Cari Ebook

[PDF] TAGHOOFUL - Pura-pura Tidak Tahu Kesalahan Orang Lain - Nor Kandir

Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam, yang telah mengaruniakan syariat yang sempurna dan menghiasi hati orang-orang yang bertaqwa dengan keindahan akhlak yang luhur.

Sholawat beserta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad , yang diutus untuk menyempurnakan kemuliaan perangai manusia, begitu pula kepada para Shohabat beliau, para Tabi’in, Tabiut Tabi’in, dan seluruh hamba yang setia meniti jalan hidayah hingga hari Qiyamah.



Amma ba’du:

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang penuh dengan dinamika sosial, interaksi antarmanusia tidak pernah lepas dari gesekan kepentingan, perbedaan tabiat, dan benturan ego pribadi. Sebagai makhluk yang lemah, setiap insan pasti pernah tergelincir dalam kesalahan, khilaf dalam berucap, dan keliru dalam bertindak. Ketika setiap cacat kecil dipandang dengan mata yang tajam, setiap kekhilafan dicatat sebagai piutang dendam, dan setiap kesalahan harian diungkit tanpa batas, maka kedamaian jiwa akan sirna dan ikatan persaudaraan yang suci akan terkoyak. Hubungan rumah tangga menjadi gersang, jalinan silaturrohim antar kerabat terputus, ketenteraman bertetangga berubah menjadi kecurigaan, dan barisan perjuangan da’wah hancur berantakan sebelum sempat menghadapi tantangan dari luar. Kenyataan pahit inilah yang menegaskan betapa mendesaknya kehadiran sebuah penawar hati yang mampu meredam percikan fitnah sosial tersebut, yang di dalam khazanah warisan ulama Salaf dikenal dengan nama taghooful, yaitu seni berpura-pura lupa dan sengaja melupakan kesalahan orang lain demi kemaslahatan yang lebih besar.

Buku yang berada di hadapan pembaca yang mulia ini hadir sebagai ikhtiar ilmiah yang mendalam sekaligus ketukan lembut bagi sanubari setiap Muslim agar kembali menengok dan menghidupkan akhlak mulia yang hampir punah ini.

Dengan menguasai kemahiran bertaghooful, seorang hamba tidak hanya berhasil menyelamatkan kesehatan jiwanya dari sampah emosional yang tidak perlu, melainkan ia juga sedang menancapkan tombak keimanan ke dada syaithon la’natulloh yang sangat berambisi mengobarkan api permusuhan di antara sesama kaum Mu’min.

Lembaran awal buku ini mengajak kita untuk membedah hakikat serta kedudukan agung taghooful dalam Islam, sekaligus menarik garis pemisah yang tegas agar kita tidak mencampuradukkan antara sifat pura-pura lupa yang terpuji dengan sifat kelalaian yang tercela.

Selanjutnya, pembaca akan dibawa menyelami samudera dalil-dalil syar’i, baik dari isyarat ayat-ayat Al-Qur’an maupun petunjuk Hadits-Hadits Nabi yang shohih, serta bagaimana aturan syariat memandang pentingnya menutup aib sesama Muslim melalui instrumen taghooful ini.

Pembahasan kemudian beralih pada pemaparan keutamaan dan manfaat besar yang akan dipanen oleh para pengamal taghooful, baik berupa ridho Alloh dan jaminan Jannah, lahirnya ketenangan batin, merekatnya tali persaudaraan, hingga runtuhnya tipu daya pemecah belah milik musuh abadi kita.

Keindahan buku ini semakin menarik ketika mengetengahkan rekam jejak emas keteladanan Salafush Sholih dan penerapan praktis kehidupan sehari-hari, meliputi manajemen konflik di dalam rumah tangga bersama pasangan, seni mendidik anak tanpa bentakan, adab bertetangga di tengah masyarakat, hingga profesionalisme kerja di medan da’wah.

Akhirnya, pembahasan buku ini ditutup dengan untaian terapi keimanan yang aplikatif untuk menumbuhkan sifat mulia ini, yang diawali dengan kesadaran akan banyaknya dosa pribadi, besarnya harapan pahala di hari Qiyamah, ketundukan penuh terhadap takdir Alloh , hingga latihan jiwa yang konsisten.

Semoga goresan pena di dalam buku ini mampu menjadi lentera penerang yang melembutkan hati yang kaku, serta menuntun kita semua menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai memaafkan dan melupakan, demi meraih keselamatan di dunia dan Akhiroh.

 

Bab 1: Taghooful dalam Islam

1.1 Pengertian Taghooful

Kehidupan sosial manusia tidak pernah lepas dari gesekan, kekhilafan, dan kesalahan yang timbul dari interaksi sehari-hari. Di tengah tabiat manusia yang lemah dan penuh kekurangan ini, syariat Islam yang agung datang membawa bimbingan akhlak yang sangat luhur untuk menjaga keharmonisan hati, yang dikenal dengan istilah taghooful. Secara bahasa, kata taghooful diambil dari akar kata ghofala (غَفَلَ) yang berarti lalai atau tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu. Ketika kata ini diubah ikut berwazan tafaa’ala (تَفَاعَلَ) menjadi taghoofala (تَغَافَلَ), ia maknanya berubah menjadi pura-pura lalai, menampakkan diri seolah-olah tidak tahu, atau sengaja melupakan suatu perkara yang sebenarnya ia ketahui dengan jelas.

Maka, taghooful secara istilah maknanya adalah sebuah sikap mulia di mana seseorang mengetahui kesalahan, kekhilafan, atau keburukan yang dilakukan oleh saudaranya, namun ia sengaja memejamkan mata, menahan lidahnya, dan bersikap seolah-olah ia tidak melihat atau mendengar apa pun demi menjaga kehormatan saudaranya dan merawat keselamatan hatinya sendiri.

Sikap taghooful ini lahir dari jiwa yang besar, akal yang cerdas, dan kelapangan dada yang luar biasa. Ia bukan sebuah kelemahan, melainkan kecerdikan yang dibungkus dengan ketaqwaan. Mengenai hakikat taghooful ini, Abdullah bin Muhammad bin Manazil berkata:

المُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ، وَالمُنَافِقُ يَطْلُبُ عَثَرَاتِ إِخْوَانِهِ

“Seorang Mu’min itu selalu mencari-cari udzur (alasan pembenaran yang baik) bagi saudara-saudaranya, sedangkan seorang munafik selalu mencari-cari kesalahan saudara-saudaranya.” (Adabus Shuhbah, Abu Abdirrohman As-Sulami, hal. 44)

Berdasarkan penjelasan ulama terkemuka tersebut, taghooful merupakan bagian erat dari upaya seorang Mu’min untuk senantiasa menutup mata dari kesalahan orang lain dan sibuk mencari celah agar saudaranya tidak merasa terpojok atau dipermalukan.

Namun, perlu dipahami dengan sangat jelas bahwa terdapat perbedaan yang sangat kontras antara sikap taghooful (pura-pura lupa/lalai demi maslahat) dengan sifat ghoflah (kelalaian/tercela). Ghoflah atau kelalaian adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, di mana seorang hamba benar-benar lupa terhadap kewajiban agamanya, lalai dari mengingat Alloh , dan abai terhadap urusan Akhirohnya akibat tenggelam dalam syahwat duniawi. Sifat ghoflah ini merupakan sifat yang dicela di dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Alloh :

﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Dalam ayat lain, Alloh juga memberikan peringatan keras mengenai sifat lalai yang hakiki ini melalui firman-Nya:

﴿اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab amal mereka, sedang mereka dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al-Anbiya: 1)

Perbedaan mendasar di antara keduanya dapat dilihat dari tabel perbandingan berikut ini demi mempermudah pemahaman:

Poin Perbedaan

Taghooful (Pura-Pura Lupa)

Ghoflah (Kelalaian)

Kesadaran

Dilakukan dengan sadar, sengaja, dan penuh kendali diri.

Terjadi karena ketidaksadaran, hilangnya fokus, dan tunduk pada hawa nafsu.

Objek Sasaran

Ditujukan pada kesalahan, aib, dan kekhilafan sesama manusia.

Terjadi pada kewajiban syariat, dzikrulloh, dan perkara Akhiroh.

Motivasi Utama

Mewujudkan maslahat, menjaga silaturrohim, dan memuliakan orang lain.

Terdorong oleh rasa malas, cinta dunia, dan bujukan syaithon.

Dampak Hukum

Akhlak terpuji yang mendatangkan pahala dan kemuliaan jiwa.

Sifat tercela yang mendatangkan dosa dan mengeraskan hati.

Melalui rincian di atas, tampak terang benderang bahwa taghooful adalah buah dari kecerdasan akal dan kematangan iman, sedangkan ghoflah adalah tanda matinya hati dan lemahnya pandangan bashiroh (mata hati).

Sufyan berkata:

مَا زَالَ التَّغَافُلُ مِنْ فِعْلِ الْكِرَامِ

“Taghooful senantiasa menjadi perbuatan orang-orang mulia.” (Tafsir Ibnu Asyur, 28/353)

Oleh karena itu, jangan sampai seorang Muslim menyamakan antara orang yang bertaghooful dengan orang yang dungu atau lalai. Orang yang bertaghooful sebenarnya mampu untuk membalas, mampu untuk membongkar kesalahan, dan mampu untuk mencerca, namun ia menahan dirinya demi mencari ridho Alloh semata.

1.2 Akhlak para Nabi dan Orang Sholih

Sifat taghooful merupakan sebuah kedudukan akhlak yang sangat tinggi di dalam tatanan syariat Islam. Jika kita membuka lembaran-lembaran sejarah kehidupan manusia-manusia pilihan, kita akan mendapati bahwa taghooful adalah mahkota hiasan yang melekat erat pada diri para Nabi alaihimush sholatu was salam dan para hamba yang sholih. Mereka adalah teladan utama dalam menutup mata dari kesalahan orang-orang di sekitar mereka, meskipun mereka memiliki kemampuan penuh untuk menegur atau menghukum.

Suri teladan pertama dalam perkara ini adalah Nabi Yusuf alaihissalam. Ketika saudara-saudara beliau datang ke Mesir dalam keadaan tidak mengenali Yusuf yang telah menjadi penguasa, mereka melakukan sebuah tuduhan yang menyakitkan hati di hadapan Yusuf secara langsung. Saat adik Yusuf (Bunyamin) tertuduh mencuri, mereka mengaitkannya dengan Yusuf dengan mengatakan bahwa Yusuf pun dahulu pernah mencuri. Mendengar tuduhan dusta dan hinaan yang menusuk perasaan tersebut, Nabi Yusuf alaihissalam tidak marah, tidak membongkar identitasnya saat itu juga untuk membalas dendam, dan tidak pula memerintahkan pengawal untuk menangkap mereka. Alloh mengabadikan sikap taghooful tingkat tinggi yang ditunjukkan oleh Nabi Yusuf alaihissalam dalam Al-Qur’an:

﴿قَالُوا إِنْ يَسْرِقْ فَقَدْ سَرَقَ أَخٌ لَهُ مِنْ قَبْلُ فَأَسَرَّهَا يُوسُفُ فِي نَفْسِهِ وَلَمْ يُبْدِهَا لَهُمْ قَالَ أَنْتُمْ شَرٌّ مَكَانًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا تَصِفُونَ

“Mereka berkata: ‘Jika ia mencuri, maka sesungguhnya telah pernah mencuri pula saudaranya sebelum itu.’ Maka Yusuf menyembunyikan rahasia itu di dalam hatinya dan tidak menampakkannya kepada mereka. Dia berkata (dalam hatinya): ‘Kamu lebih buruk kedudukanmu (sifat-sifatmu) dan Robb lebih mengetahui apa yang kamu terangkan itu’.” (QS. Yusuf: 77)

Kalimat “Maka Yusuf menyembunyikan rahasia itu di dalam hatinya dan tidak menampakkannya kepada mereka” adalah dalil otentik dari Al-Qur’an tentang hakikat taghooful. Beliau mendengar kata-kata yang menyakitkan, namun beliau memilih untuk pura-pura tidak mendengar dan menyimpannya sendiri tanpa merusak suasana interaksi saat itu.

Keteladanan agung ini tentu saja bersumber dan berpuncak pada diri penghulu para Nabi dan Rosul, yaitu Nabi kita Muhammad . Di dalam kehidupan rumah tangga beliau yang suci, pernah terjadi sebuah peristiwa di mana salah seorang istri beliau membocorkan sebuah rahasia yang telah dipesankan oleh Nabi untuk dijaga. Ketika Alloh memberitahukan kebocoran rahasia tersebut kepada Nabi , beliau tidak menginterogasi istrinya secara habis-habisan, tidak pula membeberkan seluruh detail kesalahan sang istri hingga membuatnya merasa sangat terhina dan jatuh mentalnya. Nabi hanya menyebutkan sebagian kecil saja dari kesalahan tersebut sebagai bentuk teguran yang lembut, lalu beliau bertaghooful (pura-pura melupakan) sebagian besar kesalahan yang lainnya. Alloh berfirman menceritakan akhlak mulia Nabi-Nya:

﴿وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَى بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَنْ بَعْضٍ فَلَمَّا نَبَّأَهَا بِهِ قَالَتْ مَنْ أَنْبَأَكَ هَذَا قَالَ نَبَّأَنِيَ الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ

“Dan ingatlah ketika Nabi membisikkan suatu rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya. Maka tatkala istri itu menceritakan rahasia itu (kepada Aisyah) dan Alloh memberitahukan hal itu (pembocoran rahasia) kepada Nabi, Nabi memberitahukan sebagiannya dan memalingkan sebagian yang lain (tidak menyampaikannya). Maka tatkala Nabi memberitahukan kepadanya (istrinya), istrinya bertanya: ‘Siapakah yang memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab: ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Robb Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal’.” (QS. At-Tahrim: 3)

Lafazh “Nabi memberitahukan sebagiannya dan memalingkan sebagian yang lain” menunjukkan betapa agungnya sifat taghooful dalam pandangan beliau .

Ibnu Asyur menjelaskan ayat ini: “Sikap berpalingnya Rosul dari memberitahukan seluruh ucapan yang telah dibocorkan oleh istri beliau, merupakan bagian dari keluhuran akhlak beliau dalam menegur dan mendidik istri yang membocorkan rahasia tersebut. Hal itu karena maksud atau tujuan menegur sudah tercapai dengan sekadar memberitahukan sebagian dari apa yang dibocorkannya, sehingga sang istri yakin bahwa Alloh cemburu membela beliau.

Sufyan Ats-Tsauri (161 H) berkata: ‘Sikap pura-pura tidak tahu senantiasa menjadi bagian dari perbuatan orang-orang yang mulia.’ Dan Al-Hasan Al-Bashri (110 H) berkata: ‘Tidak pernah ada orang mulia yang menuntut haknya hingga mendalam dan mendetail.’ Sikap menambah teguran melebihi maksud atau tujuan yang diinginkan justru akan mengubah teguran tersebut dari sekadar peringatan menjadi cercaan yang keras.” (Al-Tahrir wat-Tanwir, Ibnu ‘Asyur, 28/353)

Jejak langkah mulia ini kemudian diikuti dengan sangat setia oleh para Shohabat dan generasi Salafush Sholih setelahnya. Mereka memandang bahwa mengungkit-ungkit setiap kesalahan kecil dari saudara seiman adalah tanda sempitnya dada dan kurangnya akal sehat.

Seseorang menceritakan kepada Ahmad (241 H) mengenai apa yang dikatakan orang-orang: “Keselamatan itu ada 10 bagian, 9 di antaranya ada pada sikap pura-pura tidak tahu (demi menjaga perasaan).” Lalu Ahmad mengatakan:

الْعَافِيَةُ عَشَرَةُ أَجْزَاءٍ كُلُّهَا فِي التَّغَافُلِ

“Keselamatan itu ada 10 bagian, seluruhnya ada pada sikap pura-pura tidak tahu.” (Syarhul Muntaha, Ibnu An-Najjar, 9/304)

Pernyataan dari Imam Ahlus Sunnah tersebut membuktikan bahwa orang yang selalu meneliti, mencatat, dan mempermasalahkan setiap jengkal kekhilafan orang lain di hadapannya sebenarnya sedang merusak warasnya pikiran dan ketenangan jiwanya sendiri. Sebaliknya, orang yang sholih akan selalu melapangkan dadanya, memaafkan, menghapus memori buruk dari benaknya, serta membiarkan urusan-urusan kecil berlalu begitu saja demi menjaga ukhuwah Islamiyyah yang kokoh dan murni.

1.3 Taghooful yang Terpuji dan Tercela

Meskipun syariat Islam sangat menekankan pentingnya memiliki sifat taghooful, Islam adalah agama yang sempurna, adil, dan proporsional. Islam tidak membiarkan sifat ini diaplikasikan tanpa aturan, tanpa kendali, dan tanpa batasan yang jelas. Ada kalanya bertaghooful hukumnya menjadi sangat dianjurkan dan bernilai pahala besar (terpuji), namun ada kalanya pula bertaghooful justru berubah hukumnya menjadi terlarang, harom, dan mendatangkan dosa (tercela). Memahami batasan dinamis ini sangat krusial agar seorang Muslim tidak terjatuh ke dalam sikap meremehkan syariat atau mengabaikan kewajiban nahi munkar (mencegah kemungkaran) dengan dalih menerapkan sikap taghooful.

Secara umum, taghooful yang terpuji adalah sikap pura-pura tidak tahu yang diterapkan pada wilayah hak-hak pribadi, urusan muamalah harian yang sifatnya sepele, serta kekhilafan manusiawi yang tidak melanggar batasan-batasan kesucian hukum Alloh . Contohnya seperti mengabaikan kata-kata kasar yang tidak sengaja terucap dari seorang teman, berpura-pura tidak melihat ketika ada makanan yang tumpah dari mulut seseorang saat jamuan makan, atau melupakan keterlambatan seseorang dalam memenuhi janji setelah ia meminta maaf. Taghooful dalam ranah ini hukumnya adalah sunnah yang sangat ditekankan, karena ia berfungsi menyatukan hati dan melenyapkan bibit-bibit permusuhan di antara sesama hamba Alloh . Dasar dari tindakan ini adalah perintah umum untuk menutup aib sesama Muslim, sebagaimana disabdakan oleh Rosululloh dalam Hadits yang shohih:

«وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

“Dan siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, maka Alloh akan menutupi aibnya di dunia dan di Akhiroh.” (HR. Al-Bukhori no. 2442 dan Muslim no. 2580)

Di sisi lain, terdapat taghooful yang statusnya berubah menjadi tercela dan diharomkan di dalam Islam. Taghooful yang tercela terjadi apabila sikap pura-pura tidak tahu tersebut diterapkan pada pelanggaran hak-hak syariat Alloh , pelanggaran hukum harom yang nyata, kekejian yang dilakukan secara terang-terangan, serta urusan yang berkaitan dengan kezholiman terhadap hak orang lain atau merugikan kemaslahatan umum masyarakat Muslim. Apabila seseorang melihat sebuah kemungkaran di depan matanya sendiri—seperti praktik perjudian, minum khomr, transaksi riba yang zholim, pembantaian jiwa, atau penyebaran paham bid’ah yang merusak Aqidah—lalu ia memilih untuk diam, memejamkan mata, dan pura-pura tidak tahu dengan alasan menerapkan sikap taghooful, maka tindakan orang ini adalah sebuah dosa besar dan bentuk kemunafikan yang nyata.

Taghooful dalam konteks kemungkaran syariat bukanlah sebuah akhlak mulia, melainkan bentuk sikap mudahanah (mengorbankan urusan agama demi keselamatan dunia atau demi mencari muka di hadapan manusia). Alloh memberikan ancaman yang sangat keras terhadap orang-orang yang bertaghooful dan diam dari mencegah kemungkaran, sebagaimana dikisahkan tentang kaum Bani Isroil yang dilaknat akibat mengabaikan kemungkaran di antara mereka:

﴿لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ 78 كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Isroil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Rosululloh juga telah menggariskan kewajiban bagi setiap Muslim untuk merespons kemungkaran dengan tindakan nyata yang tegas sesuai kemampuan, bukan dengan cara menutup mata atau bertaghooful. Beliau bersabda dalam sebuah Hadits yang agung:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ»

“Siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya); jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya (nasihatnya); dan jika ia tidak mampu juga, maka dengan hatinya (membencinya), dan yang demikian itu adalah sekerdil-kerdilnya iman.” (HR. Muslim no. 49)

Untuk memberikan pemisahan yang jelas dan tegas antara kedua jenis kondisi penerapan ini, mari kita simak kesimpulan batasan operasionalnya berikut ini:

[1] Taghooful Terpuji (Mulia & Berpahala):

a)  Dilakukan pada wilayah hak-hak pribadi manusia yang sifatnya duniawi.

b) Diterapkan pada kesalahan yang tidak disengaja atau kekhilafan kecil yang pelakunya merasa malu jika hal itu terbongkar.

c)  Bertujuan untuk memperbaiki keadaan, melembutkan hati pelaku, dan merekatkan ukhuwah.

d) Tidak menimbulkan madhorot (bahaya) yang lebih besar bagi orang lain atau bagi tegaknya urusan agama.

[2] Taghooful Tercela (Harom & Berdosa):

a)  Dilakukan pada wilayah pelanggaran hak-hak Alloh (kemungkaran, bid’ah, maksiat besar).

b) Diterapkan pada pelaku maksiat yang melakukannya secara terang-terangan tanpa ada rasa malu, atau zholim yang merugikan pihak lain.

c)  Bertujuan sekadar mencari aman bagi diri sendiri, takut kehilangan pujian manusia, atau acuh tak acuh terhadap nasib agama.

d) Menimbulkan dampak buruk berupa meluasnya kemungkaran dan hilangnya wibawa hukum syariat di tengah masyarakat.

Dengan memahami pembagian hukum dan batasan ini secara jernih, seorang hamba akan mampu berjalan di atas shirothal mustaqim (jalan yang lurus). Ia akan menjadi sosok yang sangat pemaaf, berlapang dada, dan suka bertaghooful dalam urusan pribadinya, namun di saat yang sama, ia akan berubah menjadi sosok yang sangat kokoh, tegas, dan penuh ghiroh (semangat membela agama) ketika batasan-batasan suci syariat Alloh mulai dilanggar di hadapannya. Pembahasan mengenai hakikat, kedudukan, serta batasan inilah yang menjadi pondasi utama bagi kita semua sebelum melangkah lebih jauh untuk membedah dalil-dalil syar’i secara lebih mendalam pada bab-bab berikutnya.

 

Bab 2: Perintah Taghooful

2.1 Perintah dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an Al-Karim sebagai petunjuk utama bagi umat manusia telah meletakkan asas-asas penataan akhlak yang sangat kokoh. Di dalam ayat-ayat-Nya, Alloh memberikan banyak isyarat serta perintah yang menuntun para hamba-Nya untuk senantiasa mengutamakan kedamaian hati melalui sikap pemaaf, berpaling dari kebodohan orang lain, serta bertaghooful dari ketergelinciran sesama Muslim. Meskipun kata taghooful secara harfiah tidak disebutkan langsung dalam bentuk perintah fi’il (kata kerja perintah), esensi dan substansi dari sikap pura-pura lupa dan melupakan kesalahan ini tersebar luas di berbagai surat, baik berupa pujian bagi pelakunya maupun perintah untuk berlapang dada.

Salah satu dalil isyarat yang sangat kuat mengenai perintah bertaghooful adalah firman Alloh yang memerintahkan Nabi-Nya agar mengambil sikap pemaaf dan tidak mempedulikan perilaku buruk dari orang-orang yang belum paham. Alloh berfirman:

﴿خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’rof: 199)

Perintah untuk “berpaling dari orang-orang yang bodoh” dalam ayat yang agung ini mengandung makna syar’i agar kita tidak menyibukkan diri membalas, meneliti, atau mengungkit setiap ucapan buruk dan tindakan menyimpang dari orang-orang di sekitar kita. Sikap berpaling yang paling sempurna adalah dengan bertaghooful, yaitu menampakkan diri seolah-olah kita tidak pernah mendengar ucapan buruk mereka, demi menutup celah terjadinya permusuhan yang lebih besar.

Isyarat berikutnya dapat kita tadabburi dari perintah Alloh untuk memaafkan dengan cara yang baik, tanpa menyisakan ganjalan atau rasa jengkel di dalam dada. Cara memaafkan yang bersih dari dendam ini mustahil terwujud melainkan dengan bantuan sikap taghooful. Alloh berfirman:

﴿فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

“Maka maafkanlah (mereka) dengan cara dimaafkan yang baik.” (QS. Al-Hijr: 85)

Para ulama menjelaskan bahwa ash-shofhul jamil adalah memaafkan suatu kesalahan tanpa disertai dengan celaan, tanpa mengungkit-ungkit kembali kesalahan tersebut di masa depan, dan tanpa membuat pelaku merasa terpojok. Seseorang tidak akan mampu mencapai derajat ash-shofhul jamil ini kecuali jika ia sengaja melupakan memori buruk tentang kesalahan saudaranya, menguburnya dalam-dalam, dan bertindak seolah-olah lembaran kelam itu tidak pernah ada.

Alloh juga memuji karakter para hamba-Nya yang bertaqwa, yang mampu menahan amarah dan membersihkan hatinya dari keinginan membalas dendam ketika hak-hak pribadi mereka diusik oleh kekhilafan orang lain. Pujian ini diabadikan dalam firman-Nya:

﴿وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Robb menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

Menahan amarah dan memaafkan manusia merupakan jembatan emas menuju tingkatan ihsan. Di dalam praktik kehidupan, ihsan dalam muamalah terwujud ketika seorang hamba melihat aib saudaranya namun ia memilih untuk bertaghooful, memberikan udzur, serta memperlakukannya dengan penuh kelembutan seakan-akan tidak ada kesalahan apa pun yang terjadi sebelumnya.

2.2 Perintah dalam Hadits

Bimbingan Al-Qur’an tentang kelapangan dada dijabarkan dengan sangat indah melalui lisan suci Rosululloh . Melalui Hadits-Hadits beliau, kita diajarkan untuk tidak menjadi manusia yang kaku dan selalu menuntut kesempurnaan dari orang lain. Beliau mendidik umat ini agar menjadi pribadi yang toleran, mudah memaafkan, serta pandai melupakan kekhilafan harian yang terjadi dalam interaksi sosial.

Salah satu bimbingan nabawi yang sangat mendalam mengenai urgensi taghooful dalam hubungan persaudaraan adalah sabda Nabi yang melarang kita untuk mencari-cari dan menyelidiki hal-hal yang dapat merusak kebersihan hati sesama Muslim. Beliau bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»

“Jauhkanlah dirimu dari prasangka, karena prasangka itu adalah sebohong-bohongnya perkataan. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, janganlah kamu saling bersaing (secara tidak sehat), janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci, janganlah kamu saling membelakangi, dan jadilah kamu hamba-hamba Alloh yang bersaudara.” (HR. Al-Bukhori no. 6064 dan Muslim no. 2563)

Larangan “jangan mencari-cari kesalahan orang lain” (laatajassasu) merupakan perintah tidak langsung, untuk mengamalkan taghooful. Jika kita dilarang untuk mencari-cari kesalahan yang tersembunyi, maka makna sebaliknya adalah kita diperintahkan untuk mengabaikan dan pura-pura tidak tahu ketika kesalahan-kesalahan kecil itu tampak di hadapan kita tanpa sengaja, demi menjaga keutuhan ikatan persaudaraan.

Nabi juga memberikan jaminan kemuliaan di dunia dan Akhiroh bagi siapa saja yang memiliki kelapangan dada untuk memaafkan kesalahan orang lain. Beliau bersabda dalam khutbahnya yang agung:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ»

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Alloh melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Sifat pemaaf yang membuahkan kemuliaan sejati adalah pemaafan yang tuntas, yang tidak diikuti dengan aksi menyindir, mengungkit, atau memandang rendah pelaku kesalahan. Kemampuan untuk menahan diri dari tindakan menyindir ini hanya bisa dicapai melalui kemahiran seseorang dalam bertaghooful dan melupakan urusan tersebut dari memori interaksinya.

Lebih dari itu, Rosululloh memberikan teladan tentang bagaimana menjaga ketenangan lingkungan sosial dengan cara melarang para Shohabat untuk melaporkan hal-hal negatif tentang satu sama lain kepada beliau. Hal ini beliau lakukan agar beliau bisa berinteraksi dengan semua orang dalam keadaan hati yang bersih tanpa prasangka buruk. Beliau bersabda:

«لَا يُبَلِّغُنِي أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي عَنْ أَحَدٍ شَيْئًا، فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَخْرُجَ إِلَيْكُمْ وَأَنَا سَلِيمُ الصَّدْرِ»

“Janganlah ada seorang pun dari para shohabatku yang menyampaikan kepadaku sesuatu (hal yang negatif) tentang orang lain, karena sesungguhnya aku ingin keluar menemui kalian dalam keadaan dadaku (hatiku) selamat (bersih dari prasangka).” (HR. Abu Dawud no. 4860. Dihasankan Ahmad Syakir)

Jika Rosululloh saja—manusia yang paling mulia dan dibimbing oleh wahyu—sangat menjaga keselamatan hatinya dengan cara menutup pintu dari laporan-laporan kesalahan orang lain, maka kita sebagai umatnya tentu jauh lebih butuh untuk menutup mata dan telinga kita dari ketergelinciran sesama Muslim melalui jalan taghooful.

2.3 Aturan Syariat dalam Menutup Aib

Taghooful memiliki kaitan organik yang sangat erat dengan salah satu pilar agung dalam muamalah Islam, yaitu kewajiban menutupi aib sesama Muslim (satrul Muslim). Di dalam tatanan syariat, setiap pemeluk Islam memiliki kehormatan yang suci dan harom untuk dinodai. Menyebarluaskan, memperbincangkan, atau bahkan sekadar mengungkit kesalahan seorang Muslim di hadapannya merupakan tindakan yang dapat merusak dinding kehormatan tersebut. Oleh karena itu, taghooful hadir sebagai instrumen praktis dan metode paling efektif untuk menjalankan perintah menutupi aib ini dalam kehidupan sehari-hari.

Islam memberikan tuntunan yang sangat ketat agar kita menjadi tirai penutup bagi kelemahan saudara kita, bukan menjadi terompet yang meniupkan keburukannya ke penjuru dunia. Rosululloh memberikan peringatan yang sangat bergetar mengenai bahaya orang yang suka mengorek-ngorek dan membongkar cacat saudaranya:

«يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ، وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ»

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya namun iman itu belum masuk ke dalam hatinya! Janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin dan janganlah kalian mencari-cari celah kelemahan (aib) mereka. Karena siapa yang mencari-cari celah kelemahan mereka, niscaya Alloh akan mencari-cari celah kelemahannya. Dan siapa yang celah kelemahannya dicari-cari oleh Alloh, maka Alloh akan membongkar aibnya meskipun ia berada di dalam rumahnya sendiri.” (HSR. Abu Dawud no. 4880)

Hadits yang sangat tegas ini menunjukkan bahwa orang yang kehilangan sifat taghooful dan menggantinya dengan sifat suka menyelidiki serta mengungkit cacat saudaranya, berada dalam ancaman kehinaan yang besar. Hukum timbal balik syariat (al-jaza’ min jinsil ‘amal) berlaku di sini; siapa yang bertaghooful dan menutup aib saudaranya, Alloh akan menutup aibnya. Namun siapa yang sibuk membeberkan kesalahan orang lain, Alloh akan menelanjangi keburukannya sendiri.

“Jika engkau melihat satu ketergelinciran dosa atau kesalahan dari saudaramu, maka berpura-pura lupalah engkau darinya (bertaghooful-lah). Karena sesungguhnya engkau tidak pernah tahu amalan rahasia apa yang ada di antara dirinya dengan Alloh yang barangkali amalan rahasia itulah yang diterima di sisi-Nya.”

Oleh karena itu, aturan syariat dalam menutup aib menuntut kita untuk tidak hanya diam di hadapan orang lain, tetapi juga “diam” di hadapan pelaku kesalahan itu sendiri melalui sikap taghooful. Kita tidak menatapnya dengan tatapan merendahkan, tidak mengoreksinya dengan cara yang kasar, dan tidak merubah sikap hangat kita kepadanya. Kita menutupi kekhilafannya sedemikian rupa hingga ia merasa aman, nyaman, dan termotivasi untuk memperbaiki diri tanpa harus kehilangan harga dirinya di hadapan kita. Konsep penutupan aib yang total inilah yang menjadi ruh dari keagungan akhlak Islam yang berbasis pada dalil-dalil syar’i yang shohih dan otentik.

 

Bab 3: Keutamaan Taghooful

3.1 Jalan Meraih Ridho Alloh

Mengamalkan sifat taghooful bukanlah sekadar taktik sosial untuk menjaga kenyamanan interaksi manusiawi, melainkan sebuah bentuk ibadah hati yang sangat agung. Ketika seorang hamba memilih untuk pura-pura lupa dan melupakan kesalahan saudaranya, ia sedang mengorbankan ego pribadinya, menundukkan hawa nafsunya yang ingin meluapkan amarah, dan membuang rasa bangga diri. Semua pengorbanan batin ini dilakukan semata-mata karena mengharapkan apa yang ada di sisi Alloh berupa ampunan, ridho, dan balasan Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi. Di dalam timbangan syariat, kelapangan dada untuk mengabaikan kekhilafan sesama hamba merupakan salah satu kunci utama yang mempermudah jalan seorang Muslim menuju ridho Robb-nya.

Hubungan timbal balik antara sifat pemaaf hamba dengan ampunan Alloh digariskan dengan sangat benderang dalam Al-Qur’an. Seseorang yang ingin mendapatkan ampunan atas dosa-dosa besarnya di hadapan Alloh , hendaknya ia mengawali dengan memberikan ampunan dan kelapangan dada bagi kesalahan manusia yang derajatnya jauh di bawahnya. Alloh berfirman:

﴿وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Alloh mengampunimu? Dan Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan sikap Shohabat Abu Bakr Ash-Shiddiq rodhiyallahu ‘anhu yang sempat bersumpah untuk menghentikan bantuan nafkah kepada kerabatnya yang bernama Misthoh bin Utsatsah, karena Misthoh terlibat dalam menyebarkan berita dusta (haditsul ifki) yang memfitnah putri tercinta beliau, Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha. Begitu ayat ini turun, Abu Bakr langsung bertaghooful dari kesalahan besar kerabatnya tersebut, melupakan kepedihan hatinya, memaafkannya secara total, dan mengembalikan bantuan nafkahnya seperti sedia kala seraya berkata, “Tentu, demi Alloh, aku sangat ingin Alloh mengampuniku.” Peristiwa bersejarah ini menjadi dalil paling otentik bahwa taghooful dan shofh (berlapang dada) adalah sarana paling cepat untuk menarik turunnya rohmat dan ridho Alloh .

Jaminan Jannah bagi orang-orang yang memiliki dada yang bersih dari dendam dan suka bertaghooful juga ditegaskan oleh Rosululloh dalam bimbingan nubuwah. Beliau mengabarkan tentang sebuah amalan zohir yang barangkali tampak sederhana di mata manusia, namun memiliki bobot yang sangat berat di sisi Alloh karena kesucian batin pelakunya. Rosululloh bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ، عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ»

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang yang diharomkan dari sentuhan api Naar atau orang yang api Naar diharomkan atasnya? Api Naar itu diharomkan atas setiap orang yang dekat (mudah bergaul), lembut dan ramah, serta mempermudah urusan.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2488)

Karakter hamba yang “mempermudah urusan” (sahlin) di dalam muamalah adalah mereka yang tidak suka mempersulit hubungan dengan catatan-catatan kesalahan masa lalu. Mereka mempermudah segala perkara dengan cara bertaghooful; jika melihat kekurangan saudaranya, mereka melewatinya dengan senyuman dan doa kebaikan, sehingga keberadaan mereka selalu membawa kedamaian dan ketenteraman di mana pun mereka berada. Karakter inilah yang mengantarkan mereka pada keselamatan dari siksa api Naar dan memasukkan mereka ke dalam negeri keselamatan (Darussalam).

3.2 Menjaga Hati dari Penyakit Dengki

Manfaat nyata yang langsung dirasakan oleh pelaku taghooful di dunia sebelum di Akhiroh adalah lahirnya ketenangan hati yang hakiki dan keselamatan jiwa dari berbagai penyakit batin yang merusak. Orang yang selalu meneliti, mencatat, dan mengingat-ingat setiap detail kesalahan orang lain di sekitarnya akan hidup dalam penjara kegelisahan yang tiada berujung. Pikirannya akan selalu dipenuhi oleh prasangka buruk, dadanya terasa sempit karena menahan amarah, dan jiwanya sangat rentan terjangkit penyakit hasad (dengki) serta ghibah. Sebaliknya, orang yang mahir bertaghooful adalah orang yang merdeka; ia membebaskan dirinya dari beban emosi yang tidak perlu dengan cara menghapus memori buruk tentang kekhilafan sesama hamba.

Ketika seseorang memilih untuk pura-pura tidak tahu dan melupakan perlakuan kurang menyenangkan dari saudaranya, ia sedang menutup rapat-rapat pintu masuk syaithon yang ingin menanamkan benih penyakit dengki di dalam dadanya. Mengenai pentingnya menjaga kebersihan dada ini dari segala ganjalan demi kesehatan iman, Rosululloh memberikan sebuah gambaran yang sangat indah:

«أَفْضَلُ النَّاسِ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ» ، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ»

“Manusia yang paling utama adalah setiap orang yang bersih hatinya (makhmumul qolbi) lagi jujur ucapannya.” Para shohabat bertanya: ‘Orang yang jujur ucapannya telah kami ketahui, lantas apa yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu hati yang bertaqwa, yang bersih, yang tidak ada dosa di dalamnya, tidak ada kezholiman, tidak ada kedengkian (ghill), dan tidak ada pula hasad’.” (HSR. Ibnu Majah no. 4216)

Sikap taghooful adalah wasilah (sarana) terbesar untuk mencapai derajat makhmumul qolbi ini. Hati tidak akan mungkin bisa bersih dari ghill (rasa jengkel yang terpendam) dan hasad jika setiap kali ada orang yang salah ucap atau salah sikap, kita langsung memasukkannya ke dalam hati dan menyimpannya sebagai dendam. Dengan bertaghooful, semua percikan api kemarahan itu dipadamkan sejak awal sebelum sempat membakar ketenangan jiwa kita.

Bertaghooful sebenarnya adalah sebuah bentuk kasih sayang kepada diri kita sendiri. Kita tidak membiarkan sampah-sampah emosional dari kesalahan orang lain mengotori istana hati kita yang seharusnya dipenuhi oleh dzikrulloh, kecintaan kepada Sunnah, dan persiapan menghadapi hari Qiyamah.

3.3 Merekatkan Tali Persaudaraan

Hubungan persaudaraan seagama (ukhuwah Islamiyyah) dan jalinan kekerabatan (silaturrohim) adalah dua perkara yang sangat suci dan dijaga dengan ketat di dalam syariat Islam. Namun, karena setiap manusia dilahirkan dengan watak, latar belakang, dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda, maka gesekan di dalam interaksi sosial adalah suatu keniscayaan yang pasti terjadi. Jika setiap gesekan kecil dan kesalahan harian disikapi dengan ketegangan, tegoran yang kaku, atau aksi boikot (hajr), maka tali silaturrohim akan terputus dengan sangat cepat dan persaudaraan akan hancur berantakan. Di sinilah taghooful memainkan peran vitalnya sebagai perekat, pelumas, dan benteng pertahanan yang menjaga keharmonisan hubungan antar sesama Muslim.

Islam melarang keras umatnya untuk saling memutuskan hubungan dan membiarkan konflik pribadi berlarut-larut melampaui batas waktu yang wajar. Rosululloh memberikan batasan tegas dalam sabdanya:

«لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ: فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلاَمِ»

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk memboikot (mendiamkan) saudaranya lebih dari 3 (tiga) malam, di mana keduanya saling bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu pun berpaling. Dan yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai dengan mengucapkan salam.” (HR. Al-Bukhori no. 6077 dan Muslim no. 2560)

Agar jalinan komunikasi bisa kembali membaik setelah terjadinya perselisihan, dibutuhkan kelapangan dada dari salah satu pihak untuk bertaghooful. Ketika dua orang bertemu setelah terlibat ketegangan, lalu salah satunya memulai mengucapkan salam dan bertindak biasa seolah-olah tidak pernah terjadi masalah di antara mereka, ia telah mengamalkan taghooful tingkat tinggi. Ia sengaja melupakan perselisihan kemarin demi menyambung kembali apa yang hampir putus.

“Jika engkau memiliki seorang saudara yang engkau cintai karena Alloh, maka sedikitkanlah pandanganmu dalam meneliti cacat-cacatnya, dan berpura-pura lupalah engkau dari ketergelinciran kesalahannya. Karena sesungguhnya tidak akan ada seorang pun yang tersisa untuk mendampingimu jika engkau selalu meneliti setiap kesalahan secara detail.”

Tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat. Jika kita menuntut sahabat yang suci dari dosa, istri yang bebas dari salah, atau tetangga yang selalu sempurna, niscaya kita akan hidup sebatang kara di dunia ini. Sifat taghooful adalah modal utama yang membuat hubungan pertemanan dan persaudaraan bisa bertahan lama, hangat, dan penuh dengan keberkahan.

3.4 Menghancurkan Tipu Daya Syaithon

Musuh terbesar bagi setiap Muslim yang ingin merajut ukhuwah dan ketaatan adalah syaithon la’natulloh. Syaithon telah berputus asa untuk membuat orang-orang yang beriman di jazirah Arob menyembah berhala kembali secara massal, namun ia tidak pernah berputus asa untuk menempuh jalur lain yang tidak kalah merusaknya, yaitu melakukan tahrish (mengobarkan api permusuhan, provokasi, dan memecah belah) di antara sesama kaum Muslimin. Setiap kali ada kesalahan kecil yang dilakukan oleh seorang Muslim kepada saudaranya, syaithon akan datang membisikkan prasangka buruk, membesar-besarkan masalah yang sepele, dan mengompori agar konflik tersebut meledak menjadi permusuhan besar. Sifat taghooful hadir sebagai senjata iman yang sangat ampuh untuk menghancurkan seluruh makar dan tipu daya syaithon tersebut.

Peringatan tentang ambisi syaithon dalam merusak hubungan persaudaraan ini dikabarkan langsung oleh Rosululloh dalam sabda beliau yang sangat masyhur:

«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ»

“Sesungguhnya syaithon telah berputus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan sholat di jazirah Arab, akan tetapi ia (tidak berputus asa) untuk melakukan tahrish (mengobarkan permusuhan dan memecah belah) di antara mereka.” (HR. Muslim no. 2812)

Ketika syaithon melakukan tahrish, ia memanfaatkan kelalaian manusia dalam mengendalikan emosinya. Misalnya, ketika seorang saudara terlambat membalas pesan, salah berucap di sebuah majelis, atau lupa menyapa saat berpapasan, syaithon akan membisikkan ke dalam hati kita ucapan seperti: “Dia sengaja merendahkanmu,” atau “Dia sudah tidak menghargaimu lagi.” Jika kita menuruti bisikan tersebut dan mulai menegurnya dengan kasar atau mendiamkannya, maka syaithon telah memenangkan pertempuran tersebut.

Namun, ketika seorang hamba menghadapi situasi tersebut dengan tameng taghooful, ia langsung mematahkan perangkap syaithon. Ia akan berkata pada dirinya sendiri: “Mungkin dia sedang sibuk, mungkin dia tidak melihatku, atau mungkin dia sedang memiliki beban pikiran yang berat,” lalu ia melupakan urusan itu sepenuhnya. Tindakan bertaghooful ini membuat makar syaithon hancur lebur dan tidak menyisakan ruang sedikit pun bagi munculnya kebencian.

Tidak ada satu pun sikap hamba yang mampu membuat syaithon merasa sangat marah dan terhina melebihi kemampuan hamba tersebut dalam bertaghooful (pura-pura tidak tahu) terhadap hal-hal yang tidak disukainya. Hal itu karena syaithon sangat berambisi untuk menyalakan api fitnah di antara manusia, maka apabila ia melihat sang hamba justru berpura-pura buta dari kesalahan saudaranya, niscaya syaithon akan pergi dalam keadaan terhina lagi merugi.

Dengan demikian, mengamalkan taghooful bukan sekadar urusan etika sosial, melainkan sebuah medan jihad akbar melawan musuh abadi kita, yaitu syaithon. Setiap kali kita memejamkan mata dari kesalahan saudara kita dan memilih untuk melupakannya, kita sedang menancapkan tombak keimanan ke dada syaithon, sekaligus mengokohkan pondasi bangunan ukhuwah Islamiyyah di atas keridhoan Alloh . Pemahaman mendalam mengenai empat keutamaan besar pada bab ini menjadi lentera penerang yang membakar semangat kita untuk meneladani kisah-kisah nyata pengamalan sifat mulia ini oleh generasi terbaik umat, yang akan kita bedah secara luas pada bab selanjutnya.

 

Bab 4: Taghooful dalam Kehidupan

4.1 Taghooful Orang Terdahulu

Diriwayatkan dari Muawiyah rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya beliau berkata:

لَوْ أَنَّ بَيْنِي وَبَيْنَ النَّاسِ شَعْرَةً يَمُدُّونَهَا وَأَمُدُّهَا مَا انْقَطَعَتْ، قِيلَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: كُنْتُ إِذَا أَرْخَوْهَا مَدَدْتُ، وَإِذَا مَدُّوهَا أَرْخَيْتُ

“Seandainya antara diriku dan antara manusia ada sehelai rambut yang mereka menariknya dan aku pun menariknya, niscaya ia tidak akan putus.” Ditanyakan kepada beliau: “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” Beliau menjawab: “Aku dahulu jika mereka mengulurnya maka aku menariknya, dan jika mereka menariknya maka aku mengulurnya.” (Lisanul ‘Arob, Ibnu Manzhur (711 H), 5/376)

Perumpamaan “Rambut Mu’awiyah” ini berkaitan erat dengan penerapan sikap taghooful (pura-pura tidak tahu atau memejamkan mata dari kesalahan kecil orang lain demi menjaga keutuhan hubungan). Dalam kepemimpinan dan pergaulan, mengulur rambut ketika orang lain menariknya adalah cerminan dari sikap taghooful, di mana seorang muslim yang bijak memilih untuk tidak membongkar semua aib, tidak mendebat setiap kekeliruan, dan pura-pura tidak tahu atas sebagian sikap kurang beradab dari manusia agar ikatan ukhuwah atau kepemimpinan tidak rusak.

Sikap taghooful yang serupa juga dicontohkan oleh kholifah rosyidah ke-5, Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah sosok yang sangat tegas dalam urusan agama Alloh , namun dalam urusan hak pribadi yang berkaitan dengan kekhilafan manusiawi, beliau adalah orang yang sangat pandai melupakan.

‘Umar bin Hafsh menceritakan, seorang guru menceritakan kepada kami, dia berkata: “Tatkala ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (101 H) diangkat menjadi pemimpin, beliau keluar pada suatu malam bersama seorang pengawalnya, lalu beliau masuk ke dalam Masjid. Di dalam kegelapan, beliau berjalan melewati seorang lelaki yang sedang tidur lalu beliau tersandung dengannya. Lelaki itu mengangkat kepalanya ke arah beliau seraya berkata: ‘Apakah engkau orang gila?’ Beliau menjawab: ‘Bukan.’ Pengawal beliau pun bergegas hendak memukul lelaki itu, namun ‘Umar berkata kepadanya: ‘Tahan, dia hanyalah bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau orang gila?’, lalu aku menjawab: ‘Bukan.’” (At-Targhib wat Tarhib, Ismail Al-Ashfahani (535 H), 2/398)

Melalui dua kisah ini, tampak sangat jelas bahwa kedudukan kepemimpinan dan kemuliaan jiwa tidak akan pernah turun derajatnya hanya karena seseorang memilih untuk pura-pura lupa dari kekasaran orang lain. Justru dengan bertaghooful, wibawa mereka semakin memancar kuat di hati umat.

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafii (204 H) pernah memberikan sebuah kaidah emas tentang hubungan antara kecerdasan akal dengan sifat taghooful ini. Beliau rohimahulloh menegaskan:

الكَيِّسُ العَاقِلُ هُوَ الفَطِنُ المُتَغَافِلُ

“Orang yang cerdas lagi berakal sehat adalah orang yang memiliki ketajaman pikiran namun ia pandai berpura-pura lupa (bertaghooful) dari kesalahan orang lain.” (Syarah Muslim, An-Nawawi, 14/147)

Penerapan nyata dari ucapan beliau ini terlihat ketika salah seorang murid dekat beliau yang bernama Yunus bin Abdil A’la berbeda pendapat dengan beliau dalam sebuah masalah fiqih di dalam majelis. Yunus merasa sangat marah hingga ia bangkit berdiri, meninggalkan majelis ilmu, dan pulang ke rumahnya dalam keadaan jengkel. Di malam harinya, Imam Asy-Syafii secara mengejutkan mendatangi rumah Yunus bin Abdil A’la. Ketika Yunus membuka pintu dengan perasaan cemas, Imam Asy-Syafii justru bertaghooful sepenuhnya dari kemarahan Yunus yang terjadi di siang hari. Beliau tidak mengungkit perselisihan tersebut, tidak menceramahi Yunus tentang adab kepada guru, melainkan beliau menggandeng tangan Yunus seraya berkata dengan penuh kelembutan.

Yunus Ash-Shodafi (264 H) berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih berakal daripada Asy-Syafi'i (204 H). Aku pernah mendebatnya pada suatu hari dalam sebuah permasalahan, kemudian kami berpisah. Lalu beliau menjumpai diriku kembali, lalu beliau menggandeng tanganku seraya berkata:

يَا أَبَا مُوسَى، أَلَا يَسْتَقِيمُ أَنْ نَكُونَ إِخْوَانًا وَإِنْ لَمْ نَتَّفِقْ فِي مَسْأَلَةٍ؟

‘Wahai Abu Musa, tidakkah tetap lurus bagi kita untuk menjadi saudara meskipun kita tidak sepakat dalam suatu permasalahan?’” (Ahkamul Qur’an lisy Syaafi’i – Jam’ul Baihaqi (458 H), 1/27)

4.2 Taghooful dalam Hubungan Suami Istri

Ikatan pernikahan adalah ikatan yang sangat kokoh (mitsaqon gholizho) yang disatukan di atas kalimat Alloh . Namun, bertemunya dua kepala dengan latar belakang, watak, pola asuh, dan kebiasaan yang berbeda di bawah satu atap yang sama pasti akan melahirkan gesekan dan perbedaan pandangan. Tidak ada satu pun rumah tangga di dunia ini yang sepi dari kekhilafan, baik dari pihak suami maupun istri. Jika setiap kesalahan kecil harian—seperti masakan yang kurang garam, pakaian yang lupa disetrika, atau ucapan yang bernada agak tinggi karena kelelahan—selalu diteliti, dicatat, dan dijadikan bahan pertengkaran, maka baiti jannati (rumahku Surgaku) akan berubah menjadi medan perang yang gersang. Oleh karena itu, taghooful adalah pilar utama yang menjaga kokohnya bahtera rumah tangga dari badai perceraian.

Seorang suami yang sholih dan bijaksana tidak akan pernah memburu-buru setiap kekurangan istrinya. Ia memahami bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, yang jika dipaksa lurus secara kaku justru akan patah. Suami yang cerdas akan menerapkan taghooful; ia melihat kekurangan istrinya namun ia memejamkan mata, seraya mengalihkan fokusnya pada kebaikan-kebaikan sang istri yang lain. Petunjuk mulia ini sejalan dengan sabda Nabi :

«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ»

“Janganlah seorang Mu’min laki-laki membenci seorang Mu’min perempuan (istrinya). Jika ia tidak menyukai satu perangai darinya, niscaya ia akan ridho (menyukai) perangai darinya yang lain.” (HR. Muslim no. 1467)

Begitu pula sebaliknya, seorang istri yang sholihah akan bertaghooful dari keletihan dan keterbatasan suaminya. Ketika suami pulang kerja dalam keadaan letih lalu tanpa sengaja menumpahkan air atau meletakkan handuk basah di atas kasur, istri yang berakal tidak akan mengomel atau merusak suasana malam dengan cacian. Ia akan pura-pura lupa dari kekhilafan kecil itu, segera membereskannya dengan senyuman, dan menyambut suaminya dengan kehangatan.

Dengan mengamalkan taghooful di dalam rumah tangga, pasutri akan mampu melewati riak-riak kecil pernikahan dengan selamat. Kelemahan pasangan tidak akan menjadi bahan gunjingan atau dendam, melainkan ditutupi dengan selimut pemaafan, sehingga kasih sayang (mawaddah warohmah) senantiasa menaungi rumah tangga mereka hingga ke Jannah.

4.3 Taghooful dalam Mendidik Anak

Anak-anak adalah amanah sekaligus perhiasan dunia yang berada di bawah tanggung jawab orang tua. Dalam fase pertumbuhannya, anak-anak secara tabiat memiliki rasa ingin tahu yang besar, belum matang akalnya, dan sangat sering melakukan kesalahan, kecerobohan, serta pelanggaran disiplin rumah. Metode pendidikan (tarbiyah) yang kaku, yang selalu menghujani anak dengan tegoran keras, bentakan, atau hukuman fisik pada setiap kesalahan kecil, justru akan merusak mental anak, menjauhkannya dari orang tua, dan menumbuhkan karakter pemberontak dalam jiwanya. Di sinilah pentingnya orang tua memiliki sifat taghooful sebagai bagian dari seni mendidik yang bersumber dari kasih sayang.

Bertaghooful dalam mendidik anak artinya tidak semua kesalahan anak harus direspon saat itu juga dengan teguran atau kemarahan. Ketika seorang anak tanpa sengaja memecahkan gelas, menumpahkan tinta di lantai, atau lupa membereskan mainannya, orang tua yang bijak akan bertaghooful; mereka pura-pura tidak melihat gejolak awal itu untuk menahan amarah pribadi, kemudian mendekati anak dengan lembut setelah suasana tenang untuk memberikan nasihat secara bertahap.

Nabi sendiri memberikan teladan agung tentang bagaimana memperlakukan anak-anak dengan kelapangan dada yang luar biasa tanpa menghakimi setiap kecerobohan mereka. Shohabat Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu yang telah berkhidmat melayani Nabi sejak usia belia mengisahkan kesaksiannya:

«خَدَمْتُ النَّبِيَّ عَشْرَ سِنِينَ فَمَا قَالَ لِي أُفٍّ قَطُّ، وَمَا قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ لِمَ صَنَعْتَهُ، وَلَا لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ لِمَ تَرَكْتَهُ»

“Aku telah membantu pelayanan Nabi selama 10 (sepuluh) tahun. Maka demi Alloh, beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘Ah’ kepadaku, dan beliau tidak pernah mempertanyakan terhadap apa yang aku perbuat dengan ucapan: ‘Mengapa engkau perbuat ini?’, tidak pula terhadap apa yang aku tinggalkan dengan ucapan: ‘Mengapa engkau tinggalkan ini?’” (Muttafaq ‘Alaih tapi Lafazh At-Tirmidzi no. 2015)

Pola interaksi Nabi yang luar biasa ini adalah puncak dari aplikasi taghooful dalam dunia tarbiyah anak. Beliau memaklumi keterbatasan usia anak-anak dan remaja yang sering lupa atau lalai dari tugasnya, sehingga beliau memilih untuk bertaghooful demi menjaga kedekatan emosional dan efektivitas bimbingan jangka panjang.

Sesungguhnya orang yang berlebihan dalam mencela anak-anak atas setiap ketergelinciran kecil akan merusak tabiat mereka dan justru memberanikan mereka untuk melakukan pelanggaran secara sembunyi-sembunyi. Dan orang yang berakal adalah mereka yang bertaghooful dari sebagian kesalahan anak agar wibawa dirinya tetap terjaga di dalam hati mereka.

Melalui penerapan taghooful ini, anak-anak akan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang aman dan penuh penerimaan. Mereka tidak takut untuk mengakui kesalahan besar karena mereka tahu orang tua mereka tidak gila hormat dan tidak suka membesar-besarkan urusan sepele. Hal ini akan mempermudah internalisasi nilai-nilai Taqwa dan Sunnah ke dalam dada mereka dengan penuh kesadaran iman.

4.4 Taghooful dalam Hubungan Bertetangga

Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan tempat tinggal kita, yang melihat gerak-gerik kita, dan yang paling pertama datang memberikan bantuan ketika kita tertimpa musibah. Namun, kedekatan jarak geografis ini juga menyimpan potensi konflik yang sangat besar. Suara kendaraan yang bising di malam hari, sampah yang tidak sengaja tertiup angin ke halaman rumah kita, atau hewan peliharaan yang mengotori jalanan, adalah bumbu-bumbu ujian dalam bertetangga. Jika seorang Muslim tidak membekali dirinya dengan sifat taghooful dalam kehidupan bermasyarakat, niscaya ia akan hidup dalam permusuhan yang melelahkan dan kehilangan kedamaian di rumahnya sendiri.

Islam sangat mengagungkan hak-hak tetangga, bahkan menjadikannya sebagai salah satu parameter kesempurnaan iman seseorang di hadapan Alloh . Rosululloh bersabda dengan tegas:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى جَارِهِ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. Muslim no. 48)

Berbuat baik kepada tetangga tidak hanya terbatas pada memberi makanan atau hadiah, melainkan mencakup kelapangan dada untuk menahan gangguan mereka serta bertaghooful dari kesalahan muamalah mereka. Ketika tetangga kita berbuat ceroboh atau mengucapkan kalimat yang kurang mengenakkan, tindakan terbaik adalah dengan pura-pura tidak mendengar dan melupakannya.

Di antara tanda-tanda orang sholih adalah kesabaran mereka dalam menghadapi gangguan para tetangga serta kemampuan mereka untuk bertaghooful (pura-pura lupa) dari ketergelinciran kesalahan tetangga tersebut. Maka tidaklah seseorang dikatakan memiliki iman yang sempurna hingga tetangganya merasa aman dari kejahatannya, dan ia sendiri pandai bertaghooful dari keburukan tetangganya.

Dengan membudayakan sikap taghooful dalam kehidupan bermasyarakat, dinding-dinding kecurigaan antar tetangga akan runtuh. Suasana lingkungan akan menjadi sejuk, penuh gotong royong, dan terhindar dari penyakit saling lapor atau saling sindir di ruang publik. Masyarakat Muslim akan menjelma menjadi satu bangunan yang kokoh, di mana satu bagian saling menguatkan bagian yang lain karena mereka semua sepakat untuk saling memaafkan dan melupakan kesalahan masa lalu demi tegaknya maslahat bersama.

4.5 Taghooful dalam Interaksi Sosial

Dunia profesi, tempat kerja, serta medan da’wah adalah arena perjuangan di mana manusia berinteraksi demi mengejar target-target besar, baik yang sifatnya duniawi maupun Akhiroh. Di tempat-tempat ini, tekanan kerja yang tinggi, kelelahan fisik, serta perbedaan kapasitas intelektual sangat sering memicu terjadinya kesalahpahaman antar rekan kerja, antara atasan dan bawahan, maupun antar sesama aktivis da’wah. Jika setiap gesekan profesional, keterlambatan laporan, atau perbedaan ijtihad dalam metode da’wah disikapi dengan ego pribadi yang tinggi tanpa adanya taghooful, maka produktivitas kerja akan hancur dan barisan da’wah akan bercerai-berai sebelum musuh menghadang.

Di lingkungan kerja, seorang pemimpin atau atasan yang mulia adalah mereka yang tahu kapan harus menegur secara tegas dan kapan harus bertaghooful dari kekhilafan bawahannya yang tidak disengaja. Begitu pula antar rekan kerja, mengabaikan persaingan tidak sehat yang bersifat kekanak-kanakan dan bertaghooful dari kalimat sinis rekan kerja adalah tanda kematangan profesionalisme yang berbasis iman.

Terlebih lagi di dalam dunia da’wah Islamiyyah. Para dai dan penggerak da’wah adalah manusia yang tidak ma’sum; mereka bisa lelah, bisa keliru dalam memilih kata saat berkhutbah, atau salah dalam berkoordinasi. Jika sesama pejuang da’wah saling mengintai kesalahan saudaranya (tatabbu’ ‘aurot), maka ukhuwah di antara mereka akan mati, dan syaithon akan tertawa menang karena berhasil menghentikan laju roda da’wah dari dalam. Oleh karena itu, para ulama da’wah selalu menekankan pentingnya bertaghooful dalam perkara-perkara ijtihadiah yang lapang.

Apabila para pemegang urusan agama (ahli din/aktivis da’wah) tidak mau bertaghooful dari ketergelinciran kesalahan sebagian terhadap sebagian yang lain, niscaya kedengkian akan memakan habis pahala amal mereka, persatuan kalimat mereka akan pecah, dan para musuh akan bersorak gembira melihat kehancuran mereka. Maka ketahuilah, menyampaikan nasihat itu memang membutuhkan kelembutan, namun dalam sebagian besar kondisi, urusan itu jauh lebih membutuhkan sikap pura-pura lupa (taghooful).

Rosululloh juga telah meletakkan asas kemudahan ini dalam setiap misi penugasan da’wah dan kerja sosial melalui wasiat beliau yang sangat masyhur kepada para Shohabatnya:

«يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلاَ تُنَفِّرُوا»

“Permudahlah oleh kalian dan janganlah kalian mempersulit, serta berikanlah kabar gembira oleh kalian dan janganlah kalian membuat orang-orang berlarian pergi.” (HR. Al-Bukhori no. 69 dan Muslim no. 1734)

Amanah untuk “jangan membuat orang berlarian pergi” (laa tunaffiru) menuntut setiap dai dan pekerja profesional untuk menjadi figur yang menyenangkan, tidak kaku, dan tidak suka menguliti aib orang lain. Dengan bertaghooful, muamalah kerja menjadi berkah, da’wah menjadi sejuk dan mudah diterima oleh mad’u (objek da’wah), serta barisan kaum Muslimin tetap terjaga dalam ikatan tali cinta yang tulus karena Alloh semata. Penjabaran aplikasi praktis pada bab ini membuka mata kita semua bahwa taghooful adalah solusi rill bagi segala problematika sosial manusia modern, sebelum kita melangkah pada pembahasan terakhir mengenai terapi keimanan untuk menumbuhkan sifat agung ini pada bab selanjutnya.

 

Bab 5: Menumbuhkan Sifat Taghooful

5.1 Menyadari Kekurangan Diri

Sifat enggan bertaghooful dan selalu ingin menguliti kesalahan orang lain pada hakikatnya bersumber dari penyakit ujub (bangga diri) dan kesombongan yang tersembunyi di dalam dada. Ketika seseorang merasa dirinya suci, bersih dari cacat, dan selalu benar, ia akan dengan sangat mudah memandang rendah orang lain serta menuntut kesempurnaan dalam berinteraksi. Oleh karena itu, terapi keimanan paling pertama dan paling utama untuk menumbuhkan sifat taghooful adalah dengan memaksa jiwa melihat ke dalam cermin kekurangan diri sendiri, serta merenungi betapa banyaknya dosa pribadi yang telah diperbuat di hadapan Alloh .

Seorang hamba yang sadar bahwa dirinya adalah gudang kesalahan tidak akan memiliki waktu ataupun ketegangan emosi untuk sibuk mengurusi ketergelinciran saudaranya. Ia akan merasa sangat malu kepada Alloh jika ia menuntut manusia memperlakukannya tanpa salah, sementara ia sendiri terus-menerus melanggar batasan-batasan Robb-nya. Kesadaran iman ini sejalan dengan sabda Rosululloh :

«كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ»

“Setiap anak cucu Adam itu pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang banyak melakukan kesalahan adalah mereka yang rajin bertaubat.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2499)

Ketika kita menyadari bahwa setiap manusia—termasuk diri kita sendiri—memiliki tabiat “khottho’” (gemar berbuat salah), maka kita akan memandang kesalahan orang lain dengan kacamata rohmat dan kasih sayang, bukan dengan kacamata hakim yang siap menghukum. Kita akan bertaghooful dari kekhilafan mereka karena kita pun sangat berharap orang lain dan Alloh bertaghooful serta memaafkan dosa-dosa kita.

Kesibukan seorang insan terhadap cacat-cacat dirinya sendiri hingga ia melupakan cacat-cacat saudara seimannya, itulah hakikat taghooful yang sejati. Maka bagaimana mungkin kita masih bisa menemukan waktu untuk menghitung-hitung ketergelinciran orang lain, padahal kita sendiri tidak pernah tahu apakah amalan kita diterima di sisi Alloh atau justru ditolak?

Melalui terapi muhasabah (introspeksi diri) yang mendalam ini, jiwa yang tadinya keras dan kaku akan melunak. Sifat suka menyelidiki kesalahan orang lain akan terkikis habis dan digantikan oleh kesibukan memperbaiki diri, sehingga hamba tersebut akan menjadi orang yang paling mudah bertaghooful dan paling berlapang dada di tengah masyarakat.

5.2 Mengharap Pahala yang Besar

Manusia secara tabiat asal memiliki kecenderungan untuk membela diri, meluapkan amarah, dan menuntut balas ketika hak-hak pribadinya diusik oleh orang lain. Untuk mengikis tabiat egois yang merusak ini dan mengubahnya menjadi sifat taghooful yang mulia, dibutuhkan sebuah motivasi besar yang melampaui batas-batas kepuasan duniawi. Motivasi akbar itu adalah pandangan Akhiroh yang tajam, yaitu sebuah harapan yang membumbung tinggi akan raihan pahala yang melimpah ruah di Hari Qiyamah, hari di mana seluruh manusia sangat butuh terhadap setiap timbangan kebaikan.

Ketika seorang Muslim disakiti melalui ucapan atau perbuatan saudaranya, lalu ia memilih untuk menahan lidahnya, mengubur jengkelnya, dan bertaghooful seolah-olah tidak terjadi apa pun, ia sedang melakukan sebuah investasi iman yang sangat menguntungkan di hadapan Alloh . Balasan bagi orang yang menahan amarah demi kemaslahatan ukhuwah ini dikabarkan langsung oleh Rosululloh dalam janjinya yang agung:

«مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ، دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ»

“Siapa yang menahan amarahnya padahal ia memiliki kemampuan untuk meluapkannya, niscaya Alloh akan memanggilnya di hadapan seluruh kepala makhluk (manusia) pada hari Qiyamah, hingga Alloh memberikan pilihan kepadanya untuk memilih bidadari surga mana saja yang ia inginkan.” (HHR. Abu Dawud no. 4777)

Derajat “menahan amarah yang sempurna” adalah dengan bertaghooful. Jika sekadar menahan amarah namun wajah masih cemberut dan hubungan menjadi kaku, maka itu belum mencapai puncak keutamaan. Namun, ketika seseorang menahan amarahnya lalu ia tersenyum, bersikap biasa, dan melupakan urusan itu seakan-akan tidak pernah ada gesekan, maka ia telah mengombinasikan antara kazhmul ghoizh (menahan amarah) dengan taghooful. Imbalan bidadari di hadapan seluruh makhluk pada hari Qiyamah adalah balasan yang sangat sepadan bagi beratnya perjuangan batin dalam meredam ego di dunia.

Dengan senantiasa menghidupkan tadabbur terhadap pahala-pahala Akhiroh ini, seorang hamba tidak akan lagi memandang kesalahan orang lain sebagai beban atau musibah, melainkan sebagai peluang emas yang sengaja Alloh suguhkan agar ia bisa memanen pahala kesabaran dan kelapangan dada yang akan menyelamatkannya di pengadilan Robbani kelak.

5.3 Memandang dengan Takdir

Terapi iman yang sangat mendalam dan mampu mencabut akar kemarahan hingga ke bonggolnya adalah dengan memandang setiap kejadian melalui kacamata Tauhid dan keimanan yang kokoh terhadap takdir Alloh (al-iman bil qodar). Seorang hamba harus meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada satu jengkal pun peristiwa yang terjadi di alam semesta ini—termasuk ucapan buruk orang lain yang mengenainya atau kesalahan muamalah yang menimpanya—melainkan semua itu telah tertulis di dalam Lauhul Mahfuzh dan terjadi atas izin, kehendak, serta hikmah dari Alloh .

Ketika seseorang menyadari bahwa manusia hanyalah wasilah (perantara) yang digerakkan oleh takdir Alloh untuk menguji sejauh mana kadar keimanannya, maka fokus perhatiannya akan beralih dari menyalahkan makhluk menuju ketundukan kepada Sang Pencipta. Ia tidak akan sibuk mendendam kepada orang yang bersalah kepadanya, melainkan ia akan bertaghooful dari kesalahan makhluk tersebut dan sibuk memperbaiki hubungannya dengan Alloh melalui taubat dan istighfar. Pemahaman Tauhid yang agung ini bersandar pada wasiat Nabi yang sangat masyhur kepada Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ»

“Dan ketahuilah, sesungguhnya seandainya seluruh umat manusia bersatu padu untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu memberikan manfaat itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh bagimu. Dan seandainya mereka bersatu padu untuk menimpakan suatu madhorot (bahaya) kepadamu, niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan madhorot itu kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan oleh Alloh atasmu. Pena-pena takdir telah diangkat dan lembaran-lembaran catatan telah kering.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2516)

Melalui pemahaman Hadits ini, ketika tetangga kita berbuat kurang baik, atau rekan kerja kita berbuat keliru yang merugikan kita, seorang Muslim yang faqih (paham agama) akan berkata dalam hatinya: “Alloh telah menakdirkan ini terjadi atas diriku sebagai ujian, dan barangkali ini adalah pelebur bagi dosa-dosaku masa lalu.” Pandangan Tauhid inilah yang membuatnya mampu bertaghooful dengan sangat mudah, tanpa beban ganjalan di hati, karena ia melihat ada hikmah Robbani di balik setiap ketergelinciran akhlak manusia di sekitarnya.

Siapa yang memandang makhluk dengan kacamata hakikat kebenaran takdir, niscaya ia akan mengasihi mereka dan bertaghooful (pura-pura lupa) dari kebodohan perlakuan mereka. Hal itu karena ia tahu bahwa mereka semua tunduk di bawah kehendak Alloh, dan sesungguhnya apa yang menimpa dirinya dari kesalahan mereka adalah akibat dari dosa-dosanya sendiri, sehingga ia pun bersih hatinya dan hanya fokus mencari wajah Robb-nya semata.

5.4 Melatih Diri Menahan Amarah

Menumbuhkan sifat taghooful tidak bisa diraih secara instan hanya dalam waktu satu malam, melainkan ia adalah sebuah proses riyadhoh (latihan jiwa) yang berkesinambungan, bertahap, dan membutuhkan kesabaran yang kuat (mujahadatun nafs). Seseorang yang terbiasa memiliki watak temperamental, kaku, dan egois harus memaksa dirinya secara sadar untuk belajar menahan amarah setiap kali percikan konflik harian mulai muncul, hingga akhirnya kelapangan dada dan sifat taghooful itu menjelma menjadi karakter alami yang melekat erat pada dirinya.

Di dalam kaidah syariat, setiap akhlak mulia bisa didapatkan dan diusahakan melalui jalur latihan yang konsisten (tahallum dan tanaffus). Rosululloh memberikan garis panduan praktis tentang bagaimana metode merubah watak jiwa ini dalam sabda beliau:

«إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَإِنَّمَا الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ، وَمَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ، وَمَنْ يَتَّقِ الشَّرَّ يُوقَهُ»

“Sesungguhnya ilmu itu hanya bisa didapatkan dengan cara belajar, dan sesungguhnya sifat santun (hilm) itu hanya bisa didapatkan dengan cara melatih diri untuk santun (tahallum). Dan siapa yang bersungguh-sungguh mencari kebaikan niscaya ia akan diberikan kebaikan itu, dan siapa yang menjaga dirinya dari keburukan niscaya ia akan dilindungi darinya.” (Shohihul Jami’ Ash-Shoghir, no. 2328)

Berdasarkan petunjuk nabawi ini, terapi praktis untuk melatih diri bertaghooful adalah sebagai berikut:

a)  Ketika mendengar ucapan yang tidak mengenakkan, paksakan lidah untuk diam selama beberapa detik dan jangan langsung merespon.

b) Alihkan pandangan atau fokus pikiran ke hal lain yang positif agar memori buruk itu tidak mengendap di dalam hati.

c)  Bisikkan kata-kata pemaafan dan carikan 70 (tujuh puluh) udzur (alasan pembenaran yang baik) bagi saudara yang berbuat salah tersebut.

d) Lakukan tindakan bertaghooful ini berulang-ulang dalam setiap skala konflik kecil, mulai dari urusan rumah tangga hingga muamalah di jalanan, hingga jiwa terbiasa dan tidak lagi merasa berat.

Dengan mengombinasikan empat terapi keimanan pada bab ini—mulai dari melihat kekurangan diri, mengharap pahala Akhiroh, ridho terhadap takdir, hingga latihan menahan amarah yang konsisten—seorang hamba akan mampu meruntuhkan tirai-tirai kesombongan di dalam dadanya. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang agung, berjiwa besar, dan sangat mahir dalam mengamalkan taghooful, sebuah hiasan akhlak luhur para Nabi dan ulama Salaf yang membawa keselamatan hakiki di dunia maupun Akhiroh.

Penutup

Di tengah realita kehidupan duniawi yang penuh dengan keterbatasan, gesekan, dan cacat cela manusiawi, sifat taghooful hadir sebagai oase penyejuk yang merawat kesucian hati, menyelamatkan dinding ukhuwah Islamiyyah dari kehancuran, serta menutup rapat pintu-pintu tahrish (provokasi) yang senantiasa diusahakan oleh syaithon la’natulloh. Generasi terbaik umat ini—mulai dari para Nabi alaihimush sholatu was salam, para Shohabat rodhiyallahu ‘anhum, hingga para ulama Salafush Sholih rohimahumulloh—telah mengukir rekam jejak sejarah yang sangat indah dalam mengaplikasikan seni berlapang dada ini pada seluruh lini kehidupan mereka.

Kini, tugas bagi kita semua setelah menyelami samudera dalil syar’i dan atsar ulama di dalam buku ini adalah membawa ilmu yang mulia ini ke dalam ranah riyadhoh (latihan jiwa) dan amalan nyata sehari-hari. Mari kita paksakan ego kita untuk belajar memejamkan mata dari kekhilafan kecil di dalam rumah tangga bersama pasangan dan anak-anak, mengubur jengkel dari gangguan tetangga di bermasyarakat, serta membuang jauh prasangka buruk di tempat kerja maupun di medan perjuangan da’wah.

Semoga Alloh yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang senantiasa mengaruniakan kepada kita hati yang makhmum (bersih), dada yang lapang, serta jiwa yang dimudahkan untuk bertaghooful dari kesalahan sesama hamba.

Kita memohon kepada Robb kita agar amalan yang sedikit ini menjadi pemberat timbangan kebaikan kita di hari Qiyamah, serta menjadi wasilah yang mengantarkan kita semua ke dalam naungan ridho-Nya dan jannah-Nya yang penuh dengan kenikmatan abadi.

وآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ

 

Daftar Pustaka

Ahkamul Qur’an, Ibnu Al-Arobi (543 H)

A’lamul Muwaqqi’in ‘an Robbil ‘Alamin, Ibnu Al-Qoyyim (751 H)

Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih (763 H)

Al-Inshof fi Ma’rifatir Rojih minal Khilaf, Al-Mardawi (885 H)

Al-Muntazhom fi Tarikhul Muluk wal Umam, Ibnu Al-Jauzi (597 H)

Hilyatul Auliya wa Thobaqotul Ashfiya, Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H)

Ihya ‘Ulumiddin, Al-Ghozali (505 H)

Manaqib Asy-Syafii, Al-Baihaqi (458 H)

Mukhtashor Minhajil Qoshidin, Ibnu Qudamah (620 H)

Siyar A’lamin Nubala, Adz-Dzahabi (748 H)

Tarikh Baghdad, Al-Khothib Al-Baghdadi (463 H)

Thobaqotul Huffazh, As-Suyuthi (911 H)

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini