[PDF] Keutamaan 7 Dzikir Mutlak: Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah, Istighfar, Sholawat - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya milik Alloh ﷻ,
Robb semesta alam.
Sholawat
dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh ﷺ, keluarga, para Shohabat, dan
pengikut beliau hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Sesungguhnya
dzikir kepada Alloh ﷻ
merupakan ibadah yang paling agung, perniagaan yang tidak akan merugi, dan bekal
utama bagi setiap Muslim dalam menggapai ridho Robb-nya.
Dzikir
adalah nutrisi bagi hati, cahaya bagi bashiroh (mata hati), dan benteng
kokoh dari godaan syaithon yang terkutuk.
Di antara
sekian banyak lafazh dzikir yang diajarkan dalam syariat, terdapat 7 kalimat
yang memiliki kedudukan sangat istimewa, yaitu tasbih, tahmid, tahlil,
takbir, hauqolah, istighfar, dan sholawat kepada Nabi ﷺ. Ketujuh kalimat ini
mengandung pengagungan yang sempurna terhadap uluhiyyah, rububiyyah, serta asma
dan sifat Alloh ﷻ.
Buku ini
disusun untuk menghimpun berbagai dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang shohih
mengenai keutamaan kalimat-kalimat thoyyibah tersebut, agar setiap Mu’min dapat
menyelami maknanya dan menjadikannya sebagai wirid harian yang menghiasi lisan
dan hatinya.
Bab 1: Keutamaan Dzikir Secara
Umum
1.1
Perintah Berdzikir dalam Al-Qur’an
Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya dalam setiap
keadaan, baik di waktu pagi maupun petang, dalam kesendirian maupun
keramaian. Perintah ini menunjukkan betapa besar kebutuhan manusia terhadap
Robb-nya.
[1] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً
وَأَصِيلًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, ingatlah Alloh dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.
Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)
Alloh ﷻ
memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak dzikir kepada Robb
mereka yang telah memberikan berbagai ni’mat dan karunia kepada mereka, karena
dalam dzikir tersebut terdapat keberuntungan bagi mereka dan cahaya di dalam
kubur mereka.
[2] Alloh ﷻ juga
berfirman:
﴿فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾
“Apabila
sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi dan carilah
karunia Alloh dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (QS.
Al-Jumu’ah: 10)
Ayat ini
merupakan arahan dari Alloh ﷻ bahwa kesibukan duniawi dalam mencari rizqi tidak boleh
melalaikan seorang Mu’min dari mengingat Robb-nya. Keberuntungan yang hakiki
hanya dapat diraih dengan menggabungkan antara usaha lahiriyyah dan dzikir
batiniah.
[3] Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَاذْكُرُونِي
أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾
“Maka
ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada kalian. Bersyukurlah
kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari ni’mat-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 152)
Dengan
banyak berdzikir maka ia akan mudah taat kepada-Nya sehingga jauh dari maksiat.
Sedikit dzikir, akan menyebabkan waktunya longgar untuk bermaksiat.
Sa’id bin
Jubair (95 H) rohimahulloh berkata:
الذِّكْرُ
طَاعَةُ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يُطِعْهُ لَمْ يَذْكُرْهُ وَإِنْ أَكْثَرَ التَّسْبِيحَ
وَالتَّهْلِيلَ وَقِرَاءَةَ الْقُرْآنِ
“Dzikir
adalah ketaatan kepada Alloh. Barang siapa yang tidak menaati-Nya, maka dia
tidak mengingat-Nya meskipun dia banyak bertasbih, bertahlil, dan membaca
Al-Qur’an.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/171)
1.2
Pujian bagi Penduduk Langit dan Bumi yang Berdzikir
Alloh ﷻ
memuji hamba-hamba-Nya yang senantiasa membasahi lisan mereka dengan dzikir.
Mereka adalah orang-orang yang berakal sehat dan memiliki kedudukan mulia di
sisi-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآيَاتٍ
لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى
جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ
هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Wahai Robb kami,
tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari adzab Naar.’” (QS. Ali ‘Imron: 190-191)
Dalam ayat
lain, Alloh ﷻ
menyebutkan sifat-sifat hamba-Nya yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang
besar:
﴿وَالذَّاكِرِينَ
اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴾
“Dan
laki-laki yang banyak menyebut nama Alloh serta perempuan yang banyak menyebut
nama Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab: 35)
Rosululloh ﷺ bersabda dalam sebuah Hadits
qudsi, Alloh ﷻ
berfirman:
«أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ
ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ
مِنْهُمْ»
“Aku sesuai
dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku.
Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Jika
dia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya dalam kumpulan
yang lebih baik dari mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)
Kebersamaan
Alloh ﷻ
dalam Hadits ini adalah kebersamaan yang khusus, yaitu berupa perlindungan,
pertolongan, taufiq, dan cinta-Nya kepada sang hamba.
1.3
Perumpamaan Orang yang Berdzikir dan yang Lalai
Perbedaan
antara orang yang berdzikir dan orang yang lalai sangatlah kontras. Dzikir adalah
pembeda antara jiwa yang hidup dan jiwa yang mati.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَثَلُ
الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»
“Perumpamaan
orang yang mengingat Robb-nya dan orang yang tidak mengingat Robb-nya, adalah
seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhori
no. 6407)
Ibnu Qoyyim
Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh memberikan penjelasan yang sangat
mendalam mengenai hal ini:
الذِّكْرُ
لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ
الْمَاءَ؟
“Dzikir
bagi hati laksana air bagi ikan. Maka bagaimanakah keadaan ikan jika ia
berpisah dengan air?” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hal. 96)
Orang yang
lalai dari dzikir akan merasa sempit dadanya dan mudah dikuasai oleh syaithon.
Sebaliknya, orang yang lisannya basah dengan dzikir akan mendapatkan ketenangan
yang tidak bisa dibeli dengan materi apapun.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الَّذِينَ
آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ
الْقُلُوبُ﴾
“Orang-orang
yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah,
hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
1.4
Dzikir sebagai Amalan Paling Suci dan Tertinggi
Banyak
orang yang menyangka bahwa amalan yang paling berat secara fisik adalah amalan
yang paling utama. Namun, dalam timbangan syariat, dzikir memiliki kedudukan
yang melampaui banyak amalan lainnya jika dilakukan dengan ikhlas dan mutaba’ah
(mengikuti petunjuk Nabi ﷺ).
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَلَا
أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا
فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ
لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟
قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى» قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: «مَا
شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»
“Maukah aku
beritahukan kepada kalian tentang amal kalian yang terbaik, yang paling suci di
sisi Raja kalian (Alloh), yang paling tinggi dalam derajat kalian, yang lebih
baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi
kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher
mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Shohabat menjawab: “Tentu.”
Beliau bersabda: “Dzikir kepada Alloh Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi no.
3377 dan Ibnu Majah no. 3790)
Abu Bakr
(13 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Rosululloh ﷺ:
ذَهَبَ
الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ
“Orang-orang
yang berdzikir telah pergi dengan membawa seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad no.
15614)
Keutamaan
ini bukan berarti meremehkan amalan lain seperti Jihad atau Zakat, namun menekankan
bahwa dzikir adalah ruh dari seluruh ibadah tersebut. Sholat ditegakkan untuk
berdzikir, Haji dilaksanakan untuk berdzikir, dan Jihad dilakukan agar kalimat
Alloh ﷻ
(dzikir tertinggi) menjadi yang paling mulia.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَبَقَ
الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ
اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»
“Al-Mufarridun
telah mendahului.” Para Shohabat bertanya: “Siapakah al-Mufarridun itu wahai
Rosululloh?” Beliau bersabda: “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Alloh dan
perempuan yang banyak berdzikir.” (HR. Muslim no. 2676)
Al-Mufarridun
dalam bahasa Arob berarti orang-orang yang menyendiri dalam ibadah dan
perhatian mereka hanya tertuju kepada Alloh ﷻ, sehingga mereka melaju
kencang meninggalkan orang lain dalam perlombaan menuju Akhiroh.
Barang
siapa yang senantiasa berdzikir, maka hatinya akan bercahaya, dadanya akan
lapang, dan urusannya akan dimudahkan.
Oleh karena
itu, hendaknya seorang Muslim tidak membiarkan satu detik pun berlalu kecuali
dia berada dalam kondisi berdzikir kepada Alloh ﷻ, baik dengan lisan, hati,
maupun anggota badannya yang bergerak dalam ketaatan. Inilah pondasi utama
sebelum kita memasuki pembahasan rinci mengenai 7 dzikir utama yang menjadi
tema buku ini.
Bab 2: Keutamaan Tasbih (Subhaanallooh)
2.1
Makna Pensucian Alloh dari Segala Kekurangan
Tasbih
adalah kalimat yang digunakan untuk mensucikan Alloh ﷻ dari segala bentuk sifat
kekurangan, aib, serta penyerupaan dengan makhluk-Nya. Ketika seorang hamba
mengucapkan Subhaanallooh, ia sedang menetapkan kesempurnaan mutlak bagi
Robb semesta alam.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿سُبْحَانَ
رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ﴾
“Maha Suci
Robbmu, Robb yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan.” (QS.
Ash-Shoffat: 180)
Ayat ini
menegaskan bahwa segala sifat buruk yang disandarkan oleh orang-orang musyrik
kepada Alloh ﷻ
adalah bathil, dan Alloh ﷻ Maha Suci dari hal tersebut.
Makna tasbih:
وَالتَّسْبِيحُ
تَنْزِيهُ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ كُلِّ سُوءٍ
“Tasbih
adalah pensucian Alloh dari segala keburukan.” (Al-Asma, Al-Baihaqi, no.
672)
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh berkata:
الْأمْرُ
بِتَسْبِيحِهِ يَقْتَضِي أَيْضًا تَنْزِيهَهُ عَن كُل عَيْبٍ وَسُوءٍ، وَإِثْبَاتِ
صِفَاتِ الْكَمَالِ لَهُ
“Perintah
untuk bertasbih menuntut pula pensucian-Nya dari setiap aib dan keburukan,
serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu
Taimiyyah, 16/125)
2.2
Tasbih sebagai Kalimat Paling Dicintai Alloh ﷻ
Di antara
sekian banyak ucapan manusia, tasbih memiliki kedudukan istimewa sebagai
kalimat yang dipilih dan dicintai oleh Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»
“Sesungguhnya
ucapan yang paling dicintai oleh Alloh adalah: Subhaanallooh wa
bihamdihi (Maha Suci Alloh dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim no. 2731)
Dalam
riwayat lain, Abu Dzar (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bertanya kepada
Rosululloh ﷺ
tentang ucapan apa yang paling utama, beliau menjawab:
«مَا
اصْطَفَى اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»
“Apa yang
telah Alloh pilihkan bagi para Malaikat-Nya atau bagi hamba-hamba-Nya, yaitu: Subhaanallooh
wa bihamdihi.” (HR. Muslim no. 2731)
Kalimat ini
menggabungkan antara tasbih (pensucian) dan tahmid (pujian), yang merupakan dua
pilar utama dalam pengagungan kepada Alloh ﷻ.
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
«أَحَبُّ
الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»
“Ucapan
yang paling dicintai oleh Alloh ada 4: Subhaanallooh, Alhamdulillaah,
Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar. Tidak mengapa bagimu
dengan mana saja kamu memulainya.” (HR. Muslim no. 2137)
2.3
Beratnya Timbangan Tasbih di Mizan pada Hari Qiyamah
Meskipun
lafazh tasbih sangat ringan diucapkan oleh lisan, namun ia memiliki bobot yang
sangat berat dalam timbangan amal di hari Qiyamah kelak.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«كَلِمَتَانِ
خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ،
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ»
“Dua
kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rohman
(Alloh yang Maha Pengasih): Subhaanallooh wa bihamdihi dan Subhaanalloohil
‘Azhim (Maha Suci Alloh yang Maha Agung).” (HR. Al-Bukhori no. 6682 dan
Muslim no. 2694)
Keutamaan
ini menunjukkan betapa luasnya rohmat Alloh ﷻ, di mana amal yang nampaknya
kecil di dunia dapat memberikan keselamatan yang besar di Akhiroh.
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
«أَيَعْجِزُ
أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ
جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ
تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ»
“Apakah
salah seorang di antara kalian tidak mampu meraih 1.000 kebaikan setiap hari?”
Maka salah seorang yang duduk bertanya kepada beliau: “Bagaimana salah seorang
di antara kami meraih 1.000 kebaikan?” Beliau menjawab: “Dia bertasbih 100
kali, maka akan dicatat baginya 1.000 kebaikan atau dihapuskan darinya 1.000
kesalahan.” (HR. Muslim no. 2698)
2.4
Tasbih Malaikat dan Makhluk di Alam Semesta
Seluruh
makhluk di langit dan di bumi, baik yang bernyawa maupun benda mati, senantiasa
bertasbih kepada Alloh ﷻ.
Ini adalah bukti bahwa ketundukan kepada Sang Pencipta adalah fithroh yang ada
pada setiap ciptaan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿تُسَبِّحُ
لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا
يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا
غَفُورًا﴾
“Langit
yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan
tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian
tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun.” (QS. Al-Isro: 44)
Mengenai
para Malaikat, Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يُسَبِّحُونَ
اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ﴾
“Mereka
selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya: 20)
Dalam
Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdulloh (74 H) rodhiyallahu ‘anhu,
Rosululloh ﷺ
bersabda menceritakan tentang penduduk Jannah:
«يُلْهَمُونَ
التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ»
“Mereka
diberikan ilham untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana mereka diberikan
ilham untuk bernafas.” (HR. Muslim no. 2835)
Hal ini
menunjukkan bahwa tasbih adalah aktivitas yang paling lezat dan menyenangkan
bagi penduduk Jannah, bahkan ia menjadi kebutuhan yang melekat secara alami
sebagaimana nafas bagi manusia di dunia.
Bab 3: Keutamaan Tahmid (Alhamdulillaah)
3.1
Hakikat Syukur dan Pujian Sempurna bagi Robb
Alhamdulillaah adalah kalimat syukur yang mencakup
pengakuan atas segala ni’mat Alloh ﷻ. Ia adalah pujian yang
diberikan kepada Alloh ﷻ
atas kesempurnaan dzat, nama, dan perbuatan-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
“Segala
puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)
Ibnu Jarir
Ath-Thobari (310 H) rohimahulloh berkata:
الْحَمْدُ
لِلَّهِ هُوَ الشُّكْرُ لِلَّهِ خَالِصًا دُونَ سَائِرِ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِهِ
“Alhamdulillaah
adalah syukur kepada Alloh secara murni, bukan kepada apa yang disembah
selain-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/192)
Setiap ni’mat
yang diterima oleh hamba, baik besar maupun kecil, harus dikembalikan kepada
Alloh ﷻ
dengan ucapan tahmid.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«إِنَّ
اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا
أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»
“Sesungguhnya
Alloh benar-benar ridho kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan lalu
dia memuji-Nya atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu dia
memuji-Nya atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)
3.2
Tahmid sebagai Pengisi Penuh Timbangan Amal
Tahmid
memiliki keutamaan yang luar biasa dalam memenuhi ruang antara langit dan bumi
dengan pahala.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الطُّهُورُ
شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ تَمْلَآَنِ - أَوْ تَمْلَأُ - مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ»
“Bersuci
adalah separuh dari iman, Alhamdulillaah memenuhi mizan
(timbangan), dan Subhaanallooh serta Alhamdulillaah
keduanya memenuhi ruang antara langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 223)
3.3
Doa Paling Utama adalah Alhamdulillaah
Meskipun Alhamdulillaah
adalah bentuk pujian, namun ia juga berfungsi sebagai doa, karena orang yang
memuji Alloh ﷻ
atas ni’mat-Nya pada hakikatnya sedang memohon tambahan ni’mat tersebut.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ
الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ»
“Dzikir
yang paling utama adalah Laa ilaaha illallooh, dan doa yang paling utama
adalah Alhamdulillaah.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3383 dan Ibnu Majah no.
3800)
Sufyan bin ‘Uyainah
(198 H) rohimahulloh menjelaskan mengapa Alhamdulillaah disebut
doa: “Tidakkah kamu tahu bahwa Alloh Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku
memuji-Ku, maka sungguh dia telah meminta kepada-Ku?”
3.4
Tahmid dalam Setiap Keadaan dan Karunia
Seorang Mu’min
yang sholih akan senantiasa bertahmid baik saat mendapatkan kemudahan maupun
kesulitan, karena ia yakin bahwa setiap ketetapan Alloh ﷻ
mengandung hikmah yang besar.
Diriwayatkan
dari ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rosululloh ﷺ apabila melihat hal yang
beliau sukai, beliau berucap:
«الْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»
“Segala
puji bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.”
Dan apabila
beliau melihat hal yang tidak disukai, beliau berucap:
«الْحَمْدُ
لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»
“Segala
puji bagi Alloh atas setiap keadaan.” (HHR. Ibnu Majah no. 3803)
Sikap ini
menjauhkan hamba dari rasa putus asa dan menjadikan hatinya selalu ridho
terhadap taqdir yang telah digariskan oleh Robb-nya.
Bab 4: Keutamaan Tahlil (Laa
Ilaaha Illallooh)
4.1
Kalimat Tauhid sebagai Kunci Jannah
Kalimat Laa
ilaaha illallooh adalah inti dari da’wah para Rosul dan pondasi paling
dasar dalam Islam. Tanpa kalimat ini, tidak ada satu pun amalan yang akan
diterima oleh Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿فَاعْلَمْ
أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ﴾
“Maka
ketahuilah bahwa tidak ada Robb yang berhak disembah selain Alloh.” (QS.
Muhammad: 19)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barang
siapa yang mati dalam keadaan dia mengetahui bahwa tidak ada yang berhak
disembah selain Alloh, maka dia masuk Jannah.” (HR. Muslim no. 26)
Kalimat ini
bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan harus diiringi dengan ilmu, keyakinan,
keikhlasan, kejujuran, kecintaan, ketundukan, dan penerimaan.
Rosululloh ﷺ juga bersabda:
«مَنْ
كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
“Barang
siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallooh, maka dia masuk Jannah.”
(HR. Abu Dawud no. 3116)
Mu’adz bin
Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ وَهِيَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ
اللهِ، يَرْجِعُ ذَاكَ إِلَى قَلْبٍ مُوقِنٍ، إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهَا»
“Tidaklah
ada satu jiwa pun yang mati dengan bersaksi bahwa tidak ada Robb yang berhak
disembah selain Alloh dan bahwa aku adalah utusan Alloh, di mana hal itu
dikembalikan kepada hati yang yakin, melainkan Alloh akan mengampuninya.” (HSR.
Ahmad no. 22071)
4.2
Tahlil sebagai Dzikir Paling Utama dan Paling Berat
Tahlil
memiliki kedudukan tertinggi di antara seluruh dzikir. Ia adalah kalimat yang
sangat berat sehingga mampu menandingi beratnya tujuh langit dan bumi beserta isinya.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Perkataan
paling utama yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha
illallooh wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa
‘alaa kulli syai-iin qodiir (Tidak ada Robb yang berhak disembah selain
Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya
segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HHR. At-Tirmidzi
no. 3585)
Dalam
sebuah Hadits yang masyhur tentang Shohibul Bithoqoh (pemilik kartu),
dikisahkan seorang lelaki yang memiliki 99 gulungan catatan dosa yang setiap
gulungannya sejauh mata memandang. Namun, ketika diletakkan sebuah kartu kecil
bertuliskan syahadat, maka kartu tersebut lebih berat daripada seluruh gulungan
dosa tersebut.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَتُوضَعُ
السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ
البِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ»
“Maka
diletakkanlah gulungan-gulungan catatan tersebut di satu daun timbangan dan
kartu tersebut di daun timbangan yang lain, maka ringanlah gulungan-gulungan
tersebut dan beratlah kartu itu. Maka tidak ada sesuatu pun yang dapat
menandingi beratnya nama Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2639 dan Ibnu Majah
no. 4300)
4.3
Keamanan dari Adzab bagi Pemilik Tahlil yang Shiddiq
Orang yang
mengucapkan tahlil dengan penuh kejujuran (shiddiq) dari dalam hatinya akan
mendapatkan jaminan keamanan dari api Naar.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«فَإِنَّ
اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي
بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ»
“Sesungguhnya
Alloh telah mengharomkan atas Naar bagi siapa saja yang mengucapkan Laa
ilaaha illallooh dengan mengharapkan wajah Alloh (ikhlas).” (HR.
Al-Bukhori no. 425 dan Muslim no. 33)
4.4
Pembaharuan Iman dengan Kalimat Tahlil
Iman dalam
hati manusia dapat mengalami pasang surut. Oleh karena itu, Rosululloh ﷺ memerintahkan umatnya untuk
senantiasa memperbaharui iman mereka dengan memperbanyak tahlil.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«جَدِّدُوا
إِيمَانَكُمْ»، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ:
«أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ»
“Perbaharuilah
iman kalian.” Ditanyakan: “Wahai Rosululloh, bagaimana kami memperbaharui iman
kami?” Beliau bersabda: “Perbanyaklah ucapan Laa ilaaha illallooh.” (HR.
Ahmad no. 8710)
Tidak ada
amal bagi seorang hamba yang lebih utama daripada Tauhid.
Bab 5: Keutamaan Takbir (Alloohu
Akbar)
5.1
Makna Kebesaran Alloh ﷻ
di Atas Segalanya
Takbir adalah pengakuan mutlak seorang
hamba bahwa Alloh ﷻ
Maha Besar, melampaui segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Kalimat Alloohu
Akbar menanamkan rasa kecil dalam diri manusia di hadapan keagungan
Robb-nya, sehingga tidak ada lagi tempat bagi kesombongan atau rasa takut
kepada selain-Nya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَقُلِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي
الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴾
“Dan
katakanlah: ‘Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai
sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan
agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isro:
111)
Yakni, mengagungkan-Nya
dengan ucapan Alloohu Akbar.
اللهُ
أَكْبَرُ أَيْ أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ
“Alloohu
Akbar bermakna Dia lebih agung dari segala sesuatu.” (Syarh Abi Dawud,
Ibnu Ruslan, 7/295)
5.2
Takbir dalam Berbagai Ibadah Besar dan Syiar Islam
Syariat
Islam menempatkan takbir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai
ibadah utama, mulai dari Sholat, Haji, hingga hari raya. Ini menunjukkan bahwa
mengagungkan kebesaran Alloh ﷻ adalah ruh dari penghambaan.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai ibadah Haji dan qurban:
﴿لَنْ
يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Daging-daging
unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Alloh, tetapi
ketaqwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Alloh telah
menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Alloh (bertakbir)
atas hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang
yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)
Dalam
Sholat, takbir menjadi pembuka dan perpindahan antar gerakan. Rosululloh ﷺ bersabda:
«مِفْتَاحُ
الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
“Kunci
Sholat adalah bersuci, pengharomannya (mulainya) adalah takbir, dan
penghalalannya (selesainya) adalah salam.” (HSR. Abu Dawud no. 61 dan
At-Tirmidzi no. 3)
5.3
Pahala Mengagungkan Alloh ﷻ
dengan Takbir
Mengucapkan
takbir secara lisan dengan penuh keyakinan di dalam hati mendatangkan pahala
yang sangat besar serta menanamkan ketenangan jiwa.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَا
أَهَلَّ مُهَلِّلٌ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ، وَلَا كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ»
قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِالْجَنَّةِ؟ قَالَ: «نَعَمْ»
“Tidaklah
seorang yang bertahlil melainkan akan diberi kabar gembira, dan tidaklah
seorang yang bertakbir melainkan akan diberi kabar gembira.” Ditanyakan: “Wahai
Rosululloh, dengan Jannah?” Beliau bersabda: “Benar.” (HR. Ath-Thobari dalam
Al-Ausath no. 7779, dishohihkan Al-Albani dalam As-Shohihah no. 1621)
5.4
Takbir sebagai Pengusir Syaithon dan Kesombongan
Takbir
memiliki kekuatan untuk menghancurkan dominasi syaithon atas manusia dan
meruntuhkan gunung-gunung kesombongan di dalam hati.
Rosululloh ﷺ bersabda ketika melihat
keajaiban atau kemenangan:
«اللَّهُ
أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ»
“Alloohu
Akbar, hancurlah Khoibar.” (HR. Al-Bukhori no. 371)
Dalam
suasana perang atau ketakutan, takbir adalah senapan batin bagi seorang Muslim.
Pengucapan takbir saat melihat api juga dianjurkan oleh sebagian ulama
berdasarkan atsar, karena api adalah unsur ciptaan syaithon dan takbir
memadamkan kehebatannya dengan kebesaran Alloh ﷻ.
Bab 6: Keutamaan Al-Baqiyat
Ash-Sholihat
6.1
Keistimewaan Menggabungkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir
Empat
kalimat ini, yaitu Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha
illallooh, dan Alloohu Akbar, Laa haula walaa quwwata illaa
billaah: disebut sebagai Al-Baqiyaat Ash-Sholihaat (amal-amal sholih yang
kekal).
Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَالْبَاقِيَاتُ
الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا﴾
“Dan
amal-amal sholih yang kekal (Al-Baqiyat Ash-Sholihat) adalah lebih baik
pahalanya di sisi Robbmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS.
Al-Kahfi: 46)
Rosululloh ﷺ bersabda:
«اسْتَكْثِرُوا
مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ» قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «التَّكْبِيرُ،
وَالتَّهْلِيلُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللهِ»
“Perbanyaklah
Al-Baqiyat Ash-Sholihat.” Ditanyakan: “Apakah itu wahai Rosululloh?” Beliau
bersabda: “Takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan Laa haula walaa quwwata illaa
billaah.” (HHR. Ahmad no. 11713)
6.2
Empat Kalimat yang Menjadi Tanaman di Jannah
Dzikir ini
bukan hanya memberikan pahala di timbangan, tetapi juga menjadi aset fisik bagi
seorang hamba di Jannah berupa pepohonan yang indah.
Rosululloh ﷺ menceritakan pertemuannya
dengan Ibrohim (Alaihissalam) pada malam Isro’:
«لَقِيتُ
إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي
السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ،
وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا
إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ»
“Aku
bertemu Ibrahim pada malam aku di-isro’-kan, lalu beliau berkata: ‘Wahai
Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahukanlah kepada mereka
bahwa Jannah itu tanahnya baik, airnya tawar, dan ia adalah tanah lapang yang
luas. Adapun tanamannya adalah Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa
ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar.’” (HSR. At-Tirmidzi no.
3462)
6.3
Penggugur Dosa laksana Daun yang Berguguran dari Pohon
Sebagaimana
pohon menggugurkan daunnya yang kering, dzikir ini menggugurkan dosa-dosa
seorang hamba hingga bersih.
Rosululloh ﷺ mengambil sebuah dahan pohon
yang kering lalu memukulnya hingga daun-daunnya berguguran, kemudian beliau
bersabda:
«إِنَّ
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ،
تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»
“Sesungguhnya
Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu
Akbar, benar-benar menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon ini
menggugurkan daun-daunnya.” (HHR. Ahmad no. 12534)
6.4
Perlindungan dari Naar dengan Al-Baqiyat Ash-Sholihat
Kalimat-kalimat
ini akan menjadi perisai dan penyelamat bagi pembacanya pada hari ketika
manusia sangat membutuhkan pertolongan.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«خُذُوا
جُنَّتَكُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنْ عَدُوٍّ قَدْ حَضَرَ؟ قَالَ: «لَا،
وَلَكِنْ جُنَّتُكُمْ مِنَ النَّارِ قَوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ،
وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، فَإِنَّهُنَّ يَأْتِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
مُجَنِّبَاتٍ وَمُعَقِّبَاتٍ، وَهُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ»
“Ambillah perisai
kalian!” Mereka berkata: “Apakah untuk melawan musuh yang sudah datang?” Jawab
beliau: “Tidak, tetapi perisai kalian dari Neraka. Ucapkanlah: Subhaanallooh,
Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar.
Karena sesungguhnya kalimat-kalimat itu akan datang pada hari Qiyamah sebagai
penyelamat dari depan, dari belakang, dan dari samping. Dan itulah Al-Baqiyat
Ash-Sholihat.” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 10617 dan Al-Hakim no.
1921)
Bab 7: Keutamaan Hauqolah (Laa Haula
Walaa Quwwata Illaa Billaah)
7.1
Makna Penyerahan Diri Total kepada Kekuatan Robb
Hauqolah adalah kalimat yang menyatakan
ketiadaan daya dan upaya pada diri hamba, melainkan semata-mata karena
pertolongan dan kekuatan dari Alloh ﷻ. Ini adalah bentuk pengakuan
tawakal yang paling tinggi. Termasuk maknanya: haul (kemampuan menolak
bahaya dan maksiat) dan quwwah (kemampuan menarik kebaikan dan ketaatan)
hanya dengan pertolongan Alloh.
Abu
Abdillah Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahulloh menjelaskan: “Kalimat ini
memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menghadapi pekerjaan yang sulit dan
menanggung beban yang berat.”
7.2
Hauqolah sebagai Simpanan Perbendaharaan Harta di Jannah
Pahala bagi
pembaca hauqolah disimpan oleh Alloh ﷻ di bawah ‘Arsy-Nya sebagai
harta karun yang sangat berharga.
Rosululloh ﷺ bersabda kepada Abu Musa
Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«يَا
عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا
كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ»
“Wahai
Abdulloh bin Qois, ucapkanlah: Laa haula walaa quwwata illaa billaah,
karena sesungguhnya ia adalah salah satu simpanan harta (kanzun) dari
simpanan-simpanan Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 6384 dan Muslim no. 2704)
7.3
Hauqolah sebagai Pintu dari Pintu-pintu Jannah
Selain
sebagai harta simpanan, hauqolah juga merupakan sarana yang memudahkan
hamba untuk memasuki Jannah melalui pintu-pintunya.
Rosululloh ﷺ bersabda kepada Qois bin Sa’ad
(60 H) rodhiyallahu ‘anhu:
«أَلَا
أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ؟» قُلْتُ: بَلَى؟ قَالَ: «لَا حَوْلَ
وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Maukah aku
tunjukkan kepadamu salah satu pintu dari pintu-pintu Jannah?” Aku menjawab: “Tentu.”
Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illaa billaah.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3581)
7.4
Kekuatan dalam Menghadapi Kesulitan dengan Hauqolah
Bagi
seorang Mu’min yang merasa berat dalam memikul beban kehidupan, hauqolah
adalah obat yang sangat mujarab untuk menguatkan batinnya.
Diriwayatkan
bahwa Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَكْثِرُوا
مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ
الْجَنَّةِ»
“Perbanyaklah
ucapan Laa haula walaa quwwata illaa billaah, karena sesungguhnya ia
adalah simpanan dari simpanan-simpanan Jannah.” (HHR. Ahmad no. 8407)
Bab 8: Keutamaan Istighfar
(Astaghfirulloh)
Yaitu
bacaan:
«أَسْتَغْفِرُ اللهَ»
Atau:
«أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»
Atau:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»
Atau yang
semakna lainnya.
8.1
Istighfar sebagai Pembuka Pintu Rizqi dan Kekuatan Batin
Istighfar
adalah kunci bagi tertutupnya pintu-pintu kebaikan duniawi dan ukhrowi. Dengan
memohon ampun, Alloh ﷻ
akan menurunkan barokah dari langit dan bumi.
Alloh ﷻ
berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh (Alaihissalam):
﴿فَقُلْتُ
اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ
مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ
لَكُمْ أَنْهَارًا﴾
“Maka aku
berkata (kepada mereka): ‘Mohonlah ampun kepada Robb kalian, sesungguhnya Dia
adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan
lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu
kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.
Nuh: 10-12)
Al-Hasan
Al-Bashri (110 H) rohimahulloh pernah didatangi beberapa orang yang
mengadu tentang paceklik, kemiskinan, dan kemandulan. Beliau menyarankan
semuanya untuk memperbanyak istighfar. Ketika ditanya mengapa jawabannya sama,
beliau membacakan ayat di atas.
8.2
Keutamaan Sayyidul Istighfar dan Waktu Pengucapannya
Terdapat
satu lafazh istighfar yang paling utama dan disebut sebagai pemimpin dari
segala doa permohonan ampun.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«سَيِّدُ
الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ،
خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ،
أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ
لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ»
قَالَ:
«وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ
يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ
بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»
“Sayyidul
Istighfar adalah engkau berucap: ‘Ya Alloh, Engkau adalah Robbku, tidak ada
Robb yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku
adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji dan ikrar-Mu semampuku. Aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui ni’mat-Mu
kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak
ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.’
Barang
siapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu ia
meninggal pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penduduk Jannah. Dan
barang siapa mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu ia
meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penduduk Jannah.” (HR. Al-Bukhori
no. 6306)
8.3
Kegembiraan Robb terhadap Taubat dan Istighfar Hamba-Nya
Alloh ﷻ
sangat mencintai hamba-Nya yang mengakui kesalahan dan kembali kepada-Nya
dengan permohonan ampun. Kegembiraan Alloh ﷻ melampaui kegembiraan seorang
musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir yang luas.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«لَلَّهُ
أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ
عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ،
فَأَيِسَ مِنْهَا...»
“Sungguh
Alloh sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya,
melebihi kegembiraan salah seorang di antara kalian yang sedang berada di atas kendaraannya
di tanah yang luas, lalu kendaraannya hilang darinya padahal di atasnya ada
makanan dan minumannya, hingga ia pun berputus asa darinya...” (HR. Muslim
no. 2747)
8.4
Istighfar sebagai Penghalang Turunnya Adzab
Selama
manusia masih mau beristighfar, maka Alloh ﷻ memberikan jaminan keamanan
dari turunnya adzab yang merata.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَمَا
كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ
وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾
“Dan Alloh
sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di
antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alloh akan mengadzab mereka, sedang mereka
menuntut ampun (beristighfar).” (QS. Al-Anfal: 33)
Abu Musa
Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:
كَانَ
لَنَا أَمَانَانِ: ذَهَبَ أَحَدُهُمَا وَهُوَ كَوْنُ الرَّسُولِ ﷺ فِينَا، وَبَقِيَ
الِاسْتِغْفَارُ مَعَنَا، فَإِذَا ذَهَبَ هَلَكْنَا
“Dahulu
kita memiliki dua pengaman: yang satu telah pergi yaitu keberadaan Rosululloh ﷺ di tengah kita, dan yang
tersisa bagi kita adalah istighfar. Jika istighfar itu pergi, maka binasalah
kita.” (At-Taubah ila Alloh, Al-Ghozali, hal. 124)
Bab 9: Keutamaan Sholawat kepada
Nabi ﷺ
Yaitu
bacaan:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ»
Atau:
«اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ»
Atau:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،
اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
Lafazh-lafazh lainnya sudah penulis kumpulkan di sebuah bab di Ragam Bacaan
Sholat.
9.1
Perintah Bersholawat dan Salam bagi Beliau ﷺ
Bersholawat
kepada Nabi ﷺ
adalah bentuk pemuliaan dan tanda cinta seorang Mu’min kepada manusia yang
paling berjasa dalam mengenalkan hidayah Islam.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾
“Sesungguhnya
Alloh dan Malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang
beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan
kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Ibnu Katsir
(774 H) rohimahulloh menjelaskan bahwa aksud dari ayat ini adalah bahwa
Alloh Ta’ala memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan
hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya di kalangan penduduk langit yang tertinggi.
9.2
Satu Sholawat Dibalas 10 Rohmat dari Alloh ﷻ
Balasan
bagi orang yang bersholawat kepada beliau ﷺ adalah berlipat ganda, di mana Alloh ﷻ akan memberikan rohmat-Nya
yang luas.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا»
“Barang
siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat
kepadanya 10 kali.” (HR. Muslim no. 408)
Dalam
riwayat An-Nasa’i ditambahkan:
«وَحُطَّتْ
عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»
“Dan dihapuskan
darinya 10 kesalahan serta diangkat baginya 10 derajat.” (HSR. An-Nasa’i no.
1297)
9.3
Kedekatan Kedudukan pada Hari Qiyamah bagi Ahli Sholawat
Orang yang
paling berhak mendapatkan syafaat dan kedekatan dengan beliau ﷺ di hari yang sangat dahsyat
nanti adalah mereka yang paling banyak lisannya bersholawat.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَوْلَى
النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»
“Manusia
yang paling utama (dekat) denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling banyak
bersholawat kepadaku.” (HHR. At-Tirmidzi no. 484)
9.4
Sholawat sebagai Sebab Terkabulnya Doa dan Hilangnya Kesedihan
Ubay bin Ka’ab
(30 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang berapa banyak ia
harus menjadikan waktu doanya untuk bersholawat, hingga akhirnya ia berkata
akan menjadikan seluruh doanya berupa sholawat. Beliau ﷺ bersabda:
«إِذًا
تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»
“Jika
demikian, maka kegelisahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2457)
Bab 10: Keutamaan Tahlil Sempurna
(Laa Ilaaha Illallooh Wahdahu Laa Syarika Lah)
10.1
Pahala Setara Memerdekakan 10 Budak
Tahlil
dalam bentuk yang sempurna ini merupakan pengembangan dari kalimat Tauhid yang
diiringi dengan penetapan sifat kepemilikan, pujian, dan kemahakuasaan Alloh ﷻ. Di
antara keutamaan besarnya adalah pahala yang sangat luas bagi siapa saja yang
membacanya dalam jumlah tertentu.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«مَنْ
قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ
الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ
لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ»
“Barang
siapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallooh wahdahuu laa syariika lah,
lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-iin qodiir, dalam
sehari 100 kali, maka baginya pahala yang setara dengan memerdekakan 10 orang
budak.” (HR. Al-Bukhori no. 3293 dan Muslim no. 2691)
Kemerdekaan
budak dalam syariat memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh ﷻ, dan
penyamaan pahala dzikir ini dengan amal tersebut menunjukkan betapa mulianya
kedudukan tahlil ini bagi seorang Mu’min.
10.3
Penggugur Dosa dan Penambah Kebaikan yang Melimpah
Selain
memberikan perlindungan dan pahala besar, tahlil ini juga merupakan sarana
pembersihan diri dari noda-noda dosa yang dilakukan manusia secara sadar maupun
tidak.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«وَكُتِبَتْ
لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ»
“Dan
dicatat baginya 100 kebaikan serta dihapus darinya 100 kesalahan (dosa).” (HR.
Al-Bukhori no. 6403 dan Muslim no. 2691)
Keutamaan
ini mencakup penghapusan dosa-dosa kecil dan pengangkatan derajat yang tinggi
bagi orang yang mengistiqomahkannya.
10.2
Benteng dari Gangguan Syaithon dan Terdepan dalam Pahala
Kalimat ini
berfungsi sebagai perisai batin yang melindungi seorang hamba dari tipu daya
dan gangguan syaithon yang terkutuk sepanjang harinya.
Rosululloh ﷺ bersabda kelanjutan dari
Hadits sebelumnya:
«وَكَانَتْ
لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ
بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ»
“Dan ia
menjadi pelindung baginya dari syaithon pada hari itu hingga sore hari. Dan
tidak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama daripada apa yang ia
bawa, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhori
no. 3293 dan Muslim no. 2691)
Penjagaan ini
bersifat menyeluruh, mencakup perlindungan dari was-was yang dibisikkan ke
dalam hati maupun gangguan fisik yang mungkin ditimbulkan oleh makhluk-makhluk
zholim dari kalangan jin.
10.4
Keutamaan Membacanya Setelah Sholat Fardhu
Membaca
tahlil sempurna ini setelah melaksanakan Sholat fardhu adalah sunnah yang
sangat ditekankan, sebagai bentuk pengakuan bahwa segala urusan berada di
tangan Alloh ﷻ
semata.
Al-Mughiroh
bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi ﷺ setiap kali selesai
mengerjakan Sholat fardhu senantiasa mengucapkan:
«لَا
إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ،
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ،
اللهُمَّ
لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا
الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»
“Tidak ada
Robb yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu.
Ya Alloh,
tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang
dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak bermanfaat kekayaan bagi
orang yang memilikinya dari adzab-Mu.” (HR. Al-Bukhori no. 844 dan Muslim
no. 593)
Pernyataan
ini mengandung penyerahan diri yang totalitas, di mana seorang Muslim mengakui
bahwa segala pemberian dan penahanan rizqi serta manfaat di dunia ini
sepenuhnya tunduk pada kehendak Robb semesta alam.
10.5
Dzikir Paling Utama di Hari Arofah
Pada saat
yang paling mulia dalam setahun, yaitu hari Arofah, kalimat tahlil ini menjadi
ucapan yang paling dicintai dan paling sering diulang oleh Rosululloh ﷺ dan para Nabi terdahulu.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«أَفْضَلُ
مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي عَشِيَّةَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»
“Perkataan
paling utama yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku pada sore hari Arofah
adalah: Laa ilaaha illallooh wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul
hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-iin qodiir.” (HR. Ath-Thobari dalam Ad-Dua
no. 874,
dihasankan oleh Al-Albani)
Ini
hanyalah sedikit dari keutamaannya yang disinggung. Penulis sudah meluaskannya
di buku lain berjudul: Dzikir yang Menghimpun Banyak
Fadhilah.
Penutup
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
yang telah memberikan taufiq sehingga penyusunan buku “Keutamaan 7 Dzikir:
Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah, Istighfar, Sholawat” yang
dilengkapi dengan bahasan khusus mengenai tahlil sempurna ini dapat
diselesaikan.
Dzikir-dzikir
yang telah dipaparkan dalam buku ini, mulai dari tasbih hingga tahlil yang
agung, merupakan tali penghubung antara hamba dengan Robb-nya. Barang siapa
yang senantiasa menjaga lisan dan hatinya dengan kalimat-kalimat thoyyibah ini,
niscaya ia akan merasakan kedamaian yang mendalam, perlindungan yang kokoh,
serta kemuliaan di dunia dan Akhiroh. Dzikir bukan sekadar rutinitas lisan,
melainkan sarana untuk memperkokoh iman dan menjauhkan diri dari kelalaian yang
membinasakan. Semoga tulisan ini menjadi timbangan kebaikan bagi penulis dan
pembaca, serta menjadi sebab turunnya rohmat Alloh ﷻ kepada kita semua.
Akhir doa
kami adalah Alhamdulillaah, Robb semesta alam.
Sholawat
dan salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Nabi ﷺ yang telah membimbing umatnya
menuju cahaya Tauhid.
Allohu a’lam.[NK]
