan Muhammad bin Al-Hasan (189 H) rohimahumulloh.
Perawi
kitab ini adalah Hammad bin Abu Hanifa An-Nu’man bin Tsabit Al-Kufi (176
H), dan beliau adalah anak dari penyusun kitab rohimahulloh. Beliau
adalah orang yang paling mengetahui tentang madzhab ayahnya dibanding
selainnya. Ibnu Khollikan (681 H) berkata tentangnya: “Beliau berada di atas
madzhab ayahnya, dan beliau adalah seorang laki-laki sholih yang baik.”
Sebagian
Ahli Hadits menganggapnya dho’if dalam riwayat. Akan tetapi kita tidak mencela
riwayatnya untuk kitab ini karena kedekatan hubungan beliau dengan ayahnya,
serta karena para ulama saling meriwayatkan kitab ini.
Maka apa
yang kami lihat di dalamnya berupa perselisihan terhadap apa yang ditetapkan
oleh Ath-Thohawi (321 H) dalam aqidahnya, kami meyakini dengan mantap bahwa hal
itu disisipkan ke dalamnya dan bukan termasuk ucapan sang Imam. Seperti ucapan
yang terdapat di dalamnya: “Alloh berbicara kepada Musa (120 H) dengan
kalam-Nya yang merupakan Shifat bagi-Nya sejak azali (tidak berpermulaan), dan
Dia berbicara tanpa alat dan tanpa huruf.” Serta ucapan: “Lafazh kita dengan
Al-Qur’an adalah makhluk.” Serta ucapan: “Tidak ada jarak antara Dia dan
makhluk-Nya.” Maka seluruh hal ini termasuk perkara baru yang diada-adakan oleh
ulama belakangan setelah Abu Hanifah (150 H), dan hal seperti ini tidak dikenal
dalam ucapan Salaf.
Di
antaranya ada yang kembali kepada pandangan bahwa kalam Alloh adalah makna
psikologis (kalam nafsi) dalam diri-Nya dan bahwa yang kita baca adalah
ungkapan dari makna psikologis tersebut. Ini adalah madzhab yang diada-adakan
oleh Ibnu Kullab (240 H). Di antaranya ada yang kembali kepada bid’ah pelafalan
(al-lafzhi) Al-Qur’an, dan yang pertama kali mengada-adakannya adalah
Al-Karobisi (245 H) pada zaman Imam Ahmad bin Hanbal (241 H). Di antaranya ada
yang kembali kepada syarat-syarat buatan yang mengarah pada penolakan Ru’yah
(melihat Alloh di Akhiroh). Ini termasuk perkara yang diada-adakan oleh ahli
kalam dari kalangan Al-Asy’ariyyah dan Al-Maturidiyyah. Maka seluruh hal ini
disisipkan ke dalam kitab ini, sedangkan selain itu nampak jelas bahwa ia
adalah ucapan sang Imam rohimahulloh, atau hasil ijtihat dari anaknya,
Hammad (176 H), atas ucapan ayahnya.
Metodeku
dalam menerbitkan kitab ini adalah sebagai berikut:
ü Memasang
judul-judul sampingan untuk membagi kitab menjadi beberapa paragraf.
ü Meletakkan
matan di bagian atas halaman.
ü Menjelaskan
kata-kata yang rumit.
ü Menjelaskan
matan secara global dengan metode yang mudah dan sesuai dengan madzhab Salaf.
ü Mengembalikan
ayat-ayat ke tempatnya dalam Al-Qur’an.
ü Mentakhrij
Hadits-Hadits Nabawi disertai penjelasan derajatnya sebisa mungkin.
ü Membuat
ringkasan untuk setiap paragraf agar mempermudah pengambilan faedah darinya.
ü Meletakkan
pertanyaan-pertanyaan untuk diskusi guna menjelaskan sejauh mana pemahaman
darinya, serta agar menjadi kitab pelajaran yang mudah dipelajari oleh para
penuntut ilmu.
Apa yang
benar di dalamnya maka itu datangnya dari Alloh, dan apa yang selain itu maka
berasal dari diriku sendiri, dan aku memohon ampunan kepada Alloh dari setiap
dosa. Alloh adalah Penolong di balik maksud ini dan Dialah sebaik-baik
Pelindung. Akhir doa kami adalah bahwa segala puji bagi Alloh, Robb semesta
alam.
Dr. Muhammad Al-Khomis.
Biografi Imam Abu Hanifah (150 H)
Beliau
adalah Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit bin Zutho Al-Khozzaz Al-Kufi.
Beliau
dilahirkan pada tahun 80 H di Kufah pada masa hidup para Shohabat muda.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata tentang beliau: “Abu Hanifah
(150 H) adalah seorang laki-laki juru fikih (faqih) yang dikenal dengan
kefiqihannya, masyhur dengan sifat waro’ (berhati-hati dari harom), luas harta
kekayaannya, dikenal suka berbuat kebaikan kepada setiap orang yang
mengelilinginya, sangat sabar dalam mengajarkan ilmu malam dan siang hari,
banyak diam, sedikit bicara, hingga apabila datang suatu permasalahan tentang
halal dan harom beliau mampu menunjukkannya kepada kebenaran seraya lari
menghindar dari hadiah penguasa.” (Tarikh Baghdad, 13/340)
Ibnu Abdil
Barr (463 H) rohimahulloh berkata tentang beliau: “Beliau adalah seorang
Imam dalam Fiqih, indah pandangan pemikirannya, bagus dalam Qiyas, halus
pemahamannya dalam mengeluarkan hukum, cerdas akalnya, selalu siap
pemahamannya, waro’, lagi berakal.” (Al-Intiqo’, hal. 171)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh berkata tentang beliau: “Abu
Hanifah (150 H), meskipun manusia menyelisihi beliau dalam beberapa hal dan mengingkarinya,
namun tidak ada yang meragukan kedalaman Fiqihnya, pemahamannya, dan ilmunya.” (Minhajus
Sunnah, 2/572)
Adz-Dzahabi
(748 H) rohimahulloh berkata tentang beliau: “Beliau adalah seorang
Imam, waro’, alim, tekun beribadah, agung kedudukannya, dan tidak menerima
hadiah dari penguasa.” (Tadzkirotul Huffazh, 1/168)
Kedudukan
beliau terus meningkat tinggi hingga beliau menjadi salah satu dari empat Imam
pengikut madzhab-madzhab yang tersebar luas.
Beliau
wafat rohimahulloh pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 150 H, dan
dimakamkan di pemakaman Al-Khoizuron di Baghdad, serta umur beliau saat itu
adalah 70 tahun. (Al-Intiqo’, hal. 171)
Aqidah Imam Abu Hanifah Riwayat
Hammad
Abu Hanifah
Nu’man bin Tsabit (150 H) berkata:
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan
menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.[2]
[1]
Pokok Tauhid dan Aqidah yang Shohih
أَصْلُ
التَّوْحِيدِ وَمَا يَصِحُّ الِاعْتِقَادُ عَلَيْهِ يَجِبُ أَنْ يَقُولَ: آمَنْتُ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ
وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللهِ
تَعَالَى وَالْحِسَابِ وَالْمِيزَانِ وَالْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَذَلِكَ كُلُّهُ حَقٌّ
Pokok
Tauhid dan landasan Aqidah yang shohih adalah kewajiban seseorang untuk
menyatakan keyakinannya: Aku beriman kepada Alloh, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya,
para Rosul-Nya, kebangkitan setelah kematian, Takdir yang baik maupun yang
buruk berasal dari Alloh, perhitungan amal (Hisab), Timbangan (Mizaan), Jannah,
serta Naar, dan seluruh hal tersebut adalah kebenaran yang nyata.
