[PDF] Makanan dan Minuman Penghuni Jannah - Nor Kandir
Makanan dan Minuman
Penghuni Jannah
Penulis: Nor Kandir, ST., BA., MA
Penerbit: Pustaka Syabab Surabaya
Halaman: 78
Cetakan: Ke-1, 1448 H (2026)
Lisensi: www.terjemahmatan.com
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, yang telah menjanjikan Jannah sebagai tempat kembali bagi
orang-orang yang bertaqwa.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosul Alloh ﷺ, penutup para Nabi, serta
kepada para Shohabat, Tabi’in, dan pengikutnya yang setia hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Keni’matan
Jannah merupakan balasan hakiki yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak
pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia. Di
antara keagungan ni’mat Jannah yang disiapkan Alloh ﷻ adalah hidangan makanan dan
minuman yang sempurna, yang terbebas dari segala cela, kelelahan, dan kotoran
fisik sebagaimana yang terjadi di alam dunia.
Buku ini
memaparkan petunjuk wahyu Al-Qur’an dan Hadits yang shohih terkait seluk-beluk
makanan, minuman, wadah, pelayan, serta amal khusus yang menjadi jalan meraih
hidangan istimewa di Akhiroh. Melalui penelusuran dalil-dalil yang otentik,
setiap Mu’min diharapkan dapat meningkatkan kadar taqwa, memperbagus amal
sholih, dan senantiasa merindukan keni’matan abadi yang dijanjikan di dalam
Jannah Alloh ﷻ.
Bab 1: Kelezatan Makanan Penghuni
Jannah
1.1
Keni’matan Makanan Jannah Tanpa Rasa Kenyang dan Kotoran
Kehidupan
Akhiroh di dalam Jannah memiliki standar keni’matan yang sama sekali berbeda
dengan kehidupan dunia. Makanan di dunia dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan
hidup, menolak rasa lapar, dan selalu menyisakan limbah buangan kotoran yang
mengotori tubuh. Makanan di Jannah dikonsumsi murni sebagai bentuk kelezatan,
penghormatan, dan kebahagiaan tanpa batas. Alloh ﷻ berfirman:
﴿أُولَٰئِكَ
لَهُمْ رِزْقٌ مَّعْلُومٌ
فَوَاكِهُ ۖ
وَهُم مُّكْرَمُونَ
فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ﴾
“Mereka itu
memperoleh rizqi yang sudah ditentukan, yaitu buah-buahan, dan mereka adalah
orang-orang yang dimuliakan, di dalam Jannah-Jannah yang penuh ni’mat.” (QS.
Ash-Shoffat: 41-43)
Penghuni
Jannah menyantap setiap makanan dan buah-buahan dengan penuh rasa ni’mat tanpa
pernah merasakan kenyang yang menyiksa atau perut yang membesar. Keadaan fisik
manusia di dalam Jannah disucikan oleh Alloh ﷻ dari segala jenis kotoran
pencernaan. Keadaan ini dijelaskan oleh Nabi ﷺ sebagaimana diriwayatkan dari Shohabat Jabir bin Abdillah (74
H):
«إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَأْكُلُونَ فِيهَا
وَيَشْرَبُونَ، وَلَا يَتْفُلُونَ وَلَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ»
“Penghuni
Jannah makan dan minum di dalamnya, namun mereka tidak meludah, tidak buang air
kecil, tidak buang air besar, dan tidak membuang ingus.” (HR. Muslim no.
2835)
Seseorang
di dunia sering kali membatasi jumlah porsi makanannya karena takut akan rasa
sesak di perut atau timbulnya berbagai penyakit tubuh. Seseorang di dalam
Jannah dapat meni’mati jutaan hidangan lezat secara terus-menerus tanpa ada
rasa jenuh dan tanpa kekhawatiran akan gangguan kesehatan sedikit pun. Makanan Jannah
tidak diolah oleh organ pencernaan menjadi kotoran, melainkan diserap oleh
tubuh secara sempurna sebagai sumber keharuman dan keni’matan yang tiada putus.
Hikmah ditiadakannya buangan kotoran di Jannah adalah karena Jannah merupakan
tempat suci yang bersih dari segala bentuk najis dan keburukan.
Mu’min memiliki
kesadaran tidak menjadikan makanan dunia sebagai tujuan utama hidupnya.
Seseorang yang menahan diri dari kemewahan makanan yang harom atau
berlebih-lebihan di dunia demi ketaatan kepada Alloh ﷻ akan digantikan dengan jamuan
maha lezat yang abadi dan tak bernoda di Akhiroh kelak.
1.2
Keringat Berbau Kasturi dan Serdawa Pengolah Makanan
Proses
pembuangan dan pembersihan hidangan yang telah dikonsumsi oleh para penghuni
Jannah diproses melalui mekanisme yang penuh keajaiban. Alloh ﷻ
mengubah sisa makanan dan minuman tersebut menjadi serdawa yang beraroma harum
serta keringat yang memancar dari pori-pori kulit dengan keharuman minyak
kasturi terbaik. Nabi ﷺ
bersabda dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah (74 H):
«طَعَامُهُمْ ذٰلِكَ جُشَاءٌ وَرَشْحٌ كَرَشْحِ
الْمِسْكِ، يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ، كَمَا تُلْهَمُونَ النَّفَسَ»
“Makanan
mereka itu diolah menjadi serdawa dan keringat yang baunya wangi seperti minyak
kasturi, mereka diilhami untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana kalian diilhami
untuk bernapas.” (HR. Muslim no. 2835)
Setiap kali
penghuni Jannah mengeluarkan serdawa setelah menyantap hidangan, perut mereka
langsung kembali terasa lapang dan siap untuk meni’mati jenis makanan baru yang
kelezatannya berlipat ganda dari makanan sebelumnya. Keadaan kebersihan fisik
penghuni Jannah disempurnakan oleh Alloh ﷻ dengan tidak adanya peluh
yang berbau busuk. Abu Huroiroh (57 H) meriwayatkan bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ
عَلَى صُورَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ... لاَ يَبُولُونَ وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ،
وَلاَ يَتْفِلُونَ وَلاَ يَمْتَخِطُونَ، أَمْشَاطُهُمُ الذَّهَبُ، وَرَشْحُهُمُ المِسْكُ»
“Rombongan
pertama yang masuk Jannah wajahnya bagaikan bulan di malam purnama... mereka
tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak meludah, dan tidak membuang
ingus, sisir mereka dari emas, dan keringat mereka adalah minyak kasturi.” (HR.
Al-Bukhori no. 3327 dan Muslim no. 2834)
Alloh ﷻ
menjadikan pencernaan penghuni Jannah berputar pada tatanan keindahan. Keringat
yang keluar dari tubuh mereka justru menambah keharuman ruangan dan pakaian
mereka. Seseorang yang berada di dunia harus bersusah payah membersihkan badan
dan pakaian setelah makan atau beraktivitas, sedangkan penghuni Jannah justru
bertambah harum dan indah setiap kali selesai menyantap makanan.
1.3
Keabadian Buah-Buahan Jannah yang Tidak Pernah Terputus
Buah-buahan
yang disajikan di Jannah memiliki sifat abadi dan tidak pernah terpengaruh oleh
pergantian musim atau kegagalan panen. Tanaman dan buah-buahan di dunia
memiliki masa tumbuh, masa berbuah, dan masa membusuk atau habis, sedangkan
buah-buahan Jannah senantiasa tersedia secara terus-menerus. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَّثَلُ
الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ
تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ
أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ
تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوا ۖ
وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ﴾
“Perumpamaan
Jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa adalah seperti taman
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; buah-buahannya kekal dan naungannya
pun kekal. Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertaqwa, sedangkan
tempat kesudahan bagi orang-orang kafir adalah Naar.” (QS. Ar-Ro’d: 35)
Alloh ﷻ menegaskan
pula bahwa buah-buahan Jannah tidak akan pernah habis dipetik dan tidak ada
larangan bagi siapapun yang ingin mengambilnya kapan saja. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَفَاكِهَةٍ
كَثِيرَةٍ
لَّا مَقْطُوعَةٍ وَلَا مَمْنُوعَةٍ﴾
“Dan
buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti buahnya dan tidak dilarang
mengambilnya.” (QS. Al-Waqi’ah: 32-33)
Keabadian
dan ketersediaan buah Jannah ini pernah diperlihatkan langsung oleh Alloh ﷻ
kepada Nabi ﷺ
saat melaksanakan Sholat Khusuf (gerhana). Ibnu Abbas (68 H) menceritakan bahwa
para Shohabat bertanyakan gerak tangan Nabi ﷺ saat Sholat, lalu Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«إِنِّي رَأَيْتُ الجَنَّةَ، فَتَنَاوَلْتُ عُنْقُودًا،
وَلَوْ أَصَبْتُهُ لَأَكَلْتُمْ مِنْهُ مَا بَقِيَتِ الدُّنْيَا»
“Sungguh
aku melihat Jannah lalu aku berusaha mengambil setangkai buah anggur,
seandainya aku berhasil mengambilnya niscaya kalian akan makan darinya selama
dunia masih ada.” (HR. Al-Bukhori no. 1052 dan Muslim no. 907)
Setiap kali
buah Jannah dipetik oleh penghuninya, maka pada detik itu pula tumbuh buah baru
yang setara atau lebih lezat di tempat pemetikan tersebut tanpa ada jeda waktu
sama sekali. Buah-buahan Jannah tidak terhalang oleh duri, tingginya dahan,
atau tempat.
Maka Mu’min
sejati memupuk rasa optimisme dan kesabaran ketika kehilangan rizqi duniawi.
Seseorang yang meyakini keabadian rizqi Jannah tidak akan bersedih secara
berlebihan atas kesusahan materi di dunia, karena ia fokus menginvestasikan
amal sholihnya untuk memetik buah-buahan yang tidak pernah habis di Akhiroh.
Bab 2: Jenis
Makanan dan Buah-Buahan Penghuni Jannah
2.1
Daging Burung Pilihan dan Hewan Sembelihan Jannah
Hidangan
utama di Jannah tidak hanya terbatas pada buah-buahan, melainkan juga mencakup
berbagai jenis daging pilihan yang paling diinginkan oleh selera penghuninya.
Daging burung di Jannah disajikan dalam bentuk yang siap disantap dengan
kelezatan cita rasa yang tak tertandingi. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَلَحْمِ
طَيْرٍ مِّمَّا يَشْتَهُونَ﴾
“Dan daging
burung dari apa yang mereka inginkan.” (QS. Al-Waqi’ah: 21)
Keistimewaan
daging burung Jannah dijelaskan oleh Rosul Alloh ﷺ dalam Hadits yang
diriwayatkan dari Anas bin Malik (93 H) tentang telaga Kautsar:
«فِيهَا طَيْرٌ أَعْنَاقُهَا كَأَعْنَاقِ الجُزُرِ»
قَالَ عُمَرُ: إِنَّ هَذِهِ لَنَاعِمَةٌ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«أَكَلَتُهَا أَنْعَمُ مِنْهَا»
“Sungguh di
Jannah ada burung yang lehernya seperti leher unta.” Umar berkata: Sungguh
burung itu sangat berni’mat (meminum telaga Kausar)? Maka Rosul Alloh ﷺ bersabda: “Orang yang
memakannya jauh lebih berni’mat daripadanya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2542)
Daging
hewan di Jannah diolah tanpa perlu melalui proses penyembelihan yang
menyakitkan atau pengolahan yang melelahkan seperti di dunia. Seseorang
penghuni Jannah cukup terlintas keinginan di dalam hatinya untuk meni’mati
seekor burung, maka burung tersebut langsung jatuh di hadapannya dalam keadaan
sudah masak dan siap dimakan. Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud (32 H) secara marfu’
maupun mauquf bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّكَ لَتَنْظُرُ إِلَى الطَّيْرِ فِي الْجَنَّةِ،
فَتَشْتَهِيهِ، فَيَخِرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ مَشْوِيًّا»
“Sungguh
engkau melihat burung di Jannah lalu engkau menginginkannya, maka burung itu
langsung jatuh di hadapanmu dalam keadaan tergangsir panggang.” (HR. Al-Bazzar.
Dishohihkan Al-Iroqi dalam Takhrij Ihya, 1/1929)
Keni’matan daging
Jannah terbebas dari serat yang keras, keawetan yang buruk, atau bau amis.
Daging tersebut sangat lembut dan langsung meleleh di dalam mulut penghuninya
dengan membawa berbagai sensasi rasa manis dan gurih.
Maka Muslim
sejati menjaga konsumsi makanannya di dunia agar senantiasa halal dan thoyyib.
Seseorang yang menahan diri dari daging yang harom, seperti hasil mencuri,
riba, atau barang yang syubhat di dunia, akan Alloh ﷻ beri balasan kelezatan daging
burung surgawi yang bersih dan penuh kebarokahan.
2.2
Buah-Buahan yang Dekat Petikannya dan Beragam Rasa
Kemudahan
dalam meni’mati makanan di Jannah tercermin dari posisi pohon dan dahan
buah-buahan yang sangat dekat dan menunduk tunduk kepada penghuninya. Penghuni
Jannah tidak perlu memanjat, menggunakan tangga, atau bersusah payah
memetiknya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَدَانِيَةً
عَلَيْهِمْ ظِلَالُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوفُهَا تَذْلِيلًا﴾
“Dan
naungan pohon-pohon Jannah itu dekat di atas mereka dan buah-buahannya
dipermudah memetiknya semudah-mudahnya.” (QS. Al-Insan: 14)
Alloh ﷻ juga
berfirman dalam ayat yang lain:
﴿قُطُوفُهَا
دَانِيَةٌ﴾
“Buah-buahannya
dekat.” (QS. Al-Haqqoh: 23)
Posisi dahan
pohon Jannah sangat fleksibel menyesuaikan posisi penghuninya. Apabila
seseorang meni’mati buah sambil berbaring, berdiri, atau duduk, maka dahan
pohon tersebut akan merunduk mendekati mulut dan tangannya. Mujahid bin Jabr
(104 H) meriwayatkan dalam tafsirnya bahwa jika seseorang berdiri maka dahan
terangkat sesuai tingginya, dan jika ia duduk atau berbaring maka dahan akan
merunduk mendekatinya sehingga ia dapat memetiknya tanpa harus berdiri.
Keanekaragaman
rasa dalam satu jenis buah juga merupakan keajaiban buah Jannah. Seseorang yang
memakan buah delima atau anggur di Jannah akan merasakan puluhan sensasi
cita rasa yang berbeda pada setiap gigitannya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿كُلَّمَا
رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ
قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ
وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا﴾
“Setiap
kali mereka diberi rizqi buah-buahan dalam Jannah-Jannah itu, mereka berkata:
Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang
serupa.” (QS. Al-Baqoroh: 25)
Bentuk dan
warna buah Jannah tampak serupa dengan buah yang ada di dunia atau yang pernah
dimakan sebelumnya, namun ketika dikunyah, rasanya sangat jauh berbeda dan jauh
lebih lezat daripada yang pernah dirasakan sebelumnya.
Maka Mu’min
hendaknya senantiasa bersyukur atas beragam ni’mat rizqi buah dan makanan yang
Alloh ﷻ
berikan di dunia. Seseorang yang pandai bersyukur atas ni’mat yang sedikit di
dunia akan Alloh ﷻ
bukakan pintu kelezatan buah-buahan Jannah yang siap dipetik tanpa batas di
Akhiroh.
2.3
Pohon Tuba dan Naungan Pohon Berbuah di Jannah
Di antara
keagungan vegetasi Jannah yang menghasilkan makanan dan buah-buahan adalah
keberadaan pohon raksasa yang bernama Pohon Tuba. Pohon ini memiliki ukuran
yang sangat besar dan menyediakan pakaian serta buah-buahan bagi para penghuni
Jannah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَىٰ لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ﴾
“Orang-orang
yang beriman dan beramal sholih, bagi mereka Tuba dan tempat kembali yang baik.”
(QS. Ar-Ro’d: 29)
Nabi ﷺ menjelaskan hakikat Pohon
Tuba dalam Hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri (74 H):
«طُوبَى شَجَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ مِائَةِ
عَامٍ، ثِيَابُ أَهْلِ الْجَنَّةِ تَخْرُجُ مِنْ أَكْمَامِهَا»
“Tuba
adalah sebuah pohon di Jannah yang panjang naungannya sejauh perjalanan 100
tahun, pakaian penghuni Jannah keluar dari kelopak-kelopak bunganya.” (HR.
Ahmad no. 11673. Dishohihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani)
Keagungan
naungan pohon di Jannah yang rindang dan sarat akan buah-buahan juga dijelaskan
dalam Hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh (57 H), bahwasanya
Rosul Alloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ فِي الْجَنَّةِ لَشَجَرَةً يَسِيرُ الرَّاكِبُ
فِي ظِلِّهَا مِائَةَ عَامٍ [لاَ يَقْطَعُهَا]، وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: ﴿وَظِلٍّ
مَّمْدُودٍ﴾»
“Sungguh di
dalam Jannah terdapat sebuah pohon yang apabila seorang penunggang kuda
berjalan di bawah naungannya selama 100 tahun ia belum bisa melintasinya.
Bacalah jika kalian mau: ‘Dan naungan yang terbentang luas.’” (HR.
Al-Bukhori no. 3252 dan Muslim no. 2826)
Tidak ada
satu pun pohon di Jannah melainkan batangnya terbuat dari emas murni, sedangkan
dahan dan daunnya memancarkan buah-buahan yang harum dan ranum. Pohon-pohon ini
tidak pernah menggugurkan daun karena kering atau mati, melainkan senantiasa
rindang memberikan kenyamanan bagi para penghuni Jannah yang sedang berkumpul
meni’mati jamuan.
Maka Mu’min
memperbanyak menanam pohon Jannah melalui bacaan dzikir di dunia. Seseorang
yang mengucapkan kalimat tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sedang menanam
pohon-pohon rindang berbuah di Jannah yang kelak akan menaunginya dan
memberinya hidangan manis di Akhiroh.
Bab 3: Hidangan
Perdana dan Jamuan Kehormatan
3.1
Ziyadatu Kabidil Hut: Hidangan Pertama Ahli Jannah
Saat
rombongan orang-orang beriman pertama kali menginjakan kaki di dalam Jannah,
Alloh ﷻ
menyambut mereka dengan jamuan penghormatan yang sangat istimewa. Makanan
pertama yang disajikan sebagai pembuka selera adalah potongan kelopak
hati ikan paus yang maha besar. Hidangan penyambutan ini dinamakan tuhfah,
yaitu hadiah istimewa yang hanya disajikan kepada tamu yang paling dicintai.
Hal ini dijelaskan dalam Hadits shohih saat Shohabat Abdulloh bin Salam (12 H)
yang semula ulama Yahudi bertanya kepada Rosul Alloh ﷺ untuk menguji kenabian beliau:
“Makanan apa yang pertama kali dimakan penghuni Jannah?” Jawab Nabi ﷺ:
«وَأَمَّا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ
أَهْلُ الجَنَّةِ فَزِيَادَةُ كَبِدِ حُوتٍ»
“Makanan pertama
yang dimakan oleh penghuni Jannah adalah potongan kelopak hati ikan paus.” (HR.
Al-Bukhori no. 3329)
Keistimewaan
hidangan pembuka ini ditegaskan kembali dalam riwayat Shohabat Tsauban (54 H),
pembantu Rosul Alloh ﷺ,
ketika seorang pendeta Yahudi bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai hidangan pertama
saat manusia melintasi Shiroth:
فَمَا تُحْفَتُهُمْ حِينَ يَدْخُلُونَ
الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «زِيَادَةُ كَبِدِ النُّونِ»، قَالَ: فَمَا غِذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟
قَالَ: «يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا»
“Lalu
apakah hidangan penyambutan bagi mereka ketika memasuki Jannah?” Nabi ﷺ bersabda, “Ziayadah
(potongan kelopak) hati ikan paus.” (HR. Muslim no. 315)
Nawawi (676
H) menjelaskan bahwa tuhfah adalah hadiah berharga yang diperuntukkan
bagi tamu kehormatan, sedangkan ziadatu kabid adalah bagian paling
lezat, paling lembut, dan paling ni’mat dari organ hati.
Pemilihan
ikan paus dan hati sebagai makanan pembuka mengandung simbol kebahagiaan dan keabadian,
karena ikan adalah hewan air yang melambangkan kehidupan dan kesegaran yang
tiada usai.
3.2
Sapi Jannah yang Menyantap Tumbuhan Surgawi
Setelah
menyantap hidangan pembuka berupa potongan hati ikan paus, para penghuni Jannah
disajikan hidangan utama berupa daging sapi surgawi. Sapi ini bukan sapi biasa
sebagaimana yang ada di dunia, melainkan hewan ciptaan khusus yang selama ini
digembalakan di dalam taman-taman Jannah dan memakan tumbuhan-tumbuhan surgawi
yang harum. Diriwayatkan dari Tsauban (54 H) bahwasanya pendeta Yahudi tersebut
bertanya lebih lanjut kepada Nabi ﷺ:
قَالَ: فَمَا غِذَاؤُهُمْ عَلَى إِثْرِهَا؟
قَالَ: «يُنْحَرُ لَهُمْ ثَوْرُ الْجَنَّةِ الَّذِي كَانَ يَأْكُلُ مِنْ أَطْرَافِهَا»
قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ: «مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا»
Dia
bertanya: “Lalu apakah makanan utama mereka setelah itu?” Beliau menjawab: “Disembelihkan
untuk mereka sapi Jannah yang memakan rumput di pinggir-pinggir Jannah…” (HR.
Muslim no. 315)
Daging sapi
Jannah disajikan kepada penghuni Jannah dengan kelezatan cita rasa yang
sempurna, lembut, gurih, dan penuh dengan keharuman tumbuhan surgawi. Makanan yang
dikonsumsi oleh sapi tersebut selama di Jannah berupa dedaunan dan bunga-bunga
berni’mat menjadikan seluruh serat dagingnya memiliki kelezatan tiada tara yang
tidak bisa dibandingkan dengan daging hewan apa pun di dunia.
Penyembelihan
sapi Jannah ini merupakan bentuk kemuliaan dan pesta perayaan agung bagi
seluruh penghuni Jannah atas keberhasilan mereka lolos dari adzab Naar.
Seseorang yang di dunia senantiasa menyembelih hewan qurban dengan ikhlas demi
meraih ridho Alloh ﷻ
akan mendapatkan bagian terbaik dari jamuan sapi Jannah ini.
Maka Muslim
mengorbankan sebagian rizqi dunia untuk berbagi makanan daging kepada fakir
miskin dan kaum kerabat. Seseorang yang gemar memberikan daging dan makanan
terbaik bagi sesama di dunia akan dijadikan tamu kehormatan yang menyantap
daging sapi surgawi di Akhiroh.
3.3
Jamuan Spesial Rombongan Pertama Penghuni Jannah
Rombongan
manusia pertama yang menginjakan kaki di Jannah memiliki kedudukan yang sangat
tinggi. Wajah-wajah mereka memancarkan cahaya bagaikan rembulan di malam
purnama. Makanan dan minuman yang disajikan kepada mereka merupakan puncak dari
segala keindahan pesta kemuliaan. Rosul Alloh ﷺ menggambarkan keagungan rombongan ini dalam Hadits yang
diriwayatkan dari Abu Huroiroh (57 H):
«أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ
القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ، وَالَّذِينَ عَلَى إِثْرِهِمْ كَأَشَدِّ كَوْكَبٍ إِضَاءَةً»
“Rombongan
pertama yang masuk Jannah berada dalam rupa bentuk bulan di malam purnama, dan
orang-orang yang masuk setelah mereka berada dalam rupa bentuk bintang yang
paling terang cahayanya di langit.” (HR. Al-Bukhori no. 3246 dan Muslim no.
2834)
Setelah menyantap
hidangan hati ikan paus dan daging sapi Jannah, rombongan terdepan ini menutup
jamuan mereka dengan minuman penyegar dari mata air Salsabil. Tsauban (54 H)
meriwayatkan pertanyaan susulan pendeta Yahudi kepada Nabi ﷺ:
قَالَ: فَمَا شَرَابُهُمْ عَلَيْهِ؟ قَالَ:
«مِنْ عَيْنٍ فِيهَا تُسَمَّى سَلْسَبِيلًا»
Dia
bertanya: “Lalu apakah minuman mereka setelah makan itu?” Beliau menjawab: “Dari
mata air di Jannah yang dinamakan Salsabil.” (HR. Muslim no. 315)
Urutan jamuan
ini—dimulai dari hidangan pembuka yang ringan (hati ikan), dilanjutkan dengan
hidangan utama yang mengenyangkan (daging sapi), dan diakhiri dengan minuman
penyegar yang mudah ditelan (Salsabil)—merupakan susunan jamuan makan paling
sempurna sepanjang sejarah.
Maka penting
sekali bagi seorang Muslim berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot)
agar termasuk ke dalam rombongan pertama yang memasuk Jannah. Seseorang yang
bersegera memenuhi panggilan Sholat, bersegera dalam bersedekah, dan terdepan
dalam menjaga kehormatan diri akan ditempatkan pada tingkatan terdepan saat
jamuan Akhiroh.
Bab 4: Jenis
Minuman dan Sungai-Sungai Jannah
4.1
Empat Sungai Utama: Air, Susu, Khomr, dan Madu Murni
Jannah
dialiri oleh sungai-sungai raksasa yang menyediakan empat jenis cairan utama
tanpa pernah mengering atau tercemar. Uniknya, sungai-sungai ini mengalir di
atas permukaan tanah Jannah tanpa perlu dibuatkan parit atau celah tanggul.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿مَّثَلُ
الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ
فِيهَا أَنْهَارٌ مِّن مَّاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ
طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِّنْ عَسَلٍ
مُّصَفًّى﴾
“Perumpamaan
Jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa: Di dalamnya ada
sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai
dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khomr
yang lezat bagi diminum, dan sungai-sungai dari madu yang disaring
murni.” (QS. Muhammad: 15)
Sumber dari
seluruh sungai-sungai ini berasal dari lautan utama yang berada di bawah Arsy
Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ
menjelaskan hal ini dalam Hadits yang diriwayatkan dari Hakim bin Mu’awiyah
dari ayahnya, Mu’awiyah bin Haidah (20 H):
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَحْرَ المَاءِ وَبَحْرَ
العَسَلِ وَبَحْرَ اللَّبَنِ وَبَحْرَ الخَمْرِ، ثُمَّ تُشَقَّقُ الأَنْهَارُ بَعْدُ»
“Sungguh di
Jannah terdapat lautan air, lautan madu, lautan susu, dan lautan khomr,
kemudian sungai-sungai memancar darinya setelah itu.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2571)
Khomr di
Jannah sangat berbeda dengan khomr di dunia. Khomr Jannah tidak memabukkan,
tidak membuat pusing kepala, tidak menyebabkan mual, dan tidak mengeluarkan
kata-kata kotor, melainkan terasa sangat lezat dan memberikan keharuman bagi
peminumnya. Susu di Jannah tidak pernah basi, madunya murni tanpa ada kotoran
sarang atau lebah, dan airnya selalu segar tanpa bau apek. Empat cairan ini
merupakan penopang utama kehidupan manusia di dunia yang Alloh ﷻ
sempurnakan wujudnya di Jannah tanpa ada kekurangan sedikit pun.
Maka Mu’min
sejati meninggalkan minuman minuman yang harom seperti khomr dan miras di
dunia. Seseorang yang menahan tenggorokannya dari tegukan minuman harom di
dunia demi ketaatan kepada Alloh ﷻ akan diberi minum dari
sungai-sungai khomr lezat dan madu murni di Jannah.
4.2
Ramuan Mata Air Zanjabil, Kafur, dan Tasnim
Selain
empat sungai utama, Alloh ﷻ menyediakan racikan minuman spesial dari mata air surgawi yang
diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya sesuai dengan tingkatan keimanan mereka.
Golongan al-abror (orang-orang yang berbuat kebaikan) dan al-muqorrobun
(orang-orang yang didekatkan) meni’mati minuman campuran yang sangat harum.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا﴾
“Sungguh
orang-orang yang berbuat kebaikan minum dari gelas yang campurannya adalah air
kafur, yaitu mata air yang diminum oleh hamba-hamba Alloh, mereka
mengalirkannya dengan semudah-mudahnya.” (QS. Al-Insan: 5-6)
Alloh ﷻ juga
menyajikan campuran jahe segar (Zanjabil) yang memberikan kehangatan dan keni’matan
rasa yang tiada tara. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَيُسْقَوْنَ
فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنجَبِيلًا
عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا﴾
“Dan mereka
diberi minuman dalam gelas yang campurannya adalah jahe, yaitu mata air di
Jannah yang dinamakan Salsabil.” (QS. Al-Insan: 17-18)
Adapun
tingkatan minuman tertinggi adalah racikan dari mata air Tasnim, yaitu minuman
murni tanpa campuran khusus untuk golongan al-muqorrobun. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِزَاجُهُ
مِن تَسْنِيمٍ
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ﴾
“Dan
campurannya dari Tasnim, yaitu mata air yang diminum oleh orang-orang yang
didekatkan kepada Alloh.” (QS. Al-Muthoffifin: 27-28)
Semua yang
disebutkan Alloh ﷻ
di dalam Al-Qur’an berupa nama-nama minuman Jannah, tidak ada padanannya di
dunia kecuali hanya persamaan nama semata. Cita rasa, keharuman, dan efek
kesegarannya jauh melampaui imajinasi manusia di dunia.
Maka Muslim
senantiasa meningkatkan kualitas ibadahnya dari sekadar menggugurkan kewajiban
(al-abror) menuju derajat ihsan dan kedekatan tertinggi (al-muqorrobun).
Seseorang yang senantiasa mendekatkan diri kepada Alloh ﷻ
dengan ibadah-ibadah sunnah akan mendapatkan tegukan murni dari mata air
Tasnim.
4.3
Telaga Al-Kautsar Pembasuh Dahaga
Di antara
sumber minuman paling mulia yang Alloh ﷻ anugerahkan khusus kepada
Nabi ﷺ
dan umatnya yang setia adalah Telaga Al-Kautsar. Telaga ini membentang sangat
luas dan menjadi tempat pembasuh dahaga bagi umat Islam sebelum memasuk pintu
Jannah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ﴾
“Sungguh
Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar.” (QS. Al-Kautsar: 1)
Sifat air
dan keindahan Telaga Al-Kautsar dijelaskan secara mendetail oleh Rosul Alloh ﷺ dalam Hadits yang
diriwayatkan dari Anas bin Malik (93 H):
«بَيْنَمَا أَنَا أَسِيرُ فِي الجَنَّةِ، إِذَا
أَنَا بِنَهَرٍ، حَافَتَاهُ قِبَابُ الدُّرِّ المُجَوَّفِ، قُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟
قَالَ: هَذَا الكَوْثَرُ، الَّذِي أَعْطَاكَ رَبُّكَ، فَإِذَا طِينُهُ - أَوْ طِيبُهُ
- مِسْكٌ أَذْفَرُ»
“Ketika aku
sedang berjalan di Jannah, tiba-tiba aku berada di sebuah sungai yang kedua
pinggirnya adalah kubah-kubah mutiara yang berongga. Aku bertanya: ‘Apakah ini
wahai Jibril?’ Dia menjawab: ‘Ini adalah Al-Kautsar yang diberikan Robbmu
kepadamu.’ Ternyata tanah lumpurnya adalah minyak kasturi yang sangat harum.” (HR.
Al-Bukhori no. 6581)
Dahaga pada
hari Qiyamah sangat dahsyat, namun siapa yang berhasil meminum satu tegukan
saja dari telaga ini, ia tidak akan pernah merasakan haus selama-lamanya.
Diriwayatkan dari Abdulloh bin Amr bin Al-Aash (65 H) bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ، مَاؤُهُ أَبْيَضُ
مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ المِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ،
مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلاَ يَظْمَأُ أَبَدًا»
“Telagaku
sepanjang perjalanan satu bulan, airnya lebih putih daripada susu, aromanya lebih
harum daripada minyak kasturi, dan gelas-gelasnya sebanyak bintang-bintang di
langit. Siapa yang minum darinya maka ia tidak akan merasa dahaga
selama-lamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 6579 dan Muslim no. 2292)
Maka siapa menjaga keutuhan Sunnah Nabi ﷺ dan menjauhi segala bentuk bid’ah dalam beragama, —yang
konsisten berpegang teguh pada petunjuk Rosul Alloh ﷺ dan para Shohabat— akan
disambut langsung oleh beliau di tepi Telaga Al-Kautsar dan diberi minum
langsung dari tangan beliau yang mulia.
Bab 5: Wadah,
Perabot, dan Pelayan Jamuan Jannah
5.1
Bejana dan Piring Emas-Perak
Keindahan
jamuan makanan di Jannah disempurnakan dengan wadah dan perabot makan yang
terbuat dari logam paling mulia. Piring-piring dan bejana di Jannah dibuat dari
emas murni dan perak yang bersinar terang tanpa cacat. Kebersihan dan kemewahan
tempat penyajian ini memanjakan mata para penghuni Jannah sebelum mereka
mencicipi rasanya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يُطَافُ
عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ
وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ
وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُون﴾
“Diedarkan
kepada mereka piring-piring dari emas dan gelas-gelas (dari emas), dan di dalam
Jannah itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan sedap dipandang mata, dan
kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhuruf: 71)
Kemewahan
bejana emas dan perak ini khusus disediakan Alloh ﷻ sebagai bentuk ganjaran bagi
hamba-hamba-Nya yang bersabar menahan diri dari kesombongan serta gaya hidup
bermewah-mewahan yang dilarang sewaktu hidup di dunia. Shohabat Hudzaifah bin
Al-Yaman (36 H) meriwayatkan bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ،
وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا، فَإِنَّهَا لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَلَنَا فِي الآخِرَةِ»
“Janganlah
kalian minum di dalam bejana emas dan perak, dan janganlah kalian makan
di piring-piringnya, karena sungguh bejana dan piring itu untuk mereka di dunia
dan untuk kalian di Akhiroh.” (HR. Al-Bukhori no. 5426 dan Muslim no. 2067)
Penggunaan bejana
emas dan perak di Jannah memiliki sifat fisik yang berbeda dengan logam dunia.
Logam Jannah tidak pernah kusam, tidak membutuhkan pembersihan berulang, dan
memiliki kelembutan serta keharuman yang memancar dari material dasarnya. Penyajian
makanan pada piring emas menambah kelezatan cita rasa hidangan di dalam hati
orang yang memakannya.
Maka
berusahalah kesederhanaan hidup di dunia dengan menjauhi pemborosan serta
kepemilikan peralatan makan yang diharomkan syariat. Seseorang yang menjaga
batasan hukum Alloh ﷻ
dalam perabot rumah tangganya akan Alloh ﷻ muliakan dengan piring-piring
emas dan perak asli di istana Jannah.
5.2
Gelas-Gelas Kristal Perak
Peralatan
minum yang disediakan di Jannah memiliki keajaiban struktur yang melampaui
kemampuan nalar manusia. Gelas-gelas tersebut memiliki ketipisan dan bening
seperti kaca kristal, namun material pembentuk dasarnya adalah perak murni.
Keadaan keindahan tempat minuman ini dijelaskan oleh Alloh ﷻ
dalam firman-Nya:
﴿وَيُطَافُ
عَلَيْهِم بِآنِيَةٍ مِّن فِضَّةٍ وَأَكْوَابٍ كَانَتْ قَوَارِيرَا
قَوَارِيرَ مِن فِضَّةٍ قَدَّرُوهَا تَقْدِيرًا﴾
“Diedarkan
kepada meka bejana-bejana dari perak dan gelas-gelas yang bening laksana
kristal, kristal yang terbuat dari perak yang telah diukur dengan
seukur-ukurnya.” (QS. Al-Insan: 15-16)
Setiap
piala, gelas, dan cangkir di Jannah diukur volume dan ukurannya dengan sangat
pas. Takaran minuman di dalamnya tepat sesuai dengan kadar dahaga dan keinginan
penghuni Jannah, tidak kurang dan tidak berlebih sampai tumpah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَطُوفُ
عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ
بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِّن مَّعِينٍ﴾
“Merek
dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas tanpa
pegangan, gelas berpegangan, dan gelas piala berisi minuman dari mata air yang
mengalir.” (QS. Al-Waqi’ah: 17-18)
Kebeningan kristal
perak ini tidak pernah ada tandingannya di dunia. Manusia di dunia bisa membuat
kaca bening dari pasir, atau membuat bejana perak yang padat tidak tembus
pandang. Alloh ﷻ
menggabungkan dua keutamaan tersebut pada gelas Jannah: kebeningan kristal sehingga
isi minuman di dalamnya terlihat dari luar, dan kemewahan kilau perak yang
memancarkan cahaya.
5.3
Pelayan-Pelayan Muda
Jamuan
makan dan minum di Jannah diiringi oleh pelayanan yang maha sempurna dari para
pelayan surgawi. Para pelayan ini diciptakan khusus oleh Alloh ﷻ
untuk melayani kebutuhan para penghuni Jannah. Muka dan tubuh mereka senantiasa
muda, indah, bersih, serta tampak sangat menawan bagaikan mutiara yang
bertebaran. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَيَطُوفُ
عَلَيْهِمْ غِلْمَانٌ لَّهُمْ كَأَنَّهُمْ لُؤْلُؤٌ مَّكْنُونٌ﴾
“Di sekitar
mereka ada anak-anak muda pelayan milik mereka sendiri, seakan-akan mereka
adalah mutiara yang tersimpan.” (QS. At-Thur: 24)
Keindahan
dan jumlah pelayan yang tidak terbatas ini kembali Alloh ﷻ
gambarkan dalam firman-Nya:
﴿وَيَطُوفُ
عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَّنثُورًا﴾
“Mereka
dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka,
kamu akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19)
Pelayan-pelayan
ini sigap berdiri di sekeliling majlis hidangan, membawa bejana dan piring
sesuai dengan setiap bisikan keinginan penghuni Jannah tanpa perlu dipanggil
atau diperintah. Shohabat Anas bin Malik (93 H) meriwayatkan bahwasanya Rosul
Alloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الجَنَّةِ مَنْزِلَةً لَمَنْ
يَنْظُرُ إِلَى جِنَانِهِ وَأَزْوَاجِهِ وَنَعِيمِهِ وَخَدَمِهِ وَسُرُرِهِ مَسِيرَةَ
أَلْفِ سَنَةٍ»
“Sungguh
penghuni Jannah yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang melihat
taman-tamannya, istri-istrinya, keni’matannya, pelayan-pelayannya, dan
dipan-dipannya sejauh perjalanan 1000 tahun.” (HR. At-Tirmidzi no. 2553,
lemah)
Para pelayan
ini berada dalam tingkat kepatuhan dan keramahan yang luar biasa. Mereka
mengelilingi penghuni Jannah dengan membawa berbagai variasi makanan baru yang
cita rasanya senantiasa bertambah ni’mat dari waktu ke waktu.
Maka,
pentingnya bersikap santun, memperbagus akhlaq, dan melayani sesama manusia di
dunia, terutama orang tua, ulama, dan sesama Mu’min. Seseorang yang gemar
membantu dan memudahkan urusan saudaranya di dunia akan dirajakan di Jannah
dengan dilayani oleh ribuan pelayan muda yang tak pernah lelah.
Bab 6: Amal Khusus
Meraih Makanan dan Minuman Jannah
6.1
Memberi Makan Orang Lapar dan Memberi Buka Puasa
Pintu untuk
meraih kuliner dan jamuan mewah di Jannah dibuka lebar melalui amalan
bersedekah makanan di dunia. Orang-orang yang menyisihkan hartanya untuk
memberi makan orang fakir, kaum miskin, anak-anak yatim, dan orang yang
berpuasa akan dibalas Alloh ﷻ dengan makanan khusus dari Jannah. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَيُطْعِمُونَ
الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا﴾
“Mereka
memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang
yang ditawan. Sungguh kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharap
keridhoan Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan
terima kasih.” (QS. Al-Insan: 8-9)
Keutamaan
memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa juga dijelaskan dalam Hadits shohih
dari Shohabat Zaid bin Kholid Al-Juhani (78 H), bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ،
غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا»
“Siapa yang
memberi buka puasa bagi orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti pahala
orang tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 807)
Ganjaran
istimewa berupa kamar istana yang transparan dan hidangan lezat disiapkan bagi
orang-orang yang gemar berbagi makanan. Ali bin Abi Tholib (40 H) meriwayatkan
bahwasanya Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا
مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا»، فَقَامَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ: لِمَنْ
هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «لِمَنْ أَطَابَ الكَلَامَ، وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ،
وَأَدَامَ الصِّيَامَ، وَصَلَّى بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ»
“Sungguh di
Jannah terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari dalamnya, dan
bagian dalamnya terlihat dari luarnya.” Seorang Arab Badui berdiri lalu
bertanya: “Untuk siapa kamar-kamar itu wahai Rosul Alloh?” Beliau menjawab: “Untuk
orang yang memperbagus ucapan, memberi makan, membiasakan puasa, dan Sholat
malam di saat manusia sedang tidur.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1984)
Maka
membiasakan diri untuk berbagi masakan atau memberikan takjil buka puasa di
Masjid-Masjid, termasuk menyiapkan makanan sederhana bagi tetangga yang
membutuhkan— merupakan investasi besar yang akan dibalas dengan santapan lezat
di majlis Jannah kelak.
6.2
Berpuasa di Hari Panas Demi Kuliner Jannah
Keikhlasan
menahan rasa lapar dan dahaga sewaktu berpuasa di dunia—terutama pada hari-hari
yang sangat panas—akan diganjar oleh Alloh ﷻ dengan keni’matan menyantap
hidangan Jannah tanpa batas. Alloh ﷻ berfirman memuji para
hamba-Nya yang rajin berpuasa:
﴿كُلُوا
وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ﴾
“Makan dan
minumlah dengan ni’mat disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari
yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqoh: 24)
Pintu
khusus yang bernama Ar-Royyan disediakan bagi orang-orang yang memelihara
ibadah Puasa demi menghilangkan seluruh dahaga mereka selama-lamanya. Sahl bin
Sa’d (91 H) meriwayatkan bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ،
يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ»
“Sungguh di
Jannah ada satu pintu yang dinamakan Ar-Royyan, orang-orang yang berpuasa akan
masuk darinya pada hari Qiyamah, tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk
melaluinya.” (HR. Al-Bukhori no. 1896 dan Muslim no. 1152)
Sebagian
Salaf mencari hari-hari yang terik dan sangat panas untuk berpuasa sunnah,
seraya berkata bahwa ia sengaja berpuasa di hari yang amat panas demi
menyelamatkan diri dari kepanasan hari Qiyamah dan meraih kesegaran minuman
Jannah. Siapa yang meninggalkan makanan dan minuman yang disukainya karena
ketaatan kepada Alloh ﷻ,
maka Alloh ﷻ
akan memberinya ganjaran berupa Makanan dan Minuman surgawi yang tidak pernah
terbayangkan olehnya.
Maka
merutinkan puasa-puasa sunnah seperti Puasa Senin-Kamis, Puasa Ayyamul Bidh,
dan Puasa Arofah —rasa lapar yang dirasakan sesaat di dunia akan berganti
menjadi kelezatan kuliner abadi di balik pintu Ar-Royyan.
6.3
Menjauhi Makanan Harom dan Khomr di Dunia
Penghalang
terbesar seseorang dari meni’mati makanan dan minuman di Jannah adalah
perbuatan mengonsumsi hal-hal yang diharomkan Alloh ﷻ semasa hidup di dunia. Siapa
yang meminum khomr atau memakan harta harom di dunia tanpa bertaubat, maka ia
diancam akan diharomkan dari lezatnya hidangan Akhiroh. Shohabat Ibnu Umar (73
H) meriwayatkan bahwasanya Rosul Alloh ﷺ bersabda:
«مَنْ شَرِبَ الخَمْرَ فِي الدُّنْيَا، ثُمَّ
لَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الآخِرَةِ»
“Siapa yang
minum khomr di dunia kemudian ia tidak bertaubat darinya, maka ia diharomkan
meminumnya di Akhiroh.” (HR. Al-Bukhori no. 5575 dan Muslim no. 2003)
Ancaman ini
berlaku pula pada seluruh harta harom yang didapatkan dari cara-cara yang
dilarang agama. Abu Huroiroh (57 H) meriwayatkan bahwasanya Nabi ﷺ bersabda:
«كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ
أَوْلَى بِهِ»
“Setiap
tubuh yang tumbuh dari barang harom maka Naar lebih berhak baginya.” (Shohihul
Jami no. 4519)
Menahan diri
dari satu suapan barang yang harom lebih disukai daripada melakukan Sholat
malam beribu-ribu rokaat. Keharoman minuman khomr dan makanan harom di dunia
adalah untuk menjaga kebersihan jiwa dan akal. Siapa yang mengorbankan kesucian
dirinya demi keni’matan harom yang sesaat di dunia, ia akan kehilangan haknya
untuk meni’mati khomr dan buah-buahan Jannah yang suci.
Maka
berjuanglah dalam mencari nafkah yang halal bagi keluarga. Seorang Muslim wajib
menjauhi riba, penipuan jual beli, suap, dan segala bentuk makanan serta
minuman yang diharomkan agar fisik dan jiwanya pantas menjadi ahli Jannah.
6.4
Sholat Malam dan Menyebar Salam Pembuka Jannah
Ibadah
Sholat malam (Qiyamul Lail) dan menebarkan kebaikan hubungan antar sesama
manusia merupakan amalan kunci yang mengantarkan seseorang menuju keselamatan
pintu Jannah. Seseorang yang menggabungkan keikhlasan ibadah di kegelapan malam
dengan keramahan sosial di siang hari akan disambut dengan keselamatan dan
hidangan istimewa. Abdulloh bin Salam (12 H) menceritakan khutbah pertama Rosul
Alloh ﷺ
ketika tiba di Madinah:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ،
وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا بِاللَّيْلِ، وَالنَّاسُ
نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ»
“Wahai
manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturrohim, dan
Sholatlah di malam hari ketika manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk
Jannah dengan selamat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2485 dan lafazh Ibnu Majah no.
3251)
Hadits ini
menghimpun empat fondasi utama da’wah Islam: menebarkan kedamaian (salam),
kepedulian sosial (memberi makan), menjaga tali persaudaraan (silaturrohim),
dan penghambaan diri secara rahasia kepada Alloh ﷻ (Sholat malam). Gabungan dari
amalan-amalan ini menjamin masuknya seorang Mu’min ke dalam Jannah tanpa
transit adzab.
Maka mereka membiasakan bangun di sepertiga malam terakhir untuk menunaikan Sholat
Tahajjud serta senantiasa menyapa, tersenyum, dan menyebarkan kebaikan kepada
sesama Muslim. Keindahan akhlaq dan ketaatan ibadah ini akan membuka seluruh
pintu Jannah dan menyajikan jamuan keabadian yang tiada tara.
Penutup
Makanan dan
minuman di Jannah bukanlah pemuas dahaga dan lapar, melainkan simbol kehormatan
tertinggi dari Robb semesta alam kepada hamba yang telah bersabar meniti jalan ketaatan
di dunia. Pengetahuan tentang hidangan hati ikan paus, sapi Jannah, empat
sungai utama, serta gelas-gelas kristal perak hendaknya tidak berhenti sebagai
wawasan ilmu semata, melainkan menjadi pendorong kuat untuk meningkatkan
kualitas iman, menjaga konsumsi rizqi yang halal, merutinkan puasa, serta
memperbanyak sedekah makanan.
Semoga Alloh ﷻ mengumpulkan kita semua, orang tua kita, keluarga kita, serta seluruh kaum Muslimin di dalam Jannah-Nya yang penuh ni’mat, dan memberi kita kesempatam menyantap hidangan surgawi langsung dari tangan Rosul Alloh ﷺ yang mulia.[NK]
