[PDF] Bertemunya Arwah Mu’minin di Barzakh - Nor Kandir
Bertemunya Arwah Mu’minin
di Barzakh
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 66
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Muqoddimah
﷽
Alhamdulillah,
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, para Shohabat,
serta pengikut beliau hingga Hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Alam
barzakh merupakan dinding pembatas antara kehidupan dunia dan Akhiroh, tempat
transitnya ruh-ruh manusia sebelum dibangkitkan. Di alam yang ghoib ini, Alloh ﷻ
menetapkan hukum-hukum khusus yang berbeda dengan hukum alam fisik. Salah satu
ni’mat yang Alloh ﷻ
karuniakan kepada ruh para hamba-Nya yang beriman adalah saling mengenali,
bertemu, dan bertegur sapa satu sama lain. Pemahaman tentang hakikat perjumpaan
ruh di alam barzakh merupakan bagian dari keimanan kepada hal ghoib yang
berlandaskan kepada dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits Rosululloh ﷺ, dan atsar Shohabat yang
shohih.
Risalah ini
disusun guna mengumpulkan hujah-hujah otentik tersebut secara sistematis,
padat, dan mencukupi bagi pencari kebenaran.
Bab 1: Kehidupan Alam Barzakh dan
Ruh Mu’minin
1.1
Keberadaan Kehidupan Alam Barzakh
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ
اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ
بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ﴾
“Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Alloh itu mati, melainkan
mereka itu hidup di sisi Robb mereka dengan mendapat rezeki.” (QS. Ali ‘Imron:
169)
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ
رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ
كَلَّا ۚ
إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ
وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾
“Hingga
apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, ‘Wahai Robbku,
kembalikanlah aku, agar aku dapat berbuat amalan sholih yang telah aku
tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya
saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh (dinding) sampai hari mereka
dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ يَعْلُقُ
فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يُرْجِعَهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى جَسَدِهِ
يَوْمَ يَبْعَثُهُ»
“Sesungguhnya
ruh seorang Mu’min itu berupa burung yang bergantungan di pohon Jannah sampai
Alloh mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.” (HSR. Ahmad
no. 15778)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا القَبْرُ رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الجَنَّةِ
أَوْ حُفْرَةٌ مِنْ حُفَرِ النَّارِ»
“Kubur itu
tidak lain adalah salah satu taman dari taman-taman Jannah, atau salah satu
lubang dari lubang-lubang Naar.” (HR. At-Tirmidzi no. 2460)
Dari Abdullah
bin Umar (73 H), Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ
مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ
الجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ:
هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Sesungguhnya
apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia, ditampakkan kepadanya tempat
duduknya pada waktu pagi dan petang. Jika dia termasuk penghuni Jannah maka
dari penghuni Jannah, dan jika dia termasuk penghuni Naar maka dari penghuni
Naar. Dikatakan kepadanya, ‘Inilah tempat dudukmu (nanti) sampai Alloh
membangkitkanmu kepadanya pada Hari Qiyamah.’” (HR. Al-Bukhori no. 1379 dan
Muslim no. 2866)
1.2
Kesempurnaan Pendengaran dan Kesadaran Ruh
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ العَبْدَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى
عَنْهُ أَصْحَابُهُ، وَإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ، أَتَاهُ مَلَكَانِ فَيُقْعِدَانِهِ»
“Sesungguhnya
seorang hamba apabila telah diletakkan di dalam kuburnya dan teman-temannya
telah berpaling meninggalkannya, —sungguh dia benar-benar mendengar gesekan
sandal-sandal mereka— ia didatangi dua Malaikat yang mendudukannya.” (HR.
Al-Bukhori no. 1374 dan Muslim no. 2870)
Anas bin
Malik (93 H) meriwayatkan:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ
تَرَكَ قَتْلَى بَدْرٍ ثَلَاثًا، ثُمَّ أَتَاهُمْ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَنَادَاهُمْ،
فَقَالَ: «يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ يَا أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ يَا عُتْبَةَ بْنَ
رَبِيعَةَ يَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ أَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ
حَقًّا؟ فَإِنِّي قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا» فَسَمِعَ عُمَرُ قَوْلَ
النَّبِيِّ ﷺ،
فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ كَيْفَ يَسْمَعُوا وَأَنَّى يُجِيبُوا وَقَدْ جَيَّفُوا؟
قَالَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ،
وَلَكِنَّهُمْ لَا يَقْدِرُونَ أَنْ يُجِيبُوا»
“Rosululloh
ﷺ meninggalkan para korban yang
tewas di Badr selama 3 hari, kemudian beliau mendatangi mereka lalu memanggil
mereka seraya bersabda, ‘Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Kholaf,
wahai Utbah bin Robi’ah, wahai Syaibah bin Robi’ah! Bukankah kalian telah
mendapati apa yang dijanjikan Robb kalian itu benar? Sebab sesungguhnya aku
telah mendapati apa yang dijanjikan Robbku kepadaku itu benar.’ Umar mendengar
ucapan Nabi ﷺ
lalu berkata, ‘Wahai Rosululloh, bagaimana mereka dapat mendengar dan bagaimana
mereka dapat menjawab padahal mereka telah menjadi bangkai?’ Beliau bersabda, ‘Demi
Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian lebih mendengar terhadap apa
yang aku katakan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu untuk
menjawab.’” (HR. Muslim no. 2874)
1.3
Tingkatan Tempat Tinggal Ruh Para Syuhada dan Mu’minin
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ
مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِينَ ۚ
وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا﴾
“Dan siapa
yang mentaati Alloh dan Rosul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang
yang dianugerahi ni’mat oleh Alloh, yaitu para Nabi, para Siddiqin, para
Syuhada, dan orang-orang Sholih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS.
An-Nisa’: 69)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ، لَهَا
قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ
تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ»
“Ruh para
Syuhada berada di dalam rongga burung hijau yang memiliki pelita-pelita yang
bergantungan di ‘Arsy, terbang bebas di Jannah sekehendaknya kemudian kembali
ke pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim no. 1887)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الشُّهَدَاءُ عَلَى بَارِقٍ - نَهْرٍ بِبَابِ
الْجَنَّةِ - فِي قُبَّةٍ خَضْرَاءَ، يَخْرُجُ عَلَيْهِمْ رِزْقُهُمْ مِنَ الجَنَّةِ
بُكْرَةً وَعَشِيًّا»
“Para
Syuhada berada di tepian sungai dekat pintu Jannah, di dalam kubah hijau,
keluar kepada mereka rezeki mereka dari Jannah setiap pagi dan petang.” (HHR.
Ahmad no. 2390 dan Al-Hakim no. 4877)
Ka’b bin
Malik (50 H) meriwayatkan bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ فِي شَجَرِ
الْجَنَّةِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Sesungguhnya
ruh seorang Mu’min itu berupa burung yang memakan dedaunan pohon Jannah sampai
Alloh mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.” (HSR.
An-Nasa’i no. 2073)
Bab 2: Pertemuan dan Saling Sapa
Antara Ruh Mu’min
2.1
Sambutan Ruh-Ruh Penghuni Barzakh Kepada Ruh yang Baru Datang
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ
فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّتُ نَعِيمٍ﴾
“Adapun
jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Alloh, maka dia memperoleh
ketenangan, rezeki yang baik, serta Jannah yang penuh ni’mat.” (QS. Al-Waqi’ah:
88-89)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا حُضِرَ الْمُؤْمِنُ أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ
الرَّحْمَةِ بِحَرِيرَةٍ بَيْضَاءَ فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي رَاضِيَةً مَرْضِيًّا عَنْكِ
إِلَى رَوْحِ اللَّهِ، وَرَيْحَانٍ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ، فَتَخْرُجُ كَأَطْيَبِ
رِيحِ الْمِسْكِ، حَتَّى أَنَّهُ لَيُنَاوِلُهُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا، حَتَّى يَأْتُونَ
بِهِ بَابَ السَّمَاءِ فَيَقُولُونَ: مَا أَطْيَبَ هَذِهِ الرِّيحَ الَّتِي جَاءَتْكُمْ
مِنَ الْأَرْضِ، فَيَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَهُمْ أَشَدُّ فَرَحًا
بِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِغَائِبِهِ يَقْدَمُ عَلَيْهِ»
“Apabila
kematian mendatangi seorang Mu’min, Malaikat rohmat datang kepadanya membawa
kain sutra putih seraya berkata, ‘Keluarlah wahai jiwa yang ridho dan diridhoi
menuju rohmat Alloh, wewangian, serta Robb yang tidak murka.’ Maka ruh itu
keluar seperti wangi minyak kasturi yang paling harum, sampai-sampai para
Malaikat saling menyerahkannya satu sama lain hingga membawanya ke pintu
langit. Para penghuni langit berkata, ‘Betapa harumnya bau ini yang datang
kepada kalian dari bumi.’ Kemudian mereka membawanya kepada ruh-ruh para Mu’min,
maka kegembiraan mereka menyambutnya sungguh lebih besar daripada kegembiraan
salah seorang dari kalian saat menyambut saudaranya yang lama pergi kembali
pulang.” (HSR. An-Nasa’i no. 1833 dan Al-Hakim no. 1302)
Abu Ayyub
Al-Anshori (52 H) meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا قُبِضَتْ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ، تَلَقَّاهَا
أَهْلُ الرَّحْمَةِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى، كَمَا يَتَلَقَّوْنَ الْبَشِيرَ
فِي الدُّنْيَا»
“Sesungguhnya
jiwa seorang Mu’min apabila dicabut, ia disambut oleh para hamba Alloh yang mendapat
rohmat sebagaimana mereka menyambut pembawa kabar gembira dari penduduk dunia.”
(HR. Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhd no. 433, hasan)
2.2
Tanya Jawab Ruh Barzakh Mengenai Kabar Penduduk Dunia
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ
وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾
“Mereka
bergembira dengan karunia yang Alloh berikan kepada mereka, dan mereka juga
sangat gembira karena orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak pula mereka
bersedih hati.” (QS. Ali ‘Imron: 170)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَيَسْأَلُونَهُ: مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ مَاذَا
فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُونَ: دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا، فَإِذَا
قَالَ: أَمَا أَتَاكُمْ؟ قَالُوا: ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ»
“Lalu
mereka bertanya kepadanya (si mayit baru), ‘Apa yang dilakukan (kabar) si Fulan
(temen kita yang masih hidup)? Apa yang dilakukan si Fulan?’ Sebagian mereka
berkata, ‘Biarkanlah dia (si mayit) beristirahat dahulu, karena dia baru
terbebas dari kesusahan dunia.’ Jika dia (si mayit) menjawab, ‘Bukankah dia
telah mendatangi kalian (sudah mati sebelumku)?’ Mereka berkata, ‘(Kalau begitu
berarti) dia telah dibawa ke tempat tinggalnya, Naar Hawiyah.’” (HSR.
An-Nasa’i no. 1833)
Abu Ayyub
Al-Anshori (52 H) rohimahulloh meriwayatkan dari Nabi ﷺ:
«إِذَا قُبِضَتْ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ، تَلَقَّاهَا
أَهْلُ الرَّحْمَةِ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى، كَمَا يَتَلَقَّوْنَ الْبَشِيرَ
فِي الدُّنْيَا، فَيُقْبِلُونَ عَلَيْهِ يَسْأَلُونَهُ، فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ:
انْظُرُوا أَخَاكُمْ حَتَّى يَسْتَرِيحَ، فَإِنَّهُ كَانَ فِي كَرْبٍ شَدِيدٍ، قَالَ:
فَيُقْبِلُونَ عَلَيْهِ فَيَسْأَلُونَهُ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ مَا فَعَلَتْ فُلَانَةُ؟
هَلْ تَزَوَّجَتْ؟ فَإِذَا سَأَلُوهُ عَنِ الرَّجُلِ قَدْ مَاتَ قَبْلَهُ، فَيَقُولُ:
إِنَّهُ هَلَكَ، فَيَقُولُونَ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، ذَهَبَ
بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ، فَبِئْسَ الْأُمُّ وَبِئْسَ الْمُرَبِّيَةُ»
“Apabila
nyawa seorang Mu’min dicabut, ia disambut oleh para penghuni rohmat dari
kalangan hamba-hamba Alloh Ta‘ala, sebagaimana mereka menyambut pembawa
kabar gembira di dunia.
Mereka pun
segera menghampirinya dan menanyainya. Sebagian mereka berkata kepada yang
lain, ‘Tunggulah saudara kalian sampai ia beristirahat, karena sebelumnya ia
berada dalam kesusahan yang sangat berat.’
Kemudian
mereka menghampirinya dan bertanya kepadanya, ‘Apa yang dilakukan si fulan?
Bagaimana keadaan si fulanah? Apakah dia sudah menikah?’
Apabila
mereka menanyakannya tentang seseorang yang telah meninggal sebelum dirinya, ia
menjawab, ‘Dia telah meninggal.’
Mereka pun berkata,
‘Sesungguhnya kami milik Alloh dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.
Ia telah dibawa menuju ibunya, yaitu Hawiyah. Sungguh, seburuk-buruk ibu dan
seburuk-buruk pengasuh.’” (HR. Ibnul Mubarok dalam Az-Zuhd no. 433, hasan)
2.3
Saling Kunjung dan Berkelompoknya Ruh-Ruh yang Sholih
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ
عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ﴾
“Teman-teman
akrab pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain,
kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ
مِنْهَا ائْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ»
“Ruh-ruh
itu bagaikan pasukan yang berkelompok-kelompok; yang saling mengenal di
antaranya akan bersatu, dan yang saling mengingkari di antaranya akan
berselisih.” (HR. Al-Bukhori no. 3336 dan Muslim no. 2638)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا وَلِيَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيُحْسِنْ
كَفَنَهُ، فَإِنَّهُمْ يَتَزَاوَرُونَ فِي قُبُورِهِمْ»
“Apabila
salah seorang dari kalian mengkafani saudaranya, maka hendaklah dia memperbagus
kafannya, karena sesungguhnya mereka saling mengunjungi di dalamnya.” (HR. Ibnu
Abid Dun-ya, Al-Manamat, no. 162, dishohihkan Al-Albani)
‘Utsman bin ‘Abdillah bin Aus menceritakan
bahwa Sa‘id bin Jubair pernah memintanya untuk mengantarkan dirinya
menemui putri saudaranya, yang merupakan istri ‘Utsman dan putri ‘Amr bin
Aus. Setelah mendapat izin, Sa‘id masuk dan bertanya kepada wanita itu
tentang perlakuan suaminya. Ia menjawab bahwa suaminya telah berbuat baik
kepadanya semampunya. Sa‘id kemudian menasihati ‘Utsman agar terus berbuat baik
kepada istrinya. Ia mengatakan bahwa setiap perlakuan ‘Utsman terhadap istrinya
akan diketahui oleh ayahnya, ‘Amr bin Aus, meskipun ia telah meninggal. ‘Utsman
pun bertanya apakah orang-orang yang telah meninggal dapat mengetahui berita
orang-orang yang masih hidup. Sa‘id menjawab bahwa mereka dapat mengetahuinya;
mereka bergembira jika mendapat kabar baik tentang kerabatnya dan bersedih jika
mendapat kabar buruk. Adapun orang yang tidak mereka temui, mereka mengatakan
bahwa orang itu telah dibawa menuju ibunya, Hawiyah.
عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْسٍ،
أَنَّ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ قَالَ لَهُ: اسْتَأْذِنْ لِي عَلَى ابْنَةِ أَخِي، وَهِيَ
زَوْجَةُ عُثْمَانَ، وَهِيَ ابْنَةُ عَمْرِو بْنِ أَوْسٍ، فَاسْتَأْذَنْتُ لَهُ، فَدَخَلَ
عَلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: كَيْفَ يَفْعَلُ بِكِ زَوْجُكِ؟ قَالَتْ: إِنَّهُ إِلَيَّ
الْمُحْسِنُ فِيمَا اسْتَطَاعَ. فَالْتَفَتَ إِلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا عُثْمَانُ،
أَحْسِنْ إِلَيْهَا، فَإِنَّكَ لَا تَصْنَعُ بِهَا شَيْئًا إِلَّا جَاءَ عَمْرَو بْنَ
أَوْسٍ، فَقُلْتُ: وَهَلْ تَأْتِي الْأَمْوَاتَ أَخْبَارُ الْأَحْيَاءِ؟ قَالَ: نَعَمْ،
مَا مِنْ أَحَدٍ لَهُ حَمِيمٌ إِلَّا وَيَأْتِيهِ أَخْبَارُ أَقَارِبِهِ، فَإِنْ
كَانَ خَيْرًا سُرَّ بِهِ وَفَرِحَ وَهَنَّأَ بِهِ، وَإِنْ كَانَ شَرًّا ابْتَأَسَ
وَحَزِنَ بِهِ، حَتَّى إِنَّهُمْ لَيَسْأَلُونَ عَنِ الرَّجُلِ قَدْ مَاتَ، فَيُقَالُ:
أَوَلَمْ يَأْتِكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: لَا، خُولِفَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ.
‘Utsman bin
‘Abdillah bin Aus menuturkan bahwa Sa‘id bin Jubair berkata kepadanya,
“Mintakanlah izin untukku menemui putri saudaraku. —Ia adalah istri ‘Utsman
dan putri ‘Amr bin Aus— Maka aku (‘Utsman) pun memintakan izin untuknya
(istriku). Ia kemudian masuk menemuinya dan bertanya, “Bagaimana suamimu
memperlakukanmu?” Ia menjawab, “Ia selalu berbuat baik kepadaku semampunya.”
Kemudian ia menoleh kepadaku dan berkata, “Wahai ‘Utsman, berbuat baiklah
kepadanya. Sesungguhnya tidaklah engkau melakukan sesuatu kepadanya melainkan kabar
itu akan sampai ke ‘Amr bin Aus.” Aku bertanya, “Apakah berita orang-orang yang
masih hidup sampai kepada orang-orang yang telah meninggal?” Ia menjawab, “Ya.
Tidaklah seseorang memiliki orang terdekat yang ia kasihi, melainkan berita
tentang kerabatnya tersebut akan sampai kepadanya. Jika berita itu baik, ia
merasa senang, gembira, dan ikut berbahagia karenanya. Namun jika berita itu
buruk, ia merasa susah dan bersedih karenanya. Bahkan mereka bertanya tentang
seseorang yang telah meninggal. Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Bukankah dia
datang kepada kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tidak. Ia justru dibawa menuju ibunya,
yaitu Hawiyah.’” (HR. Ibnu Mubarok dalam Az-Zuhd, no. 447, jayyid)
Bab 3: Pertemuan Ruh Orang Hidup
dan Orang Mati Melalui Mimpi
3.1
Pengambilan Ruh Saat Tidur dan Pertemuannya di Alam Barzakh
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ
فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ
مُسَمًّى ۚ
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Alloh
memegang jiwa saat kematiannya dan jiwa yang belum mati dalam tidurnya; maka
Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang
lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar: 42)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الرُّؤْيَا الحَسَنَةُ، مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ،
جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ»
“Mimpi yang
sholih dari orang sholih adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian.” (HR.
Al-Bukhori no. 6983 dan Muslim no. 2263)
Abdullah
bin Abbas (68 H) berkata menjelaskan ayat
di atas:
«تَلْتَقِي أَرْوَاحُ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ
فِي الْمَنَامِ، فَيَتَسَاءَلُونَ بَيْنَهُمْ، فَيُمْسِكُ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْمَوْتَى
وَيُرْسِلُ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا»
“Ruh
orang-orang yang hidup dan orang-orang yang mati saling bertemu dalam mimpi
lalu mereka saling bertanya di antara mereka. Lantas Alloh menahan ruh
orang-orang yang mati dan melepaskan ruh orang-orang yang hidup kembali ke
jasad-jasadnya.” (HR. Ath-Thobaroni, Al-Ausath, no. 122. Al-Haitsami:
shohih)
3.2
Isyarat dan Pesan Benar dari Ruh Orang Mati dalam Mimpi
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ ۚ
لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ
ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Bagi
mereka berita gembira di dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh. Tidak ada
perubahan bagi kalimat-kalimat Alloh. Yang demikian itu adalah kemenangan yang
besar.” (QS. Yunus: 64)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَمْ يَبْقَ مِنَ النُّبُوَّةِ إِلَّا المُبَشِّرَاتُ»
قَالُوا: وَمَا المُبَشِّرَاتُ؟ قَالَ: «الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ»
“Tidak ada
yang tersisa dari kenabian melainkan berita-berita gembira.” Para Shohabat
bertanya, “Apakah berita-berita gembira itu?” Beliau bersabda, “Mimpi yang baik
(indah).” (HR. Al-Bukhori no. 6990)
Anas bin
Malik (93 H) meriwayatkan: “Kami pernah melihat seorang lelaki yang termasuk
penghuni Surga berjalan di tengah-tengah kami. Ketika terjadi Perang Yamamah
melawan Musailimah al-Kadzdzab, Tsabit melihat sebagian kaum Muslimin mulai
terdesak dan sekelompok dari mereka mundur. Ia berkata, ‘Cih, sungguh buruk
keadaan mereka!’ Kemudian Tsabit berkata kepada Salim, maula Abu Hudzaifah,
‘Dahulu, ketika bersama Rosululloh ﷺ, kita tidak pernah menghadapi musuh-musuh Alloh dalam keadaan
seperti ini.’ Setelah itu, keduanya tetap bertahan dan terus berperang hingga
akhirnya terbunuh. Tsabit pun gugur sebagai syahid. Saat itu ia mengenakan baju
zirah. Setelah kematiannya, seorang sahabat melihat Tsabit dalam mimpinya.
Tsabit berkata kepadanya, ‘Ketahuilah, ada seseorang dari kaum Muslimin yang
mengambil baju zirahku lalu membawanya pergi. Baju zirah itu berada di suatu
tempat di perkemahan, di dekat seekor kuda yang berjalan dengan tali
panjangnya, dan di atas baju zirahku itu telah diletakkan sebuah periuk.
Datangilah Kholid bin al-Walid dan sampaikan kepadanya hal ini agar ia mengambil
kembali baju zirahku. Lalu datangilah Abu Bakar, kholifah Rosululloh ﷺ, dan katakan kepadanya bahwa
aku masih memiliki utang hingga utang itu dilunasi, dan bahwa salah seorang
budakku telah merdeka.’ Orang tersebut kemudian menyampaikan pesan itu kepada
Kholid. Kholid pun menemukan baju zirah dan kuda tersebut persis seperti yang
digambarkan Tsabit kepadanya, lalu ia mengambil kembali baju zirah itu. Setelah
itu Kholid memberitahukan mimpi tersebut kepada Abu Bakr. Abu Bakr pun
menetapkan dan melaksanakan wasiat Tsabit.”
Malik bin
Anas berkata, “Sepengetahuanku, tidak ada wasiat seseorang yang pernah disahkan
setelah ia meninggal dunia selain wasiat ini.’” (Tafsir Al-Baghowi, 7/336)
Khorijah
bin Zaid Al-Anshori meriwayatkan bahwa Ummul ‘Ala’—seorang wanita dari kalangan
mereka yang pernah membaiat Nabi ﷺ— mengabarkan kepadanya bahwa Utsman bin Mazh’un mendapat tempat
tinggal berdasarkan undian saat kaum Anshor mengundi tempat tinggal untuk kaum
Muhajirin. Ummul ‘Ala’ menceritakan:
Maka Utsman
bin Mazh’un tinggal di rumah kami. Suatu ketika beliau jatuh sakit, lalu kami
merawatnya hingga beliau meninggal dunia. Setelah kami mengafaninya dengan
pakaian beliau, Rosululloh ﷺ
masuk menemui kami. Lantas aku berkata, “Rohmat Alloh semoga tercurah atasmu
wahai Abu As-Sa’ib. Aku bersaksi bagimu bahwa Alloh sungguh telah memuliakanmu.”
Nabi ﷺ menegurku, “Dari mana engkau
tahu bahwa Alloh telah memuliakan dirinya?”
Aku
menjawab, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rosululloh, aku sungguh
tidak tahu.”
Rosululloh ﷺ bersabda, “Adapun Utsman,
demi Alloh sungguh kepastian (kematian) telah mendatangi dirinya, dan aku
sungguh berharap kebaikan baginya. Demi Alloh, padahal aku adalah Rosululloh, aku
tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadap dirinya.”
Ummul ‘Ala’
berkata, “Demi Alloh, sejak saat itu aku tidak pernah lagi menyucikan atau
menganggap suci seorang pun setelahnya untuk selamanya, dan hal tersebut sempat
membuatku sedih.”
Beliau
melanjutkan, “Lalu aku tidur, lantas dalam mimpi dipelihatkan kepadaku sebuah
mata air yang terus mengalir milik Utsman. Aku pun mendatangi Rosululloh ﷺ lalu mengabarkan hal itu
kepada beliau. Beliau bersabda, ‘Itulah amalnya.’” (HR. Al-Bukhori no. 2687)
Bab 4: Hubungan Pertautan Antara
Penghuni Barzakh dan Penduduk Dunia
4.1
Penampakan Amal Orang Hidup Kepada Kerabat yang Telah Wafat
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ
تَعْمَلُونَ﴾
“Dan
katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Alloh akan melihat pekerjaanmu, begitu pula
Rosul-Nya dan orang-orang Mu’min, dan kamu akan dikembalikan kepada Alloh Yang
Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, lalu Diberitahukan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ
وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ
كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللَّهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا
هَدَيْتَنَا»
“Sesungguhnya
amal-amal kalian ditampakkan kepada kerabat-kerabat dan keluarga kalian yang
telah mati. Jika amalan itu baik maka mereka merasa gembira karenanya, dan jika
amalan itu selain demikian maka mereka berdoa, ‘Ya Alloh, janganlah Engkau
matikan mereka sampai Engkau beri petunjuk kepada mereka sebagaimana Engkau
telah memberi petunjuk kepada kami.’” (HSR. Ahmad no. 12683; As-Shohihah
6/605)
Berkata
Al-Hafizh Abu Bakar Ibnu Abi Ad-Dunya (wafat 281 H) dalam Al-Manaamaat:
Dari Abu
Ayyub rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Perbuatan kalian diperlihatkan
kepada orang-orang yang sudah meninggal. Jika mereka melihat kebaikan, mereka
akan gembira dan bersuka cita, lalu mereka berkata:
اللَّهُمَّ هَذِهِ نِعْمَتُكَ عَلَى عَبْدِكَ فَأَتِمَّهَا
عَلَيْهِ
“Ya Alloh,
ini adalah ni’mat-Mu atas hamba-Mu, maka sempurnakanlah ni’mat itu atas
dirinya.” jika mereka melihat keburukan, mereka berkata:
اللَّهُمَّ رَاجِعْ بِهِ
“Ya Alloh,
kembalikanlah ia.” (Hasan)
Dari Abu
Ad-Darda rodhiyallahu ‘anhu, ia dahulu berkata:
إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى مَوْتَاكُمْ فَيُسَرُّونَ
وَيُسَاءُونَ
“Sungguh,
perbuatan kalian diperlihatkan kepada orang-orang yang sudah meninggal di
antara kalian, sehingga mereka merasa senang (jika amal kalian baik) dan juga
merasa sedih (jika amal kalian buruk).”
Dahulu Abu
Ad-Darda rodhiyallahu ‘anhu ketika itu berkata:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَعْمَلَ عَمَلًا يُخْزَى
بِهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ
“Ya
Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari melakukan suatu perbuatan yang membuat
Abdulloh bin Rowahah merasa malu karenanya.” (Hasan dan Atsar shohih)
4.2
Sampainya Doa dan Sedekah Orang Hidup Kepada Ruh Mu’min
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka berdoa, ‘Ya Robb kami, beri ampunlah
kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman, dan
janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman; Ya Robb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ
إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ
أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Apabila
manusia meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari 3 perkara:
sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR.
Muslim no. 1631)
Rosululloh ﷺ bersabda kepada seseorang
yang bertanya tentang ibunya yang wafat mendadak:
«نَعَمْ تَصَدَّقْ عَنْهَا»
“Ya,
bersedekahlah atas namanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2760 dan Muslim no. 1004)
Abu
Huroiroh (57 H) meriwayatkan bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ
لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ:
بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»
“Sesungguhnya
Alloh Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat bagi seorang hamba
yang sholih di Jannah, lalu hamba itu berkata, ‘Wahai Robbku, dari mana aku
mendapatkan ini?’ Maka Alloh berfirman, ‘Disebabkan permohonan ampun anakmu
untukmu.’” (HHR. Ahmad no. 10610 dan Ibnu Majah no. 3660)
4.3
Salam Penduduk Dunia yang Didengar Oleh Penghuni Kubur
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَسَلِّمُوا عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً﴾
“Maka
ucapkanlah salam kepada diri kalian sendiri, penghormatan dari sisi Alloh yang
diberkahi lagi baik.” (QS. An-Nur: 61)
Yaitu rumah
yang tidak ada orangnya, karena salam itu akan sampai ke jin dan arwah
Mu’minin.
Rosululloh ﷺ mengajari para Shohabat
ketika ziarah kubur mengucapkan:
«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ
اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ»
“Semoga
kesejahteraan tercurah kepada kalian wahai penghuni negeri dari kalangan
Mu’minin dan Muslimin, dan sesungguhnya kami In Syaa Alloh akan menyusul
kalian. Aku memohon keselamatan kepada Alloh untuk kami dan untuk kalian.” (HR.
Muslim no. 975)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ أَحَدٍ يَمُرُّ بِقَبْرِ أَخِيهِ الْمُؤْمِنِ
كَانَ يَعْرِفُهُ فِي الدُّنْيَا فَيُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا عَرَفَهُ وَرَدَّ عَلَيْهِ
السَّلَامَ»
“Tidak ada
seorang pun yang melewati kubur saudaranya yang Mu’min yang dahulu dia kenal di
dunia lalu dia mengucapkan salam kepadanya, melainkan dia mengenalnya dan
membalas salamnya.” (HR. Ibn Abdul Barr dalam Al-Istidzkar 1/185.
Dishohihkan Ibnu Abdil Barr, Al-Isybili, Al-Aini, Asy-Syaukani, Ibnu Taimiyyah,
Ibnu Qoyyim)
Bab 5: Perbedaan Keadaan Ruh Mu’min
dan Ruh Kafir
5.1
Kenikmatan Ruh Mu’min dan Pertemuannya dengan Golongan Sholih
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan, ‘Robb kami ialah Alloh’ kemudian mereka meneguhkan
kemandirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata, ‘Janganlah
kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan
memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’“ (QS. Fushshilat:
30)
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي﴾
“Wahai jiwa
yang tenang! Kembalilah kepada Robbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Jannah-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27-30)
Apabila ruh
seorang Mu’min keluar, dua Malaikat menyambutnya dan membawanya naik. Para
penghuni langit berkata, “Ruh yang baik telah datang dari arah bumi, semoga
Alloh melimpahkan sholawat kepadamu dan kepada jasad yang dahulu engkau
makmurkan.” Lantas ruh itu dibawa menuju Robbnya, kemudian diantarkan menuju
ruh-ruh para Mu’min.
Alloh
berfirman:
﴿كَلَّا إِنَّ
كِتابَ الْأَبْرارِ لَفِي عِلِّيِّينَ﴾
“Sesungguhnya
Kitab orang-orang yang berbakti benar-benar di Illiyyin.” (QS.
Al-Muthoffifin)
Qotadah
berkata:
يَعْنِي السَّمَاءَ السَّابِعَةَ
فِيهَا أَرْوَاحُ الْمُؤْمِنِينَ
“Yakni
di langit ketujuh, di sana ada arwah Mu’minin.” (Tafsir Al-Qurthubi, 19/262)
5.2
Siksaan Ruh Kafir dan Terhalangnya Mereka dari Pertemuan
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا
عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ
يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ
وَكَذٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula
mereka masuk Jannah, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’rof:
40)
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا
ۖ
وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾
“Kepada
mereka dinampakkan Naar pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Qiyamah
dikatakannya, ‘Masukanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’“
(QS. Ghofir: 46)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا احْتُضِرَ أَتَتْهُ
مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ بِمِسْحٍ فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي سَاخِطَةً مَسْخُوطًا عَلَيْكِ
إِلَى عَذَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ، حَتَّى
يَأْتُونَ بِهِ بَابَ الْأَرْضِ، فَيَقُولُونَ: مَا أَنْتَنَ هَذِهِ الرِّيحَ حَتَّى
يَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْكُفَّارِ»
“Dan
sesungguhnya orang kafir apabila hendak meninggal dunia, Malaikat azab
mendatangi dirinya dengan membawa kain kasar dari bulu lalu berkata, ‘Keluarlah
wahai jiwa yang buruk yang dimurkai menuju azab Alloh.’ Maka ruh itu keluar
bagaikan bau bangkai yang paling membusuk hingga mereka membawanya ke pintu
bumi. Mereka berkata, ‘Betapa busuknya bau ini,’ sampai akhirnya mereka
membawanya menuju ruh-ruh orang kafir.” (HSR. An-Nasa’i no. 1833)
Penutup
Menjadi jelas kebenaran adanya kehidupan alam barzakh serta keterbukaan jalan bagi ruh para Mu’min untuk saling bertemu, menyambut, dan bertegur sapa. Alam barzakh bukanlah kegelapan tanpa batas, melainkan tempat persinggahan yang penuh dengan kabar gembira dan perjumpaan mubarok bagi orang-orang yang bertaqwa. Di sisi lain, pembatas ini menjadi penjara yang menyiksa serta tempat isolasi dari segala kebaikan bagi ruh-ruh kaum kafir. Pengetahuan akan hakikat ini hendaknya menambah dorongan bagi setiap Muslim untuk senantiasa memperbaiki amal, memperbanyak doa dan pemohon ampunan bagi saudara-saudaranya yang telah mendahului, serta menyiapkan perbekalan taqwa guna menyongsong hari pertemuan tersebut. Semoga Alloh ﷻ mengumpulkan kita bersama golongan hamba-hamba-Nya yang sholih di alam barzakh hingga di Jannah-Nya kelak.[NK]
