Cari Ebook

[PDF] Pendidikan Anak, Aset Termahal Orang Tua - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya milik Alloh , Robb semesta alam yang telah mengaruniai manusia keturunan sebagai penyejuk mata dan amanah yang agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Alloh semata, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rosul-Nya.

Amma ba’du:

Di tengah derasnya arus fitnah zaman ini, menjaga fithroh anak agar tetap berada di atas jalan yang lurus merupakan tantangan terbesar sekaligus jihad yang mulia bagi setiap bapak dan ibu. Anak bukan sekadar pelipur lara di dunia, melainkan sebuah aset Akhiroh yang sangat mahal harganya, yang mampu menyelamatkan orang tuanya dari siksa api Naar dan mengangkat derajat mereka di Jannah yang penuh ni’mat.

Pendidikan yang berlandaskan syariat Islam adalah satu-satunya perisai yang kokoh untuk membentengi generasi muda dari kehancuran moral dan pemikiran. Oleh karena itu, mengarahkan anak untuk menuntut ilmu di sekolah agama atau memondokkannya ke lembaga pendidikan Islam yang sholih merupakan langkah penyelamatan yang sangat mendasar dan mendesak. Rosululloh memberikan gambaran tentang bagaimana nilai seorang anak yang dibimbing dengan baik akan menjadi sumber pahala yang abadi bagi orang tuanya:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Buku yang berada di hadapan pembaca ini disusun untuk mengurai hakikat, kewajiban, serta perjuangan orang tua dalam melahirkan generasi yang sholih melalui lembaga pendidikan agama. Guna memberikan pemahaman yang menyeluruh, kerangka pembahasan di dalam buku ini dibagi menjadi 5 bagian utama. Bagian pertama memaparkan tentang kedudukan mulia seorang anak dalam pandangan Islam serta besarnya tanggung jawab yang dipikul orang tua. Bagian kedua menguraikan tentang keutamaan agung ilmu syar’i dan pentingnya menempatkan anak di lingkungan pergaulan yang sholih. Bagian ketiga mengupas urgensi memondokkan anak di lembaga pendidikan yang berpegang pada Manhaj Salaf serta menepis segala keraguan orang tua saat melepas buah hatinya. Bagian keempat membahas tentang perjuangan lahiriah dalam mencari nafkah yang halal demi membiayai sekolah agama anak. Bagian kelima ditutup dengan pembahasan mengenai kekuatan kesabaran, sinergi, dan untaian doa orang tua yang mustajab dalam menemani seluruh proses belajar anak hingga meraih keberhasilan hakiki.

Seorang ulama Tabi’in terkemuka, Muhammad bin Sirin (110 H) rohimahulloh, meletakkan sebuah nasihat yang menjadi ruh utama dalam pemilihan tempat pendidikan bagi generasi generasi Muslim. Beliau menegaskan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim, bab no. 5)

Semoga risalah ringkas yang dipenuhi dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits Nabi , serta untaian hikmah para Salafush Sholih ini dapat menjadi pembakar semangat, lentera petunjuk, sekaligus penguat azam bagi para bapak dan ibu untuk berkorban jiwa dan harta demi mengantarkan anak-anak mereka menjadi hamba yang bertaqwa kepada Robbnya.

 

Bab 1: Anak dan Tanggung Jawab Orang Tua

1.1 Anak sebagai Amanah dan Ujian di Dunia

Setiap anak yang lahir ke dunia berada di atas kesucian yang murni. Orang tua memegang kendali penuh dalam mengarahkan, membentuk, dan menjaga kesucian tersebut agar tidak menyimpang dari jalan yang lurus. Rasa cinta yang mendalam terhadap anak sering kali menjadi sebuah ruang pembuktian, apakah cinta tersebut semakin mendekatkan diri kepada Robb atau justru melalaikan dari ketaatan kepada-Nya. Alloh mengingatkan hamba-hamba-Nya melalui firman-Nya:

﴿وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian, dan sesungguhnya di sisi Alloh ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)

Kondisi kesucian asal yang ada pada diri seorang anak merupakan titipan yang suci. Kelalaian dalam membimbing mereka akan merubah arah pandang dan keyakinan hidup anak di kemudian hari. Rosululloh bersabda:

«كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»

“Tidak ada seorang anak pun yang lahir kecuali dilahirkan di atas fithroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nashroni, atau seorang Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1385 dan Muslim no. 2658)

Yakni anak-anakmu adalah ujian, maka waspadalah terhadap mereka atas agamamu. Tidak ada sesuatu yang lebih menyejukkan mata seorang Mu’min daripada melihat istri dan anaknya taat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.

1.2 Anak sebagai Investasi Pahala yang Tidak Terputus Setelah Kematian

Ketika seluruh amal manusia terputus seiring dengan hembusan napas terakhirnya di dunia, Islam memberikan pengecualian yang sangat berharga bagi orang tua. Amal sholih anak yang dididik dengan pemahaman agama yang benar akan terus mengalirkan pahala tanpa henti ke liang kubur orang tuanya. Keuntungan hakiki ini melebihi segala bentuk kekayaan materi di dunia. Rosululloh menegaskan hal tersebut dalam sabdanya:

«إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»

“Jika seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Pangkat dan kedudukan yang tinggi di Jannah kelak dapat diraih oleh orang tua disebabkan oleh permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh anak-anak mereka selama di dunia. Nabi bersabda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»

“Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat bagi seorang hamba yang sholih di Jannah, lalu hamba itu berkata: Wahai Robbku, dari mana aku mendapatkan ini? Maka Alloh berfirman: Karena permohonan ampunan anakmu untukmu.” (HHR. Ahmad no. 10611)

Anak yang sholih akan mempertemukan orang tuanya dengan keberkahan dan doanya, dan sebutan bagi orang tua tersebut tetap bersambung dengan jejaknya yang indah.

1.3 Kewajiban Utama Orang Tua Menyelamatkan Keluarga dari Api Naar

Tanggung jawab terbesar yang dipikul oleh pundak seorang kepala keluarga dan ibu adalah memastikan bahwa seluruh anggota keluarganya terbentengi dari siksa api Naar. Pendidikan agama bukanlah pilihan sampingan, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk menyelamatkan masa depan Akhiroh anak-anak. Alloh memerintahkan dengan tegas:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat rinci di hadapan Alloh mengenai apa yang dipimpinnya. Orang tua adalah pemimpin di dalam rumah tangganya yang memegang tanggung jawab penuh atas urusan agama anak-anaknya. Rosululloh bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, seorang lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Mengenai penafsiran ayat perlindungan dari api Naar, shohabat mulia ‘Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu meletakkan landasan utama metode pendidikan. Beliau berkata:

أَدِّبُوهُمْ وَعَلِّمُوهُمْ

“Didiklah adab pada mereka dan ajarkanlah ilmu kepada mereka.” (An-Nafaqoh ala Iyal, Ibnu Abid Dun-yaa, hal. 496)

1.4 Bahaya Kelalaian Orang Tua dalam Mendidik Generasi

Sikap meremehkan pendidikan agama anak dan hanya berfokus pada kecukupan urusan duniawi semata merupakan bentuk kezholiman. Kerusakan yang timbul akibat kelalaian ini tidak hanya menimpa anak di dunia, melainkan menjadi penyesalan yang mendalam bagi orang tua di Akhiroh kelak ketika tuntutan diajukan di hadapan Robb. Alloh mengingatkan bahaya kerugian ini:

﴿قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari Qiyamah. Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)

Ancamannya sangat keras bagi setiap orang yang diberikan amanah kepemimpinan, termasuk orang tua, namun ia menipu rakyat atau anak-anaknya dengan tidak memberikan bimbingan syariat yang benar hingga mereka terjatuh ke dalam kebinasaan. Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»

“Tidak ada seorang hamba pun yang Alloh serahkan urusan kepemimpinan kepadanya, lalu ia mati pada hari ia mati dalam keadaan menipu orang yang dipimpinnya, melainkan Alloh haromkan Jannah atasnya.” (HR. Muslim no. 142)

Kerusakan mayoritas generasi muda bersumber dari kelalaian bapak-bapak mereka yang mengabaikan pengajaran dasar-dasar agama. Maka siapa yang melalaikan pengajaran hal-hal yang bermanfaat bagi anaknya, dan meninggalkannya begitu saja secara sia-sia, sungguh ia telah berbuat buruk kepada anaknya dengan seburuk-buruknya perbuatan. Dan mayoritas anak-anak, hanyalah datang kerusakan mereka dari sisi para bapak dan kelalaian mereka terhadap anak-anak, serta meninggalkan pengajaran kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Mereka telah menyia-nyiakan anak-anak ketika kecil, sehingga anak-anak itu tidak bisa memberi manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak bisa memberi manfaat bagi bapak-bapak mereka ketika mereka telah besar.

 

Bab 2: Ilmu Agama bagi Anak

2.1 Kewajiban Menuntut Ilmu Syar’i bagi Setiap Muslim

Membekali anak dengan ilmu agama bukanlah sebuah pilihan sekunder atau sekadar pengisi waktu luang, melainkan sebuah kewajiban yang dibebankan atas setiap individu Muslim. Ilmu syar’i merupakan lentera yang membedakan antara petunjuk dan kesesatan, serta menjadi fondasi utama agar seluruh amal ibadah bernilai shohih di hadapan Alloh . Rosululloh menegaskan kewajiban ini dalam sabdanya:

«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)

Ilmu agama merupakan karunia tertinggi yang Alloh anugerahkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan yang sempurna di dunia dan Akhiroh. Tanpa pemahaman agama yang benar, seorang anak akan tumbuh tanpa arah dan mudah terombang-ambing oleh syubhat. Nabi bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)

Imam Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh memberikan nasihat berharga mengenai kewajiban mendasar ini bagi setiap orang yang memiliki kemampuan, terkhusus bagi orang tua untuk anak-anaknya. Beliau berkata:

إِنَّ حَقًّا عَلَى مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَقَارٌ، وَسَكِينَةٌ، وَخَشْيَةٌ، وَأَنْ يَكُونَ مُتَّبِعًا لِأَثَرِ مَنْ مَضَى قَبْلَهُ

“Wajib atas setiap orang yang menuntut ilmu untuk memiliki wibawa, ketenangan, dan rasa takut kepada Alloh, serta benar-benar mengikuti jejak orang-orang yang telah berlalu sebelum dirinya.” (Al-Madkhol, Al-Baihaqi, no. 510)

2.2 Keutamaan Para Penuntut Ilmu dan Pewaris Nabi

Menyekolahkan anak ke lembaga pendidikan agama atau memondokkannya merupakan langkah mulia untuk menuntun mereka ke jalan menuju Jannah. Para penuntut ilmu syar’i menempati kedudukan yang sangat tinggi di sisi Alloh , bahkan seluruh makhluk di alam semesta ini memohonkan ampunan bagi mereka. Rosululloh memaparkan keutamaan agung ini:

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ»

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Alloh akan mudahkan baginya jalan menuju Jannah. Dan sesungguhnya Malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayapnya karena ridho kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang yang berilmu benar-benar dimohonkan ampunan untuknya oleh apa yang ada di langit dan di bumi hingga ikan-ikan di dalam air.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Derajat yang tinggi ini diberikan karena para penuntut ilmu dipersiapkan untuk menjadi pewaris para Nabi, yang tidak mewariskan harta benda duniawi melainkan ilmu syar’i. Nabi bersabda:

«وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا، وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak pula dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)

Seorang ulama Tabi’ut Tabi’in, Al-Fudhoil bin ‘Iyadlh (187 H) rohimahulloh, menggambarkan kemuliaan seorang yang menuntut ilmu agama lalu mengamalkannya dan mengajarkannya. Beliau menuturkan:

عالمٌ عاملٌ مُعلِّمٌ يُدْعَى كبيرًا في مَلكُوتِ السَّماواتِ

“Seorang yang berilmu, yang mengamalkan ilmunya, lagi mengajarkannya, akan dipanggil sebagai orang yang besar di kerajaan langit.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2880)

2.3 Pengaruh Lingkungan dan Teman Bergaul terhadap Fithroh Anak

Lingkungan di mana seorang anak tumbuh dan berkembang memiliki andil yang sangat besar dalam membentuk karakter dan agamanya. Karakter anak yang masih bersih sangat mudah menyerap kebiasaan dari orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, memisahkan anak dari lingkungan yang buruk dan menempatkannya di lingkungan yang sholih merupakan langkah penyelamatan fithroh yang utama. Rosululloh memberikan perumpamaan yang sangat jelas mengenai pengaruh teman bergaul:

«مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ المِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ، أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً»

“Perumpamaan teman duduk yang sholih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Seseorang tidak akan luput dari penjual minyak wangi, baik engkau akan membelinya atau engkau mencium aroma wanginya. Adapun tukang pandai besi, ia akan membakar badanmu atau pakaianmu atau engkau akan mencium darinya aroma yang busuk.” (HR. Al-Bukhori no. 2101 dan Muslim no. 2628)

Kecenderungan seorang anak untuk meniru kebiasaan temannya sangatlah kuat. Agama seseorang sering kali menjadi cerminan dari siapa yang menjadi teman dekatnya. Nabi bersabda:

«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»

“Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat kepada siapa ia berteman dekat.” (HHR. Abu Dawud no. 4833)

Maka waspadalah kalian dari duduk-duduk bersama orang-orang buruk, karena sesungguhnya perbuatan itu mendatangkan  dan mewariskan keburukan pula.

2.4 Pentingnya Membentengi Anak dari Syubhat dan Syahwat di Zaman Fitnah

Zaman ini penuh dengan badai fitnah yang menyasar generasi muda, baik berupa fitnah syubhat yang merusak keyakinan dan Aqidah, maupun fitnah syahwat yang merusak moral dan kehormatan. Benteng terbaik untuk menjaga anak dari hantaman fitnah-fitnah tersebut adalah dengan menanamkan rasa takut kepada Alloh dan membekalinya dengan ilmu Aqidah yang lurus sejak dini. Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Apabila seorang anak dilepas di lingkungan umum tanpa adanya benteng ilmu agama yang kuat, maka kekhawatiran terbesar adalah terjerumusnya mereka ke dalam perkara-perkara syubhat yang samar, yang lambat laun dapat menyeret mereka ke dalam keharoman yang nyata. Rosululloh bersabda:

«الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ»

“Perkara halal itu jelas dan perkara harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa yang menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, sungguh ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjatuh ke dalam perkara syubhat, seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan, hampir saja ia terjerumus ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan Muslim no. 1599)

Seorang ulama terkemuka, Abu Sulaiman Ad-Daroni (215 H) rohimahulloh, memaparkan kunci keselamatan diri dan generasi dari cengkeraman fitnah syahwat yang merusak hati. Beliau menegaskan:

أَصْلُ كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ، وَمِفْتَاحُ الدُّنْيَا الشِّبَعُ، وَمِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ

“Asal setiap kebaikan di dunia dan Akhiroh adalah rasa takut kepada Alloh ‘Azza wa Jalla, dan kunci dunia adalah kekenyangan, sedangkan kunci Akhiroh adalah kelaparan (menahan hawa nafsu).” (Al-Bidayah, Ibnu Katsir, 14/146)

 

Bab 3: Memondokkan Anak

3.1 Urgensi Memilih Sekolah Agama yang Berpegang pada Manhaj Salaf

Memilih lembaga pendidikan untuk anak bukan sekadar mencari tempat yang megah fasilitasnya, melainkan mencari guru dan lingkungan yang menanamkan Aqidah yang lurus dan pemahaman Al-Qur’an serta Hadits yang shohih. Ilmu agama yang diajarkan harus bersumber dari pemahaman generasi terbaik umat ini. Alloh memberikan petunjuk dan pujian bagi orang-orang yang mengikuti jalan para Shohabat:

﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi mereka Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Sebab ilmu agama ini berkaitan erat dengan keselamatan keyakinan anak di Akhiroh, maka orang tua wajib selektif dalam memilih kepada siapa anak-anak mereka menimba ilmu syar’i. Rosululloh telah memberikan wasiat agar senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau dan sunnah para khulafaur rosyidin ketika terjadi perselisihan. Nabi bersabda:

«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»

“Maka wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaur Rosyidin yang mendapat petunjuk, pegang erat-erat ia dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)

Seorang ulama Tabi’in terkemuka, Muhammad bin Sirin (110 H) rohimahulloh, meletakkan kaidah emas yang sangat mendasar dalam urusan memilih guru dan tempat belajar bagi anak. Beliau menegaskan:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqoddimah Shohih Muslim bab 5)

3.2 Meniru Kehidupan Salaf dalam Mengirim Anak Menuntut Ilmu ke Luar Daerah

Keputusan memondokkan anak ke pesantren atau mengirimnya ke lembaga pendidikan yang jauh dari rumah merupakan amalan mulia yang telah dicontohkan oleh generasi generasi terdahulu. Keberanian berpisah demi menuntut ilmu menumbuhkan jiwa yang kokoh dan keberkahan yang besar. Alloh berfirman mengenai pentingnya sebagian kaum Muslimin untuk pergi mendalami ilmu agama:

﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang Mu’min itu semuanya pergi ke medan perang. Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Perjalanan jauh dalam mengumpulkan Hadits dan ilmu syar’i merupakan jalan yang ditempuh oleh para kekasih Alloh . Langkah kaki seorang anak yang berjalan menuju tempat belajar di luar daerah tercatat sebagai perjuangan besar di jalan-Nya. Rosululloh bersabda:

«مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ»

“Siapa yang keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Alloh sampai ia kembali.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2647)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh pernah ditanya oleh seseorang mengenai mana yang lebih utama bagi seorang penuntut ilmu: menetap di daerahnya bersama orang yang berilmu yang banyak ilmunya atau pergi melakukan perjalanan ke luar daerah? Beliau menjawab:

يَرْحَلُ، يَكْتُبُ عَنْ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ، فَيُشَافِهُ النَّاسَ وَيَتَعَلَّمُ مِنْهُمْ

“Ia harus pergi melakukan perjalanan, menulis ilmu dari para ulama di berbagai kota, duduk bersama manusia, dan belajar dari mereka.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 1/175)

3.3 Faedah Memondokkan Anak: Kemandirian, Kedisplinan, dan Pendalaman Ilmu

Menempatkan anak di dalam pondok pesantren memberikan manfaat yang sangat besar bagi pembentukan karakter hidupnya. Anak tidak hanya belajar teori ilmu, melainkan ditempa untuk mandiri, disiplin dalam memanfaatkan waktu, dan terbiasa menjauhkan diri dari kesenangan duniawi yang melalaikan. Rosululloh bersabda memberikan arahan untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya:

«اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)

Waktu luang dan fokus yang penuh yang didapatkan di dalam asrama pesantren membentengi anak dari berbagai hal syubhat yang biasa ditemui di luar. Nabi bersabda:

«نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ»

“Ada dua ni’mat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori no. 6412)

Seorang tabi’in terkemuka, Mak-hul Asy-Syami (113 H) rohimahulloh, menggambarkan bagaimana kedisiplinan dan pendalaman ilmu yang diperoleh dari lingkungan yang terjaga akan melahirkan hikmah dalam diri seorang anak. Beliau berkata:

مَنْ أَخْلَصَ لِلَّهِ الْعِبَادَةَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ظَهَرَتْ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ

“Siapa yang mengikhlaskan diri karena Alloh selama 40 hari (fokus ibadah dan ilmu), niscaya akan tampak sumber-sumber hikmah dari hatinya mengalir pada lisannya.” (Az-Zuhd, Hannad As-Sirri, 2/357)

3.4 Menepis Keraguan dan Ketakutan Orang Tua saat Melepas Anak ke Pesantren

Rasa berat dan sedih saat berpisah dengan anak adalah tabiat kemanusiaan yang wajar bagi orang tua. Namun, ketakutan yang berlebihan seperti khawatir akan masa depan dunianya atau rasa rindu yang menghalangi anak menuntut ilmu harus ditepis dengan keyakinan Tauhid yang kuat. Alloh menegaskan keutamaan orang-orang yang berhijroh dan berkorban demi agama-Nya:

﴿وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang berhijroh karena Alloh sesudah mereka dizholimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di Akhiroh adalah lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)

Setiap pengorbanan perasaan yang dirasakan oleh bapak dan ibu saat melepas anak ke pondok pesantren tidak akan sia-sia di hadapan Robb. Rosululloh memberikan ketenangan bagi hati orang tua melalui sabdanya:

«مَا يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»

“Tidaklah apa pun yang menimpa seorang Muslim, baik berupa rasa lelah, rasa sakit, kebimbangan, kesedihan, gangguan, kesusahan, sampai duri yang menusuknya, melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab perkara tersebut.” (HR. Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Diceritakan seorang Salaf berkata: Ibuku berkata kepadaku: Pergilah engkau untuk menuntut ilmu, karena sesungguhnya jika engkau tidak pergi, engkau tidak akan menjadi apa-apa. Maka aku pun pergi keluar dan aku tidak melihatnya lagi setelah itu, karena sang ibu wafat saat aku berkelana menuntut ilmu.

 

Bab 4: Perjuangan Membiayai Pendidikan Anak

4.1 Keutamaan Nafkah untuk Pendidikan Agama Anak

Mengeluarkan harta demi membiayai pendidikan agama anak merupakan salah satu bentuk nafkah yang paling tinggi kedudukannya di sisi Alloh . Harta yang digunakan untuk membayar biaya pondok pesantren, kitab-kitab, dan kebutuhan penuntut ilmu syar’i bukanlah pemborosan, melainkan sedekah yang paling utama dan mendatangkan keberkahan yang berlipat ganda. Alloh berfirman mengenai perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan ketaatan:

﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada 100 biji. Alloh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261)

Setiap dinar atau dirham yang dikeluarkan oleh seorang bapak untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya yang sedang fokus mempelajari syariat merupakan investasi Akhiroh yang paling utama, bahkan mengungguli infak di jalan jihad dan sedekah kepada orang miskin. Rosululloh bersabda:

«دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»

“Dinar yang engkau infakkan di jalan Alloh, dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

4.2 Janji Kemudahan bagi Orang Tua yang Bekerja demi Ilmu Anak

Kekhawatiran akan kekurangan harta atau jatuh miskin karena biaya sekolah agama anak yang dinilai besar adalah bisikan dari syaithon. Orang tua yang meluruskan niatnya untuk bekerja keras membanting tulang demi memondokkan anak akan dibukakan pintu-pintu rizqi yang tidak disangka-sangka, karena Alloh senantiasa menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya. Alloh menjamin hal tersebut dalam firman-Nya:

﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Siapa bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan siapa yang bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan kebutuhannya.” (QS. Ath-Tholaq: 2-3)

Keberadaan seorang anak yang fokus menuntut ilmu di dalam sebuah keluarga justru sering kali menjadi sebab utama mengalirnya rizqi dan kemudahan hidup bagi orang tua yang bekerja membiayainya. Anas bin Malik menceritakan pelajaran berharga melalui kisah dua orang bersaudara di zamannya:

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ فَقَالَ: «لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»

Dahulu ada dua orang bersaudara pada masa Nabi . Salah seorang dari keduanya selalu mendatangi Nabi (untuk menuntut ilmu) sedangkan yang satunya lagi bekerja. Lalu orang yang bekerja ini mengadukan saudaranya kepada Nabi . Maka beliau bersabda: Boleh jadi engkau diberi rizqi dengan sebab saudaramu itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2345)

Apabila seorang menginfakkan hartanya untuk anaknya dalam menuntut ilmu, niscaya Alloh akan membukakan baginya satu pintu rizqi yang tidak pernah ia sangka-sangka sebelumnya.

4.3 Menjauhkan Harta Harom dari Nafkah dan Biaya Sekolah Anak

Usaha keras dalam membiayai anak harus dibarengi dengan ketelitian yang tinggi dalam menjaga kehalalan harta. Memberi makan anak dan membayar biaya pendidikannya dari sumber yang harom, seperti hasil riba, syubhat, atau kezholiman, akan merusak fithroh anak, mengeraskan hatinya dari menerima nasihat, dan menghalangi terkabulnya doa-doa kebaikan. Alloh memerintahkan para Mu’min untuk mengonsumsi yang halal:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh: 172)

Daging yang tumbuh dari makanan yang harom tidak akan melahirkan generasi yang sholih, melainkan akan condong pada kemaksiatan dan kerusakan. Rosululloh memberikan peringatan yang sangat keras mengenai hal ini:

«كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ»

“Setiap tubuh yang tumbuh dari harta yang harom, maka Naar lebih utama baginya.” (Shohihul Jami, no. 4519)

Seorang ulama Salaf terkemuka, Al-Fudhoil bin ‘Iyadlh (187 H) rohimahulloh, menjelaskan bagaimana pengaruh makanan dan harta yang harom yang diberikan orang tua terhadap perilaku anak di rumah. Beliau menegaskan:

إِنَّي لَأَعْصِي اللهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ حِمَارِي وَخَادِمِي

“Sesungguhnya aku benar-benar bermaksiat kepada Alloh (termasuk dalam urusan harta), maka aku mengetahui dampak buruk maksiat tersebut pada perangai keledai tungganganku dan pembantuku.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H), 8/109)

4.4 Para Ibu yang Berkorban Harta demi Ilmu Putranya

Sejarah emas Islam mencatat peran luar biasa dari para ibu tunggal yang rela menghabiskan seluruh harta warisan dan bekerja keras demi membiayai anak-anak mereka agar bisa belajar kepada para ulama besar. Pengorbanan inilah yang melahirkan imam-imam mazhab yang ilmunya tetap dimanfaatkan hingga hari ini. Alloh memuji orang-orang yang mengorbankan jiwa dan hartanya demi keridhoan-Nya:

﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqoroh: 207)

Ketulusan para orang tua terdahulu dalam membiayai anak menuntut ilmu dilandasi oleh keyakinan bahwa ilmu agama adalah warisan terbaik yang tidak akan pernah habis. Rosululloh bersabda:

«إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ، وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ»

“Sesungguhnya sedekah itu benar-benar memadamkan panasnya kubur dari pelakunya, dan hanyalah seorang Mu’min itu akan bernaung pada hari Qiyamah di bawah naungan sedekahnya.” (Silsilah Shohihah, no. 3484)

Kisah ibunda Al-Imam Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh menjadi teladan abadi. Ketika Imam Malik masih kecil, ibunya memakaikan pakaian terbaik dan imamah kepadanya, lalu membiayai seluruh kebutuhannya seraya berkata:

اِذْهَبْ إِلَى رَبِيعَةَ فَتَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ

“Pergilah engkau kepada Robi’ah (guru Imam Malik), maka pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya.” (Warotsatul Anbiya, Abdul Malik bin Qosim, hal. 39)

Begitu pula dengan ibunda Al-Imam Syafi’i (204 H) yang mengasuh putranya dalam keadaan yatim dan fakir, namun rela mengumpulkan lembaran-lembaran kertas bekas dan membiayai perjalanan Imam Syafi’i dari Makkah ke Madinah demi belajar kepada Imam Malik. Kisah-kisah nyata ini menjadi bukti bahwa keterbatasan harta bukanlah penghalang, melainkan cambuk perjuangan bagi para orang tua yang mendambakan aset termahal di Akhiroh.

 

Bab 5: Menemani Proses Belajar Anak

5.1 Kewajiban Bersabar Menghadapi Proses Panjang Pendidikan Anak

Mendidik anak di lembaga pendidikan agama atau pondok pesantren bukanlah proses instan yang hasilnya dapat dipetik dalam waktu singkat. Orang tua dituntut untuk memiliki kelapangan dada dan kesabaran yang kokoh dalam menghadapi setiap tahapan, ujian perasaan, serta kejenuhan yang mungkin dialami oleh anak. Alloh memerintahkan hamba-Nya untuk senantiasa bersabar dan meneguhkan kesabaran tersebut:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Alloh, agar kamu beruntung.” (QS. Ali ‘Imron: 200)

Kesabaran orang tua dalam menahan rindu dan menghadapi ujian biaya serta tabiat anak akan berbuah pahala yang tanpa batas di sisi Alloh . Setiap tetes keringat dan air mata yang keluar karena menahan beratnya proses ini tidak akan disia-siakan oleh-Nya. Nabi bersabda:

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»

“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh orang Mu’min; jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

5.2 Komunikasi antara Orang Tua dan Pihak Sekolah

Keberhasilan pendidikan anak di pondok pesantren tidak dapat terwujud tanpa adanya keselarasan visi dan kerja sama yang baik antara orang tua di rumah dan para guru di lembaga pendidikan. Orang tua tidak boleh berlepas tangan sepenuhnya setelah menyerahkan anak ke pesantren, melainkan harus terus mendukung aturan sekolah dan menjaga komunikasi yang penuh adab. Alloh memerintahkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)

Sinergi yang sholih ini dibangun di atas pondasi persaudaraan Islam yang saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan atau mencari-cari kesalahan pihak pengajar ketika anak menghadapi masalah kedisiplinan. Rosululloh bersabda:

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»

“Seorang Mu’min dengan Mu’min yang lainnya adalah seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)

Al-Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh mengingatkan betapa pentingnya keridhoan dan kepercayaan orang tua serta murid kepada sang guru agar keberkahan ilmu dapat diraih. Beliau menegaskan dalam sya’irnya:

اِصبِر عَلى مُرِّ الجَفا مِن مُعَلِّمٍ ... فَإِنَّ رُسُوبَ العِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ

“Bersabarlah engkau terhadap kerasnya sikap dari seorang guru, karena sesungguhnya tertanamnya ilmu itu ada pada keridhoan dan interaksi bersamanya.” (Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hlm. 39)

5.3 Doa Orang Tua untuk Anak

Senjata paling ampuh yang dimiliki oleh bapak dan ibu dalam menemani proses belajar anak adalah doa yang dipanjatkan dengan penuh ketundukan kepada Alloh . Doa orang tua memiliki kedudukan khusus yang langsung menembus langit tanpa penghalang, terutama doa agar anak-anak diberikan keteguhan hati dalam menghafal Al-Qur’an dan memahami syariat. Alloh mengajarkan doa hamba-hamba-Nya yang sholih:

﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“And orang-orang yang berkata: Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Orang tua harus berhati-hati dalam berucap dan senantiasa melisankan kebaikan, karena doa kebaikan maupun keburukan dari mulut orang tua kepada anaknya pasti akan dikabulkan oleh Alloh . Rosululloh bersabda:

«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»

“Ada tiga doa yang mustajab yang tidak ada keraguan padanya: doa orang orang tua, doa musafir, dan doa orang yang terzholimi.” (HHR. Abu Dawud no. 1536)

Seorang ulama Tabi’in terkemuka, Fudhoil bin ‘Iyadlh (187 H) rohimahulloh, mencontohkan bagaimana keterbatasan kemampuan dirinya dalam mendidik anak dipasrahkan sepenuhnya melalui untaian doa kepada Alloh demi kesholehan putranya, Ali. Beliau berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أُؤَدِّبَ عَلِيًّا، فَلَمْ أَقْدِرْ عَلَى تَأْدِيْبِهِ، فَأَدِّبْهُ أَنْتَ لِي

“Ya Alloh, sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik adab bagi Ali (putra beliau) namun aku tidak mampu mendidiknya, maka didiklah adab untuknya oleh-Mu untukku aku.” (Siyar A’lamin Nubala’, Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H), 8/445)

Ali putra beliau meninggal saat Sholat karena mendengar ayat Neraka yang dibaca imam Sholat.

5.4 Tawakkal kepada Alloh Setelah Berusaha Maksimal dalam Mendidik

Setelah segala ikhtiar lahiriah dilakukan secara maksimal—mulai dari memilihkan sekolah yang baik, membiayai dengan harta yang halal, hingga menemani dengan kesabaran—maka muara akhir dari perjuangan orang tua adalah berserah diri sepenuhnya (tawakkal) kepada Alloh . Orang tua harus yakin bahwa hidayah taufiq dan keberhasilan sejati berada di tangan Robb semata. Alloh berfirman:

﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imron: 159)

Sikap tawakkal yang benar akan melahirkan ketenangan di dalam hati bapak dan ibu. Mereka tidak akan didera kecemasan yang merusak pikiran mengenai masa depan dunia sang anak, karena mereka tahu anak mereka berada dalam penjagaan sebaik-baik Penjaga. Nabi bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizqi kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)

Apabila ma’rifah (pengenalan yang mendalam terhadap Alloh) telah menetap di dalam hati, niscaya ia akan menjadikan hati tersebut senantiasa bertawakkal.

Penutup

Perjalanan mendidik anak di atas timbangan syariat merupakan untaian perjuangan yang memeras peluh, menghabiskan harta, dan menuntut keteguhan jiwa yang luar biasa. Namun, di balik setiap kepayahan yang dihadapi oleh bapak dan ibu saat melepas buah hatinya menuntut ilmu ke sekolah agama atau pondok pesantren, terbentang janji agung yang tidak akan pernah menyalahi. Anak yang sholih dan bertaqwa bukan sekadar perhiasan dunia yang semu, melainkan aset termahal yang akan terus mengalirkan kemuliaan bagi orang tuanya, bahkan ketika raga telah terbujur kaku di dalam liang kubur. Alloh memberikan penegasan mengenai keindahan balasan bagi hamba-hamba-Nya yang istiqomah dalam kebaikan:

﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Robb kami ialah Alloh’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.(QS. Fushshilat: 30)

Kesadaran akan beratnya tantangan zaman akhir ini semestinya memicu tekad yang lebih kuat di dalam dada setiap orang tua. Menyerahkan anak-anak kepada lembaga pendidikan yang terbimbing di atas manhaj yang lurus adalah ikhtiar terbesar untuk menyelamatkan fithroh mereka dari gelombang syubhat dan syahwat. Pengorbanan yang dikeluarkan hari ini akan terasa kecil nilainya ketika kelak di hari Qiyamah, seorang bapak dan ibu dipakaikan mahkota cahaya disebabkan oleh Al-Qur’an dan ilmu yang diamalkan oleh anak-anak mereka. Rosululloh memberikan motivasi tertinggi melalui sabdanya:

«مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ، فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟»

“Siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, niscaya kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Qiyamah, yang cahayanya lebih bagus daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia seandainya matahari itu ada di tengah-tengah kalian. Maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang yang mengamalkan hal ini sendiri?” (HR. Abu Dawud no. 1453. Dinyatakan shohih oleh Abdullah Ad-Duwais dalam Tanbihul Qori 1/3)

Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mendirikan Sholat lalu Alloh mengangkat Sholatnya, dan anaknya mendirikan Sholat setelah dirinya lalu Alloh mengangkat Sholat bapaknya disebabkan oleh Sholat anaknya tersebut, hingga Alloh mengumpulkan keduanya di dalam Jannah.

Semoga untaian ilmu, dalil, dan risalah yang tersaji di dalam buku ini mampu menjadi penguat azam bagi para orang tua untuk tidak ragu melangkahkan kaki putra-putrinya ke gerbang-gerbang ilmu syar’i. Hanya kepada Alloh kita memohon taufiq, perlindungan, dan kelapangan hati agar senantiasa dimampukan dalam menjaga amanah terindah ini, hingga kelak kita dapat berkumpul kembali bersama keluarga tercinta di dalam Jannah-Nya yang penuh kedamaian.[NK]

 

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini