Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Sholawat Nariyah dalam Timbangan Syariat - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh yang telah menyempurnakan agama Islam bagi hamba-hamba-Nya dan mencukupkan ni’mat-Nya atas mereka.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi yang telah menyampaikan risalah secara sempurna tanpa meninggalkan satu pun kebaikan melainkan telah beliau tunjukkan, dan tidak pula meninggalkan satu pun keburukan melainkan telah beliau peringatkan.

Amma ba’du:

Sungguh keberuntungan bagi seorang hamba adalah ketika ia meniti jalan di atas cahaya wahyu dan mengikuti jejak para Salaf yang sholih dalam beribadah kepada Robb mereka.

Alloh berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan bagi kalian ni’mat-Ku, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agama bagi kalian. (QS. Al-Maidah: 3)

Ayat ini merupakan pondasi agung bahwa agama ini telah tuntas. Malik bin Anas (179 H) menyatakan bahwa apa saja yang pada hari itu bukan merupakan bagian dari agama, maka pada hari ini pun bukan merupakan bagian dari agama. Maka segala bentuk taqorrub atau pendekatan diri kepada Alloh haruslah memiliki landasan dari Al-Quran dan Sunnah Nabi yang shohih.

Mencintai Nabi merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan Mu’min. Di antara bukti cinta tersebut adalah dengan memperbanyak Sholawat kepada beliau. Alloh memerintahkan hal ini dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sungguh Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)

Namun, dalam prakteknya, muncul berbagai macam redaksi Sholawat yang tidak berasal dari Nabi secara langsung. Salah satu yang sangat masyhur di tengah masyarakat adalah Sholawat Nariyah.

Tulisan ini hadir untuk menelaah Sholawat Nariyah tersebut dengan kacamata ilmiyyah yang berlandaskan dalil-dalil syariat. Tujuannya adalah untuk memberikan kejelasan bagi setiap penuntut ilmu agar amalan yang dikerjakan benar-benar sesuai dengan tuntunan Nabi dan tidak tercampur dengan perkara-perkara yang dapat mengaburkan kemurnian tauhid.

Setiap amalan yang dikerjakan tanpa dasar perintah dari Nabi terancam tertolak. Hal ini berdasarkan sabda Nabi :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami, maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim no. 1718)

Penyusunan buku ini dilakukan dengan penuh kehati-hatian, mengedepankan argumentasi yang kuat dari nash-nash wahyu, agar menjadi penyejuk bagi hati yang mencari kebenaran dan menjadi timbangan yang adil dalam memandang fenomena keagamaan di sekitar kita.

 

BAB 1: HAKIKAT DAN ASAL USUL SHOLAWAT NARIYAH

1.1 Pengertian dan Nama-Nama Sholawat Nariyah

Sholawat Nariyah adalah sebuah susunan kalimat pujian dan doa kepada Nabi yang disusun oleh manusia, bukan merupakan wahyu yang turun kepada beliau . Secara istilah, ini termasuk dalam kategori sholawat ghoyru ma’tsurah atau sholawat yang tidak diriwayatkan langsung dari lisan Nabi maupun para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.

Nama Nariyah diambil dari kata an-naar yang berarti api. Penamaan ini disematkan oleh para pengamalnya karena mereka meyakini bahwa sholawat ini memiliki khasiat yang sangat cepat dalam mengabulkan hajat, secepat api membakar kayu yang kering. Keyakinan akan penamaan ini didasarkan pada pengalaman-pengalaman subjektif yang berkembang di tengah masyarakat.

Selain nama Nariyah, rangkaian kalimat ini juga dikenal dengan beberapa nama lain:

Sholawat Taziyah. Nama ini dinisbatkan kepada penyusunnya yaitu Ibrohim At-Tazi (866 H).

Sholawat Kamilah. Disebut demikian karena kalimat di dalamnya mengandung makna kesempurnaan (Kaamilah) atas Nabi .

Sholawat Tafrijiyah. Nama ini diambil dari kata faroja yang berarti melapangkan atau melepaskan. Hal ini dikarenakan adanya keyakinan bahwa membacanya dapat melepaskan kesulitan hidup.

Meskipun memiliki banyak nama, substansi dari kalimat yang dibaca adalah sama. Penting untuk dipahami bahwa dalam syariat, sebuah ibadah tidaklah dinilai dari namanya yang indah atau khasiat yang diklaim secara lisan, melainkan dari kesesuaian lafazh dan tata caranya dengan Sunnah Nabi .

Nabi telah mengajarkan kepada kita untuk berhati-hati dalam berucap dan beribadah. Beliau bersabda:

«عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

Wajib atas kalian untuk berpegang teguh pada Sunnah-ku dan Sunnah para Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan. (HSR. Abu Dawud no. 4607)

Dalam memberikan definisi, kita harus merujuk pada realitas teks yang ada. Sholawat Nariyah berisi tawasul kepada Nabi dengan kalimat-kalimat yang menurut sebagian ulama mengandung unsur berlebihan (ghuluw). Definisi yang paling adil secara ilmiyyah adalah menyebutnya sebagai rangkaian doa ciptaan manusia yang mengandung pujian kepada Nabi namun menggunakan redaksi yang perlu ditinjau ulang secara aqidah.

1.2 Sejarah Munculnya Sholawat Nariyah

Sejarah munculnya Sholawat Nariyah tidak dapat dilepaskan dari perkembangan tradisi sufisme di wilayah Afrika Utara, khususnya di wilayah Maroko. Sholawat ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab Hadits yang disusun oleh para ulama klasik seperti Al-Bukhori (256 H), Muslim (261 H), Abu Dawud (275 H), At-Tirmidzi (279 H), atau Ahmad bin Hanbal (241 H).

Rangkaian kalimat ini mulai tersebar luas melalui jalur thoriqoh-thoriqoh tertentu. Penyebarannya masif di kalangan masyarakat karena adanya janji-janji kemudahan duniawi dan penyelesaian problematika hidup yang cepat. Dalam catatan sejarah, tradisi mengarang redaksi sholawat sendiri mulai marak setelah masa-masa awal Islam berlalu, terutama setelah abad ke 3 Hijroh dan seterusnya.

Hal ini bertentangan dengan prinsip para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang sangat mencintai Nabi namun tetap berpegang pada apa yang beliau ajarkan. Abdullah bin Mas’ud (32 H) pernah berkata:

اتَّبِعُوا وَلَا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

Ikutilah dan janganlah kalian berbuat bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupkan. (HSR. Ad-Darimi no. 211)

Sholawat Nariyah baru tercatat secara sistematis dalam kitab-kitab doa belakangan, seperti dalam Khozinatul Asror (خزينة الأسرار) karya Muhammad Haqqi An-Nazili (1301 H). Di dalam kitab tersebut, disebutkan berbagai khasiat angka-angka pembacaan yang tidak memiliki sandaran dalil dari Nabi . Sejarah mencatat bahwa popularitas sholawat ini lebih banyak didorong oleh testimoni individual daripada berdasarkan dalil naqli yang shohih.

Munculnya amalan semacam ini seringkali berawal dari mimpi atau ilham yang dialami oleh tokoh-tokoh tertentu, yang kemudian dijadikan standar hukum ibadah oleh pengikutnya. Padahal, syariat Islam telah sempurna sebelum Nabi wafat. Abu Dzar Al-Ghifari (32 H) menuturkan:

لَقَدْ تَرَكَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا يَتَقَلَّبُ فِي السَّمَاءِ طَائِرٌ إِلَّا ذَكَّرَنَا مِنْهُ عِلْمًا

Rosululloh meninggalkan kami dalam keadaan tidak ada seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya di langit, melainkan beliau telah menyebutkan ilmunya kepada kami. (HHR. Ahmad no. 21439)

Oleh karena itu, jika sholawat ini merupakan sebuah kebaikan yang agung dan kunci pembuka pintu-pintu langit, tentu Nabi telah mengajarkannya kepada para Shohabat, dan para Shohabat tentu telah menyampaikannya kepada para Tabi’in. Namun, kenyataan sejarah menunjukkan bahwa redaksi ini tidak dikenal di masa generasi terbaik umat ini.

1.3 Sekilas Penulis Ibrohim At Tazi (866 H)

Tokoh yang secara luas dianggap sebagai penyusun atau yang mempopulerkan Sholawat Nariyah adalah Ibrohim bin Muhammad bin Ali bin Yusuf Al-Maghribi Al-Andalusi, yang dikenal dengan gelar Burhanuddin Ibrohim At-Tazi (866 H). Beliau berasal dari wilayah Taza, sebuah kota di Maroko.

Ibrohim At-Tazi (866 H) dikenal sebagai seorang pengikut thoriqoh dan memiliki kecenderungan kuat pada bidang tasawuf. Beliau merupakan murid dari Abu Ishaq Ibrohim bin Muhammad bin Ali bin Al-Haj Al-Andalusi (831 H). Kehidupan beliau banyak dihabiskan dalam lingkungan yang sangat mengagungkan amalan-amalan lisan dan dzikir-dzikir hasil gubahan para guru thoriqoh.

Penting untuk dicatat bahwa meskipun seseorang memiliki kedudukan atau dianggap sholih oleh kaumnya, hal itu tidak menjadikan ucapannya sebagai sumber hukum syariat yang setara dengan wahyu. Ibnu Abbas (68 H) pernah memperingatkan:

أُرَاهُمْ سَيَهْلِكُونَ أَقُولُ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَيَقُولُ: نَهَى أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ

Aku kira mereka akan binasa (riwayat lain: Hampir saja batu-batu dari langit jatuh menimpa kalian). Aku katakan Rosululloh bersabda, sedangkan kalian mengatakan Abu Bakr dan Umar berkata. (HR. Ahmad no. 3121)

Jika pendapat Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H) saja tidak boleh didahulukan di atas sabda Nabi , maka terlebih lagi susunan doa dari seseorang yang hidup ratusan tahun setelah masa kenabian. Ibrohim At-Tazi (866 H) menyusun kalimat-kalimat dalam Sholawat Nariyah dengan niat memuji Nabi , namun standar kebenaran dalam agama bukan sekadar niat yang baik, melainkan kesesuaian dengan tuntunan syariat.

Nabi bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nasroni berlebih-lebihan memuji putra Maryam. Sungguh aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Alloh dan Utusan-Nya. (HR. Al-Bukhori no. 3445)

Ibrohim At-Tazi (866 H) wafat di kota Oran, Aljazair. Peninggalannya yang paling masyhur dan paling banyak diamalkan adalah Sholawat Nariyah ini. Namun, sebagai Muslim yang berpegang pada kebenaran, kita harus menimbang setiap karya manusia dengan Al-Quran dan Sunnah. Jika di dalamnya terdapat kalimat yang menabrak prinsip tauhid atau memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada makhluk, maka kita harus lebih mengedepankan hak Alloh di atas segala-galanya.

Shohabat Mu’adz bin Jabal (18 H) pernah diingatkan oleh Nabi tentang hak Alloh :

حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

Hak Alloh atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. (HR. Al-Bukhori no. 2856)

Memahami biografi penulis memberikan kita gambaran tentang latar belakang pemikiran yang melahirkan redaksi sholawat tersebut. Sebagai seorang yang hidup di masa kemunduran ilmiyyah dan maraknya tradisi pengagungan individu, tidak mengherankan jika susunan kalimatnya mencerminkan budaya pada masa itu. Namun, kebenaran Islam bersifat tetap dan tidak berubah mengikuti zaman atau tokoh tertentu. Kita diperintahkan untuk kembali kepada apa yang dipahami oleh para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dalam memahami dien ini.

Alloh berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam dari golongan Muhajirin dan Anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. (QS. At-Taubah: 100)

Maka, mengikuti jejak mereka dalam bersholawat adalah jalan keselamatan yang paling utama. Sholawat yang mereka baca adalah apa yang mereka dengar langsung dari Nabi , yang akan dibahas lebih mendalam pada bab-bab selanjutnya dalam buku ini.

 

BAB 2: ANALISA MAKNA LAFAZH SHOLAWAT NARIYAH DALAM TIMBANGAN SYARIAT

2.1 Penjelasan Makna Kalimat Per Kalimat

Memahami makna dari sebuah doa atau pujian yang dibaca merupakan kewajiban bagi setiap Muslim agar ia tidak terjatuh dalam kesalahan dalam berkeyakinan. Sholawat Nariyah memiliki susunan kalimat yang sangat spesifik. Lafazh lengkapnya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ

Artinya: Ya Alloh, berikanlah Sholawat yang sempurna dan salam yang merata kepada junjungan kami Muhammad, yang dengannya terurai segala ikatan, dengannya sirna segala kesedihan, dengannya terpenuhi segala kebutuhan, dengannya diraih segala keinginan dan akhir yang baik, serta dimintakan hujan dengan wajahnya yang mulia, juga kepada keluarga dan para Shohabat beliau pada setiap kedipan mata dan hembusan nafas sebanyak jumlah segala yang Engkau ketahui.

Makna kata-kata yang terdapat dalam apa yang disebut sebagai Sholawat Nariyah ini sebenarnya cukup jelas, namun sangat penting untuk mengurainya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Berikut adalah perincian makna kalimat-kalimat tersebut:

Tanhallu bihil ‘uqod: Maknanya adalah seseorang menemukan jalan keluar bagi segala kerumitan dan perkara-perkara sulit yang dihadapinya (dhorurot). Ada pula yang memaknai bahwa dengannya kemarahan menjadi reda.

Tanfariju bihil kurob: Maknanya adalah hilangnya kegalauan dan kesedihan dari dalam jiwa.

Tuqdho bihil hawa-iju: Maknanya adalah tercapainya apa yang diinginkan oleh seseorang dan apa yang ia usahakan pemenuhannya.

Tunalu bihir rogho-ib wa husnul khowatim: Maknanya adalah terwujudnya cita-cita dan keinginan, baik yang berkaitan dengan urusan dunia maupun Akhiroh, termasuk di antaranya adalah agar seseorang wafat dalam keadaan akhir yang baik.

Yustasqol ghomamu biwajhihil karim: Maknanya adalah memohon kepada Nabi agar beliau mendoakan kepada Alloh untuk menurunkan air hujan. Al-Ghomam artinya adalah awan.

Penjelasan makna di atas menunjukkan bahwa tujuan dari pembacaan kalimat-kalimat ini adalah untuk mendapatkan kemudahan hidup.

Analisa kalimat per kalimat menunjukkan bahwa struktur doa ini menggunakan dhomir atau kata ganti bihi (dengannya) yang kembali kepada Nabi . Hal ini memberikan makna bahwa Nabi merupakan sebab atau perantara utama dalam terjadinya hal-hal luar biasa yang disebutkan dalam bait-bait tersebut.

Alloh memerintahkan kita untuk mentauhidkan-Nya dalam doa. Alloh berfirman:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Sungguh Masjid-Masjid itu milik Alloh, maka janganlah kalian menyembah/berdoa kepada siapa pun di samping menyembah Alloh. (QS. Al-Jin: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa dalam urusan ibadah dan permohonan, tidak boleh ada tandingan bagi Alloh . Ibnu Abbas (68 H) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Jika engkau meminta, mintalah kepada Alloh, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Alloh. (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Setiap kalimat dalam Sholawat Nariyah harus ditimbang dengan neraca ini. Apakah penyandaran perbuatan mengurai ikatan dan memenuhi kebutuhan kepada Nabi merupakan penyandaran yang dibenarkan secara syariat ataukah justru melampaui batas dalam memuji makhluk.

2.2 Tinjauan Syariat Terhadap Kalimat Pengurai Ikatan dan Kesulitan

Kalimat yang berbunyi alladzi tanhallu bihil ‘uqod wa tanfariju bihil kurob (yang dengannya terurai segala ikatan dan dengannya sirna segala kesedihan) mengandung klaim bahwa Nabi memiliki kemampuan untuk menghilangkan kesulitan hidup. Dalam aqidah Islam, hanya Alloh yang memiliki otoritas mutlak untuk mengangkat penderitaan dan melepaskan kesulitan.

Alloh berfirman:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ

Jika Alloh menimpakan suatu kemudhorotan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Alloh menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. (QS. Yunus: 107)

Ayat ini sangat jelas menyatakan bahwa kaasyifa (penghilang/pengungkap) dari segala kemudhorotan hanyalah Alloh semata. Maka menyandarkan perbuatan ini kepada Nabi , meskipun dengan dalih sebagai sebab, merupakan perkara yang sangat berat karena Nabi sendiri semasa hidupnya mengalami berbagai kesulitan dan beliau hanya mengadu kepada Alloh .

Ketika Nabi berada dalam masa yang sulit, beliau mengajarkan doa:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ العَظِيمُ الحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»

Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh, Robb Arsy yang agung. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Alloh, Robb langit dan Robb bumi serta Robb Arsy yang mulia. (HR. Al-Bukhori no. 6346)

Dalam hadits ini, Nabi menunjukkan bahwa kunci hilangnya kesedihan adalah dengan memurnikan tauhid kepada Alloh , bukan dengan memanggil nama makhluk. Jika Nabi sendiri memohon kepada Alloh untuk menghilangkan kesulitan beliau, bagaimana mungkin kita mengatakan bahwa beliau lah yang mengurai ikatan-ikatan kesulitan tersebut.

Alloh juga berfirman tentang siapa yang paling berhak diseru saat sulit:

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

Bukankah Dia (Alloh) yang memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kalian sebagai kholifah di bumi? Apakah di samping Alloh ada sesembahan yang lain? Amat sedikitlah kalian mengingati-Nya. (QS. An-Naml: 62)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H) menjelaskan dalam kitab-kitab beliau bahwa menyandarkan rububiyyah atau perbuatan Alloh kepada makhluk adalah pintu menuju kesyirikan.

Meskipun kecintaan kita kepada Nabi sangat besar, cinta tersebut tidak boleh membuat kita memberikan sifat-sifat yang hanya milik Alloh kepada beliau.

Sebagai contoh, ketika Nabi mengalami luka dalam perang Uhud, beliau bersabda:

كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ

Bagaimana mungkin akan beruntung suatu kaum yang melukai wajah Nabi mereka. (HR. Muslim no. 1791)

Nabi tidak mampu mencegah luka pada wajah beliau sendiri tanpa kehendak Alloh . Ini menunjukkan bahwa beliau adalah manusia biasa yang tidak memiliki kendali atas manfaat dan mudhorot secara mandiri.

2.3 Tinjauan Syariat Terhadap Kalimat Pemenuh Kebutuhan dan Keinginan

Kalimat wa tuqdho bihil hawa-iju wa tunalu bihir rogho-ib (dengannya terpenuhi segala kebutuhan dan dengannya diraih segala keinginan) membawa konsekuensi aqidah yang serupa. Kebutuhan (Hawa-ij) dan keinginan (Rogho-ib) manusia sangatlah banyak dan hanya Dzat Yang Maha Kaya yang sanggup memenuhinya.

Alloh berfirman dalam Hadits Qudsi:

يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِي فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِي إِلَّا كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَاطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan di antara kalian, manusia dan jin, semuanya berdiri di satu bukit lalu kalian semua meminta kepada-Ku, kemudian Aku penuhi permintaan setiap orang, hal itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku kecuali seperti jarum yang dimasukkan ke dalam lautan. (HR. Muslim no. 2577)

Penyandaran pemenuhan kebutuhan kepada Nabi dalam teks Sholawat Nariyah seringkali dipahami sebagai tawasul. Namun, tawasul yang disyariatkan adalah dengan asmaul husna, amalan sholih, atau doa orang sholih yang masih hidup. Adapun memohon agar hajat dikabulkan “melalui” Nabi setelah beliau wafat dengan keyakinan bahwa beliau yang memenuhinya adalah hal yang tidak pernah dicontohkan oleh para Shohabat.

Bahkan dalam perkara yang sangat kecil sekalipun, Nabi memerintahkan untuk meminta kepada Alloh . Shohabat Anas bin Malik (93 H) menyebutkan bahwa Nabi bersabda:

لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ

Hendaklah salah seorang di antara kalian meminta seluruh kebutuhannya kepada Robb-nya, sampai-sampai ia meminta tali sandalnya yang putus. (HHR. At-Tirmidzi no. 3604)

Alloh mencela orang-orang yang mencari pemenuhan hajat kepada selain-Nya:

إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ

Sungguh mereka yang kalian sembah selain Alloh tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka mintalah rezeki itu di sisi Alloh, dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya. (QS. Al-Ankabut: 17)

Jika rezeki dan pemenuhan kebutuhan berada di tangan Alloh , maka menjadikan sholawat sebagai “mesin” pemenuh hajat dengan redaksi yang menyandarkan perbuatan tersebut kepada makhluk adalah tindakan yang tidak tepat. Nabi adalah penyampai risalah, bukan pembagi rezeki atau pengatur alam semesta.

Ja’ad bin Dirham (124 H) dan tokoh-tokoh awal yang mulai menyimpangkan makna sifat Alloh telah diperingatkan oleh para ulama Salaf. Konsensus para ulama adalah menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk keserupaan makhluk dengan Kholiq dalam hal perbuatan. Memenuhi segala keinginan (tunalu bihir rogho-ib) adalah hak prerogatif Alloh .

Alloh berfirman:

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

Milik Alloh-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (Jannah). (QS. An-Najm: 31)

2.4 Tinjauan Syariat Terhadap Kalimat Husnul Khotimah Melalui Wajah Nabi

Bait terakhir dalam Sholawat Nariyah yang berbunyi wa husnul khowatim wa yustasqol ghomamu biwajhihil karim (serta akhir yang baik dan dimintakan hujan dengan wajahnya yang mulia) juga memerlukan penjelasan ilmiyyah.

Husnul Khotimah atau akhir kehidupan yang baik adalah karunia murni dari Alloh . Tidak ada satu pun makhluk yang bisa menjamin akhir hidup seseorang, bahkan Nabi tidak bisa menjamin paman beliau, Abu Tholib, untuk masuk Islam di akhir hayatnya. Alloh berfirman kepada Nabi :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Sungguh kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (QS. Al-Qoshosh: 56)

Menyandarkan perolehan husnul khotimah kepada “bihi” (dengannya/Nabi) dalam teks tersebut bisa mengarah pada keyakinan bahwa Nabi memiliki kuasa atas hidayah taufiq. Padahal hidayah taufiq adalah milik Alloh semata.

Adapun kalimat yustasqol ghomamu biwajhihil karim (dimintakan hujan dengan wajahnya yang mulia), ini merujuk pada peristiwa saat Nabi masih hidup. Benar bahwa para Shohabat meminta Nabi untuk berdoa memohon hujan (Istisqa) dan Alloh mengabulkan doa beliau.

Anas bin Malik (93 H) menceritakan:

Ketika Nabi sedang berkhutbah pada hari Jumat, berdirilah seorang laki-laki lalu berkata: “Wahai Rosululloh, harta benda telah binasa dan jalan-jalan telah terputus, maka berdoalah kepada Alloh agar menurunkan hujan kepada kami.” Kemudian Rosululloh mengangkat kedua tangannya lalu berdoa:

«اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا»

Ya Alloh, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Alloh, turunkanlah hujan kepada kami. Ya Alloh, turunkanlah hujan kepada kami.” (HR. Al-Bukhori no. 1013)

Namun, setelah Nabi wafat, para Shohabat tidak lagi bertawasul dengan wajah atau kedudukan Nabi untuk meminta hujan. Mereka bertawasul dengan doa orang sholih yang masih hidup. Hal ini terbukti ketika terjadi kekeringan di masa kekholifahan Umar bin Al-Khotthob (23 H). Beliau bertawasul melalui Al-Abbas bin Abdul Muttholib (32 H), paman Nabi .

Umar (23 H) berdoa:

اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِينَا، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا

Ya Alloh, dulu kami bertawasul kepada-Mu dengan Nabi kami (saat beliau masih hidup) lalu Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami. (HR. Al-Bukhori no. 1010)

Seandainya bertawasul dengan wajah atau dzat Nabi yang sudah wafat adalah hal yang dianjurkan, tentu Umar (23 H) dan para Shohabat lainnya tidak akan beralih kepada Al-Abbas (32 H). Mereka tetap akan mendatangi makam Nabi atau menyebut wajah beliau dalam doa istisqo mereka. Tindakan Umar (23 H) adalah dalil kuat bahwa tawasul dengan dzat atau wajah seseorang yang sudah wafat bukanlah jalan yang ditempuh oleh para Salaf.

Alloh berfirman tentang orang-orang yang menyeru selain-Nya:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ

Dan orang-orang yang kalian seru selain Alloh tidak mempunyai apa-apa meskipun setipis kulit ari. Jika kalian menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruan kalian; dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaan kalian. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikan kalian. (QS. Fatir: 13-14)

Meskipun Nabi adalah makhluk termulia, beliau tetap termasuk dalam keumuman ayat ini dalam hal ketidakmampuan untuk mendengar dan mengabulkan doa setelah wafatnya, kecuali apa yang telah dikhususkan oleh syariat seperti sampainya salam kepada beliau.

Oleh karena itu, redaksi Sholawat Nariyah ini mengandung problematik makna yang sangat serius jika ditinjau dari prinsip-prinsip tauhid. Memuji Nabi adalah ibadah, namun memuji dengan cara memberikan sifat-sifat Robbaniyyah kepada beliau adalah suatu bentuk ghuluw atau berlebih-lebihan yang dilarang.

Nabi bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sungguh yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama. (HSR. An-Nasa’i no. 3057)

Penting bagi setiap Muslim untuk kembali kepada redaksi sholawat yang telah diajarkan langsung oleh Nabi . Redaksi tersebut sudah pasti mengandung pujian yang paling tepat, paling sempurna, dan paling aman dari noda-noda kesyirikan. Kita mencintai Nabi dengan cara mengikuti tuntunan beliau, bukan dengan cara membuat-buat pujian yang justru bertentangan dengan ajaran tauhid yang beliau bawa.

Alloh berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّه وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. (QS. Ali Imron: 31)

2.5 Tinjauan Pelanggaran Syariat dalam Sholawat Nariyah

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah: Apakah apa yang disebut sebagai Sholawat Nariyah ini mengandung unsur kesyirikan?

Jika kita melihat secara jeli dengan timbangan wahyu, klaim sebagian orang yang menyatakan bahwa sholawat ini tidak mengandung syirik dan boleh terus diamalkan adalah pernyataan yang batil. Hal ini dikarenakan adanya pelanggaran-pelanggaran syariat yang nyata di dalamnya:

Pertama: Menjadikan sholawat ini sebagai bacaan khusus saat tertimpa musibah. Ini termasuk bentuk mengada-ada dalam hal sebab ibadah yang tidak ada dalilnya.

Kedua: Menentukan jumlah bilangan tertentu yaitu 4444 kali. Ini merupakan bentuk mengada-ada dalam hal kadar atau jumlah ibadah yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi .

Ketiga: Menjadikan pembacaannya dilakukan secara berkelompok atau jamaah. Ini termasuk bentuk mengada-ada dalam hal tata cara (Kaifiyyah) ibadah.

Keempat: Di dalamnya terdapat ungkapan-ungkapan yang menyelisihi syariat, mengandung kesyirikan, dan ghuluw (berlebihan) terhadap Nabi . Hal ini nampak pada penyandaran perbuatan-perbuatan yang seharusnya hanya milik Alloh kepada Nabi , seperti pemenuhan kebutuhan, penguraian kesulitan, pencapaian keinginan, dan penjaminan akhir yang baik. Padahal Alloh memerintahkan Nabi-Nya untuk berkata kepada umatnya:

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

Katakanlah (wahai Muhammad): Sungguh aku tidak kuasa mendatangkan kemudhorotan dan tidak pula petunjuk bagi kalian. (QS. Al-Jin: 21)

Kelima: Meninggalkan apa yang telah ditetapkan dalam syariat dan beralih kepada sholawat serta doa hasil karangan manusia. Tindakan ini secara tidak langsung mengandung tuduhan bahwa Nabi kurang dalam menjelaskan apa yang dibutuhkan oleh manusia, serta merupakan bentuk sikap merasa lebih tahu daripada syariat.

Nabi bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak. (HR. Al-Bukhori no. 2550 dan Muslim no. 1718)

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami, maka amalan itu tertolak. (HR. Muslim no. 1718)

Ibnu Rojab Al-Hanbali (795 H) memberikan penjelasan mendalam tentang Hadits ini: “Sungguh Hadits ini adalah pondasi yang sangat agung di antara pondasi-pondasi Islam. Ia laksana timbangan bagi amal perbuatan pada zhohirnya, sebagaimana Hadits tentang niat adalah timbangan bagi amal pada batinnya. Maka sebagaimana setiap amal yang tidak diniatkan untuk mencari wajah Alloh tidak akan mendapatkan pahala bagi pelakunya, demikian pula setiap amal yang tidak ada atasnya perintah Alloh dan Rosul-Nya, maka ia tertolak dari pelakunya. Siapa saja yang mengada-adakan dalam agama sesuatu yang tidak diizinkan oleh Alloh dan Rosul-Nya, maka hal itu bukan termasuk bagian dari agama sedikit pun. (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/180)

An-Nawawi (676 H) juga menjelaskan: Hadits ini merupakan kaidah agung dari kaidah-kaidah Islam, dan termasuk di antara untaian kalimat yang ringkas namun padat maknanya (Jawami’ul Kalim) dari Nabi . Hadits ini secara tegas menolak segala bentuk bid’ah dan perkara-perkara yang dibuat-buat. Dalam riwayat yang kedua terdapat tambahan yaitu bahwa terkadang seseorang melakukan suatu bid’ah yang ia sekadar mengikuti orang sebelumnya, maka jika ia beralasan dengan riwayat pertama (siapa yang mengada-adakan), ia akan terbantah dengan riwayat kedua (siapa yang mengerjakan) yang secara jelas menolak seluruh perkara baru, baik ia yang memulai maupun hanya mengikuti. Hadits ini sangat layak untuk dihafal dan digunakan untuk membatalkan kemungkaran serta menyebarkan pendalilan dengannya. (Syarh Muslim, 12/16)

Maka jelaslah bahwa mencukupkan diri dengan apa yang datang dari Nabi adalah lebih selamat bagi Akhiroh kita. Tidak ada satu pun pintu kebaikan melainkan beliau telah menunjukkannya kepada kita, termasuk bagaimana cara bersholawat yang benar dan bagaimana cara mengadu kepada Alloh saat menghadapi kesulitan hidup yang menghimpit.

 

BAB 3: TUNTUNAN SHOLAWAT YANG SHOHIH DAN BERDASARKAN SUNNAH

3.1 Keutamaan Membaca Sholawat Kepada Nabi Menurut Al-Quran dan Hadits

Bersholawat kepada Nabi merupakan salah satu ibadah yang paling agung dan memiliki kedudukan tinggi dalam Islam. Alloh sendiri memulai amalan ini sebelum memerintahkan para hamba-Nya. Sungguh ini adalah kemuliaan yang sangat besar bagi Nabi kita Muhammad .

Alloh berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sungguh Alloh dan para Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab: 56)

Para ulama menjelaskan bahwa Sholawat dari Alloh bermakna pujian bagi beliau di hadapan para Malaikat yang tinggi, sedangkan Sholawat dari Malaikat bermakna doa permohonan ampun, dan Sholawat dari kaum Mu’min bermakna doa agar Alloh meninggikan derajat beliau.

Banyak sekali Hadits shohih yang menjelaskan keutamaan amalan ini. Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Al-Ash (63 H) bahwa Nabi bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا

Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya 10 kali. (HR. Muslim no. 408)

Bayangkan, betapa besar Rohmat Alloh yang turun hanya dengan satu kali ucapan sholawat yang tulus. Tidak hanya itu, bersholawat juga menjadi sebab diangkatnya derajat dan dihapusnya dosa-dosa. Anas bin Malik (93 H) meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

Siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya 10 kali, dihapuskan darinya 10 kesalahan, dan diangkat baginya 10 derajat. (HSR. An-Nasa’i no. 1297)

Sholawat juga merupakan kunci bagi terkabulnya doa. Umar bin Al-Khotthob (23 H) pernah berkata:

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sungguh doa itu terhenti di antara langit dan bumi, tidak akan naik sedikit pun darinya sampai engkau bersholawat kepada Nabi-mu . (HHR. At-Tirmidzi no. 486)

Maka, setiap kali kita memohon kepada Alloh , hendaknya kita mengawali dan menutupnya dengan sholawat. Namun, keutamaan yang besar ini hanya akan diraih jika kita mengikuti petunjuk Nabi dalam memilih redaksi kalimat yang akan diucapkan.

3.2 Kumpulan Sholawat yang Shohih yang Diajarkan Oleh Nabi

Ketika ayat perintah bersholawat turun, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum tidak lantas membuat-buat redaksi sendiri. Mereka mendatangi Nabi dan bertanya langsung tentang bagaimana cara bersholawat yang benar. Inilah teladan terbaik bagi kita.

Ka’ab bin ‘Ujroh (51 H) menceritakan bahwa para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimanakah kami bersholawat kepadamu?” Beliau bersabda: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Alloh, berilah Sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi Sholawat kepada Ibrohim dan keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrohim dan keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. (HR. Al-Bukhori no. 3370)

Ini adalah redaksi yang paling sempurna dan paling utama, yang dikenal dengan Sholawat Ibrohimiyyah. Redaksi ini pula yang kita baca di setiap Sholawat kita pada saat tasyahud.

Ada pula redaksi lain yang lebih ringkas sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Humaid As-Sa’idi (60 H) bahwa para Shohabat bertanya hal yang sama, lalu Nabi bersabda: Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Ya Alloh, berilah Sholawat kepada Muhammad, istri-istri beliau, dan keturunan beliau sebagaimana Engkau telah memberi Sholawat kepada keluarga Ibrohim. Dan berkahilah Muhammad, istri-istri beliau, dan keturunan beliau sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. (HR. Al-Bukhori no. 3369)

Perhatikanlah, dalam semua redaksi shohih ini, permintaan Sholawat diajukan kepada Alloh (اللَّهُمَّ صَلِّ) dan tidak mengandung kalimat-kalimat yang menyandarkan pengaturan alam atau penghilangan kesulitan kepada Nabi . Kalimatnya murni berupa doa permohonan kemuliaan bagi beliau .

Nabi juga mengajarkan sholawat yang dikaitkan dengan permohonan syafa’at. Beliau bersabda:

مَنْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَنْزِلْهُ الْمَقْعَدَ الْمُقَرَّبَ عِنْدَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي

Siapa yang mengucapkan: Ya Alloh, berilah Sholawat kepada Muhammad dan tempatkanlah ia di tempat yang dekat di sisi-Mu pada hari kiamat, maka wajib baginya syafa’atku. (HHR. Ath-Thobaroni fil Kabir no. 4480)

3.3 Kedudukan Mengikuti Tuntunan Salaf dalam Bersholawat

Mengikuti Sunnah Nabi dan pemahaman para Shohabat dalam beribadah adalah jaminan keselamatan. Para Salaf adalah generasi yang paling mencintai Nabi , namun mereka tidak pernah melampaui batas dalam memuji beliau. Mereka mencukupi diri dengan apa yang diajarkan oleh Sang Guru Mulia .

Ibnu Qudamah (620 H) menyebutkan dalam Al-Mughni bahwa yang paling utama adalah bersholawat dengan lafazh-lafazh yang diajarkan oleh Nabi karena beliau lebih tahu tentang apa yang layak bagi dirinya dan apa yang diperintahkan oleh Robb-nya.

Menyimpang dari redaksi Nabi menuju redaksi buatan manusia mengandung resiko besar. Pertama, kita kehilangan keutamaan mutaba’ah (mengikuti Nabi). Kedua, kita membuka pintu bagi masuknya kalimat-kalimat yang berpotensi merusak tauhid.

Abdullah bin Mas’ud (32 H) memberikan nasihat yang sangat mendalam:

مَنْ كَانَ مُسْتَنًّا فَلْيَسْتَنَّ بِمَنْ قَدْ مَاتَ فَإِنَّ الْحَيَّ لَا تُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَةُ أُولَئِكَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانُوا أَفْضَلَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبَرَّهَا قُلُوبًا وَأَعْمَقَهَا عِلْمًا وَأَقَلَّهَا تَكَلُّفًا

Siapa yang ingin mencontoh, hendaknya ia mencontoh orang yang telah wafat (para Shohabat), karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah. Mereka adalah para Shohabat Muhammad , mereka adalah umat yang paling utama, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit sifat membebani dirinya. (HR. Ibnu Abdil Barr fil Jami no. 1810)

Para Shohabat tidak pernah membebani diri dengan jumlah-jumlah angka ribuan yang tidak ada dasarnya. Mereka bersholawat dengan lisan yang basah, hati yang hadir, dan mengikuti petunjuk. Kualitas sholawat ditentukan oleh keikhlasan dan kesesuaian dengan Sunnah, bukan oleh banyaknya angka atau rumitnya susunan kata.

3.4 Alternatif Dzikir dan Doa yang Sesuai dengan Syariat Saat Menghadapi Kesulitan

Seringkali alasan seseorang membaca Sholawat Nariyah adalah karena sedang dihimpit kesulitan besar dan ingin segera mendapatkan jalan keluar. Islam telah memberikan solusi yang sangat lengkap melalui dzikir-dzikir yang diajarkan langsung oleh Nabi untuk menghadapi problematika hidup.

Ali bin Abi Tholib (40 H) menceritakan bahwa ketika Fatimah rodhiyallahu ‘anha merasa lelah dengan pekerjaan rumah, Nabi mengajarkan kepadanya dzikir sebelum tidur sebagai kekuatan:

فَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ، فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ

Kalian bertasbih 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali. Ini lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu. (HR. Al-Bukhori no. 5361)

Jika kita sedang merasa berat dengan beban hidup, maka perbanyaklah membaca:

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ

Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Alloh. (HR. Al-Bukhori no. 4205)

Nabi menyebutkan bahwa kalimat ini adalah salah satu perbendaharaan di bawah Arsy yang memiliki khasiat luar biasa dalam memberikan kekuatan batin dan fisik.

Bagi siapa yang sedang dalam kesedihan mendalam, Nabi mengajarkan doa:

اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Alloh, hanya Rohmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata, dan perbaikilah segala urusanku. Tidak ada sesembahan yang haq selain Engkau. (HHR. Abu Dawud no. 5090)

Doa-doa ini shohih, jelas maknanya, dan murni tujuannya kepada Alloh . Kita tidak butuh mencari pintu-pintu lain yang tidak jelas dasarnya sementara pintu-pintu yang telah dibukakan oleh Nabi begitu lebar dan terang benderang.

Alloh berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

Bukankah Alloh itu cukup untuk hamba-Nya? (QS. Az-Zumar: 36)

Maka, kembalilah kepada Sunnah. Cukupkanlah diri dengan apa yang dicontohkan oleh Salaf. Hidup akan terasa lebih tenang ketika ibadah yang kita kerjakan benar-benar berdiri di atas hujjah yang nyata, bukan di atas keraguan atau tradisi yang menyimpang.

Bagi yang ingin dzikir shohih lainnya secara lengkap bisa unduh Hisnul Muslim.

 

PENUTUP

Sebagai penutup dari risalah singkat ini, marilah kita senantiasa memohon petunjuk kepada Alloh agar selalu dibimbing di atas jalan yang lurus. Memahami syariat memerlukan kelapangan dada dan kejujuran dalam mencari kebenaran. Sholawat kepada Nabi adalah ibadah yang sangat mulia, maka janganlah kemuliaan itu kita kotori dengan redaksi-redaksi yang tidak sejalan dengan tauhid atau cara-cara yang memberatkan diri tanpa dalil.

Sungguh kebahagiaan seorang Muslim adalah ketika ia bertemu dengan Alloh dengan membawa amalan yang diterima. Syarat diterimanya amalan adalah ikhlas karena Alloh dan mengikuti tuntunan Nabi . Jika salah satu dari syarat ini hilang, maka amalan tersebut akan sia-sia bagaikan debu yang beterbangan.

Mari kita hiasi lisan kita dengan Sholawat Ibrohimiyyah dan dzikir-dzikir ma’tsur lainnya. Yakinlah bahwa Alloh Maha Mendengar dan Maha Dekat tanpa perlu kita menggunakan perantara atau bilangan-bilangan yang dikeramatkan. Dengan memurnikan ibadah hanya untuk Alloh dan memurnikan pengikutan hanya kepada Nabi , kita berharap akan meraih husnul khotimah dan berkumpul bersama beliau di dalam Jannah-Nya yang penuh ni’mat.

Alloh berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad): Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Alloh di atas bashiroh (ilmu yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku. Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik. (QS. Yusuf: 108)

Segala kebenaran datangnya dari Alloh , dan segala kesalahan datangnya dari diri saya dan dari syaithon.

Walhamdu lillahi Robbil ‘alamin.

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url