Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Narasi Surat Yasin - Nor Kandir

 


بسم الله الرحمن الرحيم

Bab 1: Sumpah Atas Risalah

1.1 Cahaya Peringatan Bagi Jiwa Yang Lalai

Kisah ini dibuka dengan sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Sebuah panggilan yang menggetarkan batin manusia.

﴿يس﴾

Yaa siin. (QS. Yasin: 1)

Alloh kemudian bersumpah dengan kitab suci yang penuh dengan aturan dan hikmah yang sangat kokoh, tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

﴿وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ﴾

Alloh bersumpah dengan Al-Qur’an yang padat dengan hikmah. (QS. Yasin: 2)

Sumpah ini ditujukan untuk menguatkan hati sang pemimpin para Nabi, bahwa langkah yang dia tempuh bukanlah rekayasa manusia, melainkan tugas suci dari Langit.

﴿إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ﴾

Sesungguhnya kamu -wahai Nabi- benar-benar termasuk utusan-utusan Alloh . (QS. Yasin: 3)

Langkah itu berpijak di atas landasan yang sangat lurus, sebuah jalan hidup yang akan mengantarkan siapa pun menuju keridhoan-Nya.

﴿عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ﴾

Di atas jalan yang lurus (yaitu Islam). (QS. Yasin: 4)

Al-Qur’an ini diturunkan oleh Dzat yang memiliki segala keperkasaan namun tetap Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.

﴿تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ﴾

Al-Qur’an ini adalah wahyu yang diturunkan dari Alloh Yang Maha Perkasa dalam membalas musuh-musuh-Nya, lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. (QS. Yasin: 5)

Tujuannya adalah untuk membangunkan sebuah bangsa yang telah lama tertidur dalam kegelapan karena orang tua mereka dahulu tidak pernah mendapatkan peringatan, sehingga mereka hidup dalam kelalaian yang amat dalam.

﴿لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ﴾

Agar kamu memberikan peringatan dengannya kepada sebuah kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai dari iman dan amal sholih. (QS. Yasin: 6)

Namun, ada sebuah kenyataan pahit dalam perjalanan ini. Ketetapan Alloh telah berlaku bagi mayoritas mereka karena kesombongan yang mereka pelihara sendiri.

﴿لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾

Sungguh telah tetap azab (siksa) Alloh atas kebanyakan mereka setelah mereka tetap bersikeras dalam kekafiran, maka mereka tidak akan beriman. (QS. Yasin: 7)

Keadaan mereka digambarkan seperti tawanan yang lehernya terbelenggu hingga dagu mereka terangkat, membuat mereka tidak mampu menundukkan kepala. Itulah balasan mereka di Neraka karena tidak menggunakan mata hati untuk melihat kebenaran.

﴿إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ﴾

Sesungguhnya Kami telah menjadikan di leher-leher mereka belenggu-belenggu yang mengumpulkan tangan-tangan mereka bersama leher mereka di bawah dagu mereka, sehingga kepala mereka pun terangkat ke atas dengan kaku, mereka tidak bisa menundukkannya. (QS. Yasin: 8)

Bahkan, di hadapan dan di belakang mereka telah dibangun dinding penghalang yang sangat tebal. Mata mereka tertutup rapat, sehingga cahaya hidayah tidak mampu menembus pekatnya kegelapan hati mereka.

﴿وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ﴾

Dan Kami jadikan di hadapan mereka penghalang dan di belakang mereka penghalang, lalu Kami tutup pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat jalan hidayah. (QS. Yasin: 9)

Bagi mereka yang telah tertutup hatinya, segala bentuk nasihat dan ancaman tidak akan membawa perubahan. Keadaan mereka tetap sama, baik diperingatkan atau dibiarkan saja.

﴿وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾

Dan sama saja bagi mereka, apakah kamu memberikan peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberikan peringatan kepada mereka, mereka tetap tidak akan beriman. (QS. Yasin: 10)

Peringatan itu hanya akan menyentuh jiwa-jiwa yang mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan memiliki rasa takut kepada Alloh yang Maha Pengasih, meskipun mereka tidak melihat-Nya secara langsung.

﴿إِنَّمَا تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ﴾

Peringatanmu itu hanya bermanfaat bagi orang yang mengikuti Al-Qur’an dan takut kepada Alloh Yang Maha Pengasih meskipun dia tidak melihat-Nya, maka berilah dia kabar gembira dengan ampunan atas dosa-dosanya dan pahala yang mulia (yaitu Jannah). (QS. Yasin: 11)

1.2 Setiap Amal Telah Tercatat

Sebab, setiap langkah manusia, setiap jejak yang mereka tinggalkan, dan setiap amal yang mereka lakukan telah dicatat dengan sangat rapi dalam sebuah kitab induk yang tidak akan melewatkan apa pun.

﴿إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ﴾

Sesungguhnya Kami benar-benar akan menghidupkan orang-orang yang mati semuanya pada hari Kiamat. Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dari amal sholih dan amal buruk, serta jejak-jejak mereka yang mereka tinggalkan setelah kematian mereka. Dan segala sesuatu telah Kami catat di dalam kitab yang jelas (yaitu Lauhul Mahfuzh). (QS. Yasin: 12)

 

Bab 2: Utusan dan Penduduk Kota

2.1 Sebuah Perlawanan di Tanah Antokiyah

Kisah ini berlanjut pada sebuah perumpamaan tentang sebuah kota besar yang didatangi oleh para utusan Alloh . Kisah ini sebagai contoh kaum yang menentang dakwah serta penyelasan mereka kelak.

﴿وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ﴾

Dan buatlah -wahai Nabi- sebuah perumpamaan bagi kaummu yang mendustakan itu, yaitu kisah penduduk sebuah kota ketika datang kepada mereka utusan-utusan. (QS. Yasin: 13)

Awalnya, 2 orang utusan datang membawa pesan kebenaran, namun penduduk kota itu menolak mentah-mentah. Maka Alloh mengirimkan utusan ke-3 untuk memperkuat dakwah mereka.

﴿إِذْ أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ﴾

Yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka 2 orang utusan, lalu penduduk kota itu mendustakan keduanya, maka Kami perkuat keduanya dengan utusan yang ke-3, lalu ke-3 utusan itu berkata, “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan (Alloh) kepada kalian.” (QS. Yasin: 14)

Reaksi penduduk kota itu sangat khas bagi orang-orang yang sombong. Mereka menganggap para utusan itu hanyalah manusia biasa yang tidak punya kelebihan apa pun, bahkan mereka menuduh Alloh tidak menurunkan apa pun.

﴿قَالُوا مَا أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَا أَنزَلَ الرَّحْمَنُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا تَكْذِبُونَ﴾

Penduduk kota itu berkata, “Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Alloh Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Yasin: 15)

Dengan tenang dan penuh keyakinan, para utusan itu menjawab bahwa Robb mereka menjadi saksi atas kebenaran risalah yang mereka bawa.

﴿قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ﴾

Utusan-utusan itu berkata, “Robb kami mengetahui bahwa kami benar-benar utusan-utusan-Nya kepada kalian.” (QS. Yasin: 16)

Tugas mereka hanyalah menyampaikan pesan dengan sejelas-jelasnya, tanpa paksaan, karena hidayah sepenuhnya ada di tangan Alloh .

﴿وَمَا عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾

“Dan tugas kami tidak lain hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)

Kemarahan penduduk kota memuncak. Mereka mulai menganggap kehadiran para utusan ini sebagai pembawa sial dan mengancam akan menyiksa mereka dengan cara dirajam.

﴿قَالُوا إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾

Penduduk kota itu berkata, “Sesungguhnya kami merasa sial dengan kalian. Jika kalian tidak berhenti menyeru kami, niscaya kami akan merajam kalian (melempar dengan batu) dan kalian benar-benar akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” (QS. Yasin: 18)

Para utusan itu membela diri dengan menyatakan bahwa kesialan itu sebenarnya ada pada diri penduduk kota itu sendiri karena kekafiran mereka. Apakah mereka marah hanya karena diberi peringatan?

﴿قَالُوا طَائِرُكُم مَّعَكُمْ أَئِن ذُكِّرْتُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ﴾

Utusan-utusan itu berkata, “Kesialan kalian itu ada pada kalian sendiri (akibat kekafiran kalian). Apakah jika kalian diberi peringatan (kalian merasa sial)? Sebenarnya kalian adalah kaum yang melampaui batas (dalam kemaksiatan).” (QS. Yasin: 19)

2.2 Lelaki dari Ujung Kota

Di tengah ketegangan itu, muncul seorang lelaki dari ujung kota. Dia datang dengan tergesa-gesa, berlari membawa semangat keimanan untuk membela para utusan.

﴿وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ﴾

Dan datanglah dari ujung kota seorang lelaki (yaitu Habib An-Najjar) dengan bergegas, dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.” (QS. Yasin: 20)

Dia mengajak kaumnya untuk mengikuti orang-orang yang berdakwah tanpa meminta imbalan materi sedikit pun, orang-orang yang jalannya telah teruji kebenarannya.

﴿اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾

“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21)

Lelaki sholih itu pun memberikan argumen yang sangat menyentuh nurani. Mengapa dia tidak menyembah Dzat yang telah menciptakannya? Padahal kepada-Nyalah semua manusia akan kembali.

﴿وَمَا لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾

“Dan mengapa aku tidak menyembah Dzat yang telah menciptakanku dan kepada-Nyalah kalian semua akan dikembalikan?” (QS. Yasin: 22)

Dia menolak keras untuk menjadikan tuhan-tuhan selain Alloh . Sebab jika Alloh menghendaki bahaya, tuhan-tuhan palsu itu tidak akan bisa memberi syafaat atau menyelamatkan sedikit pun.

﴿أَأَتَّخِذُ مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنقِذُونِ﴾

“Apakah aku akan mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Jika Alloh Yang Maha Pengasih menghendaki bahaya kepadaku, niscaya syafaat (pembelaan) mereka tidak berguna sedikit pun bagiku dan mereka tidak dapat menyelamatkanku.” (QS. Yasin: 23)

Jika dia melakukan itu, maka dia benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.

﴿إِنِّي إِذًا لَّفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾

“Sesungguhnya aku jika berbuat demikian benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 24)

Dengan lantang dia mengumumkan keimanannya agar didengar oleh para utusan tersebut sebagai saksi di hari pembalasan.

﴿إِنِّي آمَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ﴾

“Sesungguhnya aku telah beriman kepada Robb kalian, maka dengarkanlah (pengakuanku) ini.” (QS. Yasin: 25)

Namun, keberaniannya dibayar mahal. Penduduk kota itu membunuhnya. Saat nyawanya lepas, Alloh langsung menyambutnya dengan kemuliaan Jannah.

﴿قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ﴾

Dikatakan kepadanya (setelah dia dibunuh oleh kaumnya), “Masuklah ke dalam Jannah.” Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” (QS. Yasin: 26)

Dia berandai-andai kaumnya tahu betapa luasnya ampunan Alloh dan betapa mulianya kedudukan yang dia dapatkan sekarang.

﴿بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ﴾

“Tentang ampunan yang telah diberikan Robbku kepadaku dan Dia menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (QS. Yasin: 27)

 

Bab 3: Azab Yang Sekejap

3.1 Teriakan Yang Membinasakan

Setelah pembunuhan lelaki sholih itu, kemurkaan Alloh turun. Alloh tidak perlu mengirimkan pasukan Malaikat yang besar dari langit untuk menghancurkan mereka.

﴿وَمَا أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِن جُندٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ﴾

Kami tidak menurunkan kepada kaumnya setelah (kematian)nya satu pasukan pun dari langit (untuk menghancurkan mereka) dan Kami tidak perlu menurunkannya. (QS. Yasin: 28)

Kehancuran mereka terjadi hanya dengan 1 suara keras yang menggelegar. Seketika itu juga, mereka semua mati tak bergerak, laksana api yang padam tertutup tanah.

﴿إِن كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ﴾

Kematian mereka itu tidak lain hanyalah dengan 1 teriakan suara yang keras saja, maka seketika itu mereka mati tidak bergerak. (QS. Yasin: 29)

3.2 Penyesalan Selalu di Akhir

Sungguh sebuah penyesalan yang amat besar bagi para hamba yang membangkang. Setiap kali seorang utusan datang membawa cahaya, mereka justru menjadikannya sebagai bahan ejekan dan olok-olokan.

﴿يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ﴾

Alangkah besarnya penyesalan bagi hamba-hamba itu, tidak datang kepada mereka seorang utusan pun melainkan mereka selalu mengolok-oloknya. (QS. Yasin: 30)

Tidakkah mereka melihat sejarah? Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah dibinasakan dan mereka tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini.

﴿أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ﴾

Tidakkah mereka melihat berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa mereka (umat-umat itu) tidak akan kembali lagi kepada mereka? (QS. Yasin: 31)

Namun jangan disangka perjalanan itu selesai di liang lahat. Semuanya, tanpa terkecuali, akan dikumpulkan kembali di hadapan Alloh untuk mempertanggungjawabkan segalanya.

﴿وَإِن كُلٌّ لَّمَّا جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ﴾

Dan tidak ada satu pun (umat-umat itu) melainkan semuanya akan dihadirkan di hadapan Kami (untuk dihisab). (QS. Yasin: 32)

 

Bab 4: Ayat-Ayat Kauniyah

4.1 Keajaiban Bumi

Untuk membuka mata hati yang tertutup, Alloh mengajak manusia melihat hamparan bumi yang mati, lalu Dia menghidupkannya kembali dengan air hujan hingga mengeluarkan biji-bijian yang menjadi sumber kehidupan mereka. Ini dari sekian dalil bahwa kalian akan dibangkitkan pula setelah mati untuk mempertanggung-jawabkan amal.

﴿وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ﴾

Dan suatu tanda (kekuasaan Alloh) bagi mereka adalah bumi yang mati (kering), Kami hidupkan bumi itu (dengan air hujan) dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari biji-bijian itu mereka makan. (QS. Yasin: 33)

Alloh juga menciptakan kebun-kebun kurma dan anggur yang indah, serta memancarkan mata air di dalamnya.

﴿وَجَعَلْنَا فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ﴾

Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. (QS. Yasin: 34)

Semua itu disediakan agar manusia bisa menikmati hasilnya, padahal bukan tangan mereka yang menciptakan semua keajaiban itu. Namun, mengapa masih sedikit yang mau bersyukur?

﴿لِيَأْكُلُوا مِن ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ﴾

Agar mereka dapat makan dari buahnya, dan itu bukan hasil usaha tangan mereka sendiri. Maka mengapa mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin: 35)

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, baik yang tumbuh dari bumi, dari diri manusia sendiri, maupun dari hal-hal yang belum mereka ketahui.

﴿سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ﴾

Maha Suci Alloh yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin: 36)

4.2 Keajaiban Malam dan Siang

Tanda kekuasaan-Nya juga nampak pada pergantian malam dan siang. Ketika malam datang, Alloh menanggalkan siang sehingga kegelapan pun menyelimuti segalanya.

﴿وَآيَةٌ لَّهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ﴾

Dan suatu tanda (kekuasaan Alloh) bagi mereka adalah malam, Kami lepaskan siang dari malam itu, maka seketika itu mereka berada dalam kegelapan. (QS. Yasin: 37)

Lihatlah matahari yang beredar pada garis edarnya dengan sangat tertib. Itulah ketetapan dari Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

﴿وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾

Dan matahari beredar di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS. Yasin: 38)

Begitu pula dengan bulan, yang telah ditetapkan fase-fase perjalanannya hingga ia mengecil kembali seperti bentuk tandan kurma yang tua dan melengkung.

﴿وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴾

Dan telah Kami tetapkan bagi bulan tempat-tempat peredaran, hingga (setelah melewati tempat-tempat itu) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin: 39)

Tidak ada tabrakan di angkasa raya. Matahari tidak akan mendahului bulan, dan malam pun tidak akan mendahului siang. Masing-masing berenang di garis edarnya dengan penuh ketaatan.

﴿لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾

Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin: 40)

4.3 Keajaiban Kendaraan

Tanda kebesaran-Nya juga terbawa hingga ke samudra. Bagaimana Alloh membawa nenek moyang manusia dalam kapal yang penuh muatan di tengah amukan ombak.

﴿وَآيَةٌ لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ﴾

Dan suatu tanda (kekuasaan Alloh) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut nenek moyang mereka dalam kapal yang penuh muatan. (QS. Yasin: 41)

Dan Alloh juga menciptakan kendaraan-kendaraan lain yang serupa yang mereka kendarai di kemudian hari.

﴿وَخَلَقْنَا لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ﴾

Dan Kami ciptakan untuk mereka yang semisal dengan kapal itu apa yang mereka kendarai. (QS. Yasin: 42)

Jika Alloh berkehendak, Dia bisa saja menenggelamkan mereka semua di tengah lautan tanpa ada yang bisa menolong atau menyelamatkan.

﴿وَإِن نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ﴾

Dan jika Kami menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tidak ada penolong bagi mereka dan tidak pula mereka diselamatkan. (QS. Yasin: 43)

Kecuali karena rohmat-Nya yang sangat luas dan keinginan-Nya untuk memberi mereka kesempatan menikmati hidup sampai waktu yang telah ditentukan.

﴿إِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ﴾

Melainkan karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu. (QS. Yasin: 44)

 

Bab 5: Kerasnya Hati dan Datangnya Kiamat

5.1 Penolakan Yang Membawa Celaka

Meskipun tanda-tanda itu sangat nyata, manusia sering kali berpaling. Saat mereka diperingatkan untuk takut pada siksa yang ada di hadapan mereka (di dunia) atau yang menanti setelah kematian (di Akhiroh), mereka tetap acuh.

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kalian akan siksa yang ada di hadapan kalian (di dunia) dan siksa yang ada di belakang kalian (di Akhiroh) agar kalian mendapat rohmat.” (QS. Yasin: 45)

Setiap ayat, setiap tanda, setiap bukti kebesaran Robb yang datang kepada mereka, selalu mereka sambut dengan sikap berpaling.

﴿وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ﴾

Dan tidak datang kepada mereka satu tanda pun dari tanda-tanda kekuasaan Robb mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya. (QS. Yasin: 46)

Bahkan dalam urusan kemanusiaan, ketika mereka diajak untuk memberikan infak dari rezeki yang Alloh berikan, mereka menjawab dengan penuh ejekan: “Apakah kami harus memberi makan orang-orang yang jika Alloh mau, Dia bisa memberinya makan sendiri?”

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infaqkanlah sebagian rezeki yang diberikan Alloh kepada kalian”, orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang beriman, “Apakah kami akan memberi makan orang-orang yang jika Alloh menghendaki niscaya Dia memberinya makan? Kalian benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin: 47)

5.2 Menantang Kiamat

Dengan penuh kesombongan, mereka menantang datangnya hari Kiamat seolah-olah itu adalah sebuah lelucon.

﴿وَيَقُولُونَ مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ﴾

Dan mereka berkata, “Kapan janji (hari berbangkit) ini akan datang jika kalian adalah orang-orang yang benar?” (QS. Yasin: 48)

Padahal Kiamat itu akan datang dengan tiba-tiba melalui satu teriakan keras yang menyambar mereka saat mereka sedang sibuk bertengkar dalam urusan dunia.

﴿مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ﴾

Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan suara yang keras yang akan membinasakan mereka saat mereka sedang bertengkar (dalam urusan dunia). (QS. Yasin: 49)

Saat itu, tidak ada lagi kesempatan untuk berwasiat atau sekadar kembali ke pelukan keluarga. Segalanya berakhir seketika.

﴿فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ﴾

Maka mereka tidak mampu membuat suatu wasiat pun dan tidak pula mereka dapat kembali kepada keluarganya. (QS. Yasin: 50)

Lalu, sangkakala kedua ditiup. Tiba-tiba saja, dari lubang kubur, manusia-manusia bangkit dengan cepat menuju Robb mereka.

﴿وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ﴾

Dan ditiuplah sangkakala (yang kedua), maka seketika itu mereka keluar dari kubur-kubur mereka menuju Robb mereka dengan cepat. (QS. Yasin: 51)

Orang-orang kafir akan berteriak dalam kepanikan: “Celaka kami! Siapakah yang membangkitkan kami?” Lalu dijawab: “Inilah yang dijanjikan oleh Dzat yang Maha Pengasih dan benarlah apa yang disampaikan para utusan.”

﴿قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ﴾

Mereka berkata, “Aduh celaka kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang telah dijanjikan oleh Alloh Yang Maha Pengasih dan benarlah utusan-utusan itu. (QS. Yasin: 52)

Proses kebangkitan itu sangat singkat, hanya membutuhkan satu teriakan lagi, dan semua manusia pun hadir untuk dihisab.

﴿إِن كَانَت إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ﴾

Kebangkitan itu tidak lain hanyalah dengan satu teriakan suara yang keras saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami. (QS. Yasin: 53)

Pada hari itu, keadilan ditegakkan sesempurna mungkin. Tidak ada jiwa yang dirugikan sedikit pun. Setiap orang hanya akan dibalas sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

﴿فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾

Maka pada hari ini seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kalian tidak akan diberi balasan melainkan sesuai dengan apa yang telah kalian kerjakan. (QS. Yasin: 54)

 

Bab 6: Dua Tempat Kembali

6.1 Kenikmatan Penduduk Jannah

Di sisi lain, para penduduk Jannah sedang larut dalam kesibukan yang penuh kebahagiaan. Mereka bersuka ria dengan segala ni’mat yang ada.

﴿إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ﴾

Sesungguhnya penduduk Jannah pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. (QS. Yasin: 55)

Bersama pasangan-pasangan mereka, mereka bersandar di atas dipan-dipan yang empuk di bawah naungan pohon-pohon yang teduh.

﴿هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ﴾

Mereka dan pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh di atas dipan-dipan sambil bersandar. (QS. Yasin: 56)

Segala jenis buah-buahan tersedia untuk mereka, dan apa pun yang mereka inginkan akan langsung hadir di hadapan mereka.

﴿لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ﴾

Di dalam Jannah itu mereka mendapatkan buah-buahan dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. (QS. Yasin: 57)

Puncak dari segala kenikmatan itu adalah ketika Alloh yang Maha Penyayang mengucapkan salam langsung kepada mereka.

﴿سَلَامٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ﴾

(Kepada mereka dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan dari Robb Yang Maha Penyayang. (QS. Yasin: 58)

6.2 Hinaan Bagi Penduduk Naar

Namun pemandangan yang sangat berbeda terjadi pada mereka yang berdosa. Alloh memerintahkan agar mereka memisahkan diri dari barisan orang-orang beriman.

﴿وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ﴾

“Dan berpisahlah kalian (dari orang-orang Mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa.” (QS. Yasin: 59)

Robb mengingatkan kembali janji yang mereka abaikan sewaktu di dunia: “Bukankah Aku telah memerintahkan kalian agar tidak menyembah syaithon? Karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.”

﴿أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ﴾

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam supaya kalian tidak menyembah syaithon? Sesungguhnya syaithon itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Yasin: 60)

Dan perintah-Nya sangat jelas: “Sembahlah Aku saja, karena inilah jalan yang lurus.”

﴿وَأَنِ اعْبُدُونِي هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ﴾

“Dan hendaklah kalian menyembah-Ku (saja). Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 61)

Namun sayangnya, syaithon telah berhasil menyesatkan sebagian besar dari manusia. Tidakkah mereka menggunakan akal sehat mereka?

﴿وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ﴾

“Dan sesungguhnya syaithon itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian. Maka apakah kalian tidak menggunakan akal?” (QS. Yasin: 62)

Kini, di hadapan mereka terbentang Jahanam yang dulu selalu mereka dustakan saat diperingatkan oleh para utusan.

﴿هَٰذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾

“Inilah Jahanam yang dahulu kalian diancam dengannya.” (QS. Yasin: 63)

Alloh memerintahkan mereka masuk dan merasakah panasnya api itu sebagai balasan atas kekafiran yang mereka pelihara.

﴿اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ﴾

“Masuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kalian kafir.” (QS. Yasin: 64)

Pada hari itu, mulut mereka dikunci rapat. Tidak ada lagi kata-kata dusta atau pembelaan palsu. Justru tangan-tangan merekalah yang berbicara dan kaki-kaki merekalah yang akan memberikan kesaksian atas segala dosa yang telah mereka perbuat.

﴿الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan mereka berbicara kepada Kami serta kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Yasin: 65)

Jika Alloh menghendaki, sangat mudah bagi-Nya untuk membutakan mata mereka di dunia, sehingga meskipun mereka berlomba-lomba mencari jalan, mereka tidak akan pernah bisa melihatnya.

﴿وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ﴾

Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan (butakan) penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimanakah mereka dapat melihatnya? (QS. Yasin: 66)

Dan jika Alloh menghendaki, Dia bisa merubah bentuk mereka menjadi benda mati atau makhluk lain di tempat mereka berpijak, sehingga mereka tidak bisa melangkah maju ataupun mundur.

﴿وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ﴾

Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak sanggup berjalan maju dan tidak pula sanggup kembali. (QS. Yasin: 67)

 

Bab 7: Kebenaran Wahyu dan Kuasa Penciptaan

7.1 Pembelaan Terhadap Nabi

Manusia harus sadar akan kelemahannya. Siapa pun yang Alloh panjangkan umurnya, maka Alloh akan mengembalikan fisiknya menjadi lemah kembali seperti bayi. Tidakkah mereka berpikir tentang kefanaan hidup ini?

﴿وَمَن نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ﴾

Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya (menjadi lemah kembali). Maka apakah mereka tidak mengerti? (QS. Yasin: 68)

Dan perlu ditegaskan, bahwa Al-Qur’an yang dibawa Nabi bukanlah syair. Alloh tidak mengajarkan syair kepadanya karena itu tidak pantas bagi kedudukannya. Al-Qur’an adalah peringatan dan kitab yang sangat jelas.

﴿وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ﴾

Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan dan kitab yang memberi penjelasan. (QS. Yasin: 69)

Al-Qur’an diturunkan untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hatinya masih hidup, dan agar ketetapan azab menjadi sah bagi orang-orang kafir yang tetap membangkang.

﴿لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ﴾

Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir. (QS. Yasin: 70)

7.2 Nikmat Binatang Ternak

Tidakkah manusia melihat bagaimana Alloh menciptakan binatang ternak untuk mereka dengan kekuasaan-Nya sendiri? Sehingga manusia bisa memilikinya dengan mudah.

﴿أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ﴾

Tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka dari apa yang telah dikerjakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka memilikinya? (QS. Yasin: 71)

Binatang-binatang itu ditundukkan untuk melayani manusia; sebagian menjadi kendaraan untuk mengangkut beban, dan sebagian lagi menjadi santapan yang lezat.

﴿وَذَلَّلْنَاهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ﴾

Dan Kami tundukkan hewan-hewan itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya lagi mereka makan. (QS. Yasin: 72)

Selain itu, manusia juga mendapatkan berbagai manfaat lain seperti susu dan kulitnya, serta minuman yang menyegarkan. Maka mengapa mereka masih tetap enggan bersyukur?

﴿وَلَهُمْ فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ﴾

Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman padanya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin: 73)

Sayangnya, meskipun ni’mat begitu melimpah, mereka justru mengambil tuhan-tuhan selain Alloh dengan harapan akan mendapatkan pertolongan.

﴿وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ﴾

Dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain Alloh agar mereka mendapat pertolongan. (QS. Yasin: 74)

Padahal tuhan-tuhan palsu itu tidak akan pernah bisa menolong mereka. Justru orang-orang musyrik itulah yang akan menjadi pasukan yang dihadirkan untuk membela tuhan-tuhan mereka (yang tidak berdaya) di Akhiroh nanti.

﴿لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ﴾

Tuhan-tuhan itu tidak dapat menolong mereka; padahal mereka itu (orang-orang musyrik) menjadi tentara yang dihadirkan (untuk membela tuhan-tuhan itu). (QS. Yasin: 75)

Wahai Nabi, janganlah ucapan pedas dan ejekan mereka membuatmu bersedih hati. Sebab Alloh mengetahui segala rahasia yang mereka sembunyikan maupun apa yang mereka tampakkan secara terang-terangan.

﴿فَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ﴾

Maka janganlah ucapan mereka menyedihkanmu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. (QS. Yasin: 76)

 

Bab 8: Argumen Terakhir

8.1 Dari Setetes Air Menjadi Penantang

Inilah puncak kesombongan manusia. Tidakkah dia ingat bahwa dia diciptakan hanya dari setetes air mani yang hina? Namun setelah tumbuh besar, dia justru berani menjadi penantang yang nyata bagi Robbnya.

﴿أَوَلَمْ يَرَ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ﴾

Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air mani, tiba-tiba dia menjadi penantang yang nyata? (QS. Yasin: 77)

Dia membuat perumpamaan untuk mengejek kuasa Alloh sambil melupakan asal-usul penciptaannya sendiri. Dia bertanya dengan nada meremehkan: “Siapakah yang sanggup menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh ini?”

﴿وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴾

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa akan penciptaannya sendiri; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78)

8.2 Bukti Kuasa Alloh Membangkitkan

Katakanlah kepada mereka wahai Nabi, bahwa yang akan menghidupkannya kembali adalah Dzat yang telah menciptakannya pertama kali dari ketiadaan. Karena Dia Maha Mengetahui setiap detail dari seluruh ciptaan-Nya.

﴿قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ﴾

Katakanlah, “Ia akan dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)

Dialah Alloh yang mampu menjadikan api yang panas dari kayu yang hijau dan basah. Dari kayu itulah manusia menyalakan api untuk keperluan mereka. Jika air dan api bisa disatukan, apalagi sekadar menghidupkan mayat?

﴿الَّذِي جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ﴾

Yaitu Dzat yang menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka seketika itu kalian menyalakan (api) darinya. (QS. Yasin: 80)

Tidakkah masuk akal bagi mereka, bahwa Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi yang begitu luas, tentu sangat mampu untuk menciptakan kembali manusia-manusia yang kecil itu? Tentu saja sangat mampu! Karena Dialah Sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

﴿أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ﴾

Dan bukankah Dzat yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan mereka itu (manusia)? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. (QS. Yasin: 81)

Bagi Alloh , menciptakan apa pun tidak membutuhkan proses yang lama. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia cukup berfirman “Jadilah!”, maka terjadilah ia seketika itu juga.

﴿إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!”, maka jadilah ia. (QS. Yasin: 82)

Maka Maha Suci Alloh , Dzat yang di tangan-Nya lah segala kekuasaan atas segala sesuatu di jagat raya ini. Dan hanya kepada Dialah seluruh manusia akan dikembalikan untuk menerima balasan yang seadil-adilnya.

﴿فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾

Maka Maha Suci Alloh yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan. (QS. Yasin: 83)

Download PDF

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url