[PDF] Mengenal Rosululloh ﷺ Lebih Dekat - Arfandi Al-Kubary dan Nor Kandir
Mengenal Rosululloh ﷺ
Lebih Dekat
Penulis: Arfandi Al-Kubary dan Nor Kandir
Penerbit: Pustaka
Syabab Surabaya
Halaman: 49
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Mengenal
Rosululloh ﷺ
merupakan salah satu landasan paling mendasar dalam keagamaan seorang Muslim.
Pengetahuan ini bukan sekadar wawasan sejarah kehidupan tokoh dunia, melainkan
fondasi keimanan yang akan ditanyakan di dalam kubur kelak. Setiap manusia di
alam kubur akan diuji dengan 3 pertanyaan utama, yaitu tentang Robb-nya,
tentang agamanya, dan tentang Nabi yang diutus kepadanya. Oleh karena itu,
mengenal sosok beliau ﷺ
secara utuh, mulai dari nasab, perjalanan hidup, kewajiban mencintai beliau,
hingga konsekuensi mengimani kerosulan beliau, adalah kebutuhan yang mendesak
bagi setiap hamba yang mengharapkan keselamatan di Akhiroh. Risalah ini disusun
untuk mendekatkan sosok Rosululloh ﷺ ke dalam hati pembaca awam dengan narasi yang menggugah,
ilmiah, dan berlandaskan pada dalil-dalil shohih.
Buku ini
awalnya adalah draf dari tulisan sahabat kami Ustadz Arfandi Al-Kubary
—Pengasuh Saung Al-Qur’an, Kubu Raya, Kalimantan Barat— lalu saya tambahkan
dengan dalil-dalil lain dan narasi yang menghubungkan antar dalil dan subbab.
Semoga menjadi jariyah bagi penulis dan bagi yang menyebarkannya.
Nor
Kandir
Bab 1: Mengenal Rosululloh
1.1
Nasab dan Kelahiran Beliau
Rosululloh ﷺ dilahirkan dari garis keturunan manusia
paling mulia di muka bumi. Alloh ﷻ memilih beliau dari keluarga
terpilih yang terjaga kesuciannya karena dari pernikahan yang sah. Nasab beliau
dari jalur ayah adalah Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Muttholib bin Hasyim bin
Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Murroh bin Ka’ab bin Lu’ay bin Gholib bin
Fihr bin Malik bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas
bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan. Garis nasab hingga ‘Adnan ini
disepakati keshohihannya oleh para ulama sejarah, di mana ‘Adnan merupakan
keturunan dari Nabi Isma’il bin Ibrohim.
Alloh ﷻ
berfirman memuji sifat dan asal-usul Rosululloh ﷺ:
﴿لَقَدۡ
جَآءَكُمۡ
رَسُولٌ مِّنۡ
أَنفُسِكُمۡ
عَزِيزٌ عَلَيۡهِ
مَا عَنِتُّمۡ
حَرِيصٌ عَلَيۡكُم
بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ
رَءُوفٌ رَّحِيمٌ﴾
“Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaummu sendiri, amat berat terasa
olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan kebaikan dan
keselamatan bagimu, serta amat belas kasihan lagi penyayang terhadap
orang-orang Mu’min.” (QS. At-Taubah: 128)
Keturunan
yang mulia ini ditegaskan pula oleh Nabi ﷺ dalam sabdanya:
«إِنَّ اللهَ اصْطَفَى كِنَانَةَ مِنْ وَلَدِ
إِسْمَاعِيلَ، وَاصْطَفَى قُرَيْشًا مِنْ كِنَانَةَ، وَاصْطَفَى مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي
هَاشِمٍ، وَاصْطَفَانِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ»
“Sungguh
Alloh memilih Kinanah dari anak-anak Isma’il, dan memilih Quroisy dari Kinanah,
dan memilih Bani Hasyim dari Quroisy, dan memilih aku dari Bani Hasyim.” (HR.
Muslim no. 2276)
1.2
Usia dan Masa Kenabian
Usia
Rosululloh ﷺ
adalah 63 tahun. Perjalanan hidup beliau terbagi menjadi 2 fase utama, yaitu 40
tahun sebelum kenabian dan 23 tahun sebagai Nabi dan Rosul. Sebelum diangkat
menjadi Nabi, beliau dikenal di tengah masyarakat Makkah dengan julukan Al-Amin
(orang yang sangat terpercaya) karena kejujuran dan keluhuran budi pekertinya.
Awal
kenabian beliau ditandai dengan turunnya wahyu pertama saat beliau menyendiri
beribadah di Gua Hiro. Wahyu tersebut adalah surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai 5
yang dibawa oleh Malaikat Jibril.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿ٱقۡرَأۡ
بِٱسۡمِ
رَبِّكَ ٱلَّذِي
خَلَقَ
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ
مِنۡ
عَلَقٍ
ٱقۡرَأۡ
وَرَبُّكَ ٱلۡأَكۡرَمُ
ٱلَّذِي
عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ
عَلَّمَ ٱلۡإِنسَٰنَ
مَا لَمۡ
يَعۡلَمۡ﴾
“Bacalah
dengan menyebut nama Robb-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Robb-mulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar
manusia dengan perantara pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)
Setelah
wahyu pertama tersebut, terjadi masa kekosongan wahyu beberapa saat hingga
turun surat Al-Muddatstsir ayat 1 sampai 7. Turunnya ayat ini menandai
dimulainya tugas kerosulan beliau, di mana beliau diperintahkan untuk mulai
menyampaikan da’wah secara terbuka kepada manusia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا
ٱلۡمُدَّثِّرُ
قُمۡ
فَأَنذِرۡ
وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ
وَٱلرۡجۡزَ
فَٱهۡجُرۡ
وَلَا تَمۡنُن
تَسۡتَكۡثِرُ
وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ﴾
“Wahai
orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Robb-mu
agungkanlah! Dan pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan
janganlah engkau memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak!
Dan karena Robb-mu bersabarlah!” (QS. Al-Muddatstsir: 1-7)
Negeri
kelahiran beliau adalah kota Makkah. Beliau melebarkan da’wah di Makkah selama
13 tahun, kemudian Alloh ﷻ memerintahkan beliau untuk berhijroh ke kota Madinah. Di
Madinah beliau mendirikan masyarakat Muslim yang kokoh selama 10 tahun. Inti
dari seluruh da’wah dan kerosulan beliau adalah mengajak manusia mentauhidkan
Alloh ﷻ
dan memperingatkan mereka dari bahaya perbuatan kesyirikan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَقَدۡ
بَعَثۡنَا
فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ
ٱللَّهَ
وَٱجۡتَنِبُواْ
ٱلطَّٰغُوتَ﴾
“Dan
sungguh Kami telah mengutus Rosul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan: ‘Sembahlah
Alloh saja, dan jauhilah thoghut (sesembahan selain Alloh dan ia ridho disembah).”
(QS. An-Nahl: 36)
Bab 2: Kewajiban Mencintai
Rosululloh
2.1
Kedudukan Mencintai Rosululloh
Mencintai
Rosululloh ﷺ
bukan sekadar pelengkap amalan atau imbauan anjuran semata, melainkan syarat
kesempurnaan iman seorang Muslim. Cinta kepada beliau harus ditempatkan di atas
rasa cinta kepada segenap makhluk, termasuk orang tua, anak, pasangan, harta
benda, bahkan diri sendiri.
Alloh ﷻ
memberikan ancaman keras bagi siapa saja yang mendahulukan rasa cinta kepada
dunia dan keluarga di atas rasa cinta kepada Alloh ﷻ dan Rosul-Nya:
﴿قُلۡ
إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ
وَأَبۡنَآؤُكُمۡ
وَإِخۡوَٰنُكُمۡ
وَأَزۡوَٰجُكُمۡ
وَعَشِيرَتُكُمۡ
وَأَمۡوَٰلٌ
ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا
وَتِجَٰرَةٌ تَخۡشَوۡنَ
كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ
أَحَبَّ إِلَيۡكُم
مِّنَ ٱللَّهِ
وَرَسُولِهِۦ
وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِۦ
فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ
ٱللَّهُ
بِأَمۡرِهِۦۗ
وَٱللَّهُ
لَا يَهۡدِي
ٱلۡقَوۡمَ
ٱلۡفَٰسِقِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu,
harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkankan
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Alloh dan Rosul-Nya dan dari Jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Alloh
mendatangkan keputusan-Nya. Dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik.’” (QS. At-Taubah: 24)
Nabi ﷺ menjelaskan tingkatan cinta
yang wajib dipenuhi oleh seorang hamba dalam sabdanya:
«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»
“Tidak
beriman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih ia cintai daripada
anaknya, orang tuanya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan
Muslim no. 44)
Rasa cinta
ini merupakan kunci utama untuk merasakan kelezatan dan kemanisan dalam
beragama. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ:
أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ
المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ
كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ»
“Ada 3
perkara yang siapa terdapat 3 perkara tersebut dalam dirinya, niscaya ia akan
merasakan manisnya iman: (1) Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada
selain keduanya, (2) ia mencintai seseorang tidaklah ia mencintainya melainkan
karena Alloh, dan (3) ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia
benci dilemparkan ke dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 16 dan Muslim no. 43)
2.2
Buah Mencintai Rosululloh
Cinta yang
jujur kepada Rosululloh ﷺ
akan membuahkan kenikmatan tertinggi di Akhiroh, yaitu dikumpulkan bersama beliau
di dalam Jannah. Ketika seorang hamba menyadari keterbatasan amalan ibadahnya,
rasa cinta yang tulus kepada Nabi ﷺ menjadi penambal kekurangan tersebut.
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa seorang lelaki Arob
dusun datang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang waktu terjadinya hari Qiyamah, “Kapan hari Qiyamah
tiba?” Beliau bersabda, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Lelaki itu menjawab, “Aku tidak mempersiapkan Sholat yang banyak, Puasa yang
banyak, maupun Shodaqoh yang banyak, hanya saja aku mencintai Alloh dan
Rosul-Nya.” Maka Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Engkau
akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 6171 dan
Muslim no. 2639)
Anas bin
Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu menggambarkan betapa bahagianya para
Shohabat mendengar kabar tersebut dengan perkataannya:
فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ، فَرَحَنَا
بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Maka kami
tidak pernah merasa gembira terhadap sesuatu melebihi kegembiraan kami saat
mendengar sabda Nabi ﷺ:
‘Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.’” (HR. Al-Bukhori no.
3688 dan Muslim no. 2639)
Kecintaan
kepada Alloh ﷻ
dan Rosul-Nya akan menumbuhkan dorongan kuat dalam jiwa untuk mentaati seluruh
perintah dan menjauhi larangan. Seseorang yang benar-benar mencintai kekasihnya
pasti akan berusaha menyenangkan hati kekasihnya dengan mengikuti seluruh
keinginannya.
Bab 3: Wafatnya Rosululloh
3.1
Detik-Detik Wafatnya Beliau
Kematian adalah kepastian yang ditetapkan Alloh ﷻ atas seluruh makhluk-Nya di muka bumi, tidak terabaikan pula
para Nabi dan utusan-Nya. Syariat dan ajaran Islam dibangun di atas ketauhidan
kepada Alloh ﷻ Yang Maha Hidup, bukan ketergantungan pada
jasad fisik Nabi ﷺ.
Alloh ﷻ
menegaskan kematian Nabi ﷺ
jauh sebelum hari wafat beliau:
﴿إِنَّكَ
مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُون﴾
“Sungguh
engkau akan mati dan sungguh mereka akan mati pula.” (QS. Az-Zumar: 30)
Alloh ﷻ juga
meluruskan pemahaman para Shohabat tatkala beredar rumor gugurnya beliau dalam
perang Uhud:
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدۡ
خَلَتۡ
مِن قَبۡلِهِ
ٱلرُّسُلُۚ
أَفَإِيْن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ
عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ
وَمَن يَنقَلِبۡ
عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ
فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ
شَيۡـًٔاۗ
وَسَيَجۡزِي
ٱللَّهُ
ٱلشَّٰكِرِينَ﴾
“Dan
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelum
beliau beberapa orang Rosul. Apakah jika beliau wafat atau dibunuh kamu akan
berbalik ke belakang? Siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan
Alloh sedikit pun. Dan Alloh akan memberi balasan kepada orang-orang yang
bersyukur.” (QS. Ali ‘Imron: 144)
Dari Aisyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan kondisi sakaratul maut
yang dialami oleh Rosululloh ﷺ.
Beliau mendengar Nabi ﷺ
bersabda saat sakit keras:
«مَا مِنْ نَبِيٍّ يَمْرَضُ إِلَّا خُيِّرَ بَيْنَ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
“Tidaklah
seorang Nabi sakit kecuali ia diberi pilihan antara dunia dan Akhiroh.” (Shohihul
Jami no. 5791. Lihat Al-Bukhori no. 4463 dan Muslim no. 2382)
Ketika rasa
sakit semakin memuncak, Nabi ﷺ
mencelupkan tangannya ke dalam bejana air, mengusap wajahnya, lalu mengarahkan
pandangannya ke atas seraya berdoa dengan kalimat terakhirnya:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي
بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى»
“Ya Alloh
ampunilah aku, rohmatilah aku, dan pertemukanlah aku dengan Ar-Rofiq Al-A’la
(kedudukan tertinggi di Jannah bersama para Nabi).” (HR. Al-Bukhori no. 4440
dan Muslim no. 2444)
3.2
Sikap Para Shohabat
Wafatnya Rosululloh ﷺ pada hari Senin bulan
Robi’ul Awwal tahun 11
Hijriyah menjadi ujian terberat bagi para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Kesedihan mendalam menyelimuti kota Madinah hingga Umar bin Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu
‘anhu berdiri dengan pedang terhunus karena menolak percaya bahwa beliau
telah wafat. Umar menyangka beliau hanya menghadap Alloh ﷻ
sebagaimana Nabi Musa dan akan kembali lagi.
Dalam suasana genting tersebut, Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H)
rodhiyallahu ‘anhu tampil dengan ketenangan jiwa dan kedalaman ilmu.
Beliau masuk ke kamar Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, menyikap kain
yang menutupi wajah Rosululloh ﷺ, mencium kening beliau, lalu menangis
seraya berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, engkau sangat harum
sewaktu hidup maupun setelah wafat.”
Kemudian
Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu keluar menuju Masjid,
naik ke atas mimbar, dan menyampaikan khutbahnya yang monumental:
«أَمَّا بَعْدُ، فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ يَعْبُدُ
مُحَمَّدًا ﷺ،
فَإِنَّ مُحَمَّدًا ﷺ
قَدْ مَاتَ، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ، فَإِنَّ اللَّهَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ»
“(Wahai
manusia), siapa yang menyembah Muhammad, maka sungguh Muhammad telah wafat. Dan
siapa yang menyembah Alloh, maka sungguh Alloh Maha Hidup dan tidak akan pernah
mati.” (HR. Al-Bukhori no. 1241, 1242)
Setelah itu
Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu membacakan firman Alloh ﷻ
dalam surat Ali ‘Imron ayat 144:
﴿وَمَا
مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدۡ
خَلَتۡ
مِن قَبۡلِهِ
ٱلرُّسُلُۚ
أَفَإِيْن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ
عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡ﴾
“Dan
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rosul, sungguh telah berlalu sebelum
beliau beberapa orang Rosul. Apakah jika beliau wafat atau dibunuh kamu akan
berbalik ke belakang?” (QS. Ali ‘Imron: 144)
Umar bin
Al-Khottob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu menggambarkan perasaannya saat
mendengar ayat tersebut dibacakan:
«وَاللَّهِ مَا هُوَ إِلَّا أَنْ سَمِعْتُ أَبَا
بَكْرٍ تَلاَهَا فَعَقِرْتُ، حَتَّى مَا تُقِلُّنِي رِجْلاَيَ، وَحَتَّى أَهْوَيْتُ
إِلَى الأَرْضِ حِينَ سَمِعْتُهُ تَلاَهَا، عَلِمْتُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ
قَدْ مَاتَ»
“Demi
Alloh, tidaklah ada yang terjadi melainkan ketika aku mendengar Abu Bakar
membacakannya, kakiku merasa lemas hingga tidak sanggup lagi menopang tubuhku
dan aku jatuh tersungkur ke tanah saat mendengar ia membacanya, barulah aku
sadar bahwa Nabi ﷺ
sungguh telah wafat.” (HR. Al-Bukhori no. 4454)
Khutbah Abu
Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu ini menegaskan prinsip
mendasar agama Islam: Rosululloh ﷺ telah berpulang kepada Alloh ﷻ, namun syariat, ajaran
Tauhid, dan Sunnah yang beliau tinggalkan wajib dipegang teguh oleh seluruh
umat manusia hingga akhir zaman.
Bab 4: Syarat Cinta Kepada Rosululloh
4.1
Membenarkan Seluruh Berita Beliau
Bukti pertama kejujuran rasa cinta seorang hamba kepada
Rosululloh ﷺ
adalah membenarkan secara mutlak seluruh berita yang disampaikan oleh beliau (tasdiq
bima akhbar). Berita
tersebut mencakup kabar ghoib masa lalu tentang para Nabi terdahulu, kabar ghoib
masa depan tentang tanda-tanda hari Qiyamah, serta berita kejadian alam kubur,
Jannah, dan Naar.
Alloh ﷻ
menegaskan keagungan sabda Nabi ﷺ:
﴿وَمَا
يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ
إِنۡ
هُوَ إِلَّا وَحۡيٌ
يُوحَىٰ﴾
“Dan tidaklah
yang diucapkannya itu menurut keinginan hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 3-4)
Sikap
pembenaran ini tercermin penuh pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu
‘anhu ketika terjadi peristiwa Isro’ Mi’roj. Orang-orang kafir Quroisy
mendatangi beliau dan mengejek berita perjalanan malam Nabi ﷺ dari Masjidil Harom di Makkah
ke Masjidil Aqsho di Palestina lalu naik ke langit dalam satu malam. Abu Bakar
Ash-Shiddiq (13 H) rodhiyallahu ‘anhu menjawab tanpa ragu sedikit pun:
«إِنْ كَانَ قَالَ ذَلِكَ فَقَدْ صَدَقَ»
“Jika
beliau yang mengatakannya, maka sungguh beliau benar.” (Ash-Shohihah no.
306)
Karena
keteguhan beliau dalam membenarkan seluruh ucapan Nabi ﷺ inilah Abu Bakar dianugerahi
gelar Ash-Shiddiq (orang yang sangat membenarkan).
4.2
Mentaati Seluruh Perintah Beliau
Bukti kedua
adalah mentaati seluruh perintah beliau (thoth’ah fima amar). Ketaatan
kepada Rosululloh ﷺ
bersifat mengikat dan tidak bisa ditawar-tawar karena Alloh ﷻ
menjadikan ketaatan kepada Rosul sebagai wujud nyata ketaatan kepada Alloh ﷻ
sendiri.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَّن
يُطِعِ ٱلرَّسُولَ
فَقَدۡ
أَطَاعَ ٱللَّهَۖ
وَمَن تَوَلَّىٰ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ
عَلَيۡهِمۡ
حَفِيظٗا﴾
“Siapa
mentaati Rosul, maka sungguh ia telah mentaati Alloh. Dan siapa berpaling, maka
Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa:
80)
Alloh ﷻ
memuji karakter utama orang-orang Mu’min saat menerima keputusan perintah Alloh
ﷻ
dan Rosul-Nya:
﴿إِنَّمَا
كَانَ قَوْلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ
وَرَسُولِهِۦ
لِيَحۡكُمَ
بَيۡنَهُمۡ
أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا
وَأَطَعۡنَاۚ
وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ﴾
“Sungguh
jawaban orang-orang Mu’min, apabila mereka dipanggil kepada Alloh dan Rosul-Nya
agar Rosul menghukum di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami
taat. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.’” (QS. An-Nur: 51)
Alloh ﷻ
bahkan bersumpah atas nama diri-Nya bahwa seseorang belum dianggap beriman
secara sempurna jika belum tunduk penuh pada keputusan hukum Nabi ﷺ:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ
حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ
ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ
حَرَجٗا
مِّمَّا قَضَيۡتَ
وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا﴾
“Maka demi
Robb-mu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau hakim dalam
perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam
hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan penuh
pasrah.” (QS. An-Nisa: 65)
4.3
Menjauhi Seluruh Larangan Beliau
Bukti ketiga dari cinta kepada Rosululloh ﷺ
adalah menjauhi segala perkara yang dilarang dan diwaspadai oleh beliau (ijtinab
ma naha ‘anhu wazajar). Seorang
pecinta sejati akan menjauhi apa yang dibenci oleh sosok yang dicintainya.
Alloh ﷻ
berfirman memerintahkan penerimaan penuh atas perintah dan larangan Rosul:
﴿وَمَآ
ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ
فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ
عَنۡهُ
فَٱنتَهُواْۚ
وَٱتَّقُواْ
ٱللَّهَۖ
إِنَّ ٱللَّهَ
شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ﴾
“Apa yang
diberikan Rosul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka
tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sungguh Alloh sangat keras
hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)
Nabi ﷺ memberikan panduan lugas
mengenai pelaksanaan perintah dan penjauhan larangan beliau:
«مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا
أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apa yang
aku larang bagi kalian maka jauhilah seluruhnya, dan apa yang aku perintahkan
kepada kalian maka kerjakanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhori no. 7288 dan
lafazh Muslim no. 1337)
Perbedaan
mendasar dalam hadits ini adalah larangan wajib dijauhi secara total, sedangkan
perintah dikerjakan sesuai batas kemampuan fisik.
4.4
Beribadah Hanya dengan Syariat Beliau
Bukti keempat dari landasan cinta adalah tidak beribadah
kepada Alloh ﷻ kecuali dengan tata cara syariat yang
telah disyariatkan oleh beliau (an la yu’bada allohu illa bima syaro’).
Ibadah dalam Islam bersifat tauqifiyyah (terikat dengan dalil), sehingga
penambahan, pengurangan, atau rekayasa bentuk ibadah baru yang tidak pernah
dicontohkan oleh Nabi ﷺ dan para Shohabat dinamakan bid’ah.
Nabi ﷺ memberikan peringatan tegas
tentang perkara baru dalam ibadah:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ
مِنْهُ فَوَ رَدٌّ»
“Siapa
membuat perkara baru dalam urusan agama kami ini yang tidak ada padanya, maka
perkara tersebut tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Dalam
riwayat Muslim ditegaskan kembali bahwa amalan bid’ah tetap tertolak:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا
فَهُوَ رَدٌّ»
“Siapa
melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami di atasnya, maka amalan
tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) rohimahulloh menyingkap bahaya bahaya perbuatan bid’ah
dalam ucapan beliau:
«الْبِدْعَةُ أَحَبُّ إِلَى إِبْلِيسَ مِنَ الْمَعْصِيَةِ،
الْمَعْصِيَةُ يُتَابُ مِنْهَا، وَالْبِدْعَةُ لَا يُتَابُ مِنْهَا»
“Perbuatan
bid’ah itu lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan. Karena pelaku
kemaksiatan menyadari dosanya sehingga bertaubat darinya, sedangkan pelaku bid’ah
merasa sedang berbuat kebaikan sehingga ia tidak bertaubat darinya.” (Musnad
Ibnu Ja’ad no. 1809)
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh menjelaskan syarat diterimanya amal
ibadah di hadapan Alloh ﷻ ketika menafsiri firman Alloh ﷻ tentang amalan terbaik:
«أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، إنَّ الْعَمَلَ إذَا
كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ
يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابً»
“Ibadah itu
harus paling ikhlas dan paling benar. Jika amalan dilakukan secara ikhlas namun
tidak benar (tidak sesuai Sunnah), maka tidak diterima. Dan jika amalan itu
benar (sesuai Sunnah) namun tidak ikhlas, maka tidak diterima, sampai amalan
tersebut ikhlas karena Alloh dan benar sesuai Sunnah Rosululloh ﷺ.” (Majmu Fatawa, Syaikhul
Islam, 11/509)
Bab 5: Ancaman Bagi Orang yang Menyelisihi
Sunnah
5.1
Bahaya Menyelisihi Jalan Beliau
Menyelisihi
ajaran, petunjuk, dan jalan hidup Rosululloh ﷺ membawa konsekuensi kebinasaan di dunia serta siksaan pedih di
Akhiroh. Orang yang sengaja memilih jalan ibadah atau pemahaman agama yang
berseberangan dengan jalan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum akan
dibiarkan Alloh ﷻ
tersesat dalam penyimpangannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَن
يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ
مِن بَعۡدِ
مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ
وَيَتَّبِعۡ
غَيۡرَ
سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
نُوَلِّهِۦ
مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ
جَهَنَّمَۖ
وَسَآءَتۡ
مَصِيرًا﴾
“Dan siapa
menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa dalam kesesatan yang telah
dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk
tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115)
Alloh ﷻ juga
memberikan peringatan tegas bagi setiap individu agar tidak meremehkan atau
membelokkan perintah Rosululloh ﷺ:
﴿فَلۡيَحۡذَرِ
ٱلَّذِينَ
يُخَالِفُونَ عَنْ أَمۡرِهِۦٓ
أَن تُصِيبَهُمۡ
فِتۡنَةٌ
أَوْ يُصِيبَهُمۡ
عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Maka
hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul takut akan ditimpa fitnah
(kesyirikan, kesesatan hati) atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur:
63)
Fitnah dalam ayat di atas adalah timbulnya
kekufuran, kemunafikan, atau penyimpangan dalam hati akibat menolak petunjuk
Nabi ﷺ.
5.2
Ancaman Bagi Orang yang Menyakiti Mengingkari
Sikap melecehkan, mencela, atau menyakiti Rosululloh ﷺ
baik melalui ucapan maupun perbuatan merupakan dosa besar yang mengundang
kemurkaan Alloh ﷻ di dunia dan Akhiroh. Demikian pula penolakan terhadap ajaran risalah
beliau secara menyeluruh oleh siapapun dari kalangan manusia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
ٱلَّذِينَ
يُؤۡذُونَ
ٱللَّهَ
وَرَسُولَهُۥ
لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ
فِي ٱلدُّنۡيَا
وَٱلۡأَخِرَةِ
وَأَعَدَّ لَهُمۡ
عَذَابٗا
مُّهِينٗا﴾
“Sungguh
orang-orang yang menyakiti Alloh dan Rosul-Nya, Alloh akan melaknatinya di
dunia dan di Akhiroh dan menyediakan bagi mereka adzab yang menghinakan.” (QS.
Al-Ahzab: 57)
Mengenai
ancaman bagi siapapun yang mendengar da’wah Nabi ﷺ namun menolak beriman hingga
ajalnya tiba, Rosululloh ﷺ
bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا يَسْمَعُ
بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ
وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»
“Demi Dzat
yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik
Yahudi maupun Nashroni, mendengar tentang aku lalu ia meninggal dunia dalam
keadaan tidak beriman kepada ajaran yang aku bawa, melainkan ia termasuk
penghuni Naar.” (HR. Muslim no. 153)
Penutup
Mengenal
Rosululloh ﷺ
secara mendalam dan benar merupakan kunci utama kebahagiaan seorang hamba di
dunia dan Akhiroh. Kerosulan beliau adalah rohmat terbesar yang Alloh ﷻ
limpahkan bagi semesta alam. Bukti keimanan dan cinta kita kepada beliau tidak
diukur dari pengakuan lisan semata, melainkan dari sejauh mana kita membenarkan
setiap berita yang beliau sampaikan, mentaati perintah beliau, menjauhi
larangan beliau, serta memurnikan cara beribadah hanya dengan mencontoh Sunnah
beliau tanpa membuat perkara bid’ah.
Semoga Alloh ﷻ memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa bertaut pada ajaran beliau, menghidupkan Sunnah beliau di tengah kehidupan sehari-hari, dan mengumpulkan kita semua bersama beliau di dalam Jannah kelak.[]
