Cari Ebook

[PDF] ARBAIN JAHANNAM Sifatnya, Siksaannya, Penduduknya - Nor Kandir

 


ARBAIN JAHANNAM Sifatnya, Siksaannya, Penduduknya

Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 141

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

 

Muqoddimah

﷽

Segala puji bagi Alloh ﷻ, Robb semesta alam. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, para Shohabat, dan pengikutnya hingga Hari Qiyamah.

Buku ini disusun sebagai pengingat akan kedahsyatan Jahannam melalui 40 Hadits pokok yang membicarakan sifat, siksaan, serta para penghuninya.

Bab 1: Sifat Jahannam

 

[1].1 Api Jahannam Dilipatkan 70 Kali

﴿فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِي وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ﴾

“Maka jika kamu tidak mampu membuat Al-Quran dan pasti kamu tidak akan mampu membuat(nya), peliharalah dirimu dari Jahannam yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqoroh: 24)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«نَارُكُمْ هَذِهِ الَّتِي يُوقِدُ ابْنُ آدَمَ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا، مِنْ حَرِّ جَهَنَّمَ»

“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak Cucu Adam adalah satu bagian dari 70 bagian panasnya Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 3265 dan lafazh Muslim no. 2843)

Panas api di dunia yang sanggup melelehkan logam keras sekalipun belum ada apa-apanya dibanding dahsyatnya adzab di Akhiroh. Kelebihan 69 bagian panas Jahannam tersebut telah dilipatgandakan intensitasnya oleh Alloh ﷻ sehingga tidak ada satu pun makhluk yang sanggup menahannya.

[2].2 Kedalaman Jurang Jahannam

﴿إِنَّ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ فِي ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا﴾

“Sungguh, orang-orang munafik itu pada tingkatan yang paling bawah dari Naar, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisaa: 145)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «تَدْرُونَ مَا هَذَا؟» قَالَ: قُلْنَا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا، فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ، حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا»

Kami pernah bersama Rosululloh ﷺ, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang sangat keras. Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Tahukah kalian suara apa itu?” Kami menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam Naar sejak 70 tahun yang lalu, dan batu itu terus jatuh meluncur ke dalam Naar hingga baru sampai ke dasarnya sekarang.” (HR. Muslim no. 2844)

Perjalanan yang memakan waktu puluhan tahun hanya untuk menyentuh dasar menunjukkan betapa sangat luas dan dalamnya jurang hukuman tersebut. Hal ini mengisyaratkan besarnya daya tampung Jahannam untuk menampung seluruh pelaku maksiat dan kekufuran dari awal hingga akhir zaman.

[3].3 Penarik Rantai Jahannam

﴿يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ﴾

“(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke Jahannam atas wajah-wajah mereka (sambil dikatakan): ‘Rasakanlah sentuhan Saqor!’” (QS. Al-Qomar: 48)

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لَهَا سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ، مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا»

“Pada hari itu Jahannam akan didatangkan, ia memiliki 70.000 tali kekang. Pada setiap tali kekang terdapat 70.000 Malaikat yang menariknya.” (HR. Muslim no. 2842)

Dibutuhkan 4.900.000.000 Malaikat yang memiliki kekuatan luar biasa hanya untuk menyeret Jahannam ke Padang Mahsyar. Peristiwa ini menggambarkan betapa liar dan bergemuruhnya Jahannam ketika hendak menerkam orang-orang yang mendurhakai Penciptanya.

[4].4 Nafas Panas dan Dinginnya Jahannam

﴿إِذَا أُلۡقُواْ فِيهَا سَمِعُواْ لَهَا شَهِيقٗا وَهِيَ تَفُورُ﴾

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara Jahannam yang mengerikan, sedang Jahannam itu membara.” (QS. Al-Mulk: 7)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«اشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ: رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا، فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ: نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ»

“Jahannam mengadu kepada Robb-nya seraya berkata: ‘Wahai Robb-ku, sebagian dariku memakan sebagian yang lain.’ Maka Alloh mengizinkannya bernafas 2 kali: nafas pada musim dingin dan nafas pada musim panas. Maka itulah udara paling panas yang kalian rasakan dan udara paling dingin (zamharir) yang kalian rasakan.” (HR. Al-Bukhori no. 3260 dan Muslim no. 617)

Sensasi cuaca ekstrem yang dialami manusia di alam dunia sejatinya merupakan imbasan kecil dari gejolak nafas Jahannam. Perubahan suhu yang sangat menyiksa ini merupakan hukuman yang tidak hanya berupa panggangan api, melainkan juga paparan pembekuan yang sangat dahsyat.

[5].5 Warna Api Jahannam yang Hitam Pekat

﴿لَّهُم مِّن فَوۡقِهِمۡ ظُلَلٌ مِّنَ ٱلنَّارِ وَمِن تَحۡتِهِمۡ ظُلَلٌ﴾

“Bagi mereka lapisan-lapisan dari Naar di atas mereka dan di bawah mereka pun lapisan-lapisan (dari Jahannam).” (QS. Az-Zumar: 16)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

«أُوقِدَ عَلَى النَّارِ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى احْمَرَّتْ، ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى ابْيَضَّتْ، ثُمَّ أُوقِدَ عَلَيْهَا أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى اسْوَدَّتْ فَهِيَ سَوْدَاءُ مُظْلِمَةٌ»

“Jahannam dinyalakan selama 1000 tahun hingga berwarna merah, kemudian dinyalakan lagi selama 1000 tahun hingga berwarna putih, lalu dinyalakan lagi selama 1000 tahun hingga berwarna hitam. Maka Jahannam itu hitam pekat gulita.” (HR. At-Tirmidzi no. 2591. Al-Mundziri dan As-Suyuthi: hasan)

Tingkat pemanasan ini mengubah wujud kobaran api dari pijar terang menjadi kegelapan yang menakutkan. Tidak ada cahaya sedikit pun di dalamnya, sehingga orang-orang di dalamnya terkurung dalam kegelapan yang bersanding langsung dengan siksaan fisik.

Bab 2: Makanan, Minuman, dan Pakaian Penduduk Jahannam

[6].1 Buah Zaqqum Sebagai Santapan Penghuni Jahannam

﴿إِنَّ شَجَرَتَ ٱلزَّقُّومِ ۝ طَعَامُ ٱلۡأَثِيمِ ۝ كَٱلۡمُهۡلِ يَغۡلِي فِي ٱلۡبُطُونِ ۝ كَغَلۡيِ ٱلۡحَمِيمِ﴾

“Sungguh pohon Zaqqum itu, makanan orang yang berbuat dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas.” (QS. Ad-Dukhon: 43-46)

Dari Abdulloh bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ membaca ayat ini lalu bersabda:

«لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنَ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ، فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ؟»

“Seandainya satu tetes dari buah Zaqqum diteteskan ke alam dunia, niscaya akan merusak seluruh penghidupan penduduk dunia. Maka bagaimana dengan orang yang menjadikan Zaqqum sebagai makanan utamanya?” (HR. At-Tirmidzi no. 2585. Dishohihkan Al-Munawi)

Tingkat racun dan kebusukan makanan ini sanggup merusak tatanan ekosistem bumi secara keseluruhan hanya dengan satu tetesan kecil. Hal tersebut menggambarkan betapa tersiksanya pencernaan para pendosa yang terpaksa melahapnya karena rasa lapar yang amat sangat.

[7].2 Minuman dari Perasan Nanah dan Darah Penduduk Jahannam

﴿وَيُسۡقَىٰ مِن مَّآءٖ صَدِيدٖ ۝ يَتَجَرَّعُهُۥ وَلَا يَكَادُ يُسِيغُهُۥ﴾

“Dan dia akan diberi minum dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak dapat menelannya.” (QS. Ibrohim: 16-17)

Dari Jabir bin Abdillah (78 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada seorang laki-laki datang dari Jaisan —suatu daerah di Yaman— lalu bertanya kepada Nabi ﷺ tentang minuman dari perasan jagung yang biasa mereka minum di negerinya yang dinamakan al-mirr. Nabi ﷺ bertanya: “Apakah ia memabukkan?” Jawab mereka: “Ya.” Lalu beliau ﷺ bersabda:

«كُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ، إِنَّ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَهْدًا لِمَنْ يَشْرَبُ الْمُسْكِرَ أَنْ يَسْقِيَهُ مِنْ طِينَةِ الْخَبَالِ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا طِينَةُ الْخَبَالِ؟ قَالَ: «عَرَقُ أَهْلِ النَّارِ» أَوْ «عُصَارَةُ أَهْلِ النَّارِ»

“Setiap yang memabukkan adalah harom. Sungguh Alloh memiliki janji untuk orang yang meminum minuman memabukkan, bahwa Alloh akan memberinya minum dari thiinatul khobaal.” Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah thiinatul khobaal itu?” Beliau menjawab: “Keringat penduduk Jahannam atau cairan (nanah dan darah) dari penduduk Jahannam.” (HR. Muslim no. 2005)

Hukuman atas konsumsi zat harom di dunia diwujudkan dalam bentuk balasan yang sejenis namun jauh lebih menjijikkan di Akhiroh. Dahaga yang membakar memaksanya meminum cairan kotor bercampur nanah yang membusuk dari tubuh mereka sendiri.

[8].3 Air Mendidih yang Memotong Usus

﴿وَسُقُواْ مَآءً حَمِيمٗا فَقَطَّعَ أَمۡعَآءَهُمۡ﴾

“Dan mereka diberi minum dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong usus mereka?” (QS. Muhammad: 15)

Dari Abu Umamah (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ mengenai firman Alloh ﷻ: “Dan dia akan diberi minum dengan air nanah, diminumnya air nanah itu...” beliau bersabda:

«يُقَرَّبُ إِلَى فِيهِ فَيَكْرَهُهُ، فَإِذَا أُدْنِيَ مِنْهُ شَوَى وَجْهَهُ، وَسَقَطَتْ فَرْوَةُ رَأْسِهِ، فَإِذَا شَرِبَهُ قَطَّعَ أَمْعَاءَهُ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ دُبُرِهِ»

“Air mendidih itu didekatkan ke mulutnya maka ia membencinya. Apabila air itu didekatkan padanya, wajahnya hangus dan kulit kepalanya terkelupas. Lalu ketika ia meminumnya, air itu memotong-motong ususnya hingga keluar dari duburnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2583, lemah dan makna shohih)

Siksaan minuman keras ini tidak sekadar merusak tenggorokan, melainkan menghancurkan organ dalam seketika begitu disentuh. Panas ekstrem cairan tersebut melenyapkan struktur wajah sebelum sempat menyentuh perut.

[9].4 Pakaian dari Tembaga Panas dan Api

﴿فَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ قُطِّعَتۡ لَهُمۡ ثِيَابٌ مِّن نَّارٍ يُصَبُّ مِن فَوۡقِ رُءُوسِهِمُ ٱلۡحَمِيم﴾

“Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian dari api. Disiramkan air yang mendidih ke atas kepala mereka.” (QS. Al-Hajj: 19)

Dari Abu Malik Al-Asy’ari (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«النَّائِحَةُ إِذَا لَمْ تَتُبْ، قَبْلَ مَوْتِهَا، تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطِرَانٍ، وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ»

“Wanita yang meratap (niyahah) jika tidak bertobat sebelum matinya, ia akan dibangkitkan pada Hari Qiyamah dalam keadaan memakai pakaian dari tembaga meleleh dan baju kurung dari penyakit gatal.” (HR. Muslim no. 934)

Serat kain yang dikenakan oleh para ahli maksiat terbuat dari material yang terus memancarkan panas dan menimbulkan iritasi kulit tanpa henti. Kain tersebut melekat abadi pada tubuh tanpa bisa dilepas.

Bab 3: Tingkatan Siksaan Jahannam

[10].1 Siksaan Penghuni Jahannam Paling Ringan

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَٰهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ ٱلْعَذَابَ﴾

“Sungguh orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam Jahannam. Setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab.” (QS. An-Nisaa: 56)

Dari An-Nu’man bin Basyir (64 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ رَجُلٌ، عَلَى أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَتَانِ، يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ كَمَا يَغْلِي المِرْجَلُ وَالقُمْقُمُ، [مَا يَرَى أَنَّ أَحَدًا أَشَدُّ مِنْهُ عَذَابًا وَإِنَّهُ لَأَهْوَنُهُمْ عَذَابًا]»

“Sungguh penghuni Jahannam yang paling ringan adzabnya pada Hari Qiyamah adalah seorang laki-laki yang diletakkan di bawah telapak kakinya dua bara api, yang mana otaknya mendidih disebabkan oleh keduanya, seperti air mendidih di periuk. Dia mengira tidak orang yang lebih berat siksanya darinya, padahal ia orang yang paling ringan siksanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6562 dan Muslim no. 213)

Siksaan teringan saja sudah sanggup merusak pusat kesadaran manusia hanya melalui sentuhan di titik paling bawah tubuh. Maka tingkatan adzab lain jauh lebih mengerikan.

[11].2 Pembesaran Tubuh Penghuni Jahannam

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«ضِرْسُ الْكَافِرِ، أَوْ نَابُ الْكَافِرِ، مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيرَةُ ثَلَاثٍ»

“Gigi geraham orang kafir -atau gigi taringnya- sebesar gunung Uhud, dan ketebalan kulitnya sejauh perjalanan 3 hari.” (HR. Muslim no. 2851)

Perubahan anatomi fisik menjadi raksasa bertujuan agar area permukaan tubuh yang terpanggang api semakin luas. Penambahan volume tubuh ini memperbesar kapasitas rasa sakit yang dapat diserap oleh seluruh saraf.

[12].3 Jarak Antara Dua Pundak Penghuni Jahannam

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا بَيْنَ مَنْكِبَيِ الكَافِرِ مَسِيرَةُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ للرَّاكِبِ المُسْرِعِ»

“Jarak antara kedua pundak orang kafir di dalam Naar adalah sejauh perjalanan 3 hari bagi penunggang kuda yang cepat.” (HR. Al-Bukhori no. 6551 dan Muslim no. 2852)

Ukuran tubuh yang diperbesar menjadikan setiap inci dari rangka mereka sebagai sasaran panggangan adzab. Luasnya badan memperpanjang jalur perambatan rasa sakit ke seluruh organ.

[13].4 Tangisan Air Mata dan Darah Penghuni Jahannam

﴿فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

“Maka seharusnya mereka tertawa sedikit dan menangis yang banyak, sebagai balasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَهْلَ النَّارِ لَيَبْكُونَ حَتَّى لَوْ أُجْرِيَتِ السُّفُنُ فِي دُمُوعِهِمْ لَجَرَتْ، وَإِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ الدَّمَ»

“Sungguh para penghuni Naar benar-benar menangis, hingga seandainya perahu dijalankan di atas air mata mereka niscaya akan melaju, dan sungguh mereka menangis dengan mengeluarkan darah.” (HR. Al-Hakim no. 8791, beliau menilainya shohih dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Keputusasaan yang teramat dalam menguras seluruh cadangan air mata hingga pembuluh darah di mata mereka pecah. Aliran darah tersebut mengalir deras membasahi wajah sebagai bentuk penyesalan abadi yang sudah tidak berguna lagi.

[14].5 Belenggu dan Rantai Penghuni Jahannam

﴿إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلۡكَٰفِرِينَ سَلَٰسِلَاْ وَأَغۡلَٰلٗا وَسَعِيرًا﴾

“Sungguh Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, dan belenggu, serta api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Insan: 4)

Dari Ibnu Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, Rosululloh ﷺ bersabda:

«لَوْ أَنَّ رَصاصَةً مِثْلَ هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى جُمْجُمَةٍ - أُرْسِلَتْ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الأَرْضِ، وَهِيَ مَسِيرَةُ خَمْسِمِائَةِ سَنَةٍ، لَبَلَغَتِ الأَرْضَ قَبْلَ اللَّيْلِ، وَلَوْ أَنَّهَا أُرْسِلَتْ مِنْ رَأْسِ السِّلْسِلَةِ لَسَارَتْ أَرْبَعِينَ خَرِيفًا اللَّيْلَ وَالنَّارَ لاَ تَبْلُغُ أَصْلَهَا أَوْ قَعْرَهَا»

“Seandainya timah sebesar ini —seraya menunjuk ke tengkorak kepala— dilemparkan dari langit ke bumi yang jaraknya 500 tahun perjalanan, niscaya ia sampai ke bumi sebelum malam. Dan seandainya dilemparkan dari ujung rantai Jahannam, niscaya ia akan meluncur selama 40 tahun malam dan siang tanpa sampai ke pangkal atau dasarnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2588. Dishohihkan Ahmad Syakir, dihasakan penulis dan Al-Arnauth)

Pengekang yang digunakan untuk membelenggu para pendosa memiliki ukuran yang luar biasa tebal dan panjang. Rantai-rantai berat tersebut mengikat gerak-gerik agar tidak mampu melarikan diri dari panggangan adzab.

Bab 4: Sifat Penghuni Jahannam

[15].1 Mayoritas Penghuni Jahannam Adalah Wanita yang Kufur Kepada Suami

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari Jahannam yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim: 6)

Dari Abdulloh bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ، يَكْفُرْنَ» قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: «يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ»

“Diperlihatkan Naar kepadaku, ternyata mayoritas penghuninya adalah wanita yang kufur.” Ditanyakan: “Apakah mereka kufur kepada Alloh?” Beliau menjawab: “Mereka kufur (ingkar) terhadap suami dan ingkar terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disukainya padamu, ia akan berkata: ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.’” (HR. Al-Bukhori no. 29 dan Muslim no. 907)

Dosa lisan dan pengingkaran terhadap kebaikan pasangan merupakan pemicu utama yang menyeret banyak wanita ke dalam adzab. Sifat gampang melupakan jasa dan kebaikan suami menjadi fitnah besar yang sering diremehkan dalam kehidupan sehari-hari.

[16].2 Pemimpin Zholim dan Wanita Tabarruj

﴿وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الأَبْصَارُ﴾

“Dan janganlah sekali-kali engkau mengira bahwa Alloh lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zholim. Sungguh Alloh memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) belalak.” (QS. Ibrohim: 42)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا»

“Dua golongan dari penghuni Jahannam yang belum pernah aku lihat: suatu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul manusia, dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berpaling dari ketaatan dan menyesatkan orang lain, kepala mereka seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Jannah dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Penyalahgunaan kekuasaan untuk menindas masyarakat serta penyebaran tabarruj (memamerkan aurot) merupakan perbuatan maksiat berantai. Tindakan ini merusak tatanan sosial dan keagamaan sehingga para pelakunya diancam adzab pedih.

[17].3 Kesombongan dan Keserakahan Penguasa Harta

﴿أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ﴾

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takatsur: 1-2)

Dari Haritsah bin Wahb (65 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الجَنَّةِ؟ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَاعِفٍ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ، أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ»

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni Jannah? Yaitu setiap orang yang lemah dan dianggap lemah, seandainya ia bersumpah atas nama Alloh niscaya Alloh akan mengabulkannya. Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang penghuni Jahannam? Yaitu setiap orang yang kasar, serakah mengumpulkan harta, lagi sombong.” (HR. Al-Bukhori no. 4918 dan Muslim no. 2853)

Sifat-sifat buruk berupa keangkuhan, watak keras terhadap kebenaran, serta kerakusan menumpuk harta tanpa memenuhi haknya merupakan watak khas calon penghuni Neraka. Karakter ini bertolak belakang dengan kelembutan dan tawadhu yang dicintai Alloh ﷻ.

Bab 5: Ragam Siksa Jahannam

[18].1 Mushowwir Disiksa oleh Gambarnya

«وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً أَوْ شَعِيرَةً»

“Dan siapakah yang lebih zholim daripada orang yang menciptakan seperti ciptaan-Ku? Maka mereka harus menciptakan sebutir seekor semut atau mereka menciptakan biji atau biji gandum.” (HR. Al-Bukhori no. 7559 - Hadits Qudsi)

Dari Abdulloh bin Abbas (68 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا فَتُعَذِّبُهُ فِي جَهَنَّمَ»

“Setiap pembuat gambar (makhluk bernyawa) berada di dalam Naar. Dijadikan baginya untuk setiap gambar yang dibentuknya satu jiwa, lalu jiwa tersebut menyerangnya dan mengadzabnya di Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 2225 dan lafazh Muslim no. 2110)

Usaha meniru ciptaan Alloh ﷻ melalui bentuk visual makhluk hidup bernyawa mendapat hukuman balasan yang sangat keras. Setiap karya buatan tangan tersebut akan dihidupkan untuk balik menyiksa pembuatnya sebagai bentuk penghinaan atas kesombongan kreativitasnya.

[19].2 Adzat Terberat Bagi Mushowwir

﴿هُوَ ٱللَّهُ ٱلۡخَٰلِقُ ٱلۡبَارِئُ ٱلۡمُصَوِّرُ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ﴾

“Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Bagi-Nya nama-nama yang husna.” (QS. Al-Hasyr: 24)

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ القِيَامَةِ المُصَوِّرُونَ»

“Sungguh manusia yang paling keras adzabnya di sisi Alloh pada Hari Qiyamah adalah para pembuat gambar (makhluk bernyawa).” (HR. Al-Bukhori no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Penetapan hukuman terekstrem ini disebabkan tindakan menandingi sifat Asma’ wa Sifat Alloh ﷻ yaitu Al-Mushowwir. Sikap lancang tersebut menempatkan pelakunya pada jajaran tingkatan terdepan dalam penerimaan sanksi Akhiroh.

[20].3 Pemakan Riba yang Tenggelam di Sungai Darah

﴿ٱلَّذِينَ يَأۡكُلُونَ ٱلرِّبَوٰاْ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِي يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ مِنَ ٱلۡمَسِّ﴾

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithon lantaran (penyakit) gila.” (QS. Al-Baqoroh: 275)

Dari Samuroh bin Jundub (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits mimpi Nabi ﷺ yang panjang, beliau bersabda:

«فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ وَعَلَى وَسَطِ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ، فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ مَا هَذَا؟ فَقَالَ: الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُ الرِّبَا»

“Maka kami berjalan hingga mendatangi sungai dari darah, di tengahnya ada seorang laki-laki yang berdiri, dan di tepi sungai ada seorang laki-laki lain yang memegang batu-batu. Laki-laki yang di dalam sungai mendekat, dan setiap kali ia hendak keluar, laki-laki di tepi sungai melempar mulutnya dengan batu hingga mengembalikannya ke posisi semula. Setiap kali ia ingin keluar, dilempar mulutnya dengan batu lalu kembali seperti semula. Aku bertanya: ‘Siapa ini?’ Kedua Malaikat menjawab: ‘Orang yang engkau lihat di dalam sungai adalah pemakan Riba.’” (HR. Al-Bukhori no. 2085)

Eksploitasi harta secara harom melalui transaksi riba dibalas dengan siksaan yang tiada henti di alam Barzakh hingga Akhiroh. Lemparan batu ke dalam mulut menyimbolkan barang harom yang dulu mereka suapkan ke dalam perut tanpa peduli syariat.

[21].4 Pezina Wanita dan Laki-laki di Dalam Tanur Api

﴿وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةٗ وَسَآءَ سَبِيلٗا﴾

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sungguh zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isro: 32)

Dari Samuroh bin Jundub (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ dalam riwayat Hadits mimpi yang sama, beliau bersabda:

«فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ» قَالَ: «فَاطَّلَعْنَا فِيهِ، فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا» قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَؤُلاَءِ؟ قَالاَ: فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي»

“Maka kami berjalan, lalu kami mendatangi bangunan seperti tanur pembakar roti, yang dari dalamnya terdengar suara gaduh dan teriakan. Kami menengok ke dalamnya, ternyata di dalamnya terdapat laki-laki dan wanita yang telanjang. Tiba-tiba datang kobaran api dari arah bawah mereka. Ketika kobaran api itu mengenai mereka, mereka menjerit histeris. Aku bertanya: ‘Siapa mereka?’ Kedua Malaikat menjawab: ‘Mereka adalah para pezina laki-laki dan wanita.’” (HR. Al-Bukhori no. 7047)

Kejahatan moral berupa perzina membakar kehormatan manusia dan berujung pada panggangan nyata di dalam lubang sempit. Ketiadaan busana menegaskan hilangnya rasa malu yang dulunya mereka tanggalkan saat melanggar larangan Alloh ﷻ. Ancaman ini berlaku bagi yang mati tanpa bertaubat.

[22].5 Orang yang Berbuka Puasa Sebelum Waktunya

﴿ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِ﴾

“Kemudian sempurnakanlah Puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqoroh: 187)

Dari Abu Umamah Al-Bahili (81 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ أَتَانِي رَجُلَانِ فَأَخَذَا بِضَبْعَيَّ» قَالَ: «ثُمَّ انْطَلَقَا بِي فَإِذَا قَوْمٌ مُعَلَّقُونَ بِعَرَاقِيبِهِمْ، مُشَقَّقَةٌ أَشْدَاقُهُمْ تَسِيلُ أَشْدَاقُهُمْ دَمًا، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ؟ قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يُفْطِرُونَ قَبْلَ تَحِلَّةِ صَوْمِهِمْ»

“Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangi aku lalu memegang kedua lengan bahuku... Kemudian keduanya membawaku, tiba-tiba aku melihat suatu kaum yang digantung dengan otot tumit di atas, sudut mulut mereka robek dan mengalirkan darah. Aku bertanya: ‘Siapa mereka?’ Ia menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya halal bagi mereka (sebelum tenggelam matahari).’ (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 3273, dishohihkan Al-Albani)

Pelanggaran terhadap rukun Islam berupa Puasa tanpa uzur syar’i diganjar dengan siksaan fisik yang menyakitkan. Penggantungan tubuh secara terbalik menunjukkan perendahan martabat bagi mereka yang menuruti hawa nafsu perut.

[23].6 Penyerobot Tanah Orang Lain Meski Sedikit

﴿وَلَا تَأۡكُلُوٓاْ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ﴾

“Dan janganlah sebagian saling memakan harta di antara kamu dengan jalan yang bathil.” (QS. Al-Baqoroh: 188)

Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ»

“Siapa yang berbuat zholim menyerobot tanah walau hanya sejengkal, niscaya tanah itu akan dikalungkan padanya dari 7 lapis bumi.” (HR. Al-Bukhori no. 2453 dan Muslim no. 1610)

Perbuatan serobot lahan milik orang lain berakibat pada pembebanan bobot bumi yang sangat tebal di leher pelaku pada Hari Qiyamah. Beban fisik raksasa ini menjadi saksi kezholiman batas wilayah yang pernah dilakukannya.

[24].7 Orang yang Bunuh Diri Menggunakan Alat Apa Saja

﴿وَلَا تَقۡتُلُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيمٗا﴾

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sungguh Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisaa: 29)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

«مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ، فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا»

“Siapa menjatuhkan dirinya dari gunung hingga tewas, maka ia berada di dalam Jahannam jatuh meluncur di dalamnya mengekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Siapa meminum racun hingga tewas, maka racunnya berada di tangannya ditenggaknya di Jahannam mengekal abadi di dalamnya selama-lamanya. Dan siapa membunuh dirinya dengan besi, maka besinya berada di tangannya ditusukkannya ke perutnya di Jahannam mengekal abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 5778 dan Muslim no. 109)

Pengakhiran hidup secara sepihak merupakan keputusasaan terhadap rohmat Alloh ﷻ dan pengkhianatan atas amanah nyawa. Metode bunuh diri yang digunakan di dunia akan diulang-ulang secara terus-menerus sebagai siksaan abadi di Akhiroh.

[25].8 Penuntut Ilmu Syar’i Demi Tujuan Duniawi

﴿مَن كَانَ يُرِيدُ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيۡهِمۡ أَعۡمَٰلَهُمۡ فِيهَا وَهُمۡ فِيهَا لَا يُبۡخَسُونَ ۝ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَيۡسَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَخِرَةِ إِلَّا ٱلنَّارُ﴾

“Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di Akhiroh kecuali Jahannam.” (QS. Hud: 15-16)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» يَعْنِي رِيحَهَا

“Siapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mengharap Wajah Alloh ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma Jannah pada Hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud no. 3664, dishohihkan Al-Albani)

Penyimpangan niat dalam menuntut ilmu syar’i merusak kesucian ibadah agung tersebut. Pengalihan orientasi dari ridho Alloh ﷻ menjadi kepentingan materi atau popularitas menggugurkan pahala dan menghalangi pelakunya masuk Jannah.

[26].9 Tujuh Perkara yang Membinasakan dan Menuduh Berzina

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَرۡمُونَ ٱلۡمُحۡصَنَٰتِ ٱلۡغَٰفِلَٰتِ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ لُعِنُواْ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأَخِرَةِ وَلَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ﴾

“Sungguh orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (dengan tuduhan zina), mereka dilaknat di dunia dan Akhiroh, dan bagi mereka adzab yang besar.” (QS. An-Nur: 23)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

«اجْتَنِبُوا السَّبْعَ المُوبِقَاتِ»، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: «الشِّرْكُ بِاللَّهِ، وَالسِّحْرُ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالحَقِّ، وَأَكْلُ الرِّبَا، وَأَكْلُ مَالِ اليَتِيمِ، وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ، وَقَذْفُ المُحْصَنَاتِ المُؤْمِنَاتِ الغَافِلاَتِ»

“Jauhilah 7 perkara yang membinasakan... (salah satunya:) menuduh zina wanita Mukminah yang suci yang lengah dari perbuatan maksiat.” (HR. Al-Bukhori no. 2766 dan Muslim no. 89)

Tuduhan palsu atas kehormatan seorang wanita beriman merusak nama baik serta ketenteraman tatanan sosial masyarakat. Kejahatan lisan ini digolongkan ke dalam pembinasa amal (mubiqot) yang menyeret penuduhnya ke dalam hukuman Jahannam.

[27].10 Orang yang Menggambar atau Menyimpan Patung di Rumahnya

﴿فَٱجۡتَنِبُواْ ٱلرِّجۡسَ مِنَ ٱلۡأَوْثَٰنِ وَٱجۡتَنِبُواْ قَوْلَ ٱلزُّورِ﴾

“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj: 30)

Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ»

“Sungguh manusia yang paling keras adzabnya pada Hari Qiyamah adalah orang-orang yang meniru-niru ciptaan Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 5954 dan Muslim no. 2107)

Peniruan fisik makhluk hidup dengan niat menyerupai daya cipta ilahi menempatkan pembuatnya pada jajaran orang yang dibenci Alloh ﷻ. Tindakan ini menghalangi keberkahan dan kehadiran Malaikat rohmat di dalam kediaman mereka.

[28].11 Mengaku Nasab Kepada Selain Ayahnya

﴿ٱدۡعُوهُمۡ لِأَبَآئِهِمۡ هُوَ أَقۡسَطُ عِندَ ٱللَّهِ﴾

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

«مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ غَيْرُ أَبِيهِ، فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ»

“Siapa mengaku-ngaku nasab kepada selain ayah kandungnya, padahal ia mengetahui bahwa dia bukan ayahnya, maka Jannah harom baginya.” (HR. Al-Bukhori no. 6766 dan Muslim no. 63)

Mengubah silsilah keturunan demi keuntungan status sosial, harta warisan, atau malu merupakan bentuk kebohongan besar dan pengingkaran terhadap asal-usul kelahirannya. Kejahatan ini merusak tata aturan hukum nasab dan pernikahan.

[29].12 Memutus Tali Silaturrohim Antar Kerabat

﴿فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ إِن تَوَلَّيۡتُمۡ أَن تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَتُقَاطِعُوٓاْ أَرۡحَامَكُمۡ ۝ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَعَنَهُمُ ٱللَّهُ فَأَصَمَّهُمۡ وَأَعۡمَىٰٓ أَبۡصَٰرَهُمۡ﴾

“Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan membuat kerusakan di bumi dan memotong hubungan kekeluargaanmu? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat Alloh dan ditulikan-Nya pendengaran mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad: 22-23)

Dari Jubair bin Mut’im (59 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ الجَنَّةَ قَاطِعٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang memutus (tali silaturrohim).” (HR. Al-Bukhori no. 5984 dan Muslim no. 2556)

Memutuskan hubungan darah secara sengaja atas dasar kedengkian atau perselisihan duniawi mengundang laknat dan menghalangi pelakunya dari kenikmatan Jannah dan disiksa di Naar.

[30].13 Penguasa yang Menipu Rakyatnya

﴿إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِ﴾

“Sungguh Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.” (QS. An-Nisaa: 58)

Dari Ma’qil bin Yasar (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

“Tidaklah seorang hamba yang diserahi kepemimpinan oleh Alloh atas rakyatnya, lalu ia mati pada hari matinya dalam keadaan menipu (berbuat zholim kepada) rakyatnya, melainkan Alloh haromkan Jannah atasnya.” (HR. Al-Bukhori no. 7150 dan lafazh Muslim no. 142)

Amanah kepemimpinan merupakan beban berat yang menuntut keadilan serta perlindungan penuh terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Pengkhianatan terhadap amanah tersebut membawa konsekuensi ancaman siksa Jahannam. Ia berlaku pada setiap pemimpin tinggi maupun bawah, semakin besar tanggungjawab dan kejahatannya maka semakin besar ancaman adzabnya.

[31].14 Menahan Zakat

﴿وَٱلَّذِينَ يَكۡنِزُونَ ٱلذَّهَبَ وَٱلۡفِضَّةَ وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ فَبَشِّرۡهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ﴾

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Alloh, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) adzab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحُ مِنْ نَارٍ، فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ، فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ، كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ، إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ»

“Tidak ada seorang pun pemilik emas maupun perak yang tidak menunaikan hak kewajibannya (Zakat), melainkan pada Hari Qiyamah nanti hartanya itu akan ditempa menjadi lempengan-lempengan api, lalu dipanaskan di dalam Jahannam. Kemudian lambung, dahi, dan punggungnya disetrika dengan lempengan itu. Setiap kali lempengan tersebut mendingin, akan dipanaskan kembali untuk menyiksanya, pada suatu hari yang lamanya setara dengan 50.000 tahun, hingga seluruh urusan di antara para hamba selesai diadili, lalu ia akan melihat jalan kesudahannya, apakah menuju Jannah ataukah menuju Naar.”

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْإِبِلُ؟ قَالَ: «وَلَا صَاحِبُ إِبِلٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، وَمِنْ حَقِّهَا حَلَبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ، بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ، أَوْفَرَ مَا كَانَتْ، لَا يَفْقِدُ مِنْهَا فَصِيلًا وَاحِدًا، تَطَؤُهُ بِأَخْفَافِهَا وَتَعَضُّهُ بِأَفْوَاهِهَا، كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ»

Ditanyakan, “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan unta?” Beliau menjawab, “Begitu pula pemilik unta yang tidak menunaikan hak kewajibannya (Zakat)—dan di antara hak kewajibannya adalah memerah susunya pada hari ketika unta-unta itu didatangkan ke tempat minum untuk dibagikan kepada yang membutuhkan—melainkan pada Hari Qiyamah nanti ia akan ditelungkutkan di tanah lapang yang sangat datar di hadapan unta-untanya yang jumlahnya sangat lengkap dan gemuk, tidak ada satu pun anak unta yang hilang. Unta-unta itu akan menginjak-injaknya dengan telapak kakinya dan menggigitnya dengan mulutnya. Setiap kali rombongan unta yang pertama selesai melewatinya, rombongan unta yang terakhir diputar kembali untuk terus menyiksanya, pada suatu hari yang lamanya setara dengan 50.000 tahun, hingga seluruh urusan di antara para hamba selesai diadili, lalu ia akan melihat jalan kesudahannya, apakah menuju Jannah ataukah menuju Naar.”

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْبَقَرُ وَالْغَنَمُ؟ قَالَ: «وَلَا صَاحِبُ بَقَرٍ، وَلَا غَنَمٍ، لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ بُطِحَ لَهَا بِقَاعٍ قَرْقَرٍ، لَا يَفْقِدُ مِنْهَا شَيْئًا، لَيْسَ فِيهَا عَقْصَاءُ، وَلَا جَلْحَاءُ، وَلَا عَضْبَاءُ تَنْطَحُهُ بِقُرُونِهَا وَتَطَؤُهُ بِأَظْلَافِهَا، كُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ أُولَاهَا رُدَّ عَلَيْهِ أُخْرَاهَا، فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ، حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ، فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِمَّا إِلَى النَّارِ»

Ditanyakan, “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan sapi dan kambing?” Beliau menjawab, “Begitu pula pemilik sapi maupun kambing yang tidak menunaikan hak kewajibannya (Zakat), melainkan pada Hari Qiyamah nanti ia akan ditelungkutkan di tanah lapang yang sangat datar di hadapan hewan-hewannya itu, tanpa ada satu pun yang hilang. Tidak ada di antaranya yang bertanduk melengkung ke belakang, tidak ada yang tidak bertanduk, dan tidak ada pula yang patah tanduknya—semuanya bertanduk sempurna untuk membalasnya. Hewan-hewan tersebut akan menyundulnya dengan tanduk-tanduknya dan menginjak-injaknya dengan terjalnya. Setiap kali rombongan yang pertama selesai melewatinya, rombongan yang terakhir diputar kembali untuk terus menyiksanya, pada suatu hari yang lamanya setara dengan 50.000 tahun, hingga seluruh urusan di antara para hamba selesai diadili, lalu ia akan melihat jalan kesudahannya, apakah menuju Jannah ataukah menuju Naar.”

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْخَيْلُ؟ قَالَ: «الْخَيْلُ ثَلَاثَةٌ: هِيَ لِرَجُلٍ وِزْرٌ، وَهِيَ لِرَجُلٍ سِتْرٌ، وَهِيَ لِرَجُلٍ أَجْرٌ، فَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ وِزْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا رِيَاءً وَفَخْرًا وَنِوَاءً عَلَى أَهْلِ الْإِسْلَامِ، فَهِيَ لَهُ وِزْرٌ، وَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ سِتْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ، ثُمَّ لَمْ يَنْسَ حَقَّ اللهِ فِي ظُهُورِهَا وَلَا رِقَابِهَا، فَهِيَ لَهُ سِتْرٌ وَأَمَّا الَّتِي هِيَ لَهُ أَجْرٌ، فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللهِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ، فِي مَرْجٍ وَرَوْضَةٍ، فَمَا أَكَلَتْ مِنْ ذَلِكَ الْمَرْجِ، أَوِ الرَّوْضَةِ مِنْ شَيْءٍ، إِلَّا كُتِبَ لَهُ، عَدَدَ مَا أَكَلَتْ حَسَنَاتٌ، وَكُتِبَ لَهُ، عَدَدَ أَرْوَاثِهَا وَأَبْوَالِهَا، حَسَنَاتٌ، وَلَا تَقْطَعُ طِوَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفًا، أَوْ شَرَفَيْنِ، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ عَدَدَ آثَارِهَا وَأَرْوَاثِهَا حَسَنَاتٍ، وَلَا مَرَّ بِهَا صَاحِبُهَا عَلَى نَهْرٍ، فَشَرِبَتْ مِنْهُ وَلَا يُرِيدُ أَنْ يَسْقِيَهَا، إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ، عَدَدَ مَا شَرِبَتْ، حَسَنَاتٍ»

Ditanyakan, “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan kuda?” Beliau menjawab, “Kuda itu terbagi menjadi 3 jenis: kuda yang menjadi dosa (beban ketaatan yang dilanggar) bagi pemiliknya, kuda yang menjadi pelindung (penutup kehormatan) bagi pemiliknya, dan kuda yang menjadi pahala bagi pemiliknya. Adapun kuda yang menjadi dosa bagi pemiliknya adalah kuda yang ditambat oleh seseorang karena riya (pamer), kebanggaan (kesombongan), dan untuk memusuhi kaum Muslimin, maka kuda itu menjadi dosa baginya. Adapun kuda yang menjadi pelindung bagi pemiliknya adalah kuda yang ditambat oleh seseorang di jalan Alloh, lalu ia tidak melupakan hak Alloh pada punggungnya (seperti membawakan barang atau mengangkut orang di jalan Alloh) dan lehernya (seperti menafkahinya dan tidak membebatinya di luar kemampuan), maka kuda itu menjadi pelindung baginya. Sedangkan kuda yang menjadi pahala bagi pemiliknya adalah kuda yang ditambat oleh seseorang di jalan Alloh untuk kepentingan kaum Muslimin di sebuah padang rumput atau taman yang subur. Maka tidak ada satu pun yang dimakan oleh kuda itu dari padang rumput atau taman tersebut melainkan dicatat baginya kebaikan sebanyak hitungan apa yang dimakannya, dan dicatat pula baginya kebaikan sebanyak hitungan kotoran serta kencingnya. Tidaklah kuda itu terputus tali gembalanya lalu berlari melompati 1 atau 2 bukit kecil melainkan Alloh mencatat baginya kebaikan sebanyak hitungan jejak langkah dan kotorannya. Dan tidaklah pemiliknya melewatinya di sebuah sungai lalu kuda itu minum dari air sungai tersebut—meskipun pemiliknya semula tidak berniat memberinya minum—melainkan Alloh mencatat baginya kebaikan sebanyak hitungan tegukan air yang diminumnya.”

قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَالْحُمُرُ؟ قَالَ: «مَا أُنْزِلَ عَلَيَّ فِي الْحُمُرِ شَيْءٌ، إِلَّا هَذِهِ الْآيَةَ الْفَاذَّةُ الْجَامِعَةُ: ﴿فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾»

Ditanyakan, “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan keledai?” Beliau menjawab, “Tidak ada wahyu yang diturunkan kepadaku khusus mengenai keledai melainkan ayat yang sangat istimewa lagi mencakup segala hal ini: ‘Maka siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat balasan kebaikannya itu. Dan siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarroh pun, niscaya ia akan melihat balasan kejahatannya itu.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8) (HR. Muslim no. 987)

Penumpukan kekayaan tanpa menunaikan kewajiban hak fakir miskin diubah menjadi instrumen siksaan langsung di Akhiroh. Bagian tubuh yang biasa digunakan untuk memalingkan wajah dan badan dari kewajiban berzakat menjadi sasaran panggangan lempengan panas, injakan onta, sapi, dan kambing. Jika di Barzakh disiksa demikian, maka di Naar lebih dahsyat lagi.

[32].15 Sumpah Palsu Demi Mengambil Harta Muslim Lain

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَشۡتَرُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَأَيۡمَٰنِهِمۡ ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ لَا خَلَٰقَ لَهُمۡ فِي ٱلۡأَخِرَةِ﴾

“Sungguh orang-orang yang menukar janji Alloh dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (kenikmatan) di Akhiroh.” (QS. Ali ‘Imron: 77)

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ حَلَفَ عَلَى يَمِينٍ وَهُوَ فِيهَا فَاجِرٌ، لِيَقْتَطِعَ بِهَا مَالَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ»

“Siapa bersumpah palsu dengan sengaja untuk mengambil harta seorang Muslim, sedangkan ia berbuat maksiat dalam sumpahnya itu, maka ia akan bertemu Alloh dalam keadaan Alloh murka kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2666 dan Muslim no. 138)

Penggunaan Nama Alloh ﷻ secara dusta dalam arena persengketaan hukum demi meraih harta duniawi merupakan dosa besar pembinasa pahala. Kejahatan ini menggugurkan keridhoan Ilahi dan menggantinya dengan kemurkaan serta adzab Jahannam.

[33].16 Menentang Hukum dan Merubah Syariat Alloh

﴿أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَن بِهِ ٱللَّهُ﴾

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang menetapkan aturan agama untuk mereka yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 21)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«رَأَيْتُ عَمْرَو بْنَ عَامِرِ بْنِ لُحَيٍّ الخُزَاعِيَّ يَجُرُّ قُصْبَهُ فِي النَّارِ وَكَانَ أَوَّلَ مَنْ سَيَّبَ السَّوَائِبَ»

“Aku melihat ‘Amr bin ‘Amir bin Luhayy Al-Khuza’i menyeret ususnya di dalam Jahannam, dan dia adalah orang pertama yang mengubah agama Nabi Isma’il dengan melepas hewan sa’ibah (untuk berhala).” (HR. Al-Bukhori no. 3521 dan Muslim no. 2856)

Pencetus tradisi kesyirikan dan perusak syariat lurus memikul dosa pribadi beserta seluruh dosa orang-orang yang mengikutinya. Pembongkaran organ dalam berupa usus yang terburai menyimbolkan kehancuran total atas kesesatan yang pernah disebarkannya.

[34].17 Wanita Disiksa Karena Menyiksa Kucing

Dari Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ سَجَنَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ، فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ، لاَ هِيَ أَطْعَمَتْهَا وَلاَ سَقَتْهَا، إِذْ حَبَسَتْهَا، وَلاَ هِيَ تَرَكَتْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ»

“Seorang wanita diadzab disebabkan seekor kucing yang dikurungnya hingga mati, lalu ia masuk ke dalam Naar karenanya. Ia tidak memberi makan dan minum ketika mengurungnya, dan tidak pula melepaskannya agar makan serangga-serangga bumi.” (HR. Al-Bukhori no. 3482 dan Muslim no. 2242)

Kekejaman terhadap hewan tak berdaya mencerminkan hilangnya rasa kasih sayang dari dalam dada seorang hamba. Kezholiman sekecil apa pun terhadap makhluk bernyawa sanggup membatalkan kebaikan-kebaikan lain hingga membawa pelakunya ke dalam hukuman api.

[35].18 Disiksa Selamanya

﴿وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ﴾

“Mereka berseru: ‘Wahai Malaikat Malik, hendaklah Robb-mu mematikan kami saja.’ Malik menjawab: ‘Sungguh kamu akan tetap tinggal (di dalam Jahannam ini).’” (QS. Az-Zukhruf: 77)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«يُؤْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَحَ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: هَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا المَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، ثُمَّ يُنَادِي: يَا أَهْلَ النَّارِ، فَيَشْرَئِبُّونَ وَيَنْظُرُونَ، فَيَقُولُ: وهَلْ تَعْرِفُونَ هَذَا؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، هَذَا المَوْتُ، وَكُلُّهُمْ قَدْ رَآهُ، فَيُذْبَحُ ثُمَّ يَقُولُ: يَا أَهْلَ الجَنَّةِ خُلُودٌ فَلاَ مَوْتَ، وَيَا أَهْلَ النَّارِ خُلُودٌ فَلاَ مَوْتَ»

“Al-Maut (Kematian) akan didatangkan pada Hari Qiyamah dalam wujud domba jantan yang berwarna putih bercampur hitam. Lalu penyeru memanggil: ‘Wahai penghuni Jannah!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru bertanya: ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya, ini adalah kematian,’ dan mereka semua telah pernah melihatnya. Kemudian penyeru memanggil: ‘Wahai penghuni Naar!’ Mereka menengok dan melihat. Penyeru bertanya: ‘Apakah kalian mengenal ini?’ Mereka menjawab: ‘Ya, ini adalah kematian,’ dan mereka semua telah pernah melihatnya. Lalu domba itu disembelih. Kemudian penyeru berkata: ‘Wahai penghuni Jannah, keabadian tanpa kematian! Dan wahai penghuni Jahannam, keabadian tanpa kematian!’”

ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَأَنذِرۡهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡحَسۡرَةِ إِذۡ قُضِيَ ٱلۡأَمۡرُ وَهُمۡ فِي غَفۡلَةٍ -وَهَؤُلَاءِ فِي غَفْلَةٍ أَهْلُ الدُّنْيَا- وَهُمۡ لَا يُؤۡمِنُونَ﴾

Kemudian Beliau membaca ayat: “Dan berilah mereka peringatan tentang Hari Penyesalan, (yaitu) ketika segala urusan telah diputuskan, sedang mereka dalam kelalaian —yakni mereka yang berada dalam kelalaian ini adalah penduduk dunia— sementara mereka tidak beriman.” (QS. Maryam: 39) (HR. Al-Bukhori no. 4730 dan Muslim no. 2849)

Penyembelihan wujud fisik kematian memupuskan segala harapan para terhukum untuk mengakhiri penderitaan mereka melalui kepunahan. Sejak saat itu, siksaan berlangsung secara abadi tanpa batas waktu bagi penghuni kafir.

Bab 6: Menyelamatkan Diri dari Jahannam

[36].1 Keluarnya Ahli Tauhid dari Jahannam Karena Syafa’at

﴿رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوْ كَانُواْ مُسْلِمِينَ﴾

“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di Akhiroh) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang Muslim.” (QS. Al-Hijr: 2)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

«يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ، وَيَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ»

“Akan keluar dari Naar orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh sedang di dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat biji gandum. Dan akan keluar dari Naar orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh sedang di dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat biji gandum halus. Dan akan keluar dari Naar orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh sedang di dalam hatinya ada kebaikan (iman) seberat biji zarroh.” (HR. Al-Bukhori no. 44 dan Muslim no. 193)

Keagungan kalimat Tauhid menjadi penyelamat bagi pelaku dosa besar dari kalangan ahli keimanan. Meski sempat terbakar di dalam Jahannam akibat kemaksiatan mereka, keterikatan asas iman mencegah kemurnian Tauhid dari kekekalan adzab.

[37].2 Air Kehidupan Bagi Mantan Penghuni Jahannam

﴿ثُمَّ إِذَا شَاءَ أَنشَرَهُۥ﴾

“Kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.” (QS. ‘Abasa: 22)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:

«فَيُخْرِجُ أَقْوَامًا قَدْ امْتُحِشُوا، فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرٍ بِأَفْوَاهِ الجَنَّةِ، يُقَالُ لَهُ: مَاءُ الحَيَاةِ، فَيَنْبُتُونَ فِي حَافَتَيْهِ كَمَا تَنْبُتُ الحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ، قَدْ رَأَيْتُمُوهَا إِلَى جَانِبِ الصَّخْرَةِ، وَإِلَى جَانِبِ الشَّجَرَةِ، فَمَا كَانَ إِلَى الشَّمْسِ مِنْهَا كَانَ أَخْضَرَ، وَمَا كَانَ مِنْهَا إِلَى الظِّلِّ كَانَ أَبْيَضَ، فَيَخْرُجُونَ كَأَنَّهُمُ اللُّؤْلُؤُ، فَيُجْعَلُ فِي رِقَابِهِمُ الخَوَاتِيمُ، فَيَدْخُلُونَ الجَنَّةَ، فَيَقُولُ أَهْلُ الجَنَّةِ: هَؤُلاَءِ عُتَقَاءُ الرَّحْمَنِ، أَدْخَلَهُمُ الجَنَّةَ بِغَيْرِ عَمَلٍ عَمِلُوهُ، وَلاَ خَيْرٍ قَدَّمُوهُ، فَيُقَالُ لَهُمْ: لَكُمْ مَا رَأَيْتُمْ وَمِثْلَهُ مَعَهُ»

(Dalam Hadits syafa’at lanjutan): “Lalu Alloh mengeluarkan kaum-kaum yang tubuhnya telah hangus terbakar menjadi arang. Kemudian mereka dilemparkan ke dalam sebuah sungai di pintu-pintu masuk Jannah yang dinamakan Air Kehidupan. Maka tubuh mereka pun tumbuh mekar kembali di kedua tepi sungai tersebut bagaikan tumbuhnya benih tanaman yang terbawa oleh aliran banjir. Sungguh kalian tentu pernah melihat benih itu tumbuh di samping batu atau di samping pohon; bagian benih yang terpapar sinar matahari akan tampak hijau berseri, sedangkan bagian yang tertutup bayangan akan tampak putih. Lalu mereka keluar dari sungai itu dengan tubuh yang indah bersinar bagaikan mutiara, kemudian dikalungkan stempel penanda di leher-leher mereka, lalu mereka dipersilakan masuk ke dalam Jannah. Para penghuni Jannah pun berkata, ‘Mereka inilah orang-orang yang dibebaskan oleh Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih), yang dimasukkan-Nya ke dalam Jannah tanpa amal yang pernah mereka kerjakan dan tanpa kebaikan yang pernah mereka persembahkan.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Untuk kalian apa yang telah kalian lihat itu, dan ditambah pula yang senilai dengannya beserta kalian.’” (HR. Al-Bukhori no. 7439 dan Muslim no. 183)

Proses pembersihan sisa-sisa jelaga panggangan Jahannam dilakukan melalui pembasuhan di sungai khusus sebelum melangkah ke Jannah. Rohmat Ilahi yang luas mengangkat derajat mereka yang tersisa dari hukuman pembersihan dosa.

[38].3 Bekas Sujud yang Harom Disentuh Api Jahannam

﴿مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ ٱللَّهِۚ وَٱلَّذِينَ مَعَهُۥٓ أَشِدَّآءُ عَلَى ٱلۡكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيۡنَهُمۡۖ تَرَىٰهُمۡ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبۡتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنًاۖ سِيمَاهُمۡ فِي وُجُوهِهِم مِّنۡ أَثَرِ ٱلسُّجُودِ﴾

“Muhammad itu adalah utusan Alloh dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Alloh dan keridhoan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud.” (QS. Al-Fath: 29)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits syafa’at yang panjang, Rosululloh ﷺ bersabda:

«حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنَ القَضَاءِ بَيْنَ العِبَادِ، وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ، أَمَرَ المَلاَئِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوا مِنَ النَّارِ، مَنْ كَانَ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، مِمَّنْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَرْحَمَهُ، مِمَّنْ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، فَيَعْرِفُونَهُمْ فِي النَّارِ بِأَثَرِ السُّجُودِ، تَأْكُلُ النَّارُ ابْنَ آدَمَ إِلَّا أَثَرَ السُّجُودِ، حَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُودِ»

“Hingga apabila Alloh telah selesai memutuskan perkara di antara para hamba, dan Dia berkehendak untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghuni Naar dengan rohmat-Nya, Dia memerintahkan para Malaikat untuk mengeluarkan dari Naar siapa saja yang tidak mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apa pun, yaitu orang-orang yang Alloh kehendaki untuk diberi rohmat dari kalangan yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh. Maka para Malaikat mengenali mereka di dalam Naar melalui bekas-bekas sujudnya. Api Naar melahap seluruh tubuh anak Adam kecuali bekas sujud, karena Alloh telah mengharomkan atas api Naar untuk membakar bekas sujud.” (HR. Al-Bukhori no. 7437 dan Muslim no. 182)

Ibadah Sholat meninggalkan stempel kemuliaan fisik pada tujuh anggota sujud yang kebal dari daya bakar api Jahannam. Penjagaan atas organ-organ sujud tersebut menjadi sarana pengenal bagi para Malaikat dalam misi penyelamatan ahli Tauhid.

[39].4 Yang Terakhir Keluar dari Jahannam dan Masuk Jannah

﴿فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَ﴾

“Siapa dijauhkan dari Jahannam dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh ﷺ bersabda:

«إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، وَآخِرَ أَهْلِ الجَنَّةِ دُخُولًا، رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ كَبْوًا، فَيَقُولُ اللَّهُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا، فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى، فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى، فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلِ الجَنَّةَ، فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا - أَوْ: إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا - فَيَقُولُ: تَسْخَرُ مِنِّي - أَوْ: تَضْحَكُ مِنِّي - وَأَنْتَ المَلِكُ» فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ، وَكَانَ يَقُولُ: «ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الجَنَّةِ مَنْزِلَةً»

“Sungguh aku benar-benar mengetahui penghuni Naar yang paling terakhir keluar darinya dan penghuni Jannah yang paling terakhir masuk. Yaitu seorang lelaki yang keluar dari Naar sambil merangkak (jatuh bangun), lalu Alloh berfirman padanya, ‘Pergilah dan masuklah ke dalam Jannah!’ Maka ia pun mendatangi Jannah itu, tetapi dibayangkan kepadanya seolah-olah Jannah sudah penuh sesak. Ia pun kembali seraya berkata, ‘Wahai Robb-ku, aku mendapatinya telah penuh.’ Alloh kembali berfirman, ‘Pergilah dan masuklah ke dalam Jannah!’ Ia pun mendatanginga lagi, tetapi kembali dibayangkan kepadanya seolah-olah Jannah sudah penuh. Maka ia kembali seraya berkata, ‘Wahai Robb-ku, aku mendapatinya telah penuh.’ Alloh berfirman lagi, ‘Pergilah dan masuklah ke dalam Jannah, karena sesungguhnya untukmu kenikmatan seluas dunia beserta 10 kali lipatnya—atau: sesungguhnya untukmu kenikmatan setara 10 kali lipat luas dunia—.’ Lelaki itu berkata, ‘Apakah Engkau memperolok-olokku—atau: tertawa memperolokku—padahal Engkau adalah Maha Raja?’” Sungguh aku melihat Rosululloh ﷺ tertawa hingga terlihat gigi geraham Beliau, dan Beliau bersabda, “Itulah penghuni Jannah yang paling rendah kedudukannya.” (HR. Al-Bukhori no. 6571 dan Muslim no. 186)

Kisah pembebasan hamba terakhir ini menguraikan transisi dramatis dari penderitaan ekstrem menuju puncak karunia Ilahi. Pengampunan tersebut menegaskan keagungan kasih sayang Alloh ﷻ yang mengatasi kemurkaan-Nya bagi orang yang masih memiliki ikatan iman.

[40].5 Berlindung dari Jahannam

﴿وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا﴾

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Wahai Robb kami, jauhkanlah adzab Jahannam dari kami, sungguh adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.’” (QS. Al-Furqon: 65)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الجَنَّةَ، وَمَنْ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ»

“Siapa yang memohon Jannah kepada Alloh sebanyak 3 kali, niscaya Jannah akan berkata: ‘Ya Alloh, masukkanlah ia ke dalam Jannah.’ Dan siapa yang meminta perlindungan dari Naar sebanyak 3 kali, niscaya Naar akan berkata: ‘Ya Alloh, lindungilah ia dari Naar.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 2572 dan An-Nasa’i no. 5521, dishohihkan Al-Albani)

Permohonan keselamatan secara rutin menggunakan ketulusan niat direspon langsung oleh Jannah dan Naar. Perlindungan ini menjadi perisai ampuh bagi setiap Mu’min agar terhindar dari cengkeraman adzab yang membakar.

 

Penutup

Alhamdulillah, telah selesai penyusunan buku “Arbain Jahannam” yang memuat 40 Hadits pokok.

Semoga kumpulan Hadits ini menjadi sarana penumbuh rasa khouf (takut) kepada adzab Alloh ﷻ, sekaligus mendorong kita untuk senantiasa bertaubat, beramal sholih, dan memohon perlindungan dari dahsyatnya adzab Jahannam.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para Shohabat beliau.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini