[PDF] Agama-Agama Besar Dunia Sejarah dan Ajarannya - Nor Kandir
MUQODDIMAH
﷽
Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah
mengutus para Rosul-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,
serta menurunkan Kitab-Kitab sebagai petunjuk bagi umat manusia. Kami
memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung
kepada Alloh dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita.
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat
menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat
memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah dengan benar melainkan Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan
aku bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan
utusan-Nya.
Sesungguhnya Alloh menciptakan manusia di atas fitroh yang
lurus, yaitu fitroh Tauhid untuk hanya menyembah kepada Alloh semata. Hal ini
ditegaskan dalam Al-Qur’an:
﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ
عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam);
(sesuai) fitroh Alloh disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitroh)
itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh. (Itulah) agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Sejarah agama-agama di dunia tidak dapat dipisahkan dari
sejarah penyimpangan manusia dari fitroh Tauhid ini. Pada mulanya, manusia
berada di atas satu agama, yaitu Islam, sejak zaman Nabi Adam ﷺ
hingga sepuluh abad setelahnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas Rodhiyallahu
‘Anhuma bahwa antara Nabi Adam ﷺ dan Nabi Nuh ﷺ terdapat masa sepuluh abad, yang semuanya berada di atas
syariat kebenaran. Penyimpangan pertama kali muncul pada kaum Nabi Nuh ﷺ ketika mereka mulai melakukan ghuluw (berlebih-lebihan)
terhadap orang-orang sholih yang telah wafat. Syaithon membisikkan kepada
mereka untuk membuat patung-patung peringatan bagi orang sholih tersebut, yang
seiring berjalannya waktu, patung-patung itu pun disembah.
Inilah awal mula munculnya kesyirikan di muka bumi yang
kemudian melahirkan berbagai macam kepercayaan dan agama batil. Alloh Ta’ala
berfirman mengenai ucapan kaum Nuh tersebut:
﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا
تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا﴾
“Dan mereka berkata: ‘Janganlah sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.”
(QS. Nuh: 23)
Agama-agama yang ada di dunia saat ini, baik yang mengklaim
sebagai agama samawi maupun agama ardhi (produk budaya manusia),
merupakan kumpulan dari berbagai sisa kebenaran yang telah tercampur dengan tahrif
(perubahan) tangan manusia, mitologi, dan filsafat. Dalam mengkaji sejarah dan
ajaran agama-agama ini, seorang Muslim wajib bersikap amanah (terpercaya) dalam
menukil fakta sejarah, namun tetap teguh dalam prinsip Al-Wala’ wal Baro’
(loyalitas dan berlepas diri). Kita harus menyadari bahwa satu-satunya agama
yang diridhoi oleh Alloh hanyalah Islam.
﴿إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ﴾
“Sesungguhnya agama di sisi Alloh ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imron:
19)
Penulisan buku ini bertujuan untuk memetakan akar sejarah
agama-agama besar dunia dan membedah penyimpangan aqidahnya dengan timbangan
Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Salaf yang sholih. Hal ini sangat
penting karena banyak dari manusia saat ini yang terjebak dalam pemahaman
pluralisme agama, sebuah paham yang menganggap bahwa semua agama adalah jalan
yang sama menuju Sang Pencipta. Paham ini jelas merupakan sebuah kesesatan yang
nyata dan bertentangan dengan nash-nash syar’i. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا
فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di Akhiroh
termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imron: 85)
Dalam menelaah agama Yahudi, Nashoro, Majusi, Hindu, Budha,
hingga aliran kepercayaan di Asia Timur, kita akan mendapati betapa jauhnya
mereka telah menyimpang dari konsep Tauhid yang murni. Sebagian mereka
menyembah Nabi, sebagian menyembah api, sebagian menyembah berhala, bahkan
sebagian lagi tidak meyakini adanya pencipta namun mengagungkan filsafat
kekosongan. Semua ini adalah gelapnya kesyirikan yang hanya bisa diterangi
dengan cahaya wahyu.
Penting bagi setiap Muslim untuk memahami batilnya ajaran
selain Islam bukan untuk sekadar wawasan intelektual, melainkan untuk memperkuat
iman dan sebagai bekal dalam berdakwah. Hal ini sebagaimana ditekankan dalam Hadits
yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau
berkata:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ
يُدْرِكَنِي
“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rosulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang
keburukan karena aku khawatir keburukan itu akan menimpaku.” (HR. Al-Bukhori
no. 3606 dan Muslim no. 1847)
Maka, mengenal kebatilan adalah cara untuk menjauhinya.
Tanpa mengenal apa itu syirik, seseorang bisa saja terjerumus ke dalamnya tanpa
ia sadari. Tanpa mengenal bagaimana agama lain menyimpang, seorang Muslim
mungkin akan terpengaruh oleh syubhat-syubhat yang dilemparkan oleh musuh-musuh
Islam atau para penyeru kemurtadan.
Buku ini disusun dengan metodologi yang ketat. Setiap klaim
ajaran dari agama non-Islam akan nukil secara objektif dari sumber-sumber
mereka sendiri, lalu kemudian diberikan bantahan atau sanggahan yang kuat dari
Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak ada ruang bagi kompromi aqidah dalam pembahasan
ini. Kita akan melihat bagaimana Al-Qur’an menjadi Muhaimin (saksi dan penguji)
bagi Kitab-Kitab sebelumnya.
Dunia hari ini dipenuhi dengan hiruk-pikuk pemikiran yang
mencoba meruntuhkan dinding pembatas antara Tauhid dan kesyirikan. Munculnya
berbagai agama baru atau aliran kebatinan modern yang dibungkus dengan nama
spiritualitas merupakan tantangan besar. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk
menelusuri kembali garis sejarah yang tegas: mana yang merupakan wahyu murni
dari langit dan mana yang merupakan hasil rekayasa hawa nafsu manusia.
Ketahuilah, bahwa kebahagiaan sejati di dunia dan Akhiroh
hanya bisa diraih dengan memurnikan ibadah hanya kepada Alloh. Islam adalah
agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan dari urusan negara hingga
urusan pribadi. Agama-agama lain mungkin menawarkan sistem etika atau
ketenangan batin sementara, namun hanya Islam yang memiliki kepastian hidayah
dan keselamatan dari siksa api Naar.
BAB 1 – AGAMA YAHUDI (YUDAISME)
Agama Yahudi atau Yudaisme merupakan salah
satu agama tertua yang masih eksis hingga saat ini. Dalam literatur Islam,
pemeluknya sering disebut sebagai Ahlu Al-Kitab bersama dengan kaum Nashoro.
Sejarah kemunculan ajaran ini berakar dari silsilah para Nabi keturunan Ishaq
(baca: Is-haq) bin Ibrohim ﷺ. Namun, dalam
perjalanannya, ajaran yang murni dibawa oleh Musa ﷺ
telah mengalami distorsi, perubahan, dan penambahan oleh tangan manusia, yang
dalam istilah syariat disebut sebagai tahrif (perubahan).
1.1
Sejarah dan Asal-Usul Bani Isro’il
Nama Yahudi dinisbatkan kepada Yehuda, salah satu putra Ya’qub
ﷺ. Ya’qub sendiri memiliki julukan “Isro’il”, sehingga
keturunannya disebut sebagai Bani Isro’il. Pada mulanya, Bani Isro’il adalah
umat yang dipilih oleh Alloh untuk menerima wahyu di zamannya, namun mereka
adalah bangsa yang sangat sering membangkang kepada para Nabi mereka sendiri.
Puncak dari syariat mereka adalah ketika Alloh mengutus Musa ﷺ
untuk menyelamatkan mereka dari penindasan Fir’aun di Mesir dan membawa mereka
menuju tanah yang dijanjikan.
Namun, karakter keras kepala Bani Isro’il terlihat bahkan
ketika mukjizat masih hangat di ingatan mereka. Tak lama setelah mereka
diselamatkan menyeberangi laut merah, mereka meminta kepada Musa ﷺ untuk dibuatkan berhala sebagai sesembahan sebagaimana bangsa
lain yang mereka temui. Inilah benih kesyirikan yang terus muncul dalam sejarah
mereka. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ
فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا
كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ
إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ﴾
“Dan Kami seberangkan Bani Isro’il ke seberang lautan itu,
maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala
mereka, Bani Isro’il berkata: ‘Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan
(berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa
menjawab: ‘Sesungguhnya kalian
adalah kaum yang bodoh.’” (QS. Al-A’rof: 138)
Setelah wafatnya Musa dan Harun, Bani Isro’il dipimpin oleh Yusya’
bin Nun. Namun setelah masa keNabian berakhir, mereka mulai memasukkan
unsur-unsur paganisme dari bangsa-bangsa di sekitar mereka seperti Kan’aan. Mereka juga mulai
mengubah isi Taurot untuk menyesuaikan dengan keinginan hawa nafsu dan
kepentingan para pendeta mereka.
1.2
Doktrin Ketuhanan dan Penyimpangan Aqidah
Salah satu penyimpangan terbesar dalam ajaran Yahudi adalah
klaim mereka bahwa ‘Uzair adalah anak Alloh. Meskipun tidak semua sekte Yahudi
modern mengimani hal ini, namun di masa Nabi Muhammad ﷺ,
kelompok Yahudi di Madinah meyakini hal tersebut. Alloh Ta’ala
membongkar kesesatan ini dalam Al-Qur’an:
﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ
وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن
قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ﴾
“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Alloh’ dan
orang-orang Nashoro berkata: ‘Al Masih itu putra Alloh’. Demikianlah itu ucapan
mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang
terdahulu. Mereka dilaknati
Alloh, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)
Selain itu, bangsa Yahudi memiliki kecenderungan untuk
mempersonifikasikan Alloh (menyerupakan Alloh dengan makhluk alias tasybih). Dalam
kitab-kitab mereka yang telah terdistorsi, mereka menggambarkan Alloh dengan
sifat-sifat yang tidak layak bagi kemuliaan-Nya, seperti Alloh merasa lelah
setelah menciptakan alam semesta sehingga harus beristirahat pada hari Sabtu
(Sabbath), atau Alloh menyesal atas perbuatan-Nya. Islam dengan tegas
menyanggah hal ini. Alloh tidak pernah merasa lelah:
﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ﴾
“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan
apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak
ditimpa keletihan.” (QS. Qof: 38)
1.3 Kitab-Kitab Yahudi: Antara Taurot
dan Talmuth
Agama Yahudi bersumber pada Tanakh (Perjanjian Lama)
yang mencakup Torah (Taurot). Namun, yang ada di tangan mereka sekarang
bukanlah Taurot asli yang diturunkan kepada Musa ﷺ
secara utuh. Para ulama seperti Ibnu Hazm (456 H) dalam kitabnya Al-Fishol
fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal telah menjelaskan berbagai kontradiksi dan
bukti sejarah bahwa teks-teks tersebut telah diubah.
Selain Taurot, mereka memiliki Talmuth (Talmud), yang
merupakan kumpulan catatan diskusi para rabi mengenai hukum, etika, dan
tradisi. Celakanya, bagi banyak kalangan Yahudi, kedudukan Talmud seringkali
lebih tinggi daripada Taurot itu sendiri. Di dalam Talmud terdapat ajaran yang
sangat rasis dan merendahkan bangsa non-Yahudi (Goyim), yang mereka
anggap derajatnya sama dengan binatang yang diciptakan untuk melayani Yahudi.
Islam mengecam tindakan mereka yang menjadikan tokoh agama
sebagai pembuat hukum yang menandingi hukum Alloh. Hal ini dijelaskan dalam
ayat:
﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ
أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ﴾
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan selain Alloh...” (QS. At-Taubah: 31)
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim Rodhiyallahu
‘Anhu, ketika ia mendengar ayat ini, ia berkata kepada Nabi ﷺ: “Kami tidaklah menyembah mereka.” Maka Nabi ﷺ
menjelaskan:
«أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ
مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟»
قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»
“Bukankah mereka mengharomkan apa yang Alloh halalkan lalu
kalian pun ikut mengharomkannya, dan mereka menghalalkan apa yang Alloh haromkan
lalu kalian ikut menghalalkannya?” Aku menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Itulah
bentuk penyembahan kepada mereka.” (HHR. Ath-Thobaroni no. 219)
1.4 Sikap Rasisme: Doktrin
Bangsa Pilihan
Agama Yahudi sangat kental dengan sentimen kebangsaan.
Mereka meyakini bahwa keselamatan hanya milik keturunan Isro’il. Mereka
mengklaim bahwa api Naar tidak akan menyentuh mereka kecuali hanya beberapa
hari saja sebagai bentuk pembersihan. Klaim ini dibantah keras oleh Al-Qur’an:
﴿وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا
أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ قُلْ
أَتَّخَذْتُمْ عِندَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh
oleh api Naar, kecuali selama beberapa hari saja.’ Katakanlah: ‘Sudahkah kamu
menerima janji dari Alloh sehingga Alloh tidak akan memungkiri janji-Nya,
ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ke2tahui?’” (QS.
Al-Baqoroh: 80)
Sikap sombong ini juga yang membuat mereka menolak keNabian
Muhammad ﷺ. Meskipun mereka mengetahui ciri-ciri beliau dalam kitab
mereka, mereka enggan beriman karena beliau berasal dari bangsa Arob (keturunan
Ismail ﷺ), bukan dari kalangan Bani Isro’il. Alloh berfirman:
﴿الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ
كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ
فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ﴾
“Orang-orang (Yahudi dan Nashoro) yang telah Kami beri Al
Kitab (Taurot dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya
sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran,
padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 146)
1.5 Hukum dan Syariat Yahudi yang Kaku
Sebagai hukuman atas kezholiman dan pelanggaran mereka, Alloh
sempat mengharomkan bagi mereka beberapa hal yang sebelumnya halal sebagai
bentuk nakhs (penghapusan hukum) atau sanksi. Namun, mereka justru
seringkali mencoba mengakali hukum Alloh. Contoh paling masyhur adalah peristiwa
Ash-habus Sabt (orang-orang yang melanggar hari Sabtu), di mana mereka dilarang
memancing pada hari Sabtu, lalu mereka memasang jaring pada hari Jumat dan
mengambilnya pada hari Ahad. Akibat pembangkangan ini, Alloh mengutuk mereka
menjadi kera.
﴿فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا
لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ﴾
“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang
dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang
hina’.” (QS. Al-A’rof: 166)
1.6 Sanggahan Terhadap Ajaran
Yahudi
Tentang Nasab dan Kebenaran
Yahudi mengklaim Ibrohim ﷺ
adalah seorang Yahudi. Alloh menyanggah:
﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا
نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ﴾
“Ibrohim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashroni,
akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Alloh)
dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS.
Ali ‘Imron: 67)
Tentang Kematian Para Nabi
Yahudi sering membunuh para Nabi dan mendustakan mereka. Alloh
berfirman:
﴿أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا
تَهْوَىٰ أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ﴾
“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rosul membawa sesuatu
(pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri;
maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (di
antara mereka) kamu bunuh?” (QS. Al-Baqoroh: 87)
Haromnya Surga Bagi Mereka yang Menolak Islam
Dalam sebuah Hadits shohih, Nabi ﷺ
menegaskan bahwa tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashoro,
yang mendengar tentang beliau lalu tidak beriman, melainkan ia akan masuk Naar.
«وَالَّذِي
نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ
وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ
كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»
“Demi (Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
tidaklah salah seorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashroni, yang
mendengar tentangku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa
yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni Naar.” (HR. Muslim
no. 153)
1.7 Penutup Bab
Dapat disimpulkan bahwa agama Yahudi saat ini adalah agama
yang telah menyimpang jauh dari risalah Musa ﷺ.
Mereka telah mencampuradukkan kalam Alloh dengan kata-kata manusia, memelihara
sifat rasisme religius, dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Muhammad ﷺ. Islam datang untuk mengembalikan kemurnian ajaran para Nabi
terdahulu dan membatalkan syariat mereka yang telah usang dan berubah.
Bagi seorang Muslim, beriman kepada Kitab-Kitab sebelum
Al-Qur’an adalah kewajiban, namun yang diimani adalah kitab aslinya yang
diturunkan kepada para Nabi, bukan kitab yang sudah ada di tangan orang Yahudi
saat ini yang penuh dengan tahrif.
BAB 2 – AGAMA NASHORO
(KRISTEN)
Agama Nashoro atau Kristen merupakan agama yang pengikutnya
mengklaim sebagai pengikut Al-Masih Isa bin Maryam ﷺ. Dalam pandangan Islam, kaum Nashoro
adalah bagian dari Ahlu Al-Kitab. Namun, sebagaimana Yahudi, ajaran Nashoro
yang ada saat ini telah mengalami penyimpangan fundamental yang sangat jauh
dari Tauhid murni yang dibawa oleh Nabi Isa ﷺ. Penyimpangan ini mencakup aspek
ketuhanan, kitab suci, hingga konsep penebusan dosa yang tidak dikenal dalam
syariat para Nabi sebelumnya.
2.1
Hakikat Dakwah Isa dan Konsep Tauhid Asli
Nabi Isa ﷺ diutus oleh Alloh Ta’ala kepada Bani Isro’il untuk
membenarkan Taurot dan mengajak mereka kembali menyembah Alloh semata. Beliau
tidak pernah menyeru manusia untuk menyembah dirinya atau ibundanya. Alloh Ta’ala
berfirman mengabadikan dakwah asli Isa ﷺ:
﴿وَقَالَ
الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ
بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ
مِنْ أَنصَارٍ﴾
“Padahal
Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Wahai Bani Isro’il, sembahlah Alloh Robb-ku dan
Robb-mu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka
pasti Alloh mengharomkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Naar, tidaklah
ada bagi orang-orang zholim itu seorang penolong pun.’” (QS. Al-Maidah: 72)
Isa adalah
seorang hamba dan utusan Alloh yang diciptakan dengan kalimat-Nya melalui
perantaraan Jibril tanpa ayah, sebagai bukti kekuasaan Alloh. Alloh berfirman:
﴿إِنَّ
مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَصَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ
ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ﴾
“Sesungguhnya
misal (penciptaan) Isa di sisi Alloh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Alloh
menciptakan Adam dari tanah, kemudian Alloh berfirman kepadanya: ‘Jadilah’
(seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imron: 59)
2.2
Penyimpangan Paulus dan Munculnya Doktrin Trinitas
Sejarah
mencatat bahwa setelah Nabi Isa diangkat ke langit, pengikut-pengikutnya
mengalami persekusi atau penganiayaan yang sangat kejam. Di tengah situasi yang
penuh tekanan tersebut, muncul seorang tokoh bernama Paulus (Saulus dari
Tarsus). Ia bukanlah orang sembarangan; ia adalah warga negara Romawi yang
terpelajar dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang awalnya merupakan
musuh bebuyutan paling keras dalam mengejar dan menyiksa orang-orang yang
berpegang pada ajaran Nabi Isa.
Secara
logika, sulit bagi para murid setia Nabi Isa (Hawariyyun) untuk menerima orang
yang sebelumnya menyiksa mereka. Namun, Paulus menggunakan pendekatan yang
sangat sistematis:
Paulus
mengklaim mendapatkan penglihatan (sejenis kenabian) langsung dari langit di
tengah perjalanan menuju Damsyik. Ia mengaku telah “dipilih” untuk menyebarkan
ajaran kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (pagan).
Awalnya ia
ditolak dan ditakuti, namun ia berhasil meyakinkan beberapa tokoh kunci di
kalangan pengikut awal dengan menunjukkan semangat yang luar biasa. Meski
begitu, sejarah mencatat terjadinya perselisihan tajam antara Paulus dengan
murid asli seperti Barnabas dan Petrus terkait prinsip-prinsip
syariat.
Karena
mendapat penolakan dari kelompok Hawariyyun yang tetap memegang teguh Tauhid
dan syariat Taurot, Paulus akhirnya lebih banyak bergerak di luar Yerusalem,
menyasar masyarakat pagan Yunani dan Romawi yang sama sekali tidak mengenal
Nabi Isa secara langsung. Di sanalah ia membangun basis massa baru yang tidak
memiliki keterikatan dengan ajaran asli para murid.
Paulus
memiliki “tiket masuk” ke dunia Romawi yang tidak dimiliki oleh murid-murid
Nabi Isa yang lain, yaitu status kewarganegaraannya. Sebagai warga Romawi, ia
memiliki hak hukum untuk naik banding langsung kepada Kaisar dan bergerak bebas
di seluruh wilayah kekaisaran.
Paulus
mulai melakukan inkulturasi, yaitu mengemas ajaran Nashoro agar selaras dengan
logika berpikir orang Romawi. Orang Romawi pada saat itu terbiasa menyembah
dewa-dewa yang memiliki anak atau pahlawan yang dianggap setengah tuhan. Dengan
memperkenalkan konsep “Anak Alloh” secara harfiah dan menghapuskan syariat yang
dianggap berat (seperti khitan dan larangan babi), ajaran versi Paulus menjadi
sangat populer dan cepat menyebar ke kalangan bangsawan hingga ke dalam istana.
Puncak dari
penyusupan ajaran ini ke dalam struktur negara terjadi ratusan tahun kemudian.
Kekaisaran Romawi saat itu sedang terpecah karena perbedaan keyakinan antara
pengikut Unitarian (yang meyakini Isa adalah hamba dan utusan Alloh) dan
pengikut doktrin Paulus (Trinitarian).
Kaisar
Konstantin, seorang penguasa yang cerdik secara politik, melihat bahwa agama
bisa menjadi alat pemersatu kekaisarannya yang mulai retak. Pada Konsili Nicaea
(325 M), sang Kaisar melakukan intervensi:
Ia memihak
pada kelompok yang mendukung ketuhanan Isa karena konsep ini lebih mirip dengan
tradisi paganisme Romawi yang memuja Matahari (Sol Invictus).
Ia
menetapkan doktrin bahwa Isa adalah Tuhan yang sehakikat dengan Bapa sebagai
dogma resmi negara.
Siapa pun
yang menentang keputusan ini, seperti Arius (seorang ulama yang
mempertahankan Tauhid), dikucilkan dan bukunya dibakar.
Pada
momentum inilah, mereka secara resmi mencetuskan doktrin Trinitas, yaitu
keyakinan terhadap Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus, yang kemudian
dipaksakan ke seluruh penjuru kekaisaran dengan kekuatan militer dan politik.
Alloh Ta’ala
membantah keras kesesatan ini:
﴿لَّقَدْ
كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ
إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا
عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Sesungguhnya
kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Alloh salah seorang dari yang
tiga’, padahal sekali-kali tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Ilah
Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti
orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS.
Al-Maidah: 73)
Islam juga
menegaskan bahwa pada hari Kiamat kelak, Alloh akan bertanya langsung kepada
Isa ﷺ di hadapan para pengikutnya untuk membuktikan kebohongan
mereka:
﴿وَإِذْ
قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ
إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ
مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ﴾
“Dan
(ingatlah) ketika Alloh berfirman: ‘Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu
mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Alloh?”‘
Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang
bukan hakku (mengatakannya)...’” (QS. Al-Maidah: 116)
2.3
Tahrif (Perubahan) pada Kitab Injil
Kaum Nashoro
saat ini memegang Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru. Injil yang mereka akui hanyalah empat versi (Matius, Markus, Lukas, dan
Yohanes) yang ditulis puluhan tahun setelah masa Isa oleh orang-orang yang
tidak pernah bertemu langsung dengan beliau (kecuali klaim pada sebagian
penulis). Banyak Injil lain, seperti Injil Barnabas yang lebih
menekankan Tauhid, dimusnahkan dan dianggap sesat oleh gereja.
Alloh Ta’ala
menggambarkan kelakuan para pendeta mereka dalam mengubah kitab suci:
﴿فَوَيْلٌ
لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ
اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم
مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ﴾
“Maka
kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan
mereka sendiri, lalu dikatakannya; ‘Ini dari Alloh’, (dengan maksud) untuk
memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang
besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri,
dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-Baqoroh: 79)
Dalam
sebuah Hadits, Rosulullah ﷺ memperingatkan agar kita
tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan secara mutlak berita dari Ahlu
Al-Kitab yang tidak ada konfirmasinya dalam syariat kita, karena adanya
percampuran antara kebenaran dan kebatilan tersebut:
«لاَ
تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا
أُنْزِلَ إِلَيْنَا»
“Janganlah
kalian membenarkan Ahlu Al-Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi
ucapkanlah: ‘Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami’.” (HR.
Al-Bukhori no. 4485)
2.4
Sanggahan terhadap Doktrin Penebusan Dosa dan Penyaliban
Salah satu
tiang penyangga agama Nashoro adalah keyakinan bahwa manusia mewarisi “dosa
asal” dari Adam, dan Alloh mengutus “anak-Nya” untuk disalib sebagai tebusan
atas dosa manusia. Islam menolak keras konsep ini. Dalam Islam, setiap manusia
bertanggung jawab atas dosanya sendiri:
﴿وَلَا
تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ﴾
“Dan
seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am:
164)
Mengenai
peristiwa penyaliban, Al-Qur’an menegaskan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak
disalib, melainkan Alloh mengangkatnya ke langit dan orang yang disalib adalah
orang yang diserupakan dengan beliau:
﴿وَمَا
قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ
اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِ مِنْ
عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ
يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ﴾
“...
padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang
mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya
orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam
keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan
tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka
tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (sebenarnya),
Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (QS. An-Nisa: 157-158)
2.5
Kembalinya Isa di Akhir Zaman
Berbeda
dengan keyakinan Nashoro yang menunggu kedatangan Isa sebagai Tuhan untuk
menghakimi dunia, Islam mengajarkan bahwa Isa akan turun kembali sebagai
pemimpin yang adil yang akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan
Jizyah karena pada saat itu semua orang akan dipersatukan di bawah Islam.
Beliau akan sholat di belakang Imam kaum Muslimin.
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosulullah ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا،
فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ المَالُ
حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ»
“Demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam
turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, maka ia akan mematahkan
salib, membunuh babi, menghapuskan Jizyah, dan harta akan melimpah ruah hingga
tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2222 dan
Muslim no. 155)
Hadits ini
adalah tamparan keras bagi kaum Nashoro, karena Isa sendiri yang akan
menghancurkan simbol utama kesyirikan mereka (salib) dan menghukum mereka yang
menghalalkan apa yang Alloh haromkan (babi).
2.6
Hukum Mengambil Pemimpin dan Meniru Kaum Nashoro
Islam
melarang keras menjadikan kaum Yahudi dan Nashoro sebagai pemimpin atau teman
setia yang diikuti agamanya. Alloh berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashoro
menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian
yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)
Rosulullah ﷺ juga memperingatkan umatnya agar tidak tasyabbuh (menyerupai)
tradisi ibadah mereka:
«مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4031)
2.7
Kewajiban Mengikuti Syariat Muhammad ﷺ
Setelah
diutusnya Muhammad ﷺ, maka seluruh syariat
sebelumnya telah terhapus (mansukh). Tidak ada keselamatan bagi kaum Nashoro
kecuali dengan masuk Islam. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا﴾
“Katakanlah:
‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu sekalian’...” (QS.
Al-A’rof: 158)
Dalam Hadits
riwayat Jabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘Anhuma, Rosulullah ﷺ melihat Umar bin Al-Khoththob (23 H) memegang lembaran Taurot,
lalu beliau bersabda dengan nada marah:
«أَمُتَهَوِّكُونَ
فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا
بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، ... وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا،
مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي»
“Apakah ada
keraguan padamu wahai putra Khoththob? Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, sungguh aku telah membawa kepada kalian syariat yang putih
bersih... Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikata Musa masih
hidup, tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HHR. Ahmad no. 15156)
2.8
Penutup Bab
Agama Nashoro
adalah potret nyata bagaimana pemujaan berlebihan terhadap seorang Nabi dapat
menjerumuskan pada kesyirikan yang besar. Mereka telah jatuh ke dalam lubang
yang sama dengan kaum Nuh, yaitu mengkultuskan orang sholih hingga
menjadikannya Tuhan. Islam datang sebagai penengah (wasath) yang
menempatkan Isa pada kedudukan yang semestinya: sebagai hamba Alloh,
utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang mulia, tanpa adanya unsur ketuhanan
sedikitpun.
Sejarah
mencatat bahwa banyak di antara pendeta Nashoro yang jujur akhirnya masuk Islam
setelah melihat kebenaran Al-Qur’an, sebagaimana yang dialami oleh Raja Najasyi
dari Ethiopia. Hal ini dikarenakan dalam hati mereka yang tulus, mereka
mengakui bahwa ajaran Islam adalah kelanjutan murni dari risalah yang dibawa
oleh Isa ﷺ.
BAB 3 – AGAMA MAJUSI DAN SHOBI’AH
Agama
Majusi atau yang dalam literatur Barat dikenal sebagai Zoroastrianisme,
serta agama Shobi’ah, merupakan dua aliran kepercayaan kuno yang memiliki
sejarah panjang dan pengaruh yang signifikan terhadap peradaban manusia sebelum
datangnya Islam. Kedua ajaran ini adalah potret nyata bagaimana manusia, ketika
berpaling dari wahyu para Nabi, akan terjerumus ke dalam bentuk-bentuk
kesyirikan yang sangat halus namun berbahaya, baik dalam bentuk dualisme
penciptaan maupun penyembahan terhadap benda-benda langit.
3.1
Agama Majusi: Ajaran Dua Tuhan
Agama
Majusi dinisbatkan kepada sosok bernama Zoroaster (atau Zarathustra). Mereka
meyakini adanya pertarungan abadi antara prinsip kebaikan dan kejahatan. Inti
dari ajaran mereka adalah dualisme (At-Tatsniyah), di mana mereka meyakini alam
semesta ini memiliki dua pencipta. Pertama, Ahura Mazda (Tuhan
Cahaya/Kebaikan) yang menciptakan segala sesuatu yang baik, dan kedua, Angra
Mainyu atau Ahriman (Tuhan Kegelapan/Kejahatan) yang menciptakan segala
keburukan seperti penyakit, bencana, dan kematian.
Islam
dengan tegas menyanggah paham dualisme ini. Seluruh makhluk, baik yang baik
maupun yang buruk (dari segi takdir), adalah ciptaan Alloh Yang Maha Esa. Tidak
ada pencipta selain Dia. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿قُلِ
اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾
“Katakanlah:
‘Alloh adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa’.” (QS. Ar-Ro’d: 16)
Keyakinan
Majusi bahwa keburukan diciptakan oleh tuhan tersendiri adalah bentuk pelecehan
terhadap kekuasaan Alloh yang mutlak. Dalam Islam, keburukan yang terjadi pada
makhluk adalah berdasarkan hikmah Alloh dan termasuk dalam cakupan kehendak-Nya
(Masyi’ah).
Penyembahan Api
(Atasy-Kadeh)
Kaum Majusi
dikenal sebagai penyembah api. Meskipun mereka mengklaim bahwa api hanyalah
simbol atau kiblat menuju Tuhan, namun dalam praktiknya mereka melakukan ritual
pengagungan yang melampaui batas terhadap api. Mereka membangun kuil-kuil api
dan menjaga agar api tersebut tidak pernah padam selama ribuan tahun.
Islam
datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju
penyembahan kepada Sang Pencipta. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَمِنْ
آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ
وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan.
Janganlah sembah matahari dan janganlah (sembah) bulan, tetapi sembahlah Alloh
Yang menciptakannya, jika Dia yang kamu sembah.” (QS. Fushshilat: 37)
Ketika
Muhammad ﷺ lahir, terjadi mukjizat berupa padamnya api sesembahan bangsa
Majusi di Persia yang telah menyala selama seribu tahun. Ini adalah isyarat
bahwa cahaya Islam akan memadamkan kesyirikan Majusi.
Status Hukum Kaum Majusi
dalam Islam
Meskipun
Majusi bukan termasuk Ahlu Al-Kitab secara asal (karena mereka tidak memiliki
kitab samawi yang jelas seperti Taurot dan Injil), namun Nabi ﷺ memperlakukan mereka seperti Ahlu Al-Kitab hanya dalam urusan
penarikan Jizyah (pajak perlindungan), bukan dalam hal halalnya sembelihan atau
pernikahan dengan wanita mereka.
Diriwayatkan
dari Amr bin ‘Auf Al-Anshori Rodhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rosulullah ﷺ mengambil Jizyah dari kaum Majusi di wilayah Hajar. Hal ini
dipertegas dalam riwayat dari Abdurrohman bin ‘Auf Rodhiyallahu ‘Anhu
(32 H):
أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ
“Bahwasanya
Nabi ﷺ mengambil Jizyah dari Majusi daerah Hajar.” (HR. Al-Bukhori
no. 3157)
Namun,
secara aqidah, Majusi dianggap sebagai orang musyrik yang sangat sesat karena
mereka menyamakan makhluk dengan Al-Kholiq.
3.2
Agama Shobi’ah: Penyembah Bintang
Agama Shobi’ah
(Sabaeanism) adalah kelompok yang menyembah benda-benda langit seperti bintang,
planet, dan Malaikat. Mereka meyakini bahwa bintang-bintang tersebut memiliki
pengaruh mutlak terhadap nasib manusia dan mengatur urusan di bumi. Mereka
membangun struktur bangunan (kuil) berdasarkan rasi bintang dan melakukan
ritual pada waktu-waktu tertentu.
Al-Qur’an
menyebutkan nama mereka dalam beberapa ayat, namun para ulama seperti Ibnu
Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa Shobi’ah terbagi dua: Shobi’ah Hunafa
(yang mengikuti ajaran Tauhid murni sebelum mengalami distorsi) dan Shobi’ah
Musyrikun (yang menyembah bintang).
Bantahan
Islam terhadap Shobi’ah sangat jelas. Alloh menegaskan bahwa bintang-bintang
hanyalah hiasan langit dan alat untuk navigasi, bukan pengatur nasib. Alloh
berfirman:
﴿وَهُوَ
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ﴾
“Dialah
yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam
kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’am: 97)
Lebih jauh,
Alloh menghancurkan doktrin mereka dengan menyatakan bahwa Alloh adalah Pencipta
bintang yang mereka agungkan (seperti bintang Syi’ro):
وَأَنَّهُ
هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ
“Dan
bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ro.” (QS. An-Najm:
49)
Bahaya Astrologi dan
Ramalan Bintang
Sisa-sisa
ajaran Shobi’ah masih ada hingga hari ini dalam bentuk astrologi atau ramalan
bintang (zodiak). Islam mengharomkan segala bentuk ketergantungan pada bintang
dalam menentukan nasib. Rosulullah ﷺ
bersabda:
«مَنْ
اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»
“Barangsiapa
mengambil satu cabang ilmu dari ilmu perbintangan (astrologi untuk meramal),
maka ia telah mengambil satu cabang dari sihir; ia menambah (dosanya) seiring
dengan bertambahnya ilmu tersebut.” (HHR. Abu Dawud no. 3905)
Dalam Hadits
Qudsi, Alloh Ta’ala berfirman mengenai orang yang menyandarkan hujan
kepada bintang:
«أَصْبَحَ
مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ
وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ:
مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ»
“Pagi ini
di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang
yang mengatakan: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rahmat-Nya’, maka
dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang
mengatakan: ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’, maka dialah yang
kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan
Muslim no. 71)
Sanggahan Komprehensif
terhadap Majusi dan Shobi’ah
Pertama: Kelemahan Makhluk yang Disembah
Api yang
disembah Majusi bisa padam dengan air atau habis jika kayu bakarnya habis.
Bintang yang disembah Shobi’ah bisa terbenam dan hilang dari pandangan. Sesuatu
yang berubah dan sirna tidak layak dijadikan Tuhan. Inilah argumen Nabi Ibrohim
ﷺ ketika mendebat kaumnya yang menyembah bintang:
﴿فَلَمَّا
أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ﴾
“Maka
tatkala bintang itu terbenam, dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang
terbenam’.” (QS. Al-An’am: 76)
Kedua: Kesatuan Penciptaan (Tauhid
Rububiyyah)
Ajaran
Majusi yang membagi pencipta menjadi dua akan mengakibatkan kekacauan di alam
semesta jika kedua pencipta tersebut berselisih. Alloh berfirman:
﴿لَوْ
كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا﴾
“Sekiranya
ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Alloh, tentulah keduanya itu telah
rusak binasa.” (QS. Al-Anbiya: 22)
Ketiga: Kesesatan dalam Ritual
Kaum Majusi
memiliki tradisi pernikahan sedarah (incest) yang mereka anggap suci,
serta cara penanganan jenazah yang dibiarkan dimakan burung pemakan bangkai
(menara keheningan/dakhma). Islam datang dengan syariat yang menjaga kehormatan
manusia dan kesucian nasab. Alloh mengharomkan pernikahan dengan mahrom:
﴿حُرِّمَتْ
عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ...﴾
“Diharomkan
atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan...” (QS.
An-Nisa: 23)
3.3
Penutup Bab
Baik Majusi
maupun Shobi’ah adalah contoh nyata bagaimana syaithon memalingkan manusia dari
menyembah Alloh dengan cara menghiasi makhluk yang tampak hebat di mata manusia
(api dan bintang). Islam meruntuhkan semua itu dengan menegaskan bahwa api dan
bintang hanyalah tentara Alloh yang tunduk pada perintah-Nya. Tidak ada satu
pun di alam semesta ini yang bergerak atau diam kecuali dengan izin Alloh Robb
semesta alam.
Barangsiapa
yang masih memegang teguh ajaran ini setelah sampainya dakwah Islam, maka
tempat kembalinya adalah ke dalam siksa api Naar yang abadi. Keselamatan hanya
ada pada kalimat Laa Ilaha Illallah.
BAB 4 – AGAMA HINDU
Agama Hindu
merupakan salah satu agama tertua di dunia yang memiliki struktur ajaran yang
sangat kompleks. Berbeda dengan agama samawi yang berpijak pada wahyu yang
diturunkan kepada seorang Nabi tertentu, Hindu berkembang melalui proses
sinkretisme budaya, tradisi lisan, dan filsafat yang berlangsung selama ribuan
tahun di subbenua India. Dalam pandangan Islam, Hindu adalah representasi dari
kesyirikan yang sangat nyata karena melibatkan penyembahan kepada berhala,
pengkultusan makhluk, serta keyakinan pada siklus reinkarnasi yang bertentangan
dengan konsep Jannah dan Naar.
4.1
Sejarah dan Perkembangan Kitab Weda
Sumber
utama ajaran Hindu adalah Weda (Veda), yang mereka yakini sebagai pengetahuan
suci. Selain Weda, terdapat kitab-kitab lain seperti Upanisad, Purana, serta
wiracarita Mahabharata dan Ramayana. Para ulama sejarah menjelaskan bahwa
ajaran ini bermula dari kepercayaan bangsa Arya yang melakukan migrasi ke India
dan bercampur dengan kepercayaan penduduk asli (bangsa Dravida).
Meskipun
dalam sebagian teks mereka terdapat istilah yang merujuk pada keesaan, namun
dalam praktiknya, ajaran ini terpecah ke dalam ribuan sekte yang menyembah
dewa-dewa tertentu. Islam menegaskan bahwa setiap bangsa dahulu pernah
didatangi oleh seorang pemberi peringatan, namun manusia kemudian mengubah
ajaran tersebut. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَإِن
مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ﴾
“Dan tidak
ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS.
Fathir: 24)
Penyimpangan
Hindu terjadi ketika mereka mulai mempersonifikasikan kekuatan alam menjadi
dewa-dewa yang mereka beri bentuk rupa (patung).
4.2
Doktrin Trimurti dan Panteisme
Dalam
Hindu, terdapat konsep Trimurti, yaitu tiga dewa utama: Brahma (Pencipta),
Wisnu (Pemelihara), dan Siwa (Pelebur). Selain itu, mereka memiliki ribuan dewa
lainnya yang dianggap sebagai manifestasi dari Brahman (Realitas Tertinggi).
Konsep ini sering kali berujung pada panteisme, yaitu keyakinan bahwa segala
sesuatu di alam semesta ini adalah Tuhan atau bagian dari Tuhan.
Islam
menyanggah konsep ini dengan Tauhid yang murni. Alloh adalah Pencipta,
Pemelihara, sekaligus Yang Maha Menghancurkan tanpa perlu berbagi peran dengan
oknum-oknum dewa. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿قُلْ
مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم
مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا﴾
“Katakanlah:
‘Siapakah Robb (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi?’ Jawablah: ‘Alloh’.
Katakanlah: ‘Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung selain-Nya,
padahal mereka tidak mempunyai daya untuk mendatangkan manfaat dan tidak pula
menolak mudhorot bagi diri mereka sendiri?’” (QS. Ar-Ro’d: 16)
Penyembahan
terhadap patung (berhala) dalam Hindu dibantah oleh Al-Qur’an sebagai perbuatan
yang sia-sia karena patung tidak bisa mendengar, melihat, apalagi memberi
hidayah. Alloh berfirman menirukan ucapan Nabi Ibrohim ﷺ:
﴿قَالَ
أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾
“Ibrohim
berkata: ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Alloh-lah
yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu’.” (QS. Ash-Shoffat:
95-96)
4.3
Sistem Kasta (Varna) dan Ketidakadilan Sosial
Salah satu
ciri khas agama Hindu adalah sistem kasta yang membagi manusia menjadi empat
golongan: Brahmana (pendeta), Ksatria (bangsawan/prajurit), Waisya (pedagang),
dan Sudra (pelayan). Di luar itu terdapat kaum Paria atau Dalit yang dianggap “harom
untuk disentuh”. Mereka meyakini bahwa kasta seseorang ditentukan oleh
kelahiran dan merupakan hasil dari perbuatan (Karma) di kehidupan sebelumnya.
Islam
menghapuskan semua sekat diskriminatif ini. Di hadapan Alloh, semua manusia
adalah sama, dan yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم
مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾
“Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurot:
13)
Dalam
sebuah Hadits yang diriwayatkan saat Haji Wada’, Nabi ﷺ
menegaskan:
«يَا
أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا
لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا
أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى»
“Wahai
manusia, ketahuilah bahwa Robb kalian adalah satu, dan bapak kalian satu
(Adam). Tidak ada keutamaan bagi orang Arob atas orang ajam (non-Arob), tidak
pula orang ajam atas orang Arob, tidak pula orang berkulit merah atas orang
hitam, dan tidak pula orang hitam atas orang merah, kecuali dengan takwa.” (HSR.
Ahmad no. 23489)
4.4
Doktrin Reinkarnasi (Samsara) dan Karma
Ajaran
Hindu meyakini adanya reinkarnasi, yaitu perpindahan ruh dari satu jasad ke
jasad lain setelah kematian secara berulang-ulang hingga mencapai Moksha
(kebebasan). Nasib di kehidupan mendatang ditentukan oleh hukum Karma.
Islam
membantah hal ini dengan tegas. Ruh manusia tidak akan kembali ke dunia setelah
kematian, melainkan berada di alam Barzakh untuk menunggu hari kebangkitan. Alloh
Ta’ala berfirman tentang orang kafir yang ingin kembali ke dunia untuk
beramal sholih:
﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ
قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ
يُبْعَثُونَ﴾
“...
sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya
Robb-ku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang sholih
terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (Barzakh)
sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)
Kematian
dan kehidupan di dunia hanya terjadi satu kali, kemudian diikuti oleh Hari
Pembalasan yang kekal. Alloh berfirman:
﴿كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا
فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ﴾
“Mengapa
kamu kafir kepada Alloh, padahal kamu tadinya mati, lalu Alloh menghidupkan
kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali (pada hari Kebangkitan),
kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al-Baqoroh: 28)
4.5
Ritual dan Penyucian di Sungai Gangga
Umat Hindu
meyakini bahwa mandi di Sungai Gangga dapat menghapuskan dosa. Dalam Islam,
penghapusan dosa hanya bisa dicapai melalui Taubat yang nasuha kepada Alloh dan
menjalankan ibadah yang disyariatkan seperti Sholat dan Zakat. Air tidak
memiliki kekuatan spiritual untuk mencuci dosa kecuali jika digunakan untuk
berwudhu atau mandi janabah sesuai perintah Alloh.
Bantahan
terhadap ritual-ritual bid’ah dan syirik mereka terdapat dalam Hadits dari
Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa
melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan
tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)
4.6
Sanggahan terhadap Penyembahan Makhluk (Hewan)
Hindu
menganggap beberapa hewan, khususnya sapi, sebagai makhluk suci yang harus
dihormati dan tidak boleh disembelih. Islam mengajarkan bahwa hewan-hewan
diciptakan Alloh untuk kemaslahatan manusia, termasuk untuk dimakan dagingnya
setelah disembelih dengan menyebut nama Alloh. Alloh berfirman:
﴿وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا
تَأْكُلُونَ﴾
“Dia telah
menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan
dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan.” (QS. An-Nahl: 5)
Mengkultuskan
hewan adalah bentuk perendahan terhadap martabat manusia yang seharusnya
menjadi penguasa di bumi atas izin Alloh, bukan justru menjadi penyembah hewan
tersebut.
4.7
Penutup Bab
Agama Hindu
adalah kumpulan dari berbagai sisa tradisi kuno yang telah bercampur aduk
dengan kesyirikan yang nyata. Pengingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan
digantikan dengan fiksi reinkarnasi, dan pengingkaran terhadap Tauhid
digantikan dengan penyembahan ribuan berhala. Islam datang sebagai cahaya untuk
meruntuhkan kasta-kasta buatan manusia dan mengembalikan manusia kepada fitrohnya:
sebagai hamba Alloh semata.
Barangsiapa
yang mati dalam keadaan menyembah selain Alloh, baik itu Brahma, Wisnu, Siwa,
atau berhala lainnya, maka ia kekal di dalam Naar. Sebagaimana firman-Nya:
﴿إِنَّ
اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ﴾
“Sesungguhnya
Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang
selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa:
48)
BAB 5 – AGAMA BUDHA
Agama Budha
muncul sebagai bentuk reformasi atau reaksi terhadap ajaran Hindu di India pada
abad ke-6 SM. Ajaran ini berpusat pada sosok Siddharta Gautama, yang kemudian
dikenal sebagai Sang Budha (Yang Tercerahkan). Berbeda dengan agama-agama lain
yang menitikberatkan pada hubungan antara manusia dan Tuhan, Budha lebih
menekankan pada filsafat etika, meditasi, dan pembebasan diri dari penderitaan
duniawi. Dalam perspektif Islam, Budha adalah ajaran yang menyimpang karena
bersifat atheistik-religius (tidak meyakini Tuhan personal yang menciptakan dan
mengatur alam) serta mengingkari rukun-rukun iman yang asasi.
5.1
Sejarah Siddharta Gautama dan Pencarian “Pencerahan”
Siddharta
Gautama adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sakya yang meninggalkan kemewahan
istana setelah melihat empat realitas kehidupan: orang tua, orang sakit, mayat,
dan pertapa. Ia mencari jawaban atas penderitaan (Dukkha) melalui asketisme
ekstrem dan akhirnya melalui meditasi di bawah pohon Bodhi hingga ia mengklaim
mencapai pencerahan (Nirwana).
Islam
mengajarkan bahwa solusi atas problematika kehidupan bukan dengan menyepi tanpa
petunjuk wahyu, melainkan dengan tunduk kepada syariat Alloh. Penderitaan di
dunia adalah ujian, dan ketenangan hanya didapat dengan mengingat Alloh. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم
بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ﴾
“ (yaitu)
orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh.
Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d:
28)
5.2
Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan
Doktrin
dasar Budha terangkum dalam Catur Arya Satyani (Empat Kebenaran Mulia): hidup
adalah menderita, penderitaan disebabkan oleh nafsu (Tanha), penderitaan bisa
dihentikan, dan jalan menghentikannya adalah melalui delapan jalur (pandangan
benar, niat benar, bicara benar, dsb).
Meskipun
sekilas tampak sebagai ajaran moral yang baik, namun ajaran ini mengabaikan hak
Alloh sebagai pencipta. Budha mengajarkan bahwa keselamatan diraih semata-mata
dengan usaha diri sendiri (self-salvation). Dalam Islam, amal perbuatan manusia
tidak akan ada nilainya jika tidak dilandasi iman kepada Alloh. Alloh Ta’ala
berfirman mengenai amal orang-orang kafir:
﴿وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ
فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا﴾
“Kami hadapi
segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu
yang beterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23)
5.3
Budha dan Pengingkaran Terhadap Eksistensi Pencipta (Robb)
Agama Budha
tidak memiliki konsep Tuhan sebagai Pencipta (Al-Kholiq). Mereka memandang alam
semesta berjalan secara mekanis melalui hukum sebab-akibat (Paticcasamuppada)
tanpa ada pengatur. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap Tauhid Rububiyyah.
Al-Qur’an
menyanggah paham ini dengan pertanyaan logis: apakah alam semesta ini terjadi
dengan sendirinya tanpa pencipta?
﴿أَمْ
خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾
“Apakah
mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri
mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)
Setiap
desain yang rumit di alam semesta menunjukkan adanya Desainer Yang Maha
Bijaksana. Mengabaikan keberadaan Alloh dalam sistem keyakinan adalah puncak
dari kebodohan dan kesesatan.
5.4
Penyembahan Berhala Budha dan Pemujaan Patung
Meskipun
Budha pada awalnya adalah sebuah filsafat, namun dalam perkembangannya, para
pengikutnya membuat patung-patung Budha dalam berbagai ukuran dan menyembahnya,
mempersembahkan sesaji, serta bersujud di hadapannya. Hal ini jelas merupakan
kesyirikan yang besar (Syirik Akbar).
Islam mengharomkan
segala bentuk pembuatan patung makhluk bernyawa untuk tujuan pengagungan atau
ibadah. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu
‘Anhu, Rosulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ»
“Sesungguhnya
manusia yang paling berat siksanya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah para
tukang gambar (pembuat patung/gambar makhluk bernyawa).” (HR. Al-Bukhori no.
5950 dan Muslim no. 2109)
Alloh juga
berfirman tentang batilnya menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan
manfaat:
﴿قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا
لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Katakanlah:
‘Mengapa kamu menyembah selain Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberi mudhorot
kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Alloh-lah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 76)
5.5
Doktrin Reinkarnasi dan Nirwana vs Akhiroh
Sebagaimana
Hindu, Budha juga meyakini reinkarnasi. Bedanya, Budha tidak meyakini adanya
ruh yang tetap (Anatta atau tanpa diri). Mereka meyakini bahwa aliran
kesadaranlah yang berpindah. Tujuan akhirnya adalah Nirwana, yaitu keadaan di
mana nafsu telah padam dan seseorang keluar dari siklus kelahiran kembali.
Islam
menegaskan bahwa hidup hanya sekali dan setelah itu ada pembalasan di Jannah
atau Naar. Konsep Nirwana sebagai “kepunahan” atau “kekosongan” adalah khayalan
yang mengingkari janji Alloh tentang kenikmatan abadi bagi orang beriman. Alloh
berfirman:
﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ﴾
“Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat itulah
disempurnakan pahalamu...” (QS. Ali ‘Imron: 185)
Dalam
sebuah Hadits shohih, Nabi ﷺ menjelaskan tentang alam
kubur (Barzakh) yang merupakan persinggahan pertama menuju Akhiroh, yang
meniadakan kemungkinan ruh berpindah ke jasad lain di dunia:
«إِنَّ
القَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ
أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ»
“Sesungguhnya
kubur adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan Akhiroh. Jika
seseorang selamat darinya, maka setelahnya akan lebih mudah. Jika tidak
selamat, maka setelahnya akan lebih berat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2308)
5.6
Praktik Meditasi dan Rahib (Kebiaraan)
Budha
sangat menekankan kehidupan asketis dan memisahkan diri dari dunia (menjadi
biksu/rahib). Mereka meyakini bahwa dengan menjauhi pernikahan dan kesenangan
duniawi, mereka lebih cepat mencapai pencerahan.
Islam
melarang gaya hidup rahib yang ekstrem ini. Islam adalah agama yang seimbang
antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Nabi ﷺ
bersabda ketika mendengar ada sahabat yang ingin sholat terus menerus tanpa
tidur, berpuasa tanpa berbuka, dan tidak mau menikah:
«أَمَا
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ،
وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ
مِنِّي»
“Demi Alloh,
sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Alloh
di antara kalian. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan aku tidur, dan
aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan
termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401)
5.7
Sanggahan Terhadap Konsep Kedamaian Tanpa Islam
Umat Budha
sering mendengungkan ajaran cinta kasih universal (Ahimsa) dan tanpa kekerasan.
Namun, tanpa Tauhid, kedamaian tersebut hanyalah semu di mata Alloh. Kedamaian
sejati hanya didapat dengan tunduk kepada aturan Alloh As-Salam.
Alloh
berfirman tentang kerugian orang-orang yang merasa telah berbuat sebaik-baiknya
di dunia namun tanpa iman:
﴿قُلْ
هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا﴾
“Katakanlah:
‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahfi: 103-104)
5.8
Penutup Bab
Agama
Budha, meskipun menawarkan ketenangan batin melalui meditasi dan etika,
tetaplah sebuah jalan menuju kehancuran karena fondasinya yang mengingkari Alloh
sebagai satu-satunya sesembahan. Pemujaan terhadap figur Budha dan keyakinan
reinkarnasi adalah rantai yang membelenggu manusia dari kebenaran sejati. Islam
datang untuk mengangkat martabat manusia agar tidak bersujud kepada sesama
manusia yang telah wafat, melainkan bersujud kepada Al-Hayyu Al-Qoyyum (Yang
Maha Hidup dan Terus Menerus Mengurus Makhluk-Nya).
