[PDF] Sehari dalam Naungan Ibadah - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam, yang telah menyempurnakan syariat-Nya bagi sekalian manusia.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, yang diutus sebagai uswatun
hasanah (suri teladan yang baik) dalam setiap jengkal kehidupan.
Amma
ba’du:
Waktu
adalah modal utama yang diberikan oleh Robb kepada setiap hamba di atas muka
bumi ini. Sungguh menyedihkan apabila sebagian besar dari 24 jam yang kita
lalui setiap hari menguap begitu saja sebagai rutinitas harian yang kosong dari
nilai Akhiroh.
Kita perlu mengikis
batasan antara aktivitas duniawi dan ibadah ritual, lalu menyatukannya dalam
satu tarikan nafas penghambaan yang utuh. Setiap detik, mulai dari kedipan mata
pertama saat bangun tidur di sepertiga malam hingga kembali memejamkan mata,
dapat dikonversi menjadi pahala yang terus mengalir di sisi Alloh ﷻ.
Inilah hakikat sejati dari naungan ibadah harian yang menyeluruh.
Buku ini
disusun guna menuntun pembaca memahami serta mempraktikkan amalan-amalan
tersebut dengan mudah. Pembahasan diawali dengan peletakan batu pertama berupa
niat yang mampu mengubah kebiasaan adat menjadi ketaatan yang bernilai syar’i.
Selanjutnya, lembaran-lembaran buku ini akan membedah secara kronologis
rangkaian ibadah harian yang dibagi ke dalam beberapa fase waktu: dimulai dari
amalan sepertiga malam saat terbangun, dilanjutkan ke waktu Shubuh hingga
Dhuha, kemudian meniti aktivitas muamalah dan mencari rizqi di siang hari,
hingga kembali menjelang sore, Maghrib, Isya, serta ditutup dengan adab-adab
menjelang tidur. Tidak lupa, buku ini juga merangkum ibadah sosial serta adab
harian terkait makan, minum, dan berpakaian.
Bab 1: Pondasi
Ibadah Harian
1.1
Menjadikan Seluruh Waktu Berstatus Ibadah
Tujuan
utama ditiupkannya ruh ke dalam jasad manusia dan ditempatkannya mereka di atas
permukaan bumi tidak lain adalah untuk menghamba secara totalitas kepada Alloh ﷻ.
Pemahaman yang keliru seringkali membatasi makna ibadah hanya pada ritual di
atas sajadah atau di dalam Masjid. Padahal, hakikat penghambaan mencakup
seluruh desah nafas dan gerak-gerik seorang hamba sepanjang 24 jam.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا
لِيَعْبُدُونِ﴾
“Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.
Adz-Dzariyat: 56)
Alloh ﷻ juga
menegaskan perintah untuk masuk ke dalam syariat Islam secara menyeluruh tanpa
memisah-misahkan bagian kehidupan dunia dengan kepentingan Akhiroh:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا
فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُبِينٌ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan
janganlah kamu turut langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya syaithon itu musuh
yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqoroh: 208)
Menjadikan
seluruh waktu berstatus ibadah, berarti mengondisikan fisik dan batin agar
senantiasa berjalan di atas ridho-Nya, baik saat terjaga maupun saat tertidur.
Dari Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada
Abu Musa al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu mengenai cara beliau
mengatur waktu hariannya:
«أَمَّا
أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي»
“Adapun
aku, sesungguhnya aku tidur dan aku Sholat malam, dan aku mengharapkan pahala
dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari Sholat malamku.” (HR.
Al-Bukhori no. 4344 dan Muslim no. 1824)
Siapa yang
menyangka bahwa ibadah itu memiliki waktu istirahat sebelum kematian
menjemputnya, maka dia belum mengenal hakikat tujuan penciptaan dirinya.
1.2
Niat Mengubah Kebiasaan Menjadi Ibadah
Niat
merupakan motor penggerak utama dalam setiap amalan harian. Kedudukan niat
sangat sakral dalam syariat karena ia berfungsi sebagai pembeda antara satu
ibadah dengan ibadah lainnya, sekaligus menjadi pembeda antara kebiasaan adat
yang bernilai mubah (kosong dari pahala) menjadi aktivitas ketaatan yang
berbuah pahala melimpah di sisi Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai perintah memurnikan tujuan amal hanya untuk-Nya semata:
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ
مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ
وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴾
“Padahal
mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Sholat
dan menunaikan Zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Setiap
nilai dari apa yang dikerjakan manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat
bergantung pada apa yang dia niatkan di dalam lubuk hatinya. Dari Umar bin
al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata di atas mimbar
bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Sesungguhnya
setiap amalan itu berkaitan erat dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang
hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan
Muslim no. 1907)
Bahkan,
seseorang yang meniatkan tidur malamnya agar kuat bangun untuk Sholat tahajjud,
tetap dicatat pahala baginya meskipun matanya terlanjur tertidur hingga pagi
hari karena kelelahan fisik. Dari Abu Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«مَنْ
أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ
عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ
مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Siapa yang
mendatangi tempat tidurnya dalam keadaan dia berniat untuk bangun menegakkan Sholat
di malam hari, lalu kedua matanya mengalahkannya (tertidur) hingga pagi hari,
maka tetap dicatat baginya apa yang dia niatkan. Sementara tidurnya menjadi
shodaqoh dari Alloh untuknya.” (HR. An-Nasa’i no. 1787 dan Ibnu Majah no.
1344)
Alloh tidak
melihat kepada besarnya bentuk amalan lahiriyah yang kita tampakkan, melainkan
Dia melihat kepada keikhlasan niat yang tertanam di dalam hati.
1.3
Ibadah Mahdhoh dan Ghoir Mahdhoh
Secara
garis besar, ragam ibadah yang menghiasi lembaran 24 jam seorang Muslim terbagi
menjadi dua kategori utama, yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah ghoir
mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah murni yang tata cara, syarat,
dan rukunnya telah ditetapkan secara baku oleh syariat (seperti Sholat, Puasa,
Zakat), sedangkan ibadah ghoir mahdhoh adalah seluruh aktivitas mubah
harian yang berubah status menjadi ibadah karena faktor luar seperti niat yang
tepat (seperti kerja dengan berharap pahala).
Alloh ﷻ
berfirman memisahkan antara urusan ritual ibadah dengan urusan muamalah:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ
لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا
فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Sholat Jum’at, maka
bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan Sholat,
maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Alloh dan ingatlah
Alloh banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)
Contoh
ibadah mahdhoh harian yang wajib adalah Sholat lima waktu yang tidak
boleh diubah tata caranya. Adapun contoh ibadah ghoir mahdhoh yang
sangat akrab adalah memberikan nafkah berupa makanan kepada istri atau menyuapi
mulutnya dengan kemesraan. Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H) rodhiyallahu ‘anhu,
bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda kepadaku:
«إِنَّكَ
لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا،
حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ»
“Sesungguhnya
tidaklah kamu menginfakkan suatu nafkah yang kamu harapkan dengannya wajah
Alloh, melainkan kamu pasti akan diberi pahala atasnya, sampai-sampai apa
(suapan makanan) yang kamu letakkan di dalam mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhori
no. 56 dan Muslim no. 1628)
Bahkan,
melampiaskan syahwat harian kepada pasangan yang sah berstatus ibadah ghoir
mahdhoh karena menahan diri dari zina. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: “Dan di dalam kemaluan salah seorang dari kalian terdapat shodaqoh.”
Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah salah seorang dari kami
melampiaskan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?” Beliau menjawab:
«أَرَأَيْتُمْ
لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا
فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ»
“Tahukah
kalian, seandainya dia melampiaskannya pada tempat yang harom, bukankah dia
mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika dia melampiaskannya pada tempat yang
halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim no. 1006)
Orang yang
cerdas (faqih) adalah orang yang mampu mengubah adat kebiasaan makannya,
minumnya, dan pergaulan harian rumah tangganya menjadi ibadah berwujud pahala,
sedangkan orang yang lalai mengubah ibadah ritualnya menjadi sekadar adat
kebiasaan yang hampa tanpa rasa.
Bab 2: Ibadah
Sejak Bangun Tidur hingga Terbit Fajar
2.1
Amalan dan Doa saat Pertama Kali Terjaga
Saat
seorang hamba terbangun dari tidurnya pada malam atau dini hari, hal pertama
yang diperintahkan adalah mengingat Robb yang telah menghidupkannya kembali
setelah mati sesaat (tidur). Di antara bentuk ibadah lisan yang agung adalah
memuji-Nya dengan doa yang ma’tsur.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ
وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ 190 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ
اللَّهَ قِيَامًا وَقُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang
mengingat Alloh dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring
dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Robb
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa Naar.” (QS. Ali ‘Imron: 190-191)
Dari
Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Biasanya
Nabi ﷺ
apabila merebahkan badannya di tempat tidurnya pada malam hari, beliau
mengucapkan: ‘Dengan nama-Mu ya Alloh aku mati dan aku hidup.’ Dan apabila
terbangun dari tidurnya, beliau mengucapkan:
«الحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ»
“Segala
puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya
kepada-Nya tempat kembali.” (HR. Al-Bukhori no. 6324)
Amalan
harian ini menjadi pembuka lembaran hari yang berkah. Selain itu, terdapat
keutamaan besar bagi orang yang membaca dzikir tauhid saat terjaga di tengah
malam lalu dilanjutkan dengan istighfar atau doa, niscaya doanya dikabulkan,
dan jika dia Sholat maka Sholatnya diterima.
Dari Ubadah
bin ash-Shomit (34 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Siapa yang
terjaga di malam hari, lalu dia mengucapkan:
«لاَ
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ،
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Tidak ada
sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Segala puji bagi Alloh, Maha Suci Alloh, tidak ada sesembahan yang
berhak disembah selain Alloh, Alloh Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan
kecuali dengan pertolongan Alloh.” Kemudian dia mengucapkan: ‘Ya Alloh,
ampunilah aku,’ atau dia berdoa, maka akan dikabulkan baginya. Jika dia
berwudhu dan Sholat, maka Sholatnya akan diterima.” (HR. Al-Bukhori no.
1154)
Beruntunglah
bagi orang yang memulai harinya dengan ketaatan kepada Robbnya dan mengingat
dosa-dosanya.
2.2
Bersuci dan Bersiwak
Setelah
lisan berdzikir, anggota badan segera digerakkan untuk bersuci. Rosululloh ﷺ memberikan contoh agar
kebersihan mulut didahulukan saat bangun tidur untuk menghilangkan bau tidak
sedap dan mengusir kemalasan akibat pengaruh syaithon.
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَعْقِدُ
الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ،
يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ
اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى
انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ
النَّفْسِ كَسْلاَنَ»
“Syaithon
mengikat di pangkal kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan 3
ikatan. Dia memukul setiap ikatan seraya mengatakan: ‘Malam masih panjang
bagimu, maka tidurlah.’ Apabila dia terbangun lalu mengingat Alloh, maka
lepaslah 1 ikatan. Jika dia berwudhu, maka lepaslah ikatan berikutnya. Dan jika
dia Sholat, maka lepaslah seluruh ikatan, sehingga pada pagi hari dia menjadi
bersemangat dan berjiwa baik. Jika tidak, maka dia pada pagi hari akan berjiwa
buruk dan malas.” (HR. Al-Bukhori no. 1142 dan Muslim no. 776)
Di antara
sunnah muakkadah saat bangun malam adalah membersihkan mulut dengan siwak. Dari
Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ»
“Biasanya
Nabi ﷺ
apabila bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.” (HR.
Al-Bukhori no. 245 dan Muslim no. 255)
Kemudian
seorang Muslim berwudhu dengan sempurna di tempat bersuci. Ketika membersihkan
hidung, disunnahkan melakukan istintsar (memasukkan dan mengeluarkan air
dari hidung) sebanyak 3 kali karena syaithon menginap di rongga hidungnya.
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
«إِذَا
اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا، فَإِنَّ
الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ»
“Apabila
salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia berwudhu
dengan istintsar (memasukkan dan mengeluarkan air dari hidungnya) 3
kali, karena sesungguhnya syaithon menginap di rongga hidungnya.” (HR.
Al-Bukhori no. 3295 dan Muslim no. 238)
Siwak saat
bangun malam adalah sunnah yang tidak sepatutnya ditinggalkan oleh seorang Mu’min
yang ingin meneladani Nabinya dalam mensucikan diri menghadapi Sholat.
2.3
Sholat Tahajjud dan Witir sebagai Penutup Malam
Setelah
suci lahir dan batin, seorang Muslim menegakkan ibadah yang paling utama
setelah Sholat fardhu, yaitu Sholat malam (Tahajjud) yang kemudian ditutup
dengan Sholat Witir.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً
لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴾
“Dan pada
sebagian malam hari tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu;
mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isro’:
79)
Alloh ﷻ juga
berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang sholih:
﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ
يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴾
“Lambung
mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Robb-nya
dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan apa apa rizqi yang
Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)
Dari Abu Huroiroh
(57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ
الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»
“Puasa yang
paling utama setelah bulan Romadhon adalah puasa di bulan Alloh yang mulia
(Muharrom). Dan Sholat yang paling utama setelah Sholat wajib adalah Sholat
malam.” (HR. Muslim no. 1163)
Tuntunan
dalam Sholat malam adalah dikerjakan 2 roka’at 2 roka’at, kemudian diakhiri
dengan 1 roka’at ganjil sebagai penutup. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh ﷺ tentang Sholat malam, maka
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«صَلاَةُ
اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً
تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى»
“Sholat
malam itu 2 roka’at 2 roka’at. Jika salah seorang di antara kalian khawatir
akan datangnya waktu Shubuh, maka hendaklah dia Sholat 1 roka’at yang menjadi
witir (penutup /ganjil) bagi Sholat yang telah dia kerjakan.” (HR.
Al-Bukhori no. 990 dan Muslim no. 749)
Para ahli
ibadah malam merasakan kelezatan dalam malam-malam mereka melebihi kelezatan
orang-orang yang lalai dalam kelalaian mereka. Seandainya bukan karena malam, para
Salaf tidak ingin hidup lama di dunia ini.
2.4
Beristighfar pada Waktu Sahur
Waktu sahur
adalah sepertiga malam terakhir menjelang terbit fajar Shubuh. Ini adalah waktu
turunnya Robb ke langit dunia, waktu yang sangat mustajab untuk memohon ampunan
(istighfar) atas segala dosa harian.
Alloh ﷻ
berfirman memuji orang-orang yang beriman:
﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ
وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ﴾
“(Yaitu)
orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya,
dan yang memohon ampunan di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron: 17)
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾
“Dan selalu
memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar (sahur).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«يَنْزِلُ
رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى
ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»
“Robb kita Tabaroka
wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir, kemudian Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya
Aku kabulkan baginya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri kepadanya.
Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia.’” (HR.
Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)
Lafazh
istighfar yang paling utama untuk dibaca pada waktu mulia ini adalah istighfar dengan
lafazh yang disebutkan sebelum ayat tersebut:
﴿رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Wahai
Robb kami, kami benar-benar beriman maka ampunilah dosa-dosa kami dan jagalah
kami dari siksa Neraka.” (QS. Ali Imron: 16)
Lalu Sayyidul Istighfar. Dari Syaddad bin Aus
(58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda bahwa pemuka istighfar adalah seorang hamba
mengucapkan:
«اللَّهُمَّ
أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى
عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ
لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ»
“Ya Alloh,
Engkau adalah Robb-ku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau.
Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku di atas perjanjian-Mu
dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku
perbuat. Aku mengakui ni’mat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka
ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain
Engkau.” (HR. Al-Bukhori no. 6306)
Mengakhiri Sholat
malam dengan duduk beristighfar di waktu sahur adalah kebiasaan para Salaf,
mereka menyambung Sholat mereka langsung dengan permohonan ampun seolah-olah
mereka baru saja melakukan dosa.
2.5
Menjawab Adzan Subuh dan Doa Setelahnya
Ketika
fajar shodiq terbit, berkumandanglah adzan Shubuh yang menandai masuknya waktu
fardhu. Mendengarkan dan menjawab kalimat adzan dengan lafazh yang sama
merupakan ibadah harian yang mendatangkan ampunan dan syafaat Nabi ﷺ.
Dari Abu Sa’id
al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ المُؤَذِّنُ»
“Apabila
kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh
muadzin.” (HR. Al-Bukhori no. 611 dan Muslim no. 383)
Pengecualian
berlaku pada kalimat “Hayya ‘alas Sholah” dan “Hayya ‘alal Falah”,
di mana pendengar menjawab dengan kalimat istianah. Dari Umar bin
al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits yang panjang
tentang adzan, beliau menyebutkan bahwa ketika muadzin mengucapkan: “Hayya ‘alas
Sholah”, Nabi ﷺ
menuntunkan untuk menjawab:
«لاَ
حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»
“Tidak ada
daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.” Begitu pula saat muadzin
mengucapkan: “Hayya ‘alal Falah”, dijawab: “La hawla wa la quwwata
illa billah.” (HR. Muslim no. 385)
Setelah
adzan selesai, disunnahkan membaca sholawat kepada Nabi ﷺ dan membaca doa setelah adzan
agar berhak mendapatkan syafaat beliau di hari Qiyamah.
Dari Jabir
bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda: “Siapa mengucapkan
setelah mendengar adzan:
«اللَّهُمَّ
رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ
وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ»
“Ya Alloh,
Robb pemilik seruan yang sempurna ini, dan Sholat yang wajib didirikan, berilah
kepada Muhammad wasilah (kedudukan tertinggi di Jannah) dan keutamaan,
dan bangkitkanlah beliau di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’
Maka halallah baginya syafaatku pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 614)
Para
Shohabat Rosululloh ﷺ
dahulu apabila mendengar adzan, mereka diam mendengarkan dan menggerakkan
lisan-lisan mereka mengikuti ucapan muadzin dengan penuh kekhusyukan.
Bab 3: Ibadah di
Waktu Shubuh hingga Dhuha
3.1
Sholat Sunnah Fajar Dua Roka’at
Setelah
muadzin selesai mengumandangkan adzan Shubuh, amalan harian pertama yang sangat
ditekankan adalah menegakkan Sholat sunnah fajar dua roka’at (qobliyah Shubuh).
Sholat ini memiliki nilai yang sangat agung di sisi Alloh ﷻ,
bahkan lebih berharga daripada dunia dan segala isinya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ
النُّجُومِ﴾
“Dan
bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam hari dan di waktu terbenamnya
bintang-bintang (waktu fajar).” (QS. Ath-Thur: 49)
Dari Aisyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«رَكْعَتَا
الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»
“Dua roka’at
fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisi di dalamnya.” (HR. Muslim no.
725)
Nabi ﷺ sangat menjaga Sholat sunnah
ini melebihi Sholat sunnah lainnya, dan beliau mengerjakannya secara ringan
(singkat). Masih dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:
«لَمْ
يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى
رَكْعَتَيِ الفَجْرِ»
“Tidak ada
satu pun Sholat sunnah yang Nabi ﷺ paling menjaganya melebihi dua roka’at fajar.” (HR.
Al-Bukhori no. 1169 dan Muslim no. 724)
Sunnah
dalam dua roka’at ini adalah membaca Surat Al-Kafirun pada roka’at pertama dan
Surat Al-Ikhlash pada roka’at kedua. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«أَنَّ
رَسُولَ اللهِ ﷺ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ،
وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ»
“Rosululloh
ﷺ membaca dalam dua roka’at
fajar Surat ‘Qul ya ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul huwallahu ahad.’” (HR.
Muslim no. 726)
Siapa yang
meremehkan dua roka’at fajar, dikhawatirkan dia akan terhalang dari mendapatkan
barokah di sepanjang harinya.
3.2
Sholat Shubuh Berjamaah di Masjid bagi Lelaki
Ibadah
wajib yang menjadi tiang utama di awal hari adalah Sholat Shubuh. Bagi para
lelaki Muslim, kewajiban ini harus ditunaikan secara berjamaah di Masjid.
Mengayunkan langkah di kegelapan malam menuju rumah Alloh ﷻ
menjanjikan cahaya yang sempurna di hari Qiyamah.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى
غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا﴾
“Dirikanlah
Sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah
pula Sholat) Shubuh. Sesungguhnya Sholat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat).”
(QS. Al-Isro’: 78)
Dari Buroidah
al-Aslami (62 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«بَشِّرِ
الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Berilah
kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki dalam kegelapan menuju Masjid-Masjid
dengan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud no. 561)
Sholat
Shubuh berjamaah juga memberikan jaminan perlindungan langsung dari Alloh ﷻ
selama seharian penuh, serta bernilai seperti Sholat malam suntuk. Dari Jundub
bin Abdillah (64 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ، فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ
بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»
“Siapa yang
Sholat Shubuh, maka dia berada dalam jaminan perlindungan Alloh. Maka jangan
sampai Alloh menuntut kalian sedikit pun dari jaminan perlindungan-Nya hingga
Dia menangkapnya lalu melemparnya dari wajahnya ke api Jahannam.” (HR.
Muslim no. 657)
Dari Utsman
bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى
الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»
“Siapa yang
Sholat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat setengah malam. Dan siapa
yang Sholat Shubuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat malam semuanya.”
(HR. Muslim no. 656)
Ibnu Mas’ud
(32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
وَلَقَدْ
رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ
“Sungguh
kami dahulu menyaksikan bahwa tidak ada yang meninggalkan Sholat berjamaah
melainkan seorang munafiq yang telah jelas kemunafiqannya.” (HR. Muslim no.
654)
3.3
Dzikir Pagi Penjaga Diri
Seusai
melaksanakan Sholat Shubuh dan dzikir ba’da Sholat, seorang hamba tidak serta
merta beranjak untuk urusan duniawi, melainkan duduk tegak di tempat Sholatnya
untuk membaca rangkaian dzikir pagi. Dzikir ini berfungsi sebagai benteng kokoh
yang menjaga diri dari gangguan syaithon dan mara bahaya sepanjang hari.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ
الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا﴾
“Dan
bertasbihlah sambil memuji Robb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.”
(QS. Thoha: 130)
Di antara
lafazh dzikir pagi yang rutin dibaca adalah memohon keselamatan agama, dunia,
keluarga, dan harta. Rosululloh ﷺ tidak meninggalkan doa-doa ini ketika pagi hari dan sore hari, di
antaranya:
Dzikir
harian lain yang memberikan perlindungan mutlak dari bahaya apa pun di bumi dan
di langit adalah membaca kalimat tauhid pelindung. Dari Aban bin Utsman (105 H)
rohimahulloh, dari Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba mengucapkan pada pagi setiap hari dan
sore setiap malam:
«بِسْمِ
اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»
“Dengan
nama Alloh yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat
mendatangkan bahaya bersama nama-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui,” sebanyak 3 kali, melainkan tidak ada sesuatu pun yang dapat
membahayakannya.” (HSR. Abu Dawud no. 5088)
Waktu pagi
dan sore adalah modal utama seorang hamba. Jika dia menyia-nyiakannya dengan
tidak berdzikir, maka dia telah merugi dengan kerugian yang besar.
Dzikir pagi
dan sore yang lengkap bisa membacanya di Hisnul Muslim.
3.4
Sholat Sunnah di Awal Dhuha
Setelah
matahari terbit dan naik setinggi satu tombak (sekitar 15 menit setelah
syuruk), berakhirlah waktu larangan Sholat. Di waktu inilah seorang Muslim
dianjurkan menegakkan Sholat Sunnah Isyroq jika dia tetap duduk berdzikir di
tempat Sholatnya, atau melanjutkannya dengan Sholat Dhuha sebagai bentuk shodaqoh
bagi seluruh persendian tubuhnya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ
بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ﴾
“Sesungguhnya
Kami menundukkan gunung-gunung bersama dia (Dawud) untuk bertasbih di waktu
sore dan waktu matahari terbit (isyroq).” (QS. Shod: 18)
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ،
ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ
تَامَّةٍ»
“Siapa yang
Sholat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Alloh hingga
matahari terbit, lalu dia Sholat dua roka’at, maka dia mendapatkan pahala
seperti pahala Haji dan Umroh yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HHR.
At-Tirmidzi no. 586)
Setiap
persendian manusia wajib dikeluarkan shodaqohnya setiap hari, dan dua roka’at Sholat
Dhuha mampu mencukupi semuanya. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«يُصْبِحُ
عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ... وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ
يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»
“Setiap
pagi, masing-masing persendian dari kalian wajib dikeluarkan shodaqohnya... Dan
semua itu dapat dicukupi dengan dua roka’at yang dikerjakan di waktu Dhuha.” (HR.
Muslim no. 720)
Waktu
terbaik untuk Sholat Dhuha adalah saat matahari sudah mulai panas membakar
(menjelang siang). Dari Zaid bin Arqom (66 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa
beliau melihat sekelompok orang Sholat Dhuha di awal pagi, lalu beliau berkata:
“Tidakkah mereka tahu bahwa Sholat di selain waktu ini lebih utama?
Sesungguhnya Rosululloh ﷺ
bersabda:
«صَلَاةُ
الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ»
“Sholat
orang-orang yang bertaubat (Dhuha) adalah ketika anak-anak unta merasakan
kepanasan pasir.” (HR. Muslim no. 748)
Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku ﷺ mewasiatkan kepadaku tiga
perkara yang tidak akan aku tinggalkan sepanjang hidupku: puasa tiga hari
setiap bulan, dua roka’at Dhuha, dan agar aku Sholat Witir sebelum tidur.” (HR.
Al-Bukhori no. 1178 dan Muslim no. 721)
Bab 4: Ibadah
dalam Aktivitas Kerja
4.1
Niat dalam Bekerja
Apabila
seorang Muslim meniatkan pekerjaannya untuk menjaga kehormatan diri dari
meminta-minta, memberi makan keluarga, serta menunaikan kewajiban, maka setiap
keringat yang menetes bernilai ibadah dan shodaqoh di sisi Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا
فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ﴾
“Dialah
yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru
dan makanlah sebagian dari rizqi-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali
setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«لَأَنْ
يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا،
فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ»
“Sungguh,
jika salah seorang di antara kalian mencari seikat kayu bakar lalu dipikul di
atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada
seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Al-Bukhori no.
2074 dan Muslim no. 1042)
Harta yang
dinafkahkan untuk mencukupi kebutuhan pokok istri dan anak-anak memiliki pahala
yang sangat besar, bahkan mengalahkan pahala harta yang dikeluarkan untuk Jihad
atau shodaqoh umum. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«دِينَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا
أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
“Satu dinar
yang kamu infakkan di jalan Alloh, satu dinar yang kamu infakkan untuk
memerdekakan budak, satu dinar yang kamu shodaqohkan kepada orang miskin, dan
satu dinar yang kamu infakkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya
adalah yang kamu infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)
Pria mana
yang pahalanya lebih besar daripada seorang pria yang menafkahi anak-anaknya
yang masih kecil, dia menjaga kehormatan mereka, dan dengannya Alloh memberikan
kecukupan bagi mereka?
4.2
Dzikir Keluar Rumah dan Naik Kendaraan
Memulai
perjalanan menuju tempat kerja atau tempat beraktivitas disunnahkan dengan
membaca doa khusus. Amalan harian ini mendatangkan perlindungan mutlak dari
bahaya, kecukupan dari Alloh ﷻ, serta pengusiran terhadap syaithon yang hendak
menggelincirkannya.
Alloh ﷻ
berfirman menuntunkan hamba-Nya agar berdzikir saat mengendarai tunggangan:
﴿لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا
نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ
لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ 13 وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ﴾
“Supaya
kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni’mat Robb-mu apabila kamu
telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci Robb yang
telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu
menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Robb kami.’” (QS.
Az-Zukhruf: 13-14)
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda: “Siapa yang ketika
keluar dari rumahnya mengucapkan:
«بِسْمِ
اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Dengan
nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya dan kekuatan kecuali
dengan pertolongan Alloh.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu telah diberi
petunjuk, dicukupi, dan dilindungi,’ sehingga syaithon-syaithon pun menjauh
darinya.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)
Ketika kaki
melangkah masuk ke dalam pasar atau tempat perdagangan yang penuh dengan
kelalaian, disunnahkan pula berdzikir agar dicatat pahala yang berlipat ganda.
Dari Umar rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda: “Siapa masuk ke
pasar lalu mengucapkan:
«لَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ،
يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Tidak
ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu
bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dia yang menghidupkan dan
mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan
Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ Niscaya Alloh mencatat baginya sejuta
kebaikan dan menghapus darinya sejuta keburukan.” (HHR. At-Tirmidzi no.
3428)
Dahulu sebagian
Salaf sengaja pergi ke pasar bukan untuk berjualan atau membeli sesuatu,
melainkan hanya untuk mengucapkan salam dan berdzikir mengingat Alloh di tempat
kelalaian manusia.
4.3
Kejujuran dan Keridhoan dalam Jual Beli
Dalam
muamalah harian seperti perdagangan, transaksi, atau memberikan jasa, seorang
Muslim wajib menegakkan sifat jujur dan transparan. Kejujuran mendatangkan
barokah pada harta, sedangkan kedustaan dan menyembunyikan cacat barang akan
memusnahkan keberkahan tersebut.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Hai orang-orang
yang beriman, taqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang
yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)
Dari Hakim
bin Hizam (54 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«البَيِّعَانِ
بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي
بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»
“Dua orang
yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama keduanya
belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang apa
adanya), maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun jika keduanya
menyembunyikan (cacat barang) dan berdusta, maka dihapuslah barokah jual beli
mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim no. 1532)
Sumpah
palsu demi melariskan dagangan termasuk dosa besar harian yang sangat dimurkai
Alloh ﷻ.
Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«ثَلَاثَةٌ
لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ... وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ
الْكَاذِبِ»
“Ada tiga
golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Alloh pada hari Qiyamah... (salah
satunya) adalah orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR.
Muslim no. 106)
Kunci
keberkahan dalam rizqi adalah ketulusan dalam bermuamalah, tidak menipu orang
awam, dan ridho dengan keuntungan yang sedikit namun thoyyib (baik).
4.4
Menjaga Lisan dari Ghibah dan Dusta di Tempat Kerja
Tempat
kerja, kantor, atau pasar seringkali menjadi ladang subur bagi kemaksiatan
lisan seperti membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), menyebarkan adu domba
(namimah), dan berdusta demi kepentingan duniawi. Menahan lisan dari
perkara harom ini adalah ibadah harian yang besar nilainya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا
كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ
بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruksangka (prasangka), karena
prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah
menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan
daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan taqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata baik atau
(jika tidak bisa) hendaklah dia diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim
no. 47)
Rosululloh ﷺ memberikan batas tegas
mengenai makna ghibah agar setiap Muslim waspada saat berdialog harian dengan
rekan kerjanya. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa
Rosululloh ﷺ
bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para Shohabat menjawab: “Alloh dan
Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:
«ذِكْرُكَ
أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ»
“Kamu
menyebutkan tentang saudaramu apa yang dia benci.” Ditanyakan: “Bagaimana jika
pada saudaraku itu memang benar ada apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Jika
padanya memang benar ada apa yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan
ghibah kepadanya. Dan jika tidak ada padanya apa yang kamu ucapkan, maka kamu
telah membuat kedustaan atasnya.” (HR. Muslim no. 2589)
Tidaklah
amalan seorang pekerja naik ke langit (diterima) apabila di dalam hatinya
terdapat hasad dan lisannya sibuk menggunjing para hamba Alloh yang lain.
4.5
Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan
Saat
berinteraksi di ruang publik atau tempat kerja yang bercampur antara lelaki dan
wanita, ibadah harian yang sangat berat namun berwujud pahala besar adalah
menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang harom, serta membentengi
kemaluan dari zina.
Alloh ﷻ
berfirman kepada kaum Mu’minin:
﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ﴾
“Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur:
30)
Setiap
anggota badan manusia berpotensi melakukan zina harian, dan pandangan mata
adalah pintu gerbang utamanya. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«كُتِبَ
عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ
زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ
الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ
يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ»
“Telah
ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia pasti menemuinya tanpa bisa
mengelak. Maka dua mata zinanya adalah melihat, dua telinga zinanya adalah
mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul, kaki
zinanya adalah melangkah, dan hati berkeinginan serta berangan-angan, lalu
kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no.
2657)
Pandangan
pertama yang tidak sengaja dimaafkan, namun pandangan kedua yang disengaja
berstatus harom. Dari Jarir bin Abdillah (54 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rosululloh ﷺ tentang pandangan yang
tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahkan aku:
«اصْرِفْ
بَصَرَكَ»
“Palingkanlah
pandanganmu.” (HR. Muslim no. 2159)
Bab 5: Ibadah
Siang hingga Sore Hari
5.1
Qoilulah (Tidur Siang) untuk Membantu Qiyamul Lail
Di tengah
penatnya aktivitas harian mencari rizqi, syariat memberikan ruang untuk
beristirahat sejenak melalui tidur siang yang dikenal dengan istilah Qoilulah.
Amalan harian ini bernilai ibadah yang agung jika diniatkan untuk mengumpulkan
energi agar fisik kuat melaksanakan ibadah di malam hari, sekaligus menjadi
pembeda dari kebiasaan kaum kafir dan syaithon.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ﴾
“Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari
dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS.
Ar-Rum: 23)
Dari Anas
bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«قِيلُوا
فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ»
“Tidurlah
siang (Qoilulah), karena sesungguhnya syaithon-syaithon itu tidak pernah tidur
siang.” (HR. Ibnu Hibban, Abu Nu’aim, Ath-Thobaron, As-Shohihah no. 1647)
Tidur siang
ini biasa dilakukan oleh para Shohabat baik sebelum Zhuhur maupun setelah
Zhuhur, terutama pada hari Jum’at. Dari Sahl bin Sa’id (91 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata:
«مَا
كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ»
“Dahulu
kami tidak pernah tidur siang dan tidak pula makan siang melainkan setelah Sholat
Jum’at.” (HR. Al-Bukhori no. 939 dan Muslim no. 859)
Qoilulah
adalah bagian dari kebiasaan orang-orang sholih. Ia mengistirahatkan hati dan
menguatkan tekad untuk bermunajat kepada Robb di sepertiga malam terakhir.
5.2
Sholat Zhuhur dan Sunnah Rowatib Qobliyah Serta Ba’diyah
Saat
matahari tergelincir ke arah barat, berkumandanglah adzan Zhuhur yang menandai
datangnya kewajiban Sholat fardhu siang hari. Di antara benteng penjaga Sholat
wajib ini adalah Sholat Sunnah Rowatib 4 roka’at sebelum Zhuhur dan 2 atau 4 roka’at
sesudahnya, yang menjanjikan pahala pembebasan dari api Naar.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى
غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا﴾
“Dirikanlah
Sholat dari sesudah matahari tergelincir (Zhuhur dan Ashar) sampai gelap malam (Maghrib
dan Isya) dan (dirikanlah pula Sholat) Shubuh. Sesungguhnya Sholat Shubuh itu
disaksikan (oleh Malaikat).” (QS. Al-Isro’: 78)
Dari Ummu
Habibah (44 H) rodhiyallahu ‘anha, istri Nabi ﷺ, beliau berkata bahwa beliau
mendengar Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا، حَرُمَ
عَلَى النَّارِ»
“Siapa yang
menjaga 4 roka’at sebelum Zhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, niscaya Alloh
mengharamkannya atas api Naar.” (HSR. Abu Dawud no. 1269 dan At-Tirmidzi no.
427)
Nabi ﷺ sangat menjaga 4 roka’at
sebelum Zhuhur ini di rumah beliau. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha,
beliau berkata:
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ
الغَدَاةِ»
“Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan 4 roka’at
sebelum Sholat Zhuhur dan dua roka’at sebelum Sholat Shubuh.” (HR.
Al-Bukhori no. 1182)
Waktu
tergelincirnya matahari adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit, sehingga
sangat dianjurkan untuk mengisi lembaran amal dengan amalan sholih. Dari Abdullah
bin Sa’ib (sekitar 70 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ biasa Sholat 4 roka’at
setelah tergelincir matahari sebelum Sholat Zhuhur, dan beliau bersabda:
«إِنَّهَا
سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا
عَمَلٌ صَالِحٌ»
“Sesungguhnya
itu adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan aku sangat suka apabila
amalan sholihku naik pada waktu tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 478)
Siapa yang
terbiasa mengabaikan Sholat Sunnah Rowatib Zhuhur, maka kelak ketika Sholat
fardhunya memiliki kekurangan di hari Qiyamah, dia tidak memiliki penyempurna
dari amalan sunnahnya.
5.3
Sholat Ashar dan Larangan Meremehkannya
Sholat
Ashar adalah Sholat Wustho (terbaik) yang memiliki kedudukan yang sangat
istimewa dalam syariat Islam. Meremehkan atau menunda-nunda Sholat ini hingga
mendekati waktu terbenamnya matahari merupakan ciri kemunafikan, dan siapa yang
meninggikannya hingga terlewat waktunya, maka seluruh amalannya pada hari itu
akan terhapus sia-sia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ
الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ﴾
“Peliharalah
semua Sholat(mu), dan (peliharalah) Sholat Wustho. Berdirilah karena Alloh
(dalam Sholatmu) dengan khusyu.’” (QS. Al-Baqoroh: 238)
Dari Buroidah
al-Aslami (62 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»
“Siapa yang
meninggalkan Sholat Ashar, maka sungguh telah terhapuslah amalannya.” (HR.
Al-Bukhori no. 553)
Kehilangan Sholat
Ashar diibaratkan seperti seorang yang kehilangan seluruh anggota keluarga dan
harta kekayaannya dalam sekilas mata. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«الَّذِي
تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»
“Orang yang
terlewat Sholat Asharnya, seolah-olah dia telah diringkus (dihilangkan)
keluarga dan hartanya.” (HR. Al-Bukhori no. 552 dan Muslim no. 626)
Adapun
menunda Sholat Ashar hingga matahari berwarna kekuningan adalah cara Sholatnya
kaum munafiq. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh ﷺ bersabda:
«تِلْكَ
صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ
الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»
“Itulah Sholatnya
orang munafiq. Dia duduk memperhatikan matahari, hingga ketika matahari berada
di antara dua tanduk syaithon, dia berdiri lalu mematok (Sholat dengan cepat) 4
roka’at, dia tidak mengingat Alloh di dalamnya melainkan sedikit saja.” (HR.
Muslim no. 622)
Dahulu para
Salaf mengawasi waktu Sholat Ashar lebih ketat daripada mengawasi harta
rampasan perang, karena takut terjatuh dalam ancaman gugurnya amal.
5.4
Dzikir Sore Pembuka Keberkahan
Setelah
menunaikan Sholat Ashar, sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, seorang
hamba memasuki paruh kedua waktu dzikir harian, yaitu dzikir sore. Membaca dzikir pada waktu ini
merupakan perintah Robb untuk menutup hari yang melelahkan dengan perlindungan
dan ketenangan jiwa.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ
بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ﴾
“Maka
sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Robb-mu
sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Qof: 39)
Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا
وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ
مِنَ الْغَافِلِينَ﴾
“Dan sebutlah
(nama) Robb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan
tidak melahirkan suara keras, di waktu pagi dan sore hari, dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’rof: 205)
Di antara
lafazh dzikir sore yang wajib dijaga untuk menangkal racun, sengatan binatang
berbisa, maupun gangguan sihir harian adalah memohon perlindungan dengan
kalimat-kalimat Alloh yang sempurna. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Ya Rosululloh,
aku disengat kalajengking tadi malam.” Beliau bersabda: “Seandainya kamu
mengucapkan pada waktu sore:
«أَعُوذُ
بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ»
“Aku
berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari keburukan apa yang
Dia ciptakan,” niscaya kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR.
Muslim no. 2709)
Membaca
kalimat pujian di waktu sore juga menjadi sarana pengakuan bahwa seluruh ni’mat
sore ini semata-mata datang dari Alloh ﷻ. Dari Abdullah bin Ghonnam
al-Bayadhi (sekitar 60 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda: “Siapa yang
mengucapkan ketika sore hari:
«اللَّهُمَّ
مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ [أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ] فَمِنْكَ وَحْدَهُ لَا
شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ»
“‘Ya
Alloh, ni’mat apa pun yang ada padaku di waktu sore ini atau pada salah seorang
dari makhluk-Mu, maka ia semata-mata dari-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Maka
bagi-Mu segala pujian dan bagi-Mu segala syukur.’ Maka sungguh dia telah
menunaikan syukur pada malam harinya.” (HHR. Abu Dawud no. 5073)
Orang yang
duduk berdzikir di tempat Sholatnya setelah Ashar hingga Maghrib, dia laksana
seorang prajurit yang sedang berjaga di garis depan medan Jihad, menahan
gempuran tentara syaithon yang hendak merusak akhir amalan harinya.
Bab 6: Ibadah di
Waktu Maghrib dan Isya
6.1
Menyambut Adzan Maghrib dan Sholat Rowatib
Ketika
matahari telah tenggelam sempurna di ufuk barat, siang hari resmi berganti
malam. Di waktu inilah kumandang adzan Maghrib terdengar, mengakhiri aktivitas
siang sekaligus memanggil kaum Muslimin untuk menunaikan Sholat fardhu Maghrib.
Menyambut adzan ini dan menegakkan Sholat Sunnah sebelum dan sesudahnya adalah
pembuka ibadah malam yang penuh barokah.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ
تُصْبِحُونَ﴾
“Maka
bertasbihlah kepada Alloh di waktu kamu berada di petang hari (Maghrib dan
Isya) dan waktu kamu berada di subuh hari.” (QS. Ar-Rum: 17)
Di antara
sunnah yang sering dilalaikan manusia adalah melakukan Sholat Sunnah dua roka’at
sebelum Sholat Maghrib (qobliyah Maghrib). Dari Abdullah bin Mughoffal (60 H) rodhiyallahu
‘anhu, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«صَلُّوا
قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ»، قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَنْ شَاءَ»
“Sholatlah
kalian sebelum Sholat Maghrib,” beliau mengucapkannya pada kali yang ketiga: “bagi
siapa yang menghendaki.” (HR. Al-Bukhori no. 1183)
Setelah
menunaikan Sholat Maghrib fardhu, seorang Muslim sangat ditekankan untuk
melaksanakan Sholat Sunnah Rowatib ba’diyah Maghrib sebanyak dua roka’at. Dari
Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:
«حَفِظْتُ
مِنَ النَّبِيِّ ﷺ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ
بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ
العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ»
“Aku
menghafal dari Nabi ﷺ
10 roka’at: dua roka’at
sebelum Zhuhur, dua roka’at sesudahnya, dan dua roka’at sesudah Maghrib di
rumahnya, dua roka’at setelah Isya di rumahnya, dan dua rokaah sebelum Sholat
Shubuh.” (HR. Al-Bukhori no. 1180 dan Muslim no. 729)
Menyegerakan
Sholat Maghrib di awal waktunya dan menyambungnya dengan dua roka’at sunnah di
rumah adalah di antara petunjuk para Salaf yang senantiasa dijaga. Namun, jika
ia duduk i’tikaf mendengarkan taklim sampai Isya maka lebih utama.
6.2
Sholat Isya Berjamaah dan Keutamaannya
Waktu Isya
bermula ketika syafaq al-ahmar (mega merah) di langit barat telah hilang
total. Menunaikan Sholat Isya secara berjamaah di Masjid bagi kaum lelaki
memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya adalah tercatat pahalanya
laksana mendirikan Sholat setengah malam suntuk serta menjadi pembeda yang
nyata dari kaum munafiq.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ
النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى﴾
“Dan
bertasbihlah kamu pada jam-jam malam hari dan pada waktu-waktu siang hari,
supaya kamu merasa ridho.” (QS. Thoha: 130)
Dari Utsman
bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau
mendengar Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ»
“Siapa yang
Sholat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat setengah malam.” (HR.
Muslim no. 656)
Sholat Isya
dan Sholat Shubuh adalah dua Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafiq.
Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَيْسَ
صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنَ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ
مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»
“Sesungguhnya
Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah Sholat Isya dan Sholat
Fajar (Shubuh). Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya,
niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR.
Al-Bukhori no. 657 dan Muslim no. 651)
Ibnu Mas’ud
(32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin bertemu dengan
Alloh besok dalam keadaan Muslim, maka hendaklah dia menjaga Sholat-Sholat ini
(termasuk Isya) di mana pun adzan dikumandangkan.” (HR. Muslim no. 654)
6.3
Menghidupkan Waktu Antara Dua Isya dengan Al-Qur’an
Waktu
antara Sholat Maghrib dan Sholat Isya (antara dua Isya) adalah waktu yang
pendek namun sangat rawan kelalaian karena manusia biasanya sibuk dengan urusan
makan malam atau beristirahat dari penatnya kerja. Menghidupkan waktu ini
dengan membaca dan mentadabburi Al-Qur’an termasuk amalan harian yang sangat
terpuji.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang bertaubat:
﴿كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ﴾
“Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz-Dzariyat: 17)
Sebagian
Salaf memahami ayat ini sebagai menghidupkan antara Maghrib sampai Isya.
Membaca
satu huruf dari Kitabulloh di waktu malam akan mendatangkan sepuluh kebaikan
yang berlipat ganda. Dari Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ
حَرْفٌ»
“Siapa yang
membaca satu huruf dari Kitab Alloh (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan,
dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak
mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu
huruf, dan Mim satu huruf.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2910)
Di antara
surat yang disunnahkan untuk dibaca setiap malam adalah Surat Al-Mulk sebagai
penyelamat dari adzab kubur. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda:
«إِنَّ
سُورَةً مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ
سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ»
“Sesungguhnya
ada satu surat di dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, dapat
memberi syafaat bagi seseorang hingga dia diampuni, yaitu surat ‘Tabarokalladzi
biyadihil mulku’ (Surat Al-Mulk).” (HHR. At-Tirmidzi no. 2891 dan Abu Dawud
no. 1400)
Jika seseorang
tidak mampu menegakkan Sholat malam dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah
bahwa ia telah terhalang dari kebaikan, dan dosa-dosanya yang telah mengikatnya.
Maka isilah waktu antara Maghrib dan Isya dengan mendekatkan diri kepada-Nya
melalui Al-Qur’an untuk menebusnya.
6.4
Majelis Ilmu dan Diskusi yang Bermanfaat Sebelum Tidur
Nabi ﷺ melarang umatnya untuk tidur
sebelum Sholat Isya dan melarang obrolan kosong yang tidak bermanfaat setelah Sholat
Isya. Namun, jika obrolan setelah Isya tersebut diisi dengan majelis ilmu,
berdiskusi tentang urusan kaum Muslimin, atau mengajarkan kebaikan kepada
keluarga, maka aktivitas tersebut berubah status menjadi ibadah harian yang
mulia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
“Alloh akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi
ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Dari Abu
Barzah al-Aslami (65 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
«أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ العِشَاءِ وَالحَدِيثَ بَعْدَهَا»
“Bahwa
Rosululloh ﷺ
membenci tidur sebelum Sholat Isya dan membenci berbincang-bincang (yang tidak
bermanfaat) setelahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 568 dan Muslim no. 647)
Adapun
berbincang-bincang dalam rangka mempelajari ilmu agama atau demi kemaslahatan
keluarga diperbolehkan bahkan dicontohkan oleh Nabi ﷺ. Dari Abdullah bin Umar (73
H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rosululloh ﷺ pernah Sholat Isya bersama
kami di akhir hayat beliau. Begitu selesai salam, beliau berdiri lalu bersabda
kepada kami:
«أَرَأَيْتَكُمْ
لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا، لاَ يَبْقَى مِمَّنْ
هُوَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ أَحَدٌ»
“Tahukah
kalian tentang malam kalian ini? Sesungguhnya pada penghujung seratus tahun
dari malam ini, tidak akan ada seorang pun yang sekarang masih hidup di atas
permukaan bumi ini yang tetap tinggal.” (HR. Al-Bukhori no. 116 dan Muslim
no. 2537)
Duduk
sejenak sebelum tidur untuk saling mengingatkan tentang sunnah Nabi ﷺ atau mengoreksi urusan
keluarga adalah lebih disukai oleh sebagian Salaf daripada menghabiskan seluruh
malam dengan Sholat sunnah tanpa ilmu.
Bab 7: Ibadah
Sosial Harian
7.1
Berbakti kepada Kedua Orang Tua Serta Berbuat Baik pada Tetangga
Ibadah
harian tidak hanya terbatas pada hubungan antara seorang hamba dengan Robb-nya,
melainkan juga mencakup hubungan sosial kepada sesama manusia. Di antara amalan
sosial yang paling utama dan wajib ditunaikan setiap hari adalah berbakti
kepada kedua orang tua (birrul walidain) serta menjaga hubungan baik
dengan tetangga sekitar rumah.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ
شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ
وَجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ
وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا﴾
“Sembahlah
Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu
sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)
Keridhoan
Alloh ﷻ
atas aktivitas harian seorang hamba sangat bergantung pada keridhoan orang
tuanya. Dari Abdullah bin ‘Amr (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«رِضَى
الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»
“Keridhoan
Robb ada pada keridhoan orang tua, dan kemurkaan Robb ada pada kemurkaan orang
tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)
Selain
kepada orang tua, memperlakukan tetangga dengan baik secara harian merupakan
indikator kesempurnaan iman seseorang. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu
‘anhu, bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ»
“Siapa yang
beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka janganlah dia menyakiti
tetangganya.” (HR. Al-Bukhori no. 5185 dan Muslim no. 47)
Bahkan,
memberikan sekadar kuah masakan kepada tetangga merupakan contoh amalan harian
yang sangat dianjurkan. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata: “Sesungguhnya kekasihku ﷺ berwasiat kepadaku:
«إِذَا
طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ،
فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ»
“Jika kamu
memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari
tetanggamu, lalu berikanlah kepada mereka sebagian darinya dengan cara yang
baik.” (HR. Muslim no. 2625)
Bukanlah
dinamakan berbuat baik kepada tetangga hanya dengan menahan diri dari menyakiti
mereka, melainkan dengan bersabar atas gangguan harian mereka dan tetap berbagi
ni’mat kepada mereka.
7.2
Mengucapkan Salam dan Menjawabnya
Menyebarkan
salam (assalamu’alaikum) ketika bertemu sesama Muslim di jalan, kantor,
atau Masjid merupakan ibadah lisan harian yang mampu menumbuhkan rasa cinta
sejati di antara kaum Mu’minin. Mengucapkan salam berstatus sunnah muakkadah,
sedangkan menjawabnya adalah kewajiban.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا
بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا﴾
“Apabila
kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (salam), maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang sepadan). Sesungguhnya Alloh memperhitungkan
segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَا
تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا
أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ
بَيْنَكُمْ»
“Kalian
tidak akan masuk Jannah hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman
hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang
sesuatu yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai?
Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)
Amalan
jabat tangan (salaman) yang menyertai ucapan salam tersebut memiliki keutamaan
harian berupa pengguguran dosa-dosa kecil di antara keduanya sebelum mereka
berpisah. Dari Al-Baro bin ‘Azib (72 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau
berkata bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَا
مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ
يَفْتَرِقَا»
“Tidaklah
ada dua orang Muslim yang saling bertemu lalu keduanya bersalaman, melainkan
diampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HSR. Abu Dawud no.
5212)
Menampakkan
wajah yang berseri-seri ketika menyapa dan mengucapkan salam kepada saudaramu
di pagi hari adalah bagian dari shodaqoh harian yang memberatkan timbangan amal
kebaikan.
7.3
Mendoakan Orang yang Bersin
Ketika
seorang Muslim bersin dalam aktivitas kesehariannya, dia diperintahkan untuk
memuji Alloh ﷻ
karena bersin mengeluarkan udara kotor dari tubuh. Bagi Muslim lain yang
mendengarnya, wajib melakukan tasymit, yaitu mendoakannya dengan kalimat
rohmah. Ini adalah salah satu dari hak harian sesama Muslim.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai perintah tolong-menolong dalam kebaikan:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ﴾
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya
Alloh menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila salah seorang dari
kalian bersin dan dia memuji Alloh (mengucapkan Alhamdulillah), maka wajib bagi
setiap Muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan:
«يَرْحَمُكَ
اللَّهُ»
“Semoga
Alloh memberikan rohmat kepadamu.” Adapun orang yang bersin, maka dia menjawab
kembali doa saudaranya tersebut dengan mengucapkan:
«يَهْدِيكُمُ
اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ»
“Semoga
Alloh memberikan petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu.” (HR.
Al-Bukhori no. 6224)
Kewajiban
mendoakan ini gugur apabila orang yang bersin tersebut tidak memuji Alloh ﷻ.
Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ada dua
orang lelaki bersin di dekat Nabi ﷺ, lalu beliau mendoakan (tasymit) bagi salah satunya dan
tidak mendoakan bagi yang lainnya. Maka orang yang tidak didoakan itu bertanya:
‘Wahai Rosululloh, Anda mendoakan orang ini namun tidak mendoakanku?’ Beliau
bersabda:
«إِنَّ
هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ»
“Sesungguhnya
orang ini memuji Alloh, sedangkan kamu tidak memuji Alloh.” (HR. Al-Bukhori
no. 6225 dan Muslim no. 2991)
Amalan
mendoakan orang bersin ini mendidik jiwa seorang Mu’min agar senantiasa
mencintai kebaikan bagi saudaranya, dan hal itu merupakan bagian dari syiar
persaudaraan Islam yang tegak dalam harian kita.
7.4
Mengunjungi Orang Sakit dan Membantu Kesulitan
Di antara
dinamika kehidupan harian adalah adanya kerabat, shohabat, atau tetangga yang
jatuh sakit atau tertimpa kesusahan ekonomi. Mengunjungi orang yang sakit (iyadatul
maridh) serta meluangkan waktu atau harta untuk membantu meringankan
kesulitan sesama Muslim adalah ibadah sosial yang mendatangkan doa dari puluhan
ribu Malaikat.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى﴾
“Sesungguhnya
Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum
kerabat.” (QS. An-Nahl: 90)
Orang yang
melangkah untuk menjenguk saudaranya yang sakit akan berjalan di dalam kebun
Jannah yang penuh dengan buah-buahan yang siap dipetik. Dari Tsauban (54 H) rodhiyallahu
‘anhu, maula Rosululloh, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَنْ
عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ»
“Siapa yang
mengunjungi orang sakit, maka dia senantiasa berada di dalam kebun Jannah yang
penuh buah-buahan sampai dia pulang.” (HR. Muslim no. 2568)
Meringankan
beban harian sesama Muslim juga menjadi sebab utama Alloh ﷻ akan
meringankan kesusahannya kelak di hari Qiyamah yang penuh kedahsyatan. Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَنْ
نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً
مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ
فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»
“Siapa yang
meringankan dari seorang Mu’min satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia,
niscaya Alloh akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan
hari Qiyamah. Dan siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang kesulitan,
niscaya Alloh akan memberi kemudahan baginya di dunia dan Akhiroh.” (HR.
Muslim no. 2699)
Sungguh,
menghabiskan waktu beberapa jam dalam sehari untuk berjalan membantu kebutuhan
seorang janda atau anak yatim, adalah lebih aku sukai daripada beri’tikaf di
Masjidku ini selama sebulan penuh.
Bab 8: Ibadah
Seputar Makan, Minum, dan Berpakaian
8.1
Adab Makan dan Minum
Aktivitas
makan dan minum merupakan kebutuhan harian setiap manusia. Namun, dalam syariat
Islam, kegiatan ini dapat bernilai ibadah yang berpahala apabila seorang Muslim
mengawalinya dengan niat yang sholih untuk menguatkan fisik dalam beribadah,
serta mematuhi adab-adab yang telah dituntunkan oleh Rosululloh ﷺ, seperti membaca basmalah dan
menggunakan tangan kanan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh: 172)
Setiap
Muslim wajib menjaga agar syaithon tidak ikut serta dalam makanan harian mereka
dengan cara menyebut nama Alloh ﷻ sebelum menyuap makanan. Dari Umar bin Abi
Salamah (83 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Dahulu aku adalah
seorang anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rosululloh ﷺ, dan tanganku biasa bergerak
ke sana kemari di dalam nampan makanan. Maka Rosululloh ﷺ bersabda kepadaku:
«يَا
غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»
“Wahai anak
kecil, sebutlah nama Alloh, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no.
2022)
Larangan
makan dan minum dengan tangan kanan berlaku mutlak karena tangan kiri adalah
sarana makan bagi golongan syaithon. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu
‘anhuma, bahwa Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِذَا
أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ،
وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ»
“Apabila
salah seorang di antara kalian makan, maka seharusnya dia makan dengan tangan
kanan-Nya. Dan apabila dia minum, maka seharusnya dia minum dengan tangan
kanan-Nya. Karena sesungguhnya syaithon itu makan dengan tangan kirinya dan
minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020)
Siapa yang
memperhatikan kesucian makanannya dari perkara harom, lalu dia makan dengan
mengikuti adab-adab Nabi-Nya, maka setiap suapan yang masuk ke dalam perutnya
akan membuahkan cahaya dan kekuatan untuk taat kepada Robb-nya sepanjang hari.
8.2
Bersyukur Setelah Ni’mat Kenyang Serta Larangan Mencela Makanan
Di antara
kesempurnaan adab harian seorang Muslim adalah menutup aktivitas makan dan
minum dengan memuji Alloh ﷻ sebagai bentuk syukur atas ni’mat kenyang yang diberikan secara
gratis. Selain itu, bagian dari menjaga perasaan orang yang memasak serta
bentuk penghormatan terhadap rizqi adalah tidak mencela makanan yang
dihidangkan, sekecil apa pun kekurangannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَكُلُوا مِمَّا رَزَقكُمُ اللَّهُ حَلَالًا
طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
“Maka
makanlah yang halal lagi baik dari rizqi yang Alloh telah berikan kepadamu; dan
syukurilah ni’mat Alloh, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl:
114)
Alloh ﷻ
sangat ridho kepada hamba-Nya yang terbiasa memuji-Nya setelah selesai
menikmati hidangan harian. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا،
أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»
“Sesungguhnya
Alloh benar-benar ridho kepada seorang hamba yang memakan satu makanan lalu dia
memuji-Nya (mengucapkan Alhamdulillah) atas makanan tersebut, atau dia meminum
satu minuman lalu dia memuji-Nya atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no.
2734)
Adapun
sikap Rosululloh ﷺ
terhadap makanan yang tidak beliau sukai adalah mendiamkannya tanpa
mengeluarkan kata-kata celaan. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata:
«مَا
عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ»
“Nabi ﷺ tidak pernah mencela makanan
sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak
menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5409 dan Muslim
no. 2064)
Mengecap
makanan dengan lisan lalu mencelanya karena kurang asin atau kurang matang
termasuk tanda kurangnya rasa syukur harian seorang hamba atas rizqi Robb-nya.
8.3
Adab Berpakaian dan Berhias Sesuai Syariat
Berpakaian
dan berhias merupakan rutinitas harian yang dilakukan setiap manusia setelah
bangun tidur atau hendak keluar rumah. Ibadah harian dalam berpakaian ini
terwujud ketika seorang Muslim mendahului anggota tubuh bagian kanan saat
memakai baju, membaca doa, serta memastikan pakaiannya menutup aurot secara
sempurna tanpa adanya unsur kesombongan (isbal bagi lelaki).
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ
لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ
مِنْ آيَاتِهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكُرُونَ﴾
“Hai anak
Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup aurotmu
dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.
Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh,
mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’rof: 26)
Disunnahkan
membaca doa saat mengenakan pakaian baru atau pakaian harian agar pakaian
tersebut mendatangkan barokah. Dari Abu Sa’id al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ apabila mengenakan pakaian baru, beliau menyebutkan namanya,
baik itu surban, baju, atau selendang, kemudian beliau mengucapkan:
«اللَّهُمَّ
لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ»
“Ya Alloh,
bagi-Mu segala pujian, Engkau yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku
memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang ia dibuat untuknya.
Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari apa yang ia
dibuat untuknya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1767 dan Abu Dawud no. 4020)
Bagi para
lelaki, batasan berpakaian harian adalah tidak menjulurkan kain celana atau
jubahnya melebihi mata kaki karena hal itu diancam dengan adzab Naar. Dari Abu
Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
«مَا
أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»
“Kain yang
berada di bawah kedua mata kaki, maka tempatnya adalah di dalam Naar.” (HR.
Al-Bukhori no. 5787)
Menjaga
niat saat berpakaian agar tidak berniat pamer atau sombong di hadapan manusia,
serta mendahulukan tangan kanan saat memakai dan tangan kiri saat melepas,
merupakan amalan harian yang ringan namun pahalanya melimpah di sisi Alloh.
Bab 9: Ibadah Penutup
Hari Sebelum Tidur
9.1
Mengevaluasi Diri Serta Memaafkan Kesalahan Manusia
Menjelang
akhir hari ketika malam semakin larut, seorang hamba bersiap untuk menutup
lembaran aktivitasnya. Sebelum memejamkan mata, di antara ibadah hati yang
sangat utama adalah melakukan muhasabah (mengevaluasi diri) atas segala dosa
dan amalan yang telah diperbuat sepanjang hari, serta membersihkan dada dari
sifat hasad dan dendam dengan memaafkan seluruh kesalahan manusia.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ
بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh); dan
bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Memaafkan
manusia sebelum tidur malam merupakan sebab utama seorang hamba meraih
kecintaan Alloh ﷻ
dan kelapangan dada yang hakiki. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dari Rosululloh ﷺ,
beliau bersabda:
«مَا
نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا،
وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»
“Shodaqoh
itu tidak akan mengurangi harta. Dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba
karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan. Serta tidaklah seseorang
merendahkan diri karena Alloh melainkan Alloh akan meninggikannya.” (HR.
Muslim no. 2588)
Sifat
ikhlas dan bersihnya dada dari dendam harian kepada sesama Muslim bahkan mampu
mengantarkan seorang hamba menjadi penghuni Jannah. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu
‘anhu, dalam sebuah Hadits yang panjang mengenai seorang Shohabat Anshor yang
disebut Nabi ﷺ
sebagai penghuni Jannah sebanyak 3 hari berturut-turut karena amalan hariannya,
Shohabat tersebut berkata kepada Abdullah bin ‘Amr (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma:
«مَا
هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ»
“Amalanku
tidak lain hanyalah apa yang telah engkau lihat, kecuali saja aku tidak
mendapati di dalam hatiku rasa jengkel (dendam) kepada seorang pun dari kaum
Muslimin, dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang
Alloh berikan kepadanya.” (HR. Ahmad no. 12697, shohih sesuai syarat
Syaikhon)
Jiwa yang
mulia adalah jiwa yang ketika malam tiba, ia merebahkan badannya di tempat
tidur sedangkan hatinya telah ridho kepada Robb-nya dan telah memaafkan seluruh
makhluk yang pernah mendzoliminya.
9.2
Berwudhu Sebelum Merebahkan Badan
Tidur
merupakan kematian kecil di mana ruh manusia berada di genggaman Alloh ﷻ.
Oleh karena itu, di antara sunnah harian yang sangat ditekankan sebelum
seseorang naik ke tempat tidurnya adalah mensucikan diri dengan berwudhu secara
sempurna, agar jasadnya bermalam dalam keadaan suci dan dijaga oleh Malaikat.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ
وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Alloh
memegang jiwa (ruh) ketika matinya dan (memegang) jiwa (ruh) yang belum mati di
waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang memikirkan.” (QS.
Az-Zumar: 42)
Wudhu
sebelum tidur merupakan perintah langsung dari Nabi ﷺ agar seorang Mu’min
mengakhiri harinya dengan kesucian. Dari Al-Baro bin ‘Azib (72 H) rodhiyallahu
‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِذَا
أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ
الْأَيْمَنِ»
“Apabila
kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk Sholat,
kemudian berbaringlah di atas sisi badanmu yang sebelah kanan.” (HR. Al-Bukhori
no. 247 dan Muslim no. 2710)
Bagi
seorang hamba yang tidur dalam keadaan suci (berwudhu), ada Malaikat yang setia
mendampinginya di dalam pakaiannya dan memohonkan ampunan untuknya setiap kali
dia bergerak. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَنْ
بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ
إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا»
“Siapa yang
bermalam dalam keadaan suci, maka Malaikat akan bermalam di dalam pakaiannya.
Tidaklah dia terbangun kapan pun di waktu malam melainkan Malaikat itu akan
berdoa: ‘Ya Alloh, ampunilah hamba-Mu fulan, karena sesungguhnya dia bermalam
dalam keadaan suci.’” (HSR. Ibnu Hibban no. 1051)
Menjaga
wudhu sebelum tidur adalah di antara syiar para ahli ibadah, karena mereka
tidak tahu apakah ruh mereka akan dikembalikan lagi keesokan harinya ataukah
dicabut dalam kematian saat tidur.
9.3
Membaca Ayat Al-Qur’an dan Doa Sebelum Tidur
Setelah
berwudhu dan bersiap di atas tempat tidur, seorang Muslim disyariatkan untuk
membentengi dirinya dari gangguan syaithon sepanjang malam dengan membaca
beberapa ayat Al-Qur’an yang ma’tsur, seperti Ayat Kursi, dua ayat terakhir
Surat Al-Baqoroh, serta melakukan tiupan mu’awwidzatain (Surat
Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nas) ke telapak tangan lalu diusapkan ke seluruh
tubuh, kemudian ditutup dengan doa tidur.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai luasnya kekuasaan-Nya dalam Ayat Kursi:
﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ
وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ
كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ
الْعَظِيمُ﴾
“Alloh,
tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi
terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur.
Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat
di sisi Alloh tanpa izin-Nya. Alloh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka
dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Alloh
melainkan apa yang dikehendaki-Nya (yakni perkara ghoib hanya lewat wahyu).
Kursi Alloh meliputi langit dan bumi. Dan Alloh tidak merasa berat memelihara
keduanya, dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqoroh: 255)
Membaca
Ayat Kursi sebelum tidur akan mendatangkan penjaga dari Alloh ﷻ
sehingga syaithon tidak akan mampu mendekat hingga pagi hari. Dari Abu Huroiroh
(57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits yang panjang tentang penjagaan
zakat, di mana syaithon berkata kepadanya: “Jika kamu hendak pergi ke tempat
tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi... niscaya senantiasa ada penjaga dari Alloh
bersamamu dan syaithon tidak akan mendekatimu sampai pagi.” Maka Nabi ﷺ bersabda:
«صَدَقَكَ
وَهُوَ كَذُوبٌ»
“Dia telah
berkata benar kepadamu padahal dia adalah seorang pembohong besar.” (HR.
Al-Bukhori no. 2311)
Tuntunan
Nabi ﷺ
dalam membaca tiga surat pendek sebelum memejamkan mata dilakukan dengan
meniupkannya pada kedua telapak tangan. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha:
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ،
ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ
بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ
مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ
يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ»
“Nabi ﷺ apabila beranjak ke tempat
tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, kemudian
meniup pada keduanya lalu membaca: Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Kemudian beliau
mengusapkan dengan kedua tangannya tersebut ke anggota tubuh yang dapat
dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan
hal itu sebanyak 3 kali.” (HR. Al-Bukhori no. 5017)
Siapa yang
lisan dan hatinya ditutup dengan dzikir serta ayat Al-Qur’an sebelum matanya
terpejam, maka tidurnya dihitung sebagai tasbih, dan ruhnya akan bersujud di
bawah ‘Arsy. Demikian dalam sebagian ucapan Salaf.
Baca
selengkapnya di buku Dzikir Bermalam dan Hendak Tidur.
9.4
Posisi Tidur yang Sesuai Tuntunan Nabi ﷺ
Ibadah
harian yang paling akhir ditutup dengan mempraktikkan posisi tidur fisik yang
sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ.
Posisi yang dituntunkan adalah berbaring di atas sisi badan sebelah kanan
dengan meletakkan telapak tangan kanan di bawah pipi kanan, serta menjauhi
posisi tidur yang dimurkai Alloh ﷻ yaitu tidur tengkurap.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ
حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا﴾
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Qiyamah dan dia
banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Mendahulukan
lambung kanan saat berbaring merupakan sunnah yang menjaga kesehatan fisik
sekaligus mengamalkan arahan Nabi ﷺ. Dari Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu,
beliau berkata:
كَانَ
النَّبِيُّ ﷺ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ،
وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا»
“Biasanya
Nabi ﷺ
apabila beranjak ke tempat tidurnya pada malam hari, beliau meletakkan
tangannya di bawah pipinya, kemudian beliau mengucapkan: ‘Ya Alloh, dengan
nama-Mu aku mati dan aku hidup.’” (HR. Al-Bukhori no. 6314)
Adapun
tidur dengan posisi tengkurap (terbalik di atas perut) adalah posisi yang
dilarang keras karena menyerupai cara tidurnya penghuni Naar. Dari Takhfah bin
Qois al-Ghifari (sekitar 40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
Dahulu aku tidur tengkurap di dalam Masjid karena sakit perut, tiba-tiba ada
seorang pria yang menggerakkan kakiku lalu bersabda:
«إِنَّ
هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ»
“Sesungguhnya
ini adalah posisi tidur yang dimurkai oleh Alloh.” Ketika aku melihatnya,
ternyata beliau adalah Rosululloh ﷺ. (HSR. Abu Dawud no. 5040)
Penutup
Buku yang
ringkas ini telah menguraikan bagaimana seorang Mu’min mampu mengubah setiap
detik dari 24 jam dalam kesehariannya menjadi ladang pahala yang terus
mengalir. Sejak mata pertama kali terjaga di keheningan malam hingga tubuh
kembali merebah di tempat tidur, syariat Islam yang mulia tidak pernah
meninggalkan manusia tanpa tuntunan. Seluruh aktivitas, baik yang bersifat
ibadah mahdhoh yang murni maupun aktivitas duniawi yang bersifat ghoir
mahdhoh, dapat bernilai ibadah yang agung di sisi Alloh ﷻ
hanya dengan modal niat yang sholih serta mutaba’ah (mengikuti tuntunan)
Sunnah Rosululloh ﷺ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Katakanlah:
‘Sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb
semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
Pondasi
utama dalam menghidupkan hari-hari di bawah naungan ibadah adalah konsistensi
(istiqomah) dalam mengamalkan dalil-dalil shohih yang telah diwariskan oleh
Nabi ﷺ,
meskipun amalan tersebut tampak ringan dan sedikit di mata manusia. Amal harian
yang berkesinambungan jauh lebih dicintai oleh Alloh ﷻ daripada amal besar yang
dilakukan sesekali lalu ditinggalkan.
Dari Aisyah
(58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ
أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ قَلَّ»
“Bebanilah
diri kalian dengan amalan-amalan yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya
Alloh tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya
amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling konsisten
(terus-menerus) meskipun sedikit.” (HR. Muslim no. 782)
Maka, sudah
sepatutnya bagi setiap Muslim yang mengharapkan kebahagiaan di Akhiroh untuk
tidak menyia-nyiakan modal waktu yang diberikan setiap hari. Hari yang telah
berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detiknya akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Robb jalaluhu.
Setiap hari
yang terbit fajar padanya tanpa ada amalan sholih yang ditabung, maka ia terhitung
sebagai hari kerugian.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa memberikan taufiq, hidayah, serta kekuatan lahir dan batin kepada
kita semua agar mampu mengisi sisa umur ini dalam ketaatan yang tulus, serta
mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia ini dalam keadaan husnul khotimah. Amiin
ya Robbbal ‘alamiin.[NK]
