Cari Ebook

[PDF] Keutamaan 7 Dzikir Mutlak: Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah, Istighfar, Sholawat - Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji hanya milik Alloh , Robb semesta alam.

Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh , keluarga, para Shohabat, dan pengikut beliau hingga hari Qiyamah.

Amma ba’du:

Sesungguhnya dzikir kepada Alloh merupakan ibadah yang paling agung, perniagaan yang tidak akan merugi, dan bekal utama bagi setiap Muslim dalam menggapai ridho Robb-nya.

Dzikir adalah nutrisi bagi hati, cahaya bagi bashiroh (mata hati), dan benteng kokoh dari godaan syaithon yang terkutuk.

Di antara sekian banyak lafazh dzikir yang diajarkan dalam syariat, terdapat 7 kalimat yang memiliki kedudukan sangat istimewa, yaitu tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqolah, istighfar, dan sholawat kepada Nabi . Ketujuh kalimat ini mengandung pengagungan yang sempurna terhadap uluhiyyah, rububiyyah, serta asma dan sifat Alloh .

Buku ini disusun untuk menghimpun berbagai dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang shohih mengenai keutamaan kalimat-kalimat thoyyibah tersebut, agar setiap Mu’min dapat menyelami maknanya dan menjadikannya sebagai wirid harian yang menghiasi lisan dan hatinya.

 

Bab 1: Keutamaan Dzikir Secara Umum

1.1 Perintah Berdzikir dalam Al-Qur’an

Alloh memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk senantiasa mengingat-Nya dalam setiap keadaan, baik di waktu pagi maupun petang, dalam kesendirian maupun keramaian. Perintah ini menunjukkan betapa besar kebutuhan manusia terhadap Robb-nya.

[1] Alloh berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا * وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Alloh dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 41-42)

Alloh memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk memperbanyak dzikir kepada Robb mereka yang telah memberikan berbagai ni’mat dan karunia kepada mereka, karena dalam dzikir tersebut terdapat keberuntungan bagi mereka dan cahaya di dalam kubur mereka.

[2] Alloh juga berfirman:

﴿فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ﴾

“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi dan carilah karunia Alloh dan ingatlah Alloh sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat ini merupakan arahan dari Alloh bahwa kesibukan duniawi dalam mencari rizqi tidak boleh melalaikan seorang Mu’min dari mengingat Robb-nya. Keberuntungan yang hakiki hanya dapat diraih dengan menggabungkan antara usaha lahiriyyah dan dzikir batiniah.

[3] Alloh berfirman:

﴿فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ﴾

“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepada kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari ni’mat-Ku.” (QS. Al-Baqoroh: 152)

Dengan banyak berdzikir maka ia akan mudah taat kepada-Nya sehingga jauh dari maksiat. Sedikit dzikir, akan menyebabkan waktunya longgar untuk bermaksiat.

Sa’id bin Jubair (95 H) rohimahulloh berkata:

الذِّكْرُ طَاعَةُ اللَّهِ، فَمَنْ لَمْ يُطِعْهُ لَمْ يَذْكُرْهُ وَإِنْ أَكْثَرَ التَّسْبِيحَ وَالتَّهْلِيلَ وَقِرَاءَةَ الْقُرْآنِ

“Dzikir adalah ketaatan kepada Alloh. Barang siapa yang tidak menaati-Nya, maka dia tidak mengingat-Nya meskipun dia banyak bertasbih, bertahlil, dan membaca Al-Qur’an.” (Tafsir Al-Qurthubi, 2/171)

1.2 Pujian bagi Penduduk Langit dan Bumi yang Berdzikir

Alloh memuji hamba-hamba-Nya yang senantiasa membasahi lisan mereka dengan dzikir. Mereka adalah orang-orang yang berakal sehat dan memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ * الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴾

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Wahai Robb kami, tidaklah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari adzab Naar.’” (QS. Ali ‘Imron: 190-191)

Dalam ayat lain, Alloh menyebutkan sifat-sifat hamba-Nya yang akan mendapatkan ampunan dan pahala yang besar:

﴿وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا﴾

“Dan laki-laki yang banyak menyebut nama Alloh serta perempuan yang banyak menyebut nama Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Rosululloh bersabda dalam sebuah Hadits qudsi, Alloh berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ»

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya apabila dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka.” (HR. Al-Bukhori no. 7405 dan Muslim no. 2675)

Kebersamaan Alloh dalam Hadits ini adalah kebersamaan yang khusus, yaitu berupa perlindungan, pertolongan, taufiq, dan cinta-Nya kepada sang hamba.

1.3 Perumpamaan Orang yang Berdzikir dan yang Lalai

Perbedaan antara orang yang berdzikir dan orang yang lalai sangatlah kontras. Dzikir adalah pembeda antara jiwa yang hidup dan jiwa yang mati.

Rosululloh bersabda:

«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ، مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»

“Perumpamaan orang yang mengingat Robb-nya dan orang yang tidak mengingat Robb-nya, adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhori no. 6407)

Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah (751 H) rohimahulloh memberikan penjelasan yang sangat mendalam mengenai hal ini:

الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟

“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Maka bagaimanakah keadaan ikan jika ia berpisah dengan air?” (Al-Wabilush Shoyyib, Ibnu Qoyyim, hal. 96)

Orang yang lalai dari dzikir akan merasa sempit dadanya dan mudah dikuasai oleh syaithon. Sebaliknya, orang yang lisannya basah dengan dzikir akan mendapatkan ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan materi apapun.

Alloh berfirman:

﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

1.4 Dzikir sebagai Amalan Paling Suci dan Tertinggi

Banyak orang yang menyangka bahwa amalan yang paling berat secara fisik adalah amalan yang paling utama. Namun, dalam timbangan syariat, dzikir memiliki kedudukan yang melampaui banyak amalan lainnya jika dilakukan dengan ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Nabi ).

Rosululloh bersabda:

«أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ»؟ قَالُوا: بَلَى. قَالَ: «ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى» قَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ: «مَا شَيْءٌ أَنْجَى مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»

“Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang amal kalian yang terbaik, yang paling suci di sisi Raja kalian (Alloh), yang paling tinggi dalam derajat kalian, yang lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada kalian bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher mereka dan mereka menebas leher kalian?” Para Shohabat menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Dzikir kepada Alloh Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi no. 3377 dan Ibnu Majah no. 3790)

Abu Bakr (13 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah berkata kepada Rosululloh :

ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ

“Orang-orang yang berdzikir telah pergi dengan membawa seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad no. 15614)

Keutamaan ini bukan berarti meremehkan amalan lain seperti Jihad atau Zakat, namun menekankan bahwa dzikir adalah ruh dari seluruh ibadah tersebut. Sholat ditegakkan untuk berdzikir, Haji dilaksanakan untuk berdzikir, dan Jihad dilakukan agar kalimat Alloh (dzikir tertinggi) menjadi yang paling mulia.

Rosululloh bersabda:

«سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ» قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيرًا، وَالذَّاكِرَاتُ»

“Al-Mufarridun telah mendahului.” Para Shohabat bertanya: “Siapakah al-Mufarridun itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Laki-laki yang banyak berdzikir kepada Alloh dan perempuan yang banyak berdzikir.” (HR. Muslim no. 2676)

Al-Mufarridun dalam bahasa Arob berarti orang-orang yang menyendiri dalam ibadah dan perhatian mereka hanya tertuju kepada Alloh , sehingga mereka melaju kencang meninggalkan orang lain dalam perlombaan menuju Akhiroh.

Barang siapa yang senantiasa berdzikir, maka hatinya akan bercahaya, dadanya akan lapang, dan urusannya akan dimudahkan.

Oleh karena itu, hendaknya seorang Muslim tidak membiarkan satu detik pun berlalu kecuali dia berada dalam kondisi berdzikir kepada Alloh , baik dengan lisan, hati, maupun anggota badannya yang bergerak dalam ketaatan. Inilah pondasi utama sebelum kita memasuki pembahasan rinci mengenai 7 dzikir utama yang menjadi tema buku ini.

 

Bab 2: Keutamaan Tasbih (Subhaanallooh)

2.1 Makna Pensucian Alloh dari Segala Kekurangan

Tasbih adalah kalimat yang digunakan untuk mensucikan Alloh dari segala bentuk sifat kekurangan, aib, serta penyerupaan dengan makhluk-Nya. Ketika seorang hamba mengucapkan Subhaanallooh, ia sedang menetapkan kesempurnaan mutlak bagi Robb semesta alam.

Alloh berfirman:

﴿سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ﴾

“Maha Suci Robbmu, Robb yang memiliki keperkasaan, dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Ash-Shoffat: 180)

Ayat ini menegaskan bahwa segala sifat buruk yang disandarkan oleh orang-orang musyrik kepada Alloh adalah bathil, dan Alloh Maha Suci dari hal tersebut.

Makna tasbih:

وَالتَّسْبِيحُ تَنْزِيهُ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ كُلِّ سُوءٍ

“Tasbih adalah pensucian Alloh dari segala keburukan.” (Al-Asma, Al-Baihaqi, no. 672)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) rohimahulloh berkata:

الْأمْرُ بِتَسْبِيحِهِ يَقْتَضِي أَيْضًا تَنْزِيهَهُ عَن كُل عَيْبٍ وَسُوءٍ، وَإِثْبَاتِ صِفَاتِ الْكَمَالِ لَهُ

“Perintah untuk bertasbih menuntut pula pensucian-Nya dari setiap aib dan keburukan, serta penetapan sifat-sifat kesempurnaan bagi-Nya.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah, 16/125)

2.2 Tasbih sebagai Kalimat Paling Dicintai Alloh

Di antara sekian banyak ucapan manusia, tasbih memiliki kedudukan istimewa sebagai kalimat yang dipilih dan dicintai oleh Alloh .

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»

“Sesungguhnya ucapan yang paling dicintai oleh Alloh adalah: Subhaanallooh wa bihamdihi (Maha Suci Alloh dan dengan memuji-Nya).” (HR. Muslim no. 2731)

Dalam riwayat lain, Abu Dzar (32 H) rodhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rosululloh tentang ucapan apa yang paling utama, beliau menjawab:

«مَا اصْطَفَى اللهُ لِمَلَائِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»

“Apa yang telah Alloh pilihkan bagi para Malaikat-Nya atau bagi hamba-hamba-Nya, yaitu: Subhaanallooh wa bihamdihi.” (HR. Muslim no. 2731)

Kalimat ini menggabungkan antara tasbih (pensucian) dan tahmid (pujian), yang merupakan dua pilar utama dalam pengagungan kepada Alloh .

Rosululloh juga bersabda:

«أَحَبُّ الْكَلَامِ إِلَى اللهِ أَرْبَعٌ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. لَا يَضُرُّكَ بِأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ»

“Ucapan yang paling dicintai oleh Alloh ada 4: Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar. Tidak mengapa bagimu dengan mana saja kamu memulainya.” (HR. Muslim no. 2137)

2.3 Beratnya Timbangan Tasbih di Mizan pada Hari Qiyamah

Meskipun lafazh tasbih sangat ringan diucapkan oleh lisan, namun ia memiliki bobot yang sangat berat dalam timbangan amal di hari Qiyamah kelak.

Rosululloh bersabda:

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي المِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ العَظِيمِ»

“Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan, dan dicintai oleh Ar-Rohman (Alloh yang Maha Pengasih): Subhaanallooh wa bihamdihi dan Subhaanalloohil ‘Azhim (Maha Suci Alloh yang Maha Agung).” (HR. Al-Bukhori no. 6682 dan Muslim no. 2694)

Keutamaan ini menunjukkan betapa luasnya rohmat Alloh , di mana amal yang nampaknya kecil di dunia dapat memberikan keselamatan yang besar di Akhiroh.

Rosululloh juga bersabda:

«أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟» فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: «يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ»

“Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu meraih 1.000 kebaikan setiap hari?” Maka salah seorang yang duduk bertanya kepada beliau: “Bagaimana salah seorang di antara kami meraih 1.000 kebaikan?” Beliau menjawab: “Dia bertasbih 100 kali, maka akan dicatat baginya 1.000 kebaikan atau dihapuskan darinya 1.000 kesalahan.” (HR. Muslim no. 2698)

2.4 Tasbih Malaikat dan Makhluk di Alam Semesta

Seluruh makhluk di langit dan di bumi, baik yang bernyawa maupun benda mati, senantiasa bertasbih kepada Alloh . Ini adalah bukti bahwa ketundukan kepada Sang Pencipta adalah fithroh yang ada pada setiap ciptaan.

Alloh berfirman:

﴿تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا﴾

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isro: 44)

Mengenai para Malaikat, Alloh berfirman:

﴿يُسَبِّحُونَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لَا يَفْتُرُونَ﴾

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya: 20)

Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdulloh (74 H) rodhiyallahu ‘anhu, Rosululloh bersabda menceritakan tentang penduduk Jannah:

«يُلْهَمُونَ التَّسْبِيحَ وَالتَّحْمِيدَ كَمَا يُلْهَمُونَ النَّفَسَ»

“Mereka diberikan ilham untuk bertasbih dan bertahmid sebagaimana mereka diberikan ilham untuk bernafas.” (HR. Muslim no. 2835)

Hal ini menunjukkan bahwa tasbih adalah aktivitas yang paling lezat dan menyenangkan bagi penduduk Jannah, bahkan ia menjadi kebutuhan yang melekat secara alami sebagaimana nafas bagi manusia di dunia.

 

Bab 3: Keutamaan Tahmid (Alhamdulillaah)

3.1 Hakikat Syukur dan Pujian Sempurna bagi Robb

Alhamdulillaah adalah kalimat syukur yang mencakup pengakuan atas segala ni’mat Alloh . Ia adalah pujian yang diberikan kepada Alloh atas kesempurnaan dzat, nama, dan perbuatan-Nya.

Alloh berfirman:

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

“Segala puji bagi Alloh, Robb semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 2)

Ibnu Jarir Ath-Thobari (310 H) rohimahulloh berkata:

الْحَمْدُ لِلَّهِ هُوَ الشُّكْرُ لِلَّهِ خَالِصًا دُونَ سَائِرِ مَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِهِ

Alhamdulillaah adalah syukur kepada Alloh secara murni, bukan kepada apa yang disembah selain-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/192)

Setiap ni’mat yang diterima oleh hamba, baik besar maupun kecil, harus dikembalikan kepada Alloh dengan ucapan tahmid.

Rosululloh bersabda:

«إِنَّ اللهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا»

“Sesungguhnya Alloh benar-benar ridho kepada seorang hamba yang memakan suatu makanan lalu dia memuji-Nya atas makanan tersebut, atau meminum suatu minuman lalu dia memuji-Nya atas minuman tersebut.” (HR. Muslim no. 2734)

3.2 Tahmid sebagai Pengisi Penuh Timbangan Amal

Tahmid memiliki keutamaan yang luar biasa dalam memenuhi ruang antara langit dan bumi dengan pahala.

Rosululloh bersabda:

«الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَآَنِ - أَوْ تَمْلَأُ - مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ»

“Bersuci adalah separuh dari iman, Alhamdulillaah memenuhi mizan (timbangan), dan Subhaanallooh serta Alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang antara langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 223)

3.3 Doa Paling Utama adalah Alhamdulillaah

Meskipun Alhamdulillaah adalah bentuk pujian, namun ia juga berfungsi sebagai doa, karena orang yang memuji Alloh atas ni’mat-Nya pada hakikatnya sedang memohon tambahan ni’mat tersebut.

Rosululloh bersabda:

«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الحَمْدُ لِلَّهِ»

“Dzikir yang paling utama adalah Laa ilaaha illallooh, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillaah.” (HHR. At-Tirmidzi no. 3383 dan Ibnu Majah no. 3800)

Sufyan bin ‘Uyainah (198 H) rohimahulloh menjelaskan mengapa Alhamdulillaah disebut doa: “Tidakkah kamu tahu bahwa Alloh Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku memuji-Ku, maka sungguh dia telah meminta kepada-Ku?”

3.4 Tahmid dalam Setiap Keadaan dan Karunia

Seorang Mu’min yang sholih akan senantiasa bertahmid baik saat mendapatkan kemudahan maupun kesulitan, karena ia yakin bahwa setiap ketetapan Alloh mengandung hikmah yang besar.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah (58 H) rodhiyallahu ‘anha, beliau berkata bahwa Rosululloh apabila melihat hal yang beliau sukai, beliau berucap:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»

“Segala puji bagi Alloh yang dengan ni’mat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.”

Dan apabila beliau melihat hal yang tidak disukai, beliau berucap:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ»

“Segala puji bagi Alloh atas setiap keadaan.” (HHR. Ibnu Majah no. 3803)

Sikap ini menjauhkan hamba dari rasa putus asa dan menjadikan hatinya selalu ridho terhadap taqdir yang telah digariskan oleh Robb-nya.

 

Bab 4: Keutamaan Tahlil (Laa Ilaaha Illallooh)

4.1 Kalimat Tauhid sebagai Kunci Jannah

Kalimat Laa ilaaha illallooh adalah inti dari da’wah para Rosul dan pondasi paling dasar dalam Islam. Tanpa kalimat ini, tidak ada satu pun amalan yang akan diterima oleh Alloh .

Alloh berfirman:

﴿فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ﴾

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Robb yang berhak disembah selain Alloh.” (QS. Muhammad: 19)

Rosululloh bersabda:

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa yang mati dalam keadaan dia mengetahui bahwa tidak ada yang berhak disembah selain Alloh, maka dia masuk Jannah.” (HR. Muslim no. 26)

Kalimat ini bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan harus diiringi dengan ilmu, keyakinan, keikhlasan, kejujuran, kecintaan, ketundukan, dan penerimaan.

Rosululloh juga bersabda:

«مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»

“Barang siapa yang akhir ucapannya adalah Laa ilaaha illallooh, maka dia masuk Jannah.” (HR. Abu Dawud no. 3116)

Mu’adz bin Jabal (18 H) rodhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rosululloh bersabda:

«مَا مِنْ نَفْسٍ تَمُوتُ وَهِيَ تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ، يَرْجِعُ ذَاكَ إِلَى قَلْبٍ مُوقِنٍ، إِلَّا غَفَرَ اللهُ لَهَا»

“Tidaklah ada satu jiwa pun yang mati dengan bersaksi bahwa tidak ada Robb yang berhak disembah selain Alloh dan bahwa aku adalah utusan Alloh, di mana hal itu dikembalikan kepada hati yang yakin, melainkan Alloh akan mengampuninya.” (HSR. Ahmad no. 22071)

4.2 Tahlil sebagai Dzikir Paling Utama dan Paling Berat

Tahlil memiliki kedudukan tertinggi di antara seluruh dzikir. Ia adalah kalimat yang sangat berat sehingga mampu menandingi beratnya tujuh langit dan bumi beserta isinya.

Rosululloh bersabda:

«خَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

“Perkataan paling utama yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku adalah: Laa ilaaha illallooh wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-iin qodiir (Tidak ada Robb yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nya segala kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu).” (HHR. At-Tirmidzi no. 3585)

Dalam sebuah Hadits yang masyhur tentang Shohibul Bithoqoh (pemilik kartu), dikisahkan seorang lelaki yang memiliki 99 gulungan catatan dosa yang setiap gulungannya sejauh mata memandang. Namun, ketika diletakkan sebuah kartu kecil bertuliskan syahadat, maka kartu tersebut lebih berat daripada seluruh gulungan dosa tersebut.

Rosululloh bersabda:

«فَتُوضَعُ السِّجِلَّاتُ فِي كَفَّةٍ وَالبِطَاقَةُ فِي كَفَّةٍ، فَطَاشَتِ السِّجِلَّاتُ وَثَقُلَتِ البِطَاقَةُ، فَلَا يَثْقُلُ مَعَ اسْمِ اللَّهِ شَيْءٌ»

“Maka diletakkanlah gulungan-gulungan catatan tersebut di satu daun timbangan dan kartu tersebut di daun timbangan yang lain, maka ringanlah gulungan-gulungan tersebut dan beratlah kartu itu. Maka tidak ada sesuatu pun yang dapat menandingi beratnya nama Alloh.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2639 dan Ibnu Majah no. 4300)

4.3 Keamanan dari Adzab bagi Pemilik Tahlil yang Shiddiq

Orang yang mengucapkan tahlil dengan penuh kejujuran (shiddiq) dari dalam hatinya akan mendapatkan jaminan keamanan dari api Naar.

Rosululloh bersabda:

«فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ»

“Sesungguhnya Alloh telah mengharomkan atas Naar bagi siapa saja yang mengucapkan Laa ilaaha illallooh dengan mengharapkan wajah Alloh (ikhlas).” (HR. Al-Bukhori no. 425 dan Muslim no. 33)

4.4 Pembaharuan Iman dengan Kalimat Tahlil

Iman dalam hati manusia dapat mengalami pasang surut. Oleh karena itu, Rosululloh memerintahkan umatnya untuk senantiasa memperbaharui iman mereka dengan memperbanyak tahlil.

Rosululloh bersabda:

«جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ»، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: «أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ»

“Perbaharuilah iman kalian.” Ditanyakan: “Wahai Rosululloh, bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Beliau bersabda: “Perbanyaklah ucapan Laa ilaaha illallooh.” (HR. Ahmad no. 8710)

Tidak ada amal bagi seorang hamba yang lebih utama daripada Tauhid.

 

Bab 5: Keutamaan Takbir (Alloohu Akbar)

5.1 Makna Kebesaran Alloh di Atas Segalanya

Takbir adalah pengakuan mutlak seorang hamba bahwa Alloh Maha Besar, melampaui segala sesuatu yang ada di jagat raya ini. Kalimat Alloohu Akbar menanamkan rasa kecil dalam diri manusia di hadapan keagungan Robb-nya, sehingga tidak ada lagi tempat bagi kesombongan atau rasa takut kepada selain-Nya.

Alloh berfirman:

﴿وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا﴾

“Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Alloh yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (QS. Al-Isro: 111)

Yakni, mengagungkan-Nya dengan ucapan Alloohu Akbar.

اللهُ أَكْبَرُ أَيْ أَعْظَمُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ

Alloohu Akbar bermakna Dia lebih agung dari segala sesuatu.” (Syarh Abi Dawud, Ibnu Ruslan, 7/295)

5.2 Takbir dalam Berbagai Ibadah Besar dan Syiar Islam

Syariat Islam menempatkan takbir sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari berbagai ibadah utama, mulai dari Sholat, Haji, hingga hari raya. Ini menunjukkan bahwa mengagungkan kebesaran Alloh adalah ruh dari penghambaan.

Alloh berfirman mengenai ibadah Haji dan qurban:

﴿لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai keridhoan Alloh, tetapi ketaqwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya. Demikianlah Alloh telah menundukkannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Alloh (bertakbir) atas hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Hajj: 37)

Dalam Sholat, takbir menjadi pembuka dan perpindahan antar gerakan. Rosululloh bersabda:

«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»

“Kunci Sholat adalah bersuci, pengharomannya (mulainya) adalah takbir, dan penghalalannya (selesainya) adalah salam.” (HSR. Abu Dawud no. 61 dan At-Tirmidzi no. 3)

5.3 Pahala Mengagungkan Alloh dengan Takbir

Mengucapkan takbir secara lisan dengan penuh keyakinan di dalam hati mendatangkan pahala yang sangat besar serta menanamkan ketenangan jiwa.

Rosululloh bersabda:

«مَا أَهَلَّ مُهَلِّلٌ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ، وَلَا كَبَّرَ مُكَبِّرٌ قَطُّ إِلَّا بُشِّرَ» قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، بِالْجَنَّةِ؟ قَالَ: «نَعَمْ»

“Tidaklah seorang yang bertahlil melainkan akan diberi kabar gembira, dan tidaklah seorang yang bertakbir melainkan akan diberi kabar gembira.” Ditanyakan: “Wahai Rosululloh, dengan Jannah?” Beliau bersabda: “Benar.” (HR. Ath-Thobari dalam Al-Ausath no. 7779, dishohihkan Al-Albani dalam As-Shohihah no. 1621)

5.4 Takbir sebagai Pengusir Syaithon dan Kesombongan

Takbir memiliki kekuatan untuk menghancurkan dominasi syaithon atas manusia dan meruntuhkan gunung-gunung kesombongan di dalam hati.

Rosululloh bersabda ketika melihat keajaiban atau kemenangan:

«اللَّهُ أَكْبَرُ خَرِبَتْ خَيْبَرُ»

Alloohu Akbar, hancurlah Khoibar.” (HR. Al-Bukhori no. 371)

Dalam suasana perang atau ketakutan, takbir adalah senapan batin bagi seorang Muslim. Pengucapan takbir saat melihat api juga dianjurkan oleh sebagian ulama berdasarkan atsar, karena api adalah unsur ciptaan syaithon dan takbir memadamkan kehebatannya dengan kebesaran Alloh .

 

Bab 6: Keutamaan Al-Baqiyat Ash-Sholihat

6.1 Keistimewaan Menggabungkan Tasbih, Tahmid, Tahlil, dan Takbir

Empat kalimat ini, yaitu Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar, Laa haula walaa quwwata illaa billaah: disebut sebagai Al-Baqiyaat Ash-Sholihaat (amal-amal sholih yang kekal).

Alloh berfirman:

﴿وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا﴾

“Dan amal-amal sholih yang kekal (Al-Baqiyat Ash-Sholihat) adalah lebih baik pahalanya di sisi Robbmu dan lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46)

Rosululloh bersabda:

«اسْتَكْثِرُوا مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ» قِيلَ: وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «التَّكْبِيرُ، وَالتَّهْلِيلُ، وَالتَّسْبِيحُ، وَالتَّحْمِيدُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ»

“Perbanyaklah Al-Baqiyat Ash-Sholihat.” Ditanyakan: “Apakah itu wahai Rosululloh?” Beliau bersabda: “Takbir, tahlil, tasbih, tahmid, dan Laa haula walaa quwwata illaa billaah.” (HHR. Ahmad no. 11713)

6.2 Empat Kalimat yang Menjadi Tanaman di Jannah

Dzikir ini bukan hanya memberikan pahala di timbangan, tetapi juga menjadi aset fisik bagi seorang hamba di Jannah berupa pepohonan yang indah.

Rosululloh menceritakan pertemuannya dengan Ibrohim (Alaihissalam) pada malam Isro’:

«لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ المَاءِ، وَأَنَّهَا قِيعَانٌ، وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ»

“Aku bertemu Ibrahim pada malam aku di-isro’-kan, lalu beliau berkata: ‘Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa Jannah itu tanahnya baik, airnya tawar, dan ia adalah tanah lapang yang luas. Adapun tanamannya adalah Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar.’” (HSR. At-Tirmidzi no. 3462)

6.3 Penggugur Dosa laksana Daun yang Berguguran dari Pohon

Sebagaimana pohon menggugurkan daunnya yang kering, dzikir ini menggugurkan dosa-dosa seorang hamba hingga bersih.

Rosululloh mengambil sebuah dahan pohon yang kering lalu memukulnya hingga daun-daunnya berguguran, kemudian beliau bersabda:

«إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا»

“Sesungguhnya Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar, benar-benar menggugurkan kesalahan-kesalahan sebagaimana pohon ini menggugurkan daun-daunnya.” (HHR. Ahmad no. 12534)

6.4 Perlindungan dari Naar dengan Al-Baqiyat Ash-Sholihat

Kalimat-kalimat ini akan menjadi perisai dan penyelamat bagi pembacanya pada hari ketika manusia sangat membutuhkan pertolongan.

Rosululloh bersabda:

«خُذُوا جُنَّتَكُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنْ عَدُوٍّ قَدْ حَضَرَ؟ قَالَ: «لَا، وَلَكِنْ جُنَّتُكُمْ مِنَ النَّارِ قَوْلُ: سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، فَإِنَّهُنَّ يَأْتِينَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُجَنِّبَاتٍ وَمُعَقِّبَاتٍ، وَهُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ»

“Ambillah perisai kalian!” Mereka berkata: “Apakah untuk melawan musuh yang sudah datang?” Jawab beliau: “Tidak, tetapi perisai kalian dari Neraka. Ucapkanlah: Subhaanallooh, Alhamdulillaah, Laa ilaaha illallooh, dan Alloohu Akbar. Karena sesungguhnya kalimat-kalimat itu akan datang pada hari Qiyamah sebagai penyelamat dari depan, dari belakang, dan dari samping. Dan itulah Al-Baqiyat Ash-Sholihat.” (HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubro no. 10617 dan Al-Hakim no. 1921)

 

Bab 7: Keutamaan Hauqolah (Laa Haula Walaa Quwwata Illaa Billaah)

7.1 Makna Penyerahan Diri Total kepada Kekuatan Robb

Hauqolah adalah kalimat yang menyatakan ketiadaan daya dan upaya pada diri hamba, melainkan semata-mata karena pertolongan dan kekuatan dari Alloh . Ini adalah bentuk pengakuan tawakal yang paling tinggi. Termasuk maknanya: haul (kemampuan menolak bahaya dan maksiat) dan quwwah (kemampuan menarik kebaikan dan ketaatan) hanya dengan pertolongan Alloh.

Abu Abdillah Ibnu Qoyyim (751 H) rohimahulloh menjelaskan: “Kalimat ini memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menghadapi pekerjaan yang sulit dan menanggung beban yang berat.”

7.2 Hauqolah sebagai Simpanan Perbendaharaan Harta di Jannah

Pahala bagi pembaca hauqolah disimpan oleh Alloh di bawah ‘Arsy-Nya sebagai harta karun yang sangat berharga.

Rosululloh bersabda kepada Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ: لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ»

“Wahai Abdulloh bin Qois, ucapkanlah: Laa haula walaa quwwata illaa billaah, karena sesungguhnya ia adalah salah satu simpanan harta (kanzun) dari simpanan-simpanan Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 6384 dan Muslim no. 2704)

7.3 Hauqolah sebagai Pintu dari Pintu-pintu Jannah

Selain sebagai harta simpanan, hauqolah juga merupakan sarana yang memudahkan hamba untuk memasuki Jannah melalui pintu-pintunya.

Rosululloh bersabda kepada Qois bin Sa’ad (60 H) rodhiyallahu ‘anhu:

«أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الجَنَّةِ؟» قُلْتُ: بَلَى؟ قَالَ: «لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»

“Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu pintu dari pintu-pintu Jannah?” Aku menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Laa haula walaa quwwata illaa billaah.” (HSR. At-Tirmidzi no. 3581)

7.4 Kekuatan dalam Menghadapi Kesulitan dengan Hauqolah

Bagi seorang Mu’min yang merasa berat dalam memikul beban kehidupan, hauqolah adalah obat yang sangat mujarab untuk menguatkan batinnya.

Diriwayatkan bahwa Abu Huroiroh (57 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata, Rosululloh bersabda:

«أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ»

“Perbanyaklah ucapan Laa haula walaa quwwata illaa billaah, karena sesungguhnya ia adalah simpanan dari simpanan-simpanan Jannah.” (HHR. Ahmad no. 8407)

 

Bab 8: Keutamaan Istighfar (Astaghfirulloh)

Yaitu bacaan:

«أَسْتَغْفِرُ اللهَ»

Atau:

«أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ»

Atau:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»

Atau yang semakna lainnya.

8.1 Istighfar sebagai Pembuka Pintu Rizqi dan Kekuatan Batin

Istighfar adalah kunci bagi tertutupnya pintu-pintu kebaikan duniawi dan ukhrowi. Dengan memohon ampun, Alloh akan menurunkan barokah dari langit dan bumi.

Alloh berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh (Alaihissalam):

﴿فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا﴾

“Maka aku berkata (kepada mereka): ‘Mohonlah ampun kepada Robb kalian, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

Al-Hasan Al-Bashri (110 H) rohimahulloh pernah didatangi beberapa orang yang mengadu tentang paceklik, kemiskinan, dan kemandulan. Beliau menyarankan semuanya untuk memperbanyak istighfar. Ketika ditanya mengapa jawabannya sama, beliau membacakan ayat di atas.

8.2 Keutamaan Sayyidul Istighfar dan Waktu Pengucapannya

Terdapat satu lafazh istighfar yang paling utama dan disebut sebagai pemimpin dari segala doa permohonan ampun.

Rosululloh bersabda:

«سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ أَنْ تَقُولَ: اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ»

قَالَ: «وَمَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ»

“Sayyidul Istighfar adalah engkau berucap: ‘Ya Alloh, Engkau adalah Robbku, tidak ada Robb yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas janji dan ikrar-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang aku perbuat. Aku mengakui ni’mat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa selain Engkau.’

Barang siapa yang mengucapkannya di siang hari dengan penuh keyakinan lalu ia meninggal pada hari itu sebelum sore, maka ia termasuk penduduk Jannah. Dan barang siapa mengucapkannya di malam hari dengan penuh keyakinan lalu ia meninggal sebelum pagi, maka ia termasuk penduduk Jannah.” (HR. Al-Bukhori no. 6306)

8.3 Kegembiraan Robb terhadap Taubat dan Istighfar Hamba-Nya

Alloh sangat mencintai hamba-Nya yang mengakui kesalahan dan kembali kepada-Nya dengan permohonan ampun. Kegembiraan Alloh melampaui kegembiraan seorang musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir yang luas.

Rosululloh bersabda:

«لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا...»

“Sungguh Alloh sangat gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya, melebihi kegembiraan salah seorang di antara kalian yang sedang berada di atas kendaraannya di tanah yang luas, lalu kendaraannya hilang darinya padahal di atasnya ada makanan dan minumannya, hingga ia pun berputus asa darinya...” (HR. Muslim no. 2747)

8.4 Istighfar sebagai Penghalang Turunnya Adzab

Selama manusia masih mau beristighfar, maka Alloh memberikan jaminan keamanan dari turunnya adzab yang merata.

Alloh berfirman:

﴿وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ﴾

“Dan Alloh sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Alloh akan mengadzab mereka, sedang mereka menuntut ampun (beristighfar).” (QS. Al-Anfal: 33)

Abu Musa Al-Asy’ari (44 H) rodhiyallahu ‘anhu berkata:

كَانَ لَنَا أَمَانَانِ: ذَهَبَ أَحَدُهُمَا وَهُوَ كَوْنُ الرَّسُولِ ﷺ فِينَا، وَبَقِيَ الِاسْتِغْفَارُ مَعَنَا، فَإِذَا ذَهَبَ هَلَكْنَا

“Dahulu kita memiliki dua pengaman: yang satu telah pergi yaitu keberadaan Rosululloh di tengah kita, dan yang tersisa bagi kita adalah istighfar. Jika istighfar itu pergi, maka binasalah kita.” (At-Taubah ila Alloh, Al-Ghozali, hal. 124)

 

Bab 9: Keutamaan Sholawat kepada Nabi

Yaitu bacaan:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ»

Atau:

«اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ»

Atau:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ،

اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

Lafazh-lafazh lainnya sudah penulis kumpulkan di sebuah bab di Ragam Bacaan Sholat.

9.1 Perintah Bersholawat dan Salam bagi Beliau

Bersholawat kepada Nabi adalah bentuk pemuliaan dan tanda cinta seorang Mu’min kepada manusia yang paling berjasa dalam mengenalkan hidayah Islam.

Alloh berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾

“Sesungguhnya Alloh dan Malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ibnu Katsir (774 H) rohimahulloh menjelaskan bahwa aksud dari ayat ini adalah bahwa Alloh Ta’ala memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang kedudukan hamba dan Nabi-Nya di sisi-Nya di kalangan penduduk langit yang tertinggi.

9.2 Satu Sholawat Dibalas 10 Rohmat dari Alloh

Balasan bagi orang yang bersholawat kepada beliau adalah berlipat ganda, di mana Alloh akan memberikan rohmat-Nya yang luas.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا»

“Barang siapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Alloh akan bersholawat kepadanya 10 kali.” (HR. Muslim no. 408)

Dalam riwayat An-Nasa’i ditambahkan:

«وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»

“Dan dihapuskan darinya 10 kesalahan serta diangkat baginya 10 derajat.” (HSR. An-Nasa’i no. 1297)

9.3 Kedekatan Kedudukan pada Hari Qiyamah bagi Ahli Sholawat

Orang yang paling berhak mendapatkan syafaat dan kedekatan dengan beliau di hari yang sangat dahsyat nanti adalah mereka yang paling banyak lisannya bersholawat.

Rosululloh bersabda:

«أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً»

“Manusia yang paling utama (dekat) denganku pada hari Qiyamah adalah yang paling banyak bersholawat kepadaku.” (HHR. At-Tirmidzi no. 484)

9.4 Sholawat sebagai Sebab Terkabulnya Doa dan Hilangnya Kesedihan

Ubay bin Ka’ab (30 H) rodhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi tentang berapa banyak ia harus menjadikan waktu doanya untuk bersholawat, hingga akhirnya ia berkata akan menjadikan seluruh doanya berupa sholawat. Beliau bersabda:

«إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ»

“Jika demikian, maka kegelisahanmu akan dihilangkan dan dosamu akan diampuni.” (HHR. At-Tirmidzi no. 2457)

 

Bab 10: Keutamaan Tahlil Sempurna (Laa Ilaaha Illallooh Wahdahu Laa Syarika Lah)

10.1 Pahala Setara Memerdekakan 10 Budak

Tahlil dalam bentuk yang sempurna ini merupakan pengembangan dari kalimat Tauhid yang diiringi dengan penetapan sifat kepemilikan, pujian, dan kemahakuasaan Alloh . Di antara keutamaan besarnya adalah pahala yang sangat luas bagi siapa saja yang membacanya dalam jumlah tertentu.

Rosululloh bersabda:

«مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ»

“Barang siapa yang mengucapkan: Laa ilaaha illallooh wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-iin qodiir, dalam sehari 100 kali, maka baginya pahala yang setara dengan memerdekakan 10 orang budak.” (HR. Al-Bukhori no. 3293 dan Muslim no. 2691)

Kemerdekaan budak dalam syariat memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Alloh , dan penyamaan pahala dzikir ini dengan amal tersebut menunjukkan betapa mulianya kedudukan tahlil ini bagi seorang Mu’min.

10.3 Penggugur Dosa dan Penambah Kebaikan yang Melimpah

Selain memberikan perlindungan dan pahala besar, tahlil ini juga merupakan sarana pembersihan diri dari noda-noda dosa yang dilakukan manusia secara sadar maupun tidak.

Rosululloh bersabda:

«وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ»

“Dan dicatat baginya 100 kebaikan serta dihapus darinya 100 kesalahan (dosa).” (HR. Al-Bukhori no. 6403 dan Muslim no. 2691)

Keutamaan ini mencakup penghapusan dosa-dosa kecil dan pengangkatan derajat yang tinggi bagi orang yang mengistiqomahkannya.

10.2 Benteng dari Gangguan Syaithon dan Terdepan dalam Pahala

Kalimat ini berfungsi sebagai perisai batin yang melindungi seorang hamba dari tipu daya dan gangguan syaithon yang terkutuk sepanjang harinya.

Rosululloh bersabda kelanjutan dari Hadits sebelumnya:

«وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ»

“Dan ia menjadi pelindung baginya dari syaithon pada hari itu hingga sore hari. Dan tidak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama daripada apa yang ia bawa, kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari itu.” (HR. Al-Bukhori no. 3293 dan Muslim no. 2691)

Penjagaan ini bersifat menyeluruh, mencakup perlindungan dari was-was yang dibisikkan ke dalam hati maupun gangguan fisik yang mungkin ditimbulkan oleh makhluk-makhluk zholim dari kalangan jin.

10.4 Keutamaan Membacanya Setelah Sholat Fardhu

Membaca tahlil sempurna ini setelah melaksanakan Sholat fardhu adalah sunnah yang sangat ditekankan, sebagai bentuk pengakuan bahwa segala urusan berada di tangan Alloh semata.

Al-Mughiroh bin Syu’bah (50 H) rodhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Nabi setiap kali selesai mengerjakan Sholat fardhu senantiasa mengucapkan:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ،

اللهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»

“Tidak ada Robb yang berhak disembah selain Alloh semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ya Alloh, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak bermanfaat kekayaan bagi orang yang memilikinya dari adzab-Mu.” (HR. Al-Bukhori no. 844 dan Muslim no. 593)

Pernyataan ini mengandung penyerahan diri yang totalitas, di mana seorang Muslim mengakui bahwa segala pemberian dan penahanan rizqi serta manfaat di dunia ini sepenuhnya tunduk pada kehendak Robb semesta alam.

10.5 Dzikir Paling Utama di Hari Arofah

Pada saat yang paling mulia dalam setahun, yaitu hari Arofah, kalimat tahlil ini menjadi ucapan yang paling dicintai dan paling sering diulang oleh Rosululloh dan para Nabi terdahulu.

Rosululloh bersabda:

«أَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي عَشِيَّةَ عَرَفَةَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ»

“Perkataan paling utama yang aku ucapkan dan para Nabi sebelumku pada sore hari Arofah adalah: Laa ilaaha illallooh wahdahuu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai-iin qodiir.” (HR. Ath-Thobari dalam Ad-Dua no. 874, dihasankan oleh Al-Albani)

Ini hanyalah sedikit dari keutamaannya yang disinggung. Penulis sudah meluaskannya di buku lain berjudul: Dzikir yang Menghimpun Banyak Fadhilah.

Penutup

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan taufiq sehingga penyusunan buku “Keutamaan 7 Dzikir: Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, Hauqolah, Istighfar, Sholawat” yang dilengkapi dengan bahasan khusus mengenai tahlil sempurna ini dapat diselesaikan.

Dzikir-dzikir yang telah dipaparkan dalam buku ini, mulai dari tasbih hingga tahlil yang agung, merupakan tali penghubung antara hamba dengan Robb-nya. Barang siapa yang senantiasa menjaga lisan dan hatinya dengan kalimat-kalimat thoyyibah ini, niscaya ia akan merasakan kedamaian yang mendalam, perlindungan yang kokoh, serta kemuliaan di dunia dan Akhiroh. Dzikir bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sarana untuk memperkokoh iman dan menjauhkan diri dari kelalaian yang membinasakan. Semoga tulisan ini menjadi timbangan kebaikan bagi penulis dan pembaca, serta menjadi sebab turunnya rohmat Alloh kepada kita semua.

Akhir doa kami adalah Alhamdulillaah, Robb semesta alam.

Sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Nabi yang telah membimbing umatnya menuju cahaya Tauhid.

Allohu a’lam.[NK]

Unduh PDF dan Word

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url