[PDF] Syarah Aqidah Imam Asy-Syafi'i (204 H) - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Innal hamda lillah,
sesungguhnya segala puji hanya milik Alloh ﷻ. Kita memuji-Nya,
memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Alloh
dari keburukan diri kita dan dari kejelekan amal perbuatan kita. Siapa yang
diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan siapa
yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Amma ba’du:
Sesungguhnya ilmu yang paling utama, paling mulia, dan
paling tinggi kedudukannya di dalam Islam adalah ilmu Tauhid. Ia merupakan asas
dari seluruh sendi agama, urat nadi dari tegaknya syari’at, serta syarat utama
bagi diterimanya amal sholih. Tanpa Aqidah, segala bentuk pengorbanan, ibadah
Puasa, Zakat, Haji, bahkan Jihad sekalipun, akan sirna bagaikan debu yang
ditiup angin kencang. Mengingat urgensinya yang begitu besar, para ulama
Robbani di setiap zaman senantiasa mencurahkan perhatian yang luar biasa untuk
menjaga kemurnian Aqidah umat dari noda-noda syubhat dan bid’ah yang diembuskan
oleh ahli kalam dan syaithon yang terkutuk.
Di antara sekian banyak lentera ilmu yang menyinari jalannya
umat ini adalah seorang imam yang keagungannya telah disepakati oleh dunia
Islam, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh.
Beliau bukan sekadar peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqih, melainkan seorang
hamba yang kokoh di atas manhaj Salafush Sholih dalam masalah Asma` wa Shifat
dan perkara-perkara ghoib. Risalah
Aqidah yang disandarkan kepada beliau ini, meskipun ringkas dan sederhana
dari segi jumlah barisnya, sesungguhnya memuat butir-butir mutiara Tauhid yang
sangat dalam dan mengikat.
Buku yang berada di tangan pembaca sekalian ini merupakan syarah
(penjelasan) atas matan Aqidah Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh tersebut.
Kehadiran syarah ini dimaksudkan untuk mengurai kalimat-kalimat yang padat,
menjelaskan maksud per paragraf, serta menegakkan dalil-dalil syar’i yang
bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi ﷺ yang
shohih.
Font matan dan syarah dibuat berbeda
agar pembaca mudah membedakan antara ucapan Sang Imam dan pensyarah.
Dalam menyusun syarah ini, kami menempuh jalan pertengahan
yang diwariskan oleh para ulama Ahli Hadits, yaitu menetapkan apa yang Alloh dan
Rosul-Nya tetapkan (itsbat) dan menyucikan Alloh dari segala bentuk
penyerupaan dengan makhluk (tanzih).
Kevalidan Sanad
قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْحَافِظُ صَدْرُ الدِّينِ
الْيَاسُوفِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، قَالَ حَدَّثَنَا لِسَانُ الْأَدَبِ
وَحُجَّةُ الْعَرَبِ بَدْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ نَجْمُ الدِّينِ [مَكِّيُّ]
بْنُ أَبِي الْغَنَائِمِ الْمَعَرِّيُّ الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنَا
الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الْعَامِلُ الْقُدْوَةُ، الْحَافِظُ، الْمُفْتِي
الْخَطِيبُ الزَّاهِدُ الْعَارِفُ، الْبَارِعُ، شَيْخُ الْمَشَايِخِ، فَخْرُ
الْأُمَّةِ، تَاجُ الْعُلَمَاءِ، فَخْرُ الْخُطَبَاءِ، أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْفَرَجِ الْفَارُوثِيُّ الشَّافِعِيُّ
خَطِيبُ جَامِعِ دِمَشْقَ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ
الْإِمَامُ بَدْرُ الدِّينِ أَبُو الْقَاسِمِ عَلِيُّ بْنُ الْحَافِظِ أَبِي
الْفَرَجِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْجَوْزِيِّ -
قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ، أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ
يَحْيَى بْنِ هِلَالِ بْنِ الْأَعْرَابِيِّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِبَغْدَادَ،
أَخْبَرَنَا أَبُو الْعِزِّ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعُكْبَرِيُّ،
أَخْبَرَنَا: أَبُو طَالِبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَتْحِ الْعُشَارِيُّ، أَخْبَرَنَا
أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْدَكِ الْبَرْذَعِيُّ،
أَخْبَرَنَا: أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيُّ،
أَنْبَأَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الْمِصْرِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا
عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
يَقُولُ - وَقَدْ سُئِلَ عَنْ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا يَنْبَغِي أَنْ
يُؤْمَنَ بِهِ، فَقَالَ:
Asy-Syaikh
Al-Imam Al-Hafizh Shodruddin Al-Yasufi rohimahulloh berkata:
Telah
menceritakan kepada kami Lisanul Adab dan Hujjatul Arob Badruddin Muhammad bin
Najmuddin [Makki] bin Abil Ghona’im Al-Ma’arri Asy-Syafi’i, ia berkata:
Telah
mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Al-’Alim Al-’Amil Al-Qudwah,
Al-Hafizh, Al-Mufti Al-Khothib Az-Zahid Al-’Arif, Al-Bari’, Syaikhul Masyayikh,
Fakhrul Ummah, Tajul Ulama, Fakhrul Khuthoba’, Abul Abbas Ahmad bin Ibrohim bin
Umar bin Al-Faroj Al-Faruthi Asy-Syafi’i, Khothib Jami’ Dimasyq Rohimahulloh
ia berkata:
Telah
mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Badruddin Abul Qosim Ali bin
Al-Hafizh Abil Faroj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Al-Jauzi –
QoddasAllohu Ruhahu:
Telah mengabarkan
kepada kami Abu Sa’id Abdul Jabbar bin Yahya bin Hilal bin Al-A’robi
secara qiro’ah (dibacakan kepadanya) di Baghdad:
Telah mengabarkan
kepada kami Abul Izz Ahmad bin Abdillah Al-Ukbari:
Telah mengabarkan
kepada kami Abu Tholib Muhammad bin Al-Fath ‘Al-Ushori:
Telah mengabarkan
kepada kami Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz bin Mardak Al-Bardza’i:
Telah mengabarkan
kepada kami Abu Muhammad Abdurrohman bin Abi Hatim Ar-Rozi:
Telah mengabarkan
kepada kami Yunus bin Abdil A’la Al-Mishri, ia berkata:
Aku
mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rodhiyAllohu ‘Anhu
berkata ketika ditanya tentang sifat-sifat Alloh Ta’ala dan apa yang
sepatutnya diimani
Syarah
Sanad ini adalah shohih, seperti yang disebutkan oleh
pentahqiq matan ini, yaitu Dr. Thoriq bin Said Al-Qohthoni. Sanad ini
bersambung dari Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Shodruddin Al-Yasufi hingga
bermuara pada Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H). (Lihat Itiqod Syafi’i dalam muqoddimah pentahqiq, hal. 30-32)
[1] Makna Nama dan Sifat Alloh
Memahami
makna Nama dan Sifat Alloh ﷻ merupakan puncak ilmu yang paling mulia, karena kemuliaan suatu
ilmu diukur dari objek yang dipelajari. Nama-Nama Alloh ﷻ
(Asmaul Husna) merupakan Nama yang mengandung Sifat-Sifat kesempurnaan yang
mutlak. Antara Nama dan Sifat memiliki kaitan erat: setiap Nama pasti
mengandung Sifat, namun tidak setiap Sifat boleh dijadikan sebagai Nama.
1.1
Makna Nama-Nama Alloh
Nama-Nama
Alloh ﷻ
(Asmaul Husna) adalah
seluruh Nama yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh
Rosul-Nya ﷺ.
Makna (kandungan) dari Nama-Nama ini adalah husna (mencapai puncak
kebaikan dan keindahan) karena bersumber dari Sifat-Sifat keagungan. Nama Alloh
ﷻ
bersifat mutawaafiq (menunjukkan dzat) sekaligus mutathoobiq
(mengandung makna Sifat).
Sebagai
contoh, Al-Alim adalah Nama Alloh ﷻ, dan makna yang terkandung di
dalamnya adalah menetapkan Dzat Alloh ﷻ serta menetapkan bahwa Dia
memiliki Sifat ilmu (mengetahui).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ
ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ
الْحُسْنَىٰ﴾
Katakanlah:
Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. Dengan Nama mana saja kamu
seru, Dia mempunyai Nama-Nama yang terbaik. (QS. Al-Isro’: 110)
1.2
Makna Sifat-Sifat Alloh
Sifat Alloh
ﷻ
adalah Sifat kesempurnaan yang ada pada Dzat Alloh ﷻ. Sifat Alloh ﷻ
lebih luas cakupannya daripada Nama-Nama-Nya. Sifat Alloh ﷻ
terbagi menjadi 2 bagian besar:
[1] Sifat
Dzatiyyah: Sifat
yang terus-menerus ada pada Dzat Alloh ﷻ dan tidak pernah terpisah
dari-Nya, seperti Sifat Al-Hayat (Hidup), Al-Ilmu (Mengetahui), dan Al-Qudroh
(Kuasa).
[2] Sifat
Fi’liyyah: Sifat
perbuatan yang Alloh ﷻ
lakukan kapan pun Dia kehendaki, seperti Istiwa (bersemayam di atas ‘Arsy),
Nuzul (turun ke langit dunia), dan Al-Ghodhob (Marah).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ﴾
Dan Alloh
mempunyai Sifat yang Maha Tinggi; dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS.
An-Nahl: 60)
Ini adalah
asal. Lalu Sifat Alloh ditinjau dari penafian-penetapan dibagi: mutsbatah (ditetapkan)
dan manfiyah (ditiadakan seperti mengantuk). Lalu ditinjau dari
sumbernya dibagi: khobariyah (hanya dari Wahyu seperti di atas Arsy) dan
sam’iyyah aqliyyah (ditetapkan Wahyu dan akal, seperti berilmu). (Lihat
Shifatulloh Al-Waridah fil Kitab was Sunnah, Alawi Saqqof, hal. 31-33)
1.3
Contoh-Contohnya
[1] Nama Al-Hafizh
maknanya adalah Yang Maha Menjaga seluruh makhluk-Nya, mengawasi amal perbuatan
mereka, serta menjaga kekasih-kekasih-Nya dari dosa. Sifat yang terkandung di
dalamnya adalah al-hifzh (menjaga).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ﴾
Maka Alloh
adalah penjaga yang terbaik dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para
penyayang. (QS. Yusuf: 64)
[2] Nama Al-Hayyu
maknanya adalah Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak diawali
dengan ketiadaan dan tidak diakhiri dengan kemusnahan. Sifat yang terkandung di
dalamnya adalah al-hayat (kehidupan yang sempurna).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ﴾
Dan
bertawakallah kepada Yang Maha Hidup yang tidak mati. (QS. Al-Furqon: 58)
[3] Nama Al-Qoyyum
maknanya adalah Yang Maha Berdiri Sendiri, tidak membutuhkan bantuan makhluk
sedikit pun, dan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya untuk tetap ada. Sifat
yang terkandung di dalamnya adalah al-qoyyumiyyah (kemandirian mutlak).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ
الْقَيُّومُ﴾
Alloh,
tidak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi Maha
Berdiri Sendiri. (QS. Ali ‘Imron: 2)
[4] Al-Kalam
merupakan Sifat Dzatiyyah sekaligus Fi’liyyah bagi Alloh ﷻ. Dari
sisi ia senantiasa azali bersama Alloh, maka ia Dzatiyyah; dan dari sisi ia
sesuai kehendak Alloh kapan bicara maka ia Fi’liyyah.
Makna Kalam,
Alloh ﷻ
berbicara dengan suara dan huruf yang didengar oleh siapa yang Dia
kehendaki, sesuai dengan keagungan-Nya tanpa menyerupai makhluk.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا﴾
Dan Alloh
telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisa’: 164)
[5] Al-Mahabbah
adalah Sifat Fi’liyyah yang maknanya Alloh ﷻ mencintai hamba-hamba-Nya
yang beriman dan beramal sholih. Cinta Alloh ﷻ adalah hakiki, mendatangkan
ridho dan pahala, tidak boleh ditolak atau dita’wil menjadi sekadar “keinginan
memberi pahala”.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي
يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ﴾
Katakanlah:
Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi
dan mencintai kamu. (QS. Ali ‘Imron: 31)
[6] Sifat Al-Yadain
bagi Alloh ﷻ
adalah Sifat Dzatiyyah Khobariyyah (Sifat yang diketahui dari kabar Wahyu).
Maknanya, Alloh ﷻ
memiliki 2 tangan yang haqiqi sesuai keagungan-Nya, yang dengannya Dia
menciptakan Nabi Adam, membentangkan rizqi, dan menggenggam bumi pada hari
Qiyamah.
Nabi ﷺ bersabda:
«يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ
وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ
لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ، وَعَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ،
يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ»
Tangan
Alloh itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah yang diberikan terus-menerus, baik
di waktu malam maupun siang. Tahukah kalian apa yang telah Dia nafkahkan sejak
menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya hal itu tidak mengurangi apa yang ada
di tangan-Nya. Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air, sedangkan di tangan-Nya yang
lain ada timbangan urusan, Dia merendahkan dan meninggikan. (HR. Al-Bukhori
no. 7411 dan Muslim no. 993)
Mengimani
makna Nama dan Sifat Alloh ﷻ wajib berjalan di atas rel yang lurus, yaitu menetapkan
maknanya secara hakiki sebagaimana yang pantas bagi keagungan Alloh ﷻ,
tanpa melakukan tahrif (pengubahan makna), ta’thil (penolakan), takyif
(mempertanyakan bagaimananya), dan takyif (menyerupakan dengan makhluk).
Pengetahuan ini membuahkan rasa berharap (roja), takut (khouf),
serta cinta (mahabbah) yang mendalam di dalam hati seorang Mu’min.
[2] Beriman kepada Sifat Alloh
Tanpa Menolaknya
Imam
Asy-Syafi’i (204 H) berkata:
لِلَّهِ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ، وَأَخْبَرَ بِهَا
نَبِيُّهُ أُمَّتَهُ، لَا يَسَعُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى قَامَتْ عَلَيْهِ
الْحُجَّةُ رَدُّهَا؛
Alloh Tabaroka wa Ta’ala memiliki Nama-Nama dan
Sifat-Sifat yang disebutkan dalam Kitab-Nya, dan Rosul-Nya telah mengabarkannya
kepada umatnya. Tidak ada seorang pun dari makhluk Alloh Ta’ala yang
telah sampai kepadanya hujjah ini dibolehkan untuk menolaknya.
Syarah
Ucapan ini
merupakan pondasi dalam bab keimanan terhadap Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh ﷻ. Di
dalamnya terkandung kewajiban menetapkan seluruh Nama dan Sifat yang telah tsabit
(shohih) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa menolaknya, serta penegasan bahwa udzur
bil jahl (ketidaktahuan) itu terangkat bagi siapa saja yang telah sampai
kepadanya hujjah (penjelasan).
2.1
Wajibnya Beriman Kepada Nama dan Sifat Alloh
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ
بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Alloh memiliki
Nama-Nama yang paling baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Nama-Nama
itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam Nama-Nama-Nya.
Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS.
Al-A’rof: 180)
Ayat ini
menunjukkan kewajiban menetapkan Nama-Nama yang paling baik bagi Alloh ﷻ dan
beribadah kepada-Nya dengan Nama-Nama tersebut. Celaan dan ancaman adzab bagi
orang yang melakukan ilhad (penyimpangan/penolakan) terhadap Nama-Nama
Alloh ﷻ
menjadi dasar bahwa menolak Nama dan Sifat Alloh ﷻ setelah tegaknya hujjah
adalah perbuatan harom.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
Tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS.
Asy-Syuro: 11)
Ayat ini
merupakan pondasi dalam bab Sifat. Bagian pertama ayat menolak takyif
(penyerupaan Alloh dengan makhluk), sedangkan bagian kedua menetapkan Sifat
mendengar dan melihat bagi Alloh ﷻ. Istinbatnya adalah kewajiban
menetapkan Sifat tanpa melakukan ta’thil (penolakan) dan tanpa tasybih
(penyerupaan).
[3] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
Maka
janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Alloh.
Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl:
74)
Larangan
membuat penyerupaan bagi Alloh ﷻ karena ilmu makhluk sangat
terbatas. Konsekuensi dari hal ini adalah wajib menerima seluruh Nama dan Sifat
yang dikabarkan oleh-Nya karena Dia yang paling mengetahui tentang diri-Nya
sendiri.
[4] Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ
الْجَنَّةَ»
Sesungguhnya
Alloh memiliki 99 Nama, 100 kurang 1, siapa yang menghafal dan memahaminya maka
dia masuk Jannah. (HR. Al-Bukhori no. 2736 dan Muslim no. 2677)
Hadits ini
menunjukkan penetapan Nama-Nama bagi Alloh yang datang melalui lisan Rosul-Nya ﷺ. Makna “menghafal dan
memahami” mencakup menetapkan Nama-Nama tersebut, mengimaninya, dan
beribadah dengan konsekuensinya, bukan malah menolak atau menta’wilnya.
[5] Nabi ﷺ bersabda dalam doa beliau:
«أَسْأَلُكَ
بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ،
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ»
Aku memohon
kepada-Mu dengan setiap Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau Namai diri-Mu
dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan
kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghoib
di sisi-Mu. (HSR. Ahmad no. 3712)
Hadits ini
membagi Nama-Nama Alloh menjadi yang diturunkan dalam Kitab-Nya, yang diajarkan
melalui Rosul-Nya, dan yang ghoib. Ini menguatkan lafazh matan bahwa Al-Qur’an
dan Rosul-Nya adalah jalur penetapan Nama dan Sifat Alloh, serta menunjukkan
bahwa Nama-Nama Alloh tidak terbatas pada angka tertentu.
2.2
Menolak Setelah Tegak Hujjah
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبَعَثَ
رَسُولًا﴾
Dan Kami
tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rosul. (QS. Al-Isro’: 15)
Ayat ini
berkaitan erat dengan kalimat dalam matan “bagi siapa saja yang telah tegak
atasnya hujjah”. Alloh ﷻ tidak menuntut dan tidak mengadzab hamba-Nya sebelum diutusnya
Rosul dan sampainya risalah. Namun, begitu risalah dan dalil Al-Qur’an telah
sampai, maka hujjah dipandang telah tegak dan tidak ada udzur bagi siapa pun
untuk menolaknya.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
Dan siapa
yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang
bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang
telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Naar Jahannam, dan Jahannam
itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)
Ancaman
Naar bagi orang yang menyelisihi jalan para Shohabat dan menentang Rosul ﷺ setelah jelasnya petunjuk (tegaknya hujjah).
Menolak Nama dan Sifat yang dibawa oleh Rosul ﷺ termasuk
bentuk penentangan yang diancam dalam ayat ini.
[3] Nabi ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ
رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى
ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
Robb kita Tabaroka
wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku
kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku beri, siapa yang memohon
ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni. (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no.
758)
Hadits ini merupakan
contoh dari dalil penetapan Sifat fi’liyyah (perbuatan) bagi Alloh ﷻ,
yaitu Sifat nuzul (turun) ke langit dunia sesuai dengan keagungan-Nya. Hadits
ini wajib diterima apa adanya tanpa ta’thil dan tanpa tasybih,
karena yang mengabarkannya adalah utusan-Nya yang paling jujur.
Al-Fudhoil
bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata:
إِذَا
قَالَ لَكَ الْجَهْمِيُّ: أَنَا أَكْفُرُ بِرَبٍّ يَنْزِلُ عَنْ مَكَانِهِ، فَقُلْ:
أَنَا أُومِنُ بِرَبٍّ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
Jika orang
Jahmiyyah berkata kepadamu: “Aku kufur kepada Robb yang turun dari tempatnya,”
maka katakanlah: “Aku beriman kepada Robb yang melakukan apa saja yang Dia
kehendaki.” (Syarhu Ushul, Al-Lalikai, 28/19)
Perkataan
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) adalah ijma’ (kesepakatan) Salaf dalam menolak pemikiran Jahmiyyah
yang suka menolak Sifat-Sifat Alloh ﷻ dengan akal mereka. Kaum
Salaf menetapkan Sifat turun bagi Alloh ﷻ karena dalilnya telah datang
dari Rosul ﷺ,
dan menolaknya merupakan ciri bid’ah.
Ibnu Syihab
Az-Zuhri (124 H) rohimahulloh berkata:
مِنَ
اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
Dari Alloh
datangnya risalah, kewajiban Rosul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita
adalah pasrah menerima. (Kholqu Af’alil Ibad, Al-Bukhori, hal. 76)
Ucapan
Az-Zuhri (124 H) ini merupakan kaidah agung yang mendasari kalimat terakhir
matan “tidak ada kelonggaran bagi seorang pun dari makhluk Alloh... untuk
menolaknya”. Ketika risalah yang membawa berita Nama dan Sifat Alloh telah
sampai, satu-satunya kewajiban makhluk adalah taslim (pasrah menerima)
dan dilarang keras melakukan rodd (penolakan).
Sumber penetapan
Nama dan Sifat Alloh ﷻ
hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketika dalil-dalil tersebut telah sampai
kepada seorang mukallaf (orang yang terbebani syariat), maka gugurlah udzur
kebodohannya, dan dia wajib tunduk serta mengimani seluruh Nama dan Sifat
tersebut tanpa melakukan penolakan sedikit pun.
[3] Sumber Memahami Sifat Alloh
Imam
Asy-Syafii berkata:
لِأَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِهَا، وَصَحَّ عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ الْقَوْلُ بِهَا فِيمَا رَوَى عَنْهُ الْعَدْلُ
Karena Al-Qur’an diturunkan berisi Sifat-Sifat itu,
dan telah shohih dari Nabi ﷺ perkataan tentangnya dalam
riwayat yang disampaikan oleh orang yang adil.
Syarah
Ini
merupakan penegasan mengenai dua jalur utama yang sah dan ma’shum
(terjaga) dalam menetapkan Aqidah, khususnya bab Nama dan Sifat Alloh ﷻ. Dua
jalur tersebut adalah Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shohihah yang
diriwayatkan oleh para rowi yang adil. Di dalam syariat, tidak ada ruang bagi
akal atau rasa untuk mengada-adakan hal baru dalam urusan ghoib tanpa bersandar
pada dua Wahyu ini.
3.1
Al-Qur’an Diturunkan Agar Ditadabburi
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ
لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
Ini adalah
sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka
memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang
mempunyai pikiran. (QS. Shod: 29)
Ayat ini
menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar ayat-ayatnya ditadabburi
(difikirkan dan dipahami maknanya). Karena Al-Qur’an dipenuhi dengan kabar
tentang Nama dan Sifat Alloh ﷻ, maka kewajiban hamba adalah menetapkan makna-makna tersebut
sesuai dengan apa yang diturunkan, tanpa menyimpang darinya.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴾
Diturunkan
dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. Fusshilat: 2)
﴿وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
Dan
sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. (QS.
Asy-Syu’aro’: 192)
Kedua ayat
ini menegaskan bahwa Sifat turun (tanzil) disandarkan langsung kepada
Al-Qur’an yang berasal dari Alloh ﷻ. Istinbat hukumnya adalah
kedudukan Al-Qur’an sebagai hujjah tertinggi yang wajib diikuti dalam seluruh
bab agama, karena ia datang langsung dari Robb yang paling mengetahui tentang
diri-Nya sendiri.
3.2
Kewajiban Mengambil Hadits
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ﴾
Dan
tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu
tiada lain hanyalah Wahyu yang diWahyukan. (QS. An-Najm: 3-4)
Ayat ini
menetapkan Sifat ma’shum bagi setiap ucapan Nabi ﷺ dalam urusan syariat dan Aqidah. Segala Sifat
Alloh ﷻ
yang beliau kabarkan statusnya sama dengan Al-Qur’an, yaitu sama-sama bersumber
dari Wahyu Alloh ﷻ,
sehingga menolak Hadits shohih sama saja dengan menolak Wahyu.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا
نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا﴾
Apa yang
diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)
Perintah
mengambil (fakhudzuhu) apa saja yang dibawa oleh Rosul ﷺ berSifat umum, mencakup hukum syariat maupun
kabar Aqidah. Menolak Hadits shohih yang berisi Sifat-Sifat Alloh ﷻ
merupakan pelanggaran langsung terhadap perintah ayat ini.
3.3
Wajibnya Menerima dari Tsiqot Meskipun Satu Orang
Tsiqot
adalah para rowi yang akurat dan jujur dalam menyampaikan dan mengambil
riwayat. Apapun yang shohih dari mereka wajib diambil.
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ
فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ
مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾
Hai
orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu
berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah
kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal
atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurot: 6)
Mafhum
mukholafah (makna
kebalikan) dari ayat ini adalah: jika yang membawa berita tersebut bukan orang
fasik, melainkan seorang yang adil (al-’adl), maka beritanya wajib
langsung diterima dan diamalkan tanpa perlu tawaqquf (ragu-ragu/meneliti
ulang). Ini adalah dalil pokok diterimanya khobar wahid dalam masalah Aqidah.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً
ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ
طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا
إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya. Mengapa tidak
pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya. (QS. At-Taubah: 122)
Kata thoifah
dalam bahasa Arob bisa bermakna satu orang atau lebih. Alloh ﷻ
menjadikan peringatan dan ilmu yang dibawa oleh satu kelompok kecil (bahkan
satu orang yang adil) sebagai hujjah yang wajib dengannya kaum lain merasa
takut (yahdzarun). Menakuti manusia dengan ancaman Alloh ﷻ dan Sifat-Sifat-Nya
melalui lisan rowi yang adil adalah sah dan wajib diterima.
[3] Nabi ﷺ bersabda dalam khutbah beliau:
«نَضَّرَ
اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ
أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»
Semoga
Alloh mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia
menyampaikannya persis seperti yang dia dengar, karena bisa jadi orang yang
dikabari lebih paham daripada yang mendengar langsung. (HSR. At-Tirmidzi no.
2657)
Hadits ini
menunjukkan legalitas penukilan sunnah oleh individu per individu (imro’an
yang bermakna tunggal). Nabi ﷺ
mendoakan dan
memerintahkan penyampaian syariat lewat jalur perorangan, yang mencakup
penyampaian kabar tentang Nama dan Sifat Alloh ﷻ.
Dari
Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Ketika
orang-orang sedang sholat Shubuh di Masjid Quba, tiba-tiba datang seseorang
kepada mereka dan berkata: Sesungguhnya Rosulullah ﷺ telah diturunkan Wahyu Al-Qur’an kepadanya
malam ini, dan beliau telah diperintahkan untuk menghadap Ka’bah, maka
menghadaplah ke sana. Saat itu wajah mereka sedang menghadap ke negeri Syam,
maka mereka pun langsung berputar menghadap Ka’bah. (HR. Al-Bukhori no. 403
dan Muslim no. 526)
Para
Shohabat di Masjid Quba langsung menerima kabar pengalihan kiblat (yang
merupakan urusan hukum syariat besar) hanya berdasarkan penuturan satu orang
lelaki yang adil yang mendatangi mereka. Kejadian ini terjadi di zaman Nabi ﷺ dan dibenarkan oleh syariat, menunjukkan bahwa khobar
dari satu orang yang adil membangun keyakinan dan kewajiban amal.
Kelompok
ahli kalam yang menolak Sifat-Sifat Alloh ﷻ dengan alasan Haditsnya
berstatus wahid (bukan mutawatir). Selama Al-Qur’an telah menyebutkannya, dan Hadits
shohih dari orang yang adil telah menetapkannya, maka hujjah telah tegak dengan
sempurna atas seluruh makhluk.
[4] Kekafiran Setelah Tegak Hujjah
فَإِنْ
[خَانَ اللَّهَ] بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ بِهِ فَهُوَ كَافِرٌ،
Jika seseorang mengkhianati Alloh (dengan menolak tersebut)
setelah tegaknya hujjah atasnya, maka ia kafir.
Syarah
Lafazh
matan ini merupakan konsekuensi logis dari poin-poin sebelumnya. Setelah
dijelaskan bahwa Nama dan Sifat Alloh ﷻ telah tsabit (shohih) berdasarkan
Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dibawa oleh rowi yang adil, serta hujjah telah
tegak secara sempurna kepada seorang mukallaf, maka siapa yang mengambil jalan
untuk menolak, menentang, atau mengkhianati apa yang datang dari Alloh ﷻ,
statusnya dapat jatuh ke dalam kekufuran.
4.1
Penghianatan dan Kekufuran
Kata khonalloh
[خَانَ
اللَّهَ]
dalam konteks bab Aqidah dan Sifat di sini bermakna: menyelisihi, membelakangi,
atau menolak kebenaran setelah dia mengetahuinya. Pengkhianatan di sini bukan
berarti menyembunyikan rahasia, melainkan merusak ikatan keimanan yang
semestinya dibangun di atas taslim (pasrah menerima) terhadap berita
dari Alloh ﷻ.
Menolak Nama dan Sifat Alloh ﷻ setelah tegaknya hujjah
disamakan dengan pengkhianatan karena hamba tersebut tidak amanah terhadap ilmu
yang telah sampai kepadanya.
Alloh
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا
اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul dan
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat kamu, sedang kamu mengetahui. (QS.
Al-Anfal: 27)
Larangan
mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya ﷺ dikaitkan
dengan kalimat “sedang kamu mengetahui”. Ini menunjukkan bahwa pelanggaran yang
dilakukan dengan sengaja di atas pondasi ilmu (setelah tegaknya hujjah)
memiliki konsekuensi hukum yang sangat berat di sisi syariat.
4.2
Syarat Takfir Adalah Setelah Tegaknya Hujjah
Kalimat “setelah
tetapnya hujjah atasnya” (ba’da tsubutil hujjahi ‘alaihi) merupakan
syarat mutlak dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebelum menjatuhkan vonis
kufur kepada person tertentu (takfir mu’ayyan). Seseorang tidak dihukumi
kafir semata-mata karena dia salah atau tidak tahu, melainkan hukum itu berlaku
ketika kebenaran telah dijelaskan kepadanya, syubhatnya telah dihilangkan,
namun dia tetap bersikeras menolaknya karena sombong atau mengikuti hawa nafsu.
Hanya ulama yang berhak menjatuhkan vonis bukan penuntut ilmu atau netizen.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا
تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا
تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
Dan siapa
yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti
jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)
Ayat ini
menetapkan ancaman masuk Jahannam bagi orang yang menentang Rosul ﷺ “sesudah jelas kebenaran baginya” (min ba’di ma tabayyana lahul
huda). Kalimat ini senada dengan “setelah tetapnya hujjah atasnya”
dalam matan, yang menjadi dalil bahwa penolakan setelah datangnya penjelasan
adalah pembatal keislaman.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ
مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) sesudah petunjuk itu jelas
bagi mereka, syaithon telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan
mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS. Muhammad: 25)
Alloh ﷻ meNamai
perbuatan kembali ke belakang setelah jelasnya petunjuk sebagai bentuk murtad
(keluar dari Islam). Penolakan terhadap Sifat-Sifat Alloh ﷻ yang
termaktub di dalam Al-Qur’an setelah seseorang paham maknanya termasuk ke dalam
cakupan ayat ini.
Ishaq bin
Rohuyah (238 H) rohimahulloh berkata:
«مَنْ
بَلَغَهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ خَبَرٌ يُقِرُّ بِصِحَّتِهِ ثُمَّ رَدَّهُ بِغَيْرِ تَقِيَّةٍ
فَهُوَ كَافِرٌ»
Siapa yang
telah sampai kepadanya sebuah kabar dari Nabi ﷺ yang
dia mengakui keshohihannya, kemudian dia menolaknya tanpa ada rasa takut
(terpaksa), maka dia adalah kafir. (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Ibnu Hazm, 1/97)
Ucapan
Ishaq bin Rohuyah (238 H) ini mematok hukum kafir secara tegas bagi siapa saja
yang melakukan rodd (penolakan) terhadap Hadits shohih setelah dia tahu
bahwa Hadits itu shohih. Ini termasuk makna “setelah tetapnya hujjah
atasnya, maka dia kafir” yang dimaksud di dalam matan.
Matan ini
memberikan batasan yang adil dan selamat: di satu sisi, ia tidak bermudah-mudah
mengafirkan orang awam yang belum tahu atau salah paham karena belum sampainya
ilmu; namun di sisi lain, ia bersikap tegas kepada ahli bid’ah yang sengaja
menolak ayat dan Hadits shohih tentang Sifat Alloh ﷻ setelah diterangkan hujjah
kepada mereka secara gamblang.
[5] Udzur karena Jahil
فَأَمَّا
قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ [مِنْ جِهَةِ الْخَبَرِ] [فَمَعْذُورٌ] بِالْجَهْلِ؛
لِأَنَّ عِلْمَ اللَّهِ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ، وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ.
Adapun sebelum tegaknya hujjah (dari segi Hadits),
maka ia dimaafkan karena ketidaktahuan. Hal itu disebabkan ilmu Alloh tidak
dapat diraih dengan akal, dan tidak pula dengan pandangan atau pikiran.
Syarah
Kalimat
matan ini merupakan oase keadilan dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di
dalamnya terkandung kaidah agung mengenai rohmat dan keadilan Alloh ﷻ yang
tidak mengadzab hamba-Nya sebelum tegaknya hujjah, serta batasan tegas akal
manusia yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ghoib secara mandiri.
5.1
Belum Sampainya Hadits
فَأَمَّا
قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ [مِنْ جِهَةِ الْخَبَرِ] [فَمَعْذُورٌ] بِالْجَهْلِ؛
Alloh ﷻ
membangun syariat ini di atas pondasi keadilan, di mana Dia tidak menuntut
seorang hamba atas suatu kewajiban yang belum pernah ia dengar informasinya. Matan
ini menegaskan bahwa sebelum hujjah tegak secara nyata—yakni melalui jalur khobar
berupa diutusnya para Rosul dan diturunkannya Kitab-Kitab suci—maka seorang
hamba dinilai ma’dzur (mendapatkan udzur) atas ketidaktahuannya.
Islam tidak
menghukum seseorang yang hidup di pedalaman yang jauh, atau masa kekosongan
Rosul (fatroh), yang tidak pernah mendengar ayat Al-Qur’an maupun Hadits
Nabi ﷺ
mengenai Nama dan Sifat-Sifat-Nya.
Ketika ilmu belum sampai ke telinga mereka, kesalahpahaman atau ketiadaan
makrifat mereka dimaafkan oleh syariat.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ
وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ»
Dan tidak
ada satu pun yang lebih menyukai alasan (memberi udzur kepada hamba-Nya)
daripada Alloh, karena itulah Dia mengutus para pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan. (HR. Muslim no. 2760)
Hadits yang
agung ini menetapkan bahwa Alloh ﷻ sangat suka memberikan udzur
dan kelonggaran bagi hamba-Nya yang belum tahu. Bentuk kasih sayang-nya ini
diwujudkan dengan tidak mengadzab mereka sebelum dikirimkannya khobar lewat
para Nabi, yang selaras dengan penegasan matan di atas.
5.2
Keterbatasan Akal Menjangkau Ilmu Ghoib
لِأَنَّ
عِلْمَ اللَّهِ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ،
Kalimat ini
menjadi tamparan keras bagi kaum rasionalis yang mendewakan logika dalam urusan
Aqidah. Mengapa seorang hamba dimaafkan sebelum adanya khobar? Jawabannya
adalah karena ilmu tentang Dzat dan Sifat-Sifat Alloh ﷻ merupakan perkara ghoib yang
sama sekali tidak akan pernah bisa dijangkau oleh akal manusia sendirian.
Akal
manusia diciptakan dengan kapasitas yang terbatas; ia laksana mata yang hanya
bisa melihat objek jika ada cahaya. Di dalam bab Aqidah, cahaya tersebut adalah
Wahyu. Tanpa adanya bimbingan Wahyu, akal yang paling cerdas sekalipun di dunia
ini tidak akan pernah tahu bahwa Robb mereka berada di atas ‘Arsy, atau bahwa
Dia memiliki Sifat turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Oleh
karena itu, sandaran utama dalam bab ini adalah pasrah kepada teks Wahyu, bukan
mendiktekannya dengan akal.
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا
يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهَ عَزِيزًا حَكِيمًا﴾
Mereka Kami
utus sebagai Rosul-Rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar
tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Alloh sesudah diutusnya
Rosul-Rosul itu. Dan Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’:
165)
Ayat ini
menunjukkan dengan gamblang bahwa sebelum diutusnya para Rosul, manusia
memiliki hujjah (alasan/udzur) di hadapan Alloh ﷻ berupa ketidaktahuan mereka.
Kesimpulannya,
status ma’dzur bil jahl (dimaafkan karena bodoh) adalah tsabit
berdasarkan nas Al-Qur’an sampai hujjah itu tegak melalui lisan para Rosul.
[2] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا﴾
Sedang ilmu
mereka tidak dapat meliputi-Nya. (QS. Tho-Ha: 110)
Manusia
dilarang dan dinyatakan tidak akan pernah mampu mengelilingi atau meliputi Dzat
serta Sifat Alloh ﷻ
dengan ilmu mereka sendiri. Istinbat dari ayat ini adalah batasan tegas bagi
akal dan pikiran agar tidak melampaui batas dalam memikirkan kaifiyah
(bagaimananya) Sifat-Sifat Robb mereka.
5.3
Mustahil Mengetahui Sifat Alloh Melalui Indera dan Khayalan
وَلَا
بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ.
Poin
terakhir ini menutup seluruh celah spekulasi makhluk dalam menggambarkan
penciptanya. Pengetahuan tentang Sifat sesuatu biasanya didapatkan melalui tiga
jalur: melihat langsung objeknya, melihat yang sepadan dengannya, atau
mendapatkan kabar yang jujur tentangnya.
Karena di
dunia ini manusia tidak bisa melihat Alloh ﷻ secara langsung (ar-ru’yah),
dan tiada satu pun makhluk yang serupa dengan-Nya untuk dijadikan perbandingan,
maka jalur pengamatan indera menjadi buntu. Begitu pula dengan daya khayal atau
kontemplasi pikiran (al-fikr); secanggih apa pun pikiran manusia
merenung, ia tidak akan pernah bisa menebak bagaimanakah Sifat kesempurnaan
Alloh ﷻ
yang hakiki. Ketika ru’yah tidak ada dan fikr tidak mampu
menjangkau, maka satu-satunya jalan keselamatan yang tersisa bagi manusia
adalah bersandar total kepada khobar (berita) yang dibawa oleh Al-Qur’an dan
As-Sunnah Ash-Shohihah.
Rangkaian
kalimat matan ini mengajari kita dua hal utama dalam beragama: bersikap rohmah
kepada makhluk yang belum sampai ilmu kepadanya, dan bersikap tahu diri di
hadapan keagungan Robb dengan tidak membiarkan akal liar mengotak-atik Sifat-Sifat
ghoib yang tidak ada rujukan Wahyunya.
[6] Sebagian Contoh Nama dan Sifat
وَنَحْوُ
ذَلِكَ إِخْبَارُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:
Contohnya adalah pemberitahuan Alloh Subhanahu wa Ta’ala
bahwa:
Syarah
Kalimat ini
merupakan kalimat jembatan atau peralihan. Setelah sang imam meletakkan pondasi
kaidah ushul bahwa seluruh Nama dan Sifat wajib ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an
dan As-Sunnah, serta akal tidak memiliki kuasa untuk mengada-ada, maka beliau
mulai masuk ke dalam ranah aplikatif dengan menyajikan contoh-contoh nyata ayat
Al-Qur’an yang berisi Sifat-Sifat Alloh ﷻ.
Beliau
menyebutkan 10 pembahasan yaitu
1. As-Samii dan Al-Bashiir
2. Dua Tangan
3. Wajah
4. Kaki
5. Tertawa
6. Turun
7. Mata
8. Alloh dilihat
di Akhiroh
9. Jari
10. Kalamulloh
[7] As-Samii’ dan Al-Bashiir
أَنَّهُ
سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Syarah
7.1
Makna Nama As-Samii’ dan Al-Bashiir
As-Samii’ artinya Yang Maha Mendengar. Makna
ini mencakup pendengaran Alloh ﷻ yang meliputi segala macam
suara di alam semesta ini, baik yang lahir maupun yang batin, yang keras maupun
yang lirih. Tidak ada satu suara pun yang luput dari pendengaran-Nya.
Al-Bashiir artinya Yang Maha Melihat. Makna
ini mencakup penglihatan Alloh ﷻ yang meliputi segala sesuatu
yang ada di alam raya ini, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang besar
maupun yang sangat kecil. Alloh ﷻ melihat semut hitam yang
kecil melangkah di atas batu yang hitam pekat di kegelapan malam.
Dari kedua Nama
yang agung ini, ditetapkan dua Sifat bagi Alloh ﷻ, yaitu Sifat mendengar
(sam’) dan Sifat melihat (bashor). Kedua Sifat ini adalah Sifat
dzatiyyah (Sifat yang terus-menerus ada pada diri Alloh ﷻ)
yang sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun, dan tidak sama dengan
pendengaran serta penglihatan makhluk.
7.2
Dalil-Dalil dari Al-Qur’an
Alloh ﷻ
telah menyebutkan kedua Nama ini secara bergandengan di berbagai tempat dalam Kitab-Nya
yang mulia untuk menegaskan kesempurnaan pengawasan-Nya terhadap seluruh
makhluk.
Dalil
pertama:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS.
Asy-Syuro: 11)
Dalil
kedua:
﴿إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Alloh Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Dalil
ketiga mengenai pendengaran Alloh ﷻ secara khusus terhadap aduan
hamba-Nya:
﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ
فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ﴾
“Sungguh,
Alloh telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang
suaminya, dan adukan masalahnya kepada Alloh, dan Alloh mendengar percakapan
antara kamu berdua. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)
7.3
Dalil-Dalil dari Hadits
Para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum diajarkan oleh Nabi ﷺ untuk memahami bahwa pendengaran dan
penglihatan Alloh ﷻ
sangat dekat, sehingga manusia tidak perlu mengeraskan suara secara berlebihan
saat berdoa.
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami bersama
Rosululloh ﷺ
dalam suatu perjalanan.
Ketika orang-orang berada di tempat yang tinggi, mereka mengencangkan
suara takbir mereka: Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa ilaha illalloh.
Maka Rosululloh ﷺ
bersabda:
«ارْبَعُوا
عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ
سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ»
“Kasihanilah
diri kalian, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada zat yang tuli dan tidak
pula zat yang ghoib (tidak ada). Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Maha
Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia bersama kalian (pengawasan-Nya).” (HR. Al-Bukhori no. 4205 dan
Muslim no. 2704)
Abu Yunus
Sulaim bin Jubair (123 H) rohimahulloh, budak yang dimerdekakan oleh Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Abu
Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu membaca ayat ini:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا
الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا﴾
“Sesungguhnya
Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58) sampai
kepada firman-Nya Ta’ala:
﴿سَمِيعًا بَصِيرًا﴾
“Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)
Beliau
berkata:
«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَضَعُ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ، وَالَّتِي
تَلِيهَا عَلَى عَيْنِهِ»
“Aku
melihat Rosululloh ﷺ
meletakkan ibu jarinya
pada telinganya, dan jari yang mengiringinya (jari telunjuk) pada matanya.”
Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقْرَؤُهَا وَيَضَعُ إِصْبَعَيْهِ»
“Aku
melihat Rosululloh ﷺ
membacanya dan
meletakkan kedua jarinya.”
Al-Muqri
(159 H) rohimahulloh berkata: “Maksudnya adalah sesungguhnya Alloh Maha
Mendengar lagi Maha Melihat, artinya sesungguhnya Alloh memiliki pendengaran
dan penglihatan.”
Abu Dawud
(275 H) rohimahulloh berkata: “Dan ini adalah bantahan terhadap
kaum Jahmiyyah (kelompok yang menolak Sifat-Sifat Alloh).” (HSR. Abu
Dawud no. 4728)
Perkataan
Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha ketika mengomentari
turunnya surat Al-Mujadilah, beliau berkata:
«الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ، لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى
النَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ تَشْكُو زَوْجَهَا، وَمَا أَسْمَعُ مَا
تَقُولُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا﴾»
Segala puji
bagi Alloh yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Sungguh telah datang
wanita yang menggugat itu kepada Nabi ﷺ dan aku
berada di sudut rumah, dia mengadukan suaminya, dan aku tidak mendengar apa
yang dia ucapkan, lalu Alloh ‘Azza wa Jalla menurunkan: “Sungguh,
Alloh telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang
suaminya.” (HSR. Ibnu Majah no. 188)
Dua Nama
Alloh ini (As-Samii’ dan Al-Bashiir) mewakili semua Nama-Nya yang begitu
banyak. Nabi ﷺ
bersabda dalam doa
beliau:
«أَسْأَلُكَ
بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ،
أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ»
Aku memohon
kepada-Mu dengan setiap Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau Namai diri-Mu
dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan
kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghoib
di sisi-Mu. (HSR. Ahmad no. 3712)
[8] Dua Tangan Alloh
وَأَنَّ
لَهُ يَدَيْنِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾
Dan bahwa Dia memiliki dua Tangan dengan Firman-Nya Ta’ala:
“Bahkan kedua Tangan-Nya terbentang.” (QS. Al-Ma’idah: 64)
وَأَنَّ
لَهُ يَمِينًا بِقَوْلِهِ: ﴿وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتُ بِيَمِينِهِ﴾
Dan bahwa Dia memiliki Tangan Kanan dengan Firman-Nya:
“Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
Syarah
Sifat
Tangan bagi Alloh ﷻ
adalah salah satu pembahasan penting dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah,
khususnya dalam memahami ayat-ayat dan Hadits-Hadits shifat (Sifat-Sifat
Alloh).
Ahlus
Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa Alloh ﷻ memiliki dua Tangan yang
sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat
Dzatiyyah Khobariyyah.
Sifat
Dzatiyyah artinya Sifat yang terus-menerus ada pada dzat Alloh, tidak
terpisahkan dari-Nya.
Sifat
Khobariyyah artinya Sifat yang landasan penetapannya semata-mata berdasarkan
khobar (Wahyu) dari Al-Qur’an dan Hadits, bukan Sam’iyyah Aqliyyah (Wahyu yang
didukung akal seperti Hidup).
Penetapan Sifat
Tangan ini didasarkan pada banyak dalil yang shohih, di antaranya:
1. Dalil
Al-Qur’an
Alloh ﷻ
berfirman ketika mencela perkataan orang Yahudi:
﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ
ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا
ۛ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ
يَشَاءُ﴾
“Orang-orang
Yahudi berkata, “Tangan Alloh terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu
dan mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Tidak
demikian, bahkan kedua Tangan-Nya terbuka melimpahkan kemurahan, Dia
menafkahkan rizqi sebagaimana yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Ma’idah: 64)
Alloh ﷻ juga
berfirman kepada Iblis:
﴿قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ
لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ﴾
Alloh
berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada apa yang telah
Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah
kamu termasuk orang-orang yang merasa tinggi?” (QS. Shod: 75)
2. Dalil Hadits
Rosululloh ﷺ bersabda menggambarkan kemurahan Robb:
«يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا
نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»
“Tangan
Alloh itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah (yang diberikan-Nya), selalu
mengalirkan pemberian baik siang maupun malam.” (HR. Al-Bukhori no. 7411 dan
Muslim no. 993)
Dalam Hadits
lain mengenai syafaat, para manusia mendatangi Nabi Adam ‘alaihis salam
dan berkata:
«يَا
آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ»
“Wahai
Adam, engkau adalah bapak seluruh manusia, Alloh telah menciptakanmu dengan
Tangan-Nya.” (HR.
Al-Bukhori no. 4712)
8.1
Kaidah dalam Memahami Sifat Tangan Alloh
Dalam
menetapkan Sifat Tangan bagi Alloh ﷻ, para ulama Salaf memegang
erat empat kaidah utama agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan:
[1] Tanpa
Tahrif (Mengubah): Tidak boleh mengubah makna Tangan (Yad) menjadi
kekuasaan (qudroh) atau ni’mat. Jika Alloh bermaksud kekuasaan, niscaya
tidak akan disebutkan dalam bentuk dua Tangan (biyadayya) pada
penciptaan Adam, karena kekuasaan Alloh adalah satu kesatuan dan makhluk lain
pun diciptakan dengan kekuasaan-Nya.
[2] Tanpa
Ta’thil (Menolak): Tidak boleh menolak Sifat ini dengan menganggap
Alloh tidak memiliki Tangan sama sekali. Menolak Sifat yang ditetapkan oleh
Alloh dan Rosul-Nya adalah bentuk kelancangan terhadap Wahyu.
[3] Tanpa
Takyif (Menanyakan Bagaimananya): Tidak boleh mereka-reka,
menggambarkan, atau mempertanyakan bagaimana bentuk, ukuran, rupa, atau cara
Tangan Alloh tersebut. Hakikat kaifiyah (cara/bentuk) Sifat Alloh hanya
diketahui oleh Alloh sendiri.
[4] Tanpa
Takyif (Menyerupakan): Tidak boleh menyerupakan Tangan Alloh dengan
tangan makhluk-Nya. Maha Suci Alloh dari keserupaan dengan makhluk.
Landasan
agung dalam hal ini adalah firman Alloh ﷻ:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS.
Asy-Syuro: 11)
8.2
Karakteristik Sifat Tangan Alloh
Berdasarkan
penuturan Al-Qur’an dan Hadits yang shohih, Tangan Alloh memiliki karakteristik
nyata yang menunjukkan bahwa Sifat ini bukan kiasan (majaz):
[1] Berjumlah
Dua: Sebagaimana lafazh tastniyah (menunjukkan jumlah dua) dalam Al-Qur’an:
﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾
“Bahkan
kedua Tangan-Nya terbuka.”
Jika
disebutkan tunggal, maka maksudnya jenis bukan jumlah, dan jika disebutkan
jamak maka maksudnya kiasan yang menetapkan jenis.
[2] Kedua
Tangan-Nya adalah Kanan: Rosululloh ﷺ menjelaskan
bahwa tidak ada kekurangan pada Tangan Alloh, keduanya penuh kebaikan dan
berkah. Beliau ﷺ
bersabda:
«وَكِلْتَا
يَدَيْهِ يَمِينٌ»
“Dan
kedua Tangan-Nya adalah kanan (penuh kebaikan dan kemuliaan).” (HR. Muslim no. 1827)
Ahli ilmu
berbeda pendapat apakah salah satunya kiri? Akan dibahas lebih dalam setelah
ini.
[3] Menggenggam
dan Melipat: Pada hari Qiyamah, Alloh ﷻ akan melipat langit dan bumi
dengan Tangan-Nya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
“Padahal
bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Qiyamah dan langit digulung
dengan Tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)
[4] Menulis:
Alloh ﷻ
menulis Taurot untuk Nabi Musa ‘alaihis salam langsung dengan
Tangan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Hadits perdebatan Nabi Adam dan Nabi
Musa:
«خَطَّ
لَكَ [التَّوْرَاةَ] بِيَدِهِ»
“Alloh
telah menuliskan Taurot untukmu dengan Tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 6614 dan Muslim no.
2652)
[5] Menanam:
Alloh ﷻ
menanam pohon di Jannah ‘Adn langsung dengan Tangan-Nya, sebagaimana disebutkan
dalam Hadits:
«خَلَقَ
اللهُ ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ: خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ، وَكَتَبَ التَّوْرَاةَ
بِيَدِهِ، وَغَرَسَ الْفِرْدَوْسَ بِيَدِهِ»
“Alloh ‘Azza
wa Jalla menciptakan 3 hal dengan Tangan-Nya: menciptakan Adam dengan
Tangan-Nya, menulis Taurot dengan Tangan-Nya, dan menanam Jannah Firdaus dengan
Tangan-Nya.” (HR.
Ad-Daruquthni dalam Ash-Shifat no. 28 dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma was Shifat
no. 692. Shohih mursal)
8.3
Ucapan Ulama Salaf
Para ulama
terdahulu telah sepakat menetapkan Sifat ini sebagaimana datangnya dalam teks Wahyu
tanpa berbuat melampaui batas akal.
Abu Bakr
Al-Isma’ili (371 H) berkata dalam I’tiqod Aimmatil Hadits (hal. 51): “(Mereka
meyakini) Dia menciptakan Adam ’alaihissalam dengan
Tangan-Nya. Kedua Tangan-Nya terbentang luas; Dia memberi rezeki
sekehendak-Nya. Ini diyakini tanpa memikirkan atau bertanya “bagaimana” bentuk
kedua Tangan-Nya, sebab Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan perihal
“bagaimana”-nya itu. Mereka tidak meyakini adanya a’dho (organ
tubuh) dan jawarih (anggota badan). Mereka juga tidak
membayangkan adanya ukuran panjang, lebar, tebal, tipis, atau hal-hal semacam
itu yang serupa dengan makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.
Maha Suci Wajah Robb kita, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
Mereka juga tidak mengatakan bahwa Nama-Nama
Allah ’Azza wa Jalla adalah makhluk, sebagaimana yang diyakini
oleh kaum Mu’tazilah, Khowarij, dan kelompok-kelompok ahlul ahwa’ (pengekor
hawa nafsu) lainnya.”
Harb bin
Ismail Al-Kirmani (280 H) dalam Ijmaus Salaf fil I’tiqod (Kesepakatan
Salaf dalam Aqidah) berkata: “Alloh mengeluarkan satu kaum dari Naar (Neraka)
dengan Tangan-Nya.”
8.4 Tangan Kanan dan Kiri?
Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa Alloh ﷻ memiliki 2 tangan, dan salah satu dari kedua tangan-Nya adalah
tangan kanan; lalu apakah tangan yang satunya lagi diSifatkan dengan tangan
kiri? Ataukah kedua tangan-Nya
adalah tangan kanan?
Pertama: Para ulama yang menetapkan Sifat
tangan kiri atau tangan sebelah kiri.
Di antara
mereka adalah: Imam Utsman bin Said Ad-Darimi (280 H), Abu Ya’la Al-Farro’ (458
H), Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H), Shiddiq Hasan Khon (1307 H), Muhammad
Kholil Al-Harros (1395 H), Abdullah Al-Ghunaiman.
Kedua: Para ulama yang berpendapat bahwa
kedua tangan Alloh adalah tangan kanan, tidak ada Sifat tangan kiri maupun
tangan sebelah kiri pada keduanya
Di antara
mereka adalah: Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) dalam kitab At-Tauhid, Imam
Ahmad (241 H), Al-Baihaqi (458 H), dan Al-Albani (1420 H).
Syaikh
Al-Albani rohimahulloh ditanya dalam Majalah Al-Asholah (Nomor 4,
Halaman 68):
Bagaimana
kita memadukan antara riwayat dengan tangan kiri-Nya yang terdapat dalam Hadits
Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma dalam Shohih Muslim dengan sabda Nabi ﷺ kedua tangan-Nya adalah tangan kanan?
Jawaban:
Tidak ada pertentangan antara kedua Hadits tersebut sejak awal; karena sabda
Nabi ﷺ:
«وَكِلْتَا
يَدَيْهِ يَمِينٌ»
“dan
kedua tangan-Nya adalah tangan kanan” (HR. Muslim no. 183)
Merupakan
penguat bagi firman Alloh ﷻ:
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ﴾
“Tidak
ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.” (QS.
Asy-Syuro: 11)
Maka Sifat
yang dikabarkan oleh Rosululloh ﷺ ini
adalah penguat untuk penyucian Alloh, sehingga tangan Alloh tidaklah seperti
tangan manusia: tangan kiri dan tangan kanan, melainkan kedua tangan-Nya Yang
Maha Suci adalah tangan kanan.
Perkara
lainnya, bahwa riwayat dengan tangan kiri-Nya adalah riwayat yang syadz (ganjil/menyelisihi
riwayat yang lebih kuat); sebagaimana telah saya jelaskan dalam Takhrij
Al-Mushtholahat Al-Arba’ah Al-Waridah fil Qur’an (Nomor 1) karya
Al-Maududi.
Hal ini
diperkuat oleh kenyataan bahwa Abu Dawud (275 H) meriwayatkannya dan beliau
berkata: dengan tangan-Nya yang lain, sebagai ganti dari lafazh: dengan tangan
kiri-Nya, dan lafazh inilah yang sesuai dengan sabda Nabi ﷺ kedua tangan-Nya adalah tangan kanan, dan Alloh
yang lebih mengetahui. [Selesai]
Sesungguhnya
Sifat-Sifat Alloh itu berSifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil Wahyu
semata), dan selama belum ada dalil yang shohih lagi tegas dalam menSifatkan
salah satu tangan Alloh ﷻ dengan tangan kiri atau tangan sebelah kiri; maka kita tidak
melampaui sabda Nabi ﷺ
kedua tangan-Nya adalah
tangan kanan. Dan Alloh yang lebih mengetahui.
[9]
Wajah Alloh
وَأَنَّ لَهُ وَجْهًا بِقَوْلِهِ: ﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ
إِلَّا وَجْهَهُ﴾
Dan bahwa Dia memiliki Wajah dengan Firman-Nya: “Segala sesuatu akan
binasa kecuali Wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88)
وَقَوْلِهِ: ﴿وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
Dan Firman-Nya: “Dan tetap kekal Wajah Robb-mu yang mempunyai kebesaran
dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)
Syarah
Wajah adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah bagi Alloh yang tsabit
(tetap) berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.
Dalil dari Al-Kitab:
1- Firman Alloh Ta’ala:
﴿وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ﴾
“Dan tidaklah kalian menginfakkan sesuatu melainkan
karena mengharap Wajah Alloh.” (QS. Al-Baqoroh: 272)
2- Dan firman-Nya:
﴿وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ﴾
“Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap Wajah
Robb mereka.” (QS. Ar-Ro’d: 22)
Dalil dari As-Sunnah:
1- Hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu:
لَمَّا قَسَّمَ النَّبِيُّ ﷺ الْغَنَائِمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ،
وَقَالَ رَجُلٌ: وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ قِسْمَةٌ مَا عَدَلَ فِيهَا، وَمَا أُرِيدَ
فِيهَا وَجْهُ اللَّهِ...
Ketika Nabi ﷺ membagikan ghonimah
(harta rampasan perang) pada hari Hunain, lalu seorang lelaki berkata: “Demi
Alloh, sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak adil, dan tidak mengharap
Wajah Alloh di dalamnya...” (HR. Al-Bukhori no. 3150 dan Muslim no. 1062)
2- Hadits Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma tentang 3 orang yang
terkurung di dalam goa, lalu masing-masing dari mereka berkata:
«اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ؛ فَفَرِّجْ
عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ...»
“Ya Alloh, jika seandainya aku melakukan hal itu
karena mengharap Wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami celah dari apa yang kami
hadapi ini...” (HR. Al-Bukhori no. 2272 dan Muslim no. 2743)
3- Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu:
«...إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ
اللَّهِ؛ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً...»
“...Sesungguhnya tidaklah engkau ditinggalkan lalu
engkau beramal dengan suatu amalan yang engkau mengharap Wajah Alloh dengannya,
melainkan engkau akan bertambah derajat dan kemuliaannya karenanya...” (HR.
Al-Bukhori no. 6733 dan Muslim no. 1628)
Imamul A-immah Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata setelah beliau menyebutkan
sejumlah ayat yang menetapkan Sifat Wajah bagi Alloh Ta’ala: “Maka kami
dan seluruh ulama kami dari penduduk Hijaz, Tihamah, Yaman, Irak, Syam, dan
Mesir; madzhab kami adalah: Sesungguhnya kami menetapkan bagi Alloh apa yang
Alloh tetapkan untuk diri-Nya sendiri, kami mengikrarkan hal itu dengan
lisan-lisan kami, dan kami membenarkan hal itu dengan hati-hati kami; tanpa
kami menyerupakan Wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari makhluk,
Maha Perkasa Robb kami dari menyerupai makhluk, dan Maha Agung Robb kami dari
perkataan mu’aththilin (orang-orang yang menolak Sifat Alloh).” (Kitabut
Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/25)
Dan Al-Hafizh Ibnu Mandah (395 H) berkata dalam Kitabut Tauhid (3/36):
“Dan di
antara Sifat-Sifat Alloh yang Dia menSifati
diri-Nya dengannya adalah firman-Nya:
﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ﴾
‘Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya,’ dan Dia
berfirman:
﴿وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ﴾
‘Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang
mempunyai kebesaran dan kemuliaan’, dan dahulu Nabi ﷺ memohon perlindungan dengan Wajah Alloh dari Neraka
dan seluruh fitnah, dan beliau meminta dengannya...” kemudian beliau
menyebutkan Hadits-Hadits dengan sanadnya, lalu beliau berkata:
“Penjelasan
lain yang menunjukkan bahwa para hamba akan melihat kepada Wajah Robb mereka, dan
beliau menyebutkan dengan sanadnya apa yang menunjukkan hal tersebut. (Kitabut
Tauhid, Ibnu Mandah, 3/36)
Dan Qowwamus Sunnah Al-Ashbahani (535 H) berkata: “Penyebutan penetapan
Wajah Alloh yang Dia Sifati dengan
keagungan, kemuliaan, dan kekekalan dalam firman-Nya:
﴿وَيَبْقَى وَجْهُ
رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ﴾
selesai.” (Al-Hujjah fi Bayanul Mahajjah,
Al-Ashbahani, 1/199)
[10]
Kaki Alloh
وَأَنَّ لَهُ قَدَمًا بِقَوْلِهِ: «حَتَّى يَضَعَ الْجَبَّارُ
(الرَّبُّ) فِيهَا قَدَمَهُ»، يَعْنِي: فِي جَهَنَّمَ
Dia memiliki kaki berdasarkan
sabda Nabi ﷺ: “Sampai
Al-Jabbar (Robb) meletakkan Kaki-Nya di dalamnya.” Yakni di Jahannam. (HR.
Al-Bukhori no. 6661)
Syarah
Qodam dan Rijl (Kaki) adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah yang tsabit
(tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah yang shohih.
Dalil:
1- Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu tentang perdebatan
antara Jannah dan Naar, di dalamnya disebutkan:
«فَأَمَّا النَّارُ؛ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ
وَتَعَالَى رِجْلَهُ (وَعِنْدَ مُسْلِمٍ: قَدَمَهُ) ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ...»
“Adapun Naar, ia belum terpenuhi hingga Alloh Tabaroka
wa Ta’ala meletakkan kaki-Nya (dan di dalam riwayat Muslim: telapak kaki-Nya),
lalu Naar berkata: Cukup, cukup...” (HR. Al-Bukhori no.
4850 dan Muslim no. 2846)
2- Dan Al-Bukhori (no. 4848) meriwayatkannya pula dari Hadits Anas rodhiyallahu
‘anhu yang semisal dengannya.
3- Atsar Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يَقْدِرُ أَحَدٌ
قَدْرَهُ»
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, sedangkan ‘Arsy
tidak ada seorang pun yang sanggup mengira-ngira keagungannya.” (HSR.
Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 61)
4- Atsar Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَلَهُ أَطِيطٌ كَأَطِيطِ الرَّحْلِ»
“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, dan padanya
terdapat suara rintihan seperti suara rintihan pelana unta.” (HSR.
Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 60)
Dan dengan Hadits-Hadits serta atsar-atsar yang shohih ini, kita
menetapkan bagi Alloh Sifat Al-Qodam (telapak kaki) dan Ar-Rijl (kaki), dan
bahwasanya bagi Alloh memiliki 2 telapak kaki -sebagaimana dalam atsar Ibnu ‘Abbas
dan Abu Musa rodhiyallahu ‘anhuma- yang layak bagi-Nya dan
keagungan-Nya.
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Syaikh Abdulloh Al-Ghunaiman berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat
Sifat Al-Qodam war-Rijl: “Maka dalam kumpulan riwayat-riwayat ini terdapat
penjelasan yang sangat gamblang bahwasanya Al-Qodam dan Ar-Rijl -yang mana
keduanya adalah ungkapan untuk 1 hal yang sama- merupakan Sifat bagi Alloh Ta’ala
secara hakiki, di atas apa yang layak bagi keagungan-Nya selesai.” (Syarh
Kitabut Tauhid minal Bukhori, Abdulloh Al-Ghunaiman, 1/156)
[11]
Tertawa
وَأَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ بِقَوْلِهِ
ﷺ لِلَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: «إِنَّهُ لَقِيَ
اللَّهَ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ»
Dan bahwa Dia tertawa kepada hamba-Nya yang beriman dengan sabda Nabi ﷺ kepada orang yang terbunuh di jalan Alloh: “Sesungguhnya
dia bertemu Alloh dalam keadaan Dia tertawa kepadanya.” (HR.
Al-Bukhori no. 2826)
Syarah
Adh-Dhohik (Tertawa)
adalah Sifat dari Sifat-Sifat Alloh fi’liyyah
khobariyyah yang tsabit (tetap) berdasarkan Hadits-Hadits yang shohih.
Dalil:
1- Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’:
«يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ،
كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ»
“Alloh tertawa terhadap 2 orang lelaki yang salah
seorang dari keduanya membunuh yang lain, namun keduanya sama-sama masuk
Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2826 dan Muslim no. 1890)
2- Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat
Al-Bukhori dan Muslim, dan sungguh telah berlalu penyebutannya pada Sifat
As-Sukhriyyah.
Ketahuilah bahwasanya Ahli Sunnah wal Jama’ah menetapkan Sifat ini dan Sifat-Sifat
Alloh lainnya yang tsabit bagi-Nya berdasarkan
Al-Kitab atau As-Sunnah yang shohih; tanpa takyif (menyerupakan) dan
tanpa takyif (menanyakan kaifiyah/cara), mereka berserah diri
terhadap hal tersebut, dan mereka berkata: Semuanya dari sisi Robb kami.
Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata dalam Kitabut Tauhid (2/563):
“Bab:
Penyebutan penetapan tertawanya Robb kita: tanpa ada Sifat yang membagaimanakan
tertawa-Nya, tidak pula tertawa-Nya diserupakan dengan tertawa para makhluk,
demikian pula tertawa mereka. Sebaliknya, kita beriman bahwasanya Dia tertawa;
sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi ﷺ dan kita diam dari membagaimanakan Sifat tertawa-Nya dikarenakan Alloh mengkhususkan
Sifat tertawa-Nya bagi diri-Nya sendiri, Dia tidak memperlihatkannya kepada
kita; maka kita adalah orang-orang yang berkata dengan apa yang disabdakan oleh
Nabi ﷺ membenarkan hal itu
dengan hati-hati kita, serta diam dari apa yang tidak dijelaskan kepada kita dari
perkara yang Alloh khususkan ilmunya bagi diri-Nya sendiri.” (Kitabut Tauhid,
Ibnu Khuzaimah, 2/563)
Dan makna perkataan beliau: “tanpa ada Sifat yang membagaimanakan
tertawa-Nya” yaitu tanpa takyif terhadap tertawa-Nya.
Dan Abu Bakr Al-Ajurri (360 H) berkata: “Bab iman bahwasanya Alloh tertawa: Ketahuilah -semoga Alloh memberikan taufik
kepada kami dan kalian menuju petunjuk dalam ucapan dan amalan- bahwasanya ahli
kebenaran menSifati Alloh dengan apa yang Dia Sifati
diri-Nya sendiri dengannya, dengan apa yang Rosul-Nyaﷺ Sifati Dia dengannya, dan dengan apa yang para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum
Sifati Dia dengannya. Dan ini adalah madzhab para ulama dari kalangan orang
yang mengikuti atsar dan tidak membuat bid’ah, serta tidak dikatakan di
dalamnya: Bagaimana? Melainkan berserah diri kepadanya dan beriman kepadanya;
bahwasanya Alloh tertawa, demikianlah diriwayatkan dari Nabi ﷺ dan dari para Shohabatnya rodhiyallahu ‘anhum; maka
tidak ada yang mengingkari hal ini melainkan orang yang tidak dipuji keadaannya
di sisi ahli kebenaran selesai.” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri, hal. 277)
Dan Abu ‘Ubaid Al-Qosim bin Sallam (224 H) berkata ketika dikatakan
kepada beliau: Hadits-Hadits ini yang diriwayatkan; tentang ru’yah
(melihat Alloh), Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, tertawanya Robb kita
karena keputusasaan para hamba-Nya, dan sesungguhnya Jahannam benar-benar
dipenuhi... dan yang sepermisalan dengan Hadits-Hadits ini? Beliau rohimahulloh
berkata:
«هَذِهِ الْأَحَادِيثُ حَقٌّ لَا شَكَّ فِيهَا رَوَاهَا الثِّقَاتُ
بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ»
“Hadits-Hadits ini adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya, yang
diriwayatkan oleh para rowi yang tsiqoh (terpercaya) antara satu dari yang
lainnya.” (At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr, 7/149-150)
[12] Alloh Turun ke Langit Dunia
Setiap Malam
وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ
الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ
Dan bahwa Dia turun setiap malam ke langit
dunia berdasarkan berita Rosulullah ﷺ tentang hal
itu. (HR. Al-Bukhori no. 1145)
Syarah
An-Nuzul, Al-Hubuth, At-Tadalli (Turun)
adalah Sifat-Sifat fi’liyyah khobariyyah yang tsabit
(tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah
yang shohih.
Dalil:
1- Hadits An-Nuzul yang masyhur:
«يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِينَ
يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ...»
“Robb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika
tersisa sepertiga malam yang terakhir...” (HR. Al-Bukhori no.
7494 dan Muslim no. 758)
2- Hadits ‘Ali bin Abi Tholib dan Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhuma
secara marfu’:
«لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ
عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَلَأَخَّرْتُ عِشَاءَ الْآخِرَةِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ
فَإِنَّهُ إِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ هَبَطَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى
السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَلَمْ يَزَلْ هُنَاكَ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ..»
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan
perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat, dan niscaya aku akhirkan
sholat ‘Isya sampai sepertiga malam yang pertama. Karena sesungguhnya apabila
telah berlalu sepertiga malam yang pertama, Alloh Ta’ala turun ke langit dunia
dan terus berada di sana hingga terbit fajar...” (HHR. Ahmad 967 dan
968, Ahmad Syakir)
3- Hadits:
«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيُمْهِلُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلَّ لَيْلَةٍ
حَتَّى إِذَا ذَهَبَ اللَّيْلُ الْأَوَّلُ هَبَطَ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ: هَلْ
مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ، هَلْ مِنْ تَائِبٍ يُتَابُ
عَلَيْهِ»
“Sesungguhnya Alloh Ta’ala benar-benar memberi
penangguhan di bulan Romadhon setiap malam, hingga apabila malam pertama telah
berlalu, Dia turun ke langit kemudian berfirman: Adakah orang yang meminta
niscaya diberi, adakah orang yang memohon ampun niscaya diampuni baginya, adakah
orang yang bertaubat niscaya diterima taubatnya.” (HSR. Ibnu Abi ‘Ashim
dalam Kitabus Sunnah no. 513)
4- Hadits Al-Isro’ dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«...حَتَّى جَاءَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى وَدَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ
الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى حَتَّى كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى...»
“...Hingga beliau mendatangi Sidrotul Muntaha, lalu
Al-Jabbar Robb pemilik kemuliaan mendekat kemudian turun mendekat hingga
jaraknya sekadar 2 ujung busur panah atau lebih dekat lagi...” (HR.
Al-Bukhori no. 7517)
Abu Sa’id Ad-Darimi (280 H) berkata dalam Ar-Rod ‘alal Jahmiyyah (hal.
79) setelah menyebutkan Hadits-Hadits dari Rosululloh ﷺ yang menetapkan Sifat turunnya Alloh: “Maka Hadits-Hadits
ini seluruhnya telah datang, bahkan lebih banyak lagi daripada itu mengenai
turunnya Robb Tabaroka wa Ta’ala di tempat-tempat ini. Dan di atas
pembenaran serta keimanan terhadapnya, kami menjumpai para ahli fiqih dan ahli
bashiroh (pandangan ilmu) dari guru-guru kami, tidak ada seorang pun di antara
mereka yang mengingkarinya, tidak pula menolak untuk meriwayatkannya selesai.” (Ar-Rod
‘alal Jahmiyyah, Ad-Darimi, hal. 79)
Dan Imamul A-immah Muhammad bin Khuzaimah (311 H) berkata: “Bab:
Penyebutan khobar-khobar yang tsabit sanadnya lagi shohih dasarnya, yang
diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabi ﷺ tentang turunnya Robb ke langit dunia setiap malam: Kami bersaksi dengan
persaksian orang yang mengikrarkan dengan lisannya, membenarkan dengan hatinya,
lagi meyakini apa yang ada di dalam khobar-khobar ini berupa penyebutan
turunnya Robb, tanpa kami membagaimanakan kaifiyahnya; karena Nabi kita
Al-Musthofa tidak membagaimanakan untuk kita kaifiyah turunnya Pencipta
kita ke langit dunia, dan beliau mengabarkan kita bahwasanya Dia turun. Dan
Alloh tidaklah meninggalkan, begitu pula Nabi-Nya ‘alaihis
salam, penjelasan mengenai apa yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin dari
perkara agama mereka. Maka kami adalah orang-orang yang berkata lagi
membenarkan apa yang ada di dalam khobar-khobar ini berupa penyebutan turun,
tanpa membebani diri berbicara tentang Sifatnya atau Sifat kaifiyahnya;
dikarenakan Nabi ﷺ tidak membagaimanakan
kepada kita kaifiyah turun tersebut. Dan di dalam khobar-khobar ini
terdapat apa yang jelas, tsabit, lagi shohih bahwasanya Alloh berada di atas langit dunia yang Nabi kita ﷺ kabarkan bahwasanya Dia turun kepadanya, karena
mustahil dalam bahasa Arob jika dikatakan: turun dari bawah ke atas, dan sudah
dipahami dalam pembicaraan bahwasanya turun itu dari atas ke bawah selesai.” (Kitabut
Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/289)
Dan Abu Al-Qosim Al-Lalakai (418 H) berkata: “Urutan riwayat yang
dinukil dari Nabi ﷺ tentang turunnya Robb Tabaroka
wa Ta’ala, yang mana telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ oleh 20 orang Shohabat.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahli
Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalakai, 3/434)
Dan Syaikhul Islam (728 H) rohimahulloh berkata: “Maka Robb Subhanahu
apabila Rosul-Nya menSifati-Nya bahwasanya Dia turun ke langit dunia setiap
malam, dan bahwasanya Dia mendekat pada sore hari ‘Arofah kepada para jamaah Haji,
dan bahwasanya Dia berbicara kepada Musa di lembah kanan pada tempat yang
diberkahi dari arah pohon, dan bahwasanya Dia menuju ke langit dan langit kala
itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah
kalian berdua dengan patuh atau terpaksa’; tidaklah berkonsekuensi dari hal
tersebut bahwa perbuatan-perbuatan ini sejenis dengan apa yang kita saksikan
dari turunnya benda-benda nyata yang disaksikan ini, hingga dikatakan: hal
tersebut mengharuskan pengosongan suatu tempat dan pengisian tempat yang lain.”
(Daqo-iqut Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 6/424)
Dan Imam Ibnu Jarir At-Thobari (310 H) berkata: Ucapan pada apa yang
diketahui ilmunya dari Sifat-Sifat Pencipta secara khobar bukan kesimpulan akal:
“Dan yang demikian itu seperti pengabaran Alloh Ta’ala sebutan-Nya
kepada kita bahwasanya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan bahwasanya Dia
memiliki 2 tangan dengan firman-Nya
﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ﴾
(Bahkan kedua tangan-Nya terbuka)... dan
bahwasanya Dia turun ke langit dunia karena adanya khobar dari Rosululloh ﷺ.” (At-Tabshir fi Ma’alimid Din, At-Thobari, hal. 132)
Dan Syaikhul Islam berkata dengan menukil dari Al-Karoji (432 H) seraya
mendukungnya: “Diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Hasan (189 H) sahabat Abu
Hanifah (150 H) bahwasanya beliau berkata tentang Hadits-Hadits yang datang
menyatakan bahwa Alloh turun ke langit dunia dan yang sepermisalan dengan ini
dari Hadits-Hadits: Sesungguhnya Hadits-Hadits ini telah diriwayatkan oleh para
rowi yang tsiqoh, maka kami meriwayatkannya, mengimaninya, dan tidak
menafsirkannya (secara ta’wil).” (Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyyah,
4/186)
Demikian pula Ibnu Qoyyim (751 H) dalam Ijtima’ul Juyusyil Islamiyyah
(1/139) menukil dari Abu Al-Qosim Al-Lalakai.
Dan beliau juga berkata: “Dan sungguh sekelompok orang dari kalangan
yang menisbatkan diri kepada As-Sunnah dan Al-Hadits telah menta’wil Hadits
An-Nuzul dan apa yang sejenis dengannya dari nash-nash yang di dalamnya
terdapat perbuatan Robb yang lazim (tidak membutuhkan objek) seperti Al-Ityan
(datang), Al-Maji’ (datang), Al-Hubuth (turun), dan yang sepermisalan dengan
hal tersebut.” Dan beliau membantah hal itu seraya menetapkan Sifat-Sifat ini. (Majmu’ul
Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 5/397)
Dan beliau berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat Ibnu Mandah (395
H) untuk Hadits An-Nuzul: “Maka ini adalah ringkasan dari apa yang disebutkan
oleh Abdurrohman bin Mandah, padahal beliau telah mengumpulkan seluruh jalur Hadits
ini dan menyebutkan lafazh-lafazhnya seperti perkataannya: ‘Robb kita turun
setiap malam ke langit dunia apabila telah berlalu sepertiga malam yang
pertama, lalu Dia berfirman: Akulah Raja, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya
Aku beri dia, siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, siapa
yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni dia,’ dan terus-menerus
demikian hingga fajar. Dan dalam sebuah lafazh: Apabila telah tersisa dari
malam 2 pertiganya, Robb turun ke langit dunia. Dan dalam sebuah lafazh: Hingga
menyingsing fajar kemudian Dia naik. Dan dalam sebuah riwayat: Dia berfirman: ‘Aku
tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada selain-Ku, siapa yang meminta
kepada-Ku niscaya Aku beri dia.’ Dan dalam riwayat ‘Amr bin ‘Abasah: Bahwasanya
Robb turun mendekat di tengah malam ke langit dunia.” (Majmu’ul Fatawa, Ibnu
Taimiyyah, 5/394)
Maka Hadits An-Nuzul kalau begitu shohih dengan 3 lafazh: An-Nuzul,
Al-Hubuth, dan At-Tadalli.
[13] Mata Alloh
وَأَنَّهُ لَيْسَ بِأَعْوَرَ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ إِذْ
ذَكَرَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: «إِنَّهُ
أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ»
Dan bahwa Dia tidaklah a’war (buta salah satu mata)
dengan sabda Nabi ﷺ ketika menyebutkan Dajjal, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya
ia a’war, dan sesungguhnya Robb kalian tidak a’war.” (HR.
Al-Bukhori no. 7407)
Syarah
Al-’Ain (Mata) adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) bagi Alloh berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Ahli Sunnah
wal Jama’ah meyakini bahwasanya Alloh melihat dengan mata, sebagaimana mereka
meyakini bahwasanya Alloh memiliki 2 mata
yang layak bagi-Nya.
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Dalil dari Al-Kitab:
1- Firman Alloh Ta’ala:
﴿وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا﴾
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan mata-mata
Kami dan petunjuk Wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)
2- Dan firman-Nya:
﴿وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ
عَلَى عَيْنِي﴾
“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang
dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.” (QS.
Thoha: 39)
3- Dan firman-Nya:
﴿وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا﴾
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Robbmu,
karena sesungguhnya engkau berada di bawah pengawasan mata-mata Kami.” (QS.
At-Thur: 48)
Dalil dari As-Sunnah:
1- Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad hasan dari Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu
‘anhu:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ
سَمِيعًا بَصِيرًا﴾، فَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ، وَالَّتِي تَلِيهَا
عَلَى عَيْنَيْهِ»
“Bahwasanya
Nabi ﷺ membaca ayat ini (Sesungguhnya Alloh adalah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat), lalu beliau meletakkan ibu jarinya pada
telinganya, dan jari yang setelahnya (jari telunjuk) pada kedua matanya.” (HSR.
Abu Dawud no. 4728)
2- Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
(وَأَشَارَ إِلَى عَيْنَيْهِ) ، وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى،
كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ»
“Sesungguhnya Alloh tidaklah samar bagi kalian,
sesungguhnya Alloh tidaklah buta sebelah mata -dan beliau berisyarat kepada
kedua matanya-, dan sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal itu buta sebelah matanya
yang kanan, seakan-akan matanya adalah buah anggur yang tersembul.” (HR.
Al-Bukhori no. 7407)
Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata setelah beliau menyebutkan sejumlah
ayat yang menetapkan Sifat mata: “Maka wajib atas setiap Mu’min untuk
menetapkan bagi Penciptanya dan Pengadanya apa yang telah Sang Pencipta lagi
Pengada tetapkan untuk diri-Nya sendiri berupa mata. Dan bukanlah seorang Mu’min
orang yang menafikan dari Alloh Tabaroka wa Ta’ala apa yang sungguh
telah Alloh tetapkan di dalam kemurnian Kitab yang diturunkan-Nya melalui
penjelasan Nabi-Nya ﷺ yang telah Alloh
jadikan sebagai pemberi penjelasan dari-Nya dalam firman-Nya:
﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ
مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ﴾
‘Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar
engkau menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.’
Nabi ﷺ telah menjelaskan
bahwasanya Alloh memiliki 2 mata, sehingga penjelasan beliau ini selaras dengan
penjelasan kemurnian Kitab yang diturunkan-Nya, yang tertulis di antara 2
sampul mushaf, yang dibaca di mihrab-mihrab dan tempat-tempat belajar Al-Qur’an.”
(Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/97)
Dan beliau berkata: “Kami berkata: Bagi Robb kami Sang Pencipta memiliki
2 mata yang Dia melihat dengan keduanya apa yang ada di bawah tanah dan di
bawah bumi ketujuh yang paling bawah, serta apa yang ada di langit-langit yang
tinggi selesai.” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/114)
Dan Al-Lalakai (418 H) membuat bab dengan perkataannya: “Urutan dalil
yang menunjukkan dari Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya ﷺ bahwasanya di antara Sifat-Sifat Alloh adalah Wajah, 2 mata, dan
2 tangan selesai.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalakai,
3/412)
Syaikh Abdulloh Al-Ghunaiman berkata: “Perkataan beliau: ‘Sesungguhnya
Alloh tidaklah buta sebelah mata’: kalimat inilah yang dimaksudkan dari Hadits
di dalam bab ini; maka hal ini menunjukkan bahwasanya bagi Alloh memiliki 2
mata secara hakiki; karena al-’awar (buta sebelah) artinya kehilangan
salah satu dari 2 mata atau lenyapnya cahaya penglihatannya selesai.” (Syarh
Kitabut Tauhid minal Bukhori, Abdulloh Al-Ghunaiman, 1/285)
Dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (1421 H) rohimahulloh berkata: “Dan
Ahli Sunnah telah sepakat bahwasanya mata Alloh itu ada 2, dan hal ini
dikuatkan oleh sabda Nabi ﷺ mengenai Dajjal: ‘Sesungguhnya
dia buta sebelah mata, dan sesungguhnya Robb kalian tidaklah buta sebelah mata.’”
(‘Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 12)
[14] Alloh Dilihat di Akhirat
وَأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِأَبْصَارِهِمْ كَمَا يَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
Dan bahwa orang-orang Mukmin akan melihat Robb mereka pada Hari Kiamat
dengan mata kepala mereka sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purNama. (HR.
Al-Bukhori no. 7437)
Syarah
Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa kaum Mu’min
akan melihat Robb mereka pada hari Qiyamah di pelataran mahsyar (tempat
pengumpulan) dan di dalam Jannah. Melihat Alloh ﷻ
dengan mata kepala secara langsung adalah perkara yang haq, nyata, dan bukan
sekadar kiasan. Keyakinan ini didasarkan pada dalil-dalil yang qoth’i
(pasti) dari Al-Qur’an dan Hadits-Hadits mutawatir, serta merupakan ijma’
(kesepakatan) para Shohabat, Tabi’in, dan para ulama Salaf.
Kaum Mu’min akan melihat Alloh ﷻ
tanpa adanya pembatasan arah yang meliputi-Nya, karena Alloh ﷻ
Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa
dengan-Nya. Penglihatan ini
merupakan ni’mat yang paling besar dan paling agung yang diberikan kepada
penduduk Jannah, yang membuat mereka melupakan segala kelezatan fisik lainnya
yang ada di dalam Jannah.
Sebaliknya,
orang-orang kafir, musyrik, dan munafik akan terhalang dari melihat Alloh ﷻ
sebagai bentuk adzab, kehinaan, dan kemurkaan-Nya atas mereka.
14.1
Dalil-Dalil dari Al-Qur’an
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾
“Wajah-wajah
kaum Mu’min pada hari Qiyamah bercahaya dan elok. Hanya kepada Robb mereka,
mereka melihat dengan mata kepala mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)
Alloh ﷻ juga
berfirman mengenai tambahan ni’mat bagi penduduk Jannah:
﴿لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ﴾
“Bagi
orang-orang yang berbuat baik dalam kehidupan dunia dengan beriman dan beramal
sholih, mereka akan mendapatkan pahala yang terbaik (yaitu Jannah), dan
tambahannya (yakni melihat wajah Alloh yang mulia).” (QS. Yunus: 26)
Adapun
mengenai orang-orang kafir, Alloh ﷻ menegaskan terhalangnya
mereka dari melihat-Nya:
﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ
لَمَحْجُوبُونَ﴾
“Sekali-kali
tidak, benar-benar mereka orang-orang kafir pada hari Qiyamah terhalang dari
melihat Robb mereka.”
(QS. Al-Muthoffifin: 15)
Al-Imam
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh berhujjah dengan ayat ini, bahwa ketika
Alloh ﷻ
menghalangi musuh-musuh-Nya karena kemurkaan-Nya, ini menunjukkan bahwa para
wali-Nya (kaum Mu’min) akan melihat-Nya karena keridhoan-Nya.
14.2
Dalil-Dalil dari Hadits
Nabi ﷺ telah menjelaskan perkara ru’yatulloh
ini dengan sangat terang dalam banyak Hadits yang mencapai derajat mutawatir.
Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya orang-orang
berkata: “Wahai Rosululloh, apakah kita akan melihat Robb kita pada hari
Qiyamah?” Rosululloh ﷺ
bersabda:
«هَلْ
تُضَارُّونَ فِي القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ؟»، قَالُوا: لاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ،
قَالَ: «فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ، لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ؟»، قَالُوا: لاَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ»
“Apakah
kalian saling kesulitan (atau berdesak-desakan) saat melihat bulan pada malam
purNama yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Apakah
kalian saling kesulitan saat melihat matahari yang tidak tertutup awan?”
Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan
melihat-Nya seperti itu.” (HR. Al-Bukhori no. 7437 dan Muslim no. 182)
Maksud dari
penyerupaan dalam Hadits di atas adalah penyerupaan dalam hal kejelasan,
kepastian, dan tiadanya keraguan dalam penglihatan tersebut (menyertakan
analogi kejelasan melihat makhluk dengan melihat Kholiq), bukan menyerupakan
Alloh ﷻ
(Dzat yang dilihat) dengan matahari atau bulan, karena Alloh ﷻ
tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya.
Di dalam
Hadits Jarir dengan lafazh “dengan mata telanjang”:
«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا»
“Kalian benar-benar akan melihat Robb kalian dengan mata
telanjang.” (HR. Al-Bukhori no. 7435)
14.3
Hijab Cahaya Robb
Dari Abu
Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
«جَنَّتَانِ
مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا
وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ القَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا
رِدَاءُ الكِبْرِ، عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ»
“Ada 2
Jannah yang wadah-wadah dan apa yang ada di dalamnya terbuat dari perak, dan
ada 2 Jannah yang wadah-wadah dan apa yang ada di dalamnya terbuat dari emas.
Dan tidak ada yang menghalangi suatu kaum untuk melihat Robb mereka melainkan
selendang keagungan pada wajah-Nya di dalam Jannah ‘Adn.” (HR. Al-Bukhori no. 4878 dan Muslim
no. 180)
14.4
Bantahan Terhadap Kelompok yang Menyimpang
Kelompok Mu’tazilah,
Jahmiyyah, dan orang-orang yang sejalan dengan mereka menolak Aqidah ru’yatulloh.
Mereka mengklaim bahwa melihat Alloh ﷻ berkonsekuensi menetapkan
arah, batasan, dan jisim (tubuh fisik) bagi Alloh ﷻ,
yang menurut akal mereka hal tersebut mustahil.
Mereka
berdalil dengan firman Alloh ﷻ kepada Nabi Musa:
﴿لَنْ تَرَانِي﴾
“Kamu
sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku di dunia.” (QS. Al-A’rof: 143)
Ahlus
Sunnah wal Jama’ah membantah mereka dari beberapa sisi:
[1] Penolakan
melihat Alloh ﷻ
dalam ayat tersebut dibatasi dalam kehidupan dunia, karena fisik manusia di
dunia sangat lemah dan tidak akan kuat untuk melihat Alloh ﷻ. Hal
ini terbukti ketika Alloh ﷻ menampakkan keagungan-Nya kepada gunung, gunung tersebut hancur
lebur dan Nabi Musa pingsan. Adapun di Akhiroh, Alloh ﷻ memberikan kekuatan baru yang
sempurna bagi kaum Mu’min sehingga mereka mampu melihat-Nya.
[2] Nabi
Musa adalah seorang Rosul yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan Aqidah).
Mustahil seorang Rosul meminta sesuatu yang mustahil secara syari’at dan akal
kepada Alloh ﷻ.
Permintaan Nabi Musa untuk melihat Alloh ﷻ menunjukkan bahwa melihat
Alloh ﷻ
adalah perkara yang mungkin terjadi, namun Alloh ﷻ menundanya hingga kehidupan
akhiroh.
Mu’tazilah
juga berdalil dengan firman Alloh ﷻ:
﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ﴾
“Dia
tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” (QS. Al-An’am: 103)
Ahlus
Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa al-idrok (الإدراك) artinya adalah liputan
secara menyeluruh (liputan penglihatan sampai ke batas-batasnya). Ayat ini
menafikan al-idrok, bukan menafikan ar-ru’yah (melihat). Maka,
kaum Mu’min melihat Alloh ﷻ pada hari Qiyamah namun penglihatan mereka tidak mampu meliputi
Dzat Alloh ﷻ
yang Maha Agung, sebagaimana manusia mengetahui ilmu Alloh ﷻ
namun ilmu manusia tidak akan mampu meliputi seluruh ilmu-Nya.
Aqidah
menetapkan ru’yatulloh di Akhiroh adalah pembeda utama antara pengikut
Sunnah dan pengikut bid’ah. Setiap Muslim wajib mengimani Sifat ini sebagaimana
datangnya nash-nash yang shohih, tanpa melakukan tahrif (pengubahan
makna), ta’thil (penolakan Sifat), takyif (menanyakan kaifiyah
atau bagaimananya), dan takyif (penyerupaan dengan makhluk). Kita
memohon kepada Alloh ﷻ
kemantapan iman dan rizqi untuk dapat memandang wajah-Nya yang mulia di Jannah
kelak.
[15] Jari Alloh
وَأَنَّ لَهُ إِصْبَعًا بِقَوْلِهِ ﷺ: «مَا
مِنْ قَلْبٍ إِلَّا (وَهُوَ) بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ
عَزَّ وَجَلَّ (يُقَلِّبُهُ كَيْفَ شَاءَ)»
Dan bahwa Dia memiliki jari dengan sabda Nabi ﷺ: “Tidak
ada satu hati pun kecuali berada di antara dua jari dari jari-jemari
Ar-Rohman ’Azza wa Jalla, Dia membolak-baliknya sesuka-Nya.” (HSR.
Ibnu Majah no. 199)
Syarah
Al-Ashobi’
(Jari-jemari) adalah Sifat fi’liyyah khobariyyah yang tsabit
(tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah yang shohih.
1- Hadits Abdulloh bin ‘Amr bin Al-’Ash rodhiyallahu ‘anhuma;
bahwasanya beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمَنِ...»
“Sesungguhnya hati anak Adam seluruhnya berada di
antara 2 jari dari jari-jemari Ar-Rohman...” (HR. Muslim no.
2654)
2- Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu; beliau berkata:
Seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Wahai
Abul Qosim! Sesungguhnya Alloh memegang langit-langit di atas 1 jari, dan
bumi-bumi di atas 1 jari...” Maka aku melihat Nabi ﷺ tertawa hingga tampak gigi geraham beliau, kemudian
beliau membaca:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ﴾
“Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang
semestinya.” (HR. Al-Bukhori no. 7415 dan Muslim no. 2786)
Imamul A-immah Abu Bakr bin Khuzaimah (311 H) berkata: “Bab penetapan
jari-jemari bagi Alloh.” dan beliau menyebutkan dengan sanad-sanadnya apa
yang menetapkan hal tersebut. (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/187)
Dan Abu Bakr Al-Ajurri (360 H) berkata: “Bab beriman bahwasanya hati
para makhluk berada di antara 2 jari dari jari-jemari Robb tanpa
membagaimanakan kaifiyahnya.” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri, hal. 316)
Dan Al-Baghowi (516 H) berkata setelah menyebutkan Hadits yang lalu: “Dan
al-ishba’ (jari) yang disebutkan di dalam Hadits adalah sebuah Sifat
dari Sifat-Sifat Alloh. Demikian pula setiap apa yang dibawa oleh Al-Kitab atau
As-Sunnah yang sejenis dengan ini merupakan Sifat-Sifat Alloh Ta’ala;
seperti An-Nafs (Diri), Al-Wajh (Wajah), Al-’Ain (Mata), Al-Yad (Tangan),
Ar-Rijl (Kaki), Al-Ityan (Kedatangan), Al-Maji’ (Kedatangan), An-Nuzul (Turun)
ke langit dunia, Al-Istiwa’ di atas ‘Arsy, Adh-Dhohik (Tertawa), dan Al-Faroh
(Gembira).” (Syarhus Sunnah, Al-Baghowi, 1/168)
Dan Ibnu Qutaibah (276 H) berkata setelah menyebutkan Hadits Abdulloh
bin ‘Amr yang lalu: “Dan kami berkata: Sesungguhnya Hadits ini adalah shohih,
dan sesungguhnya apa yang mereka tuju dalam menta’wil makna al-ishba’
(jari) sama sekali tidak selaras dengan konteks Hadits. Karena beliau ‘alaihis
salam bersabda dalam doanya: ‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati!
Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Lalu salah seorang istri beliau
bertanya kepada beliau: ‘Apakah engkau merasa khawatir wahai Rosululloh atas
dirimu?’ Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya hati seorang Mu’min berada di
antara 2 jari dari jari-jemari Alloh.’ Maka seandainya hati itu di mata mereka
bermakna berada di antara 2 nikmat dari nikmat-nikmat Alloh Ta’ala; yang
mana ia terjaga dengan kedua nikmat tersebut; lalu untuk alasan apa beliau
berdoa meminta keteguhan? Dan mengapa beliau berhujjah kepada wanita yang
bertanya kepada beliau: ‘Apakah engkau khawatir atas dirimu?’ dengan sesuatu
yang justru menguatkan ucapan wanita tersebut? Padahal semestinya beliau tidak
perlu khawatir apabila hati itu telah terjaga oleh 2 nikmat. Lalu jika ada yang
bertanya kepada kami: ‘Apa makna al-ishba’ menurutmu di sini?’ Kami
jawab: ‘Maknanya adalah seperti sabda beliau di dalam Hadits yang lain: ‘Dia
memikul bumi di atas 1 jari,’ dan demikian pula di atas 2 jari, sehingga tidak
boleh jika al-ishba’ di sini diartikan sebagai nikmat. Dan ia seperti
firman-Nya Ta’ala:
﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ
حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ
مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ﴾
(Dan mereka tidak mengagungkan Alloh
dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya
pada hari Qiyamah dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya), yang
mana pemaknaan ta’wil tersebut tidak diperbolehkan pada ayat ini. Dan
kami tidak mengatakan: Jari-Nya seperti jari-jemari kita, tidak pula tangan-Nya
seperti tangan-tangan kita, tidak pula genggaman-Nya seperti
genggaman-genggaman kita; karena segala sesuatu yang ada pada-Nya tidak menyerupai sesuatu pun yang ada pada diri kita
selesai.” (Ta’wilu Mukhtalifil Hadits, Ibnu Qutaibah, hal. 245)
Maka Ahli Sunnah wal Jama’ah menetapkan bagi Alloh Ta’ala
jari-jemari yang layak bagi-Nya.
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS.
Asy-Syuro: 11)
[16]
Tidak Kafir Sampai Tegak Hujjah
فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعَانِيَ الَّتِي وَصَفَ اللَّهُ
تَعَالَى بِهَا نَفْسَهُ وَوَصَفَهُ بِهَا رَسُولُهُ مِمَّا لَا يُدْرَكُ
[حُسْنُهُ] بِالْفِكْرِ [وَالرُّؤْيَةِ]، فَلَا يَكْفُرُ أَحَدٌ بِالْجَهْلِ بِهَا
إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا،
Sesungguhnya makna-makna ini—yang Alloh Ta’ala menyifati
Diri-Nya dengannya, dan yang Rosul-Nya ﷺ menyifati-Nya
dengannya—adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan baik oleh
akal dan penglihatan, maka tidaklah seseorang dihukumi kafir hanya karena
tidak mengetahui Sifat-Sifat ini, kecuali setelah berita (tentang Sifat-Sifat
itu) sampai kepadanya.
Syarah:
Di dalam ucapan ini terdapat penjelasan mengenai batasan
akal manusia dalam menggapai hakikat shifat-shifat Robb serta kapan seseorang
dihukumi kafir atau udzur karena kebodohan (al-jahl) dalam masalah ini.
Berikut
adalah penjelasan rinci dari bait atau ungkapan tersebut:
“Sesungguhnya
makna-makna ini—yang Alloh Ta’ala menyifati Diri-Nya dengannya, dan yang
Rosul-Nya ﷺ
menyifati-Nya dengannya…”
Kalimat ini
mengisyaratkan bahwa seluruh shifat Alloh ﷻ yang termaktub dalam Al-Qur’an
maupun Hadits Nabi ﷺ
adalah tauqifiyyah
(hanya bisa diketahui berdasarkan dalil Wahyu). Manusia tidak boleh menetapkan
atau mengarang shifat bagi Alloh ﷻ dengan akal pikiran mereka
sendiri. Segala apa yang Alloh ﷻ tetapkan untuk diri-Nya, atau
yang ditetapkan oleh Rosulullah ﷺ, itulah yang wajib diimani.
“…adalah
sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan baik oleh akal dan penglihatan,”
Akal
manusia memiliki batasan yang sangat terbatas. Akal dan pikiran manusia tidak
akan pernah mampu menggapai dan mengkhayalkan bagaimanakah hakikat atau kaifiyyah
(tata cara) dari shifat-shifat Alloh ﷻ. Manusia juga belum pernah
melihat Alloh ﷻ
di dunia ini, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Oleh karena itu,
satu-satunya jalan untuk mengimani shifat-shifat tersebut adalah dengan
berserah diri kepada khobar (berita) yang datang dari Wahyu, tanpa melakukan takyif
(menanyakan bagaimananya) atau takyif (menyerupakan dengan makhluk).
“…maka
tidaklah seseorang dihukumi kafir hanya karena tidak mengetahui Sifat-Sifat
ini, kecuali setelah berita (tentang Sifat-Sifat itu) sampai kepadanya.”
Ini adalah
kaidah penting mengenai udzur bil jahl (udzur karena kebodohan atau
ketidaktahuan). Karena masalah shifat-shifat Alloh ﷻ ini bersumber dari Wahyu (sam’iyyah)
dan bukan murni dari nalar akal, maka seseorang yang baru masuk Islam, atau
hidup di tempat yang terpencil jauh dari ilmu, tidak langsung dihukumi kafir
jika dia tidak mengetahui sebagian shifat Alloh ﷻ atau salah dalam memahaminya
karena murni belum tahu. Hukum kafir atau vonis keluar dari Islam baru berlaku
apabila hujjah (dalil Al-Qur’an dan Hadits) telah tegak dan sampai kepadanya
secara jelas, namun dia tetap menolak dan mendustakannya setelah mengetahuinya.
Kesimpulan
dari bait ini menegaskan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan
shifat-shifat Alloh ﷻ
berdasarkan Wahyu, mengakui keterbatasan akal manusia dari menggapai
hakikatnya, serta memberikan udzur bagi orang yang belum mengetahui sampai
dalil shohih ditegakkan atasnya.
[17] Tunduk Pada Wahyu
فَإِنْ كَانَ الْوَارِدُ بِذَلِكَ خَبَرًا يَقُومُ فِي
الْفَهْمِ مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ مِنَ السَّمَاعِ وَجَبَتِ الدَّيْنُونَةُ عَلَى
سَامِعِهِ بِحَقِيقَتِهِ وَالزِّيَادَةِ عَلَيْهِ كَمَا عَايَنَ [وَسَمِعَ مِنْ]
رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.
Jika berita yang sampai kepadanya itu berSifat sangat jelas—yang dalam
pemahaman menempati kedudukan seperti menyaksikan langsung karena kuat dan
jelasnya pendengaran (dari nash), maka wajib baginya untuk meyakininya secara
hakiki dan memperkuatnya dengan tambahan keimanan atas dasar keyakinan itu, sebagaimana
orang yang menyaksikan langsung dan mendengar langsung dari Rosulullah ﷺ.
Syarah:
Matan ini menjelaskan tentang kewajiban menerima, tunduk,
dan mengamalkan Khobar (Hadits) yang shohih dari Rosululloh ﷺ.
Jika suatu riwayat telah sampai kepada seseorang dengan tingkat validitas yang
meyakinkan—seolah-olah ia mendengarnya langsung—maka ia wajib tunduk dan
beragama dengannya secara hakiki tanpa ragu.
Poin utama dari ucapan ini adalah: saat sebuah Hadits shohih
tegak di hadapan kita, maka nilai kewajiban mengamalkannya sama persis seperti
para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang duduk mendengarkan langsung di
hadapan Nabi ﷺ. Jarak zaman tidak boleh mengurangi
kewajiban taslim (tunduk pasrah) dan inqiyad (patuh).
Kewajiban
menjadikan Hadits shohih sebagai landasan beragama (ad-dainunah)
didasarkan pada dalil-dalil berikut:
17.1
Kewajiban Taat secara Mutlak kepada Rosululloh ﷺ
Alloh ﷻ
berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا
نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Apa
yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu,
maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras
hukuman-Nya.” (QS.
Al-Hasyr: 7)
Ayat ini
berSifat umum bagi setiap orang yang mendengarkan sabda beliau, baik
mendengarnya langsung di zaman nubuwah maupun mendengarnya melalui riwayat yang
shohih di zaman setelahnya.
17.2
Ketiadaan Iman Tanpa Ketundukan Penuh
Alloh ﷻ
bersumpah dengan diri-Nya yang mulia bahwa seseorang tidak dikatakan beriman
sampai ia ridho dan tunduk penuh kepada keputusan Nabi ﷺ:
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ
فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ
وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka
demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan
kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak
merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan,
dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Kata wayusallimuu
tasliimaa (menerima dengan sepenuhnya) menguatkan kalimat “wajabatid
dainunatu ‘ala sami’ihi bihaqiqatihi” (wajib tunduk beragama atas
hakikatnya) dalam kutipan di atas.
17.3
Perintah Menyampaikan dan Mengamalkan Hadits
Kewajiban
tunduk bagi orang yang mendengar riwayat (meski tidak melihat Nabi ﷺ) dikuatkan oleh wasiat beliau
sendiri agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Nabi ﷺ bersabda:
«لِيُبَلِّغِ
الشَّاهِدُ الغَائِبَ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى
لَهُ مِنْهُ»
“Hendaklah
yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi orang yang
dihadiahi kabar itu lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung.” (HR. Al-Bukhori no. 67 dan
Muslim no. 1679)
Ini
menunjukkan bahwa khobar yang dipindahkan secara valid (shohih) memiliki
kekuatan hukum yang sama mengikatnya bagi generasi berikutnya.
17.4
Ancaman bagi Orang yang Menolak Hadits Saat Sampai Kepadanya
Nabi ﷺ telah memperingatkan akan munculnya orang-orang
yang menolak Hadits dengan alasan tidak mendengarnya langsung atau hanya ingin
mencukupkan diri dengan Al-Qur’an. Beliau ﷺ bersabda:
«لَا
أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي
مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا نَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي
كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ»
“Jangan
sampai aku menjumpai salah seorang di antara kalian duduk bersandar di atas
dipannya, lalu datang kepadanya suatu perkara dari perintahku—baik yang aku
perintahkan atau yang aku larang—kemudian ia berkata: ‘Kami tidak tahu, apa
yang kami dapatkan dalam Kitabulloh, maka itulah yang kami ikuti’.” (HSR. Abu Dawud no. 4605)
Oleh karena
itu, ketika rantai periwayatan telah bersambung dengan shohih hingga tingkat
kejelasannya bangkit di dalam pemahaman kita seperti melihat langsung (maqomal
musyahadah), runtuhlah seluruh udzur (alasan) untuk menolak, dan yang
tersisa hanyalah kewajiban sam’an wa tho’atan (mendengar dan taat).
[18] Menetapkan Tanpa Menyerupakan
وَلَكِنْ نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَنَنْفِي
التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى [اللَّهُ] عَنْ نَفْسِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
Akan tetapi
kami menetapkan Sifat-Sifat ini, dan meniadakan tasybih (menyerupakan
Alloh dengan makhluk) sebagaimana Alloh meniadakan dari diri-Nya dengan
Firman-Nya Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha
Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)
Syarah:
Kaidah emas ini menggabungkan dua kewajiban utama: Itsbat
(menetapkan apa yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya) dan Tanzih/Nafyu
(mensucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk).
Kaidah ini
bersumber dari satu ayat yang menjadi pondasi utama Aqidah Islam, yaitu Surat
Asy-Syuro ayat 11. Di dalam ayat yang pendek ini, Alloh ﷻ
membantah dua kelompok sesat sekaligus:
18.1
Menafikan Tasybih (Menolak Penyerupaan)
Bagian ayat
﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ﴾
(Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia) adalah bantahan bagi kelompok Musyabbihah atau
Mujassimah (yang menyerupakan Sifat Alloh dengan makhluk).
18.2
Menetapkan Sifat (Itsbat)
Bagian ayat:
﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾
(dan Dia Maha Mendengar
lagi Maha Melihat) adalah bantahan bagi kelompok Mu’atthilah (yang menolak
atau menghilangkan Sifat-Sifat Alloh dengan dalih akal).
Maka, Ahlus
Sunnah menetapkan Sifat mendengar dan melihat bagi Alloh, namun pendengaran dan
penglihatan-Nya tidak sama dengan makhluk. Kesamaan Nama tidak konsekuensi
menunjukkan kesamaan hakikat.
18.3
Dalil-Dalil dari Al-Qur’an
Al-Qur’an
dipenuhi dengan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk beriman kepada Sifat-Sifat
Alloh tanpa menyekutukan atau menyerupakan-Nya dengan apa pun.
Dalil Penafian Penyeruaan
(Nafyut Tasybih)
Alloh ﷻ
menegaskan di berbagai tempat bahwa tidak ada satu pun makhluk yang sebanding
atau setara dengan-Nya:
﴿وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ﴾
“Dan
tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 4)
Yakni: Tidak
ada bagi-Nya satu pun yang setara dan menyamai-Nya, baik dalam Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya,
maupun perbuatan-perbuatan-Nya.
Dalam ayat
lain, Alloh ﷻ
berfirman dengan kalimat pengingkaran:
﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ
تَعْلَمُونَ﴾
“Karena
itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu
mengetahui.” (QS.
Al-Baqoroh: 22)
Serta
firman-Nya:
﴿هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا﴾
“Apakah
kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” (QS. Maryam: 65)
Makna samiyya
di sini adalah yang serupa, sebanding, atau berhak menyandang Sifat-Sifat
kesempurnaan seperti diri-Nya.
Dalil Penetapan Sifat
(Itsbatush Shifat)
Alloh ﷻ
menetapkan berbagai Sifat Kesempurnaan bagi diri-Nya, dan kewajiban makhluk
adalah mengimaninya sebagaimana datangnya teks tersebut. Di antaranya:
Sifat
Istiwa (Berada di atas ‘Arsy):
﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾
“(Yaitu)
Robb Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)
Sifat
Al-Yad (Tangan):
﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ
يَشَاءُ﴾
“(Tidak
demikian), tetapi kedua tangan Alloh terbuka; Dia memberi nafkah sebagaimana
Dia kehendaki.” (QS.
Al-Ma’idah: 64)
Sifat
Al-Wajh (Wajah):
﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾
“Dan
tetap kekal Wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)
Ahlus
Sunnah menetapkan Sifat Istiwa, Yad, dan Wajh bagi Alloh sesuai dengan
keagungan-Nya, tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimananya) dan
tanpa tasybih (menyerupakannya dengan tangan atau wajah makhluk).
18.4
Dalil-Dalil dari Hadits Nabi ﷺ
Rosululloh ﷺ juga mengajarkan Sifat-Sifat Alloh yang wajib
kita imani hakikatnya, namun disucikan dari keserupaan.
Sifat Nuzul (Turun ke
Langit Dunia)
Nabi ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ
رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى
ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
“Robb
kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa
sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa
kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku
beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni’.” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan
Muslim no. 758)
Hadits ini
adalah dalil Itsbat Sifat Nuzul bagi Alloh. Kita menetapkannya secara hakiki,
namun kita menafikan tasybih; turunnya Alloh tidak sama dengan turunnya
makhluk (seperti turun dari tangga atau kendaraan), karena tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan-Nya.
Sifat Adh-Dhohik (Tertawa)
Nabi ﷺ bersabda:
«يَضْحَكُ
اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ يَدْخُلاَنِ الجَنَّةَ»
“Alloh
tertawa melihat dua orang lelaki, yang salah satunya membunuh yang lain, namun
keduanya masuk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2826 dan Muslim no. 1890)
Kita
menetapkan Sifat tertawa bagi Alloh sesuai keagungan-Nya, bukan tertawa yang
membutuhkan urat wajah, gigi, atau suara seperti makhluk.
18.5
Atsar Salafush Sholih
Nu’aim bin
Hammad (228 H)—guru Imam Al-Bukhori—memberikan rumusan yang sangat selaras
dengan kutipan teks di atas. Beliau berkata:
مَنْ
شَبَّهَ اللَّهَ بِخَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ
نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، وَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَسُولُهُ تَشْبِيهًا
“Siapa yang
menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan siapa yang
mengingkari apa yang Alloh Sifati diri-Nya dengannya, maka ia telah kafir. Dan
tidaklah apa yang Alloh Sifati diri-Nya dengannya serta yang diSifati oleh
Rosul-Nya itu diNamakan penyerupaan (tasybih).” (Siyar A’lamin Nubala,
Al-Dzahabi, 5/610)
Beg pula
imam agung Ishaq bin Rohuyah (238 H) menjelaskan batasan tasybih:
إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ: يَدٌ كَيَدٍ
أَوْ مِثْلُ يَدٍ، أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ، فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ
كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ.
وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَدٌ وَسَمْعٌ
وَبَصَرٌ، وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ، فَهَذَا
لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا
“Sesungguhnya
tasybih itu hanyalah jika seseorang mengatakan: ‘Tangan (Alloh) seperti
tangan (makhluk)’, atau ‘serupa dengan tangan’, atau ‘pendengaran seperti
pendengaran’, atau ‘serupa dengan pendengaran’. Jika ia mengatakan demikian,
maka inilah tasybih. Adapun jika ia mengatakan sebagaimana yang Alloh Ta’ala
firmankan: (Alloh memiliki) tangan, pendengaran, dan penglihatan, tanpa
menanyakan bagaimananya (kaifa) dan tidak pula mengatakan ‘serupa dengan pendengaran’
atau ‘seperti pendengaran’, maka ini sama sekali bukan tasybih.” (Sunan
At-Tirmidzi, no. 662)
Kesimpulannya,
jalan keselamatan dalam beriman kepada Sifat Alloh adalah berjalan di atas dua
rel: menetapkan tanpa menyerupakan, dan mensucikan tanpa menolak.
Seluruh dalil Al-Qur’an dan Sunnah menuntun kita pada satu titik muara, yaitu
meyakini bahwa Alloh ﷻ
memiliki Sifat-Sifat Kesempurnaan yang hakiki, namun hakikat-Nya sama sekali
tidak sama dengan makhluk-Nya.
[19] Al-Quran Kalamulloh Bukan
Makhluk
وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ
الرَّبِيعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: وَقَالَ لَفْظِي
بِالْقُرْآنِ أَوْ قَالَ الْقُرْآنُ لَفْظِي كُلُّهَا
Dari Abdurrohman bin Abi Hatim, dari Ar-Robi’ bin Sulaiman, ia berkata:
Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: “Ucapan, ‘Lafazhku dengan Al-Qur’an’ atau
dia berkata ‘Al-Qur’an adalah lafazhku seluruhnya’ (adalah sama saja tidak boleh
jika Kalamulloh yang dimaksud makhluk).”
Syarah
Fitnah besar yang menimpa umat Islam pada kurun waktu awal
adalah masalah Kholqul Qur’an (makhluknya Al-Qur’an), serta cabang masalah yang
lahir darinya, yaitu ucapan: “Lafzhul Qur’an” (lafazhku saat membaca
Al-Qur’an itu makhluk atau bukan).
Teks seakan mengalami sedikit keterpotongan di bagian akhir
kata “kulluha” (seharusnya ada kelanjutan hukumnya, seperti bid’ah atau
jahmiyyun). Namun berdasarkan riwayat-riwayat yang shohih dan mutawatir dari muridnya
Imam Asy-Syafi’i (204 H), yakni Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) ia berkata:
مَنْ
قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيٌّ، وَمَنْ قَالَ غَيْرُ مَخْلُوقٍ
فَهُوَ مُبْتَدِعٌ.
“Siapa yang mengatakan lafazhku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka
ia adalah seorang Jahmiyy. Dan siapa yang mengatakan bahwa lafazhku terhadap
Al-Qur’an bukan makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah’.” (Al-Jami li Ulumil
Imam Ahmad, 3/572)
Perkataan
Imam Asy-Syafi’i “kulluha” (semuanya itu) merujuk pada dua redaksi
kalimat: “Lafzhi bil Qur’an” (lafazhku terhadap Al-Qur’an) atau “Al-Qur’an
lafzhi” (Al-Qur’an adalah lafazhku). Kedua redaksi ini sama-sama dilarang
dan ditolak oleh para imam Salaf.
19.1
Latar Belakang Masalah
Untuk
memahami mengapa Imam Asy-Syafi’i—begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal (241
H)—sangat keras memprotes dan menghukumi orang yang mengucapkan kalimat ini,
kita harus mengetahui tipu daya kelompok Jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan,
128 H).
Ketika kaum
Jahmiyyah murni secara terang-terangan mengatakan “Al-Qur’an adalah makhluk”,
Ahlus Sunnah bangkit membantah mereka dan menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah
Kalamulloh (ucapan Alloh), bukan makhluk.
Karena
terdesak secara dalil dan dibenci oleh kaum Muslimin, sebagian tokoh Jahmiyyah
merubah taktik dengan memunculkan istilah baru yang rancu (syubhat), yaitu: “Lafazhku
saat membaca Al-Qur’an adalah makhluk.”
19.2
Mengapa Istilah “Lafazhku” Dilarang Kaum Salaf?
Imam
Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama sezaman melarang ucapan tersebut karena
kalimat tersebut mengandung makna ganda yang batil (mujmal), yang bisa
disalahgunakan oleh ahli bid’ah.
Jika
seseorang mengatakan: “Lafazhku saat membaca Al-Qur’an adalah makhluk”,
kalimat ini mengandung dua kemungkinan arti:
Arti
yang Benar: Suara
manusia, pita suara, lidah, dan gerakan nafas orang yang membaca Al-Qur’an itu
memang makhluk (ciptaan Alloh).
Arti
yang Batil:
Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca itulah yang makhluk. Ini adalah tujuan
tersembunyi kaum Jahmiyyah agar mereka bisa menyusupkan Aqidah “Al-Qur’an
makhluk” lewat pintu belakang.
Oleh karena
itu, Imam Asy-Syafi’i menghukumi pelakunya sebagai Jahmiyy, karena ia
menggunakan kalimat rancu ini demi melariskan Aqidah Jahmiyyah.
19.3
Sisi Orang yang Mengatakan “Lafazhku Bukan Makhluk”
Sebaliknya,
jika ada orang awam dari Ahlus Sunnah yang ingin membela Al-Qur’an lalu
berlebihan dengan mengatakan: “Lafazhku saat membaca Al-Qur’an bukan
makhluk!”, maka ini pun salah dan dihukumi sebagai Mubtadi’ (ahli bid’ah).
Sebab,
ucapan ini mengharuskan suara manusia yang serak, lidahnya, dan air liurnya
ikut diSifati sebagai “bukan makhluk” (qodim). Ini adalah bentuk ghuluw
(berlebihan) yang menyelisihi kenyataan, karena organ tubuh manusia jelas
makhluk.
19.4
Sikap yang Benar dan Selamat
Ahlus
Sunnah wal Jama’ah mengambil jalan tengah yang adil dan tegas dalam masalah ini
dengan cara memperinci, bukan digeneralisir. Kaidah emas yang dipegang oleh
para ulama didasarkan pada ucapan para pentahqiq Aqidah:
الصَّوْتُ
صَوْتُ الْقَارِئِ، وَالْكَلَامُ كَلَامُ الْبَارِي
“Suara
(saat membaca) adalah suara milik qori’ (makhluk), sedangkan ucapan (yang
dibaca) adalah Kalam Robb Yang Maha Pencipta (bukan makhluk).” (Majmu
Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 23/361)
Jika kita
mendengar seseorang membaca Al-Qur’an dengan merdu, maka:
Al-Qur’an,
huruf-hurufnya, susunan kalimatnya, dan maknanya adalah Kalamulloh, yang Alloh
ucapkan secara hakiki dengan Huruf dan Suara yang didengar oleh Jibril ‘alaihis
salam. Al-Qur’an dalam hal ini bukan makhluk.
Adapun
suara manusia yang naik turun, lidah yang basah, kertas mushaf yang disentuh,
dan tinta yang digoreskan, itu semua adalah benda-benda baru yang diciptakan,
alias makhluk.
Riwayat
dari Imam Asy-Syafi’i ini adalah bukti kehati-hatian para ulama Salaf terhadap
istilah-istilah baru (muhdats) yang sengaja dibuat oleh ahli bid’ah
untuk mengaburkan Aqidah Islam. Jalan yang selamat adalah mencukupkan diri
dengan kalimat yang diwariskan oleh para Shohabat: Al-Qur’an adalah Kalamulloh,
diturunkan dari-Nya, dan bukan makhluk. Maka kita menutup pintu rapat-rapat
dari ucapan “lafazhku makhluk” maupun “lafazhku bukan makhluk”
demi menjaga kemurnian Tauhid.
[20] Beriman Sesuai Apa yang
Dimaksud Alloh dan Rosul-Nya
[وَقَالَ]: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَ عَنِ اللَّهِ
عَلَى مُرَادِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ وَمَا
جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ فِيمَا أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ
Ia berkata: “Aku
beriman kepada Alloh dan apa yang datang dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala sesuai
dengan maksud Alloh. Dan aku beriman kepada Rosulullah dan apa yang datang dari
Rosulullah sesuai dengan maksud Rosulullah.”
Syarah
Perkataan
yang sangat masyhur ini bersumber dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i
(204 H), yang meringkas kaidah agung tentang bagaimana seorang Muslim
seharusnya bersikap terhadap dalil-dalil syari’at, terutama dalam masalah
perkara ghoib dan Sifat-Sifat Alloh ﷻ.
Perkataan
ini dinukil oleh banyak ulama mazhab, salah satunya oleh Al-Imam Ibnu Qudamah
(620 H) dalam kitab Aqidahnya yang berkah, Lum’atul I’tiqod.
Kalimat
yang ringkas ini mengandung pondasi dasar yang membedakan antara manhaj
Salafush Sholih dengan manhaj ahli kalam (teolog) dalam memahami agama. Ada 3
poin utama yang terkandung di dalamnya:
20.1
Kepasrahan Total (Al-Inqiyad wat Taslim)
Inti dari
iman adalah ketundukan. Ketika suatu kabar datang dari Alloh ﷻ di
dalam Al-Qur’an, atau datang dari Nabi ﷺ di
dalam Hadits yang shohih, maka kewajiban pertama seorang hamba adalah
membenarkan dan menerimanya secara utuh. Hamba tersebut tidak boleh menolak
dalil hanya karena akalnya belum mampu menjangkaunya.
20.2
Memahami Dalil Sesuai Keinginan Pembuat Syari’at (Murodulloh wa Murodu Rosulih)
Inilah poin
paling krusial. Imam Asy-Syafi’i menegaskan bahwa kita wajib mengimani dalil ‘ala
murodillah (sesuai yang diinginkan Alloh) dan ‘ala murodi Rosulillah
(sesuai yang diinginkan Rosul).
Artinya,
kita dilarang membelokkan makna ayat atau Hadits kepada makna-makna baru yang
dipaksakan demi mencocoki teori akal manusia, atau yang biasa disebut dengan Ta’wil
yang batil.
Contoh:
Ketika Alloh ﷻ
menetapkan bahwa Dia berada di atas ‘Arsy-Nya (Istiwa), maka kita mengimaninya
sesuai yang diinginkan Alloh, yaitu tinggi dan menetap di atas ‘Arsy sesuai
keagungan-Nya. Kita tidak boleh menakwilnya menjadi “menguasai” (istaula)
sebagaimana yang dilakukan oleh ahli kalam, karena makna menguasai bukanlah apa
yang diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.
20.3
Memutus Ketamakan Akal dari Memikirkan Kaifiyah (Hakikat Sifat)
Ucapan ini
juga mengandung isyarat bahwa hakikat sejati dari Sifat-Sifat Alloh adalah
urusan yang ilmunya dikembalikan kepada Alloh ﷻ. Kita mengimani maknanya
(secara bahasa Arob jelas), namun kita menyerahkan bagaimananya (kaifiyah)
kepada Alloh. Sesuai dengan batasan akal makhluk yang terbatas.
20.4
Landasan Dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah
Manhaj taslim
(pasrah) yang diucapkan Imam Asy-Syafi’i ini tegak di atas dalil-dalil yang
kokoh:
Alloh ﷻ
memuji para ulama yang apabila datang perkara ghoib dan Sifat-Sifat-Nya, mereka
langsung beriman tanpa membuat-buat cara:
﴿وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ
آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
“Dan
orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Robb kami.’ Dan tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imron: 7)
Orang yang
menakwilkan dalil tanpa tuntunan dari Rosululloh ﷺ berarti telah berbicara atas Nama Alloh tanpa
ilmu, dan ini termasuk dosa besar. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
(mengharamkan) kamu mengada-ada terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’rof: 33)
20.5
Korelasi dengan Ucapan Ulama Salaf Lainnya
Perkataan
Imam Asy-Syafi’i ini bukanlah pendapat pribadi yang asing, melainkan sebuah
ijmak (kesepakatan) di antara para ulama.
Al-Imam
Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H)—salah seorang tokoh besar dari kalangan Tabi’ut
Tabi’in—mengucapkan kalimat yang senada dan menjadi kaidah emas:
مِنَ
اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ
“Dari Alloh
asal risalah, kewajiban Rosul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita (sebagai
umat) adalah pasrah menerima.” (Shohih Al-Bukhori secara mu’allaq)
Begitu pula
Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi (321 H) menuliskan dalam matan Aqidahnya yang
terkenal:
وَلا تَثْبُتُ قَدَمُ الإِسْلاَمِ إِلاَّ عَلَى
ظَهْرِ التَّسْلِيمِ والاسْتِسْلامِ
“Dan tidak akan
kokoh kaki Islam seseorang, kecuali di atas punggung pasrah dan berserah diri
(kepada dalil).” (Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah hlm. 43)
Selamatnya
hati dan akal adalah dengan menempatkan Wahyu di atas segalanya. Jika Alloh dan
Rosul-Nya telah menetapkan sesuatu, kita katakan: “Kami beriman, dan kami
pahami ini sesuai dengan apa yang Engkau inginkan, ya Robb, dan apa yang engkau
inginkan, ya Rosululloh, bukan sesuai selera akal dan hawa nafsu kami.”
Penutup
Melalui
lembaran-lembaran yang telah kita lalui bersama, Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh
memberikan teladan agung tentang pentingnya menetapkan Nama-Nama dan Sifat
Kesempurnaan bagi Alloh ﷻ (itsbat) tanpa terjatuh ke dalam jurang penyerupaan
dengan makhluk (tasybih), serta menyucikan-Nya (tanzih) tanpa
membatalkan Sifat-Sifat tersebut (ta’thil). Sikap pertengahan inilah
yang menjadi lentera penerang di tengah badai fitnah yang sempat menguji
kemurnian Aqidah umat pada masa-masa awal Islam.
Kami
memohon kepada Alloh ﷻ
dengan Nama-Nama-Nya yang husna dan Sifat-Sifat-Nya yang mulia, agar
menjadikan usaha yang sedikit ini sebagai amal sholih yang diterima di
sisi-Nya, menjadi pemberat timbangan kebaikan pada hari yang tidak lagi
bermanfaat harta dan anak-anak, serta mendatangkan barokah dan rizqi yang melimpah
bagi penulis, penerbit, dan segenap kaum Muslimin yang mengambil faedah
darinya.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa meneguhkan hati kita di atas Tauhid yang murni, menjauhkan kita dari
bisikan syaithon yang terkutuk, serta mengumpulkan kita kelak di dalam
Jannah-Nya bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin.
Allohu a’lam.[NK]
Daftar Pustaka
Kitab At-Tauhid wa Itsbatu Shifati Ar-Robb, Abū Bakr Muhammad bin
Is-hāq bin Khuzaimah (311 H).
Kitab Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari
(324 H).
Kitab Al-Asma was Shifat, Abū Bakr Ahmad bin al-Husain
al-Baihaqi (458 H).
Majmu’ al-Fatawa, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah (728 H).
Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim ibnu
Taimiyah (728 H).
Showa’iqul Mursalah ‘alal Jahmiyah wal Mu’athilah,
Syamsuddin Muhammad bin Abī Bakr ibnu Qoyyim al-Jauziyah (751 H).
Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi (792 H).
Al-Qowa’idul Matsla fī Sifatihil Ula wa Asma’ihil Husna,
Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (1426 H).
Shifatulloh ‘Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi was
Sunnah, Alawi bin Abdil Qodir
As-Saqqof.
Fiqh Al-Asma’ Al-Husna, Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.
%20-%20Nor%20Kandir.jpg)