Cari Ebook

[PDF] Tarjamah Suroh Al-Isroo` - Tafsir Muyassar

 


التفسير الميسر

Tarjamah Suroh Al-Isroo`

Penulis: Sekelompok Pakar Tafsir

Penerbit: Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Al-Qur’an, Arob Saudi

Edisi: Kedua, dengan penambahan dan penyempurnaan, 1430 H / 2009 M

Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 105

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

﴿سُورَةُ الإِسْرَاءِ﴾

﷽

﴿سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ ١﴾

[1]. Alloh memuliakan diri-Nya dan mengagungkan kedudukan-Nya karena kuasa-Nya atas segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh siapa pun selain-Nya. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Dia, dan tidak ada Robb selain Dia. Dialah yang memperjalankan hamba-Nya, Muhammad ﷺ, pada sebagian waktu malam dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan sadar (bukan mimpi), dari Masjidil Harom di Makkah menuju Masjidil Aqsho di Baitul Maqdis yang telah Alloh berkahi sekelilingnya berupa tanam-tanaman, buah-buahan, dan selainnya, serta menjadikannya tempat bagi banyak Nabi, agar beliau menyaksikan keajaiban kekuasaan Alloh dan bukti-bukti keesaan-Nya. Sungguh Alloh Maha Mendengar seluruh suara dan Maha Melihat segala sesuatu yang tampak, lalu Dia memberikan kepada masing-masing apa yang berhak diterimanya di dunia dan Akhiroh.

﴿وَءَاتَيۡنَا مُوسَى ٱلۡكِتَٰبَ وَجَعَلۡنَٰهُ هُدٗى لِّبَنِيٓ إِسْرَآءِيلَ أَلَّا تَتَّخِذُواْ مِن دُونِي وَكِيلٗا ٢﴾

[2]. Sebagaimana Alloh memuliakan Muhammad ﷺ dengan peristiwa Isro’, Dia juga memuliakan Musa dengan memberinya Kitab Taurot dan menjadikannya sebagai penjelasan kebenaran serta petunjuk bagi Bani Isroil, yang mengandung larangan bagi mereka untuk menjadikan selain Alloh sebagai pelindung atau sesembahan tempat menyerahkan segala urusan.

﴿ذُرِّيَّةَ مَنۡ حَمَلۡنَا مَعَ نُوحٍۚ إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا ٣﴾

[3]. Wahai keturunan orang-orang yang telah Kami selamatkan dan Kami angkat bersama Nuh di dalam bahtera, janganlah kalian menyekutukan Alloh dalam beribadah kepada-Nya. Jadilah kalian orang-orang yang bersyukur atas ni’mat-ni’mat-Nya dengan meneladani Nuh, karena sungguh dia adalah seorang hamba yang sangat bersyukur kepada Alloh dengan hati, lisan, dan anggota tubuhnya.

﴿وَقَضَيۡنَآ إِلَىٰ بَنِيٓ إِسْرَآءِيلَ فِي ٱلۡكِتَٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَّتَيۡنِ وَلَتَعۡلُنَّ عُلُوّٗا كَبِيرٗا ٤﴾

[4]. Kami telah memberitahukan kepada Bani Isroil di dalam Taurot yang diturunkan kepada mereka bahwa pasti akan terjadi kerusakan dari mereka sebanyak 2 kali di Baitul Maqdis dan sekitarnya berupa kezholiman, pembunuhan para Nabi, kesombongan, kezholiman, dan permusuhan.

﴿فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ أُولَىٰهُمَا بَعَثۡنَا عَلَيۡكُمۡ عِبَادٗا لَّنَآ أُوْلِي بَأۡسٖ شَدِيدٖ فَجَاسُواْ خِلَٰلَ ٱلدِّيَارِۚ وَكَانَ وَعۡدٗا مَّفۡعُولٗا ٥﴾

[5]. Ketika terjadi kerusakan pertama dari mereka, Kami kuasakan atas mereka hamba-hamba Kami yang memiliki keberanian dan kekuatan yang sangat dahsyat, yang mengalahkan, membunuh, dan mencerai-beraikan mereka, lalu hamba-hamba itu merambah masuk ke celah-celah pemukiman melakukan pembinasaan. Hal itu merupakan janji yang pasti terjadi karena adanya sebab dari diri mereka sendiri.

﴿ثُمَّ رَدَدۡنَا لَكُمُ ٱلۡكَرَّةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَمۡدَدۡنَٰكُم بِأَمۡوَٰلٖ وَبَنِينَ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ أَكۡثَرَ نَفِيرًا ٦﴾

[6]. Kemudian Kami kembalikan bagi kalian, wahai Bani Isroil, kemenangan dan keunggulan atas musuh-musuh kalian yang dahulu dikuasakan atas kalian, Kami perbanyak rizqi dan anak keturunan kalian, Kami perkuat kalian, serta Kami jadikan jumlah kalian lebih banyak daripada musuh kalian, yang demikian itu disebabkan kebaikan dan ketundukan kalian kepada Alloh.

﴿إِنۡ أَحۡسَنتُمۡ أَحۡسَنتُمۡ لِأَنفُسِكُمۡۖ وَإِنۡ أَسَأۡتُمۡ فَلَهَاۚ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ لِيَسُـۥٓـُٔواْ وُجُوهَكُمۡ وَلِيَدۡخُلُواْ ٱلۡمَسۡجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٖ وَلِيُتَبِّرُواْ مَا عَلَوۡاْ تَتۡبِيرًا ٧﴾

[7]. Jika kalian berbuat baik dalam perbuatan dan perkataan kalian, maka sejatinya kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri karena pahalanya kembali kepada kalian. Jika kalian berbuat jahat, maka siksaannya pun kembali kepada diri kalian. Lalu apabila tiba saat janji kerusakan ke-2, Kami kuasakan atas kalian musuh-musuh kalian sekali lagi untuk menghinakan dan mengalahkan kalian, hingga tampak bekas-bekas kehinaan dan kerendahan pada wajah-wajah kalian, dan agar mereka memasuki Baitul Maqdis lalu merusaknya sebagaimana mereka merusaknya pada kali pertama, serta menghancurkan apa saja yang mereka kuasai secara hancur lebur.

﴿عَسَىٰ رَبُّكُمۡ أَن يَرۡحَمَكُمۡۚ وَإِنۡ عُدتُّمۡ عُدۡنَاۚ وَجَعَلۡنَا جَهَنَّمَ لِلۡكَٰفِرِينَ حَصِيرًا ٨﴾

[8]. Mudah-mudahan Robb kalian, wahai Bani Isroil, merohmati kalian setelah siksaan-Nya jika kalian bertaubat dan berbuat perbaikan. Namun jika kalian kembali melakukan kerusakan dan kezholiman, Kami pun kembali menghukum dan menghinakan kalian. Kami telah menjadikan Naar Jahannam bagi kalian dan bagi orang-orang kafir secara umum sebagai penjara yang tidak ada jalan keluar darinya selama-lamanya. Di dalam ayat ini dan ayat sebelumnya terdapat peringatan bagi umat ini agar tidak melakukan kemaksiatan, supaya tidak menimpa mereka apa yang telah menimpa Bani Isroil, sebab ketetapan-ketetapan Alloh itu satu, tidak akan berubah dan tidak akan berganti.

﴿إِنَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ يَهۡدِي لِلَّتِي هِيَ أَقۡوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعۡمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَبِيرٗا ٩﴾

[9]. Sungguh Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami, Muhammad, ini memberi petunjuk kepada manusia menuju jalan yang paling lurus, yaitu agama Islam, serta memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan apa yang Alloh perintahkan dan menjauhi apa yang Dia larang, bahwa bagi mereka pahala yang sangat besar.

﴿وَأَنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأَخِرَةِ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ١٠﴾

[10]. Dan bahwasanya orang-orang yang tidak membenarkan negeri Akhiroh beserta pembalasan di dalamnya, Kami sediakan bagi mereka adzab yang sangat pedih di dalam Naar.

﴿وَيَدۡعُ ٱلۡإِنسَٰنُ بِٱلشَّرِّ دُعَآءَهُۥ بِٱلۡخَيۡرِۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ عَجُولٗا ١١﴾

[11]. Terkadang manusia mendoakan keburukan atas dirinya, anaknya, atau hartanya ketika sedang marah, sebagaimana dia mendoakan kebaikan. Hal ini termasuk kebodohan dan ketergesa-gesaan manusia. Di antara rohmat Alloh kepadanya adalah Dia mengabulkan doa kebaikannya dan tidak mengabulkan doa keburukannya, karena Dia mengetahui bahwa manusia tidak sungguh-sungguh bermaksud demikian. Memang manusia pada tabiat dasarnya bersifat tergesa-gesa.

﴿وَجَعَلۡنَا ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيۡنِۖ فَمَحَوۡنَآ ءَايَةَ ٱلَّيۡلِ وَجَعَلۡنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبۡصِرَةٗ لِّتَبۡتَغُواْ فَضۡلٗا مِّن رَّبِّكُمۡ وَلِتَعۡلَمُواْ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلۡحِسَابَۚ وَكُلَّ شَيۡءٖ فَصَّلۡنَٰهُ تَفۡصِيلٗا ١٢﴾

[12]. Kami telah menjadikan malam dan siang sebagai 2 tanda yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan Kami. Kami hapuskan tanda malam (yaitu bulan) dan Kami jadikan tanda siang (yaitu matahari) terang benderang, agar manusia dapat melihat di bawah cahaya siang bagaimana mengurus penghidupannya dan dapat beristirahat dengan tenang di malam hari, serta agar manusia mengetahui melalui pergantian malam dan siang jumlah tahun, perhitungan bulan, dan hari, sehingga mereka dapat mengatur berbagai kemaslahatan mereka. Segala sesuatu telah Kami jelaskan secara sangat jelas dan sempurna.

﴿وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِي عُنُقِهِۦۖ وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبٗا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا ١٣﴾

[13]. Setiap manusia dijadikan oleh Alloh apa yang telah dikerjakannya berupa kebaikan atau keburukan terkalung lekat padanya, sehingga dia tidak dihisab atas perbuatan orang lain dan orang lain pun tidak dihisab atas perbuatannya. Alloh akan mengeluarkan baginya pada hari Qiyamah sebuah kitab yang telah dicatat di dalamnya seluruh amal perbuatannya dalam keadaan terbuka.

﴿ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا ١٤﴾

[14]. Dikatakan kepadanya: “Bacalah kitab catatan amalmu!” Maka dia pun membacanya, meskipun sewaktu di dunia dia tidak bisa membaca. Cukuplah dirimu sendiri pada hari ini yang menghitung amalmu, sehingga engkau mengetahui pembalasan yang berhak engkau terima. Hal ini merupakan bagian dari keadilan paling sempurna ketika seorang hamba dikatakan kepadanya: “Hitunglah dirimu sendiri, cukuplah dirimu sendiri yang menjadi penghitung atasmu.”

﴿مَّنِ ٱهۡتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهۡتَدِي لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۗ وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبۡعَثَ رَسُولٗا ١٥﴾

[15]. Siapa mendapat petunjuk lalu mengikuti jalan kebenaran, maka pahalanya hanya kembali kepada dirinya sendiri. Siapa menyimpang dan mengikuti jalan kebatilan, maka siksaannya pun hanya menimpa dirinya sendiri. Tidak ada seorang pun yang berdosa akan menanggung dosa orang lain. Alloh tidak akan mengadzab seseorang sebelum menegakkan hujjah atasnya dengan mengutus para Rosul dan menurunkan Kitab-Kitab.

﴿وَإِذَآ أَرَدۡنَآ أَن نُّهۡلِكَ قَرۡيَةً أَمَرۡنَا مُتۡرَفِيهَا فَفَسَقُواْ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيۡهَا ٱلۡقَوۡلُ فَدَمَّرۡنَٰهَا تَدۡمِيرٗا ١٦﴾

[16]. Apabila Kami hendak membinasakan penduduk suatu negeri karena kezholiman mereka, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di antara mereka untuk taat kepada Alloh, mentauhidkan-Nya, serta membenarkan para Rosul-Nya, sementara rakyat lainnya mengikut pada mereka. Namun orang-orang mewah itu justru mendurhakai perintah Robb mereka dan mendustakan para Rosul-Nya, sehingga tetaplah atas mereka ketentuan adzab yang tidak dapat ditolak, lalu Kami binasakan mereka sampai ke akar-akarnya hingga hancur lebur.

﴿وَكَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِنَ ٱلۡقُرُونِ مِن بَعۡدِ نُوحٖۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ بِذُنُوبِ عِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرٗا ١٧﴾

[17]. Betapa banyak umat-umat yang mendustakan para Rosul-Nya telah Kami binasakan setelah zaman Nabi Alloh Nuh. Cukuplah Robbmu, wahai Rosul, Maha Mengetahui seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

﴿مَّن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡعَاجِلَةَ عَجَّلۡنَا لَهُۥ فِيهَا مَا نَشَآءُ لِمَن نُّرِيدُ ثُمَّ جَعَلۡنَا لَهُۥ جَهَنَّمَ يَصۡلَىٰهَا مَذۡمُومٗا مَّدۡحُورٗا ١٨﴾

[18]. Siapa pencariannya hanya untuk dunia yang sekejap ini dan berusaha semata-mata untuknya tanpa membenarkan Akhiroh serta tidak beramal untuknya, maka Alloh akan menyegerakan baginya di dunia apa yang Alloh kehendaki sesuai ketetapan-Nya di Lauhul Mahfuzh. Kemudian di Akhiroh Alloh menjadikan baginya Naar Jahannam yang akan dimasukinya dalam keadaan tercela lagi tertolak jauh dari rohmat Alloh, hal itu disebabkan niatnya yang hanya menginginkan dunia dan usahanya untuk dunia tanpa memperdulikan Akhiroh.

﴿وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأَخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا ١٩﴾

[19]. Siapa yang berniat dengan amal sholihnya untuk mendapatkan pahala di negeri Akhiroh yang kekal, serta berusaha sungguh-sungguh untuknya dengan ketaatan kepada Alloh dalam keadaan dia seorang Mu’min yang beriman kepada Alloh, pahala-Nya, dan balasan-Nya yang agung, maka mereka itulah orang-orang yang amalnya diterima, tersimpan bagi mereka di sisi Robb mereka, dan kelak mereka diberi balasan pahala darinya.

﴿كُلّٗا نُّمِدُّ هَٰٓؤُلَآءِ وَهَٰٓؤُلَآءِ مِنْ عَطَآءِ رَبِّكَۚ وَمَا كَانَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحۡظُورًا ٢٠﴾

[20]. Masing-masing golongan, baik yang beramal untuk dunia yang fana maupun yang beramal untuk Akhiroh yang kekal, Kami tambah dari rizqi Kami. Kami memberi rizqi kepada orang Mu’min maupun orang kafir selama di dunia, karena rizqi itu adalah pemberian dari Robbmu sebagai karunia dari-Nya, dan pemberian Robbmu tidak pernah terhalang dari siapa pun, baik orang Mu’min maupun orang kafir.

﴿ٱنظُرۡ كَيۡفَ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ وَلَلۡأَخِرَةُ أَكۡبَرُ دَرَجَٰتٖ وَأَكۡبَرُ تَفۡضِيلٗا ٢١﴾

[21]. Perhatikanlah—wahai Rosul—bagaimana Alloh melebihkan sebagian manusia atas sebagian yang lain di dunia dalam hal rizqi dan kedudukan perbuatan, dan sungguh kehidupan Akhiroh itu jauh lebih agung derajatnya bagi orang-orang Mu’min dan jauh lebih besar keutamaannya.

﴿لَّا تَجۡعَلۡ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتَقۡعُدَ مَذۡمُومٗا مَّخۡذُولٗا ٢٢﴾

[22]. Janganlah engkau—wahai manusia—menjadikan bersanding dengan Alloh tandingan lain dalam peribadatan kepada-Nya, sehingga engkau menjadi orang yang tercela lagi terhina tanpa pertolongan.

﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣﴾

[23]. Robbmu—wahai manusia—telah memerintahkan, mewajibkan, dan menetapkan agar hanya Dia semata yang diibadahi, serta memerintahkan untuk berbuat baik kepada ayah dan ibu, terutama ketika mereka memasuki usia lanjut. Janganlah engkau merasa jengkel atau merasa berat terhadap apa yang engkau lihat dari salah satu atau keduanya, jangan memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk walau sekadar ucapan ‘ah’ yang merupakan tingkat perkataan buruk paling rendah, dan jangan melakukan perbuatan yang buruk kepada mereka. Sebaliknya, bersikap lembutlah kepada keduanya dan ucapkanlah selalu perkataan yang halus lagi mulia.

﴿وٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤﴾

[24]. Rendahkanlah dirimu kepada ibu dan ayahmu dengan penuh kasih sayang kepada keduanya, dan memohonlah kepada Robbmu agar Dia mengasihi keduanya dengan rohmat-Nya yang luas, baik semasa hidup maupun setelah wafat, sebagaimana mereka berdua telah bersabar merawat dan mendidikmu ketika engkau masih kecil dalam keadaan lemah tanpa daya.

﴿رَّبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمۡۚ إِن تَكُونُواْ صَٰلِحِينَ فَإِنَّهُۥ كَانَ لِلۡأَوَّابِينَ غَفُورٗا ٢٥﴾

[25]. Robb kalian—wahai manusia—lebih mengetahui apa yang tersimpan dalam hati kalian berupa kebaikan maupun keburukan. Jika niat dan tujuan kalian adalah mencari ridho Alloh dan apa saja yang mendekatkan diri kepada-Nya, maka sungguh Alloh Maha Pengampun bagi orang-orang yang selalu kembali bertaubat kepada-Nya setiap saat. Siapa yang diketahui oleh Alloh bahwa di dalam hatinya hanya ada keinginan kembali dan mencintai-Nya, maka Dia akan memaafkan dan mengampuni dosa-dosa kecil yang timbul akibat watak kemanusiaan.

﴿وَءَاتِ ذَا ٱلۡقُرۡبَىٰ حَقَّهُۥ وَٱلۡمِسۡكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا ٢٦﴾

[26]. Berbuat baiklah kepada setiap orang yang memiliki hubungan kerabat denganmu dan berikanlah haknya berupa kebaikan dan bakti, berikan pula kepada orang miskin yang membutuhkan serta musafir yang kehabisan bekal di perjalanan jauh dari keluarga dan hartanya, dan janganlah engkau menginfakkan hartamu untuk hal-hal yang bukan ketaatan kepada Alloh atau secara berlebihan dan menghambur-hamburkan harta.

﴿إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا ٢٧﴾

[27]. Sungguh orang-orang yang pemboros dan membelanjakan harta mereka dalam kemaksiatan kepada Alloh adalah saudara-saudara para syaithon dalam keburukan, kerusakan, dan kejahatan. Adapun syaithon itu sangat ingkar dan amat menolak ni’mat Robbnya.

﴿وَإِمَّا تُعۡرِضَنَّ عَنۡهُمُ ٱبۡتِغَآءَ رَحۡمَةٖ مِّن رَّبِّكَ تَرۡجُوهَا فَقُل لَّهُمۡ قَوۡلٗا مَّيۡسُورٗا ٢٨﴾

[28]. Jika engkau terpaksa berpaling dari memberi mereka yang diperintahkan untuk diberi karena engkau tidak memiliki sesuatu untuk diberikan demi menanti kelapangan rizqi dari Robbmu, maka katakanlah kepada mereka perkataan yang lembut dan santun, seperti mendoakan mereka agar diberi kecukupan dan kelapangan rizqi, serta janjikanlah kepada mereka bahwa jika Alloh mempermudah rizqi dari karunia-Nya maka engkau akan memberi mereka darinya.

﴿وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا مَّحۡسُورًا ٢٩﴾

[29]. Janganlah engkau menahan tanganmu dari berinfak di jalan kebaikan hingga menyempitkan dirimu sendiri, keluargamu, dan orang-orang yang membutuhkan. Jangan pula engkau terlalu boros dalam berinfak hingga memberi di luar batas kemampuanmu, sehingga engkau duduk dalam keadaan tercela dicela dan dicibir orang-orang, serta menyesal atas pemborosan dan hilangnya hartamu.

﴿إِنَّ رَبَّكَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرٗا ٣٠﴾

[30]. Sungguh Robbmu melapangkan rizqi bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki sesuai ilmu dan hikmah-Nya. Sungguh Dia Maha Mengetahui rahasia hamba-hamba-Nya, tidak ada sesuatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.

﴿وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ خَشۡيَةَ إِمۡلَٰقٖۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُهُمۡ وَإِيَّاكُمۡۚ إِنَّ قَتۡلَهُمۡ كَانَ خِطۡـٔٗا كَبِيرٗا ٣١﴾

[31]. Apabila kalian telah mengetahui bahwa rizqi itu berada di tangan Alloh, maka janganlah kalian—wahai manusia—membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan. Sebab sungguh Alloh Dialah Maha Pemberi rizqi kepada hamba-hamba-Nya, Dia memberi rizqi kepada anak-anak sebagaimana Dia memberi rizqi kepada para orang tua. Sungguh membunuh anak adalah dosa yang sangat besar.

﴿وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا ٣٢﴾

[32]. Janganlah kalian mendekati perbuatan zina beserta perantara-perantaranya agar kalian tidak terperosok ke dalamnya. Sungguh zina itu adalah perbuatan yang sangat keji dan seburuk-buruk jalan yang ditempuh.

﴿وَلَا تَقۡتُلُواْ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّۗ وَمَن قُتِلَ مَظۡلُومٗا فَقَدۡ جَعَلۡنَا لِوَلِيِّهِۦ سُلۡطَٰنٗا فَلَا يُسۡرِف فِّي ٱلۡقَتۡلِۖ إِنَّهُۥ كَانَ مَنصُورٗا ٣٣﴾

[33]. Janganlah kalian membunuh jiwa yang telah Alloh haromkan untuk dibunuh melainkan dengan alasan hak syar’i, seperti qishosh, merajam pezina muhshon, atau membunuh orang murtad. Siapa dibunuh secara zholim tanpa hak syar’i, maka Kami telah memberikan hak dan kekuasaan kepada ahli waris atau penguasa untuk menuntut hukuman mati bagi pembunuhnya atau mengambil diyat. Namun tidak boleh bagi wali korban melampaui batas Alloh dalam qishosh, seperti membunuh 2 orang atau sekelompok orang demi 1 nyawa, atau memutilasi pembunuh. Sungguh Alloh menolong wali korban atas pembunuh hingga dia dapat menegakkan qishosh dengannya.

﴿وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ أَشُدَّهُۥۚ وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولٗا ٣٤﴾

[34]. Janganlah kalian mengelola harta anak-anak yatim yang telah ditinggal mati ayah mereka dan berada di bawah pengasuhan kalian melainkan dengan cara yang paling baik bagi mereka, yaitu dengan mengembangkan dan memutarkannya hingga anak yatim itu mencapai usia baligh serta cerdas mengelola harta. Tepatilah dengan sempurna setiap janji yang telah kalian sanggupi, karena sungguh janji itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh pada hari Qiyamah, Dia memberi pahala jika ditepati dan mengadzab jika dikhianati.

﴿وَأَوۡفُواْ ٱلۡكَيۡلَ إِذَا كِلۡتُمۡ وَزِنُواْ بِٱلۡقِسۡطَاسِ ٱلۡمُسۡتَقِيمِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٌ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلٗا ٣٥﴾

[35]. Sempurnakanlah takaran dan jangan mengurangkan apabila kalian menakar untuk orang lain, serta timbanglah dengan timbangan yang lurus lagi adil. Sungguh sikap adil dalam menakar dan menimbang itu lebih baik bagi kalian di dunia dan memberikan kesudahan yang paling indah di sisi Alloh di Akhiroh.

﴿وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡـُٔولٗا ٣٦﴾

[36]. Janganlah engkau—wahai manusia—mengikuti apa yang tidak engkau ketahui, tetapi pastikanlah dan lakukan tabayyun (teliti) terlebih dahulu. Sungguh manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas penggunaan pendengaran, penglihatan, dan hatinya; jika menggunakannya dalam kebaikan dia meraih pahala, dan jika menggunakannya dalam keburukan dia mendapat siksa.

﴿وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّكَ لَن تَخۡرِقَ ٱلۡأَرۡضَ وَلَن تَبۡلُغَ ٱلۡجِبَالَ طُولٗا ٣٧﴾

[37]. Janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan sombong dan angkuh, karena sungguh engkau tidak akan mampu menembus bumi dengan langkahmu dan tidak akan mampu menyamai tingginya gunung-gunung dalam kesombonganmu.

﴿كُلُّ ذَٰلِكَ كَانَ سَيِّئُهُۥ عِندَ رَبِّكَ مَكۡرُوهٗا ٣٨﴾

[38]. Semua hal yang telah disebutkan di atas berupa perintah dan larangan, perkara buruk darinya dibenci oleh Alloh dan tidak diridhoi-Nya bagi hamba-hamba-Nya.

﴿ذَٰلِكَ مِمَّآ أَوۡحَىٰٓ إِلَيۡكَ رَبُّكَ مِنَ ٱلۡحِكۡمَةِۗ وَلَا تَجۡعَلۡ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ فَتُلۡقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومٗا مَّدۡحُورًا ٣٩﴾

[39]. Hukum-hukum agung yang telah Kami jelaskan berupa perintah melakukan amal-amal mulia dan larangan dari akhlak yang hina tersebut merupakan bagian dari hikmah yang Kami wahyukan kepadamu wahai Nabi. Dan janganlah engkau—wahai manusia—menjadikan tandingan bagi Alloh dalam peribadatan kepada-Nya, sehingga engkau dilemparkan ke dalam Naar Jahannam dalam keadaan dicela oleh dirimu sendiri dan manusia, serta dijauhkan lagi diusir dari segala bentuk kebaikan.

﴿أَفَأَصۡفَىٰكُمۡ رَبُّكُم بِٱلۡبَنِينَ وَٱتَّخَذَ مِنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنَٰثًاۚ إِنَّكُمۡ لَتَقُولُونَ قَوۡلًا عَظِيمٗا ٤٠﴾

[40]. Apakah Robb kalian khusus memberikan anak-anak lelaki kepada kalian wahai orang-orang musyrik, lalu Dia mengambil Malaikat sebagai anak-anak perempuan bagi Diri-Nya? Sungguh ucapan kalian ini sangat buruk dan menjijikkan, sama sekali tidak layak bagi Alloh.

﴿وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لِيَذَّكَّرُواْ وَمَا يَزِيدُهُمۡ إِلَّا نُفُورٗا ٤١﴾

[41]. Sungguh Kami telah menjelaskan dan menvariasikan di dalam Al-Qur’an ini berbagai hukum, perumpamaan, dan pelajaran agar manusia mengambil i’tibar dan merenungkan apa yang bermanfaat bagi mereka lalu mengambilnya, serta apa yang memudhorotkan mereka lalu meninggalkannya. Namun penjelasan yang terang ini tidaklah menambah bagi orang-orang zholim melainkan makin jauh dari kebenaran dan lalai dari merenung serta mengambil pelajaran.

﴿قُل لَّوۡ كَانَ مَعَهُۥٓ ءَالِهَةٌ كَمَا يَقُولُونَ إِذٗا لَّٱبۡتَغَوۡاْ إِلَىٰ ذِي ٱلۡعَرۡشِ سَبِيلٗا ٤٢﴾

[42]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik: “Seandainya ada tandingan-tandingan lain bersama Alloh sebagaimana yang mereka katakan, niscaya tandingan-tandingan itu akan mencari jalan untuk mengalahkan Alloh Pemilik ‘Arsy yang maha agung.”

﴿سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوّٗا كَبِيرٗا ٤٣﴾

[43]. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari apa yang diucapkan oleh orang-orang musyrik dengan ketinggian yang maha agung.

﴿تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا ٤٤﴾

[44]. Langit yang 7 dan bumi beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya bertasbih menyucikan Alloh. Tidak ada sesuatu pun di alam semesta ini melainkan bertasbih menyucikan-Nya disertai pujian bagi-Nya, akan tetapi kalian—wahai manusia—tidak memahami tasbih mereka. Sungguh Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya tidak menyegerakan hukuman bagi yang mendurhakai-Nya, lagi Maha Pengampun bagi mereka.

﴿وَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ جَعَلۡنَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأَخِرَةِ حِجَابٗا مَّسۡتُورٗا ٤٥﴾

[45]. Apabila engkau membaca Al-Qur’an lalu didengar oleh orang-orang musyrik itu, Kami jadikan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada Akhiroh suatu dinding penutup yang menghalangi akal mereka dari memahami Al-Qur’an sebagai hukuman atas kekafiran dan keingkaran mereka.

﴿وَجَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِيٓ ءَاذَانِهِمۡ وَقۡرٗاۚ وَإِذَا ذَكَرۡتَ رَبَّكَ فِي ٱلۡقُرۡءَانِ وَحۡدَهُۥ وَلَّوۡاْ عَلَىٰٓ أَدۡبَٰرِهِمۡ نُفُورٗا ٤٦﴾

[46]. Kami jadikan pada hati orang-orang musyrik itu tutup-tutup agar mereka tidak memahami Al-Qur’an, dan Kami jadikan pada telinga mereka penyumbat agar tidak mendengarnya. Apabila engkau menyebut Robbmu saja di dalam Al-Qur’an seraya mengajak kepada Tauhid dan melarang kemusyrikan, mereka berpaling ke belakang lari menjauh dari perkataanmu karena sombong dan enggan mentauhidkan Alloh dalam peribadatan.

﴿نَّحۡنُ أَعۡلَمُ بِمَا يَسۡتَمِعُونَ بِهِۦٓ إِذۡ يَسۡتَمِعُونَ إِلَيۡكَ وَإِذۡ هُمۡ نَجۡوَىٰٓ إِذۡ يَقُولُ ٱلظَّٰلِمُونَ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا رَجُلٗا مَّسۡحُورًا ٤٧﴾

[47]. Kami lebih mengetahui tujuan pembesar-pembesar Quroisy mendengarkanmu ketika mereka menyimak bacaanmu dengan niat yang buruk, bukan untuk mencari petunjuk atau menerima kebenaran. Kami pun mengetahui bisik-bisik rahasia mereka saat orang-orang zholim itu berkata: “Kalian tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir hingga terganggu akalnya.”

﴿ٱنظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُواْ لَكَ ٱلۡأَمۡثَالَ فَضَلُّواْ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ سَبِيلٗا ٤٨﴾

[48]. Renungkanlah—wahai Rosul—dengan penuh keheranan atas tuduhan-tuduhan mereka bahwa Muhammad adalah penyihir, penyair, atau orang gila! Sungguh mereka telah menyimpang dan tersesat, sehingga tidak mampu menemukan jalan menuju kebenaran.

﴿وَقَالُوٓاْ أَءِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا وَرُفَٰتًا أَئِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ خَلۡقًا جَدِيدًا ٤٩﴾

[49]. Orang-orang musyrik berkata seraya mengingkari diciptakannya mereka kembali setelah tulang-belulang mereka hancur menjadi debu: “Apakah apabila kami telah menjadi tulang-belulang dan hancuran tanah, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali pada hari Qiyamah sebagai ciptaan yang baru?”

﴿قُلۡ كُونُواْ حِجَارَةً أَوۡ حَدِيدًا ٥٠﴾

[50]. Katakanlah kepada mereka—wahai Rosul—untuk melemahkan mereka: “Jadilah kalian batu atau besi dalam kekerasan dan kekuatannya jika kalian sanggup, karena sungguh Alloh tetap akan mengembalikan kalian sebagaimana Dia telah memulai ciptaan kalian, dan hal itu sangat mudah bagi-Nya.”

﴿أَوۡ خَلۡقٗا مِّـمَّا يَكۡبُرُ فِي صُدُورِكُمۡۚ فَسَيَقُولُونَ مَن يُعِيدُنَاۖ قُلِ ٱلَّذِي فَطَرَكُمۡ أَوَّلَ مَرَّةٖۚ فَسَيُنۡغِضُونَ إِلَيۡكَ رُءُوسَهُمۡ وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هُوَۖ قُلۡ عَسَىٰٓ أَن يَكُونَ قَرِيبًا ٥١﴾

[51]. Atau jadilah kalian makhluk yang dalam anggapan akal kalian sangat mustahil untuk dibangkitkan, sebab Alloh tetap berkuasa mengembalikan dan membangkitkan kalian. Ketika telah tegak hujjah atas kekuasaan Alloh untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali, mereka akan bertanya dengan nada ingkar: “Siapakah yang mengembalikan kami hidup setelah mati?” Katakanlah kepada mereka: “Yang mengembalikan kalian adalah Alloh yang telah menciptakan kalian dari ketiadaan pada kali pertama.” Mendengar jawaban ini mereka akan menggelengkan kepala mereka seraya mengejek dan heran lalu bertanya: “Kapan kebangkitan itu terjadi?” Katakanlah: “Boleh jadi waktunya sudah dekat, karena segala yang pasti datang itu adalah dekat.”

﴿يَوۡمَ يَدۡعُوكُمۡ فَتَسۡتَجِيبُونَ بِحَمۡدِهِۦ وَتَظُنُّونَ إِن لَّبِثۡتُمۡ إِلَّا قَلِيلًا ٥٢﴾

[52]. Yaitu hari ketika Pencipta kalian memanggil kalian untuk keluar dari kubur, lalu kalian mematuhi perintah Alloh dan tunduk kepada-Nya, sedang bagi-Nya segala pujian dalam setiap keadaan. Karena dahsyatnya hari Qiyamah, kalian mengira tidak tinggal di dunia melainkan hanya sebentar saja jika dibandingkan dengan lamanya masa di Akhiroh.

﴿وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ ٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ يَنزَغُ بَيۡنَهُمۡۚ إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ كَانَ لِلۡإِنسَٰنِ عَدُوّٗا مُّبِينًا ٥٣﴾

[53]. Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang beriman agar mereka mengucapkan perkataan yang baik dan santun dalam percakapan serta percakapan sesama mereka. Sebab jika mereka tidak melakukan demikian, syaithon akan menyebarkan permusuhan, kerusakan, dan pertikaian di antara mereka. Sungguh syaithon itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

﴿رَّبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِكُمۡۖ إِن يَشَأۡ يَرۡحَمۡكُمۡ أَوۡ إِن يَشَأۡ يُعَذِّبۡكُمۡۚ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ وَكِيلٗا ٥٤﴾

[54]. Robb kalian lebih mengetahui keadaan kalian—wahai manusia. Jika Dia menghendaki, Dia merohmati kalian dengan memberi taufik kepada iman; dan jika Dia menghendaki, Dia mematikan kalian dalam kekafiran lalu mengadzab kalian. Kami tidak mengutusmu —wahai Rosul— sebagai penanggung jawab atas mereka yang mengatur urusan mereka atau membalas perbuatan mereka, tugasmu hanyalah menyampaikan apa yang diutuskan kepadamu dan menjelaskan jalan yang lurus.

﴿وَرَبُّكَ أَعۡلَمُ بِمَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۗ وَلَقَدۡ فَضَّلۡنَا بَعۡضَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ عَلَىٰ بَعۡضٖۖ وَءَاتَيۡنَا دَاوُۥدَ زَبُورٗا ٥٥﴾

[55]. Robbmu—wahai Nabi—lebih mengetahui siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Sungguh Kami telah melebihkan sebagian Nabi atas sebagian yang lain dengan berbagai keutamaan, banyaknya pengikut, dan diturunkannya Kitab-Kitab, serta Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Dawud.

﴿قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦﴾

[56]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik dari kaummu: “Sungguh sesembahan-sesembahan yang kalian seru untuk menghilangkan bahaya dari kalian itu tidak memiliki kuasa untuk itu, tidak mampu mengalihkan bahaya tersebut kepada orang lain, dan tidak mampu mengubahnya dari satu keadaan ke keadaan lain. Yang berkuasa melakukan hal itu hanyalah Alloh semata.” Ayat ini berlaku umum bagi segala sesuatu yang diseru selain Alloh, baik orang mati maupun ghoib, dari kalangan para Nabi, orang-orang sholih, dan selainnya, baik dengan lafaz istighotsah (memohon pertolongan darurat), doa, atau selainnya; maka tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh.

﴿أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورًا ٥٧﴾

[57]. Mereka yang diseru oleh orang-orang musyrik itu—baik dari kalangan para Nabi, orang-orang sholih, maupun Malaikat—justru berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Robb mereka dengan amal-amal sholih yang sanggup mereka kerjakan, mereka mengharapkan rohmat-Nya dan takut akan adzab-Nya. Sungguh adzab Robbmu adalah sesuatu yang wajib diwaspadai dan ditakuti oleh hamba-hamba-Nya.

﴿وَإِن مِّن قَرۡيَةٍ إِلَّا نَحۡنُ مُهۡلِكُوهَا قَبۡلَ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَوۡ مُعَذِّبُوهَا عَذَابٗا شَدِيدٗاۚ كَانَ ذَٰلِك فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَسۡطُورًا ٥٨﴾

[58]. Alloh mengancam orang-orang kafir bahwa tidak ada suatu negeri pun yang kafir dan mendustakan para Rosul melainkan siksa-Nya pasti akan menimpa mereka berupa pembinasaan di dunia sebelum hari Qiyamah atau adzab yang sangat keras bagi penduduknya. Hal itu merupakan ketetapan yang telah Alloh tuliskan dan takdirkan yang pasti terjadi, serta telah tertulis di dalam Lauhul Mahfuzh.

﴿وَمَا مَنَعَنَآ أَن نُّرۡسِلَ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّآ أَن كَذَّبَ بِهَا ٱلۡأَوَّلُونَۚ وَءَاتَيۡنَا ثَمُودَ ٱلنَّاقَةَ مُبۡصِرَةٗ فَظَلَمُواْ بِهَاۚ وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفٗا ٥٩﴾

[59]. Tidak ada yang menghalangi Kami dari menurunkan mu’jizat-mu’jizat yang diminta oleh orang-orang musyrik melainkan karena umat-umat terdahulu telah mendustakannya. Dahulu Alloh mengabulkan apa yang mereka minta, lalu mereka mendustakan dan akhirnya dibinasakan. Kami telah memberikan kepada kaum Tsamud—yaitu kaum Nabi Sholih—mu’jizat yang nyata berupa unta betina, lalu mereka mengingkarinya sehingga Kami binasakan mereka. Tidaklah Kami mengutus para Rosul dengan membawa tanda-tanda kekuasaan, i’tibar, dan mu’jizat melainkan untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya agar mereka mengambil pelajaran dan peringatan.

﴿وَإِذۡ قُلۡنَا لَكَ إِنَّ رَبَّكَ أَحَاطَ بِٱلنَّاسِۚ وَمَا جَعَلۡنَا ٱلرُّءۡيَا ٱلَّتِيٓ أَرَيۡنَٰكَ إِلَّا فِتْنَةٗ لِّلنَّاسِ وَٱلشَّجَرَةَ ٱلۡمَلۡعُونَةَ فِي ٱلۡقُرۡءَانِۚ وَنُخَوِّفُهُمۡ فَمَا يَزِيدُهُمۡ إِلَّا طُغۡيَٰنٗا كَبِيرًا ٦٠﴾

[60]. Ingatlah—wahai Rosul—ketika Kami katakan kepadamu: “Sungguh Robbmu meliputi seluruh manusia dalam ilmu dan kekuasaan-Nya. Tidaklah Kami jadikan penglihatan yang Kami perlihatkan kepadamu secara langsung pada malam Isro’ dan Mi’roj berupa keajaiban-keajaiban makhluk melainkan sebagai ujian bagi manusia untuk membedakan antara yang kafir dan yang beriman. Tidak pula Kami jadikan pohon Zaqqum yang terlaknat yang disebutkan dalam Al-Qur’an melainkan sebagai cobaan bagi manusia. Kami menakut-nakuti orang-orang musyrik dengan berbagai jenis adzab dan tanda-tanda kekuasaan, namun ancaman itu tidak menambah bagi mereka melainkan semakin melampaui batas dalam kekafiran dan kesesatan.”

﴿وَإِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ ٱسۡجُدُواْ لِأَدَمَ فَسَجَدُوٓاْ إِلَّآ إِبۡلِيسَ قَالَ ءَأَسۡجُدُ لِمَنۡ خَلَقۡتَ طِينٗا ٦١﴾

[61]. Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam sebagai penghormatan dan pemuliaan!” Maka mereka pun sujud semuanya kecuali Iblis. Dia menyombongkan diri dan enggan sujud seraya berkata dengan nada mengingkari dan sombong: “Apakah aku harus sujud kepada makhluk lemah yang Engkau ciptakan dari tanah ini?”

﴿قَالَ أَرَءَيۡتَكَ هَٰذَا ٱلَّذِي كَرَّمۡتَ عَلَيَّ لَئِنۡ أَخَّرۡتَنِ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَأَحۡتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُۥٓ إِلَّا قَلِيلٗا ٦٢﴾

[62]. Iblis berkata dengan penuh kelancangan terhadap Alloh dan kekafiran kepada-Nya: “Terangkanlah kepadaku tentang makhluk yang Engkau muliakan di atasku ini! Jika Engkau menangguhkan kematianku hingga hari Qiyamah, niscaya aku akan benar-benar menguasai dan menyesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja dari mereka yang ikhlas dalam beriman.”

﴿قَالَ ٱذۡهَبۡ فَمَن تَبِعَكَ مِنۡهُمۡ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَآؤُكُمۡ جَزَآءٗ مَّوۡفُورًا ٦٣﴾

[63]. Alloh berfirman mengancam Iblis beserta para pengikutnya: “Pergilah! Siapa di antara keturunan Adam yang mengikutimu dan mentaatimu, maka sungguh balasan bagimu dan bagi mereka adalah adzab yang sempurna di dalam Jahannam.

﴿وَٱسۡتَفۡزِزۡ مَنِ ٱسۡتَطَعۡتَ مِنۡهُم بِصَوۡتِكَ وَأَجۡلِبۡ عَلَيۡهِم بِخَيۡلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِ وَعِدۡهُمۡۚ وَمَا يَعِدُهُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ إِلَّا غُرُورًا ٦٤﴾

[64]. Hasutlah siapa saja yang sanggup engkau perdaya di antara mereka dengan ajakanmu menuju kemaksiatan kepada-Ku, kerahkanlah pasukanmu melawan mereka baik yang berkuda maupun yang berjalan kaki, serikatkanlah dirimu dengan mereka dalam harta-harta mereka dengan memicu mereka mengumpulkannya dari jalan harom, dan serikatkan dirimu dalam anak-anak mereka dengan memperindah perbuatan zina, kemaksiatan, serta penyelisihan terhadap perintah Alloh hingga merebak kejahatan dan kerusakan, dan berikanlah janji-janji palsu kepada para pengikutmu dari keturunan Adam; padahal tidaklah syaithon memberi janji kepada mereka melainkan kebatilan dan tipu daya belaka.

﴿إِنَّ عِبَادِي لَيۡسَ لَكَ عَلَيۡهِمۡ سُلۡطَٰنٌۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلٗا ٦٥﴾

[65]. Sungguh hamba-hamba-Ku yang beriman lagi ikhlas yang taat kepada-Ku tidak ada kemampuan bagimu untuk menyesatkan mereka.” Cukuplah Robbmu—wahai Nabi—sebagai Pelindung dan Pemelihara bagi orang-orang Mu’min dari tipu daya dan kesesatan syaithon.

﴿رَّبُّكُمُ ٱلَّذِي يُزۡجِي لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ فِي ٱلۡبَحۡرِ لِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا ٦٦﴾

[66]. Robb kalian—wahai manusia—Dialah yang menjalankan kapal-kapal bagi kalian di lautan agar kalian mencari rizqi Alloh dalam perjalanan perniagaan kalian. Sungguh Alloh Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا ٦٧﴾

[67]. Apabila kalian ditimpa bahaya di lautan hingga hampir tenggelam dan binasa, lenyaplah dari ingatan kalian sesembahan-sesembahan yang biasa kalian sembah, dan kalian hanya mengingat Alloh Yang Maha Kuasa semata untuk menolong dan menyelamatkan kalian, lalu kalian murni memohon bantuan kepada-Nya. Ketika Alloh menyelamatkan kalian hingga sampai ke daratan, kalian justru berpaling dari keimanan, keikhlasan, dan amal sholih. Hal ini merupakan bentuk kebodohan dan mengingkari ni’mat Alloh pada manusia, sebab manusia itu amat mengingkari ni’mat-ni’mat Alloh.

﴿أَفَأَمِنتُمۡ أَن يَخۡسِفَ بِكُمۡ جَانِبَ ٱلۡبَرِّ أَوۡ يُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ حَاصِبٗا ثُمَّ لَا تَجِدُواْ لَكُمۡ وَكِيلًا ٦٨﴾

[68]. Apakah kalian—wahai manusia—lalai dari adzab Alloh sehingga merasa aman bahwa Dia tidak akan membenamkan sebagian daratan bersama kalian, atau Alloh tidak akan menghujani kalian dengan batu-batu dari langit yang membinasakan kalian, lalu kalian tidak mendapatkan seorang pun yang dapat melindungi kalian dari adzab-Nya?

﴿أَمۡ أَمِنتُمۡ أَن يُعِيدَكُمۡ فِيهِ تَارَةً أُخۡرَىٰ فَيُرۡسِلَ عَلَيۡكُمۡ قَاصِفٗا مِّنَ ٱلرِّيحِ فَيُغۡرِقَكُم بِمَا كَفَرۡتُمۡ ثُمَّ لَا تَجِدُواْ لَكُمۡ عَلَيۡنَا بِهِۦ تَبِيعٗا ٦٩﴾

[69]. Atau apakah kalian merasa aman—wahai manusia—dari Robb kalian—padahal kalian telah mengingkari-Nya—bahwa Dia tidak akan mengembalikan kalian ke lautan sekali lagi, lalu Dia meniupkan angin badai yang sangat kencang yang menghancurkan apa saja yang dilaluinya hingga membenamkan kalian karena kekafiran kalian, kemudian kalian tidak akan menemukan penuntut yang menuntut Kami atas pembinasaan itu, sebab Alloh tidak mendzholimi kalian sedikit pun?

﴿وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠﴾

[70]. Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dengan akal dan diutusnya para Rosul, Kami tundukkan bagi mereka segala apa yang ada di alam semesta, Kami tundukkan hewan ternak di daratan dan kapal-kapal di lautan untuk mengangkut mereka, Kami beri mereka rizqi dari makanan dan minuman yang thoyyibat (baik-baik), serta Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk ciptaan Kami dengan keutamaan yang sangat besar.

﴿يَوۡمَ نَدۡعُواْ كُلَّ أُنَاسِۭ بِإِمَٰمِهِمۡۖ فَمَنۡ أُوتِيَ كِتَٰبَهُۥ بِيَمِينِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ يَقۡرَءُونَ كِتَٰبَهُمۡ وَلَا يُظۡلَمُونَ فَتِيلٗا ٧١﴾

[71]. Ingatlah—wahai Rosul—hari kebangkitan sebagai kabar gembira dan peringatan, yaitu ketika Alloh memanggil setiap kelompok manusia bersama pemimpin yang mereka ikuti di dunia. Siapa di antara mereka yang sholih dan diberikan kitab catatannya dari sebelah kanannya, maka mereka akan membaca kitab kebaikan mereka dengan penuh kegembiraan dan gembira ria, serta pahala amal sholih mereka tidak dikurangi sedikit pun walau sekecil serat benang pada celah biji kurma.

﴿وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِۦٓ أَعۡمَىٰ فَهُوَ فِي ٱلۡأَخِرَةِ أَعۡمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلٗا ٧٢﴾

[72]. Siapa yang sewaktu di dunia buta hatinya dari bukti-bukti kekuasaan Alloh sehingga tidak beriman kepada apa yang dibawa oleh Rosul Muhammad ﷺ, maka pada hari Qiyamah dia akan lebih buta lagi dari menempuh jalan menuju Jannah dan lebih tersesat dari jalan petunjuk.

﴿وَإِن كَادُواْ لَيَفۡتِنُونَكَ عَنِ ٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ لِتَفۡتَرِيَ عَلَيۡنَا غَيۡرَهُۥۖ وَإِذٗا لَّٱتَّخَذُوكَ خَلِيلٗا ٧٣﴾

[73]. Sungguh hampir saja orang-orang musyrik itu memalingkanmu—wahai Rosul—dari Al-Qur’an yang telah Alloh turunkan kepadamu, agar engkau mengada-adakan atas nama Kami hal lain yang tidak Kami wahyukan kepadamu. Seandainya engkau menuruti keinginan mereka, niscaya mereka akan menjadikanmu sebagai teman setia.

﴿وَلَوۡلَآ أَن ثَبَّتۡنَٰكَ لَقَدۡ كِدتَّ تَرۡكَنُ إِلَيۡهِمۡ شَيۡـٔٗا قَلِيلًا ٧٤﴾

[74]. Seandainya Kami tidak meneguhkanmu di atas kebenaran dan memeliharamu dari menyetujui mereka, niscaya engkau hampir saja cenderung sedikit kepada mereka karena gigihnya usaha mereka dan besarnya keinginanmu untuk memberi petunjuk kepada mereka.

﴿إِذٗا لَّأَذَقۡنَٰكَ ضِعۡفَ ٱلۡحَيَٰوةِ وَضِعۡفَ ٱلۡمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيۡنَا نَصِيرًا ٧٥﴾

[75]. Seandainya engkau cenderung—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik itu walau sedikit dalam apa yang mereka minta, niscaya Kami akan rasakan kepadamu 2 kali lipat adzab kehidupan di dunia dan 2 kali lipat adzab kematian di Akhiroh, yang demikian itu karena sempurnanya ni’mat Alloh padamu dan sempurnanya pengetahuanmu, kemudian engkau tidak akan menemukan seorang pun yang menolongmu dan menolak adzab Kami darimu.

﴿وَإِن كَادُواْ لَيَسۡتَفِزُّونَكَ مِنَ ٱلۡأَرۡضِ لِيُخۡرِجُوكَ مِنۡهَاۖ وَإِذٗا لَّا يَلۡبَثُونَ خِلَٰفَكَ إِلَّا قَلِيلًا ٧٦﴾

[76]. Hampir saja orang-orang kafir itu mengusirmu dari Makkah dengan terus mengganggumu. Namun seandainya mereka berhasil mengusirmu dari sana, mereka tidak akan tinggal di dalamnya setelah peninggalanmu melainkan hanya dalam waktu yang sangat singkat hingga adzab yang disegerakan menimpa mereka.

﴿سُنَّةَ مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَاۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِيلًا ٧٧﴾

[77]. Yang demikian itu merupakan ketetapan Alloh dalam membinasakan umat yang mengusir Rosul-Nya dari tengah-tengah mereka, dan engkau—wahai Rosul—tidak akan menemukan perubahan pada ketetapan Kami, sebab janji Kami tidak pernah terselisihi.

﴿أَقِمِ ٱلصَّلَٰوَةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمۡسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيۡلِ وَقُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِۖ إِنَّ قُرۡءَانَ ٱلۡفَجۡرِ كَانَ مَشۡهُودًا ٧٨﴾

[78]. Dirikanlah Sholat secara sempurna sejak tergelincirnya matahari pada waktu Zhuhur hingga gelap malam, yang mencakup Sholat Zhuhur, ‘Ashar, Maghrib, dan ‘Isya’, serta dirikanlah Sholat Subuh dan panjangkanlah bacaan padanya, karena sungguh Sholat Subuh itu disaksikan oleh Malaikat malam dan Malaikat siang.

﴿وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودًا ٧٩﴾

[79]. Bangunlah—wahai Nabi—dari tidurmu pada sebagian malam, lalu bacalah Al-Qur’an dalam Sholat malam agar Sholat malam itu menjadi tambahan bagimu dalam keluhuran kedudukan dan ketinggian derajat. Mudah-mudahan Alloh membangkitkanmu sebagai pemberi syafaat bagi manusia pada hari Qiyamah agar Alloh merohmati mereka dari keadaan dahsyat yang menimpa mereka, sehingga engkau menempati kedudukan terpuji yang dipuji oleh orang-orang terdahulu maupun orang-orang belakangan.

﴿وَقُل رَّبِّ أَدۡخِلۡنِي مُدۡخَلَ صِدۡقٖ وَأَخۡرِجۡنِي مُخۡرَجَ صِدۡقٖ وَٱجۡعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلۡطَٰنٗا نَّصِيرًا ٨٠﴾

[80]. Berdoalah: “Ya Robbku, masukkanlah aku ke dalam urusan yang baik bagiku dengan cara masuk yang benar, keluarkanlah aku dari urusan yang buruk bagiku dengan cara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu hujjah yang kuat yang menolongku atas seluruh orang yang menyelisihiku.”

﴿وَقُلۡ جَآءَ ٱلۡحَقُّ وَزَهَقَ ٱلۡبَٰطِلُۚ إِنَّ ٱلۡبَٰطِلَ كَانَ زَهُوقًا ٨١﴾

[81]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik: Telah datang Islam dan telah lenyap syirik. Sungguh kebatilan itu tidak akan bertahan dan tidak kokoh, sedangkan kebenaran dialah yang kokoh, kekal, dan tidak akan sirna.

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحۡمَةٌ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا ٨٢﴾

[82]. Kami menurunkan dari ayat-ayat Al-Qur’an yang agung apa yang menjadi penawar bagi hati dari penyakit-penyakit seperti keraguan, kemunafikan, dan kebodohan, serta penawar bagi badan dengan meruqyahnya, dan apa yang menjadi sebab meraih rohmat Alloh melalui keimanan yang terkandung di dalamnya. Namun Al-Qur’an ini tidaklah menambah bagi orang-orang kafir ketika mendengarnya melainkan makin bertambah kekafiran dan kesesatan karena mendustakannya dan tidak beriman kepadanya.

﴿وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ أَعۡرَضَ وَنَـَٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ يَـُٔوسًا ٨٣﴾

[83]. Apabila Kami memberi ni’mat kepada manusia berupa harta, kesehatan, dan sejenisnya, dia berpaling dan menjauhkan diri dari ketaatan kepada Robbnya. Namun apabila dia ditimpa kesusahan berupa kemiskinan atau penyakit, dia menjadi sangat putus asa karena tidak percaya pada karunia Alloh, kecuali orang yang dipelihara oleh Alloh dalam keadaan lapang maupun sempit.

﴿قُلۡ كُلٌّ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلًا ٨٤﴾

[84]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada manusia: Masing-masing dari kalian berbuat sesuai dengan keadaan yang selaras dengan jiwanya, maka Robb kalian lebih mengetahui siapa yang lebih lurus jalannya menuju kebenaran.

﴿وَيَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنۡ أَمۡرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلۡعِلۡمِ إِلَّا قَلِيلًا ٨٥﴾

[85]. Orang-orang kafir bertanya kepadamu tentang hakikat ruh karena hendak mencari-cari kesalahan, maka jawablah mereka bahwa hakikat ruh beserta keadaannya termasuk perkara yang ilmunya khusus milik Alloh semata, dan tidaklah kalian beserta seluruh manusia diberi ilmu melainkan hanya sedikit saja.

﴿وَلَئِن شِئۡنَا لَنَذۡهَبَنَّ بِٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ بِهِۦ عَلَيۡنَا وَكِيلًا ٨٦﴾

[86]. Seandainya Kami menghendaki untuk menghapuskan Al-Qur’an dari dalam hatimu, niscaya Kami benar-benar mampu melakukannya, kemudian engkau tidak akan menemukan penolong bagi dirimu yang dapat menghalangi Kami dari melakukan hal itu atau mengembalikan Al-Qur’an itu kepadamu.

﴿إِلَّا رَحۡمَةٗ مِّن رَّبِّكَۚ إِنَّ فَضۡلَهُۥ كَانَ عَلَيۡكَ كَبِيرًا ٨٧﴾

[87]. Akan tetapi Alloh merohmatimu sehingga Dia meneguhkan Al-Qur’an itu di dalam hatimu. Sungguh karunia-Nya kepadamu sangatlah besar, sebab Dia telah memberimu Al-Qur’an yang agung ini, tempat yang terpuji, dan karunia lainnya yang tidak diberikan kepada seorang pun di alam semesta.

﴿قُل لَّئِنِ ٱجۡتَمَعَتِ ٱلۡإِنسُ وَٱلۡجِنُّ عَلَىٰٓ أَن يَأۡتُواْ بِمِثۡلِ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ لَا يَأۡتُونَ بِمِثۡلِهِۦ وَلَوۡ كَانَ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٖ ظَهِيرًا ٨٨﴾

[88]. Katakanlah: Seandainya manusia dan jin bersatu untuk mencoba mendatangkan yang serupa dengan Al-Qur’an yang mu’jizat ini, mereka tidak akan sanggup mendatangkan yang serupa dengannya, meskipun sebagian mereka membantu dan mendukung sebagian yang lain.

﴿وَلَقَدۡ صَرَّفۡنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانِ مِن كُلِّ مَثَلٖ فَأَبَىٰٓ أَكۡثَرُ ٱلنَّاسِ إِلَّا كُفُورًا ٨٩﴾

[89]. Sungguh Kami telah menjelaskan dan memvariasikannya bagi manusia di dalam Al-Qur’an ini dari setiap perumpamaan yang patut dijadikan i’tibar sebagai hujjah atas mereka agar mereka mengikutinya dan mengamalkannya, namun mayoritas manusia enggan melainkan terus menolak kebenaran dan mengingkari hujjah-hujjah serta bukti-bukti dari Alloh.

﴿وَقَالُواْ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ تَفۡجُرَ لَنَا مِنَ ٱلۡأَرۡضِ يَنبُوعًا ٩٠﴾

[90]. Ketika Al-Qur’an telah melemahkan dan mengalahkan orang-orang musyrik, mereka mulai menuntut mu’jizat-mu’jizat sesuai hawa nafsu mereka seraya berkata: “Kami tidak akan membenarkanmu—wahai Rosul—dan tidak akan mengamalkan apa yang engkau katakan hingga engkau memancarkan bagi kami mata air yang mengalir dari bumi Makkah.

﴿أَوۡ تَكُونَ لَكَ جَنَّةٌ مِّن نَّخِيلٖ وَعِنَبٖ فَتُفَجِّرَ ٱلۡأَنۡهَٰرَ خِلَٰلَهَا تَفۡجِيرًا ٩١﴾

[91]. Atau engkau memiliki kebun yang berisi berbagai jenis kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di tengah-tengahnya dengan deras.

﴿أَوۡ تُسۡقِطَ ٱلسَّمَآءَ كَمَا زَعَمۡتَ عَلَيۡنَا كِسَفًا أَوۡ تَأۡتِيَ بِٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ قَبِيلًا ٩٢﴾

[92]. Atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana yang engkau klaim, atau engkau mendatangkan Alloh dan para Malaikat kepada kami sehingga kami melihat mereka secara berhadapan dan kasat mata.

﴿أَوۡ يَكُونَ لَكَ بَيۡتٌ مِّن زُخۡرُفٍ أَوۡ تَرۡقَىٰ فِي ٱلسَّمَآءِ وَلَن نُّؤۡمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّىٰ تُنَزِّلَ عَلَيۡنَا كِتَٰبٗا نَّقۡرَؤُهُۥۗ قُلۡ سُبۡحَانَ رَبِّي هَلۡ كُنتُ إِلَّا بَشَرٗا رَّسُولًا ٩٣﴾

[93]. Atau engkau memiliki rumah dari emas, atau engkau naik tangga ke langit, dan kami tidak akan membenarkan kenaikanmu sampai engkau kembali membawa kitab dari Alloh yang terbuka yang dapat kami baca bahwa engkau benar-benar Rosul Alloh.” Katakanlah—wahai Rosul—dengan heran atas kedegilan orang-orang kafir itu: “Subhanalloh, Maha Suci Robbku! Bukankah aku ini hanyalah seorang hamba dari hamba-hamba-Nya yang menyampaikan risalah-Nya? Maka bagaimana mungkin aku mampu melakukan apa yang kalian minta?”

﴿وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولًا ٩٤﴾

[94]. Tidak ada yang menghalangi orang-orang kafir untuk beriman kepada Alloh dan Rosul-Nya serta mentaati keduanya ketika datang penjelasan yang cukup dari sisi Alloh melainkan ucapan mereka secara bodoh dan ingkar: “Apakah Alloh mengutus seorang Rosul dari jenis manusia?”

﴿قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٌ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولًا ٩٥﴾

[95]. Katakanlah—wahai Rosul—sebagai bantahan atas ingkarnya orang-orang musyrik terhadap Rosul dari kalangan manusia: Seandainya di bumi terdapat Malaikat-Malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami utus kepada mereka seorang Malaikat dari langit sebagai Rosul dari jenis mereka. Akan tetapi penduduk bumi adalah manusia, maka Rosul bagi mereka sepatutnya dari jenis manusia juga agar mereka dapat bercakap-cakap dengannya dan memahami perkataannya.

﴿قُلۡ كَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدَۢا بَيۡنِي وَبَيۡنَكُمۡۚ إِنَّهُۥ كَانَ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرَۢا بَصِيرًا ٩٦﴾

[96]. Katakanlah kepada mereka: Cukuplah Alloh sebagai saksi antara aku dan kalian atas kebenaranku dan kebenaran kenabianku. Sungguh Dia Maha Mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, Maha Melihat perbuatan mereka, dan kelak akan membalas mereka darinya.

﴿وَمَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ وَمَن يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُمۡ أَوۡلِيَآءَ مِن دُونِهِۦۖ وَنَحۡشُرُهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمۡ عُمۡيٗا وَبُكۡمٗا وَصُمّٗاۖ مَّأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ كُلَّمَا خَبَتۡ زِدۡنَٰهُمۡ سَعِيرًا ٩٧﴾

[97]. Siapa diberi petunjuk oleh Alloh, maka dialah yang mendapat petunjuk menuju kebenaran. Siapa yang disesatkan-Nya hingga ditinggalkan dan diserahkan pada dirinya sendiri, maka tidak ada penolong baginya selain Alloh. Orang-orang sesat tersebut akan dibangkitkan oleh Alloh pada hari Qiyamah dan dikumpulkan di atas wajah-wajah mereka dalam keadaan tidak melihat, tidak berbicara, dan tidak mendengar. Tempat kembali mereka adalah Jahannam yang menyala-nyala; setiap kali gejolak apinya mereda dan padam, Kami tambahkan bagi mereka api yang makin membara lagi meluap-luap.

﴿ذَٰلِكَ جَزَآؤُهُم بِأَنَّهُمۡ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا وَقَالُوٓاْ أَئِذَا كُنَّا عِظَٰمٗا وَرُفَٰتًا أَئِنَّا لَمَبۡعُوثُونَ خَلۡقًا جَدِيدًا ٩٨﴾

[98]. Adzab yang telah digambarkan tersebut merupakan balasan bagi orang-orang musyrik disebabkan kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Alloh dan hujjah-hujjah-Nya, pendustaan mereka terhadap para Rosul yang mengajak mereka beribadah kepada-Nya, serta ucapan mereka dengan nada ingkar saat diperintahkan membenarkan hari kebangkitan: Apakah apabila kami telah mati dan menjadi tulang-belulang lapuk serta pecahan tanah hancur, kami akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan baru?

﴿أَوَلَمۡ يَرَوۡاْ أَنَّ ٱللَّهَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ قَادِرٌ عَلَىٰٓ أَن يَخۡلُقَ مِثۡلَهُمۡ وَجَعَلَ لَهُمۡ أَجَلٗا لَّا رَيۡبَ فِيهِ فَأَبَى ٱلظَّٰلِمُونَ إِلَّا كُفُورًا ٩٩﴾

[99]. Apakah orang-orang musyrik itu lalai hingga tidak memperhatikan dan mengetahui bahwa Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi beserta segala makhluk yang ada di dalamnya tanpa contoh sebelumnya, berkuasa untuk menciptakan yang serupa dengan mereka setelah kebinasaan mereka? Alloh telah menetapkan bagi orang-orang musyrik ini waktu yang ditentukan bagi kematian dan adzab mereka yang tidak diragukan lagi pasti mendatangi mereka. Namun terlepas dari jelasnya kebenaran beserta dalil-dalilnya, orang-orang kafir itu tetap enggan melainkan terus mengingkari agama Alloh.

﴿قُل لَّوۡ أَنتُمۡ تَمۡلِكُونَ خَزَآئِنَ رَحۡمَةِ رَبِّيٓ إِذٗا لَّأَمۡسَكۡتُمۡ خَشۡيَةَ ٱلۡإِنفَاقِۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ قَتُورًا ١٠٠﴾

[100]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik tersebut: Seandainya kalian memiliki perbendaharaan rohmat Robbku yang tidak pernah habis dan sirna, niscaya kalian akan kikir menahannya dan tidak akan memberikannya kepada orang lain karena takut kehabisan lalu kalian menjadi miskin. Memang tabiat manusia itu kikir terhadap apa yang ada di tangannya, kecuali orang yang dipelihara oleh Alloh dengan keimanan.

﴿وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ تِسۡعَ ءَايَٰتِۭ بَيِّنَٰتٖۖ فَسۡـَٔلۡ بَنِيٓ إِسْرَآءِيلَ إِذۡ جَآءَهُمۡ فَقَالَ لَهُۥ فِرۡعَوۡنُ إِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰمُوسَىٰ مَسۡحُورًا ١٠١﴾

[101]. Sungguh Kami telah memberikan kepada Musa 9 mu’jizat yang nyata lagi menjadi saksi atas kebenaran kenabiannya, yaitu: tongkat, tangan, musim kemarau, kekurangan buah-buahan, taufan, belalang, kutu, katak, dan darah. Maka tanyakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang Yahudi sebagai pertanyaan penegasan ketika Musa datang kepada leluhur mereka dengan membawa mu’jizat-mu’jizat yang terang, lalu Fir’aun berkata kepada Musa: “Sungguh aku benar-benar menganggapmu wahai Musa sebagai penyihir yang tertipu lagi terganggu akalmu karena perbuatan-perbuatan aneh yang engkau bawa.”

﴿قَالَ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورًا ١٠٢﴾

[102]. Maka Musa menjawabnya: “Engkau sungguh telah meyakini wahai Fir’aun bahwa tidak ada yang menurunkan 9 mu’jizat yang menjadi saksi atas kebenaran kenabianku ini melainkan Robb langit dan bumi sebagai bukti-bukti terang bagi orang-orang yang berakal tentang keesaan Alloh dalam rububiyyah dan uluhiyyah-Nya, dan sungguh aku benar-benar yakin bahwa engkau wahai Fir’aun akan binasa, terlaknat, lagi teralahkan.”

﴿فَأَرَادَ أَن يَسۡتَفِزَّهُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ فَأَغۡرَقۡنَٰهُ وَمَن مَّعَهُۥ جَمِيعًا ١٠٣﴾

[103]. Fir’aun berniat mengusir Musa beserta Bani Isroil dari bumi Mesir, lalu Kami tenggelamkan dia beserta seluruh tentara yang bersamanya di dalam lautan sebagai siksaan bagi mereka.

﴿وَقُلۡنَا مِن بَعۡدِهِۦ لِبَنِيٓ إِسْرَآءِيلَ ٱسۡكُنُواْ ٱلۡأَرۡضَ فَإِذَا جَآءَ وَعۡدُ ٱلۡأَخِرَةِ جِئۡنَا بِكُمۡ لَفِيفًا ١٠٤﴾

[104]. Kami berfirman setelah pembinasaan Fir’aun dan pasukannya kepada Bani Isroil: Tinggallah di negeri Syam, lalu apabila tiba janji hari Qiyamah, Kami kumpulkan kalian semua dari kubur-kubur kalian menuju padang mahsyar untuk dihisab.

﴿وَبِٱلۡحَقِّ أَنزَلۡنَٰهُ وَبِٱلۡحَقِّ نَزَلَۗ وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا مُبَشِّرٗا وَنَذِيرًا ١٠٥﴾

[105]. Dengan kebenaran Kami telah menurunkan Al-Qur’an ini kepada Muhammad ﷺ untuk memerintah dan melarang hamba-hamba, serta menjelaskan pahala dan adzab mereka. Dengan kebenaran, keadilan, dan terpelihara dari perubahan maupun penggantian Al-Qur’an ini turun. Tidaklah Kami mengutusmu—wahai Rosul—melainkan sebagai pembawa kabar gembira berupa Jannah bagi siapa yang taat dan pembawa peringatan berupa Naar bagi siapa yang mendurhakai dan kufur.

﴿وَقُرۡءَانٗا فَرَقۡنَٰهُ لِتَقۡرَأَهُۥ عَلَى ٱلنَّاسِ عَلَىٰ مُكۡثٖ وَنَزَّلۡنَٰهُ تَنزِيلًا ١٠٦﴾

[106]. Kami turunkan kepadamu—wahai Rosul—Al-Qur’an yang telah Kami jelaskan, Kami kokohkan, dan Kami perinci sebagai pembeda antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan kebatilan, agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan tenang. Kami menurunkannya secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit sesuai dengan peristiwa-peristiwa dan tuntutan keadaan.

﴿قُلۡ آمِنُواْ بِهِۦٓ أَوۡ لَا تُؤۡمِنُوٓاْۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ مِن قَبۡلِهِۦٓ إِذَا يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡ يَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ سُجَّدًا ١٠٧﴾

[107]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang yang mendustakan itu: “Berimanlah kalian kepada Al-Qur’an atau tidak usah beriman, karena keimanan kalian tidak akan menambah kesempurnaannya dan pendustaan kalian tidak akan mengurangi keagungannya.” Sungguh ulama yang diberi Kitab-Kitab terdahulu sebelum Al-Qur’an dan mengenal hakikat wahyu, apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka merendahkan diri seraya bersujud dengan wajah-wajah mereka kepada Alloh.

﴿وَيَقُولُونَ سُبۡحَٰنَ رَبِّنَآ إِن كَانَ وَعۡدُ رَبِّنَا لَمَفۡعُولًا ١٠٨﴾

[108]. Orang-orang yang diberi ilmu tersebut berkata ketika mendengar Al-Qur’an: “Maha Suci Robb kami dan terbebas dari apa yang disifatkan oleh orang-orang musyrik, tidaklah janji Alloh berupa pahala dan siksa melainkan pasti terjadi dan nyata.”

﴿وَيَخِرُّونَ لِلۡأَذۡقَانِ يَبۡكُونَ وَيَزِيدُهُمۡ خُشُوعًا ١٠٩﴾

[109]. Mereka tersungkur bersujud dengan wajah-wajah mereka seraya menangis karena tersentuh oleh nasihat-nasihat Al-Qur’an, dan mendengarkan Al-Qur’an beserta nasihat-nasihatnya menambah ketundukan mereka terhadap perintah Alloh dan keagungan kekuasaan-Nya.

﴿قُلِ ٱدۡعُواْ ٱللَّهَ أَوِ ٱدۡعُواْ ٱلرَّحۡمَٰنَۖ أَيّٗا مَّا تَدۡعُواْ فَلَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰۚ وَلَا تَجۡهَرۡ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتۡ بِهَا وَٱبۡتَغِ بَيۡنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا ١١٠﴾

[110]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang musyrik dari kaummu yang mengingkari doamu saat menyebut ‘Ya Alloh, Ya Rohman’: “Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman, dengan nama mana saja dari nama-nama-Nya yang kalian seru, sungguh kalian menyeru Robb Yang Maha Esa, karena seluruh nama-nama-Nya adalah Asma’ul Husna (nama-nama yang maha indah).” Janganlah engkau mengeraskan bacaan dalam Sholatmu sehingga didengar oleh orang-orang musyrik, dan jangan pula memperlahankannya hingga tidak terdengar oleh sahabat-sahabatmu, tetapi carilah jalan tengah di antara keras dan pelan.

﴿وَقُلِ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي لَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدٗا وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌ فِي ٱلۡمُلۡكِ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ وَلِيٌّ مِّنَ ٱلذُّلِّۖ وَكَبِّرۡهُ تَكۡبِيرًا ١١١﴾

[111]. Katakanlah wahai Rosul: “Segala puji bagi Alloh yang memiliki kesempurnaan dan pujian, yang Maha Suci dari mengambil anak dan tandingan dalam uluhiyyah-Nya. Tidak ada bagi-Nya pelindung dari kalangan makhluk-Nya karena kehinaan, sebab Dia Maha Kaya lagi Maha Kuat, sedangkan mereka adalah orang-orang fakir yang membutuhkan-Nya. Agungkanlah Dia dengan keagungan yang sempurna melalui pujian kepada-Nya, beribadah kepada-Nya semata tanpa sekutu bagi-Nya, serta memurnikan seluruh agama hanya untuk-Nya.”

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini