Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Aqidah Kufur Khumaini dan Permusuhannya Terhadap Muslimin - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Buku ini merupakan tahdzib (penataan ulang) dari makalah Dr. Aidh Al-Qorni yang membahas kekufuran dan kejahatan Khumaini (1989 M) terhadap Muslimin. Risalah beliau dalam bahasa Arob ada di sini. Silahkan dirujuk untuk kelengkapan takhrij kitab-kitab Khumaini.

Iran berdiri pada tahun 1979 hingga kini (2026), terdapat dua pemimpin tertinggi (Supreme Leader) yang secara langsung dan resmi memegang tampuk kekuasaan tertinggi negara:

[1] Ayatollah Ruhulloh Khumaini (1979 - 1989): Sebagai pendiri Republik Iran, ia adalah pemimpin tertinggi pertama yang memimpin revolusi dan membangun fondasi teokrasi di Iran.

[2] Ayatulloh Ali Khomaini (1989 - 2026): Seorang murid dekat Khomaini, ia memegang tampuk kepemimpinan setelah Khomeini wafat hingga wafatnya pada Februari 2026.

Keduanya adalah figur sentral yang identik dengan ideologi kepemimpinan ulama yang dicetuskan oleh Khomeini.

Pada bulan Maret 2026, Ayatulloh Mujtaba Khumaini resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi ketiga Iran, menggantikan ayahnya.

Ketiga orang ini memiliki ideologi dan politik yang sama.

Karena terjadi peperangan Iran vs Israel-Amerika, sebagian Muslimini terpedaya hingga bersimpati kepada Iran Syiah karena slogam membela Palestina. Padahal, mereka hanya bertengkar sementara bagaikan pertengkaran adek kakak. Syiah adalah musuh besar Muslimin dan akan menteror mereka dengan senjata dan ideologi kufurnya.

Maka buku ini hadir untuk hal ini. Saya mentarjamah dari makalah Dr. Aidh Al-Qorni dan menatanya agar lebih mudah dicerna pembaca disertai bab dan yang sesuai.

Buku ini pendamping untuk 3 buku yang sudah terbit sebelumnya:

1) Perbedaan Tajam Syi’ah dengan Ahlus Sunnah

2) Sejarah Majusi Hingga Menjadi Negara Iran

3) Syiah Iran - Aqidahnya dan Politiknya dari Zaman ke Zaman

Selamat membaca!

 

 

Bab 1: Urgensi Tema

1.1 Bahaya Munafiq di Tengah Tubuh Islam

Agama Islam dan para pemeluknya saat ini sedang mengeluhkan adanya ulat yang menggerogoti tubuhnya dan memutus sebagian anggota badannya. Hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari bangsa sendiri dan mereka yang mengaku-aku sebagai bagian dari Islam. Perkara tersebut tidak lain adalah nifaq (kemunafikan) dan kaum Munafiqin yang keburukan serta permusuhannya telah muncul sejak fajar Islam hingga hari kita ini. Di antara kaum Munafiqin yang namanya masyhur di zaman kita sekarang adalah Ruhullah Khumaini (1409 H) lalu diteruskan Ali Khumaini (2026 M) lalu sekarang dilanjutkan Mujtaba Khumaini. Ruhullah Khumaini (1989 M) seorang yang atheis, musuh, lagi fajir (jahat). Permusuhannya terhadap Islam telah nampak nyata dalam pidato-pidato, buku-buku, surat-surat, serta perjanjian-perjanjian rahasianya yang penuh dengan tipu daya.

1.2 Alasan dan Tujuan Membongkar Aqidah Khumaini

Tema besar buku ini adalah: Khumaini, Aqidah dan Tujuan-tujuannya. Tema ini merupakan sesuatu yang harus dibicarakan. Terdapat 3 alasan utama yang mendorong untuk membahas masalah ini:

Tanggungjawab Menjelaskan

Sesungguhnya Alloh menuntut para penuntut ilmu, para Da’i, dan para Ulama untuk memberikan penjelasan kepada manusia mengenai hal-hal yang mereka butuhkan. Penjelasan ini bersifat umum, mencakup penjelasan tentang tokoh, pribadi, lembaga, kelompok, agama, aliran, fatwa, masalah hukum, dan segala hal yang bergerak dalam kehidupan. Alloh berfirman:

﴿وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ﴾

“Dan ingatlah ketika Alloh mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Al-Kitab: hendaklah kalian benar-benar menerangkannya kepada manusia dan janganlah kalian menyembunyikannya, lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit, maka itulah seburuk-buruk apa yang mereka beli.” (QS. Al-Imron: 187)

Alloh juga berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk setelah Kami menjelaskannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat oleh Alloh dan dilaknat pula oleh semua makhluk yang melaknat.” (QS. Al-Baqoroh: 159)

Tujuan utama dari bayan ini adalah untuk menjelaskan perkara-perkara Khumaini yang bersandar langsung pada nukilan, penelitian, dan ilmu, in syaa Alloh. Penjelasan ini tidak bersandar pada kegoncangan jiwa, emosi, maupun semangat yang meluap-luap semata.

Mengenal kawan dari lawan

Telah banyak di dunia Islam orang-orang yang mengaku sebagai kawan, padahal dia adalah pihak yang memerangi Islam dan kaum Muslimin. Dia ibarat belati beracun yang meneteskan darah, kedengkian, rasa iri, dan kebencian. Dia melilitkan surban hitam di kepalanya, mengenakan jubah yang berlapis, serta mengaku sebagai wali dari wali-wali Alloh . Dia merasa dibela oleh tasbihnya padahal darah umat Islam berceceran di tangannya. Dia justru berpihak kepada Israel, Syamir, dan setiap kaki tangan dari kaki tangan dunia.

Menyingkap kesesatan

Alloh berfirman:

﴿وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآياتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ﴾

“Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat Kami agar jelas jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’am: 55)

Maknanya adalah Kami mengabarkan kepadamu tentang rambu-rambu Tauhid, rambu-rambu risalah, dan pondasi Aqidah, agar jelas bagimu hakikat kebodohan masa silam dari dekat.

Maka menjadi kewajiban bagi setiap Da’i, setiap Alim, dan penuntut ilmu untuk menjelaskan kepada manusia tentang berbagai sumber pemikiran dan madzhab-madzhab yang ada.

Beberapa tahun lalu, dunia Islam dikejutkan dan pandangan mereka terpaku pada apa yang mereka sebut sebagai garis depan di Teheran. Radio, televisi, majalah, dan koran semuanya memulai berita pagi mereka dengan menyebut Ayatulloh Khumaini. Banyak orang merasa gembira saat melihat surban hitam, jenggot yang panjang, dan jubah. Mereka melihat gelar-gelar keagamaan saling bersurat dan berkumpul, lalu mereka berkata bahwa ini adalah sebuah kemenangan.

Tidak cukup sampai di situ, pidato resmi yang disampaikan Khumaini 3 hari setelah revolusi mengklaim bahwa dia akan membebaskan Palestina, dialah penakluk Al-Quds, dan dialah yang akan mengembalikan kemuliaan, keagungan, serta kekuatan umat ini. Namun di sisi lain, Partai Republik Amerika di bawah pemerintahan Carter memberikan dukungan secara rahasia dan mengumumkan dukungan penuh atas apa yang akan terjadi di masa mendatang.

1.3 Daftar Rujukan Ulama dan Kitab-Kitab Karya Khumaini

Rujukan-rujukan yang digunakan dalam pembahasan ini adalah:

Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H).

Al-Khoththul Aridhoh karya Muhibbuddin Al-Khothib (1389 H).

Sarob min Iron karya Ahmad Al-Afghoni.

Wa Jaa’a Daurul Majus karya Abdullah bin Muhammad Al-Ghorib.

Amal wal Mukhoyyamat Al-Filisthiniyyah karya Abdullah bin Muhammad Al-Ghorib.

Al-Washiyyah karya Musa Al-Jarulloh (1369 H).

Khumaini wa Tazyiful Tarikh karya Muhammad Malulloh.

Khumaini wa Tafdhilul Aimmah ‘alal Anbiya karya Muhammad Malulloh. Serta berbagai risalah dan rekaman suara dari banyak Ulama dan pemikir.

Adapun kitab-kitab karya Khumaini (1409 H) yang ditulis dengan tangannya sendiri, didektekan, atau disebarkan kepada manusia meliputi 4 kitab utama:

1.  Al-Hukumah Al-Islamiyyah.

2.  Tahrirul Wasilah yang ditulisnya di masa muda.

3.  Wilayatul Faqih.

4.  Al-Jihadul Akbar.

Informasi-informasi yang akan disampaikan dinukil langsung dari kitab-kitab tersebut, sebagian disebutkan halamannya dan sebagian lainnya dirujuk kembali kepada sumber aslinya.

 

Bab 2: Nasab dan Akar Sejarah Khumaini

2.1 Nasab Khumaini

Khumaini berasal dari asal-usul Majusi Persia, dan dia telah berdusta pada hari ketika dia bersama Musa Ash-Shodr orang Libanon pencetus organisasi Amal mengklaim bahwa mereka berdua termasuk Ahlul Bait. Maka mereka berdua telah berdusta –semoga Alloh melaknat mereka berdua– karena mereka berdua tidak berasal dari Ahlul Bait.

Andaikan klaim mereka diterima, bahwa mereka berdua berasal dari Ahlul Bait Rosul , maka hal itu tidak akan bermanfaat sedikit pun bagi mereka di hadapan Alloh . Sesungguhnya Abu Tholib paman Rosul berada di Naar, dan Abu Lahab akan masuk ke dalam api yang bergejolak padahal dia adalah paman Rosul .

Hanya saja demi kenyataan dan kebenaran serta atas tanggung jawab sejarah, sesungguhnya Khumaini adalah seorang Musawi dan dia termasuk dari bangsa-bangsa Iran. Dia adalah seorang Majusi Persia yang asalnya bukan dari bangsa Arob sama sekali, dan ini bukanlah perkara yang diperselisihkan. Wali Alloh itu meskipun dia seorang budak Habasyi maka dia adalah kekasih dan kerabat kita, sedangkan musuh Alloh meskipun dia seorang pemimpin Quroisy maka dia adalah musuh dan orang yang kita benci. Maka kewalian di sisi kita adalah pada kedekatan seorang hamba kepada Alloh .

2.2 Nisbatnya kepada Qoromithoh

Khumaini di dalam kitab-kitabnya memuji Qoromithoh, baik nama-nama maupun pribadi-pribadi mereka. Dia tidak memuji mereka sebagai sebuah kelompok karena para Ulama mengetahui siapa itu Qoromithoh. Qoromithoh adalah madzhab atheis kuno yang didirikan oleh seorang alim dari ulama mereka yang bernama Hamdan bin Qormath. Dia memasuki Ka’bah di Makkah bersama pasukannya pada saat waktu Haji dan melakukan pembantaian yang sangat besar. Dia menggali sumur untuk umat ini dan menjerumuskan umat Islam ke dalam kesulitan yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Alloh . Dia menyembelih mereka seperti hewan kurban di dalam Harom serta mengambil Hajar Aswad. Pada hari dia memasuki Harom di atas untanya dengan membawa tongkat besi, dia memukul Hajar Aswad dan berkata: “Di mana firman Robb kalian:

﴿وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِناً﴾

‘Dan barangsiapa yang memasukinya maka dia aman’.” (QS. Al-Imron: 97)

Maka sebagian ulama Islam berkata kepadanya: “Ini adalah perintah dari Alloh dan bukan sebuah berita.” Lalu dia menikam alim tersebut dengan belati dan menyembelihnya, kemudian membunuhi para jamaah Haji, mengambil Hajar Aswad, dan membawanya pergi. Dia membawanya di atas 700 unta, setiap kali dia meletakkannya di atas satu unta, unta itu menderita sakit kudis lalu mati, lalu dia meletakkannya di atas unta yang lain. Hajar Aswad tetap bersamanya selama beberapa waktu hingga datang para penguasa Mesir dari kalangan Muslimin yang menyerahkan tebusan, dengan harapan Alloh menerimanya dari mereka, sampai akhirnya Hajar Aswad kembali ke tempatnya.

Di antara mereka ada pula Abu Said Al-Jannabi yang memasuki Harom –sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Katsir (774 H)– dalam keadaan dia berada di atas untanya sambil berkata:

«يخلق الخلق وأفنيهم أنا  أنا بالله وبالله أنا»

“Alloh menciptakan makhluk dan aku yang memusnahkan mereka, aku adalah Alloh dan dengan Alloh aku adalah Alloh.”

Dia mulai membunuhi para jamaah Haji, sementara para pengikut, penolong, dan kawan-kawannya menyembelih manusia. Sampai-sampai orang-orang berjatuhan di atas wajah-wajah mereka di dalam air Zamzam, dan lorong-lorong bawah tanah, tempat thowaf, serta tempat sa’i dipenuhi oleh mayat hamba-hamba Alloh yang sholih.

2.3 Nisbat Khumaini kepada Ubaidiyyun

Adapun Ubaidiyyun, mereka termasuk nenek moyang Khumaini. Mereka itu tidak pernah ditemukan dalam sejarah orang yang lebih terlaknat, lebih hina, lebih buruk, lebih fajir, dan lebih zholim daripada mereka sama sekali, bahkan dibandingkan Fir’aun sekalipun. Fir’aun yang Alloh berfirman mengenainya:

﴿النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوّاً وَعَشِيّاً وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ﴾

“Kepada mereka ditampakkan Naar pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada Malaikat): ‘Masukkanlah keluarga Fir’aun ke dalam adzab yang sangat keras’.” (QS. Ghofir: 46)

Kaum Ubaidiyyun lebih terlaknat daripada Fir’aun. Ibnu Katsir (774 H) di dalam Al-Bidayah wan Nihayah saat berbicara tentang Al-Hakim bi Amrillah Al-Fathimi berkata bahwa Jauhar Ash-Shiqilli memasuki Kairo lalu membangunnya dan mendirikan Al-Azhar. Yang benar adalah dia memulai Al-Azhar dengan keinginan yang bukan diinginkan oleh pemeluk Islam. Kemudian para kholifah mereka berkuasa secara beruntun dan kakek mereka adalah Ibnu Qoddah seorang Yahudi.

Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata bahwa mereka bukan berasal dari Ahlul Bait, dan daulah Fathimiyyah mereka bukan dinisbatkan kepada Fathimah rodhiyallahu ‘anha, melainkan mereka menisbatkan diri kepada Yahudi.

Al-Hakim bi Amrillah ini terbiasa datang pada hari Jum’at lalu turun ke pasar, jika orang-orang melihatnya mereka akan sujud kepadanya selain kepada Alloh . Dia membawa budak-budak yang dia turunkan ke pasar untuk melakukan perbuatan keji terhadap anak-anak perempuan orang lain di hadapan mata dan telinga dunia. Dia mendatangi mushaf lalu merobeknya dan mengencinginya di depan orang banyak, dia juga menginjak-injak Al-Qur’an. Dia pernah memasukkan bagol, keledai, dan kudanya ke dalam Masjid sehingga hewan-hewan itu membuang kotoran dan kencing di dalam Masjid, lalu dia berkata: “Di mana Robb kalian yang melindungi kalian?”

Dia datang pada hari Jum’at lalu berkhutbah di depan manusia dan berkata: “Aku tidak mengetahui ada sesembahan bagi kalian selain aku,” dan dia berkata: “Aku adalah Robb kalian yang paling tinggi.” Datanglah kepadanya Abu Bakr An-Nabulsi (363 H), seorang alim dari Maroko dan ahli hadits yang besar, dia masuk menemuinya lalu Al-Hakim bi Amrillah bertanya kepadanya: “Apakah engkau beriman kepada kami?” Beliau bertanya: “Kepada apa?” Dia menjawab: “Bahwa kalian adalah hamba Alloh dan aku adalah tuhan.” Beliau menjawab: “Tidak, aku kafir kepadamu.” Dia berkata: “Aku tidak akan menyembelihmu dengan sembelihan biasa, melainkan aku akan membunuhmu dengan pembunuhan yang belum pernah dilakukan kepada seorang pun.” Dia menggantung beliau di majelisnya pada kedua kakinya, kemudian memanggil tukang jagal Yahudi salah satu kaki tangannya dan berkata: “Kulitilah kulitnya dari tubuhnya.” Yahudi itu mulai menguliti wajahnya sampai selesai sementara beliau terus bertasbih memuji Alloh . Ketika si Yahudi sampai ke arah jantungnya, Yahudi itu merasa kasihan kepada alim Muslim ini lalu dia menikam jantung beliau dengan belati agar beliau segera wafat. Para ahli sejarah mengatakan bahwa darahnya menetes dari jantungnya dan menuliskan lafazh Alloh pada dinding.

Adz-Dzahabi (748 H) berkata: “Mungkin saja ini adalah karomah, dan mungkin juga kebetulan huruf-huruf itu menempel sehingga tertulis lafazh Alloh pada dinding.”

Terlihat pada hari itu bahwa Abu Bakr An-Nabulsi dinaungi oleh para Malaikat ketika dia disembelih dan dikuliti kulitnya dari dagingnya.

2.4 Nisbatnya kepada Isma’iliyyah dan Nushoiriyyah

Isma’iliyyah termasuk nenek moyang Khumaini dan madzhab mereka diwariskan dalam aqidahnya. Mereka adalah kelompok atheis yang sesat lagi menyesatkan, serta memiliki pemikiran batiniah. Di antara mereka adalah Ibnu Sina yang menempuh jalan mereka dan banyak lagi yang lainnya seperti Ibnu Rowandi yang menulis kitab Ad-Damigh ‘alal Qur’an. Adz-Dzahabi (748 H) berkata bahwa Ibnu Rowandi menulis kitab Ad-Damigh ‘alal Qur’an, dia adalah orang yang buruk lagi kotor.

Ibnu Katsir (774 H) berkata bahwa Ibnu Khallikan menceritakan tentang Ibnu Rowandi lalu mensifatinya dengan sastra, syair, dan balaghoh (keindahan bahasa), namun dia lupa akan permusuhannya terhadap Islam, maka atas Rowandi laknat Alloh, Malaikat, dan manusia seluruhnya. Beliau berkata bahwa Ibnu Khallikan lupa bahwa anjing pun tidak mau memakan adonannya, maksudnya adalah Ibnu Rowandi.

Maka Isma’iliyyah menjadi selimut dan pakaian bagi Khumaini, dia menyebutkan sebagian pendahulu mereka dan mengagungkan mereka sebagaimana akan aku nukilkan dari kitab-kitabnya.

Adapun Nushoiriyyah adalah kelompok atheis yang menisbatkan diri kepada Muhammad bin Nushoir. Mereka berpandangan bahwa tuhan mereka adalah bulan dan bahwa bulan tersebut adalah jelmaan Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu sehingga mereka sujud kepadanya selain kepada Alloh . Jika mereka melihat awan menutupi bulan, mereka berkata: “Tuhan kami telah tertutup dari kami,” dan mereka sujud kepadanya jika ia muncul.

Ibnu Taimiyyah (728 H) berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang kafir, mereka mendukung bangsa Tatar, dan mereka memasukkan pasukan Salib ke negeri-negeri Muslimin. Beliau berpendapat bahwa mereka harus dibunuh, racun harus dituangkan ke dalam sumur-sumur mereka, rumah-rumah mereka dimusnahkan, dan pohon-pohon mereka ditebang, karena mereka di sisi beliau lebih kafir daripada Yahudi dan Nashoro.

 

Bab 3: Jejak Pengkhianatan Leluhur Khumaini dalam Sejarah

3.1 Peran Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) dalam Kejatuhan Baghdad

Khumaini menyebutkan di dalam kitab Wilayatul Faqih bahwa para ulama mereka tidaklah mencampuri urusan para penguasa dan tidak pula terjerumus bersama mereka kecuali hanya masuk secara lahiriah saja dan bukan hakiki. Dia mencontohkan Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) sebagai salah satu dari ulama tersebut.

Ibnu Qoyyim (751 H) memberikan gelar kepada Nashiruddin (penolong agama) sebagai Aduwwuddin (musuh agama) yakni Ath-Thusi, pengobar perang, dan seorang atheis.

Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) ini adalah seorang atheis kepada Alloh dan kuffar yang mengangkat dirinya sebagai seorang Imam. Ketika Hulagu datang untuk memerangi Baghdad, menterinya adalah Nashiruddin Ath-Thusi (672 H). Ath-Thusi (672 H) memberikan fatwa kepada Hulagu yang saat itu meminta fatwa tentang kebolehan memasuki Baghdad padahal Kholifah Muslim ada di dalamnya. Ath-Thusi (672 H) menjawab bahwa hal itu diperbolehkan demi maslahat untuk menyembelih kaum Muslimin, merampas wanita-wanita mereka, membunuh anak-anak mereka, dan menghancurkan rumah-rumah mereka. Inilah Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) yang dimaksud oleh Khumaini.

3.2 Makar Ibnu Al-Alqomi (656 H) dan Kerjasama dengan Bangsa Tatar

Di antara nenek moyang Khumaini adalah Ibnu Al-Alqomi (656 H) yang membawa pemikiran, prinsip, dan pondasi yang sama. Ibnu Al-Alqomi (656 H) menjabat sebagai menteri bagi Kholifah Abbasiyyah Al-Musta’shim di Baghdad. Kholifah ini merupakan seorang Muslim yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh namun memiliki kemauan yang lemah. Ibnu Al-Alqomi (656 H) menyimpan kebencian yang mendalam terhadap Ulama Islam dan hamba-hamba Alloh yang sholih.

Adz-Dzahabi (748 H) di dalam Siyar A’lamun Nubala dan Ibnu Katsir (774 H) menyebutkan bahwa dia telah menggali sumur untuk umat ini namun dia sendiri yang segera jatuh ke dalamnya. Ibnu Al-Alqomi (656 H) berkhianat secara rahasia dengan menyurati Hulagu dan Jenghis Khon agar segera datang ke Baghdad. Dia menasehati Kholifah sebagai seorang pemberi nasehat untuk menonaktifkan tentara dan memutus jatah logistik mereka. Dia beralasan bahwa Kholifah tidak membutuhkan tentara yang banyak sehingga Kholifah mempercayainya dan mengumumkan pemberhentian 15.000 tentara serta mengosongkan barak-barak militer. Ketika pasukan besar Tatar datang, umat Islam berada dalam musibah yang belum pernah disaksikan tandingannya dalam sejarah. Pasukan Tatar datang ke tanah air umat Islam. Kebencian dan kekufuran datang menyapu Islam dan kalimat Laa ilaha illallah. Ibnu Al-Alqomi (656 H) keluar di malam hari untuk bersalaman dan merangkul Jenghis Khon serta menjanjikan kemenangan kepadanya. Pada malam itu kaum Muslimin memakai kain kafan dan bersiap menghadapi janji Alloh :

﴿الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ  أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ﴾

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Sesungguhnya kami adalah milik Alloh dan kepada-Nya lah kami kembali’. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqoroh: 156-157)

Ibnu Al-Alqomi (656 H) memerintahkan pasukannya untuk melepaskan aliran sungai di malam hari sehingga menenggelamkan banyak kaum Muslimin, menghancurkan rumah, dan merusak perpustakaan. Di hari pertama, pasukan Tatar membunuh 800.000 kaum Muslimin yang bersaksi Laa ilaha illallah. Setiap kali tentara Tatar ingin mengasihani mereka, Ibnu Al-Alqomi (656 H) menghalangi sampai akhirnya mereka semua terbunuh.

3.3 Bantuan Leluhur Khumaini kepada Pasukan Salib

Kaum Salibis ketika turun di wilayah Qubrus, Akka, dan Thirobulus, nenek moyang Khumaini memberikan bantuan berupa perbekalan, tim medis, dan mendekatkan kapal-kapal untuk mereka. Ibnu Taimiyyah (728 H) di dalam Minhajus Sunnah (1/5) memberikan penjelasan:

«هذا وهم يرون أنَّا أكفر من اليهود والنصارى، وأنهم دائماً حرب ضد الإسلام والمسلمين»

“Ini dalam keadaan mereka memandang bahwa kita lebih kafir daripada Yahudi dan Nashoro, dan sesungguhnya mereka selamanya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin.” (Minhajus Sunnah, Ibnu Taimiyyah, 1/5)

Betapa banyak pedang yang mereka hunus untuk melawan Islam, setiap kali datang seorang penjahat dan penguasa zholim, maka mereka akan bersamanya untuk melawan agama Alloh .

 

Bab 4: Aqidah Khumaini Terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah

4.1 Keyakinan Khumaini Tentang Adanya Pengurangan dalam Al-Qur’an

Khumaini (1409 H) yang jahat berpandangan bahwa Al-Qur’an itu kurang, dan ini bukanlah sebuah kedustaan atas namanya. Dia berpandangan bahwa Al-Qur’an yang berada di tangan kita saat ini adalah kurang dan tidak dapat dipercaya. Ibnu Al-Askari memiliki sebuah kitab yang berjudul: Rof’ul Irtiyab ‘an Itsbati Tahrifi Kitabi Robbil Arbab (Menghilangkan keraguan tentang penetapan perubahan Kitab Robb para penguasa para hamba). Di sisi mereka terdapat Suroh Al-Wilayah yang telah dibaca dan dilihat oleh Dr. Aidh Al-Qorni fotokopinya, yang di dalamnya terdapat tambahan-tambahan batil yang telah diubah. Mereka berpandangan bahwa Alloh menurunkannya kepada Rosul-Nya , lalu mereka (para Shohabat) mengubahnya.

Khumaini (1409 H) sendiri tidak menghafal Al-Qur’an, melainkan hanya menghafal sebagian ayat darinya saja. Apabila dia berbicara, maka dia melakukan kesalahan tata bahasa dalam Al-Qur’an, seperti merofakkan (memberi harokat dhommah) pada kata yang seharusnya manshub (berharokat fathah), menashobkan (berharokat fathah) pada kata yang seharusnya marfu’ (berharokat dhommah), serta merofakkan hal (keterangan keadaan) dan juga isim majrur (kata yang diawali huruf jer). Dia tidak bagus dalam mengucapkan lafazh Al-Qur’an dengan sempurna. Dia membawakan sebuah ayat sebagai dalil, lalu dia menyempurnakannya dengan potongan dari ayat yang lain, sehingga dia melakukan kesalahan tata bahasa seolah-olah dia belum pernah membacanya. Dia tidak memandang pentingnya membaca Al-Qur’an, karena Al-Qur’an bukanlah sesuatu yang bisa dipercaya di sisinya.

4.2 Pelecehan Khumaini Terhadap Kitab Shohih Al-Bukhori

Khumaini (1409 H) berpandangan bahwa Shohih Al-Bukhori (256 H) tidak dapat dipercaya. Simaklah ucapan Khumaini (1409 H) di dalam kitab Wilayatul Faqih -yang dinukil dari buku Wa Jaa’a Daurul Majus- di mana dia berkata:

«والبخاري لا يوثق بنقله، ففيه كذب عظيم، وفيه غرائب وعجائب، لا يصدقها إلا مأفون البربر وعجائز السودان»

“Al-Bukhori tidak dipercaya nukilannya, maka padanya terdapat kedustaan yang besar, serta keanehan dan keajaiban yang tidak dipercayai kecuali oleh orang Bar-bar yang gila (orang yang kurang akalnya) dan wanita-wanita tua Sudan.” (Wilayatul Faqih, Khumaini)

Maka kami katakan kepadamu:

﴿قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ * لا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ﴾

“Katakanlah: ‘Apakah terhadap Alloh, ayat-ayat-Nya, dan Rosul-Nya kalian berolok-olok?’ Janganlah kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir setelah iman kalian’.” (QS. At-Taubah: 65-66)

Apakah engkau menyerang Shohih Al-Bukhori (256 H) yang telah Alloh jadikan sebagai salah satu kitab yang paling agung dalam Islam? Al-Bukhori (256 H) yang para perowinya bagaikan bintang-bintang di langit pada malam-malam yang gelap. Di mana setiap laki-laki dari para perowinya adalah satu umat dari berbagai umat. Alloh berfirman:

﴿وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآياتِنَا يُوقِنُونَ﴾

“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)

Shohih Al-Bukhori (256 H) telah diperlihatkan kepada para pakar dan penghafal hadits, lalu mereka meneliti, hidup dan terjaga di malam-malam musim dingin untuk mengeluarkan 1 hadits saja, sampai pandangan mereka kembali dalam keadaan hina dan lelah. Alloh berfirman:

﴿يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئاً وَهُوَ حَسِيرٌ﴾

“Niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan hina dan ia merasa lelah.” (QS. Al-Mulk: 4)

Engkau menolak mahkota agung yang telah dipersembahkan untuk umat ini. Wahai kaki tangan yang sesat, kaki tangan Syamir! Engkau menyerang Shohih Al-Bukhori (256 H) yang telah Alloh jadikan bagi kitab tersebut penerimaan di tengah umat. Maka mimbar-mimbar pun bergetar dengan Shohih Al-Bukhori (256 H), begitu pula stasiun radio Islam, surat kabar, seminar, dan halaqoh-halaqoh ilmu.

Semoga Alloh menerima amal Al-Bukhori (256 H) dan merohmatinya.

Serangan yang menghancurkan terhadap Shohih Al-Bukhori (256 H) ini mengakibatkan kitab tersebut di sisi mereka dianggap seperti buku klenik (perbuatan yang berhubungan dengan kekuatan goib), sihir, dan perdukunan. Bahkan terkadang kitab tersebut disobek dan diinjak-injak dengan kaki, seraya mereka berkata bahwa tidak ada pelajaran padanya dan tidak bisa dipercaya. Maka mahasuci Alloh . Seandainya waktu tidak sempit dan tempat ini masih luas, niscaya akan aku nukilkan untuk kalian nukilan-nukilan dari Al-Kafi (kitab Hadits utama kaum Syiah) melalui berbagai perantara dan sanad yang gelap, yang mana jika dibacakan maka orang yang bodoh pun akan tertawa, maka bagaimana dengan orang yang berakal sehat!

4.3 Sumber Pengambilan Ilmu dan Rujukan Utama Khumaini

Apa saja buku-buku pidato yang menjadi sumber nukilannya? Apa saja kitab-kitab yang ada dalam perbendaharaan, khutbah, risalah, pengingkapan, dan penelitiannya? Kitab-kitab Khumaini (1409 H) yang pertama adalah Al-Kafi karya Al-Kulaini (329 H). Al-Kulaini (329 H) ini adalah guru lama dan syeikh bagi Khumaini (1409 H), yang wafat dan dimakamkan di Qom. Oleh karena itu Khumaini (1409 H) tinggal di Qom dan mensucikannya serta bertasbih memuji kemuliaan Qom karena Al-Kulaini (329 H) dimakamkan di sana. Maka dia menganggapnya sebagai kota suci. Al-Kulaini (329 H) ini membawakan perkataan yang membuat rambut di kepala memutih (karena sangat mengerikan). Dia berkata di dalam Al-Kafi tentang penghapusan ayat Al-Qur’an, tentang Al-Bada’ (munculnya pengetahuan baru bagi Alloh ), Roja’ah (kembalinya orang mati ke dunia sebelum Kiamat), mencela para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, serta melaknat dua Syeikh (Abu Bakr dan Umar) dan mengkafirkan Salaf yang sholih. Maka kitabnya merupakan satu-satunya rujukan Al-Kafi, dan di atasnya terdapat Asy-Syafi sebagai syarah (penjelasan) bagi Al-Kafi. Di sana juga terdapat dasar-dasar pemikiran dari Ath-Thobrisi (548 H), Al-Askari, dan Ibnu Al-Muthohhar (726 H) yang semoga Alloh tidak mensucikannya, serta banyak lagi yang lainnya. Maka inilah sumber-sumber rujukannya.

 

Bab 5: Aqidah Khumaini Terhadap Para Nabi dan Kedudukan Para Imam

5.1 Kedudukan Para Imam di Atas Malaikat dan Para Nabi

Khumaini (1409 H) memiliki keyakinan yang menyimpang terkait kedudukan para Nabi alaihimus sholatu was salam. Di dalam kitab Al-Hukumah Al-Islamiyyah pada halaman 52, Khumaini (1409 H) menegaskan bahwa para imam mereka memiliki derajat yang tidak mungkin dicapai oleh makhluk mana pun.

Khumaini (1409 H) berkata:

«هذا ولأئمتنا منزلة لا يبلغها ملك مقرب ولا نبي مرسل»

“Ini, dan sesungguhnya bagi imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang dekat (dengan Alloh) maupun Nabi yang diutus..”

Khumaini (1409 H) memandang bahwa para imamnya lebih baik daripada para Nabi dan Rosul yang telah Alloh jaga, sucikan, dan pilih sebagai manusia paling utama di muka bumi. Bahkan dalam berbagai surat dan pidatonya, Khumaini (1409 H) menyatakan bahwa Ali bin Abi Tholib (40 H) memiliki pemahaman yang lebih mendalam dibandingkan para Rosul, serta ilmu, keutamaan, dan kemuliaan Ali bin Abi Tholib (40 H) lebih besar daripada kemuliaan para Rosul alaihimus sholatu was salam. Sikap Khumaini (1409 H) ini secara nyata telah mengistimewakan para imam dan mengangkat kedudukan mereka melampaui kedudukan para Nabi yang diutus oleh Alloh .

5.2 Kedudukan Tanah Karbala, Najaf, Masyhad, dan Qom di Atas Makkah dan Madinah

Khumaini (1409 H) meyakini bahwa Husain bin Ali (61 H) dimakamkan di Karbala, meskipun para ahli ilmu dan ahli sejarah menyatakan bahwa hal itu tidak benar. Di dalam kitabnya Wilayatul Faqih, Khumaini (1409 H) memerintahkan pengikutnya yang mendekati kuburan Husain (61 H) untuk menghadap ke arah kuburan tersebut dan tidak perlu mempedulikan arah Kiblat (Ka’bah), kemudian mengerjakan Sholat 2 rokaat menghadap ke kuburan Husain (61 H).

Khumaini (1409 H) berkata:

«فإذا اقترب العبد يعني: من القبر، فعليه أن يستقبل القبر ولا عليه من القبلة ويصلي إليه ركعتين، يعني: قبر الحسين»

“Maka apabila seorang hamba mendekat –yakni ke kuburan–, maka hendaknya dia menghadap ke kuburan dan tidak perlu peduli dengan Kiblat, serta mengerjakan Sholat 2 rokaat ke arahnya, yakni kuburan Husain..”

Khumaini (1409 H) berpandangan bahwa tanah Masyhad, Qom, Najaf, dan Karbala semuanya lebih utama daripada kota Makkah dan kota Madinah Al-Munawwaroh. Khumaini (1409 H) juga berpendapat bahwa tidak ada larangan bagi seseorang untuk mengerjakan Sholat menghadap kuburan Husain (61 H), berdiri di sana, serta berdoa dengan segala kemampuan karena dia meyakini bahwa Husain (61 H) mendengar dan mengabulkan doa tersebut. Keyakinan ini mengikuti jejak para penguasa Shofawi yang atheis, seperti Abbas Syah (1038 H) yang pernah memerangi Khilafah Utsmaniyyah. Abbas Syah (1038 H) dahulu melakukan Thowaf di Masyhad dan menganggap kunjungannya ke sana sebagai ibadah Haji. Salah seorang penyair mereka menggambarkan pengagungan terhadap Karbala melebihi Makkah dalam bait syairnya:

«طف بالطفوف وحي اليوم مغناها  فعند مكة معنى غير معناها»

“Thowaf-lah di Karbala dan berilah salam pada tempat tinggalnya hari ini, karena di Makkah ada makna (keutamaan) yang berbeda dengan maknanya (Karbala).”

 

Bab 6: Sikap Khumaini Terhadap Para Shohabat dan Kholifah Rosululloh

6.1 Pengkafiran Khumaini Terhadap Mayoritas Shohabat

Khumaini berpandangan bahwa para Shohabat adalah orang-orang yang kafir kepada Alloh yang Maha Agung kecuali 6 orang saja. Adapun keenam orang yang dia kecualikan tersebut adalah Abu Dzar (32 H), Salman (33 H), Ali (40 H), Ammar bin Yasir (37 H), Al-Miqdad (33 H), dan Shuhaib (38 H), meskipun terdapat perbedaan pendapat di antara mereka mengenai nama-nama ini. Khumaini berupaya memelintir makna ayat Al-Qur’an untuk mendukung pengkafiran tersebut. Alloh berfirman:

﴿لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ﴾

“Sungguh Alloh telah ridho terhadap orang-orang Mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (wahai Rosul) di bawah pohon (pohon Samurah di Hudaibiyah)” (QS. Al-Fath: 18).

Khumaini mengklaim bahwa penyebutan kata Al-Mu’minin (orang-orang Mukmin) dalam ayat tersebut bertujuan untuk mengeluarkan para Shohabat yang dia anggap kafir seperti Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan Utsman (35 H). Dia beranggapan bahwa jika Alloh meridhoi seluruh orang yang berbai’at di bawah pohon, niscaya Dia tidak akan memberikan batasan dengan kata Al-Mu’minin.

Selain itu, dia juga menghina Abu Bakr (13 H) saat berada di dalam gua bersama Rosululloh . Ketika Alloh berfirman:

﴿إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا﴾

“Ketika dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Alloh bersama kita.’” (QS. At-Taubah: 40)

Khumaini menafsirkan ayat ini dengan penuh kebencian, dia mengklaim bahwa Abu Bakr (13 H) merasa sedih karena dia tidak beriman kepada Alloh yang Maha Agung, sehingga Rosululloh perlu menghiburnya.

6.2 Kebencian dan Laknat Terhadap Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H)

Istilah Al-Jibt dan Ath-Thoghut di dalam kamus keyakinan Khumaini ditujukan secara khusus kepada Abu Bakr (13 H) dan Umar (23 H). Apabila Khumaini membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan kata Al-Jibt dan Ath-Thoghut, dia akan berhenti dan berkata bahwa Al-Jibt adalah Abu Bakr (13 H) dan Ath-Thoghut adalah Umar (23 H). Kebencian ini tidak hanya berupa lisan, namun juga tertuang dalam dokumen resmi yang ditandatangani oleh Khumaini di Najaf. Dokumen tersebut berisi doa laknat yang dibaca setelah Sholat oleh Khumaini dan para tokoh Syiah lainnya seperti Al-Musawi dan Zadeh. Di dalam tulisan tangan dan stempel resminya, Khumaini menyatakan:

«لعن الله أبا بكر وعمر»

“Semoga Alloh melaknat Abu Bakr dan Umar.”

Khumaini melanjutkan doanya dengan meminta agar Alloh memutus keturunan mereka berdua serta menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih. Hal ini menunjukkan bahwa kebencian terhadap dua Shohabat utama ini merupakan pondasi dasar dalam ajaran Khumaini yang terus dipraktekkan hingga hari ini.

6.3 Tuduhan Keji Terhadap Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) dan Mu’awiyah (60 H)

Khumaini dan para pengikutnya tidak segan-segan menuduh Ummul Mu’minin Aisyah (58 H) dengan tuduhan fakhisyah (zina), padahal Alloh telah mensucikan beliau melalui wahyu dari langit yang 7. Mereka secara terang-terangan melaknat beliau dengan sebutan yang sangat kasar:

«يا ملعونة»

“Wahai wanita yang terlaknat.”

Mereka juga merendahkan kecerdasan Aisyah (58 H) dengan dalih bahwa beliau lupa terhadap satu ayat Al-Qur’an. Padahal kenyataannya, beliau hanya sempat lupa menyebutkan nama Nabi Ya’qub (alaihis salam) karena rasa sedih dan gundah yang luar biasa saat peristiwa berita bohong (Ifk) yang menimpa beliau.

Adapun terhadap Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu (60 H), Khumaini menulis di dalam kitabnya Al-Hukumah Al-Islamiyyah bahwa Mu’awiyah (60 H) telah mendapatkan laknat Alloh di dunia dan kemurkaan-Nya di Akhiroh. Khumaini menganggap Mu’awiyah (60 H) sebagai musuh meskipun sejarah mencatat bahwa beliau adalah paman para Mukminin (kholul Mu’minin) dan salah satu penulis wahyu yang dipercaya oleh Rosululloh .

6.4 Pandangan Khumaini Terhadap Kholifah yang Merampas Kekuasaan

Khumaini meyakini bahwa Abu Bakr (13 H), Umar (23 H), dan Utsman (35 H) adalah para perampas kekuasaan yang tidak memiliki hak sedikit pun atas khilafah. Dia menuduh mereka telah mengkhianati risalah Alloh dan Rosul-Nya dengan mengambil kepemimpinan dari Ali bin Abi Tholib (40 H). Namun, pandangan Khumaini ini sangat bertolak belakang dengan sikap Ali bin Abi Tholib (40 H) yang asli. Di dalam Musnad Ahmad disebutkan dengan sanad yang shohih bahwa Ali bin Abi Tholib (40 H) berkata:

«والله الذي لا إله إلا هو لا يأتيني أحد يعظمني على أبي بكر وعمر إلا جلدته ثمانين جلدة حد المفتري»

“Demi Alloh yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Dia, tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang melebihkanku di atas Abu Bakr dan Umar kecuali akan aku cambuk 80 kali sebagai hukuman bagi pendusta.”

Bahkan saat Umar (23 H) tertikam, Ali bin Abi Tholib (40 H) menemui beliau dan memujinya dengan pujian yang harum:

«واحبيباه! السلام عليك ورحمة الله وبركاته يا أمير المؤمنين! والله لطالما سمعت رسول الله ﷺ يقول: جئت أنا وأبو بكر وعمر ودخلت أنا وأبو بكر وعمر، وخرجت أنا وأبو بكر وعمر، فأسأل الله أن يحشرك مع صاحبيك»

“Wahai kekasihku! Semoga keselamatan, rohmat Alloh, dan keberkahan-Nya tercurah kepadamu wahai Amirul Mukminin! Demi Alloh, aku sering mendengar Rosululloh bersabda: ‘Aku datang bersama Abu Bakr dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakr dan Umar’, maka aku memohon kepada Alloh agar mengumpulkanmu bersama kedua Shohabatmu.”

Ali bin Abi Tholib (40 H) juga memberikan persaksian atas kejujuran Abu Bakr (13 H) dalam meriwayatkan hadits tanpa perlu memintanya untuk bersumpah. Hal ini menunjukkan bahwa Khumaini telah memalsukan sejarah hubungan antara Ali (40 H) dengan para Kholifah sebelumnya demi kepentingan aqidahnya yang sesat.

 

Bab 7: Kebencian Khumaini Terhadap Bangsa Arob dan Ulama Islam

7.1 Fanatisme Majusi dan Ambisi Menghidupkan Kembali Kekaisaran Persia

Khumaini (1409 H) meskipun menampakkan diri seolah-olah membela Islam, namun pada hakikatnya dia adalah seorang yang sangat fanatik terhadap kemajusian. Dia menyerukan untuk mengembalikan kejayaan bangsa Pars (Persia) serta senantiasa berupaya merendahkan kehormatan bangsa Arob. Pada saat dia mengumumkan revolusinya, dia pernah berkata kepada beberapa perwakilan negara bahwa Teluk tersebut tidaklah dia serukan melainkan agar menjadi Teluk Islam. Dia mengklaim tidak ingin Teluk itu disebut sebagai Teluk Arob maupun Teluk Pars. Akan tetapi, pernyataan tersebut hanyalah tipu daya belaka, karena tidak berselang lama setelah itu, Ayatulloh Muntazhori (1431 H) yang merupakan calon pengganti dan putra mahkotanya justru menegaskan bahwa Teluk tersebut adalah Teluk Pars dan akan tetap selamanya menjadi milik bangsa Pars. Begitu pula Ayatulloh Surkhowi menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah melepaskan sifat keparsian dari Teluk tersebut.

Sifat diskriminasi rasial Khumaini (1409 H) juga tertuang secara tertulis dalam mitsaq (piagam) kepemimpinannya. Dia menetapkan aturan bahwa jabatan pemerintahan di Teheran tidak boleh dipegang kecuali oleh orang yang memiliki asal-usul dan kakek dari bangsa Iran saja, sedangkan selain bangsa mereka maka tidak dimungkinkan untuk menjabat. Hal ini menunjukkan bahwa Khumaini (1409 H) adalah guru besar dalam paham Tamyiz Unshuri (diskriminasi rasial) di dunia. Padahal di dalam Islam, kemuliaan hanya diukur dari ketaqwaan, sebagaimana firman Alloh :

﴿إِنَّ أَكْرَمكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurot: 13)

Khumaini (1409 H) berada sangat jauh dari prinsip yang dipegang oleh Salman Al-Farisi (33 H) yang pernah berkata dalam syairnya saat orang-orang membanggakan suku mereka:

«أبي الإسلام لا أب لي سواه * إذا افتخروا بقيس أو تميم»

“Ayahku adalah Islam, tidak ada ayah bagiku selainnya, di saat mereka berbangga-bangga dengan suku Qois atau Tamim..”

Begitu pula penyair Muhammad Iqbal (1357 H / 1938 M) pernah berkata tentang persatuan di atas pondasi agama:

«إن كان لي نغم الهنود وذلهم * لكن ذاك الصوت من عدنان»

“Jika aku memiliki senandung orang-orang Hindia dan kerendahan mereka, akan tetapi suara itu berasal dari Adnan (bangsa Arob)..”

Surban hitam yang dikenakan oleh Khumaini (1409 H) pada kenyataannya membawa beban kedengkian dan kebencian terhadap hamba-hamba Alloh yang sholih.

7.2 Pelecehan Terhadap Amanah Ulama-Ulama Ahlus Sunnah

Khumaini (1409 H) di dalam kitab-kitabnya seperti Tahrirul Wasilah dan Wilayatul Faqih menuduh bahwa para Ulama Islam telah mengkhianati risalah dan mengkhianati Islam. Dia mencela para Ulama karena mereka mendekatkan diri kepada para penguasa (Sulthon), yang mana perbuatan tersebut dia anggap sebagai sebuah dosa dan kefajiran. Namun, Khumaini (1409 H) menerapkan standar ganda dalam masalah ini. Dia menghalalkan perbuatan Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) yang mendekati Hulagu Khon demi maslahat untuk menyembelih kaum Muslimin di Baghdad.

Kami katakan kepada Khumaini (1409 H): “Apakah halal bagi Nashiruddin Ath-Thusi (672 H) untuk mendekati penguasa kafir demi membantai umat, namun menjadi harom bagi Malik bin Anas (179 H) untuk mendekati Harun Ar-Rosyid (193 H), harom bagi Ahmad bin Hanbal (241 H) mendekati Al-Mu’tashim (227 H) untuk memberikan nasehat, harom bagi Al-Fudhoil bin Iyadh (187 H) mendekati Harun, serta harom bagi Ishaq bin Rohuyah (238 H) dan para Ulama Islam lainnya untuk menasehati para penguasa?” Sungguh Khumaini (1409 H) telah melakukan perbuatan yang disebutkan dalam firman Alloh :

﴿أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ﴾

“Apakah kalian beriman kepada sebagian Al-Kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain?” (QS. Al-Baqoroh: 85)

Bagi Khumaini (1409 H), para Ulama Islam adalah orang-orang yang cacat keadilannya (majruhu al-adalah) dan kitab-kitab mereka tidak dapat dipercaya sama sekali. Dia secara terang-terangan menyebut mereka sebagai ulama dholal (ulama kesesatan) dalam berbagai pidatonya di Teheran maupun di Qom.

 

Bab 8: Kedok Hubungan Internasional dan Konspirasi Politik

8.1 Hubungan Rahasia Khumaini dengan Israel dan Amerika

Israel melalui Partai Likud telah memberikan restu dan menyambut baik revolusi Khumaini (1409 H). Mereka mengirimkan berbagai kawat ucapan selamat kepadanya. Sebelum Khumaini (1409 H) berangkat menuju Teheran, penasihat serta duta besar Israel di Perancis telah mengadakan pertemuan dan perundingan dengannya. Para utusan tersebut duduk bersama Khumaini (1409 H) untuk menjalin kesepakatan. Sungguh Khumaini (1409 H) telah berdusta kepada Alloh , kepada Rosul-Nya , serta kepada Islam dan kaum Muslimin. Dia mengklaim secara terang-terangan bahwa dia akan membebaskan Palestina, menaklukkan Al-Quds, dan menghancurkan zionisme internasional. Namun kenyataannya, dia menjalin hubungan rahasia dan bekerja sama dengan mereka di balik layar.

Kekuatan militer dan rudal yang dia klaim disiapkan untuk menghancurkan Israel justru diarahkan untuk menyerang wilayah Iraq. Serangan tersebut menghancurkan rumah-rumah penduduk yang aman, Masjid-Masjid yang penuh dengan jamaah, serta membunuh anak-anak dan para wanita. Di Teheran, para pakar dan penasihat dari Israel berdatangan untuk memberikan layanan militer serta mengadakan konsultasi dengan pihak Khumaini (1409 H).

Di sisi lain, Partai Republik di Amerika Serikat di bawah pemerintahan Carter memberikan dukungan rahasia terhadap revolusi Khumaini (1409 H). Berdasarkan penyelidikan yang dimuat dalam surat kabar Guardian Inggris, terungkap bahwa Carter dan Partai Republik menyetujui gerakan tersebut. Beberapa perwakilan Partai Republik bahkan mendatangi Teheran dan meminta pimpinan militer Iran untuk mengambil sikap netral dan tidak membela keluarga Pahlavi agar Khumaini (1409 H) mendapatkan kesempatan untuk berkuasa. Pihak Amerika memberikan restu penuh, melakukan perundingan, dan bekerja sama dengan mereka.

Muntazhori (1431 H) yang merupakan orang kepercayaan dan calon penerus Khumaini (1409 H) menyatakan bahwa tidak ada larangan untuk menjalin hubungan persahabatan yang baik dengan Amerika Serikat. Namun, hal ini sangat kontradiktif dengan apa yang dia sampaikan saat berkhutbah pada hari Jum’at. Muntazhari (1431 H) berkata:

«سوف ننهي دابر أمريكا من على الأرض، سوف نحاربها حرباً شعواء، سوف نقاتلها قتالاً عظيماً ما شهد التاريخ له مثيلاً»

“Kami akan memusnahkan Amerika sampai ke akar-akarnya dari muka bumi, kami akan memerangi mereka dengan peperangan yang dahsyat, dan kami akan memerangi mereka dengan pertempuran agung yang belum pernah disaksikan tandingannya dalam sejarah..”

Sikap semacam ini adalah bentuk Taqiyyah (berpura-pura), kedustaan, dan penyesatan informasi kepada khalayak ramai. Berita mengenai kerjasama ini telah tersebar luas dalam berbagai terbitan surat kabar dan majalah di dunia barat.

8.2 Kerjasama Khumaini dengan Komunis Rusia

Surat kabar Pravda yang merupakan corong resmi Partai Komunis di Moskow turut memberikan pujian kepada Khumaini (1409 H). Pada awalnya, mereka menyebut Khumaini (1409 H) sebagai tokoh agama yang kolot (ketinggalan zaman) dan fanatik yang akan membawa Iran menuju kehancuran. Namun, setelah adanya korespondensi rahasia di kegelapan malam dan upaya perbaikan hubungan dengan pihak Komunis, sikap mereka berubah seketika. Pravda kemudian menerbitkan berita utama dengan menyertakan foto Khumaini (1409 H) dan menyatakan:

«لقد انتصر الخميني وثورته ليقود إيران إلى بر السلام والازدهار والأمن»

“Sungguh Khumaini dan revolusinya telah menang untuk memimpin Iran menuju pantai kedamaian, kemakmuran, dan keamanan..”

Khumaini (1409 H) menjalin kerjasama dengan kaum Komunis untuk menindas pejuang Afghanistan. Dia juga bekerja sama dengan Israel dan Amerika untuk melawan kepentingan bangsa Palestina dan kaum Muslimin pada umumnya. Ini terjadi di masa Ruhulloh Khumaini. Adapun dalam masa Ali Khumaini dan diteruskan putranya Mujaba Khumaini sekarang (2026), terlibat perang melarang Israel-Amerika. Seakan kakak beradik sedang bertengkar yang kelak akan berdamai lagi dan menjadi penolong untuk melawan musuh bersama. Alloh yang lebih tahu.

Khutbah-khutbah Jum’at yang dia sampaikan hanyalah retorika yang menyelisihi tindakan nyata yang dia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Khumaini (1409 H) menampakkan kesetiaan kepada rakyatnya namun sebenarnya dia menyimpan permusuhan yang nyata terhadap umat Islam.

 

Bab 9: Pengkhianatan Terhadap Perjuangan Muslimin Kontemporer

9.1 Kebohongan Slogan Pembebasan Palestina

Khumaini (1409 H) pernah mengumumkan secara besar-besaran bahwa dia akan menolong orang-orang Palestina dengan pertolongan yang kuat. Dia mengklaim akan memasuki Al-Quds sebagai pemenang serta menghancurkan Israel hingga hilang dari muka bumi. Bahkan tokohnya, Muntazhori (1431 H), menyatakan telah melatih 10.000 personil untuk memasuki Palestina. Hal ini membuat sebagian orang Palestina merasa senang dan memujinya sebagai harapan mereka.

Namun, tidak lama setelah itu, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Pesawat-pesawat Khumaini (1409 H) salah arah dan rudal-rudal yang seharusnya digunakan untuk menghancurkan Israel justru digunakan untuk menghancurkan Iraq dan negeri-negeri Islam lainnya. Khumaini (1409 H) tidak mengambil sikap netral, melainkan justru membantu Israel. Surat kabar Israel sendiri memuat foto-foto Khumaini (1409 H) pada halaman utama setelah revolusi terjadi. Slogan pembebasan Palestina hanyalah sebuah kepalsuan untuk menutupi kerjasama rahasia dengan pihak musuh.

9.2 Upaya Menghancurkan Jihad Afghanistan

Khumaini (1409 H) juga menunjukkan sikap pengkhianatan terhadap Jihad di Afghanistan. Pada awal pertempuran, dia menyatakan akan menghancurkan Rusia dan mengusir mereka dari Afghanistan agar Iran dan Afghanistan menjadi satu negara. Namun seiring berjalannya waktu, Khumaini (1409 H) justru menempatkan tentaranya di pinggir jalan untuk menghadang para Mujahidin dan merampas kafilah mereka.

Khumaini (1409 H) mengirimkan rudal-rudal ke kamp-kamp Mujahidin dan menjalin kerjasama dengan Rusia. Dia menyalurkan pipa-pipa gas melalui perusahaan Iran-Rusia untuk membantu kebutuhan Rusia yang merupakan musuh Alloh . Terdapat sekitar 5.000 ahli Rusia yang bekerja di bawah Khumaini (1409 H) untuk mengoperasikan kekuatan militer dan peralatan perangnya. Pemimpin Mujahidin Afghanistan menyatakan bahwa Khumaini (1409 H) telah memberikan dampak buruk yang nyata bagi perjuangan mereka. Padahal para pejuang Afghanistan telah berjanji kepada Alloh sebagaimana ucapan mereka:

«نحن الذين بايعوا محمدا  على الجهاد ما بقينا أبدا»

“Kami adalah orang-orang yang telah berbai’at kepada Muhammad untuk terus berjihad selama kami masih ada.”

Sikap Khumaini (1409 H) ini hanyalah sebuah gertakan kosong.

9.3 Peran Organisasi Amal dalam Membantai Muslimin

Organisasi Amal merupakan salah satu hasil bentukan Khumaini (1409 H). Musa Ash-Shodr (1398 H), pemimpin organisasi ini, merupakan kerabat dari Khumaini (1409 H) melalui hubungan pernikahan. Ketika ditanya alasan pembentukan organisasi ini, mereka mengklaim tujuannya adalah untuk mengakhiri keberadaan Israel dan membuka jalan ke Al-Quds.

Akan tetapi, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa organisasi ini justru berpusat di wilayah selatan dan bertugas menjadi pelindung bagi Israel dari serangan-serangan orang Palestina maupun kaum Muslimin lainnya. Organisasi Amal melakukan pengepungan terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina, lalu menghujani mereka dengan rudal, bom, dan tembakan senapan mesin terhadap anak-anak, wanita, dan penduduk yang tidak bersalah. Pembantaian keji yang mereka lakukan di kamp-kamp Palestina bertujuan untuk memastikan kemenangan dan keamanan bagi pihak Israel. Pengkhianatan ini membuktikan bahwa Khumaini (1409 H) dan organisasinya adalah musuh bagi kaum Muslimin dan pelindung bagi kepentingan musuh Islam.

 

Bab 10: Prinsip-Prinsip Kesesatan Lainnya

10.1 Hakikat Taqiyyah (Berdusta) dalam Aqidah Khumaini

Taqiyyah adalah engkau menjadikan sebuah perlindungan (penghalang) antara dirimu dengan sesuatu.

Mereka memandang hal ini sebagai sebuah madzhab dan Aqidah. Khumaini (1409 H) menyebutkan di dalam kitab-kitabnya bahwa Ja’far Ash-Shodiq (148 H) berkata:

«التقية ديني ودين آبائي، فمن لا يستخدمها فليس مني»

“Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku, maka barangsiapa yang tidak menggunakannya maka dia bukan bagian dariku.”

Khumaini (1409 H) terbiasa berdusta, dan secara lahiriah dia menampakkan bahwa hal ini adalah agama. Engkau bisa saja duduk bersama Khumaini (1409 H) dan para pembelanya, lalu mereka menetapkan bagimu bahwa engkau adalah orang yang benar dan ucapanmu tepat, namun mereka menyembunyikan hal yang berbeda dengan apa yang mereka tampakkan. Ibnu Taimiyyah (728 H) menyebutkan di dalam Minhajus Sunnah bahwa mereka adalah manusia yang paling bodoh terhadap perkara yang dinukilkan dan paling sesat dalam perkara akal.

Penggunaan Taqiyyah oleh mereka ibarat orang-orang Yahudi yang menampakkan keislaman dan keimanan namun di dalam persembunyian mereka memendam nifaq (kemunafikan).

10.2 Keyakinan Tentang Mahdi di Dalam Lubang (Sardab)

Khumaini (1409 H) berpandangan bahwa Imam ke 12 dari imam nenek moyangnya telah masuk ke dalam Sardab (lubang bawah tanah) dan dia akan keluar nanti, namun dia belum keluar sampai sekarang. Jika dia telah keluar, maka dia akan membunuh 3.000 orang Muslim dari kalangan orang-orang zholim menurut keyakinan mereka. Dia akan membunuh mereka di tanah Harom dan Alloh akan mensucikan tanah tersebut dari orang zholim serta menolong kaum yang lemah dan terhalangi. Apabila dia belum keluar, maka bagi seorang Faqih atau Wali dibolehkan untuk menggantikan tugas ini, yaitu dirinya sendiri (Khumaini). Khumaini (1409 H) memandang bahwa dirinya berada pada kedudukan yang mewakili Mahdi tersebut dan menempati posisinya.

Di dalam kitab Khumaini wal Qoul bi ‘Ishmatil Anbiya, Khumaini (1409 H) berkata bahwa Mahdi yang dinanti akan mewujudkan kemenangan yang cemerlang yang tidak pernah diwujudkan oleh para Nabi dan Rosul. Artinya, Mahdi yang dinanti di dalam Sardab ini akan mewujudkan kemenangan dan taufiq (kesuksesan) yang tidak pernah diwujudkan oleh para Nabi dan para Rosul alaihimus sholatu was salam. Bahkan ada anggapan bahwa Musa Ash-Shodr (1398 H) yang hilang dan tidak kembali lagi mungkin saja dialah Mahdi yang dinanti yang akan keluar untuk mereka dari Sardab.

10.3 Penghalalan Nikah Mut’ah

Pendapat Khumaini (1409 H) dalam perkara Mut’ah (nikah kontrak) adalah seperti pendapat nenek moyangnya. Dia memandang bahwa boleh bagi seorang laki-laki untuk bersenang-senang dengan seorang wanita lalu dia melakukan akad selama 10 hari, sebulan, atau setahun, kemudian dia menceraikannya setelah bersenang-senang padanya. Perkara ini di dalam Islam adalah harom berdasarkan hadits Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh telah mengharomkannya di akhir masa. Khumaini (1409 H) menggantungkan diri dan berpegang teguh kepada Ali (40 H), namun dia justru buta terhadap riwayat ini. Selain itu, terdapat pula hadits Salamah bin Al-Akwa (74 H) di dalam riwayat Muslim (261 H) yang mengharomkannya. Khumaini (1409 H) tidak beriman kepada hal tersebut bahkan dia kafir terhadap hadits ini. Dia justru membangun pondasi Mut’ah, berpendapat dengannya, serta memberikan fatwa dengannya. Sungguh benar ucapan penyair:

«قد تنكر العين ضوء الشمس من رمد * وينكر الفم طعم الماء من سقم»

“Terkadang mata mengingkari cahaya matahari karena sakit mata, dan mulut mengingkari rasa air karena sedang sakit.”

 

Penutup

Risalah ini bertujuan untuk menyingkap sebagian dari realitas yang ada. Adapun mengenai madzhab-madzhab, kelompok-kelompok, maupun aliran pemikiran lainnya, maka sempitnya waktu tidak memungkinkan untuk membahasnya secara lebih luas. Namun, penjelasan ini akan menjadi nampak nyata bagi para pengamat, peneliti, serta bagi siapa saja yang menginginkan kebenaran. Pembicaraan mengenai Khumaini (1409 H) ini menjadi penting karena banyaknya simpang siur pembicaraan di tengah masyarakat. Sebagian orang mengkafirkannya karena perkara-perkara cabang (furu’iyyah) yang mungkin saja tidak membuatnya kafir jika hanya perkara itu saja yang ada, sementara sebagian orang lainnya menukilkan darinya nukilan-nukilan yang tidak terbukti kebenarannya. Akan tetapi, dalam risalah ini telah diupayakan dengan sungguh-sungguh untuk menukil langsung dari kitab-kitab karyanya serta dari rujukan para ahli ilmu agar menjadi jelas dan nyata bagi penglihatan manusia.

Hakikat Khumaini (1409 H) dan revolusinya dapat disimpulkan dalam bait-bait syair berikut ini:

«يا خميني الردى يكفي ملاما  قد ملأت الكون رجساً وحراما»

«أنت قسيس من الرهبان ما  أنت من أحمد أكثرت الخصاما»

«اتخذ السبحة مترين وخذ  عمة سوداء واصبغها رخاما»

«صرت حرباً لبني إسلامنا  ولإسرائيل برداً وسلاما»

“Wahai Khumaini pembawa kebinasaan, cukuplah celaan itu, sungguh engkau telah memenuhi alam semesta dengan kenajisan dan keharoman. Engkau hanyalah seorang pendeta dari kalangan rahib, engkau bukanlah pengikut Ahmad (Nabi Muhammad ) karena engkau justru memperbanyak permusuhan dengannya. Engkau mengambil tasbih sepanjang 2 meter dan mengenakan surban hitam serta mewarnainya seperti marmer. Engkau telah menjadi peperangan bagi anak-anak Islam kita, namun bagi Israel engkau menjadi kesejukan dan keselamatan.”

Setelah menyingkap berbagai penyimpangan dan permusuhan yang dilakukan oleh Khumaini (1409 H) terhadap agama Islam, maka kita memohon perlindungan dan petunjuk hanya kepada Alloh .

«اللهم رب جبريل وميكائيل وإسرافيل فاطر السماوات والأرض عالم الغيب والشهادة أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدنا لما اختلف فيه من الحق بإذنك إنك تهدي من تشاء إلى صراطك المستقيم»

“Ya Alloh, Robb Jibril, Mikail, dan Isrofil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui hal yang ghoib maupun yang nampak, Engkaulah yang menghukumi di antara hamba-hamba-Mu dalam apa yang mereka perselisihkan. Tunjukkanlah kami kepada kebenaran dalam apa yang diperselisihkan dengan izin-Mu, sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.”

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ  وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Mahasuci Robbmu (wahai Rosul), Robb pemilik keperkasaan, dari apa yang disifatkan oleh orang-orang kafir yang tidak pantas bagi-Nya. Dan salam sejahtera tercurah kepada para Rosul yang telah menyampaikan risalah dari Robb mereka. Dan segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Ash-Shoffat: 180-182)[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url