Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Agama-Agama Besar Dunia Sejarah dan Ajarannya - Nor Kandir

 


MUQODDIMAH

Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam, yang telah mengutus para Rosul-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, serta menurunkan Kitab-Kitab sebagai petunjuk bagi umat manusia. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada Alloh dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar melainkan Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Sesungguhnya Alloh menciptakan manusia di atas fitroh yang lurus, yaitu fitroh Tauhid untuk hanya menyembah kepada Alloh semata. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:

﴿فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitroh Alloh disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitroh) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Alloh. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)

Sejarah agama-agama di dunia tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyimpangan manusia dari fitroh Tauhid ini. Pada mulanya, manusia berada di atas satu agama, yaitu Islam, sejak zaman Nabi Adam hingga sepuluh abad setelahnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘Anhuma bahwa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh terdapat masa sepuluh abad, yang semuanya berada di atas syariat kebenaran. Penyimpangan pertama kali muncul pada kaum Nabi Nuh ketika mereka mulai melakukan ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang-orang sholih yang telah wafat. Syaithon membisikkan kepada mereka untuk membuat patung-patung peringatan bagi orang sholih tersebut, yang seiring berjalannya waktu, patung-patung itu pun disembah.

Inilah awal mula munculnya kesyirikan di muka bumi yang kemudian melahirkan berbagai macam kepercayaan dan agama batil. Alloh Ta’ala berfirman mengenai ucapan kaum Nuh tersebut:

﴿وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: ‘Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr’.” (QS. Nuh: 23)

Agama-agama yang ada di dunia saat ini, baik yang mengklaim sebagai agama samawi maupun agama ardhi (produk budaya manusia), merupakan kumpulan dari berbagai sisa kebenaran yang telah tercampur dengan tahrif (perubahan) tangan manusia, mitologi, dan filsafat. Dalam mengkaji sejarah dan ajaran agama-agama ini, seorang Muslim wajib bersikap amanah (terpercaya) dalam menukil fakta sejarah, namun tetap teguh dalam prinsip Al-Wala’ wal Baro’ (loyalitas dan berlepas diri). Kita harus menyadari bahwa satu-satunya agama yang diridhoi oleh Alloh hanyalah Islam.

﴿إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama di sisi Alloh ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imron: 19)

Penulisan buku ini bertujuan untuk memetakan akar sejarah agama-agama besar dunia dan membedah penyimpangan aqidahnya dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Salaf yang sholih. Hal ini sangat penting karena banyak dari manusia saat ini yang terjebak dalam pemahaman pluralisme agama, sebuah paham yang menganggap bahwa semua agama adalah jalan yang sama menuju Sang Pencipta. Paham ini jelas merupakan sebuah kesesatan yang nyata dan bertentangan dengan nash-nash syar’i. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di Akhiroh termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imron: 85)

Dalam menelaah agama Yahudi, Nashoro, Majusi, Hindu, Budha, hingga aliran kepercayaan di Asia Timur, kita akan mendapati betapa jauhnya mereka telah menyimpang dari konsep Tauhid yang murni. Sebagian mereka menyembah Nabi, sebagian menyembah api, sebagian menyembah berhala, bahkan sebagian lagi tidak meyakini adanya pencipta namun mengagungkan filsafat kekosongan. Semua ini adalah gelapnya kesyirikan yang hanya bisa diterangi dengan cahaya wahyu.

Penting bagi setiap Muslim untuk memahami batilnya ajaran selain Islam bukan untuk sekadar wawasan intelektual, melainkan untuk memperkuat iman dan sebagai bekal dalam berdakwah. Hal ini sebagaimana ditekankan dalam Hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman Rodhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي

“Dahulu orang-orang bertanya kepada Rosulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena aku khawatir keburukan itu akan menimpaku.” (HR. Al-Bukhori no. 3606 dan Muslim no. 1847)

Maka, mengenal kebatilan adalah cara untuk menjauhinya. Tanpa mengenal apa itu syirik, seseorang bisa saja terjerumus ke dalamnya tanpa ia sadari. Tanpa mengenal bagaimana agama lain menyimpang, seorang Muslim mungkin akan terpengaruh oleh syubhat-syubhat yang dilemparkan oleh musuh-musuh Islam atau para penyeru kemurtadan.

Buku ini disusun dengan metodologi yang ketat. Setiap klaim ajaran dari agama non-Islam akan nukil secara objektif dari sumber-sumber mereka sendiri, lalu kemudian diberikan bantahan atau sanggahan yang kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah. Tidak ada ruang bagi kompromi aqidah dalam pembahasan ini. Kita akan melihat bagaimana Al-Qur’an menjadi Muhaimin (saksi dan penguji) bagi Kitab-Kitab sebelumnya.

Dunia hari ini dipenuhi dengan hiruk-pikuk pemikiran yang mencoba meruntuhkan dinding pembatas antara Tauhid dan kesyirikan. Munculnya berbagai agama baru atau aliran kebatinan modern yang dibungkus dengan nama spiritualitas merupakan tantangan besar. Melalui buku ini, pembaca diajak untuk menelusuri kembali garis sejarah yang tegas: mana yang merupakan wahyu murni dari langit dan mana yang merupakan hasil rekayasa hawa nafsu manusia.

Ketahuilah, bahwa kebahagiaan sejati di dunia dan Akhiroh hanya bisa diraih dengan memurnikan ibadah hanya kepada Alloh. Islam adalah agama yang sempurna, mencakup segala aspek kehidupan dari urusan negara hingga urusan pribadi. Agama-agama lain mungkin menawarkan sistem etika atau ketenangan batin sementara, namun hanya Islam yang memiliki kepastian hidayah dan keselamatan dari siksa api Naar.

BAB 1 – AGAMA YAHUDI (YUDAISME)

Agama Yahudi atau Yudaisme merupakan salah satu agama tertua yang masih eksis hingga saat ini. Dalam literatur Islam, pemeluknya sering disebut sebagai Ahlu Al-Kitab bersama dengan kaum Nashoro. Sejarah kemunculan ajaran ini berakar dari silsilah para Nabi keturunan Ishaq (baca: Is-haq) bin Ibrohim . Namun, dalam perjalanannya, ajaran yang murni dibawa oleh Musa telah mengalami distorsi, perubahan, dan penambahan oleh tangan manusia, yang dalam istilah syariat disebut sebagai tahrif (perubahan).

1.1 Sejarah dan Asal-Usul Bani Isro’il

Nama Yahudi dinisbatkan kepada Yehuda, salah satu putra Ya’qub . Ya’qub sendiri memiliki julukan “Isro’il”, sehingga keturunannya disebut sebagai Bani Isro’il. Pada mulanya, Bani Isro’il adalah umat yang dipilih oleh Alloh untuk menerima wahyu di zamannya, namun mereka adalah bangsa yang sangat sering membangkang kepada para Nabi mereka sendiri. Puncak dari syariat mereka adalah ketika Alloh mengutus Musa untuk menyelamatkan mereka dari penindasan Fir’aun di Mesir dan membawa mereka menuju tanah yang dijanjikan.

Namun, karakter keras kepala Bani Isro’il terlihat bahkan ketika mukjizat masih hangat di ingatan mereka. Tak lama setelah mereka diselamatkan menyeberangi laut merah, mereka meminta kepada Musa untuk dibuatkan berhala sebagai sesembahan sebagaimana bangsa lain yang mereka temui. Inilah benih kesyirikan yang terus muncul dalam sejarah mereka. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Dan Kami seberangkan Bani Isro’il ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani Isro’il berkata: ‘Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’ Musa menjawab: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh.(QS. Al-A’rof: 138)

Setelah wafatnya Musa dan Harun, Bani Isro’il dipimpin oleh Yusya’ bin Nun. Namun setelah masa keNabian berakhir, mereka mulai memasukkan unsur-unsur paganisme dari bangsa-bangsa di sekitar mereka seperti Kanaan. Mereka juga mulai mengubah isi Taurot untuk menyesuaikan dengan keinginan hawa nafsu dan kepentingan para pendeta mereka.

1.2 Doktrin Ketuhanan dan Penyimpangan Aqidah

Salah satu penyimpangan terbesar dalam ajaran Yahudi adalah klaim mereka bahwa ‘Uzair adalah anak Alloh. Meskipun tidak semua sekte Yahudi modern mengimani hal ini, namun di masa Nabi Muhammad , kelompok Yahudi di Madinah meyakini hal tersebut. Alloh Ta’ala membongkar kesesatan ini dalam Al-Qur’an:

﴿وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: ‘Uzair itu putra Alloh’ dan orang-orang Nashoro berkata: ‘Al Masih itu putra Alloh’. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Mereka dilaknati Alloh, bagaimana mereka sampai berpaling?” (QS. At-Taubah: 30)

Selain itu, bangsa Yahudi memiliki kecenderungan untuk mempersonifikasikan Alloh (menyerupakan Alloh dengan makhluk alias tasybih). Dalam kitab-kitab mereka yang telah terdistorsi, mereka menggambarkan Alloh dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi kemuliaan-Nya, seperti Alloh merasa lelah setelah menciptakan alam semesta sehingga harus beristirahat pada hari Sabtu (Sabbath), atau Alloh menyesal atas perbuatan-Nya. Islam dengan tegas menyanggah hal ini. Alloh tidak pernah merasa lelah:

﴿وَلَقَدْ خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَمَا مَسَّنَا مِن لُّغُوبٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qof: 38)

1.3 Kitab-Kitab Yahudi: Antara Taurot dan Talmuth

Agama Yahudi bersumber pada Tanakh (Perjanjian Lama) yang mencakup Torah (Taurot). Namun, yang ada di tangan mereka sekarang bukanlah Taurot asli yang diturunkan kepada Musa secara utuh. Para ulama seperti Ibnu Hazm (456 H) dalam kitabnya Al-Fishol fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal telah menjelaskan berbagai kontradiksi dan bukti sejarah bahwa teks-teks tersebut telah diubah.

Selain Taurot, mereka memiliki Talmuth (Talmud), yang merupakan kumpulan catatan diskusi para rabi mengenai hukum, etika, dan tradisi. Celakanya, bagi banyak kalangan Yahudi, kedudukan Talmud seringkali lebih tinggi daripada Taurot itu sendiri. Di dalam Talmud terdapat ajaran yang sangat rasis dan merendahkan bangsa non-Yahudi (Goyim), yang mereka anggap derajatnya sama dengan binatang yang diciptakan untuk melayani Yahudi.

Islam mengecam tindakan mereka yang menjadikan tokoh agama sebagai pembuat hukum yang menandingi hukum Alloh. Hal ini dijelaskan dalam ayat:

﴿اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Alloh...” (QS. At-Taubah: 31)

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari ‘Adi bin Hatim Rodhiyallahu ‘Anhu, ketika ia mendengar ayat ini, ia berkata kepada Nabi : “Kami tidaklah menyembah mereka.” Maka Nabi menjelaskan:

«أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونُهُ، ويُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللهُ فَتَسْتَحِلُّونَهُ؟» قُلْتُ: بَلَى، قَالَ: «فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ»

“Bukankah mereka mengharomkan apa yang Alloh halalkan lalu kalian pun ikut mengharomkannya, dan mereka menghalalkan apa yang Alloh haromkan lalu kalian ikut menghalalkannya?” Aku menjawab: “Benar.” Beliau bersabda: “Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.” (HHR. Ath-Thobaroni no. 219)

1.4 Sikap Rasisme: Doktrin Bangsa Pilihan

Agama Yahudi sangat kental dengan sentimen kebangsaan. Mereka meyakini bahwa keselamatan hanya milik keturunan Isro’il. Mereka mengklaim bahwa api Naar tidak akan menyentuh mereka kecuali hanya beberapa hari saja sebagai bentuk pembersihan. Klaim ini dibantah keras oleh Al-Qur’an:

﴿وَقَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَةً ۚ قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِندَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَن يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ ۖ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api Naar, kecuali selama beberapa hari saja.’ Katakanlah: ‘Sudahkah kamu menerima janji dari Alloh sehingga Alloh tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ke2tahui?’” (QS. Al-Baqoroh: 80)

Sikap sombong ini juga yang membuat mereka menolak keNabian Muhammad . Meskipun mereka mengetahui ciri-ciri beliau dalam kitab mereka, mereka enggan beriman karena beliau berasal dari bangsa Arob (keturunan Ismail ), bukan dari kalangan Bani Isro’il. Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Orang-orang (Yahudi dan Nashoro) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurot dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 146)

1.5 Hukum dan Syariat Yahudi yang Kaku

Sebagai hukuman atas kezholiman dan pelanggaran mereka, Alloh sempat mengharomkan bagi mereka beberapa hal yang sebelumnya halal sebagai bentuk nakhs (penghapusan hukum) atau sanksi. Namun, mereka justru seringkali mencoba mengakali hukum Alloh. Contoh paling masyhur adalah peristiwa Ash-habus Sabt (orang-orang yang melanggar hari Sabtu), di mana mereka dilarang memancing pada hari Sabtu, lalu mereka memasang jaring pada hari Jumat dan mengambilnya pada hari Ahad. Akibat pembangkangan ini, Alloh mengutuk mereka menjadi kera.

﴿فَلَمَّا عَتَوْا عَن مَّا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

“Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: ‘Jadilah kamu kera yang hina’.” (QS. Al-A’rof: 166)

1.6 Sanggahan Terhadap Ajaran Yahudi

Tentang Nasab dan Kebenaran

Yahudi mengklaim Ibrohim adalah seorang Yahudi. Alloh menyanggah:

﴿مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrohim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashroni, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Alloh) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imron: 67)

Tentang Kematian Para Nabi

Yahudi sering membunuh para Nabi dan mendustakan mereka. Alloh berfirman:

﴿أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ

“Apakah setiap datang kepadamu seorang Rosul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombongkan diri; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (di antara mereka) kamu bunuh?” (QS. Al-Baqoroh: 87)

Haromnya Surga Bagi Mereka yang Menolak Islam

Dalam sebuah Hadits shohih, Nabi menegaskan bahwa tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashoro, yang mendengar tentang beliau lalu tidak beriman, melainkan ia akan masuk Naar.

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi (Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashroni, yang mendengar tentangku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni Naar.” (HR. Muslim no. 153)

1.7 Penutup Bab

Dapat disimpulkan bahwa agama Yahudi saat ini adalah agama yang telah menyimpang jauh dari risalah Musa . Mereka telah mencampuradukkan kalam Alloh dengan kata-kata manusia, memelihara sifat rasisme religius, dan menolak kebenaran yang dibawa oleh Muhammad . Islam datang untuk mengembalikan kemurnian ajaran para Nabi terdahulu dan membatalkan syariat mereka yang telah usang dan berubah.

Bagi seorang Muslim, beriman kepada Kitab-Kitab sebelum Al-Qur’an adalah kewajiban, namun yang diimani adalah kitab aslinya yang diturunkan kepada para Nabi, bukan kitab yang sudah ada di tangan orang Yahudi saat ini yang penuh dengan tahrif.

BAB 2 – AGAMA NASHORO (KRISTEN)

Agama Nashoro atau Kristen merupakan agama yang pengikutnya mengklaim sebagai pengikut Al-Masih Isa bin Maryam . Dalam pandangan Islam, kaum Nashoro adalah bagian dari Ahlu Al-Kitab. Namun, sebagaimana Yahudi, ajaran Nashoro yang ada saat ini telah mengalami penyimpangan fundamental yang sangat jauh dari Tauhid murni yang dibawa oleh Nabi Isa . Penyimpangan ini mencakup aspek ketuhanan, kitab suci, hingga konsep penebusan dosa yang tidak dikenal dalam syariat para Nabi sebelumnya.

2.1 Hakikat Dakwah Isa dan Konsep Tauhid Asli

Nabi Isa diutus oleh Alloh Ta’ala kepada Bani Isro’il untuk membenarkan Taurot dan mengajak mereka kembali menyembah Alloh semata. Beliau tidak pernah menyeru manusia untuk menyembah dirinya atau ibundanya. Alloh Ta’ala berfirman mengabadikan dakwah asli Isa :

﴿وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Padahal Al-Masih (sendiri) berkata: ‘Wahai Bani Isro’il, sembahlah Alloh Robb-ku dan Robb-mu. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Alloh, maka pasti Alloh mengharomkan kepadanya Surga, dan tempatnya ialah Naar, tidaklah ada bagi orang-orang zholim itu seorang penolong pun.’” (QS. Al-Maidah: 72)

Isa adalah seorang hamba dan utusan Alloh yang diciptakan dengan kalimat-Nya melalui perantaraan Jibril tanpa ayah, sebagai bukti kekuasaan Alloh. Alloh berfirman:

﴿إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِندَ اللَّهِ كَمَصَلِ آدَمَ ۖ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Alloh, adalah seperti (penciptaan) Adam. Alloh menciptakan Adam dari tanah, kemudian Alloh berfirman kepadanya: ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka jadilah dia.” (QS. Ali ‘Imron: 59)

2.2 Penyimpangan Paulus dan Munculnya Doktrin Trinitas

Sejarah mencatat bahwa setelah Nabi Isa diangkat ke langit, pengikut-pengikutnya mengalami persekusi atau penganiayaan yang sangat kejam. Di tengah situasi yang penuh tekanan tersebut, muncul seorang tokoh bernama Paulus (Saulus dari Tarsus). Ia bukanlah orang sembarangan; ia adalah warga negara Romawi yang terpelajar dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang awalnya merupakan musuh bebuyutan paling keras dalam mengejar dan menyiksa orang-orang yang berpegang pada ajaran Nabi Isa.

Secara logika, sulit bagi para murid setia Nabi Isa (Hawariyyun) untuk menerima orang yang sebelumnya menyiksa mereka. Namun, Paulus menggunakan pendekatan yang sangat sistematis:

Paulus mengklaim mendapatkan penglihatan (sejenis kenabian) langsung dari langit di tengah perjalanan menuju Damsyik. Ia mengaku telah “dipilih” untuk menyebarkan ajaran kepada bangsa-bangsa non-Yahudi (pagan).

Awalnya ia ditolak dan ditakuti, namun ia berhasil meyakinkan beberapa tokoh kunci di kalangan pengikut awal dengan menunjukkan semangat yang luar biasa. Meski begitu, sejarah mencatat terjadinya perselisihan tajam antara Paulus dengan murid asli seperti Barnabas dan Petrus terkait prinsip-prinsip syariat.

Karena mendapat penolakan dari kelompok Hawariyyun yang tetap memegang teguh Tauhid dan syariat Taurot, Paulus akhirnya lebih banyak bergerak di luar Yerusalem, menyasar masyarakat pagan Yunani dan Romawi yang sama sekali tidak mengenal Nabi Isa secara langsung. Di sanalah ia membangun basis massa baru yang tidak memiliki keterikatan dengan ajaran asli para murid.

Paulus memiliki “tiket masuk” ke dunia Romawi yang tidak dimiliki oleh murid-murid Nabi Isa yang lain, yaitu status kewarganegaraannya. Sebagai warga Romawi, ia memiliki hak hukum untuk naik banding langsung kepada Kaisar dan bergerak bebas di seluruh wilayah kekaisaran.

Paulus mulai melakukan inkulturasi, yaitu mengemas ajaran Nashoro agar selaras dengan logika berpikir orang Romawi. Orang Romawi pada saat itu terbiasa menyembah dewa-dewa yang memiliki anak atau pahlawan yang dianggap setengah tuhan. Dengan memperkenalkan konsep “Anak Alloh” secara harfiah dan menghapuskan syariat yang dianggap berat (seperti khitan dan larangan babi), ajaran versi Paulus menjadi sangat populer dan cepat menyebar ke kalangan bangsawan hingga ke dalam istana.

Puncak dari penyusupan ajaran ini ke dalam struktur negara terjadi ratusan tahun kemudian. Kekaisaran Romawi saat itu sedang terpecah karena perbedaan keyakinan antara pengikut Unitarian (yang meyakini Isa adalah hamba dan utusan Alloh) dan pengikut doktrin Paulus (Trinitarian).

Kaisar Konstantin, seorang penguasa yang cerdik secara politik, melihat bahwa agama bisa menjadi alat pemersatu kekaisarannya yang mulai retak. Pada Konsili Nicaea (325 M), sang Kaisar melakukan intervensi:

Ia memihak pada kelompok yang mendukung ketuhanan Isa karena konsep ini lebih mirip dengan tradisi paganisme Romawi yang memuja Matahari (Sol Invictus).

Ia menetapkan doktrin bahwa Isa adalah Tuhan yang sehakikat dengan Bapa sebagai dogma resmi negara.

Siapa pun yang menentang keputusan ini, seperti Arius (seorang ulama yang mempertahankan Tauhid), dikucilkan dan bukunya dibakar.

Pada momentum inilah, mereka secara resmi mencetuskan doktrin Trinitas, yaitu keyakinan terhadap Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus, yang kemudian dipaksakan ke seluruh penjuru kekaisaran dengan kekuatan militer dan politik.

Alloh Ta’ala membantah keras kesesatan ini:

﴿لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِن لَّمْ يَنتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: ‘Bahwasanya Alloh salah seorang dari yang tiga’, padahal sekali-kali tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Ilah Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 73)

Islam juga menegaskan bahwa pada hari Kiamat kelak, Alloh akan bertanya langsung kepada Isa di hadapan para pengikutnya untuk membuktikan kebohongan mereka:

﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ

“Dan (ingatlah) ketika Alloh berfirman: ‘Wahai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Alloh?”‘ Isa menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya)...’” (QS. Al-Maidah: 116)

2.3 Tahrif (Perubahan) pada Kitab Injil

Kaum Nashoro saat ini memegang Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Injil yang mereka akui hanyalah empat versi (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) yang ditulis puluhan tahun setelah masa Isa oleh orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan beliau (kecuali klaim pada sebagian penulis). Banyak Injil lain, seperti Injil Barnabas yang lebih menekankan Tauhid, dimusnahkan dan dianggap sesat oleh gereja.

Alloh Ta’ala menggambarkan kelakuan para pendeta mereka dalam mengubah kitab suci:

﴿فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; ‘Ini dari Alloh’, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 79)

Dalam sebuah Hadits, Rosulullah memperingatkan agar kita tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan secara mutlak berita dari Ahlu Al-Kitab yang tidak ada konfirmasinya dalam syariat kita, karena adanya percampuran antara kebenaran dan kebatilan tersebut:

«لاَ تُصَدِّقُوا أَهْلَ الْكِتَابِ وَلاَ تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا»

“Janganlah kalian membenarkan Ahlu Al-Kitab dan jangan pula mendustakan mereka, tetapi ucapkanlah: ‘Kami beriman kepada Alloh dan apa yang diturunkan kepada kami’.” (HR. Al-Bukhori no. 4485)

2.4 Sanggahan terhadap Doktrin Penebusan Dosa dan Penyaliban

Salah satu tiang penyangga agama Nashoro adalah keyakinan bahwa manusia mewarisi “dosa asal” dari Adam, dan Alloh mengutus “anak-Nya” untuk disalib sebagai tebusan atas dosa manusia. Islam menolak keras konsep ini. Dalam Islam, setiap manusia bertanggung jawab atas dosanya sendiri:

﴿وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al-An’am: 164)

Mengenai peristiwa penyaliban, Al-Qur’an menegaskan bahwa Isa tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Alloh mengangkatnya ke langit dan orang yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan beliau:

﴿وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا بَل رَّفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ

“... padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (sebenarnya), Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya.” (QS. An-Nisa: 157-158)

2.5 Kembalinya Isa di Akhir Zaman

Berbeda dengan keyakinan Nashoro yang menunggu kedatangan Isa sebagai Tuhan untuk menghakimi dunia, Islam mengajarkan bahwa Isa akan turun kembali sebagai pemimpin yang adil yang akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan Jizyah karena pada saat itu semua orang akan dipersatukan di bawah Islam. Beliau akan sholat di belakang Imam kaum Muslimin.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosulullah bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمْ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ المَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ»

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh hampir tiba saatnya putra Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim yang adil, maka ia akan mematahkan salib, membunuh babi, menghapuskan Jizyah, dan harta akan melimpah ruah hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” (HR. Al-Bukhori no. 2222 dan Muslim no. 155)

Hadits ini adalah tamparan keras bagi kaum Nashoro, karena Isa sendiri yang akan menghancurkan simbol utama kesyirikan mereka (salib) dan menghukum mereka yang menghalalkan apa yang Alloh haromkan (babi).

2.6 Hukum Mengambil Pemimpin dan Meniru Kaum Nashoro

Islam melarang keras menjadikan kaum Yahudi dan Nashoro sebagai pemimpin atau teman setia yang diikuti agamanya. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashoro menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.” (QS. Al-Maidah: 51)

Rosulullah juga memperingatkan umatnya agar tidak tasyabbuh (menyerupai) tradisi ibadah mereka:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 4031)

2.7 Kewajiban Mengikuti Syariat Muhammad

Setelah diutusnya Muhammad , maka seluruh syariat sebelumnya telah terhapus (mansukh). Tidak ada keselamatan bagi kaum Nashoro kecuali dengan masuk Islam. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

“Katakanlah: ‘Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu sekalian’...” (QS. Al-A’rof: 158)

Dalam Hadits riwayat Jabir bin Abdillah Rodhiyallahu ‘Anhuma, Rosulullah melihat Umar bin Al-Khoththob (23 H) memegang lembaran Taurot, lalu beliau bersabda dengan nada marah:

«أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، ... وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي»

“Apakah ada keraguan padamu wahai putra Khoththob? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku telah membawa kepada kalian syariat yang putih bersih... Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andaikata Musa masih hidup, tidak ada pilihan baginya kecuali mengikutiku.” (HHR. Ahmad no. 15156)

2.8 Penutup Bab

Agama Nashoro adalah potret nyata bagaimana pemujaan berlebihan terhadap seorang Nabi dapat menjerumuskan pada kesyirikan yang besar. Mereka telah jatuh ke dalam lubang yang sama dengan kaum Nuh, yaitu mengkultuskan orang sholih hingga menjadikannya Tuhan. Islam datang sebagai penengah (wasath) yang menempatkan Isa pada kedudukan yang semestinya: sebagai hamba Alloh, utusan-Nya, dan kalimat-Nya yang mulia, tanpa adanya unsur ketuhanan sedikitpun.

Sejarah mencatat bahwa banyak di antara pendeta Nashoro yang jujur akhirnya masuk Islam setelah melihat kebenaran Al-Qur’an, sebagaimana yang dialami oleh Raja Najasyi dari Ethiopia. Hal ini dikarenakan dalam hati mereka yang tulus, mereka mengakui bahwa ajaran Islam adalah kelanjutan murni dari risalah yang dibawa oleh Isa .

BAB 3 – AGAMA MAJUSI DAN SHOBI’AH

Agama Majusi atau yang dalam literatur Barat dikenal sebagai Zoroastrianisme, serta agama Shobi’ah, merupakan dua aliran kepercayaan kuno yang memiliki sejarah panjang dan pengaruh yang signifikan terhadap peradaban manusia sebelum datangnya Islam. Kedua ajaran ini adalah potret nyata bagaimana manusia, ketika berpaling dari wahyu para Nabi, akan terjerumus ke dalam bentuk-bentuk kesyirikan yang sangat halus namun berbahaya, baik dalam bentuk dualisme penciptaan maupun penyembahan terhadap benda-benda langit.

3.1 Agama Majusi: Ajaran Dua Tuhan

Agama Majusi dinisbatkan kepada sosok bernama Zoroaster (atau Zarathustra). Mereka meyakini adanya pertarungan abadi antara prinsip kebaikan dan kejahatan. Inti dari ajaran mereka adalah dualisme (At-Tatsniyah), di mana mereka meyakini alam semesta ini memiliki dua pencipta. Pertama, Ahura Mazda (Tuhan Cahaya/Kebaikan) yang menciptakan segala sesuatu yang baik, dan kedua, Angra Mainyu atau Ahriman (Tuhan Kegelapan/Kejahatan) yang menciptakan segala keburukan seperti penyakit, bencana, dan kematian.

Islam dengan tegas menyanggah paham dualisme ini. Seluruh makhluk, baik yang baik maupun yang buruk (dari segi takdir), adalah ciptaan Alloh Yang Maha Esa. Tidak ada pencipta selain Dia. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah: ‘Alloh adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa’.” (QS. Ar-Ro’d: 16)

Keyakinan Majusi bahwa keburukan diciptakan oleh tuhan tersendiri adalah bentuk pelecehan terhadap kekuasaan Alloh yang mutlak. Dalam Islam, keburukan yang terjadi pada makhluk adalah berdasarkan hikmah Alloh dan termasuk dalam cakupan kehendak-Nya (Masyi’ah).

Penyembahan Api (Atasy-Kadeh)

Kaum Majusi dikenal sebagai penyembah api. Meskipun mereka mengklaim bahwa api hanyalah simbol atau kiblat menuju Tuhan, namun dalam praktiknya mereka melakukan ritual pengagungan yang melampaui batas terhadap api. Mereka membangun kuil-kuil api dan menjaga agar api tersebut tidak pernah padam selama ribuan tahun.

Islam datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk menuju penyembahan kepada Sang Pencipta. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah sembah matahari dan janganlah (sembah) bulan, tetapi sembahlah Alloh Yang menciptakannya, jika Dia yang kamu sembah.” (QS. Fushshilat: 37)

Ketika Muhammad lahir, terjadi mukjizat berupa padamnya api sesembahan bangsa Majusi di Persia yang telah menyala selama seribu tahun. Ini adalah isyarat bahwa cahaya Islam akan memadamkan kesyirikan Majusi.

Status Hukum Kaum Majusi dalam Islam

Meskipun Majusi bukan termasuk Ahlu Al-Kitab secara asal (karena mereka tidak memiliki kitab samawi yang jelas seperti Taurot dan Injil), namun Nabi memperlakukan mereka seperti Ahlu Al-Kitab hanya dalam urusan penarikan Jizyah (pajak perlindungan), bukan dalam hal halalnya sembelihan atau pernikahan dengan wanita mereka.

Diriwayatkan dari Amr bin ‘Auf Al-Anshori Rodhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rosulullah mengambil Jizyah dari kaum Majusi di wilayah Hajar. Hal ini dipertegas dalam riwayat dari Abdurrohman bin ‘Auf Rodhiyallahu ‘Anhu (32 H):

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ

“Bahwasanya Nabi mengambil Jizyah dari Majusi daerah Hajar.” (HR. Al-Bukhori no. 3157)

Namun, secara aqidah, Majusi dianggap sebagai orang musyrik yang sangat sesat karena mereka menyamakan makhluk dengan Al-Kholiq.

3.2 Agama Shobi’ah: Penyembah Bintang

Agama Shobi’ah (Sabaeanism) adalah kelompok yang menyembah benda-benda langit seperti bintang, planet, dan Malaikat. Mereka meyakini bahwa bintang-bintang tersebut memiliki pengaruh mutlak terhadap nasib manusia dan mengatur urusan di bumi. Mereka membangun struktur bangunan (kuil) berdasarkan rasi bintang dan melakukan ritual pada waktu-waktu tertentu.

Al-Qur’an menyebutkan nama mereka dalam beberapa ayat, namun para ulama seperti Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan bahwa Shobi’ah terbagi dua: Shobi’ah Hunafa (yang mengikuti ajaran Tauhid murni sebelum mengalami distorsi) dan Shobi’ah Musyrikun (yang menyembah bintang).

Bantahan Islam terhadap Shobi’ah sangat jelas. Alloh menegaskan bahwa bintang-bintang hanyalah hiasan langit dan alat untuk navigasi, bukan pengatur nasib. Alloh berfirman:

﴿وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ النُّجُومَ لِتَهْتَدُوا بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ

“Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut.” (QS. Al-An’am: 97)

Lebih jauh, Alloh menghancurkan doktrin mereka dengan menyatakan bahwa Alloh adalah Pencipta bintang yang mereka agungkan (seperti bintang Syi’ro):

وَأَنَّهُ هُوَ رَبُّ الشِّعْرَىٰ

“Dan bahwasanya Dialah yang Tuhan (yang memiliki) bintang Syi’ro.” (QS. An-Najm: 49)

Bahaya Astrologi dan Ramalan Bintang

Sisa-sisa ajaran Shobi’ah masih ada hingga hari ini dalam bentuk astrologi atau ramalan bintang (zodiak). Islam mengharomkan segala bentuk ketergantungan pada bintang dalam menentukan nasib. Rosulullah bersabda:

«مَنْ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ، اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ»

“Barangsiapa mengambil satu cabang ilmu dari ilmu perbintangan (astrologi untuk meramal), maka ia telah mengambil satu cabang dari sihir; ia menambah (dosanya) seiring dengan bertambahnya ilmu tersebut.” (HHR. Abu Dawud no. 3905)

Dalam Hadits Qudsi, Alloh Ta’ala berfirman mengenai orang yang menyandarkan hujan kepada bintang:

«أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ»

“Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: ‘Kita diberi hujan karena karunia Alloh dan rahmat-Nya’, maka dialah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan: ‘Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu’, maka dialah yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.” (HR. Al-Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71)

Sanggahan Komprehensif terhadap Majusi dan Shobi’ah

Pertama: Kelemahan Makhluk yang Disembah

Api yang disembah Majusi bisa padam dengan air atau habis jika kayu bakarnya habis. Bintang yang disembah Shobi’ah bisa terbenam dan hilang dari pandangan. Sesuatu yang berubah dan sirna tidak layak dijadikan Tuhan. Inilah argumen Nabi Ibrohim ketika mendebat kaumnya yang menyembah bintang:

﴿فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

“Maka tatkala bintang itu terbenam, dia berkata: ‘Saya tidak suka kepada yang terbenam’.” (QS. Al-An’am: 76)

Kedua: Kesatuan Penciptaan (Tauhid Rububiyyah)

Ajaran Majusi yang membagi pencipta menjadi dua akan mengakibatkan kekacauan di alam semesta jika kedua pencipta tersebut berselisih. Alloh berfirman:

﴿لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Alloh, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Ketiga: Kesesatan dalam Ritual

Kaum Majusi memiliki tradisi pernikahan sedarah (incest) yang mereka anggap suci, serta cara penanganan jenazah yang dibiarkan dimakan burung pemakan bangkai (menara keheningan/dakhma). Islam datang dengan syariat yang menjaga kehormatan manusia dan kesucian nasab. Alloh mengharomkan pernikahan dengan mahrom:

﴿حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ...

“Diharomkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan...” (QS. An-Nisa: 23)

3.3 Penutup Bab

Baik Majusi maupun Shobi’ah adalah contoh nyata bagaimana syaithon memalingkan manusia dari menyembah Alloh dengan cara menghiasi makhluk yang tampak hebat di mata manusia (api dan bintang). Islam meruntuhkan semua itu dengan menegaskan bahwa api dan bintang hanyalah tentara Alloh yang tunduk pada perintah-Nya. Tidak ada satu pun di alam semesta ini yang bergerak atau diam kecuali dengan izin Alloh Robb semesta alam.

Barangsiapa yang masih memegang teguh ajaran ini setelah sampainya dakwah Islam, maka tempat kembalinya adalah ke dalam siksa api Naar yang abadi. Keselamatan hanya ada pada kalimat Laa Ilaha Illallah.

BAB 4 – AGAMA HINDU

Agama Hindu merupakan salah satu agama tertua di dunia yang memiliki struktur ajaran yang sangat kompleks. Berbeda dengan agama samawi yang berpijak pada wahyu yang diturunkan kepada seorang Nabi tertentu, Hindu berkembang melalui proses sinkretisme budaya, tradisi lisan, dan filsafat yang berlangsung selama ribuan tahun di subbenua India. Dalam pandangan Islam, Hindu adalah representasi dari kesyirikan yang sangat nyata karena melibatkan penyembahan kepada berhala, pengkultusan makhluk, serta keyakinan pada siklus reinkarnasi yang bertentangan dengan konsep Jannah dan Naar.

4.1 Sejarah dan Perkembangan Kitab Weda

Sumber utama ajaran Hindu adalah Weda (Veda), yang mereka yakini sebagai pengetahuan suci. Selain Weda, terdapat kitab-kitab lain seperti Upanisad, Purana, serta wiracarita Mahabharata dan Ramayana. Para ulama sejarah menjelaskan bahwa ajaran ini bermula dari kepercayaan bangsa Arya yang melakukan migrasi ke India dan bercampur dengan kepercayaan penduduk asli (bangsa Dravida).

Meskipun dalam sebagian teks mereka terdapat istilah yang merujuk pada keesaan, namun dalam praktiknya, ajaran ini terpecah ke dalam ribuan sekte yang menyembah dewa-dewa tertentu. Islam menegaskan bahwa setiap bangsa dahulu pernah didatangi oleh seorang pemberi peringatan, namun manusia kemudian mengubah ajaran tersebut. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَإِن مِّنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir: 24)

Penyimpangan Hindu terjadi ketika mereka mulai mempersonifikasikan kekuatan alam menjadi dewa-dewa yang mereka beri bentuk rupa (patung).

4.2 Doktrin Trimurti dan Panteisme

Dalam Hindu, terdapat konsep Trimurti, yaitu tiga dewa utama: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), dan Siwa (Pelebur). Selain itu, mereka memiliki ribuan dewa lainnya yang dianggap sebagai manifestasi dari Brahman (Realitas Tertinggi). Konsep ini sering kali berujung pada panteisme, yaitu keyakinan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini adalah Tuhan atau bagian dari Tuhan.

Islam menyanggah konsep ini dengan Tauhid yang murni. Alloh adalah Pencipta, Pemelihara, sekaligus Yang Maha Menghancurkan tanpa perlu berbagi peran dengan oknum-oknum dewa. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ ۚ قُلْ أَفَاتَّخَذْتُم مِّن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ لَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ نَفْعًا وَلَا ضَرًّا

“Katakanlah: ‘Siapakah Robb (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit dan bumi?’ Jawablah: ‘Alloh’. Katakanlah: ‘Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung selain-Nya, padahal mereka tidak mempunyai daya untuk mendatangkan manfaat dan tidak pula menolak mudhorot bagi diri mereka sendiri?’” (QS. Ar-Ro’d: 16)

Penyembahan terhadap patung (berhala) dalam Hindu dibantah oleh Al-Qur’an sebagai perbuatan yang sia-sia karena patung tidak bisa mendengar, melihat, apalagi memberi hidayah. Alloh berfirman menirukan ucapan Nabi Ibrohim :

﴿قَالَ أَتَعْبُدُونَ مَا تَنْحِتُونَ وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Ibrohim berkata: ‘Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Alloh-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu’.” (QS. Ash-Shoffat: 95-96)

4.3 Sistem Kasta (Varna) dan Ketidakadilan Sosial

Salah satu ciri khas agama Hindu adalah sistem kasta yang membagi manusia menjadi empat golongan: Brahmana (pendeta), Ksatria (bangsawan/prajurit), Waisya (pedagang), dan Sudra (pelayan). Di luar itu terdapat kaum Paria atau Dalit yang dianggap “harom untuk disentuh”. Mereka meyakini bahwa kasta seseorang ditentukan oleh kelahiran dan merupakan hasil dari perbuatan (Karma) di kehidupan sebelumnya.

Islam menghapuskan semua sekat diskriminatif ini. Di hadapan Alloh, semua manusia adalah sama, dan yang membedakan hanyalah ketakwaannya. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Alloh ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurot: 13)

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan saat Haji Wada’, Nabi menegaskan:

«يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ، وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ، أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ، وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ، وَلَا أَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ، وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ، إِلَّا بِالتَّقْوَى»

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Robb kalian adalah satu, dan bapak kalian satu (Adam). Tidak ada keutamaan bagi orang Arob atas orang ajam (non-Arob), tidak pula orang ajam atas orang Arob, tidak pula orang berkulit merah atas orang hitam, dan tidak pula orang hitam atas orang merah, kecuali dengan takwa.” (HSR. Ahmad no. 23489)

4.4 Doktrin Reinkarnasi (Samsara) dan Karma

Ajaran Hindu meyakini adanya reinkarnasi, yaitu perpindahan ruh dari satu jasad ke jasad lain setelah kematian secara berulang-ulang hingga mencapai Moksha (kebebasan). Nasib di kehidupan mendatang ditentukan oleh hukum Karma.

Islam membantah hal ini dengan tegas. Ruh manusia tidak akan kembali ke dunia setelah kematian, melainkan berada di alam Barzakh untuk menunggu hari kebangkitan. Alloh Ta’ala berfirman tentang orang kafir yang ingin kembali ke dunia untuk beramal sholih:

﴿حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“... sehingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Ya Robb-ku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang sholih terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (Barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Kematian dan kehidupan di dunia hanya terjadi satu kali, kemudian diikuti oleh Hari Pembalasan yang kekal. Alloh berfirman:

﴿كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Mengapa kamu kafir kepada Alloh, padahal kamu tadinya mati, lalu Alloh menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali (pada hari Kebangkitan), kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (QS. Al-Baqoroh: 28)

4.5 Ritual dan Penyucian di Sungai Gangga

Umat Hindu meyakini bahwa mandi di Sungai Gangga dapat menghapuskan dosa. Dalam Islam, penghapusan dosa hanya bisa dicapai melalui Taubat yang nasuha kepada Alloh dan menjalankan ibadah yang disyariatkan seperti Sholat dan Zakat. Air tidak memiliki kekuatan spiritual untuk mencuci dosa kecuali jika digunakan untuk berwudhu atau mandi janabah sesuai perintah Alloh.

Bantahan terhadap ritual-ritual bid’ah dan syirik mereka terdapat dalam Hadits dari Aisyah Rodhiyallahu ‘Anha, bahwa Nabi bersabda:

«مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

4.6 Sanggahan terhadap Penyembahan Makhluk (Hewan)

Hindu menganggap beberapa hewan, khususnya sapi, sebagai makhluk suci yang harus dihormati dan tidak boleh disembelih. Islam mengajarkan bahwa hewan-hewan diciptakan Alloh untuk kemaslahatan manusia, termasuk untuk dimakan dagingnya setelah disembelih dengan menyebut nama Alloh. Alloh berfirman:

﴿وَالْأَنْعَامَ خَلَقَهَا ۗ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ

“Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagiannya kamu makan.” (QS. An-Nahl: 5)

Mengkultuskan hewan adalah bentuk perendahan terhadap martabat manusia yang seharusnya menjadi penguasa di bumi atas izin Alloh, bukan justru menjadi penyembah hewan tersebut.

4.7 Penutup Bab

Agama Hindu adalah kumpulan dari berbagai sisa tradisi kuno yang telah bercampur aduk dengan kesyirikan yang nyata. Pengingkaran mereka terhadap Hari Kebangkitan digantikan dengan fiksi reinkarnasi, dan pengingkaran terhadap Tauhid digantikan dengan penyembahan ribuan berhala. Islam datang sebagai cahaya untuk meruntuhkan kasta-kasta buatan manusia dan mengembalikan manusia kepada fitrohnya: sebagai hamba Alloh semata.

Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyembah selain Alloh, baik itu Brahma, Wisnu, Siwa, atau berhala lainnya, maka ia kekal di dalam Naar. Sebagaimana firman-Nya:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisa: 48)

BAB 5 – AGAMA BUDHA

Agama Budha muncul sebagai bentuk reformasi atau reaksi terhadap ajaran Hindu di India pada abad ke-6 SM. Ajaran ini berpusat pada sosok Siddharta Gautama, yang kemudian dikenal sebagai Sang Budha (Yang Tercerahkan). Berbeda dengan agama-agama lain yang menitikberatkan pada hubungan antara manusia dan Tuhan, Budha lebih menekankan pada filsafat etika, meditasi, dan pembebasan diri dari penderitaan duniawi. Dalam perspektif Islam, Budha adalah ajaran yang menyimpang karena bersifat atheistik-religius (tidak meyakini Tuhan personal yang menciptakan dan mengatur alam) serta mengingkari rukun-rukun iman yang asasi.

5.1 Sejarah Siddharta Gautama dan Pencarian “Pencerahan”

Siddharta Gautama adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sakya yang meninggalkan kemewahan istana setelah melihat empat realitas kehidupan: orang tua, orang sakit, mayat, dan pertapa. Ia mencari jawaban atas penderitaan (Dukkha) melalui asketisme ekstrem dan akhirnya melalui meditasi di bawah pohon Bodhi hingga ia mengklaim mencapai pencerahan (Nirwana).

Islam mengajarkan bahwa solusi atas problematika kehidupan bukan dengan menyepi tanpa petunjuk wahyu, melainkan dengan tunduk kepada syariat Alloh. Penderitaan di dunia adalah ujian, dan ketenangan hanya didapat dengan mengingat Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

5.2 Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Berunsur Delapan

Doktrin dasar Budha terangkum dalam Catur Arya Satyani (Empat Kebenaran Mulia): hidup adalah menderita, penderitaan disebabkan oleh nafsu (Tanha), penderitaan bisa dihentikan, dan jalan menghentikannya adalah melalui delapan jalur (pandangan benar, niat benar, bicara benar, dsb).

Meskipun sekilas tampak sebagai ajaran moral yang baik, namun ajaran ini mengabaikan hak Alloh sebagai pencipta. Budha mengajarkan bahwa keselamatan diraih semata-mata dengan usaha diri sendiri (self-salvation). Dalam Islam, amal perbuatan manusia tidak akan ada nilainya jika tidak dilandasi iman kepada Alloh. Alloh Ta’ala berfirman mengenai amal orang-orang kafir:

﴿وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqon: 23)

5.3 Budha dan Pengingkaran Terhadap Eksistensi Pencipta (Robb)

Agama Budha tidak memiliki konsep Tuhan sebagai Pencipta (Al-Kholiq). Mereka memandang alam semesta berjalan secara mekanis melalui hukum sebab-akibat (Paticcasamuppada) tanpa ada pengatur. Ini adalah bentuk pengingkaran terhadap Tauhid Rububiyyah.

Al-Qur’an menyanggah paham ini dengan pertanyaan logis: apakah alam semesta ini terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta?

﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)

Setiap desain yang rumit di alam semesta menunjukkan adanya Desainer Yang Maha Bijaksana. Mengabaikan keberadaan Alloh dalam sistem keyakinan adalah puncak dari kebodohan dan kesesatan.

5.4 Penyembahan Berhala Budha dan Pemujaan Patung

Meskipun Budha pada awalnya adalah sebuah filsafat, namun dalam perkembangannya, para pengikutnya membuat patung-patung Budha dalam berbagai ukuran dan menyembahnya, mempersembahkan sesaji, serta bersujud di hadapannya. Hal ini jelas merupakan kesyirikan yang besar (Syirik Akbar).

Islam mengharomkan segala bentuk pembuatan patung makhluk bernyawa untuk tujuan pengagungan atau ibadah. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosulullah bersabda:

«إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ»

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya di sisi Alloh pada hari Kiamat adalah para tukang gambar (pembuat patung/gambar makhluk bernyawa).” (HR. Al-Bukhori no. 5950 dan Muslim no. 2109)

Alloh juga berfirman tentang batilnya menyembah sesuatu yang tidak bisa memberikan manfaat:

﴿قُلْ أَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Katakanlah: ‘Mengapa kamu menyembah selain Alloh, sesuatu yang tidak dapat memberi mudhorot kepadamu dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Alloh-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Maidah: 76)

5.5 Doktrin Reinkarnasi dan Nirwana vs Akhiroh

Sebagaimana Hindu, Budha juga meyakini reinkarnasi. Bedanya, Budha tidak meyakini adanya ruh yang tetap (Anatta atau tanpa diri). Mereka meyakini bahwa aliran kesadaranlah yang berpindah. Tujuan akhirnya adalah Nirwana, yaitu keadaan di mana nafsu telah padam dan seseorang keluar dari siklus kelahiran kembali.

Islam menegaskan bahwa hidup hanya sekali dan setelah itu ada pembalasan di Jannah atau Naar. Konsep Nirwana sebagai “kepunahan” atau “kekosongan” adalah khayalan yang mengingkari janji Alloh tentang kenikmatan abadi bagi orang beriman. Alloh berfirman:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat itulah disempurnakan pahalamu...” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Dalam sebuah Hadits shohih, Nabi menjelaskan tentang alam kubur (Barzakh) yang merupakan persinggahan pertama menuju Akhiroh, yang meniadakan kemungkinan ruh berpindah ke jasad lain di dunia:

«إِنَّ القَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الآخِرَةِ، فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ»

“Sesungguhnya kubur adalah persinggahan pertama dari persinggahan-persinggahan Akhiroh. Jika seseorang selamat darinya, maka setelahnya akan lebih mudah. Jika tidak selamat, maka setelahnya akan lebih berat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2308)

5.6 Praktik Meditasi dan Rahib (Kebiaraan)

Budha sangat menekankan kehidupan asketis dan memisahkan diri dari dunia (menjadi biksu/rahib). Mereka meyakini bahwa dengan menjauhi pernikahan dan kesenangan duniawi, mereka lebih cepat mencapai pencerahan.

Islam melarang gaya hidup rahib yang ekstrem ini. Islam adalah agama yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani. Nabi bersabda ketika mendengar ada sahabat yang ingin sholat terus menerus tanpa tidur, berpuasa tanpa berbuka, dan tidak mau menikah:

«أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي»

“Demi Alloh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Alloh di antara kalian. Namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan aku tidur, dan aku pun menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR. Al-Bukhori no. 5063 dan Muslim no. 1401)

5.7 Sanggahan Terhadap Konsep Kedamaian Tanpa Islam

Umat Budha sering mendengungkan ajaran cinta kasih universal (Ahimsa) dan tanpa kekerasan. Namun, tanpa Tauhid, kedamaian tersebut hanyalah semu di mata Alloh. Kedamaian sejati hanya didapat dengan tunduk kepada aturan Alloh As-Salam.

Alloh berfirman tentang kerugian orang-orang yang merasa telah berbuat sebaik-baiknya di dunia namun tanpa iman:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

5.8 Penutup Bab

Agama Budha, meskipun menawarkan ketenangan batin melalui meditasi dan etika, tetaplah sebuah jalan menuju kehancuran karena fondasinya yang mengingkari Alloh sebagai satu-satunya sesembahan. Pemujaan terhadap figur Budha dan keyakinan reinkarnasi adalah rantai yang membelenggu manusia dari kebenaran sejati. Islam datang untuk mengangkat martabat manusia agar tidak bersujud kepada sesama manusia yang telah wafat, melainkan bersujud kepada Al-Hayyu Al-Qoyyum (Yang Maha Hidup dan Terus Menerus Mengurus Makhluk-Nya).

Setiap orang yang mencari hidayah melalui ajaran Budha akan berakhir pada kekosongan yang nyata, karena hidayah hanya milik Alloh dan hanya diberikan kepada mereka yang mengikuti jalan para Rosul.

BAB 6 – AGAMA-AGAMA ASIA TIMUR (KONFUSIANISME, TAOISME, DAN SHINTO)

Agama-agama di wilayah Asia Timur, khususnya China dan Jepang, memiliki karakteristik yang unik karena sangat dipengaruhi oleh tradisi leluhur, filsafat harmoni alam, dan etika kemasyarakatan. Berbeda dengan agama samawi yang memiliki kitab wahyu yang jelas, agama-agama seperti Konfusianisme, Taoisme, dan Shinto lebih merupakan kristalisasi dari budaya lokal yang kemudian dikultuskan menjadi sistem kepercayaan. Dalam kacamata Islam, ajaran-ajaran ini mengandung unsur kesyirikan dalam bentuk pengagungan terhadap arwah leluhur serta penyembahan terhadap kekuatan alam (animisme).

6.1 Konfusianisme (Kong Hu Cu): Pemujaan Etika dan Leluhur

Konfusianisme dinisbatkan kepada Kung Fu Tze (Konfusius). Ajaran ini sebenarnya lebih menekankan pada tatanan sosial, bakti kepada orang tua (Xiao), dan loyalitas kepada negara. Namun, seiring waktu, ajaran ini berubah menjadi agama di mana sosok Konfusius sendiri disembah dan ritual pemujaan leluhur menjadi kewajiban yang sakral.

Islam sangat memerintahkan bakti kepada orang tua (birrul walidain), namun Islam melarang keras memberikan hak peribadatan kepada mereka, apalagi setelah mereka wafat. Menaruh sesaji di depan foto atau papan arwah leluhur adalah kesyirikan. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Robb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isro: 23)

Ayat ini menegaskan bahwa “berbuat baik kepada orang tua” ditempatkan setelah “larangan menyembah selain Alloh”. Artinya, bakti kepada orang tua tidak boleh melanggar batas-batas Tauhid. Menganggap bahwa arwah leluhur dapat memberikan berkah atau kualat adalah bentuk kesyirikan dalam Rububiyyah.

6.2 Taoisme: Keseimbangan Alam dan Kekuatan “Tao”

Taoisme didirikan oleh Lao Tze yang menekankan pada konsep Tao (Jalan Alam). Ajaran ini mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam melalui prinsip Yin dan Yang (keseimbangan unsur negatif dan positif). Namun, Taoisme juga berkembang menjadi kepercayaan takhayul, sihir, dan penyembahan terhadap dewa-dewa alam serta tokoh sejarah yang dianggap sakti.

Islam mengajarkan bahwa alam semesta ini memiliki keteraturan bukan karena “keseimbangan energi” yang berdiri sendiri, melainkan karena diatur oleh Alloh Yang Maha Kuasa. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqon: 2)

Keyakinan Taoisme terhadap jimat, ramalan, dan energi-energi ghoib selain Alloh adalah pintu menuju kesesatan sihir. Nabi bersabda:

«مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَقَدْ أَشْرَكَ»

“Barangsiapa yang menggantungkan tamimah (jimat), maka sesungguhnya ia telah berbuat syirik.” (HSR. Ahmad no. 17422)

6.3 Shinto: Agama Para Dewa (Kami-no-Michi)

Shinto adalah agama asli Jepang yang berakar pada kepercayaan bahwa segala sesuatu di alam ini—gunung, pohon, sungai, hingga matahari—memiliki ruh atau dewa yang disebut Kami. Salah satu dewa tertinggi mereka adalah Amaterasu Omikami (Dewi Matahari), yang mereka klaim sebagai leluhur kaisar-kaisar Jepang.

Islam adalah agama yang paling tegas dalam melarang penyembahan terhadap benda-benda alam. Matahari dan bulan hanyalah makhluk yang patuh kepada perintah Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (bersujud) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Alloh Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Fushshilat: 37)

Anggapan bahwa Kaisar adalah keturunan Tuhan adalah bentuk kekufuran yang nyata. Alloh tidak beranak dan tidak diperanakkan.

﴿لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan.” (QS. Al-Ikhlash: 3)

6.4 Sanggahan Terhadap Tradisi Pemujaan Leluhur

Masyarakat Asia Timur sangat memuliakan kematian melalui ritual yang rumit. Mereka percaya bahwa tanpa ritual tersebut, arwah leluhur akan menjadi hantu yang mengganggu. Islam menyanggah hal ini. Orang yang sudah wafat berada di alam Barzakh dan tidak memiliki urusan lagi dengan dunia kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan doa anak sholih.

Diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘Anhu, Rosulullah bersabda:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia itu meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak sholeh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Oleh karena itu, memberi makan kepada mayat atau membakar uang kertas (tradisi Ceng Beng dalam budaya China) adalah perbuatan yang sia-sia dan termasuk pemborosan harta yang dilarang.

6.5 Kritik Islam terhadap Sinkretisme dan Pluralisme

Budaya Asia Timur sering kali mencampuradukkan ketiga ajaran ini (Konfusius, Tao, Budha) dalam kehidupan sehari-hari. Mereka merasa tidak masalah memeluk lebih dari satu agama. Dalam Islam, hal ini adalah pembatalan iman. Seseorang tidak bisa menjadi Muslim sekaligus menjalankan ritual kesyirikan agama lain.

Islam menuntut kemurnian dalam beragama. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Maka sembahlah Alloh dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.” (QS. Ghofir: 14)

6.6 Haromnya Menghadiri Ritual Keagamaan Mereka

Seorang Muslim dilarang ikut serta dalam perayaan atau ritual agama-agama ini, seperti perayaan Tahun Baru Imlek yang berkaitan dengan mitologi agama atau ritual di kuil Shinto. Para ulama seperti Ibnu Taimiyyah (728 H) dalam kitab Iqtidho’ Ash-Shirothol Mustaqim menjelaskan panjang lebar tentang kewajiban menyelisihi kaum musyrik dalam hari raya mereka.

Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang tidak menghadiri ritual kebatilan:

﴿وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu (zuur), dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqon: 72)

Beberapa ahli tafsir seperti Adh-Dhohhak (105 H) menjelaskan bahwa yang dimaksud zuur dalam ayat ini adalah hari raya orang-orang musyrik.

6.7 Penutup Bab

Agama-agama Asia Timur adalah potret manusia yang berusaha mencari keteraturan hidup namun tanpa bimbingan wahyu yang shohih. Mereka terjebak pada pengagungan moralitas manusia (Konfusius), harmoni energi (Tao), atau roh alam (Shinto). Islam datang sebagai penyempurna moralitas namun tetap menempatkan hak Alloh di atas segalanya. Keselamatan bukan didapat dengan menyenangkan arwah leluhur, melainkan dengan mentauhidkan Alloh Robb semesta alam.

Barangsiapa yang berpaling dari cahaya Al-Qur’an dan lebih memilih mengikuti tradisi kesyirikan nenek moyang mereka, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.

BAB 7 – ADYAN MU’ASHIROH (AGAMA MODERN DAN ALIRAN PEMIKIRAN)

Di era kontemporer ini, tantangan terhadap aqidah Islam tidak hanya datang dari agama-agama kuno yang telah kita bahas sebelumnya, tetapi juga dari munculnya agama-agama baru hasil sinkretisme (pencampuran) serta aliran pemikiran yang mencoba meruntuhkan pondasi Islam. Munculnya sekte-sekte seperti Baha’iyyah, Ahmadiyyah, serta paham pemikiran seperti Pluralisme, Liberalisme, dan Atheisme merupakan ujian besar bagi umat di akhir zaman. Dalam kacamata syariat, semua ini adalah bentuk penyimpangan yang keluar dari jalur Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman Salaf.

7.1 Agama Baha’iyyah dan Ahmadiyyah

Agama Baha’iyyah muncul pada abad ke-19 di Persia, dipelopori oleh Mirza Husain Ali Nuri yang bergelar “Baha’ullah”. Mereka mengklaim bahwa agama mereka adalah kelanjutan dari semua agama besar dan membawa pesan persatuan dunia. Namun, secara aqidah, mereka mengingkari bahwa Muhammad adalah Nabi penutup. Begitu pula dengan Ahmadiyyah yang dipelopori oleh Mirza Ghulam Ahmad (1326 H) di India, yang mengklaim dirinya sebagai Nabi setelah Muhammad .

Islam dengan tegas menyatakan bahwa Muhammad adalah penutup para Nabi (Khotamun Nabiyyin). Alloh Ta’ala berfirman:

﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rosulullah dan penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dalam sebuah Hadits shohih, Nabi memperingatkan akan munculnya para pendusta yang mengaku Nabi:

«وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُونَ ثَلَاثُونَ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ، وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي»

“Sesungguhnya akan ada pada umatku tiga puluh orang pendusta, semuanya mengaku sebagai Nabi, padahal aku adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelahku.” (HSR. Abu Dawud no. 4252)

Oleh karena itu, siapa pun yang meyakini adanya Nabi setelah Muhammad , maka ia telah kafir dan keluar dari Islam.

7.2 Pluralisme Agama (Wihdatul Adyan)

Pluralisme agama adalah paham yang menyatakan bahwa semua agama adalah benar dan semua pemeluk agama akan masuk Jannah. Paham ini sering dibungkus dengan jargon toleransi dan kemanusiaan. Namun, ini adalah kekufuran yang nyata karena mendustakan ayat-ayat Alloh yang menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di Akhiroh termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imron: 85)

Menyamakan Tauhid dengan kesyirikan, atau menyamakan penyembah Alloh dengan penyembah berhala, adalah penghinaan terhadap kebenaran. Rosulullah bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi (Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah salah seorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nashoro, yang mendengar tentangku, kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia termasuk penghuni Naar.” (HR. Muslim no. 153)

7.3 Atheisme dan Materialisme Modern

Atheisme adalah pengingkaran mutlak terhadap keberadaan Sang Pencipta. Di zaman modern, atheisme sering kali bersembunyi di balik jubah sains dan evolusi. Mereka meyakini bahwa alam semesta terjadi karena kebetulan (tashoduf).

Islam meruntuhkan argumen ini dengan logika fitroh. Sesuatu yang teratur tidak mungkin tercipta tanpa pengatur. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Apakah mereka diciptakan tanpa ada sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (QS. Ath-Thur: 35)

Alam semesta dengan segala kerumitannya adalah ayat (tanda) yang menunjukkan keagungan Alloh. Hanya orang-orang yang tertutup hatinya yang mengingkari keberadaan-Nya. Alloh berfirman tentang kaum materialis:

﴿وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata: ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa’, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)

7.4 Liberalisme dan Sekularisme Agama

Liberalisme agama mencoba “membebaskan” teks-teks syariat dari pemahaman para Salaf dan menafsirkannya sesuai hawa nafsu atau logika manusia modern. Sedangkan Sekularisme berusaha memisahkan agama dari urusan publik dan kenegaraan.

Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan (Syumuliyatul Islam). Memisahkan agama dari politik atau sosial adalah bentuk pengingkaran terhadap kedaulatan Alloh. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْتَغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Alloh bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)

Bahaya dari pemikiran liberal adalah mereka menghalalkan apa yang diharomkan Alloh dengan alasan hak asasi manusia atau kemajuan zaman. Padahal, syariat Islam berlaku hingga hari Kiamat. Nabi bersabda:

«تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ»

“Aku tinggalkan bagi kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dalam Al-Muwaththo’ no. 1604)

7.5 Sanggahan-Sanggahan

Setiap aliran pemikiran modern ini selalu bermuara pada pengagungan terhadap akal (Aql) di atas wahyu (Naql). Mereka menjadikan manusia sebagai pusat kebenaran, bukan Alloh.

Sanggahan terhadap Relativisme Kebenaran

Mereka mengklaim kebenaran itu relatif. Islam menyatakan kebenaran adalah absolut dari Alloh.

﴿الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu adalah dari Robb-mu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqoroh: 147)

Sanggahan terhadap Sinkretisme

Mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran batil dilarang keras.

﴿وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 42)

7.6 Penutup Bab

Munculnya berbagai agama modern dan aliran pemikiran ini merupakan fitnah syubhat yang harus diwaspadai oleh setiap Muslim. Kunci untuk selamat adalah dengan menuntut ilmu syar’i dan kembali kepada manhaj Salaf yang sholih dalam beragama. Tanpa itu, seseorang akan mudah terombang-ambing oleh gelombang pemikiran yang nampaknya ilmiah namun hakikatnya adalah kekufuran yang nyata.

PENUTUP

Melalui lembaran-lembaran yang telah kita lalui dalam buku ini, telah nampak jelas perbedaan yang kontras antara cahaya wahyu yang murni dengan kegelapan tradisi, filsafat, dan tahrif manusia. Islam datang bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai Muhaimin (penguji dan korektor) atas seluruh ajaran yang pernah ada di muka bumi. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

“Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai penguji (korektor) terhadap kitab-kitab yang lain itu.” (QS. Al-Maidah: 48)

Kesimpulan besar yang dapat kita petik dari sejarah dan ajaran agama-agama dunia adalah bahwa kesyirikan senantiasa berpangkal pada satu hal: memberikan hak eksklusif Alloh kepada makhluk-Nya. Baik itu dalam bentuk pengkultusan Nabi seperti kaum Nashoro, pemujaan terhadap leluhur seperti dalam Konfusianisme, penyembahan benda langit seperti Shobi’ah, hingga pendewaan terhadap logika dan materi seperti dalam Atheisme dan Liberalisme modern. Semua itu adalah jalan-jalan yang bercabang yang hanya akan membawa pelakunya pada kesengsaraan abadi di Naar.

Islam adalah satu-satunya agama yang membebaskan manusia dari perbudakan sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Robb para makhluk. Inilah kemuliaan yang dirasakan oleh para Shohabat terdahulu, sebagaimana perkataan Robi’ bin ‘Amir ketika menghadap panglima Persia, Rustam:

اللَّهُ ابْتَعَثْنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللَّهِ، وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْيَا إِلَى سِعَتِهَا، وَمِنْ جَوْرِ الْأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ الْإِسْلَامِ

“Alloh telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penyembahan kepada hamba menuju penyembahan kepada Alloh semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezholiman agama-agama menuju keadilan Islam.” (Al-Bidayah Ibnu Katsir, 9/622)

Oleh karena itu, kewajiban setiap Muslim adalah mensyukuri nikmat hidayah ini dengan cara istiqomah di atas Sunnah. Di zaman yang penuh dengan syubhat dan fitnah ini, keterasingan agama akan semakin terasa. Nabi telah bersabda:

«بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»

“Islam muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana munculnya, maka beruntunglah bagi orang-orang yang asing (Al-Ghuroba).” (HR. Muslim no. 145)

Siapakah Al-Ghuroba tersebut? Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia dari Sunnah Nabi . Buku ini disusun sebagai bagian dari upaya menjaga kemurnian tersebut, agar umat tidak terpedaya oleh jargon-jargon pluralisme yang mencoba menyamakan antara tauhid dan syirik, antara kebenaran dan kebatilan. Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَفَمَن كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا ۚ لَّا يَسْتَوُونَ

“Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (QS. As-Sajdah: 18)

Kami tutup risalah ini dengan ajakan kepada diri kami dan para pembaca sekalian untuk terus menuntut ilmu syar’i berdasarkan pemahaman para Salaf yang sholih. Ilmu adalah cahaya yang akan membimbing kita meniti Shirothol Mustaqim di tengah gelapnya kesesatan ajaran manusia. Marilah kita berpegang teguh pada tali agama Alloh dan jangan bercerai-berai mengikuti hawa nafsu.

Semoga Alloh Ta’ala senantiasa menjaga hati kita di atas agama-Nya, mewafatkan kita dalam keadaan Muslim yang kaffah, dan mengumpulkan kita semua di dalam Jannah Al-Firdaus bersama para Nabi, para shiddiqin, syuhada, dan orang-orang sholih.

﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

“Ya Robb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyimpang kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rohmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imron: 8)

Allahu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url