[PDF] Lezatnya Mengghibah Rumah Tangga Orang Lain - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh yang telah memuliakan manusia dengan lisan agar ia mampu berdzikir
dan berucap yang baik, namun lisan itu pula yang bisa menyeret pemiliknya ke
dalam jurang Naar yang paling dalam jika tidak dikekang dengan tali taqwa. Semoga
sholawat dan salam untuk Rosululloh ﷺ,
keluarganya, dan Sohabatnya.
Amma
ba’du:
Sungguh,
lisan adalah ni’mat yang agung sekaligus ujian yang sangat berat. Banyak
manusia yang menyangka bahwa membicarakan urusan orang lain adalah perkara
sepele, padahal di sisi Alloh itu adalah perkara yang sangat besar. Sungguh,
rumah tangga adalah benteng privasi yang suci, sebuah ikatan yang Alloh sebut
sebagai janji yang sangat kokoh. Namun, betapa lancangnya tangan-tangan lisan
kita hari ini yang dengan ringannya merobek tirai penutup rumah tangga saudara
kita sendiri. Kita duduk di majelis-majelis, memegang cangkir teh, sambil
dengan lahapnya menguliti satu demi satu kekurangan suami atau istri orang
lain.
Wahai jiwa
yang merindukan Jannah, sadarkah engkau bahwa ketika engkau mulai berbisik
tentang keretakan hubungan orang lain, atau menertawakan ketidakmampuan seorang
suami dalam menafkahi keluarganya, engkau sebenarnya sedang memakan bangkai
saudaramu sendiri dalam keadaan mentah dan berdarah? Sungguh, rasa “lezat” yang
engkau rasakan saat mengghibah rumah tangga orang lain adalah racun yang
akan mematikan hatimu sebelum mematikan jasadmu. Apalagi jika yang engkau
jadikan bahan gunjingan adalah rumah tangga gurumu, orang yang telah membukakan
matamu terhadap cahaya ilmu. Ini adalah puncak dari segala pengkhianatan lisan.
Buku ini
hadir bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai cermin yang tajam untuk melihat
kotornya lisan agar mudah dibersihkan. Marilah kita merenung sebelum maut
datang menjemput, karena sungguh, setiap kalimat yang keluar dari bibir kita
akan dimintai pertanggungjawabannya secara terperinci. Tidak ada satu kata pun
yang luput, semua tercatat dengan rapi.
Kita
kembali kepada bimbingan Al-Quran dan Sunnah, untuk belajar bersama bagaimana
seharusnya seorang Muslim menjaga kehormatan saudaranya sebagaimana ia menjaga
kehormatan dirinya sendiri.
Bab 1: Lisan yang Gemar Merusak
Kehormatan
1.1
Definisi Ghibah dan Namimah dalam Urusan Privat
Memahami
batasan lisan adalah kunci utama keselamatan. Seringkali seseorang terjatuh
dalam dosa besar karena ia merasa hanya sekadar “bercerita” atau “curhat”.
Padahal, menceritakan apa yang ada pada diri orang lain sementara ia tidak suka
jika hal itu diketahui, itulah hakikat ghibah yang sesungguhnya. Dalam
urusan rumah tangga, ini menjadi sangat sensitif karena mencakup rahasia antara
dua insan yang seharusnya tertutup rapat. Begitu pula dengan namimah,
yaitu upaya memindahkan perkataan dari satu pihak ke pihak lain dengan tujuan
merusak hubungan.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ
بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ
يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sungguh sebagian
prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di
antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu
merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sungguh Alloh Maha
Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَتَدْرُونَ
مَا الْغِيبَةُ؟» قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا
يَكْرَهُ» قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ قَالَ: «إِنْ كَانَ
فِيهِ مَا تَقُولُ، فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ»
“Tahukah
kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab: “Alloh dan Rasul-Nya lebih
mengetahui.” Beliau bersabda: “Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada
saudaramu yang ia benci.” Ditanyakan: “Bagaimana jika pada saudaraku itu memang
benar ada yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Jika padanya memang ada apa yang
engkau ucapkan, maka engkau telah mengghibahnya. Dan jika tidak ada
padanya apa yang engkau ucapkan, maka engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim
no. 2589)
Contoh ghibah
dalam urusan privat adalah ketika seseorang berkata, “Kalian tahu tidak,
sebenarnya suaminya si Fulan itu orangnya sangat pelit di rumah, meskipun di
luar kelihatan dermawan.” Ini adalah ghibah yang murni karena
menceritakan kekurangan yang tidak ingin diketahui publik. Sedangkan namimah
terjadi ketika seseorang berkata kepada seorang istri, “Tadi aku dengar
suamimu memuji-muji wanita lain di depan teman-temannya,” dengan tujuan
agar sang istri marah kepada suaminya.
1.2
Mengapa Mencampuri Urusan Rumah Tangga Orang Terasa Manis?
Syaithon
sangat lihai dalam menghiasi kemaksiatan sehingga terlihat seperti keni’matan
atau bahkan bentuk “kepedulian”. Rasa ingin tahu terhadap urusan orang lain
seringkali menjadi pintu masuk utama. Manusia merasa memiliki kekuatan atau
kepuasan tersendiri ketika mengetahui rahasia orang lain yang tidak diketahui
banyak orang. Ini adalah penyakit hati yang sangat kronis.
Nabi ﷺ bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak
bermanfaat baginya.” (HSR. Tirmidzi no. 2317)
Ketika
engkau merasa gatal untuk menanyakan, “Kenapa mereka belum punya anak?”
atau “Berapa sih uang belanja yang diberikan suaminya?”, ketahuilah
bahwa saat itu engkau sedang diambang kehancuran. Mengapa engkau begitu sibuk
dengan dapur orang lain sementara dapurmu sendiri mungkin sedang berantakan?
Kelezatan semu saat membicarakan kegagalan rumah tangga orang lain adalah
bentuk hasad yang nyata. Engkau merasa senang ketika melihat orang lain
menderita, dan itulah tanda bahwa iman sedang menipis di dadamu dalam bab ini.
1.3
Sungguh, Kehormatan Muslim Lebih Suci daripada Ka’bah
Banyak
orang yang sangat menjaga dirinya dari memakan harta harom, namun mereka tidak
merasa berdosa saat memakan kehormatan saudaranya. Padahal, menjaga kehormatan
sesama Muslim adalah kewajiban yang sangat ditekankan. Rumah tangga adalah
bagian paling intim dari kehormatan tersebut. Mencela cara seseorang mendidik
anaknya atau mencela bagaimana seorang istri melayani suaminya adalah serangan
langsung terhadap kehormatan mereka.
Nabi ﷺ bersabda:
«كُلُّ
الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»
“Setiap Muslim
atas Muslim lainnya adalah harom; darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR.
Muslim no. 2564)
Bayangkan
jika engkau melihat seseorang menghancurkan Ka’bah batu demi batu, tentu engkau
akan sangat marah. Namun, mengapa engkau tidak merasa ngeri saat lisanmu
menghancurkan reputasi sebuah keluarga Muslim? Menjaga lisan dari menggunjing
rumah tangga orang bukan hanya soal sopan santun, tapi soal menjaga
pilar-pilarnya. Jangan sampai engkau datang di hari Qiyamah dengan membawa
pahala Sholat dan puasa yang banyak, namun semuanya habis diberikan kepada
orang-orang yang rumah tangganya engkau hancurkan dengan lisanmu yang tajam.
1.4
Bahaya Membuka Pintu Fitnah Melalui Pertanyaan yang Tak Perlu
Fitnah
seringkali dimulai dari sebuah pertanyaan kecil yang tampak tidak berbahaya.
Pertanyaan yang menjebak seringkali membuat orang lain tanpa sadar membuka aib
rumah tangganya sendiri. Seseorang yang gemar bertanya tentang detail hubungan
suami istri orang lain sebenarnya sedang menanam benih-benih kehancuran.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sungguh pendengaran,
penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS.
Al-Isro’: 36)
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ»
“Sungguh Alloh
membenci tiga hal bagi kalian: Kabar burung (katanya dan katanya),
membuang-buang harta, dan banyak bertanya (yang tidak perlu).” (HR. Bukhori
no. 1477)
Contoh
pertanyaan yang membuka pintu fitnah: “Apakah suamimu masih sering pulang
malam?” atau “Apakah istrimu masih belum bisa memasak?”.
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini memicu lawan bicara untuk mengeluh dan
akhirnya menceritakan hal-hal yang seharusnya tetap berada di dalam rumah. Jika
engkau benar-benar peduli, doakanlah mereka dalam diam, bukan justru
mengorek-ngorek informasi untuk kemudian engkau jadikan bahan obrolan di tempat
lain. Lisan yang suka bertanya perkara pribadi adalah lisan yang tidak memiliki
rasa malu.
1.5
Perbedaan Antara Menasehati dan Merusak Hubungan Suami Istri
Terkadang
seseorang berdalih ingin “menasehati” namun cara dan tujuannya justru merusak.
Menasehati dilakukan secara empat mata, dengan bahasa yang lembut, dan tujuan
murni karena Alloh. Sedangkan ghibah yang dibungkus nasehat biasanya
dilakukan di depan orang lain atau dengan nada merendahkan.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
مِنَّا مَنْ خَبَّبَ امْرَأَةً عَلَى زَوْجِهَا، أَوْ عَبْدًا عَلَى سَيِّدِهِ»
“Bukan
termasuk golongan kami siapa yang merusak hubungan seorang istri dengan
suaminya, atau seorang budak dengan tuannya.” (HSR. Abu Dawud no. 2175)
Sungguh,
ini adalah ancaman yang sangat mengerikan. Ketika engkau berkata kepada seorang
istri, “Kamu itu cantik dan pintar, seharusnya kamu mendapatkan suami yang
lebih kaya dari dia,” engkau tidak sedang menasehati, engkau sedang menjadi
perpanjangan tangan iblis untuk memisahkan sepasang manusia yang telah
dipersatukan oleh Alloh. Nasehat sejati adalah yang menguatkan ikatan, bukan
yang menanamkan keraguan dan ketidakpuasan. Jika bicaramu hanya membuat seorang
istri mulai memandang rendah suaminya, atau suami mulai merasa bosan dengan
istrinya, maka diammu seribu kali lebih baik daripada bicaramu yang beracun
itu.
1.6
Siksaan bagi Mereka yang Gemar Mencari-cari Lubang Cacat Sesama
Alloh
memberikan ancaman yang nyata bagi siapa saja yang hobi mengintai dan
menyebarkan cela orang lain. Tidak akan selamat seseorang yang lisannya sibuk
mencari kesalahan di rumah tangga orang, karena Alloh sendiri yang akan
menyingkap aibnya.
Nabi ﷺ bersabda:
«يَا
مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا
الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ
يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي
بَيْتِهِ»
“Wahai
sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman belum masuk ke dalam
hatinya! Janganlah kalian mengghibah kaum Muslimin, dan janganlah kalian
mencari-cari aurot (aib) mereka. Karena siapa yang mencari-cari aib saudaranya
sesama Muslim, maka Alloh akan mencari-cari aibnya. Dan siapa yang Alloh cari
aibnya, maka Alloh akan membongkarnya meskipun ia berada di dalam rumahnya.” (HSR.
Abu Dawud no. 4880)
Lihatlah
betapa adilnya Alloh. Engkau yang merasa aman di dalam rumahmu sambil mengetik
atau membicarakan kehancuran rumah tangga orang lain, akan Alloh hinakan di
tempat yang paling engkau anggap aman tersebut. Berhentilah mencari-cari lubang
di atap rumah orang lain sementara rumahmu sendiri mungkin penuh dengan rayap
kemaksiatan yang siap merobohkannya.
Bab 2: Menguliti Aib di Balik
Pintu Kamar Orang Lain
2.1
Dosa Besar Menceritakan Rahasia Ranjang dan Dapur Orang Lain
Rumah
tangga memiliki rahasia paling dalam yang tidak boleh keluar, terutama urusan
hubungan suami istri. Namun, syahwat bicara terkadang membuat seseorang tega
menceritakan hal ini kepada temannya sebagai bahan candaan atau ejekan. Ini
adalah salah satu tingkatan ghibah yang paling menjijikkan dan
menunjukkan rendahnya akhlak pelakunya.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي
إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا»
“Sungguh,
termasuk manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Alloh pada hari Qiyamah
adalah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istrinya, dan istrinya
berhubungan dengannya, kemudian ia menyebarkan rahasia istrinya tersebut.” (HR.
Muslim no. 1437)
Jika orang
yang bersangkutan saja dilarang menyebarkan rahasianya sendiri, lalu bagaimana
dengan engkau yang hanya orang luar? Mengomentari bagaimana seseorang melayani
suaminya, atau membicarakan masalah biologis yang dialami sebuah pasangan,
adalah tindakan yang sangat melampaui batas. Engkau seolah-olah sedang
menyingkap tirai kamar mereka dan membiarkan mata-mata jahat ikut menonton.
2.2
Namimah: Sang Perusak Kedamaian di Bawah Atap yang Tenang
Namimah atau adu domba seringkali bekerja
secara halus. Tujuannya adalah memutus tali kasih sayang. Di dalam rumah
tangga, namimah bisa menghancurkan bangunan yang sudah dibangun
bertahun-tahun hanya dengan satu kalimat provokasi.
Nabi ﷺ bersabda:
«لاَ
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ»
“Tidak akan
masuk Jannah orang yang suka mengadu domba.” (HR. Muslim no. 105)
Contoh yang
sering terjadi adalah ketika seorang teman datang kepada rekannya yang sedang
sedikit berselisih dengan suaminya, lalu berkata, “Kalau aku jadi kamu, aku
tidak akan mau diperlakukan begitu. Dulu si Fulanah juga digituin, akhirnya
suaminya selingkuh.” Kalimat ini adalah racun namimah. Engkau tidak
sedang menenangkan, tapi sedang menyulut api di tumpukan jerami. Engkau ingin
melihat rumah tangga mereka terbakar hanya agar engkau punya cerita baru untuk
diceritakan kembali. Sungguh, pelaku namimah adalah perusak yang paling
cepat bekerja dibandingkan tukang sihir sekalipun.
2.3
Menjadi “Penyambung Lidah” yang Menghancurkan Keharmonisan
Ada tipe
manusia yang merasa bangga jika menjadi orang pertama yang menyampaikan berita
buruk. Mereka menjadi kurir kata-kata yang mematikan. “Eh, aku tadi lihat
suamimu jalan sama perempuan di mall,” atau “Tadi ibumu bilang kalau dia
tidak suka dengan caramu mengurus anak.” Meskipun apa yang dikatakan itu
benar, jika tujuannya hanya untuk merusak keharmonisan, maka itu adalah
perbuatan terkutuk.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿هَمَّازٍ
مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ﴾
“Yang
banyak mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah (adu domba).” (QS. Al-Qolam:
11)
Seorang
penyambung lidah yang buruk tidak akan membiarkan sebuah masalah selesai di
tempatnya. Ia akan membawanya ke mana-mana, menambah-nambahinya dengan
prasangka, hingga masalah kecil menjadi besar. Jika engkau mendengar sesuatu
yang buruk tentang rumah tangga saudaramu, tanamlah berita itu dalam-dalam di
tanah dan jangan biarkan ia tumbuh. Itulah tanda ketulusan dalam persaudaraan.
Bukan malah menjadi agen penyebar berita yang membuat hati orang lain terluka
dan rumah tangga mereka terguncang.
2.4
Membandingkan Nasib Istri Sendiri dengan Istri Tetangga
Ghibah tidak selalu dalam bentuk cacian
langsung, bisa juga dalam bentuk perbandingan yang menyakitkan. Membicarakan
kekurangan istri orang lain dengan membandingkannya dengan istri sendiri atau
orang lain adalah bentuk penghinaan yang nyata.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ
مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ﴾
“Janganlah
suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang
diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula
perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi
perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang
mengolok-olok).” (QS. Al-Hujurot: 11)
Contoh
nyata: “Istri si Fulan itu malas sekali, rumahnya selalu berantakan. Tidak
seperti istriku yang selalu rapi.” Kalimat ini mungkin terdengar seperti
pujian untuk istri sendiri, namun hakikatnya adalah ghibah dan
penghinaan terhadap istri si Fulan. Engkau tidak tahu kesulitan apa yang sedang
ia hadapi di rumahnya. Mungkin ia sedang sakit, atau mungkin ia sedang berjuang
dengan anak-anaknya yang tidak bisa diam. Lisanmu yang ringan
membanding-bandingkan ini telah melukai harga diri orang lain.
2.5
Menyampaikan Keluhan Suami kepada Mertuanya untuk Mengadu Domba
Ini adalah
salah satu bentuk namimah yang paling merusak karena melibatkan keluarga
besar. Mertua dan menantu seringkali memiliki hubungan yang sensitif, dan namimah
di antara keduanya bisa memicu perceraian yang tragis.
Nabi ﷺ bersabda:
«أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟» قَالُوا:
بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ، وَفَسَادُ ذَاتِ الْبَيْنِ
الْحَالِقَةُ»
“Maukah aku
beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang derajatnya lebih utama daripada Sholat,
puasa, dan sedekah?” Para Sohabat menjawab: “Tentu.” Nabi ﷺ bersabda:
“Mendamaikan orang yang berselisih. Karena rusaknya hubungan (antar sesama)
adalah ‘haliqoh’ (sang pemotong/pemusnah agama).” (HSR. Abu Dawud no.
4919)
Bayangkan,
jika mendamaikan adalah sedekah yang paling utama, maka mengadu domba adalah
dosa yang paling cepat memusnahkan agama. Contohnya: Seseorang mendengar
seorang suami mengeluh kecil tentang masakan istrinya, lalu ia pergi ke rumah
ibu mertua sang istri dan berkata, “Bu, tadi anak ibu mengeluh kalau masakan
istrinya tidak enak.” Kalimat ini akan menanamkan kebencian mertua kepada
menantunya. Engkau telah memotong tali rahim dan merusak ketenangan sebuah
keluarga.
2.6
Ancaman bagi Mereka yang Suka Memanas-manasi Salah Satu Pihak (Takhbib)
Takhbib adalah tindakan memprovokasi
seorang istri agar benci pada suaminya atau sebaliknya. Ini adalah kejahatan
besar dalam Islam. Seringkali ini dilakukan oleh orang yang merasa “paling tahu”,
namun menggunakannya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ،
وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»
“Sungguh syaithon
telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang Sholat di jazirah Arab,
akan tetapi ia tetap berusaha untuk memprovokasi (mengadu domba) di antara
mereka.” (HR. Muslim no. 2812)
Apakah
engkau bangga ketika menjadi “pahlawan” yang menyarankan temanmu untuk bercerai
hanya karena masalah sepele? Apakah engkau senang melihat anak-anak mereka
menangis karena kehilangan keutuhan keluarga? Jika bicaramu selalu mengarah
pada perpisahan dan kebencian antar pasangan, maka engkau sedang melakukan
pekerjaan yang paling disukai syaithon. Bertaqwalah kepada Alloh, jangan sampai
lisanmu menjadi penyebab runtuhnya rumah tangga yang telah dibangun dengan air
mata dan doa.
2.7
Efek Domino Ghibah Rumah Tangga terhadap Psikologis Anak-anak
Ghibah tentang rumah tangga seseorang
tidak hanya menyakiti pasangan tersebut, tapi juga berimbas pada anak-anak
mereka. Ketika sebuah berita miring tentang orang tua tersebar, anak-anak akan
merasakan dampaknya di lingkungan sosial dan mental mereka.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَالَّذِينَ
يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا
بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا﴾
“Dan
orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mu’min laki-laki dan perempuan
tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul
kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58)
Menyakiti
orang tua dengan ghibah sama saja dengan menyakiti anak-anaknya. Ketika
engkau menyebarkan isu bahwa seorang ayah adalah pemabuk atau seorang ibu
adalah wanita tidak benar, anak-anak mereka akan menanggung malu seumur hidup.
Engkau telah merampas masa depan mental mereka hanya demi memuaskan nafsu
bicaramu yang tidak terkendali. Pikirkanlah, bagaimana jika itu terjadi pada
anak-anakmu? Sungguh, satu kalimat ghibahmu bisa menjadi luka yang tidak
pernah sembuh di hati seorang bocah yang tidak berdosa.
Bab 3: Mengghibah Rumah Tangga
Sang Guru
3.1
Adab Terhadap Guru: Menjaga Rahasianya Sebagaimana Menjaga Nyawa
Guru adalah
orang tua bagi ruh kita. Menjaga kehormatan guru, termasuk urusan rumah
tangganya, adalah kewajiban yang jauh lebih besar daripada menjaga kehormatan
orang biasa. Seorang murid yang benar-benar mencari keberkahan ilmu tidak akan
membiarkan matanya mencari-cari lubang kekurangan di rumah gurunya, apalagi
menjadikannya bahan obrolan.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَيْسَ
مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا»
“Bukan
termasuk umatku siapa yang tidak menghormati orang tua di antara kami, tidak
menyayangi anak kecil di antara kami, dan tidak mengetahui hak bagi orang
berilmu (guru) kami.” (HHR. Ahmad no. 22755)
Mengetahui
hak guru berarti memahami bahwa ia adalah manusia yang juga memiliki privasi.
Ketika engkau diizinkan masuk ke dalam rumahnya atau melihat sisi pribadinya,
itu adalah amanah yang sangat berat. Jika engkau keluar dari rumah gurumu lalu
menceritakan bahwa perabotan rumahnya sangat sederhana atau hubungan dengan
istrinya tampak kaku, maka engkau telah mengkhianati amanah ilmu. Seorang murid
yang mulia akan menutup rapat-rapat apa yang ia lihat, seolah-olah ia tidak
pernah melihatnya.
3.2
Mengapa Rumah Tangga Guru Sering Menjadi Bahan Konsumsi Murid?
Syaithon
sangat berkepentingan untuk menjatuhkan wibawa seorang guru di mata muridnya.
Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan menghembuskan rasa ingin tahu
yang berlebihan tentang kehidupan pribadi sang guru. Murid-murid yang hatinya
berpenyakit akan merasa puas jika menemukan bahwa gurunya “ternyata juga
manusia biasa” yang punya masalah rumah tangga.
Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ»
“Seorang
Mu’min adalah cermin bagi Mu’min lainnya.” (HHR. Abu Dawud no. 4918)
Seharusnya
engkau melihat gurumu sebagai cermin untuk memperbaiki diri, bukan sebagai
objek untuk dicari-cari cacatnya. Syaithon tahu bahwa jika ia bisa merusak
hubungan antara murid dan guru melalui ghibah tentang urusan rumah
tangga, maka ilmu yang disampaikan guru tersebut tidak akan lagi membekas di
hati murid. Engkau sibuk dengan kulit, sementara isinya yang berharga engkau
buang begitu saja karena lisanmu yang tak terjaga.
3.3
Menghilangkan Keberkahan Ilmu karena Lisan yang Lancang
Ilmu adalah
cahaya, dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang kotor karena kezholiman.
Mengghibah orang biasa saja sudah merupakan dosa besar, maka mengghibah
guru adalah kezholiman di atas kezholiman. Keberkahan ilmu akan dicabut ketika
lisan digunakan untuk mencabik kehormatan sang pemberi ilmu.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَرْفَعِ
اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh
akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Alloh Maha Teliti terhadap apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ketika Alloh
telah mengangkat derajat seorang guru dengan ilmu, lalu engkau justru berusaha
merendahkannya melalui cerita-cerita tentang kekurangan keluarganya, maka
engkau sebenarnya sedang menantang ketetapan Alloh. Berapa banyak murid yang
dulunya cerdas, namun hidupnya menjadi tidak berkah dan ilmunya tidak
bermanfaat bagi orang lain hanya karena ia pernah tertawa saat membicarakan aib
rumah tangga gurunya? Sungguh, itu adalah kerugian yang tidak ada bandingannya.
3.4
Membicarakan Ketidakmampuan Ekonomi atau Kekurangan Fisik Keluarga Guru
Seringkali
murid terjebak dalam pembicaraan yang merendahkan kondisi ekonomi keluarga
guru. Misalnya, berbisik-bisik tentang bagaimana istri guru memakai pakaian
yang sudah pudar warnanya, atau bagaimana rumah guru tampak sempit. Ini adalah ghibah
yang sangat menyakitkan.
Nabi ﷺ bersabda:
«بِحَسْبِ
امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ»
“Cukuplah
seseorang dikatakan melakukan keburukan jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim no. 2564)
Jika
merendahkan Muslim biasa saja sudah cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam
daftar orang buruk, apalagi merendahkan guru yang telah mengajarimu agama Alloh.
Mengomentari kekurangan fisik anggota keluarga guru atau keterbatasan fasilitas
di rumah mereka adalah bentuk kesombongan. Engkau merasa lebih mulia karena
duniamu lebih bergelimang, padahal di sisi Alloh, guru tersebut jauh lebih
mulia dengan ilmu dan kesabarannya.
3.5
Bahaya Mengambil Kesimpulan Salah dari Kehidupan Pribadi Sang Murobbi
Murid
seringkali hanya melihat separuh dari kehidupan gurunya lalu mengambil
kesimpulan yang salah. Misalnya, saat melihat gurunya tampak lelah, sang murid
langsung bergosip bahwa sang guru sedang bertengkar dengan istrinya. Prasangka
ini kemudian disebarkan hingga menjadi fitnah yang besar.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ
إِثْمٌ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sungguh sebagian
prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Prasangka
terhadap guru adalah racun yang sangat mematikan. Engkau membangun narasi palsu
tentang rumah tangga gurumu, lalu engkau meyakininya seolah-olah itu adalah
kebenaran. Padahal, mungkin saja saat itu sang guru sedang memikirkan beban
umat, atau sedang menahan sakit. Mengambil kesimpulan dari apa yang tidak
engkau ketahui secara pasti tentang urusan privat seseorang adalah tindakan
yang sangat tidak beradab.
3.6
Kisah-kisah Salaf dalam Menutupi Kehormatan Guru Mereka
Para
pendahulu kita yang sholih sangat menjaga kehormatan guru mereka. Mereka bukan
hanya diam saat mendengar ghibah tentang gurunya, tapi mereka menjadi
pembela terdepan. Mereka menyadari bahwa kehormatan guru adalah bagian dari
kehormatan agama.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَدَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيهِ رَدَّ اللَّهُ عَنْ وَجْهِهِ النَّارَ يَوْمَ القِيَامَةِ»
“Siapa yang
membela kehormatan saudaranya (saat dighibahi), maka Alloh akan
memalingkan wajahnya dari api Naar pada hari Qiyamah.” (HSR. Tirmidzi no.
1931)
Jika
membela kehormatan saudara biasa saja mendapatkan jaminan keselamatan dari Naar,
bayangkan pahala bagi murid yang membentengi rumah tangga gurunya dari
lisan-lisan jahat. Para salaf dahulu tidak mau duduk di majelis yang di
dalamnya ada orang yang membicarakan keburukan guru mereka. Mereka akan
langsung menegur dengan keras. Inilah karakter murid sejati, bukan yang malah
ikut menyimak dengan antusias.
Imam Badruddin Ibnu Jama’ah dalam kitabnya yang sangat masyhur, Tadzkiroh
as-Sami’ wal Mutakallim, menyebutkan bahwa salah satu kewajiban murid
adalah: Jika murid mendengar seseorang mengghibah gurunya, maka ia wajib
membelanya jika mampu. Jika ia tidak mampu membela dengan lisan, maka ia wajib
bangkit dan meninggalkan majelis tersebut sebagai bentuk pengingkaran.
Ketika Imam Al-Bukhori datang ke kota Naisabur, terjadi sebuah fitnah
(ujian) yang disebabkan oleh kecemburuan sebagian orang terhadap kedudukan
ilmunya. Salah seorang ulama saat itu, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, melarang
orang-orang untuk duduk di majelis Imam Al-Bukhari.
Mendengar gurunya dipojokkan dan dighibahi, Imam Muslim melakukan
tindakan pembelaan yang sangat nyata dan berani sebagai seorang murid.
Abu Hamid Asy-Syarqi berkata:
حضَرْتُ مَجْلِسَ مُحَمَّدِ بنِ يَحْيَى الذُّهْلِيِّ، فَقَالَ:
أَلاَ مَنْ قَالَ: لَفْظِي بِالقُرْآنِ مَخْلُوْقٌ فَلاَ يَحْضُرْ مَجْلِسَنَا، فَقَامَ
مُسْلِمُ بنُ الحَجَّاجِ مِنَ المَجْلِسِ
“Aku hadir di majlis Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli dan ia
berkata: ‘Ketahuilah, siapa yang berpendapat: ‘Ucapanku dengan Al-Qur’an adalah
makhluk,’ maka jangan menghadiri majlis kami.’ Maka Muslim bin Al-Hajjaj
berdiri dari majlisnya.” (Siyar, 12/460)
3.7
Bagaimana Lisan yang Beracun Menutup Pintu Hidayah dari Sang Guru
Puncak dari
bahaya mengghibah rumah tangga guru adalah tertutupnya hati murid dari
ilmu yang disampaikan. Ketika rasa hormat hilang karena ghibah, maka
kata-kata guru hanya akan sampai di telinga, tidak akan pernah menghujam ke
dalam jiwa.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿سَأَصْرِفُ
عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ﴾
“Aku
akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. Al-A’rof: 146)
Sikap
merasa lebih suci daripada guru karena menganggap rumah tangganya penuh
kekurangan adalah bentuk kesombongan. Alloh akan memalingkanmu dari memahami
ayat-ayat-Nya sebagai hukuman atas kelancangan lisanmu. Engkau mungkin tetap
hadir di majelis taklim, tapi ilmu itu tidak akan pernah mengubah akhlakmu.
Engkau pulang dengan catatan penuh tinta, tapi hatimu tetap gelap gulita karena
telah kau bakar dengan api ghibah terhadap orang yang membimbingmu.
Bab 4: Racun Tersembunyi dalam
Majelis dan Media Sosial
4.1
Majelis “Update Status”: Ladang Ghibah Berkedok Silaturrohim
Betapa
banyak pertemuan yang awalnya dimaksudkan untuk mempererat ukhuwah, namun
berakhir menjadi pesta bangkai. Majelis-majelis ini seringkali dimulai dengan
pembicaraan umum, namun perlahan tapi pasti merambat ke arah kehidupan pribadi
orang lain. Kalimat “Eh, sudah dengar kabar terbaru?” sering kali
menjadi kunci pembuka pintu Naar bagi mereka yang hadir di sana.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَمَّا
عُرِجَ بِي مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمُشُونَ وُجُوهَهُمْ
وَصُدُورَهُمْ، فَقُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ، قَالَ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ
يَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ، وَيَقَعُونَ فِي أَعْرَاضِهِمْ»
“Ketika aku
dinaikkan ke langit (Mi’roj), aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku
dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Aku bertanya: ‘Siapakah
mereka ini, wahai Jibril?’ Jibril menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang
memakan daging manusia (ghibah) dan merusak kehormatan mereka’.” (HSR.
Abu Dawud no. 4878)
Sungguh,
majelis yang di dalamnya terdapat ghibah rumah tangga orang lain adalah
majelis yang terkutuk. Jika engkau berada di sana, engkau sebenarnya sedang
menyaksikan orang-orang yang sedang menyiapkan kuku tembaga untuk mencakar diri
mereka sendiri di Akhiroh nanti. Ghibah yang dibungkus dengan alasan
agar “tidak ketinggalan informasi” adalah jebakan syaithon yang nyata. Lebih
baik engkau dianggap kurang pergaulan daripada engkau menjadi bagian dari kaum
yang mencakar wajahnya sendiri karena lisan yang tak terjaga.
4.2
Bahaya Jempol dalam Mengomentari Konflik Rumah Tangga yang Viral
Di era
digital ini, ghibah telah bertransformasi ke dalam bentuk tulisan dan
komentar. Ketika ada berita tentang keretakan rumah tangga seseorang yang
viral, ribuan jempol seolah mendapat izin untuk menghujat dan menyebarkan aib
tersebut. Media sosial telah menjadi pasar besar bagi bangkai-bangkai ghibah
yang dijajakan secara gratis.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿إِنَّ
الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ
أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
“Sungguh,
orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu tersiar di kalangan
orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di Akhiroh.
Dan Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nur: 19)
Setiap kali
engkau membagikan berita tentang aib rumah tangga orang lain, atau ikut
memberikan komentar pedas di kolom komentar, engkau telah ikut menyebarkan
perbuatan keji tersebut. Azab yang pedih menantimu jika engkau tidak segera
bertaubat. Jempolmu mungkin hanya bergerak sedikit, tapi dosanya bisa mengalir
sejauh berita itu tersebar. Bayangkan jika berita itu dibaca oleh jutaan orang
karena andil jarimu, maka sebanyak itulah beban dosa yang engkau pikul. Media
sosial bukanlah tempat untuk mengadili urusan privat orang lain yang tidak ada
sangkut pautnya denganmu.
4.3
Menjadi Penonton yang Haus akan Aib Orang Lain
Ada
penyakit hati di mana seseorang merasa terhibur dengan kemalangan orang lain.
Ia mungkin tidak berbicara atau mengetik, tapi ia selalu mencari tahu. Ia
menonton video-video gosip rumah tangga dengan penuh antusias. Rasa haus akan
aib orang lain ini adalah tanda bahwa hati sudah mengeras.
Nabi ﷺ bersabda:
«الْمُسْلِمُ
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
“Seorang Muslim
adalah yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR.
Bukhori no. 10)
Jika engkau
masih mencari-cari berita tentang keburukan rumah tangga orang, berarti engkau
belum memberikan rasa aman kepada mereka. Menonton aib orang lain dengan
sengaja adalah bentuk persetujuan terhadap ghibah tersebut. Hati yang
sehat akan merasa perih dan sedih saat mendengar musibah menimpa rumah tangga
saudaranya, bukan malah mencari informasi terbaru hanya untuk memuaskan rasa
ingin tahu yang rendah. Matamu akan diminta pertanggungjawabannya atas setiap
detik yang engkau habiskan untuk menonton kehinaan orang lain.
4.4
Berbisik-bisik di Pojok Masjid tentang Perceraian Seseorang
Seringkali ghibah
justru terjadi di tempat yang paling mulia, yaitu Masjid. Sambil menunggu waktu
Sholat, sekelompok orang berbisik-bisik tentang tetangga mereka yang baru saja
bercerai. Mereka mendiskusikan siapa yang salah tanpa memiliki bukti yang
nyata.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿مَا
يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾
“Tiada
suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas
yang selalu hadir.” (QS. Qof: 18)
Ingatlah, Malaikat
pengawas tidak pernah berhenti mencatat, bahkan ketika engkau berada di dalam Masjid
sekalipun. Berbisik tentang perceraian orang lain di rumah Alloh adalah bentuk
penghinaan terhadap kesucian tempat tersebut. Engkau sedang mengotori rumah Alloh
dengan bangkai saudaramu. Alangkah indahnya jika lisan itu digunakan untuk
mendoakan agar Alloh memberikan kesabaran atas musibah tersebut. Namun, syaithon
seringkali lebih berhasil membuat kita bicara tentang dosa orang lain daripada
memohon ampun atas dosa diri sendiri.
4.5
Dosanya Sama: Antara yang Berbicara, yang Mendengar, dan yang Mengetik
Jangan
pernah menyangka bahwa dengan hanya menjadi “pendengar” saat temanmu mengghibah,
engkau akan selamat dari dosa. Pendengar ghibah yang tidak mengingkari
perbuatan tersebut adalah sekutu bagi si pembicara. Begitu pula bagi mereka
yang hanya membaca dan menyebarkan tanpa komentar di grup percakapan.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ،
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan
tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka
dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim no. 49)
Ghibah adalah kemungkaran yang nyata. Jika
engkau hanya diam mendengarkan saat kehormatan sebuah keluarga diinjak-injak,
maka engkau telah kehilangan keberanian untuk membela kebenaran. Kedudukanmu
sama dengan si pelaku ghibah karena engkau telah menyediakan telinga
sebagai wadah untuk menampung sampah-sampah kata mereka. Jangan biarkan dirimu
menjadi “tong sampah” bagi dosa-dosa orang lain hanya karena rasa sungkan untuk
menegur.
4.6
Tipu Daya Syaithon: “Aku Hanya Kasihan Padanya,” Padahal Sedang Ghibah
Salah satu
tipu daya syaithon yang paling halus adalah membungkus ghibah dengan
bungkusan “kasihan” atau “prihatin”. Kalimatnya sering dimulai dengan: “Duh,
aku kasihan sekali melihat dia, suaminya kan jarang pulang...” atau “Sedih
ya, padahal dia guru ngaji tapi rumah tangganya berantakan.”
Nabi ﷺ bersabda:
«إِنَّ
العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا،
يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ
مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ»
“Sungguh
seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhoi Alloh yang ia tidak
mempedulikannya, namun Alloh mengangkat derajatnya karena kalimat itu. Dan
sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Alloh yang ia
tidak mempedulikannya, namun kalimat itu menyebabkannya jatuh ke dalam Naar
Jahannam.” (HR. Bukhori no. 6478)
Jika engkau
benar-benar kasihan, maka bantulah mereka secara diam-diam atau doakan mereka
tanpa perlu diketahui orang lain. Menjadikan kemalangan rumah tangga orang
sebagai topik pembicaraan dengan alasan prihatin adalah kemunafikan lisan.
Berhentilah bersandiwara seolah-olah engkau peduli, sementara lisanmu
sebenarnya sedang meni’mati sensasi dari berita tersebut. Satu kalimat “prihatin”
yang mengandung ghibah bisa menjadi penyebab engkau tersungkur ke dalam
api Naar.
Wahai para
pencari hidayah, kita telah membedah bagaimana ghibah menyusup ke dalam
pertemuan sosial dan teknologi kita. Luka di hati mungkin semakin dalam, namun
itulah obat agar lisan kita tidak lagi menjadi liar.
Bab 5: Akibat Tragis di Dunia
Sebelum di Akhiroh
Kita masuk ke dalam pembahasan yang akan membuat bulu kuduk berdiri,
sebuah peringatan tentang bagaimana dosa lisan tidak hanya berhenti di bibir,
namun dampaknya merambat hingga menghancurkan kehidupan pelakunya di dunia
sebelum ia menginjakkan kaki di Akhiroh.
5.1
Dicabutnya Rasa Tenang di Dalam Rumah Tangga Sendiri
Sungguh
sebuah keadilan yang nyata dari Alloh, siapa yang sibuk mengoyak ketenangan
rumah tangga orang lain, maka Alloh akan mencabut ketenangan dari rumah
tangganya sendiri. Engkau yang gemar membicarakan ketidakmampuan suami orang
dalam memimpin, akan mendapati dirimu sendiri kehilangan wibawa di depan
keluargamu.
Nabi ﷺ —sebagian
ulama merojihkan ucapan Abu Dzar —bersabda:
«الْبِرُّ
لَا يُبْلَى وَالْإِثْمُ لَا يُنْسَى وَالدَّيَّانُ لَا يَنَامُ فَكُنْ كَمَا شِئْتَ
كَمَا تَدِينُ تُدَانُ»
“Kebaikan
itu tidak akan usang, dosa itu tidak akan dilupakan, dan Zat Yang Maha Membalas
(Alloh) tidak tidur. Maka jadilah sesukamu, sebagaimana engkau berbuat,
demikian pulalah engkau akan dibalas.” (HSR. Abdurrozzaq dalam Mushannaf-nya
no. 20262)
Pernahkah
engkau merasa rumahmu terasa sempit padahal bangunannya luas? Atau merasa
pasanganmu tidak lagi menyenangkan padahal ia tidak berubah? Mungkin itu adalah
balasan atas lisanmu yang sering merusak citra rumah tangga orang lain. Alloh
menghukummu dengan memberikan rasa gelisah yang sama dengan kegelisahan yang
engkau tanam di hati orang lain. Kelezatan mengghibah itu hanya sesaat,
namun hilangnya rasa tenang di rumahmu sendiri bisa berlangsung sangat lama.
5.2
Doa Orang yang Terzholimi: Perisai yang Menembus Langit
Ingatlah
wahai pelaku ghibah, setiap kali engkau membicarakan aib rumah tangga
saudaramu, ada hati yang tersakiti dan ada air mata yang jatuh. Doa-doa yang
mereka panjatkan dalam kesedihan karena kehormatannya engkau injak-injak adalah
doa yang sangat ditakuti.
Nabi ﷺ bersabda:
«وَاتَّقِ
دَعْوَةَ المَظْلُومِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»
“Dan
takutlah engkau akan doa orang yang terzholimi, karena sungguh tidak ada
penghalang antara doa tersebut dengan Alloh.” (HR. Bukhori no. 1496)
Mungkin
orang yang engkau ghibahi tidak tahu bahwa engkaulah pelakunya, namun Alloh
Maha Tahu. Ketika mereka menangis dan mengadu: “Ya Alloh, cukupkanlah aku dari
orang-orang yang menjatuhkan kehormatanku,” maka saat itulah pintu-pintu
langit terbuka lebar. Engkau mungkin merasa aman karena mereka tidak membalas
hinaanmu, namun engkau tidak akan pernah aman dari balasan Alloh yang datang
melalui doa-doa mereka yang tertindas oleh lisanmu.
5.3
Terputusnya Tali Persaudaraan dan Timbulnya Rasa Curiga
Ghibah
adalah racun bagi persaudaraan. Ketika sebuah komunitas atau majelis taklim
sudah dipenuhi dengan gosip rumah tangga anggotanya, maka rasa percaya (trust)
akan hilang. Orang-orang akan mulai saling curiga dan enggan membuka diri
karena takut akan dijadikan bahan omongan selanjutnya.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ﴾
“Sungguh
orang-orang Mu’min itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Alloh agar kamu mendapat
rahmat.” (QS. Al-Hujurot: 10)
Alih-alih
mendamaikan, engkau justru menjadi pemutus tali persaudaraan. Berapa banyak
sahabat yang akhirnya bermusuhan hanya karena satu selentingan ghibah
tentang rumah tangga yang sampai ke telinga salah satunya? Engkau telah merusak
bangunan ukhuwah yang diperintahkan Alloh untuk dijaga. Hukuman di dunia bagimu
adalah engkau akan hidup dalam lingkungan yang penuh kepalsuan, di mana
orang-orang tersenyum di depanmu tapi siap menguliti aibmu saat engkau
membelakangi mereka.
5.4
Bagaimana Alloh Akan Menguliti Aibmu di Tengah Rumahmu Sendiri
Ini adalah
ancaman yang paling mengerikan bagi mereka yang hobi mencari cacat rumah tangga
sesama, apalagi rumah tangga gurunya. Alloh tidak akan membiarkanmu lolos. Alloh
akan membalas perbuatanmu dengan cara memperlihatkan aibmu kepada orang lain,
bahkan jika engkau menyembunyikannya di dalam kamar yang paling terkunci.
5.5
Kebangkrutan yang Hakiki di Hari Qiyamah
Bayangkan
setelah lelah beribadah di dunia, engkau mendapati semua pahalamu hilang.
Itulah nasib pelaku ghibah. Pahala Sholat malammu, puasa sunnahmu, dan
sedekahmu akan ditransfer secara otomatis kepada orang-orang yang rumah
tangganya engkau jadikan bahan candaan.
Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:
«أَتَدْرُونَ
مَا الْمُفْلِسُ؟» قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ،
فَقَالَ: «إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ،
وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ
هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا
مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ
مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ»
“Tahukah
kalian siapakah orang yang bangkrut itu?” Mereka menjawab: “Orang yang bangkrut
di antara kami adalah yang tidak memiliki dirham maupun harta benda.” Beliau
bersabda: “Sungguh orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada hari
Qiyamah dengan membawa pahala Sholat, Puasa, dan Zakat. Namun ia juga datang
dengan membawa dosa mencela yang ini, menuduh yang ini, memakan harta yang ini,
menumpahkan darah yang ini, dan memukul yang ini. Maka diberikanlah kepada
orang ini dari pahala kebaikannya, dan kepada orang itu dari pahala
kebaikannya. Jika pahala kebaikannya telah habis sebelum terselesaikan
tanggungan dosanya, maka diambil dari dosa-dosa mereka lalu ditimpakan kepadanya,
kemudian ia dicampakkan ke dalam Naar.” (HR. Muslim no. 2581)
Wahai jiwa
yang tertipu, apakah engkau rela memberikan hasil kerja keras ibadahmu selama
puluhan tahun kepada orang yang engkau benci hanya karena engkau tidak bisa
menahan lisan selama lima menit? Mengghibah rumah tangga orang lain
adalah cara tercepat untuk membuang pahala ke dalam tong sampah. Engkau lelah
beribadah, tapi orang lain yang meni’mati hasilnya.
5.6
Hilangnya Cahaya Wajah Akibat Sering Memakan Bangkai Saudara
Seringkali
kita melihat seseorang yang secara lahiriah rajin ibadah, namun wajahnya tampak
gelap dan tidak memiliki wibawa. Bisa jadi itu adalah pengaruh dari dosa lisan
yang terus-menerus dilakukan. Memakan “daging” saudara sendiri memberikan
dampak buruk pada cahaya iman di wajah.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿يَوْمَ
تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ﴾
“Pada
hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah-wajah yang
hitam muram.” (QS. Ali Imron: 106)
Kebiasaan mengghibah
akan memadamkan cahaya kejujuran di wajahmu. Orang yang sering membicarakan aib
orang lain akan memiliki tatapan mata yang penuh kecurigaan dan bibir yang
sinis. Tanpa disadari, orang-orang akan mulai menjauh darimu karena mereka
merasakan aura negatif dari lisanmu yang beracun. Kehilangan cahaya wajah di
dunia adalah pertanda kegelapan yang lebih besar di alam kubur nanti.
Sungguh
berat ancaman yang Alloh berikan bagi kita yang masih gemar bermain-main dengan
kehormatan orang lain. Apakah hati Anda sudah mulai merasa sesak? Itu pertanda
baik, pertanda nurani Anda sedang dipanggil untuk kembali.
Bab 6: Menjaga Lisan dari Godaan
Syahwat Bicara
Setelah
kita melihat betapa tragisnya dampak dari lisan yang tidak terjaga, kini
saatnya kita membangun benteng pertahanan. Kita tidak bisa hanya menyesal tanpa
ada upaya nyata untuk merubah kebiasaan buruk ini. Memperbaiki lisan adalah
perjuangan seumur hidup yang membutuhkan kesabaran dan ketegasan pada diri
sendiri.
6.1
Diam Adalah Keselamatan yang Sering Diabaikan
Banyak
orang merasa harus memiliki komentar terhadap segala sesuatu yang terjadi di
hadapannya, termasuk urusan rumah tangga orang lain. Padahal, keselamatan yang
paling sejati terletak pada kemampuan seseorang untuk menahan lidahnya saat
tidak ada kebaikan yang bisa diucapkan. Diam bukan berarti kalah, diam adalah
bentuk kemenangan atas ego.
Nabi ﷺ bersabda:
«وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت»
“Dan siapa
yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik
atau diam.” (HR. Bukhori no. 6018)
Jika engkau
mendengar kabar bahwa seorang teman sedang dalam proses perceraian, dan engkau
tidak tahu harus berkata apa yang bisa mendamaikan, maka diammu adalah sedekah
bagi kehormatannya. Jangan biarkan mulutmu terbuka hanya untuk menambah
spekulasi atau sekadar meramaikan suasana. Orang yang berakal akan menimbang
setiap kata-katanya; jika ia melihat ada potensi ghibah walau setitik,
ia akan lebih memilih untuk menutup rapat mulutnya.
6.2
Menanamkan Rasa Malu kepada Alloh yang Maha Melihat
Penyebab
utama seseorang lancang mengghibah rumah tangga orang lain adalah karena
ia lupa bahwa Alloh selalu hadir dan mengawasi setiap gerak-gerik lisannya.
Jika engkau merasa malu membicarakan aib istrimu di depan istrimu sendiri,
mengapa engkau tidak merasa malu membicarakan aib rumah tangga orang lain di
depan Alloh yang Maha Mendengar?
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿أَلَمْ
يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ﴾
“Tidakkah
dia mengetahui bahwa sesungguhnya Alloh melihat (segala perbuatannya)?” (QS.
Al-Alaq: 14)
Rasa muroqobah
(merasa diawasi) adalah benteng yang paling kokoh. Setiap kali engkau tergoda
untuk menceritakan rahasia dapur saudaramu, bayangkanlah bahwa Alloh sedang
memperhatikanmu dengan kemurkaan-Nya. Bayangkan pula para Malaikat pencatat
sedang bersiap menuliskan setiap kata busuk yang keluar dari mulutmu. Dengan
menanamkan rasa malu yang kuat kepada Sang Pencipta, engkau akan merasa berat
untuk menggerakkan lisan dalam kemaksiatan.
6.3
Menyibukkan Diri dengan Aib Sendiri Hingga Tak Sempat Melihat Aib Orang
Penyakit ghibah
sering kali muncul karena kita merasa diri kita sudah cukup baik, sehingga kita
merasa punya hak untuk menilai kehidupan orang lain. Padahal, jika kita jujur
melihat ke dalam diri kita sendiri, mungkin ada ribuan borok dan aib yang jika Alloh
singkap, niscaya tidak akan ada satu orang pun yang mau mendekat kepada kita.
Nabi ﷺ bersabda:
«يُبْصِرُ
أَحَدُكُمُ الْقَذَاةَ فِي عَيْنِ أَخِيهِ، وَيَنْسَى الْجِذْعَ فِي عَيْنِهِ»
“Salah
seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, namun ia
lupa dengan batang pohon yang ada di matanya sendiri.” (HSR. Ibnu Hibban no.
5761)
Wahai diri
yang penuh cela, sibukkanlah waktumu untuk memperbaiki hubunganmu dengan
pasanganmu, carilah cara bagaimana agar engkau bisa menjadi orang tua yang
lebih baik, dan periksalah ibadahmu yang masih bolong-bolong. Sungguh, waktu
kita terlalu singkat untuk digunakan mengurus “sampah” di halaman rumah orang
lain sementara gunung sampah di dalam rumah kita sendiri sudah mulai membusuk.
Orang yang sibuk dengan aibnya sendiri akan selalu merasa rendah hati dan tidak
punya selera untuk menggunjing.
6.4
Cara Menutup Pembicaraan Saat Orang Lain Mulai Mengghibah
Seringkali
kita tidak memulai ghibah, namun kita terjebak dalam lingkaran
orang-orang yang sedang asyik melakukannya. Menjaga lisan juga berarti menjaga
telinga. Engkau harus memiliki keberanian untuk memutus arus pembicaraan yang
sudah mulai menjurus pada aib rumah tangga sesama Muslim.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿وَإِذَا
رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا
فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ﴾
“Dan
apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS.
Al-An’am: 68)
Jika
temanmu mulai berkata, “Eh, tahu tidak kenapa gurumu itu sekarang kelihatan
murung? Katanya sih istrinya...” maka segeralah memotong dengan santun: “Maaf,
sepertinya ini bukan urusan kita. Lebih baik kita bicarakan hal lain yang lebih
bermanfaat.” Jangan takut dianggap tidak asyik atau terlalu kaku. Lebih
baik kehilangan teman yang buruk daripada kehilangan ridho Alloh. Dengan
menutup pintu pembicaraan tersebut, engkau telah menyelamatkan dirimu dan
temanmu dari api Naar.
6.5
Melatih Hati untuk Selalu Berprasangka Baik (Husnuzhon)
Akar dari ghibah
rumah tangga adalah prasangka buruk (su’uzhon). Kita melihat suami orang
pulang malam, lalu kita berprasangka ia melakukan hal buruk. Kita melihat istri
orang jarang keluar rumah, lalu kita berprasangka ia pemalas. Hati yang bersih
akan selalu mencari seribu alasan baik untuk saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ»
“Jauhilah
oleh kalian prasangka, karena sungguh prasangka itu adalah sedusta-dusta
perkataan.” (HR. Bukhori no. 5143)
Latihlah
dirimu untuk berpikir, “Mungkin dia sedang ada uzur,” atau “Mungkin
aku yang salah lihat.” Jika engkau melihat sesuatu yang tampak kurang baik
pada rumah tangga saudaramu, tanamkan dalam hatimu bahwa mereka sedang diuji
oleh Alloh dan mereka sedang berjuang melewatinya. Husnuzhon akan mematikan
keinginanmu untuk menyebarkan berita buruk, karena engkau sendiri meragukan
keburukan tersebut.
6.6
Pentingnya Memilih Teman Duduk yang Menjaga Kehormatan Orang Lain
Lingkungan
sangat menentukan warna lisan kita. Jika engkau berteman dengan orang-orang
yang hobi membicarakan “update” rumah tangga orang lain, maka lambat laun
engkau akan ikut melakukan hal yang sama. Pilihlah teman yang jika engkau
berada di dekatnya, lisanmu terangsang untuk berdzikir dan menuntut ilmu, bukan
untuk bergosip.
Nabi ﷺ bersabda:
«الرَّجُلُ
عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Seseorang
itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari
kalian melihat dengan siapa ia berteman dekat.” (HHR. Abu Dawud no. 4833)
Carilah
sahabat yang akan menegurmu saat engkau mulai lancang membicarakan urusan
privat orang lain. Teman yang sejati adalah yang menjagamu dari perbuatan dosa,
bukan yang justru memberimu panggung untuk melakukan ghibah. Jika
majelis teman-temanmu saat ini isinya hanyalah menguliti aib tetangga dan guru,
maka inilah saatnya engkau menjauh demi keselamatan Akhirohmu.
Wahai para
pejuang lisan, membangun benteng ini memang tidak mudah dan sering kali kita
akan merasa terasing. Namun, bukankah keterasingan di dunia jauh lebih baik
daripada kehinaan di Akhiroh?
Bab 7: Taubat dan Memperbaiki
Kerusakan
Setelah
kita membangun benteng untuk masa depan, kini saatnya kita menoleh ke belakang.
Mungkin selama ini lisan kita sudah terlanjur berlumuran dosa ghibah, mungkin
kita sudah terlanjur merusak nama baik seorang guru atau menghancurkan
keharmonisan rumah tangga tetangga. Islam tidak pernah menutup pintu bagi
mereka yang ingin kembali, selama nyawa belum sampai di kerongkongan.
7.1
Syarat Taubat dari Dosa Ghibah dan Namimah
Taubat dari
dosa lisan yang menyangkut kehormatan manusia tidaklah cukup hanya dengan
membaca istighfar ribuan kali di atas sajadah. Karena ghibah berkaitan
dengan hak sesama hamba (haqqul adami), maka ada beban tambahan yang
harus diselesaikan agar taubat tersebut diterima oleh Alloh.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ، فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ
اليَوْمَ، قَبْلَ أَنْ لاَ يَكُونَ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ»
“Siapa yang
memiliki kezholiman kepada saudaranya, baik itu menyangkut kehormatannya atau
sesuatu yang lain, maka hendaknya ia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini,
sebelum datang hari di mana tidak ada lagi dinar maupun dirham.” (HR. Bukhori
no. 2449)
Engkau
harus menyesali perbuatanmu dengan tulus, berhenti seketika dari membicarakan
aib tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Namun, yang paling
berat adalah membersihkan noda yang telah engkau tebarkan pada nama baik orang
lain. Jangan merasa sudah bertaubat jika engkau masih menyimpan rasa bangga
karena mengetahui rahasia orang yang telah engkau ghibahi.
7.2
Haruskah Meminta Maaf Langsung kepada Orang yang Dighibahi?
Ini adalah
masalah yang pelik. Di satu sisi, kita wajib meminta maaf, namun di sisi lain,
menceritakan bahwa kita telah mengghibahinya terkadang justru
menimbulkan luka baru atau permusuhan yang lebih besar dalam rumah tangga
mereka.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿فَاتَّقُوا
اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ﴾
“Maka
bertaqwalah kamu kepada Alloh menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghobun: 16)
Para ulama
menjelaskan bahwa jika dengan meminta maaf secara langsung justru akan menambah
kerusakan—misalnya seorang istri jadi tahu suaminya dijelek-jelekkan lalu
terjadi keributan—maka jangan disebutkan detail ghibahnya. Mintalah maaf
secara umum atas kesalahan lisan. Namun, jika ghibahmu telah merusak
reputasi mereka secara luas, engkau memiliki kewajiban untuk memulihkan nama
baik mereka di tempat yang sama saat engkau menjatuhkannya.
7.3
Cara Menebus Dosa Ghibah Jika Tak Mungkin Bertemu Orangnya
Bagaimana
jika orang yang engkau ghibahi rumah tangganya sudah pindah rumah,
meninggal dunia, atau engkau kehilangan kontak dengannya? Atau bagaimana jika ghibahmu
terhadap guru dilakukan di masa lalu dan engkau malu untuk mengakuinya? Alloh
memberikan jalan keluar melalui doa dan pujian.
Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits:
«كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لَهُ»
“Kaffaroh
(penebus dosa) bagi orang yang engkau ghibahi adalah engkau memohonkan
ampunan untuknya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Ad-Da’awatul Kabir, meskipun ada
kelemahan pada sanadnya, namun maknanya diamalkan oleh para ulama sebagai jalan
keluar taubat)
Sebutlah
nama orang tersebut dalam sujudmu. Mintalah kepada Alloh agar memberikan
keberkahan pada rumah tangganya sebagai ganti dari lisanmu yang pernah
merusaknya. Jika dahulu engkau menceritakan keburukan istrinya di sebuah
majelis, maka sekarang datanglah ke majelis yang sama dan sebutkanlah
kebaikan-kebaikan mereka yang engkau ketahui. Tutupilah lubang yang pernah
engkau gali dengan tanah pujian yang jujur.
7.4
Membangun Kembali Kepercayaan yang Telah Retak
Dosa namimah
(adu domba) seringkali meninggalkan bekas luka berupa hilangnya kepercayaan.
Jika engkau pernah membuat seorang suami curiga pada istrinya, tidak cukup
bagimu hanya bertaubat kepada Alloh. Engkau harus berusaha meyakinkan kembali
pihak yang terzholimi bahwa tuduhanmu dahulu adalah salah.
Alloh Ta’ala
berfirman:
﴿إِلَّا
الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيمُ﴾
“Kecuali
mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan, dan menjelaskan (kebenaran),
maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima
Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqoroh: 160)
Perhatikan
kata “menjelaskan” (bayyanu). Engkau harus mengklarifikasi bahwa
perkataanmu dahulu adalah dusta atau prasangka belaka. Memang memalukan
mengakui diri sebagai pendusta, namun rasa malu di dunia jauh lebih ringan
daripada diseret dengan wajah tersungkur di Akhiroh. Perbaikilah hubungan
mereka yang telah engkau rusak, karena itulah bukti taubatmu yang sejati.
7.5
Mengganti Lisan yang Tajam dengan Dzikir yang Basah
Taubat yang
kosong akan mudah goyah. Agar lisanmu tidak kembali mencari-cari aib rumah
tangga orang, engkau harus memberinya “kesibukan” baru yang lebih mulia. Lisan
manusia ibarat mesin yang akan terus berputar; jika tidak engkau gunakan untuk
kebenaran, ia akan digunakan untuk kebatilan.
Nabi ﷺ bersabda:
«لَا
يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ»
“Hendaknya
lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Alloh.” (HSR. Tirmidzi no.
3375)
Gantilah
kebiasaan bertanya “Bagaimana kabar rumah tangga si Fulan?” dengan
membaca Subhanallah, Alhamdulillah, atau bershalawat. Setiap kali keinginan
untuk bergosip muncul, segera sumbat mulutmu dengan dzikir. Ingatlah bahwa
setiap huruf dzikir membangun istana di Jannah, sementara setiap kata ghibah
meruntuhkan rumahmu di Akhiroh.
7.6
Doa-doa Perlindungan dari Lisan yang Jahat
Kita adalah
makhluk yang lemah, dan godaan untuk membicarakan orang lain sangatlah besar,
terutama di tengah pergaulan. Oleh karena itu, kita butuh perlindungan langsung
dari Dzat yang membolak-balikkan hati agar lisan ini selalu berada dalam
kendali-Nya.
Nabi ﷺ sering berdoa:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ
بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي»
“Ya Alloh, sungguh
aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan
penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari
keburukan air maniku.” (HSR. Abu Dawud no. 1551)
Bacalah doa
ini setiap saat terutama waktu mustajab. Mintalah agar Alloh menjaga telingamu
dari mendengar ghibah rumah tangga orang lain, dan menjaga lisanmu agar
tidak menjadi penyambung lidah syaithon. Keberhasilan kita dalam menjaga lisan
bukan karena kehebatan kita, melainkan karena taufiq dan penjagaan dari Alloh
semata.
Penutup
Wahai
saudaraku yang dimuliakan Alloh, akhirnya kita sampai di penghujung renungan
ini. Buku kecil ini bukanlah sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah teriakan
peringatan agar kita tidak terus-menerus memakan bangkai saudara kita sendiri.
Rumah tangga orang lain adalah wilayah suci yang tidak boleh kita injak dengan
kaki prasangka dan lisan yang beracun. Terutama rumah tangga para guru, mereka
yang telah memberikan cahaya bagi hidup kita, janganlah kita balas jasa mereka
dengan menusuk punggung mereka melalui ghibah yang keji.
Ingatlah,
suatu hari nanti kita semua akan berdiri sendirian di hadapan Alloh. Saat itu,
tidak ada lagi teman yang bisa diajak bergosip, tidak ada lagi layar gadget
untuk mengetik komentar miring. Yang ada hanyalah lembaran amal yang mencatat
setiap detail ucapan kita.
Semoga Alloh
mengampuni kelancangan lisan kita di masa lalu, menjaga lisan kita di masa
sekarang, dan menjadikan akhir hayat kita sebagai akhir yang baik dengan lisan
yang basah akan kalimat tauhid. Cukuplah lisan ini menjadi saksi kebaikan,
bukan saksi yang menyeret kita ke dalam kerak Naar. [NK]
