Cari Ebook

[PDF] Tajdidul Iman (Memperbarui Iman) - Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr

 


تجديد الإيمان

Tajdidul Iman (Memperbarui Iman)

Syaikhuna Prof. Dr. Abdurrozzaq Al-Badr

Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 78

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

 

Muqoddimah

﷽

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada hamba Alloh, Rosul-Nya, serta kekasih-Nya, yaitu Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para Shohabat beliau seluruhnya.

Amma ba’du:

Sungguh Iman merupakan hal paling utama yang wajib diperhatikan oleh seorang hamba dalam kehidupan ini. Iman adalah sebaik-baik hal yang diusahakan oleh jiwa, dicapai oleh hati, dan menjadi sarana bagi hamba untuk memperoleh derajat yang tinggi di dunia maupun di Akhiroh. Bahkan, seluruh kebaikan di dunia dan Akhiroh sangat bergantung pada Iman yang shohih.

Oleh karena itu, hendaknya setiap hamba Mu’min yang menginginkan kebaikan bagi dirinya selalu memeriksa keadaannya bersama Iman; apakah Imannya berada dalam pertumbuhan, kekuatan, dan peningkatan, ataukah sebaliknya justru mengalami kelemahan, kerapuhan, dan pengurangan?

Bahkan betapa butuhnya seorang hamba untuk memperbarui Imannya, berusaha menyempurnakannya, mewaspadai hal-hal yang mengurangi dan melemahkannya, serta berupaya keras untuk menguatkannya. Sebab, Iman senantiasa diterpa oleh berbagai hal yang dapat mengikisnya, seperti fitnah dunia, bisikan syaithon, teman yang buruk, pergaulan yang rusak, serta hawa nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan, dan hal-hal lainnya yang berdampak pada melemah dan berkurangnya Iman. Maka dari itu, diperlukan usaha yang sungguh-sungguh untuk menguatkan dan memperbaruinya.

Al-Hakim (305 H) meriwayatkan dalam Al-Mustadrok dan Ath-Thobroni (360 H) dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dari Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ»

“Sungguh Iman benar-benar bisa lusuh di dalam dada salah seorang di antara kalian sebagaimana lusuhnya pakaian. Maka memohonlah kalian kepada Alloh agar Dia memperbarui Iman di dalam hati kalian.”[1]

Nabi ﷺ menggambarkan Iman bahwa ia bisa lusuh sebagaimana pakaian menjadi lusuh; artinya Iman dapat melapuk, melemah, dan mengalami pengurangan akibat kemaksiatan dan dosa-dosa yang dilakukan seseorang, serta akibat berbagai kelalaian dan pengalih perhatian di dunia ini yang memalingkan manusia dari Iman. Begitu pula fitnah-fitnah besar yang dapat menghilangkan kesegaran, vitalitas, dan kekuatan Iman, serta memudarkan keindahan dan pesonanya. Di sinilah Nabi ﷺ memberi petunjuk tentang pentingnya memperbarui Iman di dalam hati dengan cara menghadapkan diri secara jujur dan ikhlas kepada Alloh, seraya bersabda: “Maka memohonlah kalian kepada Alloh agar Dia memperbarui Iman di dalam hati kalian.”

Kondisi ini menuntut penyerahan diri secara jujur kepada Alloh dan permohonan yang mendesak agar Alloh menambah serta menguatkan Iman, memperbaruinya di dalam hati, dan meneguhkannya. Alloh berfirman:

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ﴾

“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh.” (QS. Ibrohim: 27)

Maka harus ada perjuangan melawan hawa nafsu (jihadun nafs), mengintrospeksi diri, mengikatnya di atas kebenaran, dan memaksanya secara penuh untuk tunduk padanya. Alloh berfirman:

﴿وَالَّذِينَ جَهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari ridho Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Alloh benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Di samping itu, wajib pula mewaspadai fitnah dengan sangat hati-hati, terutama di zaman sekarang ini di mana fitnah-fitnah yang melemahkan Iman telah bermunculan dengan sangat banyak; bahkan banyak di antaranya yang menerjang pondasi agama dan meruntuhkannya dari akar-akarnya.

Iman adalah sesuatu yang paling berharga dalam keberadaan ini dan simpanan paling mahal di dunia. Siapa kehilangan Iman, maka ia telah kehilangan kehidupan yang hakiki. Sebab, tidak ada kehidupan nyata bagi manusia tanpa adanya Iman. Adapun sekadar melangkah dengan kaki, memegang dengan tangan, dan berbicara dengan lidah tanpa disertai Iman kepada Alloh, maka itu hanyalah kehidupan hewani, karena manusia dan hewan sama-sama memilikinya. Ada pun kehidupan yang hakiki adalah kehidupan dalam ketaatan kepada Ar-Rohman (Alloh) serta meneladani Rosul ﷺ. Oleh sebab itu, Alloh berfirman:

﴿يَٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Alloh dan seruan Rosul apabila Rosul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 24)

Sungguh para Salaf rohimahumulloh, baik dari kalangan Shohabat maupun orang-orang setelah mereka, sangat memperhatikan Iman mereka dan memberikan kepedulian yang amat besar terhadapnya. Riwayat-riwayat yang dinukil dari mereka tentang menginspeksi Iman serta berusaha menguatkan dan memperbaruinya sangatlah banyak.

Kholifah yang lurus, ‘Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada para sahabatnya:

«هَلُمُّوا نَزْدَدْ إِيمَانًا»

“Kemarilah, marilah kita menambah Iman kita.” (HR. Al-Lalakai no. 1700)

Dalam lafazh lain disebutkan:

«قُمْ بِنَا نَزْدَادُ إِيمَانًا»

“Bangkitlah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 31003)

Maksud beliau adalah mari kita duduk bersama untuk mengingat Alloh Tabaroka wa Ta’ala, mengingat Jannah, mengingat Naar, mengingat ancaman dan janji Alloh, serta mengingat rasa harap dan takut kepada-Nya, sehingga kita mengingat seluruh hal tersebut agar Iman kita semakin bertambah dan kuat.

‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu juga pernah berkata:

«اجْلِسُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»

“Duduklah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 44)

Beliau juga sering membaca doa:

«اللَّهُمَّ زِدْنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَفِقْهًا»

“Ya Alloh, tambahkanlah kepadaku Iman, keyakinan, dan pemahaman agama.”[2]

Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu pun pernah berkata:

«اجْلِسُوا بِنَا نُؤْمِنْ سَاعَةً»

“Duduklah bersama kami, mari kita menambah Iman walau sesaat.”[3]

‘Abdulloh bin Rowahah (18 H) rodhiyallahu ‘anhu biasa memegang tangan beberapa sahabatnya seraya berkata:

«تَعَالَوْا نُؤْمِنْ سَاعَةً، تَعَالَوْا فَلْنَذْكُرِ اللَّهَ فَنَزْدَدْ إِيمَانًا بِطَاعَتِهِ؛ لَعَلَّهُ يَذْكُرُنَا بِمَغْفِرَتِهِ»

“Kemarilah, mari kita menambah Iman walau sesaat. Kemarilah, mari kita mengingat Alloh agar Iman kita bertambah dengan ketaatan kepada-Nya, semoga Dia mengingat kita dengan ampunan-Nya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah no. 116)

Abu Ad-Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«مِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ أَمُزْدَادٌ هُوَ أَمْ مُنْتَقَصٌ، وَمِنْ فِقْهِ الْعَبْدِ أَنْ يَعْلَمَ نَزَغَاتِ الشَّيْطَانِ أَنَّى تَأْتِيهِ»

“Di antara kecerdasan pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui apakah Imannya sedang bertambah atau berkurang, dan di antara kecerdasan pemahaman seorang hamba adalah ia mengetahui dari mana bisikan syaithon memperdayanya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah no. 1140)

Maksud beliau adalah termasuk pemahaman agama seorang hamba hendaklah ia memperhatikan urusan Imannya, apakah sedang bertambah atau berkurang. Banyak manusia yang Imannya berkurang namun ia tidak menyadarinya, dan hal itu merupakan bentuk lemahnya pemahaman serta penglihatan hati.

‘Umair bin Habib Al-Khothmi rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«الإِيمَانُ يَزِيدُ وَيَنْقُصُ»

“Iman itu bertambah dan berkurang.”

Lalu ditanyakan kepada beliau: “Apa yang membuat Iman bertambah dan berkurang?” Beliau menjawab:

«إِذَا ذَكَرْنَا اللَّهَ وَحَمِدْنَاهُ وَسَبَّحْنَاهُ فَذَلِكَ زِيَادَتُهُ، وَإِذَا غَفَلْنَا وَضَيَّعْنَا وَنَسِينَا فَذَلِكَ نُقْصَانُهُ»

“Apabila kita mengingat Alloh, memuji-Nya, dan bertasbih kepada-Nya, maka itulah bertambahnya Iman. Namun apabila kita lalai, menyia-nyiakan kewajiban, dan lupa, maka itulah berkurangnya Iman.” (HR. Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thobaqot 4/217, shohih)

‘Alqomah bin Qois An-Nakho’i (62 H) rohimahulloh, salah seorang tokoh Tabi’in senior yang mulia, pernah berkata kepada sahabat-sahabatnya:

«امْشُوا بِنَا نَزْدَدْ إِيمَانًا»

“Berjalanlah bersama kami, mari kita menambah Iman.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman no. 104)

‘Abdurrohman bin ‘Amr Al-Auza’i (157 H) rohimahulloh pernah ditanya tentang Iman: “Apakah Iman itu bertambah?” Beliau menjawab:

«نَعَمْ، حَتَّى يَكُونَ كَالْجِبَالِ»

“Ya, hingga seperti gunung-gunung.”

Ditanyakan lagi: “Apakah Iman juga berkurang?” Beliau menjawab:

«نَعَمْ، حَتَّى لا يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ»

“Ya, hingga tidak tersisa sedikit pun darinya.” (HR. Al-Lalakai dalam Al-I’tiqod no. 1740)

Imam Ahmad (241 H) rohimahulloh ditanya tentang Iman, apakah bertambah dan berkurang? Beliau menjawab:

«يَزِيدُ حَتَّى يَبْلُغَ أَعْلَى السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ، وَيَنْقُصُ حَتَّى يَصِيرَ إِلَى أَسْفَلِ السَّافِلِينَ السَّبْعِ»

“Iman bertambah hingga mencapai tingkatan langit tujuh yang tertinggi, dan berkurang hingga berada di tingkat terendah dari tujuh lapis bumi.” (HR. Ibnu Abi Ya’la dalam Thobaqot Al-Hanabilah 1/259)

Riwayat-riwayat dan penukilan dari para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam dalam makna ini sangatlah banyak. Siapa mencermati perjalanan hidup para Shohabat, Tabi’in, dan para Imam yang mulia ini, ia akan menyadari bagaimana mereka senantiasa memeriksa keadaan Iman mereka, berusaha menambah dan menguatkannya, serta menjauhi hal-hal yang melemahkan dan menguranginya. Demikian pulalah keadaan setiap orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Bab 1: Tajdidul Iman (Memperbarui Iman)

Syaikh ‘Abdurrohman bin Nashir As-Sa’di (1376 H) rohimahulloh berkata: “Hamba yang Mu’min dan mendapatkan taufiq senantiasa berusaha dalam dua perkara:

Pertama: Mewujudkan Iman beserta cabang-cabangnya dan merealisasikannya secara ilmu, amal, maupun kondisi jiwa.

Kedua: Berusaha menolak hal-hal yang meniadakan, merusak, atau mengurangi Iman berupa fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, serta mengobati kekurangan pada perkara pertama dan keberanian melakukan perkara kedua dengan taubat yang murni (taubat nasuha) serta memperbaiki keadaan sebelum terlambat.” (At-Taudhih wal Bayan li Syajarotil Iman hlm. 83)

Dalam penjelasan ini terdapat peringatan pentingnya memperhatikan kedua sisi tersebut: seorang hamba memperhatikan sisi pembaruan Iman, kekuatan, dan peningkatannya, serta berusaha menyempurnakannya dengan melakukan ketaatan dan menjalankan perintah Alloh.

Di samping itu, ia juga berusaha menolak hal-hal yang melemahkan dan mengurangi Iman.

Hal ini membutuhkan pengetahuan tentang dua hal besar, kemudian mengamalkan dan mempraktikkannya:

Pertama: Sebab-sebab bertambah dan kuatnya Iman.

Kedua: Sebab-sebab berkurang dan lemahnya Iman.

Sebab-sebab tersebut sangat banyak, namun saya akan mengisyaratkan hal-hal terpenting secara ringkas dan singkat.

Kita mulai terlebih dahulu dengan menyebutkan hal-hal terpenting yang mendorong bertambah dan terbarunya Iman:

1.1 Menuntut Ilmu Syar’i

Sebab dengan ilmu yang bermanfaat—yaitu ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah—Iman akan bertambah dan menguat hingga menghujam di dalam hati. Pintu-pintu ilmu syar’i sangat banyak, dan yang paling utama masuk di dalamnya adalah membaca Al-Qur’an Al-Karim dan mentadabburinya. Sungguh Kalamulloh termasuk sebab terbesar yang dapat menambah Iman, sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا مَا أُنزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُم مَّن يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ ۝ وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ﴾

“Dan apabila diturunkan suatu suroh, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) suroh ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka suroh ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan suroh itu bertambah kekafirannya dan mereka mati dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah: 124-125)

Alloh juga berfirman:

﴿إِنَّ هَٰذَا الْقُرْءَانَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾

“Sungguh Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (QS. Al-Isro’: 9)

Alloh berfirman:

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا﴾

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Alloh berfirman:

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْءَانَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا﴾

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau sekiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Alloh, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’: 82)

Dan Alloh berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا ءَايَٰتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُوا الْأَلْبَٰبِ﴾

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shod: 29)

Maka mentadabburi Al-Qur’an, membacanya, dan merenungkan ayat-ayatnya akan menambah Iman seorang hamba.

1.2 Mengenal Nama-Nama Alloh yang Maha Indah (Asma’ul Husna) dan Sifat-Sifat-Nya yang Maha Tinggi

Sungguh Alloh berfirman:

﴿قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى﴾

“Katakanlah: ‘Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asma’ul Husna (nama-nama yang terbaik)’.” (QS. Al-Isro’: 110)

Alloh juga berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا﴾

“Hanya milik Alloh nama-nama yang husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. Al-A’rof: 180)

Nabi yang mulia ﷺ bersabda:

«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Sungguh Alloh memiliki 99 nama, yaitu seratus kurang satu; siapa yang menghafal dan menghayatinya (mengamalkan konsekuensinya) niscaya ia masuk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 6410 dan Muslim no. 2677)

Mengenal Asma’ul Husna milik Alloh, memahami makna-maknanya, lalu mengamalkan konsekuensinya merupakan salah satu sebab terbesar bertambahnya Iman.

1.3 Merenungkan Perjalanan Hidup (Siroh) Nabi yang Mulia ﷺ

Sungguh merenungkan Siroh Nabi ﷺ, petunjuk beliau, adab, akhlaq, muamalah, jihad, kedermawanan, serta pengorbanan beliau adalah di antara hal terbesar yang dapat menambah Iman.

Oleh karena itu, para Salaf sangat antusias mempelajari Siroh Nabawiyyah dan mengajarkannya kepada anak-anak serta keluarga mereka. Sebagaimana dikatakan oleh Zainul ‘Abidin ‘Ali bin Al-Husain (94 H) rohimahulloh:

«كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ ﷺ كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ»

“Kami dahulu diajar tentang peperangan-peperangan Nabi ﷺ sebagaimana kami diajar satu suroh dari Al-Qur’an.” (HR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami’ li Akhlaqir Rowi no. 1591)

1.4 Mengenal Keindahan-Keindahan Agama Islam

Agama Islam seluruhnya berisi keindahan. Jika Anda melihat kepada ibadahnya, Anda akan mendapatinya sebagai ibadah yang paling sempurna dan paling indah. Jika Anda melihat kepada aqidahnya, Anda akan mendapatinya sebagai aqidah yang paling shohih dan paling lurus. Demikian pula adab dan akhlaqnya, merupakan akhlaq yang paling sempurna, paling elok, dan paling baik. Sebagaimana Alloh berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَٰمَ دِينًا﴾

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Dengan melihat keindahan-keindahan ini, seorang hamba akan bertambah kecintaannya kepada agama ini, bertambah semangat mendatanginya, serta semakin beramal dan berusaha dalam menerapkannya.

1.5 Membaca Perjalanan Hidup Salafush Sholih

Membaca perjalanan hidup Salafush Sholih—seperti biografi Abu Bakr (13 H), ‘Umar (23 H), ‘Utsman (35 H), ‘Ali (40 H), dan seluruh Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, serta perjalanan hidup para Tabi’in dan para Imam—dengan perenungan, pemikiran mendalam, dan mengambil pelajaran, merupakan sebab bertambahnya Iman. Sebagaimana dikatakan dalam bait syair:

Ulangi terus padaku kisah-kisah mereka wahai pengembara, karena kisah mereka dapat membersihkan hati yang aus berkarat.

Muhammad bin Yunus (264 H) rohimahulloh berkata:

«مَا رَأَيْتُ لِلْقَلْبِ أَنْفَعَ مِنْ ذِكْرِ الصَّالِحِينَ»

“Aku tidak melihat sesuatu yang lebih bermanfaat bagi hati selain mengingat orang-orang sholih.” (Sifatush Shofwah oleh Ibnu Al-Jauzi 1/18)

1.6 Merenungkan Tanda-Tanda Kebesaran Alloh di Alam Semesta (Ayat Kauniyyah)

Merenungkan ciptaan Alloh berupa pepohonan, gunung-gunung, sungai-sungai, lautan, lembah-lembah, langit, bumi, bintang-bintang, bulan, dan lainnya dapat menambah Iman. Bahkan sekiranya manusia merenungkan dirinya sendiri, bagaimana Alloh menciptakannya dalam bentuk yang paling baik dan keadaan yang paling sempurna, niscaya ia akan mendapati pertambahan dan kekuatan dalam Imannya. Sebagaimana Alloh berfirman:

﴿وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴾

“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

Alloh juga berfirman:

﴿سَنُرِيهِمْ ءَايَٰتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ﴾

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (QS. Fusshilat: 53)

Dalam setiap gerak dan diam selamanya ada saksi bagi Alloh, dan pada segala sesuatu ada tanda yang menunjukkan bahwa Dia itu Esa.

1.7 Mentaati Alloh dan Menjalankan Perintah-Nya

Telah berlalu ucapan ‘Umair bin Habib Al-Khothmi dan selain beliau dari para Shohabat Nabi ﷺ bahwa Iman bertambah dengan ketaatan kepada Alloh. Maka Iman bertambah dengan ibadah-ibadah seperti Sholat, Zakat, Shodaqoh, Tasbih, Tahlil, Tahmid, Takbir, membaca Al-Qur’an, dan selainnya. Dengan ketaatan kepada Alloh dan menjalankan perintah-perintah-Nya, Iman menjadi kuat dan bertambah.

Amal-amal itu terbagi menjadi 3 jenis:

Amal hati: seperti rasa takut (khouf), harap (roja’), cinta (mahabbah), rasa takut disertai pengagungan (khosyyah), kembali taubat (inabah), tawakkal, dan lain-lain.

Amal lisan: seperti membaca Tasbih, Tahmid, Takbir, amar ma’ruf nahi munkar, dan membaca Al-Qur’an.

Amal anggota badan: seperti Shodaqoh, Sholat, Zakat, dan melangkah dalam ketaatan kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala. Hal-hal ini seluruhnya dapat menambah Iman.

Ini adalah ringkasan singkat dari hal-hal yang dapat menambah dan menguatkan Iman seorang hamba.

 

Bab 2: Perkara yang Melemahkan Iman

Adapun sebab-sebab dan hal-hal yang dapat melemahkan dan mengurangi Iman, maka tidak diragukan lagi sangat banyak pula. Seorang hamba dituntut untuk mengetahuinya agar dapat mewaspadai dan menjauhinya, sebagaimana dikatakan oleh penyair:

Aku mengenal kejelekan bukan untuk kejelekan itu sendiri, melainkan untuk membentengi diri darinya,

Siapa yang tidak membedakan kejelekan dari kebaikan, niscaya ia akan terperosok ke dalamnya.

Sebelum membahas berbagai hal yang dapat mengurangi Iman, perlu kita pahami terlebih dahulu bahwa Iman tidak akan bertambah dengan sendirinya. Ketika seseorang tidak menjaga sebab-sebab yang dapat menambah Iman, lalai dalam menguatkannya, dan tidak lagi peduli dengan kondisi Imannya, maka hal itu pun bisa menjadi salah satu sebab berkurangnya Iman.

Selanjutnya, terdapat banyak faktor dan sebab yang beragam yang membuat Iman berkurang dan melemah. Kita dapat membaginya menjadi 2 bagian utama, di mana dari keduanya bercabang banyak faktor:

Bagian Pertama: Sebab-sebab internal atau faktor-faktor dari dalam diri yang berpengaruh mengikis Iman.

Bagian Kedua: Sebab-sebab dan faktor-faktor eksternal dari luar yang mempengaruhi berkurangnya Iman.

Adapun Bagian Pertama, yaitu sebab-sebab internal yang bersumber dari diri manusia itu sendiri, yang paling menonjol adalah sebagai berikut:

2.1 Kebodohan tentang Agama (Jahl)

Ini adalah sebab internal yang paling utama. Kebodohan adalah kebalikan dari ilmu. Sebagaimana ilmu dapat menambah dan menguatkan Iman, demikian pula kebodohan dan minimnya ilmu menimbulkan kelemahan Iman. Oleh karena itu, para Nabi ‘alaihimus salam telah menjelaskan kepada kaum mereka dalam banyak dalil bahwa sebab keberadaan mereka dalam kemusyrikan dan maksiat adalah kebodohan. Seperti firman Alloh:

﴿قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾

“Mereka berkata: ‘Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sungguh kamu ini adalah kaum yang bodoh’.” (QS. Al-A’rof: 138)

Alloh berfirman:

﴿وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ ۝ أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾

“Dan (ingatlah kisah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: ‘Apakah kamu mengerjakan perbuatan keji itu, sedang kamu melihatnya? Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan mendatangi wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang bodoh’.” (QS. An-Naml: 54-55)

Alloh berfirman tentang Ibrohim ‘alaihissalam:

﴿قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ﴾

“Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Alloh, wahai orang-orang yang bodoh?’.” (QS. Az-Zumar: 64)

Alloh berfirman:

﴿وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى﴾

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab: 33). Dan ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.

Kebodohan adalah pangkal penyakit dan pondasi musibah. Ketika seorang hamba bodoh tentang agama Alloh dan tentang apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, maka timbullah perbuatan maksiat dan penyimpangan yang nyata dari agama Alloh. Alloh berfirman:

﴿إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا﴾

“Sungguh taubat di sisi Alloh hanyalah bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Alloh taubatnya; dan Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 17)

Kebodohan dalam ayat ini artinya adalah ketidaktahuan pelaku maksiat akan akibat buruk dari dosa tersebut—yang terbesar di antaranya adalah murka dan siksa dari Robb—sehingga ia terjerumus ke dalamnya dan bertambah banyak melakukannya. Oleh sebab itu, setiap orang yang bermaksiat kepada Alloh pada hakekatnya ia tidak menyadari bahaya dan bahaya besar yang ditimbulkan oleh maksiat tersebut di dunia dan Akhiroh.

2.2 Kelalaian (Ghoflah)

Apabila manusia lalai dari tujuan ia diciptakan, maka Imannya akan melemah. Alloh mencela kelalaian dalam Al-Qur’an dan mewaspadai jalan orang-orang yang lalai dengan peringatan yang sangat keras. Robb kita menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa kelalaian merupakan sifat orang-orang kafir. Alloh berfirman:

﴿وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ ءَايَاتِنَا لَغَافِلُونَ﴾

“Dan sungguh kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus: 92)

Alloh berfirman:

﴿يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ﴾

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) Akhiroh adalah lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Maka kelalaian—yaitu rasa lupa yang menyerang manusia—merupakan penyakit berbahaya yang menimpa manusia dan menjauhkannya dari mengingat Alloh, dari menjalankan perintah-Nya, serta dari ketenangan dalam ketaatan kepada Alloh.

2.3 Berpaling (I’rodh)

Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ﴾

“Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robbnya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sungguh Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.” (QS. As-Sajdah: 22)

Maka berpaling dari apa yang Alloh perintahkan merupakan sifat para pelaku dosa besar yang akan Alloh berikan balasan siksa kepada mereka. Tidak sepatutnya bagi seorang hamba ketika mendengar firman Alloh atau mendengar Hadits Rosululloh ﷺ untuk berpaling darinya; melainkan wajib baginya untuk menyambut ketaatan, kepatuhan, dan peneladanan.

Telah shohih dari Abu Waqid Al-Laitsi (58 H) rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh ﷺ ketika sedang duduk di Masjid bersama orang-orang, tiba-tiba datang 3 orang. Dua orang menghadap kepada Rosululloh ﷺ dan yang seorang lagi pergi. Kedua orang itu berdiri di hadapan Rosululloh ﷺ. Salah seorang dari keduanya melihat celah kosong pada majelis lalu ia duduk di sana, sedangkan yang kedua duduk di belakang mereka, adapun yang ketiga berpaling pergi. Ketika Rosululloh ﷺ selesai, beliau bersabda:

«أَلا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلاثَةِ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ، وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ»

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang tiga orang tersebut? Adapun salah seorang dari mereka, ia mencari perlindungan kepada Alloh maka Alloh pun melindunginya. Adapun yang kedua, ia merasa malu maka Alloh pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga, ia berpaling maka Alloh pun berpaling darinya.” (HR. Al-Bukhori no. 66 dan Muslim no. 2176)

2.4 Lupa (Nisyan)

Apabila seorang hamba lupa terhadap apa yang diperintahkan kepadanya, maka Imannya melemah. Lupa terbagi menjadi 2 jenis:

(1) Lupa yang tidak diberi uzur bagi manusia, yaitu lupa yang dasarnya bersumber dari kesengajaan dirinya. Termasuk jenis ini adalah firman Alloh:

﴿وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ﴾

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)

(2) Lupa yang diberi uzur bagi manusia, yaitu lupa yang tidak timbul dari kesengajaannya. Sebagaimana firman Alloh:

﴿رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا﴾

“Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (QS. Al-Baqoroh: 286)

Dan telah datang dalam Hadits bahwa Alloh berfirman: “Aku telah melakukannya (mengabulkannya).” (HR. Muslim no. 126)

2.5 Melakukan Maksiat dan Terjerumus Dosa

Sebagaimana Iman bertambah dengan ketaatan, ia juga berkurang dengan kemaksiatan. Jenis-jenis kemaksiatan sangat banyak, dan Nabi ﷺ telah menjelaskannya secara global maupun terperinci, serta menjelaskan dosa-dosa besar dan kecil dengan penjelasan yang paling agung dan terang.

Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba juga mengetahui kadar kemaksiatan beserta bahaya dan dampak buruk yang ditimbulkannya agar ia dapat menghindarinya. Sungguh telah tetap dari Rosululloh ﷺ beliau bersabda:

«إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: ﴿كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِم مَّا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾»

“Sungguh seorang hamba apabila melakukan satu kesalahan, ditorehkanlah satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia meninggalkan dosa itu, memohon ampunan, dan bertaubat, maka hatinya menjadi bersih mengkilap. Namun jika ia kembali berbuat dosa, ditambahkanlah titik hitam itu hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’ (penutup) yang disebutkan oleh Alloh: ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334, dihasankan oleh Al-Albani)

2.6 Hawa Nafsu yang Selalu Menyuruh Kejelekan

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي﴾

“Sungguh nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rohmat oleh Robbku.” (QS. Yusuf: 53)

Nabi ﷺ senantiasa memohon perlindungan dalam khutbah-khutbah beliau dari kejelekan hawa nafsu. Beliau bersabda:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا»

“Segala puji bagi Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya, serta kami berlindung kepada Alloh dari kejelekan-kejelekan diri kami dan dari keburukan amal perbuatan kami.” (HR. At-Tirmidzi no. 1105 dan Muslim no. 868). Beliau memohon perlindungan dari kejelekan jiwa dan keburukan amal.

Telah tetap pula dari beliau ﷺ dalam doa yang diajarkan kepada Abu Bakor Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu untuk dibaca pada pagi hari, petang hari, dan ketika hendak tidur:

«قُلْ: اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ»

“Ucapkanlah: ‘Ya Alloh, Yang Maha Mengetahui yang ghoib dan yang nyata, Pencipta langit dan bumi, Robb segala sesuatu dan Pemiliknya. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan diriku, serta dari kejelekan syaithon dan sekutunya.” (HR. At-Tirmidzi no. 3392, dishohihkan Al-Albani)

Maka beliau ﷺ memerintahkan untuk berlindung pada pagi, petang, dan saat hendak tidur dari kejelekan diri sendiri. Sebab nafsu itu selalu menyuruh manusia kepada kejelekan, kerusakan, dan perbuatan maksiat, serta menyeru kepada kebinasaan dan berusaha menuju setiap hal yang buruk. Secara tabiat dasar, nafsu itu senantiasa berpacu di medan penyelisihan dan berpaling.

Adapun Bagian Kedua adalah: Sebab-sebab dan pengaruh eksternal yang berdampak mengikis Iman; yang terangkum dalam 3 faktor:

2.7 Syaithon

Ia merupakan faktor paling berbahaya dan paling besar dampaknya. Syaithon adalah musuh utama manusia. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾

“Sungguh syaithon itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sungguh syaithon-syaithon itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Naar yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)

Robb kita telah memperingatkan kita darinya dengan peringatan yang sangat keras, Alloh berfirman:

﴿يَٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon. Siapa yang mengikuti langkah-langkah syaithon, maka sungguh syaithon itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang munkar.” (QS. An-Nur: 21)

Di antara bentuk bahayanya adalah ia mengintai manusia di setiap jalan; baik jalan ketaatan dan pendekatan diri kepada Alloh, maupun jalan kemaksiatan. Sebagaimana Alloh mengabarkan kepada kita tentang syaithon bahwa ia berkata:

﴿لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ۝ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ﴾

“Saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Adapun pada jalan ketaatan dan ibadah, syaithon akan melemahkannya dan menghalangi antara dirinya dengan ketaatan itu. Sedangkan pada jalan maksiat, syaithon mendorongnya untuk melakukan dan menggerakkannya ke sana. Maka ia termasuk hal paling berbahaya bagi Iman.

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh berkata ketika membuat perumpamaan yang menakjubkan tentang keadaan syaithon bersama manusia: “Jika engkau menginginkan perumpamaan yang tepat untuk hal itu, maka perumpamaannya seperti seekor anjing yang sangat kelaparan, sedangkan di antara engkau dengannya terdapat daging atau roti. Anjing itu mengamatimu dan melihat engkau tidak melawannya, padahal posisi anjing itu lebih dekat darimu. Engkau membentaknya dan berteriak kepadanya, namun ia enggan kecuali tetap mengitari dirimu dan menyerang apa yang ada di depanmu.” (At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an hlm. 419)

Maksud beliau rohimahulloh dengan perumpamaan ini adalah untuk menjelaskan betapa besarnya bahaya syaithon bagi manusia jika manusia tidak memohon perlindungan kepada Alloh dari kejelekannya.

2.8 Dunia dan Fitnah-Fitnahnya

Faktor ini sangat berbahaya dalam mempengaruhi berkurangnya Iman, terutama jika dunia telah menjadi cita-cita terbesar manusia dan puncak ilmunya. Sejauh mana ketamakan, kecintaan, dan keterpikatannya pada dunia, sebesar itu pula berat langkahnya dari ketaatan dan ibadah.

Alloh telah memperingatkan kita dari terpesona oleh dunia dengan peringatan yang sangat keras. Alloh berfirman:

﴿اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Ketahuilah, bahwa sungguh kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di Akhiroh (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Alloh serta ridho-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). Dan ayat-ayat dalam makna ini sangat banyak.

Di antara hal yang membantu seorang hamba menyadari hakekat dunia, bersikap zuhud terhadapnya, serta mencari apa yang ada di sisi Alloh dan negeri Akhiroh adalah dua perkara:

Pertama: Melihat kepada dunia beserta cepatnya sirnah, fana, dan lenyapnya dunia, serta menyadari bahwa seorang hamba pasti akan berpisah darinya baik dalam waktu dekat maupun lambat.

Kedua: Melihat kepada Akhiroh, bahwa Akhiroh itu pasti datang dalam waktu dekat, merupakan negeri tempat menetap (darul qoror), serta lebih baik dan lebih kekal. Apabila seorang hamba merenungkan hal semacam ini, ia akan mengambil manfaat yang sangat besar.

2.9 Teman yang Buruk

Telah shohih dari Nabi ﷺ peringatan dari teman yang buruk dan pergaulan yang rusak. Beliau bersabda:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.”[4]

Oleh karena itu, hendaknya seorang Mu’min tidak berteman kecuali dengan orang yang pertemanannya membawa kebaikan dan manfaat bagi agamanya, serta mewaspadai bergaul dengan sembarang orang.

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata:

«لَيْسَ لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يَقْعُدَ مَعَ كُلِّ مَنْ شَاءَ»

“Tidak sepatutnya bagi seorang Mu’min untuk duduk bersama siapa saja yang ia kehendaki.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah 2/481)

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) rohimahulloh berkata:

«لَيْسَ أَبْلَغَ فِي فَسَادِ رَجُلٍ وَصَلاحِهِ مِنْ صَاحِبٍ»

“Tidak ada sesuatu yang lebih berpengaruh dalam kerusakan atau kebaikan seseorang melebihi temannya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah 2/478)

‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«اعْتَبِرُوا النَّاسَ بِأَخْدَانِهِمْ، فَإِنَّ الْمَرْءَ لَا يُخَادِنُ إِلَّا مَنْ يُعْجِبُهُ»

“Ukurlah menilai manusia dari teman-temannya, karena seseorang tidak akan berteman dekat kecuali dengan orang yang menakjubkannya.” (HR. Ibnu Botthoh dalam Al-Ibanah 2/439)

Maka bergaul dengan orang-orang fasik dan teman yang buruk merupakan salah satu sebab terbesar berkurang dan melemahnya Iman, bahkan bisa jadi menyebabkan Iman hilang dan sirna sama sekali, tergantung pada kadar keburukan mereka dan kadar pergaulan dengannya.

Termasuk hal baru di zaman kita—yang masuk dalam hukum teman bahkan urusannya lebih berbahaya—adalah duduk menyaksikan saluran-saluran televisi parabola dan situs-situs menyimpang di jejaring internet. Di mana musuh-musuh agama melalui sarana ini telah mampu masuk ke dalam tempat tinggal dan rumah-rumah dengan membawa fitnah dan racun mereka, serta menyebarkan kejahatan, kehinaan, dan kefasikan mereka. Padahal dulunya mereka tidak mampu menjangkau pemikiran para pemuda dan akal generasi muda.

Sungguh sangat disayangkan bahwa di antara anak-anak lelaki dan perempuan umat Islam ada yang duduk di depan layar-layar perusak ini selama berjam-jam; mendengarkan mereka dengan telinganya, memandang mereka dengan matanya, dan menyambut apa yang mereka tampilkan dengan hatinya. Seiring berjalannya hari, pemikiran-pemikiran jahat mulai menyusup, prinsip-prinsip merusak makin menghujam, akal dan pikiran diserang, serta kejelekan dan kerusakan semakin bertambah.

Maka kewajiban atas seorang Muslim adalah menjaga dirinya dan rumah tangganya dari alat-alat penghancur dan jalan-jalan keburukan. Urusan ini sangatlah berbahaya, dan Pelindung sungguh hanyalah Alloh. Siapa yang berpegang teguh kepada Alloh, maka sungguh ia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Ya Alloh, perbaikilah bagi kami agama kami yang merupakan benteng urusan kami, perbaikilah bagi kami dunia kami yang di dalamnya terdapat penghidupan kami, perbaikilah bagi kami Akhiroh kami yang kepadanya tempat kembali kami, dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah kematian sebagai istirahat bagi kami dari setiap kejelekan.

Dan aku memohon kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala agar menguatkan Iman kita dan menambahnya, memperbarui Iman di dalam hati kita, serta menjadikan kita orang-orang yang mendapat petunjuk lagi memberi petunjuk.

Semoga sholawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para Shohabatnya.

Walhamdulillah (Segala puji bagi Alloh).[]

 



[1] HR. Al-Hakim no. 5 dan Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir 13/36, dishohihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shohihah no. 1585.

[2] HR. Al-Ajurri dalam Asy-Syari’ah no. 218, dishohihkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/48.

[3] HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Iman no. 105, dishohihkan Al-Albani.

[4] HR. Abu Dawud no. 4833, dihasankan oleh Al-Albani dalam Ash-Shohihah no. 927.


Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini