Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Kisah Orang yang Terakhir Masuk Jannah - Diurutkan dari Beberapa Riwayat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Kisah ini diurutkan dari riwayat  Abu Huroiroh, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id, Ibnu Umar, dan lain-lain, yang tersebar di berbagai kitab Hadits, yang dikumpulkan oleh penyusun Al-Jami Ash-Shohih lis Sunan wal Masanid lalu saya terjemahkan dengan tambahan penjelasan serta referensi lain, dan subbab serta penataan takhrij. Semua riwayat ini shohih.

Orang ini adalah orang yang telah pernah disidang Allah, seperti dalam Hadits:

Dari Abu Dzarr (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh bersabda:

«إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ، وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا، رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيُقَالُ: اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ، وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا، فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ، فَيُقَالُ: عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا، فَيَقُولُ: نَعَمْ، لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ، فَيُقَالُ لَهُ: فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً، فَيَقُولُ: رَبِّ، قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لَا أَرَاهَا هَا هُنَا»

“Sungguh aku benar-benar mengetahui penduduk Jannah yang paling terakhir masuk Jannah, dan penduduk Naar yang paling terakhir keluar darinya, yaitu seorang lelaki yang didatangkan pada hari Kiamat, lalu dikatakan: ‘Paparkanlah dosa-dosa kecilnya dan angkatlah (sembunyikan) dosa-dosa besarnya darinya.’ Maka dipaparkanlah dosa-dosa kecilnya kepadanya, lalu dikatakan: ‘Kamu telah melakukan pada hari ini dan itu, perbuatan ini dan itu, dan kamu telah melakukan pada hari ini dan itu, perbuatan ini dan itu.’ Maka lelaki itu menjawab: ‘Benar.’ Dia tidak mampu untuk mengingkarinya, sementara dia merasa takut jika dosa-dosa besarnya akan dipaparkan kepadanya. Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Maka sungguh bagimu sebagai ganti setiap keburukan diganti dengan satu kebaikan.’ Akhirnya lelaki itu berkata: ‘Wahai Robb, sungguh aku telah melakukan banyak hal (yakni dosa besar) yang aku tidak melihatnya di sini.’ Sungguh aku melihat Rosululloh tertawa sampai nampak gigi geraham beliau.” (HR. Muslim no. 190)

 

[1] Detik-Detik Selesainya Pengadilan Robb

Bayangkan sebuah suasana di mana keriuhan padang Mahsyar telah usai. Satu per satu manusia telah menempati tempat kembalinya. Di saat pengadilan yang agung itu telah ditutup, masih tersisa satu orang yang berada di ambang penentuan. Ia adalah penutup daftar penduduk Neraka yang akan mencicipi indahnya Jannah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : «يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ، وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ، وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ، مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّارِ»

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu berkata: Rosululloh bersabda: “Alloh selesai dari ketetapan hukum di antara para hamba, dan tersisalah seorang lelaki di antara Jannah dan Naar. Ia adalah penduduk Naar terakhir yang masuk ke Jannah, dalam keadaan wajahnya masih menghadap ke Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 806)

 

[2] Perjuangan Merangkak Keluar dari Adzab

Lelaki ini keluar dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sisa-sisa adzab masih membekas pada tubuhnya. Ia tidak berjalan dengan tegak, melainkan tertatih-tatih, seolah setiap jengkal tanah yang ia lalui adalah perjuangan antara hidup dan mati.

«فَهْوَ يَمْشِي مَرَّةً، وَيَكْبُو مَرَّةً، وَتَسْفَعُهُ النَّارُ مَرَّةً»

“Maka ia berjalan sekali, dan jatuh tersungkur (yaitu jatuh pada wajahnya) sekali, dan api membakarnya sekali (yaitu menyambar wajahnya, menghitamkannya, dan memberi bekas padanya).” (HR. Muslim no. 187)

 

[3] Permohonan Untuk Memalingkan Wajah

Setelah berhasil sedikit menjauh, rasa perih akibat panasnya api dan baunya yang menyengat membuatnya tak tahan. Ia memohon kepada Robb yang Maha Pengasih agar setidaknya ia tidak lagi melihat pemandangan yang mengerikan itu.

«فَيَقُولُ: يَا رَبِّ اصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ، قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا»

“Maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, palingkanlah wajahku dari Naar. Sungguh baunya telah meracuniku (yaitu menyakitiku dan membinasakanku, yakni mengubah kulit dan bentukku) dan nyalanya (yaitu kobaran dan panasnya yang sangat) telah membakarku.” (HR. Al-Bukhori no. 773)

 

[4] Perjanjian Dengan Alloh Yang Maha Kuasa

Alloh , dengan segala hikmah-Nya, menguji kejujuran hamba-Nya ini. Sebuah dialog terjadi antara Sang Kholiq dan hamba yang lemah ini, di mana sebuah janji suci diikrarkan.

«فَلَا يَزَالُ يَدْعُو اللَّهَ، فَيَقُولُ اللَّهُ: لَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ أَنْ تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ؟ فَيَقُولُ: لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ»

“Maka ia terus-menerus berdoa kepada Alloh, lalu Alloh berfirman: Mungkin jika Aku mengabulkannya untukmu, kamu akan meminta yang lain kepada-Ku? Maka ia menjawab: Tidak, demi Keperkasaan-Mu, aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.” (HR. Al-Bukhori no. 6573)

«فَيُعْطِي اللَّهَ مَا يَشَاءُ مِنْ عَهْدٍ وَمِيثَاقٍ، فَيَصْرِفُ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ»

“Maka ia memberikan kepada Alloh apa yang Dia kehendaki berupa janji dan ikrar, lalu Alloh memalingkan wajahnya dari Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 806)

 

[5] Syukur Sang Hamba Setelah Terbebas

Begitu wajahnya dipalingkan dan ia merasa aman dari jilatan api, meluncurlah kalimat syukur yang sangat dalam. Ia merasa menjadi orang yang paling beruntung di semesta raya karena telah diselamatkan dari kengerian Naar.

«فَإِذَا مَا جَاوَزَهَا الْتَفَتَ إِلَيْهَا فَقَالَ: تَبَارَكَ الَّذِي نَجَّانِي مِنْكِ، لَقَدْ أَعْطَانِي اللَّهُ شَيْئًا مَا أَعْطَاهُ أَحَدًا مِنْ الْأَوَّلِينَ وَالْآخِرِينَ»

“Maka ketika ia telah melewatinya, ia menoleh ke arah Naar lalu berkata: ‘Maha Suci Dzat yang telah menyelamatkanku darimu. Sungguh Alloh telah memberiku sesuatu yang tidak Dia berikan kepada seorang pun dari orang-orang terdahulu maupun yang belakangan.(HR. Muslim no. 187)

 

[6] Godaan Pohon Pertama di Padang Gersang

Setelah merasa menjadi orang paling beruntung karena selamat dari Naar, Alloh mulai menampakkan sedikit demi sedikit keindahan ciptaan-Nya. Di tengah rasa haus dan panas yang tersisa, muncullah sebuah harapan baru.

«قَالَ: فَتُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا، وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا»

“Lalu ditampakkanlah sebatang pohon untuknya, maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat berteduh dengan naungannya dan minum dari airnya.” (HR. Muslim no. 187)

«فَيَقُولُ اللَّهُ - عز وجل -: يَا ابْنَ آدَمَ، لَعَلِّي إِنْ أَعْطَيْتُكَهَا سَأَلْتَنِي غَيْرَهَا؟ فَيَقُولُ: لَا يَا رَبِّ، وَيُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا - وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ - فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا»

“Maka Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Wahai anak Adam, mungkin jika Aku memberikannya kepadamu, kamu akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Maka ia menjawab: ‘Tidak wahai Robb-ku,’ dan ia berjanji kepada-Nya untuk tidak meminta yang lain kepada-Nya—sedangkan Robb-nya memaklumi karena ia melihat sesuatu yang ia tidak memiliki kesabaran atasnya—lalu Alloh mendekatkannya ke pohon itu, maka ia pun berteduh dengan naungannya dan minum dari airnya.” (HR. Muslim no. 187)

 

[7] Pohon Kedua yang Lebih Menawan

Manusia tetaplah manusia. Ketika ia melihat sesuatu yang jauh lebih indah dari apa yang ia miliki sekarang, janji yang tadi diucapkan seolah memudar oleh rasa takjub. Alloh dengan Rohmat-Nya kembali memberikan ujian keindahan.

«ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ هِيَ أَحْسَنُ مِنْ الْأُولَى، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ لِأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا وَأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا»

“Kemudian ditampakkanlah untuknya pohon lain yang lebih indah dari yang pertama, maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat minum dari airnya dan berteduh dengan naungannya, aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’” (HR. Muslim no. 187)

«فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، هَذِهِ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا»

“Maka Alloh berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah kamu telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta yang lain kepada-Ku?’ Maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, yang satu ini saja, aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’” (HR. Muslim no. 187 dan Ahmad no. 3714)

 

[8] Di Ambang Pintu Jannah

Puncak dari ujian kesabaran ini adalah ketika ia didekatkan ke sebuah pohon yang berada tepat di depan gerbang kebahagiaan abadi. Dari sana, ia tidak hanya melihat pohon, tapi mulai merasakan hembusan angin Jannah yang harum.

«فَيَقُولُ: لَعَلِّي إِنْ أَدْنَيْتُكَ مِنْهَا تَسْأَلُنِي غَيْرَهَا؟ فَيُعَاهِدُهُ أَنْ لَا يَسْأَلَهُ غَيْرَهَا - وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ - فَيُدْنِيهِ مِنْهَا فَيَسْتَظِلُّ بِظِلِّهَا وَيَشْرَبُ مِنْ مَائِهَا»

“Maka Alloh berfirman: ‘Mungkin jika Aku mendekatkanmu darinya, kamu akan meminta yang lain kepada-Ku?’ Maka ia pun berjanji kepada-Nya untuk tidak meminta yang lain kepada-Nya—sedangkan Robb-nya memaklumi karena ia melihat sesuatu yang ia tidak memiliki kesabaran atasnya—lalu Alloh mendekatkannya ke pohon itu, maka ia pun berteduh dengan naungannya dan minum dari airnya.” (HR. Muslim no. 187)

«ثُمَّ تُرْفَعُ لَهُ شَجَرَةٌ عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ هِيَ أَحْسَنُ مِنْ الْأُولَيَيْنِ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَدْنِنِي مِنْ هَذِهِ لِأَسْتَظِلَّ بِظِلِّهَا وَأَشْرَبَ مِنْ مَائِهَا، لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ، أَلَمْ تُعَاهِدْنِي أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهَا؟ قَالَ: بَلَى يَا رَبِّ، هَذِهِ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهَا - وَرَبُّهُ يَعْذِرُهُ لِأَنَّهُ يَرَى مَا لَا صَبْرَ لَهُ عَلَيْهِ - قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهَا»

“Kemudian ditampakkanlah untuknya sebatang pohon di dekat pintu Jannah yang lebih indah dari dua pohon sebelumnya, maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, dekatkanlah aku ke pohon ini agar aku dapat berteduh dengan naungannya dan minum dari airnya, aku tidak akan meminta yang lain kepada-Mu.’ Maka Alloh berfirman: ‘Wahai anak Adam, bukankah kamu telah berjanji kepada-Ku untuk tidak meminta yang lain kepada-Ku?’ Ia menjawab: ‘Benar wahai Robb-ku, yang satu ini saja, aku tidak akan meminta selainnya,’ —sedangkan Robb-nya memaklumi karena ia melihat sesuatu yang ia tidak memiliki kesabaran atasnya. Maka Alloh mendekatkannya ke pohon tersebut.” (HR. Muslim no. 187)

 

[9] Suara-suara Penghuni Jannah

Kini, lelaki itu berada sangat dekat. Jaraknya dengan kebahagiaan hanya tinggal selangkah. Di sana, indra pendengarannya mulai menangkap suara-suara yang selama ini hanya menjadi angan-angan di tengah panasnya kerak Neraka.

«فَإِذَا أَدْنَاهُ مِنْهَا رَأَى بَهْجَتَهَا وَمَا فِيهَا مِنْ النَّضْرَةِ وَالسُّرُورِ وَسَمِعَ أَصْوَاتَ أَهْلِ الْجَنَّةِ»

“Maka ketika Alloh telah mendekatkannya ke pohon itu, ia melihat keindahan Surga dan apa yang ada di dalamnya berupa kemegahan dan kegembiraan, serta ia mendengar suara-suara penduduk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 806 dan Muslim no. 187)

Di sini kita melihat betapa luasnya kasih sayang Alloh kepada hamba-Nya yang paling lemah imannya sekalipun.

 

[10] Puncak Keinginan Sang Hamba

Setelah terpesona dengan suara riuh rendah kegembiraan di dalam Jannah, lelaki ini sempat terdiam. Ia merasa malu karena tumpukan janji yang telah ia langgar. Namun, kerinduan akan kebahagiaan itu mengalahkan rasa malunya.

«فَيَسْكُتُ مَا شَاءَ اللَّهَ أَنْ يَسْكُتَ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ اللَّهُ: وَيْحَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ، أَلَيْسَ قَدْ أَعْطَيْتَ الْعُهُودَ وَالْمِيثَاقَ أَنْ لَا تَسْأَلَ غَيْرَ الَّذِي أُعْطيتَ؟، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ»

“Maka ia pun terdiam selama yang Alloh kehendaki untuk diam, kemudian ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, masukkanlah aku ke dalam Jannah.’ Maka Alloh berfirman: ‘Dasar kamu wahai anak Adam! Alangkah ingkarnya kamu! Bukankah kamu telah memberikan janji-janji dan ikrar untuk tidak meminta selain yang telah diberikan kepadamu?’ Maka ia menjawab: ‘Wahai Robb-ku, janganlah Engkau menjadikan aku makhluk-Mu yang paling celaka.” (HR. Al-Bukhori no. 6573)

 

[11] Tawa Robb Semesta Alam

Melihat kepolosan dan besarnya harapan hamba-Nya ini, Alloh pun tertawa. Bukan tawa yang mengejek, melainkan tawa Ridho dan Rohmat yang membuat seluruh semesta bergetar karena kasih sayang-Nya.

«فَيَضْحَكُ اللَّهُ - عز وجل - مِنْهُ، ثُمَّ يَأْذَنُ لَهُ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ»

“Maka Alloh ‘Azza wa Jalla tertawa karena tingkahnya, kemudian Dia mengizinkannya untuk masuk ke dalam Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 806)

 

[12] Persangkaan Sang Hamba Tentang Jannah yang Penuh

Kegembiraan lelaki ini sempat berubah menjadi kekhawatiran saat ia sampai di depan gerbang. Bayangannya tentang dunia yang sempit terbawa hingga ke Akhiroh, ia mengira Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi itu telah penuh sesak.

«فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى، فَيَقُولُ: اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ، فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى، فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى»

“Maka ia mendatangi Jannah, lalu dikhayalkan kepadanya bahwa Jannah telah penuh. Ia pun kembali dan berkata: ‘Wahai Robb-ku, aku mendapatinya telah penuh.’ Alloh berfirman: ‘Pergilah dan masuklah ke Jannah.’ Ia pun mendatanginya lagi, namun tetap dikhayalkan kepadanya bahwa Jannah telah penuh. Ia pun kembali dan berkata: ‘Wahai Robb-ku, aku mendapatinya telah penuh.” (HR. Al-Bukhori no. 6571 dan Muslim no. 186)

«فَيُقَالُ لَهُ: ادْخُلِ الْجَنَّةَ، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ، كَيْفَ وَقَدْ نَزَلَ النَّاسُ مَنَازِلَهُمْ، وَأَخَذُوا أَخَذَاتِهِمْ»

“Dikatkan kepadanya: ‘Masuklah ke Surga.’ Ia berkata: ‘Wahai Robb, bagaimana, sementara manusia sudah mengambil tempat tinggalnya dan mengambil kekayaannya?’” (HR. Muslim no. 189)

 

[13] Pemberian yang Melampaui Imajinasi Dunia

Alloh kemudian menenangkan hamba-Nya. Dia ingin menunjukkan bahwa perbendaharaan-Nya tidak akan pernah habis hanya karena memasukkan seluruh manusia ke dalamnya.

«فَيُقَالُ لَهُ: أَتَرْضَى أَنْ يَكُونَ لَكَ مِثْلُ مُلْكِ مَلِكٍ مِنْ مُلُوكِ الدُّنْيَا؟ فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ، فَيَقُولُ: لَكَ ذَلِكَ، وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ وَمِثْلُهُ، فَقَالَ فِي الْخَامِسَةِ: رَضِيتُ رَبِّ، فَيَقُولُ: هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ، وَلَكَ مَا اشْتَهَتْ نَفْسُكَ، وَلَذَّتْ عَيْنُكَ، فَيَقُولُ: رَضِيتُ رَبِّ»

“Maka dikatakan kepadanya: ‘Apakah kamu ridho jika kamu memiliki kerajaan seperti kerajaan salah seorang raja dari raja-raja dunia?’ Maka ia menjawab: ‘Aku ridho wahai Robb-ku.’ Lalu Alloh berfirman: ‘Untukmu hal itu, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya, dan yang semisalnya (jika ditotal maka seperti pemilik kerajaan dunia). Maka pada yang ke-5 kalinya ia berkata: ‘Aku ridho wahai Robb-ku.’ Lalu Alloh berfirman: ‘Ini untukmu dan 10 yang semisal dengannya. Dan untukmu apa saja yang diinginkan oleh jiwamu serta yang melezatkan matamu.’ Maka ia berkata: ‘Aku ridho wahai Robb-ku.’” (HR. Muslim no. 189)

 

[14] “Apakah Engkau Mengejekku?”

Lelaki ini terperanjat. Ia yang tadi merangkak keluar dari Naar dengan tubuh menghitam, kini ditawari kerajaan yang 10 kali lipat luas dunia. Ia mengira dirinya sedang diperolok karena saking tidak masuk akalnya karunia tersebut.

«قَالَ: يَا رَبِّ، أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟»

“Maka ia berkata: ‘Wahai Robb-ku, apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Robb semesta alam?’” (HR. Muslim no. 187)

فَقَالُوا: مِمَّ تَضْحَكُ يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «مِنْ ضَحِكِ رَبِّ الْعَالَمِينَ حِينَ قَالَ: أَتَسْتَهْزِئُ مِنِّي وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ؟ فَيَقُولُ: إِنِّي لَا أَسْتَهْزِئُ مِنْكَ، وَلَكِنِّي عَلَى مَا أَشَاءُ قَادِرٌ»

Maka para Shohabat bertanya: “Apa yang membuatmu tertawa wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Dari tawa Robb semesta alam saat hamba itu berkata: ‘Apakah Engkau mengejekku padahal Engkau adalah Robb semesta alam?’ Lalu Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sungguh Aku tidak mengejekmu, akan tetapi Aku Maha Kuasa atas apa yang Aku kehendaki.” (HR. Muslim no. 187)

Bayangkan betapa indahnya momen itu. Robb semesta alam tertawa karena kepolosan hamba-Nya yang mengira Alloh akan mengejeknya.

 

[15] Ketika Angan-angan Dibimbing Oleh Robb

Setelah ketakutan itu sirna, Alloh dengan segala kemurahan-Nya justru membimbing hamba-Nya untuk bermimpi setinggi mungkin. Di tempat ini, tidak ada lagi batasan bagi keinginan.

«فَإِذَا دَخَلَهَا قَالَ اللَّهُ لَهُ: تَمَنَّهْ، فَسَأَلَ رَبَّهُ وَتَمَنَّى»

“Maka ketika ia telah memasukinya, Alloh berfirman kepadanya: ‘Mintalah angan-anganmu!’ Maka ia pun meminta kepada Robb-nya dan berangan-angan.” (HR. Al-Bukhori no. 7437)

Allah membantunya berangan-angan yang ia tidak mampu menjangkaunya.

«حَتَّى إِذَا انْقَطَعَ أُمْنِيَّتُهُ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: مِنْ كَذَا وَكَذَا، أَقْبَلَ يُذَكِّرُهُ رَبُّهُ، حَتَّى إِذَا انْتَهَتْ بِهِ الأَمَانِيُّ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: لَكَ ذَلِكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ»

“Hingga ketika angan-angannya telah habis, Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Mintalah ini dan itu.’ Maka ia pun berangan-angan, kemudian dikatakan lagi kepadanya: ‘Mintalah ini—Robb-nya mengingatkannya—hingga ketika angan-angannya telah sampai pada puncaknya,’ Alloh Ta’ala berfirman: ‘Untukmu hal itu (kekayaan raja dunia) dan 10 kali lipat yang semisal dengannya bersamanya.” (HR. Al-Bukhori no. 806)

 

[16] Kemegahan Istana dari Mutiara

Lelaki itu melangkah masuk. Pandangannya menangkap sebuah bangunan yang begitu agung hingga ia mengira telah melihat Sang Pencipta secara langsung. Kesucian tempat itu membuatnya tersungkur dalam sujud.

«قَالَ: ثُمَّ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَتَّى إِذَا دَنَا مِنَ النَّاسِ رُفِعَ لَهُ قَصْرٌ مِنْ دُرَّةٍ فَيَخِرُّ سَاجِدًا، فَيُقَالَ لَهُ: ارْفَعْ رَأْسَكَ مَا لَكَ؟، فَيَقُولُ: رَأَيْتُ رَبِّي أَوْ تَرَاءَى لِي رَبِّي، فَيُقَالُ لَهُ: إِنَّمَا هُوَ مَنْزِلٌ مِنْ مَنَازِلِكَ»

“Kemudian ia masuk ke Jannah, hingga ketika telah dekat dengan manusia, ditampakkanlah untuknya sebuah istana dari mutiara, maka ia pun tersungkur bersujud. Dikatakan kepadanya: ‘Angkatlah kepalamu, ada apa denganmu?’ Ia menjawab: ‘Aku telah melihat Robb-ku, atau Robb-ku telah menampakkan diri kepadaku.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Itu hanyalah salah satu tempat tinggal dari tempat-tempat tinggalmu.” (HSR. Ath-Thobaroni no. 9763)

 

[17] Pertemuan Dengan Sang Khozin (Penjaga Istana)

Kejutan demi kejutan berlanjut. Ia bertemu dengan sosok yang sangat gagah dan rupawan, yang ia kira adalah Malaikat tingkat tinggi, namun ternyata hanyalah salah satu pelayannya.

«قَالَ: ثُمَّ يَلْقَى رَجُلًا فَيَتَهَيَّأُ لِلسُّجُودِ لَهُ، فَيُقَالَ لَهُ: مَا لَكَ؟، فَيَقُولُ: رَأَيْتُ أَنَّكَ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، فَيَقُولُ: إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ مِنْ خُزَّانِكَ، عَبْدٌ مِنْ عَبِيدِكَ، تَحْتَ يَدِي أَلْفُ قَهْرَمَانٍ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ»

“Kemudian ia bertemu dengan seorang lelaki lalu ia bersiap-siap untuk sujud kepadanya. Maka dikatakan kepadanya: ‘Ada apa denganmu?’ Ia menjawab: ‘Aku melihat bahwa engkau adalah Malaikat dari para Malaikat.’ Lelaki itu menjawab: ‘Sungguh aku hanyalah seorang penjaga dari para penjagamu, seorang hamba dari para hambamu, di bawah kekuasaanku ada 1.000 pelayan yang kedudukannya semisal denganku.” (HSR. Ath-Thobaroni no. 9763)

Dari Abdulloh bin ‘Amr (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

«إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً مَنْ يَسْعَى عَلَيْهِ أَلْفُ خَادِمٍ، كُلُّ خَادِمٍ عَلَى عَمَلٍ مَا عَلَيْهِ صَاحِبُهُ» وَتَلَا هَذِهِ الْآية: ﴿وَيَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُؤْلُؤًا مَنْثُورًا

“Sungguh penduduk Jannah yang paling rendah kedudukannya adalah orang yang dilayani oleh 1000 pelayan, yang mana setiap pelayan memiliki tugas yang berbeda dengan pelayan lainnya.” Kemudian beliau membaca ayat ini: “Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan menyangka mereka mutiara yang bertaburan.” (QS. Al-Insan: 19) (HSR. Hanad bin As-Sari dalam Az-Zuhd; Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 3705)

 

[18] Keajaiban Arsitektur Jannah

Istananya adalah keajaiban yang tak terlukiskan. Dibangun dari satu mutiara utuh yang berongga, dengan cahaya warna-warni yang menembus setiap ruangannya.

«قَالَ: فَيَنْطَلِقُ أَمَامَهُ حَتَّى يَفْتَحَ لَهُ الْقَصْرَ، وَهُوَ فِي دُرَّةٍ مُجَوَّفَةٍ، سَقَائِفُهَا وَأَبْوَابُهَا وَأَغْلاقُهَا وَمَفَاتِيحُهَا مِنْهَا، تَسْتَقْبِلُهُ جَوْهَرَةٌ خَضْرَاءُ مُبَطَّنَةٌ بِحَمْرَاءَ، كُلُّ جَوْهَرَةٍ تُفْضِي إِلَى جَوْهَرَةٍ عَلَى غَيْرِ لَوْنِ الْأُخْرَى»

“Maka pelayan itu berjalan di depannya hingga membukakan istana untuknya, dan istana itu berada dalam mutiara yang berongga; atapnya, pintu-pintunya, kunci-kuncinya, serta anak kuncinya berasal dari mutiara itu sendiri. Ia disambut oleh permata hijau yang dilapisi warna merah, setiap permata menembus ke permata lainnya dengan warna yang berbeda-beda.” (HR. Ath-Thobaroni no. 9763)

 

[19] Kecantikan Hurun ‘In (Bidadari) Yang Sempurna

Di dalam kemewahan itu, telah menanti pendamping hidup yang kecantikannya membuat mata tak sanggup berkedip. Transparansi kecantikan mereka adalah tanda kesucian dan kelembutan yang mutlak.

«فِي كُلِّ جَوْهَرَةٍ سُرَرٌ وَأَزْوَاجٌ، وَوَصَائِفُ أَدْنَاهُنَّ حَوْرَاءُ عَيْنَاءُ عَلَيْهَا سَبْعُونَ حُلَّةً يَرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ حُلَلِهَا كَبِدُهَا مِرْآتُهُ، وَكَبِدُهُ مِرْآتُهَا»

“Di setiap kamar permata terdapat ranjang-ranjang, istri-istri, dan pelayan-pelayan wanita. Yang paling rendah di antara mereka adalah Bidadari yang putih bersih matanya lagi lebar (Hauroo ‘Ainaa), ia memakai 70 lapis pakaian, sumsum tulang betisnya dapat terlihat dari balik pakaian-pakaiannya (ini menggambarkan betapa bening dan indahnya—Ibnu Hajar). Hatinya menjadi cermin bagi suaminya, dan hati suaminya menjadi cermin baginya.” (HR. Ath-Thobaroni no. 9763)

 

[20] Cinta yang Terus Bertambah

Keindahan di Jannah tidaklah statis. Setiap kali mereka saling memandang, cinta dan kecantikan itu mekar berkali-kali lipat, membuat kebahagiaan mereka selalu terasa baru.

«إِذَا أَعْرَضَ عَنْهَا إِعْرَاضَةً ازْدَادَتْ فِي عَيْنِهِ سَبْعِينَ ضِعْفًا عَمَّا كَانَتْ قَبْلَ ذَلِكَ، وَإِذَا أَعْرَضَتْ عَنْهُ إِعْرَاضَةً ازْدَادَ فِي عَيْنِهَا سَبْعِينَ ضِعْفًا عَمَّا كَانَ قَبْلَ ذَلِكَ، فَيَقُولُ لَهَا: وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتِ فِي عَيْنِي سَبْعِينَ ضِعْفًا، وَتَقُولُ لَهُ: وَأَنْتَ وَاللَّهِ لَقَدِ ازْدَدْتَ فِي عَيْنِي سَبْعِينَ ضِعْفًا»

“Jika ia berpaling darinya sesaat, kecantikan istrinya bertambah 70 kali lipat di matanya dari sebelumnya. Dan jika istrinya berpaling darinya sesaat, ketampanannya bertambah 70 kali lipat di mata istrinya dari sebelumnya. Maka ia berkata: ‘Demi Alloh, sungguh engkau telah bertambah cantik 70 kali lipat di mataku.’ Istrinya pun berkata: ‘Dan engkau, demi Alloh, sungguh telah bertambah tampan 70 kali lipat di mataku.” (HR. Ath-Thobaroni no. 9763)

«فَتَدْخُلُ عَلَيْهِ زَوْجَتَاهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ، فَتَقُولَانِ لَهُ: الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاكَ لَنَا وَأَحْيَانَا لَكَ»

“Maka masuklah dua istrinya dari Bidadari yang bermata indah, keduanya berkata: Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkanmu untuk kami dan menghidupkan kami untukmu.” (HR. Muslim no. 188 dan Ahmad no. 11232)

 

[21] Kekuasaan yang tak Berujung

Puncak dari segalanya adalah ketika ia menyadari betapa luasnya kerajaan yang ia miliki. Meski ia adalah penghuni dengan derajat terendah, kerajaannya melampaui imajinasi raja-raja dunia.

«ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: أَشْرِفْ قَالَ: فَيُشْرِفُ، فَيُقَالُ لَهُ: مُلْكُكَ مَسِيرَةُ مِائَةِ عَامٍ يَنْفُذُهُ بَصَرُهُ فَيَقُولُ: مَا أُعْطِيَ أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُعْطِيتُ وَذَلِكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً»

“Kemudian dikatakan kepadanya: ‘Lihatlah!’ Maka ia pun melihat, lalu dikatakan kepadanya: ‘Kerajaanmu adalah sejauh perjalanan 100 tahun yang dapat dijangkau oleh pandangan matamu.’ Maka ia pun berkata: ‘Tidak ada seorang pun yang diberi sebagaimana pemberian yang diberikan kepadaku. Padahal, itulah penduduk Jannah yang paling rendah kedudukannya.” (HSR. Ath-Thobaroni no. 9763, Al-Bukhori, dan Muslim no. 186, 188)

Dari Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh bersabda:

«لَوْ طَافَ بِأَحَدِهِمْ أَهْلُ الدُّنْيَا لَأَطْعَمَهُمْ وَسَقَاهُمْ وَفَرَشَهُمْ وَزَوَّجَهُمْ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدَهُ»

“Seandainya salah seorang dari mereka menjamu seluruh penduduk dunia, niscaya dia mampu memberi mereka makan, memberi mereka minum, memberi mereka selimut, dan menikahkan mereka, tanpa hal itu mengurangi miliknya sedikit pun.” (HSR. Ibnu Hibban no. 7428)

Inilah kisah seorang lelaki yang merangkak dari keputusasaan menuju kemuliaan abadi. Sungguh, Rohmat Alloh itu sangat luas.[NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url