[PDF] TAGHOOFUL - Pura-pura Tidak Tahu Kesalahan Orang Lain - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, yang telah mengaruniakan syariat yang sempurna dan menghiasi
hati orang-orang yang bertaqwa dengan keindahan akhlak yang luhur.
Sholawat
beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita,
Nabi Muhammad ﷺ,
yang diutus untuk menyempurnakan kemuliaan perangai manusia, begitu pula kepada
para Shohabat beliau, para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan seluruh hamba yang setia
meniti jalan hidayah hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Di tengah
hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan dinamika sosial, interaksi
antarmanusia tidak pernah lepas dari gesekan kepentingan, perbedaan tabiat, dan
benturan ego pribadi. Sebagai makhluk yang lemah, setiap insan pasti pernah
tergelincir dalam kesalahan, khilaf dalam berucap, dan keliru dalam bertindak.
Ketika setiap cacat kecil dipandang dengan mata yang tajam, setiap kekhilafan
dicatat sebagai piutang dendam, dan setiap kesalahan harian diungkit tanpa
batas, maka kedamaian jiwa akan sirna dan ikatan persaudaraan yang suci akan
terkoyak. Hubungan rumah tangga menjadi gersang, jalinan silaturrohim antar
kerabat terputus, ketenteraman bertetangga berubah menjadi kecurigaan, dan
barisan perjuangan da’wah hancur berantakan sebelum sempat menghadapi tantangan
dari luar. Kenyataan pahit inilah yang menegaskan betapa mendesaknya kehadiran
sebuah penawar hati yang mampu meredam percikan fitnah sosial tersebut, yang di
dalam khazanah warisan ulama Salaf dikenal dengan nama taghooful, yaitu
seni berpura-pura lupa dan sengaja melupakan kesalahan orang lain demi
kemaslahatan yang lebih besar.
Buku yang
berada di hadapan pembaca yang mulia ini hadir sebagai ikhtiar ilmiah yang
mendalam sekaligus ketukan lembut bagi sanubari setiap Muslim agar kembali
menengok dan menghidupkan akhlak mulia yang hampir punah ini.
Dengan
menguasai kemahiran bertaghooful, seorang hamba tidak hanya berhasil
menyelamatkan kesehatan jiwanya dari sampah emosional yang tidak perlu,
melainkan ia juga sedang menancapkan tombak keimanan ke dada syaithon la’natulloh
yang sangat berambisi mengobarkan api permusuhan di antara sesama kaum Mu’min.
Lembaran
awal buku ini mengajak kita untuk membedah hakikat serta kedudukan agung taghooful
dalam Islam, sekaligus menarik garis pemisah yang tegas agar kita tidak
mencampuradukkan antara sifat pura-pura lupa yang terpuji dengan sifat
kelalaian yang tercela.
Selanjutnya,
pembaca akan dibawa menyelami samudera dalil-dalil syar’i, baik dari isyarat
ayat-ayat Al-Qur’an maupun petunjuk Hadits-Hadits Nabi yang shohih, serta
bagaimana aturan syariat memandang pentingnya menutup aib sesama Muslim melalui
instrumen taghooful ini.
Pembahasan
kemudian beralih pada pemaparan keutamaan dan manfaat besar yang akan dipanen
oleh para pengamal taghooful, baik berupa ridho Alloh ﷻ dan
jaminan Jannah, lahirnya ketenangan batin, merekatnya tali persaudaraan, hingga
runtuhnya tipu daya pemecah belah milik musuh abadi kita.
Keindahan
buku ini semakin menarik ketika mengetengahkan rekam jejak emas keteladanan
Salafush Sholih dan penerapan praktis kehidupan sehari-hari, meliputi manajemen
konflik di dalam rumah tangga bersama pasangan, seni mendidik anak tanpa
bentakan, adab bertetangga di tengah masyarakat, hingga profesionalisme kerja
di medan da’wah.
Akhirnya,
pembahasan buku ini ditutup dengan untaian terapi keimanan yang aplikatif untuk
menumbuhkan sifat mulia ini, yang diawali dengan kesadaran akan banyaknya dosa
pribadi, besarnya harapan pahala di hari Qiyamah, ketundukan penuh terhadap
takdir Alloh ﷻ,
hingga latihan jiwa yang konsisten.
Semoga
goresan pena di dalam buku ini mampu menjadi lentera penerang yang melembutkan
hati yang kaku, serta menuntun kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai
memaafkan dan melupakan, demi meraih keselamatan di dunia dan Akhiroh.
Bab 1: Taghooful
dalam Islam
1.1
Pengertian Taghooful
Kehidupan
sosial manusia tidak pernah lepas dari gesekan, kekhilafan, dan kesalahan yang
timbul dari interaksi sehari-hari. Di tengah tabiat manusia yang lemah dan
penuh kekurangan ini, syariat Islam yang agung datang membawa bimbingan akhlak
yang sangat luhur untuk menjaga keharmonisan hati, yang dikenal dengan istilah taghooful.
Secara bahasa, kata taghooful diambil dari akar kata ghofala (غَفَلَ) yang berarti lalai atau
tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu. Ketika kata ini diubah ikut berwazan tafaa’ala
(تَفَاعَلَ) menjadi taghoofala (تَغَافَلَ), ia maknanya berubah menjadi
pura-pura lalai, menampakkan diri seolah-olah tidak tahu, atau sengaja
melupakan suatu perkara yang sebenarnya ia ketahui dengan jelas.
Maka, taghooful
secara istilah maknanya adalah sebuah sikap mulia di mana seseorang mengetahui
kesalahan, kekhilafan, atau keburukan yang dilakukan oleh saudaranya, namun ia
sengaja memejamkan mata, menahan lidahnya, dan bersikap seolah-olah ia tidak
melihat atau mendengar apa pun demi menjaga kehormatan saudaranya dan merawat
keselamatan hatinya sendiri.
Sikap taghooful
ini lahir dari jiwa yang besar, akal yang cerdas, dan kelapangan dada yang luar
biasa. Ia bukan sebuah kelemahan, melainkan kecerdikan yang dibungkus dengan
ketaqwaan. Mengenai hakikat taghooful ini, Abdullah bin Muhammad bin
Manazil berkata:
المُؤْمِنُ
يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ، وَالمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ
“Seorang Mu’min
itu selalu mencari-cari udzur (alasan pembenaran yang baik) bagi
saudara-saudaranya, sedangkan seorang munafik selalu mencari-cari kesalahan
saudara-saudaranya.” (Adabus Shuhbah, Abu Abdirrohman As-Sulami, hal. 44)
Berdasarkan
penjelasan ulama terkemuka tersebut, taghooful merupakan bagian erat
dari upaya seorang Mu’min untuk senantiasa menutup mata dari kesalahan orang
lain dan sibuk mencari celah agar saudaranya tidak merasa terpojok atau
dipermalukan.
Namun,
perlu dipahami dengan sangat jelas bahwa terdapat perbedaan yang sangat kontras
antara sikap taghooful (pura-pura lupa/lalai demi maslahat) dengan sifat
ghoflah (kelalaian/tercela). Ghoflah atau kelalaian adalah penyakit hati
yang sangat berbahaya, di mana seorang hamba benar-benar lupa terhadap
kewajiban agamanya, lalai dari mengingat Alloh ﷻ, dan abai terhadap urusan
Akhirohnya akibat tenggelam dalam syahwat duniawi. Sifat ghoflah ini
merupakan sifat yang dicela di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Alloh ﷻ:
﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ
ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا﴾
“Dan
janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalikan dari mengingati
Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS.
Al-Kahfi: 28)
Dalam ayat
lain, Alloh ﷻ
juga memberikan peringatan keras mengenai sifat lalai yang hakiki ini melalui
firman-Nya:
﴿اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي
غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ﴾
“Telah
dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian
lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiya: 1)
Perbedaan
mendasar di antara keduanya dapat dilihat dari tabel perbandingan berikut ini
demi mempermudah pemahaman:
|
Poin Perbedaan |
Taghooful (Pura-Pura Lupa) |
Ghoflah (Kelalaian) |
|
Kesadaran |
Dilakukan
dengan sadar, sengaja, dan penuh kendali diri. |
Terjadi
karena ketidaksadaran, hilangnya fokus, dan tunduk pada hawa nafsu. |
|
Objek Sasaran |
Ditujukan
pada kesalahan, aib, dan kekhilafan sesama manusia. |
Terjadi
pada kewajiban syariat, dzikrulloh, dan perkara Akhiroh. |
|
Motivasi Utama |
Mewujudkan
maslahat, menjaga silaturrohim, dan memuliakan orang lain. |
Terdorong
oleh rasa malas, cinta dunia, dan bujukan syaithon. |
|
Dampak Hukum |
Akhlak
terpuji yang mendatangkan pahala dan kemuliaan jiwa. |
Sifat
tercela yang mendatangkan dosa dan mengeraskan hati. |
Melalui rincian di atas, tampak terang benderang bahwa
taghooful adalah buah dari kecerdasan akal
dan kematangan iman, sedangkan ghoflah adalah tanda matinya hati dan
lemahnya pandangan bashiroh (mata hati).
Sufyan
berkata:
مَا زَالَ التَّغَافُلُ مِنْ فِعْلِ الْكِرَامِ
“Taghooful
senantiasa menjadi perbuatan orang-orang mulia.” (Tafsir Ibnu Asyur, 28/353)
Oleh karena
itu, jangan sampai seorang Muslim menyamakan antara orang yang bertaghooful
dengan orang yang dungu atau lalai. Orang yang bertaghooful sebenarnya
mampu untuk membalas, mampu untuk membongkar kesalahan, dan mampu untuk
mencerca, namun ia menahan dirinya demi mencari ridho Alloh ﷻ
semata.
1.2
Akhlak para Nabi dan Orang Sholih
Sifat taghooful
merupakan sebuah kedudukan akhlak yang sangat tinggi di dalam tatanan syariat
Islam. Jika kita membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan manusia-manusia
pilihan, kita akan mendapati bahwa taghooful adalah mahkota hiasan yang
melekat erat pada diri para Nabi alaihimush sholatu was salam dan para
hamba yang sholih. Mereka adalah teladan utama dalam menutup mata dari
kesalahan orang-orang di sekitar mereka, meskipun mereka memiliki kemampuan penuh
untuk menegur atau menghukum.
Suri
teladan pertama dalam perkara ini adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Ketika
saudara-saudara beliau datang ke Mesir dalam keadaan tidak mengenali Yusuf yang
telah menjadi penguasa, mereka melakukan sebuah tuduhan yang menyakitkan hati
di hadapan Yusuf secara langsung. Saat adik Yusuf (Bunyamin) tertuduh mencuri,
mereka mengaitkannya dengan Yusuf dengan mengatakan bahwa Yusuf pun dahulu
pernah mencuri. Mendengar tuduhan dusta dan hinaan yang menusuk perasaan
tersebut, Nabi Yusuf alaihissalam tidak marah, tidak membongkar
identitasnya saat itu juga untuk membalas dendam, dan tidak pula memerintahkan
pengawal untuk menangkap mereka. Alloh ﷻ mengabadikan sikap taghooful
tingkat tinggi yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf alaihissalam dalam
Al-Qur’an:
﴿قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ
لَهُ مِنْ قَبْلُ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ قَالَ
أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ﴾
“Mereka
berkata: ‘Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula
saudaranya sebelum itu.’ Maka Yusuf menyembunyikan rahasia itu di dalam hatinya
dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): ‘Kamu
lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Robb lebih mengetahui apa yang kamu
terangkan itu’.” (QS. Yusuf: 77)
Kalimat “Maka
Yusuf menyembunyikan rahasia itu di dalam hatinya dan tidak menampakkannya
kepada mereka” adalah dalil otentik dari Al-Qur’an tentang hakikat taghooful.
Beliau mendengar kata-kata yang menyakitkan, namun beliau memilih untuk
pura-pura tidak mendengar dan menyimpannya sendiri tanpa merusak suasana
interaksi saat itu.
Keteladanan
agung ini tentu saja bersumber dan berpuncak pada diri penghulu para Nabi dan
Rosul, yaitu Nabi kita Muhammad ﷺ. Di dalam kehidupan rumah tangga beliau yang suci, pernah
terjadi sebuah peristiwa di mana salah seorang istri beliau membocorkan sebuah
rahasia yang telah dipesankan oleh Nabi ﷺ untuk dijaga. Ketika Alloh ﷻ memberitahukan kebocoran
rahasia tersebut kepada Nabi ﷺ,
beliau tidak menginterogasi istrinya secara habis-habisan, tidak pula
membeberkan seluruh detail kesalahan sang istri hingga membuatnya merasa sangat
terhina dan jatuh mentalnya. Nabi ﷺ hanya menyebutkan sebagian kecil saja dari kesalahan tersebut
sebagai bentuk teguran yang lembut, lalu beliau bertaghooful (pura-pura
melupakan) sebagian besar kesalahan yang lainnya. Alloh ﷻ
berfirman menceritakan akhlak mulia Nabi-Nya:
﴿وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ
حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ
وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ
نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ﴾
“Dan
ingatlah ketika Nabi membisikkan suatu rahasia kepada salah seorang dari
istri-istrinya. Maka tatkala istri itu menceritakan rahasia itu (kepada Aisyah)
dan Alloh memberitahukan hal itu (pembocoran rahasia) kepada Nabi, Nabi
memberitahukan sebagiannya dan memalingkan sebagian yang lain (tidak
menyampaikannya). Maka tatkala Nabi memberitahukan kepadanya (istrinya),
istrinya bertanya: ‘Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi
menjawab: ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Robb Yang Maha Mengetahui lagi
Maha Mengenal’.” (QS. At-Tahrim: 3)
Lafazh “Nabi
memberitahukan sebagiannya dan memalingkan sebagian yang lain” menunjukkan
betapa agungnya sifat taghooful dalam pandangan beliau ﷺ.
Ibnu Asyur
menjelaskan ayat ini: “Sikap berpalingnya Rosul ﷺ dari memberitahukan seluruh
ucapan yang telah dibocorkan oleh istri beliau, merupakan bagian dari keluhuran
akhlak beliau ﷺ
dalam menegur dan mendidik istri yang membocorkan rahasia tersebut. Hal itu
karena maksud atau tujuan menegur sudah tercapai dengan sekadar memberitahukan
sebagian dari apa yang dibocorkannya, sehingga sang istri yakin bahwa Alloh
cemburu membela beliau.
Sufyan
Ats-Tsauri (161 H) berkata: ‘Sikap pura-pura tidak tahu senantiasa menjadi
bagian dari perbuatan orang-orang yang mulia.’ Dan Al-Hasan Al-Bashri (110 H)
berkata: ‘Tidak pernah ada orang mulia yang menuntut haknya hingga mendalam dan
mendetail.’ Sikap menambah teguran melebihi maksud atau tujuan yang diinginkan
justru akan mengubah teguran tersebut dari sekadar peringatan menjadi cercaan
yang keras.” (Al-Tahrir wat-Tanwir, Ibnu ‘Asyur, 28/353)
Jejak
langkah mulia ini kemudian diikuti dengan sangat setia oleh para Shohabat dan
generasi Salafush Sholih setelahnya. Mereka memandang bahwa mengungkit-ungkit
setiap kesalahan kecil dari saudara seiman adalah tanda sempitnya dada dan
kurangnya akal sehat.
Seseorang
menceritakan kepada Ahmad (241 H) mengenai apa yang dikatakan orang-orang: “Keselamatan
itu ada 10 bagian, 9 di antaranya ada pada sikap pura-pura tidak tahu (demi
menjaga perasaan).” Lalu Ahmad mengatakan:
الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ كُلُّهَا فِي التَّغَافُلِ
“Keselamatan
itu ada 10 bagian, seluruhnya ada pada sikap pura-pura tidak tahu.” (Syarhul
Muntaha, Ibnu An-Najjar, 9/304)
Pernyataan
dari Imam Ahlus Sunnah tersebut membuktikan bahwa orang yang selalu meneliti,
mencatat, dan mempermasalahkan setiap jengkal kekhilafan orang lain di
hadapannya sebenarnya sedang merusak warasnya pikiran dan ketenangan jiwanya
sendiri. Sebaliknya, orang yang sholih akan selalu melapangkan dadanya,
memaafkan, menghapus memori buruk dari benaknya, serta membiarkan urusan-urusan
kecil berlalu begitu saja demi menjaga ukhuwah Islamiyyah yang kokoh dan murni.
1.3
Taghooful yang Terpuji dan Tercela
Meskipun
syariat Islam sangat menekankan pentingnya memiliki sifat taghooful,
Islam adalah agama yang sempurna, adil, dan proporsional. Islam tidak
membiarkan sifat ini diaplikasikan tanpa aturan, tanpa kendali, dan tanpa
batasan yang jelas. Ada kalanya bertaghooful hukumnya menjadi sangat
dianjurkan dan bernilai pahala besar (terpuji), namun ada kalanya pula bertaghooful
justru berubah hukumnya menjadi terlarang, harom, dan mendatangkan dosa
(tercela). Memahami batasan dinamis ini sangat krusial agar seorang Muslim
tidak terjatuh ke dalam sikap meremehkan syariat atau mengabaikan kewajiban
nahi munkar (mencegah kemungkaran) dengan dalih menerapkan sikap taghooful.
Secara
umum, taghooful yang terpuji adalah sikap pura-pura tidak tahu yang
diterapkan pada wilayah hak-hak pribadi, urusan muamalah harian yang sifatnya
sepele, serta kekhilafan manusiawi yang tidak melanggar batasan-batasan
kesucian hukum Alloh ﷻ.
Contohnya seperti mengabaikan kata-kata kasar yang tidak sengaja terucap dari
seorang teman, berpura-pura tidak melihat ketika ada makanan yang tumpah dari
mulut seseorang saat jamuan makan, atau melupakan keterlambatan seseorang dalam
memenuhi janji setelah ia meminta maaf. Taghooful dalam ranah ini
hukumnya adalah sunnah yang sangat ditekankan, karena ia berfungsi menyatukan
hati dan melenyapkan bibit-bibit permusuhan di antara sesama hamba Alloh ﷻ.
Dasar dari tindakan ini adalah perintah umum untuk menutup aib sesama Muslim,
sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh ﷺ dalam Hadits yang shohih:
«وَمَنْ
سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
“Dan siapa
yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di dunia
dan di Akhiroh.” (HR. Al-Bukhori no. 2442 dan Muslim no. 2580)
Di sisi
lain, terdapat taghooful yang statusnya berubah menjadi tercela dan diharomkan
di dalam Islam. Taghooful yang tercela terjadi apabila sikap pura-pura
tidak tahu tersebut diterapkan pada pelanggaran hak-hak syariat Alloh ﷻ,
pelanggaran hukum harom yang nyata, kekejian yang dilakukan secara
terang-terangan, serta urusan yang berkaitan dengan kezholiman terhadap hak
orang lain atau merugikan kemaslahatan umum masyarakat Muslim. Apabila
seseorang melihat sebuah kemungkaran di depan matanya sendiri—seperti praktik
perjudian, minum khomr, transaksi riba yang zholim, pembantaian jiwa, atau
penyebaran paham bid’ah yang merusak Aqidah—lalu ia memilih untuk diam,
memejamkan mata, dan pura-pura tidak tahu dengan alasan menerapkan sikap taghooful,
maka tindakan orang ini adalah sebuah dosa besar dan bentuk kemunafikan yang
nyata.
Taghooful dalam konteks kemungkaran syariat
bukanlah sebuah akhlak mulia, melainkan bentuk sikap mudahanah
(mengorbankan urusan agama demi keselamatan dunia atau demi mencari muka di
hadapan manusia). Alloh ﷻ memberikan ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang
bertaghooful dan diam dari mencegah kemungkaran, sebagaimana dikisahkan
tentang kaum Bani Isroil yang dilaknat akibat mengabaikan kemungkaran di antara
mereka:
﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ
عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ
78 كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ﴾
“Telah
dilaknat orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Dawud dan Isa putra
Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui
batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka
perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS.
Al-Ma’idah: 78-79)
Rosululloh ﷺ juga telah menggariskan
kewajiban bagi setiap Muslim untuk merespons kemungkaran dengan tindakan nyata
yang tegas sesuai kemampuan, bukan dengan cara menutup mata atau bertaghooful.
Beliau ﷺ
bersabda dalam sebuah Hadits yang agung:
«مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ
فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»
“Siapa di
antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan
tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya
(nasihatnya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (membencinya),
dan yang demikian itu adalah sekerdil-kerdilnya iman.” (HR. Muslim no. 49)
Untuk
memberikan pemisahan yang jelas dan tegas antara kedua jenis kondisi penerapan
ini, mari kita simak kesimpulan batasan operasionalnya berikut ini:
[1] Taghooful
Terpuji (Mulia & Berpahala):
a) Dilakukan pada wilayah
hak-hak pribadi manusia yang sifatnya duniawi.
b) Diterapkan pada
kesalahan yang tidak disengaja atau kekhilafan kecil yang pelakunya
merasa malu jika hal itu terbongkar.
c) Bertujuan untuk
memperbaiki keadaan, melembutkan hati pelaku, dan merekatkan ukhuwah.
d) Tidak
menimbulkan madhorot
(bahaya) yang lebih besar bagi orang lain atau bagi tegaknya urusan agama.
[2] Taghooful
Tercela (Harom & Berdosa):
a) Dilakukan pada
wilayah pelanggaran hak-hak Alloh ﷻ (kemungkaran, bid’ah, maksiat
besar).
b) Diterapkan pada
pelaku maksiat yang melakukannya secara terang-terangan tanpa ada rasa
malu, atau zholim yang merugikan pihak lain.
c) Bertujuan
sekadar mencari aman bagi diri sendiri, takut kehilangan pujian manusia,
atau acuh tak acuh terhadap nasib agama.
d) Menimbulkan dampak
buruk berupa meluasnya kemungkaran dan hilangnya wibawa hukum syariat di
tengah masyarakat.
Dengan
memahami pembagian hukum dan batasan ini secara jernih, seorang hamba akan
mampu berjalan di atas shirothal mustaqim (jalan yang lurus). Ia akan
menjadi sosok yang sangat pemaaf, berlapang dada, dan suka bertaghooful
dalam urusan pribadinya, namun di saat yang sama, ia akan berubah menjadi sosok
yang sangat kokoh, tegas, dan penuh ghiroh (semangat membela agama)
ketika batasan-batasan suci syariat Alloh ﷻ mulai dilanggar di
hadapannya. Pembahasan mengenai hakikat, kedudukan, serta batasan inilah yang
menjadi pondasi utama bagi kita semua sebelum melangkah lebih jauh untuk
membedah dalil-dalil syar’i secara lebih mendalam pada bab-bab berikutnya.
Bab 2: Perintah Taghooful
2.1
Perintah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an
Al-Karim sebagai petunjuk utama bagi umat manusia telah meletakkan asas-asas
penataan akhlak yang sangat kokoh. Di dalam ayat-ayat-Nya, Alloh ﷻ
memberikan banyak isyarat serta perintah yang menuntun para hamba-Nya untuk
senantiasa mengutamakan kedamaian hati melalui sikap pemaaf, berpaling dari
kebodohan orang lain, serta bertaghooful dari ketergelinciran sesama
Muslim. Meskipun kata taghooful secara harfiah tidak disebutkan langsung
dalam bentuk perintah fi’il (kata kerja perintah), esensi dan substansi dari
sikap pura-pura lupa dan melupakan kesalahan ini tersebar luas di berbagai
surat, baik berupa pujian bagi pelakunya maupun perintah untuk berlapang dada.
Salah satu
dalil isyarat yang sangat kuat mengenai perintah bertaghooful adalah
firman Alloh ﷻ
yang memerintahkan Nabi-Nya agar mengambil sikap pemaaf dan tidak mempedulikan
perilaku buruk dari orang-orang yang belum paham. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ
عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾
“Jadilah
engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah
dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’rof: 199)
Perintah
untuk “berpaling dari orang-orang yang bodoh” dalam ayat yang agung ini
mengandung makna syar’i agar kita tidak menyibukkan diri membalas, meneliti,
atau mengungkit setiap ucapan buruk dan tindakan menyimpang dari orang-orang di
sekitar kita. Sikap berpaling yang paling sempurna adalah dengan bertaghooful,
yaitu menampakkan diri seolah-olah kita tidak pernah mendengar ucapan buruk
mereka, demi menutup celah terjadinya permusuhan yang lebih besar.
Isyarat
berikutnya dapat kita tadabburi dari perintah Alloh ﷻ untuk memaafkan dengan cara
yang baik, tanpa menyisakan ganjalan atau rasa jengkel di dalam dada. Cara
memaafkan yang bersih dari dendam ini mustahil terwujud melainkan dengan
bantuan sikap taghooful. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ﴾
“Maka
maafkanlah (mereka) dengan cara dimaafkan yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)
Para ulama
menjelaskan bahwa ash-shofhul jamil adalah memaafkan suatu kesalahan tanpa
disertai dengan celaan, tanpa mengungkit-ungkit kembali kesalahan tersebut di
masa depan, dan tanpa membuat pelaku merasa terpojok. Seseorang tidak akan
mampu mencapai derajat ash-shofhul jamil ini kecuali jika ia sengaja
melupakan memori buruk tentang kesalahan saudaranya, menguburnya dalam-dalam,
dan bertindak seolah-olah lembaran kelam itu tidak pernah ada.
Alloh ﷻ juga
memuji karakter para hamba-Nya yang bertaqwa, yang mampu menahan amarah dan
membersihkan hatinya dari keinginan membalas dendam ketika hak-hak pribadi
mereka diusik oleh kekhilafan orang lain. Pujian ini diabadikan dalam firman-Nya:
﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ
النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Robb
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Menahan amarah
dan memaafkan manusia merupakan jembatan emas menuju tingkatan ihsan. Di dalam
praktik kehidupan, ihsan dalam muamalah terwujud ketika seorang hamba melihat
aib saudaranya namun ia memilih untuk bertaghooful, memberikan udzur,
serta memperlakukannya dengan penuh kelembutan seakan-akan tidak ada kesalahan
apa pun yang terjadi sebelumnya.
2.2
Perintah dalam Hadits
Bimbingan
Al-Qur’an tentang kelapangan dada dijabarkan dengan sangat indah melalui lisan
suci Rosululloh ﷺ.
Melalui Hadits-Hadits beliau, kita diajarkan untuk tidak menjadi manusia yang
kaku dan selalu menuntut kesempurnaan dari orang lain. Beliau ﷺ mendidik umat ini agar
menjadi pribadi yang toleran, mudah memaafkan, serta pandai melupakan
kekhilafan harian yang terjadi dalam interaksi sosial.
Salah satu
bimbingan nabawi yang sangat mendalam mengenai urgensi taghooful dalam
hubungan persaudaraan adalah sabda Nabi ﷺ yang melarang kita untuk mencari-cari dan menyelidiki hal-hal
yang dapat merusak kebersihan hati sesama Muslim. Beliau ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا
وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ
إِخْوَانًا»
“Jauhkanlah
dirimu dari prasangka, karena prasangka itu adalah sebohong-bohongnya
perkataan. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu
saling bersaing (secara tidak sehat), janganlah kamu saling mendengki,
janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi, dan jadilah
kamu hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhori no. 6064 dan Muslim
no. 2563)
Larangan “jangan
mencari-cari kesalahan orang lain” (laatajassasu) merupakan perintah
tidak langsung, untuk mengamalkan taghooful. Jika kita dilarang untuk
mencari-cari kesalahan yang tersembunyi, maka makna sebaliknya adalah kita
diperintahkan untuk mengabaikan dan pura-pura tidak tahu ketika
kesalahan-kesalahan kecil itu tampak di hadapan kita tanpa sengaja, demi
menjaga keutuhan ikatan persaudaraan.
Nabi ﷺ juga memberikan jaminan
kemuliaan di dunia dan Akhiroh bagi siapa saja yang memiliki kelapangan dada
untuk memaafkan kesalahan orang lain. Beliau ﷺ bersabda dalam khutbahnya yang agung:
«مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»
“Sedekah
itu tidak akan mengurangi harta. Dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba
karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan
diri karena Alloh melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim
no. 2588)
Sifat
pemaaf yang membuahkan kemuliaan sejati adalah pemaafan yang tuntas, yang tidak
diikuti dengan aksi menyindir, mengungkit, atau memandang rendah pelaku
kesalahan. Kemampuan untuk menahan diri dari tindakan menyindir ini hanya bisa
dicapai melalui kemahiran seseorang dalam bertaghooful dan melupakan
urusan tersebut dari memori interaksinya.
Lebih dari
itu, Rosululloh ﷺ
memberikan teladan tentang bagaimana menjaga ketenangan lingkungan sosial
dengan cara melarang para Shohabat untuk melaporkan hal-hal negatif tentang
satu sama lain kepada beliau. Hal ini beliau lakukan agar beliau bisa
berinteraksi dengan semua orang dalam keadaan hati yang bersih tanpa prasangka
buruk. Beliau ﷺ
bersabda:
«لَا
يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ
إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ»
“Janganlah
ada seorang pun dari para shohabatku yang menyampaikan kepadaku sesuatu (hal
yang negatif) tentang orang lain, karena sesungguhnya aku ingin keluar menemui
kalian dalam keadaan dadaku (hatiku) selamat (bersih dari prasangka).” (HR.
Abu Dawud no. 4860. Dihasankan Ahmad Syakir)
Jika Rosululloh
ﷺ saja—manusia yang paling
mulia dan dibimbing oleh wahyu—sangat menjaga keselamatan hatinya dengan cara
menutup pintu dari laporan-laporan kesalahan orang lain, maka kita sebagai
umatnya tentu jauh lebih butuh untuk menutup mata dan telinga kita dari
ketergelinciran sesama Muslim melalui jalan taghooful.
2.3
Aturan Syariat dalam Menutup Aib
Taghooful memiliki kaitan organik yang sangat
erat dengan salah satu pilar agung dalam muamalah Islam, yaitu kewajiban
menutupi aib sesama Muslim (satrul Muslim). Di dalam tatanan syariat,
setiap pemeluk Islam memiliki kehormatan yang suci dan harom untuk dinodai. Menyebarluaskan,
memperbincangkan, atau bahkan sekadar mengungkit kesalahan seorang Muslim di
hadapannya merupakan tindakan yang dapat merusak dinding kehormatan tersebut.
Oleh karena itu, taghooful hadir sebagai instrumen praktis dan metode
paling efektif untuk menjalankan perintah menutupi aib ini dalam kehidupan
sehari-hari.
Islam
memberikan tuntunan yang sangat ketat agar kita menjadi tirai penutup bagi
kelemahan saudara kita, bukan menjadi terompet yang meniupkan keburukannya ke
penjuru dunia. Rosululloh ﷺ
memberikan peringatan yang sangat bergetar mengenai bahaya orang yang suka
mengorek-ngorek dan membongkar cacat saudaranya:
«يَا
مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا
الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ
يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي
بَيْتِهِ»
“Wahai
sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman itu belum masuk ke dalam
hatinya! Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan janganlah kalian
mencari-cari celah kelemahan (aib) mereka. Karena siapa yang mencari-cari celah
kelemahan mereka, niscaya Alloh akan mencari-cari celah kelemahannya. Dan siapa
yang celah kelemahannya dicari-cari oleh Alloh, maka Alloh akan membongkar
aibnya meskipun ia berada di dalam rumahnya sendiri.” (HSR. Abu Dawud no.
4880)
Hadits yang
sangat tegas ini menunjukkan bahwa orang yang kehilangan sifat taghooful
dan menggantinya dengan sifat suka menyelidiki serta mengungkit cacat
saudaranya, berada dalam ancaman kehinaan yang besar. Hukum timbal balik
syariat (al-jaza’ min jinsil ‘amal) berlaku di sini; siapa yang bertaghooful
dan menutup aib saudaranya, Alloh ﷻ akan menutup aibnya. Namun
siapa yang sibuk membeberkan kesalahan orang lain, Alloh ﷻ akan
menelanjangi keburukannya sendiri.
“Jika
engkau melihat satu ketergelinciran dosa atau kesalahan dari saudaramu, maka
berpura-pura lupalah engkau darinya (bertaghooful-lah). Karena sesungguhnya
engkau tidak pernah tahu amalan rahasia apa yang ada di antara dirinya dengan
Alloh yang barangkali amalan rahasia itulah yang diterima di sisi-Nya.”
Oleh karena
itu, aturan syariat dalam menutup aib menuntut kita untuk tidak hanya diam di
hadapan orang lain, tetapi juga “diam” di hadapan pelaku kesalahan itu sendiri
melalui sikap taghooful. Kita tidak menatapnya dengan tatapan
merendahkan, tidak mengoreksinya dengan cara yang kasar, dan tidak merubah
sikap hangat kita kepadanya. Kita menutupi kekhilafannya sedemikian rupa hingga
ia merasa aman, nyaman, dan termotivasi untuk memperbaiki diri tanpa harus
kehilangan harga dirinya di hadapan kita. Konsep penutupan aib yang total
inilah yang menjadi ruh dari keagungan akhlak Islam yang berbasis pada
dalil-dalil syar’i yang shohih dan otentik.
Bab 3: Keutamaan Taghooful
3.1
Jalan Meraih Ridho Alloh
Mengamalkan
sifat taghooful bukanlah sekadar taktik sosial untuk menjaga kenyamanan
interaksi manusiawi, melainkan sebuah bentuk ibadah hati yang sangat agung.
Ketika seorang hamba memilih untuk pura-pura lupa dan melupakan kesalahan
saudaranya, ia sedang mengorbankan ego pribadinya, menundukkan hawa nafsunya
yang ingin meluapkan amarah, dan membuang rasa bangga diri. Semua pengorbanan
batin ini dilakukan semata-mata karena mengharapkan apa yang ada di sisi Alloh ﷻ
berupa ampunan, ridho, dan balasan Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.
Di dalam timbangan syariat, kelapangan dada untuk mengabaikan kekhilafan sesama
hamba merupakan salah satu kunci utama yang mempermudah jalan seorang Muslim
menuju ridho Robb-nya.
Hubungan
timbal balik antara sifat pemaaf hamba dengan ampunan Alloh ﷻ
digariskan dengan sangat benderang dalam Al-Qur’an. Seseorang yang ingin
mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besarnya di hadapan Alloh ﷻ,
hendaknya ia mengawali dengan memberikan ampunan dan kelapangan dada bagi
kesalahan manusia yang derajatnya jauh di bawahnya. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ
أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan
hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa
Alloh mengampunimu? Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
An-Nur: 22)
Ayat yang
mulia ini turun berkenaan dengan sikap Shohabat Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu
‘anhu yang sempat bersumpah untuk menghentikan bantuan nafkah kepada
kerabatnya yang bernama Misthoh bin Utsatsah, karena Misthoh terlibat dalam
menyebarkan berita dusta (haditsul ifki) yang memfitnah putri tercinta
beliau, Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha. Begitu ayat ini turun,
Abu Bakr langsung bertaghooful dari kesalahan besar kerabatnya tersebut,
melupakan kepedihan hatinya, memaafkannya secara total, dan mengembalikan
bantuan nafkahnya seperti sedia kala seraya berkata, “Tentu, demi Alloh, aku
sangat ingin Alloh mengampuniku.” Peristiwa bersejarah ini menjadi dalil paling
otentik bahwa taghooful dan shofh (berlapang dada) adalah sarana
paling cepat untuk menarik turunnya rohmat dan ridho Alloh ﷻ.
Jaminan
Jannah bagi orang-orang yang memiliki dada yang bersih dari dendam dan suka bertaghooful
juga ditegaskan oleh Rosululloh ﷺ dalam bimbingan nubuwah. Beliau ﷺ mengabarkan tentang sebuah
amalan zohir yang barangkali tampak sederhana di mata manusia, namun memiliki
bobot yang sangat berat di sisi Alloh ﷻ karena kesucian batin
pelakunya. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ،
عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ»
“Maukah aku
kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharomkan dari sentuhan api Naar
atau orang yang api Naar diharomkan atasnya? Api Naar itu diharomkan atas
setiap orang yang dekat (mudah bergaul), lembut dan ramah, serta mempermudah
urusan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2488)
Karakter
hamba yang “mempermudah urusan” (sahlin) di dalam muamalah adalah mereka
yang tidak suka mempersulit hubungan dengan catatan-catatan kesalahan masa
lalu. Mereka mempermudah segala perkara dengan cara bertaghooful; jika
melihat kekurangan saudaranya, mereka melewatinya dengan senyuman dan doa
kebaikan, sehingga keberadaan mereka selalu membawa kedamaian dan ketenteraman
di mana pun mereka berada. Karakter inilah yang mengantarkan mereka pada
keselamatan dari siksa api Naar dan memasukkan mereka ke dalam negeri
keselamatan (Darussalam).
3.2
Menjaga Hati dari Penyakit Dengki
Manfaat
nyata yang langsung dirasakan oleh pelaku taghooful di dunia sebelum di
Akhiroh adalah lahirnya ketenangan hati yang hakiki dan keselamatan jiwa dari
berbagai penyakit batin yang merusak. Orang yang selalu meneliti, mencatat, dan
mengingat-ingat setiap detail kesalahan orang lain di sekitarnya akan hidup
dalam penjara kegelisahan yang tiada berujung. Pikirannya akan selalu dipenuhi
oleh prasangka buruk, dadanya terasa sempit karena menahan amarah, dan jiwanya
sangat rentan terjangkit penyakit hasad (dengki) serta ghibah. Sebaliknya,
orang yang mahir bertaghooful adalah orang yang merdeka; ia membebaskan
dirinya dari beban emosi yang tidak perlu dengan cara menghapus memori buruk
tentang kekhilafan sesama hamba.
Ketika
seseorang memilih untuk pura-pura tidak tahu dan melupakan perlakuan kurang
menyenangkan dari saudaranya, ia sedang menutup rapat-rapat pintu masuk
syaithon yang ingin menanamkan benih penyakit dengki di dalam dadanya. Mengenai
pentingnya menjaga kebersihan dada ini dari segala ganjalan demi kesehatan
iman, Rosululloh ﷺ
memberikan sebuah gambaran yang sangat indah:
«أَفْضَلُ
النَّاسِ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ» ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ،
نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ
فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ»
“Manusia
yang paling utama adalah setiap orang yang bersih hatinya (makhmumul qolbi)
lagi jujur ucapannya.” Para shohabat bertanya: ‘Orang yang jujur ucapannya
telah kami ketahui, lantas apa yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’
Beliau menjawab: ‘Yaitu hati yang bertaqwa, yang bersih, yang tidak ada dosa di
dalamnya, tidak ada kezholiman, tidak ada kedengkian (ghill), dan tidak
ada pula hasad’.” (HSR. Ibnu Majah no. 4216)
Sikap taghooful
adalah wasilah (sarana) terbesar untuk mencapai derajat makhmumul qolbi ini.
Hati tidak akan mungkin bisa bersih dari ghill (rasa jengkel yang
terpendam) dan hasad jika setiap kali ada orang yang salah ucap atau salah
sikap, kita langsung memasukkannya ke dalam hati dan menyimpannya sebagai
dendam. Dengan bertaghooful, semua percikan api kemarahan itu dipadamkan
sejak awal sebelum sempat membakar ketenangan jiwa kita.
Bertaghooful
sebenarnya adalah sebuah bentuk kasih sayang kepada diri kita sendiri. Kita tidak
membiarkan sampah-sampah emosional dari kesalahan orang lain mengotori istana
hati kita yang seharusnya dipenuhi oleh dzikrulloh, kecintaan kepada Sunnah,
dan persiapan menghadapi hari Qiyamah.
3.3
Merekatkan Tali Persaudaraan
Hubungan
persaudaraan seagama (ukhuwah Islamiyyah) dan jalinan kekerabatan
(silaturrohim) adalah dua perkara yang sangat suci dan dijaga dengan ketat di
dalam syariat Islam. Namun, karena setiap manusia dilahirkan dengan watak,
latar belakang, dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda, maka gesekan di dalam
interaksi sosial adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. Jika setiap
gesekan kecil dan kesalahan harian disikapi dengan ketegangan, tegoran yang
kaku, atau aksi boikot (hajr), maka tali silaturrohim akan terputus
dengan sangat cepat dan persaudaraan akan hancur berantakan. Di sinilah taghooful
memainkan peran vitalnya sebagai perekat, pelumas, dan benteng pertahanan yang
menjaga keharmonisan hubungan antar sesama Muslim.
Islam
melarang keras umatnya untuk saling memutuskan hubungan dan membiarkan konflik
pribadi berlarut-larut melampaui batas waktu yang wajar. Rosululloh ﷺ memberikan batasan tegas
dalam sabdanya:
«لاَ
يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ
هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ»
“Tidak
halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (mendiamkan) saudaranya lebih dari 3
(tiga) malam, di mana keduanya saling bertemu lalu yang ini berpaling dan yang
itu pun berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai
dengan mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)
Agar
jalinan komunikasi bisa kembali membaik setelah terjadinya perselisihan,
dibutuhkan kelapangan dada dari salah satu pihak untuk bertaghooful.
Ketika dua orang bertemu setelah terlibat ketegangan, lalu salah satunya
memulai mengucapkan salam dan bertindak biasa seolah-olah tidak pernah terjadi
masalah di antara mereka, ia telah mengamalkan taghooful tingkat tinggi.
Ia sengaja melupakan perselisihan kemarin demi menyambung kembali apa yang
hampir putus.
“Jika
engkau memiliki seorang saudara yang engkau cintai karena Alloh, maka
sedikitkanlah pandanganmu dalam meneliti cacat-cacatnya, dan berpura-pura
lupalah engkau dari ketergelinciran kesalahannya. Karena sesungguhnya tidak
akan ada seorang pun yang tersisa untuk mendampingimu jika engkau selalu
meneliti setiap kesalahan secara detail.”
Tidak ada
manusia yang sempurna tanpa cacat. Jika kita menuntut sahabat yang suci dari
dosa, istri yang bebas dari salah, atau tetangga yang selalu sempurna, niscaya
kita akan hidup sebatang kara di dunia ini. Sifat taghooful adalah modal
utama yang membuat hubungan pertemanan dan persaudaraan bisa bertahan lama,
hangat, dan penuh dengan keberkahan.
3.4
Menghancurkan Tipu Daya Syaithon
Musuh
terbesar bagi setiap Muslim yang ingin merajut ukhuwah dan ketaatan adalah
syaithon la’natulloh. Syaithon telah berputus asa untuk membuat orang-orang
yang beriman di jazirah Arob menyembah berhala kembali secara massal, namun ia
tidak pernah berputus asa untuk menempuh jalur lain yang tidak kalah
merusaknya, yaitu melakukan tahrish (mengobarkan api permusuhan,
provokasi, dan memecah belah) di antara sesama kaum Muslimin. Setiap kali ada
kesalahan kecil yang dilakukan oleh seorang Muslim kepada saudaranya, syaithon
akan datang membisikkan prasangka buruk, membesar-besarkan masalah yang sepele,
dan mengompori agar konflik tersebut meledak menjadi permusuhan besar. Sifat taghooful
hadir sebagai senjata iman yang sangat ampuh untuk menghancurkan seluruh makar
dan tipu daya syaithon tersebut.
Peringatan
tentang ambisi syaithon dalam merusak hubungan persaudaraan ini dikabarkan
langsung oleh Rosululloh ﷺ
dalam sabda beliau yang sangat masyhur:
«إِنَّ
الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ،
وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»
“Sesungguhnya
syaithon telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan
sholat di jazirah Arab, akan tetapi ia (tidak berputus asa) untuk melakukan
tahrish (mengobarkan permusuhan dan memecah belah) di antara mereka.” (HR.
Muslim no. 2812)
Ketika
syaithon melakukan tahrish, ia memanfaatkan kelalaian manusia dalam
mengendalikan emosinya. Misalnya, ketika seorang saudara terlambat membalas
pesan, salah berucap di sebuah majelis, atau lupa menyapa saat berpapasan,
syaithon akan membisikkan ke dalam hati kita ucapan seperti: “Dia sengaja
merendahkanmu,” atau “Dia sudah tidak menghargaimu lagi.” Jika kita menuruti
bisikan tersebut dan mulai menegurnya dengan kasar atau mendiamkannya, maka
syaithon telah memenangkan pertempuran tersebut.
Namun,
ketika seorang hamba menghadapi situasi tersebut dengan tameng taghooful,
ia langsung mematahkan perangkap syaithon. Ia akan berkata pada dirinya
sendiri: “Mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia tidak melihatku, atau mungkin
dia sedang memiliki beban pikiran yang berat,” lalu ia melupakan urusan itu
sepenuhnya. Tindakan bertaghooful ini membuat makar syaithon hancur
lebur dan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi munculnya kebencian.
Tidak ada
satu pun sikap hamba yang mampu membuat syaithon merasa sangat marah dan
terhina melebihi kemampuan hamba tersebut dalam bertaghooful (pura-pura
tidak tahu) terhadap hal-hal yang tidak disukainya. Hal itu karena syaithon
sangat berambisi untuk menyalakan api fitnah di antara manusia, maka apabila ia
melihat sang hamba justru berpura-pura buta dari kesalahan saudaranya, niscaya
syaithon akan pergi dalam keadaan terhina lagi merugi.
Dengan
demikian, mengamalkan taghooful bukan sekadar urusan etika sosial,
melainkan sebuah medan jihad akbar melawan musuh abadi kita, yaitu syaithon.
Setiap kali kita memejamkan mata dari kesalahan saudara kita dan memilih untuk
melupakannya, kita sedang menancapkan tombak keimanan ke dada syaithon,
sekaligus mengokohkan pondasi bangunan ukhuwah Islamiyyah di atas keridhoan
Alloh ﷻ.
Pemahaman mendalam mengenai empat keutamaan besar pada bab ini menjadi lentera
penerang yang membakar semangat kita untuk meneladani kisah-kisah nyata
pengamalan sifat mulia ini oleh generasi terbaik umat, yang akan kita bedah
secara luas pada bab selanjutnya.
Bab 4: Taghooful
dalam Kehidupan
4.1
Taghooful Orang Terdahulu
Diriwayatkan dari Mu’awiyah rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:
لَوْ أَنَّ بَيْنِي وَبَيْنَ
النَّاسِ شَعْرَةً يَمُدُّونَهَا وَأَمُدُّهَا مَا انْقَطَعَتْ، قِيلَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟
قَالَ: كُنْتُ إِذَا أَرْخَوْهَا مَدَدْتُ، وَإِذَا مَدُّوهَا أَرْخَيْتُ
“Seandainya antara diriku dan antara manusia ada sehelai rambut
yang mereka menariknya dan aku pun menariknya, niscaya ia tidak akan putus.”
Ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab: “Aku
dahulu jika mereka mengulurnya maka aku menariknya, dan jika mereka menariknya
maka aku mengulurnya.” (Lisanul ‘Arob, Ibnu Manzhur (711 H), 5/376)
Perumpamaan “Rambut Mu’awiyah” ini berkaitan erat dengan
penerapan sikap taghooful (pura-pura tidak tahu atau memejamkan mata
dari kesalahan kecil orang lain demi menjaga keutuhan hubungan). Dalam
kepemimpinan dan pergaulan, mengulur rambut ketika orang lain menariknya adalah
cerminan dari sikap taghooful, di mana seorang muslim yang bijak memilih untuk
tidak membongkar semua aib, tidak mendebat setiap kekeliruan, dan pura-pura
tidak tahu atas sebagian sikap kurang beradab dari manusia agar ikatan ukhuwah
atau kepemimpinan tidak rusak.
Sikap taghooful yang serupa juga dicontohkan oleh kholifah
rosyidah ke-5, Umar
bin Abdul Aziz. Beliau adalah sosok yang sangat tegas dalam urusan agama Alloh ﷻ, namun dalam urusan hak pribadi yang berkaitan dengan
kekhilafan manusiawi, beliau adalah orang yang sangat pandai melupakan.
‘Umar bin Hafsh menceritakan, seorang guru menceritakan
kepada kami, dia berkata: “Tatkala ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (101 H) diangkat
menjadi pemimpin, beliau keluar pada suatu malam bersama seorang pengawalnya,
lalu beliau masuk ke dalam Masjid. Di dalam kegelapan, beliau berjalan melewati seorang lelaki yang sedang
tidur lalu beliau tersandung dengannya. Lelaki itu mengangkat kepalanya ke arah
beliau seraya berkata: ‘Apakah engkau orang gila?’ Beliau menjawab: ‘Bukan.’
Pengawal beliau pun bergegas hendak memukul lelaki itu, namun ‘Umar berkata
kepadanya: ‘Tahan, dia hanyalah bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau orang gila?’,
lalu aku menjawab: ‘Bukan.’” (At-Targhib wat Tarhib, Ismail Al-Ashfahani
(535 H), 2/398)
Melalui dua
kisah ini, tampak sangat jelas bahwa kedudukan kepemimpinan dan kemuliaan jiwa
tidak akan pernah turun derajatnya hanya karena seseorang memilih untuk
pura-pura lupa dari kekasaran orang lain. Justru dengan bertaghooful,
wibawa mereka semakin memancar kuat di hati umat.
Al-Imam Abu
Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafii (204 H) pernah memberikan sebuah kaidah
emas tentang hubungan antara kecerdasan akal dengan sifat taghooful ini.
Beliau rohimahulloh menegaskan:
الكَيِّسُ
العَاقِلُ هُوَ الفَطِنُ المُتَغَافِلُ
“Orang yang
cerdas lagi berakal sehat adalah orang yang memiliki ketajaman pikiran namun ia
pandai berpura-pura lupa (bertaghooful) dari kesalahan orang lain.” (Syarah
Muslim, An-Nawawi, 14/147)
Penerapan
nyata dari ucapan beliau ini terlihat ketika salah seorang murid dekat beliau
yang bernama Yunus bin Abdil A’la berbeda pendapat dengan beliau dalam sebuah
masalah fiqih di dalam majelis. Yunus merasa sangat marah hingga ia bangkit
berdiri, meninggalkan majelis ilmu, dan pulang ke rumahnya dalam keadaan
jengkel. Di malam harinya, Imam Asy-Syafii secara mengejutkan mendatangi rumah
Yunus bin Abdil A’la. Ketika Yunus membuka pintu dengan perasaan cemas, Imam
Asy-Syafii justru bertaghooful sepenuhnya dari kemarahan Yunus yang
terjadi di siang hari. Beliau tidak mengungkit perselisihan tersebut, tidak
menceramahi Yunus tentang adab kepada guru, melainkan beliau menggandeng tangan
Yunus seraya berkata dengan penuh kelembutan.
Yunus
Ash-Shodafi (264 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal
daripada Asy-Syafi'i (204 H). Aku pernah mendebatnya pada suatu hari dalam
sebuah permasalahan, kemudian kami berpisah. Lalu beliau menjumpai diriku
kembali, lalu beliau menggandeng tanganku seraya berkata:
يَا
أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي
مَسْأَلَةٍ؟
‘Wahai
Abu Musa, tidakkah tetap lurus bagi kita untuk menjadi saudara meskipun kita
tidak sepakat dalam suatu permasalahan?’” (Ahkamul Qur’an lisy Syaafi’i –
Jam’ul Baihaqi (458 H), 1/27)
4.2
Taghooful dalam Hubungan Suami Istri
Ikatan
pernikahan adalah ikatan yang sangat kokoh (mitsaqon gholizho) yang
disatukan di atas kalimat Alloh ﷻ. Namun, bertemunya dua kepala
dengan latar belakang, watak, pola asuh, dan kebiasaan yang berbeda di bawah
satu atap yang sama pasti akan melahirkan gesekan dan perbedaan pandangan.
Tidak ada satu pun rumah tangga di dunia ini yang sepi dari kekhilafan, baik
dari pihak suami maupun istri. Jika setiap kesalahan kecil harian—seperti
masakan yang kurang garam, pakaian yang lupa disetrika, atau ucapan yang
bernada agak tinggi karena kelelahan—selalu diteliti, dicatat, dan dijadikan
bahan pertengkaran, maka baiti jannati (rumahku Surgaku) akan berubah
menjadi medan perang yang gersang. Oleh karena itu, taghooful adalah
pilar utama yang menjaga kokohnya bahtera rumah tangga dari badai perceraian.
Seorang
suami yang sholih dan bijaksana tidak akan pernah memburu-buru setiap
kekurangan istrinya. Ia memahami bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang
bengkok, yang jika dipaksa lurus secara kaku justru akan patah. Suami yang
cerdas akan menerapkan taghooful; ia melihat kekurangan istrinya namun
ia memejamkan mata, seraya mengalihkan fokusnya pada kebaikan-kebaikan sang
istri yang lain. Petunjuk mulia ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ:
«لَا
يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ»
“Janganlah
seorang Mu’min laki-laki membenci seorang Mu’min perempuan (istrinya). Jika ia
tidak menyukai satu perangai darinya, niscaya ia akan ridho (menyukai) perangai
darinya yang lain.” (HR. Muslim no. 1467)
Begitu pula
sebaliknya, seorang istri yang sholihah akan bertaghooful dari keletihan
dan keterbatasan suaminya. Ketika suami pulang kerja dalam keadaan letih lalu
tanpa sengaja menumpahkan air atau meletakkan handuk basah di atas kasur, istri
yang berakal tidak akan mengomel atau merusak suasana malam dengan cacian. Ia
akan pura-pura lupa dari kekhilafan kecil itu, segera membereskannya dengan
senyuman, dan menyambut suaminya dengan kehangatan.
Dengan
mengamalkan taghooful di dalam rumah tangga, pasutri akan mampu melewati
riak-riak kecil pernikahan dengan selamat. Kelemahan pasangan tidak akan
menjadi bahan gunjingan atau dendam, melainkan ditutupi dengan selimut
pemaafan, sehingga kasih sayang (mawaddah warohmah) senantiasa menaungi
rumah tangga mereka hingga ke Jannah.
4.3
Taghooful dalam Mendidik Anak
Anak-anak
adalah amanah sekaligus perhiasan dunia yang berada di bawah tanggung jawab
orang tua. Dalam fase pertumbuhannya, anak-anak secara tabiat memiliki rasa
ingin tahu yang besar, belum matang akalnya, dan sangat sering melakukan
kesalahan, kecerobohan, serta pelanggaran disiplin rumah. Metode pendidikan (tarbiyah)
yang kaku, yang selalu menghujani anak dengan tegoran keras, bentakan, atau
hukuman fisik pada setiap kesalahan kecil, justru akan merusak mental anak,
menjauhkannya dari orang tua, dan menumbuhkan karakter pemberontak dalam
jiwanya. Di sinilah pentingnya orang tua memiliki sifat taghooful
sebagai bagian dari seni mendidik yang bersumber dari kasih sayang.
Bertaghooful
dalam mendidik anak artinya tidak semua kesalahan anak harus direspon saat itu
juga dengan teguran atau kemarahan. Ketika seorang anak tanpa sengaja
memecahkan gelas, menumpahkan tinta di lantai, atau lupa membereskan mainannya,
orang tua yang bijak akan bertaghooful; mereka pura-pura tidak melihat
gejolak awal itu untuk menahan amarah pribadi, kemudian mendekati anak dengan
lembut setelah suasana tenang untuk memberikan nasihat secara bertahap.
Nabi ﷺ sendiri memberikan teladan
agung tentang bagaimana memperlakukan anak-anak dengan kelapangan dada yang
luar biasa tanpa menghakimi setiap kecerobohan mereka. Shohabat Anas bin Malik rodhiyallahu
‘anhu yang telah berkhidmat melayani Nabi ﷺ sejak usia belia mengisahkan kesaksiannya:
«خَدَمْتُ
النَّبِيَّ ﷺ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ،
وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ
تَرَكْتَهُ»
“Aku telah
membantu pelayanan Nabi ﷺ
selama 10 (sepuluh) tahun. Maka demi Alloh, beliau tidak pernah sekalipun
mengucapkan kata ‘Ah’ kepadaku, dan beliau tidak pernah mempertanyakan terhadap
apa yang aku perbuat dengan ucapan: ‘Mengapa engkau perbuat ini?’, tidak pula
terhadap apa yang aku tinggalkan dengan ucapan: ‘Mengapa engkau tinggalkan ini?’”
(Muttafaq ‘Alaih tapi Lafazh At-Tirmidzi no. 2015)
Pola
interaksi Nabi ﷺ
yang luar biasa ini
adalah puncak dari aplikasi taghooful dalam dunia tarbiyah anak. Beliau ﷺ memaklumi keterbatasan usia
anak-anak dan remaja yang sering lupa atau lalai dari tugasnya, sehingga beliau
memilih untuk bertaghooful demi menjaga kedekatan emosional dan
efektivitas bimbingan jangka panjang.
Sesungguhnya
orang yang berlebihan dalam mencela anak-anak atas setiap ketergelinciran kecil
akan merusak tabiat mereka dan justru memberanikan mereka untuk melakukan
pelanggaran secara sembunyi-sembunyi. Dan orang yang berakal adalah mereka yang
bertaghooful dari sebagian kesalahan anak agar wibawa dirinya tetap
terjaga di dalam hati mereka.
Melalui
penerapan taghooful ini, anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan keluarga
yang aman dan penuh penerimaan. Mereka tidak takut untuk mengakui kesalahan
besar karena mereka tahu orang tua mereka tidak gila hormat dan tidak suka
membesar-besarkan urusan sepele. Hal ini akan mempermudah internalisasi
nilai-nilai Taqwa dan Sunnah ke dalam dada mereka dengan penuh kesadaran iman.
4.4
Taghooful dalam Hubungan Bertetangga
Tetangga
adalah orang yang paling dekat dengan tempat tinggal kita, yang melihat
gerak-gerik kita, dan yang paling pertama datang memberikan bantuan ketika kita
tertimpa musibah. Namun, kedekatan jarak geografis ini juga menyimpan potensi
konflik yang sangat besar. Suara kendaraan yang bising di malam hari, sampah
yang tidak sengaja tertiup angin ke halaman rumah kita, atau hewan peliharaan
yang mengotori jalanan, adalah bumbu-bumbu ujian dalam bertetangga. Jika
seorang Muslim tidak membekali dirinya dengan sifat taghooful dalam
kehidupan bermasyarakat, niscaya ia akan hidup dalam permusuhan yang melelahkan
dan kehilangan kedamaian di rumahnya sendiri.
Islam
sangat mengagungkan hak-hak tetangga, bahkan menjadikannya sebagai salah satu
parameter kesempurnaan iman seseorang di hadapan Alloh ﷻ. Rosululloh ﷺ bersabda dengan tegas:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah ia berbuat baik kepada
tetangganya.” (HR. Muslim no. 48)
Berbuat
baik kepada tetangga tidak hanya terbatas pada memberi makanan atau hadiah,
melainkan mencakup kelapangan dada untuk menahan gangguan mereka serta bertaghooful
dari kesalahan muamalah mereka. Ketika tetangga kita berbuat ceroboh atau
mengucapkan kalimat yang kurang mengenakkan, tindakan terbaik adalah dengan
pura-pura tidak mendengar dan melupakannya.
Di antara
tanda-tanda orang sholih adalah kesabaran mereka dalam menghadapi gangguan para
tetangga serta kemampuan mereka untuk bertaghooful (pura-pura lupa) dari
ketergelinciran kesalahan tetangga tersebut. Maka tidaklah seseorang dikatakan
memiliki iman yang sempurna hingga tetangganya merasa aman dari kejahatannya,
dan ia sendiri pandai bertaghooful dari keburukan tetangganya.
Dengan
membudayakan sikap taghooful dalam kehidupan bermasyarakat,
dinding-dinding kecurigaan antar tetangga akan runtuh. Suasana lingkungan akan
menjadi sejuk, penuh gotong royong, dan terhindar dari penyakit saling lapor
atau saling sindir di ruang publik. Masyarakat Muslim akan menjelma menjadi
satu bangunan yang kokoh, di mana satu bagian saling menguatkan bagian yang
lain karena mereka semua sepakat untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan
masa lalu demi tegaknya maslahat bersama.
4.5
Taghooful dalam Interaksi Sosial
Dunia
profesi, tempat kerja, serta medan da’wah adalah arena perjuangan di mana
manusia berinteraksi demi mengejar target-target besar, baik yang sifatnya
duniawi maupun Akhiroh. Di tempat-tempat ini, tekanan kerja yang tinggi,
kelelahan fisik, serta perbedaan kapasitas intelektual sangat sering memicu
terjadinya kesalahpahaman antar rekan kerja, antara atasan dan bawahan, maupun
antar sesama aktivis da’wah. Jika setiap gesekan profesional, keterlambatan
laporan, atau perbedaan ijtihad dalam metode da’wah disikapi dengan ego pribadi
yang tinggi tanpa adanya taghooful, maka produktivitas kerja akan hancur
dan barisan da’wah akan bercerai-berai sebelum musuh menghadang.
Di
lingkungan kerja, seorang pemimpin atau atasan yang mulia adalah mereka yang
tahu kapan harus menegur secara tegas dan kapan harus bertaghooful dari
kekhilafan bawahannya yang tidak disengaja. Begitu pula antar rekan kerja,
mengabaikan persaingan tidak sehat yang bersifat kekanak-kanakan dan bertaghooful
dari kalimat sinis rekan kerja adalah tanda kematangan profesionalisme yang
berbasis iman.
Terlebih
lagi di dalam dunia da’wah Islamiyyah. Para dai dan penggerak da’wah adalah
manusia yang tidak ma’sum; mereka bisa lelah, bisa keliru dalam memilih
kata saat berkhutbah, atau salah dalam berkoordinasi. Jika sesama pejuang da’wah
saling mengintai kesalahan saudaranya (tatabbu’ ‘aurot), maka ukhuwah di
antara mereka akan mati, dan syaithon akan tertawa menang karena berhasil
menghentikan laju roda da’wah dari dalam. Oleh karena itu, para ulama da’wah
selalu menekankan pentingnya bertaghooful dalam perkara-perkara
ijtihadiah yang lapang.
Apabila
para pemegang urusan agama (ahli din/aktivis da’wah) tidak mau bertaghooful
dari ketergelinciran kesalahan sebagian terhadap sebagian yang lain, niscaya
kedengkian akan memakan habis pahala amal mereka, persatuan kalimat mereka akan
pecah, dan para musuh akan bersorak gembira melihat kehancuran mereka. Maka
ketahuilah, menyampaikan nasihat itu memang membutuhkan kelembutan, namun dalam
sebagian besar kondisi, urusan itu jauh lebih membutuhkan sikap pura-pura lupa
(taghooful).
Rosululloh ﷺ juga telah meletakkan asas
kemudahan ini dalam setiap misi penugasan da’wah dan kerja sosial melalui
wasiat beliau yang sangat masyhur kepada para Shohabatnya:
«يَسِّرُوا
وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا»
“Permudahlah
oleh kalian dan janganlah kalian mempersulit, serta berikanlah kabar gembira
oleh kalian dan janganlah kalian membuat orang-orang berlarian pergi.” (HR.
Al-Bukhori no. 69 dan Muslim no. 1734)
Amanah
untuk “jangan membuat orang berlarian pergi” (laa tunaffiru) menuntut
setiap dai dan pekerja profesional untuk menjadi figur yang menyenangkan, tidak
kaku, dan tidak suka menguliti aib orang lain. Dengan bertaghooful,
muamalah kerja menjadi berkah, da’wah menjadi sejuk dan mudah diterima oleh mad’u
(objek da’wah), serta barisan kaum Muslimin tetap terjaga dalam ikatan tali
cinta yang tulus karena Alloh ﷻ semata. Penjabaran aplikasi praktis pada bab ini membuka mata
kita semua bahwa taghooful adalah solusi rill bagi segala
problematika sosial manusia modern, sebelum kita melangkah pada pembahasan
terakhir mengenai terapi keimanan untuk menumbuhkan sifat agung ini pada bab
selanjutnya.
Bab 5:
Menumbuhkan Sifat Taghooful
5.1
Menyadari Kekurangan Diri
Sifat enggan
bertaghooful dan selalu ingin menguliti kesalahan orang lain pada
hakikatnya bersumber dari penyakit ujub (bangga diri) dan kesombongan yang
tersembunyi di dalam dada. Ketika seseorang merasa dirinya suci, bersih dari
cacat, dan selalu benar, ia akan dengan sangat mudah memandang rendah orang
lain serta menuntut kesempurnaan dalam berinteraksi. Oleh karena itu, terapi
keimanan paling pertama dan paling utama untuk menumbuhkan sifat taghooful
adalah dengan memaksa jiwa melihat ke dalam cermin kekurangan diri sendiri,
serta merenungi betapa banyaknya dosa pribadi yang telah diperbuat di hadapan
Alloh ﷻ.
Seorang
hamba yang sadar bahwa dirinya adalah gudang kesalahan tidak akan memiliki
waktu ataupun ketegangan emosi untuk sibuk mengurusi ketergelinciran
saudaranya. Ia akan merasa sangat malu kepada Alloh ﷻ jika ia menuntut manusia
memperlakukannya tanpa salah, sementara ia sendiri terus-menerus melanggar
batasan-batasan Robb-nya. Kesadaran iman ini sejalan dengan sabda Rosululloh ﷺ:
«كُلُّ
ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»
“Setiap
anak cucu Adam itu pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang
banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang rajin bertaubat.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2499)
Ketika kita
menyadari bahwa setiap manusia—termasuk diri kita sendiri—memiliki tabiat “khottho’”
(gemar berbuat salah), maka kita akan memandang kesalahan orang lain dengan
kacamata rohmat dan kasih sayang, bukan dengan kacamata hakim yang siap
menghukum. Kita akan bertaghooful dari kekhilafan mereka karena kita pun
sangat berharap orang lain dan Alloh ﷻ bertaghooful serta
memaafkan dosa-dosa kita.
Kesibukan
seorang insan terhadap cacat-cacat dirinya sendiri hingga ia melupakan
cacat-cacat saudara seimannya, itulah hakikat taghooful yang sejati.
Maka bagaimana mungkin kita masih bisa menemukan waktu untuk menghitung-hitung
ketergelinciran orang lain, padahal kita sendiri tidak pernah tahu apakah
amalan kita diterima di sisi Alloh atau justru ditolak?
Melalui
terapi muhasabah (introspeksi diri) yang mendalam ini, jiwa yang tadinya keras
dan kaku akan melunak. Sifat suka menyelidiki kesalahan orang lain akan
terkikis habis dan digantikan oleh kesibukan memperbaiki diri, sehingga hamba
tersebut akan menjadi orang yang paling mudah bertaghooful dan paling
berlapang dada di tengah masyarakat.
5.2
Mengharap Pahala yang Besar
Manusia
secara tabiat asal memiliki kecenderungan untuk membela diri, meluapkan amarah,
dan menuntut balas ketika hak-hak pribadinya diusik oleh orang lain. Untuk
mengikis tabiat egois yang merusak ini dan mengubahnya menjadi sifat taghooful
yang mulia, dibutuhkan sebuah motivasi besar yang melampaui batas-batas
kepuasan duniawi. Motivasi akbar itu adalah pandangan Akhiroh yang tajam, yaitu
sebuah harapan yang membumbung tinggi akan raihan pahala yang melimpah ruah di
Hari Qiyamah, hari di mana seluruh manusia sangat butuh terhadap setiap
timbangan kebaikan.
Ketika
seorang Muslim disakiti melalui ucapan atau perbuatan saudaranya, lalu ia
memilih untuk menahan lidahnya, mengubur jengkelnya, dan bertaghooful
seolah-olah tidak terjadi apa pun, ia sedang melakukan sebuah investasi iman
yang sangat menguntungkan di hadapan Alloh ﷻ. Balasan bagi orang yang
menahan amarah demi kemaslahatan ukhuwah ini dikabarkan langsung oleh
Rosululloh ﷺ
dalam janjinya yang agung:
«مَنْ
كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ
الْعِينِ مَا شَاءَ»
“Siapa yang
menahan amarahnya padahal ia memiliki kemampuan untuk meluapkannya, niscaya
Alloh akan memanggilnya di hadapan seluruh kepala makhluk (manusia) pada hari
Qiyamah, hingga Alloh memberikan pilihan kepadanya untuk memilih bidadari surga
mana saja yang ia inginkan.” (HHR. Abu Dawud no. 4777)
Derajat “menahan
amarah yang sempurna” adalah dengan bertaghooful. Jika sekadar menahan
amarah namun wajah masih cemberut dan hubungan menjadi kaku, maka itu belum
mencapai puncak keutamaan. Namun, ketika seseorang menahan amarahnya lalu ia
tersenyum, bersikap biasa, dan melupakan urusan itu seakan-akan tidak pernah
ada gesekan, maka ia telah mengombinasikan antara kazhmul ghoizh
(menahan amarah) dengan taghooful. Imbalan bidadari di hadapan seluruh
makhluk pada hari Qiyamah adalah balasan yang sangat sepadan bagi beratnya
perjuangan batin dalam meredam ego di dunia.
Dengan
senantiasa menghidupkan tadabbur terhadap pahala-pahala Akhiroh ini, seorang
hamba tidak akan lagi memandang kesalahan orang lain sebagai beban atau
musibah, melainkan sebagai peluang emas yang sengaja Alloh ﷻ
suguhkan agar ia bisa memanen pahala kesabaran dan kelapangan dada yang akan
menyelamatkannya di pengadilan Robbani kelak.
5.3
Memandang dengan Takdir
Terapi iman
yang sangat mendalam dan mampu mencabut akar kemarahan hingga ke bonggolnya
adalah dengan memandang setiap kejadian melalui kacamata Tauhid dan keimanan
yang kokoh terhadap takdir Alloh ﷻ (al-iman bil qodar).
Seorang hamba harus meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada satu
jengkal pun peristiwa yang terjadi di alam semesta ini—termasuk ucapan buruk
orang lain yang mengenainya atau kesalahan muamalah yang menimpanya—melainkan
semua itu telah tertulis di dalam Lauhul Mahfuzh dan terjadi atas izin,
kehendak, serta hikmah dari Alloh ﷻ.
Ketika
seseorang menyadari bahwa manusia hanyalah wasilah (perantara) yang digerakkan
oleh takdir Alloh ﷻ
untuk menguji sejauh mana kadar keimanannya, maka fokus perhatiannya akan
beralih dari menyalahkan makhluk menuju ketundukan kepada Sang Pencipta. Ia
tidak akan sibuk mendendam kepada orang yang bersalah kepadanya, melainkan ia
akan bertaghooful dari kesalahan makhluk tersebut dan sibuk memperbaiki
hubungannya dengan Alloh ﷻ melalui taubat dan istighfar. Pemahaman Tauhid yang agung ini
bersandar pada wasiat Nabi ﷺ yang
sangat masyhur kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:
«وَاعْلَمْ
أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ
إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ
بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ
الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»
“Dan
ketahuilah, sesungguhnya seandainya seluruh umat manusia bersatu padu untuk
memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu
memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh
bagimu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu madhorot
(bahaya) kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan madhorot itu
kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh atasmu. Pena-pena
takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2516)
Melalui
pemahaman Hadits ini, ketika tetangga kita berbuat kurang baik, atau rekan
kerja kita berbuat keliru yang merugikan kita, seorang Muslim yang faqih (paham
agama) akan berkata dalam hatinya: “Alloh telah menakdirkan ini terjadi atas
diriku sebagai ujian, dan barangkali ini adalah pelebur bagi dosa-dosaku masa
lalu.” Pandangan Tauhid inilah yang membuatnya mampu bertaghooful dengan
sangat mudah, tanpa beban ganjalan di hati, karena ia melihat ada hikmah
Robbani di balik setiap ketergelinciran akhlak manusia di sekitarnya.
Siapa yang
memandang makhluk dengan kacamata hakikat kebenaran takdir, niscaya ia akan
mengasihi mereka dan bertaghooful (pura-pura lupa) dari kebodohan
perlakuan mereka. Hal itu karena ia tahu bahwa mereka semua tunduk di bawah
kehendak Alloh, dan sesungguhnya apa yang menimpa dirinya dari kesalahan mereka
adalah akibat dari dosa-dosanya sendiri, sehingga ia pun bersih hatinya dan
hanya fokus mencari wajah Robb-nya semata.
5.4
Melatih Diri Menahan Amarah
Menumbuhkan
sifat taghooful tidak bisa diraih secara instan hanya dalam waktu satu
malam, melainkan ia adalah sebuah proses riyadhoh (latihan jiwa) yang
berkesinambungan, bertahap, dan membutuhkan kesabaran yang kuat (mujahadatun
nafs). Seseorang yang terbiasa memiliki watak temperamental, kaku, dan
egois harus memaksa dirinya secara sadar untuk belajar menahan amarah setiap
kali percikan konflik harian mulai muncul, hingga akhirnya kelapangan dada dan
sifat taghooful itu menjelma menjadi karakter alami yang melekat erat
pada dirinya.
Di dalam
kaidah syariat, setiap akhlak mulia bisa didapatkan dan diusahakan melalui
jalur latihan yang konsisten (tahallum dan tanaffus). Rosululloh ﷺ memberikan garis panduan
praktis tentang bagaimana metode merubah watak jiwa ini dalam sabda beliau:
«إِنَّمَا
الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ
الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ»
“Sesungguhnya
ilmu itu hanya bisa didapatkan dengan cara belajar, dan sesungguhnya sifat
santun (hilm) itu hanya bisa didapatkan dengan cara melatih diri untuk
santun (tahallum). Dan siapa yang bersungguh-sungguh mencari kebaikan
niscaya ia akan diberikan kebaikan itu, dan siapa yang menjaga dirinya dari
keburukan niscaya ia akan dilindungi darinya.” (Shohihul Jami’ Ash-Shoghir,
no. 2328)
Berdasarkan
petunjuk nabawi ini, terapi praktis untuk melatih diri bertaghooful
adalah sebagai berikut:
a) Ketika
mendengar ucapan yang tidak mengenakkan, paksakan lidah untuk diam selama
beberapa detik dan jangan langsung merespon.
b) Alihkan pandangan
atau fokus pikiran ke hal lain yang positif agar memori buruk itu tidak
mengendap di dalam hati.
c) Bisikkan
kata-kata pemaafan dan carikan 70 (tujuh puluh) udzur (alasan pembenaran yang
baik) bagi saudara yang berbuat salah tersebut.
d) Lakukan tindakan
bertaghooful ini berulang-ulang dalam setiap skala konflik kecil, mulai
dari urusan rumah tangga hingga muamalah di jalanan, hingga jiwa terbiasa dan
tidak lagi merasa berat.
Dengan
mengombinasikan empat terapi keimanan pada bab ini—mulai dari melihat kekurangan
diri, mengharap pahala Akhiroh, ridho terhadap takdir, hingga latihan menahan
amarah yang konsisten—seorang hamba akan mampu meruntuhkan tirai-tirai
kesombongan di dalam dadanya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang agung,
berjiwa besar, dan sangat mahir dalam mengamalkan taghooful, sebuah
hiasan akhlak luhur para Nabi dan ulama Salaf yang membawa keselamatan hakiki
di dunia maupun Akhiroh.
Penutup
Di tengah
realita kehidupan duniawi yang penuh dengan keterbatasan, gesekan, dan cacat
cela manusiawi, sifat taghooful hadir sebagai oase penyejuk yang merawat
kesucian hati, menyelamatkan dinding ukhuwah Islamiyyah dari kehancuran, serta
menutup rapat pintu-pintu tahrish (provokasi) yang senantiasa diusahakan
oleh syaithon la’natulloh. Generasi terbaik umat ini—mulai dari para Nabi alaihimush
sholatu was salam, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, hingga para
ulama Salafush Sholih rohimahumulloh—telah mengukir rekam jejak sejarah
yang sangat indah dalam mengaplikasikan seni berlapang dada ini pada seluruh lini
kehidupan mereka.
Kini, tugas
bagi kita semua setelah menyelami samudera dalil syar’i dan atsar ulama di
dalam buku ini adalah membawa ilmu yang mulia ini ke dalam ranah riyadhoh
(latihan jiwa) dan amalan nyata sehari-hari. Mari kita paksakan ego kita untuk
belajar memejamkan mata dari kekhilafan kecil di dalam rumah tangga bersama
pasangan dan anak-anak, mengubur jengkel dari gangguan tetangga di
bermasyarakat, serta membuang jauh prasangka buruk di tempat kerja maupun di
medan perjuangan da’wah.
Semoga
Alloh ﷻ
yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang senantiasa mengaruniakan kepada kita
hati yang makhmum (bersih), dada yang lapang, serta jiwa yang dimudahkan
untuk bertaghooful dari kesalahan sesama hamba.
Kita
memohon kepada Robb kita agar amalan yang sedikit ini menjadi pemberat
timbangan kebaikan kita di hari Qiyamah, serta menjadi wasilah yang
mengantarkan kita semua ke dalam naungan ridho-Nya dan jannah-Nya yang penuh
dengan kenikmatan abadi.
وآخِرُ
دَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ
Daftar Pustaka
Ahkamul
Qur’an, Ibnu Al-Arobi
(543 H)
A’lamul
Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Al-Qoyyim (751 H)
Al-Adab
Asy-Syar’iyyah,
Ibnu Muflih (763 H)
Al-Inshof
fi Ma’rifatir Rojih minal Khilaf, Al-Mardawi (885 H)
Al-Muntazhom
fi Tarikhul Muluk wal Umam, Ibnu Al-Jauzi (597 H)
Hilyatul
Auliya wa Thobaqotul Ashfiya, Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H)
Ihya ‘Ulumiddin, Al-Ghozali (505 H)
Manaqib
Asy-Syafii,
Al-Baihaqi (458 H)
Mukhtashor
Minhajil Qoshidin,
Ibnu Qudamah (620 H)
Siyar A’lamin
Nubala, Adz-Dzahabi
(748 H)
Tarikh
Baghdad, Al-Khothib
Al-Baghdadi (463 H)
Thobaqotul Huffazh, As-Suyuthi (911 H)
