Cari Ebook

[PDF] Terapi Penyakit KEPO - Nor Kandir

 


TERAPI PENYAKIT KEPO

Panduan Mengobati Rasa Ingin Tahu yang Berlebihan dan Stalking

Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA

Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya

Halaman: 73

Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)

Lisensi: www.terjemahmatan.com

Belanja Ebook: https://lynk.id/pustakasyabab

 

Muqoddimah

Manusia sering kali berjalan di atas muka bumi dengan membawa beban yang sebenarnya tidak perlu mereka pikul. Perhatian yang seharusnya diarahkan untuk membenahi diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan Robb semesta alam, serta menyiapkan bekalan panjang menuju Akhiroh, justru kerap teralihkan pada urusan-urusan orang lain yang sama sekali tidak memberi mudhorot maupun manfaat bagi keimanan. Penyakit ingin tahu yang berlebihan terhadap urusan pribadi sesama manusia—yang hari ini sering diistilahkan dengan kata kepo—bukanlah sekadar masalah sosial yang sepele. Ia adalah sebuah penyakit hati yang menggerogoti ketulusan amal, mencabut rasa tenang dari dalam dada, dan menyeret pelan-pelan pelakunya ke dalam kubangan dosa yang sering kali tidak disadari.

Rosululloh telah memberikan peringatan yang sangat jelas bahwa kesempurnaan keimanan seseorang diukur dari kemampuannya meninggalkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan keselamatan agamanya. Ketika seseorang mulai sibuk mengorek rahasia tetangganya, mengintip urusan saudaranya, atau meraba-raba aib yang sengaja ditutupi oleh Alloh, pada saat itulah ia sedang menuruni jurang kehinaan diri. Sungguh, Islam datang untuk menjaga kehormatan, melindungi privasi, dan merajut ukhuwah di atas landasan husnuzh-zhon serta ketulusan, bukan di atas rasa curiga yang berkarat dan mata yang liar.

Buku ini hadir bukan untuk menggurui, melainkan sebagai cermin bersama bagi kita semua yang sering kali tergelincir dalam rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya. Di dalam lembaran-lembaran berikut, kita akan menelaah berbagai bimbingan wahyu, baik dari Al-Qur’an maupun Hadits-hadits shohih, yang membedah akar masalah ini sekaligus menawarkan resep penyembuhannya secara syar’i. Mari kita renungkan setiap dalil dengan hati yang terbuka, meletakkan timbangan syariat di atas setiap gerak lisan dan pandangan, agar hidup kita kembali bersih, tenang, dan selamat menghadap Alloh ta’ala.

 

Bab 1: Kepo Merusak Hati

Alur bahasan dalam bab pertama ini mengajak kita menukik langsung ke dalam relung hati yang paling dalam, tempat di mana segala dorongan untuk mencampuri urusan orang lain bermula. Sebelum kita melihat bentuk-bentuk perbuatan kepo di luar sana, kita harus mengenali terlebih dahulu mengapa hati seseorang begitu mudah terpancing untuk mengurus hidup orang lain, dan bagaimana kebiasaan buruk tersebut secara perlahan merusak tatanan iman di dalam dada.

1.1 Mencampuri Urusan Orang Lain Adalah Tanda Buruknya Islam Seseorang

Pernakah kita merenungkan mengapa ada orang yang begitu tenang hidupnya, sementara sebagian lainnya selalu gelisah memikirkan apa yang sedang dilakukan, dibeli, atau dibicarakan oleh orang lain? Kegelisahan itu sering kali lahir dari lemahnya ikatan seseorang dengan prinsip dasar beragama. Ketika seseorang tidak lagi fokus memperbaiki hubungannya dengan Robbnya, ia mulai mencari pelarian dengan mengawasi gerak-gerik saudaranya sesama Muslim.

Rosululloh bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkannya hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317 dan Ibnu Majah no. 3976)

Hadits yang agung ini meletakkan sebuah garis pemisah yang sangat tegas antara seorang Muslim yang baik dan Muslim yang lalai. Perhatikanlah bagaimana Nabi tidak mengatakan bahwa tanda baiknya Islam adalah banyaknya tahu, melainkan justru kemampuannya untuk meninggalkan, membiarkan, dan tidak ambil pusing terhadap perkara-perkara yang tidak ada urusannya dengan keselamatan iman.

Abu Hurairoh (58 H) pernah mengingatkan bahwa kesibukan seseorang mengurus hal yang bukan haknya adalah cerminan dari kosongnya hati dari dzikrulloh. Ketika hati kosong, syaithon memasukkan bisikan-bisikan rasa penasaran yang tidak berfaedah.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾

“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 3)

Ayat ini menegaskan bahwa ciri hamba yang beruntung bukan hanya mereka yang meninggalkan kekufuran, melainkan juga mereka yang berpaling dari segala bentuk kesia-siaan, termasuk di dalamnya mengorek berita tentang urusan privat orang lain.

Tidakkah kita merasa lelah, wahai saudaraku, menghabiskan jatah usia yang sangat singkat ini hanya untuk menyelidiki hal-hal yang di Akhirat nanti sama sekali tidak akan ditanyakan oleh Alloh kepada kita? Tinggalkanlah apa yang tidak menjadi urusanmu, karena di situlah letak keselamatan Islammu.

1.2 Mengintai dan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain

Sifat kepo yang tidak segera diredam biasanya akan naik tingkat menjadi usaha aktif untuk mencari-cari kesalahan. Ada rasa penasaran yang mendesak-desak di dalam dada untuk membuktikan apakah si fulan benar-benar melakukan kesalahan atau tidak. Orang yang sudah terjangkit penyakit ini gemar mengintip, mendengar dari balik pintu, atau bahkan memancing pembicaraan agar orang lain keceplosan membuka aibnya sendiri.

Alloh ta’ala melarang perbuatan tercela ini dengan firman-Nya:

﴿وَلَا تَجَسَّسُوا﴾

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Larangan tajassus atau mencari-cari kesalahan dalam ayat ini bersifat mutlak. Tajassus adalah tindakan seseorang yang tidak puas dengan keadaan zhohir saudaranya, lalu ia mulai mengendus-endus rahasia dan mencari keburukan yang sengaja ditutupi oleh tirai perlindungan Alloh.

Rosululloh memberikanancaman yang sangat keras bagi mereka yang menjadikan hobi mengintai aib sesama sebagai kebiasaan sehari-hari:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

“Wahai golongan orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin dan jangan pula mencari-cari aib mereka. Karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HSR. Abu Dawud no. 4880 dan Ahmad no. 19777)

Bayangkan sebuah ancaman yang begitu mengerikan. Orang yang gemar kepo dan mengintip aib orang lain sebenarnya sedang menggali lubang kehinaan bagi dirinya sendiri. Hari ini ia mungkin merasa pintar karena berhasil mengetahui rahasia saudaranya, namun esok lusa, Alloh akan membuka seluruh keburukannya di hadapan khalayak ramai. Apakah kita tidak takut, wahai pembaca yang budiman, jika kelak di dunia maupun di Akhirat, aib kita sendiri yang dipampang tanpa ada sutra penutup?

1.3 Hasad dan Rasa Dengki di Balik Rasa Ingin Tahu

Tidak jarang, akar dari sikap kepo yang akut adalah adanya bara hasad yang menyala-nyala di dalam dada. Seseorang tidak merasa tenang ketika melihat saudaranya mendapatkan ni’mat, kelapangan rezeki, atau kebahagiaan rumah tangga. Rasa penasaran itu muncul bukan karena kepedulian, melainkan karena rasa dengki yang menuntut untuk segera diselidiki: bagaimana mereka bisa mendapatkannya? Dari mana harta itu berasal? Apakah ada kecurangan di balik kesuksesan mereka?

Rosululloh memperingatkan bahaya penyakit hati ini dalam sabdanya:

«إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»

“Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sungguh hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud no. 4903. Bin Baz: lemah tapi memiliki syawahid)

Api hasad inilah yang kemudian membakar akal sehat pelakunya. Orang yang dengki tidak akan pernah bisa meni’mati hidupnya sendiri, karena matanya selalu tertuju pada piring orang lain. Ia terus bertanya-tanya, menyelidiki, dan mencari celah kelemahan agar ia bisa menjatuhkan atau sekadar merasa puas tatkala saudaranya tertimpa musibah.

Alloh ta’ala berfirman menggambarkan tabiat orang-orang yang tidak suka melihat kebaikan pada orang lain:

﴿إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا﴾

“Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali ‘Imron: 120)

Sikap selalu ingin tahu terhadap jatuh bangunnya orang lain adalah buah pahit dari hati yang berpenyakit. Obat paling mujarab untuk meredam kedengkian di dalam hati adalah dengan menyibukkan diri memohon ampun kepada Alloh atas dosa-dosa sendiri, alih-alih menghitung ni’mat yang ada pada tangan orang lain.

1.4 Kebiasaan Mengikuti Praduga

Penyakit kepo hampir selalu berjalan bergandengan tangan dengan prasangka buruk. Ketika seseorang tidak memiliki informasi yang valid mengenai suatu perkara, akalnya tidak berhenti bekerja; ia mulai merangkai cerita sendiri, menuduh tanpa bukti, dan menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan terka-terkaan kosong yang bersumber dari bisikan hawa nafsu.

Alloh ta’ala dengan tegas memperingatkan manusia agar menjauhi sikap gampang berprasangka:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sungguh sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Prasangka buruk atau su-uzhon adalah bahan bakar utama yang membuat orang terus-menerus mencari tahu. Ia merasa curiga pada setiap gerak-gerik orang lain, lalu rasa curiga itu melahirkan pertanyaan-pertanyaan investigatif yang sebenarnya sama sekali tidak halal untuk ia ajukan.

Rosululloh bersabda mengingatkan bahaya besar dari sifat ini:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Al-Bukhori no. 6064 dan Muslim no. 2563)

Betapa sering sebuah persahabatan hancur lebur, hubungan keluarga retak, dan kehormatan seorang Mu’min tercoreng hanya karena dipicu oleh prasangka hampa hasil dari rasa ingin tahu yang tidak terkendali. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) menasihati kita agar senantiasa menjaga hati dari memelihara sangkaan buruk terhadap sesama Muslim, sebab prasangka yang salah akan membawa pelurunya sendiri untuk menghancurkan kedamaian batinnya di dunia dan mendatangkan siksa di Akhirat.

 

Bab 2: Pintu-Pintu Masuk Penyakit Kepo

Setelah kita memahami betapa busuknya akar kepo di dalam hati, kini kita perlu menengok pintu-pintu darimana penyakit ini masuk menyerang benteng pertahanan seorang hamba. Anggota tubuh kita—mulai dari mata, telinga, hingga lisan—sering kali menjadi pengkhianat yang membuka gerbang lebar-lebar bagi masuknya racun rasa ingin tahu. Mari kita bedah satu per satu pintu tersebut agar kita bisa menutupnya rapat-rapat.

2.1 Pandangan Mata yang Liar dan Bebas Tanpa Batas

Mata adalah utusan pertama yang menyampaikan informasi ke dalam hati. Jika mata dibiarkan liar menatap apa saja, melirik urusan orang lain, mengintip celah privasi, atau memelototi hal-hal yang bukan haknya, maka hati akan segera teracuni oleh rasa penasaran yang berlebihan. Mata yang tidak pernah dilatih untuk menunduk adalah pintu gerbang utama lahirnya sifat kepo yang kronis.

Alloh ta’ala berfirman mengingatkan para hamba-Nya:

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (QS. An-Nur: 30)

Perintah menundukkan pandangan bukan hanya berlaku untuk menjaga kesucian dari hal-hal yang diharomkan secara syahwat, melainkan juga mencakup larangan menatap urusan pribadi orang lain yang bukan urusan kita. Betapa banyak orang yang menghabiskan waktunya menatap layar gawai berjam-jam hanya untuk memantau kehidupan orang lain, menyelidiki galeri foto tetangga, atau mengamati status demi status yang sama sekali tidak menambah timbangan kebaikannya di sisi Robb.

Rosululloh bersabda kepada Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu:

«يَا عَلِيُّ، لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ، فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ»

“Wahai Ali, janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya, karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagi engkau pandangan yang terakhir.” (HSR. Abu Dawud no. 2149 dan At-Tirmidzi no. 2777)

Larangan meneruskan pandangan ini mengajarkan kepada kita disiplin jiwa. Ketika mata kita tanpa sengaja melihat sesuatu yang bersifat pribadi atau rahasia orang lain, segeralah palingkan. Jangan biarkan mata itu menatap dua kali, menyelidiki lebih jauh, atau merekamnya ke dalam ingatan untuk kemudian dijadikan bahan gunjingan. Keselamatan seorang hamba sangat bergantung pada kemampuannya mengendalikan ke mana matanya dilabuhkan.

2.2 Lidah yang Gemar Bertanya dan Mencarikan Masalah

Setelah mata melihat atau telinga mendengar, pintu berikutnya yang paling aktif bekerja adalah lisan. Lidah manusia diciptakan untuk berdzikir, membaca Kitabullah, dan mengucapkan perkataan yang baik. Namun, ketika ia disalahgunakan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepo—seperti “Beli di mana?”, “Berapa gajinya?”, “Kenapa kemarin tidak ikut?”, atau “Ada masalah apa sebenarnya?”—maka lidah itu sedang menjerumuskan pemiliknya ke dalam lembah kebinasaan.

Rosululloh bersabda memperingatkan bahaya banyak bertanya tentang hal yang tidak berguna:

«إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ»

“Sungguh Alloh membenci bagi kalian tiga hal: perbincangan ‘katanya dan katanya’ (gosip), menyia-nyiakan harta, dan banyak bertanya (tentang hal yang tidak perlu).” (HR. Al-Bukhori no. 1477 dan Muslim no. 593)

Pertanyaan yang berlebihan adalah ciri umat-umat terdahulu yang dibinasakan karena terlalu banyak menyelidiki hal-hal yang tidak diperintahkan kepada mereka. Betapa sering kita saksikan seseorang merasa paling peduli dengan melontarkan rentetan pertanyaan yang berkedok perhatian, padahal hakikatnya ia sedang memuaskan rasa ingin tahu yang didorong oleh hawa nafsu menyelidiki privasi orang.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu.” (QS. Al-Ma’idah: 101)

Ayat ini turun untuk memperingatkan para sahabat agar tidak gemar mencari-cari detail tersembunyi yang tidak perlu dibahas. Siapa saja yang meninggalkan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak berguna baginya, ia telah menyelamatkan separuh dari kehormatan agamanya.

Wahai lidah, tidakkah engkau takut kelak diseret di atas wajahmu ke dalam Neraka Jahanam hanya karena kalimat-kalimat tanya yang keluar tanpa disaring oleh takwa?

2.3 Telinga yang Suka Mencuri Dengar Pembicaraan Orang

Pintu ketiga yang tak kalah berbahaya adalah telinga. Sifat kepo sering kali memprovokasi seseorang untuk menajamkan pendengarannya di dekat pintu rumah orang, sengaja mendengarkan obrolan telepon rahasia milik rekan kerjanya, atau menguping percakapan pribadi yang tidak ditujukan untuk dirinya. Ini adalah bentuk pengkhianatan kecil yang dampaknya sangat besar bagi rusaknya kebersihan hati.

Rosululloh memberikan ancaman yang sangat tegas bagi orang yang suka mencuri dengar rahasia orang lain:

«مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ، وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ، صُبَّ فِي أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Siapa yang mendengarkan (mencuri dengar) percakapan suatu kaum, sedangkan kaum itu tidak suka (jika ia mendengarnya) atau mereka lari darinya, maka akan dituangkan timah panas ke dalam telinganya pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 7042)

Sebuah siksaan yang sangat pedih bagi anggota tubuh yang digunakan untuk melanggar batas privasi sesama. Timah panas yang mendidih dicurahkan ke dalam telinga, sebagai balasan setimpal bagi telinga yang sewaktu di dunia begitu lancang menempel di dinding, mengintip gelombang suara, dan mencuri rahasia yang bukan haknya untuk didengar.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا﴾

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggiyah sebahagian yang lain.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Larangan mendengarkan pembicaraan orang secara diam-diam termasuk dalam cakupan larangan tajassus yang merusak sendi-sendi kepercayaan dalam masyarakat Islam. Seorang Mu’min senantiasa menjaga telinganya dari mendengar hal-hal yang tidak halal baginya, sebagaimana ia menjaga mulutnya dari memakan makanan yang harom.

2.4 Membuang Waktu untuk Berita Hilang Arah dan Omong Kosong

Pintu masuk terakhir yang hari ini paling marak dan mudah diakses adalah konsumsi berita-berita kosong, gosip selebritas, drama kehidupan orang lain di dunia maya, dan berbagai informasi sampah yang tidak mendatangkan maslahat dunia maupun akhirat. Sifat kepo di era modern difasilitasi oleh gila informasi yang tidak bertepi, membuat umur terbuang sia-sia di hadapan layar kaca.

Alloh ta’ala berfirman mencela orang-orang yang gemar menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, sebaliknya memuji Ibadurrohman:

﴿وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾

“Dan apabila mereka bertemu dengan orang-orang yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lari (berpaling) dengan menjaga kehormatan diri.” (QS. Al-Furqon: 72)

Ayat ini menggambarkan keluhuran akhlak hamba-hamba Ar-Rohman. Mereka tidak sudi singgah, membaca, atau meluangkan waktu sedetik pun untuk menyimak berita-berita kosong yang merendahkan akal dan mengotori hati.

Rosululloh bersabda mengingatkan hakikat umur manusia:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ»

“Ada dua ni’mat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: ni’mat sehat dan ni’mat waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Waktu luang yang dianugerahkan oleh Alloh justru sering kali dihabiskan oleh orang yang kepo untuk menggulir halaman demi halaman media sosial, meneliti kehidupan pribadi orang lain yang tidak dikenalnya, dan tenggelam dalam lautan informasi yang sama sekali tidak menyelamatkannya dari azab Qobriy. Menyia-nyiakan waktu jauh lebih berbahaya daripada kematian, karena kematian hanya memutuskan hubungan dengan dunia, sedangkan menyia-nyiakan waktu memutuskan hubungan dengan Alloh dan negeri Akhirat.

 

Bab 3: Dampak Buruk Kepo

Ketika pintu-pintu itu terbuka dan racun kepo telah merasuk ke dalam jiwa, maka malapetaka besar mulai berdatangan. Penyakit ini tidak hanya merusak hubungan horizontal antarsesama manusia, melainkan juga menghancurkan bangunan vertikal hubungan seorang hamba dengan Robbnya. Mari kita telusuri apa saja dampak mengerikan yang harus ditanggung oleh pelakupenyakit ini.

3.1 Hilangnya Kelezatan Ibadah dan Khusyu’ dalam Hati

Seseorang yang akal dan hatinya dipenuhi oleh rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain, perlahan-lahan akan merasakan kekeringan spiritual dalam ibadahnya. Ketika ia berdiri di atas sajadah, lidahnya melafalkan ayat-ayat suci, namun pikirannya melayang memikirkan gosip terbaru, urusan tetangga, atau rahasia orang yang baru saja ia selidiki. Ibadah berubah menjadi gerakan mekanis tanpa ruh.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ﴾

“Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna.” (QS. Al-Mu’minun: 1-3)

Perhatikan bagaimana Alloh menggandengkan antara kekhusyu’an dalam sholat dengan sikap berpaling dari perbuatan sia-sia. Ini adalah dalil yang sangat telak bahwa mustahil seseorang bisa merasakan ni’matnya bermunajat kepada Alloh jika hatinya masih berlumuran dengan rasa penasaran terhadap urusan makhluk.

Rosululloh bersabda memperingatkan bahaya hati yang disibukkan oleh selain Alloh:

«تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيكَ فَلاَ انْتَقَشَ»

“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba pakaian mewah…, ia celaka dan tersungkur, dan jika ia tertusuk duri maka tidak akan ada yang mencabutnya.” (HR. Al-Bukhori no. 2886)

Meskipun lafazh hadits ini menyebut dinar dan pakaian, para ulama menjelaskan bahwa siapa saja yang hatinya menjadi hamba bagi urusan duniawi, gosip, dan rasa ingin tahu terhadap urusan makhluk, maka ia akan mengalami kehinaan dan kekeringan hati yang serupa. Hukuman paling berat bagi orang yang gemar mencampuri urusan orang lain adalah dicabutnya manisnya ketaatan dari dalam dadanya, sehingga ia beribadah tanpa merasakan ketenangan sedikit pun.

3.2 Menumpuk Dosa dan Bangkrut di Hari Qiyamah

Orang yang gemar kepo biasanya tidak bisa menyimpan rasa tahunya untuk diri sendiri. Ia akan menyebarkannya, menceritakannya kepada orang lain, atau memelintirnya menjadi bahan gunjingan. Tanpa disadari, setiap detik rasa ingin tahunya berubah menjadi tumpukan dosa ghibah, namimah, dan fitnah yang siap menghancurkan pahala amalnya di akhirat.

Rosululloh bertanya kepada para sahabatnya dengan sebuah pertanyaan retoris yang menggugah kesadaran:

«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.” Nabi bersabda: “Sungguh orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, namun ia datang dalam keadaan pernah mencaci si ini, menuduh si ini, memakan harta si ini, menumpahkan darah si ini, dan memukul si ini. Maka kebaikan-kebaikannya diberikan kepada si ini dan si ini. Jika kebaikannya habis sebelum diselesaikan urusannya, maka diambillah dosa-dosa mereka lalu dilemparkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam Neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Betapa ruginya manusia yang menghabiskan waktunya menyelidiki aib saudaranya, mengumpulkan informasi kesilapan orang lain, lalu di hari Kiamat ia harus membayar semua itu dengan pahala sholat malam dan puasanya yang telah ia payahkan di dunia.

Alloh ta’ala berfirman mengingatkan akibat dari lisan dan perbuatan yang melampaui batas:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَلسْئُولًا﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sungguh pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’: 36)

Setiap jengkal rasa ingin tahu yang melampaui batas syariat akan dihitung sebagai beban pertanggungjawaban yang sangat berat di hadapan Alloh. Jangan biarkan mata, telinga, dan hati kita menjadi saksi yang memberatkan di mahkamah Ilahi kelak.

3.3 Menimbulkan Permusuhan

Sifat kepo tidak pernah mendatangkan kedamaian. Ketika berita hasil mengorek-ngorek rahasia itu tersebar, atau ketika seseorang kedapatan mencampuri urusan yang bukan haknya, saat itulah rasa saling percaya hancur berkeping-keping. Hubungan persaudaraan yang tadinya hangat berubah menjadi dingin, penuh curiga, dan diwarnai permusuhan.

Alloh ta’ala berfirman memperingatkan dampak perpecahan akibat ulah lisan dan rasa ingin tahu yang merusak:

﴿إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ﴾

“Sungguh syaithon itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khomr dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Alloh dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (QS. Al-Ma’idah: 91)

Meskipun ayat ini menyebut khomr dan judi, para ulama ushul fiqh menjelaskan bahwa setiap perbuatan yang dampaknya sama dalam merusak ukhuwah dan menimbulkan permusuhan—seperti ghibah, tajassus, dan kepo—memiliki hukum keharoman yang senada karena tujuannya adalah merusak tatanan sosial kaum Muslimin.

Rosululloh bersabda menegaskan prinsip persaudaraan sejati:

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ»

“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling melakukan najasy (menaikkan tawaran palsu), janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas penjualan sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Alloh yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lainnya, ia tidak boleh menzholiminya, tidak boleh menelantarkannya, dan tidak boleh menghinakannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi saudara yang baik jika setiap hari kerjanya mengintip, menyelidiki, dan mencari-cari kelemahan saudaranya sendiri? Umar bin Al-Khotthob (23 H) pernah berkata bahwa tidak ada jalan yang lebih cepat untuk merusak kecintaan di dalam hati manusia selain sikap usil dan gemar mencampuri urusan pribadi orang lain.

3.4 Terbukanya Aib Sendiri akibat Sibuk Menguliti Aib Orang

Hukum kausalitas di dunia ini berlaku sangat adil atas izin Alloh: siapa yang menanam angin akan menuai badai. Orang yang gemar meluangkan waktu dan energinya untuk menguliti aib orang lain, lambat laun akan mendapati bahwa rahasia dapurnya sendiri terbuka lebar di hadapan publik. Alloh memiliki cara yang amat telanjang untuk menghinakan hamba yang suka menghinakan sesamanya.

Rosululloh mengingatkan sebuah sunnatullah yang pasti terjadi:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

“Wahai golongan orang yang beriman dengan lisannya... Siapa yang mencari-cari aib saudaranya, niscaya Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang dicari-cari aibnya oleh Alloh, niscaya Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HSR. Abu Dawud no. 4880)

Hadits ini kita ulang pengingatannya karena betapa sering manusia lupa diri. Mereka merasa aman di balik layar ponsel atau di balik pintu rumah yang tertutup rapat, padahal mata Alloh mengawasi kelancangan mereka. Tatkala Alloh membuka aib pelakunya, tidak ada satu pun manusia di muka bumi yang mampu menutupinya kembali.

Alloh ta’ala berfirman:

﴿وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا﴾

“Dan siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Alloh, niscaya ia mendapati Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 110)

Balasan bagi orang yang gemar membuka rahasia orang lain adalah dibuka rahasianya sendiri, kecuali jika ia segera bertaubat nasuha kepada Alloh dan menghentikan kebiasaan buruknya. Wahai saudaraku, tidakkah lebih baik kita merawat aib kita sendiri yang masih menggunung daripada repot-repot memikirkan aib orang lain yang sama sekali tidak mengurangi beban dosa kita?

 

Bab 4: Terapi Syar’i Menyembuhkan Penyakit Kepo

Setelah kita mengenali hakikat penyakitnya, pintu-pintu masuknya, hingga dampak buruk yang menghancurkan, kini tibalah saatnya kita meracik obat dan menjalani terapi penyembuhan secara syar’i. Penyakit kepo ini bukanlah penyakit yang tidak ada obatnya; ia bisa disembuhkan jika hamba memiliki niat yang jujur untuk kembali kepada bimbingan wahyu. Mari kita jalankan resep-resep Ilahi berikut ini.

4.1 Menundukkan Pandangan dan Menjaga Pendengaran

Terapi pertama yang harus dilakukan oleh seorang yang ingin sembuh dari penyakit kepo adalah melakukan detoksifikasi total pada panca indranya. Mulai hari ini, latihlah mata untuk tidak melirik hal-hal yang bukan urusannya, dan latih telinga untuk tuli terhadap gosip, obrolan usil, serta berita-berita miring tentang kehidupan pribadi sesama.

Alloh ta’ala berfirman memerintahkan penjagaan diri yang ketat:

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Seharusnya mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sungguh Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30)

Kesucian hati sangat ditentukan oleh kebersihan apa yang masuk melaluinya. Jika mata dan telinga dibentengi dengan ketakwaan, maka rasa ingin tahu yang tidak sehat akan mati dengan sendirinya karena kekurangan asupan gosip.

Rosululloh bersabda memuji keutamaan hamba yang menjaga panca indranya dengan wudhu:

«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ...»

Dan dalam riwayat lain yang berkaitan dengan penjagaan diri dari fitnah:

«مَنْ صَمَتَ نَجَا»

“Siapa yang diam, niscaya ia selamat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2501 dan Ahmad no. 6818)

Keheningan jiwa hanya akan didapat oleh mereka yang menutup rapat pintu-pintu indra mereka dari hiruk-pikuk urusan manusia yang tidak bermanfaat. Menjadikan ketidakpedulian terhadap urusan orang lain sebagai prinsip hidup, karena di situlah ketenangan akal dan keselamatan agama bersemayam.

4.2 Menjaga Lisan dan Memilih Diam Bila Tidak Ada Kebaikan

Terapi kedua adalah mengunci lisan dari melontarkan pertanyaan-pertanyaan usil dan komentar-komentar yang tidak berfaedah. Lidah adalah anggota tubuh yang paling liar jika tidak diikat dengan kendali dzikrulloh. Latihlah diri untuk memilih diam daripada harus bertanya, menyelidiki, atau mengomentari urusan rumah tangga dan privasi orang lain.

Rosululloh memberikan resep emas penangkal keburukan lisan dalam sabdanya:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau hendaklah ia diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Hadits yang sangat singkat ini adalah kurikulum paripurna bagi terapi kejiwaan seorang yang suka kepo. Setiap kali ada dorongan di dalam hati untuk bertanya “Ada apa?”, “Kenapa begitu?”, atau “Siapa itu?”, segeralah timbang: “Adakah kebaikan di balik kalimat itu?” Jika tidak ada, maka paksa diri untuk diam rapat-rapat.

Alloh ta’ala berfirman mengingatkan bahwa setiap ucapan tercatat tanpa ada yang terlewat:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾

“Maka tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

Abu Bakar Ash-Shiddiq (13 H) bahkan pernah menarik lidahnya sendiri dengan tangannya seraya berkata, “Inilah sumber kebinasaan bagiku jika aku tidak menjaganya.” Jika seorang sahabat mulia yang dijamin masuk Jannah saja begitu ketat menjaga lisannya, lalu di tingkat mana kita hari ini yang begitu lancar mengomentari hidup orang lain tanpa rasa bersalah?

4.3 Mengingat Mati dan Singkatnya Usia di Dunia

Terapi ketiga yang paling ampuh merontokkan penyakit kepo adalah menghadirkan kesadaran tentang kematian. Orang yang sadar bahwa napasnya bisa berhenti kapan saja, bahwa sakaratul maut sedang mengintainya, dan bahwa kuburan gelap sedang menantinya di depan, tidak akan pernah punya waktu luang untuk memikirkan urusan pribadi tetangganya.

Alloh ta’ala berfirman menegaskan kepastian kematian:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ﴾

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sungguh pada hari Qiyamah sajalah disempurnakan pahalamu. Siapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Dunia ini hanyalah tempat singgah yang amat singkat. Mengapa kita harus menghabiskan jatah hari-hari kita yang berharga untuk menyelidiki rahasia orang lain, sementara jatah amal kita sendiri masih sangat berantakan?

Rosululloh menasihati seorang sahabat dengan memegang kedua pundaknya:

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ» وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، يَقُولُ: «إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ المَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ»

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara.” Dan Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma berkata: “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu datangnya pagi; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakitmu, dan masa hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Bukhori no. 6416)

Bayangkan jika Malaikat maut datang mencabut nyawa kita saat kita sedang asyik mengintip aib atau membaca gosip tentang orang lain. Sungguh sebuah kematian yang sangat hina dan merugi. Ingatlah mati, dan biarkan kesadaran itu membakar habis sisa-sisa rasa ingin tahu yang tidak bermanfaat di dalam dada.

4.4 Mensibukkan Diri dengan Hal yang Mubah Maupun Ibadah yang Bermanfaat

Terapi berikutnya sebagai pengganti kebiasaan buruk kepo adalah mengalihkan seluruh energi positif kepada hal-hal yang mendatangkan ridho Alloh. Akal dan jiwa manusia tidak akan bisa dibiarkan kosong; jika ia tidak disibukkan dengan ketaatan dan ilmu yang bermanfaat, maka ia pasti akan disibukkan dengan kebatilan dan kesia-siaan.

Alloh ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa produktif dalam kebaikan:

﴿فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ﴾

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Robbmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyiroh: 7-8)

Ayat ini mengajarkan manajemen waktu seorang Mu’min. Begitu satu urusan selesai, segera alihkan diri ke urusan berikutnya yang bernilai ibadah. Tidak ada ruang bagi kekosongan waktu untuk sekadar duduk-duduk melongo memikirkan urusan tetangga atau menyelidiki rahasia orang lain.

Rosululloh bersabda memotivasi umatnya agar memanfaatkan potensi diri:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِينْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»

“Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Orang yang paling cerdas di dunia adalah mereka yang paling peduli pada perbaikan cacat dirinya sendiri dan paling sibuk menuntut ilmu agama, sehingga ia tidak punya sedetik pun waktu tersisa untuk mengurus urusan orang lain. Mari kita alihkan pandangan, pendengaran, dan lisan kita dari jalan-jalan kepo menuju jalan-jalan ilmu, dzikir, and amal sholih.

 

Penutup

Kita telah bersama-sama membedah akar penyakit kepo yang bersemayam di dalam hati, mengenali pintu-pintu masuknya yang kerap melalaikan, merenungkan dampak mengerikan yang menghancurkan pahala, hingga meracik resep terapi syar’i untuk menyembuhkannya secara tuntas.

Penyakit ingin tahu yang berlebihan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Ia adalah pilihan sikap mental yang bisa kita kikis perlahan-lahan dengan latihan jiwa, ketakwaan yang tulus, dan kesadaran penuh bahwa setiap detik umur kita di dunia ini terlalu mahal untuk dihabiskan mengurus hidup orang lain. Alloh ta’ala telah menitipkan kepada kita amanah tubuh, lisan, mata, dan telinga untuk dijaga di jalan-Nya, bukan untuk dilemparkan ke dalam kubangan dosa kesia-siaan.

Mari kita bertekad mulai hari ini, detik ini juga, untuk menutup rapat-rapat pintu kepo dalam diri kita masing-masing. Alihkan pandangan yang liar kepada lembaran mushaf yang menenangkan, sibukkan lisan dengan dzikir yang membersihkan jiwa, dan arahkan seluruh perhatian untuk membenahi diri sendiri di hadapan Robb semesta alam. Semoga Alloh ta’ala membersihkan hati kita dari segala penyakit tersembunyi, menerima amal ibadah kita, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia maupun di Akhirat. Aamiin ya Robbal ‘alamin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini