[PDF] Dzikir Bermalam dan Hendak Tidur - Edisi 2 - Nor Kandir
Pendahuluan
﷽
Risalah ringkas ini ditulis dari kajian Hisnul Muslim
karya Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qohthoni yang merujuk kepada syarahnya: It-haaful
Muslim, yang disampaikan penulis di Masjid Al-Burhan Generasi Sunnah,
Surabaya, 1444 H, lalu dilengkapi dari literatul lainnya. Tujuan dibukukannya
ini adalah turut berpartisipasi dalam menyebarkan bacaan-bacaan shohih
menjelang tidur. Harapannya, memudahkan pembaca untuk menerapkan sunnah-sunnah
ini.
ولله الحمد والصلاة والسلام
على محمد
Surabaya, 1444 H/2023
[1] Berwudhu
Dianjurkan di malam hari dalam keadaan suci, berdasarkan
beberapa hadits berikut:
è Dari Al-Baro bin Azib, Nabi ﷺ
bersabda kepadanya:
«إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ،
فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ»
“Jika kamu mendatangi pembaringanmu (hendak tidur), berwudhulah
seperti wudhu sholat.” (HR. Al-Bukhori no. 247 dan Muslim no. 2710)
è Dari Ibnu Umar, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ
فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ، فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا»
“Siapa yang bermalam dalam keadaan suci, maka ikut bermalam
bersamanya Malaikat di sisinya. Tidaklah ia terbangun melainkan Malaikat
tersebut mendoakannya: ‘Ya Allah ampuni si fulan karena ia bermalam dalam
keadaan suci.’” (HR. Ibnu Hibban no. 1051 dan shohih)
è Dari Abu Umamah Al-Bahili, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ بَاتَ طَاهِرًا عَلَى
ذِكْرِ اللهِ لَمْ يَتَعَارَّ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ يَسْأَلُ اللهَ فِيهَا شَيْئًا
مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ»
“Siapa yang berdzikir di malam hari dalam keadaan suci, maka
tidaklah ia terbangun di malam hari meminta apapun dari urusan dunia dan
Akhirat melainkan dikabulkan.” (HR. An-Nasai no. 10575 dan shohih)
Hadits ini juga
diriwayatkan beberapa Sohabat: Mu’adz bin Jabal, Amr bin Anbasah, dan lainnya.
Manfaat bermalam dalam keadaan suci:
1.
Persiapan wafat dalam
keadaan suci, dengan harapan husnul khotimah (penutupan hidup yang
baik). Alangkah banyak orang tidur dan tidak bangun lagi, karena ajalnya sudah
tiba, mati tanpa sebab yang nampak.
2.
Memperbesar pahala saat
membaca dzikir.
3.
Lebih semangat mengisi
malam dalam kebaikan.
4.
Agar dimintakan ampun oleh
Malaikat.
5.
Menghidupkan sunnah
nubuwwah yang ditinggalkan manusia di akhir zaman.
6.
Dan lain-lain.
è Dianjurkan bersiwak atau membersihkan gigi dengan
media apapun. Berdzikir dan tilawah, termasuk waktu yang ditekankan untuk
membersihkan gigi, karena bacaan dzikirnya akan melewati mulutnya yang bersih.
Dari Abu Umamah, Nabi ﷺ
bersabda:
«السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ
لِلْفَمِ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ»
“Siwak membersihkan mulut dan menjadikan Allah ridho.” (HR.
Ibnu Majah, An-Nasai, Shohih Targhib no. 209)
[2]
Berdzikir dari Qur’an
1. Al-Ikhlas
Surat Al-Ikhlas disendirikan penulis dari mu’awwidzatain
(Al-Falaq dan An-Nas) karena ia boleh dibaca tanpa keduanya. Hal ini
berdasarkan hadits-hadits yang banyak terkait hal ini, di antaranya:
è Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada seseorang yang
melihat orang lain di malam hari menjelang Subuh mengulang-ngulang surat
Al-Ikhlas tanpa menambah surat lain. Maka di pagi hari, ia bergegas menemui
Nabi ﷺ menyampaikan kabar
tersebut seakan-akan ia menganggap remeh. Nabi ﷺ
menjawab:
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ»
“Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, sungguh ia menyamai
sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhori no. 5013-5014)
Lelaki yang mendengar adalah Abu Said Al-Khudri, dan yang
membaca adalah Abu Qotadah.
Ada beberapa pendapat dari sepertiga Al-Qur’an: (1)
yakni dalam pahala bukan mewakili isi, (2) yakni isinya, karena Al-Quran berisi
tiga bagian: tauhid, hukum, dan kisah, sementara Al-Ikhlas mewakili bagian
tauhid. Pendapat kedua ini lebih nampak, berdasarkan hadits Abu Dzar:
«إِنَّ اللهَ جَزَّأَ الْقُرْآنَ
ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ، فَجَعَلَ قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ جُزْءًا مِنْ أَجْزَاءِ الْقُرْآنِ»
“Sungguh Allah membagi Al-Qur’an menjadi 3 bagian. Lalu
menjadikan Al-Ikhlas salah satu dari 3 bagian tersebut.” (HR. Muslim no.
811)
è Dari Abu Said, Rosulullah ﷺ
bertanya kepada beberapa Sohabatnya:
«أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ
أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ القُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ؟» فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ وَقَالُوا:
أَيُّنَا يُطِيقُ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «اللَّهُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ
ثُلُثُ القُرْآنِ»
“Apakah seorang dari kalian ada yang mampu membaca sepertiga
Al-Quran dalam satu malam?” Hal ini terasa berat bagi mereka dan berkata:
“Siapa dari kami yang mampu melakukannya wahai Rosulullah.” Beliau bersabda:
“Al-Ikhlas adalah sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Al-Bukhori no. 5015)
Hadits ini mirip hadits Abu Dzar dalam Shohih Muslim no. 811.
Dua hadits ini menunjukkan dianjurkannya membaca Al-Ikhlas
di malam hari. Dianjurkan memperbanyak bacaannya, karena tiap 10x dibalas
dengan sebuah istana di Surga.
2. Mu’awwidzatain
Yakni surat Al-Falaq dan An-Nas. Keduanya disebut mu’awwidzatain
(dua perlindungan) karena berisi perlindungan dari gangguan makhluk yang jahat.
è Nabi ﷺ
mengajari Uqbah bin Amir termasuk dua ayat terbaik yang dibaca manusia yaitu
Al-Falaq dan An-Nas lalu bersabda:
«كَيْفَ رَأَيْتَ يَا عُقْبُ؟
اقْرَأْ بِهِمَا كُلَّمَا نِمْتَ وَكُلَّمَا قُمْتَ»
“Wahai Uqbah, bacalah keduanya setiap kali kamu hendak
tidur dan bangun.” (HR. Ahmad no. 17296 dan shohih)
Jika keduanya dibaca bersama Al-Ikhlas maka lebih utama.
Tiga surat ini biasa disebut mu’awwidzaat.
Dari Aisyah, bahwa apabila Nabi ﷺ
hendak tidur setiap malam, membaca Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas lalu meniupkan
di dua telapak tangannya, lalu diusapkan ke badan yang bisa dijangkau, dimulai
dari kepala dan wajah lalu badan yang mudah dijangkau. Beliau melakukannya
sebanyak tiga kali.” (HR. Al-Bukhori no. 5017)
3. Al-Kafirun
Nabi ﷺ
bersabda kepada Naufal:
«اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا
الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ، عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ»
“Bacalah surat Al-Kafirun lalu tidurlah setelah selesai
membacanya, karena ia membebaskan dari kesyirikan.” (HR. Abu Dawud no.
5055 dan shohih)
4. Ayat Kursi
Dari Abu Huroiroh, ia mengisahkan setan yang mengabarkan
kepadanya tentang keutamaan ayat Kursi dan dibenarkan Nabi ﷺ:
«إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ
فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ
شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ»
“Jika kamu hendak tidur, bacalah ayat Kursi, karena
Malaikat penjaga dari Allah akan senantiasa bersamamu dan setan tidak akan
mendekatimu sampai pagi.” (HR. Al-Bukhori no. 5010)
5. Dua Akhir Al-Baqoroh
Dari Abu Mas’ud, Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ
مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ»
“Siapa yang membaca dua ayat akhir Al-Baqoroh di malam hari
maka dua ayat tersebut akan mencukupinya.” (HR. Al-Bukhori, no. 5008)
Al-Hafizh An-Nawawi (w. 767 H) menjelaskan makna mencukupinya:
“Yakni mencukupinya dari sholat Tahajjud atau melindunginya dari setan atau
melindunginya dari marahabaya. Mungkin juga 3 makna ini tercakup semuanya.”
(Fathul Bari, 9/56)
6. As-Sajdah dan Al-Mulk
Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: “Nabi ﷺ
tidak tidur kecuali membaca As-Sajdah dan Al-Mulk.” (HR. At-Tirmidzi no.
3404 dan shohih)
Ath-Thibi menjelaskan: “Bukanlah kebiasaan Nabi ﷺ adalah tidur tanpa
membaca dua surat ini.” (Tuhfatul Ahwadzi, 9/247)
Dua surat ini boleh dibaca kapanpun dari malam hari. Jika
dibaca menjelang tidur maka lebih utama agar ucapan terakhirnya adalah
Kalamullah.
Dua surat ini hanya membutuhkan sekitar 8 menit. Hanya
membutuhkan sedikit saja dari waktu di malam hari. Maka dua surat ini perlu
dibiasakan untuk dibaca. Awalnya dipaksa, nanti menjadi kebiasaan tanpa berat
lagi.
7. Az-Zumar dan Al-Isro
Dari Aisyah, ia berkata: “Nabi ﷺ
tidak tidur kecuali membaca Az-Zumar dan Bani Isroil (Al-Isro).” (HR.
At-Tirmidzi no. 3405 dan shohih)
Al-Mubarokfuri menjelaskan: “Bukan kebiasaan Nabi ﷺ tidur tanpa membaca
dua surat ini.” (Tuhfatul Ahwadzi, 9/248)
Masing-masing dua surat ini setengah juz. Maka membaca 2
surat ini (sekitar 1 juz) membutuhkan sekitar 30-50 menit. Hendaknya kita
membiasakan membaca keduanya, agar memborong pahala dan ketenangan hidup.
8. Musabbihaat
Yakni membaca surat-surat yang diawali sabbaha
atau yusabbihu, yaitu Al-Hadiid, Al-Hasyr, Ash-Shoff, Al-Jumu’ah,
Ath-Thaghoobun, Al-A’laa.
Dari Irbadh bin Sariyah, ia berkata: Nabi ﷺ
biasa membaca musabbihaat sebelum tidur dan berkata:
«إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ
مِنْ أَلْفِ آيَةٍ»
“Di dalamnya ada sebuah ayat yang lebih utama dari 1.000 ayat.”
Hadits ini diperselisihkan keabsahannya. Banyak ulama
menilainya lemah seperti Al-Arnauth dan Al-Albani dalam beberapa tempat. Akan
tetapi Al-Albani menghasankan sanad At-Tirmidzi. Hadits ini dihasankan juga
oleh Ibnu Hajar, Abu Dawud, At-Tirmidzi.
An-Nasai meriwayatkannya dengan jalur lain yang shohih
tetapi mursal (terputus tanpa menyebut Sohabat) dan Mu’awiyah (guru
An-Nasai) berkata: “Sebagian ulama mengartikan musabbihaat dengan
enam surat (seperti di atas).”
Jalan tengah: karena hadits ini diperselisihkan dan surat
yang dibaca pun panjang, kita mengakhirkannya dan dibaca setelah membaca dzikir
dari hadits-hadits lainnya, jika memang memungkinkan dan waktu longgar.
[3]
Berdzikir dari Hadits
Ada 10 dzikir shohih dari hadits. Urutan membacanya bebas.
Penulis mengurutkannya berdasarkan hadits paling shohih, yaitu hadits dari
Shohihain, lalu Al-Bukhori, lalu Muslim, lalu selainnya, dengan harapan lebih
mendahulukan dzikir yang shohih jika tidak memungkinkan membaca semuanya.
1. Membaca “bismika robbii”
«بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي،
وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا
بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ»
Bismika robbi wadho’tu jambii, wabika arfa’uh, in amsakta
nafsii farhamhaa, wa in arsaltahaa fahfazh-haa bimaa tahfazhu
bihii ‘ibaadakas shoolihiin.
“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku meletakkan lambungku
(badanku). Hanya dengan pertolongan-Mu, aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan
jiwaku (dengan mewafatkannya) maka sayangilah ia (dengan diampuni dan diterima
amalnya). Jika Engkau melepasnya (dengan membangunkannya) maka jagalah ia
seperti Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang sholih.” (HR. Al-Bukhori no. 6320
dan Muslim no. 2714)
Kelengkapan Hadits
Dari Abu Huroiroh, Rosulullah ﷺ
bersabda:
«إِذَا أَوَى أَحَدُكُمْ
إِلَى فِرَاشِهِ فَلْيَنْفُضْ فِرَاشَهُ بِدَاخِلَةِ إِزَارِهِ، فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي
مَا خَلَفَهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَقُولُ...»
“Apabila seorang dari kalian hendak tidur, maka kibaskan
ujung kain bajunya ke tempat tidur, karena ia tidak tahu muncul apa (dari
binatang berbahaya) setelah ia tinggalkan lalu hendanya ia membaca...”[1]
Wafat ada dua: wafat kecil (tidur) dan wafat besar
(meninggal), berdasarkan firman Allah:
﴿اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ
حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا
الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ
لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ﴾
“Allah
mewafatkan jiwa ketika meninggal dan ketika belum meninggal di tidurnya. Dia
menahan jiwa yang ditetapkan mati dan melepas jiwa lain sampai ajal yang sudah
ditentukan. Pada demikian itu ada pelajaran bagi orang yang merenungkannya.” (QS.
Az-Zumar: 42)
2. Membaca “aslamtu”
«اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ
نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ
ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَا وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ
إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ»
Alloohumma aslamtu nafsii ilaiik, wa fawwadh-tu amrii
ilaiik, wa wajjahtu wajhii ilaiik, wa alja`tu zhohrii ilaiik, roghbatan wa
rohbatan ilaiik, laa maljaa walaa manjaa minka illa ilaiik: aamantu
bikitaabikal ladzii anzalta, wabi nabiyyikal ladzii arsalta.
“Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku serahkan
urusanku kepada-Mu,[2] aku
hadapkan wajahku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu,[3]
dengan penuh harap (ampunan dan karunia-Mu) dan penuh cemas (dari hukuman dan
kemurkaan-Mu). Tidak ada tempat berlindung dari siksa-Mu kecuali kembali
kepada-Mu. Aku beriman kepada Kitab yang Engkau turunkan dan kepada Nabi yang
Engkau utus.”
Kelengkapan Hadits
Dari Al-Baro bin Azib, ia berkata: Rosulullah ﷺ bersabda: “Jika kamu
hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu sholat, lalu tidurlah miring ke sebelah
kananmu lalu bacalah (doa di atas). Jika kamu meninggal pada malam tersebut,
maka kamu meninggal di atas Fithroh (Tauhid), dan jika kamu memasuki pagi
(masih hidup) maka kamu memasuki pagi dalam keadaan baik (berpahala). Jadikan
ia termasuk kalimat terakhirmu (sebelum tidur).” (HR. Al-Bukhori no. 6313,
247 dan Muslim no. 2710)
3. Membaca Tasbih, Tahmid, Takbir
Yaitu membaca (سُبْحَانَ
اللهِ) 33x lalu (اَلْحَمْدُ
للهِ) 33x lalu (اَللهُ
أَكْبَرُ) 34x. Total 100x.
Kelengkapan Hadits
Dari Ali, bahwa Fathimah mendatangi Nabi ﷺ
mengadukan tangannya yang lecet bekas menumbuk gandum dan telah sampai kabar
kepadanya bahwa Nabi ﷺ
kedatangan tawanan perang (budak). Akan tetapi Fathimah tidak bertemu beliau
dan menyampaikan kedatangannya ke Aisyah. Ketika Nabi ﷺ
pulang, Aisyah menyampaikan keperluan Fathimah. Lalu Nabi ﷺ
mendatangi kami saat kami hendak tidur di tempat tidur. Ketika kami hendak berdiri
untuk menyambutnya, beliau berkata: “Tetaplah di tempat.” Beliau duduk di
antara kami berdua hingga aku merasakan dingin kakinya yang menyentuh kulitku,
lalu beliau bersabda:
«أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى
خَيْرٍ مِمَّا سَأَلْتُمَا؟ إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا فَسَبِّحَا ثَلاَثًا
وَثَلاَثِينَ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ،
فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ»
“Maukah kalian berdua kuberitahu sesuatu yang lebih baik
dari apa yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua hendak tidur, ucapkan
tasbih 33x, tahmid 33x, dan takbir 34x. Itu lebih baik dari pelayan.” Ali
berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak mendengarnya.” Ada yang
bertanya: “Tidak pula di malam perang Shiffin?” Jawabnya: “Tidak pula di malam
Shiffin.” (HR. Al-Bukhori no. 5361-5362 dan Muslim no. 2727)
4. Membaca “bismika amuut”
«بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ
وَأَحْيَا»
Bismikalloohumma amuutu wa ahyaa.
“Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup.”
Kelengkapan Hadits
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, ia berkata: “Apabila hendak
tidur, Nabi ﷺ membaca (doa di
atas).” (HR. Al-Bukhori no. 6324)
Dalam riwayat lain dari Al-Baro dan juga dari Hudzaifah,
lafazh doanya:
1-«بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا»
2-«اَللَّهُمَّ بِاسْمِكَ أَمُوتُ وَأَحْيَا»
3-«اَللَّهُمَّ بِاسْمِكَ
أَحْيَا وَأَمُوتُ»
4-«اَللَّهُمَّ بِاسْمِكَ
أَحْيَا، وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ»
Semunya shohih dalam Shohihain atau salah satu dari
keduanya. Silahkan dipilih lafazh yang paling mudah diingat.
5. Membaca “tawaffaahaa”
«اَللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي
وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا، إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا،
وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ»
Alloohumma kholaqta nafsii, wa anta tawaffaahaa, laka
mamaatuhaa wamahyaahaa, in ahyaitahaa fahfazh-haa, wa-in
amattahaa faghfir lahaa, Alloohumma innii as-alukal ‘aafiyah.
“Ya Allah, Engkau menciptakan jiwaku dan Engkau pula yang
akan mewafatkannya. Mematikannya dan menghidupkannya hanyalah hak-Mu. Jika
Engkau menghidupkannya maka jagalah ia, dan jika Engkau mewafatkannya maka ampunilah ia. Ya Allah, aku memohon kepadamu
afiyat.”
Kelengkapan Hadits
Dari Abdullah bin Al-Harits bahwa ia mendengar Ibnu Umar
menyuruh seseorang apabila hendak tidur untuk membaca dzikir di atas. Lalu
lelaki itu bertanya: “Apakah kamu mendengar dzikir ini dari Umar?” Jawabnya:
“Dari orang yang lebih baik dari Umar, yakni Rosulullah ﷺ.”
(HR. Muslim no. 2712)
Faidah
1. Lafazh dzikir ini mirip dengan dzikir yang diriwayatkan
Abu Huroiroh di atas. Dugaan kuat, Nabi ﷺ
mengajari dua Sohabat ini dengan lafazh berbeda, bukan karena dua Sohabat ini
keliru dalam menyampaikannya kepada Tabiin. Ragam bacaan ini bertujuan untuk
memperbanyak pahala dan keutamaan.
2. Dzikir Ibnu Umar ini ada tambahan meminta afiyat. Meminta
afiyat adalah meminta dihindarkan dari apa yang membahayakan, baik pada urusan
duniawi (badan, keluarga, harta, dll) maupun agama (terhindar dari syubhat dan
syahwat). Afiat dalam urusan duniawi dan agama merupakan nikmat terbesar atas
hamba. Hal ini ditunjukkan dalam beberapa hadits berikut:
«اِسْأَلُوا اللَّهَ العَفْوَ
وَالعَافِيَةَ، فَإِنَّ أَحَدًا لَمْ يُعْطَ بَعْدَ اليَقِينِ خَيْرًا مِنَ العَافِيَةِ»
“Mintalah kepada Allah ampunan dan afiyat, karena seseorang
tidak diberi setelah keyakinan (iman) yang lebih baik melebihi afiyat.” (HR.
At-Tirmidzi no. 3558 dan shohih)
«لَا بَأْسَ بِالْغِنَى
لِمَنِ اتَّقَى، وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى»
“Tidak mengapa kaya asal bertaqwa. Sehat bagi orang bertaqwa
lebih baik daripada kaya (berkecukupan).” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan
shohih)
«وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا
فِي دِينِنَا»
“Janganlah Engkau jadikan musibah yang menimpa kami adalah dalam
agama kami.” (HR. At-Tirmdzi no. 3502 dan shohih)
6. Membaca “kafaanaa”
«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي
أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا
مُؤْوِيَ»
Alhamdulillaahilladzii ath’amanaa wa saqoonaa, wa
kafaanaa wa aawaanaa. Fakam mimman laa kaafiya lahuu waa mu`wii.
“Segala puji milik Allah yang telah memberiku makan, minum,
kecukupan, dan tempat tinggal. Alangkah banyak orang yang tidak memiliki
kecukupan dan tempat tinggal.”
Kelengkapan Hadits
Dari Anas, bahwa apabila Rosulullah ﷺ
beranjak ke tempat tidurnya (yakni hendak tidur) membaca (doa di atas). (HR.
Muslim no. 2715)
Dalam riwayat Ibnu Umar ada tambahan:
«... وَالَّذِي مَنَّ عَلَيَّ
فَأَفْضَلَ، وَالَّذِي أَعْطَانِي فَأَجْزَلَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ،
اَللَّهُمَّ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ وَإِلَهَ كُلِّ شَيْءٍ: أَعُوذُ بِكَ مِنَ
النَّارِ»
“... Dzat yang memberiku karunia dan menambahnya, Yang
memberiku pemberian dan menambahnya, segala puji hanya milik Allah. Ya Allah Rob
segala sesuatu dan yang memilikinya, Yang disembah segala sesuatu: aku
berlindung kepada-Mu dari Neraka.” (HR. Abu Dawud no. 5058 dan shohih)
7. Membaca “faaliqol habbi wan nawaa”
«اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ
وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ
الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ: أَعُوذُ
بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ
فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ
فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ: اقْضِ عَنَّا
الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ»
Alloohumma Robbas samaawaati wa Robbal ardhi wa Robbal
arsyil ‘azhiim, Robbanaa wa Robba kulli syaii`, Faaliqol habbi wan
nawaa, wa Munzilat Taurooti wal Injiili wal Furqoon, a-‘uudzu bika min kulli
syai-in anta aakhidzum binaashiyatih. Alloohumma Antal Awwalu falaisa qoblaka
syaii`, wa Antal Aakhiru falaisa ba’daka syaii`, wa Antazh Zhoohiru falaisa
fauqoka syaii`, wa Antal Baathinu falaisa duunaka syaii`, iqdhi ‘annad daina wa
aghninaa minal faqr.
“Ya Allah, Rob (Pencipta, Pemilik, Pengatur) langit, Rob bumi,
Rob Arsy yang besar, wahai Rob kami dan Rob segala sesuatu, Penumbuh biji dan benih[4],
Yang menurunkan Taurot, Injil, dan Al-Furqon (Al-Qur’an): aku berlindung
kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu yang ubun-ubunnya di genggaman-Mu.
Ya Allah, Engkau adalah Al-Awwal, yang tidak ada apapun
sebelum-Mu. Engkau adalah Al-Akhiir, yang tidak ada apapun setelah-Mu. Engkau
adalah Az-Zhoohir (Yang Maha Tinggi), yang tidak ada yang lebih tinggi dari-Mu.
Engkau adalah Al-Baathin (Yang Maha Dekat), yang tidak ada yang lebih dekat
dari-Mu. Maka, lunasilah hutangku dan cukupilah aku dari kekurangan.”
Kelengkapan Hadits
Dari Suhail, ia berkata: “Abu Sholih (bapaknya) menyuruh
kami (anggota keluarganya) jika hendak tidur untuk tidur miring ke sebelah
kanan dan membaca (doa di atas). Beliau meriwayatkan doa ini dari Abu Huroiroh,
dari Nabi ﷺ.” (HR. Muslim no.
2713)
Dalam lafazh lain dari Abu Huroiroh, ia berkata: “Fathimah
mendatangi Nabi ﷺ dan meminta pelayan
lalu Nabi ﷺ berkata kepadanya:
‘Bacalah (doa di atas).’” (HR. Muslim no. 2713)
Allah Rob Semua Makhluk
Rob adalah Pencipta, Pemilik, Pengatur, sebagaimana
penjelasan Ibnu Utsaimin. Maka Allah yang menciptakan, memiliki, sekaligus yang
mengatur 7 langit, 7 bumi, dan Arsy. Tiga makhluk besar ini disebut dalam satu
hadits:
Dari Ibnu Abbas, Nabi ﷺ
biasa membaca saat kesusahan:
«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
العَظِيمُ الحَلِيمُ. لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ. لاَ إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الأَرْضِ، وَرَبُّ العَرْشِ الكَرِيمِ»
“Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Besar
dan Lembut. Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Rob Arsy yang besar.
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah Rob langit-langit, Rob bumi, dan
Rob Arsy yang mulia.” (HR. Al-Bukhori no. 6346 dan Muslim no. 2730)
Ulama tafsir dan hadits sepakat bahwa bumi berjumlah tujuh,
sebagaimana langit berjumlah tujuh. Lalu mereka berbeda pendapat: apakah 7 bumi
adalah satu bumi dengan 7 lapis atau memang ada 7 bumi? Al-Quthubi menguatkan 7
bumi, yang antara satu bumi dengan bumi lainnya perjalanan 500 tahun. (Tafsir
Quthubi)
Sementara Arsy adalah makhluk paling besar, yang menjadi
atap bagi Surga dan seluruh makhluk di bawahnya, di atasnya ada Allah Yang Maha
Tinggi. Sebelum menciptakan Arsy, Allah menciptakan Air, sebagaiman firman-Nya:
﴿وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ﴾
“Allah menciptakan langit dan bumi dalam 6 hari, sementara
Arsy-Nya di atas Air.” (QS. Hud: 7)
Dari Imron bin Hushoin berkata: beberapa orang dari Bani
Tamim bertanya kepada Nabi ﷺ
tentang perkara (yakni permulaan alam), maka beliau menjawab:
«كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ
شَيْءٌ غَيْرُهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى المَاءِ، وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ،
وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ»
“Allah ada sebelum segala sesuatu ada. Sementara Arsy-Nya di
atas air. Dia menulis segala sesuatu di Lauhul Mahfuzh. (Lalu) Dia menciptakan
langit dan bumi.” (HR. Al-Bukhori no. 3191)
Sebagian ulama menjelaskan: Allah menciptakan Air lalu Arsy
lalu Pena yang mencatat di Lauhul Mahfzuh, lalu bumi dan langit dalam enam
hari.
Dari Ubadah bin Ash-Shomit, Rosulullah ﷺ
bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ
اللَّهُ الْقَلَمَ، فَقَالَ لَهُ: اكْتُبْ قَالَ: رَبِّ وَمَاذَا أَكْتُبُ؟ قَالَ:
اكْتُبْ مَقَادِيرَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ»
“Yang pertama kali Allah ciptakan adalah Pena lalu Allah
berfirman kepadanya: ‘Tulislah.’ Katanya: ‘Wahai Rob, apa yang aku tulis?’
Allah menjawab: ‘Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari Kiamat.” (HR.
Abu Dawud no. 4700 dan shohih) Yakni: yang pertama kali Allah ciptakan
setelah Air dan Arsy.
Lalu Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari,
dimulai hari Ahad (hari pertama) dan berakhir di hari Jum’at (hari berkumpul
yakni sempurna penciptaan keduanya).
Pada awalnya, Allah menciptakan bumi dalam 2 hari dan
menyempurnakannya dengan gunung dan segala isinya dalam dua hari (total 4 hari),
sebagaimana firman Allah:
﴿قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ
بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ
الْعَالَمِينَ (9) وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ
فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ﴾
“Katakanlah: apakah kamu benar-benar kafir kepada Dzat yang
telah menciptakan bumi dalam dua hari, dan kamu menjadikan tandingan
bagi Rob seluruh alam? Dia menjadikan gunung-gunung di atasnya, menjadikan
berbagai air dan tumbuhan di atasnya (untuk binatang), dan menentukan kadar
makanan (untuk manusia) dalam empat hari. Dua hari ini sama dengan dua
hari sebelumnya (yakni bumi dan isinya, sehingga totalnya 4 hari), sebagai
jawaban bagi yang bertanya.” (QS. Fushilat: 9-10)
Maka Allah menciptakan bumi dalam 2 hari (Ahad dan Senin)
dan melengkapi isinya dalam 2 hari pula (Selasa dan Rabu), sehingga jumlahnya 4
hari. Lalu Allah menciptakan 7 langit dalam 2 hari, sebagaimana firman Allah:
﴿فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا
بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ﴾
“Lalu
Allah menciptakan 7 langit dalam 2 hari. Allah mewahyukan perintah-Nya pada
setiap langit. Kami menghiasi langit dunia dengan penerang (bintang-bintang)
sekaligus sebagai penjaga (berita langit dari setan). Itulah takdir Yang Maha
Perkasa dan Maha Mengetahui.” (QS. Fush-shilat: 12)
Tiga Kitab Utama
Yaitu Taurot yang artinya syariat (ajaran), Injil yang
artinya pokok (karena berisi pokok ajaran para Nabi), dan Al-Furqon (pembeda,
karena Al-Qur’an membedakan antara haq dan batil).
Dua Permohonan dalam Dzikir
Dalam dzikir ini, hamba memohon kepada Allah dua permohonan:
berlindung dari kejahatan semua makhluk-Nya dan berlindung dari hutang dan
kemiskinan.
Masing-masing dua permohonan ini diawali dengan pujian
kepada Allah.
Permohonan pertama: diawali dengan pujian bahwa Allah Rob
segala makhluk dan Yang menurunkan Kalamullah yang bukan makhluk. seolah-olah
hamba mengatakan: karena segala makhluk di Tangan-Mu, aku hanya meminta
pertolongan kepada-Mu dari gangguan makhluk-Mu.
Permohonan kedua: diawali pujian dengan menyebut 4 nama
Allah: Al-Awwal, Al-Akhir, Azh-Zhoohir, Al-Baathin.
Empat Nama Allah
Empat nama Allah ini disebut dalam satu ayat:
﴿هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ
وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Pertama), Yang Akhir (Yang
Maha Terakhir), Azh-Zhoohir (Yang Maha Tinggi), Al-Baathin (Yang Maha Dekat).
Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid: 3)
Ibnul Qoyyim (w. 751 H) berkata: “Empat nama ini berputar
pada pengawasan Allah atas hamba-Nya, yaitu pengawasan waktu dalam Al-Awwal dan
Al-Akhir dan pengawasan tempat dalam Azh-Zhoohir dan Al-Baathin.” (Thoriiqul
Hijrotain, hal 19-27)
Seakan hamba berkata: dengan pengawasan-Mu atas semua
makhluk-Mu, lunasilah hutangku dan cukupilah aku dari kekurangan.
Dua Jenis Hutang
Hutang ada dua: hutang kepada Allah dan hutang kepada
makhluk. Hutang kepada Allah adalah kewajiban yang belum ditunaikan sehingga
menjadi hutang, seperti ditujukan dalam hadits Ibnu Abbas, ia berkata:
Ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ
dan berkata: “Wahai Rosulullah, ibuku meninggal dan memiliki tanggungan puasa
(nadzar) sebulan, apakah aku boleh menunaikannya?” Jawab beliau: “Seandainya
ibumu memiliki hutang, apakah kamu akan melunasinya?” Jawabnya: “Iya.” Beliau
berkata:
«فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ أَنْ
يُقْضَى»
“Hutang kepada Allah lebih layak dilunasi.” (HR. Al-Bukhori
no. 1953 dan Muslim no. 1148)
An-Nawawi (w. 767 H) berkata: “Sabda Nabi ﷺ:
‘Lunasilah hutangku’ memungkinkan mengandung dua makna: hak Allah dan hak
makhluk. Keduanya termasuk jenis hutang.” (Syarah Shohih Muslim, 17/35)
Faidah
Di antara keutamaan dzikir ini adalah menjadikan seseorang
kuat beraktifitas di pagi harinya, seolah-olah ia memiliki pembantu.
8. Membaca “faathiros samaawati”
«اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ
وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ: أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ
وَشِرْكِهِ»
Alloohumma faathiros samaawaati wal ardh, ‘aalimal ghoibi
wasy syahaadah, robba kulli syai-iw wa maliikah, asyhadu al laa ilaaha illa
anta, a-‘uudzu bika min syarri nafsii wa syarrisy syaithooni wa syirkih.
“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui
perkara ghoib dan nyata, Rob (Pencipta, Pemilik, Pengatur) segala sesuatu dan
Yang memilikinya, aku bersaksi tidak ada yang berhak disembah selain Engkau:
aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku dan dari kejahatan setan dan
sekutunya.”
Kelengkapan Hadits
Dari Abu Huroiroh, ia berkata: Abu Bakar Ash-Shiddiq
berkata: “Wahai Rosulullah, ajari aku beberapa kalimat yang akan aku baca di
pagi dan sore hari.” Maka beliau mengajari doa di atas dan berkata:
«قُلْهَا إِذَا أَصْبَحْتَ،
وَإِذَا أَمْسَيْتَ، وَإِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ»
“Ucapkan itu ketika kamu di pagi dan sore hari, serta ketika
kamu hendak tidur.” (HR. Abu Dawud no. 5067 dan shohih)
9. Membaca “qinii”
«اَللَّهُمَّ قِنِي عَذَابَكَ
يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ»
Alloohumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadak.
“Ya Allah, jauhkan aku dari siksa-Mu pada hari Engkau
membangkitkan para hamba-Mu.”
Kelengkapan Hadits
Dari Hafshoh, ia berkata: “Apabila Nabi ﷺ
hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di pipinya lalu membaca (doa di
atas).” (HR. Abu Dawud no. 5045 dan shohih)
Yakni kebiasaan Nabi ﷺ
menjelang tidur adalah berbantalkan tangan. Caranya adalah dengan salah satu
cara yang mudah bagi Anda: berbantalkan telapak tangan, lengan bagian bawah,
atau lengan bagian atas. Allahu a’lam.
10. Membaca “laa syariika lah”
«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ»
Laa ilaaha illa Allah wahdahuu laa syariika lah,
lahul mulku wa lahul hamdu, wahuwa ‘alaa kulli syai-ing qodiir. Laa haulaa
walaa quwwata illa billaah. Subhaanallooh, walhamdulillah, wa laa
ilaaha illa Allah, walloohu akbar.
“Tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Segala
kerajaan dan pujian hanya milik-Nya. Hanya Dia yang kuasa atas segala sesuatu.
Tidak ada daya (untuk menghindari bahaya) dan kekuatan (untuk meraih kebaikan)
kecuali dengan pertolongan Allah. Mahasuci Allah dan segala pujian milik-Nya.
Tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Allah Yang paling besar.”
Kelengkapan Hadits
Dari Abu Huroiroh, Nabi ﷺ
bersabda: “Siapa yang membaca doa ini ketika hendak tidur maka dosa-dosanya
diampuni meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ibnu Hibban no. 5528 dan
Ash-Shohihah no. 3414)
Makna Semua Dosa Diampuni
Yakni semua doa kecil diampuni meskipun sebanyak buih di
lautan. Ungkapan “sebanyak buih di lautan” adalah hiperbola, sebanyak apapun
dosa kecil akan diampuni, jika membaca doa ini dengan hati dan meyakininya.
Adapun dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat, yaitu
menyesali dosa masa lalu, berhenti sekarang, dan bertekad tidak mengulangi di
masa akan datang. Ini tiga rukun taubat. Jika ia terjatuh kembali, maka taubat
sebelumnya adalah sah, dan dosa yang ini butuh taubat lagi.
Adapun jika saat membaca dzikir ini disertai menyesali dosa
masa lalu, maka tentu dzikir ini akan menghapus semua dosanya termasuk dosa
besar.
Kumpulan
Semua Dzikir
Berikut
adalah 10 dzikir dari Hadits untuk dibaca sebelum tidur:
1-
«بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَارْحَمْهَا،
وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ»
2-
«اَللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِي إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ
وَجْهِي إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ
مَلْجَا وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ، آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ،
وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ»
3-
«سُبْحَانَ اللهِ» 33x، «اَلْحَمْدُ للهِ» 33x، «اَللهُ أَكْبَرُ» 34x
4-
«بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا»
5-
«اَللَّهُمَّ خَلَقْتَ نَفْسِي وَأَنْتَ تَوَفَّاهَا، لَكَ مَمَاتُهَا وَمَحْيَاهَا،
إِنْ أَحْيَيْتَهَا فَاحْفَظْهَا، وَإِنْ أَمَتَّهَا فَاغْفِرْ لَهَا، اَللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ»
6-
«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، وَكَفَانَا وَآوَانَا، فَكَمْ
مِمَّنْ لَا كَافِيَ لَهُ وَلَا مُؤْوِيَ»
7-
«اَللَّهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ،
رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ
وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ: أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ
بِنَاصِيَتِهِ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ
الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ،
وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ: اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا
مِنَ الْفَقْرِ»
8-
«فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ
شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ
نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ»
9-
«قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِبَادَكَ»
10-
«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، سُبْحَانَ
اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ»
[4] Miring ke Kanan
Berdasarkan hadits-hadits di atas, dianjurkan miring ke
kanan saat hendak tidur, mirip dengan posisi jenazah saat di kubur. Di antara
manfaatnya:
1.
Menghidupkan sunnah.
2.
Lebih mudah bangun untuk
Tahajud dan sholat Subuh.
3.
Lebih menyehatkan badan
karena sirkulasi darah lancar
4.
Jantung tidak tertekan
karena posisinya di sebelah kiri.
Ada yang berpendapat, miring ke arah sisi kanan ini adalah
di awal hendak tidur, setelah itu tidak mengapa terlentang jika membutuhkannya.
Ini penulis dengar dari Syaikh Walid Saifun Nashr حفظه
الله.
Demikian apa yang mudah dikumpulkan. Semoga Allah menerima.
ولله الحمد والصلاة والسلام على رسول الله
[1] Yakni
dianjurkan membersihkan tempat tidur dengan disapu atau dengan apapun agar
bebas serangga atau apapun yang dikhawatirkan.
[2] Yakni
sebagaimana aku serahkan diriku kepada-Mu dengan mentaati perintah-Mu dan
menjauhi larangan-Mu, maka aku serahkan seluruh urusanku agar Engkau
menyelesaikannya untukku, baik dalam hal duniaku (harta, kesehatan, keluarga)
dan agamaku.
[3] Yakni
sebagaimana aku menghadapkan wajahku kepada-Mu dengan ikhlas dalam
menyembah-Mu, maka tolonglah aku dalam semua urusanku.
[4] Biji (habb):
biji yang bisa dimakan seperti biji gandum dan biji beras. Benih (nawaa):
biji yang tidak dimakan seperti biji kurma dan biji mangga.