Setiap
orang yang mencari hidayah melalui ajaran Budha akan berakhir pada kekosongan
yang nyata, karena hidayah hanya milik Alloh dan hanya diberikan kepada mereka
yang mengikuti jalan para Rosul.
BAB 6 – AGAMA-AGAMA ASIA TIMUR
(KONFUSIANISME, TAOISME, DAN SHINTO)
Agama-agama
di wilayah Asia Timur, khususnya China dan Jepang, memiliki karakteristik yang
unik karena sangat dipengaruhi oleh tradisi leluhur, filsafat harmoni alam, dan
etika kemasyarakatan. Berbeda dengan agama samawi yang memiliki kitab wahyu
yang jelas, agama-agama seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Shinto lebih
merupakan kristalisasi dari budaya lokal yang kemudian dikultuskan menjadi
sistem kepercayaan. Dalam kacamata Islam, ajaran-ajaran ini mengandung unsur
kesyirikan dalam bentuk pengagungan terhadap arwah leluhur serta penyembahan
terhadap kekuatan alam (animisme).
6.1
Konfusianisme (Kong Hu Cu): Pemujaan Etika dan Leluhur
Konfusianisme
dinisbatkan kepada Kung Fu Tze (Konfusius). Ajaran ini sebenarnya lebih
menekankan pada tatanan sosial, bakti kepada orang tua (Xiao), dan loyalitas
kepada negara. Namun, seiring waktu, ajaran ini berubah menjadi agama di mana
sosok Konfusius sendiri disembah dan ritual pemujaan leluhur menjadi kewajiban
yang sakral.
Islam
sangat memerintahkan bakti kepada orang tua (birrul walidain), namun
Islam melarang keras memberikan hak peribadatan kepada mereka, apalagi setelah
mereka wafat. Menaruh sesaji di depan foto atau papan arwah leluhur adalah
kesyirikan. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَقَضَىٰ
رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾
“Dan
Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS.
Al-Isro: 23)
Ayat ini
menegaskan bahwa “berbuat baik kepada orang tua” ditempatkan setelah “larangan
menyembah selain Alloh”. Artinya, bakti kepada orang tua tidak boleh melanggar
batas-batas Tauhid. Menganggap bahwa arwah leluhur dapat memberikan berkah atau
kualat adalah bentuk kesyirikan dalam Rububiyyah.
6.2
Taoisme: Keseimbangan Alam dan Kekuatan “Tao”
Taoisme
didirikan oleh Lao Tze yang menekankan pada konsep Tao (Jalan Alam).
Ajaran ini mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam melalui prinsip
Yin dan Yang (keseimbangan unsur negatif dan positif). Namun, Taoisme juga
berkembang menjadi kepercayaan takhayul, sihir, dan penyembahan terhadap
dewa-dewa alam serta tokoh sejarah yang dianggap sakti.
Islam
mengajarkan bahwa alam semesta ini memiliki keteraturan bukan karena “keseimbangan
energi” yang berdiri sendiri, melainkan karena diatur oleh Alloh Yang Maha
Kuasa. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿الَّذِي
لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ
شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا﴾
“Yang
memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada
sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu,
dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqon:
2)
Keyakinan
Taoisme terhadap jimat, ramalan, dan energi-energi ghoib selain Alloh adalah
pintu menuju kesesatan sihir. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»
“Barangsiapa
yang menggantungkan tamimah (jimat), maka sesungguhnya ia telah berbuat syirik.”
(HSR. Ahmad no. 17422)
6.3
Shinto: Agama Para Dewa (Kami-no-Michi)
Shinto adalah agama asli Jepang yang
berakar pada kepercayaan bahwa segala sesuatu di alam ini—gunung, pohon, sungai,
hingga matahari—memiliki ruh atau dewa yang disebut Kami. Salah satu
dewa tertinggi mereka adalah Amaterasu Omikami (Dewi Matahari), yang mereka
klaim sebagai leluhur kaisar-kaisar Jepang.
Islam
adalah agama yang paling tegas dalam melarang penyembahan terhadap benda-benda
alam. Matahari dan bulan hanyalah makhluk yang patuh kepada perintah Alloh. Alloh
Ta’ala berfirman:
﴿لَا
تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن
كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
“Janganlah
bersujud kepada matahari dan janganlah (bersujud) kepada bulan, tetapi
bersujudlah kepada Alloh Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja
menyembah.” (QS. Fushshilat: 37)
Anggapan
bahwa Kaisar adalah keturunan Tuhan adalah bentuk kekufuran yang nyata. Alloh
tidak beranak dan tidak diperanakkan.
﴿لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ﴾
“Dia
tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlash: 3)
6.4
Sanggahan Terhadap Tradisi Pemujaan Leluhur
Masyarakat
Asia Timur sangat memuliakan kematian melalui ritual yang rumit. Mereka percaya
bahwa tanpa ritual tersebut, arwah leluhur akan menjadi hantu yang mengganggu.
Islam menyanggah hal ini. Orang yang sudah wafat berada di alam Barzakh dan
tidak memiliki urusan lagi dengan dunia kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu
bermanfaat, dan doa anak sholih.
Diriwayatkan
dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ:
إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ»
“Apabila
manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga
perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak sholeh yang
mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Oleh karena
itu, memberi makan kepada mayat atau membakar uang kertas (tradisi Ceng Beng
dalam budaya China) adalah perbuatan yang sia-sia dan termasuk pemborosan harta
yang dilarang.
6.5
Kritik Islam terhadap Sinkretisme dan Pluralisme
Budaya Asia
Timur sering kali mencampuradukkan ketiga ajaran ini (Konfusius, Tao, Budha)
dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merasa tidak masalah memeluk lebih dari
satu agama. Dalam Islam, hal ini adalah pembatalan iman. Seseorang tidak bisa
menjadi Muslim sekaligus menjalankan ritual kesyirikan agama lain.
Islam
menuntut kemurnian dalam beragama. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ﴾
“Maka sembahlah
Alloh dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak
menyukai.” (QS. Ghofir: 14)
6.6
Haromnya Menghadiri Ritual Keagamaan Mereka
Seorang
Muslim dilarang ikut serta dalam perayaan atau ritual agama-agama ini, seperti
perayaan Tahun Baru Imlek yang berkaitan dengan mitologi agama atau ritual di
kuil Shinto. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah (728 H) dalam kitab Iqtidho’
Ash-Shirothol Mustaqim menjelaskan panjang lebar tentang kewajiban
menyelisihi kaum musyrik dalam hari raya mereka.
Alloh
memuji hamba-hamba-Nya yang tidak menghadiri ritual kebatilan:
﴿وَالَّذِينَ
لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا﴾
“Dan
orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (zuur), dan apabila
mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang
tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS.
Al-Furqon: 72)
Beberapa
ahli tafsir seperti Adh-Dhohhak (105 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud zuur
dalam ayat ini adalah hari raya orang-orang musyrik.
6.7
Penutup Bab
Agama-agama
Asia Timur adalah potret manusia yang berusaha mencari keteraturan hidup namun
tanpa bimbingan wahyu yang shohih. Mereka terjebak pada pengagungan moralitas
manusia (Konfusius), harmoni energi (Tao), atau roh alam (Shinto). Islam datang
sebagai penyempurna moralitas namun tetap menempatkan hak Alloh di atas
segalanya. Keselamatan bukan didapat dengan menyenangkan arwah leluhur,
melainkan dengan mentauhidkan Alloh Robb semesta alam.
Barangsiapa
yang berpaling dari cahaya Al-Qur’an dan lebih memilih mengikuti tradisi
kesyirikan nenek moyang mereka, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.
BAB 7 – ADYAN MU’ASHIROH (AGAMA
MODERN DAN ALIRAN PEMIKIRAN)
Di era
kontemporer ini, tantangan terhadap aqidah Islam tidak hanya datang dari
agama-agama kuno yang telah kita bahas sebelumnya, tetapi juga dari munculnya
agama-agama baru hasil sinkretisme (pencampuran) serta aliran pemikiran yang
mencoba meruntuhkan pondasi Islam. Munculnya sekte-sekte seperti Baha’iyyah,
Ahmadiyyah, serta paham pemikiran seperti Pluralisme, Liberalisme, dan Atheisme
merupakan ujian besar bagi umat di akhir zaman. Dalam kacamata syariat, semua
ini adalah bentuk penyimpangan yang keluar dari jalur Al-Qur’an dan Sunnah
sesuai pemahaman Salaf.
7.1
Agama Baha’iyyah dan Ahmadiyyah
Agama Baha’iyyah
muncul pada abad ke-19 di Persia, dipelopori oleh Mirza Husain Ali Nuri yang bergelar
“Baha’ullah”. Mereka mengklaim bahwa agama mereka adalah kelanjutan dari semua
agama besar dan membawa pesan persatuan dunia. Namun, secara aqidah, mereka
mengingkari bahwa Muhammad ﷺ adalah Nabi penutup. Begitu
pula dengan Ahmadiyyah yang dipelopori oleh Mirza Ghulam Ahmad (1326 H) di
India, yang mengklaim dirinya sebagai Nabi setelah Muhammad ﷺ.
Islam
dengan tegas menyatakan bahwa Muhammad ﷺ
adalah penutup para Nabi (Khotamun Nabiyyin). Alloh Ta’ala berfirman:
﴿مَّا
كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ
النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا﴾
“Muhammad
itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi
dia adalah Rosulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)
Dalam
sebuah Hadits shohih, Nabi ﷺ memperingatkan akan munculnya
para pendusta yang mengaku Nabi:
«وَإِنَّهُ
سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ،
وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»
“Sesungguhnya
akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku sebagai Nabi,
padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.” (HSR. Abu
Dawud no. 4252)
Oleh karena
itu, siapa pun yang meyakini adanya Nabi setelah Muhammad ﷺ, maka ia telah kafir dan keluar dari Islam.
7.2
Pluralisme Agama (Wihdatul Adyan)
Pluralisme
agama adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama adalah benar dan semua
pemeluk agama akan masuk Jannah. Paham ini sering dibungkus dengan jargon
toleransi dan kemanusiaan. Namun, ini adalah kekufuran yang nyata karena
mendustakan ayat-ayat Alloh yang menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya
agama yang diterima.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا
فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ﴾
“Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima
(agama itu) daripadanya, dan dia di Akhiroh termasuk orang-orang yang rugi.” (QS.
Ali ‘Imron: 85)
Menyamakan
Tauhid dengan kesyirikan, atau menyamakan penyembah Alloh dengan penyembah
berhala, adalah penghinaan terhadap kebenaran. Rosulullah ﷺ bersabda:
«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ
هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي
أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»
“Demi
(Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari
umat ini, baik Yahudi maupun Nashoro, yang mendengar tentangku, kemudian ia
mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya,
melainkan ia termasuk penghuni Naar.” (HR. Muslim no. 153)
7.3
Atheisme dan Materialisme Modern
Atheisme adalah pengingkaran mutlak terhadap
keberadaan Sang Pencipta. Di zaman modern, atheisme sering kali bersembunyi di
balik jubah sains dan evolusi. Mereka meyakini bahwa alam semesta terjadi
karena kebetulan (tashoduf).
Islam
meruntuhkan argumen ini dengan logika fitroh. Sesuatu yang teratur tidak
mungkin tercipta tanpa pengatur. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿أَمْ
خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ﴾
“Apakah
mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri
mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)
Alam
semesta dengan segala kerumitannya adalah ayat (tanda) yang menunjukkan keagungan Alloh. Hanya orang-orang yang tertutup
hatinya yang mengingkari keberadaan-Nya. Alloh berfirman tentang kaum
materialis:
﴿وَقَالُوا
مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا
الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا
يَظُنُّونَ﴾
“Dan mereka
berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati
dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka
sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)
7.4
Liberalisme dan Sekularisme Agama
Liberalisme
agama mencoba “membebaskan” teks-teks syariat dari pemahaman para Salaf dan
menafsirkannya sesuai hawa nafsu atau logika manusia modern. Sedangkan
Sekularisme berusaha memisahkan agama dari urusan publik dan kenegaraan.
Islam
adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan (Syumuliyatul
Islam). Memisahkan agama dari politik atau sosial adalah bentuk pengingkaran
terhadap kedaulatan Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْتَغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ
يُوقِنُونَ﴾
“Apakah
hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
Bahaya dari
pemikiran liberal adalah mereka menghalalkan apa yang diharomkan Alloh dengan
alasan hak asasi manusia atau kemajuan zaman. Padahal, syariat Islam berlaku
hingga hari Kiamat. Nabi ﷺ bersabda:
«تَرَكْتُ
فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ
نَبِيِّهِ»
“Aku
tinggalkan bagi kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang
teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam
Al-Muwaththo’ no. 1604)
7.5
Sanggahan-Sanggahan
Setiap
aliran pemikiran modern ini selalu bermuara pada pengagungan terhadap akal
(Aql) di atas wahyu (Naql). Mereka menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran,
bukan Alloh.
Sanggahan terhadap
Relativisme Kebenaran
Mereka
mengklaim kebenaran itu relatif. Islam menyatakan kebenaran adalah absolut dari
Alloh.
﴿الْحَقُّ
مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ﴾
“Kebenaran
itu adalah dari Robb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang
yang ragu.” (QS. Al-Baqoroh: 147)
Sanggahan terhadap
Sinkretisme
Mencampuradukkan
ajaran Islam dengan ajaran batil dilarang keras.
﴿وَلَا
تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ﴾
“Dan
janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)
7.6
Penutup Bab
Munculnya
berbagai agama modern dan aliran pemikiran ini merupakan fitnah syubhat yang
harus diwaspadai oleh setiap Muslim. Kunci untuk selamat adalah dengan menuntut
ilmu syar’i dan kembali kepada manhaj Salaf yang sholih dalam beragama. Tanpa
itu, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh gelombang pemikiran yang
nampaknya ilmiah namun hakikatnya adalah kekufuran yang nyata.
PENUTUP
Melalui
lembaran-lembaran yang telah kita lalui dalam buku ini, telah nampak jelas
perbedaan yang kontras antara cahaya wahyu yang murni dengan kegelapan tradisi,
filsafat, dan tahrif manusia. Islam datang bukan sekadar sebagai
pelengkap, melainkan sebagai Muhaimin (penguji dan korektor) atas seluruh
ajaran yang pernah ada di muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman:
﴿وَأَنزَلْنَا
إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ
وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ﴾
“Kami telah
turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai penguji
(korektor) terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)
Kesimpulan
besar yang dapat kita petik dari sejarah dan ajaran agama-agama dunia adalah
bahwa kesyirikan senantiasa berpangkal pada satu hal: memberikan hak eksklusif Alloh
kepada makhluk-Nya. Baik itu dalam bentuk pengkultusan Nabi seperti kaum Nashoro,
pemujaan terhadap leluhur seperti dalam Konfusianisme, penyembahan benda langit
seperti Shobi’ah, hingga pendewaan terhadap logika dan materi seperti dalam
Atheisme dan Liberalisme modern. Semua itu adalah jalan-jalan yang bercabang
yang hanya akan membawa pelakunya pada kesengsaraan abadi di Naar.
Islam adalah
satu-satunya agama yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk
menuju penghambaan hanya kepada Robb para makhluk. Inilah kemuliaan yang
dirasakan oleh para Shohabat terdahulu, sebagaimana perkataan Robi’ bin ‘Amir
ketika menghadap panglima Persia, Rustam:
اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ
الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ
جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ
“Alloh
telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari
penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Alloh semata, dari
kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezholiman agama-agama menuju
keadilan Islam.” (Al-Bidayah Ibnu Katsir, 9/622)
Oleh karena
itu, kewajiban setiap Muslim adalah mensyukuri nikmat hidayah ini dengan cara
istiqomah di atas Sunnah. Di zaman yang penuh dengan syubhat dan fitnah ini,
keterasingan agama akan semakin terasa. Nabi ﷺ
telah bersabda:
«بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى
لِلْغُرَبَاءِ»
“Islam
muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya, maka
beruntunglah bagi orang-orang yang asing (Al-Ghuroba).” (HR. Muslim no. 145)
Siapakah
Al-Ghuroba tersebut? Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka adalah
orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari Sunnah Nabi ﷺ. Buku ini disusun sebagai bagian dari upaya menjaga kemurnian
tersebut, agar umat tidak terpedaya oleh jargon-jargon pluralisme yang mencoba
menyamakan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan. Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿أَفَمَن
كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا ۚ لَّا يَسْتَوُونَ﴾
“Maka
apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (QS.
As-Sajdah: 18)
Kami tutup
risalah ini dengan ajakan kepada diri kami dan para pembaca sekalian untuk
terus menuntut ilmu syar’i berdasarkan pemahaman para Salaf yang sholih. Ilmu
adalah cahaya yang akan membimbing kita meniti Shirothol Mustaqim di tengah
gelapnya kesesatan ajaran manusia. Marilah kita berpegang teguh pada tali agama
Alloh dan jangan bercerai-berai mengikuti hawa nafsu.
Semoga Alloh
Ta’ala senantiasa menjaga hati kita di atas agama-Nya, mewafatkan kita
dalam keadaan Muslim yang kaffah, dan mengumpulkan kita semua di dalam Jannah
Al-Firdaus bersama para Nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang sholih.
﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ﴾
“Ya Robb
kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyimpang kepada kesesatan sesudah
Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari
sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS.
Ali ‘Imron: 8)
Allahu
a’lam.[NK]
