[PDF] Narasi Surat Yasin - Nor Kandir
بسم
الله الرحمن الرحيم
Bab 1: Sumpah
Atas Risalah
1.1 Cahaya
Peringatan Bagi Jiwa Yang Lalai
Kisah ini dibuka dengan
sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Sang Pencipta. Sebuah panggilan
yang menggetarkan batin manusia.
﴿يس﴾
Yaa siin. (QS. Yasin:
1)
Alloh ﷻ kemudian bersumpah dengan kitab suci yang
penuh dengan aturan dan hikmah yang sangat kokoh, tidak ada keraguan sedikit
pun di dalamnya.
﴿وَالْقُرْآنِ
الْحَكِيمِ﴾
Alloh ﷻ bersumpah dengan Al-Qur’an yang padat
dengan hikmah. (QS. Yasin: 2)
Sumpah ini ditujukan
untuk menguatkan hati sang pemimpin para Nabi, bahwa langkah yang dia tempuh
bukanlah rekayasa manusia, melainkan tugas suci dari Langit.
﴿إِنَّكَ
لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ﴾
Sesungguhnya kamu -wahai
Nabi- benar-benar termasuk utusan-utusan Alloh ﷻ. (QS. Yasin: 3)
Langkah itu berpijak di
atas landasan yang sangat lurus, sebuah jalan hidup yang akan mengantarkan
siapa pun menuju keridhoan-Nya.
﴿عَلَىٰ
صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ﴾
Di atas jalan yang lurus
(yaitu Islam). (QS. Yasin: 4)
Al-Qur’an ini diturunkan
oleh Dzat yang memiliki segala keperkasaan namun tetap Maha Penyayang kepada
hamba-hamba-Nya.
﴿تَنزِيلَ
الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ﴾
Al-Qur’an ini adalah
wahyu yang diturunkan dari Alloh ﷻ Yang Maha Perkasa dalam membalas
musuh-musuh-Nya, lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. (QS.
Yasin: 5)
Tujuannya adalah untuk
membangunkan sebuah bangsa yang telah lama tertidur dalam kegelapan karena
orang tua mereka dahulu tidak pernah mendapatkan peringatan, sehingga mereka
hidup dalam kelalaian yang amat dalam.
﴿لِتُنذِرَ
قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ﴾
Agar kamu memberikan
peringatan dengannya kepada sebuah kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah
diberi peringatan, sehingga mereka lalai dari iman dan amal sholih. (QS.
Yasin: 6)
Namun, ada sebuah
kenyataan pahit dalam perjalanan ini. Ketetapan Alloh ﷻ telah berlaku bagi mayoritas mereka karena
kesombongan yang mereka pelihara sendiri.
﴿لَقَدْ
حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾
Sungguh telah tetap azab
(siksa) Alloh ﷻ atas
kebanyakan mereka setelah mereka tetap bersikeras dalam kekafiran, maka mereka
tidak akan beriman. (QS. Yasin: 7)
Keadaan mereka
digambarkan seperti tawanan yang lehernya terbelenggu hingga dagu mereka
terangkat, membuat mereka tidak mampu menundukkan kepala. Itulah balasan mereka
di Neraka karena tidak menggunakan mata hati untuk melihat kebenaran.
﴿إِنَّا
جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ﴾
Sesungguhnya Kami telah
menjadikan di leher-leher mereka belenggu-belenggu yang mengumpulkan
tangan-tangan mereka bersama leher mereka di bawah dagu mereka, sehingga kepala
mereka pun terangkat ke atas dengan kaku, mereka tidak bisa menundukkannya. (QS.
Yasin: 8)
Bahkan, di hadapan dan di
belakang mereka telah dibangun dinding penghalang yang sangat tebal. Mata
mereka tertutup rapat, sehingga cahaya hidayah tidak mampu menembus pekatnya
kegelapan hati mereka.
﴿وَجَعَلْنَا
مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ
لَا يُبْصِرُونَ﴾
Dan Kami jadikan di
hadapan mereka penghalang dan di belakang mereka penghalang, lalu Kami tutup
pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat jalan hidayah. (QS.
Yasin: 9)
Bagi mereka yang telah
tertutup hatinya, segala bentuk nasihat dan ancaman tidak akan membawa
perubahan. Keadaan mereka tetap sama, baik diperingatkan atau dibiarkan saja.
﴿وَسَوَاءٌ
عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ﴾
Dan sama saja bagi
mereka, apakah kamu memberikan peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak
memberikan peringatan kepada mereka, mereka tetap tidak akan beriman. (QS.
Yasin: 10)
Peringatan itu hanya akan
menyentuh jiwa-jiwa yang mau mengikuti petunjuk Al-Qur’an dan memiliki rasa
takut kepada Alloh ﷻ yang
Maha Pengasih, meskipun mereka tidak melihat-Nya secara langsung.
﴿إِنَّمَا
تُنذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ
وَأَجْرٍ كَرِيمٍ﴾
Peringatanmu itu hanya
bermanfaat bagi orang yang mengikuti Al-Qur’an dan takut kepada Alloh ﷻ Yang Maha Pengasih meskipun dia tidak
melihat-Nya, maka berilah dia kabar gembira dengan ampunan atas dosa-dosanya
dan pahala yang mulia (yaitu Jannah). (QS. Yasin: 11)
1.2 Setiap Amal
Telah Tercatat
Sebab, setiap langkah
manusia, setiap jejak yang mereka tinggalkan, dan setiap amal yang mereka
lakukan telah dicatat dengan sangat rapi dalam sebuah kitab induk yang tidak
akan melewatkan apa pun.
﴿إِنَّا
نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ
أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ﴾
Sesungguhnya Kami
benar-benar akan menghidupkan orang-orang yang mati semuanya pada hari Kiamat.
Dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dari amal sholih dan amal
buruk, serta jejak-jejak mereka yang mereka tinggalkan setelah kematian mereka.
Dan segala sesuatu telah Kami catat di dalam kitab yang jelas (yaitu Lauhul
Mahfuzh). (QS. Yasin: 12)
Bab 2: Utusan
dan Penduduk Kota
2.1 Sebuah
Perlawanan di Tanah Antokiyah
Kisah ini berlanjut pada
sebuah perumpamaan tentang sebuah kota besar yang didatangi oleh para utusan
Alloh ﷻ. Kisah
ini sebagai contoh kaum yang menentang dakwah serta penyelasan mereka kelak.
﴿وَاضْرِبْ
لَهُم مَّثَلًا أَصْحَابَ الْقَرْيَةِ إِذْ جَاءَهَا الْمُرْسَلُونَ﴾
Dan buatlah -wahai Nabi-
sebuah perumpamaan bagi kaummu yang mendustakan itu, yaitu kisah penduduk
sebuah kota ketika datang kepada mereka utusan-utusan. (QS. Yasin: 13)
Awalnya, 2 orang utusan
datang membawa pesan kebenaran, namun penduduk kota itu menolak mentah-mentah.
Maka Alloh ﷻ
mengirimkan utusan ke-3 untuk memperkuat dakwah mereka.
﴿إِذْ
أَرْسَلْنَا إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوا
إِنَّا إِلَيْكُم مُّرْسَلُونَ﴾
Yaitu ketika Kami
mengutus kepada mereka 2 orang utusan, lalu penduduk kota itu mendustakan
keduanya, maka Kami perkuat keduanya dengan utusan yang ke-3, lalu ke-3 utusan
itu berkata, “Sesungguhnya kami adalah utusan-utusan (Alloh) kepada kalian.” (QS.
Yasin: 14)
Reaksi penduduk kota itu
sangat khas bagi orang-orang yang sombong. Mereka menganggap para utusan itu
hanyalah manusia biasa yang tidak punya kelebihan apa pun, bahkan mereka
menuduh Alloh ﷻ tidak
menurunkan apa pun.
﴿قَالُوا
مَا أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا وَمَا أَنزَلَ الرَّحْمَنُ مِن شَيْءٍ إِنْ أَنتُمْ
إِلَّا تَكْذِبُونَ﴾
Penduduk kota itu
berkata, “Kalian tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Alloh ﷻ Yang Maha Pengasih tidak menurunkan
sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah berdusta.” (QS. Yasin: 15)
Dengan tenang dan penuh
keyakinan, para utusan itu menjawab bahwa Robb mereka menjadi saksi atas
kebenaran risalah yang mereka bawa.
﴿قَالُوا
رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ﴾
Utusan-utusan itu
berkata, “Robb kami mengetahui bahwa kami benar-benar utusan-utusan-Nya kepada
kalian.” (QS. Yasin: 16)
Tugas mereka hanyalah
menyampaikan pesan dengan sejelas-jelasnya, tanpa paksaan, karena hidayah
sepenuhnya ada di tangan Alloh ﷻ.
﴿وَمَا
عَلَيْنَا إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ﴾
“Dan tugas kami tidak
lain hanyalah menyampaikan risalah dengan jelas.” (QS. Yasin: 17)
Kemarahan penduduk kota
memuncak. Mereka mulai menganggap kehadiran para utusan ini sebagai pembawa
sial dan mengancam akan menyiksa mereka dengan cara dirajam.
﴿قَالُوا
إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ
مِنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
Penduduk kota itu
berkata, “Sesungguhnya kami merasa sial dengan kalian. Jika kalian tidak
berhenti menyeru kami, niscaya kami akan merajam kalian (melempar dengan batu)
dan kalian benar-benar akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.” (QS.
Yasin: 18)
Para utusan itu membela
diri dengan menyatakan bahwa kesialan itu sebenarnya ada pada diri penduduk
kota itu sendiri karena kekafiran mereka. Apakah mereka marah hanya karena
diberi peringatan?
﴿قَالُوا
طَائِرُكُم مَّعَكُمْ أَئِن ذُكِّرْتُم بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ﴾
Utusan-utusan itu
berkata, “Kesialan kalian itu ada pada kalian sendiri (akibat kekafiran
kalian). Apakah jika kalian diberi peringatan (kalian merasa sial)? Sebenarnya
kalian adalah kaum yang melampaui batas (dalam kemaksiatan).” (QS. Yasin:
19)
2.2 Lelaki dari
Ujung Kota
Di tengah ketegangan itu,
muncul seorang lelaki dari ujung kota. Dia datang dengan tergesa-gesa, berlari
membawa semangat keimanan untuk membela para utusan.
﴿وَجَاءَ
مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ﴾
Dan datanglah dari ujung
kota seorang lelaki (yaitu Habib An-Najjar) dengan bergegas, dia berkata, “Wahai
kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.” (QS. Yasin: 20)
Dia mengajak kaumnya
untuk mengikuti orang-orang yang berdakwah tanpa meminta imbalan materi sedikit
pun, orang-orang yang jalannya telah teruji kebenarannya.
﴿اتَّبِعُوا
مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ﴾
“Ikutilah orang-orang
yang tidak meminta imbalan kepada kalian, dan mereka adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk.” (QS. Yasin: 21)
Lelaki sholih itu pun
memberikan argumen yang sangat menyentuh nurani. Mengapa dia tidak menyembah
Dzat yang telah menciptakannya? Padahal kepada-Nyalah semua manusia akan
kembali.
﴿وَمَا
لِيَ لَا أَعْبُدُ الَّذِي فَطَرَنِي وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾
“Dan mengapa aku tidak
menyembah Dzat yang telah menciptakanku dan kepada-Nyalah kalian semua akan
dikembalikan?” (QS. Yasin: 22)
Dia menolak keras untuk
menjadikan tuhan-tuhan selain Alloh ﷻ. Sebab jika Alloh ﷻ menghendaki bahaya, tuhan-tuhan palsu itu
tidak akan bisa memberi syafaat atau menyelamatkan sedikit pun.
﴿أَأَتَّخِذُ
مِن دُونِهِ آلِهَةً إِن يُرِدْنِ الرَّحْمَنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ
شَيْئًا وَلَا يُنقِذُونِ﴾
“Apakah aku akan
mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Jika Alloh ﷻ Yang Maha Pengasih menghendaki bahaya
kepadaku, niscaya syafaat (pembelaan) mereka tidak berguna sedikit pun bagiku
dan mereka tidak dapat menyelamatkanku.” (QS. Yasin: 23)
Jika dia melakukan itu,
maka dia benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.
﴿إِنِّي
إِذًا لَّفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾
“Sesungguhnya aku jika
berbuat demikian benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Yasin:
24)
Dengan lantang dia
mengumumkan keimanannya agar didengar oleh para utusan tersebut sebagai saksi
di hari pembalasan.
﴿إِنِّي
آمَنتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُونِ﴾
“Sesungguhnya aku telah
beriman kepada Robb kalian, maka dengarkanlah (pengakuanku) ini.” (QS.
Yasin: 25)
Namun, keberaniannya
dibayar mahal. Penduduk kota itu membunuhnya. Saat nyawanya lepas, Alloh ﷻ langsung menyambutnya dengan kemuliaan
Jannah.
﴿قِيلَ
ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ﴾
Dikatakan kepadanya
(setelah dia dibunuh oleh kaumnya), “Masuklah ke dalam Jannah.” Dia berkata, “Alangkah
baiknya sekiranya kaumku mengetahui.” (QS. Yasin: 26)
Dia berandai-andai
kaumnya tahu betapa luasnya ampunan Alloh ﷻ dan betapa mulianya kedudukan yang dia
dapatkan sekarang.
﴿بِمَا
غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ﴾
“Tentang ampunan yang
telah diberikan Robbku kepadaku dan Dia menjadikan aku termasuk orang-orang
yang dimuliakan.” (QS. Yasin: 27)
Bab 3: Azab Yang
Sekejap
3.1 Teriakan
Yang Membinasakan
Setelah pembunuhan lelaki
sholih itu, kemurkaan Alloh ﷻ turun. Alloh ﷻ tidak perlu mengirimkan pasukan Malaikat yang besar dari langit
untuk menghancurkan mereka.
﴿وَمَا
أَنزَلْنَا عَلَىٰ قَوْمِهِ مِن بَعْدِهِ مِن جُندٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَمَا كُنَّا
مُنزِلِينَ﴾
Kami tidak menurunkan
kepada kaumnya setelah (kematian)nya satu pasukan pun dari langit (untuk
menghancurkan mereka) dan Kami tidak perlu menurunkannya. (QS. Yasin: 28)
Kehancuran mereka terjadi
hanya dengan 1 suara keras yang menggelegar. Seketika itu juga, mereka semua
mati tak bergerak, laksana api yang padam tertutup tanah.
﴿إِن
كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ﴾
Kematian mereka itu tidak
lain hanyalah dengan 1 teriakan suara yang keras saja, maka seketika itu mereka
mati tidak bergerak. (QS. Yasin: 29)
3.2 Penyesalan
Selalu di Akhir
Sungguh sebuah penyesalan
yang amat besar bagi para hamba yang membangkang. Setiap kali seorang utusan
datang membawa cahaya, mereka justru menjadikannya sebagai bahan ejekan dan
olok-olokan.
﴿يَا
حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ﴾
Alangkah besarnya
penyesalan bagi hamba-hamba itu, tidak datang kepada mereka seorang utusan pun
melainkan mereka selalu mengolok-oloknya. (QS. Yasin: 30)
Tidakkah mereka melihat
sejarah? Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah dibinasakan dan mereka tidak
akan pernah kembali lagi ke dunia ini.
﴿أَلَمْ
يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُم مِّنَ الْقُرُونِ أَنَّهُمْ إِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُونَ﴾
Tidakkah mereka melihat
berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, bahwa mereka
(umat-umat itu) tidak akan kembali lagi kepada mereka? (QS. Yasin: 31)
Namun jangan disangka
perjalanan itu selesai di liang lahat. Semuanya, tanpa terkecuali, akan
dikumpulkan kembali di hadapan Alloh ﷻ untuk mempertanggungjawabkan segalanya.
﴿وَإِن
كُلٌّ لَّمَّا جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ﴾
Dan tidak ada satu pun
(umat-umat itu) melainkan semuanya akan dihadirkan di hadapan Kami (untuk
dihisab). (QS. Yasin: 32)
Bab 4: Ayat-Ayat
Kauniyah
4.1 Keajaiban Bumi
Untuk membuka mata hati
yang tertutup, Alloh ﷻ mengajak
manusia melihat hamparan bumi yang mati, lalu Dia menghidupkannya kembali
dengan air hujan hingga mengeluarkan biji-bijian yang menjadi sumber kehidupan
mereka. Ini dari sekian dalil bahwa kalian akan dibangkitkan pula setelah mati
untuk mempertanggung-jawabkan amal.
﴿وَآيَةٌ
لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ
يَأْكُلُونَ﴾
Dan suatu tanda
(kekuasaan Alloh) bagi mereka adalah bumi yang mati (kering), Kami hidupkan
bumi itu (dengan air hujan) dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari
biji-bijian itu mereka makan. (QS. Yasin: 33)
Alloh ﷻ juga menciptakan kebun-kebun kurma dan
anggur yang indah, serta memancarkan mata air di dalamnya.
﴿وَجَعَلْنَا
فِيهَا جَنَّاتٍ مِّن نَّخِيلٍ وَأَعْنَابٍ وَفَجَّرْنَا فِيهَا مِنَ الْعُيُونِ﴾
Dan Kami jadikan padanya
kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air. (QS.
Yasin: 34)
Semua itu disediakan agar
manusia bisa menikmati hasilnya, padahal bukan tangan mereka yang menciptakan
semua keajaiban itu. Namun, mengapa masih sedikit yang mau bersyukur?
﴿لِيَأْكُلُوا
مِن ثَمَرِهِ وَمَا عَمِلَتْهُ أَيْدِيهِمْ أَفَلَا يَشْكُرُونَ﴾
Agar mereka dapat makan
dari buahnya, dan itu bukan hasil usaha tangan mereka sendiri. Maka mengapa
mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin: 35)
Maha Suci Alloh ﷻ yang telah menciptakan segala sesuatu
berpasang-pasangan, baik yang tumbuh dari bumi, dari diri manusia sendiri,
maupun dari hal-hal yang belum mereka ketahui.
﴿سُبْحَانَ
الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ وَمِنْ أَنفُسِهِمْ
وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ﴾
Maha Suci Alloh ﷻ yang telah menciptakan semuanya
berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi, dari diri mereka
sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin: 36)
4.2 Keajaiban
Malam dan Siang
Tanda kekuasaan-Nya juga
nampak pada pergantian malam dan siang. Ketika malam datang, Alloh ﷻ menanggalkan siang sehingga kegelapan pun
menyelimuti segalanya.
﴿وَآيَةٌ
لَّهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُم مُّظْلِمُونَ﴾
Dan suatu tanda (kekuasaan
Alloh) bagi mereka adalah malam, Kami lepaskan siang dari malam itu, maka
seketika itu mereka berada dalam kegelapan. (QS. Yasin: 37)
Lihatlah matahari yang
beredar pada garis edarnya dengan sangat tertib. Itulah ketetapan dari Dzat
yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
﴿وَالشَّمْسُ
تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
Dan matahari beredar di
tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Alloh ﷻ Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (QS.
Yasin: 38)
Begitu pula dengan bulan,
yang telah ditetapkan fase-fase perjalanannya hingga ia mengecil kembali
seperti bentuk tandan kurma yang tua dan melengkung.
﴿وَالْقَمَرَ
قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّىٰ عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ﴾
Dan telah Kami tetapkan
bagi bulan tempat-tempat peredaran, hingga (setelah melewati tempat-tempat itu)
kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin: 39)
Tidak ada tabrakan di
angkasa raya. Matahari tidak akan mendahului bulan, dan malam pun tidak akan
mendahului siang. Masing-masing berenang di garis edarnya dengan penuh
ketaatan.
﴿لَا
الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ
وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ﴾
Tidaklah mungkin bagi
matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan
masing-masing beredar pada garis edarnya. (QS. Yasin: 40)
4.3 Keajaiban
Kendaraan
Tanda kebesaran-Nya juga
terbawa hingga ke samudra. Bagaimana Alloh ﷻ membawa nenek moyang manusia dalam kapal
yang penuh muatan di tengah amukan ombak.
﴿وَآيَةٌ
لَّهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ﴾
Dan suatu tanda
(kekuasaan Alloh) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut nenek moyang mereka dalam
kapal yang penuh muatan. (QS. Yasin: 41)
Dan Alloh ﷻ juga menciptakan kendaraan-kendaraan lain
yang serupa yang mereka kendarai di kemudian hari.
﴿وَخَلَقْنَا
لَهُم مِّن مِّثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ﴾
Dan Kami ciptakan untuk
mereka yang semisal dengan kapal itu apa yang mereka kendarai. (QS. Yasin:
42)
Jika Alloh ﷻ berkehendak, Dia bisa saja menenggelamkan
mereka semua di tengah lautan tanpa ada yang bisa menolong atau menyelamatkan.
﴿وَإِن
نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنقَذُونَ﴾
Dan jika Kami
menghendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tidak ada penolong bagi
mereka dan tidak pula mereka diselamatkan. (QS. Yasin: 43)
Kecuali karena rohmat-Nya
yang sangat luas dan keinginan-Nya untuk memberi mereka kesempatan menikmati
hidup sampai waktu yang telah ditentukan.
﴿إِلَّا
رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا إِلَىٰ حِينٍ﴾
Melainkan karena rahmat
yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu
tertentu. (QS. Yasin: 44)
Bab 5: Kerasnya
Hati dan Datangnya Kiamat
5.1 Penolakan
Yang Membawa Celaka
Meskipun tanda-tanda itu
sangat nyata, manusia sering kali berpaling. Saat mereka diperingatkan untuk
takut pada siksa yang ada di hadapan mereka (di dunia) atau yang menanti
setelah kematian (di Akhiroh), mereka tetap acuh.
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
Dan apabila dikatakan
kepada mereka, “Takutlah kalian akan siksa yang ada di hadapan kalian (di
dunia) dan siksa yang ada di belakang kalian (di Akhiroh) agar kalian mendapat
rohmat.” (QS. Yasin: 45)
Setiap ayat, setiap
tanda, setiap bukti kebesaran Robb yang datang kepada mereka, selalu mereka
sambut dengan sikap berpaling.
﴿وَمَا
تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ﴾
Dan tidak datang kepada
mereka satu tanda pun dari tanda-tanda kekuasaan Robb mereka, melainkan mereka
selalu berpaling darinya. (QS. Yasin: 46)
Bahkan dalam urusan
kemanusiaan, ketika mereka diajak untuk memberikan infak dari rezeki yang Alloh
ﷻ
berikan, mereka menjawab dengan penuh ejekan: “Apakah kami harus memberi makan
orang-orang yang jika Alloh ﷻ mau, Dia bisa memberinya makan sendiri?”
﴿وَإِذَا
قِيلَ لَهُمْ أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ
آمَنُوا أَنُطْعِمُ مَن لَّوْ يَشَاءُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ إِنْ أَنتُمْ إِلَّا فِي
ضَلَالٍ مُّبِينٍ﴾
Dan apabila dikatakan
kepada mereka, “Infaqkanlah sebagian rezeki yang diberikan Alloh ﷻ kepada kalian”, orang-orang kafir itu
berkata kepada orang-orang beriman, “Apakah kami akan memberi makan orang-orang
yang jika Alloh ﷻ
menghendaki niscaya Dia memberinya makan? Kalian benar-benar dalam kesesatan
yang nyata.” (QS. Yasin: 47)
5.2 Menantang
Kiamat
Dengan penuh kesombongan,
mereka menantang datangnya hari Kiamat seolah-olah itu adalah sebuah lelucon.
﴿وَيَقُولُونَ
مَتَىٰ هَٰذَا الْوَعْدُ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ﴾
Dan mereka berkata, “Kapan
janji (hari berbangkit) ini akan datang jika kalian adalah orang-orang yang
benar?” (QS. Yasin: 48)
Padahal Kiamat itu akan
datang dengan tiba-tiba melalui satu teriakan keras yang menyambar mereka saat
mereka sedang sibuk bertengkar dalam urusan dunia.
﴿مَا
يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ﴾
Mereka tidak menunggu
melainkan satu teriakan suara yang keras yang akan membinasakan mereka saat
mereka sedang bertengkar (dalam urusan dunia). (QS. Yasin: 49)
Saat itu, tidak ada lagi
kesempatan untuk berwasiat atau sekadar kembali ke pelukan keluarga. Segalanya
berakhir seketika.
﴿فَلَا
يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ﴾
Maka mereka tidak mampu
membuat suatu wasiat pun dan tidak pula mereka dapat kembali kepada
keluarganya. (QS. Yasin: 50)
Lalu, sangkakala kedua
ditiup. Tiba-tiba saja, dari lubang kubur, manusia-manusia bangkit dengan cepat
menuju Robb mereka.
﴿وَنُفِخَ
فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ﴾
Dan ditiuplah sangkakala
(yang kedua), maka seketika itu mereka keluar dari kubur-kubur mereka menuju Robb
mereka dengan cepat. (QS. Yasin: 51)
Orang-orang kafir akan
berteriak dalam kepanikan: “Celaka kami! Siapakah yang membangkitkan kami?”
Lalu dijawab: “Inilah yang dijanjikan oleh Dzat yang Maha Pengasih dan benarlah
apa yang disampaikan para utusan.”
﴿قَالُوا
يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ
الْمُرْسَلُونَ﴾
Mereka berkata, “Aduh
celaka kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?”
Inilah yang telah dijanjikan oleh Alloh ﷻ Yang Maha Pengasih dan benarlah
utusan-utusan itu. (QS. Yasin: 52)
Proses kebangkitan itu
sangat singkat, hanya membutuhkan satu teriakan lagi, dan semua manusia pun
hadir untuk dihisab.
﴿إِن
كَانَت إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُونَ﴾
Kebangkitan itu tidak
lain hanyalah dengan satu teriakan suara yang keras saja, maka seketika itu
mereka semua dihadapkan kepada Kami. (QS. Yasin: 53)
Pada hari itu, keadilan
ditegakkan sesempurna mungkin. Tidak ada jiwa yang dirugikan sedikit pun.
Setiap orang hanya akan dibalas sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan di
dunia.
﴿فَالْيَوْمَ
لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَلَا تُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ﴾
Maka pada hari ini
seseorang tidak akan dirugikan sedikit pun dan kalian tidak akan diberi balasan
melainkan sesuai dengan apa yang telah kalian kerjakan. (QS. Yasin: 54)
Bab 6: Dua
Tempat Kembali
6.1 Kenikmatan
Penduduk Jannah
Di sisi lain, para
penduduk Jannah sedang larut dalam kesibukan yang penuh kebahagiaan. Mereka
bersuka ria dengan segala ni’mat yang ada.
﴿إِنَّ
أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ فَاكِهُونَ﴾
Sesungguhnya penduduk
Jannah pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan mereka. (QS. Yasin:
55)
Bersama pasangan-pasangan
mereka, mereka bersandar di atas dipan-dipan yang empuk di bawah naungan
pohon-pohon yang teduh.
﴿هُمْ
وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِئُونَ﴾
Mereka dan
pasangan-pasangan mereka berada dalam tempat yang teduh di atas dipan-dipan
sambil bersandar. (QS. Yasin: 56)
Segala jenis buah-buahan
tersedia untuk mereka, dan apa pun yang mereka inginkan akan langsung hadir di
hadapan mereka.
﴿لَهُمْ
فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ﴾
Di dalam Jannah itu
mereka mendapatkan buah-buahan dan mendapatkan apa saja yang mereka inginkan. (QS.
Yasin: 57)
Puncak dari segala
kenikmatan itu adalah ketika Alloh ﷻ yang Maha Penyayang mengucapkan salam
langsung kepada mereka.
﴿سَلَامٌ
قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ﴾
(Kepada mereka
dikatakan), “Salam”, sebagai ucapan dari Robb Yang Maha Penyayang. (QS.
Yasin: 58)
6.2 Hinaan Bagi
Penduduk Naar
Namun pemandangan yang
sangat berbeda terjadi pada mereka yang berdosa. Alloh ﷻ memerintahkan agar mereka memisahkan diri
dari barisan orang-orang beriman.
﴿وَامْتَازُوا
الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ﴾
“Dan berpisahlah kalian
(dari orang-orang Mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa.” (QS.
Yasin: 59)
Robb mengingatkan kembali
janji yang mereka abaikan sewaktu di dunia: “Bukankah Aku telah memerintahkan
kalian agar tidak menyembah syaithon? Karena dia adalah musuh yang nyata bagi
kalian.”
﴿أَلَمْ
أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ
عَدُوٌّ مُّبِينٌ﴾
“Bukankah Aku telah
memerintahkan kepada kalian wahai anak cucu Adam supaya kalian tidak menyembah
syaithon? Sesungguhnya syaithon itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS.
Yasin: 60)
Dan perintah-Nya sangat
jelas: “Sembahlah Aku saja, karena inilah jalan yang lurus.”
﴿وَأَنِ
اعْبُدُونِي هَٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ﴾
“Dan hendaklah kalian
menyembah-Ku (saja). Inilah jalan yang lurus.” (QS. Yasin: 61)
Namun sayangnya, syaithon
telah berhasil menyesatkan sebagian besar dari manusia. Tidakkah mereka
menggunakan akal sehat mereka?
﴿وَلَقَدْ
أَضَلَّ مِنكُمْ جِبِلًّا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ﴾
“Dan sesungguhnya
syaithon itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kalian. Maka apakah
kalian tidak menggunakan akal?” (QS. Yasin: 62)
Kini, di hadapan mereka
terbentang Jahanam yang dulu selalu mereka dustakan saat diperingatkan oleh
para utusan.
﴿هَٰذِهِ
جَهَنَّمُ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Inilah Jahanam yang
dahulu kalian diancam dengannya.” (QS. Yasin: 63)
Alloh ﷻ memerintahkan mereka masuk dan merasakah
panasnya api itu sebagai balasan atas kekafiran yang mereka pelihara.
﴿اصْلَوْهَا
الْيَوْمَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ﴾
“Masuklah ke dalamnya
pada hari ini karena dahulu kalian kafir.” (QS. Yasin: 64)
Pada hari itu, mulut
mereka dikunci rapat. Tidak ada lagi kata-kata dusta atau pembelaan palsu.
Justru tangan-tangan merekalah yang berbicara dan kaki-kaki merekalah yang akan
memberikan kesaksian atas segala dosa yang telah mereka perbuat.
﴿الْيَوْمَ
نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُم
بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ﴾
Pada hari ini Kami tutup
mulut mereka; dan tangan mereka berbicara kepada Kami serta kaki mereka memberi
kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. Yasin: 65)
Jika Alloh ﷻ menghendaki, sangat mudah bagi-Nya untuk
membutakan mata mereka di dunia, sehingga meskipun mereka berlomba-lomba
mencari jalan, mereka tidak akan pernah bisa melihatnya.
﴿وَلَوْ
نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَىٰ أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّىٰ يُبْصِرُونَ﴾
Dan jikalau Kami
menghendaki, pastilah Kami hapuskan (butakan) penglihatan mata mereka; lalu
mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimanakah mereka dapat
melihatnya? (QS. Yasin: 66)
Dan jika Alloh ﷻ menghendaki, Dia bisa merubah bentuk
mereka menjadi benda mati atau makhluk lain di tempat mereka berpijak, sehingga
mereka tidak bisa melangkah maju ataupun mundur.
﴿وَلَوْ
نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلَا يَرْجِعُونَ﴾
Dan jikalau Kami menghendaki,
pastilah Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka berada; maka mereka tidak
sanggup berjalan maju dan tidak pula sanggup kembali. (QS. Yasin: 67)
Bab 7: Kebenaran
Wahyu dan Kuasa Penciptaan
7.1 Pembelaan
Terhadap Nabi ﷺ
Manusia harus sadar akan
kelemahannya. Siapa pun yang Alloh ﷻ panjangkan umurnya, maka Alloh ﷻ akan mengembalikan fisiknya menjadi lemah
kembali seperti bayi. Tidakkah mereka berpikir tentang kefanaan hidup ini?
﴿وَمَن
نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلَا يَعْقِلُونَ﴾
Dan barangsiapa yang Kami
panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadiannya (menjadi
lemah kembali). Maka apakah mereka tidak mengerti? (QS. Yasin: 68)
Dan perlu ditegaskan,
bahwa Al-Qur’an yang dibawa Nabi ﷺ bukanlah
syair. Alloh ﷻ tidak
mengajarkan syair kepadanya karena itu tidak pantas bagi kedudukannya. Al-Qur’an
adalah peringatan dan kitab yang sangat jelas.
﴿وَمَا
عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُّبِينٌ﴾
Dan Kami tidak
mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas
baginya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan dan kitab yang memberi
penjelasan. (QS. Yasin: 69)
Al-Qur’an diturunkan
untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hatinya masih hidup, dan agar
ketetapan azab menjadi sah bagi orang-orang kafir yang tetap membangkang.
﴿لِّيُنذِرَ
مَن كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ﴾
Supaya dia (Muhammad)
memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah
ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir. (QS. Yasin: 70)
7.2 Nikmat
Binatang Ternak
Tidakkah manusia melihat
bagaimana Alloh ﷻ
menciptakan binatang ternak untuk mereka dengan kekuasaan-Nya sendiri? Sehingga
manusia bisa memilikinya dengan mudah.
﴿أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُم مِّمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا
مَالِكُونَ﴾
Tidakkah mereka melihat
bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka dari apa yang telah
dikerjakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka memilikinya? (QS. Yasin: 71)
Binatang-binatang itu
ditundukkan untuk melayani manusia; sebagian menjadi kendaraan untuk mengangkut
beban, dan sebagian lagi menjadi santapan yang lezat.
﴿وَذَلَّلْنَاهَا
لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُونَ﴾
Dan Kami tundukkan
hewan-hewan itu untuk mereka; maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan
sebagiannya lagi mereka makan. (QS. Yasin: 72)
Selain itu, manusia juga
mendapatkan berbagai manfaat lain seperti susu dan kulitnya, serta minuman yang
menyegarkan. Maka mengapa mereka masih tetap enggan bersyukur?
﴿وَلَهُمْ
فِيهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُ أَفَلَا يَشْكُرُونَ﴾
Dan mereka memperoleh
berbagai manfaat dan minuman padanya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur? (QS.
Yasin: 73)
Sayangnya, meskipun ni’mat
begitu melimpah, mereka justru mengambil tuhan-tuhan selain Alloh ﷻ dengan harapan akan mendapatkan
pertolongan.
﴿وَاتَّخَذُوا
مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ﴾
Dan mereka mengambil
tuhan-tuhan selain Alloh ﷻ agar mereka mendapat pertolongan. (QS. Yasin: 74)
Padahal tuhan-tuhan palsu
itu tidak akan pernah bisa menolong mereka. Justru orang-orang musyrik itulah
yang akan menjadi pasukan yang dihadirkan untuk membela tuhan-tuhan mereka
(yang tidak berdaya) di Akhiroh nanti.
﴿لَا
يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ﴾
Tuhan-tuhan itu tidak
dapat menolong mereka; padahal mereka itu (orang-orang musyrik) menjadi tentara
yang dihadirkan (untuk membela tuhan-tuhan itu). (QS. Yasin: 75)
Wahai Nabi, janganlah
ucapan pedas dan ejekan mereka membuatmu bersedih hati. Sebab Alloh ﷻ mengetahui segala rahasia yang mereka
sembunyikan maupun apa yang mereka tampakkan secara terang-terangan.
﴿فَلَا
يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ﴾
Maka janganlah ucapan
mereka menyedihkanmu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan
dan apa yang mereka nyatakan. (QS. Yasin: 76)
Bab 8: Argumen
Terakhir
8.1 Dari Setetes
Air Menjadi Penantang
Inilah puncak kesombongan
manusia. Tidakkah dia ingat bahwa dia diciptakan hanya dari setetes air mani
yang hina? Namun setelah tumbuh besar, dia justru berani menjadi penantang yang
nyata bagi Robbnya.
﴿أَوَلَمْ
يَرَ الْإِنسَانُ أَنَّا خَلَقْنَاهُ مِن نُّطْفَةٍ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ مُّبِينٌ﴾
Dan tidakkah manusia
memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air mani, tiba-tiba dia
menjadi penantang yang nyata? (QS. Yasin: 77)
Dia membuat perumpamaan
untuk mengejek kuasa Alloh ﷻ sambil melupakan asal-usul penciptaannya sendiri. Dia bertanya
dengan nada meremehkan: “Siapakah yang sanggup menghidupkan tulang-belulang
yang telah hancur luluh ini?”
﴿وَضَرَبَ
لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَن يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ﴾
Dan dia membuat
perumpamaan bagi Kami dan dia lupa akan penciptaannya sendiri; dia berkata, “Siapakah
yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?” (QS.
Yasin: 78)
8.2 Bukti Kuasa
Alloh Membangkitkan
Katakanlah kepada mereka
wahai Nabi, bahwa yang akan menghidupkannya kembali adalah Dzat yang telah
menciptakannya pertama kali dari ketiadaan. Karena Dia Maha Mengetahui setiap
detail dari seluruh ciptaan-Nya.
﴿قُلْ
يُحْيِيهَا الَّذِي أَنشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ﴾
Katakanlah, “Ia akan
dihidupkan oleh Dzat yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui
tentang segala makhluk.” (QS. Yasin: 79)
Dialah Alloh ﷻ yang mampu menjadikan api yang panas dari
kayu yang hijau dan basah. Dari kayu itulah manusia menyalakan api untuk
keperluan mereka. Jika air dan api bisa disatukan, apalagi sekadar menghidupkan
mayat?
﴿الَّذِي
جَعَلَ لَكُم مِّنَ الشَّجَرِ الْأَخْضَرِ نَارًا فَإِذَا أَنتُم مِّنْهُ تُوقِدُونَ﴾
Yaitu Dzat yang
menjadikan untuk kalian api dari kayu yang hijau, maka seketika itu kalian
menyalakan (api) darinya. (QS. Yasin: 80)
Tidakkah masuk akal bagi
mereka, bahwa Dzat yang mampu menciptakan langit dan bumi yang begitu luas,
tentu sangat mampu untuk menciptakan kembali manusia-manusia yang kecil itu?
Tentu saja sangat mampu! Karena Dialah Sang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.
﴿أَوَلَيْسَ
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَىٰ أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُم
بَلَىٰ وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ﴾
Dan bukankah Dzat yang
menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan mereka
itu (manusia)? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha
Mengetahui. (QS. Yasin: 81)
Bagi Alloh ﷻ, menciptakan apa pun tidak membutuhkan
proses yang lama. Jika Dia menghendaki sesuatu, Dia cukup berfirman “Jadilah!”,
maka terjadilah ia seketika itu juga.
﴿إِنَّمَا
أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾
Sesungguhnya urusan-Nya
apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!”, maka
jadilah ia. (QS. Yasin: 82)
Maka Maha Suci Alloh ﷻ, Dzat yang di tangan-Nya lah segala kekuasaan
atas segala sesuatu di jagat raya ini. Dan hanya kepada Dialah seluruh manusia
akan dikembalikan untuk menerima balasan yang seadil-adilnya.
﴿فَسُبْحَانَ
الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾
Maka Maha Suci Alloh ﷻ yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala
sesuatu dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan. (QS. Yasin: 83)
