Cari Ebook

[PDF] Fiqih Bersholawat Kepada Nabi ﷺ - Nor Kandir

 


Muqoddimah

﷽

Segala puji bagi Alloh ﷻ Yang Maha Menguasai seluruh alam.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada hamba dan Rosul-Nya, Nabi Muhammad ﷺ, sosok penutup para Nabi yang diutus sebagai rohmat bagi semesta alam, serta kepada keluarga, para Shohabat, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan sholih hingga Hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Alloh ﷻ telah memuliakan kedudukan Nabi ﷺ di atas seluruh makhluk-Nya. Di antara wujud pengagungan tersebut adalah perintah Alloh ﷻ kepada para hamba-Nya yang Mu’min untuk bersholawat dan mengucapkan salam kepadanya. Bersholawat kepada Nabi ﷺ merupakan bentuk ibadah yang agung, bukti kecintaan yang jujur, serta jalan utama untuk meraih ridho Alloh ﷻ dan keselamatan di Akhiroh.

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sungguh Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Buku ini disusun sebagai panduan fiqih yang ringkas namun padat makna dalam menjelaskan hukum, keutamaan, ragam lafazh yang shohih, waktu-waktu yang disyariatkan, serta penyimpangan yang wajib dihindari dalam bersholawat kepada Nabi ﷺ berdasarkan petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Bab 1: Fadhilah Sholawat Kepada Nabi ﷺ

1.1 Perintah Alloh ﷻ Untuk Bersholawat

Alloh ﷻ mewajibkan hamba-Nya yang Mu’min untuk mengagungkan Nabi ﷺ melalui sholawat dan salam. Perintah ini menunjukkan kedudukan tinggi beliau di sisi Robb semesta alam.

Makna sholawat dari Alloh ﷻ adalah pujian-Nya bagi Nabi ﷺ di hadapan para Malaikat yang mulia, sedangkan sholawat dari para Malaikat dan manusia adalah doa memohon rohmat dan peninggian derajat baginya.

Abu Al-‘Aliyah (90 H) rohimahulloh berkata:

صَلاَةُ اللَّهِ: ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ المَلاَئِكَةِ، وَصَلاَةُ المَلاَئِكَةِ الدُّعَاءُ

“Sholawat Alloh adalah pujian-Nya atas beliau di hadapan para Malaikat, dan sholawat para Malaikat adalah doa.” (Shohih Al-Bukhori, sebelum no. 4796)

Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Yaitu orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang mereka dapati tertulis di dalam Taurot dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharomkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’rof: 157)

Seorang Muslim yang lurus akan senantiasa menaati perintah ini dalam kehidupan sehari-hari, baik saat mendengar nama Nabi ﷺ disebut maupun dalam zikir harian, sebagai bentuk ketaatan kepada perintah Alloh ﷻ.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sungguh Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

1.2 Mengangkat Derajat

Setiap sholawat yang diucapkan oleh seorang hamba akan dibalas oleh Alloh ﷻ dengan lipat ganda keberkahan. Satu kali sholawat dari hamba mendatangkan 10 kali pujian dan rohmat dari Alloh ﷻ, menghapuskan 10 dosa kesalahan, serta mengangkat 10 derajat kedudukan di Jannah.

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا»

“Siapa bersholawat kepadaku 1 kali, niscaya Alloh bersholawat kepadanya 10 kali.” (HR. Muslim no. 408)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»

“Siapa bersholawat kepadaku 1 kali sholawat, niscaya Alloh bersholawat kepadanya 10 kali sholawat, dihapus darinya 10 kesalahan, dan diangkat baginya 10 derajat.” (HSR. An-Nasa’i no. 1297)

Kehidupan Shohabat, senantiasa membasahi lidah mereka dengan sholawat. Seseorang yang sedang menghadapi kesulitan hidup lalu memperbanyak sholawat, niscaya Alloh ﷻ akan melapangkan urusannya dan memuliakan kedudukannya di dunia dan Akhiroh.

1.3 Menghapus Dosa dan Menghilangkan Kesedihan

Memperbanyak sholawat merupakan penawar paling ampuh bagi kesedihan hati dan penghapus beban dosa. Ketika seorang hamba menjadikan seluruh waktu doanya untuk bersholawat kepada Nabi ﷺ, maka Alloh ﷻ menjamin kecukupan atas seluruh urusan dunianya serta pengampunan atas seluruh dosa-dosanya.

Dari Ubay bin Ka’b (21 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Nabi ﷺ:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلَاةَ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلَاتِي؟ فَقَالَ: «مَا شِئْتَ». قَالَ: قُلْتُ: الرُّبُعَ، قَالَ: «مَا شِئْتَ فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»، قُلْتُ: النِّصْفَ، قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»، قَالَ: قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ، قَالَ: «مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ»، قُلْتُ: أَجْعَلُ لَكَ صَلَاتِي كُلَّهَا قَالَ: «إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»

Aku berkata: “Wahai Rosululloh, sungguh aku memperbanyak bersholawat kepadamu, maka berapa banyak aku jadikan sholawatku untukmu dari doaku?” Beliau menjawab: “Sekehendakmu.” Aku berkata: “Seperempat?” Beliau menjawab: “Sekehendakmu, jika engkau menambahi maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: “Separuh?” Beliau menjawab: “Sekehendakmu, jika engkau menambahi maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: “Dua pertiga?” Beliau menjawab: “Sekehendakmu, jika engkau menambahi maka itu lebih baik bagimu.” Aku berkata: “Aku jadikan seluruh doaku untuk bersholawat kepadamu.” Beliau bersabda: “Jika demikian, maka dicukupkan duka citamu dan diampuni dosamu.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2457)

Ketika seorang Muslim tertimpa kesempitan rezeki atau kecemasan jiwa, ia menempuh jalan syari dengan menggiatkan Sholat dan memperbanyak zikir sholawat. Dengan ketaatan tersebut, Alloh ﷻ mengusir kegelisahan dari jiwanya dan membuka pintu kemudahan.

1.4 Didoakan Malaikat

Para Malaikat yang suci senantiasa memohonkan rohmat dan ampunan bagi hamba yang bersholawat kepada Nabi ﷺ. Doa Malaikat tersebut terus berlangsung selama ucapan sholawat itu dilantunkan oleh sang hamba.

Dari ‘Amir bin Robi’ah (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَلِّي عَلَيَّ، إِلَّا صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ مَا صَلَّى عَلَيَّ، فَلْيُقِلَّ الْعَبْدُ مِنْ ذَلِكَ أَوْ لِيُكْثِرْ»

“Tidaklah seorang Muslim bersholawat kepadaku melainkan para Malaikat mendoakan sholawat kepadanya selama ia bersholawat kepadaku, maka silahkan ia menyedikitkan hal itu atau memperbanyaknya.” (HHR. Ibnu Majah no. 907)

Keadaan ini mendorong seorang Mu’min untuk tidak menyia-nyiakan waktunya. Berdiri, duduk, maupun berbaring, ia senantiasa membasahi lisan dengan sholawat agar senantiasa berada dalam naungan doa para Malaikat Alloh ﷻ.

1.5 Ancaman Bagi Orang yang Tidak Bersholawat

Meninggalkan sholawat saat nama Nabi ﷺ disebutkan merupakan tanda kekikiran jiwa dan kehinaan akhlaq. Seseorang yang enggan bersholawat ketika mendengar nama mulia beliau diancam dengan kerugian yang amat besar di hadapan Alloh ﷻ.

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ»

“Terhinalah seorang yang namaku disebut di sisinya lalu ia tidak bersholawat kepadaku.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3545)

Dari ‘Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ»

“Orang yang bakhil adalah orang yang namaku disebut di sisinya lalu ia tidak bersholawat kepadaku.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3546)

Ketika seorang khotib, pengajar da’wah, atau penuntut ilmu mendengar lafazh “Nabi” atau “Muhammad”, hendaknya ia segera menyambutnya dengan ucapan “shollallohu ‘alaihi wa sallam” secara lisan atau batin, agar terhindar dari sifat bakhil yang dicela oleh Rosululloh ﷺ.

Bab 2: Ragam Lafazh Sholawat

2.1 Makna Sholawat dan Salam

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin (1421 H) rohimahulloh berkata: “Ada yang berpendapat bahwa sholawat dari Alloh adalah rohmat, dari Malaikat adalah permohonan ampunan, dan dari manusia adalah doa.

Jika dikatakan: ‘Para Malaikat bersholawat kepadanya’, maknanya: memohonkan ampunan untuknya.

Jika dikatakan: ‘Khotib bersholawat kepadanya’, maknanya: mendoakannya.

Jika dikatakan: ‘Alloh bersholawat kepadanya’, maknanya: merohmatinya.

Pendapat ini masyhur di kalangan ahli ilmu, tetapi yang benar adalah menyelisihi hal tersebut. Sungguh sholawat itu lebih khusus daripada rohmat. Oleh karena itu, kaum Muslimin sepakat tentang bolehnya mendoakan rohmat bagi setiap Mu’min, namun mereka berselisih pendapat: apakah boleh bersholawat kepada selain para Nabi? Seandainya sholawat bermakna rohmat, tentu tidak ada perbedaan di antara keduanya, sehingga sebagaimana kita mendoakan rohmat untuk si Fulan, kita pun bisa bersholawat kepadanya.

Selain itu, Alloh telah berfirman:

﴿أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ﴾

‘Mereka itulah yang mendapat sholawat dan rohmat dari Robb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.’ (QS. Al-Baqoroh: 157)

Di sini Alloh mengathofkan (menyambungkan) kata ‘rohmat’ kepada ‘sholawat’, dan pengathofan menuntut adanya perbedaan makna.

Maka menjadi jelas melalui petunjuk ayat yang mulia ini, serta penggunaan para ulama rohimahumulloh terhadap kata sholawat di satu tempat dan rohmat di tempat lain: bahwa sholawat bukanlah rohmat.

Pendapat terbaik yang dikatakan dalam hal ini adalah apa yang disebutkan oleh Abu Al-‘Aliyah (90 H) rohimahulloh, bahwa sholawat Alloh kepada Nabi-Nya adalah pujian-Nya atas beliau di hadapan para Malaikat tingkat tinggi.

Maka makna ‘Allohumma sholli ‘alaihi’ adalah: berilah pujian atasnya di hadapan para Malaikat tingkat tinggi, yaitu di sisi para Malaikat yang didekatkan.

Jika ada yang bertanya: Bukankah ini jauh dari derivasi kata secara bahasa, karena sholawat secara bahasa bermakna doa dan bukan pujian?

Jawabannya: Sholawat juga berasal dari kata ash-shilah (hubungan/pemberian). Tidak diragukan lagi bahwa pujian atas Rosululloh ﷺ di hadapan para Malaikat tingkat tinggi termasuk pemberian paling agung. Sebab, sebutan yang baik terkadang bagi seseorang lebih penting daripada segala keadaan, maka kenangan yang baik adalah pemberian yang sangat besar.

Atas dasar ini, pendapat yang rojih adalah bahwa sholawat atas beliau maknanya: pujian atas beliau di hadapan para Malaikat tingkat tinggi.” (Asy-Syarhul Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin, 3/163-164)

Beliau rohimahulloh juga berkata:

“Salam, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan salam adalah nama Alloh. Sebab Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلاَمُ»

sebagaimana firman Alloh dalam Kitab-Nya:

﴿الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ﴾

‘Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam.’ (QS. Al-Hasyr: 23)

Berdasarkan pendapat ini, maknanya adalah: Semoga Alloh menyertai Rosul ﷺ dengan penjagaan, perlindungan, perhatian, dan selainnya. Seolah-olah kita mengucapkan: Alloh bersamamu, yakni sebagai Pengawas, Penjaga, dan Yang memperhatikanmu.

Ada pula yang berpendapat bahwa salam adalah nama mashdar dari sallama yang bermakna penyerahan keselamatan, sebagaimana firman Alloh:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

Maka makna mengucapkan salam kepada Rosul ﷺ adalah: kita mendoakan keselamatan baginya dari setiap bahaya.

Jika ada yang bertanya: Mendoakan keselamatan ini mungkin jelas saat beliau masih hidup, namun setelah beliau wafat, bagaimana kita mendoakan keselamatan baginya padahal beliau ﷺ telah wafat?

Jawabannya: Doa memohon keselamatan tidak terbatas hanya saat masih hidup saja. Di sana terdapat kehuru-harian Hari Qiyamah, karena itulah doa para Rosul ketika manusia menyeberangi Shiroth adalah:

«اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ»

Seseorang tidak langsung terbebas dari rasa takut dan bahaya hanya dengan semata-mata kematiannya.

Maka dari itu, kita mendoakan Rosul ﷺ agar selamat dari kehebatan peristiwa di padang mahsyar.

Kami katakan juga: Maknanya bisa lebih umum, yaitu salam atas beliau mencakup keselamatan bagi syariat dan Sunnahnya dari tangan-tangan jahil yang hendak merusaknya; sebagaimana para ulama menjelaskan firman Alloh:

﴿فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ﴾

(QS. An-Nisa’: 59), mereka berkata: ‘Maknanya: Kepada beliau saat beliau hidup, dan kepada Sunnahnya setelah beliau wafat.’

Lalu apakah ucapan ‘Assalamu ‘alaika’ itu berupa khobar (pernyataan) atau doa? Yakni, apakah engkau sedang mengabarkan bahwa Rosul itu telah diselamatkan, atau engkau sedang mendoakan agar Alloh menyelamatkannya?

Jawabannya: Itu adalah doa agar Alloh menyelamatkannya, jadi ia berupa khobar namun bermakna doa.

Kemudian, apakah ini merupakan tegur sapa langsung kepada Rosul ﷺ sebagaimana manusia saling menegur sapa satu sama lain?

Jawabannya: Tidak. Seandainya demikian, tentu Sholat akan batal karenanya; sebab dalam Sholat tidak sah sedikit pun dari ucapan manusia. Seandainya demikian pula, tentulah para Shohabat akan mengeraskan suaranya agar Nabi ﷺ mendengarnya, dan beliau pasti membalas salam mereka sebagaimana yang terjadi ketika mereka bertemu beliau. Akan tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam dalam kitab Iqtidho’ Ash-Shirothil Mustaqim: ‘Disebabkan kuatnya rasa hadirmu bersama Rosul ﷺ saat mengucapkan salam kepadanya, seolah-olah beliau ada di hadapanmu sedang engkau ajak bicara.’

Oleh karena itu, dahulu para Shohabat mengucapkan ‘Assalamu ‘alaika’ padahal beliau tidak mendengar mereka, dan mereka mengucapkan ‘Assalamu ‘alaika’ saat berada di suatu negeri sedangkan beliau berada di negeri lain. Demikian pula kita mengucapkan ‘Assalamu ‘alaika’ saat berada di negeri yang berbeda dan di zaman yang berbeda dengan zaman beliau.” (Asy-Syarhul Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin, 3/149-150)

2.1 Sholawat Ibrohimiyyah

Lafazh sholawat yang paling utama dan paling shohih adalah sholawat Ibrohimiyyah, yaitu lafazh yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para Shohabat untuk dibaca dalam semua keadaan, terutama Sholat, pada tasyahhud akhir.

Dari Ka’b bin ‘Ujroh (51 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa para Shohabat bertanya kepada Nabi ﷺ bagaimana cara bersholawat kepada beliau, maka Rosululloh ﷺ bersabda:

«قُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ucapkanlah: Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrohim dan kepada keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Ibrohim dan kepada keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 3370 dan Muslim no. 406)

Lafazh ini ada varian lain:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada keluarga Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 6357 dan Muslim no. 406, tanpa menyebutkan ‘Ibrohim’ pada sholawat dan keberkahan) 

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Ahmad, no. 18104 dan Ibnu Majah no. 904, sesuai syarat dua Syaikh, tanpa menyebutkan ‘keluarga Ibrohim’) 

Muslim tidak boleh mengganti lafazh pengajaran Nabi ﷺ ini dengan lafazh-lafazh ciptaan manusia yang tidak memiliki landasan dari As-Sunnah.

2.2 Lafazh Ibrohimiyyah Lain

Terdapat pula beberapa variasi lafazh sholawat shohih lainnya yang diajarkan oleh Nabi ﷺ kepada para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.

[1] Dari Abu Humaid As-Sa’idi (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ mengajarakan lafazh:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada keluarga Ibrohim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 3369, Abu Dawud no. 979, An-Nasa'i no. 1289, dan Ibnu Majah no. 905; adapun Muslim no. 407 tanpa lafazh ‘dan kepada istri-istrinya’)

[2] Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ.

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad hamba-Mu dan Rosul-Mu, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrohim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada Ibrohim dan keluarga Ibrohim.” (HR. Al-Bukhori no. 4797)

[3] Dari Abu Mas’ud Al-Anshori rodhiyallahu ‘anhu:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ.

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada keluarga Ibrohim. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrohim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Muslim no. 405)

[4] Dari Tholhah bin Ubaidillah rodhiyallahu ‘anhu:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

“Ya Alloh, berilah sholawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan berilah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi keberkahan kepada keluarga Ibrohim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” (HR. Ahmad no. 1396, sesuai syarat Muslim)

Adapun untuk pembacaan ringkas di luar Sholat ketika mendengar nama Nabi ﷺ disebut, cukup mengikrarkan “shollallohu ‘alaihi wa sallam” (ﷺ):

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

atau “allohumma sholli wa sallim ‘ala nabiyyina muhammad”:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

2.3 Lafazh Salam Kepada Nabi ﷺ

Pengagungan kepada Nabi ﷺ disempurnakan dengan penggabungan antara sholawat dan salam. Penjajaran ini diperintahkan langsung dalam Al-Qur’an dan dicontohkan dalam tasyahhud Sholat.

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ mengajarkan bacaan tasyahhud:

«التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ، وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ»

“Segala penghormatan bagi Alloh, juga seluruh sholawat dan kebaikan. Semoga salam tercurah kepadamu wahai Nabi, beserta rohmat Alloh dan keberkahan-Nya. Semoga salam sejahtera tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Alloh yang sholih.” (HR. Al-Bukhori no. 6265 dan Muslim no. 402)

Seorang hamba yang mengucapkan salam ini dengan penuh pemaknaan akan merasakan ikatan ta’dzim (pengagungan) yang kuat kepada Sunnah Rosululloh ﷺ.

2.4 Bolehkah Bersholawat dengan Lafazh Bikinan Sendiri?

Tidak mengapa bersholawat kepada Nabi ﷺ dengan lafazh apa saja yang menyampaikan maksud tersebut. Jika seseorang mengucapkan:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ»

atau:

«صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ»

atau:

«الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ»

atau:

«صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ»

dan sejenisnya, maka ia telah bersholawat kepada Nabi ﷺ dengan sholawat yang shohih dan mencukupi. Urusan dalam hal ini sangat longgar.

Namun, seluruh kelonggaran ini berlaku di luar Sholat. Adapun di dalam Sholat, harus membatasi diri hanya pada lafazh yang ma’tsur (berasal dari dalil).

Bentuk sholawat yang paling utama adalah Sholawat Ibrohimiyyah yang diajarkan oleh Nabi ﷺ kepada para Shohabatnya, dan yang beliau perintahkan kepada kaum Muslimin untuk dibaca dalam setiap Sholat. Sholawat ini memiliki beberapa bentuk redaksi, yang paling masyhur di antaranya:

Bentuk pertama:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

Bentuk kedua:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ.

وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

Al-Hafizh Ibnu Hajar (852 H) rohimahulloh berkata:

وَاسْتُدِلَّ بِتَعْلِيمِهِ ﷺ لِأَصْحَابِهِ الْكَيْفِيَّةَ بَعْدَ سُؤَالِهِمْ عَنْهَا بِأَنَّهَا أَفْضَلُ كَيْفِيَّاتِ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ لِأَنَّهُ لَا يَخْتَارُ لِنَفْسِهِ إِلَّا الْأَشْرَفَ الْأَفْضَلَ

“Pengajaran Nabi ﷺ kepada para Shohabat mengenai tata cara bersholawat setelah mereka menanyakannya, menjadi dalil bahwa redaksi tersebut merupakan tata cara sholawat yang paling utama. Sebab, beliau tidak akan memilihkan untuk dirinya sendiri kecuali tata cara yang paling mulia dan paling utama.” (Fathul Bari, 11/166)

As-Suyuthi (911 H) rohimahulloh dalam kitab Al-Hirzul Mani’ berkata: “Aku membaca dalam kitab At-Thobaqot karya At-Taj As-Subki (771 H) yang menukil ucapan ayahnya secara harfiah: ‘Cara paling bagus untuk bersholawat kepada Nabi ﷺ adalah dengan cara yang terdapat dalam tasyahhud ini. Siapa saja yang mengucapkannya, maka ia telah bersholawat kepada Nabi ﷺ secara meyakinkan. Sedangkan orang yang mendatangkan lafazh selainnya, maka pemenuhan sholawat yang dituntut darinya masih diragukan. Hal itu karena para Shohabat bertanya: ‘Bagaimana cara kami bersholawat kepadamu?’ Lalu beliau menjawab: ‘(Ucapkanlah)’, sehingga beliau menjadikan sholawat dari mereka adalah ucapan tersebut.’ Kemudian At-Taj As-Subki melanjutkan: ‘Dan lisan ayahnya tidak pernah letih untuk membaca sholawat ini.’”

Kemudian As-Suyuthi rohimahulloh melanjutkan: “Dahulu pada masa mudaku, jika aku bersholawat kepada Nabi ﷺ, aku mengucapkan:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَبَارَكْتَ وَسَلَّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Lalu dikatakan kepadaku dalam mimpi:

أَأَنْتَ أَفْصَحُ أَوْ أَعْلَمُ بِمَعَانِي الْكَلِمِ وَجَوَامِعِ فَصْلِ الْخِطَابِ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ؟ لَوْ لَمْ يَكُنْ فِي التَّفْضِيلِ مَعْنًى زَائِدٌ لَمَا فَضَّلَ ذَلِكَ النَّبِيُّ ﷺ

‘Apakah engkau lebih fasih atau lebih paham tentang makna kata dan ringkasan kalimat dibanding Nabi ﷺ? Seandainya tidak ada keutamaan lebih pada redaksi itu, tentulah Nabi ﷺ tidak akan mengutamakannya.’ Maka aku memohon ampun atas hal itu dan kembali kepada teks yang diutamakan tersebut, baik pada tempat yang wajib maupun tempat yang sunnah.” (Al-Hirzul Mani’, As-Suyuthi, hlm. 35-36)

Jika ada yang bertanya: “Bagaimana Sholawat Ibrohimiyyah bisa menjadi bentuk sholawat paling utama padahal tidak memuat lafazh salam?”

Maka jawabannya:

Meskipun salam merupakan salah satu sisi keutamaan, ia bukanlah satu-satunya sisi keutamaan. Dalam Sholawat Ibrohimiyyah terkumpul antara sholawat, keberkahan, penyebutan keluarga Nabi, dan penyebutan Nabi Ibrohim ‘alaihissalam, di samping keutamaan-keutamaan lainnya. Sisi keutamaan yang paling jelas dan tampak adalah bahwa redaksi inilah yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para Shohabatnya.

Namun, status redaksi ini sebagai bentuk yang paling utama bukan berarti seseorang hanya boleh membatasi diri padanya saja. Sebaliknya, hendaknya ia bervariasi menggunakan seluruh redaksi yang memiliki dalil, sehingga ia memadukan antara sholawat, salam, dan lafazh-lafazh lain yang ada petunjuknya.

Kadang kala, suatu amalan yang kurang utama bisa menjadi lebih utama dibanding amalan yang paling utama karena adanya kondisi tertentu. Demikian pula redaksi yang kurang utama bisa menjadi lebih utama daripada redaksi yang paling utama. Sholawat Ibrohimiyyah, meskipun merupakan redaksi paling utama, hal itu berlaku di dalam Sholat karena itulah yang ma’tsur padanya.

Adapun orang yang memiliki wirid sholawat kepada Nabi ﷺ, seperti orang yang bersholawat 100 kali atau tugas zikir harian sejenisnya yang rutin dipelihara seseorang antara dirinya dengan Robb-nya, maka nampaknya ia tidak perlu menggunakan Sholawat Ibrohimiyyah untuk zikir tersebut. Cukuplah baginya menggunakan redaksi sholawat dan salam yang mudah baginya, meskipun ringkas, seperti membaca:

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

atau

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ

Memperbanyak redaksi yang ringkas ini dalam wirid harian adalah lebih utama —wallohu a’lam— daripada membaca Sholawat Ibrohimiyyah dalam jumlah yang sedikit. Bahkan, kami tidak mengetahui bahwa para Shohabat dan Salafush Sholih merutinkan Sholawat Ibrohimiyyah saat berada di luar Sholat.

Bab 3: Waktu dan Tempat Bersholawat

3.1 Bersholawat Ketika Tasyahhud dalam Sholat

Membaca sholawat merupakan rukun Sholat pada tasyahhud akhir sebelum salam, serta menjadi syarat dikabulkannya doa setelah tasyahhud.

Dari Fudholah bin ‘Ubaid (53 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan bahwa Rosululloh ﷺ mendengar seorang lelaki berdoa dalam Sholatnya tanpa memuji Alloh ﷻ dan tanpa bersholawat kepada Nabi ﷺ, maka Rosululloh ﷺ bersabda:

«عَجِلَ هَذَا»

“Orang ini terburu-buru.”

Kemudian Rosululloh ﷺ mengajarakan kepada para Shohabat:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ، فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ، وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ»

“Jika salah seorang dari kalian Sholat, hendaknya ia memulai dengan memuji Robb-nya yang Maha Agung lagi Maha Mulia dan mengagungkan-Nya, kemudian bersholawat kepada Nabi ﷺ, lalu berdoa setelah itu dengan apa yang ia kehendaki.” (HSR. Abu Dawud no. 1481 dan At-Tirmidzi no. 3477)

3.2 Bersholawat Setelah Adzan

Di antara waktu yang disyariatkan untuk bersholawat adalah sesudah menjawab seruan adzan yang dikumandangkan oleh muadzin. Bersholawat pada waktu ini menjadi perantara untuk meraih syafa’at Nabi ﷺ pada Hari Qiyamah.

Dari ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ»

“Jika kalian mendengar muadzin maka ucapkanlah seperti apa yang ia ucapkan, kemudian bersholawatlah kepadaku, karena siapa bersholawat kepadaku 1 kali sholawat niscaya Alloh bersholawat kepadanya dengannya 10 kali. Kemudian mohonlah kepada Alloh Wasilah untukku, karena Wasilah adalah satu kedudukan di Jannah yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Alloh, dan aku berharap akulah hamba itu. Maka siapa memohonkan Wasilah untukku, niscaya ia berhak mendapat syafa’at.” (HR. Muslim no. 384)

3.3 Bersholawat Pada Hari dan Malam Jum’at

Hari Jum’at adalah hari terbaik dalam sepekan. Bersholawat pada hari Jum’at dan malam Jum’at memiliki keutamaan khusus karena seluruh sholawat para hamba ditampakkan langsung kepada Nabi ﷺ melalui Malaikat yang ditugaskan.

Dari Aus bin Aus (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، ...فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ»

“Sungguh di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah bersholawat kepadaku pada hari itu, karena sungguh sholawat kalian ditampakkan kepadaku.” (HSR. Abu Dawud no. 1047 dan An-Nasa’i no. 1374)

Dari Abu Umamah (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ؛ فَإِنَّ صَلَاةَ أُمَّتِي تُعْرَضُ عَلَيَّ فِي كُلِّ يَوْمِ جُمُعَةٍ، فَمَنْ كَانَ أَكْثَرَهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً كَانَ أَقْرَبَهُمْ مِنِّي مَنْزِلَةً»

“Perbanyaklah bersholawat kepadaku pada setiap hari Jum’at, karena sungguh sholawat umatku ditampakkan kepadaku pada setiap hari Jum’at. Maka siapa di antara mereka yang paling banyak bersholawat kepadaku, dialah yang paling dekat kedudukannya dariku.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubro no. 5791, hasan)

Praktik para Salaf pada hari Jum’at adalah melipatgandakan bacaan sholawat di samping membaca Suroh Al-Kahfi dan memperbanyak doa pada waktu akhir setelah ‘Ashar hingga Maghrib.

3.4 Bersholawat Saat Masuk dan Keluar Masjid

Masjid adalah rumah Alloh ﷻ yang dibangun untuk mendirikan Sholat dan mengingat-Nya. Disyariatkan bagi setiap Muslim yang melangkah masuk atau keluar Masjid untuk mengucapkan salam dan sholawat kepada Nabi ﷺ.

Dari Fatimah (11 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ المَسْجِدَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»، وَإِذَا خَرَجَ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَسَلَّمَ، وَقَالَ: «رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

“Rosululloh ﷺ jika masuk Masjid beliau bersholawat kepada Muhammad dan mengucapkan salam, lalu berdoa: ‘Ya Robb ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rohmat-Mu.’

«بِسْمِ اللَّهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ»

Dan jika keluar beliau bersholawat kepada Muhammad dan mengucapkan salam, lalu berdoa: ‘Ya Robb ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu karunia-Mu.”

«بِسْمِ اللَّهِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، رَبِّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي، وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ»

(HSR. At-Tirmidzi no. 314)

3.5 Bersholawat Sholat Janazah

Syariat Islam menetapkan pembacaan sholawat pada ibadah-ibadah khusus, seperti pada Sholat Janazah sesudah takbir kedua.

Dari Abu Umamah bin Sahl (100 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

«السُّنَّةُ فِي الصَّلَاةِ عَلَى الْجَنَائِزِ أَنْ يُكَبِّرَ، ثُمَّ يَقْرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يُخْلِصَ الدُّعَاءَ لِلْمَيِّتِ، وَلَا يَقْرَأَ إِلَّا فِي التَّكْبِيرَةِ الْأُولَى، ثُمَّ يُسَلِّمَ فِي نَفْسِهِ عَنْ يَمِينِهِ»

“Sunnah dalam Sholat Janazah adalah bertakbir, kemudian membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah), kemudian bersholawat kepada Nabi ﷺ, kemudian mengikhlaskan doa bagi mayit, dan tidak membaca (Al-Fatihah) melainkan pada takbir yang pertama, kemudian mengucapkan salam secara lirih ke arah kanannya.” (HR. Abdurrozzaq no. 6428, shohih)

3.6 Bersholawat dalam Qunut Witir

Dari Al-Hasan bin ‘Ali (50 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau diajarkan oleh Rosululloh ﷺ kalimat-kalimat untuk dibaca dalam Qunut Witr yang ditutup dengan sholawat kepada Nabi ﷺ. Hadis ini dinilai memiliki sanad yang shohih atau hasan. Perowinya adalah Al-Hasan bin ‘Ali rodhiyallāhu ‘anhumā, dan penilaian tersebut disebutkan oleh Al-Qostholani dalam Al-Mawāhib Al-Ladunniyyah (3/247). Hadis ini juga telah ditakhrij oleh An-Nasa’i no. 1746, serta diriwayatkan pula oleh Abu Dawud no. 1425 dan At-Tirmidzi no. 464, dengan sedikit perbedaan redaksi.

Isma’il Al-Qodhi meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Abdulloh bin Al-Harits bahwa Abu Halimah —Mu’adh Al-Anshori— pernah bersholawat kepada Nabi ﷺ di dalam qunut. (Fadhlu Ash-Sholati ‘Alan-Nabiyyi ﷺ, Al-Albani, hlm. 88, shohih)

Demikian pula telah diriwayatkan dari Ubay bin Ka’b rodhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengimami manusia pada qiyam Romadhon di zaman ‘Umar rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau bersholawat kepada Nabi ﷺ di akhir qunut. (HR. Ibnu Khuzaimah 2/155, hasan)

Sholawat juga dibaca di waktu dan tempat lain yang sangat banyak, seperti yang disebutkan Ibnu Qoyyim dalam Jalaa’ul Afhaam.

Bab 4: Penyimpangan dalam Bersholawat

4.1 Cukup dengan Petunjuk Nabi ﷺ

Syariat Islam telah sempurna dan tidak membutuhkan penambahan dari akal manusia. Setiap bentuk ibadah, termasuk bersholawat, wajib memenuhi dua syarat utama agar diterima di sisi Alloh ﷻ, yaitu ikhlas semata-mata karena Alloh ﷻ dan ittiba’ (meneladani) petunjuk Rosululloh ﷺ. Membuat lafazh sholawat baru atau menetapkan tata cara sendiri yang tidak ada contohnya dari Nabi ﷺ dan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum merupakan bentuk muhdatsat (perkara baru yang diada-adakan) yang tertolak.

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam itu jadi agamamu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ»

“Siapa membuat hal baru dalam urusan kami ini yang bukan bersumber darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

Seseorang yang menciptakan lafazh sholawat buatan sendiri lalu meyakini bahwa membacanya memberikan pahala melampaui Sholawat Ibrohimiyyah yang diajarkan Rosululloh ﷺ, maka perbuatannya merupakan bid’ah yang nyata dan gugur amalannya.

4.2 Bahaya Ghuluw dalam Sholawat

Terlarang keras bagi seorang Muslim melampaui batas (ghuluw) dalam memuji Nabi ﷺ hingga memberikan sifat-sifat khusus rububiyyah (ketuhanan) kepada beliau. Sholawat adalah doa yang ditujukan kepada Alloh ﷻ agar Alloh ﷻ melimpahkan keagungan kepada Nabi ﷺ, bukan berdoa atau memohon pemenuhan hajat langsung kepada Nabi ﷺ.

﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudhorotan selain yang dikehendaki Alloh. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhorotan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’rof: 188)

Dari ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang-orang Nashroni berlebihan memuji putra Maryam. Sungguh aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: ‘Hamba Alloh dan Rosul-Nya.’” (HR. Al-Bukhori no. 3445)

Penyimpangan ini terlihat pada sebagian bait syair sholawat buatan manusia yang menggambarkan bahwa Nabi ﷺ mengetahui isi Lauhul Mahfuzh atau tempat meminta perlindungan dari adzab Akhiroh. Aqidah yang lurus menetapkan bahwa perlindungan dari adzab hanya dimohonkan kepada Alloh ﷻ semata.

Baca: ebook Sholawat Nariyah dalam Timbangan Syariat dan ebook Kritikan atas Qoshidah Burdah karya Al-Bushiri (696 H) dan Syair-syairnya karya Habib ‘Alawi bin ‘Abdil Qodir As-Saqqof.

4.3 Larangan Menentukan Bilangan dan Cara Khusus

Mengkhususkan bacaan sholawat dengan kadar bilangan tertentu yang tidak pernah ditetapkan oleh syariat (seperti mewajibkan 1000 kali pada jam tertentu agar rezeki lancar), atau menyertainya dengan cara-cara yang menyelisihi adab ibadah seperti menari, melompat, dan diiringi alat musik, adalah pelanggaran syariat.

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ﴾

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang menetapkan aturan agama untuk mereka yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 21)

Dari Jabir bin ‘Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh ﷺ bersabda dalam khutbahnya:

«فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Sungguh sebaik-baik perkataan adalah Kitabulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh menegaskan tentang amalan yang diterima di sisi Alloh ﷻ:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، فَإِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا

“Amal yang paling ikhlas dan paling benar. Sungguh amal jika ikhlas namun tidak benar, tidak diterima. Jika benar namun tidak ikhlas, tidak diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar.” (Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 18/250)

Bab 5: Adab Bersholawat

5.1 Menghimpun Sholawat dan Salam Secara Bersamaan

Di antara adab utama dalam mengagungkan Nabi ﷺ adalah tidak memisahkan antara sholawat dan salam secara terus-menerus. Seorang Muslim hendaknya memadukan keduanya sebagaimana perintah Alloh ﷻ dalam Al-Qur’an.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

An-Nawawi (676 H) rohimahulloh menjelaskan adab ini: “Apabila seseorang bersholawat kepada Nabi ﷺ, hendaklah ia menghimpun antara sholawat dan salam, dan jangan meringkas pada salah satunya saja. Maka jangan membaca (صلّى الله عليه) saja maupun (عليه السلام) saja.” (Al-Adzkar, An-Nawawi, hlm. 225)

5.2 Bersholawat dalam Majelis dan Saat Penutupannya

Duduk dalam suatu majelis tanpa mengingat Alloh ﷻ dan tanpa bersholawat kepada Nabi ﷺ merupakan kerugian besar. Setiap pertemuan hendaknya dihiasi dengan zikir dan sholawat agar majelis tersebut mendatangkan keberkahan dan terhindar dari penyesalan pada Hari Qiyamah.

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ، إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ»

“Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis yang mereka tidak mengingat Alloh padanya dan tidak bersholawat kepada Nabi mereka, melainkan majelis itu menjadi penyesalan bagi meka. Jika Alloh berkehendak Maka Alloh mengadzab mereka, dan jika berkehendak Maka Alloh mengampuni mereka.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3380)

Penerapan adab ini dilakukan oleh penuntut ilmu dan pengajar da’wah dengan membuka majelis ilmu menggunakan tahmid dan sholawat, serta mengakhirinya dengan kaffarotul majelis dan/atau sholawat kepada Nabi ﷺ.

5.3 Bersholawat Ketika Menuliskan Nama Nabi ﷺ

Kewajiban mengagungkan Nabi ﷺ berlaku pula dalam tulisan. Setiap kali menuliskan nama Nabi ﷺ, hendaklah dituliskan lafazh sholawat dan salam secara lengkap tanpa disingkat dengan huruf-huruf tertentu.

Ibnus Sholah (643 H) rohimahulloh berkata: “Seseorang hendaknya selalu menjaga penulisan sholawat dan salam untuk Rosululloh ﷺ setiap kali menyebut nama beliau, serta tidak merasa bosan untuk mengulangnya saat nama beliau berulang kali disebut. Sebab, hal itu termasuk faedah terbesar yang disegerakan bagi para penuntut ilmu Hadits dan para penulisnya. Barangsiapa melalaikan hal tersebut, sungguh dia telah terhalang dari keberuntungan yang sangat besar. Kami pun telah melihat mimpi-mimpi yang baik tentang para pelakunya. Apa yang dia tulis dari sholawat itu sejatinya adalah do’a yang dia tetapkan, bukan redaksi perkataan yang dia riwayatkan. Oleh karena itu, penulisannya tidak terikat dengan jalur riwayat dan tidak terbatas pada apa yang ada di dalam kitab asli.

Begitu pula halnya dalam memuji Alloh ketika menyebut nama-Nya, seperti ﷻ, serta tabaaroka wa ta’aala, dan yang serupa dengan itu...” sampai beliau berkata: “Kemudian hendaknya dia menghindari dua kekurangan dalam menetapkannya:

Pertama: Menulisnya secara berkurang bentuknya dengan memberi simbol berupa 2 huruf atau sejenisnya (صع).

Kedua: Menulisnya secara berkurang maknanya dengan tidak menuliskan salam. Diriwayatkan dari Hamzah Al-Kinani rohimahulloh bahwa beliau berkata: ‘Aku dahulu menulis Hadits, dan aku biasa menulis ketika menyebut nama Nabi: shollallohu ‘alaihi, tanpa menuliskan wa sallam. Lalu aku bermimpi bertemu Nabi ﷺ dalam tidur, lantas beliau bersabda kepadaku: ‘Mengapa engkau tidak menyempurnakan sholawat untukku?’ Maka setelah itu, tidaklah aku menulis shollallohu ‘alaihi melainkan aku juga menulis wa sallam...’” sampai Ibnush Sholah (643 H) berkata: “Aku katakan: Dimakruhkan pula hanya mencukupkan diri pada ucapan ‘alaihis salam, wallohu a’lam.’” (Muqoddimah Ibni As-Sholah, 1/372)

Penutup

Buku fiqih bersholawat ini menegaskan bahwa keagungan bersholawat kepada Nabi ﷺ terletak pada kemurnian niat dan ketepatan dalam meneladani petunjuk As-Sunnah. Menjauhi segala bentuk penyimpangan, bid’ah, dan ghuluw merupakan konsekuensi logis dari syahadat bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya. Mengamalkan lafazh-lafazh sholawat yang shohih pada waktu-waktu yang disyariatkan akan membukakan pintu rohmat, menghapuskan dosa, serta menetapkan kedudukan yang tinggi di Jannah kelak.

Semoga Alloh ﷻ menjadikan amalan ini ikhlas karena Wajah-Nya yang Mulia dan melimpahkan sholawat serta salam kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, keluarga, dan seluruh Shohabatnya.

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maha Suci Robb-mu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan salam sejahtera semoga terlimpah atas para Rosul. Dan segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini