Cari Ebook

[PDF] Alloh Maha Mendengar dan Bantahan atas Kaum yang Menyimpang - Nor Kandir



Muqoddimah

﷽

Alloh berfirman menetapkan Diri-Nya mendengar:

﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ﴾

“Alloh sungguh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadukan masalahnya kepada Alloh, dan Alloh mendengar percakapan antara kamu berdua, sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Ilmu Tauhid merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim. Di antara pilar Tauhid Asma’ wa Sifat adalah menetapkan nama As-Sami’ dan sifat Pendengaran bagi Alloh sesuai keagungan-Nya tanpa menanyakan bagaimananya, menolak, menyerupakan, atau menyelewengkan makna. Alloh mendengar seluruh suara hamba tanpa ada yang tersembunyi.

Nabi ﷺ berdoa yang menetapkan pendengaran Alloh hingga mengabulkan doa-doa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا»

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tidak puas, dan doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim no. 2724)

Buku ini disusun untuk menghimpun dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shohihah terkait penetapan sifat Pendengaran Alloh, penjelasan perkataan Ulama Salaf, bantahan terhadap kelompok menyimpang, serta buah pengamalan Tauhid ini dalam kehidupan hamba.

Bab 1: Penetapan Nama As-Sami’ dan Sifat Pendengaran Bagi Alloh dalam Al-Qur’an

1.1 Penetapan Nama As-Sami’

Alloh menetapkan bagi diri-Nya nama As-Sami’ dalam banyak ayat Al-Qur’an. Nama ini mengandung penetapan sifat Pendengaran bagi Alloh yang sempurna.

﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Alloh Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 137)

﴿إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isro’: 1)

﴿وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Alloh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 224)

﴿إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا﴾

“Sesungguhnya Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’: 58)

﴿وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Dia Alloh Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Penetapan nama As-Sami’ pada ayat di atas menunjukkan bahwa Alloh memiliki sifat mendengarkan seluruh perkataan hamba. Ketika seorang Mu’min menyadari bahwa Alloh Maha Mendengar, ia akan menjaga lisannya dari perkataan harom seperti ghibah (menggunjing), dusta, dan celaan. Sebagai contoh, ketika seseorang berada di tempat tersembunyi dan hendak mengucapkan kebohongan, kesadarannya bahwa Alloh As-Sami’ akan menghentikannya dari perbuatan dosa tersebut.

1.2 Pendengaran Alloh Meliputi Seluruh Suara Makhluk

Pendengaran Alloh meliputi segala hal yang bersuara di langit dan di bumi. Tidak ada perbedaan bagi Alloh antara ucapan yang dirahasiakan dan ucapan yang dinyaringkan.

﴿وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ﴾

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS. Al-Mulk: 13)

﴿سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ﴾

“Sama saja bagi Alloh, siapa di antara kamu yang merahasiakan perkataannya dan siapa yang menyaringkannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan di siang hari.” (QS. Ar-Ro’d: 10)

﴿يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى﴾

“Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (QS. Thoha: 7)

﴿قَالَتْ يَا وَيْلَتَى أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ﴾

Maka ketika utusan itu berpaling, istrinya berkata: “Aduhai, apakah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah tua renta, dan suamiku ini sudah tua? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang aneh.” (QS. Hud: 72)

Alloh mendengar ucapan bisikan wanita tua (‘ajuz) tersebut dan mengabadikannya di dalam Al-Qur’an. Ini membuktikan Pendengaran Alloh tidak dihalangi oleh dinding, tempat, atau kelemahan suara makhluk.

Ketika seorang Muslim berdoa dengan suara lirih di tengah kegelapan malam, Alloh mendengar rintihannya tanpa butuh pengeras suara.

Bab 2: Penetapan Sifat Pendengaran Alloh dalam As-Sunnah Ash-Shohihah

2.1 Pembuktian Pendengaran Alloh atas Bisikan Hamba

As-Sunnah Ash-Shohihah menetapkan sifat Pendengaran Alloh secara jelas melalui hadits-hadits Nabi ﷺ.

Aisyah (58 H) berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ، لَقَدْ جَاءَتِ الْمُجَادِلَةُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَأَنَا فِي نَاحِيَةِ الْبَيْتِ، تَشْكُو زَوْجَهَا، وَمَا أَسْمَعُ مَا تَقُولُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا﴾

“Segala puji bagi Alloh yang pendengaran-Nya meliputi seluruh suara. Sungguh wanita yang mengajukan gugatan telah datang kepada Nabi ﷺ berbicara kepada beliau, sedang aku berada di sudut rumah tidak mendengar apa yang dia katakan, lalu Alloh Azza wa Jalla menurunkan ayat: ‘Alloh sungguh telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya.’” (HSR. Ibnu Majah no. 188)

Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H) menegaskan bahwa Pendengaran Alloh meliputi seluruh suara, padahal Aisyah yang berada di rumah yang sama tidak mendengar bisikan wanita tersebut.

Nabi ﷺ bersabda kepada orang-orang yang mengeraskan suara saat bertakbir dalam safar:

«[أَيُّهَا النَّاسُ] ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، إِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا، إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ»

“Wahai manusia, kasihanilah diri kalian, sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli dan tidak pula ghoib, sesungguhnya kalian menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia bersamamu.” (HR. Al-Bukhori no. 4205 dan Muslim no. 2704)

Hadits Abu Musa Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu (44 H) di atas melarang manusia berteriak keras saat berdzikir dan berdoa, karena Alloh Maha Mendengar lagi Maha Dekat.

Hendaknya seorang hamba merendahkan suaranya ketika berdoa saat Sholat Malam atau membaca dzikir pagi dan petang.

Nabi ﷺ bersabda: Alloh berfirman:

«يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»

Alloh Ta’ala berfirman: “Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku, dan jika ia mengingat-Ku dalam kelompok orang, Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)

2.2 Alloh Mendengar Doa dan Pujian Orang yang Sholat

Nabi ﷺ mengajarkan bacaan i’tidal dalam Sholat yang menegaskan sifat Pendengaran Alloh terhadap pujian hamba-Nya.

«إِذَا قَالَ الإِمَامُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الحَمْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ المَلاَئِكَةِ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

Apabila imam mengucapkan “Sami’allohu liman hamidah” (Alloh mendengar orang yang memuji-Nya), maka ucapkanlah “Allohumma Robbana lakal hamd” (Ya Alloh Robb kami, bagi-Mu segala puji), karena siapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan Malaikat, diampuni baginya dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhori no. 796 dan Muslim no. 404)

Makna “Sami’allohu liman hamidah” adalah Alloh mendengar dan mengabulkan pujian hamba-Nya. Setiap Muslim yang mendirikan Sholat mempraktikkan ikrar ini sekurang-kurangnya 17 rokaat dalam sehari semalam.

Ibnu Abi Aufa berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ، إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، قَالَ: «سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، مِلْءُ السَّمَاوَاتِ، وَمِلْءُ الْأَرْضِ وَمِلْءُ مَا شِئْتَ مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ»

Rosululloh ﷺ apabila mengangkat kepalanya dari ruku’ mengucapkan: “Alloh mendengar orang yang memuji-Nya, wahai Robb kami bagi-Mu segala puji sepenuh langit dan sepenuh bumi dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki dari sesuatu setelah itu.” (HR. Muslim no. 476)

Alloh mendengar dan mengabulkan doa dalam sujud. Nabi ﷺ bersabda:

«أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ، وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ»

“Keadaan paling dekat seorang hamba dari Robbnya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah berdoa.” (HR. Muslim no. 482)

Kedekatan Alloh saat sujud mencakup Pendengaran-Nya yang mengabulkan permohonan hamba yang bersujud dengan ikhlas.

Bab 3: Pembagian Jenis Pendengaran Alloh

3.1 Pembagian Pendengaran Umum dan Pendengaran Khusus

Para ulama menjelaskan bahwa sifat Pendengaran Alloh terbagi menjadi 2 jenis utama: Pendengaran umum yang mencakup seluruh suara makhluk, dan Pendengaran khusus yang mengandung makna pertolongan, ridho, serta pengabulan doa.

Jenis 1 adalah Pendengaran Umum (sam’un ‘aam), yaitu Alloh mendengar seluruh suara di alam semesta baik suara manusia, jin, hewan, maupun benda mati.

﴿أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لاَ نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ﴾

“Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Ya, benar, dan utusan-utusan Kami mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)

Jenis 2 adalah Pendengaran Khusus (sam’un khoosh), yaitu Pendengaran yang disertai pertolongan, perlindungan, dan pengabulan doa hamba-Nya yang sholih.

Alloh berfirman kepada Musa dan Harun saat diutus menghadapi Fir’aun yang zholim. Pendengaran Alloh di sini berarti penjagaan dan pertolongan-Nya.

﴿إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى﴾

“Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (QS. Thoha: 46)

﴿إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ﴾

“Sesungguhnya Robbku benar-benar Maha Mendengar (dengan mengabulkan) doa.” (QS. Ibrohim: 39)

Nabi Ibrohim menegaskan bahwa Alloh Maha Mendengar doa hamba-Nya dan mengabulkannya.

Ketika seorang Mu’min yang tertindas memohon pertolongan, Alloh mendengar doanya dengan Pendengaran khusus dan memberikan jalan keluar. Para Nabi adalah teladan dalam berdoa ini:

﴿رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Ya Robb kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)

﴿قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ 33 فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

Yusuf berkata: “Wahai Robbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung kepada mereka dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Robbnya memperkenankan doanya dan menghindarkannya dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Yusuf: 33-34)

3.2 Penjelasan Ulama Salaf Mengenai Pendengaran Alloh

Perlu diketahui bahwa Alloh Ta’ala Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi tidaklah serupa dengan makhluk-Nya. Bahkan Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Alloh Azza wa Jalla berfirman tentang diri-Nya:

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Di antara pilar keimanan yang pasti, yang tidak sah iman seorang hamba dan tidak pula pengenalannya kepada Robbnya melainkan dengannya, adalah ia mengetahui bahwa Alloh Agung keagungan-Nya Maha Mengetahui segala sesuatu; baik apa yang telah terjadi, apa yang sedang terjadi, maupun apa yang belum terjadi. Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Tidak ada satu hal pun yang memalingkan-Nya dari hal lain, tidak ada satu suara pun yang menghalangi suara lain, dan tidak ada satu makhluk pun yang menyibukkan-Nya dari makhluk lain. Rahasia dan terang-terangan bagi-Nya adalah sama:

﴿سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ﴾

“Sama saja bagi Alloh, siapa di antara kamu yang merahasiakan perkataannya dan siapa yang menyaringkannya, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan di siang hari.” (QS. Ar-Ro’d: 10)

Al-Imam Asy-Syanqithi (1393 H) rohimahulloh berkata:

“Alloh Ta’ala menjelaskan dalam ayat yang mulia ini bahwa rahasia dan terang-terangan di sisi-Nya adalah sama, begitu pula tersembunyi dan tampak di sisi-Nya adalah sama; karena Dia mendengar rahasia sebagaimana Dia mendengar yang terang-terangan, dan Dia mengetahui yang tersembunyi sebagaimana Dia mengetahui yang tampak. Alloh telah menjelaskan makna ini dalam ayat-ayat lain, seperti firman-Nya: ‘Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.’ (QS. Al-Mulk: 13-14), dan firman-Nya: ‘Dan jika kamu menyaringkan ucapan, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.’ (QS. Thoha: 7), dan firman-Nya: ‘Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Alloh mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka lahirkan, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala isi hati.’ (QS. Hud: 5), serta firman-Nya: ‘Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya.’ (QS. Qof: 16), hingga ayat-ayat lainnya.” (Adhwa’ul Bayaan, Asy-Syanqithi, 2/236)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:

«قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: ﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ﴾، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: ﴿مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴾، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي - وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي - فَإِذَا قَالَ: ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: ﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴾ قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ»

“Alloh Ta’ala berfirman: ‘Aku membagi Sholat antara Aku dan hamba-Ku menjadi 2 bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Apabila hamba mengucapkan ‘Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin’, Alloh Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’ Apabila ia mengucapkan ‘Ar-Rohmaanir Rohiim’, Alloh Ta’ala berfirman: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’ Apabila ia mengucapkan ‘Maaliki Yaumiddiin’, Alloh berfirman: ‘Hamba-Ku mengagungkan-Ku.’ Apabila ia mengucapkan ‘Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin’, Alloh berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’ Apabila ia mengucapkan ‘Ihdinas shirothol mustaqiim shirothol ladziina an’amta ‘alaihim ghoiril maghdhuubi ‘alaihim waladh dhoolliin’, Alloh berfirman: ‘Ini untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.’” (HR. Muslim no. 395)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh berkata:

“Hal ini diucapkan Alloh Maha Suci lagi Maha Tinggi kepada setiap orang yang Sholat yang membaca Al-Fatihah. Seberapa banyak pun rokaat yang dilakukan seseorang, akan dikatakan kepadanya demikian. Pada saat yang bersamaan, orang yang Sholat dan membaca Al-Fatihah jumlahnya tidak dapat dihitung melainkan oleh Alloh, dan kepada setiap orang dari mereka Alloh berfirman sebagaimana Firman-Nya kepada orang ini, sebagaimana Dia juga menghisab mereka. Alloh mengucapkan kepada setiap orang apa yang Dia ucapkan padanya dalam satu waktu yang sama. Demikian pula pendengaran-Nya terhadap ucapan mereka; Dia mendengar seluruh ucapan mereka beserta perbedaan bahasa mereka dan keragaman kebutuhan mereka. Dia mendengar doa mereka dengan pendengaran pengabulan, dan mendengar seluruh apa yang mereka ucapkan dengan pendengaran ilmu. Pendengaran-Nya terhadap satu suara tidak menyibukkan-Nya dari suara yang lain, Dia tidak keliru oleh banyaknya permohonan, dan tidak merasa terganggu oleh desakan orang-orang yang mendesak dalam berdoa. Sebab Dialah Maha Suci yang menciptakan seluruh ini, memberi rezeki kepada seluruh ini, dan menyampaikan nutrisi ke setiap bagian tubuh sesuai kadar dan sifat yang cocok baginya, begitu pula pada tanaman.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 5/479-480)

Alloh Ta’ala Dialah yang menciptakan berbagai bahasa, dan menjadikan hal itu sebagai bagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya atas kemaha-pengaturan-Nya dan kekuasaan-Nya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلافُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآياتٍ لِلْعَالِمِينَ﴾

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berpacam-ragam bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 22)

Bagaimana mungkin Dia menjadi Sesembahan, Yang Diibadahi, dan Robb, sedangkan Dia tidak mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Nya?! Kita menyaksikan dalam kebiasaan dan pengetahuan manusia: pembuat suatu karya adalah orang yang paling paham tentang karyanya, dan cara terbaik untuk mengetahui sistem suatu perangkat adalah dengan merujuk pada buku petunjuk penggunaan yang diterbitkan oleh pembuatnya. Maka bagaimana dengan Alloh Agung keagungan-Nya, sedangkan Dia adalah Pencipta seluruh makhluk dan Maha Mengetahui hal-hal ghoib:

﴿وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ ۝ أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ﴾

“Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Mulk: 13-14)

Al-Imam As-Sa’di (1376 H) rohimahulloh berkata:

“Ini adalah pemberitahuan dari Alloh tentang luasnya ilmu-Nya dan meliputnya kelembutan-Nya. Alloh berfirman: ‘Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah’, artinya seluruhnya sama saja di sisi-Nya, tidak ada satu hal pun yang tersembunyi bagi-Nya. ‘Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui segala isi hati’, yaitu apa yang ada di dalamnya berupa niat dan kehendak, maka bagaimana dengan perkataan dan perbuatan yang terdengar dan terlihat?! Kemudian Alloh berargumen dengan dalil akal atas ilmu-Nya: ‘Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui?’; maka Dzat yang menciptakan makhluk serta memperbagus dan menyempurnakannya, bagaimana mungkin tidak mengetahuinya?! ‘Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui’, yang ilmu dan pengetahuan-Nya sangat halus hingga mendapati hal-hal rahasia, isi hati, hal tersembunyi, serta perkara ghoib, dan Dialah yang mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi.” (Tafsir As-Sa’di, 1/876)

Apabila kita mengimani bahwa Alloh Maha Mengawasi hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat mereka, serta mengimani bahwa makhluk akan dikumpulkan kepada-Nya dan Dia akan menghisab amalan mereka, maka konsekuensi pasti dari hal itu adalah kita wajib mengimani secara mantap pengawasan-Nya terhadap makhluk-Nya dan ilmu-Nya tentang mereka:

﴿يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ ۝ وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَقْضُونَ بِشَيْءٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Dia mengetahui kerlingan mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. Dan Alloh menghukum dengan adil. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak dapat menghukum dengan sesuatu pun. Sesungguhnya Alloh Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Ghofir: 19-20)

Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa Alloh akan berbicara kepada makhluk-Nya pada Hari Qiyamah tanpa ada penghalang dan tanpa penerjemah antara Dia dan mereka. Dari ‘Adi bin Hatim (68 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rosululloh ﷺ bersabda:

«مَا مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تُرْجُمَانٌ، فَيَنْظُرُ أَيْمَنَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلِهِ، وَيَنْظُرُ أَشْأَمَ مِنْهُ فَلاَ يَرَى إِلَّا مَا قَدَّمَ، وَيَنْظُرُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا النَّارَ تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ»

“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan Robbnya akan berbicara kepadanya tanpa ada penerjemah antara Dia dan dirinya. Lalu ia melihat ke arah kanannya dan tidak melihat melainkan apa yang telah dikerjakannya, ia melihat ke arah kirinya dan tidak melihat melainkan apa yang telah dikerjakannya, dan ia melihat ke depan arah wajahnya dan tidak melihat melainkan Naar di hadapan wajahnya. Maka takutlah kalian kepada Naar walaupun dengan bersedekah separuh buah kurma.” (HR. Al-Bukhori no. 7512 dan Muslim no. 1016)

Dalam riwayat lain bagi Al-Bukhori:

«وَلَيَلْقَيَنَّ اللَّهَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ يَلْقَاهُ، وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ، فَلَيَقُولَنَّ لَهُ: أَلَمْ أَبْعَثْ إِلَيْكَ رَسُولًا فَيُبَلِّغَكَ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، فَيَقُولُ: أَلَمْ أُعْطِكَ مَالًا وَأُفْضِلْ عَلَيْكَ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا جَهَنَّمَ، وَيَنْظُرُ عَنْ يَسَارِهِ فَلاَ يَرَى إِلَّا جَهَنَّمَ»

“Dan salah seorang dari kalian benar-benar akan bertemu Alloh pada hari ia menemui-Nya tanpa ada penerjemah yang menerjemahkan untuknya. Alloh akan berfirman kepadanya: ‘Bukankah Aku telah mengutus kepadamu seorang Rosul lalu ia menyampaarkannya kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Alloh berfirman: ‘Bukankah Aku telah memberimu harta dan melimpahkan karunia kepadamu?’ Ia menjawab: ‘Benar.’ Lalu ia melihat ke sebelah kanannya dan tidak melihat melainkan Jahannam, dan ia melihat ke sebelah kirinya dan tidak melihat melainkan Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 3595)

Bab 4: Bantahan Terhadap Kaum Kafir, Jahmiyyah, dan Mu’tazilah yang Menolak Sifat Mendengar Alloh

4.1 Sikap Kafir Quroisy Terhadap Pendengaran Alloh

Orang-orang kafir dan musyrikin meyakini secara batil bahwa Alloh tidak mendengar perkataan rahasia mereka. Alloh membongkar kebohongan dan sangkaan buruk mereka dalam Al-Qur’an.

﴿وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لاَ يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾

“Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu, tetapi kamu mengira bahwa Alloh tidak mengetahui banyak dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangkakan terhadap Robbmu, prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Fusshilat: 22-23)

Sebab turunnya ayat ini dijelaskan dalam hadits shohih berikut:

Dari Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

اجْتَمَعَ عِنْدَ البَيْتِ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ - أَوْ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ - كَثِيرَةٌ شَحْمُ بُطُونِهِمْ، قَلِيلَةٌ فِقْهُ قُلُوبِهِمْ، فَقَالَ أَحَدُهُمْ: أَتُرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ مَا نَقُولُ؟ قَالَ الآخَرُ: يَسْمَعُ إِنْ جَهَرْنَا وَلاَ يَسْمَعُ إِنْ أَخْفَيْنَا، وَقَالَ الآخَرُ: إِنْ كَانَ يَسْمَعُ إِذَا جَهَرْنَا فَإِنَّهُ يَسْمَعُ إِذَا أَخْفَيْنَا، فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلاَ أَبْصَارُكُمْ وَلاَ جُلُودُكُمْ﴾

“Berkumpul di dekat Ka’bah 2 orang Quroisy dan 1 orang Tsaqofi, —atau 2 orang Tsaqofi dan 1 orang Quroisy—, tebal lemak perut mereka namun sedikit pemahaman hati mereka (yakni gemuk dan bodoh). Salah seorang dari mereka berkata: ‘Apakah kalian mengira Alloh mendengar apa yang kita katakan?’ Yang lain berkata: ‘Dia mendengar jika kita menyaringkannya, dan tidak mendengar jika kita merahasiakannya.’ Yang lain lagi berkata: ‘Jika Dia mendengar apabila kita menyaringkannya, maka sesungguhnya Dia juga mendengar apabila kita merahasiakannya!’ Maka Alloh Azza wa Jalla menurunkan ayat: ‘Dan kamu tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu...’” (HR. Al-Bukhori no. 4817 dan Muslim no. 2775)

Lengkapnya ayat: Terjemah tafsiriyah: “Kalian dahulu di dunia tidak merasa perlu untuk menyembunyikan dosa-dosa kalian karena kalian tidak pernah menyangka bahwa pendengaran kalian, penglihatan kalian, dan kulit-kulit kalian akan bersaksi atas kalian pada Hari Kiamat, sehingga kalian berani terang-terangan dalam berbuat maksiat. Bahkan kalian meyakini bahwa Allah tidak mengetahui banyak dari perbuatan kalian, khususnya yang tersembunyi. Inilah sangkaan buruk kalian terhadap Allah—bahwa Dia tidak Maha Mengetahui dan tidak akan membalas perbuatan kalian—yang pada akhirnya menghancurkan diri kalian sendiri dan menjadikan kalian termasuk golongan orang-orang yang merugi di dunia dan di Akhirat. Maka, jika sekarang mereka bersabar terhadap adzab, maka tempat kembali mereka tetaplah Neraka; dan jika mereka meminta kembali keridhoan Allah, maka mereka bukanlah orang-orang yang pantas untuk mendapatkannya. Itu karena Kami jadikan untuk mereka teman-teman dari kalangan setan, lalu setan-setan itu memperindah perbuatan mereka di dunia, baik yang ada di hadapan mereka berupa dunia dan syahwat, maupun yang di belakang mereka berupa ajaran nenek moyang dan kenikmatan masa lalu, sehingga mereka tertipu dan terus dalam kesesatan. Dengan demikian, berlakulah keputusan adzab atas mereka sebagaimana telah berlaku terhadap umat-umat terdahulu dari kalangan jin dan manusia yang mendustakan para Rasul. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang benar-benar merugi karena telah kehilangan keselamatan dan kenikmatan yang abadi.” (QS. Fushshilat: 22–25)

Hadits Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) di atas menunjukkan kejahilan kaum musyrikin yang mengira Pendengaran Alloh terbatas seperti makhluk.

﴿أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لاَ نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ﴾

“Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan mereka? Ya, benar, dan utusan-utusan Kami catat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80)

﴿الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لاَ يَجِدُونَ إِلاَّ جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

“Orang-orang munafik yang mencela orang-orang Mu’min yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh kecuali sekedar kesanggupannya, lalu orang-orang munafik itu menghina mereka. Alloh akan membalas hinaan mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)

Orang-orang munafik berbisik-bisik mencela para Shohabat yang bersedekah, namun Alloh mendengar bisikan mereka dan menyingkap kebusukan mereka.

4.2 Syubhat Jahmiyyah dan Mu’tazilah Serta Bantahannya

Kelompok sesat seperti Jahmiyyah pengikut Ja’ad bin Dirham (124 H) dan Mu’tazilah menolak sifat Pendengaran bagi Alloh dengan alasan takut terjadi tamtsil (penyerupaan) dengan makhluk. Mu’tazilah mengklaim bahwa As-Sami’ hanyalah nama tanpa sifat, atau memalingkan maknanya menjadi Al-‘Alim (Maha Mengetahui).

Bantahan terhadap syubhat ini adalah sebagai berikut:

Pertama, Alloh membedakan antara Pendengaran dan ilmu dalam Al-Qur’an.

﴿وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلاً لاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Dan telah sempurnalah kalimat Robbmu sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)

Jika Pendengaran sama persis dengan ilmu tanpa ada penambahan makna, niscaya penggabungan 2 nama ini menjadi pengulangan yang tidak berguna. Al-Qur’an terbebas dari hal tersebut.

Kedua, Alloh mencela berhala-berhala musyrikin karena tidak memiliki pendengaran.

﴿أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْعُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا﴾

“Apakah berhala-berhala itu mempunyai kaki yang dapat digunakan untuk berjalan, atau mempunyai tangan yang dapat digunakan untuk memegang, atau mempunyai mata yang dapat digunakan untuk melihat, atau mempunyai telinga yang dapat digunakan untuk mendengar?” (QS. Al-A’rof: 195)

﴿إِذْ قَالَ لأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لاَ يَسْمَعُ وَلاَ يُبْصِرُ وَلاَ يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا﴾

Ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?” (QS. Maryam: 42)

Seandainya Alloh tidak memiliki sifat mendengarkan, niscaya celaan Nabi Ibrohim terhadap berhala akan membalas diri-Nya sendiri. Maha Suci Alloh dari tuduhan Jahmiyyah dan Mu’tazilah.

Ketiga, penetapan sifat tanpa penyerupaan adalah kaidah utama Ahlus Sunnah.

﴿لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ﴾

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuro: 11)

Ayat ini memadukan antara penyucian Alloh dari keserupaan dengan makhluk dan penetapan sifat Pendengaran serta Penglihatan bagi Alloh.

Al-Imam Nu’aim bin Hammad (228 H) guru Al-Imam Al-Bukhori (256 H) berkata:

«مَنْ شَبَّهَ اللَّهَ بِشَيْءٍ مِنْ خَلْقِهِ فَقَدْ كَفَرَ، وَمَنْ أَنْكَرَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ فَقَدْ كَفَرَ، فَلَيْسَ مَا وَصَفَ اللَّهُ بِهِ نَفْسَهُ وَرَسُولُهُ تَشْبِيهٌ»

“Siapa menyerupakan Alloh dengan makhluk-Nya maka ia kafir, dan siapa mengingkari apa yang disifatkan Alloh untuk diri-Nya maka ia kafir. Mensifati Alloh dengan apa yang disebutkan Alloh dan Rosul-Nya bukanlah tasybih.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalakai, 3/587)

Bab 5: Doa-Doa dalam Al-Qur’an dan Hadits yang Bertawasul dengan Nama As-Sami’

5.1 Doa Para Nabi dalam Al-Qur’an

Para Nabi ‘alaihimussalam senantiasa bertawasul dengan nama Alloh As-Sami’ saat memohon pertolongan dan pengabulan doa.

﴿فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنْبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِنْدَهَا رِزْقًا قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ﴾

Maka Robbnya menerimanya dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan memeliharanya oleh Zakariya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Wahai Maryam dari mana kamu memperoleh ini?” Maryam menjawab: “Makanan ini dari sisi Alloh. Sesungguhnya Alloh memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” Di sanalah Zakariya berdoa kepada Robbnya seraya berkata: “Ya Robbku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang sholih. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imron: 37-38)

Nabi Zakariya bertawasul dengan nama As-Sami’ ketika meminta keturunan sholih meskipun usianya sudah tua dan istrinya mandul.

﴿وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

Dan ingatlah ketika Ibrohim meninggikan pondasi Ka’bah bersama Isma’il seraya berdoa: “Ya Robb kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 127)

Nabi Ibrohim dan Isma’il bertawasul setelah membangun Ka’bah agar amal ibadah mereka diterima Alloh.

﴿فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Maka Robbnya memperkenankan doanya dan menghindarkannya dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf: 34)

﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴾

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaithon maka berlindunglah kepada Alloh. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’rof: 200)

5.2 Doa-Doa Shohih dari Nabi ﷺ

Nabi ﷺ mengamalkan perlindungan dan permohonan dengan menyebut sifat mendengar Alloh.

«بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»

“Dengan nama Alloh yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatupun yang membahayakan di bumi dan tidak pula di langit, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (HSR. Abu Dawud no. 5088 dan At-Tirmidzi no. 3388)

Dzikir ini dibaca setiap pagi dan petang 3 kali sebagai pelindung hamba dari segala mara bahaya.

«أَعُوذُ بِاللَّهِ السَّمِيعِ الْعَلِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ مِنْ هَمْزِهِ، وَنَفْخِهِ، وَنَفْثِهِ»

“Aku berlindung kepada Alloh Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaithon yang terkutuk, dari bisikannya, tiupannya, dan hembusannya.” (HSR. Abu Dawud no. 775 dan At-Tirmidzi no. 242)

Doa di atas dibaca saat hendak membaca Al-Qur’an atau dalam Sholat sebelum membaca surat Al-Fatihah.

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya ni’mat-Mu, berubahnya kesejahteraan dari-Mu, datangnya adzab-Mu secara mendadak, dan seluruh kemurkaan-Mu.” (HR. Muslim no. 2739)

Bab 6: Buah Mengimani Nama Alloh As-Sami’ dalam Kehidupan

6.1 Menjaga Lisan dari Perkataan Harom

Buah terpenting dari mengimani sifat Pendengaran Alloh adalah rasa takut untuk mengucapkan kata-kata yang dimurkai Alloh.

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya Malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qof: 18)

Nabi ﷺ bersabda:

«إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»

“Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan 1 kalimat dari ridho Alloh yang tidak ia pedulikan, namun Alloh mengangkat derajatnya dengan kalimat itu. Dan sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan 1 kalimat dari kemurkaan Alloh yang tidak ia pedulikan, namun membawanya jatuh ke dalam Naar Jahannam.” (HR. Al-Bukhori no. 6478)

Ketika seorang Muslim tergoda untuk melakukan ghibah (menggunjing) temannya, ia segera sadar bahwa Alloh As-Sami’ mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya, sehingga ia memilih diam dan berdzikir.

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa beriman kepada Alloh dan Hari Akhiroh, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

«إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ»

“Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 6094 dan Muslim no. 2607)

6.2 Semangat Berdoa

Iman kepada sifat As-Sami’ melahirkan keyakinan kuat bahwa doa hamba tidak pernah sia-sia. Alloh mendengar rintihan hati hamba yang terdzolimi maupun yang membutuhkan pertolongan.

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِني قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴾

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqoroh: 186)

Nabi ﷺ bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا»

“Tidak ada seorang Muslim pun yang berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan tidak memutus silaturrohim, melainkan Alloh pasti memberikan kepadanya salah satu dari 3 hal: boleh jadi disegerakan baginya doanya, atau disimpan baginya di Akhiroh, atau dipalingkan darinya keburukan yang sepadan dengannya.” (HHR. Ahmad no. 11133)

Ketika ditimpa musibah sakit atau kesusahan ekonomi, hamba tidak mengeluh kepada manusia, melainkan mengangkat tangan menumpahkan segenap isi hatinya kepada Alloh yang Maha Mendengar lagi Maha Pengasih.

«ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لَاهٍ»

“Berdoalah kepada Alloh dalam keadaan kalian yakin dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Alloh tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3479)

Penutup

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Maha Suci Robbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rosul. Dan segala puji bagi Alloh Robb seru sekalian alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)

Penetapan nama As-Sami’ dan sifat Pendengaran Alloh adalah landasan Tauhid yang kokoh bagi setiap Muslim. Pendengaran Alloh meliputi segala bisikan, lisan, dan rintihan hamba di seluruh alam semesta. Pengakuan terhadap sifat Pendengaran Alloh mewajibkan hamba memelihara lisan dari kemaksiatan, menjauhi I’tiqod sesat kaum penolak sifat seperti Jahmiyyah dan Mu’tazilah, serta memperbanyak doa dan tawasul dengan nama-Nya yang agung.

Semoga Alloh menjadikan ilmu ini bermanfaat dan melimpahkan rohmat-Nya kepada kita semua di dunia dan Akhiroh.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini