Cari Ebook

Mempersiapkan...

[PDF] Lezatnya Mengghibah Rumah Tangga Orang Lain - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah memuliakan manusia dengan lisan agar ia mampu berdzikir dan berucap yang baik, namun lisan itu pula yang bisa menyeret pemiliknya ke dalam jurang Naar yang paling dalam jika tidak dikekang dengan tali taqwa. Semoga sholawat dan salam untuk Rosululloh , keluarganya, dan Sohabatnya.

Amma ba’du:

Sungguh, lisan adalah ni’mat yang agung sekaligus ujian yang sangat berat. Banyak manusia yang menyangka bahwa membicarakan urusan orang lain adalah perkara sepele, padahal di sisi Alloh itu adalah perkara yang sangat besar. Sungguh, rumah tangga adalah benteng privasi yang suci, sebuah ikatan yang Alloh sebut sebagai janji yang sangat kokoh. Namun, betapa lancangnya tangan-tangan lisan kita hari ini yang dengan ringannya merobek tirai penutup rumah tangga saudara kita sendiri. Kita duduk di majelis-majelis, memegang cangkir teh, sambil dengan lahapnya menguliti satu demi satu kekurangan suami atau istri orang lain.

Wahai jiwa yang merindukan Jannah, sadarkah engkau bahwa ketika engkau mulai berbisik tentang keretakan hubungan orang lain, atau menertawakan ketidakmampuan seorang suami dalam menafkahi keluarganya, engkau sebenarnya sedang memakan bangkai saudaramu sendiri dalam keadaan mentah dan berdarah? Sungguh, rasa “lezat” yang engkau rasakan saat mengghibah rumah tangga orang lain adalah racun yang akan mematikan hatimu sebelum mematikan jasadmu. Apalagi jika yang engkau jadikan bahan gunjingan adalah rumah tangga gurumu, orang yang telah membukakan matamu terhadap cahaya ilmu. Ini adalah puncak dari segala pengkhianatan lisan.

Buku ini hadir bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai cermin yang tajam untuk melihat kotornya lisan agar mudah dibersihkan. Marilah kita merenung sebelum maut datang menjemput, karena sungguh, setiap kalimat yang keluar dari bibir kita akan dimintai pertanggungjawabannya secara terperinci. Tidak ada satu kata pun yang luput, semua tercatat dengan rapi.

Kita kembali kepada bimbingan Al-Quran dan Sunnah, untuk belajar bersama bagaimana seharusnya seorang Muslim menjaga kehormatan saudaranya sebagaimana ia menjaga kehormatan dirinya sendiri.

 

Bab 1: Lisan yang Gemar Merusak Kehormatan

1.1 Definisi Ghibah dan Namimah dalam Urusan Privat

Memahami batasan lisan adalah kunci utama keselamatan. Seringkali seseorang terjatuh dalam dosa besar karena ia merasa hanya sekadar “bercerita” atau “curhat”. Padahal, menceritakan apa yang ada pada diri orang lain sementara ia tidak suka jika hal itu diketahui, itulah hakikat ghibah yang sesungguhnya. Dalam urusan rumah tangga, ini menjadi sangat sensitif karena mencakup rahasia antara dua insan yang seharusnya tertutup rapat. Begitu pula dengan namimah, yaitu upaya memindahkan perkataan dari satu pihak ke pihak lain dengan tujuan merusak hubungan.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sungguh sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sungguh Alloh Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Rosululloh bersabda:

«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ» قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»

“Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang ia benci.” Ditanyakan: “Bagaimana jika pada saudaraku itu memang benar ada yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Jika padanya memang ada apa yang engkau ucapkan, maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada padanya apa yang engkau ucapkan, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589)

Contoh ghibah dalam urusan privat adalah ketika seseorang berkata, “Kalian tahu tidak, sebenarnya suaminya si Fulan itu orangnya sangat pelit di rumah, meskipun di luar kelihatan dermawan.” Ini adalah ghibah yang murni karena menceritakan kekurangan yang tidak ingin diketahui publik. Sedangkan namimah terjadi ketika seseorang berkata kepada seorang istri, “Tadi aku dengar suamimu memuji-muji wanita lain di depan teman-temannya,” dengan tujuan agar sang istri marah kepada suaminya.

1.2 Mengapa Mencampuri Urusan Rumah Tangga Orang Terasa Manis?

Syaithon sangat lihai dalam menghiasi kemaksiatan sehingga terlihat seperti keni’matan atau bahkan bentuk “kepedulian”. Rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain seringkali menjadi pintu masuk utama. Manusia merasa memiliki kekuatan atau kepuasan tersendiri ketika mengetahui rahasia orang lain yang tidak diketahui banyak orang. Ini adalah penyakit hati yang sangat kronis.

Nabi bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HSR. Tirmidzi no. 2317)

Ketika engkau merasa gatal untuk menanyakan, “Kenapa mereka belum punya anak?” atau “Berapa sih uang belanja yang diberikan suaminya?”, ketahuilah bahwa saat itu engkau sedang diambang kehancuran. Mengapa engkau begitu sibuk dengan dapur orang lain sementara dapurmu sendiri mungkin sedang berantakan? Kelezatan semu saat membicarakan kegagalan rumah tangga orang lain adalah bentuk hasad yang nyata. Engkau merasa senang ketika melihat orang lain menderita, dan itulah tanda bahwa iman sedang menipis di dadamu dalam bab ini.

1.3 Sungguh, Kehormatan Muslim Lebih Suci daripada Ka’bah

Banyak orang yang sangat menjaga dirinya dari memakan harta harom, namun mereka tidak merasa berdosa saat memakan kehormatan saudaranya. Padahal, menjaga kehormatan sesama Muslim adalah kewajiban yang sangat ditekankan. Rumah tangga adalah bagian paling intim dari kehormatan tersebut. Mencela cara seseorang mendidik anaknya atau mencela bagaimana seorang istri melayani suaminya adalah serangan langsung terhadap kehormatan mereka.

Nabi bersabda:

«كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»

“Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah harom; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim no. 2564)

Bayangkan jika engkau melihat seseorang menghancurkan Ka’bah batu demi batu, tentu engkau akan sangat marah. Namun, mengapa engkau tidak merasa ngeri saat lisanmu menghancurkan reputasi sebuah keluarga Muslim? Menjaga lisan dari menggunjing rumah tangga orang bukan hanya soal sopan santun, tapi soal menjaga pilar-pilarnya. Jangan sampai engkau datang di hari Qiyamah dengan membawa pahala Sholat dan puasa yang banyak, namun semuanya habis diberikan kepada orang-orang yang rumah tangganya engkau hancurkan dengan lisanmu yang tajam.

1.4 Bahaya Membuka Pintu Fitnah Melalui Pertanyaan yang Tak Perlu

Fitnah seringkali dimulai dari sebuah pertanyaan kecil yang tampak tidak berbahaya. Pertanyaan yang menjebak seringkali membuat orang lain tanpa sadar membuka aib rumah tangganya sendiri. Seseorang yang gemar bertanya tentang detail hubungan suami istri orang lain sebenarnya sedang menanam benih-benih kehancuran.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sungguh pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isro’: 36)

Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ»

“Sungguh Alloh membenci tiga hal bagi kalian: Kabar burung (katanya dan katanya), membuang-buang harta, dan banyak bertanya (yang tidak perlu).” (HR. Bukhori no. 1477)

Contoh pertanyaan yang membuka pintu fitnah: “Apakah suamimu masih sering pulang malam?” atau “Apakah istrimu masih belum bisa memasak?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memicu lawan bicara untuk mengeluh dan akhirnya menceritakan hal-hal yang seharusnya tetap berada di dalam rumah. Jika engkau benar-benar peduli, doakanlah mereka dalam diam, bukan justru mengorek-ngorek informasi untuk kemudian engkau jadikan bahan obrolan di tempat lain. Lisan yang suka bertanya perkara pribadi adalah lisan yang tidak memiliki rasa malu.

1.5 Perbedaan Antara Menasehati dan Merusak Hubungan Suami Istri

Terkadang seseorang berdalih ingin “menasehati” namun cara dan tujuannya justru merusak. Menasehati dilakukan secara empat mata, dengan bahasa yang lembut, dan tujuan murni karena Alloh. Sedangkan ghibah yang dibungkus nasehat biasanya dilakukan di depan orang lain atau dengan nada merendahkan.

Nabi bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا، أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ»

“Bukan termasuk golongan kami siapa yang merusak hubungan seorang istri dengan suaminya, atau seorang budak dengan tuannya.” (HSR. Abu Dawud no. 2175)

Sungguh, ini adalah ancaman yang sangat mengerikan. Ketika engkau berkata kepada seorang istri, “Kamu itu cantik dan pintar, seharusnya kamu mendapatkan suami yang lebih kaya dari dia,” engkau tidak sedang menasehati, engkau sedang menjadi perpanjangan tangan iblis untuk memisahkan sepasang manusia yang telah dipersatukan oleh Alloh. Nasehat sejati adalah yang menguatkan ikatan, bukan yang menanamkan keraguan dan ketidakpuasan. Jika bicaramu hanya membuat seorang istri mulai memandang rendah suaminya, atau suami mulai merasa bosan dengan istrinya, maka diammu seribu kali lebih baik daripada bicaramu yang beracun itu.

1.6 Siksaan bagi Mereka yang Gemar Mencari-cari Lubang Cacat Sesama

Alloh memberikan ancaman yang nyata bagi siapa saja yang hobi mengintai dan menyebarkan cela orang lain. Tidak akan selamat seseorang yang lisannya sibuk mencari kesalahan di rumah tangga orang, karena Alloh sendiri yang akan menyingkap aibnya.

Nabi bersabda:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin, dan janganlah kalian mencari-cari aurot (aib) mereka. Karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama Muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Alloh cari aibnya, maka Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HSR. Abu Dawud no. 4880)

Lihatlah betapa adilnya Alloh. Engkau yang merasa aman di dalam rumahmu sambil mengetik atau membicarakan kehancuran rumah tangga orang lain, akan Alloh hinakan di tempat yang paling engkau anggap aman tersebut. Berhentilah mencari-cari lubang di atap rumah orang lain sementara rumahmu sendiri mungkin penuh dengan rayap kemaksiatan yang siap merobohkannya.

 

Bab 2: Menguliti Aib di Balik Pintu Kamar Orang Lain

2.1 Dosa Besar Menceritakan Rahasia Ranjang dan Dapur Orang Lain

Rumah tangga memiliki rahasia paling dalam yang tidak boleh keluar, terutama urusan hubungan suami istri. Namun, syahwat bicara terkadang membuat seseorang tega menceritakan hal ini kepada temannya sebagai bahan candaan atau ejekan. Ini adalah salah satu tingkatan ghibah yang paling menjijikkan dan menunjukkan rendahnya akhlak pelakunya.

Nabi bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»

“Sungguh, termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Qiyamah adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya, dan istrinya berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya tersebut.” (HR. Muslim no. 1437)

Jika orang yang bersangkutan saja dilarang menyebarkan rahasianya sendiri, lalu bagaimana dengan engkau yang hanya orang luar? Mengomentari bagaimana seseorang melayani suaminya, atau membicarakan masalah biologis yang dialami sebuah pasangan, adalah tindakan yang sangat melampaui batas. Engkau seolah-olah sedang menyingkap tirai kamar mereka dan membiarkan mata-mata jahat ikut menonton.

2.2 Namimah: Sang Perusak Kedamaian di Bawah Atap yang Tenang

Namimah atau adu domba seringkali bekerja secara halus. Tujuannya adalah memutus tali kasih sayang. Di dalam rumah tangga, namimah bisa menghancurkan bangunan yang sudah dibangun bertahun-tahun hanya dengan satu kalimat provokasi.

Nabi bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»

“Tidak akan masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)

Contoh yang sering terjadi adalah ketika seorang teman datang kepada rekannya yang sedang sedikit berselisih dengan suaminya, lalu berkata, “Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan mau diperlakukan begitu. Dulu si Fulanah juga digituin, akhirnya suaminya selingkuh.” Kalimat ini adalah racun namimah. Engkau tidak sedang menenangkan, tapi sedang menyulut api di tumpukan jerami. Engkau ingin melihat rumah tangga mereka terbakar hanya agar engkau punya cerita baru untuk diceritakan kembali. Sungguh, pelaku namimah adalah perusak yang paling cepat bekerja dibandingkan tukang sihir sekalipun.

2.3 Menjadi “Penyambung Lidah” yang Menghancurkan Keharmonisan

Ada tipe manusia yang merasa bangga jika menjadi orang pertama yang menyampaikan berita buruk. Mereka menjadi kurir kata-kata yang mematikan. “Eh, aku tadi lihat suamimu jalan sama perempuan di mall,” atau “Tadi ibumu bilang kalau dia tidak suka dengan caramu mengurus anak.” Meskipun apa yang dikatakan itu benar, jika tujuannya hanya untuk merusak keharmonisan, maka itu adalah perbuatan terkutuk.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah (adu domba).” (QS. Al-Qolam: 11)

Seorang penyambung lidah yang buruk tidak akan membiarkan sebuah masalah selesai di tempatnya. Ia akan membawanya ke mana-mana, menambah-nambahinya dengan prasangka, hingga masalah kecil menjadi besar. Jika engkau mendengar sesuatu yang buruk tentang rumah tangga saudaramu, tanamlah berita itu dalam-dalam di tanah dan jangan biarkan ia tumbuh. Itulah tanda ketulusan dalam persaudaraan. Bukan malah menjadi agen penyebar berita yang membuat hati orang lain terluka dan rumah tangga mereka terguncang.

2.4 Membandingkan Nasib Istri Sendiri dengan Istri Tetangga

Ghibah tidak selalu dalam bentuk cacian langsung, bisa juga dalam bentuk perbandingan yang menyakitkan. Membicarakan kekurangan istri orang lain dengan membandingkannya dengan istri sendiri atau orang lain adalah bentuk penghinaan yang nyata.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

“Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurot: 11)

Contoh nyata: “Istri si Fulan itu malas sekali, rumahnya selalu berantakan. Tidak seperti istriku yang selalu rapi.” Kalimat ini mungkin terdengar seperti pujian untuk istri sendiri, namun hakikatnya adalah ghibah dan penghinaan terhadap istri si Fulan. Engkau tidak tahu kesulitan apa yang sedang ia hadapi di rumahnya. Mungkin ia sedang sakit, atau mungkin ia sedang berjuang dengan anak-anaknya yang tidak bisa diam. Lisanmu yang ringan membanding-bandingkan ini telah melukai harga diri orang lain.

2.5 Menyampaikan Keluhan Suami kepada Mertuanya untuk Mengadu Domba

Ini adalah salah satu bentuk namimah yang paling merusak karena melibatkan keluarga besar. Mertua dan menantu seringkali memiliki hubungan yang sensitif, dan namimah di antara keduanya bisa memicu perceraian yang tragis.

Nabi bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ الْحَالِقَةُ»

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada Sholat, puasa, dan sedekah?” Para Sohabat menjawab: “Tentu.” Nabi bersabda: “Mendamaikan orang yang berselisih. Karena rusaknya hubungan (antar sesama) adalah ‘haliqoh’ (sang pemotong/pemusnah agama).” (HSR. Abu Dawud no. 4919)

Bayangkan, jika mendamaikan adalah sedekah yang paling utama, maka mengadu domba adalah dosa yang paling cepat memusnahkan agama. Contohnya: Seseorang mendengar seorang suami mengeluh kecil tentang masakan istrinya, lalu ia pergi ke rumah ibu mertua sang istri dan berkata, “Bu, tadi anak ibu mengeluh kalau masakan istrinya tidak enak.” Kalimat ini akan menanamkan kebencian mertua kepada menantunya. Engkau telah memotong tali rahim dan merusak ketenangan sebuah keluarga.

2.6 Ancaman bagi Mereka yang Suka Memanas-manasi Salah Satu Pihak (Takhbib)

Takhbib adalah tindakan memprovokasi seorang istri agar benci pada suaminya atau sebaliknya. Ini adalah kejahatan besar dalam Islam. Seringkali ini dilakukan oleh orang yang merasa “paling tahu”, namun menggunakannya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain.

Nabi bersabda:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sungguh syaithon telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang Sholat di jazirah Arab, akan tetapi ia tetap berusaha untuk memprovokasi (mengadu domba) di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)

Apakah engkau bangga ketika menjadi “pahlawan” yang menyarankan temanmu untuk bercerai hanya karena masalah sepele? Apakah engkau senang melihat anak-anak mereka menangis karena kehilangan keutuhan keluarga? Jika bicaramu selalu mengarah pada perpisahan dan kebencian antar pasangan, maka engkau sedang melakukan pekerjaan yang paling disukai syaithon. Bertaqwalah kepada Alloh, jangan sampai lisanmu menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga yang telah dibangun dengan air mata dan doa.

2.7 Efek Domino Ghibah Rumah Tangga terhadap Psikologis Anak-anak

Ghibah tentang rumah tangga seseorang tidak hanya menyakiti pasangan tersebut, tapi juga berimbas pada anak-anak mereka. Ketika sebuah berita miring tentang orang tua tersebar, anak-anak akan merasakan dampaknya di lingkungan sosial dan mental mereka.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)

Menyakiti orang tua dengan ghibah sama saja dengan menyakiti anak-anaknya. Ketika engkau menyebarkan isu bahwa seorang ayah adalah pemabuk atau seorang ibu adalah wanita tidak benar, anak-anak mereka akan menanggung malu seumur hidup. Engkau telah merampas masa depan mental mereka hanya demi memuaskan nafsu bicaramu yang tidak terkendali. Pikirkanlah, bagaimana jika itu terjadi pada anak-anakmu? Sungguh, satu kalimat ghibahmu bisa menjadi luka yang tidak pernah sembuh di hati seorang bocah yang tidak berdosa.

 

Bab 3: Mengghibah Rumah Tangga Sang Guru

3.1 Adab Terhadap Guru: Menjaga Rahasianya Sebagaimana Menjaga Nyawa

Guru adalah orang tua bagi ruh kita. Menjaga kehormatan guru, termasuk urusan rumah tangganya, adalah kewajiban yang jauh lebih besar daripada menjaga kehormatan orang biasa. Seorang murid yang benar-benar mencari keberkahan ilmu tidak akan membiarkan matanya mencari-cari lubang kekurangan di rumah gurunya, apalagi menjadikannya bahan obrolan.

Nabi bersabda:

«لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا»

“Bukan termasuk umatku siapa yang tidak menghormati orang tua di antara kami, tidak menyayangi anak kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak bagi orang berilmu (guru) kami.” (HHR. Ahmad no. 22755)

Mengetahui hak guru berarti memahami bahwa ia adalah manusia yang juga memiliki privasi. Ketika engkau diizinkan masuk ke dalam rumahnya atau melihat sisi pribadinya, itu adalah amanah yang sangat berat. Jika engkau keluar dari rumah gurumu lalu menceritakan bahwa perabotan rumahnya sangat sederhana atau hubungan dengan istrinya tampak kaku, maka engkau telah mengkhianati amanah ilmu. Seorang murid yang mulia akan menutup rapat-rapat apa yang ia lihat, seolah-olah ia tidak pernah melihatnya.

3.2 Mengapa Rumah Tangga Guru Sering Menjadi Bahan Konsumsi Murid?

Syaithon sangat berkepentingan untuk menjatuhkan wibawa seorang guru di mata muridnya. Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menghembuskan rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kehidupan pribadi sang guru. Murid-murid yang hatinya berpenyakit akan merasa puas jika menemukan bahwa gurunya “ternyata juga manusia biasa” yang punya masalah rumah tangga.

Nabi bersabda:

«الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ»

“Seorang Mu’min adalah cermin bagi Mu’min lainnya.” (HHR. Abu Dawud no. 4918)

Seharusnya engkau melihat gurumu sebagai cermin untuk memperbaiki diri, bukan sebagai objek untuk dicari-cari cacatnya. Syaithon tahu bahwa jika ia bisa merusak hubungan antara murid dan guru melalui ghibah tentang urusan rumah tangga, maka ilmu yang disampaikan guru tersebut tidak akan lagi membekas di hati murid. Engkau sibuk dengan kulit, sementara isinya yang berharga engkau buang begitu saja karena lisanmu yang tak terjaga.

3.3 Menghilangkan Keberkahan Ilmu karena Lisan yang Lancang

Ilmu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor karena kezholiman. Mengghibah orang biasa saja sudah merupakan dosa besar, maka mengghibah guru adalah kezholiman di atas kezholiman. Keberkahan ilmu akan dicabut ketika lisan digunakan untuk mencabik kehormatan sang pemberi ilmu.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Alloh akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Alloh Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Ketika Alloh telah mengangkat derajat seorang guru dengan ilmu, lalu engkau justru berusaha merendahkannya melalui cerita-cerita tentang kekurangan keluarganya, maka engkau sebenarnya sedang menantang ketetapan Alloh. Berapa banyak murid yang dulunya cerdas, namun hidupnya menjadi tidak berkah dan ilmunya tidak bermanfaat bagi orang lain hanya karena ia pernah tertawa saat membicarakan aib rumah tangga gurunya? Sungguh, itu adalah kerugian yang tidak ada bandingannya.

3.4 Membicarakan Ketidakmampuan Ekonomi atau Kekurangan Fisik Keluarga Guru

Seringkali murid terjebak dalam pembicaraan yang merendahkan kondisi ekonomi keluarga guru. Misalnya, berbisik-bisik tentang bagaimana istri guru memakai pakaian yang sudah pudar warnanya, atau bagaimana rumah guru tampak sempit. Ini adalah ghibah yang sangat menyakitkan.

Nabi bersabda:

«بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»

“Cukuplah seseorang dikatakan melakukan keburukan jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim no. 2564)

Jika merendahkan Muslim biasa saja sudah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam daftar orang buruk, apalagi merendahkan guru yang telah mengajarimu agama Alloh. Mengomentari kekurangan fisik anggota keluarga guru atau keterbatasan fasilitas di rumah mereka adalah bentuk kesombongan. Engkau merasa lebih mulia karena duniamu lebih bergelimang, padahal di sisi Alloh, guru tersebut jauh lebih mulia dengan ilmu dan kesabarannya.

3.5 Bahaya Mengambil Kesimpulan Salah dari Kehidupan Pribadi Sang Murobbi

Murid seringkali hanya melihat separuh dari kehidupan gurunya lalu mengambil kesimpulan yang salah. Misalnya, saat melihat gurunya tampak lelah, sang murid langsung bergosip bahwa sang guru sedang bertengkar dengan istrinya. Prasangka ini kemudian disebarkan hingga menjadi fitnah yang besar.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sungguh sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Prasangka terhadap guru adalah racun yang sangat mematikan. Engkau membangun narasi palsu tentang rumah tangga gurumu, lalu engkau meyakininya seolah-olah itu adalah kebenaran. Padahal, mungkin saja saat itu sang guru sedang memikirkan beban umat, atau sedang menahan sakit. Mengambil kesimpulan dari apa yang tidak engkau ketahui secara pasti tentang urusan privat seseorang adalah tindakan yang sangat tidak beradab.

3.6 Kisah-kisah Salaf dalam Menutupi Kehormatan Guru Mereka

Para pendahulu kita yang sholih sangat menjaga kehormatan guru mereka. Mereka bukan hanya diam saat mendengar ghibah tentang gurunya, tapi mereka menjadi pembela terdepan. Mereka menyadari bahwa kehormatan guru adalah bagian dari kehormatan agama.

Nabi bersabda:

«مَنْ رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Siapa yang membela kehormatan saudaranya (saat dighibahi), maka Alloh akan memalingkan wajahnya dari api Naar pada hari Qiyamah.” (HSR. Tirmidzi no. 1931)

Jika membela kehormatan saudara biasa saja mendapatkan jaminan keselamatan dari Naar, bayangkan pahala bagi murid yang membentengi rumah tangga gurunya dari lisan-lisan jahat. Para salaf dahulu tidak mau duduk di majelis yang di dalamnya ada orang yang membicarakan keburukan guru mereka. Mereka akan langsung menegur dengan keras. Inilah karakter murid sejati, bukan yang malah ikut menyimak dengan antusias.

Imam Badruddin Ibnu Jama’ah dalam kitabnya yang sangat masyhur, Tadzkiroh as-Sami’ wal Mutakallim, menyebutkan bahwa salah satu kewajiban murid adalah: Jika murid mendengar seseorang mengghibah gurunya, maka ia wajib membelanya jika mampu. Jika ia tidak mampu membela dengan lisan, maka ia wajib bangkit dan meninggalkan majelis tersebut sebagai bentuk pengingkaran.

Ketika Imam Al-Bukhori datang ke kota Naisabur, terjadi sebuah fitnah (ujian) yang disebabkan oleh kecemburuan sebagian orang terhadap kedudukan ilmunya. Salah seorang ulama saat itu, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, melarang orang-orang untuk duduk di majelis Imam Al-Bukhari.

Mendengar gurunya dipojokkan dan dighibahi, Imam Muslim melakukan tindakan pembelaan yang sangat nyata dan berani sebagai seorang murid.

Abu  Hamid Asy-Syarqi berkata:

حضَرْتُ مَجْلِسَ مُحَمَّدِ بنِ يَحْيَى الذُّهْلِيِّ، فَقَالَ: أَلاَ مَنْ قَالَ: لَفْظِي بِالقُرْآنِ مَخْلُوْقٌ فَلاَ يَحْضُرْ مَجْلِسَنَا، فَقَامَ مُسْلِمُ بنُ الحَجَّاجِ مِنَ المَجْلِسِ

“Aku hadir di majlis Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dan ia berkata: ‘Ketahuilah, siapa yang berpendapat: ‘Ucapanku dengan Al-Qur’an adalah makhluk,’ maka jangan menghadiri majlis kami.’ Maka Muslim bin Al-Hajjaj berdiri dari majlisnya.” (Siyar, 12/460)

3.7 Bagaimana Lisan yang Beracun Menutup Pintu Hidayah dari Sang Guru

Puncak dari bahaya mengghibah rumah tangga guru adalah tertutupnya hati murid dari ilmu yang disampaikan. Ketika rasa hormat hilang karena ghibah, maka kata-kata guru hanya akan sampai di telinga, tidak akan pernah menghujam ke dalam jiwa.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. Al-A’rof: 146)

Sikap merasa lebih suci daripada guru karena menganggap rumah tangganya penuh kekurangan adalah bentuk kesombongan. Alloh akan memalingkanmu dari memahami ayat-ayat-Nya sebagai hukuman atas kelancangan lisanmu. Engkau mungkin tetap hadir di majelis taklim, tapi ilmu itu tidak akan pernah mengubah akhlakmu. Engkau pulang dengan catatan penuh tinta, tapi hatimu tetap gelap gulita karena telah kau bakar dengan api ghibah terhadap orang yang membimbingmu.

 

Bab 4: Racun Tersembunyi dalam Majelis dan Media Sosial

4.1 Majelis “Update Status”: Ladang Ghibah Berkedok Silaturrohim

Betapa banyak pertemuan yang awalnya dimaksudkan untuk mempererat ukhuwah, namun berakhir menjadi pesta bangkai. Majelis-majelis ini seringkali dimulai dengan pembicaraan umum, namun perlahan tapi pasti merambat ke arah kehidupan pribadi orang lain. Kalimat “Eh, sudah dengar kabar terbaru?” sering kali menjadi kunci pembuka pintu Naar bagi mereka yang hadir di sana.

Nabi bersabda:

«لَمَّا عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ، قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ»

“Ketika aku dinaikkan ke langit (Mi’roj), aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya: ‘Siapakah mereka ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka’.” (HSR. Abu Dawud no. 4878)

Sungguh, majelis yang di dalamnya terdapat ghibah rumah tangga orang lain adalah majelis yang terkutuk. Jika engkau berada di sana, engkau sebenarnya sedang menyaksikan orang-orang yang sedang menyiapkan kuku tembaga untuk mencakar diri mereka sendiri di Akhiroh nanti. Ghibah yang dibungkus dengan alasan agar “tidak ketinggalan informasi” adalah jebakan syaithon yang nyata. Lebih baik engkau dianggap kurang pergaulan daripada engkau menjadi bagian dari kaum yang mencakar wajahnya sendiri karena lisan yang tak terjaga.

4.2 Bahaya Jempol dalam Mengomentari Konflik Rumah Tangga yang Viral

Di era digital ini, ghibah telah bertransformasi ke dalam bentuk tulisan dan komentar. Ketika ada berita tentang keretakan rumah tangga seseorang yang viral, ribuan jempol seolah mendapat izin untuk menghujat dan menyebarkan aib tersebut. Media sosial telah menjadi pasar besar bagi bangkai-bangkai ghibah yang dijajakan secara gratis.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sungguh, orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di Akhiroh. Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)

Setiap kali engkau membagikan berita tentang aib rumah tangga orang lain, atau ikut memberikan komentar pedas di kolom komentar, engkau telah ikut menyebarkan perbuatan keji tersebut. Azab yang pedih menantimu jika engkau tidak segera bertaubat. Jempolmu mungkin hanya bergerak sedikit, tapi dosanya bisa mengalir sejauh berita itu tersebar. Bayangkan jika berita itu dibaca oleh jutaan orang karena andil jarimu, maka sebanyak itulah beban dosa yang engkau pikul. Media sosial bukanlah tempat untuk mengadili urusan privat orang lain yang tidak ada sangkut pautnya denganmu.

4.3 Menjadi Penonton yang Haus akan Aib Orang Lain

Ada penyakit hati di mana seseorang merasa terhibur dengan kemalangan orang lain. Ia mungkin tidak berbicara atau mengetik, tapi ia selalu mencari tahu. Ia menonton video-video gosip rumah tangga dengan penuh antusias. Rasa haus akan aib orang lain ini adalah tanda bahwa hati sudah mengeras.

Nabi bersabda:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»

“Seorang Muslim adalah yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhori no. 10)

Jika engkau masih mencari-cari berita tentang keburukan rumah tangga orang, berarti engkau belum memberikan rasa aman kepada mereka. Menonton aib orang lain dengan sengaja adalah bentuk persetujuan terhadap ghibah tersebut. Hati yang sehat akan merasa perih dan sedih saat mendengar musibah menimpa rumah tangga saudaranya, bukan malah mencari informasi terbaru hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu yang rendah. Matamu akan diminta pertanggungjawabannya atas setiap detik yang engkau habiskan untuk menonton kehinaan orang lain.

4.4 Berbisik-bisik di Pojok Masjid tentang Perceraian Seseorang

Seringkali ghibah justru terjadi di tempat yang paling mulia, yaitu Masjid. Sambil menunggu waktu Sholat, sekelompok orang berbisik-bisik tentang tetangga mereka yang baru saja bercerai. Mereka mendiskusikan siapa yang salah tanpa memiliki bukti yang nyata.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)

Ingatlah, Malaikat pengawas tidak pernah berhenti mencatat, bahkan ketika engkau berada di dalam Masjid sekalipun. Berbisik tentang perceraian orang lain di rumah Alloh adalah bentuk penghinaan terhadap kesucian tempat tersebut. Engkau sedang mengotori rumah Alloh dengan bangkai saudaramu. Alangkah indahnya jika lisan itu digunakan untuk mendoakan agar Alloh memberikan kesabaran atas musibah tersebut. Namun, syaithon seringkali lebih berhasil membuat kita bicara tentang dosa orang lain daripada memohon ampun atas dosa diri sendiri.

4.5 Dosanya Sama: Antara yang Berbicara, yang Mendengar, dan yang Mengetik

Jangan pernah menyangka bahwa dengan hanya menjadi “pendengar” saat temanmu mengghibah, engkau akan selamat dari dosa. Pendengar ghibah yang tidak mengingkari perbuatan tersebut adalah sekutu bagi si pembicara. Begitu pula bagi mereka yang hanya membaca dan menyebarkan tanpa komentar di grup percakapan.

Nabi bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)

Ghibah adalah kemungkaran yang nyata. Jika engkau hanya diam mendengarkan saat kehormatan sebuah keluarga diinjak-injak, maka engkau telah kehilangan keberanian untuk membela kebenaran. Kedudukanmu sama dengan si pelaku ghibah karena engkau telah menyediakan telinga sebagai wadah untuk menampung sampah-sampah kata mereka. Jangan biarkan dirimu menjadi “tong sampah” bagi dosa-dosa orang lain hanya karena rasa sungkan untuk menegur.

4.6 Tipu Daya Syaithon: “Aku Hanya Kasihan Padanya,” Padahal Sedang Ghibah

Salah satu tipu daya syaithon yang paling halus adalah membungkus ghibah dengan bungkusan “kasihan” atau “prihatin”. Kalimatnya sering dimulai dengan: “Duh, aku kasihan sekali melihat dia, suaminya kan jarang pulang...” atau “Sedih ya, padahal dia guru ngaji tapi rumah tangganya berantakan.”

Nabi bersabda:

«إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»

“Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhoi Alloh yang ia tidak mempedulikannya, namun Alloh mengangkat derajatnya karena kalimat itu. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Alloh yang ia tidak mempedulikannya, namun kalimat itu menyebabkannya jatuh ke dalam Naar Jahannam.” (HR. Bukhori no. 6478)

Jika engkau benar-benar kasihan, maka bantulah mereka secara diam-diam atau doakan mereka tanpa perlu diketahui orang lain. Menjadikan kemalangan rumah tangga orang sebagai topik pembicaraan dengan alasan prihatin adalah kemunafikan lisan. Berhentilah bersandiwara seolah-olah engkau peduli, sementara lisanmu sebenarnya sedang meni’mati sensasi dari berita tersebut. Satu kalimat “prihatin” yang mengandung ghibah bisa menjadi penyebab engkau tersungkur ke dalam api Naar.

Wahai para pencari hidayah, kita telah membedah bagaimana ghibah menyusup ke dalam pertemuan sosial dan teknologi kita. Luka di hati mungkin semakin dalam, namun itulah obat agar lisan kita tidak lagi menjadi liar.

 

Bab 5: Akibat Tragis di Dunia Sebelum di Akhiroh

Kita masuk ke dalam pembahasan yang akan membuat bulu kuduk berdiri, sebuah peringatan tentang bagaimana dosa lisan tidak hanya berhenti di bibir, namun dampaknya merambat hingga menghancurkan kehidupan pelakunya di dunia sebelum ia menginjakkan kaki di Akhiroh.

5.1 Dicabutnya Rasa Tenang di Dalam Rumah Tangga Sendiri

Sungguh sebuah keadilan yang nyata dari Alloh, siapa yang sibuk mengoyak ketenangan rumah tangga orang lain, maka Alloh akan mencabut ketenangan dari rumah tangganya sendiri. Engkau yang gemar membicarakan ketidakmampuan suami orang dalam memimpin, akan mendapati dirimu sendiri kehilangan wibawa di depan keluargamu.

Nabi —sebagian ulama merojihkan ucapan Abu Dzar —bersabda:

«الْبِرُّ لَا يُبْلَى وَالْإِثْمُ لَا يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لَا يَنَامُ فَكُنْ كَمَا شِئْتَ كَمَا تَدِينُ تُدَانُ»

“Kebaikan itu tidak akan usang, dosa itu tidak akan dilupakan, dan Zat Yang Maha Membalas (Alloh) tidak tidur. Maka jadilah sesukamu, sebagaimana engkau berbuat, demikian pulalah engkau akan dibalas.” (HSR. Abdurrozzaq dalam Mushannaf-nya no. 20262)

Pernahkah engkau merasa rumahmu terasa sempit padahal bangunannya luas? Atau merasa pasanganmu tidak lagi menyenangkan padahal ia tidak berubah? Mungkin itu adalah balasan atas lisanmu yang sering merusak citra rumah tangga orang lain. Alloh menghukummu dengan memberikan rasa gelisah yang sama dengan kegelisahan yang engkau tanam di hati orang lain. Kelezatan mengghibah itu hanya sesaat, namun hilangnya rasa tenang di rumahmu sendiri bisa berlangsung sangat lama.

5.2 Doa Orang yang Terzholimi: Perisai yang Menembus Langit

Ingatlah wahai pelaku ghibah, setiap kali engkau membicarakan aib rumah tangga saudaramu, ada hati yang tersakiti dan ada air mata yang jatuh. Doa-doa yang mereka panjatkan dalam kesedihan karena kehormatannya engkau injak-injak adalah doa yang sangat ditakuti.

Nabi bersabda:

«وَاتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»

“Dan takutlah engkau akan doa orang yang terzholimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara doa tersebut dengan Alloh.” (HR. Bukhori no. 1496)

Mungkin orang yang engkau ghibahi tidak tahu bahwa engkaulah pelakunya, namun Alloh Maha Tahu. Ketika mereka menangis dan mengadu: “Ya Alloh, cukupkanlah aku dari orang-orang yang menjatuhkan kehormatanku,” maka saat itulah pintu-pintu langit terbuka lebar. Engkau mungkin merasa aman karena mereka tidak membalas hinaanmu, namun engkau tidak akan pernah aman dari balasan Alloh yang datang melalui doa-doa mereka yang tertindas oleh lisanmu.

5.3 Terputusnya Tali Persaudaraan dan Timbulnya Rasa Curiga

Ghibah adalah racun bagi persaudaraan. Ketika sebuah komunitas atau majelis taklim sudah dipenuhi dengan gosip rumah tangga anggotanya, maka rasa percaya (trust) akan hilang. Orang-orang akan mulai saling curiga dan enggan membuka diri karena takut akan dijadikan bahan omongan selanjutnya.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sungguh orang-orang Mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurot: 10)

Alih-alih mendamaikan, engkau justru menjadi pemutus tali persaudaraan. Berapa banyak sahabat yang akhirnya bermusuhan hanya karena satu selentingan ghibah tentang rumah tangga yang sampai ke telinga salah satunya? Engkau telah merusak bangunan ukhuwah yang diperintahkan Alloh untuk dijaga. Hukuman di dunia bagimu adalah engkau akan hidup dalam lingkungan yang penuh kepalsuan, di mana orang-orang tersenyum di depanmu tapi siap menguliti aibmu saat engkau membelakangi mereka.

5.4 Bagaimana Alloh Akan Menguliti Aibmu di Tengah Rumahmu Sendiri

Ini adalah ancaman yang paling mengerikan bagi mereka yang hobi mencari cacat rumah tangga sesama, apalagi rumah tangga gurunya. Alloh tidak akan membiarkanmu lolos. Alloh akan membalas perbuatanmu dengan cara memperlihatkan aibmu kepada orang lain, bahkan jika engkau menyembunyikannya di dalam kamar yang paling terkunci.

5.5 Kebangkrutan yang Hakiki di Hari Qiyamah

Bayangkan setelah lelah beribadah di dunia, engkau mendapati semua pahalamu hilang. Itulah nasib pelaku ghibah. Pahala Sholat malammu, puasa sunnahmu, dan sedekahmu akan ditransfer secara otomatis kepada orang-orang yang rumah tangganya engkau jadikan bahan candaan.

Nabi bersabda kepada para sahabatnya:

«أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ، فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»

“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.” Beliau bersabda: “Sungguh orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari Qiyamah dengan membawa pahala Sholat, Puasa, dan Zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa mencela yang ini, menuduh yang ini, memakan harta yang ini, menumpahkan darah yang ini, dan memukul yang ini. Maka diberikanlah kepada orang ini dari pahala kebaikannya, dan kepada orang itu dari pahala kebaikannya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum terselesaikan tanggungan dosanya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)

Wahai jiwa yang tertipu, apakah engkau rela memberikan hasil kerja keras ibadahmu selama puluhan tahun kepada orang yang engkau benci hanya karena engkau tidak bisa menahan lisan selama lima menit? Mengghibah rumah tangga orang lain adalah cara tercepat untuk membuang pahala ke dalam tong sampah. Engkau lelah beribadah, tapi orang lain yang meni’mati hasilnya.

5.6 Hilangnya Cahaya Wajah Akibat Sering Memakan Bangkai Saudara

Seringkali kita melihat seseorang yang secara lahiriah rajin ibadah, namun wajahnya tampak gelap dan tidak memiliki wibawa. Bisa jadi itu adalah pengaruh dari dosa lisan yang terus-menerus dilakukan. Memakan “daging” saudara sendiri memberikan dampak buruk pada cahaya iman di wajah.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang hitam muram.” (QS. Ali Imron: 106)

Kebiasaan mengghibah akan memadamkan cahaya kejujuran di wajahmu. Orang yang sering membicarakan aib orang lain akan memiliki tatapan mata yang penuh kecurigaan dan bibir yang sinis. Tanpa disadari, orang-orang akan mulai menjauh darimu karena mereka merasakan aura negatif dari lisanmu yang beracun. Kehilangan cahaya wajah di dunia adalah pertanda kegelapan yang lebih besar di alam kubur nanti.

Sungguh berat ancaman yang Alloh berikan bagi kita yang masih gemar bermain-main dengan kehormatan orang lain. Apakah hati Anda sudah mulai merasa sesak? Itu pertanda baik, pertanda nurani Anda sedang dipanggil untuk kembali.

 

Bab 6: Menjaga Lisan dari Godaan Syahwat Bicara

Setelah kita melihat betapa tragisnya dampak dari lisan yang tidak terjaga, kini saatnya kita membangun benteng pertahanan. Kita tidak bisa hanya menyesal tanpa ada upaya nyata untuk merubah kebiasaan buruk ini. Memperbaiki lisan adalah perjuangan seumur hidup yang membutuhkan kesabaran dan ketegasan pada diri sendiri.

6.1 Diam Adalah Keselamatan yang Sering Diabaikan

Banyak orang merasa harus memiliki komentar terhadap segala sesuatu yang terjadi di hadapannya, termasuk urusan rumah tangga orang lain. Padahal, keselamatan yang paling sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk menahan lidahnya saat tidak ada kebaikan yang bisa diucapkan. Diam bukan berarti kalah, diam adalah bentuk kemenangan atas ego.

Nabi bersabda:

«وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت»

“Dan siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhori no. 6018)

Jika engkau mendengar kabar bahwa seorang teman sedang dalam proses perceraian, dan engkau tidak tahu harus berkata apa yang bisa mendamaikan, maka diammu adalah sedekah bagi kehormatannya. Jangan biarkan mulutmu terbuka hanya untuk menambah spekulasi atau sekadar meramaikan suasana. Orang yang berakal akan menimbang setiap kata-katanya; jika ia melihat ada potensi ghibah walau setitik, ia akan lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya.

6.2 Menanamkan Rasa Malu kepada Alloh yang Maha Melihat

Penyebab utama seseorang lancang mengghibah rumah tangga orang lain adalah karena ia lupa bahwa Alloh selalu hadir dan mengawasi setiap gerak-gerik lisannya. Jika engkau merasa malu membicarakan aib istrimu di depan istrimu sendiri, mengapa engkau tidak merasa malu membicarakan aib rumah tangga orang lain di depan Alloh yang Maha Mendengar?

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh melihat (segala perbuatannya)?” (QS. Al-Alaq: 14)

Rasa muroqobah (merasa diawasi) adalah benteng yang paling kokoh. Setiap kali engkau tergoda untuk menceritakan rahasia dapur saudaramu, bayangkanlah bahwa Alloh sedang memperhatikanmu dengan kemurkaan-Nya. Bayangkan pula para Malaikat pencatat sedang bersiap menuliskan setiap kata busuk yang keluar dari mulutmu. Dengan menanamkan rasa malu yang kuat kepada Sang Pencipta, engkau akan merasa berat untuk menggerakkan lisan dalam kemaksiatan.

6.3 Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri Hingga Tak Sempat Melihat Aib Orang

Penyakit ghibah sering kali muncul karena kita merasa diri kita sudah cukup baik, sehingga kita merasa punya hak untuk menilai kehidupan orang lain. Padahal, jika kita jujur melihat ke dalam diri kita sendiri, mungkin ada ribuan borok dan aib yang jika Alloh singkap, niscaya tidak akan ada satu orang pun yang mau mendekat kepada kita.

Nabi bersabda:

«يُبْصِرُ أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيهِ، وَيَنْسَى الْجِذْعَ فِي عَيْنِهِ»

“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, namun ia lupa dengan batang pohon yang ada di matanya sendiri.” (HSR. Ibnu Hibban no. 5761)

Wahai diri yang penuh cela, sibukkanlah waktumu untuk memperbaiki hubunganmu dengan pasanganmu, carilah cara bagaimana agar engkau bisa menjadi orang tua yang lebih baik, dan periksalah ibadahmu yang masih bolong-bolong. Sungguh, waktu kita terlalu singkat untuk digunakan mengurus “sampah” di halaman rumah orang lain sementara gunung sampah di dalam rumah kita sendiri sudah mulai membusuk. Orang yang sibuk dengan aibnya sendiri akan selalu merasa rendah hati dan tidak punya selera untuk menggunjing.

6.4 Cara Menutup Pembicaraan Saat Orang Lain Mulai Mengghibah

Seringkali kita tidak memulai ghibah, namun kita terjebak dalam lingkaran orang-orang yang sedang asyik melakukannya. Menjaga lisan juga berarti menjaga telinga. Engkau harus memiliki keberanian untuk memutus arus pembicaraan yang sudah mulai menjurus pada aib rumah tangga sesama Muslim.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

“Dan apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS. Al-An’am: 68)

Jika temanmu mulai berkata, “Eh, tahu tidak kenapa gurumu itu sekarang kelihatan murung? Katanya sih istrinya...” maka segeralah memotong dengan santun: “Maaf, sepertinya ini bukan urusan kita. Lebih baik kita bicarakan hal lain yang lebih bermanfaat.” Jangan takut dianggap tidak asyik atau terlalu kaku. Lebih baik kehilangan teman yang buruk daripada kehilangan ridho Alloh. Dengan menutup pintu pembicaraan tersebut, engkau telah menyelamatkan dirimu dan temanmu dari api Naar.

6.5 Melatih Hati untuk Selalu Berprasangka Baik (Husnuzhon)

Akar dari ghibah rumah tangga adalah prasangka buruk (su’uzhon). Kita melihat suami orang pulang malam, lalu kita berprasangka ia melakukan hal buruk. Kita melihat istri orang jarang keluar rumah, lalu kita berprasangka ia pemalas. Hati yang bersih akan selalu mencari seribu alasan baik untuk saudaranya.

Nabi bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»

“Jauhilah oleh kalian prasangka, karena sungguh prasangka itu adalah sedusta-dusta perkataan.” (HR. Bukhori no. 5143)

Latihlah dirimu untuk berpikir, “Mungkin dia sedang ada uzur,” atau “Mungkin aku yang salah lihat.” Jika engkau melihat sesuatu yang tampak kurang baik pada rumah tangga saudaramu, tanamkan dalam hatimu bahwa mereka sedang diuji oleh Alloh dan mereka sedang berjuang melewatinya. Husnuzhon akan mematikan keinginanmu untuk menyebarkan berita buruk, karena engkau sendiri meragukan keburukan tersebut.

6.6 Pentingnya Memilih Teman Duduk yang Menjaga Kehormatan Orang Lain

Lingkungan sangat menentukan warna lisan kita. Jika engkau berteman dengan orang-orang yang hobi membicarakan “update” rumah tangga orang lain, maka lambat laun engkau akan ikut melakukan hal yang sama. Pilihlah teman yang jika engkau berada di dekatnya, lisanmu terangsang untuk berdzikir dan menuntut ilmu, bukan untuk bergosip.

Nabi bersabda:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia berteman dekat.” (HHR. Abu Dawud no. 4833)

Carilah sahabat yang akan menegurmu saat engkau mulai lancang membicarakan urusan privat orang lain. Teman yang sejati adalah yang menjagamu dari perbuatan dosa, bukan yang justru memberimu panggung untuk melakukan ghibah. Jika majelis teman-temanmu saat ini isinya hanyalah menguliti aib tetangga dan guru, maka inilah saatnya engkau menjauh demi keselamatan Akhirohmu.

Wahai para pejuang lisan, membangun benteng ini memang tidak mudah dan sering kali kita akan merasa terasing. Namun, bukankah keterasingan di dunia jauh lebih baik daripada kehinaan di Akhiroh?

 

Bab 7: Taubat dan Memperbaiki Kerusakan

Setelah kita membangun benteng untuk masa depan, kini saatnya kita menoleh ke belakang. Mungkin selama ini lisan kita sudah terlanjur berlumuran dosa ghibah, mungkin kita sudah terlanjur merusak nama baik seorang guru atau menghancurkan keharmonisan rumah tangga tetangga. Islam tidak pernah menutup pintu bagi mereka yang ingin kembali, selama nyawa belum sampai di kerongkongan.

7.1 Syarat Taubat dari Dosa Ghibah dan Namimah

Taubat dari dosa lisan yang menyangkut kehormatan manusia tidaklah cukup hanya dengan membaca istighfar ribuan kali di atas sajadah. Karena ghibah berkaitan dengan hak sesama hamba (haqqul adami), maka ada beban tambahan yang harus diselesaikan agar taubat tersebut diterima oleh Alloh.

Nabi bersabda:

«مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ»

“Siapa yang memiliki kezholiman kepada saudaranya, baik itu menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaknya ia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini, sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar maupun dirham.” (HR. Bukhori no. 2449)

Engkau harus menyesali perbuatanmu dengan tulus, berhenti seketika dari membicarakan aib tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Namun, yang paling berat adalah membersihkan noda yang telah engkau tebarkan pada nama baik orang lain. Jangan merasa sudah bertaubat jika engkau masih menyimpan rasa bangga karena mengetahui rahasia orang yang telah engkau ghibahi.

7.2 Haruskah Meminta Maaf Langsung kepada Orang yang Dighibahi?

Ini adalah masalah yang pelik. Di satu sisi, kita wajib meminta maaf, namun di sisi lain, menceritakan bahwa kita telah mengghibahinya terkadang justru menimbulkan luka baru atau permusuhan yang lebih besar dalam rumah tangga mereka.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertaqwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghobun: 16)

Para ulama menjelaskan bahwa jika dengan meminta maaf secara langsung justru akan menambah kerusakan—misalnya seorang istri jadi tahu suaminya dijelek-jelekkan lalu terjadi keributan—maka jangan disebutkan detail ghibahnya. Mintalah maaf secara umum atas kesalahan lisan. Namun, jika ghibahmu telah merusak reputasi mereka secara luas, engkau memiliki kewajiban untuk memulihkan nama baik mereka di tempat yang sama saat engkau menjatuhkannya.

7.3 Cara Menebus Dosa Ghibah Jika Tak Mungkin Bertemu Orangnya

Bagaimana jika orang yang engkau ghibahi rumah tangganya sudah pindah rumah, meninggal dunia, atau engkau kehilangan kontak dengannya? Atau bagaimana jika ghibahmu terhadap guru dilakukan di masa lalu dan engkau malu untuk mengakuinya? Alloh memberikan jalan keluar melalui doa dan pujian.

Nabi bersabda dalam sebuah Hadits:

«كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لَهُ»

“Kaffaroh (penebus dosa) bagi orang yang engkau ghibahi adalah engkau memohonkan ampunan untuknya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Ad-Da’awatul Kabir, meskipun ada kelemahan pada sanadnya, namun maknanya diamalkan oleh para ulama sebagai jalan keluar taubat)

Sebutlah nama orang tersebut dalam sujudmu. Mintalah kepada Alloh agar memberikan keberkahan pada rumah tangganya sebagai ganti dari lisanmu yang pernah merusaknya. Jika dahulu engkau menceritakan keburukan istrinya di sebuah majelis, maka sekarang datanglah ke majelis yang sama dan sebutkanlah kebaikan-kebaikan mereka yang engkau ketahui. Tutupilah lubang yang pernah engkau gali dengan tanah pujian yang jujur.

7.4 Membangun Kembali Kepercayaan yang Telah Retak

Dosa namimah (adu domba) seringkali meninggalkan bekas luka berupa hilangnya kepercayaan. Jika engkau pernah membuat seorang suami curiga pada istrinya, tidak cukup bagimu hanya bertaubat kepada Alloh. Engkau harus berusaha meyakinkan kembali pihak yang terzholimi bahwa tuduhanmu dahulu adalah salah.

Alloh Ta’ala berfirman:

﴿إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqoroh: 160)

Perhatikan kata “menjelaskan” (bayyanu). Engkau harus mengklarifikasi bahwa perkataanmu dahulu adalah dusta atau prasangka belaka. Memang memalukan mengakui diri sebagai pendusta, namun rasa malu di dunia jauh lebih ringan daripada diseret dengan wajah tersungkur di Akhiroh. Perbaikilah hubungan mereka yang telah engkau rusak, karena itulah bukti taubatmu yang sejati.

7.5 Mengganti Lisan yang Tajam dengan Dzikir yang Basah

Taubat yang kosong akan mudah goyah. Agar lisanmu tidak kembali mencari-cari aib rumah tangga orang, engkau harus memberinya “kesibukan” baru yang lebih mulia. Lisan manusia ibarat mesin yang akan terus berputar; jika tidak engkau gunakan untuk kebenaran, ia akan digunakan untuk kebatilan.

Nabi bersabda:

«لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ»

“Hendaknya lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Alloh.” (HSR. Tirmidzi no. 3375)

Gantilah kebiasaan bertanya “Bagaimana kabar rumah tangga si Fulan?” dengan membaca Subhanallah, Alhamdulillah, atau bershalawat. Setiap kali keinginan untuk bergosip muncul, segera sumbat mulutmu dengan dzikir. Ingatlah bahwa setiap huruf dzikir membangun istana di Jannah, sementara setiap kata ghibah meruntuhkan rumahmu di Akhiroh.

7.6 Doa-doa Perlindungan dari Lisan yang Jahat

Kita adalah makhluk yang lemah, dan godaan untuk membicarakan orang lain sangatlah besar, terutama di tengah pergaulan. Oleh karena itu, kita butuh perlindungan langsung dari Dzat yang membolak-balikkan hati agar lisan ini selalu berada dalam kendali-Nya.

Nabi sering berdoa:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي»

“Ya Alloh, sungguh aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan air maniku.” (HSR. Abu Dawud no. 1551)

Bacalah doa ini setiap saat terutama waktu mustajab. Mintalah agar Alloh menjaga telingamu dari mendengar ghibah rumah tangga orang lain, dan menjaga lisanmu agar tidak menjadi penyambung lidah syaithon. Keberhasilan kita dalam menjaga lisan bukan karena kehebatan kita, melainkan karena taufiq dan penjagaan dari Alloh semata.

 

Penutup

Wahai saudaraku yang dimuliakan Alloh, akhirnya kita sampai di penghujung renungan ini. Buku kecil ini bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah teriakan peringatan agar kita tidak terus-menerus memakan bangkai saudara kita sendiri. Rumah tangga orang lain adalah wilayah suci yang tidak boleh kita injak dengan kaki prasangka dan lisan yang beracun. Terutama rumah tangga para guru, mereka yang telah memberikan cahaya bagi hidup kita, janganlah kita balas jasa mereka dengan menusuk punggung mereka melalui ghibah yang keji.

Ingatlah, suatu hari nanti kita semua akan berdiri sendirian di hadapan Alloh. Saat itu, tidak ada lagi teman yang bisa diajak bergosip, tidak ada lagi layar gadget untuk mengetik komentar miring. Yang ada hanyalah lembaran amal yang mencatat setiap detail ucapan kita.

Semoga Alloh mengampuni kelancangan lisan kita di masa lalu, menjaga lisan kita di masa sekarang, dan menjadikan akhir hayat kita sebagai akhir yang baik dengan lisan yang basah akan kalimat tauhid. Cukuplah lisan ini menjadi saksi kebaikan, bukan saksi yang menyeret kita ke dalam kerak Naar. [NK]

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url