Cari Ebook

[PDF] 100 Hadits Untuk Dihafal - Juz 3 of 3 - Tim Az-Zulfa KSA

 


Muqoddimah

﷽

Segala puji hanya milik Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada nabi dan rosul paling mulia. Amma ba’du:

Ini adalah buku ketiga dari silsilah “100 Hadits untuk Dihafal”. Kami menyajikannya kembali setelah melihat antusiasme yang sangat besar dalam menghafal Hadits-Hadits Nabi ﷺ dari kalangan wanita maupun pria, serta dalam rangka memenuhi keinginan banyak saudara-saudara mulia yang sangat bersemangat untuk terus menghafal Hadits-Hadits Nabi ﷺ sesuai metode praktis dan mudah yang telah kami tampilkan pada buku pertama.

Kami senantiasa menegaskan bahwa metode ini hanyalah langkah awal yang sederhana untuk memulai ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menghafal Sunnah Nabi ﷺ yang suci.

Disusun oleh:

Lembaga Da’wah, Irsyad, dan Penyuluhan Ekspatriat di Az-Zulfa

NB:

ð Judul berasal dari pentarjamah

ð Daftar isi diletakkan di akhir buku

ð Mengacu cetakan ke-5 1442 H.

ð Kitab asli bisa diunduh resmi di sini.

[1] Ancaman Memanjangkan Pakaian di Bawah Mata Kaki karena Sombong

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»

“Alloh tidak melihat (dengan pandangan rohmat) pada hari Qiyamah kepada orang yang menjulurkan sarungnya atau celananya karena sombong.” (HR. Al-Bukhori no. 5788 dan Muslim no. 2087)

[2] Keutamaan Berinfak di Jalan Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَالَ اللَّهُ: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ»

“Alloh berfirman: ‘Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak (kemudahan rizqi) kepadamu.’” (HR. Al-Bukhori no. 5352 dan Muslim no. 993)

[3] Manusia Lahir di Atas Fithroh Islam

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Tidak ada seorang anak pun yang lahir melainkan ia dilahirkan di atas fithroh (Islam). Namun kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 4775 dan Muslim no. 2658)

[4] Larangan Membangun Tempat Ibadah di Atas Kuburan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَاتَلَ اللَّهُ الْيَهُودَ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»

“Semoga Alloh membinasakan kaum Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai Masjid (tempat ibadah).” (HR. Al-Bukhori no. 437 dan Muslim no. 530)

[5] Kedekatan Alloh kepada Hamba-Nya yang Berdzikir dan Bertaqwa

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»

“Alloh berfirman: ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku menyertainya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah keramaian, Aku mengingatnya di tengah keramaian yang jauh lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadanya sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku mendatangi-Nya dengan berlari kecil.’” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)

[6] Tujuh Golongan yang Mendapat Naungan Alloh pada Hari Qiyamah

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ»

“Ada 7 golongan yang akan dinaungi oleh Alloh di bawah naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Robbnya, lelaki yang hatinya selalu terikat dengan Masjid, dua orang yang saling mencintai karena Alloh berhimpun dan berpisah karena-Nya, lelaki yang diajak berzina oleh wanita berkedudukan lagi jelita lalu ia berkata ‘Sungguh aku takut kepada Alloh’, orang yang bershodaqoh secara tersembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seseorang yang mengingat Alloh dalam kesendirian lalu berlinang kedua matanya.” (HR. Al-Bukhori no. 1423 dan Muslim no. 1031)

[7] Kedermawanan Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَمِينِهِ»

“Tangan Alloh itu sangat penuh (karunia dan pemberian), tidak pernah berkurang oleh infak (pemberian) apa pun, melimpah ruah siang dan malam. Tahukah kalian apa yang telah Dia infakkan sejak menciptakan langit dan bumi? Sungguh, hal itu tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan kanan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 7411)

[8] Menjauhi Tujuh Dosa Besar yang Membinasakan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ»

“Jauhilah oleh kalian 7 dosa besar yang membinasakan!” Para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum bertanya: “Wahai Rosululloh, apa saja dosa-dosa itu?” Beliau bersabda: “Menyekutukan Alloh, sihir, membunuh jiwa yang diharomkan Alloh kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari medan pertempuran (saat Jihad), serta menuduh zina kepada wanita-wanita Mu’minah yang menjaga kehormatan lagi lalai dari perbuatan keji.” (HR. Al-Bukhori no. 6857 dan Muslim no. 89)

[9] Hukuman Berat Bunuh Diri

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ، فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»

“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari atas gunung hingga tewas, maka ia akan senantiasa menjatuhkan dirinya di dalam Jahannam secara kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Siapa yang meneguk racun hingga tewas, maka racunnya akan berada di tangannya sambil ia teguk di dalam Jahannam secara kekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan siapa membunuh dirinya dengan besi tajam, maka besinya itu akan berada di tangannya untuk ditikamkan ke perutnya sendiri di dalam Jahannam secara kekal abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5578 dan Muslim no. 109)

[10] Kedudukan Sifat Malu dalam Keimanan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

“Iman itu memiliki 70 sekian – atau 60 sekian – cabang. Cabang yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaha illalloh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalanan. Dan sifat malu merupakan salah satu cabang dari keimanan.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan Muslim no. 35)

[11] Keutamaan Memudahkan Orang yang Dalam Kesulitan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«كَانَ الرَّجُلُ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ»

“Dahulu ada seorang pedagang yang memberi pinjaman piutang kepada orang-orang. Apabila ia melihat orang yang kesulitan melunasi utang, ia berkata kepada para pelayannya: ‘Jika mendatangi orang yang kesulitan bayar, maafkanlah, mudah-mudahan Alloh mengampuni dosa-dosa kita.’ Maka ketika ia wafat, Alloh pun memaafkan dan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhori no. 3480 dan Muslim no. 1562)

[12] Keutamaan Ibadah Puasa di Sisi Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ... وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ»

“Alloh berfirman: ‘Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali Puasa. Sungguh Puasa itu khusus untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasan pahalanya.’ Sungguh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum di sisi Alloh daripada aroma minyak kasturi.” (HR. Al-Bukhori no. 5927 dan Muslim no. 1151)

[13] Doa Memohon Perlindungan dari Berbagai Keburukan Takdir

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ»

“Bermohonlah perlindungan kalian kepada Alloh dari beratnya ujian musibah, dari tertimpa kesengsaraan hidup, dari buruknya ketetapan takdir, serta dari kegembiraan para musuh atas penderitaan kita.” (HR. Al-Bukhori no. 6616 dan Muslim no. 2707)

[14] Segera Pulang kepada Keluarga Setelah Menuntaskan Urusan Safar

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»

“Safar (perjalanan jauh) itu adalah bagian dari siksaan, sebab ia menghalangi seseorang dari makan, minum, dan tidurnya yang nyenyak. Maka apabila salah seorang dari kalian telah menuntaskan tujuannya dalam perjalanan itu, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Al-Bukhori no. 3001 dan Muslim no. 1927)

[15] Larangan Membenci Silsilah Keturunan Ayah Kandung

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَا تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ»

“Janganlah kalian membenci atau mengingkari silsilah ayah-ayah kalian sendiri! Siapa yang membenci atau mengingkari garis keturunan ayahnya, maka perbuatan itu termasuk bentuk kufur ni’mat.” (HR. Al-Bukhori no. 6768 dan Muslim no. 62)

[16] Keutamaan Membaca Al-Qur’an dengan Suara yang Indah

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ يَجْهَرُ بِهِ»

“Alloh tidak pernah mendengarkan sesuatu secara seksama sebagaimana Dia mendengarkan seorang Nabi yang bersuara merdu melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan membaguskan suaranya serta mengeraskannya.” (HR. Al-Bukhori no. 7544 dan Muslim no. 792)

[17] Kelapangan Hati Nabi ﷺ dalam Menafkahkan Harta

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا لَمَا سَرَّنِي أَنْ لَا تَمُرَّ عَلَيَّ ثَلَاثُ لَيَالٍ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ إِلَّا شَيْءٌ أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ»

“Seandainya aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, tentu tidak akan membahagiakanku jika sampai berlalu tiga malam sementara emas itu masih tersisa padaku walau sedikit, kecuali sekadar yang aku persiapkan untuk melunasi utang.” (HR. Al-Bukhori no. 2389 dan Muslim no. 991)

[18] Keutamaan Bershodaqoh Setiap Hari Saat Matahari Terbit

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَقَابُ قَوْسٍ فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِمَّا تَطْلُعُ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَتَغْرُبُ»

“Sungguh, tempat seukuran busur panah di Jannah itu lebih baik daripada segala sesuatu yang disinari oleh terbit dan tenggelamnya matahari.” (HR. Al-Bukhori no. 2793 dan Muslim no. 1882)

[19] Dosanya Orang yang Mencela Waktu dan Menisbahkan Keturunan kepada Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَشْتِمُنِي ابْنُ آدَمَ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِي، وَيُكَذِّبُنِي وَمَا يَنْبَغِي لَهُ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ: إِنَّ لِي وَلَدًا، وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ: لَيْسَ يُعِيدُنِي كَمَا بَدَأَنِي»

“Alloh berfirman: ‘Anak Adam telah mendustakan-Ku padahal tidak berhak baginya melakukan itu, dan ia telah mencela-Ku padahal tidak berhak baginya melakukan itu. Adapun celaannya kepada-Ku adalah ucapannya: ‘Alloh telah mengambil seorang anak.’ Sementara pendustaannya kepada-Ku adalah ucapannya: ‘Dia tidak akan membangkitkanku kembali sebagaimana Dia menciptakan awal mulanya.’” (HR. Al-Bukhori no. 3193)

[20] Melihat Kedudukan Orang di Bawah dalam Urusan Duniawi

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ أَحَدٌ الجَنَّةَ إِلَّا أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ، لِيَزْدَادَ شُكْرًا، وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلَّا أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ لَوْ أَحْسَنَ، لِيَكُونَ عَلَيْهِ حَسْرَةً»

“Tidak ada seorang pun yang masuk Jannah melainkan diperlihatkan tempat duduknya di Naar seandainya dia berbuat jahat, agar bersyukurnya makin bertambah. Dan tidak ada seorang pun yang masuk Naar melainkan diperlihatkan tempat duduknya di Jannah seandainya dia berbuat baik, agar hal itu menjadi penyesalan baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 6569)

[21] Pahala Niat Baik dalam Mengembalikan Pinjaman Utang

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ»

“Siapa meminjam harta orang lain dengan niat tulus untuk mengembalikannya, niscaya Alloh akan memudahkan pelunasannya. Namun siapa meminjamnya dengan niat untuk merusaknya (tidak mengembalikan), niscaya Alloh akan menghancurkan hidup dan hartanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2387)

[22] Tiga Golongan yang Dimusuhi Alloh pada Hari Qiyamah

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَالَ اللَّهُ: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ»

“Alloh berfirman: ‘Ada 3 golongan yang Aku sendiri menjadi musuh mereka pada hari Qiyamah: seseorang yang memberi sumpah atas nama-Ku lalu berkhianat, seseorang yang menjual orang merdeka lalu memakan uang hasil jualannya, serta seseorang yang mempekerjakan seorang buruh dan sang buruh telah menuntaskan tugasnya namun ia tidak membayarkan upahnya.’” (HR. Al-Bukhori no. 2270)

[23] I’tikaf Nabi ﷺ pada Bulan Romadhon

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا»

“Nabi ﷺ selalu melaksanakan I’tikaf pada setiap bulan Romadhon selama 10 hari. Namun pada tahun beliau diwafatkan, beliau melaksanakan I’tikaf selama 20 hari.” (HR. Al-Bukhori no. 2044)

[24] Keutamaan Membaguskan Wudhu dan Melangkah ke Masjid

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»

“Maukah kalian aku tunjukkan kepada amalan yang dengannya Alloh menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?” Para Shohabat menjawab: “Tentu wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Membaguskan wudhu pada kondisi yang tidak disukai (seperti cuaca dingin), memperbanyak langkah menuju Masjid-Masjid, serta menunggu Sholat berikutnya setelah menunaikan Sholat. Itulah keutamaan ribath (berjaga-jaga di garis depan perjuangan).” (HR. Muslim no. 251)

[25] Pahala Berjalan Menuju Masjid untuk Melaksanakan Sholat Fardhu

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خُطُوَاتُهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً، وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً»

“Siapa bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban yang difardhukan Alloh, maka langkah-langkah kakinya yang satu akan menghapus dosa dan langkah yang satunya lagi akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 666)

[26] Pentingnya Mendapati Kedua Orang Tua pada Usia Lanjut

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ»، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»

“Sungguh hina dan celaka, kemudian sungguh hina dan celaka, kemudian sungguh hina dan celaka!” Ditanyakan kepada beliau: “Siapakah dia wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya berada pada usia lanjut, baik salah satunya atau kedua-duanya, namun keberadaan mereka tidak membuatnya masuk ke dalam Jannah (karena tidak berbakti).” (HR. Muslim no. 2551)

[27] Pintu Taubat Selalu Terbuka Sebelum Matahari Terbit dari Barat

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ»

“Siapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat tempat tenggelamnya, niscaya Alloh menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)

[28] Keutamaan Pengasuh Anak Yatim di Jannah

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ» وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Orang yang menanggung dan mengasuh anak yatim, baik anak yatim dari kerabatnya sendiri maupun orang lain, aku dan dia kedudukannya di Jannah seperti dua jari ini.” Malik memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim no. 2983)

[29] Tempat yang Paling Dicintai dan Dibenci Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا»

“Tempat-tempat yang paling dicintai oleh Alloh adalah Masjid-Masjidnya, sedangkan tempat-tempat yang paling dibenci oleh Alloh adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim no. 671)

[30] Keutamaan Berkumpul Membaca Al-Qur’an di Rumah Alloh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«... وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ...»

“...Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid) membaca Kitabullah Al-Qur’an dan saling mengkajinya di antara mereka, melainkan ketenangan akan turun kepada mereka, rohmat akan melingkupi mereka, para Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut nama mereka di hadapan para Malaikat di sisi-Nya...” (HR. Muslim no. 2699)

[31] Doa Perlindungan dari Empat Perkara

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»

“Apabila salah seorang dari kalian menunaikan bacaan Tashahhud (dalam Sholat), hendaklah ia bermohon perlindungan kepada Alloh dari 4 hal dengan mengucapkan: ‘Ya Alloh, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.’“ (HR. Muslim no. 588)

[32] Larangan Menvonis Kehancuran Masyarakat

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا قَالَ الرَّجُلُ: هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ»

“Apabila ada seseorang berkata: ‘Manusia telah binasa (hancur moralnya)’, maka dialah orang yang paling membinasakan mereka (atau orang yang paling binasa di antara mereka).” (HR. Muslim no. 2623)

[33] Menepati Sumpah yang Lebih Baik dengan Membayar Kaffaroh

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ، وَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ»

“Siapa bersumpah atas suatu perkara, lalu ia melihat perkara lain lebih baik dan mulia dari sumpahnya itu, maka hendaklah ia membayar kaffaroh (denda pembatalan) atas sumpahnya dan menunaikan perkara yang lebih baik tersebut.” (HR. Muslim no. 1650)

[34] Keutamaan Hari Jum’at dan Peristiwa Besar di Dalamnya

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا»

“Sebaik-baik hari di mana matahari terbit padanya adalah hari Jum’at. Pada hari itulah Adam ‘alaihissalam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Jannah, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim no. 854)

[35] Adab Menyambut Undangan Walimah saat Sedang Berpuasa

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ»

“Apabila salah seorang dari kalian diundang (ke acara walimah), hendaklah ia memenuhinya. Jika ia dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia mendoakan (kebaikan untuk tuan rumah). Namun jika ia tidak berpuasa, hendaklah ia menyantap hidangannya.” (HR. Muslim no. 1431)

[36] Manusia yang Paling Dimurkai Alloh karena Suka Berdebat

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ»

“Sungguh orang yang paling dimurkai oleh Alloh di antara para lelaki adalah penentang yang sangat keras perdebatannya (suka bertengkar).” (HR. Al-Bukhori no. 4523 dan Muslim no. 2457)

[37] Doa Rosululloh ﷺ saat Ruku’ dan Sujud

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»

“Nabi ﷺ dalam ruku’ dan sujudnya selalu membaca: ‘Subhanakallohumma Robbana wa bihamdika Allohummaghfir lii’ (Maha Suci Engkau wahai Alloh Robb kami dan dengan memuji-Mu, ya Alloh ampunilah dosa-dosaku).” (HR. Al-Bukhori no. 4293 dan Muslim no. 448)

[38] Keadaan Manusia Saat Dibangkitkan pada Hari Qiyamah

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنُظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ»

“Kalian akan dikumpulkan pada hari Qiyamah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang badan, dan belum dikhitan.” Maka aku bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah para lelaki dan wanita saling melihat satu sama lain?” Beliau menjawab: “Wahai ‘A-isyah, perkara dan kehuru-harian pada hari itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar keinginan mereka untuk saling memandang satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6527 dan Muslim no. 2859)

[39] Kemudahan Pilihan Nabi ﷺ dalam Urusan Mubah

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ...»

“Tidaklah Rosululloh ﷺ diberi pilihan di antara dua perkara melainkan beliau pasti memilih yang paling mudah di antara keduanya, selama perkara itu bukan dosa. Namun jika perkara itu mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya...” (HR. Al-Bukhori no. 3560 dan Muslim no. 6126)

[40] Amalan yang Paling Dicintai Alloh adalah yang Dikerjakan secara Istiqomah

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ»

“Wahai manusia, lakukanlah amal-amal yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Alloh tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 5861 dan Muslim no. 782)

[41] Larangan Tabarruj ke Masjid

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«لَوْ أَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ»

“Seandainya Rosululloh ﷺ menjumpai apa yang dibuat-buat oleh para wanita, niscaya beliau sungguh akan melarang mereka sebagaimana wanita-wanita Bani Isroil dahulu dilarang (ke Masjid).” (HR. Al-Bukhori no. 869 dan Muslim no. 445)

[42] Kesederhanaan Kehidupan Rumah Tangga Nabi ﷺ

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ»

“Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah merasa kenyang dari memakan gandum halus selama tiga malam berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 5414 dan Muslim no. 2970)

[43] Penghapus Dosa melalui Musibah dan Duka yang Tertimpa

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا»

“Tidak ada satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan musibah itu, bahkan hingga duri yang menancap pada anggota tubuhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5640 dan Muslim no. 2573)

[44] Bacaan Ruqyah Mandiri Nabi ﷺ Sebelum Tidur

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ»

“Adalah Rosululloh ﷺ apabila hendak berbaring di tempat tidurnya pada setiap malam, beliau menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniupkan udara padanya, kemudian membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Setelah itu beliau mengusapkan kedua telapak tangannya ke seluruh anggota tubuh yang sanggup dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukannya sebanyak 3 kali.” (HR. Al-Bukhori no. 5018 dan no. 5748)

[45] Kepatuhan Wanita Anshor terhadap Perintah Berhijab

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«يَرْحَمُ اللَّهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلَ، لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ﴾ شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا»

“Semoga Alloh merohmati wanita-wanita kaum Muhajirin generasi awal. Ketika Alloh menurunkan firman-Nya: ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.’ (QS. An-Nuur: 31), mereka langsung merobek kain-kain sarung mereka lalu menjadikannya sebagai kerudung penutup.” (HR. Al-Bukhori no. 4759)

[46] Doa Nabi ﷺ saat Melihat Awan Mendung dan Hujan Turun

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ apabila melihat hujan turun, beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا»

“Ya Alloh, jadikanlah hujan ini sebagai curahan yang membawa kemanfaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 1032)

[47] Mengutamakan Tetangga yang Pintu Rumahnya Paling Dekat

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, sungguh aku memiliki dua tetangga, maka kepada siapakah di antara keduanya aku berikan hadiah?” Beliau menjawab:

«إِلَى أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا»

“Kepada tetangga yang pintu rumahnya paling dekat dari pintu rumahmu.” (HR. Al-Bukhori no. 2259)

[48] Menjawab Salam kepada Ahli Kitab

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْبَلُ الهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا»

“Rosululloh ﷺ biasa menerima hadiah dan memberikan balasan atasnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2585)

[49] Doa Rosululloh ﷺ saat Terjadi Angin Kencang

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Adalah Nabi ﷺ apabila angin bertiup kencang, beliau berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»

“Ya Alloh, sungguh aku memohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya, serta kebaikan dari tujuan ia dihembuskan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, serta keburukan dari tujuan ia dihembuskan.” (HR. Muslim no. 899)

[50] Keutamaan Menjaga Tali Silaturrohim

Dari ‘A-isyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ»

“Tali silaturrohim itu tergantung di Arsy seraya berkata: ‘Siapa yang menyambungku niscaya Alloh menyambungnya, dan siapa yang memutusku niscaya Alloh memutus hubungan darinya.’” (HR. Al-Bukhori no. 5989 dan Muslim no. 2555)

[51] Huru-hara Manusia saat Menghadapkan Diri kepada Alloh

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«﴿يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ حَتَّى يَغِيبَ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى نِصْفِ أُذُنَيْهِ»

“‘Hari ketika manusia berdiri menghadap Robb semesta alam.’ (QS. Al-Muthoffifin: 6), hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri sampai ke pertengahan kedua telinganya.” (HR. Al-Bukhori no. 4938 dan Muslim no. 2862)

[52] Pemisahan Abadi Antara Penghuni Jannah dan Penghuni Naar

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ، جِيءَ بِالْمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ يُذْبَحُ، ثُمَّ يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ لَا مَوْتَ، فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ، وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ»

“Apabila penghuni Jannah telah masuk ke dalam Jannah dan penghuni Naar telah masuk ke dalam Naar, wujud kematian diposisikan di antara Jannah dan Naar lalu disembelih. Kemudian penyeru memanggil: ‘Wahai penghuni Jannah, tidak ada lagi kematian! Wahai penghuni Naar, tidak ada lagi kematian!’ Maka kebahagiaan penghuni Jannah bertambah di atas kebahagiaan mereka, dan kesedihan penghuni Naar pun bertambah di atas kesedihan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 6548 dan Muslim no. 2850)

[53] Kewajiban Bersumpah Hanya atas Nama Alloh

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، وَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ»

“Kalian jangan bersumpah dengan nama bapak kalian. Siapa hendak bersumpah, maka bersumpah dengan nama Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7401 dan Muslim no. 1646)

[54] Pentingnya Menuliskan Wasiat Sebelum Meninggal Dunia

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»

“Tidak ada hak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkannya untuk melewati dua malam melainkan lembaran wasiatnya telah tertulis rapi di sisinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2738 dan Muslim no. 1627)

[55] Menjauhi Dosa saat Azab Menimpa Kaum yang Zholim

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ»

“Apabila Alloh menurunkan azab siksaan kepada suatu kaum, maka siksaan itu akan menimpa seluruh orang yang berada di tengah-tengah mereka, kemudian kelak pada hari Qiyamah mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat dan amalan mereka masing-masing.” (HR. Al-Bukhori no. 7108 dan Muslim no. 2879)

[56] Lima Rukun Islam

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ»

“Islam dibangun di atas 5 perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Alloh dan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat, melaksanakan Haji, serta menjalankan Puasa di bulan Romadhon.” (HR. Al-Bukhori no. 8 dan Muslim no. 16)

[57] Kewajiban Mentaati Pemimpin dalam Hal Kebaikan

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ»

“Mendengar dan taat adalah kewajiban bagi setiap pribadi Muslim dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia benci, selama ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan. Apabila ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan tidak ada ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no. 1839)

[58] Kunci-kunci Perkara Ghoib Hanya Milik Alloh

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَفَاتِيحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ»

“Kunci-kunci perkara ghoib itu ada 5 hal yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh: tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Alloh, tidak ada yang mengetahui apa yang berkurang dalam rahim kecuali Alloh, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan hujan akan turun kecuali Alloh, tidak ada satu jiwa pun yang tahu di bumi mana ia akan mati kecuali Alloh, serta tidak ada yang mengetahui kapan hari Qiyamah akan terjadi kecuali Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7379)

[59] Sikap Seorang Mu’min Menjalani Kehidupan Dunia

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ memegang pundakku seraya bersabda:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara yang sedang melintasi jalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)

[60] Bahaya Safar Sendirian

Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ»

“Seandainya orang-orang mengetahui bahaya di dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang aku ketahui, niscaya tidak akan ada seorang pengendara pun yang berjalan di malam hari sendirian.” (HR. Al-Bukhori no. 2998)

[61] Mengucapkan Salam kepada Setiap Orang

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa ia melewati anak-anak kecil lalu memberi salam kepada mereka, dan Anas berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُهُ»

“Dahulu Nabi ﷺ senantiasa melakukan perbuatan ini (mengucapkan salam kepada anak-anak).” (HR. Al-Bukhori no. 6247 dan Muslim no. 2168)

[62] Doa yang Paling Sering Dibaca oleh Nabi ﷺ

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»

“Doa yang paling sering diucapkan oleh Nabi ﷺ adalah: ‘Allohumma Robbana aatina fid-dunya hasanah wa fil-akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban-naar’ (Ya Alloh Robb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh, serta peliharalah kami dari siksa Naar).” (HR. Al-Bukhori no. 6389 dan Muslim no. 2690)

[63] Keringanan Tidak Berpuasa saat Safar

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«كُنَّا نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ»

“Kami pernah melakukan perjalanan safar bersama Nabi ﷺ, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak berpuasa, dan orang yang tidak berpuasa tidak pula mencela orang yang berpuasa.” (HR. Al-Bukhori no. 1947 dan Muslim no. 1118)

[64] Tiga Manisnya Keimanan dalam Hati Seorang Mu’min

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»

“Ada 3 perkara yang siapa memilikinya, niscaya ia akan merasakan manisnya keimanan: hendaklah Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, hendaklah ia mencintai seseorang tidaklah ia mencintainya melainkan semata-mata karena Alloh, serta hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 16 dan Muslim no. 43)

[65] Kemuliaan Mati Syahid di Jalan Alloh

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا، وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ، يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا، فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ»

“Tidak ada seorang pun yang telah masuk ke dalam Jannah berkeinginan untuk kembali lagi ke dunia walau ia mendapatkan seluruh isi bumi beserta isinya, kecuali orang yang mati Syahid. Ia sangat berharap untuk kembali ke dunia lalu terbunuh di jalan Alloh sebanyak 10 kali karena melihat betapa besarnya kemuliaan (pahala Syahid) yang ia terima.” (HR. Al-Bukhori no. 2817 dan Muslim no. 1877)

[66] Mendoakan yang Bersin Bertahmid

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Ada 2 orang lelaki bersin di dekat Nabi ﷺ, lalu beliau mendoakan kebaikan bagi salah seorang dari keduanya dan tidak mendoakan yang satunya lagi. Lelaki itu pun berkata: ‘Wahai Rosululloh, engkau mendoakan orang ini tetapi tidak mendoakanku.’ Beliau bersabda:

«إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ»

‘Sesungguhnya orang ini memuji Alloh, sedangkan engkau tidak memuji Alloh.’” (HR. Al-Bukhori no. 6225 dan Muslim no. 2991)

[67] Kepenuhan Jahannam dan Keadilan Alloh

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ، حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ، وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ»

“Naar Jahannam senantiasa berkata: ‘Apakah masih ada tambahan?’ Sampai Robb Yang Maha Perkasa meletakkan telapak kaki-Nya padanya, maka Jahannam pun berkata: ‘Cukup, cukup! Demi keperkasaan-Mu!’ Lalu melipatlah sebagian sisinya ke sebagian yang lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6661 dan Muslim no. 2848)

[68] Keamanan Jaminan Perlindungan dari Alloh bagi Orang yang Sholat

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ صَلَّى صَلَاتَنَا، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ»

“Siapa Sholat seperti Sholat kita, menghadap ke arah Qiblat kita, dan memakan sembelihan kita, maka dialah seorang Muslim yang mendapatkan jaminan perlindungan Alloh dan jaminan Rosul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kalian mengkhianati Alloh dalam jaminan perlindungan-Nya!” (HR. Al-Bukhori no. 391)

[69] Kehati-hatian Shohabat terhadap Dosa-dosa Kecil

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَذَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ»

“Sungguh kalian melakukan amalan-amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kalian lebih halus dari sehelai rambut, padahal dahulu kami pada zaman Rosululloh ﷺ menganggapnya sebagai bagian dari dosa-dosa besar yang membinasakan.” (HR. Al-Bukhori no. 6492)

[70] Balasan Kebaikan bagi Orang Kafir di Dunia dan Bagi Mu’min di Akhiroh

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ»

“Sungguh orang kafir apabila melakukan suatu kebaikan, ia akan diberi imbalan makanan/kemudahan di dunia. Sedangkan orang Mu’min, sungguh Alloh menyimpan kebaikan-kebaikannya untuk dibalas di Akhiroh kelak dan memberikan rizqi di dunia atas ketaatan yang dilakukannya.” (HR. Muslim no. 2808)

[71] Kewajiban Sabar atas Kebijakan Pemimpin yang Tidak Disukai

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»

“Siapa melihat sesuatu yang tidak disukai dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar. Karena siapa memisahkan diri dari ketaatan kepada penguasa walau sejengkal lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliyyah.” (HR. Al-Bukhori no. 7053 dan Muslim no. 1849)

[72] Dosa Menggambar Bernyawa

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ»

“Siapa menggambar/membentuk gambar bernyawa di dunia, ia akan dibebani tugas pada hari Qiyamah untuk meniupkan roh ke dalamnya, padahal ia sekali-kali tidak akan mampu meniupkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5963 dan Muslim no. 2110)

[73] Bahaya Doa Orang yang Terzholimi

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu’adz (18 H) rodhiyallahu ‘anhu ke negeri Yaman, lalu beliau bersabda kepadanya:

«وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Dan takutlah engkau terhadap doa orang yang terzholimi! Karena sungguh tidak ada satu pun penghalang antara doanya dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496 dan Muslim no. 19)

[74] Anjuran Mendoakan Kebaikan saat Menjenguk Orang Sakit

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ masuk menjenguk seorang Arob Badui yang sedang sakit, lalu beliau bersabda kepadanya:

«لَا بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»

“Tidak mengapa, semoga penyakitmu ini menjadi pembersih dosa-dosa, In Syaa Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5656)

[75] Larangan Menyerupai Lawan Jenis bagi Pria dan Wanita

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»

“Rosululloh ﷺ melaknat para lelaki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Al-Bukhori no. 5885)

[76] Memberi Makan dan Menyebarkan Salam

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ: “Islam manakah yang paling baik?” Beliau menjawab:

«تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»

“Engkau memberikan makanan, dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. Al-Bukhori no. 12 dan Muslim no. 39)

[77] Luas dan Harumnya Telaga Al-Kautsar

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا»

“Telagaku ukurannya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih harum daripada minyak kasturi, dan gayung-gayungnya sebanyak bintang-bintang di langit. Siapa meminum darinya, niscaya ia tidak akan merasa haus selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6579 dan Muslim no. 2292)

[78] Ancaman Membunuh Kafir Mu’ahad yang Berada dalam Perjanjian

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»

“Siapa membunuh seorang kafir Mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian damai), ia tidak akan mencium aroma Jannah. Padahal sungguh aroma Jannah itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 3166)

[79] Hakikat Keberuntungan dan Kecukupan Rizqi

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»

“Sungguh telah beruntung orang yang telah memeluk agama Islam, diberi rizqi yang cukup untuk kebutuhannya, serta dianugerahi rasa qona’ah (merasa cukup) oleh Alloh atas apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

[80] Sholat Tahiyyatul Masjid bagi Orang yang Baru Masuk

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا»

“Apabila salah seorang dari kalian tiba di Masjid sementara Imam sedang berkhutboh, hendaklah ia Sholat ringan 2 rokaat.” (HR. Al-Bukhori no. 1170 dan Muslim no. 875)

[81] Larangan Membangun dan Memoles Kuburan

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ»

“Rosululloh ﷺ melarang mengapuri (mencat/memoles) kuburan, duduk di atasnya, serta mendirikan bangunan di atasnya.” (HR. Muslim no. 970)

[82] Larangan Mendoakan Keburukan atas Diri, Anak, dan Harta

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ»

“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan atas anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan atas harta-harta kalian! Jangan sampai doa keburukan itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya permintaan di sisi Alloh sehingga Dia mengabulkan doa buruk tersebut.” (HR. Muslim no. 3014)

[83] Larangan Meninggal Dunia Kecuali Berprasangka Baik kepada Alloh

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda 3 hari sebelum wafatnya:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan ia dalam keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim no. 2877)

[84] Usaha Syaithon Memecah Belah Keharmonisan Muslimin

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sungguh Syaithon telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat di Jazirah Arob, namun ia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba dan memicu permusuhan di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)

[85] Anjuran Memberikan Syafa’at Kebaikan untuk Orang Lain

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:

«اشْفَعُوا تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ»

“Berikanlah syafa’at (bantuan pertolongan kebaikan), niscaya kalian akan mendapatkan pahala. Dan Alloh akan menetapkan hukum melalui lisan Nabi-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.” (HR. Al-Bukhori no. 1422 dan Muslim no. 2627)

[86] Perumpamaan Teman Bergaul yang Baik dan Teman yang Buruk

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»

“Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang sholih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak kasturi dan pandai besi. Penjual minyak kasturi mungkin akan memberimu minyak harum itu, atau engkau membelinya darinya, atau minimal engkau mendapati aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin percikan apinya akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapati bau yang busuk menyengat darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2101 dan Muslim no. 2628)

[87] Bahaya Pujian Berlebihan yang Membinasakan Orang Lain

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ mendengar seorang lelaki memuji lelaki lain serta mengagung-agungkannya secara berlebihan, maka beliau bersabda:

«أَهْلَكْتُمْ - أَوْ قَطَعْتُمْ - ظُهُورَ الرِّجَالِ»

“Kalian telah membinasakan – atau kalian telah mematahkan – punggung lelaki itu (karena memujinya berlebihan).” (HR. Al-Bukhori no. 2663 dan Muslim no. 3001)

[88] Simpanan Perbendaharaan Jannah

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:

«أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Maukah engkau aku tunjukkan kepada salah satu simpanan perbendaharaan kekayaan Jannah? Yaitu ucapan: ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah’ (Tidak ada daya untuk menghindar dari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Alloh).” (HR. Al-Bukhori no. 6384 dan Muslim no. 2704)

[89] Kerinduan Berjumpa dengan Alloh

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»

“Siapa yang rindu dan suka berjumpa dengan Alloh, niscaya Alloh rindu berjumpa dengannya. Dan siapa yang benci berjumpa dengan Alloh, niscaya Alloh pun benci berjumpa dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6508 dan Muslim no. 2686)

[90] Ancaman Dua Orang Muslim yang Saling Mengangkat Senjata

Dari Abu Bakroh (51 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:

«إِذَا تَوَاجَهَ المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَكِلاَهُمَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ» قِيلَ: فَهَذَا القَاتِلُ، فَمَا بَالُ المَقْتُولِ؟ قَالَ: «إِنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ»

“Apabila dua orang Muslim bertarung saling mengacungkan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada di dalam Naar.” Ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rosululloh, wajar bagi orang yang membunuh, lalu bagaimana dengan orang yang terbunuh?” Beliau menjawab: “Karena sungguh ia pun sangat berhasrat kuat untuk membunuh saudaranya itu.” (HR. Al-Bukhori no. 7083 dan Muslim no. 2888)

[91] Amalan-amalan Paling Utama dalam Agama

Dari Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: “Amalan apakah yang paling dicintai oleh Alloh?” Beliau menjawab:

«الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»

“Sholat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5970 dan Muslim no. 85)

[92] Menjaga Persatuan Umat dari Perpecahan

Dari ‘Arfajah bin Syuroih (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ»

“Sungguh akan ada berbagai bentuk fitnah huru-hara dan perpecahan. Maka siapa yang hendak memecah belah urusan umat ini padahal mereka sedang bersatu, tebaslah ia dengan pedang siapa pun orangnya!” (HR. Muslim no. 1852)

[93] Larangan Mencela para Shohabat Nabi ﷺ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:

«لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ»

“Janganlah kalian mencela para Shohabatku! Karena seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya pahalanya tidak akan sanggup menyamai satu mud (cakupan dua telapak tangan) dari infak salah seorang Shohabat dan tidak pula setengahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim no. 2541)

[94] Ringannya Azab Penduduk Naar yang Paling Ringan Siksaannya

Dari An-Nu’man bin Basyir (64 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ وَالْقُمْقُمُ»

“Sungguh penghuni Naar yang paling ringan azab siksaannya pada hari Qiyamah adalah seorang lelaki yang diletakkan dua bongkah bara api di bawah lekukan kedua telapak kakinya, yang membuat otaknya mendidih hebat sebagaimana mendidihnya kuali dan periuk.” (HR. Al-Bukhori no. 6562 dan Muslim no. 213)

[95] Larangan Mendiamkan Saudara Muslim Lebih dari Tiga Hari

Dari Abu Ayyub Al-Anshori (52 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan (memusuhi) saudaranya sesama Muslim lebih dari 3 malam; keduanya bertemu namun yang ini berpaling dan yang itu pun berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)

[96] Adab Makan dan Membaca Basmalah bagi Anak-anak

Dari Umar bin Abi Salamah (83 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:

«يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anak kecil, ucapkanlah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang terdekat darimu!” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022)

[97] Perintah Menyampaikan Ilmu Hadits Nabi ﷺ secara Jujur

Dari Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Sungguh berdusta atas namaku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat duduknya di dalam Naar!” (HR. Al-Bukhori no. 1291 dan Muslim no. 4)

[98] Hakikat Kebaikan Akhlak dan Dosa Hati

Dari An-Nawwas bin Sam’an (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ»

“Kebaikan yang sejati adalah akhlak yang mulia. Sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan dan mengganjal di dalam dadamu serta engkau benci jika orang lain mengetahuinya.” (HR. Muslim no. 2553)

[99] Keutamaan Ahli Al-Qur’an pada Hari Qiyamah

Dari An-Nawwas bin Sam’an (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ، تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ»

“Al-Qur’an akan didatangkan pada hari Qiyamah bersama para ahlinya yang dahulu mengamalkannya di dunia, dipimpin oleh Surat Al-Baqoroh dan Surah ‘Imron.” (HR. Muslim no. 805)

[100] Keutamaan Beribadah di Masa Fitnah Huru-hara

Dari Ma’qil bin Yasar (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»

“Beribadah pada masa harj (fitnah huru-hara dan kekacauan urusan manusia) pahalanya seperti Hijroh kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948)[]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini