[PDF] Tarjamah Suroh An-Nahl - Tafsir Muyassar
﷽
﴿أَتَىٰ أَمْرُ ٱللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ
ۚ سُبْحَـٰنَهُۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا
يُشْرِكُونَ ١﴾
[1]. Sudah semakin dekat terjadinya hari Qiyamah
dan ketetapan Alloh untuk mengadzab kalian—wahai orang-orang kafir—maka
janganlah kalian meminta agar adzab itu disegerakan hanya karena hendak
memperolok-olok ancaman Rosul kepada kalian. Mahasuci Alloh Subhanahu wa Ta’ala
dan Mahatinggi dari perbuatan syirik serta sekutu-sekutu yang mereka adakan.
﴿يُنَزِّلُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ
مِنْ عِبَادِهِۦ أَنْ أَنذِرُوٓا أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ
أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ ٢﴾
[2]. Alloh menurunkan para Malaikat membawa wahyu
atas perintah-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya yang diutus menjadi Rosul, dengan perintah: “Peringatkanlah
manusia dari bahaya perbuatan syirik, dan beritahukanlah bahwasanya tidak ada yang
berhak disembah selain Aku, maka bertaqwalah kalian kepada-Ku dengan menunaikan
seluruh kewajiban-Ku serta memurnikan ibadah dan keikhlasan hanya untuk-Ku.”
﴿خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ ۚ تَعَـٰلَىٰ عَمَّا
يُشْرِكُونَ ٣﴾
[3]. Alloh menciptakan langit dan bumi dengan
kebenaran dan tujuan yang haq; agar para hamba dapat menjadikannya petunjuk
akan keagungan Penciptanya, dan bahwasanya hanya Dia semata yang berhak
diibadahi. Mahasuci Dia Subhanahu dan Mahagung dari perbuatan syirik
yang mereka lakukan.
﴿خَلَقَ ٱلْإِنسَـٰنَ مِن نُّطْفَةٍ
فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ ٤﴾
[4]. Dia menciptakan manusia dari air mani yang
hina, lalu tiba-tiba ketika manusia itu tumbuh kuat, ia menjadi terpedaya dan
berubah menjadi penentang yang sangat nyata serta keras membantah Robb-nya
dalam mengingkari hari kebangkitan dan perkara lainnya, sebagaimana ucapannya: “Siapakah
yang mampu menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?” Padahal ia
telah melupakan Alloh yang telah mencipatakannya dari ketiadaan.
﴿وَٱلْأَنْعَـٰمَ خَلَقَهَا
ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَـٰفِعُ
وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ ٥﴾
[5]. Dan hewan-hewan ternak berupa unta, sapi, dan
kambing telah diciptakan Alloh untuk kalian—wahai manusia—dan Dia menjadikan
pada bulu-bulu wol dan rambutnya sarana kehangatan bagi kalian, serta berbagai
manfaat lainnya pada susu, kulit, dan sebagai tunggangan, serta sebagian
darinya menjadi bahan makanan yang kalian makan.
﴿وَلَكُمْ فِيهَا جَمَالٌ حِينَ تُرِيحُونَ وَحِينَ
تَسْرَحُونَ ٦﴾
[6]. Dan kalian mendapati padanya keindahan yang
mendatangkan kegembiraan saat kalian menggiringnya pulang ke kandang di sore
hari, dan ketika kalian mengeluarkannya menuju tempat penggembalaan di pagi
hari.
﴿وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ تَكُونُوا
بَـٰلِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ ٱلْأَنفُسِ ۚ إِنَّ رَبَّكُمْ
لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٧﴾
[7]. Hewan-hewan ternak ini pun mengangkut
barang-barang beban kalian yang berat menuju negeri yang jauh, yang kalian
tidak akan sanggup sampai ke sana melainkan dengan usaha yang sangat payah dan
kesukaran yang amat berat bagi diri kalian. Sungguh Robb kalian benar-benar
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kalian, karena Dia telah menundukkan
apa saja yang kalian butuhkan, maka hanya milik-Nya segala pujian dan rasa
syukur.
﴿وَٱلْخَيْلَ وَٱلْبِغَالَ وَٱلْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا
وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
٨﴾
[8]. Dan Dia menciptakan untuk kalian kuda, bighol
(peranakan kuda dan keledai), serta keledai agar kalian menungganginya dan
menjadikannya sebagai perhiasan serta pemandangan yang indah; dan Alloh juga
menciptakan sarana-sarana transportasi dan sarana lainnya yang belum kalian
ketahui, agar bertambah iman kalian kepada-Nya dan semakin bersyukur
kepada-Nya.
﴿وَعَلَى ٱللَّهِ قَصْدُ ٱلسَّبِيلِ وَمِنْهَا
جَآئِرٌ ۚ وَلَوْ شَآءَ لَهَدَىٰكُمْ أَجْمَعِينَ
٩﴾
[9]. Merupakan kewajiban bagi Alloh untuk
menjelaskan jalan yang lurus demi memberi petunjuk kepada kalian, yaitu agama
Islam; dan di antara jalan-jalan yang ada terdapat jalan yang bengkok yang
tidak menyampaikan kepada hidayah, yaitu seluruh agama dan aliran pemikiran
yang menyelisih ajaran Islam. Seandainya Alloh menghendaki untuk memberi
hidayah kepada kalian, niscaya Dia memberi petunjuk kepada kalian semua menuju
keimanan.
﴿هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِنَ
ٱلسَّمَآءِ مَآءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ
وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ ١٠﴾
[10]. Dialah Dzat yang telah menurunkan air hujan
dari awan untuk kalian, lalu Dia menjadikan darinya air yang kalian minum, dan
darinya pula Dia menumbuhkan pepohonan dan tumbuhan yang kalian jadikan tempat
menggembalakan hewan-hewan ternak kalian, sehingga susu dan manfaatnya kembali
kepada kalian.
﴿يُنْبِتُ لَكُم بِهِ ٱلزَّرْعَ وَٱلزَّيْتُونَ وَٱلنَّخِيلَ وَٱلْأَعْنَـٰبَ وَمِن
كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ ١١﴾
[11]. Alloh menumbuhkan untuk kalian lewat satu
jenis air ini berbagai jenis tanaman beraneka ragam, serta menumbuhkan darinya
pohon zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh pada
penumbuhan yang demikian itu benar-benar terdapat bukti dan petunjuk yang nyata
bagi kaum yang mau merenungkan hingga mengambil pelajaran.
﴿وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ ۖ وَٱلنُّجُومُ مُسَخَّرَٰتٌ ۢ بِأَمْرِهِۦ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَـٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ١٢﴾
[12]. Dan Dia telah menundukkan malam bagi kalian
untuk beristirahat dan siang untuk mencari penghidupan, serta menundukkan
matahari sebagai sinar yang menerangi kalian, bulan sebagai cahaya dan sarana
mengetahui hitungan tahun dan perhitungan waktu, serta manfaat lainnya.
Bintang-bintang di langit pun ditundukkan bagi kalian atas perintah Alloh guna
mengetahui waktu, kematangan buah dan hasil bumi, serta petunjuk arah dalam
kegelapan. Sungguh pada penundukkan itu benar-benar terdapat tanda-tanda yang
amat jelas bagi kaum yang mau menggunakan akalnya untuk memahami hujjah-hujjah
dan bukti-bukti Alloh.
﴿وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُخْتَلِفًا
أَلْوَٰنُهُۥ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ ١٣﴾
[13]. Dan Alloh juga menundukkan ciptaan-Nya yang
diciptakan untuk kalian di bumi berupa hewan ternak, buah-buahan, barang
tambang, dan lainnya yang berbeda-beda warna serta kegunaannya. Sungguh pada
penciptaan serta perbedaan warna dan manfaat tersebut benar-benar terdapat
pelajaran bagi kaum yang mau mengambil peringatan, dan mengetahui bahwasanya
penundukkan semua perkara ini merupakan tanda-tanda atas kemahatunggalan Alloh Ta’ala
dan hak-Nya untuk diibadahi semata.
﴿وَهُوَ ٱلَّذِى سَخَّرَ ٱلْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا
مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى
ٱلْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا
مِن فَضْلِهِۦ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ١٤﴾
[14]. Dialah Dzat yang menundukkan lautan untuk
kalian; agar kalian dapat memakan darinya daging ikan yang segar dari hasil
tangkapan kalian, dan kalian dapat mengeluarkan darinya perhiasan yang kalian
pakai seperti mutiara dan karang, serta engkau melihat kapal-kapal besar
membelah permukaan air berlayar bolak-balik yang kalian naiki; guna mencari rizqi
dari karunia Alloh melalui perdagangan dan keuntungan, serta agar kalian
senantiasa bersyukur kepada Alloh Ta’ala atas keagungan ni’mat-Nya
kepada kalian sehingga kalian tidak menyembah selain-Nya.
﴿وَأَلْقَىٰ فِى ٱلْأَرْضِ رَوَٰسِىَ
أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَـٰرًا وَسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ ١٥﴾
[15]. Dan Dia menancapkan di bumi gunung-gunung yang
kokoh agar bumi itu tidak bergoncang menggoyangkan kalian, dan Dia menjadikan
padanya sungai-sungai agar kalian dapat meminum darinya, serta jalan-jalan agar
kalian mendapat petunjuk menuju tempat-tempat yang kalian tuju.
﴿وَعَلَـٰمَـٰتٍ ۚ وَبِٱلنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ ١٦﴾
[16]. Dan Dia menjadikan di bumi tanda-tanda
penunjuk jalan di siang hari, sebagaimana Dia juga menjadikan bintang-bintang
sebagai petunjuk arah di malam hari.
﴿أَفَمَن يَخْلُقُ كَمَن لَّا يَخْلُقُ ۗ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
١٧﴾
[17]. Apakah kalian menyamakan Alloh yang
menciptakan segala sesuatu ini dan ciptaan lainnya dalam kelayakan diibadahi
dengan sesembahan-sesembahan anggapan kalian yang tidak mampu menciptakan
sesuatu apa pun? Apakah kalian tidak merenungkan keagungan Alloh sehingga
kalian memurnikan ibadah hanya kepada-Nya?
﴿وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ
رَّحِيمٌ ١٨﴾
[18]. Seandainya kalian berusaha menghitung ni’mat-ni’mat
Alloh kepada kalian, niscaya kalian tidak akan sanggup menghitungnya secara
menyeluruh karena begitu banyak dan beragamnya. Sungguh Alloh benar-benar Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang kepada kalian; yang mana Dia memaafkan kelalaian
kalian dalam bersyukur dan tidak memutuskan ni’mat tersebut dari kalian akibat
kelengahan kalian, serta tidak menyegerakan hukuman atas kalian.
﴿وَٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا
تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ١٩﴾
[19]. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mengetahui
seluruh perbuatan kalian, baik yang kalian sembunyikan dalam hati kalian maupun
yang kalian tampakkan kepada orang lain, dan Dia kelak akan memberikan balasan
atas semuanya.
﴿وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ
مِن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَخْلُقُونَ شَيْـًٔا
وَهُمْ يُخْلَقُونَ ٢٠﴾
[20]. Dan sesembahan-sesembahan yang disembah oleh
kaum musyrik selain Alloh tidak mampu menciptakan apa pun meskipun sangat
kecil, melainkan mereka itu adalah makhluk-makhluk yang dibuat oleh tangan
orang-orang kafir itu sendiri, maka bagaimana bisa mereka menyembahnya?
﴿أَمْوَٰتٌ غَيْرُ أَحْيَآءٍ ۖ وَمَا يَشْعُرُونَ
أَيَّانَ يُبْعَثُونَ ٢١﴾
[21]. Sesembahan-sesembahan itu seluruhnya adalah
benda mati yang tidak memiliki kehidupan, dan mereka tidak mengetahui kapan
para penyembahnya akan dibangkitkan oleh Alloh, yang mana sesembahan itu akan
dilemparkan bersama para penyembahnya ke dalam Naar pada hari Qiyamah.
﴿إِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا
يُؤْمِنُونَ بِٱلْـَٔاخِرَةِ قُلُوبُهُم مُّنكِرَةٌ
وَهُم مُّسْتَكْبِرُونَ ٢٢﴾
[22]. Sesembahan kalian yang berhak diibadahi semata
adalah Alloh, Sesembahan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman
kepada hari Kebangkitan, hati mereka mengingkari kemahatunggalan-Nya Subhanahu
karena tidak adanya rasa takut akan siksa-Nya, dan mereka adalah orang-orang
yang sombong dari menerima kebenaran serta enggan mengabdi hanya kepada Alloh
semata.
﴿لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا
يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ
٢٣﴾
[23]. Sudah pasti dan tidak diragukan lagi bahwa
Alloh mengetahui apa yang mereka sembunyikan berupa keyakinan, perkataan, dan
perbuatan, serta apa yang mereka nyatakan, dan Dia akan membalas mereka atas
hal itu. Sungguh Alloh ‘Azza wa Jalla tidak menyukai orang-orang yang
sombong dari beribadah kepada-Nya dan tunduk patuh kepada-Nya, dan Dia pasti
membalas keangkuhan mereka.
﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُم مَّاذَآ أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوٓا أَسَـٰطِيرُ
ٱلْأَوَّلِينَ ٢٤﴾
[24]. Dan apabila ditanyakan kepada orang-orang musyrik
itu: “Apakah yang telah diturunkan oleh Robb kalian kepada Nabi Muhammad ﷺ?” Mereka menjawab dengan kedustaan dan kebohongan: “Tidaklah
yang dibawanya melainkan hanyalah dongeng-dongeng orang terdahulu dan
kebathilan mereka.”
﴿لِيَحْمِلُوٓا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ ۙ وَمِنْ أَوْزَارِ
ٱلَّذِينَ يُضِلُّونَهُم بِغَيْرِ
عِلْمٍ ۗ أَلَا سَآءَ مَا يَزِرُونَ ٢٥﴾
[25]. Kesudahan mereka adalah mereka akan memikul
dosa-dosa mereka secara utuh pada hari Qiyamah—tanpa ada yang diampuni sedikit
pun—dan mereka juga memikul sebagian dosa-dosa orang yang telah mereka bohongi
untuk menjauhkan mereka dari Islam tanpa dasar ilmu. Ketahuilah, sungguh amat
buruk dosa-dosa yang mereka pikul itu.
﴿قَدْ مَكَرَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ
فَأَتَى ٱللَّهُ بُنْيَـٰنَهُم مِّنَ ٱلْقَوَاعِدِ فَخَرَّ
عَلَيْهِمُ ٱلسَّقْفُ مِن فَوْقِهِمْ وَأَتَىٰهُمُ
ٱلْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ
٢٦﴾
[26]. Sungguh orang-orang kafir sebelum mereka telah
merencanakan tipu daya terhadap para Rosul mereka dan ajaran kebenaran yang
dibawa, lalu Alloh menghancurkan bangunan makar mereka dari pondasi dasarnya,
sehingga atap bangunan itu roboh menimpa mereka dari atas, dan kebinasaan datang
menghampiri mereka dari arah yang paling aman menurut mereka, yang tidak mereka
sangka dan duga sebelumnya.
﴿ثُمَّ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ يُخْزِيهِمْ
وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَآءِيَ ٱلَّذِينَ كُنتُمْ
تُشَـٰٓقُّونَ فِيهِمْ ۚ قَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا
ٱلْعِلْمَ إِنَّ ٱلْخِزْىَ ٱلْيَوْمَ وَٱلسُّوٓءَ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ ٢٧﴾
[27]. Kemudian pada hari Qiyamah Alloh menghinakan
dan merendahkan mereka dengan adzab, seraya berfirman: “Di manakah
sekutu-sekutu-Ku berupa sesembahan yang dahulu kalian sembah selain Aku, yang
karena membela mereka kalian memusuhi para Nabi dan Mu’min?” Para Ulama Robbani
berkata: “Sungguh kehinaan dan siksaan pada hari ini ditimpakan atas
orang-orang kafir kepada Alloh dan Rosul-Rosul-Nya.”
﴿ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ
أَنفُسِهِمْ ۖ فَأَلْقَوُا ٱلسَّلَمَ مَا كُنَّا
نَعْمَلُ مِن سُوٓءٍ ۭ ۚ بَلَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ ۢ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
٢٨﴾
[28]. Yaitu orang-orang yang dicabut nyawanya oleh
para Malaikat dalam keadaan mereka menzholimi diri sendiri dengan kekafiran.
Lalu mereka menyatakan ketundukan dan kepasrahan ketika melihat kematian serta
memungkiri sesembahan selain Alloh yang dahulu mereka sembah, seraya berkata: “Kami
dahulu tidak pernah mengerjakan suatu kejahatan pun.” Maka dikatakan kepada
mereka: “Kalian telah berdusta, sungguh kalian telah mengerjakannya! Sungguh
Alloh Maha Mengetahui atas seluruh perbuatan kalian dan pasti membalasnya.”
﴿فَٱدْخُلُوٓا أَبْوَٰبَ
جَهَنَّمَ خَـٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَلَبِئْسَ مَثْوَى
ٱلْمُتَكَبِّرِينَ ٢٩﴾
[29]. Maka masukilah pintu-pintu Jahannam, kalian
kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Jahannam adalah seburuk-buruk tempat
tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri dari beriman kepada Alloh,
beribadah kepada-Nya semata, serta mentaati-Nya.
﴿وَقِيلَ لِلَّذِينَ ٱتَّقَوْا مَاذَآ
أَنزَلَ رَبُّكُمْ ۚ قَالُوا خَيْرًا ۗ لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا
فِى هَـٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۚ وَلَدَارُ ٱلْـَٔاخِرَةِ خَيْرٌ
ۚ وَلَنِعْمَ دَارُ ٱلْمُتَّقِينَ ٣٠﴾
[30]. Dan apabila ditanyakan kepada orang-orang Mu’min
yang takut kepada Alloh: “Apakah yang telah diturunkan Robb kalian kepada Nabi
Muhammad ﷺ?” Mereka menjawab: “Alloh
menurunkan kebaikan dan hidayah.” Bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh
dan Rosul-Nya di dunia ini serta mengajak hamba-hamba Alloh kepada keimanan dan
amal sholih, ada kemuliaan besar berupa pertolongan di dunia dan kelapangan rizqi,
sedangkan negeri Akhiroh bagi mereka jauh lebih baik dan agung dari apa yang
diberikan di dunia; dan sungguh sebaik-baik negeri bagi orang-orang yang
bertaqwa lagi takut kepada Alloh adalah Akhiroh.
﴿جَنَّـٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِى مِن تَحْتِهَا
ٱلْأَنْهَـٰرُ ۖ لَهُمْ فِيهَا مَا
يَشَآءُونَ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْزِى ٱللَّهُ ٱلْمُتَّقِينَ ٣١﴾
[31]. Yaitu Jannah tempat tinggal tetap yang mereka
masuki dan menetap di dalamnya tanpa pernah keluar darinya selamanya, mengalir
di bawah pepohonan dan istana-istananya sungai-sungai, dan mereka mendapatkan
di dalamnya segala apa yang diinginkan oleh jiwa mereka. Dengan balasan yang
baik inilah Alloh membalas orang-orang yang takut dan bertaqwa kepada-Nya.
﴿ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ
ۙ يَقُولُونَ سَلَـٰمٌ عَلَيْكُمُ
ٱدْخُلُوا ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ
تَعْمَلُونَ ٣٢﴾
[32]. Yaitu orang-orang yang dicabut nyawanya oleh
para Malaikat dalam keadaan jiwa dan hati mereka bersih dari kekafiran. Para
Malaikat berkata kepada mereka: “Kesejahteraan atas kalian, penghormatan khusus
dan keselamatan bagi kalian dari segala bahaya; masuklah kalian ke dalam Jannah
disebabkan iman kalian kepada Alloh dan ketundukan kalian kepada perintah-Nya.”
﴿هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّآ أَن تَأْتِيَهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ أَوْ
يَأْتِيَ أَمْرُ رَبِّكَ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ
ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۚ وَمَا ظَلَمَهُمُ
ٱللَّهُ وَلَـٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ
يَظْلِمُونَ ٣٣﴾
[33]. Tidaklah orang-orang musyrik itu menanti
melainkan kedatangan para Malaikat untuk mencabut nyawa mereka dalam keadaan
kafir, atau datangnya keputusan Alloh berupa adzab yang disegerakan untuk
membinasakan mereka. Sebagaimana orang-orang ini mendustakan, kaum kafir
sebelum mereka pun telah mendustakan sehingga Alloh membinasakan mereka. Alloh
tidak menzholimi mereka dengan pembinasaan dan penurunan adzab tersebut,
melainkan merekalah yang menzholimi diri mereka sendiri dengan melakukan
hal-hal yang membuat mereka layak menerima adzab.
﴿فَأَصَابَهُمْ سَيِّـَٔاتُ مَا عَمِلُوا وَحَاقَ بِهِم
مَّا كَانُوا بِهِۦ يَسْتَهْزِءُونَ ٣٤﴾
[34]. Maka hukuman atas kejahatan perbuatan mereka menimpa
mereka, dan adzab yang dahulu selalu mereka perolok-olok mengepung serta
membinasakan mereka.
﴿وَقَالَ ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا
لَوْ شَآءَ ٱللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَىْءٍ نَّحْنُ
وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِن دُونِهِۦ مِن شَىْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ
ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَهَلْ عَلَى ٱلرُّسُلِ إِلَّا ٱلْبَلَـٰغُ ٱلْمُبِينُ ٣٥﴾
[35]. Orang-orang musyrik berkata: “Seandainya Alloh
menghendaki kami hanya menyembah-Nya semata, niscaya kami tidak menyembah
selain-Nya seorang pun, baik kami maupun leluhur kami terdahulu, dan kami tidak
pula mengharomkan sesuatu pun tanpa izin-Nya.” Dengan alasan bathil seperti
inilah kaum kafir terdahulu berhujjah, padahal mereka berdusta; sebab Alloh
telah memerintah dan melarang mereka serta memberi mereka kemampuan untuk
menjalankan kewajiban, serta memberi mereka kehendak yang melahirkan perbuatan.
Maka berhujjah dengan qodho’ dan qodar merupakan kebathilan paling nyata
setelah adanya peringatan Rosul; maka tidak ada kewajiban bagi para Rosul
melainkan menyampaikan risalah dengan jelas.
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِى كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ
ٱعْبُدُوا ٱللَّهَ وَٱجْتَنِبُوا ٱلطَّـٰغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ
هَدَى ٱللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ
عَلَيْهِ ٱلضَّلَـٰلَةُ ۚ فَسِيرُوا فِى ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا كَيْفَ كَانَ
عَـٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ ٣٦﴾
[36]. Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat
terdahulu seorang Rosul yang memerintahkan mereka untuk menyembah Alloh dan
mentaati-Nya semata serta menjauhi penyembahan thoghut (syaithon, berhala, orang
mati, dan segala yang diibadahi selain Alloh). Di antara mereka ada yang diberi
hidayah oleh Alloh sehingga mengikuti para Rosul, dan di antara mereka ada
orang penentang yang mengikuti jalan kesesatan sehingga pasti ditimpa kesesatan
karena Alloh tidak memberinya taufiq. Maka berjalanlah kalian di muka bumi dan
lihatlah dengan mata kepala kalian bagaimana kesudahan orang-orang yang
mendustakan itu dan kehancuran apa yang menimpa mereka agar kalian mengambil
pelajaran.
﴿إِن تَحْرِصْ عَلَىٰ هُدَىٰهُمْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى
مَن يُضِلُّ ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّـٰصِرِينَ
٣٧﴾
[37]. Jika engkau—wahai Rosul—sangat menginginkan
hidayah bagi orang-orang musyrik ini dan mengerahkan seluruh kemampuanmu, maka
ketahuilah bahwasanya Alloh tidak akan memberi hidayah kepada orang yang telah
Dia sesatkan, dan tidak ada seorang pun penolong bagi mereka selain Alloh yang
mampu menolak adzab-Nya.
﴿وَأَقْسَمُوا بِٱللَّهِ جَهْدَ أَيْمَـٰنِهِمْ
ۙ لَا يَبْعَثُ ٱللَّهُ مَن يَمُوتُ
ۚ بَلَىٰ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا
وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
٣٨﴾
[38]. Orang-orang musyrik itu bersumpah dengan nama
Alloh secara bersungguh-sungguh bahwasanya Alloh tidak akan membangkitkan orang
yang telah mati setelah hancur dan terurai. Tidak demikian! Bahkan Alloh pasti
akan membangkitkan mereka kembali sebagai janji yang benar dari-Nya, akan
tetapi mayoritas manusia tidak mengetahui kemahakuasaan Alloh untuk
membangkitkan makhluk sehingga mereka mengingkarinya.
﴿لِيُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِى يَخْتَلِفُونَ
فِيهِ وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ كَانُوا
كَـٰذِبِينَ ٣٩﴾
[39]. Alloh membangkitkan seluruh hamba agar
menjelaskan kepada mereka hakikat hari kebangkitan yang mereka perselisihkan,
dan agar orang-orang kafir yang mengingkarinya mengetahui bahwasanya mereka
berada di atas kebathilan dan bahwa mereka adalah para pendusta ketika
bersumpah tidak ada kebangkitan.
﴿إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَىْءٍ إِذَآ أَرَدْنَـٰهُ أَن
نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٠﴾
[40]. Sungguh urusan membangkitkan makhluk amat
mudah bagi Kami; apabila Kami menghendaki sesuatu, Kami hanya mengatakan
kepadanya: “Jadilah!”, maka seketika itu wujudlah ia.
﴿وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا
فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا
لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً
ۖ وَلَأَجْرُ ٱلْـَٔاخِرَةِ أَكْبَرُ
ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ٤١﴾
[41]. Dan orang-orang yang meninggalkan kediaman
mereka demi membela agama Alloh, lalu berhijroh setelah dizholimi, sungguh Kami
akan menempatkan mereka di dunia di tempat kediaman yang baik, dan pahala
Akhiroh sungguh jauh lebih besar karena balasan mereka adalah Jannah.
Seandainya orang-orang yang enggan berhijroh mengetahui dengan yakin pahala dan
balasan di sisi Alloh bagi para mujahidin yang berhijroh di jalan-Nya, niscaya
tidak ada seorang pun yang enggan ikut berhijroh.
﴿ٱلَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ ٤٢﴾
[42]. Orang-orang yang berhijroh di jalan Alloh itu
adalah orang-orang yang sabar dalam menjalankan perintah Alloh, menjauhi
larangan-Nya, serta bersabar atas takdir-takdir-Nya yang menyakitkan, dan hanya
kepada Robb mereka sajalah mereka berserah diri dan bertawakkal, sehingga
mereka berhak mendapatkan kedudukan yang agung ini.
﴿وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِىٓ
إِلَيْهِمْ ۚ فَسْـَٔلُوٓا أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ ٤٣﴾
[43]. Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu—wahai
Rosul—melainkan para Rosul dari kalangan laki-laki dan bukan Malaikat yang Kami
beri wahyu kepada mereka. Jika kalian—wahai musyrikin Quroisy—tidak membenarkan
hal itu, maka tanyakanlah kepada para penganut Kitab-Kitab terdahulu, niscaya
mereka memberitahu kalian bahwasanya para Nabi adalah manusia, jika kalian
tidak mengetahuinya. Ayat ini berlaku umum dalam setiap permasalahan agama:
apabila seseorang tidak memiliki ilmu tentangnya, hendaklah ia bertanya kepada
Ulama yang mendalam ilmunya.
﴿بِٱلْبَيِّنَـٰتِ وَٱلزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ
ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ
مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ٤٤﴾
[44]. Kami telah mengutus para Rosul terdahulu
dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan Kitab-Kitab suci, dan Kami turunkan
kepadamu—wahai Rosul—Al-Qur’an agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang
tersamar dari makna dan hukum-hukumnya, serta agar mereka memikirkannya lalu
mendapat hidayah dengannya.
﴿أَفَأَمِنَ ٱلَّذِينَ مَكَرُوا
ٱلسَّيِّـَٔاتِ أَن يَخْسِفَ ٱللَّهُ بِهِمُ ٱلْأَرْضَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ
ٱلْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُونَ
٤٥﴾
[45]. Apakah orang-orang kafir yang merencanakan
tipu daya jahat itu merasa aman dari pembenaman diri mereka ke dalam bumi oleh
Alloh sebagaimana yang Dia lakukan terhadap Qorun, atau datangnya adzab kepada
mereka dari tempat yang tidak mereka sadari dan duga?
﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ فِى تَقَلُّبِهِمْ فَمَا هُم بِمُعْجِزِينَ
٤٦﴾
[46]. Atau Alloh menimpa mereka dengan adzab saat
mereka sedang beraktivitas dalam perjalanan dan kesibukan mereka? Maka mereka
tidak akan sanggup mendahului Alloh, tidak dapat meloloskan diri, dan tidak
akan luput dari adzab-Nya; karena Dia Mahakuasa yang tidak ada sesuatu pun yang
dapat melemahkan-Nya.
﴿أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ
لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ ٤٧﴾
[47]. Atau Alloh menimpa mereka dengan siksa berupa
pengurangan harta, jiwa, dan buah-buahan secara perlahan, atau dalam keadaan
mereka diselimuti kecemasan akan datangnya adzab? Sungguh Robb kalian Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang kepada ciptaan-Nya.
﴿أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَىٰ مَا خَلَقَ ٱللَّهُ مِن شَىْءٍ
يَتَفَيَّؤُا ظِلَـٰلُهُۥ عَنِ ٱلْيَمِينِ وَٱلشَّمَآئِلِ سُجَّدًا
لِلَّهِ وَهُمْ دَٰخِرُونَ ٤٨﴾
[48]. Apakah orang-orang kafir itu buta sehingga
tidak memperhatikan segala ciptaan Alloh yang memiliki bayangan seperti gunung
dan pohon, yang mana bayangannya condong berputar ke kanan dan ke kiri
mengikuti peredaran matahari di siang hari dan bulan di malam hari, semuanya
tunduk bersujud kepada keagungan dan keperkasaan Robb-nya dalam keadaan patuh
di bawah penundukkan dan pengaturan-Nya?
﴿وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا
فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَهُمْ
لَا يَسْتَكْبِرُونَ ٤٩﴾
[49]. Hanya kepada Alloh semata bersujud segala apa
yang ada di langit dan di bumi berupa makhluk melata, dan para Malaikat pun
bersujud kepada Alloh tanpa menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya.
Malaikat disebutkan secara khusus setelah penyebutan secara umum karena
keutamaan, kemuliaan, serta banyaknya ibadah mereka.
﴿يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ
مَا يُؤْمَرُونَ ۩ ٥٠﴾
[50]. Para Malaikat takut kepada Robb mereka yang
berada di atas mereka secara Dzat, kekuasaan, dan kesempurnaan sifat, serta
mereka selalu melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka berupa
ketaatan. Dalam ayat ini terdapat penetapan sifat ‘Uluw (ketinggian) dan
Fauqiyyah (keberadaan di atas) bagi Alloh di atas seluruh makhluk-Nya sesuai
dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.
﴿وَقَالَ ٱللَّهُ لَا تَتَّخِذُوٓا
إِلَـٰهَيْنِ ٱثْنَيْنِ ۖ إِنَّمَا هُوَ إِلَـٰهٌ
وَٰحِدٌ ۖ فَإِيَّـٰىَ فَٱرْهَبُونِ ٥١﴾
[51]. Alloh berfirman kepada hamba-hamba-Nya: “Janganlah
kalian menyembah dua sesembahan, sungguh Sesembahan kalian hanyalah Sesembahan
Yang Maha Esa, maka takutlah kalian hanya kepada-Ku semata dan bukan kepada
selain-Ku.”
﴿وَلَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَلَهُ ٱلدِّينُ وَاصِبًا
ۚ أَفَغَيْرَ ٱللَّهِ تَتَّقُونَ
٥٢﴾
[52]. Dan milik Alloh-lah segala apa yang ada di
langit dan di bumi sebagai ciptaan, kepemilikan, dan hamba-Nya, serta hanya
milik-Nya semata ibadah, ketaatan, dan keikhlasan secara terus-menerus. Apakah
pantas bagi kalian untuk takut dan menyembah kepada selain Alloh?
﴿وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ
ٱلضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْـَٔرُونَ
٥٣﴾
[53]. Segala ni’mat yang ada pada kalian berupa
hidayah, kesehatan jasmani, kelapangan rizqi, keturunan, dan lainnya adalah
dari Alloh semata; Dialah yang mengaruniakannya kepada kalian. Kemudian apabila
kalian ditimpa penyakit, cobaan, dan paceklik, maka hanya kepada Alloh semata
kalian meratap memohon doa.
﴿ثُمَّ إِذَا كَشَفَ ٱلضُّرَّ عَنكُمْ إِذَا
فَرِيقٌ مِّنكُم بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُونَ ٥٤﴾
[54]. Kemudian apabila Alloh telah menghilangkan
cobaan dan penyakit itu dari kalian, seketika sebagian dari kalian justru menyetutukan
Robb mereka yang telah memberi ni’mat keselamatan dengan membuat
tandingan-tandingan dan pelindung-pelindung selain-Nya.
﴿لِيَكْفُرُوا بِمَآ ءَاتَيْنَـٰهُمْ ۚ فَتَمَتَّعُوا ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
٥٥﴾
[55]. Akibatnya mereka mengingkari ni’mat-ni’mat
Kami, termasuk di antaranya pengangkatan penderitaan dari mereka. Maka
bersenang-senanglah kalian dengan kehidupan dunia kalian yang akan sirna ini,
kelak kalian akan mengetahui akibat dari kekafiran dan kemaksiatan kalian.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِمَا لَا يَعْلَمُونَ نَصِيبًا مِّمَّا
رَزَقْنَـٰهُمْ ۗ تَٱللَّهِ لَتُسْـَٔلُنَّ
عَمَّا كُنتُمْ تَفْتَرُونَ ٥٦﴾
[56]. Di antara keburukan perbuatan mereka adalah
mereka menyerahkan bagian dari harta rizqi karunia Alloh kepada berhala-berhala
yang mereka jadikan sesembahan—padahal berhala itu tidak mengetahui apa pun,
tidak memberi manfaat maupun bahaya—sebagai bentuk mendekatkan diri kepadanya.
Demi Alloh, kalian pasti akan dimintai pertanggungjawaban pada hari Qiyamah
atas kebohongan yang kalian ada-adakan terhadap Alloh.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ ٱلْبَنَاتِ سُبْحَـٰنَهُۥ ۙ وَلَهُم مَّا يَشْتَهُونَ
٥٧﴾
[57]. Orang-orang kafir menetapkan anak-anak
perempuan bagi Alloh dengan mengatakan: “Malaikat adalah putri-putri Alloh,”
Mahasuci Alloh dari perkataan mereka; sedangkan untuk diri mereka sendiri,
mereka menetapkan apa yang mereka sukai berupa anak-anak laki-laki.
﴿وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ
كَظِيمٌ ٥٨﴾
[58]. Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar
gembira tentang kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam muram karena
benci terhadap apa yang didengarnya dan hatinya diliputi kesedihan serta
jengkel.
﴿يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلْقَوْمِ مِن سُوٓءِ
مَا بُشِّرَ بِهِۦ ۚ أَيُمْسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ
يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ ۗ أَلَا سَآءَ مَا
يَحْكُمُونَ ٥٩﴾
[59]. Ia bersembunyi dari kaumnya karena malu
bertemu mereka akibat kabar buruk yang diterimanya tentang bayi perempuan yang
lahir untuknya, seraya bingung menetapkan keputusan: apakah ia akan
membiarkannya hidup dalam kehinaan dan kerendahan, ataukah menguburnya
hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah, amat buruklah ketetapan yang mereka
buat dengan menetapkan anak perempuan bagi Alloh sedangkan anak laki-laki bagi
mereka sendiri.
﴿لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱلْـَٔاخِرَةِ مَثَلُ
ٱلسَّوْءِ ۖ وَلِلَّهِ ٱلْمَثَلُ ٱلْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ ٦٠﴾
[60]. Bagi orang-orang yang tidak beriman kepada
Akhiroh dan tidak beramal untuknya terdapat sifat buruk berupa kelemahan,
kebodohan, hajat, dan kekafiran; sedangkan bagi Alloh sifat-sifat Mahatinggi
berupa kesempurnaan dan ketidakbutuhan kepada makhluk-Nya, dan Dialah Yang
Mahaperkasa dalam kerajaan-Nya lagi Mahabijaksana dalam pengaturan-Nya.
﴿وَلَوْ يُؤَاخِذُ ٱللَّهُ ٱلنَّاسَ بِظُلْمِهِم
مَّا تَرَكَ عَلَيْهَا مِن دَآبَّةٍ وَلَـٰكِن يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى
ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا
يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
٦١﴾
[61]. Seandainya Alloh langsung menghukum manusia
akibat kekafiran dan kedustaan mereka, niscaya tidak ada satu pun makhluk
bernyawa yang dibiarkan bergerak di bumi, akan tetapi Alloh menangguhkan mereka
sampai batas waktu yang ditentukan yaitu akhir ajal mereka. Maka apabila ajal
mereka telah tiba, mereka tidak dapat mengundurkannya sekejap pun dan tidak
pula dapat menyegerakannya.
﴿وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ
ٱلْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ ٱلْحُسْنَىٰ ۖ لَا جَرَمَ أَنَّ
لَهُمُ ٱلنَّارَ وَأَنَّهُم مُّفْرَطُونَ
٦٢﴾
[62]. Di antara keburukan mereka adalah mereka
menetapkan bagi Alloh apa yang mereka benci untuk diri mereka sendiri berupa
anak perempuan, lalu lisan mereka mengucapkan kedustaan bahwa mereka akan
mendapat kesudahan yang baik. Sudah pasti dan tidak diragukan bahwa bagi
merekalah Naar, dan bahwasanya mereka ditinggalkan serta dilupakan di dalamnya.
﴿تَٱللَّهِ لَقَدْ أَرْسَلْنَآ
إِلَىٰٓ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَزَيَّنَ لَهُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ أَعْمَـٰلَهُمْ
فَهُوَ وَلِيُّهُمُ ٱلْيَوْمَ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
٦٣﴾
[63]. Demi Alloh, sungguh Kami telah mengutus para
Rosul kepada umat-umat sebelummu—wahai Rosul—lalu syaithon memperindah
perbuatan kekafiran, pendustaan, dan penyembahan selain Alloh di mata mereka.
Maka syaithon menjadi pemimpin yang menyesatkan mereka di dunia, dan bagi
mereka di Akhiroh adzab yang sangat pedih.
﴿وَمَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ إِلَّا
لِتُبَيِّنَ لَهُمُ ٱلَّذِى ٱخْتَلَفُوا فِيهِ
ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
٦٤﴾
[64]. Dan tidaklah Kami menurunkan Al-Qur’an kepadamu—wahai
Rosul—melainkan agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang mereka
perselisihkan berupa perkara agama dan hukum-hukum, sehingga tegak hujjah atas
mereka dengan penjelasanmu, serta menjadi petunjuk dan rohmat bagi kaum yang
beriman.
﴿وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ
ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَحْيَا بِهِ
ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ ٦٥﴾
[65]. Alloh menurunkan air hujan dari awan, lalu
dengan air itu Dia menumbuhkan tumbuhan di bumi setelah sebelumnya gersang dan
tandus. Sungguh pada penurunan hujan dan penumbuhan tanaman itu benar-benar
terdapat bukti atas kemahakuasaan Alloh untuk membangkitkan dan atas
Kemahatunggalan-Nya, bagi kaum yang mau mendengarkan, merenungkan, mentaati
Alloh, dan bertaqwa kepada-Nya.
﴿وَإِنَّ لَكُمْ فِى ٱلْأَنْعَـٰمِ لَعِبْرَةً
ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِى بُطُونِهِۦ مِنۢ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ
لَّبَنًا خَالِصًا سَآئِغًا لِّلشَّـٰرِبِينَ ٦٦﴾
[66]. Dan sungguh pada hewan-hewan ternak berupa
unta, sapi, dan kambing benar-benar terdapat pelajaran bagi kalian—wahai
manusia. Kalian menyaksikan Kami memberi kalian minum dari dalam perutnya
berupa susu murni yang keluar dari antara kotoran dalam lambung dan darah,
bersih dari kotoran, terasa lezat dan mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya.
﴿وَمِن ثَمَرَٰتِ ٱلنَّخِيلِ وَٱلْأَعْنَـٰبِ تَتَّخِذُونَ
مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ٦٧﴾
[67]. Dan di antara ni’mat Kami kepada kalian adalah
apa yang kalian ambil dari buah kurma dan anggur, yang mana kalian jadikan
sebagai minuman keras yang memabukkan—hal ini sebelum diharomkan—dan rizqi yang
baik berupa makanan. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat bukti
kemahakuasaan Alloh bagi kaum yang menggunakan akalnya untuk mengambil
pelajaran.
﴿وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا
وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ٦٨﴾
[68]. Dan Robbmu memberi ilham kepada lebah: “Buatlah
sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan pada bangunan-bangunan
serta atap yang dibuat oleh manusia.”
﴿ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ رَبِّكِ
ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ
مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ
ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةً لِّقَوْمٍ
يَتَفَكَّرُونَ ٦٩﴾
[69]. “Kemudian makanlah dari segala jenis
buah-buahan yang engkau sukai, dan tempuhlah jalan-jalan Robbmu yang telah
dimudahkan bagimu untuk mencari rizqi di gunung dan celah pepohonan.” Alloh
memudahkannya sehingga lebah tidak tersesat untuk kembali ke sarangnya walau
jauh. Dari perut lebah itu keluar minuman berupa madu yang beraneka ragam
warnanya: ada yang putih, kuning, merah, dan lainnya, yang mengandung obat
penyembuh bagi manusia dari berbagai penyakit. Sungguh pada apa yang dihasilkan
lebah itu terdapat petunjuk kuat atas kekuasaan Penciptanya bagi kaum yang mau
berpikir dan mengambil pelajaran.
﴿وَٱللَّهُ خَلَقَكُمْ
ثُمَّ يَتَوَفَّىٰكُمْ ۚ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ
إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَىْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ
عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ
٧٠﴾
[70]. Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah
menciptakan kalian kemudian mewafatkan kalian di akhir umur kalian, dan di
antara kalian ada yang dikembalikan kepada usia yang paling buruk yaitu pikun,
hingga ia tidak lagi mengetahui sesuatu pun dari ilmu yang pernah diketahuinya
sebagaimana masa kanak-kanak. Sungguh Alloh Maha Mengetahui lagi Mahakuasa,
ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu; Dzat yang mengembalikan manusia
ke kondisi ini mahakuasa untuk mematikan dan membangkitkannya kembali.
﴿وَٱللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ
عَلَىٰ بَعْضٍ فِى ٱلرِّزْقِ ۚ فَمَا ٱلَّذِينَ فُضِّلُوا
بِرَآدِّى رِزْقِهِمْ عَلَىٰ مَا مَلَكَتْ أَيْمَـٰنُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَآءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ ٱللَّهِ يَجْحَدُونَ
٧١﴾
[71]. Alloh melebihkan sebagian kalian atas sebagian
yang lain dalam rizqi yang diberikan di dunia; di antara kalian ada yang kaya
dan ada yang miskin, ada pemilik dan ada budak. Maka orang-orang yang diberi
kelebihan harta tidak mungkin membagikan rizqi harta karunia Alloh itu kepada
budak-budak mereka sampai budak-budak itu menjadi sekutu yang setara dengan
mereka dalam kepemilikan harta. Jika mereka tidak rela menyamakan budak dengan
diri mereka, mengapa mereka rela menjadikan hamba-hamba Alloh sebagai sekutu
bagi Alloh? Sungguh hal ini merupakan kezholiman terbesar dan pengingkaran
terhadap ni’mat-ni’mat Alloh ‘Azza wa Jalla.
﴿وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم
مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَٰجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً
وَرَزَقَكُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ ۚ أَفَبِٱلْبَـٰطِلِ يُؤْمِنُونَ
وَبِنِعْمَتِ ٱللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ ٧٢﴾
[72]. Alloh Subhanahu menjadikan bagi kalian
istri-istri dari jenis kalian sendiri agar jiwa kalian merasa tenteram
bersamanya, dan Dia menjadikan dari istri-istri kalian anak-anak dan dari
keturunan mereka cucu-cucu, serta mengaruniai kalian rizqi makanan yang baik
berupa buah-buahan, biji-bijian, daging, dan lainnya. Apakah terhadap kebathilan
berupa sekutu-sekutu itu mereka beriman, sedangkan terhadap ni’mat Alloh yang
tak terhitung mereka ingkar dan enggan bersyukur dengan memurnikan ibadah hanya
kepada Alloh ‘Azza wa Jalla?
﴿وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ
لَهُمْ رِزْقًا مِّنَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ شَيْـًٔا
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ ٧٣﴾
[73]. Orang-orang musyrik menyembah berhala-berhala
selain Alloh yang tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk memberi rizqi dari
langit berupa hujan maupun dari bumi berupa tanaman, dan berhala-berhala itu
tidak akan pernah sanggup memberikannya karena memang tidak memiliki kekuasaan.
﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ ٱلْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ
لَا تَعْلَمُونَ ٧٤﴾
[74]. Jika kalian telah mengetahui bahwasanya
berhala dan patung tidak memberi manfaat, maka janganlah kalian—wahai
manusia—membuat tandingan-tandingan dan perumpamaan dari makhluk bagi Alloh
yang kalian sekutukan dalam ibadah. Sungguh Alloh mengetahui apa yang kalian
kerjakan sedangkan kalian lalai dan tidak mengetahui kesalahan serta keburukan
kesudahan kalian.
﴿ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا عَبْدًا
مَّمْلُوكًا لَّا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍ وَمَن رَّزَقْنَـٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا
فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُونَ
ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ
ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
٧٥﴾
[75]. Alloh membuat perumpamaan yang menjelaskan
rusaknya aqidah ahli syirik: seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak
berdaya bertindak dan tidak memiliki sesuatu apa pun, dengan seorang laki-laki
merdeka yang Kami beri rizqi yang baik dan halal yang memiliki wewenang
mengelolanya lalu menginfakkannya secara tersembunyi maupun terang-terangan;
apakah orang yang berakal akan menyamakan kedua orang tersebut? Demikian pula
Alloh Sang Pencipta, Pemilik, dan Pengatur tidak mungkin disamakan dengan
makhluk dan hamba-Nya, maka bagaimana bisa kalian menyamakannya? Segala puji hanya
milik Alloh semata, Dialah yang berhak atas segala pujian dan sanjungan, akan
tetapi mayoritas orang musyrik tidak mengetahui bahwasanya pujian dan ni’mat
adalah milik Alloh dan bahwasanya hanya Dia semata yang berhak diibadahi.
﴿وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا رَّجُلَيْنِ
أَحَدُهُمَآ أَبْكَمُ لَا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَىٰ مَوْلَىٰهُ
أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لَا يَأْتِ بِخَيْرٍ ۖ هَلْ يَسْتَوِى هُوَ
وَمَن يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ ۙ وَهُوَ عَلَىٰ صِرَٰطٍ
مُّسْتَقِيمٍ ٧٦﴾
[76]. Dan Alloh membuat perumpamaan lain tentang
kebathilan syirik: dua orang laki-laki, yang satu bisu lagi tuli yang tidak
paham dan tidak bisa memahamkan, tidak mampu memberi manfaat bagi dirinya
maupun orang lain, dan ia menjadi beban berat bagi pengampunya; ke mana saja ia
diutus untuk suatu urusan, ia tidak berhasil dan tidak membawa kebaikan.
Sedangkan orang kedua memiliki indra yang sehat, memberi manfaat bagi diri dan
orang lain, memerintahkan keadilan, dan berada di jalan lurus yang tidak ada
kebingungan padanya. Apakah kedua orang itu sama menurut pandangan orang
berakal? Maka bagaimana bisa kalian menyamakan antara berhala yang bisu tuli
dengan Alloh Yang Mahakuasa lagi Maha Memberi Ni’mat dengan segala kebaikan?
﴿وَلِلَّهِ غَيْبُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَآ أَمْرُ ٱلسَّاعَةِ إِلَّا
كَلَمْحِ ٱلْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ ٧٧﴾
[77]. Hanya milik Alloh Subhanahu wa Ta’ala
ilmu tentang segala yang ghoib di langit dan di bumi. Perkara kedatangan hari
Qiyamah dalam kecepatan terjadinya tidak lain hanyalah seperti kejapan mata
atau bahkan lebih cepat lagi. Sungguh Alloh Mahakuasa atas segala sesuatu.
﴿وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم
مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ
شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
٧٨﴾
[78]. Dan Alloh Subhanahu wa Ta’ala
mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian setelah masa kandungan dalam
keadaan kalian tidak mengetahui sesuatu pun di sekitar kalian, lalu Dia
menjadikan bagi kalian sarana-sarana pemahaman berupa pendengaran, penglihatan,
dan hati; agar kalian bersyukur kepada Alloh Ta’ala atas ni’mat-ni’mat
tersebut dan memurnikan ibadah hanya untuk-Nya ‘Azza wa Jalla.
﴿أَلَمْ يَرَوْا إِلَى ٱلطَّيْرِ مُسَخَّرَٰتٍ
فِى جَوِّ ٱلسَّمَآءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا
ٱللَّهُ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَـَٔايَـٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ ٧٩﴾
[79]. Tidakkah orang-orang musyrik itu memperhatikan
burung-burung yang ditundukkan terbang di udara antara langit dan bumi atas
perintah Alloh? Tidak ada yang menahannya dari jatuh melainkan Alloh Subhanahu
dengan bentuk ciptaan dan kemampuan yang diberikan-Nya. Sungguh pada
penundukkan dan penahanan itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh
bagi kaum yang beriman kepada bukti-bukti yang mereka lihat.
﴿وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم
مِّن بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُم مِّن جُلُودِ ٱلْأَنْعَـٰمِ بُيُوتًا
تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ أَصْوَافِهَا
وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَـٰثًا وَمَتَـٰعًا إِلَىٰ حِينٍ ٨٠﴾
[80]. Alloh Subhanahu menjadikan rumah-rumah
kalian sebagai tempat ketenangan dan kediaman bersama keluarga saat kalian
menetap, dan Dia menjadikan bagi kalian dalam perjalanan kemah-kemah dari kulit
hewan ternak yang terasa ringan kalian bawa saat bepergian dan ringan didirikan
saat berhenti. Dia juga menjadikan dari bulu wol domba, bulu unta, dan bulu
kambing perkakas rumah tangga berupa pakaian, penutup, karpet, dan perhiasan
yang kalian ni’mati sampai batas waktu tertentu.
﴿وَٱللَّهُ جَعَلَ لَكُم
مِّمَّا خَلَقَ ظِلَـٰلًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْجِبَالِ أَكْنَـٰنًا
وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَٰبِيلَ تَقِيكُمُ ٱلْحَرَّ وَسَرَٰبِيلَ
تَقِيكُم بَأْسَكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ
تُسْلِمُونَ ٨١﴾
[81]. Alloh menjadikan bagi kalian tempat berteduh
dari pepohonan dan lainnya, menjadikan tempat perlindungan di goa-goa gunung
saat dibutuhkan, serta menjadikan pakaian dari katun dan wol yang melindungi
kalian dari panas dan dingin, serta pakaian pelindung dari besi yang menjaga
kalian dari serangan dalam peperangan. Sebagaimana Alloh mengaruniakan ni’mat-ni’mat
ini, Dia menyempurnakan ni’mat-Nya kepada kalian dengan menjelaskan agama yang
haq agar kalian berserah diri kepada perintah Alloh semata dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
﴿فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ ٱلْبَلَـٰغُ ٱلْمُبِينُ ٨٢﴾
[82]. Jika mereka berpaling darimu—wahai
Rosul—setelah melihat bukti-bukti ini, maka janganlah engkau berduka cita;
kewajibanmu hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas, sedangkan hidayah
adalah urusan Kami.
﴿يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ ٱللَّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا
وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ ٨٣﴾
[83]. Orang-orang musyrik itu mengakui ni’mat Alloh
berupa diutusnya Nabi Muhammad ﷺ
kepada mereka, namun kemudian mereka mengingkari kenabian beliau, dan mayoritas
kaumnya adalah orang-orang yang ingkar lagi menolak kenabiannya.
﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ مِن كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا ثُمَّ
لَا يُؤْذَنُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَلَا هُمْ يُسْتَعْتَبُونَ ٨٤﴾
[84]. Ingatkanlah mereka—wahai Rosul—akan peristiwa
hari Qiyamah ketika Kami membangkitkan dari setiap umat seorang Rosul sebagai
saksi atas iman dan kekafiran mereka, kemudian orang-orang kafir tidak diberi
izin untuk menyampaikan alasan, dan tidak pula diminta agar Robb mereka ridho
melalui taubat dan amal sholih, karena kesempatan itu telah berlalu.
﴿وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا
ٱلْعَذَابَ فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ
وَلَا هُمْ يُنظَرُونَ ٨٥﴾
[85]. Dan apabila orang-orang kafir menyaksikan
adzab Alloh di Akhiroh, maka adzab itu tidak diringankan sedikit pun dari
mereka, mereka tidak diberi penangguhan, dan tidak pula diakhirkan siksanya.
﴿وَإِذَا رَءَا ٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا
شُرَكَآءَهُمْ قَالُوا رَبَّنَا هَـٰٓؤُلَآءِ شُرَكَآؤُنَا ٱلَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا
مِن دُونِكِ ۖ فَأَلْقَوْا إِلَيْهِمُ ٱلْقَوْلَ إِنَّكُمْ
لَكَـٰذِبُونَ ٨٦﴾
[86]. Dan ketika orang-orang musyrik melihat
sesembahan yang dahulu mereka sembah selain Alloh pada hari Qiyamah, mereka
berkata: “Wahai Robb kami, mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami
sembah selain Engkau.” Maka sesembahan itu mendustakan para penyembahnya seraya
menegaskan: “Sungguh kalian—wahai musyrikin—benar-benar para pendusta ketika
menjadikan kami sekutu bagi Alloh, karena kami tidak pernah memerintahkan
kalian dan tidak pernah mengaku berhak diibadahi, maka celaan itu kembali
kepada kalian sendiri.”
﴿وَأَلْقَوْا إِلَى ٱللَّهِ يَوْمَئِذٍ
ٱلسَّلَمَ ۖ وَضَلَّ عَنْهُم
مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ ٨٧﴾
[87]. Dan orang-orang musyrik menyatakan ketundukan
serta kepasrahan kepada Alloh pada hari itu, dan lenyaplah seluruh kebohongan
yang dahulu mereka ada-adakan bahwa sesembahan mereka akan memberi syafa’at.
﴿ٱلَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن
سَبِيلِ ٱللَّهِ زِدْنَـٰهُمْ عَذَابًا فَوْقَ
ٱلْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ
٨٨﴾
[88]. Orang-orang yang mengingkari Kemahatunggalan
Alloh dan kenabianmu—wahai Rosul—serta menghalangi orang lain dari keimanan,
Kami tambahkan adzab di atas adzab atas kekafiran dan penghalangan mereka
terhadap kebenaran; hal ini disebabkan kerusakan dan kesesatan yang sengaja
mereka perbuat pada hamba-hamba Alloh.
﴿وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِى كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِم
مِّنْ أَنفُسِهِمْ ۖ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَىٰ
هَـٰٓؤُلَآءِ ۚ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَـٰبَ تِبْيَـٰنًا
لِّكُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ٨٩﴾
[89]. Ingatlah—wahai Rosul—hari ketika Kami
membangkitkan saksi dari kalangan setiap umat dari jenis dan bahasa mereka
sendiri, dan Kami mendatangkanmu sebagai saksi atas umatmu. Kami telah
menurunkan Al-Qur’an kepadamu sebagai penjelasan atas segala perkara yang
dibutuhkan seperti hukum halal harom, pahala dan siksa, serta sebagai hidayah
dari kesesatan, rohmat bagi yang membenarkannya, dan kabar gembira bagi
orang-orang Muslim tentang baiknya kesudahan mereka.
﴿إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَـٰنِ وَإِيتَآئِ
ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ ٩٠﴾
[90]. Sungguh Alloh Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan dalam Al-Qur’an ini sikap adil; dan keadilan terhadap hak-Nya
dengan mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, serta terhadap hak
hamba-Nya dengan memberikan hak kepada pemiliknya. Alloh memerintahkan ihsan
dalam beribadah dan menunaikan kewajiban, serta berbuat baik kepada makhluk melalui
perkataan dan perbuatan. Dia memerintahkan untuk memberi karib kerabat
silaturrohim dan kebaikan, serta melarang segala perbuatan keji, kemungkaran
yang dilarang syari’at dari kekafiran dan maksiat, serta kezholiman terhadap
manusia. Alloh menasihati dan mengingatkan kalian dengan perintah dan larangan
ini agar kalian mengingat dan mengamalkannya.
﴿وَأَوْفُوا بِعَهْدِ ٱللَّهِ إِذَا عَـٰهَدتُّمْ
وَلَا تَنقُضُوا ٱلْأَيْمَـٰنَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا
وَقَدْ جَعَلْتُمُ ٱللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا
تَفْعَلُونَ ٩١﴾
[91]. Pegang teguhlah janji yang telah kalian
tetapkan atas diri kalian antara kalian dengan Alloh atau antar sesama manusia
dalam hal yang tidak menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah, dan janganlah kalian
merusak sumpah setelah kalian memantapkannya padahal kalian telah menjadikan
Alloh sebagai jaminan dan saksi. Sungguh Alloh mengetahui apa yang kalian
kerjakan dan akan membalasnya.
﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِى نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَـٰثًا
تَتَّخِذُونَ أَيْمَـٰنَكُمْ دَخَلًاۢ بَيْنَكُمْ أَن تَكُونَ
أُمَّةٌ هِىَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ
ٱللَّهُ بِهِۦ ۚ وَلَيُبَيِّنَنَّ
لَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ مَا كُنتُمْ فِيهِ
تَخْتَلِفُونَ ٩٢﴾
[92]. Janganlah kalian membatalkan perjanjian
sehingga perumpamaan kalian seperti wanita yang mengurai kembali tenunannya
yang telah dipintal dengan kuat. Kalian menjadikan sumpah perjanjian sebagai
tipu daya ketika mendapati suatu kelompok lebih banyak harta dan manfaatnya
dari kelompok yang kalian ikuti perjanjiannya. Sungguh Alloh hanya menguji
kalian dengan perintah memenuhi janji dan larangan merusaknya, dan Dia pasti
menjelaskan kepada kalian pada hari Qiyamah perkara agama dan kenabian Nabi
Muhammad ﷺ yang dahulu kalian
perselisihkan di dunia.
﴿وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ
أُمَّةً وَٰحِدَةً وَلَـٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ وَلَتُسْـَٔلُنَّ
عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ٩٣﴾
[93]. Seandainya Alloh menghendaki, niscaya Dia
memberi taufiq kepada kalian semua sehingga menjadi satu umat di atas Islam dan
keimanan, akan tetapi Alloh menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dari orang
yang memilih kesesatan secara adil, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia
kehendaki yang memilih kebenaran sebagai karunia-Nya. Sungguh kalian semua akan
dimintai pertanggungjawaban pada hari Qiyamah atas seluruh perbuatan yang
kalian lakukan di dunia.
﴿وَلَا تَتَّخِذُوٓا أَيْمَـٰنَكُمْ دَخَلًاۢ بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ
قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا ٱلسُّوٓءَ بِمَا صَدَدتُّمْ
عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۖ وَلَكُمْ عَذَابٌ
عَظِيمٌ ٩٤﴾
[94]. Janganlah kalian menjadikan sumpah-sumpah
kalian sebagai penipuan terhadap orang lain, sehingga kalian binasa setelah
sebelumnya aman bagaikan orang yang terpeleset kakinya setelah berdiri teguh,
dan kalian merasakan keburukan adzab di dunia karena perbuatan kalian yang
menghalangi orang lain dari Islam saat mereka melihat pengkhianatan kalian,
serta bagi kalian di Akhiroh adzab yang amat besar.
﴿وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا
ۚ إِنَّمَا عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيْرٌ
لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ٩٥﴾
[95]. Dan janganlah kalian merusak janji Alloh demi
menukarnya dengan kesenangan dunia yang sedikit. Sungguh pahala di sisi Alloh
atas pemenuhan janji jauh lebih baik bagi kalian daripada keni’matan yang
sedikit ini, jika kalian adalah orang-orang yang berilmu dan mau merenungkan
perbedaan kebaikan dunia dan Akhiroh.
﴿مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ
ٱلَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٩٦﴾
[96]. Apa yang ada di sisi kalian berupa keni’matan
dunia akan sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Alloh berupa rizqi dan balasan
pahala tidak akan pernah habis. Sungguh Kami akan memberikan balasan kepada
orang-orang yang bersabar menanggung beban kewajiban—termasuk menepati
janji—dengan balasan yang sesuai dengan perbuatan terbaik mereka sebagai
karunia dari Kami.
﴿مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ
مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً
ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم
بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٩٧﴾
[97]. Siapa mengerjakan amal sholih, baik laki-laki
maupun perempuan, dalam keadaan ia beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka
sungguh Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan tenteram di
dunia walaupun hartanya sedikit, dan Kami pasti akan memberi mereka balasan di
Akhiroh dengan pahala terbaik atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.
﴿فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَـٰنِ ٱلرَّجِيمِ ٩٨﴾
[98]. Apabila engkau—wahai Mu’min—hendak membaca
Al-Qur’an, maka memohonlah perlindungan kepada Alloh dari kejahatan syaithon
yang terkutuk lagi dijauhkan dari rohmat Alloh, dengan mengucapkan: “A’uudzu
billaahi minasysyaithoonirrojiim.”
﴿إِنَّهُۥ لَيْسَ لَهُۥ سُلْطَـٰنٌ عَلَى
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ ٩٩﴾
[99]. Sungguh syaithon itu tidak memiliki kekuasaan
dan pengaruh atas orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya serta
hanya kepada Robb mereka sajalah mereka berserah diri dan bertawakkal.
﴿إِنَّمَا سُلْطَـٰنُهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُۥ وَٱلَّذِينَ هُم بِهِۦ مُشْرِكُونَ ١٠٠﴾
[100]. Kekuasaan syaithon hanyalah berlaku atas
orang-orang yang menjadikannya sebagai penolong dan mentaatinya, serta
orang-orang yang karena ketaatan kepadanya menjadi berbuat syirik kepada Alloh Ta’ala.
﴿وَإِذَا بَدَّلْنَآ ءَايَةً مَّكَانَ ءَايَةٍ ۙ وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا
يُنَزِّلُ قَالُوٓا إِنَّمَآ أَنتَ مُفْتَرٍۭ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ
لَا يَعْلَمُونَ ١٠١﴾
[101]. Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan
ayat yang lain—padahal Alloh Sang Pencipta Maha Mengetahui kemaslahatan
hamba-Nya terhadap hukum yang diturunkan pada waktu yang berbeda—orang-orang kafir
berkata: “Sungguh engkau—wahai Muhammad—hanyalah pendusta yang mengada-adakan
atas nama Alloh apa yang tidak diucapkan-Nya.” Padahal Nabi Muhammad ﷺ tidaklah seperti tuduhan mereka, melainkan mayoritas mereka
tidak memiliki ilmu tentang Robb mereka, syari’at, dan hukum-hukum-Nya.
﴿قُلْ نَزَّلَهُۥ رُوحُ ٱلْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ
بِٱلْحَقِّ لِيُثَبِّتَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا
وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ ١٠٢﴾
[102]. Katakanlah kepada mereka—wahai Rosul—: “Al-Qur’an
ini bukanlah buatan dari diriku, melainkan diturunkan oleh Jibril dari Robbmu
dengan kebenaran dan keadilan; untuk meneguhkan hati orang-orang beriman, serta
menjadi petunjuk dari kesesatan dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri kepada Alloh Robb semesta alam.”
﴿وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُۥ بَشَرٌ ۗ لِّسَانُ ٱلَّذِى يُلْحِدُونَ
إِلَيْهِ أَعْجَمِىٌّ وَهَـٰذَا لِسَانٌ عَرَبِىٌّ مُّبِينٌ ١٠٣﴾
[103]. Dan sungguh Kami mengetahui bahwasanya
orang-orang musyrik itu berkata: “Sungguh Nabi menerima ajaran Al-Qur’an dari
seorang manusia.” Mereka berdusta! Sebab bahasa orang yang mereka tuduhkan
mengajarkan Nabi ﷺ adalah bahasa ‘Ajam
(non-Arab) yang tidak fasih, sedangkan Al-Qur’an ini berbahasa Arob yang sangat
jelas dan terang.
﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ لَا يَهْدِيهِمُ ٱللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ ١٠٤﴾
[104]. Sungguh orang-orang kafir yang tidak
membenarkan ayat-ayat Alloh tidak akan diberi taufiq oleh Alloh untuk mencapai
kebenaran, dan bagi mereka di Akhiroh adzab yang sangat pedih.
﴿إِنَّمَا يَفْتَرِى ٱلْكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ ۖ وَأُولَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْكَـٰذِبُونَ ١٠٥﴾
[105]. Hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
Alloh dan ayat-ayat-Nya yang mengada-adakan kedustaan, dan merekalah para
pendusta hakiki. Adapun Nabi Muhammad ﷺ yang
beriman dan tunduk kepada Robb-nya, sungguh mustahil berdusta atas nama Alloh.
﴿مَن كَفَرَ بِٱللَّهِ مِنۢ بَعْدِ إِيمَـٰنِهِۦ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ
وَقَلْبُهُۥ مُطْمَئِنٌّ ۢ بِٱلْإِيمَـٰنِ وَلَـٰكِن
مَّن شَرَحَ بِٱلْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ
مِّنَ ٱللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
١٠٦﴾
[106]. Siapa yang kufur kepada Alloh setelah
beriman—kecuali orang yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur karena takut
binasa sedangkan hatinya tetap mantap dalam keimanan, maka tidak ada celaan
atasnya—akan tetapi orang yang melapangkan dada menerima kekafiran dan merasa
tenteram dengannya, maka murka Alloh menimpa mereka dan bagi mereka adzab yang
amat besar.
﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ ٱسْتَحَبُّوا ٱلْحَيَوٰةَ ٱلدُّنْيَا عَلَى ٱلْـَٔاخِرَةِ وَأَنَّ
ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ ١٠٧﴾
[107]. Yang demikian itu disebabkan karena mereka
lebih mencintai kehidupan dunia beserta perhiasannya dan memutuskannya di atas
pahala Akhiroh, serta bahwasanya Alloh tidak akan memberi hidayah kepada kaum
yang kafir dan tidak memberi mereka taufiq menuju kebenaran.
﴿أُولَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ طَبَعَ ٱللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ
وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۖ وَأُولَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَـٰفِلُونَ ١٠٨﴾
[108]. Merekalah orang-orang yang hati mereka telah
dikunci mati oleh Alloh akibat kekafiran dan lebih mengutamakan dunia di atas
Akhiroh sehingga cahaya hidayah tidak sampai kepadanya, pendengaran mereka
ditutup dari merenungkan ayat-ayat Alloh, dan penglihatan mereka dibutakan dari
melihat bukti-bukti keilahian Alloh; mereka itulah orang-orang yang keliru lagi
lalai dari adzab yang disediakan bagi mereka.
﴿لَا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ هُمُ
ٱلْخَـٰسِرُونَ ١٠٩﴾
[109]. Pasti dan tidak diragukan lagi bahwasanya
mereka di Akhiroh adalah orang-orang yang rugi lagi binasa, yang menghabiskan
hidup mereka untuk hal yang mendatangkan adzab.
﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنۢ بَعْدِ مَا فُتِنُوا
ثُمَّ جَـٰهَدُوا وَصَبَرُوٓا إِنَّ رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ
رَّحِيمٌ ١١٠﴾
[110]. Kemudian sungguh Robbmu bagi orang-orang lemah
di Makkah yang disiksa oleh orang-orang musyrik hingga terpaksa menyetujui
ucapan mereka secara lahiriah sedangkan hati mereka tetap beriman, lalu ketika
ada kesempatan mereka berhijroh ke Madinah, kemudian berjihad di jalan Alloh
dan bersabar atas kesulitan kewajiban; sungguh Robbmu setelah taubat dan usaha
mereka benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.
﴿يَوْمَ تَأْتِى كُلُّ نَفْسٍ تُجَـٰدِلُ عَن نَّفْسِهَا
وَتُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ ١١١﴾
[111]. Ingatkanlah mereka—wahai Rosul—akan hari
Qiyamah ketika setiap jiwa datang membela dirinya sendiri dan mengajukan
berbagai alasan, dan Alloh menyempurnakan balasan setiap jiwa atas apa yang
telah dikerjakannya tanpa dizholimi sedikit pun, tidak ditambah siksanya dan
tidak dikurangi pahalanya.
﴿وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً
كَانَتْ ءَامِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّن كُلِّ مَكَانٍ
فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا
ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا
يَصْنَعُونَ ١١٢﴾
[112]. Dan Alloh telah membuat perumpamaan sebuah
negeri yaitu Makkah yang dahulu aman dari gangguan, tenteram penghidupannya,
limpahan rizqinya datang dengan mudah dari segala penjuru, lalu penduduknya
mengkufuri ni’mat-ni’mat Alloh, berbuat syirik, dan enggan bersyukur. Maka
Alloh menimpa mereka dengan kelaparan dan ketakutan dari pasukan Rosulullah ﷺ yang mengancam mereka; hal itu disebabkan kekafiran dan
perbuatan bathil mereka.
﴿وَلَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُولٌ مِّنْهُمْ فَكَذَّبُوهُ
فَأَخَذَهُمُ ٱلْعَذَابُ وَهُمْ ظَالِمُونَ ١١٣﴾
[113]. Dan sungguh telah datang kepada penduduk
Makkah seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri yaitu Nabi Muhammad ﷺ yang mereka kenal nasab, kejujuran, dan amanahnya, namun mereka
mendustakan ajaran yang dibawanya. Maka adzab berupa paceklik, kelaparan,
ketakutan, dan terbunuhnya tokoh-tokoh mereka pada Perang Badr menimpa mereka
dalam keadaan mereka menzholimi diri sendiri dengan perbuatan syirik dan
menghalangi jalan Alloh.
﴿فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَـٰلًا
طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ
إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ١١٤﴾
[114]. Maka makanlah—wahai Mu’minin—dari rizqi yang
dikaruniakan Alloh kepada kalian yang halal lagi baik, dan syukurilah ni’mat
Alloh atas kalian dengan mengakuinya dan menggunakannya dalam ketaatan
kepada-Nya, jika kalian benar-benar tunduk, patuh, dan hanya menyembah
kepada-Nya semata tanpa menyekutukan-Nya.
﴿إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ ٱلْمَيْتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحْمَ ٱلْخِنزِيرِ وَمَآ
أُهِلَّ لِغَيْرِ ٱللَّهِ بِهِۦ ۖ فَمَنِ ٱضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ
وَلَا عَادٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٥﴾
[115]. Sungguh Alloh hanya mengharomkan atas kalian
bangkai hewan, darah yang mengalir saat disembelih, daging babi, dan hewan yang
disembelih dengan menyebut nama selain Alloh. Namun siapa yang terdesak keadaan
darurat karena takut mati untuk memakan sebagian harom ini tanpa sengaja
melanggar dan tidak melampaui batas kadar darurat, maka sungguh Alloh Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang kepadanya dan tidak menghukum perbuatannya.
﴿وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ ٱلْكَذِبَ هَـٰذَا
حَلَـٰلٌ وَهَـٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفْتَرُونَ
عَلَى ٱللَّهِ ٱلْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ
١١٦﴾
[116]. Dan janganlah kalian—wahai musyrikin—mengucapkan
kedustaan yang diuraikan lisan kalian: “Ini halal” terhadap apa yang diharomkan
Alloh, dan “Ini harom” terhadap apa yang dihalalkan Alloh, guna mengada-adakan
kebohongan atas nama Alloh dengan menyandarkan hukum halal harom kepada-Nya. Sungguh
orang-orang yang mengada-adakan kedustaan atas nama Alloh tidak akan beruntung
mendapatkan kebaikan di dunia maupun di Akhiroh.
﴿مَتَـٰعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ١١٧﴾
[117]. Kesenangan mereka di dunia hanyalah ni’mat
yang sedikit lagi akan sirna, dan bagi mereka di Akhiroh adzab yang sangat
pedih.
﴿وَعَلَى ٱلَّذِينَ هَادُوا
حَرَّمْنَا مَا قَصَصْنَا عَلَيْكَ مِن قَبْلُ ۖ وَمَا ظَلَمْنَـٰهُمْ
وَلَـٰكِن كَانُوٓا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ ١١٨﴾
[118]. Dan khusus kepada orang-orang Yahudi, Kami
telah mengharomkan apa yang telah Kami ceritakan kepadamu sebelumnya—wahai
Rosul—berupa segala hewan bertaring/berkuku utuh, serta lemak sapi dan kambing
kecuali yang melekat di punggung, usus, atau bercampur dengan tulang. Kami tidak
menzholimi mereka dengan pengharoman tersebut, melainkan merekalah yang
menzholimi diri mereka sendiri dengan kekafiran dan pembangkangan sehingga
berhak menerima hukuman itu.
﴿ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا ٱلسُّوٓءَ بِجَهَـٰلَةٍ
ثُمَّ تَابُوا مِنۢ بَعْدِ ذَٰلِك وَأَصْلَحُوٓا إِنَّ
رَبَّكَ مِنۢ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ ١١٩﴾
[119]. Kemudian sungguh Robbmu bagi orang-orang yang
mengerjakan kejahatan karena kebodohan mereka akan akibat buruknya walau mereka
tahu hukum haromnya—karena setiap yang bermaksiat adalah bodoh ditinjau dari
sisi ini—lalu mereka bertaubat dan memperbaiki diri serta amalan mereka; sungguh
Robbmu setelah taubat dan perbaikan itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang kepada mereka.
﴿إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ
حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ١٢٠﴾
[120]. Sungguh Ibrohim adalah seorang teladan
pemimpin kebaikan, selalu patuh dan tunduk kepada Alloh, lurus di atas agama
Islam, bertauhid, dan tidak pernah termasuk golongan orang-orang musyrik.
﴿شَاكِرًا لِّأَنْعُمِهِ ۚ ٱجْتَبَىٰهُ وَهَدَىٰهُ
إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ ١٢١﴾
[121]. Beliau senantiasa bersyukur atas ni’mat-ni’mat
Alloh kepadanya, maka Alloh memilihnya menjadi Rosul-Nya dan memimpinnya menuju
jalan yang lurus yaitu Islam.
﴿وَءَاتَيْنَـٰهُ فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً
ۖ وَإِنَّهُۥ فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ لَمِنَ
ٱلصَّـٰلِحِينَ ١٢٢﴾
[122]. Dan Kami mengaruniakannya kebaikan di dunia
berupa pujian indah dari orang-orang setelahnya, keteladanan, dan keturunan
yang sholih; dan sungguh beliau di sisi Alloh di Akhiroh benar-benar termasuk
golongan orang-orang sholih yang memiliki derajat tinggi di Jannah.
﴿ثُمَّ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ أَنِ ٱتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ
حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ١٢٣﴾
[123]. Kemudian Kami wahyukan kepadamu—wahai
Rosul—agar engkau mengikuti agama Islam sebagaimana yang diikuti oleh Ibrohim,
istiqomah di atasnya dan tidak menyimpang darinya; karena Ibrohim tidak pernah
menjadi bagian dari orang-orang yang menyekutukan Alloh.
﴿إِنَّمَا جُعِلَ ٱلسَّبْتُ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا فِيهِ
ۚ وَإِنَّ رَبَّك لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ
يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ
يَخْتَلِفُونَ ١٢٤﴾
[124]. Sungguh pengagungan hari Sabtu dengan
mengosongkan diri untuk beribadah padanya hanya diwajibkan atas kaum Yahudi
yang berselisih tentangnya terhadap Nabi mereka dan memilih hari Sabtu sebagai
ganti dari hari Jum’at yang diperintahkan untuk diagungkan. Sungguh Robbmu—wahai
Rosul—pasti akan memutuskan perkaranya di antara mereka pada hari Qiyamah atas
perselisihan mereka terhadap Nabi mereka, dan memberi balasan setimpal kepada
setiap golongan.
﴿ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّك بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَـٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ
ۚ إِنَّ رَبَّك هُوَ أَعْلَمُ بِمَن
ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِٱلْمُهْتَدِينَ ١٢٥﴾
[125]. Serulah—wahai Rosul—bersama orang-orang yang
mengikutimu manusia ke jalan Robbmu yang lurus dengan hikmah yang diwahyukan
Alloh kepadamu dalam Al-Qur’an dan Sunnah, ajaklah manusia dengan penyampaian
yang sesuai, beri nasihat yang baik yang membuat mereka menyukai kebaikan dan
takut kejahatan, serta bantahlah mereka dengan cara terbaik penuh kelembutan.
Kewajibanmu hanyalah menyampaikan risalah dan engkau telah menyampaikannya,
sedangkan hidayah adalah milik Alloh semata; Dialah yang paling mengetahui
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat hidayah.
﴿وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم
بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ
لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّـٰبِرِينَ ١٢٦﴾
[126]. Dan jika kalian—wahai Mu’minin—hendak membalas
kezholiman orang-orang yang melanggar hak kalian, maka janganlah membalas
melebihi perbuatan mereka; dan sungguh jika kalian bersabar, maka bersabar itu
jauh lebih baik bagi kalian di dunia dengan pertolongan dan di Akhiroh dengan balasan
pahala yang amat besar.
﴿وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ
إِلَّا بِٱللَّهِ ۚ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ
وَلَا تَكُ فِى ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ ١٢٧﴾
[127]. Bersabarlah—wahai Rosul—atas gangguan yang
menimpamu di jalan Alloh sampai kelapangan datang, dan tidaklah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Alloh yang menguatkan dan meneguhkanmu. Janganlah
engkau berduka cita atas orang-orang yang menentang dan tidak menyambut da’wahmu,
dan jangan merasa sempit dada atas tipu daya dan makar mereka; karena kejahatan
makar itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri.
﴿إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
١٢٨﴾
[128]. Sungguh Alloh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersama orang-orang yang bertaqwa kepada-Nya dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan melalui pertolongan dan perlindungan-Nya, serta bersama orang-orang yang berbuat ihsan dalam menunaikan kewajiban dan ketaatan melalui taufiq dan bantuan-Nya.[]
