[PDF] Keutamaan ‘Utsman bin ‘Affan (35 H) - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Buku ini
disusun untuk mengumpulkan Hadits-Hadits shohih yang menerangkan keutamaan
Amirul Mu’minin ‘Utsman bin Affan (35 H), sosok Kholifah ketiga dalam Khilafah
Ar-Rosyidah yang memiliki kedudukan amat agung di sisi Alloh ﷻ dan
Rosul-Nya ﷺ.
Beliau adalah lelaki yang dihiasi dengan sifat malu, kedermawanan, serta
pengorbanan jiwa dan harta di jalan Alloh ﷻ. Kedudukan beliau yang amat
mulia ditegaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shohihah. Alloh ﷻ
berfirman mengenai hamba-hamba-Nya yang khusyu’ beribadah di malam hari:
﴿أَمَّنْ
هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو
رَحْمَةَ رَبِّهِ﴾
“Apakah
orang yang beribadah pada waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedang dia
takut kepada adzab Akhiroh dan mengharapkan rohmat Robb-nya sama dengan orang
musyrik?” (QS. Az-Zumar: 9)
Ibnu Abi
Hatim (327 H) berkata: Umar bin Syubbah (262 H) menceritakan kepada kami, dari
Ubaidah An-Numairi, Abu Kholaf Abdulloh bin Isa Al-Khozzaz menceritakan kepada
kami, Yahya Al-Bakka’ menceritakan kepada kami, bahwasanya ia mendengar Ibnu
Umar (73 H) membaca:
﴿أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ
سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ﴾
Apakah
orang yang beribadah pada waktu malam dengan bersujud dan berdiri, sedang dia
takut kepada adzab Akhiroh dan mengharapkan rohmat Robb-nya sama dengan orang
musyrik? (QS. Az-Zumar: 9)
Ibnu Umar
(73 H) berkata: “Dia adalah ‘Utsman bin Affan rodhiyallahu ‘anhu.”
Ibnu Umar
mengatakan hal demikian tidak lain karena banyaknya Sholat malam dan bacaan
Al-Qur’an Amirul Mu’minin ‘Utsman, hingga terkadang beliau membaca seluruh
Al-Qur’an dalam 1 rokaat, sebagaimana dirwayatkan oleh Abu Ubaidah (224 H) dari
beliau rodhiyallahu 'anhu. (Tafsir Ibnu Katsir, 7/88)
Pembahasan
dalam buku ini menyajikan dalil-dalil shohih agar menjadi petunjuk dan penjelas
bagi setiap Mu’min yang ingin meneladani keutamaan ‘Utsman bin Affan (35 H).
Bab 1: Akhlaq ‘Utsman
1.1
Nasab dan Gelar Dzun Nuroin
‘Utsman bin
Affan bin Abi Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf Al-Qurosyi
Al-Umawi (35 H) lahir 5 tahun setelah Perang Gajah. Beliau memiliki kedudukan
yang sangat istimewa di sisi Rosululloh ﷺ karena menikah dengan 2 putri Rosululloh ﷺ, yaitu Ruqoyyah (2 H) dan
setelah Ruqoyyah wafat, beliau menikah dengan Ummu Kultsum (9 H). Karena sebab
inilah beliau dijuluki Dzun Nuroin (pemilik 2 cahaya).
Dan dari
Az-Zubair bin Bakkar ia berkata: “Dahulu Ruqoyyah (2 H) putri Rosululloh ﷺ menjadi istri Utbah bin Abi
Lahab, lalu Utbah menceraikannya. Kemudian ‘Utsman bin Affan (35 H) menikah
dengan Ruqoyyah (2 H) di Makkah, dan Ruqoyyah berhijroh bersamanya ke negeri
Habasyah (Ethiopia). Lalu Ruqoyyah melahirkan baginya seorang anak bernama
Abdulloh, dan dengannya ‘Utsman diberi kunyah (julukan Abu Abdillah). Kemudian
Ruqoyyah datang bersamanya ke Madinah, lalu ‘Utsman tidak ikut Perang Badr karena
merawatnya atas izin Rosululloh ﷺ, dan Rosululloh ﷺ menetapkan baginya bagian pahala beserta harta rampasan perang
sebagaimana para peserta Perang Badr. ‘Utsman berkata: “Dan pahalaku wahai
Rosululloh?” Beliau bersabda: “Dan pahalamu juga.” (Majma’ Az-Zawa’id,
Al-Haitsami, no. 15239, shohih)
Dan dari
Az-Zuhri (124 H) ia berkata: “‘Utsman menikah dengan Ummu Kultsum (9 H) putri
Rosululloh ﷺ
lalu Ummu Kultsum wafat di sisinya, dan ia tidak melahirkan seorang anak pun
baginya.” (Majma’ Az-Zawa’id, Al-Haitsami, no. 15241, shohih)
Dari
Abdulloh bin Umar (73 H) ia berkata: “Abu Bakr Ash-Shiddiq, kalian telah
mendapati namanya yang tepat. Umar adalah tanduk dari besi. ‘Utsman Dzun
Nuroin, kalian telah mendapati namanya yang tepat, ia dibunuh secara zholim,
ia diberi 2 bagian pahala.” (Majma’ Az-Zawa’id, Al-Haitsami, no. 14538,
shohih)
Kemuliaan
ini begitu membekas pada diri Rosululloh ﷺ hingga beliau menegaskan keutamaan ‘Utsman bilamana ada putri
beliau yang lain.
Dari
Al-Hasan Al-Bashri (110 H) ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda ketika putri beliau
yang ke-2 (Ummu Kultsum) wafat:
«أَلَا أَبَا أَيِّمٍ أَوْ أَخَاهَا
يُزَوِّجُ عُثْمَانَ فَلَوْ كَانَتْ عِنْدَنَا ثَالِثَةٌ لَزَوَّجْنَاهَا»
“Tidakkah
ada seorang ayah atau saudara dari wanita lanjang yang mau menikahkan putrinya
dengan ‘Utsman? Seandainya kami memiliki putri yang ke-3, niscaya kami akan
menikahkan ‘Utsman dengannya.” (HR. Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 39/45,
mursal)
1.2
Sifat Malu ‘Utsman bin Affan
Sifat malu
merupakan cerminan keimanan yang amat kuat pada diri ‘Utsman bin Affan (35 H).
Kemuliaan akhlaq ini menjadikan para Malaikat merasa malu kepada beliau. Dari
Aisyah (58 H) ia menceritakan kisah yang sangat masyhur mengenai sifat malu ‘Utsman
bin Affan (35 H):
كَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ مُضْطَجِعًا فِي بَيْتِي، كَاشِفًا عَنْ فَخِذَيْهِ،
أَوْ سَاقَيْهِ، فَاسْتَأْذَنَ أَبُو بَكْرٍ فَأَذِنَ لَهُ، وَهُوَ عَلَى تِلْكَ الْحَالِ،
فَتَحَدَّثَ، ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُمَرُ، فَأَذِنَ لَهُ، وَهُوَ كَذَلِكَ، فَتَحَدَّثَ،
ثُمَّ اسْتَأْذَنَ عُثْمَانُ، فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، وَسَوَّى ثِيَابَهُ - قَالَ مُحَمَّدٌ: وَلَا
أَقُولُ ذَلِكَ فِي يَوْمٍ وَاحِدٍ - فَدَخَلَ فَتَحَدَّثَ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَتْ
عَائِشَةُ: دَخَلَ أَبُو بَكْرٍ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ
عُمَرُ فَلَمْ تَهْتَشَّ لَهُ وَلَمْ تُبَالِهِ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ فَجَلَسْتَ
وَسَوَّيْتَ ثِيَابَكَ فَقَالَ: «أَلَا أَسْتَحِي مِنْ رَجُلٍ تَسْتَحِي مِنْهُ الْمَلَائِكَةُ»
Rosululloh ﷺ pernah berbaring di rumahku
dalam keadaan tersingkap kedua paha atau kedua betis beliau. Lalu Abu Bakr meminta
izin untuk masuk, maka beliau mengizinkannya sedang beliau tetap dalam keadaan
demikian, lalu mereka berbincang-bincang. Kemudian Umar meminta izin untuk
masuk, maka beliau mengizinkannya sedang beliau tetap dalam keadaan demikian,
lalu mereka berbincang-bincang. Kemudian ‘Utsman meminta izin untuk masuk, maka
Rosululloh ﷺ
duduk dan membetulkan pakaian beliau. Setelah ‘Utsman masuk dan
berbincang-bincang lalu keluar, Aisyah
berkata: “Abu Bakr (13 H) masuk tetapi engkau tidak bersiap-siap dan
tidak memperdulikannya,” kemudian Umar masuk engkau juga tidak bersiap-siap dan
tidak memperdulikannya, lalu ‘Utsman masuk engkau pun duduk dan membetulkan
pakaianmu.” Maka Rosululloh ﷺ
bersabda: “Apakah aku tidak merasa malu kepada seorang lelaki yang para malaikat
pun merasa malu kepadanya?” (HR. Muslim no. 2401)
Kelebihan ‘Utsman
dalam sifat malu ini dipuji langsung oleh Nabi ﷺ di hadapan para Shohabat. Dari Anas bin Malik (93 H) bahwasanya
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَرْحَمُ
أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهُمْ فِي أَمْرِ اللَّهِ عُمَرُ، وَأَصْدَقُهُمْ
حَيَاءً عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ، وَأَعْلَمُهُمْ بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ مُعَاذُ
بْنُ جَبَلٍ، وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينٌ وَأَمِينُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الجَرَّاحِ»
Dari Anas
bin Malik (93 H) bahwasanya Rosululloh ﷺ bersabda: “Umatku yang paling penyayang kepada umatku adalah
Abu Bakr (13 H), yang paling tegas dalam menjalankan agama Alloh adalah Umar
(23 H), dan yang paling jujur sifat malunya adalah ‘Utsman…” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3790 dan Ibnu Majah no. 154)
Bab 2: Kedermawanan ‘Utsman
2.1
Pembelian Sumur Rumah untuk Muslimin
Ketika kaum
Muslimin berhijroh ke Madinah, mereka mengalami kesulitan air bersih karena
sumur Rumah dimiliki oleh seorang lelaki Yahudi yang menjual airnya dengan
harga mahal. Rosululloh ﷺ
kemudian memberi kabar gembira berupa Jannah bagi siapa saja yang membeli sumur
tersebut untuk diwakafkan. Dari Abu Huroiroh (57 H) bahwasanya Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
حَفَرَ بِئْرَ رُومَةَ فَلَهُ الْجَنَّةُ»
“Barangsiapa
yang menggali (membeli dan mewakafkan) sumur Rumah, maka baginya Jannah.” Lalu ‘Utsman
menggalinya (mewakafkannya). (HR. Al-Bukhori no. 2778)
Sifat
dermawan ‘Utsman ini dirasakan oleh seluruh kaum Muslimin, di mana beliau
membeli sumur Rumah dengan harta pribadinya sebesar 20.000 dirham lalu
menjadikannya sebagai wakaf umum untuk kaum Muslimin dan siapapun yang
membutuhkan tanpa memungut bayaran sedikit pun.
2.2
Penyiapan Pasukan Jaisyul Usroh
Pada Perang
Tabuk yang dikenal sebagai perang Usroh (kesulitan), kaum Muslimin menghadapi
musim panas yang sangat terik dan jarak tempuh yang amat jauh serta
keterbatasan perbekalan. Rosululloh ﷺ meminta pengorbanan harta dari para Shohabat untuk membiayai
pasukan tersebut. ‘Utsman bin Affan (35 H) tampil memberikan infaq terbesar.
Dari
Abdurrohman bin Samuroh (40 H) ia berkata: ‘Utsman datang kepada Nabi ﷺ membawa 1000 dinar (sekitar 6
miliar) ketika beliau menyiapkan pasukan perang Usroh (Perang Tabuk), lalu ‘Utsman
menebarkannya ke pangkuan beliau. Maka aku melihat Nabi ﷺ membolak-balikkannya di
pangkuan beliau seraya bersabda 2 kali:
«مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ اليَوْمِ»
“Tidak ada
bahaya bagi ‘Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 3701)
Dari
Abdurrohman bin Khobbab ia berkata: Aku menyaksikan Nabi ﷺ memotivasi pasukan perang
Usroh (Perang Tabuk), maka ‘Utsman bin Affan (35 H) berdiri dan berkata: “Wahai
Rosululloh, aku menanggung 100 unta beserta pelana dan perlengkapannya di jalan
Alloh.” Kemudian Nabi ﷺ
memotivasi kembali pasukan, maka ‘Utsman bin Affan (35 H) berdiri lagi dan
berkata: “Wahai Rosululloh, aku menanggung 200 unta beserta pelana dan
perlengkapannya di jalan Alloh.” Kemudian Nabi ﷺ memotivasi kembali pasukan, maka ‘Utsman bin Affan (35 H)
berdiri lagi dan berkata: “Wahai Rosululloh, aku menanggung 300 unta beserta
pelana dan perlengkapannya di jalan Alloh.” Maka aku melihat Rosululloh ﷺ turun dari mimbar seraya
bersabda:
«مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذِهِ، مَا عَلَى عُثْمَانَ مَا عَمِلَ
بَعْدَ هَذِهِ»
“Tidak
ada dosa/bahaya bagi ‘Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini, tidak
ada dosa/bahaya bagi ‘Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.” (HR.
At-Tirmidzi no. 3700, lemah)
Bab 3: Kabar Gembira Jannah
Keutamaan ‘Utsman
bin Affan (35 H) sebagai salah satu dari 10 Shohabat yang dijamin masuk Jannah
ditegaskan dalam banyak riwayat shohih. Dalam sebuah peristiwa di kebun Aris,
Nabi ﷺ
memberikan persaksian langsung. Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) ia
menceritakan:
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) bahwasanya ia berwudhu di rumahnya lalu keluar seraya
berkata: “Aku akan menyertai Rosululloh ﷺ dan bersamanya pada hari ini.” Maka ia mendatangi Masjid dan
menanyakan Nabi ﷺ,
orang-orang menjawab: “Beliau keluar menuju arah sini.” Maka aku mengikuti
jejak beliau sambil bertanya-tanya hingga beliau masuk ke sumur Aris. Aku duduk
di dekat pintu hingga Nabi ﷺ
menyelesaikan hajatnya dan berwudhu. Lalu aku mendatangi beliau dan ternyata
beliau duduk di atas sumur Aris di pertengahan dindingnya dengan tersingkap
kedua betisnya yang dijuntaikan ke dalam sumur. Aku mengucapkan salam kepada
beliau lalu kembali duduk di pintu seraya berkata: Aku akan menjadi penjaga
pintu Rosululloh ﷺ
hari ini. Kemudian datang Abu Bakr (13 H) mendorong pintu, aku bertanya: “Siapa
ini?” Ia menjawab: “Abu Bakr.” Aku berkata: “Tunggulah sebentar.” Lalu aku
menemui Rosululloh ﷺ
dan berkata: “Wahai Rosululloh, ini Abu Bakr meminta izin masuk.” Beliau
bersabda: “Izinkanlah dia dan berilah kabar gembira dengan Jannah.” Maka aku
menemui Abu Bakr (13 H) dan berkata: “Masuklah, Rosululloh ﷺ memberi kabar gembira
kepadamu dengan Jannah.” Lalu Abu Bakr (13 H) masuk dan duduk di sebelah kanan
Rosululloh ﷺ
di atas dinding sumur seraya menjuntaikan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana
yang dilakukan Nabi ﷺ.
Kemudian aku kembali dan duduk, lalu datang Umar (23 H) mendorong pintu, aku
bertanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “Umar bin Al-Khottob.” Aku berkata: “Tunggulah
sebentar.” Lalu aku menemui Rosululloh ﷺ dan berkata: “Ini Umar bin Al-Khottob meminta izin masuk.”
Beliau bersabda: “Izinkanlah dia dan berilah kabar gembira dengan Jannah.” Maka
aku menemui Umar (23 H) dan berkata: “Masuklah, Rosululloh ﷺ memberi kabar gembira
kepadamu dengan Jannah.” Lalu Umar (23 H) masuk dan duduk bersama Rosululloh ﷺ di sebelah kiri beliau seraya
menjuntaikan kedua kakinya ke dalam sumur. Kemudian aku kembali dan duduk, lalu
datang ‘Utsman mendorong pintu, aku bertanya: “Siapa ini?” Ia menjawab: “‘Utsman
bin Affan.” Aku berkata: “Tunggulah sebentar.” Lalu aku menemui Rosululloh ﷺ dan mengabarkan beliau. Maka
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«ائْذَنْ
لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ، عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ»
“Izinkanlah
dia dan berilah kabar gembira dengan Jannah atas cobaan yang akan menimpanya.”
Maka aku menemuinya dan berkata: “Masuklah, Rosululloh ﷺ memberi kabar gembira
kepadamu dengan Jannah atas cobaan yang akan menimpamu.” Lalu ‘Utsman masuk dan
mendapati dinding sumur telah penuh, maka ia duduk berhadapan dengan mereka di
sisi yang lain. (HR. Al-Bukhori no. 3674 dan Muslim no. 2403)
Persaksian
lain mengenai kedudukan ‘Utsman sebagai seorang syahid terlihat sewaktu beliau
berada di atas Gunung Uhud bersama Nabi ﷺ, Abu Bakr (13 H), dan Umar (23 H).
Dari Anas
bin Malik (93 H) bahwasanya Nabi ﷺ menaiki gunung Uhud bersama Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan ‘Utsman.
Lalu gunung itu berguncang, maka Nabi ﷺ menghentakkan kaki beliau seraya bersabda:
«اثْبُتْ
أُحُدُ فَمَا عَلَيْكَ إِلَّا نَبِيٌّ، أَوْ صِدِّيقٌ، أَوْ شَهِيدَانِ»
“Tenanglah
wahai Uhud! Karena di atasmu hanyalah seorang Nabi, seorang Shiddiq (Abu Bakr),
dan dua orang Syahid (Umar dan ‘Utsman).” (HR. Al-Bukhori no. 3686)
Bab 4: Jasa Besar Bagi Islam
4.1
Penetapan Khilafah Ar-Rosyidah
Kedudukan ‘Utsman
bin Affan (35 H) sebagai Kholifah Ar-Rosyid ketiga diakui oleh segenap kaum
Muslimin berdasarkan ketetapan As-Sunnah. Dari Safinah (60 H) bahwasanya
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«خِلَافَةُ
النُّبُوَّةِ ثَلَاثُونَ سَنَةً، ثُمَّ يُؤْتِي اللَّهُ الْمُلْكَ أَوْ مُلْكَهُ مَنْ
يَشَاءُ»
“Khilafah
kenabian itu selama 30 tahun, kemudian Alloh memberikan kerajaan kepada siapa
yang Dia kehendaki.” (HSR. Abu Dawud no. 4646 dan At-Tirmidzi no. 2226)
4.2
Ikut Baiat Ridhwan
Kesetiaan
para Shohabat kepada ‘Utsman bin Affan (35 H) juga terbukti nyata saat
peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Ketika timbul desas-desus bahwa ‘Utsman
terbunuh di Makkah saat menjadi utusan Rosululloh ﷺ, Nabi ﷺ mengambil bai’at dari para
Shohabat di bawah pohon (Baitur Ridwan) dan menjadikan tangan beliau sendiri
sebagai wakil tangan ‘Utsman.
Dari Ibnu
Umar (73 H) ia menceritakan: Adapun tidak hadirnya ‘Utsman pada peristiwa
Baitur Ridwan, seandainya ada seseorang yang lebih disegani di kota Makkah melebihi
‘Utsman, niscaya Rosululloh ﷺ
akan mengutus orang tersebut sebagai gantinya. Lalu Rosululloh ﷺ mengutus ‘Utsman, dan Baitur
Ridwan terjadi setelah ‘Utsman berangkat ke Makkah. Maka Rosululloh ﷺ memberi isyarat dengan tangan
kanan beliau seraya bersabda:
«هَذِهِ يَدُ عُثْمَانَ»
“Ini adalah
tangan ‘Utsman.”
Lalu beliau
memukulkan tangan kanan itu ke tangan beliau yang lain seraya bersabda:
«هَذِهِ لِعُثْمَانَ»
“Ini
adalah bai’at untuk ‘Utsman.” (HR. Al-Bukhori no. 3698)
4.3
Penyatuan Ummat dalam Pengumpulan Mushaf Al-Qur’an
Di antara
jasa terbesar ‘Utsman bin Affan (35 H) bagi seluruh kaum Muslimin sepanjang
zaman adalah menyatukan penulisan Mushaf Al-Qur’an (Mushaf ‘Utsmani) guna
mencegah perselisihan bacaan di antara umat Islam yang kian meluas wilayah
kekuasaannya. Dari Anas bin Malik (93 H) menceritakan kronologi peristiwa
bersejarah ini: Hudzaifah bin Al-Yaman (36 H) datang menghadap ‘Utsman. Saat
itu Hudzaifah sedang berperang bersama penduduk Syam dalam penaklukan Armenia
dan Azerbaijan bersama penduduk Iraq. Hudzaifah merasa khawatir melihat perselisihan
mereka dalam bacaan Al-Qur’an. Maka Hudzaifah berkata kepada ‘Utsman: “Wahai
Amirul Mu’minin, selamatkanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Kitab
Alloh sebagaimana perselisihan Yahudi dan Nashroni.” Maka ‘Utsman (35 H)
mengutus seseorang kepada Hafshoh (45 H):
أَنْ أَرْسِلِي إِلَيْنَا بِالصُّحُفِ
نَنْسَخُهَا فِي المَصَاحِفِ، ثُمَّ نَرُدُّهَا إِلَيْكِ
“Kirimkanlah
lembaran-lembaran Al-Qur’an kepada kami agar kami menyalinnya ke dalam beberapa
Mushaf, kemudian kami akan mengembalikannya kepadamu.”
Maka
Hafshoh (45 H) mengirimkannya kepada ‘Utsman (35 H). Lalu ‘Utsman (35 H)
memerintahkan Zaid bin Tsabit (45 H), Abdulloh bin Az-Zubair (73 H), Sa’id bin
Al-Ash (58 H), dan Abdurrohman bin Al-Harits bin Hisyam (43 H), kemudian mereka
menyalinnya ke dalam beberapa Mushaf. ‘Utsman (35 H) berkata kepada 3 orang
dari suku Quroisy tersebut:
«إِذَا اخْتَلَفْتُمْ أَنْتُمْ وَزَيْدُ
بْنُ ثَابِتٍ فِي شَيْءٍ مِنَ القُرْآنِ فَاكْتُبُوهُ بِلِسَانِ قُرَيْشٍ، فَإِنَّمَا
نَزَلَ بِلِسَانِهِمْ»
“Jika
kalian dan Zaid bin Tsabit (45 H) berselisih tentang sesuatu dari Al-Qur’an,
maka tulislah dengan lisan (dialek) Quroisy, karena Al-Qur’an turun dengan
lisan mereka.”
Mereka pun
melakukannya. Setelah mereka menyalin lembaran-lembaran tersebut ke dalam
beberapa Mushaf, ‘Utsman (35 H) mengembalikan lembaran asli kepada Hafshoh (45
H) dan mengirimkan ke setiap wilayah satu Mushaf dari hasil salinan tersebut,
serta memerintahkan agar Al-Qur’an yang selain itu dalam setiap lembaran atau
Mushaf lainnya untuk dibakar. (HR. Al-Bukhori no. 4987)
Ibnu Syihab
(124 H) berkata: Dan telah mengabarkan kepadaku Khorijah bin Zaid bin Tsabit,
ia mendengar Zaid bin Tsabit (45 H) berkata: “Aku kehilangan satu ayat dari
surat Al-Ahzab ketika kami sedang menyalin Mushaf, yang aku pernah mendengar
Rosululloh ﷺ
membacanya. Lalu kami mencarinya dan kami menemukannya bersama Khuzaimah bin
Tsabit Al-Anshori (36 H):
﴿مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا
مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ﴾
“Di antara
orang-orang Mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka
janjikan kepada Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 23)
Maka kami
menyisipkannya ke dalam suratnya di dalam Mushaf.” (HR. Al-Bukhori no. 4988)
Bab 5: Fitnah, Kesabaran, dan
Cobaan ‘Utsman
5.1
Fitnah dan Perintah Bertahan
Peristiwa
fitnah yang menimpa ‘Utsman bin Affan (35 H) telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ jauh sebelum kejadian
tersebut berlangsung. Beliau mengabarkan bahwa pada saat terjadinya kekacauan
dan fitnah besar, ‘Utsman bin Affan (35 H) berada di atas jalan kebenaran dan
petunjuk.
Dari Abu
Al-Asy’ats Ash-Shon’ani bahwasanya para penceramah berdiri di Syam dan di
antara mereka terdapat para Shohabat Rosululloh ﷺ. Lalu berdiri orang paling
akhir dari mereka yaitu seorang lelaki yang dipanggil Murroh bin Ka’b, ia
berkata: “Seandainya bukan karena satu Hadits yang aku dengar dari Rosululloh ﷺ niscaya aku tidak akan
berdiri. —Lalu ia menyebutkan tentang fitnah-fitnah dan menggambarkan betapa
dekatnya fitnah tersebut— Kemudian lewatlah seorang lelaki yang menutupi
kepalanya dengan pakaiannya, maka Nabi ﷺ bersabda:
«هَذَا يَوْمَئِذٍ عَلَى الهُدَى»
“Orang
ini pada hari itu berada di atas petunjuk.”
Maka aku
berdiri mendatanginya dan ternyata dia adalah ‘Utsman bin Affan (35 H). Lalu
aku menghadapkan wajah ‘Utsman (35 H) kepada Nabi ﷺ seraya bertanya: Orang
inikah? Beliau bersabda: “Ya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3704)
Rosululloh ﷺ juga memberikan wasiat khusus
kepada ‘Utsman bin Affan (35 H) agar beliau tidak melepaskan amanah
kepemimpinan yang telah diberikan Alloh ﷻ kepadanya, meskipun
orang-orang zholim menuntutnya untuk melepaskannya. Dari Aisyah (58 H)
bahwasanya Rosululloh ﷺ
bersabda:
«يَا
عُثْمَانُ إِنَّهُ لَعَلَّ اللَّهَ يُقَمِّصُكَ قَمِيصًا، فَإِنْ أَرَادُوكَ عَلَى
خَلْعِهِ فَلَا تَخْلَعْهُ لَهُمْ»
“Wahai ‘Utsman,
sesungguhnya boleh jadi Alloh akan mengenakan baju kepemimpinan kepadamu. Jika
orang-orang ingin melepaskan baju itu darimu, maka janganlah engkau melepaskannya
untuk mereka!” (HSR. At-Tirmidzi no. 3705 dan Ibnu Majah no. 112)
5.2
Kesabaran ‘Utsman Saat Dikepung
Keteguhan ‘Utsman
bin Affan (35 H) dalam menghadapi kepungan kaum pemberontak berlandaskan pada
janji dan pesanan khusus yang telah beliau terima secara langsung dari
Rosululloh ﷺ.
Beliau memilih untuk bersabar dan tidak membalas dengan tumpah darah kaum
Muslimin. Dari Aisyah (58 H) bahwasanya ‘Utsman bin Affan (35 H) berkata pada
hari kepungan:
«إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَدْ عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فَأَنَا صَابِرٌ
عَلَيْهِ»
“Sesungguhnya
Rosululloh ﷺ
telah mengikat janji kepadaku dengan suatu janji, maka aku senantiasa bersabar
atas janji tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3711)
Keutamaan
beliau yang senantiasa berpegang teguh pada kebenaran ditegaskan pula dalam
firman Alloh ﷻ
mengenai hamba-hamba-Nya yang bersabar:
﴿وَاصْبِرْ
وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ
مِمَّا يَمْكُرُونَ﴾
“Dan
bersabarlah wahai Nabi dan kesabaranmu itu tidak lain melainkan dengan
pertolongan Alloh, dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan
janganlah engkau bersempit dada terhadap apa yang mereka rekayasakan.” (QS.
An-Nahl: 127)
5.3
Mimpi Pertemuan dengan Nabi ﷺ Sebelum Ketetapan Ajal
Malam
sebelum beliau wafat dibunuh oleh para pemberontak yang zholim, ‘Utsman bin
Affan (35 H) bermimpi bertemu dengan Nabi ﷺ, Abu Bakr (13 H), dan Umar (23 H). Mimpi ini menjadi tanda
kabar gembira bahwa kewafatan beliau sebagai syahid sudah dekat.
Dari Muslim
Abu Sa’id bekas budak ‘Utsman bin Affan (35 H): Bahwasanya ‘Utsman bin Affan
(35 H) memerdekakan 20 orang budak milik beliau, lalu meminta celana sirwal
lalu mengikatnya kuat-kuat pada dirinya —dan beliau tidak pernah memakainya
baik pada masa jahiliyyah maupun Islam— seraya berkata: “Sesungguhnya aku
melihat Rosululloh ﷺ
tadi malam di dalam mimpi bersama Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H), lalu mereka
berkata kepadaku:
«اصْبِرْ فَإِنَّكَ تُفْطِرُ عِنْدَنَا
الْقَابِلَةَ»
“Bersabarlah
engkau, karena sesungguhnya engkau akan berbuka puasa bersama kami esok malam.”
Kemudian
beliau meminta Mushaf lalu membukanya di hadapan beliau, lalu beliau dibunuh
dalam keadaan Mushaf terbuka di hadapan beliau. (Majma’ Az-Zawa’id, 7/235,
shohih)
Bab 6: Kesepakatan Ummat Atas
Kemuliaan ‘Utsman
6.1
Keunggulan ‘Utsman di Antara Para Shohabat
Para
Shohabat pada masa hidup Rosululloh ﷺ telah sepakat akan keutamaan ‘Utsman bin Affan (35 H) sebagai
orang terbaik ketiga di dalam umat ini setelah Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H).
Dari
Abdulloh bin Umar (73 H) ia menceritakan:
«كُنَّا
نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ ﷺ فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ
الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ»
“Kami dahulu memilih siapakah manusia yang paling utama pada masa Nabi ﷺ, maka kami memilih Abu Bakr
(13 H), kemudian Umar bin Al-Khottob (23 H), kemudian ‘Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu
‘anhum.” (HR. Al-Bukhori no. 3655)
6.2
Larangan Mencela ‘Utsman
Syari’at
Islam memberikan ancaman keras bagi siapa saja yang mencela ‘Utsman bin Affan
(35 H) atau para Shohabat Nabi ﷺ yang lain. Keagungan derajat mereka tidak akan mampu ditandingi
oleh amalan generasi sesudahnya.
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) bahwasanya Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ»
“Janganlah
kalian mencela para Shohabatku! Seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan
emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan menyamai infak satu mud salah
seorang dari mereka dan tidak pula separuhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan
Muslim no. 2541)
Penutup
Inilah
rekam jejak kehidupan dan keutamaan Amirul Mu’minin ‘Utsman bin Affan (35 H)
yang terangkum melalui dalil-dalil shohih dari As-Sunnah Ash-Shohihah. Beliau
adalah sosok teladan dalam sifat malu, kedermawanan, kesabaran dalam menghadapi
ujian, serta keta’atan yang tulus kepada Alloh ﷻ dan Rosul-Nya ﷺ. Seluruh keutamaan yang
melekat pada diri beliau menjadi bukti akan kedudukan tinggi yang beliau raih
di dunia dan di Akhiroh. Kewajiban bagi setiap Muslim adalah mencintai beliau,
memuliakan kedudukannya, serta membersihkan hati dan lisan dari segala bentuk
celaan terhadap Dzun Nuroin ‘Utsman bin Affan (35 H).
Semoga Alloh ﷻ melimpahkan Keridhoan-Nya kepada ‘Utsman bin Affan (35 H) beserta seluruh Shohabat, dan mengumpulkan kita bersama mereka di dalam Jannah-Nya yang penuh ni’mat.[NK]
%20-%20Nor%20Kandir.jpg)