[PDF] ARBAIN Keutamaan Hasan dan Husain - Nor Kandir
ARBAIN
Keutamaan Hasan dan
Husain
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 83
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Mencintai,
menghormati, dan mengenali kedudukan Ahlul Bait (keluarga Nabi ﷺ) merupakan bagian dari I’tiqod
Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di antara ikatan kekeluargaan dan keturunan mulia
Rosululloh ﷺ
yang memiliki kedudukan yang sangat istimewa di hati beliau adalah dua cucu
beliau: Hasan bin Ali dan Husain bin Ali rodhiyallahu ‘anhum.
Para Ulama Hadits
telah mengumpulkan berbagai jalur riwayat shohih yang menjelaskan keutamaan Hasan
dan Husain. Kedua tokoh ini bukan hanya perhiasan mata bagi Rosululloh ﷺ di dunia, melainkan pilar
teladan keimanan, keberanian, ketakwaan, serta kepemimpinan bagi pemuda Mu’min
di Jannah kelak.
Buku yang
berada di tangan pembaca ini, “Arbain Keutamaan Hasan dan Husain”,
disusun sebagai bentuk pengabdian ilmiyyah untuk menghimpun 31 Hadits pokok
yang secara khusus dan shohih merinci kedudukan mulia keduanya. Buku ini
dimulai dari keutamaan bersama Hasan dan Husain, diikuti keutamaan khusus Hasan,
keutamaan khusus Husain, lalu Hadits-Hadits pendukung terkait Ahlul Bait.
Semoga
Alloh menjadikan penyusunan karya ini sebagai amal jariyah yang murni mengharap
ridho-Nya, serta menetapkan kita semua dalam golongan Mu’min yang mencintai
Nabi ﷺ
beserta seluruh kerabat dan para Shohabat beliau dengan pemahaman yang lurus.
Ditulis
oleh yang selalu mengharap rohmat Robb-nya.
Al-Faqir
Nor Kandir
Bab 1: Keutamaan Bersama Hasan dan
Husain
Hadits
1: Penamaan Hasan dan Husain
Dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Ketika Hasan
lahir, Rosululloh ﷺ
datang lalu bersabda: “Tunjukkan padaku anakku, nama apa yang kalian berikan
padanya?” Aku menjawab: “Aku memberinya nama Harb (perang).” Beliau bersabda: “Tidak,
melainkan ia adalah Hasan.” Ketika Husain lahir, beliau bersabda: “Tunjukkan
padaku anakku, nama apa yang kalian berikan padanya?” Aku menjawab: “Aku
memberinya nama Harb.” Beliau bersabda: “Tidak, melainkan ia adalah Husain.”
Ketika anak ketiga lahir, Nabi ﷺ datang lalu bersabda: “Tunjukkan padaku anakku, nama apa yang
kalian berikan padanya?” Aku menjawab: “Harb.” Beliau bersabda: “Ia adalah
Muhsin.” (HR. Ahmad dalam Fodho’ilus Shohabah 2/773 no. 1365, dan Al-Haitsami
berkata: rowinya tsiqoh)
Syarah:
Nabi ﷺ mengganti nama yang berkesan
keras dengan nama yang indah dan mengandung kebaikan (Hasan berarti yang baik/tampan/bagus,
Husain bentuk kecil dari Husain).
Hadits
2: Hasan Husain Termasuk Ahlul Bait
﴿إِنَّمَا
يُرِيدُ ٱللَّهُ
لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ
أَهْلَ ٱلْبَيْتِ
وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾
“Sungguh
Alloh hendak menghilangkan dosa dan kotoran dari kamu, wahai Ahlul Bait, dan
membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Dari Aisyah
rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ، مِنْ شَعْرٍ أَسْوَدَ،
فَجَاءَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ جَاءَ الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ مَعَهُ،
ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا، ثُمَّ جَاءَ عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ، ثُمَّ قَالَهَا
“Nabi ﷺ keluar pada suatu pagi dengan
menggunakan kain penutup (kisa’) dari bulu hitam. Lalu Hasan datang dan
Nabi ﷺ
memasukkannya ke bawah kain, kemudian Husain datang dan masuk bersamanya, lalu
Fatimah datang dan dimasukkan pula, kemudian Ali datang dan dimasukkan. Lalu
Nabi ﷺ
membaca ayat di atas.” (HR. Muslim no. 2424)
Syarah:
Hadits ini
menunjukkan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain sebagai Ahlul Bait dan didoakan
secara khusus oleh Nabi ﷺ
agar disucikan dari segala keburukan akhlak dan keburukan i'tiqod.
Hadits
3: Pemimpin Pemuda Ahli Jannah
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:
«الحَسَنُ وَالحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ
الجَنَّةِ»
“Hasan dan Husain
adalah dua penghulu pemuda ahli Jannah.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3768 dan Ahmad
no. 11012)
Syarah:
Menurut
penjelasan Imam al-Nawawi, “pemuda” di sini bukan umur penghuni Surga. Beliau
menjelaskan bahwa penghuni Surga berada pada usia yang sama—tiga puluh tiga
tahun—sedangkan gelar itu menunjuk pada golongan orang yang meninggal dalam
keadaan muda. Maka Hasan dan Husain adalah pemimpin golongan yang wafat muda
dan masuk Surga; sebagaimana Abu Bakar dan Umar adalah pemimpin golongan yang
wafat sebagai kuhul (tua) dan masuk Surga. Orang yang memimpin suatu
golongan tidak harus sebaya dengan orang-orang yang dipimpinnya. (Lihat Fatawa
An-Nawawi, 1/255)
Hasan wafat
pada usia 47 tahun, sementara Husain 57 tahun, dengan perselisihan ulama.
Hadits
4: Dua Roihanah Nabi ﷺ di Dunia
Dari Ibn
Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau ditanya oleh seseorang dari Irak
tentang hukum darah nyamuk saat berihrom, maka Ibn Umar rodhiyallahu ‘anhuma
berkata: Lihatlah orang ini, ia bertanya tentang darah nyamuk padahal mereka
telah membunuh putra dari putri Rosululloh ﷺ, padahal aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا»
“Keduanya
adalah dua roihanah (bunga wewangian) ku di dunia.” (HR. Al-Bukhori no.
3753)
Syarah:
Ungkapan “roihanah”
menggambarkan betapa besar rasa cinta, kelembutan, dan kebahagiaan yang
dirasakan Rosululloh ﷺ
ketika mencium dan memeluk kedua cucu beliau. Hadits ini juga menjadi sindiran
keras bagi orang-orang yang bersikap berlebihan dalam perkara kecil fikih namun
meremehkan dosa besar berupa pertumpahan darah Ahlul Bait.
Hadits
5: Keduanya Sangat Dicintai Nabi ﷺ
Dari Al-Baro’
bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku melihat Nabi ﷺ menggendong Hasan dan Husain
di atas pundak beliau, seraya berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا»
“Ya Alloh,
sungguh aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya.” (HSR. At-Tirmidzi no.
3782)
Dari Usamah bin Zaid rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku
mendatangi Nabi ﷺ pada suatu malam untuk suatu
keperluan. Lalu Nabi ﷺ keluar dalam keadaan
berselimutkan sesuatu yang aku tidak tahu apakah itu. Setelah aku selesai dari
keperluanku, aku bertanya: “Apakah ini yang engkau berselimutkan padanya?” Maka
beliau meyingkapnya, ternyata ada Hasan dan Husain berada di atas pinggul
beliau. Lalu beliau bersabda:
«هَذَانِ ابْنَايَ وَابْنَا ابْنَتِيَ، اللَّهُمَّ
إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُمَا»
“Kedua anak ini adalah putraku dan putra dari putriku. Ya Alloh,
sungguh aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya dan cintailah siapa
yang mencintai keduanya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3769)
Syarah:
Mencintai Hasan
dan Husain merupakan bentuk sarana mendekatkan diri kepada Alloh. Barangsiapa
yang mencintai apa yang dicintai oleh Nabi ﷺ, maka ia berhak mendapatkan keutamaan dicintai oleh Alloh. Doa
Nabi ﷺ
ini berlaku bagi kedua cucu beliau secara langsung dan mencakup ganjaran bagi
siapa saja dari kalangan Mu’min yang mencintai mereka karena Alloh.
Hadits
6: Didoakan Nabi ﷺ dari Segala Gangguan
Dari Ibn
Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Nabi ﷺ membacakan doa perlindungan
untuk Hasan dan Husain dengan mengucapkan:
«أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ،
مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ،
وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ»
“Aku
memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna untuk kalian
berdua dari setiap (gangguan) syaithon, binatang berbisa, dan dari setiap
pandangan mata dengki yang merusak.”
Beliau
bersabda:
«كَانَ أَبُوكُمْ يُعَوِّذُ بِهِمَا إِسْمَاعِيلَ
وَإِسْحَاقَ»
“Demikianlah
dahulu leluhur kalian (Ibrohim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq.”
(HR. Al-Bukhori no. 3371 dan lafazh Abu Dawud no. 4737)
Syarah:
Hadits ini
menghimpun 3 pokok gangguan: dari arah jin (syaithon), binatang (bisa), manusia
(padangan ain).
Doa ini
dibaca oleh dua orang terbaik untuk anak-anak terbaik, sebagai isyarat agar
diikuti oleh orang-orang setelahnya.
Abu Dawud
berkata: “Ini dalil bahwa Al-Quran bukan makhluk.” Yakni bertawassul dengan
kalimat Alloh menunjukkkan ia bukan makhluk.
Hadits
7: Mencintai Keduanya Bagian dari Mencintai Nabi ﷺ
Dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Rosululloh ﷺ
memegang tangan Hasan dan Husain lalu bersabda:
«مَنْ أَحَبَّنِي وَأَحَبَّ هَذَيْنِ وَأَبَاهُمَا
وَأُمَّهُمَا كَانَ مَعِي فِي دَرَجَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Siapa yang
mencintaiku, mencintai kedua anak ini, serta mencintai ayah dan ibu keduanya,
maka ia akan berada bersamaku pada derajatku pada hari Qiyamah.” (HR.
At-Tirmidzi no. 3733)
Dihasankan
Ahmad Syakir di Musnad Ahmad. Ibnul Wazir Al-Yamani berkata: “Sanadnya tidak
terdapat rowi yang dikritik maupun dilemahkan.” Ia dilemahkan Adz-Dzahabi,
Al-Albani, Al-Arnauth.
Syarah:
Kecintaan
yang dimaksud di sini adalah kecintaan yang dilandasi Akidah yang benar, tanpa
disertai sikap ghuluw (berlebihan) atau melanggar syariat, serta tidak
membenci Shohabat Nabi ﷺ
yang lain.
Hadits
8: Cucuku Menaiki Punggungku
Dari
Syaddad bin Al-Had rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ keluar menemui kami pada
salah satu dari dua Sholat malam (Maghrib atau Isya) dalam keadaan menggendong Hasan
atau Husain. Lalu Rosululloh ﷺ
maju ke depan dan meletakkannya, kemudian beliau bertakbir untuk Sholat dan
beliau pun Sholat. Di tengah-tengah Sholatnya, beliau melakukan satu sujud yang
sangat lama. Maka aku mengangkat kepalaku dan ternyata anak kecil itu berada di
atas punggung Rosululloh ﷺ
saat beliau sedang sujud, lalu aku pun kembali sujud. Ketika Rosululloh ﷺ telah menyelesaikan
Sholatnya, orang-orang bertanya: “Wahai Rosululloh, sungguh engkau telah sujud
di tengah-tengah Sholatmu dengan satu sujud yang engkau perlama hingga kami
menyangka telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu.” Beliau
bersabda:
«كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي
فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ»
“Semua itu
tidak terjadi, akan tetapi cucuku ini menaiki punggungku, maka aku tidak ingin
terburu-buru menyudahinya sampai ia menyelesaikan keinginannya.” (HSR. An-Nasa’i
no. 1141)
Syarah:
Hadits ini
menunjukkan kasih sayang yang sangat tinggi dari Nabi ﷺ terhadap anak-anak, khususnya
cucu beliau, serta kelapangan dada beliau dalam Sholat tanpa mengabaikan
kekhusyukan dan keselamatan anak.
Hadits
9: Hadits Ghodir Khumm
Dari Zaid
bin Arqom rodhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: Pada suatu hari
Rosululloh ﷺ
berdiri berkhotbah di tengah-tengah kami di suatu mata air yang dinamakan
Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Alloh dan
mengagungkan-Nya, memberikan nasihat dan peringatan, kemudian beliau bersabda:
«أَمَّا بَعْدُ، أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا
أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ، وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ
ثَقَلَيْنِ: أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ
اللهِ، وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ» فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيهِ، ثُمَّ
قَالَ: «وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ
فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي»
“Amma
ba’du, ingatlah wahai manusia, sungguh aku hanyalah seorang manusia yang hampir
didatangi utusan Robb-ku (Malaikat Maut) lalu aku memenuhinya. Dan aku
meninggalkan pada kalian dua perkara berat: yang pertama adalah Kitabulloh, di
dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitabulloh dan berpegang
teguhlah padanya.” Beliau sangat mendorong dan menyemangati untuk berpegang
teguh pada Kitabulloh. Kemudian beliau bersabda: “Dan Ahlul Bait-ku, aku
mengingatkan kalian demi Alloh akan hak Ahlul Bait-ku, aku mengingatkan kalian
demi Alloh akan hak Ahlul Bait-ku, aku mengingatkan kalian demi Alloh akan hak
Ahlul Bait-ku.”
Lalu Husain
bin Sabroh bertanya kepada Zaid bin Arqom: “Siapakah Ahlul Bait beliau wahai
Zaid? Bukankah istri-istri beliau termasuk Ahlul Bait-nya?” Zaid menjawab: “Istri-istri
beliau memang termasuk Ahlul Bait-nya, tetapi Ahlul Bait beliau yang dimaksud
secara khusus di sini adalah orang-orang yang diharomkan menerima harta Zakat
setelah wafatnya beliau.” Husain bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?” Zaid
menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan
keluarga ‘Abbas.” Husain bertanya: “Apakah mereka semua itu diharomkan menerima
harta Zakat?” Zaid menjawab: “Ya.” (HR. Muslim no. 2408)
Syarah:
Diantara
hak-hak Ahlul Bait:
1. Mencintai
dan menghormati
mereka, khususnya karena hubungan kekerabatan mereka dengan Rosululloh ﷺ dan keimanan mereka. Adapun
yang tidak beriman maka bukan keluarga Nabi ﷺ seperti Abu Tholib dan Abu Lahat. Begitu pula yang menyelisihi
Sunnah berkurang haknya sesuai kadar menyelisihi.
2. Menjaga
kehormatan mereka:
tidak merendahkan atau menzolimi mereka, dan tidak membenarkan tuduhan dusta
terhadap mereka. Namun membela mereka juga bukan berarti mengangkat mereka
melampaui kedudukan yang semestinya, seperti yang dilakukan Syiah.
3. Mendoakan
mereka dengan sholawat bersama Nabi ﷺ,
seperti dalam bacaan sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad dalam tasyahhud.
4. Mengakui
hak-hak khusus yang
disebut dalam pembahasan fikih, termasuk bagian dari khumus dan fai
bagi pihak yang berhak.
5. Menghormati
istri-istri Nabi ﷺ, mengakui kedudukan mereka
sebagai Ummahatul Mukminin, karena mereka termasuk Ahlul Bait.
6. Mencintai
para Shohabat
karena Ahlul Bait menghormati dan mencintai mereka terutama Abu Bakr, Umar,
Utsman. Ali menamai anak-anaknya: Abu Bakar, Umar, Utsman. Hasan dan Husain
menamai anak-anaknya: Abu Bakr dan Umar. ‘Aqil bin Abi Tholib menamai anaknya:
Utsman. (Lihat Maa qoolahu Ats-Tsaqolaan fii Auliya Rohman, hal. 92)
Hadits
10: Diaqiqohi Sang Kakek
Dari Abdulloh
bin Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
«عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
بِكَبْشَيْنِ كَبْشَيْنِ»
“Rosululloh ﷺ mengaqiqohi Hasan dan Husain
masing-masing dua kambing jantan.” (HSR. An-Nasai no. 4219)
Syarah:
Aqiqoh
hukumnya sunnah. Hak aqiqoh boleh diambil alih oleh kakeknya. Dianjurkan 2
kambing dan jika tidak ada maka 1 kambing, baik jantang maupun betina.
Hadits
11: Dibonceng Nabi ﷺ
Dari
Salamah bin Al-Akwa’ (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«لَقَدْ قُدْتُ بِنَبِيِّ اللهِ ﷺ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ، بَغْلَتَهُ الشَّهْبَاءَ، حَتَّى
أَدْخَلْتُهُمْ حُجْرَةَ النَّبِيِّ ﷺ، هَذَا
قُدَّامَهُ وَهَذَا خَلْفَهُ»
“Sungguh
aku pernah menuntun baghol (peranakan kuda dan keledai) putih keabu-abuan milik
Nabi Alloh ﷺ
yang sedang dinaiki oleh beliau, Hasan, dan Husain, hingga aku memasukkan
mereka ke dalam kamar Nabi ﷺ;
yang satu berada di depan beliau dan yang satu lagi berada di belakang beliau.”
(HR. Muslim no. 2423)
Hadits 12: Tidak Sabar Atas Keduanya
Dari Abu Buroidah (105 H), beliau berkata: Dahulu Rosululloh ﷺ sedang berkhutbah di hadapan kami, tiba-tiba datang Al-Hasan
dan Al-Husain rodhiyallahu ‘anhuma memakai baju gamis merah. Keduanya
berjalan seraya terjatuh-jatuh (karena masih kecil). Maka Rosululloh ﷺ turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dan meletakkannya
di hadapan beliau, kemudian beliau bersabda:
«صَدَقَ اللَّهُ ﴿إِنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ نَظَرْتُ
إِلَى هَذَيْنِ الصَّبِيَّيْنِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَلَمْ أَصْبِرْ حَتَّى قَطَعْتُ
حَدِيثِي وَرَفَعْتُهُمَا»
“Sungguh benar Alloh dalam firman-Nya: ‘Sungguh harta-hartamu
dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian/cobaan).’ (QS. At-Taghobun: 15)
Aku melihat kedua anak kecil ini berjalan seraya terjatuh-jatuh, maka aku
tidak tahan sampai aku memotong pembicaraanku (khotbahku) dan menggendong
keduanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3774, Abu Dawud no. 1109, An-Nasa’i no. 1585,
dan Ibn Majah no. 3600)
Bab 2: Keutamaan Khusus Hasan
Hadits
13: Pemimpin yang Mendamaikan Dua Kelompok Besar Muslimin
Hasan
Al-Bashri (110 H) berkata: Demi Alloh, Hasan bin Ali (50 H) telah menyongsong
Mu’awiyah (60 H) dengan pasukan katatib (pasukan tentara yang besar dan
terkumpul rapat) seperti gunung-gunung. Maka ‘Amr bin Al-‘Ash (43 H) berkata: “Sungguh
aku melihat pasukan tentara yang tidak akan berpaling mundur sampai mereka
membunuh tandingan-tandingan mereka (dalam keberanian dan peperangan).” Maka Mu’awiyah
berkata kepadanya —dan demi Alloh, Mu’awiyah adalah yang lebih baik di antara
kedua lelaki itu (karena ‘Amr lebih keras sikapnya)—: “Wahai ‘Amr, jika
kelompok ini membunuh kelompok itu, dan kelompok itu membunuh kelompok ini,
siapa yang akan mengurusi perkara manusia bagiku? Siapa yang akan mengurusi
para wanita mereka bagiku? Siapa yang akan mengurusi anak-anak dan orang-orang
lemah mereka bagiku?”
Maka Mu’awiyah
mengutus kepadanya dua orang lelaki dari Quroisy dari Bani Abd Syams:
Abdurrohman bin Samuroh (50 H) dan Abdulloh bin ‘Amir bin Kariz (59 H). Beliau
berkata: “Pergilah kalian berdua kepada lelaki ini (Hasan), tawarkanlah
kepadanya, bicaralah dengannya, dan mintalah kedamaian dengannya.” Maka
keduanya mendatangi Hasan, masuk menemui beliau lalu berbicara dan menyampaikan
tawaran kepadanya serta meminta perdamaian darinya.
Maka Hasan
bin Ali berkata kepada keduanya: “Sungguh kami, Bani Abdul Mutholib, telah
terbiasa memperoleh harta ini (harta banyak pada masa Khilafah untuk nafkah
keluarga), dan sungguh umat ini telah saling membunuh sesamanya.” Keduanya
berkata: “Sungguh Mu’awiyah menawarkan kepadamu demikian dan demikian, meminta
kepadamu, serta memohon kepadamu.” Hasan berkata: “Lalu siapa yang menanggung
hal ini bagiku (atas apa yang kalian sebutkan)?” Keduanya berkata: “Kami yang
menanggungnya untukmu.” Maka tidaklah Hasan meminta suatu perkara kepada
keduanya melainkan keduanya berkata: “Kami yang menanggungnya untukmu.” Maka Hasan
pun berdamai dengannya.
Hasan
Al-Bashri (110 H) berkata: Dan sungguh aku mendengar Abu Bakroh (51 H) berkata:
Aku melihat Rosululloh ﷺ
di atas mimbar dan Hasan bin Ali berada di samping beliau, beliau menoleh
kepada manusia sekali dan kepada Hasan sekali seraya bersabda:
«إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ
أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ المُسْلِمِينَ»
“Sungguh
cucuku ini adalah seorang Sayyid (pemimpin), dan semoga Alloh mendamaikan
melaluinya dua kelompok besar dari kaum Muslimin.” (HR. Al-Bukhori no. 2704)
Syarah:
Nubuat Nabi
ﷺ ini terbukti ketika Hasan rodhiyallahu
‘anhu dengan jiwa besar menyerahkan kepemimpinan demi persatuan umat dan
menghentikan pertumpahan darah kaum Muslimin hingga tahun itu disebut aamul
jamaa’ah (Tahun Persatuan). Seakan-akan akan diganti dengan kepemimpinan
Al-Mahdi di akhir zaman yang berasal dari keturunannya.
Hadits
14: Aku Menyayanginya
Dari Usamah
bin Zaid rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ biasa mengambilku lalu
mendudukkanku di atas paha beliau, dan mendudukkan Hasan di atas paha beliau
yang lainnya, kemudian beliau merapatkan keduanya, lalu berdoa:
«اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا»
“Ya Alloh,
sayangilah keduanya karena sungguh aku menyayangi keduanya.” (HR. Al-Bukhori
no. 6003)
Syarah:
Ini salah
satu momen. Di momen lainnya memangku Hasan dan Husain serta mendoakan
keduanya.
Hadits
15: Paling Mirip dengan Rosululloh ﷺ
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ ﷺ
مِنَ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ»
“Tidak ada
seorang pun yang lebih mirip dengan Nabi ﷺ daripada Hasan bin Ali.” (HR. Al-Bukhori no. 3752)
Dari Abu Juhaifah (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ، وَكَانَ الحَسَنُ يُشْبِهُهُ»
“Aku melihat Rosululloh ﷺ, dan
Al-Hasan bin Ali sangat mirip dengan beliau.” (HR. Al-Bukhori no. 3543)
Syarah:
Yang paling
mirip wajahnya dengan Nabi ﷺ adalah Hasan dan Husain. Ibnu Hajar (852 H) berkata: “Dan
orang-orang yang memiliki kemiripan dengan Nabi ﷺ selain Hasan dan Husain
adalah:
1. Ja’far
bin Abi Tholib (8 H).
2. Putra beliau, Abdulloh bin Ja’far (80 H).
3. Qutsam —dengan huruf qof— bin Al-Abbas bin Abdul Mutholib
(56 H).
4. Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Mutholib (15 H).
5. Muslim bin ‘Aqil
bin Abi Tholib (60 H).
Dan dari selain Bani Hasyim adalah:
6. As-Sa’ib
bin Yazid Al-Mutholibiy, kakek buyut dari Imam Asy-Syafii.
7. Abdulloh bin Amir bin Kariz Al-‘Absyamiy.
8.
Kabis bin Robi’ah bin ‘Adiy.” (Fathul Bari Syarh Shohih Al-Bukhori, 7/97)
Hadits
16: Pelukan dan Ciuman Kasih Sayang Nabi ﷺ Kepada Keduanya
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ mencium Hasan bin Ali
sedangkan di dekat beliau ada Al-Aqro’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk.
Al-Aqro’ berkata: “Sungguh aku memiliki 10 orang anak dan tidak pernah mencium
seorang pun dari mereka.” Maka Rosululloh ﷺ memandangnya lalu bersabda:
«مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ»
“Siapa
yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhori no. 5997)
Syarah:
Mencium
anak dan cucu merupakan bentuk kasih sayang yang disyariatkan dan terpuji.
Sikap lembut Rosululloh ﷺ
ini menjadi teladan utama dalam pengasuhan anak dalam Islam. Rosululloh ﷺ sangat mencintai Hasan.
Hadits
17: Cintailah Orang yang Mencintainya
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku keluar bersama
Rosululloh ﷺ
pada sebagian siang, beliau tidak berbicara kepadaku dan aku pun tidak
berbicara kepada beliau, hingga beliau sampai di pasar Banu Qainuqa’. Kemudian beliau
kembali hingga mendatangi kemah Fatimah, lalu beliau bersabda: “Apakah di sana
ada si kecil (Hasan)? Apakah di sana ada si kecil?” Kami menduga ibunya
menahannya sebentar untuk memandikannya dan memakaikannya sikhob (kalung
dari manik-manik atau ramuan wewangian tanpa emas dan perak). Tidak berselang
lama anak itu datang berlari hingga masing-masing dari keduanya memeluk (saling
memeluk). Maka Rosululloh ﷺ
bersabda:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحِبَّ
مَنْ يُحِبُّهُ»
“Ya Alloh, sungguh
aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah siapa yang mencintainya.”
(HR. Muslim no. 2421)
Hadits
18: Dicukur dan Shodaqoh
Dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ meng-aqiqohi Hasan dengan
seekor kambing, lalu beliau bersabda kepada Fatimah:
«يَا فَاطِمَةُ، احْلِقِي رَأْسَهُ، وَتَصَدَّقِي
بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً»
“Hai
Fatimah, cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak seberat timbangan
rambutnya.” Maka ia menimbangnya seharga 1 dirham atau kurang. (HHR.
At-Tirmidzi no. 1519)
Syarah:
Hadits ini
menjadi dasar sunnah aqiqoh serta anjuran bersedekah perak setara berat
timbangan rambut bayi yang baru lahir sebagai wujud syukur atas nikmat
kelahiran.
Hadits
19: Hasan Dilarang Makan Zakat
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Hasan bin Ali
mengambil sebutir kurma dari kurma Zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
Maka Rosululloh ﷺ
bersabda:
«كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا
لَا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ؟»
“Kikh,
kikh! Buanglah kurma itu! Apakah engkau tidak tahu bahwa kita tidak boleh
memakan harta Zakat?” (HR. Al-Bukhori no. 1491 dan lafazh Muslim no. 1069)
Syarah:
Ahlul Bait
diharomkan makan Zakat, karena kehormatan mereka, dan dibolehkan makan hadiah.
Hadits
20: Dicintai Abu Bakr
Dari Uqbah
bin Al-Harits rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku melihat Abu Bakr
Ash-Shiddiq (13 H) menggendong Hasan seraya berkata:
«بِأَبِي شَبِيهٌ بِالنَّبِيِّ، لَيْسَ شَبِيهٌ
بِعَلِيٍّ» وَعَلِيٌّ يَضْحَكُ
“Demi
ayahku, ia mirip dengan Nabi ﷺ
dan tidak mirip dengan Ali,” sementara Ali tertawa mendengar hal itu. (HR.
Al-Bukhori no. 3750)
Syarah:
Sikap Abu
Bakr (13 H) menunjukkan betapa besarnya pemuliaan dan rasa cinta para Shohabat
utama terhadap Hasan demi menjaga hubungan baik dengan Rosululloh ﷺ.
Hadits
21: Diajari Ilmu Sang Kakek
Dari Hasan
bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ mengajariku kalimat-kalimat
yang aku ucapkan dalam Sholat Witir:
«اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي
فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ،
وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا
يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»
“Ya Alloh,
berilah aku petunjuk bersama orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk,
berilah aku keselamatan (afiat) bersama orang-orang yang telah Engkau
beri keselamatan, uruslah aku (jadikanlah aku wali-Mu) bersama orang-orang yang
telah Engkau urus, berilah keberkahan bagiku pada apa yang telah Engkau
berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan.
Sungguh Engkau-lah yang memutuskan dan tidak ada yang dapat memutuskan atas-Mu.
Dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau lindungi (jadikan kekasih-Mu),
serta tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau wahai Robb
kami dan Maha Tinggi Engkau.” (HSR. Abu Dawud no. 1425, At-Tirmidzi no. 464,
An-Nasa’i no. 1745, Ibn Majah no. 1178, dan Ahmad no. 1718)
Syarah:
Pengajaran
doa Qunut Witir ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ dalam membimbing Hasan dalam tata cara ibadah sejak kecil.
Hadits
22: Salah Satu Kaidah Besar
Dari Hasan
bin Ali rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku menghafal dari
Rosululloh ﷺ
sabda beliau:
«دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ»
“Tinggalkanlah
apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2518)
Syarah:
Hadits ini
menjadi salah satu kaidah besar dalam ushul fiqih.
Bab 3: Keutamaan Khusus Husain
Hadits
23: Husain Mirip Nabi ﷺ
Dari Ali
bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«الحَسَنُ أَشْبَهُ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
مَا بَيْنَ الصَّدْرِ إِلَى الرَّأْسِ، وَالْحُسَيْنُ أَشْبَهُ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ
مَا كَانَ أَسْفَلَ مِنْ ذَلِكَ»
“Hasan
adalah yang paling mirip dengan Rosululloh ﷺ pada bagian antara dada hingga kepala, sementara Husain adalah
yang paling mirip dengan Rosululloh ﷺ pada bagian bawah dari itu.” (HR. At-Tirmidzi no. 3779.
Dishohihkan Ahmad Syakir dan Al-Arnauth)
Hadits
24: Husain Sangat Rupawan
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan: Kepala
Al-Husain dihadiahkan dan dibawakan kepada ‘Ubaidulloh bin Ziyad (67 H), lalu
diletakkan di dalam sebuah bejana (wadah tembaga/baskom). Kemudian ‘Ubaidulloh
bin Ziyad mulai menusuk-nusuknya (dengan tongkat) dan mengomentari ketampanan
Al-Husain. Maka Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«كَانَ أَشْبَهَهُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانَ مَخْضُوبًا بِالوَسْمَةِ»
“Al-Husain
adalah orang yang paling mirip di antara mereka dengan Rosululloh ﷺ, dan rambutnya dahulu
diwarnai dengan wasmah (jenis tanaman herbal berwarna gelap yang biasa digunakan
untuk mewarnai rambut/jenggot).” (HR. Al-Bukhori no. 3748)
Dari ‘Umaroh
bin ‘Umair, beliau menceritakan: Ketika dibawakan kepala ‘Ubaidulloh bin Ziyad
(67 H) beserta kepala teman-temannya, kepala-kepala itu disusun berderet di
Masjid di area halaman luas (halaman terbuka atau pelataran Masjid). Maka aku
sampai ke tempat mereka, lalu orang-orang berkata: “Ular itu telah datang, ular
itu telah datang!” Tiba-tiba tampak seekor ular datang menyusup di antara
kepala-kepala tersebut hingga masuk ke kedua lubang hidung ‘Ubaidulloh bin
Ziyad. Ular itu berdiam di sana sejenak, kemudian keluar dan pergi hingga
menghilang. Kemudian orang-orang berkata lagi: “Ular itu telah datang, ular itu
telah datang!” Ular itu melakukan hal tersebut sebanyak 2 atau 3 kali. (HSR.
At-Tirmidzi no. 3780)
Hadits
25: Husain dariku dan Aku dari Husain
Dari Ya’la
bin Murroh rodhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan kepada orang-orang
bahwa beberapa Shohabat keluar bersama Nabi ﷺ menuju suatu undangan makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di
jalanan. Maka Nabi ﷺ
maju mendahului rombongan, lalu beliau membentangkan kedua tangannya. Anak
kecil itu (Husain) pun mulai lari ke sana dan ke mari, sementara Nabi ﷺ membuatnya tertawa hingga
beliau berhasil menangkapnya. Lalu beliau menjadikan salah satu tangannya di
bawah dagu Husain dan tangan yang lainnya di belakang kepalanya, kemudian
beliau menciumnya dan bersabda:
«حُسَيْنٌ مِنِّي، وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ، أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ
حُسَيْنًا، حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنَ الْأَسْبَاطِ»
“Husain
adalah bagian dariku dan aku bagian dari Husain. Alloh mencintai siapa yang
mencintai Husain. Husain adalah salah satu cucu dari cucu-cucu keturunanku.” (HHR.
Ibn Majah no. 144, At-Tirmidzi no. 3775, dan Ahmad no. 17572)
Hadits
26: Wafatnya Husain di Karbala
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu: Malaikat Hujan meminta izin kepada
Robb-nya untuk mendatangi Nabi ﷺ, maka Dia pun mengizinkannya. Lalu Nabi ﷺ bersabda kepada Umm Salamah rodhiyallahu
‘anha:
“Jagalah
pintu untuk kami, jangan biarkan seorang pun masuk menemui kami.” Anas berkata:
Lalu Husain datang hendak masuk, maka Umm Salamah menahannya, namun Husain
melompat lalu masuk, kemudian ia duduk di atas punggung Nabi ﷺ, di atas pundak beliau, dan
di atas leher beliau.
Anas
berkata: Maka Malaikat itu berkata kepada Nabi ﷺ: “Apakah engkau mencintainya?” Beliau menjawab: “Ya.” Malaikat
berkata: “Ketahuilah bahwa umatmu sungguh akan membunuhnya, dan jika engkau
mau, aku akan perlihatkan kepadamu tempat ia dibunuh.” Lalu Malaikat itu
memukulkan tangannya (ke tanah) lalu membawa tanah liat merah. Maka Umm Salamah
mengambilnya lalu mengikatnya di dalam kerudungnya. Tsabit berkata: “Telah
sampai berita kepada kami bahwa tempat itu adalah Karbala.” (HR. Ahmad no. 13539,
Ibn Hibban no. 6742. Hamzah Zain: shohih. Al-Arnauth: lemah)
Hadits
27: Disaksikan Sebagai Ahli Jannah
Dari Jabir
bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ»، فَإِنِّي سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُهُ
“Siapa
yang ingin melihat penghuni Jannah, maka hendaklah ia melihat kepada Husain bin
Ali.” Aku mendengar Rosululloh ﷺ mengucapkannya. (HHR. Abu Ya’la no. 2105)
Bab 4: Hadits-Hadits Terkait
Keduanya dan Ahlul Bait
Hadits
28: Perintah Bersholawat Kepada Ahlul Bait
Dari Ka’b
bin ‘Ujroh rodhiyallahu ‘anhu, para Shohabat bertanya: Wahai Rosululloh,
kami telah tahu cara mengucapkan salam padamu, lalu bagaimana cara kami bersholawat
kepadamu? Beliau bersabda: Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى
آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
“Ya Alloh,
berilah sholawat (pujian dan kemuliaan) kepada Muhammad dan kepada keluarga
Muhammad, karena Engkau telah memberi sholawat kepada keluarga Ibrohim,
sungguh Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Alloh, berilah keberkahan
kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, karena Engkau telah
memberi keberkahan kepada keluarga Ibrohim, sungguh Engkau Maha Terpuji lagi
Maha Mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 6357 dan Muslim no. 406)
Syarah:
Membaca
Sholawat kepada keluarga Nabi ﷺ,
mencakup Hasan dan Husain, secara khusus dan seluruh pengikut beliau secara
umum, karena aalu terkadang bermakna pengikut.
Hadits
29: Fatimah Pemimpin Wanita Jannah
Dari Aisyah
rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Fatimah datang berjalan yang cara
berjalannya persis seperti cara berjalan Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ
bersabda: “Selamat datang putriku.” Kemudian beliau mendudukkannya di sebelah
kanan atau sebelah kirinya, lalu beliau membisikkan suatu perkataan kepadanya
maka ia pun menangis. Aku (Aisyah) bertanya kepadanya: “Mengapa engkau
menangis?” Kemudian Nabi ﷺ
membisikkan lagi suatu perkataan kepadanya maka ia pun tertawa. Aku berkata: “Aku
belum pernah melihat kegembiraan yang begitu dekat dengan kesedihan seperti
hari ini.” Lalu aku bertanya kepadanya tentang apa yang disabdakan Nabi ﷺ, namun Fatimah menjawab: “Aku
tidak akan membocorkan rahasia Rosululloh ﷺ.” Hingga ketika Nabi ﷺ telah wafat, aku bertanya lagi kepadanya.
Maka
Fatimah menjawab: “Beliau membisikkan kepadaku:
«إِنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي القُرْآنَ
كُلَّ سَنَةٍ مَرَّةً، وَإِنَّهُ عَارَضَنِي العَامَ مَرَّتَيْنِ، وَلاَ أُرَاهُ إِلَّا
حَضَرَ أَجَلِي، وَإِنَّكِ أَوَّلُ أَهْلِ بَيْتِي لَحَاقًا بِي». فَبَكَيْتُ، فَقَالَ:
«أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ تَكُونِي سَيِّدَةَ نِسَاءِ أَهْلِ الجَنَّةِ، أَوْ نِسَاءِ
المُؤْمِنِينَ» فَضَحِكْتُ لِذَلِكَ
‘Sungguh
Jibril biasa menyimak Al-Qur’an bersamaku setiap tahun sekali, dan sungguh ia
menyimak bersamaku pada tahun ini dua kali. Aku tidak melihat hal itu melainkan
ajalku telah dekat, dan sungguh engkau adalah orang pertama dari Ahlul Bait-ku
yang akan menyusulku.’ Maka aku pun menangis. Lalu beliau bersabda: ‘Tidakkah
engkau ridho menjadi pemimpin para wanita ahli Jannah, atau penghulu para wanita
kaum Mu’min?’ Maka aku pun tertawa karena hal itu.” (HR. Al-Bukhori no.
3623-3624)
Syarah:
Keutamaan Hasan
dan Husain bertambah dengan keutamaan ibundanya.
Hadits
30: Keutamaan Amirul Mu’minin Ali
Dari Sa’d
bin Abi Waqqosh (55 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda kepada Ali (40 H):
«أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى
إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»
“Kedudukanmu
di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa (1400 SM), hanya saja tidak ada
Nabi setelahku.” (HR. Al-Bukhori no. 3706).
Syarah:
Keutamaan
Amirul Mu’minin Ali begitu banyak: orang yang diridhoi saat Nabi ﷺ wafat, penghuni Jannah,
dicintai Alloh dan Rosul-Nya dan mencintai Alloh dan Rosul-Nya, yang pertama
masuk Islam dari kalangan lelaki, mencintainya tanda iman dan membencinya tanda
nifaq, menantu Nabi ﷺ,
istrinya pemimpin wanita Jannah, anak-anaknya pemimpin pemuda Jannah, wakil
Nabi ﷺ
di Madinah, pemberani dalam duel perang, ahli tafsir dan faqih, zuhud terhadap
dunia, dan sabar sampai wafatnya. Semua keutamaan ini menambah keutamaan Hasan
dan Husain sebagai putra-putranya.
Hadits
31: Menjaga Wasiat Berbuat Baik kepada Ahlul Bait
﴿قُل
لَّآ أَسْـئَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا ٱلْمَوَدَّةَ
فِى ٱلْقُرْبَىٰ﴾
“Katakanlah:
‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruan ini kecuali kasih
sayang dalam kekerabatan.’” (QS. Asy-Syuro: 23)
Dari Abu
Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«ارْقُبُوا مُحَمَّدًا ﷺ فِي أَهْلِ بَيْتِهِ»
“Jagalah
Muhammad ﷺ
pada Ahli Bait beliau.” (HR. Al-Bukhori no. 3713)
Penutup
﴿إِنَّ
ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا وَعَمِلُوا ٱلصَّٰلِحَٰتِ
كَانَتْ لَهُمْ جَنَّٰتُ ٱلْفِرْدَوْسِ
نُزُلاً﴾
“Sungguh
orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, untuk mereka disediakan
Jannah Firdaus sebagai tempat tinggal.” (QS. Al-Kahfi: 107)
Kewajiban
setiap Muslim adalah menumbuhkan rasa cinta yang tulus kepada Ahlul Bait Nabi ﷺ, menghormati hak-hak mereka,
serta meneladani jejak langkah kebaikan mereka tanpa disertai sikap berlebihan
(ghuluw) maupun penolakan. Menggabungkan kecintaan kepada Ahlul Bait
dengan penghormatan kepada seluruh Shohabat Nabi rodhiyallahu ‘anhum
adalah manhaj yang lurus dan jalan keselamatan bagi kaum Mu’min.
Kami
memohon kepada Alloh agar menerima amalan ini sebagai pemberat timbangan
kebajikan di hari Qiyamah, memberikan keberkahan kepada penulis dan para
pembaca, serta mengumpulkan kita semua bersama Rosululloh ﷺ, Hasan, Husain, dan seluruh
keluarga serta Shohabat beliau di dalam Jannah Firdaus-Nya.
وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
