Cari Ebook

[PDF] Kehidupan Alam Barzakh - Nor Kandir



Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam yang menguasai kehidupan dan kematian.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi , keluarga, para Shohabat, dan hamba-hamba-Nya yang sholih.

Amma ba’du:

Kehidupan Alam Barzakh merupakan fase pemisah antara alam dunia dan Akhiroh. Di alam inilah setiap manusia menanti datangnya hari Qiyamah setelah jasad terpisah dari ruh di alam dunia lalu dikembalikan lagi di alam tersebut. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal perpindahan menuju tempat pembalasan yang sesungguhnya.

Pembahasan mengenai Alam Barzakh merupakan bagian fundamental dari iman kepada Hari Akhir yang membawa implikasi besar terhadap tingkat taqwa seorang hamba. Alloh menegaskan keberadaan batas pemisah ini di dalam Al-Qur’an.

﴿حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلاَّ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Robbku kembalikanlah aku ke dunia, agar aku dapat beramal sholih yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang dikatakannya saja, dan di hadapan mereka ada Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 99-100)

Kehidupan manusia di dunia amat ringkas jika dibandingkan dengan masa penantian di Alam Barzakh. Kesadaran akan kepastian sakarotul maut dan ujian di dalam kubur mendorong setiap Mu’min untuk senantiasa mempersiapkan perbekalan amal sholih.

Buku ini disusun dengan menghimpun dalil Al-Qur’an dan Hadits shohih guna memberikan gambaran utuh, jelas, dan shohih mengenai perjalanan ruh sejak terlepas dari jasad hingga peristiwa penantian di dalam kubur.

 

Bab 1: Sakarotul Maut dan Pencabutan Ruh

1.1 Hakikat Kematian dan Pemisah Antara Dunia dan Akhiroh

Kematian adalah takdir yang pasti menimpa setiap makhluk yang bernyawa. Alloh memutus segala keterikatan manusia dari gemerlap dunia melalui penghentian nafas dan pemisahan ruh dari jasad. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar atau menunda kedatangannya walau satu detik. Alloh berfirman mengenai kepastian kematian bagi setiap manusia:

﴿كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasai kematian, dan sesungguhnya pada hari Qiyamah sajalah disempurnakan pahalamu. Siapa dijauhkan dari Naar dan dimasukkan ke dalam Jannah, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imron: 185)

Sakarotul maut adalah rasa sakit dahsyat yang dialami hamba saat nyawa dicabut dari tubuhnya. Peristiwa ini dirasakan oleh seluruh manusia, termasuk para Nabi. Ummul Mu’minin Aisyah rodhiyallahu ‘anha (58 H) meriwayatkan peristiwa saat Nabi menghadapi detik-detik kewafatannya:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ»

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, sesungguhnya kematian itu memiliki rasa sakit yang sangat hebat.” (HR. Al-Bukhori no. 4449)

Sebagaimana seorang manusia yang menghabiskan waktunya dalam pengumpulan harta dan tahta di dunia, ketika panggilan ajal tiba, seluruh kekuatan fisik dan medis tidak lagi memberi guna. Seseorang yang terbaring lemah di pembaringan tidak lagi memiliki wewenang atas anggota tubuhnya sendiri. Pada saat itulah tampak jelas betapa lemahnya manusia di hadapan kekuasaan Alloh .

1.2 Perjalanan Ruh Orang Mu’min Saat Pencabutan Nyawa

Proses pencabutan ruh bagi hamba yang beriman berlangsung dengan penuh kelembutan, kepatuhan, dan penghormatan dari para Malaikat Rohmat. Ketika tanda-tanda kematian makin dekat, kabar gembira mengenai ampunan dan keridhoan Alloh disampaikan kepada hamba tersebut. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan penjelasan Nabi mengenai detik-detik pencabutan ruh orang Mu’min.

«إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ، كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ، مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ، وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ، حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ» قَالَ: «فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ، فَيَأْخُذُهَ »

“Sesungguhnya seorang hamba yang Mu’min, jika hendak meninggalkan dunia menuju Akhiroh, para Malaikat turun mendatangi dirinya dari langit dengan wajah yang putih bersih seolah-olah wajah mereka adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dari kain kafan Jannah dan wewangian dari wewangian Jannah, lalu mereka duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Kemudian datanglah Malaikat Maut alaihissalam hingga duduk di samping kepalanya seraya berkata: ‘Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dari Alloh dan ridho-Nya.’ Maka ruh itu keluar mengalir sebagaimana menetesnya tetesan air dari mulut wadah air, lalu Malaikat Maut mengambilnya.” (HSR. Abu Dawud no. 4753 dan lafazh Ahmad no. 18534)

Proses yang lembut ini merupakan wujud Rohmat Alloh kepada hamba-Nya yang senantiasa menjaga Tauhid, Sholat, dan ketaatan selama di dunia. Alloh berfirman mengenai balasan bagi jiwa yang bersih.

﴿الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Yaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para Malaikat dengan mengatakan kepada mereka: ‘Kesejahteraan bagimu, masuklah kamu ke dalam Jannah disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. An-Nahl: 32)

Seorang Mu’min yang selama hidupnya istiqomah dalam memelihara ibadah dan menjauhi maksiat akan merasakan ketenangan mendalam saat Malaikat Maut menyapa ruhaninya. Kerinduan untuk bertemu dengan Alloh membuat rasa sakit sakarotul maut terkikis oleh kebahagiaan menyambut janji-Nya.

1.3 Perjalanan Ruh Orang Kafir Saat Sakarotul Maut

Keadaan sebaliknya menimpa orang-orang kafir dan pelaku maksiat yang berpaling dari syariat Alloh . Saat kematian mendatangi mereka, Malaikat Adzab turun dengan rupa yang amat menakutkan, membawa wewangian busuk dan kain yang kasar. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan sabda Nabi mengenai pencabutan ruh orang kafir.

«وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ، نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ، مَعَهُمُ الْمُسُوحُ، فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ، ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ، حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَيَقُولُ: أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ، اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ» قَالَ: «فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ، فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ»

“Sesungguhnya hamba yang kafir, jika hendak meninggalkan dunia menuju Akhiroh, para Malaikat berpakaian kasar dan berwajah hitam turun mendatangi dirinya dari langit. Mereka membawa kain dari bulu yang kasar, lalu mereka duduk sejauh mata memandang dari orang tersebut. Kemudian datanglah Malaikat Maut hingga duduk di samping kepalanya seraya berkata: ‘Wahai jiwa yang jahat, keluarlah menuju kemurkaan Alloh dan kebencian-Nya. Maka ruh itu mencerai-berai di dalam jasadnya, lalu Malaikat Maut mencabutnya dengan paksa sebagaimana dicabutnya besi pancing bercabang dari bulu domba yang basah.’” (HSR. Ahmad no. 18534)

Kedahsyatan siksa sakarotul maut bagi pelaku kezholiman dijelaskan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an.

﴿وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلاَئِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ

“Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zholim berada dalam tekanan-tekanan sakarotul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangan mereka seraya berkata: ‘Keluarkanlah nyawamu! Pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Alloh perkataan yang tidak benar dan karena kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.’” (QS. Al-An’am: 93)

Orang yang semasa hidupnya menumpuk kekayaan dari jalan harom, menindas hamba-hamba Alloh , serta menyepelekan perintah Sholat, ketika rasa sakit sakarotul maut menghantamnya, ruhnya berusaha bersembunyi di sela-sela urat dan otot jasadnya karena ketakutan bertemu dengan murka Alloh , namun Malaikat mencabutnya secara paksa hingga merusak jasad bagian dalam.

 

Bab 2: Perjalanan Ruh Menuju Langit Sebelum ke Jasad

2.1 Pengangkatan Ruh Orang Mu’min ke Langit dan Penyambutannya

Setelah pencabutan ruh selesai, ruh seorang Mu’min tidak dibiarkan begitu saja. Para Malaikat Rohmat segera membungkusnya dengan kain kafan dari Jannah dan membawanya membumbung tinggi menuju langit. Perjalanan ruh ini dipenuhi dengan penghormatan dan sambutan hangat dari penghuni langit. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) menceritakan kelanjutan Hadits tersebut dari Nabi .

«فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا، فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ، وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ» قَالَ: «فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ، يَعْنِي بِهَا، عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ، بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ، فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ، وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْض»

“Maka apabila Malaikat Maut telah mengambil ruh itu, para Malaikat Rohmat tidak membiarkannya di tangan Malaikat Maut sekejap mata pun hingga mereka mengambilnya lalu meletakkannya di kain kafan dan wewangian Jannah tersebut. Lalu keluarlah dari ruh itu bau harum seperti bau minyak kasturi yang paling harum yang pernah ada di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik ke atas, tidaklah mereka melewati rombongan Malaikat melainkan para Malaikat itu bertanya: ‘Siapakah ruh yang wangi ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah fulan bin fulan,’ dengan menyebut nama-namanya yang paling indah yang biasa dipanggilkan untuknya di dunia. Hingga mereka sampai di langit dunia, lalu mereka meminta agar dibukakan pintu langit, maka dibukakanlah pintu untuknya. Setiap Malaikat yang didekatkan di setiap lapisan langit mengiringinya sampai ke langit berikutnya, hingga tiba di langit ketujuh. Maka Alloh berfirman: ‘Catatlah lembaran catatan hamba-Ku ini di ‘Illiyyin dan kembalikanlah ia ke bumi.’” (HR. Ahmad no. 18534)

Kedudukan tinggi catatan amalan orang-orang sholih ini ditegaskan pula oleh Alloh di dalam Al-Qur’an.

﴿كَلاَّ إِنَّ كِتَابَ الأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ ۝ كِتَابٌ مَرْقُومٌ ۝ يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin. Dan tahukah kamu apakah ‘Illiyyin itu? Yaitu kitab yang bertuliskan, yang disaksikan oleh para Malaikat yang didekatkan kepada Alloh.” (QS. Al-Muthoffifin: 18-21)

2.2 Penolakan Langit Terhadap Ruh Orang Kafir

Berbeda dengan ruh hamba yang beriman, ruh orang kafir mengalami kehinaan besar sewaktu diangkat menuju langit. Bau busuk menyengat memancar darinya, dan seluruh pintu langit ditutup rapat-rapat sebagai bentuk penghinaan atas perbuatan maksiat dan kekufurannya sewaktu di dunia. Nabi menceritakan perihal penolakan ini sebagaimana dirawayatkan oleh Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H).

«فَيَأْخُذُهَا، فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ، وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ، فَيَصْعَدُونَ بِهَا، فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَأٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَّا قَالُوا: مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟ فَيَقُولُونَ: فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا، حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ، فَلَا يُفْتَحُ لَهُ»

“Maka apabila Malaikat Maut telah mengambil ruh itu, para Malaikat Adzab tidak membiarkannya di tangannya sekejap mata pun hingga mereka memasukkannya ke dalam kain bulu yang kasar tersebut. Lalu keluarlah dari ruh itu bau yang sangat busuk seperti bau bangkai yang paling busuk yang pernah ada di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik, tidaklah mereka melewati rombongan Malaikat melainkan para Malaikat itu bertanya: ‘Siapakah ruh yang jahat dan busuk ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah fulan bin fulan,’ dengan seburuk-buruk nama yang biasa dipanggilkan untuknya di dunia. Hingga ketika mereka sampai di langit dunia, mereka meminta dibukakan pintu langit, namun tidak dibukakan baginya.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Penutupan pintu-pintu langit bagi pelaku kekufuran ini selaras dengan firmannya Al-Qur’an.

﴿إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri darinya, tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk Jannah, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat dosa.” (QS. Al-A’rof: 40)

Ruh yang terolak tersebut kemudian dilemparkan secara terhina kembali ke bumi menuju tempat penyimpanan catatan dosa di Sijjin. Hukuman ini merupakan bentuk kecelakaan abadi bagi siapa saja yang menyombongkan diri dari petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2.3 Pengusungan Janazah dan Pembicaraan Jasad di Atas Keranda

Saat jasad yang telah mati diletakkan di atas keranda untuk dipikul para lelaki menuju pemakaman, terjadi peristiwa tersembunyi yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia. Jasad tersebut berbicara dan mengungkapkan perasaannya mengenai tempat tujuan yang sedang ia tuju. Abu Sa’id Al-Khudri rodhiyallahu ‘anhu (74 H) meriwayatkan sabda Nabi mengenai hal ini.

«إِذَا وُضِعَتِ الجِنَازَةُ، فَاحْتَمَلَهَا الرِّجَالُ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ، فَإِنْ كَانَتْ صَالِحَةً قَالَتْ: قَدِّمُونِي، قَدِّمُونِي، وَإِنْ كَانَتْ غَيْرَ صَالِحَةٍ قَالَتْ: يَا وَيْلَهَا، أَيْنَ يَذْهَبُونَ بِهَا؟ يَسْمَعُ صَوْتَهَا كُلُّ شَيْءٍ إِلَّا الإِنْسَانَ، وَلَوْ سَمِعَهَا الإِنْسَانُ لَصَعِقَ»

“Apabila janazah telah diletakkan dan diusung oleh para lelaki di atas pundak-pundak mereka, jika janazah itu orang sholih maka ia berkata: ‘Percepatlah jalanku, percepatlah jalanku!’ Namun jika janazah itu bukan orang sholih maka ia berkata: ‘Duhai celakanya, ke manakah kalian akan membawaku pergi?’ Suara itu didengar oleh segala sesuatu selain manusia, dan sekiranya manusia mendengarnya tentulah ia akan pingsan.” (HR. Al-Bukhori no. 1314)

Jeritan jasad orang yang bermaksiat di atas keranda merupakan cerminan dari ketakutan dahsyat akan siksaan Barzakh yang telah membayang di hadapannya. Sebaliknya, ketergesaan janazah orang sholih didasari oleh kerinduan mendalam untuk segera menikmati peristirahatan dan ni’mat yang telah disiapkan Alloh baginya di dalam liang kubur.

 

Bab 3: Awal Mula Masuk Kedalam Jasad

3.1 Penyatuan Kembali Ruh dengan Jasad

Langkah awal kehidupan Barzakh dimulai saat jasad diletakkan di dalam liang lahat dan ruh dikembalikan ke dalam tubuhnya. Penyatuan ruh dan jasad di alam ini memiliki hakikat khusus yang berbeda dengan kehidupan duniawi. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) menceritakan kelanjutan sabda Nabi mengenai kembalinya ruh ke jasad.

«وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ، وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ، وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى» قَالَ: «فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ»

“Alloh berfirman: ‘Kembalikanlah hamba-Ku ke bumi, karena sesungguhnya dari bumilah Aku menciptakan mereka, kepadanyalah Aku mengembalikan mereka, dan darinyalah Aku mengeluarkan mereka pada kali yang lain.’ Maka ruhnya dikembalikan lagi ke dalam jasadnya.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Asal permulaan dan tempat kembalinya jasad manusia dijelaskan pula dalam firman Alloh .

﴿مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

“Dari bumi itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thoha: 55)

Pengembalian ruh ini membuat mayyit mampu mendengar langkah kaki orang-orang yang mengantarkannya saat mereka berpaling pulang meninggalkan kuburan. Pada detik-detik inilah kesendirian hakiki dirasakan oleh setiap hamba.

3.2 Peristiwa Himpitan Kubur Bagi Setiap Manusia

Setiap manusia yang dimasukkan ke dalam liang kubur akan mengalami peristiwa himpitan kubur. Liang tanah akan menyempit dan menghimpit jasad tanpa terkecuali, baik ia seorang anak-anak, dewasa, maupun hamba yang mulia. Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) meriwayatkan sabda Nabi tatkala Shohabat Sa’d bin Mu’adz rodhiyallahu ‘anhu (5 H) wafat.

«هَذَا الَّذِي تَحَرَّكَ لَهُ الْعَرْشُ، وَفُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَشَهِدَهُ سَبْعُونَ أَلْفًا مِنَ الْمَلَائِكَةِ، لَقَدْ ضُمَّ ضَمَّةً، ثُمَّ فُرِّجَ عَنْهُ»

“Inilah hamba yang mana ‘Arsy bergerak karena wafatnya, pintu-pintu langit dibukakan untuknya, dan diiringi oleh 70.000 Malaikat, sungguh ia telah dihimpit oleh kubur dengan sekali himpitan kemudian dibebaskan darinya.” (HSR. An-Nasa’i no. 2055)

Penegasan mengenai mutlaknya peristiwa himpitan ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) dari Nabi .

«لَوْ نَجَا أَحَدٌ مِنْ ضَمَّةِ الْقَبْرِ لَنَجَا مِنْهَا سَعْدُ بْنُ مُعَاذٍ»

“Sekiranya ada seseorang yang selamat dari himpitan kubur, niscaya Sa’d bin Mu’adz akan selamat darinya.” (HR. Ishaq bin Rohawaih no. 1127, shohih)

Himpitan kubur bagi hamba yang beriman bagaikan pelukan kasih sayang seorang ibu yang menyambut kedatangan anaknya kembali, yang berlangsung sejenak lalu longgar kembali. Namun bagi orang kafir, himpitan tersebut merupakan awal dari siksaan berat yang meremukkan tulang-tulang rusuk mereka.

3.3 Kedatangan Dua Malaikat Mungkar dan Nakir

Selesai proses penyatuan ruh dan himpitan kubur, datanglah dua Malaikat yang bertugas menguji dan menanyakan identitas keimanan mayyit. Rupa kedua Malaikat ini amat menakutkan guna menguji keteguhan iman hamba. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan deskripsi kedua Malaikat ini dari Rosululloh .

«إِذَا قُبِرَ المَيِّتُ - أَوْ قَالَ: أَحَدُكُمْ - أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ، يُقَالُ لِأَحَدِهِمَا: الْمُنْكَرُ، وَلِلْآخَرِ: النَّكِيرُ»

“Apabila mayyit telah dikuburkan -atau salah seorang dari kalian dikuburkan-, maka akan datang kepadanya dua Malaikat yang berkulit hitam dan bermata biru, salah satunya dinamakan Mungkar dan yang lainnya Nakir.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1071)

Kehadiran Mungkar dan Nakir membawa kedahsyatan tersendiri di liang lahat yang gelap. Tidak ada pelindung, pendamping, maupun sanak keluarga yang mampu membantu menjawab pertanyaan kedua Malaikat ini. Hanya keimanan yang menancap kokoh di hati dan amal sholih sewaktu di dunia yang sanggup memberikan keteguhan.

 

Bab 4: Fithnah dan Pertanyaan Kubur

4.1 Tiga Pertanyaan Utama di Alam Barzakh

Ujian terbesar di dalam Alam Barzakh adalah pertanyaan mendasar mengenai Robb, Agama, dan Nabi. Pertanyaan ini bukan sekadar hafalan lisan sewaktu di dunia, melainkan cerminan dari keyakinan dan perbuatan nyata selama hidup. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan proses terjadinya pemeriksaan ini.

«فَيُجْلِسَانِهِ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: رَبِّيَ اللهُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: دِينِيَ الْإِسْلَامُ، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هُوَ رَسُولُ اللهِ ، فَيَقُولَانِ لَهُ: وَمَا عِلْمُكَ؟ فَيَقُولُ: قَرَأْتُ كِتَابَ اللهِ، فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ»

“Maka kedua Malaikat itu mendudukkannya seraya bertanya kepadanya: ‘Siapakah Robbmu?’ Ia menjawab: ‘Robbku adalah Alloh.’ Kedua Malaikat bertanya lagi: ‘Apakah Agamamu?’ Ia menjawab: ‘Agamaku adalah Islam.’ Kedua Malaikat bertanya lagi: ‘Siapakah lelaki yang diutus di tengah-tengah kalian ini?’ Ia menjawab: ‘Beliau adalah Rosululloh .’ Kedua Malaikat bertanya lagi: ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab: ‘Aku membaca Al-Quran maka aku beriman kepadanya dan membenarkannya.’(HSR. Ahmad no. 18534)

Pertanyaan ini menargetkan pokok-pokok keimanan. Siapa yang menjadikan Alloh sebagai satu-satunya sesembahan, mengamalkan syariat Islam, dan meneladani Nabi secara lahir dan batin, niscaya ia mampu menjawabnya dengan mudah.

4.2 Keteguhan Jawaban Orang Mu’min dan Balasannya

Alloh memberikan keteguhan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman ketika berhadapan dengan Mungkar dan Nakir. Kelancaran dalam menjawab pertanyaan kubur merupakan buah dari Tauhid yang murni dan ketaatan yang konsisten. Alloh berfirman mengenai janji keteguhan ini.

﴿يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Alloh meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan dunia dan di Akhiroh; dan Alloh menyesatkan orang-orang yang zholim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrohim: 27)

Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan kabar gembira yang langsung diterima oleh orang Mu’min setelah berhasil menjawab.

«فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ» قَالَ: «فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا، وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ»

“Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Hamba-Ku telah benar, maka bentangkanlah untuknya permadani dari Jannah, berikanlah ia pakaian dari Jannah, dan bukakanlah untuknya pintu menuju Jannah.’ Maka datanglah kepadanya wewangian dan kesejukan Jannah, serta diluaskan kuburnya sejauh mata memandang.” (HSR. Ahmad no. 18534)

4.3 Kegagalan Orang Kafir dan Munafiq Dalam Menjawab

Sebaliknya, orang kafir, munafiq, dan orang yang meragukan kebenaran Islam akan mengalami kebingungan saat ditanya oleh Mungkar dan Nakir. Meskipun mereka mungkin pandai berorganisasi dan fasih berpidato di dunia, lisan mereka terkunci dan tidak sanggup memberikan jawaban yang benar. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) menjelaskan peristiwa naas tersebut.

«فَيَقُولَانِ لَهُ: مَنْ رَبُّكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا دِينُكَ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيَقُولَانِ لَهُ: مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ؟ فَيَقُولُ: هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي، فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ، فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ، فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا، وَسَمُومِهَا، وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ»

“Maka ditanyakan kepadanya: ‘Siapakah Robbmu?’ Ia menjawab: ‘Hah, hah, aku tidak tahu!’ Ditanyakan lagi: ‘Apakah Agamamu?’ Ia menjawab: ‘Hah, hah, aku tidak tahu!’ Ditanyakan lagi: ‘Siapakah lelaki yang diutus di tengah-tengah kalian ini?’ Ia menjawab: ‘Hah, hah, aku tidak tahu!’ Maka berserulah penyeru dari langit: ‘Ia telah berdusta!’ Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari Naar dan bukakanlah untuknya pintu menuju Naar. Maka datanglah hawa panas dan angin beracun Naar, serta disempitkan kuburnya hingga tulang-tulang rusuknya bersilangan.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H) meriwayatkan pula akibat dari kegagalan menjawab pertanyaan Mungkar dan Nakir.

«ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلَّا الثَّقَلَيْنِ»

“Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi tepat di antara kedua telinganya, lalu ia menjerit dengan jeritan keras yang didengar oleh makhluk yang ada di sekitarnya selain jin dan manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 1338 dan Muslim no. 2870)

 

Bab 5: Bentuk-Bentuk Ni’mat di Alam Barzakh

5.1 Perluasan Kubur dan Hembusan Angin Jannah

Ni’mat Barzakh dimulai dengan diubahnya liang kubur yang sempit dan gelap menjadi taman yang sangat luas, terang benderang, serta penuh dengan keharuman. Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits shohih, kubur seorang Mu’min diluaskan hingga 70 hasta dan disinari oleh cahaya kebajikan. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan sabda Rosululloh .

«ثُمَّ يُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ سَبْعُونَ ذِرَاعًا فِي سَبْعِينَ، ثُمَّ يُنَوَّرُ لَهُ فِيهِ»

“Kemudian diluaskan baginya di dalam kuburnya sejauh 70 hasta kali 70 hasta, lalu diberikan pencahayaan terang di dalamnya.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1071)

Di dalam riwayat Al-Baro disebutkan: “Sejauh mata memandang.” Dua Hadits ini menunjukkan perbedaan luas tempatnya sesuai luasnya iman dan amal sholihnya.

Hawa sejuk dan angin wangi dari Jannah terus berhembus masuk melalui pintu yang dibukakan khusus untuk mayyit Mu’min. Keadaan ini membawanya merasakan kenikmatan awal sebelum memasuki Jannah yang hakiki di Akhiroh kelak.

5.2 Teman yang Sholih Berupa Amal Kebajikan

Amal ibadah yang dikerjakan seorang hamba secara ikhlas di dunia akan diwujudkan oleh Alloh dalam bentuk sosok pendamping yang amat rupawan, berwajah cerah, berpakaian indah, dan berbau wangi. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan perkataan pendamping tersebut kepada sang mayyit.

«وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ، حَسَنُ الثِّيَابِ، طَيِّبُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ لَهُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ»

“Dan datanglah kepadanya seorang lelaki yang berwajah tampan, berpakaian indah, serta berbau wangi, seraya berkata: ‘Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu! Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’ Maka mayyit bertanya kepadanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa kebaikan.’ Sosok itu menjawab: ‘Aku adalah amalmu yang sholih.’” (HSR. Ahmad no. 18534)

Amal Sholat, Zakat, Puasa, dan bacaan Al-Qur’an akan berdiri membentengi hamba tersebut dari berbagai sudut kubur. Sosok teman sholih ini akan senantiasa menemani sang Mu’min, menghiburnya, dan menghilangkan rasa kesepian di Alam Barzakh hingga hari Qiyamah dibangkitkan.

5.3 Penampakan Tempat Tinggal di Jannah Setiap Pagi dan Petang

Di antara ni’mat Barzakh yang amat besar adalah ditampilkannya calon tempat tinggal mayyit di Jannah setiap harinya. Pemandangan indah ini senantiasa memupuk rasa gembira dan kerinduan agar hari Qiyamah segera ditegakkan. Abdullah bin Umar rodhiyallahu ‘anhuma (73 H) meriwayatkan sabda Nabi .

«إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالعَشِيِّ، إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ، فَيُقَالُ: هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ»

“Sesungguhnya apabila salah seorang dari kalian meninggal dunia, ditampakkan kepadanya calon tempat tinggalnya pada waktu pagi dan petang. Jika ia termasuk penghuni Jannah maka ditampakkan tempat penghuni Jannah, dan jika ia termasuk penghuni Naar maka ditampakkan tempat penghuni Naar. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Inilah tempat tinggalmu hingga Alloh membangkitkanmu pada hari Qiyamah.’” (HR. Al-Bukhori no. 1379 dan Muslim no. 2866)

Melihat pemandangan yang begitu megah dan indah tersebut, ruh hamba yang beriman lantas berdoa memohon kepada Alloh agar hari Qiyamah segera disegerakan.

«رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي»

“Wahai Robbku, segerakanlah datangnya hari Qiyamah agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Bab 6: Bentuk-Bentuk Adzab di Alam Barzakh

6.1 Penyempitan Kubur dan Hantaman Palu Besi

Bagi pelaku kekufuran, maksiat, dan kemunafiqan, kubur berubah menjadi lubang jurang Naar yang sangat mengerikan. Liang kubur menyempit secara dahsyat hingga meremukkan seluruh persendian jasadnya. Hukuman ini disertai pula dengan penderitaan fisik dari pukulan Malaikat yang bertugas menyiksa. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan gambaran penyempitan kubur bagi orang jahat.

«وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ»

“Dan disempitkan atasnya kuburnya hingga saling bersilangan tulang-tulang rusuknya.” (HSR. Ahmad no. 18534)

Palu besi yang digunakan Malaikat untuk menghantam sang mayyit memiliki bobot amat berat. Sekiranya palu tersebut dihantamkan ke gunung, niscaya gunung tersebut akan hancur lebur menjadi debu. Jeritan mayyit akibat pukulan ini menggema sangat keras di alam ghoib, dirasakan oleh seluruh makhluk kecuali manusia dan jin.

6.2 Siksaan Khusus Bagi Pelaku Dosa Tertentu

Nabi diperlihatkan berbagai bentuk siksaan Barzakh yang dialami oleh pelaku dosa-dosa besar tertentu melalui penglihatan wahyu. Samuroh bin Jundub rodhiyallahu ‘anhu (60 H) meriwayatkan Hadits yang sangat panjang mengenai penglihatan mimpi Nabi yang dibimbing oleh Malaikat Jibril alaihissalam dan Mikail alaihissalam. Di dalamnya dijelaskan siksaan bagi pemakan riba, pezina, peninggal Sholat, dan pendusta.

Malaikat menjelaskan kepada Nabi bahwa lelaki yang dipecahkan kepalanya berulang kali tersebut adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an namun menolaknya dan tidur meninggalkan Sholat wajib. Dalam Hadits yang sama dijelaskan pula siksaan bagi pezina yang dimasukkan ke dalam tungku pembakaran api yang amat panas, serta pemakan riba yang berenang di sungai darah seraya dilempari batu ke dalam mulutnya.

Samuroh bin Jundub rodhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rosululloh sering sekali bersabda kepada para sahabatnya: “Apakah ada di antara kalian yang melihat suatu mimpi?” Lalu menceritakan kepada beliau siapa saja yang dikehendaki Alloh untuk menceritakannya.

Dan pada suatu pagi beliau bersabda:

«إِنَّهُ أَتَانِي اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِي، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِي انْطَلِقْ، وَإِنِّي انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِي بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ، فَيَتَدَهْدَهُ الحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ المَرَّةَ الأُولَى»

“Sesungguhnya tadi malam ada dua orang mendatangiku, keduanya membangunkanku, dan keduanya berkata kepadaku, ‘Berangkatlah!’ Lalu aku berangkat bersama keduanya. Kami mendatangi seorang lelaki yang sedang berbaring, dan tiba-tiba ada lelaki lain berdiri di atasnya membawa batu besar. Lelaki itu menghantamkan batu tersebut ke kepala orang yang berbaring hingga kepalanya pecah. Batu itu menggelinding ke sini, lalu si pembawa batu mengikuti batu tersebut dan mengambilnya. Belum lagi ia kembali kepada orang yang berbaring itu, kepala orang tersebut sudah sembuh kembali seperti semula. Kemudian ia kembali lagi kepadanya dan melakukan perbuatan seperti yang ia lakukan pada pertama kalinya.

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Subhanalloh, apakah kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah, berangkatlah!’

قَالَ: «فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِي أَحَدَ شِقَّيْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ، فَيَشُقُّ»

Lalu kami berangkat hingga mendatangi seorang lelaki yang sedang berbaring telentang, dan tiba-tiba ada lelaki lain berdiri di atasnya dengan membawa pengait dari besi. Lelaki itu mendatangi salah satu sisi wajahnya lalu merobek sudut mulutnya sampai ke tengkuknya, lubang hidungnya sampai ke tengkuknya, dan matanya sampai ke tengkuknya. Maka ia membelahnya.

قَالَ: «ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الجَانِبِ الآخَرِ فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الجَانِبُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ المَرَّةَ الأُولَى»

Kemudian ia beralih ke sisi yang lain dan melakukan perbuatan seperti yang ia lakukan pada sisi yang pertama. Belum lagi ia selesai dari sisi tersebut, sisi yang sebelumnya sudah sembuh kembali seperti semula. Kemudian ia kembali lagi kepadanya dan melakukan perbuatan seperti yang ia lakukan pada pertama kalinya.

قَالَ: «قُلْتُ: سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى مِثْلِ التَّنُّورِ فَإِذَا فِيهِ لَغَطٌ وَأَصْوَاتٌ»

Aku berkata: ‘Subhanalloh, ada apa dengan kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah, berangkatlah!’ Lalu kami berangkat hingga mendatangi bangunan yang menyerupai tanur (tempat pembakaran) yang di dalamnya terdapat keributan dan berbagai suara.

قَالَ: «فَاطَّلَعْنَا فِيهِ، فَإِذَا فِيهِ رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، وَإِذَا هُمْ يَأْتِيهِمْ لَهَبٌ مِنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ، فَإِذَا أَتَاهُمْ ذَلِكَ اللَّهَبُ ضَوْضَوْا»

Lalu kami melihat ke dalam tanur itu, dan ternyata di dalamnya ada para lelaki dan wanita dalam keadaan telanjang, dan tiba-tiba mereka didatangi kobaran api dari bawah mereka. Ketika kobaran api itu mendatangi mereka, mereka berteriak-teriak gaduh.

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَؤُلاَءِ؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Siapakah mereka ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah, berangkatlah!’

قَالَ: «فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ أَحْمَرَ مِثْلِ الدَّمِ، وَإِذَا فِي النَّهَرِ رَجُلٌ سَابِحٌ يَسْبَحُ، وَإِذَا عَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ حِجَارَةً كَثِيرَةً، وَإِذَا ذَلِكَ السَّابِحُ يَسْبَحُ مَا يَسْبَحُ، ثُمَّ يَأْتِي ذَلِكَ الَّذِي قَدْ جَمَعَ عِنْدَهُ الحِجَارَةَ، فَيَفْغَرُ لَهُ فَاهُ فَيُلْقِمُهُ حَجَرًا فَيَنْطَلِقُ يَسْبَحُ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَيْهِ كُلَّمَا رَجَعَ إِلَيْهِ فَغَرَ لَهُ فَاهُ فَأَلْقَمَهُ حَجَرًا»

Lalu kami berangkat hingga mendatangi sebuah sungai yang airnya merah seperti darah. Di dalam sungai tersebut ada seorang lelaki yang sedang berenang, dan di tepi sungai ada seorang lelaki yang telah mengumpulkan banyak batu di dekatnya. Lelaki yang berenang itu berenang sekian lama, lalu mendatangi lelaki yang mengumpulkan batu di dekatnya. Orang yang berenang itu membuka mulutnya, lalu lelaki di tepi sungai menyuapkan batu ke dalam mulutnya, kemudian ia pergi berenang lagi. Setiap kali ia kembali kepadanya, ia membuka mulutnya lalu disuapi batu.

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَانِ؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Ada apa dengan kedua orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: Berangkatlah, berangkatlah!’

قَالَ: «فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ كَرِيهِ المَرْآةِ، كَأَكْرَهِ مَا أَنْتَ رَاءٍ رَجُلًا مَرْآةً، وَإِذَا عِنْدَهُ نَارٌ يَحُشُّهَا وَيَسْعَى حَوْلَهَا»

Lalu kami berangkat hingga mendatangi seorang lelaki yang sangat buruk penampilannya, seburuk-buruk penampilan lelaki yang pernah engkau lihat. Di sisinya ada api yang ia nyalakan dan ia berlari mengelilinginya.

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَا؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا، فَأَتَيْنَا عَلَى رَوْضَةٍ مُعْتَمَّةٍ، فِيهَا مِنْ كُلِّ لَوْنِ الرَّبِيعِ، وَإِذَا بَيْنَ ظَهْرَيِ الرَّوْضَةِ رَجُلٌ طَوِيلٌ، لاَ أَكَادُ أَرَى رَأْسَهُ طُولًا فِي السَّمَاءِ، وَإِذَا حَوْلَ الرَّجُلِ مِنْ أَكْثَرِ وِلْدَانٍ رَأَيْتُهُمْ قَطُّ»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Siapakah orang ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah, berangkatlah!’ Lalu kami berangkat hingga mendatangi sebuah taman yang sangat hijau dan lebat, di dalamnya terdapat segala macam warna musim semi. Di tengah-tengah taman tersebut terdapat seorang lelaki yang sangat tinggi, yang hampir-hampir aku tidak dapat melihat kepalanya karena saking tingginya menjulang ke langit. Di sekitar lelaki itu terdapat anak-anak yang paling banyak yang pernah aku lihat.

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: مَا هَذَا مَا هَؤُلاَءِ؟» قَالَ: «قَالاَ لِي: انْطَلِقِ انْطَلِقْ»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Siapa orang ini dan siapakah mereka ini?’ Keduanya berkata kepadaku: ‘Berangkatlah, berangkatlah!’

قَالَ: «فَانْطَلَقْنَا فَانْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ عَظِيمَةٍ، لَمْ أَرَ رَوْضَةً قَطُّ أَعْظَمَ مِنْهَا وَلاَ أَحْسَنَ»

Lalu kami berangkat hingga sampai pada sebuah taman yang sangat besar, aku tidak pernah melihat taman yang lebih besar darinya dan tidak pula lebih indah.

قَالَ: «قَالاَ لِي: ارْقَ فِيهَا» قَالَ: «فَارْتَقَيْنَا فِيهَا، فَانْتَهَيْنَا إِلَى مَدِينَةٍ مَبْنِيَّةٍ بِلَبِنِ ذَهَبٍ وَلَبِنِ فِضَّةٍ، فَأَتَيْنَا بَابَ المَدِينَةِ فَاسْتَفْتَحْنَا فَفُتِحَ لَنَا فَدَخَلْنَاهَا، فَتَلَقَّانَا فِيهَا رِجَالٌ شَطْرٌ مِنْ خَلْقِهِمْ كَأَحْسَنِ مَا أَنْتَ رَاءٍ، وَشَطْرٌ كَأَقْبَحِ مَا أَنْتَ رَاءٍ»

Keduanya berkata kepadaku: ‘Naiklah ke dalamnya!’ Lalu kami naik ke dalamnya hingga sampai pada sebuah kota yang dibangun dari batu bata emas dan batu bata perak. Kami mendatangi pintu kota lalu meminta agar dibukakan, maka pintu pun dibukakan untuk kami lalu kami memasukinya. Di dalam kota itu kami disambut oleh beberapa orang lelaki yang separuh dari bentuk tubuh mereka seperti sebaik-baik orang yang pernah engkau lihat, dan separuhnya lagi seperti seburuk-buruk orang yang pernah engkau lihat.

قَالَ: «قَالاَ لَهُمْ: اذْهَبُوا فَقَعُوا فِي ذَلِكَ النَّهَرِ» قَالَ: «وَإِذَا نَهَرٌ مُعْتَرِضٌ يَجْرِي كَأَنَّ مَاءَهُ المَحْضُ فِي البَيَاضِ، فَذَهَبُوا فَوَقَعُوا فِيهِ، ثُمَّ رَجَعُوا إِلَيْنَا قَدْ ذَهَبَ ذَلِكَ السُّوءُ عَنْهُمْ، فَصَارُوا فِي أَحْسَنِ صُورَةٍ»

Keduanya berkata kepada orang-orang itu: ‘Pergilah dan cemplungkanlah diri kalian ke dalam sungai itu!’ Dan ternyata ada sebuah sungai yang melintang mengalir yang airnya sangat putih seperti susu murni. Mereka pun pergi lalu mencemplungkan diri ke dalamnya, kemudian mereka kembali kepada kami dalam keadaan keburukan itu telah hilang dari diri mereka, sehingga mereka berada dalam rupa yang paling indah.

قَالَ: «قَالاَ لِي: هَذِهِ جَنَّةُ عَدْنٍ وَهَذَاكَ مَنْزِلُكَ» قَالَ: «فَسَمَا بَصَرِي صُعُدًا فَإِذَا قَصْرٌ مِثْلُ الرَّبَابَةِ البَيْضَاءِ»

Keduanya berkata kepadaku: ‘Ini adalah Jannah Adn dan itulah tempat tinggalmu.’ Lalu pandanganku menengadah ke atas, dan ternyata ada sebuah istana bagaikan gumpalan awan putih.

قَالَ: «قَالاَ لِي: هَذَاكَ مَنْزِلُكَ» قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمَا ذَرَانِي فَأَدْخُلَهُ، قَالاَ: أَمَّا الآنَ فَلاَ، وَأَنْتَ دَاخِلَهُ»

Keduanya berkata kepadaku: ‘Itulah tempat tinggalmu.’ Aku berkata kepada keduanya: ‘Semoga Alloh memberkahi kalian berdua, biarkanlah aku memasukinya!’ Keduanya menjawab: ‘Adapun sekarang maka belum, dan engkau pasti akan memasukinya.’

قَالَ: «قُلْتُ لَهُمَا: فَإِنِّي قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا، فَمَا هَذَا الَّذِي رَأَيْتُ؟»

Aku berkata kepada keduanya: ‘Sesungguhnya aku telah melihat perkara yang menakjubkan sejak malam tadi, apakah arti dari apa yang telah kulihat ini?’

قَالَ: «قَالاَ لِي: أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالحَجَرِ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ القُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ المَكْتُوبَةِ، وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ، يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ، فَيَكْذِبُ الكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ، وَأَمَّا الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ العُرَاةُ الَّذِينَ فِي مِثْلِ بِنَاءِ التَّنُّورِ، فَإِنَّهُمُ الزُّنَاةُ وَالزَّوَانِي، وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِي أَتَيْتَ عَلَيْهِ يَسْبَحُ فِي النَّهَرِ وَيُلْقَمُ الحَجَرَ، فَإِنَّهُ آكِلُ الرِّبَا، وَأَمَّا الرَّجُلُ الكَرِيهُ المَرْآةِ، الَّذِي عِنْدَ النَّارِ يَحُشُّهَا وَيَسْعَى حَوْلَهَا، فَإِنَّهُ مَالِكٌ خَازِنُ جَهَنَّمَ، وَأَمَّا الرَّجُلُ الطَّوِيلُ الَّذِي فِي الرَّوْضَةِ فَإِنَّهُ إِبْرَاهِيمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَّا الوِلْدَانُ الَّذِينَ حَوْلَهُ فَكُلُّ مَوْلُودٍ مَاتَ عَلَى الفِطْرَةِ»

Keduanya berkata kepadaku: ‘Ketahuilah, sesungguhnya kami akan memberitahukan kepadamu. Adapun lelaki pertama yang engkau datangi yang kepalanya dipecahkan dengan batu, maka ia adalah seorang lelaki yang menghafal Al-Qur’an lalu ia mencampakkannya dan tidur dari Sholat wajib. Adapun lelaki yang engkau datangi yang robek sudut mulutnya sampai ke tengkuknya, lubang hidungnya sampai ke tengkuknya, dan matanya sampai ke tengkuknya, maka ia adalah seorang lelaki yang keluar dari rumahnya lalu berdusta dengan satu dusta yang mencapai penjuru ufuk. Adapun para lelaki dan wanita telanjang yang berada di dalam bangunan seperti tanur, maka mereka adalah para pezina lelaki dan para pezina perempuan. Adapun lelaki yang engkau datangi yang berenang di sungai dan disuapi batu, maka ia adalah pemakan riba. Adapun lelaki yang sangat buruk penampilannya yang berada di sisi api yang ia nyalakan dan ia berlari mengelilinginya, maka ia adalah Malik, penjaga Jahanam. Adapun lelaki tinggi yang berada di taman, maka ia adalah Ibrohim . Adapun anak-anak yang berada di sekitarnya adalah setiap anak yang meninggal di atas fithroh.’”

قَالَ: فَقَالَ بَعْضُ المُسْلِمِينَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَأَوْلاَدُ المُشْرِكِينَ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : «وَأَوْلاَدُ المُشْرِكِينَ، وَأَمَّا القَوْمُ الَّذِينَ كَانُوا شَطْرٌ مِنْهُمْ حَسَنًا وَشَطْرٌ قَبِيحًا، فَإِنَّهُمْ قَوْمٌ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا، تَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهُمْ»

Lalu sebagian kaum Muslimin bertanya: “Wahai Rosululloh, bagaimana dengan anak-anak kaum musyrikin?” Maka Rosululloh bersabda: “Termasuk pula anak-anak kaum musyrikin. Adapun kaum yang separuh dari mereka tampan dan separuhnya lagi buruk rupa, maka mereka adalah suatu kaum yang mencampuradukkan amal sholih dengan amal lain yang buruk, lalu Alloh memaafkan mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 7047)

6.3 Teman yang Buruk Berupa Amal Kejahatan dan Penampakan Naar

Segala bentuk kemaksiatan, perbuatan zholim, kelalaian, dan dosa yang tidak ditobati di dunia akan menjelma menjadi pendorong siksaan di Alam Barzakh berupa sosok teman yang amat mengerikan. Al-Baro’ bin ‘Azib rodhiyallahu ‘anhu (72 H) meriwayatkan kedatangan teman buruk ini kepada ruh orang kafir dan pelaku kejahatan.

«وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ، قَبِيحُ الثِّيَابِ، مُنْتِنُ الرِّيحِ، فَيَقُولُ: أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ، فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ»

“Dan datanglah kepadanya seorang lelaki berwajah buruk, berpakaian kotor, serta berbau sangat busuk, seraya berkata: ‘Terimalah kabar yang menyusahkanmu! Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu.’ Maka mayyit bertanya kepadanya: ‘Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang membawa keburukan.’ Sosok itu menjawab: ‘Aku adalah amalmu yang jahat dan buruk.’” (HSR. Ahmad no. 18534)

Keadaan semakin mencekam saat calon tempat tinggalnya di Naar ditampakkan setiap pagi dan petang. Menyaksikan kobaran api yang membakar di hadapannya, ruh pelaku kejahatan lantas memanjatkan doa ketakutan.

«رَبِّ لاَ تُقِمِ السَّاعَةَ»

“Wahai Robbku, janganlah Engkau datangkan hari Qiyamah.” (HSR. Ahmad no. 18534)

 

Bab 7: Sebab-Sebab Utama Terjadinya Adzab Kubur

7.1 Kelalaian Dari Suci Setelah Kencing dan Perbuatan Namimah

Adzab di Alam Barzakh memiliki sebab-sebab nyata yang berasal dari perbuatan dosa selama hidup di dunia. Di antara sebab utama yang sering diremehkan manusia adalah kelalaian dalam membersihkan diri setelah buang air kecil dan perbuatan namimah (adu domba). Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhuma (68 H) meriwayatkan peristiwa saat Nabi melewati dua kuburan yang penghuninya sedang diadzab.

«إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ»

“Sesungguhnya keduanya benar-benar sedang diadzab, dan keduanya tidak diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Salah satunya tidak bersuci dari kencingnya, sedangkan yang satunya lagi berjalan melakukan namimah (adu domba).” (HR. Al-Bukhori no. 218 dan Muslim no. 292)

Dari Abu Huroiroh, Nabi bersabda:

«أَكْثَرُ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنَ الْبَوْلِ»

“Kebanyakan siksa kubur berasal dari kencing.” (HSR. Ibnu Majah no. 348)

Perbuatan tidak bersuci dari kencing membatalkan kesucian Sholat, sedangkan namimah merusak persaudaraan sesama Muslim. Seseorang yang terbiasa keluar dari kamar mandi tanpa membasuh bekas najisnya, atau seseorang yang menyebarkan perkataan untuk meresahkan hubungan sesama manusia, sesungguhnya sedang menumpuk bahan bakar siksaan di dalam liang kuburnya.

7.2 Perbuatan Ghulul, Dusta, Riba, dan Meninggalkan Sholat

Dosa besar seperti ghulul (mengambil harta publik secara harom), berdusta, memakan riba, dan meremehkan Sholat merupakan pemicu adzab kubur yang amat pedih. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan kisah seorang pembantu Nabi bernama Mid’am yang gugur di medan perang Khaibar (7 H). Ketika para Shohabat memuji persaksian mati syahid baginya, Nabi memberikan peringatan keras.

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّ الشَّمْلَةَ الَّتِي أَخَذَهَا يَوْمَ خَيْبَرَ مِنَ المَغَانِمِ، لَمْ تُصِبْهَا المَقَاسِمُ، لَتَشْتَعِلُ عَلَيْهِ نَارًا»

“Demi Dzot yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya kain selendang yang diambilnya pada hari Khoibar dari harta rampasan perang yang belum dibagi, benar-benar menyalakan api atas dirinya (di dalam kubur).” (HR. Al-Bukhori no. 6707 dan Muslim no. 115)

Kasus ini menjadi bukti bahwa harta harom yang diambil secara tidak sah, walaupun senilai selembar kain, akan berubah menjadi kobaran api di Alam Barzakh. Begitu pula halnya dengan pejabat yang menyalahgunakan anggaran umum atau pedagang yang bertransaksi dengan sistem riba.

7.3 Sifat Khianat, Zholim, dan Meremehkan Maksiat

Penumpukan kemaksiatan kecil yang dianggap sepele tanpa adanya tobat dapat membinasakan hamba di Alam Barzakh. Sifat khianat dan zholim kepada hamba Alloh mendatangkan kemurkaan-Nya yang disegerakan sebelum hari Qiyamah. Alloh berfirman mengenai adzab yang disegerakan ini.

﴿وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan sungguh Kami timpakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia dan Barzakh) sebelum adzab yang lebih besar (di Neraka), agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. As-Sajdah: 21)

Seorang hamba yang menggunjing keburukan orang lain, atau bertindak zholim kepada bawahan tanpa merasa berdosa, sedang melupakan bahwa seluruh perbuatan tersebut dicatat dan dibalas secara instan di Alam Barzakh.

 

Bab 8: Keadaan dan Pertemuan Para Ruh di Alam Barzakh

8.1 Tempat Tinggal Ruh Para Nabi, Syuhada, dan Orang Sholih

Kedudukan ruh manusia di Alam Barzakh bertingkat-tingkat sesuai dengan derajat keimanan mereka di hadapan Alloh . Ruh para Nabi berada di tempat yang paling tinggi di Ar-Rofiq Al-A’la. Adapun ruh para Syuhada berada di dalam perut burung hijau yang terbang bebas di dalam Jannah. Masruq (63 H) meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu (32 H) mengenai keadaan para Syuhada. Lalu ia menjawab dengan sabda Nabi :

«أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ، لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ»

“Ruh-ruh mereka berada di dalam perut burung hijau yang memiliki pelita-pelita tergantung di ‘Arsy. Burung itu terbang bebas di Jannah ke mana saja yang disukainya, kemudian kembali ke pelita-pelita tersebut.” (HR. Muslim no. 1887)

Adapun ruh orang Mu’min secara umum diibaratkan sebagai burung yang hinggap di pepohonan Jannah. Ka’b bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (50 H) meriwayatkan sabda Nabi .

«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Sesungguhnya ruh orang Mu’min adalah burung yang hinggap di pohon Jannah hingga Alloh mengembalikannya ke jasadnya pada hari Dia membangkitkannya.” (HSR. An-Nasa’i no. 2073)

8.2 Saling Berkunjung dan Saling Menyapa Antara Ruh Orang Mu’min

Ruh orang-orang yang beriman tidak berada dalam keadaan terisolasi, melainkan saling bertemu, saling menyapa, dan saling berkunjung satu sama lain. Ketika ruh seorang Mu’min yang baru meninggal menyusul ke Alam Barzakh, ruh-ruh kerabatnya yang telah terdahulu menyambutnya dengan gembira. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan sabda Nabi .

«فَيَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَهُمْ أَشَدُّ فَرَحًا بِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ بِغَائِبِهِ يَقْدَمُ عَلَيْهِ، فَيَسْأَلُونَهُ: مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ مَاذَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُونَ: دَعُوهُ فَإِنَّهُ كَانَ فِي غَمِّ الدُّنْيَا، فَإِذَا قَالَ: أَمَا أَتَاكُمْ؟ قَالُوا: ذُهِبَ بِهِ إِلَى أُمِّهِ الْهَاوِيَةِ»

“Lalu para Malaikat membawa ruh itu menemui ruh-ruh kaum Mu’minin. Betapa besar kegembiraan mereka menyambut kedatangannya, bahkan lebih besar daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian saat menyambut orang yang dicintainya pulang setelah lama merantau.

Mereka pun segera mengerumuninya (si ruh baru) seraya bertanya, ‘Bagaimana kabar si Fulan (yang masih hidup)? Bagaimana keadaan si Fulan?’

Sebagian dari mereka berkata, ‘Biarkan ia beristirahat terlebih dahulu. Baru saja ia meninggalkan kepayahan dan kesulitan hidup di dunia.’

Setelah itu, apabila ruh yang baru datang bertanya, ‘Bukankah si Fulan sudah datang kepada kalian (yakni sudah mati duluan sebelum aku kenapa tanya kepadaku)?’

Mereka menjawab, “Tidak. (Kalau begitu) ia telah dibawa menuju tempat tinggalnya yang paling bawah, yaitu Neraka.’” (HSR. An-Nasa’i no. 1833, dishohihkan Al-Albani)

Pertemuan indah antar ruh ini hanya dirasakan oleh mereka yang wafat dalam keimanan dan kebaikan. Mereka saling menanyakan keadaan sanak keluarga yang masih hidup di dunia.

Ibnu Taimiyyah (728 H) berkata: Mengenai ucapan penanya: “Apakah ruhnya berkumpul bersama ruh-ruh keluarganya dan kerabatnya?”

Maka terdapat dalam Hadits dari Abu Ayub Al-Anshori (52 H) dan selain beliau dari kalangan Salaf, dan Abu Hatim (277 H) meriwayatkannya dalam kitab shohih dari Nabi :

«أَنَّ الْمَيِّتَ إذَا عُرِجَ بِرُوحِهِ تَلَقَّتْهُ الْأَرْوَاحُ يَسْأَلُونَهُ عَنْ الْأَحْيَاءِ فَيَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضِ: دَعُوهُ حَتَّى يَسْتَرِيحَ فَيَقُولُونَ لَهُ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُ: عَمِلَ عَمَلَ صَلَاحٍ فَيَقُولُونَ: مَا فَعَلَ فُلَانٌ؟ فَيَقُولُ: أَلَمْ يَقْدَمْ عَلَيْكُمْ فَيَقُولُونَ: لَا فَيَقُولُونَ ذُهِبَ بِهِ إلَى الْهَاوِيَةِ»

“Sesungguhnya mayit apabila ruhnya dibawa naik, maka ruh-ruh lain akan menyambutnya dan mereka bertanya kepadanya tentang orang-orang yang masih hidup. Maka sebagian mereka berkata kepada yang lain: ‘Biarkanlah dia sampai dia beristirahat.’ Lalu mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang dilakukan si fulan?’ Ia menjawab: ‘Ia beramal dengan amal yang sholih.’ Mereka bertanya lagi: ‘Apa yang dilakukan si fulan lain?’ Ia menjawab: ‘Bukankah dia sudah mendatangi kalian?’ Mereka menjawab: ‘Belum.’ Maka mereka berkata: ‘Kalau begitu dia telah dibawa pergi ke Neraka Hawiyah.’”

Tatkala amal orang-orang yang hidup diperlihatkan kepada orang-orang yang mati, Abu Ad-Darda’ (32 H) dahulu berkata:

اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أَعْمَلَ عَمَلًا أُخْزَى بِهِ عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَوَاحَةَ

“Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari melakukan amalan yang membuatku malu di hadapan Abdulloh bin Rowahah (8 H).”

Inilah pertemuan mereka saat kedatangannya, mereka bertanya dan ia menjawab. Adapun tempat menetap mereka adalah sesuai dengan kedudukan mereka di sisi Alloh. Barangsiapa yang termasuk al-muqorrobun (orang-orang yang dekat dengan Alloh), maka kedudukannya lebih tinggi dari kedudukan ashabul yamin (golongan kanan). Akan tetapi yang kedudukannya tinggi bisa turun menemui yang rendah, sedangkan yang rendah tidak bisa naik menemui yang tinggi. Maka mereka berkumpul jika Alloh kehendaki sebagaimana mereka berkumpul di dunia meskipun berbeda kedudukannya, dan mereka saling mengunjungi. (Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 24/368)

8.3 Pengetahuan Penghuni Kubur Terhadap Keadaan Orang Hidup

Amal perbuatan orang-orang yang masih hidup di dunia diperlihatkan kepada sanak kerabat mereka yang telah mendahului di Alam Barzakh. Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (93 H) meriwayatkan sabda Rosululloh perihal penyampaian kabar amalan ini.

«إِنَّ أَعْمَالَكُمْ تُعْرَضُ عَلَى أَقَارِبِكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ الْأَمْوَاتِ، فَإِنْ كَانَ خَيْرًا اسْتَبْشَرُوا بِهِ، وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ، قَالُوا: اللهُمَّ لَا تُمِتْهُمْ، حَتَّى تَهْدِيَهُمْ كَمَا هَدَيْتَنَا»

“Sesungguhnya amalan-amalan kalian diperlihatkan kepada kerabat dan sanak keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika amalan itu baik maka mereka bergembira, dan jika selain itu maka mereka berdoa: Ya Alloh, janganlah Engkau wafatkan mereka hingga Engkau berikan petunjuk kepada mereka sebagaimana Engkau telah memberi petunjuk kepada kami.” (HR. Ahmad no. 12683)

Sanad ini lemah karena tidak diketahui nama rowi antara Sufyan dengan Anas. Namun, kandungan Hadits ini shohih didukung oleh banyak dalil, sebagaimana dikuatkan Ibnu Abdil Barr, Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Qoyyim. Ibnu Abid Dun-ya (281 H) menyebutkan banyak riwayat hasan dalam bab ini di Kitab Manaamaat.

Pengetahuan ini menjadi dorongan moral bagi setiap anggota keluarga di dunia untuk senantiasa menjaga nama baik agama dan keluarganya melalui ketundukan kepada syariat Alloh .

 

Bab 9: Pelindung dan Penyelamat Dari Fithnah Serta Adzab Kubur

9.1 Amalan yang Menjadi Benteng di Alam Barzakh

Amal sholih yang dikerjakan secara istiqomah sewaktu di dunia bertindak sebagai perisai tak tertembus dari siksaan di Alam Barzakh. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan gambaran bagaimana ibadah menjaga mayyit dari kedatangan adzab.

«إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا، كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ، وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ، فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَمِينِهِ، فَيَقُولُ الصِّيَامُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقُولُ الزَّكَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، ثُمَّ يُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ، فَتَقُولُ فَعَلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ، فَيُقَالُ لَهُ: اجْلِسْ فَيَجْلِسُ، وَقَدْ مُثِّلَتْ لَهُ الشَّمْسُ وَقَدْ أُدْنِيَتْ لِلْغُرُوبِ، فَيُقَالُ لَهُ: أَرَأَيْتَكَ هَذَا الرَّجُلَ الَّذِي كَانَ فِيكُمْ مَا تَقُولُ فِيهِ، وَمَاذَا تَشَهَّدُ بِهِ عَلَيْهِ؟ فَيَقُولُ: دَعُونِي حَتَّى أُصَلِّيَ، فَيَقُولُونَ: إِنَّكَ سَتَفْعَلُ»

“Sungguh, apabila mayit telah diletakkan di dalam kuburnya, ia benar-benar dapat mendengar derap langkah sandal mereka ketika mereka berbalik meninggalkannya. Jika ia seorang Mu’min, maka Sholat berada di arah kepalanya, Puasa berada di sebelah kanannya, Zakat berada di sebelah kirinya, dan berbagai perbuatan kebaikan seperti Sedekah, silaturrohim, kebajikan, serta kebaikan kepada sesama manusia berada di arah kedua kakinya. Lalu ia didatangi dari arah kepalanya, maka Sholat berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian ia didatangi dari sebelah kanannya, maka Puasa berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Lalu ia didatangi dari sebelah kirinya, maka Zakat berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Kemudian ia didatangi dari arah kedua kakinya, maka perbuatan kebaikan berupa Sedekah, silaturrohim, kebajikan, dan kebaikan kepada manusia berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’ Lalu dikatakan kepadanya: ‘Duduklah!’ Maka ia pun duduk, sementara matahari di hadapannya ditampakkan seakan-akan hampir terbenam. Dikatakan kepadanya: ‘Bagaimana pendapatmu tentang lelaki yang dahulu berada di tengah-tengah kalian ini, apa yang engkau katakan mengenainya dan apa kesaksianmu atasnya?’ Ia pun berkata: ‘Biarkanlah aku sholat terlebih dahulu!’ Mereka menjawab: ‘Engkau nanti pasti akan melakukannya.’” (HHR. Ibnu Hibban no. 3113)

9.2 Keutamaan Mati Syahid, Ribath, dan Meninggal Pada Hari Jum’at

Kedudukan mati syahid di jalan Alloh membentengi hamba dari ujian Mungkar dan Nakir, karena kilatan pedang di atas kepalanya sudah menjadi ujian yang cukup baginya. Begitu pula orang yang melaksanakan ribath (berjaga di perbatasan wilayah Muslim demi membela Islam). Fadholah bin ‘Ubaid rodhiyallahu ‘anhu (53 H) meriwayatkan sabda Nabi .

«كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلَّا الْمُرَابِطَ، فَإِنَّهُ يَنْمُو لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَيُؤَمَّنُ مِنْ فَتَّانِ الْقَبْرِ»

“Setiap mayyit ditutup amalnya kecuali orang yang meninggal dalam keadaan ribath (berjaga-jaga) di jalan Alloh, sesungguhnya dikembangkan amalnya hingga hari Qiyamah dan ia aman dari fithnah kubur.” (HSR. Abu Dawud no. 2500 dan At-Tirmidzi no. 1621)

Adapun perlindungan dari fithnah kubur bagi orang yang wafat pada hari atau malam Jum’at dijelaskan dalam Hadits Abdullah bin ‘Amr rodhiyallahu ‘anhuma (65 H).

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ القَبْرِ»

“Tidak ada seorang Muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at melainkan Alloh melindunginya dari fithnah kubur.” (HHR. At-Tirmidzi no. 1074)

9.3 Membaca Surat Al-Mulk dan Doa Perlindungan dalam Sholat

Membaca Surat Al-Mulk secara rutin setiap malam merupakan sarana penyelamat dari adzab kubur. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan keutamaan surat ini dari Rosululloh .

«سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً، تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ: تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ»

“Satu surat dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 30 ayat dapat memberikan syafa’at bagi seseorang hingga ia diampuni, yaitu surat Tabarokal ladzi biyadihil mulk.” (HHR. Abu Dawud no. 1400 dan At-Tirmidzi no. 2891)

Di samping itu, Nabi mengajarkan permohonan perlindungan dari adzab kubur dalam setiap Sholat sebelum tasyahhud akhir. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan doa tersebut.

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ»

“Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab Jahannam, dari adzab kubur, dari fithnah kehidupan dan kematian, serta dari keburukan fithnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Al-Bukhori no. 1377 dan lafazh Muslim no. 588)

 

Bab 10: Sesuatu yang Bermanfaat Bagi Mayyit Setelah Kematian

10.1 Doa Anak Sholih, Sedekah Jariyah, dan Ilmu yang Bermanfaat

Ketika seseorang meninggal dunia, lembaran amalnya terputus kecuali dari tiga saluran ikatan yang pahalanya terus mengalir ke Alam Barzakh. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan sabda Nabi .

«إِذَا مَاتَ الإِنسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Seseorang yang membangun Masjid, mencetak buku-buku agama yang bermanfaat, atau mendidik anak-anaknya menjadi pribadi yang taqwa, akan senantiasa menerima curahan pahala di dalam liang kuburnya.

Begitu pula amal lainnya, seperti yang disebutkan dalam Hadits Abu Umamah dan Anas bin Malik:

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosululloh bersabda:

«سَبعٌ يَجْرِي لِلْعَبْدِ أَجْرُهُنَّ مِن بَعدِ مَوْتِهِ، وَهُوَ فِي قَبْرِهِ: مَنْ عَلَّمَ عِلْمًا، أَو كَرَى نَهْرًا، أَو حَفَرَ بِئْرًا، أَو غَرَسَ نَخْلًا، أَو بَنَى مَسْجِدًا، أَو وَرَّثَ مُصْحَفًا، أَو تَرَكَ وَلَدًا يَسْتَغْفِرُ لَهُ بَعْدَ مَوْتِهِ»

“Tujuh amalan yang pahalanya terus mengalir kepada hamba setelah kematiannya, sementara ia berada di dalam kuburnya: [1] mengajarkan ilmu, [2] menggali sungai, [3] menggali sumur, [4] menanam pohon kurma, [5] membangun Masjid, [6] mewariskan Mushhaf (Al-Qur’an), [7] meninggalkan anak yang memohonkan ampunan baginya setelah kematiannya.” (HHR. Al-Bazzar no. 7289, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 73)

Dari Abu Umamah Al-Bahili rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rosululloh bersabda:

«أَرْبَعٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أُجُورُهُمْ بَعْدَ المَوْتِ: رَجُلٌ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ عَلَّمَ عِلْمًا فَأَجْرُهُ يَجْرِي عَلَيْهِ مَا عُمِلَ بِهِ، وَرَجُلٌ أَجْرَى صَدَقَةً فَأَجْرُهَا يَجْرِي عَلَيْهِ مَا جَرَتْ عَلَيْهِمْ، وَرَجُلٌ تَرَكَ وَلَدًا صَالِحًا يَدْعُو لَهُ»

“Empat orang yang pahalanya terus mengalir kepada mereka setelah kematiannya: [1] seorang lelaki yang meninggal dalam keadaan murabith (berjaga di perbatasan) di jalan Alloh, [2] seorang lelaki yang mengajarkan ilmu dan pahalanya terus mengalir kepadanya selama ilmu itu diamalkan, [3] seorang lelaki yang mengalirkan shodaqoh dan pahalanya terus mengalir kepadanya selama shodaqoh itu mengalir kepada mereka, dan [4] seorang lelaki yang meninggalkan anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Ahmad no. 22318, dan Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 114)

Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rosululloh bersabda:

«إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ: عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ، وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ، وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ، أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ، أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ، أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ، أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ؛ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ»

“Sungguh, di antara amalan dan kebaikan Mu’min yang akan menyertainya setelah kematiannya adalah: [1] ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, [2] anak sholih yang ia tinggalkan, [3] Mushhaf (Al-Qur’an) yang ia wariskan, [4] Masjid yang ia bangun, [5] rumah yang ia bangun untuk ibnu sabil, [6] sungai yang ia alirkan, [7] shodaqoh yang ia keluarkan dari hartanya di saat sehat dan hidupnya; akan menyertainya setelah kematiannya.” (HHR. Ibnu Majah no. 242)

10.2 Doa Sholat Janazah dan Ziyaroh Kubur Sesuai Sunnah

Doa yang dipanjatkan oleh kaum Muslimin dalam Sholat Janazah membawa kebaikan besar bagi mayyit di Alam Barzakh. ‘Auf bin Malik rodhiyallahu ‘anhu (73 H) meriwayatkan doa yang diucapkan oleh Nabi saat mensholatkan janazah.

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ»

“Ya Alloh, ampunilah ia, rohmati ia, sejahteraan ia, maafkanlah kesalahannya, muliakanlah tempat singgahnya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es, dan embun, serta bersihkanlah ia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau membersihkan pakaian yang putih dari kotoran.” (HR. Muslim no. 963)

Pelaksanaan ziyaroh kubur yang sesuai dengan Sunnah melahirkan manfaat ganda: mendoakan keselamatan sang mayyit dan memberikan peringatan bagi orang yang hidup. Buroidah rodhiyallahu ‘anhu (62 H) meriwayatkan salam ziyaroh kubur dari Nabi .

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلَاحِقُونَ، أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ»

“Kesejahteraan atas kalian wahai para penghuni kubur dari kalangan orang-orang Mu’min dan Muslim, dan sesungguhnya kami Insya Alloh akan menyusul kalian. Aku memohon kepada Alloh keselamatan untuk kami dan untuk kalian.” (HR. Muslim no. 975)

10.3 Pelajaran dan I’tibar dari Kehidupan Alam Barzakh

Mengingat kematian dan merenungkan kehidupan di Alam Barzakh merupakan penawar paling efektif bagi penyakit kelalaian hati dan cinta dunia yang berlebihan. Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu (57 H) meriwayatkan ajakan Nabi untuk senantiasa mengingat kematian.

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ» يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2307 dan An-Nasa’i no. 1824)

Siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya ia dihormati dengan tiga perkara: percepatan tobat, kepuasan hati, dan semangat dalam beribadah.

 

Penutup

Kehidupan Alam Barzakh merupakan kenyataan hakiki yang pasti dilalui oleh setiap diri manusia tanpa terkecuali. Ia adalah persimpangan awal yang menentukan apakah seseorang akan melangkah menuju kebahagiaan abadi di Jannah atau penderitaan sengsara di Naar. Perjalanan dari detik-detik sakarotul maut, pengangkatan ruh, pemeriksaan Mungkar dan Nakir, hingga penantian hari bangkit mengajarkan pentingnya pemurnian tauhid dan istiqomah dalam amal sholih.

Selagi nafas masih berhembus dan pintu tobat belum terkunci, tidak ada pilihan yang lebih bijaksana bagi seorang hamba selain mempersiapkan perbekalan taqwa. Menjaga Sholat, menunaikan Zakat, menjauhi dosa-dosa yang mendatangkan adzab kubur, serta melazimi doa keselamatan merupakan jalan tunggal menuju perlindungan Alloh .

Semoga Alloh meneguhkan lisan dan hati kita ketika berhadapan dengan Mungkar dan Nakir, melapangkan liang kubur kita, serta mengumpulkan kita bersama para Nabi dan orang-orang sholih di Jannah-Nya.

 

Daftar Pustaka

Kutub Tis’ah

Majmu Fatawa, Ibnu Taimiyyah (728 H)

Kitab Ar-Ruh, Ibnu Qoyyim (751 H)

Ahwaahul Qubuur wa Ahwaalu Ahliha ilan Nusyuur, Ibnu Rojab (795 H). 

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini