[PDF] Sejarah Majusi Hingga Menjadi Negara Iran - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah
menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yang
batil. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi ﷺ, keluarganya, para
Shohabat, serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari
Akhiroh.
Amma ba’du:
Buku ini disusun untuk membuka lembaran-lembaran sejarah
sebuah negeri yang memiliki kedudukan sangat penting dalam perjalanan panjang
umat Islam, yaitu negeri Persia atau yang kini kita kenal sebagai Iran. Mempelajari
sejarah bukan sekadar upaya untuk mengenang masa lalu yang telah usai,
melainkan untuk mengambil pelajaran (ibroh) bagi masa sekarang dan masa depan.
Sejarah adalah guru yang jujur bagi siapa saja yang mau merenung. Sebagaimana
Alloh berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ
عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ﴾
“Sungguh pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi
orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Negeri Persia adalah tanah yang unik. Sebelum datangnya
cahaya Islam, ia adalah pusat kegelapan Majusi yang menyembah api dan terjebak
dalam kasta sosial yang menghinakan martabat manusia. Namun, atas rohmat
Alloh, negeri ini kemudian berubah menjadi salah satu benteng pertahanan Sunnah
yang paling kokoh. Dari tanah ini lahir para imam besar, ahli Hadits, dan
pejuang-pejuang Islam yang namanya harum hingga hari ini. Sungguh Nabi ﷺ telah memberikan
isyarat mengenai potensi besar bangsa ini dalam mencari kebenaran, sebagaimana
sabda beliau:
«لَوْ كَانَ الْإِيمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ
هَؤُلَاءِ»
“Andai saja iman itu berada di bintang Tsuroyya, sungguh para lelaki dari kaum ini
(Persia) akan mencapainya.” (HR. Al-Bukhori no. 4897 dan Muslim no. 2546)
Namun, perjalanan waktu membawa berbagai ujian dan fitnah.
Sejarah Persia juga diwarnai dengan munculnya berbagai paham yang menyimpang
dari jalan para Salafush Sholih, mulai dari gerakan kebatinan hingga perubahan
ideologi besar-besaran secara paksa yang mengubah wajah negeri ini hingga saat
ini. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menelusuri setiap fase tersebut
secara objektif, berlandaskan pada sumber-sumber yang amanah dari para
sejarawan Muslim seperti Imam Ath-Thobari (310 H) dan Ibnu Katsir (774 H),
serta menghindari berbagai narasi hoaks yang sering kali mengaburkan fakta.
Penulis berusaha menyajikan narasi yang mengalir, luwes, dan
mudah dipahami, tanpa mengurangi integritas data sejarah yang ada. Setiap dalil
dan riwayat diletakkan pada tempatnya untuk menguatkan pemahaman pembaca. Buku
ini bukan hanya tentang deretan angka tahun, melainkan tentang bagaimana aqidah
dan politik saling berkelindan dalam membentuk wajah sebuah bangsa.
Semoga upaya kecil ini menjadi amal sholih yang diterima
oleh Alloh dan memberikan manfaat bagi setiap Muslim yang membacanya. Semoga
kita semua dijauhkan dari segala fitnah dan selalu dibimbing untuk tetap teguh
di atas Sunnah Nabi ﷺ
hingga kita kembali kepada-Nya dalam keadaan dhorurot yang terjaga imannya.
Bab 1: Mengenal Negeri Persia
Sebelum Cahaya Islam
Negeri Persia, yang kini lebih dikenal dengan nama Iran,
merupakan sebuah bentang alam yang luas di dataran tinggi Asia Tengah.
Sejarahnya bukan sekadar deretan angka tahun, melainkan sebuah hamparan hikmah
tentang bagaimana sebuah bangsa besar pernah mencapai puncak kejayaan duniawi
namun terperosok ke dalam kegelapan aqidah sebelum akhirnya disinari oleh cahaya
wahyu. Sebelum kaki-kaki para Shohabat menginjakkan kaki di sana, Persia adalah
sebuah kekuatan adidaya yang ditakuti, namun di dalamnya tersimpan keropos yang
nyata dalam sendi-sendi kehidupan manusia.
1.1
Asal-usul Bangsa Persia dalam Tinjauan Sejarah dan Nasab
Para ahli sejarah Islam, seperti Imam Ath-Thobari (310 H)
dalam kitab monumentalnya Tarikh al-Rusul wal Muluk, menjelaskan bahwa
bangsa Persia memiliki garis keturunan yang bersambung kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam.
Sebagian besar sejarawan menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan dari Yafits
bin Nuh, sementara sebagian lainnya menyebutkan keterkaitan nasab dengan Sam
bin Nuh.
Dari garis inilah lahir suku-suku besar yang kemudian
membangun peradaban di dataran tinggi Iran.
Secara geografis, wilayah ini dibentengi oleh pegunungan Zagros
dan Alborz, menjadikannya sebuah benteng alam yang sulit ditembus.
Keadaan alam yang menantang ini membentuk karakter bangsa Persia menjadi kaum
yang cerdas, gigih, dan memiliki ketertarikan tinggi terhadap ilmu pengetahuan.
Sejak masa kuno, mereka telah berhasil membangun sistem pengairan yang rumit,
seni bangunan yang megah, dan tata kelola pemerintahan yang rapi.
Ibnu Katsir (774 H) dalam Al-Bidayah wan Nihayah menggambarkan
betapa megahnya singgasana para penguasa mereka. Namun, kemegahan fisik ini
tidak dibarengi dengan kemuliaan tauhid. Bangsa Persia pada masa itu terbagi
dalam berbagai lapisan sosial yang sangat kaku, di mana martabat seseorang
ditentukan oleh keturunan, bukan oleh ketaqwaan atau budi pekerti.
1.2
Kondisi Keagamaan Majusi dan Kebobrokan Sosial di Masa Kekaisaran Sasaniyah
Sebelum Islam datang, agama resmi dan mayoritas penduduk
Persia adalah Majusi atau Zoroastrianisme. Keyakinan ini mengajarkan
dualisme tuhan, yaitu tuhan cahaya (Ahura Mazda) yang mereka anggap
sebagai sumber kebaikan, dan tuhan kegelapan (Ahriman) sebagai sumber
keburukan. Sebagai perwujudan penghormatan kepada tuhan cahaya, mereka
menyembah api. Di setiap sudut kota dan istana, terdapat kuil-kuil api yang
apinya dijaga agar tidak pernah padam selama ribuan tahun.
Kebobrokan aqidah ini berdampak langsung pada tatanan
sosial. Karena mereka menganggap raja-raja mereka sebagai titisan tuhan atau
memiliki “darah suci”, maka ketaatan kepada raja bersifat mutlak dan membabi
buta. Rakyat jelata dianggap sebagai pelayan abadi bagi kaum bangsawan dan
pendeta Majusi.
Kondisi moral di kalangan elit Sasaniyah sangat
memprihatinkan. Praktik pernikahan sedarah (inses), seperti menikahi
saudara kandung atau bahkan ibu kandung, dianggap sebagai hal yang biasa di
kalangan bangsawan untuk menjaga kemurnian darah mereka. Hal ini sebagaimana
dicatat oleh para ulama sejarah sebagai bentuk penyimpangan fithroh yang paling
dalam.
Dalam bidang ekonomi, rakyat kecil diperas dengan pajak yang
sangat berat demi membiayai kemewahan gaya hidup para raja (Kisro) dan peperangan abadi melawan
Kekaisaran Romawi. Ketidakadilan ini menciptakan jurang pemisah yang lebar.
Rakyat Persia hidup dalam ketakutan dan tekanan, merindukan sosok pemimpin yang
bisa memanusiakan mereka. Inilah yang kelak menjadi alasan mengapa Islam
diterima dengan tangan terbuka oleh banyak penduduk lokal; karena Islam datang
membawa keadilan yang tidak pernah mereka rasakan selama berabad-abad di bawah
bayang-bayang api Majusi.
1.3 Nubuat Nabi ﷺ
tentang Runtuhnya Kerajaan Kisro
Jauh sebelum pasukan Muslimin bergerak menuju wilayah
Persia, Rosululloh ﷺ
telah memberikan isyarat-isyarat langit tentang masa depan kekaisaran ini.
Salah satu peristiwa yang paling berkesan adalah saat Nabi ﷺ mengirimkan surat da’wah
kepada Kisro Parvez, penguasa Persia saat itu.
Ketika surat yang membawa ajakan menuju keselamatan itu
dibacakan, Kisro Parvez dengan sombongnya merobek-roek surat tersebut. Ia tidak
terima diajak oleh seorang Nabi dari kalangan Arob yang ia anggap remeh. Berita
perobekan surat ini sampai kepada Rosululloh ﷺ, lalu beliau bersabda:
«يُمَزَّقُوا كُلَّ مُمَزَّقٍ»
“Semoga Alloh merobek-robek kerajaannya (sebagaimana ia
merobek suratku).” (HR. Al-Bukhori no. 4424)
Sungguh, doa Nabi ﷺ
ini menjadi awal dari kehancuran sistematis Kekaisaran Sasaniyah. Sejak saat
itu, Persia terus-menerus didera konflik internal, pembunuhan antar anggota
keluarga kerajaan, dan kekalahan di berbagai front peperangan.
Selain itu, Nabi ﷺ
juga memberikan kabar gembira mengenai kelak penaklukan istana putih di Madain
(ibu kota Persia). Dalam peristiwa Perang Khondaq, saat para Shohabat kesulitan
memecah batu besar, Nabi ﷺ
memukul batu tersebut hingga memercikkan cahaya. Beliau ﷺ bersabda bahwa Alloh
telah memperlihatkan kepadanya istana-istana merah di Romawi dan istana putih
di Persia yang kelak akan dikuasai oleh umat Islam.
Kabar nubuwwah lainnya yang sangat masyhur adalah tentang
perhiasan Kisro. Nabi ﷺ
pernah bersabda kepada salah seorang Shohabat, Suroqoh bin Malik rodhiyallahu
‘anhu, bahwa kelak ia akan memakai gelang-gelang milik Kisro. Sesuatu yang
pada waktu itu terdengar sangat mustahil, namun benar-benar menjadi kenyataan
di masa kekholifahan Umar bin Khoththob (23 H).
Nabi ﷺ
juga menegaskan bahwa setelah keruntuhan Kisro yang terakhir, tidak akan ada
lagi kekuasaan Majusi yang tegak di sana untuk selamanya:
«إِذَا هَلَكَ كِسْرَى فَلاَ كِسْرَى بَعْدَهُ، وَإِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ
فَلاَ قَيْصَرَ بَعْدَهُ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَتُنْفِقُنَّ كُنُوزَهُمَا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ»
“Jika Kisro (Persia)
telah binasa, maka tidak ada Kisro lagi setelahnya. Dan jika Kaisar
(Romawi) telah binasa, maka tidak ada Kaisar lagi setelahnya. Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh simpanan kekayaan keduanya benar-benar
akan diinfakkan di jalan Alloh (sebagai ghonimah).” (HR. Al-Bukhori no. 3618
dan Muslim no. 2918)
Segala nubuat ini merupakan wahyu yang pasti terjadi. Persia yang sombong dengan
api Majusinya, pada akhirnya harus padam pada keagungan tauhid yang dibawa oleh
para pejuang Islam yang tidak mengharapkan dunia, melainkan mengharapkan rohmat
Alloh dan kemuliaan di Akhiroh.
Bab 2: Penaklukan Persia di Masa
Khulafaur Rosyidin
Setelah
Rosululloh ﷺ
wafat, estafet kepemimpinan umat Islam dilanjutkan oleh Abu Bakar As-Siddiq (13
H). Di masa beliau, benih-benih da’wah ke tanah Persia mulai ditanam melalui
kepiawaian Kholid bin Walid (21 H) yang berhasil memenangkan serangkaian
pertempuran di wilayah perbatasan Iroq (Irak). Namun, puncak dari terbukanya
pintu-pintu Persia terjadi di masa kepemimpinan Sang Pembeda, Umar bin
Khoththob (23 H). Inilah masa di mana nubuwwah Nabi ﷺ tentang jatuhnya istana putih
mulai menjadi kenyataan yang disaksikan oleh mata dunia.
2.1
Kebijakan Umar bin Khoththob dalam Meluaskan Da’wah ke Timur
Pada
mulanya, Kholifah Umar bin Khoththob (23 H) memiliki sikap yang sangat
berhati-hati dalam melakukan ekspansi militer. Beliau pernah berkata bahwa
beliau berharap ada gunung api yang memisahkan antara wilayah Muslimin dengan
Persia, sehingga tidak ada yang bisa menyeberang ke pihak lain. Kekhawatiran
ini muncul bukan karena rasa takut, melainkan karena rasa tanggung jawab yang
sangat besar terhadap nyawa setiap Muslim yang ikut dalam Jihad. Beliau tidak
ingin gegabah mengirim pasukan ke wilayah yang medannya sangat asing dan
musuhnya memiliki jumlah pasukan yang jauh lebih besar.
Namun,
provokasi dan serangan-serangan kecil yang terus dilakukan oleh pihak Sasaniyah
untuk merebut kembali wilayah Iraq yang telah dibebaskan sebelumnya, membuat
Umar (23 H) menyadari bahwa perdamaian tidak akan tercapai selama Kekaisaran
Persia masih merasa memiliki kekuatan untuk menindas. Beliau pun bermusyawarah
dengan para pemuka Shohabat. Sungguh, dalam Islam, musyawarah adalah pondasi
dalam mengambil keputusan besar.
Umar (23 H)
kemudian menyerukan Jihad ke seluruh penjuru jazirah Arob. Urusan ini bukanlah
mencari harta rampasan perang, melainkan upaya membebaskan manusia dari
penyembahan kepada sesama makhluk menuju penyembahan kepada Robb semesta alam.
Respons kaum Muslimin sangat luar biasa. Para pejuang dari berbagai kabilah
datang ke Madinah, siap memberikan nyawa mereka demi tegaknya kalimat Alloh di
bumi Persia. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an:
﴿انْفِرُوا
خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Berangkatlah
kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan
harta dan jiwamu di jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)
2.2
Kepahlawanan Sa’ad bin Abi Waqqosh dalam Pertempuran Qodisiyyah
Untuk
memimpin ekspansi besar ini, Umar (23 H) memilih Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H),
salah satu dari sepuluh Shohabat yang dijamin masuk Jannah. Sa’ad adalah
seorang pemanah ulung dan paman dari pihak ibu Rosululloh ﷺ. Di bawah kepemimpinannya,
berkumpullah sekitar 30.000 pasukan Muslimin, yang di antaranya terdapat lebih
dari 300 Shohabat yang pernah ikut dalam perang Badar.
Pertempuran
besar terjadi di sebuah tempat bernama Qodisiyyah. Pihak Persia dipimpin oleh
panglima legendaris mereka, Rustum, yang membawa pasukan berjumlah lebih
dari 100.000 orang lengkap dengan gajah-gajah perang yang besar. Sebelum
pertempuran pecah, Sa’ad (55 H) mengirimkan utusan untuk menawarkan tiga
pilihan: masuk Islam, membayar Jizyah, atau berperang.
Salah satu
momen yang paling menggetarkan hati dalam sejarah adalah ketika Rib’i bin ‘Amir,
utusan Muslimin yang terlihat sederhana dengan pakaian apa adanya, masuk ke
tenda kemewahan Rustum. Ketika ditanya apa tujuan kedatangan mereka, Rib’i
menjawab dengan kalimat yang mengabadi dalam catatan sejarah:
اللَّهُ ابْتَعَثْنَا
لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ
ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ،
فَأَرْسَلَنَا بِدِينِهِ إِلَى خَلْقِهِ لِنَدْعُوَهُمْ إِلَيْهِ، فَمَنْ قَبِلَ ذَلِكَ
قَبِلْنَا مِنْهُ وَرَجَعْنَا عَنْهُ، وَمَنْ أَبَى قَاتَلْنَاهُ أَبَدًا حَتَّى نُفْضِيَ
إِلَى مَوْعُودِ اللَّهِ
“Alloh
telah mengutus kami untuk membebaskan siapa saja yang Dia kehendaki dari
belenggu penyembahan kepada sesama hamba menuju penyembahan kepada Alloh
semata, dan dari kesempitan dunia menuju kelapangannya yang luas, serta dari
kezholiman agama-agama menuju keadilan Islam yang menyejukkan. Sungguh, Dia
mengutus kami dengan membawa agama-Nya kepada seluruh makhluk untuk mengajak
mereka memeluk agama tersebut. Maka siapa saja yang menerimanya, kami akan
menerimanya dengan tangan terbuka dan kami akan pulang meninggalkan mereka
dalam keadaan damai. Namun siapa saja yang menolak, kami akan memeranginya
selamanya hingga kami sampai pada apa yang telah Alloh janjikan (Jannah).” (Al-Bidayah
wan Nihayah, Ibnu Katsir, 9/662, Tahqiq: At-Turki).
Pertempuran
Qodisiyyah berlangsung selama empat hari yang sangat melelahkan. Pasukan Muslimin
harus menghadapi gajah-gajah yang menakutkan kuda-kuda mereka. Namun, dengan
kecerdikan taktis dan keberanian yang luar biasa, para pejuang Islam berhasil
membutakan mata gajah-gajah tersebut dan menyerang jantung pertahanan lawan.
Pada hari terakhir, angin kencang bertiup merobohkan singgasana Rustum, dan
panglima besar Persia itu pun tewas di tangan seorang prajurit Muslim.
Kekalahan ini meruntuhkan mental bangsa Persia dan menjadi kunci pembuka menuju
ibu kota mereka, Madain.
2.3
Nahawand dan Runtuhnya Kekuatan Utama Majusi
Setelah
kemenangan di Qodisiyyah dan jatuhnya Madain, sisa-sisa kekuatan Persia
berkumpul di sebuah kota bernama Nahawand. Mereka menghimpun pasukan
dalam jumlah yang sangat masif, sekitar 150.000 orang, dengan tekad untuk
menghancurkan kaum Muslimin sekali dan untuk selamanya. Kabar ini sampai ke
telinga Umar (23 H) di Madinah. Beliau kemudian menunjuk Nu’man bin Muqorrin
(21 H) sebagai panglima tertinggi.
Pertempuran
di Nahawand pada tahun 21 Hijriyah ini dikenal dengan sebutan “Fathul Futuh”
atau Pembuka Segala Kemenangan. Mengapa demikian? Karena setelah pertempuran
ini, Kekaisaran Persia tidak lagi memiliki kekuatan militer terpusat yang mampu
menandingi pasukan Islam. Yang tersisa hanyalah perlawanan-perlawanan kecil di
tingkat daerah.
Nu’man bin
Muqorrin (21 H) gugur sebagai syahid dalam pertempuran ini, namun bendera Islam
tetap berkibar tinggi. Kemenangan di Nahawand membuktikan bahwa kemenangan
dalam Islam bukan ditentukan oleh jumlah personel atau kecanggihan senjata,
melainkan oleh kekuatan iman dan pertolongan dari Alloh. Sungguh, Alloh telah
menjanjikan kemenangan bagi hamba-hamba-Nya yang bersabar:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْا وَاتَّقُوا اللهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Alloh,
supaya kamu beruntung (menang dalam perang).” (QS. Ali Imron: 200)
2.4
Akhir Hayat Yazidajird III dan Masuknya Penduduk Persia ke Islam
Raja
terakhir Persia, Yazidajird (يَزْدَجِرْدُ) III, terus melarikan diri dari satu
kota ke kota lain di wilayah timur, seperti Khurosan. Ia mencoba meminta
bantuan dari penguasa-penguasa di sekitar, bahkan hingga ke negeri China, namun
tidak ada yang mampu menolongnya melawan takdir Alloh. Pada akhirnya, ia tewas
secara tragis di tangan seorang tukang giling gandum di wilayah Merv hanya demi
perhiasan yang ia kenakan. Kematiannya menandai berakhirnya dinasti Sasaniyah
yang telah berkuasa selama ratusan tahun.
Seiring
dengan jatuhnya kekuasaan politik Majusi, cahaya Islam mulai merasuk ke dalam
hati rakyat Persia. Mereka melihat sendiri bagaimana para Shohabat dan Tabi’in
memperlakukan mereka dengan adil. Tidak ada lagi pajak yang mencekik, tidak ada
lagi pembedaan kasta yang menghinakan, dan tidak ada lagi paksaan dalam
beragama.
Banyak
penduduk lokal yang masuk Islam karena kagum dengan akhlak para pejuang Muslim
yang saat malam menjadi ahli ibadah dan saat siang menjadi ksatria yang
perkasa. Mereka menemukan dalam Islam sebuah sistem hidup yang memuliakan
manusia. Inilah awal mula transformasi besar tanah Persia dari pusat api Majusi
menjadi salah satu mercusuar ilmu pengetahuan Islam yang paling terang di masa
depan.
Keadilan
Islam di tanah Persia ini bukanlah sekadar cerita fiktif, melainkan fakta yang
diakui oleh para sejarawan seperti Ibnu Atsir (630 H) dalam kitab Al-Kamil
fit Tarikh. Rakyat Persia yang sebelumnya tertindas kini merasakan
kedamaian di bawah naungan syariat Alloh.
Bab 3: Persia dalam Naungan Daulah
Islamiyyah (Umawiyyah dan Abbasiyyah)
Setelah
masa Khulafaur Rosyidin berakhir, wilayah Persia tidak lagi menjadi medan
pertempuran utama, melainkan berubah menjadi ladang persemaian ilmu dan pusat
administrasi yang sangat vital. Di bawah naungan Daulah Umawiyyah dan kemudian
Daulah Abbasiyyah, bangsa Persia yang telah memeluk Islam mulai menunjukkan
taji mereka dalam membangun peradaban. Islam tidak datang untuk menghapuskan
identitas mereka sebagai bangsa, melainkan untuk mengarahkan potensi besar
mereka demi kejayaan agama ini.
3.1
Kedudukan Wilayah Khurosan dan Bashroh sebagai Pusat Ilmu Hadits dan Fiqh
Wilayah Khurosan,
yang mencakup bagian timur Iran saat ini, serta kota Bashroh yang berbatasan
langsung dengan tanah Persia, menjadi dua pilar utama dalam peta intelektual
Islam. Sejak masa awal, banyak Shohabat rodhiyallahu ‘anhum dan Tabi’in
yang menetap di wilayah-wilayah ini untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Bashroh
khususnya, tumbuh menjadi kota ilmu di mana bahasa Arob dipelajari dengan
sangat teliti untuk menjaga kemurnian pemahaman terhadap wahyu. Di sinilah para
ulama mulai membukukan kaidah-kaidah bahasa yang nantinya sangat membantu
bangsa Persia dan bangsa non-Arob lainnya untuk memahami agama dengan benar. Di
antara mereka adalah Sibawaih.
Khurosan
sendiri dikenal sebagai negeri para pembela Sunnah. Jaraknya yang jauh dari
pusat fitnah politik di wilayah barat membuat para ulamanya lebih fokus pada
pengumpulan dan penjagaan Hadits Nabi ﷺ. Semangat mereka dalam menuntut ilmu sangat luar biasa. Mereka
melakukan perjalanan ribuan mil (rihlah) demi mendapatkan satu buah
Hadits shohih. Kedudukan Khurosan dalam sejarah Islam sangat agung, sebagaimana
dicatat oleh Ibnu Katsir (774 H) bahwa dari sanalah muncul para pendukung da’wah
yang teguh.
Ketekunan
bangsa Persia dalam menuntut ilmu ini merupakan bukti nyata dari apa yang
pernah disabdakan oleh Rosululloh ﷺ tentang kegigihan mereka dalam meraih kebenaran. Alloh
menyatukan berbagai bangsa ini dalam satu ikatan iman yang tidak membedakan
warna kulit maupun asal-usul, sebagaimana firman-Nya:
﴿يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا
وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ﴾
“Wahai
manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar
kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh
adalah yang paling bertaqwa. Sungguh Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS.
Al-Hujurot: 13)
3.2
Jasa Ulama-Ulama Besar Kelahiran Persia bagi Umat Islam
Sejarah
Islam tidak mungkin dilepaskan dari peran para ulama asal Persia. Sungguh, hampir
sebagian besar penyusun kitab-kitab induk Hadits yang menjadi rujukan utama
Ahlus Sunnah wal Jama’ah hingga hari ini berasal dari tanah Persia atau wilayah
di sekitarnya. Hal ini menunjukkan betapa besarnya rohmat Alloh yang dicurahkan
kepada bangsa ini setelah mereka meninggalkan api Majusi.
Beberapa
nama besar yang jasanya akan terus dikenang hingga hari Akhiroh antara lain:
Imam
Al-Bukhori (256 H): Penulis kitab Shohih Al-Bukhori, yang merupakan
kitab paling shohih setelah Al-Qur’an. Beliau lahir di Bukhoro, wilayah yang
saat itu berada di bawah pengaruh kebudayaan Persia yang kuat.
Imam Muslim
(261 H): Penulis Shohih Muslim, yang lahir di Nishapur (Naisabur),
sebuah kota besar di jantung Khurosan (Persia).
Imam Abu
Dawud (275 H): Lahir di Sijistan (Sistan), sebuah wilayah di perbatasan Iran
dan Afghanistan saat ini.
Imam
At-Tirmidzi (279 H): Murid Imam Al-Bukhori yang lahir di Tirmidz, dekat wilayah
Khurosan.
Imam
An-Nasai (303 H): Berasal dari kota Nasa di wilayah Khurosan.
Selain
dalam bidang Hadits, dalam bidang Fiqh pun muncul tokoh sekaliber Imam Abu
Hanifah (150 H), pendiri Madz-hab Hanafi, yang memiliki garis keturunan Persia.
Beliau dikenal sebagai imam yang sangat cerdas dan memiliki logika yang tajam
dalam menggali hukum Islam.
Kehadiran para
ulama ini membuktikan kebenaran sabda Nabi ﷺ mengenai kelebihan bangsa Persia dalam urusan ilmu dan iman:
«لَوْ كَانَ الدِّينُ عِنْدَ الثُّرَيَّا، لَذَهَبَ
بِهِ رَجُلٌ مِنْ فَارِسَ - أَوْ قَالَ - مِنْ أَبْنَاءِ فَارِسَ حَتَّى يَتَنَاوَلَهُ»
“Andai saja
agama itu berada di bintang Tsurayya, sungguh akan ada seorang lelaki dari
Persia —atau beliau bersabda: dari keturunan Persia— yang akan pergi
mendatanginya hingga ia mendapatkannya.” (HR. Muslim no. 2546)
Para ulama
ini menulis karya-karya mereka dalam bahasa Arob, karena bahasa Arob adalah
kunci untuk memahami Al-Qur’an dan Sunnah. Namun, darah dan kecerdasan mereka
adalah sumbangsih besar bangsa Persia bagi dunia Muslim. Mereka adalah
penjaga-penjaga gawang aqidah Salaf yang membentengi umat dari berbagai paham
menyimpang pada masa itu.
3.3
Munculnya Fitnah Syu’ubiyah dan Upaya Merongrong Kewibawaan Bangsa Arob
Meskipun
Islam membawa pesan kesetaraan, sejarah mencatat adanya gesekan sosial yang
terjadi, terutama pada masa Daulah Umawiyyah. Sistem kasta lama Persia yang
sangat kaku terkadang masih membekas dalam ingatan sebagian orang, ditambah
dengan kebijakan sebagian oknum penguasa yang memberikan perlakuan berbeda
antara Muslim Arob dengan Muslim non-Arob (Mawali).
Hal ini memicu
munculnya sebuah gerakan yang disebut Syu’ubiyah. Gerakan ini awalnya adalah
sebuah aliran pemikiran di kalangan kaum intelektual Persia dan bangsa non-Arob
lainnya yang merasa tidak puas. Mereka mulai menonjolkan kelebihan-kelebihan
bangsa Persia di atas bangsa Arob, bahkan sebagian di antaranya mulai
meremehkan bahasa Arob dan kebudayaan Arob yang menjadi perantara turunnya
wahyu.
Ibnu
Qutaibah (276 H) dalam kitab-kitabnya menjelaskan bagaimana fitnah Syu’ubiyah
ini mencoba merusak persatuan umat dengan membangkitkan fanatisme kesukuan yang
telah dilarang dalam Islam. Gerakan ini bukan sekadar masalah sosial, namun
juga dimanfaatkan secara politik.
Ketika
Daulah Abbasiyyah mulai bergerak untuk meruntuhkan Daulah Umawiyyah, mereka
menggunakan wilayah Khurosan sebagai basis kekuatan utama. Tokoh seperti Abu
Muslim al-Khurosani menjadi penggerak militer yang sangat kuat. Setelah Daulah Abbasiyyah
berdiri, pengaruh orang-orang Persia di istana meningkat sangat tajam. Keluarga
Al-Baromikah (Barmakid) menjadi menteri-menteri (Wazir) yang memegang kendali
penuh atas urusan negara selama beberapa generasi.
Namun, di
balik pengaruh politik dan kemajuan ilmu pengetahuan, terselip bahaya laten.
Sebagian pengikut Syu’ubiyah yang ekstrem mulai menyisipkan ajaran-ajaran lama
Persia ke dalam pemikiran Islam. Inilah yang kelak menjadi pintu masuk bagi
munculnya paham-paham kebatinan dan Syi’ah ekstrem yang mulai merongrong aqidah
murni umat Islam. Mereka mencoba membalas dendam atas runtuhnya Kekaisaran
Sasaniyah bukan dengan perang terbuka, melainkan dengan merusak Islam dari
dalam melalui penafsiran-penafsiran yang menyimpang.
Para ulama
Sunni dan Salaf pada masa itu, seperti Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) dan para
ahli Hadits lainnya, berdiri tegak di barisan terdepan untuk mengingatkan umat
bahwa kemuliaan hanya ada pada ketaqwaan, bukan pada fanatisme bangsa, baik Arob
maupun Persia. Mereka menjaga agar kecintaan terhadap tanah air tidak
mengalahkan kecintaan terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rosululloh ﷺ.
Bab 4: Munculnya Gerakan Kebatinan
dan Penyimpangan di Tanah Persia
Setelah
masa keemasan ilmu pengetahuan yang dipelopori oleh para ulama Sunni asal
Persia, negeri ini mulai dimasuki oleh awan gelap pemikiran yang asing bagi
Islam. Persia yang sebelumnya menjadi benteng Sunnah, perlahan-lahan mulai
digerogoti oleh paham-paham yang mencampuradukkan ajaran Islam dengan sisa-sisa
filsafat kuno dan kepercayaan Majusi yang belum sepenuhnya hilang dari sebagian
kalangan. Ini adalah masa di mana ketajaman aqidah sedang diuji oleh berbagai
aliran kebatinan yang berusaha merusak agama dari dalam.
4.1
Akar Munculnya Paham Rofidhoh dan Pengaruh Ibnu Saba’
Akar dari
segala kekacauan pemikiran di tanah Persia tidak bisa dilepaskan dari peran
seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba’. Ia menyamar
sebagai seorang Muslim untuk menyebarkan benih-benih fanatisme yang berlebihan
kepada Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu. Ibnu Saba’ inilah yang
pertama kali melontarkan gagasan bahwa Ali rodhiyallahu ‘anhu adalah
penerima wasiat suci dari Nabi ﷺ dan memiliki kedudukan yang melebihi Shohabat lainnya, bahkan
hingga pada tingkat ketuhanan (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir).
Paham ini,
yang kemudian dikenal sebagai Rofidhoh atau Syi’ah, menemukan tanah yang subur
di sebagian wilayah Persia. Mengapa demikian? Karena bangsa Persia sebelumnya
terbiasa dengan konsep penguasa yang memiliki “hak ketuhanan” atau darah suci.
Gagasan Ibnu Saba’ tentang Imamah yang bersifat turun-temurun dan suci sangat
mirip dengan konsep raja-raja Sasaniyah di masa lalu.
Sungguh,
Alloh telah memperingatkan agar umat-Nya tidak berlebih-lebihan dalam beragama
dan tidak mengikuti jalan-jalan yang memecah belah:
﴿وَأَنَّ
هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ
بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
“Dan bahwa
(yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan
janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Alloh
kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)
Penyimpangan
ini mulai merambat dari sekadar masalah politik menjadi masalah aqidah yang
mendasar, seperti mencela para Shohabat dan meyakini adanya wahyu yang
tersembunyi. Para ulama Salaf di Persia, seperti Imam Ibnu Qutaibah (276 H),
bekerja keras membongkar kedok gerakan ini agar umat tidak terjerumus ke dalam
jurang kesesatan.
4.2
Fitnah Gerakan Qoromithoh dan Isma’iliyyah (Pembunuh Bayaran) di Alamut
Seiring
berjalannya waktu, muncullah sekte yang lebih ekstrem, yaitu kelompok Kebatinan
(Batiniyyah). Mereka berkeyakinan bahwa setiap ayat Al-Qur’an memiliki makna
lahir dan makna batin yang hanya diketahui oleh imam mereka. Salah satu
cabangnya adalah Qoromithoh yang pernah melakukan kekejian luar biasa dengan
menyerang Makkah dan mencuri Hajar Aswad (Al-Kamil fit Tarikh, Ibnu Atsir).
Di wilayah
Persia sendiri, muncul tokoh bernama Hasan bin Shobbah (518 H) yang
mendirikan sekte Isma’iliyyah Nizaroyah. Ia membangun benteng yang sangat kokoh
dan sulit ditembus di atas gunung yang dinamakan Benteng Alamut.
Kelompok ini dikenal dengan sebutan Hashshashin (Assassins) karena kegemaran
mereka melakukan pembunuhan terencana terhadap para pemimpin Muslim, ulama, dan
pejabat pemerintah yang dianggap menghalangi ambisi mereka.
Korban
keganasan mereka bukan sembarang orang. Salah satunya adalah Perdana Menteri
Daulah Saljuk yang sangat sholih dan berjasa besar bagi Sunni, yaitu Nizhomul
Muluk (485 H). Teror yang disebarkan dari Alamut ini menghantui dunia Islam
selama lebih dari satu abad. Mereka menggunakan racun, belati, dan intimidasi
untuk memaksakan kehendak mereka.
Dalam
menghadapi fitnah kebatinan ini, para ulama seperti Imam Al-Ghozali (505 H)
menulis kitab khusus berjudul Fadhoih al-Batiniyyah (Keburukan-keburukan
Kaum Kebatinan) untuk menjelaskan bahwa ajaran mereka pada hakikatnya adalah
upaya menghancurkan Islam dengan kedok mencintai Ahlul Bait. Sungguh, siapa
yang menyimpang dari Sunnah akan terjatuh ke dalam kegelapan yang pekat.
Dari Anas
bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»
“Siapa
yang benci terhadap Sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.” (HR.
Al-Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401)
4.3
Masa Kekuasaan Dinasti Buwaihiyyah di Jantung Kekholifahan
Puncak dari
pengaruh politik Syi’ah di tanah Persia dan Iraq sebelum era modern terjadi
pada masa Dinasti Buyid (ejaan Barat) atau Buwaihiyyah (334-447 H). Keluarga
Buyid ini berasal dari wilayah Dailam, di pesisir Laut Kaspia (utara Iran).
Mereka berhasil menguasai Baghdad dan menjadikan Kholifah dari Daulah Abbasiyyah
hanya sebagai simbol tanpa kekuasaan nyata.
Meskipun
pusat kekuasaan mereka di Baghdad, wilayah Persia menjadi basis kekuatan militer
dan ekonomi mereka. Di bawah kekuasaan Buwaih, praktik-praktik yang sebelumnya
tidak dikenal dalam Islam mulai diresmikan, seperti perayaan Hari Ghodir Khum
dan upacara duka cita Asyuro (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir).
Selama
lebih dari seratus tahun, Ahlus Sunnah di Persia dan Iraq berada di bawah
tekanan politik. Namun, Alloh tetap menjaga cahaya-Nya. Di tengah tekanan
tersebut, para ulama Hadits dan Fiqh tetap konsisten mengajar di Masjid-Masjid,
menjaga agar umat tidak berpaling dari pemahaman para Shohabat. Masa Buwaih ini
menjadi pelajaran berharga bahwa ketika kekuasaan politik jatuh ke tangan ahli
bid’ah, maka stabilitas umat akan goyah.
Kekuasaan Buwaih
yang zholim ini akhirnya runtuh ketika pasukan Turki Saljuk yang beraqidah
Sunni datang membebaskan Baghdad dan mengembalikan kehormatan Ahlus Sunnah di
tanah Persia. Ini adalah bukti bahwa kebatilan mungkin bisa berkuasa sesaat,
namun kebenaran pada akhirnya akan selalu mendapatkan jalan untuk kembali
tegak.
Bab 5: Kebangkitan Kembali Ahlus
Sunnah di Masa Saljuk
Setelah
sekian lama cahaya Sunnah di tanah Persia seolah meredup akibat cengkeraman
kekuasaan yang menyimpang, fajar baru mulai menyingsing. Kali ini, pertolongan
Alloh datang melalui bangsa Turki yang baru saja memeluk Islam dengan penuh
semangat dan ketulusan. Mereka adalah Bani Saljuk. Di bawah kepemimpinan
mereka, wilayah Persia kembali menjadi benteng pertahanan bagi aqidah Salaf dan
pusat bagi ilmu pengetahuan yang lurus.
5.1
Peran Besar Sultan Thughril Bek dan Alp Arslan dalam Membela Aqidah Salaf
Bani Saljuk,
yang dipimpin oleh Thughril Bek (طُغْرِل بِيْك) (455 H), masuk ke dalam
kancah sejarah dengan membawa misi yang jelas: membebaskan pusat kekholifahan
dari dominasi kaum Syi’ah Buwaih dan mengembalikan kemuliaan Ahlus Sunnah.
Pada tahun
447 Hijriyah, Thughril Bek memasuki Baghdad atas undangan Kholifah Al-Qoim bi
Amrillah. Kedatangannya disambut dengan sukacita oleh kaum Muslimin yang
merindukan keadilan.
Thughril
Bek (455 H) bukan panglima perang yang haus kekuasaan. Ia adalah seorang
pemimpin yang sangat menghormati para ulama dan memiliki komitmen tinggi
terhadap syariat. Setelah berhasil menyingkirkan pengaruh Buwaih, ia memastikan
bahwa khutbah-khutbah di Masjid-Masjid kembali menyuarakan kebenaran sesuai
dengan apa yang diajarkan oleh para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Setelah
wafatnya Thughril Bek, kepemimpinan dilanjutkan oleh keponakannya yang gagah
berani, Alp Arslan (أَلْب أَرْسَلَانُ) (465 H). Di bawah Alp Arslan, wilayah Persia benar-benar
stabil. Puncak kepahlawanannya terjadi dalam Pertempuran Manzikert (463 H), di
mana ia berhasil mengalahkan tentara besar Kekaisaran Bizantium. Kemenangan ini
bukan hanya mengamankan wilayah Persia dan sekitarnya, tetapi juga membuka
jalan bagi da’wah Islam ke daratan Anatolia. Alp Arslan (465 H) dikenal sebagai
pemimpin yang tawadhu’; sebelum berperang, ia melepas pakaian kebesarannya,
mengenakan kain putih seperti kafan, lalu bersujud memohon pertolongan kepada
Alloh. Sungguh, pertolongan Alloh hanya datang kepada mereka yang benar-benar
beriman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُوا اللهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Alloh, niscaya Dia akan
menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)
5.2
Madrosah Nizhomiyah dan Upaya Nizhomul Muluk Membendung Pemikiran Sesat
Kembalinya
kejayaan Sunni di tanah Persia tidak hanya dilakukan melalui kekuatan pedang,
tetapi juga melalui kekuatan ilmu. Tokoh sentral di balik kebangkitan
intelektual ini adalah seorang menteri (Wazir) yang sangat cerdas dan sholih
bernama Nizhomul Muluk (485 H). Beliau adalah otak di balik stabilitas
pemerintahan Saljuk selama 30 tahun.
Nizhomul
Muluk (485 H) menyadari bahwa cara terbaik untuk mematikan paham-paham
menyimpang seperti Syi’ah Rofidhoh dan kebatinan Isma’iliyyah adalah dengan
mencerdaskan umat melalui pendidikan yang berasaskan aqidah yang benar. Oleh
karena itu, ia mendirikan jaringan madrosah yang sangat terkenal di seluruh
wilayah Persia, yang kemudian dikenal dengan nama Madrosah Nizhomiyah.
Madrosah-madrosah
ini didirikan di kota-kota besar seperti Nishapur, Isfahan, Balkh, dan tentu
saja Baghdad. Di lembaga-lembaga inilah para pemuda dididik dengan kurikulum
yang ketat, mempelajari Fiqh, Hadits, dan Bahasa Arob. Nizhomul Muluk (485 H)
memberikan fasilitas terbaik bagi para penuntut ilmu, termasuk asrama dan
beasiswa, agar mereka bisa fokus belajar tanpa terbebani urusan dunia.
Banyak
ulama besar yang lahir atau mengajar di sana, seperti Imam Al-Juwaini (478 H)
dan Imam Al-Ghozali (505 H). Meskipun di masa itu terjadi perkembangan ilmu
kalam, fokus utama dari Nizhomul Muluk adalah menjaga agar masyarakat kembali
kepada kecintaan terhadap Sunnah Nabi ﷺ. Beliau sendiri adalah seorang pengumpul Hadits dan sering
membacakan Hadits di depan khalayak umum (Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu
Katsir).
Berkat
upaya ini, paham-paham sesat yang sebelumnya menjamur di tanah Persia mulai
kehilangan pengaruhnya. Rakyat kembali menemukan jati diri mereka sebagai
pengikut jalan Salaf yang lurus. Namun, upaya ini juga membuat Nizhomul Muluk
menjadi target utama kaum kebatinan. Beliau akhirnya gugur sebagai syahid di
tangan seorang pembunuh dari kelompok Hashshashin (Asasin) saat beliau sedang
berpuasa dalam perjalanan menuju Baghdad.
5.3
Hubungan Persia dengan Dunia Islam di Tengah Ancaman Perang Salib
Selama masa
kejayaan Saljuk di Persia, dunia Islam bagian barat (Palestina dan Syam) mulai
menghadapi serangan dari tentara Salib (Crusaders). Meskipun pusat pemerintahan
Saljuk berada di wilayah timur (Iran/Persia), mereka memainkan peran penting
sebagai penyokong stabilitas bagi wilayah-wilayah Islam yang terancam.
Pasukan-pasukan
yang dikirim oleh Sultan Saljuk dari Persia menjadi benteng awal yang
menghambat gerak maju tentara Salib sebelum mereka mencapai wilayah pusat.
Kedamaian di tanah Persia memungkinkan sumber daya alam dan manusia
dialokasikan untuk membela negeri-negeri Muslim lainnya. Di masa inilah,
persatuan umat Islam terasa sangat kuat di bawah satu komando yang menghormati Kholifah
Abbasiyyah di Baghdad.
Persia di
bawah Saljuk menjadi pusat peradaban yang makmur. Perdagangan di Jalur Sutra
berkembang pesat, dan Masjid-Masjid megah dengan arsitektur khas Persia mulai
dibangun di mana-mana. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah keamanan
bagi para penuntut ilmu. Sungguh, masa ini adalah masa di mana ilmu agama dihargai
lebih tinggi daripada harta benda.
Sebagaimana
Nabi ﷺ
pernah menekankan pentingnya ilmu dan para ulamanya:
«إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ»
“Sungguh
para ulama adalah pewaris para Nabi.” (HSR.
Abu Dawud no. 3641)
Dengan demikian, tanah Persia di bawah Saljuk berhasil
mengembalikan posisinya sebagai pelayan ilmu pengetahuan Islam yang lurus,
sekaligus menjadi perisai bagi umat Islam dari berbagai ancaman, baik dari
dalam maupun dari luar. Masa
ini adalah bukti nyata bahwa ketika pemimpin dan rakyat bersatu di atas Sunnah,
maka kemakmuran dan keamanan akan dianugerahkan oleh Alloh.
Bab 6: Musibah Besar: Serbuan
Mongol dan Runtuhnya Peradaban
Sejarah
sering kali memberikan pelajaran melalui cobaan yang sangat berat. Setelah masa
keemasan Saljuk yang membela Sunnah, umat Islam di tanah Persia mulai terlena
dengan kemewahan dan perselisihan internal. Di saat itulah, dari padang rumput
Asia Timur, muncul kekuatan yang menghancurkan segala yang dilewatinya. Bangsa
Mongol, di bawah pimpinan Jengghis Khon dan dilanjutkan oleh anak
cucunya, datang bagaikan air bah yang melenyapkan kota-kota besar, membakar
perpustakaan, dan menumpahkan darah kaum Muslimin dalam jumlah yang tidak
terbayangkan.
6.1
Pengkhianatan Ibnu Al-Alqomi yang Menyebabkan Jatuhnya Baghdad
Meskipun
pusat kekuasaan Mongol berada di timur, sasaran utama mereka adalah menjatuhkan
simbol persatuan umat Islam, yaitu Kekholifahan Abbasiyyah di Baghdad. Namun,
sejarah mencatat bahwa jatuhnya sebuah peradaban besar sering kali diawali oleh
rayap-rayap pengkhianatan dari dalam. Tokoh yang paling bertanggung jawab atas
tragedi ini adalah seorang menteri (Wazir) di istana Kholifah Al-Musta’shim
yang bernama Mu’ayyiduddin bin al-Alqomi (656 H).
Ibnu
al-Alqomi adalah seorang penganut paham Syi’ah Rofidhoh yang menyimpan
kebencian mendalam terhadap kekuasaan Sunni. Ibnu Katsir (774 H) dalam Al-Bidayah
wan Nihayah menjelaskan secara rinci bagaimana pengkhianat ini melemahkan
kekuatan militer kaum Muslimin dari dalam. Ia membujuk Kholifah untuk memecat
sebagian besar pasukan dengan alasan efisiensi anggaran, hingga jumlah tentara
yang semula mencapai 100.000 orang menyusut drastis menjadi hanya 10.000 orang (Al-Bidayah
wan Nihayah, Ibnu Katsir).
Di saat
yang sama, Ibnu al-Alqomi menjalin surat-menyurat rahasia dengan Hulagu Khon,
pemimpin Mongol, dan meyakinkannya bahwa Baghdad adalah buah yang sudah matang
untuk dipetik. Ketika tentara Mongol mengepung Baghdad pada tahun 656 Hijriyah,
Ibnu al-Alqomi menipu Kholifah agar keluar menemui Hulagu dengan dalih
perundingan damai. Namun yang terjadi adalah pembantaian massal. Kholifah
dibunuh dengan cara yang sangat menghinakan, dan Baghdad dibakar habis selama
berhari-hari. Jutaan buku dari Baitul Hikmah dibuang ke sungai Tigris hingga
airnya berubah menjadi hitam karena tinta. Inilah duka paling dalam bagi ilmu
pengetahuan Islam.
6.2
Kehancuran Kota-kota Besar di Khurosan dan Pembantaian Kaum Muslimin
Sebelum
mencapai Baghdad, wilayah Persia khususnya Khurosan telah terlebih dahulu
merasakan kengerian pedang Mongol. Kota-kota yang sebelumnya menjadi pusat
peradaban dan ilmu pengetahuan seperti Marw, Nishapur, Herat, dan Balkh,
dihancurkan hingga rata dengan tanah.
Sejarawan
Ibnu Atsir (630 H) menggambarkan musibah ini dengan kalimat yang penuh
kesedihan. Beliau menyebutkan bahwa ia ragu untuk menuliskan bab ini karena
saking besarnya musibah yang menimpa umat Islam. Bangsa Mongol tidak membedakan
antara lelaki, wanita, maupun anak-anak. Di Nishapur, mereka membuat piramida
dari tengkorak manusia sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani melawan.
Sungguh,
musibah ini terjadi sebagai peringatan akan jauhnya sebagian umat dari tuntunan
Robb mereka. Namun, di tengah keputusasaan tersebut, Alloh tetap memberikan
keteguhan bagi para hamba-Nya yang sholih. Firman Alloh dalam Al-Qur’an
mengingatkan:
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan
sungguh Kami akan memberikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar
gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqoroh: 155)
Dampak dari
kehancuran ini sangat luar biasa. Sistem irigasi kuno Persia yang telah
dibangun selama ribuan tahun hancur total, menyebabkan kelaparan yang
berkepanjangan. Para ulama banyak yang gugur sebagai syahid, dan madrosah-madrosah
yang dahulu didirikan oleh Nizhomul Muluk berubah menjadi puing-puing.
6.3
Masuk Islamnya Para Penguasa Mongol melalui Tangan Para Da’i Sunni
Namun, di
sinilah letak keajaiban sejarah Islam. Meskipun secara militer bangsa Mongol
mengalahkan kaum Muslimin, secara aqidah dan peradaban, Islamlah yang akhirnya
menaklukkan hati para pemenang. Inilah yang disebut oleh para sejarawan sebagai
fenomena “sang penakluk yang ditaklukkan oleh agama yang mereka serang.”
Setelah
beberapa generasi berkuasa di tanah Persia dengan nama Dinasti Ilkhonat,
para penguasa Mongol mulai berinteraksi dengan para ulama Sunni yang tetap
bertahan dalam da’wah meskipun di bawah tekanan. Hikmah Alloh bekerja dengan
sangat halus. Salah satu titik balik terbesar adalah saat Sultan Ghozan Khon
(غَازَانُ خَان) (703 H) menyatakan keislamannya dan menjadikan Islam sebagai
agama resmi negara.
Ghozan Khon
bersama menterinya yang terkenal, Rosyiduddin al-Hamadani, mulai
membangun kembali kota-kota yang hancur. Masjid-Masjid dan madrosah-madrosah
didirikan kembali. Meskipun pengaruh ajaran Syi’ah sempat mencoba masuk melalui
tokoh-tokoh seperti Ibnu Muthohhar al-Hilli yang mempengaruhi Sultan Oljeitu
(saudara Ghozan), namun mayoritas penduduk Persia pada masa itu masih tetap
berada di atas Madz-hab Sunni berkat kegigihan para ulama dalam mengajar.
Keislaman
bangsa Mongol di Persia membawa stabilitas baru. Mereka yang dulunya
menghancurkan Al-Qur’an, kini menjadi pembela-pembela Islam. Hal ini
membuktikan bahwa cahaya Islam tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh kekuatan
fisik apa pun, sebagaimana sabda Nabi ﷺ mengenai kebenaran agama ini:
«لاَ يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ
بِأَمْرِ اللَّهِ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، وَلاَ مَنْ خَالَفَهُمْ، حَتَّى
يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ»
“Akan
selalu ada dari umatku suatu kelompok yang tegak di atas perintah Alloh. Tidak
akan membahayakan mereka orang yang meremehkan mereka dan tidak pula orang yang
menyelisihi mereka, hingga datangnya ketetapan Alloh dan mereka tetap dalam
keadaan demikian.” (HR. Al-Bukhori no. 3641
dan Muslim no. 1037)
Masa Ilkhonat (إِيْلْخَانَات) ini pada akhirnya
menjadi masa transisi penting bagi Persia. Meskipun luka akibat invasi Mongol
sangat dalam, proses Islamisasi kembali wilayah ini menunjukkan betapa kuatnya
akar Sunni di tanah Persia sebelum datangnya gelombang besar perubahan di masa depan
yang akan mengubah wajah negeri ini secara paksa.
Bab 7: Dinasti Shofawiyah:
Perubahan Paksa Menjadi Negeri Syi’ah
Sejarah
tanah Persia mengalami guncangan ideologi yang sangat dahsyat pada awal abad
ke-10 Hijriyah. Jika sebelumnya Persia dikenal sebagai gudang para ulama Hadits
dan Fiqh Sunni, maka berdirinya Dinasti Shofawiyah menghapus gambaran tersebut
melalui kekuatan pedang dan darah. Inilah masa di mana identitas sebuah bangsa
diubah secara paksa, menciptakan jurang pemisah yang dalam antara Persia dengan
dunia Islam lainnya yang tetap teguh di atas jalan Salafush Sholih.
7.1
Ismail I (930 H) dan Kekejaman Penindasan terhadap Ahlus Sunnah di Persia
Dinasti
Shofawiyah bermula dari sebuah tarekat sufi di wilayah Ardabil yang
perlahan-lahan berubah menjadi gerakan politik militer yang ekstrem.
Pemimpinnya yang paling fenomenal adalah Ismail I, yang naik takhta dalam usia
yang sangat muda. Pada tahun 907 Hijriyah, ia menaklukkan kota Tabriz dan
memproklamirkan dirinya sebagai Syah (Raja) Persia.
Hal pertama
yang dilakukan oleh Ismail I (930 H) setelah berkuasa adalah menetapkan Syi’ah
Imamiyah sebagai Madz-hab resmi negara. Padahal, saat itu mayoritas penduduk
Persia (sekitar 70-80%) adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Pengubahan ini tidak
dilakukan melalui da’wah yang santun, melainkan melalui teror yang mengerikan.
Syah Ismail memberikan pilihan yang sangat berat kepada rakyatnya: memeluk Syi’ah,
atau dihukum mati.
Para
sejarawan mencatat bahwa ribuan ulama Sunni dan penduduk yang menolak berpindah
keyakinan dibantai dengan kejam. Masjid-Masjid Sunni dirampas, dan para khotib
dipaksa untuk mencela para Shohabat Nabi ﷺ, terutama Abu Bakar, Umar, dan Utsman rodhiyallahu ‘anhum,
di atas mimbar-mimbar mereka. Siapa yang menolak melakukan penghinaan tersebut,
maka kepalanya akan dipenggal saat itu juga. Sungguh, ini adalah tragedi
kemanusiaan yang sangat menyakitkan bagi umat Islam.
Alloh telah
memperingatkan tentang besarnya dosa membunuh seorang Mu’min tanpa hak:
﴿وَمَنْ
يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ
عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًا﴾
“Dan siapa
yang membunuh seorang Mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jannah, ia
kekal di dalamnya dan Alloh murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan
adzab yang besar baginya.” (QS. An-Nisa: 93)
7.2
Strategi Pengubahan Identitas Bangsa Persia Menjadi Syi’ah Imamiyah
Shah Ismail
I (930 H) menyadari bahwa kekuatan pedang saja tidak cukup untuk mengubah
keyakinan sebuah bangsa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, ia menjalankan
strategi sistematis untuk menghapus jejak-jejak Sunni di tanah Persia.
Pertama, ia mendatangkan para teolog Syi’ah
dari wilayah Lebanon Selatan, Iraq, dan Bahrain untuk mengisi posisi-posisi
penting di pemerintahan dan menjadi guru-guru bagi masyarakat. Tokoh seperti
Al-Karaki didatangkan untuk menyusun fondasi hukum negara yang berlandaskan
ajaran Syi’ah.
Kedua, terjadi penghancuran massal
terhadap kitab-kitab karya ulama Sunni. Perpustakaan-perpustakaan yang
menyimpan karya Imam Al-Bukhori, Imam Muslim, dan para ulama besar Persia
terdahulu dibakar. Akses rakyat terhadap literatur Islam yang lurus diputus
total, digantikan dengan kitab-kitab yang penuh dengan doktrin kebencian
terhadap para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Ketiga, Dinasti Shofawiyah membangun
identitas nasional baru yang memisahkan Persia dari pengaruh Daulah Utsmaniyah
(Ottoman) yang Sunni. Mereka menonjolkan ritual-ritual yang membedakan mereka,
seperti perayaan duka cita yang berlebihan dan ziarah ke makam-makam imam yang
dihiasi dengan kemewahan luar biasa. Dalam beberapa generasi, penduduk Persia
yang tadinya mencintai para Shohabat berbalik menjadi pembenci karena didikan
negara yang sistematis sejak kecil.
Hal ini
menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya menjaga aqidah dan Sunnah,
sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ
الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ،
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ
بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Maka wajib
bagi kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rosyidin yang
mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan geraham kalian. Dan
jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara
yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HSR.
Abu Dawud no. 4607)
7.3
Konflik Berkepanjangan Shofawiyah dengan Daulah Utsmaniyah
Munculnya
kekuatan Syi’ah yang agresif di Persia menciptakan ancaman besar bagi keamanan
dunia Islam. Daulah Utsmaniyah, yang saat itu merupakan pelindung utama dunia
Sunni, tidak bisa tinggal diam melihat pembantaian terhadap Ahlus Sunnah di
wilayah timur.
Persaingan
ini memuncak pada masa Sultan Salim I dari Daulah Utsmaniyah. Pada tahun
920 Hijriyah (1514 M), terjadi pertempuran besar di lembah Chaldiran. Sultan Salim
I membawa pasukan yang disiplin dengan teknologi meriam, sementara Syah Ismail
I mengandalkan pasukan penunggang kuda Qizilbash yang fanatik.
Hasilnya,
pasukan Shofawiyah kalah telak. Syah Ismail melarikan diri, dan ibu kotanya,
Tabriz, sempat dikuasai oleh pasukan Utsmaniyah. Namun, meskipun menang secara
militer, Daulah Utsmaniyah tidak mampu menghancurkan Dinasti Shofawiyah
sepenuhnya karena jarak yang sangat jauh dan tantangan logistik di pegunungan
Iran yang ekstrem.
Setelah
kekalahan di Chaldiran, Syah Ismail mengalami depresi berat hingga akhir
hayatnya pada tahun 930 Hijriyah. Namun, benih perpecahan telah tertanam.
Dinasti Shofawiyah terus melakukan peperangan dengan Utsmaniyah selama lebih
dari dua abad. Konflik ini sangat merugikan umat Islam, karena saat tentara
Utsmaniyah sedang berjuang melawan kekuatan Eropa di barat, mereka sering kali
ditusuk dari belakang oleh serangan Shofawiyah dari timur.
Peperangan
ini juga mempertegas perbatasan antara Iran (Persia) dengan negara-negara
tetangganya. Identitas “Iran” mulai identik dengan “Syi’ah”, sementara
identitas “Turki” dan “Arob” identik dengan “Sunni”. Pembelahan ini menjadi
warisan sejarah yang pahit, di mana tanah Persia yang dahulunya menjadi jantung
intelektual Islam yang lurus, kini berubah menjadi benteng pertahanan bagi
ajaran yang sangat menyimpang dari jalan para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum.
Perjalanan
Dinasti Shofawiyah ini memberikan pelajaran berharga bahwa kekuasaan politik
yang tidak dilandasi oleh aqidah yang benar hanya akan membawa kerusakan bagi
persatuan umat dan menumpahkan darah kaum Muslimin tanpa hak.
Bab 8: Sejarah Iran di Masa
Dinasti Qojar dan Pahlavi
Memasuki
abad ke-18 dan ke-19 Masehi, tanah Persia yang dahulu menjadi pusat peradaban
yang berwibawa mulai kehilangan taringnya. Dinasti Shofawiyah yang telah hancur
meninggalkan warisan perpecahan dan kelemahan sistemis. Di tengah kekacauan
ini, muncullah Dinasti Qojar (الدَّوْلَةُ الْقَاجَارِيَّةُ) yang berusaha menyatukan
kembali wilayah Iran, namun mereka harus berhadapan dengan kenyataan pahit
bahwa dunia telah berubah. Kekuatan imperialis Barat, terutama Rusia dan
Inggris, mulai menancapkan kuku-kuku mereka di bumi Persia demi kepentingan
ekonomi dan politik.
8.1
Melemahnya Kekuatan Islam dan Masuknya Imperialisme Barat (Inggris dan Rusia)
Dinasti Qojar
yang dipimpin oleh raja-raja seperti Agha Mohammad Khon (1211 H) dan Fath Ali
Syah (1250 H) mendapati diri mereka berada di tengah jepitan dua raksasa. Dari
utara, Kekaisaran Rusia terus merangsek maju untuk merebut wilayah-wilayah di
Kaukasus. Dari selatan dan timur, Kerajaan Inggris berusaha mengamankan jalur
menuju India melalui wilayah Persia.
Kelemahan
kepemimpinan dan tertinggalnya teknologi militer membuat Iran terpaksa
menandatangani perjanjian-perjanjian yang sangat merugikan, seperti Perjanjian
Gulistan dan Perjanjian Turkmenchay. Dalam perjanjian tersebut, Iran kehilangan
sebagian besar wilayah suburnya di utara kepada Rusia. Sementara itu, Inggris
memonopoli berbagai sektor ekonomi, mulai dari tembakau hingga infrastruktur
melalui sistem konsesi yang memeras kekayaan alam negeri tersebut.
Kondisi ini
merupakan cerminan dari apa yang pernah diingatkan oleh Rosululloh ﷺ tentang masa di mana umat
Islam menjadi rebutan bangsa-bangsa lain karena kelemahan internal mereka
sendiri:
«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ
كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»
“Hampir-hampir
bangsa-bangsa lain memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang yang makan
memperebutkan nampan makanannya.” (HSR. Abu Dawud no. 4297)
Melemahnya
kedaulatan ini bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal hilangnya kemandirian
umat dalam mengatur urusan mereka sesuai dengan syariat. Para penguasa Qojar
lebih sibuk dengan kemewahan istana sementara rakyat jelata hidup dalam
kemiskinan dan kebodohan. Inilah pintu masuk bagi pemikiran-pemikiran asing
yang mulai meracuni tatanan sosial masyarakat Persia.
8.2
Sekularisme Radikal Reza Syah Pahlavi (1363 H) dan Upaya Penghapusan Syiar
Islam
Setelah
runtuhnya Dinasti Qojar pasca Perang Dunia I, muncul seorang perwira militer
bernama Reza Khon yang kemudian memproklamirkan dirinya sebagai Syah
dari Dinasti Pahlavi (الدَّوْلَةُ الْبَهْلَوِيَّةُ). Reza Syah (1363 H) adalah seorang pengagum berat Mustafa
Kemal Ataturk di Turki. Ia memiliki ambisi untuk mengubah Iran menjadi
negara modern dengan cara memaksakan gaya hidup Barat secara radikal.
Langkah
pertama yang ia lakukan adalah menyerang simbol-simbol Islam. Pada tahun 1354 H
(1936 M), ia mengeluarkan kebijakan Kashf-e Hijab (pembukaan jilbab), di mana
para wanita dilarang mengenakan jilbab di tempat umum. Para petugas keamanan
diperintahkan untuk merobek jilbab dari kepala para Muslimah yang tetap ingin
menutup aurot mereka. Selain itu, para lelaki dipaksa untuk mengenakan topi
model Barat dan dilarang menggunakan pakaian tradisional yang dianggap “kuno”.
Reza Syah
juga berusaha membatasi peran para ulama dan menutup madrosah-madrosah
tradisional. Ia ingin menggantikan identitas Islam dengan identitas Persia kuno
yang bersifat nasionalis-sekuler. Bagi Reza Syah (1363 H), Islam dianggap
sebagai penghambat kemajuan. Sungguh, siapa yang mencari kemuliaan di luar
Islam, maka Alloh akan menghinakannya. Sebagaimana firman Alloh dalam Al-Qur’an:
﴿وَمَنْ
يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ
مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Dan siapa
mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)
darinya, dan dia di Akhiroh termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali
Imron: 85)
Tindakan-tindakan
zholim ini menimbulkan luka mendalam di hati masyarakat. Meskipun infrastruktur
fisik seperti jalan kereta api dan pabrik mulai dibangun, namun harga yang
harus dibayar adalah hilangnya kehormatan agama dan kebebasan menjalankan syiar
Islam.
8.3
Ketergantungan Iran pada Kekuatan Asing dan Penderitaan Rakyat
Estafet
kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Mohammad Reza Pahlavi. Di
masa pemerintahannya, ketergantungan Iran terhadap Barat, khususnya Amerika
Serikat, semakin menjadi-jadi. Iran menjadi mitra utama Amerika di Timur Tengah
dalam membendung pengaruh Komunis (Rusia-China dkk), namun sebagai imbalannya,
kekayaan minyak Iran dikuasai oleh perusahaan-perusahaan asing.
Upaya
nasionalisasi minyak oleh Perdana Menteri Mohammad Mossadegh pada tahun 1951 M
digagalkan melalui kudeta yang dirancang oleh dinas intelijen asing (CIA dan
MI6). Hal ini menunjukkan betapa lemahnya kedaulatan Iran saat itu; seorang
pemimpin yang ingin membela kepentingan rakyatnya justru digulingkan demi kepentingan
korporasi Barat.
Mohammad
Reza Pahlavi kemudian meluncurkan apa yang disebut sebagai “Revolusi Putih”.
Sebuah program modernisasi yang didanai dari hasil minyak, namun dampaknya
justru memperlebar jurang antara kaya dan miskin. Budaya Barat yang permisif
mulai masuk ke kota-kota besar, mengikis moralitas generasi muda Muslim.
Masjid-Masjid mulai sepi, sementara tempat-tempat hiburan malam menjamur di
bawah perlindungan rezim Syah.
Penderitaan
rakyat bukan hanya soal materi, tetapi juga soal penindasan politik. Dinas
intelijen Syah yang dikenal sebagai SAVAK sangat terkenal karena kekejamannya
dalam menyiksa siapa saja yang berani mengkritik pemerintah. Kekecewaan yang
menumpuk selama puluhan tahun ini, baik dari kalangan agamis maupun kalangan
nasionalis, akhirnya menjadi api dalam sekam yang siap meledak kapan saja.
Sejarah
mencatat bahwa kemakmuran yang tidak berlandaskan pada ketaqwaan dan keadilan
hanyalah fatamorgana yang akan hancur pada waktunya. Sungguh, Alloh telah
memberikan peringatan:
﴿وَإِذَا
أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ
عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا﴾
“Dan jika
Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang
yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Alloh), tetapi mereka melakukan
kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya
perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu
sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isro: 16)
Kondisi Iran di bawah Dinasti Pahlavi inilah yang kemudian
menjadi latar belakang meletusnya Revolusi 1979 yang akan kita bahas pada bab
selanjutnya. Sebuah peristiwa
besar yang mengakhiri kekuasaan monarki di Persia dan memulai babak baru dalam
sejarah politik dunia Islam modern.
Bab 9: Revolusi 1979 dan Wajah
Iran Modern
Pada
penghujung abad ke-14 Hijriyah, dunia dikejutkan oleh runtuhnya salah satu
monarki tertua di dunia. Puncak ketidakpuasan rakyat terhadap kediktatoran
Dinasti Pahlavi bermuara pada sebuah revolusi besar. Namun, bagi umat Islam
yang berpegang teguh pada aqidah Salaf, peristiwa ini bukan sekadar pergantian
penguasa, melainkan sebuah perubahan besar dalam struktur teokrasi yang membawa
pengaruh mendalam bagi stabilitas dunia Sunni di masa depan.
9.1
Jatuhnya Rezim Syah dan Berdirinya Republik Islam Iran di Bawah Khomeini (1409
H)
Rezim
Mohammad Reza Pahlavi runtuh bukan hanya karena tekanan politik, tetapi juga
karena hilangnya legitimasi moral di mata rakyat. Gaya hidup mewah keluarga
kerajaan di tengah kemiskinan rakyat, penindasan kejam oleh dinas rahasia
SAVAK, dan kebijakan pembaratan yang membabi buta telah memicu kemarahan
kolektif.
Pada tahun
1399 H (1979 M), gelombang demonstrasi yang tak terbendung memaksa Syah untuk
meninggalkan Iran selamanya. Tak lama kemudian, Ruhullah Khomeini (1409
H) kembali dari pengasingannya di Prancis dan disambut oleh jutaan orang di
Teheran. Kepulangannya menandai berakhirnya sistem kerajaan dan berdirinya
Republik Islam Iran.
Masyarakat
dunia awalnya melihat ini sebagai kemenangan Islam atas kekuatan Barat yang zholim.
Namun, seiring berjalannya waktu, arah revolusi ini semakin jelas menunjukkan
jati dirinya sebagai kebangkitan ideologi Syi’ah Imamiyah yang agresif. Sesuatu
yang telah diperingatkan oleh para ulama bahwa fitnah itu sering kali datang
dengan baju kebaikan.
9.2
Analisis Kritis terhadap Konsep Wilayatul Faqih dalam Perspektif Politik Islam
yang Lurus
Salah satu
pilar utama yang dibangun setelah revolusi adalah konsep Wilayatul Faqih.
Secara sederhana, konsep ini memberikan kekuasaan mutlak kepada seorang ulama
senior (Faqih) untuk memimpin negara sebagai wakil dari Imam mereka yang
diyakini sedang menghilang (Imam Mahdi versi Syi’ah).
Dalam
perspektif politik Islam yang lurus sesuai pemahaman Salaf, konsep ini memiliki
banyak kerancuan. Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ dan diamalkan oleh para Shohabat mengajarkan prinsip Syuro
(musyawarah) dan kepemimpinan yang berlandaskan ketaatan kepada Alloh dan
Rosul-Nya, tanpa memberikan sifat kemashuman (suci dari dosa) kepada
pemimpinnya.
Sifat
mutlak dalam Wilayatul Faqih cenderung mengarah pada pengultusan individu, yang
sangat rawan terhadap penyalahgunaan kekuasaan. Para ulama Sunni menegaskan
bahwa tidak ada manusia setelah Nabi ﷺ yang memiliki otoritas suci yang tak terbantahkan. Hal ini
merupakan penyimpangan dari nilai-nilai kedaulatan umat yang hakiki. Siapa yang
menempatkan manusia pada kedudukan yang bukan haknya, sungguh ia telah
melampaui batas.
9.3
Ambisi Ekspor Revolusi dan Dampaknya terhadap Stabilitas Negeri-Negeri Muslim
Sunni
Setelah
berhasil menguasai Iran, rezim baru di bawah Khomeini (1409 H) memiliki ambisi
besar yang disebut sebagai “Ekspor Revolusi”. Mereka ingin menyebarkan model
pemerintahan dan ideologi Syi’ah ke seluruh negeri Muslim, terutama ke
negara-negara tetangga yang mayoritas Sunni.
Ambisi ini
memicu ketegangan luar biasa di kawasan Timur Tengah. Salah satu dampak paling
nyata adalah pecahnya Perang Iran-Irak (1401-1409 H) yang berlangsung selama
delapan tahun dan menelan jutaan korban jiwa dari kedua belah pihak. Perang ini
bukan sekadar perebutan wilayah, melainkan pertentangan ideologi dan pengaruh
di kawasan.
Strategi
ekspor revolusi ini juga dilakukan melalui pembentukan kelompok-kelompok
bersenjata (proxy) di berbagai negara seperti Lebanon, Yaman, Suriah, dan Irak.
Hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan internal di negeri-negeri tersebut
dan sering kali berujung pada peperangan saudara yang melemahkan kekuatan umat
Islam secara keseluruhan di hadapan musuh-musuh eksternal.
9.4
Kondisi Minoritas Ahlus Sunnah di Iran Saat Ini
Di tengah
dominasi ideologi negara, nasib penduduk Iran yang tetap teguh memegang aqidah
Ahlus Sunnah wal Jama’ah sering kali terabaikan oleh dunia luar. Meskipun Iran
mengklaim sebagai negara Islam, kenyataannya kaum Sunni—terutama dari etnis
Baluchi, Kurdi, dan Turcoman—menghadapi berbagai tantangan berat.
Hingga saat
ini, Ahlus Sunnah di ibu kota Teheran masih kesulitan untuk mendapatkan idzin
resmi mendirikan Masjid sendiri, sehingga mereka terpaksa melakukan Sholat
berjamaah di rumah-rumah atau tempat tersembunyi yang mereka sebut Namazkhoneh.
Para ulama Sunni sering kali diawasi secara ketat, dan pembangunan pendidikan
Islam yang murni Sunnah mengalami banyak hambatan birokrasi.
Meskipun
demikian, semangat da’wah di kalangan Ahlus Sunnah di Iran tidak pernah padam.
Mereka tetap istiqomah mengajarkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para
Shohabat rodhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah penjaga cahaya terakhir dari
warisan para ulama besar Persia masa lalu seperti Imam Al-Bukhori (256 H) dan
Imam Muslim (261 H).
Bab 10: Konflik Iran Melawan
Aliansi Israel dan Amerika
Memasuki
dekade ketiga abad ke-21, wajah dunia khususnya di wilayah Timur Tengah semakin
memanas. Perseteruan antara Republik Islam Iran dengan aliansi Israel dan
Amerika Serikat telah bergeser dari perang bayangan menjadi konfrontasi yang
semakin nyata dan terbuka. Bagi pembaca yang jeli, konflik ini bukan sekadar
urusan perebutan wilayah atau sumber daya minyak, melainkan sebuah pertarungan
pengaruh yang sangat kompleks, di mana di dalamnya terselip kepentingan
ideologi yang saling bertabrakan.
10.1
Akar Ketegangan dan Eskalasi Menuju Perang Terbuka
Ketegangan
antara Iran dan Amerika Serikat berakar sejak peristiwa revolusi tahun 1399 H
(1979 M) yang telah kita bahas di bab sebelumnya. Sejak jatuhnya Syah yang
didukung Barat, hubungan kedua negara berubah menjadi permusuhan abadi. Iran
melabeli Amerika sebagai “Setan Besar”, sementara Amerika memasukkan Iran ke
dalam daftar negara pendukung terorisme. Di sisi lain, permusuhan Iran terhadap
Israel didasari oleh keinginan untuk menjadi pemimpin tunggal di dunia Islam
dengan menggunakan isu kemerdekaan Palestina sebagai daya tarik utama bagi
massa.
Eskalasi
konflik meningkat tajam seiring dengan ambisi Iran mengembangkan teknologi
nuklir. Israel melihat nuklir Iran sebagai ancaman eksistensial, sementara
Amerika menggunakan sanksi ekonomi yang berat untuk menjepit Iran. Puncak
ketegangan terjadi pada beberapa peristiwa kunci, seperti terbunuhnya Qosim Sulaimani
(1441 H) di Baghdad melalui serangan udara Amerika. Sulaimani adalah otak di
balik jaringan militer Iran di luar negeri. Sungguh, kematian tokoh ini
mengguncang keseimbangan kekuatan di kawasan dan memicu serangan balasan
langsung dari Iran ke pangkalan-pangkalan militer Amerika.
Perang ini
kini merambah ke berbagai front melalui tangan-tangan kelompok bersenjata
(proxy) di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Irak. Setiap ledakan di Gaza atau
serangan di perbatasan Israel sering kali memiliki benang merah yang terhubung
ke Teheran dan Washington. Dunia seolah sedang diseret ke dalam jurang perang
besar yang bisa meledak kapan saja.
10.2
Analisis Dampak Politik dan Ideologi di Kawasan
Secara
politik, perseteruan ini telah membelah negeri-negeri Muslim menjadi beberapa
kutub. Sebagian negara terjepit di tengah, mencoba menjaga keseimbangan agar
tidak menjadi medan perang bagi kedua raksasa tersebut. Dampak politik yang
paling terasa adalah melemahnya kedaulatan negara-negara Arob yang wilayahnya
dijadikan arena adu kekuatan.
Secara
ideologi, Iran menggunakan narasi “Perlawanan” (Muqowamah) untuk menarik
simpati umat Islam secara luas, termasuk Ahlus Sunnah. Mereka memosisikan diri
sebagai satu-satunya pembela Palestina saat negara-negara lain dianggap diam.
Namun, jika kita melihat lebih dalam, terdapat agenda penyebaran ideologi Syi’ah
di balik bantuan-bantuan militer tersebut. Isu Palestina sering kali dijadikan “pintu
masuk” untuk memperluas pengaruh Wilayatul Faqih di wilayah-wilayah Sunni.
Di sisi
lain, aliansi Israel dan Amerika juga membawa agenda besar untuk menata ulang
Timur Tengah sesuai kepentingan mereka. Mereka menggunakan narasi “keamanan
kawasan” untuk membenarkan campur tangan yang sering kali berujung pada
kehancuran tatanan sosial kaum Muslimin. Bagi Ahlus Sunnah, kedua kutub ini
sama-sama membawa bahaya yang nyata bagi keutuhan aqidah dan keselamatan jiwa.
Sungguh,
Alloh telah memberikan peringatan agar kita tidak memberikan loyalitas kepada
pihak-pihak yang tidak menginginkan kebaikan bagi agama ini:
﴿وَلَا
تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ
اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zholim yang menyebabkan kamu
disentuh api Naar, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolong pun
selain Alloh, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud: 113)
10.3 Sikap Bijak Ahlus Sunnah di Tengah Fitnah
Perseteruan
Menghadapi perseteruan antara Iran melawan Israel dan
Amerika, Ahlus Sunnah wal Jama’ah harus memiliki kompas yang jelas yang
bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salafush Sholih. Kita tidak boleh terjebak menjadi
pemandu sorak bagi salah satu pihak, karena pada hakikatnya masing-masing
memiliki agenda yang merugikan Islam yang murni.
Berikut
adalah beberapa poin sikap bijak yang harus diambil:
Menjaga
Kemurnian Aqidah:
Jangan sampai rasa benci kita kepada zionis Israel membuat kita membenarkan
atau mendukung kesesatan ideologi Syi’ah yang mencela para Shohabat dan merusak
fondasi agama. Kemenangan Islam tidak akan bisa diraih melalui jalan yang
menyimpang dari Sunnah Nabi ﷺ.
Mewaspadai
Penyesatan Informasi:
Di era informasi ini, banyak berita bohong (hoaks) yang dibuat untuk menggiring
opini umat agar mendukung salah satu pihak secara membabi buta. Ahlus Sunnah
harus cerdas dalam menyaring informasi dan tidak mudah terprovokasi.
Fokus
pada Kekuatan Internal Ummat: Daripada sibuk memihak dalam konflik antar kekuatan besar yang
sama-sama memiliki kepentingan duniawi, lebih baik umat Islam fokus memperbaiki
diri, memperkuat ekonomi, pendidikan, dan kembali kepada ajaran agama yang
shohih.
Membantu
Kaum Muslimin yang Tertindas secara Langsung: Jika ada kaum Muslimin yang menjadi korban
peperangan, seperti di Palestina, bantuan harus diberikan secara tulus demi
kemanusiaan dan ukhuwah Islamiyyah, tanpa harus terikat dengan agenda politik
atau ideologi pihak-pihak yang bertikai.
Sungguh,
keselamatan hanya ada pada mereka yang berpegang teguh pada tuntunan Rosululloh
ﷺ saat terjadi fitnah yang
besar. Nabi ﷺ
bersabda mengenai pentingnya hikmah dan menjaga diri:
«إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ»
“Sungguh
orang yang bahagia adalah siapa yang dijauhkan dari fitnah-fitnah.” (HSR.
Abu Dawud no. 4263)
Sikap bijak
bagi Sunni adalah tetap berada di barisan yang membela kebenaran tanpa terjebak
dalam kepentingan politik sesaat. Kita harus meyakini bahwa kejayaan Islam yang
hakiki akan kembali melalui tangan-tangan orang yang bertaqwa dan beraqidah
lurus, bukan melalui aliansi yang dibangun di atas landasan yang rapuh dan
menyimpang.
Penutup
Menutup
catatan sejarah yang panjang ini, kita diingatkan bahwa kemuliaan suatu bangsa
tidak terletak pada megahnya istana atau kuatnya pasukan militer semata,
melainkan pada sejauh mana bangsa tersebut berpegang teguh pada kebenaran yang
diturunkan oleh Alloh melalui Rosul-Nya. Persia telah mengalami pasang surut
yang luar biasa; dari pusat peradaban dunia kuno yang zholim, menjadi mercusuar
ilmu pengetahuan Islam yang lurus di bawah bimbingan para Shohabat rodhiyallahu
‘anhu dan para Tabi’in, hingga kini berada dalam kemelut perbedaan aqidah
dan konflik politik yang sangat melelahkan.
Sejarah
telah membuktikan bahwa tanah Persia pernah melahirkan para penjaga Sunnah yang
sangat tangguh, seperti Imam Al-Bukhori (256 H), Imam Muslim (261 H), dan para
imam lainnya yang jasa-jasanya akan terus abadi hingga hari Akhiroh. Sungguh,
warisan mereka adalah bukti bahwa kecintaan terhadap ilmu dan kebenaran pernah
menyatukan berbagai bangsa dalam satu ikatan iman yang murni. Namun, kita juga
mengambil pelajaran pahit dari masa Dinasti Shofawiyah dan era modern, di mana
fanatisme dan ambisi kekuasaan sering kali mengorbankan integritas aqidah dan
persatuan umat Islam.
Di tengah
gejolak yang melanda Iran saat ini, baik dalam perseteruannya dengan kekuatan
luar maupun dalam dinamika internalnya, sikap terbaik bagi setiap Muslim adalah
kembali kepada sumber yang jernih, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman
Salafush Sholih. Kita tidak boleh membiarkan diri kita terombang-ambing oleh
arus fitnah yang menyesatkan. Kita harus tetap memiliki harapan yang besar
bahwa suatu saat nanti, tanah Persia akan kembali disinari oleh cahaya Sunnah
sebagaimana pada masa-masa kejayaan terdahulu.
Sungguh,
Alloh memiliki ketetapan atas segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, dan
setiap peristiwa sejarah adalah bagian dari rencana-Nya yang Maha Agung. Alloh
berfirman dalam Al-Qur’an:
﴿وَتِلْكَ
الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ﴾
“Dan masa
(kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka
mendapat pelajaran); dan supaya Alloh membedakan orang-orang yang beriman
(dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syahid.
Dan Alloh tidak menyukai orang-orang yang zholim.” (QS. Ali Imron: 140)
Semoga buku
ini dapat menjadi pelita kecil bagi pembaca dalam memahami hakikat sejarah
negeri Persia dengan lebih objektif dan amanah. Semoga kita semua dijaga oleh
Alloh di atas jalan yang lurus hingga akhir hayat kita, dan semoga umat Islam
kembali bersatu di bawah bendera tauhid yang murni, menjauhi segala bentuk
penyimpangan dan perpecahan demi meraih Jannah yang dijanjikan.[NK]
Daftar Pustaka
Sumber
Klasik (Ulama Terdahulu):
Ath-Thobari,
Muhammad bin Jarir (310 H). Tarikh al-Rusul wal Muluk. Mesir: Darul Ma’arif.
(Rujukan utama untuk sejarah, nasab bangsa Persia, dan detil penaklukan di masa
Khulafaur Rosyidin).
Ibnu Atsir,
Ali bin Muhammad (630 H). Al-Kamil fit Tarikh. Beirut: Darul Kutub
al-Ilmiyyah. (Sumber rujukan untuk masa Daulah Umawiyyah, Abbasiyyah, hingga
musibah invasi Mongol).
Adz-Dzahabi,
Muhammad bin Ahmad (748 H). Siyar A’lam an-Nubala. Kairo: Darul Hadits.
(Rujukan untuk biografi para ulama besar asal Persia, ahli Hadits, dan sejarah
perkembangan ilmu pengetahuan).
Ibnu
Katsir, Ismail bin Umar (774 H). Al-Bidayah wan Nihayah. Kairo: Darul
Hijroh. (Karya komprehensif yang membahas nubuwwah Nabi ﷺ tentang Persia, fitnah-fitnah
akhir zaman, dan keruntuhan Daulah Islam di Baghdad).
Ibnu Kholdun,
Abdurrohman bin Muhammad (808 H). At-Tarikh (Al-Ibar). Beirut: Darul
Fikr. (Membahas sosiologi bangsa Persia dan dinamika kekuasaan dinasti-dinasti
di tanah Iran).
Al-Ghozali,
Muhammad bin Muhammad (505 H). Fadhoih al-Batiniyyah. (Rujukan untuk
memahami kesesatan gerakan kebatinan dan Isma’iliyyah di wilayah Persia).
Sumber
Kontemporer (Peneliti Modern):
Ash-Sholabi,
Ali Muhammad. Al-Insyiroh fi Shakhsiyat al-Faruq Umar bin al-Khottab.
Kairo: Darul Iman. (Analisis mendalam tentang strategi penaklukan Persia di
masa Umar bin Khoththob rodhiyallahu ‘anhu).
Ash-Sholabi,
Ali Muhammad. Ad-Daulah al-Utsmaniyyah: ‘Awamil al-Nuhudh wa Asbab al-Suquth.
(Membahas konflik berkepanjangan antara Daulah Utsmaniyah dengan Dinasti
Shofawiyah).
Syakir,
Mahmud (1418 H). At-Tarikh al-Islami. Beirut: Al-Maktab al-Islami.
(Serial sejarah Islam lengkap yang membahas transisi kekuasaan di Iran hingga
masa modern).
An-Nadwi,
Abul Hasan (1420 H). Ash-Shiro’ bainal Iman wal Maddiyyah. (Rujukan
mengenai dampak sekularisme di masa Dinasti Pahlavi dan kondisi umat Islam di
bawah tekanan ideologi Barat).
Al-Mubarkfuri,
Shofiyyurrahman (1427 H). Ar-Rohiqul Makhtum. (Rujukan untuk
Hadits-Hadits Nabi ﷺ
mengenai Persia dan surat-surat da’wah beliau).
Dan
lain-lain.[NK]
