Cari Ebook

[PDF] Sehari dalam Naungan Ibadah - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh , Robb semesta alam, yang telah menyempurnakan syariat-Nya bagi sekalian manusia.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , yang diutus sebagai uswatun hasanah (suri teladan yang baik) dalam setiap jengkal kehidupan.

Amma ba’du:

Waktu adalah modal utama yang diberikan oleh Robb kepada setiap hamba di atas muka bumi ini. Sungguh menyedihkan apabila sebagian besar dari 24 jam yang kita lalui setiap hari menguap begitu saja sebagai rutinitas harian yang kosong dari nilai Akhiroh.

Kita perlu mengikis batasan antara aktivitas duniawi dan ibadah ritual, lalu menyatukannya dalam satu tarikan nafas penghambaan yang utuh. Setiap detik, mulai dari kedipan mata pertama saat bangun tidur di sepertiga malam hingga kembali memejamkan mata, dapat dikonversi menjadi pahala yang terus mengalir di sisi Alloh . Inilah hakikat sejati dari naungan ibadah harian yang menyeluruh.

Buku ini disusun guna menuntun pembaca memahami serta mempraktikkan amalan-amalan tersebut dengan mudah. Pembahasan diawali dengan peletakan batu pertama berupa niat yang mampu mengubah kebiasaan adat menjadi ketaatan yang bernilai syar’i. Selanjutnya, lembaran-lembaran buku ini akan membedah secara kronologis rangkaian ibadah harian yang dibagi ke dalam beberapa fase waktu: dimulai dari amalan sepertiga malam saat terbangun, dilanjutkan ke waktu Shubuh hingga Dhuha, kemudian meniti aktivitas muamalah dan mencari rizqi di siang hari, hingga kembali menjelang sore, Maghrib, Isya, serta ditutup dengan adab-adab menjelang tidur. Tidak lupa, buku ini juga merangkum ibadah sosial serta adab harian terkait makan, minum, dan berpakaian.

 

Bab 1: Pondasi Ibadah Harian

1.1 Menjadikan Seluruh Waktu Berstatus Ibadah

Tujuan utama ditiupkannya ruh ke dalam jasad manusia dan ditempatkannya mereka di atas permukaan bumi tidak lain adalah untuk menghamba secara totalitas kepada Alloh . Pemahaman yang keliru seringkali membatasi makna ibadah hanya pada ritual di atas sajadah atau di dalam Masjid. Padahal, hakikat penghambaan mencakup seluruh desah nafas dan gerak-gerik seorang hamba sepanjang 24 jam.

Alloh berfirman:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Alloh juga menegaskan perintah untuk masuk ke dalam syariat Islam secara menyeluruh tanpa memisah-misahkan bagian kehidupan dunia dengan kepentingan Akhiroh:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithon. Sesungguhnya syaithon itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqoroh: 208)

Menjadikan seluruh waktu berstatus ibadah, berarti mengondisikan fisik dan batin agar senantiasa berjalan di atas ridho-Nya, baik saat terjaga maupun saat tertidur. Dari Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata kepada Abu Musa al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu mengenai cara beliau mengatur waktu hariannya:

«أَمَّا أَنَا فَأَنَامُ وَأَقُومُ، فَأَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي»

“Adapun aku, sesungguhnya aku tidur dan aku Sholat malam, dan aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari Sholat malamku.” (HR. Al-Bukhori no. 4344 dan Muslim no. 1824)

Siapa yang menyangka bahwa ibadah itu memiliki waktu istirahat sebelum kematian menjemputnya, maka dia belum mengenal hakikat tujuan penciptaan dirinya.

1.2 Niat Mengubah Kebiasaan Menjadi Ibadah

Niat merupakan motor penggerak utama dalam setiap amalan harian. Kedudukan niat sangat sakral dalam syariat karena ia berfungsi sebagai pembeda antara satu ibadah dengan ibadah lainnya, sekaligus menjadi pembeda antara kebiasaan adat yang bernilai mubah (kosong dari pahala) menjadi aktivitas ketaatan yang berbuah pahala melimpah di sisi Alloh .

Alloh berfirman mengenai perintah memurnikan tujuan amal hanya untuk-Nya semata:

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan Sholat dan menunaikan Zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Setiap nilai dari apa yang dikerjakan manusia dalam kehidupan sehari-hari sangat bergantung pada apa yang dia niatkan di dalam lubuk hatinya. Dari Umar bin al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata di atas mimbar bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»

“Sesungguhnya setiap amalan itu berkaitan erat dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR. Al-Bukhori no. 1 dan Muslim no. 1907)

Bahkan, seseorang yang meniatkan tidur malamnya agar kuat bangun untuk Sholat tahajjud, tetap dicatat pahala baginya meskipun matanya terlanjur tertidur hingga pagi hari karena kelelahan fisik. Dari Abu Darda’ (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ أَتَى فِرَاشَهُ وَهُوَ يَنْوِي أَنْ يَقُومَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ حَتَّى أَصْبَحَ كُتِبَ لَهُ مَا نَوَى وَكَانَ نَوْمُهُ صَدَقَةً عَلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ»

“Siapa yang mendatangi tempat tidurnya dalam keadaan dia berniat untuk bangun menegakkan Sholat di malam hari, lalu kedua matanya mengalahkannya (tertidur) hingga pagi hari, maka tetap dicatat baginya apa yang dia niatkan. Sementara tidurnya menjadi shodaqoh dari Alloh untuknya.” (HR. An-Nasa’i no. 1787 dan Ibnu Majah no. 1344)

Alloh tidak melihat kepada besarnya bentuk amalan lahiriyah yang kita tampakkan, melainkan Dia melihat kepada keikhlasan niat yang tertanam di dalam hati.

1.3 Ibadah Mahdhoh dan Ghoir Mahdhoh

Secara garis besar, ragam ibadah yang menghiasi lembaran 24 jam seorang Muslim terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu ibadah mahdhoh dan ibadah ghoir mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah murni yang tata cara, syarat, dan rukunnya telah ditetapkan secara baku oleh syariat (seperti Sholat, Puasa, Zakat), sedangkan ibadah ghoir mahdhoh adalah seluruh aktivitas mubah harian yang berubah status menjadi ibadah karena faktor luar seperti niat yang tepat (seperti kerja dengan berharap pahala).

Alloh berfirman memisahkan antara urusan ritual ibadah dengan urusan muamalah:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ ۝ فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan Sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan Sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 9-10)

Contoh ibadah mahdhoh harian yang wajib adalah Sholat lima waktu yang tidak boleh diubah tata caranya. Adapun contoh ibadah ghoir mahdhoh yang sangat akrab adalah memberikan nafkah berupa makanan kepada istri atau menyuapi mulutnya dengan kemesraan. Dari Sa’ad bin Abi Waqqosh (55 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda kepadaku:

«إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ»

“Sesungguhnya tidaklah kamu menginfakkan suatu nafkah yang kamu harapkan dengannya wajah Alloh, melainkan kamu pasti akan diberi pahala atasnya, sampai-sampai apa (suapan makanan) yang kamu letakkan di dalam mulut istrimu.” (HR. Al-Bukhori no. 56 dan Muslim no. 1628)

Bahkan, melampiaskan syahwat harian kepada pasangan yang sah berstatus ibadah ghoir mahdhoh karena menahan diri dari zina. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Dan di dalam kemaluan salah seorang dari kalian terdapat shodaqoh.” Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya lalu dia mendapatkan pahala?” Beliau menjawab:

«أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ»

“Tahukah kalian, seandainya dia melampiaskannya pada tempat yang harom, bukankah dia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika dia melampiaskannya pada tempat yang halal, maka dia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim no. 1006)

Orang yang cerdas (faqih) adalah orang yang mampu mengubah adat kebiasaan makannya, minumnya, dan pergaulan harian rumah tangganya menjadi ibadah berwujud pahala, sedangkan orang yang lalai mengubah ibadah ritualnya menjadi sekadar adat kebiasaan yang hampa tanpa rasa.

 

Bab 2: Ibadah Sejak Bangun Tidur hingga Terbit Fajar

2.1 Amalan dan Doa saat Pertama Kali Terjaga

Saat seorang hamba terbangun dari tidurnya pada malam atau dini hari, hal pertama yang diperintahkan adalah mengingat Robb yang telah menghidupkannya kembali setelah mati sesaat (tidur). Di antara bentuk ibadah lisan yang agung adalah memuji-Nya dengan doa yang ma’tsur.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي الأَلْبَابِ 190 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Alloh dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Robb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Naar.” (QS. Ali ‘Imron: 190-191)

Dari Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Biasanya Nabi apabila merebahkan badannya di tempat tidurnya pada malam hari, beliau mengucapkan: ‘Dengan nama-Mu ya Alloh aku mati dan aku hidup.’ Dan apabila terbangun dari tidurnya, beliau mengucapkan:

«الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ»

“Segala puji bagi Alloh yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya tempat kembali.” (HR. Al-Bukhori no. 6324)

Amalan harian ini menjadi pembuka lembaran hari yang berkah. Selain itu, terdapat keutamaan besar bagi orang yang membaca dzikir tauhid saat terjaga di tengah malam lalu dilanjutkan dengan istighfar atau doa, niscaya doanya dikabulkan, dan jika dia Sholat maka Sholatnya diterima.

Dari Ubadah bin ash-Shomit (34 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Siapa yang terjaga di malam hari, lalu dia mengucapkan:

«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، الحَمْدُ لِلَّهِ، وَسُبْحَانَ اللَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Segala puji bagi Alloh, Maha Suci Alloh, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, Alloh Maha Besar, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.” Kemudian dia mengucapkan: ‘Ya Alloh, ampunilah aku,’ atau dia berdoa, maka akan dikabulkan baginya. Jika dia berwudhu dan Sholat, maka Sholatnya akan diterima.” (HR. Al-Bukhori no. 1154)

Beruntunglah bagi orang yang memulai harinya dengan ketaatan kepada Robbnya dan mengingat dosa-dosanya.

2.2 Bersuci dan Bersiwak

Setelah lisan berdzikir, anggota badan segera digerakkan untuk bersuci. Rosululloh memberikan contoh agar kebersihan mulut didahulukan saat bangun tidur untuk menghilangkan bau tidak sedap dan mengusir kemalasan akibat pengaruh syaithon.

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ، يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ»

“Syaithon mengikat di pangkal kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan 3 ikatan. Dia memukul setiap ikatan seraya mengatakan: ‘Malam masih panjang bagimu, maka tidurlah.’ Apabila dia terbangun lalu mengingat Alloh, maka lepaslah 1 ikatan. Jika dia berwudhu, maka lepaslah ikatan berikutnya. Dan jika dia Sholat, maka lepaslah seluruh ikatan, sehingga pada pagi hari dia menjadi bersemangat dan berjiwa baik. Jika tidak, maka dia pada pagi hari akan berjiwa buruk dan malas.” (HR. Al-Bukhori no. 1142 dan Muslim no. 776)

Di antara sunnah muakkadah saat bangun malam adalah membersihkan mulut dengan siwak. Dari Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ، يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ»

“Biasanya Nabi apabila bangun di malam hari, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak.” (HR. Al-Bukhori no. 245 dan Muslim no. 255)

Kemudian seorang Muslim berwudhu dengan sempurna di tempat bersuci. Ketika membersihkan hidung, disunnahkan melakukan istintsar (memasukkan dan mengeluarkan air dari hidung) sebanyak 3 kali karena syaithon menginap di rongga hidungnya.

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi bersabda:

«إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ»

“Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari tidurnya, maka hendaklah dia berwudhu dengan istintsar (memasukkan dan mengeluarkan air dari hidungnya) 3 kali, karena sesungguhnya syaithon menginap di rongga hidungnya.” (HR. Al-Bukhori no. 3295 dan Muslim no. 238)

Siwak saat bangun malam adalah sunnah yang tidak sepatutnya ditinggalkan oleh seorang Mu’min yang ingin meneladani Nabinya dalam mensucikan diri menghadapi Sholat.

2.3 Sholat Tahajjud dan Witir sebagai Penutup Malam

Setelah suci lahir dan batin, seorang Muslim menegakkan ibadah yang paling utama setelah Sholat fardhu, yaitu Sholat malam (Tahajjud) yang kemudian ditutup dengan Sholat Witir.

Alloh berfirman:

﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebagian malam hari tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Robb-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isro’: 79)

Alloh juga berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang sholih:

﴿تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Robb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan apa apa rizqi yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajdah: 16)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«أَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»

“Puasa yang paling utama setelah bulan Romadhon adalah puasa di bulan Alloh yang mulia (Muharrom). Dan Sholat yang paling utama setelah Sholat wajib adalah Sholat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Tuntunan dalam Sholat malam adalah dikerjakan 2 roka’at 2 roka’at, kemudian diakhiri dengan 1 roka’at ganjil sebagai penutup. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh tentang Sholat malam, maka Rosululloh bersabda:

«صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى»

“Sholat malam itu 2 roka’at 2 roka’at. Jika salah seorang di antara kalian khawatir akan datangnya waktu Shubuh, maka hendaklah dia Sholat 1 roka’at yang menjadi witir (penutup /ganjil) bagi Sholat yang telah dia kerjakan.” (HR. Al-Bukhori no. 990 dan Muslim no. 749)

Para ahli ibadah malam merasakan kelezatan dalam malam-malam mereka melebihi kelezatan orang-orang yang lalai dalam kelalaian mereka. Seandainya bukan karena malam, para Salaf tidak ingin hidup lama di dunia ini.

2.4 Beristighfar pada Waktu Sahur

Waktu sahur adalah sepertiga malam terakhir menjelang terbit fajar Shubuh. Ini adalah waktu turunnya Robb ke langit dunia, waktu yang sangat mustajab untuk memohon ampunan (istighfar) atas segala dosa harian.

Alloh berfirman memuji orang-orang yang beriman:

﴿الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالأَسْحَارِ

“(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya, dan yang memohon ampunan di waktu sahur.” (QS. Ali ‘Imron: 17)

Alloh juga berfirman:

﴿وَبِالأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Dan selalu memohon ampunan di waktu pagi sebelum fajar (sahur).” (QS. Adz-Dzariyat: 18)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ»

“Robb kita Tabaroka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, kemudian Dia berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan baginya. Siapa yang meminta kepada-Ku, niscaya Aku beri kepadanya. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dia.’” (HR. Al-Bukhori no. 1145 dan Muslim no. 758)

Lafazh istighfar yang paling utama untuk dibaca pada waktu mulia ini adalah istighfar dengan lafazh yang disebutkan sebelum ayat tersebut:

﴿رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Robb kami, kami benar-benar beriman maka ampunilah dosa-dosa kami dan jagalah kami dari siksa Neraka.” (QS. Ali Imron: 16)

 Lalu Sayyidul Istighfar. Dari Syaddad bin Aus (58 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda bahwa pemuka istighfar adalah seorang hamba mengucapkan:

«اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ»

“Ya Alloh, Engkau adalah Robb-ku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku di atas perjanjian-Mu dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui ni’mat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.” (HR. Al-Bukhori no. 6306)

Mengakhiri Sholat malam dengan duduk beristighfar di waktu sahur adalah kebiasaan para Salaf, mereka menyambung Sholat mereka langsung dengan permohonan ampun seolah-olah mereka baru saja melakukan dosa.

2.5 Menjawab Adzan Subuh dan Doa Setelahnya

Ketika fajar shodiq terbit, berkumandanglah adzan Shubuh yang menandai masuknya waktu fardhu. Mendengarkan dan menjawab kalimat adzan dengan lafazh yang sama merupakan ibadah harian yang mendatangkan ampunan dan syafaat Nabi .

Dari Abu Sa’id al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ المُؤَذِّنُ»

“Apabila kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin.” (HR. Al-Bukhori no. 611 dan Muslim no. 383)

Pengecualian berlaku pada kalimat “Hayya ‘alas Sholah” dan “Hayya ‘alal Falah”, di mana pendengar menjawab dengan kalimat istianah. Dari Umar bin al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits yang panjang tentang adzan, beliau menyebutkan bahwa ketika muadzin mengucapkan: “Hayya ‘alas Sholah”, Nabi menuntunkan untuk menjawab:

«لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»

“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.” Begitu pula saat muadzin mengucapkan: “Hayya ‘alal Falah”, dijawab: “La hawla wa la quwwata illa billah.” (HR. Muslim no. 385)

Setelah adzan selesai, disunnahkan membaca sholawat kepada Nabi dan membaca doa setelah adzan agar berhak mendapatkan syafaat beliau di hari Qiyamah.

Dari Jabir bin Abdillah (74 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh bersabda: “Siapa mengucapkan setelah mendengar adzan:

«اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ»

“Ya Alloh, Robb pemilik seruan yang sempurna ini, dan Sholat yang wajib didirikan, berilah kepada Muhammad wasilah (kedudukan tertinggi di Jannah) dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau di tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ Maka halallah baginya syafaatku pada hari Qiyamah.” (HR. Al-Bukhori no. 614)

Para Shohabat Rosululloh dahulu apabila mendengar adzan, mereka diam mendengarkan dan menggerakkan lisan-lisan mereka mengikuti ucapan muadzin dengan penuh kekhusyukan.

 

Bab 3: Ibadah di Waktu Shubuh hingga Dhuha

3.1 Sholat Sunnah Fajar Dua Roka’at

Setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan Shubuh, amalan harian pertama yang sangat ditekankan adalah menegakkan Sholat sunnah fajar dua roka’at (qobliyah Shubuh). Sholat ini memiliki nilai yang sangat agung di sisi Alloh , bahkan lebih berharga daripada dunia dan segala isinya.

Alloh berfirman:

﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَإِدْبَارَ النُّجُومِ

“Dan bertasbihlah kepada-Nya pada sebagian malam hari dan di waktu terbenamnya bintang-bintang (waktu fajar).” (QS. Ath-Thur: 49)

Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, dari Nabi , beliau bersabda:

«رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا»

“Dua roka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisi di dalamnya.” (HR. Muslim no. 725)

Nabi sangat menjaga Sholat sunnah ini melebihi Sholat sunnah lainnya, dan beliau mengerjakannya secara ringan (singkat). Masih dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى شَيْءٍ مِنَ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيِ الفَجْرِ»

“Tidak ada satu pun Sholat sunnah yang Nabi paling menjaganya melebihi dua roka’at fajar.” (HR. Al-Bukhori no. 1169 dan Muslim no. 724)

Sunnah dalam dua roka’at ini adalah membaca Surat Al-Kafirun pada roka’at pertama dan Surat Al-Ikhlash pada roka’at kedua. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ: قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ، وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ»

“Rosululloh membaca dalam dua roka’at fajar Surat ‘Qul ya ayyuhal kafirun’ dan ‘Qul huwallahu ahad.’” (HR. Muslim no. 726)

Siapa yang meremehkan dua roka’at fajar, dikhawatirkan dia akan terhalang dari mendapatkan barokah di sepanjang harinya.

3.2 Sholat Shubuh Berjamaah di Masjid bagi Lelaki

Ibadah wajib yang menjadi tiang utama di awal hari adalah Sholat Shubuh. Bagi para lelaki Muslim, kewajiban ini harus ditunaikan secara berjamaah di Masjid. Mengayunkan langkah di kegelapan malam menuju rumah Alloh menjanjikan cahaya yang sempurna di hari Qiyamah.

Alloh berfirman:

﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah Sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula Sholat) Shubuh. Sesungguhnya Sholat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat).” (QS. Al-Isro’: 78)

Dari Buroidah al-Aslami (62 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«بَشِّرِ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»

“Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang berjalan kaki dalam kegelapan menuju Masjid-Masjid dengan mendapatkan cahaya yang sempurna pada hari Qiyamah.” (HSR. Abu Dawud no. 561)

Sholat Shubuh berjamaah juga memberikan jaminan perlindungan langsung dari Alloh selama seharian penuh, serta bernilai seperti Sholat malam suntuk. Dari Jundub bin Abdillah (64 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فَهُوَ فِي ذِمَّةِ اللهِ، فَلَا يَطْلُبَنَّكُمُ اللهُ مِنْ ذِمَّتِهِ بِشَيْءٍ فَيُدْرِكَهُ فَيَكُبَّهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ»

“Siapa yang Sholat Shubuh, maka dia berada dalam jaminan perlindungan Alloh. Maka jangan sampai Alloh menuntut kalian sedikit pun dari jaminan perlindungan-Nya hingga Dia menangkapnya lalu melemparnya dari wajahnya ke api Jahannam.” (HR. Muslim no. 657)

Dari Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ»

“Siapa yang Sholat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat setengah malam. Dan siapa yang Sholat Shubuh berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat malam semuanya.” (HR. Muslim no. 656)

Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

“Sungguh kami dahulu menyaksikan bahwa tidak ada yang meninggalkan Sholat berjamaah melainkan seorang munafiq yang telah jelas kemunafiqannya.” (HR. Muslim no. 654)

3.3 Dzikir Pagi Penjaga Diri

Seusai melaksanakan Sholat Shubuh dan dzikir ba’da Sholat, seorang hamba tidak serta merta beranjak untuk urusan duniawi, melainkan duduk tegak di tempat Sholatnya untuk membaca rangkaian dzikir pagi. Dzikir ini berfungsi sebagai benteng kokoh yang menjaga diri dari gangguan syaithon dan mara bahaya sepanjang hari.

Alloh berfirman:

﴿وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

“Dan bertasbihlah sambil memuji Robb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Thoha: 130)

Di antara lafazh dzikir pagi yang rutin dibaca adalah memohon keselamatan agama, dunia, keluarga, dan harta. Rosululloh tidak meninggalkan doa-doa ini ketika pagi hari dan sore hari, di antaranya:

Dzikir harian lain yang memberikan perlindungan mutlak dari bahaya apa pun di bumi dan di langit adalah membaca kalimat tauhid pelindung. Dari Aban bin Utsman (105 H) rohimahulloh, dari Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Tidaklah seorang hamba mengucapkan pada pagi setiap hari dan sore setiap malam:

«بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»

“Dengan nama Alloh yang tidak ada sesuatu pun di bumi dan di langit yang dapat mendatangkan bahaya bersama nama-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” sebanyak 3 kali, melainkan tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya.” (HSR. Abu Dawud no. 5088)

Waktu pagi dan sore adalah modal utama seorang hamba. Jika dia menyia-nyiakannya dengan tidak berdzikir, maka dia telah merugi dengan kerugian yang besar.

Dzikir pagi dan sore yang lengkap bisa membacanya di Hisnul Muslim.

3.4 Sholat Sunnah di Awal Dhuha

Setelah matahari terbit dan naik setinggi satu tombak (sekitar 15 menit setelah syuruk), berakhirlah waktu larangan Sholat. Di waktu inilah seorang Muslim dianjurkan menegakkan Sholat Sunnah Isyroq jika dia tetap duduk berdzikir di tempat Sholatnya, atau melanjutkannya dengan Sholat Dhuha sebagai bentuk shodaqoh bagi seluruh persendian tubuhnya.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ

“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung bersama dia (Dawud) untuk bertasbih di waktu sore dan waktu matahari terbit (isyroq).” (QS. Shod: 18)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ»

“Siapa yang Sholat Shubuh berjamaah, kemudian dia duduk berdzikir kepada Alloh hingga matahari terbit, lalu dia Sholat dua roka’at, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala Haji dan Umroh yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HHR. At-Tirmidzi no. 586)

Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan shodaqohnya setiap hari, dan dua roka’at Sholat Dhuha mampu mencukupi semuanya. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ... وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

“Setiap pagi, masing-masing persendian dari kalian wajib dikeluarkan shodaqohnya... Dan semua itu dapat dicukupi dengan dua roka’at yang dikerjakan di waktu Dhuha.” (HR. Muslim no. 720)

Waktu terbaik untuk Sholat Dhuha adalah saat matahari sudah mulai panas membakar (menjelang siang). Dari Zaid bin Arqom (66 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau melihat sekelompok orang Sholat Dhuha di awal pagi, lalu beliau berkata: “Tidakkah mereka tahu bahwa Sholat di selain waktu ini lebih utama? Sesungguhnya Rosululloh bersabda:

«صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ»

“Sholat orang-orang yang bertaubat (Dhuha) adalah ketika anak-anak unta merasakan kepanasan pasir.” (HR. Muslim no. 748)

Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku mewasiatkan kepadaku tiga perkara yang tidak akan aku tinggalkan sepanjang hidupku: puasa tiga hari setiap bulan, dua roka’at Dhuha, dan agar aku Sholat Witir sebelum tidur.” (HR. Al-Bukhori no. 1178 dan Muslim no. 721)

 

Bab 4: Ibadah dalam Aktivitas Kerja

4.1 Niat dalam Bekerja

Apabila seorang Muslim meniatkan pekerjaannya untuk menjaga kehormatan diri dari meminta-minta, memberi makan keluarga, serta menunaikan kewajiban, maka setiap keringat yang menetes bernilai ibadah dan shodaqoh di sisi Alloh .

Alloh berfirman:

﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjuru dan makanlah sebagian dari rizqi-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk: 15)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«لَأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا، فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ»

“Sungguh, jika salah seorang di antara kalian mencari seikat kayu bakar lalu dipikul di atas punggungnya, itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya atau menolaknya.” (HR. Al-Bukhori no. 2074 dan Muslim no. 1042)

Harta yang dinafkahkan untuk mencukupi kebutuhan pokok istri dan anak-anak memiliki pahala yang sangat besar, bahkan mengalahkan pahala harta yang dikeluarkan untuk Jihad atau shodaqoh umum. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»

“Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Alloh, satu dinar yang kamu infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu shodaqohkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang kamu infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

Pria mana yang pahalanya lebih besar daripada seorang pria yang menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, dia menjaga kehormatan mereka, dan dengannya Alloh memberikan kecukupan bagi mereka?

4.2 Dzikir Keluar Rumah dan Naik Kendaraan

Memulai perjalanan menuju tempat kerja atau tempat beraktivitas disunnahkan dengan membaca doa khusus. Amalan harian ini mendatangkan perlindungan mutlak dari bahaya, kecukupan dari Alloh , serta pengusiran terhadap syaithon yang hendak menggelincirkannya.

Alloh berfirman menuntunkan hamba-Nya agar berdzikir saat mengendarai tunggangan:

﴿لِتَسْتَوُوا عَلَى ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ 13 وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat ni’mat Robb-mu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci Robb yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Robb kami.’” (QS. Az-Zukhruf: 13-14)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda: “Siapa yang ketika keluar dari rumahnya mengucapkan:

«بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

Dengan nama Alloh, aku bertawakkal kepada Alloh, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh.’ Maka dikatakan kepadanya: ‘Kamu telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi,’ sehingga syaithon-syaithon pun menjauh darinya.” (HSR. Abu Dawud no. 5095)

Ketika kaki melangkah masuk ke dalam pasar atau tempat perdagangan yang penuh dengan kelalaian, disunnahkan pula berdzikir agar dicatat pahala yang berlipat ganda. Dari Umar rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda: “Siapa masuk ke pasar lalu mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya pujian. Dia yang menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Hidup tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.’ Niscaya Alloh mencatat baginya sejuta kebaikan dan menghapus darinya sejuta keburukan.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3428)

Dahulu sebagian Salaf sengaja pergi ke pasar bukan untuk berjualan atau membeli sesuatu, melainkan hanya untuk mengucapkan salam dan berdzikir mengingat Alloh di tempat kelalaian manusia.

4.3 Kejujuran dan Keridhoan dalam Jual Beli

Dalam muamalah harian seperti perdagangan, transaksi, atau memberikan jasa, seorang Muslim wajib menegakkan sifat jujur dan transparan. Kejujuran mendatangkan barokah pada harta, sedangkan kedustaan dan menyembunyikan cacat barang akan memusnahkan keberkahan tersebut.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, taqwalah kepada Alloh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 119)

Dari Hakim bin Hizam (54 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«البَيِّعَانِ بِالخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا»

“Dua orang yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang apa adanya), maka keduanya diberkahi dalam jual belinya. Namun jika keduanya menyembunyikan (cacat barang) dan berdusta, maka dihapuslah barokah jual beli mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 2079 dan Muslim no. 1532)

Sumpah palsu demi melariskan dagangan termasuk dosa besar harian yang sangat dimurkai Alloh . Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ... وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ»

“Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Alloh pada hari Qiyamah... (salah satunya) adalah orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu.” (HR. Muslim no. 106)

Kunci keberkahan dalam rizqi adalah ketulusan dalam bermuamalah, tidak menipu orang awam, dan ridho dengan keuntungan yang sedikit namun thoyyib (baik).

4.4 Menjaga Lisan dari Ghibah dan Dusta di Tempat Kerja

Tempat kerja, kantor, atau pasar seringkali menjadi ladang subur bagi kemaksiatan lisan seperti membicarakan kejelekan orang lain (ghibah), menyebarkan adu domba (namimah), dan berdusta demi kepentingan duniawi. Menahan lisan dari perkara harom ini adalah ibadah harian yang besar nilainya.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan buruksangka (prasangka), karena prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan taqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurot: 12)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka hendaklah dia berkata baik atau (jika tidak bisa) hendaklah dia diam.” (HR. Al-Bukhori no. 6018 dan Muslim no. 47)

Rosululloh memberikan batas tegas mengenai makna ghibah agar setiap Muslim waspada saat berdialog harian dengan rekan kerjanya. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para Shohabat menjawab: “Alloh dan Rosul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:

«ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ»

“Kamu menyebutkan tentang saudaramu apa yang dia benci.” Ditanyakan: “Bagaimana jika pada saudaraku itu memang benar ada apa yang aku ucapkan?” Beliau bersabda: “Jika padanya memang benar ada apa yang kamu ucapkan, maka kamu telah melakukan ghibah kepadanya. Dan jika tidak ada padanya apa yang kamu ucapkan, maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.” (HR. Muslim no. 2589)

Tidaklah amalan seorang pekerja naik ke langit (diterima) apabila di dalam hatinya terdapat hasad dan lisannya sibuk menggunjing para hamba Alloh yang lain.

4.5 Menundukkan Pandangan dan Menjaga Kemaluan

Saat berinteraksi di ruang publik atau tempat kerja yang bercampur antara lelaki dan wanita, ibadah harian yang sangat berat namun berwujud pahala besar adalah menundukkan pandangan dari melihat hal-hal yang harom, serta membentengi kemaluan dari zina.

Alloh berfirman kepada kaum Mu’minin:

﴿قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur: 30)

Setiap anggota badan manusia berpotensi melakukan zina harian, dan pandangan mata adalah pintu gerbang utamanya. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ»

“Telah ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia pasti menemuinya tanpa bisa mengelak. Maka dua mata zinanya adalah melihat, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memukul, kaki zinanya adalah melangkah, dan hati berkeinginan serta berangan-angan, lalu kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Muslim no. 2657)

Pandangan pertama yang tidak sengaja dimaafkan, namun pandangan kedua yang disengaja berstatus harom. Dari Jarir bin Abdillah (54 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku bertanya kepada Rosululloh tentang pandangan yang tiba-tiba (tidak sengaja), maka beliau memerintahkan aku:

«اصْرِفْ بَصَرَكَ»

“Palingkanlah pandanganmu.” (HR. Muslim no. 2159)

 

Bab 5: Ibadah Siang hingga Sore Hari

5.1 Qoilulah (Tidur Siang) untuk Membantu Qiyamul Lail

Di tengah penatnya aktivitas harian mencari rizqi, syariat memberikan ruang untuk beristirahat sejenak melalui tidur siang yang dikenal dengan istilah Qoilulah. Amalan harian ini bernilai ibadah yang agung jika diniatkan untuk mengumpulkan energi agar fisik kuat melaksanakan ibadah di malam hari, sekaligus menjadi pembeda dari kebiasaan kaum kafir dan syaithon.

Alloh berfirman:

﴿وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar-Rum: 23)

Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«قِيلُوا فَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَا تَقِيلُ»

“Tidurlah siang (Qoilulah), karena sesungguhnya syaithon-syaithon itu tidak pernah tidur siang.” (HR. Ibnu Hibban, Abu Nu’aim, Ath-Thobaron, As-Shohihah no. 1647)

Tidur siang ini biasa dilakukan oleh para Shohabat baik sebelum Zhuhur maupun setelah Zhuhur, terutama pada hari Jum’at. Dari Sahl bin Sa’id (91 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«مَا كُنَّا نَقِيلُ وَلَا نَتَغَدَّى إِلَّا بَعْدَ الْجُمُعَةِ»

“Dahulu kami tidak pernah tidur siang dan tidak pula makan siang melainkan setelah Sholat Jum’at.” (HR. Al-Bukhori no. 939 dan Muslim no. 859)

Qoilulah adalah bagian dari kebiasaan orang-orang sholih. Ia mengistirahatkan hati dan menguatkan tekad untuk bermunajat kepada Robb di sepertiga malam terakhir.

5.2 Sholat Zhuhur dan Sunnah Rowatib Qobliyah Serta Ba’diyah

Saat matahari tergelincir ke arah barat, berkumandanglah adzan Zhuhur yang menandai datangnya kewajiban Sholat fardhu siang hari. Di antara benteng penjaga Sholat wajib ini adalah Sholat Sunnah Rowatib 4 roka’at sebelum Zhuhur dan 2 atau 4 roka’at sesudahnya, yang menjanjikan pahala pembebasan dari api Naar.

Alloh berfirman:

﴿أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Dirikanlah Sholat dari sesudah matahari tergelincir (Zhuhur dan Ashar) sampai gelap malam (Maghrib dan Isya) dan (dirikanlah pula Sholat) Shubuh. Sesungguhnya Sholat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat).” (QS. Al-Isro’: 78)

Dari Ummu Habibah (44 H) rodhiyallahu ‘anha, istri Nabi , beliau berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا، حَرُمَ عَلَى النَّارِ»

“Siapa yang menjaga 4 roka’at sebelum Zhuhur dan 4 roka’at sesudahnya, niscaya Alloh mengharamkannya atas api Naar.” (HSR. Abu Dawud no. 1269 dan At-Tirmidzi no. 427)

Nabi sangat menjaga 4 roka’at sebelum Zhuhur ini di rumah beliau. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ لاَ يَدَعُ أَرْبَعًا قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الغَدَاةِ»

“Nabi tidak pernah meninggalkan 4 roka’at sebelum Sholat Zhuhur dan dua roka’at sebelum Sholat Shubuh.” (HR. Al-Bukhori no. 1182)

Waktu tergelincirnya matahari adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit, sehingga sangat dianjurkan untuk mengisi lembaran amal dengan amalan sholih. Dari Abdullah bin Sa’ib (sekitar 70 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh biasa Sholat 4 roka’at setelah tergelincir matahari sebelum Sholat Zhuhur, dan beliau bersabda:

«إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ»

“Sesungguhnya itu adalah waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan aku sangat suka apabila amalan sholihku naik pada waktu tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 478)

Siapa yang terbiasa mengabaikan Sholat Sunnah Rowatib Zhuhur, maka kelak ketika Sholat fardhunya memiliki kekurangan di hari Qiyamah, dia tidak memiliki penyempurna dari amalan sunnahnya.

5.3 Sholat Ashar dan Larangan Meremehkannya

Sholat Ashar adalah Sholat Wustho (terbaik) yang memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam syariat Islam. Meremehkan atau menunda-nunda Sholat ini hingga mendekati waktu terbenamnya matahari merupakan ciri kemunafikan, dan siapa yang meninggikannya hingga terlewat waktunya, maka seluruh amalannya pada hari itu akan terhapus sia-sia.

Alloh berfirman:

﴿حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua Sholat(mu), dan (peliharalah) Sholat Wustho. Berdirilah karena Alloh (dalam Sholatmu) dengan khusyu.’” (QS. Al-Baqoroh: 238)

Dari Buroidah al-Aslami (62 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ»

“Siapa yang meninggalkan Sholat Ashar, maka sungguh telah terhapuslah amalannya.” (HR. Al-Bukhori no. 553)

Kehilangan Sholat Ashar diibaratkan seperti seorang yang kehilangan seluruh anggota keluarga dan harta kekayaannya dalam sekilas mata. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh bersabda:

«الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ، كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ»

“Orang yang terlewat Sholat Asharnya, seolah-olah dia telah diringkus (dihilangkan) keluarga dan hartanya.” (HR. Al-Bukhori no. 552 dan Muslim no. 626)

Adapun menunda Sholat Ashar hingga matahari berwarna kekuningan adalah cara Sholatnya kaum munafiq. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«تِلْكَ صَلَاةُ الْمُنَافِقِ، يَجْلِسُ يَرْقُبُ الشَّمْسَ حَتَّى إِذَا كَانَتْ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ، قَامَ فَنَقَرَهَا أَرْبَعًا، لَا يَذْكُرُ اللهَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا»

“Itulah Sholatnya orang munafiq. Dia duduk memperhatikan matahari, hingga ketika matahari berada di antara dua tanduk syaithon, dia berdiri lalu mematok (Sholat dengan cepat) 4 roka’at, dia tidak mengingat Alloh di dalamnya melainkan sedikit saja.” (HR. Muslim no. 622)

Dahulu para Salaf mengawasi waktu Sholat Ashar lebih ketat daripada mengawasi harta rampasan perang, karena takut terjatuh dalam ancaman gugurnya amal.

5.4 Dzikir Sore Pembuka Keberkahan

Setelah menunaikan Sholat Ashar, sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, seorang hamba memasuki paruh kedua waktu dzikir harian, yaitu dzikir sore. Membaca dzikir pada waktu ini merupakan perintah Robb untuk menutup hari yang melelahkan dengan perlindungan dan ketenangan jiwa.

Alloh berfirman:

﴿فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ

“Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Robb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya.” (QS. Qof: 39)

Alloh juga berfirman:

﴿وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Robb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak melahirkan suara keras, di waktu pagi dan sore hari, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’rof: 205)

Di antara lafazh dzikir sore yang wajib dijaga untuk menangkal racun, sengatan binatang berbisa, maupun gangguan sihir harian adalah memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa seorang lelaki datang kepada Nabi lalu berkata: “Ya Rosululloh, aku disengat kalajengking tadi malam.” Beliau bersabda: “Seandainya kamu mengucapkan pada waktu sore:

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ»

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan,” niscaya kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.” (HR. Muslim no. 2709)

Membaca kalimat pujian di waktu sore juga menjadi sarana pengakuan bahwa seluruh ni’mat sore ini semata-mata datang dari Alloh . Dari Abdullah bin Ghonnam al-Bayadhi (sekitar 60 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda: “Siapa yang mengucapkan ketika sore hari:

«اللَّهُمَّ مَا أَمْسَى بِي مِنْ نِعْمَةٍ [أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ] فَمِنْكَ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَكَ فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ»

‘Ya Alloh, ni’mat apa pun yang ada padaku di waktu sore ini atau pada salah seorang dari makhluk-Mu, maka ia semata-mata dari-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. Maka bagi-Mu segala pujian dan bagi-Mu segala syukur.’ Maka sungguh dia telah menunaikan syukur pada malam harinya.” (HHR. Abu Dawud no. 5073)

Orang yang duduk berdzikir di tempat Sholatnya setelah Ashar hingga Maghrib, dia laksana seorang prajurit yang sedang berjaga di garis depan medan Jihad, menahan gempuran tentara syaithon yang hendak merusak akhir amalan harinya.

 

Bab 6: Ibadah di Waktu Maghrib dan Isya

6.1 Menyambut Adzan Maghrib dan Sholat Rowatib

Ketika matahari telah tenggelam sempurna di ufuk barat, siang hari resmi berganti malam. Di waktu inilah kumandang adzan Maghrib terdengar, mengakhiri aktivitas siang sekaligus memanggil kaum Muslimin untuk menunaikan Sholat fardhu Maghrib. Menyambut adzan ini dan menegakkan Sholat Sunnah sebelum dan sesudahnya adalah pembuka ibadah malam yang penuh barokah.

Alloh berfirman:

﴿فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Alloh di waktu kamu berada di petang hari (Maghrib dan Isya) dan waktu kamu berada di subuh hari.” (QS. Ar-Rum: 17)

Di antara sunnah yang sering dilalaikan manusia adalah melakukan Sholat Sunnah dua roka’at sebelum Sholat Maghrib (qobliyah Maghrib). Dari Abdullah bin Mughoffal (60 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ»، قَالَ فِي الثَّالِثَةِ: «لِمَنْ شَاءَ»

“Sholatlah kalian sebelum Sholat Maghrib,” beliau mengucapkannya pada kali yang ketiga: “bagi siapa yang menghendaki.” (HR. Al-Bukhori no. 1183)

Setelah menunaikan Sholat Maghrib fardhu, seorang Muslim sangat ditekankan untuk melaksanakan Sholat Sunnah Rowatib ba’diyah Maghrib sebanyak dua roka’at. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:

«حَفِظْتُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ فِي بَيْتِهِ، وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ»

“Aku menghafal dari Nabi 10 roka’at: dua roka’at sebelum Zhuhur, dua roka’at sesudahnya, dan dua roka’at sesudah Maghrib di rumahnya, dua roka’at setelah Isya di rumahnya, dan dua rokaah sebelum Sholat Shubuh.” (HR. Al-Bukhori no. 1180 dan Muslim no. 729)

Menyegerakan Sholat Maghrib di awal waktunya dan menyambungnya dengan dua roka’at sunnah di rumah adalah di antara petunjuk para Salaf yang senantiasa dijaga. Namun, jika ia duduk i’tikaf mendengarkan taklim sampai Isya maka lebih utama.

6.2 Sholat Isya Berjamaah dan Keutamaannya

Waktu Isya bermula ketika syafaq al-ahmar (mega merah) di langit barat telah hilang total. Menunaikan Sholat Isya secara berjamaah di Masjid bagi kaum lelaki memiliki keutamaan yang luar biasa, di antaranya adalah tercatat pahalanya laksana mendirikan Sholat setengah malam suntuk serta menjadi pembeda yang nyata dari kaum munafiq.

Alloh berfirman:

﴿وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى

“Dan bertasbihlah kamu pada jam-jam malam hari dan pada waktu-waktu siang hari, supaya kamu merasa ridho.” (QS. Thoha: 130)

Dari Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ»

“Siapa yang Sholat Isya berjamaah, maka seolah-olah dia telah Sholat setengah malam.” (HR. Muslim no. 656)

Sholat Isya dan Sholat Shubuh adalah dua Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafiq. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنَ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Sesungguhnya Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafiq adalah Sholat Isya dan Sholat Fajar (Shubuh). Seandainya mereka mengetahui keutamaan yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhori no. 657 dan Muslim no. 651)

Ibnu Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin bertemu dengan Alloh besok dalam keadaan Muslim, maka hendaklah dia menjaga Sholat-Sholat ini (termasuk Isya) di mana pun adzan dikumandangkan.” (HR. Muslim no. 654)

6.3 Menghidupkan Waktu Antara Dua Isya dengan Al-Qur’an

Waktu antara Sholat Maghrib dan Sholat Isya (antara dua Isya) adalah waktu yang pendek namun sangat rawan kelalaian karena manusia biasanya sibuk dengan urusan makan malam atau beristirahat dari penatnya kerja. Menghidupkan waktu ini dengan membaca dan mentadabburi Al-Qur’an termasuk amalan harian yang sangat terpuji.

Alloh berfirman mengenai sifat hamba-hamba-Nya yang bertaubat:

﴿كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.” (QS. Adz-Dzariyat: 17)

Sebagian Salaf memahami ayat ini sebagai menghidupkan antara Maghrib sampai Isya.

Membaca satu huruf dari Kitabulloh di waktu malam akan mendatangkan sepuluh kebaikan yang berlipat ganda. Dari Abdullah bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ»

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Alloh (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan ‘Alif Lam Mim’ itu satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2910)

Di antara surat yang disunnahkan untuk dibaca setiap malam adalah Surat Al-Mulk sebagai penyelamat dari adzab kubur. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«إِنَّ سُورَةً مِنَ القُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ، وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ المُلْكُ»

“Sesungguhnya ada satu surat di dalam Al-Qur’an yang terdiri dari tiga puluh ayat, dapat memberi syafaat bagi seseorang hingga dia diampuni, yaitu surat ‘Tabarokalladzi biyadihil mulku’ (Surat Al-Mulk).” (HHR. At-Tirmidzi no. 2891 dan Abu Dawud no. 1400)

Jika seseorang tidak mampu menegakkan Sholat malam dan berpuasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa ia telah terhalang dari kebaikan, dan dosa-dosanya yang telah mengikatnya. Maka isilah waktu antara Maghrib dan Isya dengan mendekatkan diri kepada-Nya melalui Al-Qur’an untuk menebusnya.

6.4 Majelis Ilmu dan Diskusi yang Bermanfaat Sebelum Tidur

Nabi melarang umatnya untuk tidur sebelum Sholat Isya dan melarang obrolan kosong yang tidak bermanfaat setelah Sholat Isya. Namun, jika obrolan setelah Isya tersebut diisi dengan majelis ilmu, berdiskusi tentang urusan kaum Muslimin, atau mengajarkan kebaikan kepada keluarga, maka aktivitas tersebut berubah status menjadi ibadah harian yang mulia.

Alloh berfirman:

﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Alloh akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Dari Abu Barzah al-Aslami (65 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ العِشَاءِ وَالحَدِيثَ بَعْدَهَا»

“Bahwa Rosululloh membenci tidur sebelum Sholat Isya dan membenci berbincang-bincang (yang tidak bermanfaat) setelahnya.” (HR. Al-Bukhori no. 568 dan Muslim no. 647)

Adapun berbincang-bincang dalam rangka mempelajari ilmu agama atau demi kemaslahatan keluarga diperbolehkan bahkan dicontohkan oleh Nabi . Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata: “Rosululloh pernah Sholat Isya bersama kami di akhir hayat beliau. Begitu selesai salam, beliau berdiri lalu bersabda kepada kami:

«أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ، فَإِنَّ رَأْسَ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا، لاَ يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الأَرْضِ أَحَدٌ»

“Tahukah kalian tentang malam kalian ini? Sesungguhnya pada penghujung seratus tahun dari malam ini, tidak akan ada seorang pun yang sekarang masih hidup di atas permukaan bumi ini yang tetap tinggal.” (HR. Al-Bukhori no. 116 dan Muslim no. 2537)

Duduk sejenak sebelum tidur untuk saling mengingatkan tentang sunnah Nabi atau mengoreksi urusan keluarga adalah lebih disukai oleh sebagian Salaf daripada menghabiskan seluruh malam dengan Sholat sunnah tanpa ilmu.

 

Bab 7: Ibadah Sosial Harian

7.1 Berbakti kepada Kedua Orang Tua Serta Berbuat Baik pada Tetangga

Ibadah harian tidak hanya terbatas pada hubungan antara seorang hamba dengan Robb-nya, melainkan juga mencakup hubungan sosial kepada sesama manusia. Di antara amalan sosial yang paling utama dan wajib ditunaikan setiap hari adalah berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) serta menjaga hubungan baik dengan tetangga sekitar rumah.

Alloh berfirman:

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

“Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36)

Keridhoan Alloh atas aktivitas harian seorang hamba sangat bergantung pada keridhoan orang tuanya. Dari Abdullah bin ‘Amr (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi , beliau bersabda:

«رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ»

“Keridhoan Robb ada pada keridhoan orang tua, dan kemurkaan Robb ada pada kemurkaan orang tua.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1899)

Selain kepada orang tua, memperlakukan tetangga dengan baik secara harian merupakan indikator kesempurnaan iman seseorang. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِي جَارَهُ»

“Siapa yang beriman kepada Alloh dan hari Akhiroh, maka janganlah dia menyakiti tetangganya.” (HR. Al-Bukhori no. 5185 dan Muslim no. 47)

Bahkan, memberikan sekadar kuah masakan kepada tetangga merupakan contoh amalan harian yang sangat dianjurkan. Dari Abu Dzarr al-Ghifari (32 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Sesungguhnya kekasihku berwasiat kepadaku:

«إِذَا طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ»

“Jika kamu memasak kuah, maka perbanyaklah airnya, kemudian lihatlah anggota keluarga dari tetanggamu, lalu berikanlah kepada mereka sebagian darinya dengan cara yang baik.” (HR. Muslim no. 2625)

Bukanlah dinamakan berbuat baik kepada tetangga hanya dengan menahan diri dari menyakiti mereka, melainkan dengan bersabar atas gangguan harian mereka dan tetap berbagi ni’mat kepada mereka.

7.2 Mengucapkan Salam dan Menjawabnya

Menyebarkan salam (assalamu’alaikum) ketika bertemu sesama Muslim di jalan, kantor, atau Masjid merupakan ibadah lisan harian yang mampu menumbuhkan rasa cinta sejati di antara kaum Mu’minin. Mengucapkan salam berstatus sunnah muakkadah, sedangkan menjawabnya adalah kewajiban.

Alloh berfirman:

﴿وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang sepadan). Sesungguhnya Alloh memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’: 86)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ»

“Kalian tidak akan masuk Jannah hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian tentang sesuatu yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54)

Amalan jabat tangan (salaman) yang menyertai ucapan salam tersebut memiliki keutamaan harian berupa pengguguran dosa-dosa kecil di antara keduanya sebelum mereka berpisah. Dari Al-Baro bin ‘Azib (72 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ، فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا»

“Tidaklah ada dua orang Muslim yang saling bertemu lalu keduanya bersalaman, melainkan diampuni dosa-dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HSR. Abu Dawud no. 5212)

Menampakkan wajah yang berseri-seri ketika menyapa dan mengucapkan salam kepada saudaramu di pagi hari adalah bagian dari shodaqoh harian yang memberatkan timbangan amal kebaikan.

7.3 Mendoakan Orang yang Bersin

Ketika seorang Muslim bersin dalam aktivitas kesehariannya, dia diperintahkan untuk memuji Alloh karena bersin mengeluarkan udara kotor dari tubuh. Bagi Muslim lain yang mendengarnya, wajib melakukan tasymit, yaitu mendoakannya dengan kalimat rohmah. Ini adalah salah satu dari hak harian sesama Muslim.

Alloh berfirman mengenai perintah tolong-menolong dalam kebaikan:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda: “Sesungguhnya Alloh menyukai bersin dan membenci menguap. Maka apabila salah seorang dari kalian bersin dan dia memuji Alloh (mengucapkan Alhamdulillah), maka wajib bagi setiap Muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan:

«يَرْحَمُكَ اللَّهُ»

“Semoga Alloh memberikan rohmat kepadamu.” Adapun orang yang bersin, maka dia menjawab kembali doa saudaranya tersebut dengan mengucapkan:

«يَهْدِيكُمُ اللَّهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ»

“Semoga Alloh memberikan petunjuk kepadamu dan memperbaiki keadaanmu.” (HR. Al-Bukhori no. 6224)

Kewajiban mendoakan ini gugur apabila orang yang bersin tersebut tidak memuji Alloh . Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ada dua orang lelaki bersin di dekat Nabi , lalu beliau mendoakan (tasymit) bagi salah satunya dan tidak mendoakan bagi yang lainnya. Maka orang yang tidak didoakan itu bertanya: ‘Wahai Rosululloh, Anda mendoakan orang ini namun tidak mendoakanku?’ Beliau bersabda:

«إِنَّ هَذَا حَمِدَ اللَّهَ، وَلَمْ تَحْمَدِ اللَّهَ»

“Sesungguhnya orang ini memuji Alloh, sedangkan kamu tidak memuji Alloh.” (HR. Al-Bukhori no. 6225 dan Muslim no. 2991)

Amalan mendoakan orang bersin ini mendidik jiwa seorang Mu’min agar senantiasa mencintai kebaikan bagi saudaranya, dan hal itu merupakan bagian dari syiar persaudaraan Islam yang tegak dalam harian kita.

7.4 Mengunjungi Orang Sakit dan Membantu Kesulitan

Di antara dinamika kehidupan harian adalah adanya kerabat, shohabat, atau tetangga yang jatuh sakit atau tertimpa kesusahan ekonomi. Mengunjungi orang yang sakit (iyadatul maridh) serta meluangkan waktu atau harta untuk membantu meringankan kesulitan sesama Muslim adalah ibadah sosial yang mendatangkan doa dari puluhan ribu Malaikat.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى

“Sesungguhnya Alloh menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat.” (QS. An-Nahl: 90)

Orang yang melangkah untuk menjenguk saudaranya yang sakit akan berjalan di dalam kebun Jannah yang penuh dengan buah-buahan yang siap dipetik. Dari Tsauban (54 H) rodhiyallahu ‘anhu, maula Rosululloh, dari Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ عَادَ مَرِيضًا، لَمْ يَزَلْ فِي خُرْفَةِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَرْجِعَ»

“Siapa yang mengunjungi orang sakit, maka dia senantiasa berada di dalam kebun Jannah yang penuh buah-buahan sampai dia pulang.” (HR. Muslim no. 2568)

Meringankan beban harian sesama Muslim juga menjadi sebab utama Alloh akan meringankan kesusahannya kelak di hari Qiyamah yang penuh kedahsyatan. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ»

“Siapa yang meringankan dari seorang Mu’min satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Alloh akan meringankan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari Qiyamah. Dan siapa yang memberi kemudahan bagi orang yang kesulitan, niscaya Alloh akan memberi kemudahan baginya di dunia dan Akhiroh.” (HR. Muslim no. 2699)

Sungguh, menghabiskan waktu beberapa jam dalam sehari untuk berjalan membantu kebutuhan seorang janda atau anak yatim, adalah lebih aku sukai daripada beri’tikaf di Masjidku ini selama sebulan penuh.

 

Bab 8: Ibadah Seputar Makan, Minum, dan Berpakaian

8.1 Adab Makan dan Minum

Aktivitas makan dan minum merupakan kebutuhan harian setiap manusia. Namun, dalam syariat Islam, kegiatan ini dapat bernilai ibadah yang berpahala apabila seorang Muslim mengawalinya dengan niat yang sholih untuk menguatkan fisik dalam beribadah, serta mematuhi adab-adab yang telah dituntunkan oleh Rosululloh , seperti membaca basmalah dan menggunakan tangan kanan.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh: 172)

Setiap Muslim wajib menjaga agar syaithon tidak ikut serta dalam makanan harian mereka dengan cara menyebut nama Alloh sebelum menyuap makanan. Dari Umar bin Abi Salamah (83 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Dahulu aku adalah seorang anak kecil yang berada di bawah pengasuhan Rosululloh , dan tanganku biasa bergerak ke sana kemari di dalam nampan makanan. Maka Rosululloh bersabda kepadaku:

«يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

“Wahai anak kecil, sebutlah nama Alloh, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu.” (HR. Al-Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Larangan makan dan minum dengan tangan kanan berlaku mutlak karena tangan kiri adalah sarana makan bagi golongan syaithon. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh bersabda:

«إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ؛ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ، وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ»

“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka seharusnya dia makan dengan tangan kanan-Nya. Dan apabila dia minum, maka seharusnya dia minum dengan tangan kanan-Nya. Karena sesungguhnya syaithon itu makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim no. 2020)

Siapa yang memperhatikan kesucian makanannya dari perkara harom, lalu dia makan dengan mengikuti adab-adab Nabi-Nya, maka setiap suapan yang masuk ke dalam perutnya akan membuahkan cahaya dan kekuatan untuk taat kepada Robb-nya sepanjang hari.

8.2 Bersyukur Setelah Ni’mat Kenyang Serta Larangan Mencela Makanan

Di antara kesempurnaan adab harian seorang Muslim adalah menutup aktivitas makan dan minum dengan memuji Alloh sebagai bentuk syukur atas ni’mat kenyang yang diberikan secara gratis. Selain itu, bagian dari menjaga perasaan orang yang memasak serta bentuk penghormatan terhadap rizqi adalah tidak mencela makanan yang dihidangkan, sekecil apa pun kekurangannya.

Alloh berfirman:

﴿فَكُلُوا مِمَّا رَزَقكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rizqi yang Alloh telah berikan kepadamu; dan syukurilah ni’mat Alloh, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 114)

Alloh sangat ridho kepada hamba-Nya yang terbiasa memuji-Nya setelah selesai menikmati hidangan harian. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا، أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»

“Sesungguhnya Alloh benar-benar ridho kepada seorang hamba yang memakan satu makanan lalu dia memuji-Nya (mengucapkan Alhamdulillah) atas makanan tersebut, atau dia meminum satu minuman lalu dia memuji-Nya atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)

Adapun sikap Rosululloh terhadap makanan yang tidak beliau sukai adalah mendiamkannya tanpa mengeluarkan kata-kata celaan. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

«مَا عَابَ النَّبِيُّ ﷺ طَعَامًا قَطُّ، إِنِ اشْتَهَاهُ أَكَلَهُ، وَإِنْ كَرِهَهُ تَرَكَهُ»

“Nabi tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau menyukainya, beliau memakannya. Dan jika beliau tidak menyukainya, beliau meninggalkannya.” (HR. Al-Bukhori no. 5409 dan Muslim no. 2064)

Mengecap makanan dengan lisan lalu mencelanya karena kurang asin atau kurang matang termasuk tanda kurangnya rasa syukur harian seorang hamba atas rizqi Robb-nya.

8.3 Adab Berpakaian dan Berhias Sesuai Syariat

Berpakaian dan berhias merupakan rutinitas harian yang dilakukan setiap manusia setelah bangun tidur atau hendak keluar rumah. Ibadah harian dalam berpakaian ini terwujud ketika seorang Muslim mendahului anggota tubuh bagian kanan saat memakai baju, membaca doa, serta memastikan pakaiannya menutup aurot secara sempurna tanpa adanya unsur kesombongan (isbal bagi lelaki).

Alloh berfirman:

﴿يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكُرُونَ

“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup aurotmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Alloh, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’rof: 26)

Disunnahkan membaca doa saat mengenakan pakaian baru atau pakaian harian agar pakaian tersebut mendatangkan barokah. Dari Abu Sa’id al-Khudri (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh apabila mengenakan pakaian baru, beliau menyebutkan namanya, baik itu surban, baju, atau selendang, kemudian beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيهِ، أَسْأَلُكَ خَيْرَهُ وَخَيْرَ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ»

“Ya Alloh, bagi-Mu segala pujian, Engkau yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku. Aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang ia dibuat untuknya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan dari apa yang ia dibuat untuknya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 1767 dan Abu Dawud no. 4020)

Bagi para lelaki, batasan berpakaian harian adalah tidak menjulurkan kain celana atau jubahnya melebihi mata kaki karena hal itu diancam dengan adzab Naar. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Nabi , beliau bersabda:

«مَا أَسْفَلَ مِنَ الكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِي النَّارِ»

“Kain yang berada di bawah kedua mata kaki, maka tempatnya adalah di dalam Naar.” (HR. Al-Bukhori no. 5787)

Menjaga niat saat berpakaian agar tidak berniat pamer atau sombong di hadapan manusia, serta mendahulukan tangan kanan saat memakai dan tangan kiri saat melepas, merupakan amalan harian yang ringan namun pahalanya melimpah di sisi Alloh.

 

Bab 9: Ibadah Penutup Hari Sebelum Tidur

9.1 Mengevaluasi Diri Serta Memaafkan Kesalahan Manusia

Menjelang akhir hari ketika malam semakin larut, seorang hamba bersiap untuk menutup lembaran aktivitasnya. Sebelum memejamkan mata, di antara ibadah hati yang sangat utama adalah melakukan muhasabah (mengevaluasi diri) atas segala dosa dan amalan yang telah diperbuat sepanjang hari, serta membersihkan dada dari sifat hasad dan dendam dengan memaafkan seluruh kesalahan manusia.

Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhiroh); dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Memaafkan manusia sebelum tidur malam merupakan sebab utama seorang hamba meraih kecintaan Alloh dan kelapangan dada yang hakiki. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dari Rosululloh , beliau bersabda:

«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ»

“Shodaqoh itu tidak akan mengurangi harta. Dan tidaklah Alloh menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaafnya melainkan kemuliaan. Serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Alloh melainkan Alloh akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588)

Sifat ikhlas dan bersihnya dada dari dendam harian kepada sesama Muslim bahkan mampu mengantarkan seorang hamba menjadi penghuni Jannah. Dari Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam sebuah Hadits yang panjang mengenai seorang Shohabat Anshor yang disebut Nabi sebagai penghuni Jannah sebanyak 3 hari berturut-turut karena amalan hariannya, Shohabat tersebut berkata kepada Abdullah bin ‘Amr (65 H) rodhiyallahu ‘anhuma:

«مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ أَعْطَاهُ اللهُ إِيَّاهُ»

“Amalanku tidak lain hanyalah apa yang telah engkau lihat, kecuali saja aku tidak mendapati di dalam hatiku rasa jengkel (dendam) kepada seorang pun dari kaum Muslimin, dan aku tidak pernah hasad kepada seorang pun atas kebaikan yang Alloh berikan kepadanya.” (HR. Ahmad no. 12697, shohih sesuai syarat Syaikhon)

Jiwa yang mulia adalah jiwa yang ketika malam tiba, ia merebahkan badannya di tempat tidur sedangkan hatinya telah ridho kepada Robb-nya dan telah memaafkan seluruh makhluk yang pernah mendzoliminya.

9.2 Berwudhu Sebelum Merebahkan Badan

Tidur merupakan kematian kecil di mana ruh manusia berada di genggaman Alloh . Oleh karena itu, di antara sunnah harian yang sangat ditekankan sebelum seseorang naik ke tempat tidurnya adalah mensucikan diri dengan berwudhu secara sempurna, agar jasadnya bermalam dalam keadaan suci dan dijaga oleh Malaikat.

Alloh berfirman:

﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Alloh memegang jiwa (ruh) ketika matinya dan (memegang) jiwa (ruh) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Alloh bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Az-Zumar: 42)

Wudhu sebelum tidur merupakan perintah langsung dari Nabi agar seorang Mu’min mengakhiri harinya dengan kesucian. Dari Al-Baro bin ‘Azib (72 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rosululloh bersabda:

«إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ، فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ»

“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk Sholat, kemudian berbaringlah di atas sisi badanmu yang sebelah kanan.” (HR. Al-Bukhori no. 247 dan Muslim no. 2710)

Bagi seorang hamba yang tidur dalam keadaan suci (berwudhu), ada Malaikat yang setia mendampinginya di dalam pakaiannya dan memohonkan ampunan untuknya setiap kali dia bergerak. Dari Abdullah bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rosululloh bersabda:

«مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا»

“Siapa yang bermalam dalam keadaan suci, maka Malaikat akan bermalam di dalam pakaiannya. Tidaklah dia terbangun kapan pun di waktu malam melainkan Malaikat itu akan berdoa: ‘Ya Alloh, ampunilah hamba-Mu fulan, karena sesungguhnya dia bermalam dalam keadaan suci.’” (HSR. Ibnu Hibban no. 1051)

Menjaga wudhu sebelum tidur adalah di antara syiar para ahli ibadah, karena mereka tidak tahu apakah ruh mereka akan dikembalikan lagi keesokan harinya ataukah dicabut dalam kematian saat tidur.

9.3 Membaca Ayat Al-Qur’an dan Doa Sebelum Tidur

Setelah berwudhu dan bersiap di atas tempat tidur, seorang Muslim disyariatkan untuk membentengi dirinya dari gangguan syaithon sepanjang malam dengan membaca beberapa ayat Al-Qur’an yang ma’tsur, seperti Ayat Kursi, dua ayat terakhir Surat Al-Baqoroh, serta melakukan tiupan mu’awwidzatain (Surat Al-Ikhlash, Al-Falaq, An-Nas) ke telapak tangan lalu diusapkan ke seluruh tubuh, kemudian ditutup dengan doa tidur.

Alloh berfirman mengenai luasnya kekuasaan-Nya dalam Ayat Kursi:

﴿اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Alloh, tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Alloh tanpa izin-Nya. Alloh mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Alloh melainkan apa yang dikehendaki-Nya (yakni perkara ghoib hanya lewat wahyu). Kursi Alloh meliputi langit dan bumi. Dan Alloh tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Alloh Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Baqoroh: 255)

Membaca Ayat Kursi sebelum tidur akan mendatangkan penjaga dari Alloh sehingga syaithon tidak akan mampu mendekat hingga pagi hari. Dari Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu, dalam Hadits yang panjang tentang penjagaan zakat, di mana syaithon berkata kepadanya: “Jika kamu hendak pergi ke tempat tidurmu, maka bacalah Ayat Kursi... niscaya senantiasa ada penjaga dari Alloh bersamamu dan syaithon tidak akan mendekatimu sampai pagi.” Maka Nabi bersabda:

«صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ»

“Dia telah berkata benar kepadamu padahal dia adalah seorang pembohong besar.” (HR. Al-Bukhori no. 2311)

Tuntunan Nabi dalam membaca tiga surat pendek sebelum memejamkan mata dilakukan dengan meniupkannya pada kedua telapak tangan. Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha:

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الفَلَقِ وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ»

“Nabi apabila beranjak ke tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, kemudian meniup pada keduanya lalu membaca: Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Kemudian beliau mengusapkan dengan kedua tangannya tersebut ke anggota tubuh yang dapat dijangkau, dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan hal itu sebanyak 3 kali.” (HR. Al-Bukhori no. 5017)

Siapa yang lisan dan hatinya ditutup dengan dzikir serta ayat Al-Qur’an sebelum matanya terpejam, maka tidurnya dihitung sebagai tasbih, dan ruhnya akan bersujud di bawah ‘Arsy. Demikian dalam sebagian ucapan Salaf.

Baca selengkapnya di buku Dzikir Bermalam dan Hendak Tidur.

9.4 Posisi Tidur yang Sesuai Tuntunan Nabi

Ibadah harian yang paling akhir ditutup dengan mempraktikkan posisi tidur fisik yang sesuai dengan sunnah Nabi . Posisi yang dituntunkan adalah berbaring di atas sisi badan sebelah kanan dengan meletakkan telapak tangan kanan di bawah pipi kanan, serta menjauhi posisi tidur yang dimurkai Alloh yaitu tidur tengkurap.

Alloh berfirman:

﴿لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rohmat) Alloh dan (kedatangan) hari Qiyamah dan dia banyak menyebut Alloh.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Mendahulukan lambung kanan saat berbaring merupakan sunnah yang menjaga kesehatan fisik sekaligus mengamalkan arahan Nabi . Dari Hudzaifah bin al-Yaman (36 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

كَانَ النَّبِيُّ إِذَا أَخَذَ مَضْجَعَهُ مِنَ اللَّيْلِ، وَضَعَ يَدَهُ تَحْتَ خَدِّهِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا»

“Biasanya Nabi apabila beranjak ke tempat tidurnya pada malam hari, beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian beliau mengucapkan: ‘Ya Alloh, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup.’” (HR. Al-Bukhori no. 6314)

Adapun tidur dengan posisi tengkurap (terbalik di atas perut) adalah posisi yang dilarang keras karena menyerupai cara tidurnya penghuni Naar. Dari Takhfah bin Qois al-Ghifari (sekitar 40 H) rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: Dahulu aku tidur tengkurap di dalam Masjid karena sakit perut, tiba-tiba ada seorang pria yang menggerakkan kakiku lalu bersabda:

«إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ»

“Sesungguhnya ini adalah posisi tidur yang dimurkai oleh Alloh.” Ketika aku melihatnya, ternyata beliau adalah Rosululloh . (HSR. Abu Dawud no. 5040)

 

Penutup

Buku yang ringkas ini telah menguraikan bagaimana seorang Mu’min mampu mengubah setiap detik dari 24 jam dalam kesehariannya menjadi ladang pahala yang terus mengalir. Sejak mata pertama kali terjaga di keheningan malam hingga tubuh kembali merebah di tempat tidur, syariat Islam yang mulia tidak pernah meninggalkan manusia tanpa tuntunan. Seluruh aktivitas, baik yang bersifat ibadah mahdhoh yang murni maupun aktivitas duniawi yang bersifat ghoir mahdhoh, dapat bernilai ibadah yang agung di sisi Alloh hanya dengan modal niat yang sholih serta mutaba’ah (mengikuti tuntunan) Sunnah Rosululloh .

Alloh berfirman:

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya Sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)

Pondasi utama dalam menghidupkan hari-hari di bawah naungan ibadah adalah konsistensi (istiqomah) dalam mengamalkan dalil-dalil shohih yang telah diwariskan oleh Nabi , meskipun amalan tersebut tampak ringan dan sedikit di mata manusia. Amal harian yang berkesinambungan jauh lebih dicintai oleh Alloh daripada amal besar yang dilakukan sesekali lalu ditinggalkan.

Dari Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, bahwa Rosululloh bersabda:

«عَلَيْكُمْ مِنَ الْأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا، وَإِنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ، وَإِنْ قَلَّ»

“Bebanilah diri kalian dengan amalan-amalan yang kalian sanggupi, karena sesungguhnya Alloh tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan. Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah yang paling konsisten (terus-menerus) meskipun sedikit.” (HR. Muslim no. 782)

Maka, sudah sepatutnya bagi setiap Muslim yang mengharapkan kebahagiaan di Akhiroh untuk tidak menyia-nyiakan modal waktu yang diberikan setiap hari. Hari yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Robb jalaluhu.

Setiap hari yang terbit fajar padanya tanpa ada amalan sholih yang ditabung, maka ia terhitung sebagai hari kerugian.

Semoga Alloh senantiasa memberikan taufiq, hidayah, serta kekuatan lahir dan batin kepada kita semua agar mampu mengisi sisa umur ini dalam ketaatan yang tulus, serta mengakhiri perjalanan hidup kita di dunia ini dalam keadaan husnul khotimah. Amiin ya Robbbal ‘alamiin.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini