[PDF] Saat TikTok Menjadi Khomr, Merusak Akal dan Moral - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Wahai
saudaraku yang semoga dirohmati Alloh ﷻ, pernahkah Anda memperhatikan
keadaan diri Anda atau orang-orang di sekitar Anda ketika memegang telepon
genggam? Perhatikanlah bagaimana jemari-jemari itu terus mengusap layar kaca
tanpa henti, sementara pandangan mata terpaku, dan kesadaran seolah melayang
meninggalkan kenyataan. Dunia di sekeliling mereka mendadak senyap, panggilan
Sholat yang berkumandang dari Masjid terabaikan, dan nasihat orang tua atau
pasangan tidak lagi terdengar. Tahukah Anda apa yang sedang terjadi pada
mereka? Mereka sungguh sedang meminum racun yang tidak berwarna dan tidak
berbau, yaitu khomr dalam bentuk digital berupa aplikasi TikTok.
Jika pada
zaman dahulu orang mengenali khomr sebagai minuman keras yang diperah dari
anggur atau kurma untuk merusak akal, maka pada zaman modern ini syaithon telah
memperbarui tipu muslihatnya dengan sangat halus. Mereka menciptakan wahana
hiburan yang sanggup membius akal dan merusak moral manusia tanpa perlu merogoh
kantong untuk membeli botol minuman harom. Cukup dengan mengunduh aplikasi di
telepon pintar, seseorang telah membuka pintu menuju warung khomr terbesar
dalam sejarah peradaban manusia.
Alloh ﷻ
telah menegaskan bahaya khomr di dalam Al-Qur’an sebagai perbuatan keji yang
dirancang oleh syaithon untuk memalingkan manusia dari mengingat Alloh ﷻ dan
merusak tatanan hidup mereka:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ
رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
Wahai
orang-orang yang beriman, sungguh khomr, berjudi, berkurban untuk
berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan
termasuk perbuatan syaithon. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Ma’idah: 90)
Nabi ﷺ juga telah memancarkan
panduan universal mengenai hakikat khomr, di mana batasannya bukan terletak
pada wujud zatnya yang cair semata, melainkan pada dampak dan pengaruhnya
terhadap daya pikir manusia:
«كُلُّ
مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ»
Setiap
yang memabukkan adalah khomr, dan setiap yang memabukkan adalah harom. (HR. Muslim no. 2003)
Buku ini
hadir sebagai ajakan jujur untuk berdialog dan merenungi kenyataan pahit yang
melanda rumah tangga dan masyarakat kita hari ini. Kita tidak boleh lagi
menutup mata dan bersembunyi di balik alasan bahwa ini sekadar sarana hiburan
atau da’wah. Ketika sebuah aplikasi telah berhasil menyita waktu berjam-jam,
melalaikan Sholat, meruntuhkan rasa malu wanita Muslimah, serta menyeret para pemuda
ke dalam lingkaran kebodohan dan syahwat, maka tidak ada kata lain untuk
menggambarkannya selain kecanduan khomr yang merusak akal dan moral. Mari kita
bedah bukti-bukti nyata ini berdasarkan dalil Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ agar kita terpelihara dari
jerat kebinasaan.
Bab 1: Khomr Modern Candu Digital
1.1
Racun Terselubung di Balik Layar Kaca
Wahai
pembaca yang mulia, bayangkan jika seseorang mendatangi Anda lalu menawarkan
sebuah gelas berisi cairan beracun, tentu Anda akan langsung menolaknya dan menjauhinya
dengan cemas. Namun bagaimana jika racun itu dikemas dalam bentuk potongan
video berdurasi 15 detik yang menyajikan tarian, kelakar konyol, atau berita
bohong yang memikat hati? Anda akan menikmatinya detik demi detik, tanpa sadar
bahwa racun tersebut sedang menjangkiti kebersihan jiwa dan ketenangan akal
Anda. Inilah racun terselubung yang bekerja sangat rapi melalui aplikasi
TikTok.
Mari kita
perhatikan satu kasus nyata yang kerap terjadi di tengah masyarakat kita hari
ini. Seorang ibu rumah tangga yang seharusnya mengasuh anaknya yang sedang
menangis kelaparan, justru membiarkan sang anak menangis berjam-jam di
sampingnya. Matanya terikat pada layar telepon, jemarinya terus mengusap dari
satu video ke video lainnya, dan pikirannya terbius total oleh tayangan konyol
orang-orang yang tidak dikenal. Begitu pula seorang ayah yang baru pulang
mencari nafkah, alih-alih menyapa istri dan membimbing anak-anaknya dengan
kasih sayang, ia justru mengurung diri di kamar hingga larut malam demi
menyaksikan konten hiburan yang tidak berguna. Bukankah keadaan terbius dan
tidak sadar akan kewajiban ini persis seperti keadaan orang yang sedang mabuk minuman
keras?
Syaithon
tidak pernah datang kepada seorang Mu’min secara terang-terangan lalu
memerintahkannya untuk bermaksiat secara mendadak. Syaithon menyusup melalui
langkah-langkah kecil yang nampak tidak berbahaya pada awalnya, sebagaimana
firman Alloh ﷻ:
﴿وَلا
تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ﴾
Dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon. Sungguh syaithon itu musuh
yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqoroh: 168)
Kelalaian
yang dihasilkan oleh tayangan beruntun di TikTok merupakan jalan pintas bagi
syaithon untuk menguasai aliran darah dan pikiran manusia, sebagaimana
disabdakan oleh Nabi ﷺ:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ»
Sungguh
syaithon itu berjalan dalam tubuh manusia melalui aliran darah. (HR.
Al-Bukhori no. 2038 dan Muslim no. 2175)
Apabila
syaithon telah berhasil menguasai perhatian seorang hamba melalui layar kaca,
maka runtuhlah pertahanan dirinya. Ia akan memandang baik hal-hal yang harom,
dan menganggap remeh perintah-perintah Alloh ﷻ. Racun terselubung ini tidak
merusak lambung secara fisik dalam sekejap, tetapi ia mematikan kepekaan Iman
dan kebenaran akal secara perlahan namun pasti.
1.2
Hilangnya Akal Sehat Tanpa Tegukan Minuman Keras
Secara
bahasa dalam tata bahasa Arob, kata khomr berasal dari kata khomaro yang
berarti menutup atau memalingkan. Segala sesuatu yang menutup akal sehat
manusia dari berpikir jernih dan bertindak sesuai petunjuk Syari’at disebut
sebagai khomr. Apakah khomr hanya sebatas zat cair yang diminum? Sama sekali
tidak. Cobalah Anda menyaksikan aksi-aksi nekat para pengguna TikTok demi
mendapatkan tayangan yang banyak atau pujian manusia.
Berapa
banyak pemuda yang nekat melompat ke hadapan truk yang sedang melaju kencang di
jalan raya hanya untuk membuat konten video 10 detik? Berapa banyak anak remaja
yang rela memakan zat-zat berbahaya dan beracun demi mengikuti tantangan
populer di aplikasi tersebut? Tindakan bodoh ini dilakukan secara sadar oleh
orang-orang yang secara medis tidak gila dan tidak sedang meminum alkohol.
Namun dimanakah akal sehat mereka saat itu? akal sehat mereka telah tertutup
rapat oleh rasa haus akan ketenaran dan kecanduan hiburan instan, yang
berdampak persis seperti hilangnya akal akibat tegukan minuman keras.
Alloh ﷻ
menggambarkan bahwa hilangnya kepekaan akal dan hilangnya penglihatan hati
adalah bentuk kebutaan:
﴿أَفَلَمْ
يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ
بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي
الصُّدُورِ﴾
Maka apakah
mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan hati itu
mereka dapat memahami, atau mempunyai telinga yang dengan telinga itu mereka
dapat mendengar? Karena sungguh bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta
ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)
Nabi ﷺ juga telah memberikan kaidah
penetapan hukum yang sangat tegas terkait segala zat atau sarana yang dapat
memabukkan serta menghilangkan kestabilan akal manusia:
«مَا
أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ حَرَامٌ»
Apa yang
banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun harom. (HSR. Abu Dawud no. 3681
dan At-Tirmidzi no. 1865)
Ketika
seseorang telah berada dalam pengaruh kecanduan tayangan pendek, akal sehatnya
tidak lagi mampu menimbang mana yang memberikan manfaat untuk kehidupan Akhiroh
dan mana yang mendatangkan kemurkaan Alloh ﷻ. Perilaku melompat-lompat,
menari-nari tanpa rasa malu, hingga mempertaruhkan nyawa di jalan raya adalah
bukti bahwa akal mereka sedang tertutup oleh khomr digital yang amat beracun.
1.3
Tercurinya Waktu Utama dan Kelalaian Hati
Wahai
saudaraku, pernahkah Anda berniat membuka aplikasi TikTok hanya untuk melihat
video selama 2 minute, namun tanpa terasa saat Anda melihat jam dinding,
ternyata 2 jam telah berlalu begitu saja? Ke mana perginya waktu yang amat
berharga itu? Waktu tersebut telah dicuri oleh sistem jebakan tayangan yang
dirancang khusus untuk mengikat kesadaran Anda. Waktu adalah hakikat dari
kehidupan manusia itu sendiri. Apabila waktu Anda habis untuk hal-hal yang
sia-sia, maka sungguh sebagian dari umur dan kehidupan Anda telah musnah tanpa
bekas.
Mari kita
simak sebuah contoh nyata yang terjadi saban hari. Seorang pekerja Muslim yang
memiliki waktu luang di sela-sela jam kerjanya alih-alih mengisinya dengan
membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau menambah ilmu keagamaan, ia justru
menghabiskan seluruh waktu istirahatnya untuk mengusap layar telepon genggam.
Ketika panggilan Sholat Zhuhur berkumandang, ia menunda-nunda kedatangannya ke
Masjid hingga rokaat terakhir, bahkan tidak jarang ia melaksanakan Sholat dalam
keadaan tergesa-gesa tanpa rasa khusyu’ karena pikirannya masih
terngiang-ngiang oleh musik dan tayangan yang baru saja ia lihat.
Alloh ﷻ
telah mengingatkan manusia tentang betapa dekatnya hari perhitungan amal,
sementara manusia berada dalam keadaan lalai dan berpaling akibat terbuai oleh
permainan dunia:
﴿اقْتَرَبَ
لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُّعْرِضُونَ﴾
Telah makin
dekat kepada manusia perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian
lagi berpaling. (QS. Al-Anbiya’: 1)
Nabi ﷺ menegaskan bahwa waktu luang
merupakan salah satu ni’mat terbesar yang paling sering menipu dan merugikan
mayoritas manusia:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
Ada 2 ni’mat
yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.
(HR. Al-Bukhori no. 6412)
Setiap
detik waktu yang terbuang di depan layar kaca kelak akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Alloh ﷻ pada hari Qiyamah. Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ القِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ»
Tidak akan
bergeser 2 kaki seorang hamba pada hari Qiyamah sebelum ia ditanya tentang
umurnya untuk apa ia habiskan. (HSR. At-Tirmidzi no. 2417)
Betapa
ironisnya ketika seseorang rela mengorbankan modal utamanya di dunia yaitu umur
dan waktunya hanya demi menyaksikan hiburan kosong yang tidak menambah pahala
di Akhiroh dan tidak pula mendatangkan kesejahteraan di dunia. Sungguh,
pencurian waktu secara sistematis ini adalah salah satu bentuk kejahatan
terbesar khomr digital terhadap keimanan seorang Muslim.
Bab 2: Musnahnya Rasa Malu
2.1
Pamer Aurot dan Joget Konyol demi Pujian Manusia
Wahai
pembaca yang beriman, tanyakanlah kepada diri Anda sendiri, ke manakah rasa
malu yang dahulu menjadi perhiasan terindah para wanita Muslimah? Dahulu,
jangankan memamerkan lekuk tubuh, terdengar suara atau terlihat bayangan tubuh
mereka saja membuat mereka merasa bersalah dan canggung. Namun hari ini,
perhatikanlah apa yang terjadi di aplikasi TikTok. Berapa banyak wanita
Muslimah, bahkan sebagian di antaranya mengenakan pakaian penutup aurot, rela
berjoget-joget konyol, menggoyangkan pinggul, dan memperagakan gerakan-gerakan
menggoda di depan kamera yang disaksikan oleh jutaan pasang mata lelaki asing.
Saksikanlah
fenomena mengerikan di pinggir-pinggir jalan raya, taman kota, hingga di dalam
kamar-kamar pribadi. Mereka merancang tarian mengikuti irama musik yang sedang
tren, lalu mengunggahnya tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Mengapa ini bisa
terjadi? Karena kesucian mereka telah tumpul dan rasa malu dalam dada mereka
telah menguap akibat meminum khomr digital secara berulang-ulang. Pujian
manusia berupa tanda suka, komentar sanjungan, dan peningkatan jumlah pengikut
telah menjadi sesembahan baru yang membutakan mata hati mereka.
Alloh ﷻ
telah menetapkan bahwa pakaian dan penutup aurot diturunkan untuk menjaga
kehormatan dan sebagai wujud ketaqwaan kepada-Nya:
﴿يَا
بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ
التَّقْوَىٰ ذَٰلِك خَيْرٌ﴾
Wahai anak
cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup aurotmu
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian ketaqwaan itulah yang paling
baik. (QS. Al-A’rof: 26)
Nabi ﷺ mengabarkan bahwa rasa malu
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seseorang. Jika rasa malu
itu hilang, maka musnah pulalah keimanannya:
«الْحَيَاءُ
مِنَ الإِيمَانِ وَالإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ»
Rasa malu
itu adalah bagian dari keimanan, dan keimanan itu tempatnya di Jannah. (HSR.
At-Tirmidzi no. 2009)
Nabi ﷺ juga bersabda tentang ancaman
bagi orang yang telah kehilangan rasa malu dalam kehidupannya:
«إِنَّ
مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ
فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ»
Sungguh di
antara perkataan nubuwwah pertama yang didapati manusia adalah: Jika engkau
tidak malu, maka berbuatlah sesukamu. (HR. Al-Bukhori no. 3483)
Ketika rasa
malu telah dicabut dari jiwa seorang hamba, ia tidak akan lagi peduli apakah
perbuatannya mendatangkan ridho Alloh ﷻ atau justru mengundang
adzab-Nya. Pamer aurot dan tarian konyol di depan publik adalah bukti bahwa
fithroh kemusiaan telah rusak tergerus oleh racun tayangan media sosial.
2.2
Tabarruj Digital dan Hilangnya Cemburu Para Lelaki
Wahai para
suami dan para ayah yang memikul tanggung jawab di hadapan Alloh ﷻ, di
manakah rasa cemburu Anda? Rasa cemburu syar’i adalah benteng pertahanan utama
yang menjaga kehormatan anak dan istri Anda dari kejahatan dan kebinasaan.
Namun betapa menyedihkan realita yang kita saksikan hari ini. Banyak lelaki
yang mengaku Muslim, namun dengan bangga merekam istrinya yang sedang bersolek,
memperagakan pakaian ketat, dan menari di aplikasi TikTok, lalu mengunggah
video tersebut ke hadapan publik demi mendapatkan rupiah atau popularitas.
Ada seorang
suami yang dengan sengaja mengatur kamera, mengarahkan pencahayaan, dan
menyuruh istrinya beradegan mesra atau meliuk-liukkan tubuh di depan jutaan
penonton. Sang suami tersenyum bangga ketika video istrinya ditonton oleh
jutaan lelaki lain yang memandang dengan syahwat. Sungguh, ini adalah penyakit dayyuts,
yaitu keadaan di mana seorang lelaki telah kehilangan rasa cemburu terhadap
keharoman yang terjadi pada keluarganya. Minuman pemabuk digital ini telah
melumpuhkan naluri kepemimpinan dan harga diri para lelaki.
Alloh ﷻ
telah melarang keras perbuatan tabarruj, yaitu bersolek dan memamerkan
kecantikan serta keindahan tubuh di luar rumah atau di hadapan orang-orang yang
bukan mahrom:
﴿وَقَرْنَ
فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ﴾
Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu. (QS. Al-Ahzab: 33)
Nabi ﷺ memberikan peringatan yang
sangat keras dan menakutkan bagi para lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu
terhadap keluarganya:
«ثَلَاثَةٌ
لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ،
وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ»
Ada 3
kelompok yang tidak akan masuk Jannah dan Alloh tidak akan melihat kepada
mereka pada hari Qiyamah: orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita
yang menyerupai lelaki, dan dayyuts (lelaki yang membiarkan istrinya tabarruj).
(HSR. An-Nasa’i no. 2562)
Nabi ﷺ juga menjelaskan betapa
besarnya rasa cemburu yang harus dimiliki oleh seorang Mu’min sejati:
«أَتَعْجَبُونَ
مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ، لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللَّهُ أَغْيَرُ مِنِّي»
Apakah
kalian kagum dengan rasa cemburu Sa’ad? Demi Alloh, aku sungguh lebih cemburu
daripadanya, dan Alloh lebih cemburu daripadaku. (HR. Al-Bukhori no. 6846
dan Muslim no. 1499)
Bagaimana
mungkin seorang suami yang mengaku mencintai istrinya tega menyerahkan
keindahan tubuh istrinya untuk dinikmati oleh mata-mata fasik di jagat digital?
Hilangnya rasa cemburu ini adalah tanda mati rasa spiritual dan kebangkrutan
moral akibat racun khomr media sosial.
2.3
Runtuhnya Kehormatan Muslim dan Muslimah
Wahai
pembaca yang dihormati, Alloh ﷻ memuliakan manusia dengan memberikan harga diri dan kehormatan
yang wajib dijaga. Namun, apa yang terjadi ketika seseorang telah terperangkap
dalam sistem siaran langsung atau konten harian TikTok? Demi mendapatkan hadiah
digital berupa koin, stiker, atau peringkat populer, tidak sedikit pengguna
yang rela melakukan hal-hal yang sangat merendahkan martabat kemanusiaan mereka
sendiri.
Lihatlah
fenomena mandi lumpur yang sempat viral, berteriak-teriak seperti orang gila di
hadapan kamera, meremas-remas makanan, hingga melakukan gerakan-gerakan
menghina diri sendiri hanya demi belas kasihan penonton yang memberikan hadiah
virtual. Seorang Muslimah yang tadinya terhormat, rela melepas rasa malunya
demi memenuhi permintaan penonton siaran langsung yang berjanji memberikan
hadiah jika ia melakukan gerakan tertentu. Ini adalah perbudakan modern di mana
manusia mengorbankan kehormatannya demi serpihan harta duniawi yang sangat
hina.
Alloh ﷻ
telah menegaskan kemuliaan yang diberikan-Nya kepada anak cucu Adam, yang tidak
boleh diinjak-injak hanya demi kepuasan hawa nafsu:
﴿وَلَقَدْ
كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ
الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا﴾
Dan
sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami pengkut mereka
di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan
Kami utamakan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan keutamaan
yang sempurna. (QS. Al-Isro’: 70)
Nabi ﷺ melarang keras seorang hamba
merendahkan dan menghinakan dirinya sendiri di hadapan manusia:
«لاَ
يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ»
Tidak
sepatutnya bagi seorang Mu’min untuk menghinakan dirinya sendiri. (HSR.
At-Tirmidzi no. 2254)
Nabi ﷺ juga menegaskan kesucian
kehormatan seorang Muslim yang tidak boleh dilanggar:
«كُلُّ
الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ»
Setiap
Muslim atas Muslim lainnya adalah harom darahnya, hartanya, dan kehormatannya. (HR.
Muslim no. 2564)
Ketika
kehormatan seorang Muslim dijual dengan harga murah hanya untuk hiburan konyol
di internet, maka hilanglah kewibawaan Umat Islam. Mereka tidak lagi dipandang
sebagai pemakmur bumi yang taat, melainkan sebagai lelucon yang mentertawakan
kebodohannya sendiri di hadapan bangsa-bangsa lain.
Bab 3: Fitnah Syahwat dan Syubhat
di Setiap Usapan Layar
3.1
Pintu Masuk Zina Mata dan Pengrusak Kesucian Hati
Wahai
pemuda dan pemudi Muslim, sadarkah Anda bahwa setiap kali jemari Anda mengusap
layar TikTok, Anda sedang membuka pintu fitnah syahwat yang sangat dasyat?
Algoritma aplikasi ini dirancang untuk menyajikan konten-konten yang memancing
pandangan mata. Dari satu tayangan yang nampak biasa, usapan berikutnya
langsung menyuguhkan wanita dengan pakaian minim, tarian erotis, atau
adegan-adegan yang membangkitkan birahi. Pandangan mata adalah panah beracun
dari panah-panah syaithon yang langsung menembus dan merusak kesucian hati.
Coba
renungkan kasus seorang pemuda yang sedang berusaha menjaga pandangannya di
dunia nyata. Ia menundukkan pandangan ketika berjalan di pasar atau di kampus.
Namun ketika ia sendirian di dalam kamarnya pada malam hari, ia membuka aplikasi
TikTok. Hanya dalam hitungan detik, ratusan gambar dan video wanita penelanjang
aurot melintasi matanya. Pandangan yang harom ini diulang berpuluh-puluh kali.
Akibatnya, kebeningan hatinya padam, hafalannya hilang, Sholatnya menjadi
hampa, dan timbul hasrat untuk melakukan perbuatan maksiat yang lebih jauh
yaitu zina.
Alloh ﷻ
telah memerintahkan para hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan
demi menjaga kesucian hati mereka:
﴿قُل
لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَٰلِك أَزْكَىٰ
لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
Katakanlah
kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sungguh
Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (QS. An-Nur: 30)
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa mata
memiliki porsi zinanya sendiri yang menjadi pembuka bagi zina anggota tubuh
lainnya:
«فَالْعَيْنَانِ
زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ
الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ
يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ»
Maka zina
kedua mata adalah memandang, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan
adalah berbicara, zina tangan adalah memegang, zina kaki adalah melangkah, dan
hati berhasrat serta berharap, lalu kemaluan membenarkan hal itu atau
mendustakannya. (HR. Muslim no. 2657)
Nabi ﷺ juga mengingatkan bahaya
pandangan pertama yang dituruti oleh pandangan-pandangan berikutnya:
«يَا
عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ
لَكَ الْآخِرَةُ»
Wahai ‘Ali,
janganlah engkau mengikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya,
karena bagi mu pandangan pertama dan bukan bagimu pandangan yang kedua. (HHR. Abu Dawud no. 2149 dan
At-Tirmidzi no. 2777)
Zina mata
yang terjadi secara terus menerus melalui usapan layar kaca akan mengeraskan
hati dan merusak kenikmatan beribadah. Hati yang telah tercemar oleh
pemandangan harom tidak akan mampu merasakan kelezatan Al-Qur’an dan kekhusyu’an
Sholat.
3.2
Penyebaran Bid’ah dan Penyimpangan Pemikiran
Wahai
penuntut ilmu dan pencari kebenaran, fitnah TikTok tidak hanya terbatas pada
masalah syahwat dan aurot, tetapi juga menyerang landasan Aqidah dan pemikiran
Umat Islam. Durasi video yang pendek membuat pembahasan agama yang rumit
dipotong-potong secara tidak bertanggung jawab. Akibatnya, timbul
penceramah-penceramah instan yang menyebarkan amalan bid’ah, Hadits-Hadits dho’if
dan palsu, serta fatwa-fatwa aneh yang menyelisih pemahaman para Shohabat dan
Salafus Sholih.
Perhatikanlah
betapa cepatnya sebuah amalan ibadah tanpa dalil shohih menjadi viral di
aplikasi ini. Seseorang membuat konten tentang tata cara Sholat khusus atau dzikir
dengan bilangan tertentu yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi ﷺ, lalu diberi judul yang
menarik emosi penonton. Dalam beberapa hari, jutaan orang menirunya tanpa
pernah menanyakan keshohihan dalilnya. Lebih parah lagi, pemikiran-pemikiran
penyimpangan seperti liberalisme, pluralisme agama, hingga paham Khowarij yang
mudah mengkafirkan sesama Muslim diproduksi dalam potongan video pendek yang
persuasif, memikat para pemuda yang awam akan ilmu Syari’at.
Alloh ﷻ
memerintahkan kita untuk mengikuti jalan yang lurus dan melarang mengikuti
jalan-jalan penyimpangan yang bercabang-cabang:
﴿وَأَنَّ
هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
Dan bahwa
inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu memencerai-beraikan kamu dari
jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS.
Al-An’am: 153)
Nabi ﷺ memberikan ancaman yang
sangat tegas terhadap setiap amalan ibadah yang diada-adakan dalam agama tanpa
petunjuk Syari’at:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ»
Siapa yang
mengada-adakan dalam urusan agama kami ini apa yang bukan darinya, maka ia
tertolak. (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Nabi ﷺ juga mengingatkan tentang
munculnya para dai yang mengajak ke pintu-pintu Naar di akhir zaman:
«دُعَاةٌ
عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا»
Para
penyeru di pintu-pintu Jahannam, siapa yang memenuhi ajakan mereka maka mereka
akan melemparkannya ke dalamnya. (HR. Al-Bukhori no. 7084 dan Muslim no.
1847)
Mengambil
ilmu agama dari potongan video pendek TikTok tanpa memverifikasi keshohihan
sumbernya adalah tindakan yang sangat berbahaya bagi keselamatan Aqidah.
Syubhat yang terserap ke dalam pikiran akan sangat sulit dikeluarkan dan bisa
merusak keimanan.
3.3
Berbohong demi Ketenaran dan Pembodohan Massal
Wahai
pembaca yang bijak, kejujuran adalah pilar utama akhlaq seorang Muslim. Namun
di panggung pementasan digital TikTok, kebohongan justru dikemas dan dijual
sebagai komoditas hiburan yang sangat laris. Demi mendapatkan perhatian
penonton, jumlah tayangan, dan monetisasi, para pembuat konten rela merancang
cerita palsu, aksi pamer kebaikan rekayasa, drama perselisihan keluarga buatan,
hingga penyebaran berita hoaks yang menyesatkan masyarakat luas.
Mari kita
lihat sebuah kasus rekayasa yang sering terjadi. Seorang pengguna TikTok
berpura-pura memberikan bantuan uang dalam jumlah besar kepada orang miskin di
jalanan, merekam wajah orang miskin tersebut dengan tangisan haru. Namun
setelah kamera dimatikan, uang tersebut diambil kembali oleh sang pembuat
konten. Ada pula yang membuat drama perceraian atau perselingkuhan palsu dengan
pasangannya hanya untuk memancing emosi penonton. Pembodohan massal ini merusak
daya kritis masyarakat dan membiasakan lidah serta tindakan manusia untuk akrab
dengan kebohongan.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa kedustaan adalah ciri dari orang-orang yang tidak beriman
kepada ayat-ayat-Nya:
﴿إِنَّمَا
يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَٰئِك هُمُ
الْكَاذِبُونَ﴾
Sungguh
yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada
ayat-ayat Alloh, dan mereka itulah orang-orang pendusta. (QS. An-Nahl: 105)
Nabi ﷺ memperingatkan dampak buruk
dari kedustaan yang menyeret pelakunya ke dalam kejahatan dan Naar:
«وَإِنَّ
الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ
الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا»
Dan sungguh
kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, dan kejahatan itu menuntun kepada
Naar. Dan sungguh seseorang senantiasa berdusta hingga dicatat di sisi Alloh
sebagai pendusta. (HR. Al-Bukhori no. 6094 dan Muslim no. 2607)
Nabi ﷺ juga mengecam keras orang
yang berdusta hanya untuk membuat orang lain tertawa atau terhibur:
«وَيْلٌ
لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ»
Celakalah
bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa,
celakalah baginya, celakalah baginya. (HHR. Abu Dawud no. 4990 dan
At-Tirmidzi no. 2315)
Ketika
kebohongan telah dianggap biasa dan menjadi sarana mencari nafkah di media sosial,
maka hilanglah keberkahan hidup. Masyarakat yang dibesarkan dalam budaya
konsumsi kebohongan digital akan menjadi masyarakat yang rapuh, mudah diadu
domba, dan kehilangan kompas kebenaran.
Bab 4: Dampak Buruk bagi Generasi
Muda dan Rumah Tangga
4.1
Hancurnya Akhlaq Remaja Muslim
Wahai para
orang tua, perhatikanlah buah hati Anda yang sedang tumbuh dewasa. Anak-anak
yang dahulu polos, santun, dan taat kepada orang tua, kini berubah menjadi
pribadi yang membangkang, pemarah, dan berbahasa kasar setelah kecanduan
aplikasi TikTok. Mereka menirukan gaya bicara penuh caci maki dari para tokoh
populer internet, mengadopsi tatanan rambut dan pakaian yang menyelisih Syari’at,
serta kehilangan rasa hormat kepada guru dan orang tua.
Kasus ini terjadi
di banyak keluarga hari ini. Ketika orang tua meminta tolong kepada anaknya
yang sedang memegang telepon genggam untuk membantu pekerjaan rumah atau
berangkat Sholat, sang anak justru membentak orang tuanya dengan kata-kata
kasar. Jika telepon genggamnya diambil, sang anak akan mengamuk, melempar
barang, bahkan mengancam orang tuanya. Otak anak-anak ini telah terbiasa
menerima rangsangan kepuasan instan dari video pendek, sehingga mereka kehilangan
kesabaran, daya konsentrasi belajar menurun drastis, dan akhlaq mulia mereka
hancur berkeping-keping.
Alloh ﷻ
memerintahkan para kepala keluarga untuk menjaga diri dan keluarganya dari api
Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ﴾
Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Naar yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. At-Tahrim: 6)
Nabi ﷺ membebankan tanggung jawab
pengasuhan dan pembinaan akhlaq anak sepenuhnya kepada para orang tua:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
kepemimpinannya. (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)
Nabi ﷺ juga memperingatkan ancaman
durhaka kepada kedua orang tua sebagai salah satu dosa terbesar:
«أَلاَ
أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الكَبَائِرِ؟» ثَلاَثًا، قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ،
قَالَ: «الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الوَالِدَيْنِ
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian tentang dosa yang paling besar?” tiga kali. Kami
menjawab: “Tentu wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Menyutukan Alloh dan
durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Al-Bukhori no. 2654 dan Muslim no. 87)
Membiarkan
anak-anak terjerat candu khomr digital tanpa pengawasan adalah bentuk pembiaran
yang akan dituntut di hadapan Alloh ﷻ pada hari Qiyamah. Generasi
muda yang hancur akhlaqnya akibat media sosial adalah ancaman besar bagi masa
depan Umat Islam.
4.2
Keretakan Hubungan Suami Istri dan Putusnya Silaturrohim
Wahai
pasangan suami istri yang mendambakan rumah tangga sakinah, mawaddah, wa
rohmah, tahukah Anda apa pemutus keharmonisan dalam rumah tangga Anda di
zaman modern ini? Pemutus itu seringkali berada di atas kasur Anda sendiri,
yaitu dua layar telepon genggam yang menyala dalam kegelapan malam. Suami sibuk
mengusap videonya sendiri, istri sibuk menonton video orang lain. Tidak ada
lagi dialog hangat sebelum tidur, tidak ada lagi senyuman kasih sayang, dan
tidak ada lagi saling mendengarkan keluh kesah pasangan.
Betapa
banyak perceraian yang berawal dari aplikasi ini. Suami mulai membandingkan
fisiknya sang istri dengan para wanita berdandan tebal yang muncul di layar
TikTok. Istri mulai merasa tidak puas dengan nafkah suami setelah melihat
konten pamer kekayaan dan gaya hidup mewah pasangan lain di internet. Timbul
rasa curiga, perselingkuhan lewat pesan pribadi, hingga berujung pada
pertengkaran hebat dan perceraian. Tidak hanya itu, hubungan silaturrohim
dengan kerabat dan orang tua pun menjadi renggang karena semua orang sibuk
dengan dunia virtualnya masing-masing meskipun berada di satu ruangan yang
sama.
Alloh ﷻ
menetapkan bahwa tujuan pernikahan adalah untuk menciptakan ketenangan dan rasa
kasih sayang di antara suami istri:
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا
وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِك لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar-Rum: 21)
Nabi ﷺ memberikan ancaman keras
terhadap perbuatan memutuskan hubungan silaturrohim antar kerabat dan keluarga:
«لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ»
Tidak akan
masuk Jannah orang yang memutuskan silaturrohim. (HR. Al-Bukhori no. 5984
dan Muslim no. 2556)
Nabi ﷺ juga menekankan pentingnya
bersikap baik dan perhatian terhadap istri di dalam rumah tangga:
«خَيْرُكُمْ
خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي»
Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang
paling baik di antara kalian kepada keluargaku. (HSR. At-Tirmidzi no. 3895
dan Ibnu Majah no. 1977)
Khomr
digital telah berhasil menghancurkan kehangatan rumah tangga Muslim dan
meretakkan silaturrohim. Rumah yang seharunya menjadi tempat kedamaian berubah
menjadi tempat perasingan dingin karena masing-masing penghuninya terbius oleh
kecanduan layar kaca.
4.3
Lalai dari Sholat dan Dzikir Kepada Alloh ﷻ
Wahai
pembaca yang merindukan ridho Alloh ﷻ, Sholat adalah tiang agama
dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari Qiyamah. Namun perhatikanlah apa
yang dilakukan khomr digital ini terhadap Sholat umat manusia. Berapa kali Anda
menunda Sholat wajib hanya karena ingin menyelesaikan satu video lagi? Lalu
tanpa terasa video tersebut tersambung ke video berikutnya, hingga waktu Sholat
hampir habis. Ketika Sholat akhirnya dilaksanakan, Sholat itu dilakukan dengan
terburu-buru seperti patukan ayam, tanpa rasa khusyu’ dan tanpa dzikir
sesudahnya.
Mari kita
cermati keadaan seorang yang sedang terbius TikTok ketika mendengarkan adzan.
Hatinya merasa berat untuk menghentikan usapan jemarinya. Musik dan bayangan
video yang baru saja ia lihat terus berputar di dalam benaknya bahkan saat ia
berdiri di hadapan Alloh ﷻ dalam Sholat. Ini adalah bentuk kelalaian yang amat berbahaya.
Sholat yang seharusnya menjadi pencegah perbuatan keji dan munkar, justru
dikerjakan dalam keadaan hati yang melayang lalai terikat pada hiburan duniawi.
Alloh ﷻ
memberikan ancaman Wail bagi orang-orang yang Sholat namun mereka lalai dari
hakikat dan ketepatan waktu Sholatnya:
﴿فَوَيْلٌ
لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴾
Maka
kecelakaanlah bagi orang-orang yang Sholat, yaitu orang-orang yang lalai dari
Sholatnya. (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Alloh ﷻ juga
melarang keras hamba-Nya dilalaikan oleh perhiasan dan permainan dunia dari
mengingat Alloh ﷻ:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن
ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِك فَأُولَٰئِك هُمُ الْخَاسِرُونَ﴾
Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Alloh. Siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang rugi. (QS. Al-Munafiqun: 9)
Nabi ﷺ menggambarkan Sholatnya orang
munafiq yang menunda-nunda waktu hingga Sholat dikerjakan secara tergesa-gesa:
«تِلْكَ
صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ
الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
Itulah
Sholatnya orang munafiq, ia duduk mengamati matahari hingga ketika matahari
berada di antara 2 tanduk syaithon, ia berdiri lalu mematuk 4 rokaat (Sholat
dengan sangat cepat), ia tidak mengingat Alloh di dalamnya melainkan sedikit
sekali. (HR. Muslim no. 622)
Kehilangan
kekhusyu’an dan kelalaian dalam Sholat akibat terbius tayangan media sosial
adalah bukti betapa beracunnya khomr digital ini. Ia mencabut roh ibadah dan
menyisakan gerakan fisik kosong yang tidak memberikan dampak perbaikan pada
akhlaq pelakunya.
Bab 5: Terapi Syar’i Membebaskan
Diri dari Jerat khomr Digital
5.1
Taubat Nasuha dan Mencegah Pintu Fitnah
Wahai
saudaraku yang ingin menyelamatkan jiwanya, setelah kita memahami betapa
dahsyatnya kerusakan yang ditimbulkan oleh khomr digital ini pada akal dan
moral, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain mengambil langkah tegas
untuk membebaskan diri. Langkah pertama dan paling utama adalah bertaubat
kepada Alloh ﷻ
dengan Taubat Nasuha, yaitu menyesali seluruh waktu dan pandangan harom yang
telah terbuang, menghentikan penggunaan aplikasi perusak tersebut secara
total, dan bertekad kuat untuk tidak kembali lagi kepadanya.
Langkah
riil yang harus diambil adalah menghapus aplikasi TikTok dari telepon
genggam Anda sekarang juga tanpa ada keraguan. Jangan pernah goda diri Anda
dengan alasan “saya hanya akan melihat hal-hal yang bermanfaat” atau “saya
akan menggunakannya untuk da’wah”. Mengapa demikian? Karena sistem
algoritma aplikasi ini dirancang untuk menyeret Anda kembali ke dalam
lumpur fitnah. Mencegah pintu fitnah sebelum terjadi adalah kaidah Syari’at
yang sangat mendasar demi menyelamatkan keimanan.
Alloh ﷻ
menyeru hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertaubat dengan taubat yang murni
dan sungguh-sungguh:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ
أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ﴾
Wahai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Robbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan
memasukkanmu ke dalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (QS.
At-Tahrim: 8)
Nabi ﷺ memberikan kabar gembira
bahwa orang yang bertaubat dari dosanya akan dibersihkan seolah-olah ia tidak
pernah berbuat dosa:
«التَّائِبُ
مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ»
Orang yang
bertaubat dari dosa adalah seperti orang yang tidak ada dosa baginya. (HSR.
Ibnu Majah no. 4250)
Nabi ﷺ juga mengajarkan agar kita
senantiasa berdoa memohon perlindungan dari fitnah-fitnah yang menyesatkan:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَفِتْنَةِ القَبْرِ
وَعَذَابِ القَبْرِ، وَشَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى وَشَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ»
Ya Alloh, sungguh
aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Naar dan adzab Naar, dari fitnah kubur dan
adzab kubur, serta dari keburukan fitnah kekayaan dan keburukan fitnah
kemiskinan. (HR. Al-Bukhori no. 6377 dan Muslim no. 589)
Menghapus
aplikasi pemabuk digital ini adalah bukti kejujuran taubat Anda di hadapan
Alloh ﷻ.
Jangan biarkan pintu maksiat tetap terbuka di genggaman tangan Anda sementara
Anda berharap bisa meraih kebersihan jiwa.
5.2
Mengembalikan Waktu untuk Amalan Penjemput Jannah
Wahai
pencari keridhoan Alloh ﷻ, menghapus aplikasi perusak hanyalah langkah awal penataan
kembali kehidupan. Ruang kosong dan waktu luang yang timbul setelah Anda
meninggalkan candu digital tersebut harus segera diisi dengan amalan-amalan
sholih yang mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ. Jika jiwa tidak disibukkan
dengan kebenaran, maka ia pasti akan disibukkan dengan kebathilan.
Kembalikanlah
waktu-waktu utama Anda untuk bersahabat kembali dengan Al-Qur’an. Jadwalkan
waktu membaca Al-Qur’an secara rutin setiap hari, ikuti majelis-majelis ilmu
Syari’at untuk memperdalam pemahaman agama, perbanyak Sholat-Sholat
sunnah, dan sibukkan lidah dengan berdzikir kepada Alloh ﷻ.
Rasakanlah perbedaan ketenangan jiwa saat Anda membaca 1 juz Al-Qur’an
dibandingkan saat Anda mengusap layar telepon selama 1 jam. Ketenangan sejati
hanya ada pada mengingat Alloh ﷻ, bukan pada hiburan kosong
yang memabukkan.
Alloh ﷻ
menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Alloh-lah hati manusia dapat menemukan
kedamaian dan ketenteraman yang sejati:
﴿الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ﴾
Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ro’d: 28)
Alloh ﷻ juga
memerintahkan agar apabila kita telah selesai dari suatu urusan, kita segera
bersungguh-sungguh mengerjakan urusan ibadah lainnya:
﴿فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانصَبْ وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَب﴾
Maka
apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras
(untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Robbmu lah engkau berharap. (QS.
Al-Insyiroh: 7-8)
Nabi ﷺ mengabarkan tanda kebaikan
keislaman seseorang adalah ketika ia sanggup meninggalkan hal-hal yang tidak
berguna bagi kehidupan dunia dan Akhirohnya:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ»
Di antara
kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya. (HSR.
At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976)
Mengalihkan
perhatian dari hiburan digital menuju amalan penjemput Jannah adalah investasi
terbaik yang akan mendatangkan kebahagiaan hakiki di dunia dan keselamatan di
Akhiroh.
5.3
Menjaga Diri dan Keluarga dari Ancaman Naar
Wahai para
orang tua dan kepala rumah tangga, keselamatan Anda dan keluarga Anda berada di
tangan Anda. Setelah Anda membersihkan diri sendiri dari khomr digital,
cegahlah anak-anak dan istri Anda dari bahaya yang sama. Buatlah aturan yang
tegas di dalam rumah tangga mengenai penggunaan teknologi. Jangan pernah
membiarkan anak-anak memiliki telepon pintar tanpa pengawasan penuh, batasi waktu
penggunaan internet, dan sterilkan kamar-kamar tidur dari perangkat digital
pada malam hari.
Gantikanlah
hiburan digital yang beracun tersebut dengan interaksi nyata yang penuh kasih
sayang di dalam rumah. Ciptakan suasana rumah tangga yang hidup dengan da’wah,
pengajaran Al-Qur’an, Sholat berjama’ah, dan makan bersama sambil berbincang
hangat. Luangkan waktu untuk mengajak keluarga berlibur menyaksikan keindahan
ciptaan Alloh ﷻ
di alam terbuka. Bentengi mereka dengan ilmu keagamaan yang kokoh agar mereka
memiliki daya tahan dan rasa malu ketika berhadapan dengan fitnah dunia luar.
Alloh ﷻ
mengingatkan pentingnya rasa takut jika kita meninggalkan generasi yang lemah
di belakang kita:
﴿وَلْيَخْشَ
الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا
اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا﴾
Dan
hendaklah takut (kepada Alloh) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan
di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (keselamatan)
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah
mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS. An-Nisa’: 9)
Nabi ﷺ memberikan peringatan yang
sangat keras bagi pemimpin rumah tangga yang menipu atau membiarkan keluarganya
hancur dalam maksiat:
«مَا
مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ
لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»
Tidak ada
seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Alloh untuk memimpin satu
kepemimpinan, lalu ia mati pada hari matinya dalam keadaan menipu
kepemimpinannya, melainkan Alloh haromkan Jannah atasnya. (HR. Al-Bukhori
no. 7151 dan lafazh Muslim no. 142)
Ketegasan
Anda dalam membatasi akses media sosial perusak di rumah adalah bentuk kasih
sayang yang tertinggi untuk menyelamatkan anak istri Anda dari siksaan api
Naar.
Penutup
Wahai
saudaraku tercinta, kita telah mengarungi pembahasan yang panjang mengenai
bagaimana aplikasi TikTok bekerja persis seperti khomr di zaman modern ini. Ia
melumpuhkan akal sehat, merusak moral dan rasa malu, memicu zina mata,
menyebarkan kebohongan dan bid’ah, serta meretakkan hubungan keluarga dan
melalaikan manusia dari Sholat kepada Alloh ﷻ. Semua bukti-bukti nyata ini
telah tersaji jelas di depan mata kita setiap hari.
Kini,
keputusan berada di tangan Anda. Apakah Anda akan tetap memilih untuk duduk
bergeming sambil terus meminum khomr digital ini hingga sakaratul maut menjemput
dalam keadaan lalai? Atau Anda akan bangkit detik ini juga untuk mematahkan
botol-botol pemabuk digital tersebut, menghapus aplikasinya dari kehidupan
Anda, dan kembali berjalan di atas jalan lurus yang diridhoi Alloh ﷻ?
Ingatlah
bahwa kehidupan dunia ini hanyalah persinggahan yang sangat singkat. Keindahan
konten, pujian manusia, hadiah virtual, dan hiburan 15 detik di layar kaca
tidak akan ada harganya sama sekali saat tubuh kita dibaringkan di dalam liang
kubur yang gelap gulita. Hanya keimanan, kesucian moral, dan amalan sholih yang
akan menjadi kawan setia kita di alam barzah dan di hari perhitungan kelak.
Semoga
Alloh ﷻ
memberikan kekuatan taufiq kepada kita semua untuk membersihkan diri dan
keluarga kita dari segala bentuk fitnah khomr modern ini, menetapkan hati kita
di atas kebenaran, serta mengumpulkan kita semua di dalam Jannah-Nya yang penuh
ni’mat. Subhanalloh, walhamdulillah, wa laa ilaaha illalloh, wallohu Akbar.
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
