[PDF] Tajdidul Iman (Memperbarui Iman) - Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr
تجديد الإيمان
Tajdidul Iman
(Memperbarui Iman)
Syaikhuna Prof. Dr.
Abdurrozzaq Al-Badr
Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 78
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada hamba
Alloh, Rosul-Nya, serta kekasih-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad, beserta keluarga
dan para Shohabat beliau seluruhnya.
Amma ba’du:
Sungguh
Iman merupakan hal paling utama yang wajib diperhatikan oleh seorang hamba
dalam kehidupan ini. Iman adalah sebaik-baik hal yang diusahakan oleh jiwa,
dicapai oleh hati, dan menjadi sarana bagi hamba untuk memperoleh derajat yang
tinggi di dunia maupun di Akhiroh. Bahkan, seluruh kebaikan di dunia dan
Akhiroh sangat bergantung pada Iman yang shohih.
Oleh karena
itu, hendaknya setiap hamba Mu’min yang menginginkan kebaikan bagi dirinya
selalu memeriksa keadaannya bersama Iman; apakah Imannya berada dalam
pertumbuhan, kekuatan, dan peningkatan, ataukah sebaliknya justru mengalami
kelemahan, kerapuhan, dan pengurangan?
Bahkan
betapa butuhnya seorang hamba untuk memperbarui Imannya, berusaha
menyempurnakannya, mewaspadai hal-hal yang mengurangi dan melemahkannya, serta
berupaya keras untuk menguatkannya. Sebab, Iman senantiasa diterpa oleh
berbagai hal yang dapat mengikisnya, seperti fitnah dunia, bisikan syaithon,
teman yang buruk, pergaulan yang rusak, serta hawa nafsu yang selalu menyuruh
kepada kejelekan, dan hal-hal lainnya yang berdampak pada melemah dan
berkurangnya Iman. Maka dari itu, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk
menguatkan dan memperbaruinya.
Al-Hakim
(305 H) meriwayatkan dalam Al-Mustadrok dan Ath-Thobroni (360 H) dalam Al-Mu’jam
Al-Kabir, dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma,
ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ
كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ»
“Sungguh
Iman benar-benar bisa lusuh di dalam dada salah seorang di antara kalian
sebagaimana lusuhnya pakaian. Maka memohonlah kalian kepada Alloh agar Dia
memperbarui Iman di dalam hati kalian.”[1]
Nabi ﷺ menggambarkan Iman bahwa ia
bisa lusuh sebagaimana pakaian menjadi lusuh; artinya Iman dapat melapuk,
melemah, dan mengalami pengurangan akibat kemaksiatan dan dosa-dosa yang
dilakukan seseorang, serta akibat berbagai kelalaian dan pengalih perhatian di
dunia ini yang memalingkan manusia dari Iman. Begitu pula fitnah-fitnah besar
yang dapat menghilangkan kesegaran, vitalitas, dan kekuatan Iman, serta
memudarkan keindahan dan pesonanya. Di sinilah Nabi ﷺ memberi petunjuk tentang
pentingnya memperbarui Iman di dalam hati dengan cara menghadapkan diri secara
jujur dan ikhlas kepada Alloh, seraya bersabda: “Maka memohonlah kalian
kepada Alloh agar Dia memperbarui Iman di dalam hati kalian.”
Kondisi ini
menuntut penyerahan diri secara jujur kepada Alloh dan permohonan yang mendesak
agar Alloh menambah serta menguatkan Iman, memperbaruinya di dalam hati, dan
meneguhkannya. Alloh berfirman:
﴿يُثَبِّتُ
اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي
الْآخِرَةِ﴾
“Alloh
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan
dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)
Maka harus
ada perjuangan melawan hawa nafsu (jihadun nafs), mengintrospeksi diri,
mengikatnya di atas kebenaran, dan memaksanya secara penuh untuk tunduk
padanya. Alloh berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
جَهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
orang-orang yang berjihad untuk mencari ridho Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Alloh benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Di samping
itu, wajib pula mewaspadai fitnah dengan sangat hati-hati, terutama di zaman
sekarang ini di mana fitnah-fitnah yang melemahkan Iman telah bermunculan
dengan sangat banyak; bahkan banyak di antaranya yang menerjang pondasi agama
dan meruntuhkannya dari akar-akarnya.
Iman adalah
sesuatu yang paling berharga dalam keberadaan ini dan simpanan paling mahal di
dunia. Siapa kehilangan Iman, maka ia telah kehilangan kehidupan yang hakiki.
Sebab, tidak ada kehidupan nyata bagi manusia tanpa adanya Iman. Adapun sekadar
melangkah dengan kaki, memegang dengan tangan, dan berbicara dengan lidah tanpa
disertai Iman kepada Alloh, maka itu hanyalah kehidupan hewani, karena manusia
dan hewan sama-sama memilikinya. Ada pun kehidupan yang hakiki adalah kehidupan
dalam ketaatan kepada Ar-Rohman (Alloh) serta meneladani Rosul ﷺ. Oleh sebab itu, Alloh
berfirman:
﴿يَٰأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul
menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al-Anfal:
24)
Sungguh
para Salaf rohimahumulloh, baik dari kalangan Shohabat maupun
orang-orang setelah mereka, sangat memperhatikan Iman mereka dan memberikan
kepedulian yang amat besar terhadapnya. Riwayat-riwayat yang dinukil dari
mereka tentang menginspeksi Iman serta berusaha menguatkan dan memperbaruinya
sangatlah banyak.
Kholifah
yang lurus, ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah
berkata kepada para sahabatnya:
«هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Kemarilah,
marilah kita menambah Iman kita.” (HR. Al-Lalakai no. 1700)
Dalam
lafazh lain disebutkan:
«قُمْ بِنَا نَزْدَادُ إِيمَانًا»
“Bangkitlah
bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 31003)
Maksud
beliau adalah mari kita duduk bersama untuk mengingat Alloh Tabaroka wa Ta’ala,
mengingat Jannah, mengingat Naar, mengingat ancaman dan janji Alloh, serta
mengingat rasa harap dan takut kepada-Nya, sehingga kita mengingat seluruh hal
tersebut agar Iman kita semakin bertambah dan kuat.
‘Abdulloh
bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:
«اجْلِسُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Duduklah
bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman
no. 44)
Beliau juga
sering membaca doa:
«اللَّهُمَّ زِدْنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا»
“Ya Alloh,
tambahkanlah kepadaku Iman, keyakinan, dan pemahaman agama.”[2]
Mu’adz bin
Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu pun pernah berkata:
«اجْلِسُوا بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً»
“Duduklah
bersama kami, mari kita menambah Iman walau sesaat.”[3]
‘Abdulloh
bin Rowahah (18 H) rodhiyallahu ‘anhu biasa memegang tangan beberapa
sahabatnya seraya berkata:
«تَعَالَوْا نُؤْمِنْ سَاعَةً، تَعَالَوْا فَلْنَذْكُرِ
اللَّهَ فَنَزْدَدْ إِيمَانًا بِطَاعَتِهِ؛ لَعَلَّهُ يَذْكُرُنَا بِمَغْفِرَتِهِ»
“Kemarilah,
mari kita menambah Iman walau sesaat. Kemarilah, mari kita mengingat Alloh agar
Iman kita bertambah dengan ketaatan kepada-Nya, semoga Dia mengingat kita
dengan ampunan-Nya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 116)
Abu
Ad-Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ
هُوَ أَمْ مُنْتَقَصٌ، وَمِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ
أَنَّى تَأْتِيهِ»
“Di antara
kecerdasan pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui apakah Imannya sedang
bertambah atau berkurang, dan di antara kecerdasan pemahaman seorang hamba
adalah ia mengetahui dari mana bisikan syaithon memperdayanya.” (HR. Ibnu
Botthoh dalam Al-Ibanah no. 1140)
Maksud
beliau adalah termasuk pemahaman agama seorang hamba hendaklah ia memperhatikan
urusan Imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang. Banyak manusia yang
Imannya berkurang namun ia tidak menyadarinya, dan hal itu merupakan bentuk
lemahnya pemahaman serta penglihatan hati.
‘Umair bin
Habib Al-Khothmi rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«الإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»
“Iman itu
bertambah dan berkurang.”
Lalu
ditanyakan kepada beliau: “Apa yang membuat Iman bertambah dan berkurang?”
Beliau menjawab:
«إِذَا ذَكَرْنَا اللَّهَ وَحَمِدْنَاهُ وَسَبَّحْنَاهُ
فَذَلِكَ زِيَادَتُهُ، وَإِذَا غَفَلْنَا وَضَيَّعْنَا وَنَسِينَا فَذَلِكَ نُقْصَانُهُ»
“Apabila
kita mengingat Alloh, memuji-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, maka itulah
bertambahnya Iman. Namun apabila kita lalai, menyia-nyiakan kewajiban, dan
lupa, maka itulah berkurangnya Iman.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot
4/217, shohih)
‘Alqomah
bin Qois An-Nakho’i (62 H) rohimahulloh, salah seorang tokoh Tabi’in
senior yang mulia, pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya:
«امْشُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»
“Berjalanlah
bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman
no. 104)
‘Abdurrohman
bin ‘Amr Al-Auza’i (157 H) rohimahulloh pernah ditanya tentang Iman: “Apakah
Iman itu bertambah?” Beliau menjawab:
«نَعَمْ، حَتَّى يَكُونَ كَالْجِبَالِ»
“Ya, hingga
seperti gunung-gunung.”
Ditanyakan
lagi: “Apakah Iman juga berkurang?” Beliau menjawab:
«نَعَمْ، حَتَّى لا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ»
“Ya, hingga
tidak tersisa sedikit pun darinya.” (HR. Al-Lalakai dalam Al-I’tiqod no.
1740)
Imam Ahmad
(241 H) rohimahulloh ditanya tentang Iman, apakah bertambah dan
berkurang? Beliau menjawab:
«يَزِيدُ حَتَّى يَبْلُغَ أَعْلَى السَّمَاوَاتِ
السَّبْعِ، وَيَنْقُصُ حَتَّى يَصِيرَ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ السَّبْعِ»
“Iman
bertambah hingga mencapai tingkatan langit tujuh yang tertinggi, dan berkurang
hingga berada di tingkat terendah dari tujuh lapis bumi.” (HR. Ibnu Abi Ya’la
dalam Thobaqot Al-Hanabilah 1/259)
Riwayat-riwayat
dan penukilan dari para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam dalam makna ini
sangatlah banyak. Siapa mencermati perjalanan hidup para Shohabat, Tabi’in, dan
para Imam yang mulia ini, ia akan menyadari bagaimana mereka senantiasa
memeriksa keadaan Iman mereka, berusaha menambah dan menguatkannya, serta
menjauhi hal-hal yang melemahkan dan menguranginya. Demikian pulalah keadaan
setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Bab 1: Tajdidul Iman (Memperbarui
Iman)
Syaikh ‘Abdurrohman
bin Nashir As-Sa’di (1376 H) rohimahulloh berkata: “Hamba yang Mu’min
dan mendapatkan taufiq senantiasa berusaha dalam dua perkara:
Pertama: Mewujudkan Iman beserta
cabang-cabangnya dan merealisasikannya secara ilmu, amal, maupun kondisi jiwa.
Kedua: Berusaha menolak hal-hal yang
meniadakan, merusak, atau mengurangi Iman berupa fitnah-fitnah yang tampak
maupun yang tersembunyi, serta mengobati kekurangan pada perkara pertama dan
keberanian melakukan perkara kedua dengan taubat yang murni (taubat nasuha)
serta memperbaiki keadaan sebelum terlambat.” (At-Taudhih wal Bayan li
Syajarotil Iman hlm. 83)
Dalam
penjelasan ini terdapat peringatan pentingnya memperhatikan kedua sisi
tersebut: seorang hamba memperhatikan sisi pembaruan Iman, kekuatan, dan
peningkatannya, serta berusaha menyempurnakannya dengan melakukan ketaatan dan
menjalankan perintah Alloh.
Di samping
itu, ia juga berusaha menolak hal-hal yang melemahkan dan mengurangi Iman.
Hal ini
membutuhkan pengetahuan tentang dua hal besar, kemudian mengamalkan dan
mempraktikkannya:
Pertama: Sebab-sebab bertambah dan kuatnya
Iman.
Kedua: Sebab-sebab berkurang dan lemahnya
Iman.
Sebab-sebab
tersebut sangat banyak, namun saya akan mengisyaratkan hal-hal terpenting
secara ringkas dan singkat.
Kita mulai
terlebih dahulu dengan menyebutkan hal-hal terpenting yang mendorong bertambah
dan terbarunya Iman:
1.1
Menuntut Ilmu Syar’i
Sebab
dengan ilmu yang bermanfaat—yaitu ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah—Iman akan
bertambah dan menguat hingga menghujam di dalam hati. Pintu-pintu ilmu syar’i
sangat banyak, dan yang paling utama masuk di dalamnya adalah membaca Al-Qur’an
Al-Karim dan mentadabburinya. Sungguh Kalamulloh termasuk sebab terbesar yang
dapat menambah Iman, sebagaimana Alloh berfirman:
﴿وَإِذَا
مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا
فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ
وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ﴾
“Dan
apabila diturunkan suatu suroh, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada
yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya)
suroh ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka suroh ini menambah imannya,
dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada
penyakit, maka dengan suroh itu bertambah kekafirannya dan mereka mati dalam
keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125)
Alloh juga
berfirman:
﴿إِنَّ
هَٰذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾
“Sungguh
Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS.
Al-Isro’: 9)
Alloh
berfirman:
﴿أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا﴾
“Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS.
Muhammad: 24)
Alloh
berfirman:
﴿أَفَلَا
يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ
اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾
“Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu
bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di
dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)
Dan Alloh
berfirman:
﴿كِتَابٌ
أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَٰتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا
الْأَلْبَٰبِ﴾
“Ini adalah
sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran.” (QS. Shod: 29)
Maka
mentadabburi Al-Qur’an, membacanya, dan merenungkan ayat-ayatnya akan menambah
Iman seorang hamba.
1.2
Mengenal Nama-Nama Alloh yang Maha Indah (Asma’ul Husna) dan Sifat-Sifat-Nya
yang Maha Tinggi
Sungguh
Alloh berfirman:
﴿قُلِ
ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَى﴾
“Katakanlah:
‘Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. Dengan nama yang mana saja kamu seru,
Dia mempunyai Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik)’.” (QS. Al-Isro’:
110)
Alloh juga
berfirman:
﴿وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾
“Hanya
milik Alloh nama-nama yang husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut
nama-nama itu.” (QS. Al-A’rof: 180)
Nabi yang
mulia ﷺ
bersabda:
«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً
إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Sungguh
Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang menghafal dan
menghayatinya (mengamalkan konsekuensinya) niscaya ia masuk Jannah.” (HR.
Al-Bukhori no. 6410 dan Muslim no. 2677)
Mengenal
Asma’ul Husna milik Alloh, memahami makna-maknanya, lalu mengamalkan
konsekuensinya merupakan salah satu sebab terbesar bertambahnya Iman.
1.3
Merenungkan Perjalanan Hidup (Siroh) Nabi yang Mulia ﷺ
Sungguh
merenungkan Siroh Nabi ﷺ,
petunjuk beliau, adab, akhlaq, muamalah, jihad, kedermawanan, serta pengorbanan
beliau adalah di antara hal terbesar yang dapat menambah Iman.
Oleh karena
itu, para Salaf sangat antusias mempelajari Siroh Nabawiyyah dan mengajarkannya
kepada anak-anak serta keluarga mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Zainul ‘Abidin
‘Ali bin Al-Husain (94 H) rohimahulloh:
«كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ ﷺ
كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ»
“Kami
dahulu diajar tentang peperangan-peperangan Nabi ﷺ sebagaimana kami diajar satu suroh
dari Al-Qur’an.” (HR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rowi
no. 1591)
1.4
Mengenal Keindahan-Keindahan Agama Islam
Agama Islam
seluruhnya berisi keindahan. Jika Anda melihat kepada ibadahnya, Anda akan mendapatinya
sebagai ibadah yang paling sempurna dan paling indah. Jika Anda melihat kepada
aqidahnya, Anda akan mendapatinya sebagai aqidah yang paling shohih dan paling
lurus. Demikian pula adab dan akhlaqnya, merupakan akhlaq yang paling sempurna,
paling elok, dan paling baik. Sebagaimana Alloh berfirman:
﴿الْيَوْمَ
أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَٰمَ
دِينًا﴾
“Pada hari
ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku,
dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)
Dengan
melihat keindahan-keindahan ini, seorang hamba akan bertambah kecintaannya
kepada agama ini, bertambah semangat mendatanginya, serta semakin beramal dan
berusaha dalam menerapkannya.
1.5
Membaca Perjalanan Hidup Salafush Sholih
Membaca
perjalanan hidup Salafush Sholih—seperti biografi Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23
H), ‘Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), dan seluruh Shohabat rodhiyallahu ‘anhum,
serta perjalanan hidup para Tabi’in dan para Imam—dengan perenungan, pemikiran
mendalam, dan mengambil pelajaran, merupakan sebab bertambahnya Iman.
Sebagaimana dikatakan dalam bait syair:
Ulangi
terus padaku kisah-kisah mereka wahai pengembara, karena kisah mereka dapat
membersihkan hati yang aus berkarat.
Muhammad
bin Yunus (264 H) rohimahulloh berkata:
«مَا رَأَيْتُ لِلْقَلْبِ أَنْفَعَ مِنْ ذِكْرِ
الصَّالِحِينَ»
“Aku tidak
melihat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengingat orang-orang
sholih.” (Sifatush Shofwah oleh Ibnu Al-Jauzi 1/18)
1.6
Merenungkan Tanda-Tanda Kebesaran Alloh di Alam Semesta (Ayat Kauniyyah)
Merenungkan
ciptaan Alloh berupa pepohonan, gunung-gunung, sungai-sungai, lautan,
lembah-lembah, langit, bumi, bintang-bintang, bulan, dan lainnya dapat menambah
Iman. Bahkan sekiranya manusia merenungkan dirinya sendiri, bagaimana Alloh menciptakannya
dalam bentuk yang paling baik dan keadaan yang paling sempurna, niscaya ia akan
mendapati pertambahan dan kekuatan dalam Imannya. Sebagaimana Alloh berfirman:
﴿وَفِي
أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴾
“Dan (juga)
pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS.
Adz-Dzariyat: 21)
Alloh juga
berfirman:
﴿سَنُرِيهِمْ
ءَايَٰتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾
“Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan
pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu
adalah benar.” (QS. Fusshilat: 53)
Dalam
setiap gerak dan diam selamanya ada saksi bagi Alloh, dan pada segala sesuatu
ada tanda yang menunjukkan bahwa Dia itu Esa.
1.7
Mentaati Alloh dan Menjalankan Perintah-Nya
Telah
berlalu ucapan ‘Umair bin Habib Al-Khothmi dan selain beliau dari para Shohabat
Nabi ﷺ
bahwa Iman bertambah dengan ketaatan kepada Alloh. Maka Iman bertambah dengan
ibadah-ibadah seperti Sholat, Zakat, Shodaqoh, Tasbih, Tahlil, Tahmid, Takbir,
membaca Al-Qur’an, dan selainnya. Dengan ketaatan kepada Alloh dan menjalankan
perintah-perintah-Nya, Iman menjadi kuat dan bertambah.
Amal-amal
itu terbagi menjadi 3 jenis:
Amal
hati: seperti rasa
takut (khouf), harap (roja’), cinta (mahabbah), rasa takut
disertai pengagungan (khosyyah), kembali taubat (inabah),
tawakkal, dan lain-lain.
Amal
lisan: seperti
membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, amar ma’ruf nahi munkar, dan membaca Al-Qur’an.
Amal
anggota badan: seperti
Shodaqoh, Sholat, Zakat, dan melangkah dalam ketaatan kepada Alloh Tabaroka
wa Ta’ala. Hal-hal ini seluruhnya dapat menambah Iman.
Ini adalah
ringkasan singkat dari hal-hal yang dapat menambah dan menguatkan Iman seorang
hamba.
Bab 2: Perkara yang Melemahkan
Iman
Adapun
sebab-sebab dan hal-hal yang dapat melemahkan dan mengurangi Iman, maka tidak
diragukan lagi sangat banyak pula. Seorang hamba dituntut untuk mengetahuinya
agar dapat mewaspadai dan menjauhinya, sebagaimana dikatakan oleh penyair:
Aku
mengenal kejelekan bukan untuk kejelekan itu sendiri, melainkan untuk
membentengi diri darinya,
Siapa
yang tidak membedakan kejelekan dari kebaikan, niscaya ia akan terperosok ke
dalamnya.
Sebelum
membahas berbagai hal yang dapat mengurangi Iman, perlu kita pahami terlebih
dahulu bahwa Iman tidak akan bertambah dengan sendirinya. Ketika seseorang
tidak menjaga sebab-sebab yang dapat menambah Iman, lalai dalam menguatkannya,
dan tidak lagi peduli dengan kondisi Imannya, maka hal itu pun bisa menjadi
salah satu sebab berkurangnya Iman.
Selanjutnya,
terdapat banyak faktor dan sebab yang beragam yang membuat Iman berkurang dan
melemah. Kita dapat membaginya menjadi 2 bagian utama, di mana dari keduanya
bercabang banyak faktor:
Bagian
Pertama: Sebab-sebab
internal atau faktor-faktor dari dalam diri yang berpengaruh mengikis Iman.
Bagian
Kedua: Sebab-sebab
dan faktor-faktor eksternal dari luar yang mempengaruhi berkurangnya Iman.
Adapun
Bagian Pertama, yaitu sebab-sebab internal yang bersumber dari diri manusia itu
sendiri, yang paling menonjol adalah sebagai berikut:
2.1
Kebodohan tentang Agama (Jahl)
Ini adalah
sebab internal yang paling utama. Kebodohan adalah kebalikan dari ilmu.
Sebagaimana ilmu dapat menambah dan menguatkan Iman, demikian pula kebodohan
dan minimnya ilmu menimbulkan kelemahan Iman. Oleh karena itu, para Nabi ‘alaihimus
salam telah menjelaskan kepada kaum mereka dalam banyak dalil bahwa sebab
keberadaan mereka dalam kemusyrikan dan maksiat adalah kebodohan. Seperti
firman Alloh:
﴿قَالُوا
يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾
“Mereka
berkata: ‘Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana
mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sungguh kamu ini
adalah kaum yang bodoh’.” (QS. Al-A’rof: 138)
Alloh
berfirman:
﴿وَلُوطًا
إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ
أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ
تَجْهَلُونَ﴾
“Dan
(ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kamu
mengerjakan perbuatan keji itu, sedang kamu melihatnya? Mengapa kamu mendatangi
laki-laki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan mendatangi wanita?
Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh’.” (QS. An-Naml: 54-55)
Alloh
berfirman tentang Ibrohim ‘alaihissalam:
﴿قُلْ
أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ﴾
“Katakanlah:
‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Alloh, wahai orang-orang yang
bodoh?’.” (QS. Az-Zumar: 64)
Alloh
berfirman:
﴿وَقَرْنَ
فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى﴾
“Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33). Dan
ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.
Kebodohan
adalah pangkal penyakit dan pondasi musibah. Ketika seorang hamba bodoh tentang
agama Alloh dan tentang apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, maka timbullah
perbuatan maksiat dan penyimpangan yang nyata dari agama Alloh. Alloh
berfirman:
﴿إِنَّمَا
التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ
مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا﴾
“Sungguh
taubat di sisi Alloh hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan
lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka
itulah yang diterima Alloh taubatnya; dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(QS. An-Nisa’: 17)
Kebodohan
dalam ayat ini artinya adalah ketidaktahuan pelaku maksiat akan akibat buruk
dari dosa tersebut—yang terbesar di antaranya adalah murka dan siksa dari
Robb—sehingga ia terjerumus ke dalamnya dan bertambah banyak melakukannya. Oleh
sebab itu, setiap orang yang bermaksiat kepada Alloh pada hakekatnya ia tidak
menyadari bahaya dan bahaya besar yang ditimbulkan oleh maksiat tersebut di
dunia dan Akhiroh.
2.2
Kelalaian (Ghoflah)
Apabila
manusia lalai dari tujuan ia diciptakan, maka Imannya akan melemah. Alloh
mencela kelalaian dalam Al-Qur’an dan mewaspadai jalan orang-orang yang lalai
dengan peringatan yang sangat keras. Robb kita menjelaskan dalam Al-Qur’an
bahwa kelalaian merupakan sifat orang-orang kafir. Alloh berfirman:
﴿وَإِنَّ
كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ ءَايَاتِنَا لَغَافِلُونَ﴾
“Dan sungguh
kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus:
92)
Alloh
berfirman:
﴿يَعْلَمُونَ
ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾
“Mereka
hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang
(kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)
Maka
kelalaian—yaitu rasa lupa yang menyerang manusia—merupakan penyakit berbahaya
yang menimpa manusia dan menjauhkannya dari mengingat Alloh, dari menjalankan
perintah-Nya, serta dari ketenangan dalam ketaatan kepada Alloh.
2.3
Berpaling (I’rodh)
Alloh
berfirman:
﴿وَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ
مُنتَقِمُونَ﴾
“Dan
siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan
ayat-ayat Robbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sungguh Kami akan
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22)
Maka
berpaling dari apa yang Alloh perintahkan merupakan sifat para pelaku dosa
besar yang akan Alloh berikan balasan siksa kepada mereka. Tidak sepatutnya
bagi seorang hamba ketika mendengar firman Alloh atau mendengar Hadits Rosululloh
ﷺ untuk berpaling darinya;
melainkan wajib baginya untuk menyambut ketaatan, kepatuhan, dan peneladanan.
Telah
shohih dari Abu Waqid Al-Laitsi (58 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwa
Rosululloh ﷺ
ketika sedang duduk di Masjid bersama orang-orang, tiba-tiba datang 3 orang.
Dua orang menghadap kepada Rosululloh ﷺ dan yang seorang lagi pergi. Kedua orang itu berdiri di hadapan
Rosululloh ﷺ.
Salah seorang dari keduanya melihat celah kosong pada majelis lalu ia duduk di
sana, sedangkan yang kedua duduk di belakang mereka, adapun yang ketiga
berpaling pergi. Ketika Rosululloh ﷺ selesai, beliau bersabda:
«أَلا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاثَةِ؟
أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا
فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ»
“Maukah aku
beritahukan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun salah seorang
dari mereka, ia mencari perlindungan kepada Alloh maka Alloh pun melindunginya.
Adapun yang kedua, ia merasa malu maka Alloh pun malu kepadanya. Sedangkan yang
ketiga, ia berpaling maka Alloh pun berpaling darinya.” (HR. Al-Bukhori no.
66 dan Muslim no. 2176)
2.4
Lupa (Nisyan)
Apabila
seorang hamba lupa terhadap apa yang diperintahkan kepadanya, maka Imannya
melemah. Lupa terbagi menjadi 2 jenis:
(1) Lupa
yang tidak diberi uzur bagi manusia, yaitu lupa yang dasarnya bersumber dari
kesengajaan dirinya. Termasuk jenis ini adalah firman Alloh:
﴿وَلَا
تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ﴾
“Dan
janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh
menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)
(2) Lupa
yang diberi uzur bagi manusia, yaitu lupa yang tidak timbul dari
kesengajaannya. Sebagaimana firman Alloh:
﴿رَبَّنَا
لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾
“Ya Robb
kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqoroh:
286)
Dan telah
datang dalam Hadits bahwa Alloh berfirman: “Aku telah melakukannya
(mengabulkannya).” (HR. Muslim no. 126)
2.5
Melakukan Maksiat dan Terjerumus Dosa
Sebagaimana
Iman bertambah dengan ketaatan, ia juga berkurang dengan kemaksiatan.
Jenis-jenis kemaksiatan sangat banyak, dan Nabi ﷺ telah menjelaskannya secara
global maupun terperinci, serta menjelaskan dosa-dosa besar dan kecil dengan
penjelasan yang paling agung dan terang.
Oleh karena
itu, hendaknya seorang hamba juga mengetahui kadar kemaksiatan beserta bahaya
dan dampak buruk yang ditimbulkannya agar ia dapat menghindarinya. Sungguh
telah tetap dari Rosululloh ﷺ
beliau bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ
فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ
قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي
ذَكَرَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا
بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»
“Sungguh
seorang hamba apabila melakukan satu kesalahan, ditorehkanlah satu titik hitam
di dalam hatinya. Jika ia meninggalkan dosa itu, memohon ampunan, dan
bertaubat, maka hatinya menjadi bersih mengkilap. Namun jika ia kembali berbuat
dosa, ditambahkanlah titik hitam itu hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’
(penutup) yang disebutkan oleh Alloh: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya
apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At-Tirmidzi
no. 3334, dihasankan oleh Al-Albani)
2.6
Hawa Nafsu yang Selalu Menyuruh Kejelekan
Alloh
berfirman:
﴿إِنَّ
النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي﴾
“Sungguh
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rohmat
oleh Robbku.” (QS. Yusuf: 53)
Nabi ﷺ senantiasa memohon
perlindungan dalam khutbah-khutbah beliau dari kejelekan hawa nafsu. Beliau
bersabda:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا»
“Segala
puji bagi Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon
ampunan-Nya, serta kami berlindung kepada Alloh dari kejelekan-kejelekan diri
kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.” (HR. At-Tirmidzi no. 1105 dan
Muslim no. 868). Beliau memohon perlindungan dari kejelekan jiwa dan
keburukan amal.
Telah tetap
pula dari beliau ﷺ
dalam doa yang diajarkan kepada Abu Bakor Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu
untuk dibaca pada pagi hari, petang hari, dan ketika hendak tidur:
«قُلْ: اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ،
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ
لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ
وَشِرْكِهِ»
“Ucapkanlah:
‘Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, Pencipta langit dan
bumi, Robb segala sesuatu dan Pemiliknya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah
yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan
diriku, serta dari kejelekan syaithon dan sekutunya.” (HR. At-Tirmidzi no.
3392, dishohihkan Al-Albani)
Maka beliau
ﷺ memerintahkan untuk
berlindung pada pagi, petang, dan saat hendak tidur dari kejelekan diri
sendiri. Sebab nafsu itu selalu menyuruh manusia kepada kejelekan, kerusakan,
dan perbuatan maksiat, serta menyeru kepada kebinasaan dan berusaha menuju
setiap hal yang buruk. Secara tabiat dasar, nafsu itu senantiasa berpacu di
medan penyelisihan dan berpaling.
Adapun
Bagian Kedua adalah: Sebab-sebab dan pengaruh eksternal yang berdampak mengikis
Iman; yang terangkum dalam 3 faktor:
2.7
Syaithon
Ia
merupakan faktor paling berbahaya dan paling besar dampaknya. Syaithon adalah
musuh utama manusia. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُونُوا
مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾
“Sungguh
syaithon itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sungguh
syaithon-syaithon itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni
Naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)
Robb kita
telah memperingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras, Alloh
berfirman:
﴿يَٰأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon. Siapa
yang mengikuti langkah-langkah syaithon, maka sungguh syaithon itu menyuruh
mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar.” (QS. An-Nur: 21)
Di antara
bentuk bahayanya adalah ia mengintai manusia di setiap jalan; baik jalan
ketaatan dan pendekatan diri kepada Alloh, maupun jalan kemaksiatan.
Sebagaimana Alloh mengabarkan kepada kita tentang syaithon bahwa ia berkata:
﴿لَأَقْعُدَنَّ
لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ
وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ﴾
“Saya
benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian
saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan
dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur
(taat).” (QS. Al-A’rof: 16-17)
Adapun pada
jalan ketaatan dan ibadah, syaithon akan melemahkannya dan menghalangi antara
dirinya dengan ketaatan itu. Sedangkan pada jalan maksiat, syaithon
mendorongnya untuk melakukan dan menggerakkannya ke sana. Maka ia termasuk hal
paling berbahaya bagi Iman.
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh berkata ketika membuat perumpamaan
yang menakjubkan tentang keadaan syaithon bersama manusia: “Jika engkau
menginginkan perumpamaan yang tepat untuk hal itu, maka perumpamaannya seperti
seekor anjing yang sangat kelaparan, sedangkan di antara engkau dengannya
terdapat daging atau roti. Anjing itu mengamatimu dan melihat engkau tidak
melawannya, padahal posisi anjing itu lebih dekat darimu. Engkau membentaknya
dan berteriak kepadanya, namun ia enggan kecuali tetap mengitari dirimu dan
menyerang apa yang ada di depanmu.” (At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an hlm. 419)
Maksud
beliau rohimahulloh dengan perumpamaan ini adalah untuk menjelaskan
betapa besarnya bahaya syaithon bagi manusia jika manusia tidak memohon
perlindungan kepada Alloh dari kejelekannya.
2.8
Dunia dan Fitnah-Fitnahnya
Faktor ini
sangat berbahaya dalam mempengaruhi berkurangnya Iman, terutama jika dunia
telah menjadi cita-cita terbesar manusia dan puncak ilmunya. Sejauh mana
ketamakan, kecintaan, dan keterpikatannya pada dunia, sebesar itu pula berat
langkahnya dari ketaatan dan ibadah.
Alloh telah
memperingatkan kita dari terpesona oleh dunia dengan peringatan yang sangat
keras. Alloh berfirman:
﴿اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ
نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ
عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Ketahuilah,
bahwa sungguh kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. Dan di Akhiroh (nanti) ada adzab yang keras dan
ampunan dari Alloh serta ridho-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dan ayat-ayat dalam makna
ini sangat banyak.
Di antara
hal yang membantu seorang hamba menyadari hakekat dunia, bersikap zuhud
terhadapnya, serta mencari apa yang ada di sisi Alloh dan negeri Akhiroh adalah
dua perkara:
Pertama: Melihat kepada dunia beserta
cepatnya sirnah, fana, dan lenyapnya dunia, serta menyadari bahwa seorang hamba
pasti akan berpisah darinya baik dalam waktu dekat maupun lambat.
Kedua: Melihat kepada Akhiroh, bahwa
Akhiroh itu pasti datang dalam waktu dekat, merupakan negeri tempat menetap (darul
qoror), serta lebih baik dan lebih kekal. Apabila seorang hamba merenungkan
hal semacam ini, ia akan mengambil manfaat yang sangat besar.
2.9
Teman yang Buruk
Telah
shohih dari Nabi ﷺ
peringatan dari teman yang buruk dan pergaulan yang rusak. Beliau bersabda:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ
أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Seseorang
itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara
kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”[4]
Oleh karena
itu, hendaknya seorang Mu’min tidak berteman kecuali dengan orang yang
pertemanannya membawa kebaikan dan manfaat bagi agamanya, serta mewaspadai
bergaul dengan sembarang orang.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata:
«لَيْسَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَقْعُدَ مَعَ كُلِّ
مَنْ شَاءَ»
“Tidak
sepatutnya bagi seorang Mu’min untuk duduk bersama siapa saja yang ia
kehendaki.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah 2/481)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) rohimahulloh berkata:
«لَيْسَ أَبْلَغَ فِي فَسَادِ رَجُلٍ وَصَلاحِهِ
مِنْ صَاحِبٍ»
“Tidak ada
sesuatu yang lebih berpengaruh dalam kerusakan atau kebaikan seseorang melebihi
temannya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah 2/478)
‘Abdulloh
bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«اعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، فَإِنَّ
الْمَرْءَ لَا يُخَادِنُ إِلَّا مَنْ يُعْجِبُهُ»
“Ukurlah
menilai manusia dari teman-temannya, karena seseorang tidak akan berteman dekat
kecuali dengan orang yang menakjubkannya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah
2/439)
Maka
bergaul dengan orang-orang fasik dan teman yang buruk merupakan salah satu
sebab terbesar berkurang dan melemahnya Iman, bahkan bisa jadi menyebabkan Iman
hilang dan sirna sama sekali, tergantung pada kadar keburukan mereka dan kadar
pergaulan dengannya.
Termasuk
hal baru di zaman kita—yang masuk dalam hukum teman bahkan urusannya lebih
berbahaya—adalah duduk menyaksikan saluran-saluran televisi parabola dan
situs-situs menyimpang di jejaring internet. Di mana musuh-musuh agama melalui
sarana ini telah mampu masuk ke dalam tempat tinggal dan rumah-rumah dengan
membawa fitnah dan racun mereka, serta menyebarkan kejahatan, kehinaan, dan
kefasikan mereka. Padahal dulunya mereka tidak mampu menjangkau pemikiran para
pemuda dan akal generasi muda.
Sungguh
sangat disayangkan bahwa di antara anak-anak lelaki dan perempuan umat Islam
ada yang duduk di depan layar-layar perusak ini selama berjam-jam; mendengarkan
mereka dengan telinganya, memandang mereka dengan matanya, dan menyambut apa
yang mereka tampilkan dengan hatinya. Seiring berjalannya hari,
pemikiran-pemikiran jahat mulai menyusup, prinsip-prinsip merusak makin
menghujam, akal dan pikiran diserang, serta kejelekan dan kerusakan semakin
bertambah.
Maka
kewajiban atas seorang Muslim adalah menjaga dirinya dan rumah tangganya dari
alat-alat penghancur dan jalan-jalan keburukan. Urusan ini sangatlah berbahaya,
dan Pelindung sungguh hanyalah Alloh. Siapa yang berpegang teguh kepada Alloh,
maka sungguh ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.
Ya Alloh,
perbaikilah bagi kami agama kami yang merupakan benteng urusan kami,
perbaikilah bagi kami dunia kami yang di dalamnya terdapat penghidupan kami,
perbaikilah bagi kami Akhiroh kami yang kepadanya tempat kembali kami, dan
jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan,
serta jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari setiap kejelekan.
Dan aku
memohon kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala agar menguatkan Iman kita dan
menambahnya, memperbarui Iman di dalam hati kita, serta menjadikan kita
orang-orang yang mendapat petunjuk lagi memberi petunjuk.
Semoga
sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para
Shohabatnya.
Walhamdulillah (Segala puji bagi Alloh).[]
[1] HR. Al-Hakim no. 5 dan Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam
Al-Kabir 13/36, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah
Ash-Shohihah no. 1585.
[2] HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah no. 218,
dishohihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/48.
[3] HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman no. 105,
dishohihkan Al-Albani.
[4] HR. Abu Dawud no. 4833, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no. 927.