[2]
Keesaan Alloh
وَاللهُ
تَعَالَى وَاحِدٌ لَا مِنْ طَرِيقِ الْعَدَدِ وَلَكِنْ مِنْ طَرِيقِ أَنَّهُ لَا شَرِيكَ
لَهُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ لَا يُشْبِهُ شَيْئًا
مِنَ الْأَشْيَاءِ مِنْ خَلْقِهِ وَلَا يُشْبِهُهُ شَيْءٌ مِنْ خَلْقِهِ لَمْ يَزَلْ
وَلَا يَزَالُ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ الذَّاتِيَّةِ وَالْفِعْلِيَّةِ
Alloh Maha
Esa, bukan dalam arti hitungan angka, melainkan
dalam arti tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,
serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. Dia tidak menyerupai
sesuatu pun dari ciptaan-Nya, dan tidak ada satu pun dari ciptaan-Nya yang
menyerupai-Nya. Dia senantiasa dan akan terus memiliki seluruh nama-nama serta
shifat-shifat-Nya, baik shifat Dzatiyyah maupun shifat Fi’liyyah.
[3]
Shifat-Shifat Dzatiyyah dan Fi’liyyah
أَمَّا
الذَّاتِيَّةُ فَالْحَيَاةُ وَالْقُدْرَةُ وَالْعِلْمُ وَالْكَلَامُ وَالسَّمْعُ وَالْبَصَرُ
وَالْإِرَادَةُ، وَأَمَّا الْفِعْلِيَّةُ فَالتَّخْلِيقُ وَالتَّرْزِيقُ وَالْإِنْشَاءُ
وَالْإِبْدَاعُ وَالصَّنْعُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنْ صِفَاتِ الْفِعْلِ لَمْ يَزَلْ وَلَا
يَزَالُ بِصِفَاتِهِ وَأَسْمَائِهِ لَمْ يَحْدُثْ لَهُ صِفَةٌ وَلَا اسْمٌ
Adapun
shifat Dzatiyyah seperti shifat Kehidupan (Al-Hayat), Kekuasaan (Al-Qudroh),
Pengetahuan (Al-‘Ilm), Firman (Al-Kalam), Pendengaran (As-Sam’), Penglihatan
(Al-Bashor), dan Kehendak (Al-Irodah).
Adapun
shifat Fi’liyyah adalah menciptakan (At-Takhliq), memberi rizqi (At-Tarziq),
Mengadakan (Al-Insya’), Memulai ciptaan tanpa contoh sebelumnya (Al-Ibda’), Membuat
(Ash-Shon’), serta shifat-shifat perbuatan lainnya. Alloh senantiasa dan akan
terus ada beserta shifat-shifat dan nama-nama-Nya, tanpa ada shifat maupun nama
baru yang timbul belakangan bagi-Nya.
[4]
Shifat-Shifat Alloh Bersifat Azali
لَمْ
يَزَلْ عَالِمًا بِعِلْمِهِ وَالْعِلْمُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ، وَقَادِرًا بِقُدْرَتِهِ وَالْقُدْرَةُ صِفَةٌ
فِي الْأَزَلِ، وَمُتَكَلِّمًا بِكَلَامِهِ وَالْكَلَامُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ، وَخَالِقًا
بِتَخْلِيقِهِ وَالتَّخْلِيقُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ، وَفَاعِلًا بِفِعْلِهِ وَالْفِعْلُ
صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ، وَالْفَاعِلُ هُوَ اللهُ تَعَالَى وَالْفِعْلُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ،
وَالْمَفْعُولُ مَخْلُوقٌ، وَفِعْلُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوقٍ
Alloh
senantiasa Maha Mengetahui dengan ilmu-Nya dan ilmu adalah shifat yang Azali
(sejak dahulu tanpa permulaan), Maha Kuasa dengan kekuasaan-Nya dan kekuasaan
adalah shifat yang Azali, Maha Berfirman dengan firman-Nya dan firman adalah
shifat yang Azali, Maha Pencipta dengan penciptaan-Nya dan penciptaan adalah
shifat yang Azali, serta Maha Pembuat dengan perbuatan-Nya dan perbuatan adalah
shifat yang Azali. Pelaku perbuatan itu adalah Alloh, perbuatan-Nya adalah
shifat yang Azali, sedangkan objek yang diciptakan (makhluk) itu adalah
ciptaan, sementara perbuatan Alloh bukanlah ciptaan (bukan makhluk).
[5]
Penjelasan Tentang Al-Qur’an
وَصِفَاتُهُ
فِي الْأَزَلِ غَيْرُ مُحْدَثَةٍ وَلَا مَخْلُوقَةٍ وَمَنْ قَالَ إِنَّهَا مَخْلُوقَةٌ
أَوْ مُحْدَثَةٌ أَوْ وَقَفَ أَوْ شَكَّ فِيهِمَا فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ تَعَالَى،
وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى فِي الْمَصَاحِفِ مَكْتُوبٌ وَفِي الْقُلُوبِ
مَحْفُوظٌ وَعَلَى الْأَلْسُنِ مَقْرُوءٌ وَعَلَى النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
مُنَزَّلٌ وَلَفْظُنَا بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ وَكِتَابَتُنَا لَهُ مَخْلُوقَةٌ وَقِرَاءَتُنَا
لَهُ مَخْلُوقَةٌ وَالْقُرْآنُ غَيْرُ مَخْلُوقٍ
Shifat-shifat
Alloh pada azali tidak diciptakan dan bukan hal yang baru. Siapa menyatakan
bahwa shifat-shifat-Nya adalah makhluk atau hal baru, atau bersikap ragu-ragu
dan tidak mengambil keputusan mengenai hal itu, maka dia telah kufur kepada
Alloh.
Al-Qur’an
adalah Firman Alloh yang tertulis dalam mushaf-mushaf, dihafal di dalam dada,
dibaca oleh lidah-lidah, dan diturunkan kepada Nabi ﷺ. Pelafalan
kita terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, tulisan kita terhadap Al-Qur’an
adalah makhluk, dan bacaan kita terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, sedangkan
Al-Qur’an itu sendiri bukanlah makhluk.
وَمَا
ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ حِكَايَةً عَنْ مُوسَى وَغَيْرِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ
عَلَيْهِمُ السَّلَامُ وَعَنْ فِرْعَوْنَ وَإِبْلِيسَ فَإِنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ كَلَامُ
اللهِ تَعَالَى إِخْبَارًا عَنْهُمْ، وَكَلَامُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوقٍ
وَكَلَامُ مُوسَى وَغَيْرِهِ مِنَ الْمَخْلُوقِينَ وَالْقُرْآنُ كَلَامُ اللهِ تَعَالَى
فَهُوَ قَدِيمٌ، لَا كَلَامُهُمْ، وَسَمِعَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ كَلَامَ اللهِ
تَعَالَى كَمَا فِي قَوْلِهِ تَعَالَى ﴿وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾
Kisah-kisah
yang Alloh sebutkan dalam Al-Qur’an mengenai Musa dan para Nabi ‘alaimus
salam lainnya, serta mengenai Fir’aun dan Iblis, seluruhnya merupakan
Firman Alloh yang memberitakan tentang mereka. Firman Alloh bukanlah makhluk,
sedangkan ucapan Musa dan makhluk lainnya adalah ciptaan. Al-Qur’an sebagai
Firman Alloh bersifat qodim (sejak azali), tidak seperti ucapan mereka. Musa ‘alaihissalam
telah mendengar Firman Alloh sebagaimana firman-Nya: “Dan Alloh telah berbicara
kepada Musa secara langsung.” (QS. An-Nisa’: 164)
وَقَدْ
كَانَ اللهُ تَعَالَى مُتَكَلِّمًا وَلَمْ يَكُنْ كَلَّمَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ
وَقَدْ كَانَ اللهُ تَعَالَى خَالِقًا فِي الْأَزَلِ وَلَمْ يَخْلُقِ الْخَلْقَ، فَلَمَّا
كَلَّمَ اللهُ مُوسَى كَلَّمَهُ بِكَلَامِهِ الَّذِي هُوَ لَهُ صِفَةٌ فِي الْأَزَلِ
وَصِفَاتُهُ كُلُّهَا بِخِلَافِ صِفَاتِ الْمَخْلُوقِينَ، يَعْلَمُ لَا كَعِلْمِنَا
وَيَقْدِرُ لَا كَقُدْرَتِنَا وَيَرَى لَا كَرُؤْيَتِنَا
Alloh
senantiasa berfirman sebelum Dia berbicara kepada Musa ‘alaihissalam,
sebagaimana Alloh telah Maha Pencipta pada azali sebelum Dia menciptakan
makhluk. Ketika Alloh berbicara kepada Musa, Dia berbicara kepadanya dengan
firman-Nya yang merupakan shifat-Nya sejak azali. Seluruh shifat-Nya berbeda
dengan shifat makhluk: Dia mengetahui tidak seperti pengetahuan kita, Maha
Kuasa tidak seperti kekuasaan kita, dan Maha Melihat tidak seperti penglihatan
kita.
وَيَتَكَلَّمُ
لَا كَكَلَامِنَا وَيَسْمَعُ لَا كَسَمْعِنَا، وَنَحْنُ نَتَكَلَّمُ بِالْآلَاتِ وَالْحُرُوفِ،
وَاللهُ تَعَالَى يَتَكَلَّمُ بِلَا آلَةٍ وَلَا حُرُوفٍ، وَالْحُرُوفُ مَخْلُوقَةٌ،
وَكَلَامُ اللهِ تَعَالَى غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَهُوَ شَيْءٌ لَا كَالْأَشْيَاء،ِ وَمَعْنَى
الشَّيْءِ الثَّابِتُ بِلَا جِسْمٍ وَلَا جَوْهَرٍ وَلَا عَرَضٍ وَلَا حَدَّ لَهُ وَلَا
ضِدَّ لَهُ وَلَا نِدَّ لَهُ وَلَا مِثْلَ لَهُ
Alloh
berfirman tidak seperti ucapan kita, dan Maha Mendengar tidak seperti
pendengaran kita. Kita berbicara menggunakan alat dan huruf-huruf, sedangkan
Alloh berfirman tanpa alat dan tanpa huruf. Huruf-huruf adalah ciptaan, sedangkan Firman Alloh
bukanlah ciptaan. Alloh adalah Sesuatu (Wujud) yang tidak seperti sesuatu apa
pun; makna Wujud bagi-Nya adalah Maha Ada yang nyata, tanpa
berjasad, tanpa berupa jauhar (substansi materi), tanpa berbentuk ‘arodh
(shifat materi yang berubah), tidak memiliki batasan, tidak memiliki
lawan, tidak memiliki tandingan, dan tidak memiliki keserupaan.
[6]
Penjelasan Tentang Shifat-Shifat Alloh
وَلَهُ
يَدٌ وَوَجْهٌ وَنَفْسٌ كَمَا ذَكَرَهُ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ فَمَا ذَكَرَهُ
اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ مِنْ ذِكْرِ الْوَجْهِ وَالْيَدِ وَالنَّفْسِ فَهُوَ
لَهُ صِفَاتٌ بِلَا كَيْفَ وَلَا يُقَالُ إِنَّ يَدَهُ قُدْرَتُهُ أَوْ نِعْمَتُهُ
لِأَنَّ فِيهِ إِبْطَالَ الصِّفَةِ وَهُوَ قَوْلُ أَهْلِ الْقَدَرِ وَالِاعْتِزَالِ
وَلَكِنْ يَدُهُ صِفَتُهُ بِلَا كَيْفَ وَغَضَبُهُ وَرِضَاهُ صِفَتَانِ مِنْ صِفَاتِ
اللهِ تَعَالَى بِلَا كَيْفَ
Alloh
memiliki Tangan, Wajah, dan Diri sebagaimana yang Alloh sebutkan dalam Al-Qur’an.
Apa yang Alloh sebutkan dalam Al-Qur’an mengenai Wajah, Tangan, dan Diri
merupakan shifat-shifat bagi-Nya tanpa diketahui kaifiyyah
(bagaimananya). Tidak boleh dikatakan bahwa Tangan-Nya bermakna Kekuasaan-Nya
atau Ni’mat-Nya, karena pemaknaan demikian membatalkan shifat Alloh, dan itu
merupakan pendapat pengikut Takdir (Qodariyyah) dan Mu’tazilah. Akan tetapi,
Tangan-Nya adalah shifat-Nya tanpa kaifiyyah, demikian pula Murka-Nya
dan Ridho-Nya adalah dua shifat dari shifat-shifat Alloh tanpa kaifiyyah.
[7]
Penjelasan Tentang Takdir
خَلَقَ
اللهُ تَعَالَى الْأَشْيَاءَ لَا مِنْ شَيْءٍ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى عَالِمًا فِي
الْأَزَلِ بِالْأَشْيَاءِ قَبْلَ كَوْنِهَا، وَهُوَ الَّذِي قَدَّرَ الْأَشْيَاءَ وَقَضَاهَا،
وَلَا يَكُونُ فِي الدُّنْيَا وَلَا فِي الْآخِرَةِ شَيْءٌ إِلَّا بِمَشِيئَتِهِ وَعِلْمِهِ
وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ، وَكَتَبَهُ فِي اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ وَلَكِنْ كَتَبَهُ
بِالْوَصْفِ لَا بِالْحُكْمِ، وَالْقَضَاءُ وَالْقَدَرُ وَالْمَشِيئَةُ صِفَاتُهُ فِي
الْأَزَلِ بِلَا كَيْفَ، يَعْلَمُ اللهُ تَعَالَى فِي الْمَعْدُومِ فِي حَالِ عَدَمِهِ
مَعْدُومًا، وَيَعْلَمُ أَنَّهُ كَيْفَ يَكُونُ إِذَا أَوْجَدَهُ، وَيَعْلَمُ اللهُ
الْمَوْجُودَ فِي حَالِ وُجُودِهِ، وَيَعْلَمُ أَنَّهُ كَيْفَ فَنَاؤُهُ، وَيَعْلَمُ
اللهُ الْقَائِمَ فِي حَالِ قِيَامِهِ قَائِمًا وَإِذَا قَعَدَ فَقَدْ عَلِمَهُ قَاعِدًا
فِي حَالِ قُعُودِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَغَيَّرَ عِلْمُهُ أَوْ يَحْدُثَ لَهُ عِلْمٌ،
وَلَكِنَّ التَّغَيُّرَ وَالِاخْتِلَافَ يَحْدُثُ عِنْدَ الْمَخْلُوقِينَ
Alloh
menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Alloh telah mengetahui segala
sesuatu pada azali sebelum keberadaannya. Dialah yang menakdirkan dan
menetapkan segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang terjadi di dunia maupun di
Akhiroh melainkan atas kehendak-Nya, pengetahuan-Nya, penetapan-Nya,
takdir-Nya, serta pencatatan-Nya di Lauhul Mahfuzh. Pencatatan tersebut berupa
sifat gambaran kejadiannya, bukan berupa pemaksaan hukum yang merampas
kehendak. Penetapan, takdir, dan kehendak merupakan shifat-shifat-Nya pada
azali tanpa kaifiyyah. Alloh mengetahui sesuatu yang belum ada saat
ketiadaannya sebagai hal yang tidak ada, dan Dia mengetahui bagaimana wujudnya
kelak ketika Dia mengadakannya. Alloh mengetahui sesuatu yang ada pada saat
keberadaannya, dan Dia mengetahui bagaimana kepunahannya kelak. Alloh
mengetahui orang yang berdiri dalam keadaan berdiri, dan apabila orang itu
duduk, Alloh telah mengetahui keadaannya yang duduk tanpa ada perubahan pada
ilmu-Nya atau timbulnya ilmu baru bagi-Nya, melainkan perubahan dan perbedaan
itu terjadi pada makhluk-Nya.
[8]
Fithroh Manusia
خَلَقَ
اللهُ تَعَالَى الْخَلْقَ سَلِيمًا مِنَ الْكُفْرِ وَالْإِيمَانِ، ثُمَّ خَاطَبَهُمْ
وَأَمَرَهُمْ وَنَهَاهُمْ، فَكَفَرَ مَنْ كَفَرَ بِفِعْلِهِ وَإِنْكَارِهِ وَجُحُودِهِ
الْحَقَّ بِخِذْلَانِ اللهِ تَعَالَى إِيَّاهُ، وَآمَنَ مَنْ آمَنَ بِفِعْلِهِ وَإِقْرَارِهِ
وَتَصْدِيقِهِ بِتَوْفِيقِ اللهِ تَعَالَى إِيَّاهُ وَنُصْرَتِهِ لَهُ، أَخْرَجَ ذُرِّيَّةَ
آدَمَ مِنْ صُلْبِهِ فَجَعَلَهُمْ عُقَلَاءَ فَخَاطَبَهُمْ وَأَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ
وَنَهَاهُمْ عَنِ الْكُفْرِ فَأَقَرُّوا لَهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ، فَكَانَ ذَلِك بَيْنَهُمْ
إِيمَانًا فَهُمْ يُولَدُونَ عَلَى تِلْكَ الْفِطْرَةِ، وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ
فَقَدْ بَدَّلَ وَغَيَّرَ وَمَنْ آمَنَ وَصَدَّقَ فَقَدْ ثَبَتَ عَلَيْهِ وَدَاوَمَ
Alloh
menciptakan makhluk dalam keadaan selamat dari kufur dan iman. Kemudian Dia
menyampaikan seruan, perintah, dan larangan kepada mereka. Lalu berbuat kufur
orang yang kufur melalui perbuatannya, penolakannya, dan keingkarannya terhadap
kebenaran karena Alloh meninggalkannya (tidak memberinya pertolongan). Beriman
pula orang yang beriman melalui perbuatannya, pengakuannya, dan pembenarannya
berkat taufiq serta pertolongan Alloh kepadanya. Alloh mengeluarkan keturunan
Adam dari sulbinya, menjadikan mereka berakal, menyeru mereka, memerintahkan
mereka untuk beriman, dan melarang mereka dari kufur. Mereka pun mengakui
Rububiyyah bagi-Nya, dan pengakuan itu merupakan iman bagi mereka. Oleh karena
itu, mereka dilahirkan di atas fithroh tersebut. Siapa yang kufur setelah itu,
maka dia telah mengubah dan mengganti keadaannya, dan siapa yang beriman serta
membenarkan, maka dia telah teguh dan berkesinambungan di atas fithrohnya.
وَلَمْ
يُجْبِرْ أَحَدًا مِنْ خَلْقِهِ عَلَى الْكُفْرِ وَلَا عَلَى الْإِيمَانِ، وَلَا خَلَقَهُ مُؤْمِنًا وَلَا كَافِرًا،
وَلَكِنْ خَلَقَهُمْ أَشْخَاصًا، وَالْإِيمَانُ وَالْكُفْرُ فِعْلُ الْعِبَادِ، وَيَعْلَمُ
اللهُ تَعَالَى مَنْ يَكْفُرُ فِي حَالِ كُفْرِهِ كَافِرًا، فَإِذَا آمَنَ بَعْدَ ذَلِك
عَلِمَهُ مُؤْمِنًا فِي حَالِ إِيمَانِهِ، وَأَحَبَّهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَتَغَيَّرَ
عِلْمُهُ وَصِفَتُهُ، وَجَمِيعُ أَفْعَالِ الْعِبَادِ مِنَ الْحَرَكَةِ وَالسُّكُونِ
كَسْبُهُمْ عَلَى الْحَقِيقَةِ، وَاللهُ تَعَالَى خَالِقُهَا، وَهِيَ كُلُّهَا بِمَشِيئَتِهِ
وَعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ وَقَدَرِهِ
Alloh tidak
memaksa seorang pun dari ciptaan-Nya untuk kufur atau beriman, dan Dia tidak
menciptakan manusia langsung dalam status Mu’min atau kafir, melainkan
menciptakan mereka sebagai individu-individu. Iman dan
kufur adalah perbuatan para hamba. Alloh mengetahui orang yang kufur
dalam keadaan kufurnya sebagai orang kafir, dan apabila orang itu beriman
setelahnya, Alloh mengetahuinya sebagai orang Mu’min dalam keadaan imannya
serta mencintainya tanpa ada perubahan pada ilmu maupun shifat-Nya. Seluruh perbuatan
hamba, baik berupa gerakan maupun diam, merupakan usahanya (kasab)
secara hakiki, sedangkan Alloh adalah Penciptanya, dan semuanya terjadi atas
kehendak-Nya, ilmu-Nya, penetapan-Nya, serta takdir-Nya.
[9]
Ketaatan Dicintai Alloh dan Kemaksiatan Ditakdirkan Namun Tidak Dicintai
وَالطَّاعَاتُ
كُلُّهَا كَانَتْ وَاجِبَةً بِأَمْرِ اللهِ تَعَالَى وَبِمَحَبَّتِهِ وَبِرِضَائِهِ
وَعِلْمِهِ وَمَشِيئَتِهِ وَقَضَائِهِ وَتَقْدِيرِهِ، وَالْمَعَاصِي كُلُّهَا بِعِلْمِهِ وَقَضَائِهِ
وَتَقْدِيرِهِ وَمَشِيئَتِهِ لَا بِمَحَبَّتِهِ وَلَا بِرِضَائِهِ وَلَا بِأَمْرِهِ
Seluruh
ketaatan menjadi wajib berdasarkan perintah Alloh, kecintaan-Nya,
keridhoan-Nya, ilmu-Nya, kehendak-Nya, penetapan-Nya, dan takdir-Nya. Adapun
seluruh kemaksiatan terjadi dengan ilmu-Nya, penetapan-Nya, takdir-Nya, dan
kehendak-Nya, namun bukan berdasarkan kecintaan-Nya, bukan keridhoan-Nya, dan
bukan pula perintah-Nya.
[10]
Kema’shuman Para Nabi
وَالْأَنْبِيَاءُ
عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ كُلُّهُمْ مُنَزَّهُونَ عَنِ الصَّغَائِرِ وَالْكَبَائِرِ
وَالْكُفْرِ وَالْقَبَائِحِ، وَقَدْ كَانَتْ مِنْهُمْ زَلَّاتٌ وَخَطَايَا
Para Nabi ‘alaimus
sholatu was salam seluruhnya terbebas dari dosa-dosa kecil, dosa-dosa
besar, kekufuran, dan perbuatan-perbuatan tercela. Namun, terkadang terjadi
kekhilafan dan kekeliruan kecil dari mereka.
[11]
Penjelasan Tentang Rosululloh ﷺ
وَمُحَمَّدٌ
عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ حَبِيبُهُ وَعَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَنَبِيُّهُ وَصَفِيُّهُ
وَنَقِيُّهُ، وَلَمْ يَعْبُدِ الصَّنَمَ وَلَمْ يُشْرِكْ
بِاللهِ تَعَالَى طَرْفَةَ عَيْنٍ قَطُّ، وَلَمْ يَرْتَكِبْ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً
قَطُّ
Nabi
Muhammad ﷺ
adalah kekasih-Nya, hamba-Nya, Rosul-Nya, Nabi-Nya, hamba pilihan-Nya, dan
hamba-Nya yang suci. Beliau tidak pernah menyembah berhala dan tidak pernah
menyekutukan Alloh sekejap mata pun, serta tidak pernah melakukan dosa kecil
maupun dosa besar sama sekali.
[12]
Keutamaan Para Shohabat
وَأَفْضَلُ
النَّاسِ بَعْدَ النَّبِيِّينَ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ
ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ الْفَارُوقُ ثُمَّ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ ذُو النَّورَيْنِ
ثُمَّ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ الْمُرْتَضَى رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِينَ،
عَابِدِينَ ثَابِتِينَ عَلَى الْحَقِّ وَمَعَ الْحَقِّ نَتَوَلَّاهُمْ جَمِيعًا، وَلَا
نَذْكُرُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ إِلَّا بِخَيْرٍ
Manusia
yang paling utama setelah para Nabi ‘alaimus sholatu was salam adalah
Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H), kemudian ‘Umar bin Al-Khoththob Al-Faruq (23 H),
kemudian ‘Utsman bin ‘Affan Dzun Nuroin (35 H), lalu ‘Ali bin Abi Tholib
Al-Murtadho (40 H), ridho Alloh atas mereka semuanya. Mereka semua adalah
hamba-hamba yang beribadah dan teguh di atas kebenaran serta senantiasa bersama
kebenaran. Kita mencintai dan setia kepada mereka semuanya, dan kita tidak
menyebut seorang pun dari Shohabat Rosululloh ﷺ melainkan dengan kebaikan.
[13]
Seorang Muslim Tidak Dikafirkan Karena Dosa Selama Tidak Menganggapnya Halal
وَلَا
نُكَفِّرُ مُسْلِمًا بِذَنْبٍ مِنَ الذُّنُوبِ وَإِنْ كَانَتْ كَبِيرَةً إِذَا لَمْ
يَسْتَحِلَّهَا، وَلَا نُزِيلُ عَنْهُ اسْمَ الْإِيمَانِ، وَنُسَمِّيهِ مُؤْمِنًا حَقِيقَةً،
وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مُؤْمِنًا فَاسِقًا غَيْرَ كَافِرٍ
Kita tidak
mengkafirkan seorang Muslim pun karena suatu dosa dari dosa-dosa yang
dilakukannya, meskipun itu dosa besar, selama dia tidak menganggapnya halal.
Kita tidak mencabut darinya sebutan iman, dan kita tetap menamainya sebagai
orang Mu’min secara hakiki, serta memungkinkan baginya menjadi seorang Mu’min
yang fasiq tanpa menjadi kafir.
[14]
Sebagian Aqidah Ahlus Sunnah
وَالْمَسْحُ
عَلَى الْخُفَّيْنِ سُنَّةٌ، وَالتَّرَاوِيحُ فِي لَيَالِي شَهْرِ رَمَضَانَ سُنَّةٌ،
وَالصَّلَاةُ خَلْفَ كُلِّ بَرٍّ وَفَاجِرٍ جَائِزَةٌ، وَلَا نَقُولُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ
لَا تَضُرُّهُ الذُّنُوبُ، وَلَا نَقُولُ إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ النَّارَ، وَلَا نَقُولُ
إِنَّهُ يَخْلُدُ فِيهَا وَإِنْ كَانَ فَاسِقًا بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ مِنَ الدُّنْيَا
مُؤْمِنًا
Mengusap
kedua khuf (sepatu kulit) adalah Sunnah, Sholat Tarowih pada malam-malam bulan
Romadhon adalah Sunnah, dan Sholat di belakang setiap orang yang baik maupun
yang fasiq adalah boleh. Kita tidak menyatakan bahwa dosa tidak membahayakan
seorang Mu’min, tidak pula menyatakan bahwa dia tidak akan masuk Naar, dan
tidak pula menyatakan bahwa dia akan kekal di dalamnya apabila dia seorang yang
fasiq, selama dia keluar dari dunia dalam keadaan Mu’min.
وَلَا
نَقُولُ إِنَّ حَسَنَاتِنَا مَقْبُولَةٌ، وَسَيِّئَاتِنَا مَغْفُورَةٌ، كَقَوْلِ الْمُرْجِئَةِ،
وَلَكِنْ نَقُولُ مَنْ عَمِلَ حَسَنَةً بِجَمِيعِ شَرَائِطِهَا خَالِيَةً عَنِ الْعُيُوبِ
الْمُفْسِدَةِ وَلَمْ يُبْطِلْهَا بِالْكُفْرِ وَالرِّدَّةِ وَالْأَخْلَاقِ السَّيِّئَةِ
حَتَّى خَرَجَ مِنَ الدُّنْيَا مُؤْمِنًا فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى لَا يُضِيعُهَا، بَلْ
يَقْبَلُهَا مِنْهُ وَيُثِيبُهُ عَلَيْهَا
Kita tidak
menyatakan bahwa kebaikan-kebaikan kita pasti diterima dan keburukan-keburukan
kita pasti diampuni sebagaimana ucapan golongan Murji’ah. Namun kita menyatakan
bahwa siapa mengerjakan kebaikan sesuai seluruh syarat-syaratnya, bersih dari
cacat yang merusak, serta tidak membatalkannya dengan kekufuran, murtad, maupun
akhlaq yang buruk hingga dia keluar dari dunia sebagai Mu’min, maka Alloh tidak
akan menyia-nyiakannya, bahkan menerima amal itu darinya dan memberinya pahala
atasnya.
وَمَا
كَانَ مِنَ السَّيِّئَاتِ دُونَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ وَلَمْ يَتُبْ عَنْهَا صَاحِبُهَا
حَتَّى مَاتَ مُؤْمِنًا؛ فَإِنَّهُ مُؤْمِنٌ فِي مَشِيئَةِ اللهِ تَعَالَى، إِنْ شَاءَ
عَذَّبَهُ بِالنَّارِ وَإِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ، وَلَمْ يُعَذَّبْ بِالنَّارِ أَصْلًا،
وَالرِّيَاءُ إِذَا وَقَعَ فِي عَمَلٍ مِنَ الْأَعْمَالِ فَإِنَّهُ يُبْطِلُ أَجْرَهُ،
وَكَذَلِكَ الْعُجْبُ
Dosa-dosa
selain syirik dan kufur yang belum ditandai taubat oleh pelakunya hingga dia
meninggal sebagai Mu’min, maka keadaannya berada di bawah kehendak Alloh: jika
Dia menghendaki, Dia akan meng’adzabnya di Naar, dan jika Dia menghendaki, Dia
akan memaafkannya tanpa meng’adzabnya di Naar sama sekali. Perbuatan riya’
(pamer) apabila terjadi pada suatu amal akan membatalkan pahalanya, demikian
pula halnya dengan sifat ‘ujub (bangga diri).
[15]
Mu’jizat Para Nabi dan Karomah Para Wali
وَالْآيَاتُ
ثَابِتَةٌ لِلْأَنْبِيَاءِ، وَالْكَرَامَاتُ لِلْأَوْلِيَاءِ حَقٌّ، وَأَمَّا الَّتِي
تَكُونُ لِأَعْدَائِهِ مِثْلَ إِبْلِيسَ وَفِرْعَوْنَ وَالدَّجَّالِ فِيمَا رُوِيَ
الْأَخْبَارُ أَنَّهُ كَانَ وَيَكُونُ لَهُمْ لَا نُسَمِّيهَا آيَاتٍ وَلَا كَرَامَاتٍ،
وَلَكِنْ نُسَمِّيهَا قَضَاءَ حَاجَاتِهِمْ، وَذَلِكَ لِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَقْضِي
حَاجَاتِ أَعْدَائِهِ اسْتِدْرَاجًا لَهُمْ وَعُقُوبَةً لَهُمْ فَيَغْتَرُّونَ بِهِ
وَيَزْدَادُونَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا، وَكُلُّهُ جَائِزٌ مُمْكِنٌ
Mu’jizat
(ayat) adalah nyata bagi para Nabi, dan karomah adalah benar bagi para wali.
Adapun hal-hal luar biasa yang terjadi pada musuh-musuh-Nya seperti Iblis, Fir’aun,
dan Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam riwayat-riwayat tentang apa yang
telah dan akan terjadi pada mereka, tidak kita namai sebagai mu’jizat atau
karomah, melainkan kita namai sebagai pemenuhan kebutuhan mereka. Hal itu
karena Alloh memenuhi kebutuhan musuh-musuh-Nya sebagai bentuk istidroj
(jebakan kenikmatan) dan hukuman bagi mereka, sehingga mereka terperdaya lalu
makin bertambah kesombongan serta kekufurannya, dan semua itu adalah hal yang
mungkin terjadi.
[16]
Melihat Alloh di Akhiroh
وَكَانَ
اللهُ تَعَالَى خَالِقًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ، وَرَازِقًا قَبْلَ أَنْ يَرْزُقَ، وَاللهُ
تَعَالَى يُرَى فِي الْآخِرَةِ، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُونَ وَهُمْ فِي الْجَنَّةِ بِأَعْيُنِ
رُؤُوسِهِمْ بِلَا تَشْبِيهٍ وَلَا كَيْفِيَّةٍ، وَلَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ
مَسَافَةٌ
Alloh telah
Maha Pencipta sebelum Dia menciptakan makhluk, dan Maha Pemberi rizqi sebelum
Dia memberi rizqi. Alloh bakal terlihat di Akhiroh; kaum Mu’minin akan
melihat-Nya ketika mereka berada di Jannah dengan mata kepala mereka tanpa
penyerupaan dan tanpa kaifiyyah, serta tidak ada jarak antara Dia dan
makhluk-Nya.
[17]
Pengertian Iman
وَالْإِيمَانُ
هُوَ الْإِقْرَارُ وَالتَّصْدِيقُ، وَإِيمَانُ أَهْلِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
لَا يَزِيدُ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ جِهَةِ الْمُؤْمَنِ بِهِ، وَيَزِيدُ وَيَنْقُصُ مِنْ
جِهَةِ الْيَقِينِ وَالتَّصْدِيقِ، وَالْمُؤْمِنُونَ مُسْتَوُونَ فِي الْإِيمَانِ وَالتَّوْحِيدِ
مُتَفَاضِلُونَ فِي الْأَعْمَالِ
Iman adalah
pengakuan dengan lisan dan pembenaran dengan hati.
Keimanan penghuni langit dan bumi tidak bertambah dan
tidak berkurang ditinjau dari sudut pandang objek yang diimani, namun
bertambah dan berkurang ditinjau dari tingkat keyakinan dan pembenaran. Kaum Mu’minin berkedudukan sama dalam pokok keimanan dan
Tauhid, namun bertingkat-tingkat keutamaannya dalam amal perbuatan.[3]
[18]
Hubungan Islam dan Iman
وَالْإِسْلَامُ
هُوَ التَّسْلِيمُ وَالْإِنْقِيَادُ لِأَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى، فَمِنْ طَرِيقِ اللُّغَةِ
فُرِّقَ بَيْنَ الْإِسْلَامِ وَالْإِيمَانِ، وَلَكِنْ لَا يَكُونُ إِيمَانٌ بِلَا إِسْلَامٍ
وَلَا يُوجَدُ إِسْلَامٌ بِلَا إِيمَانٍ، وَهُمَا كَالظَّهْرِ مَعَ الْبَطْنِ، وَالدِّينُ
اسْمٌ وَاقِعٌ عَلَى الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ وَالشَّرَائِعِ كُلِّهَا
Islam
adalah penyerahan diri dan kepatuhan terhadap perintah-perintah Alloh. Secara
bahasa terdapat perbedaan antara Islam dan iman, namun tidak ada iman tanpa
Islam dan tidak dijumpai Islam tanpa iman; keduanya ibarat punggung dengan
perut. Agama (Ad-Diin) adalah nama yang mencakup iman, Islam, dan seluruh syari’at.
[19]
Ma’rifat Kita Kepada Alloh
نَعْرِفُ
اللهَ تَعَالَى حَقَّ مَعْرِفَتِهِ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ بِجَمِيعِ
صِفَاتِهِ، وَلَيْسَ يَقْدِرُ أَحَدٌ أَنْ يَعْبُدَ اللهَ حَقَّ عِبَادَتِهِ كَمَا
هُوَ أَهْلٌ لَهُ، وَلَكِنَّهُ يَعْبُدُهُ بِأَمْرِهِ كَمَا أَمَرَهُ بِكِتَابِهِ وَسُنَّةِ
رَسُولِهِ، وَيَسْتَوِي الْمُؤْمِنُونَ كُلُّهُمْ فِي الْمَعْرِفَةِ وَالْيَقِينِ وَالتَّوَكُّلِ
وَالْمَحَبَّةِ وَالرِّضَاءِ وَالْخَوْفِ وَالرَّجَاءِ وَالْإِيمَانِ فِي ذَلِكَ، وَيَتَفَاوَتُونَ
فِيمَا دُونَ الْإِيمَانِ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ
Kita
mengenal Alloh dengan pengenalan yang sebenar-benarnya sebagaimana Dia
menggambarkan Diri-Nya dalam Kitab-Nya dengan seluruh shifat-Nya. Tidak ada
seorang pun yang sanggup beribadah kepada Alloh dengan ibadah yang sebanding
dengan keagungan yang berhak Dia terima, melainkan seseorang beribadah
kepada-Nya berdasarkan perintah-Nya sebagaimana yang Dia perintahkan dalam Kitab-Nya
dan Sunnah Rosul-Nya. Kaum Mu’minin semuanya sederajat
dalam hal ma’rifat, keyakinan, tawakkal, kecintaan, keridhoan, rasa takut (khowf),
harapan (roja’), serta iman dalam hal tersebut, namun mereka berbeda
tingkat keutamaannya pada hal-hal di luar pokok iman dalam seluruh perkara
tersebut.[4]
[20]
Syafa’at Para Nabi, Timbangan, dan Telaga
وَاللهُ
تَعَالَى مُتَفَضِّلٌ عَلَى عِبَادِهِ عَادِلٌ، قَدْ يُعْطِي مِنَ الثَّوَابِ أَضْعَافَ مَا
يَسْتَوْجِبُهُ الْعَبْدُ تَفَضُّلًا مِنْهُ، وَقَدْ يُعَاقِبُ عَلَى الذَّنْبِ عَدْلًا
مِنْهُ، وَقَدْ يَعْفُو فَضْلًا مِنْهُ، وَشَفَاعَةُ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلَامُ
حَقٌّ، وَشَفَاعَةُ النَّبِيِّ ﷺ لِلْمُؤْمِنِينَ الْمُذْنِبِينَ وَلِأَهْلِ الْكَبَائِرِ
مِنْهُمُ الْمُسْتَوْجِبِينَ الْعِقَابَ حَقٌّ ثَابِتٌ، وَوَزْنُ الْأَعْمَالِ بِالْمِيزَانِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَقٌّ، وَحَوْضُ النَّبِيِّ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
حَقٌّ
Alloh Maha
Memberi karunia kepada hamba-hamba-Nya lagi Maha Adil. Dia terkadang memberikan
pahala berlipat ganda dari yang berhak diterima hamba sebagai bentuk
karunia-Nya, terkadang menghukum atas dosa sebagai bentuk keadilan-Nya, dan
terkadang mengampuni sebagai bentuk kemurahan-Nya. Syafa’at para Nabi ‘alaihimus
salam adalah benar, syafa’at Nabi ﷺ bagi kaum Mu’minin yang berdosa dan para pelaku dosa besar di
antara mereka yang berhak menerima hukuman adalah kebenaran yang nyata,
penimbangan amal dengan Timbangan (Mizaan) pada hari Qiyamah adalah benar, dan
Telaga (Haudh) Nabi ﷺ
adalah benar.
[21]
Surga dan Neraka Tidak Akan Binasah
وَالْقِصَاصُ
فِيمَا بَيْنَ الْخُصُومِ بِالْحَسَنَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَقٌّ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمُ الْحَسَنَاتُ فَطُرِحَ
السَّيِّئَاتُ عَلَيْهِمْ حَقٌّ جَائِزٌ، وَالْجَنَّةُ وَالنَّارُ مَخْلُوقَتَانِ لَا
تَفْنَيَانِ أَبَدًا، وَلَا يَفْنَى عِقَابُ اللهِ تَعَالَى وَثَوَابُهُ سَرْمَدًا،
وَاللهُ تَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ فَضْلًا مِنْهُ، وَيُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ عَدْلًا
مِنْهُ، وَإِضْلَالُهُ خِذْلَانُهُ، وَتَفْسِيرُ الْخِذْلَانِ أَنْ لَا يُوَفِّقَ الْعَبْدَ
إِلَى مَا يَرْضَاهُ، وَهُوَ عَدْلٌ مِنْهُ، وَكَذَا عُقُوبَةُ الْمَخْذُولِ عَلَى
الْمَعْصِيَةِ
Qishosh
antarpihak yang berselisih dengan menggunakan kebaikan-kebaikan (transfer pahala)
pada hari Qiyamah adalah benar, dan jika mereka tidak memiliki kebaikan, maka
penimpaan keburukan-keburukan (transfer dosa) lawan kepada mereka adalah benar
dan sah. Jannah dan Naar adalah dua ciptaan yang tidak akan binasa selamanya,
serta azab dan pahala Alloh tidak akan berakhir selamanya. Alloh memberi
petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki sebagai bentuk karunia-Nya, dan
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki sebagai bentuk keadilan-Nya.
Penyesatan-Nya adalah pembiaran-Nya (khidzlan), dan makna khidzlan
adalah tidak memberi taufiq kepada hamba menuju apa yang diridhoi-Nya, dan itu
merupakan keadilan dari-Nya, demikian pula hukuman atas orang yang dibiarkan
tersebut karena kemaksiatan yang dilakukannya.
[22]
‘Adzab Kubur
وَلَا
يَجُوزُ أَنْ نَقُولَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْلُبُ الْإِيمَانَ مِنَ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ
قَهْرًا وَجَبْرًا، وَلَكِنْ نَقُولُ الْعَبْدُ يَدَعُ الْإِيمَانَ
فَحِينَئِذٍ يَسْلُبُهُ مِنْهُ الشَّيْطَانُ، وَسُؤَالُ مُنْكَرٍ وَنَكِيرٍ حَقٌّ كَائِنٌ
فِي الْقَبْرِ، وَإِعَادَةُ الرَّوْحِ إِلَى الْجَسَدِ فِي قَبْرِهِ حَقٌّ، وَضَغْطَةُ
الْقَبْرِ وَعَذَابُهُ حَقٌّ كَائِنٌ لِلْكُفَّارِ كُلِّهِمْ وَلِبَعْضِ عُصَاةِ الْمُؤْمِنِينَ
حَقٌّ جَائِزٌ، وَكُلُّ شَيْءٍ ذَكَرَهُ الْعُلَمَاءُ بِالْفَارِسِيَّةِ مِنْ صِفَاتِ
اللهِ عَزَّ اسْمُهُ فَجَائِزٌ الْقَوْلُ بِهِ سِوَى الْيَدِ بِالْفَارِسِيَّةِ، وَيَجُوزُ
أَنْ يُقَالَ (بِرُويْءِ خُد) أَيْ عَزَّ وَجَلَّ بِلَا تَشْبِيهٍ وَلَا كَيْفِيَّةٍ
Kita tidak
boleh menyatakan bahwa syaithon merampas iman dari hamba yang Mu’min secara
paksa dan paksaan keras. Namun kita menyatakan bahwa hamba itulah yang
meninggalkan iman, lalu pada saat itulah syaithon merampasnya darinya.
Pertanyaan Munkar dan Nakir adalah benar terjadi di dalam kubur, pengembalian
ruh ke jasad di dalam kuburnya adalah benar, serta himpitan kubur dan ‘adzabnya
adalah benar terjadi bagi seluruh orang kafir dan berlaku bagi sebagian pelaku
maksiat dari kaum Mu’minin. Setiap istilah mengenai shifat-shifat Alloh yang
disebutkan oleh para ulama dalam bahasa Persia boleh diucapkan kecuali kata
Tangan dalam bahasa Persia, dan boleh dikatakan “Beruy Khod” (artinya ‘Azza wa
Jalla) tanpa penyerupaan dan tanpa kaifiyyah.
[23]
Makna Kedekatan dan Kejauhan
وَلَيْسَ
قُرْبُ اللهِ تَعَالَى وَلَا بُعْدُهُ مِنْ طَرِيقِ طُولِ الْمَسَافَةِ وَقِصَرِهَا
وَلَكِنْ عَلَى مَعْنَى الْكَرَامَةِ وَالْهَوَانِ، وَالْمُطِيعُ قَرِيبٌ مِنْهُ بِلَا كَيْفَ،
وَالْعَاصِي بَعِيدٌ مِنْهُ بِلَا كَيْفَ، وَالْقُرْبُ وَالْبُعْدُ وَالْإِقْبَالُ
يَقَعُ عَلَى الْمُنَاجِي، وَكَذَلِكَ جِوَارُهُ فِي الْجَنَّةِ وَالْوُقُوفُ بَيْنَ
يَدَيْهِ بِلَا كَيْفِيَّةٍ
Kedekatan
Alloh maupun kejauhan-Nya bukanlah dari segi panjang
atau pendeknya jarak fisik, melainkan dalam makna kemuliaan dan
kehinaan: orang yang taat adalah dekat dari-Nya tanpa kaifiyyah, sedangkan
orang yang ma’shiat adalah jauh dari-Nya tanpa kaifiyyah. Kedekatan,
kejauhan, dan penyambutan itu berlaku bagi orang yang bermunajat, demikian pula
kedudukan bertetangga dengan keagungan-Nya di Jannah serta berdiri di
hadapan-Nya terjadi tanpa kaifiyyah.
[24]
Keutamaan Ayat-Ayat Al-Qur’an
وَالْقُرْآنُ
مُنَزَّلٌ عَلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ وَهُوَ فِي الْمَصَاحِفِ مَكْتُوبٌ، وَآيَاتُ الْقُرْآنِ
فِي مَعْنَى الْكَلَامِ كُلُّهَا مُسْتَوِيَةٌ فِي الْفَضِيلَةِ وَالْعَظَمَةِ إِلَّا
أَنَّ لِبَعْضِهَا فَضِيلَةَ الذِّكْرِ وَفَضِيلَةَ الْمَذْكُورِ مِثْلَ آيَةِ الْكُرْسِيِّ،
لِأَنَّ الْمَذْكُورَ فِيهَا جَلَالُ اللهِ تَعَالَى وَعَظَمَتُهُ وَصِفَاتُهُ، فَاجْتَمَعَتْ
فِيهَا فَضِيلَتَانِ فَضِيلَةُ الذِّكْرِ وَفَضِيلَةُ الْمَذْكُورِ، وَلِبَعْضِهَا
فَضِيلَةُ الذِّكْرِ فَحَسْبُ مِثْلَ قِصَّةِ الْكُفَّارِ وَلَيْسَ لِلْمَذْكُورِ فِيهَا
فَضْلٌ وَهُمُ الْكُفَّارُ، وَكَذَلِكَ الْأَسْمَاءُ وَالصِّفَاتُ كُلُّهَا مُسْتَوِيَةٌ
فِي الْعَظَمَةِ وَالْفَضْلِ، لَا تَفَاوُتَ بَيْنَهَا
Al-Qur’an
diturunkan kepada Rosululloh ﷺ
dan tertulis dalam mushaf-mushaf. Ayat-ayat Al-Qur’an dalam makna sebagai
Firman Alloh seluruhnya sederajat dalam keutamaan dan keagungan, hanya saja
sebagian ayat memiliki keutamaan sebutan sekaligus keutamaan Hal yang
Disebutkan (Alloh), seperti Ayat Kursi, karena Hal yang Disebutkan di
dalamnya adalah keagungan Alloh, kebesaran-Nya, dan shifat-shifat-Nya, sehingga
berkumpul padanya dua keutamaan: keutamaan sebutan dan keutamaan Hal yang
Disebutkan. Sebagian ayat lainnya hanya memiliki keutamaan sebutan semata,
seperti kisah orang-orang kafir, sebab tidak ada keutamaan pada hal yang
disebutkan di dalamnya yaitu orang-orang kafir. Demikian pula nama-nama dan
shifat-shifat Alloh seluruhnya sederajat dalam keagungan dan keutamaan tanpa
ada perbedaan di antaranya.
[25]
Putra dan Putri Rosululloh ﷺ
وَقَاسِمٌ
وَطَاهِرٌ وَإِبْرَاهِيمُ كَانُوا بَنِي رَسُولِ اللهِ ﷺ، وَفَاطِمَةُ وَرُقَيَّةُ وَزَيْنَبُ وَأُمُّ
كُلْثُومٍ كُنَّ جَمِيعًا بَنَاتِ رَسُولِ اللهِ ﷺ
Qosim,
Thohir, dan Ibrohim adalah putra-putra Rosululloh ﷺ, sedangkan Fathimah,
Ruqoyyah, Zainab, dan Ummu Kultsum semuanya adalah putri-putri Rosululloh ﷺ.
[26]
Jika Muncul Keraguan dalam Aqidah*
وَإِذَا
أَشْكَلَ عَلَى الْإِنْسَانِ شَيْءٌ مِنْ دَقَائِقِ عِلْمِ التَّوْحِيدِ فَإِنَّهُ
يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَعْتَقِدَ فِي الْحَالِ مَا هُوَ الصَّوَابُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى
إِلَى أَنْ يَجِدَ عَالِمًا فَيَسْأَلَهُ، وَلَا يَسَعُهُ تَأْخِيرُ الطَّلَبِ، وَلَا
يُعْذَرُ بِالْوُقُوفِ فِيهِ، وَيَكْفُرُ إِنْ وَقَفَ وَخَبَرُ الْمِعْرَاجِ حَقٌّ،
مَنْ رَدَّهُ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ ضَالٌّ
Apabila
timbul keraguan pada diri seseorang mengenai hal-hal yang rumit dari ilmu
Tauhid, maka sepantasnya dia langsung meyakini apa yang benar di sisi Alloh
hingga dia menemukan seorang ulama lalu menanyakannya, dan dia tidak boleh
menunda-nunda pencarian ilmu serta tidak diberi udzur jika bersikap
ragu-ragu/diam tanpa mencari kebenaran, bahkan dia bisa menjadi kufur jika
tetap berada dalam keraguan tersebut. Berita mengenai Al-Mi’roj adalah benar,
dan siapa menolaknya maka dia adalah pelaku bid’ah yang sesat.
[27]
Tanda-Tanda Hari Qiyamah
وَخُرُوجُ
الدَّجَّالِ وَيَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَطُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولُ
عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ مِنَ السَّمَاءِ وَسَائِرُ عَلَامَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
عَلَى مَا وَرَدَتْ بِهِ الْأَخْبَارُ الصَّحِيحَةُ حَقٌّ كَائِنٌ، وَاللهُ تَعَالَى يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى
صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Keluarnya
Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya,
turunnya ‘Isa ‘alaihissalam dari langit, serta seluruh tanda-tanda hari
Qiyamah sebagaimana yang tertera dalam riwayat-riwayat yang shohih adalah benar
terjadi, dan Alloh memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki menuju
jalan yang lurus.[]
[1] Beliau penulis Syarah Al-Fiqhul Akbar dengan metode
Salaf, yang terjemah ini merujuk kepada kitab beliau tersebut. Di kitab
tersebut menghimpun dua syarah: Fiqhul Akbar (riwayat Hammad bin Imam
Abu Hanifah) dan Fiqhul Absath (riwayat Abu Muthi’ Al-Hakam), seperti
yang dikatakan penulis.
[2] Apa yang kami tandai merah,
maka itu perlu dikaji ulang karena mungkin salah atau muhtamal (perlu
perincian). Kemungkinan itu sisipan orang
lain, bukan kalam Imam Abu Hanifah. Allohu a’lam.
[3] Ungkapan yang lebih tepat jumhur Salaf: imam mencakup amal,
segala amal sholih dari anggota badan termasuk iman, dan iman bisa bertambah
dan berkurang, tiap orang tidak sama asal imannya, meski sama amal anggota
badannya. Ada yang mengatakan, Abu Hanifah rohimahulloh tidak diingkari
kecuali bab ini. Namun, hasil esensinya sama: seseorang bisa kafir dengan amal
seperti menginjak mushaf dengan sadar merendahkannya, dan amal mempengaruhi
nasib di Akhirat.
[4] Ini merupakan turunan dari tidak memasukkan amal dalam iman, meskipun mempengaruhi nasib di Akhirat. Yang benar: seluruh amal (batin dan lahir) termasuk iman.
.jpg)