[PDF] Film Horor Merusak Aqidah Umat Sampai ke Akarnya - Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
hanya bagi Alloh ﷻ,
Robb semesta alam. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
Rosululloh ﷺ,
keluarganya, para Shohabatnya, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka
dengan baik hingga hari Qiyamah.
Amma
ba’du:
Sesungguhnya
ni’mat yang paling agung yang Alloh ﷻ berikan kepada seorang hamba
adalah ni’mat Iman dan Islam di atas Manhaj Salaf yang sholih. Iman ini
bukanlah sekadar ucapan di lisan, melainkan keyakinan yang menghunjam dalam
hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan. Di antara pokok Iman yang paling
mendasar adalah beriman kepada hal ghoib sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh
Alloh ﷻ
dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rosul-Nya yang mulia. Namun, di zaman yang
penuh dengan fitnah ini, musuh-musuh Islam dari kalangan jin dan manusia tidak
henti-hentinya berusaha memadamkan cahaya Alloh ﷻ dan merusak Aqidah umat Islam
sampai ke akar-akarnya. Salah satu sarana yang paling halus namun sangat
mematikan dalam merusak bangunan tauhid adalah melalui media tontonan,
khususnya film horor.
Film horor
yang menjamur saat ini bukan sekadar hiburan kosong tanpa makna. Di balik layar
kaca dan gedung bioskop, tersimpan racun-racun syirik, khurofat, dan takhayul
yang sengaja dihembuskan untuk menggeser rasa takut seorang Muslim dari takut
kepada Alloh ﷻ
menjadi takut kepada makhluk. Melalui alur cerita yang penuh dengan kedustaan,
umat digiring untuk mempercayai adanya roh penasaran, kekuatan jin yang berlebihan,
hingga ritual-ritual kesyirikan yang dibalut dengan label agama. Hal ini
merupakan makar syaithon yang sangat nyata untuk menyesatkan manusia dari jalan
yang lurus. Jika seorang Muslim telah terbiasa menyerap narasi-narasi batil
ini, maka perlahan namun pasti, kemurnian tauhidnya akan terkikis, dan ia akan
terjatuh ke dalam jurang kesyirikan tanpa ia sadari.
Buku ini
disusun untuk membongkar segala kesesatan yang ada dalam industri film horor
dan menjelaskan dampaknya yang sangat berbahaya bagi Aqidah dan kehidupan
seorang Muslim.
Dengan
bersandarkan pada dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits yang shohih, serta
bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kita akan menimbang setiap
penyimpangan tersebut menggunakan timbangan naql (wahyu) dan aql (akal sehat).
Tujuannya tidak lain adalah agar kita semua kembali kepada fithroh yang suci,
menjauhi segala bentuk tasyabbuh (menyerupai orang kafir), dan membentengi diri
serta keluarga dari bahaya laten yang dapat menghancurkan urusan Akhiroh kita.
Bab 1: Landasan Aqidah Mengenai
Alam Ghoib
1.1
Kewajiban Beriman kepada yang Ghoib Sesuai Manhaj Salaf
Keimanan
kepada hal yang ghoib merupakan pembeda utama antara seorang Mu’min dengan
orang kafir atau orang-orang yang hanya mengandalkan panca indera semata. Alloh
ﷻ
menyebutkan sifat pertama bagi orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang
beriman kepada yang ghoib. Hal ini mencakup keimanan kepada Alloh ﷻ,
para Malaikat, Kitab-Kitab, para Rosul, hari Akhiroh, Takdir yang baik maupun
yang buruk, serta segala perkara yang tidak dapat dijangkau oleh mata manusia
seperti alam Barzakh, Jannah, Naar, jin, dan syaithon.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿الَّذِينَ
يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ﴾
“Yaitu
orang-orang yang beriman kepada segala yang tidak terlihat (ghoib) yang
dikabarkan oleh Rosul, dan mereka melaksanakan Sholat secara sempurna, dan
sebagian dari apa yang Kami berikan kepada mereka berupa harta, mereka infakkan
di jalan ketaatan kepada Alloh.” (QS. Al-Baqoroh: 3)
Keimanan
terhadap yang ghoib ini harus didasarkan pada dalil-dalil yang shohih dan
pemahaman para Shohabat. Kita tidak boleh mengandalkan perasaan, mimpi, atau
cerita-cerita khayalan yang dibuat oleh manusia untuk memahami alam ghoib. Imam
Malik bin Anas (179 H) pernah menegaskan bahwa dalam urusan agama, kita harus
mencukupkan diri dengan apa yang telah dicukupkan oleh Rosululloh ﷺ dan para Shohabatnya.
Barangsiapa yang mencari kebenaran tentang hal ghoib melalui film atau cerita
rekaan, maka ia telah membuka pintu bagi syaithon untuk mempermainkan akal dan
hatinya.
Segala
sesuatu yang ghoib hanya diketahui oleh Alloh ﷻ secara mutlak. Dia-lah yang
berhak memberikan kabar tentang apa yang terjadi di alam sana. Sebagaimana
firman-Nya:
﴿عَالِمُ
الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا ۞ إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ
وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا﴾
“Dia adalah
Robb yang mengetahui segala yang ghoib, maka Dia tidak memperlihatkan ghoib-Nya
itu kepada seorang pun. Kecuali kepada Rosul yang Dia ridhoi, maka sesungguhnya
Dia mengadakan penjaga-penjaga (Malaikat) di depan dan di belakangnya.” (QS.
Al-Jin: 26-27)
Ayat ini
membantah segala klaim dalam film horor yang menggambarkan bahwa manusia biasa
atau dukun dapat menyingkap tabir ghoib sekehendak hatinya. Pengetahuan tentang
hal ghoib adalah hak istimewa Alloh ﷻ yang hanya diberikan kepada
para utusan-Nya dalam batasan tertentu melalui wahyu. Ketika industri film
menggambarkan tokoh-tokoh tertentu memiliki kemampuan melihat “makhluk halus”
atau masa depan dengan mudahnya, ini adalah sebuah kedustaan besar yang merusak
pondasi keimanan kepada kekuasaan Alloh ﷻ yang Maha Mengetahui.
1.2
Hakikat Jin dan Syaithon dalam Al-Qur’an dan Hadits
Dalam
narasi film horor, jin sering kali digambarkan sebagai sosok yang sangat
menakutkan dengan bentuk yang menjijikkan, mampu membunuh manusia secara fisik
dengan mudah, atau menjadi roh orang mati yang menuntut balas. Gambaran ini
sangat menyelisihi apa yang dijelaskan dalam syariat Islam. Hakikatnya, jin
adalah makhluk Alloh ﷻ
yang diciptakan dari api, ada yang Muslim dan ada yang kafir (syaithon), dan
mereka memiliki batasan-batasan dalam berinteraksi dengan dunia manusia.
Alloh ﷻ
menjelaskan asal penciptaan mereka:
﴿وَالْجَانَّ
خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ﴾
“Dan Kami
telah menciptakan jin sebelum (penciptaan manusia) dari api yang sangat panas.”
(QS. Al-Hijr: 27)
Syaithon
dari kalangan jin memiliki tujuan utama yaitu menyesatkan anak cucu Adam agar
menemani mereka di dalam Naar. Namun, Alloh ﷻ telah menegaskan bahwa makar
dan tipu daya syaithon itu sebenarnya sangat lemah bagi orang-orang yang
memiliki tauhid yang kokoh. Syaithon tidak memiliki kekuasaan atas manusia
kecuali bagi mereka yang memilih untuk mengikuti jalan kesesatannya.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿إِنَّ
كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا﴾
“Sesungguhnya
tipu daya syaithon itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa: 76)
Berbanding
terbalik dengan kenyataan dalam film horor yang menggambarkan syaithon sebagai
sosok yang sangat perkasa dan sulit dikalahkan bahkan dengan doa-doa dan ruqyah.
Ini adalah upaya untuk menanamkan rasa takut yang salah dalam hati manusia.
Sejatinya, syaithon merasa sangat kecil ketika seorang hamba mengingat Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ
bersabda dalam sebuah Hadits:
«إِنِّي
لَأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الإِنْسِ وَالجِنِّ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ»
“Aku
benar-benar melihat syaithon dari manusia dan jin lari dari Umar.” (HSR.
At-Tirmidzi no. 3691)
Keberadaan
syaithon di sekitar manusia adalah nyata, namun Islam telah memberikan benteng
berupa dzikir dan doa yang diajarkan oleh Rosululloh ﷺ. Tidak ada alasan bagi
seorang Muslim untuk merasa takut yang berlebihan hingga kehilangan kontrol
diri, apalagi sampai meminta bantuan kepada sesama makhluk halus atau melakukan
ritual yang mengandung unsur syirik demi keselamatan diri. Syaithon hanyalah
makhluk lemah yang akan lari ketika mendengar suara Adzan atau ketika dibacakan
Ayat Kursi di dalam rumah.
1.3
Asal-Usul Khurofat dan Tasyabbuh dalam Industri Film Horor
Banyak
narasi dalam film horor yang kita saksikan saat ini sebenarnya bukan berasal
dari ajaran Islam, melainkan hasil serapan dari kepercayaan Nashroni, Yahudi,
atau tradisi kesyirikan kuno yang dikemas secara modern. Istilah seperti roh
penasaran, hantu gentayangan, atau rumah berhantu yang menuntut tumbal adalah
bentuk khurofat yang dilarang keras dalam agama kita. Khurofat adalah
kepercayaan yang tidak memiliki landasan dalil dan hanya bersandar pada dongeng
belaka.
Kebanyakan
konsep hantu dalam film horor lokal maupun luar negeri merupakan bentuk
tasyabbuh kepada orang-orang kafir. Mereka meyakini bahwa orang yang mati
secara tragis rohnya akan tetap tinggal di bumi untuk menyelesaikan urusan yang
belum tuntas. Padahal, dalam Islam, seseorang yang telah wafat maka ruhnya akan
berada di alam Barzakh dan tidak akan pernah kembali lagi ke alam dunia hingga
hari Qiyamah.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai keadaan orang mati:
﴿وَمِن
وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴾
“Dan di
hadapan mereka ada dinding pembatas (Barzakh) hingga hari mereka dibangkitkan.”
(QS. Al-Mu’minun: 100)
Ibnu Qoyyim
al-Jauziyyah (751 H) menjelaskan dalam kitab Ar-Ruh bahwa ruh-ruh orang
yang telah meninggal dunia disibukkan dengan urusan mereka di alam Barzakh,
entah itu mendapatkan ni’mat atau mendapatkan adzab.
Tidak ada
satu pun dalil yang membenarkan bahwa ruh tersebut bisa menjelma menjadi sosok
menakutkan untuk menakut-nakuti manusia yang masih hidup.
Meniru-niru
keyakinan atau cara penggambaran orang kafir terhadap alam ghoib adalah perkara
yang sangat berbahaya. Rosululloh ﷺ telah memberikan peringatan yang sangat keras:
«مَنْ
تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ»
“Barangsiapa
yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HSR. Abu
Dawud no. 4031)
Tasyabbuh
dalam hal aqidah jauh lebih berbahaya daripada tasyabbuh dalam hal pakaian atau
penampilan lahiriah. Ketika seorang Muslim mulai meni’mati film horor yang
mengusung konsep eksorsis ala Nashroni atau pemujaan setan ala Barat, maka ia
secara perlahan mulai mengadopsi cara berpikir mereka. Hati yang seharusnya
dipenuhi dengan cahaya tauhid dan rasa takut hanya kepada Alloh ﷻ,
kini mulai tercemar dengan virus-virus kesyirikan dan khayalan batil yang
diproduksi oleh industri hiburan yang tidak mengenal halal dan harom.
Industri
ini sengaja menjual rasa takut untuk mendapatkan keuntungan duniawi yang
rendah. Mereka mengeksploitasi kelemahan iman manusia dan menyajikan
visualisasi syaithon yang dilebih-lebihkan. Dampaknya, banyak orang yang lebih
takut melewati kuburan atau tempat gelap daripada takut meninggalkan Sholat.
Ini adalah bukti nyata bahwa film horor telah berhasil merusak aqidah umat dari
akarnya yang paling dalam, yaitu rasa takut (khouf) yang merupakan salah
satu ibadah hati yang paling agung kepada Alloh ﷻ.
Barangsiapa
yang menginginkan keselamatan dunia dan Akhiroh, maka ia wajib menjauhkan diri
dari segala bentuk tontonan yang merusak Iman ini. Kembalilah kepada bimbingan
wahyu dan lupakanlah segala khayalan syaithon yang dipamerkan di layar kaca.
Sesungguhnya hanya dengan dzikir kepada Alloh ﷻ hati akan menjadi tenang,
bukan dengan menonton tayangan yang membuat jantung berdebar karena takut
kepada makhluk yang dho’if.
Bab 2: Kesyirikan dalam Narasi
Horor
2.1
Ghuluw terhadap Makhluk Halus
Salah satu
bentuk penyimpangan yang paling mencolok dalam film horor adalah adanya sikap ghuluw
atau berlebihan dalam menggambarkan kemampuan jin dan syaithon. Dalam banyak
adegan, jin digambarkan seolah-olah memiliki kekuatan yang hampir menyamai
sifat-sifat Robbaniyyah, seperti mengetahui rahasia hati manusia, mampu
mengubah takdir, atau memberikan kemudhorotan yang tidak bisa dihalangi oleh
kekuatan doa. Hal ini secara langsung menyerang pondasi tauhid Asma’ was
Shifat dan tauhid Rububiyyah.
Seorang
Muslim wajib meyakini bahwa tidak ada satu pun makhluk yang dapat memberikan
manfaat atau menolak mudhorot kecuali dengan izin Alloh ﷻ.
Menganggap jin memiliki kekuatan independen untuk mencelakai manusia adalah
bibit kesyirikan yang sangat berbahaya. Alloh ﷻ berfirman:
﴿وَإِن
يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ ۖ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ﴾
“Jika Alloh
menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya
kecuali Dia. Dan jika Dia menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang
dapat menolak karunia-Nya.” (QS. Yunus: 107)
Film horor
sering kali menampilkan adegan di mana benda-benda terbang dengan sendirinya,
manusia terlempar tanpa sentuhan, atau kutukan yang berlaku turun-temurun tanpa
ada cara untuk menghentikannya. Visualisasi ini membangun kesan di benak
penonton bahwa syaithon adalah penguasa kegelapan yang sangat dominan.
Keyakinan semacam ini melemahkan tawakal seorang hamba kepada Robb-nya.
Padahal, bagi orang yang beriman, kekuatan jin tidak lebih dari sekadar
gangguan kecil yang akan sirna dengan kalimat Tauhid.
Imam Ibnu
Taimiyyah (728 H) menjelaskan dalam Majmu’ Fatawa bahwa jin memang
memiliki kemampuan untuk bergerak dengan cepat dan melakukan hal-hal yang tidak
mampu dilakukan manusia, namun semua itu tetap berada di bawah kendali dan
kehendak Alloh ﷻ.
Mereka tidak memiliki kuasa untuk mencabut nyawa atau menentukan nasib akhir
seseorang.
Menggambarkan
jin sebagai sosok “penguasa” suatu tempat yang harus diberi sesaji atau
dihormati adalah pintu gerbang menuju kesyirikan besar (syirik akbar).
Kepercayaan
bahwa jin dapat menguasai raga manusia secara total sehingga manusia tersebut
kehilangan kesadaran dan melakukan tindakan di luar nalar juga sering kali
didramatisir secara berlebihan. Meskipun kesurupan itu benar adanya dalam
ajaran Islam, namun penyajiannya dalam film horor sering kali dibumbui dengan kedustaan
yang membuat manusia merasa sangat tidak berdaya di hadapan jin. Islam
mengajarkan bahwa perlindungan terbaik adalah dengan memperkuat ketaatan dan
menjauhi maksiat, bukan dengan rasa takut yang menghamba kepada makhluk halus
tersebut.
2.2
Kesyirikan dalam Ritual Pengusiran Jin
Penyimpangan
berikutnya adalah penggambaran ritual-ritual pengusiran jin yang jauh dari
tuntunan syariat. Sering kali film horor menampilkan sosok “orang pintar”, “paranormal”,
atau bahkan tokoh agama yang menggunakan metode yang mengandung unsur bid’ah dan
syirik dalam menghadapi gangguan jin. Penggunaan jimat, air mantra, pembakaran
kemenyan, atau dialog yang merendahkan diri di hadapan jin adalah contoh nyata
kerusakan aqidah yang dipromosikan sebagai solusi.
Islam hanya
mengenal satu metode pengobatan yang disyariatkan dalam menghadapi gangguan
ghoib, yaitu Ruqyah Syar’iyyah yang bersih dari unsur kesyirikan. Ruqyah
yang benar adalah dengan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, doa-doa dari Hadits
Nabi ﷺ,
serta menggunakan bahasa Arob yang jelas maknanya, tanpa ada permohonan bantuan
kepada selain Alloh ﷻ.
Nabi ﷺ bersabda:
«اعْرِضُوا
عَلَيَّ رُقَاكُمْ، لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ»
“Tunjukkanlah
ruqyah-ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak
mengandung kesyirikan.” (HR. Muslim no. 2200)
Dalam film
horor, sering kali digambarkan bahwa pengusiran jin memerlukan syarat-syarat
aneh seperti kembang tujuh rupa, ayam hitam, atau ritual di waktu-waktu
tertentu yang tidak ada dasarnya dalam agama. Ini adalah bentuk tipu daya
syaithon agar manusia terjatuh dalam perbuatan syirik saat berusaha mencari
kesembuhan. Syaithon terkadang pura-pura pergi atau patuh ketika ritual syirik
itu dilakukan, semata-mata sebagai istidroj agar manusia semakin yakin
pada metode batil tersebut dan semakin jauh dari Alloh ﷻ.
Kerusakan
bertambah parah ketika film tersebut menampilkan tokoh yang dianggap “sholih”
namun melakukan negosiasi atau perjanjian dengan jin. Dalam Islam, meminta
bantuan kepada jin dalam urusan apa pun adalah perkara yang dilarang dan dapat
menjatuhkan seseorang pada kesesatan.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَأَنَّهُ
كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾
“Dan
sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta
perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu
hanya menambah bagi mereka dosa dan rasa takut.” (QS. Al-Jin: 6)
Alih-alih
memberikan rasa aman, bergantung pada ritual yang menyimpang justru akan
membuat syaithon semakin berani untuk mengganggu dan menguasai hati manusia.
Film horor yang mempopulerkan ritual-ritual aneh ini secara tidak langsung
telah mendidik umat untuk menjadi musyrik saat mereka merasa terdesak oleh
gangguan makhluk halus.
2.3
Keyakinan Batil tentang Roh Gentayangan
Keyakinan
paling rusak yang disebarkan melalui film horor adalah adanya “roh gentayangan”
atau arwah orang mati yang tidak diterima di bumi maupun di langit sehingga
bergentayangan mengganggu manusia. Ini adalah kedustaan yang sangat besar
terhadap alam Barzakh dan menafikan keadilan Alloh ﷻ. Setiap jiwa yang telah wafat
pasti akan berada di tempat yang telah ditentukan sesuai dengan amalannya, dan
mereka tidak memiliki kemampuan untuk keluar masuk ke alam dunia untuk menuntut
balas atau sekadar menampakkan diri.
Al-Qur’an
secara tegas menjelaskan bahwa setelah kematian, ada dinding pembatas yang
tidak dapat ditembus oleh ruh manusia. Rosululloh ﷺ juga telah merinci perjalanan
ruh setelah dicabut, di mana ruh seorang Mu’min akan dibawa ke langit dan
ditempatkan di tempat yang mulia, sementara ruh orang kafir akan dilemparkan ke
tempat yang hina (Sijjin).
Dari Abu
Huroiroh (58 H), Rosululloh ﷺ
bersabda dalam Hadits yang panjang mengenai perjalanan ruh:
«إِذَا
حُضِرَ الْمُؤْمِنُ أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ... فَتَخْرُجُ كَأَطْيَبِ رِيحِ
مِسْكٍ... وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا احْتُضِرَ أَتَتْهُ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ...
فَتَخْرُجُ كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ»
“Sesungguhnya
orang Mu’min jika maut mendatanginya, maka Malaikat rohmat datang kepadanya...
maka keluarlah ruhnya seperti aroma misk yang paling harum... Dan sesungguhnya
orang kafir jika maut mendatanginya, maka Malaikat adzab datang kepadanya...
maka keluarlah ruhnya seperti aroma bangkai yang paling busuk.” (HSR.
An-Nasa’i no. 1833)
Tidak ada
satu pun keterangan dalam wahyu yang menyebutkan ruh tersebut “tertinggal” di
rumah, di pohon, atau di lokasi kecelakaan. Narasi film horor yang
menggambarkan arwah ibu yang melindungi anaknya atau arwah korban pembunuhan yang
mengejar pelakunya adalah dongeng batil yang merusak pemahaman umat tentang
takdir dan kehidupan setelah mati. Keyakinan ini sering kali membuat orang yang
ditinggal wafat oleh anggota keluarganya merasa dihantui atau justru melakukan
komunikasi yang tidak syar’i dengan apa yang mereka anggap sebagai ruh keluarga
mereka, padahal itu hanyalah syaithon yang menyerupai (qorin).
Mempercayai
adanya roh gentayangan juga membawa dampak buruk berupa rasa takut yang tidak
berdasar terhadap kuburan atau tempat-tempat tertentu yang dianggap angker. Hal
ini memicu perilaku bid’ah seperti memberikan sesaji di tempat keramat atau
melakukan ritual tertentu agar “penghuni” tempat tersebut tidak marah. Dengan
demikian, film horor telah menjadi agen penyebar syirik dan khurofat yang
merusak kemurnian tauhid umat Islam dari akarnya. Seorang Muslim yang cerdas
wajib menolak segala narasi sampah ini dan mencukupkan diri dengan berita yang
datang dari Alloh ﷻ
dan Rosul-Nya.
Bab 3: Timbangan Naql dan Aql
Terhadap Kerusakan Cara Berpikir
3.1
Kerusakan Menyamakan Rasa Takut kepada Makhluk dengan Takut kepada Alloh ﷻ
Ketahuilah
bahwa rasa takut (khouf) adalah salah satu ibadah hati yang paling besar
kedudukannya. Seorang Muslim diwajibkan untuk hanya memberikan rasa takut yang
mengandung pengagungan dan ketundukan mutlak kepada Alloh ﷻ
semata. Namun, film horor bekerja secara sistematis untuk memindahkan rasa
takut tersebut kepada sosok-sosok jin, setan, atau hantu rekaan manusia. Secara
naql (dalil wahyu), perbuatan ini merupakan bentuk penyimpangan besar yang
dapat merusak ketauhidan seseorang dalam hal pengaturan alam semesta oleh Alloh
ﷻ.
Alloh ﷻ berfirman:
﴿إِنَّمَا
ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن
كُنتُم مُّؤْمِنِينَ﴾
“Sesungguhnya
mereka itu tidak lain hanyalah syaithon yang menakut-nakuti kamu dengan
kawan-kawannya (orang-orang musyrik), karena itu janganlah kamu takut kepada
mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang beriman.” (QS.
Al-Imron: 175)
Ayat ini
secara tegas melarang seorang Mu’min untuk merasa takut kepada para pengikut
syaithon dan memerintahkan untuk mengarahkan rasa takut hanya kepada Alloh ﷻ.
Dalam film horor, penonton dipaksa untuk merasakan ketakutan yang mencekam
terhadap makhluk ghoib yang digambarkan seolah memiliki kuasa untuk mencelakai
manusia kapan saja tanpa bisa dicegah. Secara aql (akal sehat), jika seseorang
lebih merasa bergetar hatinya saat melihat sosok hantu di layar daripada saat
mendengar ancaman adzab Alloh ﷻ dalam Al-Qur’an, maka sungguh akalnya telah tertipu dan
tertutup oleh kabut kesesatan.
Contoh
nyata kerusakan ini adalah ketika seseorang merasa tidak berani Sholat malam
sendirian karena terbayang-bayang adegan film horor yang ia tonton. Rasa
takutnya kepada syaithon telah menghalangi ia dari beribadah kepada Robb-nya.
Al-Fudhoil bin ‘Iyadh (187 H) pernah berkata:
مَنْ خَافَ
اللهَ، لَمْ يَضُرَّهُ أَحَدٌ، وَمَنْ خَافَ غَيْرَ اللهِ، لَمْ يَنْفَعْهُ أَحَدٌ
“Barangsiapa
yang takut kepada Alloh, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat
membahayakannya. Dan barangsiapa yang takut kepada selain Alloh, maka tidak
akan ada seorang pun yang dapat memberinya manfaat.” (Siyar A’lamin Nubala,
Adz-Dzahabi, 8/426)
Dengan
menonton film horor, seseorang secara sengaja memupuk rasa takut kepada selain
Alloh ﷻ.
Hal ini melemahkan keyakinannya bahwa segala manfaat dan mudhorot berada di
tangan Alloh ﷻ.
Akibatnya, tauhidnya menjadi keropos karena ia memberikan hak Alloh ﷻ
(yaitu rasa takut yang disertai pengagungan) kepada makhluk yang lemah dan hina
seperti jin dan syaithon.
3.2
Keyakinan Sial, Ramalan, dan Istidroj yang Terkandung dalam Alur Cerita
Film horor
sering kali menyisipkan keyakinan thiyaroh, yaitu merasa sial karena
melihat atau mendengar sesuatu yang dianggap membawa petaka. Misalnya,
munculnya burung gagak, pecahnya cermin, atau angka-angka tertentu yang
dianggap sebagai pertanda maut. Hal ini adalah syirik yang nyata sebagaimana
disabdakan oleh Nabi ﷺ.
Rosululloh ﷺ bersabda:
«الطِّيَرَةُ
شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ»
“Thiyaroh
(merasa sial karena tanda-tanda tertentu) adalah syirik, thiyaroh adalah
syirik.” (HSR. Abu Dawud no. 3910)
Selain itu,
alur cerita film horor sering kali melibatkan ramalan nasib atau komunikasi
dengan jin melalui media tertentu untuk mengetahui hal ghoib di masa depan. Hal
ini memberikan edukasi yang salah kepada umat seolah-olah mendatangi dukun atau
paranormal adalah hal yang wajar. Padahal, ancamannya sangat berat bagi siapa
saja yang mempercayainya.
Nabi ﷺ bersabda:
«مَنْ
أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً»
“Barangsiapa
yang mendatangi tukang ramal lalu menanyakan sesuatu kepadanya, maka Sholatnya
tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230)
Jika hanya
mendatangi saja sudah berakibat demikian, bagaimana dengan orang yang
menghabiskan waktunya untuk menonton tayangan yang mempromosikan
praktik-praktik tersebut secara terus-menerus? Secara aql, akal manusia yang
sehat akan menolak keyakinan bahwa sepotong papan kayu atau ritual aneh dapat
menyingkap rahasia takdir. Namun, film horor mengemasnya dengan sinematografi
yang memukau sehingga hal yang mustahil secara aql dan harom secara naql seolah
menjadi kenyataan yang harus diyakini.
Terkadang,
film tersebut menggambarkan orang yang melakukan kemaksiatan atau pemujaan
syaithon justru mendapatkan kekayaan atau kekuatan (istidroj). Hal ini
dapat menyesatkan orang-orang yang lemah imannya untuk mengikuti jalan yang
sama. Alloh ﷻ
memperingatkan tentang istidroj (penangguhan adzab melalui ni’mat semu):
﴿سَنَسْتَدْرِجُهُم
مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ﴾
“Nanti Kami
akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) melalui jalan
yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’rof: 182)
3.3
Penodaan Ayat Alloh ﷻ
sebagai Alat Komersil
Salah satu
fakta yang sangat menyakitkan adalah digunakannya simbol-simbol Islam,
ayat-ayat Al-Qur’an, dan istilah-istilah syar’i sebagai bagian dari narasi film
horor untuk tujuan menakut-nakuti atau sebagai alat pengusir hantu yang
dibuat-buat. Hal ini merupakan bentuk pelecehan terhadap kesucian agama. Ayat
Alloh ﷻ
diturunkan sebagai petunjuk jalan keselamatan, bukan sebagai pemanis dalam
sebuah adegan yang penuh dengan khurofat dan kesyirikan.
Alloh ﷻ
berfirman mengenai orang-orang yang menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai bahan
permainan:
﴿وَلَئِن
سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ﴾
“Dan jika
kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab: ‘Sesungguhnya kami
hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah terhadap
Alloh, ayat-ayat-Nya dan Rosul-Nya kamu selalu berolok-olok?’“ (QS.
At-Taubah: 65)
Dalam
banyak film horor, Adzan sering kali diputar dengan latar suara yang
menyeramkan atau visualisasi syaithon yang mendekat. Ini adalah penistaan yang
sangat nyata. Secara aql, bagaimana mungkin suara panggilan untuk menghadap
Alloh ﷻ
(Adzan) disandingkan dengan suasana yang membangun rasa takut kepada makhluk
terkutuk? Penggunaan mukena, jilbab, atau simbol-simbol kesholihan pada tokoh
yang kemudian digambarkan menjadi sosok menyeramkan adalah upaya zholim untuk
menciptakan trauma psikologis bagi umat Islam terhadap identitas agamanya
sendiri.
Memuliakan
mushaf dan syi’ar-syi’ar Alloh ﷻ adalah kewajiban yang tidak
boleh ditawar. Menggunakan ayat Al-Qur’an dalam film yang di dalamnya terdapat
wanita yang menampakkan aurot, musik yang harom, serta narasi yang penuh dengan
syirik adalah bentuk penghinaan terhadap wahyu. Umat harus sadar bahwa
film-film tersebut bukan sedang membela Islam meskipun menampilkan tokoh Kyai
atau Ustadz, melainkan sedang menjual agama demi kepentingan materi duniawi
yang rendah.
Bab 4: Dampak Buruk Film Horor
terhadap Jiwa, Tubuh, dan Perilaku
4.1
Menanamkan Rasa Penakut yang Berlebihan pada Anak-Anak dan Dewasa
Film horor
memberikan dampak nyata pada kerusakan mental. Rasa takut yang terus-menerus
disuntikkan melalui mata dan telinga akan terekam kuat dalam bawah sadar. Hal
ini menciptakan karakter yang pengecut dan lemah mental (dho’iful jins).
Padahal, Islam mendidik umatnya untuk menjadi ksatria yang pemberani dan hanya
takut kepada Robb-nya.
Rosululloh ﷺ senantiasa memohon
perlindungan dari sifat pengecut:
«اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ وَالهَرَمِ...»
“Ya Alloh,
sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, pengecut, pikun,
dan kikir.” (HR. Al-Bukhori no. 6367)
Menonton
film horor adalah tindakan yang bertentangan dengan doa ini karena seseorang
secara sengaja memasukkan bibit-bibit sifat pengecut (jubn) ke dalam
dirinya. Pada anak-anak, dampak ini lebih parah lagi karena dapat menyebabkan
trauma jangka panjang, mimpi buruk, hingga keguncangan jiwa yang membuat mereka
tidak bisa mandiri dalam melakukan aktivitas sederhana seperti pergi ke kamar
mandi di malam hari.
Secara aql,
sangat tidak logis jika orang tua yang ingin anaknya menjadi pemberani justru
mengizinkan mereka menonton tayangan yang menampilkan sosok-sosok yang merusak
imajinasi mereka. Keberanian sejati hanya lahir dari kedekatan kepada Alloh ﷻ
(taqwa), sedangkan film horor hanya melahirkan kegelisahan dan rasa was-was
yang merupakan bisikan syaithon.
4.2
Kerusakan Pandangan Mata dan Masuknya Unsur Harom di Balik Kedok Horor
Hampir
tidak ada film horor yang bersih dari kemaksiatan lainnya. Selain kerusakan
aqidah, film-film ini selalu menampilkan wanita-wanita yang menampakkan aurotnya,
pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom, serta
penggunaan musik yang harom untuk membangun suasana mencekam.
Semua ini adalah dosa-dosa yang dianggap remeh oleh penonton karena fokus
mereka teralihkan pada rasa takut.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿قُل
لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ﴾
“Katakanlah
kepada para lelaki yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka dan
memelihara kemaluan mereka.” (QS. An-Nur: 30)
Menonton
film horor berarti secara sengaja mengumbar pandangan mata pada hal-hal yang
diharomkan. Setiap detik yang dihabiskan untuk melihat aurot atau mendengar
musik adalah noda hitam dalam hati yang akan mengeraskan jiwa. Secara aql,
tidak mungkin seseorang mendapatkan kebaikan atau pelajaran moral (sebagaimana
klaim pembuat film) jika cara mencapainya adalah dengan melakukan rentetan
kemaksiatan kepada Alloh ﷻ.
Banyak
penonton yang tidak sadar bahwa rasa bergetar yang mereka rasakan bukan karena
iman, melainkan karena gejolak syahwat yang dibalut rasa takut (adrenalin). Ini
adalah bentuk tipu daya syaithon agar manusia betah berlama-lama melakukan
perbuatan harom dengan alasan hiburan atau sekadar menguji nyali.
4.3
Terbuangnya Waktu secara Sia-Sia dan Lalainya Hati dari Dzikir kepada Alloh ﷻ
Islam
sangat menghargai waktu. Setiap detik kehidupan seorang Muslim akan dimintai
pertanggungjawaban di hadapan Alloh ﷻ. Menonton film horor yang durasinya
bisa mencapai 2 jam adalah bentuk pemborosan waktu (idho’atul waqti)
yang sangat nyata. Tidak ada manfaat duniawi apalagi ukhrowi yang didapatkan
dari menonton khayalan syaithon tersebut.
Nabi ﷺ bersabda:
«مِنْ
حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»
“Di antara
tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak
bermanfaat baginya.” (HSR. At-Tirmidzi no. 2317)
Film horor
membuat hati menjadi lalai (ghoflah) dari mengingat Alloh ﷻ.
Setelah menonton, pikiran seseorang akan dipenuhi oleh bayangan hantu, bukan
oleh keagungan Alloh ﷻ
atau hafalan Al-Qur’an. Hati yang lalai adalah tempat tinggal yang paling
nyaman bagi syaithon untuk membisikkan keraguan dan was-was.
Secara aql,
jika waktu yang digunakan untuk menonton film tersebut dialihkan untuk membaca
Al-Qur’an atau mempelajari ilmu agama yang bermanfaat, maka seseorang akan
mendapatkan ketenangan hati yang hakiki dan pahala yang berlipat ganda. Namun,
syaithon membuat kemaksiatan terasa indah dan ibadah terasa berat.
Bab 5: Benteng Muslim dalam
Menghadapi Arus Fitnah Media
5.1
Kewajiban Hijroh dari Tontonan yang Merusak Iman dan Taqwa
Langkah
pertama yang harus diambil oleh seorang Muslim yang ingin menjaga aqidahnya
adalah melakukan hijroh secara total dari segala bentuk tontonan yang merusak,
terutama film horor. Hijroh di sini bermakna meninggalkan apa-apa yang dilarang
oleh Alloh ﷻ
dan menjauhkan diri
dari majelis-majelis yang di dalamnya ayat-ayat Alloh ﷻ diolok-olok.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَإِذَا
رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا
فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ﴾
“Dan
apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka
tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain.” (QS.
Al-An’am: 68)
Menghapus
aplikasi streaming film yang penuh kemaksiatan, tidak mendatangi bioskop, dan
mematikan televisi saat tayangan horor muncul adalah bukti nyata dari ketaqwaan
seseorang. Seseorang tidak akan bisa memiliki aqidah yang bersih selama ia
masih memberikan celah bagi racun-racun pemikiran untuk masuk ke dalam hatinya
melalui media.
Imam Malik
bin Anas (179 H) pernah ditanya tentang mendengarkan nyanyian (musik), beliau
menjawab bahwa yang melakukannya adalah orang-orang fasiq.
Maka
bagaimana lagi dengan orang yang menonton film yang menggabungkan musik, aurot,
dan kesyirikan sekaligus? Menjaga pandangan dan pendengaran adalah bagian dari
menjaga amanah Alloh ﷻ.
5.2
Cara Mengobati Jiwa yang Terlanjur Terpapar Racun Horor dengan Ruqyah Syar’iyyah
Bagi mereka
yang telah terlanjur sering menonton film horor dan merasakan dampak buruk
berupa rasa takut yang berlebihan, sering merasa diawasi, atau terganggu secara
psikologis, maka obatnya adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ruqyah
syar’iyyah adalah sarana pengobatan yang paling ampuh untuk membersihkan jiwa dari
sisa-sisa bisikan syaithon.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿وَنُنَزِّلُ
مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ﴾
“Dan Kami
turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isro: 82)
Seorang
Muslim harus membiasakan diri membaca dzikir pagi dan petang sebagai benteng yang kokoh.
Rosululloh ﷺ
mengajarkan doa agar kita terlindungi dari segala gangguan:
«بِسْمِ
اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ
وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ»
“Dengan
menyebut Nama Alloh yang dengan Nama-Nya tidak ada sesuatu pun yang dapat
membahayakan, baik di bumi maupun di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.” (HSR. Abu Dawud no. 5088)
Membaca doa
ini 3 kali di waktu pagi dan petang akan memberikan perlindungan total dari
gangguan jin maupun manusia.
Selain itu,
penuhilah rumah dengan bacaan Surat Al-Baqoroh karena Nabi ﷺ mengabarkan bahwa syaithon
akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat tersebut. Jangan jadikan
rumah seperti kuburan yang sepi dari dzikrulloh, karena hal itulah yang
sebenarnya mengundang syaithon untuk menetap.
5.3
Pendidikan Keluarga di Atas Sunnah
Solusi
jangka panjang untuk membendung arus fitnah film horor ini adalah dengan menanamkan
ilmu agama yang shohih sejak dini kepada anggota keluarga. Kepala keluarga
bertanggung jawab untuk memastikan anak-anak dan istrinya tidak terpapar
oleh racun aqidah ini.
Alloh ﷻ
berfirman:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS.
At-Tahrim: 6)
Pendidikan
tauhid yang kuat akan membuat seseorang memiliki filter alami. Ketika ia
memahami bahwa jin hanyalah makhluk lemah, maka ia tidak akan tertarik menonton
film yang menggambarkan jin secara berlebihan. Ajarkanlah anak-anak kisah-kisah
para Nabi dan Shohabat yang penuh dengan keberanian dan ketaqwaan yang nyata,
bukan kisah-kisah hantu khayalan yang hanya merusak mental.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan rasa takut kepada Alloh ﷻ,
bukan rasa takut kepada selain-Nya. Dengan memperbanyak menghadiri majelis ilmu
yang mengajarkan kitab-kitab para ulama Salaf, maka hati akan menjadi terang
dan tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren hiburan yang menyesatkan.
Ketahuilah bahwa kejayaan umat Islam hanya akan tercapai jika kita kembali
kepada kemurnian aqidah dan menjauhi segala bentuk khurofat yang sengaja
disebarkan oleh musuh-musuh Islam melalui industri perfilman.
Penutup
Marilah
kita merenungi bahwa hidup di dunia ini hanyalah sesaat dan merupakan ladang
ujian. Setiap tontonan yang kita ni’mati akan menjadi saksi di hadapan Alloh ﷻ pada
hari pembalasan kelak. Film horor dengan segala kemasannya yang menarik hanyalah
salah satu jerat syaithon untuk mengalihkan manusia dari tujuan penciptaannya,
yaitu untuk beribadah kepada Alloh ﷻ semata tanpa
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Sungguh
ironis ketika seorang Muslim mengeluarkan hartanya untuk membeli tiket bioskop
atau berlangganan aplikasi demi melihat tayangan yang merusak aqidahnya
sendiri. Ini adalah kerugian yang nyata di dunia dan di Akhiroh. Tidak ada kata
terlambat untuk bertaubat. Berhentilah menonton tayangan sampah tersebut, hapus
segala memori tentangnya dengan memperbanyak istighfar dan dzikir, serta
sibukkanlah diri dengan hal-hal yang mendatangkan ridho Alloh ﷻ.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Muslimin dari
fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi.
Semoga
tulisan sederhana ini dapat membuka mata hati kita semua akan bahaya film horor
yang telah merusak aqidah umat sampai ke akar-akarnya.
Hanya
kepada Alloh ﷻ
kita memohon pertolongan dan hanya kepada-Nya kita akan kembali.
Akhir dari
da’wah kami adalah Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamin. Selesai dikerjakan
dengan taufiq dari Alloh ﷻ.[NK]
