Cari Ebook

[PDF] Syarah Aqidah Imam Asy-Syafi'i (204 H) - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Innal hamda lillah, sesungguhnya segala puji hanya milik Alloh . Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan meminta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari keburukan diri kita dan dari kejelekan amal perbuatan kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya; dan siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.

Amma ba’du:

Sesungguhnya ilmu yang paling utama, paling mulia, dan paling tinggi kedudukannya di dalam Islam adalah ilmu Tauhid. Ia merupakan asas dari seluruh sendi agama, urat nadi dari tegaknya syari’at, serta syarat utama bagi diterimanya amal sholih. Tanpa Aqidah, segala bentuk pengorbanan, ibadah Puasa, Zakat, Haji, bahkan Jihad sekalipun, akan sirna bagaikan debu yang ditiup angin kencang. Mengingat urgensinya yang begitu besar, para ulama Robbani di setiap zaman senantiasa mencurahkan perhatian yang luar biasa untuk menjaga kemurnian Aqidah umat dari noda-noda syubhat dan bid’ah yang diembuskan oleh ahli kalam dan syaithon yang terkutuk.

Di antara sekian banyak lentera ilmu yang menyinari jalannya umat ini adalah seorang imam yang keagungannya telah disepakati oleh dunia Islam, yaitu Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh. Beliau bukan sekadar peletak batu pertama ilmu Ushul Fiqih, melainkan seorang hamba yang kokoh di atas manhaj Salafush Sholih dalam masalah Asma` wa Shifat dan perkara-perkara ghoib. Risalah Aqidah yang disandarkan kepada beliau ini, meskipun ringkas dan sederhana dari segi jumlah barisnya, sesungguhnya memuat butir-butir mutiara Tauhid yang sangat dalam dan mengikat.

Buku yang berada di tangan pembaca sekalian ini merupakan syarah (penjelasan) atas matan Aqidah Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh tersebut. Kehadiran syarah ini dimaksudkan untuk mengurai kalimat-kalimat yang padat, menjelaskan maksud per paragraf, serta menegakkan dalil-dalil syar’i yang bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi yang shohih.

Font matan dan syarah dibuat berbeda agar pembaca mudah membedakan antara ucapan Sang Imam dan pensyarah.

Dalam menyusun syarah ini, kami menempuh jalan pertengahan yang diwariskan oleh para ulama Ahli Hadits, yaitu menetapkan apa yang Alloh dan Rosul-Nya tetapkan (itsbat) dan menyucikan Alloh dari segala bentuk penyerupaan dengan makhluk (tanzih).

 

Kevalidan Sanad

قَالَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْحَافِظُ صَدْرُ الدِّينِ الْيَاسُوفِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى، قَالَ حَدَّثَنَا لِسَانُ الْأَدَبِ وَحُجَّةُ الْعَرَبِ بَدْرُ الدِّينِ مُحَمَّدُ بْنُ نَجْمُ الدِّينِ [مَكِّيُّ] بْنُ أَبِي الْغَنَائِمِ الْمَعَرِّيُّ الشَّافِعِيُّ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الْعَامِلُ الْقُدْوَةُ، الْحَافِظُ، الْمُفْتِي الْخَطِيبُ الزَّاهِدُ الْعَارِفُ، الْبَارِعُ، شَيْخُ الْمَشَايِخِ، فَخْرُ الْأُمَّةِ، تَاجُ الْعُلَمَاءِ، فَخْرُ الْخُطَبَاءِ، أَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْفَرَجِ الْفَارُوثِيُّ الشَّافِعِيُّ خَطِيبُ جَامِعِ دِمَشْقَ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ بَدْرُ الدِّينِ أَبُو الْقَاسِمِ عَلِيُّ بْنُ الْحَافِظِ أَبِي الْفَرَجِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَلِيٍّ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ الْجَوْزِيِّ - قَدَّسَ اللَّهُ رُوحَهُ، أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ يَحْيَى بْنِ هِلَالِ بْنِ الْأَعْرَابِيِّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِبَغْدَادَ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْعِزِّ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعُكْبَرِيُّ، أَخْبَرَنَا: أَبُو طَالِبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَتْحِ الْعُشَارِيُّ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْدَكِ الْبَرْذَعِيُّ، أَخْبَرَنَا: أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيُّ، أَنْبَأَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الْمِصْرِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ - وَقَدْ سُئِلَ عَنْ صِفَاتِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَا يَنْبَغِي أَنْ يُؤْمَنَ بِهِ، فَقَالَ:

Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Shodruddin Al-Yasufi rohimahulloh berkata:

Telah menceritakan kepada kami Lisanul Adab dan Hujjatul Arob Badruddin Muhammad bin Najmuddin [Makki] bin Abil Ghona’im Al-Ma’arri Asy-Syafi’i, ia berkata:

Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Al-’Alim Al-’Amil Al-Qudwah, Al-Hafizh, Al-Mufti Al-Khothib Az-Zahid Al-’Arif, Al-Bari’, Syaikhul Masyayikh, Fakhrul Ummah, Tajul Ulama, Fakhrul Khuthoba’, Abul Abbas Ahmad bin Ibrohim bin Umar bin Al-Faroj Al-Faruthi Asy-Syafi’i, Khothib Jami’ Dimasyq Rohimahulloh ia berkata:

Telah mengabarkan kepada kami Asy-Syaikh Al-Imam Badruddin Abul Qosim Ali bin Al-Hafizh Abil Faroj Abdurrahman bin Ali bin Muhammad bin Al-Jauzi – QoddasAllohu Ruhahu:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’id Abdul Jabbar bin Yahya bin Hilal bin Al-A’robi secara qiro’ah (dibacakan kepadanya) di Baghdad:

Telah mengabarkan kepada kami Abul Izz Ahmad bin Abdillah Al-Ukbari:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Tholib Muhammad bin Al-Fath ‘Al-Ushori:

Telah mengabarkan kepada kami Abul Hasan Ali bin Abdul Aziz bin Mardak Al-Bardza’i:

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Abdurrohman bin Abi Hatim Ar-Rozi:

Telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Abdil A’la Al-Mishri, ia berkata:

Aku mendengar Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rodhiyAllohu ‘Anhu berkata ketika ditanya tentang sifat-sifat Alloh Ta’ala dan apa yang sepatutnya diimani

Syarah

Sanad ini adalah shohih, seperti yang disebutkan oleh pentahqiq matan ini, yaitu Dr. Thoriq bin Said Al-Qohthoni. Sanad ini bersambung dari Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Shodruddin Al-Yasufi hingga bermuara pada Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H). (Lihat Itiqod Syafi’i dalam muqoddimah pentahqiq, hal. 30-32)

 

[1] Makna Nama dan Sifat Alloh

Memahami makna Nama dan Sifat Alloh merupakan puncak ilmu yang paling mulia, karena kemuliaan suatu ilmu diukur dari objek yang dipelajari. Nama-Nama Alloh (Asmaul Husna) merupakan Nama yang mengandung Sifat-Sifat kesempurnaan yang mutlak. Antara Nama dan Sifat memiliki kaitan erat: setiap Nama pasti mengandung Sifat, namun tidak setiap Sifat boleh dijadikan sebagai Nama.

1.1 Makna Nama-Nama Alloh

Nama-Nama Alloh (Asmaul Husna) adalah seluruh Nama yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh Rosul-Nya . Makna (kandungan) dari Nama-Nama ini adalah husna (mencapai puncak kebaikan dan keindahan) karena bersumber dari Sifat-Sifat keagungan. Nama Alloh bersifat mutawaafiq (menunjukkan dzat) sekaligus mutathoobiq (mengandung makna Sifat).

Sebagai contoh, Al-Alim adalah Nama Alloh , dan makna yang terkandung di dalamnya adalah menetapkan Dzat Alloh serta menetapkan bahwa Dia memiliki Sifat ilmu (mengetahui).

Alloh berfirman:

﴿قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

Katakanlah: Serulah Alloh atau serulah Ar-Rohman. Dengan Nama mana saja kamu seru, Dia mempunyai Nama-Nama yang terbaik. (QS. Al-Isro’: 110)

1.2 Makna Sifat-Sifat Alloh

Sifat Alloh adalah Sifat kesempurnaan yang ada pada Dzat Alloh . Sifat Alloh lebih luas cakupannya daripada Nama-Nama-Nya. Sifat Alloh terbagi menjadi 2 bagian besar:

[1] Sifat Dzatiyyah: Sifat yang terus-menerus ada pada Dzat Alloh dan tidak pernah terpisah dari-Nya, seperti Sifat Al-Hayat (Hidup), Al-Ilmu (Mengetahui), dan Al-Qudroh (Kuasa).

[2] Sifat Fi’liyyah: Sifat perbuatan yang Alloh lakukan kapan pun Dia kehendaki, seperti Istiwa (bersemayam di atas ‘Arsy), Nuzul (turun ke langit dunia), dan Al-Ghodhob (Marah).

Alloh berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dan Alloh mempunyai Sifat yang Maha Tinggi; dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nahl: 60)

Ini adalah asal. Lalu Sifat Alloh ditinjau dari penafian-penetapan dibagi: mutsbatah (ditetapkan) dan manfiyah (ditiadakan seperti mengantuk). Lalu ditinjau dari sumbernya dibagi: khobariyah (hanya dari Wahyu seperti di atas Arsy) dan sam’iyyah aqliyyah (ditetapkan Wahyu dan akal, seperti berilmu). (Lihat Shifatulloh Al-Waridah fil Kitab was Sunnah, Alawi Saqqof, hal. 31-33)

1.3 Contoh-Contohnya

[1] Nama Al-Hafizh maknanya adalah Yang Maha Menjaga seluruh makhluk-Nya, mengawasi amal perbuatan mereka, serta menjaga kekasih-kekasih-Nya dari dosa. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah al-hifzh (menjaga).

Alloh berfirman:

﴿فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Maka Alloh adalah penjaga yang terbaik dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. (QS. Yusuf: 64)

[2] Nama Al-Hayyu maknanya adalah Yang Maha Hidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak diawali dengan ketiadaan dan tidak diakhiri dengan kemusnahan. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah al-hayat (kehidupan yang sempurna).

Alloh berfirman:

﴿وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Dan bertawakallah kepada Yang Maha Hidup yang tidak mati. (QS. Al-Furqon: 58)

[3] Nama Al-Qoyyum maknanya adalah Yang Maha Berdiri Sendiri, tidak membutuhkan bantuan makhluk sedikit pun, dan seluruh makhluk bergantung kepada-Nya untuk tetap ada. Sifat yang terkandung di dalamnya adalah al-qoyyumiyyah (kemandirian mutlak).

Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

Alloh, tidak ada Robb yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri. (QS. Ali ‘Imron: 2)

[4] Al-Kalam merupakan Sifat Dzatiyyah sekaligus Fi’liyyah bagi Alloh . Dari sisi ia senantiasa azali bersama Alloh, maka ia Dzatiyyah; dan dari sisi ia sesuai kehendak Alloh kapan bicara maka ia Fi’liyyah.

Makna Kalam, Alloh berbicara dengan suara dan huruf yang didengar oleh siapa yang Dia kehendaki, sesuai dengan keagungan-Nya tanpa menyerupai makhluk.

Alloh berfirman:

﴿وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا

Dan Alloh telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (QS. An-Nisa’: 164)

[5] Al-Mahabbah adalah Sifat Fi’liyyah yang maknanya Alloh mencintai hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal sholih. Cinta Alloh adalah hakiki, mendatangkan ridho dan pahala, tidak boleh ditolak atau dita’wil menjadi sekadar “keinginan memberi pahala”.

Alloh berfirman:

﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Katakanlah: Jika kamu benar-benar mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mencintai kamu. (QS. Ali ‘Imron: 31)

[6] Sifat Al-Yadain bagi Alloh adalah Sifat Dzatiyyah Khobariyyah (Sifat yang diketahui dari kabar Wahyu). Maknanya, Alloh memiliki 2 tangan yang haqiqi sesuai keagungan-Nya, yang dengannya Dia menciptakan Nabi Adam, membentangkan rizqi, dan menggenggam bumi pada hari Qiyamah.

Nabi bersabda:

«يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُنْذُ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِي يَدِهِ، وَعَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَبِيَدِهِ الأُخْرَى المِيزَانُ، يَخْفِضُ وَيَرْفَعُ»

Tangan Alloh itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah yang diberikan terus-menerus, baik di waktu malam maupun siang. Tahukah kalian apa yang telah Dia nafkahkan sejak menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya hal itu tidak mengurangi apa yang ada di tangan-Nya. Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air, sedangkan di tangan-Nya yang lain ada timbangan urusan, Dia merendahkan dan meninggikan. (HR. Al-Bukhori no. 7411 dan Muslim no. 993)

Mengimani makna Nama dan Sifat Alloh wajib berjalan di atas rel yang lurus, yaitu menetapkan maknanya secara hakiki sebagaimana yang pantas bagi keagungan Alloh , tanpa melakukan tahrif (pengubahan makna), ta’thil (penolakan), takyif (mempertanyakan bagaimananya), dan takyif (menyerupakan dengan makhluk). Pengetahuan ini membuahkan rasa berharap (roja), takut (khouf), serta cinta (mahabbah) yang mendalam di dalam hati seorang Mu’min.

 

[2] Beriman kepada Sifat Alloh Tanpa Menolaknya

Imam Asy-Syafi’i (204 H) berkata:

لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَسْمَاءٌ وَصِفَاتٌ جَاءَ بِهَا كِتَابُهُ، وَأَخْبَرَ بِهَا نَبِيُّهُ أُمَّتَهُ، لَا يَسَعُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِ اللَّهِ تَعَالَى قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ رَدُّهَا؛

Alloh Tabaroka wa Ta’ala memiliki Nama-Nama dan Sifat-Sifat yang disebutkan dalam Kitab-Nya, dan Rosul-Nya telah mengabarkannya kepada umatnya. Tidak ada seorang pun dari makhluk Alloh Ta’ala yang telah sampai kepadanya hujjah ini dibolehkan untuk menolaknya.

Syarah

Ucapan ini merupakan pondasi dalam bab keimanan terhadap Nama-Nama dan Sifat-Sifat Alloh . Di dalamnya terkandung kewajiban menetapkan seluruh Nama dan Sifat yang telah tsabit (shohih) dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa menolaknya, serta penegasan bahwa udzur bil jahl (ketidaktahuan) itu terangkat bagi siapa saja yang telah sampai kepadanya hujjah (penjelasan).

2.1 Wajibnya Beriman Kepada Nama dan Sifat Alloh

[1] Alloh berfirman:

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Alloh memiliki Nama-Nama yang paling baik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Nama-Nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam Nama-Nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A’rof: 180)

Ayat ini menunjukkan kewajiban menetapkan Nama-Nama yang paling baik bagi Alloh dan beribadah kepada-Nya dengan Nama-Nama tersebut. Celaan dan ancaman adzab bagi orang yang melakukan ilhad (penyimpangan/penolakan) terhadap Nama-Nama Alloh menjadi dasar bahwa menolak Nama dan Sifat Alloh setelah tegaknya hujjah adalah perbuatan harom.

[2] Alloh berfirman:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Asy-Syuro: 11)

Ayat ini merupakan pondasi dalam bab Sifat. Bagian pertama ayat menolak takyif (penyerupaan Alloh dengan makhluk), sedangkan bagian kedua menetapkan Sifat mendengar dan melihat bagi Alloh . Istinbatnya adalah kewajiban menetapkan Sifat tanpa melakukan ta’thil (penolakan) dan tanpa tasybih (penyerupaan).

[3] Alloh berfirman:

﴿فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Alloh. Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 74)

Larangan membuat penyerupaan bagi Alloh karena ilmu makhluk sangat terbatas. Konsekuensi dari hal ini adalah wajib menerima seluruh Nama dan Sifat yang dikabarkan oleh-Nya karena Dia yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri.

[4] Nabi bersabda:

«إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ»

Sesungguhnya Alloh memiliki 99 Nama, 100 kurang 1, siapa yang menghafal dan memahaminya maka dia masuk Jannah. (HR. Al-Bukhori no. 2736 dan Muslim no. 2677)

Hadits ini menunjukkan penetapan Nama-Nama bagi Alloh yang datang melalui lisan Rosul-Nya . Makna “menghafal dan memahami” mencakup menetapkan Nama-Nama tersebut, mengimaninya, dan beribadah dengan konsekuensinya, bukan malah menolak atau menta’wilnya.

[5] Nabi bersabda dalam doa beliau:

«أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ»

Aku memohon kepada-Mu dengan setiap Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau Namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghoib di sisi-Mu. (HSR. Ahmad no. 3712)

Hadits ini membagi Nama-Nama Alloh menjadi yang diturunkan dalam Kitab-Nya, yang diajarkan melalui Rosul-Nya, dan yang ghoib. Ini menguatkan lafazh matan bahwa Al-Qur’an dan Rosul-Nya adalah jalur penetapan Nama dan Sifat Alloh, serta menunjukkan bahwa Nama-Nama Alloh tidak terbatas pada angka tertentu.

2.2 Menolak Setelah Tegak Hujjah

[1] Alloh berfirman:

﴿وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبَعَثَ رَسُولًا

Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang Rosul. (QS. Al-Isro’: 15)

Ayat ini berkaitan erat dengan kalimat dalam matan “bagi siapa saja yang telah tegak atasnya hujjah”. Alloh tidak menuntut dan tidak mengadzab hamba-Nya sebelum diutusnya Rosul dan sampainya risalah. Namun, begitu risalah dan dalil Al-Qur’an telah sampai, maka hujjah dipandang telah tegak dan tidak ada udzur bagi siapa pun untuk menolaknya.

[2] Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Naar Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)

Ancaman Naar bagi orang yang menyelisihi jalan para Shohabat dan menentang Rosul setelah jelasnya petunjuk (tegaknya hujjah). Menolak Nama dan Sifat yang dibawa oleh Rosul termasuk bentuk penentangan yang diancam dalam ayat ini.

[3] Nabi bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku maka Aku kabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku maka Aku beri, siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku ampuni. (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hadits ini merupakan contoh dari dalil penetapan Sifat fi’liyyah (perbuatan) bagi Alloh , yaitu Sifat nuzul (turun) ke langit dunia sesuai dengan keagungan-Nya. Hadits ini wajib diterima apa adanya tanpa ta’thil dan tanpa tasybih, karena yang mengabarkannya adalah utusan-Nya yang paling jujur.

Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata:

إِذَا قَالَ لَكَ الْجَهْمِيُّ: أَنَا أَكْفُرُ بِرَبٍّ يَنْزِلُ عَنْ مَكَانِهِ، فَقُلْ: أَنَا أُومِنُ بِرَبٍّ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

Jika orang Jahmiyyah berkata kepadamu: “Aku kufur kepada Robb yang turun dari tempatnya,” maka katakanlah: “Aku beriman kepada Robb yang melakukan apa saja yang Dia kehendaki.” (Syarhu Ushul, Al-Lalikai, 28/19)

Perkataan Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) adalah ijma’ (kesepakatan) Salaf dalam menolak pemikiran Jahmiyyah yang suka menolak Sifat-Sifat Alloh dengan akal mereka. Kaum Salaf menetapkan Sifat turun bagi Alloh karena dalilnya telah datang dari Rosul , dan menolaknya merupakan ciri bid’ah.

Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H) rohimahulloh berkata:

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

Dari Alloh datangnya risalah, kewajiban Rosul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah pasrah menerima. (Kholqu Af’alil Ibad, Al-Bukhori, hal. 76)

Ucapan Az-Zuhri (124 H) ini merupakan kaidah agung yang mendasari kalimat terakhir matan “tidak ada kelonggaran bagi seorang pun dari makhluk Alloh... untuk menolaknya”. Ketika risalah yang membawa berita Nama dan Sifat Alloh telah sampai, satu-satunya kewajiban makhluk adalah taslim (pasrah menerima) dan dilarang keras melakukan rodd (penolakan).

Sumber penetapan Nama dan Sifat Alloh hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketika dalil-dalil tersebut telah sampai kepada seorang mukallaf (orang yang terbebani syariat), maka gugurlah udzur kebodohannya, dan dia wajib tunduk serta mengimani seluruh Nama dan Sifat tersebut tanpa melakukan penolakan sedikit pun.

 

[3] Sumber Memahami Sifat Alloh

Imam Asy-Syafii berkata:

لِأَنَّ الْقُرْآنَ نَزَلَ بِهَا، وَصَحَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ الْقَوْلُ بِهَا فِيمَا رَوَى عَنْهُ الْعَدْلُ

Karena Al-Qur’an diturunkan berisi Sifat-Sifat itu, dan telah shohih dari Nabi perkataan tentangnya dalam riwayat yang disampaikan oleh orang yang adil.

Syarah

Ini merupakan penegasan mengenai dua jalur utama yang sah dan ma’shum (terjaga) dalam menetapkan Aqidah, khususnya bab Nama dan Sifat Alloh . Dua jalur tersebut adalah Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah Ash-Shohihah yang diriwayatkan oleh para rowi yang adil. Di dalam syariat, tidak ada ruang bagi akal atau rasa untuk mengada-adakan hal baru dalam urusan ghoib tanpa bersandar pada dua Wahyu ini.

3.1 Al-Qur’an Diturunkan Agar Ditadabburi

[1] Alloh berfirman:

﴿كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. Shod: 29)

Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan tujuan agar ayat-ayatnya ditadabburi (difikirkan dan dipahami maknanya). Karena Al-Qur’an dipenuhi dengan kabar tentang Nama dan Sifat Alloh , maka kewajiban hamba adalah menetapkan makna-makna tersebut sesuai dengan apa yang diturunkan, tanpa menyimpang darinya.

[2] Alloh berfirman:

﴿تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Diturunkan dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (QS. Fusshilat: 2)

﴿وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan sesungguhnya Al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Robb semesta alam. (QS. Asy-Syu’aro’: 192)

Kedua ayat ini menegaskan bahwa Sifat turun (tanzil) disandarkan langsung kepada Al-Qur’an yang berasal dari Alloh . Istinbat hukumnya adalah kedudukan Al-Qur’an sebagai hujjah tertinggi yang wajib diikuti dalam seluruh bab agama, karena ia datang langsung dari Robb yang paling mengetahui tentang diri-Nya sendiri.

3.2 Kewajiban Mengambil Hadits

[1] Alloh berfirman:

﴿وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ  إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah Wahyu yang diWahyukan. (QS. An-Najm: 3-4)

Ayat ini menetapkan Sifat ma’shum bagi setiap ucapan Nabi dalam urusan syariat dan Aqidah. Segala Sifat Alloh yang beliau kabarkan statusnya sama dengan Al-Qur’an, yaitu sama-sama bersumber dari Wahyu Alloh , sehingga menolak Hadits shohih sama saja dengan menolak Wahyu.

[2] Alloh berfirman:

﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (QS. Al-Hasyr: 7)

Perintah mengambil (fakhudzuhu) apa saja yang dibawa oleh Rosul berSifat umum, mencakup hukum syariat maupun kabar Aqidah. Menolak Hadits shohih yang berisi Sifat-Sifat Alloh merupakan pelanggaran langsung terhadap perintah ayat ini.

3.3 Wajibnya Menerima dari Tsiqot Meskipun Satu Orang

Tsiqot adalah para rowi yang akurat dan jujur dalam menyampaikan dan mengambil riwayat. Apapun yang shohih dari mereka wajib diambil.

[1] Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurot: 6)

Mafhum mukholafah (makna kebalikan) dari ayat ini adalah: jika yang membawa berita tersebut bukan orang fasik, melainkan seorang yang adil (al-’adl), maka beritanya wajib langsung diterima dan diamalkan tanpa perlu tawaqquf (ragu-ragu/meneliti ulang). Ini adalah dalil pokok diterimanya khobar wahid dalam masalah Aqidah.

[2] Alloh berfirman:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)

Kata thoifah dalam bahasa Arob bisa bermakna satu orang atau lebih. Alloh menjadikan peringatan dan ilmu yang dibawa oleh satu kelompok kecil (bahkan satu orang yang adil) sebagai hujjah yang wajib dengannya kaum lain merasa takut (yahdzarun). Menakuti manusia dengan ancaman Alloh dan Sifat-Sifat-Nya melalui lisan rowi yang adil adalah sah dan wajib diterima.

[3] Nabi bersabda dalam khutbah beliau:

«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»

Semoga Alloh mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya persis seperti yang dia dengar, karena bisa jadi orang yang dikabari lebih paham daripada yang mendengar langsung. (HSR. At-Tirmidzi no. 2657)

Hadits ini menunjukkan legalitas penukilan sunnah oleh individu per individu (imro’an yang bermakna tunggal). Nabi mendoakan dan memerintahkan penyampaian syariat lewat jalur perorangan, yang mencakup penyampaian kabar tentang Nama dan Sifat Alloh .

Dari Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Ketika orang-orang sedang sholat Shubuh di Masjid Quba, tiba-tiba datang seseorang kepada mereka dan berkata: Sesungguhnya Rosulullah telah diturunkan Wahyu Al-Qur’an kepadanya malam ini, dan beliau telah diperintahkan untuk menghadap Ka’bah, maka menghadaplah ke sana. Saat itu wajah mereka sedang menghadap ke negeri Syam, maka mereka pun langsung berputar menghadap Ka’bah. (HR. Al-Bukhori no. 403 dan Muslim no. 526)

Para Shohabat di Masjid Quba langsung menerima kabar pengalihan kiblat (yang merupakan urusan hukum syariat besar) hanya berdasarkan penuturan satu orang lelaki yang adil yang mendatangi mereka. Kejadian ini terjadi di zaman Nabi dan dibenarkan oleh syariat, menunjukkan bahwa khobar dari satu orang yang adil membangun keyakinan dan kewajiban amal.

Kelompok ahli kalam yang menolak Sifat-Sifat Alloh dengan alasan Haditsnya berstatus wahid (bukan mutawatir). Selama Al-Qur’an telah menyebutkannya, dan Hadits shohih dari orang yang adil telah menetapkannya, maka hujjah telah tegak dengan sempurna atas seluruh makhluk.

 

[4] Kekafiran Setelah Tegak Hujjah

فَإِنْ [خَانَ اللَّهَ] بَعْدَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ بِهِ فَهُوَ كَافِرٌ،

Jika seseorang mengkhianati Alloh (dengan menolak tersebut) setelah tegaknya hujjah atasnya, maka ia kafir.

Syarah

Lafazh matan ini merupakan konsekuensi logis dari poin-poin sebelumnya. Setelah dijelaskan bahwa Nama dan Sifat Alloh telah tsabit (shohih) berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dibawa oleh rowi yang adil, serta hujjah telah tegak secara sempurna kepada seorang mukallaf, maka siapa yang mengambil jalan untuk menolak, menentang, atau mengkhianati apa yang datang dari Alloh , statusnya dapat jatuh ke dalam kekufuran.

4.1 Penghianatan dan Kekufuran

Kata khonalloh [خَانَ اللَّهَ] dalam konteks bab Aqidah dan Sifat di sini bermakna: menyelisihi, membelakangi, atau menolak kebenaran setelah dia mengetahuinya. Pengkhianatan di sini bukan berarti menyembunyikan rahasia, melainkan merusak ikatan keimanan yang semestinya dibangun di atas taslim (pasrah menerima) terhadap berita dari Alloh .

Menolak Nama dan Sifat Alloh setelah tegaknya hujjah disamakan dengan pengkhianatan karena hamba tersebut tidak amanah terhadap ilmu yang telah sampai kepadanya.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Alloh dan Rosul dan janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat kamu, sedang kamu mengetahui. (QS. Al-Anfal: 27)

Larangan mengkhianati Alloh dan Rosul-Nya dikaitkan dengan kalimat “sedang kamu mengetahui”. Ini menunjukkan bahwa pelanggaran yang dilakukan dengan sengaja di atas pondasi ilmu (setelah tegaknya hujjah) memiliki konsekuensi hukum yang sangat berat di sisi syariat.

4.2 Syarat Takfir Adalah Setelah Tegaknya Hujjah

Kalimat “setelah tetapnya hujjah atasnya” (ba’da tsubutil hujjahi ‘alaihi) merupakan syarat mutlak dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebelum menjatuhkan vonis kufur kepada person tertentu (takfir mu’ayyan). Seseorang tidak dihukumi kafir semata-mata karena dia salah atau tidak tahu, melainkan hukum itu berlaku ketika kebenaran telah dijelaskan kepadanya, syubhatnya telah dihilangkan, namun dia tetap bersikeras menolaknya karena sombong atau mengikuti hawa nafsu. Hanya ulama yang berhak menjatuhkan vonis bukan penuntut ilmu atau netizen.

Alloh berfirman:

﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)

Ayat ini menetapkan ancaman masuk Jahannam bagi orang yang menentang Rosul “sesudah jelas kebenaran baginya” (min ba’di ma tabayyana lahul huda). Kalimat ini senada dengan “setelah tetapnya hujjah atasnya” dalam matan, yang menjadi dalil bahwa penolakan setelah datangnya penjelasan adalah pembatal keislaman.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ

Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (murtad) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaithon telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka dan memanjangkan angan-angan mereka. (QS. Muhammad: 25)

Alloh meNamai perbuatan kembali ke belakang setelah jelasnya petunjuk sebagai bentuk murtad (keluar dari Islam). Penolakan terhadap Sifat-Sifat Alloh yang termaktub di dalam Al-Qur’an setelah seseorang paham maknanya termasuk ke dalam cakupan ayat ini.

Ishaq bin Rohuyah (238 H) rohimahulloh berkata:

«مَنْ بَلَغَهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ خَبَرٌ يُقِرُّ بِصِحَّتِهِ ثُمَّ رَدَّهُ بِغَيْرِ تَقِيَّةٍ فَهُوَ كَافِرٌ»

Siapa yang telah sampai kepadanya sebuah kabar dari Nabi yang dia mengakui keshohihannya, kemudian dia menolaknya tanpa ada rasa takut (terpaksa), maka dia adalah kafir. (Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam, Ibnu Hazm, 1/97)

Ucapan Ishaq bin Rohuyah (238 H) ini mematok hukum kafir secara tegas bagi siapa saja yang melakukan rodd (penolakan) terhadap Hadits shohih setelah dia tahu bahwa Hadits itu shohih. Ini termasuk makna “setelah tetapnya hujjah atasnya, maka dia kafir” yang dimaksud di dalam matan.

Matan ini memberikan batasan yang adil dan selamat: di satu sisi, ia tidak bermudah-mudah mengafirkan orang awam yang belum tahu atau salah paham karena belum sampainya ilmu; namun di sisi lain, ia bersikap tegas kepada ahli bid’ah yang sengaja menolak ayat dan Hadits shohih tentang Sifat Alloh setelah diterangkan hujjah kepada mereka secara gamblang.

 

[5] Udzur karena Jahil

فَأَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ [مِنْ جِهَةِ الْخَبَرِ] [فَمَعْذُورٌ] بِالْجَهْلِ؛ لِأَنَّ عِلْمَ اللَّهِ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ، وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ.

Adapun sebelum tegaknya hujjah (dari segi Hadits), maka ia dimaafkan karena ketidaktahuan. Hal itu disebabkan ilmu Alloh tidak dapat diraih dengan akal, dan tidak pula dengan pandangan atau pikiran.

Syarah

Kalimat matan ini merupakan oase keadilan dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Di dalamnya terkandung kaidah agung mengenai rohmat dan keadilan Alloh yang tidak mengadzab hamba-Nya sebelum tegaknya hujjah, serta batasan tegas akal manusia yang tidak akan mampu menjangkau hakikat ghoib secara mandiri.

5.1 Belum Sampainya Hadits

فَأَمَّا قَبْلَ ثُبُوتِ الْحُجَّةِ عَلَيْهِ [مِنْ جِهَةِ الْخَبَرِ] [فَمَعْذُورٌ] بِالْجَهْلِ؛

Alloh membangun syariat ini di atas pondasi keadilan, di mana Dia tidak menuntut seorang hamba atas suatu kewajiban yang belum pernah ia dengar informasinya. Matan ini menegaskan bahwa sebelum hujjah tegak secara nyata—yakni melalui jalur khobar berupa diutusnya para Rosul dan diturunkannya Kitab-Kitab suci—maka seorang hamba dinilai ma’dzur (mendapatkan udzur) atas ketidaktahuannya.

Islam tidak menghukum seseorang yang hidup di pedalaman yang jauh, atau masa kekosongan Rosul (fatroh), yang tidak pernah mendengar ayat Al-Qur’an maupun Hadits Nabi mengenai Nama dan Sifat-Sifat-Nya. Ketika ilmu belum sampai ke telinga mereka, kesalahpahaman atau ketiadaan makrifat mereka dimaafkan oleh syariat.

Nabi bersabda:

«لَيْسَ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ أَنْزَلَ الْكِتَابَ وَأَرْسَلَ الرُّسُلَ»

Dan tidak ada satu pun yang lebih menyukai alasan (memberi udzur kepada hamba-Nya) daripada Alloh, karena itulah Dia mengutus para pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (HR. Muslim no. 2760)

Hadits yang agung ini menetapkan bahwa Alloh sangat suka memberikan udzur dan kelonggaran bagi hamba-Nya yang belum tahu. Bentuk kasih sayang-nya ini diwujudkan dengan tidak mengadzab mereka sebelum dikirimkannya khobar lewat para Nabi, yang selaras dengan penegasan matan di atas.

5.2 Keterbatasan Akal Menjangkau Ilmu Ghoib

لِأَنَّ عِلْمَ اللَّهِ لَا يُدْرَكُ بِالْعَقْلِ،

Kalimat ini menjadi tamparan keras bagi kaum rasionalis yang mendewakan logika dalam urusan Aqidah. Mengapa seorang hamba dimaafkan sebelum adanya khobar? Jawabannya adalah karena ilmu tentang Dzat dan Sifat-Sifat Alloh merupakan perkara ghoib yang sama sekali tidak akan pernah bisa dijangkau oleh akal manusia sendirian.

Akal manusia diciptakan dengan kapasitas yang terbatas; ia laksana mata yang hanya bisa melihat objek jika ada cahaya. Di dalam bab Aqidah, cahaya tersebut adalah Wahyu. Tanpa adanya bimbingan Wahyu, akal yang paling cerdas sekalipun di dunia ini tidak akan pernah tahu bahwa Robb mereka berada di atas ‘Arsy, atau bahwa Dia memiliki Sifat turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. Oleh karena itu, sandaran utama dalam bab ini adalah pasrah kepada teks Wahyu, bukan mendiktekannya dengan akal.

[1] Alloh berfirman:

﴿رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهَ عَزِيزًا حَكِيمًا

Mereka Kami utus sebagai Rosul-Rosul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Alloh sesudah diutusnya Rosul-Rosul itu. Dan Alloh Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’: 165)

Ayat ini menunjukkan dengan gamblang bahwa sebelum diutusnya para Rosul, manusia memiliki hujjah (alasan/udzur) di hadapan Alloh berupa ketidaktahuan mereka.

Kesimpulannya, status ma’dzur bil jahl (dimaafkan karena bodoh) adalah tsabit berdasarkan nas Al-Qur’an sampai hujjah itu tegak melalui lisan para Rosul.

[2] Alloh berfirman:

﴿وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi-Nya. (QS. Tho-Ha: 110)

Manusia dilarang dan dinyatakan tidak akan pernah mampu mengelilingi atau meliputi Dzat serta Sifat Alloh dengan ilmu mereka sendiri. Istinbat dari ayat ini adalah batasan tegas bagi akal dan pikiran agar tidak melampaui batas dalam memikirkan kaifiyah (bagaimananya) Sifat-Sifat Robb mereka.

5.3 Mustahil Mengetahui Sifat Alloh Melalui Indera dan Khayalan

وَلَا بِالرُّؤْيَةِ وَالْفِكْرِ.

Poin terakhir ini menutup seluruh celah spekulasi makhluk dalam menggambarkan penciptanya. Pengetahuan tentang Sifat sesuatu biasanya didapatkan melalui tiga jalur: melihat langsung objeknya, melihat yang sepadan dengannya, atau mendapatkan kabar yang jujur tentangnya.

Karena di dunia ini manusia tidak bisa melihat Alloh secara langsung (ar-ru’yah), dan tiada satu pun makhluk yang serupa dengan-Nya untuk dijadikan perbandingan, maka jalur pengamatan indera menjadi buntu. Begitu pula dengan daya khayal atau kontemplasi pikiran (al-fikr); secanggih apa pun pikiran manusia merenung, ia tidak akan pernah bisa menebak bagaimanakah Sifat kesempurnaan Alloh yang hakiki. Ketika ru’yah tidak ada dan fikr tidak mampu menjangkau, maka satu-satunya jalan keselamatan yang tersisa bagi manusia adalah bersandar total kepada khobar (berita) yang dibawa oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shohihah.

Rangkaian kalimat matan ini mengajari kita dua hal utama dalam beragama: bersikap rohmah kepada makhluk yang belum sampai ilmu kepadanya, dan bersikap tahu diri di hadapan keagungan Robb dengan tidak membiarkan akal liar mengotak-atik Sifat-Sifat ghoib yang tidak ada rujukan Wahyunya.

 

[6] Sebagian Contoh Nama dan Sifat

وَنَحْوُ ذَلِكَ إِخْبَارُ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى:

Contohnya adalah pemberitahuan Alloh Subhanahu wa Ta’ala bahwa:

Syarah

Kalimat ini merupakan kalimat jembatan atau peralihan. Setelah sang imam meletakkan pondasi kaidah ushul bahwa seluruh Nama dan Sifat wajib ditetapkan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta akal tidak memiliki kuasa untuk mengada-ada, maka beliau mulai masuk ke dalam ranah aplikatif dengan menyajikan contoh-contoh nyata ayat Al-Qur’an yang berisi Sifat-Sifat Alloh .

Beliau menyebutkan 10 pembahasan yaitu

1.  As-Samii dan Al-Bashiir

2.  Dua Tangan

3.  Wajah

4.  Kaki

5.  Tertawa

6.  Turun

7.  Mata

8.  Alloh dilihat di Akhiroh

9.  Jari

10.     Kalamulloh

 

[7] As-Samii’ dan Al-Bashiir

أَنَّهُ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Syarah

7.1 Makna Nama As-Samii’ dan Al-Bashiir

As-Samii’ artinya Yang Maha Mendengar. Makna ini mencakup pendengaran Alloh yang meliputi segala macam suara di alam semesta ini, baik yang lahir maupun yang batin, yang keras maupun yang lirih. Tidak ada satu suara pun yang luput dari pendengaran-Nya.

Al-Bashiir artinya Yang Maha Melihat. Makna ini mencakup penglihatan Alloh yang meliputi segala sesuatu yang ada di alam raya ini, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, yang besar maupun yang sangat kecil. Alloh melihat semut hitam yang kecil melangkah di atas batu yang hitam pekat di kegelapan malam.

Dari kedua Nama yang agung ini, ditetapkan dua Sifat bagi Alloh , yaitu Sifat mendengar (sam’) dan Sifat melihat (bashor). Kedua Sifat ini adalah Sifat dzatiyyah (Sifat yang terus-menerus ada pada diri Alloh ) yang sempurna, tidak ada kekurangan sedikit pun, dan tidak sama dengan pendengaran serta penglihatan makhluk.

7.2 Dalil-Dalil dari Al-Qur’an

Alloh telah menyebutkan kedua Nama ini secara bergandengan di berbagai tempat dalam Kitab-Nya yang mulia untuk menegaskan kesempurnaan pengawasan-Nya terhadap seluruh makhluk.

Dalil pertama:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dalil kedua:

﴿إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Alloh memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Dalil ketiga mengenai pendengaran Alloh secara khusus terhadap aduan hamba-Nya:

﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

“Sungguh, Alloh telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya, dan adukan masalahnya kepada Alloh, dan Alloh mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

7.3 Dalil-Dalil dari Hadits

Para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum diajarkan oleh Nabi untuk memahami bahwa pendengaran dan penglihatan Alloh sangat dekat, sehingga manusia tidak perlu mengeraskan suara secara berlebihan saat berdoa.

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Kami bersama Rosululloh dalam suatu perjalanan. Ketika orang-orang berada di tempat yang tinggi, mereka mengencangkan suara takbir mereka: Allohu Akbar, Allohu Akbar, Laa ilaha illalloh. Maka Rosululloh bersabda:

«ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ»

“Kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak menyeru kepada zat yang tuli dan tidak pula zat yang ghoib (tidak ada). Sesungguhnya kalian menyeru Dzat Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia bersama kalian (pengawasan-Nya).” (HR. Al-Bukhori no. 4205 dan Muslim no. 2704)

Abu Yunus Sulaim bin Jubair (123 H) rohimahulloh, budak yang dimerdekakan oleh Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Aku mendengar Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu membaca ayat ini:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Alloh menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58) sampai kepada firman-Nya Ta’ala:

﴿سَمِيعًا بَصِيرًا

“Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58)

Beliau berkata:

«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَضَعُ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى عَيْنِهِ»

“Aku melihat Rosululloh meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari yang mengiringinya (jari telunjuk) pada matanya.”

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

«رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقْرَؤُهَا وَيَضَعُ إِصْبَعَيْهِ»

Aku melihat Rosululloh membacanya dan meletakkan kedua jarinya.”

Al-Muqri (159 H) rohimahulloh berkata: “Maksudnya adalah sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat, artinya sesungguhnya Alloh memiliki pendengaran dan penglihatan.”

Abu Dawud (275 H) rohimahulloh berkata: Dan ini adalah bantahan terhadap kaum Jahmiyyah (kelompok yang menolak Sifat-Sifat Alloh). (HSR. Abu Dawud no. 4728)

Perkataan Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha ketika mengomentari turunnya surat Al-Mujadilah, beliau berkata:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ، لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ وَأَنَا فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ تَشْكُو زَوْجَهَا، وَمَا أَسْمَعُ مَا تَقُولُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا»

Segala puji bagi Alloh yang pendengaran-Nya meliputi segala suara. Sungguh telah datang wanita yang menggugat itu kepada Nabi dan aku berada di sudut rumah, dia mengadukan suaminya, dan aku tidak mendengar apa yang dia ucapkan, lalu Alloh ‘Azza wa Jalla menurunkan: “Sungguh, Alloh telah mendengar ucapan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.” (HSR. Ibnu Majah no. 188)

Dua Nama Alloh ini (As-Samii’ dan Al-Bashiir) mewakili semua Nama-Nya yang begitu banyak. Nabi bersabda dalam doa beliau:

«أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ»

Aku memohon kepada-Mu dengan setiap Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau Namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghoib di sisi-Mu. (HSR. Ahmad no. 3712)

 

[8] Dua Tangan Alloh

وَأَنَّ لَهُ يَدَيْنِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

Dan bahwa Dia memiliki dua Tangan dengan Firman-Nya Ta’ala: “Bahkan kedua Tangan-Nya terbentang.” (QS. Al-Ma’idah: 64)

وَأَنَّ لَهُ يَمِينًا بِقَوْلِهِ: ﴿وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتُ بِيَمِينِهِ

Dan bahwa Dia memiliki Tangan Kanan dengan Firman-Nya: “Dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)

Syarah

Sifat Tangan bagi Alloh adalah salah satu pembahasan penting dalam Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, khususnya dalam memahami ayat-ayat dan Hadits-Hadits shifat (Sifat-Sifat Alloh).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa Alloh memiliki dua Tangan yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Sifat ini dikategorikan sebagai Sifat Dzatiyyah Khobariyyah.

Sifat Dzatiyyah artinya Sifat yang terus-menerus ada pada dzat Alloh, tidak terpisahkan dari-Nya.

Sifat Khobariyyah artinya Sifat yang landasan penetapannya semata-mata berdasarkan khobar (Wahyu) dari Al-Qur’an dan Hadits, bukan Sam’iyyah Aqliyyah (Wahyu yang didukung akal seperti Hidup).

Penetapan Sifat Tangan ini didasarkan pada banyak dalil yang shohih, di antaranya:

1. Dalil Al-Qur’an

Alloh berfirman ketika mencela perkataan orang Yahudi:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۛ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Alloh terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang terbelenggu dan mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Tidak demikian, bahkan kedua Tangan-Nya terbuka melimpahkan kemurahan, Dia menafkahkan rizqi sebagaimana yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Ma’idah: 64)

Alloh juga berfirman kepada Iblis:

﴿قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ

Alloh berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada apa yang telah Aku ciptakan dengan kedua Tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu termasuk orang-orang yang merasa tinggi?” (QS. Shod: 75)

2. Dalil Hadits

Rosululloh bersabda menggambarkan kemurahan Robb:

«يَدُ اللَّهِ مَلْأَى لاَ يَغِيضُهَا نَفَقَةٌ، سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ»

“Tangan Alloh itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah (yang diberikan-Nya), selalu mengalirkan pemberian baik siang maupun malam.” (HR. Al-Bukhori no. 7411 dan Muslim no. 993)

Dalam Hadits lain mengenai syafaat, para manusia mendatangi Nabi Adam ‘alaihis salam dan berkata:

«يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ، خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ»

“Wahai Adam, engkau adalah bapak seluruh manusia, Alloh telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 4712)

8.1 Kaidah dalam Memahami Sifat Tangan Alloh

Dalam menetapkan Sifat Tangan bagi Alloh , para ulama Salaf memegang erat empat kaidah utama agar tidak tergelincir ke dalam kesesatan:

[1] Tanpa Tahrif (Mengubah): Tidak boleh mengubah makna Tangan (Yad) menjadi kekuasaan (qudroh) atau ni’mat. Jika Alloh bermaksud kekuasaan, niscaya tidak akan disebutkan dalam bentuk dua Tangan (biyadayya) pada penciptaan Adam, karena kekuasaan Alloh adalah satu kesatuan dan makhluk lain pun diciptakan dengan kekuasaan-Nya.

[2] Tanpa Ta’thil (Menolak): Tidak boleh menolak Sifat ini dengan menganggap Alloh tidak memiliki Tangan sama sekali. Menolak Sifat yang ditetapkan oleh Alloh dan Rosul-Nya adalah bentuk kelancangan terhadap Wahyu.

[3] Tanpa Takyif (Menanyakan Bagaimananya): Tidak boleh mereka-reka, menggambarkan, atau mempertanyakan bagaimana bentuk, ukuran, rupa, atau cara Tangan Alloh tersebut. Hakikat kaifiyah (cara/bentuk) Sifat Alloh hanya diketahui oleh Alloh sendiri.

[4] Tanpa Takyif (Menyerupakan): Tidak boleh menyerupakan Tangan Alloh dengan tangan makhluk-Nya. Maha Suci Alloh dari keserupaan dengan makhluk.

Landasan agung dalam hal ini adalah firman Alloh :

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

8.2 Karakteristik Sifat Tangan Alloh

Berdasarkan penuturan Al-Qur’an dan Hadits yang shohih, Tangan Alloh memiliki karakteristik nyata yang menunjukkan bahwa Sifat ini bukan kiasan (majaz):

[1] Berjumlah Dua: Sebagaimana lafazh tastniyah (menunjukkan jumlah dua) dalam Al-Qur’an:

﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

“Bahkan kedua Tangan-Nya terbuka.”

Jika disebutkan tunggal, maka maksudnya jenis bukan jumlah, dan jika disebutkan jamak maka maksudnya kiasan yang menetapkan jenis.

[2] Kedua Tangan-Nya adalah Kanan: Rosululloh menjelaskan bahwa tidak ada kekurangan pada Tangan Alloh, keduanya penuh kebaikan dan berkah. Beliau bersabda:

«وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ»

“Dan kedua Tangan-Nya adalah kanan (penuh kebaikan dan kemuliaan).” (HR. Muslim no. 1827)

Ahli ilmu berbeda pendapat apakah salah satunya kiri? Akan dibahas lebih dalam setelah ini.

[3] Menggenggam dan Melipat: Pada hari Qiyamah, Alloh akan melipat langit dan bumi dengan Tangan-Nya. Alloh berfirman:

﴿وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

“Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Qiyamah dan langit digulung dengan Tangan kanan-Nya.” (QS. Az-Zumar: 67)

[4] Menulis: Alloh menulis Taurot untuk Nabi Musa ‘alaihis salam langsung dengan Tangan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Hadits perdebatan Nabi Adam dan Nabi Musa:

«خَطَّ لَكَ [التَّوْرَاةَ] بِيَدِهِ»

“Alloh telah menuliskan Taurot untukmu dengan Tangan-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 6614 dan Muslim no. 2652)

[5] Menanam: Alloh menanam pohon di Jannah ‘Adn langsung dengan Tangan-Nya, sebagaimana disebutkan dalam Hadits:

«خَلَقَ اللهُ ثَلَاثَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ: خَلَقَ آدَمَ بِيَدِهِ، وَكَتَبَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ، وَغَرَسَ الْفِرْدَوْسَ بِيَدِهِ»

“Alloh ‘Azza wa Jalla menciptakan 3 hal dengan Tangan-Nya: menciptakan Adam dengan Tangan-Nya, menulis Taurot dengan Tangan-Nya, dan menanam Jannah Firdaus dengan Tangan-Nya.” (HR. Ad-Daruquthni dalam Ash-Shifat no. 28 dan Al-Baihaqi dalam Al-Asma was Shifat no. 692. Shohih mursal)

8.3 Ucapan Ulama Salaf

Para ulama terdahulu telah sepakat menetapkan Sifat ini sebagaimana datangnya dalam teks Wahyu tanpa berbuat melampaui batas akal.

Abu Bakr Al-Isma’ili (371 H) berkata dalam I’tiqod Aimmatil Hadits (hal. 51): “(Mereka meyakini) Dia menciptakan Adam ’alaihissalam dengan Tangan-Nya. Kedua Tangan-Nya terbentang luas; Dia memberi rezeki sekehendak-Nya. Ini diyakini tanpa memikirkan atau bertanya “bagaimana” bentuk kedua Tangan-Nya, sebab Al-Qur’an tidak pernah menyebutkan perihal “bagaimana”-nya itu. Mereka tidak meyakini adanya a’dho (organ tubuh) dan jawarih (anggota badan). Mereka juga tidak membayangkan adanya ukuran panjang, lebar, tebal, tipis, atau hal-hal semacam itu yang serupa dengan makhluk. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Maha Suci Wajah Robb kita, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan.

Mereka juga tidak mengatakan bahwa Nama-Nama Allah ’Azza wa Jalla adalah makhluk, sebagaimana yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah, Khowarij, dan kelompok-kelompok ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) lainnya.”

Harb bin Ismail Al-Kirmani (280 H) dalam Ijmaus Salaf fil I’tiqod (Kesepakatan Salaf dalam Aqidah) berkata: “Alloh mengeluarkan satu kaum dari Naar (Neraka) dengan Tangan-Nya.”

8.4 Tangan Kanan dan Kiri?

Ahlus Sunnah wal Jama’ah beriman bahwa Alloh memiliki 2 tangan, dan salah satu dari kedua tangan-Nya adalah tangan kanan; lalu apakah tangan yang satunya lagi diSifatkan dengan tangan kiri? Ataukah kedua tangan-Nya adalah tangan kanan?

Pertama: Para ulama yang menetapkan Sifat tangan kiri atau tangan sebelah kiri.

Di antara mereka adalah: Imam Utsman bin Said Ad-Darimi (280 H), Abu Ya’la Al-Farro’ (458 H), Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H), Shiddiq Hasan Khon (1307 H), Muhammad Kholil Al-Harros (1395 H), Abdullah Al-Ghunaiman.

Kedua: Para ulama yang berpendapat bahwa kedua tangan Alloh adalah tangan kanan, tidak ada Sifat tangan kiri maupun tangan sebelah kiri pada keduanya

Di antara mereka adalah: Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) dalam kitab At-Tauhid, Imam Ahmad (241 H), Al-Baihaqi (458 H), dan Al-Albani (1420 H).

Syaikh Al-Albani rohimahulloh ditanya dalam Majalah Al-Asholah (Nomor 4, Halaman 68):

Bagaimana kita memadukan antara riwayat dengan tangan kiri-Nya yang terdapat dalam Hadits Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma dalam Shohih Muslim dengan sabda Nabi kedua tangan-Nya adalah tangan kanan?

Jawaban: Tidak ada pertentangan antara kedua Hadits tersebut sejak awal; karena sabda Nabi :

«وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ»

“dan kedua tangan-Nya adalah tangan kanan” (HR. Muslim no. 183)

Merupakan penguat bagi firman Alloh :

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Maka Sifat yang dikabarkan oleh Rosululloh ini adalah penguat untuk penyucian Alloh, sehingga tangan Alloh tidaklah seperti tangan manusia: tangan kiri dan tangan kanan, melainkan kedua tangan-Nya Yang Maha Suci adalah tangan kanan.

Perkara lainnya, bahwa riwayat dengan tangan kiri-Nya adalah riwayat yang syadz (ganjil/menyelisihi riwayat yang lebih kuat); sebagaimana telah saya jelaskan dalam Takhrij Al-Mushtholahat Al-Arba’ah Al-Waridah fil Qur’an (Nomor 1) karya Al-Maududi.

Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa Abu Dawud (275 H) meriwayatkannya dan beliau berkata: dengan tangan-Nya yang lain, sebagai ganti dari lafazh: dengan tangan kiri-Nya, dan lafazh inilah yang sesuai dengan sabda Nabi kedua tangan-Nya adalah tangan kanan, dan Alloh yang lebih mengetahui. [Selesai]

Sesungguhnya Sifat-Sifat Alloh itu berSifat tauqifiyyah (berdasarkan dalil Wahyu semata), dan selama belum ada dalil yang shohih lagi tegas dalam menSifatkan salah satu tangan Alloh dengan tangan kiri atau tangan sebelah kiri; maka kita tidak melampaui sabda Nabi kedua tangan-Nya adalah tangan kanan. Dan Alloh yang lebih mengetahui.

 

[9] Wajah Alloh

وَأَنَّ لَهُ وَجْهًا بِقَوْلِهِ: ﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Dan bahwa Dia memiliki Wajah dengan Firman-Nya: “Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya.” (QS. Al-Qoshosh: 88)

وَقَوْلِهِ: ﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

Dan Firman-Nya: “Dan tetap kekal Wajah Robb-mu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)

Syarah

Wajah adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah bagi Alloh yang tsabit (tetap) berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah.

Dalil dari Al-Kitab:

1- Firman Alloh Ta’ala:

﴿وَمَا تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ

“Dan tidaklah kalian menginfakkan sesuatu melainkan karena mengharap Wajah Alloh.” (QS. Al-Baqoroh: 272)

2- Dan firman-Nya:

﴿وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ

“Dan orang-orang yang bersabar karena mengharap Wajah Robb mereka.” (QS. Ar-Ro’d: 22)

Dalil dari As-Sunnah:

1- Hadits Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu:

لَمَّا قَسَّمَ النَّبِيُّ ﷺ الْغَنَائِمَ يَوْمَ حُنَيْنٍ، وَقَالَ رَجُلٌ: وَاللَّهِ إِنَّ هَذِهِ قِسْمَةٌ مَا عَدَلَ فِيهَا، وَمَا أُرِيدَ فِيهَا وَجْهُ اللَّهِ...

Ketika Nabi membagikan ghonimah (harta rampasan perang) pada hari Hunain, lalu seorang lelaki berkata: “Demi Alloh, sesungguhnya ini adalah pembagian yang tidak adil, dan tidak mengharap Wajah Alloh di dalamnya...” (HR. Al-Bukhori no. 3150 dan Muslim no. 1062)

2- Hadits Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma tentang 3 orang yang terkurung di dalam goa, lalu masing-masing dari mereka berkata:

«اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ؛ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ...»

“Ya Alloh, jika seandainya aku melakukan hal itu karena mengharap Wajah-Mu, maka bukakanlah untuk kami celah dari apa yang kami hadapi ini...” (HR. Al-Bukhori no. 2272 dan Muslim no. 2743)

3- Hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh rodhiyallahu ‘anhu:

«...إِنَّكَ لَنْ تُخَلَّفَ فَتَعْمَلَ عَمَلًا تَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ؛ إِلَّا ازْدَدْتَ بِهِ دَرَجَةً وَرِفْعَةً...»

“...Sesungguhnya tidaklah engkau ditinggalkan lalu engkau beramal dengan suatu amalan yang engkau mengharap Wajah Alloh dengannya, melainkan engkau akan bertambah derajat dan kemuliaannya karenanya...” (HR. Al-Bukhori no. 6733 dan Muslim no. 1628)

Imamul A-immah Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata setelah beliau menyebutkan sejumlah ayat yang menetapkan Sifat Wajah bagi Alloh Ta’ala: “Maka kami dan seluruh ulama kami dari penduduk Hijaz, Tihamah, Yaman, Irak, Syam, dan Mesir; madzhab kami adalah: Sesungguhnya kami menetapkan bagi Alloh apa yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya sendiri, kami mengikrarkan hal itu dengan lisan-lisan kami, dan kami membenarkan hal itu dengan hati-hati kami; tanpa kami menyerupakan Wajah Pencipta kami dengan wajah seorang pun dari makhluk, Maha Perkasa Robb kami dari menyerupai makhluk, dan Maha Agung Robb kami dari perkataan mu’aththilin (orang-orang yang menolak Sifat Alloh).” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/25)

Dan Al-Hafizh Ibnu Mandah (395 H) berkata dalam Kitabut Tauhid (3/36):

Dan di antara Sifat-Sifat Alloh yang Dia menSifati diri-Nya dengannya adalah firman-Nya:

﴿كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

‘Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya,’ dan Dia berfirman:

﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

 ‘Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan’, dan dahulu Nabi memohon perlindungan dengan Wajah Alloh dari Neraka dan seluruh fitnah, dan beliau meminta dengannya...” kemudian beliau menyebutkan Hadits-Hadits dengan sanadnya, lalu beliau berkata:

Penjelasan lain yang menunjukkan bahwa para hamba akan melihat kepada Wajah Robb mereka, dan beliau menyebutkan dengan sanadnya apa yang menunjukkan hal tersebut. (Kitabut Tauhid, Ibnu Mandah, 3/36)

Dan Qowwamus Sunnah Al-Ashbahani (535 H) berkata: “Penyebutan penetapan Wajah Alloh yang Dia Sifati dengan keagungan, kemuliaan, dan kekekalan dalam firman-Nya:

﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

 selesai.” (Al-Hujjah fi Bayanul Mahajjah, Al-Ashbahani, 1/199)

 

[10] Kaki Alloh

وَأَنَّ لَهُ قَدَمًا بِقَوْلِهِ: «حَتَّى يَضَعَ الْجَبَّارُ (الرَّبُّ) فِيهَا قَدَمَهُ»، يَعْنِي: فِي جَهَنَّمَ

Dia memiliki kaki berdasarkan sabda Nabi : “Sampai Al-Jabbar (Robb) meletakkan Kaki-Nya di dalamnya.” Yakni di Jahannam. (HR. Al-Bukhori no. 6661)

Syarah

Qodam dan Rijl (Kaki) adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah yang shohih.

Dalil:

1- Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu tentang perdebatan antara Jannah dan Naar, di dalamnya disebutkan:

«فَأَمَّا النَّارُ؛ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ (وَعِنْدَ مُسْلِمٍ: قَدَمَهُ) ، فَتَقُولُ: قَطْ قَطْ...»

“Adapun Naar, ia belum terpenuhi hingga Alloh Tabaroka wa Ta’ala meletakkan kaki-Nya (dan di dalam riwayat Muslim: telapak kaki-Nya), lalu Naar berkata: Cukup, cukup...” (HR. Al-Bukhori no. 4850 dan Muslim no. 2846)

2- Dan Al-Bukhori (no. 4848) meriwayatkannya pula dari Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu yang semisal dengannya.

3- Atsar Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَالْعَرْشُ لَا يَقْدِرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ»

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, sedangkan ‘Arsy tidak ada seorang pun yang sanggup mengira-ngira keagungannya.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 61)

4- Atsar Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ، وَلَهُ أَطِيطٌ كَأَطِيطِ الرَّحْلِ»

“Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, dan padanya terdapat suara rintihan seperti suara rintihan pelana unta.” (HSR. Ibnu Abi Syaibah dalam Kitabul ‘Arsy no. 60)

Dan dengan Hadits-Hadits serta atsar-atsar yang shohih ini, kita menetapkan bagi Alloh Sifat Al-Qodam (telapak kaki) dan Ar-Rijl (kaki), dan bahwasanya bagi Alloh memiliki 2 telapak kaki -sebagaimana dalam atsar Ibnu ‘Abbas dan Abu Musa rodhiyallahu ‘anhuma- yang layak bagi-Nya dan keagungan-Nya.

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Syaikh Abdulloh Al-Ghunaiman berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat Sifat Al-Qodam war-Rijl: “Maka dalam kumpulan riwayat-riwayat ini terdapat penjelasan yang sangat gamblang bahwasanya Al-Qodam dan Ar-Rijl -yang mana keduanya adalah ungkapan untuk 1 hal yang sama- merupakan Sifat bagi Alloh Ta’ala secara hakiki, di atas apa yang layak bagi keagungan-Nya selesai.” (Syarh Kitabut Tauhid minal Bukhori, Abdulloh Al-Ghunaiman, 1/156)

 

[11] Tertawa

وَأَنَّهُ يَضْحَكُ مِنْ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ بِقَوْلِهِ ﷺ لِلَّذِي قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ: «إِنَّهُ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ يَضْحَكُ إِلَيْهِ»

Dan bahwa Dia tertawa kepada hamba-Nya yang beriman dengan sabda Nabi  kepada orang yang terbunuh di jalan Alloh: “Sesungguhnya dia bertemu Alloh dalam keadaan Dia tertawa kepadanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2826)

Syarah

Adh-Dhohik (Tertawa) adalah Sifat dari Sifat-Sifat Alloh fi’liyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) berdasarkan Hadits-Hadits yang shohih.

Dalil:

1- Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu secara marfu’:

«يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ، كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ»

“Alloh tertawa terhadap 2 orang lelaki yang salah seorang dari keduanya membunuh yang lain, namun keduanya sama-sama masuk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2826 dan Muslim no. 1890)

2- Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu di dalam riwayat Al-Bukhori dan Muslim, dan sungguh telah berlalu penyebutannya pada Sifat As-Sukhriyyah.

Ketahuilah bahwasanya Ahli Sunnah wal Jama’ah menetapkan Sifat ini dan Sifat-Sifat Alloh lainnya yang tsabit bagi-Nya berdasarkan Al-Kitab atau As-Sunnah yang shohih; tanpa takyif (menyerupakan) dan tanpa takyif (menanyakan kaifiyah/cara), mereka berserah diri terhadap hal tersebut, dan mereka berkata: Semuanya dari sisi Robb kami.

Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata dalam Kitabut Tauhid (2/563):

Bab: Penyebutan penetapan tertawanya Robb kita: tanpa ada Sifat yang membagaimanakan tertawa-Nya, tidak pula tertawa-Nya diserupakan dengan tertawa para makhluk, demikian pula tertawa mereka. Sebaliknya, kita beriman bahwasanya Dia tertawa; sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi dan kita diam dari membagaimanakan Sifat tertawa-Nya dikarenakan Alloh mengkhususkan Sifat tertawa-Nya bagi diri-Nya sendiri, Dia tidak memperlihatkannya kepada kita; maka kita adalah orang-orang yang berkata dengan apa yang disabdakan oleh Nabi membenarkan hal itu dengan hati-hati kita, serta diam dari apa yang tidak dijelaskan kepada kita dari perkara yang Alloh khususkan ilmunya bagi diri-Nya sendiri.” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 2/563)

Dan makna perkataan beliau: “tanpa ada Sifat yang membagaimanakan tertawa-Nya” yaitu tanpa takyif terhadap tertawa-Nya.

Dan Abu Bakr Al-Ajurri (360 H) berkata: “Bab iman bahwasanya Alloh tertawa: Ketahuilah -semoga Alloh memberikan taufik kepada kami dan kalian menuju petunjuk dalam ucapan dan amalan- bahwasanya ahli kebenaran menSifati Alloh dengan apa yang Dia Sifati diri-Nya sendiri dengannya, dengan apa yang Rosul-NyaSifati Dia dengannya, dan dengan apa yang para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum Sifati Dia dengannya. Dan ini adalah madzhab para ulama dari kalangan orang yang mengikuti atsar dan tidak membuat bid’ah, serta tidak dikatakan di dalamnya: Bagaimana? Melainkan berserah diri kepadanya dan beriman kepadanya; bahwasanya Alloh tertawa, demikianlah diriwayatkan dari Nabi dan dari para Shohabatnya rodhiyallahu ‘anhum; maka tidak ada yang mengingkari hal ini melainkan orang yang tidak dipuji keadaannya di sisi ahli kebenaran selesai.” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri, hal. 277)

Dan Abu ‘Ubaid Al-Qosim bin Sallam (224 H) berkata ketika dikatakan kepada beliau: Hadits-Hadits ini yang diriwayatkan; tentang ru’yah (melihat Alloh), Kursi adalah tempat kedua telapak kaki, tertawanya Robb kita karena keputusasaan para hamba-Nya, dan sesungguhnya Jahannam benar-benar dipenuhi... dan yang sepermisalan dengan Hadits-Hadits ini? Beliau rohimahulloh berkata:

«هَذِهِ الْأَحَادِيثُ حَقٌّ لَا شَكَّ فِيهَا رَوَاهَا الثِّقَاتُ بَعْضُهُمْ عَنْ بَعْضٍ»

“Hadits-Hadits ini adalah benar, tidak ada keraguan di dalamnya, yang diriwayatkan oleh para rowi yang tsiqoh (terpercaya) antara satu dari yang lainnya.” (At-Tamhid, Ibnu Abdil Barr, 7/149-150)

 

[12] Alloh Turun ke Langit Dunia Setiap Malam

وَأَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بِذَلِكَ

Dan bahwa Dia turun setiap malam ke langit dunia berdasarkan berita Rosulullah tentang hal itu. (HR. Al-Bukhori no. 1145)

Syarah

An-Nuzul, Al-Hubuth, At-Tadalli (Turun)  adalah Sifat-Sifat fi’liyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah yang shohih.

Dalil:

1- Hadits An-Nuzul yang masyhur:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ...»

“Robb kita turun ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir...” (HR. Al-Bukhori no. 7494 dan Muslim no. 758)

2- Hadits ‘Ali bin Abi Tholib dan Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhuma secara marfu’:

«لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ وَلَأَخَّرْتُ عِشَاءَ الْآخِرَةِ إِلَى ثُلُثِ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ فَإِنَّهُ إِذَا مَضَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْأَوَّلِ هَبَطَ اللَّهُ تَعَالَى إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَلَمْ يَزَلْ هُنَاكَ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ..»

“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan mereka bersiwak setiap kali hendak sholat, dan niscaya aku akhirkan sholat ‘Isya sampai sepertiga malam yang pertama. Karena sesungguhnya apabila telah berlalu sepertiga malam yang pertama, Alloh Ta’ala turun ke langit dunia dan terus berada di sana hingga terbit fajar...” (HHR. Ahmad 967 dan 968, Ahmad Syakir)

3- Hadits:

«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيُمْهِلُ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلَّ لَيْلَةٍ حَتَّى إِذَا ذَهَبَ اللَّيْلُ الْأَوَّلُ هَبَطَ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ قَالَ: هَلْ مِنْ سَائِلٍ يُعْطَى، هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ يُغْفَرُ لَهُ، هَلْ مِنْ تَائِبٍ يُتَابُ عَلَيْهِ»

“Sesungguhnya Alloh Ta’ala benar-benar memberi penangguhan di bulan Romadhon setiap malam, hingga apabila malam pertama telah berlalu, Dia turun ke langit kemudian berfirman: Adakah orang yang meminta niscaya diberi, adakah orang yang memohon ampun niscaya diampuni baginya, adakah orang yang bertaubat niscaya diterima taubatnya.” (HSR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabus Sunnah no. 513)

4- Hadits Al-Isro’ dari Anas rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«...حَتَّى جَاءَ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى وَدَنَا الْجَبَّارُ رَبُّ الْعِزَّةِ فَتَدَلَّى حَتَّى كَانَ مِنْهُ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى...»

“...Hingga beliau mendatangi Sidrotul Muntaha, lalu Al-Jabbar Robb pemilik kemuliaan mendekat kemudian turun mendekat hingga jaraknya sekadar 2 ujung busur panah atau lebih dekat lagi...” (HR. Al-Bukhori no. 7517)

Abu Sa’id Ad-Darimi (280 H) berkata dalam Ar-Rod ‘alal Jahmiyyah (hal. 79) setelah menyebutkan Hadits-Hadits dari Rosululloh yang menetapkan Sifat turunnya Alloh: “Maka Hadits-Hadits ini seluruhnya telah datang, bahkan lebih banyak lagi daripada itu mengenai turunnya Robb Tabaroka wa Ta’ala di tempat-tempat ini. Dan di atas pembenaran serta keimanan terhadapnya, kami menjumpai para ahli fiqih dan ahli bashiroh (pandangan ilmu) dari guru-guru kami, tidak ada seorang pun di antara mereka yang mengingkarinya, tidak pula menolak untuk meriwayatkannya selesai.” (Ar-Rod ‘alal Jahmiyyah, Ad-Darimi, hal. 79)

Dan Imamul A-immah Muhammad bin Khuzaimah (311 H) berkata: “Bab: Penyebutan khobar-khobar yang tsabit sanadnya lagi shohih dasarnya, yang diriwayatkan oleh para ulama Hijaz dan Irak dari Nabitentang turunnya Robb ke langit dunia setiap malam: Kami bersaksi dengan persaksian orang yang mengikrarkan dengan lisannya, membenarkan dengan hatinya, lagi meyakini apa yang ada di dalam khobar-khobar ini berupa penyebutan turunnya Robb, tanpa kami membagaimanakan kaifiyahnya; karena Nabi kita Al-Musthofa tidak membagaimanakan untuk kita kaifiyah turunnya Pencipta kita ke langit dunia, dan beliau mengabarkan kita bahwasanya Dia turun. Dan Alloh tidaklah meninggalkan, begitu pula Nabi-Nya ‘alaihis salam, penjelasan mengenai apa yang dibutuhkan oleh kaum Muslimin dari perkara agama mereka. Maka kami adalah orang-orang yang berkata lagi membenarkan apa yang ada di dalam khobar-khobar ini berupa penyebutan turun, tanpa membebani diri berbicara tentang Sifatnya atau Sifat kaifiyahnya; dikarenakan Nabitidak membagaimanakan kepada kita kaifiyah turun tersebut. Dan di dalam khobar-khobar ini terdapat apa yang jelas, tsabit, lagi shohih bahwasanya Alloh berada di atas langit dunia yang Nabi kitakabarkan bahwasanya Dia turun kepadanya, karena mustahil dalam bahasa Arob jika dikatakan: turun dari bawah ke atas, dan sudah dipahami dalam pembicaraan bahwasanya turun itu dari atas ke bawah selesai.” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/289)

Dan Abu Al-Qosim Al-Lalakai (418 H) berkata: “Urutan riwayat yang dinukil dari Nabi tentang turunnya Robb Tabaroka wa Ta’ala, yang mana telah diriwayatkan dari Nabi oleh 20 orang Shohabat.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalakai, 3/434)

Dan Syaikhul Islam (728 H) rohimahulloh berkata: “Maka Robb Subhanahu apabila Rosul-Nya menSifati-Nya bahwasanya Dia turun ke langit dunia setiap malam, dan bahwasanya Dia mendekat pada sore hari ‘Arofah kepada para jamaah Haji, dan bahwasanya Dia berbicara kepada Musa di lembah kanan pada tempat yang diberkahi dari arah pohon, dan bahwasanya Dia menuju ke langit dan langit kala itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi: ‘Datanglah kalian berdua dengan patuh atau terpaksa’; tidaklah berkonsekuensi dari hal tersebut bahwa perbuatan-perbuatan ini sejenis dengan apa yang kita saksikan dari turunnya benda-benda nyata yang disaksikan ini, hingga dikatakan: hal tersebut mengharuskan pengosongan suatu tempat dan pengisian tempat yang lain.” (Daqo-iqut Tafsir, Ibnu Taimiyyah, 6/424)

Dan Imam Ibnu Jarir At-Thobari (310 H) berkata: Ucapan pada apa yang diketahui ilmunya dari Sifat-Sifat Pencipta secara khobar bukan kesimpulan akal: “Dan yang demikian itu seperti pengabaran Alloh Ta’ala sebutan-Nya kepada kita bahwasanya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan bahwasanya Dia memiliki 2 tangan dengan firman-Nya

 ﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ

 (Bahkan kedua tangan-Nya terbuka)... dan bahwasanya Dia turun ke langit dunia karena adanya khobar dari Rosululloh .” (At-Tabshir fi Ma’alimid Din, At-Thobari, hal. 132)

Dan Syaikhul Islam berkata dengan menukil dari Al-Karoji (432 H) seraya mendukungnya: “Diriwayatkan dari Muhammad bin Al-Hasan (189 H) sahabat Abu Hanifah (150 H) bahwasanya beliau berkata tentang Hadits-Hadits yang datang menyatakan bahwa Alloh turun ke langit dunia dan yang sepermisalan dengan ini dari Hadits-Hadits: Sesungguhnya Hadits-Hadits ini telah diriwayatkan oleh para rowi yang tsiqoh, maka kami meriwayatkannya, mengimaninya, dan tidak menafsirkannya (secara ta’wil).” (Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 4/186)

Demikian pula Ibnu Qoyyim (751 H) dalam Ijtima’ul Juyusyil Islamiyyah (1/139) menukil dari Abu Al-Qosim Al-Lalakai.

Dan beliau juga berkata: “Dan sungguh sekelompok orang dari kalangan yang menisbatkan diri kepada As-Sunnah dan Al-Hadits telah menta’wil Hadits An-Nuzul dan apa yang sejenis dengannya dari nash-nash yang di dalamnya terdapat perbuatan Robb yang lazim (tidak membutuhkan objek) seperti Al-Ityan (datang), Al-Maji’ (datang), Al-Hubuth (turun), dan yang sepermisalan dengan hal tersebut.” Dan beliau membantah hal itu seraya menetapkan Sifat-Sifat ini. (Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 5/397)

Dan beliau berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat Ibnu Mandah (395 H) untuk Hadits An-Nuzul: “Maka ini adalah ringkasan dari apa yang disebutkan oleh Abdurrohman bin Mandah, padahal beliau telah mengumpulkan seluruh jalur Hadits ini dan menyebutkan lafazh-lafazhnya seperti perkataannya: ‘Robb kita turun setiap malam ke langit dunia apabila telah berlalu sepertiga malam yang pertama, lalu Dia berfirman: Akulah Raja, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dia, siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan untuknya, siapa yang memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku ampuni dia,’ dan terus-menerus demikian hingga fajar. Dan dalam sebuah lafazh: Apabila telah tersisa dari malam 2 pertiganya, Robb turun ke langit dunia. Dan dalam sebuah lafazh: Hingga menyingsing fajar kemudian Dia naik. Dan dalam sebuah riwayat: Dia berfirman: ‘Aku tidak bertanya tentang hamba-hamba-Ku kepada selain-Ku, siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri dia.’ Dan dalam riwayat ‘Amr bin ‘Abasah: Bahwasanya Robb turun mendekat di tengah malam ke langit dunia.” (Majmu’ul Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 5/394)

Maka Hadits An-Nuzul kalau begitu shohih dengan 3 lafazh: An-Nuzul, Al-Hubuth, dan At-Tadalli.

 

[13] Mata Alloh

وَأَنَّهُ لَيْسَ بِأَعْوَرَ بِقَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ إِذْ ذَكَرَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: «إِنَّهُ أَعْوَرُ، وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ»

Dan bahwa Dia tidaklah a’war (buta salah satu mata) dengan sabda Nabi ketika menyebutkan Dajjal, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya ia a’war, dan sesungguhnya Robb kalian tidak a’war.” (HR. Al-Bukhori no. 7407)

Syarah

Al-Ain (Mata) adalah Sifat dzatiyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) bagi Alloh berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah. Ahli Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwasanya Alloh melihat dengan mata, sebagaimana mereka meyakini bahwasanya Alloh memiliki 2 mata yang layak bagi-Nya.

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Dalil dari Al-Kitab:

1- Firman Alloh Ta’ala:

﴿وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا

“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan mata-mata Kami dan petunjuk Wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)

2- Dan firman-Nya:

﴿وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي

“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan mata-Ku.” (QS. Thoha: 39)

3- Dan firman-Nya:

﴿وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Robbmu, karena sesungguhnya engkau berada di bawah pengawasan mata-mata Kami.” (QS. At-Thur: 48)

Dalil dari As-Sunnah:

1- Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad hasan dari Hadits Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ ﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا، فَوَضَعَ إِبْهَامَهُ عَلَى أُذُنِهِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى عَيْنَيْهِ»

Bahwasanya Nabimembaca ayat ini (Sesungguhnya Alloh adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat), lalu beliau meletakkan ibu jarinya pada telinganya, dan jari yang setelahnya (jari telunjuk) pada kedua matanya.” (HSR. Abu Dawud no. 4728)

2- Hadits Anas rodhiyallahu ‘anhu:

«إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ (وَأَشَارَ إِلَى عَيْنَيْهِ) ، وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ»

“Sesungguhnya Alloh tidaklah samar bagi kalian, sesungguhnya Alloh tidaklah buta sebelah mata -dan beliau berisyarat kepada kedua matanya-, dan sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal itu buta sebelah matanya yang kanan, seakan-akan matanya adalah buah anggur yang tersembul.” (HR. Al-Bukhori no. 7407)

Imam Ibnu Khuzaimah (311 H) berkata setelah beliau menyebutkan sejumlah ayat yang menetapkan Sifat mata: “Maka wajib atas setiap Mu’min untuk menetapkan bagi Penciptanya dan Pengadanya apa yang telah Sang Pencipta lagi Pengada tetapkan untuk diri-Nya sendiri berupa mata. Dan bukanlah seorang Mu’min orang yang menafikan dari Alloh Tabaroka wa Ta’ala apa yang sungguh telah Alloh tetapkan di dalam kemurnian Kitab yang diturunkan-Nya melalui penjelasan Nabi-Nyayang telah Alloh jadikan sebagai pemberi penjelasan dari-Nya dalam firman-Nya:

﴿وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ

 ‘Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar engkau menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.’

Nabitelah menjelaskan bahwasanya Alloh memiliki 2 mata, sehingga penjelasan beliau ini selaras dengan penjelasan kemurnian Kitab yang diturunkan-Nya, yang tertulis di antara 2 sampul mushaf, yang dibaca di mihrab-mihrab dan tempat-tempat belajar Al-Qur’an.” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/97)

Dan beliau berkata: “Kami berkata: Bagi Robb kami Sang Pencipta memiliki 2 mata yang Dia melihat dengan keduanya apa yang ada di bawah tanah dan di bawah bumi ketujuh yang paling bawah, serta apa yang ada di langit-langit yang tinggi selesai.” (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/114)

Dan Al-Lalakai (418 H) membuat bab dengan perkataannya: “Urutan dalil yang menunjukkan dari Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya bahwasanya di antara Sifat-Sifat Alloh adalah Wajah, 2 mata, dan 2 tangan selesai.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahli Sunnah wal Jama’ah, Al-Lalakai, 3/412)

Syaikh Abdulloh Al-Ghunaiman berkata: “Perkataan beliau: ‘Sesungguhnya Alloh tidaklah buta sebelah mata’: kalimat inilah yang dimaksudkan dari Hadits di dalam bab ini; maka hal ini menunjukkan bahwasanya bagi Alloh memiliki 2 mata secara hakiki; karena al-’awar (buta sebelah) artinya kehilangan salah satu dari 2 mata atau lenyapnya cahaya penglihatannya selesai.” (Syarh Kitabut Tauhid minal Bukhori, Abdulloh Al-Ghunaiman, 1/285)

Dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin (1421 H) rohimahulloh berkata: “Dan Ahli Sunnah telah sepakat bahwasanya mata Alloh itu ada 2, dan hal ini dikuatkan oleh sabda Nabi mengenai Dajjal: ‘Sesungguhnya dia buta sebelah mata, dan sesungguhnya Robb kalian tidaklah buta sebelah mata.’” (‘Aqidah Ahli Sunnah wal Jama’ah, Ibnu ‘Utsaimin, hal. 12)

 

[14] Alloh Dilihat di Akhirat

وَأَنَّ الْمُؤْمِنِينَ يَرَوْنَ رَبَّهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَبْصَارِهِمْ كَمَا يَرَوْنَ الْقَمَرَ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

Dan bahwa orang-orang Mukmin akan melihat Robb mereka pada Hari Kiamat dengan mata kepala mereka sebagaimana mereka melihat bulan pada malam purNama. (HR. Al-Bukhori no. 7437)

Syarah

Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah menetapkan bahwa kaum Mu’min akan melihat Robb mereka pada hari Qiyamah di pelataran mahsyar (tempat pengumpulan) dan di dalam Jannah. Melihat Alloh dengan mata kepala secara langsung adalah perkara yang haq, nyata, dan bukan sekadar kiasan. Keyakinan ini didasarkan pada dalil-dalil yang qoth’i (pasti) dari Al-Qur’an dan Hadits-Hadits mutawatir, serta merupakan ijma’ (kesepakatan) para Shohabat, Tabi’in, dan para ulama Salaf.

Kaum Mu’min akan melihat Alloh tanpa adanya pembatasan arah yang meliputi-Nya, karena Alloh Maha Tinggi di atas seluruh makhluk-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Penglihatan ini merupakan ni’mat yang paling besar dan paling agung yang diberikan kepada penduduk Jannah, yang membuat mereka melupakan segala kelezatan fisik lainnya yang ada di dalam Jannah.

Sebaliknya, orang-orang kafir, musyrik, dan munafik akan terhalang dari melihat Alloh sebagai bentuk adzab, kehinaan, dan kemurkaan-Nya atas mereka.

14.1 Dalil-Dalil dari Al-Qur’an

Alloh berfirman:

﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ ۝ إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Wajah-wajah kaum Mu’min pada hari Qiyamah bercahaya dan elok. Hanya kepada Robb mereka, mereka melihat dengan mata kepala mereka.” (QS. Al-Qiyamah: 22-23)

Alloh juga berfirman mengenai tambahan ni’mat bagi penduduk Jannah:

﴿لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik dalam kehidupan dunia dengan beriman dan beramal sholih, mereka akan mendapatkan pahala yang terbaik (yaitu Jannah), dan tambahannya (yakni melihat wajah Alloh yang mulia).” (QS. Yunus: 26)

Adapun mengenai orang-orang kafir, Alloh menegaskan terhalangnya mereka dari melihat-Nya:

﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ

“Sekali-kali tidak, benar-benar mereka orang-orang kafir pada hari Qiyamah terhalang dari melihat Robb mereka.” (QS. Al-Muthoffifin: 15)

Al-Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh berhujjah dengan ayat ini, bahwa ketika Alloh menghalangi musuh-musuh-Nya karena kemurkaan-Nya, ini menunjukkan bahwa para wali-Nya (kaum Mu’min) akan melihat-Nya karena keridhoan-Nya.

14.2 Dalil-Dalil dari Hadits

Nabi telah menjelaskan perkara ru’yatulloh ini dengan sangat terang dalam banyak Hadits yang mencapai derajat mutawatir. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya orang-orang berkata: “Wahai Rosululloh, apakah kita akan melihat Robb kita pada hari Qiyamah?” Rosululloh bersabda:

«هَلْ تُضَارُّونَ فِي القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ؟»، قَالُوا: لاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَهَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ، لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ؟»، قَالُوا: لاَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: «فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ كَذَلِكَ»

“Apakah kalian saling kesulitan (atau berdesak-desakan) saat melihat bulan pada malam purNama yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab: “Tidak, wahai Rosululloh.” Beliau bersabda: “Apakah kalian saling kesulitan saat melihat matahari yang tidak tertutup awan?” Mereka menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu.” (HR. Al-Bukhori no. 7437 dan Muslim no. 182)

Maksud dari penyerupaan dalam Hadits di atas adalah penyerupaan dalam hal kejelasan, kepastian, dan tiadanya keraguan dalam penglihatan tersebut (menyertakan analogi kejelasan melihat makhluk dengan melihat Kholiq), bukan menyerupakan Alloh (Dzat yang dilihat) dengan matahari atau bulan, karena Alloh tidak ada satu pun yang serupa dengan-Nya.

Di dalam Hadits Jarir dengan lafazh “dengan mata telanjang”:

«إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ عِيَانًا»

“Kalian benar-benar akan melihat Robb kalian dengan mata telanjang.” (HR. Al-Bukhori no. 7435)

14.3 Hijab Cahaya Robb

Dari Abu Musa Al-Asy’ari (42 H) rodhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

«جَنَّتَانِ مِنْ فِضَّةٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَجَنَّتَانِ مِنْ ذَهَبٍ، آنِيَتُهُمَا وَمَا فِيهِمَا، وَمَا بَيْنَ القَوْمِ وَبَيْنَ أَنْ يَنْظُرُوا إِلَى رَبِّهِمْ إِلَّا رِدَاءُ الكِبْرِ، عَلَى وَجْهِهِ فِي جَنَّةِ عَدْنٍ»

“Ada 2 Jannah yang wadah-wadah dan apa yang ada di dalamnya terbuat dari perak, dan ada 2 Jannah yang wadah-wadah dan apa yang ada di dalamnya terbuat dari emas. Dan tidak ada yang menghalangi suatu kaum untuk melihat Robb mereka melainkan selendang keagungan pada wajah-Nya di dalam Jannah ‘Adn.” (HR. Al-Bukhori no. 4878 dan Muslim no. 180)

14.4 Bantahan Terhadap Kelompok yang Menyimpang

Kelompok Mu’tazilah, Jahmiyyah, dan orang-orang yang sejalan dengan mereka menolak Aqidah ru’yatulloh. Mereka mengklaim bahwa melihat Alloh berkonsekuensi menetapkan arah, batasan, dan jisim (tubuh fisik) bagi Alloh , yang menurut akal mereka hal tersebut mustahil.

Mereka berdalil dengan firman Alloh kepada Nabi Musa:

﴿لَنْ تَرَانِي

“Kamu sekali-kali tidak akan sanggup melihat-Ku di dunia.” (QS. Al-A’rof: 143)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah membantah mereka dari beberapa sisi:

[1] Penolakan melihat Alloh dalam ayat tersebut dibatasi dalam kehidupan dunia, karena fisik manusia di dunia sangat lemah dan tidak akan kuat untuk melihat Alloh . Hal ini terbukti ketika Alloh menampakkan keagungan-Nya kepada gunung, gunung tersebut hancur lebur dan Nabi Musa pingsan. Adapun di Akhiroh, Alloh memberikan kekuatan baru yang sempurna bagi kaum Mu’min sehingga mereka mampu melihat-Nya.

[2] Nabi Musa adalah seorang Rosul yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan Aqidah). Mustahil seorang Rosul meminta sesuatu yang mustahil secara syari’at dan akal kepada Alloh . Permintaan Nabi Musa untuk melihat Alloh menunjukkan bahwa melihat Alloh adalah perkara yang mungkin terjadi, namun Alloh menundanya hingga kehidupan akhiroh.

Mu’tazilah juga berdalil dengan firman Alloh :

﴿لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.” (QS. Al-An’am: 103)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menjelaskan bahwa al-idrok (الإدراك) artinya adalah liputan secara menyeluruh (liputan penglihatan sampai ke batas-batasnya). Ayat ini menafikan al-idrok, bukan menafikan ar-ru’yah (melihat). Maka, kaum Mu’min melihat Alloh pada hari Qiyamah namun penglihatan mereka tidak mampu meliputi Dzat Alloh yang Maha Agung, sebagaimana manusia mengetahui ilmu Alloh namun ilmu manusia tidak akan mampu meliputi seluruh ilmu-Nya.

Aqidah menetapkan ru’yatulloh di Akhiroh adalah pembeda utama antara pengikut Sunnah dan pengikut bid’ah. Setiap Muslim wajib mengimani Sifat ini sebagaimana datangnya nash-nash yang shohih, tanpa melakukan tahrif (pengubahan makna), ta’thil (penolakan Sifat), takyif (menanyakan kaifiyah atau bagaimananya), dan takyif (penyerupaan dengan makhluk). Kita memohon kepada Alloh kemantapan iman dan rizqi untuk dapat memandang wajah-Nya yang mulia di Jannah kelak.

 

[15] Jari Alloh

وَأَنَّ لَهُ إِصْبَعًا بِقَوْلِهِ ﷺ: «مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا (وَهُوَ) بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ (يُقَلِّبُهُ كَيْفَ شَاءَ)»

Dan bahwa Dia memiliki jari dengan sabda Nabi : “Tidak ada satu hati pun kecuali berada di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rohman ’Azza wa Jalla, Dia membolak-baliknya sesuka-Nya.” (HSR. Ibnu Majah no. 199)

Syarah

Al-Ashobi’ (Jari-jemari) adalah Sifat fi’liyyah khobariyyah yang tsabit (tetap) bagi Alloh berdasarkan As-Sunnah yang shohih.

1- Hadits Abdulloh bin ‘Amr bin Al-’Ash rodhiyallahu ‘anhuma; bahwasanya beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ...»

“Sesungguhnya hati anak Adam seluruhnya berada di antara 2 jari dari jari-jemari Ar-Rohman...” (HR. Muslim no. 2654)

2- Hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu; beliau berkata: Seorang lelaki dari kalangan Ahli Kitab datang kepada Nabi lalu berkata: “Wahai Abul Qosim! Sesungguhnya Alloh memegang langit-langit di atas 1 jari, dan bumi-bumi di atas 1 jari...” Maka aku melihat Nabitertawa hingga tampak gigi geraham beliau, kemudian beliau membaca:

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

“Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya.” (HR. Al-Bukhori no. 7415 dan Muslim no. 2786)

Imamul A-immah Abu Bakr bin Khuzaimah (311 H) berkata: “Bab penetapan jari-jemari bagi Alloh.” dan beliau menyebutkan dengan sanad-sanadnya apa yang menetapkan hal tersebut. (Kitabut Tauhid, Ibnu Khuzaimah, 1/187)

Dan Abu Bakr Al-Ajurri (360 H) berkata: “Bab beriman bahwasanya hati para makhluk berada di antara 2 jari dari jari-jemari Robb tanpa membagaimanakan kaifiyahnya.” (Asy-Syari’ah, Al-Ajurri, hal. 316)

Dan Al-Baghowi (516 H) berkata setelah menyebutkan Hadits yang lalu: “Dan al-ishba’ (jari) yang disebutkan di dalam Hadits adalah sebuah Sifat dari Sifat-Sifat Alloh. Demikian pula setiap apa yang dibawa oleh Al-Kitab atau As-Sunnah yang sejenis dengan ini merupakan Sifat-Sifat Alloh Ta’ala; seperti An-Nafs (Diri), Al-Wajh (Wajah), Al-’Ain (Mata), Al-Yad (Tangan), Ar-Rijl (Kaki), Al-Ityan (Kedatangan), Al-Maji’ (Kedatangan), An-Nuzul (Turun) ke langit dunia, Al-Istiwa’ di atas ‘Arsy, Adh-Dhohik (Tertawa), dan Al-Faroh (Gembira).” (Syarhus Sunnah, Al-Baghowi, 1/168)

Dan Ibnu Qutaibah (276 H) berkata setelah menyebutkan Hadits Abdulloh bin ‘Amr yang lalu: “Dan kami berkata: Sesungguhnya Hadits ini adalah shohih, dan sesungguhnya apa yang mereka tuju dalam menta’wil makna al-ishba’ (jari) sama sekali tidak selaras dengan konteks Hadits. Karena beliau ‘alaihis salam bersabda dalam doanya: ‘Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati! Teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.’ Lalu salah seorang istri beliau bertanya kepada beliau: ‘Apakah engkau merasa khawatir wahai Rosululloh atas dirimu?’ Maka beliau bersabda: ‘Sesungguhnya hati seorang Mu’min berada di antara 2 jari dari jari-jemari Alloh.’ Maka seandainya hati itu di mata mereka bermakna berada di antara 2 nikmat dari nikmat-nikmat Alloh Ta’ala; yang mana ia terjaga dengan kedua nikmat tersebut; lalu untuk alasan apa beliau berdoa meminta keteguhan? Dan mengapa beliau berhujjah kepada wanita yang bertanya kepada beliau: ‘Apakah engkau khawatir atas dirimu?’ dengan sesuatu yang justru menguatkan ucapan wanita tersebut? Padahal semestinya beliau tidak perlu khawatir apabila hati itu telah terjaga oleh 2 nikmat. Lalu jika ada yang bertanya kepada kami: ‘Apa makna al-ishba’ menurutmu di sini?’ Kami jawab: ‘Maknanya adalah seperti sabda beliau di dalam Hadits yang lain: ‘Dia memikul bumi di atas 1 jari,’ dan demikian pula di atas 2 jari, sehingga tidak boleh jika al-ishba’ di sini diartikan sebagai nikmat. Dan ia seperti firman-Nya Ta’ala:

﴿وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ

 (Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Qiyamah dan langit-langit digulung dengan tangan kanan-Nya), yang mana pemaknaan ta’wil tersebut tidak diperbolehkan pada ayat ini. Dan kami tidak mengatakan: Jari-Nya seperti jari-jemari kita, tidak pula tangan-Nya seperti tangan-tangan kita, tidak pula genggaman-Nya seperti genggaman-genggaman kita; karena segala sesuatu yang ada pada-Nya tidak menyerupai sesuatu pun yang ada pada diri kita selesai.” (Ta’wilu Mukhtalifil Hadits, Ibnu Qutaibah, hal. 245)

Maka Ahli Sunnah wal Jama’ah menetapkan bagi Alloh Ta’ala jari-jemari yang layak bagi-Nya.

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syuro: 11)

 

[16] Tidak Kafir Sampai Tegak Hujjah

فَإِنَّ هَذِهِ الْمَعَانِيَ الَّتِي وَصَفَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا نَفْسَهُ وَوَصَفَهُ بِهَا رَسُولُهُ مِمَّا لَا يُدْرَكُ [حُسْنُهُ] بِالْفِكْرِ [وَالرُّؤْيَةِ]، فَلَا يَكْفُرُ أَحَدٌ بِالْجَهْلِ بِهَا إِلَّا بَعْدَ انْتِهَاءِ الْخَبَرِ إِلَيْهِ بِهَا،

Sesungguhnya makna-makna ini—yang Alloh Ta’ala menyifati Diri-Nya dengannya, dan yang Rosul-Nya menyifati-Nya dengannya—adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan baik oleh akal dan penglihatan, maka tidaklah seseorang dihukumi kafir hanya karena tidak mengetahui Sifat-Sifat ini, kecuali setelah berita (tentang Sifat-Sifat itu) sampai kepadanya.

Syarah:

Di dalam ucapan ini terdapat penjelasan mengenai batasan akal manusia dalam menggapai hakikat shifat-shifat Robb serta kapan seseorang dihukumi kafir atau udzur karena kebodohan (al-jahl) dalam masalah ini.

Berikut adalah penjelasan rinci dari bait atau ungkapan tersebut:

“Sesungguhnya makna-makna ini—yang Alloh Ta’ala menyifati Diri-Nya dengannya, dan yang Rosul-Nya menyifati-Nya dengannya…”

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa seluruh shifat Alloh yang termaktub dalam Al-Qur’an maupun Hadits Nabi adalah tauqifiyyah (hanya bisa diketahui berdasarkan dalil Wahyu). Manusia tidak boleh menetapkan atau mengarang shifat bagi Alloh dengan akal pikiran mereka sendiri. Segala apa yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya, atau yang ditetapkan oleh Rosulullah , itulah yang wajib diimani.

“…adalah sesuatu yang tidak bisa dipahami dengan baik oleh akal dan penglihatan,”

Akal manusia memiliki batasan yang sangat terbatas. Akal dan pikiran manusia tidak akan pernah mampu menggapai dan mengkhayalkan bagaimanakah hakikat atau kaifiyyah (tata cara) dari shifat-shifat Alloh . Manusia juga belum pernah melihat Alloh di dunia ini, dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk mengimani shifat-shifat tersebut adalah dengan berserah diri kepada khobar (berita) yang datang dari Wahyu, tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimananya) atau takyif (menyerupakan dengan makhluk).

“…maka tidaklah seseorang dihukumi kafir hanya karena tidak mengetahui Sifat-Sifat ini, kecuali setelah berita (tentang Sifat-Sifat itu) sampai kepadanya.”

Ini adalah kaidah penting mengenai udzur bil jahl (udzur karena kebodohan atau ketidaktahuan). Karena masalah shifat-shifat Alloh ini bersumber dari Wahyu (sam’iyyah) dan bukan murni dari nalar akal, maka seseorang yang baru masuk Islam, atau hidup di tempat yang terpencil jauh dari ilmu, tidak langsung dihukumi kafir jika dia tidak mengetahui sebagian shifat Alloh atau salah dalam memahaminya karena murni belum tahu. Hukum kafir atau vonis keluar dari Islam baru berlaku apabila hujjah (dalil Al-Qur’an dan Hadits) telah tegak dan sampai kepadanya secara jelas, namun dia tetap menolak dan mendustakannya setelah mengetahuinya.

Kesimpulan dari bait ini menegaskan prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan shifat-shifat Alloh berdasarkan Wahyu, mengakui keterbatasan akal manusia dari menggapai hakikatnya, serta memberikan udzur bagi orang yang belum mengetahui sampai dalil shohih ditegakkan atasnya.

 

[17] Tunduk Pada Wahyu

فَإِنْ كَانَ الْوَارِدُ بِذَلِكَ خَبَرًا يَقُومُ فِي الْفَهْمِ مَقَامَ الْمُشَاهَدَةِ مِنَ السَّمَاعِ وَجَبَتِ الدَّيْنُونَةُ عَلَى سَامِعِهِ بِحَقِيقَتِهِ وَالزِّيَادَةِ عَلَيْهِ كَمَا عَايَنَ [وَسَمِعَ مِنْ] رَسُولِ اللَّهِ ﷺ.

Jika berita yang sampai kepadanya itu berSifat sangat jelas—yang dalam pemahaman menempati kedudukan seperti menyaksikan langsung karena kuat dan jelasnya pendengaran (dari nash), maka wajib baginya untuk meyakininya secara hakiki dan memperkuatnya dengan tambahan keimanan atas dasar keyakinan itu, sebagaimana orang yang menyaksikan langsung dan mendengar langsung dari Rosulullah .

Syarah:

Matan ini menjelaskan tentang kewajiban menerima, tunduk, dan mengamalkan Khobar (Hadits) yang shohih dari Rosululloh . Jika suatu riwayat telah sampai kepada seseorang dengan tingkat validitas yang meyakinkan—seolah-olah ia mendengarnya langsung—maka ia wajib tunduk dan beragama dengannya secara hakiki tanpa ragu.

Poin utama dari ucapan ini adalah: saat sebuah Hadits shohih tegak di hadapan kita, maka nilai kewajiban mengamalkannya sama persis seperti para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum yang duduk mendengarkan langsung di hadapan Nabi . Jarak zaman tidak boleh mengurangi kewajiban taslim (tunduk pasrah) dan inqiyad (patuh).

Kewajiban menjadikan Hadits shohih sebagai landasan beragama (ad-dainunah) didasarkan pada dalil-dalil berikut:

17.1 Kewajiban Taat secara Mutlak kepada Rosululloh

Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr: 7)

Ayat ini berSifat umum bagi setiap orang yang mendengarkan sabda beliau, baik mendengarnya langsung di zaman nubuwah maupun mendengarnya melalui riwayat yang shohih di zaman setelahnya.

17.2 Ketiadaan Iman Tanpa Ketundukan Penuh

Alloh bersumpah dengan diri-Nya yang mulia bahwa seseorang tidak dikatakan beriman sampai ia ridho dan tunduk penuh kepada keputusan Nabi :

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Kata wayusallimuu tasliimaa (menerima dengan sepenuhnya) menguatkan kalimat “wajabatid dainunatu ‘ala sami’ihi bihaqiqatihi” (wajib tunduk beragama atas hakikatnya) dalam kutipan di atas.

17.3 Perintah Menyampaikan dan Mengamalkan Hadits

Kewajiban tunduk bagi orang yang mendengar riwayat (meski tidak melihat Nabi ) dikuatkan oleh wasiat beliau sendiri agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir. Nabi bersabda:

«لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ، فَإِنَّ الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ»

“Hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi orang yang dihadiahi kabar itu lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung.” (HR. Al-Bukhori no. 67 dan Muslim no. 1679)

Ini menunjukkan bahwa khobar yang dipindahkan secara valid (shohih) memiliki kekuatan hukum yang sama mengikatnya bagi generasi berikutnya.

17.4 Ancaman bagi Orang yang Menolak Hadits Saat Sampai Kepadanya

Nabi telah memperingatkan akan munculnya orang-orang yang menolak Hadits dengan alasan tidak mendengarnya langsung atau hanya ingin mencukupkan diri dengan Al-Qur’an. Beliau bersabda:

«لَا أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ مُتَّكِئًا عَلَى أَرِيكَتِهِ يَأْتِيهِ الْأَمْرُ مِنْ أَمْرِي مِمَّا أَمَرْتُ بِهِ أَوْ نَهَيْتُ عَنْهُ فَيَقُولُ لَا نَدْرِي مَا وَجَدْنَا فِي كِتَابِ اللَّهِ اتَّبَعْنَاهُ»

“Jangan sampai aku menjumpai salah seorang di antara kalian duduk bersandar di atas dipannya, lalu datang kepadanya suatu perkara dari perintahku—baik yang aku perintahkan atau yang aku larang—kemudian ia berkata: ‘Kami tidak tahu, apa yang kami dapatkan dalam Kitabulloh, maka itulah yang kami ikuti’.” (HSR. Abu Dawud no. 4605)

Oleh karena itu, ketika rantai periwayatan telah bersambung dengan shohih hingga tingkat kejelasannya bangkit di dalam pemahaman kita seperti melihat langsung (maqomal musyahadah), runtuhlah seluruh udzur (alasan) untuk menolak, dan yang tersisa hanyalah kewajiban sam’an wa tho’atan (mendengar dan taat).

 

[18] Menetapkan Tanpa Menyerupakan

وَلَكِنْ نُثْبِتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ، وَنَنْفِي التَّشْبِيهَ كَمَا نَفَى [اللَّهُ] عَنْ نَفْسِهِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Akan tetapi kami menetapkan Sifat-Sifat ini, dan meniadakan tasybih (menyerupakan Alloh dengan makhluk) sebagaimana Alloh meniadakan dari diri-Nya dengan Firman-Nya Ta’ala: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Syarah:

Kaidah emas ini menggabungkan dua kewajiban utama: Itsbat (menetapkan apa yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya) dan Tanzih/Nafyu (mensucikan Alloh dari keserupaan dengan makhluk).

Kaidah ini bersumber dari satu ayat yang menjadi pondasi utama Aqidah Islam, yaitu Surat Asy-Syuro ayat 11. Di dalam ayat yang pendek ini, Alloh membantah dua kelompok sesat sekaligus:

18.1 Menafikan Tasybih (Menolak Penyerupaan)

Bagian ayat

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

 (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia) adalah bantahan bagi kelompok Musyabbihah atau Mujassimah (yang menyerupakan Sifat Alloh dengan makhluk).

18.2 Menetapkan Sifat (Itsbat)

Bagian ayat:

﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 (dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat) adalah bantahan bagi kelompok Mu’atthilah (yang menolak atau menghilangkan Sifat-Sifat Alloh dengan dalih akal).

Maka, Ahlus Sunnah menetapkan Sifat mendengar dan melihat bagi Alloh, namun pendengaran dan penglihatan-Nya tidak sama dengan makhluk. Kesamaan Nama tidak konsekuensi menunjukkan kesamaan hakikat.

18.3 Dalil-Dalil dari Al-Qur’an

Al-Qur’an dipenuhi dengan ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk beriman kepada Sifat-Sifat Alloh tanpa menyekutukan atau menyerupakan-Nya dengan apa pun.

Dalil Penafian Penyeruaan (Nafyut Tasybih)

Alloh menegaskan di berbagai tempat bahwa tidak ada satu pun makhluk yang sebanding atau setara dengan-Nya:

﴿وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 4)

Yakni: Tidak ada bagi-Nya satu pun yang setara dan menyamai-Nya, baik dalam Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya.

Dalam ayat lain, Alloh berfirman dengan kalimat pengingkaran:

﴿فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 22)

Serta firman-Nya:

﴿هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?” (QS. Maryam: 65)

Makna samiyya di sini adalah yang serupa, sebanding, atau berhak menyandang Sifat-Sifat kesempurnaan seperti diri-Nya.

Dalil Penetapan Sifat (Itsbatush Shifat)

Alloh menetapkan berbagai Sifat Kesempurnaan bagi diri-Nya, dan kewajiban makhluk adalah mengimaninya sebagaimana datangnya teks tersebut. Di antaranya:

Sifat Istiwa (Berada di atas ‘Arsy):

﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“(Yaitu) Robb Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (QS. Thoha: 5)

Sifat Al-Yad (Tangan):

﴿بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“(Tidak demikian), tetapi kedua tangan Alloh terbuka; Dia memberi nafkah sebagaimana Dia kehendaki.” (QS. Al-Ma’idah: 64)

Sifat Al-Wajh (Wajah):

﴿وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Dan tetap kekal Wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rohman: 27)

Ahlus Sunnah menetapkan Sifat Istiwa, Yad, dan Wajh bagi Alloh sesuai dengan keagungan-Nya, tanpa melakukan takyif (menanyakan bagaimananya) dan tanpa tasybih (menyerupakannya dengan tangan atau wajah makhluk).

18.4 Dalil-Dalil dari Hadits Nabi

Rosululloh juga mengajarkan Sifat-Sifat Alloh yang wajib kita imani hakikatnya, namun disucikan dari keserupaan.

Sifat Nuzul (Turun ke Langit Dunia)

Nabi bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni’.” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Hadits ini adalah dalil Itsbat Sifat Nuzul bagi Alloh. Kita menetapkannya secara hakiki, namun kita menafikan tasybih; turunnya Alloh tidak sama dengan turunnya makhluk (seperti turun dari tangga atau kendaraan), karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Sifat Adh-Dhohik (Tertawa)

Nabi bersabda:

«يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ يَدْخُلاَنِ الجَنَّةَ»

“Alloh tertawa melihat dua orang lelaki, yang salah satunya membunuh yang lain, namun keduanya masuk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 2826 dan Muslim no. 1890)

Kita menetapkan Sifat tertawa bagi Alloh sesuai keagungan-Nya, bukan tertawa yang membutuhkan urat wajah, gigi, atau suara seperti makhluk.

18.5 Atsar Salafush Sholih

Nu’aim bin Hammad (228 H)—guru Imam Al-Bukhori—memberikan rumusan yang sangat selaras dengan kutipan teks di atas. Beliau berkata:

مَنْ شَبَّهَ اللَّهَ بِخَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، وَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَسُولُهُ تَشْبِيهًا

“Siapa yang menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya, maka ia telah kafir. Dan siapa yang mengingkari apa yang Alloh Sifati diri-Nya dengannya, maka ia telah kafir. Dan tidaklah apa yang Alloh Sifati diri-Nya dengannya serta yang diSifati oleh Rosul-Nya itu diNamakan penyerupaan (tasybih).” (Siyar A’lamin Nubala, Al-Dzahabi, 5/610)

Beg pula imam agung Ishaq bin Rohuyah (238 H) menjelaskan batasan tasybih:

إِنَّمَا يَكُونُ التَّشْبِيهُ إِذَا قَالَ: يَدٌ كَيَدٍ أَوْ مِثْلُ يَدٍ، أَوْ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ، فَإِذَا قَالَ سَمْعٌ كَسَمْعٍ أَوْ مِثْلُ سَمْعٍ فَهَذَا التَّشْبِيهُ.

وَأَمَّا إِذَا قَالَ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَدٌ وَسَمْعٌ وَبَصَرٌ، وَلَا يَقُولُ كَيْفَ وَلَا يَقُولُ مِثْلُ سَمْعٍ وَلَا كَسَمْعٍ، فَهَذَا لَا يَكُونُ تَشْبِيهًا

“Sesungguhnya tasybih itu hanyalah jika seseorang mengatakan: ‘Tangan (Alloh) seperti tangan (makhluk)’, atau ‘serupa dengan tangan’, atau ‘pendengaran seperti pendengaran’, atau ‘serupa dengan pendengaran’. Jika ia mengatakan demikian, maka inilah tasybih. Adapun jika ia mengatakan sebagaimana yang Alloh Ta’ala firmankan: (Alloh memiliki) tangan, pendengaran, dan penglihatan, tanpa menanyakan bagaimananya (kaifa) dan tidak pula mengatakan ‘serupa dengan pendengaran’ atau ‘seperti pendengaran’, maka ini sama sekali bukan tasybih.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 662)

Kesimpulannya, jalan keselamatan dalam beriman kepada Sifat Alloh adalah berjalan di atas dua rel: menetapkan tanpa menyerupakan, dan mensucikan tanpa menolak. Seluruh dalil Al-Qur’an dan Sunnah menuntun kita pada satu titik muara, yaitu meyakini bahwa Alloh memiliki Sifat-Sifat Kesempurnaan yang hakiki, namun hakikat-Nya sama sekali tidak sama dengan makhluk-Nya.

 

[19] Al-Quran Kalamulloh Bukan Makhluk

وَعَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي حَاتِمٍ عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ: سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُولُ: وَقَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ أَوْ قَالَ الْقُرْآنُ لَفْظِي كُلُّهَا

Dari Abdurrohman bin Abi Hatim, dari Ar-Robi’ bin Sulaiman, ia berkata: Aku mendengar Asy-Syafi’i berkata: “Ucapan, ‘Lafazhku dengan Al-Qur’an’ atau dia berkata ‘Al-Qur’an adalah lafazhku seluruhnya’ (adalah sama saja tidak boleh jika Kalamulloh yang dimaksud makhluk).”

Syarah

Fitnah besar yang menimpa umat Islam pada kurun waktu awal adalah masalah Kholqul Qur’an (makhluknya Al-Qur’an), serta cabang masalah yang lahir darinya, yaitu ucapan: “Lafzhul Qur’an” (lafazhku saat membaca Al-Qur’an itu makhluk atau bukan).

Teks seakan mengalami sedikit keterpotongan di bagian akhir kata “kulluha” (seharusnya ada kelanjutan hukumnya, seperti bid’ah atau jahmiyyun). Namun berdasarkan riwayat-riwayat yang shohih dan mutawatir dari muridnya Imam Asy-Syafi’i (204 H), yakni Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) ia berkata:

مَنْ قَالَ لَفْظِي بِالْقُرْآنِ مَخْلُوقٌ فَهُوَ جَهْمِيٌّ، وَمَنْ قَالَ غَيْرُ مَخْلُوقٍ فَهُوَ مُبْتَدِعٌ.

Siapa yang mengatakan lafazhku terhadap Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah seorang Jahmiyy. Dan siapa yang mengatakan bahwa lafazhku terhadap Al-Qur’an bukan makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah’.” (Al-Jami li Ulumil Imam Ahmad, 3/572)

Perkataan Imam Asy-Syafi’i “kulluha” (semuanya itu) merujuk pada dua redaksi kalimat: “Lafzhi bil Qur’an” (lafazhku terhadap Al-Qur’an) atau “Al-Qur’an lafzhi” (Al-Qur’an adalah lafazhku). Kedua redaksi ini sama-sama dilarang dan ditolak oleh para imam Salaf.

19.1 Latar Belakang Masalah

Untuk memahami mengapa Imam Asy-Syafi’i—begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal (241 H)—sangat keras memprotes dan menghukumi orang yang mengucapkan kalimat ini, kita harus mengetahui tipu daya kelompok Jahmiyyah (pengikut Jahm bin Shofwan, 128 H).

Ketika kaum Jahmiyyah murni secara terang-terangan mengatakan “Al-Qur’an adalah makhluk”, Ahlus Sunnah bangkit membantah mereka dan menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamulloh (ucapan Alloh), bukan makhluk.

Karena terdesak secara dalil dan dibenci oleh kaum Muslimin, sebagian tokoh Jahmiyyah merubah taktik dengan memunculkan istilah baru yang rancu (syubhat), yaitu: “Lafazhku saat membaca Al-Qur’an adalah makhluk.”

19.2 Mengapa Istilah “Lafazhku” Dilarang Kaum Salaf?

Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad, dan para ulama sezaman melarang ucapan tersebut karena kalimat tersebut mengandung makna ganda yang batil (mujmal), yang bisa disalahgunakan oleh ahli bid’ah.

Jika seseorang mengatakan: “Lafazhku saat membaca Al-Qur’an adalah makhluk”, kalimat ini mengandung dua kemungkinan arti:

Arti yang Benar: Suara manusia, pita suara, lidah, dan gerakan nafas orang yang membaca Al-Qur’an itu memang makhluk (ciptaan Alloh).

Arti yang Batil: Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca itulah yang makhluk. Ini adalah tujuan tersembunyi kaum Jahmiyyah agar mereka bisa menyusupkan Aqidah “Al-Qur’an makhluk” lewat pintu belakang.

Oleh karena itu, Imam Asy-Syafi’i menghukumi pelakunya sebagai Jahmiyy, karena ia menggunakan kalimat rancu ini demi melariskan Aqidah Jahmiyyah.

19.3 Sisi Orang yang Mengatakan “Lafazhku Bukan Makhluk”

Sebaliknya, jika ada orang awam dari Ahlus Sunnah yang ingin membela Al-Qur’an lalu berlebihan dengan mengatakan: “Lafazhku saat membaca Al-Qur’an bukan makhluk!”, maka ini pun salah dan dihukumi sebagai Mubtadi’ (ahli bid’ah).

Sebab, ucapan ini mengharuskan suara manusia yang serak, lidahnya, dan air liurnya ikut diSifati sebagai “bukan makhluk” (qodim). Ini adalah bentuk ghuluw (berlebihan) yang menyelisihi kenyataan, karena organ tubuh manusia jelas makhluk.

19.4 Sikap yang Benar dan Selamat

Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil jalan tengah yang adil dan tegas dalam masalah ini dengan cara memperinci, bukan digeneralisir. Kaidah emas yang dipegang oleh para ulama didasarkan pada ucapan para pentahqiq Aqidah:

الصَّوْتُ صَوْتُ الْقَارِئِ، وَالْكَلَامُ كَلَامُ الْبَارِي

“Suara (saat membaca) adalah suara milik qori’ (makhluk), sedangkan ucapan (yang dibaca) adalah Kalam Robb Yang Maha Pencipta (bukan makhluk).” (Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 23/361)

Jika kita mendengar seseorang membaca Al-Qur’an dengan merdu, maka:

Al-Qur’an, huruf-hurufnya, susunan kalimatnya, dan maknanya adalah Kalamulloh, yang Alloh ucapkan secara hakiki dengan Huruf dan Suara yang didengar oleh Jibril ‘alaihis salam. Al-Qur’an dalam hal ini bukan makhluk.

Adapun suara manusia yang naik turun, lidah yang basah, kertas mushaf yang disentuh, dan tinta yang digoreskan, itu semua adalah benda-benda baru yang diciptakan, alias makhluk.

Riwayat dari Imam Asy-Syafi’i ini adalah bukti kehati-hatian para ulama Salaf terhadap istilah-istilah baru (muhdats) yang sengaja dibuat oleh ahli bid’ah untuk mengaburkan Aqidah Islam. Jalan yang selamat adalah mencukupkan diri dengan kalimat yang diwariskan oleh para Shohabat: Al-Qur’an adalah Kalamulloh, diturunkan dari-Nya, dan bukan makhluk. Maka kita menutup pintu rapat-rapat dari ucapan “lafazhku makhluk” maupun “lafazhku bukan makhluk” demi menjaga kemurnian Tauhid.

 

[20] Beriman Sesuai Apa yang Dimaksud Alloh dan Rosul-Nya

[وَقَالَ]: آمَنْتُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَ عَنِ اللَّهِ عَلَى مُرَادِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَآمَنْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ وَمَا جَاءَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ فِيمَا أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ

Ia berkata: “Aku beriman kepada Alloh dan apa yang datang dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala sesuai dengan maksud Alloh. Dan aku beriman kepada Rosulullah dan apa yang datang dari Rosulullah sesuai dengan maksud Rosulullah.”

Syarah

Perkataan yang sangat masyhur ini bersumber dari Al-Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H), yang meringkas kaidah agung tentang bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap terhadap dalil-dalil syari’at, terutama dalam masalah perkara ghoib dan Sifat-Sifat Alloh .

Perkataan ini dinukil oleh banyak ulama mazhab, salah satunya oleh Al-Imam Ibnu Qudamah (620 H) dalam kitab Aqidahnya yang berkah, Lum’atul I’tiqod.

Kalimat yang ringkas ini mengandung pondasi dasar yang membedakan antara manhaj Salafush Sholih dengan manhaj ahli kalam (teolog) dalam memahami agama. Ada 3 poin utama yang terkandung di dalamnya:

20.1 Kepasrahan Total (Al-Inqiyad wat Taslim)

Inti dari iman adalah ketundukan. Ketika suatu kabar datang dari Alloh di dalam Al-Qur’an, atau datang dari Nabi di dalam Hadits yang shohih, maka kewajiban pertama seorang hamba adalah membenarkan dan menerimanya secara utuh. Hamba tersebut tidak boleh menolak dalil hanya karena akalnya belum mampu menjangkaunya.

20.2 Memahami Dalil Sesuai Keinginan Pembuat Syari’at (Murodulloh wa Murodu Rosulih)

Inilah poin paling krusial. Imam Asy-Syafi’i menegaskan bahwa kita wajib mengimani dalil ‘ala murodillah (sesuai yang diinginkan Alloh) dan ‘ala murodi Rosulillah (sesuai yang diinginkan Rosul).

Artinya, kita dilarang membelokkan makna ayat atau Hadits kepada makna-makna baru yang dipaksakan demi mencocoki teori akal manusia, atau yang biasa disebut dengan Ta’wil yang batil.

Contoh: Ketika Alloh menetapkan bahwa Dia berada di atas ‘Arsy-Nya (Istiwa), maka kita mengimaninya sesuai yang diinginkan Alloh, yaitu tinggi dan menetap di atas ‘Arsy sesuai keagungan-Nya. Kita tidak boleh menakwilnya menjadi “menguasai” (istaula) sebagaimana yang dilakukan oleh ahli kalam, karena makna menguasai bukanlah apa yang diinginkan oleh Alloh dan Rosul-Nya.

20.3 Memutus Ketamakan Akal dari Memikirkan Kaifiyah (Hakikat Sifat)

Ucapan ini juga mengandung isyarat bahwa hakikat sejati dari Sifat-Sifat Alloh adalah urusan yang ilmunya dikembalikan kepada Alloh . Kita mengimani maknanya (secara bahasa Arob jelas), namun kita menyerahkan bagaimananya (kaifiyah) kepada Alloh. Sesuai dengan batasan akal makhluk yang terbatas.

20.4 Landasan Dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah

Manhaj taslim (pasrah) yang diucapkan Imam Asy-Syafi’i ini tegak di atas dalil-dalil yang kokoh:

Alloh memuji para ulama yang apabila datang perkara ghoib dan Sifat-Sifat-Nya, mereka langsung beriman tanpa membuat-buat cara:

﴿وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Robb kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imron: 7)

Orang yang menakwilkan dalil tanpa tuntunan dari Rosululloh berarti telah berbicara atas Nama Alloh tanpa ilmu, dan ini termasuk dosa besar. Alloh berfirman:

﴿وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (mengharamkan) kamu mengada-ada terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’rof: 33)

20.5 Korelasi dengan Ucapan Ulama Salaf Lainnya

Perkataan Imam Asy-Syafi’i ini bukanlah pendapat pribadi yang asing, melainkan sebuah ijmak (kesepakatan) di antara para ulama.

Al-Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri (124 H)—salah seorang tokoh besar dari kalangan Tabi’ut Tabi’in—mengucapkan kalimat yang senada dan menjadi kaidah emas:

مِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ، وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّسْلِيمُ

“Dari Alloh asal risalah, kewajiban Rosul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita (sebagai umat) adalah pasrah menerima.” (Shohih Al-Bukhori secara mu’allaq)

Begitu pula Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi (321 H) menuliskan dalam matan Aqidahnya yang terkenal:

وَلا تَثْبُتُ قَدَمُ الإِسْلاَمِ إِلاَّ عَلَى ظَهْرِ التَّسْلِيمِ والاسْتِسْلامِ

“Dan tidak akan kokoh kaki Islam seseorang, kecuali di atas punggung pasrah dan berserah diri (kepada dalil).” (Al-Aqidah Ath-Thohawiyyah hlm. 43)

Selamatnya hati dan akal adalah dengan menempatkan Wahyu di atas segalanya. Jika Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan sesuatu, kita katakan: “Kami beriman, dan kami pahami ini sesuai dengan apa yang Engkau inginkan, ya Robb, dan apa yang engkau inginkan, ya Rosululloh, bukan sesuai selera akal dan hawa nafsu kami.”

 

Penutup

Melalui lembaran-lembaran yang telah kita lalui bersama, Imam Asy-Syafi’i rohimahulloh memberikan teladan agung tentang pentingnya menetapkan Nama-Nama dan Sifat Kesempurnaan bagi Alloh (itsbat) tanpa terjatuh ke dalam jurang penyerupaan dengan makhluk (tasybih), serta menyucikan-Nya (tanzih) tanpa membatalkan Sifat-Sifat tersebut (ta’thil). Sikap pertengahan inilah yang menjadi lentera penerang di tengah badai fitnah yang sempat menguji kemurnian Aqidah umat pada masa-masa awal Islam.

Kami memohon kepada Alloh dengan Nama-Nama-Nya yang husna dan Sifat-Sifat-Nya yang mulia, agar menjadikan usaha yang sedikit ini sebagai amal sholih yang diterima di sisi-Nya, menjadi pemberat timbangan kebaikan pada hari yang tidak lagi bermanfaat harta dan anak-anak, serta mendatangkan barokah dan rizqi yang melimpah bagi penulis, penerbit, dan segenap kaum Muslimin yang mengambil faedah darinya.

Semoga Alloh senantiasa meneguhkan hati kita di atas Tauhid yang murni, menjauhkan kita dari bisikan syaithon yang terkutuk, serta mengumpulkan kita kelak di dalam Jannah-Nya bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Sholihin.

Allohu a’lam.[NK]

Daftar Pustaka

Kitab At-Tauhid wa Itsbatu Shifati Ar-Robb, Abū Bakr Muhammad bin Is-hāq bin Khuzaimah (311 H).

Kitab Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari (324 H).

Kitab Al-Asma was Shifat, Abū Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi (458 H).

Majmu’ al-Fatawa, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah (728 H).

Al-Aqidah Al-Wasithiyah, Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim ibnu Taimiyah (728 H).

Showa’iqul Mursalah ‘alal Jahmiyah wal Mu’athilah, Syamsuddin Muhammad bin Abī Bakr ibnu Qoyyim al-Jauziyah (751 H).

Syarh Al-Aqidah Ath-Thohawiyah, Ibnu Abil ‘Izz al-Hanafi (792 H).

Al-Qowa’idul Matsla fī Sifatihil Ula wa Asma’ihil Husna, Muhammad bin Sholih al-Utsaimin (1426 H).

Shifatulloh ‘Azza wa Jalla Al-Waridah fil Kitabi was Sunnah, Alawi bin Abdil Qodir As-Saqqof.

Fiqh Al-Asma’ Al-Husna, Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr.

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini