[PDF] Pendidikan Anak, Aset Termahal Orang Tua - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh ﷻ,
Robb semesta alam yang telah mengaruniai manusia keturunan sebagai penyejuk
mata dan amanah yang agung. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar
melainkan Alloh semata, dan bersaksi bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan Rosul-Nya.
Amma ba’du:
Di tengah derasnya arus fitnah zaman ini, menjaga fithroh
anak agar tetap berada di atas jalan yang lurus merupakan tantangan terbesar
sekaligus jihad yang mulia bagi setiap bapak dan ibu. Anak bukan sekadar
pelipur lara di dunia, melainkan sebuah aset Akhiroh yang sangat mahal
harganya, yang mampu menyelamatkan orang tuanya dari siksa api Naar dan
mengangkat derajat mereka di Jannah yang penuh ni’mat.
Pendidikan
yang berlandaskan syariat Islam adalah satu-satunya perisai yang kokoh untuk
membentengi generasi muda dari kehancuran moral dan pemikiran. Oleh karena itu,
mengarahkan anak untuk menuntut ilmu di sekolah agama atau memondokkannya ke
lembaga pendidikan Islam yang sholih merupakan langkah penyelamatan yang sangat
mendasar dan mendesak. Rosululloh ﷺ memberikan gambaran tentang bagaimana nilai seorang anak yang
dibimbing dengan baik akan menjadi sumber pahala yang abadi bagi orang tuanya:
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika
seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara:
kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih
yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Buku yang
berada di hadapan pembaca ini disusun untuk mengurai hakikat, kewajiban, serta
perjuangan orang tua dalam melahirkan generasi yang sholih melalui lembaga
pendidikan agama. Guna memberikan pemahaman yang menyeluruh, kerangka
pembahasan di dalam buku ini dibagi menjadi 5 bagian utama. Bagian pertama memaparkan
tentang kedudukan mulia seorang anak dalam pandangan Islam serta besarnya
tanggung jawab yang dipikul orang tua. Bagian kedua menguraikan tentang
keutamaan agung ilmu syar’i dan pentingnya menempatkan anak di lingkungan
pergaulan yang sholih. Bagian ketiga mengupas urgensi memondokkan anak di
lembaga pendidikan yang berpegang pada Manhaj Salaf serta menepis segala
keraguan orang tua saat melepas buah hatinya. Bagian keempat membahas tentang
perjuangan lahiriah dalam mencari nafkah yang halal demi membiayai sekolah
agama anak. Bagian kelima ditutup dengan pembahasan mengenai kekuatan
kesabaran, sinergi, dan untaian doa orang tua yang mustajab dalam menemani
seluruh proses belajar anak hingga meraih keberhasilan hakiki.
Seorang
ulama Tabi’in terkemuka, Muhammad bin Sirin (110 H) rohimahulloh,
meletakkan sebuah nasihat yang menjadi ruh utama dalam pemilihan tempat
pendidikan bagi generasi generasi Muslim. Beliau menegaskan:
إِنَّ
هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya
ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(Muqoddimah
Shohih Muslim, bab no. 5)
Semoga
risalah ringkas yang dipenuhi dengan dalil-dalil Al-Qur’an, Hadits Nabi ﷺ, serta untaian hikmah para
Salafush Sholih ini dapat menjadi pembakar semangat, lentera petunjuk,
sekaligus penguat azam bagi para bapak dan ibu untuk berkorban jiwa dan harta
demi mengantarkan anak-anak mereka menjadi hamba yang bertaqwa kepada Robbnya.
Bab 1: Anak dan
Tanggung Jawab Orang Tua
1.1
Anak sebagai Amanah dan Ujian di Dunia
Setiap anak
yang lahir ke dunia berada di atas kesucian yang murni. Orang tua memegang
kendali penuh dalam mengarahkan, membentuk, dan menjaga kesucian tersebut agar
tidak menyimpang dari jalan yang lurus. Rasa cinta yang mendalam terhadap anak
sering kali menjadi sebuah ruang pembuktian, apakah cinta tersebut semakin
mendekatkan diri kepada Robb atau justru melalaikan dari ketaatan kepada-Nya.
Alloh ﷻ
mengingatkan hamba-hamba-Nya melalui firman-Nya:
﴿وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ
فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ﴾
“Dan
ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian, dan
sesungguhnya di sisi Alloh ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal: 28)
Kondisi
kesucian asal yang ada pada diri seorang anak merupakan titipan yang suci.
Kelalaian dalam membimbing mereka akan merubah arah pandang dan keyakinan hidup
anak di kemudian hari. Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّ
مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ،
أَوْ يُمَجِّسَانِهِ»
“Tidak ada
seorang anak pun yang lahir kecuali dilahirkan di atas fithroh, maka kedua
orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nashroni, atau
seorang Majusi.” (HR. Al-Bukhori no. 1385 dan Muslim no. 2658)
Yakni anak-anakmu
adalah ujian, maka waspadalah terhadap mereka atas agamamu. Tidak ada sesuatu yang lebih
menyejukkan mata seorang Mu’min daripada melihat istri dan anaknya taat kepada
Alloh ‘Azza wa Jalla.
1.2
Anak sebagai Investasi Pahala yang Tidak Terputus Setelah Kematian
Ketika
seluruh amal manusia terputus seiring dengan hembusan napas terakhirnya di
dunia, Islam memberikan pengecualian yang sangat berharga bagi orang tua. Amal
sholih anak yang dididik dengan pemahaman agama yang benar akan terus
mengalirkan pahala tanpa henti ke liang kubur orang tuanya. Keuntungan hakiki
ini melebihi segala bentuk kekayaan materi di dunia. Rosululloh ﷺ menegaskan hal tersebut dalam
sabdanya:
«إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ
صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
“Jika
seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara:
kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan, atau anak sholih
yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Pangkat dan
kedudukan yang tinggi di Jannah kelak dapat diraih oleh orang tua disebabkan
oleh permohonan ampunan yang dipanjatkan oleh anak-anak mereka selama di dunia.
Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ،
فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ»
“Sesungguhnya
Alloh ‘Azza wa Jalla benar-benar mengangkat derajat bagi seorang hamba
yang sholih di Jannah, lalu hamba itu berkata: ‘Wahai Robbku, dari mana aku mendapatkan ini?’ Maka Alloh berfirman: ‘Karena permohonan ampunan anakmu
untukmu.” (HHR. Ahmad no. 10611)
Anak yang
sholih akan mempertemukan orang tuanya dengan keberkahan dan doanya, dan
sebutan bagi orang tua tersebut tetap bersambung dengan jejaknya yang indah.
1.3
Kewajiban Utama Orang Tua Menyelamatkan Keluarga dari Api Naar
Tanggung
jawab terbesar yang dipikul oleh pundak seorang kepala keluarga dan ibu adalah
memastikan bahwa seluruh anggota keluarganya terbentengi dari siksa api Naar.
Pendidikan agama bukanlah
pilihan sampingan, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk menyelamatkan masa
depan Akhiroh anak-anak. Alloh ﷻ memerintahkan dengan tegas:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Naar yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-Malaikat yang
kasar, dan keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.
At-Tahrim: 6)
Setiap
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban yang sangat rinci di hadapan Alloh ﷻ mengenai apa yang
dipimpinnya. Orang tua adalah pemimpin di dalam rumah tangganya yang memegang tanggung
jawab penuh atas urusan agama anak-anaknya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ
رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ
رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا»
“Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas
apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan dimintai
pertanggungjawaban atas rakyatnya, seorang lelaki adalah pemimpin di tengah
keluarganya dan ia dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya, dan
seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan
Muslim no. 1829)
Mengenai
penafsiran ayat perlindungan dari api Naar, shohabat mulia ‘Ali bin Abi Tholib
(40 H) rodhiyallahu ‘anhu meletakkan landasan utama metode pendidikan.
Beliau berkata:
أَدِّبُوهُمْ
وَعَلِّمُوهُمْ
“Didiklah
adab pada mereka dan ajarkanlah ilmu kepada mereka.” (An-Nafaqoh
ala Iyal, Ibnu Abid Dun-yaa, hal. 496)
1.4
Bahaya Kelalaian Orang Tua dalam Mendidik Generasi
Sikap
meremehkan pendidikan agama anak dan hanya berfokus pada kecukupan urusan
duniawi semata merupakan bentuk kezholiman. Kerusakan yang timbul akibat
kelalaian ini tidak hanya menimpa anak di dunia, melainkan menjadi penyesalan
yang mendalam bagi orang tua di Akhiroh kelak ketika tuntutan diajukan di
hadapan Robb. Alloh ﷻ
mengingatkan bahaya kerugian ini:
﴿قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا
أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ﴾
“Katakanlah:
Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka
sendiri dan keluarganya pada hari Qiyamah. Ingatlah, yang demikian itu adalah
kerugian yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 15)
Ancamannya
sangat keras bagi setiap orang yang diberikan amanah kepemimpinan, termasuk
orang tua, namun ia menipu rakyat atau anak-anaknya dengan tidak memberikan
bimbingan syariat yang benar hingga mereka terjatuh ke dalam kebinasaan.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«مَا
مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ
لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ»
“Tidak ada
seorang hamba pun yang Alloh serahkan urusan kepemimpinan kepadanya, lalu ia
mati pada hari ia mati dalam keadaan menipu orang yang dipimpinnya, melainkan
Alloh haromkan Jannah atasnya.” (HR. Muslim no. 142)
Kerusakan
mayoritas generasi muda bersumber dari kelalaian bapak-bapak mereka yang
mengabaikan pengajaran dasar-dasar agama. Maka siapa
yang melalaikan pengajaran hal-hal yang bermanfaat bagi anaknya, dan
meninggalkannya begitu saja secara sia-sia, sungguh ia telah berbuat buruk
kepada anaknya dengan seburuk-buruknya perbuatan. Dan mayoritas anak-anak, hanyalah datang
kerusakan mereka dari sisi para bapak dan kelalaian mereka terhadap anak-anak,
serta meninggalkan pengajaran kewajiban-kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya.
Mereka telah menyia-nyiakan anak-anak ketika kecil, sehingga anak-anak itu tidak
bisa memberi manfaat bagi diri mereka sendiri dan tidak bisa memberi manfaat
bagi bapak-bapak mereka ketika mereka telah besar.
Bab 2: Ilmu Agama
bagi Anak
2.1
Kewajiban Menuntut Ilmu Syar’i bagi Setiap Muslim
Membekali
anak dengan ilmu agama bukanlah sebuah pilihan sekunder atau sekadar pengisi
waktu luang, melainkan sebuah kewajiban yang dibebankan atas setiap individu
Muslim. Ilmu syar’i merupakan lentera yang membedakan antara petunjuk dan
kesesatan, serta menjadi fondasi utama agar seluruh amal ibadah bernilai shohih
di hadapan Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ
menegaskan kewajiban ini dalam sabdanya:
«طَلَبُ
الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
“Menuntut
ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HSR. Ibnu Majah no. 224)
Ilmu agama
merupakan karunia tertinggi yang Alloh ﷻ anugerahkan kepada hamba yang
dikehendaki-Nya untuk mendapatkan kebaikan yang sempurna di dunia dan Akhiroh.
Tanpa pemahaman agama yang benar, seorang anak akan tumbuh tanpa arah dan mudah
terombang-ambing oleh syubhat. Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»
“Siapa yang
Alloh kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan memahamkannya dalam urusan
agama.” (HR. Al-Bukhori no. 71 dan Muslim no. 1037)
Imam Malik
bin Anas (179 H) rohimahulloh memberikan nasihat berharga mengenai
kewajiban mendasar ini bagi setiap orang yang memiliki kemampuan, terkhusus
bagi orang tua untuk anak-anaknya. Beliau berkata:
إِنَّ
حَقًّا عَلَى مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَقَارٌ، وَسَكِينَةٌ، وَخَشْيَةٌ،
وَأَنْ يَكُونَ مُتَّبِعًا لِأَثَرِ مَنْ مَضَى قَبْلَهُ
“Wajib atas
setiap orang yang menuntut ilmu untuk memiliki wibawa, ketenangan, dan rasa
takut kepada Alloh, serta benar-benar mengikuti jejak orang-orang yang telah
berlalu sebelum dirinya.” (Al-Madkhol, Al-Baihaqi, no. 510)
2.2
Keutamaan Para Penuntut Ilmu dan Pewaris Nabi
Menyekolahkan
anak ke lembaga pendidikan agama atau memondokkannya merupakan langkah mulia
untuk menuntun mereka ke jalan menuju Jannah. Para penuntut ilmu syar’i
menempati kedudukan yang sangat tinggi di sisi Alloh ﷻ, bahkan seluruh makhluk di
alam semesta ini memohonkan ampunan bagi mereka. Rosululloh ﷺ memaparkan keutamaan agung
ini:
«مَنْ
سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ
الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ،
وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ،
وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ»
“Siapa yang
menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, niscaya Alloh akan mudahkan baginya
jalan menuju Jannah. Dan sesungguhnya Malaikat benar-benar meletakkan
sayap-sayapnya karena ridho kepada penuntut ilmu. Dan sesungguhnya seorang yang
berilmu benar-benar dimohonkan ampunan untuknya oleh apa yang ada di langit dan
di bumi hingga ikan-ikan di dalam air.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)
Derajat
yang tinggi ini diberikan karena para penuntut ilmu dipersiapkan untuk menjadi
pewaris para Nabi, yang tidak mewariskan harta benda duniawi melainkan ilmu
syar’i. Nabi ﷺ
bersabda:
«وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا،
وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»
“Sesungguhnya
para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan
dinar tidak pula dirham, melainkan mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang
mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HSR. Abu Dawud no. 3641)
Seorang
ulama Tabi’ut Tabi’in, Al-Fudhoil bin ‘Iyadlh (187 H) rohimahulloh,
menggambarkan kemuliaan seorang yang menuntut ilmu agama lalu mengamalkannya
dan mengajarkannya. Beliau menuturkan:
عالمٌ
عاملٌ مُعلِّمٌ يُدْعَى كبيرًا في مَلكُوتِ السَّماواتِ
“Seorang
yang berilmu, yang mengamalkan ilmunya, lagi mengajarkannya, akan dipanggil
sebagai orang yang besar di kerajaan langit.” (Sunan At-Tirmidzi, no.
2880)
2.3
Pengaruh Lingkungan dan Teman Bergaul terhadap Fithroh Anak
Lingkungan
di mana seorang anak tumbuh dan berkembang memiliki andil yang sangat besar
dalam membentuk karakter dan agamanya. Karakter anak yang masih bersih sangat
mudah menyerap kebiasaan dari orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu,
memisahkan anak dari lingkungan yang buruk dan menempatkannya di lingkungan
yang sholih merupakan langkah penyelamatan fithroh yang utama. Rosululloh ﷺ memberikan perumpamaan yang
sangat jelas mengenai pengaruh teman bergaul:
«مَثَلُ
الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ،
لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ المِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ
الحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ، أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً»
“Perumpamaan
teman duduk yang sholih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual
minyak wangi dan tukang pandai besi. Seseorang tidak akan luput dari penjual
minyak wangi, baik engkau akan membelinya atau engkau mencium aroma wanginya.
Adapun tukang pandai besi, ia akan membakar badanmu atau pakaianmu atau engkau
akan mencium darinya aroma yang busuk.” (HR. Al-Bukhori no. 2101 dan Muslim
no. 2628)
Kecenderungan
seorang anak untuk meniru kebiasaan temannya sangatlah kuat. Agama seseorang
sering kali menjadi cerminan dari siapa yang menjadi teman dekatnya. Nabi ﷺ bersabda:
«الرَّجُلُ
عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ»
“Seseorang
itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang di antara
kalian melihat kepada siapa ia berteman dekat.” (HHR. Abu Dawud no. 4833)
Maka waspadalah
kalian dari duduk-duduk bersama orang-orang buruk, karena sesungguhnya
perbuatan itu mendatangkan dan
mewariskan keburukan
pula.
2.4
Pentingnya Membentengi Anak dari Syubhat dan Syahwat di Zaman Fitnah
Zaman ini
penuh dengan badai fitnah yang menyasar generasi muda, baik berupa fitnah
syubhat yang merusak keyakinan dan Aqidah, maupun fitnah syahwat yang merusak
moral dan kehormatan. Benteng terbaik untuk menjaga anak dari hantaman
fitnah-fitnah tersebut adalah dengan menanamkan rasa takut kepada Alloh ﷻ dan membekalinya dengan ilmu Aqidah
yang lurus sejak dini. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ
مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah
kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.
Al-Hasyr: 18)
Apabila
seorang anak dilepas di lingkungan umum tanpa adanya benteng ilmu agama yang
kuat, maka kekhawatiran terbesar adalah terjerumusnya mereka ke dalam
perkara-perkara syubhat yang samar, yang lambat laun dapat menyeret mereka ke
dalam keharoman yang nyata. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الحَلاَلُ
بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ
مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ
وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ»
“Perkara
halal itu jelas dan perkara harom itu jelas, dan di antara keduanya terdapat
perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Maka siapa
yang menjaga diri dari perkara-perkara syubhat, sungguh ia telah membersihkan
agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjatuh ke dalam perkara syubhat,
seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah
larangan, hampir saja ia terjerumus ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhori no. 52 dan
Muslim no. 1599)
Seorang
ulama terkemuka, Abu Sulaiman Ad-Daroni (215 H) rohimahulloh, memaparkan
kunci keselamatan diri dan generasi dari cengkeraman fitnah syahwat yang
merusak hati. Beliau menegaskan:
أَصْلُ
كُلِّ خَيْرٍ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ الْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ، وَمِفْتَاحُ الدُّنْيَا
الشِّبَعُ، وَمِفْتَاحُ الْآخِرَةِ الْجُوعُ
“Asal
setiap kebaikan di dunia dan Akhiroh adalah rasa takut kepada Alloh ‘Azza wa
Jalla, dan kunci dunia adalah kekenyangan, sedangkan kunci Akhiroh adalah
kelaparan (menahan hawa nafsu).” (Al-Bidayah, Ibnu Katsir,
14/146)
Bab 3:
Memondokkan Anak
3.1
Urgensi Memilih Sekolah Agama yang Berpegang pada Manhaj Salaf
Memilih
lembaga pendidikan untuk anak bukan sekadar mencari tempat yang megah
fasilitasnya, melainkan mencari guru dan lingkungan yang menanamkan Aqidah yang
lurus dan pemahaman Al-Qur’an serta Hadits yang shohih. Ilmu agama yang
diajarkan harus bersumber dari pemahaman generasi terbaik umat ini. Alloh ﷻ memberikan petunjuk dan
pujian bagi orang-orang yang mengikuti jalan para Shohabat:
﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ
وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا
أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Dan
orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam di antara
orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada
mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi mereka
Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
Sebab ilmu
agama ini berkaitan erat dengan keselamatan keyakinan anak di Akhiroh, maka
orang tua wajib selektif dalam memilih kepada siapa anak-anak mereka menimba
ilmu syar’i. Rosululloh ﷺ
telah memberikan wasiat agar senantiasa berpegang teguh pada sunnah beliau dan
sunnah para khulafaur rosyidin ketika terjadi perselisihan. Nabi ﷺ bersabda:
«فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»
“Maka wajib
atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafaur Rosyidin
yang mendapat petunjuk, pegang erat-erat ia dan gigitlah ia dengan gigi
geraham.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)
Seorang
ulama Tabi’in terkemuka, Muhammad bin Sirin (110 H) rohimahulloh,
meletakkan kaidah emas yang sangat mendasar dalam urusan memilih guru dan
tempat belajar bagi anak. Beliau menegaskan:
إِنَّ
هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
“Sesungguhnya
ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
(Muqoddimah
Shohih Muslim bab 5)
3.2
Meniru Kehidupan Salaf dalam Mengirim Anak Menuntut Ilmu ke Luar Daerah
Keputusan
memondokkan anak ke pesantren atau mengirimnya ke lembaga pendidikan yang jauh
dari rumah merupakan amalan mulia yang telah dicontohkan oleh generasi generasi
terdahulu. Keberanian berpisah demi menuntut ilmu menumbuhkan jiwa yang kokoh
dan keberkahan yang besar. Alloh ﷻ berfirman mengenai pentingnya
sebagian kaum Muslimin untuk pergi mendalami ilmu agama:
﴿وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ﴾
“Dan tidak
sepatutnya orang-orang Mu’min itu semuanya pergi ke medan perang. Mengapa
sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali, agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS.
At-Taubah: 122)
Perjalanan
jauh dalam mengumpulkan Hadits dan ilmu syar’i merupakan jalan yang ditempuh
oleh para kekasih Alloh ﷻ. Langkah kaki seorang anak yang berjalan menuju tempat belajar
di luar daerah tercatat sebagai perjuangan besar di jalan-Nya. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ»
“Siapa yang
keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Alloh sampai ia
kembali.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2647)
Al-Imam
Ahmad bin Hanbal (241 H) rohimahulloh pernah ditanya oleh seseorang
mengenai mana yang lebih utama bagi seorang penuntut ilmu: menetap di daerahnya
bersama orang yang berilmu yang banyak ilmunya atau pergi melakukan perjalanan ke luar daerah? Beliau menjawab:
يَرْحَلُ،
يَكْتُبُ عَنْ عُلَمَاءِ الْأَمْصَارِ، فَيُشَافِهُ النَّاسَ وَيَتَعَلَّمُ مِنْهُمْ
“Ia harus
pergi melakukan perjalanan, menulis ilmu dari para ulama di berbagai kota,
duduk bersama manusia, dan belajar dari mereka.” (Fathul Bari,
Ibnu Hajar, 1/175)
3.3
Faedah Memondokkan Anak: Kemandirian, Kedisplinan, dan Pendalaman Ilmu
Menempatkan
anak di dalam pondok pesantren memberikan manfaat yang sangat besar bagi
pembentukan karakter hidupnya. Anak tidak hanya belajar teori ilmu, melainkan
ditempa untuk mandiri, disiplin dalam memanfaatkan waktu, dan terbiasa
menjauhkan diri dari kesenangan duniawi yang melalaikan. Rosululloh ﷺ bersabda memberikan arahan
untuk memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya:
«اغْتَنِمْ
خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هِرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاءَكَ
قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ»
“Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu
sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HSR. Al-Hakim no. 7846)
Waktu luang
dan fokus yang penuh yang didapatkan di dalam asrama pesantren membentengi anak
dari berbagai hal syubhat yang biasa ditemui di luar. Nabi ﷺ bersabda:
«نِعْمَتَانِ
مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ»
“Ada dua ni’mat
yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR.
Al-Bukhori no. 6412)
Seorang
tabi’in terkemuka, Mak-hul
Asy-Syami (113 H) rohimahulloh, menggambarkan bagaimana kedisiplinan dan
pendalaman ilmu yang diperoleh dari lingkungan yang terjaga akan melahirkan
hikmah dalam diri seorang anak. Beliau berkata:
مَنْ
أَخْلَصَ لِلَّهِ الْعِبَادَةَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ظَهَرَتْ يَنَابِيعُ الْحِكْمَةِ
مِنْ قَلْبِهِ عَلَى لِسَانِهِ
“Siapa yang
mengikhlaskan diri karena Alloh selama 40 hari (fokus ibadah dan ilmu), niscaya
akan tampak sumber-sumber hikmah dari hatinya mengalir pada lisannya.” (Az-Zuhd,
Hannad As-Sirri, 2/357)
3.4
Menepis Keraguan dan Ketakutan Orang Tua saat Melepas Anak ke Pesantren
Rasa berat
dan sedih saat berpisah dengan anak adalah tabiat kemanusiaan yang wajar bagi
orang tua. Namun, ketakutan yang berlebihan seperti khawatir akan masa depan
dunianya atau rasa rindu yang menghalangi anak menuntut ilmu harus ditepis
dengan keyakinan Tauhid yang kuat. Alloh ﷻ menegaskan keutamaan
orang-orang yang berhijroh
dan berkorban demi agama-Nya:
﴿وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ
مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ﴾
“Dan
orang-orang yang berhijroh
karena Alloh sesudah mereka dizholimi, pasti Kami akan memberikan tempat yang
bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di Akhiroh adalah lebih
besar, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. An-Nahl: 41)
Setiap
pengorbanan perasaan yang dirasakan oleh bapak dan ibu saat melepas anak ke
pondok pesantren tidak akan sia-sia di hadapan Robb. Rosululloh ﷺ memberikan ketenangan bagi
hati orang tua melalui sabdanya:
«مَا
يُصِيبُ المُسْلِمَ، مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى
وَلاَ غَمٍّ، حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا، إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ»
“Tidaklah
apa pun yang menimpa seorang Muslim, baik berupa rasa lelah, rasa sakit,
kebimbangan, kesedihan, gangguan, kesusahan, sampai duri yang menusuknya,
melainkan Alloh akan menghapuskan dosa-dosanya dengan sebab perkara tersebut.” (HR.
Al-Bukhori no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Diceritakan seorang Salaf berkata: Ibuku berkata kepadaku: “Pergilah engkau untuk menuntut ilmu,
karena sesungguhnya jika engkau tidak pergi, engkau tidak akan menjadi apa-apa.” Maka aku pun pergi keluar dan aku
tidak melihatnya lagi setelah itu, karena sang ibu wafat saat aku berkelana menuntut ilmu.
Bab 4: Perjuangan
Membiayai Pendidikan Anak
4.1
Keutamaan Nafkah untuk Pendidikan Agama Anak
Mengeluarkan
harta demi membiayai pendidikan agama anak merupakan salah satu bentuk nafkah
yang paling tinggi kedudukannya di sisi Alloh ﷻ. Harta yang digunakan untuk
membayar biaya pondok pesantren, kitab-kitab, dan kebutuhan penuntut ilmu syar’i
bukanlah pemborosan, melainkan sedekah yang paling utama dan mendatangkan
keberkahan yang berlipat ganda. Alloh ﷻ berfirman mengenai
perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan ketaatan:
﴿مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ
مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Perumpamaan
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Alloh adalah serupa dengan
sebutir benih yang menumbuhkan 7 tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada 100 biji.
Alloh melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Alloh Maha Luas lagi
Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqoroh: 261)
Setiap
dinar atau dirham yang dikeluarkan oleh seorang bapak untuk mencukupi kebutuhan
anak-anaknya yang sedang fokus mempelajari syariat merupakan investasi Akhiroh
yang paling utama, bahkan mengungguli infak di jalan jihad dan sedekah kepada
orang miskin. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«دِينَارٌ
أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ
تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا
أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ»
“Dinar yang
engkau infakkan di jalan Alloh, dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan
budak, dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau
infakkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau
infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)
4.2
Janji Kemudahan bagi Orang Tua yang Bekerja demi Ilmu Anak
Kekhawatiran
akan kekurangan harta atau jatuh miskin karena biaya sekolah agama anak yang
dinilai besar adalah bisikan dari syaithon. Orang tua yang meluruskan niatnya
untuk bekerja keras membanting tulang demi memondokkan anak akan dibukakan
pintu-pintu rizqi yang tidak disangka-sangka, karena Alloh ﷻ senantiasa menolong hamba-Nya
yang menolong agama-Nya. Alloh ﷻ menjamin hal tersebut dalam
firman-Nya:
﴿وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
* وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ﴾
“Siapa
bertaqwa kepada Alloh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rizqi dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan siapa yang
bertawakkal kepada Alloh niscaya Alloh akan mencukupkan kebutuhannya.” (QS.
Ath-Tholaq: 2-3)
Keberadaan
seorang anak yang fokus menuntut ilmu di dalam sebuah keluarga justru sering
kali menjadi sebab utama mengalirnya rizqi dan kemudahan hidup bagi orang tua
yang bekerja membiayainya. Anas bin Malik menceritakan
pelajaran berharga melalui kisah dua orang bersaudara di zamannya:
كَانَ
أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ ﷺ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ ﷺ وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ، فَشَكَا المُحْتَرِفُ
أَخَاهُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ:
«لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ»
Dahulu ada
dua orang bersaudara pada masa Nabi ﷺ. Salah seorang dari keduanya selalu mendatangi Nabi ﷺ (untuk menuntut ilmu)
sedangkan yang satunya lagi bekerja. Lalu orang yang bekerja ini mengadukan
saudaranya kepada Nabi ﷺ.
Maka beliau bersabda: “Boleh
jadi engkau diberi rizqi dengan sebab saudaramu itu.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2345)
Apabila
seorang menginfakkan hartanya untuk anaknya dalam menuntut ilmu, niscaya Alloh
akan membukakan baginya satu pintu rizqi yang tidak pernah ia sangka-sangka
sebelumnya.
4.3
Menjauhkan Harta Harom dari Nafkah dan Biaya Sekolah Anak
Usaha keras
dalam membiayai anak harus dibarengi dengan ketelitian yang tinggi dalam
menjaga kehalalan harta. Memberi makan anak dan membayar biaya pendidikannya
dari sumber yang harom, seperti hasil riba, syubhat, atau kezholiman, akan
merusak fithroh anak, mengeraskan hatinya dari menerima nasihat, dan
menghalangi terkabulnya doa-doa kebaikan. Alloh ﷻ memerintahkan para Mu’min
untuk mengonsumsi yang halal:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rizqi yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Alloh, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah.” (QS. Al-Baqoroh: 172)
Daging yang
tumbuh dari makanan yang harom tidak akan melahirkan generasi yang sholih,
melainkan akan condong pada kemaksiatan dan kerusakan. Rosululloh ﷺ memberikan peringatan yang
sangat keras mengenai hal ini:
«كُلُّ
جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ»
“Setiap
tubuh yang tumbuh dari harta yang harom, maka Naar lebih utama baginya.” (Shohihul
Jami, no. 4519)
Seorang ulama Salaf terkemuka, Al-Fudhoil bin ‘Iyadlh (187
H) rohimahulloh, menjelaskan bagaimana pengaruh makanan dan harta yang
harom yang diberikan orang tua terhadap perilaku anak di rumah. Beliau menegaskan:
إِنَّي
لَأَعْصِي اللهَ فَأَعْرِفُ ذَلِكَ فِي خُلُقِ حِمَارِي وَخَادِمِي
“Sesungguhnya
aku benar-benar bermaksiat kepada Alloh (termasuk dalam urusan harta), maka aku
mengetahui dampak buruk maksiat tersebut pada perangai keledai tungganganku
dan pembantuku.” (Hilyatul
Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani (430 H), 8/109)
4.4
Para Ibu yang Berkorban Harta demi Ilmu Putranya
Sejarah
emas Islam mencatat peran luar biasa dari para ibu tunggal yang rela
menghabiskan seluruh harta warisan dan bekerja keras demi membiayai anak-anak
mereka agar bisa belajar kepada para ulama besar. Pengorbanan inilah yang
melahirkan imam-imam mazhab yang ilmunya tetap dimanfaatkan hingga hari ini.
Alloh ﷻ
memuji orang-orang yang mengorbankan jiwa dan hartanya demi keridhoan-Nya:
﴿وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ﴾
“Dan di
antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan
Alloh; dan Alloh Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqoroh:
207)
Ketulusan
para orang tua terdahulu dalam membiayai anak menuntut ilmu dilandasi oleh
keyakinan bahwa ilmu agama adalah warisan terbaik yang tidak akan pernah habis.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ عَنْ أَهْلِهَا حَرَّ الْقُبُورِ، وَإِنَّمَا يَسْتَظِلُّ الْمُؤْمِنُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي ظِلِّ صَدَقَتِهِ»
“Sesungguhnya
sedekah itu benar-benar memadamkan panasnya kubur dari pelakunya, dan hanyalah
seorang Mu’min itu akan bernaung pada hari Qiyamah di bawah naungan sedekahnya.”
(Silsilah Shohihah, no. 3484)
Kisah
ibunda Al-Imam Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh menjadi teladan abadi.
Ketika Imam Malik masih kecil, ibunya memakaikan pakaian terbaik dan imamah
kepadanya, lalu membiayai seluruh kebutuhannya seraya berkata:
اِذْهَبْ
إِلَى رَبِيعَةَ فَتَعَلَّمْ مِنْ أَدَبِهِ قَبْلَ عِلْمِهِ
“Pergilah
engkau kepada Robi’ah (guru Imam Malik), maka pelajarilah adabnya sebelum
engkau mempelajari ilmunya.” (Warotsatul Anbiya, Abdul Malik
bin Qosim, hal. 39)
Begitu pula
dengan ibunda Al-Imam Syafi’i (204 H) yang mengasuh putranya dalam keadaan
yatim dan fakir, namun rela mengumpulkan lembaran-lembaran kertas bekas dan
membiayai perjalanan Imam Syafi’i dari Makkah ke Madinah demi belajar kepada
Imam Malik. Kisah-kisah nyata ini menjadi bukti bahwa keterbatasan harta
bukanlah penghalang, melainkan cambuk perjuangan bagi para orang tua yang
mendambakan aset termahal di Akhiroh.
Bab 5: Menemani
Proses Belajar Anak
5.1
Kewajiban Bersabar Menghadapi Proses Panjang Pendidikan Anak
Mendidik
anak di lembaga pendidikan agama atau pondok pesantren bukanlah proses instan
yang hasilnya dapat dipetik dalam waktu singkat. Orang tua dituntut untuk
memiliki kelapangan dada dan kesabaran yang kokoh dalam menghadapi setiap
tahapan, ujian perasaan, serta kejenuhan yang mungkin dialami oleh anak. Alloh ﷻ memerintahkan hamba-Nya untuk
senantiasa bersabar dan meneguhkan kesabaran tersebut:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga dan bertaqwalah kepada Alloh, agar kamu beruntung.” (QS.
Ali ‘Imron: 200)
Kesabaran
orang tua dalam menahan rindu dan menghadapi ujian biaya serta tabiat anak akan
berbuah pahala yang tanpa batas di sisi Alloh ﷻ. Setiap tetes keringat dan
air mata yang keluar karena menahan beratnya proses ini tidak akan disia-siakan
oleh-Nya. Nabi ﷺ
bersabda:
«عَجَبًا
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا
لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ
ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh
menakjubkan urusan seorang Mu’min, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik,
dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh orang Mu’min; jika ia
mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka hal itu baik baginya, dan jika ia
ditimpa kesusahan ia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (HR. Muslim no.
2999)
5.2
Komunikasi antara Orang Tua dan Pihak Sekolah
Keberhasilan
pendidikan anak di pondok pesantren tidak dapat terwujud tanpa adanya
keselarasan visi dan kerja sama yang baik antara orang tua di rumah dan para
guru di lembaga pendidikan. Orang tua tidak boleh berlepas tangan sepenuhnya
setelah menyerahkan anak ke pesantren, melainkan harus terus mendukung aturan
sekolah dan menjaga komunikasi yang penuh adab. Alloh ﷻ memerintahkan untuk saling
tolong-menolong dalam kebaikan:
﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾
“Dan tolong-menolonglah
kamu dalam kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa
dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat
berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Sinergi
yang sholih ini dibangun di atas pondasi persaudaraan Islam yang saling
menguatkan, bukan saling menjatuhkan atau mencari-cari kesalahan pihak pengajar
ketika anak menghadapi masalah kedisiplinan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«الْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا»
“Seorang Mu’min
dengan Mu’min yang lainnya adalah seperti sebuah bangunan yang saling
menguatkan satu sama lain.” (HR. Al-Bukhori no. 481 dan Muslim no. 2585)
Al-Imam
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh mengingatkan betapa pentingnya
keridhoan dan kepercayaan orang tua serta murid kepada sang guru agar
keberkahan ilmu dapat diraih. Beliau menegaskan dalam sya’irnya:
اِصبِر
عَلى مُرِّ الجَفا مِن مُعَلِّمٍ ... فَإِنَّ رُسُوبَ العِلْمِ فِي نَفَرَاتِهِ
“Bersabarlah
engkau terhadap kerasnya sikap dari seorang guru, karena sesungguhnya
tertanamnya ilmu itu ada pada keridhoan dan interaksi bersamanya.” (Diwan
Al-Imam Asy-Syafi’i, hlm. 39)
5.3
Doa Orang Tua untuk Anak
Senjata
paling ampuh yang dimiliki oleh bapak dan ibu dalam menemani proses belajar
anak adalah doa yang dipanjatkan dengan penuh ketundukan kepada Alloh ﷻ. Doa orang tua memiliki
kedudukan khusus yang langsung menembus langit tanpa penghalang, terutama doa
agar anak-anak diberikan keteguhan hati dalam menghafal Al-Qur’an dan memahami
syariat. Alloh ﷻ
mengajarkan doa hamba-hamba-Nya yang sholih:
﴿وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا
مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا﴾
“And
orang-orang yang berkata: ‘Ya Robb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan
kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertaqwa.” (QS. Al-Furqon: 74)
Orang tua
harus berhati-hati dalam berucap dan senantiasa melisankan kebaikan, karena doa
kebaikan maupun keburukan dari mulut orang tua kepada anaknya pasti akan
dikabulkan oleh Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ
فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ»
“Ada tiga
doa yang mustajab yang tidak ada keraguan padanya: doa orang orang tua,
doa musafir, dan doa orang yang terzholimi.” (HHR. Abu Dawud no. 1536)
Seorang
ulama Tabi’in terkemuka, Fudhoil bin ‘Iyadlh (187 H) rohimahulloh,
mencontohkan bagaimana keterbatasan kemampuan dirinya dalam mendidik anak
dipasrahkan sepenuhnya melalui untaian doa kepada Alloh ﷻ demi kesholehan putranya,
Ali. Beliau berdoa:
اللَّهُمَّ
إِنِّيْ اجْتَهَدْتُ أَنْ أُؤَدِّبَ عَلِيًّا، فَلَمْ أَقْدِرْ عَلَى تَأْدِيْبِهِ،
فَأَدِّبْهُ أَنْتَ لِي
“Ya Alloh,
sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh untuk mendidik adab bagi Ali (putra
beliau) namun aku tidak mampu mendidiknya, maka didiklah adab untuknya oleh-Mu untukku aku.” (Siyar A’lamin Nubala’,
Al-Hafizh Adz-Dzahabi (748 H), 8/445)
Ali putra beliau meninggal saat Sholat karena mendengar ayat
Neraka yang dibaca imam Sholat.
5.4
Tawakkal kepada Alloh Setelah Berusaha Maksimal dalam Mendidik
Setelah
segala ikhtiar lahiriah dilakukan secara maksimal—mulai dari memilihkan sekolah
yang baik, membiayai
dengan harta yang halal, hingga menemani dengan kesabaran—maka muara akhir dari
perjuangan orang tua adalah berserah diri sepenuhnya (tawakkal) kepada Alloh ﷻ. Orang tua harus yakin bahwa
hidayah taufiq dan keberhasilan sejati berada di tangan Robb semata. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ﴾
“Kemudian
apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh.
Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS.
Ali ‘Imron: 159)
Sikap
tawakkal yang benar akan melahirkan ketenangan di dalam hati bapak dan ibu.
Mereka tidak akan didera kecemasan yang merusak pikiran mengenai masa depan
dunia sang anak, karena mereka tahu anak mereka berada dalam penjagaan
sebaik-baik Penjaga. Nabi ﷺ
bersabda:
«لَوْ
أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا
يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»
“Seandainya
kalian bertawakkal kepada Alloh dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Dia akan
memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizqi kepada burung;
ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam
keadaan kenyang.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2344)
Apabila ma’rifah
(pengenalan yang mendalam terhadap Alloh) telah menetap di dalam hati,
niscaya ia akan menjadikan hati tersebut senantiasa bertawakkal.
Penutup
Perjalanan
mendidik anak di atas timbangan syariat merupakan untaian perjuangan yang
memeras peluh, menghabiskan harta, dan menuntut keteguhan jiwa yang luar biasa.
Namun, di balik setiap kepayahan yang dihadapi oleh bapak dan ibu saat melepas
buah hatinya menuntut ilmu ke sekolah agama atau pondok pesantren, terbentang
janji agung yang tidak akan pernah menyalahi. Anak yang sholih dan bertaqwa
bukan sekadar perhiasan dunia yang semu, melainkan aset termahal yang akan
terus mengalirkan kemuliaan bagi orang tuanya, bahkan ketika raga telah
terbujur kaku di dalam liang kubur. Alloh ﷻ memberikan penegasan mengenai
keindahan balasan bagi hamba-hamba-Nya yang istiqomah dalam kebaikan:
﴿إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ﴾
“Sesungguhnya
orang-orang yang mengatakan: ‘Robb kami ialah Alloh’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun
kepada mereka dengan mengatakan: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembirakanlah
mereka dengan memperoleh Jannah yang telah dijanjikan Alloh kepadamu.’” (QS. Fushshilat: 30)
Kesadaran
akan beratnya tantangan zaman akhir ini semestinya memicu tekad yang lebih kuat
di dalam dada setiap orang tua. Menyerahkan anak-anak kepada lembaga pendidikan
yang terbimbing di atas manhaj yang lurus adalah ikhtiar terbesar untuk
menyelamatkan fithroh mereka dari gelombang syubhat dan syahwat. Pengorbanan
yang dikeluarkan hari ini akan terasa kecil nilainya ketika kelak di hari Qiyamah,
seorang bapak dan ibu dipakaikan mahkota cahaya disebabkan oleh Al-Qur’an dan
ilmu yang diamalkan oleh anak-anak mereka. Rosululloh ﷺ memberikan motivasi tertinggi
melalui sabdanya:
«مَنْ
قَرَأَ الْقُرْآنَ وَعَمِلَ بِمَا فِيهِ، أُلْبِسَ وَالِدَاهُ تَاجًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
ضَوْءُهُ أَحْسَنُ مِنْ ضَوْءِ الشَّمْسِ فِي بُيُوتِ الدُّنْيَا لَوْ كَانَتْ فِيكُمْ،
فَمَا ظَنُّكُمْ بِالَّذِي عَمِلَ بِهَذَا؟»
“Siapa yang
membaca Al-Qur’an dan mengamalkan apa yang terkandung di dalamnya, niscaya
kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota pada hari Qiyamah, yang cahayanya
lebih bagus daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia seandainya matahari
itu ada di tengah-tengah kalian. Maka bagaimana perkiraan kalian dengan orang
yang mengamalkan hal ini sendiri?” (HR. Abu Dawud no. 1453.
Dinyatakan shohih oleh Abdullah Ad-Duwais dalam Tanbihul Qori 1/3)
Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mendirikan Sholat
lalu Alloh mengangkat Sholatnya, dan anaknya mendirikan Sholat setelah dirinya
lalu Alloh mengangkat Sholat bapaknya disebabkan oleh Sholat anaknya tersebut,
hingga Alloh mengumpulkan keduanya di dalam Jannah.
Semoga
untaian ilmu, dalil, dan risalah yang tersaji di dalam buku ini mampu menjadi
penguat azam bagi para orang tua untuk tidak ragu melangkahkan kaki
putra-putrinya ke gerbang-gerbang ilmu syar’i. Hanya kepada Alloh ﷻ kita memohon taufiq,
perlindungan, dan kelapangan hati agar senantiasa dimampukan dalam menjaga
amanah terindah ini, hingga kelak kita dapat berkumpul kembali bersama keluarga
tercinta di dalam Jannah-Nya yang penuh kedamaian.[NK]
