[PDF] ‘Aqidah Imam Asy-Syafi’i (204 H) - Tahqiq Dr. Abdul Muhsin Al-Qosim
Muqoddimah Pentahqiq
﷽
Dengan
menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ،
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Segala puji
bagi Alloh, Robb semesta alam. Sholawat beserta salam semoga senantiasa
tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, serta kepada keluarga dan seluruh Shohabat beliau.
أَمَّا
بَعْدُ:
Alloh telah
memberikan anugerah yang sangat besar kepada umat Nabi Muhammad ﷺ ini berupa penjagaan terhadap
syariat-Nya dan pemeliharaan terhadap kemurnian Aqidahnya. Alloh menakdirkan
para ulama pakar yang mumpuni pada setiap zaman untuk menjaga keautentikan
agama ini, baik yang terpelihara dalam dada para penghafal maupun tersusun rapi
dalam lembaran tulisan. Mereka meneruskannya kepada umat dalam keadaan murni,
terbebas dari penyimpangan orang-orang yang melampaui batas serta penafsiran
menyimpang dari orang-orang yang bodoh.
Di antara
ulama paling mulia dan berkedudukan tinggi pada kurun-kurun awal yang
diutamakan adalah Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafii rohimahulloh
(204 H). Alloh mengaruniakannya keleluasaan ilmu dan kejelasan bahasa, disertai
pengagungan yang sangat besar terhadap nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah serta
keteguhan dalam berpegang teguh pada Atsar peninggalan Salaf. Sungguh telah
terukir dari beliau untaian kata yang sangat mulia mengenai aqidah Ahlus Sunnah
wal Jama’ah, disusun dengan susunan kata yang ringkas namun mengandung makna
yang amat mendalam. Untaian ucapan ini diriwayatkan oleh banyak perowi dalam
risalah yang masyhur dengan judul Aqidah Al-Imam Asy-Syafii.
Mengingat
kedudukan dan pentingnya karya ini di kalangan ulama dan para penuntut ilmu,
saya telah melakukan tahqiq (penelitian manuskrip) terhadap risalah ini
berdasarkan 6 naskah manuskrip kuno. Saya memasukkannya sebagai bagian dari matan
tambahan dalam susunan seri Mutun Tholibil ‘Ilmi yang telah saya tahqiq
dari naskah-naskah pilihan yang disaring dari lebih dari 5000 manuskrip, yang
saya kumpulkan dari berbagai perpustakaan dan perbendaharaan kitab di berbagai
belahan dunia.
Saya menyusun
pada pendahuluan tahqiq ini beberapa pembahasan: metode tahqiq saya (tidak
ditarjamah), biografi penulis, penetapan keabsahan judul kitab, pentingnya
kitab ini, deskripsi naskah manuskrip yang dijadikan acuan tahqiq (tidak
ditarjamah), contoh-contoh lembaran manuskrip (tidak ditarjamah), serta teks
matan yang bersih dari catatan kaki tahqiq.
Saya
meriwayatkan risalah ini sampai kepada penyusunnya melalui beberapa jalur
sanad. Jalur sanad yang paling tinggi adalah apa yang diberitahukan kepada kami
oleh Mushthofa bin Ahmad Al-Qudaimi, dari ayahnya Ahmad bin Hasan Al-Qudaimi,
dari Muhammad bin Abdul Qodir Al-Qudaimi, dari Abdurrohman bin Sulaiman
Al-Ahdal, dari Muhammad Murtadho bin Muhammad Az-Zabidi, dari Ahmad Sabiq bin
Sya’ban bin ‘Azzam bin Sabiq Ar-Ro’bali, dari Muhammad bin Ala’uddin Al-Babili,
dari Salim bin Muhammad As-Sanhuri, dari Muhammad bin Ahmad Al-Ghoithi, dari
Zakariyya bin Muhammad Al-Anshori, dari Ahmad bin Ali bin Hajar Al-‘Asqolani,
dari Abdurrohman bin Muhammad Adz-Dzahabi, dari ayahnya Muhammad bin Ahmad bin
Utsman Adz-Dzahabi (748 H), mengabarkan kepada kami Ahmad bin Abdurrohman bin
Mu’min Ash-Sholih, mengabarkan kepada kami Al-Husain bin Al-Mubarok Az-Zabidi,
mengabarkan kepada kami Ja’far bin Zaid Al-Hamawi dalam risalahnya, mengabarkan
kepada kami Ahmad bin Ubaidilloh Al-‘Ukbari, mengabarkan kepada kami Muhammad
bin Ali Al-‘Usyari, mengabarkan kepada kami Ali bin Abdul Aziz Al-Bardza’i,
mengabarkan kepada kami Abdurrohman bin Muhammad bin Idris Ar-Rozi (Ibnu Abi
Hatim, 327 H), menceritakan kepada kami Yunus bin Abdil A’la Al-Mishri (264 H),
beliau berkata: Aku mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafii (204 H).
Saya
memohon kepada Alloh Ta’ala agar memberikan manfaat melalui amalan ini
dan menjadikannya murni hanya mengharap Wajah-Nya Yang Mahamulia.
Semoga
sholawat, salam, dan keberkahan senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad ﷺ, serta kepada keluarga dan
seluruh Shohabat beliau.
Ditulis
oleh:
Dr. Abdul
Muhsin bin Muhammad Al-Qosim
Imam dan
Khotib Masjid Nabawi Asy-Syarif
Selesai
disusun pada hari Ahad, tanggal 2 bulan Dzulqo’dah tahun 1447 Hijriyyah
Nabawiyyah di Masjid Nabawi Asy-Syarif.
Baca juga:
Syarah Aqidah Imam Asy-Syafi'i (204 H) - Nor Kandir
Bab 1: Biografi Asy-Syafii
1.1
Nama dan Nasab
Beliau
adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin
As-Sa’ib bin ‘Ubaid bin Abd Yazid bin Hasyim bin Al-Muttholib bin Abd Manaf bin
Qushoy, Al-Qurosyi Al-Muttholibi Asy-Syafii rohimahulloh (204 H). (Hilyatul
Auliya, 9/63)
1.2
Kelahiran dan Pertumbuhan
Kelahirannya: Beliau dilahirkan pada tahun 150 H,
yaitu tahun wafatnya Imam Abu Hanifah rohimahulloh (150 H).
Al-Imam
Al-Baihaqi rohimahulloh (458 H) berkata:
«ثُمَّ
المَشْهُورُ الَّذِي عَلَيْهِ الجُمْهُورُ: أَنَّ الشَّافِعِيَّ وُلِدَ بِغَزَّةَ،
وَقِيلَ: بِعَسْقَلَانَ»
“Pendapat
yang masyhur dan dipegang oleh mayoritas ulama bahwa Imam Asy-Syafii rohimahulloh
(204 H) dilahirkan di Ghaza, dan ada yang mengatakan di ‘Asqolan.”
Pertumbuhannya: Imam Asy-Syafii rohimahulloh
(204 H) tumbuh sebagai anak yatim dalam asuhan ibundanya dalam keadaan serba
kekurangan dan kondisi ekonomi yang sempit. Sejak masa kanak-kanak, beliau
senantiasa menghadiri majelis para ulama dan mencatat faidah ilmu yang
diperoleh pada pecahan tulang dan barang sejenisnya karena tidak memiliki biaya
untuk membeli kertas, hingga catatan tersebut memenuhi tempayan-tempayan besar
miliknya.
Pada awal
perjalanannya menuntut ilmu, beliau memfokuskan diri mempelajari sastra, syair,
dan sejarah peperangan bangsa Arob. Kemudian beliau beralih memfokuskan diri
mempelajari ilmu Fiqih. Hal itu bermula ketika pada suatu hari beliau sedang
menunggangi hewan tunggangannya lalu mendendangkan bait syair, tiba-tiba
seseorang menepuknya dengan cambuk seraya berkata kepadanya: “Seseorang yang
berkedudukan seperti dirimu tidak pantas menghabiskan wibawa dan kehormatannya
untuk hal semacam ini, di manakah perhatianmu terhadap ilmu Fiqih?!” Teguran
tersebut menyentuh hatinya, sehingga beliau bertekad mendatangi majelis Muslim
bin Kholid Az-Zinji rohimahulloh (180 H) yang merupakan mufti kota
Makkah. Selanjutnya beliau menuju Madinah dan berguru secara intensif kepada
Imam Malik bin Anas rohimahulloh (179 H) saat beliau berusia 13 tahun.
Beliau kemudian berkelana menuntut ilmu ke Yaman lalu ke Irak,
bersungguh-sungguh dalam menekuni ilmu, serta berdiskusi ilmiah dengan Muhammad
bin Al-Hasan Asy-Syaibani rohimahulloh (189 H) dan ulama lainnya. Beliau
menyebarkan ilmu Hadits, menegakkan madzhab para ahli Hadits, membela Sunnah
Nabi ﷺ,
hingga nama dan keutamaannya tersebar luas. Abdurrohman bin Mahdi rohimahulloh
(198 H) selaku imam ahli Hadits pada zamannya meminta beliau menyusun sebuah
kitab tentang kaidah pemahaman hukum Fiqih (Ushul Fiqih), maka beliau menulis
kitab Ar-Risalah. Abdurrohman bin Mahdi (198 H) dan Yahya bin Said
Al-Qotthon (198 H) amat kagum terhadap isi kitab tersebut, demikian pula para
ulama sezaman mereka dan generasi sesudahnya. Yahya bin Said Al-Qotthon (198 H)
beserta Ahmad bin Hanbal (241 H) senantiasa mendoakan kebaikan bagi Imam
Asy-Syafii dalam Sholat mereka, karena mereka menyaksikan kesungguhan beliau
dalam menegakkan Agama, membela Sunnah, memahaminya, serta menggali hukum-hukum
dari nash-nash Sunnah. Seluruh ulama sepakat menilai baik karya Ar-Risalah
tersebut. (Tahdzibul Asma wal Lughot, 1/46)
1.3
Guru-Guru Terkenal
Beliau
menimba ilmu dari sepilihan ulama di negerinya maupun di negeri lainnya, di
antara yang paling masyhur:
1. Abdul
Aziz bin Abi Salamah Al-Majisyun rohimahulloh (164 H).
2. Paman
beliau, Muhammad bin Ali bin Syafi’ rohimahulloh.
3. Al-Imam
Malik bin Anas rohimahulloh (179 H).
4. Muslim
bin Kholid Az-Zinji rohimahulloh (180 H).
5. Abu
Ishaq Ibrahim bin Sa’d rohimahulloh (183 H).
6. Muhammad
bin Al-Hasan Asy-Syaibani rohimahulloh (189 H).
7. Sufyan
bin Uyainah rohimahulloh (198 H).
Serta
ulama-ulama lainnya. (As-Siyar, Adz-Dzahabi, 6/10)
1.4
Murid-Murid Terkenal
Di antara
murid-murid paling terkenal yang menimba ilmu dari beliau rohimahulloh
(204 H):
1. Sulaiman
bin Dawud Al-Hasyimi rohimahulloh (219 H).
2. Abu Bakr
Abdulloh bin Az-Zubair Al-Humaidi rohimahulloh (219 H).
3. Abu Ya’qub
Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi rohimahulloh (231 H).
4. Ibrohim
bin Al-Mundzir Al-Hizami rohimahulloh (236 H).
5. Ishaq
bin Rohawaih rohimahulloh (238 H).
6. Abu
Tsaur Ibrohim bin Kholid rohimahulloh (240 H).
7. Ahmad
bin Hanbal rohimahulloh (241 H).
8. Yunus
bin Abdil A’la Al-Mishri rohimahulloh (264 H).
9. Ar-Robi’
bin Sulaiman Al-Murodi rohimahulloh (270 H).
Serta
murid-murid lainnya. (Tarikhul Islam, 5/146)
1.5
Aqidah
Imam Ahmad
bin Hanbal rohimahulloh (241 H) berkata:
«مَا
رَأَيْتُ أَتْبَعَ لِلْأَثَرِ مِنَ الشَّافِعِيِّ»
“Aku tidak
pernah melihat seorang pun yang lebih ketat dalam mengikuti Atsar peninggalan
Salaf melebihi Asy-Syafii.”
Ar-Robi’
bin Sulaiman Al-Murodi rohimahulloh (270 H) berkata: Aku mendengar
Asy-Syafii berkata:
«إِذَا
وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ ﷺ؛ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ
اللهِ ﷺ وَدَعُوا مَا قُلْتُ»
“Apabila
kalian mendapati di dalam kitabku sesuatu yang menyelisih Sunnah Rosululloh ﷺ, maka ambillah Sunnah
Rosululloh ﷺ
dan tinggalkanlah apa yang aku ucapkan.”
Imam
Asy-Syafii rohimahulloh (204 H) berkata:
«لَأَنْ
يَلْقَى اللهَ المَرْءُ بِكُلِّ ذَنْبٍ خَلَا الشِّرْكَ بِاللهِ؛ خَيْرٌ لَهُ مِنْ
أَنْ يَلْقَاهُ بِشَيْءٍ مِنَ الْأَهْوَاءِ»
“Sungguh
apabila seorang hamba bertemu Alloh dengan membawa setiap dosa selain dosa
syirik kepada Alloh, hal itu jauh lebih baik baginya daripada beliau bertemu
Alloh dengan membawa sedikit saja dari paham kebid’ahan dan hawa nafsu.”
Diriwayatkan
dari beliau rohimahulloh (204 H) bahwasanya beliau pernah berkata:
«حُكْمِي
فِي أَصْحَابِ الكَلَامِ: أَنْ يُطَافَ بِهِمْ فِي القَبَائِلِ، وَيُنَادَى عَلَيْهِمْ
هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الكِتَابَ وَالسُّنَّةَ، وَأَقْبَلَ عَلَى الكَلَامِ»
“Ketetapan
hukumku terhadap para ahli ilmu kalam (filsafat teologi) adalah hendaknya
mereka diarak keliling di tengah suku-suku dan pemukiman, lalu diumumkan atas
mereka: ‘Inilah balasan bagi orang yang meninggalkan Al-Kitab dan As-Sunnah
serta beralih menyibukkan diri dengan ilmu kalam.’”
Beliau rohimahulloh
(204 H) juga berkata:
«إِذَا
رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ الحَدِيثِ فَكَأَنَّمَا رَأَيْتُ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ ﷺ، جَزَاهُمُ اللهُ خَيْرًا؛ حَفِظُوا لَنَا الأَصْلَ، فَلَهُمْ عَلَيْنَا
الفَضْلُ»
“Apabila
aku melihat seorang ahli Hadits, seolah-olah aku sedang melihat seorang
Shohabat Nabi ﷺ.
Semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan, karena mereka telah menjaga
landasan agama ini untuk kita, sehingga mereka memiliki keutamaan atas diri
kita.”
Imam Ibnu
Khuzaimah rohimahulloh (311 H) berkata: Aku mendengar Ar-Robi’ rohimahulloh
(270 H) menceritakan: Ketika Asy-Syafii berdebat dengan Hafsh Al-Fard, Hafsh
berkata:
«الْقُرْآنُ
مَخْلُوقٌ»
“Al-Qur’an
itu adalah makhluk.”
Maka
Asy-Syafii langsung menegasinya:
«كَفَرْتَ
بِاللهِ العَظِيمِ»
“Engkau
telah kufur kepada Alloh Yang Mahaagung.” (Manaqib Asy-Syafii, Al-Baihaqi,
1/407-472)
1.6 Karya-Karya
Al-Qodhi
Abu Muhammad Al-Hasan bin Muhammad Al-Marwazi rohimahulloh (438 H)
berkata:
«قِيلَ:
إِنَّ الشَّافِعِيَّ رَحِمَهُ اللهُ صَنَّفَ مِئَةً وَثَلَاثَةَ عَشَرَ كِتَابًا، فِي
التَّفْسِيرِ، وَالفِقْهِ، وَالأَدَبِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ»
“Dikatakan
bahwasanya Asy-Syafii rohimahulloh (204 H) telah menyusun 113 kitab yang
mencakup bidang Tafsir, Fiqih, Sastra, dan disiplin ilmu lainnya.”
Di antara
karya-karya beliau yang paling masyhur:
* Kitab Al-Umm
dalam bidang Fiqih; dikumpulkan oleh Al-Buwaithi (231 H) dan disusun bab-babnya
oleh Ar-Robi’ bin Sulaiman (270 H).
* Kitab Al-Musnad
dalam bidang Hadits.
* Kitab Ahkamul
Qur’an dalam bidang Tafsir.
* Kitab As-Sunan
dalam bidang Hadits.
* Kitab Ar-Risalah
dalam bidang Ushul Fiqih.
* Kitab Ikhtilaful
Hadits.
* Kitab As-Sabq
war-Romy.
* Kitab Jima’il
‘Ilm dalam bidang Ushul Fiqih.
* Kitab Ibtholul
Istihsan dalam bidang Ushul Fiqih.
* Kitab Fodho’ilu
Quroiys.
* Kitab Adabul
Qodhi.
Serta
karya-karya lainnya. (Sullamul Wushul, 3/103; Al-A’lam, 6/26)
1.7
Wafat
Beliau
wafat di negeri Mesir pada tahun 204 H dalam usia 54 tahun.
Ar-Robi’ rohimahulloh
(270 H) menceritakan: Imam Asy-Syafii rohimahulloh (204 H) wafat pada
malam Jum’at setelah Sholat Maghrib saat aku berada di sisinya, dan janazah
beliau dimakamkan setelah Sholat ‘Ashar pada hari Jum’at di hari terakhir bulan
Rojab tahun 204 H. Makam beliau rohimahulloh (204 H) berada di negeri
Mesir. (Tadzkirotul Huffazh, Adz-Dzahabi, 1/266)
1.8
Pujian Ulama
Para imam
Islam masa terdahulu dan generasi sesudahnya memberikan kesaksian atas
keunggulan beliau dalam ilmu, mengakui keulamaan beliau, serta menyifati beliau
dengan sifat-sifat yang indah dan pekerti yang terpuji. Di antara pujian
tersebut:
Ucapan guru
beliau, Sufyan bin Uyainah rohimahulloh (198 H) ketika dibacakan di
hadapannya Hadits tentang pelembut hati (ar-roqo’iq), lalu Imam
Asy-Syafii pingsan hingga ada yang menyangka beliau meninggal dunia. Maka
Sufyan berkata:
«إِنْ
كَانَ قَدْ مَاتَ فَقَدْ مَاتَ أَفْضَلُ أَهْلِ زَمَانِهِ»
“Jika benar
beliau telah meninggal dunia, sungguh telah meninggal dunia manusia paling
utama pada zamannya.”
Al-Humaidi rohimahulloh
(219 H) berkata: Aku mendengar Muslim bin Kholid Az-Zinji rohimahulloh
(180 H) berkata kepada Asy-Syafii rohimahulloh (204 H): “Demi Alloh,
sungguh telah tiba saatnya bagimu untuk memberikan fatwa.” Padahal saat itu
usia Asy-Syafii rohimahulloh baru 15 tahun.
Yahya bin
Said Al-Qotthon rohimahulloh (198 H) berkata ketika disodorkan kepadanya
kitab Ar-Risalah karya Imam Asy-Syafii: “Aku belum pernah melihat orang
yang lebih berakal tajam dan lebih faham agama melebihi dirinya.”
Abu Ubaid
Al-Qosim bin Sallam rohimahulloh (224 H) berkata:
«مَا
رَأَيْتُ أَحَدًا أَعْقَلَ وَلَا أَوْرَعَ وَلَا أَفْصَحَ وَلَا أَنْبَلَ رَأْيًا مِنَ
الشَّافِعِيِّ»
“Aku tidak
pernah melihat seorang pun yang lebih cerdas akalnya, lebih waro’ (menjaga diri
dari dosa), lebih fasih lisannya, dan lebih cemerlang pandangannya melebihi
Asy-Syafii.” (Manaqib Asy-Syafii, 2/251 dll)
Bab 2: Nama Kitab
Judul kitab
ini disebutkan dalam naskah-naskah manuskrip sebagai berikut:
1. Pada
naskah Alif tercantum: “I’tiqod Asy-Syafii” (Aqidah Asy-Syafii).
2. Pada
naskah Ha tercantum: “Mu’taqod Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Idris
Asy-Syafii” (Keyakinan Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafii).
3. Pada
naskah Wau tercantum: “Kitab I’tiqod Asy-Syafii lil-Hafizh Abdul Ghoni bin
Abdul Wahid Al-Maqdisi”, namun penamaan pada naskah ini keliru karena teks
sanad sesudahnya disambungkan langsung kepada Imam Asy-Syafii rohimahulloh
(204 H).
Oleh karena
itu, saya memberinya judul: “I’tiqod Al-Imam Asy-Syafii” (Aqidah
Al-Imam Asy-Syafii).
Bab 3: Urgensi Kitab
Keutamaan
dan pentingnya risalah ini terlihat pada beberapa poin, antara lain:
1. Risalah
ini diriwayatkan langsung oleh Al-Hafizh Abdurrohman bin Abi Hatim Ar-Rozi rohimahulloh
(327 H).
2. Banyak
ulama dari berbagai tingkatan generasi menukil Aqidah ini dalam karya-karya
mereka, di antaranya: Ibnu Abi Ya’la (526 H), Ibnu Qudamah (620 H), Adz-Dzahabi
(748 H), dan banyak ulama lainnya.
3. Di dalam
risalah ini terdapat pembatalan terhadap pengakuan para ahli ilmu kalam dari
kalangan pengikut Asy-Syafi’iyyah yang mengklaim bahwa mereka berada di atas Aqidah
Imam Asy-Syafii rohimahulloh (204 H). Padahal yang haq, aqidah beliau
adalah aqidah generasi Salaf, bukan sebagaimana yang diklaim oleh
kelompok ahli ilmu kalam tersebut.
4. Kitab
ini menegaskan keyakinan Aqidah yang dipegang teguh oleh generasi Salaf yang
sholih, yang selaras dengan petunjuk Nabi ﷺ dan para Shohabat beliau yang mulia.
Bab 4: Aqidah Al-Imam Muhammad bin
Idris Asy-Syafii
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Dengan
menyebut nama Alloh Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
لِلَّهِ
أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ، وَأَخْبَرَ بِهَا نَبِيُّهُ أُمَّتَهُ.
Alloh
memiliki Nama-Nama Yang Mahaindah dan Sifat-Sifat Yang Mahasempurna sebagaimana
yang tercantum di dalam Kitab Suci Al-Qur’an dan dikabarkan oleh Nabi-Nya ﷺ kepada segenap umat beliau.
لَا يَسَعُ
أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللهِ قَامَتْ عَلَيْهِ الحُجَّةُ رَدُّهَا؛ لِأَنَّ القُرْآنَ
نَزَلَ بِهَا، وَصَحَّ عِنْدَهُ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ فِيمَا رَوَى عَنْهُ العَدْلُ.
Tidak ada
kelonggaran bagi seorang pun dari makhluk Alloh yang telah sampai kepadanya
dalil keterangan yang jelas untuk menolak Nama dan Sifat tersebut; karena
Al-Qur’an telah turun membawa kabar tentangnya, serta telah sah penetapannya
melalui sabda Nabi ﷺ
melalui penuturan para perowi yang adil dan terpercaya.
فَإِنْ
خَالَفَ ذَلِكَ بَعْدَ ثُبُوتِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ فَهُوَ بِاللهِ كَافِرٌ.
Jika ada
seseorang yang menyelisih dan menolak penetapan Sifat-Sifat tersebut setelah
tegaknya dalil keterangan kepadanya, maka beliau telah menjadi kafir kepada
Alloh.
فَأَمَّا
قَبْلَ ثُبُوتِ الحُجَّةِ عَلَيْهِ مِنْ جِهَةِ الخَبَرِ فَمَعْذُورٌ بِالجَهْلِ؛ لِأَنَّ
عِلْمَ ذَلِكَ لَا يُدْرَكُ بِالعَقْلِ، وَلَا بِالرَّوِيَّةِ وَالفِكْرِ.
Adapun
sebelum tegaknya dalil keterangan kepadanya dari jalur khobar wahyu, maka ia
mendapatkan udzur karena ketidaktahuannya; sebab pengetahuan mengenai
Sifat-Sifat Alloh tersebut tidak dapat dijangkau semata-mata dengan akal fikiran
maupun nalar penalaran manusia.
وَنَحْوُ
ذَلِكَ: إِخْبَارُ اللهِ إِيَّانَا:
Contoh hal
tersebut adalah pemberitahuan Alloh kepada kita:
أَنَّهُ
سَمِيعٌ بَصِيرٌ.
Bahwa Alloh
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
وَأَنَّ
لَهُ يَدَيْنِ؛ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾.
Bahwa Alloh
memiliki Kedua Tangan yang nyata sesuai keagungan-Nya; berdasarkan firman Alloh
Ta’ala: “Bahkan Kedua Tangan Alloh itu terbuka melimpahkan karunia.” (QS.
Al-Ma’idah: 64)
وَأَنَّ
لَهُ يَمِينًا؛ بِقَوْلِهِ سُبْحَانَهُ: ﴿وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾.
Bahwa Alloh
memiliki Tangan Kanan; berdasarkan firman Alloh: “Serta seluruh langit digulung
dengan Tangan Kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
وَأَنَّ
لَهُ وَجْهًا؛ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾، وَقَوْلِهِ:
﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾.
Bahwa Alloh
memiliki Wajah Yang Mahamulia; berdasarkan firman Alloh Ta’ala: “Segala
sesuatu pasti binasa kecuali Wajah Alloh.” (QS. Al-Qoshosh: 88) dan
firman-Nya: “Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang memiliki Keagungan dan
Kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)
وَأَنَّ
لَهُ قَدَمًا؛ بِقَوْلِهِ ﷺ: «حَتَّى يَضَعَ الرَّبُّ فِيهَا قَدَمَهُ»، يَعْنِي: فِي
جَهَنَّمَ.
Bahwa Alloh
memiliki Telapak Kaki; berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Hingga Robb Yang Mahasuci meletakkan Telapak Kaki-Nya ke
dalamnya,” yaitu ke dalam Neraka Jahanam. (HR. Al-Bukhori no. 4848 dan
Muslim no. 2848)
وَأَنَّهُ
يَضْحَكُ مِنْ عَبْدِهِ المُؤْمِنِ؛ بِقَوْلِهِ ﷺ لِلَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللهِ:
«إِنَّهُ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ».
Bahwa Alloh
Tertawa terhadap hamba-Nya yang Mu’min; berdasarkan sabda Nabi ﷺ mengenai seorang hamba yang
gugur di jalan Alloh: “Bahwasanya beliau menemui Alloh dalam keadaan Alloh
Tertawa kepadanya.”
وَأَنَّهُ
يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا؛ بِخَبَرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ بِذَلِكَ.
Bahwa Alloh
Turun pada setiap malam ke langit dunia; berdasarkan kabar pemberitahuan dari
Rosululloh ﷺ
tentang hal itu. (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
وَأَنَّهُ
لَيْسَ بِأَعْوَرَ؛ لِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ إِذْ ذُكِرَ الدَّجَّالُ، فَقَالَ: «إِنَّهُ
أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ».
Bahwa Alloh
tidak bermata satu (picak); berdasarkan sabda Nabi ﷺ ketika beliau menyebutkan
ciri Dajjal, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Dajjal itu bermata satu
(picak), sedangkan Robb kalian sama sekali tidak bermata satu.” (HR.
Al-Bukhori no. 7407 dan Muslim no. 2933)
وَأَنَّ
المُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ القِيَامَةِ بِأَبْصَارِهِمْ كَمَا يَرَوْنَ
القَمَرَ لَيْلَةَ البَدْرِ.
Bahwa
orang-orang Mu’min kelak akan melihat Robb mereka pada hari Qiyamah secara
langsung dengan mata kepala mereka, sebagaimana mereka melihat bulan pada malam
purnama tanpa terhalang. (HR. Al-Bukhori no. 554 dan Muslim no. 633)
وَأَنَّ
لَهُ إِصْبَعًا؛ بِقَوْلِهِ ﷺ: «مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ
مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ».
Bahwa Alloh
memiliki Jari-Jari; berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Tidak ada satu pun hati manusia melainkan berada di antara
dua Jari dari Jari-Jari Ar-Rohman (Alloh Yang Maha Pengasih).” (HR. Muslim
no. 2654)
فَإِنَّ
هَذِهِ المَعَانِيَ الَّتِي وَصَفَ اللهُ تَعَالَى بِهَا نَفْسَهُ، وَوَصَفَهُ بِهَا
رَسُولُهُ؛ مِمَّا لَا يُدْرَكُ حَقِيقَةُ ذَلِكَ بِالفِكْرِ وَالرَّوِيَّةِ.
Maka
sesungguhnya makna-makna Sifat yang Alloh Ta’ala sifatkan untuk Diri-Nya
dan disifatkan oleh Rosul-Nya ini merupakan perkara yang hakikat kaifiyyah-Nya
(cara atau bentuk hakikinya) tidak dapat dicapai dengan nalar fikiran maupun
pertimbangan akal belaka.
وَلَا
يُكَفَّرُ بِالجَهْلِ بِهَا أَحَدٌ؛ إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا.
Tidak ada
seorang pun yang divonis kafir semata-mata karena ketidaktahuannya akan
Sifat-Sifat tersebut, kecuali apabila berita wahyu tentang hal itu telah sampai
secara utuh kepadanya.
فَإِنْ
كَانَ الوَارِدُ بِذَلِكَ خَبَرًا يَقُومُ فِي الفَهْمِ مَقَامَ المُشَاهَدَةِ فِي
السَّمَاعِ؛ وَجَبَتِ الدَّيْنُونَةُ عَلَى سَامِعِهِ بِحَقِيقَتِهِ، وَالشَّهَادَةُ
عَلَيْهِ كَمَا عَايَنَ وَسَمِعَ مِنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ.
Apabila
berita wahyu yang sampai kepadanya itu berkedudukan sejajar dengan persaksian
mata langsung dalam pendengarannya (yakni benar-benar shohih), maka wajib
hukumnya bagi setiap pendengar berita itu untuk beragama dan berkeyakinan
tunduk dengan kebenaran hakiki Sifat tersebut, serta bersaksi atasnya
seolah-olah ia melihat dan mendengar langsung dari Rosululloh ﷺ.
وَلَكِنْ
نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَنَنْفِي التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ
تَعَالَى ذِكْرُهُ؛ فَقَالَ: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾.
Namun
demikian, kita senantiasa menetapkan Sifat-Sifat ini bagi Alloh dan meniadakan
penyerupaan (tasybih) dengan makhluk, sebagaimana Alloh Ta’ala
telah meniadakan penyerupaan itu dari Diri-Nya seraya berfirman: “Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS.
Asy-Syuro: 11)
Penutup
تَمَّ
بِحَمْدِ اللهِ
Telah selesai risalah ini dengan memuji Alloh.[NK]
%20-%20Tahqiq%20Dr.%20Abdul%20Muhsin%20Al-Qosim.jpg)