[PDF] 100 Hadits Untuk Dihafal - Juz 3 of 3 - Tim Az-Zulfa KSA
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh, Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga tercurah
kepada nabi dan rosul paling mulia. Amma ba’du:
Ini adalah
buku ketiga dari silsilah “100 Hadits untuk Dihafal”. Kami menyajikannya
kembali setelah melihat antusiasme yang sangat besar dalam menghafal Hadits-Hadits
Nabi ﷺ
dari kalangan wanita maupun pria, serta dalam rangka memenuhi keinginan banyak
saudara-saudara mulia yang sangat bersemangat untuk terus menghafal Hadits-Hadits
Nabi ﷺ
sesuai metode praktis dan mudah yang telah kami tampilkan pada buku pertama.
Kami senantiasa
menegaskan bahwa metode ini hanyalah langkah awal yang sederhana untuk memulai
ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam menghafal Sunnah Nabi ﷺ yang suci.
Disusun
oleh:
Lembaga Da’wah, Irsyad, dan
Penyuluhan Ekspatriat di Az-Zulfa
NB:
ð Judul berasal
dari pentarjamah
ð Daftar isi
diletakkan di akhir buku
ð Mengacu cetakan
ke-5 1442 H.
ð Kitab asli bisa
diunduh resmi di sini.
[1] Ancaman Memanjangkan Pakaian
di Bawah Mata Kaki karena Sombong
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
يَنْظُرُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ إِلَى مَنْ جَرَّ إِزَارَهُ بَطَرًا»
“Alloh
tidak melihat (dengan pandangan rohmat) pada hari Qiyamah kepada orang yang
menjulurkan sarungnya atau celananya karena sombong.” (HR. Al-Bukhori no.
5788 dan Muslim no. 2087)
[2] Keutamaan Berinfak di Jalan
Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَالَ
اللَّهُ: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ»
“Alloh
berfirman: ‘Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak
(kemudahan rizqi) kepadamu.’” (HR. Al-Bukhori no. 5352 dan Muslim no. 993)
[3] Manusia Lahir di Atas Fithroh
Islam
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ
يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»
“Tidak ada
seorang anak pun yang lahir melainkan ia dilahirkan di atas fithroh (Islam).
Namun kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi.” (HR.
Al-Bukhori no. 4775 dan Muslim no. 2658)
[4] Larangan Membangun Tempat
Ibadah di Atas Kuburan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَاتَلَ
اللَّهُ الْيَهُودَ، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ»
“Semoga
Alloh membinasakan kaum Yahudi, karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka
sebagai Masjid (tempat ibadah).” (HR. Al-Bukhori no. 437 dan Muslim no. 530)
[5] Kedekatan Alloh kepada
Hamba-Nya yang Berdzikir dan Bertaqwa
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي،
فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأٍ
ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ
إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا،
وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»
“Alloh
berfirman: ‘Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku menyertainya
ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku pun
mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah keramaian, Aku
mengingatnya di tengah keramaian yang jauh lebih baik dari mereka. Jika ia
mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat
kepadanya sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku
dengan berjalan, Aku mendatangi-Nya dengan berlari kecil.’” (HR. Al-Bukhori
no. 7405 dan Muslim no. 2675)
[6] Tujuh Golongan yang Mendapat
Naungan Alloh pada Hari Qiyamah
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَبْعَةٌ
يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَدْلٌ،
وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ،
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ
دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ
تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ،
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ»
“Ada 7
golongan yang akan dinaungi oleh Alloh di bawah naungan-Nya pada hari di mana
tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh
dalam ibadah kepada Robbnya, lelaki yang hatinya selalu terikat dengan Masjid,
dua orang yang saling mencintai karena Alloh berhimpun dan berpisah karena-Nya,
lelaki yang diajak berzina oleh wanita berkedudukan lagi jelita lalu ia berkata
‘Sungguh aku takut kepada Alloh’, orang yang bershodaqoh secara tersembunyi
hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan
kanannya, serta seseorang yang mengingat Alloh dalam kesendirian lalu berlinang
kedua matanya.” (HR. Al-Bukhori no. 1423 dan Muslim no. 1031)
[7] Kedermawanan Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَدُ
اللَّهِ مَلْأَى لَا يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ
مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا
فِي يَمِينِهِ»
“Tangan
Alloh itu sangat penuh (karunia dan pemberian), tidak pernah berkurang oleh
infak (pemberian) apa pun, melimpah ruah siang dan malam. Tahukah kalian apa
yang telah Dia infakkan sejak menciptakan langit dan bumi? Sungguh, hal itu
tidak mengurangi sedikit pun apa yang ada di tangan kanan-Nya.” (HR.
Al-Bukhori no. 7411)
[8] Menjauhi Tujuh Dosa Besar yang
Membinasakan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«اجْتَنِبُوا
السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ
بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ،
وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ
الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ»
“Jauhilah
oleh kalian 7 dosa besar yang membinasakan!” Para Shohabat rodhiyallahu
‘anhum bertanya: “Wahai Rosululloh, apa saja dosa-dosa itu?” Beliau
bersabda: “Menyekutukan Alloh, sihir, membunuh jiwa yang diharomkan Alloh
kecuali dengan hak, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari
medan pertempuran (saat Jihad), serta menuduh zina kepada wanita-wanita Mu’minah
yang menjaga kehormatan lagi lalai dari perbuatan keji.” (HR. Al-Bukhori no.
6857 dan Muslim no. 89)
[9] Hukuman Berat Bunuh Diri
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ
خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَسُمُّهُ
فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا،
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ، فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ
فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»
“Siapa yang
menjatuhkan dirinya dari atas gunung hingga tewas, maka ia akan senantiasa
menjatuhkan dirinya di dalam Jahannam secara kekal abadi di dalamnya
selama-lamanya. Siapa yang meneguk racun hingga tewas, maka racunnya akan
berada di tangannya sambil ia teguk di dalam Jahannam secara kekal abadi di
dalamnya selama-lamanya. Dan siapa membunuh dirinya dengan besi tajam, maka
besinya itu akan berada di tangannya untuk ditikamkan ke perutnya sendiri di
dalam Jahannam secara kekal abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR.
Al-Bukhori no. 5578 dan Muslim no. 109)
[10] Kedudukan Sifat Malu dalam
Keimanan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْإِيمَانُ
بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ
شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»
“Iman itu
memiliki 70 sekian – atau 60 sekian – cabang. Cabang yang paling utama adalah
ucapan ‘Laa ilaha illalloh’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan
gangguan dari jalanan. Dan sifat malu merupakan salah satu cabang dari
keimanan.” (HR. Al-Bukhori no. 9 dan Muslim no. 35)
[11] Keutamaan Memudahkan Orang
yang Dalam Kesulitan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«كَانَ
الرَّجُلُ يُدَايِنُ النَّاسَ، فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا
فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَتَجَاوَزَ عَنَّا، قَالَ: فَلَقِيَ اللَّهَ
فَتَجَاوَزَ عَنْهُ»
“Dahulu ada
seorang pedagang yang memberi pinjaman piutang kepada orang-orang. Apabila ia
melihat orang yang kesulitan melunasi utang, ia berkata kepada para pelayannya:
‘Jika mendatangi orang yang kesulitan bayar, maafkanlah, mudah-mudahan Alloh
mengampuni dosa-dosa kita.’ Maka ketika ia wafat, Alloh pun memaafkan dan
mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Al-Bukhori no. 3480 dan Muslim no. 1562)
[12] Keutamaan Ibadah Puasa di
Sisi Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي
وَأَنَا أَجْزِي بِهِ... وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ
رِيحِ الْمِسْكِ»
“Alloh
berfirman: ‘Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri
kecuali Puasa. Sungguh Puasa itu khusus untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan
memberikan balasan pahalanya.’ Sungguh, aroma mulut orang yang sedang berpuasa
itu lebih harum di sisi Alloh daripada aroma minyak kasturi.” (HR.
Al-Bukhori no. 5927 dan Muslim no. 1151)
[13] Doa Memohon Perlindungan dari
Berbagai Keburukan Takdir
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«تَعَوَّذُوا
بِاللَّهِ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ
الْأَعْدَاءِ»
“Bermohonlah
perlindungan kalian kepada Alloh dari beratnya ujian musibah, dari tertimpa
kesengsaraan hidup, dari buruknya ketetapan takdir, serta dari kegembiraan para
musuh atas penderitaan kita.” (HR. Al-Bukhori no. 6616 dan Muslim no. 2707)
[14] Segera Pulang kepada Keluarga
Setelah Menuntaskan Urusan Safar
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«السَّفَرُ
قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ،
فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ»
“Safar
(perjalanan jauh) itu adalah bagian dari siksaan, sebab ia menghalangi
seseorang dari makan, minum, dan tidurnya yang nyenyak. Maka apabila salah
seorang dari kalian telah menuntaskan tujuannya dalam perjalanan itu, hendaklah
ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Al-Bukhori no. 3001 dan Muslim
no. 1927)
[15] Larangan Membenci Silsilah
Keturunan Ayah Kandung
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
تَرْغَبُوا عَنْ آبَائِكُمْ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ أَبِيهِ فَهُوَ كُفْرٌ»
“Janganlah
kalian membenci atau mengingkari silsilah ayah-ayah kalian sendiri! Siapa yang
membenci atau mengingkari garis keturunan ayahnya, maka perbuatan itu termasuk
bentuk kufur ni’mat.” (HR. Al-Bukhori no. 6768 dan Muslim no. 62)
[16] Keutamaan Membaca Al-Qur’an
dengan Suara yang Indah
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
أَذِنَ اللَّهُ لِشَيْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ حَسَنِ الصَّوْتِ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ
يَجْهَرُ بِهِ»
“Alloh
tidak pernah mendengarkan sesuatu secara seksama sebagaimana Dia mendengarkan
seorang Nabi yang bersuara merdu melantunkan bacaan Al-Qur’an dengan
membaguskan suaranya serta mengeraskannya.” (HR. Al-Bukhori no. 7544 dan
Muslim no. 792)
[17] Kelapangan Hati Nabi ﷺ
dalam Menafkahkan Harta
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَوْ
كَانَ لِي مِثْلُ أُحُدٍ ذَهَبًا لَمَا سَرَّنِي أَنْ لَا تَمُرَّ عَلَيَّ ثَلَاثُ
لَيَالٍ وَعِنْدِي مِنْهُ شَيْءٌ إِلَّا شَيْءٌ أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ»
“Seandainya
aku memiliki emas sebesar Gunung Uhud, tentu tidak akan membahagiakanku jika
sampai berlalu tiga malam sementara emas itu masih tersisa padaku walau
sedikit, kecuali sekadar yang aku persiapkan untuk melunasi utang.” (HR.
Al-Bukhori no. 2389 dan Muslim no. 991)
[18] Keutamaan Bershodaqoh Setiap
Hari Saat Matahari Terbit
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَقَابُ
قَوْسٍ فِي الجَنَّةِ، خَيْرٌ مِمَّا تَطْلُعُ عَلَيْهِ الشَّمْسُ وَتَغْرُبُ»
“Sungguh,
tempat seukuran busur panah di Jannah itu lebih baik daripada segala sesuatu
yang disinari oleh terbit dan tenggelamnya matahari.” (HR. Al-Bukhori no. 2793
dan Muslim no. 1882)
[19] Dosanya Orang yang Mencela
Waktu dan Menisbahkan Keturunan kepada Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَالَ
اللَّهُ تَعَالَى: يَشْتِمُنِي ابْنُ آدَمَ، وَمَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَشْتِمَنِي،
وَيُكَذِّبُنِي وَمَا يَنْبَغِي لَهُ، أَمَّا شَتْمُهُ فَقَوْلُهُ: إِنَّ لِي وَلَدًا،
وَأَمَّا تَكْذِيبُهُ فَقَوْلُهُ: لَيْسَ يُعِيدُنِي كَمَا بَدَأَنِي»
“Alloh
berfirman: ‘Anak Adam telah mendustakan-Ku padahal tidak berhak baginya
melakukan itu, dan ia telah mencela-Ku padahal tidak berhak baginya melakukan
itu. Adapun celaannya kepada-Ku adalah ucapannya: ‘Alloh telah mengambil
seorang anak.’ Sementara pendustaannya kepada-Ku adalah ucapannya: ‘Dia tidak
akan membangkitkanku kembali sebagaimana Dia menciptakan awal mulanya.’” (HR.
Al-Bukhori no. 3193)
[20] Melihat Kedudukan Orang di
Bawah dalam Urusan Duniawi
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ
يَدْخُلُ أَحَدٌ الجَنَّةَ إِلَّا أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ، لِيَزْدَادَ
شُكْرًا، وَلاَ يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلَّا أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنَ الجَنَّةِ
لَوْ أَحْسَنَ، لِيَكُونَ عَلَيْهِ حَسْرَةً»
“Tidak ada
seorang pun yang masuk Jannah melainkan diperlihatkan tempat duduknya di Naar
seandainya dia berbuat jahat, agar bersyukurnya makin bertambah. Dan tidak ada
seorang pun yang masuk Naar melainkan diperlihatkan tempat duduknya di Jannah
seandainya dia berbuat baik, agar hal itu menjadi penyesalan baginya.” (HR.
Al-Bukhori no. 6569)
[21] Pahala Niat Baik dalam
Mengembalikan Pinjaman Utang
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ
يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ»
“Siapa
meminjam harta orang lain dengan niat tulus untuk mengembalikannya, niscaya
Alloh akan memudahkan pelunasannya. Namun siapa meminjamnya dengan niat untuk
merusaknya (tidak mengembalikan), niscaya Alloh akan menghancurkan hidup dan
hartanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2387)
[22] Tiga Golongan yang Dimusuhi
Alloh pada Hari Qiyamah
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قَالَ
اللَّهُ: ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ
غَدَرَ، وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ، وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى
مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِ أَجْرَهُ»
“Alloh
berfirman: ‘Ada 3 golongan yang Aku sendiri menjadi musuh mereka pada hari
Qiyamah: seseorang yang memberi sumpah atas nama-Ku lalu berkhianat, seseorang
yang menjual orang merdeka lalu memakan uang hasil jualannya, serta seseorang
yang mempekerjakan seorang buruh dan sang buruh telah menuntaskan tugasnya
namun ia tidak membayarkan upahnya.’” (HR. Al-Bukhori no. 2270)
[23] I’tikaf Nabi ﷺ pada
Bulan Romadhon
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ
الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا»
“Nabi ﷺ selalu melaksanakan I’tikaf
pada setiap bulan Romadhon selama 10 hari. Namun pada tahun beliau diwafatkan,
beliau melaksanakan I’tikaf selama 20 hari.” (HR. Al-Bukhori no. 2044)
[24] Keutamaan Membaguskan Wudhu
dan Melangkah ke Masjid
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَلَا
أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟»
قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ،
وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ،
فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ»
“Maukah
kalian aku tunjukkan kepada amalan yang dengannya Alloh menghapus dosa-dosa dan
mengangkat derajat?” Para Shohabat menjawab: “Tentu wahai Rosululloh.” Beliau
bersabda: “Membaguskan wudhu pada kondisi yang tidak disukai (seperti cuaca
dingin), memperbanyak langkah menuju Masjid-Masjid, serta menunggu Sholat
berikutnya setelah menunaikan Sholat. Itulah keutamaan ribath (berjaga-jaga di
garis depan perjuangan).” (HR. Muslim no. 251)
[25] Pahala Berjalan Menuju Masjid
untuk Melaksanakan Sholat Fardhu
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ، ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ
فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ، كَانَتْ خُطُوَاتُهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً،
وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً»
“Siapa
bersuci di rumahnya kemudian berjalan menuju salah satu rumah dari rumah-rumah
Alloh (Masjid) untuk menunaikan salah satu kewajiban yang difardhukan Alloh,
maka langkah-langkah kakinya yang satu akan menghapus dosa dan langkah yang
satunya lagi akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 666)
[26] Pentingnya Mendapati Kedua
Orang Tua pada Usia Lanjut
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«رَغِمَ
أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ، ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ»، قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: «مَنْ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ، أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا
ثُمَّ لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ»
“Sungguh
hina dan celaka, kemudian sungguh hina dan celaka, kemudian sungguh hina dan
celaka!” Ditanyakan kepada beliau: “Siapakah dia wahai Rosululloh?” Beliau
menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya berada pada usia lanjut,
baik salah satunya atau kedua-duanya, namun keberadaan mereka tidak membuatnya
masuk ke dalam Jannah (karena tidak berbakti).” (HR. Muslim no. 2551)
[27] Pintu Taubat Selalu Terbuka
Sebelum Matahari Terbit dari Barat
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ»
“Siapa
bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat tempat tenggelamnya, niscaya
Alloh menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 2703)
[28] Keutamaan Pengasuh Anak Yatim
di Jannah
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«كَافِلُ
الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ» وَأَشَارَ
مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى
“Orang yang
menanggung dan mengasuh anak yatim, baik anak yatim dari kerabatnya sendiri
maupun orang lain, aku dan dia kedudukannya di Jannah seperti dua jari ini.” Malik
memberi isyarat dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR.
Muslim no. 2983)
[29] Tempat yang Paling Dicintai
dan Dibenci Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ
الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا، وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا»
“Tempat-tempat
yang paling dicintai oleh Alloh adalah Masjid-Masjidnya, sedangkan
tempat-tempat yang paling dibenci oleh Alloh adalah pasar-pasarnya.” (HR.
Muslim no. 671)
[30] Keutamaan Berkumpul Membaca
Al-Qur’an di Rumah Alloh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«...
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ
الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ...»
“...Tidaklah
suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Alloh (Masjid)
membaca Kitabullah Al-Qur’an dan saling mengkajinya di antara mereka, melainkan
ketenangan akan turun kepada mereka, rohmat akan melingkupi mereka, para
Malaikat akan mengelilingi mereka, dan Alloh akan menyebut-nyebut nama mereka
di hadapan para Malaikat di sisi-Nya...” (HR. Muslim no. 2699)
[31] Doa Perlindungan dari Empat
Perkara
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ
الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ»
“Apabila
salah seorang dari kalian menunaikan bacaan Tashahhud (dalam Sholat), hendaklah
ia bermohon perlindungan kepada Alloh dari 4 hal dengan mengucapkan: ‘Ya Alloh,
sungguh aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahannam, dari azab kubur, dari
fitnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.’“
(HR. Muslim no. 588)
[32] Larangan Menvonis Kehancuran
Masyarakat
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
قَالَ الرَّجُلُ: هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ»
“Apabila
ada seseorang berkata: ‘Manusia telah binasa (hancur moralnya)’, maka dialah
orang yang paling membinasakan mereka (atau orang yang paling binasa di antara
mereka).” (HR. Muslim no. 2623)
[33] Menepati Sumpah yang Lebih
Baik dengan Membayar Kaffaroh
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ، فَرَأَى غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا، فَلْيُكَفِّرْ عَنْ يَمِينِهِ،
وَلْيَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ»
“Siapa
bersumpah atas suatu perkara, lalu ia melihat perkara lain lebih baik dan mulia
dari sumpahnya itu, maka hendaklah ia membayar kaffaroh (denda pembatalan) atas
sumpahnya dan menunaikan perkara yang lebih baik tersebut.” (HR. Muslim no.
1650)
[34] Keutamaan Hari Jum’at dan
Peristiwa Besar di Dalamnya
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ
أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا»
“Sebaik-baik
hari di mana matahari terbit padanya adalah hari Jum’at. Pada hari itulah Adam ‘alaihissalam
diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke dalam Jannah, dan pada hari itu pula
ia dikeluarkan darinya.” (HR. Muslim no. 854)
[35] Adab Menyambut Undangan
Walimah saat Sedang Berpuasa
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ، فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ، وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا
فَلْيَطْعَمْ»
“Apabila
salah seorang dari kalian diundang (ke acara walimah), hendaklah ia
memenuhinya. Jika ia dalam keadaan berpuasa, hendaklah ia mendoakan (kebaikan
untuk tuan rumah). Namun jika ia tidak berpuasa, hendaklah ia menyantap
hidangannya.” (HR. Muslim no. 1431)
[36] Manusia yang Paling Dimurkai
Alloh karena Suka Berdebat
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«إِنَّ
أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ»
“Sungguh
orang yang paling dimurkai oleh Alloh di antara para lelaki adalah penentang
yang sangat keras perdebatannya (suka bertengkar).” (HR. Al-Bukhori no. 4523
dan Muslim no. 2457)
[37] Doa Rosululloh ﷺ saat
Ruku’ dan Sujud
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ: سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا
وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»
“Nabi ﷺ dalam ruku’ dan sujudnya
selalu membaca: ‘Subhanakallohumma Robbana wa bihamdika Allohummaghfir lii’
(Maha Suci Engkau wahai Alloh Robb kami dan dengan memuji-Mu, ya Alloh
ampunilah dosa-dosaku).” (HR. Al-Bukhori no. 4293 dan Muslim no. 448)
[38] Keadaan Manusia Saat
Dibangkitkan pada Hari Qiyamah
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«تُحْشَرُونَ
حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، الرِّجَالُ
وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ؟ فَقَالَ: «يَا عَائِشَةُ، الْأَمْرُ
أَشَدُّ مِنْ أَنْ يَنُظُرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ»
“Kalian
akan dikumpulkan pada hari Qiyamah dalam keadaan telanjang kaki, telanjang
badan, dan belum dikhitan.” Maka aku bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah para
lelaki dan wanita saling melihat satu sama lain?” Beliau menjawab: “Wahai ‘A-isyah,
perkara dan kehuru-harian pada hari itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar
keinginan mereka untuk saling memandang satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no.
6527 dan Muslim no. 2859)
[39] Kemudahan Pilihan Nabi ﷺ
dalam Urusan Mubah
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«مَا
خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ
يَكُنْ إِثْمًا، فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ...»
“Tidaklah
Rosululloh ﷺ
diberi pilihan di antara dua perkara melainkan beliau pasti memilih yang paling
mudah di antara keduanya, selama perkara itu bukan dosa. Namun jika perkara itu
mengandung dosa, maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya...” (HR.
Al-Bukhori no. 3560 dan Muslim no. 6126)
[40] Amalan yang Paling Dicintai
Alloh adalah yang Dikerjakan secara Istiqomah
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«يَا
أَيُّهَا النَّاسُ، خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ
حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ»
“Wahai
manusia, lakukanlah amal-amal yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Alloh
tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amal yang
paling dicintai oleh Alloh adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun
sedikit.” (HR. Al-Bukhori no. 5861 dan Muslim no. 782)
[41] Larangan Tabarruj ke Masjid
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«لَوْ
أَدْرَكَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ
كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ»
“Seandainya
Rosululloh ﷺ
menjumpai apa yang dibuat-buat oleh para wanita, niscaya beliau sungguh akan
melarang mereka sebagaimana wanita-wanita Bani Isroil dahulu dilarang (ke
Masjid).” (HR. Al-Bukhori no. 869 dan Muslim no. 445)
[42] Kesederhanaan Kehidupan Rumah
Tangga Nabi ﷺ
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«مَا
شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ ﷺ مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ مِنْ طَعَامِ الْبُرِّ ثَلَاثَ
لَيَالٍ تِبَاعًا حَتَّى قُبِضَ»
“Keluarga
Muhammad ﷺ
tidak pernah merasa kenyang dari memakan gandum halus selama tiga malam
berturut-turut sejak beliau tiba di Madinah hingga beliau diwafatkan.” (HR.
Al-Bukhori no. 5414 dan Muslim no. 2970)
[43] Penghapus Dosa melalui
Musibah dan Duka yang Tertimpa
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَا
مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ، حَتَّى الشَّوْكَةِ
يُشَاكُهَا»
“Tidak ada
satu pun musibah yang menimpa seorang Muslim melainkan Alloh akan menghapuskan
dosa-dosanya dengan musibah itu, bahkan hingga duri yang menancap pada anggota
tubuhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 5640 dan Muslim no. 2573)
[44] Bacaan Ruqyah Mandiri Nabi ﷺ
Sebelum Tidur
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ
نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ
الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ
مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ،
يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ»
“Adalah
Rosululloh ﷺ
apabila hendak berbaring di tempat tidurnya pada setiap malam, beliau
menyatukan kedua telapak tangannya lalu meniupkan udara padanya, kemudian
membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Setelah itu beliau mengusapkan kedua
telapak tangannya ke seluruh anggota tubuh yang sanggup dijangkau, dimulai dari
kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukannya sebanyak 3 kali.” (HR.
Al-Bukhori no. 5018 dan no. 5748)
[45] Kepatuhan Wanita Anshor
terhadap Perintah Berhijab
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«يَرْحَمُ
اللَّهُ نِسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ الْأُوَلَ، لَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿وَلْيَضْرِبْنَ
بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ﴾ شَقَّقْنَ مُرُوطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا»
“Semoga
Alloh merohmati wanita-wanita kaum Muhajirin generasi awal. Ketika Alloh
menurunkan firman-Nya: ‘Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke
dada mereka.’ (QS. An-Nuur: 31), mereka langsung merobek kain-kain sarung
mereka lalu menjadikannya sebagai kerudung penutup.” (HR. Al-Bukhori no.
4759)
[46] Doa Nabi ﷺ saat
Melihat Awan Mendung dan Hujan Turun
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ apabila melihat hujan turun,
beliau berdoa:
«اللَّهُمَّ
صَيِّبًا نَافِعًا»
“Ya Alloh,
jadikanlah hujan ini sebagai curahan yang membawa kemanfaatan.” (HR.
Al-Bukhori no. 1032)
[47] Mengutamakan Tetangga yang
Pintu Rumahnya Paling Dekat
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, Aku bertanya: “Wahai Rosululloh, sungguh aku
memiliki dua tetangga, maka kepada siapakah di antara keduanya aku berikan
hadiah?” Beliau menjawab:
«إِلَى
أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا»
“Kepada
tetangga yang pintu rumahnya paling dekat dari pintu rumahmu.” (HR.
Al-Bukhori no. 2259)
[48] Menjawab Salam kepada Ahli
Kitab
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقْبَلُ الهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا»
“Rosululloh
ﷺ biasa menerima hadiah dan
memberikan balasan atasnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2585)
[49] Doa Rosululloh ﷺ saat
Terjadi Angin Kencang
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Adalah Nabi ﷺ apabila angin bertiup
kencang, beliau berdoa:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا، وَخَيْرَ مَا فِيهَا، وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا، وَشَرِّ مَا فِيهَا، وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ»
“Ya Alloh, sungguh
aku memohon kepada-Mu kebaikan dari angin ini, kebaikan yang ada di dalamnya,
serta kebaikan dari tujuan ia dihembuskan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan angin ini, keburukan yang ada di dalamnya, serta keburukan dari
tujuan ia dihembuskan.” (HR. Muslim no. 899)
[50] Keutamaan Menjaga Tali
Silaturrohim
Dari ‘A-isyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«الرَّحِمُ
مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ، وَمَنْ قَطَعَنِي
قَطَعَهُ اللَّهُ»
“Tali
silaturrohim itu tergantung di Arsy seraya berkata: ‘Siapa yang menyambungku
niscaya Alloh menyambungnya, dan siapa yang memutusku niscaya Alloh memutus
hubungan darinya.’” (HR. Al-Bukhori no. 5989 dan Muslim no. 2555)
[51] Huru-hara Manusia saat Menghadapkan
Diri kepada Alloh
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«﴿يَوْمَ
يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ حَتَّى يَغِيبَ أَحَدُهُمْ فِي رَشْحِهِ إِلَى
نِصْفِ أُذُنَيْهِ»
“‘Hari
ketika manusia berdiri menghadap Robb semesta alam.’ (QS. Al-Muthoffifin:
6), hingga salah seorang dari mereka tenggelam dalam keringatnya sendiri sampai
ke pertengahan kedua telinganya.” (HR. Al-Bukhori no. 4938 dan Muslim no.
2862)
[52] Pemisahan Abadi Antara Penghuni
Jannah dan Penghuni Naar
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
صَارَ أَهْلُ الْجَنَّةِ إِلَى الْجَنَّةِ، وَأَهْلُ النَّارِ إِلَى النَّارِ، جِيءَ
بِالْمَوْتِ حَتَّى يُجْعَلَ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، ثُمَّ يُذْبَحُ، ثُمَّ
يُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ لَا مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ لَا مَوْتَ،
فَيَزْدَادُ أَهْلُ الْجَنَّةِ فَرَحًا إِلَى فَرَحِهِمْ، وَيَزْدَادُ أَهْلُ النَّارِ
حُزْنًا إِلَى حُزْنِهِمْ»
“Apabila
penghuni Jannah telah masuk ke dalam Jannah dan penghuni Naar telah masuk ke
dalam Naar, wujud kematian diposisikan di antara Jannah dan Naar lalu
disembelih. Kemudian penyeru memanggil: ‘Wahai penghuni Jannah, tidak ada lagi
kematian! Wahai penghuni Naar, tidak ada lagi kematian!’ Maka kebahagiaan
penghuni Jannah bertambah di atas kebahagiaan mereka, dan kesedihan penghuni
Naar pun bertambah di atas kesedihan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 6548 dan
Muslim no. 2850)
[53] Kewajiban Bersumpah Hanya atas
Nama Alloh
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لاَ
تَحْلِفُوا بِآبَائِكُمْ، وَمَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ»
“Kalian
jangan bersumpah dengan nama bapak kalian. Siapa hendak bersumpah, maka
bersumpah dengan nama Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 7401 dan Muslim no. 1646)
[54] Pentingnya Menuliskan Wasiat
Sebelum Meninggal Dunia
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَا
حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ
مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ»
“Tidak ada
hak bagi seorang Muslim yang memiliki sesuatu yang ingin diwasiatkannya untuk
melewati dua malam melainkan lembaran wasiatnya telah tertulis rapi di sisinya.”
(HR. Al-Bukhori no. 2738 dan Muslim no. 1627)
[55] Menjauhi Dosa saat Azab
Menimpa Kaum yang Zholim
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
أَنْزَلَ اللَّهُ بِقَوْمٍ عَذَابًا، أَصَابَ الْعَذَابُ مَنْ كَانَ فِيهِمْ، ثُمَّ
بُعِثُوا عَلَى أَعْمَالِهِمْ»
“Apabila
Alloh menurunkan azab siksaan kepada suatu kaum, maka siksaan itu akan menimpa seluruh
orang yang berada di tengah-tengah mereka, kemudian kelak pada hari Qiyamah
mereka akan dibangkitkan berdasarkan niat dan amalan mereka masing-masing.” (HR.
Al-Bukhori no. 7108 dan Muslim no. 2879)
[56] Lima Rukun Islam
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«بُنِيَ
الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا
رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ
رَمَضَانَ»
“Islam
dibangun di atas 5 perkara: bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi
dengan benar selain Alloh dan bahwa Muhammad ﷺ adalah utusan Alloh, mendirikan Sholat, menunaikan Zakat,
melaksanakan Haji, serta menjalankan Puasa di bulan Romadhon.” (HR.
Al-Bukhori no. 8 dan Muslim no. 16)
[57] Kewajiban Mentaati Pemimpin
dalam Hal Kebaikan
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«السَّمْعُ
وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، مَا لَمْ يُؤْمَرْ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ»
“Mendengar
dan taat adalah kewajiban bagi setiap pribadi Muslim dalam perkara yang ia
sukai maupun yang ia benci, selama ia tidak diperintahkan melakukan
kemaksiatan. Apabila ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak
mendengar dan tidak ada ketaatan.” (HR. Al-Bukhori no. 7144 dan Muslim no.
1839)
[58] Kunci-kunci Perkara Ghoib
Hanya Milik Alloh
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَفَاتِيحُ
الْغَيْبِ خَمْسٌ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا اللَّهُ: لَا يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إِلَّا
اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَا تَغِيضُ الْأَرْحَامُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ
مَتَى يَأْتِي الْمَطَرُ أَحَدٌ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ
تَمُوتُ إِلَّا اللَّهُ، وَلَا يَعْلَمُ مَتَى تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا اللَّهُ»
“Kunci-kunci
perkara ghoib itu ada 5 hal yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh:
tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok hari kecuali Alloh, tidak ada
yang mengetahui apa yang berkurang dalam rahim kecuali Alloh, tidak ada seorang
pun yang mengetahui kapan hujan akan turun kecuali Alloh, tidak ada satu jiwa
pun yang tahu di bumi mana ia akan mati kecuali Alloh, serta tidak ada yang
mengetahui kapan hari Qiyamah akan terjadi kecuali Alloh.” (HR. Al-Bukhori
no. 7379)
[59] Sikap Seorang Mu’min
Menjalani Kehidupan Dunia
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
memegang pundakku seraya bersabda:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»
“Jadilah
engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang pengembara yang sedang
melintasi jalan.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)
[60] Bahaya Safar Sendirian
Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَوْ
يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ»
“Seandainya
orang-orang mengetahui bahaya di dalam bepergian seorang diri sebagaimana yang
aku ketahui, niscaya tidak akan ada seorang pengendara pun yang berjalan di
malam hari sendirian.” (HR. Al-Bukhori no. 2998)
[61] Mengucapkan Salam kepada
Setiap Orang
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa ia melewati anak-anak kecil
lalu memberi salam kepada mereka, dan Anas berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُهُ»
“Dahulu
Nabi ﷺ
senantiasa melakukan perbuatan ini (mengucapkan salam kepada anak-anak).” (HR.
Al-Bukhori no. 6247 dan Muslim no. 2168)
[62] Doa yang Paling Sering Dibaca
oleh Nabi ﷺ
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«كَانَ
أَكْثَرُ دُعَاءِ النَّبِيِّ ﷺ: اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»
“Doa yang
paling sering diucapkan oleh Nabi ﷺ adalah: ‘Allohumma Robbana aatina fid-dunya hasanah wa
fil-akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban-naar’ (Ya Alloh Robb kami, berikanlah
kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di Akhiroh, serta peliharalah kami
dari siksa Naar).” (HR. Al-Bukhori no. 6389 dan Muslim no. 2690)
[63] Keringanan Tidak Berpuasa
saat Safar
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«كُنَّا
نُسَافِرُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ، فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ
عَلَى الصَّائِمِ»
“Kami
pernah melakukan perjalanan safar bersama Nabi ﷺ, maka orang yang berpuasa tidak mencela orang yang tidak
berpuasa, dan orang yang tidak berpuasa tidak pula mencela orang yang berpuasa.”
(HR. Al-Bukhori no. 1947 dan Muslim no. 1118)
[64] Tiga Manisnya Keimanan dalam
Hati Seorang Mu’min
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا
لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ
فِي النَّارِ»
“Ada 3
perkara yang siapa memilikinya, niscaya ia akan merasakan manisnya keimanan:
hendaklah Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya,
hendaklah ia mencintai seseorang tidaklah ia mencintainya melainkan semata-mata
karena Alloh, serta hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekufuran
sebagaimana bencinya ia jika dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no.
16 dan Muslim no. 43)
[65] Kemuliaan Mati Syahid di
Jalan Alloh
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَا
أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا، وَلَهُ مَا عَلَى
الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ، يَتَمَنَّى أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا،
فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنَ الْكَرَامَةِ»
“Tidak ada
seorang pun yang telah masuk ke dalam Jannah berkeinginan untuk kembali lagi ke
dunia walau ia mendapatkan seluruh isi bumi beserta isinya, kecuali orang yang
mati Syahid. Ia sangat berharap untuk kembali ke dunia lalu terbunuh di jalan
Alloh sebanyak 10 kali karena melihat betapa besarnya kemuliaan (pahala Syahid)
yang ia terima.” (HR. Al-Bukhori no. 2817 dan Muslim no. 1877)
[66] Mendoakan yang Bersin
Bertahmid
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Ada 2
orang lelaki bersin di dekat Nabi ﷺ, lalu beliau mendoakan kebaikan bagi salah seorang dari
keduanya dan tidak mendoakan yang satunya lagi. Lelaki itu pun berkata: ‘Wahai
Rosululloh, engkau mendoakan orang ini tetapi tidak mendoakanku.’ Beliau bersabda:
«إِنَّ
هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ»
‘Sesungguhnya
orang ini memuji Alloh, sedangkan engkau tidak memuji Alloh.’” (HR.
Al-Bukhori no. 6225 dan Muslim no. 2991)
[67] Kepenuhan Jahannam dan
Keadilan Alloh
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَا
تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ، حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا
قَدَمَهُ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ، وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ»
“Naar
Jahannam senantiasa berkata: ‘Apakah masih ada tambahan?’ Sampai Robb Yang Maha
Perkasa meletakkan telapak kaki-Nya padanya, maka Jahannam pun berkata: ‘Cukup,
cukup! Demi keperkasaan-Mu!’ Lalu melipatlah sebagian sisinya ke sebagian yang
lain.” (HR. Al-Bukhori no. 6661 dan Muslim no. 2848)
[68] Keamanan Jaminan Perlindungan
dari Alloh bagi Orang yang Sholat
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى صَلَاتَنَا، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا، فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ
الَّذِي لَهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَذِمَّةُ رَسُولِهِ، فَلَا تُخْفِرُوا اللَّهَ فِي ذِمَّتِهِ»
“Siapa
Sholat seperti Sholat kita, menghadap ke arah Qiblat kita, dan memakan
sembelihan kita, maka dialah seorang Muslim yang mendapatkan jaminan
perlindungan Alloh dan jaminan Rosul-Nya. Oleh karena itu, janganlah kalian
mengkhianati Alloh dalam jaminan perlindungan-Nya!” (HR. Al-Bukhori no. 391)
[69] Kehati-hatian Shohabat
terhadap Dosa-dosa Kecil
Dari Anas bin
Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«إِنَّكُمْ
لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا، هِيَ أَذَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ، إِنْ كُنَّا
لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ»
“Sungguh
kalian melakukan amalan-amalan (dosa) yang menurut pandangan mata kalian lebih
halus dari sehelai rambut, padahal dahulu kami pada zaman Rosululloh ﷺ menganggapnya sebagai bagian
dari dosa-dosa besar yang membinasakan.” (HR. Al-Bukhori no. 6492)
[70] Balasan Kebaikan bagi Orang
Kafir di Dunia dan Bagi Mu’min di Akhiroh
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الْكَافِرَ إِذَا عَمِلَ حَسَنَةً أُطْعِمَ بِهَا طُعْمَةً مِنَ الدُّنْيَا، وَأَمَّا
الْمُؤْمِنُ فَإِنَّ اللَّهَ يَدَّخِرُ لَهُ حَسَنَاتِهِ فِي الْآخِرَةِ وَيُعْقِبُهُ
رِزْقًا فِي الدُّنْيَا عَلَى طَاعَتِهِ»
“Sungguh
orang kafir apabila melakukan suatu kebaikan, ia akan diberi imbalan
makanan/kemudahan di dunia. Sedangkan orang Mu’min, sungguh Alloh menyimpan
kebaikan-kebaikannya untuk dibalas di Akhiroh kelak dan memberikan rizqi di
dunia atas ketaatan yang dilakukannya.” (HR. Muslim no. 2808)
[71] Kewajiban Sabar atas
Kebijakan Pemimpin yang Tidak Disukai
Dari Ibnu
Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ
شِبْرًا فَمَاتَ، مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً»
“Siapa
melihat sesuatu yang tidak disukai dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar.
Karena siapa memisahkan diri dari ketaatan kepada penguasa walau sejengkal lalu
ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliyyah.” (HR. Al-Bukhori no.
7053 dan Muslim no. 1849)
[72] Dosa Menggambar Bernyawa
Dari Ibnu
Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا
الرُّوحَ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ»
“Siapa
menggambar/membentuk gambar bernyawa di dunia, ia akan dibebani tugas pada hari
Qiyamah untuk meniupkan roh ke dalamnya, padahal ia sekali-kali tidak akan
mampu meniupkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5963 dan Muslim no. 2110)
[73] Bahaya Doa Orang yang
Terzholimi
Dari Ibnu
Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu’adz (18 H) rodhiyallahu
‘anhu ke negeri Yaman, lalu beliau bersabda kepadanya:
«وَاتَّقِ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»
“Dan
takutlah engkau terhadap doa orang yang terzholimi! Karena sungguh tidak ada
satu pun penghalang antara doanya dengan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 1496
dan Muslim no. 19)
[74] Anjuran Mendoakan Kebaikan
saat Menjenguk Orang Sakit
Dari Ibnu
Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi ﷺ masuk menjenguk seorang Arob
Badui yang sedang sakit, lalu beliau bersabda kepadanya:
«لَا
بَأْسَ، طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ»
“Tidak
mengapa, semoga penyakitmu ini menjadi pembersih dosa-dosa, In Syaa Alloh.” (HR.
Al-Bukhori no. 5656)
[75] Larangan Menyerupai Lawan
Jenis bagi Pria dan Wanita
Dari Ibnu
Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
«لَعَنَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ»
“Rosululloh
ﷺ melaknat para lelaki yang
menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai lelaki.” (HR. Al-Bukhori
no. 5885)
[76] Memberi Makan dan Menyebarkan
Salam
Dari
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang
lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ:
“Islam manakah yang paling baik?” Beliau menjawab:
«تُطْعِمُ
الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ»
“Engkau memberikan
makanan, dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun
yang tidak engkau kenal.” (HR. Al-Bukhori no. 12 dan Muslim no. 39)
[77] Luas dan Harumnya Telaga
Al-Kautsar
Dari
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«حَوْضِي
مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ،
وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا»
“Telagaku
ukurannya sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada susu,
aromanya lebih harum daripada minyak kasturi, dan gayung-gayungnya sebanyak
bintang-bintang di langit. Siapa meminum darinya, niscaya ia tidak akan merasa
haus selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6579 dan Muslim no. 2292)
[78] Ancaman Membunuh Kafir Mu’ahad
yang Berada dalam Perjanjian
Dari
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَنْ
قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ
مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
“Siapa
membunuh seorang kafir Mu’ahad (orang kafir yang terikat perjanjian damai), ia
tidak akan mencium aroma Jannah. Padahal sungguh aroma Jannah itu tercium dari
jarak perjalanan 40 tahun.” (HR. Al-Bukhori no. 3166)
[79] Hakikat Keberuntungan dan
Kecukupan Rizqi
Dari
Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ»
“Sungguh
telah beruntung orang yang telah memeluk agama Islam, diberi rizqi yang cukup
untuk kebutuhannya, serta dianugerahi rasa qona’ah (merasa cukup) oleh Alloh
atas apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)
[80] Sholat Tahiyyatul Masjid bagi
Orang yang Baru Masuk
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
جَاءَ أَحَدُكُمْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ
فِيهِمَا»
“Apabila
salah seorang dari kalian tiba di Masjid sementara Imam sedang berkhutboh,
hendaklah ia Sholat ringan 2 rokaat.” (HR. Al-Bukhori no. 1170 dan Muslim
no. 875)
[81] Larangan Membangun dan
Memoles Kuburan
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
«نَهَى
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ، وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ، وَأَنْ يُبْنَى
عَلَيْهِ»
“Rosululloh
ﷺ melarang mengapuri
(mencat/memoles) kuburan, duduk di atasnya, serta mendirikan bangunan di
atasnya.” (HR. Muslim no. 970)
[82] Larangan Mendoakan Keburukan
atas Diri, Anak, dan Harta
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا
عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللَّهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ
فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ»
“Janganlah
kalian mendoakan keburukan atas diri kalian sendiri, jangan mendoakan keburukan
atas anak-anak kalian, dan jangan mendoakan keburukan atas harta-harta kalian!
Jangan sampai doa keburukan itu bertepatan dengan waktu dikabulkannya
permintaan di sisi Alloh sehingga Dia mengabulkan doa buruk tersebut.” (HR.
Muslim no. 3014)
[83] Larangan Meninggal Dunia
Kecuali Berprasangka Baik kepada Alloh
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar
Rosululloh ﷺ
bersabda 3 hari sebelum wafatnya:
«لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Janganlah
sekali-kali salah seorang dari kalian meninggal dunia melainkan ia dalam
keadaan berprasangka baik kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim
no. 2877)
[84] Usaha Syaithon Memecah Belah
Keharmonisan Muslimin
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ،
وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»
“Sungguh
Syaithon telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat di
Jazirah Arob, namun ia tidak pernah putus asa untuk mengadu domba dan memicu
permusuhan di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)
[85] Anjuran Memberikan Syafa’at
Kebaikan untuk Orang Lain
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:
«اشْفَعُوا
تُؤْجَرُوا، وَيَقْضِي اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ مَا شَاءَ»
“Berikanlah
syafa’at (bantuan pertolongan kebaikan), niscaya kalian akan mendapatkan
pahala. Dan Alloh akan menetapkan hukum melalui lisan Nabi-Nya sesuai dengan
apa yang Dia kehendaki.” (HR. Al-Bukhori no. 1422 dan Muslim no. 2627)
[86] Perumpamaan Teman Bergaul
yang Baik dan Teman yang Buruk
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَثَلُ
الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ، فَحَامِلُ
الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ
تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ،
وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً»
“Perumpamaan
teman duduk (bergaul) yang sholih dan teman duduk yang buruk adalah seperti
penjual minyak kasturi dan pandai besi. Penjual minyak kasturi mungkin akan
memberimu minyak harum itu, atau engkau membelinya darinya, atau minimal engkau
mendapati aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin percikan
apinya akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapati bau yang busuk menyengat
darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 2101 dan Muslim no. 2628)
[87] Bahaya Pujian Berlebihan yang
Membinasakan Orang Lain
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ mendengar seorang lelaki
memuji lelaki lain serta mengagung-agungkannya secara berlebihan, maka beliau
bersabda:
«أَهْلَكْتُمْ
- أَوْ قَطَعْتُمْ - ظُهُورَ الرِّجَالِ»
“Kalian
telah membinasakan – atau kalian telah mematahkan – punggung lelaki itu (karena
memujinya berlebihan).” (HR. Al-Bukhori no. 2663 dan Muslim no. 3001)
[88] Simpanan Perbendaharaan
Jannah
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:
«أَلَا
أَدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ؟ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللَّهِ»
“Maukah
engkau aku tunjukkan kepada salah satu simpanan perbendaharaan kekayaan Jannah?
Yaitu ucapan: ‘Laa haula wa laa quwwata illa billah’ (Tidak ada daya
untuk menghindar dari maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali
dengan pertolongan Alloh).” (HR. Al-Bukhori no. 6384 dan Muslim no. 2704)
[89] Kerinduan Berjumpa dengan
Alloh
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَنْ
أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ
كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ»
“Siapa yang
rindu dan suka berjumpa dengan Alloh, niscaya Alloh rindu berjumpa dengannya.
Dan siapa yang benci berjumpa dengan Alloh, niscaya Alloh pun benci berjumpa
dengannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6508 dan Muslim no. 2686)
[90] Ancaman Dua Orang Muslim yang
Saling Mengangkat Senjata
Dari Abu
Bakroh (51 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
تَوَاجَهَ المُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَكِلاَهُمَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ» قِيلَ:
فَهَذَا القَاتِلُ، فَمَا بَالُ المَقْتُولِ؟ قَالَ: «إِنَّهُ أَرَادَ قَتْلَ صَاحِبِهِ»
“Apabila
dua orang Muslim bertarung saling mengacungkan pedangnya, maka orang yang
membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada di dalam Naar.” Ditanyakan kepada
beliau: “Wahai Rosululloh, wajar bagi orang yang membunuh, lalu bagaimana
dengan orang yang terbunuh?” Beliau menjawab: “Karena sungguh ia pun sangat
berhasrat kuat untuk membunuh saudaranya itu.” (HR. Al-Bukhori no. 7083 dan
Muslim no. 2888)
[91] Amalan-amalan Paling Utama
dalam Agama
Dari
Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku
bertanya kepada Nabi ﷺ:
“Amalan apakah yang paling dicintai oleh Alloh?” Beliau menjawab:
«الصَّلَاةُ
عَلَى وَقْتِهَا» قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «بِرُّ الْوَالِدَيْنِ» قُلْتُ: ثُمَّ
أَيٌّ؟ قَالَ: «الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
“Sholat
tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Berbakti
kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad
di jalan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5970 dan Muslim no. 85)
[92] Menjaga Persatuan Umat dari
Perpecahan
Dari ‘Arfajah
bin Syuroih (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّهُ
سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ، فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ
وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ»
“Sungguh
akan ada berbagai bentuk fitnah huru-hara dan perpecahan. Maka siapa yang
hendak memecah belah urusan umat ini padahal mereka sedang bersatu, tebaslah ia
dengan pedang siapa pun orangnya!” (HR. Muslim no. 1852)
[93] Larangan Mencela para
Shohabat Nabi ﷺ
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا
بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ»
“Janganlah
kalian mencela para Shohabatku! Karena seandainya salah seorang dari kalian
menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, niscaya pahalanya tidak akan sanggup
menyamai satu mud (cakupan dua telapak tangan) dari infak salah seorang
Shohabat dan tidak pula setengahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3673 dan Muslim
no. 2541)
[94] Ringannya Azab Penduduk Naar
yang Paling Ringan Siksaannya
Dari An-Nu’man
bin Basyir (64 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ يُوضَعُ فِي أَخْمَصِ
قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ، كَمَا يَغْلِي الْمِرْجَلُ وَالْقُمْقُمُ»
“Sungguh
penghuni Naar yang paling ringan azab siksaannya pada hari Qiyamah adalah
seorang lelaki yang diletakkan dua bongkah bara api di bawah lekukan kedua
telapak kakinya, yang membuat otaknya mendidih hebat sebagaimana mendidihnya
kuali dan periuk.” (HR. Al-Bukhori no. 6562 dan Muslim no. 213)
[95] Larangan Mendiamkan Saudara
Muslim Lebih dari Tiga Hari
Dari Abu
Ayyub Al-Anshori (52 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ
هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»
“Tidak
halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan (memusuhi) saudaranya sesama Muslim
lebih dari 3 malam; keduanya bertemu namun yang ini berpaling dan yang itu pun
berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan
salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)
[96] Adab Makan dan Membaca
Basmalah bagi Anak-anak
Dari Umar
bin Abi Salamah (83 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:
«يَا
غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»
“Wahai anak
kecil, ucapkanlah ‘Bismillah’, makanlah dengan tangan kananmu, dan
makanlah dari makanan yang terdekat darimu!” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan
Muslim no. 2022)
[97] Perintah Menyampaikan Ilmu
Hadits Nabi ﷺ secara Jujur
Dari
Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku
mendengar Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ، مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ
مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»
“Sungguh
berdusta atas namaku tidaklah sama seperti berdusta atas nama orang lain. Siapa
yang sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempat
duduknya di dalam Naar!” (HR. Al-Bukhori no. 1291 dan Muslim no. 4)
[98] Hakikat Kebaikan Akhlak dan
Dosa Hati
Dari
An-Nawwas bin Sam’an (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«الْبِرُّ
حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ
النَّاسُ»
“Kebaikan
yang sejati adalah akhlak yang mulia. Sedangkan dosa adalah apa saja yang
meragukan dan mengganjal di dalam dadamu serta engkau benci jika orang lain
mengetahuinya.” (HR. Muslim no. 2553)
[99] Keutamaan Ahli Al-Qur’an pada
Hari Qiyamah
Dari
An-Nawwas bin Sam’an (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku
mendengar Nabi ﷺ
bersabda:
«يُؤْتَى
بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ،
تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَآلُ عِمْرَانَ»
“Al-Qur’an
akan didatangkan pada hari Qiyamah bersama para ahlinya yang dahulu
mengamalkannya di dunia, dipimpin oleh Surat Al-Baqoroh dan Surah ‘Imron.” (HR.
Muslim no. 805)
[100] Keutamaan Beribadah di Masa
Fitnah Huru-hara
Dari Ma’qil
bin Yasar (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْعِبَادَةُ
فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»
“Beribadah pada masa harj (fitnah huru-hara dan kekacauan urusan manusia) pahalanya seperti Hijroh kepadaku.” (HR. Muslim no. 2948)[]
