[PDF] ARBAIN Kepribadian Islami - Ali Hasan Al Halabi (1442 H)
ARBAIN
Kepribadian Islami
Syaikh Ali Hasan
Al-Halabi (1442 H)
Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 150
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya.
Kami berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri-diri kami dan keburukan amal
perbuatan kami. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang
mampu menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang mampu
memberinya petunjuk.
Aku
bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah melainkan Alloh, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Aku juga bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rosul-Nya.
Amma ba’du:
Tulisan ini
merupakan risalah yang ringkas namun padat, mencakup 40 Hadits shohih yang
dipetik dari keindahan sabda Nabi pilihan, yaitu Rosululloh ﷺ. Aku mengumpulkannya sebagai
pengingat bagi diriku sendiri dan saudara-saudaraku seiman, yang di dalamnya
terkandung pendidikan jiwa, pembersihan hati, serta perbaikan akhlaq. Pena
milikku dalam risalah ini tidak lain hanya memberikan sedikit uraian penjelas
untuk mengurai hal yang samar dan menerangkan maksud yang terkandung, seraya
tetap memperhatikan keserasian hubungan antar-Hadits melalui pembagian bab dan
pemberian catatan ringkas.
Bukanlah
suatu hal yang tersembunyi bagi seorang pun bahwa Islam yang agung ini
memberikan perhatian yang sangat besar dalam banyak nashnya—baik Al-Qur’an
maupun Sunnah—terhadap pembentukan kepribadian seorang Muslim. Islam
mengarahkannya ke arah yang asli dan murni, yang bersumber langsung dari teras
ajaran Islam serta asas hukum-hukum dan syari’atnya.
Pendorong
terbesar bagiku dalam menyusun dan mengumpulkan risalah ini adalah apa yang aku
saksikan sendiri pada sebagian orang yang menisbatkan diri kepada Islam dan
menyerukan da’wah ke jalan Alloh, namun keadaan kepribadian Islamiyah mereka
justru sangat jauh berseberangan, baik secara hakikat bathin maupun penampilan
lahir. Kita memohon keselamatan kepada Alloh.
Ketika
keadaannya demikian, aku merasa wajib untuk menulis risalah ini agar menjadi
fondasi yang kuat dan kokoh bagi setiap Muslim dalam memulai kehidupan
Islamnya, sehingga ia dapat mengenali jalan kebenaran lalu mengikutinya serta
menyeru manusia kepadanya. Terlebih lagi, Nabi ﷺ telah mengisyaratkan hakikat ini melalui sabdanya:
«لِكُلِّ عَمَلٍ
شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ
اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذٰلِكَ فَقَدْ هَلَكَ»
“Setiap
amal kebaikan itu memiliki masa semangat yang membara, dan setiap masa semangat
itu memiliki masa jenuh. Siapa yang pada masa jenuhnya tetap berpegang teguh
pada Sunnahku, maka sungguh ia telah mendapat petunjuk. Namun siapa yang masa
jenuhnya justru berpaling kepada selain itu, maka sungguh ia telah binasa.”
Sungguh aku
menulis risalah ini khusus untuk para pemuda Muslim yang memiliki semangat
membara, yaitu mereka yang di tengah gejolak semangat dan kebangkitannya belum
menemukan bimbingan ilmu yang paham betul akan penyakit jiwa sekaligus
mengetahui obat pemulihannya, guna menunjukkan kepada mereka manhaj yang lurus
serta pemikiran yang jernih. Dengan demikian, akal dan pemikiran para pemuda
ini dapat menyerupai para Shohabat Nabi ﷺ. Dahulu para Shohabat juga terdiri dari pemuda, namun mereka
adalah para pemuda yang matang berpikir layaknya orang dewasa. Pandangan mata
mereka tertunduk rapat dari kejahatan, kaki mereka sangat berat untuk melangkah
menuju kebathilan, tubuh mereka kurus kering karena lelah beribadah dan letih
bermunajat di malam hari. Mereka telah menjual jiwa yang kelak pasti mati demi
memperoleh kehidupan abadi yang tidak akan pernah sirna. Alloh telah melihat
mereka di kegelapan malam dalam keadaan punggung-punggung mereka membungkuk
khusyu’ membaca lembaran-lembaran Al-Qur’an. Setiap kali salah seorang dari
mereka melewati ayat yang menyebutkan Jannah, ia menangis karena kerinduan yang
mendalam kepadanya; dan apabila melewati ayat yang menyebutkan Naar, ia memekik
ketakutan seolah-olah gejolak suara Jahannam berada tepat di samping kedua
telinganya. Tanah telah menyerap bekas sujud pada lutut, tangan, dan dahi
mereka. Mereka menyambung keletihan malam dengan keletihan siang, warna kulit mereka
pucat dan tubuh mereka kurus karena lamanya Sholat malam serta banyaknya puasa.
Meskipun demikian, mereka tetap merasa amalan tersebut masih sangat sedikit
bila dibandingkan dengan hak Alloh yang maha agung. Mereka adalah orang-orang
yang menepati janji Alloh dan menuntaskan apa yang diwajibkan-Nya.
Maka
marilah kita semua berusaha keras untuk menjadi seperti mereka dan meneladani
perjalanan hidup mereka. Sebab keadaannya adalah sebagaimana diucapkan: “Keberadaan
kita dibandingkan dengan orang-orang sholih masa lalu tidak lain hanyalah
seperti rumput kecil yang tumbuh di pangkal pohon-pohon kurma yang menjulang
tinggi.”
Sebagaimana
pula dikatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarok (181 H):
لَا تَعْرِضَنْ
بِذِكْرِنَا مَعَ ذِكْرِهِمْ
لَيْسَ الصَّحِيحُ
إِذَا مَشَى كَالْمُقْعَدِ
“Janganlah
engkau membandingkan sebutan nama kita dengan sebutan nama-nama mereka, karena
orang yang berjalan sehat tidaklah sama dengan orang yang lumpuh.”
Aku telah
berupaya keras dalam memilih Hadits-Hadits ini agar mencakup aspek yang luas
dan menyeluruh. Sebab kepribadian Islamiyah tidak akan sempurna melainkan
apabila seseorang menerapkan seluruh agama Alloh, sebagaimana firman Alloh:
﴿يَأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا في السِّلْمِ كَآفَّةً﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (QS.
Al-Baqoroh: 208)
Kemudian
aku telah berusaha semaksimal mungkin untuk mencantumkan takhrij Hadits
serta hukum derajatnya di akhir setiap Hadits sesuai dengan kaidah ilmu Hadits,
tanpa uraian yang terlalu panjang hingga membosankan dan tanpa ringkasan yang
terlalu pendek hingga merusak pemahaman, seraya menjaga agar penjelasannya
tetap ringkas dan sesuai untuk risalah semisal ini, kecuali pada beberapa
bagian yang memang sangat dibutuhkan.[1]
Jika Alloh
memberikan taufiq-Nya kepadaku dalam menyusun risalah ini sesuai dengan yang
aku maksudkan, maka itu merupakan kesempurnaan ni’mat dari-Nya. Namun jika
terjadi sebaliknya, maka hal itu bukanlah yang aku harapkan, dan aku memohon ampunan
serta rohmat kepada Alloh. Sungguh Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan
doa. Dan penutup da’wah kami adalah mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin.
Ditulis
oleh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari (1442 H)
Di Zarqo,
pada tanggal 11 Rojab 1408 H / 28 Februari 1988 M.
Bab 1: Ikhlas
Dari ‘Umar
bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا
لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ
إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ
إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ»
“Sungguh
setiap amalan itu sah atau tidaknya bergantung pada niatnya, dan sungguh setiap
orang hanya akan memperoleh balasan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Siapa
yang hijrohnya ditujukan kepada Alloh dan Rosul-Nya, maka pahala hijrohnya
dicatat menuju Alloh dan Rosul-Nya. Namun siapa yang hijrohnya untuk mengejar
kenikmatan dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin
dinikahinya, maka hijrohnya hanya sampai kepada apa yang ia niatkan tersebut.”
(HR. Al-Bukhori no. 1 dan 54, serta Muslim no. 1907)
Maka
penopang utama dari seluruh amal perbuatan adalah keikhlasan. Hanya dengan
keikhlasan, hati manusia menjadi lurus dan jiwa menjadi tenang tenteram.
Melalui keikhlasan pula seseorang dapat mengenali jalan agamanya secara benar,
sehingga ia memasuki rumah melalui pintu-pintu resminya.
Hanya
dengan keikhlasan seorang hamba mampu memahami kewajiban-kewajiban yang
dibebankan atas dirinya serta hak-hak yang wajib ia penuhi. Dengan keikhlasan
itu pula ia mendudukkan segala urusan pada porsi yang sebenarnya dan
menunaikannya secara proporsional tanpa berlebihan dan tanpa menguranginya.
Hadits ini
merupakan salah satu landasan utama dalam memahami ajaran agama kita yang
lurus. Apabila seorang hamba Muslim telah memahami hakikat ini secara terang
benderang, wajib baginya tanpa ada keraguan atau kebingungan sedikit pun untuk
memagari keikhlasannya dengan benteng kepribadian Islamiyah, yaitu:
Bab 2: Keistimewaan Pendirian
Dari Ibnu ‘Umar
(73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«بُعِثْتُ بِالسَّيْفِ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ
حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي،
وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ
فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Aku diutus
dengan pedang menjelang datangnya hari Qiyamah sampai Alloh semata yang
diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya. Ditanamkan pula keberkahan rezekiku di
bawah naungan tombakku, serta dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja
yang menyelisihi perintahku. Dan siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia
termasuk bagian dari mereka.” (HHR. Ahmad no. 5114 dan selainnya dengan sanad
hasan)
Seorang
Muslim memiliki kepribadian yang istimewa dan mandiri, memiliki jati diri
khusus, jalan hidup khusus, serta petunjuk yang khas. Ia tampil beda dalam
penampilan lahiriahnya, pemikiran bathinnya, aqidahnya, arah kiblatnya, hingga
dalam seluruh aspek kehidupannya.
Dengan
ketegasan identitas Muslim ini, kita menjaga ajaran Islam dan da’wah kita agar
tetap murni dan jernih, tidak terhalang oleh kekeruhan dan tidak tersusupi oleh
kesalahan. Seorang Muslim dalam menjaga identitasnya tidak boleh keluar dari
batasan:
Bab 3: Keadilan dan Pertengahan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ
بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ
يَوْمًا مَا»
“Cintailah
orang yang kamu cintai secara wajar dan tidak berlebihan, karena bisa jadi
suatu hari nanti ia menjadi orang yang kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu
benci secara wajar dan tidak berlebihan, karena bisa jadi suatu hari nanti ia
menjadi orang yang kamu cintai.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1997)
Seorang
Muslim selalu bersikap adil dalam rasa cintanya dan adil pula dalam rasa
bencinya, adil dalam mengambil maupun dalam memberi, sehingga ia selalu berada
di pertengahan dalam seluruh urusan tersebut.
Sifat
pertengahan ini bersumber langsung dari rambu-rambu agamanya dan tanda-tanda
syari’atnya. Ia bukan termasuk golongan orang yang ekstrim melampaui batas dan
bukan pula golongan orang yang meremehkan kewajiban. Seorang Muslim dalam
mengambil sifat pertengahan ini tidak menyandarkannya pada pemikiran akal dan
hawa nafsunya sendiri, melainkan mengambilnya dari Kitab Alloh:
﴿وَكَذَلِكَ جَعَلْنَكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَآءَ
عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا﴾
“Dan
demikian pula Kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang pertengahan agar
kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rosul menjadi saksi atas kamu.” (QS.
Al-Baqoroh: 143)
Sifat
pertengahan ini bukanlah perkara yang ringan dan mudah, sebab banyak orang yang
mengumandangkan slogan pertengahan justru menginginkan kompromi dan pengaburan
hukum agama. Untuk bisa tegak di atas sifat pertengahan yang diperintahkan
Alloh memerlukan kesungguhan dalam:
Bab 4: Perjuangan Menundukkan Jiwa
Dari Al-‘Ala
bin Ziyad (94 H) rohimahulloh, ia menceritakan bahwa ada seorang lelaki
bertanya kepada ‘Abdulloh bin ‘Amr bin Al-‘Ash (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma:
أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ إِسْلَامًا؟
قَالَ: «مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»، قَالَ: فَأَيُّ الْجِهَادِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذَاتِ اللهِ»، قَالَ: فَأَيُّ الْمُهَاجِرِينَ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: «مَنْ جَاهَدَ لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ فِي ذَاتِ اللهِ»، قَالَ: أَنْتَ
قُلْتَهُ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو أَوْ رَسُولُ اللهِ ﷺ؟ قَالَ: «بَلْ رَسُولُ اللهِ ﷺ قَالَهُ»
“Siapakah
orang Mu’min yang paling utama Islamnya?” Ia menjawab: “Orang yang membuat kaum
Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” Orang itu bertanya lagi: “Lalu
Jihad apakah yang paling utama?” Ia menjawab: “Orang yang berjuang menundukkan
jiwanya di jalan Alloh.” Orang itu bertanya kembali: “Lalu hamba yang berhijroh
manakah yang paling utama?” Ia menjawab: “Orang yang berjuang melawan keinginan
dirinya dan hawa nafsunya di jalan Alloh.” Orang itu menegaskan: “Apakah ucapan
ini berasal darimu wahai ‘Abdulloh bin ‘Amr, ataukah Rosululloh ﷺ yang bersabda?” Ia menjawab: “Bahkan
Rosululloh ﷺ
sendiri yang mensabdakannya.” (HR. Ibnu Nashr Al-Marwazi dalam Ta’zhim
Qodris Sholat no. 639, sanadnya jayyid)
Perjuangan
menundukkan jiwa merupakan sarana yang sangat tinggi nilainya untuk meningkatkan
Iman dan mendekatkan diri seorang hamba kepada Robbnya. Alloh berfirman
mengenai hal ini:
﴿وَالَّذِينَ جَٰهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا﴾
“Dan
orang-orang yang berjuang di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Dengan
perjuangan seorang Muslim menundukkan jiwa dan hawa nafsunya, ruh akan
membumbung tinggi, Iman semakin kuat, dan jiwa menjadi bersih murni. Perjuangan
ini memberikan mahkota kemuliaan bagi seorang Muslim dalam hidupnya, yaitu:
Bab 5: Kelembutan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ، وَيُعْطِي
عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ»
“Sungguh
Alloh Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Dia memberikan pada kelembutan apa
yang tidak Dia berikan pada sikap kasar.” (HR. Ibnu Majah no. 3688 dan Ibnu
Hibban no. 549 dengan sanad hasan)
Dengan
kelembutan, hati manusia dapat menyatu, rasa kasih sayang terjalin, dan
kebaikan tersebar luas. Sebaliknya, sikap kasar hanya akan memicu kemungkaran
dan memperbanyak pemutusan hubungan. Bersama sikap lembut ini, akan sangat
mudah bagi seseorang untuk:
Bab 6: Kembali Kepada Kebenaran
Dari Ibnu ‘Abbas
(68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ وَلَهُ ذَنْبٌ
يَعْتَادُهُ الْفَيْنَةَ بَعْدَ الْفَيْنَةِ، أَوْ ذَنْبٌ هُوَ مُقِيمٌ عَلَيْهِ لاَ
يُفَارِقُهُ حَتَّى يُفَارِقَ الدُّنْيَا، إِنَّ الْمُؤْمِنَ خُلِقَ مُفَتَّنًا تَوَّابًا
نَسِيًّا، إِذَا ذُكِّرَ ذَكَرَ»
“Tidak ada
seorang hamba Mu’min pun melainkan ia memiliki dosa yang sesekali waktu
terulang kembali dilakukannya, atau dosa yang terus mengikutinya tidak
terpisahkan hingga ia meninggalkan dunia. Sungguh orang Mu’min itu diciptakan
mudah teruji dengan dosa, namun ia sering bertaubat dan mudah lupa; apabila
diberi peringatan, ia pun segera ingat.” (HR. At-Thobroni dalam Al-Mu’jam
Al-Kabir no. 11810 dengan sanad hasan)
Keadaannya
adalah sebagaimana ungkapan: Kembali kepada kebenaran adalah suatu keutamaan,
sedangkan terus menerus dalam kebathilan adalah suatu kehinaan.
Kembali
kepada kebenaran akan meninggikan derajat seseorang di sisi Alloh dan di
hadapan manusia. Syaithon senantiasa membisikkan pesan palsu kepada manusia
bahwa mengakui kesalahan dan kembali kepada kebenaran adalah suatu kekurangan
dan aib, padahal hal itu bagian dari kesesatan dan tipu daya Iblis. Kesediaan seseorang
untuk kembali kepada kebenaran serta tidak bersikap sombong dari menerimanya
akan menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat dalam hal:
Bab 7: Bertanggungjawab
Dari Ibnu ‘Umar
(73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ
فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ
زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ
وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan ia
bertanggung jawab atas mereka. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya
dan ia bertanggung jawab atas mereka. Seorang istri adalah pemimpin di rumah
suaminya dan ia bertanggung jawab atas rumah tangga tersebut. Seorang pelayan
adalah pengelola harta tuannya dan ia bertanggung jawab atas harta itu. Dan
seorang anak adalah pengelola harta ayahnya dan ia bertanggung jawab atas harta
tersebut. Maka setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhori 13/100 dan Muslim no.
1829)
Seandainya
setiap individu dari umat ini menyadari kedudukan dirinya serta beban tanggung
jawab yang diembannya, tanpa melampaui batas mengambil tanggung jawab orang
lain, lalu ia menunaikan tugas kewajiban yang dibebankan kepadanya dengan
sebaik-baiknya, niscaya kebaikan akan merata dan keamanan bertebaran di
mana-mana.
Di antara
perkara yang menjadi ciri utama kepribadian Islamiyah adalah:
Bab 8: Kemudahan Memberikan Udzur
Dari Sa’d
bin ‘Ubadah (15 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«... وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ العُذْرُ
مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ ...»
“... Dan
tidak ada seorang pun yang lebih menyukai pemberian udzur daripada Alloh. Oleh
karena itulah Alloh mengutus para Nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan ...” (HR. Al-Bukhori no. 7416 dan Muslim no. 2760)
Dengan
sikap seorang Muslim yang suka memberikan maklum dan udzur kepada
saudara-saudaranya, persaudaraan yang indah akan meluas dan perselisihan akan
sirna, serta jalinan silaturrohim akan terwujud menggantikan pemutusan
hubungan.
Apabila
Alloh Sang Pencipta Yang Maha Agung saja menerima udzur hamba-Nya, bagaimana
mungkin engkau wahai hamba Alloh yang lemah tidak mau memberikan udzur kepada
saudaramu?
Sebagaimana
disebutkan: “Carilah udzur untuk saudaramu!”
Juga
seperti ungkapan: “Orang-orang beriman memberi udzur sementara orang-orang
munafik mencari kesalahan.”
Sifat mudah
memberikan udzur kepada saudara seiman ini makin menegaskan bahwa:
Bab 9: Muslim Tidak Hasad
Dari Ibnu
Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ
اللهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ
فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا»
“Tidak ada
rasa iri yang diperbolehkan melainkan pada dua perkara: seseorang yang
dikaruniai harta oleh Alloh lalu ia habiskan harta itu di jalan kebenaran, dan
seseorang yang dikaruniai hikmah ilmu oleh Alloh lalu ia memutuskan hukum
dengannya dan mengajarkannya kepada manusia.” (HR. Al-Bukhori 1/153 dan Muslim
no. 816)
Seandainya
seorang Muslim memiliki sifat hasad kepada manusia, tentu ia akan mengharapkan
jatuhnya kelemahan orang lain demi memuaskan rasa sombong dan keangkuhan
dirinya. Padahal ia tahu betul bahwa hasad adalah penyakit yang sangat
berbahaya dan kejahatan yang merusak, sehingga ia menjauhinya seribu langkah.
Adapun persaingan yang dikecualikan dari dosa adalah keinginan untuk mencontoh
kebaikan orang lain tanpa disertai hasrat agar ni’mat orang tersebut hilang. Ia
justru mendoakan kebaikan bagi saudaranya dan memohon kepada Alloh agar diberi
kemampuan amalan yang serupa. Selain bentuk ini, maka seluruh rasa hasad adalah
tercela.
Hal ini
makin memperkuat bahwa seorang Muslim adalah pribadi yang:
Bab 10: Berorientasi Robbani
Dari Ummud
Darda’ (81 H) rohimahalloh, ia menceritakan: Aku pernah berkata kepada
Abu Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu: “Tidakkah engkau mencari
perbekalan untuk menyambut tamu-tamumu sebagaimana yang dicari oleh orang-orang
untuk tamu mereka?”
Maka Abu
Darda’ menjawab: Aku pernah mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَمَامَكُمْ عَقَبَةً كَؤُودًا لاَ يَجُوزُهَا
الْمُثْقَلُونَ»، فَأُحِبُّ أَنْ أَتَخَفَّفَ لِتِلْكَ الْعَقَبَةِ!
“Sungguh di
hadapan kalian ada jalan mendaki yang sangat terjal, yang tidak akan mampu
dilalui oleh orang-orang yang membawa beban berat.” Maka aku ingin meringankan
bebanku agar bisa melintasi jalan terjal tersebut! (HR. Al-Hakim 4/574, Ibnu ‘Asakir
dalam Al-Arba’in Al-Buldaniyyah no. 19, dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul
Iman dengan sanad shohih)
Seorang
Muslim selalu bersikap Robbani dalam seluruh urusannya. Dunia di matanya
hanyalah tempat perlintasan sementara menuju Akhiroh. Ia tidak menggantungkan
hatinya kepada dunia kecuali sekadar kebutuhan pokok untuk menopang hidupnya.
Adapun menjadikan dunia sebagai sasaran utama pemikiran dan puncak tujuannya
seraya menganggap dirinya telah berbuat baik, maka ini sama sekali bukan bagian
dari kepribadian Muslim.
Sangat
mengherankan keadaan sebagian orang yang menyia-nyiakan keindahan umur dan
menghabiskan masa muda mereka dalam kelezatan duniawi, namun mereka mengira
sedang berada di atas kebaikan. Sungguh perkara tersebut tidak lain hanyalah
perbuatan dan bisikan hiasan dari Syaithon.
Bagaimana
mungkin hal itu bisa terjadi, padahal kenyataannya:
Bab 11: Muslim Tidak Punya Waktu
Kosong
Dari Ibnu ‘Abbas
(68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ
النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Dua ni’mat
yang sering kali membuat banyak manusia tertipu dan tertipu rugi karenanya:
yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori 11/299)
Bagaimana
mungkin seorang Muslim sibuk mengurus hal yang sia-sia sedangkan ia tidak
pernah memiliki waktu luang yang terbuang? Bagaimana ia mengenal rasa
menganggur jika seluruh waktunya senantiasa terisi penuh dengan amal kebaikan?
Perhatikanlah
kisah yang disampaikan sebagian ulama mengenai keteladanan para imam terdahulu:
Aku pernah tinggal berdampingan dengan seorang ulama di sebuah madrosah di
Kairo, kamar tinggalku berada tepat di atas kamarnya selama 12 tahun. Selama
periode itu, tidak pernah sekalipun aku terbangun di malam hari melainkan aku
melihat pancaran lampu minyak di kamarnya masih menyala karena ia sibuk
menuntut ilmu. Bahkan ketika sedang makan pun, kitab-kitab tulisan berada di
sekelilingnya dan ia tetap membaca serta mengkajinya.
Di antara
perkara penting yang membangun kepribadian Muslim adalah:
Bab 12: Keselektifan dan
Kewaspadaan Beragama
Dari An-Nu’man
bin Basyir (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ
بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ
اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ
وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ
فِيهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ،
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا
فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ»
“Sungguh
perkara yang halal itu sudah jelas dan perkara yang harom itu sudah jelas.
Namun di antara keduanya terdapat perkara-perkara samar yang tidak diketahui
hukumnya oleh kebanyakan manusia. Siapa yang menjaga dirinya dari perkara
syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya. Namun siapa
yang terjerumus dalam perkara syubhat, ia akan jatuh ke dalam perkara harom;
bagaikan seorang gembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar kawasan
terlarang, dikhawatirkan ternak itu akan masuk melahap rumput di dalamnya.
Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki kawasan terlarang, dan kawasan terlarang
milik Alloh adalah hal-hal yang diharomkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh
manusia terdapat segumpal daging; apabila segumpal daging itu baik, maka baik
pula seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging itu rusak, maka rusak pula
seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR.
Al-Bukhori 1/126 dan Muslim no. 1599)
Seorang
Muslim menghadapi tiga kondisi terhadap segala urusan yang ditemuinya dalam
kehidupan sehari-hari:
Pertama, Menjauh secara mutlak: Hal ini
berlaku untuk perkara yang jelas-jelas harom.
Kedua, Mengambil secara mutlak: Hal ini
berlaku untuk perkara yang jelas-jelas halal.
Ketiga, Berhenti dan menahan diri: Hal ini
berlaku untuk perkara yang masih samar apakah tergolong halal atau harom.
Sikap yang
ketiga ini menunjukkan sifat waro’ (kehati-hatian) seorang Muslim dan rasa
takutnya dari terjerumus ke dalam keharoman serta perbuatan mungkar. Ia
berhenti dan menjauhinya semata-mata demi meraih ridho Alloh dan mematuhi
perintah-Nya. Ia tidak bermudah-mudahan mengatakan: “Ini bukan harom, maka
lakukanlah.” Tidak demikian! Sebab tidak setiap hal yang belum dipastikan harom
itu boleh dikerjakan. Perkara yang masih samar itu justru sangat dekat dengan
keharoman, sebagaimana ditegaskan dalam Hadits tadi.
Rasa takut
dan sifat waro’ ini membuktikan bahwa:
Bab 13: Muslim Jujur dalam Segala
Urusan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ،
وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ»
“Tanda-tanda
orang munafiq itu ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia
mengingkari, dan apabila diberi kepercayaan ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhori
5/289 dan Muslim 1/78)
Seorang
Muslim selalu jujur dalam perkataannya, menepati janjinya, dan amanah dalam
menjalankan tugasnya. Ia tidak mengenal kecurangan maupun penipuan, tidak
mengenal kedustaan maupun kemunafiqan. Kejujuran adalah puncak segala kebaikan,
sedangkan kedustaan adalah sumber segala kerusakan dan kejahatan.
Kejujuran
seorang Muslim ini menjaganya dari keburukan dan penyakit hati. Ia melakukan
seluruh amalnya murni karena Alloh, bukan demi meraih kedudukan duniawi,
popularitas, atau sebutan nama baik. Slogan hidupnya adalah:
Bab 14: Menuntut Ilmu Murni Karena
Alloh
Dari Jabir
(78 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«لاَ تَعَلَّمُوا العِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ العُلَمَاءَ،
وَلاَ تُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلاَ لِتَجْتَرِئُوا بِهِ المَجَالِسَ، فَمَنْ
فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ»
“Janganlah
kalian mempelajari ilmu agama untuk membanggakan diri di hadapan para ulama,
atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh, atau untuk menguasai
tempat-tempat pertemuan. Siapa yang melakukan hal itu, maka ancamannya adalah
Neraka, Neraka!” (HR. Ibnu Majah no. 254, Ibnu Hibban no. 90, Al-Hakim 1/86,
dan Al-Ajurri no. 126, dengan sanad yang memiliki syahid dan terangkat menjadi
hasan)
Seorang
Muslim tidak mencari ilmu untuk menonjolkan diri dalam majelis, atau untuk
membantah orang bodoh, atau untuk menyaingi para ulama. Perbuatan semacam itu
bukanlah ciri kepribadian Muslim. Ia menuntut ilmu murni karena Alloh semata
tanpa ada sekutu bagi-Nya, bukan untuk bagian kebanggaan dirinya dan bukan pula
untuk kepentingan manusia lainnya.
Renungkanlah
kisah yang disampaikan oleh Ibnu Abi Hatim Ar-Rozi (327 H) sebagai nasehat dan
pelajaran: Aku pernah memasuki kota Damaskus untuk menemui para penulis Hadits,
lalu aku melewati majelis Qosim Al-Ju’i. Aku melihat sekelompok orang duduk di
sekelilingnya sewaktu ia memberikan nasehat. Penampilan mereka membuatku kagum,
lalu aku mendengarnya berkata:
Ambillah
keuntungan lima perkara dari penduduk zamanmu:
1. Jika
kamu hadir, kamu tidak dikenal.
2. Jika
kamu tidak ada, kamu tidak dicari.
3. Jika
kamu menghadiri suatu perkumpulan, kamu tidak dimintai pendapat.
4. Jika
kamu mengucapkan sesuatu, perkataanmu tidak diterima.
5. Jika
kamu melakukan amal kebaikan, kamu tidak diberi pujian dengannya.
Aku
berpesan kepadamu dengan lima hal pula:
1. Jika
kamu dizholimi, janganlah kamu balik zholim.
2. Jika
kamu dipuji, janganlah kamu gembira bangga.
3. Jika
kamu dicela, janganlah kamu berkeluh kesah.
4. Jika
kamu didustakan, janganlah kamu marah.
5. Jika
orang lain berkhianat kepadamu, janganlah kamu balik berkhianat.
Ibnu Abi
Hatim Ar-Rozi (327 H) berkata: Maka aku menjadikan ucapan ini sebagai faedah
utamaku dari perjalanan ke kota Damaskus.
Lihatlah
bagaimana dorongan semangatnya mencari ilmu membuat seorang ulama besar mau
menyimak nasehat dari orang yang berada di bawah tingkat ilmunya demi mengambil
manfaat pemahaman.
Di antara
perkara yang wajib diingatkan dalam pembahasan ini adalah:
Bab 15: Mu’min Cermin Bagi
Saudaranya
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ، وَالْمُؤْمِنُ
أَخُو الْمُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ»
“Seorang Mu’min
adalah cermin bagi Mu’min lainnya, dan seorang Mu’min adalah saudara bagi Mu’min
lainnya; ia menjaga saudaranya dari kerugian serta melindungi kehormatannya
dari belakang.” (HR. Al-Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod no. 539, Al-Qudho’i
no. 125, Abu Dawud no. 4918, dan At-Thobroni no. 92, dengan sanad hasan)
Penggambaran
dengan istilah “cermin” adalah ungkapan yang sangat indah dan halus, yang
menggambarkan puncak persaudaraan dan rasa kesetiakawanan. Saudaramu adalah
cerminan bayangan dirimu sendiri. Jika ia berbuat buruk, seolah-olah engkaulah
yang berbuat buruk; dan jika ia bersalah, seolah-olah engkaulah yang bersalah.
Ia adalah cermin gambaran dirimu! Maka janganlah engkau memperlakukannya
melainkan dengan kelembutan dan kasih sayang. Jika engkau tidak bersikap
demikian kepada saudaramu, maka hal itu akan memperbesar:
Bab 16: Pertempuran Muslim Melawan
Syaithon
Dari ‘Iyadh
bin Himar Al-Mujasyi’i rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda dalam khutbahnya
pada suatu hari:
«أَلاَ إِنَّ رَبِّي أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ
مَا جَهِلْتُمْ، مِمَّا عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا، كُلُّ مَالٍ نَحَلْتُهُ عَبْدًا
حَلاَلٌ، وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ
الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ
لَهُمْ، وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَإِنَّ
اللهَ نَظَرَ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ فَمَقَتَهُمْ عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ إِلاَّ بَقَايَا
مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، وَقَالَ: إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ
بِكَ، وَأَنْزَلْتُ عَلَيْكَ كِتَابًا لاَ يَغْسِلُهُ الْمَاءُ، تَقْرَؤُهُ نَائِمًا
وَيَقْظَانًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَنِي أَنْ أُحَرِّقَ قُرَيْشًا، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ
إِذَنْ يَثْلَغُوا رَأْسِي، فَيَدَعُوهُ خُبْزَةً، قَالَ: اسْتَخْرِجْهُمْ كَمَا اسْتَخْرَجُوكَ،
وَاغْزُهُمْ نُغْزِكَ، وَأَنْفِقْ فَسَتُنْفَقَ عَلَيْكَ، وَابْعَثْ جَيْشًا نَبْعَثْ
خَمْسَةً مِثْلَهُ، وَقَاتِلْ بِمَنْ أَطَاعَكَ مَنْ عَصَاكَ، وَأَهْلُ الْجَنَّةِ
ثَلاَثَةٌ: ذُو سُلْطَانٍ مُقْسِطٌ مُتَصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ
الْقَلْبِ لِكُلِّ ذِي قُرْبَى وَمُسْلِمٍ، وَعَفِيفٌ مُتَعَفِّفٌ ذُو عِيَالٍ، وَأَهْلُ
النَّارِ خَمْسَةٌ: الضَّعِيفُ الَّذِي لاَ زَبْرَ لَهُ، الَّذِينَ هُمْ فِيكُمْ تَبَعٌ
لاَ يَبْتَغُونَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً، وَالْخَائِنُ الَّذِي لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ
وَإِنْ دَقَّ إِلاَّ خَانَهُ، وَرَجُلٌ لاَ يُصْبِحُ وَلاَ يُمْسِي إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ
عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ. وَذَكَرَ الْبُخْلَ وَالْكَذِبَ وَالشِّنْظِيرَ الْفَحَّاشَ»
“Ketahuilah
bahwa Robbku memerintahkanku untuk mengajarkan kepada kalian apa yang belum
kalian ketahui dari apa yang Dia ajarkan kepadaku pada hari ini: Setiap harta
yang Aku berikan kepada seorang hamba adalah halal. Dan sungguh Aku menciptakan
hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus semuanya, namun kemudian syaithon datang
mendatangi mereka lalu memalingkan mereka dari agama mereka, mengharomkan atas
mereka apa yang telah Aku halalkan, serta memerintahkan mereka untuk
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang Aku tidak menurunkan keterangan
tentangnya. Dan sungguh Alloh melihat kepada penduduk bumi lalu Dia murka
kepada mereka, baik bangsa ‘Arob maupun non-‘Arob, kecuali sisa-sisa dari Ahli
Kitab. Alloh berfirman: Aku mengutusmu hanyalah untuk mengujimu dan menguji
manusia denganku, dan Aku menurunkan kepadamu Kitab yang tidak akan luntur oleh
air, yang engkau membacanya dalam keadaan tidur maupun bangun.’ Dan Alloh
memerintahkanku untuk menghancurkan kebatilan Quroisy, maka aku berkata: ‘Wahai
Robbku, jika demikian mereka akan memecahkan kepala hingga hancur seperti roti.’
Alloh berfirman: ‘Keluarkanlah mereka sebagaimana mereka mengeluarkanku,
perangilah mereka niscaya Kami membantumu, berinfaklah niscaya Kami memberi
ganti kepadamu, dan kirimkanlah pasukan niscaya Kami kirimkan lima kali lipat
dengannya, serta perangilah bersama orang yang taat kepadamu terhadap orang
yang bermaksiat kepadamu.’ Dan penghuni Jannah itu ada tiga kelompok: Penguasa
yang adil, gemar bersedekah, dan diberi taufiq; seseorang yang penyayang dan
berhati lembut kepada setiap kerabat dan sesama Muslim; serta orang yang
menjaga kehormatan diri lagi berkeluarga. Sedangkan penghuni Naar ada lima
kelompok: Orang lemah yang tidak memiliki pendirian, yang hidup mengekor di
antara kalian tanpa mencari keluarga dan harta; pengkhianat yang tidak
tersembunyi baginya ketamakan sekecil apa pun melainkan ia akan
mengkhianatinya; seseorang yang tidak memasuki pagi dan sore melainkan selalu
memperdayaimu dalam urusan keluarga dan hartamu; serta menyebutkan orang yang
bakhil, pendusta, dan orang yang berakhlak buruk lagi berkata kotor.” (HR.
Muslim no. 2865)
Ini adalah
pertempuran yang sangat lama, setua sejarah penciptaan Nabi Adam ‘alaihis
salam. Pertempuran ini akan semakin sengit atau mereda sesuai dengan dekat
atau jauhnya hubungan seseorang dengan Robbnya. Perhatikan sabda Nabi ﷺ:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ
الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»
“Sungguh
syaithon telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat, akan
tetapi ia terus berusaha merusak hubungan dan mengadu domba di antara mereka.”
Maka
jadikanlah ini sebagai peringatan bagi kita agar tidak memberikan jalan sedikit
pun bagi syaithon untuk menguasai hati kita melalui perbuatan kita. Tipu daya syaithon
sangat banyak dan perangkapnya sangat tersebar. Maka waspadalah wahai hamba
Alloh, jangan sampai syaithon memalingkanmu dengan jaring dan tipu muslihatnya.
Benteng
kokohmu agar terhindar darinya adalah:
Bab 17: Dzikrulloh
Dari An-Nu’man
bin Basyir (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ»، قَالَ رَبُّكُمْ
عَزَّ وَجَلَّ: ﴿ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ...﴾
“Doa itu
adalah inti ibadah.” Robb kalian Yang Maha Agung lagi Maha Mulia berfirman: “Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan bagi kalian... (QS. Ghofir: 60)” (HSR. Abu
Dawud no. 1479)
Doa
merupakan puncak dari dzikir. Rosululloh ﷺ telah bersabda:
«وَآمُرُكُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ كَثِيرًا، وَإِنَّ
مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ طَلَبَهُ الْعَدُوُّ سِرَاعًا فِي أَثَرِهِ، حَتَّى
أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ فِيهِ، كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ
نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Dan aku
memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir mengingat Alloh. Perumpamaan hal
itu adalah seperti seorang lelaki yang dikejar oleh musuhnya secara cepat dari
belakang, hingga ia sampai di sebuah benteng yang kokoh lalu menyelamatkan
dirinya di dalam benteng tersebut. Demikian pula seorang hamba, tidak ada yang
dapat menyelamatkan dirinya dari gangguan syaithon melainkan dengan benteng
dzikir kepada Alloh.”
Dzikir
seorang Muslim kepada Robbnya akan menjadikannya berada dalam perlindungan dan
keselamatan yang tidak mampu ditembus oleh syaithon, sehingga menghindarkannya
dari berbagai kesalahan lisan, anggota badan, maupun hati.
Berdasarkan
hal ini, maka:
Bab 18: Muslim Tidak Ghibah
Dari Ibnu ‘Umar
(73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُونَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَدْ ضَادَّ اللهَ فِي أَمْرِهِ، وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ
فَلَيْسَ بِالدِّينَارِ وَلاَ بِالدِّرْهَمِ وَلَكِنَّهَا الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ،
وَمَنْ خَاصَمَ فِي بَاطِلٍ - وَهُوَ يَعْلَمُهُ - لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللهِ حَتَّى
يَنْزِعَ، وَمَنْ قَالَ فِي مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ اللهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ
حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ، وَلَيْسَ بِخَارِجٍ»
“Siapa yang
perantara pembelaannya menghalangi terwujudnya salah satu hukum حدّ (hukuman) dari hukum-hukum
Alloh, maka sungguh ia telah menentang perintah Alloh. Siapa yang meninggal
dunia dalam keadaan menanggung hutang, maka pembayarannya kelak bukan lagi dengan
dinar atau dirham, melainkan dengan kebaikan dan keburukan. Siapa yang membela
perkara yang bathil sedangkan ia mengetahuinya, maka ia senantiasa berada dalam
kemurkaan Alloh sampai ia meninggalkannya. Dan siapa yang mengucapkan tuduhan
buruk pada diri seorang Mu’min yang tidak ada padanya, maka Alloh akan
menempatkannya di dalam endapan lumpur perasan keringat dan nanah penghuni
Neraka sampai ia mempertanggungjawabkan perkataannya, dan ia tidak akan mampu
keluar darinya.” (HSR. Ahmad no. 5385 dan Abu Dawud no. 3597 dengan sanad
shohih)
Wabah yang
mematikan ini, yaitu ghibah (menggunjing), dapat menggugurkan pahala kebaikan,
merusak persaudaraan, serta menghapuskan ganjaran dan pahala. Seorang Muslim
sejati tidak akan melakukan ghibah dan tidak akan membiarkan ghibah dilakukan
di hadapannya.
Maka
bertaqwalah kepada Alloh orang-orang yang tubuh dan jiwanya tidak tumbuh
melainkan dari tuduhan palsu terhadap hamba-hamba Alloh serta mengada-ada atas
nama mereka dengan dalih demi “maslahat da’wah”!!
Sungguh mengherankan,
maslahat da’wah macam apa yang bisa dipetik dari tuduhan dusta, ghibah, dan
menyebutkan keburukan manusia? Apakah engkau wahai orang yang menggunjing
manusia mengira bahwa dirimu terbebas dari kekurangan? Apakah engkau mengira
bahwa engkau terhindar dari kesalahan? Ingatlah bahwa seluruh dirimu adalah
cela dan orang lain juga memiliki lisan!
Di antara
perkara yang harus diperhatikan:
Bab 19: Muslim Tidak Fudhuli
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا
لاَ يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda kebaikan Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa saja yang tidak
berguna bagi dirinya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2318)
Seorang
Muslim selalu berdiri di atas batasan-batasan agamanya, tidak melampauinya dan
tidak melewatinya. Ia menyadari sepenuhnya bahwa sikap ikut campur dan bertanya
tentang hal-hal yang tidak penting baginya adalah perkara yang dilarang dan
tidak disukai. Oleh karena itu, ia selalu tunduk menjalankan perintah Alloh dan
menjauhi larangan-Nya, karena:
Bab 20: Seluruh Amal Murni Karena
Alloh
Dari Abu
Umamah (86 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى
لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ، فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ»
“Siapa yang
mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh, dan tidak
memberi juga karena Alloh, maka sungguh ia telah menyempurnakan Imannya.” (HHR.
Abu Dawud no. 4681)
Hadits ini
menjelaskan gambaran seorang Mu’min dalam seluruh bentuk interaksi dan
perilakunya, yang mana seluruhnya ditujukan murni karena Alloh semata, tanpa
memberikan porsi sedikit pun bagi selain-Nya.
Dalam
seluruh kondisi ini, ia sangat jauh dari mengejar kepentingan pribadi maupun
pemuasan hawa nafsunya. Ia tidak menginginkan dari rasa cinta, rasa benci,
pemberian, maupun penolakannya melainkan hanya ridho Alloh dan Jannah-Nya,
bukan demi mengejar jabatan duniawi, kemewahan harta, ataupun popularitas semu.
Jika suatu
saat ia tergelincir ke dalam hal tersebut, ia akan segera bertaubat dan
kembali, karena:
Bab 21: Muslim Segera Bertaubat
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَثَلُ الْمُؤْمِنِ وَمَثَلُ الإِيمَانِ كَمَثَلِ
الْفَرَسِ فِي آخِيَّتِهِ، يَجُولُ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى آخِيَّتِهِ، وَإِنَّ الْمُؤْمِنَ
يَسْهُو ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى الإِيمَانِ، فَأَطْعِمُوا طَعَامَكُمُ الأَتْقِيَاءَ،
وَوَلُّوا مَعْرُوفَكُمُ الْمُؤْمِنِينَ»
“Perumpamaan
seorang Mu’min dan hubungannya dengan Iman adalah seperti seekor kuda yang
terikat pada patoknya; ia berjalan berputar ke sana kemari namun akhirnya akan
kembali lagi ke patoknya. Dan sungguh seorang Mu’min itu terkadang lalai
berbuat dosa, namun kemudian ia segera kembali kepada Iman. Maka sajikanlah
makanan kalian untuk orang-orang yang bertaqwa, dan curahkanlah kebaikan kalian
kepada orang-orang yang beriman.” (HHR. Ahmad 3/38)
Seorang
Muslim tidak akan terus-menerus berkubang dalam maksiat dan tidak akan
meremehkan perbuatan dosa. Sebagaimana manusia lainnya, ia memang bisa
melakukan kesalahan, namun ia adalah pribadi yang sangat sering bertaubat
kepada Robbnya dan kembali memohon ampunan kepada Penciptanya.
Jika ia
menyadari bahaya kesombongan—yang mana sifat ini sangat asing dari kepribadian
Islamiyah—maka ia tidak akan bersikap sombong di hadapan Robbnya. Sebab ia
sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah, sedangkan Robbnya adalah Dzat
Yang Maha Mengurusi seluruh langit dan bumi.
Pemaparan
di atas menjelaskan secara gamblang tentang:
Bab 22: Rambu-Pilar Kepribadian
Muslim
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«خَصْلَتَانِ لاَ تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ:
حُسْنُ سَمْتٍ، وَفِقْهٌ فِي دِينٍ»
“Dua
kebiasaan yang tidak akan pernah menyatu dalam diri seorang munafiq: perawakan
akhlaq yang baik dan pemahaman yang mendalam dalam agama.” (HHR. At-Tirmidzi
no. 2685)
Maka
perawakan dan penampilannya adalah perawakan orang-orang sholih, petunjuk
jalannya adalah petunjuk hamba-hamba Robb seluruh alam; ia meneladani
orang-orang yang bertaqwa dan mengikuti jejak langkah orang-orang pilihan.
Hati dan
lahiriahnya berjalan selaras dan seimbang, tidak seperti sebagian orang yang
lemah jiwanya yang hanya sibuk mempercantik penampilan luar saja sedangkan
hatinya kosong hampa dari keimanan.
Pemahamannya
terhadap agama adalah pemahaman yang mendalam, yang bersumber dari hati yang
lembut dan kesadaran berpikir yang tajam. Namun demikian, perawakan mulia dan
pemahaman agamanya tersebut tidak menghalanginya dari:
Bab 23: Gurauan yang Jujur
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para Shohabat
bertanya: “Wahai Rosululloh! Apakah engkau juga mengajak kami bercanda?”
Rosululloh ﷺ
menjawab:
«نَعَمْ، غَيْرَ أَنِّي لاَ أَقُولُ إِلاَّ حَقًّا»
“Ya, benar,
hanya saja aku tidak pernah mengucapkan sesuatu dalam candaku melainkan
kebenaran.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1991)
Maka
kedustaan tidak memiliki porsi dalam candaannya, dan tuduhan palsu tidak
memiliki jalan padanya. Gurauannya adalah kebenaran, dan candanya penuh dengan
kejujuran.
Namun hal
ini tidak berarti seseorang menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bergurau
dan bercanda. Tidak demikian! Akan tetapi dalam masalah ini—maupun masalah
lainnya—ia selalu mengikuti jejak para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum,
yang mana prinsip hidup mereka dalam hal ini adalah:
Bab 24: Keseimbangan Antara Ibadah
dan Dunia
Dari
Hanzholah Al-Usayyidi rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan: Abu Bakr
Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bertemu denganku lalu
bertanya: “Bagaimana keadaamu wahai Hanzholah?” Aku menjawab: “Hanzholah telah
menjadi munafiq!” Abu Bakr terkejut: “Subhanalloh! Apa yang engkau katakan?”
Aku menjelaskan: “Ketika kita berada di sisi Rosululloh ﷺ, beliau mengingatkan kita
tentang Naar dan Jannah seolah-olah kita melihatnya secara langsung dengan mata
kepala. Namun apabila kita keluar dari sisi Rosululloh ﷺ, kita sibuk mengurusi
istri-istri, anak-anak, dan mata pencaharian kita, sehingga kita banyak lupa.”
Abu Bakr berkata: “Demi Alloh, sungguh kami pun merasakan hal yang sama!”
Lalu aku
dan Abu Bakr berangkat hingga masuk menemui Rosululloh ﷺ. Aku berkata: “Hanzholah
telah menjadi munafiq wahai Rosululloh!” Rosululloh ﷺ bertanya: “Mengapa demikian?”
Aku menjawab: “Wahai Rosululloh, ketika kami berada di sisimu, engkau mengingatkan
kami tentang Naar dan Jannah seakan-akan kami melihatnya langsung. Namun ketika
kami keluar dari sisimu, kami disibukkan oleh urusan istri, anak-anak, dan
pekerjaan, sehingga kami banyak lupa.” Maka Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنْ لَوْ تَدُومُونَ
عَلَى مَا تَكُونُونَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ، لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلاَئِكَةُ عَلَى
فُرُشِكُمْ وَفِي طُرُقِكُمْ، وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَةُ: سَاعَةً وَسَاعَةً، سَاعَةً
وَسَاعَةً، سَاعَةً وَسَاعَةً»
“Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian dapat terus-menerus berada
dalam kondisi keimanan sebagaimana saat berada di sisiku dan senantiasa
berdzikir, niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur
kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzholah, ada waktunya
untuk beribadah dan ada waktunya untuk mengurusi urusan duniawi (beliau
mengucapkannya tiga kali).” (HR. Muslim no. 2750)
Kedua macam
waktu tersebut tetap terikat secara ketat dengan perintah Alloh: Kesungguhan
ibadahnya terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sedangkan waktu santai dan
gurauannya terjaga dari larangan serta diliputi oleh hal-hal yang tidak
menyelisihi syari’at Alloh. Ia tidak bermudah-mudahan menjadikan candaannya
sebagai sarana untuk berbuat dosa.
Bagaimana
mungkin ia berbuat demikian, padahal ia adalah pribadi yang:
Bab 25: Tidak Meremehkan
Kemaksiatan
Dari Sahl
bin Sa’d (88 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، كَقَوْمٍ
نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا
خُبْزَتَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْهُ»
“Jauhilah
oleh kalian dosa-dosa kecil yang dianggap remeh! Perumpamaan dosa-dosa kecil
itu seperti rombongan orang yang singgah di dasar sebuah lembah, lalu orang ini
membawa satu ranting kayu dan orang itu membawa satu ranting, hingga terkumpul
banyak kayu dan mereka mampu mematangkan adonan roti mereka. Sungguh dosa-dosa
kecil yang dianggap remeh itu apabila dituntut pertanggung-jawabannya kepada
pelakunya, niscaya akan membinasakannya.” (HSR. Ahmad 5/331)
Keadaannya
adalah sebagaimana diucapkan oleh Shohabat yang agung ‘Abdulloh bin Mas’ud (32
H) rodhiyallahu ‘anhu:
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ
قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ
كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا»
“Sungguh
orang Mu’min itu melihat dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah kaki
gunung yang ia takut gunung itu akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang
jahat melihat dosa-dosanya hanyalah seperti seekor lalat yang hinggap melewatai
hidungnya, lalu ia mengusirnya begitu saja dengan tangannya.” (HR. Al-Bukhori
no. 6308)
Maksudnya
adalah bahwa seorang Muslim sangat memahami keagungan Robbnya Yang Maha Suci,
kekuasaan-Nya, serta kemurkaan-Nya. Ia tidak melihat dosa dari sudut pandang
kecil atau besarnya bentuk dosa tersebut, melainkan ia melihat kepada Dzat yang
agung yang sedang ia maksiati!
Dosa-dosa
kecil yang sering diabaikan oleh orang-orang yang lemah hatinya itulah yang
justru mematikan mereka dengan hilangnya Iman dari hati dan lenyapnya taqwa
dari dada mereka.
Apabila
seorang hamba meremehkan dosa dan maksiat, berarti ia telah berbuat zholim
terhadap dirinya sendiri. Padahal hal ini tidak boleh terjadi, sebab:
Bab 26: Muslim Tidak Zholim
Dari Jabir
bin ‘Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«اتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ،
حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ»
“Takutlah
kalian dari perbuatan zholim, karena sungguh kezholiman itu akan menjadi
kegelapan yang bertapis-lapis pada hari Qiyamah! Dan takutlah kalian dari sifat
kikir yang tamak, karena sungguh sifat kikir itulah yang telah membinasakan
umat-umat sebelum kalian; sifat itu memicu mereka untuk menumpahkan darah
sesama mereka dan menghalalkan apa yang diharomkan atas mereka.” (HR. Muslim
no. 2578)
Kezholiman
itu terbagi menjadi dua macam: Kezholiman seorang hamba terhadap dirinya
sendiri, dan kezholimannya terhadap orang lain.
Kedua
bentuk kezholiman ini diharomkan dalam syari’at Alloh. Kezholiman hamba
terhadap dirinya sendiri tercermin dalam keberaniannya melanggar larangan
dengan mengerjakannya, serta meremehkan perintah dengan meninggalkannya.
Adapun
kezholimannya terhadap orang lain adalah dengan melanggar hak-hak mereka,
menyimpang dari keadilan dalam berinteraksi, serta merendahkan martabat orang
lain demi mengangkat kedudukan dirinya sendiri.
Kezholiman
jenis manakah yang lebih besar daripada hal ini selain perbuatan syirik kepada
Alloh? Kezholiman merupakan kunci utama pembuka seluruh maksiat. Jika seorang
hamba tidak bersikap zholim, hatinya akan mengagungkan Alloh dan keyakinannya
menjadi kuat. Namun jika tidak, maksiat akan merusak jiwanya dan dosa-dosa akan
membenamkannya.
Lisannya
akan berubah menjadi ular berbisa yang menyemburkan racun gangguan, fitnah,
tuduhan dusta, kedengkian, dan hasad.
Seorang
Muslim sejati sangat jauh dari semua tabiat buruk ini, dan sebagai
konsekuensinya:
Bab 27: Ia Menjauhi Namimah (Adu
Domba)
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Tahukah kalian apa itu al-‘adhu
(العَضْه)?” Para Shohabat menjawab: “Alloh
dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:
«... نَقْلُ الْحَدِيثِ مِنْ بَعْضِ النَّاسِ
إِلَى بَعْضٍ لِيُفْسِدُوا بَيْنَهُمْ»
“... Yaitu
memindahkan perkataan dari sebagian orang kepada sebagian yang lain dengan
tujuan untuk merusak hubungan di antara mereka (adu domba).” (HHR. Al-Bukhori
dalam Al-Adabul Mufrod no. 425)
Sebab adu
domba adalah penyakit hati yang sangat ganas; apabila penyakit ini merasuk ke
dalam hati, ia akan merusaknya, dan jika hati telah rusak, maka seluruh anggota
badan ikut rusak dan amal perbuatan menjadi gugur sia-sia.
Betapa
banyak manusia di hari ini yang dihiasi oleh syaithon sehingga menganggap
perbuatan buruknya sebagai suatu kebaikan yang tanpa cela! Betapa banyak orang
di hari ini yang mengira bahwa perbuatan adu domba adalah suatu kebaikan yang
ia persembahkan dan amal sholih yang ia tunaikan!
Sungguh
kelompok orang yang berjalan di tengah hamba-hamba Alloh dengan membawa tipu
daya, pemalsuan informasi, dan penyesatan hati ini wajib bagi kaum Muslimin
yang jujur untuk tidak memberikan ruang bagi mereka. Kaum Muslimin harus
berpaling dan menjauhi mereka sebagai hukuman terendah yang layak mereka
terima.
Penyakit
adu domba ini tidak akan menjangkiti melainkan hati yang telah terintoksikasi
oleh rasa cinta kepada dunia, sehingga mereka menjadikan agama sebagai
kendaraan untuk meraih kenikmatan duniawi yang rendah.
Adapun seorang Muslim Robbani yang jujur, maka:
Bab 28: Terbebas dari
Ketergantungan Pada Dunia
Dari Sahl
bin Sa’d (88 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَتَانِي جِبْرِيلُ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ عِشْ
مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ
مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ
بِاللَّيْلِ، وَعِزَّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ»
Malaikat
Jibril ‘alaihis salam datang kepadaku lalu berkata: “Wahai Muhammad!
Hiduplah sesukamu karena sungguh engkau pasti akan mati, cintailah siapa saja
yang engkau sukai karena sungguh engkau pasti akan berpisah dengannya, dan
beramallah sesukamu karena sungguh engkau pasti akan diberi balasan atasnya.
Serta ketahuilah bahwa kemuliaan seorang Mu’min terletak pada Sholat malamnya,
dan kehormatan dirinya terletak pada ketidak-bergantungannya kepada bantuan
manusia.” (HHR. Al-Hakim 4/324)
Orang yang
hatinya tergantung pada dunia adalah orang yang tipis kadar agamanya dan
dangkal pemikiran akalnya. Ia tidak menyadari bahwa dunia di mata orang yang
tidak memiliki agama merupakan pintu menuju kehinaan, jalan kejahatan, dan
kunci segala kemungkaran.
Seorang
Muslim dalam kejujurannya bersama Robbnya, dirinya sendiri, dan
saudara-saudaranya memberikan keteladanan tertinggi bagi orang-orang yang
memburu dunia demi mengumpulkan lembaran uang dan kekayaan. Ia mengajarkan
kepada mereka bahwa tidak ada kebaikan di balik pemburuan harta tersebut,
melainkan kebaikan hakiki hanya ada pada upaya menjadikan dunia sebagai sarana
untuk meninggikan agama dan membersihkan keikhlasan hati.
Segala hal
ini tidak akan dapat terwujud melainkan dengan:
Bab 29: Zuhud
Dari Abu
Umamah Iyas bin Tsa’labah rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa para
Shohabat Rosululloh ﷺ
pada suatu hari menyebut-nyebut tentang kemewahan dunia di hadapan beliau. Maka
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَلاَ تَسْمَعُونَ، أَلاَ تَسْمَعُونَ!! إِنَّ
الْبَذَاذَةَ مِنَ الإِيمَانِ، إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنَ الإِيمَانِ»
“Apakah
kalian tidak mendengar, apakah kalian tidak mendengar?! Sungguh kesederhanaan
dalam berpakaian dan penampilan itu adalah bagian dari Iman, sungguh
kesederhanaan itu bagian dari Iman.” (HHR. Abu Dawud no. 4161)
Makna zuhud
di sini adalah membatasi diri dari kemewahan dunia, menampakkan kebutuhan diri
di hadapan Alloh, bersikap rendah hati kepada hamba-hamba-Nya yang beriman,
tidak berlebih-lebihan dalam hal pakaian, makanan, dan minuman, serta menjauhi
ketenaran.
Zuhud bukan
berarti mengingkari atau menolak ni’mat yang dikaruniakan Alloh kepada sebagian
hamba-Nya. Namun zuhud adalah sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah (728 H) rohimahulloh: “Zuhud adalah meninggalkan apa saja yang
tidak memberikan manfaat untuk Akhiroh, baik karena memang tidak ada
manfaatnya, ataupun karena nilainya lebih rendah sehingga dapat menghilangkan
hal yang jauh lebih bermanfaat, atau karena mudhorotnya lebih besar daripada
manfaatnya. Adapun meninggalkan hal-hal yang murni bermanfaat atau besar
manfaatnya bagi Akhiroh, maka tindakan tersebut bukanlah zuhud melainkan suatu
kebodohan.”
Maka dari
itu, tidak ada istilah zuhud dalam hal:
Bab 30: Beramal Kebaikan
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ،
كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ
الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ
صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى
الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ»
“Setiap
persendian tubuh manusia wajib dikeluarkan sedekahnya pada setiap hari yang
mana matahari terbit padanya: Engkau berbuat adil mendamaikan antara dua orang
yang berselisih adalah sedekah, engkau menolong seseorang pada hewan
tunggangannya lalu engkau membantunya naik ke atasnya atau memuatkan barang
bawaannya ke atas tunggangannya adalah sedekah, tutur kata yang baik adalah
sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju Sholat adalah sedekah,
dan engkau menyingkirkan gangguan dari jalanan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhori
5/226 dan Muslim no. 1009)
Jika
seorang hamba mampu menjadikan seluruh hari-hari dan malam-malamnya berada
dalam ketaatan dan keridhoan Alloh, maka hendaklah ia melakukannya!
Jangan
sampai syaithon membisikkan tipu daya kepadanya dengan menganggap bahwa
membatasi diri dari amal kebaikan adalah suatu bentuk zuhud! Tidak, hal itu
bukanlah zuhud sebagaimana ditegaskan oleh Syaikhul Islam, melainkan
perancangan tipu daya syaithon yang tidak akan sanggup merasuk melainkan kepada
orang yang lemah agamanya dan merosot keyakinannya. Engkau akan mendapati syaithon
bertengger di atas hatinya dan menegakkan singgasana kekuasaannya di sana!
Semakin
banyak seorang Muslim melakukan amal kebaikan, maka akan semakin bertambah
dekat kedudukannya di sisi Alloh dan semakin besar rasa cinta-Nya kepadanya.
Meskipun
zuhud dalam hal harta benda lebih ditekankan bagi orang-orang kaya karena
kelapangan harta mereka—berbeda halnya dengan orang miskin—namun hal ini tidak
menghalangi setiap Muslim, baik yang kaya maupun yang miskin, untuk memiliki
sifat ‘iffah (menjaga kehormatan diri) dan kecukupan jiwa. Sebab:
Bab 31: Muslim Qona’ah dan Merasa
Cukup
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ
الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ»
“Kekayaan
yang hakiki itu bukanlah dengan banyaknya harta benda duniawi, melainkan
kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (rasa cukup dalam hati).” (HR.
Al-Bukhori no. 231 dan Muslim no. 1051)
Kekayaan
terbesar bagimu wahai hamba Alloh adalah kekayaan jiwamu dan sifat qona’ah
(keridhoan) dalam hatimu. Kesempurnaan hal ini tidak akan tercapai melainkan
dengan merendahkan diri berdoa kepada Alloh serta bertawakkal penuh kepada-Nya.
Siapa yang jiwanya selalu merasa cukup dan kaya, maka akan semakin bertambah:
Bab 32: Ambisi dalam Agama
Dari Ka’b
bin Malik Al-Anshori (50 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ
بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ»
“Tidaklah
dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kawanan domba lebih merusak
domba-domba tersebut daripada besarnya ambisi seseorang terhadap harta dan
kedudukan dalam merusak agamanya.” (HSR. Ahmad 3/456, At-Tirmidzi no. 2376)
Ini adalah
perumpamaan yang sangat agung yang dibuat oleh Nabi ﷺ tentang kerusakan agama
seorang Muslim akibat ambisinya mengejar harta dan kedudukan di dunia.
Kerusakan agama akibat ambisi tersebut tidaklah lebih kecil daripada kerusakan
kawanan domba yang diserang oleh dua ekor serigala buas yang lapar di malam
hari tanpa ada gembala yang menjaganya, sehingga kedua serigala itu memangsa
dan membinasakan domba-domba tersebut.
Telah
dimaklumi bahwa dalam kondisi demikian hampir tidak ada domba yang selamat dari
cengkeraman kedua serigala tersebut kecuali sangat sedikit. Maka Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ambisi
seseorang terhadap harta dan kedudukan dalam merusak agamanya tidaklah lebih
ringan daripada kerusakan domba-domba tersebut, bahkan bisa jadi setara atau
lebih parah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada yang selamat agamanya di
tengah ambisi harta dan kedudukan duniawi melainkan hanya sedikit saja.
Maka
perhatikanlah dorongan ambisius yang liar terhadap dunia dan kemewahannya ini,
padahal tidak ada keselamatan dari takdir yang telah ditetapkan atas hamba
melainkan dengan perlindungan-Nya. Siapa yang menginginkan keselamatan,
hendaklah ambisi utamanya difokuskan untuk menjaga agamanya, sehingga Alloh
akan memelihara dirinya dan menjaga agamanya.
Di antara
kaidah menyeluruh yang wajib diketahui adalah:
Bab 33: Fiqih Berinteraksi dengan
Manusia
Dari ‘A-isyah
(57 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa ada seorang lelaki yang meminta izin
untuk menemui Nabi ﷺ,
maka Nabi ﷺ
bersabda: “Izinkanlah ia masuk, ia adalah seburuk-buruk kerabat dalam kaumnya!”
Namun ketika orang tersebut telah masuk duduk di hadapan beliau, Rosululloh ﷺ berbicara kepadanya dengan
tutur kata yang sangat lembut.
‘A-isyah
berkata: Maka aku bertanya: “Wahai Rosululloh! Engkau tadi mengatakan
tentangnya apa yang telah engkau katakan, namun mengapa kemudian engkau
berbicara kepadanya dengan sangat lembut?” Rosululloh ﷺ menjawab:
«يَا عَائِشَةُ، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً
عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ - أَوْ تَرَكَهُ - النَّاسُ اتِّقَاءَ
فُحْشِهِ»
“Wahai ‘A-isyah!
Sungguh seburuk-buruk kedudukan manusia di sisi Alloh pada hari Qiyamah adalah
orang yang ditinggalkan atau dijauhi oleh manusia karena takut akan kekejian
tutur katanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6054 dan Muslim no. 2591)
Maka
seorang sahabat karib diperlakukan seperti kekasih yang dicintai, musuh yang
nyata diperlakukan dengan sikap waspada dan penuh kesadaran, dan orang yang
berakhlak buruk diperlakukan dengan cara yang tidak memancing kejahatannya
tanpa harus menampakkan isi hati kepadanya. Demikianlah setiap orang
diperlakukan sesuai dengan porsinya masing-masing. Ini merupakan bagian dari
fiqih da’wah dan tata cara berinteraksi dengan manusia yang memiliki berbagai
macam latar belakang dan beragam akhlaq.
Tidak
tersembunyi bahwa di antara sarana terbaik untuk mempererat tali hubungan dan
memperbaiki persaudaraan adalah:
Bab 34: Mengunjungi Saudara
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ،
فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا، فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ الْمَلَكُ
قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أَزُورُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ
لَهُ عَلَيْكَ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لاَ، إِلاَّ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي
اللهِ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ: بِأَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ
أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»
“Sungguh
ada seorang lelaki yang berkunjung kepada saudaranya di desa lain, lalu Alloh
mengutus Malaikat untuk menghadang di tengah jalannya. Ketika lelaki itu sampai
di tempat Malaikat tersebut, Malaikat bertanya: ‘Ke manakah engkau hendak
pergi?’ Ia menjawab: ‘Aku hendak mengunjungi saudaraku di desa ini.’ Malaikat
bertanya lagi: ‘Apakah engkau memiliki suatu ni’mat jasa dengannya yang ingin
engkau balas?’ Ia menjawab: ‘Tidak ada, melainkan aku mencintainya murni karena
Alloh.’ Maka Malaikat itu berkata: ‘Sungguh aku adalah utusan Alloh kepadamu
untuk mengabarkan bahwa Alloh telah mencintaimu sebagaimana engkau telah
mencintai saudaramu karena-Nya.’” (HR. Muslim no. 2567)
Keadaannya
adalah sebagaimana diucapkan: Kejauhan hubungan memicu kerenggangan. Dengan
saling berkunjung, hati menjadi jernih dan jiwa saling mendekat. Melalui
kunjungan ini pula Alloh mencintai hamba-hamba-Nya, sehingga kebaikan merata,
rohmat-Nya meliputi mereka, dan Dia memasukkan mereka ke dalam Jannah-Nya.
Hal ini
tidak akan mungkin tercapai melainkan apabila pendorong utamanya adalah:
Bab 35: Akhlaknya Muslim
Dari Abu
Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ
حُسْنِ الْخُلُقِ»
“Tidak ada
sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan amal pada hari Qiyamah melebihi
akhlaq yang mulia.” (HSR. Abu Dawud no. 4799)
Seorang
Muslim dengan akhlaq mulianya mampu mengubah musuh menjadi teman setia,
mengubah orang yang berseberangan menjadi sahabat, dan mengubah orang yang keras
menjadi lembut.
Akhlaq
mulia adalah barang yang sangat langka di dunia manusia saat ini, kecuali di
pasar-pasar tempat berkumpulnya kaum muwahhidin yang ikhlas, yang jujur dalam
beribadah kepada Robb seluruh alam. Akhlaq yang mulia ini mendidik jiwa sehingga
menjadikan:
Bab 36: Muslim Mengenal Kadar
Dirinya
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ،
يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا
الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ»، قِيلَ:
وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»
“Akan
datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya; pada masa itu
pendusta dipercaya sedangkan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah
sedangkan orang yang terpercaya dituduh khianat, dan pada masa itu Ruwaibidhoh
ikut berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhoh itu?” Beliau menjawab: “Orang
dungu yang tidak memiliki kapasitas namun ikut campur berbicara dalam urusan
orang banyak (kemaslahatan umum).” (HHR. Ahmad, Ibnu Majah no. 4042)
Dengan
kesadaran kedudukan dan kapasitas dirinya, segala urusan akan didudukkan pada
tempatnya yang benar dan tidak ada seorang pun yang bertindak lancang atas
orang lain.
Sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu Hazm (456 H) rohimahulloh: “Tidak ada bahaya merusak
yang lebih besar bagi ilmu dan para pemiliknya melebihi masuknya orang-orang
penyusup yang bukan ahli di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang tidak
memiliki ilmu, namun mengira diri mereka berilmu; mereka berbuat kerusakan, namun
menyangka sedang melakukan perbaikan.”
Semoga
Alloh merohmati orang yang mendoakan: “Setiap orang dungu yang linglung
melangkah maju mengajar fiqih, lalu ia digelari sebagai ahli fiqih pengajar.
Maka sudah sepatutnya bagi para pemilik ilmu untuk mencontoh bait syair kuno
yang telah populer di setiap majelis: Sungguh keadaan telah begitu kurus hingga
nampak kurusnya pada ginjalnya, sampai-sampai setiap orang miskin pun berani
menawarnya.”
Kita
berlindung kepada Alloh dari jiwa yang merasa tinggi menjulang bagaikan gunung,
padahal di sisi Alloh ia tidak bernilai sebutir biji pun, dan di mata para
ulama serta penuntut ilmu ia sangat lemah lagi jatuh.
Sebagaimana
dikatakan: “Seandainya orang yang tidak berilmu itu diam tidak berbicara,
niscaya perselisihan akan gugur lenyap.”
Kunci dari
semua ini adalah memahami kadar kemampuan diri dan tidak melampaui batas dengan
bertindak lancang. Hanya kepada Alloh kita memohon taufiq.
Apabila
seorang hamba yang taat telah memahami hal ini, maka wajib baginya untuk:
Bab 37: Mengharapkan Kebaikan Bagi
Diri dan Saudaranya
Dari Jundub
bin ‘Abdillah (65 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ menceritakan:
«أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهُ
لِفُلاَنٍ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِي يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ
لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ، فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ، وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ»
“Ada
seorang lelaki yang bersumpah: ‘Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampuni dosa si
Fulan.’ Maka Alloh berfirman: ‘Siapakah orang yang berani bersumpah atas
nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si Fulan? Sungguh Aku telah mengampuni si
Fulan dan Aku telah menghapuskan seluruh amal perbuatanmu!’” (HR. Muslim no.
2621)
Pendorong
dari masalah ini adalah kesadaran akan kedudukan diri. Sebab masalah vonis kafir,
iman, ganjaran pahala, dan siksaan adalah perkara-perkara khusus yang menjadi
hak prerogatif Alloh semata.
Imam Abu Ja’far
At-Thohawi (321 H) rohimahulloh menyatakan dalam Aqidah-nya: “Kita tidak
bersaksi atas mereka dengan vonis kafir, syirik, ataupun nifaq selama tidak
nampak jelas dari mereka sesuatu pun dari hal tersebut, dan kita menyerahkan
urusan rahasia hati mereka kepada Alloh.”
Pensyarah Aqidah
At-Thohawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi (792 H) menjelaskan: “Sebabnya:
kita diperintahkan untuk menghukumi lahiriahnya, dan kita dilarang dari
bersangka buruk serta mengikuti apa yang kita tidak memiliki ilmu tentangnya.
Alloh berfirman:
﴿وَلَا نَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَيكَ كَانَ
عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh
pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung-jawabannya.”
(QS. Al-Isro’: 36) [selesai]
Seorang
Muslim yang jujur selalu berharap kepada Robbnya untuk keselamatan dirinya, dan
memohonkan ampunan bagi saudara-saudaranya. Sebagaimana dinyatakan pula oleh
At-Thohawi (321 H): “Kita berharap bagi orang-orang yang berbuat baik dari kaum
Mu’minin agar Alloh memaafkan mereka dan memasukkan mereka ke dalam Jannah
dengan rohmat-Nya, namun kita tidak merasa aman atas mereka dan tidak bersaksi
pasti bahwa mereka masuk Jannah; kita memohon ampunan bagi orang-orang yang
berbuat dosa di antara mereka, kita mengkhawatirkan nasib mereka, namun kita
tidak membuat mereka putus asa dari rohmat Alloh.”
Rasa takut
dan harapan ini tidak boleh menghalangi seorang Muslim bersama
saudara-saudaranya untuk menegakkan apa yang diperintahkan Alloh, yaitu:
Bab 38: Menegakkan Amar Ma’ruf
Nahi Munkar
Dari Abu Sa’id
Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan bahwa Rosululloh ﷺ berdiri berkhutbah di hadapan
kami, di antara isi khutbah beliau adalah bersabda:
«أَلاَ إِنِّي أُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ،
فَيَلِيكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِي، يَقُولُونَ مَا يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ بِمَا
يَعْرِفُونَ، وَطَاعَةُ أُولَئِكَ طَاعَةٌ، فَتَلْبَثُونَ كَذَلِكَ دَهْرًا، ثُمَّ
يَلِيكُمْ عُمَّالٌ مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ مَا لاَ يَعْلَمُونَ، وَيَعْمَلُونَ
مَا لاَ يَعْرِفُونَ، فَمَنْ نَاصَحَهُمْ وَوَازَرَهُمْ أَوْ شَدَّ عَلَى أَعْضَادِهِمْ،
فَأُولَئِكَ قَدْ هَلَكُوا وَأَهْلَكُوا، خَالِطُوهُمْ بِأَجْسَادِكُمْ، وَزَايِلُوهُمْ
بِأَعْمَالِكُمْ، وَاشْهَدُوا عَلَى الْمُحْسِنِ بِأَنَّهُ مُحْسِنٌ، وَعَلَى الْمُسِيءِ
بِأَنَّهُ مُسِيءٌ»
“Ketahuilah
bahwa aku hampir dipanggil oleh Robbku lalu aku memenuhi panggilan-Nya. Sungguh
akan memegang urusan kalian setelahku para pemimpin yang mereka mengucapkan apa
yang mereka ketahui dan mengamalkan apa yang mereka kenal; ketaatan kepada
mereka adalah ketaatan yang sah. Kalian akan berada dalam kondisi demikian
selama beberapa waktu. Kemudian akan memegang urusan kalian setelah mereka para
pemimpin yang mengucapkan apa yang tidak mereka ketahui dan melakukan apa yang
tidak mereka kenal. Maka siapa yang memberi nasihat manis persekongkolan kepada
mereka, membantu mereka, atau memperkuat kedudukan mereka, maka mereka telah
binasa dan membinasakan orang lain. Berbaurlah dengan mereka hanya secara
fisik, namun selisihilah perbuatan buruk mereka dengan amal-amal kalian; serta
bersaksilah atas orang yang berbuat baik bahwa ia berbuat baik, dan atas orang
yang berbuat buruk bahwa ia berbuat buruk.” (HHR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhdul
Kabir no. 193, dengan sanad hasan)
Kewajiban
ini berlaku umum bagi seluruh manusia, baik para penguasa maupun rakyat biasa,
orang-orang tercinta maupun musuh. Tidak ada kewibawaan seseorang yang
menghalanginya dari menegakkan kewajiban ini, dan tidak ada ikatan pertemanan
yang menutupinya. Ia menunaikan kewajiban ini tanpa ada rasa takut atau gentar
melainkan hanya kepada Alloh semata.
Rosululloh ﷺ telah bersabda:
«مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي،
هُمْ أَعَزُّ مِمَّنْ يَعْمَلُهَا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُونَ ذَلِكَ، إِلَّا عَمَّهُمُ
اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»
“Tidaklah
suatu kaum yang dilakukan kemaksiatan di tengah-tengah mereka, sedangkan posisi
orang-orang yang tidak bermaksiat lebih kuat dan lebih perkasa daripada pelaku
maksiat tersebut, lalu mereka tidak mengubah kemaksiatan itu, melainkan Alloh
akan meratakan hukuman siksa dari-Nya kepada mereka semua.”
Renungkanlah
sabda Nabi ﷺ
dalam Hadits ini: “sedangkan posisi mereka lebih kuat daripada pelaku
maksiat”, di dalamnya terdapat isyarat yang sangat berharga mengenai syarat
kemampuan dalam mengingkari kemungkaran, bahwa hal itu terikat dengan kadar
kemampuan, namun memiliki tingkatan-tingkatan dan bukan hanya satu tingkat
saja.
Seorang
Muslim dalam mengingatkan saudaranya, menyuruh mereka kepada kebaikan, dan
melarang mereka dari kemungkaran adalah sosok yang:
Bab 39: Waspada Terhadap
Perselisihan
Dari Jabir
bin ‘Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ
الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»
“Sungguh syaithon
telah putus asa untuk diibadahi oleh orang-orang yang Sholat di Jazirah ‘Arob,
akan tetapi ia terus berusaha mengadu domba dan merusak hubungan di antara
mereka.” (HR. Muslim no. 2812)
Satu ucapan
sembrono yang dilepaskan oleh orang yang tidak mengerti, yang mana ia melepas
lisannya menyerang salah seorang hamba Alloh atau menyalahkannya, dapat
menyulut api perselisihan yang membara di dalam hati sesama saudara, sehingga
merusak rasa cinta dan melenyapkan kasih sayang.
Inilah
perkara yang paling diinginkan oleh syaithon, yang mana dengannya ia merasa
gembira dan bersenang-senang!
Apa yang
aku isyaratkan ini merupakan kenyataan yang tidak diragukan lagi terjadi, dan
hal ini memicu kejahatan yang meluas serta bahaya yang sangat besar!
Jika
keadaannya demikian, maka apakah:
Bab 40: Solusi Keluar dari Fitnah
Dari ‘Abdulloh
bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Bagaimanakah keadaan
kalian apabila kalian diselimuti oleh suatu fitnah kebid’ahan yang mana anak
kecil tumbuh besar di dalamnya dan orang tua menjadi renta di dalamnya; apabila
ada sedikit saja dari fitnah kebid’ahan itu yang ditinggalkan, orang-orang akan
berteriak: ‘Sunnah telah ditinggalkan!’”
Ada yang
bertanya: “Kapan hal itu terjadi wahai Abu ‘Abdirrohman?” Ia menjawab: “Apabila
para ulama kalian telah wafat, orang-orang bodoh kalian semakin banyak, para
pembaca Al-Qur’an kalian melimpah namun ahli fiqih kalian sangat sedikit,
para penguasa kalian bertambah banyak namun orang-orang terpercaya
kalian sangat sedikit, dunia dicari dengan menggunakan amalan Akhiroh, dan ilmu
agama dipelajari bukan untuk tujuan agama.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah no. 19003)
Sungguh
jalan keluar utama adalah meneladani Nabi ﷺ! Ya, meneladani Rosululloh ﷺ adalah sarana terbesar untuk keluar dari berbagai fitnah yang
mengepung kita, serta obor penerang terbesar yang menuntun kita di tengah
pekatnya kegelapan kebodohan.
Dengan
mengenali Sunnah beliau ﷺ,
kebathilan yang dihiasi akan tersingkap, kepalsuan akan terbongkar, segala
urusan akan kembali pada porsi yang sebenarnya, dan rambu-rambu kebenaran yang
tersembunyi menjadi terang benderang.
Maka tidak
ada ruang bagi orang yang bersikap sok tahu, tidak ada tempat bagi orang yang
dengki, tidak ada posisi bagi orang yang lancang, dan tidak ada nilai bagi
ucapan orang yang banyak bualannya.
Sunnah
adalah cahaya yang memberi petunjuk. Siapa yang mengetahuinya, maka sungguh ia
telah memperoleh kebaikan yang sangat banyak; dan siapa yang tidak
mengetahuinya, niscaya ia akan mendapati keburukan yang sangat melimpah.
Maka
bertaqwalah kepada Alloh, wahai hamba-hamba Alloh! Pelajarilah Sunnah,
amalkanlah, dan bertaqwalah kepada Alloh agar kalian diberi rohmat!
Penutup
Semoga
Alloh mengaruniakan akhir kehidupan yang baik bagi kita.
Sungguh
kepribadian Islamiyah adalah kepribadian yang istimewa, yang mana benang kain
utamanya adalah Al-Qur’an dan tenunannya adalah Sunnah. Keduanya adalah dua hal
yang tidak terpisahkan darinya.
Ini adalah kepribadian
yang bersungguh-sungguh, yang terdidik di atas manhaj yang sangat teliti, yang
tidak bergeser sedikit pun seujung kuku. Bagaimana tidak, sedangkan ia adalah
agama Alloh Robb seluruh alam?!
Apa yang
aku tuliskan pada lembaran-lembaran yang lalu merupakan ilmu yang menjadi
sarana untuk beramal, peringatan yang menjadi jalan untuk meneladani, serta
nasehat yang menjadi permata utama dari rantai kemanfaatan.
Maka hanya
kepada Alloh aku memohon taufiq bagiku dan bagi seluruh kaum Muslimin, serta
agar Dia meneguhkan kita di atas manhaj Nabi-Nya ﷺ. Sungguh Dia adalah
sebaik-baik Dzat yang dimintai dan yang paling agung dalam mengabulkan doa. Dan
penutup da’wah kami adalah mengucapkan alhamdulillahirobbil ‘alamin.
Hari Rabu,
18 Romadhon 1408 H
Zarqo -
Yordania.
.jpeg)