Cari Ebook

[PDF] Maulid Nabi Antara Cinta Nabi dengan Cinta Tradisi - Nor Kandir

 


Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم

Segala puji bagi Alloh yang telah menyempurnakan agama Islam bagi hamba-hamba-Nya dan mencukupkan ni’mat-Nya atas kita semua.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Rosululloh , yang diutus sebagai rohmat bagi semesta alam, serta kepada keluarga, para Shohabat, dan pengikutnya yang setia hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Mencintai Nabi bukan sekadar untaian kata yang menghiasi lisan, bukan pula gempita perayaan yang datang setahun sekali. Cinta yang sejati adalah getaran hati yang membuahkan ketundukan mutlak, yang memaksa raga untuk tunduk di bawah naungan Sunnah, dan menjadikannya sebagai timbangan utama dalam setiap langkah kehidupan.

Di tengah hiruk-pikuk tradisi yang kian mengaburkan batasan syariat, seringkali cinta disalahpahami sebagai sekadar dendang syair atau ritual lahiriyah, sementara Sunnah yang beliau wariskan justru terabaikan bahkan dibenci oleh sebagian kalangan. Buku ini hadir untuk mengajak kita menyelami kembali makna cinta yang sesungguhnya kepada Sang Musthofa , memisahkan antara kemurnian tuntunan dengan kerancuan adat, serta membuktikan bahwa jalan keselamatan hanyalah dengan mengikuti jejak langkah beliau secara utuh tanpa ditambah maupun dikurangi. Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan diajak untuk berfikir kritis dan jernih, menimbang setiap amalan dengan neraca dalil, agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan di hadapan Sang Robb kelak.

 

Bab 1: Hakikat Cinta Kepada Sang Rosul

1.1 Definisi cinta sejati dalam timbangan syariat

Cinta dalam Islam bukanlah perasaan hampa yang tanpa bukti. Ia adalah pondasi amalan yang menuntut adanya pembuktian melalui ketaatan. Alloh berfirman:

﴿قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imron: 31)

Ayat di atas merupakan timbangan yang jujur bagi siapa saja yang mengaku mencintai Robb-nya dan Rosul-Nya. Mengikuti jejak Rosul (ittiba’) adalah konsekuensi logis dari sebuah pengakuan cinta. Al-Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh berkata mengenai ayat ini:

زَعَمَ قَوْمٌ أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ

“Suatu kaum mengklaim bahwa mereka mencintai Alloh, maka Alloh menguji mereka dengan ayat ini.” (Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir (774 H), 1/358)

Cinta sejati adalah yang menggerakkan pemiliknya untuk bersegera melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Tanpa adanya kepatuhan, pengakuan cinta hanyalah sebuah kedustaan. Rosululloh bersabda:

«لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Arbain Nawawi no. 41)

1.2 Kedudukan Nabi sebagai sosok yang paling dicintai melebihi diri sendiri

Seorang Mu’min wajib menempatkan kecintaannya kepada Nabi di atas kecintaan kepada apa pun di dunia ini, bahkan di atas cintanya kepada dirinya sendiri. Alloh berfirman:

﴿النَّبِىُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ﴾

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mu’min dibandingkan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Kedekatan dan keutamaan beliau di hati seorang Muslim haruslah melampaui kepentingan pribadi. Dalam sebuah Hadits shohih diceritakan bahwa Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata kepada Nabi :

يَا رَسُولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ» فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الآنَ يَا عُمَرُ»

“Wahai Rosululloh, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda: “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata: “Sekarang, demi Alloh, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi bersabda: “Sekarang (baru benar) wahai Umar.” (HR. Al-Bukhori no. 6632)

Kecintaan yang tulus juga harus melebihi cinta kepada keluarga dan harta benda. Nabi bersabda:

«لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ»

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan Muslim no. 44)

Kecintaan ini akan membuahkan rasa manis dalam iman yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang hatinya terpaut pada dunia.

«ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا...»

“Ada 3 perkara yang jika ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Menjadikan Alloh dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya...” (HR. Al-Bukhori no. 16 dan Muslim no. 43)

1.3 Keutamaan mendahulukan perintah Nabi di atas keinginan hawa nafsu

Cinta yang benar meniscayakan adanya sikap mendahulukan titah sang kekasih di atas segala keinginan pribadi. Jika seseorang mengaku cinta namun tetap memuaskan hawa nafsunya dengan cara menyelisihi Sunnah, maka cintanya sedang bermasalah. Alloh memberikan ancaman keras bagi mereka yang menyelisihi perintah Rosul-Nya:

﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul itu takut akan ditimpa fitnah (kesesatan) atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)

Sifat seorang Mu’min ketika datang perintah dari Alloh dan Rosul-Nya adalah sami’naa wa atho’naa (kami dengar dan kami taat), bukan mencari-cari alasan atau mendahulukan tradisi nenek moyang. Alloh berfirman:

﴿وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mu’min dan perempuan yang Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Cinta kepada Nabi menuntut kita untuk menjadikan beliau sebagai satu-satunya rujukan dalam beragama. Ibnul Qoyyim (751 H) rohimahulloh menjelaskan tentang hakikat ketaatan: “Setiap kecintaan yang tidak mendorong untuk mencintai apa yang dicintai oleh sang kekasih dan membenci apa yang dibencinya, maka itu adalah kecintaan yang dusta.”

1.4 Bahaya bersikap ghuluw atau melampaui batas dalam memuji dan mengagungkan

Mencintai Nabi bukan berarti kita diperbolehkan untuk bersikap ghuluw (melampaui batas) dalam memuji beliau hingga memberikan sifat-sifat ketuhanan kepada beliau. Beliau sendiri telah memperingatkan ummatnya agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang dilakukan oleh kaum Nashroni terhadap Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Beliau bersabda:

«لاَ تُطْرُونِي، كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nashroni berlebih-lebihan memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah: Hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)

Sikap ghuluw adalah pintu masuk menuju kesyirikan dan rusaknya aqidah. Mengagungkan Nabi harus sesuai dengan kedudukan yang telah Alloh berikan, yaitu sebagai Nabi dan utusan-Nya yang paling mulia, tanpa mengangkatnya ke derajat Robb yang mengetahui perkara ghoib secara mutlak atau pemberi syafaat tanpa izin Alloh . Alloh memerintahkan Nabi-Nya untuk berkata:

﴿قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِىَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak pula dapat menolak mudhorot kecuali apa yang Alloh kehendaki. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa marabahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’rof: 188)

Banyak tradisi yang berkembang saat ini justru berisi pujian-pujian yang melampaui batas, bahkan mengandung unsur kesyirikan yang dibenci oleh Nabi sendiri. Beliau bersabda:

«إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ»

“Jauhilah oleh kalian sikap melampaui batas (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa disebabkan sikap melampaui batas dalam agama.” (HSR. An-Nasa’i no. 3057)

Cinta yang selamat adalah cinta yang dibimbing oleh ilmu dan Sunnah, bukan cinta yang lahir dari perasaan yang meledak-ledak namun kosong dari tuntunan syariat. Membenci mereka yang mengingatkan untuk tidak ghuluw adalah bentuk nyata dari ketidaktahuan terhadap hakikat cinta itu sendiri.

 

Bab 2: Menelisik Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Maulid

2.1 Keadaan para Shohabat dan Tabi’in dalam memuliakan hari kelahiran Nabi

Generasi terbaik ummat ini adalah para Shohabat yang dibimbing langsung oleh wahyu. Mereka adalah manusia yang paling mengerti cara mencintai Nabi dan paling bersemangat dalam melakukan kebaikan. Jika memuja hari kelahiran dengan perayaan khusus adalah sebuah kebaikan, tentu mereka adalah orang pertama yang akan melaksanakannya. Namun, lembaran sejarah Islam yang paling murni tidak mencatat adanya satu pun ritual perayaan tersebut dari lisan maupun perbuatan mereka. Alloh memuji mereka dalam Kitab-Nya:

﴿وَالسَّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَٰجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi mereka Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)

Kecintaan para Shohabat kepada Nabi telah mencapai puncaknya hingga mereka mempertaruhkan nyawa dan harta. Namun, kemuliaan itu mereka wujudkan dengan ketaatan yang mutlak dan penjagaan terhadap Sunnah, bukan dengan membuat-buat cara baru dalam ibadah. Nabi bersabda:

«خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Al-Bukhori no. 2652 dan Muslim no. 2533)

Dalam 3 generasi mulia yang mendapatkan persaksian langsung dari lisan Nabi ini, tidak ditemukan adanya peringatan Maulid. Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu, Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu, dan Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu adalah orang-orang yang paling tahu tentang kedudukan Nabi , namun mereka tidak pernah mengkhususkan hari kelahiran beliau sebagai hari raya atau ritual tahunan. Imam Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh memberikan kaidah yang sangat berharga:

لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، لَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا

“Tidak akan memperbaiki keadaan akhir ummat ini kecuali apa yang telah memperbaiki keadaan awalnya. Maka apa-apa yang pada hari itu (zaman Shohabat) bukan merupakan bagian dari agama, maka pada hari ini pun hal itu bukan merupakan bagian dari agama.” (Al-I’tishom. Lihat Hajjatun Nabi lil Albani, 1/103)

2.2 Sejarah munculnya perayaan Maulid pada masa Daulah Ubaidiyyah (Fathimiyyah)

Sejarah mencatat bahwa perayaan Maulid pertama kali muncul pada abad ke-4 Hijriyyah, jauh setelah masa keemasan para Salafus Sholih. Tradisi ini diprakarsai oleh Daulah Ubaidiyyah, sebuah dinasti yang berkuasa di Mesir yang berpaham Syi’ah Isma’iliyyah dan dikenal sangat memusuhi Sunnah. Mereka sengaja menciptakan berbagai perayaan untuk menarik simpati rakyat dan mengaburkan ajaran Islam yang murni. Al-Maqrizi (845 H) rohimahulloh, seorang pakar sejarah Islam, menjelaskan dalam kitabnya:

“Dahulu para kholifah Fathimiyyah menjadikannya (hari-hari tersebut) sebagai hari-hari raya dan perayaan-perayaan yang dengannya keadaan rakyat menjadi lapang dan ni’mat-ni’mat mereka bertambah banyak.

Dan dahulu para kholifah Fathimiyyah memiliki banyak hari raya dan perayaan-perayaan di sepanjang tahun, yaitu: perayaan tahun baru, perayaan awal tahun, hari ‘Asyuro, Maulid Nabi , Maulid Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu ‘anhu, Maulid Al-Hasan, Maulid Al-Husain rodhiyallahu ‘anhuma, Maulid Fathimah Az-Zahro rodhiyallahu ‘anha, Maulid kholifah yang sedang berkuasa, malam pertama bulan Rojab, malam pertengahannya (Nisfu Rojab), malam pertama bulan Sya’ban, malam pertengahannya (Nisfu Sya’ban), perayaan malam Romadhon, awal bulan Romadhon, jamuan makan (simath) Romadhon, malam khatam (Al-Qur’an), perayaan Idul Fithri, perayaan Idul Adha (Nahr), Idul Ghodir, pembagian pakaian musim dingin, pembagian pakaian musim panas, perayaan pembukaan bendungan (kholij), hari Nairuz (tahun baru Persia), hari Al-Ghithas (tradisi baptis Nasroni), hari kelahiran (Natal), Kamis Adas, dan hari-hari perarakan (kendaraan kebesaran).” (Al-Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khithoth wal Atsar, Al-Maqrizi (845 H), 2/591)

Kenyataan sejarah ini menunjukkan bahwa akar dari perayaan ini bukan berasal dari ajaran Rosululloh atau para Shohabatnya yang mulia, melainkan dari kelompok yang memiliki rekam jejak penyimpangan dalam aqidah. Agama Islam telah sempurna sebelum mereka muncul. Alloh berfirman:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَٰمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhoi Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma’idah: 3)

Maka, setiap tambahan dalam urusan agama setelah wafatnya Nabi adalah perkara baru yang ditolak. Nabi memperingatkan:

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)

2.3 Sebab-sebab masuknya tradisi asing ke dalam lingkungan kaum Muslim

Masuknya perayaan Maulid ke tengah masyarakat Muslim tidak lepas dari pengaruh tasyabbuh (menyerupai) kaum di luar Islam, terutama kaum Nashroni yang memiliki tradisi merayakan hari lahir Nabi ‘Isa ‘alaihissalam (Natal). Kecenderungan untuk mengekor tradisi luar ini sebenarnya telah diprediksi oleh Nabi sebagai salah satu fitnah yang akan menimpa ummatnya. Beliau bersabda:

«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ»، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى قَالَ: «فَمَنْ»

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejangkal demi sejangkal dan sehasta demi sehasta, bahkan sekiranya mereka masuk ke dalam lubang dhowb (hewan melata sejenis kadal gurun), niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai Rosululloh, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nashroni?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Al-Bukhori no. 3456 dan Muslim no. 2669)

Larangan untuk menyerupai kaum lain dalam masalah ritual agama adalah prinsip yang sangat tegas dalam Islam. Nabi bersabda:

«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu Dawud no. 4031)

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh menjelaskan tentang fenomena ini:

فَإِنَّ هَذَا لَمْ يَفْعَلْهُ السَّلَفُ، مَعَ قِيَامِ الْمُقْتَضِي لَهُ وَعَدَمِ الْمَانِعِ مِنْهُ لَوْ كَانَ خَيْرًا. وَلَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا مَحْضًا، أَوْ رَاجِحًا لَكَانَ السَّلَفُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحَقَّ بِهِ مِنَّا، فَإِنَّهُمْ كَانُوا أَشَدَّ مَحَبَّةً لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَتَعْظِيمًا لَهُ مِنَّا، وَهُمْ عَلَى الْخَيْرِ أَحْرَصُ.

“Sesungguhnya perbuatan ini (Maulid) tidak pernah dilakukan oleh para Salaf, padahal faktor pendorongnya ada dan tidak ada penghalang darinya sekiranya hal itu merupakan sebuah kebaikan. Dan sekiranya hal ini adalah murni kebaikan atau sesuatu yang lebih kuat (untuk dikerjakan), tentu para Salaf rodhiyallahu ‘anhum lebih berhak melakukannya daripada kita, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling kuat kecintaannya kepada Rosululloh dan paling agung dalam memuliakan beliau dibandingkan kita, dan mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam mengejar kebaikan.” (Iqtidho’ Ash-Shirothol Mustaqim, Ibnu Taimiyyah (728 H), 2/123)

2.4 Alasan para Imam Madzhab yang empat tidak pernah mencontohkan ritual ini

Para Imam Madzhab yang empat: Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (179 H), Imam Asy-Syafi’i (204 H), dan Imam Ahmad (241 H), adalah pilar-pilar ilmu yang sangat kokoh dalam menjaga warisan Nabi . Dalam ribuan halaman karya mereka dan murid-murid mereka, tidak akan ditemukan satu pun anjuran untuk merayakan Maulid. Kesunyian mereka dari amalan ini adalah bukti kuat bahwa Maulid bukan bagian dari syariat Islam yang dibawa oleh Nabi .

Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh berkata tentang pentingnya mengikuti atsar (jejak Salaf):

مَثَلُ الَّذِي يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلَا حُجَّةٍ، كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ يَحْمِلُ حِزْمَةَ حَطَبٍ وَفِيهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لَا يَدْرِي

“Barangsiapa mencari ilmu tanpa atsar, maka ia bagaikan orang yang mencari kayu bakar di malam hari, ia membawa seikat kayu yang di dalamnya ada ular berbisa namun ia tidak menyadarinya.” (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubro, Al-Baihaqi (458 H), 1/211)

Para Imam tersebut sangat takut jika mereka menambah-nambah perkara dalam agama. Mereka berpegang teguh pada wasiat Nabi :

«فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru itu adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)

Sekiranya merayakan Maulid adalah bentuk kecintaan yang diakui syariat, tentulah Imam Malik yang menghuni Madinah dan sangat menghormati tanah harom tidak akan melewatkannya. Begitu pula Imam Ahmad yang rela disiksa demi mempertahankan kemurnian aqidah. Mereka tidak melakukannya karena mereka tahu bahwa cinta sejati adalah ittiba’ (mengikuti), bukan ibtida’ (membuat bid’ah). Abdulloh bin Mas’ud (32 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

اتَّبِعُوا وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ

“Ikutilah (Sunnah) dan janganlah kalian berbuat Bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupkan (dengan syariat yang ada).” (HR. Ad-Darimi, no. 214, shohih)

 

Bab 3: Memahami Kesempurnaan Agama dan Larangan Bid’ah

3.1 Penjelasan ayat Al-Qur’an tentang telah sempurnanya agama Islam

Salah satu nikmat terbesar yang Alloh berikan kepada ummat Islam adalah kesempurnaan agama ini. Tidak ada satu pun pintu kebaikan kecuali telah ditunjukkan oleh Nabi , dan tidak ada satu pun pintu keburukan kecuali telah beliau peringatkan. Keyakinan akan sempurnanya Islam mengharuskan kita untuk tidak merasa perlu menambah-nambah ritual baru yang tidak pernah dicontohkan. Alloh berfirman:

﴿وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾

“Telah sempurnalah kalimat Robb-mu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)

Imam Malik (179 H) rohimahulloh memberikan pernyataan yang sangat menggetarkan hati bagi siapa saja yang ingin membuat amalan baru dalam agama:

مَنِ ابْتَدَعَ فِي الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونَ اليَوْمَ دِينًا

“Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati risalah. Karena Alloh berfirman: ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian’. Maka apa-apa yang pada hari itu bukan merupakan bagian dari agama, maka pada hari ini pun ia bukan merupakan bagian dari agama.” (Mukhtashor Al-I’tishom, ‘Alawi Saqqof, 1/17)

Sikap merasa perlu menambah perayaan atau ritual tertentu seolah-olah mengisyaratkan bahwa agama yang dibawa Nabi masih memiliki kekurangan yang perlu ditambal. Ini adalah pemikiran yang sangat berbahaya bagi aqidah seorang Muslim. Alloh telah memerintahkan kita untuk mengikuti apa yang diturunkan-Nya saja:

﴿اتَّبِعُوا مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’rof: 3)

3.2 Mengenal hakikat bid’ah dan dampaknya yang merusak keaslian tuntunan agama

Bid’ah secara bahasa berarti sesuatu yang baru. Namun secara syariat, ia adalah cara baru dalam beragama yang dibuat-buat menyerupai syariat dengan tujuan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Alloh . Bahaya Bid’ah lebih besar daripada kemaksiatan biasa, karena pelaku bid’ah merasa sedang melakukan kebaikan sehingga ia sulit untuk bertaubat. Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»

“Sesungguhnya Alloh menghalangi taubat dari setiap pelaku Bid’ah hingga ia meninggalkan Bid’ahnya.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4202, dishohihkan Al-Albani dalam Shohihut Targhib no. 54)

Setiap kali sebuah bid’ah dihidupkan, maka satu Sunnah akan mati. Inilah cara syaithon merusak agama ini dari dalam. Hati yang sibuk dengan perayaan-perayaan yang tidak berdalil biasanya akan lalai dari mengamalkan Sunnah-sunnah harian yang sangat ditekankan. Alloh berfirman tentang orang-orang yang merasa telah beramal baik namun sebenarnya sia-sia:

﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيَٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)

Syarat diterimanya amal sholih ada dua: ikhlas karena Alloh dan sesuai dengan tuntunan Rosululloh (mutaba’ah). Tanpa mutaba’ah, sebesar apa pun biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk sebuah tradisi, ia tetap tertolak di sisi Alloh . Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata mengenai ayat “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala” (Agar Dia menguji kalian siapa yang paling baik amalnya):

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ، قَالُوا: يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ؟ قَالَ: إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Yang paling ikhlas dan yang paling benar.” Mereka bertanya: “Wahai Abu Ali, apa itu yang paling ikhlas dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya amal jika dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Jika dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sampai amal itu dilakukan dengan ikhlas dan benar. Ikhlas adalah dilakukan karena Alloh, dan benar adalah dilakukan di atas Sunnah.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim (430 H), 8/95)

3.3 Menepis keraguan seputar anggapan adanya bid’ah hasanah dalam perkara ibadah

Seringkali argumen yang digunakan untuk melegitimasi tradisi Maulid adalah anggapan bahwa perbuatan tersebut merupakan “bid’ah hasanah” (bid’ah yang baik). Namun, jika kita merujuk pada sabda Nabi , beliau memberikan kaidah yang bersifat menyeluruh tanpa pengecualian dalam masalah agama. Beliau bersabda:

«فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»

“Maka sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no. 4607)

Kata “Kullu” (setiap) dalam bahasa Arob menunjukkan keumuman. Jika Nabi mengatakan “setiap” bid’ah adalah sesat, maka tidak ada ruang bagi manusia untuk mengatakan ada bid’ah yang baik dalam urusan ibadah mahdhoh. Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhu memberikan penegasan:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً

“Setiap bid’ah adalah kesesatan, meskipun manusia menganggapnya sebagai kebaikan.” (Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i (418 H), 1/104)

Adapun perkataan Umar bin Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu tentang Sholat Tarawih berjamaah: “Ni’matul bid’atu hadzihi” (sebaik-baik bid’ah adalah ini), maka yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa, bukan syariat. Karena Sholat Tarowih berjamaah memiliki asal usul dari Nabi yang pernah melakukannya selama beberapa malam sebelum akhirnya beliau tinggalkan karena khawatir akan diwajibkan atas ummatnya. Umar hanya menghidupkan kembali Sunnah yang sempat terhenti, bukan membuat syariat baru yang tidak ada asalnya.

Adapun Maulid, ia tidak memiliki asal usul dari Nabi maupun para Shohabat. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi disebut sebagai kebaikan dalam agama? Alloh berfirman:

﴿أَمْ لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ﴾

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 21)

3.4 Kewajiban mencukupkan diri dengan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan Rosul

Keselamatan seorang hamba terletak pada kemampuannya untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah ada (ittiba’) dan tidak melampaui batas dengan membuat inovasi baru dalam ibadah. Nabi telah meninggalkan kita di atas jalan yang sangat terang. Beliau bersabda:

«قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ»

“Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.” (HSR. Ibnu Majah no. 43 dan Ahmad no. 17142)

Seorang yang benar-benar cinta kepada Nabi akan merasa cukup dengan apa yang beliau ajarkan. Ia akan sibuk mempelajari Hadits-hadits beliau, mengamalkan Sholat Sunnahnya, Puasa Sunnahnya, dan Dzikir-dzikirnya yang shohih.

Ad-Darini (255 H) rohimahulloh meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:

الْاِقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

“Sederhana dalam mengamalkan Sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam melakukan bid’ah.” (Shohih At-Targhib, no. 41)

Kita diperintahkan untuk mengikuti cahaya yang dibawa Nabi tanpa perlu menambah-nambahinya dengan perasaan atau tradisi. Alloh berfirman:

﴿فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُولَٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾

“Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’rof: 157)

Memuliakan Nabi bukan dengan membuat pesta tahunan, melainkan dengan tunduk pada hukum-hukumnya di setiap detik kehidupan kita. Memaksakan sebuah tradisi yang tidak berdasar hanya akan membawa kita menjauh dari kemurnian Islam yang sejati.

Bab 4: Menimbang Tradisi dengan Timbangan Dalil yang Shohih

4.1 Tinjauan kritis terhadap isi syair, prosa, dan kitab-kitab yang dibaca saat Maulid

Dalam banyak majelis tradisi, seringkali dibacakan kitab-kitab pujian yang disusun oleh manusia. Meskipun niatnya memuji, namun jika tidak dibimbing oleh dalil yang shohih, pujian tersebut seringkali tergelincir pada sifat-sifat yang hanya milik Alloh semata. Di antara syair-syair tersebut ada yang menyebutkan bahwa Rosululloh mengetahui segala rahasia di dalam dada atau beliau adalah pemberi rizqi dan pengatur alam. Padahal, urusan ghoib dan pengaturan alam adalah hak mutlak Robb semesta alam. Alloh berfirman:

﴿قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali Alloh.” (QS. An-Naml: 65)

Mengagungkan Nabi dengan memberikan sifat ketuhanan kepada beliau justru menyakiti hati beliau yang sangat lurus (hanif). Beliau sangat marah ketika ada seseorang yang memuji beliau secara berlebihan. Pernah ada seorang Shohabat berkata kepada Nabi : “Apa yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki.” Maka Nabi bersabda:

«أَجَعَلْتَنِي وَاللهَ عَدْلًا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ»

“Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai tandingan bagi Alloh? Akan tetapi katakanlah: Apa yang dikehendaki Alloh semata.” (HSR. Ahmad no. 1839)

Setiap bait syair harus ditimbang dengan keimanan yang benar. Menjadikan Nabi sebagai tempat meminta perlindungan di saat kesusahan (istighotsah) yang seharusnya hanya ditujukan kepada Alloh adalah sebuah kezholiman terhadap hak Robb. Alloh berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Dan sesungguhnya Masjid-Masjid itu adalah kepunyaan Alloh. Maka janganlah kalian menyembah apa pun di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)

Salah satu bukti paling nyata terdapat dalam kitab Al-Burdah karya Al-Bushiri (694 H) yang sangat masyhur dibacakan. Dalam salah satu baitnya disebutkan:

فَإِنَّ مِنْ جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا ... وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

“Sesungguhnya di antara kedermawananmu (wahai Nabi) adalah dunia dan akhirat (dhorrotuha), dan di antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Al-Qolam.” (Diwan Al-Bushiri, hal. 240-248)

Bait di atas mengandung penyimpangan aqidah yang sangat berat karena:

1)      Menyebutkan dunia dan Akhirat adalah bagian dari kedermawanan Nabi , padahal dunia dan Akhirat adalah milik Alloh semata.

2)      Menyebutkan bahwa Nabi mengetahui isi Lauhul Mahfuzh, padahal ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh adalah perkara ghoib yang hanya diketahui oleh Alloh.

Bukti lain juga ditemukan dalam kitab Maulid Ad-Diba’i karya Abdurrohman Ad-Diba’i (944 H). Dalam sebuah sya’ir disebutkan kalimat yang mengarah pada pengultusan di mana Nabi dianggap sebagai tujuan diciptakannya alam semesta:

...اَلْكَوْنُ إِشَارَةٌ وَأَنْتَ الْمَقْصُوْدُ...

“Alam semesta ini hanyalah isyarat, dan engkaulah (wahai Muhammad) tujuannya.”

Pernyataan ini memberikan sifat Rububiyyah kepada Nabi . Di dalam Islam, tujuan penciptaan alam semesta dan manusia hanyalah untuk beribadah kepada Alloh semata, sebagaimana firman-Nya dalam (QS. Adz-Dzariyat: 56). Mengatakan bahwa Nabi adalah “tujuan” dari adanya alam semesta merupakan bentuk ghuluw yang sangat ekstrem.

Demikian pula dalam kitab Maulid Al-Barzanji karya Ja’far bin Hasan Al-Barzanji (1177 H), disebutkan dalam baitnya:

فِيْكَ قَدْ أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ * ياَ بَشِيْرُ ياَ نَذِيـْـُر

فَأَغِثْنِيْ وَأَجِـــن * ياَ مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ

يَاغَيَاثِيْ يَا مِــلاَذِيْ * فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُــوْرِ

“Padamu sungguh aku telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan.

Maka tolonglah aku dan selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari Neraka Sa’ir

Wahai penolongku dan pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan genting).”

Nukilan-nukilan di atas membuktikan bahwa tanpa bimbingan ilmu dan dalil yang shohih, pujian yang awalnya ditujukan untuk memuliakan Nabi justru tergelincir pada sifat ghuluw (melampaui batas) yang mengangkat kedudukan makhluk ke derajat Kholiq (Pencipta). Ini sangat menyelisihi perintah Nabi agar kita tidak berlebih-lebihan dalam memuji beliau.

4.2 Meluruskan keyakinan keliru tentang kehadiran ruh Nabi dalam majelis tradisi

Keyakinan bahwa ruh Nabi hadir di tengah-tengah majelis Maulid, sehingga orang-orang berdiri (qiyam) untuk menyambutnya, adalah keyakinan yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun Hadits yang shohih. Ini adalah bentuk khayalan yang menyelisihi ketetapan alam Barzakh. Nabi telah wafat dan ruh beliau berada di tempat yang paling tinggi (Illiyyin). Beliau sendiri sangat membenci jika para Shohabat berdiri untuk menghormati beliau saat beliau masih hidup. Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan:

«لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ»

“Tidak ada seorang pun yang lebih mereka cintai daripada Rosululloh . Namun, apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri (untuk menyambutnya) karena mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2754)

Jika saat beliau hidup saja beliau membenci orang yang berdiri untuk menghormatinya, bagaimana mungkin beliau akan ridho dengan orang yang berdiri menyambut ruh beliau dengan keyakinan yang tidak berdasar? Perbuatan ini lebih menyerupai tradisi kaum di luar Islam dalam memuja tokoh mereka. Alloh telah memberikan batasan bahwa pemuliaan kepada Nabi adalah dengan ketaatan, bukan dengan ritual yang diada-adakan.

4.3 Fenomena mendahulukan tradisi tahunan daripada Sholat berjamaah dan Sunnah harian

Sangat menyedihkan ketika kita melihat sebagian orang begitu bersemangat mengeluarkan harta dan tenaga untuk merayakan tradisi setahun sekali, namun mereka justru lalai dalam menjalankan perintah yang wajib seperti Sholat lima waktu secara berjamaah di Masjid. Inilah tipu daya syaithon yang membuat manusia merasa telah berbuat besar dengan perkara yang tidak disyariatkan, sementara mereka meninggalkan pondasi agama. Alloh berfirman:

﴿حَٰفِظُوا عَلَى الصَّلَوَٰتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَٰنِتِينَ

“Peliharalah semua Sholat(mu), dan (peliharalah) Sholat Wustho. Berdirilah untuk Alloh (dalam Sholatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqoroh: 238)

Cinta kepada Nabi meniscayakan kita untuk mencintai apa yang beliau cintai. Nabi menjadikan Sholat sebagai penyejuk hatinya. Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta kepada beliau namun meninggalkan Sholat Shubuh karena kelelahan setelah semalam suntuk merayakan tradisi? Nabi bersabda:

«لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنَ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»

“Tidak ada Sholat yang lebih berat bagi orang-orang munafik selain Subuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui apa yang ada di dalamnya maka mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhori no. 657 dan Muslim no. 651)

Mendahulukan Sunnah-Sunnah harian seperti Sholat Rowatib, Puasa Senin-Kamis, dan akhlaq yang mulia jauh lebih utama daripada gempita ritual yang tidak ada asalnya. Cinta adalah pengabdian setiap saat, bukan perayaan sesaat.

4.4 Sikap zholim dan kebencian terhadap para pengikut Sunnah yang memegang teguh dalil

Di antara dampak buruk dari kuatnya cengkeraman tradisi adalah munculnya kebencian terhadap orang-orang yang mengajak kembali kepada Sunnah. Mereka yang mengingatkan agar beragama sesuai dalil seringkali dianggap tidak mencintai Nabi , dicela, bahkan dikucilkan. Padahal, mencintai Sunnah dan pengamalnya adalah bagian dari iman. Alloh berfirman:

﴿يَٰٓأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ

“Wahai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Ma’idah: 54)

Berpegang teguh pada Sunnah di akhir zaman memang akan terasa asing dan berat, laksana memegang bara api. Namun, itulah jalan kemuliaan yang sesungguhnya. Nabi bersabda:

«يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya laksana orang yang menggenggam bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2260)

Membenci orang yang mengamalkan Sunnah adalah tanda adanya penyakit di dalam hati. Seharusnya, kecintaan kepada Nabi membuat kita mencintai siapa saja yang berusaha menghidupkan ajarannya, bukan malah menjauhinya demi membela tradisi nenek moyang. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata:

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ فَكَأَنَّمَا رَأَيْتَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ الله ﷺ

“Apabila aku melihat seorang laki-laki dari Ahlus Sunnah, maka seolah-olah aku melihat seorang laki-laki dari Shohabat Rosululloh .” (Thobaqot Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 3/74)

4.5 Musik dan Nyanyian di Maulid

Empat madzhab sepakat haromnya musik. Al-Qur’an dan musik tidak bisa bersatu dalam hati. Mencintai Nabi dengan meninggalkan musik dan syair-syair yang berisi ghuluw.

Dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu. Rosululloh bersabda:

«لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ»

“Pasti akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khomr, dan alat musik.” (HR. Al-Bukhori no. 5590)

Dari ‘Imron bin Hushoin (52 H) rodhiyallahu ‘anhu menukil sabda Nabi :

«فِي هَذِهِ الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ»

“Akan terjadi pada umatku penenggelaman ke dalam bumi, perubahan rupa, dan pelemparan batu (dari langit).”

Ketika para Shohabat bertanya kapan hal itu terjadi, beliau menjawab:

«إِذَا ظَهَرَتِ القَيْنَاتُ وَالمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الخُمُورُ»

“Jika penyanyi wanita dan alat-alat musik telah merajalela, dan khomr-khomr diminum.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2212)

Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah menyatakan bahwa nyanyian adalah hiburan yang makruh dan menyerupai kebathilan. Beliau juga menegaskan bahwa orang yang sering mendengarkannya, kesaksiannya ditolak karena dianggap sebagai orang bodoh.

Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah:

تَرَكْتُ بِالعِرَاقِ شَيْئًا يُقَالُ لَهُ: التَّغْبِيرُ أَحْدَثَتْهُ الزَّنَادِقَةُ يَصُدُّونَ النَّاسَ عَنِ القُرْآنِ

“Aku meninggalkan sesuatu di Irak yang disebut at-taghbir, yang diada-adakan oleh kaum zindiq untuk memalingkan manusia dari Al-Qur’an.” (Shohih: Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim, 9/146)

 

Bab 5: Mewujudkan Cinta yang Jujur Melalui Ittiba’ dan Amal Sholih

5.1 Meneladani akhlaq Sang Rosul dalam setiap sisi kehidupan nyata

Bukti cinta yang paling nyata adalah dengan menjadikan diri kita cerminan dari akhlaq Rosululloh . Beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan perangai manusia. Alloh memuji akhlaq beliau:

﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)

Seorang yang mencintai Nabi akan sangat berhati-hati dalam lisannya, jujur dalam perbuatannya, dan penyayang kepada sesama kaum Muslim. Ia tidak akan menyakiti tetangganya atau berbuat zholim dalam perdagangannya. Nabi bersabda:

«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا»

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2018)

Mempelajari bagaimana beliau makan, tidur, berbicara, dan berinteraksi dengan keluarga adalah bentuk peringatan Maulid yang sesungguhnya setiap hari. Kita tidak membutuhkan perayaan megah untuk menjadi orang yang jujur, amanah, dan pemaaf sebagaimana beliau. Inilah esensi (inti) dari mengikuti cahaya yang beliau bawa.

5.2 Pentingnya mempelajari Hadits dan menjadikannya satu-satunya hakim dalam berselisih

Cinta menuntut kita untuk mengenal lebih dekat siapa yang kita cintai. Kita tidak akan bisa mengenal Rosululloh kecuali dengan mempelajari warisan beliau, yaitu Hadits-hadits yang shohih. Ketika terjadi perselisihan pendapat atau munculnya tradisi baru, maka Hadits harus menjadi hakim pemutus, bukan perasaan atau pendapat tokoh tertentu. Alloh berfirman:

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Robb-mu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)

Belajar Hadits adalah jalan menuju Jannah. Barangsiapa yang berpaling dari Hadits dan lebih memilih dongeng-dongeng yang tidak jelas asalnya, maka ia telah merugikan dirinya sendiri. Rosululloh bersabda:

«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»

“Semoga Alloh mencerahkan wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya sebagaimana dia mendengarnya. Betapa banyak orang yang disampaikan kepadanya lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2657)

Abdurrohman (Ibnu Mahdi, 198 H) rohimahulloh adalah di antara ulama yang sangat gigih dalam membela Hadits dari serangan pemikiran hawa nafsu. Beliau mengajarkan bahwa tidak ada kemuliaan bagi seorang Muslim kecuali dengan mengikuti atsar.

5.3 Berpegang teguh pada jalan Salafus Sholih di tengah banyaknya fitnah dan tradisi

Di zaman yang penuh dengan kerancuan antara yang Haq (benar) dan yang bathil (salah), mengikuti pemahaman para Shohabat adalah tali penyelamat. Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti maksud dari setiap ayat dan Hadits. Alloh berfirman:

﴿وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barangsiapa yang menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang Mu’min (para Shohabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Jalan Salafus Sholih adalah jalan yang jernih, tanpa tambahan dan tanpa pengurangan. Mereka mencintai Nabi dengan pengorbanan, bukan dengan nyanyian.

Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh mengingatkan bahwa keselamatan ummat ini hanya ada pada ketaatan kepada apa yang telah dijalani oleh generasi awal Islam.

Nabi bersabda tentang kelompok yang selamat:

«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»

“(Yaitu mereka yang mengikuti) apa yang aku berada di atasnya dan para Shohabatku.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2641)

5.4 Janji kemuliaan dan telaga Al-Kautsar bagi mereka yang menghidupkan Sunnah

Balasan bagi orang-orang yang jujur dalam cintanya kepada Nabi adalah kebersamaan bersama beliau di Jannah kelak. Inilah puncak dari segala harapan. Seseorang pernah bertanya kepada Nabi tentang kapan datangnya hari Qiyamah, beliau balik bertanya: “Apa yang telah engkau siapkan untuknya?” Orang itu menjawab: “Cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Maka beliau bersabda:

«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»

“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no. 2639)

Namun, kita harus waspada. Ada orang-orang yang kelak akan diusir dari telaga (Al-Haudh) milik Nabi karena mereka telah merubah-rubah agama setelah beliau wafat. Nabi bersabda:

«إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ»

«فَأَقُولُ إِنَّهُمْ مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»

“Aku akan mendahului kalian di telaga. Barangsiapa melewaku, ia akan minum, dan barangsiapa minum, ia tidak akan haus selamanya. Sungguh akan datang kepadaku beberapa kaum yang aku mengenal mereka dan mereka mengenalku, kemudian dipisahkan antara aku dan mereka. Maka aku berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah pengikutku.’ Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perkara baru dalam agama) setelahmu.’ Maka aku berkata: ‘Menjauhlah, menjauhlah bagi orang yang merubah (agama) setelahku.’” (HR. Al-Bukhori no. 6584 dan Muslim no. 2291)

 

Penutup

Sebagai akhir dari catatan ini, mari kita merenung dengan hati yang bening. Apakah cinta kita kepada Nabi sudah sesuai dengan apa yang beliau inginkan, ataukah kita hanya mencintai bayang-bayang tradisi yang kita buat sendiri? Cinta sejati tidak akan pernah menabrak syariat. Cinta sejati adalah ketaatan yang tulus, ittiba’ yang murni, dan pengagungan yang tidak melampaui batas. Rosululloh telah memberikan segalanya bagi ummat ini, maka balasan terbaik kita adalah dengan menjaga warisannya agar tetap murni hingga kita berjumpa dengan beliau di telaga kelak.

Semoga Alloh senantiasa memberikan kita hidayah untuk tetap istiqomah di atas Sunnah, menjauhkan kita dari segala bentuk bid’ah dan tradisi yang menyesatkan, serta mengumpulkan kita bersama Sang Musthofa di dalam Jannah-Nya yang penuh ni’mat.

Segala puji bagi Alloh Robb semesta alam.[NK]

Download PDF

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url