[PDF] Terapi Penyakit KEPO - Nor Kandir
TERAPI PENYAKIT KEPO
Panduan Mengobati Rasa
Ingin Tahu yang Berlebihan dan Stalking
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 73
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab
Muqoddimah
﷽
Manusia
sering kali berjalan di atas muka bumi dengan membawa beban yang sebenarnya
tidak perlu mereka pikul. Perhatian yang seharusnya diarahkan untuk membenahi
diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan Robb semesta alam, serta menyiapkan
bekalan panjang menuju Akhiroh, justru kerap teralihkan pada urusan-urusan
orang lain yang sama sekali tidak memberi mudhorot maupun manfaat bagi
keimanan. Penyakit ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan pribadi
sesama manusia—yang hari ini sering diistilahkan dengan kata kepo—bukanlah
sekadar masalah sosial yang sepele. Ia adalah sebuah penyakit hati yang
menggerogoti ketulusan amal, mencabut rasa tenang dari dalam dada, dan menyeret
pelan-pelan pelakunya ke dalam kubangan dosa yang sering kali tidak disadari.
Rosululloh ﷺ telah memberikan peringatan
yang sangat jelas bahwa kesempurnaan keimanan seseorang diukur dari
kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan
agamanya. Ketika seseorang mulai sibuk mengorek rahasia tetangganya, mengintip
urusan saudaranya, atau meraba-raba aib yang sengaja ditutupi oleh Alloh, pada
saat itulah ia sedang menuruni jurang kehinaan diri. Sungguh, Islam datang untuk
menjaga kehormatan, melindungi privasi, dan merajut ukhuwah di atas landasan husnuzh-zhon
serta ketulusan, bukan di atas rasa curiga yang berkarat dan mata yang liar.
Buku ini
hadir bukan untuk menggurui, melainkan sebagai cermin bersama bagi kita semua
yang sering kali tergelincir dalam rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya.
Di dalam lembaran-lembaran berikut, kita akan menelaah berbagai bimbingan
wahyu, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits-hadits shohih, yang membedah akar
masalah ini sekaligus menawarkan resep penyembuhannya secara syar’i. Mari kita
renungkan setiap dalil dengan hati yang terbuka, meletakkan timbangan syariat
di atas setiap gerak lisan dan pandangan, agar hidup kita kembali bersih,
tenang, dan selamat menghadap Alloh ta’ala.
Bab 1: Kepo Merusak
Hati
Alur
bahasan dalam bab pertama ini mengajak kita menukik langsung ke dalam relung
hati yang paling dalam, tempat di mana segala dorongan untuk mencampuri urusan
orang lain bermula. Sebelum kita melihat bentuk-bentuk perbuatan kepo di luar
sana, kita harus mengenali terlebih dahulu mengapa hati seseorang begitu mudah
terpancing untuk mengurus hidup orang lain, dan bagaimana kebiasaan buruk
tersebut secara perlahan merusak tatanan iman di dalam dada.
1.1
Mencampuri Urusan Orang Lain Adalah Tanda Buruknya Islam Seseorang
Pernakah
kita merenungkan mengapa ada orang yang begitu tenang hidupnya, sementara
sebagian lainnya selalu gelisah memikirkan apa yang sedang dilakukan, dibeli,
atau dibicarakan oleh orang lain? Kegelisahan itu sering kali lahir dari
lemahnya ikatan seseorang dengan prinsip dasar beragama. Ketika seseorang tidak
lagi fokus memperbaiki hubungannya dengan Robbnya, ia mulai mencari pelarian
dengan mengawasi gerak-gerik saudaranya sesama Muslim.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkannya hal yang tidak
bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976)
Hadits yang
agung ini meletakkan sebuah garis pemisah yang sangat tegas antara seorang
Muslim yang baik dan Muslim yang lalai. Perhatikanlah bagaimana Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa tanda
baiknya Islam adalah banyaknya tahu, melainkan justru kemampuannya untuk
meninggalkan, membiarkan, dan tidak ambil pusing terhadap perkara-perkara yang
tidak ada urusannya dengan keselamatan iman.
Abu
Hurairoh (58 H) pernah mengingatkan bahwa kesibukan seseorang mengurus hal yang
bukan haknya adalah cerminan dari kosongnya hati dari dzikrulloh. Ketika hati
kosong, syaithon memasukkan bisikan-bisikan rasa penasaran yang tidak
berfaedah.
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada
berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)
Ayat ini
menegaskan bahwa ciri hamba yang beruntung bukan hanya mereka yang meninggalkan
kekufuran, melainkan juga mereka yang berpaling dari segala bentuk kesia-siaan,
termasuk di dalamnya mengorek berita tentang urusan privat orang lain.
Tidakkah
kita merasa lelah, wahai saudaraku, menghabiskan jatah usia yang sangat singkat
ini hanya untuk menyelidiki hal-hal yang di Akhirat nanti sama sekali tidak akan
ditanyakan oleh Alloh kepada kita? Tinggalkanlah apa yang tidak menjadi
urusanmu, karena di situlah letak keselamatan Islammu.
1.2
Mengintai dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Sifat kepo
yang tidak segera diredam biasanya akan naik tingkat menjadi usaha aktif untuk
mencari-cari kesalahan. Ada rasa penasaran yang mendesak-desak di dalam dada
untuk membuktikan apakah si fulan benar-benar melakukan kesalahan atau tidak.
Orang yang sudah terjangkit penyakit ini gemar mengintip, mendengar dari balik
pintu, atau bahkan memancing pembicaraan agar orang lain keceplosan membuka
aibnya sendiri.
Alloh ta’ala
melarang perbuatan tercela ini dengan firman-Nya:
﴿وَلَا
تَجَسَّسُوا﴾
“Dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Larangan tajassus
atau mencari-cari kesalahan dalam ayat ini bersifat mutlak. Tajassus
adalah tindakan seseorang yang tidak puas dengan keadaan zhohir saudaranya,
lalu ia mulai mengendus-endus rahasia dan mencari keburukan yang sengaja
ditutupi oleh tirai perlindungan Alloh.
Rosululloh ﷺ memberikanancaman yang sangat
keras bagi mereka yang menjadikan hobi mengintai aib sesama sebagai kebiasaan
sehari-hari:
«يَا
مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا
الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ
يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي
بَيْتِهِ»
“Wahai
golongan orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam
hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin dan jangan pula mencari-cari
aib mereka. Karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Alloh akan
mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Alloh, niscaya
Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HSR. Abu
Dawud no. 4880 dan Ahmad no. 19777)
Bayangkan
sebuah ancaman yang begitu mengerikan. Orang yang gemar kepo dan
mengintip aib orang lain sebenarnya sedang menggali lubang kehinaan bagi
dirinya sendiri. Hari ini ia mungkin merasa pintar karena berhasil mengetahui
rahasia saudaranya, namun esok lusa, Alloh akan membuka seluruh keburukannya di
hadapan khalayak ramai. Apakah kita tidak takut, wahai pembaca yang budiman,
jika kelak di dunia maupun di Akhirat, aib kita sendiri yang dipampang tanpa
ada sutra penutup?
1.3
Hasad dan Rasa Dengki di Balik Rasa Ingin Tahu
Tidak
jarang, akar dari sikap kepo yang akut adalah adanya bara hasad yang
menyala-nyala di dalam dada. Seseorang tidak merasa tenang ketika melihat
saudaranya mendapatkan ni’mat, kelapangan rezeki, atau kebahagiaan rumah
tangga. Rasa penasaran itu muncul bukan karena kepedulian, melainkan karena
rasa dengki yang menuntut untuk segera diselidiki: bagaimana mereka bisa
mendapatkannya? Dari mana harta itu berasal? Apakah ada kecurangan di balik
kesuksesan mereka?
Rosululloh ﷺ memperingatkan bahaya
penyakit hati ini dalam sabdanya:
«إِيَّاكُمْ
وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»
“Jauhilah
oleh kalian sifat hasad, karena sungguh hasad itu memakan kebaikan-kebaikan
sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903. Bin Baz: lemah
tapi memiliki syawahid)
Api hasad
inilah yang kemudian membakar akal sehat pelakunya. Orang yang dengki tidak
akan pernah bisa meni’mati hidupnya sendiri, karena matanya selalu tertuju pada
piring orang lain. Ia terus bertanya-tanya, menyelidiki, dan mencari celah
kelemahan agar ia bisa menjatuhkan atau sekadar merasa puas tatkala saudaranya
tertimpa musibah.
Alloh ta’ala
berfirman menggambarkan tabiat orang-orang yang tidak suka melihat kebaikan
pada orang lain:
﴿إِنْ
تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا﴾
“Jika kamu
memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat
bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali ‘Imron: 120)
Sikap
selalu ingin tahu terhadap jatuh bangunnya orang lain adalah buah pahit dari
hati yang berpenyakit. Obat paling mujarab untuk meredam kedengkian di dalam
hati adalah dengan menyibukkan diri memohon ampun kepada Alloh atas dosa-dosa
sendiri, alih-alih menghitung ni’mat yang ada pada tangan orang lain.
1.4
Kebiasaan Mengikuti Praduga
Penyakit kepo
hampir selalu berjalan bergandengan tangan dengan prasangka buruk.
Ketika seseorang tidak memiliki informasi yang valid mengenai suatu perkara,
akalnya tidak berhenti bekerja; ia mulai merangkai cerita sendiri, menuduh
tanpa bukti, dan menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan terka-terkaan kosong
yang bersumber dari bisikan hawa nafsu.
Alloh ta’ala
dengan tegas memperingatkan manusia agar menjauhi sikap gampang berprasangka:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian
prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Prasangka
buruk atau su-uzhon adalah bahan bakar utama yang membuat orang
terus-menerus mencari tahu. Ia merasa curiga pada setiap gerak-gerik orang
lain, lalu rasa curiga itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan investigatif yang
sebenarnya sama sekali tidak halal untuk ia ajukan.
Rosululloh ﷺ bersabda mengingatkan bahaya
besar dari sifat ini:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR.
Al-Bukhori no. 6064 dan Muslim no. 2563)
Betapa
sering sebuah persahabatan hancur lebur, hubungan keluarga retak, dan
kehormatan seorang Mu’min tercoreng hanya karena dipicu oleh prasangka hampa
hasil dari rasa ingin tahu yang tidak terkendali. Al-Hasan Al-Bashri (110 H)
menasihati kita agar senantiasa menjaga hati dari memelihara sangkaan buruk
terhadap sesama Muslim, sebab prasangka yang salah akan membawa pelurunya
sendiri untuk menghancurkan kedamaian batinnya di dunia dan mendatangkan siksa
di Akhirat.
Bab 2:
Pintu-Pintu Masuk Penyakit Kepo
Setelah
kita memahami betapa busuknya akar kepo di dalam hati, kini kita perlu
menengok pintu-pintu darimana penyakit ini masuk menyerang benteng pertahanan
seorang hamba. Anggota tubuh kita—mulai dari mata, telinga, hingga lisan—sering
kali menjadi pengkhianat yang membuka gerbang lebar-lebar bagi masuknya racun
rasa ingin tahu. Mari kita bedah satu per satu pintu tersebut agar kita bisa
menutupnya rapat-rapat.
2.1
Pandangan Mata yang Liar dan Bebas Tanpa Batas
Mata adalah
utusan pertama yang menyampaikan informasi ke dalam hati. Jika mata dibiarkan
liar menatap apa saja, melirik urusan orang lain, mengintip celah privasi, atau
memelototi hal-hal yang bukan haknya, maka hati akan segera teracuni oleh rasa
penasaran yang berlebihan. Mata yang tidak pernah dilatih untuk menunduk adalah
pintu gerbang utama lahirnya sifat kepo yang kronis.
Alloh ta’ala
berfirman mengingatkan para hamba-Nya:
﴿قُلْ
لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى
لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangan
mereka, dan memelihara kemaluan mereka; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS.
An-Nur: 30)
Perintah
menundukkan pandangan bukan hanya berlaku untuk menjaga kesucian dari hal-hal
yang diharomkan secara syahwat, melainkan juga mencakup larangan menatap urusan
pribadi orang lain yang bukan urusan kita. Betapa banyak orang yang menghabiskan
waktunya menatap layar gawai berjam-jam hanya untuk memantau kehidupan orang
lain, menyelidiki galeri foto tetangga, atau mengamati status demi status yang
sama sekali tidak menambah timbangan kebaikannya di sisi Robb.
Rosululloh ﷺ bersabda kepada Ali bin Abi
Tholib rodhiyallahu ‘anhu:
«يَا
عَلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ
لَكَ الْآخِرَةُ»
“Wahai Ali,
janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena
bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagi engkau pandangan yang
terakhir.” (HSR. Abu Dawud no. 2149 dan At-Tirmidzi no. 2777)
Larangan
meneruskan pandangan ini mengajarkan kepada kita disiplin jiwa. Ketika mata
kita tanpa sengaja melihat sesuatu yang bersifat pribadi atau rahasia orang
lain, segeralah palingkan. Jangan biarkan mata itu menatap dua kali,
menyelidiki lebih jauh, atau merekamnya ke dalam ingatan untuk kemudian
dijadikan bahan gunjingan. Keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada
kemampuannya mengendalikan ke mana matanya dilabuhkan.
2.2
Lidah yang Gemar Bertanya dan Mencarikan Masalah
Setelah mata
melihat atau telinga mendengar, pintu berikutnya yang paling aktif
bekerja adalah lisan. Lidah manusia diciptakan untuk berdzikir, membaca
Kitabullah, dan mengucapkan perkataan yang baik. Namun, ketika ia
disalahgunakan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepo—seperti “Beli
di mana?”, “Berapa gajinya?”, “Kenapa kemarin tidak ikut?”, atau “Ada masalah
apa sebenarnya?”—maka lidah itu sedang menjerumuskan pemiliknya ke dalam lembah
kebinasaan.
Rosululloh ﷺ bersabda memperingatkan
bahaya banyak bertanya tentang hal yang tidak berguna:
«إِنَّ
اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ
السُّؤَالِ»
“Sungguh
Alloh membenci bagi kalian tiga hal: perbincangan ‘katanya dan katanya’
(gosip), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (tentang hal yang tidak
perlu).” (HR. Al-Bukhori no. 1477 dan Muslim no. 593)
Pertanyaan
yang berlebihan adalah ciri umat-umat terdahulu yang dibinasakan karena terlalu
banyak menyelidiki hal-hal yang tidak diperintahkan kepada mereka. Betapa
sering kita saksikan seseorang merasa paling peduli dengan melontarkan rentetan
pertanyaan yang berkedok perhatian, padahal hakikatnya ia sedang memuaskan rasa
ingin tahu yang didorong oleh hawa nafsu menyelidiki privasi orang.
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 101)
Ayat ini
turun untuk memperingatkan para sahabat agar tidak gemar mencari-cari detail
tersembunyi yang tidak perlu dibahas. Siapa saja yang meninggalkan pertanyaan
tentang hal-hal yang tidak berguna baginya, ia telah menyelamatkan separuh dari
kehormatan agamanya.
Wahai
lidah, tidakkah engkau takut kelak diseret di atas wajahmu ke dalam Neraka
Jahanam hanya karena kalimat-kalimat tanya yang keluar tanpa disaring oleh
takwa?
2.3
Telinga yang Suka Mencuri Dengar Pembicaraan Orang
Pintu
ketiga yang tak kalah berbahaya adalah telinga. Sifat kepo sering kali
memprovokasi seseorang untuk menajamkan pendengarannya di dekat pintu rumah
orang, sengaja mendengarkan obrolan telepon rahasia milik rekan kerjanya, atau
menguping percakapan pribadi yang tidak ditujukan untuk dirinya. Ini adalah
bentuk pengkhianatan kecil yang dampaknya sangat besar bagi rusaknya kebersihan
hati.
Rosululloh ﷺ memberikan ancaman yang
sangat tegas bagi orang yang suka mencuri dengar rahasia orang lain:
«مَنِ
اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ،
صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Siapa yang
mendengarkan (mencuri dengar) percakapan suatu kaum, sedangkan kaum itu tidak
suka (jika ia mendengarnya) atau mereka lari darinya, maka akan dituangkan
timah panas ke dalam telinganya pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no.
7042)
Sebuah
siksaan yang sangat pedih bagi anggota tubuh yang digunakan untuk melanggar
batas privasi sesama. Timah panas yang mendidih dicurahkan ke dalam telinga,
sebagai balasan setimpal bagi telinga yang sewaktu di dunia begitu lancang
menempel di dinding, mengintip gelombang suara, dan mencuri rahasia yang bukan
haknya untuk didengar.
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿وَلَا
تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾
“Dan
janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu
menggiyah sebahagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Larangan mendengarkan
pembicaraan orang secara diam-diam termasuk dalam cakupan larangan tajassus
yang merusak sendi-sendi kepercayaan dalam masyarakat Islam. Seorang Mu’min
senantiasa menjaga telinganya dari mendengar hal-hal yang tidak halal baginya,
sebagaimana ia menjaga mulutnya dari memakan makanan yang harom.
2.4
Membuang Waktu untuk Berita Hilang Arah dan Omong Kosong
Pintu masuk
terakhir yang hari ini paling marak dan mudah diakses adalah konsumsi
berita-berita kosong, gosip selebritas, drama kehidupan orang lain di dunia
maya, dan berbagai informasi sampah yang tidak mendatangkan maslahat dunia
maupun akhirat. Sifat kepo di era modern difasilitasi oleh gila
informasi yang tidak bertepi, membuat umur terbuang sia-sia di hadapan layar
kaca.
Alloh ta’ala
berfirman mencela orang-orang yang gemar menghabiskan waktu dalam kesia-siaan,
sebaliknya memuji Ibadurrohman:
﴿وَإِذَا
مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾
“Dan
apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan
yang tidak berfaedah, mereka lari (berpaling) dengan menjaga kehormatan diri.” (QS.
Al-Furqon: 72)
Ayat ini
menggambarkan keluhuran akhlak hamba-hamba Ar-Rohman. Mereka tidak sudi
singgah, membaca, atau meluangkan waktu sedetik pun untuk menyimak
berita-berita kosong yang merendahkan akal dan mengotori hati.
Rosululloh ﷺ bersabda mengingatkan hakikat
umur manusia:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»
“Ada dua ni’mat
yang banyak manusia tertipu di dalamnya: ni’mat sehat dan ni’mat waktu luang.” (HR.
Al-Bukhori no. 6412)
Waktu luang
yang dianugerahkan oleh Alloh justru sering kali dihabiskan oleh orang yang kepo
untuk menggulir halaman demi halaman media sosial, meneliti kehidupan pribadi
orang lain yang tidak dikenalnya, dan tenggelam dalam lautan informasi yang
sama sekali tidak menyelamatkannya dari azab Qobriy. Menyia-nyiakan waktu jauh
lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian hanya memutuskan hubungan
dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan dengan Alloh
dan negeri Akhirat.
Bab 3: Dampak
Buruk Kepo
Ketika
pintu-pintu itu terbuka dan racun kepo telah merasuk ke dalam jiwa, maka
malapetaka besar mulai berdatangan. Penyakit ini tidak hanya merusak hubungan
horizontal antarsesama manusia, melainkan juga menghancurkan bangunan vertikal
hubungan seorang hamba dengan Robbnya. Mari kita telusuri apa saja dampak
mengerikan yang harus ditanggung oleh pelakupenyakit ini.
3.1
Hilangnya Kelezatan Ibadah dan Khusyu’ dalam Hati
Seseorang
yang akal dan hatinya dipenuhi oleh rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain,
perlahan-lahan akan merasakan kekeringan spiritual dalam ibadahnya. Ketika ia
berdiri di atas sajadah, lidahnya melafalkan ayat-ayat suci, namun pikirannya
melayang memikirkan gosip terbaru, urusan tetangga, atau rahasia orang yang
baru saja ia selidiki. Ibadah berubah menjadi gerakan mekanis tanpa ruh.
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿قَدْ
أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ
عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾
“Sungguh
beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam
sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan
perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)
Perhatikan
bagaimana Alloh menggandengkan antara kekhusyu’an dalam sholat dengan sikap
berpaling dari perbuatan sia-sia. Ini adalah dalil yang sangat telak bahwa
mustahil seseorang bisa merasakan ni’matnya bermunajat kepada Alloh jika
hatinya masih berlumuran dengan rasa penasaran terhadap urusan makhluk.
Rosululloh ﷺ bersabda memperingatkan
bahaya hati yang disibukkan oleh selain Alloh:
«تَعِسَ
عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ،
وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ»
“Celakalah
hamba dinar, celakalah hamba pakaian mewah…, ia celaka dan tersungkur, dan jika
ia tertusuk duri maka tidak akan ada yang mencabutnya.” (HR. Al-Bukhori no.
2886)
Meskipun
lafazh hadits ini menyebut dinar dan pakaian, para ulama menjelaskan bahwa
siapa saja yang hatinya menjadi hamba bagi urusan duniawi, gosip, dan rasa
ingin tahu terhadap urusan makhluk, maka ia akan mengalami kehinaan dan
kekeringan hati yang serupa. Hukuman paling berat bagi orang yang gemar
mencampuri urusan orang lain adalah dicabutnya manisnya ketaatan dari dalam
dadanya, sehingga ia beribadah tanpa merasakan ketenangan sedikit pun.
3.2
Menumpuk Dosa dan Bangkrut di Hari Qiyamah
Orang yang
gemar kepo biasanya tidak bisa menyimpan rasa tahunya untuk diri
sendiri. Ia akan menyebarkannya, menceritakannya kepada orang lain, atau
memelintirnya menjadi bahan gunjingan. Tanpa disadari, setiap detik rasa ingin
tahunya berubah menjadi tumpukan dosa ghibah, namimah, dan fitnah yang siap
menghancurkan pahala amalnya di akhirat.
Rosululloh ﷺ bertanya kepada para
sahabatnya dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran:
«أَتَدْرُونَ
مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ،
فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ،
وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ
هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ
مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Tahukah
kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut
di antara kami adalah yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.” Nabi ﷺ bersabda: “Sungguh orang yang
bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa
pahala sholat, puasa, dan zakat, namun ia datang dalam keadaan pernah mencaci
si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan
memukul si ini. Maka kebaikan-kebaikannya diberikan kepada si ini dan si ini.
Jika kebaikannya habis sebelum diselesaikan urusannya, maka diambillah
dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam
Neraka.” (HR. Muslim no. 2581)
Betapa
ruginya manusia yang menghabiskan waktunya menyelidiki aib saudaranya,
mengumpulkan informasi kesilapan orang lain, lalu di hari Kiamat ia harus
membayar semua itu dengan pahala sholat malam dan puasanya yang telah ia
payahkan di dunia.
Alloh ta’ala
berfirman mengingatkan akibat dari lisan dan perbuatan yang melampaui batas:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ
أُولَئِكَ كَانَ عَلسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta
pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)
Setiap jengkal
rasa ingin tahu yang melampaui batas syariat akan dihitung sebagai beban
pertanggungjawaban yang sangat berat di hadapan Alloh. Jangan biarkan mata,
telinga, dan hati kita menjadi saksi yang memberatkan di mahkamah Ilahi kelak.
3.3
Menimbulkan Permusuhan
Sifat kepo
tidak pernah mendatangkan kedamaian. Ketika berita hasil mengorek-ngorek
rahasia itu tersebar, atau ketika seseorang kedapatan mencampuri urusan yang
bukan haknya, saat itulah rasa saling percaya hancur berkeping-keping. Hubungan
persaudaraan yang tadinya hangat berubah menjadi dingin, penuh curiga, dan
diwarnai permusuhan.
Alloh ta’ala
berfirman memperingatkan dampak perpecahan akibat ulah lisan dan rasa ingin
tahu yang merusak:
﴿إِنَّمَا
يُرِيدُ الشَّيطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ
وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ
مُنْتَهُونَ﴾
“Sungguh syaithon
itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu
lantaran (meminum) khomr dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Alloh
dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS.
Al-Ma’idah: 91)
Meskipun
ayat ini menyebut khomr dan judi, para ulama ushul fiqh menjelaskan bahwa
setiap perbuatan yang dampaknya sama dalam merusak ukhuwah dan menimbulkan
permusuhan—seperti ghibah, tajassus, dan kepo—memiliki hukum keharoman
yang senada karena tujuannya adalah merusak tatanan sosial kaum Muslimin.
Rosululloh ﷺ bersabda menegaskan prinsip
persaudaraan sejati:
«لَا
تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ
بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ»
“Janganlah
kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (menaikkan
tawaran palsu), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan
janganlah sebagian kalian menjual di atas penjualan sebagian yang lain. Jadilah
kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi
Muslim yang lainnya, ia tidak boleh menzholiminya, tidak boleh
menelantarkannya, dan tidak boleh menghinakannya.” (HR. Muslim no. 2564)
Bagaimana
mungkin seseorang bisa menjadi saudara yang baik jika setiap hari kerjanya
mengintip, menyelidiki, dan mencari-cari kelemahan saudaranya sendiri? Umar bin
Al-Khotthob (23 H) pernah berkata bahwa tidak ada jalan yang lebih cepat untuk
merusak kecintaan di dalam hati manusia selain sikap usil dan gemar mencampuri
urusan pribadi orang lain.
3.4
Terbukanya Aib Sendiri akibat Sibuk Menguliti Aib Orang
Hukum
kausalitas di dunia ini berlaku sangat adil atas izin Alloh: siapa yang menanam
angin akan menuai badai. Orang yang gemar meluangkan waktu dan energinya untuk
menguliti aib orang lain, lambat laun akan mendapati bahwa rahasia dapurnya
sendiri terbuka lebar di hadapan publik. Alloh memiliki cara yang amat
telanjang untuk menghinakan hamba yang suka menghinakan sesamanya.
Rosululloh ﷺ mengingatkan sebuah
sunnatullah yang pasti terjadi:
«يَا
مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا
الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ
يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي
بَيْتِهِ»
“Wahai
golongan orang yang beriman dengan lisannya... Siapa yang mencari-cari aib
saudaranya, niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari
aibnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam
rumahnya.” (HSR. Abu Dawud no. 4880)
Hadits ini
kita ulang pengingatannya karena betapa sering manusia lupa diri. Mereka merasa
aman di balik layar ponsel atau di balik pintu rumah yang tertutup rapat,
padahal mata Alloh mengawasi kelancangan mereka. Tatkala Alloh membuka aib
pelakunya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu menutupinya
kembali.
Alloh ta’ala
berfirman:
﴿وَمَنْ
يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ
غَفُورًا رَحِيمًا﴾
“Dan siapa
yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun
kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
An-Nisa’: 110)
Balasan
bagi orang yang gemar membuka rahasia orang lain adalah dibuka rahasianya
sendiri, kecuali jika ia segera bertaubat nasuha kepada Alloh dan menghentikan
kebiasaan buruknya. Wahai saudaraku, tidakkah lebih baik kita merawat aib kita
sendiri yang masih menggunung daripada repot-repot memikirkan aib orang lain
yang sama sekali tidak mengurangi beban dosa kita?
Bab 4: Terapi
Syar’i Menyembuhkan Penyakit Kepo
Setelah
kita mengenali hakikat penyakitnya, pintu-pintu masuknya, hingga dampak buruk
yang menghancurkan, kini tibalah saatnya kita meracik obat dan menjalani terapi
penyembuhan secara syar’i. Penyakit kepo ini bukanlah penyakit yang
tidak ada obatnya; ia bisa disembuhkan jika hamba memiliki niat yang jujur
untuk kembali kepada bimbingan wahyu. Mari kita jalankan resep-resep Ilahi
berikut ini.
4.1
Menundukkan Pandangan dan Menjaga Pendengaran
Terapi
pertama yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin sembuh dari penyakit kepo
adalah melakukan detoksifikasi total pada panca indranya. Mulai hari
ini, latihlah mata untuk tidak melirik hal-hal yang bukan urusannya, dan latih
telinga untuk tuli terhadap gosip, obrolan usil, serta berita-berita miring
tentang kehidupan pribadi sesama.
Alloh ta’ala
berfirman memerintahkan penjagaan diri yang ketat:
﴿قُلْ
لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى
لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangan
mereka, dan memelihara kemaluan mereka; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS.
An-Nur: 30)
Kesucian
hati sangat ditentukan oleh kebersihan apa yang masuk melaluinya. Jika mata dan
telinga dibentengi dengan ketakwaan, maka rasa ingin tahu yang tidak sehat akan
mati dengan sendirinya karena kekurangan asupan gosip.
Rosululloh ﷺ bersabda memuji keutamaan
hamba yang menjaga panca indranya dengan wudhu:
«مَنْ
تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ...»
Dan dalam
riwayat lain yang berkaitan dengan penjagaan diri dari fitnah:
«مَنْ
صَمَتَ نَجَا»
“Siapa yang
diam, niscaya ia selamat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2501 dan Ahmad no. 6818)
Keheningan
jiwa hanya akan didapat oleh mereka yang menutup rapat pintu-pintu indra mereka
dari hiruk-pikuk urusan manusia yang tidak bermanfaat. Menjadikan
ketidakpedulian terhadap urusan orang lain sebagai prinsip hidup, karena di
situlah ketenangan akal dan keselamatan agama bersemayam.
4.2
Menjaga Lisan dan Memilih Diam Bila Tidak Ada Kebaikan
Terapi
kedua adalah mengunci lisan dari melontarkan pertanyaan-pertanyaan usil dan
komentar-komentar yang tidak berfaedah. Lidah adalah anggota tubuh yang paling
liar jika tidak diikat dengan kendali dzikrulloh. Latihlah diri untuk memilih
diam daripada harus bertanya, menyelidiki, atau mengomentari urusan rumah
tangga dan privasi orang lain.
Rosululloh ﷺ memberikan resep emas
penangkal keburukan lisan dalam sabdanya:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau
hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)
Hadits yang
sangat singkat ini adalah kurikulum paripurna bagi terapi kejiwaan seorang yang
suka kepo. Setiap kali ada dorongan di dalam hati untuk bertanya “Ada
apa?”, “Kenapa begitu?”, atau “Siapa itu?”, segeralah timbang: “Adakah kebaikan
di balik kalimat itu?” Jika tidak ada, maka paksa diri untuk diam rapat-rapat.
Alloh ta’ala
berfirman mengingatkan bahwa setiap ucapan tercatat tanpa ada yang terlewat:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Maka tidak
ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat
pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)
Abu Bakar
Ash-Shiddiq (13 H) bahkan pernah menarik lidahnya sendiri dengan tangannya
seraya berkata, “Inilah sumber kebinasaan bagiku jika aku tidak menjaganya.”
Jika seorang sahabat mulia yang dijamin masuk Jannah saja begitu ketat menjaga
lisannya, lalu di tingkat mana kita hari ini yang begitu lancar mengomentari
hidup orang lain tanpa rasa bersalah?
4.3
Mengingat Mati dan Singkatnya Usia di Dunia
Terapi
ketiga yang paling ampuh merontokkan penyakit kepo adalah menghadirkan
kesadaran tentang kematian. Orang yang sadar bahwa napasnya bisa berhenti kapan
saja, bahwa sakaratul maut sedang mengintainya, dan bahwa kuburan gelap sedang
menantinya di depan, tidak akan pernah punya waktu luang untuk memikirkan
urusan pribadi tetangganya.
Alloh ta’ala
berfirman menegaskan kepastian kematian:
﴿كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ
الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sungguh pada hari Qiyamah sajalah
disempurnakan pahalamu. Siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam
Jannah, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imron: 185)
Dunia ini
hanyalah tempat singgah yang amat singkat. Mengapa kita harus menghabiskan
jatah hari-hari kita yang berharga untuk menyelidiki rahasia orang lain,
sementara jatah amal kita sendiri masih sangat berantakan?
Rosululloh ﷺ menasihati seorang sahabat
dengan memegang kedua pundaknya:
«كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، يَقُولُ:
«إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ
المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»
“Jadilah
engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara.” Dan Ibnu Umar rodhiyallahu
‘anhuma berkata: “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu
datangnya pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu
datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakitmu, dan masa hidupmu
sebelum matimu.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)
Bayangkan
jika Malaikat maut datang mencabut nyawa kita saat kita sedang asyik mengintip
aib atau membaca gosip tentang orang lain. Sungguh sebuah kematian yang sangat
hina dan merugi. Ingatlah mati, dan biarkan kesadaran itu membakar habis
sisa-sisa rasa ingin tahu yang tidak bermanfaat di dalam dada.
4.4
Mensibukkan Diri dengan Hal yang Mubah Maupun Ibadah yang Bermanfaat
Terapi berikutnya
sebagai pengganti kebiasaan buruk kepo adalah mengalihkan seluruh energi
positif kepada hal-hal yang mendatangkan ridho Alloh. Akal dan jiwa manusia
tidak akan bisa dibiarkan kosong; jika ia tidak disibukkan dengan ketaatan dan
ilmu yang bermanfaat, maka ia pasti akan disibukkan dengan kebatilan dan
kesia-siaan.
Alloh ta’ala
berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa produktif dalam
kebaikan:
﴿فَإِذَا
فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ﴾
“Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Robbmulah hendaknya kamu
berharap.” (QS. Al-Insyiroh: 7-8)
Ayat ini
mengajarkan manajemen waktu seorang Mu’min. Begitu satu urusan selesai, segera
alihkan diri ke urusan berikutnya yang bernilai ibadah. Tidak ada ruang bagi
kekosongan waktu untuk sekadar duduk-duduk melongo memikirkan urusan tetangga
atau menyelidiki rahasia orang lain.
Rosululloh ﷺ bersabda memotivasi umatnya
agar memanfaatkan potensi diri:
«احْرِصْ
عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِينْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»
“Bersemangatlah
atas apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan
janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Orang yang
paling cerdas di dunia adalah mereka yang paling peduli pada perbaikan cacat
dirinya sendiri dan paling sibuk menuntut ilmu agama, sehingga ia tidak punya
sedetik pun waktu tersisa untuk mengurus urusan orang lain. Mari kita alihkan
pandangan, pendengaran, dan lisan kita dari jalan-jalan kepo menuju
jalan-jalan ilmu, dzikir, and amal sholih.
Penutup
Kita telah
bersama-sama membedah akar penyakit kepo yang bersemayam di dalam hati,
mengenali pintu-pintu masuknya yang kerap melalaikan, merenungkan dampak
mengerikan yang menghancurkan pahala, hingga meracik resep terapi syar’i untuk
menyembuhkannya secara tuntas.
Penyakit
ingin tahu yang berlebihan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia adalah
pilihan sikap mental yang bisa kita kikis perlahan-lahan dengan latihan jiwa,
ketakwaan yang tulus, dan kesadaran penuh bahwa setiap detik umur kita di dunia
ini terlalu mahal untuk dihabiskan mengurus hidup orang lain. Alloh ta’ala
telah menitipkan kepada kita amanah tubuh, lisan, mata, dan telinga untuk
dijaga di jalan-Nya, bukan untuk dilemparkan ke dalam kubangan dosa
kesia-siaan.
Mari kita bertekad mulai hari ini, detik ini juga, untuk menutup rapat-rapat pintu kepo dalam diri kita masing-masing. Alihkan pandangan yang liar kepada lembaran mushaf yang menenangkan, sibukkan lisan dengan dzikir yang membersihkan jiwa, dan arahkan seluruh perhatian untuk membenahi diri sendiri di hadapan Robb semesta alam. Semoga Alloh ta’ala membersihkan hati kita dari segala penyakit tersembunyi, menerima amal ibadah kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia maupun di Akhirat. Aamiin ya Robbal ‘alamin.[NK]
