Cari Ebook

[PDF] Kitab Neraka - Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor [Edisi 1]

 


Kitab Neraka

Dr. ‘Umar Sulaiman Al-Asyqor

Pentarjamah: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 100

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

Pengantar Pentarjamah

Takhrij Hadits dari kitab asal kami kurangi dan hanya menampilkan satu takhrij saja, disamping mengalamatkan langsung ke kitab induk Hadits, bukan ke Shohihul Jami misalnya, yang banyak dirujuk penulis.

Takhrij selain Hadits tidak ditampilkanm dan bagi yang ingin melihat takhrij lengkap bisa merujuk langsung ke kitab aslinya.

Semua Hadits dan Atsar yang ada di kitab ini shohih, maka hati menjadi tenang dan percaya saat membacanya.

Nor Kandir Abu Zur’ah

Muqoddimah: Definisi dan Penjelasan Naar

﷽

An-Naar (Neraka) adalah negeri yang telah Alloh sediakan bagi orang-orang yang kufur kepada-Nya, membangkang terhadap syariat-Nya, dan mendustakan para Rosul-Nya. Naar merupakan bentuk adzab-Nya yang digunakan untuk mengadzab musuh-musuh-Nya, serta penjara-Nya untuk mengurung orang-orang yang berbuat dosa (penjahat)

Naar merupakan kehinaan yang paling besar dan kerugian yang paling besar, yang tidak ada kehinaan di atasnya dan tidak ada kerugian yang lebih besar daripadanya.

﴿رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدْخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُۥ ۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ﴾

“Ya Robb kami, sungguh siapa yang Engkau masukkan ke dalam Naar, maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada bagi orang-orang yang zholim seorang penolong pun.” (QS. Ali ‘Imron: 192)

﴿أَلَمْ يَعْلَمُوٓا أَنَّهُۥ مَن يُحَادِدِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَأَنَّ لَهُۥ نَارَ جَهَنَّمَ خَٰلِدًا فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْخِزْىُ ٱلْعَظِيمُ﴾

“Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapa menentang Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh baginya Jahannam, ia kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah kehinaan yang paling besar.” (QS. At-Taubah: 63)

Alloh ﷻ juga berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ ٱلْخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ﴾

“Katakanlah: Sungguh orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari Qiyamah (dengan kekufuran). Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)

Bagaimana mungkin Naar tidak seperti yang kami sifatkan, padahal di dalamnya terdapat adzab, rasa sakit, dan kesedihan yang pena-pena kami tidak sanggup untuk menuliskannya, serta lisan-lisan kami tidak mampu untuk menggambarkannya? Di samping itu, Naar tersebut bersifat kekal dan para penghuninya kekal di dalamnya. Oleh karena itu, Alloh Yang Mahabenar memperpanjang celaan-Nya terhadap tempat tinggal penghuni Naar di dalam Naar.

﴿إِنَّهَا سَآءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا﴾

“Sungguh Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqon: 66)

﴿هَٰذَا ۚ وَإِنَّ لِلطَّٰغِينَ لَشَرَّ مَـَٔابٍ 55 جَهَنَّمَ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ ٱلْمِهَادُ﴾

“Begitulah (keadaan orang-orang yang taat). Dan sungguh bagi orang-orang yang durhaka benar-benar disediakan tempat kembali yang buruk, yaitu Jahannam, yang mereka masuk ke dalamnya; maka itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Shod: 55-56)

Bab 1: Jannah dan Naar Adalah Makhluk yang Telah Diciptakan

Ath-Thohawi (321 H) berkata dalam Aqidah Salaf yang dinisbatkan kepadanya dan dikenal dengan Al-‘Aqidah Ath-Thohawiyyah: “Jannah dan Naar adalah dua makhluk yang telah diciptakan, tidak akan fana (hancur) dan tidak akan membusuk/musnah selama-lamanya. Sungguh Alloh ﷻ telah menciptakan Jannah dan Naar sebelum menciptakan makhluk, dan Dia menciptakan penghuni untuk keduanya. Maka siapa di antara mereka yang Dia kehendaki masuk ke Jannah, hal itu merupakan karunia dari-Nya, dan siapa yang Dia kehendaki masuk ke Naar, hal itu merupakan keadilan dari-Nya. Masing-masing beramal untuk apa yang telah ditetapkan baginya, dan akan menuju kepada apa yang ia diciptakan untuknya. Kebaikan dan keburukan telah ditakdirkan atas para hamba.”

Muhammad bin Muhammad bin Abil ‘Izz Al-Hanafi (792 H), pensyarah Ath-Thohawiyyah, berkata dalam penjelasannya terhadap teks ini:

“Adapun perkataan beliau: ‘Sungguh Jannah dan Naar adalah dua makhluk yang telah diciptakan’, maka Ahlus Sunnah telah sepakat bahwa Jannah dan Naar adalah dua makhluk yang sudah ada sekarang. Ahlus Sunnah senantiasa berada di atas keyakinan tersebut, hingga muncul kelompok menyimpang dari kalangan Mu’tazilah dan Qodariyyah yang mengingkari hal itu. Mereka berkata: ‘Bahkan Alloh baru akan menciptakan keduanya kelak pada hari Qiyamah.’ Hal yang mendorong mereka berkeyakinan demikian adalah kaidah dasar mereka yang rusak, yang mana mereka menetapkan syariat (aturan) bagi apa yang dilakukan Alloh, bahwa Alloh wajib melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu. Mereka mengqiyaskan (menyamakan) perbuatan Alloh dengan perbuatan makhluk-Nya, sehingga mereka menjadi kelompok musyabbihah dalam hal perbuatan, lalu paham tajahhum (Jahmiyyah) masuk ke dalam diri mereka, hingga akhirnya mereka menjadi kelompok mu’ath-thilah (penolak sifat). Mereka mengatakan: ‘Menciptakan Jannah sebelum adanya balasan adalah suatu perbuatan sia-sia (abats), karena Jannah menjadi menganggur dalam jangka waktu yang sangat panjang.’ Maka mereka menolak nash-nash yang menyelisihi syariat batil yang mereka buat-buat untuk Robb ﷻ, memalingkan nash-nash dari tempatnya yang benar, serta menyesatkan dan membid’ahkan siapa saja yang menyelisihi syariat buatan mereka.”

Kemudian beliau memaparkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menunjukkan bahwa keduanya telah diciptakan:

Di antara nash Al-Kitab adalah firman Alloh ﷻ tentang Jannah:

﴿أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾

“Yang telah disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali ‘Imron: 133)

﴿أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ﴾

“Yang telah disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Alloh dan Rosul-Rosul-Nya.” (QS. Al-Hadid: 21)

Dan firman-Nya tentang Naar:

﴿أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ﴾

“Yang telah disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imron: 131)

﴿إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا 21 لِّلطَّٰغِينَ مَـَٔابًا﴾

“Sungguh Jahannam itu (sejak dahulu) menjadi tempat pengintai, menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas.” (QS. An-Naba’: 21-22)

Dan Alloh ﷻ berfirman:

﴿وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ 13 عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنْتَهَىٰ * عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰ﴾

“Dan sungguh Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidrotul Muntaha, di dekatnya ada Jannah tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 13-15)

Sungguh Nabi ﷺ telah melihat Sidrotul Muntaha, dan beliau melihat Jannah tempat tinggal di dekatnya, sebagaimana terdapat dalam Ash-Shohihain (Shohih Al-Bukhori dan Shohih Muslim) dari Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu dalam kisah Isro’, dan di bagian akhirnya disebutkan: “Kemudian Jibril membawaku berjalan hingga sampai di Sidrotul Muntaha, lalu Sidroh itu diliputi oleh warna-warna yang aku tidak tahu apa itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam Jannah, ternyata di dalamnya terdapat kubah-kubah dari mutiara dan tanahnya adalah minyak misik.”

Dalam Ash-Shohihain dari Hadits Abdulloh bin ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sungguh salah seorang dari kalian apabila meninggal dunia, akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya pada waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk penghuni Jannah maka (diperlihatkan) tempat penghuni Jannah, dan jika ia termasuk penghuni Naar maka (diperlihatkan) tempat penghuni Naar. Lalu dikatakan kepadanya: Inilah tempat dudukmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 1379 dan Muslim no. 2866)

Juga Hadits Al-Baro’ bin ‘Azib (43 H), dan di dalamnya disebutkan: “Lalu penyeru dari langit berseru: ‘Hamba-Ku telah benar, maka bentangkanlah untuknya permadani dari Jannah, dan bukakanlah untuknya satu pintu menuju Jannah.’ Maka datanglah kepadanya kenikmatan dan wewangian Jannah.”

Dalam Shohih Muslim, dari ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rosululloh ﷺ, —lalu ia menyebutkan Hadits tersebut, dan di dalamnya Rosululloh ﷺ bersabda—:

«رَأَيْتُ فِي مَقَامِي هَذَا كُلَّ شَيْءٍ وُعِدْتُمْ، حَتَّى لَقَدْ رَأَيْتُنِي أُرِيدُ أَنْ آخُذَ قِطْفًا مِنَ الْجَنَّةِ حِينِ رَأَيْتُمُونِي جَعَلْتُ أُقَدِّمُ، وَلَقَدْ رَأَيْتُ جَهَنَّمَ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا حِينَ رَأَيْتُمُونِي تَأَخَّرْتُ»

“Aku telah melihat di tempat berdiriku ini segala sesuatu yang dijanjikan kepada kalian, hingga sungguh aku melihat diriku ingin mengambil setandan buah dari Jannah ketika kalian melihatku melangkah ke depan. Dan sungguh aku melihat Jahannam saling menghancurkan satu sama lain ketika kalian melihatku mundur ke belakang.” (HR. Muslim no. 901)

Dalam Ash-Shohihain dan lafazhnya milik Al-Bukhori, dari Abdulloh bin ‘Abbas (68 H), ia berkata: Terjadi gerhana matahari pada masa Rosululloh ﷺ, —lalu ia menyebutkan Hadits tersebut, dan di dalamnya disebutkan—: Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, kami melihat engkau mengambil sesuatu di tempat berdirimu, kemudian kami melihat engkau terdorong mundur?” Maka beliau bersabda:

«إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا، وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَرَأَيْتُ النَّارَ، فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ»

“Sungguh aku melihat Jannah, lalu aku meraih setangkai anggur. Seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku melihat Naar, maka aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini, dan aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.” Mereka bertanya: “Mengapa wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Karena kufur mereka.” Ditanyakan: “Apakah mereka kufur kepada Alloh?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (ingkar) terhadap suami dan kufur terhadap kebaikan. Seandainya engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak berkenan darimu, niscaya ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Al-Bukhori no. 1052, 5197 dan Muslim no. 907)

Dalam Shohih Muslim dari Hadits ‘A-isyah rodhiyallahu ‘anha yang telah lalu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda dalam khutbahnya setelah Sholat:

«لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا»

“Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” (HR. Muslim no. 901)

Dalam Al-Muwath-tho’ dan As-Sunan, dari Hadits Ka’b bin Malik (50 H), ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَيْرٌ تَعْلُقُ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَرْجِعَهَا اللَّهُ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sungguh ruh seorang Mu’min itu berupa burung yang bergantungan di pohon Jannah, hingga Alloh mengembalikannya ke jasadnya pada hari Qiyamah.” (HR. Malik, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, shohih) Teks ini sangat tegas menunjukkan masuknya ruh ke Jannah sebelum hari Qiyamah.

Dalam Shohih Muslim, As-Sunan, dan Al-Musnad, dari Hadits Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ، أَرْسَلَ جِبْرَائِيلَ إِلَى الْجَنَّةِ، فَقَالَ: اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللَّهُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، فَرَجَعَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا، فَأَمَرَ بِالْجَنَّةِ، فَحُفَّتْ بِالْمَكَارِهِ، فَقَالَ: اِرْجِعْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا. قَالَ: فَنَظَرَ إِلَيْهَا، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ.

قَالَ: ثُمَّ أَرْسَلَهُ إِلَى النَّارِ، قَالَ: اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، قَالَ: فَنَظَرَ إِلَيْهَا، فَإِذَا هِيَ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَا يَدْخُلُهَا أَحَدٌ سَمِعَ بِهَا، فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ، ثُمَّ قَالَ: اِذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا، فَرَجَعَ فَقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَنْجُوَ مِنْهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَهَا»

“Ketika Alloh menciptakan Jannah dan Naar, Dia mengutus Jibril ke Jannah seraya berfirman: ‘Pergilah dan lihatlah ia serta apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya.’ Maka Jibril pergi dan melihatnya serta melihat apa yang disediakan Alloh untuk penghuninya di dalamnya. Lalu ia kembali dan berkata: ‘Demi keagungan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya melainkan ia pasti ingin masuk ke dalamnya.’ Maka Alloh memerintahkan agar Jannah dikelilingi dengan hal-hal yang dibenci. Alloh berfirman: ‘Kembalilah dan lihatlah ia serta apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya.’ Maka ia melihatnya, kemudian kembali dan berkata: ‘Demi keagungan-Mu, sungguh aku takut tidak ada seorang pun yang akan masuk ke dalamnya.’

Kemudian Alloh mengutusnya ke Naar seraya berfirman: ‘Pergilah dan lihatlah ia serta apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya.’ Maka ia melihatnya, ternyata Api Naar itu saling menindih satu sama lain. Kemudian ia kembali dan berkata: ‘Demi keagungan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya akan mau masuk ke dalamnya.’ Maka Alloh memerintahkan agar Naar dikelilingi dengan syahwat (kesenangan nafsu). Kemudian Alloh berfirman: ‘Pergilah dan lihatlah apa yang telah Aku sediakan untuk penghuninya di dalamnya.’ Maka ia pergi dan melihatnya, lalu kembali dan berkata: ‘Demi keagungan-Mu, sungguh aku takut tidak ada seorang pun yang selamat darinya melainkan pasti akan masuk ke dalamnya.’” Dan dalil-dalil serupa dalam As-Sunnah sangatlah banyak.

Al-Bukhori (256 H) telah membuat satu bab dalam Shohih-nya, beliau berkata: “Bab tentang sifat Jannah dan bahwa ia telah diciptakan.” Beliau membawakan dalam bab ini banyak Hadits yang menunjukkan bahwa Jannah telah diciptakan, di antaranya Hadits yang menegaskan bahwa Alloh memperlihatkan kepada mayit ketika diletakkan di kuburnya tempat duduknya dari Jannah dan Naar, Hadits tentang Rosululloh ﷺ yang melihat Jannah dan Naar, Hadits penglihatan Rosululloh ﷺ terhadap istana ‘Umar bin Al-Khoth-thob (23 H) di Jannah, dan Hadits-Hadits lainnya. Ibnu Hajar (852 H) telah tepat ketika berkata: “Dan yang lebih tegas daripada apa yang disebutkan oleh Al-Bukhori dalam hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan sanad yang kuat dari Abu Huroiroh dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: ‘Ketika Alloh menciptakan Jannah, Dia berfirman kepada Jibril: ‘Pergilah dan lihatlah ia...’”

Syubhat Orang yang Mengatakan Naar Belum Diciptakan:

Pensyarah Ath-Thohawiyyah telah mendiskusikan syubhat orang-orang yang mengatakan: Naar belum diciptakan saat ini, lalu beliau membantahnya dengan berkata:

Adapun syubhat orang yang mengatakan: Sungguh Naar belum diciptakan sekarang, yaitu: seandainya ia telah diciptakan sekarang, niscaya secara terpaksa (pasti) ia akan fana (hancur) pada hari Qiyamah dan membinasakan serta mematikan siapa saja yang ada di dalamnya, berdasarkan firman Alloh ﷻ:

﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُۥ﴾

“Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88)

Dan firman-Nya:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ﴾

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Dan At-Tirmidzi (279 H) telah meriwayatkan dalam Jami’-nya, dari Hadits Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Aku bertemu dengan Ibrohim pada malam aku diisro’kan, lalu beliau berkata: ‘Wahai Muhammad, sampaikanlah salam dariku kepada umatmu, dan kabarkanlah kepada mereka bahwa Jannah itu baik tanahnya, tawar airnya, dan bahwa ia adalah dataran rendah yang rata (qi’an), dan tanamannya adalah Subhanalloh, walhamdulillah, wa laa ilaha illalloh, wallohu akbar.” Beliau (At-Tirmidzi) berkata: Ini adalah Hadits hasan ghorib dari jalur ini dari Hadits Ibnu Mas’ud. Dan di dalamnya juga terdapat Hadits dari Abuz Zubair, dari Jabir, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: “Siapa mengucapkan Subhanallohil ‘Azhiimi wa bihamdih, maka ditanamkan baginya sebatang pohon kurma di Jannah.” At-Tirmidzi berkata tentangnya: Ini adalah Hadits hasan shohih.

Maka mereka (penolak) berkata: Seandainya Jannah itu sudah diciptakan dan selesai pembentukannya, niscaya ia bukan merupakan dataran kosong (qi’an), dan tidak ada maknanya pepohonan yang ditanam ini.

Mereka juga berkata: Demikian pula firman Alloh ﷻ tentang istri Fir’aun bahwa ia berdoa:

﴿رَبِّ ٱبْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي ٱلْجَنَّة﴾

“Ya Robbku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah dalam Jannah.” (QS. At-Tahrim: 11)

Maka jawabannya adalah:

Jika yang kalian maksudkan dengan perkataan kalian bahwa keduanya saat ini tidak ada sama sekali sebagaimana tiupan sangkakala dan kebangkitan manusia dari kubur, maka ini adalah batil, yang ditolak oleh dalil-dalil yang telah lalu dan yang sejenisnya dari dalil yang belum disebutkan. Namun jika yang kalian maksudkan adalah belum sempurna penciptaan seluruh apa yang Alloh sediakan di dalamnya untuk penghuninya, dan bahwa Alloh senantiasa mengadakan di dalamnya sesuatu demi sesuatu, serta apabila orang-orang Mu’min telah memasukinya Alloh mengadakan perkara-perkara lain saat mereka masuk — maka ini adalah kebenaran yang tidak dapat ditolak, dan dalil-dalil kalian ini hanya menunjukkan sebatas kadar ini saja.

Adapun pendalilan kalian dengan firman Alloh ﷻ: “Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah-Nya”, maka kalian mendatangkannya dari pemahaman kalian yang buruk terhadap makna ayat tersebut, dan pendalilan kalian dengannya atas ketidakadaan Jannah dan Naar saat ini — sama persis dengan pendalilan saudara-saudara kalian atas fana (hancur) dan rusaknya kedua negeri itu serta matinya penghuninya!! Maka kalian maupun saudara-saudara kalian tidak mendapatkan taufiq untuk memahami makna ayat tersebut, melainkan yang diberi taufiq untuk itu hanyalah para Imam Islam.

Di antara jawabannya: Bahwa yang dimaksud dengan (segala sesuatu) adalah dari perkara yang telah Alloh tetapkan baginya kefanaan dan kebinasaan (pasti binasa), sedangkan Jannah dan Naar diciptakan untuk kekal bukan untuk fana, demikian pula ‘Arsy, karena ia merupakan atap Jannah.

Jawaban lain: Maksudnya adalah kecuali kerajaan-Nya. Atau: Kecuali apa yang ditujukan dengannya Wajah-Nya. Atau: Sungguh Alloh ﷻ menurunkan ayat:

﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ﴾

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. Ar-Rohman: 26)

Maka para Malaikat berkata: “Binasalah penduduk bumi, dan mereka berharap untuk tetap kekal.” Maka Alloh ﷻ mengabarkan tentang penduduk langit dan bumi bahwa mereka akan mati, lalu Dia berfirman: “Segala sesuatu pasti binasa kecuali Wajah-Nya” (QS. Al-Qoshosh: 88), karena Dia Maha Hidup dan tidak mati, maka para Malaikat yakin setelah itu akan datangnya kematian. Mereka mengatakan demikian tidak lain untuk mengkompromikan antara ayat tersebut dengan nash-nash muhkam yang menunjukkan kekalnya Jannah dan kekalnya Naar juga, sebagaimana yang akan disebutkan dalam waktu dekat, In Syaa Alloh ﷻ. [Selesai ucapan pensyarah Ath-Thohawiyyah]

Bab 2: Khozanah (Penjaga-Penjaga) Naar

Naar diurus oleh para Malaikat yang memiliki fisik yang sangat besar dan kekuatan yang sangat dahsyat. Mereka tidak pernah bermaksiat kepada Alloh yang telah menciptakan mereka, dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan, sebagaimana firman Alloh ﷻ:

﴿يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Jumlah mereka adalah 19 Malaikat, sebagaimana firman Alloh ﷻ:

﴿سَأُصْلِيهِ سَقَرَ 26 مَا أَدْرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبْقِى وَلَا تَذَرُ 28 لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ 29 عَلَيْهَا تِسْعَةَ عَشَرَ﴾

“Aku akan memasukkannya ke dalam Saqor. Tahukah kamu apakah Saqor itu? Saqor itu tidak membakar sampai habis dan tidak membiarkan. Yang membakar kulit manusia. Di atasnya ada 19 (Malaikat penjaga).” (QS. Al-Muddats-tsir: 26-30)

Orang-orang kafir terfitnah (terkecoh) dengan jumlah ini. Mereka menyangka bahwa sangat mungkin untuk mengalahkan jumlah yang sedikit ini, dan mereka luput bahwa satu Malaikat dari mereka memiliki kekuatan yang sanggup menghadapi seluruh manusia. Oleh karena itu, Alloh Yang Mahabenar mengiringi ayat di atas dengan firman-Nya:

﴿وَمَا جَعَلْنَآ أَصْحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰئِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا﴾

“Dan tidaklah Kami menjadikan penjaga Naar itu melainkan dari Malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu (berjumlah 19) melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Muddats-tsir: 31)

Ibnu Rojab (795 H) berkata: “Yang masyhur di kalangan Salaf dan Kholaf adalah bahwa fitnah itu timbul dari penyebutan jumlah Malaikat, yang mana orang-orang kafir tertipu oleh sedikitnya jumlah tersebut. Mereka menyangka dapat melawan dan mencegah mereka, padahal mereka tidak mengetahui bahwa satu orang Malaikat saja tidak mungkin bisa dilawan oleh seluruh manusia.”

Para Malaikat inilah yang dinamakan oleh Alloh sebagai “Khozanah Jahannam” (penjaga-penjaga Jahannam) dalam firman-Nya:

﴿وَقَالَ ٱلَّذِينَ فِي ٱلنَّارِ لِخَزَنَةِ جَهَنَّمَ ٱدْعُوا رَبَّكُمْ يُخَفِّفْ عَنَّا يَوْمًا مِّنَ ٱلْعَذَاب﴾

“Dan orang-orang yang berada di dalam Naar berkata kepada Khozanah Jahannam: ‘Berdoalah kepada Robb kalian supaya Dia meringankan adzab dari kami barang sehari.’” (QS. Ghofir: 49)

Bab 3: Sifat-Sifat Naar

3.1 Tempat Naar

Para ulama berbeda pendapat mengenai keberadaan Naar saat ini. Sebagian mereka berkata: Naar berada di bumi yang paling bawah (al-ardhus sufla). Sebagian yang lain berkata: Ia berada di langit. Sedangkan sebagian lainnya memilih untuk ber-tawaqquf (menahan diri/tidak menentukan), dan inilah pendapat yang benar, karena tidak adanya nash shohih yang tegas menentukan tempatnya.

Di antara ulama yang ber-tawaqquf dalam masalah ini adalah Al-Hafizh As-Suyuthi (911 H), beliau berkata: “Dan engkau ber-tawaqquf dari Naar, maksudnya: engkau berpendapat padanya dengan tawaqquf mengenai tempatnya, yaitu di mana tempatnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh, karena tidak ada Hadits yang bisa kujadikan sandaran yang tsabit bagiku dalam masalah tersebut.”

Syaikh Waliyulloh Ad-Dahlawi (1176 H) berkata dalam Aqidahnya: “Tidak ada nash yang menegaskan penentuan tempat keduanya (yaitu Jannah dan Naar), melainkan berada di mana saja yang Alloh ﷻ kehendaki, karena kita tidak memiliki ilmu yang meliputi ciptaan Alloh dan alam semesta-Nya.”

Shiddiq Hasan Khon (1307 H) berkata mengiringi penukilan perkataan Ad-Dahlawi ini: “Aku katakan: Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat dan paling berhati-hati, In Syaa Alloh.”

3.2 Luasnya Naar dan Kedalaman Dasarnya

Naar itu sangat luas, sangat dalam dasarnya, dan membentang luas ujung-ujungnya. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa perkara:

Pertama: Orang-orang yang masuk ke dalam Naar jumlahnya tidak terhitung. Meskipun jumlah mereka sangat banyak, bentuk fisik satu orang di antara mereka diperbesar hingga gigi gerahamnya di Naar sebesar Gunung Uhud, dan jarak antara kedua pundaknya sejauh perjalanan tiga hari. Walaupun demikian, Naar sanggup menampung jumlah yang sangat raksasa dari kalangan orang-orang kafir yang berbuat dosa sepanjang kehidupan dunia dengan besarnya fisik mereka, dan masih tersisa di dalamnya kelapangan untuk yang lain. Alloh telah mengabarkan fakta ini kepada kita dalam Suroh Qof, lalu Dia berfirman:

﴿يَوْمَ نَقُولُ لِجَهَنَّمَ هَلِ ٱمْتَلَأْتِ وَتَقُولُ هَلْ مِن مَّزِيدٍ﴾

“(Dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam: ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dan Jahannam menjawab: ‘Apakah masih ada tambahan?’” (QS. Qof: 30)

Sungguh Naar itu menyerupai alat penggilingan yang dijatuhkan ke dalamnya beribu-ribu ton biji-bijian, lalu ia menggiling semuanya tanpa merasa lelah dan bosan, hingga biji-bijian habis sedangkan alat penggiling terus berputar menunggu tambahan.

Dalam Hadits tentang perdebatan antara Jannah dan Naar disebutkan bahwa Alloh berfirman kepada Naar:

«إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا، فَأَمَّا النَّارُ، فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ – وَفِي رِوَايَةٍ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ – فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ قَطْ، فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ، وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا»

“‘Sungguh engkau adalah adzab-Ku, Aku mengadzab dengannya siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku, dan bagi masing-masing dari kalian berdua ada isinya sampai penuh.’ Adapun Naar, ia tidak akan penuh hingga Alloh meletakkan kaki-Nya — dalam satu riwayat: hingga Alloh Tabaroka wa Ta’ala meletakkan kaki-Nya — maka Naar berkata: ‘Cukup, cukup, cukup.’ Di situlah Naar menjadi penuh dan sebagiannya dihimpunkan ke sebagian yang lain, dan Alloh tidak menzholimi seorang pun dari ciptaan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 4850 dan Muslim no. 2846, dari Abu Huroiroh)

Dari Anas (93 H) dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«لَا تَزَالُ جَهَنَّمُ يُلْقَى فِيهَا وَتَقُولُ: هَلْ مِنْ مَزِيدٍ، حَتَّى يَضَعَ رَبُّ الْعِزَّةِ فِيهَا قَدَمَهُ، فَيَنْزَوِي بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ، وَتَقُولُ: قَطْ، قَطْ، بِعِزَّتِكَ وَكَرَمِكَ»

“Jahannam terus-menerus dilemparkan (para penghuni) ke dalamnya dan ia berkata: ‘Apakah ada tambahan?’ Hingga Robb Pemilik Keperkasaan meletakkan kaki-Nya padanya, maka sebagiannya terhimpun ke sebagian yang lain, dan ia berkata: ‘Cukup, cukup, demi Keperkasaan-Mu dan Kemuliaan-Mu.’” (HR. Al-Bukhori no. 6661 dan Muslim no. 2848)

Kedua: Hal yang menunjukkan kedalaman dasarnya adalah apabila sebuah batu dilemparkan dari bagian atasnya, batu itu membutuhkan waktu yang sangat lama hingga mencapai dasarnya. Dalam Shohih Muslim dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Rosululloh ﷺ, tiba-tiba beliau mendengar suara benda jatuh yang sangat keras (wajbah), maka Nabi ﷺ bersabda:

«تَدْرُونَ مَا هَذَا؟» قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: «هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ إِلَى الْآنَ»

“Tahukah kalian suara apa ini?” Kami menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam Naar sejak 70 tahun yang lalu, dan batu itu terus jatuh ke bawah di dalam Naar hingga sekarang.” (HR. Muslim no. 2844)

Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Huroiroh, dan Ath-Thobaroni dari Mu’adz dan Abu Umamah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«لَوْ أَنَّ حَجَرًا مِثْلَ سَبْعِ خَلِفَاتٍ، أُلْقِيَ مِنْ شَفِيرِ جَهَنَّمَ هَوَى فِيهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا لَا يَبْلُغُ قَعْرَهَا»

“Seandainya ada batu sebesar 7 ekor unta bunting tua dilemparkan dari tepi Jahannam, niscaya batu itu meluncur di dalamnya selama 70 tahun tanpa mencapai dasarnya.” (HR. Al-Hakim, Ath-Thobaroni, shohih)

Ketiga: Banyaknya jumlah Malaikat yang membawa Naar pada hari Qiyamah. Nabi ﷺ telah menyifatkan kedatangan Naar pada hari Qiyamah, yang mana Alloh berfirman tentang hari tersebut:

﴿وَجِاىٓءَ يَوْمَئِذٍۭ بِجَهَنَّمَ﴾

“Dan pada hari itu didatangkan Jahannam.” (QS. Al-Fajr: 23)

Maka beliau bersabda:

«يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ»

“Didatangkan Jahannam pada hari itu dengan memiliki 70.000 tali kendali, yang mana pada setiap tali kendali dipegang oleh 70.000 Malaikat.” (HR. Muslim no. 2842 dari Abdulloh bin Mas’ud)

Bayangkanlah betapa dahsyatnya ciptaan yang mengerikan ini yang membutuhkan jumlah Malaikat yang sangat raksasa, perkasa, dan kuat, yang mana tidak ada yang mengetahui kadar kekuatan mereka kecuali Alloh Tabaroka wa Ta’ala.

Keempat: Di antara perkara yang menunjukkan kedahsyatan dan besarnya Naar adalah dua makhluk yang sangat agung seperti matahari dan bulan akan dijadikan seperti dua ekor sapi jantan yang digulung di dalam Naar. Dalam Musykil Al-Atsar karya Ath-Thohawi dari Salamah bin Abdurroman, ia berkata: Abu Huroiroh menceritakan kepada kami dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Matahari dan bulan adalah dua ekor sapi jantan yang digulung di dalam Naar pada hari Qiyamah.” Ia diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Ba’ts wan Nusyur, demikian pula Al-Bazzar, Al-Isma’ili, dan Al-Khoth-thobi dengan sanad shohih sesuai syarat Al-Bukhori. Al-Bukhori sendiri merowikannya dalam Shohih-nya secara ringkas dengan lafazh: “Matahari dan bulan digulung di dalam Naar.”

3.3 Tingkatan-Tingkatan (Darokāt) Naar

Naar itu bertingkat-tingkat dalam hal tingginya hawa panas dan bentuk adzab yang Alloh sediakan bagi penghuninya. Naar tidak hanya terdiri dari satu tingkatan saja, Alloh Tabaroka wa Ta’ala telah berfirman:

﴿إِنَّ ٱلْمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرْكِ ٱلْأَسْفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ﴾

“Sungguh orang-orang munafik itu (empatnya) berada pada tingkatan (dark) yang paling bawah dari Naar.” (QS. An-Nisa’: 145)

Orang-orang Arob menyebut kata “ad-dark” untuk setiap apa yang menurun ke bawah, sebagaimana mereka menyebut kata “ad-daroj” untuk setiap apa yang menaik ke atas. Maka dikatakan: Jannah memiliki darojat (tingkatan-tingkatan ke atas) dan Naar memiliki darokat (tingkatan-tingkatan ke bawah). Setiap kali Naar itu semakin menghujam ke bawah, hawa panasnya semakin tinggi dan gejolak apinya semakin dahsyat. Orang-orang munafik mendapatkan bagian adzab yang paling besar, oleh karena itu mereka berada di darok (tingkatan) yang paling bawah dari Naar.

Kadangkala Naar dinamakan pula dengan darojat. Dalam Suroh Al-An’am, Alloh menyebutkan tentang penghuni Jannah dan Naar, kemudian Dia berfirman:

﴿وَلِكُلٍّ دَرَجَٰتٌ مِّمَّا عَمِلُوا﴾

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Al-An’am: 132)

Dan Alloh berfirman:

﴿أَفَمَنِ ٱتَّبَعَ رِضْوَٰنَ ٱللَّهِ كَمَنۢ بَآءَ بِسَخَطٍ مِّنَ ٱللَّهِ وَمَأْوَىٰهُ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ ٱلْمَصِيرُ 162 هُمْ دَرَجَٰتٌ عِندَ ٱللَّهِ﴾

“Apakah orang yang mengikuti keridhoan Alloh sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan (yang besar) dari Alloh dan tempatnya adalah Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (Mereka itu) adalah (bertingkat-tingkat) derajat di sisi Alloh.” (QS. Ali ‘Imron: 162-163)

Abdurroman bin Zaid bin Aslam (182 H) berkata: “Derajat-derajat Jannah itu naik ke atas, sedangkan derajat-derajat Naar itu turun ke bawah.”

Diriwayatkan dari sebagian Salaf bahwa para pelaku maksiat dari kalangan Muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) yang masuk Naar berada di darok yang paling atas, di darok kedua adalah Yahudi, di darok ketiga adalah Nashroni, di darok keempat adalah Shobi-un, di darok kelima adalah Majusi, di darok keenam adalah musyrikin Arob, dan di darok ketujuh adalah orang-orang munafik.

Tercantum pula dalam sebagian kitab penamaan darokat-darokat ini: yang pertama Jahannam, kedua Lazho, ketiga Al-Huthomah, keempat As-Sa’ir, kelima Saqor, keenam Al-Jahim, dan ketujuh Al-Hawiyah.

Pembagian manusia di dalam Naar berdasarkan skema ini tidaklah shohih, sebagaimana penamaan darokat Naar seperti yang mereka sebutkan juga tidak shohih. Yang benar adalah bahwa setiap nama dari nama-nama ini: Jahannam, Lazho, Al-Huthomah, dan seterusnya, merupakan nama (sebutan) bagi seluruh Naar, bukan untuk sebagian Naar saja tanpa bagian yang lain. Dan yang shohih adalah bahwa tingkatan manusia berbeda-beda sesuai dengan kadar kekufuran dan dosa-dosa mereka.

3.4 Pintu-Pintu Naar

Alloh yang Maha Benar mengabarkan bahwa Naar memiliki 7 pintu, sebagaimana firman Alloh ﷻ:

﴿وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ 43 لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَٰبٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ﴾

“Dan sungguh Jahannam itu benar-benar tempat yang diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaithon) semuanya. Jahannam itu mempunyai 7 pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka.” (QS. Al-Hijr: 43-44)

Ibnu Katsir (774 H) berkata dalam tafsir ayat ini: “Maksudnya, telah ditetapkan bagi setiap pintu satu bagian dari para pengikut Iblis yang akan memasukinya, tanpa ada jalan menghindar bagi mereka darinya — semoga Alloh melindungi kita darinya. Masing-masing masuk dari satu pintu sesuai dengan amalnya, dan menetap di suatu darok sesuai dengan amalnya.”

Dinukil dari ‘Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu saat berkhutbah: “Sungguh pintu-pintu Jahannam itu demikian — Abu Harun berkata: berlapis-lapis sebagiannya di atas sebagian yang lain.”

Dinukil pula darinya: “Pintu-pintu Jahannam ada 7 sebagiannya di atas sebagian yang lain, maka pintu pertama dipenuhi, kemudian pintu kedua, lalu ketiga, hingga semuanya penuh.”

Ketika orang-orang kafir mendatangi Naar, pintu-pintunya dibuka, lalu mereka memasukinya dalam keadaan kekal.

﴿وَسِيقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَآءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَآءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ ٱلْعَذَابِ عَلَى ٱلْكَٰفِرِينَ﴾

“Orang-orang kafir dibawa ke Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke Jahannam itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu Rosul-Rosul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Robbmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?’ Mereka menjawab: ‘Benar (telah datang). Tetapi telah pasti berlaku ketetapan adzab terhadap orang-orang yang kafir.’” (QS. Az-Zumar: 71)

Setelah pengakuan ini, dikatakan kepada mereka:

﴿ٱدْخُلُوٓا أَبْوَٰبَ جَهَنَّمَ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى ٱلْمُتَكَبِّرِينَ﴾

“Dikatakan (kepada mereka): ‘Masukilah pintu-pintu Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka Jahannam itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.’” (QS. Az-Zumar: 72)

Pintu-pintu ini dikunci rapat atas para penjahat, sehingga tidak ada harapan bagi mereka untuk keluar darinya setelah itu, sebagaimana firman Alloh ﷻ:

﴿وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا بِـَٔايَٰتِنَا هُمْ أَصْحَٰبُ ٱلْمَشْـَٔمَةِ 19 عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ﴾

“Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri. Mereka berada dalam Naar yang ditutup rapat (mu’shodah).” (QS. Al-Balad: 19-20)

Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata: (mu’shodah) artinya pintu-pintunya ditutup rapat.

Mujahid (104 H) berkata: “Ashoda al-bab” dalam dialek Quroisy artinya mengunci/menutup pintu.

Alloh yang Maha Benar berfirman dalam Suroh Al-Humazah:

﴿وَيْلٌ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ 1 ٱلَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُۥ 2 يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخْلَدَهُۥ 3 كَلَّا ۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلْحُطَمَةِ 4 وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْحُطَمَةُ 5 نَارُ ٱللَّهِ ٱلْمُوقَدَةُ 6 ٱلَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى ٱلْأَفْئِدَةِ 7 إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ 8 فِي عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍۭ﴾

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Sungguh dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthomah. Dan tahukah kamu apa Huthomah itu? (Yaitu) Naar Alloh yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Sungguh Naar itu ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu diikat) pada tiang-tiang yang panjang.” (QS. Al-Humazah: 1-9)

Alloh yang Maha Benar mengabarkan bahwa pintu-pintu Naar dikunci rapat atas mereka. Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma berkata: “(fi ‘amadin mumaddadah) maksudnya pintu-pintu itulah yang diperpanjang/diperkokoh.”

Qotadah (117 H) berkata dalam qiro-at Ibnu Mas’ud: “Sungguh Naar dikunci rapat atas mereka dengan tiang-tiang yang diperpanjang.”

‘Athiyyah Al-‘Aufi (111 H) berkata: “Itu adalah tiang-tiang dari besi.”

Muqotil (150 H) berkata: “Pintu-pintu dihempaskan dan ditutup rapat atas mereka, kemudian dikuatkan dengan pasak-pasak dari besi, sehingga uap panas dan gejolak apinya membalas kembali kepada mereka.”

Berdasarkan hal ini, firman-Nya: (mumaddadah) merupakan sifat bagi tiang-tiang (al-‘amad), maksudnya tiang-tiang yang digunakan untuk memperkokoh pintu-pintu tersebut diperpanjang dan dibuat tinggi, sedangkan tiang yang panjang itu lebih kokoh dan lebih kuat daripada yang pendek.

Pintu-pintu Naar terkadang dibuka dan ditutup sebelum hari Qiyamah. Nabi Al-Musthofa ﷺ mengabarkan bahwa pintu-pintu Naar ditutup pada bulan Romadhon. Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ»

“Apabila Romadhon datang, dibukalah pintu-pintu Jannah, ditutuplah pintu-pintu Naar, dan dibelenggulah para syaithon serta jin yang jahat.” (HR. Al-Bukhori no. 1898, 1899 dan Muslim no. 1079)

At-Tirmidzi mengeluarkan dari Hadits Abu Huroiroh dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ»

“Apabila terjadi malam pertama dari bulan Romadhon, dibelenggulah para syaithon dan jin yang jahat, ditutuplah pintu-pintu Naar sehingga tidak ada satu pintu pun yang dibuka, dan dibukalah pintu-pintu Jannah sehingga tidak ada satu pintu pun yang ditutup.” (HR. At-Tirmidzi no. 682, shohih)

3.5 Bahan Bakar Naar

Batu-batu dan orang-orang kafir yang jahat adalah bahan bakar Naar, sebagaimana firman Alloh yang Maha Benar:

﴿يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا قُوٓا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dan firman-Nya:

﴿فَٱتَّقُوا ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ﴾

“Maka peliharalah dirimu dari Naar yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqoroh: 24)

Yang dimaksud dengan manusia yang menjadi bahan bakar Naar adalah orang-orang kafir dan musyrik. Adapun jenis batu yang menjadi bahan bakar Naar, Alloh lebih mengetahui hakikatnya. Sebagian Salaf berpendapat bahwa batu ini berasal dari belerang (kibrit). Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Batu itu adalah batu belerang yang diciptakan Alloh pada hari Dia menciptakan langit dan bumi di langit dunia, yang dipersiapkan-Nya untuk orang-orang kafir.” Ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Abi Hatim (327 H), dan Al-Hakim (405 H) dalam Al-Mustadrok. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Ibnu Juroij (150 H) juga berpendapat dengan pendapat ini.

Jika pendapat ini diambil dari Rosululloh ﷺ maka kita mengambilnya dan tidak memperdebatkannya. Namun jika hal itu merupakan perkara ijtihad yang didasarkan pada pengetahuan tentang tabiat dan karakteristik batu, maka pendapat ini tidak mutlak diterima; sebab di antara jenis batu ada yang melebihi kekuatan dan daya bakar batu belerang. Orang-orang terdahulu melihat bahwa batu belerang memiliki karakteristik yang tidak dimiliki batu lainnya, lalu mereka berpendapat bahwa batu belerang adalah bahan bakar Naar. Ibnu Rojab berkata: “Mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud dengan batu adalah batu belerang yang dinyalakan dengannya Api Naar. Dikatakan: Bahwa padanya terdapat 5 jenis adzab yang tidak ada pada batu lainnya: cepat menyala, baunya busuk, asapnya banyak, sangat menempel pada badan, dan dahsyat hawa panasnya jika dipanaskan.”

Alloh sanggup mengadakan jenis-jenis batu yang melebihi karakteristik belerang, dan kita meyakini secara pasti bahwa apa yang ada di Akhiroh berbeda dengan apa yang ada di dunia.

Di antara apa yang digunakan untuk menyalakan Naar adalah sesembahan yang disembah selain Alloh:

﴿إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنتُمْ لَهَا وَٰرِدُونَ 98 لَوْ كَانَ هَٰؤُلَآءِ ءَالِهَةً مَّا وَرَدُوهَا ۖ وَكُلٌّ فِيهَا خَٰلِدُونَ﴾

“Sungguh kamu dan apa yang kamu sembah selain Alloh, adalah kayu bakar (hashob) Jahannam, kamu pasti masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk ke dalamnya. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.” (QS. Al-Anbiya’: 98-99)

Kata “hashobuha” artinya bahan bakarnya dan kayu bakarnya. Al-Jauhari (393 H) berkata: “Setiap apa yang engkau nyalakan dengannya api atau engkau gejolakkan dengannya, maka engkau telah meng-hashob-kannya.” Abu ‘Ubaidah (209 H) berkata: “Setiap apa yang engkau lemparkan ke dalam Naar, maka engkau telah meng-hashob-kannya dengannya.”

3.6 Kepanasan Naar yang Dahsyat, Asapnya yang Besar, dan Bunga Apinya

Alloh ﷻ berfirman:

﴿وَأَصْحَٰبُ ٱلشِّمَالِ مَآ أَصْحَٰبُ ٱلشِّمَالِ 41 فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ 42 وَظِلٍّ مِّن يَحْمُومٍ 43 لَّا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ﴾

“Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu? Dalam (siksaan) angin yang sangat panas (samum), air yang mendidih (hamim), dan naungan asap yang hitam (yahmum). Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 41-44)

Ayat ini mencakup penyebutan tiga hal yang biasanya digunakan manusia untuk mendinginkan diri dari himpitan dada dan kepanasan, yaitu: air, udara, dan naungan. Ayat ini menyebutkan bahwa ketiga hal tersebut tidak berguna sedikit pun bagi penghuni Naar; sebab udara Jahannam adalah samum (angin yang sangat panas lagi membakar), airnya adalah hamim (air mendidih yang sangat tinggi hawa panasnya), dan naungannya adalah yahmum (potongan-potongan asap Naar).

Sebagaimana Alloh menggambarkan dahsyatnya urusan golongan kiri penghuni Naar dalam ayat ini, Dia juga menggambarkan dahsyatnya urusan Naar dalam ayat yang lain, lalu berfirman:

﴿وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِينُهُۥ 8 فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ 9 وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا هِيَهْ 10 نَارٌ حَامِيَةٌ﴾

“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah Haawiyah. Tahukah kamu apakah Haawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS. Al-Qori’ah: 8-11)

Naungan yang diisyaratkan oleh ayat (wa zhillim min yahmum) (QS. Al-Waqi’ah: 43) adalah naungan asap Naar. Naungan pada umumnya mengesankan kesegaran dan kesejukan, serta jiwa menyukainya dan merasa tenteram dengannya. Adapun naungan ini, ia tidak sejuk saat dimasuki dan tidak pula indah dipandang; ia adalah naungan dari asap hitam.

Al-Qur’an telah menceritakan kepada kita tentang naungan yang merupakan asap Jahannam yang membubung di atas Api Naar, Alloh berfirman:

﴿ٱنطَلِقُوٓا إِلَىٰ ظِلٍّ ذِي ثَلَٰثِ شُعَبٍ 30 لَّا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ ٱللَّهَبِ 31 إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَٱلْقَصْرِ 32 كَأَنَّهُۥ جِمَٰلَتٌ صُفْرٌ﴾

“(Dikatakan kepada orang-orang kafir pada hari Qiyamah): Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai 3 cabang, yang tidak melindungi dan tidak menolak gejolak api Naar. Sungguh Naar itu melempar bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia rombongan unta yang hitam.” (QS. Al-Mursalat: 30-33)

Ayat ini menetapkan bahwa asap yang membubung dari Naar ini karena sangat besarnya terbagi menjadi 3 cabang. Asap itu membentuk naungan namun tidak menyejukkan dan tidak melindungi dari jilatan api yang menyala. Adapun bunga api dari Naar ini yang berterbangan darinya, ia menyerupai benteng-benteng yang raksasa, dan menyerupai unta-unta yang hitam (jimalatun shufr).

Alloh yang Maha Benar berfirman seraya menjelaskan kekuatan Naar ini dan sejauh mana pengaruhnya terhadap orang-orang yang diadzab:

﴿سَأُصْلِيهِ سَقَرَ 26 وَمَا أَدْرَىٰكَ مَا سَقَرُ 27 لَا تُبْقِى وَلَا تَذَرُ 28 لَوَّاحَةٌ لِّلْبَشَرِ﴾

“Aku akan memasukkannya ke dalam Saqor. Tahukah kamu apakah Saqor itu? Saqor itu tidak membakar sampai habis dan tidak membiarkan. Yang membakar kulit manusia.” (QS. Al-Muddats-tsir: 26-29)

Naar melahap segala sesuatu dan menghancurkan segala sesuatu, tidak meninggalkan dan tidak membiarkan, membakar kulit, merembet hingga ke tulang, melumatkan apa yang ada di dalam perut, dan membakar sampai ke hati.

Rosululloh ﷺ telah mengabarkan kepada kita bahwa “api kita di dunia ini adalah satu bagian dari 70 bagian dari Api Jahannam.” Ditanyakan: “Wahai Rosululloh, demi Alloh satu bagian itu saja sungguh sudah cukup?” Beliau bersabda: “Api Jahannam diunggulkan atasnya dengan 69 bagian, yang masing-masing bagian sama panasnya dengan api dunia.” (HR. Al-Bukhori no. 3265 dan Muslim no. 2843)

Naar ini tidak memadam nyalanya dengan berlalunya waktu dan bergantinya hari:

﴿فَذُوقُوا فَلَن نَّزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا﴾

“Karena itu rasakanlah! Dan Kami tidak akan menambah kepadamu selain daripada adzab.” (QS. An-Naba’: 30)

﴿كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَٰهُمْ سَعِيرًا﴾

“Setiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.” (QS. Al-Isro’: 97)

Oleh karena itu orang-orang kafir tidak akan menemukan kenikmatan istirahat, dan tidak akan diringankan adzab dari mereka bagaimanapun lamanya adzab tersebut:

﴿فَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ ٱلْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ﴾

“Maka tidak akan diringankan adzab dari mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqoroh: 86)

Naar dinyalakan (digejolakkan) setiap hari sebagaimana terdapat dalam Hadits Shohih Muslim dari ‘Amr bin ‘Abasah (35 H) dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Kerjakanlah Sholat Subuh, kemudian tahanlah dari Sholat hingga matahari terbit dan meninggi, karena ia terbit di antara dua tanduk syaithon, dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepadanya. Kemudian Sholatlah, karena Sholat itu disaksikan dan dihadiri hingga bayangan berdiri tegak lurus dengan tombak, kemudian tahanlah dari Sholat, karena pada saat itulah Jahannam dinyalakan dengan hebat. Apabila bayangan telah bergeser ke barat, maka Sholatlah.” (HR. Muslim no. 832)

Dalam Ash-Shohihain dari Abu Huroiroh dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلَاةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ»

“Apabila hawa panas sangat menyengat, maka tunggulah hingga dingin untuk menunaikan Sholat, karena dahsyatnya hawa panas itu berasal dari hembusan Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 536 dan Muslim no. 615)

Naar dinyalakan pada hari Qiyamah ketika menyambut para penghuninya:

﴿وَإِذَا ٱلْجَحِيمُ سُعِّرَتْ 12 وَإِذَا ٱلْجَنَّةُ أُزْلِفَتْ﴾

“Dan apabila Al-Jahim dinyalakan, dan apabila Jannah didekatkan.” (QS. At-Takwir: 12-13) Makna (su’’irot) adalah dinyalakan dan dipanaskan hingga bergejolak.

3.7 Naar Berbicara dan Melihat

Orang yang membaca nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah yang menyifatkan Naar akan mendapatinya sebagai makhluk yang melihat, berbicara, dan mengeluh. Dalam Al-Kitab Al-‘Aziz disebutkan bahwa Naar melihat calon penghuninya saat mereka datang kepadanya dari kejauhan. Pada saat itulah Naar mengeluarkan suara-suara yang mengerikan yang menunjukkan betapa besar kemurkaan dan kegeramannya terhadap para penjahat tersebut, Alloh ﷻ berfirman:

﴿إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍۭ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا﴾

“Apabila Naar itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar suaranya yang gemuruh karena mengamuk dan menggelegak.” (QS. Al-Furqon: 12)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Sungguh seorang lelaki benar-benar diseret menuju Naar, lalu Naar itu mengkerut dan saling menghimpunkan diri satu sama lain. Maka Alloh Ar-Rohman berfirman kepadanya: ‘Ada apa denganmu?’ Naar menjawab: Sungguh ia memohon perlindungan dariku. Maka Alloh berfirman: ‘Lepaskan hamba-Ku.’ Dan sungguh seorang lelaki diseret menuju Naar lalu ia berkata: ‘Wahai Robbku, bukan ini persangkaanku kepada-Mu.’ Alloh berfirman: ‘Apa persangkaanmu?’ Ia menjawab: ‘Engkau akan meliputiku dengan rohmat-Mu.’ Alloh berfirman: ‘Lepaskan hamba-Ku.’ Dan sungguh seorang lelaki diseret menuju Naar, lalu Naar itu meringkik menyambutnya sebagaimana meringkiknya baghol (keledai) terhadap gandum, dan Naar menghembuskan nafas dengan satu hembusan yang tidak tersisa seorang pun melainkan pasti merasa takut.”

Imam Ahmad (241 H) dan At-Tirmidzi telah mengeluarkan dari Hadits Al-A’masy dari Abu Sholih dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«يَخْرُجُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ، لَهَا عَيْنَانِ تُبْصِرَانِ، وَأُذُنَانِ تَسْمَعَانِ، وَلِسَانٌ يَنْطِقُ، تَقُولُ: إِنِّي وُكِّلْتُ بِثَلَاثَةٍ: بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ، وَبِكُلِّ مَنْ دَعَا مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ، وَبِالْمُصَوِّرِينَ»

“Akan keluar pada hari Qiyamah leher dari Naar, yang memiliki dua mata yang melihat, dua telinga yang mendengar, dan lisan yang berbicara. Leher itu berkata: ‘Sungguh aku ditugaskan untuk mengadzab tiga golongan: setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, setiap orang yang menyeru tuhan lain bersama Alloh, dan para pembuat patung/gambar makhluk bernyawa.” Dishohihkan oleh At-Tirmidzi.

3.8 Mimpi Ibnu ‘Umar tentang Naar

Dalam Ash-Shohihain dan lafazhnya milik Al-Bukhori dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa ia bermimpi melihat dua Malaikat mendatanginya yang di tangan masing-masing terdapat pemukul dari besi, keduanya membawaku menuju Jahannam. Kemudian seorang Malaikat menemuinya dengan memegang pemukul dari besi, mereka berkata: “Engkau tidak perlu takut, engkau adalah sebaik-baik lelaki seandainya engkau memperbanyak Sholat.”

Ibnu ‘Umar berkata: Maka keduanya membawaku pergi hingga mendudukkanku di tepi Jahannam, ternyata Naar itu dibangun melingkar seperti lingkaran sumur, memiliki tanduk-tanduk (tiang) seperti tiang sumur, di antara setiap dua tiang terdapat Malaikat yang memegang pemukul dari besi. Dan aku melihat di dalamnya lelaki-lelaki yang digantung dengan rantai, kepala mereka berada di bawah, aku mengenali di dalamnya lelaki-lelaki dari Quroisy. Lalu mereka membawaku berbelok ke arah kanan. Maka aku menceritakannya kepada Hafshoh (45 H), lalu Hafshoh menceritakannya kepada Rosululloh ﷺ, maka beliau bersabda: “Sungguh Abdulloh adalah lelaki yang sholih.”

3.9 Apakah Ada Orang yang Melihat Naar Secara Langsung Sebelum Hari Qiyamah?

Yang kita ketahui adalah bahwa Rosul kita ﷺ telah melihat Naar sebagaimana beliau melihat Jannah dalam kehidupan beliau. Dalam Ash-Shohihain dari Abdulloh bin ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma dalam Sholat Kusuf (gerhana), bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنِّي رَأَيْتُ الْجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا، وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا، وَأُرِيتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ مَنْظَرًا كَالْيَوْمِ قَطُّ أَفْظَعَ، وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ»

“Sungguh aku telah melihat Jannah, lalu aku meraih setangkai anggur. Seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia ini masih ada. Dan diperlihatkan kepadaku Naar, maka aku tidak pernah melihat pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari ini, dan aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.” (HR. Al-Bukhori no. 1052 dan Muslim no. 907)

Dalam Shohih Al-Bukhori dari Asma’ rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda: “Sungguh Jannah telah mendekat kepadaku, hingga seandainya aku berani niscaya aku akan membawakan untuk kalian petikan dari buah-buahannya. Dan Naar telah mendekat kepadaku hingga aku berkata: ‘Wahai Robbku, apakah aku bersama mereka?’ Tiba-tiba ada seorang wanita — aku menduga beliau bersabda — dicakar oleh seekor kucing. Aku bertanya: ‘Ada apa dengan wanita ini?’ Para Malaikat menjawab: ‘Ia mengurungnya hingga mati kelaparan, ia tidak memberinya makan dan tidak pula melepaskannya agar makan serangga-serangga bumi.’”

Dalam Musnad Ahmad dari Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) dari Rosululloh ﷺ: “Sungguh Naar didekatkan kepadaku hingga hawa panasnya meniup wajahku, lalu aku melihat di dalamnya pemilik tongkat pembungkuk (shohibul mihjan), orang yang melepaskan unta Bahiroh, pemilik keledai, dan wanita pemilik kucing.”

Dalam Shohih Muslim dari Jabir (74 H) rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

«إِنَّهُ عُرِضَتْ عَلَيَّ الْجَنَّةُ، حَتَّى لَوْ تَنَاوَلْتُ مِنْهَا قِطْفًا لَأَخَذْتُهُ، (أَوْ قَالَ: تَنَاوَلْتُ مِنْهَا قِطْفًا، فَقَصُرَتْ يَدِي عَنْهُ)، وَعُرِضَتْ عَلَيَّ النَّارُ فَرَأَيْتُ فِيهَا امْرَأَةً مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ تُعَذَّبُ فِي هِرَّةٍ لَهَا، رَبَطَتْهَا فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ، وَرَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ يَجُرُّ قَصَبَهُ فِي النَّارِ»

“Sungguh Jannah dipertunjukkan kepadaku, hingga seandainya aku mengambil setangkai buah darinya niscaya aku dapat mengambilnya (atau beliau bersabda: aku meraih setangkai buah darinya lalu tanganku tidak mencapainya). Dan dipertunjukkan kepadaku Naar, maka aku melihat di dalamnya seorang wanita dari Bani Isro-il diadzab karena seekor kucing miliknya yang ia ikat lalu tidak di memberinya makan dan tidak membiarkannya makan serangga bumi. Dan aku melihat ‘Amr bin Malik memikul ususnya yang terburai di dalam Naar.” (HR. Muslim no. 904)

Setelah para hamba meninggal dunia, diperlihatkan kepada mereka tempat duduk mereka di alam Barzakh; yaitu tempat duduk di Jannah jika mereka orang Mu’min, dan tempat duduk di Naar jika mereka orang kafir. Kami telah menjelaskan hal tersebut dalam pembahasan tentang alam Barzakh.

3.10 Pengaruh Naar Terhadap Dunia dan Penghuninya

Al-Bukhori meriwayatkan dalam Shohih-nya dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda: “Naar mengaduh kepada Robbnya seraya berkata: ‘Wahai Robbku, sebagian dariku melahap sebagian yang lain.’ Maka Alloh mengizinkan baginya dua hembusan nafas: satu hembusan pada musim dingin dan satu hembusan pada musim panas. Maka puncak cuaca panas yang kalian rasakan dan puncak cuaca dingin membeku (zamharir) yang kalian rasakan berasal dari hembusan itu.”

Al-Bukhori juga meriwayatkan dari Abu Sa’id (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Tunggulah hingga dingin untuk menunaikan Sholat (tunda Sholat Zhuhur hingga hampir tiba waktu Ashar), karena dahsyatnya hawa panas berasal dari hembusan Jahannam.”

Bab 4: Naar Kekal Tidak Akan Musnah

[Disempurnakan pada edisi berikutnya, in syaa Alloh]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini