Cari Ebook

[PDF] Tarjamah Suroh Al-Anbiya - Tafsir Muyassar

 


التفسير الميسر

Tarjamah Suroh Al-Anbiya

Penulis: Sekelompok Pakar Tafsir

Penerbit: Kompleks Raja Fahd untuk Percetakan Al-Qur’an, Arob Saudi

Edisi: Kedua, dengan penambahan dan penyempurnaan, 1430 H / 2009 M

Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 88

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab


 

﷽

﴿ٱقۡتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمۡ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٍ مُّعۡرِضُونَ ١﴾

[1]. Telah semakin dekat waktu perhitungan amal bagi manusia atas apa yang telah mereka perbuat, namun orang-orang kafir justru hidup lalai dari kenyataan ini dan berpaling dari peringatan ini.

﴿مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٍ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ٢﴾

[2]. Tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada mereka untuk memperbarui peringatan bagi mereka, melainkan mereka mendengarkannya dengan sikap bermain-main dan mengolok-olok.

﴿لَاهِيَةً قُلُوبُهُمۡۗ وَأَسَرُّوا ٱلنَّجۡوَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا هَلۡ هَـٰذَآ إِلَّا بَشَرٌ مِّثۡلُكُمۡۖ أَفَتَأۡتُونَ ٱلسِّحۡرَ وَأَنتُمۡ تُبۡصِرُونَ ٣﴾

[3]. Hati orang-orang yang zholim itu lalai dari Al-Qur’an yang mulia dan sibuk dengan kebathilan dunia serta hawa nafsunya, sehingga mereka tidak merenungkan isinya. Bahkan orang-orang yang zholim dari kaum Quroisy saling berbisik secara rahasia dengan menyebarkan isu untuk menghalangi manusia dari keimanan kepada Nabi Muhammad ﷺ, seraya berkata, “Bukankah orang ini hanyalah seorang manusia biasa seperti kalian yang tidak ada bedanya sedikit pun? Apakah kalian akan mendatangi sihir padahal kalian melihat bahwa dia adalah manusia biasa seperti kalian?”

﴿قَالَ رَبِّي يَعۡلَمُ ٱلۡقَوۡلَ فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٤﴾

[4]. Nabi ﷺ mengembalikan urusan tersebut kepada Robb-nya Yang Mahasuci lagi Mahatinggi seraya berkata, “Robb-ku mengetahui setiap ucapan di langit dan di bumi, dan Dia mengetahui apa yang kalian rahasiakan dalam pembicaraan kalian. Dia Maha Mendengar setiap ucapan kalian lagi Maha Mengetahui keadaan kalian.” Dalam ucapan ini terkandung ancaman dan peringatan keras bagi mereka.

﴿بَلۡ قَالُوآ أَضۡغَـٰثُ أَحۡلَـٰمٍۭ بَلِ ٱفۡتَرَىٰهُ بَلۡ هُوَ شَاعِرٌ فَلۡيَأۡتِنَا بِـَٔايَةٍ كَمَآ أُرۡسِلَ ٱلۡأَوَّلُونَ ٥﴾

[5]. Bahkan orang-orang kafir itu mengingkari Al-Qur’an; di antara mereka ada yang berkata, “Al-Qur’an ini hanyalah mimpi-mimpi yang tidak berkenyataan,” ada pula yang berkata, “Dia telah mengada-ada dan berbuat dusta, Al-Qur’an ini bukanlah Wahyu,” dan ada pula yang berkata, “Sungguh Muhammad adalah seorang penyair dan apa yang dibawanya adalah syair. Jika dia menghendaki kami membenarkannya, hendaklah dia mendatangkan kepada kami suatu Mukjizat yang dapat diindra sebagaimana Unta Nabi Sholih, ayat-ayat Nabi Musa, Nabi ‘Isa, serta apa yang dibawa oleh para Rosul sebelum dirinya.”

﴿مَآ ءَامَنَتۡ قَبۡلَهُم مِّن قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَآۖ أَفَهُمۡ يُؤۡمِنُونَ ٦﴾

[6]. Tidak ada satu pun negeri sebelum orang-orang kafir Makkah yang penduduknya meminta mukjizat kepada Rosul mereka lalu mukjizat itu diwujudkan melainkan mereka tetap mendustakannya, sehingga Kami membinasakan mereka. Apakah orang-orang kafir Makkah akan beriman jika mukjizat yang mereka minta diwujudkan? Sama sekali tidak, sungguh mereka tidak akan beriman.

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُّوحِيۦ إِلَيۡهِمۡۖ فَسۡئَلُوآ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ ٧﴾

[7]. Kami tidak mengutus sebelum engkau—wahai Rosul—melainkan para lelaki dari kalangan manusia yang Kami berikan Wahyu kepada mereka, dan Kami tidak mengutus para Malaikat. Maka tanyakanlah—wahai orang-orang kafir Makkah—kepada orang-orang yang memiliki ilmu tentang Kitab-Kitab terdahulu yang diturunkan, jika kalian tidak mengetahui hal itu.

﴿وَمَا جَعَلۡنَـٰهُمۡ جَسَدًا لَّا يَأۡكُلُونَ ٱلطَّعَامَ وَمَا كَانُوا خَـٰلِدِينَ ٨﴾

[8]. Kami tidak menjadikan para Rosul sebelum engkau itu memiliki tubuh yang tidak membutuhkan makanan dan minuman, dan mereka bukanlah orang-orang yang kekal hidup di dunia tanpa mengalami kematian.

﴿ثُمَّ صَدَقۡنَـٰهُمُ ٱلۡوَعۡدَ فَأَنجَيۡنَـٰهُمۡ وَمَن نَّشَآءُ وَأَهۡلَكۡنَا ٱلۡمُسۡرِفِينَ ٩﴾

[9]. Kemudian Kami menepati janji Kami kepada para Nabi dan para pengikut mereka berupa pertolongan dan keselamatan, serta Kami membinasakan orang-orang yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri dengan sebab kekafiran mereka kepada Robb mereka.

﴿لَقَدۡ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ كِتَـٰبًا فِيهِ ذِكۡرُكُمۡ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ١٠﴾

[10]. Sungguh Kami telah menurunkan kepada kalian Al-Qur’an ini, yang di dalamnya terdapat kemuliaan dan kehormatan bagi kalian di dunia dan Akhiroh jika kalian mengambil pelajaran darinya. Apakah kalian tidak menggunakan akal fikiran kalian terhadap keutamaan yang telah Kami berikan kepada kalian melebihi orang lain?

﴿وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٍ كَانَتۡ ظَالِمَةً وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ ١١﴾

[11]. Betapa banyak negeri yang penduduknya telah berbuat zholim disebabkan kekafiran mereka terhadap apa yang dibawa oleh para Rosul mereka, lalu Kami membinasakan mereka dengan siksaan yang memusnahkan mereka seluruhnya, dan Kami ciptakan setelah mereka kaum yang lain sebagai penggantinya.

﴿فَلَمَّآ أَحَسُّوا بَأۡسَنَآ إِذَا هُم مِّنۡهَا يَرۡكُضُونَ ١٢﴾

[12]. Maka ketika orang-orang yang zholim itu merasakan adzab Kami yang amat keras menimpa mereka dan melihat tanda-tandanya, serta-merta mereka berlari tergesa-gesa melarikan diri dari negeri mereka.

﴿لَا تَرۡكُضُوا وَٱرۡجِعُوآ إِلَىٰ مَآ أُتۡرِفۡتُمۡ فِيهِ وَمَسَـٰكِنِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تُسۡئَلُونَ ١٣﴾

[13]. Lalu diserukan kepada mereka dalam keadaan demikian, “Janganlah kalian berlari! Kembalilah kepada kenikmatan dan kemewahan hidup kalian di dunia yang melalaikan serta ke tempat-tempat tinggal kalian yang megah, agar kalian ditanyai tentang sesuatu dari kenikmatan dunia kalian!” Ucapan ini disampaikan kepada mereka sebagai bentuk cemoohan dan ejekan.

﴿قَالُوا يَـٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَـٰلِمِينَ ١٤﴾

[14]. Tidak ada jawaban dari mereka melainkan pengakuan atas dosa-dosa mereka seraya berkata, “Aduhai celakanya kami, sungguh kami dahulu adalah orang-orang yang berbuat zholim kepada diri kami sendiri dengan kekafiran kami.”

﴿فَمَا زَالَت تِّلۡكَ دَعۡوَىٰهُمۡ حَتَّىٰ جَعَلۡنَـٰهُمۡ حَصِيدًا خَـٰمِدِينَ ١٥﴾

[15]. Ucapan tersebut—yaitu doa penyesalan atas kebinasaan diri dan pengakuan atas kezholiman—senantiasa mereka ulang-ulang sampai Kami menjadikan mereka bagaikan tanaman yang telah dituai, mati padam tanpa ada kehidupan lagi padanya. Maka waspadalah kalian—wahai orang-orang yang diajak bicara—agar tidak terus-menerus mendustakan Nabi Muhammad ﷺ, sehingga menimpa kalian apa yang telah menimpa umat-umat sebelum kalian.

﴿وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَهُمَا لَـٰعِبِينَ ١٦﴾

[16]. Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara main-main dan sia-sia, melainkan untuk menegakkan hujjah atas kalian—wahai manusia—dan agar kalian mengambil pelajaran dari seluruh ciptaan itu, sehingga kalian mengetahui bahwa Dzat Yang menciptakan semua itu tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya dan tidak layak ibadah diberikan kecuali hanya kepada-Nya.

﴿لَوۡ أَرَدۡنَآ أَن نَّتَّخِذَ لَهۡوًا لَّٱتَّخَذۡنَـٰهُ مِن لَّدُنَّآ إِن كُنَّا فَـٰعِلِينَ ١٧﴾

[17]. Seandainya Kami hendak mengambil permainan berupa anak atau istri, niscaya Kami mengambilnya dari sisi Kami sendiri dan bukan dari sisi kalian, sekiranya Kami hendak berbuat demikian. Namun Kami tidak pernah melakukan hal itu karena mustahil bagi Kami mempunyai anak atau istri.

﴿بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَـٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌۚ وَلَكُمُ ٱلۡوَيۡلُ مِمَّا تَصِفُونَ ١٨﴾

[18]. Bahkan Kami melemparkan kebenaran dan menjelaskannya sehingga kebenaran itu menghancurkan kebathilan, lalu serta-merta kebathilan itu lenyap dan musnah. Dan bagi kalian siksaan yang amat pedih di Akhiroh—wahai orang-orang musyrik—disebabkan persifatan kalian terhadap Robb kalian dengan sifat yang tidak layak bagi keagungan-Nya.

﴿وَلَهُۥ مَن فِي ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَمَنۡ عِندَهُۥ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ ١٩﴾

[19]. Milik Alloh semata segala yang ada di langit dan di bumi. Dan para Malaikat yang ada di sisi-Nya tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya dan tidak pernah merasa lelah. Maka bagaimana mungkin dipersekutukan dengan-Nya sesuatu yang merupakan hamba dan ciptaan-Nya?

﴿يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ ٢٠﴾

[20]. Para Malaikat senantiasa bertasbih menyucikan Alloh pada waktu malam dan siang hari tanpa pernah merasa lemah dan tanpa pernah bosan.

﴿أَمِ ٱتَّخَذُوآ ءَالِهَةً مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ هُمۡ يُنشِرُونَ ٢١﴾

[21]. Bagaimana mungkin dibenarkan tindakan orang-orang musyrik yang mengambil tuhan-tuhan yang lemah dari bumi yang tidak mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati?

﴿لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ ٢٢﴾

[22]. Seandainya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Alloh yang mengatur urusan keduanya, niscaya runtuhlah keteraturan sistem keduanya. Maka Mahasuci Alloh Robb ‘Arsy dan Mahatinggi dari apa yang disifatkan oleh orang-orang kafir berupa kedustaan, kebohongan, dan setiap kekurangan.

﴿لَا يُسۡئَلُ عَمَّا يَفۡعَلُ وَهُمۡ يُسۡـَٔلُونَ ٢٣﴾

[23]. Di antara bukti keesaan Alloh dalam penciptaan dan hak ibadah adalah bahwa Dia tidak ditanyai tentang ketetapan hukum-Nya pada makhluk-Nya, sedangkan seluruh makhluk akan ditanyai tentang perbuatan mereka.

﴿أَمِ ٱتَّخَذُوا مِن دُونِهِۦ ءَالِهَةً قُلۡ هَاتُوا بُرۡهَـٰنَكُمۡۖ هَـٰذَا ذِكۡرُ مَن مَّعِيَ وَذِكۡرُ مَن قَبۡلِيۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡحَقَّ فَهُم مُّعۡرِضُونَ ٢٤﴾

[24]. Apakah orang-orang musyrik itu mengambil tuhan-tuhan selain Alloh yang dapat memberi manfaat, mendatangkan bahaya, menghidupkan, dan mematikan? Katakanlah—wahai Rosul—kepada mereka, “Bawalah bukti yang kalian miliki atas tuhan-tuhan yang kalian sembah! Tidak ada dalam Al-Qur’an yang aku bawa dan tidak pula dalam Kitab-Kitab terdahulu dalil yang membenarkan prasangka kalian.” Dan tidaklah mereka mempersekutukan Alloh melainkan karena kebodohan dan taklid semata, sehingga mereka berpaling dari kebenaran lagi mengingkarinya.

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنَا فَٱعۡبُدُونِ ٢٥﴾

[25]. Kami tidak mengutus seorang Rosul pun sebelum engkau—wahai Rosul—melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan haq selain Alloh, maka ikhlaskanlah ibadah hanya kepada-Nya semata.

﴿وَقَالُوا ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ وَلَدًاۗ سُبۡحَـٰنَهُۥۚ بَلۡ عِبَادٌ مُّكۡرَمُونَ ٢٦﴾

[26]. Orang-orang musyrik berkata bahwa Ar-Rohman telah mengambil anak, dengan prasangka mereka bahwa para Malaikat adalah putri-putri Alloh. Mahasuci Alloh dari anggapan demikian! Sebaliknya, para Malaikat adalah hamba-hamba Alloh yang dimuliakan dan dikhususkan dengan berbagai keutamaan.

﴿لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ ٢٧﴾

[27]. Karena indahnya ketaatan mereka, mereka tidak pernah mendahului Alloh dalam ucapan, yakni mereka tidak berbicara melainkan dengan apa yang diperintahkan oleh Robb mereka, dan mereka tidak melakukan suatu perbuatan pun sebelum Dia memberi izin kepada mereka.

﴿يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ ٢٨﴾

[28]. Tidak ada satu pun dari perbuatan para Malaikat, baik yang lalu maupun yang akan datang, melainkan Alloh mengetahuinya dan memperhitungkannya atas mereka. Dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang yang diridhoi oleh Alloh untuk mendapat syafa’at, serta mereka senantiasa merasa takut dan cemas terhadap perintah dan larangan-Nya.

﴿وَمَن يَقُلۡ مِنۡهُمۡ إِنِّي إِلَـٰهٌ مِّن دُونِهِۦ فَذَٰلِكَ نَجۡزِيهِ جَهَنَّمَۚ كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلظَّـٰلِمِينَ ٢٩﴾

[29]. Siapa di antara para Malaikat yang mengaku—secara pengandaian—bahwa dirinya adalah tuhan selain Alloh, maka balasan baginya adalah Jahannam. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada setiap orang yang zholim lagi musyrik.

﴿أَوَلَمۡ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوآ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا رَتۡقًا فَفَتَقۡنَـٰهُمَاۖ وَجَعَلۡنَا مِنَ ٱلۡمَآءِ كُلَّ شَيۡءٍ حَيٍّۖ أَفَلَا يُؤۡمِنُونَ ٣٠﴾

[30]. Apakah orang-orang kafir itu tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulu menyatu tanpa ada pemisah di antara keduanya, tidak ada hujan dari langit dan tidak ada tumbuhan dari bumi, lalu Kami pisahkan keduanya dengan kekuasaan Kami, Kami turunkan hujan dari langit dan Kami tumbuhkan tanaman dari bumi, serta Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup? Apakah orang-orang yang mengingkari ini tidak beriman sehingga membenarkan apa yang mereka saksikan dan mengkhususkan ibadah hanya kepada Alloh?

﴿وَجَعَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمۡ وَجَعَلۡنَا فِيهَا فِجَاجًا سُبُلًا لَّعَلَّهُمۡ يَهۡتَدُونَ ٣١﴾

[31]. Kami telah menciptakan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi tidak berguncang menimpa mereka, dan Kami jadikan padanya jalan-jalan yang luas agar makhluk-makhluk mendapat petunjuk menuju penghidupan mereka serta mengesakan Dzat Yang menciptakan mereka.

﴿وَجَعَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ سَقۡفًا مَّحۡفُوظًاۖ وَهُمۡ عَنۡ ءَايَـٰتِهَا مُعۡرِضُونَ ٣٢﴾

[32]. Kami menjadikan langit sebagai atap bagi bumi yang tidak ditegakkan oleh tiang dan terjaga dari keruntuhan serta tidak dapat ditembus oleh para syaithon. Namun orang-orang kafir justru berpaling dan lalai dari mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran di langit seperti matahari, bulan, dan bintang-bintang.

﴿وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَۖ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسۡبَحُونَ ٣٣﴾

[33]. Alloh Yang menciptakan malam agar manusia beristirahat padanya, dan siang agar mereka mencari penghidupan. Dia menciptakan matahari sebagai tanda untuk siang hari dan bulan sebagai tanda untuk malam hari, dan masing-masing memiliki garis edar yang dilalui dan diikutinya tanpa pernah menyimpang.

﴿وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَـٰلِدُونَ ٣٤﴾

[34]. Kami tidak pernah menjadikan kekekalan hidup di dunia bagi seorang manusia pun sebelum engkau—wahai Rosul. Apakah jika engkau wafat mereka berharap akan kekal setelahmu? Hal itu tidak akan terjadi. Dan ayat ini merupakan dalil bahwa Nabi Khidhir ‘alaihissalam telah wafat karena beliau adalah seorang manusia.

﴿كُلُّ نَفۡسٍ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتْنَةًۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥﴾

[35]. Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian tanpa terkecuali, berapa pun panjang usianya di dunia. Keberadaan manusia di dalam kehidupan ini hanyalah sebagai ujian dengan beban syariat berupa perintah dan larangan, serta dengan perubahan keadaan berupa kebaikan dan keburukan. Kemudian tempat kembali hanya kepada Alloh semata untuk dihisab dan diberi balasan.

﴿وَإِذَا رَءَاكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوآ إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَـٰذَا ٱلَّذِي يَذۡكُرُ ءَالِهَتَكُمۡ وَهُم بِذِكۡرِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ هُمۡ كَـٰفِرُونَ ٣٦﴾

[36]. Apabila orang-orang kafir itu melihatmu—wahai Rosul—mereka memberi isyarat kepadamu seraya mengolok-olok dengan ucapan sebagian mereka kepada sebagian yang lain, “Apakah orang ini yang mencela tuhan-tuhan kalian?” Padahal mereka sendiri ingkar kepada Ar-Rohman, ni’mat-ni’mat-Nya, serta Al-Qur’an dan petunjuk yang diturunkan-Nya.

﴿خُلِقَ ٱلۡإِنسَـٰنُ مِنۡ عَجَلٍۚ سَأُورِيكُمۡ ءَايَـٰتِي فَلَا تَسۡتَعۡجِلُونِ ٣٧﴾

[37]. Manusia diciptakan memiliki sifat tergesa-gesa, selalu ingin mendahului sesuatu dan meminta disegerakan. Kaum Quroisy telah meminta disegerakan adzab dan menganggapnya lambat datang, maka Alloh memperingatkan mereka bahwa Dia akan memperlihatkan kepada mereka adzab yang mereka minta disegerakan itu, maka janganlah mereka meminta agar disegerakan.

﴿وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَـٰذَا ٱلۡوَعۡدُ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ ٣٨﴾

[38]. Orang-orang kafir berkata dengan meminta disegerakan adzab secara mengejek, “Kapankah terlaksananya janji adzab yang engkau janjikan kepada kami wahai Muhammad, jika engkau dan para pengikutmu termasuk orang-orang yang benar?”

﴿لَوۡ يَعۡلَمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا حِينَ لَا يَكُفُّونَ عَن وَجُوهِهِمُ ٱلنَّارَ وَلَا عَن ظُهُورِهِمۡ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ٣٩﴾

[39]. Seandainya orang-orang kafir itu mengetahui apa yang akan mereka hadapi ketika mereka tidak mampu menolak api Naar dari wajah dan punggung mereka, serta tidak menemukan penolong yang menolong mereka, niscaya mereka tidak akan bertahan dalam kekafiran mereka dan tidak akan meminta disegerakan adzab mereka.

﴿بَلۡ تَأۡتِيهِم بَغۡتَةً فَتَبۡهَتُهُمۡ فَلَا يَسۡتَطِيعُونَ رَدَّهَا وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ ٤٠﴾

[40]. Bahkan Hari Qiyamah itu akan datang kepada mereka secara tiba-tiba sehingga membingungkan mereka dan menimbulkan rasa takut yang amat sangat, mereka tidak mampu menolak adzab itu dari diri mereka dan tidak pula diberi penangguhan waktu untuk bertaubat atau mengajukan alasan.

﴿وَلَقَدِ ٱسۡتُهۡزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبۡلِكَ فَحَاقَ بِٱلَّذِينَ سَخِرُوا مِنۡهُم مَّا كَانُوا بِهِۦ يَسۡتَهۡزِءُونَ ٤١﴾

[41]. Sungguh telah diolok-olok para Rosul sebelum engkau—wahai Rosul—lalu orang-orang yang mengejek itu ditimpa oleh adzab yang dahulu menjadi bahan ejekan dan olok-olokan mereka.

﴿قُلۡ مَن يَكۡلَؤُكُم بِٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ مِنَ ٱلرَّحۡمَـٰنِۚ بَلۡ هُمۡ عَن ذِكۡرِ رَبِّهِم مُّعۡرِضُونَ ٤٢﴾

[42]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang yang meminta disegerakan adzab itu, “Tidak ada seorang pun yang dapat menjaga dan melindungi kalian pada waktu malam atau siang hari, dalam tidur atau terjaga kalian, dari siksaan Ar-Rohman jika siksaan itu menimpa kalian.” Bahkan mereka justru berpaling dan lalai dari Al-Qur’an serta nasihat-nasihat Robb mereka.

﴿أَمۡ لَهُمۡ ءَالِهَةٌ تَمۡنَعُهُم مِّن دُونِنَاۚ لَا يَسۡتَطِيعُونَ نَصۡرَ أَنفُسِهِمۡ وَلَا هُم مِّنَّا يُصۡحَبُونَ ٤٣﴾

[43]. Apakah mereka memiliki tuhan-tuhan yang dapat melindungi mereka dari adzab Kami? Sungguh tuhan-tuhan mereka tidak mampu menolong diri mereka sendiri, maka bagaimana mungkin mereka dapat menolong para penyembahnya? Dan mereka tidak akan mendapat perlindungan dari Kami.

﴿بَلۡ مَتَّعۡنَا هَـٰؤُلَآءِ وَءَابَآءَهُمۡ حَتَّىٰ طَالَ عَلَيۡهِمُ ٱلۡعُمُرُۗ أَفَلَا يَرَوۡنَ أَنَّا نَأۡتِي ٱلۡأَرۡضَ نَنقُصُهَا مِنۡ أَطۡرَافِهَآۚ أَفَهُمُ ٱلۡغَـٰلِبُونَ ٤٤﴾

[44]. Bahkan Kami telah memberikan kenikmatan kepada orang-orang kafir itu dan leluhur mereka dengan penangguhan waktu disebabkan harta, anak-anak, dan umur yang panjang yang mereka lihat, sehingga mereka bertahan dalam kekafiran tanpa meninggalkannya dan menyangka tidak akan diadzab. Mereka lalai dari Sunnah yang telah berlalu, bahwa Alloh mengurangi bumi dari pinggir-pinggirnya dengan menurunkan siksaan dan kekalahan kepada orang-orang musyrik di setiap penjuru. Apakah orang-orang kafir Makkah sanggup keluar dari kekuasaan Alloh atau menghindar dari kematian?

﴿قُلۡ إِنَّمَآ أُنذِرُكُم بِٱلۡوَحۡيِۚ وَلَا يَسۡمَعُ ٱلصُّمُّ ٱلدُّعَآءَ إِذَا مَا يُنذَرُونَ ٤٥﴾

[45]. Katakanlah—wahai Rosul—kepada orang-orang yang engkau diutus kepada mereka, “Sungguh aku hanya mempertakut kalian dari adzab berdasarkan Wahyu dari Alloh, yaitu Al-Qur’an. Namun orang-orang kafir tidak mendengarkan seruan yang disampaikan kepada mereka dengan pendengaran yang merenungkan apabila mereka diberi peringatan, sehingga mereka tidak mengambil manfaat darinya.”

﴿وَلَئِن مَّسَّتۡهُمۡ نَفۡحَةٌ مِّنۡ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَـٰوَيۡلَنَآ إِنَّا كُنَّا ظَـٰلِمِينَ ٤٦﴾

[46]. Seandainya orang-orang kafir itu ditimpa sedikit saja dari adzab Robb-mu, niscaya mereka akan menyadari akibat dari pendustaan mereka dan menyambut hal itu dengan meratapi kebinasaan diri mereka sendiri disebabkan kezholiman mereka kepada diri sendiri dengan menyembah selain Alloh.

﴿وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٌ شَيۡـًٔاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٍ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَـٰسِبِينَ ٤٧﴾

[47]. Alloh menegakkan timbangan yang adil untuk perhitungan amal pada Hari Qiyamah, maka tidak ada satu jiwa pun yang dizholimi sedikit pun. Meskipun amal itu hanya seberat biji sawi dari kebaikan atau keburukan, niscaya Kami mendatangkannya dalam perhitungan pemiliknya. Dan cukuplah Alloh sebagai Dzat Yang memperhitungkan amal perbuatan hamba-hamba-Nya dan memberikan balasan atasnya.

﴿وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا مُوسَىٰ وَهَـٰرُونَ ٱلۡفُرۡقَانَ وَضِيَآءً وَذِكۡرًا لِّلۡمُتَّقِينَ ٤٨﴾

[48]. Sungguh Kami telah memberikan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun hujjah yang kuat serta pertolongan atas musuh keduanya, dan Kitab Taurot yang membedakan antara kebenaran dan kebathilan, serta menjadi cahaya dan peringatan bagi orang-orang yang bertaqwa.

﴿ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ وَهُم مِّنَ ٱلسَّاعَةِ مُشۡفِقُونَ ٤٩﴾

[49]. Yaitu orang-orang yang takut akan adzab Robb mereka secara ghoib, sedang mereka merasa takut dan cemas terhadap Hari Qiyamah.

﴿وَهَـٰذَا ذِكۡرٌ مُّبَارَكٌ أَنزَلۡنَـٰهُۚ أَفَأَنتُمۡ لَهُۥ مُنكِرُونَ ٥٠﴾

[50]. Dan Al-Qur’an ini yang diturunkan oleh Alloh kepada Rosul-Nya Muhammad ﷺ adalah peringatan bagi siapa yang mengambil pelajaran darinya dan mengamalkan perintah-perintah-Nya serta menjauhi larangan-larangan-Nya, penuh dengan kebaikan dan amat besar manfaatnya. Apakah kalian mengingkarinya padahal ia sangat terang dan jelas?

﴿وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَآ إِبۡرَٰهِيمَ رُشۡدَهُۥ مِن قَبۡلُ وَكُنَّا بِهِۦ عَـٰلِمِينَ ٥١﴾

[51]. Sungguh Kami telah memberikan kepada Nabi Ibrohim petunjuk-Nya yang dia serukan kepada manusia sebelum Nabi Musa dan Nabi Harun, dan Kami Maha Mengetahui bahwa beliau sangat layak menerima petunjuk tersebut.

﴿إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَـٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِي أَنتُمۡ لَهَا عَـٰكِفُونَ ٥٢﴾

[52]. Ketika beliau berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kalian buat lalu kalian tekun menyembahnya?”

﴿قَالُوا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَـٰبِدِينَ ٥٣﴾

[53]. Kaumnya menjawab, “Kami mendapati leluhur kami menyembah patung-patung ini, maka kami pun menyembahnya karena mengikuti jejak mereka.”

﴿قَالَ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَـٰلٍ مُّبِينٍ ٥٤﴾

[54]. Nabi Ibrohim berkata kepada mereka, “Sungguh kalian dan leluhur kalian dalam menyembah patung-patung ini berada dalam kesesatan yang amat nyata dari kebenaran.”

﴿قَالُوآ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّـٰعِبِينَ ٥٥﴾

[55]. Kaumnya berkata, “Apakah perkataan yang engkau bawa kepada kami ini sungguh-sungguh kebenaran, ataukah engkau berbicara kepada kami sebagai orang yang main-main dan mengolok-olok tanpa tahu apa yang dikatakan?”

﴿قَالَ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّـٰهِدِينَ ٥٦﴾

[56]. Nabi Ibrohim ‘alaihissalam berkata kepada mereka, “Bahkan Robb kalian yang aku seru kalian untuk menyembah-Nya adalah Robb pemilik langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang bersaksi atas hal itu.”

﴿وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَـٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّوا مُدۡبِرِينَ ٥٧﴾

[57]. “Demi Alloh, sungguh aku akan melakukan tipu daya terhadap patung-patung kalian dan merusaknya setelah kalian berpaling pergi meninggalkannya.”

﴿فَجَعَلَهُمۡ جُذَٰذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمۡ لَعَلَّهُمۡ إِلَيۡهِ يَرۡجِعُونَ ٥٨﴾

[58]. Lalu Nabi Ibrohim menghancurkan patung-patung itu dan menjadikannya berkeping-keping kecil, serta menyisakan patung yang paling besar agar kaumnya kembali kepadanya dan bertanya kepadanya, sehingga tampaklah kelemahan dan kesesatan mereka serta tegaklah hujjah atas mereka.

﴿قَالُوا مَن فَعَلَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٥٩﴾

[59]. Kaumnya pun kembali dan melihat patung-patung mereka telah hancur berantakan dan terhina, lalu sebagian mereka bertanya kepada sebagian yang lain, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kita? Sungguh dia termasuk orang yang amat zholim karena berani merusak tuhan-tuhan yang berhak diagungkan dan dihormati.”

﴿قَالُوا سَمِعۡنَا فَتًى يَذۡكُرُهُمۡ يُقَالُ لَهُۥ إِبۡرَٰهِيمُ ٦٠﴾

[60]. Orang yang mendengar ucapan Nabi Ibrohim saat bersumpah akan merusak patung-patung mereka berkata, “Kami mendengar seorang pemuda yang dinamai Ibrohim menyebut-nyebut patung-patung itu dengan keburukan.”

﴿قَالُوا فَأۡتُوا بِهِۦ عَلَىٰ أَعۡيُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡهَدُونَ ٦١﴾

[61]. Para pemimpin mereka berkata, “Bawalah Ibrohim ke hadapan pandangan orang banyak agar mereka menyaksikan pengakuannya atas apa yang dikatakannya, sehingga hal itu menjadi hujjah atas dirinya!”

﴿قَالُوآ أَءَنتَ فَعَلۡتَ هَـٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا يَـٰآبۡرَٰهِيمُ ٦٢﴾

[62]. Lalu Nabi Ibrohim didatangkan dan mereka bertanya kepadanya secara mengingkari, “Apakah engkau yang menghancurkan tuhan-tuhan kami wahai Ibrohim?”

﴿قَالَ بَلۡ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمۡ هَـٰذَا فَسۡـَٔلُوهُمۡ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ ٦٣﴾

[63]. Maka terwujudlah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrohim untuk memperlihatkan kebodohan mereka di hadapan khalayak ramai. Beliau berkata seraya mengajukan hujjah dan menyingkap kebodohan mereka, “Bahkan patung besar inilah yang menghancurkannya. Tanyakanlah kepada tuhan-tuhan kalian itu tentang kejadian tersebut jika mereka dapat berbicara atau menjawab!”

﴿فَرَجَعُوآ إِلَىٰ أَنفُسِهِمۡ فَقَالُوآ إِنَّكُمۡ أَنتُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ ٦٤﴾

[64]. Maka mereka menyadari kesalahan diri mereka dan tampaklah kesesatan mereka; bagaimana mungkin mereka menyembah patung yang tidak mampu membela dirinya dari kehancuran dan tidak pula mampu menjawab penanya? Lalu mereka mengakui kezholiman dan kemusyrikan diri mereka sendiri.

﴿ثُمَّ نُكِسُوا عَلَىٰ رُءُوسِهِمۡ لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَا هَـٰؤُلَآءِ يَنطِقُونَ ٦٥﴾

[65]. Namun tidak lama kemudian keengganan mereka kembali menguasai mereka setelah mereka bungkam, lalu mereka kembali kepada kebathilan dan mengajukan alasan kepada Nabi Ibrohim yang sebenarnya menjadi hujjah bagi Nabi Ibrohim atas mereka, seraya berkata, “Bagaimana mungkin kami bertanya kepadanya, padahal engkau telah mengetahui bahwa patung-patung ini tidak dapat berbicara?”

﴿قَالَ أَفَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمۡ شَيۡـًٔا وَلَا يَضُرُّكُمۡ ٦٦﴾

[66]. Nabi Ibrohim berkata seraya merendahkan martabat berhala-berhala itu, “Mengapa kalian menyembah patung-patung selain Alloh yang sedikit pun tidak memberikan manfaat kepada kalian jika disembah dan tidak pula mendatangkan bahaya jika ditinggalkan?”

﴿أُفٍّ لَّكُمۡ وَلِمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٦٧﴾

[67]. “Celaka dan hina bagi kalian serta bagi berhala-berhala yang kalian sembah selain Alloh. Apakah kalian tidak menggunakan akal fikiran sehingga kalian tidak menyadari betapa buruknya perbuatan yang kalian lakukan?”

﴿قَالُوا حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوآ ءَالِهَتَكُمۡ إِن كُنتُمۡ فَـٰعِلِينَ ٦٨﴾

[68]. Ketika hujjah Nabi Ibrohim mematahkan alasan mereka dan kebenaran telah nyata, mereka beralih menggunakan kekuasaan dan kekuatan mereka. Mereka berkata, “Bakarlah Ibrohim dengan api sebagai bentuk pembelaan terhadap tuhan-tuhan kalian jika kalian hendak membela tuhan-tuhan itu!” Lalu mereka menyalakan api yang amat besar dan melemparkan Nabi Ibrohim ke dalamnya.

﴿قُلۡنَا يَـٰنَارُ كُونِي بَرۡدًا وَسَلَـٰمًا عَلَىٰ إِبۡرَٰهِيمَ ٦٩﴾

[69]. Maka Alloh membela Rosul-Nya dan berfirman kepada api, “Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrohim!” Sehingga api itu tidak sedikit pun menimpakan bahaya maupun keburukan kepadanya.

﴿وَأَرَادُوا بِهِۦ كَيۡدًا فَجَعَلۡنَـٰهُمُ ٱلۡأَخۡسَرِينَ ٧٠﴾

[70]. Kaum itu menghendaki kebinasaan bagi Nabi Ibrohim, namun Alloh menggagalkan tipu daya mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang rugi lagi terhinakan.

﴿وَنَجَّيۡنَـٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَـٰرَكۡنَا فِيهَا لِلۡعَـٰلَمِينَ ٧١﴾

[71]. Kami menyelamatkan Nabi Ibrohim dan Nabi Luth yang beriman kepadanya dari negeri Iraq, lalu Kami keluarkan keduanya menuju tanah Syam yang telah Kami beri keberkahan padanya dengan melimpahnya kebaikan, dan di sanalah tempat tinggal sebagian besar para Nabi ‘alaihimussolatu wassalam.

﴿وَوَهَبۡنَا لَهُۥ إِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ نَافِلَةًۖ وَكُلًّا جَعَلۡنَا صَـٰلِحِينَ ٧٢﴾

[72]. Alloh menganugerahkan ni’mat kepada Nabi Ibrohim, lalu menganugerahkan kepadanya putranya yaitu Nabi Ishaq ketika beliau berdoa, dan menambahkan kepadanya dari Nabi Ishaq yaitu Nabi Ya’qub. Dan masing-masing dari Nabi Ibrohim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub dijadikan oleh Alloh sebagai orang sholih yang taat kepada-Nya.

﴿وَجَعَلۡنَـٰهُمۡ أَئِمَّةً يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُوا لَنَا عَـٰبِدِينَ ٧٣﴾

[73]. Kami menjadikan Nabi Ibrohim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub sebagai teladan bagi manusia yang menyeru mereka kepada ibadah dan ketaatan kepada-Nya dengan izin Alloh. Kami wahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebaikan dari syariat para Nabi, menegakkan Sholat sesuai ketentuannya, serta menunaikan Zakat. Maka mereka melaksanakan hal itu dan menjadi orang-orang yang tunduk lagi taat hanya kepada Alloh semata.

﴿وَلُوطًا ءَاتَيۡنَـٰهُ حُكۡمًا وَعِلۡمًا وَنَجَّيۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡقَرۡيَةِ ٱلَّتِي كَانَت تَّعۡمَلُ ٱلۡخَبَـٰۤئِثَۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا قَوۡمَ سَوۡءٍ فَـٰسِقِينَ ٧٤﴾

[74]. Kepada Nabi Luth Kami berikan Nubuwwah, keputusan hukum yang adil di antara pihak yang berselisih, serta ilmu tentang perintah Alloh dan agama-Nya. Kami menyelamatkannya dari negerinya yaitu Sadum yang penduduknya melakukan kekejian. Sungguh mereka disebabkan kekejian dan kemungkaran yang mereka lakukan adalah kaum yang buruk, hina, dan keluar dari ketaatan kepada Alloh.

﴿وَأَدۡخَلۡنَـٰهُ فِي رَحۡمَتِنَآۖ إِنَّهُۥ مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ٧٥﴾

[75]. Alloh menyempurnakan ni’mat atasnya lalu memasukkannya ke dalam rohmat-Nya dengan menyelamatkannya dari apa yang menimpa kaumnya, karena beliau termasuk orang-orang yang beramal dengan ketaatan kepada Alloh.

﴿وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَنَجَّيۡنَـٰهُ وَأَهۡلَهُۥ مِنَ ٱلۡكَرۡبِ ٱلۡعَظِيمِ ٧٦﴾

[76]. Ingatlah—wahai Rosul—kisah Nabi Nuh ketika beliau menyeru Robb-nya sebelum engkau dan sebelum Nabi Ibrohim serta Nabi Luth, lalu Kami memperkenankan doanya dan Kami menyelamatkan beliau beserta keluarganya yang beriman dari kesedihan yang amat besar.

﴿وَنَصَرۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا بِـَٔايَـٰتِنَآۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا قَوۡمَ سَوۡءٍ فَأَغۡرَقۡنَـٰهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٧٧﴾

[77]. Kami menolongnya dari tipu daya kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami yang menunjukkan kebenarannya. Sungguh mereka adalah kaum yang buruk, maka Kami tenggelamkan mereka semua dengan banjir bandang.

﴿وَدَاوُۥدَ وَسُلَيۡمَـٰنَ إِذۡ يَحۡكُمَانِ فِي ٱلۡحَرۡثِ إِذۡ نَفَشَتۡ فِيهِ غَنَمُ ٱلۡقَوۡمِ وَكُنَّا لِحُكۡمِهِمۡ شَـٰهِدِينَ ٧٨﴾

[78]. Ingatlah—wahai Rosul—Nabi Alloh Dawud dan putranya Sulaiman ketika keduanya memutuskan perkara yang diajukan oleh dua pihak yang berselisih; ketika kambing milik salah satu pihak merusak tanaman milik pihak lain pada malam hari lalu memusnahkan tanaman itu. Nabi Dawud memutuskan agar kambing itu menjadi milik pemilik tanaman sebagai ganti atas tanaman yang rusak karena nilainya setara, dan Kami menjadi saksi atas keputusan hukum mereka tanpa ada yang tersembunyi dari Kami.

﴿فَفَهَّمۡنَـٰهَا سُلَيۡمَـٰنَۚ وَكُلًّا ءَاتَيۡنَا حُكۡمًا وَعِلۡمًاۚ وَسَخَّرۡنَا مَعَ دَاوُۥدَ ٱلۡجِبَالَ يُسَبِّحۡنَ وَٱلطَّيۡرَۚ وَكُنَّا فَـٰعِلِينَ ٧٩﴾

[79]. Lalu Kami memberikan pemahaman kepada Nabi Sulaiman untuk memperhatikan kemaslahatan kedua belah pihak secara adil. Beliau memutuskan agar pemilik kambing memperbaiki tanaman yang rusak, sementara pemilik tanaman memanfaatkan hasil dari kambing berupa susu, bulu, dan sejenisnya sampai tanaman itu pulih kembali. Kemudian kambing dikembalikan kepada pemiliknya dan tanaman dikembalikan kepada pemiliknya karena nilai kerusakan setara dengan manfaat kambing. Masing-masing dari Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman Kami beri hikmah dan ilmu. Dan Kami menundukkan gunung-gunung beserta burung-burung untuk bertasbih bersama Nabi Dawud apabila beliau bertasbih, dan Kami adalah Dzat Yang Maha Kuasa melakukan hal itu.

﴿وَعَلَّمۡنَـٰهُ صَنۡعَةَ لَبُوسٍ لَّكُمۡ لِتُحۡصِنَكُم مِّنۢ بَأۡسِكُمۡۖ فَهَلۡ أَنتُمۡ شَـٰكِرُونَ ٨٠﴾

[80]. Alloh mengkhususkan Nabi Dawud ‘alaihissalam dengan mengajarinya pembuatan baju besi yang dibuat dari lingkaran-lingkaran besi yang saling terhubung sehingga memudahkan pergerakan tubuh untuk melindungi para prajurit dari tebasan senjata. Maka apakah kalian bersyukur atas ni’mat Alloh kepada kalian yang dialirkan melalui tangan hamba-Nya Dawud?

﴿وَلِسُلَيۡمَـٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةً تَجۡرِي بِأَمۡرِهِۦ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ ٱلَّتِي بَـٰرَكۡنَا فِيهَاۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيۡءٍ عَـٰلِمِينَ ٨١﴾

[81]. Kami menundukkan bagi Nabi Sulaiman angin yang berhembus sangat kencang yang membawa beliau beserta orang-orang yang bersamanya, berhembus atas perintah beliau menuju tanah Baitul Maqdis di Syam yang telah Kami berkahi dengan kebaikan yang melimpah, dan ilmu Kami meliputi segala sesuatu.

﴿وَمِنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعۡمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَۖ وَكُنَّا لَهُمۡ حَـٰفِظِينَ ٨٢﴾

[82]. Kami menundukkan pula bagi Nabi Sulaiman sebagian syaithon yang menyelam ke dalam laut untuk mengeluarkan mutiara dan permata bagi beliau, serta mengerjakan pekerjaan lain selain itu sesuai keinginan beliau. Mereka tidak mampu membangkang dari apa yang dikehendaki Nabi Sulaiman, dan Alloh menjaga mereka untuk beliau dengan kekuatan dan kemuliaan-Nya Yang Mahasuci.

﴿وَأَيُّوبَ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ أَنِّي مَسَّنِيَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرۡحَمُ ٱلرَّاحِمِينَ ٨٣﴾

[83]. Ingatlah—wahai Rosul—hamba Kami Nabi Ayyub ketika Kami mengujinya dengan penyakit berat pada tubuhnya serta kehilangan keluarga, harta, dan anaknya. Beliau bersabar dan mengharap pahala, lalu berdoa menyeru Robb-nya Yang Mahaagung, “Sungguh aku telah ditimpa penderitaan dan Engkau adalah Dzat Yang Maha Penyayang di antara penyayang, maka hilangkanlah penderitaan ini dariku!”

﴿فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ فَكَشَفۡنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّۖ وَءَاتَيۡنَـٰهُ أَهۡلَهُۥ وَمِثۡلَهُم مَّعَهُمۡ رَحۡمَةً مِّنۡ عِندِنَا وَذِكۡرَىٰ لِلۡعَـٰبِدِينَ ٨٤﴾

[84]. Maka Kami memperkenankan doanya, mengangkat penderitaan darinya, dan mengembalikan kepadanya keluarga, anak, dan hartanya yang hilang dengan lipat ganda. Kami melakukan hal itu sebagai bentuk rohmat dari Kami dan agar menjadi teladan bagi setiap orang yang bersabar atas cobaan, mengharapkan rohmat Robb-nya, serta beribadah kepada-Nya.

﴿وَإِسۡمَـٰعِيلَ وَإِدۡرِيسَ وَذَا ٱلۡكِفۡلِۖ كُلٌّ مِّنَ ٱلصَّـٰبِرِينَ ٨٥﴾

[85]. Ingatlah Nabi Isma’il, Nabi Idris, dan Nabi Dzulkifli. Mereka semua termasuk orang-orang yang sabar dalam ketaatan kepada Alloh, sabar dalam menjauhi kemaksiatan kepada-Nya, serta sabar atas takdir-takdir-Nya, sehingga mereka berhak mendapat pujian yang indah.

﴿وَأَدۡخَلۡنَـٰهُمۡ فِي رَحۡمَتِنَآۖ إِنَّهُم مِّنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ ٨٦﴾

[86]. Kami memasukkan mereka ke dalam rohmat Kami. Sungguh mereka termasuk orang-orang yang sholih lahir dan batinnya, taat kepada Alloh, serta mengamalkan apa yang diperintahkan-Nya.

﴿وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقۡدِرَ عَلَيۡهِ فَنَادَىٰ فِي ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ ٨٧﴾

[87]. Ingatlah kisah Nabi Yunus bin Matta ‘alaihissalam ketika beliau pergi dalam keadaan marah kepada kaumnya karena mereka tidak beriman setelah beliau seru. Beliau mengancam mereka dengan adzab namun mereka tidak bertaubat, dan beliau tidak bersabar menghadapi mereka sebagaimana yang diperintahkan Alloh. Beliau keluar dari tengah-tengah mereka dalam keadaan marah dan sempit dada karena kemaksiatan mereka, seraya menyangka bahwa Alloh tidak akan menyempitkan urusannya dan tidak akan menghukumnya atas tindakan tersebut. Maka Alloh mengujinya dengan kesempitan yang amat sangat dan kurungan di dalam perut ikan paus di dalam laut. Lalu beliau menyeru Robb-nya dalam kegelapan malam, kegelapan laut, dan kegelapan perut ikan paus seraya bertaubat dan mengakui kezholiman dirinya karena meninggalkan kesabaran atas kaumnya, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zholim.”

﴿فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَنَجَّيۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِي ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٨٨﴾

[88]. Maka Kami memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari duka cita dan kesempitan yang amat sangat itu. Demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang membenarkan lagi mengamalkan Syariat Kami.

﴿وَزَكَرِيَّآ إِذۡ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدًا وَأَنتَ خۡيَرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ ٨٩﴾

[89]. Ingatlah—wahai Rosul—kisah hamba Alloh Nabi Zakariyya ketika beliau berdoa menyeru Robb-nya agar dianugerahi keturunan saat usianya telah lanjut, “Wahai Robb-ku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri tanpa keturunan. Anugerahkanlah kepadaku seorang pewaris yang akan menegakkan urusan Agama di tengah manusia setelahku, dan Engkau adalah sebaik-baik Dzat Yang Kekal serta sebaik-baik Dzat yang memberikan balasan kebaikan.”

﴿فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ وَوَهَبۡنَا لَهُۥ يَحۡيَىٰ وَأَصۡلَحۡنَا لَهُۥ زَوۡجَهُۥۚ إِنَّهُمۡ كَانُوا يُسَـٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًاۖ وَكَانُوا لَنَا خَـٰشِعِينَ ٩٠﴾

[90]. Maka Kami memperkenankan doanya dan menganugerahkan kepadanya pada masa tuanya seorang putra yaitu Nabi Yahya, serta Kami jadikan istrinya sholihah akhlaqnya dan mampu mengandung serta melahirkan setelah sebelumnya mandul. Sungguh mereka dahulu senantiasa bersegera dalam melakukan setiap kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap akan apa yang ada di sisi Kami dan takut akan siksaan Kami, serta mereka senantiasa tunduk lagi merendahkan diri kepada Kami.

﴿وَٱلَّتِي أَحۡصَنَتۡ فَرۡجَهَا فَنَفَخۡنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلۡنَـٰهَا وَٱبۡنَهَآ ءَايَةً لِّلۡعَـٰلَمِينَ ٩١﴾

[91]. Ingatlah—wahai Rosul—kisah Maryam putri ‘Imron yang menjaga kehormatan dirinya dari perbuatan haram dan tidak pernah melakukan kekejian sepanjang hidupnya. Lalu Alloh mengutus Malaikat Jibril ‘alaihissalam kepadanya, lalu Malaikat Jibril meniupkan ke dalam kantong bajunya sehingga tiupan itu sampai ke rahimnya. Dengan tiupan itu Alloh menciptakan Al-Masih ‘Isa ‘alaihissalam, sehingga Maryam mengandungnya tanpa suami. Maka Maryam dan putranya menjadi tanda kekuasaan Alloh dan pelajaran bagi seluruh makhluk hingga Hari Qiyamah.

﴿إِنَّ هَـٰذِهِۦ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةً وَٰحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُونِ ٩٢﴾

[92]. Agama para Nabi ini semuanya adalah satu, yaitu Islam; menyerahkan diri kepada Alloh dengan ketaatan dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Dan Alloh adalah Robb seluruh makhluk, maka sembahlah Dia semata—wahai manusia—tanpa mempersekutukan-Nya.

﴿وَتَقَطَّعُوآ أَمۡرَهُم بَيۡنَهُمۡۖ كُلٌّ إِلَيۡنَا رَٰجِعُونَ ٩٣﴾

[93]. Namun manusia berselisih terhadap para Rosul mereka dan terpecah belah dalam Agama menjadi berbagai golongan dan kelompok, lalu mereka menyembah makhluk dan hawa nafsu. Dan mereka semua akan kembali kepada Kami serta dihisab atas apa yang telah mereka lakukan.

﴿فَمَن يَعۡمَلۡ مِنَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَا كُفۡرَانَ لِسَعۡيِهِۦ وَإِنَّا لَهُۥ كَـٰتِبُونَ ٩٤﴾

[94]. Siapa yang berpegang teguh pada keimanan kepada Alloh dan para Rosul-Nya serta mengerjakan amal-amal sholih semampunya sebagai bentuk ketaatan dan ibadah kepada Alloh, maka Alloh tidak akan menyia-nyiakan amalnya dan tidak pula membatalkannya, bahkan melipatgandakannya dengan lipatan yang banyak. Dan dia akan mendapati apa yang telah diamalkannya tertulis dalam kitab catatannya pada hari dia dibangkitkan setelah kematiannya.

﴿وَحَرَٰمٌ عَلَىٰ قَرۡيَةٍ أَهۡلَكۡنَـٰهَآ أَنَّهُمۡ لَا يَرۡجِعُونَ ٩٥﴾

[95]. Mustahil bagi penduduk negeri yang telah Kami binasakan disebabkan kekafiran dan kezholiman mereka untuk kembali ke dunia sebelum Hari Qiyamah guna memperbaiki apa yang telah mereka lalaikan.

﴿حَتَّىٰ إِذَا فُتِحَتۡ يَأۡجُوجُ وَمَأۡجُوجُ وَهُم مِّن كُلِّ حَدَبٍ يَنسِلُونَ ٩٦﴾

[96]. Hingga apabila tembok penghalang Ya’juj dan Ma’juj dibuka, lalu mereka keluar meluncur dengan cepat dari setiap tempat yang tinggi di bumi dan menyebar ke seluruh penjuru.

﴿وَٱقۡتَرَبَ ٱلۡوَعۡدُ ٱلۡحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَـٰخِصَةٌ أَبۡصَـٰرُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا يَـٰوَيۡلَنَا قَدۡ كُنَّا فِي غَفۡلَةٍ مِّنۡ هَـٰذَا بَلۡ كُنَّا ظَـٰلِمِينَ ٩٧﴾

[97]. Dan semakin dekatlah kedatangan Janji Yang Haq (Hari Qiyamah) beserta huru-haranya. Serta-merta mata orang-orang kafir terbelalak karena sangat terkejut dan ketakutan tanpa berkedip, seraya meratapi diri mereka sendiri dengan penuh penyesalan, “Aduhai celakanya kami! Sungguh kami dahulu hidup dalam kelalaian dari Hari Qiyamah ini dan tidak bersiap menghadapinya, bahkan kami telah berbuat zholim terhadap diri kami sendiri.”

﴿إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ ٩٨﴾

[98]. Sungguh kalian—wahai orang-orang kafir—dan apa yang kalian sembah selain Alloh berupa berhala-berhala serta siapa saja yang ridho disembah oleh kalian dari kalangan jin dan manusia, adalah bahan bakar dan kayu bakar Jahannam, kalian semua akan masuk ke dalamnya.

﴿لَوۡ كَانَ هَـٰؤُلَآءِ ءَالِهَةً مَّا وَرَدُوهَاۖ وَكُلٌّ فِيهَا خَـٰلِدُونَ ٩٩﴾

[99]. Seandainya mereka yang kalian sembah selain Alloh itu adalah tuhan-tuhan yang berhak disembah, niscaya mereka tidak akan masuk ke dalam Jahannam bersama kalian wahai orang-orang musyrik. Sungguh baik para penyembah maupun yang disembah semuanya kekal di dalam api Jahannam.

﴿لَهُمۡ فِيهَا زَفِيرٌ وَهُمۡ فِيهَا لَا يَسۡمَعُونَ ١٠٠﴾

[100]. Bagi orang-orang yang diadzab di dalam api Naar itu terdapat rintihan sengsara yang mencerminkan besarnya penderitaan mereka, dan mereka di dalam api Naar tidak dapat mendengar apa pun disebabkan dahsyatnya adzab yang menimpa mereka.

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰ أُولَـٰۤئِكَ عَنۡهَا مُبۡعَدُونَ ١٠١﴾

[101]. Sungguh orang-orang yang telah ada ketetapan kebahagiaan yang baik bagi mereka dalam ilmu Kami bahwa mereka termasuk penghuni Jannah, mereka itu dijauhkan dari api Naar, sehingga mereka tidak masuk ke dalamnya dan tidak pula berada dekat dengannya.

﴿لَا يَسۡمَعُونَ حَسِيسَهَاۖ وَهُمۡ فِي مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَـٰلِدُونَ ١٠٢﴾

[102]. Mereka tidak mendengar suara gejolak apinya dan suara terbakarnya tubuh-tubuh di dalamnya, karena mereka telah menempati tempat tinggal mereka di Jannah dan hidup kekal abadi dalam menikmati apa yang diinginkan oleh jiwa mereka berupa kenikmatan dan kelezatannya.

﴿لَا يَحۡزُنُهُمُ ٱلۡفَزَعُ ٱلۡأَكۡبَرُ وَتَتَلَقَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَـٰۤئِكَةُ هَـٰذَا يَوۡمُكُمُ ٱلَّذِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ١٠٣﴾

[103]. Huru-hara yang amat dahsyat pada Hari Qiyamah tidak membuat orang-orang Mu’min itu merasa takut atau sedih, bahkan para Malaikat menyambut kedatangan mereka dengan menyampaikan kabar gembira, “Inilah hari kalian yang dahulu telah dijanjikan kepada kalian berupa kemuliaan dan pahala yang melimpah dari Alloh.”

﴿يَوۡمَ نَطۡوِي ٱلسَّمَآءَ كَطَيِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِۚ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٍ نُّعِيدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَـٰعِلِينَ ١٠٤﴾

[104]. Yaitu pada hari ketika Kami menggulung langit sebagaimana lembaran kertas digulung setelah ditulis di dalamnya. Dan Kami membangkitkan kembali seluruh makhluk sebagaimana bentuk awal Kami menciptakan mereka saat dilahirkan dari rahim ibu mereka. Hal itu merupakan janji Alloh yang pasti ditepati, dan Kami pasti melaksanakannya.

﴿وَلَقَدۡ كَتَبۡنَا فِي ٱلزَّبُورِ مِنۢ بَعۡدِ ٱلذِّكۡرِ أَنَّ ٱلۡأَرۡضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ ٱلصَّـٰلِحُونَ ١٠٥﴾

[105]. Sungguh telah Kami tuliskan di dalam Kitab-Kitab yang diturunkan setelah dituliskan di Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Alloh yang sholih, yaitu mereka yang melaksanakan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang, dan mereka adalah Umat Nabi Muhammad ﷺ.

﴿إِنَّ فِي هَـٰذَا لَبَلَـٰغًا لِّقَوۡمٍ عَـٰبِدِينَ ١٠٦﴾

[106]. Sungguh pada Al-Qur’an yang dibacakan ini terdapat nasihat dan peringatan yang cukup bagi kaum yang beribadah kepada Alloh sesuai Syariat yang ditetapkan-Nya dan diridhoi-Nya.

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَـٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَـٰلَمِينَ ١٠٧﴾

[107]. Kami tidak mengutus engkau—wahai Rosul—melainkan sebagai rohmat bagi seluruh manusia. Siapa yang beriman kepadamu niscaya dia bahagia dan selamat, dan siapa yang tidak beriman niscaya dia rugi dan celaka.

﴿قُلۡ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌۖ فَهَلۡ أَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٨﴾

[108]. Katakanlah—wahai Rosul—, “Sungguh yang diwahyukan kepadaku dan dengannya aku diutus adalah bahwasanya Sesembahan kalian yang berhak disembah semata hanyalah Alloh, maka berserah dirilah kalian kepada-Nya dan tunduklah untuk beribadah kepada-Nya!”

﴿فَإِن تَوَلَّوۡا فَقُلۡ ءَاذَنتُكُمۡ عَلَىٰ سَوَآءٍۖ وَإِنۡ أَدۡرِي أَقَرِيبٌ أَم بَعِيدٌ مَّا تُوعَدُونَ ١٠٩﴾

[109]. Jika mereka berpaling dari Islam, maka katakanlah kepada mereka, “Aku telah menyampaikan kepada kalian semua apa yang diwahyukan oleh Alloh kepadaku, sehingga aku dan kalian sama-sama mengetahui peringatan tersebut. Dan aku tidak mengetahui apakah adzab yang dijanjikan kepada kalian itu sudah dekat atau masih jauh?”

﴿إِنَّهُۥ يَعۡلَمُ ٱلۡجَهۡرَ مِنَ ٱلۡقَوۡلِ وَيَعۡلَمُ مَا تَكۡتُمُونَ ١١٠﴾

[110]. Sungguh Alloh mengetahui apa yang kalian nyatakan secara terang-terangan dari ucapan kalian dan apa yang kalian rahasiakan dalam hati kalian, dan Dia akan memperhitungkannya atas kalian.

﴿وَإِنۡ أَدۡرِي لَعَلَّهُۥ فِتۡنَةٌ لَّكُمۡ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ ١١١﴾

[111]. “Dan aku tidak mengetahui, boleh jadi penangguhan adzab yang kalian minta disegerakan itu merupakan cobaan dan kesempatan bagi kalian untuk bersenang-senang di dunia sampai waktu tertentu, agar dosa kalian bertambah sehingga hukuman kalian menjadi semakin berat.”

﴿قَـٰلَ رَبِّ ٱحۡكُم بِٱلۡحَقِّۗ وَرَبُّنَا ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١١٢﴾

[112]. Nabi ﷺ berdoa, “Wahai Robb-ku, berilah keputusan di antara kami dan kaum kami yang mendustakan dengan keputusan hukum yang adil.” Dan kami memohon kepada Robb kami Ar-Rohman serta memohon pertolongan kepada-Nya atas apa yang kalian sifatkan—wahai orang-orang kafir—berupa kemusyrikan, pendustaan, dan kebohongan kepada Alloh, serta apa yang kalian ancamkan kepada kami berupa kemenangan dan keunggulan.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini