Cari Ebook

[PDF] ARBAIN Kepribadian Islami - Ali Hasan Al Halabi (1442 H)

 


ARBAIN

Kepribadian Islami

Syaikh Ali Hasan Al-Halabi (1442 H)

Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 150

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

Muqoddimah

﷽

Segala puji hanya milik Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang mampu menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang mampu memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Alloh, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Tulisan ini merupakan risalah yang ringkas namun padat, mencakup 40 Hadits shohih yang dipetik dari keindahan sabda Nabi pilihan, yaitu Rosululloh ﷺ. Aku mengumpulkannya sebagai pengingat bagi diriku sendiri dan saudara-saudaraku seiman, yang di dalamnya terkandung pendidikan jiwa, pembersihan hati, serta perbaikan akhlaq. Pena milikku dalam risalah ini tidak lain hanya memberikan sedikit uraian penjelas untuk mengurai hal yang samar dan menerangkan maksud yang terkandung, seraya tetap memperhatikan keserasian hubungan antar-Hadits melalui pembagian bab dan pemberian catatan ringkas.

Bukanlah suatu hal yang tersembunyi bagi seorang pun bahwa Islam yang agung ini memberikan perhatian yang sangat besar dalam banyak nashnya—baik Al-Qur’an maupun Sunnah—terhadap pembentukan kepribadian seorang Muslim. Islam mengarahkannya ke arah yang asli dan murni, yang bersumber langsung dari teras ajaran Islam serta asas hukum-hukum dan syari’atnya.

Pendorong terbesar bagiku dalam menyusun dan mengumpulkan risalah ini adalah apa yang aku saksikan sendiri pada sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam dan menyerukan da’wah ke jalan Alloh, namun keadaan kepribadian Islamiyah mereka justru sangat jauh berseberangan, baik secara hakikat bathin maupun penampilan lahir. Kita memohon keselamatan kepada Alloh.

Ketika keadaannya demikian, aku merasa wajib untuk menulis risalah ini agar menjadi fondasi yang kuat dan kokoh bagi setiap Muslim dalam memulai kehidupan Islamnya, sehingga ia dapat mengenali jalan kebenaran lalu mengikutinya serta menyeru manusia kepadanya. Terlebih lagi, Nabi ﷺ telah mengisyaratkan hakikat ini melalui sabdanya:

«لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ فَقَدْ هَلَكَ»

“Setiap amal kebaikan itu memiliki masa semangat yang membara, dan setiap masa semangat itu memiliki masa jenuh. Siapa yang pada masa jenuhnya tetap berpegang teguh pada Sunnahku, maka sungguh ia telah mendapat petunjuk. Namun siapa yang masa jenuhnya justru berpaling kepada selain itu, maka sungguh ia telah binasa.”

Sungguh aku menulis risalah ini khusus untuk para pemuda Muslim yang memiliki semangat membara, yaitu mereka yang di tengah gejolak semangat dan kebangkitannya belum menemukan bimbingan ilmu yang paham betul akan penyakit jiwa sekaligus mengetahui obat pemulihannya, guna menunjukkan kepada mereka manhaj yang lurus serta pemikiran yang jernih. Dengan demikian, akal dan pemikiran para pemuda ini dapat menyerupai para Shohabat Nabi ﷺ. Dahulu para Shohabat juga terdiri dari pemuda, namun mereka adalah para pemuda yang matang berpikir layaknya orang dewasa. Pandangan mata mereka tertunduk rapat dari kejahatan, kaki mereka sangat berat untuk melangkah menuju kebathilan, tubuh mereka kurus kering karena lelah beribadah dan letih bermunajat di malam hari. Mereka telah menjual jiwa yang kelak pasti mati demi memperoleh kehidupan abadi yang tidak akan pernah sirna. Alloh telah melihat mereka di kegelapan malam dalam keadaan punggung-punggung mereka membungkuk khusyu’ membaca lembaran-lembaran Al-Qur’an. Setiap kali salah seorang dari mereka melewati ayat yang menyebutkan Jannah, ia menangis karena kerinduan yang mendalam kepadanya; dan apabila melewati ayat yang menyebutkan Naar, ia memekik ketakutan seolah-olah gejolak suara Jahannam berada tepat di samping kedua telinganya. Tanah telah menyerap bekas sujud pada lutut, tangan, dan dahi mereka. Mereka menyambung keletihan malam dengan keletihan siang, warna kulit mereka pucat dan tubuh mereka kurus karena lamanya Sholat malam serta banyaknya puasa. Meskipun demikian, mereka tetap merasa amalan tersebut masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan hak Alloh yang maha agung. Mereka adalah orang-orang yang menepati janji Alloh dan menuntaskan apa yang diwajibkan-Nya.

Maka marilah kita semua berusaha keras untuk menjadi seperti mereka dan meneladani perjalanan hidup mereka. Sebab keadaannya adalah sebagaimana diucapkan: “Keberadaan kita dibandingkan dengan orang-orang sholih masa lalu tidak lain hanyalah seperti rumput kecil yang tumbuh di pangkal pohon-pohon kurma yang menjulang tinggi.”

Sebagaimana pula dikatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarok (181 H):

لَا تَعْرِضَنْ بِذِكْرِنَا مَعَ ذِكْرِهِمْ

لَيْسَ الصَّحِيحُ إِذَا مَشَى كَالْمُقْعَدِ

“Janganlah engkau membandingkan sebutan nama kita dengan sebutan nama-nama mereka, karena orang yang berjalan sehat tidaklah sama dengan orang yang lumpuh.”

Aku telah berupaya keras dalam memilih Hadits-Hadits ini agar mencakup aspek yang luas dan menyeluruh. Sebab kepribadian Islamiyah tidak akan sempurna melainkan apabila seseorang menerapkan seluruh agama Alloh, sebagaimana firman Alloh:

﴿يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا في السِّلْمِ كَآفَّةً﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS. Al-Baqoroh: 208)

Kemudian aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencantumkan takhrij Hadits serta hukum derajatnya di akhir setiap Hadits sesuai dengan kaidah ilmu Hadits, tanpa uraian yang terlalu panjang hingga membosankan dan tanpa ringkasan yang terlalu pendek hingga merusak pemahaman, seraya menjaga agar penjelasannya tetap ringkas dan sesuai untuk risalah semisal ini, kecuali pada beberapa bagian yang memang sangat dibutuhkan.[1]

Jika Alloh memberikan taufiq-Nya kepadaku dalam menyusun risalah ini sesuai dengan yang aku maksudkan, maka itu merupakan kesempurnaan ni’mat dari-Nya. Namun jika terjadi sebaliknya, maka hal itu bukanlah yang aku harapkan, dan aku memohon ampunan serta rohmat kepada Alloh. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Dan penutup da’wah kami adalah mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Ditulis oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari (1442 H)

Di Zarqo, pada tanggal 11 Rojab 1408 H / 28 Februari 1988 M.

Bab 1: Ikhlas

Dari ‘Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»

“Sungguh setiap amalan itu sah atau tidaknya bergantung pada niatnya, dan sungguh setiap orang hanya akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrohnya ditujukan kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka pahala hijrohnya dicatat menuju Alloh dan Rosul-Nya. Namun siapa yang hijrohnya untuk mengejar kenikmatan dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrohnya hanya sampai kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan 54, serta Muslim no. 1907)

Maka penopang utama dari seluruh amal perbuatan adalah keikhlasan. Hanya dengan keikhlasan, hati manusia menjadi lurus dan jiwa menjadi tenang tenteram. Melalui keikhlasan pula seseorang dapat mengenali jalan agamanya secara benar, sehingga ia memasuki rumah melalui pintu-pintu resminya.

Hanya dengan keikhlasan seorang hamba mampu memahami kewajiban-kewajiban yang dibebankan atas dirinya serta hak-hak yang wajib ia penuhi. Dengan keikhlasan itu pula ia mendudukkan segala urusan pada porsi yang sebenarnya dan menunaikannya secara proporsional tanpa berlebihan dan tanpa menguranginya.

Hadits ini merupakan salah satu landasan utama dalam memahami ajaran agama kita yang lurus. Apabila seorang hamba Muslim telah memahami hakikat ini secara terang benderang, wajib baginya tanpa ada keraguan atau kebingungan sedikit pun untuk memagari keikhlasannya dengan benteng kepribadian Islamiyah, yaitu:

Bab 2: Keistimewaan Pendirian

Dari Ibnu ‘Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

“Aku diutus dengan pedang menjelang datangnya hari Qiyamah sampai Alloh semata yang diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya. Ditanamkan pula keberkahan rezekiku di bawah naungan tombakku, serta dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Dan siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HHR. Ahmad no. 5114 dan selainnya dengan sanad hasan)

Seorang Muslim memiliki kepribadian yang istimewa dan mandiri, memiliki jati diri khusus, jalan hidup khusus, serta petunjuk yang khas. Ia tampil beda dalam penampilan lahiriahnya, pemikiran bathinnya, aqidahnya, arah kiblatnya, hingga dalam seluruh aspek kehidupannya.

Dengan ketegasan identitas Muslim ini, kita menjaga ajaran Islam dan da’wah kita agar tetap murni dan jernih, tidak terhalang oleh kekeruhan dan tidak tersusupi oleh kesalahan. Seorang Muslim dalam menjaga identitasnya tidak boleh keluar dari batasan:

Bab 3: Keadilan dan Pertengahan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا»

“Cintailah orang yang kamu cintai secara wajar dan tidak berlebihan, karena bisa jadi suatu hari nanti ia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci secara wajar dan tidak berlebihan, karena bisa jadi suatu hari nanti ia menjadi orang yang kamu cintai.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1997)

Seorang Muslim selalu bersikap adil dalam rasa cintanya dan adil pula dalam rasa bencinya, adil dalam mengambil maupun dalam memberi, sehingga ia selalu berada di pertengahan dalam seluruh urusan tersebut.

Sifat pertengahan ini bersumber langsung dari rambu-rambu agamanya dan tanda-tanda syari’atnya. Ia bukan termasuk golongan orang yang ekstrim melampaui batas dan bukan pula golongan orang yang meremehkan kewajiban. Seorang Muslim dalam mengambil sifat pertengahan ini tidak menyandarkannya pada pemikiran akal dan hawa nafsunya sendiri, melainkan mengambilnya dari Kitab Alloh:

﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rosul menjadi saksi atas kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 143)

Sifat pertengahan ini bukanlah perkara yang ringan dan mudah, sebab banyak orang yang mengumandangkan slogan pertengahan justru menginginkan kompromi dan pengaburan hukum agama. Untuk bisa tegak di atas sifat pertengahan yang diperintahkan Alloh memerlukan kesungguhan dalam:

Bab 4: Perjuangan Menundukkan Jiwa

Dari Al-‘Ala bin Ziyad (94 H) rohimahulloh, ia menceritakan bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma:

أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ إِسْلَامًا؟ قَالَ: «مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»، قَالَ: فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللهِ»، قَالَ: فَأَيُّ الْمُهَاجِرِينَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ جَاهَدَ لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ فِي ذَاتِ اللهِ»، قَالَ: أَنْتَ قُلْتَهُ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو أَوْ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: «بَلْ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَهُ»

“Siapakah orang Mu’min yang paling utama Islamnya?” Ia menjawab: “Orang yang membuat kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Orang itu bertanya lagi: “Lalu Jihad apakah yang paling utama?” Ia menjawab: “Orang yang berjuang menundukkan jiwanya di jalan Alloh.” Orang itu bertanya kembali: “Lalu hamba yang berhijroh manakah yang paling utama?” Ia menjawab: “Orang yang berjuang melawan keinginan dirinya dan hawa nafsunya di jalan Alloh.” Orang itu menegaskan: “Apakah ucapan ini berasal darimu wahai ‘Abdulloh bin ‘Amr, ataukah Rosululloh ﷺ yang bersabda?” Ia menjawab: “Bahkan Rosululloh ﷺ sendiri yang mensabdakannya.” (HR. Ibnu Nashr Al-Marwazi dalam Ta’zhim Qodris Sholat no. 639, sanadnya jayyid)

Perjuangan menundukkan jiwa merupakan sarana yang sangat tinggi nilainya untuk meningkatkan Iman dan mendekatkan diri seorang hamba kepada Robbnya. Alloh berfirman mengenai hal ini:

﴿وَالَّذِينَ جَٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا﴾

“Dan orang-orang yang berjuang di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Dengan perjuangan seorang Muslim menundukkan jiwa dan hawa nafsunya, ruh akan membumbung tinggi, Iman semakin kuat, dan jiwa menjadi bersih murni. Perjuangan ini memberikan mahkota kemuliaan bagi seorang Muslim dalam hidupnya, yaitu:

Bab 5: Kelembutan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ»

“Sungguh Alloh Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberikan pada kelembutan apa yang tidak Dia berikan pada sikap kasar.” (HR. Ibnu Majah no. 3688 dan Ibnu Hibban no. 549 dengan sanad hasan)

Dengan kelembutan, hati manusia dapat menyatu, rasa kasih sayang terjalin, dan kebaikan tersebar luas. Sebaliknya, sikap kasar hanya akan memicu kemungkaran dan memperbanyak pemutusan hubungan. Bersama sikap lembut ini, akan sangat mudah bagi seseorang untuk:

Bab 6: Kembali Kepada Kebenaran

Dari Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَلَهُ ذَنْبٌ يَعْتَادُهُ الْفَيْنَةَ بَعْدَ الْفَيْنَةِ، أَوْ ذَنْبٌ هُوَ مُقِيمٌ عَلَيْهِ لاَ يُفَارِقُهُ حَتَّى يُفَارِقَ الدُّنْيَا، إِنَّ الْمُؤْمِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا تَوَّابًا نَسِيًّا، إِذَا ذُكِّرَ ذَكَرَ»

“Tidak ada seorang hamba Mu’min pun melainkan ia memiliki dosa yang sesekali waktu terulang kembali dilakukannya, atau dosa yang terus mengikutinya tidak terpisahkan hingga ia meninggalkan dunia. Sungguh orang Mu’min itu diciptakan mudah teruji dengan dosa, namun ia sering bertaubat dan mudah lupa; apabila diberi peringatan, ia pun segera ingat.” (HR. At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 11810 dengan sanad hasan)

Keadaannya adalah sebagaimana ungkapan: Kembali kepada kebenaran adalah suatu keutamaan, sedangkan terus menerus dalam kebathilan adalah suatu kehinaan.

Kembali kepada kebenaran akan meninggikan derajat seseorang di sisi Alloh dan di hadapan manusia. Syaithon senantiasa membisikkan pesan palsu kepada manusia bahwa mengakui kesalahan dan kembali kepada kebenaran adalah suatu kekurangan dan aib, padahal hal itu bagian dari kesesatan dan tipu daya Iblis. Kesediaan seseorang untuk kembali kepada kebenaran serta tidak bersikap sombong dari menerimanya akan menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat dalam hal:

Bab 7: Bertanggungjawab

Dari Ibnu ‘Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangga tersebut. Seorang pelayan adalah pengelola harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas harta itu. Dan seorang anak adalah pengelola harta ayahnya dan ia bertanggung jawab atas harta tersebut. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhori 13/100 dan Muslim no. 1829)

Seandainya setiap individu dari umat ini menyadari kedudukan dirinya serta beban tanggung jawab yang diembannya, tanpa melampaui batas mengambil tanggung jawab orang lain, lalu ia menunaikan tugas kewajiban yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya, niscaya kebaikan akan merata dan keamanan bertebaran di mana-mana.

Di antara perkara yang menjadi ciri utama kepribadian Islamiyah adalah:

Bab 8: Kemudahan Memberikan Udzur

Dari Sa’d bin ‘Ubadah (15 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«... وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ العُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ ...»

“... Dan tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pemberian udzur daripada Alloh. Oleh karena itulah Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan ...” (HR. Al-Bukhori no. 7416 dan Muslim no. 2760)

Dengan sikap seorang Muslim yang suka memberikan maklum dan udzur kepada saudara-saudaranya, persaudaraan yang indah akan meluas dan perselisihan akan sirna, serta jalinan silaturrohim akan terwujud menggantikan pemutusan hubungan.

Apabila Alloh Sang Pencipta Yang Maha Agung saja menerima udzur hamba-Nya, bagaimana mungkin engkau wahai hamba Alloh yang lemah tidak mau memberikan udzur kepada saudaramu?

Sebagaimana disebutkan: “Carilah udzur untuk saudaramu!”

Juga seperti ungkapan: “Orang-orang beriman memberi udzur sementara orang-orang munafik mencari kesalahan.”

Sifat mudah memberikan udzur kepada saudara seiman ini makin menegaskan bahwa:

Bab 9: Muslim Tidak Hasad

Dari Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا»

“Tidak ada rasa iri yang diperbolehkan melainkan pada dua perkara: seseorang yang dikaruniai harta oleh Alloh lalu ia habiskan harta itu di jalan kebenaran, dan seseorang yang dikaruniai hikmah ilmu oleh Alloh lalu ia memutuskan hukum dengannya dan mengajarkannya kepada manusia.” (HR. Al-Bukhori 1/153 dan Muslim no. 816)

Seandainya seorang Muslim memiliki sifat hasad kepada manusia, tentu ia akan mengharapkan jatuhnya kelemahan orang lain demi memuaskan rasa sombong dan keangkuhan dirinya. Padahal ia tahu betul bahwa hasad adalah penyakit yang sangat berbahaya dan kejahatan yang merusak, sehingga ia menjauhinya seribu langkah. Adapun persaingan yang dikecualikan dari dosa adalah keinginan untuk mencontoh kebaikan orang lain tanpa disertai hasrat agar ni’mat orang tersebut hilang. Ia justru mendoakan kebaikan bagi saudaranya dan memohon kepada Alloh agar diberi kemampuan amalan yang serupa. Selain bentuk ini, maka seluruh rasa hasad adalah tercela.

Hal ini makin memperkuat bahwa seorang Muslim adalah pribadi yang:

Bab 10: Berorientasi Robbani

Dari Ummud Darda’ (81 H) rohimahalloh, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada Abu Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Tidakkah engkau mencari perbekalan untuk menyambut tamu-tamumu sebagaimana yang dicari oleh orang-orang untuk tamu mereka?”

Maka Abu Darda’ menjawab: Aku pernah mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَمَامَكُمْ عَقَبَةً كَؤُودًا لاَ يَجُوزُهَا الْمُثْقَلُونَ»، فَأُحِبُّ أَنْ أَتَخَفَّفَ لِتِلْكَ الْعَقَبَةِ!

“Sungguh di hadapan kalian ada jalan mendaki yang sangat terjal, yang tidak akan mampu dilalui oleh orang-orang yang membawa beban berat.” Maka aku ingin meringankan bebanku agar bisa melintasi jalan terjal tersebut! (HR. Al-Hakim 4/574, Ibnu ‘Asakir dalam Al-Arba’in Al-Buldaniyyah no. 19, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman dengan sanad shohih)

Seorang Muslim selalu bersikap Robbani dalam seluruh urusannya. Dunia di matanya hanyalah tempat perlintasan sementara menuju Akhiroh. Ia tidak menggantungkan hatinya kepada dunia kecuali sekadar kebutuhan pokok untuk menopang hidupnya. Adapun menjadikan dunia sebagai sasaran utama pemikiran dan puncak tujuannya seraya menganggap dirinya telah berbuat baik, maka ini sama sekali bukan bagian dari kepribadian Muslim.

Sangat mengherankan keadaan sebagian orang yang menyia-nyiakan keindahan umur dan menghabiskan masa muda mereka dalam kelezatan duniawi, namun mereka mengira sedang berada di atas kebaikan. Sungguh perkara tersebut tidak lain hanyalah perbuatan dan bisikan hiasan dari Syaithon.

Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi, padahal kenyataannya:

Bab 11: Muslim Tidak Punya Waktu Kosong

Dari Ibnu ‘Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Dua ni’mat yang sering kali membuat banyak manusia tertipu dan tertipu rugi karenanya: yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori 11/299)

Bagaimana mungkin seorang Muslim sibuk mengurus hal yang sia-sia sedangkan ia tidak pernah memiliki waktu luang yang terbuang? Bagaimana ia mengenal rasa menganggur jika seluruh waktunya senantiasa terisi penuh dengan amal kebaikan?

Perhatikanlah kisah yang disampaikan sebagian ulama mengenai keteladanan para imam terdahulu: Aku pernah tinggal berdampingan dengan seorang ulama di sebuah madrosah di Kairo, kamar tinggalku berada tepat di atas kamarnya selama 12 tahun. Selama periode itu, tidak pernah sekalipun aku terbangun di malam hari melainkan aku melihat pancaran lampu minyak di kamarnya masih menyala karena ia sibuk menuntut ilmu. Bahkan ketika sedang makan pun, kitab-kitab tulisan berada di sekelilingnya dan ia tetap membaca serta mengkajinya.

Di antara perkara penting yang membangun kepribadian Muslim adalah:

Bab 12: Keselektifan dan Kewaspadaan Beragama

Dari An-Nu’man bin Basyir (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«إنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ»

“Sungguh perkara yang halal itu sudah jelas dan perkara yang harom itu sudah jelas. Namun di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Siapa yang menjaga dirinya dari perkara syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya. Namun siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, ia akan jatuh ke dalam perkara harom; bagaikan seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, dikhawatirkan ternak itu akan masuk melahap rumput di dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki kawasan terlarang, dan kawasan terlarang milik Alloh adalah hal-hal yang diharomkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhori 1/126 dan Muslim no. 1599)

Seorang Muslim menghadapi tiga kondisi terhadap segala urusan yang ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari:

Pertama, Menjauh secara mutlak: Hal ini berlaku untuk perkara yang jelas-jelas harom.

Kedua, Mengambil secara mutlak: Hal ini berlaku untuk perkara yang jelas-jelas halal.

Ketiga, Berhenti dan menahan diri: Hal ini berlaku untuk perkara yang masih samar apakah tergolong halal atau harom.

Sikap yang ketiga ini menunjukkan sifat waro’ (kehati-hatian) seorang Muslim dan rasa takutnya dari terjerumus ke dalam keharoman serta perbuatan mungkar. Ia berhenti dan menjauhinya semata-mata demi meraih ridho Alloh dan mematuhi perintah-Nya. Ia tidak bermudah-mudahan mengatakan: “Ini bukan harom, maka lakukanlah.” Tidak demikian! Sebab tidak setiap hal yang belum dipastikan harom itu boleh dikerjakan. Perkara yang masih samar itu justru sangat dekat dengan keharoman, sebagaimana ditegaskan dalam Hadits tadi.

Rasa takut dan sifat waro’ ini membuktikan bahwa:

Bab 13: Muslim Jujur dalam Segala Urusan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ»

“Tanda-tanda orang munafiq itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi kepercayaan ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori 5/289 dan Muslim 1/78)

Seorang Muslim selalu jujur dalam perkataannya, menepati janjinya, dan amanah dalam menjalankan tugasnya. Ia tidak mengenal kecurangan maupun penipuan, tidak mengenal kedustaan maupun kemunafiqan. Kejujuran adalah puncak segala kebaikan, sedangkan kedustaan adalah sumber segala kerusakan dan kejahatan.

Kejujuran seorang Muslim ini menjaganya dari keburukan dan penyakit hati. Ia melakukan seluruh amalnya murni karena Alloh, bukan demi meraih kedudukan duniawi, popularitas, atau sebutan nama baik. Slogan hidupnya adalah:

Bab 14: Menuntut Ilmu Murni Karena Alloh

Dari Jabir (78 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ تَعَلَّمُوا العِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ العُلَمَاءَ، وَلاَ تُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلاَ لِتَجْتَرِئُوا بِهِ المَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ»

“Janganlah kalian mempelajari ilmu agama untuk membanggakan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menguasai tempat-tempat pertemuan. Siapa yang melakukan hal itu, maka ancamannya adalah Neraka, Neraka!” (HR. Ibnu Majah no. 254, Ibnu Hibban no. 90, Al-Hakim 1/86, dan Al-Ajurri no. 126, dengan sanad yang memiliki syahid dan terangkat menjadi hasan)

Seorang Muslim tidak mencari ilmu untuk menonjolkan diri dalam majelis, atau untuk membantah orang bodoh, atau untuk menyaingi para ulama. Perbuatan semacam itu bukanlah ciri kepribadian Muslim. Ia menuntut ilmu murni karena Alloh semata tanpa ada sekutu bagi-Nya, bukan untuk bagian kebanggaan dirinya dan bukan pula untuk kepentingan manusia lainnya.

Renungkanlah kisah yang disampaikan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Rozi (327 H) sebagai nasehat dan pelajaran: Aku pernah memasuki kota Damaskus untuk menemui para penulis Hadits, lalu aku melewati majelis Qosim Al-Ju’i. Aku melihat sekelompok orang duduk di sekelilingnya sewaktu ia memberikan nasehat. Penampilan mereka membuatku kagum, lalu aku mendengarnya berkata:

Ambillah keuntungan lima perkara dari penduduk zamanmu:

1. Jika kamu hadir, kamu tidak dikenal.

2. Jika kamu tidak ada, kamu tidak dicari.

3. Jika kamu menghadiri suatu perkumpulan, kamu tidak dimintai pendapat.

4. Jika kamu mengucapkan sesuatu, perkataanmu tidak diterima.

5. Jika kamu melakukan amal kebaikan, kamu tidak diberi pujian dengannya.

Aku berpesan kepadamu dengan lima hal pula:

1. Jika kamu dizholimi, janganlah kamu balik zholim.

2. Jika kamu dipuji, janganlah kamu gembira bangga.

3. Jika kamu dicela, janganlah kamu berkeluh kesah.

4. Jika kamu didustakan, janganlah kamu marah.

5. Jika orang lain berkhianat kepadamu, janganlah kamu balik berkhianat.

Ibnu Abi Hatim Ar-Rozi (327 H) berkata: Maka aku menjadikan ucapan ini sebagai faedah utamaku dari perjalanan ke kota Damaskus.

Lihatlah bagaimana dorongan semangatnya mencari ilmu membuat seorang ulama besar mau menyimak nasehat dari orang yang berada di bawah tingkat ilmunya demi mengambil manfaat pemahaman.

Di antara perkara yang wajib diingatkan dalam pembahasan ini adalah:

Bab 15: Mu’min Cermin Bagi Saudaranya

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ، وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ»

“Seorang Mu’min adalah cermin bagi Mu’min lainnya, dan seorang Mu’min adalah saudara bagi Mu’min lainnya; ia menjaga saudaranya dari kerugian serta melindungi kehormatannya dari belakang.” (HR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 539, Al-Qudho’i no. 125, Abu Dawud no. 4918, dan At-Thobroni no. 92, dengan sanad hasan)

Penggambaran dengan istilah “cermin” adalah ungkapan yang sangat indah dan halus, yang menggambarkan puncak persaudaraan dan rasa kesetiakawanan. Saudaramu adalah cerminan bayangan dirimu sendiri. Jika ia berbuat buruk, seolah-olah engkaulah yang berbuat buruk; dan jika ia bersalah, seolah-olah engkaulah yang bersalah. Ia adalah cermin gambaran dirimu! Maka janganlah engkau memperlakukannya melainkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Jika engkau tidak bersikap demikian kepada saudaramu, maka hal itu akan memperbesar:

Bab 16: Pertempuran Muslim Melawan Syaithon

Dari ‘Iyadh bin Himar Al-Mujasyi’i rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda dalam khutbahnya pada suatu hari:

«أَلاَ إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ، مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا، كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا حَلاَلٌ، وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَإِنَّ اللهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلاَّ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَقَالَ: إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ، وَأَنْزَلْتُ عَلَيْكَ كِتَابًا لاَ يَغْسِلُهُ الْمَاءُ، تَقْرَؤُهُ نَائِمًا وَيَقْظَانًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أُحَرِّقَ قُرَيْشًا، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ إِذَنْ يَثْلَغُوا رَأْسِي، فَيَدَعُوهُ خُبْزَةً، قَالَ: اسْتَخْرِجْهُمْ كَمَا اسْتَخْرَجُوكَ، وَاغْزُهُمْ نُغْزِكَ، وَأَنْفِقْ فَسَتُنْفَقَ عَلَيْكَ، وَابْعَثْ جَيْشًا نَبْعَثْ خَمْسَةً مِثْلَهُ، وَقَاتِلْ بِمَنْ أَطَاعَكَ مَنْ عَصَاكَ، وَأَهْلُ الْجَنَّةِ ثَلاَثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ، وَأَهْلُ النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ، الَّذِينَ هُمْ فِيكُمْ تَبَعٌ لاَ يَبْتَغُونَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً، وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ، وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. وَذَكَرَ الْبُخْلَ وَالْكَذِبَ وَالشِّنْظِيرَ الْفَحَّاشَ»

“Ketahuilah bahwa Robbku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan kepadaku pada hari ini: Setiap harta yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal. Dan sungguh Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya, namun kemudian syaithon datang mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharomkan atas mereka apa yang telah Aku halalkan, serta memerintahkan mereka untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan keterangan tentangnya. Dan sungguh Alloh melihat kepada penduduk bumi lalu Dia murka kepada mereka, baik bangsa ‘Arob maupun non-‘Arob, kecuali sisa-sisa dari Ahli Kitab. Alloh berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk mengujimu dan menguji manusia denganku, dan Aku menurunkan kepadamu Kitab yang tidak akan luntur oleh air, yang engkau membacanya dalam keadaan tidur maupun bangun.’ Dan Alloh memerintahkanku untuk menghancurkan kebatilan Quroisy, maka aku berkata: ‘Wahai Robbku, jika demikian mereka akan memecahkan kepala hingga hancur seperti roti.’ Alloh berfirman: ‘Keluarkanlah mereka sebagaimana mereka mengeluarkanku, perangilah mereka niscaya Kami membantumu, berinfaklah niscaya Kami memberi ganti kepadamu, dan kirimkanlah pasukan niscaya Kami kirimkan lima kali lipat dengannya, serta perangilah bersama orang yang taat kepadamu terhadap orang yang bermaksiat kepadamu.’ Dan penghuni Jannah itu ada tiga kelompok: Penguasa yang adil, gemar bersedekah, dan diberi taufiq; seseorang yang penyayang dan berhati lembut kepada setiap kerabat dan sesama Muslim; serta orang yang menjaga kehormatan diri lagi berkeluarga. Sedangkan penghuni Naar ada lima kelompok: Orang lemah yang tidak memiliki pendirian, yang hidup mengekor di antara kalian tanpa mencari keluarga dan harta; pengkhianat yang tidak tersembunyi baginya ketamakan sekecil apa pun melainkan ia akan mengkhianatinya; seseorang yang tidak memasuki pagi dan sore melainkan selalu memperdayaimu dalam urusan keluarga dan hartamu; serta menyebutkan orang yang bakhil, pendusta, dan orang yang berakhlak buruk lagi berkata kotor.” (HR. Muslim no. 2865)

Ini adalah pertempuran yang sangat lama, setua sejarah penciptaan Nabi Adam ‘alaihis salam. Pertempuran ini akan semakin sengit atau mereda sesuai dengan dekat atau jauhnya hubungan seseorang dengan Robbnya. Perhatikan sabda Nabi ﷺ:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sungguh syaithon telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat, akan tetapi ia terus berusaha merusak hubungan dan mengadu domba di antara mereka.”

Maka jadikanlah ini sebagai peringatan bagi kita agar tidak memberikan jalan sedikit pun bagi syaithon untuk menguasai hati kita melalui perbuatan kita. Tipu daya syaithon sangat banyak dan perangkapnya sangat tersebar. Maka waspadalah wahai hamba Alloh, jangan sampai syaithon memalingkanmu dengan jaring dan tipu muslihatnya.

Benteng kokohmu agar terhindar darinya adalah:

Bab 17: Dzikrulloh

Dari An-Nu’man bin Basyir (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»، قَالَ رَبُّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ...﴾

“Doa itu adalah inti ibadah.” Robb kalian Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian... (QS. Ghofir: 60)” (HSR. Abu Dawud no. 1479)

Doa merupakan puncak dari dzikir. Rosululloh ﷺ telah bersabda:

«وَآمُرُكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ كَثِيرًا، وَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ طَلَبَهُ الْعَدُوُّ سِرَاعًا فِي أَثَرِهِ، حَتَّى أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ فِيهِ، كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Dan aku memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir mengingat Alloh. Perumpamaan hal itu adalah seperti seorang lelaki yang dikejar oleh musuhnya secara cepat dari belakang, hingga ia sampai di sebuah benteng yang kokoh lalu menyelamatkan dirinya di dalam benteng tersebut. Demikian pula seorang hamba, tidak ada yang dapat menyelamatkan dirinya dari gangguan syaithon melainkan dengan benteng dzikir kepada Alloh.”

Dzikir seorang Muslim kepada Robbnya akan menjadikannya berada dalam perlindungan dan keselamatan yang tidak mampu ditembus oleh syaithon, sehingga menghindarkannya dari berbagai kesalahan lisan, anggota badan, maupun hati.

Berdasarkan hal ini, maka:

Bab 18: Muslim Tidak Ghibah

Dari Ibnu ‘Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُونَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ ضَادَّ اللهَ فِي أَمْرِهِ، وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ بِالدِّينَارِ وَلاَ بِالدِّرْهَمِ وَلَكِنَّهَا الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ، وَمَنْ خَاصَمَ فِي بَاطِلٍ - وَهُوَ يَعْلَمُهُ - لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللهِ حَتَّى يَنْزِعَ، وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ، وَلَيْسَ بِخَارِجٍ»

“Siapa yang perantara pembelaannya menghalangi terwujudnya salah satu hukum حدّ (hukuman) dari hukum-hukum Alloh, maka sungguh ia telah menentang perintah Alloh. Siapa yang meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang, maka pembayarannya kelak bukan lagi dengan dinar atau dirham, melainkan dengan kebaikan dan keburukan. Siapa yang membela perkara yang bathil sedangkan ia mengetahuinya, maka ia senantiasa berada dalam kemurkaan Alloh sampai ia meninggalkannya. Dan siapa yang mengucapkan tuduhan buruk pada diri seorang Mu’min yang tidak ada padanya, maka Alloh akan menempatkannya di dalam endapan lumpur perasan keringat dan nanah penghuni Neraka sampai ia mempertanggungjawabkan perkataannya, dan ia tidak akan mampu keluar darinya.” (HSR. Ahmad no. 5385 dan Abu Dawud no. 3597 dengan sanad shohih)

Wabah yang mematikan ini, yaitu ghibah (menggunjing), dapat menggugurkan pahala kebaikan, merusak persaudaraan, serta menghapuskan ganjaran dan pahala. Seorang Muslim sejati tidak akan melakukan ghibah dan tidak akan membiarkan ghibah dilakukan di hadapannya.

Maka bertaqwalah kepada Alloh orang-orang yang tubuh dan jiwanya tidak tumbuh melainkan dari tuduhan palsu terhadap hamba-hamba Alloh serta mengada-ada atas nama mereka dengan dalih demi “maslahat da’wah”!!

Sungguh mengherankan, maslahat da’wah macam apa yang bisa dipetik dari tuduhan dusta, ghibah, dan menyebutkan keburukan manusia? Apakah engkau wahai orang yang menggunjing manusia mengira bahwa dirimu terbebas dari kekurangan? Apakah engkau mengira bahwa engkau terhindar dari kesalahan? Ingatlah bahwa seluruh dirimu adalah cela dan orang lain juga memiliki lisan!

Di antara perkara yang harus diperhatikan:

Bab 19: Muslim Tidak Fudhuli

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi dirinya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2318)

Seorang Muslim selalu berdiri di atas batasan-batasan agamanya, tidak melampauinya dan tidak melewatinya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sikap ikut campur dan bertanya tentang hal-hal yang tidak penting baginya adalah perkara yang dilarang dan tidak disukai. Oleh karena itu, ia selalu tunduk menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya, karena:

Bab 20: Seluruh Amal Murni Karena Alloh

Dari Abu Umamah (86 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ»

“Siapa yang mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan tidak memberi juga karena Alloh, maka sungguh ia telah menyempurnakan Imannya.” (HHR. Abu Dawud no. 4681)

Hadits ini menjelaskan gambaran seorang Mu’min dalam seluruh bentuk interaksi dan perilakunya, yang mana seluruhnya ditujukan murni karena Alloh semata, tanpa memberikan porsi sedikit pun bagi selain-Nya.

Dalam seluruh kondisi ini, ia sangat jauh dari mengejar kepentingan pribadi maupun pemuasan hawa nafsunya. Ia tidak menginginkan dari rasa cinta, rasa benci, pemberian, maupun penolakannya melainkan hanya ridho Alloh dan Jannah-Nya, bukan demi mengejar jabatan duniawi, kemewahan harta, ataupun popularitas semu.

Jika suatu saat ia tergelincir ke dalam hal tersebut, ia akan segera bertaubat dan kembali, karena:

Bab 21: Muslim Segera Bertaubat

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الإِيمَانِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي آخِيَّتِهِ، يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَّتِهِ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ يَسْهُو ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى الإِيمَانِ، فَأَطْعِمُوا طَعَامَكُمُ الأَتْقِيَاءَ، وَوَلُّوا مَعْرُوفَكُمُ الْمُؤْمِنِينَ»

“Perumpamaan seorang Mu’min dan hubungannya dengan Iman adalah seperti seekor kuda yang terikat pada patoknya; ia berjalan berputar ke sana kemari namun akhirnya akan kembali lagi ke patoknya. Dan sungguh seorang Mu’min itu terkadang lalai berbuat dosa, namun kemudian ia segera kembali kepada Iman. Maka sajikanlah makanan kalian untuk orang-orang yang bertaqwa, dan curahkanlah kebaikan kalian kepada orang-orang yang beriman.” (HHR. Ahmad 3/38)

Seorang Muslim tidak akan terus-menerus berkubang dalam maksiat dan tidak akan meremehkan perbuatan dosa. Sebagaimana manusia lainnya, ia memang bisa melakukan kesalahan, namun ia adalah pribadi yang sangat sering bertaubat kepada Robbnya dan kembali memohon ampunan kepada Penciptanya.

Jika ia menyadari bahaya kesombongan—yang mana sifat ini sangat asing dari kepribadian Islamiyah—maka ia tidak akan bersikap sombong di hadapan Robbnya. Sebab ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah, sedangkan Robbnya adalah Dzat Yang Maha Mengurusi seluruh langit dan bumi.

Pemaparan di atas menjelaskan secara gamblang tentang:

Bab 22: Rambu-Pilar Kepribadian Muslim

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«خَصْلَتَانِ لاَ تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ: حُسْنُ سَمْتٍ، وَفِقْهٌ فِي دِينٍ»

“Dua kebiasaan yang tidak akan pernah menyatu dalam diri seorang munafiq: perawakan akhlaq yang baik dan pemahaman yang mendalam dalam agama.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2685)

Maka perawakan dan penampilannya adalah perawakan orang-orang sholih, petunjuk jalannya adalah petunjuk hamba-hamba Robb seluruh alam; ia meneladani orang-orang yang bertaqwa dan mengikuti jejak langkah orang-orang pilihan.

Hati dan lahiriahnya berjalan selaras dan seimbang, tidak seperti sebagian orang yang lemah jiwanya yang hanya sibuk mempercantik penampilan luar saja sedangkan hatinya kosong hampa dari keimanan.

Pemahamannya terhadap agama adalah pemahaman yang mendalam, yang bersumber dari hati yang lembut dan kesadaran berpikir yang tajam. Namun demikian, perawakan mulia dan pemahaman agamanya tersebut tidak menghalanginya dari:

Bab 23: Gurauan yang Jujur

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh! Apakah engkau juga mengajak kami bercanda?” Rosululloh ﷺ menjawab:

«نَعَمْ، غَيْرَ أَنِّي لاَ أَقُولُ إِلاَّ حَقًّا»

“Ya, benar, hanya saja aku tidak pernah mengucapkan sesuatu dalam candaku melainkan kebenaran.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1991)

Maka kedustaan tidak memiliki porsi dalam candaannya, dan tuduhan palsu tidak memiliki jalan padanya. Gurauannya adalah kebenaran, dan candanya penuh dengan kejujuran.

Namun hal ini tidak berarti seseorang menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bergurau dan bercanda. Tidak demikian! Akan tetapi dalam masalah ini—maupun masalah lainnya—ia selalu mengikuti jejak para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, yang mana prinsip hidup mereka dalam hal ini adalah:

Bab 24: Keseimbangan Antara Ibadah dan Dunia

Dari Hanzholah Al-Usayyidi rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Abu Bakr Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bertemu denganku lalu bertanya: “Bagaimana keadaamu wahai Hanzholah?” Aku menjawab: “Hanzholah telah menjadi munafiq!” Abu Bakr terkejut: “Subhanalloh! Apa yang engkau katakan?” Aku menjelaskan: “Ketika kita berada di sisi Rosululloh ﷺ, beliau mengingatkan kita tentang Naar dan Jannah seolah-olah kita melihatnya secara langsung dengan mata kepala. Namun apabila kita keluar dari sisi Rosululloh ﷺ, kita sibuk mengurusi istri-istri, anak-anak, dan mata pencaharian kita, sehingga kita banyak lupa.” Abu Bakr berkata: “Demi Alloh, sungguh kami pun merasakan hal yang sama!”

Lalu aku dan Abu Bakr berangkat hingga masuk menemui Rosululloh ﷺ. Aku berkata: “Hanzholah telah menjadi munafiq wahai Rosululloh!” Rosululloh ﷺ bertanya: “Mengapa demikian?” Aku menjawab: “Wahai Rosululloh, ketika kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang Naar dan Jannah seakan-akan kami melihatnya langsung. Namun ketika kami keluar dari sisimu, kami disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dan pekerjaan, sehingga kami banyak lupa.” Maka Rosululloh ﷺ bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ: سَاعَةً وَسَاعَةً، سَاعَةً وَسَاعَةً، سَاعَةً وَسَاعَةً»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian dapat terus-menerus berada dalam kondisi keimanan sebagaimana saat berada di sisiku dan senantiasa berdzikir, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzholah, ada waktunya untuk beribadah dan ada waktunya untuk mengurusi urusan duniawi (beliau mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim no. 2750)

Kedua macam waktu tersebut tetap terikat secara ketat dengan perintah Alloh: Kesungguhan ibadahnya terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan waktu santai dan gurauannya terjaga dari larangan serta diliputi oleh hal-hal yang tidak menyelisihi syari’at Alloh. Ia tidak bermudah-mudahan menjadikan candaannya sebagai sarana untuk berbuat dosa.

Bagaimana mungkin ia berbuat demikian, padahal ia adalah pribadi yang:

Bab 25: Tidak Meremehkan Kemaksiatan

Dari Sahl bin Sa’d (88 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ»

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil yang dianggap remeh! Perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti rombongan orang yang singgah di dasar sebuah lembah, lalu orang ini membawa satu ranting kayu dan orang itu membawa satu ranting, hingga terkumpul banyak kayu dan mereka mampu mematangkan adonan roti mereka. Sungguh dosa-dosa kecil yang dianggap remeh itu apabila dituntut pertanggung-jawabannya kepada pelakunya, niscaya akan membinasakannya.” (HSR. Ahmad 5/331)

Keadaannya adalah sebagaimana diucapkan oleh Shohabat yang agung ‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا»

“Sungguh orang Mu’min itu melihat dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah kaki gunung yang ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat melihat dosa-dosanya hanyalah seperti seekor lalat yang hinggap melewatai hidungnya, lalu ia mengusirnya begitu saja dengan tangannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6308)

Maksudnya adalah bahwa seorang Muslim sangat memahami keagungan Robbnya Yang Maha Suci, kekuasaan-Nya, serta kemurkaan-Nya. Ia tidak melihat dosa dari sudut pandang kecil atau besarnya bentuk dosa tersebut, melainkan ia melihat kepada Dzat yang agung yang sedang ia maksiati!

Dosa-dosa kecil yang sering diabaikan oleh orang-orang yang lemah hatinya itulah yang justru mematikan mereka dengan hilangnya Iman dari hati dan lenyapnya taqwa dari dada mereka.

Apabila seorang hamba meremehkan dosa dan maksiat, berarti ia telah berbuat zholim terhadap dirinya sendiri. Padahal hal ini tidak boleh terjadi, sebab:

Bab 26: Muslim Tidak Zholim

Dari Jabir bin ‘Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ»

“Takutlah kalian dari perbuatan zholim, karena sungguh kezholiman itu akan menjadi kegelapan yang bertapis-lapis pada hari Qiyamah! Dan takutlah kalian dari sifat kikir yang tamak, karena sungguh sifat kikir itulah yang telah membinasakan umat-umat sebelum kalian; sifat itu memicu mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharomkan atas mereka.” (HR. Muslim no. 2578)

Kezholiman itu terbagi menjadi dua macam: Kezholiman seorang hamba terhadap dirinya sendiri, dan kezholimannya terhadap orang lain.

Kedua bentuk kezholiman ini diharomkan dalam syari’at Alloh. Kezholiman hamba terhadap dirinya sendiri tercermin dalam keberaniannya melanggar larangan dengan mengerjakannya, serta meremehkan perintah dengan meninggalkannya.

Adapun kezholimannya terhadap orang lain adalah dengan melanggar hak-hak mereka, menyimpang dari keadilan dalam berinteraksi, serta merendahkan martabat orang lain demi mengangkat kedudukan dirinya sendiri.

Kezholiman jenis manakah yang lebih besar daripada hal ini selain perbuatan syirik kepada Alloh? Kezholiman merupakan kunci utama pembuka seluruh maksiat. Jika seorang hamba tidak bersikap zholim, hatinya akan mengagungkan Alloh dan keyakinannya menjadi kuat. Namun jika tidak, maksiat akan merusak jiwanya dan dosa-dosa akan membenamkannya.

Lisannya akan berubah menjadi ular berbisa yang menyemburkan racun gangguan, fitnah, tuduhan dusta, kedengkian, dan hasad.

Seorang Muslim sejati sangat jauh dari semua tabiat buruk ini, dan sebagai konsekuensinya:

Bab 27: Ia Menjauhi Namimah (Adu Domba)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu al-‘adhu (العَضْه)?” Para Shohabat menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:

«... نَقْلُ الْحَدِيثِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ إِلَى بَعْضٍ لِيُفْسِدُوا بَيْنَهُمْ»

“... Yaitu memindahkan perkataan dari sebagian orang kepada sebagian yang lain dengan tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka (adu domba).” (HHR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 425)

Sebab adu domba adalah penyakit hati yang sangat ganas; apabila penyakit ini merasuk ke dalam hati, ia akan merusaknya, dan jika hati telah rusak, maka seluruh anggota badan ikut rusak dan amal perbuatan menjadi gugur sia-sia.

Betapa banyak manusia di hari ini yang dihiasi oleh syaithon sehingga menganggap perbuatan buruknya sebagai suatu kebaikan yang tanpa cela! Betapa banyak orang di hari ini yang mengira bahwa perbuatan adu domba adalah suatu kebaikan yang ia persembahkan dan amal sholih yang ia tunaikan!

Sungguh kelompok orang yang berjalan di tengah hamba-hamba Alloh dengan membawa tipu daya, pemalsuan informasi, dan penyesatan hati ini wajib bagi kaum Muslimin yang jujur untuk tidak memberikan ruang bagi mereka. Kaum Muslimin harus berpaling dan menjauhi mereka sebagai hukuman terendah yang layak mereka terima.

Penyakit adu domba ini tidak akan menjangkiti melainkan hati yang telah terintoksikasi oleh rasa cinta kepada dunia, sehingga mereka menjadikan agama sebagai kendaraan untuk meraih kenikmatan duniawi yang rendah.

Adapun seorang Muslim Robbani yang jujur, maka:

Bab 28: Terbebas dari Ketergantungan Pada Dunia

Dari Sahl bin Sa’d (88 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِاللَّيْلِ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ»

Malaikat Jibril ‘alaihis salam datang kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad! Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti akan mati, cintailah siapa saja yang engkau sukai karena sungguh engkau pasti akan berpisah dengannya, dan beramallah sesukamu karena sungguh engkau pasti akan diberi balasan atasnya. Serta ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mu’min terletak pada Sholat malamnya, dan kehormatan dirinya terletak pada ketidak-bergantungannya kepada bantuan manusia.” (HHR. Al-Hakim 4/324)

Orang yang hatinya tergantung pada dunia adalah orang yang tipis kadar agamanya dan dangkal pemikiran akalnya. Ia tidak menyadari bahwa dunia di mata orang yang tidak memiliki agama merupakan pintu menuju kehinaan, jalan kejahatan, dan kunci segala kemungkaran.

Seorang Muslim dalam kejujurannya bersama Robbnya, dirinya sendiri, dan saudara-saudaranya memberikan keteladanan tertinggi bagi orang-orang yang memburu dunia demi mengumpulkan lembaran uang dan kekayaan. Ia mengajarkan kepada mereka bahwa tidak ada kebaikan di balik pemburuan harta tersebut, melainkan kebaikan hakiki hanya ada pada upaya menjadikan dunia sebagai sarana untuk meninggikan agama dan membersihkan keikhlasan hati.

Segala hal ini tidak akan dapat terwujud melainkan dengan:

Bab 29: Zuhud

Dari Abu Umamah Iyas bin Tsa’labah rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para Shohabat Rosululloh ﷺ pada suatu hari menyebut-nyebut tentang kemewahan dunia di hadapan beliau. Maka Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَلاَ تَسْمَعُونَ، أَلاَ تَسْمَعُونَ!! إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الإِيمَانِ»

“Apakah kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak mendengar?! Sungguh kesederhanaan dalam berpakaian dan penampilan itu adalah bagian dari Iman, sungguh kesederhanaan itu bagian dari Iman.” (HHR. Abu Dawud no. 4161)

Makna zuhud di sini adalah membatasi diri dari kemewahan dunia, menampakkan kebutuhan diri di hadapan Alloh, bersikap rendah hati kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, tidak berlebih-lebihan dalam hal pakaian, makanan, dan minuman, serta menjauhi ketenaran.

Zuhud bukan berarti mengingkari atau menolak ni’mat yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian hamba-Nya. Namun zuhud adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh: “Zuhud adalah meninggalkan apa saja yang tidak memberikan manfaat untuk Akhiroh, baik karena memang tidak ada manfaatnya, ataupun karena nilainya lebih rendah sehingga dapat menghilangkan hal yang jauh lebih bermanfaat, atau karena mudhorotnya lebih besar daripada manfaatnya. Adapun meninggalkan hal-hal yang murni bermanfaat atau besar manfaatnya bagi Akhiroh, maka tindakan tersebut bukanlah zuhud melainkan suatu kebodohan.”

Maka dari itu, tidak ada istilah zuhud dalam hal:

Bab 30: Beramal Kebaikan

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»

“Setiap persendian tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya pada setiap hari yang mana matahari terbit padanya: Engkau berbuat adil mendamaikan antara dua orang yang berselisih adalah sedekah, engkau menolong seseorang pada hewan tunggangannya lalu engkau membantunya naik ke atasnya atau memuatkan barang bawaannya ke atas tunggangannya adalah sedekah, tutur kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju Sholat adalah sedekah, dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalanan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori 5/226 dan Muslim no. 1009)

Jika seorang hamba mampu menjadikan seluruh hari-hari dan malam-malamnya berada dalam ketaatan dan keridhoan Alloh, maka hendaklah ia melakukannya!

Jangan sampai syaithon membisikkan tipu daya kepadanya dengan menganggap bahwa membatasi diri dari amal kebaikan adalah suatu bentuk zuhud! Tidak, hal itu bukanlah zuhud sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam, melainkan perancangan tipu daya syaithon yang tidak akan sanggup merasuk melainkan kepada orang yang lemah agamanya dan merosot keyakinannya. Engkau akan mendapati syaithon bertengger di atas hatinya dan menegakkan singgasana kekuasaannya di sana!

Semakin banyak seorang Muslim melakukan amal kebaikan, maka akan semakin bertambah dekat kedudukannya di sisi Alloh dan semakin besar rasa cinta-Nya kepadanya.

Meskipun zuhud dalam hal harta benda lebih ditekankan bagi orang-orang kaya karena kelapangan harta mereka—berbeda halnya dengan orang miskin—namun hal ini tidak menghalangi setiap Muslim, baik yang kaya maupun yang miskin, untuk memiliki sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan kecukupan jiwa. Sebab:

Bab 31: Muslim Qona’ah dan Merasa Cukup

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»

“Kekayaan yang hakiki itu bukanlah dengan banyaknya harta benda duniawi, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (rasa cukup dalam hati).” (HR. Al-Bukhori no. 231 dan Muslim no. 1051)

Kekayaan terbesar bagimu wahai hamba Alloh adalah kekayaan jiwamu dan sifat qona’ah (keridhoan) dalam hatimu. Kesempurnaan hal ini tidak akan tercapai melainkan dengan merendahkan diri berdoa kepada Alloh serta bertawakkal penuh kepada-Nya. Siapa yang jiwanya selalu merasa cukup dan kaya, maka akan semakin bertambah:

Bab 32: Ambisi dalam Agama

Dari Ka’b bin Malik Al-Anshori (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»

“Tidaklah dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba lebih merusak domba-domba tersebut daripada besarnya ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya.” (HSR. Ahmad 3/456, At-Tirmidzi no. 2376)

Ini adalah perumpamaan yang sangat agung yang dibuat oleh Nabi ﷺ tentang kerusakan agama seorang Muslim akibat ambisinya mengejar harta dan kedudukan di dunia. Kerusakan agama akibat ambisi tersebut tidaklah lebih kecil daripada kerusakan kawanan domba yang diserang oleh dua ekor serigala buas yang lapar di malam hari tanpa ada gembala yang menjaganya, sehingga kedua serigala itu memangsa dan membinasakan domba-domba tersebut.

Telah dimaklumi bahwa dalam kondisi demikian hampir tidak ada domba yang selamat dari cengkeraman kedua serigala tersebut kecuali sangat sedikit. Maka Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya tidaklah lebih ringan daripada kerusakan domba-domba tersebut, bahkan bisa jadi setara atau lebih parah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada yang selamat agamanya di tengah ambisi harta dan kedudukan duniawi melainkan hanya sedikit saja.

Maka perhatikanlah dorongan ambisius yang liar terhadap dunia dan kemewahannya ini, padahal tidak ada keselamatan dari takdir yang telah ditetapkan atas hamba melainkan dengan perlindungan-Nya. Siapa yang menginginkan keselamatan, hendaklah ambisi utamanya difokuskan untuk menjaga agamanya, sehingga Alloh akan memelihara dirinya dan menjaga agamanya.

Di antara kaidah menyeluruh yang wajib diketahui adalah:

Bab 33: Fiqih Berinteraksi dengan Manusia

Dari ‘A-isyah (57 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa ada seorang lelaki yang meminta izin untuk menemui Nabi ﷺ, maka Nabi ﷺ bersabda: “Izinkanlah ia masuk, ia adalah seburuk-buruk kerabat dalam kaumnya!” Namun ketika orang tersebut telah masuk duduk di hadapan beliau, Rosululloh ﷺ berbicara kepadanya dengan tutur kata yang sangat lembut.

‘A-isyah berkata: Maka aku bertanya: “Wahai Rosululloh! Engkau tadi mengatakan tentangnya apa yang telah engkau katakan, namun mengapa kemudian engkau berbicara kepadanya dengan sangat lembut?” Rosululloh ﷺ menjawab:

«يَا عَائِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ - أَوْ تَرَكَهُ - النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ»

“Wahai ‘A-isyah! Sungguh seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Alloh pada hari Qiyamah adalah orang yang ditinggalkan atau dijauhi oleh manusia karena takut akan kekejian tutur katanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6054 dan Muslim no. 2591)

Maka seorang sahabat karib diperlakukan seperti kekasih yang dicintai, musuh yang nyata diperlakukan dengan sikap waspada dan penuh kesadaran, dan orang yang berakhlak buruk diperlakukan dengan cara yang tidak memancing kejahatannya tanpa harus menampakkan isi hati kepadanya. Demikianlah setiap orang diperlakukan sesuai dengan porsinya masing-masing. Ini merupakan bagian dari fiqih da’wah dan tata cara berinteraksi dengan manusia yang memiliki berbagai macam latar belakang dan beragam akhlaq.

Tidak tersembunyi bahwa di antara sarana terbaik untuk mempererat tali hubungan dan memperbaiki persaudaraan adalah:

Bab 34: Mengunjungi Saudara

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ، فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ الْمَلَكُ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أَزُورُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لاَ، إِلاَّ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ: بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»

“Sungguh ada seorang lelaki yang berkunjung kepada saudaranya di desa lain, lalu Alloh mengutus Malaikat untuk menghadang di tengah jalannya. Ketika lelaki itu sampai di tempat Malaikat tersebut, Malaikat bertanya: ‘Ke manakah engkau hendak pergi?’ Ia menjawab: ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku di desa ini.’ Malaikat bertanya lagi: ‘Apakah engkau memiliki suatu ni’mat jasa dengannya yang ingin engkau balas?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada, melainkan aku mencintainya murni karena Alloh.’ Maka Malaikat itu berkata: ‘Sungguh aku adalah utusan Alloh kepadamu untuk mengabarkan bahwa Alloh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah mencintai saudaramu karena-Nya.’” (HR. Muslim no. 2567)

Keadaannya adalah sebagaimana diucapkan: Kejauhan hubungan memicu kerenggangan. Dengan saling berkunjung, hati menjadi jernih dan jiwa saling mendekat. Melalui kunjungan ini pula Alloh mencintai hamba-hamba-Nya, sehingga kebaikan merata, rohmat-Nya meliputi mereka, dan Dia memasukkan mereka ke dalam Jannah-Nya.

Hal ini tidak akan mungkin tercapai melainkan apabila pendorong utamanya adalah:

Bab 35: Akhlaknya Muslim

Dari Abu Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ»

“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal pada hari Qiyamah melebihi akhlaq yang mulia.” (HSR. Abu Dawud no. 4799)

Seorang Muslim dengan akhlaq mulianya mampu mengubah musuh menjadi teman setia, mengubah orang yang berseberangan menjadi sahabat, dan mengubah orang yang keras menjadi lembut.

Akhlaq mulia adalah barang yang sangat langka di dunia manusia saat ini, kecuali di pasar-pasar tempat berkumpulnya kaum muwahhidin yang ikhlas, yang jujur dalam beribadah kepada Robb seluruh alam. Akhlaq yang mulia ini mendidik jiwa sehingga menjadikan:

Bab 36: Muslim Mengenal Kadar Dirinya

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya; pada masa itu pendusta dipercaya sedangkan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah sedangkan orang yang terpercaya dituduh khianat, dan pada masa itu Ruwaibidhoh ikut berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang dungu yang tidak memiliki kapasitas namun ikut campur berbicara dalam urusan orang banyak (kemaslahatan umum).” (HHR. Ahmad, Ibnu Majah no. 4042)

Dengan kesadaran kedudukan dan kapasitas dirinya, segala urusan akan didudukkan pada tempatnya yang benar dan tidak ada seorang pun yang bertindak lancang atas orang lain.

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm (456 H) rohimahulloh: “Tidak ada bahaya merusak yang lebih besar bagi ilmu dan para pemiliknya melebihi masuknya orang-orang penyusup yang bukan ahli di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki ilmu, namun mengira diri mereka berilmu; mereka berbuat kerusakan, namun menyangka sedang melakukan perbaikan.”

Semoga Alloh merohmati orang yang mendoakan: “Setiap orang dungu yang linglung melangkah maju mengajar fiqih, lalu ia digelari sebagai ahli fiqih pengajar. Maka sudah sepatutnya bagi para pemilik ilmu untuk mencontoh bait syair kuno yang telah populer di setiap majelis: Sungguh keadaan telah begitu kurus hingga nampak kurusnya pada ginjalnya, sampai-sampai setiap orang miskin pun berani menawarnya.”

Kita berlindung kepada Alloh dari jiwa yang merasa tinggi menjulang bagaikan gunung, padahal di sisi Alloh ia tidak bernilai sebutir biji pun, dan di mata para ulama serta penuntut ilmu ia sangat lemah lagi jatuh.

Sebagaimana dikatakan: “Seandainya orang yang tidak berilmu itu diam tidak berbicara, niscaya perselisihan akan gugur lenyap.”

Kunci dari semua ini adalah memahami kadar kemampuan diri dan tidak melampaui batas dengan bertindak lancang. Hanya kepada Alloh kita memohon taufiq.

Apabila seorang hamba yang taat telah memahami hal ini, maka wajib baginya untuk:

Bab 37: Mengharapkan Kebaikan Bagi Diri dan Saudaranya

Dari Jundub bin ‘Abdillah (65 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ menceritakan:

«أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ»

“Ada seorang lelaki yang bersumpah: ‘Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampuni dosa si Fulan.’ Maka Alloh berfirman: ‘Siapakah orang yang berani bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuni si Fulan dan Aku telah menghapuskan seluruh amal perbuatanmu!’” (HR. Muslim no. 2621)

Pendorong dari masalah ini adalah kesadaran akan kedudukan diri. Sebab masalah vonis kafir, iman, ganjaran pahala, dan siksaan adalah perkara-perkara khusus yang menjadi hak prerogatif Alloh semata.

Imam Abu Ja’far At-Thohawi (321 H) rohimahulloh menyatakan dalam Aqidah-nya: “Kita tidak bersaksi atas mereka dengan vonis kafir, syirik, ataupun nifaq selama tidak nampak jelas dari mereka sesuatu pun dari hal tersebut, dan kita menyerahkan urusan rahasia hati mereka kepada Alloh.”

Pensyarah Aqidah At-Thohawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi (792 H) menjelaskan: “Sebabnya: kita diperintahkan untuk menghukumi lahiriahnya, dan kita dilarang dari bersangka buruk serta mengikuti apa yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya. Alloh berfirman:

﴿وَلَا نَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ  وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَيكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36) [selesai]

Seorang Muslim yang jujur selalu berharap kepada Robbnya untuk keselamatan dirinya, dan memohonkan ampunan bagi saudara-saudaranya. Sebagaimana dinyatakan pula oleh At-Thohawi (321 H): “Kita berharap bagi orang-orang yang berbuat baik dari kaum Mu’minin agar Alloh memaafkan mereka dan memasukkan mereka ke dalam Jannah dengan rohmat-Nya, namun kita tidak merasa aman atas mereka dan tidak bersaksi pasti bahwa mereka masuk Jannah; kita memohon ampunan bagi orang-orang yang berbuat dosa di antara mereka, kita mengkhawatirkan nasib mereka, namun kita tidak membuat mereka putus asa dari rohmat Alloh.”

Rasa takut dan harapan ini tidak boleh menghalangi seorang Muslim bersama saudara-saudaranya untuk menegakkan apa yang diperintahkan Alloh, yaitu:

Bab 38: Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa Rosululloh ﷺ berdiri berkhutbah di hadapan kami, di antara isi khutbah beliau adalah bersabda:

«أَلاَ إِنِّي أُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ، فَيَلِيكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِي، يَقُولُونَ مَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ بِمَا يَعْرِفُونَ، وَطَاعَةُ أُولَئِكَ طَاعَةٌ، فَتَلْبَثُونَ كَذَلِكَ دَهْرًا، ثُمَّ يَلِيكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ مَا لاَ يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ مَا لاَ يَعْرِفُونَ، فَمَنْ نَاصَحَهُمْ وَوَازَرَهُمْ أَوْ شَدَّ عَلَى أَعْضَادِهِمْ، فَأُولَئِكَ قَدْ هَلَكُوا وَأَهْلَكُوا، خَالِطُوهُمْ بِأَجْسَادِكُمْ، وَزَايِلُوهُمْ بِأَعْمَالِكُمْ، وَاشْهَدُوا عَلَى الْمُحْسِنِ بِأَنَّهُ مُحْسِنٌ، وَعَلَى الْمُسِيءِ بِأَنَّهُ مُسِيءٌ»

“Ketahuilah bahwa aku hampir dipanggil oleh Robbku lalu aku memenuhi panggilan-Nya. Sungguh akan memegang urusan kalian setelahku para pemimpin yang mereka mengucapkan apa yang mereka ketahui dan mengamalkan apa yang mereka kenal; ketaatan kepada mereka adalah ketaatan yang sah. Kalian akan berada dalam kondisi demikian selama beberapa waktu. Kemudian akan memegang urusan kalian setelah mereka para pemimpin yang mengucapkan apa yang tidak mereka ketahui dan melakukan apa yang tidak mereka kenal. Maka siapa yang memberi nasihat manis persekongkolan kepada mereka, membantu mereka, atau memperkuat kedudukan mereka, maka mereka telah binasa dan membinasakan orang lain. Berbaurlah dengan mereka hanya secara fisik, namun selisihilah perbuatan buruk mereka dengan amal-amal kalian; serta bersaksilah atas orang yang berbuat baik bahwa ia berbuat baik, dan atas orang yang berbuat buruk bahwa ia berbuat buruk.” (HHR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhdul Kabir no. 193, dengan sanad hasan)

Kewajiban ini berlaku umum bagi seluruh manusia, baik para penguasa maupun rakyat biasa, orang-orang tercinta maupun musuh. Tidak ada kewibawaan seseorang yang menghalanginya dari menegakkan kewajiban ini, dan tidak ada ikatan pertemanan yang menutupinya. Ia menunaikan kewajiban ini tanpa ada rasa takut atau gentar melainkan hanya kepada Alloh semata.

Rosululloh ﷺ telah bersabda:

«مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، هُمْ أَعَزُّ مِمَّنْ يَعْمَلُهَا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُونَ ذَلِكَ، إِلَّا عَمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»

“Tidaklah suatu kaum yang dilakukan kemaksiatan di tengah-tengah mereka, sedangkan posisi orang-orang yang tidak bermaksiat lebih kuat dan lebih perkasa daripada pelaku maksiat tersebut, lalu mereka tidak mengubah kemaksiatan itu, melainkan Alloh akan meratakan hukuman siksa dari-Nya kepada mereka semua.”

Renungkanlah sabda Nabi ﷺ dalam Hadits ini: “sedangkan posisi mereka lebih kuat daripada pelaku maksiat”, di dalamnya terdapat isyarat yang sangat berharga mengenai syarat kemampuan dalam mengingkari kemungkaran, bahwa hal itu terikat dengan kadar kemampuan, namun memiliki tingkatan-tingkatan dan bukan hanya satu tingkat saja.

Seorang Muslim dalam mengingatkan saudaranya, menyuruh mereka kepada kebaikan, dan melarang mereka dari kemungkaran adalah sosok yang:

Bab 39: Waspada Terhadap Perselisihan

Dari Jabir bin ‘Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sungguh syaithon telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat di Jazirah ‘Arob, akan tetapi ia terus berusaha mengadu domba dan merusak hubungan di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)

Satu ucapan sembrono yang dilepaskan oleh orang yang tidak mengerti, yang mana ia melepas lisannya menyerang salah seorang hamba Alloh atau menyalahkannya, dapat menyulut api perselisihan yang membara di dalam hati sesama saudara, sehingga merusak rasa cinta dan melenyapkan kasih sayang.

Inilah perkara yang paling diinginkan oleh syaithon, yang mana dengannya ia merasa gembira dan bersenang-senang!

Apa yang aku isyaratkan ini merupakan kenyataan yang tidak diragukan lagi terjadi, dan hal ini memicu kejahatan yang meluas serta bahaya yang sangat besar!

Jika keadaannya demikian, maka apakah:

Bab 40: Solusi Keluar dari Fitnah

Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bagaimanakah keadaan kalian apabila kalian diselimuti oleh suatu fitnah kebid’ahan yang mana anak kecil tumbuh besar di dalamnya dan orang tua menjadi renta di dalamnya; apabila ada sedikit saja dari fitnah kebid’ahan itu yang ditinggalkan, orang-orang akan berteriak: ‘Sunnah telah ditinggalkan!’”

Ada yang bertanya: “Kapan hal itu terjadi wahai Abu ‘Abdirrohman?” Ia menjawab: “Apabila para ulama kalian telah wafat, orang-orang bodoh kalian semakin banyak, para pembaca Al-Qur’an kalian melimpah namun ahli fiqih kalian sangat sedikit, para penguasa kalian bertambah banyak namun orang-orang terpercaya kalian sangat sedikit, dunia dicari dengan menggunakan amalan Akhiroh, dan ilmu agama dipelajari bukan untuk tujuan agama.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah no. 19003)

Sungguh jalan keluar utama adalah meneladani Nabi ﷺ! Ya, meneladani Rosululloh ﷺ adalah sarana terbesar untuk keluar dari berbagai fitnah yang mengepung kita, serta obor penerang terbesar yang menuntun kita di tengah pekatnya kegelapan kebodohan.

Dengan mengenali Sunnah beliau ﷺ, kebathilan yang dihiasi akan tersingkap, kepalsuan akan terbongkar, segala urusan akan kembali pada porsi yang sebenarnya, dan rambu-rambu kebenaran yang tersembunyi menjadi terang benderang.

Maka tidak ada ruang bagi orang yang bersikap sok tahu, tidak ada tempat bagi orang yang dengki, tidak ada posisi bagi orang yang lancang, dan tidak ada nilai bagi ucapan orang yang banyak bualannya.

Sunnah adalah cahaya yang memberi petunjuk. Siapa yang mengetahuinya, maka sungguh ia telah memperoleh kebaikan yang sangat banyak; dan siapa yang tidak mengetahuinya, niscaya ia akan mendapati keburukan yang sangat melimpah.

Maka bertaqwalah kepada Alloh, wahai hamba-hamba Alloh! Pelajarilah Sunnah, amalkanlah, dan bertaqwalah kepada Alloh agar kalian diberi rohmat!

Penutup

Semoga Alloh mengaruniakan akhir kehidupan yang baik bagi kita.

Sungguh kepribadian Islamiyah adalah kepribadian yang istimewa, yang mana benang kain utamanya adalah Al-Qur’an dan tenunannya adalah Sunnah. Keduanya adalah dua hal yang tidak terpisahkan darinya.

Ini adalah kepribadian yang bersungguh-sungguh, yang terdidik di atas manhaj yang sangat teliti, yang tidak bergeser sedikit pun seujung kuku. Bagaimana tidak, sedangkan ia adalah agama Alloh Robb seluruh alam?!

Apa yang aku tuliskan pada lembaran-lembaran yang lalu merupakan ilmu yang menjadi sarana untuk beramal, peringatan yang menjadi jalan untuk meneladani, serta nasehat yang menjadi permata utama dari rantai kemanfaatan.

Maka hanya kepada Alloh aku memohon taufiq bagiku dan bagi seluruh kaum Muslimin, serta agar Dia meneguhkan kita di atas manhaj Nabi-Nya ﷺ. Sungguh Dia adalah sebaik-baik Dzat yang dimintai dan yang paling agung dalam mengabulkan doa. Dan penutup da’wah kami adalah mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin.

Hari Rabu, 18 Romadhon 1408 H

Zarqo - Yordania.



[1] Dalam mentarjamah, takhrij kami tinggalkan semua, kadang satu atau dua kami cantumkan. Yang penting semua Hadits dan Atsar yang dicantumkan penulis adalah shohih. Silahkan cek kitab aslinya di sini. Tahun wafat tokoh berasal dari pentarjamah.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini