[PDF] Maulid Nabi Antara Cinta Nabi dengan Cinta Tradisi - Nor Kandir
Muqoddimah
بسم الله
الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Alloh ﷻ yang telah menyempurnakan agama Islam bagi
hamba-hamba-Nya dan mencukupkan ni’mat-Nya atas kita semua.
Sholawat serta salam
semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Rosululloh ﷺ, yang diutus sebagai rohmat bagi semesta
alam, serta kepada keluarga, para Shohabat, dan pengikutnya yang setia hingga
hari Qiyamah.
Amma ba’du:
Mencintai Nabi ﷺ bukan sekadar untaian kata yang menghiasi
lisan, bukan pula gempita perayaan yang datang setahun sekali. Cinta yang
sejati adalah getaran hati yang membuahkan ketundukan mutlak, yang memaksa
raga untuk tunduk di bawah naungan Sunnah, dan menjadikannya sebagai timbangan
utama dalam setiap langkah kehidupan.
Di tengah hiruk-pikuk
tradisi yang kian mengaburkan batasan syariat, seringkali cinta disalahpahami
sebagai sekadar dendang syair atau ritual lahiriyah, sementara Sunnah yang
beliau wariskan justru terabaikan bahkan dibenci oleh sebagian kalangan. Buku
ini hadir untuk mengajak kita menyelami kembali makna cinta yang sesungguhnya
kepada Sang Musthofa ﷺ,
memisahkan antara kemurnian tuntunan dengan kerancuan adat, serta membuktikan
bahwa jalan keselamatan hanyalah dengan mengikuti jejak langkah beliau secara
utuh tanpa ditambah maupun dikurangi. Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan
diajak untuk berfikir kritis dan jernih, menimbang setiap amalan dengan neraca
dalil, agar cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan di hadapan Sang Robb
kelak.
Bab 1: Hakikat
Cinta Kepada Sang Rosul ﷺ
1.1 Definisi
cinta sejati dalam timbangan syariat
Cinta dalam Islam
bukanlah perasaan hampa yang tanpa bukti. Ia adalah pondasi amalan yang
menuntut adanya pembuktian melalui ketaatan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ﴾
“Katakanlah (Wahai
Muhammad): Jika kalian benar-benar mencintai Alloh, maka ikutilah aku, niscaya
Alloh akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Alloh Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imron: 31)
Ayat di atas merupakan
timbangan yang jujur bagi siapa saja yang mengaku mencintai Robb-nya dan
Rosul-Nya. Mengikuti jejak Rosul ﷺ (ittiba’)
adalah konsekuensi logis dari sebuah pengakuan cinta. Al-Hasan Al-Bashri (110
H) rohimahulloh berkata mengenai ayat ini:
زَعَمَ قَوْمٌ
أَنَّهُمْ يُحِبُّونَ اللَّهَ فَابْتَلَاهُمُ اللَّهُ بِهَذِهِ الْآيَةِ
“Suatu kaum mengklaim
bahwa mereka mencintai Alloh, maka Alloh menguji mereka dengan ayat ini.” (Tafsir
Ibnu Katsir, Ibnu Katsir (774 H), 1/358)
Cinta sejati adalah yang
menggerakkan pemiliknya untuk bersegera melaksanakan perintah dan menjauhi
larangan. Tanpa adanya kepatuhan, pengakuan cinta hanyalah sebuah kedustaan.
Rosululloh ﷺ
bersabda:
«لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ»
“Tidak beriman salah
seorang di antara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
(Arbain Nawawi no. 41)
1.2 Kedudukan
Nabi ﷺ sebagai
sosok yang paling dicintai melebihi diri sendiri
Seorang Mu’min wajib
menempatkan kecintaannya kepada Nabi ﷺ di atas
kecintaan kepada apa pun di dunia ini, bahkan di atas cintanya kepada dirinya
sendiri. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿النَّبِىُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ﴾
“Nabi itu lebih utama
bagi orang-orang Mu’min dibandingkan diri mereka sendiri.” (QS. Al-Ahzab: 6)
Kedekatan dan keutamaan
beliau ﷺ di hati
seorang Muslim haruslah melampaui kepentingan pribadi. Dalam sebuah Hadits
shohih diceritakan bahwa Umar bin Al-Khoththob (23 H) rodhiyallahu ‘anhu
berkata kepada Nabi ﷺ:
يَا رَسُولَ
اللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: «لاَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ
مِنْ نَفْسِكَ» فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: فَإِنَّهُ الآنَ، وَاللَّهِ، لَأَنْتَ أَحَبُّ
إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الآنَ يَا عُمَرُ»
“Wahai Rosululloh,
sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”
Maka Nabi ﷺ
bersabda: “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku lebih
engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka Umar berkata: “Sekarang, demi
Alloh, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sekarang (baru benar) wahai
Umar.” (HR. Al-Bukhori no. 6632)
Kecintaan yang tulus juga
harus melebihi cinta kepada keluarga dan harta benda. Nabi ﷺ bersabda:
«لاَ يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ، حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ»
“Tidak beriman salah
seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya,
anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhori no. 15 dan Muslim no. 44)
Kecintaan ini akan
membuahkan rasa manis dalam iman yang tidak bisa dirasakan oleh mereka yang
hatinya terpaut pada dunia.
«ثَلاَثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا...»
“Ada 3 perkara yang jika
ada pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman: Menjadikan Alloh
dan Rosul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya...” (HR. Al-Bukhori
no. 16 dan Muslim no. 43)
1.3 Keutamaan mendahulukan
perintah Nabi ﷺ di atas
keinginan hawa nafsu
Cinta yang benar
meniscayakan adanya sikap mendahulukan titah sang kekasih di atas segala
keinginan pribadi. Jika seseorang mengaku cinta namun tetap memuaskan hawa
nafsunya dengan cara menyelisihi Sunnah, maka cintanya sedang bermasalah. Alloh
ﷻ
memberikan ancaman keras bagi mereka yang menyelisihi perintah Rosul-Nya:
﴿فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ
عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
“Maka hendaklah
orang-orang yang menyelisihi perintah Rosul itu takut akan ditimpa fitnah
(kesesatan) atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS. An-Nur: 63)
Sifat seorang Mu’min
ketika datang perintah dari Alloh ﷻ dan Rosul-Nya adalah sami’naa wa atho’naa
(kami dengar dan kami taat), bukan mencari-cari alasan atau mendahulukan
tradisi nenek moyang. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَن يَعْصِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًا مُّبِينًا﴾
“Dan tidaklah pantas bagi
laki-laki yang Mu’min dan perempuan yang Mu’min, apabila Alloh dan Rosul-Nya
telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain)
tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya, maka
sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Cinta kepada Nabi ﷺ menuntut kita untuk menjadikan beliau
sebagai satu-satunya rujukan dalam beragama. Ibnul Qoyyim (751 H) rohimahulloh
menjelaskan tentang hakikat ketaatan: “Setiap kecintaan yang tidak mendorong untuk
mencintai apa yang dicintai oleh sang kekasih dan membenci apa yang dibencinya,
maka itu adalah kecintaan yang dusta.”
1.4 Bahaya
bersikap ghuluw atau melampaui batas dalam memuji dan mengagungkan
Mencintai Nabi ﷺ bukan berarti kita diperbolehkan untuk
bersikap ghuluw (melampaui batas) dalam memuji beliau hingga memberikan
sifat-sifat ketuhanan kepada beliau. Beliau ﷺ sendiri
telah memperingatkan ummatnya agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang
dilakukan oleh kaum Nashroni terhadap Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Beliau ﷺ bersabda:
«لاَ تُطْرُونِي،
كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا
عَبْدُ اللَّهِ، وَرَسُولُهُ»
“Janganlah kalian
berlebih-lebihan dalam memujiku sebagaimana kaum Nashroni berlebih-lebihan
memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah:
Hamba Alloh dan Rosul-Nya.” (HR. Al-Bukhori no. 3445)
Sikap ghuluw
adalah pintu masuk menuju kesyirikan dan rusaknya aqidah. Mengagungkan Nabi ﷺ harus sesuai dengan kedudukan yang telah
Alloh ﷻ
berikan, yaitu sebagai Nabi dan utusan-Nya yang paling mulia, tanpa
mengangkatnya ke derajat Robb yang mengetahui perkara ghoib secara mutlak atau
pemberi syafaat tanpa izin Alloh ﷻ. Alloh ﷻ memerintahkan Nabi-Nya untuk berkata:
﴿قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًا وَلَا ضَرًّا
إِلَّا مَا شَآءَ اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِىَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا
إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴾
“Katakanlah (Wahai
Muhammad): ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat bagi diriku dan tidak pula
dapat menolak mudhorot kecuali apa yang Alloh kehendaki. Dan sekiranya aku
mengetahui yang ghoib, niscaya aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya
dan aku tidak akan ditimpa marabahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan dan
pembawa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.’” (QS. Al-A’rof: 188)
Banyak tradisi yang
berkembang saat ini justru berisi pujian-pujian yang melampaui batas, bahkan
mengandung unsur kesyirikan yang dibenci oleh Nabi ﷺ sendiri. Beliau ﷺ bersabda:
«إِيَّاكُمْ
وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ
فِي الدِّينِ»
“Jauhilah oleh kalian
sikap melampaui batas (ghuluw), karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian
binasa disebabkan sikap melampaui batas dalam agama.” (HSR. An-Nasa’i no.
3057)
Cinta yang selamat adalah
cinta yang dibimbing oleh ilmu dan Sunnah, bukan cinta yang lahir dari perasaan
yang meledak-ledak namun kosong dari tuntunan syariat. Membenci mereka yang
mengingatkan untuk tidak ghuluw adalah bentuk nyata dari ketidaktahuan
terhadap hakikat cinta itu sendiri.
Bab 2: Menelisik
Sejarah dan Asal-Usul Tradisi Maulid
2.1 Keadaan para
Shohabat dan Tabi’in dalam memuliakan hari kelahiran Nabi ﷺ
Generasi terbaik ummat
ini adalah para Shohabat yang dibimbing langsung oleh wahyu. Mereka adalah
manusia yang paling mengerti cara mencintai Nabi ﷺ dan paling bersemangat dalam melakukan
kebaikan. Jika memuja hari kelahiran dengan perayaan khusus adalah sebuah
kebaikan, tentu mereka adalah orang pertama yang akan melaksanakannya. Namun,
lembaran sejarah Islam yang paling murni tidak mencatat adanya satu pun ritual
perayaan tersebut dari lisan maupun perbuatan mereka. Alloh ﷻ memuji mereka dalam Kitab-Nya:
﴿وَالسَّٰبِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَٰجِرِينَ وَالْأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ
لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا الْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ﴾
“Dan orang-orang yang
terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin
dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho
kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Alloh. Dan Alloh menyediakan bagi
mereka Jannah-Jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
Kecintaan para Shohabat
kepada Nabi ﷺ telah
mencapai puncaknya hingga mereka mempertaruhkan nyawa dan harta. Namun,
kemuliaan itu mereka wujudkan dengan ketaatan yang mutlak dan penjagaan
terhadap Sunnah, bukan dengan membuat-buat cara baru dalam ibadah. Nabi ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ»
“Sebaik-baik manusia
adalah generasiku (para Shohabat), kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’in),
kemudian orang-orang setelah mereka (Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Al-Bukhori no.
2652 dan Muslim no. 2533)
Dalam 3 generasi mulia
yang mendapatkan persaksian langsung dari lisan Nabi ﷺ ini, tidak ditemukan adanya peringatan
Maulid. Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu, Umar bin Al-Khoththob (23 H)
rodhiyallahu ‘anhu, Utsman bin Affan (35 H) rodhiyallahu ‘anhu,
dan Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallahu ‘anhu adalah orang-orang yang
paling tahu tentang kedudukan Nabi ﷺ, namun
mereka tidak pernah mengkhususkan hari kelahiran beliau sebagai hari raya atau
ritual tahunan. Imam Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh memberikan
kaidah yang sangat berharga:
لَنْ يَصْلُحَ
آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا، فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ
دِينًا، لَا يَكُونُ الْيَوْمَ دِينًا
“Tidak akan memperbaiki
keadaan akhir ummat ini kecuali apa yang telah memperbaiki keadaan awalnya.
Maka apa-apa yang pada hari itu (zaman Shohabat) bukan merupakan bagian dari
agama, maka pada hari ini pun hal itu bukan merupakan bagian dari agama.” (Al-I’tishom.
Lihat Hajjatun Nabi lil Albani, 1/103)
2.2 Sejarah
munculnya perayaan Maulid pada masa Daulah Ubaidiyyah (Fathimiyyah)
Sejarah mencatat bahwa
perayaan Maulid pertama kali muncul pada abad ke-4 Hijriyyah, jauh setelah masa
keemasan para Salafus Sholih. Tradisi ini diprakarsai oleh Daulah Ubaidiyyah,
sebuah dinasti yang berkuasa di Mesir yang berpaham Syi’ah Isma’iliyyah
dan dikenal sangat memusuhi Sunnah. Mereka sengaja menciptakan berbagai
perayaan untuk menarik simpati rakyat dan mengaburkan ajaran Islam yang murni.
Al-Maqrizi (845 H) rohimahulloh, seorang pakar sejarah Islam, menjelaskan
dalam kitabnya:
“Dahulu para kholifah
Fathimiyyah menjadikannya (hari-hari tersebut) sebagai hari-hari raya dan
perayaan-perayaan yang dengannya keadaan rakyat menjadi lapang dan ni’mat-ni’mat
mereka bertambah banyak.
Dan dahulu para kholifah
Fathimiyyah memiliki banyak hari raya dan perayaan-perayaan di sepanjang tahun,
yaitu: perayaan tahun baru, perayaan awal tahun, hari ‘Asyuro, Maulid Nabi ﷺ, Maulid Ali bin Abi Tholib rodhiyallahu
‘anhu, Maulid Al-Hasan, Maulid Al-Husain rodhiyallahu ‘anhuma,
Maulid Fathimah Az-Zahro rodhiyallahu ‘anha, Maulid kholifah yang sedang
berkuasa, malam pertama bulan Rojab, malam pertengahannya (Nisfu Rojab), malam
pertama bulan Sya’ban, malam pertengahannya (Nisfu Sya’ban), perayaan malam
Romadhon, awal bulan Romadhon, jamuan makan (simath) Romadhon, malam khatam
(Al-Qur’an), perayaan Idul Fithri, perayaan Idul Adha (Nahr), Idul Ghodir,
pembagian pakaian musim dingin, pembagian pakaian musim panas, perayaan
pembukaan bendungan (kholij), hari Nairuz (tahun baru Persia), hari
Al-Ghithas (tradisi baptis Nasroni), hari kelahiran (Natal), Kamis Adas, dan
hari-hari perarakan (kendaraan kebesaran).” (Al-Mawa’izh wal I’tibar bi
Dzikril Khithoth wal Atsar, Al-Maqrizi (845 H), 2/591)
Kenyataan sejarah ini
menunjukkan bahwa akar dari perayaan ini bukan berasal dari ajaran Rosululloh ﷺ atau para Shohabatnya yang mulia,
melainkan dari kelompok yang memiliki rekam jejak penyimpangan dalam aqidah.
Agama Islam telah sempurna sebelum mereka muncul. Alloh ﷻ berfirman:
﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ
عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَٰمَ دِينًا﴾
“Pada hari ini telah Aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku cukupkan ni’mat-Ku atas
kalian, dan telah Aku ridhoi Islam itu menjadi agama bagi kalian.” (QS.
Al-Ma’idah: 3)
Maka, setiap tambahan
dalam urusan agama setelah wafatnya Nabi ﷺ adalah
perkara baru yang ditolak. Nabi ﷺ
memperingatkan:
«مَنْ
أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ»
“Barangsiapa yang
mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang bukan bagian
darinya, maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhori no. 2697 dan Muslim no. 1718)
2.3 Sebab-sebab
masuknya tradisi asing ke dalam lingkungan kaum Muslim
Masuknya perayaan Maulid
ke tengah masyarakat Muslim tidak lepas dari pengaruh tasyabbuh
(menyerupai) kaum di luar Islam, terutama kaum Nashroni yang memiliki tradisi
merayakan hari lahir Nabi ‘Isa ‘alaihissalam (Natal). Kecenderungan
untuk mengekor tradisi luar ini sebenarnya telah diprediksi oleh Nabi ﷺ sebagai salah satu fitnah yang akan
menimpa ummatnya. Beliau ﷺ
bersabda:
«لَتَتَّبِعُنَّ
سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا
جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ»، قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ: اليَهُودَ، وَالنَّصَارَى
قَالَ: «فَمَنْ»
“Sungguh kalian akan
mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejangkal demi sejangkal dan sehasta
demi sehasta, bahkan sekiranya mereka masuk ke dalam lubang dhowb (hewan melata
sejenis kadal gurun), niscaya kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Wahai
Rosululloh, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nashroni?” Beliau
menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Al-Bukhori no. 3456 dan
Muslim no. 2669)
Larangan untuk menyerupai
kaum lain dalam masalah ritual agama adalah prinsip yang sangat tegas dalam
Islam. Nabi ﷺ
bersabda:
«مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Barangsiapa yang
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4031)
Syekhul Islam Ibnu
Taimiyyah (728 H) rohimahulloh menjelaskan tentang fenomena ini:
فَإِنَّ هَذَا
لَمْ يَفْعَلْهُ السَّلَفُ، مَعَ قِيَامِ الْمُقْتَضِي لَهُ وَعَدَمِ الْمَانِعِ مِنْهُ
لَوْ كَانَ خَيْرًا. وَلَوْ كَانَ هَذَا خَيْرًا مَحْضًا، أَوْ رَاجِحًا لَكَانَ السَّلَفُ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَحَقَّ بِهِ مِنَّا، فَإِنَّهُمْ كَانُوا أَشَدَّ مَحَبَّةً
لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَتَعْظِيمًا لَهُ مِنَّا، وَهُمْ عَلَى الْخَيْرِ أَحْرَصُ.
“Sesungguhnya perbuatan
ini (Maulid) tidak pernah dilakukan oleh para Salaf, padahal faktor
pendorongnya ada dan tidak ada penghalang darinya sekiranya hal itu merupakan
sebuah kebaikan. Dan sekiranya hal ini adalah murni kebaikan atau sesuatu yang
lebih kuat (untuk dikerjakan), tentu para Salaf rodhiyallahu ‘anhum
lebih berhak melakukannya daripada kita, karena sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang paling kuat kecintaannya kepada Rosululloh ﷺ dan paling agung dalam memuliakan beliau
dibandingkan kita, dan mereka adalah orang-orang yang paling semangat dalam
mengejar kebaikan.” (Iqtidho’ Ash-Shirothol Mustaqim, Ibnu Taimiyyah (728
H), 2/123)
2.4 Alasan para
Imam Madzhab yang empat tidak pernah mencontohkan ritual ini
Para Imam Madzhab yang
empat: Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Malik (179 H), Imam Asy-Syafi’i (204 H),
dan Imam Ahmad (241 H), adalah pilar-pilar ilmu yang sangat kokoh dalam menjaga
warisan Nabi ﷺ. Dalam
ribuan halaman karya mereka dan murid-murid mereka, tidak akan ditemukan satu
pun anjuran untuk merayakan Maulid. Kesunyian mereka dari amalan ini adalah
bukti kuat bahwa Maulid bukan bagian dari syariat Islam yang dibawa oleh Nabi ﷺ.
Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahulloh
berkata tentang pentingnya mengikuti atsar (jejak Salaf):
مَثَلُ الَّذِي
يَطْلُبُ الْعِلْمَ بِلَا حُجَّةٍ، كَمَثَلِ حَاطِبِ لَيْلٍ يَحْمِلُ حِزْمَةَ حَطَبٍ
وَفِيهِ أَفْعَى تَلْدَغُهُ وَهُوَ لَا يَدْرِي
“Barangsiapa mencari ilmu
tanpa atsar, maka ia bagaikan orang yang mencari kayu bakar di malam hari, ia
membawa seikat kayu yang di dalamnya ada ular berbisa namun ia tidak
menyadarinya.” (Al-Madkhol ilas Sunanil Kubro, Al-Baihaqi (458 H), 1/211)
Para Imam tersebut sangat
takut jika mereka menambah-nambah perkara dalam agama. Mereka berpegang teguh
pada wasiat Nabi ﷺ:
«فَعَلَيْكُمْ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Hendaklah kalian
berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Al-Khulafa’ Ar-Rosyidin yang mendapat
petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah
oleh kalian perkara-perkara baru yang diada-adakan, karena setiap perkara baru
itu adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah kesesatan.” (HSR. Abu Dawud no.
4607 dan At-Tirmidzi no. 2676)
Sekiranya merayakan
Maulid adalah bentuk kecintaan yang diakui syariat, tentulah Imam Malik yang
menghuni Madinah dan sangat menghormati tanah harom tidak akan melewatkannya.
Begitu pula Imam Ahmad yang rela disiksa demi mempertahankan kemurnian aqidah.
Mereka tidak melakukannya karena mereka tahu bahwa cinta sejati adalah ittiba’
(mengikuti), bukan ibtida’ (membuat bid’ah). Abdulloh bin Mas’ud (32
H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
اتَّبِعُوا وَلا
تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ
“Ikutilah (Sunnah) dan
janganlah kalian berbuat Bid’ah, karena sungguh kalian telah dicukupkan (dengan
syariat yang ada).” (HR. Ad-Darimi, no. 214, shohih)
Bab 3: Memahami
Kesempurnaan Agama dan Larangan Bid’ah
3.1 Penjelasan
ayat Al-Qur’an tentang telah sempurnanya agama Islam
Salah satu nikmat
terbesar yang Alloh ﷻ berikan
kepada ummat Islam adalah kesempurnaan agama ini. Tidak ada satu pun pintu
kebaikan kecuali telah ditunjukkan oleh Nabi ﷺ, dan
tidak ada satu pun pintu keburukan kecuali telah beliau peringatkan. Keyakinan
akan sempurnanya Islam mengharuskan kita untuk tidak merasa perlu
menambah-nambah ritual baru yang tidak pernah dicontohkan. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَتَمَّتْ
كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَّا مُبَدِّلَ
لِكَلِمَٰتِهِۦ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ﴾
“Telah sempurnalah
kalimat Robb-mu (Al-Qur’an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang
dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am: 115)
Imam Malik (179 H) rohimahulloh
memberikan pernyataan yang sangat menggetarkan hati bagi siapa saja yang ingin
membuat amalan baru dalam agama:
مَنِ ابْتَدَعَ
فِي الإِسْلَامِ بِدْعَةً يَرَاهَا حَسَنَةً فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا ﷺ خَانَ
الرِّسَالَةَ، لِأَنَّ اللَّهَ يَقُولُ: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ﴾ فَمَا
لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِينًا، فَلَا يَكُونَ اليَوْمَ دِينًا
“Barangsiapa yang membuat
bid’ah dalam Islam yang ia anggap baik, maka sungguh ia telah menuduh bahwa
Muhammad ﷺ telah
mengkhianati risalah. Karena Alloh berfirman: ‘Pada hari ini telah Aku
sempurnakan bagi kalian agama kalian’. Maka apa-apa yang pada hari itu
bukan merupakan bagian dari agama, maka pada hari ini pun ia bukan merupakan
bagian dari agama.” (Mukhtashor Al-I’tishom, ‘Alawi Saqqof, 1/17)
Sikap merasa perlu
menambah perayaan atau ritual tertentu seolah-olah mengisyaratkan bahwa agama
yang dibawa Nabi ﷺ masih
memiliki kekurangan yang perlu ditambal. Ini adalah pemikiran yang sangat
berbahaya bagi aqidah seorang Muslim. Alloh ﷻ telah memerintahkan kita untuk mengikuti
apa yang diturunkan-Nya saja:
﴿اتَّبِعُوا مَآ أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا
مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ
ۗ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ﴾
“Ikutilah apa yang
diturunkan kepadamu dari Robb-mu dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin
selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’rof: 3)
3.2 Mengenal
hakikat bid’ah dan dampaknya yang merusak keaslian tuntunan agama
Bid’ah secara bahasa
berarti sesuatu yang baru. Namun secara syariat, ia adalah cara baru dalam
beragama yang dibuat-buat menyerupai syariat dengan tujuan untuk
berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Alloh ﷻ. Bahaya Bid’ah lebih besar daripada
kemaksiatan biasa, karena pelaku bid’ah merasa sedang melakukan kebaikan
sehingga ia sulit untuk bertaubat. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ كُلِّ صَاحِبِ بِدْعَةٍ حَتَّى يَدَعَ بِدْعَتَهُ»
“Sesungguhnya Alloh
menghalangi taubat dari setiap pelaku Bid’ah hingga ia meninggalkan Bid’ahnya.”
(HR. Ath-Thobroni dalam Al-Ausath no. 4202, dishohihkan Al-Albani dalam
Shohihut Targhib no. 54)
Setiap kali sebuah bid’ah
dihidupkan, maka satu Sunnah akan mati. Inilah cara syaithon merusak agama ini
dari dalam. Hati yang sibuk dengan perayaan-perayaan yang tidak berdalil
biasanya akan lalai dari mengamalkan Sunnah-sunnah harian yang sangat
ditekankan. Alloh ﷻ
berfirman tentang orang-orang yang merasa telah beramal baik namun sebenarnya
sia-sia:
﴿قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَٰلًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيَٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ
صُنْعًا﴾
“Katakanlah: ‘Apakah akan
Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS.
Al-Kahfi: 103-104)
Syarat diterimanya amal
sholih ada dua: ikhlas karena Alloh ﷻ dan sesuai dengan tuntunan Rosululloh ﷺ (mutaba’ah). Tanpa mutaba’ah,
sebesar apa pun biaya dan tenaga yang dikeluarkan untuk sebuah tradisi, ia
tetap tertolak di sisi Alloh ﷻ. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh berkata
mengenai ayat “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala” (Agar Dia menguji
kalian siapa yang paling baik amalnya):
أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ،
قَالُوا: يَا أَبَا عَلِيٍّ مَا أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ؟ قَالَ: إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا
كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ
يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا، وَالْخَالِصُ أَنْ
يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ
“Yang paling ikhlas dan
yang paling benar.” Mereka bertanya: “Wahai Abu Ali, apa itu yang paling ikhlas
dan paling benar?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya amal jika dilakukan dengan
ikhlas namun tidak benar, maka tidak diterima. Jika dilakukan dengan benar
namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sampai amal itu dilakukan dengan
ikhlas dan benar. Ikhlas adalah dilakukan karena Alloh, dan benar adalah
dilakukan di atas Sunnah.” (Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim (430 H), 8/95)
3.3 Menepis
keraguan seputar anggapan adanya bid’ah hasanah dalam perkara ibadah
Seringkali argumen yang
digunakan untuk melegitimasi tradisi Maulid adalah anggapan bahwa perbuatan
tersebut merupakan “bid’ah hasanah” (bid’ah yang baik). Namun, jika kita
merujuk pada sabda Nabi ﷺ, beliau
memberikan kaidah yang bersifat menyeluruh tanpa pengecualian dalam masalah
agama. Beliau ﷺ
bersabda:
«فَإِنَّ
كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ»
“Maka sesungguhnya setiap
perkara baru (dalam agama) adalah Bid’ah, dan setiap Bid’ah adalah kesesatan.” (HSR.
Abu Dawud no. 4607)
Kata “Kullu” (setiap)
dalam bahasa Arob menunjukkan keumuman. Jika Nabi ﷺ mengatakan “setiap” bid’ah adalah sesat,
maka tidak ada ruang bagi manusia untuk mengatakan ada bid’ah yang baik dalam
urusan ibadah mahdhoh. Abdulloh bin Umar (73 H) rodhiyallahu ‘anhu
memberikan penegasan:
كُلُّ بِدْعَةٍ
ضَلَالَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً
“Setiap bid’ah adalah
kesesatan, meskipun manusia menganggapnya sebagai kebaikan.” (Syarh Ushul I’tiqod
Ahlis Sunnah, Al-Lalaka’i (418 H), 1/104)
Adapun perkataan Umar bin
Al-Khoththob rodhiyallahu ‘anhu tentang Sholat Tarawih berjamaah: “Ni’matul
bid’atu hadzihi” (sebaik-baik bid’ah adalah ini), maka yang dimaksud adalah
bid’ah secara bahasa, bukan syariat. Karena Sholat Tarowih berjamaah memiliki
asal usul dari Nabi ﷺ yang
pernah melakukannya selama beberapa malam sebelum akhirnya beliau tinggalkan
karena khawatir akan diwajibkan atas ummatnya. Umar hanya menghidupkan kembali
Sunnah yang sempat terhenti, bukan membuat syariat baru yang tidak ada asalnya.
Adapun Maulid, ia tidak
memiliki asal usul dari Nabi ﷺ maupun
para Shohabat. Bagaimana mungkin sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ disebut sebagai kebaikan dalam agama?
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿أَمْ
لَهُمْ شُرَكَٰٓؤُا شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ﴾
“Apakah mereka mempunyai
sembahan-sembahan selain Alloh yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak
diizinkan Alloh?” (QS. Asy-Syuro: 21)
3.4 Kewajiban
mencukupkan diri dengan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan Rosul ﷺ
Keselamatan seorang hamba
terletak pada kemampuannya untuk mencukupkan diri dengan apa yang telah ada (ittiba’)
dan tidak melampaui batas dengan membuat inovasi baru dalam ibadah. Nabi ﷺ telah meninggalkan kita di atas jalan yang
sangat terang. Beliau ﷺ
bersabda:
«قَدْ
تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي
إِلَّا هَالِكٌ»
“Aku telah meninggalkan
kalian di atas jalan yang terang benderang, malamnya seperti siangnya. Tidak
ada yang berpaling darinya setelahku melainkan ia akan binasa.” (HSR. Ibnu
Majah no. 43 dan Ahmad no. 17142)
Seorang yang benar-benar
cinta kepada Nabi ﷺ akan
merasa cukup dengan apa yang beliau ajarkan. Ia akan sibuk mempelajari
Hadits-hadits beliau, mengamalkan Sholat Sunnahnya, Puasa Sunnahnya, dan Dzikir-dzikirnya yang shohih.
Ad-Darini (255 H) rohimahulloh
meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu bahwa beliau berkata:
الْاِقْتِصَادُ
فِي السُّنَّةِ، خَيْرٌ مِنَ الِاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
“Sederhana dalam
mengamalkan Sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam melakukan bid’ah.”
(Shohih At-Targhib, no. 41)
Kita diperintahkan untuk
mengikuti cahaya yang dibawa Nabi ﷺ tanpa
perlu menambah-nambahinya dengan perasaan atau tradisi. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ
وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُولَٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ﴾
“Maka orang-orang yang
beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang
yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (QS. Al-A’rof: 157)
Memuliakan Nabi ﷺ bukan dengan membuat pesta tahunan,
melainkan dengan tunduk pada hukum-hukumnya di setiap detik kehidupan kita.
Memaksakan sebuah tradisi yang tidak berdasar hanya akan membawa kita menjauh
dari kemurnian Islam yang sejati.
Bab 4: Menimbang
Tradisi dengan Timbangan Dalil yang Shohih
4.1 Tinjauan
kritis terhadap isi syair, prosa, dan kitab-kitab yang dibaca saat Maulid
Dalam banyak majelis
tradisi, seringkali dibacakan kitab-kitab pujian yang disusun oleh manusia.
Meskipun niatnya memuji, namun jika tidak dibimbing oleh dalil yang shohih,
pujian tersebut seringkali tergelincir pada sifat-sifat yang hanya milik Alloh ﷻ semata. Di antara syair-syair tersebut ada
yang menyebutkan bahwa Rosululloh ﷺ
mengetahui segala rahasia di dalam dada atau beliau adalah pemberi rizqi dan
pengatur alam. Padahal, urusan ghoib dan pengaturan alam adalah hak mutlak Robb
semesta alam. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُل لَّا
يَعْلَمُ مَن فِى السَّمَٰوَٰتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Katakanlah: ‘Tidak ada
seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghoib, kecuali
Alloh.” (QS. An-Naml: 65)
Mengagungkan Nabi ﷺ dengan memberikan sifat ketuhanan kepada
beliau justru menyakiti hati beliau yang sangat lurus (hanif). Beliau ﷺ sangat marah ketika ada seseorang yang
memuji beliau secara berlebihan. Pernah ada seorang Shohabat berkata kepada
Nabi ﷺ: “Apa
yang dikehendaki Alloh dan engkau kehendaki.” Maka Nabi ﷺ bersabda:
«أَجَعَلْتَنِي
وَاللهَ عَدْلًا؟ بَلْ مَا شَاءَ اللهُ وَحْدَهُ»
“Apakah engkau hendak
menjadikan aku sebagai tandingan bagi Alloh? Akan tetapi katakanlah: Apa yang
dikehendaki Alloh semata.” (HSR. Ahmad no. 1839)
Setiap bait syair harus
ditimbang dengan keimanan yang benar. Menjadikan Nabi ﷺ sebagai tempat meminta perlindungan di
saat kesusahan (istighotsah) yang seharusnya hanya ditujukan kepada
Alloh ﷻ adalah
sebuah kezholiman terhadap hak Robb. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَأَنَّ
الْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“Dan sesungguhnya
Masjid-Masjid itu adalah kepunyaan Alloh. Maka janganlah kalian menyembah apa
pun di dalamnya di samping menyembah Alloh.” (QS. Al-Jinn: 18)
Salah satu bukti paling
nyata terdapat dalam kitab Al-Burdah karya Al-Bushiri (694 H) yang
sangat masyhur dibacakan. Dalam salah satu baitnya disebutkan:
فَإِنَّ مِنْ
جُودِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا ... وَمِنْ عُلُومِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
“Sesungguhnya di antara
kedermawananmu (wahai Nabi) adalah dunia dan akhirat (dhorrotuha), dan di
antara ilmumu adalah ilmu Lauhul Mahfuzh dan Al-Qolam.” (Diwan Al-Bushiri, hal.
240-248)
Bait di atas mengandung
penyimpangan aqidah yang sangat berat karena:
1)
Menyebutkan dunia dan Akhirat adalah bagian dari kedermawanan Nabi ﷺ, padahal dunia dan Akhirat adalah milik
Alloh semata.
2)
Menyebutkan bahwa Nabi ﷺ
mengetahui isi Lauhul Mahfuzh, padahal ilmu yang ada di Lauhul Mahfuzh adalah
perkara ghoib yang hanya diketahui oleh Alloh.
Bukti lain juga ditemukan
dalam kitab Maulid Ad-Diba’i karya Abdurrohman Ad-Diba’i (944 H). Dalam
sebuah sya’ir disebutkan kalimat yang mengarah pada pengultusan di mana Nabi ﷺ dianggap sebagai tujuan diciptakannya alam
semesta:
...اَلْكَوْنُ
إِشَارَةٌ وَأَنْتَ الْمَقْصُوْدُ...
“Alam semesta ini
hanyalah isyarat, dan engkaulah (wahai Muhammad) tujuannya.”
Pernyataan ini memberikan
sifat Rububiyyah kepada Nabi ﷺ. Di
dalam Islam, tujuan penciptaan alam semesta dan manusia hanyalah untuk
beribadah kepada Alloh semata, sebagaimana firman-Nya dalam (QS. Adz-Dzariyat:
56). Mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah “tujuan”
dari adanya alam semesta merupakan bentuk ghuluw yang sangat ekstrem.
Demikian pula dalam kitab
Maulid Al-Barzanji karya Ja’far bin Hasan Al-Barzanji (1177 H),
disebutkan dalam baitnya:
فِيْكَ قَدْ
أَحْسَنْتُ ظَنِّيْ * ياَ بَشِيْرُ ياَ نَذِيـْـُر
فَأَغِثْنِيْ
وَأَجِـــن * ياَ مُجِيْرُ مِنَ السَّعِيْرِ
يَاغَيَاثِيْ
يَا مِــلاَذِيْ * فِيْ مُهِمَّاتِ اْلأُمُــوْرِ
“Padamu sungguh aku
telah berbaik sangka. Wahai pemberi kabar gembira wahai pemberi peringatan.
Maka tolonglah aku dan
selamatkanlah aku. Wahai pelindung dari Neraka Sa’ir
Wahai penolongku dan
pelindungku. Dalam perkara-perkara yang sangat penting (suasana susah dan
genting).”
Nukilan-nukilan di atas
membuktikan bahwa tanpa bimbingan ilmu dan dalil yang shohih, pujian yang
awalnya ditujukan untuk memuliakan Nabi ﷺ justru
tergelincir pada sifat ghuluw (melampaui batas) yang mengangkat
kedudukan makhluk ke derajat Kholiq (Pencipta). Ini sangat menyelisihi perintah
Nabi ﷺ agar
kita tidak berlebih-lebihan dalam memuji beliau.
4.2 Meluruskan
keyakinan keliru tentang kehadiran ruh Nabi ﷺ dalam majelis tradisi
Keyakinan bahwa ruh Nabi ﷺ hadir di tengah-tengah majelis Maulid,
sehingga orang-orang berdiri (qiyam) untuk menyambutnya, adalah
keyakinan yang tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an maupun Hadits yang shohih.
Ini adalah bentuk khayalan yang menyelisihi ketetapan alam Barzakh. Nabi ﷺ telah wafat dan ruh beliau berada di
tempat yang paling tinggi (Illiyyin). Beliau ﷺ sendiri
sangat membenci jika para Shohabat berdiri untuk menghormati beliau saat beliau
masih hidup. Anas bin Malik (93 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan:
«لَمْ
يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ
لَمْ يَقُومُوا لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهِيَتِهِ لِذَلِكَ»
“Tidak ada seorang pun
yang lebih mereka cintai daripada Rosululloh ﷺ. Namun,
apabila mereka melihat beliau, mereka tidak berdiri (untuk menyambutnya) karena
mereka mengetahui bahwa beliau membenci hal tersebut.” (HSR. At-Tirmidzi no.
2754)
Jika saat beliau hidup
saja beliau membenci orang yang berdiri untuk menghormatinya, bagaimana mungkin
beliau akan ridho dengan orang yang berdiri menyambut ruh beliau dengan
keyakinan yang tidak berdasar? Perbuatan ini lebih menyerupai tradisi kaum di
luar Islam dalam memuja tokoh mereka. Alloh ﷻ telah memberikan batasan bahwa pemuliaan
kepada Nabi ﷺ adalah
dengan ketaatan, bukan dengan ritual yang diada-adakan.
4.3 Fenomena
mendahulukan tradisi tahunan daripada Sholat berjamaah dan Sunnah harian
Sangat menyedihkan ketika
kita melihat sebagian orang begitu bersemangat mengeluarkan harta dan tenaga
untuk merayakan tradisi setahun sekali, namun mereka justru lalai dalam
menjalankan perintah yang wajib seperti Sholat lima waktu secara berjamaah di Masjid.
Inilah tipu daya syaithon yang membuat manusia merasa telah berbuat besar
dengan perkara yang tidak disyariatkan, sementara mereka meninggalkan pondasi
agama. Alloh ﷻ
berfirman:
﴿حَٰفِظُوا
عَلَى الصَّلَوَٰتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَٰنِتِينَ﴾
“Peliharalah semua
Sholat(mu), dan (peliharalah) Sholat Wustho. Berdirilah untuk Alloh (dalam
Sholatmu) dengan khusyu’.” (QS. Al-Baqoroh: 238)
Cinta kepada Nabi ﷺ meniscayakan kita untuk mencintai apa yang
beliau cintai. Nabi ﷺ
menjadikan Sholat sebagai penyejuk hatinya. Bagaimana mungkin seseorang mengaku
cinta kepada beliau namun meninggalkan Sholat Shubuh karena kelelahan setelah
semalam suntuk merayakan tradisi? Nabi ﷺ
bersabda:
«لَيْسَ
صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى المُنَافِقِينَ مِنَ الفَجْرِ وَالعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ
مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا»
“Tidak ada Sholat yang
lebih berat bagi orang-orang munafik selain Subuh dan Isya. Seandainya mereka
mengetahui apa yang ada di dalamnya maka mereka akan mendatanginya meskipun
dengan merangkak.” (HR. Al-Bukhori no. 657 dan Muslim no. 651)
Mendahulukan
Sunnah-Sunnah harian seperti Sholat Rowatib, Puasa Senin-Kamis, dan akhlaq yang
mulia jauh lebih utama daripada gempita ritual yang tidak ada asalnya. Cinta
adalah pengabdian setiap saat, bukan perayaan sesaat.
4.4 Sikap zholim
dan kebencian terhadap para pengikut Sunnah yang memegang teguh dalil
Di antara dampak buruk
dari kuatnya cengkeraman tradisi adalah munculnya kebencian terhadap
orang-orang yang mengajak kembali kepada Sunnah. Mereka yang mengingatkan agar
beragama sesuai dalil seringkali dianggap tidak mencintai Nabi ﷺ, dicela, bahkan dikucilkan. Padahal,
mencintai Sunnah dan pengamalnya adalah bagian dari iman. Alloh ﷻ berfirman:
﴿يَٰٓأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِۦ فَسَوْفَ يَأْتِى
اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُۥٓ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَٰفِرِينَ يُجَٰهِدُونَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ﴾
“Wahai orang-orang yang
beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak
Alloh akan mendatangkan suatu kaum yang Alloh mencintai mereka dan mereka pun
mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mu’min, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Alloh, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.” (QS. Al-Ma’idah:
54)
Berpegang teguh pada
Sunnah di akhir zaman memang akan terasa asing dan berat, laksana memegang bara
api. Namun, itulah jalan kemuliaan yang sesungguhnya. Nabi ﷺ bersabda:
«يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ»
“Akan datang kepada
manusia suatu zaman, orang yang bersabar di antara mereka di atas agamanya
laksana orang yang menggenggam bara api.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2260)
Membenci orang yang
mengamalkan Sunnah adalah tanda adanya penyakit di dalam hati. Seharusnya,
kecintaan kepada Nabi ﷺ membuat
kita mencintai siapa saja yang berusaha menghidupkan ajarannya, bukan malah
menjauhinya demi membela tradisi nenek moyang. Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) rohimahulloh
berkata:
إِذَا رَأَيْتَ
رَجُلًا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ فَكَأَنَّمَا رَأَيْتَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ
الله ﷺ
“Apabila aku melihat
seorang laki-laki dari Ahlus Sunnah, maka seolah-olah aku melihat seorang
laki-laki dari Shohabat Rosululloh ﷺ.” (Thobaqot
Hanabilah, Ibnu Abi Ya’la, 3/74)
4.5 Musik dan
Nyanyian di Maulid
Empat madzhab sepakat haromnya musik. Al-Qur’an dan musik tidak bisa bersatu dalam
hati. Mencintai Nabi ﷺ dengan
meninggalkan musik dan syair-syair yang berisi ghuluw.
Dari Abu ‘Amir atau Abu
Malik Al-Asy’ari rodhiyallahu ‘anhu. Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَيَكُونَنَّ
مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ»
“Pasti akan ada dari
umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, khomr, dan alat musik.”
(HR. Al-Bukhori no. 5590)
Dari ‘Imron bin Hushoin
(52 H) rodhiyallahu ‘anhu menukil sabda Nabi ﷺ:
«فِي هَذِهِ
الأُمَّةِ خَسْفٌ وَمَسْخٌ وَقَذْفٌ»
“Akan terjadi pada umatku
penenggelaman ke dalam bumi, perubahan rupa, dan pelemparan batu (dari
langit).”
Ketika para Shohabat
bertanya kapan hal itu terjadi, beliau ﷺ
menjawab:
«إِذَا
ظَهَرَتِ القَيْنَاتُ وَالمَعَازِفُ وَشُرِبَتِ الخُمُورُ»
“Jika penyanyi wanita dan
alat-alat musik telah merajalela, dan khomr-khomr diminum.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2212)
Imam Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah
menyatakan bahwa nyanyian adalah hiburan yang makruh dan menyerupai kebathilan.
Beliau juga menegaskan bahwa orang yang sering mendengarkannya, kesaksiannya
ditolak karena dianggap sebagai orang bodoh.
Imam Muhammad bin Idris
Asy-Syafi’i (204 H) rohimahullah:
تَرَكْتُ بِالعِرَاقِ
شَيْئًا يُقَالُ لَهُ: التَّغْبِيرُ أَحْدَثَتْهُ الزَّنَادِقَةُ يَصُدُّونَ النَّاسَ
عَنِ القُرْآنِ
“Aku meninggalkan sesuatu
di Irak yang disebut at-taghbir, yang diada-adakan oleh kaum zindiq untuk
memalingkan manusia dari Al-Qur’an.” (Shohih: Hilyatul Auliya, Abu Nu’aim,
9/146)
Bab 5:
Mewujudkan Cinta yang Jujur Melalui Ittiba’ dan Amal Sholih
5.1 Meneladani
akhlaq Sang Rosul ﷺ dalam
setiap sisi kehidupan nyata
Bukti cinta yang paling
nyata adalah dengan menjadikan diri kita cerminan dari akhlaq Rosululloh ﷺ. Beliau diutus untuk menyempurnakan
kemuliaan perangai manusia. Alloh ﷻ memuji akhlaq beliau:
﴿وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ﴾
“Dan sesungguhnya engkau
benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qolam: 4)
Seorang yang mencintai
Nabi ﷺ akan
sangat berhati-hati dalam lisannya, jujur dalam perbuatannya, dan penyayang
kepada sesama kaum Muslim. Ia tidak akan menyakiti tetangganya atau berbuat
zholim dalam perdagangannya. Nabi ﷺ
bersabda:
«إِنَّ
مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ
أَخْلَاقًا»
“Sesungguhnya orang yang
paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya
denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2018)
Mempelajari bagaimana
beliau makan, tidur, berbicara, dan berinteraksi dengan keluarga adalah bentuk
peringatan Maulid yang sesungguhnya setiap hari. Kita tidak membutuhkan
perayaan megah untuk menjadi orang yang jujur, amanah, dan pemaaf sebagaimana
beliau. Inilah esensi (inti) dari mengikuti cahaya yang beliau bawa.
5.2 Pentingnya
mempelajari Hadits dan menjadikannya satu-satunya hakim dalam berselisih
Cinta menuntut kita untuk
mengenal lebih dekat siapa yang kita cintai. Kita tidak akan bisa mengenal
Rosululloh ﷺ kecuali
dengan mempelajari warisan beliau, yaitu Hadits-hadits yang shohih. Ketika
terjadi perselisihan pendapat atau munculnya tradisi baru, maka Hadits harus
menjadi hakim pemutus, bukan perasaan atau pendapat tokoh tertentu. Alloh ﷻ berfirman:
﴿فَلَا
وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا
يَجِدُوا فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Maka demi Robb-mu,
mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim
terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Belajar Hadits adalah
jalan menuju Jannah. Barangsiapa yang berpaling dari Hadits dan lebih memilih
dongeng-dongeng yang tidak jelas asalnya, maka ia telah merugikan dirinya
sendiri. Rosululloh ﷺ
bersabda:
«نَضَّرَ
اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَ، فَرُبَّ مُبَلِّغٍ
أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ»
“Semoga Alloh mencerahkan
wajah seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya
sebagaimana dia mendengarnya. Betapa banyak orang yang disampaikan kepadanya
lebih paham daripada orang yang mendengarnya langsung.” (HSR. At-Tirmidzi
no. 2657)
Abdurrohman (Ibnu Mahdi,
198 H) rohimahulloh adalah di antara ulama yang sangat gigih dalam
membela Hadits dari serangan pemikiran hawa nafsu. Beliau mengajarkan bahwa
tidak ada kemuliaan bagi seorang Muslim kecuali dengan mengikuti atsar.
5.3 Berpegang
teguh pada jalan Salafus Sholih di tengah banyaknya fitnah dan tradisi
Di zaman yang penuh
dengan kerancuan antara yang Haq (benar) dan yang bathil (salah), mengikuti
pemahaman para Shohabat adalah tali penyelamat. Mereka adalah orang-orang yang
paling mengerti maksud dari setiap ayat dan Hadits. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَمَن
يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا﴾
“Dan barangsiapa yang
menentang Rosul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan
jalan orang-orang Mu’min (para Shohabat), Kami biarkan ia leluasa terhadap
kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam,
dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)
Jalan Salafus Sholih
adalah jalan yang jernih, tanpa tambahan dan tanpa pengurangan. Mereka
mencintai Nabi ﷺ dengan
pengorbanan, bukan dengan nyanyian.
Malik bin Anas (179 H) rohimahulloh
mengingatkan bahwa keselamatan ummat ini hanya ada pada ketaatan kepada apa
yang telah dijalani oleh generasi awal Islam.
Nabi ﷺ bersabda tentang kelompok yang selamat:
«مَا أَنَا
عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي»
“(Yaitu mereka yang
mengikuti) apa yang aku berada di atasnya dan para Shohabatku.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 2641)
5.4 Janji
kemuliaan dan telaga Al-Kautsar bagi mereka yang menghidupkan Sunnah
Balasan bagi orang-orang
yang jujur dalam cintanya kepada Nabi ﷺ adalah
kebersamaan bersama beliau di Jannah kelak. Inilah puncak dari segala harapan.
Seseorang pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang
kapan datangnya hari Qiyamah, beliau balik bertanya: “Apa yang telah engkau
siapkan untuknya?” Orang itu menjawab: “Cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya.” Maka
beliau ﷺ
bersabda:
«أَنْتَ
مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Engkau akan bersama
dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Bukhori no. 3688 dan Muslim no.
2639)
Namun, kita harus
waspada. Ada orang-orang yang kelak akan diusir dari telaga (Al-Haudh) milik
Nabi ﷺ karena
mereka telah merubah-rubah agama setelah beliau wafat. Nabi ﷺ bersabda:
«إِنِّي
فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ، وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ
أَبَدًا، لَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي، ثُمَّ يُحَالُ
بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ»
«فَأَقُولُ إِنَّهُمْ
مِنِّي، فَيُقَالُ: إِنَّكَ لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا
سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي»
“Aku akan mendahului
kalian di telaga. Barangsiapa melewaku, ia akan minum, dan barangsiapa minum,
ia tidak akan haus selamanya. Sungguh akan datang kepadaku beberapa kaum yang
aku mengenal mereka dan mereka mengenalku, kemudian dipisahkan antara aku dan mereka.
Maka aku berkata: ‘Sesungguhnya mereka adalah pengikutku.’ Maka dikatakan: ‘Sesungguhnya
engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan (perkara baru dalam agama)
setelahmu.’ Maka aku berkata: ‘Menjauhlah, menjauhlah bagi orang yang merubah
(agama) setelahku.’” (HR. Al-Bukhori no. 6584 dan Muslim no. 2291)
Penutup
Sebagai akhir dari
catatan ini, mari kita merenung dengan hati yang bening. Apakah cinta kita
kepada Nabi ﷺ sudah
sesuai dengan apa yang beliau inginkan, ataukah kita hanya mencintai bayang-bayang
tradisi yang kita buat sendiri? Cinta sejati tidak akan pernah menabrak
syariat. Cinta sejati adalah ketaatan yang tulus, ittiba’ yang murni, dan
pengagungan yang tidak melampaui batas. Rosululloh ﷺ telah memberikan segalanya bagi ummat ini,
maka balasan terbaik kita adalah dengan menjaga warisannya agar tetap murni
hingga kita berjumpa dengan beliau di telaga kelak.
Semoga Alloh ﷻ senantiasa memberikan kita hidayah untuk
tetap istiqomah di atas Sunnah, menjauhkan kita dari segala bentuk bid’ah dan
tradisi yang menyesatkan, serta mengumpulkan kita bersama Sang Musthofa ﷺ di dalam Jannah-Nya yang penuh ni’mat.
Segala puji bagi Alloh
Robb semesta alam.[NK]
