Cari Ebook

[PDF] 5 Kunci Ghoib yang Hanya Diketahui Alloh - Nor Kandir



Muqoddimah

﷽

Segala puji bagi Alloh ﷻ Yang Maha Mengetahui perkara ghoib dan yang nyata. Kunci-kunci ghoib berada di tangan-Nya, tidak ada yang mengetahui hakikatnya selain Dia.

Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi ﷺ, hamba dan Rosul-Nya yang tidak mengetahui perkara ghoib kecuali apa yang telah diwahyukan oleh Alloh ﷻ kepadanya.

Amma ba’du:

Alloh berfirman:

﴿وَعِندَهُۥ مَفَاتِحُ ٱلْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍ مُّبِينٍ﴾

“Dan di sisi Alloh kunci-kunci semua yang ghoib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semuanya telah tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’am: 59)

Mengesahkan Alloh ﷻ dalam ilmu ghoib merupakan kewajiban setiap Muslim dan Mu’min. Siapa meyakini ada makhluk yang mengetahui perkara ghoib secara mandiri, maka ia telah menyekutukan Alloh ﷻ dalam sifat khususiyah Rububiyyah-Nya.

﴿قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ﴾

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Alloh. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

Buku ini menjelaskan landasan ‘aqidah yang lurus bahwa ilmu ghoib mutlak milik Alloh ﷻ, terkhusus 5 kunci ghoib yang ditegaskan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta membantah berbagai kedustaan dukun, peramal, tukang sihir, dan klaim-klaim jahiliyyah yang merusak fithroh manusia.

Bab 1: Ilmu Ghoib dan Khususiyah Alloh ﷻ

1.1 Definisi Ghoib dan Pembagiannya

Ilmu ghoib secara bahasa adalah segala sesuatu yang tersembunyi dari panca indera dan akal manusia.

Ghoib adalah apa yang tertutup dari penglihatan makhluk dan hanya ada dalam pengetahuan Alloh ﷻ.

Ulama membagi ghoib menjadi 2 bagian: ghoib mutlaq yang tidak diketahui oleh siapapun dari kalangan Malaikat maupun para Nabi, dan ghoib nisbi (ghoib terbatas) yaitu sesuatu yang tersembunyi bagi sebagian makhluk namun diketahui oleh sebagian yang lain melalui sarana panca indera atau pengabaran.

﴿عَـٰلِمُ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَـٰدَةِ ٱلْكَبِيرُ ٱلْمُتَعَالِ﴾

“Alloh adalah Yang Mengetahui perkara yang ghoib dan yang nyata, Maha Besar lagi Maha Tinggi.” (QS. Ar-Ro’d: 9)

Penetapan ilmu ghoib bagi Alloh ﷻ menunjukkan keagungan sifat-Nya yang tidak terbatas oleh waktu dan tempat. Seluruh makhluk terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan Alloh ﷻ adalah Pencipta ruang dan waktu.

﴿عَـٰلِمُ ٱلْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِۦٓ أَحَدًا﴾

“Dia adalah Dia Yang Mengetahui yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghoib itu.” (QS. Al-Jinn: 26)

1.2 Ketetapan Qur’ani Bahwa Hanya Alloh ﷻ yang Mengetahui Ghoib

Banyak Ayat Al-Qur’an yang menegaskan monopoli Alloh ﷻ terhadap ilmu ghoib. Tidak ada satu pun makhluk, baik Malaikat yang terdekat maupun Nabi yang diutus, yang memiliki akses mandiri terhadap perkara ghoib.

Alloh ﷻ berfirman memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ untuk mengumumkan keterbatasan beliau kepada umat:

﴿قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمْ عِندِى خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ وَلَآ أَقُولُ لَكُمْ إِنِّى مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ﴾

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Alloh ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang ghoib, dan aku tidak pula mengatakan kepadamu bahwa aku adalah Malaikat. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku.’” (QS. Al-An’am: 50)

Dalam Ayat lain, Alloh ﷻ berfirman menegaskan bahwa seandainya Nabi ﷺ mengetahui hal ghoib secara mandiri, tentu beliau akan memperbanyak kebaikan dan menghindarkan segala keburukan dari diri beliau:

﴿قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ لَٱسْتَكْثَرْتُ مِنَ ٱلْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُ إِنْ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾

“Katakanlah (wahai Nabi): ‘Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudhorotan kecuali yang dikehendaki Alloh. Sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa bahaya. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’rof: 188)

Kasus nyata terjadi pada peristiwa Perang Uhud ketika Nabi ﷺ terluka dan giginya patah. Jika beliau mengetahui hal ghoib secara mandiri, tentu beliau akan menghindar dari tempat bahaya tersebut. Begitu pula kisah berita bohong tentang tuduhan zina yang menimpa Ibunda ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha. Nabi ﷺ menunggu wahyu turun selama 1 bulan penuh tanpa mengetahui hakikat sebenarnya hingga Alloh ﷻ menurunkan wahyu pembersihan nama baik beliau dalam Surat An-Nuur.

1.3 Pengabaran Ghoib Kepada para Rosul Terbatas pada Wahyu

Pengecualian bagi pengabaran ghoib hanya terjadi jika Alloh ﷻ sendiri yang memberitahukannya kepada para Rosul pilihan-Nya melalui wahyu, bukan karena kemampuan pribadi Rosul tersebut.

﴿إِلَّا مَنِ ٱرْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُۥ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ رَصَدًا﴾

“Kecuali kepada Rosul yang diridhoi-Nya, maka sungguh Dia mengadakan pengawal-pengawal (Malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn: 27)

Apabila Alloh ﷻ hendak memberitahukan sebagian perkara ghoib—seperti berita para Nabi terdahulu, tanda-tanda Qiyamah, atau keadaan Jannah dan Naar—kepada Rosul-Nya, maka Alloh ﷻ mengutus Malaikat untuk menjaganya agar wahyu tersebut murni tanpa campur tangan syaithon.

Dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ فَقَدْ كَذَبَ»

“Siapa memberitahukan kepadamu bahwa Muhammad ﷺ mengetahui apa yang terjadi besok hari, maka sungguh ia telah berdusta.” (HR. Al-Bukhori no. 4855 dan Muslim no. 177)

Nabi ﷺ sendiri bersabda menegaskan pembatasan ilmu beliau:

«وَاللَّهِ مَا أَدْرِي - وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ - مَا يُفْعَلُ بِي وَلاَ بِكُمْ»

“Demi Alloh, aku tidak tahu—padahal aku adalah Rosul Alloh— apa yang akan diperbuat terhadap diriku dan tidak pula terhadap kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 7018)

Bab 2: Lima Kunci Ilmu Ghoib dalam Surat Luqman

2.1 Penjelasan Surat Luqman Ayat 34 dan Hadits Mafatihul Ghoib

Alloh ﷻ merangkum 5 kunci utama ilmu ghoib yang tidak pernah dibagikan kepada seorang pun dari makhluk-Nya dalam Surat Luqman Ayat 34.

﴿إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ ۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِير﴾

“Sungguh Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Qiyamah; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَفَاتِحُ الغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي المَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلاَ تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ»

“Kunci-kunci ghoib itu ada 5, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh: Tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi besok hari kecuali Alloh, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dalam rahim kecuali Alloh, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan datang kecuali Alloh, tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya Hari Qiyamah kecuali Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 4697)

Lima hal ini dinamakan mafatihul ghoib (kunci-kunci ghoib) karena merupakan induk dari segala pengetahuan ghoib yang menjadi landasan takdir kehidupan manusia di dunia dan Akhiroh. Ia bukanlah pembatasan, tetapi pokok.

2.2 Kunci Pertama: Kapan Terjadinya Hari Qiyamah

Kapan berdirinya Qiyamah adalah rahasia terbesar Alloh ﷻ. Tidak ada Malaikat pembawa wahyu yaitu Jibril ‘alaihissalam, dan tidak pula Nabi teragung yaitu Muhammad ﷺ yang mengetahui kapan detik dan jam terjadinya Qiyamah.

﴿يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَىٰهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّى لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَآ إِلَّا هُوَ ثَقُلَتْ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَا تَأْتِيكُمْ إِلَّا بَغْتَةً يَسْـَٔلُونَكَ كَأَنَّكَ حَفِىٌّ عَنْهَا قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ ٱللَّهِ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾

“Mereka menanyakan kepadamu tentang Qiyamah: ‘Kapan terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sungguh pengetahuan tentang Qiyamah itu adalah pada sisi Robb-ku; tidak ada seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Qiyamah itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Qiyamah itu tidak akan datang kepadamu melainkan secara tiba-tiba.’ Mereka bertanya kepadamu seolah-olah kamu mengetahuinya. Katakanlah: ‘Sungguh pengetahuan tentang hari Qiyamah itu adalah di sisi Alloh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.’” (QS. Al-A’rof: 187)

Dalam Hadits Jibril yang masyhur, ketika Jibril ‘alaihissalam bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kapan Qiyamah:

«قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ»

“Jibril berkata: ‘Beritahukan kepadaku tentang kapan Hari Qiyamah!’ Nabi ﷺ menjawab: ‘Yang ditanya tentang hal itu tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya.” (HR. Muslim no. 8)

Penetapan tegas bahwa pengetahuan tentang waktu Qiyamah sengaja disembunyikan oleh Alloh ﷻ dari seluruh makhluk tanpa terkecuali agar manusia senantiasa bersiap menghadapi kematian dan Qiyamah setiap saat.

﴿إِنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍۭ بِمَا تَسْعَىٰ﴾

“Sungguh, Hari Qiyamah itu akan datang, Aku hampir-hampir merahasikannya agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa yang telah diusahakannya.” (QS. Thoha: 15)

2.3 Kunci Kedua: Waktu dan Tempat Turunnya Hujan

Penurunan hujan, penetapan kadar tetes airnya, serta wilayah yang akan ditimpa atau dihindari oleh hujan merupakan kekuasaan Alloh ﷻ semata. Meskipun pengukuran perkiraan cuaca dapat memprediksi pergerakan awan dan tekanan udara, prediksi tersebut bersifat perkiraan fisik kasat mata dan sering kali meleset. Ilmu ghoib yang hakiki menetapkan secara pasti kapan titik air pertama jatuh, berapa jumlah tetesannya, dan rizqi apa yang tumbuh darinya.

﴿وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيد﴾

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rohmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuro: 28)

Dari Zaid bin Kholid Al-Juhani rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ memimpin Sholat Subuh bersama kami di Hudaibiyah setelah hujan turun pada malam harinya. Setelah selesai, Nabi ﷺ menghadap kepada orang-orang lalu bersabda:

«هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟» قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ بِالكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي وَمُؤْمِنٌ بِالكَوْكَبِ»

“Apakah kalian tahu apa yang difirmankan oleh Robb kalian?” Para Shohabat menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Alloh berfirman: “Pada pagi hari ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rohmat-Nya,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang berkata: ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu,’ maka ia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71)

Menyandarkan turunnya hujan kepada pergerakan bintang atau hukum alam adalah perbuatan kesyirikan. Jika meyakini bahwa Alloh yang menurunkannya dengan tanda bintang tersebut maka syirik kecil karena menjadikan sebab yang tidak syar’i sebagai sebab. Adapun jika meyakini bintang tersebut secara mandiri bukan Alloh maka syirik akbar.

2.4 Kunci Ketiga: Apa yang Ada di Dalam Rahim

Alloh ﷻ Mengetahui secara rinci apa yang berada dalam rahim ibu: apakah janin tersebut laki-laki atau perempuan, sempurna atau cacat, bahagia atau celaka, hidup atau mati, serta bagaimana seluruh catatan takdir kehidupannya. Peralatan medis modern hanya dapat melihat bentuk janin setelah terbentuk pada usia kehamilan tertentu, namun tidak mampu mengetahui nasib, rizqi, umur, dan amalan sang janin di masa depan.

﴿ٱللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَحْمِلُ كُلُّ أُنثَىٰ وَمَا تَغِيضُ ٱلْأَرْحَامُ وَمَا تَزْدَادُ وَكُلُّ شَىْءٍ عِندَهُۥ بِمِقْدَارٍ﴾

“Alloh mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan, dan apa yang berkurang dalam rahim dan apa yang bertambah. Dan segala sesuatu pada sisi-Nya ada ukurannya.” (QS. Ar-Ro’d: 8)

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ menceritakan kepada kami dan beliau adalah orang yang jujur lagi terpercaya:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ»

“Sungguh setiap kalian dihimpun penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari (berupa air mani), kemudian menjadi ‘alaqoh (gumpalan darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudhghoh (gumpalan daging) selama itu pula. Kemudian Alloh mengutus Malaikat lalu diperintahkan menetapkan 4 kalimat: menuliskan rizqinya, ajalnya, amalannya, dan apakah ia celaka atau bahagia.” (HR. Al-Bukhori no. 3208 dan Muslim no. 2643)

Penetapan nasib celaka atau bahagia serta takdir umur janin adalah perkara ghoib mutlak yang hanya diketahui Alloh ﷻ.

2.5 Kunci Keempat: Apa yang Akan Diperbuat Besok Hari

Manusia tidak memiliki jaminan atas apa yang akan diperoleh atau dikerjakannya pada keesokan hari. Rencana manusia senantiasa bergantung pada takdir Alloh ﷻ. Siapa yang memastikan dirinya akan beramal atau memperoleh rizqi tertentu besok tanpa mengaitkannya dengan kehendak Alloh ﷻ, maka ia telah melampaui batas kewenangannya sebagai hamba.

﴿وَلَا تَقُولَنَّ لِشَاىْءٍ إِنِّى فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا ۞ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ وَٱذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰٓ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّى لِأَقْرَبَ مِنْ هَـٰذَا رَشَدًا﴾

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: ‘Sungguh aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut): In Syaa Alloh. Dan ingatlah kepada Robb-mu jika kamu lupa dan katakanlah: ‘Mudah-mudahan Robb-ku akan memimpin aku ke jalan yang lebih dekat daripada ini kepada kebenaran.’” (QS. Al-Kahfi: 23-24)

Ketika kaum musyrikin Makkah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang kisah Ashabul Kahfi, Dzulqornain, dan ruh, Nabi ﷺ bersabda: “Aku akan menjawab pertanyaan kalian besok,” tanpa mengucapkan In Syaa Alloh. Akibatnya, wahyu tertahan selama 15 hari hingga Nabi ﷺ merasa sedih, lalu Alloh ﷻ menurunkan teguran dalam Surat Al-Kahfi tersebut untuk mengajarkan tauhid kehendak dan ilmu ghoib.

﴿وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا﴾

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.” (QS. Luqman: 34)

2.6 Kunci Kelima: Di Bagian Bumi Mana Seseorang Akan Wafat

Kematian adalah kepastian, namun tempat dan waktu pencabutan nyawa seseorang adalah rahasia ghoib. Seseorang mungkin merencanakan bepergian ke suatu tempat untuk urusan perniagaan atau perjalanan, tetapi Alloh ﷻ menetapkan tempat itu sebagai tanah kuburnya.

﴿وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ ۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dari Abu ‘Azzah rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا قَضَى اللَّهُ لِعَبْدٍ أَنْ يَمُوتَ بِأَرْضٍ جَعَلَ لَهُ إِلَيْهَا حَاجَةً»

“Apabila Alloh telah menetapkan kematian seorang hamba di suatu tempat, maka Alloh menjadikan bagi hamba tersebut suatu keperluan untuk pergi ke tempat itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2147 dan Al-Hakim no. 3450)

Khoitsamah seorang Tabiin berkata:

«دَخَلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى سُلَيْمَانَ فَجَعَلَ يَنْظُرُ إِلَى رَجُلٍ مِنْ جُلَسَائِهِ يُدِيمُ النَّظَرَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا خَرَجَ قَالَ الرَّجُلُ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: هَذَا مَلَكُ الْمَوْتِ، قَالَ: رَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيَّ كَأَنَّهُ يُرِيدُنِي، قَالَ: فَمَا تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَنْ تَحْمِلَنِي عَلَى الرِّيحِ حَتَّى تُلْقِيَنِي بِالْهِنْدِ، قَالَ: فَدَعَا بِالرِّيحِ فَحَمَلَهُ عَلَيْهَا فَأَلْقَتْهُ فِي الْهِنْدِ، ثُمَّ أَتَى مَلَكُ الْمَوْتِ سُلَيْمَانَ، فَقَالَ: إِنَّكَ كُنْتَ تُدِيمُ النَّظَرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ جُلَسَائِي؟ قَالَ: كُنْتُ أَعْجَبُ مِنْهُ، أُمِرْتُ أَنْ أَقْبِضَهُ بِالْهِنْدِ وَهُوَ عِنْدَكَ»

“Malaikat Maut masuk menemui Sulaiman. Ia terus memandang salah seorang yang duduk di sisi beliau dengan pandangan yang lama. Setelah Malaikat Maut keluar, orang itu bertanya, ‘Siapa dia?’ Sulaiman menjawab, ‘Dia adalah Malaikat Maut.’ Orang itu berkata, ‘Aku melihatnya memandangku seakan-akan dia menghendakiku.’ Sulaiman berkata, ‘Lalu apa yang engkau inginkan?’ Ia menjawab, ‘Aku ingin engkau mengirimku dengan angin hingga membawaku ke India.’ Maka Sulaiman memanggil angin, lalu angin membawanya hingga melemparkannya di India. Kemudian Malaikat Maut datang kepada Sulaiman dan berkata, ‘Kenapa kamu memandang lama orang tadi yang duduk di sisiku?’ Ia menjawab, ‘Aku merasa heran kepadanya. Aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di India, sementara ketika itu ia berada bersamamu.’” (HR. Ibnu Abi Syaibah, no. 34268, mauquf)

Bab 3: Sikap Orang-Orang Kafir dan Pelaku Kesyirikan Terhadap Ilmu Ghoib

3.1 Klaim Orang Kafir dan Ahli Nujum tentang Ilmu Ghoib

Orang-orang musyrik sejak zaman jahiliyyah berusaha menyaingi ilmu Alloh ﷻ dengan mendatangkan para peramal dan ahli nujum. Mereka mengklaim memiliki akses kepada berita langit atau dapat mengetahui nasib masa depan melalui pengamatan bintang dan benda langit.

﴿أَمْ عِندَهُمُ ٱلْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُونَ﴾

“Atau apakah di sisi mereka ada pengetahuan tentang yang ghoib lalu mereka mencatatnya?” (QS. At-Thur: 41)

Qotadah (117 H) menjelaskan bahwa Alloh ﷻ menciptakan bintang-bintang hanya untuk 3 tujuan: sebagai perhiasan langit, pelempar syaithon, dan petunjuk arah navigasi. Siapa mereka-reka fungsi lain seperti meramal nasib, maka ia telah salah dan merusak bagian pahalanya di Akhiroh.

3.2 Peran Syaithon dan Jin dalam Mencuri Berita Langit

Pintu langit dijaga ketat oleh para Malaikat dan panah-panah api. Syaithon dari kalangan jin saling bertindih satu sama lain untuk mencuri dengar pembicaraan para Malaikat ketika Alloh ﷻ menetapkan takdir di langit.

﴿وَأَنَّا لَمَسْنَا ٱلسَّمَآءَ فَوَجَدْنَـٰهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا ۞ وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَـٰعِدَ لِلسَّمْعِ ۖ فَمَن يَسْتَمِعِ ٱلْآنَ يَجِدْ لَهُۥ شِهَابًا رَّصَدًا﴾

“Dan sungguh kami (jin) telah mencoba menyentuh langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang ketat dan panah-panah api. Dan sungguh kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang siapa yang mencoba mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai untuk membakarnya.” (QS. Al-Jinn: 8-9)

Pencurian berita tersebut dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam Hadits shohih dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu:

«إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي السَّمَاءِ، ضَرَبَتِ المَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ، كَالسِّلْسِلَةِ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ، قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ، قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ، فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُو السَّمْعِ، وَمُسْتَرِقُو السَّمْعِ هَكَذَا وَاحِدٌ فَوْقَ آخَرَ - وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِيَدِهِ، وَفَرَّجَ بَيْنَ أَصَابِعِ يَدِهِ اليُمْنَى، نَصَبَهَا بَعْضَهَا فَوْقَ بَعْضٍ - فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ المُسْتَمِعَ قَبْلَ أَنْ يَرْمِيَ بِهَا إِلَى صَاحِبِهِ فَيُحْرِقَهُ، وَرُبَّمَا لَمْ يُدْرِكْهُ حَتَّى يَرْمِيَ بِهَا إِلَى الَّذِي يَلِيهِ، إِلَى الَّذِي هُوَ أَسْفَلَ مِنْهُ، حَتَّى يُلْقُوهَا إِلَى الأَرْضِ فَتُلْقَى عَلَى فَمِ السَّاحِرِ، فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ»

“Apabila Alloh menetapkan suatu perkara di langit, para Malaikat mengepakkan sayap mereka sebagai bentuk ketundukan kepada firman-Nya, seperti suara rantai yang diseret di atas batu licin.

Ketika rasa gentar telah dihilangkan dari hati mereka, mereka saling bertanya, ‘Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘Dia telah menyampaikan kebenaran.’ Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.

Lalu para pencuri pendengaran dari kalangan jin mendengarnya. Mereka berada bertingkat-tingkat, yang satu berada di atas yang lainnya.” Sufyan menggambarkannya dengan tangannya: ia merenggangkan jari-jari tangan kanannya, lalu menegakkannya bertumpuk satu di atas yang lain.

“Terkadang, sebelum jin yang mendengarkan itu sempat menyampaikan berita tersebut kepada jin yang berada di bawahnya, meteor telah lebih dahulu mengejarnya dan membakarnya. Namun terkadang meteor itu belum sempat mengenainya hingga ia berhasil melemparkan berita tersebut kepada jin berikutnya, yang berada di bawahnya. Begitu seterusnya, sampai akhirnya berita itu dilemparkan ke bumi dan disampaikan kepada mulut tukang sihir. Lalu ia mencampurnya dengan seratus kebohongan.” (HR. Al-Bukhori no. 4701)

Syaithon membocorkan 1 kalimat benar yang dicuri dari langit, lalu dukun menambahkan 100 kedustaan darinya. Orang-orang yang bodoh kemudian mempercayai dukun tersebut hanya karena 1 kebenaran yang kebetulan terjadi, lalu melupakan 100 kedustaan lainnya.

3.3 Dukun, Peramal, Tukang Sihir, dan Bahaya Mendatangi Mereka

Islam menutup rapat pintu kesyirikan dengan mengharomkan seseorang mendatangi dukun, peramal, maupun tukang sihir untuk menanyakan perkara ghoib seperti barang hilang, jodoh, nasib perniagaan, atau kesehatan.

Dari Shofiyyah binti Abi ‘Ubaid, dari salah seorang istri Nabi ﷺ, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»

“Siapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang sesuatu, maka Sholatnya tidak diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230)

Ancaman bertambah berat apabila seseorang tidak sekadar bertanya, tetapi juga membenarkan perkataan dukun atau peramal tersebut.

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، أَوْ عَرَّافًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ»

“Siapa mendatangi dukun atau peramal, lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ.” (HSR. Ahmad no. 9536)

Membenarkan dukun dalam klaim mengetahui yang ghoib merupakan pembatalan terhadap keimanan kepada Al-Qur’an yang menyatakan secara tegas bahwa ilmu ghoib hanya milik Alloh ﷻ.

3.4 Praktek Astrologi, Zodiak, dan Ramalan Nasib

Bentuk lain dari klaim ilmu ghoib pada masa modern adalah praktek membaca zodiak, telapak tangan, garis lahir, atau bola kristal. Seluruh praktek ini tergolong ke dalam ilmu nujum yang diharomkan syariat.

Dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»

“Siapa mengambil satu cabang ilmu dari bintang-bintang (astrologi/ramalan), maka ia telah mengambil satu cabang dari sihir; bertambah sihirnya seiring bertambahnya ilmu tersebut.” (HHR. Abu Dawud no. 3905 dan Ibnu Majah no. 3726)

Contoh kasus nyata dalam kehidupan sehari-hari adalah seseorang yang membaca ramalan zodiak harian di surat kabar, majalah, atau aplikasi gawai. Jika ia meyakini bahwa zodiak tersebut menentukan peruntungan, jodoh, atau nasib rizqinya, maka ia telah terjatuh ke dalam perangkap ramalan sihir dan menyekutukan Alloh ﷻ.

Bab 4: Bantahan Syar’i dan Akal Terhadap Klaim Ghoib

4.1 Kebatilan Klaim Mengetahui Ghoib Melalui Mimpi dan Kasyaf

Sebagian kelompok menyembah Alloh ﷻ dengan jalan kebodohan dan mengklaim mendapat ilmu ghoib melalui kasyaf (tersingkapnya tabir) atau mimpi-mimpi yang mendikte syariat baru. Keterbukaan ghoib melalui klaim-klaim pribadi semacam ini merupakan bisikan syaithon untuk menyesatkan manusia dari As-Sunnah.

﴿وَإِنَّ ٱلشَّيَـٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَـٰدِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾

“Sungguh syaithon-syaithon itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sungguh kamu tentulah orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An’am: 121)

Yunus bin ‘Abdul A’la Ash-Shodafi (264 H) bercerita: Aku pernah berkata kepada Asy-Syafii (204 H):

إِنَّ صَاحِبَنَا اللَّيْثَ كَانَ يَقُولُ: إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ فَلَا تَعْتَبِرُوا [أو: تَغْترُّوْا] بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؟ فَقَالَ الشَّافِعِيُّ: قَصَّرَ اللَّيْثُ، بَلْ إِذَا رَأَيْتُمُ الرَّجُلَ يَمْشِي عَلَى الْمَاءِ، وَيَطِيرُ فِي الْهَوَاءِ، فَلَا تَعْتَبِرُوا [أو: تَغْترُّوْا] بِهِ حَتَّى تَعْرِضُوا أَمْرَهُ عَلَى الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

Sesungguhnya sahabat kami, Al-Laits (175 H), dahulu pernah berkata: “Jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air, maka janganlah kalian terperdaya olehnya sampai kalian menimbang seluruh perkaranya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.” Maka Asy-Syafii (204 H) merespon: Al-Laits (175 H) rohimahulloh masih kurang lengkap mengucapkannya, “…bahkan jika kalian melihat seseorang berjalan di atas air dan bisa terbang di udara, tetap janganlah kalian terperdaya olehnya sampai kalian menimbang seluruh perkaranya di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Syarh Al-‘Aqidah At-Thohawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz (792 H), 2/769)

4.2 Kedustaan Para Peramal yang Terbongkar dalam Sejarah

Sejarah membuktikan bahwa para peramal dan ahli nujum tidak mampu menyelamatkan diri atau majikan mereka dari kebinasaan. Fir’aun mengumpulkan seluruh peramal dan tukang sihir di Mesir karena takut akan lahirnya seorang bayi laki-laki dari Bani Isroil yang akan meruntuhkan kerajaannya. Fir’aun menyembelih ribuan bayi laki-laki, namun Alloh ﷻ justru membesarkan Nabi Musa ‘alaihissalam di dalam istana Fir’aun sendiri.

﴿وَنُرِيَ فِرْعَوْنَ وَهَـٰمَـٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا يَحْذَرُونَ﴾

“Kami perlihatkan kepada Fir’aun dan Haman beserta tentara-tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkannya dari mereka itu.” (QS. Al-Qoshosh: 6)

Contoh lainnya adalah ketidakmampuan jin mengetahui kematian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam wafat dalam keadaan bersandar pada tongkatnya, dan para jin tetap bekerja keras dalam siksaan pekerjaan berat karena menyangka beliau masih hidup. Mereka baru menyadari kematian beliau setelah rayap memakan tongkat tersebut hingga tubuh beliau tersungkur.

﴿فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلَىٰ مَوْتِهِۦٓ إِلَّا دَابَّةُ ٱلْأَرْضِ تَأْكُلُ مِنسَأَتَهُۥ ۖ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ ٱلْجِنُّ أَن لَّوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ ٱلْغَيْبَ مَا لَبِثُوا فِى ٱلْعَذَابِ ٱلْمُهِينِ﴾

“Maka ketika Kami telah menetapkan kematian atas Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu melainkan rayap bumi yang memakan tongkatnya. Maka ketika ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa sekiranya mereka mengetahui yang ghoib tentulah mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’: 14)

4.3 Penebusan Dosa dan Taubat dari Pelanggaran Kunci Ghoib

Siapa yang pernah terjatuh dalam dosa meramal, mendatangi dukun, percaya zodiak, atau merasa sial karena tanda-tanda alam (thiyaroh), wajib baginya bertaubat dengan taubat nasuha. Thiyaroh adalah merasa sial karena melihat burung, angka tertentu, atau kejadian alam.

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh ﷺ:

«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ»

“Thiyaroh (merasa sial karena tanda alam) adalah kesyirikan, thiyaroh adalah kesyirikan, thiyaroh adalah kesyirikan. Tidak ada seorang pun di antara kita melainkan pernah terlintas hal itu, akan tetapi Alloh menghilangkannya dengan tawakkal.” (HSR. Abu Dawud no. 3910 dan At-Tirmidzi no. 1614)

Kaffaroh atau penebus dosa bagi orang yang membatalkan niat atau urusannya karena thiyaroh dijelaskan oleh Nabi ﷺ dalam Hadits dari ‘Abdulloh bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma:

«مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ، فَقَدْ أَشْرَكَ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ: اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ»

“Siapa yang dihentikan oleh thiyaroh dari hajatnya, maka sungguh ia telah berbuat syirik.” Para Shohabat bertanya: “Apa kaffaroh (penebus) hal itu?” Nabi ﷺ bersabda: “Engkau mengucapkan: ‘Ya Alloh, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali yang Engkau tetapkan, dan tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau.” (HHR. Ahmad no. 7045)

Bab 5: Pengaruh ‘Aqidah bagi Seorang Mu’min

5.1 Ketenangan Jiwa dan Tawakkal Hanya kepada Alloh ﷻ

Meyakini bahwa kunci ghoib berada di tangan Alloh ﷻ melahirkan ketenangan jiwa yang hakiki. Seorang Mu’min tidak akan cemas memikirkan rizqi, masa depan, atau ajalnya, karena seluruhnya telah diatur oleh Robb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengasihi.

﴿وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَـٰلِغُ أَمْرِهِۦ ۚ قَدْ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَىْءٍ قَدْرًا﴾

“Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sungguh Alloh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sungguh Alloh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Tholaq: 3)

Dari ‘Umar bin Al-Khottob rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rizqi sebagaimana burung diberi rizqi; ia pergi pada pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang pada sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344 dan Ibnu Majah no. 4164)

5.2 Pembersihan Jiwa dari Riya’, Takut pada Makhluk, dan Khurofat

Ketauhidan dalam ilmu ghoib membebaskan jiwa dari ketakutan kepada makhluk, sihir, dukun, maupun ramalan palsu. Seorang Muslim memahami bahwa tidak ada makhluk yang sanggup memberikan manfaat atau kemudhorotan tanpa izin Alloh ﷻ.

﴿وَإِن يَمْسَسْكَ ٱللَّهُ بِضُرٍّ ۢ فَلَا كَاشِفَ لَهُۥٓ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ﴾

“Dan jika Alloh menyentuhkan suatu kemudhorotan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-An’am: 17)

Wasiat agung Nabi ﷺ kepada Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma menegaskan hakikat ini:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

“Dan ketahuilah bahwa seandainya seluruh umat bersatu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, mereka tidak akan mampu memberikan manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah dituliskan Alloh untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk memudhorotkanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan mampu memudhorotkanmu kecuali dengan sesuatu yang telah dituliskan Alloh atasmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Penutup

Lima kunci ghoib adalah rahasia mutlak Robb semesta alam yang menetapkan keagungan Rububiyyah-Nya dan kelemahan seluruh makhluk.

Memahami hakikat ini membuahkan ketundukan penuh, keikhlasan ibadah, serta kebersihan hati dari kepergian kepada dukun, tukang sihir, peramal, maupun ahli nujum. Seorang Muslim hidup dengan menyandarkan seluruh urusan masa depan, rizqi, dan ajalnya hanya kepada Alloh ﷻ semata.

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ ۞ لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلْمُسْلِمِين﴾

“Katakanlah: ‘Sungguh Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Alloh).’” (QS. Al-An’am: 162-163)

Semoga Alloh ﷻ senantiasa menjaga fithroh dan ‘aqidah kita di atas Tauhid dan As-Sunnah hingga hari perjumpaan dengan-Nya dalam keadaan Ridho dan mendapatkan Rohmat-Nya di Jannah.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, serta para Shohabat beliau seluruhnya.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini